Anda di halaman 1dari 10

Demam dan Penggunaan Antipiretik pada Anak

Abstrak
Demam pada anak merupakan salah satu gejala klinis yang paling umum yang ditangani oleh dokter anak dan penyedia perawatan kesehatan lainnya dan sering menjadi penyebab kekhawatiran orang tua. Banyak orang tua menggunakan antipiretik bahkan ketika ada demam minimal atau tidak, karena mereka khawatir bahwa anak harus mempertahankan suhu "normal". Demam, bagaimanapun, bukanlah penyakit utama tetapi mekanisme fisiologis yang memiliki efek menguntungkan dalam memerangi infeksi. Tidak ada bukti bahwa demam itu sendiri memperburuk perjalanan penyakit atau yang menyebabkan komplikasi neurologis pada jangka panjang. Dengan demikian, tujuan utama dari merawat anak demam harus untuk meningkatkan kenyamanan keseluruhan anak daripada hanya memfokuskan pada menormalisasi suhu tubuh. Ketika konseling orang tua atau pengasuh seorang anak demam, pentingnya kegiatan monitoring, kesejahteraan umum anak, mengamati tanda-tanda penyakit serius, mendorong asupan cairan yang sesuai, dan penyimpanan antipiretik yang aman harus ditekankan. Bukti saat ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan substansial dalam keamanan dan efektivitas acetaminophen dan ibuprofen dalam perawatan anak umumnya sehat dengan demam. Ada bukti bahwa menggabungkan 2 produk ini lebih efektif daripada penggunaan obat tunggal saja, namun ada kekhawatiran bahwa pengobatan kombinasi mungkin lebih rumit dan berkontribusi pada penggunaan obat yang tidak aman. Dokter anak juga harus mempromosikan keselamatan pasien dengan memberikan formulasi yang lebih sederhana, instruksi dan cara dosis.

Introduksi
Demam adalah salah satu gejala klinis yang paling umum yang ditangani oleh dokter anak dan penyedia perawatan kesehatan lainnya dan merangkumi sepertiga dari semua kondisi yang termanifestasi pada anak-anak.1 Demam pada anak umumnya menyebabkan kunjungan ke dokter yang tidak terjadwal, panggilan telepon dari orang tua ke dokter anak-anak mereka untuk mendapatkan nasehat pada pengelolaan demam, dan penggunaan luas antipiretik. Orang tua sering bimbang tentang bagaimana mempertahankan suhu normal pada anak mereka yang sakit. Banyak orang tua menggunakan antipiretik meskipun ada sedikit atau tidak ada demam.2 Kira-kira setengah dari orang tua berpendapat bahwa suhu kurang dari 38 C (100.4 F) adalah demam, dan 25% dari perawat akan memberikan antipiretik untuk suhu kurang dari 37,8 C (100 F) .1,3 Selanjutnya, (n = 340) 85% orang tua mengaku membangunkan anak mereka dari tidur untuk memberikan antipiretik.1 Sayangnya, sebanyak setengah dari orang tua memberikan dosis antipiretik yang salah; sekitar 15% dari orang tua memberikan dosis acetaminophen atau ibuprofen yang supratherapeutic.4 Pengasuh yang mengetahui bahwa dosis harus didasarkan pada berat atau usia pada demam tinggi sangat kecil kemungkinannya untuk memberikan dose salah. 4 Dokter dan perawat adalah sumber utama informasi tentang manajemen demam untuk orang tua dan pengasuh, meskipun ada beberapa perbedaan antara pandangan orang tua dan dokter tentang terapi antipiretik.1 Indikasi yang paling umum untuk memulai terapi antipiretik oleh dokter anak adalah suhu yang lebih tinggi dari 38,3 C (101 F) dan meningkatkan anak kenyaman anak secara keseluruhan.5 Meskipun hanya 13% dari dokter anak secara khusus menyatakan ketidaknyamanan adalah sebagai indikasi utama untuk penggunaan antipiretik, 6 tujuan ini umumnya tersirat dalam rekomendasi mereka. Sebagian besar dokter anak (80%) percaya bahwa anak sakit tidak harus dibangunkan hanya untuk diberikan antipyretics.5 Terapi antipiretik akan tetap menjadi praktek umum oleh orang tua dan umumnya didorong dan didukung oleh dokter anak. Jadi, dokter anak dan penyedia layanan kesehatan bertanggung jawab atas konseling yang tepat kepada orangtua dan pengasuh lain tentang demam dan penggunaan antipyretics.7

