Anda di halaman 1dari 102

PENGARUH CORRUPTION PERCEPTION INDEX DAN SUKU BUNGA TERHADAP TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI MELALUI INVESTASI ASING (Studi

Kasus Negara ASEAN Tahun 1996-2008)


SKRIPSI

Disusun Oleh :

NOVITA JUNI .A NIM. 0610210095


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Derajat Sarjana Ekonomi

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul : Pengaruh Corruption Perception Index dan Suku Bunga Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Melalui Variabel Investasi Asing (Studi Kasus Negara ASEAN Tahun 1996-2008) . Tak lupa pula penulis sampaikan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawakan petunjuk hidup bagi umat manusia yakni Al Quran. Dan juga penulis sampaikan rasa terima kasih yang mendalam seluas samudra dan daratan kepada kedua orang tua tercinta yang telah memberikan kasih sayangnya hingga penulis tumbuh dewasa. Penyusunan Skripsi ini ditujukan untuk melengkapi persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana Ekonomi pada jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Ide awal penulisan Skripsi ini timbul karena pentingnya tingkat korupsi terhadap perkembangan perekonomian suatu negara, mengingat korupsi memiliki dampak negatif di banyak aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Melihat pengaruh korupsi membawa dampak yang signifikan terhadap investasi asing dan pertumbuhan ekonomi maka diperlukan keseriusan usaha perbaikan dari pemerintah masing-masing negara untuk mengatasi dan memberikan kepastian hukum terhadap tindak korupsi di negara mereka. Kepastian hukum sangat penting bagi investor untuk menjamin kelangsungan dan kesinambungan return dari investasi yang ditanam. Diharapkan pemerintah dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif, investasi akan meningkat apabila didukung oleh kondisi stabilitas ekonomi, sosial dan politik yang kondisuf sehingga menciptakan sektor riil yang stabil. Dengan selesainya penyusunan Skripsi ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih serta penghargaan yang tinggi kepada : 1. Ibu Farah Wulandari Pengestuty, SE., ME. selaku Dosen Pembimbing Skripsi 2. Bapak Dr. Ghozali Maski, SE., MS. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan. 3. Bapak Dias Satria, SE, M.App.Ec. dan Bapak Putu Mahardika Adi S., SE., M.Si., MA., Ph.D. selaku Dosen Penguji. 4. Teman-teman di Jurusan Ekonomi Pembangunan (angkatan 2006 khususnya) 5. Pihak-pihak lain yang turut membantu dalam penulisan skripsi Penulis menyadari bahwa penyusunan Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan Skripsi ini. Akhirnya, penulis berharap semoga karya ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Malang, September 2010

Penulis

ABSTRAKSI

Juni, Novita. 2010. Pengaruh Corruption Perception Index dan Suku Bunga Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Melalui Variabel Investasi Asing (Studi Kasus Negara ASEAN Tahun 1996-2008). Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya. Farah Wulandary Pangestuty, SE., ME. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel Corruption Perception Index/CPI dan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi asing langsung. Karena seperti diketahui pertumbuhan ekonomi adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, sedangkan investasi asing merupakan salah satu sumber pembiayaan (modal) yang mampu memberikan kontribusi cukup besar bagi pembangunan melalui transfer asset, manajemen dan teknologi. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas (CPI dan suku bunga) terhadap variabel terikat (pertumbuhan ekonomi) melalui variabel intervening (investasi asing) digunakan analisa data panel dengan metode analisis jalur. Dari hasil analisis jalur diketahui CPI memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi secara positif dan signifikan dengan koefisien regresi sebesar 1,054, tetapi pengaruh langsung CPI terhadap GDP tidak signifikan dengan hubungan yang negatif. Sedangkan suku bunga memiliki pengaruh secara langsung sebesar -0,6829 dan pengaruh tidak langsung terhadap GDP sebesar 0,12188. Investasi asing sendiri memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,391. Koefisien determinasi total sebesar 60,93 % menjelaskan pengaruh total ketiga variabel tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kata Kunci: Corruption Perception Index Investasi asing Pertumbuhan ekonomi Analisis jalur

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ABSTRAKSI DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Permasalahan 1.3. Tujuan Penelitian 1.4. Manfaat Penelitian BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1. Dampak Korupsi Terhadap Perekonomian .......................9 ......10 ..................12 ............14 ..............16 .................................................................1 ................................................................... 7 ...................................................................8 .............................................................8 .........................................................................i ..............................................................................ii ............................................................................iii .............................................................................vi .............................................................................vii

2.1.1. Pengaruh Korupsi Terhadap Investasi Asing 2.1.2. Indikator Kontrol Korupsi

2.2. Pengaruh Suku Bunga Terhadap Minat Investor Asing 2.2.1 Konsep Marginal Efficiency of Capital (MEC) 2.3. Pengertian Investasi 2.3.1 Investasi Asing 2.3.2 Teori Investasi

.........................................................17 ........................................................19 ..................................................22

2.3.3 Teori Investasi Asing Langsung dan Perusahaan Multinasional 2.4 Arti Pertumbuhan Ekonomi .................................................24 ..............................................26 ..................27

2.4.1 Faktor-faktor Pertumbuhan Ekonomi

2.4.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi

...............................29 .........29

2.4.2.1 Model Pertumbuhan Harrod-Domar

2.5 Hubungan Antara Variabel Independent Terhadap Variabel Dependent ...................................................29 ..................30 .......31

2.5.1 Pengaruh CPI Terhadap Investasi Asing

2.5.2 Pengaruh Suku Bunga Terhadap Minat Investasi 2.5.3 Pengaruh Investasi Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi 2.6 Penelitian Terdahulu 2.7. Kerangka Berpikir 2.8. Hipotesis BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian 3.2 Jenis dan Sumber Data 3.2.1 Jenis Data 3.2.2 Sumber Data 3.3 Definisi Operasional Variabel 3.4 Metode Analisis Data

................................31 ...................................32 ..........................................34 ..........................................................37

...................................38

............................................................38 .......................................38 ...................................39 ........................................................40 ........................................40 .....................................41 .....................................42 ............43 ...............43 ................44

3.4.1 Permodelan Data Panel 3.4.1.1 Model Efek Tetap 3.4.1.2 Model Efek Random

3.4.1.3 Uji-uji dalam Permodelan Data Panel 3.4.1.3.1 Uji Chow 3.4.1.3.2 Uji Hausman 3.4.2 Analisis Jalur

...............................................45

3.4.3 Asumsi yang Melandasi Analisis Jalur

...........................47

3.4.4 Uji-uji yang Dilakukan dalam Analisis Jalur .......................47 BAB IV : PEMBAHASAN 4.1 Hasil Estimasi .............................................................49

4.1.1 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel Pengaruh CPI dan IR Secara Tidak Langsung Terhadap GDP ......49

4.1.2 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel Pengaruh CPI dan IR secara Langsung Terhadap GDP 4.1.3 Uji dalam Analisis Jalur 4.1.3.1 Uji Linieritas 4.1.3.2 Uji Validitas 4.2 Pembahasan Hasil Analisis Data 4.2.1 Hasil Pengujian Hipotesis 4.2.2 Pembahasan ..............53

.................................................58 ........................................58 ............................................60 ..........................61 ................................62

...........................................................59

4.2.2.1 CPI dan suku Bunga Terhadap Investasi Asing 64 4.2.2.2 Investasi Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ...................................70 BAB V : PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran .......................................................74 ............................................................75

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

..............................................................77 ..............................................................79

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pengeluaran Investasi sebagai Fungsi Tingkat Bunga Gambar 2.2 Kurva Fungsi Investasi (MEC) Gambar 2.3 Kurva Investasi Gambar 2.4 Dampak Kesejahteraan dari Arus Modal Internasional Gambar 2.5 Kerangka Berpikir Gambar 3.1 Hubungan antar variabel dalam Diagram Path Gambar 4.1 Sub Struktur 1 Gambar 4.2 Sub Struktur 2 Gambar 4.3 Sub Struktur 3 a Gambar 4.4 Sub Struktur 3 b Gambar 4.5 Diagram Path

15 17 19 21 36 46 50 52 54 56 61

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perkembangan PMA di ASEAn (miliar dollar AS), 1996-2008 Tabel 1.2 Perkembangan Suku Bunga di ASEAN, 1996-2008 Tabel 1.3 Perkembangan Skor CPI di ASEAN< 1996-2008 Tabel 4.1 Hasil Estimasi CPI dan IR terhadap Investasi Tabel 4.2 Pengaruh Cross Section Tabel 4.3 Pengaruh Cross Section Tabel 4.4 Hasil EstimasiCPI dan IR terhadap GDP Tabel 4.5 Pengaruh Cross Section Tbel 4.6 Signifikansi Variabel Independent dari model

2 4 6 50 51 52 54 56 57

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap negara menyadari pentingnya pembangunan nasional dan usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat, pemerintah giat melaksanakan program-program

pembangunan ekonomi yang meliputi usaha-usaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif serta

meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat. Dalam Laporan Pembangunan Dunia (2005:2) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi satusatunya mekanisme yang berkelanjutan untuk meningkatkan taraf kehidupan suatu masyarakat.

Salah satu penentu pertumbuhan ekonomi menurut Jhingan (2004:338) adalah pembentukkan modal (capital formation) dan investasi. Investasi akan memperkuat pertumbuhan ekonomi dengan mendatangkan lebih banyak input ke dalam proses produksi. Perubahan dalam investasi akan mempengaruhi permintaan agregat dan pada akhirnya juga pada output dan kesempatan kerja. Jika suatu nilai investasi di suatu negara tersebut meningkat maka output potensial suatu bangsa bertambah dan pertumbuhan ekonomi meningkat (Samuelson, 1993:173).
Todaro (1994:110) juga mengungkapkan bahwa investasi bisa

memberikan modal baru yang bisa digunakan perusahaan untuk membeli barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan produksi

barang dan jasa dalam perekonomian. Modal ini selain bisa menghasilkan return yang diharapkan oleh investor, juga bisa bermanfaat bagi negara lahan investasi tersebut. Manfaat tersebut antara lain sebagai sarana transfer modal, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, akses pasar internasional melalui produk-

produk ekspor, dan transfer kemampuan manajerial dan pengendalian mutu. Begitu pentingnya keberadaan investasi, terutama bagi negara

berkembang, peningkatan modal berarti berjalannya perekonomian secara keseluruhan. Tetapi akumulasi modal yang bersumber dari dalam negeri kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan modal bagi pembangunan ekonomi, karena itulah dibutuhkan modal asing melalui investasi asing atau Penanaman Modal Asing guna lebih cepat mendorong laju perekonomian. Tabel 1.1 : Perkembangan PMA di ASEAN (miliar dollar AS), 1996-2008

1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Indonesia Malayisa Philipina Singapura Thailand 6194,00 5078,40 1517,00 9682,10 2335,90 4677,00 5136,50 1222,00 13752,70 3894,70 -240,80 2163,40 2287,00 7313,90 7314,80 -1865,60 3895,30 1247,00 16577,90 6102,70 -4550,40 3787,60 2240,00 16484,50 3366,00 -2977,40 553,90 195,00 15620,90 5061,00 145,10 3203,40 1542,00 7200,00 3335,00 -596,90 2473,20 491,00 11664,20 5235,00 1896,10 4624,20 688,00 19828,30 5860,30 8336,30 3966,00 1854,00 13930,30 8055,40 4914,20 6063,60 2921,00 24743,10 9452,90 6928,20 8455,50 2916,00 24137,10 11232,80 8340,30 7983,60 1520,00 22724,50 10089,50

Vietnam 2395,00 2220,00 1671,00 1412,00 1298,00 1300,00 1400,00 1450,00 1610,00 1954,00 2400,00 6700,00 9053,00

Sumber : Key Indicator ASIA ADB, diolah

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa total penanaman modal asing di setiap negara ASEAN sangat fluktuatif, dari keenam negara tersebut rata-rata total PMA yang paling besar dimiliki oleh Singapura disusul oleh Thaliand,

Malaysia, Indoensia, Vietnam dan Philipina diurutan paling sedikit total PMAnya. Singapura memiliki tren yang selalu meningkat tiap tahunnya, walaupun di tahun 1998 dan 2002 sempat mengalami penurunan yang signifikan namun totalnya masih mengungguli negara ASEAN yang lain. Sejak krisis 1997 hingga sekarang pertumbuhan arus masuk PMA ke Indonesia masih relatif lambat, bahkan hingga tahun 2001 arus masuk net PMA ke Indonesia negatif dalam jumlah dollar yang tidak kecil, dan setelah masa pemulihan krisis net PMA yang masuk mengalami kenaikan walaupun kenaikannya masih relatif lebih lambat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang juga terkena krisis yang sama seperti Thailand dan Filipina.. Arus masuk net negatif itu disebabkan banyak PMA yang menarik diri atau pindah lokasi ke negara-negara tetangga, karena iklim investasi negara tetangga dianggap oleh investor lebih kondusif daripada Indonesia. Dalam dunia nyata bahwa seorang investor domestik maupun asing yang akan menanamkan modalnya pada suatu bidang usaha tertentu akan selalu memperhatikan faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut tidak hanya

menyangkut stabilitas politik dan sosial, tetapi juga stabilitas ekonomi, kondisi infrastruktur dasar (listrik, telekomunikasi dan prasarana jalan dan pelabuhan), berfungsinya sektor pembiayaan dan pasar tenaga kerja (termasuk isu-isu perburuhan), regulasi dan perpajakan, birokrasi (dalam waktu dan biaya yang diciptakan), masalah good governance termasuk korupsi, konsistensi dan kepastian dalam kebijakan pemerintah yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keuntungan neto atas biaya resiko jangka panjang dari kegiatan investasi. Oleh karena itu, setiap pemerintah dari masing-masing negara di dunia ini selalu berusaha membentuk negaranya sebagai sebuah lahan bisnis,

investasi, produksi dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya sehingga bisa menarik minat para investor domestik maupun asing untuk menanamkan modalnya. Menurut data yang tersaji dalam Laporan World Bank (2005), suku bunga dan korupsi merupakan komponen yang dinilai sebagai biaya bagi investor. Suku bunga merupakan faktor ekonomi penentu dilakukannya investasi, yaitu apakah investasi memberikan revenue tambahan kepada perusahaan melalui penjualan produknya secara lebih besar, dan pertimbangan suku bunga sebagai harga atau biaya yang harus dibayar dalam meminjamkan uang untuk suatu periode tertentu dan ekspektasi keuntungan. Dengan demikian para investor melakukan investasi untuk mendapatkan keuntungan atas investasi yang dilakukan. Suku bunga merupakan salah satu faktor ekonomi yang cukup penting yang mempengaruhi keputusan investasi, walaupun menurut Keynes suku bunga tidaklah merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi investasi,

disamping itu masih terdapat situasi depresi atau kelesuan kegiatan ekonomi yang menciptakan ekspektasi keuntungan bisnis yang kurang menggembirakan sehingga menyebabkan rendahnya investasi meskipun suku bunga rendah. Tabel 1.2 : Perkembangan Suku Bunga di ASEAN, 1996-2008

1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Indonesia Malayisa Philipina Singapura Thailand Vietnam 17,00 7,26 9,90 3,99 8,88 9,60 16,00 9,33 11,40 4,41 11,50 9,60 28,29 5,74 13,30 2,51 6,00 11,40 22,35 3,95 12,80 2,46 4,12 7,20 12,17 4,24 10,50 2,42 3,50 6,24 15,48 4,00 10,80 1,53 2,88 6,84 15,28 4,00 9,20 1,32 2,00 7,80 10,39 3,70 8,00 0,70 1,00 7,20 7,07 3,70 8,18 0,72 1,00 7,56

2005 2006 2007 2008

10,95 11,63 8,24 10,43

3,70 3,73 3,70 3,50

6,00 5,01 3,10 3,96

0,86 0,88 0,83 0,70

3,00 4,50 2,32 1,88

8,40 8,40 8,80 13,46

Sumber : Key Indicator ADB, data diolah

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa Singapura memiliki suku bunga yang paling rendah diantara negara ASEAN yang lain, kemudian disusul terendah yang lain, yaitu Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam dan Indonesia diurutan bawah yang menetapkan suku bunga paling tinggi. Tren perkembangan suku bunga Singapura cenderung menurun hingga di level dibawah 1 %, hal ini sangat menguntungkan negera tersebut karena dengan suku bunga rendah maka akan menarik investor domestik maupun asing. Sedangkan Thailand, tren

perkembangannya berfluktuatif,namun masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lain kecuali Singapura. Indonesia yang memiliki suku bunga paling tinggi selalu bertahan pada posisi diatas 10 %, penetapan suku bunga yang tinggi menunjukkan bahwa negara tersebut berusaha memperkuat nilai tukar mata uangnya dan mengendalikan laju inflasi, walaupun hal tersebut akan mengurangi minat berinvestasi. Disamping pertimbangan suku bunga di atas yang menjadi penentu investasi, pertimbangan non ekonomi seperti tingkat korupsi, tidak kalah pentingnya untuk menentukan keberhasilan investasi. Dalam The Global Competitiveness Report (2005:9) menyebutkan bahwa salah satu faktor-faktor penghambat bisnis tertinggi keempat dari empat belas faktor adalah korupsi. Ini tentu mengurangi minat dan kepercayaan investor untuk berinvestasi. Karena tingginya korupsi dan lemahnya penegakan hukum menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy) bagi para investor.

