Anda di halaman 1dari 21

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN Nama : Tn. D

Tempat tanggal lahir : 21 mei 1982 Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Pendidikan : 29 th : Laki-laki : Islam : buruh : SMA

Tanggal pemeriksaan: 18 Juli 2011

ANAMNESIS Keluhan Utama : Panas tinggi sejak 7 hari SMRS

Riwayat pentakit sekarang : Pasien datang ke poli penyakit dalam RSUD kab Bekasi dengan keluhan panas tinggi sejak 7 hari SMRS. Panas timbul mendadak tinggi hingga 39o C, bersifat naik turun dan panas mulai meninggi ketika sore menjelang malam hari, panas tidak disertai kejang. Saat panas pasien sempat menggigil, mengigau dan tidak mengalami penurunan kesadaran. Pasien sudah sempat dibawa ke dokter dan diberi obat penurun panas namun belum ada perbaikan dan panas kembali meninggi. Pasien tidak mengeluh nyeri sendi, tidak ada mimisan maupun gusi berdarah dan tidak timbul bintik merah pada kulit. Hari pertama panas, pasien mengeluh mual, nyeri pada ulu hati dan ada muntah 1x. Pasien juga mengeluh buang air besar terganggu, sudah 3 hari belum buang air besar. Buang air kecil tidak ada keluhan. Riwayat penyakit dahulu :

pasien tidak pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya

riwayat batuk-batuk lama disertai keringat malam dan penurunan berat badan secara drastis disangkal riwayat perdarahan lama, mudah berdarah dan mudah memar disangkal riwayat pemekaian obat-obatan dalam jangka waktu lama disangkal

Riwayat penyakit keluarga : riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga disangkal riwayat keluhan yang sama dilingkungan sekitar disangkal

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Frekuensi nadi Tekanan darah Frekuensi nafas Suhu tubuh : 65 kg : 96x/menit : 120/80 mmHg : 24x/menit : 37,5oC : tampak sakit sedang : Compos mentis

Berat badan

Kepala Bentuk dan ukuran : normocephal Ranbut Mata Hidung Telinga Mulut : hitam, tidak mudah dicabut : mata tidak cekung, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak : bentuk normal, tidak ada deviasi septum, tidak ada secret, : bentuk normal, tidak ada serket : bentuk normal, lidah kotor dibagian tengah dengan tepi

anemis, pupil bulat isokor tidak ada fraktur

lidah hiperemis

Leher Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran Kelenjar tiroid Trakea : tidak teraba perbesaran : terletak ditengah, tidak ada deviasi

Tekanan vena jugularis : 5+2 cmH2O

Thorax Paru-paru o Inspeksi sikatriks o Palpasi dan kiri o Perkusi axial anterior o Auskultasi Jantung o Inspeksi o Palpasi sinistra o Perkusi : redup, batas jantung kiri ICS IV linea midclavikula sinistra, batas jantung kanan ICS V linea parasternalis dekstra, batas jantung atas ICS III linea parasternalis sinistra o Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi dibawah Perkusi Auskultasi : tampak datar : hepar teraba 2 cm dibawah arcus costae dekstra, 3 cm processus : timpani : bising usus (+) xyphoideus, konsistensi kenyal, tepi tajam, : BJ I dan II murni, murmur (-), gallop (-) : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis teraba ICS V linea mid clavikula : suara pernafasan vesikuler, ronki -/-, wheezing -/: sonor diseluruh lapang toraks, batas paru hati ICS VI linea mid clavikula dekstra, batas paru lambung ICS VII linea : fremitus vokal dan fremitus taktil simetris kanan : pergerakan dada simetris kanan dan kiri, tidak ada

permukaan licin, nyeri tekan (+), lien tidak teraba

Anggota gerak Lengan kanan/kiri o Tonus otot o Massa o Sendi o Gerakan o Kekuatan o Tonus otot o Massa o Sendi o Gerakan o Kekuatan : +/+ : -/: normal : +/+ : 5/5 : +/+ : -/: normal : +/+ : 5/5