Fisiologi Demam
Harus ditekankan bahwa demam bukan penyakit tetapi, pada kenyataannya, mekanisme fisiologis yang memiliki efek menguntungkan dalam melawan infeksi.8-10 Demam menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan virus, meningkatkan produksi neutrofil dan proliferasi T-limfosit, dan membantu dalam reaksi fase akut tubuh.11-14 Tingkat demam tidak selalu berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit. Kebanyakan demam yang durasi pendek, adalah jinak, dan benar-benar dapat melindungi host.15 Data menunjukkan efek menguntungkan pada komponen tertentu dari sistem kekebalan tubuh pada demam, dan data terbatas telah mengungkapkan bahwa demam benar-benar membantu tubuh pulih lebih cepat dari infeksi virus, meskipun demam dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pada anak-anak.11 ,16-18 Bukti tidak meyakinkan, apakah mengobati dengan antipiretik, terutama ibuprofen sendiri atau dalam kombinasi dengan asetaminofen, meningkatkan risiko komplikasi dengan infeksi jenis tertentu.19,
20

Manfaat yang berpotensi dalam pengurangan demam termasuk membantu ketidaknyamanan pasien dan pengurangan kehilangan air tidak sadar (IWL), yang dapat mengurangi terjadinya dehidrasi. Risiko menurunkan demam termasuk menunda identifikasi diagnosis yang mendasari permulaan pengobatan yang tepat dan toksisitas obat. Tidak ada bukti bahwa anak-anak dengan demam, dibandingkan dengan hipertermia, akan meningkatkan risiko yang berbahaya seperti kerusakan otak.7 ,9,21-23 Demam merupakan respon fisiologis umum dan normal yang menghasilkan peningkatan dalam hipotalamus " set point " sebagai respon dalam menanggapi pyrogens, endogen dan eksogen.9, 23 Sebaliknya, hipertermia merupakan respons langka dan pathophysiologic dari kegagalan homeostasis normal (tidak ada perubahan di set point hipotalamus) yang menghasilkan produksi panas yang melebihi kemampuan untuk membebaskan panas .9,23 Karakteristik hipertermia termasuk panas, kulit kering dan disfungsi sistem saraf pusat yang menyebabkan delirium, kejang, atau coma.23 Hipertermia harus ditangani segera, karena pada suhu di atas 41 C sampai 42 C, efek fisiologis yang merugikan mulai timbul.7, 9,24 Studi petugas layanan kesehatan, termasuk dokter, telah mengungkapkan bahwa sebagian besar percaya bahwa risiko berbahaya yang terkait dengan panas meningkat dengan suhu di atas 40 C (104 F), meskipun keyakinan ini tidak terbukti.5 ,23,25-27 Seorang anak dengan suhu 40 C (104 F) dapat diatribusikan dengan suatu penyakit demam sederhana sangat berbeda dari seorang anak dengan suhu 40 C (104 F) yang timbul akibat stroke panas. Dengan demikian, meramalkan hasil serupa dari penyakit yang berbeda adalah sulit.