Selain itu, korupsi selalu menyebabkan situasi sosial-ekonomi tak pasti (uncertainly). Ketidakpastian ini tidak menguntungkan bagi

pertumbuhan ekonomi dan peluang bisnis yang sehat karena selalu terjadi asimetris informasi dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Investor melihat ini sebagai resiko terbesar yang harus ditanggung dalam menjalankan bisnis, sulit diprediksi berapa Return of Investment (ROI) yang dapat diperoleh karena biaya yang harus dikeluarkan akibat praktek korupsi juga sulit diprediksi. Dalam negara yang tingkat korupsi tinggi, high cost economy dan ketidakpastian harus dihadapi oleh para investor, sehingga para investor enggan masuk menanamkan modalnya.
Dari tingginya biaya ekonomi tersebut, secara tidak langsung korupsi akan menggerogoti pendapatan negara. Seperti yang dinyatakan oleh Basri dan Munandar (2009:238), adanya korupsi dalam proses produksi barang dan jasa akan memperbesar biaya untuk barang dan jasa, sehingga produk yang dihasilkan lebih mahal dan kalah bersaing. Akibatnya, pendapatan nasional pun menyusut. Selanjutnya, kemampuan negara untuk meningkatkan kapasitas industrinya akan semakin berkurang. Jika hal tersebut berlangsung terus menerus, maka pertumbuhan ekonomi akan berjalan lamban. Oleh karena itu, beberapa investor juga melihat dan mempertimbangkan adanya faktor non ekonomi, salah satunya yaitu tingkat korupsi. Dewasa ini, tingkat korupsi suatu negara telah diinterpretasikan dalam suatu angka indeks yang paling populer dan lazim digunakan adalah Indeks Persepsi Korupsi (CPI, Corruption Perception Index) yang disusun secara rutin dan komprehensif oleh Transparency International (TI) untuk mengambil potret sesaat persepsi korupsi

di negara yang disurvei. Karena itu, CPI dapat memberikan gambaran awal mengenai situasi korupsi di suatu negara (Transparency International, 2009). Tabel 1.3 : Perkembangan skor CPI di ASEAN, 1996-2008

1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Indonesia Malayisa Philipina Singapura Thailand Vietnam 1,94 5,28 2,77 9,26 2,79 2,80 2,65 5,32 2,69 8,80 3,33 2,79 2,72 5,01 3,05 8,86 3,06 2,79 2,00 5,30 3,30 9,10 3,00 2,50 1,70 5,10 3,60 9,10 3,20 2,60 1,70 4,80 2,80 9,10 3,20 2,50 1,90 5,00 2,90 9,20 3,20 2,60 1,90 4,90 2,60 9,30 3,20 2,40 1,90 5,20 2,50 9,40 3,30 2,40 2,00 5,00 2,60 9,30 3,60 2,40 2,20 5,10 2,50 9,40 3,80 2,60 2,40 5,00 2,50 9,40 3,60 2,60 2,30 5,10 2,50 9,30 3,30 2,60

Sumber : Transparency International, data diolah

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Singapura adalah negara yang memiliki skor CPI paling tinggi yang berarti negara ini termasuk negara yang paling bersih dari korupsi, kemudian disusul Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam dan di urutan paling bawah yaitu Indonesia. Singapura adalah negara yang paling konsisten dengan skor CPI-nya yang selalu diatas 9, kemudian di urutan kedua Malaysia dengan skor CPI yang berfluktuasi di kisaran angka 5-6, diurutan ketiga tertinggi, Thailand, tren perkembangan skor CPI-nya mengalami tren naik dari kisaran angka 2 menjadi 3 sejak tahun 1996, namun turun di tahun 2007. Sedangkan negara Indonesia, Philipina dan Vietnam tetap berfluktuatif di kisaran angka 2-3. Kebijakan dan perilaku pemerintah tiap negara dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung biaya investasi. Keputusan investasi didasarkan pada ekspektasi-ekspektasi mengenai masa depan yang didasarkan

pada jejak rekam kondisi stabilitas ekonomi, politik maupun keamanan negara penerima modal. Hal ini menunjukkan pentingnya memelihara stabilitas dan kredibilitas dalam bidang ekonomi maupun nonekonomi, yang merupakan elemen penting dari suatu iklim investasi yang baik. 1.2 Permasalahan Iklim investasi mencerminkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan lokasi tertentu yang membentuk kesempatan dan insentif bagi pemilik modal untuk melakukan usaha atau investasi secara produktif dan berkembang. Iklim usaha atau investasi yang kondusif adalah iklim yang mendorong seseorang melakukan investasi dengan biaya dan resiko serendah mungkin di satu sisi, dan bisa menghasilkan keuntungan jangka panjang (Stren, 2002). Faktor ekonomi yang diwakili oleh tingkat suku bunga dan faktor non ekonomi yang diinterprestasikan dalam angka indeks korupsi, langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keuntungan atas biaya resiko jangka panjang dari sebuah kegiatan investasi. Permasalahan yang timbul adalah : 1. Bagaimana pengaruh Corruption Perception Index dan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi negara ASEAN secara langsung maupun secara tidak langsung melalui jalur investasi asing?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan diadakannya penelitian ini adalah : 1. Mengetahui pengaruh Corruption Perception Index dan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi negara ASEAN melalui jalur investasi asing.

1.4 Manfaat Penulisan Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Masyarakat secara umum dan khususnya kepada penulis sendiri, tentang bagaimana pengaruh Corruption Perception Index dan tingkat suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi yang diinvestigasi melalui respon masing-masing negara ASEAN. 2. Para pelaku ekonom serta penegak hukum sebagai bahan

pertimbangan untuk melakukan kebijakan dalam penegakan hukum, perumusan pengalokasian undang-undang, dana yang tepat pembenahan sasaran. institusi, dan

Sehingga

nantinya

diharapkan para praktisi ini dapat lebih mencermati kondisi makro dan perekonomian serta hubungannya dengan tindak pidana hukum korupsi. 3. Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya untuk memperkaya penelitian yang telah ada dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan studi serta informasi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Dampak Korupsi Terhadap Perekonomian Korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Pendapat dari beberapa pakar mengenai korupsi juga dapat dijelaskan seperti Juniadi Suwartojo (1997) menyatakan bahwa korupsi ialah tingkah laku atau tindakan seseorang atau lebih yang melanggar norma-norma yang berlaku dengan menggunakan dan/atau menyalahgunakan kekuasaan atau kesempatan melalui proses pengadaan, penetapan pungutan penerimaan atau pemberian fasilitas atau jasa lainnya yang dilakukan pada kegiatan penerimaan dan/atau pengeluaran uang atau kekayaan, penyimpanan uang atau kekayaan serta dalam perizinan dan/atau jasa lainnya dengan tujuan keuntungan pribadi atau golongannya sehingga langsung atau tidak langsung merugikan

kepentingan dan/atau keuangan negara/masyarakat. Politikus, ekonom, budayawan, dosen, mahasiswa, petani, dan para elite lain akan sepakat bahwa korupsi adalah sesuatu yang tidak baik. Akan tetapi, dari beberapa sumber ditemukan bahwa korupsi tidak hanya berdampak negatif, tetapi juga berdampak positif. Salah satu dampak positif dijelaskan dengan menggunakan game theory, Lui (1985) menunjukkan bahwa korupsi akan memperkecil biaya-biaya waktu tunggu (waiting cost), sehingga mengurangi inefesiensi dalam administrasi publik.

Didukung oleh pendapat dari Bardhan (1997) yaitu, korupsi dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dengan terbentuknya pasar gelap dan kegiatan penyelundupan yang bisa jadi lebih efisien dibandingkan jika proses transaksi ini melibatkan sektor publik. Salah satu ekonom Leff (1964) juga mengungkapkan bahwa korupsi dapat meningkatkan efisiensi apabila sektor swasta bersifat lebih efisien daripada sektor publik dalam mengalokasikan sumber-sumber melalui struktur pajak. Hanya terdapat beberapa pihak yang menyetujui tentang dampak positif dari tindakan korupsi tersebut, dan jelas ditentang oleh banyak ilmuwan bahwa dampak korupsi begitu sangat buruk terhadap perekonomian suatu Negara. Dalam World Bank Report 2005-2006, menyebutkan bahwa korupsi yang tinggi menyebabkan dampak negatif, antara lain : Pertama, menurunkan tingkat investasi, baik investor domestik ataupun asing. Kedua, menimbulkan distorsi pada perkembangan perusahaan dan pertumbuhan sektor ekonomi non-formal. Ketiga, menimbulkan distorsi pada pengeluaran dan investasi publik serta memperburuk infrastuktur fisik. Keempat, menurunkan pemasukan publik dan menghambat kesempatan untuk menegakkan hukum demi kepentingan umum. Kelima, meningkatkan kemiskinan. Secara garis besar bahwa dampak korupsi yang lebih sering terjadi justru cenderung pada pandangan kedua, bahwa tindakan korupsi akan memperlemah kinerja perekonomian suatu negara. Dalam perekonomian, korupsi mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi dengan cara mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat dimana suap dan upah tersedia lebih banyak.

2.1.1 Pengaruh Korupsi Terhadap Investasi Asing Dari sub-bab di atas disebutkan bahwa banyak ilmuwan yang berpendapat dampak korupsi begitu sangat buruk terhadap perekonomian suatu negara, diantaranya menurunkan tingkat investasi, baik investor domestik ataupun asing. Didukung juga oleh sejumlah penelitian tentang pengaruh korupsi di beberapa negara di belahan dunia yang menunjukkan bahwa betapa pentingnya kontrol korupsi karena hal tersebut berpengaruh terhadap daya tarik investor asing yang akan menanamkan modalnya ke negara tersebut. Peningkatan investasi asing yang masuk akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, dan begitu juga sebaliknya, negara yang mempunyai kontrol korupsi yang rendah akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomiannya. Beberapa pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika, adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan

perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke dalam negeri. Dalam penelitian yang dilakukan oleh pakar ekonomi di beberapa negara menjelaskan bahwa korupsi merupakan faktor non ekonomi yang berpengaruh langsung terhadap total investasi asing yang ada dalam suatu negara . Seperti menurut Chetwynd et al (2003), korupsi akan menghambat pertumbuhan investasi. Baik investasi domestik maupun asing. Mereka mencontohkan fakta business failure di Bulgaria yang mencapai angka 25 persen. Maksudnya, 1 dari 4 perusahaan di negara tersebut mengalami

kegagalan dalam melakukan ekspansi bisnis dan investasi setiap tahunnya akibat korupsi penguasa. Sedangkan dari riset yang dilakukan oleh Gupta et al (1998) pun

menemukan fakta bahwa penurunan skor CPI sebesar 0,78 akan mengurangi pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin sebesar 7,8 persen. Ini menunjukkan bahwa korupsi memiliki dampak yang sangat signifikan dalam menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, dari riset yang dilakukan oleh Mauro (2002) dengan melakukan studi terhadap 106 negara, ia menyimpulkan bahwa CPI suatu negara ternyata mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya, hal ini bisa dijelaskan dengan temuan hasil riset yang menunjukkan bahwa kenaikan 2 poin pada CPI akan mendorong peningkatan investasi lebih dari 4 persen. Dengan kondisi yang demikian, maka minat investor asing dan domestik menanamkan modal di negara tersebut bisa berkurang akibat tingginya tingkat angka korupsi. Karena korupsi dianggap sebagai bisnis dan investasi yang

cukup besar sebagai penentu pengambilan sebuah keputusan investasi bagi terutama untuk investasi jangka panjang (seperti Foreign Direct Investment/FDI). Risiko-risiko bisnis tersebut kemudian diukur sebagai suatu indikator yang menggambarkan sejauh mana persepsi responden tentang sejauh mana kecenderungan praktik dan perilaku pemanfaatan ilegal sumber-sumber daya publik untuk kepentingan pribadi yang disebut dengan CPI (Corruption Perseption Index) .( Basri, 2009:222) 2.1.2 Indikator Kontrol Korupsi Masalah-masalah akibat buruknya rule of law, khususnya bidang ekonomi, lemahnya regulatory quality, serta tingginya korupsi, tidak hanya

dialami oleh negara berkembang saja namun juga di semua negara termasuk negara maju. Hal ini dibuktikan dengan adanya Corruption Perception Index (CPI), yaitu suatu angka indeks korupsi yang dikeluarkan oleh lembaga tertentu, Transparency International. Transparency International adalah lembaga independen yang berpusat di Berlin, Jerman. Lembaga ini didanai oleh berbagai badan pemerintahan, yayasan dan perusahaan internasional di seluruh dunia. Pecetus lembaga ini melihat bahwa pemulihan ekonomi dunia yang mulai tampak dan pergulatan beberapa negara melawan konflik dan isu keamanan yang tengah berlangsung, membuktikan bahwa tidak ada bagian manapun di dunia yang kebal terhadap dampak korupsi. Oleh karena itu diperlukan sebuah alat ukur korupsi sektor domestik dan publik untuk mengenali dalam hal apa korupsi telah menghalangi tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas, sehingga dapat memutus rantai korupsi yang merusak ini. Alat ukur persepsi korupsi yang disebut dengan Corruption Perception Index (CPI) ini memberi peringkat kepada suatu negara berdasarkan tingkat korupsi yang terlihat ada di antara pejabat pemerintah dan politisi di negara tersebut yang dihasilkan melalui evaluasi terhadap tingkat korupsi di berbagai negara dilakukan oleh pakar negara bersangkutan, baik yang tinggal di negara tersebut maupun yang tidak. CPI adalah indeks gabungan dari 13 poling/survei yang dilakukan oleh 10 lembaga independen dengan memasukkan 180 negara sebagai objek survei. Indeks korupsi ini memiliki skala antara 0 (sangat korup) sampai dengan 10 (sangat bersih). Indeks tersebut mengukur persepsi terhadap tingkat korupsi pada sektor publik dalam negara yang bersangkutan.. Karena itu, CPI dapat

memberikan gambaran awal mengenai situasi korupsi di suatu negara. Namun perangkat analisis CPI tidak dapat memberikan gambaran mengenai penyebab korupsi maupun institusi mana yang perlu diperbaiki dalam suatu negara. Survei yang dilakukan oleh Transparency International ini membuktikan bahwa korupsi adalah fenomena global yang terjadi di seluruh negara di dunia, namun dengan tingkat kerawanan yang berbeda-beda. Krisis ekonomi global merupakan indikator konkrit bagaimana tidak adanya transparansi dan akuntabilitas di sektor bisnis membuka peluang terhadap korupsi, yang ternyata mampu menyebabkan efek domino yang dapat menghancurkan tata ekonomi dunia. 2.2 Pengaruh Suku Bunga Terhadap Investasi Asing Boediono (1985:75) menyatakan bahwa suku bunga adalah harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Suku bunga ini timbul karena adanya perbedaan kepuasan antara keputusan memegang uang dengan keputusan tidak memegang uang.. Para ekonom membedakan antara suku bunga nominal dengan suku bunga riil. Suku bunga nominal adalah tingkat yang dapat diamati di pasar, sedangkan suku bunga riil adalah konsep yang mengukur tingkat pengembalian setelah dikurangi laju inflasi. Efek ekspektasi inflasi terhadap suku bunga nominal itu sering disebut dengan efek Fisher yang dirumuskan dengan : i = r + p,

dimana i adalah suku bunga nominal, r adalah tingkat suku bunga riil dan p adalah ekspektasi laju inflasi. Hal tersebut berarti pada suku bunga nominal cenderung terkandung ekspektasi inflasi untuk memberikan tingkat

pengembalian yang riil atas penggunaan dana.

Untuk menentukan tingkat investasi oleh investor asing melalui investasi asing maka tingkat bunga yang berlaku di negara tersebut sangat berpengaruh dalam hal pengambilan keputusan dalam menanamkan modalnya di suatu negara, sehubungan dengan alternatif keuntungan yang akan dinikmati oleh investor, apakah menanamkan saja uangnya di bank dengan tingkat bunga yang lebih tinggi daripada untuk investasi karena keuntungan pengembalian modalnya (setelah dinilai sekarang) lebih rendah, demikian pula sebaliknya. Dari uraian di atas, diketahui bahwa suku bunga bukan satu-satunya penentu investasi, masih ada faktor lain. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan berikut : Tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh investor ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat bunga yang berlaku dan Marginal Efficiency of Capital. Perilaku makro dari para investor ini biasanya diringkas dalam bentuk satu fungsi Marginal Efficiency of Capital atau fungsi investasi. Fungsi MEC atau fungsi investasi ini menunjukkan hubungan antara tingkat bunga yang berlaku dengan tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh investor (Boediono:1985:45) Pengaruh tingkat bunga terhadap pengeluaran investasi suatu masyarakat bisa digambarkan bahwa investasi merupakan fungsi tingkat bunga, sehingga :

I < O r
dalam arti bahwa meningkatnya tingkat bunga, r, mengakibatkan berkurangnya pengeluaran investasi dan sebaliknya.