Tungkai dan kaki kanan/kiri

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Hematokrit Trombosit Leukosit SGOT SGPT 13,2 gr% 40 vol %

Hasil

Nilai normal

11,7-15,5 gr% 35-47 vol% 150.000-440.000/l 3.600-11.000/l

279.000/l 6.300/l

DIAGNOSIS KLINIS Susp. Demam tifoid

PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN Kultur darah SGOT dan SGPT Uji widal Uji TUBEX Uji typhidot Uji IgM Dipstick Kultur feses Kultur urin Kultur sumsum tulang

RENCANA PENATALAKSANAAN Istirahat dan perawatan Diet dan terapi penunjang Pemberian anti mikroba o kloramfenikol Obat penurun panas o paracetamol

RENCANA PENCEGAHAN Preventif dan kontrol penularan Identifikasi dan eradiksi S. Thypi pada pasien tifoid asimtomatik, karier dan akut. Pencegahan transmisi langsung dari penderita terinfeksi S. Thypi akut maupun karier Proteksi pada orang yang beresiko tinggi tertular dan terinfeksi

PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam

Ad fungsional : dubia ad bonam RESUME Seorang laki-laki, 29 tahun, datang ke poli penyakit dalam RSUD kab Bekasi dengan keluhan panas tinggi sejak 7 hari SMRS. Panas timbul mendadak tinggi hingga 39o C, bersifat naik turun dan panas mulai meninggi ketika sore menjelang malam hari, panas tidak disertai kejang. Saat panas pasien sempat menggigil, mengigau. Pasien mengeluh nyeri kepala, mual dan disertai muntah. Pasien juga mengeluh buang air besar terganggu, sudah 3 hari belum buang air besar. Buang air kecil tidak ada keluhan Pasien tidak mengalami penurunan berat badan, tidak mengeluh nyeri sendi, tidak ada mimisan maupun gusi berdarah dan tidak tibul bintik merah pada kulit. Pasien tidak pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya. Riwayat batuk-batuk lama disertai keringat malam dan penurunan berat badan secara drastis disangkal. Perdarahan lama, mudah berdarah dan mudah memar disangkal. Riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga disangkal. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Frekuensi nadi Tekanan darah Frekuensi nafas Suhu tubuh : 96x/menit : 120/80 mmHg : 24x/menit :37,5oC : tampak sakit sedang : Compos mentis

Lidah kotor dibagian tengah dengan tepi lidah hiperemis. Terdapat hepatomegali.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Hematokrit Trombosit Leukosit SGOT SGPT 13,2 gr% 40 vol %

Hasil

Nilai normal

11,7-15,5 gr% 35-47 vol% 150.000-440.000/l 3.600-11.000/l

279.000/l 6.300/l

PEMBAHASAN Demam tifoid atau dikenal dengan demam enterik adalah infeksi sistemik oleh Salmonella typhi atau oleh bakteri yang lebih lemah, Salmonella paratyphi. Sejak jaman dahulu kala, bakteri ini telah menghantui pada masa perang dan saat penurunan sanitasi lingkungan. Ahli arkelogi telah menemukan S typhi di kuburan massal di Athena yang digunakan ada era perang Peloponnesia, dan menduga bahwa bakteri inilah yang menyebabkan wabah besar di Athena. S typhi sering terdapat di negara dengan sanitasi lingkungan yang buruk. Walaupun wabah juga pernah terjadi di negara maju, namun pasien tersebut kebanyakan baru tiba dari negara-negara endemik. Dari semua serotipe Sallmonella, hanya S typhi dan S paratyphi yang patogen secara khusus pada manusia. Demam tifoid adalah penyakit multisistemik berat yang karakteristiknya berupa demam yang berkepanjangan, bakterremia menetap tanpa keikutsertaan endotelial ataupun endokardial, dan invasi serta perkembangbiakan bakterinya terjadi di sel fagosit mononuklear pada hati, lien, linfonodi dan pacth payer. Demam tifoid dapat fatal bila tidak mendapatkan perawatan. Orang-orang biasanya terinfeksi S typhi and S paratyphi melalui makan dan minuman yang terkontaminasi kotoran dari pembawa kronis penyakit ini. Jarang kali, si pembawa mengeluarkau bakteri ini lewat urinnya. Seseorang juga dapat terinfeksi dari minum air keran yang terkontaminasi atau dari makan makanan kaleng yang terkontaminasi. Salmonella adalah genus dari famili Enterobacteriaceae yang memiliki lebih dari 2300 serotipe. Salmonellae adalah gram-negatif, berflagella, nonsporulating, facultatif anaerobik basil yang memfermentasi glukosa, mengubah nitrat menjadi nitrit, dan mensintesis flagella peritrichous saat motil. Semuanya, kecuali S typhi yang memproduksi gas saat fermentasi gula. Salmonellae di kelompokan dalam antigen O somtik dan lebih lanjut dibagi menjadi serotipe-serotipe berdasarkan antigen flagellar H and surface

