Anda di halaman 1dari 14

POKOK-POKOK KEBIJAKAN PEREKONOMIAN YANG BERPIHAK KEPADA KEPENTINGAN RAKYAT *)

Oleh Made Antara Pengajar pada Jurusan Sosek/PS. Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Bali Dan Staf Ahli DPRD Komisi B Propinsi Bali 2000-2004

I. PENDAHULUAN Tujuan pembangunan seperti yang tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 diwujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaraaan negara yang demokratis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Penyelenggaraaan negara dilaksanakan melalui pembangunan nasional dalam segala aspek kehidupan bangsa. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional dengan

memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Dalam pelaksanaannya mengacu pada nilainilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, adil, sejahtera, maju, beretika dan berkekuatan moral yang kokoh. Pembangunan nasional dalam lima tahun ke depan (2000-2004) telah ditetapkan oleh MPR hasil Pemilihan Umum tahun 1999 dalam TAP MPR No. IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). GBHN tersebut merupakan pedoman untuk penyelenggaraan negara merupakan pernyataan kehendak rakyat melalui wakil-wakilnya di MPR, guna mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Pembangunan Daerah Propinsi Bali merupakan salah satu subsistem dari pembangunan nasional yang meliputi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang ditujukan untuk meningkatkan harkat dan martabat, serta memperkuat jati diri dan kepribadian masyarakat Bali dalam konteks lokal, nasional maupun global. Dengan diundangkannya dan diberlakukannya

Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, hal tersebut merupakan langkah yang amat penting bagi pembangunan di daerah, terutama dalam melakukan reformasi dalam berbagai bidang pembangunan yang akan memberi corak khas daerah dalam rangka mengurus daerahnya sendiri. Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah melaksanakan perubahan yang mendasar antara lain perlu ditumbuh-kembangkan wawasan dan ketahanan daerah sebagai pengejawantahan dari wawasan nusantara dan ketahanan nasional. Dalam perencanaan pembangunan Daerah Propinsi Bali perlu diperhartikan keseimbangan dan kesatuan (entity) wilayah pembangunan ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan hidup, politik dan pemerintahan untuk terwujudnya pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pendekatan

pembangunan juga perlu mengalami perubahan yakni dari pendekatan top-dow ke pendekatan bottom-up dan dari pendekatan terukur ke pendekatan bermakna. Berdasarkan kedua pendekatan tersebut, maka aspek-aspek yang dominan dalam pembangunan Daerah Propinsi Bali adalah aspek supremasi hukum, ekonomi kerakyatan, lingkungan hidup, politik yang demokratis, pemerintahan yang profesional (good governace) dan kebudayaan daerah tanpa mengurangi pentingnya aspek-aspek pembangunan lainnya (Poldasbang Bali, 2000-2005). Dalam menghadapi era globalisasi, pembangunan Daerah Bali perlu berorientasi pada pengembangan potensi sektor-sektor yang menjadi unggulan masing-masing wilayah untuk meningkatkan daya saing di pasaran global. Namun demikian, dalam pengembangan sektor-sektor ekonomi tersebut, semua kebijakan, program dan aksi harus menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.

II. PEREKONOMIAN RAKYAT DI BALI Sampai saat ini belum ada bahan bacaan yang memberikan batasan atau definisi tentang Ekonomi Rakyat atau Ekonomi Kerakyatan (ekonomi yang bersifat merakyat). Bila dicermati dari kata yang menyusunnya, terdiri dari kata ekonomi dan rakyat. Ekonomi artinya aktivitas atau unit produksi dan pemasaran barang dan jasa dalam usaha yang berorientasi keuntungan,