Tujuan Pengobatan
Sebuah diskusi tentang penggunaan antipiretik pada anak demam harus dimulai dengan pertimbangan titik akhir terapeutik. Ketika konseling keluarga, dokter harus menekankan kenyamanan anak dan tanda-tanda penyakit serius daripada menekankan normothermia. Tujuan utama dari merawat anak demam harus untuk meningkatkan kenyamanan anak secara keseluruhan. Sebagian besar dokter anak mengamati, dengan beberapa data pendukung dari penelitian, bahwa anak-anak yang demam akan mempunyai aktivitas, tidur, dan perilaku yang berbeda di samping penurunan intake oral.28 Sayangnya, ada kekurangan dari penelitian klinis menangani sejauh mana antipiretik meningkatkan ketidaknyamanan yang terkait dengan demam atau penyakit. Tidak jelas apakah meningkatkan kenyamanan dengan suhu normal, karena tindakan pendinginan eksternal, seperti spons mandi hangat, bisa menurunkan suhu tubuh tanpa meningkatkan kenyamanan.7, 29 Penggunaan pemandian alkohol bukan metode pendinginan yang tepat, karena telah dilaporkan kejadian buruk yang terkait dengan penyerapan alkohol sistemik.30 Selanjutnya, antipiretik memiliki hasil klinis lain, termasuk analgesia, yang dapat meningkatkan efek keseluruhan klinis mereka. Walau apa pun mekanisme antipiretik yang benar, banyak dokter terus mendorong penggunaan antipiretik dengan keyakinan bahwa sebagian besar manfaat adalah meningkatkan kenyamanan dan perbaikan dalam aktivitas dan nafsu makan, mengurangi rewel anak, dan dapat memonitor kondisi klinis anak keseluruhan. Karena ini adalah manfaat paling penting dari terapi antipiretik, adalah sangat penting bahwa konseling orangtua memberi fokus pada memonitor kegiatan, mengamati tanda-tanda penyakit serius, dan asupan cairan yang tepat untuk menjaga hidrasi. Keinginan untuk meningkatkan kenyamanan keseluruhan anak yang demam harus seimbang terhadap keinginan untuk hanya menurunkan suhu tubuh. Telah diketahui bahwa ada kekhawatiran yang signifikan pada bagian orang tua, perawat, dan dokter tentang dampak negatif dari demam yang telah menyebabkan apa yang dideskripsikan dalam literatur "fobia demam." Perhatian serius paling sering diidentifikasi para pengasuh dan penyedia layanan kesehatan adalah bahwa demam tinggi, jika tidak ditangani, akan berhubungan dengan kejang, kerusakan otak, dan kematian.1, 25,32,33 Dikatakan bahwa dengan menciptakan kekhawatiran yang tidak semestinya atas risiko demam, walaupun tidak ada hubungan yang jelas, dokter mempromosikan keinginan yang berlebihan pada orang tua untuk mencapai normothermia dengan agresif mengobati demam pada anak-anak mereka.

Tidak ada bukti bahwa mengurangi demam akan mengurangi morbiditas atau mortalitas dari demam. Kemungkinan pengecualian ini adalah untuk anak-anak dengan penyakit kronis yang mendasari dapat mengakibatkan metabolisme cadangan terbatas atau anak-anak yang sakit kritis, karena anak-anak ini mungkin tidak mentolerir peningkatan kebutuhan metabolik saat demam. 34 Akhirnya, tidak ada bukti bahwa terapi antipiretik menurunkan terulangnya risiko kejang demam, 35,36 Meskipun tidak cukup bukti, banyak dokter anak merekomendasikan praktek rutinitas pretreatment dengan acetaminophen atau ibuprofen sebelum pasien menerima imunisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan berhubungan dengan suntikan dan kemudian di lokasi injeksi dan untuk meminimalkan response demam .9,17,37-39 Selain itu, hasil daripada 1 penelitian terbaru menyarankan kemungkinan respon imun menurun terhadap vaksin pada pasien yang terlebih dahulu diobati dengan antipyretics.40

Meskipun literatur yang tersedia terbatas pada risiko aktual demam dan manfaat dari terapi antipiretik, diakui bahwa peningkatan kenyamanan pasien merupakan tujuan terapeutik yang wajar. Selain itu, saat ini, tidak ada bukti bahwa penurunan temperatur, harus menjadi tujuan utama dari terapi antipiretik.

Acetaminophen
Setelah bukti yang cukup muncul dari hubungan antara salisilat dan sindrom Reye, acetaminophen pada dasarnya menggantikan aspirin sebagai pengobatan primer demam. Acetaminophen dosis 10 sampai 15 mg / kg per dosis diberikan setiap 4 sampai 6 jam secara oral umumnya dianggap aman dan efektif. Biasanya, onset awal daripada efek antipiretik adalah dalam waktu 30 sampai 60 menit, sekitar 80% anak akan mengalami penurunan suhu dalam waktu tersebut (Tabel 1). TABLE 1 Antipyretic Information Variable Acetaminophen Ibuprofen

Decline in temperature, C Time to onset, h Time to peak effect, h Duration of effect, h Dose, mg/kg Maximum daily dose, mg/kg Maximum daily adult dose, g/d Lower age limit, mob