Gambar 2.1 : Pengeluaran Investasi Sebagai Fungsi Tingkat Bunga

Tingkat bunga (%) 40 35 30 20

20 40 Pengeluaran investasi
Sumber : Boediono (1985:46)

80

Dapat dilihat dari grafik di atas, tampak bahwa dengan turunnya suku bunga, jumlah pengeluaran investasi menjadi lebih besar, dan tentu sebaliknya apabila suku bunga naik, maka jumlah investasi akan turun. Ini berarti ada hubungan negatif antara tingkat suku bunga dan jumlah investasi. Walaupun suku bunga merupakan faktor yang cukup penting yang dapat menarik minat investor, tetapi investor juga mempertimbangkan apakah negara tersebut terdapat situasi depresi atau kelesuan kegiatan ekonomi yang menciptakan ekspektasi keuntungan bisnis yang kurang menggembirakan sehingga menyebabkan rendahnya investasi meskipun suku bunga rendah. 2.2.1 Konsep Marginal Efficiency of Capital (MEC) Dari uraian sub-bab di atas diketahui bahwa berapa tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat bunga yang berlaku dan MEC. Fungsi MEC atau bisa disebut juga fungsi

investasi ini menunjukkan hubungan antara tingkat bunga yang berlaku dengan tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor. Ada tiga hal yang perlu digarisbawahi mengenai fungsi investasi. Pertama, fungsi tersebut mempunyai slope yang negatif, artinya semakin rendah tingkat bunga semakin besar tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan (atau direncanakan untuk dilaksanakan). Kedua, dalam kenyataan fungsi semacam ini sulit untuk diperoleh sebab posisinya sangat tergantung pada nilai-nilai MEC dari proyek-proyek yang ada dan bahwa MEC adalah sesuatu tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor. Dan oleh karena didasarkan atas harapan masa depan atau expectation, maka MEC sesuatu proyek bisa saja berubah dari hari ke hari dan peka terhadap perubahan kondisi sosio-ekonomis-politis negara. Hal ketiga yang perlu ditetapkan adalah hubungan antara teori Keynes tersebut dengan kenyataan, khususnya mengenai masalah tersedianya dana investasi. Teori Keynes didasarkan atas anggapan bahwa pada tingkat bunga yang berlaku setiap investor bisa memperoleh dana berapapun untuk membiayai proyek-proyek yang dianggap menguntungkan untuk dilaksanakan. Yang membatasi jumlah yang ingin ia investasikan hanyalah penilaiannya mengenai MEC proyek-proyek yang terbuka baginya. Dalam kenyataan seringkali dijumpai keadaan yang sebaliknya, yaitu begitu banyaknya proyek yang menguntungkan (MEC tinggi), tetapi sulit untuk memperoleh dana untuk membiayai semuanya. Kesulitan memperoleh kredit dari bank, misalnya, mengakibatkan tingkat investasi yang direalisasikan lebih kecil dari tingkat investasi yang diinginkan. Mengenai fungsi investasi ini dapat ditunjukkan dalam gambar 2.2

Gambar 2.2 : Kurva Fungsi Investasi (MEC)

Tingkat Bunga (r)

Tingkat Investasi (I)


Sumber : Suparmoko (1990:94)

Pengaruh suku bunga terhadap minat investor akan menyebabkan naik turunnya perubahan total investasi yang ditanamkan dalam suatu negara. Menurut Sunariyah (2004), fungsi suku bunga ada tiga, selain dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian, dan untuk mengontrol jumlah uang beredar, suku bunga bisa sebagai daya tarik bagi para pemegang uang yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan. Investasi itu sendiri akan dibahas dalam sub-bab dibawah ini. 2.3 Pengertian Investasi Investasi yang lazim disebut dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan modal perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapanperlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barangbarang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian (Sukirno, 1995:107). Dalam hal ini yang digolongkan sebagai investasi meliputi: 1. Investasi tetap perusahaan (business fixed investment)

Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan. 2. Investasi tempat tinggal (residential investment) Pembelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan kantor, bangunan pabrik, dan bangunan lainnya. 3. Investasi persediaan (inventory investment) Pertambahan nilai stock barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun perhitungan pendapatan nasional. Sedangkan motif-motif dilaksanakannya investasi: (Dornbusch dan Fischer, 1998:268) 1. Profit motif Yaitu investasi yang bertujuan memperoleh keuntungan yang sebesarbesarnya. Dengan motif tersebut investor berusaha dengan segala kemampuannya memperoleh keuntungan yang besar dari kemajuan dan perkembangan usahanya. 2. Technological motif Adalah investasi yang bertujuan untuk meningkatkan teknologi yang pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. 3. Marketing motif Investasi yang dilakukan untuk memperluas pasar, sehingga

memperoleh posisi yang kuat dalam persaingan.

Fungsi investasi adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara tingkat investasi dengan tingkat pendapatan nasional. Kurva investasi ada dua macam: 1. Sejajar dengan sumbu datar (investasi otonom), artinya bahwa penbentukkan modal tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Dengan kata lain tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan perusahaan [Gambar 2.3 (a)]. 2. Bentuknya naik ke atas ke sebelah kanan, yang dinamakan investasi terpengaruh (induced investment), artinya pembentukkan modal dipengaruhi oleh pendapatan nasional. [ Gambar 2.3 (b)] Gambar 2.3 : Kurva Investasi

I (a)

(b) Io

Io

Y
Sumber : Sukirno, 1995:118

2.3.1 Investasi Asing Pengertian investasi menurut Irawan dan Suparmoko (1992:87) adalah Investasi asing merupakan investasi yang dilaksanakan oleh pemilik-pemilik modal asing di dalam negara kita untuk mendapatkan suatu keuntungan dari usaha yang dilaksanakannya itu.

Menurut Salvatore (1997: 468-469), pada dasarnya ada 2 jenis investasi atau penanaman modal asing, yaitu: 1. Investasi portfolio (portfolio investment) yaitu hanya melibatkan asset-asset finansial saja seperti, obligasi dan saham yang didenominasikan atau ternilai dalam mata uang nasional. 2. Investasi asing langsung (foreign direct investment), biasa disingkat PMA (Penanaman Modal Asing) Merupakan arus modal internasional dimana perusahaan dari suatu negara mendirikan atau memperluas perusahaannya di negara lain. Meliputi investasi ke dalam asset-asset secara nyata berupa

pembangunan pabrik-pabrik, pengadaan berbagai macam barang modal, pembelian tanah untuk kepentingan produksi, pembelanjaan berbagai peralatan inventaris, dan sebagainya. Dalam konteks internasional investasi asing langsung pada umumnya dilakukan oleh perusahaanperusahaan multinasional (Multinational Corporation, MNCs) yang

bergerak dalam bidang manufaktur (pengolahan), penggalian sumber daya alam atau dalam bidang bisnis jasa. Ciri yang menonjol dari FDI adalah melibatkan bukan hanya pemindahan sumber daya tetapi juga pemberlakuan pengendalian (control), yakni cabang atau anak

perusahaan tidak hanya memiliki kewajiban finansial kepada induk perusahaannya, tetapi ia adalah bagian dari struktur organisasi yang sama. Adapun motif-motif investasi asing menurut Salvatore (1997:478-479) adalah:

1.

Banyak perusahaan besar (biasanya bergerak dalam pasar-pasar monopolistik dan oligopolistik) memiliki pengetahuan produksi atau ketrampilan manajerial yang unik, yang akan dapat dimanfaatkan untuk mencetak keuntungan yang lebih besar jika keunggulannya itu diterapkan di luar negri.

2.

Memperoleh kontrol atas jalur pasokan bahan-bahan mentah atau komoditi primer yang mereka butuhkan di luar negri. Setelah dapat menguasai jalur pasokan itu, maka mereka akan dapat memperoleh suplai bahan mentah secara kontinyu dengan harga relatif murah.

3.

Untuk menghindari tarif impor dan berbagai bentuk restriksi atau hambatan perdagangan lainnya yang diterapkan oleh pemerintah negara-negara tertentu terhadap komoditi impor atau untuk memanfaatkan penawaran subsidi yang sengaja dilakukan oleh pemerintah sejumlah negara dalam rangka memikat investasi dari luar negeri

Dampak kesehjateraan yang ditimbulkan dari arus modal internasional dapat dilihat dari gambar 2.4 dibawah ini

Gambar 2.4 : Dampak Kesejahteraan dari Arus Modal Internasional

Nilai produk Marjinal F

Nilai Produk Marjinal Modal Negara 2

M N C O E R G A B Total cadangan yang dimiliki negara 1 O

H T

Sumber : Salvatore (1997:479)

Dari total cadangan modal yang ada, yakni OO, OA dimiliki oleh negara 1 dan semuanya dikerahkan untuk menghasilkan output sebanyak OFGA. Negara 2 memiliki modal sebanyak OA dan seluruhnya dikerahkan untuk menghasilkan output sebanyak OJMA. Bila kedua negara tersebut menjalin hubungan perdagangan dan atau investasi, akan berlangsunglah transfer modal sebanyak AB dari negara 1 ke negara 2 yang selanjutnya akan menyamakan tingkat hasil modal di kedua negara tersebut, yakni sebesar BE. Hal ini akan meningkatkan output dunia secara keseluruhan sebanyak EGM. Sebagian diantaranya, yakni sebanyak EGR akan diterima oleh negara 1, sedangkan sisanya yakni sebanyak ERM akan diterima negara 2. Dari kenaikan produk domestik di negara 2 sebanyak ABEM, sebagian diantaranya sebanyak ABER akan diterima oleh para investor asing, sehingga ERM merupakan keuntungan netto yang diterima negara 2 berkat adanya transfer modal (Salvatore, 1992:480).

Keputusan untuk melakukan investasi juga didasarkan pada teori investasi dengan mempertimbangkan hasil dari efisiensi modal marjinal. 2.3.2 Teori Investasi Dalam The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), Keynes berpendapat bahwa rangsangan untuk melakukan investasi tergantung pada hasil dari efisiensi modal marjinal di satu pihak dan tingkat bunga di pihak lain. MEC (Marginal Eficiency of Capital) merupakan tingkat keuntungan tertinggi yang diinginkan dari tambahan investasi yang dilakukan. MEC ditentukan oleh dua faktor: 1. Harapan keuntungan yang diperoleh (expected yield). 2. Replacement atau supply price dari modal yang merupakan sumber dari prospected yield. Prospected yield adalah hasil yang diperoleh perusahaan dari penjualan output yang merupakan aliran pendapatan (income flow), selama periode tertentu. Sedangkan menurut para ekonom neo-keynesian fluktuasi dalam investasi terutama disebabkan karena peranan kepercayaan berusaha (business confidence), tingkat bunga dan penggunaan biaya modal. 1. Business confidence Keynes dalam General Theory, menegaskan dasar yang tidak pasti atas mana keputusan-keputusan investasi diambil. Ia berpendapat, keputusan-keputusan investasi sangat banyak dipengaruhi oleh sejauh mana para investor merasa optimis atau pesimis. Istilah semangat hewani atau animal spirit kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan optimisme atau pesimisme para

investor

mendasarkan

keputusan-keputusan

mereka,

sehingga

volume investasi dapat berubah-ubah bersamaan dengan harapanharapan para investor tersebut. 2. Tingkat Bunga Para ekonom neo-keynesian percaya bahwa tingginya tingkat bunga dan ketatnya sistem moneter secara keseluruhan dapat mematahkan investasi, dimana bank dan lembaga-lembaga keuangan lainnya mungkin akan menolak untuk meminjamkan dananya, terutama kepada usaha kecil atau baru, sehingga hal itu akan menghambat proses investasi. Tetapi sebaliknya penurunan tingkat bunga akan berdampak pada kenaikan pembelanjaan investasi atau kenaikan investasi dan pada akhirnya akan menaikkan GDP. 3. Penggunaan Biaya Modal Penggunaan biaya modal adalah harga sewa. Kenaikan biaya sewa dapat menurunkan persediaan modal secara optimal, sehingga pengeluaran investasi akan menurun. Sebaliknya jika harga sewa rendah maka pengeluaran investasi akan meningkat. (Clark, et al, 1990:187-189) Dari teori investasi diatas diungkapkan oleh para ekonom neo-keynesian, bahwa fluktuasi dalam investasi terutama disebabkan karena peranan

kepercayaan berusaha (business confidence), tingkat bunga dan penggunaan biaya modal. Kepercayaan berusaha dalam hal ini merupakan pandangan subjektif dari investor dalam melihat apakah negara tersebut lahan yang produktif dan bisa menghasilkan keuntungan yang diharapkan.

2.3.3 Teori Investasi Asing Langsung dan Perusahaan Multinasional Menurut Lindert (1994: 637-638) teori investasi asing langsung pada dasarnya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan mengapa perusahaan, melakukan investasi asing langsung sebagai keterlibatan internasional. Terdapat dua pandangan yang berbeda, seperti yang ada di bawah ini: 1. Pandangan Hymer Pendekatan organisasi industri yang diajukan Stephen Hymer (1976), menekankan peranan keunggulan-keunggulan (advantages) yang dimiliki perusahaan dan ketidaksempurnaan pasar (market imperfections) dalam usaha menjelaskan motivasi awal suatu perusahaan melakukan investasi. Keunggulan tertentu suatu perusahaan dapat timbul karena adanya akses ke sumber modal, adanya pasar atau bahan mentah yang beroperasi atas dasar skala ekonomi besar, pemilikan eksklusif keahlian yang tidak tampak serta fakta bahwa perusahaan itu bersifat multinasional yang mempunyai jaringan usaha dan informasi karena kegiatan-kegiatannya bersifat multinasional . 2. Teori Apropriabilitas (kelayakan) Keunggulan khusus yang dimiliki suatu perusahaan, telah menyebabkan perusahaan tersebut terlibat dalam investasi langsung di luar negri. Perusahaan seringkali menemukan fakta bahwa akan lebih baik untuk mempertahankan pengendalian dan kepemilikan usahanya sendiri. Karena jika perusahaan tidak memiliki pengendalian yang ketat maka keunggulan tertentu tentang produksinya mungkin akan hilang, efisiensi dan kualitas produk mungkin akan sangat dirugikan jika perusahaan itu

menyerahkan sebagian dari pengendalian pada perusahaan-perusahaan yang lain sebagai pemilik saham bersama. Sedangkan menurut Krugman dan Obstfeld (1991: 205-207) terdapat dua teori tentang perusahaan multinasional: 1. Teori Lokasi Bertolak dari pertanyaan: Mengapa suatu barang diproduksi di dua atau lebih negara yang berbeda? Lokasi produksi yang berbeda sering ditentukan oleh sumber daya, biayabiaya pengangkutan dan hambatan-hambatan lain dalam perdagangan. Hal yang menentukan keputusan perusahaan multinasional mengenai lokasi produksi, polanya tidak berbeda dengan pola perdagangan secara umum. 2. Teori Internalisasi Teori tersebut bertolak dari pertanyaan: Mengapa produksi di lokasi yang berbeda dilakukan oleh perusahaan yang sama, bukan oleh perusahaan yang berbeda? Investasi asing langsung merupakan hasil keputusan yang dilakukan oleh perusahaan multinasional untuk menginternalisasikan biaya-biaya

transaksi seperti, alih teknologi dan integrasi vertikal (penyatuan perusahaan hulu yang memproduksi input perusahaan hilir), sehingga dapat melindungi mereka dari ketidaksempurnaan pasar dan campur tangan pemerintah. Oleh karena itu dapat disimpulkan FDI terjadi karena lebih

menguntungkan dengan memanfaatkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki daripada menjual atau menyewakan kepada perusahaan lain.

2.4. Arti Pertumbuhan Ekonomi Secara singkat, pertumbuhan ekonomi menurut Boediono (1985:1) adalah Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu proses, output per kapita dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat. Disini dapat dilihat aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Boediono (1985:1) juga menyatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi

berkaitan dengan kenaikan output per kapita. Ada dua sisi hal yang perlu diperhatikan yaitu sisi output totalnya dan sisi jumlah penduduknya. Output per kapita adalah output total dibagi jumlah penduduk. Jadi proses kenaikan output per kapita, tidak bisa tidak, harus dianalisa dengan jalan melihat apa yang terjadi dengan output total di satu pihak, dan jumlah penduduk dilain pihak. Jika Boedinono menekankan pada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu sisi output total nya dan sisi jumlah penduduk nya, lain halnya dengan Farid Wijaya yang tidak menyertakan aspek jumlah penduduk, dapat dilihat dari pernyataan berikut ini: Pertumbuhan ekonomi adalah proses terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Output total riil suatu perekonomian bisa juga tetap konstan atau mengalami penurunan sepanjang waktu. Ini berarti perekonomian statis atau mengalami penurunan (stagnasi). Perubahan ekonomi meliputi baik pertumbuhan, statis ataupun stagnasi pendapatan nasional riil. Penurunan merupakan perubahan negatif, sedangkan pertumbuhan merupakan perubahan positif (Wijaya,1990) Teori pertumbuhan bisa didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output dalam jangka panjang seperti dalam sub-bab dibawah ini.