sedangkan rakyat artinya anggota masyarakat atau warga negara dari suatu negara. Bila kedua kata tersebut digabungkan menjadi ekonomi rakyat, artinya unit-unit usaha produksi dan pemasaran barang dan jasa berskala kecil yang dilakukan oleh rakyat atau masyarakat (setempat) yang berorientasi pada keuntungan. Adapun karakteristik ekonomi rakyat sebagai berikut: Terdiri dari unit-unit usaha kecil (mikro) yang diusahakan oleh beratus ribu bahkan berjuta rakyat (kecil); Permodalan relatif lemah; Keterampilan masih relatif rendah; Manajemen usaha relatif lemah; Akses terhadap pasar dan sumber-sumber permodalan relatif terbatas; Tingkat pendidikan para pelakunya karena rakyat kecil relatif rendah; Dll. Akhirnya semua kelemahan ekonomi rakyat tersebut bermuara pada rendahnya produktivitas dan efisiensi alokasi sumberdaya, sehingga mereka tidak mampu berkembang menjadi pelaku ekonomi kelas menengah, apalagi pelaku ekonomi besar. Disinilah peran pemerintah dan pihak-pihak terkait diperlukan, bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, sehingga akhirnya menjadi kuat. Sedangkan karakteristik ekonomi konglomerat adalah sebaliknya. Untuk kasus Bali, ekonomi rakyat tidak lain adalah unit-unit usaha produksi dan pemasaran barang dan jasa yang dilakukan oleh rakyat yang berdomisili di Bali yang berorientasi profit. Jadi membicarakan ekonomi kerakyatan untuk kasus Bali berarti membicarakan aktivitas ekonomi rakyat atau masyarakat Bali. Ekonomi masyarakat Bali berbasis pada tiga sektor utama yaitu: 1. Sektor agribisnis, yakni sektor-sektor yang terkait dengan sektor pertanian dalam arti luas (pertanian pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) dan industri makanan, minuman dan tembakau;

2. Sektor industri termasuk industri kecil dan kerajinan rumahtangga; dan 3. Sektor jasa (perdagangan/hotel/restoran, transportasi/pos/telekomunikasi, keuangan, persewaan bangunan/pemerintahan/jasa lain). Masyarakat atau pekerja-pekerja di Bali memperoleh nafkah dan penghidupan dari hasil kerja di ketiga sektor utama tersebut. Sedangkan kebijakan perekonomian yang berpihak kepada kepentingan rakyat berarti segala langkah-langkah, baik dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan (aksi) yang diambil pemerint`ah Bali harus berpihak kepada masyarakat atau pekerja-pekerja yang memperoleh nafkah dan penghidupan di ketiga sektor tersebut di atas, atau dengan kata lain harus ada usaha-usaha untuk memberdayakan perekonomian ra kyat Bali.

III. KEBIJAKAN, PROGRAM DAN KEGIATAN PEREKONOMIAN YANG BERPIHAK KEPADA KEPENTINGAN RAKYAT 3.1. Visi dan Misi Pembangunan dan Masyarakat Bali Dalam lima tahun kedepan (2002-2005) ini, pemerintah dan masyarakat Bali memiliki visi yaitu: Terwujudnya manusia dan masyarakat Bali sebagai satu kesatuan sosial yang utuh, berkeadilan damai, sehat, sejahtera lahir dan batin, humanis, ekologis dan bertumpu pada Konsep Tri Hita Karana yang dijiwai oleh agama Hindu dan didukung oleh sumberdaya manusia yang handal untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi tersebut dan memberikan arah serta tujuan yang ingin dicapai serta untuk memberikan fokus terhadap program yang akan dilaksanakan dan untuk menumbuhkan partisipasi semua pihak, melalui misi, al: 1. 2. 3. Mewujudkan supremasi hukum dan penegakan hukum serta menjunjung tinggi Hak-Hak Asazi Manusia (HAM). Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin. Memberdayakan ekonomi rakyat khususnya usaha kecil, menengah dan koperasi dalam bidang pertanian, perikanan dan kelautan, peternakan, kelautanan, pariwisata dan industri agar menjadi tangguh dan mandiri dengan melibatkan partisipasinya. Melaksanakan otonomi daerah sebagai jati diri dan kemandirian masyarakat Bali dengan meningkatkan kemampuan ditingkat lokal, nasional dan global.

4.

5. 6.

7. 8.

