Anda di halaman 1dari 27

MODEL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN AGROWISATA

Oleh Made Antara


Pengajar pada Jurusan Sosek/PS Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana

Makalah Disajikan pada Semiloka AA dengan Topik Prosedur Pengembangan Agribisnis dan Agrowisata pada Sistem Subak di Bali, Kasus Subak Dlodtunduh-Ubud Bali

DENPASAR JULI 2005

PENDAHULUAN Agribisnis mulai diwacanakan menjelang Pelita IV (1980-an). Masalahnya ketika negara kesulitan dlm neraca pembayaran. Berbagai kebijakan pemb diambil oleh pem Orba, antara lain: (1) Masyarakat diminta mengencangkan ikat pinggang; (2) Kebijakan 1 Juni 1983 dalam bidang Perbankan; (3) Reformasi pajak; (4) Memobilisasi dana masyarakat melalui sektor anggaran; (5) Mencari alternatif komoditi ekspor lain, yang tidak lain adalah Agribisnis. Bahkan dalam Daftar Skala PPrioritas BKPM ke AS, agribisnis memperoleh priotitas utama. Krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak Juli 1997, telah menyebabkan perekonomian Indonesia porak-poranda. Depresiasi nilai rupiah atau apresiasi dollar dari Rp 2400/$ tahun 1996 menjadi Rp 15.000/$ tahun 1998 telah menyebabkan inflasi sampai mencapai 75 persen tahun 1998, pendapatan riil masyarakat menurun drastis, paberik-paberik yang berbahan baku impor banyak yang tutup, pengangguran meningkat luar biasa dan jumlah rakyat miskin bertambah banyak. Namun di dibalik krisis yang menimpa perekonomian Indonesia, ada satu sektor yang masih tetap tegar, bahkan berjaya karena menangguh berkah dari situasi krisis yakni sektor agribisnis dengan jantung penggeraknya adalah sektor pertanian dalam arti luas. Depresiasi nilai rupiah menyebabkan produk-produk agribisnis Indonesia sangat kompetitif di pasar Internasional dan harga-harga di dalam negeripun ikut merayap naik sampai mencapai 5 kali lipat dari harga sebelum krisis. Petani dan pelaku-pelaku agribisnis lainnya meraih keuntunagan luar biasa. Bahkan ada celetukan yang bernada guyon dari mereka, mudah-mudahan krisis ekonomi tidak cepat berlalu.

PEMBANGUNAN AGRIBISNIS Definisi Agribisnis Ilmu agribisnis pertama kali dicetuskan di Harvard Business School, Amerika Serikat tahun 1957 oleh Davis dan Golberg. Kemudian dikembangkan oleh Downey dan Erickson tahun 1987 dan di Indonesia sejak tahun 1990-an disebar-luaskan melalui berbagai seminar dan media ilmiah oleh Profesor Bungaran Saragih. Semua pencetus dan pengembang ilmu agribisnis berlatar belakang ahli ilmu ekonomi pertanian ditambah dengan pendalaman ilmu-ilmu 1

manajemen, karena dalam penerapannya di tingkat on-farm dan off-farm yang berwawasan bisnis, agar tercapai efisiensi alokasi sumberdaya atau profit maksimum, peranan ilmu ekonomi dan manajemen sangat sentral sebagai alat analisis untuk menghasilkan solusi bagi permasalahan agribisnis. Sangat mustahil seorang yang bukan berlatar belakang ekonomi pertanian memahami dengan baik ilmu agribisnis, karena di dalamnya terkandung prinsip-prinsip ilmu ekonomi, sepertil ilmu ekonomi mikro, ekonomi makro, ekonomi produksi, ilmu pemasaran, metode kuantitatif dan ilmu-ilmu menajamen. Para pencetus dan pengembang ilmu agribisnis (Davis dan Golberg, 1957; Downey dan Erickson, 1987; Saragih, 1998) telah bersepakat mendefinisikan Agribisnis (Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang berorientasi profit), yaitu kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan produksi (agroindustri), penunjang pemasaran kegiatan. masukan-keluaran Sedangkan yang keluaran dan

pertanian dimaksud

kelembagaan

dengan

berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian.

Agribisnis sebagai sebuah Konsep Sistem Apabila mata rantai kegiatan agribisnis dipandang sebagai suatu konsep sistem, maka mata rantai kegiatan tersebut dapat dibagi menjadi empat subsistem yaitu: (1) subsistem usahatani (on-farm), (2) subsistem agroindustri hulu dan hilir (off-farm), (3) subsistem pemasaran (off-farm), dan (4) subsistem lembaga penunjang (off-farm). Keempat subsistem ini mempunyai kaitan yang erat, sehingga gangguan atau kelemahan pada salah satu subsistem atau kegiatan akan berpengaruh terhadap subsistem atau kelancaran kegiatan dalam sistem agribisnis (lihat gambar 1). Jadi ilmu agribisnis adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keempat subsistem agribisnis tersebut , yang tidak lain adalah ilmu ekonomi pertanian dan manajemen, sedangkan ilmu-ilmu lainya adalah penunjang dan pelengkap. Agribisnis dalam pengertian seperti tersebut menunjukkan adanya keterkaitan vertikal antar subsistem dan keterkaitan horizontal dengan subsistem 2

atau sektor lain di luar sektor pertanian, seperti sektor jasa-jasa (finansial dan perbankan, sektor koperasi, sektor transportasi, sektor perdagangan, sektor pendidikan dan lain-lain. Keterkaitan luas ini sudah disadari sejak dahulu oleh ekonom pasca-revolusi industri, sehingga mereka menekankan arti strategis

penempatan pertanian (dan pedesaan) sebagai bisnis inti (core business) pada tahap pembangunan sebelum lepas landas terutama dalam kaitannya dengan proses industrialisasi. Sistem agribisnis merupakan totalitas atau kesatuan kinerja agribisnis yang terdiri dari subsistem agribisnis hulu yang berupa kegiatan ekonomi input produksi, informasi, dan teknologi; subsistem usahatani, yaitu kegiatan produksi pertanian primer tanaman dan hewan; subsistem agribisnis pengolahan, subsistem pemasaran; dan subsistem penunjang, yaitu dukungan sarana dan prasarana serta lingkungan yanng kondusif bagi pengembangan agribisnis. Dengan demikian pembangunan sistem agribisnis mencakup lima sub-sistem, yakni:

Pertama:

Sub-sistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal bagi pertanian (arti luas) yakni industri perbenihan/pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat/vaksin ternak) dan industri agro-otomotif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukungnya. Sub-sistem usahatani (on-farm agribusiness) yakni kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumberdaya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. Termasuk dalam hal ini adalah usahatani tanaman pangan dan hortikultura, usahatani tanaman obat-obatan, usahatani perkebunan, dan usahatani peternakan, usaha perikanan dan usaha kehutanan.

