Setangkai Bunga Bermahkota Biru

Cerpen oleh Umar Said
Lelaki itu duduk di teras. Ia meregangkan tubuhnya sambil memandang ke arah taman. Seksama diperhatikannya pot demi pot dengan bermacam jenis bunga. Hening. Derap langkah mendekatinya. Gadis itu langsung duduk saja di sebelah si lelaki. Matanya ikut melihat taman. Lalu ia memecah keheningan dengan membuka kata. Pura-pura bertanya. “Itu adikmu ya?” “Ya,” jawab si lelaki. Sedangkan, si adik kecil itu hirau, asyik bermain tanah di taman. “Kenapa kau tak ikut?.” Lalu si lelaki mengeryitkan dahi tak mengerti. Si gadis segera menyadarinya. “Maksudku, kenapa kau tak ikut bermain dengannya?.” “Oh, aku lebih suka melamun di sini. Melihat bunga-bunga itu.” “Bunga yang mana?,” tanya gadis itu bingung. Di taman itu ada lebih dari satu jenis bunga. Dengan jumlah yang banyak namun dengan warna yang sama. “Tak ada.” “Maksudmu?.” “Ya, tak ada bunga di taman ini yang aku beri perhatian.” Si gadis semakin bingung. Padahal tadi lelaki ini bilang lebih suka melihat bunga daripada bermain bersama adiknya. Sekarang ia bilang tak ada bunga di taman ini yang mendapat perhatiannya. Sedikit menghiraukan gadis itu mengubah haluan pembicaraan. “Lantas, kenapa kau suka bunga?.” “Aku tak tahu awalnya mengapa.” “Mengapa?.” “Kalau kau ada waktu, aku akan cerita.” Lelaki itu bersoloroh saja dengan ceritanya. Sepertinya ia juga butuh teman untuk mencurahkan isi hati. Si gadis tak menolak. Ia justru melihat tajam ke wajah si pria. Dihatinya menderu ingin bermanja. Mendengar cerita sambil rebahkan kepala di pundak sang pria. Hatinya meronta enggan lakukan itu. Hanya tersipu. Cerita pun sudah sampai pada puncaknya. “Aku pernah menemukan sekuntum bunga,” ujar pria itu. Kala itu, di selokan depan rumah, ia menemukan sekuntum bunga. Bukan bunga biasa. Karena tidak biasa itu pulalah si lelaki rela mencelupkan kakinya di comberan. Bunga itu dibawa pulang. Berdiri tegak setelah ditanam kembali di pot. Menghiasi taman itu sekian waktu. “Apanya yang tak biasa?,” ujar si gadis penasaran. “Iya. Sungguh unik. Sebelumnya tidak pernah melihat.” “Tapi bunga itu sepertinya bukan anggrek,” ujar si lelaki. “Aku mengenal anggrek,” seloroh si gadis. Lalu ia bicara panjang lebar tentang anggrek. Terkadang sambil melontarkan pertanyaan adakah kesamaan ciri bunga milik pria itu dengan anggrek. “Tahukah kau, anggrek adalah simbol cinta, kemewahan, dan keindahan?.” Lelaki itu berpikir sejenak lalu menjawab, “aku tak tahu. Kurawat saja bungaku itu.” Dari mulut si gadis kembali terdengar rangkaian kata. Ia menjelaskan bangsa yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan. Dan bangsa tiongkok percaya aroma anggrek berasal dari tubuh kaisar mereka. Jika anggrek muncul di mimpi seseorang, hal itu dipercaya sebagai simbol dari kebutuhan akan kelembutan, romantisme, dan kesetiaan. Bahkan anggrek jadi bahan baku utama dari ramuan cinta. “Begitu dahsyat bukan?,” ujar si gadis. Kata-kata gadis itu membenam di dalam benak si pria. Pikirnya, aku tak mengerti arti cinta. Aku bukan pecinta. Tapi kupastikan, bunga selalu dirawat. Aku bagai hamba yang mengabdi pada paduka kaisar. Wanginya membuat aku tertunduk sembah. Aku pun merasa lebih jantan dari sebelumnya ketika hanya melihat saja bunga itu. Tiap malam selalu kuimpikan bungaku itu. Apa ya istilahnya? Cinta? Sayang? Tak perlu sepertinya. Aku hanya rela saja merawat bunga itu. “Aku tak mengerti apapun tentang bunga.” Si pria membalas. Ia sempat menganggap gadis ini

