Anda di halaman 1dari 39

ANALISA LAPORAN KEUANGAN PADA P.T SEMEN BATURAJA DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS RASIO KEUANGAN 1.

Latar Belakang PT Semen Baturaja (Persero) didirikan 14 November 1974 oleh PT Semen Gresik dengan saham 45% dan PT Semen Padang 55%. Pada tanggal 9 November 1979 status perusahaan berubah dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi Persero dengan komposisi saham Pemerintah Republik Indonesia 88%, PT Semen Padang 7% dan PT Semen Gresik 5%. Sejak tahun 1991 diambil alih secara keseluruhan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Produksi yang dihasilkan oleh PT Semen Baturaja (Persero) adalah Semen Portland Type I dengan lokasi pabrik di Baturaja, Palembang dan Panjang. Pusat Produksi terletak di Baturaja yaitu produksi terak. Sedangkan proses penggilingan dan pengantongan semen selain dilaksanakan di Pabrik Baturaja sendiri juga dilaksanakan di Pabrik Palembang dan Panjang yang selanjutnya siap untuk didistribusikan ke daerah-daerah pemasaran. Untuk penyempurnaan peralatan yang sudah ada dalam rangka pencapaian kapasitas terpasang yaitu sebesar 500.000 ton semen per tahun, sekaligus persiapan untukmeningkatkan kapasitas terpasangPT Semen Baturaja (Persero) melaksanakan Proyek Optimalisasi I (OPT I). Proyek ini dimulai tahun 1992 dan selesai tahun 1994 dengan kapasitas terpasang meningkat menjadi 550.000 ton semen per tahun.

Sebagai tindak lanjut proyek OPT I, pada tahun 1996 perseroan melaksanakan Proyek Optimalisasi II (OPT II), untuk meningkatkan kapasitas menjadi sebesar 1.250.000 ton semen per tahun. Proyek OPT II selesai tahun 2001 dan telah berproduksi sampai dengan sekarang. Bahan baku produksi berupa batu kapur dan tanah liat diperoleh dari pertambangan batu kapur dan tanah liat milik perseroan yang berlokasi hanya 1,2 km dari pabrik di Baturaja. Sedangkan bahan baku pendukung seperti pasir silika diperoleh dari tambang rakyat di sekitar Baturaja, pasir besi diperoleh dari tambang rakyat di provinsi Lampung, gypsum dibeli dari Petro Kimia Gresik dan impor dari Thailand, sedangkan kantong semen diperoleh dari produsen kantong jadi di dalam negeri. Pada tanggal 20 Juni 2004 PT Semen Baturaja (Persero) menerbitkan Obligasi I sebesar Rp.200 milyar. Emisi obligasi ini merupakan program lanjutan Restrukturisasi keuangan dalam rangka meningkatkan profitabilitas sekaligus likuiditas perusahaan. Daerah pemasaran utama PT Semen Baturaja (Persero) adalah Sumatera Bagian Selatan, yaitu Sumatera Selatan dan Lampung. Sumatera Selatan dan Lampung merupakan wilayah di Indonesia yang menikmati petumbuhan ekonomi yang cukup baik dan stabil. Pada tahun 2009, pertumbuhan nasional mencapai 0,9 %, sedangkan rata-rata pertumbuhan

Sumbagsel mencapai 2,3 % hal ini memberi peluang bagi Semen Baturaja untuk meningkatkan penjualan dan mencapai kapasitas terpasang. Setelah diselesaikannya penambahan kapasitas produksi pada tahun 2001, peluang untuk meningkatkan pendapatan di masa datang terbuka lebar. Selain itu secara historis kemampuan perusahaan dalam mengelola masalah operasional dan menjaga profitabilitas operasi terbukti cukup baik. Dalam menyalurkan produknya perusahaan menggunakan distributor dengan jaringan yang tersebar diseluruh wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, Banten dan sekitarnya. Sebagian besar penjualan atau transaksi perusahaandilakukan dalam bentuk tunai, sedangkan untuk penebusan semen secara kredit para distributor diwajibkan untuk menyediakan jaminan dalam bentuk bank garansi dan/atau bentuk jaminan lainnya. Keberadaan PT Semen Baturaja (Persero) banyak memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung, berupa pajak dan retribusi kepada Pemerintah Pusat dan Daerah, dividen kepada Pemegang Saham, kesempatan kerja, maupun dalam bentuk kemitraan dan bina lingkungan bagi masyarakat sekitar pabrik. Visi PT. Semen Baturaja sendiri adalah menjadi produsen semen yang efisien, mempunyai daya saing dan tumbuh. Misi perusahaan

