Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

World Health Organization (WHO) memperkirakan 9,27 juta kasus baru terjadi pada tahun 2007 (139 per 100.000 penduduk), 44% atau 4,1 juta (61 per 100.000 penduduk) merupakan kasus tuberkulosis paru BTA positif.1 Menurut data WHO 2007, Indonesia merupakan negara penyumbang kasus penderita tuberkulosis terbesar ketiga di dunia sesudah India dan Cina. Di Indonesia diperkirakan terdapat 528.000 (228 per 100.000 peduduk) kasus baru tuberkulosis, dimana 236.000 (102 per 100.000 penduduk) di antaranya merupakan kasus tuberkulosis paru BTA positif.2 Berdasarkan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati rangking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah di masa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ke tahun.3 Berdasarkan data dari Puskesmas Salo untuk tahun 2010, terdapat kasus TB dengan BTA positif yang terjaring sebanyak 6 kasus dari jumlah penduduk di kecamatan Salo yang berjumlah 23.167 jiwa, dan hal ini akan terus meningkat bila pengobatan TB tidak tuntas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit yang menyerang jaringan paru disebabkan infeksi basil Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis).1

2.2 Epidemiologi Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan dunia yang penting karena lebih kurang sepertiga penduduk dunia terinfeksi oleh M. tuberculosis. Pada bulan Maret tahun 1993 World Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan tuberkulosis sebagai Global Health Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, 3,9 juta adalah kasus Basil Tahan Asam (BTA) positif. Menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia Sebagian besar dari kasus TB ini (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang.2,3,4 Alasan utama munculnya atau meningkatnya kasus TB di dunia, disebabkan:2 1. Kemiskinan pada berbagai penduduk 2. Adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia 3. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada penduduk di kelompok yang rentan terutama di negera-negara miskin 4. Tidak memadainya pendidikan mengenai TB 5. Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik dan pengawasan kasus TB dimana terjadi deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak adekuat. 6. Adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan Asia. Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Perkiraan kejadian BTA positif di Indonesia adalah 266.000 kasus tahun 1998. TB menempati peringkat nomor 3 sebagai penyebab

kematian teringgi di Indonesia setelah penyakit jantung dan penyakit pernafasan akut pada seluruh kalangan usia.2

2.3 Etiologi Mikobakterium tipe humanus dan tipe bovinus adalah mikobakterium yang paling banyak menyebabkan penyakit tuberkulosis. Kuman ini berbentuk batang, bersifat aerob, mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 800C, dan 20 menit pada suhu 600C), dan apabila terkena sinar ultraviolet (matahari). Basil tuberkulosis tahan hidup berbulan-bulan pada suhu kamar dan ruangan yang lembab. Ia mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA).1,4,5

2.4 Cara Penularan Penularan penyakit ini melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei, khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas,atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.1,5,6 Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Faktor-faktor endogen seperti daya tahan tubuh, usia, dan penyakit penyerta (infeksi HIV, limfoma, leukimia, malnutrisi, gagal ginjal, DM, dan terapi imunosupresif) juga mempengaruhi kerentanan seseorang tertular kuman TB.2,6

2.5 Patogenesis 2.5.1 Tuberkulosis Primer Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap di sana. Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini kuman dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut kompleks primer atau fokus Ghon. Kompleks primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 3-8 minggu.1-4 Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis.3,4,6 Kompleks primer tersebut selanjutnya dapat menjadi:2 1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Ini yang paling sering terjadi. 2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus dan 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant. 3. Berkomplikasi dan menyebar secara : a. Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Kuman ini juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus. c. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya d. Secara limfogen.