Kedua:

Ketiga:

Sub-sistem pengolahan (down-stream agribusiness) yakni industri yang mengolah komoditas pertanian primer (agroindustri) menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product). Termasuk di dalamnya industri makanan, industri minuman, industri barang-barang serat alam (barang-barang karet, plywood, pulp, kertas, bahan-bahan bangunan terbuat kayu, rayon, benang dari kapas/sutera, barang-barang kulit, tali dan karung goni), industri biofarmaka, dan industri agro wisata dan estetika. Sub-sistem pemasaran yakni kegiatan-kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas pertanian baik segar maupun olahan di dalam dan di luar negeri. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan distribusi untuk memperlancar arus komoditi dari sentra produksi ke sentra konsumsi, promosi, informasi pasar, serta intelijen pasar (market intelligence). Subsistem lembaga penunjang atau pelancar yaitu subsistem yang menunjang atau memperlancar subsistem agribisnis lainnya agar dapat berjalan dengan lancar atau pelaku-pelaku agribisnis dapat beraktivitas dengan lancar. Subsistem ini terdiri dari: (1) lembaga penunjang berwujud prasarana atau infrastruktur, antara lain: gedung, jalan, jembatan, alat transportasi, dsb., dan (2) lembaga penunjang berwujud organisasi antara lain: Perbankan, Koperasi, Lembaga Penelitian, Lembaga Penyuluhan, Pasar, sistem informasi dan dukungan kebijakan pemerintah (mikro ekonomi, tata ruang, makro ekonomi), dll.

Keempat:

Kelima:

Secara singkat lingkup pembangunan sistem agribisnis tersebut dapat digambarkan seperti Gambar 1.

PEMASARAN/ PERDAGANGAN
- Perdagangan Domestik

- Perdagangan Internasional

AGROINDUSTRI HULU (Upstream) - Benih - Pupuk - Pakan - Pestisida - Alat dan Mesin (Alsintan) - Obat-Obatan - Teknologi

PRODUKSI (Keluaran) - Pangan - Usahatani Padi - Hortikultura - Kebun -Ternak

AGROINDUSTRI HILIR

(Down Stream) - Pascapanen - Pengolahan lanjutan

LEMBAGA PENUNJANG
PRASARANA
- Jalan

ORGANISASI - Perkreditan

- Jembatan - Penyuuhan - Pelabuhan - Penelitian - Terminal - Peraturan Gambar 1. Sistem Pemerintah Agribisnis - Alat Transportasi - Koperasi - SUBAK - Dll

Gambar 1. Lingkup Pembangunan Agribisnis = keterkaitan dua arah (saling menunjang/saling membutuhkan/salingterkait)

Dengan demikian bidang agribisnis merupakan kegiatan lebih dari sekedar pertanian, karena di dalamnya mencakup kegiatan-kegiatan lain yang mewakili sektor di luar pertanian. Oleh karenanya penting disadari bahwa setiap usaha untuk melakukan analisis sektoral bagi subsistem baru akan memiliki makna dan memberikan peranan yang bermanfaat apabila dikaitkan satu sama lain dan berorientasi pada konsep sistem. Memahami timbulnya kaitan antara tiap subsistem, siapa pelaku dalam tiap subsistem, dan bagaimana teknologi yang digunakan merupakam hal yang sangat penting untuk mengetahui masalahmasalah yang dihadapi agribisnis dan mencari alternatif pemecahannya. Kaitan antar Subsistem dalam Sistem Agribisnis Tidak jarang dilaporkan peristiwa terputusnya kaitan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Misalnya, keluhan pengrajin tempe dan tahu di suatu wilayah karena sulitnya memperoleh bahan baku kedelai. Sebaliknya di suatu wilayah di laporkan adanya kelebihan produksi kedelai yang yang tidak terjual sehingga menumpuk di rumah petani. Di daerah-daerah transmigrasi sering dilaporkan produk-produk petani tidak ada yang membeli, karena pasarnya jauh atau sarana dan prasarana transportasi belum tersedia, sehingga produk menjadi busuk. Juga dilaporkan penderitaan peternak unggas karena harga telur rendah, sedangkan harga pakan meningkat terus. Meningkatnya harga pakan disebabkan oleh naiknya harga jagung dan dedak yang dipakai sebagai bahan baku. Akhirnya, banyak peternak yang menawarkan ayamnya sebelum merugi terus. Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam agribisnis tidak ada subsistem yang lebih penting dari yang lainnya. Pengembangan agribisnis memerlukan

penanganan keempat subsistem yang ada di dalamnya. Apabila subsistem produksi (usahatani) dikembangkan atau dimodernisasi, maka akan timbul kaitan ke belakang (backward linkages) yang berupa peningkatan kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi. Kaitan ke belakang ini mengundang perorangan atau perusahaan untuk menangani masalah input produksi (usahatani) dengan berpedoman pada 4-tepat, yaitu tepat waktu, tempat, jumlah dan kualitas. Ketepatan dalam melaksanakan empat hal ini akan sangat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga penunjang agribisnis, seperti 6

kelancaran angkutan, ketersediaan lembaga kredit dan peraturan-peraturan yang berlaku. Produk pertanian tergantung pada musim (seasonal), menyita banyak ruangan untuk menyimpannya (bulky), tidak tahan lama sehingga harus segera dikonsumsi atau diolah menjadi produk yang dapat disimpan (lekas rusak). Peningkatan produksi usahatani dan menyiasati ketiga kelemahan produk pertanian, maka perlu dilakukan pengolahan. Pengolahan produk disebabkan juga oleh permintaan konsumen di dalam dan di luar negeri yang semakin menuntut persyaratan kualitas dan diversifikasi produksi olahan bila pendapatan mereka meningkat. Jadi modernisasi sektor produksi (usahatani) akan

menimbulkan kaitan ke depan (forward linkages). Dalam agribisnis yang telah berkembang, terdapat pembagian tugas yang mendasar antara berbagai fungsi. Semakin dalam peranan teknologi masuk ke dalam agribisnis, semakin kompleks sifat kegiatan dalam tiap subsistem sehingga diperlukan adanya diferensiasi tugas yang dilakukan oleh kelompok pelaku yang berbeda. Ada petugas yang bertanggung jawab terhadap produksi, lainnya terhadap pemasaran atau penjualan, lainnya lagi terhadap personalia. Kehadiran pelaku-pelaku baru dari luar kelompok pelaku yang telah ada disebut kaitan ke luar (outside linkages). Kelompok baru ini dapat memberikan pengaruh positif apabila dapat mengurangi pemusatan kekuatan ekonomi di satu tangan. Sebaliknya, kaitan ini mempunyai pengaruh negatif apabila merugikan kelompok pelaku yang telah ada, misalnya menimbulkan berkurangnya imbalan atau bagian keuntungan yang diterima. Kasus, agribisnis komoditi Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). lembaganya Cengkeh di era Badan

BPPC telah menguntungkan

sendiri (subsistem pamasaran) dan merugikan subsistem lainnya

yakni petani (subsistem produksi) dan paberik rokok (subsistem agroindustri). Dalam hal ini BPPC telah berlaku sebagai monopsoni (pembeli tunggal) cengkeh petani dengan penetapan harga rendah yang berarti merugikan petani, dan juga berlaku sebagai monopoli (penjual tunggal) ke paberik rokok dengan menetapkan harga tinggi sehingga merugikan paberik rokok. Selisih harga dari penjualan dengan harga tinggi ke paberik rokok dan pembelian dengan harga rendah dari petani cengkeh telah menyebabkan BPPC memperoleh marjin pemasaran sangat tinggi, yang hanya menguntungkan BPPC dan PUSKUD 7

sebagai rekanan pembelian. Jadi sistem agribisnis komoditi cengkeh yang hanya menguntungkan satu subsistem yakni subsistem pemasaran (BPPC) telah membuat resah subsistem lainnya yang merasa dirugikan, sehingga akhirnya di era reformasi BPPC dibubarkan. Ini sebagai bukti empirik bahwa semua subsistem atau pelaku-pelaku dalam sistem agribisnis harus diuntungkan.

