Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam sebuah penelitian seorang peneliti menggunakan populasi dan sampel, begitu pula dengan penelitian kualitatif. Namun dalampenelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau situasi sosial. Pada penelitian tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang aada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan pada situasi sosial yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman atau guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Setelah metode didapatkan maka selanjutnya peneliti harus mengumpulkan data. Banyak cara pengumpulan data yang bisa digunakan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif tersebut. Ada dua hal yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Dalam penelitian kualitatif, kualitas instrumen panelitian berkenaan dengan validitas dan reabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan caracara yang digunakan untuk mengumpulakan data. Oleh sebab itu data-data yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu menghasilkan data yang valid dan reliable, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya.

1.2 Masalah Dalam penelitian kualitatif ini, ada beberapa masalah yang dihadapi yakni: (1) Apakah pengertian atau definisi dari populsi dan sampel? (2) Teknik atau metode apakah yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif? 1.3 Tujuan Tujuan penulis dalam pembahasan ini adalah: (1) Mengetahui definisi dari populasi dan sampel (2) Mengetahui teknik atau metode yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 POPULASI DAN SAMPEL 2.1.1 Pengertian Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau situasi sosial yang terdiri dari atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors) dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial tersebut dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingim diketahuiapa yang terjadi didalamnya. Tetapi sebenarnya objek penelitian kualitatif, juga bukan semata-mata pada situasi sosial yang terdiri dari tiga elemen tersebut, tetapi juga bisa berupa peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, kendaraan dan sejenisnya. Jika seorang peneliti mengamati secara mendalam perkembangan tumbuh-tumbuhan tertentu, kinerja mesin, menelusuri rusaknya alam, adalah proses penelitian kualitatif. Pada penelitian tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan pada situasi sosial yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman atau guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Penelitian kualitatif berangkat dari populasi tertentu, tetapi karena keterbatasan tenaga, dana, waktu dan fikiran, maka peneliti menggunakan sampel sebagai objek yang dipelajari atau sebagai sumber data. Pengambilan sampel secara random. Berdasarkan data dari sampel tersebut kemudian digeneralisasikan ke populasi. Pada penelitian ini, peneliti memasuki situasi sosial tertentu, melakukan

observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan dengan secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Misalnya peneliti hendak meneliti mengenai strata sosial pada siswa SD. Dari strata sosial itu dimungkinkan tidak homogen dan memang perlu dicari kawasan yang strata siswanya heterogen. Penelitian kualitatif lebih mengarah pada penelitian proses daripada produk dan biasanya membatasi pada satu kasus. Beberapa penelitian kualitatif berusaha untuk memperluas keberlakuan hasil penelitiannya dengan mengambil kasus sekaligus banyak yang biasanya disebut multiple-site studies. Multiple site studies bukan hanya menetapkan siapa yang akan diobservasi atau diwawancarai, melainkan juga menetapkan konteksnya, kejadiannya dan prosesnya. Konteks kejadian dan proses pada beragam lokasi dipilih untuk diperbandingkan. Untuk masing-masing lokasi dipilih dengan prosedur yang sama dengan pengambilan sampel acak sederhana atau sampel acak berjenjang. Misalnya kita hendak menelaah masalah transmigrasi, maka sampel yang kita ambil adalah daerah asal transmigran, daerah penerima transmigran, lokasi transmigran dan daerah bukan pengirim atau penerima transmigran. 2.1.2 Teknik Pengambilan Sampel Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Pada dasarnya teknik sampling dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability Sampling sampling meliputi, simple random, proportionate stratified random, disproportianote stratified random, dan area random. Nonprobability Sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling.

Menurut Sugiyono (2009) dalam penelitian kualitatif, teknik yang sering digunakan adalah teknik purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu ini. Misalnya seorang peneliti ingin menelaah mengenai transmigrasi manusia, maka untuk memudahkan pengamatannya, peneliti memilih beberapa orang transmigran yang terdekat dengannya, bisa tetangga, sahabat dan lain sebagainya. 2.1.2.1 Probability Sampling Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random, sampling area (cluster) sampling (sampling menurut daerah). 2.1.2.2 Nonprobability Sampling Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/ kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Namun penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama peneliti berlangsung. Caranya yaitu, peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Sanafaiah Faisal (1990) dalam Sugiyono (2009:221) mengutip pendapat Spradley mengemukakan bahwa, situasi sosial untuk sampel awal sangat disarankan suatu situasi sosial yang didalamnya menjadi semacam muara dari banyak domain lainnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa, sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