virulence (Vi). Khususnya, S lyphi penyebab demara tifoid, memiliki antigen O dan H, antigen pembungkus (K), dan suatu komplek makromolekular lipopolisakarida yang disebut endotoksin yang membentuk bagian luar dinding selnya. S typhi, S paratyphi C, dan Salmonella Dublinare adalah satu-satunya serotipe Salmonella yang membawa antigen Vi. Berdasarkan studi DNA, semua salmonellae kini digolongkan dalam salah satu dari dua kelompok spesies:Salmonella enlerica (yang sebelumnya disebut Salmonella choleraesuis) andSalmonella bongori. S enlerica memiliki 6 subspesies (I, II, Ilia, Illb, IV, VI); S bongori memiliki satu subspesies (V). S typhi sedangkan S paratyphi adalah S enterica subspesies I, serotipe typhi and paratyphi. Epidemiologi Infeksi oleh S typhi and S paratyphi paling sering terjadi pada negara yang berkembang dimana sanitasi air dan sistem limbahnya terbatas. Berdasarkan sensus World Health Organization (WHO) tahun 2004, sekitar 21,6 juta kasus setiap tahunnya di seluruh dunia, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika latin, dengan 200,000 kematian. Insidens global sekitar 0.5%, namun insidensnya sebesar 2% telah ditemukan di daerah "Hot Spot", seperti Indonesia dan Papua New Guinea, dimana demam tifoid masuk 5 besar dalam penyebab kematian terbesar. Pada negara-negara ini, 91% of kasusu melibatkan anak-anak usia 3-19 years, dan 20,000 kematian terjadi tiap tahunnya. Di Amerika dalam periode tahun 1900-1960, insedens demam tifoid semakin terus menurun dan tetap rendah hingga sekarang. Peningakatan fasilitas sanitasi dan penggunaan antibiotik yang tepatlah yang menyebabkan penurunan ini. Rata-rata 245 kasus telah dilaporkan setiap tahunnya, dengan insidens 0.2 per 100,000 populasi sejak 1985 dibandingkan dengan 35,994 kasusu yang dilaporkan pada tahun 1920. Lebih dari 70% kasusu terjadi dalam 30 hari setelah bepergian dari luar negeri, kususnya dari daerah subbenua India dan Amerika Latin. Wabah yang

jarang yang transmisinya dalam wilayah Amerika Serikat umumnya disebabkan oleh makanan impor dan pengolah makanan yang bersal dari daerah endemis. Tetapi antibiotika dini telah mengubah penyakit yang sebelumnya mematikan dan berminggu minggu dengan angka kematian 20% ini menjadi penyakit demam jangka pendek dengan angka kematian rendah.Case fatality rates 10-50% telah dilaporkan dari daerah yang endemis itupun pada pengobatan yang terlambat. Di daerah endemis, anak-anak berusia 1-5 years adalah resiko tertinggi dalam infeksi, angka kesakitan dan angka kematian. Penelitian prospektif telah menunjukan bahwa, walaupun insidens demam tifoid tertinggi adalah pada pasien remaja dan dewasa muda, secara keseluruhan insidens penyakit yang memerlukan konfirmasi kultur darah umumnya tertinggi pada anak usia 3-9 tahun dan menurun jelas pada akhir masa remaja. Indonesia merupakan daerah endemik demam tifoid. Penderita anak yang ditemukan biasanya berumur di atas satu tahun. Salah satu contohnya, sebagian besar dari penderita (80%) yang dirawat di Bagian llmu Kesehatan Anak FKU1 RSCM Jakarta berumur di atas 5 tahun. Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh Salamonella typhii, basil Gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berpora. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen, yaitu antigen O (somatik), H (flegela), Vi, dan protein membran Hialin. Patofisiologi Penularan penyakit Demam Tifoid adalah secara "faeco - oral" dan banyak terdapat di masyarakat dengan higiene dan sanitasi yang kurang baik. Kuman salmonella typhi masuk tubuh melalui mulut bersama dengan makanan/minuman yang tercemar. Sesudah melawati asam lambung, kuman menembus mukosa usus dan masuk peredaran darah melalui aliran limfe. Selanjutnya, kuman menyebar ke