2.4.1. Faktor-faktor Pertumbuhan Ekonomi Menurut Jhingan (1992:67-77), proses pertumbuhan ekonomi

dipengaruhi oleh dua macam faktor, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi 2.4.1.1 Faktor Ekonomi Di dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat bergantung pada faktor ekonominya yang terdiri atas : sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, usaha, teknologi dan sebagainya. Masing-masing faktor ekonomi tersebut akan dibahas di bawah ini : 1. Sumber Daya Alam Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan suatu

perekonomian adalah sumber daya alam atau tanah. Tersedianya sumber daya alam secara melimpah merupakan hal penting, akan tetapi harus disertai pemanfaatan yang secara tepat dengan teknologi yang baik sehingga mencapai efisiensi tertinggi dan sumber daya alam tersebut dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang lama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Lewis bahwa nilai suatu Sumber Daya Alam tergantung pada kegunaan yang senantiasa berubah sepanjang waktu karena perubahan dalam selera, teknik dan penemuan baru. 2. Akumulasi Modal Pembentukan modal merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi, dimana pada satu pihak mencerminkan permintaan efektif dan di pihak lain menciptakan efisiensi produktif bagi produksi di masa depan.

3. Organisasi Organisani berkaitan dengan penggunaan faktor produksi di dalam kegiatan ekonomi. Organisasi bersifat melengkapi modal, buruh dan membantu meningkatkan produktivitasnya. 4. Perubahan Teknologi Perubahan teknologi dalam suatu metode produksi yang merupakan hasil pembaruan, perubahan pada teknologi telah meningkatkan produktifitas buruh, modal, dan faktor produksi lain. 2.4.1.2 Faktor Nonekonomi Faktor nonekonomi bersama-sama dengan faktor ekonomi saling mempengaruhi kemajuan perekonomian. Seperti yang dijabarkan oleh Nurkse (dalam Jhinghan, 1992:73-77) bahwa pembangunan ekonomi berkaitan dengan peranan manusia, pandangan masyarakat, kondisi politik, dan latar belakang historis. Faktor-faktor nonekonomi tersebut antara lain : 1. Faktor Sosial Kekuatan faktor ini menghasilkan perubahan pandangan, harapan, struktur dan nilai-nilai sosial 2. Faktor Manusia Peningkatan pendapatan perkapita berkaitan erat dengan pertimbangan faktor sumber daya manusia yang terlibat dalam efisiensi atau produktifitas yang melonjak di kalangan buruh. Para ahli ekonomi menyebutnya pembentukan modal insani, yaitu proses peningkatan ilmu pengetahuan, keterampilan, kemampuan seluruh penduduk negara yang bersangkutan.

3. Faktor Politik dan Admisnistratif Struktur politik dan administratif yang kuat, efisiensi dan tindak korupsi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi. 2.4.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori pertumbuhan ekonomi bisa didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan. Jadi teori pertumbuhan ekonomi tidak lain adalah suatu ceritera (yang logis) mengenai bagaimana proses pertumbuhan terjadi (Boediono, 1985). 2.4.2.1 Model Pertumbuhan Harrod-Domar Teori Harrod Domar adalah perkembangan langsung dari teori makro Keynes jangka pendek menjadi suatu teori makro jangka panjang. Aspek utama yang dikembangkan dari teori Keynes adalah aspek yang menyangkut peranan investasi dalam jangka panjang. Dalam teori Keynes yang diungkapkan oleh Boediono (1985:59-60), pengeluaran investasi mempengaruhi permintaan agregat tetapi tidak mempengaruhi penawaran agregat. Harrod Domar melihat pengaruh investasi dalam perspektif waktu yang lebih panjang. Menurut kedua ekonom ini, pengeluaran investasi tidak hanya mempunyai pengaruh (lewat proses multiplier) terhadap permintaan agregat, tetapi juga terhadap penawaran agregat melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam perspektif waktu yang lebih panjang ini, investasi menambah stok kapital misalnya, pabrikpabrik, jalan-jalan, dan sebagainya. Ditambahkan pula, hubungan antara stok kapital dengan penawaran agregat adalah setiap penambahan stok kapital masyarakat meningkatkan pula kemampuan masyarakat untuk menghasilkan

output. Output yang dimaksud adalah output yang potensial bisa dihasilkan dengan stok kapital (kapasitas pabrik) yang ada. 2.5 Hubungan Antara Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen Seperti yang telah dibahas dalam sub bab sebelumnya mengenai pengaruh antara variabel CPI dan variabel tingkat suku bunga terhadap investasi asing dan investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi, maka secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bagaimana hubungan antara variabel

independent terhadap variabel dependent. 2.5.1 Pengaruh CPI Terhadap Investasi Asing Seperti yang telah dibahas di atas bahwa investasi adalah langkah awal dari sebuah usaha yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan sebesarbesarnya. Tanpa keuntungan tidak ada gunanya membuka sebuah usaha. Jadi tujuan utama bukan melakukan investasi tetapi membuat suatu usaha yang menguntungkan. Oleh karena itu, seorang investor akan memperhatikan dua faktor dalam menaruh investasinya di sebuah negara, yakni faktor ekonomi dan nonekonomi. Faktor ekonomi berupa keuntungan potensial yang dapat diperoleh dari investasi yang dikeluarkan. Faktor kedua, yakni faktor nonekonomi berkaitan dengan bagaimana kondisi makro sebuah negara. Kondisi makro ini berkaitan dengan kondisi politik, keamanan, sistem hukum, sistem perbankan, termasuk faktor korupsi dan politik. Terpenuhinya faktor kedua ini untuk menjamin kelangsungan investasi yang telah dikeluarkan sekaligus kelangsungan dari keuntungan yang dapat diperoleh dari investasi itu. Suatu negara yang memiliki tingkat korupsi yang tinggi akan dianggap sebagai negara yang memiliki risiko bisnis yang besar karena seringkali menimbulkan ketidakpastian lingkungan bisnis serta menimbulkan ekonomi biaya

tinggi bagi para investor. Akibatnya, banyak investor yang enggan berinvestasi di negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Maka dalam kondisi seperti ini jelas bahwa negara tersebut bukan merupakan lahan yang baik bagi tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi produktif. Akibatnya, niat investor asing (atau PMA) untuk membuka usaha di dalam negeri akan menurun, dan ini pasti akan berdampak negatif terhadap penurunan investasi di dalam negeri. 2.5.2 Pengaruh Tingkat Suku Bunga Terhadap Minat Investasi Dalam teori ekonomi makro disebutkan bahwa suku bunga

mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modal di suatu negara. Ketika suku bunga yang ditetapkan oleh suatu negara relatif tinggi maka minat investor akan turun dan akhirnya berdampak pada turunnya investasi asing yang masuk. Hal ini disebabkan dengan suku bunga yang tinggi, maka investor akan cenderung memilih menanamkan uang yang dimiliki dalam bentuk tabungan karena lebih menguntungkan, demikian juga sebaliknya. Sesuai dengan teori investasi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat bunga, maka tingkat investasi akan semakin berkurang. Hal ini dapat dimaklumi bahwa salah satu pertimbangan investor dalam melakukan investasi adalah tingkat bunga, karena bila tingkat bunga tinggi, biaya modalpun akan semakin mahal, sehingga akan menurunkan rate of return dan para pemilik modal akan lebih senang untuk menyimpan dana di lembaga keuangan atau bertransaksi saham dan obligasi yang memberikan return yang tinggi. Sehingga akan terjadi pengalihan dari investasi di sektor riil menjadi investasi di sektor finansial.

2.5.3 Pengaruh Investasi Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di negara-negara berkembang, investasi asing menjadi semakin penting karena dengan rendahnya tingkat pendapatan di negara berkembang, maka akan sulit untuk mendapatkan tabungan yang cukup untuk memperoleh sejumlah investasi yang diperlukan dari dalam negeri. Oleh karena itu, investasi asing menjadi sasaran untuk berkontribusi dalam mengejar target pertumbuhan nasional sebagai penutup antara investasi yang ditargetkan atau diharapkan dan tabungan nasional yang dimobilisasikan. Pengaruh investasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi merupakan arti penting bagi negara sedang berkembang maupun negara maju. Foreign Direct Investment (FDI) dipandang sebagai cara yang lebih efektif untuk mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. Dengan melalui FDI, modal asing dapat memberikan kontribusi yang lebih baik kedalam proses pembangunan. Sukirno memungkinkan (2000:367) suatu juga menyatakan bahwa kegiatan investasi kegiatan

masyarakat

terus-menerus

meningkatkan

ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Pengaruh dari peran ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi dalam perekonomian. Pertama, investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat. Maka kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat dan pendapatan nasional. Peningkatan seperti ini akan selalu diikuti oleh pertambahan dalam kesempatan kerja. Kedua, pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambahkan kepastian memproduksi dimasa depan dan perkembangan ini akan menstimulir pertambahan produksi nasional dan kesempatan kerja.

Ketiga, investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi. Perkembangan akan memberikan sumbangan penting ke atas kenaikan produktivitas dan pendapatan perkapita masyarakat. 2.6 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Emmanuel Anoruo dan Habtu Braha (2004) mengidentifikasikan ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat korupsi secara panel terhadap 18 negara di Afrika. Temuannya menghasilkan tiga hal penting. Yang pertama adalah setiap kenaikan tingkat korupsi sebesar 1 unit akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 0.87 persen. Yang kedua, setiap kenaikan 1 unit tingkat korupsi akan menurunkan total investasi dalam GDP sebesar 4.69 persen. Yang ketiga adalah korupsi juga bedampak pada pertumbuhan populasi. Jika disimpulkan bersamasama, maka penelitian ini mengidentifikasikan bahwa korupsi menurunkan pertumbuhan ekonomi dengan penurunan produktivitas, dan selanjutnya berdampak pada penurunan total investasi. Penelitian yang dilakukan oleh Borus Podobnik, Jia Shao, et al (2008) menunjukkan bahwa dalam periode tahun 1999-2004 di semua negara di dunia, peningkatan CPI sebesar 1 unit secara umum meningkatkan pertumbuhan nilai GDP per tahun sebesar 1.7 persen. Dengan meregresi hanya dalam negaranegara di Eropa , ditemukan hasil bahwa setiap kenaikan CPI sebesar 1 unit secara umum telah meningkatkan pertumbuhan tingkat GDP per kapita sebesar 2.4 persen. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung antara investasi asing dan CPI. Franky (2003) menganalisis bahwa pendapatan nasional, tingkat bunga internasional, tingkat inflasi, tingkat upah, penyediaan fasilitas (prasarana) PMA

di Indonesia secara serempak dan signifikan mempengaruhi peran serta investor asing berupa PMA, sedang faktor tingkat bunga internasional dan inflasi secara individual (parsial) pengaruhnya tidak signifikan. Sundari (2002) menganalisa beberapa faktor yang mempengaruhi Investasi Swasta di Jawa Timur periode 1983-2000. Investasi swasta tersebut meliputi PMDN dan PMA, sedangkan faktor-faktor yang dianalisis dan yang dapat mempengaruhi terlaksananya investasi swasta tersebut adalah pendapatan,

tingkat bunga, kurs valuta asing sebagai faktor ekonominya dan regulasi pemerintah khusus di bidang penanaman modal sebagai faktor non ekonominya. Dari hasil penelitian tersebut hanya tiga faktor yang mempengaruhi besarnya nilai investasi swasta di Jawa Timur, yaitu pendapatan, suku bunga bank dan nilai tukar sedangkan regulasi pemerintah tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Dimana pendapatan dan regulasi pemerintah memiliki hubungan yang positif sedangkan tingkat bunga dan nilai tukar memiliki hubungan yang negatif dengan investasi swasta di Jawa Timur. Natalia (2003) juga menganalisa pengaruh variabel-variabel nilai tukar, tingkat bunga riil, rasio keterbukaan, tingkat upah dan deregulasi investasi terhadap investasi asing langsung di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, nilai tukar, tingkat bunga riil, rasio keterbukaan dan tingkat upah memiliki pengaruh yang signifikan, sedangkan variabel deregulasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan investasi asing langsung di Indonesia. Dimana variabel nilai tukar dan tingkat bunga memiliki pengaruh yang negatif sedangkan variabel variabel rasio keterbukaan dan tingkat upah memiliki pengaruh yang positif.

2.7 Kerangka Berpikir Dalam penelitian ini disusun kerangka berpikir untuk lebih memahami tujuan dari penelitian yang disesuaikan dengan landasan teori yang telah dikemukakan. Setiap investor yang akan menanamkan modalnya di suatu negara akan mempertimbangkan faktor ekonomi maupun faktor nonekonominya. Dengan pertimbangan tersebut diharapkan investor bisa memperkirakan resiko dan return maksimal yang akan dia dapatkan. Salah satu dari faktor ekonomi yang dilihat adalah suku bunga. Tingkat suku bunga yang ditetapkan suatu negara berhubungan dengan keuntungan yang diharapkan menurut konsep MEC yang terdapat dalam Teori Keynes. Dalam konsep tersebut dijelaskan bila keuntungan yang diharapkan (MEC) lebih besar dari tingkat bunga maka investasi dilaksanakan dan sebaliknya. Bila MEC sama dengan tingkat bunga investasi boleh dilaksanakan boleh tidak bagi mereka yang memiliki dana. Sesuai dengan teori investasi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat bunga, maka tingkat investasi akan semakin berkurang, karena bila tingkat bunga tinggi, biaya modalpun akan semakin mahal, sehingga akan menurunkan rate of return dan para pemilik modal akan lebih senang untuk menyimpan dana di lembaga keuangan atau bertransaksi saham dan obligasi yang memberikan return yang tinggi. Sehingga akan terjadi pengalihan dari investasi di sektor riil menjadi investasi di sektor finansial. Sedangkan salah satu faktor nonekonomi yang juga diperhitungkan oleh investor dan bisa diinterpretasikan dalam bentuk angka yaitu CPI. Jika CPI relatif tinggi akan menarik dan menyakinkan investor agar menanamkan modalnya, karena hal itu menjelaskan kondisi non ekonomi di negara tersebut stabil dan risiko bisnis berkurang. CPI yang tinggi mencerminkan bahwa negara tersebut

memiliki risiko bisnis yang kecil dan memiliki kepastian usaha dalam jangka panjang, sehingga menarik minat investor asing masuk. Dari kedua faktor penentu keputusan investasi tersebut, keduanya bisa mempengaruhi minat investor asing dalam menanamkan modalnya di suatu negara. Suku bunga yang relatif rendah dan skor CPI yang tinggi bisa menarik investor untuk masuk. Secara tidak langsung, CPI dan suku bunga tersebut dapat mempengaruhi pendapatan nasional melalui pengaruh langsung kedua variabel tersebut terhadap perubahan investasi. Seperti yang dikemukakan Boediono (1985:59) mengenai Teori

Pertumbuhan Harrod-Domar, pengeluaran investasi tidak hanya mempunyai pengaruh (lewat proses multiplier) terhadap permintaan agregat, tetapi juga terhadap penawaran agregat melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Pada akhirnya, investasi menambah stok capital dan etiap penambahan stok kapital masyarakat meningkatkan pula kemampuan masyarakat untuk

menghasilkan output. Output yang tinggi akan meyebabkan meningkatnya tingkat kesempatan kerja dan pendapatan nasional.

Gambar 2.5 : Kerangka Berpikir Pengaruh CPI dan Suku Bunga terhadap Pertumbuhan Ekonomi Melalui Variabel Investasi Asing Aliran Investasi Asing ke ASEAN

Faktor Ekonomi

Dipengaruhi Faktor-faktor

Faktor non Ekonomi

Tingkat suku bunga

Corruption Perception Index

Teori Keynes IR rendah, maka investasi tinggi IR tinggi, maka investasi rendah

Tersedianya dana pelengkap

Semakin tinggi skor CPI akan menarik minat investor karena dianggap memiliki risiko bisnis yang kecil.

Keputusan Penanaman Investasi Asing Langsung di ASEAN

Teori Harrod Domar : Investasistok kapitalproduktivitas meningkatoutput naikpendapatan nasional naik

2.8 Hipotesis Dalam penelitian ini hipotesis yang dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Diduga bahwa Corruption Perception Index mempunyai pengaruh positif, sedangkan tingkat suku bunga mempunyai pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Negara ASEAN baik secara langsung maupun tidak langsung melalui jalur investasi asing.

BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan metode penelitian, antara lain: ruang lingkup penelitian, jenis dan sumber data, definisi operasional variabel, metode analisis data dan beberapa uji yang disyaratkan oleh model analisis jalur (path analysis). 3.1. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menganalisa pengaruh Corruption Perception Index (CPI) dan tingkat suku bunga terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi melalui variabel intervening investasi asing di negara-negara yang tergabung dalam organisasi ASEAN, kecuali Brunei Darussalam, Laos, Myanmar dan Kamboja karena data yang kurang lengkap. Periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 1996 sampai dengan tahun 2008. 3.2. Jenis dan Sumber Data 3.2.1 Jenis Data Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam bentuk data panel atau gabungan antara data time series dan cross section. Dalam penelitian ini mempunyai periode waktu tahunan antara tahun 1996 2008. Adapun jumlah observasi yang digunakan adalah berjumlah 6 negara. Sehingga banyaknya data panel yakni berjumlah 78. 3.2.2 Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari laporan yang dipublikasikan oleh badan atau lembaga tertentu dalam hal ini adalah Transparancy International dan ADB.

