Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN Faringitis secara luas menyangkut tonsillitis, nasofaringitis, dan tonsilofaringitis yaitu infeksi pada daerah faring dan

sekitarnya yang ditandai dengan keluhan nyeri tenggorok. Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis akut terutama pada anak berusia 3 tahun. Virus penyebab penyakit respiratori seperti adenovirus, rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat menjadi penyebabnya. Streptococcus beta hemolitikus grup A adalah bakteri terbanyak penyebab penyakit faringitis atau tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% pada anak Kepentingan kasus kejang demam kompleks dibuat sebagai kasus karena ada banyak alasan, diantaranya adalah : 1. Untuk mengetahui definisi tonsilofaringitis 2. Untuk mempelajari etiologi tonsilofaringitis 3. Untuk mempelajari patofisiologi dan manifestasi klinis tonsilofaringitis 4. Untuk mempelajari cara mendiagnosis tonsilofaringitis 5. Untuk mempelajari penatalaksanaan tonsilofaringitiss 6. Untuk mengetahui prognosis tonsilofaringitis Karena pentingnya hal tersebut kita sebagai dokter harus bisa menegakkan diagnosis dan memberikan penatalaksanaan dari tonsilofaringitis.

STATUS PENDERITA I. IDENTITAS PENDERITA Nama Tanggal Lahir Umur Berat badan Jenis Kelamin Agama Alamat Tanggal Masuk Tanggal Pemeriksaan No. CM II. ANAMNESIS Anamnesis rumah sakit. diperoleh dengan cara anamnesis terhadap pasien dan aloanamnesis terhadap ibu penderita serta dilengkapi dengan rekam medis : An. M : 20 Mei 2005 : 5 tahun 10 bulan : 17 kg : Laki-laki : Islam : Gulon Rt 5/21 Jebres Surakarta : 06 April 2011 : 08 April 2011 : 01060279

A. Panas B.

Keluhan Utama

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien merupakan rujukan dari Puskesmas Sibela dengan keterangan Febris hari ke 5. Sejak 5 hari SMRS pasien panas tinggi. Panas dirasakan terus menerus. Panas tidak berkurang dengan pemberian obat penurun panas. Selain itu pasien juga mengeluh nyeri menelan, batuk berdahak disertai pilek.. Jika batuk kadang kadang pasien sampai muntah satu sendok makan berisi makanan dan dahak. Pasien tidak mengeluhkan keluar cairan dari telinga maupun nyeri kepala. Pasien tidak merasa sesak Pasien tidak mengeluh mual. Paisen tidak mau makan tapi masih mau 2

minum. Pasien mimisan 2 kali sedikit-sedikit dan dapat berhenti sendiri. BAB dan BAK dalam batas normal. C. b. Riwayat alergi c. Riwayat mimisan d. Riwayat sakit tenggorokan D. a. b. Riwayat Penyakit Dahulu : disangkal : disangkal : (+) jika demam dan kelelahan : (+) > 4x/1 tahun

a. Riwayat mondok

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat sakit serupa : disangkal Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal : disangkal

Riwayat lingkungan menderita DHF E. Pohon Keluarga

An M, 5 thn 10 bulan F. Jenis 1. BCG 2. DPT 3. Polio 4. Campak 5. Hepatiti sB 0 1 bulan Riwayat Imunisasi I 1 bulan 2 bulan 2 bulan 9 bulan lahir II 4 bulan 4 bulan 2 bulan III 6 bulan 6 bulan 4 bulan IV 6 bulan

Kesan : lengkap sesuai jadwal 3

G.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Lahir : BB = 3,4 kg ; TB = 51 cm Umur 1 tahun : BB = 10 kg ; TB = 85 cm Umur 2 tahun : BB = 12 kg ; TB = 89 cm Umur 3 tahun : BB = 14 kg ; TB = 95 cm Umur 4 tahun : BB = 16 kg ; TB = 101 cm Umur 5 tahun : BB = 17 kg ; TB = 107 cm Senyum Miring Tengkurap Duduk Gigi keluar Berdiri Berjalan Bicara : 3 bulan : 4 bulan : 7 bulan : 9 bulan : 9 bulan : 11 bulan : 13 bulan : 18 bulan

Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan umur H. Ayah Ibu I. : baik : baik Riwayat Makan dan Minum Anak Sejak lahir penderita menerima ASI dan susu formula merk SGM dengan frekuensi kurang lebih 8 kali perhari, takaran: 3 sendok takar untuk 100 cc air. Bubur sumsum diberikan sejak umur 4 bulan. Penderita menerima bubur susu dengan merk SUN sejak umur 6 bulan dengan frekuensi kurang lebih 3 kali perhari. Nasi tim diberikan sejak umur 8 bulan dengan frekuensi 3 kali perhari. Riwayat Kesehatan Keluarga

Saat ini pasien makan 3x sehari, dengan nasi, sayur, dan lauk berupa tempe, tahu, ayam, telur, kadang daging. Pasien juga mengkonsumsi buah-buahan dan minum susu. Kesan : kualitas dan kuantitas intake cukup. J. Pemeriksaan di Frekuensi Keluhan selama kehamilan Pemeliharaan Kehamilan dan Prenatal : bidan setempat : 1x perbulan pada trimester I dan II 2x perbulan pada trimester III : mual penambah darah. K. Riwayat kelahiran Obat-obatan yang diminum selama kehamilan : vitamin dan tablet

Lahir dibantu oleh bidan, umur kandungan 9 bulan, lahir spontan, berat badan lahir 3400 gram, panjang badan 51 cm, menangis kuat setelah lahir. L. Pemeriksaan Postnatal

Pemeriksaan di bidan dan puskesmas tiap bulan dan tiap kali ada keluhan. M. Riwayat Keluarga Berencana :

Ibu penderita menggunakan KB suntik 3 bulan sekali. III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum B. Tanda vital Tekanan Darah Nadi Laju Pernapasan Suhu Berat badan : 110/70 mmHg : 96 x/menit : 30 x/menit, teratur, tipe thorakoabdominal : 37,90C per aksiler : 17 kg : Sedang, kompos mentis, gizi kesan baik

Tinggi badan C. Kulit D. Kepala E. Mata

: 107 cm : warna sawo matang, kelembaban cukup, ujud kelainan kulit (-) : bentuk mesosefal, rambut hitam sukar dicabut, lingkar kepala : 54 cm,sutura sudah menutup. : Oedem palpebra (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), air mata (+/+), refleks cahaya (+/+), pupil isokor (3 mm/ 3 mm), bulat, di tengah.

F. Hidung G. Mulut H. Telinga

: Napas cuping hidung (-/-), sekret (+/+), darah (-) : bibir sianosis (-), mukosa basah (+), hiperemis (-), gusi berdarah (-) : daun telinga dalam batas normal, membrane timpani intake, sekret (-), mastoid pain (-), tragus pain (-)

I. Tenggorok

: uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (+), tonsil T3 T4 hiperemis, kripte melebar, detruitus (+)

J. Leher K. Thorax Cor Palpasi Perkusi : Inspeksi

: bentuk

normocolli,

kelenjar

getah

bening

membesar : bentuk normochest, retraksi (-), gerakan simetris kanan - kiri, nyeri ketok kostovertebra (-) : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak kuat angkat, teraba di linea medioclavicularis sinistra : batas jantung kesan tidak melebar Kanan atas Kiri atas : SIC II linea parasternalis dextra : SIC II linea parasternalis sinistra

Kanan bawah: SIC IV linea parasternalis dextra

Kiri bawah Auskultasi Pulmo Palpasi Perkusi : Inspeksi

: SIC V linea medioclavicularis sinistra

: bunyi jantung I-II intensitas normal, regular bising (-) : pengembangan dada kanan = kiri : fremitus raba dada kanan = kiri : sonor di seluruh lapang paru Batas paru hepar : SIC VI dextra sinistra Redup relatif Redup absolut : batas paru hepar : hepar Batas paru lambung : spatium intercosta VII

Auskultasi L. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi M. Ekstremitas Akral dingin

: Suara dasar vesikuler (+/+), Suara tambahan RBK (-/-), RBH (-/-), wheezing (-/-) : : dinding perut sejajar dinding dada : peristaltik (+) normal : timpani, pekak beralih (-) : supel, nyeri tekan (-), hepar tidak membesar, lien tidak membesar. : Oedema -

Capilary refill time < 2 detik a dorsalis pedis teraba kuat Perhitungan Status Gizi 1. Secara klinis Kepala : mesosephal, rambut susah dicabut

Mata Mulut Ekstremitas Status gizi secara klinis 2. Secara Antropometri BB : 17 kg, TB : 107 cm