seluruh tubuh. Dalam sistem retikuloendotelial (hati, limpa, dll), kuman berkembang biak dan masuk ke peredaran darah kembali (bakteriemi kedua), dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Payeri. Proses utama adalah di ileum terminalis. Bila berat, seluruh ileum dapat terkena dan mungkin terjadi perferasi atau perdarahan. Kuman melepaskan endotoksin yang merangsang terbentuknya pirogen endogen. Zat ini mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus dan menimbulkan gejala demam. Walaupun dapat difagositosis, kuman dapat berkembang biak di dalam makrofag karena adanya hambatan metabolisme oksidatif. Kuman dapat menetap/bersembunyi pada satu tempat dalam tubuh penderita, dan hal ini dapat mengakibatkan terjadinya relaps atau pengidap (carrier). Manifestasi Klinis Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu: Demam Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur - angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. Gangguan pada saluram pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecan-pecah (ragaden). Lidah ditutupi seiaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar di sertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya ditemukan dalam minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis. Relaps yaitu keadaan berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan tetapi berlangsung lebih ringan dan lebih singkat. Terjadi dalam minggu kedua setelah suhu badan normal kembali. Terjadinya sukar diterangkan, seperti halnya keadaan kekebalan alam, yaitu tidak pernah menjadi sakit walaupun mendapat infeksi yang cukup berat. Menurut teori, relaps terjadi karena terdapatnya hasil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. Mungkin pula terjadi pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil bersama dengan pembentukan jaringan-jaringan fibroblas. Diagnosa

Tidak adanya gejala-gejala atau tanda yang spesifik untuk demam tifoid, membuat diagnosis klinik demam tifoid menjadi cukup sulit. Di daerah endemis,

demam lebih dari 1 minggu yang tidak diketahui penyebabnya harus dipertimbangkan sebagai tifoid sampai terbukti apa penyebabnya.

Diagnosis pasti demam tifoid adalah dengan isolasi/kultur Salmonella typhi dari darah, sumsum tulang, atau lesi anatomis yang spesifik. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakuan yaitu:

1.

Kultur a. Kultur aspirasi sumsum tulang Kultur aspirasi sumsum tulang merupakan gold standard untuk diagnosis pasti demam tifoid. Kultur aspirasi sumsum tulang tepat untuk pasien yang sebelumnya telah diobati, long history of illness dan hasil kultur darah negatif. Kultur sumsum tulang positif pada 80-95% pasien demam tifoid bahkan pada pasien-pasien yang telah menerima antibiotik selama beberapa hari.

b. Kultur feses Kultur feses dapat dilakukan untuk isolasi Salmonella typhi dan khususnya bermanfaat untuk diagnosis carrier tifoid. Isolasi Salmonella typhi dari feses adalah sugestif demam tifoid. c. Kultur darah Kultur darah positif pada 60-80% pasien tifoid. Sensitivitas kultur darah lebih tinggi pada minggu pertama sakit dan sensitivitasnya meningkat sesuai dengan volume darah yang dikultur dan rasio darah terhadap broth. Sensitivitas kultur darah dapat menurun karena penggunaan antibiotik sebelum dilakukan isolasi, namun hal ini dapat diminimalisasi dengan menggunakan sistem kultur darah otomatis seperti BacT Alert, Bactec 9050 dengan menggunakan media kultur (botol kultur) yang dilengkapi dengan resin untuk mengikat antibiotik.