2.5.2

Tuberkulosis Post Primer (Sekunder) Tuberkulosis post primer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah

tuberkulosis primer. Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS dan gagal ginjal. Tuberkulosis pasca primer ini dimulai dari sarang dini yang berlokasi di regio atas paru. Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel Datia-Langhans yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.1,4 Sarang dini pada tuberkulosis sekunder ini akan mngikuti salah satu jalan sebagai berikut:2-4 1. Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat. 2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan serbukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersubut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju dan

menimbulkan kavitas bila jaringan keju dibatukkan keluar. 3. Sarang tersebut meluas, membentuk jaringan keju. Kavitas akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kavitas awalnya berdinding tipis, kemudian dindinganya akan menjadi tebal (kavitas sklerotik). Kavitas tersebut akan menjadi: a. Meluas kembali dan menimbulkan sarang baru. b. Memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan sembuh, dan mungkin aktif kembali., mencair lagi dan terus menjadi kavitas lagi. c. Bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kavitas menyembuh dengan menbungkus diri dan akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kavitas yang terbungkus dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang.

2.6 Klasifikasi TB paru diklasifkasikan atas:2,7 a. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) 1. TB paru BTA(+) 2. TB paru BTA (-) b. Berdasarkan tipe pasien 1. Kasus baru, bila pasien belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan obat kurang dari satu bulan. 2. Kasus relaps (kambuh), bila pasien sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan sputum BTA (+). 3. Kasus defaulted atau drop out , bila pasien telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatan selesai. 4. Kasus gagal, bila pasien BTA positif yang masif tetap positif atau kembali positif pada akhir bulan ke 5 atau akhir pengobatan. 5. Kasus kronik, bila pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik. 6. Kasus bekas TB, bila hasil pemeriksaan BTA negatif dan gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif.

2.7 Gejala Klinis Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi dua golongan , yaitu gejala lokal (repiratorik) dan gejala sistemik. a. Gejala Respiratorik2,3,8 Gejala respiratori ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. 1. Batuk
Batuk baru timbul apabila proses penyakit telah melibatkan bronkus. Batuk mula-mula terjadi oleh karena iritasi bronkus, selanjutnya akibat adanya peradangan

pada bronkus batuk akan menjadi produktif. Batuk produktif ini berguna untuk membuang produk-produk ekskresi peradangan. Dahak dapat bersifat mukoid atau purulen.

2. Batuk darah
Batuk darah terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Berat dan ringannya batuk darah yang timbul tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Batuk darah tidak selalu timbul akibat pecahnya aneurisma pada dinding kavitas, juga dapat terjadi karena ulserasi pada mukosa bronkus. Batuk darah inilah yang paling sering membawa penderita berobat ke dokter.

3. Nyeri dada Nyeri berupa nyeri pleuritik yang ringan 5. Wheezing Terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret, peradangan, jaringan granulasi dan ulserasi. 6. Dispneu
Gejala ini ditemukan pada penyakit yang lanjut dengan kerusakan paru yang cukup luas. Pada awal penyakit gejala ini tidak pernah didapatkan.

b. Gejala-gejala umum2-4,8,9 1. Demam


Demam merupakan gejala pertama dari TB paru, biasanya subfibril, mirip demam influenza yang segera mereda. Tergantung dari daya tahan tubuh dan virulensi kuman, serangan demam yang berikut dapat terjadi setelah 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan (multiplikasi 3 bulan). Demam seperti influenza ini hilang timbul dan makin lama makin panjang masa serangannya, sedangkan masa bebas serangan akan makin pendek. Demam dapat mencapai suhu tinggi yaitu 40-41C.

2. Keringat malam Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut, kecuali pada orang-orang dengan vasomotor labil, keringat malam dapat timbul lebih dini. 3. Malaise
Tuberkulosis bersifat radang menahun sehingga dapat tenjadi rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan makin kurus, sakit kepala dan mudah lelah.

