Anda di halaman 1dari 60

UFO, SALAH SATU

MASALAH DUNIA MASA KINI

Oleh
J. Salatun

Berdasarkan ceramah di Gedung Kebangkitan


Nasional di Jakarta pada tanggal 30 Juni 1979

Diterbitkan oleh
Yayasan Idayu
Jakarta 1982.
KATA PENGANTAR

Pada tanggal 30 Juni 1979 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta diselenggarakan ceramah oleh
Yayasan Idayu, yang diberikan oleh Marsekal Muda TNI J. Salatun dengan judul “UFO, Salah Satu Masalah
Dunia Masa Kini”. Yayasan Idayu sengaja meminta Perwira Tinggi TNI-AU itu untuk membahas masalah
UFO, atau Benda-benda Terbang Tak Dikenal alias Piring Terbang, mengingat karya-karyanya di dalam
merintis masalah UFO di negara kita. Hal itu terbukti dari tulisan-tulisannya di dalam majalah “Angkasa”
pada awal tahun lima puluhan, buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” pada tahun 1960, tulisan-
tulisan di dalam majalah-majalah UFO luar negeri seperti CBA International Magazine” di Jepang dan
“International UFO Reporter” di Amerika Serikat. Di samping itu perwira tinggi tersebut telah ditunjuk oleh
Menteri Luar Negeri Adam Malik untuk bertindak sebagai tuan rumah dan “counter-part” bagi tokoh
penelitian UFO kaliber internasional Prof.Dr.J.Allen Hynek yang berkunjung ke Indonesia pada penghujung
tahun 1976.
Ceramah tentang UFO tersebut di atas mendapat perhatian luar biasa dari segenap lapisan
masyarakat, baik generasi tua maupun generasi muda, dan menurut pengamatan termasuk kategori
ceramah yang diselenggarakan Yayasan Idayu yang paling banyak menarik pengunjung.
Ceramah tentang UFO tersebut di atas pada waktu diucapkan baru sebagianberupa naskah tertulis,
sedang selebihnya diberikan sekedar atas dasar peragaan diagram dan gambar. Isi buku ini di dalam garis
besarnya sama dengan ceramah yang telah diberikan itu. Perincian-perinciannya bahkan telah diperkaya
dengan berbagai keterangan mutakhir, hal tersebut penting kiranya untuk mengikuti masalah UFO yang
berkembang terus dengan pesatnya itu.
Mudah-mudahan buku ini berguna untuk menambah pengetahuan kita mengenai masalah UFO
yang begitu misterius dan tidak mudah dimengerti itu, namun yang pada suatu waktu mungkin akan
dapat mempengaruhi perikehidupan seluruh umat manusia juga, termasuk di dalamnya bangsa Indonesia.

Jakarta, 10 Agustus 1982


Yayasan Idayu

2
BAB 1
MASALAH UFO DI FORUM PBB

Hari Senin tanggal 27 November 1978 merupakan saat bersejarah bagi masalah UFO: pada hari itu
masalah UFO dibicarakan di dalam Komite Politik Khusus dari Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang
ke-33, dengan mata acara no. 126 yang berbunyi: Pembentukan suatu badan atau bagian dari PBB untuk
melakukan, mengkordinasikan dan menyebarluaskan hasil penelitian UFO dan gejala-gejala yang
bertalian. Dengan demikian masalah UFO yang kontroversal itu, yang sebelumnya telah 31 tahun lamanya
menjadi pemberitaan dunia, akhirnya menjadi pembicaraan resmi di forum PBB.
Adalah sangat berguna bagi kita untuk mempelajari penyajian masalah UFO di forum PBB itu, oleh
karena selain bersifat unik baik di dalam sejarah badan dunia tadi maupun di dalam sejarah UFO, bahan-
bahan yang dikemukakan bersifat autentik sehingga dapat mengantarkan para pembaca ke dalam
masalah UFO serta intisari persoalannya.
Masalah UFO untuk pertama kali diajukan ke forum PBB pada tahun 1975 oleh Sir Eric Matthew
Gairy, Perdana Menteri Grenada, suatu negara kecil yang terdiri dari sebuah pulau di Hindia Barat dengan
penduduk 100.000 jiwa. Di dalam perdebatan umum di Majelis Umum PBB tahun berikutnya, ia
mengimbau negara-negara besar untuk menyediakan informasi dan data lain tentang UFO bagi negara-
negara dan rakyat lain di bumi ini.
Kemudian di dalam suratnya tertanggal 14 Juli 1977, negarawan itu mengusulkan agar di dalam
acara Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang ke-32 dicantumkan masalah pembentukan suatu badan
atau bagian dari PBB untuk melakukan, mengkordinasikan dan menyebarluaskan hasil peneliatian UFO
dan gejala-gejala lain yang bertalian. Di dalam memori penjelasannya dikemukakan, bahwa yang dituju
ialah adanya diskusi terbuka mengenai masalah UFO yang dipandangnya sangat penting dan besar artinya
bagi umat manusia dewasa ini.
Di dalam sidang Komite Politik Khusus pada tangga 27 November 1978 yang dihadiri oleh wakil-
wakil dari 147 negara anggota PBB, delegasi Grenada mengadakan penyajian tentang masalah UFO
dengan dibantu oleh suatu panel ilmiah yang terdiri dari Dr.J.Allen Hynek, Dr. Jacques Vallee, Letnan
Kolonet Penerbang Larry Coyne dan Stanton T. Friedman.
Sir Eric M.Gairy merupakan seorang pembicara di forum PBB yang memiliki gaya tersendiri.
Pidatonya bernada keagamaan dan ketuhanan, bahkan pernah ada yang diakhiri dengan doa seperti
lazimnya di dalam gereja. Kecuali penelitian UFO, Sir Eric M. Gairy juga mengusulkan supaya PBB
mendirikan departemen atau badan untuk menyelidiki gejala-gejala paranormal.
Di dalam kata pembukaannya bagi penyajian masalah UFO, Perdana Menteri Sir Eric M. Gairy
menerangkan mengapa Grenada begitu memikirkan masalah UFO dan bukan hal-hal lain yang langsung
menyangkut perkembangan dunia. Dijelaskannya bahwa seluruh dunia sudah terlalu memikirkan
masalah-masalah internasional yang ditilik dari sudut kepentingan tiap-tiap negara hal tersebut mudah
dimengerti sehingga mereka seakan-akan lupa atau sangat sedikit memikirkan masalah-masalah
internasional yang menyangkut dunia sebagai suatu keseluruhan. Motifnya untuk mengemukakan
masalah UFO di forum PBB ialah “kepercayaan kepada adanya Yang Mahakuasa, dan pengakuan bahwa
gejala UFO merupakan salah satu cara-Nya untuk berhubungan dengan umat manusia. Saya tahu bahwa
merupakan tugas umat manusia untuk mempelajari dan mengerti lebih baik para utusan itu.”
Di dalam memperkenalkan Dr.J.Allen Hynek kepada sidang Komite Politik Khusus PBB, Menteri
Pendidikan Grenada Wellington Friday mengutarakan sketsa biografinya. Dr. Hynek ialah profesor
emeritus astronomi di Northwestern University dan Direktur dari Center for UFO Studies, suatu
perkumpulan dari ilmuwan-ilmuwan terkenal dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri. Selama
lebih dari 20 tahun Prof. Hynek menjadi konsultan astronomi dari Angkatan Udara Amerika Serikat di
dalam proyek-proyek “Sign” dan “Blue Book”, yang mengolah dan mempelajari penyaksian-penyaksian
UFO yang dilaporkan kepada pangkalan-pangkalan Angkatan Udara. Ia datang ke Northwestern University
dalam tahun 1960 dari kedudukannya sebagai Wakil Direktur Smithsonian Astrophysical Observatory di
Cambridge, Massachusetts, di mana ia bertanggung jawab atas program tracking optik satelit Amerika
Serikat. Ia bertanggung jawab atas pelacakan secara tepat dari satelit-satelit pertama dan juga atas
kurang lebih 270 buah stasiun sukarela pengamat bulan di berbagai negara. Seorang kelahiran kota
Chicago, Dr. Hynek telah memangku berbagai jabatan terkenal selama jenjang kariernya. Setelah meraih
gelar doktor astronomi di Universitas Chicago, ia menjadi profesor astronomi dan Direktur Mc Millan
Observatory di Ohio State University, pengawas laporan-laporan teknis pada Applied Physics Laboratory
dari John Hopkins University selama Perang Dunia Kedua, pembantu dekan dari Sekolah Pasca Sarjana di
Ohio State University dan profesor astronomi sesudah perang dan dosen astronomi di Harvard University
selama 4 tahun ketika menjabat Wakil Direktur Smithsonian Astrophysical Observatory di Cambridge.
Dr. Hynek kemudian datang ke Northwestern University sebagai Ketua Departemen Astronomi dan
direktur dari Dearborn Observatory, pos tersebut dipegangnya selama 15 tahun. Selama masa jabatan itu
ia berjasa di dalam mendirikan Pusat Astronomi Lindheimer dan menjadi direkturnya yang pertama.
Dr. Hynek adalah pengarang banyak tulisan teknis di dalam bidang astrofisika dan pengarang
beberapa textbooks. Ia juga pengarang dari buku-buku “The UFO Experience-A Scientific Inquiry”
Regnery, Chicago 1972; Ballantine, New York 1974 dan bersama Dr. Jacques Vallee mengarang
buku:”The Edge of Reality”. Bukunya yang terakhir adalah “The Hynek UFO Report”. Dr. Hynek juga

3
menjadi redaktur kepala dari “The International UFO Reporter”, suatu majalah bulanan yang memperinci
penyaksian-penyaksian baru dan peristiwa-peristiwa di dalam bidang Ufologi.
Kegiatan Dr. Hynek untuk meneliti masalah UFO dilanjutkan terus setelah Angkatan Udara Amerika
Serikat menghentikan proyek “Blue Book”. Sambil bekerja sama dengan para ilmuwan lainnya. ia
bertujuan untuk mempelajari gejala UFO, yang olehnya dan rekan-rekannya dipandang sebagai suatu
problem ilmiah yang nyata dan penting. Untuk keperluan itu Dr. Hynek mendirikan “Center for UFO
Studies” di dalam tahun 1973 untuk menciptakan sumber bagi masyarakat dari keterangan yang dapat
dipercaya dan berbobot tentang UFO dan yang juga merupakan suatu “clearing house” ilmiah kepada
orang-orang yang dapat melaporkan pengalaman UFO tanpa takut diperolokkan dan untuk menerangkan
metode-metode ilmiah terhadap salah satu teka-teki yang paling mengherankan dalam abad ini, yaitu
UFO.
Dr.J.Allen Hynek membuka uraiannya dengan memuji prakarsa Perdana Menteri Sir Eric Gairy
untuk memajukan masalah UFO ke depan Majelis Umum PBB, sehingga salah satu negara yang terkecil di
dunia telah mengambil suatu langkah yang bagi negara-negara besar tidak berani mengambilnya.
Dr. Hynek selanjutnya melukiskan masalah UFO sebagai suatu gejala yang mencakup seluruh
dunia, akan tetapi yang baik ruang-lingkup maupun jangkauannya belum diakui secara luas. UFO
merupakan gejala yang begitu aneh dan asing terhadap jalan pikiran kita sehari-hari di bumi ini sehingga
ia sering disambut dengan tertawaan dan ejekan oleh orang dan organisasi yang tidak mengetahui fakta-
faktanya. Namun gejala itu bertahan terus dan tidak berhenti serta lenyap seperti harapan banyak orang
bertahun-tahun yang lalu yang menyangka bahwa hal tersebut merupakan suatu hobi atau tingkah laku
yang bersifat tiba-tiba dan sementara. Sebaliknya masalah UFO telah menyentuh kehidupan semakin
banyak orang di seluruh dunia.
Dr. Hynek memberi definisi tentang UFO sebagai:”penyaksian dari permukaan bumi atau udara,
atau rekaman alat (seperti radar, foto, dsb) yang tetap tidak dapat diterangkan dengan cara-cara
konvensional sesudah penyelidikan kompeten oleh para ahli”. Definisi tersebut tidak menyebut tentang
manusia kerdil berwarna hijau dari angkasa luar, atau pengejawantahan dari alam spiritual, atau berbagai
pengejawantahan psikis. Ia sekedar menyatakan suatu definisi operasional. Suatu kesalahan besar, yang
menjadi sumber dari kekacauan yang parah, yang hampir selalu terjadi ialah untuk mengganti gejala UFO
dengan tafsiran terhadap gejala itu sendiri. Hal itu mirip dengan menerangkan cahaya di langit Kutub
Utara Aurora Borealis sebagai komunikasi para bidadari sebelum kita mengerti fisika dari angin matahari.
Walaupun demikian, di dalam pikiran orang banyak gejala UFO disangkutpautkan dengan konsep
kecerdasan luar bumi dan ini boleh jadi akan terbukti kebenarannya dalam rangka hubungan tertentu.
Kita semua sungguh akan menjadi bahan tertawaan jikalau di kemudian hari terjadi bahwa bukti bagi
kecerdasan luar bumi dari dahulu selama ini berada di depan hidung kita, sedang kita bersusah payah
untuk mencarinya di tempat lain.
Dr. Hynek kembali menekankan bahwa gejala global laporan-laporang UFO, laporan-laporan yang
sering dibuat oleh orang-orang yang sangat bertanggung jawab, belum dapat dimengerti. Namun hal
tersebut merupakan suatu gejala yang telah menarik perhatian jutaan orang manusia. Di Amerika Serikat
saja menurut penyelidikan pendapat umum oleh Gallup disimpulkan bahwa tidak hanya terdapat
kesadaran yang tinggi dari masyarakat terhadap masalah UFFO, akan tetapi menunjukkan pula bahwa
57% dari penduduk negara itu, berarti lebih dari 100 juta orang, percaya bahwa UFO merupakan
kenyataan dan bukan suatu reka khayalan.
Laporan-laporan UFO berasal dari 133 negara yang berlainan. Banyak laporan UFO dibuat oleh
saksi-saksi yang sangat bertanggung jawab, seperti astronot, ahli radar, para penerbang militer dan sipil,
banyak di antaranya terdapat pejabat-pejabat pemerintah dan ilmuwan, bahkan termasuk pula para ahli
astronomi!
Kita punya puluhan ribu laporan UFO. Meskipun tidak semuanya bermutu tinggi, di antaranya
terdapat laporan-laporan yang sangat mengherankan dan provokatif tentang kejadian-kejadian aneh yang
dialami oleh saksi-saksi yang sangat dapat dipercaya..... kejadian-kejadian merupakan tantangan
terhadap konsepsi kita sekarang mengenai dunia di sekelilingnya dan yang mungkin mencanangkan perlu
adanya beberapa perubahan di antara konsepsi-konsepsi itu.
Hal itu pernah disinggung oleh tidak kurang dari Menteri Pertahanan Prancis M. Robert Galley, yang
di dalam suatu wawancara radio pada tanggal 21 Februari 1974 menandaskan pentingnya menyelidiki apa
yang masih belum diketahui.
Banyak keterangan tentang UFO bersifat “keras”, tetapi tidak harus sekeras dalam arti yang
dipakai oleh ahli fisika, yang pasti lebih “keras” dari banyak keterangan yang dipergunakan di dalam ilmu
pengetahuan sosial dan di dalam praktek hukum.
Barangkali keterangan yang paling “keras” yang kkita miliki sampai sekarang ialah apa yang
disebut “Close Encounters of the Second Kind” (Perjumpaan Dekat Jenis Kedua), atau dengan perkataan
lain juga dikenal sebagai Kasus-kasus dengan Jejak Fisik.
Kasus-kasus tersebut dilaporkan seiring dan serentak dengan terjadinya suatu peristiwa UFO yang
diikuti bukti fisik di dekat munculnya UFO tadi. Hal itu dapat berupa efek fisik serempak terhadap benda
hidup atau mati, atau kedua-duanya. Jadi, efek-efek fisiologis terhadap manusia, hewan dan tumbuh-
tumbuhan telah dilaporkan secara sangat dapat dipercaya, demikian pula gangguan terhadap sistem-
sistem listrik di sekelilingnya yang dekat dan timbulnya tempat-tempat yang mengalami gangguan di

4
tanah yang juga di dekat peristiwa UFO yang dilaporkan. Sekarang lebih dari 1300 kasus jejak fisik telah
dilaporkan.
Gejala apa saja yang menyentuh kehidupan begitu banyak orang, dan yang menimbulkan
kebingungan bahkanketakutan di antara mereka, dengan sendirinya bukan hanya mengandung potensi
kepentingan dan arti ilmiah, tetapi juga mengandung arti sosiologis dan politis, terutama oleh karena hal
tersebut menimbulkan banyak implikasi mengenai adanya kecerdasan yang lain daripada kita.
Berbicara atas nama ia sendiri dan atas nama rekan-rekan ilmuwan lainnya, Dr. Hynek, baik
sebagai penasihat ilmiah Angkatan Udara Amerika Serikat maupun sebagai ilmuwan yang langsung
terlibat penelitian UFO, berdasarkan penyelidikan bertahun-tahun menyatakan keyakinannya bahwa
gejala UFO bagaimanapun asalnya sangat bermanfaat untuk diteliti lebih lanjut.
Dr. Wellington Friday kemudian memperkenalkan Dr. Jacques Vallee. Dr. Vallee lahir dan dididik di
Prancis. Ia meraih gelar sarjana muda matematika dari Sorbonne dan gelar sarjana astrofisika dari
Universitas Lille. Datang ke Amerika Serikat pada tahun 1962 sebagai seorang peneliti pada Universitas
Texas, ia kemudian pindah ke Chicago dan meraih gelar doktor dalam ilmu pengetahuan komputer dari
Universitas Northwestern.
Sebagai seorang spesialis dalam sistem informasi, Dr. Vallee telah merintis konsepsi-konsepsi baru
unuk data-based management dan untuk sistem konperensi yang pertama yang didasarkan atas suatu
jaringan komputer. Ia telah memberikan banyak sumbangan bagi sistem-sistem informasi di bidang-
bidang astronomi, kedokteran dan geologi. Tulisan-tulisan tentang komputer dan penerapan ilmu
pengetahuan informasi telah dimuat dalam “Datamation”, “Technological Forecasting”, “Achives of
Pathology”, “The Astrophysical Journal” dan “ The Futurist”.
Sebelum mendirikan perusahaan sendiri, Dr. Vallee berkecimpung di berbagai lembaga riset seperti
Stanford University, dimana ia memimpin sistem informasi. Ia adalah anggota “International Editorial
Board of Telecommunications Policy”.
Sambil berkarya di dalam bidang ilmu pengetahuan komputer, Dr. Vallee mempunyai minat yang
aktif di dalam “science fiction” dan di dalam dampak sosial dari sistem-sistem kepercayaan baru, terutama
yang bertalian dengan kunjungan-kunjungan dari luar bumi dan UFO. Dua buah bukunya yang pertama di
dalam bahasa Prancis ialah novel-novel science fiction. Buah penanya yang pertama memenangkan
hadiah Jules Verne di dalam tahun 1962, sedang penelaahan selanjutnya menyangkut penyelidikan ilmiah
terhadap kepercayaan kepada UFO. Buku “Anatomy of a Phenomenon”, terbit di dalam tahun 1965,
menyebabkan timbulnya kembali minat terhadap kasus-kasus yang tidak dapat diterangkan yang sedang
menumpuk di dalam arsip-arsip Angkatan-angkatan Udara Prancis dan Amerika Serikat yang
dipergunakan Vallee ketika ia menyusun katalogus komputer yang pertama mengenai masalah UFO.
Buku-bukunya kemudian, “Challenge to Science”, yang ditulis bersama istrinya, dan “Passport to
Magonia” menjajagi hubungan antara teka-teki UFO dengan metodologi ilmiah dan dengan dongeng-
dongeng rakyat. Akhir-akhir ini Dr. Vallee telah menaruh perhatiannya kepada penelaahan dampak gejala
UFO terhadap kesadaran umat manusia. Bukunya “The Edge of Realit”, yang terbit di dalam tahun 1975
dan dikarang bersama Dr. Hynek, dan bukunya yang mutkhir:”The Invisible College” yang terbit di dalam
tahun 1976, mengemukakan apa yang oleh Dr. John Lilly disebut sebagai “hipotesa pertama yang masuk
akal mengenai gejala-gejala itu yang gpernah saya baca”.
Dr. Jacques Vallee meminta perhatian sidang atas adanya gerakan baru di dalam masyarakat yang
didasarkan atas harapan akan terjadinya hubungan dengan mahluk-mahlik angkasa luar. Kepercayaan itu
dalam banyak hal bersifat emosional. Meskipun gejala UFO adalah nyata dan rupa-rupanya disebabkan
oleh suatu ransangan fisik yang belum diketahui, Dr. Vallee sejauh ini masih belum berhasil untuk
menemukan bukti apa pun bahwa gejala UFO itu merupakan pertanda kedatangan tamu-tamu dari
angkasa luar.
Selain itu Dr. Vallee sampa pada kesimpulan, bahwa gejala UFO memperlihatkan 3 macam aspek.
Aspek pertama ialah pengejawantahan fisik yang dapat dan harus diselidiki dengan alat-alat ilmiah
yang sudahada. Tidak ada kekurangan data fisik dan tidak ada kekurangan ilmuwan-ilmuwan kompeten
yang bersedia untuk menyelidikinya dengan pikiran terbuka.
Aspek kedua dari gejala UFO ialah yang bersifat psiko-fisiologis. Para saksi di tempat kejadian
memperlihatkan gejala-gejala disorientasi, kehilangan rasa waktu, lumpuh sebagian atau kehilangan
pengendalian otot sadar, halusinasi pendengaran dan penglihatan, keluhan mata mulai dari peradangan
hingga kebutaan sementara, reaksi-reaksi psikis yang kuat dan akibat-akibat jangka lebih panjang seperti
gangguan tidur dan pola mimpi serta perubahan tingkah laku yang drastis.
Aspek ketiga dari gejala UFO ialah sistem kepercayaan masyarakat yang telah ditimbulkan di
semua negara yang diwakili di komite khusus politik ini oleh harapan adan adanya tamu-tamu angkasa
luar. Kepercayaan itu telah disuburkan oleh tidak adanya perhatian serius terhadap laporan-laporan UFO
yang murni, sehingga terciptalah konsepsi-konsepsi religius, kultural, dan politis yang baru yang oleh ilmu
pengetahuan sosial masih kurang diperhatikan.
Kesimpulan-kesimpulan Dr. Vallee tentang aspek-aspek sosial dari gejala UFO di dalam
kebudayaan-kebudayaan yang telah dipelajarinya adalah sebagai berikut:
1. Kepercayaan kepada tamu-tamu angkasa luar tidak tergantung dari kenyataan fisik gejala UFO.
Di dalam pengertian ilmu pengetahuan sosial dapat dikatakan bahwa sesuatu adalah “nyata” jikalau cukup
banyak orang mempercayainya. Gejala UFO sekarang telah mencapai titik itu. Pertanyaan tentang

5
bagaimana kita mengetahui apakah UFO itu “nyata” secara fisik atau tidak, telah menjadi sekunder di
dalam pikiran khalayak ramai.

2. Kepercayaan kepada segera akan adanya hubungan dengan UFO merupakan petunjuk tentang
adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara khalayak ramai dengan ilmu pengetahuan. Kini kita
sudah mulai membayar untuk sikap negatif dan berprasangka dari lembaga-lembaga ilmiah di dalam
memperlakukan saksi-saksi yang jujur dari gejala-gejala UFO. Tidak adanya penelitian yang sungguh-
sungguh dan berpikiran terbuka di dalam bidang ini telah mendorong para saksi tadi untuk mengira
bahwa ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menghadapi gejala tadi. Sikap ini telah membawa banyak
orang untuk mencari jawaban di luar pencarian pengetahuan secara rasional yang menjadi landasan
berpijak ilmu pengetahuan. Hanya suatu pertukaran keterangan yang terbuka mengenai masalah UFO
sekarang dapat memperbaiki kecenderungan yang berbahaya tadi.

3. Dalam ketiadaan penelitian serius yang tidak berat sebelah terhadap masalah UFO, maka
kepercayaan kepada segera akan terjadinya kontak dengan UFO dapat menggerogoti citra manusia
sebagai penanggung jawab nasibnya swndiri. Dalam tahun-tahun terakhir ini kita telah melihat terbitnya
banyak buku yang mengemukakan argumentasi bahwa bumi kita di zaman purbakala telah didatangi oleh
tamu-tamu dari angkasa luar. Meskipun teori itu pantas dipelajari dengan serius, ia telah membuat
banyak orang menganut anggapan bahwa karya-karya besar umat manusia adalah mustahil tanpa campur
tangan dari angkasa luar. Pengembangan pertanian, penguasaan api dan dasar-dasar peradaban kita
lainnya dimungkinkan oleh “makhluk-makhluk yang lebih tinggi”. Pandanganitu tidak hanya bertentangan
dengan banyak fakta kepurbakalaan, akan tetapi ia juga mendorong harapan pasif kepada kedatangan
dari makhluk-makhluk lain angkasa luar yang bersahabat untuk memecahkan persoalan-persoalan umat
manusia masa kini.

4. Harapan akan adanya hubungan dengan tamu-tamu dari angkasa luar bersifat memajukan
konsepsi penyatuan polotis dari planet kita. Melalui kepercayaan adanya makhluk-makhluk angkasa luar,
suatu kegandrungan yang berkobar-kobar dan indah kepada perdamaian dunis sedang menyatakan
dirinya. Gejala UFO memberikan fokus ekstern bagi emosi-emosi manusiawi. Apakah hal itu menjadi
faktor bagi perubahan sosial yang positif atau negatif akan tergantung dari cara emosi-emosi tadi
disalurkan dan dari kesungguhan penelitian gejala fisik yang mendasarinya. Demikianlah tantangan yang
ada di depan komite ini. Semua negara besar di dunia ini diwakili dalam komite ini. Marilah kita
mencamkan, bahwa gejala UFO boleh jadi mewakili suatu kenyataan yang lebih besar lagi. Adalah pilihan
kita sendiri untuk menghadapinya sebagai ancaman ataupun kesempatan bagi pengetahuan manusia.
Demikianlah Dr. Vallee mengakhiri pengkajiannya.
Orang berikutnya yang diminta oleh delegasi Grenada untuk memberikan pernyataan ialah Letnan
Kolonel Larry Coyne. Menteri Wellington Friday dari delegasi Grenada memberi kata pengantar baginya,
yang menandaskan meskipun Kolonel Coyne adalah anggota militer Amerika Serikat, kehadirannya adalah
sebagai pribadi. Sketsa biografinya dimulai dengan fakta bahwa Kolonel Coyne diterjunkan ke dalam
masalah UFO karena peristiwa perjumpaan jarak dekat yang mengerikan antara dia dengan helikopter
Angkatan Darat Amerika Serikat dan sebuah UFO pada tahun 1973 di dekat Columbus, Ohio. Latar
belakangnya termasuk gelar sarjana muda dalam bidang menajemen. Pada waktu itu ia berada di Sekolah
Staf dan Komando Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Leavenworth, Kansas. Ia memiliki kualifikasi
untuk kesenjataan-kesenjataan infanteri dan kavaleri serta Dinas Kesehatan Angkatan Darat Amerika
Serikat.
Ia mengikuti latihan terjun payung di Fort Benning, Georgia, dan juga latihan pasukan khusus di
Fort Bragg di North Carolina. Ia mengikuti sekolah penerbang Angkatan Darat di Alabama, di mana ia
menggondol ijazah untuk mengemudikan helikopter, pesawat sayap tetap bermotor tunggal dan ganda,
serta pesawat terbang laut. Ia telah mengumpulkan lebih dari 3000 jam terbang. Selama 23 tahun dias
militer ia memangku jabatan-jabatan komandan selama 13 tahun. Dewasa ini dia adalah komandan
batalyon dan mengawasi fasilitas penerbangan di Cleveland, Ohio.
Letnan Kolonel Coyne sedang menyiapkan naskah buku yang mengisahkan pengalaman pribadinya
dengan UFO dan mengetengahkan prosedur-prosedur untuk penerbang-penerbang militer dan komersial
yang berjumpa dengan UFO di seluruh dunia.
Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne menyampaikan pengalaman pribadinya kepada sidang
Komite Politik Khusus PBB sebagai berikut:”Saya telah diminta untuk menyampaikan kepada komite ini
peristiwa yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 1973 yang melibatkan sebuah helikopter Angkatan Darat
Amerika Serikat dengan awak 4 orang yang diantaranya saya bertindak sebagai komandan pesawat, dan
sebuah UFO. Apa yang membedakan kejadian ini dari banyak perjumpaan UFO lainnya ialah bahwa
peristiwa yang dimaksud ini hampir mengakibatkan suatu tabrakan di udara antara helikopter dengan
UFO.

Helikopter kami bertolak dari Columbus, Ohio, pukul 22.30 pada hari Kamis tanggal 18 Oktober
1973 dengan tujuan Cleveland, Ohio. Cuaca pada malam hari itu terang, dengan penglihatan sejauh 15
mil (24 km) atau lebih. Tidak ada awan dan angin berkecepatan kurang dari 10 knots (18km sejam).
Awak helikopter terdiri dari 4 orang: seorang bintara teknik, seorang bintara kesehatan, seorang ko-pilot

6
dan saya sendiri sebagai komandan pesawat. Setelah memberikan rencana penerbangan kepada petugas
operasi penerbangan, kami bertolak dari Columbus tanpa hambatan apa pun untuk memulai penerbangan
yang tampaknya seperti rutin, suatu hal yang sering saya lakukan sebelumnya.

Kami naik dan kemudian mendatar pada ketinggian 2500' (750m)


di atas permukaan laut dengan haluan 0.3.0 derajat dan memelihara kecepatan udara sebesar 90
kts (162 km/jam). Begitu kami bebas dari daerah pengawasan terminal Columbus, kuserahkan
pengendalian pesawat kepada ko-pilot Letnan Jutsey dan bersantai untuk menikmati penerbangan ke
Clevelang.

Setelah terbang 30 menit helikopter kami mendekati daerah sekitar Mansfield, Ohio. Helikopter
akan melewati sebelah timur kota itu. Saya kemudian menyetel dan mengenal rambu radio non-
direksional yang terletak di sebelah tenggara kota itu untuk identifikasi posisi kami. Pada saat itu bintara
kesehatan Sersan Healy melihat suatu pesawat udara dengan sebuah cahaya merah terang bergerak ke
arah selatan, dan berada di sebelah barat helikopter kami. Sersan tadi melaporkan posisi dan haluan
pesawat udara itu melalui sistem interkom. Tidak ada ancaman ataupun keadaan luar biasa yang dilihat
pada waktu itu.
Beberapa menit kemudian bintara teknik Sersan Kepala Janesek melihat cahaya merah terang di
cakrawala, di sebelah timur helikopter dan melaporkan posisinya melalui interkom. Saya memerintahkan
dia untuk mengamat-amati gerakan cahaya merah lebih lanjut. Beberapa menit kemudian Sersan Janesek
melaporkan bahwa cahaya merah di cakrawala timur terbang sejajar dan dengan kecepatn yang sama
dengan helikopter kami. Saya perintahkan lagi Sersan Janesek untuk mengamati terus gerakan cahaya
merah tadi. Beberapa menit sesudah itu Sersan Janesek melaporkan bahwa pesawat udara dengan
cahaya merah kini terlah mengubah arahnya dan sedang mendekati helikopter kami dengan haluan siku-
siku dan dengan kecepatan sangat tinggi yang diperkirakan melebihi 600 kts (1000 km/jam). Pada saat
itu saya melihat ke kanan ke cakrawala timur dan menyaksikan suatu cahaya merah terang yang tetap
yang dengan kecepatan tinggi melaju dengan sudut siku-siku ke arah helikopter.

Saya seketika menghubungi Lapangan Terbang Mansfield, pengendalian pendekatan, dengan radio
VHF, memberikan tanda pengenal pesawat kami, dan menanyakan apakah ada pesawat berkecepatan
tinggi di daerah itu. Petugas pengendalian pendekatan Mansfield menerima tanda panggil pesawat kami
dan bertanya:”Go ahead”, meminta saya untuk mengulangi pertanyaan mengenai lokasi pesawat udara
berkecepatan tinggi. Pada saat itu kam tidak mendengar jawaban lagi. Namun radio pesawat masih
bekerja dan nada saluran terdengar jikalau diadakan perubahan-perubahan frekuensi.

Saya memberitahu ko-pilot bahwa pengendalian pesawat saya ambil kembali dan memintanya
untuk mencoba menghubungi Mansfield dengan radio-radio lain. Sambil menerbangkan pesawat saya
mengamati benda bercahaya merah tadi yang semakin dekat terhadap helikopter saya dengan ketinggian
yang sama dan dengan kecepatan yang tinggi. Menjadi jelaslah bahwa sebentar lagi akan terjadi tubrukan
di udara kecuali bila kulakukan gerakan menghindar.

Saya mulai turun dari ketinggian 2500 kaki (750 m) dengan kecepatan turun 500 kaki (150
m)semenit. Akan tetapi melihat bahwa benda bercahaya merah tadi juga ikut turun dengan helikopter
sambil memelihara haluan tubrukannya, saya kemudian menambah kecepatan turun helikopter menjadi
1000 kaki (300 m) semenit untuk menghindarkan tabrakan. Akan tetapi, lagi-lagi benda bercahaya merah
juga ikut turun pada haluan tabrakan. Saya akhirnya memperbesar kecepatan turun menjadi 2000 kaki
(600 m) semenit dan menambah kecepatan udara dari 90 menjadi 100 knots (180km/jam). Oleh karena
penglihatan pada malam itu terang, saya memilih suatu lapangan untuk pendaratan darurat jikalau
diperlukan.

Gerakan untuk menghindarkan diri ternyata sia-sia belaka oleh karena benda itu tetap pada haluan
tabrakandan sudah hampir sampai kepada helikopter. Saya lalu mencaci maki diri sendiri dan
memerintahkan awak pesawat melalui interkom untuk mempersiapkan diri guna tabrakan. Saat tabrakan
yang diperkirakan tidak pernah terjadi. Saya sejenak memejamkan mata, akan tetapi terganggu oleh
bintara kesehatan Sersan Healy, yang melalui interkom menukas:”Lihatlah itu!”
Dengan ucapan itu saya melihat ke luar ke depan helikopter dan mengamati suatu pesawat udara
yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pesawat itu mengambil posisi tepat di depan helikopter yang
sedang bergerak. Pesawat itu panjangnya kurang lebih 50 sampai 60 kaki (15-18m) dengan struktur
kelabu metalik. Di bagian depan pesawat itu terdapat cahaya merah terang yang tetap dan besar. Saya
dapat melihat batas di mana cahaya merah pada stuktur pesawat itu berhenti oleh karena merahnya
terpantul dari struktur yang kelabu. Design pesawat itu berbentuk simetrik dengan suatu lekukan yang
jelas di buritan badan sebelah bawah.
Dari tempat itu di badan sebelah bawah muncullah cahaya hijau, berbentuk piramida, cahaya
tersebut semula mengarah ke belakang. Cahaya hijau itu lalu mengayun 90 derajat sehingga langsung
masuk ke dalam kaca depan dan menerangin seluruh kokpit helikopter. Semua warna di dalam kabin
helikopter diserap oleh cahaya hijau tadi, dan hal itu meliputi penerangan di papan instrumennya.

7
Sekarang saya ingin menambah satu hal, yaitu pada saat saya menambah kecepatan turun
helikopter menjadi 2000 kaki (600 m) semenit dan ketika saya sedang mencari suatu lapangan untuk
pendaratan darurat, saya melihat altimeter turun melebihi 1700 kaki dan permukaan bumi mendekat
dengan cepat. Mencoba mengingat waktu dalam menit atau detik adalah tidak mungkin pada babak
tersebut dari peristiwa tadi. Dengan cahaya hijau di dalam kabin pesawat masih disorotkan langsung dari
benda yang berada di depan helikopter yang sedang bergerak maju, saya melihat bagaimana kompas
magnetik di papan instrumen berputar dengan perlahan-lahan tetapi tetap. Ia tidak lagi menunjukkan
arah yang tetap melainkan berputar terus dengan perlahan-lahan.
Letnan Jutsey, ko-pilot, melaporkan kepada saya bahwa radio-radionya tidak berfungsi lagi. Akan
tetapi saya beritahu dia bahwa nada-nada kunci dan saluran masih terdengar, dan supaya ia mencoba
frekuensi darurat. Ia menjalankan perintah saya, namun hubungan radio tetap terputus.
Saya kemudian melihat altimeter di papan instrumen dan terkejut ketika membaca bahwa
ketinggian helikopter sekarang ialah 3000 kaki (900 m) dan sedang naik dengan kecepatan 1000 Kaki
(300 m) semenit, sebagaimana ditunjukka pada indikator kecepatan vertikal. Sepanjang ingatan saya,
saya tidak pernah menambah tenaga dari turun 2000 kaki (600 m) semenit menjadi naik 1000 kaki (300
m) semenit. Saya melihat keluar ke bawah dan menyaksikan bagaimana helikopter itu sungguh-sungguh
sedang naik, dan memeriksa kembali untuk mengetahui apakah sata telah mengubh alat-alat
pengendaliannya. Ternyata tidak ada perubahan, baik di dalam alat kemudi maupun alat pengatur tenaga.
Alat-alat itu masih tetap dalam posisi untuk turun 2000 kaki (600 m) semenit, meskipun helikopter
sedang naik 1000 kaki (300 m) semenit, dengan benda itu masih berada di depannya dan cahaya hijau
masih menyoroti helikopter.
Saya tidak mengubah stelan tenaga helikopter sampai altimeter menunjukkan ketinggian 3500 kaki
(1050 m). Pada ketinggian 3800 kaki (1140 m) terasa sutu goncangan. Selama peristiwa itu tidak pernah
terdengar bunyi kecuali yang dari helikopter dan tidak terasa adanya goncangan-goncangan lain yang
dirasakan oleh awak pesawat. UFO itu selanjutnya bergerak perlahan-lahan ke arah barat sambil menjauh
dari helikopter. Cahaya hijau dari UFO ditarik, dengan helikopter kembali ke dalam keadaan turun. Untuk
beberapa saat benda itu berada di atas helikopter dan dapat dilihat melalui atapnya yang terdiri dari
plexiglass, yang berwarna hijau.
Pada saat itu sebuah cahaya putih terang dari benda tadi menjadi tampak. Kembali ko-pilot Letnan
Jutsey mengulas bahwa cahaya itu lebih terang daripada lampu pendarat pesawat terbang niaga. Ketika
jarak antara benda itu dengan helikopter bertambah jauh, cahaya dari benda itu bahkan menjadi semakin
terang dan kini benda itu menjadi tampak melalui kaca pintu kiri ko-pilot. Selagi cahaya menjadi
bertambah terang, suatu penambahan kecepatan yang besar dapt disaksikan. Benda itu terbang ke arah
barat di antara kota dan lapangan terbang Mansfield, lalu membelok ke arah barat-laut sambil semakin
memperbesar kecepatannya dan lenyap.
Ketika itu hubungan radio di dalam helikopter mulai menjadi ramai kembali dengan beraneka
percakapan dan hubungan radio kami sepenuhnya dipulihkan ketika di atas kota Ashland, Ohio, diadakan
penentuan posisi dari menara kontrol pendekatan Aktron. Melengkapi gambaran tentang UFO tadi diberi
keterangan tambahan, bahwa tidak dilihat adanya sayap atau alat pendarat. Tidak tampak adanya
stabilisator-stabilisator tegak lurus atau mendatar, namun benda itu memamerkan kemampuannya untuk
mengubah atau memelihara ketinggian, haluan dan pengaturan kecepatan terbang secara sempurna.”
Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne mengakhiri kisahnya dengan kesimpulan dan saran sebagai
berikut:
“Sebagai akibat dari pengalaman saya, saya yakin bahwa benda tadi adalah nyata dan kejadian-
kejadian yang sejenisnya memerlukan penyelidikan yang mendalam. Merupakan pendapat pribadi saya
bahwa prosedur-prosedur sedunia harus diciptakan secara efektif, untuk mempelajari gejala ini melalui
suatu usaha kerja sama internasional. Pemasangan kode transponder untuk pesawat terbang di seluruh
dunia diperlukan untuk memberitahu para pengawas di darat bahwa seorang penerbang memang sedang
mengalami gejala UFO sehingga ketakutan penerbang dapat dikurangi untuk memberikan penerbangan
yang aman dan efektif setelah ia tahu bahwa ia diawasi oleh radar.”
Penyajian masalah UFO di depan “Special Political Committee” PBB juga diselingi dengan peragaan
visual yang terdiri dari film, foto dan gambar pilihan tentang UFO. Di dalam kesempatan itu
dipertunjukkan film-film UFO yang sedang terbang dan yang dibuat di Tremonton, Utah dan di Inggris,
Spanyol, Jepang, Meksiko dan Guatemala. Begitu pula foto-foto UFO sedang terbang yang dibuat di
McMinville, Oregon; Rouen, Prancis; Rio de Janeiro dan Pulau Trindade, Brasil; Pangkalan Udara Amerika
Serikat Edwards; Lubbock, Texas; Ventura, California; Bay Area, Oregon. Juga dipertunjukkan foto-foto
jejak fisik yang ditinggalkan oleh UFO di Queensland, Australia dan Van Horne, Lowa. Sebuah gambar
sketsa jenis-jenis “Cakram Siang Hari” seperti yang disajikan di depan komite penyelidik UFO dari Kongres
USA pada tahun 1968 juga diperlihatkan. Dr. Hynek yang memberikan penjelasan bagi peragaan visual itu
mengakhiri keterangannya, bahwa tidak ada foto yang dapat dianggap sebagai bukti positif tentang UFO,
akan tetapi ia menggambarkan bahwa memang ada benda-benda, mereka terbang dan mereka tidak
dikenal.
Di dalam sidang siang hari dari Komite Khusus Politik PBB Menteri Pendidikan Grenada Wellington
Friday membacakan surat dari bekas astronaut NASA Gordon Cooper (Mercury IX 1963) yang
dilukiskannya sebagai “sebuah naskah yang sangat informatif”. Cooper yang berhalangan hadir,
menyatakan di dalam suratnya bahwa ia percaya wahana-wahana luar bumi beserta awaknya sedang

