Anda di halaman 1dari 19

Meet The Expert

Oleh: DEEPA MOHAN WINDA PUTRI RIDHA ATHIFA DHISA ANGGRIA

Pembimbing: Dr. EFFY HURIYATI, SpTHT-KL

y Rongga dengan dinding kaku yang secara anatomi

termasuk bagian faring, ke arah anterior rongga hidung melalui koana dan tepi belakang septum nasi
y Dinding lateral nasofaring

orifisium tuba

Eustachius,
y Ke arah postero-posterior torus tubarius terdapat

Fossa Russenmuler lokasi tersering Karsinoma Nasofaring.

y Merupakan penyakit keganasan yang paling sering

ditemukan di bidang penyakit Telinga Hidung Tenggorokan.


y Insidens meningkat setelah usia 20 tahun dan

menurun setelah usia 60 tahun


y pria : wanita

3:1

y Idiopatik y Namun sudah hampir dipastikan bahwa keganasan ini

berhubungan dengan infeksi EBV titer anti EBV lebih tinggi didapatkan pada hampir semua pasien.

y Iritasi bahan kimia

asap kayu tertentu, kebiasaan makan manakanan terlalu panas, kadar nikel dalam air minum
y Genetik

a. Ulseratif y lesi kecil disertai jaringan nekrotik y Tumbuh progresif infiltatif y Meluas pada bagian lateral, atap nasofaring, tulang basis cranium, fossa cerebralis media melibatkan beberapa nervus cranial (II.III,IV,V,VI) kelainan neurologik.

b. Nodular
y Berbentuk anggur atau polipoid tanpa adanya ulserasi

tetapi kadang-kadang terjadi ulserasi kecil.


y Lesi terbanyak muncul di area tuba eustachius

sehingga menyebabkan sumbatan tuba.

c. Eksofitik
y Biasanya non-ulseratif, tumbuh pada satu sisi

nasofaring, kadang-kadang bertangkai dan permukaan licin.


y Muncul dari bagian atap, mengisi cavum nasi dan

menimbulkan penyumbatan hidung.


y Mudah nekrosis dan berdarah sehingga

epistaksis.

y Cepat mencapai sinus maksilaris dan rongga orbita

eksoftalmus unilateral.

Gambaran histopatologi dibagi atas 3 tipe, yaitu : 1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous Cell Carcinoma). Dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk. 2. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma). Tidak ada diferensiasi sel skuamosa, batas sel cukup jelas. 3. Karsinoma tidak berdiferensiasi (Undifferentiated Carcinoma).

Gejala klinis: y Gejala nasofaring epistaksis ringan atau sumbatan hidung.


y Gejala pada telinga

dapat berupa tinitus, rasa tidak nyaman di telinga sampai nyeri telinga (otalgia).

y Gejala mata dan syaraf

Penjalaran melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, V, IV sehingga sering ditemukan gejala diplopia serta neuralgia trigeminal.
y Gejala di leher

Metastasis ke kelenjar leher dalam bentuk benjolan di leher yang mendorong pasien untuk berobat, karena sebelumnya tidak terdapat keluhan lain.

Berdasarkan TNM, stadium penyakit dapat ditentukan : y Stadium I : T1 N0 M0 y Stadium II : T2 N0 M0 y Stadium III : T3 N0 M0; T1,T2,T3 N1 M0 y Stadium IV : T4 N0,N1 M0 Tiap T N2,N3 M0 Tiap T Tiap N M1

y To y T1 y T2

T2a T2b
y T3

tidak tampak terbatas nasofaring meluas ke jaringan lunak orofaring/rongga hidung parafaring menginvasi struktur tulang/ sinus

paranasal y T4 perluasan intrakranial/orbita/saraf kranial

y Nx y N0 y N1 y N2 y N3

tidak dapat dinilai tidak ada pembesaran KGB KGB unilateral, dg ukuran terbesar < 6 cm, di atas supraklavikula KGB bilateral, dg ukuran terbesar < 6cm, di atas supraklavikula KGB bilateral, dg ukuran > 6cm dalam fossa supraklavikula

y Mx y Mo y M1

tidak dapat dinilai tidak ada metastase ada metastase jauh

y y y

CT- Scan Kepala dan Leher Pemeriksaan serologis Diagnosa pasti BIOPSI IgA untuk infeksi EBV

y Stadium 1

: radioterapi y Stadium II dan III : kemoradiasi y Stadium IV dg N <6 : kemoradiasi y Stadium IV dg N>6 : kemoterapi dosis penuh dilanjutkan kemoradiasi

y Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah,

mengubah cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya, penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, serta meningkatkan keadaan sosial ekonomi
y Selain itu juga dapat dilakukan tes serologi IgA-anti

CVA dan IgA anti EA secara massal di masa yang akan datang bermanfaat dalam menentukan KNF secara dini.