4. Gangguan Menstruasi Terjadi pada proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut.

2.8.Diagnosis Diagnosis tuberkulosis paru dibuat atas dasar1,3,4,8: a. Anamnesa Dari anamnesa didapatkan keluhan pasien berupa keluhan respiratorik dan keluhan sistemik. b. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva dan kulit yang pucat karena anemia, suhu demam subfebris, badan kurus atau berat badan menurun. Dasar kelainan anatomis tuberkulosis paru terletak pada lobuli, jadi meliputi alveoli dan beberapa bronkiolus terminalis. Tanda-tanda dini berupa konsolidasi serta didapatkan sekret dibronkus kecil. Karena proses menjalar pelan-pelan dan menahun, maka biasanya penderita datang dengan keadaan yang sudah lanjut sehingga kelainan fisik mudah diketahui, berupa: Kelainan parenkim yaitu konsolidasi, fibrosis, atelektasis, dan/atau kerusakan parenkim dengan sisa suatu kavitas. Kelainan saluran pernafasan : berupa radang dari mukosa disertai dengan penyempitan maupun penimbunan sekret. Kelainan pleura : oleh karena proses terletak dekat pleura, maka hampir selalu terjadi reaksi pleura berupa penabalan atau nyeri pleura.

Konsolidasi dan fibrosis pada parenkim paru dengan saluran pernafasan yang masih terbuka akan meningkatkan penghantaran getaran suara sehingga fremitus suara meningkat. Suara nafas menjadi bronko-vesikuler atau bronkial, didapatkan bronkofoni atau suara bisik yang disebut whispered pectoraliloque. Sekret yang berada didalam bronkus akan menyebabkan suara tambahan berupa ronki basah. Suara ronki kasar atau halus tergantung dari tempat sekret berada. Penyempitan saluran pernafasan menimbulkan ronki kering, dan

penyempitan ini disertai kavitas dapat terdengar suara yang disebut hallow sound sampai amforik. c. Pemeriksaan laboratorium Sputum Sputum dijadikan tanda yang patognomonis, dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. BTA dari sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan bronkus, jaringan paru, pleura, cairan pleura, cairan lambung, jaringan kelenjar, cairan serebrospinal, urin dan tinja. Hal ini sering dikerjakan pada anak-anak karena mereka sulit mengeluarkan dahaknya. Bila sputum sudah didapat, kuman BTA pun kadang-kadang sulit ditemukan. Kuman baru dapat ditemukan bila bronkus yang terlibat proses penyakit ini terbuka ke luar. Cara pengambilan sputum yaitu 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu). Pembacaan hasil pemeriksaan sediaaan sputum dilakukan dengan menggunakan skala International Union Against Tuberkulosis and Lung Disease (IUATLD), sebagai berikut: a. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif b. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan. c. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang, disebut + (1+) d. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut ++ (2+), minimal dibaca 50 lapang pandang. e. Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+), minimal dibaca 20 lapang pandang. Hasil pemeriksaan dikatakan positif bila apabila sedikitnya 2 dari 3 spesimen SPS hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan rontgen dada atau pemeriksaan sputum SPS diulang. Darah Pemeriksaan darah tidak dapat digunakan sebagai pegangan untuk menyokong diagnosis TB paru, karena hasil pemeriksaan darah tidak

menunjukkan gambaran yang khas. Tapi gambaran darah kadang-kadang dapat membantu menentukan aktivitas penyakit. Laju endap darah Laju endap darah sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak dapat mengesampingkan proses tuberkulosis aktif. Leukosit Jumlah leukosit dapat normal atau sedikit meningkat pada proses yang aktif. Hemoglobin Pada penyakit tuberkulosis berat sering disertai dengan anemi derajat sedang. Bersifat normositik dan sering disebabkan defisiensi besi. Tes tuberkulin Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosa, M. Bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen lainnya. 4. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan standar ialah foto thoraks PA. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif1 : Bayangan berawan / nodular disegmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah paru. Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular. Bayangan bercak milier Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologi yang dicurigai lesi TB inaktif : Fibrotik Kalsifikasi Schwarte atau penebalan pleura

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan sebagai berikut: Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan, serta tidak dijumpai kavitas Lesi luas, bila proses lebih luas dari lesi minimal.

2.9.