8
mengunjungi bumi kita dari planet-planet lain yang jelas agak lebih maju teknologinya jika dibandingkan
dengan kita. Ia merasa perlu adanya program tingkat puncak yang terkordinasi untuk mengumpulkan dan
menganalisa data secara ilmiah dari seluruh dunia mengenai perjumpaan macam apa pun, dan untuk
menentukan bagaimana paling baik berhubungan dengan para tamu tadi dengan cara yang bersahabat.
Mungkin pertama-tama kita harus memperlihatkan kepada mereka bahwa kita telah belajar memecahkan
persoalan-persoalan kita dengan cara-cara damai dan bukan dengan peperangan, sebelum kita diterima
sebagai anggota tim universal yang penuh dan memenuhi syarat. Penerimaan semacam itu akan
membuka kemungkinan-kemungkinan hebat untuk memajukan dunia kita di segala bidang. Sudah pasti
nantinya PBB akan sangat berkepentingan untuk menangani masalah ini sebagaimana mestinya dan serba
lancar.
Cooper menyatakan bahwa ia bukanlah seorang peneliti UFO profesional yang berpengalaman,
tetapi ia merasa memenuhi syarat pula untuk membicarakannya oleh karena ia telah memasuki batas-
batas dari ruang mahaluas tempat mereka melakukan perjalanan. Tambahan pula dalam tahun 1951 ia
mendapat kesempatan selama 2 hari untuk menyaksikan banyak penerbangan mereka, dengan ukuran
yang berbeda-beda, terbang dalam formasi tempur, umumnya dari timur ke barat di atas Eropa. Mereka
berada pada ketinggian yang lebih tinggi daripada daya capai pesawat-pesawat tempur pancargas kita
pada waktu itu.
Cooper menyatakan bahwa kebanyakan astronaut segan sekali, bahkan untuk membicarakan UFO
saja disebabkan oleh banyaknya orang yang secara tidak pandang bulu menjual kabar bohong dan
memalsukan dokumen-dokumen yang menyalahgunakan nama dan reputasi mereka tanpa ragu-ragu.
Beberapa astronout yang masih meneruskan partisipasinya di dalam bidang UFO terpaksa melakukannya
secara sangat berhati-hati. Ada beberapa orang astronout yang percaya UFO dan yang pernah melihat
UFO di darat, atau dari pesawat terbang. Hanya ada satu peristiwa di angkasa luar yang boleh jadi ialah
sebuah UFO.
Cooper menyatakan, bahwa jikalau PBB setuju untuk menangani proyek UFO, dan memberikan
kredibilitasnya kepada proyek tersebut, barangkali lebih banyak lagi orang-orang terkemuka akan setuju
untuk tampil ke depan dan memberikan bantuan serta keterangan.
Pembicara berikutnya ialah ahli fisika nuklir dan peroketan Stanton T. Friedman dari Westinghouse
Astronuclear Laboratory, yang menyatakan keyakinannya bahwa bukti-buktinya melimpah ruah tentang
sedang dikunjunginya bumi kita oleh wahana-wahana antariksa luar bumi yang dikendalikan secara
cerdas. Dikatakannya bahwa manusia bumi sebentar lagi - mungkin dalam 100 tahun mendatang - akan
pergi ke galaksi-galaksi lain. Baginya adalah jelas bahwa makhluk-makhluk luar bumi mulai menaruh
perhatian terhadap manusia bumi setelah kita memulai program-program angkasa luarnya. Dr. Friedman
menyatakan bahwa mereka di sini bukan untuk menyakiti kita atau untuk membantu kita, melainkan
semata-mata untuk keperluan mereka sendiri. Mengapa mereka tidak mengadakan kontak, seseorang
akan bertanya. Mendarat di pasang rumput Gedung Putih atau didekat Kremlin? Alasannya ialah ditilik dari
sudut pandangan mereka, kita manusia bumi tidak mempunyai pemimpin - kita masih sekedar terlibat di
dalam semacam perang antarsuku. Lain daripada itu Dr. Friedman berkata bahwa tamu-tamu asing itu
mungkin menaruh minat terhadap kemungkinan ekspor dari bumi kita - logam-logam berat, kehidupan
tumbuh-tumbuhan dan “hal-hal lain tertentu” yang menarik perhatian secara potensial. “Kita tidak dapat
melihat asap dari cerobong peradaban-peradaban lain” katanya, akan tetapi di dalam pikirannya tidak ada
kesangsian bahwa boleh jadi seluruh galaksi sudah dihuni. Perjalanan ke bintang-bintang yang terdekat
dan daerah galaktik yang dekat adalah di dalam jangkauan generasi-generasi mendatang.
Apakah hasil penyajian masalah UFO di depan UN Special Political Committee tadi?
Sebelas hari kemudian komite itu mencapai konsensus tentang suatu konsep resolusi yang
direkomendasikan kepada Majelis Umum PBB. Isinya antara lain berbunyi, Majelis Umum mengimbau
negara-negara anggota PBB yang berminat untuk mengambil langkah-langkah guna mengkordinasikan
pada tingkat nasional penelitian ilmiah dan penyelidikan terhadap kehidupan extraterrestrial, termasuk
UFO, dan untuk memberitahukan Sekretaris Jendral PBB tentang penyaksian, penelitian dan penilaian
kegiatan-kegiatan tersebut.
Selanjutnya Majelis Umum meminta Sekretaris Jenderal untuk meneruskan pernyataan-pernyataan
delegasi Grenada dan naskah-naskah yang bertalian kepada Komite Penggunaan Angkasa Luar Secara
Damai sehingga dapat diperhatikan di dalam pertemuan komite tersebut di dalam tahun 1979. Komite
Penggunaan Angkasa Luar Secara Damai akan mengizinkan Grenada, jikalau ada permintaan, untuk
mengajukan pandangan-pandangannya di dalam sidang komite berikutnya. Kegiatan-kegiatan komite itu
akan dimuat di dalam laporannya, yang akan menjadi perhatian Majelis Umum PBB di dalam sidangnya
yang ke 34.
Andaikata usaha Grenada mengalami kegagalan, di dalam pandangan Dr. Hynek maka pertukaran
pikiran yang telah tercapai antara kalangan pemerintahan dengan kalangan peneliti UFO bagaimanapun
menandai suatu saat yang istimewa di dalam sejarah 30 tahun penelitian UFO sedunia.
Menurut keterangan Expert Aplikasi Antariksa PBB, Ahmad Padang, seorang putra Indonesia,
mengenai keputusan Majelis Umum PBB tanggal 18 Desember 1978 tentang tindak lanjut persoalan yang
dikemukakan oleh Grenada, maka setelah sidang majelis Umum tahun itu ternyata tidak ada negara yang
memberikan jawaban. Grenada sendiri setelah Sir Eric M. Gairy keluar dari pemerintahan, tidak
mengadakan tindak lanjut. Ketika Komite Penggunaan Angkasa LUar Secara Damai bersidang di New York
tahun 1979, tidak ada permintaan dari pihak Grenada untuk membicarakannya, dan negara-negara

9
anggota komite itu sendiri belum ada yang bersedia menanganinya. Akibatnya, persoalan itu sampai
sekarang tidak disinggung lagi.
Untuk menghidupkan kembali perhatian terhadap masalah UFO menurut Expert Aplikasi Antariksa
PBB, Ahmad Padang ialah melalui organisasi seperti I.A.F., yaitu federasi astronautika internasional, di
mana persoalannya dapat disangkutpautkan dengan usaha S.E.T.I. (Search for Extra Terrestrial
Intelligence=pencarian kecerdasan luar bumi) yang sedang dilaksanakan oleh para cendekiawan di
negara-negara anggota I.A.F. yang umumnya juga menjadi anggota Komite Penggunaan Angkasa Luar
Secara Damai PBB, di mana I.A.F. itu sendiri juga berstatus sebagai peninjau.
Menurut pengamatan penulis, perintisan oleh Grenada dapat lebih berhasil andaikata sebelumnya
diadakan lobbying yang lebih luas. Sebagaimana terlah terjadi, usul Grenada itu ketika dikemukakan
merupakan suatu surprise bagi kebanyakan negara. Tanpa adanya pengertian lebih dahulu di kalangan
luas adalah sulit untuk mengharapkan adanya reaksi dari para anggota PBB. Di samping itu menonjol pula
fakta bahwa negara-negara yang telah menyelidiki masalah UFO seperti Amerika Serikat, Uni Sovyet dan
Prancis, bungkam seribu bahasa terhadap usul kerja sama internasional mengenai penelitian UFO. Sikap
negara-negara besar itu semakin menyuburkan kecurigaan bahwa sebenarnya masalah UFO bagi mereka
begitu penting, sehingga masing-masing ingin memegang monopoli atas pengetahuan tentang UFO dan
segan untuk memberitahukannya kepada negara-negara lain.

10
BAB 2
APAKAH GUNANYA MEMPELAJARI MASALAH UFO?

Masalah UFO patut dipelajari mengingat di dalamnya tercakup segi-segi yang menyangkut
kemasyarakatan, seperti pertahanan keamanan, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial budaya
dan lain-lain.

1.Pertahanan
Pada awal tahun 60-an pernah terjadi, bahwa jaringan radar Amerika Serikat mendeteksi suatu
formasi yang semula disangka pesawat-pesawat pembom musuh yang berasal dari arah Siberia dan yang
sedang memasuki wilayah Amerika Serikat. Hampir saja komando diberikan untuk menyergap formasi
musuh itu di samping mengadakan serangan balasan, ketika di layar radar tampak bagaimana formasi
pesawat tadi melakukan belokan 90 derajat sehingga diketahuilah bahwa mereka bukanlah pesawat
terbang biasa, melainkan UFO. Dapat dibayangkan bagaimana akibatnya, andaikata formasi UFO itu
melanjutkan penerbangannya secara lurus dan mendatar seperti pesawat terbang biasa dan tanpa
disengaja justru menuju ke arah sasaran-sasaran militer strategis. Jelaslah, bahwa UFO di dalam situasi
dan kondisi internasional dewasa ini mengandung potensi timbulnya salah paham yang dapat
mencetuskan Perang Dunia ke 3 secara tidak disengaja. Perlu dicatat, bahwa penyelidikan resmi tentang
UFO telah dihentikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat sejak tahun 1969. Meskipun demikian, sampai
sekarang masih terus berlaku perintah tetap yang diberi nama sandi:”MERINT”, yang mewajibkan setiap
kapal Amerika Serikat untuk secepat kilat melaporkan pesawat terbang, peluru kendali, kapal biasa
maupun kapal selam yang tidak dikenal, termasuk pula UFO, yang bergerak menuju ke arah daratan
Amerika Utara. MERINT juga berlaku bagi kapal-kapal Kanada. Perintah serupa yang berlaku bagi
kesatuan-kesatuan Angkatan Udara Amerika Serikat tercantum dalam instruksi yang diberi nama
sandi”CIRVIS”.

2. Keamanan
Dari laporan kegiatan UFO sampai sekarang diketahui, bahwa mereka berulang kali mengganggu
keamanan penerbangan, keamanan kendaraan di jalanan umum atau keamanan manusia atau hewan.
Nyaris tubrukan di udara, kecelakaan terbang yang fatal, dan hilang lenyapnya pesawat terbang yang
melibatkan atau diduga melibatkan UFO telah dilaporkan dari berbagai penjuru dunia. Sampai tahun 1978
telah tercatat 19 kasus hilangnya pesawat terbang di udara yang melibatkan UFO. Gangguan mesin mobil
dan perahu bermotor telah terjadi di berbagai negara, tidak terkecuali negara kita sendiri. Penculikan
terhadap manusia, yang umumnya kemudian dilepaskan lagi, terhadap hewan peliharaan atau ternak juga
dilaporkan. Yang memerlukan kewaspadaan kita ialah hasil penelitian Center for UFO Studies pimpinan
Prof Dr. Allen Hynek yang diumumkan bulan September 1978, bahwa 46% dari semua kasus penculikan
oleh UFO, terjadi sesudah tahun 1970. Dengan perkataan lain, usaha penculikan oleh makhluk-makhluk
UFO cenderung naik jumlahnya. Di samping kewaspadaan, kiranya mutlak perlu ditingkatkan pula
penelitian masalah UFO untuk memastikan identitas, motif, dan kemampuan maupun kerawanan si
pelakunya.

3. Sosial Budaya
Jikalau UFO membawa tamu-tamu dari luar bumi maka terjadinya kontak antara mereka dengan
kita adalah tinggal soal waktu saja. Disebabkan oleh karena ilmu pengetahuan dan teknologi mereka lebih
unggul, maka penentuan saat kontak itu sepenuhnya di tangan mereka. Jikalau supremasi mereka di
bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi antariksa dapat dijadikan ukuran bagi tingkat kemajuan
peradaban mereka pada umumnya, maka kontak itu akan terjadi antara peradaban mereka yang superior
dengan peradaban kita yang relatif terhadap mereka masih inferior. Melihat pengalaman sejarah dunia
kita, maka kontak-kontak semacam itu di masa yang lampau biasanya membawa kehancuran bagi
peradaban yang lebih rendah tingkatannya. Oleh karena itu kemungkinan terjadinya kontak antara
peradaban kita dengan peradaban makhluk-makhluk UFO harus mendapat perhatian yang serius terutama
dari para ahli ilmu-ilmu sosial kita, agar jangan timbul ekses-ekses yang bahkan dapat mengancam
kelangsngan hidup peradaban kita. Unsur pendadakan dapat dihindarkan dengan mengambil langkah-
langkah persiapan sedini mungkin secara mental dan konsepsioanl untuk menghadapi segala
kemungkinan, sehingga dapat diperkembangkan ketahanan mondial kultural yang memadai. Sekelumit
contoh, misalnya aspek pekercayaan dari kebudayaan kita, yang mungkin akan menampung salah satu
kejutan utama dari kontak dengan peradaban UFO nantinya. Suatu langkah persiapan mental telah lama
diambil misalnya oleh Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1955 sudah menerangkan bahwa makhluk-
makhluk UFO yang berasal dari luar bumi bukanlah keturunan Nabi Adam sehingga bagi mereka juga
tidak berlaku kejatuhan ke dalam dosa dengan segala akibat lainnya? Dari uraian tersebut di atas jelaslah
bahwa ditilik dari sudut sosial budaya maka penelitian masalah UFO penting. Sebagai tambahan dapat
dicatat, bahwa sejak tahun 1974 telah diperkembangkan cabang ilmu pengetahuan baru di Amerika
Serikat yang dinamakan Ekso-sosiologi. Ruang lingkup ekso-Extraterrestrial dan pengaruhnya terhadap
masyarakat kita. Perintisnya ialah Dr. Richard E.Yinger, direktur Exosociology Institute, Lake Worth,
Florida.

11
4. Hukum
Munculnya UFO di wilayah hukum berbagai negara, baik di udara maupun di daratan atau di
lautan, apalagi pengambilan contoh tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan penculikan warga negara,
jelas merupakan pelanggaran hukum. Padahal menurut hukum, setiap orang seharusnya mengetahui
undang-undang sehingga seharusnya tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas. Akan
tetapi siapakah atau apakah dan bagaimanakah makhluk atau kecerdasanyang bertanggung jawab atas
gejala UFO, belum ada yang tahu dengan pasti. Menurut undang-undang, pemerintah wajib melindungi
warga negaranya. Akan tetapi bagaimanakah kewajiban tersebut dapat dipenuhi jikalau kita menghadapi
sesuatu yang tidak diketahui kecuali bahwa ia berasal dari luar masyarakat manusia bumi, dan yang boleh
jadi merupakan suatu kecerdasan unggul dengan teknologi unggulnya pula? Ataukah hukum harus
dikalahkan terhadap teknologi yang unggul? Pertanyaan-pertanyaan itu menggambarkan bagaimana
munculnya masalah UFO telah menghadapkan bidang hukum kepada suatu surprise, terhadap mana kita
sama sekali tidak mempunyai persiapan apa-apa. Sudah tiba waktunya kiranya bagi bidang hukum, yang
di forum PBB setelah lebih dari satu dasawarsa baru mulai berhasil mencapai kesepakatan mengenai
penggunaan bulan, benda-benda langit lain dan masalah-masalah lain di bidang antariksa, untuk
mengambil langkah persiapan, minimal secara konsepsional, guna menyongsong kemungkinan terjadinya
hubungan antara umat manusia di bumi ini dengan peradaban lain. Mudah-mudahan di bidang hukum
antariksa tidak berlaku pemeo, bahwa dengan para ahli hukum tidak dapat dimulai suatu revolusi. Dalam
pada itu sudah mulai terdapat perkembangan yang menggembirakan: belakangan ini tampak adanya
minat kalangan ahli hukum antariksa yang semakin besar atas masalah tersebut di atas. Prof.Dr.Fr.W.von
Rauchaupt dari Universitas Heidelberg misalnya telah membahas masalah tersebut dalam karyanya:”The
Galactic Extension of Space Law”. Demikian pula konsekuensi-konsekuensi hukum dari kontak dengan
makhluk-makhluk luar bumi yang terjadi di dalam wilayah hukum Amerika Serikat pernah dibahas oleh
Robert A.Freitas Jr, seorang pengacara, ahli fisika dan ahli ilmu jiwa yang mengkhususkan diri dalam
hukum antariksa dan exo-biologi (Illegal Aliens.”Visitors from space pose legal entanglements of the third
kind”, OMNI Magazine, November 1979).

5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Penelitian apapun adalah berguna untuk menambah ilmu pengetahuan. Bahkan tidak jarang terjadi
bahwa penelitian itu memberikan hasil dan manfaat yang tidak terduga sebelumnya. Sifat demikian itu
dinamakan serependitas dan dapat terjadi pula dengan penelitian terhadap masalah UFO. Di masa yang
lalu UFO telah menimbulkan pertentangan antara kelompok yang percaya bahwa UFO adalah tamu-tamu
dari antariksa, dengan kelompok yang tidak percaya akan adanya UFO, akan tetapi menghendaki
penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah UFO itu sebenarnya. Manfaat apakah yang kiranya dapat
dipetik oleh ilmu pengetahuan dan teknologi kita dari penelitian masalah UFO? Secara minimal dapat
diharapkan bahwa ilmu pengetahuan kita tentang persepsi dan psikologi manusia akan bertambah
mendalam. Andaikata penelitian itu membuktikan UFO sebagai wahana yang berisi tamu-tamu dari
antariksa, maka hal itu akan merupakan penemuan terbesar di dalam sejarah dunia, apalagi jikalau dapat
ditindaklanjutkan dengan pembukaan hubungan resmi dengan peradaban mereka. Teknologi antariksa
mereka diperkirakan sudah mencapai taraf penerbangan berawak antarbintang (manned interstellar
flight), sehingga sudah sangat maju bila dibandingkan dengan kita yang baru mencapai taraf penerbangan
berawak ke bulan (manned lunar flight). “Bapak” teknologi peroketan modern Dr. Wernher von Braun
almarhum pernah mengakui, bahwa sejauh pandangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini tidak
terdapat cara bagaimana untuk membuat penerbangan berawak antarbintang itu suatu kemungkinan
praktis. Untuk menyadari bersarnya jurang pemisah antara penerbangan ke bulan dengan penerbangan
antarbintang perlu diingat, bahwa bintang yang terdekat Alpha Centauri saja sudah sejauh 4,3 tahun
cahaya. Andaikata jarak antara bumi dengan bulan hanya 1,62 cm, maka jarak ke Alpha Centauri akan
sama dengan 40.000 km atau sepanjang keliling bumi di katulistiwa. Maka dari itu ditilik dari sudut
teknologi antariksa adalah vital untuk mempelajari teknologi UFO, oleh karena sifat-sifatnya merupakan
gabungan antara helikopter dengan pesawat terbang supersonik, bahkan mungkin juga dengan suatu
wahana antariksa antarbintang, yang masih merupakan utopi bagi teknologi kita. Tingkah lakunya dan
gejala fisis yang mengiringinya dapat memberi petunjuk tentang sistem propulsi dan dasar-dasar fisiknya
yang baru bagi kita. Dapat diharapkan bahwa mereka sangat maju pula dalam bidang fisika ruang dan
waktu, pembangkitan dan konversi energi, dan lain-lain. Mereka pasti telah mentuntaskan teori medan
tunggal yang menghubungkan listrik, magnetisme dengan fravitasi, yang oleh Einstein almarhum
menghadapi jalan buntu. Jikalau penelitian masalah UFO menunjukkan cara baru di bidang konversi
energi yang lebh efisien, maka akibatnya akan besar sekali bagi ekonomi dunia pada umumnya,
penanggulangan krisis energi pada khususnya.
Andaikata dengan cara baru itu kita dapat mengadakan konversi energi yang 2 kali lebih efisien
dari cara sekarang, maka dengan cadangan bahan bakar yang sekarang ada, kita akan dapat bertahan 2
kali lebih lama.

Andaikata penelitian masalah UFO menunjukkan bahwa mereka misalnya berasal dari dimensi lain,
atau membenarkan salah satu hipotesa eksotik lainnya, maka akibat atau manfaatnya dalam keadaan
sekarang masih sulit dibayangkan. Yang jelas ialah bahwa kemajuan membawa perubahan, dan
perubahan itu memerlukan penyesuaian. Hal-hal tersebut pastilah akan terjadi pula sebagai akibat dari

12
kemajuan pengetahuan kita tentang UFO. Mudah-mudahan ilmu pengetahuan tentang UFO bukan
merupakan kotak Pandora, yang lebih baik dibiarkan tertutup terus daripada dibuka.

Apakah Indonesia juga perlu berpartisipasi dalam mempelajari masalah UFO? Jawabannya adalah
positif, oleh karena masalah UFO memperlihatkan ciri-ciri meliputi seluruh dunia, berkesinambungan dan
konsisten meskipun menghadapi interferensi. UFO juga berulangkali disaksikan di berbagai tempat di
negara kita. Bahkan menurut penulis Amerka terkemuka Mayor Donald Keyhoe, UFO telah disaksikan di
Indonesia dalam abad yang lalu maupun sewaktu Perang Dunia ke 2, sehingga mendahului era
penyaksian UFO modern yang dimulai sejak pertengahan tahun 1947. Penelitian masalah UFO hanya akan
berhasil jikalau dapat digalang suatu kerjasama internasional yang memerlukan kesadaran dan kesediaan
semua negara, tidak terkecuali Indonesia. Hal itu lebih mudah iucapkan daripada dilaksanakan, mengingat
negara-negara “superpowers” menginjak dasawarsa delapan puluhan kambuh penyakit lamanya berupa
peningkatan kekuatan dan pertentangan. Dan potensi militer dari teknologi UFO adalah jelas bagi siapa
saja.

Di samping itu perlu dicatat bahwa disebabkan oleh warisan kebudayaannya, maka bangsa-bangsa
Timur pada umumnya, bangsa Indonesia pada khususnya, lebih matang di dalam menghadapi
kemungkinan kontak dengan makhluk dari luar bumi, daripada bangsa-bangsa Barat. Di dalam dasawarsa
terakhir ini sementara peneliti masalah UFO menghadapi aspek-aspek tertentu dari masalah UFO, yang
menyebabkan mereka untuk menggali kembali dongeng-dongeng kuno mengenai makhluk-makhluk
halus. Dalam kedua hal tersebut sumbangan bangsa Indonesia kepada penelitian masalah UFO tidak
dapat diabaikan.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa potensi sumbangan yang dapat kita berikan cukup
besar, baik berupa laporan penyaksian UFO maupun berupa warisan kebudayaan kita yang masih harus
disorot kembali secara ilmiah. Jikalau kita enggan memberikan sumbangan tersebut kepada kemajuan
ilmu pengetahuan dunia, hal itu dapat dirasakan sebagai a-sosial sehingga kurang serasi dengan sikap
dan cita-cita bangsa Indonesia.

13
BAB 3
MENYINGKAP RAHASIA PIRING TERBANG: 22 TAHUN KEMUDIAN

Mengenai masalah UFO selama jangka waktu 12 tahun yang pertama, yang dimulai pada tahun
1947, banyak disajikan di dalam buku:”Menyingkap Rahasia Piring Terbang” yang saya selesikan pada
tahun 1960. Buku tersebut adalah yang pertama dalam bahasa Indonesia mengenai UFO, tebal 350
halaman. Bagian pertama memuat kasus-kasus penyaksian UFO baik dari dalam maupun luar negeri
sampai tahun 1959, bagian kedua memuat analisa dengan metode normal, sedang bagian ketiga memuat
analisa dengan metode paranormal.
Hasil-hasil penyelidikan UFO sebagaimana dikemukakan dalam buku itu diberitahukan secara
tertulis dan ringkas kepada Presiden Federasi Astronautika Internasinal, yang pada waktu itu dijabat oleh
Prof. Leonid Sedov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Sovyet. Di dalam surat jawabannya maka Prof.
Sedov antara lain menulis bahwa di Uni Sovyet tidak ada orang yang menaruh minat dan juga tidak
pernah menyaksikan piring terbang.
Apa yang kemudian terjadi telah menyangkal kebenaran jawaban tersebut. Pada awal tahun 1961
saya kebetulan berada di Moskow sebagai anggota delegasi Pemerintah Republik Indonesia, ketika surat
kabar “Pravda” memberitakan pendaratan-pendaratan piring terbang di Tajikistan dan Uzbekistan yang
termasuk wilayah Uni Sovyet, meskipun laporan-laporan para pekerja perkebunanbuah itu mendapat
tanggapan-tanggapan negatif dari Akademikus L.I.Artsiomovich. Pada kesempatan itu pula terpetik berita
bahwa pesawat-pesawat pemburu Uni Sovyet dengan sia-sia telah mencoba menyergap cahaya-cahaya
yang aneh.
Tujuh tahun kemudian Pemerintah Uni Sovyet mengangkat Mayor Jenderal A.U.Anatoly Stolyerov
sebagai kepala komisi untuk mempelajari laporan-laporan tentang UFO. Baru-baru ini Dr. Felix Zigel,
seorang cendekiawan terkemuka di institut penerbangan Moskow menyatakan bahwa:”Yang penting bagi
kita adalah untuk membuang pendapat-pendapat yang berdasarkan prasangka mengenai UFO dan untuk
mengorganisasi pada skala global suatu penelaahan yang benar-benar ilmiah mengenai gejala yang ajaib
ini secara tenang dan bebas sensasi ..... kerja sama internasional adalah vital.”
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Sovyet terhadap apa yang
mereka namakan gejala-gejala atmosfir yang bersifat anomali diberitakan oleh majalah “Science Digest”
terbitan bulan Oktober 1981. Penelitian itu didasarkan atas 256 buah laporan UFO, tiga perempatnya
terjadi di dalam musim panas dan gugur tahun 1967 yang terkonsentrasi di sebelah utara dan timur Laut
Hitam. Di antara para saksi yang diketahui pekerjaannya, lebih dari separonya mempunyai latar belakang
teknis: sebagian besar di antara mereka adalah ilmuwan, enginer dan penerbang. Dua pertiga dari
penyaksian-penyaksian itu dilakukan oleh lebih dari seorang saksi. Sebagian besar penyaksian itu
dilakukan di daratan, 13 buah di pesawat terbang dan sebuah di kapal. Hampir semua penyaksian
dilakukan secara visual, beberapa buah dengan instrumentasi optik dan 2 buah dengan radar.
Bentuk UFO yang dilaporkan ialah seperti sabit 23%, seperti cakram 16%, seperti bola 11% dan
seperti silinder atau lonjong yang panjang 8%. Di dalam penyaksian-penyaksian yang menyebut warna,
separo dari benda-benda itu berwarna merah, merah jambu atau seperti api, sedang 19% lainnya adalah
kuning atau keemasan. Laporan tentang perincian luar menyebutkan ekor atau jurai, bunga api, karangan
cahaya dan berkas-berkas sinar yang diarahkan.
Ternyata masalah UFO tidak kenal tirai besi dantelah melanda negara-negra Blok Timur pula. UFO
juga tidak kenal tirai bambu: menurut Dr. Hynek seorang cendekiawan Amerika Serikat yang
mengunjungi RRC pernah mendapat pertanyaan:”Apakah di negara Tuan juga disaksikan benda-benda
terbang yang tak dikenal?”
Sekarang, 22 tahun setelah terbitnya buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” bagaimanakah
isinya ditilik dari perkembangan zaman selama itu? Jawabannya ialah, bahwa isi buku tersebut ternyata
masih tetap aktual, meskipun selama itu tidak sedikit terjadi perkembangan-perkembangan baru di dalam
masalah UFO.
Salah satu perkembangan yang cukup sensional danyang sejalan dengan isi buku tersebut tersiar
beberapa tahun yang lalu mengenai tempat asal UFO. Di dalam bab ketiga dari buku tersebut
dikemukakan, bahwa menurut peninjauan paranormal oleh Bapak Agusnain maka UFO berasal dari suatu
bintang yang tidak tampak dengan mata telanjang di rasi Bootes, yaitu bintang YC 5473 di dekat bintang
Ksi Booters.
Pada akhir tahun 1972 D.A.Lunan dari British Interplanetary Society mengungkapkan hasil
penelitiannya terhadap anomali radio yang dialami oleh Prof. Stormer dari Norwegia bersama van der Pol
dari Laboratorium Philips Eindhoven pada akhir tahun 20-an.
Mereka, dan juga para peneliti Taylor dan Young dari Amerika Serikat, Appleton dan Barrow dari
Inggris serta Gallen dan Talon dari Prancis, melakukan percobaan-percobaan radio komunikasi dan
berulang kali mengalami kelambatan penerimaan gemanya antara 2 sampai 25 detik, padahal gelombang
radio cukup kecepatannya untuk dalam waktu satu detik mengelilingi katulistiwa sebanyak 7 1/2 kali.
Selama 30 tahun sesudah itu para cendekiawan hanya menerangkannya sebagai gejala alamiah belaka.
Untuk lengkapnya perlu dicatat, bahwa pada tahun 1921 penemu radio-telegrafi Marconi juga telah
menangkap sinyal-sinyal radio dengan panjang gelombang 150.000 m. Ia mengira sinyal-sinyal tersebut
berasal dari planet Mars, mengingat pada waktu itu teknologi pembuatan pemancar radio baru mampu
untuk memancarkan gelombang radio maksimal 14.000 m.

14
Baru pada tahun 1960 R.N. Bracewell dari Radio Astronomy Institute, Stanford University, Amerika
Serikat, mengemukakan bahwa andaikata peradaban-peradaban maju tersebar di Bimasakti pada jarak
100 tahun cahaya atau lebih, maka peluncuran wahana-wahana antariksa tanpa awak boleh jadi
merupakan cara komunikasi yang paling efektif di antara mereka. Setelah memasuki tata surya kita
wahana robot seperti itu dapat menangkap sinyal-sinyal radio kita dan memancarkannya kembali kepada
kita. Sinyal-sinyal yang dikembalikan itu akan merupakan gema-gema dengan kelambatan beberapa detik
atau menit. Jikalau kita mengembalikan sinyal-sinyal itu kepadanya lagi, ia akan mengetahui bahwa telah
terjadi kontak dengan suatu kecerdasan. “Herankah kita,” demikian tulis Bracewell, “jikalau pesan
permulaan daripadanya adalah gambar televisi dari sesuatu rasi bintang?”
Diilhami oleh hipotesa Bracewell tadi, peneliti Inggris D.A.Lunan kemudian mempelajari kembali
laporan-laporan anomali radio dari Prof.Stormer, van der Pol, dan lain-lain. Berbeda dengan para peneliti
terdahulu, yang selalu menyajikan hasil-hasil secara grafis dengan waktu kelambatannya pada sumbu y,
maka Lunan menggambarkan waktu kelambatan itu pada sumbu x, dengan hasil yang mentakjubkan:
berupa timbullah gambar dari suatu rasi bintang, yaitu rasi Bootes! Dengan penelitiannya itu D.A.Lunan
mengklaim telah berhasil menyimpulkan keterangan-keterangan sebagai berikut: bahwa 13.000 tahun
yang lalu suatu wahana antariksa tanpa awak telah tiba di tata surya kita setelah diluncurkan dari bintang
Epsilon Bootes (nama populer: Izar atau Pulcherrima), yang jauhnya 103 tahun cahaya dari sini. Wahana
itu kemudian tinggal di sebuah orbit di antara bumi dan bulan, kemungkinan di salah satu titik
keseimbangan Lagrange. Di dalam tahun 20-an stasiun robot itu mencoba mengadakan kontak dengan
kita dengan jalan mengubah sinyal-sinyal radio kita, akan tetapi sampai sekarang tidak kita jawab.
Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” antara lain ditulis, bahwa berdasarkan
peninjauan paranormal maka piring terbang selama perjalanan di dalam antariksa mampu mencapai
kecepatan sampai 7 1/2 kali kecepatan cahaya. Ketika buku itu diterbitkan pada tahun 1960, keterangan
tadi tidak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan pada waktu itu: menurut teori relativitas maka massa
sebuah benda material akan menjadi tidak terhingga besarnya apabila mencapai kecepatan cahaya.
Namun sepuluh tahun kemudian dikemukakan hipotesabaru yang mempostulasikan adanya partikel-
partikel yang dinamakan tachyon dan yang mempunyai kecepatan melebihi cahaya. Teori Tachyon itu
dikemukakan oleh para cendekiawan Alan S.Lapedes dan Kenneth C.Jacobs dari Universitas Virginia pada
tahun 1972.
Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” juga diramalkan, bahwa di antariksa kadang-
kadang akan terjadi perjumpaan antara wahana-wahana antariksa kita dengan UFO. Ramalan itu telah
menjadi kenyataan, oleh karena para astronot Amerika Serikat Cooper, Cernan, Young, Carpenter dan
McDivitt telah menyaksikan UFO di antariksa dalam tahun 60-an, baik sewaktu mengorbit bumi dengan
kapsul Gemini 4 dan 11, maupun dalam perjalanan ke dan dari bulan dengan wahana Apollo 12. Astronot
Amerika Serikat yang pertama (sekarang menjadi senator) John Glenn pernah menulis surat kepada
peneliti UFO Dr. Jacques Vallee, yang isinya antara lain menyebutkan bahwa ia telah mendengar terlalu
banyak laporan dari rekan-rekan astronot lainnya dan dari orang-orang yang ia hormati, sehingga tidak
dapat menganggap UFO sebagai omong kosong.
Selanjutnya di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” yang ditulis pada tahun 1960 juga
diramalkan, bahwa kurang lebih pada tahun 1968 makhluk-makhluk piring terbang akan melakukan
pendaratan-pendaratan di bumi kita untuk keperluan penyelidikan ilmiah, tetapi sambil menghindarkan
kontak dengan kita karena mereka menganggap belum tiba saatnya. Menurut grafik laporan-laporan UFO,
tahun-tahun 1966, 1967 dan 1968 memperlihatkan melonjaknya penyaksian-penyaksian baik mengenai
pendaratan maupun mengenai terlihatnya makhluk-makhluk UFO.
Akhirnya sebagai unsur-unsur yang verifiable maka di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring
Terbang” juga diramalkan bahwa di Planet Mars terdapat saluran-saluran alamiah dan bukan buatan
manusia, oleh karena di sana tidak ada mahluk cerdas. Hasil pemotretan wahana-wahana antariksa NASA
“Mariner-9” (1970-1971) dan “Viking-1 Orbiter” (1976) telah memperlihatkan sejumlah lembah kecil dan
sebuah lembah raksasa, yaitu Valles Marineris, dengan ukuran panjang 4500 km, lebar antara 150 km
sampai 700 km dan dalam sampai 5 km. Mengenai flora dan fauna di planet-planet Mars dan Venus
sampai sekarang belum dapat dibuktikan kebenarannya, oleh karena resolusi alat-alat pemotretnya belum
mencapai ketajaman yang diperlukan.

15
BAB 4
MELENGKAPI KASUS-KASUS PENYAKSIAN UFO

Kasus-kasus penyaksian UFO yang dimuat di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”
merupakan seleksi dari kasus-kasus yang diketahui oleh penulis pada waktu itu. Salah satu ciri dari
perkembangan masalah UFO selama 2 dasawarsa terakhir ini ialah tidak hanya bertambah banyaknya
penyaksian-penyaksian baru, akan tetapi juga tergalinya kasus-kasus lama yang tidak diketahui
sebelumnya di samping bertambahnya keterangan-keterangan mengenai kasus-kasus lama yang sudah
diketahui. Di antara penyaksian-penyaksian UFO lama itu terdapat pula kasus-kasus klasik yang patut kita
perhatikan.

UFO Purbakala yang Tertua?


“Buku Dzyan” merupakan naskah paling kuno di India dan dibuat pada waktu orang disana mulai
dapat menulis. Salah satu cerita di dalamnya ialah mengenai sekelompok kecil makhluk yang datang di
bumi beberapa ribu tahun yang lalu di dalam sebuah wahana logam yang mengelilingi bumi beberapa kali
sebelum mendarat. Makhluk-makhluk itu hidup menyendiri dan dihormati oleh manusia-manusia di antara
mana mereka telah bermukim. Akan tetapi kemudian timbullah perbedaan paham di antara mereka dan
timbullah perpecahan. Beberapa pria, wanita, dan anak memisahkan diri dan mengungsi ke kota lain, di
sana mereka seketika dinobatkan menjadi penguasa oleh penduduk yang ketakutan.
Pemisahan diri itu ternyata tidak memulihkan perdamaian di antara makhluk-makhluk itu dan
akhirnya kemarahan mereka memuncak sehingga pimpinan dari kelompok di kota yang pertama
mengumpulkan sekelompok kecil prajuritnya dan mereka membumbung ke udara menaiki sebuah wahana
logam yang besar dan mengkilau. Selagi mereka masih jauh dari kota musuhnya, mereka meluncurkan
sebuah tombak yang besar dan bercahaya yang bergerak menuruti sebuah berkas sinar cahaya. Senjata
itu meledak di kota musuhnya menjadi bola api yang besar yang menjulang ke langit, hampir mencapai
bintang-bintang. Semuanya yang berada di dalam kota menjadi hangus secara mengerikan dan bahkan
mereka yang tidak berada di dalam kota, akan tetapi berada di daerah sekitarnya, terbakar pula. Mereka
yang memandang ke arah tombak dan bola api tadi menjadi buta untuk selamanya. Mereka yang
kemudian berjalan kaki memasuki kota jatuh sakit dan mati. Bahkan debu dari kota tadi menjadi beracun,
begitu juga air dari sungai-sungai yang mengalir melalui kota itu. Tidak ada manusia yang berani
mendekati kota tersebut, yang berangsur-angsur punah dan dilupakan manusia.
Ketika pimpinan dari makhluk-makhluk pendatang itu melihat apa yang telah ia perbuat terhadap
anak buahnya sendiri, ia mengundurkan diri ke dalam istananya dan tidak mau bertemu dengan siapa
saja. Akhirnya ia mengumpulkan prajuritnya yang masih ada, serta anak dan istri mereka, lalu masuk ke
dalam wahana masing-masing, membumbung ke langit sebuah demi sebuah dan pergi untuk tidak
kembali lagi.
Apakah dongeng dari India itu sungguh-sungguh dan merupakan suatu catatan mengenai
kolonialisasi makhluk-makhluk luar bumi di zaman purbakala, lengkap dengan wahana-wahana antariksa,
senjata nuklir dan efek-efek radiasi yang terjadi di zaman purbakala? Kalau bukan, bagaimanakah
gambaran yang terperinci itu dapat diberikan mengenai ledakan nuklir dan akibat-akibatnya?

“Kapal Setan” dari Irlandia


Bangsa Irlandia juga telah membuat catatan-catatan mengenai tamu-tamu yang aneh di dalam
abad pertengahan.
Di dalam naskah-naskah yang ditulis sekitar tahun 956 terdapat banyak catatan tentang “kapal-
kapal setan”. Salah satu kasus menceriterakan bagaimana tali dari salah sebuah kapal itu tersangkut
kepada menara sebuah gereja. Seorang manusia turun untuk melepaskan tali itu, akan tetapi ditangkap
oleh penduduk kota. Uskup di sana berhasil membebaskan manusia tadi dari penahanan oleh penduduk,
yang memanjat kembali ke dalam kapal Awak kapal memoong tali, akhirnya kapal itu membumbung ke
atas dan pergi terbang sampai lenyap dari pemandangan. Di dalam semua gerak-geriknya, manusia tadi
melakukan gerakan-gerakan seolah-olah ia sedang berenang di dalam air. Perlu diketahui bahwa
dongeng-dongeng seperti itu dan juga mengenai “makhluk-makhluk kerdil” yang dapat mengejawantah
dan menghilang banyak sekali terdapat di Irlandia, sehingga patut direnungkan apakah itu semua hanya
khayalan belaka ataukah didasarkan atas pengalaman nyata.

Apakah Makhluk-makhluk dari Luar Bumi Pernah Ada yang Terbunuh?

W.R.Drake di dalam tulisan “Spacemen in the Middle Ages” (Manusia-manusia Antariksa di dalam
Abad Pertengahan) yang dimuat dalam majalah “Flying Saucer Review” bulan Mei 1964 mengutarakan
antara lain hasil penelitiannya sebagai berikut. Agobard, Uskup Agung dari kota Lyons, Prancis, mencatat
di dalam naskah “De Grandine et Tonitrua” bagaimana pada tahun 840 sesudah Masehi di kota Lyons
rakyat jelata menangkap 3 orang pria dan seorang wanita yang dituduh mendarat dari sebuah kapal
“awan” yang datang dari arah wilayah udara Magonia. Keempat orang itu mengakui tuduhan bahwa
mereka ialah tukang sihir, sehingga akhirnya dihukum mati dengan jalan dibakar hidup-hidup. Tidak
dijelaskan jalannya pengadilan atau caranya mereka membuat para tertuduh itu mengaku.