1. Memproduksi semen yang berkualitas, efisien dan memasarkannya dengan mengutamakan kepuasan pelanggan serta berwawasan lingkungan. 2. Membangun sumber daya manusia yang profesional. 3. Memaksimalkan nilai tambah bagi stake holder (http://www.semenbaturaja.co.id) P.T Semen Baturaja selalu mengutamakan produk yang berkualitas dan selalu memperhatikan kenyamanan bagi pelangganya, serta membuktikan bahwa mampu bersaing dengan produk lain dan selalu mengalami kemajuan dari masa-kemasa, Kemajuan ini memberikan motivasi bagi para manjer dan karyawan di dalam perusahaan yang selalu memberikan kontribusi penting dalam mengelola aspekaspek manajemen mulai dari sumberdaya, operasional, strategi, pasar, dan keuanganya demi tercapainnya tujuan di dalam perusahaan. Seiring dengan krisis multi dimensi yang melanda Indonesia, banyak masalah dan penderitaan yang dialami bangsa ini. Yang termasuk menonjol adalah dalam aspek ekonomi, yakni terpuruknya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang bangkrut, perbankan yang dilikuidasi dan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang menganggur. Penyebab dari krisis ini, menurut Tarmidi (1999:1), bukanlah karena fundamental ekonomi yang lemah saja, tetapi karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang cukup besar. Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat adanya spekulasi dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam

jumlah yang besar dan secara bersamaan sehingga permintaan akan dollar meningkat, ditambah lagi dengan banyak terjadinya bencana alam yang mengakibatkan nilai tukar rupiah yang semakin lemah. untuk mengetahui kinerja perusahaan dalam kurun waktu tertentu, serta untuk melihat tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat resiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan. Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan, yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara melakukan analisis dalam bentuk rasio rasio keuangan. Foster (1986) menyatakan empat hal yang mendorong analisis laporan keuangan dengan model rasio keuangan yaitu : 1. Untuk mengendalikan pengaruh perbedaan besaran antar perusahaan atau antar waktu 2. untuk membuat data menjadi lebih memenuhi asumsi alat statistik yang digunakan 3. untuk menginvestigasi teori yang terkait dengan rasio keuangan 4. untuk mengkaji hubungan empirik antara rasio keuangan dan estimasi atau prediksi variabel tertentu (seperti kebangkrutan atau financial distress).

Analisis laporan keuangan mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa yang akan datang, informasi analisa laporan keuangan sangat bermanfaat untuk berbagi pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. 2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah di uraikan di atas, maka perumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah kinerja perusahaan dalam kegiatan produksinya untuk

menghasilkan nilai profitabiltas pada kurun waktu tertentu selalu stabil ataukah mengalami perubahan penurunan dan kenaikan 2. Apakah perusahaan P.T semen baturaja dapat digolongkan perusahaan yang sehat dalam kinerja keuangan nya pada kurun waktu tertentu 3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan), dan tingkat resiko atau tingkat kesehatan pada perusahaan P.T semen baturaja. 2. Untuk menilai prestasi manajamen masa lalu dan

prospeknya di masa yang akan datang.

4. Kegunaan Penelitian 1. Bagi P.T Semen Baturaja Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi perusahaan P.T semen baturaja dalam menganalisa laporan keuangan perusahaan dalam kurun waktu tertentu. 2. Bagi pihak lain yang berkepentingan a. Bagi pihak manajemen : untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi,pengembangan karier. b. Bagi pemegang saham : untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan,keamanan investasi. c. Bagi kreditor : untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi hutang beserta bunganya. d. Bagi pemerintah : untuk pembayaran pajak, serta persetujuan untuk go public. e. Bagi karyawan : penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja. 3. Bagi peneliti Penelitian ini untuk menambah wawasan dan kemampuan dan sebagai penerapan teori-teori serta ilmu pengetahuan yang diperoleh selama

mengikuti perkuliahan, dan sebagai syarat menyelesaikan studi di fakultas Ekonomi Universitas Baturaja.

5. Tinjauan Pustaka 5.1. Landasan Teori 1.1 laporan keuangan Laporan keuangan merupakan kombinasi dari data keuangan suatu perusahaan yang menggambarkan kemajuan perusahaan dan dibuat secara periodik. Ada beberapa pengertian laporan keuangan diantaranya sebagai berikut: Menurut IAI (IAI, 2002 : 2) : Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap yang biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana) catatan (notes) dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Menurut Munawir (2000 : 2), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak pihak yang berkepentingan dengan dana atau aktivitas perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Harnanto (1998:3), laporan keuangan adalah keadaan keuntungan dan hasil usaha perusahaan serta memberikan rangkuman historis dari

sumber ekonomi, kewajiban perusahaan dan kegiatan yang mengakibatkan perubahan terhadap sumber ekonomi yang dinyatakan secara kuantitatif dalam satuan mata uang.

Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. 1.2. Tujuan Laporan Keuangan Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan dengan tujuan memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan keputusan investasi dan pendanaan, seperti yang dinyatakan dalam SFAC No. 1 bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi : 1. untuk keputusan investasi dan kredit, 2. mengenai jumlah dan timing arus kas, 3. mengenai aktiva dan kewajiban, 4. mengenai kinerja perusahaan, 5. mengenai sumber dan penggunaan kas, 6. penjelas dan interpretif, serta 7. untuk menilai stewardship. Ketujuh tujuan ini terangkum dengan disajikannya laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas dan pengungkapan laporan keuangan. Menurut PSAK No. 1 : Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas, perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan keputusn ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber sumber daya yang

dipercayakan kepada mereka dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliput: 1) aktiva, 2) kewajiban, 3) ekuitas, 4) pendapatan, beban termasuk keuntungan dan kerugian, 5) arus kas.

1.3 Komponen Laporan Keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen komponen berikut ini: a) Neraca b) Laporan laba rugi c) Laporan perubahan ekuitas d) Laporan arus kas e) Catatan atas lapoaran keuangan.

1.3.1 Neraca Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu maksudnya adalah menunjukkan keadaan keuangan pada tanggal tertentu biasanya pada saat tutup buku. Neraca minimal mencakup pos pos berikut (IAI, 2004) : a) Aktiva berwujud, b) Aktiva tidak berwujud, c) Aktiva keuangan, d) Investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas,

e) Persediaan, f) Piutang usaha dan piutang lainnya, g) Kas dan setara kas, h) Hutang usaha dan hutang lainnya, i) Kewajiban yang diestimasi, j) Kewajiban berbunga jangka panjang, k) Hak minoritas, l) Modal saham dan pos ekuitas lainnya.

1.3.2 Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis mengenai penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu (Munawir, 2000:26). Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi perusahan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos pos berikut (IAI, 2004:) : a) Pendapatan, b) Laba rugi usaha, c) Beban pinjaman, d) Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas, e) Beban pajak,

f) Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, g) Pos luar biasa, h) Hak minoritas, i) Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.

1.3.3 Laporan Perubahan Ekuitas Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukan (IAI, 2004) : a) Laba atau rugi bersih perode yang bersangkutan, b) Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas, c) Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait, d) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik, e) Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahan, dan f) Rekonsiliasi antar nilai tercatat dari masing masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan. 1.3.4 Laporan arus kas Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptsi dengan perubahan keadaan dan peluang (IAI, 2004). Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan. 1.3.5 Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan (IAI, 2004) : a) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting,

b) Informasi yang diwajibkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas, c) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secar wajar.

1.4 Analisis Laporan Keuangan Menurut Leopold A. Bernstein, analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan 2.Rasio Keuangan Untuk dapat memproleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu perusahaan, perlu mengadakan analisa atau interprestasi terhadap data finansial dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam laporan keuangan. Ukuran yang sering digunakan dalam analisa finansial adalah ratio. Laporan Keuangan dibuat agar dapat digunakan suatu kegunaan yang penting adalah dalam menganalisis kesehatan ekonomi perusahaan. Menurut Kown ( 2004 ; 107 ) : Hasil dari menganalisis laporan keuangan adalah rasio keuangan berupa angka-angka dan rasio keuangan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan.

analisa Laporan Keuangan menyangkut pemeriksaaan keterkaitan angka angka dalam laporan keuangan dan trend angka angka dalam beberapa periode, satu tujuan dari analisis laporan keuangan menggunakan kinerja perusahaan yang lalu untuk memperkirakan bagaimana akan terjadi dimasa yang akan datang. Menurut Van Horne ( 2005 : 234) : Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Kita menghitung berbagai rasio karena dengan cara ini kita bisa mendapat perbandingan yang mungkin akan berguna daripada berbagai angka mentahnya sendiri. Meskipun analisis rasio mampu memberikan informasi yang bermanfaat sehubungan dengan keadaan operasi dan kondisi keuangan perusahaan, terdapat juga unsur keterbatasan informasi yang membutuhkan kehati hatian dalam mempertimbangkan masalah yang terdapat dalam perusahaan tersebut.

Menurut Kown (2004: 108) : Rasio keuangan setidaknya dapat memberikan jawaban atas empat pertanyaan yaitu : 1. Bagaimana Likuiditas Perusahaan 2. Apakah Manajemen efektif menghasilkan laba operasi atas aktiva 3. Bagaimana perusahaan didanai 4. Apakah pemegang saham biasa mendapatkan tingkat pengembalian yang cukup.