Diagnosis Banding Pada proses paru minimal sebagai diagnosis banding adalah simple

bronchopneumonia, kanker paru stadium dini, dan pneumonia lobaris. Pada proses tuberkulosis menahun perlu diingat bahwa ada penyakit paru non tuberkulosis yang bersifat menahun, seperti bronkiektasis, bronkitis, emfisema dan kanker paru.4,8

2.10.

Komplikasi Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan

menimbulkan komplikasi, yang dibagi atas:2 Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, dan laringitis Komplikasi lanjut: obstruksi jalan nafas (SOPT : Sindrom Obstruksi Paska Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat, fibrosis paru, kor pulmonal, sindrom gagal nafas, yang sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

2.11.

Penatalaksanaan Pengobatan tuberkulosis ditujukan untuk menyembuhkan penderita,

mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Pengobatan dibagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif dan fase lanjutan:1-4,6 a. Tahap intensif Penderita mendapat obat setiap hari, awasi langsung. Bila pengobatan tahap intensif diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam 2 minggu. diSebagian besar penderita BTA positif akan menjadi negatif pada akhir pengobatan

b. Tahap lanjutan Paduan obat yang digunakan terdiri dari panduan obat utama dan obat tambahan. 1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah: a. Isoniazid (INH), bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. b. Rifampisin, bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dorman yang tidak dapat dibunuh INH. c. Prazinamid, bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. d. Streptomisin, bersifat bakterisid. e. Ethambutol, bersifat bakteriostatik. 2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) : - Kanamisin - Amikasin - Kuinolon -Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam klavulanat Obat-obatan tersebut tersedia dalam kemasan obat tunggal dan obat kombinasi (Fixed Dose Combination/FDC). FDC direkomendasikan bila tidak dilakukan pengawasan menelan obat.6 Program Nasional Penanggulangan TB paru di Indonesia menggunakan paduan OAT:2 1. Kategori I (2HRZE/4H3R3) Diberikan untuk penderita baru TB paru BTA positif, TB paru BTA negatif rontgen positif yang sakit berat, dan penderita TB paru ekstra paru berat. 2. Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E) Diberikan untuk penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan lalai (drop out).

3. Kategori III (2HRZ/4H3R3) Diberikan untuk penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan, pasien ekstra paru ringan yaitu limfadenitis TB, TB kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal. 4. Obat sisipan (HRZE) Bila pada akhir tahap intendif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori I atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori II hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif. Dosis OAT yaitu:3 Tabel 1. 1 Jenis dan dosis OAT Obat Dosis (Mg/Kg BB/Hari) Dosis yang Dianjurkan Harian (mg/KgBB/ Hari Intermitten (mg/kgBB/ Kali R H Z E S 8-12 4-6 20-30 15-20 15-18 10 5 25 15 15 10 10 35 30 15 1000 600 300 300 150 750 750 SesuaiBB 450 300 1000 1000 750 600 450 1500 1500 1000 Dosis Maks(mg) <40 4060 >60 Dosis (mg)/BB (kg)

International Union Against Tuberkulosis and Lung Disease (IUALTD)

Tabel 1.2 Dosis obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap. Fase intensif (2 bulan) BB Harian (RHZE) 150/75/400/ 275 30-37 38-54 55-70 >71 2 3 4 5 2 3 4 5 2 3 4 5 2 3 4 5 2 3 4 5 Harian (RHZ) 150/75/400 3x/minggu (RHZ) 150/150/500 Fase lanjutan (4 bulan) Harian (RH) 150/75 3x/minggu (RH) 150/150

2.12.

Pencegahan

a. Terhadap Infeksi tuberkulosis4 1. Pencegahan terhadap sputum yang infeksius - Case finding - Isolasi penderita dan mengobati penderita - Ventilasi harus baik, kepadatan penduduk dikurangi. 2. Pasteurisasi susu sapi dan membunuh hewan yang terinfeksi oleh Mikobakterium bovis akan mencegah tuberkulosis bovin pada manusia b. Meningkatkan daya tahan tubuh1,4 1. Memperbaiki standar hidup 2. Usahakan peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG Imunisasi BCG diberikan dibawah usia 2 bulan, jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux dahulu. Vaksinasi dilakukan bila hasil tes tersebut negatif.