12 <1 34 46 1015 every 4 h 90 mg/kga 4 3

12 <1 34 68 10 every 6 h 40 mg/kg 2.4 6

Data represent approximate averages from referenced sources.42,43,52,54,71,82


a

Label is for 75 mg/kg; 90 mg/kg per day should be limited to less than 3 consecutive days.8385 Unless specifically recommended by a health care provider for the younger patient and, then, only after

the infant has been examined by a health care provider. Meskipun dosis regimen alternatif telah disarankan ,41-43 tidak ada bukti yang konsisten telah menunjukkan bahwa penggunaan dosis initial baik secara oral (30 mg / kg per dosis) atau rektal (40 mg / kg per dosis) meningkatkan keberhasilan antipiretik . Dosis tinggi rektal sering digunakan dalam kondisi intraoperatif tetapi tidak dapat direkomendasikan untuk digunakan dalam penggunaan klinis rutin.
44,45

Penggunaan dosis loading yang lebih tinggi dalam praktek klinis akan menambah risiko potensial untuk kekeliruan dosis yang mengarah ke hepatotoksisitas, sehingga dosis tersebut tidak direkomendasikan. Meskipun hepatotoksisitas dengan asetaminofen pada dosis yang dianjurkan telah jarang dilaporkan, 6

hepatotoksisitas paling sering terlihat dalam pengaturan karena overdosis akut. Selain itu, ada kekhawatiran yang signifikan terhadap kemungkinan hepatitis terkait asetaminofen pada overdosis kronis. Skenario yang paling sering dilaporkan adalah dari anak yang menerima dosis supratherapeutic ganda (yakni,> 15 mg / kg per dosis) atau administrasi sering dosis tunggal yang tepat pada interval kurang dari 4 jam, yang mengakibatkan dosis lebih dari 90 mg / kg per hari untuk beberapa hari.46, 47 Memberikan sediaan dewasa acetaminophen kepada anak mungkin mengakibatkan takaran supratherapeutic. Dalam 1 seri kasus,
46

setengah dari anak-anak dengan hepatotoksisitas telah menerima sediaan dewasa

acetaminophen. Satu kekhawatiran keselamatan adalah dari efek acetaminophen pada gejala berkaitan asma-, walaupun asma juga telah dikaitkan dengan penggunaan asetaminofen, kausalitas belum dilaporkan.48-51

Ibuprofen
Penggunaan ibuprofen untuk mengelola demam semakin meningkat, karena memiliki efek yang lebih lama terkait dengan penurunan suhu tubuh (Tabel 1). Studi di mana efektivitas ibuprofen dan acetaminophen dibandingkan memberikan hasil yang variabel; konsensusnya bahwa kedua obat tersebut lebih efektif dibandingkan plasebo dalam mengurangi demam dan ibuprofen (10 mg / kg per dosis) setidaknya sama efektif, dan mungkin lebih efektif daripada, acetaminophen (15 mg / kg per dosis) dalam menurunkan suhu tubuh ketika salah satu obat diberikan sebagai dosis tunggal atau berulang.52-57 Data juga menunjukkan bahwa demam tinggi dan usia anak (daripada obat tertentu yang digunakan) mungkin merupakan faktor penentu utama dari kemanjuran terapi antipiretik; mereka yang memiliki demam yang lebih tinggi dan lebih tua dari 6 tahun menunjukkan penurunan keberhasilan atau respon terhadap terapi antipiretik.54 Studi yang membandingkan pengaruh ibuprofen berbanding acetaminophen pada perilaku anak-anak dan kenyamanan mereka umumnya kurang. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam keamanan standar dosis acetaminophen berbanding ibuprofen pada anak yang sehat yang berusia antara 6 bulan hingga 12 tahun dengan demam. 58 Seperti obat anti-inflammatory drugs (NSAIDs) , ibuprofen berpotensi menyebabkan gastritis,
59,60

meskipun tidak ada data yang menunjukkan bahwa ini adalah kejadian yang

umum ketika digunakan secara akut, seperti selama sakit.58 Namun, ada laporan kasus perdarahan, gastritis, dan ulkus dari lambung, duodenum, dan esofagus yang terkait dengan NSAID, termasuk ibuprofen, bahkan ketika digunakan dalam dosis antipiretik dan analgesik biasa.59, 60 Ibuprofen tampaknya tidak memperburuk gejala asma. Kebimbangan telah dinyatakan atas efek nefrotoksisitas dari ibuprofen dalam berbagai laporan kasus, anak-anak dengan penyakit demam menderita insufisiensi ginjal apabila diobati dengan OAINS, ibuprofen atau lainnya. Jadi, dianjurkan agar berhati-hati bila menggunakan ibuprofen pada anak dengan 7

