Anda di halaman 1dari 3

DILEMA PERTANIAN DALAM BAYANG-BAYANG PARIWISATA BALI

Oleh Made Antara Jurusan Sosek, Faperta UNUD Dari hasil penelitian kami menggunakan model SAM tentang perekonomian Bali, ada keterkaitan kuat antara tiga sektor utama di Bali, yaitu antara sektor pertanian, pariwisata dan industri kecil/kerajinan. Atau secara eksplit ada keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata. Ini berarti sektor pariwisata sbg pasar potensial produk-produk pertanian Bali, khususnya produk pangan (padi-padian, hortikulturan), hasil peternakan, dan hasil periknanan. Bahkan paariwisata juga sebagai pasar produk-produk pertanian luar Bali. Keterpurukan pertanian Bali yang disebabkan oleh terpuruknya pariwiswata Bali semakin membuktikan kebenaran temuan hasil penelitian disertasi kami bahwa ada keterkaitan erat antara sektor pertanian dengan sektor pariweisata di Bali. Pasca tragedi Bom Bali, kepariwisataa Bali terpuruk luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tragedi ini telah menimbulkan krisis luar biasa bagi perekonomian Bali pada umumnya. Hasil pengkajian LPM UNUD, UNDP dan PKM menunjukkan bahwa dampak terpuruknya priwisata Bali telah menimbulkan: o Tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002 memiliki dampak ekonomi yang sangat luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat di 45 desa adat penyangga pariwisata di Bali, seperti penurunan pendapatan masyarakat pada umumnya penuruna daya beli, kehilangan pekerjaan, kehilangan akses pasar, tetapi belum dirasakan sampai pada kehilangan akses lembaga keuangan. o Dampak non ekonomi Tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002, seperti dampak sosial (gangguan keamanan) dan psikologis (stress)

secara umum memang belum tampak ke permukaan, terkecuali di kota Denpasar sudah tampak dalam bentuk gangguan keamanan. Namun, jika kondisi krisis yang menimpa Bali terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan akan muncul dampak-dampak sosial dan psikologis lebih berat yang tidak diinginkan.

Tabel 1. Hasil Survei Dampak Tragedi Bali 12 Oktober 2002 Terhadap Perekonomian 45 Desa Adat Penyangga Pariwisata di Bali No. Kriteria Sektor/Bidang Usaha Kisaran Dampak Dampak (%) 1 Penurunan 1 Pertanian (dalam arti luas): 20-70 Pendapatan - Hortikultura: sayur, bunga, buah - Peternakan: sapi, babi, ayam, kambing, telor - Perikanan: karper, udang 2 Industri dan kerajinan 20-100 3 Perdagangan 20-60 4 Transportasi umum 10-35 5 Pariwisata 30-80 6 Buruh tani, 40-100 bangunan, galian 2 Kehilangan 1 Pariwisata: Banyak Pekerjaan karyawan hotel, sopir travel, pemandu (PHK/ wisata, dll Dirumahkan) 2 Industri kerajinan dan garmen 40-50 Catatan: tenaga kerja yang di PHK atau dirumahkan sebagian kembali menjadi petani, buruh, pengrajin, pekerja serabutan, pekerja sosial di desa/di pura, dlll Kehilangan 1 Pertanian: 30-80 Akses Pasar sayur, buah, telor, ayam, sapi, babi, ikan, bunga, dllnya. 2 Industri dan kerajinan: kayu, perak/emas, 15-100 anyaman, garmen, genteng, batubata, keramik, gamelan 3 Perdagangan/hasil bumi 20-65 4 Transportasi pariwisata 80-100 5 Seni budaya 40100 6 Penunjang Pariwisata: diving 80-90 7 Galian C/pasir,batu 20-50 Akses 1 LPD 10-15 Lembaga 2 KSP/KUD Keuangan 3 BPR 4 Bank Umum Catatan : Bagi nasabah LPD/KSP yang dikelola lembaga adat, biasanya diberikan keringanan membayar cicilan/ bunganya saja atau waktu pengembalian diperpanjang. Sosial dan Psikologis (Non- Ekonomi) Dampak non ekonomi tragedi Bali 12 Oktober 2002, seperti dampak sosial (gangguan keamanan) dan dampak psikologis (stress) memang belum tampak ke permukaan, terkecuali di kota Denpasar sudah tampak ke permukaan berupa dampak sosial seperti pencurian-pencurian di beberapa kompleks perumahan. Namun, jika kondisi krisis yang menimpa Bali terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan akan muncul dampak-dampak sosial dan psikologis yang tidak diinginkan.

Jadi, terpuruknya pariwisata Bali menyebabkan menurunnya pendapatan dan daya beli masyarakat Bali pada umumnya dan akhirnya ikut menterpurukan pertanian Bali. Masalahnya sekarang, bagaimana membangkitkan pertanian Bali yang sedang terpuruk ini. Dalam agribisnis, pasar dan harga adalah sinyal-sinyal yang merangsang pergerakan dan alokasi sumberdaya (kapital, teknologi, lahan, dan manajemen). Seperti disinggung didepan tadi, sebelum tragedi bom Bali, pariwisata sebagai pasar produk-produk pertanian Bali telah mampu menggerakkan dan memajukan pertanian Bali, sesuai dengan tuntutan pasar pariwisata dan selera konsumen pariwisata. Masalahnya sekarang, bagaimana menciptakan pasar bagi produk-produk pertanian Bali, yang memang kehilangan akses pasar karena hilangnya pasar pariwisata. Menurut kami, jalan satu-satunya membangkitkan kembali pertanian Bali yang terpuruk adalah mencarikan atau penciptakan pasar bagi produk-produk pertanian Bali. Mencari akses pasar ini yang susah agak susah. Jika pariwisata Bali pulih kembali seperti sebelum tragedi Bom Bali, maka secara otomatis pertanian Bali akan bangkit juga, karena tercipta pasar oleh pariwisata Bali. Program yang mungkin bisa dirumuskan sebelum kembali bangkit pariwisata Bali yaitu: o Menciptakan proyek-proyek padat karya, sehingga dapat menampung para tenagakerja yang menganggur di pedesaan, akibat kehilangan akses berburuh di perkotaan. o Diversifikasi usaha, yakni mengusahakan komoditi-komoditi untuk ekspor dan antar pulau, seperti peningkatan pemeliharaan sapi potong, intensifikasi komoditi perkebunan untuk ekspor. o Menggalakkan agroindustri di pedesaan, yakni mengolah produkproduk mentah hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, sehinga berperan sbg motor penggerak perekonomian desa. o Menggalakkan industri kerajinan/rumahtangga yang berorientasi ekspor, sebagai substitusi mata pencaharian di sektor pertanian. o Dll.