Hal ini disebabkan sulitnya mendapatkan rata rata pembanding yang tepat bagi perusahaan yang mengoperasikan beberapa divisi yang berbeda pada industri yang berlainan. Sebagai salah satu bentuk informasi yang relevan dan kegunaanya yang efektif dalam menganalisa rasio dalam pengambilan keputusan. Dalam melakukan analisa, penganalisa dapat menggunakan dua macam perbandingan yaitu : 1. Membandingkan rasio sekarang dengan rasio rasio yang lalu atau dengan rasio rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. 2. Membandingkan rasio perusahaan dengan rasio rasio yang sejenis dengan perusahaan lain yang sejenis, dan pada waktu yang sama. Menurut Sumber datanya Van Horne ( 2005 : 234) : Angka rasio dapat dibedakan atas : 1. Rasio rasio neraca ( Balance Sheet Ratio ), yaitu ratio ratio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya current ratio, acid test ratio, current asset to total asset ratio, current liabilities to total asset ratio dan lain sebagainya. 2. Rasio rasio Laporan Laba Rugi ( Income Statement Ratio ), ialah data yang disusun dari data yang berasal dari income statement, misalnya gross profit, net margin, operating margin, operating ratio dan sebagainya.

3. Rasio rasio antar Laporan Keuangan ( Intern Statement Ratio), ialah ratio ratio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data lainya berasal dari income statement, misalnya asset turnover, Inventory turnover, receivable turnover, dan lain sebagainya. Rasio keuangan dapat dibagi kedalam tiga bentuk umum yang sering dipergunakan yaitu : Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas. 1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) A. Rasio Lancar (Current Ratio) Aktiva Lancar Current Ratio = -------------------------Hutang Lancar Rasio lancar sangat berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, dimana dapat diketahui sampai seberapa jauh sebenarnya jumlah aktiva lancar perusahaan dapat menjamin hutang lancarnya. Semakin tinggi rasio berarti semakin terjamin hutang-hutang perusahaan kepada kreditor. Current ratio 2.0 kadang-kadang sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah modal kerja dan besarnya rasio tergantung pada beberapa faktor, suatu standard atau rasio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh perusahaan. Current ratio 2.0 hanya merupakan kebiasaan dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan penelitian atau analisa lebih lanjut.

Bagi perusahaan yang mempunyai hubungan baik dengan kreditor atau posisinya kuat terhadap pemasok, mungkin perusahaan tidak perlu memiliki rasio yang tinggi. Sebagai contoh supermarket. Posisi supermarket terhadap pemasok biasanya adalah cukup kuat. Dengan kondisi demikian maka supermarket dapat membayar hutangnya setelah 3 atau 4 bulan, sedangkan penjualan dilakukan secara tunai. Dalam kondisi demikian rasio lacar tidak perlu terlalu Rasio lancar mempunyai sifat tingginya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, pada toko pakaian ketika menjelang hari-hari raya permintaan akan pakaian mulai meningkat, kemudian menurun mencapai titik terbawah lagi pada hari raya tersebut. Untuk menghadapi kenaikan permintaan tersebut toko pakaian harus menaikkan besarnya persediaan. Kalau peningkatan persediaan barang dagangan tersebut dibiayai dengan cara mengurangi uang tunai perusahaan, maka rasio lancar perusahaan tidak mengalami perubahan. Sebab pada transaksi seperti itu hanya struktur aktiva lancarnya saja yang mengalami perubahan, sedangkan nilai total aktiva lancar dan nilai total passiva lancarnya tidak mengalami perubahan, sehingga rasio lancar tidak mengalami perubahan. Akan tetapi jika penumpukan persediaan dilaksanakan dengan cara dibiayai dari pinjaman jangka pendek, maka ketika volume penjualan tinggi, rasio lancar perusahaan akan menurun. Oleh karena itu untuk mengukur tingginya likuiditas perusahaan lebih baik untuk mempergunakan angka perputaran modal kerja daripada mempergunakan rasio lancar. Adapun pertimbangannya ialah karena

angka perputaran modal kerja tidak banyak dipengaruhi oleh sifat musiman, relatif dibandingkan dengan rasio lancar.

B. Rasio Uji Cair (Acid Test Ratio) Aktiva Lancar - Persediaan Acid test ratio = --------------------------------------Hutang Lancar

Rasio ini sering juga disebut sebagai Quick ratio, dimana rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid daripada piutang. Jika current ratio tinggi tapi quick rationya rendah menunjukkan adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan. Sebagai pegangan kasar biasanya angka 1.0 untuk rasio uji cair merupakan angka minimum yang perlu dipertahankan oleh perusahaan agar perusahaan tidak mengalami ketidakmampuan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya.