PENGEMBANGAN AGROWISATA Definisi Agrowisata Daerah Tujuan Wisata Bali lebih dominant bercorak pariwisata budaya upacara adat dan agama hindu, yakni memanfaatkan keunggulan kebudayaan upacara Adat dan Agama Hindu sebagai daya tarik kunjungan wisatawan. Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya, bahwa penyelenggaraan pariwisata budaya dilaksanakan berdasarkan asas manfaat usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, percaya pada diri sendiri, dan berkehidupan keseimbangan, keserasian serta keselarasan yang berpedoman pada falsafah Tri Hita Karana. Namun patut pula diingat dan diketahui bahwa Bali juga memiliki keunikan wilayah dan komoditi pertanian yang perlu dikemas dijadikan produk, obyek dan daya tarik wisata, yang dikenal dengan istilah Agrowisata (Agricultural Tourism), yaitu kawasan, komoditi atau kegiatan pertanian dalam arti luas, yang menjadi objek kunjungan wisatawan dalam usaha memperoleh kenikmatan lahir dan atau batin, serta dalam waktu bersamaan kemungkinan juga wisatawan melakukan pembelian produk-produk kawasan pertanian yang dikunjungi atau petani menyediakan berbagai paket atraksi yang berkaitan dengan pertanian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani, baik secara individu maupun kelompok. Pengembangan penganekaragaman kepariwisataan agrowisata jenis objek di wisata Bali dan adalah sekaligus suatu usaha

memeratakan

ke pelosok-pelosok pedesaan dimana berlokasi kawasan

pertanian dalam arti luas yang unik-unik. Bali banyak memiliki potensi agrowisata, misal, agrowisata kebun sayur-mayur di Candikuning Tabanan, kebun salak di Karangasem, peternakan ayam, itik dan sapi di Karangasem, Tabanan dan 8

Gianyar, kebun anggur di Buleleng,

kebun kopi di Tabanan, dll. Beberapa

kawasan agrowisata telah berkembang menjadi kawasan wisata karena memiliki panorama yang indah dan aksesibilitas yang baik.

Perkembangan Agrowisata di Mancanegara Agrowisata berasal dari istilah agritourism atau farm tourism di pantai Timur Amerika atau agricultural tourism di bagian-bagian lainnya di Amerika, atau AGRITURISME di England, dan Sleeping in the Straw di Switzerland, disebut agricultural Tourism di Eropa, New Zealand, dan Australia, adalah aktivitas atau yang berhubungan dengan bisnis berbasis usahatani ditawarkan untuk kesenangan dan pendidikan masyarakat, mempromosikan produk-produk usahatani, dan menghasilkan tambahan pendapatan usahatani,. Beberapa keluarga petani dapat menambah pendapatannya dengan menawarkan

akomodasi untuk bermalam, kunjungan ke usahatani, jalan di alam bebas, dan aktivitas-aktivitas lain kepada masyarakat Menurut Desmond Jolly, direktur Pusat Usahatani Kecil. Universitas Califormia, Davis, Agricultural tourism mencakup overnight farm stays, U-pick operations, roadside stands, pumpkin festivals, and varied other activities, such as birdwatching hikes across farmland, with lunch on a haywagon, overlooking a flock of grazing sheep. Sedangkan menurut Anonim (2004a), Wisata Agro atau agroturisme adalah suatu bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Di pihak lain, Anonim (2004b) mengatakan bahwa di belahan dunia bagian barat, utamanya di Amerika dan Eropa, konsep agricultural torism belum menyebar secara luas di masyarakat, tetapi para pengusaha pertanian mulai menangkap peluang memanfaatkan aktivitas pertanian mereka sebagai suatu event untuk tujuan mencari kesenangan dan mencari hal-hal baru di luar keseharian wisatawan selama ini, yang pada akhirnya akan dapat menambah pendapatan mereka. Menurut Lobo (2004), agricultural tourism berhubungan dengan tindakan pengunjung di sebuah pekerjaan usahatani atau beberapa pertanian, hortikultura atau pengoperasian agribisnis untuk maksud memberikan kesenangan atau kegembiraan atau kenikmatan, pendidikan, atau keterlibatan aktif kepada para 9

pengunjung dalam aktivitas usahatani. Menurut Anonim (2004c),

Agricultural

Tourism adalah satu alternatif untuk perbaikan pendapatan dan kelangsungan hidup ekonomi potensial dari petani kecil dan masyarakat pedesaan. Beberapa bentuk perusahaan pertanian dikembangkan di California, AS termasuk pameran-pameran, festival dll. Kemungkinan lain masih potensial ditawarkan untuk pengembangan. Sedangkan menurut Leones et al. (2004: p.2) agricultural tourism didefinisikan sebagai kepergian pengunjung ke luar daerahnya terutama ke area pertanian untuk maksud melihat objek pertanian dan melakukan

pembelian produk pada usahatani. Agritourism didefinisikan sebagai suatu bisnis dilakukan oleh para petani untuk kesenangan atau pendidikan publik, mempromosikan produk-produk usahatani dan menhasilkan tambahan pendapatan usahatani (Hilchey, 1993: dalam Lobo et al, 1999). Dalam pengertian agritourism termasuk di dalamnya berbagai fasilitas dan aktivitas di daerah San Diego County, seperti agricultural festivals, farm visits, farm tours, demonstration farms, farm stays, wineries, nursery trails and agricultural museums. Di samping itu, ada lebih dari 20 pasar milik petani tersertifikasi yang beroperasi. Pengkombinasian industri pariwisata besar dengan keunikan dan diversifikasi pertanian lokal menawarkan suatu kesempatan untuk para petani mendiversifikasi aktivitas usahataninya dan sumber-sumber penerimaannya. Dalam berbagai publikasi lewat internet (Anonim, 2004a: in Website goggle: agricultural tourism) tampak jelas bahwa Universitas Califormia di Los Angeles, Davis memiliki lembaga Small Farm Centre, salah satu misinya adalah membina dan mengembangkan agricultural tourism atau agri-tourism atau agrowisata jika di Indonesiakan. Menurut para pengelola lembaga tersebut, agritourim dapat mengambil beberapa bentuk seperti, roadside stands and farmers offer farm fresh produce and interaction with growers, ranches may open to the public for wildlife watching and hunting, agricultural tours, on-farm bed and breakfast, and dude ranches give tourist the fresh air, open space and relaxation of country life. Jenis kegiatan lainnya yang dapat dikemas menjadi objek atau produk yaitu: U-pick operation, pumpkin patches, christmas tree farm, corn mazes, farm animal petting zoos, wine tasting, agric heritage museums, festival and fairs all atract visitor. 10

