Anda di halaman 1dari 10

AGRIBISNIS PENGGERAK PEREKONOMIAN RAKYAT

Oleh Made Antara


Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Udayana Email: antara_dps@yahoo.com

Pendahuluan Perekonomian rakyat adalah suatu subsistem ekonomi berkaitan

dengan aktivitas rakyat kecil (petani, pekebun, peternak, nelayan, pengrajin, pedagang kaki lima, koperasi dan sebagainya) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Implementasi ekonomi kerakyatan ditunjukkan melalui berbagai

kebijakan yang bersifat pemihakkan kepada rakyat kecil, usaha skala kecil dan menengah, termasuk koperasi. Pencetusan ekonomi kerakyatan ini tampaknya dimaksudkan sebagai

koreksi kebijakan yang keliru selama rezim Orde Baru yang lebih berpihak kepada sekelompok pengusaha besar (konglomerat), sekaligus

merefleksikan perubahan paradigma pembangunan ekonomi dari Growth with Trickle down effect menjadi Growth with redistribution. Paradigma pertama telah gagal, karena pertumbuhan hasil-hasil pembangunan yang dinikmati

oleh sekelompok konglomerat selama rezim Orde Baru ternyata tidak secara otomatis menetes ke bawah atau menimbulkan pemerataan kepada

kelompok masyarakat lainnya. Melalui

Paradigma kedua yang essensinya

memberdayakan ekonomi rakyat kecil, diharapkan akan timbul penetesan ke atas. Artinya, dengan menumbuhkan yang kecil-kecil, maka agregasi dari pertumbuhan kecil-kecil yang jumlahnya puluhan juta akan menjadi besar, yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Agribisnis yang pelaku-pelakunya adalah rakyat menengah, ekonomi kecil yaitu koperasi, kecil.

petani/pekebun/peternak/nelayan, usaha kecil sampai dan sebagainya tidak lain adalah aktivitas dari

rakyat

Karenanya, ekonomi kerakyatan yang berpihak kepada rakyat kecil berarti pemihakan kepada pengembangan agribisnis yang merupakan aset atau

aktivitas dari rakyat kecil. Jadi, kebijakan ekonomi kerakyatan adalah searah dan seiring dengan kebijakan pengembangan agribisnis. Mengembangkan agribisnis berarti membangun ekonominya rakyat kecil atau usaha kecil yang jumlahnya relatif banyak. Sementara ini, usaha besar (konglomerat) yang jumlahnya 0,2 persen menguasai sekitar 60 persen dari pendapatan nasional. Sedangkan usaha kecil yang jumlahnya lebih dari 99.08 persen hanya menguasai kurang dari 40 persen ini pendapatan riskan nasional. terhadap

Struktur ekonomi berbentuk piramida terbalik

sangat

gejolak perubahan ekonomi global, seperti yang terjadi saat ini. Begitu ada badai moneter yang memporak porandakan sekelompok Karenanya konglomerat diperlukan struktural

tersebut, maka runtuhlah

perekonomian nasional.

langkah-langkah yang cepat dan tepat untuk melakukan koreksi

menjadi piramida tegak, agar perekonomian nasional disokong oleh jutaan ekonomi usaha kecil-kecil sampai menengah, yang tahan terhadap badai ekonomi global yang setiap saat akan datang menggoyang. Sebagai contoh, salah satu usaha membangunan ekonomi kerakyatan adalah pengembangan agribisnis perkebunan, baik perkebunan dengan pola PIR maupun perkebunan rakyat dengan asosiasi pemasaran bersama.