16
Ledakan Mahadahsyat di Siberia (1908)
Pada pagi hari tanggal 30 Juni 1908 kafilah-kafilah di gurun Gobi menyaksikan sebuah bola api
menyala dan yang meluncur dengan cepat di langit untuk akhirnya lenyap di sebelah utara tapal batas
Mongolia. Beberapa saat kemudian terjadilah ledakan maha dahsyat di dataran tinggi Siberia Tengah,
Rusia, didekat sungai Tunguska, yang tercatat pada seismograf-seismograf di Irkutsk (880 kam ke
selatan), Moskow (5000 km) ke barat, St. Petersburg, (Leningrad sekarang) dan bahkan sejauh
Washington dan Batavia (Jakarta sekarang). Penduduk di daerah itu yang sangat langka melaporkan
timbulnya tiang api yang menjulang setinggi langit, disusul oleh gelombang panas, serangkaian
menggelegar, gelombang-gelombang angin sekencang taufan dan turunnya hujan yang berwarna hitam.
Baru 19 tahun kemudian dikirim ekspedisi ilmiah di bawah pimpinan Prof. L. Kulik, yang diulangi
lagi pada tahun-tahun 1928 dan 1929. Fakta-fakta yang dikumpulkan mengagumkan dunia ilmu
pengetahuan: daerah hutan yang berbentuk lonjong dengan ukuran kurang lebih 25 x 15 km mengalami
kehancuran total, sedang lingkaran luar dengan ukuran kurang lebih 50 x 45 km mengalami kerusakan
berat. Prof. Kulik almarhum ialah seorang ahli meteorit dan sampai akhir hayatnya mencoba dengan sia-
sia untuk membuktikan adanya”Meteor Tunguska”. Versi lain kemudian menyangka adanya sekelompok
meteor. Namun tidak berhasil ditemukan sisa-sisanya seperti pada kepundan-kepundan meteor lainnya.
Kemudian dilontarkan kemungkinan adanya komet, namun hal itu tidak sesuai dengan laporan para saksi.
Setelah tibanya zaman atom baru disadari bahwa ledakan maha dahsyat di Tunguska
memperlihatkan ciri-ciri suatu ledakan nuklir! Ciri-ciri itu antara lain ialah bahwa pohon-pohon di hutan
sekitarnya yang selamat dari ledakan, memperlihatkan lingkaran tahunan yang lebih gemuk untuk tahun
1908 daripada tahun-tahun lainnya. Dari keadaan pohon-pohon yang hangus terbakar juga dapat
disimpulkan, bahwa ledakan yang memancarkan panas itu terjadi bukannya di permukaan bumi
melainkan di udara. Demikian juga telah ditemukan butir-butir magnetit ukuran mikroskopis di samping
butir-butir silikat seperti kaca yang kadang-kadang mengandung partikel besi. Bahan-bahan yang sama
ditemukan sehabis percobaan-percobaan nuklir di Alamogordo, Amerika Serikat, dan terbentuk oleh suhu
sangat tinggi dari ledakan nuklir. Menurut perkiraan, ledakan maha dahsyat di Siberia pada tahun 1908
itu berkekuatan 30 megaton.
Dalam dua dasawarsa terakhir ini telah terungkap perspektif lain terhadap teka-teki Tunguska
dengan adanya penelitian oleh ahli-ahli aerodinamika dan ahli-ahli peroketan, yang dipelopori oleh Dr.
Felix Zigel. Analisa dari laporan para saksi, bukti-bukti dari gelombang balistik dan bentuk daerah
kerusakan menunjukkan bahwa lintasan yang ditempuh oleh benda dari kosmos itu bukanlah lurus,
melainkan semula datang dari arah selatan, di atas desa Keshma membelok ke timur dan diatas desa
Preobrazhenka berubah arah ke barat. Tiba di sebelah utara desa Vanavara terjadilah ledakan maha
dahsyat itu.
Lintasan yang berbelok-belok itu tidak mungkin dilakukan oleh suatu benda alamiah, melainkan
hanya dapat dilakukan oleh suatu benda buatan, sehingga timbullah dugaan bahwa penyebabnya ialah
wahana antariksa yang datang dari peradaban lain!
Hipotesa wahana antariksa dari luar bumi itu ada dua macam, meskipun kedua-duanya
berdasarkan anggapan bahwa telah terjadi suatu ketidakberesan teknis. Yang satu mengira bahwa terjadi
kerusakan pada sistem propulsinya sehingga terjadilah ledakan maha dahsyat yang memusnahkan tamu
dari luar bumi tadi. Hanya butiran mikroskopis saja yang masih tertinggal yang merupakan sisa dari
wahana antariksa semula. Hipotesa yang lain mengira, bahwa obyek dari kosmos itu mengalami kesulitan
dalam sistem pengemudian sehingga hampir membentur permukaan bumi. Maka dari itu pada saat
terakhir ia terpaksa melakukan koreksi arah dengan menyalakan motor roket nuklirnya, sehingga ia
berhasil meninggalkan bumi untuk selanjutnya meneruskan perjalanannya ke arah Planet Venus. Apa pun
sebabnya, kita boleh merasa bersyukur bahwa ledakan maha dahsyat tadi tidak terjadi di atas salah satu
kota metropolitan, melainkan di daerah yang langka penduduknya. Namun, menurut Ian Ridpath
(Messages from the Stars, Fontana/Collins, Glasgow 1978), di dalam tahun 1977 para sarjana Uni Sovyet
mengumumkan penemuan bahan carbonaceous chonditer yang lazimnya terdapat di kepala komet.
apakah dengan demikian teka teki Tunguska telah terjawab untuk penghabisan kalinya?

Keajaiban di Fatima, Portugis (1917)


Fatima ialah sebuah desa kecil di distrik Leiria, kurang lebih 62 mil (100 km) sebelah Utara
Lisabon, ibu kota Portugis, yang sekarang merupakan salah sebuah tempat berziarah yang ramai
dikunjungi orang. Asal mulanya ialah ketika di dalam tahun 1917 tiga orang anak penggembala domba 6
kali berturut-turut dengan selang tepat satu bulan, didatangi oleh seseorang yang mendarat dari langit
yang mereka anggap Bunda Maria. Ketiga anak itu Lucia, Francisco, dan Jacinto Marto, yang pada waktu
itu berturut-turut berumur 10, 9 dan 7 tahun. Mereka pada mulanya tidak dipercaya, bahkan sempat
dijebloskan ke dalam penjara selama 3 hari atas tuduhan kemasukan setan. Namun perjumpaan dengan
seseorang dari langit itu, yang diawali pada tanggal 13 Mei, kemudian pada tanggal yang sama selama 6
bulan berturut-turut terjadi sehingga pada peristiwa-peristiwa berikutnya banyak saksi-saksinya. Bahkan
pada peristiwa terakhir tidak kurang dari 70.000 orang menyaksikannya, diantaranya orang-orang yang
percaya, yang tidak percaya, pendeta, wartawan Vikaris dari Leiria, dan juga Profesor Almeida Garrett dari
Universitas Coimbra. Wahana yang dipergunakan oleh tamu dari langit itu dilukiskan sebagai “bola
bercahaya”, “pesawat terbang dari cahaya”, “seperti cakram dengan tepi yang jelas, yang mempunyai

17
permukaan yang mengkilau seperti mutiara”. Tamu dari langit itu dilukiskan sebagai wanita muda yang
amat cantik, berwarna putih dan bercahaya. Pakaiannya berwarna putih seperti salju, diikat pada lehernya
dengan sebuah sabuk emas dan menutupi seluruh tubuhnya. Kepalanya tertutup sebuah jubah putih yang
mempunyai tepi emas pula. Terlepas dari tafsiran atau kepercayaan, peristiwa Fatima memecahkan rekor
banyaknya saksi. Demikian pula kemiripan dari deskripsi tentang wahana dan penumpangnya dengan
penyaksian-penyaksian UFO pada umumnya sangat menarik perhatian para peneliti masa kini.

Pesawat-pesawat Terbang “Hantu” di Skandinavia

John A.Keel di dalam buku “Why UFO’s” (Manor Books, New York 1975) menyebut peneliti Swedia
Ake Frazen, yang menggali kembali dari surat-surat kabar Sewdia lebih dari 90 kasus pesawat terbang
“hantu” di antara tahun-tahun 1932-1938. Pesawat-pesawat terbang misterius itu tampak di atas Swedia
Utara, Norwegia, dan Finlandia, semuanya dilaporkan berwarna abu-abu, tanpa tanda-tanda pengenal.
Mereka sering muncul pada waktu terjadi badai, terbang rendah dan berputar-putar di atas kota-kota,
stasiun-stasiun kereta api, obyek-obyek pertahanan dan kapal-kapal di laut. Pesawat-pesawat itu acap
kali mematikan mesinnya selagi terbang rendah dan berputar-putar tadi, suatu tingkah laku yang aneh
dan berbahaya bagi pesawat-pesawat terbang apalagi pada tingkat teknologi masa dahulu. Mereka
membawa lampu pencari yang sangat terang dan yang diarahkan ke bawah. Kokpitnya biasanya terang
benderang dan tampak para awak pesawat yang mengenakan topi dan kaca mata penerbang yang lazim
dipakai pada masa itu sehingga mukanya tidak begitu kelihatan. Pesawat-pesawat terbang misterius yang
terbang rendah itu diiringi oleh cahaya-cahaya aneh yang terbang lebih tinggi. Di dalam pengumuman
pers Mayor Jenderal Reuterswald, panglima komando Upper Norrland, Swedia, membenarkan adanya
penerbangan-penerbangan ilegal di atas daerah-daerah militer yang terlarang dan bertanya secara
terbuka, siapakah gerangan mereka itu dan mengapakah mereka melanggar wilayah Kerajaan Swedia?
Pesawat terbang “hantu” yang serupa juga pernah dilaporkan di atas New York City menjelang
akhir tahun 1933 dan di atas kota London dua bulan kemudian.
Pesawat-pesawat terbang “hantu” di dalam tahun enam puluhan muncul di Amerika Serikat dan
berbentuk pesawat angkut militer Fairchild C-119, yang terbang sangat rendah menyusuri bukit-bukit dan
sambil mematikan mesin-mesinnya. Pada peristiwa lain pernah dilihat pula suatu formasi helikopter-
helikopter yang tidak dikenal.

Makhluk-makhluk UFO Meninjau Rumah Petani (Kasus KellyHopkinsville)

Kasus Kelly Hopkinsville kini termasuk salah satu penyaksian UFO yang klasik, disebut kasus Kelly
Hopkinsvelle oleh karena terjadi di desa Kelly yang terletak 7 mil (11 km) sebelah utara kota Hopkinsville,
Kentucky. Kasus itu banyak diberitakan oleh surat-surat kabar pada waktu itu, demikian pula diselidiki
oleh Proyek “Buku Biru” dan oleh kelompok-kelompok peneliti UFO yang independen. Ringkasan kisahnya
sebagai berikut. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 1955 rumah keluarga petani Ny. Lankford berulang
kali didatangi oleh makhluk-makhluk aneh sampai semalam suntuk Makhluk-makhluk itu muncul sesudah
sebuah UFO yang bercahaya dan berbentuk cakram tampak mendarat di dalam lembah yang terdapat di
ujung ladang mereka. Makhluk-makhluk UFOitu tinginya 1 m, mempunyai kepala yang bulat dan besar,
sepasang mata yang besar, melotot dan memancarkan sinar berwarna kuning, kuping yang lebar sekali,
lengan yang panjang dan tangan yang besar dengan kuku-kuku yang panjang. Sebaliknya kaki-kakinya
tampak kecil. Makhluk-makhluk itu ditembak berulang kali akan tetapi ternyata kebal peluru. Mereka
terjungkir setelah tertembak lalu melarikan diri ke tempat yang gelap. Satu di antaranya tertembak selagi
bertengger di dahan pohon dan ia tampak melayang ke bawah seperti barang yang ringan sekali. Mereka
muncul kembali berulan kali kendati setiap kali muncul disambut dengan tembakan. Pada suatu ketika
salah satu makhluk UFO itu bahkan bertengger di bagian atap di atas pintu dan ketika salah seorang
penghuni pria bernama Taylor keluar melalui pintu itu, rambutnya dibelai oleh makhluk UFO tadi!
Makhluk-makhluk UFO itu pergi dan tidak kembali lagi menjelang fajar menyingsing. Seisi rumah petani
yang menjalani penyaksian makhluk-makhluk UFO yang menakutkan itu terdiri dari Ny.Lankford, ketiga
orang anaknya yang masih kecil, menantunya yaitu Ny.Sutton dan 2 orang pria yaitu Lucky Sutton dan
Billy Taylor.

Korban Gelombang Panas UFO (Kasus Fort Itaipu, Braxil, 1957)


Petang hari tanggal 4 November 1957 di benteng Itaipu, Brasil, dua orang prajurit yang sedang
bertugas jaga melihat apa yang semula mereka sangka “Bintang baru” di langit. “Bintang” itu semakin
bertambah besar dan beberapa detik kemudian berhenti di atas benteng itu. Ia kemudian melayang
perlahan-lahan ke bawah, menjadi sebesar sebuah pesawat terbang, dan dikelilingi oleh suatu cahaya
terang yang berwarna jingga. Suatu bunyi mendengung terdengar dengan jelas, lalu suatu gelombang
panas menimpa. Seorang penjaga jatuh pingsan seketika, sedang kawannya berhasil menggulingkan
badannya ke bawah sebuah meriam yang besar di mana teriakan-teriakannya yang keras kemudian
membangunkan seisi garnisun. Selagi para prajurit lari menuju ke pos masing-masing, terjadilah
gangguan listrik yang memadamkan seluruh penerangan. Timbullah panik sampai lampu-lampu menyala
kembali. Dalam pada itu sejumlah prajurit masih ada yang sempat melihat bagaimana suatu cahaya yang
berwarna jingga meninggalkan daera itu dengan kecepatan tinggi. Kedua penjaga tadi ditemukan dengan

18
luka-luka bakar yang parah: seorang tidak sadar dan yang lain kebingungan, mengalami “shock” yang
dalam. Kasus Fort Itaipu menggemparkan kalangan pertahanan nasional Brasil, sehingga di dalam
penyelidikan kejadian itu mereka meras perlu untuk mengadakan konsultasi dengan kalangan Pentagon
Amerika Serikat.

Kasus Antonio Villas Boas yang Unik (Brasil, 1957)


Antonio Villas Boas ialah petani bujangan berumur 23 tahun yang berdiam di luar kota Sao
Francisco de Salles, Minas Gerais, Brasil.
Pada malam hari tanggal 15 Oktober 1957 ia sedang menggarap ladangnya dengan mengemudikan
sebuah traktor, oleh karena hawa panas tidak mengizinkan pekerjaan itu di siang hari. Pukul 1 malam
muncul sebuah cahaya merah seperti bintang, yang semakin turun menjadi semakin besar dan ketika
mendarat kurang lebih 10-15 m di depan traktornya, ternyata bentuknya seperti sebuah telur yang agak
panjang dengan cahaya berwarna-warni di sekelilingnya. Antonio Villas Boas diserbu oleh 3 orang manusia
yang tingginya kurang lebih sama dengan dirinya dalam pakaian seperti juru selam. Pakaiannya itu sangat
ketat dan berwarna abu-abu, tutup kepalanya berbentuk lonjong sehingga kepalanya menjadi 2 kali lebih
tinggi dari biasanya dan menjadi penutup mukanya pula dengan sepasang lubang bulat yang tertutup
kaca. Di atas tutup kepalanya terdapat sebuah pipa logam yang melengkung ke bawah dan masuk ke
dalam pakaian di tempat tulang punggung, sedang dua pipa logam lainnya menghubungkan kiri kanan
kepalanya dengan kiri kanan tepi punggung di bawah ketiak. Sepatunya mempunyai bagian depan yang
melengkung ke atas dan mempunyai alas yang sangat tebal, di antara 5 sampai 7 1/2 cm (2-3"),
sehingga diduga tinggi manusianya tidak lebih dari 1,55 m. Mereka memakai ikat pinggang dan di
dadanya terdapat tanda sebesar irisan nanas berwarna merah terbuat dari bahan yang memantulkan
cahaya.
Selama seluruh kejadian jumlah manusia yang berpakaian seperti juru selam itu paling banyak 5
orang. Setelah diseret masuk ke dalam UFO, Antonio Villas Boas diambil contoh darahnya dari kiri kanan
dagunya, kemudian ditelanjangi dengan paksa, dibersihkan dengan suatu cairan, lalu ditinggalkan seorang
diri di dalam kamar dari logam tanpa jendela dan tidak tampak pintunya. Daritabung-tabung kecil di
dinding kamarnya itu kemudian keluar asap dengan bau seperti pakaian terbakar, yang semula
memusingkan dan membuat Antonio Villas Boas muntah-muntah. Setengah jam kemudian masuklah
seorang wanita berpakaian Hawa! Tingginya tidak lebih dari 1,35 m, dengan bentuk badan yang
menggiurkan. Rambutnya pirang keputih-putihan, matanya berwarna biru dan besar dengan sudut luar
yang miring ke atas. Hidungnya lurus, tidak ke atas, tidak runcing, dan tidak besar. Tulang pipinya tinggi
sehingga roman mukanya tampak lebar, akan tetapi bagian bawahnya menyempit dan berakhir dalam
dagu yang runcing. Bibirnya sangat tipis, hampir tak kelihatan. Daun telinganya kecil dan berbentuk
biasa. Wanita itu, seperti juga manusia-manusia lain yang berpakaian juru selam, apabila hendak
berhubungan dengan Antonio Villas Boas hanya memakai isyarat-isyarat dengan gerakan tangan. Akan
tetapi apabila mereka bercakap-cakap di antara mereka sendiri, suaranya seperti anjing yang
menggeram, bunyi tenggorokan yang tidak dapat kita tiru. Demikianlah selanjutnya Antonio Villas Boas
berad di dalam UFO itu tidak kurang dari 4 1/2 jam lamanya. Ia masih sempat keliling UFO dan mengenai
hal tersebut ia memberikan keterangan terperinci. Ketika ia kembali ke traktornya, maka jam
menunjukkan pukul 5.30 pagi. Sehari setelah kejadian itu ia masih merasa pusing dan selama dua hari ia
tidak dapat tidur, akan tetapi sejak hari ketiga sampai sebulan lamanya ia sebaliknya malah tidur
berlebih-lebihan.
Mengingat sifatnya, pengalaman Antonio Villas Boas semula disiarkan sambil merahasiakan
identitasnya. Baru beberapa tahun kemudian namanya disebut terang-terangan. Suami isteri Lorenzen
yang memimpin APRO, suatu badan penelitian UFO, berpendapat bahwa asap yang mengganggu saksi
ialah gas atau campuran gas tertentu untuk memungkinkan wanita tadi bernafas tanpa memakai pakaian
seperti juru selam. Terserah kepada para pembaca untuk percaya atau tidak, akan tetapi kisah Antonio
Villas Boas mengandung unsur-unsur yang identik dengan penyaksian-penyaksian UFO lain. Salah satu
persamaan ialah bahwa jumlah awak UFO yang bersangkutan ialah 6 orang, seperti dalam kasus Betty &
Barney Hill beberapa tahun kemudian di Amerika Serikat.

Makhluk-makhluk UFO Membalas Lambaian Tangan (1959)


Salah satu penyaksian UFO yang menjadi klasik ialah kasus Pater Gill yang terjadi di Boainai,
Papua Niugini, pada tahun 1959. Pater William Booth Gill ialah seorang pendeta gereja Anglikan, yang
memimpin suatu misi di sebuah desa terpencil di pantai ujung selatan Papua Niugini. Pada tanggal 26, 27
dan 28 Juni 1959 Pater Gill beserta 37 orang pribumi, di antaranya guru Steven Gill Moi, perawat Annie
Laurie Borewa, Eric Kodawara, Ananias Rarata dan Dulci F. Guyorobo, menyaksikan UFO-UFO bermakhluk.
Hal tersebut merupakan penyaksian UFO bermakhluk dengan jumlah saksi yang paling banyak di masa
kini. UFO itu ada 3 buah, sebuah berukuran besar dan yang lain berukuran kecil, dan selama 3 malam
berturut-turut muncul 18.00 lebih sedikit dan melakukan kegiatannya di daerah itu sampai pukul 23.00
atau lebih. Mula-mula UFO itu disangka lampu petromaks. Bentuknya bulat dan pipih, alasnya bergaris
tengah kurang lebih 35' (12 M) sedang geladak atasnya bergaris tengah kurang lebih 20' (7 m). Di
geladak atas itu tampak makhluk-makhluk seperti manusia, kadang-kadang hanya tampak seorang,
kadang-kadang lebih, akan tetapi tidak pernah melebihi 4 orang. Mereka kadang-kadang
membungkukkan badannya dan mengangkat tangannya di pusat geladak seperti sedang menyetel

19
sesuatu, dan ada yang berdiri saja melihat ke arah para saksi. Makhlk-makhluk UFO itu memakai pakaian
yang ketat dan mempunyai warna kulit pucat. UFO itu seluruhnya dikelilingi oleh suatu karangan cahaya,
termasuk para makhluknya dan empat buah batang yang terpasang di bawahnya dan kemungkinan
merupakan alat pendaratnya. Di sekeliling sisinya terdapat sederetan jendela persegi panjang yang
memancarkan cahaya yang lebih terang daripada bagian UFO lainnya. Menurut Pater Gill cahaya UFO
sewaktu jauh berwarna putih dan terang sekali, sedang semakin mendekat warnanya menjadi kekuning-
kuningan atau kejingga-jinggaan dan agak suram. Dari pusat geladak atas kadang-kadang tampak
sorotan berkas sinar berwarna biru yang mengarah ke atas dengan sudut miring 45'. Pada suatu ketika
UFO itu merendah sampai kurang lebih setinggi 300 sampai 400' (100-130 m) sehingga para saksi
mengira ia akan mendarat di lapangan olah raga. Oleh karena itu Pater Gill dan Steve Gill Moi
melambaikan tangannya seolah-olah menyambut dengan memberi salam “Hallo”. Tanpa diduga makhluk
yang berdiri di geladak atas UFO menjawab lambaian tangan itu. Kemudian Eric Kodawara dan Ananias
Rarata melambaikan kedua belah tangannya dan 2 makhluk UFO lainnya membalasnya dengan
melambaikan kedua belah tangannya! Semua saksi terdengar menghela nafasnya, mungkin karena heran
atau girang, atau karena keduanya. Di dalam penyaksian pada malam ke 2 Pater Gill mengarahkan
sebuah lampu senter ke UFO dan menyalakannya secara agak lama tetapi terputus-putus. Satu atau 2
menit kemudian UFO itu tampak bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan seperti sebuah bandul, Kejadian
yang sama terulang lagi, kemudian UFO itu menuju ke arah para saksi, akan tetapi akhirnya ia berhenti.
Satu atau dua menit kemudian para makhluk UFO seolah-olah kehilangan perhatiannya terhadap para
saksi, oleh karena mereka menghilang ke dalam UFO. Seorang pendeta lain, yaitu Pater Norman
E.G.Cruttwell, setelah melakukan penyelidikan melaporkan bahwa di Papua Nugini pada tahun 1959 telah
terjadi penyaksian UFO sebanyak 65 kali di berbagai tempat.

Tamu-tamu Ajaib Kebal Senjata di Kepulauan Alor (1959)


Awal bulan Juli 1959 masyarakat Kepulauan Alor digemparkan oleh munculnya kawanan manusia
ajaib yang tingginya rata-rata 1,80 m, berkulit merah, berambut perak berombak, berseragam biru tua
dengan lengan panjang, bersepatu hitam dan berikat pinggang di mana terselip tongkat berbentuk tabung
dari logam. Satu-satunya keanehan hanyalah bagian belakang kepala yang agak tinggi yang tidak jelas
penyebabnya: apakah dikarenakan oleh bentuk leher bajunya ataukah oleh bentuk daun telinganya.
Salah seorang manusia ajaib itu pernah terdapat sedang menyelidiki sesuatu, sehingga
menimbulkan kecurigaan penduduk yang serta merta mengepungnya dan bahkan menyerang dengan
panah. Ternyata manusia ajaib itu kebal dan bahkan berhasil meloloskan diri dengan jalan melompat
tinggi di atas kepala para pengepungnya untuk selanjutnya menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Di Pulau Pantar 6 orang manusia ajaib itu sesudah matahari terbenam berkeliaran masuk ke dalam
perkampungan penduduk, yang oleh karenanya dicekam rasa takut sehingga semalam suntuk tidak berani
keluar rumah. Salah seorang manusia ajaib yang berjenggot bahkan berani membuka jendela untuk
selanjutnya sekedar meninjau keadaan di dalam rumah.
Seorang penduduk perkampungan di sebelah timur kota Kalabahi melaporkan, bahwa ketika ia
turun dari memanjat pohon enau, ia dikepung oleh sekelompok manusia ajaib berseragam biru. Mereka
saling bercakap-cakap di dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk tadi. Kemudian salah
seorang di antara mereka tampil ke muka dan mempelihatkan sebuah alat berbentuk bulat seperti wekker
tempo dulu. Penduduk tadi tercengang karena melalui alat tadi ia dapat melihat pemandangan jauh di
seberang sana padahal di depan mereka terbentang hutan lebat dan bukit-bukit yang tinggi.
Seorang anak berumur 6 tahun “diculik” oleh kawanan manusia ajaib, akan tetapi 24 jam
kemudian ia ditemukan kembali di tengah ladang dalam keadaan bingung. Setelah pulih kembali anak itu
bercerita, bahwa ia dibawa ke tengah hutan dan mengalami berbagai pemeriksaan medis. Ia ditawari
suatu makanan jenis apa pun yang ia kenal.
Terdorong oleh laporan penculikan itu Komandan Polisi Alwi Alnadad mengerahkan kesatuan polisi
yang bersenjatakan senjata-senjata otomatik jenis Bren, Garrand dan Thompson untuk menyergap
manusia ajaib di tempat munculnya disebelah timur Kalabahi. Kurang lebih pukul 24.00 malam manusia
ajaib itu muncul dengan pakaian seragam birunya, dan pada jarak 13 m tembakan-tembakan dilepaskan
secara serentak. Anehnya, kemudian polisi tidak berhasil menemukan setetes darah pun yang tercecer,
apalagi sesosok jenazah. Mereka hanya menemukan pohon-pohon yang tertembus peluru dan telapak
kaki yang hanya sejauh 5 m sedang lebih jauh dari itu tidak terdapat jejaknya.
Setelah peristiwa penembakan itu banyak penduduk Kepulauan Alor telah melihat benda terbang
berbentuk telur, berwarna putih gemerlapan, terbang dengna kecepatan tinggi di atas permukaan laut
dari arah barat ke timur. Untuk seterusnya kabar tentang manusia ajaib tidak pernah terdengar lagi.
Kasus manusia kebal di Kepulauan Alor ini diungkapkan kepada penulis oleh komandan polisi
setempat sendiri setelah ia menjadi purnawirawan 17 tahun setelah kejadian tersebut. Manusia-manusia
ajaib yang dihubungkan dengan UFO di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat disebut “MIB”,
singkatan dari “Men in Black”, oleh karena berpakaian serba hitam. Manusia-manusia ajaib di Kepulauan
Alor itu dapat juga disebut “MIB”, singkatan dari “Men in Blue”, oleh karena berpakaian serba biru tua.
Kasus Kepulauan Alor menjadi semakin menarik jikalau dihubungkan dengan penyaksian-penyaksian UFO
di wilayah Papua Nugini pada tahun yang sama (1959). Secara geografis kedua tempat itu hanya terpisah
sejauh 1125 mil (1800 km) dengan arah timur barat. Sesuatu aspek dari kasus Kepulauan Alor ialah
bahwa manusia-manusia ajaib itu tidak disaksikan masuk keluar UFO. Hanya setelah sebuah UFO yang

20
berbentuk telur itu tampak meninggalkan Kepulauan Alor, maka manusia-manusia ajaib itu tidak pernah
disaksikan lagi. Di manakah UFO yang lonjong selama seminggu itu, apakah ia hanya melakukan antar
jemput saja ataukah ia disembunyikan di suatu tempat?

UFO Merah Menimbulkan Statik (1960)


Selama seminggu penuh menjelang akhir bulan September dan permulaan bulan Oktober 1960
penduduk kota Makasar (sekarang Ujung Pandang) melaporkan adanya benda-benda bercahaya yang
berwarna merah seperti bintang, yang bergerak lambat dari timur laut ke tenggara. Benda-benda itu
biasanya tampak 3 kali sehari yaitu pada pukul 08.30 waktu setempat pagi hari, 18.30, dan 19.00 petang
hari. Menjawab pertanyaan dari kantor berita “Antara”, pihak lapangan terbang Mandai (sekarang Wolter
Monginsidi) menerangkan bahwa selama 3 petang berturut-turut balon meteor yang berlampu telah
diluncurkan pada pukul 18.30. Akan tetapi pada petang hari tanggal 2 Oktober 1960 dua buah obyek yang
sama disaksikan di atas Makasar, sebuah di antaranya diterangkan sebagai satelit oleh pihak lapangan
terbang Mandai tanpa memberikan perincian lebih jauh. Adalah sesuatu kenyataan bahwa selama benda-
benda bercahaya merah itu muncul maka siaran radio Makasar sering mengalami gangguan statik. Pada
waktu yang sama penduduk kota Semarang juga melaporkan benda-benda berwarna putih kehijauan
yang melintasi langit petang hari dari timur ke selatan dalam beberapa detik, biasanya sekitar pukul
19.30. Benda-benda itu pasti bukan meteor, demikianlah keyakinan para saksi.

Kasus Barney dan Betty Hill (1961)


Salah satu penyaksian UFO yang terkenal dari dasawarsa enam puluhan tanpa ayal lagi ialah kasus
Barney & Betty Hill, baik karena anehnya pengalaman itu sendiri maupun karena cara pengungkapannya.
Apa yang mereka ingat dalam keadaan sadar ialah bahwa pada malam hari tanggal 19 September
1961 mereka sedang naik mobil di White Mountains dalam perjalanan pulang setelah berlibur. Mereka
telah singgah di Colebrook pukul 22.00 untuk minum kopi dan berharap tiba di rumahnya, Prtsmouth,
New Hampshire, paling lambat pukul 3 dini hari. Di jalan raya yang sepi itu perhatian mereka tertarik oleh
apa yang semula mereka sangka sebuah bintang yang besar, yang kemudian setelah mendekat ternyata
sebuah benda berbentuk cakram dengan dua deretan jendela dan cahaya merah di setiap sisi. Suami istri
itu menghentikan mobilnya sampai 2 kali dan suaminya keluar untuk mengamat-amati benda tadi melalui
teropong. Benda itu akhirnya mengambang di udara setinggi gedung 10 tingkat dan tampak kurang lebih
6 orang manusia berdiri di belakang jendela yang memandang ke bawah ke arah sang suami. Saksi itu
merasa mendapat firasat seolah-olah makhluk-makhluk itu menyampaikan pesan kepadanya untuk tidak
bergerak dan tidak akan disakiti. Pada saat itulah ia berteriak, “Kita akan diculik!” berbalik, lalu lari ke
mobilnya, dan bersama istrinya ngebut pulang ke rumahnya yang ternyata sampai pada pukul 5 pagi.
Suami istri Hill semula bermaksud untuk merahasiakan pengalamannya itu karena khawatir
ditertawakan orang. Namun mereka kemudian terganggu oleh impian-impian yang menyeramkan, bahkan
beberapa tahun kemudian Barney Hill menderita kecemasan, tekanan darah tinggi dan tukak lambung.
Akhirnya pada tahun 1964 mereka terpaksa mengadakan konsultasi dengan Dr.Benyamin Simons,
seorang ahli bedah saraf yang terkenal dari Boston, yang menerapkan hipnoterapi, termasuk hipnosa
regresif, untuk mencari sumber kecemasannya itu. Terungkaplah pengalaman sebenarnya suami istri Hill
ketika berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO.
Melalui hipnosa regresif terungkap pengalaman suami istri Hill yang dapat diringkaskan sebagai
berikut. Di luar kemauannya, mereka meninggalkan jalan raya, memasuki jalan samping yang tidak
beraspal dan buntu. Mesin mobilnya mati, dan muncullah makhluk-makhluk aneh yang menyeret suami
istri Hill ke dalam sebuah UFO, kemudian mereka dimasukkan ke dalam kamar-kamar terpisah yang
bersampingan. Dari seluruh dinding kamar itu memancar cahaya berwarna putih kebiru-biruan seperti
lampu air raksa.
Makhluk-makhluk UFO itu pendek dan kekar, rata-rata setinggi 1,70 m. Di antara mereka ada yang
lebih tinggi sedikit dari yang lain, yaitu yang bertindak sebagai komandan pesawat dan yang menjadi
pemeriksa (ilmuwan?). Makhluk UFO itu mirip orang Mongol dengan roman muka yang lebar, pipih, mata
yang besar tetapi miring, serta hidung yang pesek dan kecil. Mulutnya hanya terdiri dari suatu celah tanpa
bibir, dengan garis vertikal di kanan kirinya. Mata komandan pesawat besar sekali, melotot dan menjalar
sampai sedikit ke kiri kanan kepalanya, sehingga sudut penglihatannya lebih lebar dari manusia biasa.
Mata itu mempunyai biji yang berwarna hitam dan memberikan kesan seperti mata ular.
Proporsi badan makhluk UFO itu aneh mengingat dadanya besar sekali. Makhluk-makhluk itu saling
berhubungan dengan percakapan yang terdengar seperti “Mmmmmm” dan “Hmmmm”, namun komandan
pesawat dan pemeriksa ketika berhubungan dengan suami istri Hill bukan secara lisan, melainkan secara
telepati yaitu bertukar pikiran secara harfiah. Hanya sekali saja, sewaktu mereka diseret masuk ke dalam
UFO, salah seorang makhluk UFO bertanya kepada Ny. Hill dengan suara manusia di dalam bahasa Inggris
yang tidak lancar!
Mengenai pemeriksaan medisnya Ny. Hill mengkisahkan bagaimana ia disuruh duduk di kursi dan
diperiksa mata, telinga, hidung, dan rambutnya. Si pemeriksa mengamat-amati kulitnya melalui sebuah
mikroskop yang besar dan ia berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memanggil komandan pesawat. Lalu
Ny. Hill disuruh berbaring di atas meja dan ada alat-alat aneh yang diletakkan kepada berbagai bagian
tubuhnya, digaruknya lengannya untuk mendapat contoh kulitnya, dan dicabutnya sehelai rambut dari
kepalanya. Sebuah jarum disuntikkan ke dalam pusar Ny.Hill, sehingga ia menggeram kesakitan. Kedua

21
makhluk UFO itu tampak terheran-heran, lalu pemimpinnya menempatkan tangannya di depan mata Ny.
Hill sehingga hilanglah seketika rasa sakitnya. Dengan kejadian itu Ny. Hill menjadi sadar bahwa makhluk-
makhluk UFO itu tidak sengaja menyakitinya dan ia diberi penjelasan bahwa suntikan itu ialah
pemeriksaan kehamilan.
Selagi pemeriksa pergi ke kamar suaminya, Ny.Hill diizinkan oleh komandan pesawat untuk
mengambil sebuah buku yang kebetulan berada di dekatnya sebagai bukti atas perjumpaannya dengan
makhluk-makhluk UFO. Di dalamnya tertulis tanda-tanda dalam deretan-deretan vertikal. Kemudian si
pemeriksa kembali dari kamar suaminya sambil membawa cetakan dari gigi suaminya dan ia mulai
memeriksa gigi Ny. Hill. Ny.Hill menerangkan bahwa manusia bumi kehilangan gigi karena kecelakaan,
penyakit, salah makan, dan usia tua. Lalu makhluk UFO itu bertanya,”Apakah usia tua itu?” Ny. Hill tidak
berhasil menerangkan kepadanya, bahwa manusia bumi itu seharusnya dapat mencapai usia 100 tahun,
tetapi kebanyakan diantaranya tidak dapat mencapainya.
Kemudian atas pertanyaan Ny. Hill tentang tempat asal mereka, komandan UFO membuka dinding
dan memperlihatkan sebuah peta bintang. Garis-garis tebal menandakan rute-rute penerbangan yang
sering dilakukan, garis-garis tipis yang jarang mereka tempuh, sedang garis-garis putus adalah rute-rute
ekspedisi. (Penelitian beberapa tahun kemudian mengungkapkan bahwa bintang tempat asal mereka
dapat ditafsirkan sebagai Zeta 1 Reticuli, sejauh 37 tahun cahaya atau Epsilon Eridani, sejauh 10,7 tahun
cahaya).
Ketika hendak meninggalkan UFO, Ny. Hill merasa berbahagia sekali akan tetapi kemudian timbul
pertengkaran mulut di antara awak pesawat. Komandan pesawat pergi kepada anak buahnya itu, lalu
kembali menghampiri Ny.Hill untuk mengambil kembali bukunya. Kepada Ny.Hill yang sangat kecewa itu
ia menerangkan bahwa baru saja diambil keputusan agar suami istri Hill melupakan saja seluruh kejadian
yang baru dialaminya itu.

Benda Bercahaya Menimbulkan Efek Elektro Magnetis (1964)


Di dalam bulan Agustus 1964 terjadi suatu peristiwa aneh di kompleks Pangkalan Udara Angkatan
Laut Juanda, Surabaya, yang pada tahun 1969 dikisahkan kembali oleh Letnan Laut S. Badirun kepada
penulis sebagai berikut. “Kurang lebih pukul 19.00 petang saya mengemudikan mobil Landrover AL 1467
bersama Sersan Satu Siswanto dan Sersan Dua Sihombing, dengan tujuan untuk mencoba lampu-
lampunya yang baru saja diperbaiki. Adapun jalan yang dilalui ialah yang menuju ke hanggar. Pada jarak
kira-kira 200 m dari hanggar kami melihat benda aneh yang menyinarkan cahaya sangat terang warna
merah kebiru-biruan. Benda aneh tersebut tidak begitu jelas karena udara pada saat itu mendung. Benda
aneh tersebut tidak begitu jelas karena udara pada saat itu mendung. Benda aneh tersebut di atas
hanggar pada ketinggian di antara 30-50 m. Timbullah pertanyaan dari kami bertiga, benda apakah itu
sebenarnya? Demi untuk meyakinkan apakah sebenarnya benda yang menyinarkan cahaya terang itu,
saya langsung tancap gas.” Tetapi timbul suatu keanehan, oleh karena kendaraannya setelah ditancap
gasnya bukannya bertambah kencang jalannya, melainkan sebaliknya. Untuk menempuh jarak sampai ke
hanggar yang begitu dekat terasa sulit sekali, padahal kendaraannya dalam keadaan baik.
Sambil berusaha untuk menormalkan jalannya kendaraan dengan rasa heran, mereka melihat
dengan jelas bagaimana cahaya terang itu makin lama makin rendah mendekati atap hanggar, seperti
pesawat helikopter yang sedang turun perlahan-lahan secara vertikal. Kemudian lampu-lampu besar dari
mobil Landrover itu dinyalakan, dan seketika itu benda aneh tadi bukannya semakin merendah, melainkan
dengan kecepatan luar biasa membumbung ke atas untuk menghilang di awan gelap.
Ketiga saksi itu kemudian terus pergi ke hanggar untuk menanyakan kepada pos pengawal, tetapi
ternyata ia tidak mengetahui ataupun mendengar apa-apa.

Pemanah yang Nyaris Diculik Makhluk UFO (1964)


Di dalam proyek “Buku Biru” terdapat laporan seorang berumur 27 tahun yang sesuai dengan
kebiasaan proyek itu tidak diungkapkan identitasnya dan hanya disebut “Mr.S”. Ia bekerja di pabrik peluru
kendali dan nyaris diculik makhluk UFO. Kisahnya yang mendirikan bulu roma itu dimulai ketika pada
tanggal 4 September 1964 dia sedang berburu dengan memakai busur dan panah di dekat Cisco Grove,
California, yaitu di daerah bukit-bukit di atas Tuckee, dekat perbatasan dengan Nevada. Ia terpisah dari 2
orang kawannya, sehingga ketika hari sudah mulai senja ia mencari pohon tempat ia dapat mengikat
dirinya di sebuah dahan dan tidur dengan aman. Pada waktu itulah perhatiannya tertarik oleh 3 buah
benda terbang yang mempunyai cahaya berputar dan berbunyi mendekut. Namun ia mengira bahwa itu
adalah helikopter-helikopter yang sedang mencarinya, sehingga tanpa berpikir panjang ia mendaki sebuah
bukit di tepi lembah Granite Creek, di situ ia menyalakan api untuk memberitahukan posisinya.
Benda-benda terbang tersebut tertarik perhatiannya, lalu berputar-putar di atasnya dan kemudian
merendah. Ternyata benda-benda itu bukanlah helikopter, melainkan benda-benda berwarna perak, yang
sambil merendah menjatuhkan 2 buah barang.
Beberapa menit kemudian pemanah itu mendengar bunyi benda jatuh yang keras di semak-semak
yang terletak di bawahnya. Sambil diliputi ketakutan dia memanjat sebuah pohon pinus yang besar dan
menyelamatkan diri di dahan-dahannya yang rendah. Kemudian ia melihat 2 makhluk seperti manusia
setinggi 5’5" (1,65 m), berpakaian kelabu keperak-perakan dengan muka dan kepala tertutup, tanpa leher
baju, mempunyai mata yang menonjol dan luar biasa, serta bercakap-cakap dengan bunyi berdekut
seperti burung dara yang tidak dapat dimengerti. Mereka mencoba memanjat pohon untuk mencapai

22
pemanah, akan tetapi gagal. Lalu muncullah makhluk ke 3, yang mempunyai sepasang mata dengan garis
tengah 3" (7 1/2 cm) yang berpijar dengan warna merah jingga berkelap-kelip. Makhluk tersebut berjalan
dengan gaya yang janggal dan berisik, menerobos semak-semak tanpa menghindarinya. Mulutnya
berbentuk persegi panjang selebar kepalanya, terbuka dan ternganga, yang kemudian menghembuskan
gumpalan-gumpalan asap atau gas berwarna putih ke arah pemanah, yang menimbulkan pening kepala.
Pemanah itu melepaskan beberapa buah panah ke arah makhluk ketiga yang ia anggap sebuah robot, dan
terdengar bunyi logam. Untuk mempertahankan diri, pemburu itu juga menyobek bajunya, membakarnya
dengan korek api, dan menjatuhkannya kepada para penyerbu untuk menakutinya. Makhluk-makhluk UFO
itu memberi reaksi yang hebat. Menjelang fajar menyingsing, muncullah sebuah robot lainnya dan kedua
buah robot itu kemudian saling berhadapan. Timbullah kepulan awan gas yang besar di antara dada-
dadanya, yang membuat pemanah pingsan. Untunglah dia disangga oleh busurnya yang tersangkut pada
dahan-dahan, sehingga tidak terjatuh. Ketika dini hari ia sadar kembali, para penyerbu dan UFOnya telah
pergi. Proyek “Buku Biru” menilai bahwa saksi itu tampak seimbang dan konsisten di dalam menceritakan
pengalamannya serta yakin bahwa peristiwa itu terjadi tepat seperti dikisahkannya.