3.3. Definisi Operasional Variabel Yang dimaksud definisi operasional adalah penjelasan operasional dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian untuk mendapatkan

gambaran yang jelas terhadap permasalahan dan data yang digunakan. Pada penelitian ini menggunakan beberapa variabel operasional yaitu: 3.3.1 Pertumbuhan ekonomi (Y2) Pertumbuhan ekonomi merupakan persentase pertambahan GDP riil rata-rata per tahun yang didasarkan pada harga konstan tahun 1993 yang diwujudkan dalam tingkat pertumbuhan GDP riil. GDP riil yang digunakan selama periode tahun 1996-2008. 3.3.2 Investasi Asing (Y1) Investasi Asing adalah penanaman modal yang dilaksanakan oleh pemilik pemilik modal asing di dalam negara ASEAN dalam bentuk asset-asset secara nyata, berupa pembangunan pabrik, pengadaan berbagai barang modal, dan lain sebagainya. Besarnya investasi dinilai dalam mata uang US $. 3.3.3 Corruption Perception Index/CPI (X1)

CPI adalah suatu indeks yang mengukur keseluruhan risiko bisnis yang harus dihadapi dunia usaha (perusahaan-perusahaan) akibat buruknya rule of law, khususnya di bidang ekonomi, lemahnya regulatory quality, serta tingginya korupsi. Dinyatakan dalam angka indeks dari angka 0 sampai dengan 10. Variabel CPI diberi time lag satu tahun, karena CPI menjadi acuan untuk tahun berikutnya.

3.3.4

Suku Bunga/IR (X2)

Tingkat suku bunga adalah persentase tingkat suku bunga deposito berjangka yang dihitung per tahun. Suku bunga yang digunakan adalah suku bunga deposito dengan jangka waktu 12 bulan dari periode tahun 1996-2008. 3.4. Metode Analisis Data Dilihat dari tujuan awal penelitian, maka untuk menganalisis data penelitian ini menggunakan regresi data panel dengan metode analisis jalur yang akan melihat bagaimana pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel bebas terhadap variabel terikat. 3.4.1 Permodelan Data Panel Model ini menggabungkan observasi lintas sektor dan runtun waktu sehingga jumlah observasi meningkat. Estimasi panel data akan meningkatkan derajat kebebasan, mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas dan memperbaki efisiensi estimasi. Verbeek (2000:310) mengemukakan bahwa keuntungan regresi dengan data panel adalah kemampuan regresi data panel dalam mengidentifikasi parameter-parameter regresi secara pasti tanpa asumsi restriksi atau kendala. Menurut Baltagi (2001), keunggulan penggunaan data panel dibanding data runtun waktu dan data lintas sektor adalah : 1. Estimasi data panel dapat menunjukkan adanya heterogenitas dalam tiap unit. 2. Dengan data panel, data lebih informatif, mengurangi kolinieritas antara variabel, meningkatkan derajat kebebasan dan lebih efisisen. 3. Data panel cocok digunakan untuk menggambarkan adanya dinamika perubahan.

4. Data panel dapat lebih mampu mendeteksi dan mengukur dampak. 5. Data panel bisa digunakan untuk studi dengan model yang lebih lengkap. 6. Data panel dapat meminimumkan bias yang mungkin dihasilkan dalam regresi.

Data panel merupakan gabungan dari data cross section dan data time series, dalam hal modelnya dapat dituliskan sebagai berikut: Yit = + Xit + it Dimana : N = banyaknya observasi T = banyaknya waktu N x T = banyaknya data panel Untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa teknik yang ditawarkan, yaitu: 3.4.1.1. Model Efek Tetap (Fixed Effect) Terkait dengan beberapa pilihan teknik untuk permodelan panel data, penelitian ini bisa menggunakan teknik ini seperti yang disarankan beberapa ahli ekonometri, dimana dikatakan bahwa jika data panel yang dimiliki mempunyai jumlah waktu (T) lebih besar dibandingkan jumlah individu (N) maka disarankan untuk menggunakan model efek tetap (Nachrowi dan Usman, 2006). Dalam model data panel dengan OLS, ada asumsi yang menyatakan bahwa dalam persamaan 3.2, dan konstan untuk setiap individu (i) dan waktu (t) kurang realistik. Yit = + Xit + it ; i = 1, 2, ...., N; t = 1, 2, ...., T (3.2) i = 1, 2, ...., N; t = 1, 2, ...., T (3.1)

Maka dari itu, dalam model efek tetap hal tersebut diatasi yang mana model ini memungkinkan adanya perubahan dan pada setiap i dan t. Secara matematis, model efek tetap dapat dituliskan sebagai berikut: Yit = + Xit + 2 W2i + 3 W3i + .... + N WNi + 2 Zi2 + 3 Zi3 + .... + i ZiT + it Dimana: Yit = variabel terikat untuk negara ke-i dan tahun ke-t Xit = variabel bebas untuk negara ke-i dan tahun ke-t Wit dan Zit variabel dummy yang didefinisikan sebagai berikut: Wit = 1; untuk negara i; i = 1, 2, ..., N = 0 ; lainnya Zit = 1 ; untuk tahun t; t = 1, 2, ..., T = 0 ; lainnya Dari model di atas, terlihat bahwa sesungguhnya model efek tetap adalah sama dengan regresi yang menggunakan dummy variable sebagai variabel bebas, sehingga dapat diestimasi dengan OLS. Dengan diestimasinya model tersebut dengan OLS, maka akan diperoleh estimator yang tidak bias dan konsisten. 3.4.1.2 Model Efek Random (Random Effect) Sebaliknya dari Model Efek Tetap, Model efek Random lebih baik jika digunakan jika data panel yang dimiliki mempunyai jumlah waktu (T) yang lebih kecil dibandingkan jumlah individu (N) maka disarankan untuk menggunakan model efek Random. (3.3)

Keputusan untuk memasukkan peubah dummy dalam model fixed effects akan menimbulkan konsekuensi tersendiri yaitu dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dapat digunakan model random effects. Dalam model ini, parameter yang berbeda antar individu maupun antar waktu dimasukkan ke dalam error, karena hal inilah model ini sering juga disebut sebagai error component model. Bentuk model random effects dapat dijelaskan dengan persamaan berikut:

Yit = 0 + Xit + it it = uit + vit + wit


dimana: uit ~ N (0, U) vit ~ N (0,V) wit ~ N (0,W) = error component cross section = error component time series = error component combinations

Asumsi yang digunakan dalam model ini adalah error secara individual tidak saling berkolerasi, begitu pula dengan error kombinasinya. Penggunaan pendekatan random effects dapat menghemat derajat kebebasan dan tidak mengurangi jumlahnya sepeti pada pendekatan fixed effects. Hal ini berimplikasi pada parameter hasil estimasi akan menjadi efisien. Semakin efisien maka model akan semakin baik. Terkait dengan beberapa pilihan teknik untuk permodelan panel data, sebelum model diestimasi dengan model yang tepat, terlebih dahulu dilakukan uji spesifikasi apakah Fixed Effect atau Random Effect atau keduanya memberikan

hasil yang sama. Pilihan antara Fixed Effect dan Random Effect ditentukan dengan menggunakan Uji Chow dan Uji Hausman. 3.4.1.3 Uji-uji dalam Permodelan Data Panel a. Uji Chow Uji Chow sering digunakan oleh para peneliti untuk menguji kesamaan parameter regresi pada dua model regresi linier. Uji Chow mengasumsikan varians error kedua model sama. Dalam hal ini, uji Chow menguji Model Pool/Common Effect dan Model Fixed Effect. H0 diterima = jika hasil probabilitas dari Chi-square test lebih besar dari 0,05 H0 ditolak = jika hasil probabilitas dari Chi-square test lebih kecil dari 0,05 Jika H0 diterima, maka Model Pool (Common) Effect yang digunakan, dan tidak perlu lagi melakukan uji Hausman. Namun jika H0 ditolak, maka Model Fixed Effect yang lebih baik untuk dipilih, dan kemudian akan dialnjutkan dengan pengujian Uji Hausman. b. Uji Hausman Dalam memilih apakah fixed atau random effectss yang lebih baik, dilakukan pengujian terhadap asumsi ada tidaknya korelasi antara regresor dan efek individu. Untuk menguji asumsi ini dapat digunakan Hausman Test. Dalam uji ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H0: E(i xit) = 0 atau REM adalah model yang tepat H1: E(i xit) = 0 atau FEM adalah model yang tepat

Sebagai dasar penolakan H0 maka digunakan statistik Hausman dan membandingkannya dengan Chi square. Statistik Hausman dirumuskan dengan: Jika H0 benar, statistik uji:

(VMET VMEA ) ~ 1
dimana:

MET MEA

M adalah matriks kovarians untuk parameter k adalah degrees of freedom Jika nilai H hasil pengujian lebih besar dari 2 tabel, maka cukup bukti untuk melakukan penolakan terhadap H0 sehingga model yang digunakan adalah model fixed effects, begitu juga sebaliknya. Statistik uji Hausman ini mengikuti distribusi chi-square dengan degree of freedom sebanyak k dimana k adalah jumlah varibel independent. Jika nilai statistik Hausman lebih besar dari nilai kritisnya maka model yang tepat adalah model Fixed Effect sedangkan sebaliknya bila nilai statistik Hausman lebih kecil dari nilai kritisnya maka model yang tepat adalah model Random effect. 3.4.2. Analisis Jalur Supranto (2004) dalam Manap,Abdul (2006) mengemukakan bahwa analisis jalur (path analysis) merupakan prosedur yang dapat digunakan untuk estimasi empiris tentang kuat atau tidaknya setiap hubungan (jalur/path) yang tergambar dalam suatu diagram jalur. Sedangkan menurut Wibowo dalam Manap,Abdul (2006)

mengemukakan analisis jalur dikembangkan sebagai metode untuk mempelajari pengaruh (efek) secara langsung dan tidak langsung dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis ini merupakan salah satu pilihan dalam rangka

mempelajari ketergantungan sejumlah variabel di dalam suatu model. Lebih lanjut, Wibowo menjelaskan bahwa analisis jalur merupakan metode yang baik digunakan untuk menerangkan seperangkat data yang besar untuk dianalisis dan mencari hubungan kausal. Solimun (2002) mengemukakan bahwa dalam suatu analisis jalur maka model yang digunakan harus memenuhi syarat model rekursi sehingga metode estimasi Ordinary Least Square dapat digunakan untuk mengestimasi model persamaan. Dalam suatu analisis jalur hubungan antar variabel di dalam model harus dalam bentuk linier artinya perubahan yang terjadi pada beberapa variabel adalah merupakan fungsi perubahan linier dari variabel lainnya yang bersifat kausal. Lebih lanjut lagi, metode analisis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Input data : jika dilihat dari bentuk input data, data harus dari observable variable atau merupakan skor faktor dari indikator variabel latent. Data yang dianalisis adalah data yang standardize.

Model estimasi : Model di dalam analisis jalur harus memenuhi model rekursif, sehingga dapat digunakan OLS pada setiap persamaan.

Output : Output berupa model, yaitu lintasan atau jalur-jalur pengaruh. Kegunaan : merupakan alat untuk eksplanasi atau faktor determinan, yaitu dapat digunakan untuk menentukan variabel mana yang

berpengaruh dominan atau jalur mana yang berpengaruh paling kuat. Karena menggunakan metode analisis jalur, maka hubungan antar variabel dibuat model dalam bentuk diagram path sebagai berikut :

Gambar 3.1 Hubungan antar variabel dalam Diagram Path

CPI inves IR
Model tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan, sehingga membentuk sistem persamaan. Sistem persamaan ini ada yang menamakan persamaan simultan, atau ada juga yang menyebutnya model struktural. Ketiga model yang telah dibakukan tersebut, kemudian akan diregresi secara bersama-sama atau secara simultan. Y1= PX1Y1 X1+PX2Y1X2+ e1...(1) Y2 = PY2Y1 Y1 +e2..(2) Y 2= PY2X1X1 + PY2X2X2+ e3.......(3) Atau jika sudah dibakukan ZY1= PX1Y1Z X1+PX2Y1 ZX2+ e1...(1) ZY2 = PY2Y1 ZY1 +e2..(2) ZY 2= PY2X1 ZX1 + PY2X2 ZX2+ e3.......(3) Dimana : Y2 : Pendapatan Nasional atau GDP Y1 : Investasi Asing X2 : Suku Bunga X1 : CPI 3.4.3 Asumsi yang melandasi analisis jalur Di dalam metode analisis jalur, beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi adalah :

gdp

Di dalam analisis path, hubungan antar variabel bersifat linier dan aditif Model rekursif dapat dipertimbangkan, yaitu hanya sistem aliran kausal ke satu arah. Sedangkan pada model yang mengandung causal respirokal tidak dapat dilakukan analisis jalur.

Variabel endogen minimal dalam skala ukur interval. Variabel yang diobservasi diukur tanpa kesalahan (instrumen pengukuran valid dan relaibel)

Model yang dianalisis dispesifikasikan (diidentifikasi) dengan benar berdasarkan teori dan konsep yang relevan.

3.4.4 Uji-uji dilakukan dalam analisis jalur 1. Uji linieritas yang biasa menggunakan Curve fit dan menerapkan prinsip parsimony, yaitu bilamana seluruh model signifikan atau nonsignifikan berarti dapat dikatakan model berbentuk linier. 2. Uji validitas Sahih tidaknya suatu hasil analisa tergantung dari terpenuhi atau tidaknya asumsi yang melandasinya. Terdapat dua indikator validitas model di dalam analisis jalur, yaitu koefisien determinasi total dan theory triming. Koefisien Determinasi Total Koefisien ini menggambarkan total keragaman yang dapat dijelaskan oleh model, yang dapat diukur dengan Rm = 1 P
2 2 u1 2

u2

2 up

Dimana Rm determinasi

diinterpretasikan yang sama dengan koefisien (R )


2

pada

analisis

regresi,

dimana

koefisien

determinasi digunakan untuk mengukur persentase variasi variabel terikat yang dijelaskan oleh semua variabel bebasnya. Nilai koefisien determinasi terletak antara 0 dan 1 (0<R <1 ), dimana semakin tinggi nilai R
2 2

suatu regresi atau semakin

mendekati 1, maka hasil regresi tersebut akan semakin baik. Theory Triming Uji validasi koefisien path pada setiap jalur untuk pengaruh langsung adalah sama dengan pada regresi, yakni dengan menggunakan nilai p dari uji t yaitu pengujian koefisien regresi variabel dibakukan secara parsial. Berdasarkan theory triming maka jalur-jalur yang tidak signifikan akan dibuang sehingga diperoleh model yang didukung oleh data empirik. Tingkat signifikan yang digunakan yaitu sebesar 5 persen ( = 5 %).