: CP (-/-), SI (-/-) : bibir sianosis (-) : clubbing finger (-), sianosis ujung jari (-) : gizi kesan baik

Weight for age : P5<BB/U <P10 Height for age : P5 < TB/U < P10 Wheight for Height : P25 < BB/TB < P50 Status gizi secara antropometri : gizi baik 3. Analisis Diet : Kesan kualitas dan kuantitas cukup 4. Pemeriksaan Laboratorium Hb Hct AE AL AT SI TIBC Feritin Isac score Panas Batuk Pembesaran tonsil Umur 1 0 1 1 : 10,2 g/dl : 32% : 3,75.106 /l : 7,6. 103/L : 194. 103/L : 15 ug/dl : 287 ug/dl : 378,7 ng/ml

Saturasi transferin: 5 % Kesan gizi kurang (anemia)

Pembesaran limfonodi 1

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium Darah Tanggal 6 April 2011 Hb Hct AE AL AT Golongan Darah : 10,8 g/dL : 29,5 % : 3,99.106/L : 6,5.103/L : 207.103/L :A Tanggal 7 April 2011 Hb Hct AE AL AT MCV MCH MCHC RDW HDW MPV PDW Eosinofil Basofil Neutrofil Limfosit Monosit LUC SI TIBC Feritin Tanggal 8 April 2011 ( Gambaran Darah Tepi ) Eritrosit Leukosit Trombosit : hipokrom, normosit, akantosit, eritoblast (-) : jumlah dalam batas normal, dominasi neutrofil, metamielosit netrofil (+) blas (-) : jumlah dalam batas normal, penyebaran merata : 10,2 g/dl : 32% : 3,75.106 /l : 7,6. 103/L : 194. 103/L : 83,9 /m : 27,3 pg : 32,6 g/dl : 13,5% : 2,8 g/dl : 5,4 fl : 51 % : 0,20% : 0,50% : 75,90% : 14,70% : 8,70% : 4,30% : 15 ug/dl : 287 ug/dl : 378,7 ng/ml

Saturasi transferin: 5 %

Kesimpulan Saran B. Laboratorium Urin Rutin

: Anemia hipokromik normositik dengan netrofilia relatif suspek ec proses infeksi : hs CRP

Tanggal 7 April 2011 Makroskopis Warna Kejernihan Kimia Urin Berat jenis pH Leukosit Nitrit Protein Glukosa Keton Urobilinogen Bilirubin Eritrosit Mikroskopis Eritrosit Leukosit Epitel Epitel squamous Epitel transisional Epitel bulat Silinder Hyline Granulated Leukosit : : : : 0-1 /LPB : : : : 0/LPB 1/LPB : 1,015 : 6,0 : negatif : negatif : negatif : normal :5 : negatif : negatif : negatif : kuning : jernih

10

C.

Feces rutin

Tanggal 7 April 2011 Makroskopis : Warna Konsistensi Lendir Pus Darah Makanan tak tercerna Cacing Mikroskopis Sel epitel Eritrosit Leukosit Protozoa Telur cacing Kuman : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (+) : coklat : lunak : (-) : (-) : (-) : (+/-) : (-)

Kesimpulan : tinja lunak warna coklat, tidak ditemukan parasit patogen D. Jawaban konsul THT tanggal 7 April 2010 Assessment : tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut. Saran terapi : antibiotik, anti inflamasi, motivasi tonsilektomi jika sudah tenang. V. RESUME 5 hari SMRS pasien panas tinggi terus menerus. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak, pilek dan nyeri menelan disertai nafsu makan turun. Keluhan tidak berkurang dengan pemberian obat dari warung. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital peningkatan suhu tubuh subfebril. Ditemukan secret pada hidung, faring hiperemis, tonsil T3 T4 hiperemis dengan kripte melebar dan detruitus serta pembesaran getah bening leher. Isac score : 4

11

Dari

pemeriksaan

laboratorium

darah

rutin

didapatkan

anemia

hipokromik normositik dengan penurunan transferin dan SI. Dari hasil GDT didapatkan anemia hipokromik normositik dengan netrofilia relatif suspek ec proses infeksi VI. DAFTAR MASALAH Demam Nyeri menelan Batuk Nafsu makan menurun Keluhan serupa berulang Suhu 37,9oC Faring hiperemis Tonsil hiperemis Tonsil membesar T3-T4 Kripte melebar dengan detruitus Kelenjar getah bening leher membesar Anemia hipkromik normositik Penurunan transferin dan serum iron VII. DIAGNOSA BANDING Febris hari ke 5 e/c DD Tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut DF DHF VII. DIAGNOSIS KERJA 1. Tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut 2. Anemia normositik hipokromik ec proses infeksi dan defisiensi Fe 3. Gizi kurang (anemia)