dehidrasi atau dengan penyakit yang kompleks.61-63 Pada anak-anak dengan dehidrasi, sintesis prostaglandin menjadi mekanisme yang semakin penting untuk mempertahankan aliran darah ginjal yang tepat. Penggunaan ibuprofen atau NSAID mengganggu efek prostaglandin ginjal, yang mengurangi aliran darah ginjal dan berpotensi mengganggu atau memperburuk disfungsi ginjal.61, 63 Namun demikian, tidak mungkin untuk menentukan kejadian sebenar gagal ginjal yang terkait ibuprofen setelah penggunaan jangka pendek, karena belum dipelajari atau dilaporkan secara sistematik.64 Anak-anak yang beresiko besar untuk mengalami toksisitas ginjal terkait ibuprofen adalah mereka dengan dehidrasi, penyakit jantung, penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya, atau penggunaan seiring agents nefrotoksik yang lain.62 Kelompok berisiko yang lain adalah bayi lebih muda dari 6 bulan karena kemungkinan perbedaan farmakokinetik ibuprofen dan perbedaan perkembangan pada fungsi ginjal.65 Data tidak memadai untuk mendukung rekomendasi khusus pada penggunaan ibuprofen untuk demam atau nyeri pada bayi yang lebih muda dari 6 bulan (ada data takaran untuk penutupan ductus arteriosus paten pada neonatal,
66 67

),

meskipun terdapat catatan untuk "bertanya pada dokter" pada panduan penggunaannya dalam populasi ini. Risiko lain potensial yang terkait dengan penggunaan ibuprofen merupakan asosiasi mungkin antara ibuprofen dan infeksi invasif streptokokus group A terkait varicella.68, 69 Namun, pada saat laporan ini, data tidak cukup untuk mendukung hubungan sebab akibat antara ibuprofen dan penyakit streptokokus group A yang invasif.

Alternating atau Terapi Kombinasi


Praktek yang sering digunakan untuk mengontrol demam adalah alternating atau menggunakan gabungan acetaminophen dan ibuprofen. Dalam sebuah survei sampel dari 256 orang tua atau pengasuh, 67% dilaporkan pemakaian alternating acetaminophen dan ibuprofen untuk mengontrol demam, 81% di antaranya menyatakan bahwa mereka telah mengikuti saran dari penyedia layanan kesehatan mereka atau pediatrician.70 Meskipun 4 jam adalah interval yang paling sering , orang tua melaporkan terapi alternating setiap 2, 3, 4, dan 6 jam, yang menunjukkan bahwa tidak ada konsensus pada label instruksi.

Pada saat laporan ini, 5 penelitian telah diidentifikasi bahwa dibandingkan alternatiing ibuprofen dan acetaminophen berbanding penggunaan salah satu acetaminophen atau ibuprofen sebagai agen tunggal.71-75 Awalnya, perubahan suhu yang serupa untuk semua kelompok dalam studi ini, tanpa memandang jenis terapi. Namun, 4 atau lebih jam setelah mulai pengobatan, suhu lebih rendah diamati secara konsisten pada kelompok pengobatan kombinasi. Sebagai contoh, 6 dan 8 jam setelah mulai studi, persentase lebih besar anak-anak afebrile pada kelompok kombinasi (83% dan 81%, masing-masing) dibandingkan dengan mereka dalam kelompok yang menerima ibuprofen saja (58% dan 35% , masingmasing) .71 Hanya 1 study72 dievaluasi isu terkait dengan stres dan kenyamanan dan menemukan skor stres yang lebih rendah. Study73 lain menunjukkan kecenderungan menuju normalisasi dari gejala yang berhubungan dengan demam, 24 dan 48 jam setelah terapi dimulai, namun tren ini menghilang dengan 5 hari. Meskipun studi tersebut menyediakan beberapa bukti bahwa terapi kombinasi mungkin lebih efektif dalam menurunkan suhu, pertanyaan tetap mengenai keamanan praktek ini serta efektifitas dalam meningkatkan ketidaknyamanan, yang merupakan titik akhir pengobatan primer. Kemungkinan bahwa orang tua tidak akan menerima atau tidak mengerti instruksi dosis dengan baik, dikombinasikan dengan beragam formulasi yang mengandung obat-obatan, meningkatkan potensi untuk dosis tidak akurat, atau overdosing.76
77

Akhirnya, praktik ini hanya dapat mempromosikan fobia demam yang sudah ada.