Bagaimana UFO Mengganggu Dwikora (Surabaya, 1964)


Sewaktu masih berkecamuknya Dwikora, Surabaya sebagai salah satu basis kekuatan pertahanan
berada dalam keadaan siap siaga, mendapat kunjungan benda-benda terbang tak dikenal setiap malam
selama seminggu penuh dari tanggal 18 sampai dengan 24 September 1964. Tamu-tamu yang tidak
diundang itu tampak secara serentak baik di layar radar maupun dengan mata telanjang, sehingga
tergolong dalam penyaksian RV (Radar Visual Sightings).

Benda-benda tak dikenal itu mulai beraksi sesudah matahari terbenam dan menghilang menjelang
fajar menyingsing. Benda-benda itu ada yang bergerak seperti pesawat terbang atau helikopter biasa,
tetapi ada pula yang melakukan olah gerakan yang serba mendadak. Kegiatan benda-benda terbang yang
aneh itu dipusatkan di dalam daerah segitiga Surabaya-Malang-Bangkalan. Keadaan cuaca di daerah
kejadian selama minggu itu adalah cerah.

Benda-benda aneh itu menurut deskripsi para saksi mata adalah benda hitam yang kadang-kadang
memperlihatkan ekor api yang lebih panjang dari api gas buang pesawat pancar gas yang sedang
menyalakan “afterburner”nya. Meskipun bentuk badannya tersembunyi dikegelapan malam, ia membawa
lampu yang sangat terang di bagian bawahnya. Seorang saksi kebetulan melihat bentuk badannya yang
memantulkan cahaya dari bawah dan menggambarkannya seperti sebuah mangga oleh karena berbentuk
elipsoida yang berwarna hijau kebiru-biruan. Saksi mata lain menggambarkan cahaya UFO itu seperti
lampu belakang mobil. Seorang penerbang Angkatan Udara yang pada suatu malam kebetulan berada di
dekat kota Porong melukiskannya sebagai bulat seperti rambu lalu lintas akan tetapi menyala merah
padam dan tampak melayang ke arah Surabaya tanpa berbunyi sama sekali. Benda-benda itu kadang-
kadang memancarkan bunyi mendengung seperti sebuah gasing yang sama sekali berbeda dengan bunyi
pesawat pancar gas maupun pesawat piston.
Ciri khas dari kasus UFO Dwikora Surabaya ialah bahwa benda-benda terbang tak dikenal itu
disambut dengan tembakan-tembakan gencar dari meriam-meriam artileri pertahanan udara kita. Di
dalam sejarah UFO sambutan dengan tembakan meriam penangkis serangan udara lainnya hanyalah
terjadi di Kepulauan Kurillen yang diduduki oleh Uni Sovyet pada awal tahun 60-an. UFO itu ternyata tidak
mempan ditembak dengan meriam, oleh karena tidak ada sebuah pun yang berhasil ditembak jatuh. Dari
pengamatan dengan radar ternyata, apabila tembakan kita mengenai sasarannya, mereka segera
mengubah ketinggiannya. Mereka itu terbang tidak tinggi, hanya sekitar 1200 m saja. Dengan gencarnya
tembakan artileri sasaran udara di atas daerah yang padat penduduknya, tidak dapat dihindarkan
jatuhnya korban. Beberapa orang yang sedang duduk di luar rumah mereka di daerah Sidoarjo terkena
pecahan peluru meriam. Mungkin mereka sedang menikmati kesejukan hawa malam sehingga kurang
memperhatikan adanya bahaya udara.
Benda-benda terbang tak dikenal itu juga pernah tampak mendarat pada malam hari di sebelah
selatan Surabaya. Keesokan harinya seorang penerbang Angkatan Laut mendatangi tempat tersebut
dengan helikopter, akan tetapi tidak menemukan bekas-bekasnya. Stasiun radar di Ngliyep, Malang,
kurang lebih 120 km sebelah selatan Surabaya, menangkap sasaran-sasaran yang berputar-putar di atas
pantai dan kadang-kadang ada yang berhenti. Di daerah itu pernah tersiar berita tentang pendaratan
sebuah benda bulat di tengah-tengah kebun jagung. Menurut saksi mata seorang petani yang menjaga
kebun jagung itu dari benda tadi keluar 2 orang asing yang mengenakan pakaian berwarna keperak-
perakan yang mengkilau. Mereka berambut pirang dan bertanya kepada petani itu,”Ini jagung?” Laporan
petani itu hanya dijadikan bahan tertawaan saja. (Bagi mereka yang memppelajari masalah UFO, kejadian
itu mirip dengan kasus di Amerika Serikat yang terjadi dalam tahun 60-an juga. Dilaporkan adanya
makhluk UFO yang berambut pirang dan yang berbicara dengan aksen bahasa Jerman).
Pandangan alat negara tentang peristiwa Surabaya tercermin di dalam telaahan staf Komando
Pertahanan Udara Nasional berjudul “Penerbangan-penerbangan tidak dikenal di Sektor II (Surabaya)”
tertanggal 29 September 1964 yang menyimpulkan, bahwa sasaran tidak dikenal sebagai yang telah
dilaporkan memang ada, bahwa sasaran itu terdiri dari pesawat terbang biasa dan pesawat tanpa awak,

23
bahwa kegiatan sasaran adalah kegiatan lawan, dan bahwa tujuannya adalah untuk perang urat saraf di
samping secara tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian.
Mengenai pengendalian secara elektronis kemungkinan terbesar dilakukan dari daratan, dari lautan
mempunyai kemungkinan pula, sedang pengendalian dari udara secara teknis dapat diabaikan!.
Pada intisarinya mereka mengira UFO itu adalah senjata rahasia Angkatan Laut Inggris oleh karena
pada waktu itu memang kapal induk Inggris “Victorious” dengan beberapa kapal perang lain sedang
berada kurang lebih di sebelah selatan Kendari dalam pelayarannya kembali ke Singapura setelah
memasuki Samudra India lewat Selat Sunda.
Diterobosnya pertahanan udara Surabaya oleh benda-benda terbang yang tak dikenal serta ekses-
ekses yang timbul dari meriam-meriam penangkis serangan udara dengan sendirinya menimbulkan
keresahan sosial. Maka dari itu pada tanggal 8 Oktober 1964 Pejabat Presiden Dr.J.Leimana merasa perlu
untuk mengeluarkan imbauan agar masyarakat ramai tetap tenang dan tidak menimbulkan suasana yang
keruh serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran-tafsiran.
Sebelum pengumuman itu penulis ini di dalam jabatannya sebagai Penasihat Ilmiah
Menteri/Panglima Angkatan Udara dimintai pendapatnya tentang kejadian di Surabaya oleh WAKAS KOTI
Laksamana Muda Udara Sri Mulyono Herlambang. Saya kemukakan bahwa peristiwa itu sama dengan
kejadian yang menimpa ibu kota Amerika Serikat Washington D.C. pada tahun 1952. Perbedaannya ialah
bahwa ibu kota tadi tidak dalam suasana konfrontasi dan yang dikerahkan pesawat-pesawat pemburu
segala cuaca Lockheed F-94 “Starfire”. Kesulitan yang dihadapi alat negara kita pada waktu itu ialah
apabila sasaran-sasaran yang tak dikenal itu secara resmi diakui sebagai UFO, maka hal itu dapat
menimbulkan kerawanan berupa mengendornya kesiap-siagaan dan terbukanya kesempatan bagi pihak
lawan untuk menyalahgunakan kondisi itu.

Polisi Herbert Schirmer Berjumpa Makhluk UFO (1967)


Pukul 3 dini hari tanggal 3 Desember 1967 anggota polisi Herbert Schirmer kembali ke posnya di
pinggiran kota Ashland, Nebraska, setelah berpatroli setengah jam lamanya. Dia gelisah karena baru saja
mengalami peristiwa yang aneh dan menegangkan serta membuatnya amat haus seperti sudah seminggu
lamanya tidak minum. Setelah tenang kembali ia menulis laporan singkat yang berbunyi, bahwa dia telah
melihat piring terbang yang mendarat di simpang jalan raya no. 6 dan 63 yang kemudian bertolak lagi.
Berita itu tersiar dalam surat-surat kabar lokal di kota-kota Ashland dan Lincoln, sehingga menarik
perhatian panitia Condon yang pada waktu itu sedang mengumpulkan bahan-bahan bagi laporan terakhir
proyek “Buku Biru”. Herbert Schirmer diperiksa oleh para ahli dari panitia Condon di Universitas Colorado,
yang menemukan adanya selisih 20 menit, di dalam jangka waktu tersebut dia tidak ingat apa yang telah
diperbuat (gejala “time loss” atau kehilangan waktu). Di samping itu juga ditemukan bilur merah pada
kuduk di bawah telinga kirinya. Hal tersebut merupakan karakteristik bagi para saksi perjumpaan dengan
makhluk UFO yang menderita gejala kehilangan waktu. Terhadap Herbert Schirmer kemudian dilakukan
“regressive hypnosis” oleh Prof.Dr.Leo Sprinkle dari Universitas Wyoming dan terungkaplah
pengalamannya yang mencengangkan selama 20 menit yang hilang itu. Hipnosa itu diulang sampai 3 kali
di tempat dan oleh ahli hipnosa yang berlain-lainan, namun keterangan Schirmer dalam keadaan tidak
sadar itu ternyata sama saja.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman selama 20 menit itu dilupakan atas perintah makhluk-makhluk
UFO sebelum berpisah, oleh karena perjumpaannya itu tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Setelah
bertolak dari persimpangan jalan raya, UFO itu kemudian mendarat lagi di sebuah lapangan tua.
Bentuknya lonjong seperti bola rugby, mempunyai panjang 10' (30,5 M), memiliki sejumlah lampu yang
berkedip-kedip, sebuah cahaya terang keperak-perakan di dasar bawahnya, dan bunyi melengking. Alat
pendaratnya terdiri dari 3 batang kaki yang dapat keluar masuk. Schirmer menuju ke lapangan tua
melalui jalan berlumpur sambil memanggil pos polisi lewat radio, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian
mesin maupun lampu mobilnya mati.
Schirmer menjadi takut dan ingin kembali, akan tetapi dihalangi oleh sesuatu di dalam pikirannya.
Begitu pula ketika beberapa sosok tubuh manusia menuju ke mobilnya, ia ingin mencabut pistolnya,
namun ada sesuatu yang menghalanginya. Kemudian salah satu makhluk yang berdiri di depan mobilnya
mengacungkan suatu benda yang menyemprotkan sejenis gas berwarna kehijauan sehingga menyelimuti
mobilnya. Kemudian ia mencabut sebuah alat seperti lampu senter dari pinggangnya dan
mengacungkannya ke kaca depan. Timbullah kilatan cahaya amat terang seperti lampu alat pemotret
yang membuat Schirmer tidak dapat bergerak dan kehilangan kesadarannya. Ketika ia sadar kembali, ia
sedang dipapah oleh 2 makhluk UFO keluar dari mobilnya dan dibawa masuk ke dalam UFO melalui
sebuah tangga. Tiba-tiba datanglah makhluk UFO lainnya dari belakang dan memijatkan suatu alat ke
sebelah kiri dari kuduknya selama kurang lebih semenit yang cukup menyakitkan. Makhluk-makhluk UFO
itu tingginya di antara 4 1/2-5' (1,35-1,50 m) dengan dada yang besar dan badan serta anggota badan
yang berotot. Sikapnya kaku dan kepalanya lebih sempit dan panjang dari manusia bumi. Matanya seperti
mata kucing dengan alis yang miring sehingga memberikan corak seperti orang Asia. Hidungnya panjang
dan lebar, bibirnya tipis sekali, mulutnya hampir seperti celah. Kulitnya berwarna kelabu keputih-putihan.
Mereka memakai sepatu boot dan memakai pakaian “coverall” keperak-perakan dengan ikat pinggang
terdapat semacam tempat pistol. Tutup kepalanya mempunyai sepasang antena kecil. Di dada mereka
terdapat lukisan seekor naga yang bersayap. Schirmer juga memperhatikan, bahwa makhluk-makhluk

24
UFO itu bernafas dengan bebas oleh karena udara yang dingin di luar UFO itu, nafas keluarnya menjadi
uap. Di dalam UFO udaranya lebih dingin daripada di luar dan diterangi oleh lampu berwarna merah.
Sewaktu di dalam UFO Schirmer berdialog dengan makhluk-makhluk UFO yang berbicara bukan
dengan mulut melainkan secara telepatis, yaitu langsung ke dalam pikirannya yang membuat dia sakit
kepala. Schirmer mengawali pertanyaannya apakah makhluk-makhluk itu nyata, yang dijawab dengan
pijatan di bahunya. Di dalam waktu yang kurang dari 20 menit itu diperoleh banyak sekali informasi
tentang UFO, maksud tujuannya dan asalnya. Mereka mengaku berasal dari galaksi lain, merupakan awak
dari suatu pesawat observasi yang terdiri dari 4 orang, dan telah lama mengamat-amati bumi. Mereka
sedang melakukan program penelitian terhadap bumi kita yang antara lain meliputi pengumpulan contoh
berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan, suatu “breeding analysis” (analisa perkembangbiakan) yang
juga mempergunakan beberapa orang manusia bumi di dalam eksperimen-eksperimennya. Tidak
dijelaskan apakah manusia-manusia bumi itu diculik atau tidak. Sikapnya seperti militer, penjagaan ketat
dilakukan selama saksi di dalam UFO. Orang-orang yang kebetulan mereka pergoki dihubungi tanpa pola
tertentu dengan maksud untuk membingungkan baik pemerintah maupun perorangn yang menyelidiki
UFO di samping untuk mematangkan kondisi masyarakat saat itu, dimana merek akan memperlihatkan
diri secara terbuka dan dalam jumlah besar. Mereka mempunyai pangkalan di beberapa planet di tata
surya kita, demikian pula di permukaan bumi, di bawah tanah dan di bawah permukaan laut, seperti 2
buah di daratan Amerika Serikat, di lepas pantai Florida (di daerah segitiga Bermuda di mana banyak
kapal laut dan pesawat terbang telah hilang tanpa bekas), di lepas pantai Argentina dan di Kutub Utara.
Pangkalan-pangkalan UFO itu ialah untuk “kesejahteraan awak UFO dan manusia bumi”.
Wahana UFO dibuat dari magnesium murni 100% dan digerakkan oleh sistem energi elektro
magnetik yang dapat dibalik untuk menciptakan kondisi penerbangan yang bebas inertia maupun
gravitasi. Di tengah-tengah UFO terdapat sebuah rotor seperti kristal yang dihubungkan dengan 2 buah
kolom yang besar yang merupakan reaktor-reaktor. Kecepatan UFO melebihi 150.000 mil (240.000 km)
sedetik. Untuk melakukan pengintaian di dalam UFO juga terdapat piring-piring terbang kecil yang dapat
diluncurkan dan dikembalikan oleh induknya sewaktu di udara. Tugasnya ialah untuk melakukan
pengintaian dari dekat secara audio visual. Pada waktu mendarat, terbang rendah atau menghadapi
kemungkinan gangguan fisik maka UFO itu dikelilingi oleh suatu medan gaya elektro magnetik yang dapat
mematikan mesin mobil dan radio, serta rasa seperti kesemutan pada manusia dan hewan. Jikalau terlalu
dekat, medan gaya itu menimbulkan kilatan cahaya putih yang dapat menyelomot manusia atau hewan
sehingga mengusirnya dari bahaya yang lebih besar lagi. Kepada Schirmer dijelaskan bahwa mereka
menyadap listrik dari kabel-kabel tegangan tinggi kita untuk keperluan medan gaya pelindung tersebut,
akan tetapi hanya dalam jumlah kecil oleh karena mereka masih menghadapi kesulitan dalam
penyimpanannya (!).
Makhluk-makhluk UFO itu membawa sebuah alat seperti lampu senter yang tergantung di ikat
pinggangnya dan yang dapat memancarkan gelombang-gelombang tertentu guna menghentikan gerakan
manusia atau hewan yang hendak mengganggu mereka.
Schirmer percaya bahwa makhluk-makhluk UFO mempunyai pengetahuan yang sangat maju
tentang kerja otak manusia, hal tersebut terbukti dari pengalamannya ketika ia hendak berbuat sesuatu
lalu terhalang oleh sesuatu yang tak dapat dimengertinya. Sewaktu bertemu, makhluk UFO itu juga
berkata bahwa sambil bercakap-cakap mereka itu menanamkan sesuatu ke dalam pikirannya. Kemudian
ternyata bahwa Schirmer membuat laporan penyaksian UFO yang semula sesuai dengan perintah
makhluk-makhluk UFO tadi.

Apakah “Kemamang” Termasuk UFO?


Pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 1969 pukul 22.10 saya dengan 3 orang lainnya sedang
melewati jalan setapak di daerah perbukitan Gunung Lima, sebelah Timur Pacitan, Jawa Timur. Saya
berjalan paling depan dan setelah mendaki bukit, paling dahulu mencapai suatu dataran tinggi. Daerah itu
jarang penduduknya, dan keadaannya gelap gulita. Di daratan tinggi itu terdapat sebuath batu sebesar
rumah dan di atasnya tumbuh sebuah pohon. Di atas pohon itu, pada ketinggian kurang lebih 10 m,
mengambanglah sesuatu yang bulat, bergaris tengah kurang lebih 5 m, mengambanglah sesuatu yang
bulat, bergaris tengah kurang lebih 5 m, bercahaya pendar merata, dan berwarna biru. Berkas cahaya
lampu senter saya arahkan kepada sesuatu itu, yang seketika bergerak ke atas seolah-olah menghindari
cahaya senter tadi. Yang aneh ialah, bahwa sewaktu tidak bergerak maka sesuatu tadi bulat bentuknya,
akan tetapi begitu ia bergerak ke atas maka tepi bagian atasnya menjadi rata seperti terpancng. Dalam
sekejap mata sesuatu tadi telah lenyap dari pemandangan. Ketika kemudian saya bertanya kepada
penduduk setempat, apakah cahaya yang telah kami lihat itu, dijawab bahwa itu adalah “kemamang”
yang termasuk golongan makhluk halus.
Menurut cerita penduduk, daerah dari Gunung Lima ke timur sampai Lorok memang menjadi
tempat timbulnya gejala-gejala cahaya aneh, tidak hanya seperti tersebut di atas, akan tetapi ada pula
yang seperti api unggun yang kadang-kadang berhenti, kadang-kadang melompat-lompat baik secara
horisontal maupun vertikal dan yang dinamakan “obor setan”. Gejala tersebut rupa-rupanya bersifat
musiman. Ada pula gejala lain yaitu yang dari jauh bersinar sangat terang seperti sinar lampu petromaks,
dan pernah pada malam-malam tertentu berterbangan sampai ratusan jumlahnya.
Apakah gejala-gejala itu, alamiah ataukah artifisial? john Keel di dalam bukunya “Why UFO’s?”
mengisahkan pengalaman pribadinya yang tepat sama dengan pengalaman penulis ini, akan tetapi yang

25
terjadi di daerah perbukitan di negara bagian Virginia di Amerika Serikat. Menurut pendapatnya, gejala itu
tergolong UFO. Dalam hubungan ini perlu dicatat pula, bahwa para peneliti UFO di Brasil mengungkapkan
penyaksian cahaya-cahaya biru di tempat-tempat tertentu di hutan belantara oleh suku-suku Indian, yang
mereka namakan “Mother of Gold” (Ibu Emas). Menurut kepercayaan mereka, cahaya-cahaya itu ialah
makhluk-makhluk yang menjaga deposit mineral emas yang terkandung di bumi itu.

Foto UFO yang Pertama di Atas Indonesia


Sepanjang pengetahuan hingga saat buku ini ditulis, foto UFO yang pertama di atas Indonesia
dibuat oleh wisatawan Jepang Ryo Terumoto dari sebuah mobil pada tanggal 17 Agustus 1973 sekitar
pukul 14.00 siang. Ketika foto itu dicetak, tampak adanya benda berbentuk cakram di depan Gunung
Agung di Pulau Bali, yang sewaktu dijepret tidak kelihatan. Foto itu kemudian dimuat di dalam majalah
“Hito-to-Nippon” (Orang dan Jepang) terbitan bulan Maret 1974 dengan judul “Piring Terbang di Atas
Pulau Bali?” Ketua Perkumpulan UFO Jepang CBA International Yusuke J.Matsumura mengirim guntingan
berita tersebut sambil bertanya, apakah di sekitar Gunung Agung hidup sejenis burung yang mirip dengan
foto tersebut. Tak usah diterangkan bahwa andaikata ditemukan burung yang berbentuk cakram, hal itu
akan merupakan penemuan yang menggemparkan seluruh dunia.

Robot-robot Melayang: Kasus Pascagoula (1973)


Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 Oktober 1973 pukul 17.00 di Pascagoula, Missisippi, ketika
Charles Hickson dan Calvin Parker sedang asyik mengail ikan di sungai. Tiba-tiba terdengar bunyi
mendesis seperti udara atau uap yang keluar dari pipa. Mereka menoleh ke belakang dan melihat
sepasang cahaya biru yang sangat terang dan berkedip atau berdenyut, sebesar lampu depan sebuah
mobil, pada jarak 30-40 yard dari mereka. Cahaya-cahaya itu terpasang pada suatu wahana yang
panjangnya 20'-30' (6-9 m) dan tingginya 8'-10' (2,4-3 m). Di depan sepasang cahaya tadi tampak, dua
buah jendela. Setelah bunyi mendesis berhenti, maka kedua cahaya tadi menjadi padam, sedang wahana
itu mengambang kurang lebih 1 1/2-2' (45-60 cm) di atas tanah. Sebuah pintu terbuka dan dari dalam
wahana sinar berpijar dengan warna di antara putih dan kuning.
Tiba-tiba sosok tubuh seperti manusia muncul di pintu itu: tingginya 5' sampai 5’4" (1.50-1.60 m),
dari kepala sampai kakinya tertutup oleh kulit yang penuh lipatan-lipatan, berwarna keabu-abuan, dan
kasar seperti kulit gajah. Mereka tidak punya leher dan pada bagian yang seharusnya ada hidung dan
telinga, terdapat tonjolan-tonjolan berbentuk kerucut. Tangannya tidak mempunyai jari tetapi supit.
Mereka tidak bersuara kecuali satu di antaranya mengeluarkan bunyi mendengung.
Ketiga sosok tubuh itu kemudian melayang ke arah Hickson dan Calvin, akan tetapi kaki dan
tangannya tidak kelihatan bergerak melainkan dalam keadaan sikap tegak saja. Dua di antaranya dengan
cepat mengapit Hickson dengan memegang lengannya, yang waktu perama kali disentuh merasa sakit.
Yang satu lagi menuju ke arah Calvin Parker yang jatuh pingsan karena ketakutan. Hickson tetap dalam
keadaan sadar, akan tetapi setelah disentuh oleh makhluk-makhluk aneh itu ia tidak dapat bergerak dan
ia ikut melayang masuk ke dalam UFO. Di dalamnya tampak ruangan kosong dengan dinding yang
memancarkan cahaya yang hampir menyilaukan. Hickson dilepas oleh makhluk-makhluk tadi, akan tetapi
ia tetap dalam keadaan mengambang di udara. Tiba-tiba sebuah alat yang mempunyai semacam lensa
keluar dari dinding dan mengamat-amati seluruh tubuh Hickson dengan seksama pada jarak sangat
dekat. Dua sosok tubuh itu kemudian memegang Hickson lagi dan mengembalikannya ke tempat semula
seraya melayang.
Setelah menyentuh tanah lagi, Hickson mencoba berdiri, akan tetapi jatuh tersungkur karena
ketakutan. Kemudian ia merangkak ke arah temannya, Calvin Parker, yang masih meggeletak di tanah,
akan tetapi sebelum mencapainya terdengar bunyi mendesing lagi. Ketika ia menoleh, Hickson melihat
bagaimana pintu UFO itu menutup kembali sementara sepasang cahayanya telah berkedip-kedip lagi dan
sekejap mata kemudian ia telah pergi.
Hickson yakin bahwa makhluk-makhluk yang menculik dia sebentar itu ialah robot-robot, oleh
karena gerakan-gerakan serba mekanis, dan satu di antaranya yang berbunyi mendengung boleh jadi
sedang melangsungkan komunikasi dan pengendalian dari pesawat induknya.

Mattambre dari P.Flores: Makhluk atau Alat?


Di Pulau Flores terdapat apa yang dinamakan mattambre terdiri dari suatu cahaya berbentuk bulat
dengan garis tengah sekitar 1 m yang berwarna merah kebiru-biruan. Ada yang menyamakan warna
merahnya dengan warna matahari sedang terbenam. Mattambre melayang-layang kurang lebih setingi 1
1/2 m dari permukaan tanah dan hanya disaksikan pada malam hari saja. Ia muncul secara tunggal tanpa
tergantung dari musim. Penduduk menyeganinya, oleh karena kehadirannya disangkutpautkan dengan
bakal terjadinya kematian seseorang.
Namun demikian, seorang sarjana yang tidak mau disebut namanya dan yang berasal dari
Kabupaten Manggarai Pulau Flores Barat, menceritakan pengalaman pribadinya dengan mattambre. Pada
tahun 1974 ia kebetulan melakukan perjalanan pada malam hari dengan kendaraan sebuah jeep dari
daerah pedalaman yang bergunung-gunung menuju ke pantai. Tiba-tiba muncullah sebuah mattambre
yang kemudian mengikuti mereka. Pengalaman yang tidak terlupakan terjadi ketika kemudian mattambre
itu mendekati jeepnya dan secara mendadak baik mesin maupun lampunya mati. Mereka berusaha
sekuat-kuatnya untuk menjalankan mesinnya di dalam kegelapan malam, namun sia-sia belaka. Akhirnya

26
mereka terpaksa mendorong jeepnya secara berhati-hati turun dari gunung ke pantai sejauh kurang lebih
10 km. Belum sampai ke pantai fajar mulai menyingsing dan mattambre itu hilang lenyap seketika.
Berbarengan dengan itu jeep mogok tadi tiba-tiba berfungsi normal kembali.
Pengalaman itu menimbulkan tanda tanya, apakah sebenarnya mattambre itu, sejenis hantu
ataukah sejenis alat observasi yang dikendalikan oleh kehidupan cerdas dari luar umat manusia kita?
Sarjana tadi juga menambahkan bahwa seorang rekannya pernah menyaksikan gejala yang serupa
di Pegunungan Alpen di Eropa. Temannya semobil seorang bangsa Swiss menerangkan bahwa itulah yang
disebut UFO. Rekannya tadi menyebut bahwa di kampungnya di Pulau Flores itulah yang dinamakan
Mattambre!

Tudingannya Bertuah: Kasus Carl Higdon (1974)


Pengalaman ajaib Carl Higdon sewaktu berjumpa dengan makhluk UFO pertama kali disiarkan oleh
surat kabar “Daily Times” di kota Rawlins, negara bagian Wyoming, pada tanggal 29 Oktober 1974. Empat
hari sebelumnya dia sedang berburu elk, binatang sejenis rusa, di hutan nasional Medicine Bow sebelah
selatan kota tersebut. Sekira pukul 16.00 sore ia mendaki sebuah bukit dan melihat 5 ekor binatang
buruannya. Dia melepaskan tembakan, akan
tetapi anehnya pelurunya hanya mencapai jarak 50' (15 m) lalu jatuh ke tanah. Dia melangkah
maju untuk memungut peluru itu dan memasukkannya ke dalam sebuah tas. Pada waktu itulah dia
mendengar bunyi dahan patah sehingga ia menoleh ke kanan dan di bawah pepohonan dia melihat
seseorang sedang berdiri. Tingginya 6’2" (1,85 m), berpakaian dan bersepatu hitam, memakai sabuk
dengan timang berbentuk bintang dan sebuah tanda berwarna kuning di bawahnya. Kedua kakinya
berbentuk “O”, kepalanya (bukan otaknya) miring, tidak berdagu, giginya hanya 6 buah: 3 di atas dan 3
di bawah, berambut jarang yang berdiri tegak di kepalanya. Kedua belah tangannya tidak berjari, akan
tetapi menyerupai alat yang berbentuk kerucut.
Makhluk aneh itu memperkenalkan diri sebagai “Ausso”, menyerahkan sebuah kotak kecil berisi 4
pil yang melayang ke arah Higdon dan yang katanya satu pil cukup untuk mengganti makan 4 hari, dan
mengajak Higdon ikut. Ausso menudingkan tangannya, dan sekonyong-konyong ia bersama Higdon sudah
berada di dalam sebuah bilik kecil dengan dinding-dinding seperti kaca, berukuran kurang lebih 7' x 7'(2,1
x 2,1 m). Mereka duduk di kursi dengan sabuk pengikat di lengannya dan sebuah topi seperti helm di
kepalanya, mirip dengan topi rugby dengan perbedaan bahwa ia mempunyai 2 utas kawat di atasnya dan
2 utas lainnya di kiri kanannya yang menyambung ke punggung. Berhadapan dengan kursinya, Higdon
melihat 3 batang tuas dengan ukuran yang berbeda yang digerakkan oleh Ausso. Melalui sebuah kaca
belakang Higdon melihat bahwa di belakangnya ikut diangkut pula 5 ekor rusa buruannya yang
dimasukkan dalam sangkar. Ia tidak habis mengerti bagaimana binatang-binatang itu dapat dimasukkan
di dalam ruangan yang sekecil itu. Ausso menjelaskan bahwa di planetnya tidak terdapat ikan dan bahwa
binatang-binatang elk itu akan diternakkan untuk penyediaan pangan.
Ausso menuding ke arah kendaraan pickup Higdon yang diparkir di tanah yang keras, dan tiba-tiba
kendaraan itu lenyap. Kemudian Ausso menuding ke arah tuas yang paling besar dan tuas itupun seperti
ditekan ke bawah dan bersamaan waktunya Higdon merasa bilik tempat dia berada itu mulai bergerak.
Setelah bertolak, Higdon menyaksikan sebuah benda seperti bola basket di luar bilik yang ia sangka bola
bumi. Kemudian mereka sampai di suatu tempat yang menurut Ausso berada pada jarak “163.000 mil
cahaya” dari bumi.
Di luar bilik tampak sebuah menara raksasa, mungkin smapai setinggi 90' (27 m), dengan lampu
yang sangat terang dan yang berputar sambil berbunyi seperti alat cukur listrik. Cahaya itu mengganggu
penglihatan Higdon sehingga ia melindungi matanya dengan kedua belah tangannya. Melihat hal itu Ausso
nyeletuk, bahwa ia juga tidak tahan sinar matahari kita.
Higdon juga melihat 5 orang manusia biasa yang berdiri di luar menara, yaitu seorang laki-laki
beruban berumur 40-50 tahun, 2 orang anak perempuan: yang seorang berambut coklat berumur 10-11
tahun dan yang lain berambut pirang berumur 13-14 tahun, seorang pemudi berambut pirang berumur
17-18 tahun dan seorang pemuda berambut coklat berumur 17-18 tahun. Mereka mengenakan pakaian
biasa dan tampak sedang bercakap-cakap.
Ausso menudingkan tangannya dan tiba-tiba mereka berdua telah berada di dalam menara, naik ke
atas dengan elevator dan masuk ke sebuah kamar yang kemudian Higdon disuruh berdiri di atas sebuah
panggung kecil. Dari dinding keluarlah semacam perisai yang dibuat dari bahan seperti kaca, berhenti di
depan Higdon selama 3-4 menit sedang Ausso berdiri di belakang perisai itu. Kemudian perisai itu masuk
kembali ke dalam dinding.
Ausso lalu memberitahukan Higdon bahwa dia bukanlah orang yang mereka perlukan, sehingga dia
akan dipulangkan. Mereka berdua keluar kamar, masuk ke dalam elevator dan kembali ke pintu gerbang
menara. Rupa-rupanya Ausso tinggal menudingkan tangannya dan tiba-tiba mereka bergerak tanpa daya
upaya. Kemudian Higdon duduk kembali di dalam bilik kaca bersama Ausso, yang memegang
senapannya. Ausso berkata bahwa senapan itu primitif dan sebenarnya ia ingin memilikinya, akan tetapi
ia tidak diizinkan sehingga barang itu diserahkan kembali. Lalu Ausso menuding ke arah tuas yang paling
panjang dan Higdon tiba-tiba sudah berdiri di lereng bukit seperti semula. Kakinya menginjak batu yang
lepas sehingga ia jatuh sambil melukai leher, kepala, dan pundaknya.
Higdon tidak ingat dia itu siapa dan di mana dia sedang berada. Dia mondar mandir dan ketika
kebetulan mendekati kendaraan pickupnya, ia mendengar seorang wanita sedang mengadakan calling

27
melalui radio CBnya. Higdon meminta tolong sambil menerangkan bahwa dia tidak ingat dia itu siapa dan
tidak tahu di mana ia sedang berada. Pihak berwajib mengirim tim pencari yang berhasil menemukan
Higdon larut malam dalam keadaan bengong, bingung dan sulit mengenal kembali istrinya. Tim pencari
menghadapi tugas berat untuk menarik kembali kendaraan pickupnya ke jalan semula yang diperkeras,
oleh karena secara misterius kendaraan itu telah dipindahkan ke suatu tempat yang tidak dapat dilalui
olehnya. Sebelum menemukan Higdon, tim pencari juga melaporkan adanya cahaya-cahaya aneh di
hutan.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa Carld Higdon selalu berhadapan muka dengan
“Ausso” selama perjumpaannya itu dan tidak pernah melihatnya dari samping atau belakang. Hal itu
menimbulkan spekulasi bahwa “Ausso” sebenarnya sebuah proyeksi gambar holografi saja. Akan tetapi
bagaimanakah suatu proyeksi dapat memindahkan kendaraan pick up, menyerahkan pil dan
membawanya tamasya serta mempengaruhi jalannya peluru?

Foto UFO di Ladang Minyak Lepas Pantai: Kasus Ir. Tony Hartono (1975)
Penulis ini mendengar pertama kali tentang foto UFO yang dibuat oleh Ir.Tony Hartono ketika
sedang bersiap-siap untuk wawancara di studio TVRI Senayan bersama Dr.J.A.Hynek dan Willy Karamoy
pada bulan Desember 1976.
Ir.Tony Hartono mengisahkan pengalamannya sebagai berikut. Pada tanggal 22 September 1975
kurang lebih pukul 15.00 ia sedang melepaskan lelah sehabis makan siang di Quarters Platform pada
lantai 3 kompleks menara pengeboran minyak lepas pantai di ladang minyak Arjuna, kurang lebih 52 mil
(83 km) dari pantai Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh titik hitam di
atas cakrawala yang menuju ke arah ladang minyak dengan kecepatan tinggi, menjadi sebesar bulan
purnama dengan bentuk lonjong dan berwarna merah tua. Pada jarak kurang lebih 6 1/2 mil (+- 10 km)
benda itu membelok dengan tajam dan menjauh kembali, sehingga ia menempuh lintasan seperti sebuah
bumerang. Di kejauhan benda itu naik vertikal ke atas dan hilang dari pemandangan. Pada waktu
mendekat sayup-sayup terdengar bunyi mendesing seperti gasing dengan frekuensi rendah sekali. Ir.Tony
Hartono Rusman pada waktu itu sedang menyandang sebuah kamera Olympus dan dengan cepat ia
menyetel dan membidikkannya ke arah benda yang muncul hanya selama tidak lebih dari satu menit saja.
Semula ia tidak sadar bahwa benda yang diabadikan itu ialah sebuah UFO dan baru seminggu kemudian ia
teringat kembali ketika rekan sekerjanya, Dr.Ted.Telsch, seorang ahli fisika dari Flour Ocean Co, Houston,
Texas, menyaksikan sebuah UFO yang bentuknya sama pada pukul 18.00. Film itu segera dicuci dan
tampaklah UFO di atas tanker minyak Arco Arjuna yang kini sudah menjadi terkenal di seluruh dunia.
Sayang sekali negatif dari foto itu dibawa oleh rekannya orang asing tadi ke Amerika Serikat dan tidak
berhasil diminta kembali.
Dr.J.A.Hynek telah membawa foto dari UFO Ir.Tony Hartono yang kemudian dianalisa oleh Dr.Fred
Beckmann, ahli analisa foto UFO yang terkemuka dari Universitas Chicago. Pendapatnya ialah: foto UFO
tersebut dapat juga disebabkan oleh kerusakan film. Untuk dapat dianalisa dengan baik, rupa-rupanya
mutlak perlu tersedia negatif-negatif aslinya di samping dibuatnya beberapa foto dari UFO yang sama
dengan sudut penglihatan yang berbeda-beda.

Seperti Meteor, Tetapi Membelok:Kasus Dr.Ir.Aryono Abdulkadir dkk (1977)


Sesuatu penyaksian UFO yang bermutu tinggi termasuk dibuatnya sejumlah foto terjadi pada
tanggal 27 Juni 1977 kurang lebih pukul 18.15 oleh 3 orang sarjana, yaitu Dr.Ir.Aryono Abdulkadir,
Ir.Roedianto Ramelan dan Ir.Ananda Soeyoso. Mereka sedang naik mobil dari Surabaya ke Malang ketika
sampai antara Gempol dan Porong perhatiannya tertarik oleh munculnya apa yang semula mereka sangka
sebuah meteor di langit sebelah barat. Mereka menghentikan mobilnya dan 2 saksi yang disebut pertama
keluar untuk selanjutnya dengan cekatan membuat sejumlah foto dari benda itu. Yang semula disangka
sebuah meteor itu turun vertikal ke bawah dengan sudut sekitar 5 derajat, akan tetapi kemudian ia
membelok dengan tajam ke arah selatan dan sambil terbang mendatar akhirnya hilang dari
pemandangan. Ia meninggalkan jejak seperti bunga api yang membelok dengan tajam, jejak itu pun
tampak bengkok. Foto dari saat benda itu baru saja membelok tampak jelas, sayang Dr.Ir.Aryono
Abdulkadir sedikit menggerakkan lengannya sehingga kamera bergoyang. Sebabnya ialah karena ia
menyandarkan sikunya pada sebatang pohon yang ternyata banyak semutnya yang besar-besar. Menurut
pengamatan Dr.Ir.Aryono Abdulkadir, yang mempunyai gelar Insinyur Fisika Teknik dari ITB dan Doktor
dalam Mechanical Engineering dari Universitas Kentucky, benda yang disaksikannya menyerupai sebuah
“reentry vehicle” yang dikendalikan dan mengalami proses ablasi pada permukaannya sewaktu memasuki
lapisan atmosfir dengan cepat.
Tidak Dapat Dilihat oleh Radar
Pada pukul 04.40 dini hari tanggal 14 Juni 1977 lima orang awak kapal patroli TNI AL “Siliman”
menyaksikan suatu benda aneh sewaktu berlayar di lepas pantai Lho Seumawe, Aceh. Pada waktu itu
keadaan laut adalah tenang sehingga permukaannya laksana cermin. Cuaca berkabut tipis, namun tidak
menghalangi pemandangan.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh nyala lampu terang yang entah dari mana datangnya, tetapi
seketika sudah mengambang di udara di depan mereka. Nyala lampu terang itu berwarna merah muda,
berbeda dengan lampu navigasi kapal yang berwarna merah darah. Kemudian tampak bahwa nyala lampu
terang itu terpasang pada sebuah benda berbentuk cerutu dengan sebuah kubah di atasnya.

28
Perwira navigasi operasi Letda (P) Widyhartono mengerahkan alat radarnya, tetapi tidak terjadi
kontak echo. Ia kemudian mengambil kamera dari laci, ternyata tidak bekerja oleh karena filmnya habis.
Tiba-tiba benda bersinar itu hilang lenyap. Perwira itu baru saja membalikkan diri untuk men-stand
by-kan alat radar, ketika benda tadi tiba-tiba muncul kembali di tempat semula.
Sekarang benda itu mengeluarkan asap putih yang terputus-putus mirip parasut yang
mengambang lalu turun dalam jumlah banyak. Kepulannya itu mirip asap knalpot sepeda motor yang
kebanyakan bahan bakar dan sedang dipanaskan. Jumlah kepulannya banyak dan besar kecilnya tidak
sama serta lenyap jauh di atas permukaan air.
Radar dikerahkan lagi, akan tetapi hasilnya tetap nol. Perwira itu menerangkan hal tersebut
dikarenakan sasaran itu di luar jangkauannya.
Dikira sedang terjadi dropping senjata gelap, semua lampu lambung kapal perang itu dimatikan,
semua senjatanya dikokang dan kapal diarahkan ke sasaran dengan mesin dimatikan. Semua itu
dilakukan untuk meninggikan pendadakan sambil memanfaatkan kabut tipis, dengan maksud untuk
menangkap basah para pelaku dropping bersama senjata-senjatanya.
Tiba-tiba benda bersinar itu bergerak cepat sambil membuat sudut tanjakan mirip garis ellips yang
tidak masuk akal dan tidak mungkin dilakukan oleh pesawat terbang jenis apa pun. Ia hilang dari
pemandangan pukul 04.46 setelah terlihat selama 6 menit.

