Anda di halaman 1dari 8

PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI BALI : KAJIAN DARI SISI PERMINTAAN

Made Antara Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Jalan P.B. Sudirman, Denpasar, 80232 (Bali) Email: antara_dps@yahoo.com ABSTRACT Three sector i.e. agriculture, tourism, and small or handicraft industry to be priority in Bali economic development, hence has been the Balis economy different with the other province. To snapshot the Balis economy comprehensively was used Social Accounting Matrix (SAM), once of the many macroregional models. With use the multiplier of Bali 1996 SAM, can be known effect one unit of household or tourism expenditure aggregately toward agribusiness products demand. Multiplier of household and tourism indicated that each increasing of the household or tourism expenditure has effect toward increasing of the agribusiness products demand. This implies that development of agribusiness sector in Bali has clear prospect, cause supported by demand of households, tourism, and international market (export). Therefore, agribusiness sector in Bali need developed continue, and need formulated policy alternative to face competition of global market more and more competitive . Key Word: development, Agribusiness, Social Accounting Matrix, clear prospect. PENDAHULUAN Perkembangan pasar global yang menerpa kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat tani dan pertanian, menuntut dilakukan reorientasi pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian selama Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I yang berorientasi pada peningkatan produksi, maka dalam PJP II harus berorientasi pada peningkatan pendapatan petani/peternak/nelayan. Peningkatan produksi tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya, tetapi peningkatan pendapatan sudah pasti akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani. Strategi pembangunan pertanian yang berorientasi peningkatan pendapatan petani adalah pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis. Dengan strategi dasar ini, maka keterkaitan dan keterpaduan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian merupakan unsur mutlak. Artinya, harus ada keterpaduan dan keterkaitan antar subsistem dalam sistem agribisnis, antar sektor dalam sisten perekonomian regional atau nasional, antar wilayah dalam tatanan kesatuan nusantara.

--------------------------------------------------------------------------------------------------Data artikel ini sebagian kecil dari data Disertasi penulis yang berjudul Dampak Pengeluaran Pemerintah dan Wisatawan Terhadap Kinerja Perekonomian Bali: Pendekatan Social Accounting Matrix.