Meskipun ada beberapa bukti bahwa terapi kombinasi dapat mengakibatkan suhu tubuh lebih rendah untuk jangka waktu yang lebih besar, tidak ada bukti bahwa hasil terapi kombinasi dalam peningkatan secara keseluruhan pada hasil klinis lain. Selain itu, penelitian ini tidak terdapat jumlah subyek yang memadai untuk sepenuhnya mengevaluasi keamanan dari praktek ini. Oleh karena itu, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung atau menyangkal penggunaan rutin pengobatan kombinasi dengan kedua acetaminophen dan ibuprofen. Praktisi yang memilih untuk mengikuti cara ini harus hatihati menasihat orang tua tentang formulasi yang tepat, dosis, dan dosis interval dan menekankan kenyamanan anak bukannya pengurangan demam. 9

Instruksi kepada tenaga medis


Hal ini sangat penting bagi dokter anak dengan jelas menggambarkan penggunaan yang sesuai (misalnya, formulasi, dosis, dan dosis interval) dari acetaminophen dan ibuprofen untuk pengasuh (Tabel 1). Keselamatan anak akan lebih ditingkatkan dengan label yang jelas dan pengembangan metode dosis sederhana, konsentrasi obat yang telah ditetapkan, dan cara pemberian yang standar.78-80 Produk batuk pilek yang mengandung acetaminophen dan ibuprofen tidak boleh diberikan kepada anak karena kemungkinan bahwa orang tua tidak sengaja dapat memberikan anak mereka dosis simultan dari sebuah antipiretik dan obat batuk pilek yang mengandung antipiretik yang sama. Selain itu, bukti keberkesanan adalah kurang untuk produk kombinasi untuk anak-anak. Untuk anak-anak yang memerlukan sediaan cair, dokter harus mendorong keluarga untuk hanya menggunakan 1 formulasi. Acetaminophen merupakan bahan yang paling umum terlibat dalam kunjungan di gawat darurat untuk overdosis obat pada anak-anak, dan lebih dari 80% dari kunjungan darurat adalah hasil dari ingesti81 tanpa pengawasan, karena itu, penanganan dan penyimpanan antipiretik harus dianjurkan.

Konseling yang tepat pada pengelolaan demam dimulai dengan membantu orang tua memahami bahwa demam, tidak diketahui membahayakan anak sehat secara umum. Sebaliknya, demam sebenarnya mungkin bermanfaat, dengan demikian, tujuan sebenarnya dari terapi antipiretik tidak hanya untuk menormalkan suhu tubuh melainkan untuk meningkatkan kenyamanan keseluruhan dan kesejahteraan anak. Acetaminophen dan ibuprofen, jika digunakan dalam dosis yang tepat, umumnya dianggap sebagai agen yang aman dan efektif dalam situasi klinis yang paling. Namun, seperti dengan semua obat, mereka harus digunakan secara bijak untuk meminimalkan risiko efek obat yang merugikan dan toksisitas. Kombinasi terapi dengan acetaminophen dan ibuprofen dapat menempatkan bayi dan anak-anak terpapar risiko karena kesalahan pemberian dosis dan hasil yang merugikan, dan potensi risiko ini harus dipertimbangkan dengan seksama. Ketika konseling keluarga pada pengelolaan demam pada anak, dokter anak dan penyedia perawatan kesehatan lainnya harus meminimalkan fobia demam dan menekankan bahwa penggunaan antipiretik tidak mencegah kejang demam. Dokter anak harus berfokus pada pemantauan untuk tanda-tanda / gejala penyakit serius, meningkatkan kenyamanan anak dengan mempertahankan hidrasi, dan mendidik orang tua pada penggunaan yang tepat, dosis, dan penyimpanan aman antipiretik. Untuk mempromosikan keselamatan anak, dokter anak harus mengadvokasi sejumlah formulasi acetaminophen dan ibuprofen terbatas dan pelabelan yang jelas dari instruksi dosis dan takaran termasuk sediaan untuk produk antipiretik.

10