12

VIII. PENATALAKSANAAN 1) Diet nasi lauk 1500 kalori/hari + ekstra susu 2 gelas perhari 2) IVFD D 1/4 S 14 tpm makro 3) Injeksi ampicilin 400 mg/6 jam 4) Ambroxol 3 x 10 mg peroral 5) Paracetamol syr 4 x cth II 6) Metil prednisolon 3 x 2 mg peroral IX. PLANNING 1. Swab tenggorok 2. 3. Keadaan umum dan vital sign tiap 8 jam Edukasi keluarga tentang penyakit pasien. X. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam : dubia et bonam : dubia et bonam

Ad fungsionam : dubia et bonam XI. FOLLOW UP


SUBJEKTIF OBYEKTIF 9 April 2011 Panas (-), nyeri menelan (-), batuk (+), pilek (-), makan (+) sedikit, minum (+), BAK (+), BAB (+) KU: CM, KU sedang VS : T=110/60 mmHg HR=72x/mnt,kuat,teg ckp RR= 28x/ menit S= 36,1o C Kepala : Mesocephal Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut: faring hiperemis (-), tonsil T3-T4 hiperemis, kripte melebar, detruitus (+) Leher : KGB membesar Thoraks : retraksi (-)

13

Pulmo I : Pengembangan dada kanan=kiri P : fremitus raba kanan=kiri P : sonor/sonor A : SDV (+/+ ), ST (-/-) Jantung Bunyi jantung I-II intensitas normal, reg, bising (-) Abdomen I : dinding dada // dinding perut A : bising usus (+)normal P : tympani, pekak alih(-) P : supel, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, turgor kembali lambat Ekstremitas : Akral dingin - - sianosis - - CRT < 2 A. dorsalis pedis teraba kuat
LAB

ASS TERAPI

1. Tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut 2. Anemia normositik hipokromik ec defisiensi Fe dan proses infeksi

1) Diet nasi lauk 1500 kalori/hari+2 gelas susu/hari 2) IVFD D 1/4 S 14 tpm makro 3) Injeksi ampicilin 400 mg/6 jam
4) Ambroxol 3 x 10 mg peroral 5) Paracetamol syr 4 x cth II 6) Metil prednisolon 3 x 2 mg peroral Tunggu hasil swab tenggorok KU/VS tiap 8 jam Edukasi keluarga tentang penyakit

PLANNING MONITOR EDUKASI

14

ANALISA KASUS I. Analisa diagnosis Pada kasus ini diagnosis tonsilofaringitis kronik eksaserbasi akut ditegakkan berdasarkan : a. Anamnesis didapatkan : 1. Pasien mengeluhkan badan panas tinggi terus menerus. 2. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak, pilek dan nyeri menelan 3. Keluhan serupa kambuh kambuhan b. Pemeriksaan Fisik didapatkan : 1. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 96 x/menit, laju pernapasan 30 x/menit, teratur, suhu 37,9 0C per aksiler 2. Didapatkan faring hiperemis, tonsil T3 T4 hiperemis, dengan kripta melebar dan detruitus (+), kelenjar getah bening leher membesar. c. Pemeriksaan penunjang 1. Dari pemeriksaan GDT didapatkan kesimpulan Anemia hipokromik normositik dengan netrofilia relatif suspek ec proses infeksi Pada kasus ini diagnosis anemia hipokromik normositik ditegakkan berdasarkan : 1. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb : 10,2 g/dl, Hct : 32%, AE : 3,75.106 /l, MCH : 27,3 pg, MCHC : 32,6 g/dl, SI : 15 ug/dl, TIBC: 287 ug/dl, Saturasi transferin: 5 % 2. Dari pemeriksaan GDT didapatkan kesimpulan Anemia hipokromik normositik dengan netrofilia relatif suspek ec proses infeksi

II.