Beberapa penyebab kegagalan dalam mengisolasi kuman Salmonella thypi,yaitu: a. Keterbatasan media di laboratorium b. Komsumsi antibiotik c. Volume spesimen yang dikultur 7-10 hari) d. waktu pengambilan sample (positivitas tertinggi adalah demam

2.

Pemeriksaan Serologi Demam tifoid menginduksi respon imun humoral baik sistemik maupun lokal tetapi respon imun ini tidak dapat memproteksi dengan lengkap terhadap kekambuhan dan reinfeksi. Beberapa pemeriksaan serologi diantaranya: a. Widal Peran widal dalam diagnosis demam tifoid sampai saat ini masih kontroversial karena sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramalnya sangat bervariasi tergantung daerah geografis. Pemeriksaan widal mendeteksi antibodi aglutinasi terhadap antigen 0 dan H. Biasanya antibodi 0 muncul pada hari ke 6-8 dan H pada hari 10-12 setelah onset penyakit. Pemeriksaan pada fase akut harus disertai dengan pemeriksaan kedua pada masa konvalesens. Hasil negatif palsu pemeriksaan widal bisa mencapai 30%. Hal ini disebabkan karena pengaruh terapi antibiotik sebelumnya. Spesifisitas pemeriksaan widal kurang begitu baik karena serotype Salmonella yang lain juga memiliki antigen 0 dan H. Epitop Salmonella typhi juga bereaksi silang dengan enterobacteriaceae lain sehingga menyebabkan hasil positif palsu. Hasil positif palsu juga dapat terjadi pada kondisi klinis yang lain misalnya malaria, typhus bacteremia yang disebabkan oleh organisme lain dan juga sirosis. Di daerah endemis terjadi low background antibody pada populasi sehingga diperlukan cut off yang berbeda antar area.

b. Pemeriksaan Serologi Terbaru Pemeriksaan serologi untuk Salmonella typhi telah banyak berkembang, diantaranya yaitu : Tubex TF (mendeteksi antibodi IgM tehadap antigen 09 IPS Salmonella typhi) TUBEX TF (ANTI Salmonella Typhi IgM) Tubex TF adalah pemeriksaan diagnostik in vitro semikuantitatif yang cepat dan mudah untuk deteksi demam tifoid akut. Pemeriksaan ini mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen 09 LPS Salmonella typhi. Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan adalah > 95% dan > 93%. Typhidot (mendeteksi Antibodi IgG dan IgM terhadap antigen 50 kD Salmonella typhi) Typhidot M (mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen 50 kD Salmonella typhi) Dipstick test (mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen LPS Salmonella typhi) c. Teknik Molekular Seperti halnya kultur darah, target dari teknik-teknik molekular adalah patogen itu sendiri sehingga bermanfaat untuk deteksi awal penyakit. Teknik hibridisasi menggunakan probe DMA adalah teknik biologi molekular pertama yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Teknik ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun kurang sensitif. Teknik ini tidak dapat mendeteksi Salmonella typhi bila jumlah bakteri < 500 bakteri/mL. Kemudian berkembang teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan spesifisitas dan sensitivitas yang lebih baik (1 -5 bakteri/mL). PCR untuk identifikasi Salmonella typhi ini tersedia di beberapa negara namun penggunaannya masih terbatas untuk

penelitian karena harganya yang cukup mahal. Selain itu, diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan teknik molekular termasuk PCR terutama di daerah dengan endemisitas demam tifoid yang tinggi seperti di Indonesia.