Anonim, 2004b (in Website goggle: agricultural tourism) mengemukan tentang agricultural tourism hal-hal sebagai berikut: 1. Agricultural tourism adalah berhasil, karena mereka mengajak kami kembali ke kultur yang mengarah ke suatu keutuhan lingkungan. Penduduk memelihara binatang, menanam benih agar tumbuh, memanen tanaman bahan pangan. Penduduk bergotong royong memanen tanaman bahan pangan. 2. Agricultural tourism adalah suatu ladang baru yang memungkinkan penduduk mengalami siklus kehidupan, menumbuhkan tanaman, kelahiran dan kematian binatang-binatang. Anda menyediakan pengalaman rekreasi dan mengunjungi proyek-proyek pedesaan dimana partisipasi pelangganmu dalam pengalaman berbagai aktivitas, pertunjukan atau atraksi-atraksi yang

dikembangkan secara khusus untuk mereka. 3. Agricultural tourism telah menjadi bagian usaha pertanian di eropa untuk abad ini. Sedangkan para petani di Amerika Serikat menemukan bahwa agricultural tourism dapat membantu mereka menjaga lahannya dan cara hidupnya. Profit dari agricultural toourism ditangkap oleh perantara atau tengkulak, meninggalkan para petni yang sedang bangkrut, meninggalkan lahan mereka sementara para pengolah (processor) menjadi semakin kaya. 4. Agricultural tourist ingin memgkonsumsi produk-produk usahatani segar, menikmati pangan segar usahatani yang dimasak dan makan dalam sebuah lingkungan yang bersifat kekeluargaan. Anda dapat mengembangkan suatu variasi yang luas tentang proyek-proyek agricultural tourism. 5. Pada level satu, secara sederhana menjual produk-produk usahatani segar pada stand-stand pinggir jalan oleh anggota kelompok, melalui U-pick operation dan pasar-pasar petani. Penjualan pada stand-stand pinggir jalan memungkinkan anda sebagai petani menjual bahan-bahan segar yang diproduksikan, dikalengkan, dikeringkan, proses-proses pangan lain dan produk bunga-bunga secara langsung kepada stand-stand konsumen atau kios-kios berlokasi pada atau dekat usahataninya atau sepanjang sebuah jalan dekat usahatani. 6. Agricultural tourism menyediakan kenikmatan dan pendidikan untuk masyarakat, mempromosikan produk-produk usahatani, meningkatkan

pendapatan petani. Kesiapan dalam banyak area, seperti pumkin festival, frurit 11

festival, flower festival, bird watching trips,

hikes, hay-wagon rides. Anda

dapat menciptakan mountainn bike farm word and to be a part of that cycle of life for a time. Jolly (2004a) mengatakan: Farm/ranch recreational refers to activities conducted on private agricultural lands, which might include fee-hunting and fishing, overnight stays, educational activities, etc. Thus category of tourism is subset of a larger industrii known as agri-tourism. Agri-tourism is a commercial enterprise at a working farm, ranch, or agricultural plant conducted for the enjoyment of visitors that generates supplement income for the owner. Agritourism and nature-tourism enterprise might include: Outdoor recreationn (fishing, hunting, wildlie study, horseback riding), Educational experiences (cannery tours, cooking classes, or wine tasting), Entertainment (harvest festivals or barn dances), Hospitality services (farm stays, guided tours or outfilter service), On-farm direct sales (u-pick operation or roadside stands). Jadi seperti dikatakan oleh Jolly (2004b) tampak jelas bahwa agri-tourism adalah sebuah subset dari suatu industri lebih besar yang disebut rural tourism yang termasuk resort, off-site farmers market, non profit agriltural tours, and other leisure and hospitality business that attact visitor to the countryside. Namun patut diketahui bahwa rural tourism berbeda dengan agritourism dalam dua cara. Pertama usaha rural tourism tidak harus terjadi pada sebuah usahatani atau peternakan, atau pada sebuah areal pertanian. Kedua, rural tourism tidak menghasilkan tambahan pendapatan untuk usaha pertanian. Pada dasarnya, agricultural tourism merupakan usaha potensial yang bersifat Outdoor Recreation dan Educational Experiences, dapat dalam bentuk Direct Agricultural Sales and Accomodation, serta dalam jenis Entertainment dan Micellaneous, yang masing-masing dapat dirinci seperti disajikan pada Tabel 1.

12

Tabel 1. Sifat, Bentuk dan Jenis Agrowisata di Mancanegara S I f a t: Outdoor Recreation: Horseback riding Wildlife viewing & photography Fee fishing Camping/Picniking (combined) Wagon/sleigh rides Cross-country skiing Game preseve Clay bird shooting Off-road vehicles Direct Agricultural sales: On-farm sales Roadside stand Agricultural-related craft/gifts U-pick operation Educational Experience: School tours Garden/nursery tours Winery tours Agricultural technical tours Historical agricultural exhibits Crop sign I.D. program Exotic animal farm

B e n t u k: Accomodation Bed & breakfast inn Farm/ranc vacation Guest ranch Yout exchange Elder hostel J e n I s: Micellaneous: Guides/outfitter operation Farmers market Horse pack team

Entertainment: Concerts or special events Festval or fairs Petting zoo Hunting/Working dog trial/training
Sumber: Diadaptasi dari Jolly (2004)

Potensi Agrowisata di Indonesia Di setiap propinsi di Indonesia banyak telah dibangun dan dikembangkan pusat-pusat agrowisata oleh pemerintah daerah atau swasta, dengan tujuan bisnis. Di antara yang telah dibangun itu, memang ada yang terus berkembang pesat, seperti pusat agrowisata Taman Buah Mekar Sari di Cileungsi Bogor, Jawa Barat, agrowisata di perusahaan-perusahaan perkebunan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Namun ada juga setelah dibangun kemudian bangkrut karena tidak ada pemasukan untuk memelihara pusat agrowisata tersebut. Seperti ditayangkan oleh Website: google Agriltural Tourism,

Soropadan Agro Expo (SAX) di Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung mulai sepi. Nyaris tidak ada tanda tempat tersebut merupakan pasar agrowisata yang diproyeksikan untuk wisata agro. Yang tampak hanya tanaman jagung yang menunggu panen, sisa tanaman tomat, serta tanaman buah yang baru mulai hidup. 13