Analisa penatalaksanaan Pada pasien ini diberikan diet 1500 kkal/hari dan dua gelas susu perhari dari perhitungan kebutuhan kalori anak yaitu 1620 kkal/hari Infus D1/4 S 14 tpm makro sesuai dengan kebutuhan cairan anak dalam satu hari sesuai rumus darrow yaitu 1350 cc/hari. Pemberian injeksi ampicilin 400 mg/6 jam sebagai antibiotic pilihan menunggu hasil swab dan uji sensitivitas karena nilai isac score adalah 4. 15

Streptococcus beta hemolitikus grup A adalah bakteri terbanyak penyebab penyakit faringitis atau tonsilofaringitis akut yang mencakup 15-30% kasus pada anak. Ambroxol 3 x 10 mg peroral diberikan karena pasien menderita batuk sehingga digunakan sebagai mukokinetik dan sekretolitik. Paracetamol syr 4 x cth II diberikan sebagai antipiretik karena pasien demam. Metil prednisolon 3 x 1,5 mg peroral diberikan sebagai antiinflamasi pada tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut sehingga menekan reaksi inflamasi yang berlebihan. Konsultasi ke bagian THT bertujuan untuk mencari penyebab panas. Pada pasien ini direncanakan untuk dilakukan kultur dan uji sensitivitas bakteri dari hasil swab tenggorok untuk menegakkan diagnosa dan menentukan jenis bakteri penyebab serta sensitivitas bakteri penyebab terhadap antibiotik tetapi sampai dengan pasien pulang hasil swab tenggorok belum didapatkan.

16

TONSILO FARINGITIS Definisi Faringitis secara luas menyangkut tonsillitis, nasofaringitis, dan tonsilofaringitis. Infeksi pada daerah faring dan sekitarnya yang ditandai dengan keluhan nyeri tenggorok1. Etiologi Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis akut terutama pada anak berusia 3 tahun. Virus penyebab penyakit respiratori seperti adenovirus, rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat menjadi penyebabnya. Streptococcus beta hemolitikus grup A adalah bakteri terbanyak penyebab penyakit faringitis atau tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% pada anak sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-10% kasus.mikroorganisme seperti klamidia dan mikoplasma dilaporkan dapat menyebabkan infeksi, tetapi sangat jarang terjadi1. Faringotonsilitis kronik memiliki faktor predisposisi berupa radang kronik di faring, seperti rhinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alcohol, inhalasi uap dan debu, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsillitis akut sebelumnya yang tidak adekuat2. Patogenesis Nasofaring dan orofaring adalah tempat untuk organisme ini, kontak langsung dengan mukosa nasofaring dan orofaring yang terinfeksi atau dengan benda yang terkontaminasi, serta melalui makanan merupakan cara penularan yang kurang berperan. Penyebaran SBGA memerlukan penjamu yang rentan dan difasilitasi dengan kontak yang erat1,3. Bakteri maupun virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring yang kemudian menyebabkan respon peradangan lokal. Sebagian besar peradangan melibatkan nasofaring, uvula, dan palatum mole. Perjalanan penyakitnya ialah

17

terjadi inokulasi dari agen infeksius di faring yang menyebabkan peradangan lokal sehingga menyebabkan eritem faring, tonsil, atau keduanya. Infeksi streptococcus ditandai dengan invasi lokal serta penglepasan toksin ekstraseluler dan protease. Transmisi dari virus dan SBHGA lebih banyak terjadi akibat kontak tangan dengan sekret hidung atau droplet dibandingkan kontak oral. Gejala akan tampak setelah masa inkubasi yang pendek yaitu 24-72 jam1,2. Manifestasi Klinik Gejala faringitis yang khas akibat bakteri streptococcus berupa nyeri tenggorokan dengan awitan mendadak, disfagia, dan demam. Urutan gejala yang biasanya dikeluhkan oleh anak berusia di atas 2 tahun adalah nyeri kepala, nyeri perut, dan muntah. Selain itu juga didapatkan demam tinggi dan nyeri tenggorok. Gejala seperti rhinorrea, suara serak, batuk, konjungtivitis, dan diare biasanya disebabkan oleh virus. Kontak dengan pasien rhinitis dapat ditemukan pada anamnesa. Pada pemeriksaan fisik, tidak semua pasien tonsilofaringitis akut streptococcus menunjukkan tanda infeksi streptococcus yaitu eritem pada tonsil dan faring yang disrtai pembesaran tonsil. Faringitis streptococcus sangat mungkin jika dijumpai gejala seperti awitan akut disertai mual muntah, faring hiperemis, demam, nyeri tenggorokan, tonsil bengkak dengan eksudasi, kelenjar getah bening leher anterior bengkak dan nyeri, uvula bengkak dan merah, ekskoriasi hidung disertai impetigo sekunder, ruam skarlatina, petekie palatum mole1,4. Tanda khas faringitis difteri adalah membrane asimetris, mudah berdarah, dan berwarna kelabu pada faring. Pada faringitis akibat virus dapat ditemukan ulkus di palatum mole, dan didnding faring serta eksudat di palatum dan tonsil. Gejala yang timbul dapat menghilang dalam 24 jam berlangsung 4-10 hari dengan prognosis baik1. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Baku emas penegakan diagnosis faringitis bakteri atau