Melalui pengembangan sistem agribisnis terpadu dapat dihasilkan produkproduk pertanian dan produk agroindustri semakin beraneka ragam dan derajat pengolahan semakin tinggi, kualitas semakin baik, sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif di pasar domestik dan internasional. Dengan demikian, strategi ini mampu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani/peternak/nelayan, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta memenuhi permintaan dan memperluas pasar. Pembangunan pertanian harus dipandang sebagai upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh dari seluruh kegiatan ekonomi (yaitu subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, subsistem pemasaran dan subsistem jasa penunjang agribisnis) yang terkait langsung dengan pertanian, dan inilah yang disebut sebagai agribisnis (lihat Davis and Golberg, 1957; Downey and Erickson, 1987). Pembangunan dan pengembangan agribisnis telah menjadi komitmen Pemerintahan Presiden KH.Abdurachman Wahid. Hal ini ditunjukkan oleh salah satu rumusan sidang pertama Kabinet Persatuan Nasional Rabu 3 Nopember 1999 seperti ditegaskan oleh Menko Ekuin kwik Kian Gie (Kompas, Kamis 4 Nopember 1999, hal. 2) sebagai berikut: kita harus membangun kembali sektor-sektor produksi pertanian, terutama pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan industri dengan titik berat pada sumberdaya yang kita miliki, seperti resources base pada agroindustri. Komitmen ini tampaknya sebagai koreksi kekeliruan strategi pembangunan masa lalu yang memprioritaskan pada teknologi tinggi dan menelantarkan pengembangan sumberdaya domestik, serta mengambil hikmah dari krisis ekonomi di mana hanya sektor agribisnis yang tetap tegar, bahkan menangguk berkah di tengah badai moneter. KENDALA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS Dalam pengembangan agribisnis di Indonesia, umumnya dijumpai dua kendala besar (Deptan, 1994) yakni, kendala substansi dan kendala organisasi/kelembagaan. Kendala substansi terdiri dari: (a) tersebarnya hamparan lahan usahatani sehingga penyebaran informasi sulit dilakukan; (b) kurang beragamnya komoditas ekspor dan pasar ekspor; (c) kurangnya kegiatan dan pengetahuan untuk menyiasati pasar (market intelligence); (d) kurangnya upaya promosi pasar di luar negeri; (e) kurang memadainya dukungan pemerintah untuk merangsang dan mempermudah akses pasar; (f) kurangnya upaya untuk mengembangkan standar mutu hasil pertanian, baik yang menyangkut bahan mentah, maupun hasil olahannya; (g) kelangkaan kualitas sumberdaya manusia yang mempunyai kemampuan memadai dalam menajamen agribisnis, teknologi pengolahan, serta pengetahuan manajemen mutu. Kendala organisasi atau kelembagaan meliputi: (a) belum berkembangnya lembaga pemasaran domestik maupun ekspor; (b) informasi pasar kepada petani secara asimetri akibat belum berfungsinya lembaga-lembaga pemasaran; (c) upaya koordinasi intensif dalam membangun sistem informasi terpadu belum banyak dilakukan; (d) iklim persaingan belum berkembang secara baik; (e) lemahnya manajemen pemasaran terutama di daerah pedesaan; (f) kurangnya asosiasi-asosiasi untuk setiap jenis komoditas. Jika sudah ada komitmen untuk membangun sektor agribisnis, maka secara perlahan-lahan tetapi pasti, kendala-kendala tersebut harus diatasi, melalui koordinasi dan kooperasi antara swasta pelaku-pelaku agribinsis maupun instansi pemerintah terkait sebagai fasilitator pembangunan pada umumnya. Dalam membangun sektor agribisnis haruslah membangun subsektorsubsektor agribisnis secara simultan dan harmonis yakni subsektor agribisnis hulu (upstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana produksi

pertanian seperti industri pembibitan/perbenihan, industri agrokimia, dan industri agro-otomotif; subsektor pertanian primer (on-farm agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan komoditi pertanian primer; subsektor agribisnis hilir (downstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi produk-produk olahan baik berupa produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (final demand) beserta kegiatan perdagangannya; subsektor jasa penunjang (supporting institution) yakni kegiatan yang menghasilkan dan menyediakan jasa yang dibutuhkan seperti perbankan, transportasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, penyuluhan dan konsultan, dan lain-lain (Saragih, 1998). PERMINTAAN PRODUK-PRODUK AGRIBISNIS DI BALI Pembangunan di propinsi Bali diarahkan pada bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian dalam arti luas, terutama untuk melanjutkan usahausaha memantapkan swasembada pangan, pengembangan sektor pariwisata dengan karakter kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu, serta sektor industri dan kerajinan terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian dan sektor pariwisata (Anonim, 1989). Kebijakan prioritas tiga sektor ini, menurut Nurkse, 1953 (lihat Yotopoulos dan Nugent, 1976) dapat digolongkan ke dalam model pertumbuhan seimbang, yakni ada keterkaitan penawaran dan permintaan antara satu sektor dengan sektor lainnya, atau pengembangan sektor-sektor itu dapat menciptakan permintaan mereka sendiri. Sektor pertanian yang mendapat prioritas utama dalam pembangunan, karena sektor ini memiliki peranan penting dalam perekonomian Bali yaitu, sumber pendapatan sebagian besar penduduk, lapangan kerja, sumber bahan baku agroindustri, sumber devisa dan pelestari sumberdaya alam Bali. Oleh karena itu, pembangunan pertanian dalam arti luas di Bali harus dilanjutkan dan dikembangkan dengan wawasan agribisnis sehingga menjadi pertanian maju dan efisien. Rangsangan pengembangan agribisnis adalah adanya permintaan atau pasar. Permintaan produk-produk agribisnis di Bali adalah masyarakat atau rumahtanggarumahtangga dan wisatawan yang berkunjung ke Bali (wisnu dan wisman), di samping juga pasar luar negeri. Pengeluaran rumahtangga dan wisatawan secara agregat untuk pangan umumnya adalah produk-produk agribisnis mentah yang diproduksikan oleh sektor pertanian dalam arti luas, dan olahan yang diproduksikan oleh sektor industri makanan/minuman/ tembakau (agroindustri). Dengan menggunakan konsep pengganda (multiplier) yang diturunkan dari Social Accounting Matrix (SAM) (lihat Pyatt and Round, 1985), khususnya pengganda pengeluaran rumahtangga dan wisatawan secara agregat dari SAM Bali 1996 berukuran matriks 55x55 yang penulis susun, maka dapat diketahui efek satu-satuan pengeluaran rumahtangga atau wisatawan secara agregat terhadap permintaan produk-produk agribisnis.

