Anda di halaman 1dari 7

RINGKASAN PLURALISME KEAGAMAAN DAN AL-QURAN (HALAMAN 411-417) Dalam Buku Ensiklopedi AL-Quran Karya Jane dammen McAuliffe

Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Isu-isu Aktual dan Pengembangan Tafsir Hadus Konteks Keindonesian Dosen pengampu: Dr. Phil Sahiron Samsudin, M.A

Oleh: Lailatul Rohmah Liza Rositasari Muawanah Masmukhah Rahmah Setyawati Siti Nurul Atiqah

MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KAIJAGA YOGYAKARTA 2008

PLURALISME KEAGAMAN Najran Najran bukanlah sebuah nama surat dalam Al-Quran tetapi kemungkinan disinggung kisahnya dalam QS. 34: 18 juga mungkin di dalam QS. 85: 4-9. Ia merupakan delegasi yang dikirim orang-orang Kristen kepada Muhammad di Madinah, setelah orang-orang Muslim menaklukan Arab Selatan. Beberapa sumber mengindikasikan bahawa mereka membawa misi teologi. Utusan yang dikirim kepada Muhammad tersebut didorong oleh kepentingan politik sehubungan dengan penentuan kondisi orang-orang Nasrani di bawah peraturan baru orangorang Muslim. QS. 3: 61 mengisahkan bahwa Muhammad mengajak utusan Nasrani untuk berMubahalah, tetapi mereka menolak dan ini menjadi bukti kebenaran Muhammad. Kebebasan beribadah bagi umat Kristen dijamin dengan membayar pajak tahunan kepada umat Muslim. Meskipun kontak dengan Yahudi terjadi secara singkat namun itu sedikit banyak menimbulkan problematik di komunitas Muslim. Penduduk Makkah sebagai upaya mengikis kepemimpinan Muhammad di Makkah. Terjadi perlawanan dan pengusiran terhadap suku-suku Yahudi pada tahun 624-625 SM. Puncaknya terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap laki-laki maupun budak wanita dan anak-anak Bani Qurayza pada tahun 627 SM. Wacana tentang Non-Muslim dalam Al-Quran berdasarkan interprestasi secara tradisional bahwa Muhammad atau umat Muslim sebenarnya juga membahas tentang politik dan teologi dengan individu yang tidak menerima pesan-pesan Al-Quran. Faktanya, mayoritas sindiransindiran Al-Quran ditujukan kepada Ahli Kitab dan Bani Israil.

Retorika: Polemik Dan Apologetik Batas polemik antara anti Yahudi dan anti Kristen tidak jelas. Terkecuali beberapa pernyataan-pernyataan positif tentang orang-orang Kristen yang ditandai kontrasnya pandangan mereka tentang Yahudi (yaitu. QS 5: 82), hal ini merupakan sebuah pertahanan Yesus dalam melawan fitnah Yahudi (ketidakterimaan mereka terhadap status kenabiannya; penyalibannya; dan fitnah melawan Maria) juga penyucian orang-orang Kristen untuk melebih-lebihkan agama mereka. Terutama sekali menyangkut penjelmaan/titisan dan tritunggal. Orang-orang Kristen juga dituduh dengan mengadakan cara hidup biarawan (QS. 57: 27) lagi pula, ada tuduhan polemik yang sulit dimengerti bahwa orang Yahudi sudah mengambil Ezra (Uzair) sebagai putra Allah (QS. 9: 30). Meski polemik yang melawan orang-orang Kristen itu kurang meresap dan agak sedikit ganas dibanding tuduhan terhadap orang-orang Yahudi, di dalam analisa yang