Diagnosa Banding Demam tifoid harus dibedakan dengan semua penyakit yang disertai demam, seperti : Campak Demam Berdarah Dengue Meningitis Tuberkulose paru Malaria

Penatalaksanaan Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu : Istirahat dan perawatan tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makam, minum, buang air kecil dan buang air besar akan membantu dan mempercepat masa penyembuhan . Diet dan terapi penunjang Penderita demam tifoid diberikan diet bubur saring, kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan kemudian diberikan nasi. Pemberian bubur saring tersebut ditujukan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pemberian makanan padat dini yaitu, nasi dengan lauk pauk rendah selulosa

(menhindari sementara sayuran yang berserat)dapat diberikan pada pasien demam tifoid. Pemberian medikamentosa

Tatalaksana

medikamentosa

demam

tifoid

dapat

berupa

pemberian

antibiotik,antipiretik, dan steroid. Obat antimikroba yang sering diberikan adalahkloramfenikol, tiamfenikol,

kotrimoksazol, sefalosporin generasi ketiga, ampisilin,dan amoksisilin.

Kloramfenikol merupakan obat pilihan utama untuk mengobati demam tifoid.Kloramfenikol mempunyai ketersediaan biologik 80% pada pemberian iv. Waktu paruh plasmanya 3 jam pada bayi baru lahir, dan bila terjadi sirosis hepatisdiperpanjang sampai dengan 6 jam. Dosis yang diberikan secara per oral pada dewasaadalah 20-30(40) mg/kg/hari. Pada anak berumur 6-12 tahunmembutuhkan dosis 40-50 mg/kg/hari. Pada anak berumur 1-3 tahunmembutuhkan dosis 50 100mg/kg/hari. Pada pemberian secara intravena membutuhkan 40-80 mg/kg/hariuntuk dewasa, 50-80 mg/kg/hari untuk anak berumur 7-12 tahun, dan 50-100mg/kg/hari untuk anak berumur 2-6 tahun. Bentuk yang tersedia di masyarakatberupa kapsul 250 mg, 500 mg, suspensi 125 mg/5 ml, sirup 125 ml/5ml, serbukinjeksi 1 g/vail. Penyuntikan intramuskular tidak dianjurkan oleh karena hirolisisester ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan terasa nyeri. Dari pengalamanobat ini dapat menurunkan demam rata-rata 7,2 hari. Untuk menghindari reaksi Jarisch-Herxheimer pada pengobatan demam tifoid dengan kloramfenikol, dosisnyaadalah sebagai berikut: hari ke 1 : 1g, hari ke 2 : 2 g, hari ke 3: 3 g, hari kemudianditeruskan 3 g sampai dengan suhu badan normal. Beberapa efek samping yangmungkin timbul pada pemberian kloramfenikol adalah mual, muntah, mencret, mulutkering, stomatitis, pruritus ani, penghambatan eritropoiesis, Gray-Syndrom padabayi baru lahir, anemia hemolitik, exanthema, urticaria, demam, gatal-gatal, anafilaksis, dan terkadang Syndrom Stevens-Johnson. Reaksi interaksi kloramfenikoldengan paracetamol akan memperpanjang waktu paruh

plasma o

dari

kloramfenikol.Interaksinya dengan obat sitostatika akan

meningkatkan resiko suatu kerusakansumsum tulang. Tiamfenikol memiliki dosis dan keefektifan yang hampir sama dengan kloramfenikol,akan tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastiklebih rendah dibandingkan den gan kloramfenikol. Dosis tiamfenikol untuk orangdewasa adalah 500 mg tiap 8 jam, dan untuk anak 30-50mg/kg/hari yang dibagimenjadi 4 kali pemberian sehari. Bentuk yang tersedia di masyarakat berupa kapsul500 mg. Interaksi tiamfenikoldengan rifampisin dan fenobarbiton akan mempercepat metabolisme tiamfenikol.Dengan tiamfenikol demam pada demam tifoid dapat turun setelah 5-6 hari. o Kotrimoksazol adalah kombinasi dua obat antibiotik, yaitu trimetroprim dansulfametoksazol. Kombinasi obat ini juga dikenal sebagai TMP/SMX, dan beredar dimasyarakat dengan beberapa nama merek dagang misalnya Bactrim. Obat inimempunyai ketersediaan biologik 100%. Waktu paruh plasmanya 11 jam. Dosis untuk pemberian per oral pada orang dewasa dan anak adalah trimetroprim 320 mg/hari,sufametoksazol 1600 mg/hari. Pada anak umur 6 tahun trimetroprim 160 mg/hari,sufametoksazol 800 mg/hari. Pada pemberian intravena paling baik diberikan secarainfus singkat dalam pemberian 8-12 jam. Beberapa efek samping yang mungkintimbul adalah sakit, thromboplebitis, mual, muntah, eksantema, sakit perut, anemia mencret, megaloblastik, gatal, demam, ulserasiesofagus, peninggian dan reaksi cairan leukopenia, thrombopenia, kreatininserum, hipersensitifitas infus. Interaksi