1. Permintaan Produk-Produk Agribisnis oleh Rumahtangga Institusi rumahtangga dalam SAM Bali 1996 dispesifikasi menjadi lima golongan sesuai dengan penggolongan Susenas 1996 (Tabel 1). Pada Tabel 1, yang tercakup sektor agribisnis adalah sektor pertanian dalam arti luas (sektor 1-15) dan sektor industri makanan/minuman/tembakau (sektor 17). Bila diperluas sesuai batasan Kadarsan (1995), termasuk juga sektor jasa-jasa penunjang agribisnis (sektor 25-27).

Pengeluaran rumahtangga agregat adalah permintaan seluruh rumahtangga terhadap berbagai jenis komoditas atau output sektor produksi untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk konsumsi langsung, bahan baku, maupun untuk investasi. Dengan demikian pengeluaran tersebut ditangkap langsung oleh sektor-sektor produksi, sektor produksi ini terkait dengan sektor produksi lainnya. Setiap perubahan pengeluaran rumahtangga akan diikuti oleh perubahan permintaan output sektor produksi. Keterkaitan kedua perubahan ini digambarkan dengan efek pengganda (multiplier effects). Makin besar angka pengganda, makin besar peningkatan permintaan output sektor produksi tersebut dari setiap satu-satuan pengeluaran rumahtangga.
Tabel 1. Efek Pengganda Pengeluaran Rumahtangga Terhadap Permintaan Output Sektor-sektor Produksi di Bali, 1996 Golongan Rumahtangga (Pengeluaran Rp) No. Sektor Produksi 100000300000500000100000 750000 299999 499999 750000 (1) (2) (3) (4) (5) 1. Padi 0,043 0,223 0,107 0,075 0,073 2. Jagung 0,001 0,004 0,002 0,001 0,001 3. Tanaman Umbu-Umbian 0,002 0,007 0,003 0,002 0,002 4. Sayur-Sayuran 0,010 0,055 0,028 0,020 0,022 5. Buah-Buahan 0,007 0,038 0,021 0,016 0,017 6. Kacang Tanah 0,001 0,008 0,004 0,003 0,004 7. Kacang Kedele 0,004 0,016 0,008 0,006 0,006 8. Tanaman Pangan Lainnya 0,000 0,001 0,000 0,000 0,000 Sub Total Tan.Pangan (1-8) 0,068 0,352 0,172 0,123 0,125 9. Kelapa 0,001 0,006 0,002 0,002 0,002 10. Tembakau 0,000 0,002 0,001 0,001 0,001 11. Kopi 0,004 0,019 0,010 0,006 0,007 12. Tan. Perkebunan Lainnya 0,001 0,006 0,003 0,002 0,003 Sub Total Perkebunan (9-12) 0,006 0,033 0,026 0,011 0,013 13. Peternak. dan Hasil-Hasilnya 0,020 0,114 0,069 0,046 0,058 14. Kehut. dan Hasil-Hasilny 0,008 0,033 0,012 0,007 0,005 15. Perik. dan Hasil-Hasilnya 0,007 0,043 0,021 0,015 0,016 Sub Total Pertanian (1-15) 0,109 0,575 0,300 0,202 0,217 16. Pertamb. dan Penggalian 0,000 0,002 0,001 0,001 0,001 17. Ind.Mak., Min, danTembakau 0,042 0,217 0,119 0,094 0,094 18. Ind.Pemintek, Pak. Dan Kulit 0,012 0,064 0,036 0,029 0,039 19. Ind. Kayu dan Sejenisnya 0,001 0,011 0,008 0,006 0,006 20. Ind. Kertas dan Sejenisnya 0,003 0,017 0,010 0,009 0,012 21. Ind. Kimia dan Sejenisnya 0,037 0,196 0,098 0,071 0,074 22. Ind.Alat Angk.& Barang Logam 0,014 0,092 0,072 0,042 0,049 23. Listrik, Gas dan Air Minum 0,009 0,044 0,025 0,020 0,022 24. Bangunan dan Konstruksi 0,001 0,006 0,003 0,003 0,003 25. Perdgn, Hotel dan Restoran 0,002 0,011 0,006 0,007 0,005 26. Tansp., Pos, dan Telekom. 0,005 0,029 0,017 0,022 0,021 27. Keuangan (Bank dan non Bank) 0,007 0,042 0,024 0,021 0,024 28. Persew.Bangn.,Pem. Dan Jasa 0,028 0,168 0,104 0,086 0,090 Total (1-28) 0,270 1,474 0,814 0,613 0,657 Rataan 0,009 0,053 0,029 0,022 0,023 Catatan: Efek pengganda golongan rumahtangga terhadap sektor produksi dihitung berdasarkan SAM Bali 1996 (matrix 55x55)