Hamparan areal pertanaman yang luas seperti pada areal perkebunan, dan hortikultura disamping menyajikan pemandangan dan udara yang segar, juga merupakan media pendidikan bagi masyarakat dalam dimensi yang sangat luas, mulai dari pendidikan tentang kegiatan usaha di bidang masing-masing sampai kepada pendidikan tentang keharmonisan dan kelestarian alam. Obyek wisata agro tidak hanya terbatas kepada obyek dengan skala hamparan yang luas seperti yang dimiliki oleh areal perkebunan, tetapi juga skala kecil yang karena keunikannya dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Caracara bertanam tebu, acara panen tebu, pembuatan gula pasir tebu, serta caracara penciptaan varietas baru tebu merupakan salah satu contoh obyek yang kaya dengan muatan pendidikan. Cara pembuatan gula merah kelapa juga merupakan salah satu contoh lain dari kegiatan yang dapat dijual kepada wisatawan di samping mengandung muatan kultural dan pendidikan juga dapat menjadi media promosi, karena dipastikan pengunjung akan tertarik untuk membeli gula merah yang dihasilkan pengrajin. Dengan kedatangan masyarakat ke obyek wisata juga terbuka peluang pasar tidak hanya bagi produk dari obyek wisata agro yang bersangkutan, namun pasar dari segala kebutuhan masyarakat (Anonim, 2004d). Teknologi budi daya pertanian tradisional atau keunikan teknologi lokal hasil seleksi alam merupakan aset atraksi agrowisata yang patut dibanggakan. Bahkan teknologi lokal ini dapat dikemas dan ditawarkan menjadi paket atraksi wisata yang potensial untuk dijual kepada pihak lain. Dengan demikian, teknologi lokal yang merupakan indigenous knowledge itu dapat dilestarikan. Teknologi lokal seperti Talun Kebun atau pekarangan yang telah berkembang di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan salah satu contoh yang bisa ditawarkan untuk agrowisata. Teknologi lokal ini telah terbukti cukup mampu mengendalikan kesuburan tanah melalui pendauran hara secara vertikal. Selain dapat mengefisienkan pemanfaatan hara, teknologi ini juga dapat memanfaatkan energi matahari dan bahan organik in situ dengan baik sesuai dengan tingkat kebutuhan. Dengan demikian, melalui agrowisata kita dapat memahami teknologi lokal kita sendiri, sehingga ketergantungan pada teknologi asing dapat dikurangi. Atraksi wisata pertanian juga dapat menarik pihak lain untuk belajar atau magang dalam pelaksanaan kegiatan budidaya ataupun atraksi-atraksi lainnya, 14

sehingga dapat menambah pendapatan petani, sekaligus sebagai wahana alih teknologi kepada pihak lain. Hal seperti ini telah dilakukan oleh petani di Desa Cinagara, Sukabumi dengan "Karya Nyata Training Centre". Pada kegiatan magang ini, seluruh petani dilibatkan secara langsung, baik petani ikan, padi sawah, hortikultura, peternakan, maupun perkebunan (Anonim, 2004e). Potensi objek wisata dapat dibedakan menjadi objek wisata alami dan buatan manusia. Objek wisata alami dapat berupa kondisi iklim (udara bersih dan sejuk, suhu dan sinar matahari yang nyaman, kesunyian), pemandangan alam (panorama pegunungan yang indah, air terjun, danau dan sungai yang khas), dan sumber air kesehatan (air mineral, air panas). Objek wisata buatan manusia dapat berupa prasarana, budidaya tanaman buah-buahan dan sayuran, pola hidup masyarakat dan taman-taman untuk rekreasi atau olah raga. Pengembangan agrowisata dapat diarahkan dalam bentuk ruangan tertutup (seperti museum), ruangan terbuka (taman atau lansekap), atau kombinasi antara keduanya. Tampilan agrowisata ruangan tertutup dapat berupa koleksi alat-alat pertanian yang khas dan bernilai sejarah atau naskah dan visualisasi sejarah penggunaan lahan maupun proses pengolahan hasil pertanian. Agrowisata ruangan terbuka dapat berupa penataan lahan yang khas dan sesuai dengan kapabilitas dan tipologi lahan untuk mendukung suatu sistem usahatani yang efektif dan berkelanjutan. Komponen utama pengembangan agrowisata ruangan terbuka dapat berupa flora dan fauna yang dibudidayakan maupun liar, teknologi budidaya dan pascapanen komoditas pertanian yang khas dan bernilai sejarah, atraksi budaya pertanian setempat, dan pemandangan alam berlatar belakang pertanian dengan kenyamanan yang dapat dirasakan. Agrowisata ruangn terbuka dapat dilakukan dalam dua versi/pola, yaitu alami dan buatan (Anonim, 2004f). Objek agrowisata ruangan terbuka alami ini berada pada areal di mana kegiatan tersebut dilakukan langsung oleh masyarakat petani setempat sesuai dengan kehidupan keseharian mereka. Masyarakat melakukan kegiatannya sesuai dengan apa yang biasa mereka lakukan tanpa ada pengaturan dari pihak lain. Untuk memberikan tambahan kenikmatan kepada wisatawan, atraksi-atraksi spesifik yang dilakukan oleh masyarakat dapat lebih ditonjolkan, namun tetap menjaga nilai estetika alaminya. Sementara 15 fasilitas pendukung untuk

pengamanan wisatawan tetap disediakan sejauh tidak bertentangan dengan kultur dan estetika asli yang ada, seperti sarana transportasi, tempat berteduh, sanitasi, dan keamanan dari binatang buas. Contoh agrowisata terbuka alami adalah kawasan Suku Baduy di Pandeglang dan Suku Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat; Suku Tengger di Jawa Timur, pertanian padi di Bali dengan kelembagaan subaknya dan Papua dengan berbagai pola atraksi pengelolaan lahan untuk budidaya umbi-umbian. Kawasan agrowisata ruang terbuka buatan dapat didesain pada kawasankawasan yang spesifik, namun belum dikuasai atau disentuh oleh masyarakat adat. Tata ruang peruntukan lahan diatur sesuai dengan daya dukungnya dan komoditas pertanian yang dikembangkan memiliki nilai jual untuk wisatawan. Demikian pula teknologi yang diterapkan diambil dari budaya masyarakat lokal yang ada, diramu sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan produk atraksi agrowisata yang menarik. Fasilitas pendukung untuk akomodasi wisatawan dapat disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, namun tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada. Kegiatan wisata ini dapat dikelola oleh suatu badan usaha, sedang pelaksana atraksi parsialnya tetap dilakukan oleh petani lokal yang memiliki teknologi yang diterapkan. Objek agrowisata yang telah berkembang dan tercatat dalam basis data DIrektorat Jenderal Pariwisata 1994/1995 terdapat delapan propinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Objek agrowisata umumnya masih berupa hamparan suatu areal usaha pertanian dari perusahaan-perusahaan besar yang dikelola secara modern ala Barat dengan orientasi objek keindahan alam dan belum menonjolkan atraksi keunikan atau spesifikasi dari aktivitas lokal masyarakat. Untuk membantu meningkatkan masyarakat petani yang berada di pedesaan, prioritas pengembangan agrowisata hendaknya lebih diarahkan pada pengembangan agrowisata ruang terbuka (Anonim, 2004g). Dengan demikian melalui agrowisata bukan semata merupakan

usaha/bisnis dibidang jasa yang menjual jasa bagi pemenuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar, namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian, menjadi media pendidikan masyarakat, memberikan signal bagi peluang pengembangan diversifikasi produk agribisnis 16

dan berarti pula dapat menjadi kawasan pertumbuhan baru wilayah. Dengan demikian maka agrowisata dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru daerah, sektor pertanian dan ekonomi nasional. Potensi agrowisata yang sangat tinggi ini belum sepenuhnya

dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah kebijakan yang konkrit dan operasional guna tercapainya kemantapan pengelolaan Obyek agrowisata di era globalisasi dan otonomi