BAB IV HASIL ESTIMASI DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL ESTIMASI Pada bagian ini akan diuraikan hasil estimasi dari model persamaan, yang selanjutnya akan dilihat apakah hipotesis penelitian yang telah dikemukakan terbukti atau tidak. 4.1.1 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel Pengaruh CPI dan IR secara Tidak Langsung terhadap GDP Melalui Investasi Pada regresi data panel pengaruh CPI dan IR terhadap GDP dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh tidak langsung variabel CPI dan IR terhadap GDP melalui variabel investasi asing, oleh karena itu model regresi panel ini menggunakan estimasi model analisis jalur dengan cara menganalisis terlebih dahulu pengaruh CPI dan IR terhadap investasi asing, setelah itu akan menganalisis pengaruh investasi asing terhadap GDP. 4.1.1.1 Hasil estimasi Pengaruh CPI dan IR terhadap Investasi Pada model ini, hasil regresi menggunakan fixed effect setelah melalui uji Chow dan Uji Hausman. Estimasi pertama menggunakan perbandingan model common/pool effect dan model fixed effect, setelah diuji dengan Chow test, hasil probabilitas cross-section Chi-square test 0,00000. Probabilitas itu lebih kecil dari angka kritis 0,05, sehingga H0 ditolak, dan fixed effect dipilih sementara. Diteruskan dengan melakukan

uji Hausman dengan memperbandingkan model random effect, diketahui probabilitas dari cross-section random effect sebesar 0,0060 lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak, dan model fixed effect lebih tepat untuk dipilih. Hasil estimasi dengan menggunakan model fixed effect,

menunjukkan nilai R-squared sebesar 0,7487. Artinya kedua variabel independentnya mampu menjelaskan variabel dependentnya sebesar 74,87 persen, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model. Kemudian untuk nilai probabilitas F-statistik yang besarnya 0,0000 menunjukkan hasil yang signifikan dengan standar deviasi (tingkat kesalahan) sebesar 1 persen. Selanjutnya kedua variabel independen tersebut memiliki

signifikansi atau pengaruh terhadap dependennya dengan standar deviasi masing-masing 5 persen. Tabel 4.1 : Hasil Estimasi CPI dan IR terhadap Investasi Variabel Coefficient Prob. Fixed Effect Coefficient C CPI IR -1.47E-06 2.697310 -0.311692 1.0000 0.0001 0.0032 R-Squared Prob(F-stat) 0.748795 0.00000

Catatan : Signifikan level 5 % Sumber : Regresi Data Panel Eviews 6 (data diolah)

Gambar 4.1 : Sub Struktur 1 Diagram Pengaruh CPI dan IR terhadap Investasi CPI 2,697 Investasi IR GDP

-0,3116 (0,0032)

Adapun koefisien regresi dari masing-masing variabel yang signifikan adalah dari kedua variabel tersebut yaitu CPI dan IR, variabel yang berpengaruh kuat terhadap perubahan investasi asing adalah variabel CPI. CPI berpengaruh signifikan secara positif terhadap investasi asing, sedangkan IR berpengaruh signifikan secara negatif terhadap perubahan investasi asing. Hasil estimasi ini seudah sesuai dengan teori yang ada di Bab II sebelumnya. Berdasarkan hasil pendugaan melalui regersi tersebut maka dapat disusun suatu persamaan sebagai berikut : INVEST = 2.697310147 CPI - 0.3116922353 IR + [CX=F] Kemudian dari hasil estimasi di atas juga dapat dilihat sensitivitas setiap negara yang diteliti, yaitu sebagai berikut : Tabel 4.2 : Pengaruh Cross Section [CX=F] CROSSID Effect 1 _Indo 2.179809 2 _Malay -1.326202 3 _Philip 0.944649 4 _Singa -4.091362 5 _Thai 0.931406 6 _Viet 1.361700
Keterangan : Investasi Singapura selama periode tahun 1996-2008 dipengaruhi paling tinggi diantara keenam negara tersebut oleh pengaruh yang signifikan dari variabel CPI (positif) dan variabel IR (negatif). Sumber : Regresi Data Panel Eviews 6 (data diolah)

4.1.1.2 Hasil estimasi Pengaruh Investasi Asing terhadap GDP Pada model ini, hasil regresi menggunakan fixed effect setelah melalui uji Chow dan Uji Hausman. Estimasi pertama menggunakan perbandingan model common/pool effect dan model fixed effect, setelah

diuji dengan Chow test, hasil probabilitas dari cross section Chi-square test sebesar 0,0291. Probabilitas itu lebih kecil dari angka kritis 0,05, sehingga H0 ditolak, dan fixed effect dipilih sementara. Diteruskan dengan melakukan uji Hausman dengan memperbandingkan model random effect. Hasil uji Hausman menunjukkan probabilitas dari cross section random test sebesar 0,2095, lebih besar daripada angka kritis 0,05, maka H0 ditolak, model random effect lebih tepat untuk dipilih. Namun karena model yang signifikan adalah model fixed effect (dengan pertimbangan probabilitas (F-statistic) < 5% yaitu 0.03676 dan R-squared/indikator tingkat kebaikan model fixed effect lebih tinggi daripada model random effect yaitu sebesar 0.168081 atau 16,8%.), maka model fixed effect lebih tepat untuk dipilih. Hasil estimasi regresi fixed effect data panel pada model ini menunjukkan nilai R-squared sebesar 0,391. Artinya variabel independen mampu menjelaskan variabel dependennya sebesar 39,1 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model. Kemudian untuk nilai probabilitas F-statistik yang besarnya 0,0367 menunjukkan hasil yang signifikan dengan standar deviasi (tingkat kesalahan) sebesar 5 persen. Selanjutnya variabel independent tersebut memiliki signifikansi atau pengaruh terhadap dependentnya dengan standar deviasi 5 persen.

Gambar 4.2 : Sub Struktrur 2 Diagram Pengaruh Investasi terhadap GDP CPI Investasi IR 0,391

GDP

Koefisien

regresi

dari

variabel

investasi

asing

signifikan

berpengaruh positif terhadap GDP sebesar 0,391 yang berarti investasi asing berpengaruh signifikan positif terhadap GDP. Berdasarkan hasil regersi di atas maka persamaan GDP dapat ditulis sebagai berikut : GDP = 0.3910213507 INVEST + [CX=F] Kemudian dari hasil estimasi di atas juga dapat dilihat sensitivitas setiap negara yang diteliti, yaitu sebagai berikut : Tabel 4.3 : Pengaruh Cross Section [CX=F] CROSSID Effect 1 _Indo -0.105389 2 _Malay 0.120382 3 _Philip 0.148250 4 _Singa -0.513908 5 _Thai -0.460885 6 _Viet 0.811550
Keterangan: GDP Vietnam periode 1996-2008 dipengaruhi paling tinggi diantara keenam negara tersebut dengan pengaruh yang signifikan dari variabel Investasi (positif). Sumber : Regresi Data Panel Eviews 6 (data diolah)

Dapat disimpulkan, dari kedua hasil estimasi koefisien regersi secara tidak langsung variabel CPI dan IR terhadap GDP melalui variabel investasi asing, adalah sebagai berikut :

Menguji pengaruh tidak langsung CPI(X1) terhadap GDP(Y2) melalui INVEST(Y1) = 2.697310147 (0.3910213507)= 1,054706

Menguji pengaruh tidak langsung IR(X2) terhadap GDP(Y2) melalui INVEST(Y1) = - 0.3116922353 (0.3910213507) = -0,12188 Setelah melakukan pengujian pengaruh secara tidak langsung,

akan dilakukan juga pengujian pengaruh CPI dan IR terhadap GDP secara langsung tanpa melalui variabel investasi asing. 4.1.2 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel Pengaruh CPI dan IR secara Langsung terhadap GDP Pada model ini, hasil regresi menggunakan random effect setelah melalui uji Chow dan Uji Hausman. Estimasi pertama menggunakan perbandingan model common/pool effect dan model fixed effect, setelah diuji dengan Chow test, hasil probabilitas dari cross section Chi-square test sebesar 0,0020. Probabilitas itu lebih kecil dari angka kritis 0,05, sehingga H0 ditolak, dan fixed effect dipilih sementara. Diteruskan dengan melakukan uji Hausman dengan memperbandingkan model random effect. Hasil uji Hausman menunjukkan probabilitas dari cross section random test sebesar 0,1659, lebih besar daripada angka kritis 0,05, maka H0 ditolak, model random effect lebih tepat untuk dipilih. Pada regresi data panel pengaruh CPI dan IR terhadap GDP dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh langsung variabel CPI dan IR terhadap GDP. Hasil estimasi regresi random effect data panel inimenunjukkan nilai R-squared sebesar 0,1565. Artinya kedua variabel independennya mampu menjelaskan variabel dependennya sebesar 15,65 persen, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak

termasuk dalam model. Kemudian untuk nilai probabilitas F-statistik yang besarnya 0,001688 menunjukkan hasil yang signifikan dengan standar deviasi (tingkat kesalahan) sebesar 1 persen. Selanjutnya signifikansi atau pengaruh masing-masing variabel independent terhadap dependentnya hanya IR yang signifikan dengan standar deviasi 5 persen. Sedangkan variabel CPI tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam mempengaruhi variabel GDP secara langsung. Tabel 4.4 : Hasil estimasi CPI dan IR terhadap GDP Variable Coefficient Prob. Fixed Effect C CPI IR -5.25E-07 -0.243076 -0.553872 1.0000 0.2422 0.0003* R-Squared Prob(F-stat)

Coefficient 0.156537 0.001688

Catatan : *)Signifikan level 5 % Sumber : Regresi Data Panel Eviews 6 (data diolah)

Gambar 4.3 : Sub Struktur 3 a Diagram Pengaruh CPI dan IR terhadap GDP

CPI

-0,243 (0,2422) GDP

IR -0,5538 (0,0003) -0.5538 IR, artinya jika IR berpengaruh signifikan secara negatif

terhadap GDP dan pengaruhnya lebih kuat terhadap GDP daripada CPI, karena CPI tidak signifikan.

Adapun koefisien regresi dari masing-masing variabel yang signifikan hanya pengaruh IR terhadap GDP, sehingga variabel yang tidak signifikan yaitu CPI, menurut uji Teory Triming harus dibuang, sehingga harus dibuat persamaan baru pengaruh IR terhadap GDP saja tanpa mengikutsertakan variabel CPI. Melalui hasil estimasi pada model pengaruh IR terhadap GDP, hasil regresi menggunakan fixed effect setelah melalui uji Chow dan Uji Hausman. Estimasi pertama menggunakan perbandingan model

common/pool effect dan model fixed effect, setelah diuji dengan Chow test, hasil probabilitas dari cross section Chi-square test sebesar 0,0342. Probabilitas itu lebih kecil dari angka kritis 0,05, sehingga H0 ditolak, dan fixed effect dipilih sementara. Diteruskan dengan melakukan uji Hausman dengan memperbandingkan model random effect. Hasil uji Hausman menunjukkan probabilitas dari cross section random test sebesar 0,00479, lebih kecil daripada angka kritis 0,05, maka H0 ditolak, model fixed effect lebih tepat untuk dipilih. Hasil estimasi regresi fixed effect data panel pada model ini menunjukkan nilai R-squared sebesar 0,2911. Artinya variabel

independen mampu menjelaskan variabel dependennya sebesar 29,11 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model. Kemudian untuk nilai probabilitas F-statistik yang besarnya 0,000328 menunjukkan hasil yang signifikan dengan standar deviasi (tingkat kesalahan) sebesar 5 persen. Selanjutnya variabel independent

tersebut memiliki signifikansi atau pengaruh terhadap dependentnya dengan standar deviasi 5 persen. Gambar 4.4 : Sub Struktur 3 b Diagram Pengaruh IR terhadap GDP IR -0,6829 GDP

Koefisien regresi dari variabel IR pengrauh langsung terhadap GDP tanpa mengikut sertakan variabel CPI yang sebelumnya tidak signifikan, hasilnya negatif terhadap GDP sebesar -0,6829 yang berarti IR

berpengaruh signifikan negatif terhadap GDP. Berdasarkan hasil regersi di atas maka persamaan GDP dapat ditulis sebagai berikut : GDP = -0,6829 IR + [CX=F] Kemudian dari hasil estimasi di atas juga dapat dilihat sensitivitas setiap negara yang diteliti, yaitu sebagai berikut : Tabel 4.5 : Pengaruh Cross Section [CX=F] CROSSID Effect 0.646820 1 _Indo -0.261846 2 _Malay 0.103228 3 _Philip -0.528774 4 _Singa -0.802025 5 _Thai 0.842597 6 _Viet

Dari estimasi yang telah dilakukan di atas, maka koefisien regresi variabel independen terhadap variabel dependennya, hasilnya sebagai berikut : Pengaruh Langsung CPI(X1) terhadap INVEST(Y1) = 2.697310147 Pengaruh Langsung IR(X2) terhadap INVEST(Y1) = -

0.3116922353 Pengaruh Langsung IR(X2) terhadap GDP(Y2) = - 0.682975 Pengaruh Langsung INVEST(Y1) terhadap GDP(Y2) =

0.3910213507 Tabel 4.6 : Signifikansi Variabel Independent dari Model Variabel Variabel Koefisien Regresi Prob Keterangan Dependent Independent Regersi I CPI 2,697 0,0001 Signifikan I IR II III A Y Y I CPI IR III B Y IR -0,3116 0,391 -0,243 -0,5538 -0,682975 0,0032 0,0041 0,2422 0,0003 0,0001 Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan

Sumber : Regresi Data Panel Eviews 6 (data diolah)

Berdasarkan hasil estimasi tersebut di atas, maka dapat disusun model lintasan pengaruh. Model lintasan ini disebut dengan analisis jalur, dimana pengaruh eror ditentukan dari koefisien. Determinasi dari masing-masing model diatas, yang disusun sebagai berikut :

1. Lintasan pengaruh untuk persamaan regresi CPI dan IR terhadap investasi asing dengan nilai r2 sebesar 0,7487

Pe1 = 1 R12 = 1 0,56069 = 0,4393 = 0,66279


2. Lintasan pengaruh untuk persamaan regresi investasi asing terhadap GDP dengan nillai r2 sebesar 0,391
2 Pe 2 = 1 R 2 = 1 0,0282 = 0,9718 = 0,9857

3. Lintasan pengaruh untuk persamaan regersi IR terhadap GDP dengan nilai r2 sebesar 0,2911
Pe 3 = 1 R32 = 1 0,0847 = 0,9153 = 0,9567

Sebelum dilakukan pembahasan terhadap hasil estimasi di atas akan dilakukan terlebih dahulu pengujian validitas modelnya. 4.1.3 Uji dalam Analisis Jalur Uji yang digunakan dalam analisis jalur adalah pemeriksaan validitas model. Terdapat dua indikator validitas model di dalam analisis jalur, yaitu koefisien determinasi total dan theory triming. 4.1.3.1 Uji Linieritas Hubungan antar variabel dalam model adalah linier dan aditif. Uji linieritas bias menggunakan Curve fit dan menerapkan prinsip

parsimony,yaitu bilamana seluruh model signifikan atau nonsignifikan berarti dapat dikatakan model berbentuk linier. Hasil pemeriksaan linieritas dengan menggunakan software SPSS disajikan sebagai berikut :

Uji linieritas CPI terhadap investasi asing


ANOVA Sum of Squares 47,407 29,643 77,050 df 1 76 77 Mean Square 47,407 ,390 F 121,547 Sig. ,000

Regression Residual Total

The independent variable is CPI_1996_2008.

Coefficients Unstandardized Coefficients B Std. Error ,785 ,071 -,001 ,071 Standardized Coefficients Beta ,784

CPI_1996_2008 (Constant)

t 11,025 -,008

Sig. ,000 ,994

Untuk hubungan/pengaruh antara CPI terhadap investasi asing dapat dikatakan linier signifikan karena nilai signifikansinya < 5%. Kemudian juga dilakukan Uji Linieritas pada IR terhadap investasi asing. Hasilnya bisa dilihat seperti berikut ini : Uji linieritas IR terhadap investasi asing
ANOVA Sum of Squares 23,111 53,939 77,050 df 1 76 77 Mean Square 23,111 ,710 F 32,564 Sig. ,000

Regression Residual Total

The independent variable is IR_1996_2008.

Coefficients Unstandardized Coefficients B Std. Error -,548 ,096 ,000 ,095 Standardized Coefficients Beta -,548

IR_1996_2008 (Constant)

t -5,706 -,003

Sig. ,000 ,998

Untuk hubungan/pengaruh antara IR terhadap investasi asing dapat dikatakan linier signifikan karena nilai signifikansinya < 5%. Begitu pula dengan Uji Linieritas pada Investasi terhadap GDP. Hasilnya bisa dilihat sebagai berikut : Uji linieritas investasi asing terhadap GDP
ANOVA Sum of Squares 1,844 75,253 77,097 df 1 76 77 Mean Square 1,844 ,990 F 1,862 Sig. ,176

Regression Residual Total

The independent variable is INVEST_1996_2008.