Mewujudkan stabilitas keamanan dan ketentraman dalam rangka mewujudkan ketahanan sosial dan budaya yang dinamis dan kondusif. Memberdayakan kebudayaan daerah, lembaga-lembaga tradisional dan lembaga-lembaga adat daerah Bali dalam konteks kebudayaan nasional dan global. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan kelestarian lingkungan hidup dalam upaya pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Mengembangkan sistem admistrasi pemerintahan dan pembangunan yang efektif, efisien, dan transparan serta meningkatkan profesionalisme aparatur pemerintahan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance). Jadi, tampak jelas bahwa salah satu misi untuk mewujudkan visi memberdayakan

pembangunan dan masyarakat Bali ke depan adalah

ekonomi rakyat khususnya usaha kecil, menengah dan koperasi dalam bidang pertanian, perikanan dan kelautan, peternakan, kehutanan,

pariwiswata dan industri agar menjadi tangguh dan mandiri dengan melibatkan partisipasinya. Seperti tertuang dalam Propeda Bali 2001-2005, kebijakan, program dan kegiatan perekonomian yang berpihak kepada kepentingan rakyat antara lain:

3.2. Kebijakan dan Program Sektor Pertanian Kebijakan Pembangunan: 1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian dalam arti luas (tanaman pangan/hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) melalui pengembangan sistem agribisnis yang efisien untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduk, memenuhi kebutuhan pariwisata, industri dan ekspor. Meningkatkan kesejahteraan petani dengan mengembangkan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, serta meningkatkan akses petani kepada sumber-sumber pembiayaan, teknologi dan informasi pasar serta pemberian insentif. Mengembangkan komoditas unggulan untuk meningkatkan pendapatan petani dan daerah. Memberdayakan subak dan mendorong pembentukan institusi lainnya oleh petani produsen yang tumbuh dari bawah. Mencegah alih fungsi lahan pertanian produktif antara lain dengan mengembangkan agrowisata dan dengan suatu peraturan daerah yang diterapkan secara konsekuen.

2.

3. 4. 5.

Program Pembangunan: 1. Peningkatan ketahanan Pangan. Ketahanan pangan menyangkut ketersediaan, distribusi dan harga-harga yang terjangkau oleh masyarakat. Peningkatan ketahanan pangan ini dapat dilakukan melalui program sebagai berikut: a. Peningkatan kuantitas dan kualitas produksi padi dan palawija (khususnya jagung dan kedele). b. Peningkatan kuantitas dan kualitas produksi perikanan, peternakan dan hortikultura untuk meningkatkan keragaman pangan dan gizi masyarakat. c. Peningkatan produksi dan pemanfaatan tanaman sumber karbohidrat non-padi untuk meningkatkan keragaman pangan dan mengurangi konsumsi dan ketergantungan terhadap beras. d. Pemberian insentif kepada petani melalui mekanisme kebijakan untuk meningkatkan gairah berproduksi. e. Diversifikasi konsumsi pangan. f. Optimalisasi penggunaan lahan. 2. Pengembangan sistem pertanian yang berwawasan agribisnis dan lingkungan melalui: a. Peningkatan kemampuan manajerial petani, tidak hanya terbatas pada aspek produksi tetapi juga pada berbagai aspek yang terkait dengan agribisnis yang berwawasan lingkungan (pertanian modern berkelanjutan). b. Peningkatan peran subak sebagai lembaga masyarakat petani untuk dapat menopang, baik kegiatan produksi, pengembangan teknologi, pemasaran maupun finansial. c. Pengembangan koperasi pertanian untuk bisa lebih berperan, baik untuk proses produksi, pemasaran maupun finansial. d. Pengembangan sistem pemasaran yang efisien dan sistem informasi pasar untuk produksi pertanian. e. Pengembangan sarana dan prasarana untuk kegiatan produksi, pemasaran dan pembiayaan sektor pertanian. Bali mempunyai beberapa jenis komoditi unggulan yang belum dikembangkan secara optimal seperti sapi Bali, salak bali dan beberapa jenis tumbuhan maupun hewan langka. Pengembangan ini bisa dilakukan melalui peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan berbagai komoditi unggulan dan komoditi strategis sehingga bisa memberikan nilai ekonomis dan kesejahteraan yang lebih tinggi kepada masyarakat. f. Peningkatan diversifikasi produk dari komoditi unggulan Bali melalui pengembangan berbagai bentuk teknologi pascapanen.