Manfaat pembangunan agribisnis ini yaitu: Pertama, sumber devisa. Berbagai jenis komoditi perkebunan penghasil perusahaan keunggulan menghasilkan devisa, baik mempunyai peranan sebagai yang dihasilkan perkebunan bidang komoditi. oleh komoditi ekspor negara, memiliki mampu dapat

perusahaan

swasta maupun komparatif berbagai di jenis

rakyat. Indonesia sehingga produksi

perkebunan, Peningkatan

dilakukan melalui ekstensifikasi, intensifikasi, rehabilitasi dan diversifikasi. Kedua, memperluas kesempatan kerja. Perluasan investasi bidang perkebunan pasti akan jenis memperluas yang kesempatan membutuhkan kerja, dalam karena

meningkatnya berbagai

kegiatan

tenagakerja

semakin banyak dan semakin spesialis. Ketiga, alih teknologi. Kendatipun teknologi yang dibutuhkan di bidang agribisnis perkebunan tidak secanggih teknologi bidang industri, tetapi

dengan adanya investasi di bidang perkebunan juga memerlukan teknologi khusus yang berkaitan dengan rantai kegiatannya, seperti teknologi

budidaya, pengolahan hasil yang ditunjukkan oleh timbulnya produk akhir yang lebih baik. Dengan demikian bidang perkebunan merupakan ujung

tombak dalam penyerapan teknologi. Keempat, penyediaan bahan kebutuhan pokok rakyat. Di samping beranekaragam komoditi perkebunan berfungsi sebagai komoditi ekspor

penghasil devisa, tapi juga dapat berfungsi sebagai penyedia kebutuhan pokok rakyat Indonesia sendiri. Umumnya kopi di samping diekspor juga untuk konsumsi masyarakat dalam negeri, minyak sawit, teh dan lain-lain. Kelima, mendorong usaha pengembangan daerah. Melalui

pembangunan bidang berkebunan seperti proyek PIR-Bun yang dikaitkan dengan program transmigrasi, praktis akan mendorong usaha pengembangan daerah di mana dilaksanakan proyek tersebut, dan di pihak lain dapat

mengurangi beban penduduk dan tenagakerja yang berlebihan di daerah asal transmigrasi. Kalah Bersaing dengan Thailand

Tingkatkan daya saing dari komparatif ke kompetitif Galakkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah Galakkan sistem kemitraan untuk pemberdayaan pelaku agribsinsi skala rendah Tingkatkan Penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan bibit unggul melalui rekayasa teknologi dan biopreses dan kultur jaraingan Fungsi penyuluh-penyuluh kita menjadi Badan Penyuluhan Agribisnis Daerah (BPAD). Selain berfungsi sebagai sarana bimbingan pertanian dan
agribisnis, juga sebagai sarana penyedia informasi apsar bagi petani danpelaku agribisnis dalam kaitannya dengan oerencanaan jenis dan kuantitas produksi.

Identifikasi komoditi yang memiliki prospek Bisnis dan Pertumbuhan pasar yang tinggi, sehingga pengembangannya diaahkan untuk komoditas-komoditas potensial tersebut. Dengan kata lain, kita harus memfokuskan pengembangannya pad abeberapa komoditas yang memiliki prospek bisnis tinggi, terutama untuk menembus pasar luar negeri.