Coefficients Unstandardized Coefficients B Std. Error ,155 ,113 ,000 ,113 Standardized Coefficients Beta ,155

INVEST_1996_2008 (Constant)

t 1,365 -,002

Sig. ,176 ,998

Untuk hubungan/pengaruh antara investasi asing terhadap GDP dapat dikatakan linier karena signifikan dengan tingkat kesalahan sebesar 17,6%. Model linier ini diambil karena merupakan model yang paling sederhana (menggunakan Prinsip Parsimony) dan tidak ada model selain

model linier yang signifikan.Dari pengujian kelinieran diatas dapat diketahui bahwa model terbukti linier dan aditif. 4.1.3.2 Uji Validitas a. Koefisien Determinasi Total Total keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model diukur dengan koefisien determinasi total yang dapat dihitung sebagai berikut :
2 R 2 = 1 Pe2 Pe2 . . . Pep = 1 (0,4393 . 0,9718 . 0,9153)) 1 2

= 1 0,3907 = 0,6093
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, diperoleh hasil koefisien determinasi total sebesar 60,93 % . Artinya sebesar 60,93 % perubahan GDP dapat dijelaskan oleh CPI dan IR baik secara langsung maupun tidak langsung melalui jalur investasi asing atau dengan kata lain informasi yang terkandung dalam data, sebesar 60,93 % dapat dijelaskan oleh model tersebut. Sedangkan sisanya sebesar 39,07 % dijelaskan oleh variabel lain yang belum terdapat dalam model dan error. b. Theory Triming Indikator kedua yang digunakan dalam analisis jalur adalah theory triming. Uji validasi koefisien path/jalur untuk pengaruh langsung adalah sama dengan regresi, menggunakan nilai p dari uji t, yaitu pengujian koefisien regresi variabel yang telah dibakukan secara parsiil. Dalam analisis theory triming maka nilai koefisien jalur yang

tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 95% akan dibuang. Namun, dalam penelitian ini hanya satu koefisien jalur yang tidak signifikan yaitu jalur pengaruh CPI terhadap GDP secara langsung, maka jalur tersebut dibuang. c. Pengaruh Total Setelah menguji pengaruh secara langsung dan tidak langsung variabel CPI dan IR terhadap GDP, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh total kedua variabel independent terhadap variabel dependentnya adalah sebagai berikut:

Pengaruh Total CPI (X1) terhadap GDP(Y2) Pengaruh Total CPI (X1) terhadap GDP(Y2) = Pengaruh tidak

langsung CPI(X1) terhadap GDP(Y2) melalui INVEST(Y1) = 1,054706

Pengaruh Total IR (X2) terhadap GDP(Y2) Pengaruh Total IR (X2) terhadap GDP(Y2) = Pengaruh Langsung

IR (X2) terhadap GDP(Y2) + pengaruh tidak langsung IR (X2) terhadap GDP(Y2) melalui INVEST(Y1) = - 0.6829 + -0,12188 = -0,80478 Dilihat dari pengaruh total di atas, dapat dilihat bahwa variabel CPI memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap GDP daripada variabel IR. 4.2 Pembahasan Hasil Analisis Data
Dengan menggunakan hasil estimasi regresi yang diperoleh dari model, yaitu nilai koefisien regresi dan signifikansinya, dapat disusun diagram path pengaruh CPI dan IR terhadap GDP seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.5 : Diagram Path

CPI
2,697 (0,0001)

gdp inves
0,391 (0,0041)

IR

-0,3116(0,0032) (0 0001)

-0,6829 (0 0001)

Sumber : Data, diolah

Dari diagram path di atas dapat dilihat bagaimana CPI dan IR mempengaruhi GDP baik secara langsung maupun tidak langsung. Gambar diatas menunjukkan bahwa garis yang bertanda panah berarti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel di ujung kanan. Sedangkan angka yang dicetak tegak merupakan koefisien regresi dan angka yang dicetak miring merupakan probabilitas dari koefisien regresi tersebut. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa : CPI mempengaruhi investasi asing secara signifikan dengan tanda positif IR mempengaruhi investasi asing secara signifikan dengan tanda negatif IR mempengaruhi GDP secara signifikan dengan tanda negatif

Investasi asing mempengaruhi GDP secara signifikan dengan tanda positif Berikut ini adalah penjelasan mengenai hasil pengujian yang telah diestimasi melalui jalur yang dilalui oleh masing-masing variabel tersebut.
4.2.1 Hasil Pengujian Hipotesis Bagian ini akan memberikan penjelasan tentang hasil pengujian yang telah dilakukan, apakah sesuai dengan hipotesis yang ditentukan sebelumnya.

4.2.1.1 Hipotesis I
Pada bagian sebelum telah dihipotesiskan bahwa Corruption Perception Index mempunyai pengaruh positif, sedangkan tingkat suku bunga mempunyai pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Negara ASEAN melalui jalur investasi asing. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa variabel CPI berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan arah positif sedangkan suku bunga berpengaruh dengan arah negatif.

Untuk pengaruh CPI terhadap pertumbuhan ekonomi secara teoritis telah sesuai, yang didasarkan pada penelitian yang dikemukakan oleh Anoruo dan Braha (2004). Selain itu hasil analisis tersebut telah sejalan pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Podobnik, dkk (2008) dimana bahwa dalam studi kasus negara Eropa, setiap kenaikan CPI sebesar 1 unit secara umum telah meningkatkan pertumbuhan tingkat GDP per kapita sebesar 2.4 persen. Sejalan dengan CPI, variabel suku bunga juga telah menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Keynes, maupun hasil penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Natalia (2003) dimana suku bunga berpengaruh negatif terhadap investasi asing langsung. Pada bab sebelumnya juga telah diduga bahwa Corruption Perception Index dan tingkat suku bunga mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Negara ASEAN melalui jalur investasi. CPI dan suku bunga mampu menjelaskan variabel interveningnya yaitu investasi sebesar 74,87 persen, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model dengan tingkat kesalahan sebesar 5 persen. Kemudian Investasi memberikan kontribusi terhadap GDP

sebesar 39,1 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model dengan tingkat kesalahan sebesar 5 persen juga. Namun, hasil pengaruh langsung CPI terhadap GDP ternyata tidak signifikan dengan standar kesalahan 25 persen. Tetapi pengaruh langsung suku bunga terhadap GDP menghasilkan pengaruh yang signifikan dengan tingkat kesalahan sebesar 5 persen. 4.2.2 Pembahasan Pada bagian ini akan diuraikan lebih lanjut tentang hasil penelitian yang didasarkan pada hasil pengujian hipotesis. Pembahasan akan dilakukan terhadap seluruh hasil hipotesis untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hasil pengujian tersebut. 4.2.2.1 CPI dan Suku Bunga terhadap Investasi Asing Dalam pengujian hipotesis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa CPI berpengaruh signifikan terhadap investasi asing melalui jalur

investasi. Hal ini dikarenakan CPI

merupakan salah satu faktor

pertimbangan keputusan dilaksanakannya investasi yang sangat penting bagi investor karena akan menunjukkan suatu tingkat resiko dan biaya yang harus ditanggung oleh investor dan menggambarkan situasi stabilitas poltik dan kepastian hukum di negara tersebut. Dalam negara ASEAN, terutama untuk negara yang dibahas dalam penelitian ini yaitu Singapura, Thailand, Indonesia, Philiphina, Vietnam dan Malaysia, skor CPI rata-rata selama periode tahun 1996-2008 yang paling tinggi diraih oleh Singapura, kemudian disusul Malaysia, Thailand, Philiphina, Vietnam dan yang terakhir adalah Indonesia. Jika negara Myanmar, Laos dan Kamboja dimasukkan dalam penelitian ini, maka Myanmar lah negara yang memiliki skor CPI terendah dalam lingkup negara ASEAN. Fluktuasi perubahan CPI dari tahun ke tahun ternyata memiliki tren yang sama dengan pola fluktuasi net inflow foreign investment negaranegara tersebut. Dan setelah diuji melalui metode analisis jalur, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara positif antara CPI dan investasi asing yang masuk ke negara-negara tersebut sebesar 2,697. Walaupun hubungan tersebut tidak sama antara negara yang satu dengan negara yang lain, karena selain korupsi, banyak sekali faktorfaktor yang sebagian besar saling terkait satu sama lainnya yang menyebabkan fluktuasi investasi asing di negara-negara ASEAN hingga

saat ini, namun secara keseluruhan bahwa skor CPI sepertinya memang menjadi pertimbangan bagi para investor dalam memutuskan dimana investasi tersebut akan dilakukan. Di dalam suatu laporan Bank Dunia mengenai iklim investasi (World Bank, 2005a), diantara faktor-faktor tersebut, stabilitas ekonomi makro, tingkat korupsi, birokrasi, dan kepastian kebijakan ekonomi merupakan empat faktor terpenting penentu pelaksanaan investasi. Menurut dalam laporan tersebut, juga disebutkan bahwa, kebijakan dan perilaku pemerintah yang dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung biaya investasi adalah mulai dari korupsi, besarnya tarif dan sistem perpajakan yang tidak kondusif, jasajasa publik, kebijakan perdagangan mengenai bea masuk impor, birokrasi dalam pengurusan izin, kebijakan moneter yang mempengaruhi tingkat suku bunga dan inflasi, hingga pengeluaran pemerintah untuk

pembangunan atau perbaikan infrastruktur. Dari hasil estimasi pengaruh CPI dan IR terhadap investasi asing, Investasi Singapura selama periode tahun 1996-2008 dipengaruhi paling tinggi diantara keenam negara tersebut oleh pengaruh yang signifikan dari variabel CPI (positif) dan variabel IR (negatif). Hal ini menunjukkan bahwa kekonsistenan dari skor CPI yang diperoleh oleh Singapura dan kestabilan suku bunga yang rendah sebagai dana murah bagi berlangsungnya investasi memiliki pengaruh yang kuat terhadap investasi asing jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain.

Singapura dan Malaysia termasuk negara yang memiliki iklim investasi yang kondusif, terutama Singapura yang untuk semua indikator tersebut nomor satu di dalam kelompok ASEAN. Bahkan untuk beberapa indikator, peringkat negara pulau ini paling tinggi dari 104 negara yang disurvei. Melihat ini, tidak heran kenapa Singapura selama ini merupakan salah satu negara di dunia yang sangat menarik bagi PMA. Laporan dari UNCTAD (2004) menyajikan peringkat sepuluh (10) besar negara-negara penerima PMA di Asia dan Pasifik. Di dalam kelompok ASEAN, hanya Singapura, Malaysia dan Thailand yang masuk dalam Top 10. Ini menandakan bahwa dari perspektif ASEAN, daya saing Singapura adalah yang paling tinggi untuk menarik PMA. Tidak heran total PMA di negara ini merupakan yang tertinggi di negara ASEAN. Walaupun kekuatan pengaruh dari kedua variabel tersebut terhadap investasi asing pada negara Malaysia dan Thailand masih dibawah Indonesia, namun total PMA yang masuk masih mengungguli Indonesia dan Philipina. Karena selain faktor CPI dan suku bunga, Malaysia dan Thailand memiliki keunggulan lain yang bisa menjdai pertimbangan lain bagi investor yaitu keterbukaan pasar, masalah pajak, biaya perijinan, birokrasi, pajak, biaya upah buruh dan lain-lain. Sementara itu menurut hasil survei Bank Dunia, ditemukan sejumlah hambatan dalam proses memulai usaha di Indonesia, Vietnam dan Philipina, yang mencakup jumlah prosedur serta waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha. Secara umum pada 2007

peringkat kemudahan melakukan usaha di Indonesia membaik, dari peringkat 133 pada 2006 menjadi 123. Namun apabila dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN, peringkat Indonesia jauh lebih buruk. Posisi Indonesia di urutan 123 ini unggul hanya jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Lesotho, Algeria, dan Mesir. Hambatan paling utama untuk melakukan usaha di Indonesia adalah proses memulai usaha yang rata-rata membutuhkan 105 hari, jauh lebih lama jika dibandingkan dengan proses memulai usaha di negara tetangga di kawasan ASEAN seperti Singapura (5 hari), Malaysia (24), Thailand (33), Vietnam (50) dan bahkan Filipina (58). Hal tersebut memberikan alasan bahwa faktor CPI dan suku bunga kurang mempengaruhi keputusan investasi di negara-negara yang total PMA relatif lebih rendah, karena investor juga memperhitungkan aspek lain, seperti lamanya waktu perijinan membuka usaha seperti yang dijelaskan diatas. Investasi asing di Indonesia dipengaruhi cukup kuat sebesar 2,17 oleh kedua variabel diatas karena selama ini Indonesia telah mendapat cap sebagai negara terkorup dan kebijakan suku bunga yang relatif tinggi, sehingga hal tersebut menjadi faktor yang sangat diperhitungkan oleh investor. Sistem operasi perusahaan di Indonesia telah dikenal banyak oleh orang sebagai sistem yang tidak efisien. Memperhatikan potensi sumberdaya dan posisi strategis Indonesia dalam hubungan internasional, efisiensi perusahaan di Indonesia mestinya jauh lebih tinggi daripada perusahaan di Singapura, Malaysia, dan bahkan Vietnam, tetapi nyatanya

dengan adanya tingkat korupsi yang tinggi menyebabkan potensi dan posisi stragtegis tersebut membuat posisi Indonesia di mata investor tidak menjanjikan efisiensi dan akuntabilitas yang menyebabkan risiko bisnis menjadi lebih tinggi. Buruknya daya saing Indonesia, dalam menarik PMA lebih nyata lagi jika dibandingkan dengan perkembangan PMA di negara-negara lain. Misalnya dalam kelompok ASEAN, Indonesia satu-satu negara yang mengalami arus PMA negatif sejak krisis ekonomi 1998; walaupun saat itu skor CPI Indonesia masih lebih tinggi daripada Vietnam, hal ini disebabkan oleh faktor politik pada saat itu. Tingginya tingkat korupsi telah menyebabkan turunnya minat investor, menyebabkan rendahnya investasi, yang terutama disebabkan oleh tingginya biaya transaksi (high-cost economy), efek dari rendahnya investasi tersebut secara langsung akan menarik kebawah angka pertumbuhan ekonomi. Dari hasil estimasi di atas, dapat ditarik kesimpulan secara langsung, data pertumbuhan ekonomi dan investasi yang rendah, seperti dijelaskan di atas, memang memiliki korelasi dengan tingginya peringkat persepsi korupsi di negara ASEAN.
Koefisien variabel suku bunga yang bertanda negatif juga sesuai dengan teori investasi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat bunga, maka tingkat investasi akan semakin berkurang. Hal ini dapat dimaklumi bahwa salah satu pertimbangan utama investor dalam melakukan investasi adalah tingkat bunga, karena bila tingkat bunga tinggi, biaya modalpun akan semakin mahal,

sehingga akan menurunkan rate of return dan para pemilik modal akan lebih senang untuk menyimpan dana di lembaga keuangan atau bertransaksi saham dan obligasi yang memberikan return yang tinggi. Sehingga akan terjadi pengalihan dari investasi di sektor riil menjadi investasi di sektor finasial.

Sesuai dengan landasan teori yang telah dibahas di Bab II, bahwa suku bunga memiliki pengaruh secara negatif terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Sunariyah (2004), fungsi suku bunga ada tiga, selain dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian, dan untuk mengontrol jumlah uang beredar, suku bunga bisa sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan. Oleh karena itu, untuk menstimulasi kegiatan investasi, diperlukan kebijakan moneter pemerintah dalam menetapkan suku bunga yang rendah. Tetapi dalam penetapannya tentu

mempertimbangkan stabilitas variabel makro yang lain dan tergantung dari kebijakan moneter apa yang diambil saat itu, apakah kebijakan moneter ekspansioner atau kebijakan moneter ketat. Ketika suatu negara menerapkan kebijakan yang bersifat ketat, maka pemerintah tersebut akan menaikkan tingkat suku bunganya sehingga jumlah uang beredar akan turun, dan sebaliknya jika suatu negara menerapkan kebijakan yang bersifat ekspansioner, maka dengan menurunkan suku bunganya akan dapat menaikkan jumlah uang beredar sekaligus bisa menarik minat investor asing untuk masuk serta dapat

memperbaiki kondisi neraca pembayarannya. Menurut Jhingan (1992:372) menyatakan bahwa kebijakan suku bunga rendah adalah kebijakan uang murah, menjaga biaya pelayanan publik tetap rendah, dan demikian membantu membiayai pembangunan ekonomi. Bahkan, dari sudut investor asing pun, tersedianya uang yang lebih murah bisa menjadi dana pelengkap akan merangsang investor asing. Seperti yang ditunjukkan oleh negara Singapura, selama periode tahun 1996 hingga 2008, Singapura mematok suku bunga yang sangat rendah dan paling rendah diantara negara-negara ASEAN lain, kemudian disusul terendah kedua yaitu, Malaysia, Thailand, Philiphina, Vietnam dan Indonesia yang menerapkan suku bunga paling tinggi. Dengan suku bunga yang sedemikian rupa tersebut, ternyata memang memiliki korelasi negatif sebesar -0,3116 terhadap PMA yang masuk ke negara-negara tersebut. Singapura, Thailand dan Malaysia yang menetapkan suku bunga rendah, memiliki total PMA yang lebih besar dibandingkan dengan negara dengan suku bunga lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang telah dijelaskan sebelumnya. Singapura dan Malaysia diuntungkan dengan penetapan suku bunga yang cukup rendah, pada akhirnya bisa menstimulus adanya investor asing yang akan masuk. Oleh karena itu, tidak heran negara seperti Singapura dan Malaysia memiliki total net PMA yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lain yang terdapat dalam penelitian ini. Indonesia dengan penetapan suku bunga yang paling tinggi diantara

lima negara ASEAN yang lain, masih bisa meraih minat investor asing karena walaupun suku bunga tinggi namun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, didukung oleh populasi penduduk yang besar dan tingkat daya konsumtif yang tinggi sehingga Indonesia menjadi pasar potensial yang besar bagi produksi dan pemasaran. Posisi Indonesia dengan skor CPI yang rendah dan suku bunga yang tinggi menggambarkan tingkat risiko Indonesia yang lebih besar dari beberapa negara Asia yang menjadi kompetitor Indonesia dalam ekonomi. Pebisnis akan lebih memilih negara yang relatif lebih stabil

perekonomiannya daripada Indonesia. Sebagai contoh adalah Vietnam yang merupakan negara berkembang yang dengan cepat melakukan pemulihan di sektor ekonomi, politik dan tata pemerintahannya, hal ini dilihat investor sebagai komitmen pemerintah yang serius dalam menajdikan negara Vietnam sebagai negara dengan iklim investasi yang kondusif. Dengan risiko ekonomi yang lebih rendah, aliran dana investasi akan cenderung ke Vietnam daripada Indonesia. Dalam kawasan ASEAN, Indonesia pun masih tertinggal dengan dengan negara-negara utama ASEAN lainnya seperti Malayssia, Thailand dan Singapura, khususnya dalam menarik PMA dari luar ASEAN (ASEANekstra). Bahkan untuk periode 2005-2006, persentase pertumbuhan arus masuk neto PMA ke Indonesia negatif dibandingkan negara-negara anggota lainnya, terkecuali Myanmar. 4.2.2.2 Investasi Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Investasi

sangat

penting

bagi

pertumbuhan

ekonomi

serta

perbaikan bagi produktivitas kerja. Turunnya pertumbuhan ekonomi di suatu negara bisa disebabkan oleh turunnya aktivitas investasi. Oleh karena itu, perilaku investasi penting untuk diketahui guna merumuskan kebijakan stabilisasi dalam usaha meminimalkan pengaruh buruk fluktuasi investasi terhadap perekonomian. Di negara-negara berkembang, investasi asing menjadi semakin penting karena dengan rendahnya tingkat pendapatan di negara berkembang, maka akan sulit untuk mendapatkan tabungan yang cukup untuk memperoleh sejumlah investasi yang diperlukan dari dalam negeri. Oleh karena itu, investasi asing menjadi sasaran untuk berkontribusi dalam mengejar target pertumbuhan nasional sebagai penutup antara investasi yang ditargetkan atau diharapkan dan tabungan nasional yang dimobilisasikan. Investasi asing juga akan mendorong pengusaha setempat untuk ikut bekerja sama dengan perusahaan asing tersebut, sehingga secara tidak langsung akan membuka kesempatan kerja baru dan meningkatkan output dan pendapatan nasional. Pengaruh dari peran ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi dalam perekonomian. Pertama, investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat. Maka kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat dan pendapatan nasional. Peningkatan seperti ini akan selalu diikuti oleh pertambahan dalam kesempatan kerja. Kedua, pertambahan barang modal sebagai akibat

investasi akan menambahkan kepastian memproduksi dimasa depan dan perkembangan ini akan menstimulir pertambahan produksi nasional dan kesempatan kerja. Ketiga, investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi. Perkembangan akan memberikan sumbangan penting ke atas kenaikan produktivitas dan pendapatan perkapita masyarakat