g. Perllndungan dan pelestarian sumberdaya hayati lokal Bali, baik tumbuhan maupun hewan melalui kebun koleksi, bank semen beku, bank gen dsb. h. Peningkatan kemampuan petani termasuk nelayan maupun peternak dalam menghasilkan produk-produk ekspor dengan mutu sesuai dengan standar internasional. i. Peningkatan pemanfaatan hasil perkebunan, peternakan, perikanan dan hutan untuk menghasilkan berbagai produk ekspor dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah dengan tetap mempertimbangkan fungsi kelestariannya. j. Peningkatan kegiatan promosi untuk investasi dalam berbagai jenis komoditi ekspor dengan berbagai jenis insentif. k. Peningkatan informasi pasar di kalangan petani untuk berbagai produk ekspor. l. Peningkatan kegiatan penelitian produk ekspor agar dihasilkan teknologi yang efisien dan berwawasan lingkungan.

3.3. Kebijakan dan Program Sektor Industri Kebijakan Pembangunan: 1. 2. Penataan struktur industri agar tumbuh semakin kokoh dan kuat dalam rangka meningkatkan kemandirian dan melipatgandakan nilai tambah. Peningkatan daya saing agar lebih mampu menguasai pasar dalam negeri maupun mendukung peningkatan ekspor non migas dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi. Percepatan upaya penguasaan teknologi industri yaitu teknologi madya dan teknologi tepat guna. Pemanfaatan kualitas profesionalisme sumberdaya manusia, baik dalam kalangan dunia usaha maupun aparatur pemerintahan sebagai penggerak pembangunan yang andal untuk mewujudkan masyarakat industri. Memeratakan pembangunan industri antar wilayah/daerah.

3. 4.

5.

Program Pembangunan: 1. Program pembinaan dan pengembangan industri. a. Program pembinaan dan pengembangan industri yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan permodalannya, sehingga mampu meningkatkan kemandirian usahanya, meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha. Program tersebut dalam bentuk: Bantuan langsung modal/dana bergulir. Pemberian/penyertaan kredit/modal dengan kemampuan terjangkau dari lembaga terkait. b. Program pembinaan dan pengembangan industri yang bertujuan meningkatkan keterampilan tenagakerja khususnya di bidang 7

c.

d.

e.

f.

manajemen, organisasi dan teknik produksi. Program tersebut dalam bentuk: Pendidikan dan pelatihan berupa kewirausahaan. Pendidikan dan pelatihan manajemen partisipatif, manajemen mutu terpadu dan teknik produksi. Program pembinaan dan pengembangan industri yang bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi yang dihasilkan. Program tersebut dalam bentuk: Pemasyarakatan penggunaan teknologi madya/tepat guna. Bantuan teknologi madya/tepat guna sebagai percontohan. Pembinaan pelayanan jasa yang meliputi: Unit pelayanan Teknis, Klinik Gugus Kendali Mutu (GKM). Promosi dalam negeri dan luar negeri. Program pembinaan dan pengembangan desain, program ini bertujuan untuk penganekaragaman desain, khususnya pada industri garmen dan kerajinan perak, dengan pengembangan desain ini diharapkan permintaan terhadap produk ekspor meningkat, khususnya terhadap garmen dan kerajinan sehingga kuantitas ekspor meningkat. Program ini dapat dilakukan melalui: Kerjasama dengan instansi terkait. Pelatihan dan pengembangan desain. Pembinaan pelayanan jasa klinik desain. Program pembinaan dan pengembangan usaha antar industri kecil, antar industri kecil menengah dan besar dengan membentuk suatu jaringan usaha melalui wadah kemitraan atau dengan mengembangkan keterkaitan usaha melalui integrasi vertikal maupun horizontal. Koordinasi pembinaan industri kecil antar lembaga terkait.

2. Program pengembangan industri a. Mengadakan penelitian untuk mengidentifikasi cabang-cabang industri yang mempunyai potensi, meningkatkan nilai tambah yang tinggi, padat karya serta mempunyai prospek pasar, baik dalam negeri maupun laur negeri. b. Menciptakan iklim usaha yang dapat merangsang bagi investor untuk menanamkan modalnya pada jenis-jenis industri yang berpotensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, kesempatan kerja dan akrab terhadap lingkungan.