Pada Tabel 1 tampak bahwa secara umum (untuk kelima golongan rumahtangga), produk-produk agribisnis yang diminta relatif tinggi dari setiap satusatuan pengeluaran rumahtangga adalah padi, sayur-sayuran, buah-buahan, kopi, peternakan dan hasil-hasilnya, perikanan dan hasil-hasilnya, dan produk industri makanan/minuman/tembakau. Sedangkan khusus untuk golongan pengeluaran rumahtangga lebih tinggi yaitu rumahtangga golongan (4) dan (5) peningkatan permintaan yang relatif tinggi adalah untuk produksi sektor industri makanan/minuman/tembakau dan sektor jasa-jasa. Ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu-satuan (unit atau rupiah) pengeluaran rumahtangga mendorong peningkatan permintaan produk-produk sektor pertanian dalam arti luas dan industri makanan/minuman/tembakau (produk agribisnis). Dengan demikian, sektor agribisnis di Bali prospektif untuk dikembangkan jika dikaji dari sisi permintaan rumahtangga. Implikasi dari informasi di atas yakni sektor pertanian dan sektor industri makanan/minunan/tembakau sebagai subsistem agribisnis harus merespon peningkatan permintaan rumahtangga dengan meningkatkan pasokan. Sedangkan peningkatan pasokan harus didahului oleh peningkatan produksi, akhirnya sektor agribisnis di Bali memiliki peluang untuk dikembangkan. Peluang ini akan semakin besar bila dikaitkan dengan ekonomi pertanian Bali di masa depan yakni, di satu pihak lahan untuk memproduksi produk-produk agribisnis semakin terbatas, tetapi di pihak lain permintaan produk-produk agribisnis semakin meningkat karena peningkatan jumlah penduduk (kelahiran dan migrasi), ditambah lagi permintaan oleh pariwisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Dengan demikian, di masa depan posisi agribisnis di Bali akan semakin penting. 2. Permintaan Produk-Produk Agribisnis oleh Wisatawan Pengeluaran wisatawan agregat merupakan enerji pariwisata, dan tanpa pengeluaran wisatawan, maka pariwisata akan mati. Oleh karena itu, peningkatan pengeluaran wisatawan agregat harus terus diusahakan, baik melalui peningkatan kunjungan wisatawan maupun peningkatan keinginan membeli (willingness to buy). Wisatawan selama di daerah tujuan wisata akan melakukan berbagai pengeluaran (konsumsi), seperti untuk makanan dan minuman, penginapan, perjalanan, melihat atraksi budaya, pembelian cendramata dan lain-lain. Pengeluaran ini akan ditangkap oleh sektor-sektor ekonomi, sehingga menjadi pendapatan sektor-sektor ekonomi tersebut. Peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi ini akan meningkatkan permintaan input yang berasal dari output sektor-sektor ekonomi lain seperti pertanian, industri, jasa transportasi dan sebagainya. Dengan demikian peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi yang satu, akan mendorong peningkatan produktivitas sektorsektor ekonomi yang lain, dan akhirnya akan menimbulkan efek pengganda (multiplier effects). Dari SAM Bali 1996 juga dapat diketahui efek pengganda pengeluaran wisatawan terhadap permintaan produk-produk sektor ekonomi pada umumnya dan permintaan produk-produk agribisnis pada khususnya (Tabel 2). Efek pengeluaran wisatawan terhadap sektor produksi adalah 2,203, artinya setiap peningkatan pengeluaran wisatawan di Bali sebesar Rp 1.000.000, akan meningkatkan permintaan total produksi sebesar Rp 2.203.000. Dari 28 sektor produksi, 27 sektor memperoleh efek, dengan pengganda berkisar dari 0,001 sampai dengan 0.507. Jadi, hampir semua sektor ekonomi, baik pertanian dalam arti luas (1-15), industri (16-24), maupun jasa-jasa (25-28) memperoleh efek dari pengeluaran wisatawan. Ini menyiratkan bahwa ada keterkaitan antara pariwisata di Bali dengan sektor-sektor ekonomi yaitu