(Sukirno,2000: 367). Dari hasil estimasi yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa memang ada korelasi kuat antara investasi asing dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dibuktikan oleh koefisien regresi dari variabel Investasi yang berpengaruh signifikan positif terhadap GDP sebesar

0,391. Pengaruh investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi paling besar dirasakan oleh negara Vietnam, kemudian disusul oleh Singapura, Thailand, Philiphina, Malaysia kemudian yang terakhir Indonesia. Vietnam, merupakan negara yang baru terbebas dari perang dan memerdekakan dirinya lebih lama daripada Indonesia memiliki komitmen kuat untuk membangun negaranya dengan menunjukkan keseriusannya memerangi korupsi dan membentuk tata kelola pemerintahan yang lebih baik, oleh karena itu dengan kondisi seperti ini Vietnam sangat membutuhkan adanya investasi asing yang masuk guna menjembatani tabungan yang sedikit dengan investasi yang ditargetkan. Perkembangan investasi yang berkesinambungan dan cenderung memiliki tren naik, maka investasi asing Vietnam memberikan pengaruh yang lebuh kuat terhadap pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang

lain. Disusul oleh negara Singapura dan Malaysia yang memiliki pengaruh investasi yang relatif kuat namun masih dibawah Vietnam. Kedua negara ini memang stabil dalam menarik minat investor asing yang masuk, karena kondisi infrastruktur dan jaminan keamanan serta kestabilan

perekonomian membuat total net PMA kedua negara ini selalu unggul dan stabil. Walaupun trennya cenderung fluktuatif(naik-turun), namun jumlah nominalnya paling tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain. Melihat pengaruh investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi yang lemah di Indonesia, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh investasi asing. Saat ini Indonesia masih dalam proses pemulihan, yang ditandai dengan semakin tingginya pertumbuhan PDB yang kembali positif sejak 1999 walaupun dengan laju yang relatif lambat. Dengan pendapatan yang cenderung meningkat, yang berarti potensi pasar di dalam negeri cenderung meningkat, maka dari sisi permintaan potensi Indonesia untuk investasi sangat baik. Namun, dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk negara-negara yang juga mengalami krisis yang sama, Indonesia masih buruk. Berdasarkan database dari Asian Development Bank, Thailand yang mengalami krisis ekonomi sama parahnya seperti yang dialami Indonesia ternyata mampu mengenjot pertumbuhan sebesar 4.4% tahun 1999. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun yang sama hanya 0,9% (menurut BPS 0,8%).Yang paling menarik dari laporan ADB ini adalah bahwa ternyata Vietnam merupakan negara yang paling

baik pertumbuhan ekonominya di kawasan tersebut Pada tahun 1999 negara itu mengalami pertumbuhan sekitar 4,7%, lebih tinggi daripada laju pertumbuhan rata-rata dari semua negara di Asia Tenggara yakni sebesar 3,8%; dan tahun 2002 diperkirakan tumbuh 7,1%. Dua tahun berikutnya ekonomi Vietnam tumbuh masing-masing 7,3% dan 7,7%. Filipina juga terkena krisis dan tahun 2001 ekonominya tumbuh hanya 1,8%; namun tiga tahun berikutnya laju pertumbuhan ekonominya menanjak terus hingga mencapai sekitar 6,1% pada tahun 2004. Demikian juga Malaysia, yang ekonominya pada tahun 2001 tumbuh hanya 0,3%, namun pada tahun 2004 mencapai 7,1%. Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa investasi asing memberikan kontribusi sebagai penyedia tambahan modal dan

mendorong peningkatan output serta pendapatan bagi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

perkembangan

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Berdasarkan data dan analisis pembahasan serta pembuktian hipotesis. yang diajukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung Corruption Perception Index terhadap pertumbuhan ekonomi di negara ASEAN. Pengaruh secara langsung CPI terhadap

pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil yang tidak signifikan ditunjukkan dengan koefisien regresi sebesar -0,2430 yang bertanda negatif. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa kenaikan tingkat indeks persepsi korupsi di suatu negara mempengaruhi pertumbuhan ekonomi karena anggapan korupsi merupakan suatiu biaya terselubung dalam perekonomian. Sedangkan pengaruh tidak langsung CPI terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil yang signifikan positif melalui investasi asing sebagai variabel intervening dapat dilihat dengan mengkalikan koefisien tidak langsungnya yaitu sebesar 1,054. Hal ini disebabkan, dalam pengambilan keputusan investasi, investor akan senantiasa

memperhatikan kondisi stabilitas politik, kepastian hukum dan biaya sebagai pertimbangan kelangsungan investasi mereka ke depan. Korupsi yang tinggi identik dengan sistem birokrasi yang rumit dan

suap, sehingga bisa membuat harga produksi semakin mahal dan berkurangnya daya saing. Oleh karena itu, dengan return yang sama, investor akan lebih memilih lahan produksi yang memiliki resiko dan biaya yang lebih rendah. 2. Terdapat pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi negara ASEAN. Pengaruh secara langsung ditunjukkan dengan koefisien regresi yang bertanda negatif sebesar -0,6829. Sedangkan pengaruh tidak langsung suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi melalui

investasi asing sebagai variabel intervening dapat dilihat dengan mengkalikan koefisien tidak langsungnya yaitu sebesar -0,1218. Hasil estimasi ini telah sesuai teori yang didasarkan pada teori Keynes bahwa kenaikan suku bunga suku akan mengurangi yang tinggi

pengeluaran

investasi,

karena

bunga

menyebabkan harga barang modal menjadi lebih mahal sehingga daya saing produk akan menurun. Kebijakan suku bunga rendah juga bisa dimanfaatkan oleh investor asing sebagai dana pelengkap yang mendorong ekspansi usaha perusahaan asing dengan pengusaha setempat. 3. Investasi asing sebagai variabel intervening menghubungkan antara variabel CPI dan variabel suku bunga dengan pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil yang signifikan bertanda positif dengan koefisien regresi sebesar 0,3910. Ini menunjukkan bahwa

keberadaan investasi asing sebagai penyedia modal tambahan untuk memperoleh sejumlah investasi yang diperlukan dari luar negeri dan penutup antara investasi yang ditargetkan atau diharapkan dan tabungan nasional yang dimobilisasikan. 5.2. Saran
1. Melihat pengaruh CPI membawa dampak yang signifikan terhadap investasi asing langsung maka diperlukan keseriusan usaha perbaikan dari pemerintah masing-masing negara untuk mengatasi dan memberikan kepastian hukum terhadap tindak korupsi di negara mereka. Kepastian hukum sangat penting bagi investor untuk menjamin kelangsungan dan kesinambungan return dari investasi yang ditanam. Diharapkan

pemerintah dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif, investasi akan meningkat apabila didukung oleh kondisi stabilitas ekonomi, sosial dan politik yang kondisuf sehingga menciptakan sektor riil yang stabil. 2. Perlunya kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah negara berkembang

untuk menerapkan kebijakan suku bunga rendah agar mampu mendorong kegiatan investasi baik domestik maupun asing. Bisa melalui pemberlakuan suku bunga diskriminatif, yaitu pengenaan suku bunga yang lebih murah untuk bidang usaha yang bergerak di sektor riil. 3. Diharapkan pemerintah negara berkembang menerapkan kebijakan atau perilaku yang berkesinambungan dan cenderung

meningkatkan kesempatan bagi pertumbuhan usaha-usaha baru

atau perluasan kapasitas produksi dari usaha-usaha yang ada. Kebijakan dan perilaku pemerintah yang dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung biaya investasi adalah mulai dari korupsi, besarnya tarif dan sistem perpajakan yang tidak kondusif, jasa-jasa publik, kebijakan perdagangan mengenai bea masuk impor, birokrasi dalam pengurusan izin, kebijakan moneter yang mempengaruhi tingkat suku bunga dan inflasi, hingga pengeluaran pemerintah untuk pembangunan atau perbaikan infrastruktur. Dengan adanya peningkatan investasi asing maka akan menyediakan nasional kesempatan dan kerja baru, taraf meningkatkan kemakmuran

pendapatan masyarakat.

meningkatkan

DAFTAR PUSTAKA Bardhan. 1997. Corruption and Development: A Review of Issues. Journal of Economic Literature. Boediono .1985. Teori Pertumbuhan Ekonomi. BPFE. Yogyakarta. Boediono. 2005. Ekonomi Makro. BPFE. Yogyakarta. Podobnik,Boris. Shao,Jia. Njavro,Djuro. 2008 . Influence of corruption on economic growth rate and foreign investment. The European Physical Journal. Clark, JR. et al. 1990. Macroeconomics for Managers. Schuster Inc. Masschusetts. Division of Simon &

Chetwynd E.. Chetwynd F.. Spector B.. 2003. Corruption and Poverty: A Review of Recent Literature. Final Report. Management Systems International. Washington. Dornbusch. Rudinger dan Stanley Fischer. 1989. Makroekonomi. (J. Mulyadi). Jakarta:Erlangga. Emmanuel Anoruo and Habtu Braha. 2004. Corruption and Economic Growth: The African Experience. Faisal Basri dan Haris Munandar. 2009. Lanskap Ekonomi Indonesia: Kajian dan Renungan Terhadap Masalah-Masalah Struktural. Transformasi Baru. dan Prospek Perekonomian Indonesia. Jakarta : Kencana. Faried Wijaya .1989. Ekonomika Makro. Yogyakarta. BPFE. Gujarati. Damodar. 1995. Ekonometrika Dasar. (Sumarno Zain). Jakarta : Erlangga. Gupta S.. Davoodi H.. Alonso-Terme R..1998. Does Corruption Affect Income Inequality and Poverty?. IMF working paper. Greene. William H.. 2003. Econometric Analysis Fifth Edition. Pearson Education. New Jersey. Irawan dan M. Suparmoko. 1992. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta : BPFE. Jhinghan. ML. 1992. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.. Jakarta : CV Rajawali. Krugman. Paul R. dan Maurice Obstfeld. 1991. Ekonomi Internasional. ( Faisal H. Basri ). Jakart.: Rajawali Pers

Leff. N.. 1964. "Economic Development Through Bureaucratic Corruption." American Behavioral Scientist. Lindert. Peter H. 1994. Ekonomi Internasional. ( Burhanuddin Abdullah). Jakarta : Bumi Aksara. Lui.F. T.. 1985. "An Equilibrium Queuing Model of Bribery." Journal of Political Economy August 1985. Nachrowi. ND.. Usman. Hardius. 2006. Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika Untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. LPFE Universitas Indonesia. Jakarta. Mauro. P. 1995. Corruption and Growth. The Quarterly Journal of Economics. Vol. CX. No. 3. Sarkar. H. and Hasan. A. 2001. Impact of Corruption on the Efficiency of Investment:Evidence from a Cross-country Analysis. Asia-Pacific Development Journal. Vol. 8. No. 2. Salvatore. Dominick. 1997. Ekonomi Internasional. jilid I. ( Haris Munandar). Jakarta : Erlangga. Samuelson. Paul. A dan William. D Nordhaus. 1990. Ekonomi. edisi 12 jilid I. (Jaka Wasana). Jakarta. Soediyono. R. 1985. Ekonomi Makro Analisa IS-LM Permintaan-Penawaran Agregat edisi 3. Liberty. Yogyakarta. Sukirno. Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses. Masalah. dan Dasar Kebijaksanaan. Jakarta : Lembaga Penerbit FE UI dengan Bima Grafika Suparmoko. M. 1998. Pengantar Ekonomi Makro. edisi keempat. Yogyakarta : BPFE Stern. N.H. 2002. A Strategy for Development. Washington. D.C.: World Bank. Transparency International. 2009. Pemberantasan Korupsi di Indonesia Masih Lemah. November. Transparency International. 2009. Korupsi Mengancam Pemulihan Ekonomi Global dan Menjadi Tantangan Besar bagi Negara-Negara yang Mengalami Konflik. November. Todaro. Michael. 1994. Pembangunan Ekonomi diDunia Ketiga. (Harris Munandar dan Burhanuddin Abdullah). Edisi keempat Jakarta : Erlagga World Bank (2005a). Iklim Investasi yang Lebih Baik bagi Setiap Orang. Laporan Pembangunan Dunia 2005. The World Bank. Jakarta : Salemba Empat.

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Estimasi Pengaruh CPI dan IR terhadap Investasi Asing

ESTIMASI DENGAN MODEL FIXED EFFECT: Dependent Variable: INVEST Method: Panel Least Squares Date: 06/06/10 Time: 18:42 Sample: 1996 2008 Cross-sections included: 6 Total panel (balanced) observations: 78 Variable C CPI IR Coefficie nt -1.47E-06 2.697310 0.311692 Std. Error 0.059520 0.628041 0.102155 t-Statistic -2.48E-05 4.294801 -3.051159 Prob. 1.0000 0.0001 0.0032

Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.748795 0.723674 0.525667 19.34282 56.29610 1.196014 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 6.41E-07 1.000000 1.648618 1.890332 29.80807 0.000000

Lampiran 2 : Hasil Estimasi Pengaruh CPI dan IR terhadap GDP

ESTIMASI DENGAN MODEL RANDOM EFFECT:


Dependent Variable: GDP Method: Panel EGLS (Cross-section random effects) Date: 06/06/10 Time: 19:43 Sample: 1996 2008 Cross-sections included: 6 Total panel (balanced) observations: 78 Swamy and Arora estimator of component variances Variable C CPI IR Coefficien t -5.25E-07 -0.243076 -0.553872 Std. Error 0.192349 0.206222 0.147247 t-Statistic -2.73E-06 -1.178711 -3.761516 Prob. 1.0000 0.2422 0.0003

Effects Specification S.D. Cross-section random Idiosyncratic random Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.156537 0.134045 0.889686 6.959570 0.001688 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat -3.32E-07 0.956068 59.36556 2.036821 0.402947 0.880387 Rho 0.1732 0.8268

Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid 0.083532 70.56806 Mean dependent var Durbin-Watson stat -6.41E-07 1.713481

Lampiran 3 : Hasil Estimasi Pengaruh Investasi Asing terhadap GDP

ESTIMASI DENGAN MODEL FIXED EFFECT: Dependent Variable: GDP Method: Panel Least Squares Date: 06/06/10 Time: 19:15 Sample: 1996 2008 Cross-sections included: 6 Total panel (balanced) observations: 78 Variable C INVEST Coefficie nt -8.92E-07 0.391021 Std. Error 0.107550 0.188179 t-Statistic -8.29E-06 2.077927 Prob. 1.0000 0.0413

Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.168081 0.097778 0.949854 64.05778 102.9972 1.969512 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) -6.41E-07 1.000000 2.820441 3.031940 2.390806 0.036769

Lampiran 4 : Hasil Estimasi Pengaruh IR terhadap GDP

ESTIMASI DENGAN MODEL FIXED EFFECT: Dependent Variable: GDP Method: Panel Least Squares Date: 08/03/10 Time: 07:00 Sample: 1996 2008 Cross-sections included: 6 Total panel (balanced) observations: 78 Variable C IR Coefficie nt -7.29E-07 0.682975 Std. Error 0.099274 0.163738 t-Statistic -7.34E-06 -4.171148 Prob. 1.0000 0.0001

Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.291183 0.231283 0.876765 54.57888 96.75180 2.189387 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) -6.41E-07 1.000000 2.660302 2.871802 4.861161 0.000328