Terbangnya Seperti Layang-layang Putus


Pada tanggal 14 September 1977 pukul 13.30 WIT karyawan Gubernuran Subagio B.A. melihat
benda aneh dari rumahnya di kompleks perumahan PEMDA Entrop I Jayapura, Irian Jaya, di mana
terdapat lembah di samping daerah perbukitan.
Benda itu terlihat pertama kali di atas laut kira-kira hanya 10 m dari permukaannya. Kemudian ia
terbang ke arah barat sambil membumbung. Gerak terbangnya tersendat-sendat seperti layang-layang
putus. Lintasan terbangnya lurus tetapi menanjak. Tidak terdengar bunyi sama sekali. Sewaktu berada di
atas lembah, benda itu mendadak berhenti selama beberapa detik, pada saat jaraknya kurang lebih 500
m dari saksi. Kemudian benda itu mendadak bergerak lagi meneruskan penerbangan dan hilang dari
pemandangan di belakang bukit-bukit. Jumlah saksi 2 orang.
Penyaksian benda yang sama terulang lagi dari tempat yang sama pula pada tanggal 25
September 1977 pukul 11.25 WIT, dengan tempat muncul, arah terbang dan tempat menghilangnya
persis sama. Hanya dalam penyaksian kedua itu tinggi terbangnya agak lebih tinggi yaitu antara 200
sampai 300 m.
Benda itu jikalau dilihat dari bawah tampak bulat lonjong dengan garis tengah antara 3 sampai 4
m. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah bundaran hitam seperti kubah. Warna benda itu adalah abu-abu
keputih-putihan seperti cat metalik abu-abu muda sebuah scooter Vespa Sprint model tahun 1977.
Apabila benda itu terkena sinar matahari maka permukaannya mengkilau seperti atap seng.
Di dalam penyaksian kedua itu terdapat tidak kurang dari 14 orang saksi, yaitu 8 orang dewasa
dan 6 orang anak. Menurut Subagio, B.A. sewaktu melihat benda itu ia merasa tercekam oleh suatu daya
atau kekuatan yang memancar dari UFO.

Hilang dengan Pesawatnya: Kasus Fred Valentich (1978)


Frederick P. Valentich, umur 20 tahun, ialah taruna, kemudian menjadi instruktur sukarela di Korps
Pendidikan Udara Angkatan Udara Australia di Melbourne Barat. Ia telah terbang selama 2 tahun dan perlu
menambah jam terbang malam untuk brevet penerbang komersialnya. Pada hari yang naas, yaitu tanggal
21 Oktober 1978, ia bertolak dari lapangan terbang Moorrabbin di Melbourne pukul 18.19 sore dengan
tujuan King Island, yang terletak di Selat Bass di antara daratan Australia dan Pulau Tasmania, untuk
mengambil udang sungai guna suatu malam pertemuan perwira-perwira Korps Pendidikan Udara. Pesawat
yang diterbangkannya ialah Cessna 182 L dengan huruf panggil VH-DSJ.
Fred Velentich baru 6 menit meninggalkan daratan Australia dan mulai terbang di atas Selat Bass,
ketika ia melaporkan adanya suatu pesawat udara lain pada ketinggian yang sama, yaitu 4500' (1500 m).
Mula-mula benda itu tampak seperti pesawat yang besar, dengan 4 cahaya yang sangat terang seperti
lampu pendarat. Kemudian ia melukiskan benda itu sebagai sesuatu yang berbentuk panjang, mempunyai
cahaya yang berwarna hijau dan permukaannya berkilauan seperti metalik.
Kemudian benda itu naik 1000' (300 m) lebih tinggi dari pesawat Cessna dan lewat di atasnya.
Selanjutnya ia menuju kembali ke pesawat Cessna dari arah Timur dan lalu lalang di atasnya 2 sampai 3
kali dalam jangka waktu hanya 30 detik dengan kecepatan sangat tinggi yang tidak dapat ditaksir oleh
Fred Valentich. UFO itu kemudian berhenti dan mengambang di depan pesawat Cessna, yang melihat
gelagat itu lalu berputar-putar. Ternyata UFO tadi ikut berputar di atasnya! Lalu UFO itu lenyap, akan
tetapi semenit kemudian ia muncul kembali dan menuju ke arah pesawat Cessna dari arah barat daya.
Fred Valentich melaporkan bahwa motornya mulai batuk-batuk. Menara Melbourne menanyakan,
apakah yang hendak dilakukan oleh pernerbang Cessna selanjutnya dan mendapat jawaban bahwa ia
akan meneruskan perjalanannya ke King Island. “Melbourne! Pesawat ajaib itu sedang mengambang lagi
di atasku. Ia (terhenti selama 2 detik).... sedang mengambang dan ia bukan pesawat terbang”. Menara
Melbourne kemudian memanggil:”Delta Sierra Juliet”, atas panggilan tersebut Fred Valentich menjawab:
“Delta Sierra Juliet, Melbourne....” diakhiri dengan kesunyian, kecuali suatu bunyi metalik yang aneh,

29
meskipun mikrofonnya terbuka terus selama 17 detik. Demikianlah percakapan terakhir antara Fred
Valentich dengan menara Melbourne.
Suatu pencarian oleh SAR dilakukan, yang meliputi pesawat Lockheed P-3 “Orion”, pesawat
Normad dan pesawat Aero Commander, tidak berhasil menemukan apa-apa.
Ke manakah Fred Valentich dengan pesawat Cessnanya? Jikalau ia jatuh ke laut, biasanya dapat
ditemukan adanya genangan minyak yang cepat atau lambat disusul oleh penemuan kepingan-kepingan.
Sampai sekarang hal itu tidak terjadi. Guido Valentich ayah Fred Valentich percaya bahwa anaknya diculit
oleh makhluk-makhluk UFO.
Sepanjang sejarah UFO, beberapa kali terjadi keterlibatannya di dalam kecelakaan penerbangan.
Menurut Dr.J.A.Hynek, sudah tercatat 20 kasus keterlibatan UFO di dalam hilangnya pesawat-pesawat
terbang secara misterius.
Salah satu kecelakaan udara yang pertama yang melibatkan UFO terjadi pada tahun 1948,
peristiwa tersebut diuraikan dalam buku: “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”. Di dalam kasus itu Kapten
Penerbang Thomas F.Mantell yang diperintahkan mengejar UFO melaporkan melalui radio, bahwa benda
itu berwarna metalik dan berukuran raksasa, kemudian ia gugur bersama pesawat F-51 “Mustang”nya.
Kemudian menyusul Letnan Penerbang Moncla dan Letnan Navigator Wilson didalam pesawat
pemburu segala cuaca Northrop
F-89 “Scorpion”, yang pada tahun 1953 dituntun oleh stasiun radar di darat ke arah suatu sasaran
pada malam hari. Di layar stasiun radar itu tampak bagaimana pesawat pemburu itu manunggal dengan
sasaran tadi dan seterusnya menghilang untuk selamanya.
Akhirnya pada tahun 1967 dinas rahasia Amerika Serikat memonitor penyergapan sebuah UFO oleh
2 buah pesawat pemburu Mig-21 Kuba, yang berakibat fatal: pada waktu melepaskan peluru kendali infra
merah K-13 ke arah UFO, Mig-21 itu sendiri meledak di udara.

Cahaya yang “Bertelur” Kemudian Zig-Zag


Pada tanggal 27 Agustus 1979 pukul 19.45 Sandra Hadikusuma, 28 tahun, suaminya Haryanto 29
tahun, dan seorang teman menyaksikan suatu cahaya aneh dari depan rumahnya di kompleks perumahan
Tanjung Duren Utara, Tomang Barat, Slipi, Jakarta.
Sinar terang berwarna jingga itu lebih besar sedikit dari bintang, muncul di langit sebelah timur
dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan cukup tinggi. 3/4 perjalanan benda tersebut berada pada
posisi persis di depan atas saksi yang sedang menghadap ke arah selatan. Pada saat itulah benda terang
berwarna jingga tadi menelurkan dua buah benda bercahaya yang lebih kecil yang serta-merta melesat ke
arah selatan lalu menghilang. Induknya kemudian meneruskan perjalanannya ke arah barat, melakukan
lintasan zig-zag selama beberapa detik lalu hilang dari pemandangan. Seluruh penyaksian itu memakan
waktu kurang lebih 2 menit.

Seperti Bintang Tetapi Berputar-putar di Siang Hari


Minggu tanggal 22 Maret 1981 pukul 07.40 pagi Ari Nugraha, umur 26 tahun, radio amatir (YC0SI)
sedang berada di atap rumah untuk membenahi antena, ketika itu melihat sebuah benda di langit tepat di
atas kepalanya. Pagi hari itu cuaca sedang cerah dengan langit yang berwarna biru tua. Dia dengan
gempar memanggil saya dan kemudian saya mengajak istri menyaksikan hal tersebut. Benda itu tampak
seperti kepala jarum pantul yang dipegang sepanjang lengan. Ia berbentuk bulat dan warnanya keperak-
perakan seperti cakram yang mengkilau. Ia mengembara dengan santai dan selama 40 menit menempuh
lintasan yang melingkar dengan garis tengah kurang lebih 2 kali lebih besar dari bulan purnama.
Saya menghubungi Halim International Airport dan mendapat keterangan bahwa di layar radar
tidak tampak sasaran-sasaran yang luar biasa. Bagian meteorologi menerangkan bahwa pada ketinggian
35.000 kaki arah angan adalah 070 dan kecepatannya 20 kts. Pada ketinggian 40.000 kaki angka-angka
tersebut adalah 050 dan 20.
Benda itu lenyap secara mendadak. Saya membuat beberapa foto dengan Fujica Pocket Camera.
Pembesaran-pembesaran yang dibuat sebelum tulisan ini tidak berhasil memperlihatkan benda yang
bersangkutan. Mungkinkah disebabkan oleh lensanya yang kurang tajam?

Makhluk UFO di Kebayoran


Rumah di Jalan Sriwijaya Raya no.24 di daerah pemukiman elite di Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, menjadi sepi pada pukul 23.00 malam seusai latihan menari oleh “Swara Mahardika” di bawah
pimpinan Guruh Sukarnoputra. Satu-satunya penghuni rumah itu ialah penjaga bernama Sumadi, yang
berumur 28 tahun. Ketika menuju ke kamarnya ia melihat ada sesosok tubuh yang berdiri di atas tembok
di halaman belakang dekat menara air di sudut. Tinggi makhluk itu di antara 1,20 sampai 1,50 m. Ia
mengenakan celana panjang berwarna putih, sedang bagian atas tubuhnya termasuk kepalanya tertutup
oleh semacam mantel berwarna hitam.
Namun Sumadi memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke kamarnya oleh karena hari sudah larut
malam dan perutnya keroncongan. Juga oleh karena sambil makan ia dapat mengamati makhluk itu
melalui jendela kamarnya yang tepat menghadap ke tembok halaman belakang. Sosok tubuh itu yang ia
sebut seperti manusia atau seperti jamur itu kadang-kadang tampak bergoyang-goyang sedikit.
Pada waktu Sumadi makan malam di rumah tetangga sebelah selatan yaitu Jalan Sriwijaya Raya
no.26 (bekas rumah kediaman almarhumah Ibu Fatmawati Sukarno) lima orang sedang mendengarkan

30
musik dari sebuah casette recorder di dalam sebuah kamar. Tiba-tiba mereka mendengar bunyi seperti
hujan turun. Salah seorang menjenguk ke luar rumah akan tetapi ternyata tidak hujan. Kemudian ia
masuk kamar lagi dan bersama kawan-kawannya terus mendengarkan musik. Mereka tidak menyelidiki
lebih lanjut bunyi hujan tadi, yang tak lama kemudian lenyap dengan sendirinya.
Setelah selesai makan, Sumadi penjaga rumah mendekati makhluk yang selama itu diamati terus
menerus pada jarak hanya 9 m. Dengan suara lantang ia bertanya:”Apakah engkau pencuri, ya?”, akan
tetapi makhluk diatas tembok itu bungkam saja. Sumadi kemudian naik tangga besi yang terpasang di
bawah menara air akan tetapi sesosok tubuh itu tiba-tiba hilang lenyap.
Pada saat itu pula timbullah kegaduhan di antara sejumlah orang yang berada di depan rumah
tetangga sebelah utara yaitu Jalan Sriwijaya Raya no. 22 dan juga di halaman rumah yang di seberang
jalan. Sekitar 5 orang menjadi gempar karena sebuah benda bercahaya sekonyong-konyong tampak
mengudara secara perlahan-lahan dari halaman belakang rumah Jalan Sriwijaya Raya no. 22 kira-kira dari
arah menara air yang disebut lebih dahulu. Benda itu panjangnya kurang lebih 2 m dan jikalau dilihat dari
samping ia tampak seperti sebuah bola rugby yang diapit oleh 2 buah piring, sebuah di atas dan yang lain
di bawah. Bagian yang dari samping tampak seperti bola rugby itu menyala dengan warna putih yang
diselingi oleh lajur-lajur vertikal yang berwarna merah. Benda itu membumbung dengan sudut 45 derajat
dan semakin tinggi ia naik, semakin terang cahayanya dan semakin cepat pula lajunya. Tidak terdengar
bunyi apa pun.
Di antara para saksi terdapat beberapa orang yang hendak pergi ke bioskop untuk menonton
pertunjukan tengah malam (pada waktu itu adalah malam Minggu). Mereka berlarian masuk ke dalam
kendaraannya berupa sebuah jip Toyota dan berusaha mengejar benda tadi. Sayang, di simpang
perempatan Jalan Senopati dan Jalan Sisingamangaraja mereka terpaksa berhenti karena lampu merah.
Mereka sambil tak berdaya melihat benda itu membumbung terus semakin tinggi, sedang cahayanya
semakin terang dan laju kecepatannya pun menjadi semakin besar. Akhirnya benda itu hilang ditelan
kegelapan malam di arah barat laut di atas kompleks olah raga Senayan.
Keesokan harinya baru diketahui, bahwa daun pohon pisang yang semalam sebelumnya paling
dekat dengan makhluk UFO telah mengering dan berwarna coklat seperti telah tersengat hawa panas
yang sangat. Daun-daun lain dari pohon pisang yang sama serta daun-daun dari pohon-pohon pisang lain
di sekitarnya tetap hijau dan segar.
Tiga hari kemudian kakak beradik Guntur dan Guruh Sukarnoputra mengajak saya sekeluarga
untuk menyaksikan sendiri keadaan di halaman belakang Jalan Sriwijaya Raya no.24, dan
memperkenalkan Sumadi penjaga rumah. Orangnya polos dan tidak banyak bicara. Ia menerangkan
bahwa sesudah kejadian itu ia sulit tidur karena khawatir ada pencuri.
Baik dari ceritera yang saya dengar maupun dari hasil wawancara langsung dengan Sumadi,
terdapat kesan bahwa jangka waktu hampir satu jam di mana ia makan sambil mengamat-amati makhluk
UFO adalah terlalu lama. Padahal untuk menghabiskan makanan yang sederhana diperlukan antara 5 atau
10 menit. Apakah di sini kita juga menghadapi gejala “time loss” (kehilangan waktu) seperti sering dialami
para saksi dalam perjumpaan dengan makhluk-makhluk UFO di luar negeri?

Bintang-bintang Berformasi pada Siang Hari


Pada pagi hari tanggal 28 Mei 1981, tepat 65 hari sesudah penyaksian tanggal 22 Mei 1981, saya
sedang berada di halaman belakang ketika suatu benda bercahaya di langit yang biru menarik
perhatianku. saya memanggil istri dan anak untuk ikut menyaksikannya pula.
Benda itu semula tampak pada elevasi 60 derajat lalubergerak perlahan-lahan ke arah barat. Tiba-
tiba sebuah benda lain muncul disampingnya dan keduanya kemudian bergerak berdampingan dalam
formasi untuk lenyap pada elevasi 45 derajat di sebelah barat setelah tampak dari pukul 07.20 hingga
07.55.
Tidak lama kemudian sebuah benda yang ketiga muncul lagi di tempat yang sama pada elevasi 60
derajat, lalu bergerak ke arah barat dan lenyap pada elevasi 45 derajat, menempuh lintasan yang sama
seperti kedua benda yang terdahulu. Benda yang ketiga itu tampak selama beberapa menit dan lenyap
pada pukul 08.50.
Ketiga buah benda itu tampak sama dan ukurannya juga sama, yaitu seperti kepala jarum pentul
yang keperak-perakan. Selama dalam pemandangan benda-benda itu konstan terangnya. Saya
mengamatinya dengan teropong yang mempunyai pembesaran 7 kali, akan tetapi tidak melihat perincian
lebih lanjut.
Menurut Halim International Airport yang terletak dalam garis lurus sekitar 8 km dari rumah saya,
radarnya tidak memperlihatkan barang sesuatu yang luar biasa. Arah dan kecepatan angin pada
ketinggian 30.000 kaki, 35.000 kaki dan 40.000 kaki berturut-turut adalah 080 dan 15 kts, 070 dan 20
kts, 060 dan 30 kts.
Saya mencoba untuk mengambil foto dengan kamera teropong Orinox model AAI-720, akan tetapi
gagal oleh karena shutternya macet.

Bergoyang-goyang Seperti Layang-layang


Karena pengalaman melihat UFO pada waktu yang sama pada pagi hari dan di tempat yang sama
di langit berturut-turut pada tanggal 22 Maret dan 23 Mei 1981 yang selang 65 hari, maka tepat 65 hari

31
kemudian yang jatuh pada hari Lebaran tanggal 1 Agustus 1981 saya dengan sengaja menantinya. Langit
pada pagi hari itu biru dengan beberapa awan Cirrus.
Upaya itu berhasil oleh karena pukul 07.45 atau lebih sedikit sebuah benda muncul pada elevsi 70
derajat yang bergerak ke arah barat secara lurus dan mendatar untuk lenyapn pada elevasi 45 derajat.
Benda itu berbentuk bulat atau lonjong dan berwarna putih. Selama beberapa menit dalam
pemandangan, ia memperlihatkan gerak goyang melalui sumbu lintangnya yang mirip dengan gerakan
sebuah layang-layang.
Saya panggil adik ipar saya untuk memotret UFO tersebut dengan kameranya, sebuah Olympus 35
Trip. Istrinya juga menyaksikan benda tersebut. Hasil foto-foto itu kemudian diperbesar, namun hingga
penulisan ini benda tadi tidak tampak.
Lagi-lagi 65 hari kemudian yang jatuh tepat pada tanggal 5 Oktober 1981 saya bersiap-siap pada
jam yang sama dan mengamati terus langit di tempat yang sama seperti pada penyaksian-penyaksian
sebelumnya. Saya sudah siap dengan kamera-kamera Nikon maupun Mamiya. Namun tidak terlihat apa-
apa di langit pagi itu.
Ufo Muncul Kembali di Tempat yang Sama
Pada pagi hari tanggal 28 Maret 1982 saya sedang berada di halaman belakang untuk
menerangkan kepada anak laki-laki yang tertua tentang penyaksian UFO tahun yang lalu. Ia tidak ikut
menyaksikan karena pada waktu itu masih berada di Amerika Serikat untukmeraih gelar Master dalam
enginering satelit. Selagi saya sedang menuding ke arah bagian langit tempat munculnya UFO tahun yang
lalu, tiba-tiba muncullah sebuah benda tak dikenal di tengah-tengah awan Cirrus. Ukurannya kecil sekali,
berbentuk bulat dan berwarna putih, namun ia tampak jelas pada latar belakang awan Cirrus yang tipis.
Mula-mula benda itu diam di tengah-tengah awan, kemudian ia bergerak kearah barat sambil
meninggalkan awan tadi untuk akhirnya menghilang pada elevasi 45 derajat.
Pada waktu sudah meninggalkan awan, benda itu tidak berubah warnanya, yang dapat berarti
bahwa ia berada di bawah awan Cirrus. Cara menghilangnya dari penglihatan ialah secara berangsur-
angsur ia menjadi semakin kecil seperti sesuatu benda yang membumbung semakin tinggi. Benda itu
tampak selama kurang lebih 10 menit.
Arah dan kecepatan angin di permukaan bumi, pada ketinggian 15.000 kaki, 30.000 kaki dan
45.000 kaki adalah berturut-turut 240 dan 6 kts, 250 dan 10 kts, 220 dan 15 kts serta 280 dan 20 sampai
25 kts.
Ada 4 orang saksi, yaitu saya sendiri, istri saya, dan kedua anak laki-laki kami yaitu Ir.Adi Sadewo
M.Eng.in Aerospace, 32 tahun, dan Ari Nugraha B.Sc., 27 tahun, amatir radio (YC0SI)
Telah dibuat foto-foto dengan kamera Rolleiflex SL 35M dengan lensa 135 mm Carl Zeiss Jena dan
polarizing filter oleh Ir. Adi Sadewo, serta kamera Super Ikonta ukuran 6x6 cm dengan lensa 80 mm
Tessar Carl Zeiss oleh saya sendiri. Hingga saat penulisan ini foto-foto ukuran 35 mm itu diperbesar dan
memang memperlihatkan benda aneh tadi.

32
BAB 5
UFO: WAHANA, MAKHLUK, EFEK, ASAL DAN MAKSUD TUJUANNYA

UFO dan IFO


Penelitian terhadap laporan-laporan UFO yang dilakukan hingga sekarang menunjukkan, bahwa
sebagian besar daripadanya disebabkan oleh salah tafsir dari benda-benda biasa seperti benda-benda
astronomis, balon udara, pesawat udara, satelit, dan sebagainya, di samping salah tafsir gejala-gejala
alam biasa yang disebabkan oleh inversi suhu dan lain-lain. Laporan-laporan UFO (=Unidentified Flying
Objects=Benda-benda Terbang tidak Dikenal) yang telah berhasil dikenal itu rata-rata mencapai 90% dari
semua laporan yang masuk dan dengan demikian berubah menjadi laporan IFO (Identified Flying Objects
= Benda-benda Terbang Dikenal). Istilah IFO diciptakan oleh Dr.J.A.Hynek.
Penelitian terhadap laporan-laporan UFO yang dilakukan hingga sekarang juga menunjukkan,
bahwa selalu terdapat sisa yang tidak dapat dikenal sebagai benda atau gejala biasa dan yang jumlahnya
mencapai sampai 10%
Golongan yang tidak percaya akan adanya UFO semula mengharapkan bahwa semua laporan UFO
akan dapat dijadikan laporan IFO. Namun di dalam kenyataan harapan mereka tidak tercapai: laporan
akhir Proyek “Buku Biru” pada tahun 1968, yang disusun oleh almarhum Dr.Edward U.Condon (lebih
terkenal dengan nama Laporan Komite Condon), yang terkenal berat sebelah sekalipun, terpaksa
mengakui adanya sejumlah laporan UFO yang tidak dapat diterangkan. Malahan sifat mondial dan
berkesinambungan dari penyaksian-penyaksian UFO masih terjadi hingga sekarang.
Adalah sesuatu hal yang menarik, bahwa dari laporan-laporan UFO sampai sekarang itu dapat
disimpulkan adanya ciri-ciri yang sama sehingga dapat diikhtisarkan di dalam pembahasan lebih lanjut di
bawah ini.

Klasifikasi Gejala UFO Menurut Sistem Hynek


Peneliti UFO terkemuka Dr.J.A.Hynek di dalam bukunya “The UFO Experience, A Scientific Inquiry”
(Regnery, Chicago, 1972) mengemukakan suatu sistem klasifikasi gejala UFO yang kini cukup tersebar
luas. Salah satu istilahnya bahkan dijadikan judul film oleh sutradara Spieberg yang menjadi “box office”
melebihi karyanya terdahulu “Jaws”.
Gejala UFO menurut sistem Hynek dibagi menjadi:
1. NL, singkatan dari ‘Nocturnal Lights’: Cahaya-cahaya Malam Hari.
2. DD, singkatan dari “Daylight Discs”: Cakram-cakram Siang Hari.
3. RV, singkatan dari “Radar Visual”: UFO Reports: laporan-laporan UFO yang serentak secara
visual dan dengan radar.
4. CE-I, singkatan dari Close Encounters of the First Kind: Perjumpaan Dekat Jenis Pertama.
Meliputi penyaksian UFO jarak dekat, yaitu 500' (150 m) atau kurang, tanpa efek fisik.
5. CE-II, singkatan dari “Close Encounters of the Second Kind”: Perjumpaan Dekat Jenis Kedua.
Meliputi penyaksian UFO jarak dekat yang menimbulkan efek fisik terhadap tanah, benda dan makhluk di
sekelilingnya.
6. CE-III, singkatan dari “Close Encounters of the Third Kind”: perjumpaan Dekat Jenis Ketiga.
Meliputi penyaksian UFO serta makhluk-makhluknya (sering disebut “humanoids”, “occupants” atau “UFO-
naut”).
Klasifikasi gejala UFO menurut sistem Hynek terbukti cukup praktis dan merupakan langkah
kemajuan penting di dalam penelitian UFO, meskipun boleh jadi belum sempurna. Sebagai contoh UFO
berbentuk silinder yang tampak pada siang hari akan digolongkan ke mana? Di bawah ini akan disajikan
ikhtisar gejala UFO sekedar untuk memperoleh gambaran umum yang menyeluruh.

Wahana UFO
Bentuk UFO. Mayoritas laporan UFO menyebutkan bentuk cakram. Demikian pula bentuk bola, telur
(elipsoida), dan variasinya. Bentuk bidang meliputi sayap delta, sayap panah dan sabit. Bentuk cerutu
meliputi apa yang kadang-kadang dinamakan kapal selam terbang, silinder terbang dan bentuk-bentuk
lain yang memanjang. Di samping itu perlu dicatat bahwa dilaporkan pula UFO yang berbentuk cahaya
dan ada pula yang seperti asap. Salah satu misteri yang belum terpecahkan mengenai bentuk UFO ialah
adanya sejumlah penyaksian UFO yang melaporkan perubahan, pemecahan dan penggabungan bentuk
serta muncul dan lenyapnya UFO yang mendadak.
Ukuran UFO. Ukuran UFO sulit diperkirakan apabila dilihat dari jauh dan tanpa titik referensi,
kecuali jikalau kebetulan tersedia alat-alat pengukur. Ukuran UFO yang dilaporkan dalam kasus-kasus
perjumpaan dekat umumnya dari 5-6 m sampai sebesar sebuah pesawat terbang penumpang. Ada pula
yang berukuran raksasa, meskipun jarang dilaporkan. UFO berbentuk cakram dengan garis tengah
melebihi 300' (90 m) pernah dipotret dengan kamera-kamera pelacak roket di medan percobaan peluru
kendali di White Sands, New Mexico (27-4-1950). UFO berbentuk bulan sabit dengan garis tengah di
antara 500-600 m (1640'-1840') pernah disaksikan dan diukur oleh para ahli astronomi di stasiun
astronomi Kazan, Uni Sovyet (18 Juli 1967).
Jumlah. UFO disaksikan dalam jumlah yang tidak tertentu, mulai dari sebuah sampai kepada
formasi UFO seperti dalam kesatuan skadron dan wing suatu Angkatan Udara. Jumlah UFO yang paling
banyak barangkali adalah yang disaksikan di Amerika Serikat pada malam hari tanggal 20 April 1952

33
ketika dalam jangka waktu 85 menit lewat 20 kelompok yang masing-masing ketika dalam jangka waktu
85 menit lewat kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 sampai 9 buah UFO, jadi semuanya berjumlah
antara 40 sampai 180 buah! UFO itu mempunyai bentuk yang seragam, yaitu cerutu bersayap yang
berpijar yang dikelilingi oleh cahaya pendar berwarna merah.
Olah Gerakan. Ciri-ciri khas olah gerakan UFO adalah belokan 90 derajat, berbalik 180 derajat
secara mendadak, percepatan dan perlambatan secepat kilat (pernah ada yang dihitung mencapai 10.000
G), lintasan gelombang, sewaktu turun bergoyang-goyang seperti daun jatuh, dan sebagainya. Dengan
demikian oleh gerakan UFO sangat berlainan dari pesawat terbang, di mana daya tahan fisik
penerbangnya membatasi percepatan, perlambatan dan ketajaman berbelok yang umumnya tidak
melebihi 6 G (dalam hal G negatif malahan lebih kecil). Faktor pembatas lainnya ialah konstruksi pesawat
terbang itu sendiri yang tidak hanya memerlukan kekuatan akan tetapi juga (dan terutama) keringanan
agar memiliki daya muat yang memadai. Bagaimanakah UFO mampu melakukan olah gerakan yang
fantastik menurut ukuran teknologi kita sekarang itu? Apakah UFO hanya sekadar gambar proyeksi
holografi yang oleh karenanya mempunyai sifat-sifat seperti cahaya? Ataukah UFO itu merupakan pesawat
tanpa awak? Ataukah ia membawa penumpang berupa makhluk-makhluk dengan daya tahan fisik yang
lebih unggul dari kita? Ataukah penumpangnya sama dengan kita, akan tetapi yang sudah menguasai
teknologi untuk mengatur gaya berat maupun gaya lembam sekehendaknya?
Spektrum Kecepatan UFO. Spektrum kecepatan UFO, yang di dalam bahasa Inggris disebut “Flight
Envelope”, menurut laporan-laporan penyaksian ialah dari 0 km sejam sampai kecepatan orbital. UFO
memiliki sifat-sifat pesawat VTOL yang mampu bertolak dan mendarat secara tegak lurus, hal tersebut
diketahui dari kurang lebih 500 kasus pendaratan yang dilaporkan sampai tahun 1976. Berulang kali UFO
dilaporkan terbang mengikuti helikopter dan pesawat-pesawat terbang kita dari jenis bermotor piston,
turboprop sampai pancargas, dengan kecepatan yang sama, sehingga UFO mampu terbang lambat
sampai “high subsonic”. Kemampuan UFO untuk terbang dengan kecepatan supersonik sudah dilaporkan
sejak penyaksian pertama pada tanggal 24 Juni 1947, sebelum ada pesawat terbang supersonik!
Kemampuan UFO untuk mencapai kecepatan hipersonik dan orbital diketahui sejak penyaksian 2
penerbang DC-4 PANAM Nash & Forstenberry pada tahun 1952, di mana yang paling mengagumkan ialah
bahwa formasi UFO yang mencapai kecepatan itu terbang lebih rendah dari pesawat tersebut. Segi yang
mengagumkan dari penyaksian itu ialah bahwa UFO mampu terbang di dalam lapisan atmosfir dengan
kecepatan orbital tanpa terbakar. UFO yang berbentuk bulan sabit menurut pengamatan dan perhitungan
para ahli astronomi di Kazan, Uni Sovyet (1967) mempunyai kecepatan 5 km sedetik. Ketika astronot
James Mc. Divitt (Gemini IV, 1964) memotret UFO yang mengikuti kapsulnya, ia sedang mengorbit
dengan kecepatan 8 km sedetik. Pada tanggal 14 November 1969 para astronot Apollo XII Pete Conrad,
Allan Bean, dan Dick Gordon dikawal oleh sebuah UFO di depan mereka sampai lebih dari separo
perjalanannya ke bulan, hal tersebut berarti bahwa UFO itu tampak pada kecepatan sekitar 11,2 km
sedetik.
Demikianlah kecepatan UFO yang pernah disaksikan dan diumumkan. Apakah UFO mampu
mencapai kecepatan yang lebih besar dari angka-angka tersebut di atas, sampai sekarang belum
terungkap. Apakah UFO itu mampu untuk mencapai atau melebihi kecepatan cahaya merupakan dugaan
belaka yang timbul dari persangkaan bahwa ia berasal dari tata surya atau galaksi lain yang jauh dari sini.
Andaikata dugaan itu benar, maka hal itu tidak dapat ditangkap oleh alat-alat observasi kita.
Teknologi UFO. Berbagai pandangan mengenai teknologi UFO yang terdapat sampai tahun 1960
telah dituangkan dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”. Pandangan baru sesudah itu timbul di
Prancis yang kemudian berkembang menjadi konsep “Aerodin MHD” (Magneto-Hidrodinamika). Karya
ilmiah berjudul “Magneto-hydrodynamic Aerodynes” diajukan di dalam konperensi Pusat Studi UFO
(CUFOS Conference) di Lincolnwood, Illinois, pada tahun 1976. Para penulis ialah Dr. Jean-Pierre Petit,
kepala penelitian dari C.N.R.S. (Centre National de Recherches Scientifique-Pusat Nasional Riset Ilmiah),
Dr.Claude Poher kepala bagian sistem ilmiah dan proyek dari C.N.E.S (Centre National d’Etude Spatiales-
Pusat Nasional Studi Antariksa) dan ahli astronomi Maurice Viton. Dr.Petit ialah ahli fisika plasma dan
astrofisika, yang melakukan penelitian teoretis tentang sistem propulsi MHD. Minatnya terhadap UFO
bangkit oleh timbulnya persamaan antara model-model teoretisnya dengan gejala-gejala UFO yang
disaksikan.
Sistem MHD yang mempergunakan interaksi antara gerakan fluida dengan medan magnit itu dapat
berfungsi baik sebagai generator maupun akselerator. Aerodin MHD memakai pembangkit tenaga listrik
yang kuat tetapi ringan, dan pelepasannya akan menimbulkan medan-medan listrik dan magnet di udara
sekelilingnya. Gaya Lorentz yang bekerja terhadap udara yang terionisasikan itu mengubah pembagian
tekanan sehingga menimbulkan baik gaya angkat maupun gaya dorong. Jikalau medan magnetnya kecil,
bentuk-bentuk silinder dan bola adalah praktis, hal tersebut dibuktikan secara empiris dalam laboratorium
dengan memakai cairan. Dengan semakin besarnya medan magnet, efek Hall menjadi penting, sehingga
diperlukan bentuk cakram. Aerodin MHD memiliki sifat-sifat terbang seperti helikopter, yaitu mampu
bertolak dan mendarat tegak lurus, mengambang, maju, mundur atau bergerak ke samping.
Aerodin MHD menerangkan banyak aspek dari gejala UFO dengan baik. Misalnya, UFO di dalam
kasus-kasus Pater Gill dan lain-lain memperlihatkan adanya lajur-lajur pada dindingnya yang pada malam
hari tampak seperti jendela persegi panjang yang bercahaya terang. Menurut konsepsi Aerodin MHD,
lajur-lajur itu adalah elektroda-elektroda yang merupakan bagian dari sistem MHDnya.

34
Namun, sama halnya dengan konsepsi-konsepsi sebelumnya yang dimuat dalam buku “Menyingkap
Rahasia Piring Terbang” dari tahun 1960, konsepsi Aerodin MHD juga terbentur kepada kesulitan,
bagaimana menciptakan suatu pembangkit tenaga listrik yang maha kuat tetapi sangat ringan, yaitu yang
menghasilkan daya listrik rata-rata antara 400 sampai 4000 MW akan tetapi dengan berat hanya 10 ton!
Di dalam dasawarsa 60-an dan 70-an semakin banyak ahli ilmu pengetahuan yang ternama secara
terang-terangan menaruh minat terhadap masalah UFO. Di antaranya terdapat Prof.Dr.F.Witenberg dari
Universitas Nevada yang terkenal karena konsepsi reaktor fusion yang memakai berkas elektron di
samping karya-karyanya tentang reaktor mikroeksplosi. Beberapa waktu yang lalu pandangan-pandangan
Prof.Dr.F.Witenberg tentang dasar-dasar fisika dari teknologi UFO yang orisinal itu termuat dalam
karyanya berjudul: “The Physical Possibility of Macroscopic Bodies Approaching Zero Rest Mass and the
UFO Problem”. (Kemungkinan fisika dari benda besar untuk mendekati massa henti nol dan persoalan
UFO) yang dikemukakan di dalam konperensi MUFOS 1976.
Sebagaimana diketahui, laporan-laporan UFO oleh saksi-saksi yang sangat dapat dipercaya
memperlihatkan persamaan adanya benda fisik yang padat dengan sifat-sifat: tanpa atau hampir tanpa
massa lembam, dikelilingi oleh pelepasan karangan cahaya (corona discharge), memiliki medan magnit
yang kuat dan tidak menimbulkan guntur sonik pada kecepatan tinggi yang dilaporkan. Menurut
Prof.Dr.F.Witenberg sifat-sifat tersebut menunjukkan keadaan materi (State of Matter) yang mendekati
massa henti nol (Zero rest mass). Jikalau keadaan materi sedemikian itu ada sungguh-sungguh, maka
jarak-jarak interstellar sekalipun dapat ditempuh dalam waktu singkat dan dengan penggunaan energi
yang sedikit. Materi yang terdiri dari monopole magnetik boleh jadi memungkinkan keadaan materi yang
demikian itu. Oleh karena medan monopolo berkurang jauh lebih lambat daripada medan dipole, maka hal
itu dapat menerangkan efek magnetik yang dilaporkan bertalian dengan UFO. Medan listrik imbas yang
ditimbulkan oleh gerakan yang cepat dari medan monopole dapat menerangkan cahaya yang tampak
mengelilingi UFO sebagai pelepasan karangan cahaya. Medan magnit yang kuat dapat pula menerangkan
tidak adanya guntur sonik.
Pola Operasi UFO: Ruang dan Waktu. Dari laporan-laporan UFO sebelumnya, pada tahun 1951
sudah diketahui adanya pola tertentu dari operasi-operasi UFO. Semakin banyaknya laporan kegiatan UFO
hingga kini menambah jelasnya pola operasi yang dimaksud. Daerah operasi UFO meliputi seluruh dunia
dan bersifat terus menerus. Namun demikian kegiatannya tidak terjadi serentak di seluruh dunia,
melainkan dikonsentrasikan di suatu benua, atau kawasan, secara bergantian dan pada waktu yang
berlainan. Konsentrasi kegiatan UFO demikian itu lazim disebut “Gelombang UFO” (“UFO Wave”), seperti
di U.S.A. pada tahun-tahun 1947, 1952, 1957, di Prancis pada tahun 1954, di Inggris pada tahun 1967, di
Afrika Selatan pada tahun 1972 dan sebagainya. Menurut penelitian Dr.David R.Saunders, kebanyakan
gelombang UFO terjadi dengan selang waktu 61 bulan (atau 1853 hari). Demikian pula lokasinya
berpindah ke arah timur. Berdasarkan hasil penelitiannya Dr.Saunders berhasil meramalkan tangal dan
lokasi terjadinya gelombang UFO tahun 1972 dengan tepat. Peneliti UFO dari Prancis Aime Michel
menemukan bahwa penyaksian-penyaksian UFO di suatu wilayah pada suatu waktu yang berdekatan
terjadi di tempat-tempat yang terletak pada sebuah garis lurus. Gejala itu disebut “Orthoteny” dan
populer terutama dalam tahun 60 an.Menurut Dr.J.A.Hynek, pola operasi UFO memperlihatkan bahwa
mula-mula mereka mengamat-amati suatu daerah yang luas secara umum seperti kita melakukan tahap
“general reconnaissance”. Kemudian jikalau mereka menemukan sesuatu yang menarik perhatian, maka
menyusullah survey intensif dan terperinci di daerah yang lebih sempit yang anehnya selalu berjangka
waktu 7 hari! Mengenai saat terjadinya penyaksian UFO dapat dikemukakan adanya puncak-puncak
kegiatan yaitu pada petang hari (pukul 19-20) dan pada dini hari (pukul 3 pagi).
Sasaran Operasi UFO. Sering atau jarangnya UFO muncul di suatu tempat tidak tergantung dari
padat tipisnya penduduk, melainkan dari “nilai teknis” tempat itu. Sasaran operasi UFO nomor wahid ialah
instalasi-instalasi nuklir, disusul oleh pusat-pusat dan sarana perhubungan, kemudian anehnya danau,
waduk dan sungai yang tenang, obyek-obyek militer, pusat-pusat percobaan pesawat udara dan roket,
pusat-pusat tenaga listrik, tempat-tempat yang penting bagi pertambangan dan geologi, serta flora, fauna
dan manusia. Yang terakhir ini terutama merupakan sasaran dari makhluk-makhluk UFO yang keluar dari
UFO yang mendarat. Menurut Dr.J.A.Hynek seringnya penyaksian UFO di atas instalasi-instalasi nuklir dan
obyek-obyek militer mungkin disebabkan karena adanya penjagaan yang terus menerus. Siapa tahu
sasaran-sasaran lain juga dikunjungi sama kerapnya, akan tetapi tidak diketahui oleh karena tidak selalu
ada saksinya. Aneh menurut ukuran kita sasaran yang menjadi prioritas tinggi ialah danau, waduk, dan
sungai yang tenang airnya. apakah yang menjadi pendorong bagi mereka? Apakah di plandet mereka
tidak ada waduk, danau, atau sungai? (Ingat kasus Carl Higdon, yang menurut makhluk UFO di tempat
asalnya tidak terdapat ikan). Ataukah air, terutama air tawar, mengandung daya penting dan berguna
yang masih belum kita ketahui? Ataukah mereka menyelidiki air sehubungan dengan sifatnya untuk
memantulkan atau menahan neutrino, padahal bumi saja bisa ditembusnya? Perhatian UFO terhadap
pusat-pusat tenaga listrik disorot oleh John Fuller dalam bukunya “Incident at Exeter”, yang
mengungkapkan kejadian-kejadian sekitar matinya jaringan listrik secara spektakuler di New York, New
Hampshire dan negara-negara bagian di sekitarnya di tahun enam puluhan. Dilaporkan adanya UFO-UFO
kecil yang keluar dari induk-induknya yang kemudian mengambang di dekat kabel-kabel listrik tegangan
tinggi dan menyentuhnya dengan perantaraan pipa yang dijulurkan. Hal yang serupa terjadi dalam kasus
Schirmer (1967). Apakah UFO-UFO itu sedang menyelidiki ataukah mencuri listrik?