daerah. Sesuai dengan keunikan kekayaan spesifik lokasi yang dimiliki, setiap daerah dan setiap obyek Wisata Agro dibutuhkan kerjasama sinergis diantara pelaku yang terlibat dalam pengelolaan Wisata Agro, yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah. Sistem Pertanian Bali Sebagai Agrowisata Seperti disinggung sebelumnya, agrowisata adalah kegiatan

kepariwisataan yang memanfaatkan sistem pertanian (produksi, organisasi dan tradisi) sebagai objek kunjungan wisatawan. Apabila kembali pada pengertian kebudayaan, bukankah sistem pertanian di Bali dengan subsistem organisasi dan tradisi merupakan juga kebudayaan yang barangkali di mata wisatawan asing dianggap aneh dan unik dan mengundang rasa ingin tahu lebih jauh, sehingga dapat ditawarkan objek kunjungan wisatawan. Sudah banyak disaksikan setiap tamu asing pasti ingin menyaksikan sistem bercocok tanam padi khas Bali yang ditunjang oleh sistem subaknya. Oleh karena itu, semua aktivitas usahatani padi dengan lembaga penunjang subak dapat berfungsi sebagai objek agrowisata. Walau dari agrowisata ini petani padi belum memperoleh kompensasi langsung, maka berbagai metode atau cara dapat dilakukan, misalnya melalui pajak lingkungan, entry fee, pengalihan sebagian PHR yang diperoleh pemerintah kabupaten kepada subak, dsb. Subak misalnya, bukankah organisasi pertanian yang hanya terdapat di Bali. Demikian pula kelompok-kelompok tani (sekehe) lainnya yang tiada duanya di dunia. Tradisi-tradisi (kebiasaan) dalam sistem pertanian yang tampak aneh dan unik bagi mereka, seperti metekap, ngangon sampi, ngangon bebek dengan penyisih atau lelontekan, menanam padi dan mejukut, memanen padi, menghalau burung dengan pindekan dan oprang-orangan di sawah, cara beternak tradisional, 17

kegiatan pada nelayan menangkap ikan dengan perahu/jala dan kail dan sebagainya. Tradisi-tradisi khas petani Bali seperti ini sering mengundang kekaguman para wisatawan yang berkunjung ke Bali. Bagi wisatawan mancanegara, polah tingkah kerja petani di sawah, di tegalan maupun di lereng bukit menimbulkan kesan tersendiri. Betapa indahnya terrasering yang mereka buat. Betapa rajinnya para petani dan anak-istrinya meniti jalan setapak dan pematang sawah memelihara padi, memanen dan memelihara sayuran dan buah-bauah. Mereka menggarap tanah dan merawat tanaman secara cermat dan hati-hati, ibarat membelai orok baru dilahirkan. Itu seni yang tinggi bercocok tanam, mengolah tanah dan mencintai karunia alam yang merupakan bagian dari budaya pertanian. Hal yang tidak terlihat di Eropa dan Amerika Serikat dengan petaninya yang menguasai lahan puluhan bahkan ratusan hektar. Di samping objek berupa tradisi dan organisasi, masih dalam sistem pertanian Bali, subsistem produksi dengan lokasinya tak kalah menariknya, mengingat ada beberap lokasi produksi pertanian Bali yang tak ada duanya di dunia. Hal dimaksud seperti, agrowisata salak di Sibetan, Leci di Payangan, Kopi di Kintamani dan Pupuan, lomba kerbau makepung di Jembrana, kebun cengkeh di Asah Duren, pengeraman itik di Mengwi, pengembangan taman laut dan ikan hias di pantai Pulau Menjangan, Tulemben, Amed, Serangan yang sering kita kenal sebagai istilah wisata bahari dan pengembangan rumput laut di Nusa Penida. Wisatawan akan lebih suka dan tertarik di samping dapat menyaksikan panorama pertanian yang ada, juga mereka ingin ikut dalam kegiatan tersebut dan dapat menikmati hasilnya seperti kebun anggur, jeruk di Kabupaten Buleleng.

MODEL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN AGROWISATA Di dalam mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis dan agrowisata terutama dihadapkan dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan) dapat ditempuh melalui penerapan pola atau model pengembangan (pattern of development) agribisnis. Dalam konteks bahasan ini, yang dimaksud model pengembangan agribisnis atau agrowisata adalah suatu bentuk atau sistem pengembangan 18

agribisnis dan agrowisata yang mampu memberikan

keuntungan

layak bagi

pelaku-pelaku agribisnis (petani/peternak/pekebun/nelayan/pengusaha kecil dan menengah/koperasi), baik berupa peningkatan pendapatan maupun perluasan kesempatan kerja. Di Indonesia sejak dilaksanakan pembangunan pertanian, telah diterapkan beberapa pola pengembangan pertanian berskala usaha baik untuk komoditi pangan maupun non pangan. Jika dikaji lebih jauh tujuan dan sasaran pola atau model pengembangan yang pernah diterapkan di sektor pertanian, hakekatnya pada

adalah pengembangan sektor pertanian (dalam arti luas) secara

menyeluruh dan terpadu, yakni tidak hanya peningkatan produksi, tetapi juga pengadaan sarana produksi, pengolahan produk, pengadaan modal usaha dan pemasaran produk secara bersama atau bekerjasama dengan pengusaha. Pola pengembangan sektor pertanian semacam ini, jika menggunakan istilah sekarang, tidak lain adalah pengembangan pertanian berdasarkan agribisnis, atau dengan kata lain pengembangan agribisnis. Sedangkan agribisnis yang dikembangkan dengan model tertentu, akhirnya menjadi objek kunjungan wisatawan karena unik dan menarik disebut agrowisata. Di antara pola-pola tersebut ada yang diterapkan oleh pemerintah berupa kebijakan nasional dan ada pola yang telah berhasil diterapkan oleh kelompok masyarakat atau kelompok peneliti, akan tetapi masih bersifat per kasus. Adapun pola-pola dimaksud adalah sebagai diuraikan di bawah ini.

1. Model Unit Pelaksana Proyek (UPP) Model ini merupakan salah satu dari beberapa pola yang diterapkan oleh pemerintah c.q. Direktorat Jenderal Perkebunan sekitar tahun 1970-an dalam rangka memajukan bidang perkebunan di Indonesia. Pada dasarnya Pola UPP adalah suatu pola yang bersifat terpadu (integrated), berfungsi ganda

(multifungsional), terpusat (consentrated) dan berkelanjutan (contoinued). Dalam pola ini petani produsen dibimbing dan dibina, di mana pembinaannya dilakasanakan mulai dari pembibitan, penanaman sampai dengan pengolahan dan pemasaran hasil. Jadi pembinaannya secara menyeluruh termasuk peningkatan keterampilan (skill) para petani dengan jalan melaksanakan kursuskursus, latihan dan bimbingan di dalam unit proyek. Di samping itu, petani di 19

arahkan agar mampu mengorganisasikan diri dalam bentuk kelembagaan tani atau kelompok petani-pekebun, yang di Bali disebut Subak Abian (Anonim, 1987a). Pembinaan semacam ini tidak lain adalah pembinaan secara agribisnis.