Mainkan Strategi Pemasaran. Keunggulan dalam memainkan strategi pemasaram yang andal dan efektif untuk penetrasi pasar, terutama pasar ekspor. Semua perwakilan Indonesia di luar negeri ditugaskan melakukan market inteljen untuk mengumpulkan informan pemasaran dan selanjutnya informasi tersebut disebarkan melalui media masa dan lembaga-lembag aterkaigt seperti BPAG. Perpendek Rantai Pemasaran. Kemapuan yang tinggi untuk memperpendek pemasaran komoditas, sehingg marjin pemasaran relatif rendah, selanjutnya harga jual menjadi le4bih rendah pada akhirnya daya saing menjadi lebih tinggi. Berikan Kredit Berbunga rendah. Untuk meningkatkan daya saing komoditas-komoditas yang diusahakan oleh petani bunga kreit oleh permerintah, , maka bantu petani dengan kredi tberbunga rendah (subsidi bunga) oleh permintah, sehingga daya saing menjadi lebih tinggi. Kembang Integrasi dengan Industri Hilir. Sistem pengembangan agribisnis diarahkan ke integrasi dengan agroindustri hilir, dengan tujuan menciptakan kegunaan (utility) terutama kegunaan waktu (time utility) dan kegunaan bentuk (form utility) melalui upaya pengolahan, pengalengan dan pengemasan. .
Meningkatkan Daya Saing produk Agribisnis di Pasar Domestik Kita masih ingat bahwa di tahun 1970-an hampir tidak ada super market di Jakarta pada 1980-an. Tetapi pad akhir abad XX dan awal abad XXI, hampir di setiap kabupaten berdiri super market, dan berapa puluh super market di Ibukota Jakarta. Mungkin di tahun 2010 nanti di setiap kecamatan berdiri supermarket, cabang super market internasional. Super market atau pasar swalayan, yang di luar negeri sering disebut grocery store pada prinsipnya adalah pasar lengkap yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari, dimana pembeli dapat melayani dan memilih sendiri barang kebutuhan sehari-hari untuk kesehatan/kebersihan dan alat rumah tangga juga banyak disediakan. Dalam hal menyediakan kebutuhan pangan, management super market menangkap secara cermat trend perubahan sikap dan perilaku masyarakat modern dalam hal pangan, yakni: konsumen membeli produk siap olah, sudah bersih, segar dan berpenampilan menarik, konsumen tidak banyak waktu untuk teriak urat tawar-menawar, permintaan terhadap bahan makanan lebih beragam, kualitas tinggi dengan standar baku, konsumen membeli produk dalam kemasan satu kali pasak, atau kemasan praktis untuk disimpan dalam lemari es, konsumen memilih produk dari produsen yang terpercaya, konsumen lebih sadar terhadap keamanan konsumsi bahan pangan.

Yang menjadi persoalah adalah, sudah siapkan petani-prtani pelaku agribisnis kecil melayani kebutuhan produk super market dengan persyaratan tersebut, Kalau petani kita tidak siap, maka pasar swalayan akan memilih melakukan impor produk bermutu dari negara lain. Faktanya adalah pasar domestic produk agribisnis segar dan olahan di Eropa telah mencapai titik jenuh. Hampir 90 persen penduduk negara-negara maju telah berbelanja di super market dan tidak akan bertambah lagi. Padahal produk agribisnis masih terus meningkat dan perlu dipasarkan, Masyarakat Indonesia yang berjumlah 210 juta, tentu merupakan target pasar yang sangat potensial. Dan harus diakui masyarakat Indonesia yang kantongnya tebal, tentu lebih suka memilih berbelanja di super market yang nyaman dari pada berbelanja di pasar tradisional yang becek.

Apa yang Dilakukan ? Sebagai negara agraris, kita berprinsip harus dapat menjual produk pertanian di negara kita sendiri guna mencukupi kebutuhan masyarakat. Dengan menerapkan prinsip ini, kita akan dapat saling menghidupi, impor produk pertanian secara berlebihan akan mematikan usaha masyarakat Indonesia, membuang devisa dan justru hanya menghidupi petani produsen negara lain. Namun petani kita juga harus dapat bersaing secara terbuka dengan petani negara lain,. Berikut ini hal-hal yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk bersaing bagi produk agribisnis dalam negeri: 1. Produk pertanian harus dapat memenuhi standard mutu yang telah ditetapkan dalam perdagangan internasional, sesuai rumusan codex alementarius. 2. Produk pertanian untuk dijual di super market harus memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh management super market yang bersangkutan. 3. Pengusaha super market, baik modal nasional maupun PMA, harus bersedia bermitra dan memberikan bimbingan kepada petani produsen, atas saling ketergantungan dan saling menguntungkan. 4. Pengusaha super market harus mengutamakan untuk membeli produk agribisnis yang dapat diproduksi di dalam negeri. 5. Petani produsen sebagai pelaku on-farm agribisnis harus membentuk kelompok usaha dan secara sukarela berusaha mengadopsi teknologi maju serta menerapkan manajemen produksi modern dalam menghasilkan produk. 6. Bimbingan dalam perencanaan produksi, perwilayahan komoditi dan perbaikan mutu produk perlu dilakukan lebih intensif oleh pemerintah. 7. pemerintah perlu memberikan fasilitas kredit usaha dengan bunga lunak kepada para pelaku agribisnis yang sudah mampu membangunan kelembagaan agribisnis.