C. Rasio Kas (Cash Ratio) Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Pengertian kas kadang-kadang diperluas dengan setara kas (cash

equivalent) meliputi surat berharga yang mudah diperjualbelikan. Rumus perhitungannya adalah : Kas + Surat Berharga ----------------------------------- = X Hutang Lancar

D. Perputaran Piutang (Turn Over Receivable) Hasil Penjualan Kredit Turn Over Receivable = --------------------------------Rata-rata Piutang

Rasio perputaran piutang memberikan analisa mengenai beberapa kali tiap tahunnya dana yang tertanam dalam piutang berputar dari bentuk piutang kebentuk uang tunai, kemudian kembali kebentuk piutang lagi. Rata-rata piutang kalau memungkinkan dapat dihitung secara bulanan (saldo tiap-tiap akhir bulan dibagi tigabelas) atau tahunan yaitu saldo awal tahun ditambah saldo akhir tahun dibagi dua. Makin tinggi rasio (turn over) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang, mungkin karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif, dll.

Kalau tujuannya hanya sekedar untuk menilai tingginya likuiditas aktiva lancar jangka pendek, andaikan masa penagihan rata-rata angkanya sudah tersedia, maka rasio perputaran piutang tidak diperlukan lagi. Apabila masa penagihan rata-ratanya rendah, maka rasio perputaran piutang mempunyai nilai yang tinggi.

E. Lama Penagihan Rata-rata (Average Collection Period)

Piutang Usaha ------------------------- X 365 hari = hari Penjualan Kredit Atau 365 hari ------------------------- = hari Perputaran Piutang

Rasio ini biasanya dipergunakan sebagai tolak ukur untuk menilai tingkat likuiditas aktiva lancar yang berbentuk piutang jangka pendek. Dalam menginterprestasikan rasio lama penagihan rata-rata ini, dasar perbandingan yang paling tepat dipergunakan ialah jangka waktu kredit penjualan. Misalkan jangka waktu kredit penjualan yang dipergunakan oleh perusahaan adalah dua bulan (60 hari), dan masa penagihan rata-rata sebesar 49 hari, maka dapat diinterprestasikan bahwa tingkat likuiditas sangat tinggi. Sedangkan apabila jangka waktu kredit penjualan yang dipergunakan satu bulan, maka berarti sekitar

19% dari piutang telah mengalami keterlambatan pembayaran selama rata-rata 19 hari.

F. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)

Harga Pokok Penjualan Turn Over Persediaan = ------------------------------------------Persediaan Barang Dagangan Rata-rata Turn over ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang dagangan diganti atau dijual dalam satu tahun. Perputaran yang tinggi menunjukkan tingkat persediaan yang ada cukup baik. Untuk perusahaan dagang, perputaran persediaannya disebut merchandise turnover. Sedangkan untuk perusahaan pabrik, perputaran persediaan bisa dalam bentuk perputaran bahan baku, bahan pembantu, suku cadang, barang setengah jadi atau perputaran persediaan dalam proses. Rasio perputaran persediaan hanya perlu dihitung pada perusahaan yang keberadaan persediaan cukup penting, baik dalam menunjang kegiatan usaha maupun sebagai barang yang dijual.

2. Rasio Solvabilitas

A. Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aktiva (Ratio of Owners Equity to Total Assets)

Rasio ini menunjukan pentingnya sumber modal pinjaman dan tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin kecil jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Rasio ini disebut juga proprietory ratio yang menunjukan tingkat solvabilitas perusahaan dengan anggapan bahwa semua aktiva dapat direalisir sesuai dengan yang dilaporkan dalam neraca. Rumus perhitungannya adalah : Modal Sendiri ---------------------- = X Total Aktiva B. Rasio Modal Sendiri dengan Aktiva Tetap (Ratio of Owners Equity to Fixed Assets) Jika rasio ini lebih dari 100 % berarti modal sendiri melebihi total aktiva tetap dan menunjukan aktiva tetap seluruhnya dibiayai oleh pemilik perusahaan dan sebagian dari aktiva lancar juga dibiayai oleh pemilik perusahaan. Sebaliknya jika rasio dibawah 100 %berarti sebagian aktiva tetapnya dibiayai dengan modal pinjaman jangka pendek / jangka panjang sedang aktiva lancarnya seluruhnya dibiayai dengan modal pinjaman.