BAB III ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Agama Alamat Suku bangsa Pekerjaan : Nn. D : Islam : Muara Danau : Bangkinang : Pelajar Tanggal Pemeriksaan : 2 Juli 2011 Jenis kelamin : perempuan Umur : 18 tahun

Berdasarkan data dari puskesmas Salo dan melalui informasi dari paramedis mengenai gambaran penyakit TB di daerah Salo, serta melalui wawancara kepada pasien TB dalam masa pengobatan yang kontrol ke poli dewasa, maka kami mengunjungi salah satu rumah dari pasien. Dari hasil kunjungan tersebut kami memeriksa salah seorang anggota keluarga dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut :

ANAMNESIS Autoanamnesis Keluhan utama : Batuk berdahak sejak 4 bulan yang lalu

Riwayat penyakit sekarang Sejak 4 bulan yang lalu pasien mengeluhkan batuk berdahak, dahak kental berwarna kuning kehijauan, darah (-), sesak (-). Batuk dirasakan sepanjang hari Pasien juga mengeluhkan sering mengalami demam. Pasien mengeluh berkeringat banyak saat malam hari. Pasien juga mengeluh mengalami penurunan nafsu makan dan badannya semakin kurus namun pasien tidak mengetahui berapa Kg penurunan berat badannya. Pasien dalam pengobatan rutin 6 bulan, saat ini pasien sedang meminum obat TB untuk bulan ke 2 dan tidak pernah putus. Pasien masih

mengeluhkan batuk berdahak namun dirasakan berkurang dibandingkan saat sebelum minum obat.

Riwayat penyakit dahulu Riwayat asma (-) Riwayat DM (-)

Riwayat penyakit keluarga Ibu kandung pasien menderita penyakit TB paru, pernah 2 kali mengikuti program pengobatan 6 bulan namun pengobatan tersebut tidak selesai. Riwayat DM (-) Riwayat Hipertensi (-)

Riwayat pekerjaan, sosial-ekonomi dan kebiasaan Adik-adik kandung pasien sebanyak 2 orang juga menderita batuk-batuk lama dan berdahak 2 bulan yang lalu. Riwayat merokok (-) Termasuk ekonomi kelas menengah kebawah

Keadaaan Perumahan dan Tempat Tinggal Pasien tinggal bersama ayah dan ibu serta 7 orang saudara kandungnya. Pasien tinggal di rumah permanen dengan ukuran 6x10 meter dengan 2 kamar tidur. Ventilasi udara dirumah tersebut kurang baik. Terdapat 2 buah jendela pada ruang tamu yang bergabung dengan ruang tengah. Tampak ruangan cukup gelap karena posisi jendela-jendela tersebut tertutupi oleh pohon mangga sehingga sinar matahari hanya sedikit yang masuk. Pasien tidur dengan 2 adiknya dalam 1 kamar. Ventilasi kamar terdiri dari 1 buah jendela yang ditutup dengan papan sehingga sinar matahari tidak masuk. Kebersihan rumah kurang. Keadaan perumahan disekitar tempat tinggal pasien cukup baik, jarak antar rumah 10 meter.

PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan umum Keadaan umun Kesadaran Tanda-tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan Status Gizi: Berat badan Tinggi badan IMT Kepala Mata : konjungtiva tidak anemis; sklera tidak ikterik, pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, reflek cahaya (+/+) Hidung : nafas cuping hidung (-) Leher : pembesaran KGB (-), JVP 5-2 cmH O : 44 kg : 158 cm : 44/(1,58)2 = 17,67% ( gizi kurang) : tampak sakit ringan : komposmentis : : 120/70 mmHg : 82 kali/menit, regular, pengisian cukup : 36,7 : 23 kali/menit

Toraks Paru: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung: Inspeksi Palpasi Perkusi : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis teraba di RIC V 1 jari medial LMC sinistra : Ka= linea sternalis dextra RIC V Ki= LMC sinistra 1 jari medial RIC V Auskultasi : irama jantung teratur, bising jantung (-) : Gerakan dada simetris : Fremitus kiri=kanan : Sonor pada kedua lapangan paru. : Vesikuler, Ronkhi (+/-), wheezing (-/-) paru kanan dan kiri

Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstrimitas Refiling kapiler (N), oedem pretibia (-), Clubbing finger (-) : Perut datar, venektasi (-) : supel, hepar dan lien tidak teraba : tympani : BU (+) normal

Pemeriksaan Penunjang Pada pasien ini terdapat riwayat pemeriksaan BTA (+) 3 pada tanggal 28 April 2011.

RESUME Nn.D, 18 tahun, dengan keluhan batuk berdahak sejak 4 bulan yang lalu, dahak kental berwarna kuning kehijauan. Batuk juga disertai demam yang hilang timbul, berkeringat banyak saat malam hari. Batuk dirasakan sepanjang hari. Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Ibu pasien pernah didiagnosis menderita TB paru, punya riwayat Drop Out pengobatan dengan OAT. Adik-adik pasien juga mengeluhkan batuk-batuk lama sejak 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik pasien tampak kurus, rhonki (+) pada lapangan paru kanan Pemeriksaan BTA (+++)

DIAGNOSIS KERJA TB paru dengan BTA (+) dalam masa pengobatan

PENATALAKSANAAN Non farmakologi : Istirahat Diet tinggi kalori tinggi protein

Buang dahak pada tempat khusus yang disediakan Menutup mulut sewaktu batuk dan bersin Tindakan pemisahan alat alat makan dan minum pasien serta mencuci bersih alat tersebut.

Cuci tangan dan jaga kebersihan rumah, ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup

Penyuluhan kepada penderita (mengenai penyakit TB dan akibat yang ditimbulkan) agar mau berobat teratur untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain.

Penyuluhan kepada anggota keluarga penderita sebagai PMO (Pengawas Minum Obat) dan segera memeriksakan anggota keluarga yang mengalami gejala serupa.

Farmakologi : OAT Kategori I 2RHZE/4R3H3 Dosis dengan berat badan 48 kg ( kategori 40-60 kg) Rifampisin 450 mg/ hari (8-12 mg /kgbb) Isoniazid 300 mg/ hari ( 4-6 mg/ kgbb) Pirazinamid 1000 mg/ hari ( 20- 30 mg/kgb) Etambutol 750 mg/ hari (15 -20 mg /kgbb) Karena yang tersedia di Puskesmas Kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination FDC ) maka yang digunakan RHZE (150/ 75/400/ 275 mg) kategori Berat Badan 38- 54 yaitu dengan memakan 3 tablet sekaligus/ hari selama 2 bulan. Vitamin B6 200 mg 1x 1