Semua produk agribisnis, baik untuk pasokan pasar tradisional, untuk super market maupun untuk ekspor harus memenuhi mutu standar, apabila kita tidak ingin Indonesia dibanjiri produk-produk agribisnis luar negeri. Indonesia belum terlambat untuk memperbaiki cara bekerja guna menghadapi pasar bebas. Tetapi perbaikan harus dilakukan secepatnya, kalau kita tidak ingin dijajah oleh petani-petani dari luar negeri. Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua. Berikut ini dipaparkan beberapa keunggulan sistem pengembangan agribisnis Thailand, mungkin berguna sebagai informasi bagi pengembangan agribisnis di Indonesia, sebagai berikut: 1. Thailand memiliki keunggulan di bidang penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan bibit unggul melalui rekayasa bioteknologi, bioproses dan kultur jaringan. 2. Keunggulan dalam memfungsikan Badan Penyuluhan Pertanian Daerah (BPPD), selain berfungsi sebagai sarana bimbingan pertanian, juga sebagai sarana penyedia informasi pasar bagi petani dalam kaitannya dengan perencanaan jenis dan kuantitas produksi. 3. Keunggulan dalam mengidentifikasi komoditas yang memiliki prospek bisnis dan pertumbuhan pasar yang tinggi, sehingga pengembangannya diarahkan untuk komoditas-komoditas potensial tersebut. Dengan kata lain, Thailand lebih memfokuskan pengembangan pada beberapa komoditas yang memiliki prospek bisnis tinggi, terutama untuk menembus pasar luar negeri. 4. Keunggulan dalam memainkan strategi pemasaran yang andal dan efektif untuk penetrasi pasar, terutama pasar ekspor. Untuk tujuan penetrasi tersebut, maka semua perwakilan Thailand di luar negeri ditugaskan melakukan market intelejent untuk mengumpulkan informasi pemasaran, dan selanjutnya informasi tersebut disebarkan melalui media massa dan lembaga-lembaga terkait seperti BPPD. 5. Kemampuan yang tinggi untuk mempendek rantai pemasaran komoditas, sehingga marjin pemasaran relatif rendah. Dengan kata lain perbedaan antara harga yang dibayar konsumen dan harga yang diterima petani (harga produsen) relatif kecil, sehingga integrasi vertikal sistem komoditas beroperasi dengan efisien. Di samping itu, intervensi pemerintah dalam pengaturan pasar relatif kecil, yang memungkinkan mekanisme pasar dapat berjalan dan efisiensi sistem pemasaran dapat tercipta. Pemerintah Thailand lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan controller dari pada sebagai regulator sistem pemasaran. 6. Kredit pertanian yang berbunga rendah dan tanpa agunan disediakan oleh Bank for Agriculture and Agriculture Cooperative (BAAC), yang berdiri sejak 1966, melayani 80 persen petani Thailand dengan 4,87 juta keluarga. Jika petani membutuhkan modal, BAAC siap menyalurkan kredit dengan bunga rendah 9-12 persen setahun. Dalam hal penyaluran kredit perbankan, intervensi pemerintah Thailand relatif kecil, kecuali dalam hal penyaluran kredit pertanian yang tetap diintervensi dengan berbagai kebijakan, seperti subsidi bunga dari pemerintah.