Rumus perhitungannya : Modal Sendiri ------------------------ = X Aktiva Tetap C. Rasio Aktiva Tetap dengan Hutang Jangka Panjang Rasio ini mengukur tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor jangka panjang Disamping itu juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

memperoleh pinjaman baru dengan jaminan aktiva tetap. Semakin tinggi rasio ini semakin besar jaminan dan kreditor jangka panjang semakin aman atau terjamin dan semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman. Rumus perhitungannya : Total Aktiva Tetap ----------------------------------------- = X Total Hutang Jangka Panjang

D. Nilai Buku Saham Nilai buku per lembar saham menunjukkan jumlah rupiah yang akan dibayarkan kepada setiap lembar saham apabila perusahaan pada saat itu dibubarkan dengan anggapan bahwa semua aktiva dapat direalisir atau dijual dengan harga yang sama dengan nilai bukunya. Dalam penghitungannya nilai buku saham jika ada saham yang sudah dipesan (subscribed) walaupun saham tersebut belum diserahkan kepada pemesan, maka jumlah tersebut harus ditambahkan pada jumlah modal yang sudah beredar.

Sebaliknya bila ada saham yang dibeli kembali oleh perusahaan (treasury stock) maka harus dikurangkan terhadap jumlah modal saham yang beredar.

Rumus ratio ini adalah sebagai berikut: Modal Saham --------------------------------- = X Jumlah lembar saham E. Rasio Total Hutang terhadap Total Aktiva (Total Debt to Total Assets Ratio) Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi resiko keuangan perusahaan. Dalam batas tertentu bank akan sulit untuk mengabulkan permohonan kredit. Hanya saja setiap bank batasnya berbeda. Rumus perhitungannya adalah : Total Hutang ----------------------- = . % Total Aktiva

3. Rasio Rentabilitas A. Rasio Laba Usaha dengan Aktiva Usaha (Ratio Operating Income dengan Operating Assets) Profitability suatu perusahaan dapat diukur dengan menghubungkan antara keuntungan atau laba yang diperoleh dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau assets yang digunakan untuk menghasilkan

keuntungan tersebut (operating assets). Yang dimaksud dengan operating assets adalah semua aktiva kecuali investasi jangka panjang dan aktiva-aktiva lain yang tidak digunakan dalam kegiatan atau usaha memperoleh penghasilan yang rutin atau usaha pokok perusahaan. Rumus perhitungannya adalah : Laba Usaha ---------------------------- = X Aktiva Usaha Rasio ini akan mencerminkan keuntungan yang diperoleh tanpa mengingat dari mana sumber modal dan menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam melaksanakan operasi sehari-hari. B. Perputaran Aktiva Usaha ( Operating Assets Turnover) Rumus ratio Perputaran Aktiva Usaha: Penjualan ------------------------- = X Aktiva Usaha Rasio ini menunjukkan seberapa jauh aktiva telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan berapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Turnover yang tinggi menunjukkan management yang efektif tetapi dapat juga turnover yang tinggi disebabkan aktiva perusahaan yang sudah tua dan sudah habis disusut, jadi turnover yang tinggi ini karena keadaan perusahaan.

C. Rasio Laba Kotor atas Penjualan (Gross Profit Margin on Sales)

Rasio ini mengukur tingkat profitabilitas produk sebelum dibebani oleh biayabiaya yang lain. Perubahan rasio laba kotor bisa saja terjadi karena perubahan dalam kebijaksanaan penjualan, misalnya tingkat potongan atau adanya produk baru. Rumus perhitungannya : Laba Kotor ------------------------ = % Penjualan D. Rasio Laba Usaha atas Penjualan (Operating Margin Ratio) Laba usaha (laba operasi) adalah laba dari kegiatan utama perusahaan. Oleh karena itu sudah seharusnya laba ini memberikan hasil lebih besar dibanding dari laba yang bukan utama. Rumus perhitungannya :

Laba Usaha ------------------------ = % Penjualan E. Rasio Laba Bersih atas Penjualan (Net Margin Ratio) Rasio ini mengukur hasil akhir dari kegiatan operasi perusahaan. Selisih laba bersih dengan rasio laba usaha dapat mencerminkan berapa beban yan ditanggung perusahaan untuk biaya-biaya non operasional. Rumus perhitungannya : Laba Bersih ------------------------ = % Penjualan F. Operating Ratio

Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan, sehingga rasio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi, dan yang tersedia untuk laba kecil. Tetapi rasio yang tinggi mungkin tidak hanya disebabkan oleh faktor intern yang dapat dikendalikan oleh manajemen, tetapi juga faktor ekstern misalnya faktor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen. Rumus perhitungannya : Harga Pokok + Biaya Operasi ------------------------------------------ = % Penjualan G. Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return on Investment, ROI) Tujuan perhitungan rasio ini adalah untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat menghasilkan laba. Laba usaha berarti laba dari kegiatan utama perusahaan. Aktiva operasi adalah aktiva yang dipakai untuk menghasilkan laba usaha tersebut. Dengan kata lain, aset yang dihitung disini hanya aset yang memberikan konstribusi terhadap pencapaian laba usaha. Penyertaan yang biasanya menghasilkan pendapatan lain (di luar laba usaha) tidak dihitung. Demikian halnya dengan aktiva lain-lain. Aktiva lain-lain ada yang berupa aktiva belum selesai atau aktiva tidak operasional. Oleh karena itu juga tidak diikutsertakan dalam pengertian aktiva operasi. Rumus perhitungannya adalah : Laba Usaha ------------------------ = % Aktiva Operasi atau