3.4. Kebijakan dan Program Sektor Pengusaha Kecil dan Menengah Kebijakan Pembangunan: 1. kebijakan dasar meliputi: a. Meningkatkan prakarsa, kemampuan dan peran serta gerakan koperasi dan pengusaha kecil, menengah melalui peningkatan kualitas SDM. b. Meningkatkan kemampuan dan peran serta koperasi dan pengusaha kecil, menengah di berbagai sektor usaha. 2. Kebijakan operasional meliputi: a. Meningkatkan akses pasar dan pangsa pasar b. Meningkatkan akses pasar terhadap sumber-sumber modal. c. Meningkatkan akses dan penguasaan teknologi. d. Meningkatkan kemitraan yang mantap. Program Pembangunan: 1. Program pemberdayaan Koperasi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan permodalan koperasi serta meningkatkan keterampilan pengurus koperasi, sehingga mampu meningkatkan kemandirian koperasi. Program tersebut berbentuk: a. Bantuan langsung modal/dana bergulir dengan bunga rendah. b. Pemberian/penyertaan kredit/modal dengan kemampuan yang terjangkau dari lembaga terkait. c. Pendidikan dan pelatihan kepada motivator koperasi untuk meningkatkan partisipasi aktif anggota yang merupakan pengembangan kunci pengembangan koperasi. d. Pendidikan dan pelatihan anggota koperasi untuk berusaha secara kooperatif. e. Pelatihan kewirakoperasian kepada pengurus atau pengelola koperasi. f. Meningkatkan kemampuan pelayanan koperasi kepada anggota dan masyarakat. 2. Program pemberdayaan pengusaha kecil dan menengah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan permodalan serta meningkatkan keterampilan tenagakerja pengusaha kecil dan menengah (PKM), khususnya di bidang manajemen dan organisasi. Program tersebut dalam bentuk: a. Bantuan langsung modal/dana bergulir dengan bunga rendah. b. Pemberian/penyertaan kredit/modal dengan kemampuan yang terjangkau dari lembaga terkait. c. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, manajemen partisipatif, manajemen mutu terpadu, teknis desain produksi dan lain sebagainya. 3. program peningkatan produktivitas kerja koperasi dan PKM. Program ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi yang dihasilkan, dalam bentuk:

a. Diversifikasi/penganekaragaman usaha koperasi. b. Pembinaan dan pengawasan yang lebih gencar terhadap koperasi. c. Pemasyarakatan penggunaan teknologi madya/tepat guna kepada koperasi dan PKM. d. Bantuan teknologi madya/tepat guna sebagai percontohan. e. Promosi dalam negeri dan luar negeri. f. Pelatihan dalam bidang pengembanghan desain, proses, mutu produk, dan teknologi informasi bagi jaringan usaha kepada PKM. 4. Program pengembangan kemandirian ekonomi rakyat. Program ini dapat dilakukan dengan meningkatkan iklim usaha yang kondusif dimana antar koperasi dan PKM atau antatr kelompok koperasi dan PKM menjalin suatu link yang saling menguntungkan. Program ini dapat dilakukan dalam bentuk: a. Pengembangan usaha kelompok, jaringan antar koperasi dan PKM dan usaha besar antara lain melalui wadah kemitraan usaha atau koperasi dengan mengembangkan keterkaitan usaha melalui integrasi vertikal maupun horizontal. b. Koordinasi pembinaan KPKM antar lembaga terkait. 5. program pembinaan usaha kecil. Program ini dapat dilakukan melalui: a. Pengembangan kelembagaan usaha kecil. b. Pemberian bantuan kredit murah. c. Memperluas akses kepada sumberdaya perspektif yang berbasis teknologi.