7. Sistem pengembangan agribisnis diarahkan ke integrasi dengan agroindustri hilir, dengan tujuan untuk menciptakan kegunaan (utility), terutama kegunaan waktu (time utility) dan kegunaan bentuk (form utility) melalui upaya pengolahan, pengalengan dan pengemasan. Dengan penciptaan kegunaan waktu dan bentuk, memungkinkan produk-produk pertanian dan hasil olahannya dapat bertahan lebih lama dan menjangkau pasar lebih jauh. 8. Thailand memiliki Marketing Organization for Farmer (MOF). MOF memiliki sejumlah pasar produk pertanian segar yang tersebar di berbagai lokasi di negeri itu. MOF didirikan untuk membantu petani, mengendalikan harga produk pertanian agar tidak jatuh pada saat panen raya (musim), menyediakan sarana produksi pertanian dengan harga murah dan mengembangkan kualitas produksi pertanian. Jika harga pasar terlalu rendah, maka MOF akan membeli produk petani. 9. Dalam skala besar, sejak 1996 Thailand memiliki terminal agribisnis produk pertanian terbesar dan terlengkap di Asia, yaitu Talaad Thai. Terminal ini merupakan tempat ideal bagi terjadinya transaksi antara penjual dengan pembeli (domestik dan ekspor) produk pertanian. Dokumen dan sertifikat ekspor selesai di tempat ini dalam tempo 1-2 jam. Hasil pertanian yang dijual di tempat ini sudah melalui seleksi kualitas yang ketat dan dengan harga yang relatif rendah. Jaraknya 42 km dari Bangkok, sekitar 15 menit perjalanan dari Bandara Internasional Don Muang dan setengah jam ke pelabuhan. Petani yang memanfaatkan terminal yang beroperasi 24 jam terus-menerus ini datang dari berbagai penjuru di Thailand. Menempati lahan seluas 30 hektar, terminal ini dilengkapi enam bangunan utama seperti hangar pesawat udara. Ada tempat untuk sayuran, buah-buahan musiman, bunga, kelapa dan sebagainya dalam ukuran besar. Pelataran parkir bisa menampung 25.000 kendaraan per hari. Pengelola terminal tidak menentukan harga, hanya memungut uang jasa tempat. Tempat terbuka 100 bath sehari (Mei 2000), yang beratap dipungut bulanan. Sedangkan bentuk pungutan-pungutan lain tidak ada. Secara berkala Talaad Thailand juga mengadakan bazaar produk pertanian musiman sebagai fasilitas dan akses bagi petani untuk menjual hasilnya. Misalnya, bazaar jeruk, bazaar buah mangga dan durian. Bazar dilakukan pada saat musim buah dan satu bulan sebelumnya sudah diinformasikan kepada petani melalui media masa. MOF dan Talaad Thailand adalah salah satu solusi yang digunakan untuk mencegah terjadinya disparitas harga dan distorsi pasar. Dalam skala kecil, cara seperti ini bisa dipakai di setiap Ibu Kota Propinsi di Indonesia. DI Indonesia pada umumnya, rantai pemasaran agribisnis kebanyakan komoditi masih terlalu panjang, sehingga menyebabkan terjadinya disparitas harga yang tinggi antara harga di tingkat petani (farmgate price) dengan tingkat konsumen (consumer price). 10. Birokrasi di Thailand efisien dan efektif. Artinya birokrasi di Thailand tidak berbelit-belit dan sangat membantu kelancaran urusan-ururan agribisnis dengan biaya sangat murah. Terbukti dengan pendeknya rantai jalur distribusi dan perdagangan. Sebagai contoh, petani ikan nila merah dalam