akhir, orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen dianggap saling bermusuhan dan keduanya tidak bisa dijadikan sebagai sahabat yang bisa dipercaya ( QS. 5: 51). Apologetik Menghadapi tantangan orang Yahudi secara rasial bahwa Muhammad tidak bisa menjadi seorang nabi (tidak ada para nabi di luar Israil), Al-Quran menanggapi bahwa Abraham bukan seorang Yahudi, tetapi ia adalah orang yang beriman, yang dalam Islam disebut al-hanif (QS. 3: 67). Argumentasi bahwa pengajaran-pengajaran Muhammad tidak sesuai dengan Alkitab (lihat KITAB SUCI DAN AL-QURAN) adalah juga berbalik melawan orang Yahudi, karena mereka sudah merusak perjanjian dengan Allah (qm: cf. Eg Qs. 2: 27, 63-64), kitab suci mereka palsukan (cf. Eg. QS 2: 77-79) lihat REVISION AND ALTERASION), dan menolak para nabinya, di antaranya Musa dan Yesus (eg. QS 2: 67 f; 87 f; lihat juga DISOBEDIENCE: cf. QS: 65). Ada juga kesadaran diri menolak terhadap praktek-praktek Yahudi: yaitu perubahan qibla dari Yerusalem (qv) ke arah Makkah (QS 2: 142); seperti juga reduksi puasa Ashura (cf. QS 2: 183-5: lihat Goitein. Bulan puasa: lihat juga RAMADHAN. Tanggapan kepada orang-orang Kristen difokuskan pada pembahasan tritunggal atau tema-tema Christological, yaitu 5: 73 jangan katakan Allah adalah sepertiga dari tiga. Thalitu thalathatin; (cf. Griffith, Syriacism) satu argumentasi bahwa kata ini adalah terjemahan Arabisasi dari kata Syria, di dalam ilmu bahasa baru, kata tersebut adalah julukan Syria thlithaya. Yang merupakan julukan Kristus), tetapi ada beberapa pertanyaan-pertanyaan dari apa [yang] bisa dibaca sebagai kerjasama/kolaborasi antara Kristen-Muslim atau mereka saling terlibat (yaitu. QS. 61: 6, ketika Yesus meramalkan seorang nabi bernama Ahmad). Lihat juga APOLOGETICS tanggapan. Sejak masa pemerintahan Abbasiyah (132-44/750) telah banyak fakta yang menunjukkan bahwa pada polemik antara orang Muslim dan Kristen, polemik tersebut dipicu adanya pembelaan diri orang-orang Muslim yang menjadikan hal tersebut seolah-olah dari al-Quran. Dan didorong oleh tidak adanya kesejajaran komunikasi dengan orng-orang Kristen (Yahudi), mereka juga ingin mempertahankan kepercayaan mereka. Namun bagi sebagaian orang-orang Muslim berpendapat bahwa ada pengetahuan tentang hubungan berbagai agama dalam AlQuran. Menurut versi pengarang Muslim, menyebutkan bahwa dalam Alkitab (literatur) Yahudi juga telah disebutkan bahwa ada hubungan kekeluargaan antara Islam dan Yahudi. Hal ini dibuktikan dengan adanya literatur Islam yang membahas tentang Israiliyat, seperti pembahasan

kisah-kisah para nabi dalam Al-Quran yang dikemukakan setelah peridode turunnya Al-Quran. Selain hal tersebut, adanya pengembangan ilmu kalam dan mistik Islam, yang telah menghiasi pada awal Bani Abbasiyah yang mungkin timbul karena adanya interaksi dengan Kristen, penaklukkan tanah khususnya perbatasan Bizantium. Walaupun permulaan perdebatan tentang pluralisme ditimbulkan oleh Al-Qur;an dan litelatur Muslim seperti dalam karya Bukti Kenabian (Abdul Al Jabbar), (serta juga dimunculkan lewat) lingkungan pluralisme Kristen, seperti (Thomas, Cristian at the heart of Islamic ruler, antiCristian polemic in early Islam, early Muslim plolemic againts Chistianity). Namun Islam klasik menanggapi bahwa pluralisme agama itu mungkin lebih baik dilihat dalam perkembangan sekte (kelompok) dan aliran (Ilm al Firaq and al Milal wa al Ahwal Nihal). Salah satu contoh adalah aliran Abdul al-Qohir al Baghdadi (492/1037) al Faraq bayna i-Firoq, Ibnu Hazm (456/1064) al Fisal fil i-milal wa-l-ahwawa l nihal dan al-Shahsastanis (548/1153) kitab al Milal wa Nihal. Seperti karya katalog dan diskusi, berbagai versi bidah dalam Islam, agama non-Islam dan bentuk spekulasi filsafat. Selanjutnya refleksi (penerapan) materi Yahudi dan Nasrani telah menyediakan karya yang berhubungan dengan permulaan Injil dan pewahyuan AlQuran. Ini merupakan suatu tradisi panjang bagi para pelajar bibliografi Muslim, hal ini merupakan karya sejarah, tafsir, dan aliran-aliran (McAuliffe, Quranic context).