urtikaria,

akibatkandungan

Natriumdisulfit

dalam

kotrimoksazol deganantasida menurunkan resorbsi sulfonamid. Pada pemberiaan yang bersamaan dengandiuretika thiazid akan meningkatkan insiden thrombopenia, terutama pada pasienusia tua. o Ampisilin dan amoksisilin memiliki kemampuan untuk menurunkan demam lebihrendah dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis untuk pemberian per oral dalam lambung yang kosong dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam sekitar 1/2 jam sebelum makan. Untuk orang dewasa 2-8 g/hari, sedangkan pada anak 100-200 mg/kg/hari. Pada pemberiaan secara intravena paling baik diberikan dengan infus singkat yang dibagi dalam pemberiaan setiap 6-8 jam. Bentuk

yang tersedia di masyarakat berupa kapsul 250 mg, 500 mg; Kaptab 250 mg, 500 mg; SerbukInj.250 mg/vial, 500 mg/vial, 1g/vial, 2 g/vial; Sirup 125 mg/5 ml, 250 mg/5 ml;Tablet 250 mg, 500 mg. Beberapa efek samping yang mungkin muncul adalah sakit, thrombophlebitis, mencret, mual, muntah, lambung terasa terbakar, sakit epigastrium, iritasi neuromuskular, halusinasi, neutropenia toksik, anemia hemolitik, eksantema macula dan beberapa manifestasi alergi. Interaksinya dengan allopurinoldapat memudahkan munculnya reaksi alergi pada kulit. Eliminasi ampisilindiperlambat pada pemberian yang bersamaan dengan urikosuria (misal: probenezid), diuretik, dan obat dengan asam lemah. o Sefalosporin generasi ketiga (Sefuroksin, Moksalaktan, Sefotaksim, dan Seftizoksim) yang hingga saat ini masih terbukti efektif untuk demam tifoid adalah seftriakson. Antibiotik ini sebaiknya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Hal ini disebabkan karena selain harganya mahal juga memiliki potensi antibakteri yang tinggi. Dosis yang dianjurkan adalah antara 3-4 gram dalam dekstrosa 100 ccdiberikan selama1/2 jam perinfus sekali sehari, diberikan selama 3 hingga 5 hari o Golongan fluorokuinolon. Golongan ini ada beberapa jenis bahan sediaan dan aturan pemberian : Norfloksasin dosis 2x400 mg/hari selama 14 hari Siprofloksasin dosis 2x500 mg/hari selama 6 hari Ofloksasin dosis 2x400 mg/hari selama 7 hari Pefloksasin dosis 400 mg/hari selama 7 hari Fleroksasin dosis 400 mg/hari selama 7 hari

Pencegahan a. Pemecahan dapat dikerjakan dengan penyuluhan tentang kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan. b. Mengenai imunisasi, disarankan untuk menggunakan vaksin monovalen (dimatikan dengan aseton).

Komplikasi Dapat terjadi pada : Usus halus Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal, yaitu : Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika di lakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau selain itu dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat disertai ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara di antara hati dan diafragma pada foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defense musculair) dan nyeri pada tekanan. Komplikasi di luar usus Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia) yaitu meningitis, kolesistitis, ensefelopati dan lain-lain. Terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumora. Dehidrasi dan asidosis dapat timbul akibat masukan makanan yang kurang dan perpirasi akibat suhu tubuh yang tinggi.

Laporan kasus

DEMAM TYPHOID

Disusun oleh : Dina Wulansari 1102005066

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RSDU KAB BEKASI