Anda di halaman 1dari 23
KEJADIAN TSUNAMI DI PULAU BALI DAN NUSA TENGGARA DAN UPAYA MITIGASI NYA MATA KULIAH : MITIGASI BENCANA disusun oleh: SATRIYO PANALARAN K2E 007 030 PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010 KEJADIAN TSUNAMI DI PULAU BALI DAN NUSA TENGGARA DAN UPAYA MITIGASI NYA Fenomena tsunami ‘Secara harfiah, tsunami berasal dari Bahasa Jepang. ‘Tsu’ berarti pelabuhan dan ‘nami’ adalah gelombang. Secara umum Kita dapat definisikan tsunami adalah gelombang laut dengan perioda panjang, yang mampu menggerakkan selurh kolom air, dan memiliki kecepatan perambatan sangat besar. Tsunami disebabkan karena adanya gangguan impulsif pada medium laut, contohnya : gempa bumi tektonik di laut, erupsi vulkarik di laut, longsoran di laut, atau jatuhnya meteor di laut Tidak seperti gelombang pada umunya ai laut yang disebabkan oleh angin, dan berada di laut secara kontinyu dengan periode 20 detik, atau gelombang pasut yang setiap hari dijumpai dengan periode 12 sampai 24 jam. Tsunami terjadi apabila ada fenomena yang menyebabkan gangguan impulsif pada kolom laut dan memilki periode antara 10 sampai 60 menit (Barber, 1969) Selain dilhat dari petiode gelombang, perbedaan gelombang tsunami dengen gelombang yang dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakolom air yang mampu digerakkan. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakkan partikel air laut di permukaan, namun pada gelombang tsunami menggerakkan seluruh kolom air dari permukaan sampai dasar perairan. Di lokasi pusat tsunami tinggi gelombang diperkirakan 0,5 sampai 3 meter, dengan panjang gelombang mencapai puluhan kilometer. Selain itu ciri lain dari gelombang tsunami ialah kecepatan rambat di laut dalam berkisar antara 400 sampai 1000 krvjjam dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilometer dari pusatnya Menurut teori gelombang perairan dangkal, ketika gelombang masuk ke perairan dangkal akan terjadi transformasi gelombang. Keadaan ini disebabkan adanya cfek shoalling yaitu tinggi gelombang bertambah tetapi kecepatan rambat gelombang menurun. Hal ini disebabken adanya gesekan antara massa air dengan dasar perairan. Untuk menghitung gelombang tsunami kita dapat melakukan dengan menggunakan Teori Gelombang Solitary yang merupakan gelombang dengan amplitude berhingga dan non linier. Teori gelombang Solitary beriaku untuk kedalaman relatif perairan dangkal dimana seluruh perpindahan permukaan airnya berada di atas still water level Tipe gelombang dapat dihitung berdasarkan kedalaman relati, yaitu dihitung berdasarkan perbandingan antara nilai kedalaman perairan dengan panjang gelombang (dil. Jika diL < 0,05. termasuk gelombang perairan dangkal Jika 0,05 0,5 termasuk gelombang perairan dalam Dalam hal ini tsunami memiliki panjang gelombang yang sangat besar bila dibandingkan kedalaman perairannya, sehingga nilai d/L nya kurang dari 0,05 maka dalam perhitungannya tsunarni dikelompokkan sebagai tipe gelombang perairan dangkal. Dati efek shoalling dapat kita simpulkan bahwa kecepatan tsunami di laut dalam jauh lebih besar daripada kecepatan rambat tsunami ketika memasuki peralran dangkal. Pada perairan dalam kecepatan rambat tsunami dapat mencapai 400 sampai 1000 kmijam. Sebaliknya ketika tsunami berada di perairan dangkal kecepatan rambat akan berkurang mencapai 25-100 kmvjam, tetapi tinggi gelombang akan semnakin besar ketika mencapai pantai, hal ini disebabkan adanya penumpukan massa airakibat adanya penurunan kecepatan. Proses Terjadinya Gempa dan Tsunami Tsunami disebabkan karena adanya gangguan impulsif pada medium taut, contohnya : gempa burmi tektonik di laut, erupsi vulkanik di laut, longsoran di laut, atau jatuhnya meteor di laut. Tetapi pada umunya tsunami disebabkan oleh adanya gempa tektonik berdasarkan pergerakan lempeng bum ‘Sedangkan baik gunung berapi maupun gempa bumi cenderung untuk terdapat di sopanjang sistom mid-oceanic ridge dan di sepanjang batas-batas lompong. Hal ini disebabkan di bawah batas antar lempeng-lempeng tersebut terdapat proses geologi di dalam bumi. Proses geologi ini berupa adanya aliran konveksi di lapisan itosfer.