pertanian, industri kecil dan jasa-jasa. Dengan demikian setiap peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali (berarti terjadi peningkatan pengeluaran wisatawan), akan meningkatkan permintaan produk-produk sektor ekonomi termasuk produkproduk sektor agribisnis, dan akhirnya akan mendorong pertumbuhan perekonomian Bali termasuk pertumbuhan sektor agribisnis.

Tabel 2. Efek Pengganda Pengeluaran Wisatawan Terhadap Permintaan Output Sektor Produksi Termasuk Sektor Agribisnis di Bali, 1996 No. Sektor Produksi Pengeluaran Wisatawan Pengganda Elastisitas 1. Padi 0,073 0,729 2. Jagung 0,005 1,120 3. Tanaman Umbu-Umbian 0,009 1,360 4. Sayur-Sayuran 0,031 2,047 5. Buah-Buahan 0,041 5,144 6. Kacang Tanah 0,003 0,604 7. Kacang Kedele 0,005 0,467 8. Tanaman Pangan Lainnya 0,000 0,000 Sub Total Tan.Pangan (1-8) 0,167 9. Kelapa 0,002 0,444 10. Tembakau 0,001 0,425 11. Kopi 0,005 0,511 12. Tan. Perkebunan Lainnya 0,004 0,443 Sub Total Perkebunan (9-12) 0,012 13. Peternak. dan Hasil-Hasilnya 0,047 0,781 14. Kehut. dan Hasil-Hasilny 0,007 0,599 15. Perik. dan Hasil-Hasilnya 0,018 0,669 Sub Total Pertanian (1-15) 0,251 16. Pertamb. dan Penggalian 0,001 0,041 17. Ind.Mak., Min, danTembakau 0,122 0,764 18. Ind.Pemintek, Pak. Dan Kulit 0,035 0,699 19. Ind. Kayu dan Sejenisnya 0,142 2,042 20. Ind. Kertas dan Sejenisnya 0,015 0,695 21. Ind. Kimia dan Sejenisnya 0,110 0,410 22. Ind.Alat Angk.& Barang Logam 0,048 0,419 23. Listrik, Gas dan Air Minum 0,022 0,783 24. Bangunan dan Konstruksi 0,006 0,672 25. Perdgn, Hotel dan Restoran 0,303 6,992 26. Tansp., Pos, dan Telekom. 0,507 6,488 27. Keuangan (Bank dan non Bank) 0,147 4,433 28. Persew.Bangn.,Pem. Dan Jasa 0,494 6,029 Total (1-28) 2,203 Rataan 0,079 Catatan : Efek pengganda pengeluaran wisatawan dihitung berdasarkan SAM Bali 1996 (matrix 55x55) Perhitungan Elastisitas, E = yi/( xj. xj/yi, di mana: yi/( xj = pengganda sektor produksi ke-i dari kolom ke-j; xj = pengeluaraan wisatawan; yi = produksi sektor ke-i