18

virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari apusan tenggorok. Pada saat ini terdapat metode cepat mendeteksi antigen streptococcus grup A dengan sensitivitas dan spesivitas yang cukup tinggi1,4. Tata laksana Tujuan dari pemberian terapi ini adalah untuk mengurangi gejala dan mencegah terjadinya komplikasi4. Faringitis streptococcus grup A merupakan faringitis yang memiliki indikasi kuat dan aturan khusus dalam penggunaan antibiotik. Istirahat cukup dan pemberian cairan yang sesuai merupakan terapi suportif yang dapat diberikan. Pemberian obat kumur dan obat hisap pada anak cukup besar dapat mengurangi gejala nyeri tenggorok. Apabila terdapat nyeri berlebih atau demam dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen1. Antibiotik pilihan pada terapi faringitis akut streptococcus grup A adalah penisislin V oral 15-30 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari atau benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB<30 kg) dan 1.200.000 IU (BB>30 kg). Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti pilihan pengganti penisislin pada anak yang lebih kecil karena selain efeknya sama amoksisilin memiliki rasa yang enak. Amoksisilin dengan dosis 50 mg/kgBB/ hari dibagi 2 selama 6 hari1. Selain itu eritromisin 40mg/kgBB/hari, Klindamisin 30 mg/kgBB/hari, atau sefadroksil monohidrat 15 mg/kgBB/hari dapat digunakan untuk pengobatan faringitis streptococcus pada penderita yang alergi terhadap penisilin4. Pembedahan elektif adenoid dan tonsil telah digunakan secara luas untuk mengurangi frekuensi tonsillitis rekuren. Indikator klinis yang digunakan adalah Childrens Hospital of Pittsburgh Study yaitu tujuh atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun sebelumnya, lima atau lebih episode infeksi tenggorok yang diterapi antibiotik setiap tahun selama 2 tahun sebelumnya, dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorok yang diterapi dengan antibiotik selama 3 tahun sebelumnya. Adenoidektomi sering direkomendasikan sebagai terapi tambahan pada otitis media kronis dan berulang.

19

Indikasi tonsiloadenektomi yang lain adalah bila terjadi obstructive sleep apneu akibat pembesaran adenotonsil1,2,4. Komplikasi Kejadian komplikasi pada faringitis akut virus sangat jarang. Kompilkasi biasanya menggambarkan perluasan infeksi streptococcus dari nasofaring. Beberapa kasus dapat berlanjut menjadi otitis media purulen bakteri. Pada faringitis bakteri dan virus dapat ditemukan komplikasi ulkus kronik yang luas. Komplikasi faringitis bakteri terjadi akibat perluasan langsung atau secara hematogen. Akibat perluasan langsung dapat terjadi rinosinusitis, otitis media, mastoiditis, adenitis servikal, abses retrofaringeal atau faringeal, atau pneumonia. Penyebaran hematogen SBHGA dapat mengakibatkan meningitis, osteomielitis, atau arthritis septic, sedangkan komplikasi non supuratif berupa demam reumatik dan gromerulonefritis1,5

20

DAFTAR PUSTAKA
1

Roni Naning dkk. Faringitis, Tonsillitis, Tonsilofaringitis Akut dalam Respirologi Anak. Jakarta : IDAI. 2008 Rusmarjono dkk. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Jakarta : FKUI.2007 Simon H, Pediatrics, Pharyngitis http://emedicine.medscape.com/article/803258-overview 2010 (diakses tanggal 25 April 2011) Behrma R, Kliegman R, Arvin A. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC. 2000 Sudarmo, S dkk. Infeksi Streptococcus grup A dalam Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Jakarta:IDAI.2008

21