IV. PENUTUP 1. Ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan adalah aktivitas unit-unit usaha produksi dan pemasaran barang dan jasa berskala kecill yang dilakukan atau dikerjakan oleh rakyat atau masyarakat (setempat) yang berorientasi profit. 2. Pelaku-pelaku ekonomi rakyat adalah rakyat kecil dan kecil yaitu

petani/pekebun/peternak/nelayan,

pengrajin

rumahtangga

(pengukir, pengusaha dan pekerja garmen, pengolah makanan/minuman), penjualan berbagai jenis jasa (perbengkelan, transportasi, perbankan, perdagangan, jasa kepariwisataan, dll). 3. Memberdayakan (menjadikan berdaya) ekonomi rakyat di Bali dapat dilakyukan dengan meningkatkan produktivitas aset-aset produktif yang mereka miliki.

10

4. Pemerintah Propinsi Bali dengan berbagai kebijakan, program dan kegiatan pada berbagai sektor ekonomi menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan rakyat atau berpihak kepada pemberdayaan ekonomi rakyat.

DAFTAR PUSTAKA Poldasbang Bali 2000-2005. Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi Bali. Pemerintah Propinsi Bali. Propeda Bali 2001-2005. Keputusan Gubernur Bali Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah (Propeda) Propinsi Bali Tahun 2001-2005. Pemeriantah Propinsi Bali . Renstra Bali 2002-2005. Rancangan Peraturan Daerah Propinsi Bali No. ? Tahun 2001 Tentang Rencana Strategis (Renstra) Propinsi Bali Tahun 2002-2005.

EKONOMI KERAKYATAN CUMA RETORIKA ?


Tanggal 27 Agustus 2001, Pemerintah Indonesia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sepakat memperbarui paket program kebijakan ekonomi dan keuangan. Akan tetapi, tak satupun butir kesepakatan itu yang menyebutkan keinginan untuk memperkuat dasar ekonomi rakyat. Bahkan, dalam pidato pengantar RAPBN 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri yak menyinggung strategi dasar dalam pengembangan ekonoi rakyat dimaksud. Realitanya ekonomi Indonesia selamaini disangga secara gotong-royong oleh pelaku usaha rakyat yang jumlahnya sangat banyak. Data BPS tahun 2000 menunjukkan, terdapat 39,04 juta unit atau 99,6 persen dari total unit usaha dengan penyerapan tenagakerja 74,4 juta orang. Jumlah ini merupakan 99,6 persen dari total angkatan kerja yang bekerja. Dari jumlah 30,04 juta di atas, komposisi sektoral adalah pertanian (62,7%) dan jasa (3,9%). Dari kompoisis volume usaha, sejumlah 99,85 persen volume usahanya di bawah Rp 1 milyar, 0,14 persen di antara Rp 1 milyar sampai Rp 50 milyar, dan 0,01 persen di atas Rp 50 milyar. Dari komposisi penyerapan tenagakerja, kelompok pertama tersebut menyerap 88,66 persen, kelompok kedua menyerap 10,78 persen, dan kelompok ketiga menyerap 0,56 persen. Bukankah aneh kalau kebijakan tidak menempatkan mayoritas pelaku usaha (ekonomi rakyat) di Indonesia dalam prioritas utama, ?. Namun dapat dimaklumi jika pada 16 Agustus lalu, Presiden Megawati menyaakan bahwa wacana tentang pengertian, lingkup, dan isi konsep ekonomi kerakyatan atau ekonomi rakyat belum jelas benar. Lebih jauh Presiden mengajak untuk