dan New York. Satu tangkai berarti cintaku hanya untukmu seorang.” “Tak masalah. Di Kanada.” 100 tangkai. Georgia. “Apakah aku juga?. “Nah. Angin lalu. Ia merasa dimanja dengan tanya dari pria itu. Dunianya bunga. 365 tangkai. Kemudian melanjutkan penjelasannya.” “Apakah bungamu itu mawar?. Setelah mengusap sesuatu dari kelopak matanya. Si pria kaku. kita mengenal mawar sebagai cinta dan kecantikan. Pria itu kembali membuka mulut. “Bagaimana dengan tanah?. Begitu besar cinta pria ini pada bunga. North Dakota. “Kau akan terkejut nanti. Tapi si pria itu sadar bukankah gadis itu datang untuk mendengarkan curahan hatinya. Tanpa ragu. “Semakin banyak. memikirkanmu setiap hari.” Gadis itu semakin bersemangat berceloteh. Pria itu kembali melamun. bunga mawar merupakan bunga negara bagian Iowa. mawar dianggap suci untuk beberapa dewa seperti Isis dan Aprodite. .” “Memang. Membuyarkan lamunan. mencintaimu setiap hari. “Mawar merupakan lambang dunia!. jumlah tangkai mawar bisa melambangkan sesuatu.” teriak gadis itu lantang bersemangat. “Sampai segitunya. bunga mawar liar merupakan bunga provinsi Alberta. aku cinta kamu. kau dan aku saling mencintai. “Sekarang kau ceritakan tentang lebah?” Senyum terlempar dari si gadis. Menjadi lebih hangat.” tukas si pria. ceritakan tentang mawar?. Hening sejenak. “Sederhana saja. tidak akan terjadi penyerbukan. “Banyak sekali. Sang pria hanya menggeleng.” “Cinta selamanya?” “Cinta sepenuhnya. semakin kuat maknanya.” “Mungkin saja. Itu pun sudah ada makna. aku merasa memaknainya lebih dari seribu satu tangkai.” Dalam mitologi Yunani.” ujar pria itu berseloroh. 144 tangkai.” ujarnya. Tiga tangkai.” imbuh si gadis.” “Media tanam. Setelah 7 menit berlalu. “Sudah beberapa hari itu. Begini.” Bunga terhadap lebah bagai putik dengan benang sari. Gadis itu terjebak dalam sepi. Mereka bagian dari kehidupan bunga. bunga seribu mahkota itu dijadikan simbol anti-kekerasan. “Kau tahu jumlah tangkai mawar saja memiliki arti?. Mungkin sedikit buih air mata.” singkat si gadis. Biasanya untuk menyatakan seberapa besar cinta. Tempat hidup. Gadis itu telah memecah keheningan. Lalu si lelaki coba mengembalikan suasana ke kondisi semula. mencintaimu pagi hingga malam selama-lamanya. Bahkan di Inggris mawar dijadikan bunga nasional. Di Amerika Serikat. Hingga 1001 tangkai yang melambangkan cinta selamanya. Pada peristiwa Revolusi Mawar tahun 2003 di Georgia.sok tahu.” Si gadis terdiam. Dua tangkai. jadilah pasangan yang mengasihi sampai lanjut usia. lebah tak berkunjung.” Pria itu menganguk-angguk merasa lebih paham. segera menjelaskan. pikirnya. Aku tidak tahu seperti apa mawar.” “Tapi. Si gadis tak begitu menghiraukan. “Dari budaya barat. tanpa bantuan organisme. mengobati rindu pada bunga itu.” “Aku hanya punya setangkai.” “Baiklah.

Tercium aroma wangi tanah. Ia tak menggubris seperti mengelak dari pertanyaannya.” “Kau tahu namaku Puspita?” . Seingatku tak ada warna biru.” “Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru. Mau. si gadis baru mengerti.” jawab si lelaki. kau guyurkan pupuk di tanah!” “Aku selalu menyiramnya. Bisa jadi bungamu akan lebih indah. Biru muda?” “Bukan. Kutimba air dari sumur lalu kuangkat ke sini. Si gadis justru mengajukan pertanyaan lain. Kenapa tidak. Pria itu tak mengerti.” balas gadis itu. Lelaki itu hanya menatap taman yang penuh dengan bunga putih. Suasana sedikit temaram.” “Bisa jadi. Si gadis segera menyadarinya. Tanahku tak kering.” “Biru. Tapi si gadis buru-buru berkata kembali.” “Jika ada bunga berwarna biru. benar mau?” “Yakin.“Pantas. tanahku sudah kering. Romantis. “Tapi aku ingat. Di mawar saja. Badanku kotor dan bau tak jadi soal.” tanya si pria melihat keanehan itu.” “Benarkah?” “Benar. Kesuburan tanah bisa terjaga.” Si gadis menatap heran. “Kenapa denganmu?.” “Kupikir kau becanda. kesucian dan rahasia. Jika sumur kering. Tak ada warna biru. Titik-titik gerimis menyirami. Tak layu lagi. Segar kembali. “Apa warna bungamu?. Sejuk rasanya.” jelas gadis itu. Kuning. merah lambang cinta romantis. “Tak mungkin. hasrat dan semangat.” “Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?” “Tidak. “Dan sekarang inginkah kau memiliki bunga lagi?” “Tentu saja. Putih. Seharusnya bukankah pria itu bisa menanamnya lagi. “Aku paham makna warna-warna pada bunga. Si pria merasa ada yang tak nyambung. kenapa kau tak menyiramnya. si gadis terlihat gugup. bungaku terbasahi. persahabatan dan kegembiraan. Jika perlu. Hanya biru” “Aku tak tahu ada warna biru. payah!” si gadis meledek. bunga itu bermahkota biru. aku lari ke selokan. Yang terpenting. “Maksudku. Namun setelah berpikir beberapa saat. Merah jambu.” Sementara itu. Tiba-tiba langit mendung.” “Mengapa?” “Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu. Ia tak mengerti. keanggunan dan kelembutan. Ia duduk tak nyaman. Jingga. cinta yang mulai tumbuh.” “Kenapa tak kau beri air?” “Memang ada apa dengan air?” “Yah.

” Seketika si lelaki mengalihkan pandang dari taman. Aku tahu.“Iya. Sekarang jadikan aku bungamu. 5 April 2009 . © Umar Said Yogyakarta. Bola matanya haru menatap tajam ke gadis bergaun biru itu.” “Tahukah kau maknanya?” “Tidak. Memangnya?” “Puspita itu bunga.