2. Model Insus dan Supra Insus Insus adalah rekayasa sosial dan sekaligus rekayasa ekonomi dalam menyelenggarakan intensifikasi yang dilaksanakan atas dasar kerjasama pada anggota kelompoktani dalam satu unit hamparan usahatani (wilayah kelompok) yang luasnya antara 15-50 hektar. Kerjasama antar anggota kelompok dalam satu kelompoktani didasarkan pada musyawarah dan kesepakatan dalam menetapkan rencana dan jadwal kegiatan, serta pembagian tugas (musyawarah dan mufakat) dan setiap anggota kelompok berkewajiban melaksanakan keputusan musyawarah kelompok, sehingga dapat melaksanakan insus sesuai dengan ketentuan (Anonim, 1987c). Supra insus adalah suatu pola peningkatan produksi pertanian melalui rekayasa sosial dan ekonomi dalam menyelenggarakan intensifikasi pertanian yang dilaksanakan atas dasar kerjasama antar kelompoktani pelaksana pada satu WKPP yang luas areal usahataninya lebih kurang 600 1000 hektar. Kerjasama unit hamparan supra insus ini selanjutnya didukung oleh kerjasama kontak tani andalan WKBPP serta kerjasama antar kelompok tani nelayan andalan (KTNA) WKBPP dari sekurang-kurangnya dua WKBPP (dengan luas areal usahatani antara 15.000 sampai 35.000 hektar) yang menjadi satu unit himpunan supra insus (Anonim, 1987 b). Pola ini merupakan penyempurnaan dari pola insus

sebelumnya yang mengarah pada penyempurnaan dan perbaikan paket teknologi untuk meningkatkan produksi padi. Dengan demikian supra insus atau supra intensifikasi khusus mempunyai arti intensifikasi yang lebih ditingkatkan dari paket insus sebelumnya atau insus plus-plus (Insus paket D). Jika dikaji secara seksama, pola insus atau pola supra insus adalah pembinaan petani padi secara terpadu, mulai dari masalah teknis, pengadaan sarana produksi, pengadaan pembiayaan (kredit), sampai ke masalah pemasan oleh KUD ataupun Bulog, sehingga pola ini tidak lain adalah penerapan konsepkonsep agribisnis pada budidaya Padi di Indonesia umumnya dan Bali khususnya.

20

3. Model Inkubator Kata inkubator berasal dari bahasa Inggris yaitu Incubator yang akar katanya to incube yang berarti memeram, mengeram atau memelihara dari saat muda atau lemah dengan memberikan kondisi yang vavourable, sehingga

menjadi kuat. Kata ini dipakai dalam ilmu peternakan untuk menetaskan telur ayam yang popular disebut sebagai mesin tetas. Kata ini dipakai juga pada rumah sakit yaitu kotak pemanas untuk bayi yang lahir premature (belum waktunya). Pengertian inkubator ini mengandung pengertian dasar yang sama, yaitu memberikan bantuan, lingkungan yang nyaman, misalnya pada bayi prematur diberikan suhu lingkungan yang nyaman, makanan yang bergizi, perawatan kesehatan yang baik dan teratur agar bayi yang lahir prematur ini kelak tumbuh menjadi bayi yang normal dan tahan mengatasi lingkungan. Dengan mengambil analogi pengertian tersebut, maka kata inkubator digunakan juga dalam membantu dan membina pengusaha kecil dan menengah yang baru mulai, belum berpengalaman, lemah dalam segala segi baik modal, pengetahuan, pemasaran, teknologi, dan fasilitas lain yang diperlukan. Diharapkan dalam waktu tertentu (23 tahun) pengusaha kecil dan menengah yang serba lemah ini mampu menjadi pengusaha yang kuat dan mandiri dalam melaksanakan usahanya. Model inkubator yang banyak diterapkan di Amerika Serikat, telah diadopsi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerja sama dengan Departemen Pertanian untuk menetaskan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah baru termasuk di bidang agribisnis, sebagai sarana untuk percepatan budaya kewirausahaan di Perguruan Tinggi. 4. Model Modal Ventura Untuk mengembangkan usaha agribisnis, salah satu faktor penghambat adalah kelangkaan modal pinjaman dengan biaya atau bunga modal yang terjangkau oleh pengusaha kecil maupun pengusaha skala menengah. Salah satu upaya pemerintah menanggulangi kelangkaan sumber-sumber permodalan tersebut adalah dengan menggali sumber modal yang berasal dari lembaga non perbankan. Badan Agribisnis- Departemen Pertanian bekerjasama dengan PT bahama Artha Ventura dan Perusahaan Modal Bentura Daerah (PMVD) untuk memanfaatkan modal ventura sebagai sumber permodalan bagi 21

pengusaha agribisnis kecil dan menengah. Tujuannya adalah menumbuhkan serta menggairahkan kemampuan berusaha pengusaha kecil dan menengah dengan mengusahakan bantuan yang diperlukan tanpa mengabaikan kaidahkaidah bisnis yang sehat dengan jalan: (a) Mengadakan penyertaan modal dasar; (b) Mengadakan identifikasi proyek yang diusulkan serta menyusun usulan

proyek bagi proyek dimaksud; (c) Menyediakan dana dan tenaga yang diperlukan Modal Ventura adalah suatu jenis pembiayaan berupa penyertaan modal bersifat sementara oleh Perusahaan Modal Ventura (PMV) kepada Perusahaan Pasangan Usaha (PPU), baik perorangan, kelompok maupun usaha berbadan hukum dengan model pembagian keuntungan yang akan ditentukan bersama oleh PMV dan PPU.

5. Model Kemitraan 5.1. Model Kemitraan Vertikal Kemitraan vertikal adalah kemitraan antara perusahaan yang lebih kuat dengan usaha yang lebih lemah, di mana yang kuat menggandeng yang lemah. Ada beberapa bentuk kemitraan vertikal, antara lain:

1. Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Model atau Pola PIR adalah bentuk usaha kerjasama antara perusahaan (perkebunan, peternakan, perikanan) yang bertindak sebagai petani/peternak/nelayan/petambak disekitarnya sebagai inti dengan dengan

plasma

menerapkan sistem agribisnis dalam upaya pendekatan sasaran pembangunan pertanian dalam arti luas (Anonim, ?). Pola PIR ini biasanya dilaksanakan pada areal baru dan intilah yang bertindak sebagai agen pembangunan (agent of development) melalui transfer teknologi yang dimiliki kepada plasma. Pada pola ini perusahaan inti di samping mengusahakan kebunnya atau ternaknya atau usaha perikanannya atau tambaknya sendiri juga berkewajiban membantu petani/peternak/pekebun/petambak/nelayan peserta dalam membangun

usahataninya dengan teknologi maju, pengolahan dan pemasaran hasil.. Jadi pada hakekatnya perusahaan inti yaitu perusahaan yang melaksanakan fungsi bimbingan, pengolahan, pelayanan sarana produksi, kredit dan pemasaran hasil sambil mengusahakan usahatani yang dimiliki dan dikuasainya. 22

2. Pengelola Pola pengelola adalah suatu bentuk kerjasama yang saling

menguntungkan antara petani dengan perusahaan pengelola, yang mana perusahaan pelayanan melaksanakan sarana produksi, fungsi kredit perencanaan, dan bimbingan, hasil, pengolahan, tetapi tidak

pemasaran

menyelenggarakan usahatani sendiri (Anonim, 1987b). Jadi pada hakekatnya pola pengelola adalah pola pembinaan petani dengan sistem agribisnis.