11

memantapkan terlebih dahulu pemahaman ekonomi rakyat terhadap hal-hal yang bersifat mendasar, sebelum menyosialisasikan konsep tersebut. Jadi, tampak bahwa kebingungan tentang ekonomi kerakyatan tidak saja menghinggapi masyarakat dan pada pelaku ekonoi, tetapi juga para penentu kebijkana hingga Presiden Megawati. Dari situ muncul pertanyaan, apakah di tengah kebingungan tentang belum jelasnya pengertian ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan, lantas kita tidak membuat kebijakan-kebijakan yang memperhatikan ekonomi rakyat ?. Rasanya, hal itu absurd. Soalnya, ada tidaknya pengertian dan definisi baku tentang ekonomi rakyat, ia tetap bergerak dan bertahan menggerakkan perekonomian berskala kecil. Apakah di tengah kebingungan kita semua, lantas kita menyerahkan sepenuhnya kebijakan-kebijakan ekonomi sesuai dengan kehendak pasar global yang liberal ? Padahal, kita pahami bahwa dalam pasar global, para pemilik modal besar telah banyak melakukan kegiatan spekulasi. Data menunjukkan bahwa realitas perdagangan uang dunia telah berlipat sekitar 80 kali dibandingkan dengan sektor riil. Ini fenomena keterkaitan antara sebagian besar perputaran uang dengan arus barang dan jasa. Itu berarti telah terjadi secara global apa yang disebut bubble conomy, di mana kegiatan ekonomi dunia didominasi oleh kegiatan spekulasi. Perhimpunan Indonesia Bangkit mencata, dalam satu hari sekitar 1-2 triliyun dollar AS dana spekulasi tersebut gentayangan mencari tempat yang peling menguntungkan di dunia. Dalam hitungan setahun, arus uang berjumlah sekitar 250 trilyun dollar AS. Hanya sekitar lima triliyun arus barang dan jasa yang diperdagangkan. Dengan desakan liberalisasi yan kita terima secara taken for granted, maka pemanfaatan dana-dana spekulasi dalam kegiatan pasar modal dan uang semakin intensif. Dengan begitu pada negara-negara yang sektor moneternya (pasar uang dan modal) semakin terbuka, semakin beresikolah perekonomiannya terhadap segala gejolak ekonoi eksternal. Inilah yang terjadi di Indonesia. Lebih sadis lagi, dampak yang tidak menguntungkan dari kondisi tadi adalah adanya ketergantungan ekonomi bangsa terhadap permainan pihak asing. Pelaksanaan ketentuan-ketentuan WTO sebagai instrumen liberalisasi telah menjerumuskan negara-negara berkembang yang lemah ke dalam situasi ketergantungan yang lebih intensif kepada kekuatan ekonomi pihak asing. Ketergantungan ini dimanifestasikan dalam bidang keuangan, perdagangan dan teknologi. Khusus tentang Indonesia, ketergantungan yang diantisipasi oleh Dos Santos (1970) akan langsung diderita rakyatnya. Pihak asing akan menentukan formulasi kebijakan ekonomi dan sosial Indonesia, termasuk struktur kekuasaannya. Kedua, penguasaan devisa akan kembali berada di tangan pihak asing dengan intensitas yang lebih tinggi. Ketiga, penguasaan unit-unit ekonomi dan aset di Indonesia oleh pihak asing akan bertambah intensif. Yang lebih dikhawatirkan Dos Santos telah terbukti. Gara-gara kita kebingungan, perekonomian nasional diserahkan ke pasar yang liberal dan rakus melalui IMF, lembaga-lembaga keuangan internasional, hingga bangsa-bangsa asing yang ingin mengisap kesuburan komparatif bangsa kita?. Dalam perkembangan belakangan ini akibat liberalisasi ekonomi yang begitu dahsyat ekonomi kerakyatan telah dituduh secara keliru sebagai buah pikiran yang tidak jelas dasar teorinya. Selain itu, ekonomi kerakyatan dianggap sebagai beban dan biang