35
Makhluk UFO
Menurut katalogus yang disusun oleh Dr.Jacques Vallee, dari 1.247 kasus penyaksian UFO jarak
dekat tercatat 750 kasus pendaratan UFO itu, 300 kasus melaporkan disaksikannya makhluk-makhluk
UFO di dalam atau di dekat wahananya yang mendarat itu. Wujud makhluk-makhluk UFO yang disaksikan
itu berdasarkan tingginya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok umum, sedang karakteristik fisik dan
tingkah laku masing-masing kelompok itu rupa-rupanya mempunyai kekhasannya sendiri-sendiri. Ketiga
kelompok umum itu ialah:
1. Makhluk Kerdil. Tingginya hanya kurang lebih 3 1/2' (1 m). Sering berpakaian juru selam.
Merupakan 60% atau mayoritas dari semua laporan makhluk UFO.
2. Makhluk Normal. Seperti kita atau lebih pendek sedikit. Ada yang persis seperti kita, ada yang
sedikit berbeda. Mencapai kurang lebih 30 % dari seluruh laporan makhluk UFO.
3. Makhluk Raksasa. Sangat jangkung (kurang lebih 7' = 2,1 m), umumnya dengan roman muka
yang sangat jelek. Hanya merupakan kurang lebih 10% dari semua laporan makhluk UFO.

Dalam pada itu makhluk-makhluk UFO tersebut di atas memperlihatkan variasi-variasi, yang dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Makhluk-makhluk yang dapat bernafas bebas di dalam atmofir kita.
b. Makhluk-makhluk yang memakai pakaian seperti juru selam.
c. Makhluk-makhluk yang seperti robot.
d. Makhluk-makhluk yang seperti hewan.

Makhluk Kerdil. Kelompol yang merupakan mayoritas ini ada yang berpakaian juru selam, sehingga
wujudnya tidak kelihatan kecuali bahwa mereka itu kerdil, punya kepala, badan dan anggota badan.
Makhluk kerdil yang tidak berpakaian juru selam dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu yang wujudnya
bersifat manusiawi dan hewani. Jenis yang wujudnya manusiawi umumnya mempunyai ciri-ciri seperti
kelompok makhluk normal dari jenis yang sedikit berbeda dari kita, yaitu kepala dan mata yang secara
proporsional besar, hidung mulut, dan telinga yang kecil. Kecuali itu dia umumnya mempunyai dada serta
anggota badan yang kekar.

Makhluk Normal. Separo dari jumlah makhluk normal yang pernah disaksikan terdiri dari makhluk-
makhluk UFO yang persis seperti manusia bumi. Mereka tampak seperti orang Barat yang berambut
coklat, pirang atau putih platina. Matanya coklat atau biru dan umumnya mengenakan pakaian seragam
yang berwarna perak atau biru. Andaikata mereka berpakaian seperti manusia bumi, mereka dapat
bergerak di tengah masyarakat ramai tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan hal itu agaknya telah terjadi:
dalam abad yang lalu mereka mendarat di Amerika Serikat dengan kapal-kapal udara yang pada waktu itu
belum ada dan mengenakan pakaian menurut potongan masa itu. Dewasa ini di negara itu juga disinyalir
orang-orang yang berpakaian serba hitam serta mengendarai mobil berwarna hitam yang misterius:
mereka mendatangi para saksi UFO untuk mengambil pecahan logam dari UFO dan memerintahkan
supaya tutup mulut sambil disertai ancaman. Para saksi mengira mereka petugas-petugas FBI. Ada pula
yang menyamar sebagai perwira Angkatan Udara Amerika Serikat, tentang hal tersebut kemudian Markas
Besarnya mengeluarkan surat edaran intern yang meminta perhatian para komandan tentang perwira-
perwira gadungan itu. Demikian pula di antara mereka yang dibawa ke dalam UFO ada yang melaporkan
bahwa mereka mengalami pemeriksaan medis oleh makhluk yang wujudnya persos seperti manusia bumi,
mengenakan pakaian seorang dokter dan memakai kaca mata biasa!
Kelompok makhluk normal dari jenis yang sedikit berbeda dari kita umumnya mempunyai kepala
yang besar, mata yang besar dengan sudut yang runcing dan miring ke atas seperti kucing, hidung,
telinga dan mulut yang kecil serta bibir yang hampir tak kelihatan. Warna kulitnya putih, kuning, merah,
kelabu atau hijau, hal tersebut mungkin dipengaruhi pula oleh keadaan penerangan sewaktu dilihat para
saksi. Dari deskripsi tersebut dapat disimpulkan bahwa makhluk-makhluk itu secara proporsional
mempunyai volume otak yang melebihi kita.
Makhluk Raksasa. Kelompok makhluk raksasa relatif jarang dilaporkan meskipun sudah dikenal
dalam sejarah UFO sejak awal tahun 50 an. Raksasa Sutton dari kasus May & Lemon di Sutton, West
Virginia (1952), merupakan laporan yang menggemparkan. Tingginya kurang lebih 10' (3 m), roman
mukanya yang bulat itu berwarna merah darah dan berpeluh, sepasang mata yang bulat melotot keluar
dan terpisah kurang lebih 1' (30 cm), badannya berwarna hijau dan menyala ketika diterangi sinar lampu.
Raksasa itu memakai semacam rok berwarna hijau muda, dan pada punggungnya terdapat alat berwarna
hitam berbentuk sekop seperti pada kartu bridge. Raksasa itu menuju ke arah para saksi dengan gerakan
melayang sambil mengeluarkan bunyi bernada tinggi serta menyebarkan bau amis serta tembaga yang
memuakkan. Di rumput tertinggal jejak seperti ski, namun tidak ada yang menekan tanah sehingga
disimpulkan bahwa raksasa yang sebesar itu ringan saja. Kasus itu mungkin termasuk yang pertama-
tama melaporkan gerakan melayang dari makhluk-makhluk UFO.
Makhluk raksasa lainnya dilaporkan dalam kasus di gurun pasir Arizona (1971), di mana 2 orang
saksi diculik dan diperiksa oleh makhluk-makhluk raksasa setingi 7' sampai 9' (2,1-2,7 m). Mereka jelek
tampangnya, dengan bahu yang menurun, kulit seperti kulit buaya, kaki seperti kaki gajah dan tangan
dengan 3 buah jari dan itu jari yang masuk. Kecuali pemeriksaan medis dengan alat-alat seperti komputer
yang serba otomatis, kepada salah seorang saksi juga diperlihatkan keadaan bumi di masa mendatang:

36
kilatan-kilatan cahaya yang menandakan ledakan-ledakan nuklur dalam Perang Dunia ke 3 yang akan
terjadi pada tanggal 7 Juni 1985 pukul 12.00 waktu Arizona.
Laporan makhluk raksasa yang mutakhir ialah yang terjadi pada malam hari tanggal 6 Desember
1978 di Torriglia, dekat Genoa, Itali. Saksinya ialah seorang penjaga keamanan swasta bernama
Fortunato “Piero” Zanfretta, umur 26 tahun. Ia sedang menyelidiki cahaya-cahaya aneh di dekat sebuah
villa yang semula disangka lampu senter dari para pencuri. Tiba-tiba ditepuk bahunya dari belakang dan
dalam lampu senternya ia melihat wajah jelek yang mengerikan dari seorang raksasa setinggi kurang
lebih 10' (3 m) Kulitnya berwarna hijau tua dan pipa-pipa aneh yang mendatar dan berwarna kelabu tua
membungkus badannya. Makhluk-makhluk raksasa itu mempunyai kepala yang lebarnya 2' (60 cm)
dengan sepasang mata berwarna kuning yang berbentuk segitiga, rambut yang berbentuk duri dan daun
telinga yang meruncing. Saksi Zanfretta juga dapat melihat pembuluh darah yang merah di dahi, kulit
yang berkeriput seperti orang tua, sesuatu yang berwarna kuning di dahi seperti mata ketiga, bibir yang
tebal dan tangan serta jari-jari dengan kuku. Makhluk-makhluk raksasa itu berkomunikasi dengan saksi
melalui sebuah alat yang berpijar dan mengatakan bahwa mereka datang dari galaksi ketiga. Mereka ingin
berbicara dan berjanji sebentar lagi akan kembali lagi dan dalam jumlah besar.
Makhluk Bernafas Bebas. Makhluk-makhluk UFO yang dapat bernafas bebas di dalam atmosfir kita
juga sangat mengherankan dan yang pernah disaksikan terdiri dari semua kelompok, baik yang kerdil,
yang normal maupun yang raksasa.
Makhluk Berpakaian Juru Selam. Makhluk-makhluk UFO yang memakai pakaian seperti juru selam,
kadang-kadang lengkap dengang alat pernafasannya, yang pernah disaksikan terdiri terutama dari
kelompok kerdil dan normal.
Makhluk Seperti Robot. Makhluk-makhluk UFO yang seperti robot umumnya termasuk kelompok
normal. Di dalam kasus Cisco Grove (1964) robot-robot itu tampak menyertai makhluk-makhluk UFO
yang tingginya normal, dan membantu yang disebut terakhir itu di dalam usaha menculik saksi yang
ternyata menemui kegagalan. Di dalam kasus Hickson dan Calvin (Pascagoula, 1973), robot-robot itu
tidak mempunyai mata, namun berhasil menculik para saksi sebentar dan setelah suatu pemeriksaan
medis dikembalikan ke tempat semula. Sementara penulis ada yang menganut pendapat, bahwa robot di
Pascagoula itu mungkin makhluk UFO yang memakai pakaian juru selam pula. Namun adanya robot tidak
dapat diingkari jikalau kita mengingat kasus Cisco Grove tersebut di atas.
Makhluk Seperti Hewan. Makhluk-makhluk UFO dari semua kelompok kerdil ternyata ada yang
memppunyai wujud hewani dan yang pernah disaksikan terdiri dari jenis yang tanpa bulu dan ada pula
yang berbulu tebal. Makhluk UFO yang seperti hewan tanpa bulu itu ada yang mempunyai kepala dan
mata yang secara proporsional besar, mulut yang kecil tanpa bibir, daun telinga yang sangat lebar, lengan
yang sangat panjang dengan tangan dan jari-jari yang berkuku panjang. Jenis itu muncul dalam kasus
Kelly Hopkensville (1955) dan jikalau berpindah tempat dengan cepat ia tampat membungkuk ke depan
sambil mempergunakan kedua tangannya, meskipun ia berdiri tegak apabila berjalan biasa. Macam lain
ialah yang ukuran kepala secara proporsioanl normal, akan tetapi seluruh tubuhnya berbulu tebal dan
mempunyai cakar. Makhluk-makhluk itu kepergok sedang memungut batu, kemudian menyerang para
saksi (kasus Gonzales dan Ponce, Caracas 1954). Jadi mereka itu di samping berwujud hewani, juga
galak. Di Prancis pernah dilaporkan makhluk seperti itu, akan tetapi matanya hanya satu dan terdapat di
tengah!

Sifat dan Kemampuan Makhluk UFO. Meskipun tinggi dan wujudnya beraneka warna, makhluk UFO
memperlihatkan sifat-sifat dan kemampuan yang seragam. Mereka kebal terhadap senjata api maupun
senjata tajam. Mereka mempunyai kemampuan untuk loncat sangat tinggi, melayang dan terbang. Jikalau
jatuh, mereka melayang ke bawah seperti benda yang ringan. Mereka, terutama yang mempunyai mata
yang besar dan yang oleh para saksi disamakan dengan mata ular atau mata kucing, dapat menghipnotis
dan berkomunikasi secara telepatis. Mereka juga dapat menghilang dan mengejawantah. Syukur bagi
kita, sampai sekarang makhluk UFO memperlihatkan sifat-sifat non destruktif dan kegiatan eksplorasinya
mencerminkan pula sifat ingin tahu dan ketabahan serta ketetapn hatinya. Makhluk UFO, kecuali yang
persis seperti anusia bumi, juga memperlihatkan sifat peka terhadap cahaya, sehingga mereka tampaknya
lebih menyukai tempat-tempat yang gelap dan beroperasi pada malam hari.

Manakah Makhluk UFO yang Asli? Andaikata makhluk UFO hanya ada satu jenis saja, tidak akan
timbul pertanyaan ini. Di dalam kenyataan makhluk-makhluk UFO yang pernah dijumpai mempunyai
wujud yang beraneka warna, sehingga menimbulkan pertanyaan, yang manakah sebenarnya makhluk
UFO yang asli? Sebagaimana dimaklumi, di dalam garis besarnya makhluk-makhluk UFO itu
memperlihatkan persamaan maupun perbedaan.
Persamaan yang diperlihatkan makhluk-makhluk UFO sebagai berikut:
1. Betapapun perbedaan antara makhluk-makhluk UFO itu, mereka semuanya merupkan satu tim
di dalam rangka pelaksanaan kegiatan UFO di bumi kita.
2. Mereka disaksikan di dalam rangka hubungan kegiatan UFO.
3. Mereka disaksikan dalam jangka waktu terbatas.
4. Mereka memperlihatkan persamaan dalam sifat dan kemampuannya.

Sebaliknya makhluk-makhluk UFO juga memperlihatkan perbedaan sebagai berikut:

37
1. Wujud makhluk Ufo ada 2 macam, yaitu yang persis seperti kita dan yang berbeda dari kita.
2. Makhluk UFO ada yang dapat bernafas dengan bebas di dalam atmosfir kita dan ada yang
memakai pakaian juru selam.
3. Makhluk UFO ada yang tidak peka terhadap cahaya di sini (yaitu yang persis seperti kita) dan
ada yang peka terhadapnya (yaitu yang wujudnya berbeda dari kita).
Dijumpainya makhluk-makhluk UFO yang persis seperti kita amat mengherankan, oleh karena
anggapan umum bahwa jikalau berasal dari luar bumi, maka dapat dipastikan bahwa wujud makhluknya
akan berbeda dari kita. Yang seketika menimbulkan persoalan yang hangat ialah pertanyaan, siapakah
gerangn makhluk UFO yang persis seperti kita itu? Pada dasarnya jawaban atas pertanyaan itu berkisar
kepada 2 macam kemungkinan, yaitu mereka itu manusia bumi ataukah makhluk UFO.
Jikalau mereka itu manusia bumi, boleh jadi:
1. Mereka ialah manusia bumi yang tidak diketahui asal usulnya dan yang bertanggungjawab atas
kegiatan UFO atau berpartisipasi dalam kegiatan UFO;
2. Mereka telah diculik oleh makhluk-makhluk UFO lalu dididik menjadi pembantu-pembantu
mereka khusus dalam eksplorasi di bumi ini;
3. Mereka ialah keturunan manusia bumi yang telah diculik kemudian dibawa ke planet asal UFO
atau ke pangkalan UFO;
4. Mereka ialah hasil proses “cloning”, yaitu berasal dari jaringan yang diambil dari tubuh manusia
bumi (sering dilaporkan oleh orang-orang yang mengalami pemeriksaan medis di dalam UFO), yang
kemudian ditumbuhkan menjadi manusia seutuhnya di laboratorium mereka.
Jikalau mereka itu makhluk UFO atau alat buatan makhluk UFO, boleh jadi:
1. Mereka ialah makhluk UFO yang menyamar sebagai manusia bumi dengan memakai kedok,
pakaian, dan sebagainya, atau mungkin dengan pembedahan plastik dan lain-lain.
2. Mereka ialah makhluk UFO yang dijadikan “Cyborg” (Cybernetic Organism), yaitu sudah
dirombak tubuh fisiknya sehingga sesuai dengan lingkungan bumi.
3. Mereka merupakan robot atau androida buatan makhluk UFO yang sangat sempurna.
4. Mereka ialah makhluk UFO yang berubah wujud menjadi manusia bumi entah secara
paranormal, entah secara teknologis.

Dari ulasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa persangkaan makhluk-makhluk UFO
yang wujudnya persis seperti kita memang manusia-manusia bumi yang bertanggung jawab atas kegiatan
UFO, sulit dipertahankan terutama di dalam menghadapi hal-hal seperti:
1. Pertanyaan. Siapakah makhluk-makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari kita dan
bagaimanakah hubungannya?
2. Sinyalemen. Sampai sekarang belum pernah dilaporkan kasus, di mana kedua jenis makhluk
UFO itu disaksikan bersama dan di mana makhluk yang persis seperti kita itu bertindak sebagai
pemimpinnya.
Jadi, terdapat petunjuk-petunjuk bahwa makhluk-makhluk UFO yang persis seperti kita adalah
sekadar pembantu atau mungkin alat atau bahkan pengejawantahan dari makhluk-makhluk UFO yang
asli.
Mengenai makhluk-makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari manusia bumi, yang manakah
makhluk UFO yang asli? Apakah yang raksasa, ataukah yang normal akan tetapi yang berbeda sedikit dari
kita, ataukah yang kerdil? Meskipun tinggi dan perincian tubuh fisiknya berbeda, namun makhluk-makhluk
UFO itu memperlihatkan persamaan-persamaan baik dalam bentuk maupun dalam sifat dan
kemampuannya. Dr.J.A.Hynek secara tepat menunjuk kepada keadaan umat manusia di bumi bahwa
terdapat banyak variasi dalam tinggi badan, mulai dari 7' (2,1 m) pada suku-suku tertentu di Afrika
sampai kepada sekitar 4' (1,2 m) pada suku-suku Pygmee di Afrika dan Irian Jaya. Mayoritas manusia
bumi mempunyai tinggi sekitar 1,60 m. Jikalau tinggi makhluk-makhluk UFO yang berkunjung kemari
diambil sebagai ukuran, dapat disimpulkan bahwa di planet tempat asalnya, atau setidaknya di dalam
korps antariksawan mereka, mayoritas orangnya terdiri dari orang-orang kerdil.
Sesuai petunjuk tersebut di atas, di dalam mencari makhluk UFO yang asli, kita jangan membatasi
diri kepada satu kelompok makhluk semata-mata, melainkan dengan analogi keadaan umat manusia di
bumi, maka makhluk-makhluk UFO itu pun tentunya terdiri dari berbagai macam bangsa yang mempunyai
ukuran dan wujud fisik yang beraneka ragam, meskipun dalam pada itu masih memperlihatkan ciri-ciri
tertentu pula. Seperti telah disebut di muka, ciri-ciri tertentu dari makhluk UFO itu ialah:
1. Peka terhadap sinar cahaya di bumi kita.
2. Terbagi dalam jenis yang dapat bernafas bebas di dalam atmosfir bumi, dan jenis yang memakai
pakaian seperti juru selam.
Sinyalemen tersebut di atas menunjukkan bahwa makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari kita
merupakan suatu umat manusia yang telah berkembang di bawah naungan suatu matahari yang
terangnya atau malahan spektrumnya berbeda dari matahari kita, hal tersebut membuat mereka peka
terhadap sinar cahaya di bumi kita.
Mengenai adanya makhluk-makhluk UFO yang sebagian dapat bernafas denganbebas di dalam
atmosfir kita, sedang yang sebagian lagi memakai pakaian seperti juru selam, dapat diterangkan dengan
2 macam kemungkinan.

38
Kemungkinan pertama ialah bahwa atmosfir di planet tempat asal mereka itu berbeda dari atmosfir
di sini, entah dalam kepadatannya, entah dalam susunannya, sehingga makhluk-makhluk UFO itu
terpaksa memakai pakaian seperti juru selam apabila sedang berada di sini. Jikalau benar demikian, maka
makhluk-makhluk UFO yang tampak bernafas dengan bebas di dalam atmosfir kita mungkin mampu
berbuat demikian hanya untuk suatu jangka waktu yang terbatas, atau mereka itu telah diubah menjadi
“Cyborg”.
Kemungkinan kedua yaitu bahwa secara kebetulan atmosfir di planet tempat asal mereka itu sama
atau mirip dengan atmosfir bumi kita. Hal yang dapat merupakan jawaban mengapa sebagian makhluk-
makhluk UFO itu dapat bernafas dengan bebas di sini. Akan tetapi jikalau benar demikian, mengapakah
sebagian lainnya memakai pakaian seperti juru selam? Pertanyaan itu dapat dijawab dengan berbagai
kemungkinan:
1. Jawaban yang paling sederhana ialah, bahwa makhluk-makhluk UFO yang dimaksud baru saja
datang dari bulan atau planet lain atau angkasa luar tempat mereka memerlukan pakaian tersebut.
2. Mereka sudah dijadikan “Cyborg”. untuk beroperasi di tempat-tempat yang berbeda dari
lingkungan bumi kita.
3. Mereka berasal dari tempat yang berbeda sekali lingkungan alamnya, meskipun masih di planet
yang sama dengan makhluk-makhluk UFO lainnya.

Mengenai laporan-laporan penyaksian makhluk-makhluk UFO yang hewani wujudnya memang sulit
bagi kita untukmembayangkan bahwa mereka ialah makhluk-makhluk UFO yang paling atas tingkatannya:
jikalau mereka dapat menciptakan wahana-wahana antariksa antarbintang, mengapa mereka tidak pula
membuat gunting kuku? Observasi ini menunjuk kepada suatu kemungkinan yang di bumi kita belum
pernah dipikirkan, yaitu apakah makhluk-makhluk UFO di dalam eksplorasi antariksanya juga
mempergunakan binatang-binatang yang terlatih? Ataukah mereka itu menciptakan robot-robot dengan
wujud sedemikian yang di samping untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu juga berfungsi untuk
mempelajari reaksi kita terhadapnya? Ataukah guna eksplorasi di bumi kita mereka sengaja memilih
makhluk atau androida-androida kerdil guna mengurangi efek psikologisnya terhadap kita? Hal itu
mengingat secara naluri kita lebih takut menghadapi raksasa daripada menghadapi makhluk kerdil.
Mengenai roman muka makhluk UFO raksasa yang buruk dapat dicatat bahwa indah dan jelek ialah
pengertian yang relatif dan subyektif. Aapa tahu makhluk-makhluk UFO juga tidak kalah ngerinya apabila
berjumpa dengan manusia-manusia bumi (apalagi setelah mengamat-amati perbuatannya). Suatu hal
yang mungkin dapat menenteramkan hati kita ialah bahwa setidak-tidaknya wujud dan tampang
makhluk-makhluk UFO itu tidak seseram yang dibayangkan di dalam cerita-cerita khayalan ilmiah.
Setidak-tidaknya makhluk-makhluk UFO yang sampai sekarang dijumpai masih terdiri dari kepala, badan
dan anggota badan yang berjalan dengan tegak dan bukan berbentuk misalnya seperti seekor kepiting
yang merangkak. Mengenai makhluk-makhluk UFO raksasa yang berwajahjelek dapat dicatat, bahwa di
dalam seni wayang maka raksasa-raksasanya juga selalu berwajah jelek.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa makhluk UFO yang asli rupa-rupanya
merupakan suatu umat manusia yang mayoritasnya terdiri dari manusia kerdil, sepertiganya manusia
biasa dan minoritasnya manusia raksasa. Tingkat terang atau bahkan spektrum matahari mereka berbeda
dari matahari kita dan rupa-rupanya matahari mereka berbeda dari matahari kita dan rupa-rupanya lebih
cenderung ke arah inframerah. Planet asal mereka memiliki atmosfir yang susunannya sama atau lebih
besar dari gaya tarik bumi. Untuk keperluan eksplorasi angkasa luar, makhluk UFO memperkuat korps
antariksawannya dengan hewan-hewan terlatih, robot-robot dan manusia bumi yang mereka culik,
turunannya atau tiruannya.

Efek UFO
Efek UFO, atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh UFO, menurut macam subyeknya dapat
dibedakan menjadi efek UFO terhadap:
1. Lingkungan, yang terdiri dari tanah atau batu, tumbuh-tumbuhan dan hewan atau ternak.
2. Benda atau alat, yang paling sering terjadi ialah yang mengenai pesawat udara, mobil, dan
sarana perlistrikan.
3. Manusia, baik manusia sebagai individu maupun masyarakat pada umumnya.

Dalam pada itu, efek UFO menurut sifat-sifatnya, dapat pula dibedakan menjadi efek-efek:
1. Fisik, yang meliputi gejala-gejala mekanis, termal, elektromagnetis, gravitasi, radiasi, dan lain-
lain.
2. Jasmaniah, yang meliputi baik timbulnya penyakit maupun terjadinya penyembuhan.
3. Rohaniah, yang meliputi gejala-gejala seperti bingung, linglung, kehilangan waktu, gangguan
mental lainnya, “contactee syndrome”, di samping yang bersifat positif seperti menjadi serba tahu.
4. Paranormal, baik yang bersifat parafisis maupun parapsikologis yang dialami oleh manusia,
hewan atau benda dan alat serta mencakup gejala-gejala teleport, telekinesa, telepati, Poltergeist dan
sebagainya.
Efek UFO Terhadap Lingkungan. Meliputi akibat-akibat yang ditimbulkan oleh UFO yang lewat,
mengambang atau mendarat terhadap permukaan air atau tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan atau
ternak di sekelilingnya. Efek UFO yang sedang mengambang pada ketinggian sekitar 15 m (50') di dalam

39
peristiwa Tek Un Seng (Bagan Siapi-api, 1957) ialah bertambah menggelora dan berbuihnya air laut. Di
dalam kasus lain yang lebih baru dilaporkan adanya UFO yang terbang rendah di atas permukaan danau
yang tenang, yang menimbulkan sejumlah kerucut air di bawah UFO seolah-olah tersedot olehnya. efek-
efek tersebut bersifat mekanis atau gravitatis.
Selanjutnya sejumlah kasus pendaratan UFO melaporkan tertinggalnya jejak-jejak fisik seperti
terinjaknya tanah, kadang-kadang oleh dasar UFO yang bulat dan rata, atau oleh alat pendaratnya yang
kadang-kadang berbentuk bola, kadang-kadang berbentuk batang-batang. Di dalam kasus Marius DeWilde
misalnya (Quarouble, Prancis, 10 September 1954) disaksikan UFO yang mendarat di rel kereta api dan
yang meninggalkan jejak di bantalan kayu maupun di batu-batu fondamennya. Menurut perkiraan para
penyelidik dari polisi dan Angkatan Udara Prancis, UFO tadi mempunyai berat sekitar 30 ton.
Efek munculnya UFO terhadap hewan ialah reaksi ketakutan mulai dari diam tak berkutik sambil
bersembunyi sampai kepada tingkah laku karena kegusaran. Di dalam salah satu kasus UFO yang seperti
sinar tanpa bunyi melayang-layang di atas lapangan terbuka, serangga yang sebelumnya ramai berbunyi
tiba-tba terdiam, sehingga keadaan alam menjadi sunyi sepi yang serba mencekam. Dalam kasus lain
ayam dan unggas lainnya menjadi gaduh bahkan sebelum para saksi melihat ke atas di mana ternyata
telah muncul UFO. Begitu pula anjing cenderung menggonggong apabila UFO muncul, namun dalam kasuk
Kelly Hopkinsville (1955) anjing itu lari bersembunyi di kolong rumah semalam suntuk justru pada waktu
makhluk-makhluk UFO berkeliaran di sekeliling dan di atas atap rumah petani tersebut. Dengan pendek
kata, hewan rupa-rupanya memberikan rekasi terhadap kehadiran UFO sehinga merupakan detektor UFO
yang dapat dipercaya.
Berbicara tentang UFO dan hewan perlu dicatat kasus Higdon (1973), di mana sejumlah jenis rusa
diangkut ke tempat makhluk UFO oleh karena di sana kekurangan pangan. Ke 5 ekor sejenis rusa itu
diangkut di dalam sebuah UFO yang ukurannya kecil, lengkap bersama saksi dan 2 orang makhluk UFO,
sehingga timbul dugaan bahwa cara pengangkuan itu bersifat paranormal.
Misteri UFO bertambah mengherankan terutama sejak tahun 1967 karena dihubungkan dengan
kematian lebih dari 8.000 ekor ternak dari negara bagian Alabama sampai Oregon, atau hampir luas
daratan Amerika Serikat. Sapi-sapi itu ditemukan mati dalam keadaan yang mengherankan: organ-organ
vitalnya lenyap, begitu pula darah dan cairan otaknya, namun cara pembedahannya sangat sempurna
sehingga tidak mungkin dilakukan dengan pisau. Disinyalir adanya cahaya-cahaya aneh bertepatan
dengan terjadinya pembantaian ternak tadi, demikian pula adanya pesawat udara dan helikopter tanpa
tanda-tanda pengenal. Mengenai motifnya, ilmuwan instrumentasi radiasi Howard Burgess yang membntu
polisi negara bagian New Mexico di dalam penyelidikan pembantaian ternak sapi menduga bahwa organ-
organ sapi yang dicuri itu dapat berguna untukmencoba jenis-jenis bakteria, riset laser atau radiasi
gelombang mikro. Dr.Richard Sigismund, ahli psikologi dri Boulder, Colorado, mengatakan bahwa tim
penyelidik yang terdiri dari para penegak hukum federal maupun negara bagian, dengan dibantu oleh ahli-
ahli patologi, dokter-dokter hewan, ahli-ahli toksikologi dan lain-lain. sampa pada kesimpulan yang
mencengangkan: yaitu bahwa sangat boleh jadi pembantaian ternak sapi dan pencurian bagian-bagiannya
dilakukan oleh suatu organisasi yang terdiri dari makhluk-makhluk terbang yang dilengkapi dengna
peralatan yang lengkap dan memiliki teknologi dan ketrampilan yang tinggi, dan mempergunakan
pesawat-pesawat tak dikenal untuk melakukan kejahatan-kejahatannya. Pesawat tak dikenal kata Dr.
Sigismund, entah itu buatan manusia bumi ataukah dari luar bumi, menurut definisinya adalah benda-
benda terbang tak dikenal atau UFO. Kasus mulitasi ternak itu antara lain telah diselidiki oleh Harry
Lebelson, peneliti APRO (Aerial Phenomena Research Organization) di cabang New York. Ditilik dari sudut
sejarah, pembantaian ternak sapi telah dilaporkan pula seabad yang lalu dari Amerika Serikat ketika
kapal-kapal udara tak dikenal bermunculan di sana.
Jejak lain di samping tertekannya tanah ialah hangusnya rumput atau semak belukar yang
kebetulan berada tepat di bawah UFO, seperti yang dilaporkan didalam kasus Zamora (Socorro, N.M.,
1964). Kehangusan itu rupa-rupanya disebabkan oleh semburan api yang tampak ketika UFO itu bertolak
dengan tergesa-gesa karena munculnya saksi secara tiba-tiba. Kejadian itu merupakan contoh adanya
efek termal di samping efek mekanis yaitu adanya jejak bekas injakan alat pendaratnya.
UFO yang mendarat atau mengambang di ladang gandum atau perkebunan jeruk juga
meninggalkan jejak berupa suatu lingkaran di mana tumbuh-tumbuhan itu terputar (gejala mekanis) atau
layu (gejala termal).
Efek UFO yang aneh ditemukan di dalam kasus yang terjadi di daerah pertanian di luar kota
Delmos, Kansas, pada tanggal 2 November 1971. Seorang anak petani berumur 16 tahun sedang bersama
dengan anjing dan domba-dombanya ketika menyaksikan bagaimana sebuah UFO yang berpijar dan
bergaris tengah 9' (2,7 m) turun sampai dekat di atas tanah, lalu pergi lagi. Beberapa pohon kecil sempat
ditumbangkannya. Setelah UFO itu pergi, tampaklah suatu lingkaran bercahaya di tanah yang merupakan
jejak yang ditinggakannya. Tanah yang terdapat di lingkaran itu ternyata menjadi tandus dan tidak dapat
menyerap air. Contoh tanah di lingkaran itu bersama contoh tanah di luarnya dikirim ke berbagai
laboratorium untuk diselidiki. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tanah di lingkaran itu lebih asam,
mengandung kalsium 5 sampai 10 kali lebih banyak dan tinggi kadar garamnya. Struktur kristalin dengan
celah difraksi yang tidak terdaftar dalam katalog telah ditemukan di dalam bahan pelapis partikel-partikel
tanah. Keabnormalan-keabnormalan itu hanya ditemukan di dalam contoh tanah yang diambil dari lapisan
di bawah permukaan lingkaran. Menurut keterangan Dr.J.Allen Hynek (1976) penelitian atas contoh-
contoh tanah itu masih berlangsung terus dalam laboratorium di Inggris, Prancis dan Uni Sovyet.

40
Dikabarkan pula bahwa istri petani pemilik tanah menyentuh lingkaran bercahaya itu dengan tangannya,
kemudian dengan tangannya tadi menyentuh pahanya. Ternyata bahwa selama beberapa hari kemudian
baik tangan maupun bagian dari pahanya itu terasa kaku. Efek UFO yang bagaimanakah yang telah
menimbulkan perubahan-perubahan tanah itu serta memberikan daya-daya tertentu tadi masih di luar
jangkauan ilmu pengetahuan kita sekarang. Jikalau perubahan tanah itu menyangkut transmutasi dari
berbagai unsur, maka hal itu sudah jelas merupakan akibat dari radiasi dengan tingkat-tingkat energi
sangat besar yang masuh mustahil bagi teknologi kita dewasa ini.
Efek UFO Terhadap Benda dan Alat. Efek UFO terhadap benda dan alat meliputi akibat-akibat yang
ditimbulkan olehnya terutama terhadap sarana angkutan. Penyaksian-penyaksian UFO sampai sekarang
menunjukkan minatnya terhadap alat angkutan darat, laut, dan udara pada umumnya, pesawat udara dan
mobil pada khususnya. Perhatian UFO terhadap pesawat udara sudah disebut dalam laporan-laporan
penyaksian yang pertama, yang kebanyakan terdiri dari pendekatan-pendekatan dengan cara terbang
dalam formasi dengan pesawat-pesawat kita pada jarak cukup jauh, meskipun ada kasus di siang hari di
mana ia mendekat sampai hanya 1-2 m di antara sayap dan badan sebuah B-36! (Kasus Major Pestalozzi,
Davis-Monthan AFB, Tucson, Arizona, 1 Mei 1952). Perlu dicatat bahwa beberapa kali telah terjadi
pesawat terbang mencoba menghindari tabrakan di udara dengan UFO, dengan akibat bahwa para
penumpangnya mengalami cedera di samping kejutan mental. Dari tingkah laku UFO sampai sekarang
diketahui bahwa mereka dapat berhenti atau berubah arah secara mendadak, sehingga tidak akan terjadi
tabrakan. Akan tetapi bagaimana para penerbang kita dapat mengetahuinya pada saat-saat itu yang
sangat menegangkan, lebih-lebih mengingat UFO itu beterbangan tanpa mengindahkan peraturan lalu
lintas udara kita? Merupakan suatu fakta yang menyedihkan bahwa perjumpaan-perjumpaan pesawat
udara kita dengan UFO ada pula yang berakibat tragis seperti yang menimpa almarhum Kapten Penerbang
Thomas F.Mantell dengan pesawat F-51 Mustangnya (Pangkalan Angkatan Udara Godman, Kentucky, 7
Januari 1948). Menurut catatan Dr.Hynek, sampai tahun 1978 diketahui adanya 19 kasus hilangnya
pesawat udara seisinya waktu melakukan penerbangan, di mana UFO terlibat. Kasus Letnan Penerbang
Fred Valentich (Melbourne, Australia, 21 Oktober 1978), yang lenyap beserta Cessna 162-nya setelah
mengirim pesan melalui radio bahwa ia disergap suatu benda terbang yang bukan pesawat terbang biasa,
ialah peristiwa yang terakhir. Pada saat-saat terakhir motor pesawatnya batuk-batuk, hal tersebut
merupakan petunjuk adanya efek elektromagnetis dari UFO. Kasus lain yang sangat menguntungkan
karena para saksinya masih hidup sehingga dapat memberitahukan pengalamannya ialah yang mengenai
Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne beserta 3 orang lainnya di dalam helikopter penerbangan Angkatan
Darat Amerika Serikat (Masfield, Ohio, 18 Oktober 1973). Ternyata UFO itu sangat unggul dalam
kecepatan maupun pengendaliannya, sehingga dengan mudah dapat mengikuti bahkan suatu waktu
menghadang helikopter tadi. UFO itu mengarahkan suatu berkas cahaya hijau yang berbentuk trapesium
ke arah helikopter dengan akibat, bahwa helikopter yang sedang menukik ke bawah itu tersedot ke atas.
Efek UFO itu jelas bersifat antigravitasi yang masih di luar jangkauan ilmu pengetahuan apalagi teknologi
kita. Jadi, dengan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologinya itu UFO bebas untuk berbuat
sekehendak hatinya terhadap pesawat udara kita yang sedang terbang, termasuk menyergap dan
menculik seisinya tanpa meninggalkan bekas. UFO ternyata juga menumpahkan perhatiannya terhadap
mobil terutama yang bergerak pada malam hari di jalanan yang sepi dan di daerah yang berpenduduk
sedikit. Tingkah laku UFO mulai dari sekedar mengikuti mobil saja, sampai kepada mempengaruhi
jalannya. Yang kerap dilaporkan ialah bagaimana perjumpaan UFO itu membuat mobil seolah-olah susut
tenaganya, sinar lampunya menjadi suram, penerimaan siaran radio terganggu, dan kadang-kadang mati
sama sekali, namun begitu UFO berlalu maka segala sesuatunya menjadi normal kembali dengan
sendirinya. Gejala-gejala itu dikenal dengan efek elektromagnetik, dan rupa-rupanya tidak mengganggu
kendaraan yang memakai motor diesel. Di samping itu terdapat pula kasus-kasus yaitu pengemudinya
untuk beberapa saat kehilangan kekuasaan atas kendaraannya, hal tersebut minimal saat mengagetkan.
Tercatat pula kejadian bahwa mobil seorang deputy sherif berpapasan dengan cahaya-cahaya aneh jpada
malam hari, yang menimbulkan sejumlah kerusakan kecil. Yang paling mentakjubkan ialah kasus
Dr.Giraldo Vidal beserta istri yang terjadi di Argentina dalam bulan Mei 1968. Mereka sedang naik mobil
Peugeot 403 di jalan raya dari Casgomas ke Maifu sejauh 150 km, di tengah jalan ada seperti kabut.
Ketika mereka memasuki kabut itu, tiba-tiba mereka hilang ingatannya. Setelah mereka sadar, bagian
belakang kepalanya merasa sakit dan terheran-heran mengetahui bahwa sudah berlalu 48 jam. Keadaan
sekelilingnya asing bagi mereka, dan alangkah terkejut campur tercengangnya mereka ketika mengetahui
bahwa mereka telah berada di Mexico yang jauhnya 6.400 km dari Argentina! Ternyata cata mobilnya
dibagian luar telah mengelupas seperti telah terkena suhu tinggi, dan konon mobil mereka itu kemudian
diserahkan kepada pihak Amerika Serikat untuk dijadikan bahan penyelidikan. Peristiwa pemindahan
mobil seisinya itu dinamakan efek “mass displacement” dan apakah tergolong gejala normal ataukan
paranormal, merupakan pernyataan terbuka.
Efek UFO Terhadap Manusia. Efek UFO terhadap manusia dapat dibagi menjadi akibat-akibat yang
ditimbulkan UFO terhadap manusia sebagai perorangan, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah,
dan terhadap manusia di dalam hubungan kemasyarakatan seluruhnya. Yang dimaksud dengan UFO di
sini adalah wahana, peralatan, atau mahluk UFO.
Akibat-akibat jasmaniah dari penyaksian UFO dapat berupa:
1. keluhat mata dari mulai peradangan bola mata sampai kepada kebutaaan sementara;
2. lumpuh sebagian atau kehilangan pengendalian otot-otot sadar;

41
3. luka-luka bakar akibat gelombang panas atau berkas sinar dari UFO;
4. kehilangan nafsu makan;
5. rasa seperti tanpa bobot;
6. penyembuhan dari luka kulit yang meradang.

Akibat-akibat rohaniah dari penyaksian UFO dapat berupa:


1. bingung, linglung, dan gejala disoerientasi lainnya;
2. kehilangan rasa waktu;
3. halusinasi audio-visual;
4. tidak dapat tidur, impian yang menakutkan dan perubahan tingkah-laku yang drastis;
5. menjadi serba tahu.