Sektor pertanian dalam arti luas, utamanya subsistem produksi sebagai jantung agribisnis harus merespon peningkatan permintaan produk-produk pertanian, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan. Dengan demikian sektor agribisnis di Bali memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Dari 15 sektor agribisnis pertanian (neraca 1-15), 14 sektor memiliki keterkaitan dengan pengeluaran wisatawan. Namun, dari 14 sektor tersebut, sektor-sektor yang prospektif untuk dikembangkan sesuai dengan besarnya pengganda permintaan wisatawan yaitu, tanaman umbi-umbian termasuk kentang, sayur-sayuran, buah-buahan, peternakan dan hasil-hasilnya, perikanan dan hasil-hasilnya, serta padi. Namun tiga sektor yang disebutkan terakhir, agak kurang responsif terhadap peningkatan pengeluaran wisatawan yang ditunjukkan oleh elastisitas lebih kecil dari pada satu.

3. Permintaan Produk-Produk Agribisnis oleh Pasar Luar Negeri Selain produk-produk agribisnis pangan untuk memenuhi permintaan masyarakat dan wisatawan, daerah Bali juga memiliki produk-produk agribisnis untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri (ekspor) yaitu produk perkebunan dan perikanan. Jenis produk perkebunan untuk tujuan ekspor yaitu, kopi, panili, kakao, dan lain-lain, sedangkan produk agribisnis perikanan yaitu, lobster, ikan tuna segar, ikan hias hidup, ikan dalam kaleng, dan lain-lain. Permintaan produk-produk agribisnis Bali oleh pasar luar negeri yang diproksi dengan nilai ekspor meningkat dari tahun ke tahun, yaitu sebesar $ 71.688.089,00 tahun 1991 menjadi $ 88.135.945,10. Atau jika dilihat pangsanya terhadap total devisa yang diperoleh Bali berkisar antara 27,05% (1991) sampai 30,31% (1993)(lihat Tabel 3). Pada Tabel 3 juga tampak bahwa antara dua jenis produk agribisnis yaitu perkebunan dan perikanan, kontribusi produk agribisnis perikanan lebih tinggi dari pada perkebunan terhadap total ekspor. Walau agribisnis perkebunan kontribusinya lebih rendah, namun peranannya relatif penting yaitu, sumber nafkah ribuan petani-pekebun dengan keluarganya, penyerap tenagakerja dan konservasi lahan pulau Bali dengan topografi yang berbukit-bukit.