(1) Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enskulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati. (2) Mereka yang tergolong masih berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti. (3) Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk diminta informasi. (4) Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil kemasannya sendiri. (5) Mereka yang pada mulanya tergolong cukup asing dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber. 2.2 INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM

PENELITIAN KUALITATIF 2.2.1 Instrumen Penelitian Ada dua hal yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Dalam penelitian kualitatif, kualitas instrumen panelitian berkenaan dengan validitas dan reabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulakan data. Oleh sebab itu data-data yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu menghasilkan data yang valid dan reliable, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Dalam penelitian kualitatif ini, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen juga harus divalidasi seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Peneliti kualitatif sebagai human instrumen, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Nasution (1988) dalam Sugiyono (2009) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadi manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum

menpunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satusatunya yang dapat mencapainya. Maka, jelaslah bahwa dalam penelitian kualitatif ini permasalahanya belum jelas dan belum pasti dan yang menjadi instrumen penelitiannya adalah peneliti itu sendiri. Oleh sebab itu, Nasution (1988), dalam Sugiyono, (2009) mengungkapkan beberapa ciri-ciri sebagai berikut: (1) Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak lagi bagi peneliti. (2) Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulakan aneka ragam data sekaligus. (3) Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada instrumen berupa test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia. (4) Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita. (5) Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika. (6) Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau pelaksanaan. (7) Dalam penelitian dengan menggunakan test atau angket yang bersifat kuantitatif yang diutamakan adalah respon yang dapat dikuantitatifkan agar dapat diolah secara statistik, sedangkan yang menyimpan dari itu tidak dihiraukan.

2.2.2 Teknik Pengumpulan Data Nazir (1988:212) menyatakan bahwa secara umum metode pengumpulan data dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu metode pengamatan langsung, metode dengan menggunakan pertanyaan langsung dan metode khusus. Dalam pembagian di atas, dasar pembagian adalah sampai berapa jauh si pengambil data langsung atau tidak langsung bergaul dengan subjek penelitian. Perlu juga dijelaskan bahwa cara pengumpulan data dapat dikerjakan berdasarkan pengalaman. Memang dapat dipelajari metode-metode pengumpulan data yang lumrah digunakan, tetapi bagaimana cara mengumpulkan data di lapangan dan bagaimana menggunakan teknik tersebut di lapangan atau di laboratorium, berkehendak akan pengalaman yang banyak. Pada penelitian kualitaif, subyek peneliti harus lebih tanggap terhadap situasi lapangan. Sejumlah peneliti kualitatif berusaha mengumpulkan data sebanyakbanyaknya namun kemudian ia pulang kandang untuk mengolah data tersebut, dalam penelitian kualitatif cara ini adalah salah. Karena banyak sekali situasi atau konteks yang tidak terekam dan peneliti telah lupa penghayatan situasinya, sehingga berbagai hal yang terkait berubah menjadi fragmen-fragmen tak berarti. Maka dapat kita simpulkan bahwa pekerjaan pengumpulan data bagi penelitian kualitatif harus langsung diikuti dengan pekerjaan menuliskan, mengedit, mengklasifikasikan, mereduksi dan menyajikan sebagai bahan analisis data. Miles dan Huberman (1984) dalam Muhadjir (2002), mengidentifikasi beberapa langkah analisis dalam pengumpulan data, yakni: (1) Meringkas dari kontak langsung dengan orang, kejadian dan situasi kejadian dan situasi di lokasi penelitian. Pada langkah ini termasuk pula memilih dan meringkas dokumen yang relevan. (2) Pengkodean. Hal ini dilakukan agar data satu sama lain tidak tercampur. (3) Pembuatan catatan obyektif. Peneliti perlu mencatat sekaligus mengklasifikasikan dan mengedit jawaban atau situasi sebagaimana adanya, factual atau obyektifdeskriptif.