Laba Usaha Penjualan ------------------- X ---------------------Penjualan Aktiva Operas H. Rasio Tingkat Pengembalian Aset (Return on Assets, ROA) Dengan rasio akan nampak seberapa besar tingkat produktifitas seluruh aset. Perbedaan hasil perhitungan antara ROI dengan ROA akan diketahui sampai seberapa jauh tingkat aset penunjang atau tidak produktif dan hasil sampingan perusahaan. Rumus perhitungannya adalah : Laba Bersih ------------------------ = % Total Aktiva I. Rasio Laba Bersih atas Modal (Return on Equity) Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang diperoleh dari penanam modal. Pengertian modal disini adalah semua modal yang tertanam di perusahaan, termasuk di dalamnya saldo laba (laba ditahan). Rumus perhitungannya: Laba Bersih ------------------------ = % Modal Sendiri J. Laba Per Lembar Saham (Earning Per Share, EPS) Rasio ini untuk mengukur laba bersih per lembar saham (maksimum) yang mungkin diperoleh pemegang saham. Dikatakan maksimum, karena yang dibagi biasanya adalah kurang dari EPS. Rasio ini adalah satu-satunya rasio yang muncul di laporan keuangan, bisanya dicantumkan di bawah laba bersih. Rumus perhitungannya adalah: Laba Bersih --------------------------------- = % Jumlah Lembar Saham

5.2 kerangka pemikiran Kerangka pemikiran ini sebagai berikut :

Rasio keuangan

Laporan keuangan P.T semen baturaja

Gambar 1.1 Bagan kerangka pemikiran 5.3 penelitian sebelumnya Achmad yasin (2009) melakukan penelitian tentang Analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja keuangan perbankan syariah ( studi kasus pada mahasiswa fakultas ekonomi universitas muhamadiyah surakarta). Metode analisis yang di gunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian nya menunjukan bahwa perkembangan kinerja keuangan pada perbankan syariah dikatakan sehat. Ardihamzah(2007)melakukanpenelitiantentangAnalisisrasiolikuiditas,profitabi litas,aktifitas,solvabilitas,dan investement opportunity set dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek jakarta (BEJ) Tahun 2001-2005.

Alat analis yang digunakan adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunaka persamaan regresi. Hasil penelitian nya di tunjukan bahwa Hasil pengujian dengan regresi berganda antara variabel-variabel independen berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas terhadap variabel dependen berupa investment opportunity set (IOS) berpengaruh secara signifikan pada tahap pendirian (start-up) dan ekspansi awal (initial expansion), sedangkan pada tahap ekspansi akhir (final expansion), kedewasaan (mature), dan decline tidak berpengaruh secara signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS, sedangkan pada tahap ekspansi awal hanya rasio aktivitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS. Pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan decline tidak ada satu pun rasio keuangan dalam penelitian ini yang berpengaruh secara signifikan terhadap IOS. Dengan adanya hal itu, maka rasio-rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat analisis perusahaan manufaktur yang dijadikan sample penelitian ini pada tahap pendirian dan ekspansi awal, tetapi tidak pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan decline. Yulia purwanti ( 2005 ) melakukan penelitian tentang analisis rasio keuangan dalam memprediksi kondisi keuangan financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di burasa efek jakarta. Alat analisis yang di gunkan adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan persamaan regresi. Hasil penelitaian nya menunjukan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel

independennya terhadap variabel dependennya, dengan kata lain tidak ada satupun rasio keuangan yang dapat digunakan untuk memprediksi kondisi financial distress selain rasio rasio yang digunakan dalam model Altman. 6. Metode penelitian 6.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini hanya terbatas pada analisis rasio keuangan, Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas pada laporan keuangan di P.T semen baturaja kabupaten Ogan Komering Ulu. 6.1.2 Data dan Sumber data Data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder : a. Data primer Data primer adalah data yang diambil secara langsung gengan obyek penelitian, data ini merupakan dat yang belum diolah atau data yang masih mentah. (Surakhmad, 2004:43). Dalam hal ini data mengenai laporan keuangan di P.T semen aturaja. Data ini dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan dokumentasi kepada menajer keuangan P.T semen baturaja. b. Data sekunder