keramba dari Propinsi Samutsongkram tidak perlu susah payah untuk menjual hasil produksinya. Eksportir dan pedagang ikan datang sendiri membeli ikan yang siap dijual nelayan. Para nelayan juga tidak perlu pusing memperoleh benih ikan dan pakan ikan. Pemerintah menginformasikan kepadanya, di mana ia bisa memperoleh benih unggul dan pakan ikan, berikut harganya. 11. Kemampuan membuahkan tanaman di luar musim. Di Thailand selalu ada buah mangga dan durian yang di tempat lain merupakan buah musiman. Perlakuan teknologi yang dipadukan dengan kreativitas petaninya, menjadikan kedua jenis buah ini bisa di atur masa berbunga dan panennya. Caranya, bunganya dibuang ketika musim berbunga, sedangkan di luar musim berbunga, tanaman dirangsang untuk berbunga dengan menggunakan pupuk dan obat perangsang. Setelah jadi putik dan calon buah, buah yang muda dan tidak memenuhi syarat dibuang, sedang yang baik dipelihara terus sampai dipetik. Keberhasilan membuahkan di luar musim ini tentunya berkat teknik budidaya tanaman buah-buahan sangat maju. Sistem pemangkasan tanaman, penyiraman saat kemarau, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara sungguh-sungguh. Seperti dilakukan oleh seorang petani bernama Virat Tanapaiboon di Bancang District, Propinsi Rayong terhadap tanaman mangganya seluas 30 hektar. Juga terhadap tanaman durian dan manggis di Suphattra Land di yang sama pada areal sekitar 100 hektar. Buah durian yang diekspor ke Singapura, Hongkong dan Jepang dalam keadaan setengah matang, sehingga tidak akan rusak dan matang di perjalanan sebelum sampai ke konsumen. Keunggulan-keunggulan tersebut secara terpadu menciptakan kekuatan sinergik untuk mencapai integritas sistem komoditas agribisnis yang tinggi. Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika pengembangan sisten agribisnis di Thailand patut dicontoh oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Namun untuk mencapai sukses seperti Thailand memerlukan waktu lama, memerlukan petani yang mau bekerja keras, tidak malas dan tentu saja dukungan kuat dari pemerintah. Adalah mustahil mengembangkan agribisnis, jika mengandalkan petani malas, apalagi tidak memperoleh dukungan pemerintah. Kiat-Kiat Pemasaran Produk Agribisnis Thailand Sukses ekspor hortikultura Thailand menggambarkan bahwa banyak elemen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agribisnis. Dalam usaha merambah pasar luar negeri, Thailand memiliki kiat-kiat khusus di bidang pemasaran produk-produk agribisnis, antara lain: 1. Perwakilan Thailand di luar negeri ditugaskan untuk melakukan market intelejent untuk mengumpulkan informasi pemasaran, dan menelaah peluang-peluang pasar yang potensial di negeri masing-masing tempat mereka bertugas. 2. Frekuensi keikutsertaan pengusaha agribisnis dalam trade fair di luar negeri semakin ditingkatkan dengan tujuan promosi dan perkenalan produk, perkenalan personal bisnis, serta mempelajari peluang-peluang kerjasama.