(4) Membuat catatan reflektif. Maksudnya peneliti harus menuliskan keterangan dan terfikir oleh peneliti dalam sangkut pautnya dengan catatan obyektif tersebut. (5) Membuat catatan marginal. (6) Penyimpanan data. (7) Analisis selama pengumpulan data merupakan pembuatan memo. (8) Analisis antar lokasi. (9) Pembuatan ringkasan sementara antar lokasi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan peneliti dalam memperoleh/ mengumpulkan data, yakni dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi/ gabungan (Sugiyono,2007). 1. Pengumpulan data dengan Observasi Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Ada beberapa bentuk observasi yang dapat dilakukan oleh peneliti yakni observasi partisipasif, terus terang atau tersamar dan observasi tak berstruktur. Observasi partisipatif yakni observasi yang melibatkan peneliti dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau digunakan sebagai sumber data peneliti. Data yang diperoleh dalam observasi partisipan ini akan lebih lengkap, tajam, sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Observasi terus terang atau tersamar adalah observasi yang menuntut keterusterangan seorang peneliti dalam melakukan pengumpulan data bahwa ia sedang melakukan penelitian terhadap sumber data. Sedangkan observasi tak berstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang diobservasi. Banyak manfaat yang dapat dipetik dalam pengumpulan data dengan cara observasi. Menurut Patton dan Nasution (1988) dalam Sugiyono (2009), dinyatakan bahwa manfaat observasi adalah sebagai berikut:

(1) Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh. (2) Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekan indikatif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery. (3) Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap biasa dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara. (4) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga. (5) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang luar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. (6) Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti. Selain itu menurut Nazir (1988:213), menyebutkan bahwa pengamatan langsung memiliki beberapa keuntungan yaitu: (1) Dengan cara pengamatan langsung, terdapat kemungkinan untuk mencatat halhal, perilaku, pertumbuhan dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut berlaku atau sewaktu perilaku tersebut terjadi. Dengan cara pengamatan, data yang langsung mengenai perilaku yang tipikal dari objek dicatat segera dan tida menggantungkan data dari ingatan seseorang. (2) Pengamatan langsung dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau tidak mau berkomunikasi secara verbal. Misalnya anak bayi tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Dengan

10

mengadakan pengamatan langsung terhadap bayi, seseorang dapat mengetahui perilaku bayi tersebut serta hubungannya dengan sifat-sirat tertentu. Dengan mengamati tanaman atau hewan, seseorang dapat mengetahui respon hewan atau tanaman terhadap suatu perlakuan. Adakalanya subjek tidak mau berkomunikasi, secara verbal dengan enumerator atau penelitian, baik kerena takut, karena tidak ada waktu atau karena enggan. Dengan pengamatan langsung, hal di atas dapat di tanggulangi. Obyek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi menurut Spradley dinamakan situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat), actor (pelaku) dan activities (aktifitas). (1) Place, atau tempat di mana interaksi dalam situasi social sedang berlangsung. (2) Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu. (3) Activity, atau kegiatan yang dilakukan oleh actor dalam situasi social yang sedang berlangsung. 2. Pengumpulan data dengan Wawancara/ Interview

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara) (Nazir, 1988:234). Proses pengumpulan data dengan wawancara dibagi menjadi wawancara terstruktur, semiterstruktur dan tak berstruktur. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Wawancara semiterstruktur ialah pengumpulan data yang lebih bebas bila dibnadingkan dengan wawancara terstruktur, tujuannya adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka. Sesangkan wawancara tidak berstruktur adalah wawancara yang bebas, Karena peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis.

11

Ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu: (1) Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan. (2) Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan. (3) Mengawali atau membuka alur wawancara. (4) Melangsungkan alur wawancara. (5) Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya. (6) Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan. (7) Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh. Dalam penelitian kualitatif, ada beberapa jenis pertanyaan yang saling berkaitan dalam wawancara yang dikemukakan oleh Patton dalam Molleong (2002) dalam Sugiyono (2009), yakni: (1) Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman. (2) Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat. (3) Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan. (4) Pertanyaan dengan pengetahuan. (5) Pertanyaan yang berkenaan dengan indera. (6) Pertanyaan berkaitan dengan latar belakang atau demografi. Untuk mencatat hasil wawancara, alat-alat yang biasa digunakan adalah buku catatan, tape recorder dan kamera. Hubungan satu data dengan data lain perlu dikonstruksikan, sehingga menghasilkan pola makna tertentu. 3. Pengumpulan data dengan Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen ini misalnya catatan keseharian, sejarah kehidupan, biografi, peraturan, kebijakan dan lain sebagainya.