Data Sekunder merupakan data yang dikumpulkan atau di peroleh dengan mempelajari pengetahuan tambahan yang berhubungan dengan pokok

permasalahan yang diteliti dengan cara melakukan studi kepustakaan dari buku, dan sumber yang berhubungan dengan masalah yang sedang di teliti oleh peneliti (sudjana), 1998:42). Sumber data dalam penelitian ini dapat berasal dari P.T semen baturaja dan manjer keuangan P.T semen baturaja kabupaten ogan komering ulu. 6.2.1 Teknik pengumpulan data a. Penelitian pustaka penelitian kepustakaan dilaksanakan dengan mempelajari literatur-literatur dan buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini. b. penelitian lapangan penelitian ini dilaksanakan langsung pada P.T semen baturaja dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Wawancara (interview), yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan tanya jawab dengan nara sumber. 2. Dokumentasi, yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan cara mencatat dokumen dan arsip-arsip yangh berhubungan dengan obyek penelitian ini. 6.2.2 Populasi dan Sampel

a. Populasi populasi merupakn totalitas semua nilai yang mungkin. Hasil menghitung atupun pengukuran kuantitatif mengenai karateristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang jelas dan lengkap yang ingin di pelajari sifat-sifat nya (Sujana,2006:6). Menurut arikunto (2001:42) Populasi merupakan sekumpulan orang atau obyek yang saling memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal danm membentuk masalah pokok. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang menyajikan laporan keuangan dari tahun 2010 sampai dengan 2011. b. sampel sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi, diman pengambilan yang dilakukan harus mewakili populasi atau harus representatif. (Sugiyonno, 1999:73). Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah perusahaan yang menyajikan data laporan keuangan dari tahun 2010 sampai dengan 2011. Berdasarkan kriteria sampel tersebut jumlah populasi perusahaan yang

menyajikan laporan keuangan dari tahun 2010 sampai dengan 2011 adalah 10 perusahaan di baturaja kabupaten ogan komering ulu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode simple random sampling artinya smpel yang diambil secara acak diman setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel (Husein,2002:129). Sampekl yang

telah diambil secara acak adalah P.T semen baturaja kabupaten Ogan Komering Ulu. 6.3 Model Analisis Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adala model analisi kuantitatif dan kulitatif. 6.3.1 Anlisis kuantitatif Analisis kuantitatif adalah perhitungan dengan rumus-rumus dari data hasil penelitian, tujuanya untuk menyajikan data dalam bentuk tampilan yang lebih bermakna dan dapat dipahami dengan jelas yang di berikan dalam penelitian ini. (surakhmad,2008:28). a. Analisis data Analisis dihitung berdasarkan wawancara dan dokumentasi yang berasal dari jawaban manejer keuangan data yang di dokumentasikan berupa laporan keuangan dari tahun 2010 sampai dengan 2011 yang akan dianlisis menggunakan alat anlisis rasio keuangan, yaitu Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas. 6.3.2 Analisis kualitatif Menurut Arikunto (2001:23) analisis kualitatif digunakan sebagai metode untuk menganalisis permaslahan berdasarkan konsep dan teori dan definisi-

definisi, analisis yang digunakan dengan membandingkan antara teori yang ada dengan realita yang terjadi pada peusahaan. 7. Kerangka kerja penelitian a. Tahap persiapan Tahap persiapan peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Penyelesaian administrasi Pengajuan dan pengesahan judul Pengajuan dan pengesahan proposal penelitian Penyusunan instrumen Observasi awal

b. Tahap Pengumpulan Data 1. Pengumpulan data dari sumber data yang ada 2. Pemeriksaan data 3. Pengklasifikasian data c. Tahap pengolahan Data 1. Pemeriksaan data ulang 2. Pengklasifikasian data lebih lanjut 3. Melakukan analisi data

4. Mengevaluasi data d. Tahap penyusunan 1. Penyusunan data per bab 2. Perbaikan 7.2 Jadwal Penelitian Jadwal Penelitian No 1. 2. 3. 4. Tahap Kegiatan Tahap persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyusunan data Tahun 2011 1 X 2 X X 3 X X 4 5

X X

DAFTAR PUSTAKA http://shelmi.wordpress.com/2009/03/04/rasio-%E2%80%93-rasio-keuanganperusahaan/ http://www.scribd.com/doc/9677506/Teori-Rasio-Keuangan Yasin, achmad. 2009 Analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja keuangan perbankan syariah. Skripsi, fakultas ekonomi universitas muhamadiyah surakarta. Hamzah, ardi. 2007 Analisis rasio likuiditas, profitabilitas, aktifitas, solvabilitas, dan invesment opportunity set dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek jakarta (BEJ) Tahun 2001-2005. skripsi . Purwanti, yulia. 2005 analisis rasio keuangan dalam memprediksi kondisi keuangan financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di burasa efek Jakarta. Skripsi.