BAB IV PEMBAHASAN

Berdasarkan data dari puskesmas Salo dan melalui informasi dari paramedis mengenai gambaran penyakit TB di daerah Salo, serta melalui wawancara kepada pasien TB dalam masa pengobatan yang kontrol ke poli dewasa, maka kami mengunjungi salah satu rumah dari pasien. Dari hasil wawancara dengan pasien yang kontrol tersebut menyebutkan adanya anggota keluarganya mengalami batuk-batuk beberapa bulan ini dan sudah pernah diperiksakan ke puskesmas. Berdasarkan informasi tersebut dilakukan kunjungan ke rumah pasien, untuk melacak apakah ada anggota keluarga yang terkena penyakit TB. Pada pasien ini dari anamnesis didapatkan gejala klinis TB berupa keluhan-keluhan respiratorik dan sistemik berupa batuk berdahak, demam, keringat malam, anoreksia dan berat badan menurun. Gejala-gejala tersebut merupakan gambaran gejala klinis respiratorik dan gejala umum dari TB paru. Pada pemeriksaan fisik, dari keadaan umum pasien ditemukan suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. Pada pasien ini dari pemeriksaan fisik ditemukan rhonki pada lapangan paru kanan. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan BTA (+++). Hasil ini menunjukkan aktivitas penyakit dari pasien ini dalam status aktif dan sangat infeksius. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien ini didiagnosa menderita TB Paru BTA positif dan dalam masa pengobatan bulan ke 2. Di Indonesia masalah TB juga menjadi kasus yang cukup besar, ini terbukti dimana indonesia merupakan negara penyumbang kasus penderita tuberkulosis terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina. Di Indonesia diperkirakan terdapat 528.000 (228 per 100.000 peduduk) kasus baru tuberkulosis, dimana 236.000 (102 per 100.000 penduduk) di antaranya merupakan kasus tuberkulosis paru BTA positif.9 Di Kecamatan Salo berdasarkan data dari Puskesmas Salo untuk tahun 2010 terdapat kasus TB dengan BTA positif sebanyak 6 kasus dan hal ini akan terus meningkat bila pengobatan TB tidak tuntas.10

Penyakit TBC yang diperkenalkan dengan sebutan TB paru merupakan penyakit yang mengganggu sumber daya manusia dan umumnya menyerang kelompok masyarakat dengan sosio-ekonomi rendah, penyakit ini menular dengan cepat pada orang yang rentan dan daya tahan tubuh lemah, diperkirakan seorang penderita TB aktif dapat menularkan basil TB kepada 10 orang di sekitarnya. Peningkatan kasus dan kematian yang disebabkan oleh TB-paru antara lain karena tidak diobati, tidak mengerti telah terinfeksi basil TB, juga karena angka cakupan yang rendah, cakupan tinggi tapi hasil pengobatan rendah serta adanya kasus-kasus baru akibat transisi demografi.9,11 Dalam penanganan TB, bila tenaga medis menemukan pasien TB dewasa dengan BTA sputum positif maka lacak sentrifugal harus dilakukan yaitu mencari orang-orang terdekat seperti istri, anak serta menantu yang memiliki kontak erat dengan pasien tersebut, untuk mencari kemungkinan apakah orang tersebut telah terinfeksi atau bahkan sakit TB, dan sebaliknya bila ditemukan anak yang didiagnosa TB, lacak sentripetal juga harus dilakukan mencari orang dewasa sebagai penularaannya.3,6 Penjaringan penderita TB telah beberapa kali dilakukan oleh petugas Puskesmas Salo namun kendalanya pot dahak yang dibagikan oleh petugas Puskesmas sangat jarang dikembalikan ke petugas puskesmas. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pasien, pasien tinggal bersama keluarga sebanyak 10 orang. Kurangnya upaya pencegahan kontak dengan anggota keluarga yang lain dapat dilihat dari tidak adanya tempat membuang dahak di tempat khusus. Hal ini menceminkan masih perlunya pengawasan mengenai panyakit TB terutama dalam mengatasi penularannya. Kondisi rumah pasien yang memiliki ventilasi yang tidak baik merupakan faktor risiko untuk berkembang biaknya bakteri salah satunya bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Ventilasi adalah suatu usaha untuk memelihara kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia di dalam rumah. Udara yang bersih merupakan komponen utama di dalam rumah dan sangat diperlukan oleh manusia untuk hidup secara sehat. Penelitian yang dilakukan Sumarjo (2004) di Kabupaten Banjarnegara mendapatkan ada hubungan ventilasi rumah dengan kejadian TB paru.12 Pada kasus ini perlu diberi penyuluhan kepada keluarga nya