3. Upaya memperkenalkan produk agribisnis dan makanan khas Thailand dilakukan dengan cara: (1) masyarakat Thailand di luar negeri mengundang rekan-rekannya untuk acara seremonial sambil menikmati makanan khas Thailand; (2) mendirikan restoran-restoran khas Thailand di luar negeri yang dilengkapi dengan acara kesenian Thailand, di mana promosinya dibantu oleh masyarakat Thailand di sekitar restoran tersebut; (3) menghidangkan berbagai produk makanan, buah-buahan serta penampilan hiasan bunga pada semua acara kenegaraan; (4) pasar swalayan di luar negeri dipasok dengan air cargo delivery dan sistem konsinyasi, baik dengan atau tanpa membukan L/C. 4. Promosi di dalam negeri Thailand dilakukan melalui: (1) agrowisata, terutama orchid farm yang menampilkan teknik budidaya, demonstrasi bunga hias dan penawaran pasar; (2) kerjasama antara restoran dengan perusahaan biro perjalan untuk memasukkan acara makan malam dalam rangkaian acara yang dijadwalkan; (3) kerjasama antara media masa dengan pengusaha agribisnis untuk mempromosikan produk-produk agribisnis Thailand dengan biaya yang rendah, melalui penampilan gambar-gambar dan profil komoditasnya yang indah; (4) brosur dan leaflet yang indah dan lengkap menggambarkan profil komoditas yang mudah diperoleh di mana-mana; (5) upaya untuk mempromosikan daerah produsen baru bagi masyarakat dari daerah lain terus digalakkan melalui pameran produk, dengan harapan memperkenalkan potensi pengembangan daerah produsen baru tersebut kepada masyarakat di daerah lain; (6) kerjasama terpadu antara pengusaha, masyarakat dan pemerintah sangat langgeng dan berkesimbangungan, di mana ide-ide dan motivasi pengusaha berkembang dengan mendapat dukungan dari pemerintah untuk merealisasikannya. 5. Penampilan dan mutu produk mendapat perhatian serius dalam upaya menembus persaingan di pasar global. Dengan demikian pengawasan mutu produk menjadi suatu strategi penting untuk meraih pangsa pasar yang besar, di samping upaya-upaya yang mengefisienkan operasi sistem komoditas. Penampilan produk meliputi penyempurnaan tingkat keseragaman bentuk dan warna, keberhasilan, dan teknik pengemasan, selain menjaga mutu yang tinggi. 6. Koordinasi antara instansi pemerintah dengan asoiasi-asosiasi sangat baik, terutama dengan board of trade (BOT), Federation of Thai-industry Assoiation (FTA), dan Thailand Banking Assosiation (TBA). Berbagai masukan yang berharga dari asosiasi-asosiasi tersebut menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan upaya meningkatkan pangsa pasar produk agribisnis dan agroindustri serta dukungan pendanaan yang cukup, di samping kebijakan-kebijakan yang langsung berpengaruh terhadap perdagangan dan ekspor komoditas. 7. Kebijakan kargo udara. Salah satu elemen penting dari keseluruhan strategi adalah keterlibatan Thai Airways secara aktif untuk meningkatkan usahausaha itu. Perusahaan penerbangan itu menyediakan ruang istimewa yang dialokasikan untuk barang-barang yang tak tahan lama, ongkos ditetapkan

pada tingkat yang kompetitif, dan fasilitas cold storage diatur untuk pengiriman. Hal ini menunjukkan bahwa sukses ekspor produk agribisnis Thailand merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun yang melibatkan banyak pihak yakni dari raja/ratu sampai pekerja agribisnis, dari dosen/peneliti sampai masyarakat umum, dan dari pemerintah/lembaga keuangan sampai pengusaha. Segala upaya yang terus-menerus itu selalu berorientasi pada pasar. Kebijakan pemerintah secara realistik dikaitkan dengan kemampuan dan kebutuhan industri. Yang sangat penting adalah kegiatan agen-agen yang secara langsung melayani industri. Thailand bukan saja maju di bidang hortikultura buah-buahan, tetapi juga dibidang perikanan. Ikan nila merah Thailand sudah terkenal unggul. Nelayan Thailand yang memeliharanya di keramba Sungai Mae Kong di Propinsi Samutsongkram, setelah empat bulan beratnya mencapai 500 gram. Bandingkan dengan di sungai Batanghari, Jambi dan danau di Jambi, berat yang dicapai oleh nila merah setelah dipelihara empat bulan oleh Nelayan hanya mencapai 200 gram. Sedangkan untuk keberhasilan pemeliharaan ikan dalam keamba, harus terpenuhi tiga syarat yaitu, benih unggul, kualitas air baik dan pakan yang cukup. Ketiga syarat ini selalu dipenuhi dengan baik oleh para nelayan Thailand. Bagi Indonesia, berbagai kiat positif tersebut diharapkan dapat menjadi pelajaran dan pertimbangan dalam perencanaan dan pelaksanaan pengembangan agribisnis yang berorientasi pada pasar global, sehingga kinerja agribisnis di Indonesia dalam hal pemasaran produk agribisnis/agroindustri dapat ditingkatkan. Peningkatan kinerja pemasaran tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas agribisnis di Indonesia, yang selanjutnya akan berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.