12

distorsi bagi kebijakan perekonomian nasional. Dalam konteks ini, catatan ini ingin mengemukakan tiga landasan teori ekonomi kerakyatan atau ekonomi rakyat yang didasarkan pada pengalaman empirik. Pertama, validasi teori itu kalau bersumber dari masyarakat yang berbeda harus diuji terlebih dahulu, tidak bisa main paksa untuk diterapkan di suatu masyarakat yang berbeda konteksnya. Landasan teori ekonomi yang berkembang di fakultas-fakultas ekonomi saat ini merupakan mainstream economy yang didasarkan pada paradigma neoklasik. Teori itu lahir dan berkembang dengan latar belakang Baraty. Lebih tepat, semua teori harus bersumber dari realita sejarah dan situasi kondisi suatu masyarakat atau bangsa. Sayangnya, yang berkembang selama ini di Indonesia adalah teori ekonomi aliran tertentu. Selain banyak ketinggalan, kaku, dan ortodoks, aliran neo-klasik kelihatannya kurang memberikan ruang untuk perdebatan seru, atau tarik menarik yang bisa melahirkan pemikiran alternatif baru yang cocok dengan konteks Indonesia. Realitas empirik dari kekuatan ekonomi rakyat dapat dilihat dalam dinamika ekonomi riil masyarakat. Realitas menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan atau ekonomi rakyat merupakan kegiatan ekonomi yang menghidupi kita. Setiap haru yang kita hidangkan di meja makan adalah bahan-bahan hasil produksi rakyat. Beras sampai garam, sayur-masyur sampai bumbu merupakan produksi perekonomian rakyat, bukan produksi ekonomi konglomerat. Jadi, perekonomian rakyatrlah yang menghidupi dan menjadi pendukung kehidupan bangsa selama ini. Jika sekiranya perekonomian nasional terus-menerus menghadapi krisis, ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan akan masih bisa hidup, betapapun subsistemik. Malash, sejak zaman perjuangan fisik melawan kolonial, ekonomi rakyat yang memberi makan pejuang kita. ] Ekonomi rakyat pula yang membuat bangsa Indonesia mampu survive sampai memperoleh pengakuan kedaulatan. Dalam masa krisi sekarang, tatkalaburuh-buruh sektor besar dan modern terkena PHK, mereka sebagian besar diterima dan dihidupi oleh ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat telah menjadi penjaga gawang dalam perekonomian nasional. Ekonomi rakyat telah menampung kesuahan-kesusahan dan beban ekonomi modern yang diwakili para konglomerat. Landasan empirik lain dari wujud usaha ekonomi kerakyatan dapat dilihat dalam kegiatan usaha kecil dan koperasi. Usaha kecil dan koperasi sangat besar kontribusinya dalam perekonomian Indonesia, terutama jika dilihat dari aspek-aspek, seperti peningkatan kesempatan kerja, sumber pendapatan, pembagunan ekonomi pedesaan dan peningkatan ekspor non migas. Jumlah usaha kecil dan koperasi di Indonesia cukup besar dan bergerak di berbagai sektor ekonomi, serta tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dalam konteks ini perlu pula dibedakan apa itu ekonomi kerakyatan, perekonomian rakyat dan pemberdayaan rakyat. Sebenarnya ekonomi kerakyatan adalah istilah yang relatif baru untuk menggantikan istilah ekonomi rakyat yang distigmakan negatif dan diskriminatif. Stigma muncul karena ekonomi rakyat didikotomikan dengan ekonomi konglomerat, dan diskriminatif karena dirancang untuk terang-terangan memihak pada salah satu sektor tertentu: ekonomi rakayt yang lemah dan terpinggirkan. Jadi, yang banyak dipakai adalah ekonomi kerakyatan. Terlepas dari pemakaian istilah ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan yang digunakan dalam wacana, yang jelas, ekonomi kerakyatan dapat didefinisikan sebagai

13

sektor ekonomi yang berisi kegiatan-kegiatan ekonomi rakyat. Sementara itu, perekonomian rakyat adalah sistem ekonomi di mana rakyat dan usaha-usaha ekonomi kerakyatan berperan integral dalam perekonomian nasional nasional: produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah kepemimpinan atau kepemilikan anggota-anggota masyarakat, berdasarkan aturan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Pemberdayaan rakyat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat, yang dalam kondisi sekarang, tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, pemberdayaan adalah upaya memampukan, memartabatkan dan memandirikan rakyat. Pelaku ekonomi kerakyatan ini pada umumnya tertinggal di dalam proses pencapaian keadaan yang sejahtera, adil, dan makmur. Pelaku ekonomi kerakyatan ini ada yang formal, ada yang informal. Yang formal dapat dilihat dari sisi legalitasnya, seperti koperasi, usaha kecil, dan menengah yang memiliki surat ijin usaha atau semacamnya. Yang informasl dapat dilihat dari sisi tidakmemiliki legalitas, misalnya para pedagang kaki lima dan pedagang informal. Mereka belum bebas dariu kemiskinan, sementara arus revolusi teknologi informasi modern telah mendera mereka (Dedy Muhtadi: Kompas, Minggu 7 Oktober 2001, Hal. 29).

14