untuk setiap hari membuka jendela sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah. Tujuan pengobatan adalah untuk menjamin kesembuhan dan mencegah terjadinya resistensi primer yang dapat merugikan penderita serta menyulitkan kesembuhan. Untuk itu digunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course Therapy) yang artinya: pengobatan TB jangka pendek dengan pengawasan ketat oleh petugas kesehatan atau keluarga penderita. Strategi ini diperkenalkan oleh WHO; DOTS tidak hanya mencakup pengawasan langsung pengobatan, tetapi juga pelayanan laboratorium, penyediaan obat- obatan yang ampuh serta pemantauan langsung; untuk itu diperlukan PMO (Pengawas Menelan Obat).3,6,11 Pada kasus ini, ibu pasien yang telah Drop Out dalam pengobatan TB sebanyak 2 kali diduga merupakan sumber penularan utama pada keluarga ini. Bakteri TB pada tubuh ibu pasien dikhawatirkan menjadi Multi Drug Resistance sehingga perlu usaha lebih keras dari petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang TB pada ibu pasien agar ibu pasien menyadari tentang bahaya TB jika putus obat dan agar ibu pasien dengan sukarela mau mengulangi terapi OAT nya dan meneruskannya sampai pengobatannya tuntas. Petugas Puskesmas Salo sebelumnya telah melakukan beberapa kali home visit ke rumah pasien untuk menimbulkan kesadaran pada ibu pasien agar meneruskan pengobatan dan memberi penyuluhan dengan tujuan agar tidak menimbulkan penularan yang lebih banyak lagi ke keluarga dan tetangga-tetangga di sekitar tempat tinggal pasien. Namun ibu pasien tetap mengabaikan penyuluhan dari petugas sehingga perlu usaha lebih keras dari pertugas medis untuk meningkatkan kesadaran ibu pasien. Tindakan pencegahan penularan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan petugas kesehatan. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarang tempat. Tindakan disinfeksi, cuci tangan dan menjaga kebersihan rumah serta ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.8,9 Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi BCG pada bayi dan membangun perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan

tentang penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya. Petugas kesehatan hendaknya memberi saran untuk terciptanya rumah sehat sebagai upaya mengurangi penyebaran penyakit. Memberikan penyuluhan perorangan secara khusus kepada penderita agar penderita mau berobat teratur untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain, menganjurkan masyarakat untuk melapor apabila diantara warganya ada yang mempunyai gejala-gejala penyakit TB, berusaha menghilangkan rasa malu pada penderita oleh karena penyakit TB paru bukan penyakit yang memalukan, dapat dicegah dan disembuhkan seperti halnya penyakit lainnya.6,11

DAFTAR PUSTAKA 1. Raviglion MC, OBrien RJ. Tuberculosis. In: Harrisons Principles of internal medicine. 15th Edition. USA: McGraw-Hill, 2001. 2. Bahar A, Amin Z. Tuberkulosis paru. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 988-993 3. Aditama TY, et al. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006 4. Alsagaff H, Mukty A. Tuberkulosis paru. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Airlangga, 2002. 73-108 5. Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA, Brooks GF, Butel JS, Ornston LN. Mikrobiologi Kedokteran, Buku II Edisi I Jakarta: Salemba Medika, 2005. 6. Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Program Penanggulangan Tuberkulosis. http://www.tbcindonesia.or.id [Diakses 31 Mei 2011] 7. WHO. Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006 8. Yunus F. Diagnosis Tuberkulosis. http://www.kalbe.co.id/files/cdk [Diakses 31 Mei 2011] 9. WHO. Global Tuberculosis Control 2009: Epidemiology, Strategy, Financing. Geneva: WHO, 2009. 10. Puskesmas Salo. Profil Puskesmas Salo Tahun 2010. Salo: Puskesmas Salo; 2010. 11. Roebiono PS. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih MerupakanMasalah Dalam Masyarakat. (diakses 31 2009. Mei

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani6.pdf 2011).

12. Lumban TB. Tesis: Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru Dan Kondisi Rumah Terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru Pada Keluarga Di Kabupaten Tapanuli Selatan. FK-USU, Medan, 2009.