Kesimpulan Sikap Al-Quran Terhadap Pluralisme Agama Sebagaimana yang diindikasikan bahwa Al-Quran tidak memiliki sikap yang sama tehadap umat agama lain. Untuk mengungkap indikasi tersebut perlu adanya pemahaman AlQuran yang dimulai dari melihat berbagai macam kejadian, waktu, konflik, yang dilakukan dalam kehidupan Nabi Muhammad. Dan yang paling penting adalah mengetahui bagaimana perjalanan yang telah digunakan dalam penafsiran Al-Quran yang mendukung dan menyalakan sebuah kepercayaan, serta praktek keberadaan suatu kejadian. Dengan demikian orang Islam modern dapat menyeleksi dan mengambil sikap terhadap hal tersebut. Dan juga ketentuan AlQuran telah banyak digunakan dalam diskusi oleh anggota suatu kelompok kepercayaan, sehubungan dengan pemparan beberapa kemungkinan petunjuku Al-Quran, bagi tingkah laku umat Islam terhadap non-Muslim dalam hal pluralitas keberagamaan.

Pujian Dan Celaan

Tidak ada satupun pandangan Al-Quran tentang pluralitas. Pada satu sisi, ada statemen yang sering dikutip oleh ulama terkemuka seperti Yusuf Qordhawi dan ulama-ulama lain. Mereka menganjurkan harus adanya toleransi beragama. Pluralitas beragama itu dibolehkan, selama Muslim memdominasi praktek politik, dan golongan minoritas menyerahkan kemajuan pada syariah sebagai kesesuaian bagi non Muslim. Di balik statemen Al-Quran yang mengizinkan adanya agama lain, hal ini mengandung pengakuan atas kebaikan penganut agama lain. Misalnya orang-orang Kristen yang telah membantu Muslim, orang Yahudi dan Kristen yang mempunyai pengetahuan sama tentang Injil. Pada sisi lain, orang ekstrim seperti Usama bin Laden, menurut penafsiran Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb sebenarnya bisa menyebutkan beberapa ayat dalam menolak adalanya pluralitas beragama, serta pandangan negatif terhadap non Muslim. Pada bacaan ini, ada beberapa hal yang tidak dapat dikolaborasikan dengan non Muslim, paling tidak bagi Muslim yang jahat. Tema-tema Al-Quran seperti hukuman bagi non Muslim pada hari kemudian, mereka yang memusuhi Nabi Muhammad, bahwa Islamlah agama yang benar di hadapan Tuhan, Yahudi dan Kristen adalah agama yang telah lalu. Sebagaian dari bacaan ini adalah celaan Al-Quran terhadap agama lain dan pengingkaran terhadap pluralitas beragama. Pada kenyataannya ada tema-tema Al-Quram yang berlawanan, pertanyaan yang harus kita pikirkan adalah apa yang harus dilakukan Al-Quran dalam menasehati Muslim dalam menghadapi pluralitas beragama.

Pedoman Tingkah Laku Umat Muslim Sementara itu ayat-ayat seperti QS. 109: 6 dipahami untuk menyatakan eksistensi dari sebuah pluralitas agama (bagimu din-mu dan bagiku din-ku), ada berbagai interprestasi terhadap pemaknaannya; ditujukan bagi mereka orang-orang Quraisy (q.v) yang menghina monotheisme Muhammad (al-Mustahziin) )Muqotil, Tafsir, iv, 887-8); lihat AYAT-AYAT TENTANG SYAITAN); merupakan sebuah afirmasi tentang perbedaan antara agama umat Muslim dan orang-orang musyrik (dan bukan Yahudi sejati, karena umat Yahudi menyembah Tuhan; ibid), adalah sebuah penyangkalan dari semua yang melibatkan penyembahnya (Ibnu Katsir, Tafsir, ad loc, yang referensinnya adalah keadaan anak-anak Sang Penolong yang muncul di antara Bani Nadir pada saat pengusiran mereka; lihat EMIGRAN DAN PENOLONGNYA) menunjukkan sebuah pernyataan Al-Quran bahwa tidak setiap orang akan menerima kebenaran dari pesan Al-Quran. Namun ini juga tidak memberikan sebuah interprestasi yang bervariasi:

Muhammad tidak memaksakan siapapun dari masyarakat Makkah untuk menerima Islam; para ahli dari dua kitab dan orang-orang Majusi boleh membayar jizya dan hidup secara damai dalam Negara Islam; tidak pernah ada paksaan terhadap siapapun yang telah membayar jizya (Tabari, Tafsir, ad.loc.). meskipun demikian, sebuah survey terhadap penafsiran tunduknya umat Muslim bahwa tidak ada pemujaan tertentu terhadap perbedaan keyakinan religius. Malahan diterima sebagai aspek yang tidak dapat terelakan dari eksistensi manusia. secara umum penafsirannya tidak menginterprestasikan Al-Quran dijanjikan hukuman di akhirat (lihat AMAL DAN SIKSAAN). Penerimaan yang memuji kebaikan orang terhadap orang-orang beriman secara universal sebagaian besar diinterprestasikan dengan pengertian yang terbatas, yaitu mereka, individu-individu yang layak dihargai adalah orang-orang yang tidak berbuat di luar batas-batas agama mereka, atau mereka yang dengan cara lain membantu umat Muslim atau setidaknya tidak membahayakannya. Mereka tahu tempat mereka yang pantas dan tidak memposisikan agama mereka di atas umat Muslim. Walaupun penerimaan Al-Quran seperti QS. 2: 256 (tidak ada paksaan dalam agama) atau QS. 109: 6 (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) seringkali disebut-sebut sebagai bukti tertulis tentang sebuah toleransi Islam terhadap masyarakat non Muslim, seperti yang tertulis di atas, mereka dengan berbagai macam cara menginterprestasikan terhadap laporan sejarah Islam. Malahan contoh-contoh sejarah yang bertentangan antara pengusiran bangsa Spanyol abad pertengahan di tanah Yahudi dan di Istanbul yang menyebutnya seringkali menawarkan alasanalasan keuntungan kepada masyarakat non-Muslim terhadap pendudukannya dalam

pemerintahan, dulu atau sekarang (cf. Qardawi, al-aqaliyyat). Namun ada penerimaan lain yang tidak seluruhya ambigu dalam peringatan mereka terhadap Islam sebagai agama yang benar dan peringatan mereka untuk menjaga jarak dengan (pengikut) agama lain. QS. 9: 5 dan 9: 29 mungkin adalah ayat yang paling terkenal dan tidak terkenal yang menentukan perilaku yang pantas pada masyarakat non Muslim (lihat McAulliffe, Fakhr alDin). Tetapi ada yang lain, setidaknya sering disebut-sebut sebagai ayat-ayat yang menunjukkan pada apa yang bisa dianggap sikap Al-Quran terhadap masyarakat non Muslim. Berikut merupakan sebuah pengambilan contoh ayat-ayat tersebut: QS. 5: 3, Aku telah menurunkan Islam untuk menjadi agamamu; QS. 30: 30, itulah agama yang benar (cf. QS. 30: 43; 39: 3; 61: 9; 98: 5); QS. 30: 32, mereka telah membagi-bagi agamanya dan menjadi sekte-sekte; QS.

24: 2, keraslah kepada mereka yang menangkapmu karena agama Allah (c. QS. 5: 77); QS. 40: 26, Aku kwatir bahwa dia akan mengubah agamamu. Dengan memperhatikan secara keseluruhan, Al-Quran dengan jelas menunjukkan penilaian yang negatif terhadap ahli-ahli Kitab, yang mengklaim bahwa mereka berlebih-lebihan dalam agama mereka dan bahkan mengubah kitab-kitab Injil (lihat juga DISTORSI; PEMALSUAN; PROVOKASI). Oleh karena itu, umat Muslim harus menjaga jarak dan bila perlu, memerangi mereka seperti halnya kepada masyarakat non-Muslim lainnya. Meskipun demikian merupakan penjelasan literatur dan doktrin tentang penghapusan (q.v), yang membentuk pandangan melalui apa yang ditinjau oleh Al-Quran, dan yang telah menginformasikan perilaku umat Muslim tradisional kepada masyarakat non-Muslim. Karena meskipun berlebih-lebihan terhadap penerimaan Al-Quran yang membicarakan tentang siksa dunia akhirat terhadap orang-orang yang tidak beriman, merupakan kecenderungan mereka yang mempelajari paling akhir yang menempatkan semua masyarakat non-Muslim, bahkan ahli-ahli kitab, ke dalam kategori itu yang menganjurkan bacaan Al-Quran yang dapat mendukung sebuah sikap antagonis terhadap masyarakat non-Muslim, dan bahkan umat Muslim yang dianggap tidak benar-benar Muslim (cf. McAulliffe, Agama Kristen dalam Al-Quram, untuk pembahasan yang lebih lanjut terhadap perbedaan antara peryataan Al-Quran dan lalu penafsiran selanjutnya).