Dr. Jacques Valle mensinyalir bahwa sebagian besar akibat-akibat UFO terhadap manusia mirip
dengan gejala-gejala serangan sakit ayan. Merupakan suatu fakta bahwa seorang penderita yang sedang
mengalami serangan penyakit itu apabila direkam kerja otaknya dengan E.E.G., memperlihatkan
timbulnya gangguan-gangguan bio-listrik. Adalah suatu fakta pula bahwa UFO menimbulkan efek-efek
elektro-magnetik terhadap tubuh manusia? Jikalau memang demikian adanya, akibat-akibat negatif
terhadap manusia itu rupa-rupanya bukan suatu kesengajaan dari para mahluk UFO.
Efek UFO lainnya terhadap rokhani manusia berupa munculnya sejumlah orang yang mengaku
telah terpilih untuk menjadi perantara oleh makhluk-makhluk UFO, yang telah mengajak mereka
bertamasya di dalam wahana UFO, atau berwawancara dengan mereka secara langsung atau
berkomunikasi dengan mereka secara telepatis. Orang-orang yang merasa dirinya menjadi perantara
makhluk-makhluk UFO itu memperlihatkan gejala-gejala tertentu yang disebut :”Contactee Syndrome”.
Kebanyakan diantara mereka merasa dirinya diberi pesan-pesan oleh makhluk UFO yang harus diteruskan
kepada umat manusia. Isinya biasanya merupakan kecaman terhadap keadaan di bumi dan imbauan atau
ancaman untuk memperbaiki diri jikalau tidak mau musnah dalam suatu perang nuklir. Pesan-pesan
semacam itu terkenal sebagai “Messiah-type of message”, atau pesan sejenis Juru Selamat. Isi dari
pesan-pesan semacam itu tidak diragukan kepositifannya, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa tanpa
bersumber kepada amkhluk UFO sekalipun kita sebenarnya sudah mengetahui apa yang baik dan apa
yang buruk asal kita mau mendengarkan suara hati nurani kita sendiri. Biasanya pesan-pesan semacam
itu juga diselingi dengan keterangan-keterangan lain yang menyangkut ilmu pengetahuan dan ramalan-
ramalan, yang anehnya ada kebenarannya juga.
Namun rangsangan-rangsangan tersebut di atas ternyata tidak selalu mempunyai efek yang sama
terhadap orang yang menerima pesan itu, hal tersebut rupanya tergantung dari kepribadiannya. Ada
orang yang acuh tak acuh terhadap pesan tersebut, dan mereka tidak mengalami akibat apa-apa.
Beberapa perantara lain menceritakan kisahnya dan menjadi ternama, seperti misalnya almarhum George
Adamski yang katanya bertemu dengan seorang berambut pirang dari planet Venus, Daniel Fry yang
sempat melancong dengan UFO yang kosong, Truan Bethurun yang bertemu dengan Aura Rhanes,
komandan wanita UFO dari planet antah berantah yang bernama Clarion, dan lain-lain. Munculnya
“contactees” tersebut merikuhkan para cendekiawan yang sebenarnya ingin menyelidiki UFO secara
serius, oleh karena mereka enggan terlibt dengan para “contactees” tersebut. Akhir-akhir ini terhadap
beberapa orang “contactee” telah dilakukan penyelidikan ilmiah untuk menguji kebenaran apa yang
mereka kemukakan, antara lain dengan hipnosa. Hasilnya ialah bahwa mereka itu sungguh-sungguh
menganggap apa yang katanya telah mereka alami itu sebagai suatu kenyataan.
Tidak semua hal-ihwal “contactee” terdengar seperti lelucon. Seorang Brasil bernama Dino
Kraspedon menerbitkan buku berjudul “My Contact With Flying Saucers” (terjemahan bahasa Inggris
terbit tahun 1950). Buku tersebut mengisahkan bagaimana seorang makhluk UFO bertamu ke rumahnya
dan menyampaikan banyak keterangan ilmiah dan filsafat kepadanya, termasuk pesan-pesan sejenis Juru
Selamat yang klasik, dan hal-hal lain yang bersifat etis. Enam tahun kemudian Dino Kraspedon, yang
nama sebenarnya adalah Aladino Felix, memproklamasikan dirinya menjadi nabi. Di depan siaran televisi
ia meramalkan dengan tepat beberapa peristiwa nasional maupun international yang terkenal, seperti
bencana alam besar di Brasil, akan gugurnya seorang kosmonaut Uni Sovyet (kemudian ternyata Vladimir
Komarov, 1967), akan terbunuhnya pemimpin agama Martin Luther King dan calon Presiden Amerika
Serikat Bob Kennedy. Namun tahun 1968 ia meramalkan dengan tepat pula serangkaian ledakan bom di
Brasil oleh kaum teroris, dan pihak kepolisian berhasil membongkar pemimpinnya yang tak lain adalah
Aladino Felix sendiri. Pengalaman yang serupa menimpa diri seorang “contacee” Amerika Serikat yang
menamakan dirinya Fred Achmed dan yang ketika tertangkap polisi karena perbuatan teror sedang
memimpin gerakan yang bernama “New Lybia” pada tahun 1967. Menurut pengakuannya awal-mula
segala sesuatu terjadi 7 tahun sebelumnya, ketika ia sedang naik pesawat terbang dan secara telepatis
menerima pesan bahwa ia dijadikan “contactee”. Dari kejadian-kejadian tersebut di atas dapat ditarik
peringatan, bahwa masalah “contactee” bersifat serius dan bukanlah lelucon, dan seyogyanya baik
penderita yang dihinggapinya maupun sanak-saudara dan kawan-kawan terdekatnya memiliki
kewaspadaan dan pengertian agar dapat mencegah timbulnya ekses-ekses sebagaimana mestinya.
Mengenai akibat-akibat dari masalah UFO terhadap masyarakat dapat dicatat hal-hal seperti
tersebut di bawah ini.

42
1. Semakin banyak orang yang percaya adanya UFO. Menurut hasil survai lembaga pendapat
umum di Amerika Serikat yang bernama Gallup Poll, yang dilakukan di dalam tahun 1978. 57% atau lebih
dari 100 juta penduduk Amerika Serikat percaya UFO itu nyata. 51% percaya adanya makhluk-makhluk
seperti kita di planet-planet lain. Angka-angka yang sama untuk survei pendapat umum tahun 1966 ialah
46% dan 34%. Selanjutnya survai Gallup tahun 1978 juga mengungkapkan, bahwa 9% dari penduduk
Amerika Serikat, atau 13 juta orang, pernah menyaksikan UFO! Hasil lain yang menarik ialah bahwa
ternyata generasi muda lebuh banyak yang pernah melihat UFO dan lebih mudah menerima kenyataan
UFO serta kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi, jikalau dibandingkan dengan generasi tua.
Berdasarkan asumsi bahwa pendapat umum di Amerika Serikat tersebut di atas tidak akan banyak
berbeda dari pendapat umum di seluruh dunia, maka jelaslah kecenderungan yang semakin meningkat
dari pendapat umum, dan dengan demikian juga sikap mental, yang positif terhadap masalah UFO dan
yang meliputi seluruh dunia.

2. Meluasnya kesadaran kosmis. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa semakin meluasnya pendapat
umum yang menerima kemungkinan adanya UFO dan kehidupan cerdas di luar bumi akan dibarengi
dengan meluasnya kesadaran tentang posisi umat manusia di dalam alam semesta ini serta hubungannya
dengan umat-umat manusia lainnya. Skala berpikir mondial dengan demikian diperluas dengan skala yang
lebih besar, entah interstellar, intergalaktik atau mungkin interdimensional, tergantung dari tempat asal
kecerdasan luar bumi pertama yang akan mengadakan kontak resmi dengan kita.

3. Timbulnya rasa ketergantungan kepada luar bumi. Buku-buku karangan Erich von Daniken
tentang kemungkinan kunjungan astronot-astronot luar bumi di zaman purbakala telah menyebarluaskan
persangkaan, bahwa karya-karya besar peradaban-peradaban yang lalu hanya dimungkinkan oleh campur
tangan makhluk-makhluk luar bumi yang cerdas. Padahal teori yang dikemukakan itu sebenarnya masih
jauh dari sempurna dan belum dapat menjawab semua teka teki atau malahan menimbulkan pertanyaan-
pertanyaan baru. Misalnya jikalau baik peradaban Mesir kuno maupun Indian kuno di Amerika Selatan
menerima bantuan teknik dari luar bumi, mengapakah penemuan roda yang sangat penting bagi
pengangkutan tidak dikenal di dalam kebudayaan Indian kuno? Demikian pula raja-raja Fir’aun menurut
penelitian modern dengan sinar X ternyata meninggal pada usia sangat muda, yaitu ketika mencapai
umur belasan tahun. Dan bangsa Indian kuno sangat menderita berbagai macam penyakit, di antaranya
ada yang sebelum Columbus hanya dikenal di benua Amerika. Pertanyaan yang logis ialah, mengapakah
para tamu luar bumi yang begitu unggul ilmu pengetahuannya tidak memberikan obat-obatan kepada
mereka itu? Maka dari itu timbulnya rasa ketergantungan kepada makhluk-makhluk cerdas dari luar bumi
kiranya merupakan suatu salah sangka yang perlu diberantas.

4. Timbulnya kultus UFO. Perkembangan kemasyarakatan yang negatif setelah munculnya masalah
UFO ialah timbulnya kelompok-kelompok yang mengkultuskan UFO, seperti yang terdapat di Amerika
Serikat. Kultus UFO itu dapat dianggap sebagai bentuk ketergantungan kepada luar bumi yang ekstrim.
Mereka menganggap bahwa umat manusia sekarang tidak dapat diharapkan lagi untuk memperbaiki
dirinya sehingga mengharapkan intervensi ekstra terrestrial untuk menyelamatkan dunia kita.
Ketidakmampuan kalangan ilmu pengetahuan kita untuk memberikan keterangan yang memuaskan
dianggap sebagai bukti keunggulan kecerdasan luar bumi yang mereka andalkan, meskipun hal itu untuk
sebagian disebabkan oleh sikap keliru dari kalangan ilmu pengetahuan kita yang tidak mau membuka
pikirannya baginya. Dengan demikian kultus UFO di kalangan masyarakat yang sudah maju anehnya
sama saja dengan gejala kultus terhadap pesawat-pesawat angkut dari Perang Dunia ke 2, atau “Cargo
Cult”, yang terdapat di sementara suku bangsa primitif! Yaitu terkesan oleh dropping barang-barang dan
perbekalan lain dari pesawat-pesawat terbang Amerika Serikat semasa Perang Pasifik, maka sampai
sekarang suku terasing yang bersangkutan itu apabila sedang menghadapi masa paceklik melakukan
upacara yang terdiri dari tarian untuk meniru dropping dari udara tersebut. Latar belakangnya ialah suatu
harapan akan jatuhnya segala yang mereka perlukan dari langit, sehingga paceklik bisa diatasi.

Dari Manakah UFO Itu Berasal


Atas pertanyaan, dari manakah UFO itu berasal, suatu konperensi para peneliti masalah UFO di
Chicago pada tahun 1976 memberikan jawaban, yang untuk 47 1/2% menganut hipotesa ekstra
terrestrial, untuk 47 1/2% lagi menganut hipotesa lain yang eksotik, untuk 2 % mengira bahwa asalnya
dari peradaban di bumi, sedang selebihnya tidak menjawab.
Hipotesa Ekstra terrestrial. Jikalau UFO berasal dari luar bumi, tepatnya ia datang dari mana?
Jikalau kita dapat mempercayai keterangan dari para saksi ketika berjumpa dengan makhluk-makhluk
UFO, ternyata tidak terdapat keseragaman. Laporan dari Spanyol mengatakan adanya makhluk-makhluk
UFO yang mengaku berasal dari planet bernama Ummo yang mengedari bintang Wolf 424 sejauh 14,2
tahun cahaya (1967). Kasus Barney dan Betty Hill (1961) barangkali memberi keterangan paling
terperinci mengenai tempat asal makhluk UFO dan jaringan penerbangan interstellarnya. Betty Hill telah
membuat gambar peta bintang yang diperlihatkan kepadanya oleh komandan UFO. Hasil penelitian atas
gambar tersebut oleh Marjorie Fish (1974) menafsirkan Zeta 1 Reticuli (37 tahun cahaya) sebagai tempat
asal UFO, adanya trayek dagang ke Zeta 2 Reticuli (24 hari cahaya dari Zeta 1 Reticuli), dan 4 bintang
yang kadang-kadang dikunjungi sebagai matahari kita, 82 Eridani, Gliese 86 dan Alpha Mensae. Hasil

43
penelitian Charles W. Atterberg atas gambar Betty Hill sebaliknya menafsirkan Epsilon Eridani (10,7 tahun
cahaya) sebagai tempat asal UFO, adanya rute dagang ke Epsilon Indi, dan menafsirkan 4 bintang yang
kadang-kadang dikunjungi sebagai matahari, Ross 248, Groombridge 34 dan Tau Ceti. Dalam kasus
Zanfretta (Genoa, Itali, 1978) makhluk UFO yang berwujud raksasa memberitahukan bahwa ia datang
dari galaksi ketiga. Galaksi kita memang mempunyai 2 tetangga terdekat, yaitu Awan Magelhan Besar dan
Awan Magelhan Kecil, pada jarak 75.000 tahun cahaya dari tepi galaksi kita yang terdekat, atau 150.000
tahun cahaya dari sini.
Bagaimanakah cerita para “contactee” tentang tempat asal UFO? George Adamski (almarhum)
bercerita, bahwa manusia UFO yang rupawan yang mengajak ia bertamasya ke luar bumi, berasal dri
planet Venus (1952). Seorang “contactee” lain, Truman Bethurum, bercerita bahwa ia berjumpa dengan
nakoda wanita UFO yang cantik bernama Aura Rhanes, yang berasal dari planet Clarion. Planet itu
merupakan bumi kembar yang berada dalam orbit yang sama dengan bumi kita, akan tetapi
berseberangan tempatnya. Akibatnya ialah bahwa kita tidak pernah dapat melihatnya oleh karena
terhalang oleh matahari. “Contactee” lain ialah Dino Kraspedon dari Brasil, yang di dalam buku:”My
contact with Flying Saucers” (1957) menceriterakan perjumpaannya dengan makhluk UFO. Wujudnya
persis seperti kita, tidak punya nama, dan berkunjung ke rumahnya atau bertemu di tempat lain di kota
Sao Paolo. Katanya ia datang dari Ganymede dan Io yang merupakan satelit-satelit dari planet raksasa
Jupiter. Jadi, menurut berbagai cerita para “contactee” maka UFO berasal dari planet-planet lain di dalam
tata surya kita.
Jikalau kita mendengar pendapat para ahli ilmu pengetahuan tentang tempat asal UFO, umumnya
disinggung kemungkinan luar bumi mulai dari luar atmosfir bumi sampai galaksi lain. Dr.James
E.MacDonald (almarhum), Profesor fisika Atmosfir dan Ahli Fisika Senior pada Institute Fisika Atmosfir
Universitas Arizona, di dalam wawancara dengan majalah “Saucer News” musin semi 1967,
mengatakan,”....Saya sama sekali tidak mengetahui dari mana datangnya UFO atau bagaimana mereka
dijalankan, akan tetapi setelah penelitian 10 tahun saya tahu bahwa mereka ialah sesuatu yang datang
dari luar atmosfir kita.” Dr. Maurice A.Biot, ahli aerodinamika dan fisika matematik terkemuka, di dalam
wawancara dengan majalah “Life” tanggal 7 April 1952, antara lain mengatakan bahwa keterangan yang
paling tidak mustahil ialah bahwa UFO itu benda buatan dan dikemudikan. Ia sudah mempunyai pendapat
sejak beberapa lama bahwa mereka berasal dari luar bumi. Dr.M.K.Jessup (almarhum), ahli astrofisika
pada Universitas Michigan dan peminat kepurbakalaan serta pengarang buku:”The Case for the UFO’s”
(Citadell, 1955) dan buku-buku UFO lainnya, mengemukakan kesimpulannya bahwa UFO berasal dari
lingkungan bumi dan bulan saja.
Selanjutnya Dr.Frank Halstead dari Darling Observatory, Duluth, Minnesota, mengungkapkan
pendapatnya di dalam majalah “Flying Saucer” bulan Juni 1957, bahwa:”....banyak ahli asronomi
profesional yakin bahwa piring terbang ialah mesin-mesin antarplaneter.... Saya kira mereka datang dari
tata surya lain, tetapi mereka dapat juga memakai planet Mars sebagai pangkalan.”
Sebagaimana diketahui, tetangga matahari kita yang paling dekat ialah bintang Alpha Centauri
yang sebenarnya merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari 3 buah matahari yang berdekatan, yaitu
Alpha Centauri A atau disebut pula Proxima Centauri, Alpha Centauri B, dan Alpha Centauri C. Proxima
Centari yang jauhnya 4,3 tahun cahaya mempunyai spektrum yang sama dengan matahari kita yaitu dari
kelas spektral G2V, sedang massanya hanya lebih besar sedikit (1,09). Apakah Alpha Centauri itu
merupakan suatu tata surya yang memiliki sistem planet-planet, tidak dapat diketahui dengan cara
penelitian yang dewasa ini dipergunakan. Andaikata terdapat planet-planet, maka terutama Proxima
Centauri akan menarik perhatian besar dari segi kemungkinan adanya kehidupan seperti kita.
Perkiraan yang paling dini tentang tempat asal UFO dikemukakan di dalam telaahan staf Project
“Sign” (1947) dari Pusat Intelijen Teknik Angkatan Udara Amerika Serikat, yang memilih bintang Wolff
359 yang jauhnya 8 tahun cahaya. Perlu dicatat, bahwa bintang tersebut mempunyai massa yang hanya
1/5 matahari kita, memiliki kelas spektral yang berbeda serta sering mengalami ledakan matahari.
Wado Wellman dalam majalah “Flying Saucer Review” (1962) mengemukakan pendapat bahwa
mengingat makhluk-makhluk UFO itu, atau setidak-tidaknya salah satu bangsa di antaranya berwujud
kerdil, kuat, keras, dan dapat lari cepat, maka planet asalnya ialah besar dan berat, seperti yang diduga
mengelilingi bintang-bintang 61 Cygni (jarak 11,1 tahun cahaya) atau 70 Ophiuchi (jarak 17 tahun
cahaya).
Ahli astronomi Skotlandia D.A.Lunan mengemukakan di dalam suatu hipotesa (1972) yang
berdasarkan anomali propagasi radio, bahwa ada wahana antariksa asing yang berkedudukan di antara
bumi dan bulan, dan yang berasal dari bintang Epsilon Bootes yang jauhnya 103 tahun cahaya. Teori baru
dalam rangka hpotesa ekstra terrestrial diungkapkan oleh Robert K.G.Temple, F.R.A.S., dalam buku:”The
Sirius Mysteri” (1979), yang merupakan hasil penyelidikan 8 tahun lamanya dalam bidang-bidang
astronomi, antropologi, dan mitologi.
Ia menemukan fakta yang mengherankan, bahwa suku bangsa Dogon di benua Afrika yang masih
primitif ternyata mengenal pemujaan makhluk-makhluk yang mereka hubungkan dengna sistem bintang
Sirius. Tanpa intrumentasi ilmiah suku Dogon itu mengetahui dengan teliti gerakan maupun karakteristik
pengiring Sirius yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Temple juga berpendapat, bahwa
kunjungan makhluk-makhluk amfibi dari sistem bintang Sirius itu yang terjadi lebih dari 3.000 tahun
sebelum Masehi, juga menjadi sumber dari peradaban Sumeria maupun Mesir Kuno. Perlu dicatat, bahwa
Sirius ialah bintang yang paling terang di langit, dan pada jarak 8,6 tahun cahaya merupakan tetangga

44
terdekat yang ke 6 dari matahari kita. Sirius merupakan sistem bintang kembar, akan tetapi saudara
kembarnya itu ialah bintang kecil dari magnituda ke 8, sehingga hanya dapat dilihat dengan teleskop yang
cukup besar.
Dr. Herman Oberth, perintis peroketan dan penerbangan antariksa, di dalam jumpa pers di
Innsbruck, Austria, bulan Juni 1954 menyatakan, bahwa UFO itu diciptakan dan dikendalikan oleh
makhluk-makhluk cerdas yang sangat tinggi tingkatnya. Mereka boleh jadi tidak berasal dari tata surya
kita, barangkali juga tidak dari galaksi kita.
Untuk melengkapi jawaban atau pertanyaan, dari manakah datangnya UFO, kiranya ada baiknya
pula kita mencatat keterangan yang diperoleh secara paranormal. Di dalam buku “Menyingkap Rahasia
Piring Terbang” (Pustaka Rakyat, Jakarta, 1960) tempat asal UFO diidentifikasi oleh suami-istri Agusnain
sebagai bintang YC 5473 yang tidak tampak dengan mata telanjang dan yang terdapat di dekat bintang
Ksi Bootes. Lokasi itu sangat menarik terutama sejak ahli astronomi D.A.Lunan pada tahun 1972
memperkirakan adanya wahana antariksa yang datang di dekat bumi 13.000 tahun yang lalu dan yang
berasal dari bintang Epsilon Bootes. Rama Sudyat dari Semarang secara pengamatan paranormal juga
menemukan bahwa UFO berasal dar tata surya lain. Seorang pemimpin kebatinan lian, Bapak Nasibu,
mengidentifikasi tempat asal UFO sejauh 7 hari cahaya dari bumi.
Demikianlah apa yang dapat dikumpulkan tentang tempat asal UFO di dalam rangka hipotesa extra
terrestrial, yang meliputi tempat-tempat di antariksa mulai dari antara bumi dan bulan sampai kepada
galaksi lain yang terdekat. Adalah menarik perhatian miripnya hipotesa Dr. M.K.Jessup (almarhum) dan
ahli astronomi D.A.Lunan, yang kedua-duanya memperkirakan sumber UFO di antara bumi dan bulan.
Menurut mekanika orbit, di antara bumi dan bulan terdapat apa yang dinamakan titik-titik Lagrange, di
mana terdapat keseimbangan antara gaya-gaya tarik bumi, bulan, dan matahari sehingga merupakan
tempat parkir stasioner bagi wahana-wahana antariksa. Mungkinkah di sana diparkir wahana antariksa
dari Epsilon Bootes yang telah mencoba berkomunikasi dengan kita melalui modulasi siaran radio telegrafi
akhir tahun dua puluhan dan awal tahun tiga puluhan, seperti persangkaan Lunan? Mungkinkah wahana
antariksa yang sama juga memiliki kemampuan tidak hanya untuk memodulasi siaran radio kita, akan
tetapi juga untuk menimbulkan gejala-gejala UFO pada umumnya, seperti persangkaan Dr.M.K.Jessup
(almarhum)? Adalah sesuatu hal yang menarik untuk mempelajari apakah ada hubungan antara titik-titik
Lagrange dengan gejala UFO umumnya, gelombang UFO khususnya.
Mengenai keterangan, bahwa UFO itu berasal dari planet Venus, serta satelit-satelit Gaymede dan
Io dari planet Jupiter, telah dibantah oleh hasil-hasil pemotretan dan penelitian wahana-wahana antariksa
Amerika Serikat maupun Uni Sovyet di dalam dasawarsa tujuh puluhan. Planet Venus ternyata
mempunyai tekanan udara di permukaannya sebesar 90 atmosfir, suhu 500 derajat Celsius, atmosfir yang
untuk 90 % terdiri dari karbon dioksida dengan suatu lapisan awan yang tetap yang terdiri dari asam
belerang. Keadaan alam seganas itu sudah pasti tidak mengizinkan adanya manusia-manusia rupawan
seperti kata George Adamski (almarhum). Demikian pula foto-foto dari satelit-satelit Ganymede dan Io
yang dibuat oleh NASA memperlihatkan alam yang tandus dan dingin, tanpa adanya kota-kota maju di
mana makhluk UFO yang menghubungi Dino Kraspedon bermukim. Selanjutnya planet Clarion tempat asal
si cantik komandan UFO Aura Rhanes yang katanya menghubungi Truman Bethurum, ternyata tidak
mungkin ada: perhitungan-perhitungan astronomis yang dilakukan oleh panitia Condon (1968)
berkesimpulan bahwa andaikata planet Clarion ada, maka kehadirannya itu akan menimbulkan kelainan-
kelainan tertentu pada orbit-orbit planet dan benda langit lainnya. Dan kelainan-kelainan yang dimaksud
itu tidak terdapat.
Sejauh manakah ilmu pengetahuan sekarang tentang tata surya lain?
Berlainan dengan planet-planet terdekat di dalam tata surya kita yang di dalam 2 dasawarsa
terakhir ini sudah mulai dikunjungi oleh wahana-wahana antariksa kita, maka tata-tata surya lain yang
terdekat sekalipun masih di luar jangkauan manusia. Dengan teleskop yang terbesar sekalipun kita tidak
dapat melihat secara langsung apakah ada planet-planet yang mengelilingi suatu bintang. Hanya jikalau
perjalanan bintang-bintang itu memperlihatkan kelainan-kelainan, kita baru dapat membuat deduksi
tentang adanya planet-planet yang mengiringinya. Hal itu disebabkan oleh karena jarak pemisah di antara
bintang-bintang itu tak terperikan jauhnya. Cahaya yang memiliki kecepatan 300.000 km sedetik sanggup
untuk 7 1/2 kali mengelilingi katulistiwa dalam waktu sedetik, memerlukan 5 menit untuk menempuh
jarak dari matahari ke bumi, dan 8 jam untuk mencapai planet Pluto yang merupakan batas luar dari tata
surya kita. Namun untuk mencapai matahari lain yang merupakan tetangga yang terdekat dari matahari
kita, yaitu Alpha Centauri yang terdiri dari 3 buah bintang yang berdekatan, cahaya yang secepat itu
memerlukan waktu 4,25 tahun. Contoh dari bintang yang memperlihatkan petunjuk-petunjuk adanya
sistem planet-planet misalnya adalah Barnard (5,9 tahun cahaya), Lalande 21185 (8,1 tahun cahaya) dan
61 Cygni serta 70 Ophiuchi yang telah disebut terdahulu. Namun perlu dicatat, bahwa cara tersebut di
atas tidak peka bagi sistem planet yang massanya kecil jikalau dibandingkan dengan massa mataharinya.
Misalnya dengan cara tersebut seorang pengamat di bintang Alpha Centauri yang terdekat sekalipun tidak
akan dapat menemukan sistem planet yang dimiliki matahari kita.
Kemungkinan adanya sistem planet menambah peluang bagi kemungkinan timbulnya kehidupan
seperti di bumi kita. Pada tahun 1960 dilakukan percobaan-percobaan dengan radio teleskop untuk
menemukan kehidupan cerdas di tata surya lain. Caranya ialah dengan jalan mengarahkan alat itu ke
lokasi bintang-bintang dari kelas spektral yang sama dengan matahari kita. Jikalau di sana ada kehidupan
cerdas seperti kita yang memakai komunikasi radio di planetnya, maka hal itu dapat kita dengar.

45
Hasilnya ternyata mengecewakan. Ada pula cendekiawan-cendekiawan yang menyangsikan asumsi CETI
dan menunjuk kepada kemungkinan bahwa peradaban yang lebih maju dari kita mungkin sudah lama
memasukkan alat komunikasi radio seperti yang kita kenal ke dalam museum mereka. Namun penelitian
dengan radio teleskop telah berjasa besar dengan penemuan sejak tahun 1968 tentang adanya sejumlah
molekul interstellar, 4 jenis di antaranya (yaitu air atau H2O, hidrogen cyanida atau HCN, formaldehyda
atau H2CO dan Cyanoacetylene atau HC3N) penting bagi pembentukan zat biologis termasuk asam amino,
sehingga mendorong minat untuk meneruskan usaha pencairan kecerdasan luar bumi. Sejak tahun 1971
bahkan mulai diselenggarakan pertemuan-pertemuan ilmiah khusus untuk membahas masalah pencarian
atau hubungan dengan kecerdasan ekstra-terrestrial (SETI atau CETI), yang mula-mula mendapat
perhatian dari para cendekiawan Amerika Serikat dan Uni Sovyet saja, akan tetapi kemudian mendapat
perhatian besar dari kalangan ilmu pengetahuan internasional.
Apakah timbulnya kehidupan dengan sendirinya menimbulkan kecerdasan ataupun peradaban yang
teknologis maju? Menurut Dr. Sebastian von Hoerner dari U.S. National Radio Astronomy Laboratory,
maka di dalam galaksi kita saja diperkirakan 2% dari semua bintang, atau sama dengan 2 milyar bintang,
memiliki planet yang sesuai bagi timbulnya kehidupan. Dari jumlah itu dia memperkirakan bahwa yang
telah berhasil mencapai peradaban teknis hanya sekitar 35.000 buah planet. Ahli astrofisika Dr. Carl
Sagan dari Cornell University mempunyai perkiraan yang jauh lebih tinggi, yaitu 1.000.000 buah
peradaban teknis di dalam galaksi kita saja.
Di dalam bagian tentangmakhluk UFO disimpulkan bahwa spektrum matahari mereka lebih
cenderung ke arah infra-merah. Wujud makhluk UFO yang di dalam garis besarnya mirip dengan manusia
bumi mungkin merupakan petunjuk, bahwa pada skala interstellar mereka masih merupakan tetangga
kita atau setidak-tidaknya masih satu daerah dengan kita. Makhluk UFO jelas lebih maju dan rupa-
rupanya juga lebih tua dari kepunyaan kita. Menurut klasifikasi spektral, matahari kita dari kelas G kalah
tua dengan bintang-bintang kelas K dan M yang lebih cenderung ke arah infra-merah. Di dalam radius 17
tahun cahaya dari sini, sebagian terbesar bintang-bintang tetangga kita justru lebih tua dari matahari kita.
Di antara bintang-bintang tersebut yang tergolong tertua ialah dari kelas spektral M6e yang terdiri dari
Wolff 359 (8 tahun cahaya), Ross 248 (10,3 tahun cahaya), Luyten 789-6 (10,3 tahun cahaya) dan Wolff
424 (14,2 tahun cahaya). Jadi, tempat asal makhluk UFO mungkin salah satu bintang tetangga kita yang
memiliki spektrum yang lebih merah dan usia yang lebih tua daripada matahari kita.
Dalam rangka ini penafsiran Atterberg atas peta bintang Betty Hill yang menunjuk bintang Epsikon
Eridani sebagai tempat asal UFO ialah sesuai dengan kriteria tersebut, mengingat kelas spektralnya ialah
K2 yang lebih tua dari matahari kita. Demikian pula penafsiran Majorie Fish yang lebih populer dan yang
menunjuk bintang Zeta 1 Reticuli (jarak 37 tahun cahaya) masih dapat lebih diterima daripada yang
melibatkan jarak yang lebih besar apalagi yang intergalaktik.
Jikalau tempat asal makhluk UFO lebih jauh, di manakah kita harus mencarinya? Andaikata jangka
hidup makhluk UFO mencapai 100.000 tahun sekalipun, jikalau kecepatan perjalanannya tidak dapat
menyamai atau melebihi kecepatan cahaya, atau jikalau tidak ada jalan terobos atau cara perjalanan
eksotik lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa tempat asal UFO terbatas di dalam radius yang kurang
dari 50.000 tahun cahaya dari sini. Menurut astronomi, bintang-bintang yang lebih tua dari matahari kita
terdapat di antara kita dengan tepi galaksi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan tempat asal UFO yang disebut di dalam rangka
hipotesa ekstra terrestrial itu ialah sangat luas, mulai dari lingkungan bumi dengan bulan, planet-planet
lain atau satelit-satelitnya dalam tata surya kita, bintang-bintang lain yang jauhnya beberapa tahun
cahaya sampai beberapa ratus tahun cahaya, bahkan sampai galaksi lain yang terdekat pada jarak
150.000 tahun cahaya.
Namun, jikalau diperhitungkan sifat peka cahaya makhluk UFO dan kelas spektral serta usia
bintang, maka sejumlah bintang dekat pun memberi kemungkinan sebagai tempat asal UFO. Jikalau
tempat asalnya lebih jauh, dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu maka kemungkinan tempat asal
UFO terbatas kepada daerah tepi galaksi kita di dalam radius yang kurang dari 50.000 tahun cahaya dari
sini.
Kemungkinan Penerbangan Intersteller Versi Bumi. Bagaimanakah kemungkinan penerbangan ke
tata surya lain, atau interstellar, menurut ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang? Penerbangan
antariksa di bumi kita baru pada tahap permulaan. Dasar-dasar teoretisnya diletakkan oleh
K.E.Tsiolkovsky (1898) dan Dr.Herman Oberth (1923). Langkah-langkah kemajuan teknologi antariksa
yang dapat dicatat ialah: pengorbitan satelit yang pertama, yaitu Sputnik I, pada tahun 1957;
pengorbitan kosmonaut yang pertama, Yuri Gagarin, pada tahun 1961; penerbangan berawak ke bulan
yang pertama oleh Apollo 11 dengan para astronot Neil Armstrong, Edwin Aldrin dan Mike Collins pada
tahun 1969. Planet-planet lain di dalam tata surya kita baru dikunjungi oleh wahana-wahana antariksa tak
berawak saja. Dua di antaranya ialah Pioneer 10 dan Pioneer 11 yang diluncurkan berturut-turut pada
tahun-tahun 1973 dan 1974 dan yang pada tahun-tahun 1978 dan 1979 berhasil mengirim gambar-
gambar serta hasil pengukuran lain dari planet Jupiter. Dewasa ini kedua wahana antariksa itu sambil
melewati planet Saturnus akan meninggalkan tata surya kita untuk selama-lamanya, menjadi musafir
abadi di antara bintang-bintang di dalam galaksi kita. Jadi mereka sebenarnya menjadi wahana-wahana
interstellar pertama yang diluncurkan dari bumi kita, meskipun sayang sudah tidak berfungsi lagi kecuali
sebagai kartu nama. Sebab pada wahana-wahana antariksa itu terpasang piagam yang dirancang oleh
Dr.Carl Sagan dan Dr.Frank Drake dan yang dapat dimengerti oleh makhluk ekstaterrestrial yang cerdas.

46
Isinya ialah keterangan-keterangan ilmiah tentang asal usul wahana antariksa itu dan dipasang untuk
menghadapi kemungkinan bahwa suatu waktu wahana-wahana itu ditemukan oleh makhluk-makhluk
cerdas dari luar bumi.
Seperti telah dikatakan di atas, penerbangan antariksa kita sekarang baru pada tahap permulaan,
dengan mempergunakan propulsi roket kimiawi. Andaikata kita memakai wahana antariksa Apollo yang
sanggup mencapai kecepatan lolos dari bumi kita sebesar 11,2 km sedetik, ditambah dengan kecepatan
radial dari tata surya kita yang sebesar 250 km sedetik, sehingga mencapai jumlah 261,2 km sedetik,
maka untuk mencapai bintang yang terdekat yaitu Proxima Centauri yang sejauh 4,25 tahun cahaya, akan
diperlukan waktu hampir 5.000 tahun! Hal itu berarti, andaikata kita bertolak di zaman Nabi Yusuf dan
Raja Fir’aun, maka sekarang kita belum sampai di tempat tujuan! Jikalau diperhitungkan pula akselerasi
dan deselerasi, yang masih dapat ditolerir, diperlukan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sampai 70.000
tahun!
Namun demikian, di dalam tahun 1973 pernah dilakukan studi tentang wahana interstellar oleh
British Interplanetary Society, yang dikenal sebagai proyek “Daedalus”, suatu hasil pemikiran orisinal dari
Alan Bond, bekas insinyur propulsi dari pabrik motor Rolls Royce dan Dr. Anthony Martin dari City
University, London. Wahana interstellar “Daedalus” itu tidak berawak dan bertugas untuk melewati tata
surya dari bintang Barnard tanpa singgah sambil melakukan observasi-observasi. Jarak sejauh 5,9 tahun
cahaya itu akan memakan wakt 47 tahun dengan cara mencapai kecepatan 13,8% dari kecepatan cahaya
(41.400 km sedetik). Wahana interstellar “Daedalus” itu waktu bertolak (bukan dari permukaan bumi)
mempunyai berat 68.600 ton, 500 ton di antaranya berupa muatan ilmiah, dan mencapai ukurna 5 kali
panjang roket “Saturn” yang meluncurkan wahana antariksa “Apollo” ke bulan, berarti sepanjang 1815
kaki atau 553 m. Wahana interstellar “Daedalus” itu termasuk jenis roket pulsa nuklir yang memakai
proses termonuklir dengan memakai bahan bakar deuterium dan helium 3. Ia memperoleh gaya dorong
dari rentetan mikroeksplosi termonuklir masing-masing dengan kekuatan 0,1 kiloton dengan frekuensi
150 kali sedetik, hal tersebut sama dengan meledakkan 258 buah bom atom jenis Hiroshima! Demikianlah
studi proyek “Daedalus” menggambarkan wahana interstellar yang masih terletak di dalam batas
kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang. Namun hal tersebut merupakan studi yang
diciptakan oleh British Interplanetary Society yang berbobot, mengingat perkumpulan itu sudah
menciptakan studi kelayakan bagi suatu roket berawak ke bulan pada tahun 1936, yang 33 tahun
kemudian terlaksana oleh NASA dengan sistem roket/wahana Saturn/Apollo. Jikalau sejarah berulang lagi,
maka proyek “Daedalus” akan menjadi kenyataan pada tahun 2006.
Kemajuan-kemajuan terakhir di bidang fisika partikel elementer membuka prospek-prospek baru
bagi penerbangan interstellar, terutama penemuan antimateri. Hal itu diungkapkan oleh Dr. Robert
L.Forward, ilmuwan senior di laboratorium riset Hughes di Malibu, California, di dalam majalah OMNI,
bulan November 1979, yang melukiskan “antimateri” itu sebagai “bahan bakar pamungkar” sehingga tidak
ada yang melebihinya. Para ilmuwan di laboratorium Fermilab di Amerika Serikat, CERN di Swiss dan di
Novosibirsk, Uni Sovyet, yang melakukan percobaan-percobaan dengan memakai akselerator-akselerator
raksasa yang panjangnya sampai beberapa km dan berkas-berkas dengan tenaga sampai ribuan juta
elektron Volts, atau Giga elektron Volts (GeV), menemukan bahwa di dalam sasaran Tungsten yang
mereka bombardir dengan proton-proton energi sangat tinggi, tidak hanya timbul sinar-sinar gamma dan
proton serta partikel elementer lain, tetapi juga antiproton dan antimateri lainnya. Menurut Dr.Forward, di
Swiss dewasa ini antimateri yang dibuat itu sudah dapat ditangkap, didinginkan dan disimpan sampai
berhari-hari, meskipun pembuatan antimateri pada skala yang lebih besar tidak dapat diharapkan dari
akselerator penelitian seperti sekarang melainkan memerlukan pembangunan akselerator-akselerator
produksi yang baru. Untuk memperoleh energi, kita harus mengkonversi massa. Di dalam roket kimiawi,
jumlah massa yang diubah menjadi energi hanya beberapa bagian per satu milyar. Di dalam reaktor nuklir
yang membelah Uranium atau Plutonium jumlah massa yang diubah menjadi energi melonjak menjadi
beberapa bagian per seribu. Di dalam reaktor termonuklir yang menggabungkan hidrogen atau deuterium
jumlah massa itu mencapai hampir 1 % . Akan tetapi di dalam proses anihilasi materi yang memakai
materi dan antimateri maka seluruh massa, berarti 100%, diubah menjadi energi.
Hasil penelitian Jet Propulsion Laboratory NASA mengungkapkan, bahwa untuk mencapai
kecepatan yang kurang dari sepertiga kecepatan cahaya maka lebih efisien untuk memakai sejumlah kecil
antimateri guna memanaskan hidrogen, air, atau materi lain yang berfungsi sebagai zat pendorong.
Menurut Dr.Forward, untuk penerbangan ke bulan dalam waktu 4 jam, kita harus menempuh jarak
382.000 km dengan kecepatan 30 km sedetik. Untuk sebuah wahana antariksa yang beratnya 1.000 kg,
akan diperlukan antimateri hanya 30 miligram yang dicampur dengan 4.000 kg air. Sebuah wahana
antariksa dari 10 ton dapat mencapai planet Mars dalam seminggu dengan cara memanaskan air
sebanyak 40 ton dengan anti materi sebanyak 10 gram. Satu kilogram antimateri dapat membawa
wahana antariksa yang sama ke planet Pluto dalam waktu sebulan. Dan 100 kg antimateri dapat
mengirim muatan 10 ton ke bintang yang terdekat, Proxima Centauri pada jarak 4,25 tahun cahaya, yang
akan memakan waktu 50 tahun dengan kecepatan 10% dari kecepatan cahaya.
Untuk melengkapi gambaran tentang sejauh mana pandangan para ilmuwan kita tentang
penerbangan ke tata surya lain, perlu disebut gagasan Dr.Eugen Sanger (almarhum) tentang
penerbangan keliling seluruh alam semesta dengan sebuah roket foton. Efisiensi propulsi motor roket
sangat tergantung dari kecepatan gas buangnya, yang pada roket saturn (pembawa wahana Apollo ke
bulan) dengan pembakaran hidrogen cair dan oksigen cair mencapai 3,6 km sedetik. Pada roket