Tabel 3. Nilai dan Pangsa Ekspor Produk Agribisnis Propinsi Bali, 1996 No. Tahun Total Ekspor Ekspor Produk Agribisnis (US $) Perkebunan Perikanan Sub Total (US $) (US $) (US $) 1. 1991 265.031.357,00 15.133.607,00 50.554.482,00 71.688.089,00 (5,71%) (21,34%) (27,05%) 2. 1992 284.425.705,45 9.609.470,10 77.956.169,72 87.505.639,82 (3,38%) (27,41%) (30,79%) 3. 1993 294.822.936,94 8.995.884,00 80.376.419,85 89.372.303,85 (3,05%) (27,28%) (30,31%) 4. 1994 299.184.839.,85 12.667.880,18 54.614.062,66 67.281.942,84 (4,23%) (18,25%) (22,49%) 5. 1995 317.428.539,00 5.666.254,88 59.993.945,10 65.660.200,00 (1,79%) (22,41%) (20,69%) 6. 1996 332.390.894,47 13.660.701,53 74.475.252,57 88.135.945,10 (4,11%) (22,41%) (26,52%) Sumber: Data Bali Membangun 1996, hal. V-15

Usaha-usaha ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi produkproduk agribisnis daerah Bali masih perlu dilakukan, baik pada subsistem produksi, subsisten pemasaran melalui pembentukan asosiasi pemasaran bersama seperti pada kasus tembakau, maupun pada subsisten pengolahan sehingga nilai tambah produk dinikmati oleh masyarakat Bali. Jadi, agribisnis di Bali untuk tujuan ekspor masih memiliki prospek dikembangkan untuk meraih devisa lebih banyak, selain sektor pariwisata dan industri kecil.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan Dari sisi permintaan, pengembangan agribisnis di Bali memiliki prospek cerah, karena didukung permintaan (pasar) produk-produk agribisnis (mentah dan olahan) oleh rumahtangga-rumahtangga, wisatawan maupun pasar luar negeri (ekspor). Peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pengeluaran atau kunjungan wisatawan akan meningkatkan permintaan produk-produk sektor agribisnis, selanjutnya meningkatkan kontribusi sektor agribisnis dalam perekonomian daerah Bali. Implikasi Kebijakan Sektor agribisnis di Bali perlu dikembangkan lebih lanjut karena memiliki prospek cerah dan nilai strategis. Pemerintah sebagai fasilitator perlu melakukan koordinasi dan kooperasi dengan pelaku-pelaku agribisnis yaitu, petani/pekebun/ peternak/nelayan, pedagang perantara, pengusaha (kecil/menengah/besar), perbankan, dan perguruan tinggi untuk merumuskan alternatif kebijakan dalam rangka menggunakan kekuatan, merebut peluang, memperkecil kelemahan, dan mengatasi ancaman di dalam memasuki pasar global yang semakin kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1989. 'Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Tahun 1988-1993'. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 9 Tahun 1988. Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Anonim. 1996. Data Bali Membangun 1996. Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I Bali. Davis, H.J. and R.A. Golberg. 1957. A Concept of Agribusiness. Harvard Graduate School of Business Administration. Boston, Massachusetts. Deptan. 1994. Bahan Ekspose Badan Agribisnis, Departemen Pertanian, Jakarta. Downey, W. David and Steven, P. Erickson. 1987. Agribusiness Management. Mc GrawHill Book Company, New York, Second Edition. Kadarsan H.W. 1995. Keuangan dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Kompas, 4 Nopember 1999, hal. 2. PT Gramedia, Jakarta. Pyatt, G. and J.I. Round. 1985. 'Social Accounting Matrices for Development Planning'. In A World Bank Symposium Social Accounting Matrices A Basic for Planning (edited by Pyatt, G and J.I. Round). The World Bank, Washington, D.C., U.S.A. pp.52-69. Saragih, Bungaran. 1998. Kumpulan Pemikiran Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan Persada Mulia Indonesia. Yotopoulos, P.A. and J.B. Nugent. 1976. 'Economics of Development Empirical Investigation'. Harper & Row Publisher, New York.