12

Hasil penelitian ini akan lebih dapat dipercaya jika didukung olehsejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, masyarakat dan sebagainya. Hasil penelitian ini juga akan lebih kreadible apabila didukung denga foto-foto atau karya tulis akademik. 4. Pengumpulan data dengan Triangulasi

Teknik ini diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabunggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumberdata yang telah ada. Jika peneliti melakukan tringulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data dan sekaligus menguji kreabilitas data dengan berbagai data dan berbagai sumber. Selain dari keempat metode pengumpulan data yakni observasi, wawancara, dokumentas dan trigulasi ada cara atau metode lain yang sering digunakan untuk pengumpulan data yakni metode proyektif dan metode sosiometri. Metode proyektif dalam pengumpulan data didasarkan pada sifat manusia yang diberikan Tuhan untuk memproyrksikan nilai-nilai keinginan, kebutuhan ataupun sikapnya ke dalam perilaku ataupun objek di luar manusia itu sendiri. Pengamatan serta kegiatan mencatat secara sistematis sifat-sifat internal yang diproyeksikan secara eksternal oleh seseorang adalah mengumpulkan data dengan menggunakan metode proyektif. Nama metode proyektif diberikan oleh Frank (1939) yang memberikan definisi yakni metode proyektif melibatkan presentase dari suatu situasi sebagai akibat dari stimulus, yang dipilih sedemikian rupa, sebab hal itu mempunyai arti bagi subjek yang memberikannya Metode yang kedua adalah metode sosiometri. Metode sosiometri bukan hanya metode mengumpulkan data tetapi juga metode analisis data. Mengumpulkan data dengan metode ini secara relatif lebih mudah dibandingkan dengan teknik yang digunakan dalam menganalisis data. Data sosiometri dapat memberikan jawaban

13

tentang tentang posisi individu dalam kelompok, tentang hubungan dalam sub kelompok ataupun tingkat kohesi dari kelompok dalam studi tentang pengaruh variasi struktur kelompok terhadap perilaku anggota kelompok ataupun dalam melihat ciri perorangan yang selalu dipilih dan yang jarang-jarang dipilih. Dalam analisis data sosiometri ahli-ahli dapat menggunakan cara metriks sosiometri, sosiogram dan indeks sosiometri. Pada penelitian ini, peneliti juga bisa menggunakan angka- angka nilai statistik guna pelengkap dan semakin memperjelas mengenai hasil penelitiannya tersebut. Namun, ada beberapa cara yang dikemukakan oleh Mahsun (2005:92) dalam pengumpulan data, yaitu: 1. Metode Simak Cara yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan atau data peneliti harus menyimak sumber informan. Tidak hanya secara lisan tetapi juga tertulis. Metode ini memiliki dasar teknik sadap. Peneliti melakukan penyadapan dengan cara berpartisipasi sambil menyimak, dan peneliti hanyna berperan sebagai pengamat dari informan. 2. Metode Cakap Metode ini dilakukan oleh si peneliti secara langsung, maksudnya terjadi percakapan antara si peneliti dan sumber informan 3. Metode Instrospeksi Sudaryanto (1993) dalam Mahsun (2005:103) menyatakan bahwa metode inspeksi ini melibatkan si peneliti sebagai salah satu informan.

14

BAB III SIMPULAN


Pada penelitian tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan pada situasi sosial yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman atau guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Dalam penelitian kualitatif, terdapat dua buah cara atau teknik pengambilan sampel yakni Probability Sampling dan Nonprobability Sampling, hal ini dikemukakan oleh Sugiyono (2009). Selain itu, pada penelitian kualitatif ini, ada beberapa metode yang lazim digunakan dalam penelitian untuk pengumpulan data yakni dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Ada juga metode lain yakni metode simak, cakap dan introspeksi.

15

DAFTAR PUSTAKA

Muhadjir, Noeng. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Raka Serasin Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode dan Tekniknya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

16

POPULASI, SAMPEL DAN PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KUALITATIF


Tugas Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa Dosen Pengampu : 1. Dr. Edi Harapan, M. Pd 2. Drs. Houtman, M. Pd

Oleh: LIZA MURNIVIYANTI SRI KARTININGSIH

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA PALEMBANG 2010

17

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur kita haturkan atas kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, atas rahmat, karunia serta hidayah-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa, dengan judul Populasi, Sampel dan Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif. Shalawat beriring salam kita tujukan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Tugas ini diberikan untuk mendalami materi perkuliahan dan menambah wawasan bagi mahasiswa/ mahasiswi pascasarjana Universitas PGRI Palembang yang mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa pada semester 1 (satu). Dalam pemaparan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat perbaikan makalah ini. Untaian terima kasih penulis tujukan kepada Dosen Pengampu mata kuliah, Dr. Edi Harapan, M. Pd dan Drs. Houtman, M. Pd. yang telah memberikan bimbingan dalam menyelesaikan makalah ini serta rekan-rekan yang terlibat dalam membantu penyelesaian makalah ini. Harapan penulis, semoga makalah ini dapat menjadi salah satu sumber bacaan dalam pembelajaran dan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Mei 2010

18

19