3. Langganan Kemitraan yang berbentuk langgaran merupakan perjanjian kontrak jual beli dalam jumlah tertentu antara dua pihak atau lebih. Sebagai contoh peternak ayam buras melakukan kontrak dengan rumah makan. Dalam perjanjian tersebut peternak menyediakan ayam dalam jumlah dan kualitas tertentu setiap hari sesuai dengan kebutuhan rumah makan. Dengan pola kemitraan ini, peternak merasa aman karena ayam yang dipelihara sudah ada yang membeli dan pihak restoran tidak khawatir kekurangan ayam yang harus dimasak tiap hari.

4. Bapak Angkat Kemitraan bapak angkat ini biasanya lebih bersifat bantuan (amal) dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Salah satu contohnya adalah BUMN yang sudah memperoleh profit besar memberikan modal tanpa bunga kepada peternak di daerah miskin.

5.2. Kemitraan Horizontal Kemitraan horizontal pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam tiga bentuk, yaitu ikatan untuk meningkatkan nilai komoditas, ikatan nasehat usaha atau bantuan teknis, dan ikatan kompetitor. horizontal, antara lain: 1. Ikatan Tindakan untuk Meningkatkan Nilai Komoditas Dua atau lebih perusahaan secara bersama-sama terikat dalam mata rantai kegiatan untuk menciptakan nilai barang, tetapi kekayaan dan modal dalam operasi masing-masing perusahaan terpisah. Kemitraan jenis ini dapat berupa 23 Ada beberapa bentuk kemitraan

kemitraan pasar, kemitraan produksi, dan kemitraan teknologi. Kemitraan pasar dapat berjalan dalam berbagai bentuk, seperti merek dagang bersama, ikatan promosi bersama, saling tukar langganan, iIkata jual grosir, ikatan kantor

pemasaran/penyaluran bersama, ikatan prosesing bersama. Kemitraan produksi dalam agribisnis dapat dilakukan dengan tujuan untuk menekan biaya produksi. Berikut ini beberapa bentuk kemitraan produksi, antara lain: penggunaan fasilitas transportasi bersama, ikata pembelian bahan baku bersama. Kemitraan Teknologi dapat mengambil berbagai bentuk antara lain: ikatan riset dan pengembangan.

2. Ikatan Nasehat Usaha Pada ikatan nasehat, usaha atau bantuan teknis, dua atau lebih perusahaan bersama-sama terikat untuk melakukan tukar-menukar pengalaman, informasi, dan cara melakukan bisnis. 3. Ikatan Kompetitor Pada ikatan kompetitor, dua atau lebih perusahaan yang bersama-sama menghadapi satu pesaing untuk memenangkan suatu objek, misalnya kontrak, tender, dan pasar. Contohnya, jika ada 12 perusahaan diundang untuk mengikuti tender. Agar jumlah pesaingnya mengecil, maka tidap tiga perusahaan membentuk kesepakatan kerjasama, sehingga arena persaingan menjadi empat kelompok kerja.

PENUTUP 1. Agribisnis yaitu kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang

kegiatan yang berorientasi bisnis. Sedangkan yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian. 24

2. Agrowisata (Agricultural Tourism), yaitu kawasan, komoditi atau kegiatan pertanian dalam arti luas, yang menjadi objek kunjungan wisatawan dalam usaha memperoleh kenikmatan lahir dan atau batin, serta dalam waktu bersamaan kemungkinan juga wisatawan melakukan pembelian produk-

produk kawasan pertanian yang dikunjungi atau petani menyediakan berbagai paket atraksi yang berkaitan dengan pertanian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani, baik secara individu maupun kelompok. 3. Dalam memacu laju pertumbuhan sektor pertanian khususnya dan sektor agribisnis umumnya, maka pengembangan agribisnis dan agrowisata melalui model atau pola atau sistem tertentu sudah merupakan suatu keharusan. Namun dalam pengembangannya harus tetap memperhatikan kondisi lokaslitas yang mendukung pengembangan pola tersebut. 4. Model pengembangan pertanian yang pada hakekatnya adalah menerapkan prinsip-prinsip agribisnis untuk memacu pertumbuhan pendapatan petani adalah model UPP, model Insus dan Supra Insus, model PIR, model TIR, model Pengelola. Semua model-model tersebut telah pernah diterapkan secara nasional dalam bentuk kebijakan pemerintah dengan hasil yang memuaskan. 5. Model yang diterapkan untuk memacu pertumbuhan tanaman perkebunan adalah pola UPP, pola PIR dan pola Pengelola. Pola UPP sudah tidak lagi diterapkan karena ketiadaan anggaran untuk mendukung kegiatan tersebut. 6. Model yang diterapkan untuk memacu pertumbuhan tanaman pangan adalah model Insus dan Supra Insus, yang telah menunjukkan hasil sampai Indonesia mampu berswasembada beras tahun 1984 dan mampu mempertahankannya sampai tahun 1990-an.

25

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2004a. Definisi Agrowisata. In Website Deptan.go.idf. Anonim. 2004b. Agricultural Tourism in a Vital Part of EcoAgroAdventure, ISAIs New Paradigm of Sustainable Developmen. Website google: Agricultura Tourism. Anonim. 2004c. Agri-Tourism Information Wanted. Website google: Agricultura Tourism. Anonim. Anonim. 2004d. Membangun Pilar Agrowisata Indonesia. http://database.deptan.go.id/agrowisata/viewfitur.asp?id=4). 2004e. Strategi Pengembangan Agrowisata http://database.deptan.go.id/agrowisata/index.asp). di Indonesia. In In

Davis, H.J. and R.A. Golberg. 1957. A Concept of Agribusiness. Harvard Graduate School of Business Administration. Boston, Massachusets. Downey, W.D and Erickson, S.P. 1987. Agribusiness Managemen. Mc Graw-Hill, Inc, New York. Second Edition. Jolly, Desmond A. 2004a. Agricultural Trourism: Emerging Opportunities for Family Farmers and Rural Business. Website: google, Agricultural Tourism. Jolly, Desmond A. 2004b. Fact Sheets for Managing Agri- dan Natur- Tourism Operation: What is Agri-Tourism. Website google: Agricultural Tourism. Leones, J; D. Dunn; M. Worden and R.E. Call. 2004. Agricultural Trourism in Cochise, Arizona Characteristic and Economic Impact. Michigan State University Extension, Tourism education Material, Arizona. Lobo, Ramiro E. 2004. Agricultural Trourism, Helpful Agricultural Torusim (Agritourism) Definitions. Website google: Agricultural Tourism. Lobo Raniro E., George E. Goldman - Desmond A. Jolly; B. Diane Wallace Wayne L. Schrader - Scott A. Parker. 1999. Agricultural Tourism, Agrirtourism benefits Agricultura in Snadiego County. Website google: Agricultural Tourism. Saragih, B. 1998. Agribisnis, Pardigma Baru Pembangunan EKonomi Berbasis Pertanian. Penerbit Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan, Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.

26