47
termonuklir yang memakai bahan bakar deuterium dan helium kecepatan gas buangnya ialah kurang lebih
40.000 km sedetik. Pada roket foton Dr.Eugen Sanger membayangkan penggunaan proses iradiasi materi
dan antimateri untuk menciptakan berkas foton yang cukup kuat guna mendorong roketnya mencapai
kecepatan relativistik sampai 99,99999999% dari kecepatan cahaya. Menurut teori Einstein roket itu, atau
benda apa pun, tidak dapat menyamai kecepatan cahaya, oleh karena makin mendekati kecepatan cahaya
makin besar massanya sehingga pada kecepatan cahaya besarnya massa menjadi tak terhingga, hal
tersebut tidak mungkin (di dalam grafik digambarkan sebagai garis asymptoot). Bertambah besarnya
massa pada kecepatan relativistik itu diiringi oleh perlambatan proses-proses fisik, biologis maupun
perjalanan waktu, gejala-gejala aneh itu disebabkan oleh timbulnya faktor pemuluran waktu (time
dilatation factor). Kebenaran teori Einstein itu telah berulangkali dibuktikan antara lain dengan fisika
matahari, Mumeson dalam sinar kosmis, jam atom dalam satelit, keliling dunia dengan pesawat jet, dan
sebagainya. Disebabkan oleh faktor pemuluran waktu Einstein itu maka menurut Dr.Eugen Sanger suatu
roket foton dapat mengelilingi seluruh alam semesta yang jaraknya 30.000 biliun tahun cahaya, namun
bagi roket seisinya hanya memakan waktu 33 tahun saja. Pada waktu para astronot kembali ke bumi,
mereka telah bertambah tua 33 tahun, namun di bumi telah berlalu 30.000 biliun tahun, sehingga bumi
dan matahari sudah lama kiamat. Kesulitan lain menurut Dr. Sanger ialah, meskipun diterapkan proses
anihilasi materi yang memakai materi dan antimateri, roket foton itu untuk penerbangan keliling alam
semesta tadi memerlukan bahan bakar materi dan anti materi yang massanya sama dengan bulan!
Setelah meninggalnya Einstein, teori relativitasnya diperkembangkan terus oleh para ilmuwan,
seperti Prof.John Wheeler dari Princeton University, New Jersey, Dr.William Kaufmann Direktur Griffith
Observatory di Indiana, Prof.John Taylor dari King’s College, London, dan Dr.Roger Penrose dari University
of London. Penjabaran lebih lanjut dari teori Einstein dalam masalah ruang telah melahirkan cabang baru
dari matematika yang bernama geometrodinamika dan yang mencakup masalah pola dan gerakan ruang.
Menurut Wheeler, ruang dan waktu dapat diibaratkan gelembung-gelembung yang membeku yang
membentuk pola-pola pada sebuah permadani (atau permukaan laut mungkin lebih sesuai karena bersifat
dinamis). Apa yang disebut olehnya “superspace” ialah ibarat permadani atau permukaan laut itu.
Dibayangkan kemungkinan adanya jalan tembus yang menghubungkan gelembung yang satu dengan
yang lain, yang disebut “jambatan Einstein-Rosen” atau secara populer dinamakan “lubang cacing”.
Melalui jalan tembus itu tanpa melanggar batas kecepata 1c Einstein kita dapat menempuh jarak
astronomis dalam sekejap mata dan kembali ke tempat semula tanpa mengalami ekses-ekses dari faktor
pemuluran waktu. Memang menurut Einstein cahaya di dalam ruang kosmos itu merambat melalui
“lintasan kemalasan kosmis” (path of cosmic lazziness) yang bersifat geodetik dan bukan merambat
melalui lintasan garis lurus yang terdekat, hal tersebut disebabkan oleh sifat melengkung daripada ruang
kosmos. Untuk penerbangan interstellar, pertanyaan pokok adalah di manakah pintu masuk jambatan
Einstein-Rosen itu, bagaimanakah cara masuk keluarnya dengan selamat dan di manakah kita dijamin
akan tiba? Pertanyaan-pertanyaan tersebut rupa-rupanya masih terlalu dini untuk dijawab oleh hipotesa
yang baru diperkembangkan itu.
Pandangan baru mengenai penerbangan interstelar tersimpul di dalam hipotesa massa negatif yang
dikemukakan oleh Prof.Dr.F.Winterberg untuk menerangkan tingkah laku UFO. Suatu wahana antariksa
yang dibuat dari atau dilapisi dengan bahan yang mempunyai massa negatif akan menghilangkan atau
mengurangi gaya lembam. Dengan demikian ia dapat mengalami akselerasi atau deselerasi secepat kilat
serta menempuh jarak interstellar dalam waktu sangat singkat seraya memakan sedikit energi. Perjalanan
dari sini ke bintang Alpha Centauri akan menjadi semudah perjalanan dari Chicago ke Los Angeles.
Wahana antariksa seperti itu jikalau dilengkapi dengna kamera TV akan jauh lebih efektif daripada
komunikasi radio interstellar, oleh karena segala rekamannya dapat seketika dipancarkan ke planet
asalnya. Dikemukakan olehnya sebagai contoh analisa UFO oleh Prof.Dr.James A.Harder dari Universitas
California di Berkeley, yang didukung oleh bukti fotografis dan yang menunjukkan adanya akselerasi
sampai 10.000 G. Dengan akselerasi sebesar itu benda tadi akan mencapai kecepatan relativistik dalam
waktu kurang dari satu jam. Akan tetapi Prof. Dr. F.Winterberg tidak melihat kemungkinan adanya
penumpang-penumpang berupa makhluk-makhluk hidup yang cerdas di dalam wahana-wahana antariksa
sedemikian, kecuali jiklau dapat diperkembangkan makhluk-makhluk hidup yang juga memiliki massa
negatif.
Hipotesa massa negatif Prof.Dr.F.Winterberg merupakan langkah penting di dalam memajukan
pengertian terhadap dasar-dasar ilmiah dari wahana UFO. Keberatannya terhadap kemungkinan adanya
penumpang berupa makhluk hidup seperti kita kiranya masih dapat diatasi. Hal itu mengingat pendapat
sementara ahli bahwa teori relativitas Einstein masih membuka kemungkinan untuk terciptanya suatu
medan gravitasi lokal dengan jalan membuat sebuat “torus” (lingkaran pipa). Di dalam torus tersebut
terdapat bahan dengan massa sangat berat, yang jikalau diputar dengan kecepatan sangat tinggi akan
dapat menimbulkan medan gravitasi lokal. Dengan jalan itu baik wahana maupun penumpangnya tidak
akan merasakan percepatan atau perlambatan apa pun.
Dari pembahasan di atas mengenai seberapa jauh pelaksanaan dan pandangan ilmu pengetahuan
dan teknologi bumi tentang kemungkinan penerbangan interstellar, dapat disimpulkan bahwa dalam
pelaksanaan teknis peradaban manusia bumi dewasa ini baru mencapai taraf penerbangan berawak ke
bulan dan penerbangan interplaneter tak berawak sampai ke planet-planet yang terdekat. Di dalam
pandangan ilmu pengetahuan kita sudah mulai timbul pemikiran penerbangan interstellar, bahkan juga
intergalaktik. Namun, wahana-wahana yang masih mungkin dibuat di dalam batas-batas kelayakan teknis

48
di bumi sekarang, mempunyai ukuran dan berat raksasa. Bahkan disain yang mempergunakan proses
anihilasi materi, yang merupakan cara pamungkas menurut pandangan para ilmuwan di bumi ekarang,
masih jauh lebih besar, tidak mampu untuk mengambang dan bertingkahlaku seperti helikopter, dan pasti
kalah gesit jikalau dibandingkan dengan UFO.
Dalam pada itu terutama di dalam dasawarsa 70 an tercatat kemajuan-kemajuan yang membawa
harapan baru: lambat laun timbul juga pengertian tentang kemungkinan-kemungkinan baru yang boleh
jadi merupakan dasar ilmiah dari wahana UFO. Dahulu sementara cendekiawan menolak eksistensi UFO
oleh karena sifat dan tingkah lakunya yang dilaporkan tidak masuk akal mereka. Dewasa ini semakin
banyak cendekiawan yang terbuka pandangannya terhadap kemungkinan-kemungkinan ilmiah yang baru
sehingga secara lambat laun tetapi pasti baik UFO maupun penerbangan interstellar terungkap
kerahasiaannya.
Hipotesa Eksotik Lain. Jumlah para peneliti UFO yang menganut hipotesa eksotik lain sama banyak
dengan yang menganut hipotesa ekstraterrestial. Mereka tidak dapat menerima asal UFO dari luar bumi
oleh karena anggapan bahwa tidak terdapat buktinya. Amerika Serikat memiliki jaringan-jaringan
SPADATS (Space Detection and Tracking System-sistem deteksi dan pelacak antariksa) dan SPASUR
(Space Surveillance-pengamatan antariksa) yang bertugas untuk memberitahu ancaman terhadap
pertahanan keamanan nasional Amerika Serikat yang melewati medium antariksa. Tugas rutin sistem-
sistem pertahanan itu untuk mengamat-amati dan melacak lebih dari 1.000 buah satelit atau pecahannya
yang mengorbit bumi. Disamping itu pernah dikirim astronot-astronot, wahana-wahana antariksa tak
berawak ke planet-planet terdekat dan pernah dilakukan observasi permukaan planet Venus dengan
radar. Tambahan pula sejumlah radio teleskop di berbagai negara dioperasikan untuk meneliti spektrum
radio dari bintang-bintang. Meskipun demikian, tidak pernah ada UFO yang tertangkap basah sedang
datang ke atau pergi dari bumi. Malahan sejumlah penyaksian menyebutkan bahwa UFO itu dengan tiba-
tiba muncul dan lenyap di tempat. Menurut studi komputer Dr. Jacques Vallee berulangkali para saksi
mengawali penyaksiannya itu bukan dengan melihat benda, akan tetapi melihat warna-warna dan
berbagai bentuk cahaya, yang berbeda sekali dengan gejala alam, benda alamiah atau hasil budaya yang
sudah dikenal. Pada intisarinya, para saksi itu melukiskan suatu ruang dengan garis tengah kurang lebih
10'(3 m) yang berbentuk cakram, bola atau silinder yang memancarkan gejala-gejala elektromagnetik.
Mereka melukiskan beraneka warna kejadian fisik di sekitarnya. Dr. Vallee pernah menyelidiki beberapa
kasus di mana terdapat kemungkinan untuk menghitung tingkat energi di dalam volume ruang tertentu
dan menemukan angka ribuan kilowat, hal tersebut adalah sangat besar. Demikian pula para saksi ada
yang melaporkan bahwa UFO itu kadang-kadang menjadi samar-samar lalu lenyap. Kadang-kadang ia
menjadi semakin kecil sehingga susut menjadi suatu titik, lalu lenyap. Keberatan lain yang menolak
hipotesa ekstra terrestial ialah banyaknya UFO yang beterbangan di mana-mana di bumi kita selama
beberapa dasawarsa terakhir ini, belum terhitung yang terjadi sebelumnya. Padahal untuk melakukan
penerbangan berawak 8 kali ke bulan NASA telah mengeluarkan biaya $ 25 milyar dan pada puncak
kegiatannya telah mengerahkan 400.000 orang insinyur dan ilmuwan. Jadi, demikian argumentasi
mereka, jikalau gejala UFO ialah kegiatan eksplorasi terhadap bumi kita yang berasal dari antariksa,
besarnya biaya dan usaha tidak masuk akal.
Berhubung dengan alasan-alasan tersebut di atas dan terdorong oleh laporan-laporan UFO yang
mengandung unsur-unsur keanehan, maka semakin banyak peneliti tertarik kepada hipotesa eksotik
lainnya yang sebagian besar berupa hipotesa paranormal. Mereka menunjuk kepada laporan-laporan UFO,
terutama dari jenis CE-III yaitu perjumpaan dengna makhluk-makhluk UFO yang memperlihatkan sifat-
sifat mirip dengan hantu seperti kebiasaan untuk muncul pada malam hari yang gelap dan di tempat yang
sepi, mengejawantah dan lenyap di depan mata saksi, ada yang transparan, yang dapat menembus
dinding, yang berjalan naik turun tembok dengan badannya tetap sejajar dengan tanah, yang melayang
dan membuat saksi atau benda lain ikut melayang bersama dengannya. Demikian pula dilaporkan bahwa
makhluk-makhluk itu dapat berhubungan dengan para saksi melalui telepati, dan lama setelah
perjumpaan itu sebagian saksi kadang-kadang masih dihubungi oleh makhluk UFO melalui bisikan atau
gambaran mental. Sebagian saksi yang dibawa masuk ke dalam UFO juga ada yang mengalami
“perjalanan astral”, atau ngraga sukma”, yaitu roh atau kesadarannya keluar dari badan dan berkelana.
Umumnya para saksi sesudah perjumpaannya dengan makhluk UFO menderita gejala-gejala seperti
mereka yang telah dibawa makhluk halus, yaitu seperti kebingungan, lupa waktu dan identitas, hilang
nafsu makan, ketakutan, tidak dapat tidur, bisu, lumpuh, dan sebagainya. Mengenai tertinggalnya jejak
fisik UFO, para pendukung hipotesa paranormal menunjuk kepada gejala hantu yang dinamakan
“Poltergeit” yang juga meninggalkan jejak-jejak fisik, menimbulkan kerusakan dan membuat benda-benda
beterbangan. Menurut hasil penyelidikan Dr.M.K.Jessup (almarhum), maka grafik naik turunnya kejadian
Poltergeist di Amerika Serikat di dalam abad yang silam identik dengan gelombang-gelombang kegiatan
UFO. Sementara peneliti UFO berpendapat, bahwa kejadian-kejadian paranormal dan kegiatan UFO
mempunyai satu sumber yang sama. Mereka menduga bahwa dongeng-dongeng dari zaman kuno tentang
makhluk-makhluk halus seperti tuyul, dan lain-lain yang ternyata terdapat pada semua bangsa di seluruh
dunia, adalah sama dengan makhluk-makhluk UFO zaman sekarang. Perbedaannya hanyalah terletak di
dalam penampilannya, di mana sesuai dengan kemajuan zaman sekarang mereka itu mengkaitkan diri
dengan tema angkasa luar. Mengenai tempat asal makhluk halus itu di dalam dongeng-dongeng pada
bangsa-bangsa Eropa dinamakan “Magonia”. Para penulis lain menciptakan istilah “eksistensi paralel”,
“realitas paralel”, dunia “interdimensional”, “meta terestrial”, “ultra terestrial”, dan sebagainya. Dalam

49
hubungan ini patut dicatat ucapan Marsekal Madya Angkatan Udara Kerajaan Inggris Sir Victor Goddard (3
Mei 1969) bahwa: “....... sedang sementara pengemudi UFO umumnya boleh jadi ialah penghuni yang
bersifat parapsikis dari suatu planet di luar bumi, tidak ada keharusan logis untuk itu. Jikalau kenyataan
UFO itu bersifat parafisik, lebih masuk akal apabila UFO itu merupakan hasil ciptaan suatu dunia yang
tidak kelihatan dan yang bertepatan dengan ruang di mana bumi kita yang bersifta fisik itu berada........”
Adanya dua dunia yang berimpitan, yang satu kelihatan dan yang lain tidak, merupakan bagian dari
kepercayaan berbagai agama, Umat Buddha memberi salam tidak hanya kepada sesama manusia, akan
tetapi juga kepada makhluk-makhluk yang tidak kelihatan. Umat Islam percaya akan adanya jin, yang
oleh Tuhan diciptakan dari api. Apakah hipotesa paranormal memberi jawaban atas masalah UFO, masih
harus dibuktikan oleh sejarah.
Diperkirankan bahwa makhluk halus atau jin memang mampu menciptakan gejalan UFO. Mereka
dapat saja menyaru sebagai manusia bumi atau makhluk UFO. Mereka dapat memanipulasi penglihatan
manusia sehingga korbannya melihat atau merasakan hal-hal yang sebenarnya maya atau tidak nyata (aji
kemayan). Dengan kemampuan mereka untuk melihat ke masa depan, mereka memiliki sumber yang
kaya untuk menjiplak model atau adegan yang futuristik. Herankah kita, bahwa dalam abad yang lalu
muncul UFO seperti kapal udara Zeppelin padahal wahana sedemikian belum terlahir?
Suatu pertanyaan adalah, mengapa cerita-cerita tentang tuyul dan makhluk halus lainnya yang
bersifat klasik terdengar terus dan mereka muncul dan lenyap tanpa wahana macam apa pun? Di samping
itu terdapat penyaksian-penyaksian tentang benda-benda bercahaya berbentuk bola yang meskipun
menurut definisi termasuk UFO, namun erat hubungannya dengan manusia. Misalnya laporan dari petugas
kehutanan di Amerika Serikat yang melihat bola-bola api yang naik dari hutan lalu turun lagi. Dr.J.Allen
Hynek menghubungkan penyaksian itu dengan dongeng Indian Amerika tentang makhluk halus penjaga
hutan.
Penulis ini juga pernah mendengar tentang beberapa orang yang pada malam hari melihat benda
bercahaya merah sebesar bulan yang terbang rendah dan cukup lambat. Mereka mengikutinya sambil
naik kendaraan mobil, dan menyaksikan bagaimana benda tadi turun lalu masuk ke sebuah kuburan Cina.
Ceritera lain adalah dari almarhum Irjen Pol Umar Chatab bahwa pada suatu sore beliau dikagetkan oleh
teriakan dan ratap tangis istri orang yang berdiam di rumah kecil yang sehalaman (bahasa
Jawa:magersari) karena suaminya meninggal setelah sakit. Sewaktu lari ke jendela sempat dilihatnya
bagaimana sebuah benda bulat sebesar balon karet tetapi bercahaya pendar berwarna merah
membumbung keluar dari atap orang yang meninggal, dan hilang di antara daun-daun pohon di atasnya.
Jadi, ada tanda-tanda bahwa beberapa penyaksian UFO memang bersifat paranormal. Dan bahwa
beberapa aspek dari penyaksian UFO yang diduga berasal dari luar bumi juga tampak mirip dengan gejala
paranormal (karena sifat alamiah mereka ataukah karena teknologi maju?). Ataukah perlu adanya revisi
terhadap definisi UFO?
Apakah anggapan adanya eksistensi paralel, realitas paralel dan sebagainya itu suatu kepercayaan
yang bersifat irasional ataukah rasional? Mungkin banyak orang yang tidak menyangka, bahwa kemajuan
ilmu pengetahuan yang mutakhir secara aneh bin ajaib memang membenarkan anggapan tersebut.
Menurut teori multi universe, jagad raya kita merupakan salah satu dari sejumlah besar jagad raya yang
sejajar dan berhimpitan, yang dihuni juga oleh makhluk-makhluk seperti kita! Meskipun terdengar ganjil
dan surrealistik, teori itu mendapat perhatian serius oleh karena ia berhasil menerangkan banyak gejala
fisika kuantum yang sebelumnya tidak dapat diterangkan. Teori multiuniverse dicetuskan oleh Hugh
Everett dari Universitas Princeton dan diperkembangkan lebih lanjut oleh Bryce de Witt dan John Wheeler
dari Universitas Texas di Austin. Suatu tulisan tentang masalah ini dimuat dalam majalah “Science Digest”
terbitan bulan Februari 1982 karangan Paul Davies dengan judul “Looking Glass Universes”.
Salah satu gejala fisika kuantum yang sebelumnya tidak dapat diterangkan adalah pertentangan
antara gelombang dengan partikel. Yang pertama bersifat deterministik (serba dapat dipastikan lebih
dahulu), sedang yang kedua bersifat sebaliknya yaitu hanya dapat diperkirakan kemungkinannya atau
probabilitasnya. Fakta bahwa partikel atau peristiwa itu tidak selalu berada di tempat yang dipastikan
menurut Hugh Everett disebabkan oleh karena ia tidak selalu berada di sistem ruang waktu kita,
melainkan dapat berada di sistem-sistem ruang waktu lain yang sangat banyak jumlahnya namun sejajar
dan berhimpitan.
Di dalam pandangan Everettde Witt Wheeler, meskipun di dalam teori multi universe jagad-jagad
raya yang berlainan itu sejajar dan berhimpitan, kita tidak dapat mengunjungi jagad raya lain melalui
sistem ruang waktu kita.
Teori multi universe merupakan tonggak perkembangan pemikiran ilmiah yang sangat penting,
yang menjembatani kepercayaan dengan ilmu pengetahuan. Sesuatu pertanyaan yang mengasyikkan
ialah, apakah jagad-jagad raya lain tadi sama dengan apa yang dinamakan alam halus yang berlapis-
lapis? Ataukah tiap jagad raya lain itu merupakan dunia wadag (kasar) yang masing-masing mempunyai
alam halusnya sendiri?
Apakah UFO berasal dari jagad raya lain yang paralel, yang sudah begitu maju ilmu pengetahuan
dan teknologinya sehingga sudah mampu untuk melakukan penjelajahan inter multi universe?
Ada pendapat bahwa terdapatnya banyak sekali hidrogen di jagad raya kita merupakan salah satu
kejadian secara kebetulan di alam kita yang memungkinkan adanya kehidupan seperti yang kita kenal.
Boleh jadi di jagad raya tempat asal makhluk UFO tidak demikian halnya. Menjadi jelaslah, mengapa
makhluk UFO begitu besar minatnya terhadap air di bumi kita. Di samping itu gangguan-gangguan fisik

50
dan mental yang timbul pada manusia setelah dibawa oleh makhluk halus atau makhluk UFO boleh jadi
adalah akibat dari perjalanan ke sistem ruang waktu lain.
Keterangan lain tentang UFO diberikan oleh salah seorang perintis dari psikologi modern, yaitu
Dr.Carl Gustav Jung (almarhum), yang mengemukakan hipotesa proyeksi psikologis. Di dalam bukunya
“Flying Saucers, a modern myth of things seen in the skies” (Piring terbang, mitos modern tentang benda-
benda yang tampak di udara), (Harcourt, New York 1959), memandang UFO sebagai proyeksi psikologis
dari kekhawatiran manusia modern. Ia menganggap bentuk cakram atau bola sebagai penglihatan
kebulatan sebagai jawaban terhadap kurangnya kebulatan dan rasa aman di dalam kehidupannya dan
kurangnya perdamaian di dunia. Dr.Jung mencari bentuk piring terbang di segi-segi lain dari kehidupan,
seperti di dalam cerita-cerita, lukisan-lukisan, sejarah, dan menyajikan bukti-bukti simbolisme yang terus
menerus. Namun jikalau UFO merupakan proyeksi dari lapisan bawah sadar manusia, mengapa ia dapat
direkap pada film dan layar radar, dapat mematahkan dahan pohon dan meninggalkan jejak-jejak fisik?
Salah satu teori baru telah dikemukakan oleh Thomas E.Bearden, seorang sarjana nuklir dan
Letnan Kolonel purnawirawan dari Angkatan Darat Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa UFO ialah
proyeksi psikologis yang telah mengalami materialisasi, sehingga dapat dinamakan hipotesa materialisasi
proyeksi psikologi (1979). Menurut Bearden pada tingkat bawah sadar kolektif umat manusia maka
potensi psikokinesanya cukup kuat untuk menimbulkan materialisasi bentuk-bentuk pikiran simbolik, asal
terdapat rangsangan kuat dari ketegangan sejumlah banyak orang. Dengan memakai Perang Dingin
sebagai rangsangan ketegangan yang kuat bagi umat manusia sesudah Perang Dunia ke 2, Bearden
menunjukkan bahwa sebagian besar gelombang-gelombang penyaksian UFO sesuai dengan modelnya itu.
Hubungan gelombang-gelombang penyaksian UFO dengan ketegangan-ketegangan dunia misalnya adalah
1946/47-permulaan Perang Dingin, 1951/53-Perang Korea, 1967-Perang Arab-Israel, 1973-Perang “Yom
Kippur”.
Kemungkinan bahwa UFO adalah hewan antariksa, telah melahirkan hipotesa hewan antariksa,
yang dikemukakan oleh Trevor James Constable untuk pertama kali dalam bukunya “They Live In The
Sky” (1958). Hewan Antariksa itu adalah jasad hidup berbentuk amuba yang terdiri dari plasma. Dalam
keadaan biasa mereka tidak tampak oleh kita oleh karena berada dalam bagian infra merah dari spektrum
elektro magnetik. Kadang-kadang ia muncul ke dalam bagian spektrum yang kelihatan, berdenyut dengan
cahaya kemerah-merahan sampai jingga yang kadang-kadang sangat terang sehingga menyilaukan.
Mereka karena terdiri dari plasma dapat berubah tingkat kepadatannya sehingga kadang-kadang dapat
tampak seperti benda padat. Lingkungan hidupnya adalah stratosfir ke atas dan mereka bergerak dengan
tenaga bio energi pada kecepatan sangat tinggi, yang kadang-kadang tampak menyamai meteor. Dr.Carl
Gustav Jung (almarhum) di dalam bukunya juga menyinggung kemungkinan adanya hewan
antariksa:”Satu-satunya hal yang kita ketahui dengan cukup pasti tentang UFO ialah bahwa mereka
mempunyai permukaan yang dapat dilihat dengan mata dan pada waktu yang sama menimbulkan gema
radar......., kita tidak tahu apakah mereka itu mesin-mesin berawak atau sejenis makhluk hidup....”
Meskipun Trevor James Constable menunjukkan cara-cara untuk memotret hewan-hewan antariksa itu
(dan memperlihatkan sejumlah foto yang dibuat olehnya), sampai sekarang hipotesanya itu tidak menarik
perhatian orang.
Berulangkali disinggung kemungkinan, bahwa UFO merupakan suatu pendapatan rahasia dari suatu
negara atau bahkan kelompok orang. Salah satu versi dari hipotesa pendapatan rahasia (Secret Invention
Hypothesis) itu menduga bahwa UFO ialah salah satu senjata rahasia Nazi Jerman yang diselundupkan ke
Amerika Selatan dan diteruskan pengembangannya di sana dengan berpangkalan di tengah rimba raya
secara rahasia sekali. Teori itu menghubung-hubungkan fakta-fakta yang sudah diketahui, yaitu bahwa
Nazi Jerman memang memiliki berbagai macam senjata rahasia, bahwa banyak orang Jerman yang sudah
sejak sebelum perang beremigrasi ke negara-negara Amerika Latin, bahwa di Amerika Selatan masih
terdapat hutan belantara yang belum disentuh manusia, dan bahwa UFO sering terlihat baik di atas
daratan maupun di lepas pantai Amerika Selatan. Salah satu disain ialah apa yang dinamakan
“Flugkreisel” (Gasing Terbang) ciptaan Rudolf Schiever, seorang kapten dari Angkatan Udara Jerman,
yang dapat dilukiskan sebagai sebuah helikopter dengan kokpit bulat yang dikelilingi oleh daun-daun
rotor. Menurut majalah Belanda “Vliegwereld” (Dunia Penerbangan) di dalam tahun 1952, disain itu
memakai motor-motor pancargas dan katanya dapat mencapai kecepatan hipersonik yaitu 8400 km
sejam. “Suatu klaim yang fantastik”, kata majalah itu dalam komentarnya,”kecuali jikalau berkaitan
dengan gejala aerodinamik baru yang belum diumumkan.”Pesawat terbang berbentuk cakram lainnya
adalah “Avrocar” (1959) buatan pabrik Avro Canada atas pesanan penerbangan Angkatan Darat Amerika
Serikat. Pesawat itu bertenaga sebuah motor pancargas ringan jenis Continental J69. Piring terbang
buatan bumi itu, yang juga disebut VZ-9 atau sistem senjata 606A, mengalami kegagalan oleh karena
kesulitan stabilitas dan pengendalian begitu rupa, sehingga hanya dapat terbang menyusur tanah!
Andaikata pesawat-pesawat udara yang mirip piring terbang berhasil baik, dapat dipastikan bahwa jarak
terbangnya terbatas oleh karena masih memakai motor pancargas biasa, sehingga tidak mungkin
beterbangan di seluruh dunia seperti halnya dengan UFO. Di samping itu patut diragukan apakah suatu
pendapatan rahasia itu dapat dijaga kerahasiaannya sampai beberapa puluh tahun lamanya, sedangkan
rahasia bom nuklir saja telah dibocorkan dalam waktu singkat. Demikian pula rahasia rimba raya Amerika
Selatan, atau di mana pun di bumi ini, sejak tahun 1972 sudah tidak ada lagi dengan diorbitkannya
satelit-satelit ovservasi sumber alam yang dipelopori oleh NASA. Andaikata ada pangkalan rahasia di
tengah hutan, kini pasti sudah ditemukan. Akan tetapi yang paling meragukan dari hipotesa pendapatan

51
rahasia ialah, andaikata UFO itu merupakan pendapatan rahasia suatu negara mengapakah semua negara
di bumi ini masih mengeluarkan begitu banyak biaya untuk penelitian dan pengembangan serta produksi
pesawat terbang, helikopter, dan wahana-wahana antarikas yang konvesional?
Terdapat indikasi-indikasi bahwa beberapa negar maju dewasa ini secara rahasia masih juga
meneruskan penelitian dan pengembangan wahana yang mirip UFO. Misalnya pada petang hari tanggal 29
Desember 1980 di hutan pinus dekat Dayton, Texas, USA, sebuah benda terbang tak dikenal yang
berbentuk berlian sebesar balon udara panas merendah di atas jalan raya di antara pohon-pohon pinus
sambil menyemburkan lidah api berwarna kuning ke arah bawah. Sebuah mobil yang dikemudikan oleh
pemilik toko Betty Cash dan membawa penumpang Vickie Landrum dan cucunya, Colby, yang baru
berusia 7 tahun, tidak dapat menghindar sehingga terpaksa lewat di bawah benda aneh tadi. Beberapa
menit kemudian benda terbang itu membumbung ke atas lagi sambil memancarkan berkas-berkas sinar
terang berbentuk kerucut. Ketika sudah dekat dengan kota Dayton, ketiga orang itu melihat lagi benda
terbang tak dikenal tadi, akan tetapi kini ia dikawal oleh tidak kurang dari 23 buah belikopter. Ketika
orang pengendara mobil itu kemudian jatuh sakit yang semakin lama semakin parah, yang oleh sejumlah
dokter didiagnosa sebagai sakit radiasi. John Schessler seorang insinyur Space Shuttle yang menjadi
anggota perkumpulan UFO MUFON mencari keterangan tentang radiasi macam apakah yang mengenai
mereka, akan tetapi instansi-instansi pemerintah tetap bungkam. Kemudian ia berhasil menemukan salah
seorang penerbang helikopter yang telah mengawal benda terbang tak dikenal dan hanya mendapat
keterangan bahwa identitas benda yang bersangkutan adalah rahasia. Schuessler menyimpulkan bahwa
suatu pesawat eksperimental milik Angkatan Bersenjata A.S. mengalami kerusakan waktu dicoba terbang
dan memancarkan banyak sekali radiasi (OMNI Feb.’82). Suatu tanda tanya yang mengasyikkan ialah,
apakah benda terbang tak dikenal itu pesawat bertenaga nuklir eksperimental disain sendiri ataukah
sebuah UFO yang telah jatuh ke tangn Amerika Serikat? Lain daripada itu terpetik berita pula bahwa
dewasa ini sedang dilakukan percobaan-percobaan rahasia untuk memperkembangkan sebuah pesawat
terbang model baru yang memperoleh gaya angkat secara listrik dan diduga akan mencapai taraf
operasional dalam dasawarsa mendatang. Jadi, jikalau di masa lampau hipotesa pendapatan rahasia itu
tidak masuk akal, dewasa ini dan di masa depan hal tersebut menjadi kemungkinan yang patut
diperhitungkan berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus.
Perlu dicatat tentang adanya hipotesa asal UFO, yang mencoba menerangkan bahwa UFO berasal
dari bumi yang tidak mudah ditemukan, yaitu hipotesa bumi berongga. Di dalam buku Dr. Raymond
Bernard “Is There A World Inside Our Planet?” (Apakah di dalam planet kita ada dunia?) (Fieldcrest, New
YOrk, 1964) dikisahkan adanya kepercayaan, bahwa bumi itu berongga dan dihuni oleh manusia seperti
kita. Jalan masuk keluar dunia itu melalui lubang-lubang di kedua kutub. Teori bahwa UFO berasal dari
dunia itu untuk pertama kali dikemukakan oleh Profesor Henrique Jose de souza, Ketua Perkumpulan
Teosofi Brasil. Dunia di dalam bumi itu di dalam agama Buddha disebut “Agharta” dan mempunyai ibu
kota yang benama Shamballah. Penduduk Aghart ialah keturunan penduduk Atlantis dan Lemuria yang
dapat menyelamatkan diri ketika benua-benua itu tenggelam ke dasar samudra berturut-turut 11.500 dan
2.500 tahun yang lalu. Di dalam naskah “Timacus” Plato menulis tentang Atlantis yang ia dengar dari para
pendeta Mesir kuno, yang mengatakan bahwa 9.000 tahun sebelumnya Kerajaan Atlantis telah
menaklukkan negara-negara di sekitar Laut Tengah dan hanya Athena yang dapat mempertahankan
kemerdekaannya. Atlantis juga disebut lagi oleh Plato dalam naskah “Critias”. Atlantis mempunyai jajahan
di sebelah timur, yaitu Mesir kuno, dan kerajaan -kerajaan Aztec, Maya, dan Inca merupakan jajahan-
jajahannya di sebelah barat. Lemuria terletak di Pasifik dan ada pendapat bahwa kebudayaan kuno
Indonesia berasal dari Lemuria, yang juga disebut Mu itu. Peradaban Agharta itu meneruskan peradaban
Atlantis dan Mu yang sangat tinggi, dan UFO itu ialah wahana-wahana mereka yang mereka sebut
“Vimana”. Mereka meningkatkan observasi terhadap bumi kita terutama setelah kita meledakkan bom
atom yang pertama. Mereka dengan sengaja menimbulkan gejala UFO yang menyesatkan dan
membingunkan kita demi untuk menjaga kerahasiaan tempat asal mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa
hipotesa bumi beronggal memberi jawaban kepada aspek gejala UFO yang membingungkan para peneliti
itu, sehingga di antara mereka (seperti Dr. Jacques Vallee dan John A.Keel) ada yang menduga bahwa
seluruh gejala UFO ialah untuk menipu manusia (Deception Hypothesis) guna menutupi maksud mereka.
Betapa membingungkannya gejala-gejala UFO itu dilukiskan oleh Aime Michel dari Prancis sebagai “A
festival of absurdities” (pesta pora kemustahilan). Mengenai dunia dalam rongga bumi itu sendiri dapat
dicatat, bahwa meskipun dari generasi ke generasi kita talh diasyikkan oleh karya Jules Verne tentang
“Perjalanan ke pusat bumi”, namun pendapt umum tetap skeptis.
Apakah UFO merupakan kunjungan dari zaman lain? Kemungkinan sedemikian dipermasalahkan
dalam hipotesa musafir waktu dan ternyata bukan suatu kemustahilan, meskipun peluang yang diberikan
oleh ilmu pengeahuan sekarang berbeda dari khayalan ilmiah karya H.G.Wells “The Time Machine” yang
termasyur itu. Seperti telah disinggung di dalam bagian terdahulu, yaitu yang mengenai kemungkinan
penerbangan interstellar versi bumi, terbuka kemungkinan bagi kita untuk berkelana ke masa depan.
Caranya ialah dengan jalan melancong ke angkasa luar sambil bergerak kengan kecepatan relativistik
sehingga kita mengalami faktor pemuluran waktu Einstein yang memperlambat proses biologis kita
seingga awet muda. Dan sekembalinya di bumi, kita sudah berada di masa depan. Sayangnya, menurut
teori Einstein, waktu bersifat “irreversible” atau tidak dapat dibalikkan jalannya, sehingga melancong ke
masa depan merupakan perjalanan searah saja. Jadi, jikalau diterapkan kepada gejala UFO, maka
makhluk-makhluk UFO dapat merupakan nenek moyang kita dari zaman purbakala yang telah berkelana

52
di angkasa luar dengan kecepatan relativistik, dan kini kembali lagi ke bumi yang sudah berada di masa
depan. Apakah mereka itu astronot-astronot dari Kerajaan Atlantis atau Mu yang ribuan tahun yang lalu
telah tenggelam ke dasar samudra? Dalam rangka hipotesa musafir waktu perlu dicatat bahwa beberapa
tahun yang lalu ditemukan adanya partikel elementer yang mempunyai jangka waktu hidup jauh lebih
lama dari pada yang ditolerir oleh faktor pemuluran waktu Einstein. Maka dari itu timbul dugaan bahwa
partikel elementer yang dimaksud mengalami perjalanan waktu yang terbalik. Bahkan diduga adanya
partikel-partikel elementer lain yang mengalami gejala yang sama, yang oleh para ahli fisika diberi nama
“Faustian Universe” (Alam Semesta Faust), dan yang pernah diseminarkan di New York oleh para ahli
fisika beberapa tahun yang silam. Seperti kata Dr. Hynek, setelah ada ilmu pengetahuan abad ke 20, akan
ada ilmu pengetahuan abad ke 21, ke 30 dan seterusnya. Diterapkan kepada hipotesa musafir waktu,
ternyata timbul kemungkinan bahwa di masa depan keturunan kita boleh jadi sedemikian maju ilmu
pengetahuannya, sehingga dapat memanfaatkan gejala “Alam Semesta Faust” tadi untuk mengunjungi
dunia sekarang yang bagi mereka sudahmenjadi zaman purbakala. Jikalau kita memperhatikan sebagian
makhluk-makhluk UFO yang serba botak dan tidak lengkap jari-jarinya, maka mereka memang mirip
dengan gambaran manusia di masa depan setelah mengalami evolusi lebih lanjut. Dan apakah matanya
yang menjadi besar dan peka cahaya itu disebabkan oleh penyesuaian tubuh fisiknya dengan keadaan
lingkungan yang berubah? Sebagaimana diketahui, pada suatu waktu matahari kita akan berubah menjadi
raksasa merah yang lebih suram dari keadaan sekarang, hal itu akan mengakibatkan perubahan biologis
jikalau masih ada kehidupan. Demikian juga skala waktunya tidak dapat kita bayangkan, oleh karena
menurut astrofisika tahap tersebut di atas masih beberapa milyar tahun di depan kita.
Jadi, satu-satunya jawaban pasti atas pertanyaan dari manakah datangnya UFO adalah bahwa ia
berasal dari luar umat manusia yang kita kenal sekarang.

Apakah Tujuan Kedatangan UFO


Pertanyaan ini dengan sendirinya tidak berlaku jikalau UFO itu ternyata sesama penghuni bumi
kita sehingga ia bukan pendatang, yang terdapat di dalam kemungkinan bahwa UFO itu ialah sejenis
hewan antariksa atau pengejawantahan alam meta terrestial. Bagi UFO yang merupakan pendatang,
tujuannya dapat bersifat fisik dan meta fisik.
Dari kegiatan makhluk-makhluk UFO yang dilaporkan, seperti memungut contoh-contoh tanah,
batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang seperti kelinci, anjing, dan sebagainya, dapat disimpulkan bahwa
mereka menaruh perhatian kepada geologi, flora, dan fauna bumi kta. Demikian pula kepada instalasi-
instalasi dan wahana-wahana kita, dan yang memprihatinkan: juga terhadap manusia bumi. Dari jenis
kegiatannya itu dapat diketahui bahwa maksud tujuan makhluk UFO sampai sekarang ialah eksplorasi
ilmiah. Sampai sekarang! Apakah gerangan maksud tujuannya di masa depan, hanya dapat diduga saja.
Namun sesuai dengan kelaziman kita maka tahap eksplorasi merupakan pendahuluan dari tahap
eksploatasi, yang dapat berupa eksploatasi dari posisi kita di dalam rangka astrostrategi yang
jangkauannya dapat bersifat interstellar, galaktik atau inter galaktik. Mayor Donald E. Keyhoe di dalam
buku “Aliens from Space” (Doubleday, New York, 1973) menyinggung kemungkinan bahwa makhluk-
makhluk UFO ingin mendirikan pangkalan antariksa di planet kita, oleh karena bumi kita terletak di tepi
luar galaksi kita, sehingga merupakan batu loncatan ke galaksi lain yang terdekat dengan kita. Teori itu
kurang logis jikalau diingat bahwa 2 galaksi yang terdekat, yaitu Awan Magelhan Besar dan Awan
Magelhan Kecil, terletak pada jarak 75.000 tahun cahaya dari tepi galaksi kita yang justru terletak di
seberang sana bagi kita, sehingga diukur dari posisi tata surya kita jaraknya menjadi sekitar 150.000
tahun cahaya.
Teori pangkalan astro strategis itu masih dapat dipertanyakan, antara lain mengapa justru tata
surya kita yang dipilih? Mengapa bukan bintang-bintang lain yang berdekatan? Andaikata tata surya kita
yang harus dipilih, mengapakah bumi kita yang diintai, dan bukannya planet-planet lain yang ternyata
masih kosong?
Eksploatasi lain dari bumi kita ialah dari sumber daya alamnya. Dari kegiantan UFO dapat
disimpulkan prioritas tinggi yang mereka berikan kepada air yang tenang dan banyak jumlahnya. Jikalau
kita boleh percaya kepada keterangan saksi yang diculik oleh makhluk UFO maka di dalam air terkandung
energi yang sangat besar yang mereka manfaatkan. Sudah jelas bahwa energi dalam air itu bukan
kombinasi hidrogen cair dan oksigen cair seperti yang menggerakkan roket Saturn dan wahana Apollo ke
bulan, oleh karena volumenya besar sekali sedang UFO mempunyai ukuran yang kompak. Kemungkinan
adanya kegunaan-kegunaan baru yang belum kita ketahui dari sumber daya alam, selalu ada. Kita ingat
saja kepada unsur Uranium yang ditemukan di dalam tahun 1789 oleh Klaproth, dan selama 1 1/2 abad
hanya dimanfaatkan sebagai bahan cat. Baru sejak gejala pemecahan atom ditemukan oleh Hahn dan
Strassman pada tahun 1938 manfaat yang begitu besar dari Uranium dimengerti. Kemungkinan lain
tentang eksploatasi sumber daya alam kita oleh makhluk-makhluk menyangkut bentuk-bentuk sumber
daya alam yang dewasa ini belum kita ketahui. Bentuk-bentuk sumber daya alam yang dewasa ini belum
kita ketahui. Bentuk-bentuk energi tertentu yang dipancarkan oleh bumi disadap oleh UFO ibarat
kitamenambah arus listrik dalam baterai (teori Agusnain), atau makhluk-makhluk UFO hidup dari gas dan
pancaran lain dari bumi yang belum kita ketahui (teori Nasibu).
Eksploatasi lain dari bumi kita yang perlu diperhitungkan ialah eksploatasi sumber daya
manusianya, mengingat semakin meningkatnya kasus-kasus penculiakan manusia oleh makhluk-makhluk
UFO yang mengalami pemeriksaan-pemeriksaan medis dan sejumlah kecil bahkan ada yang tidak dilepas

53
kembali. Di samping itu menonjol pula kenyataan bahwa makhluk-makhluk UFO sampai sekarang belum
mau mengadakan kontak dengan kita, hal tersebut mengingatkan kita kepada laporan Brookings
Institution mengenai kehidupan ekstra terrestrial (New York Times, 15-12-1960) yang antara lain
menyimpulkan bahwa:”Jikalau kecerdasan makhluk-makhluk UFO itu cukup unggul terhadap kita, mereka
boleh jadi memilih untuk sedikit, atau sama sekali tidak berhubungan dengan kita.” Bagaimanakah
pandangan makhluk UFO terhadap kita? Apakah kita sekadar dianggap setaraf dengan kawanan
Chimpanzee? Ataukah sebagai manusia primitif? Dr. Vallee mengingatkan kita kepada nasib anjing laut: di
dalam lingkungan hidupnya yang asli hewan itu hanya pandai menangkap ikan, namun setelah dididik
oleh manusia ternyata ia mempunyai kepandaian istimewa yaitu menjaga keseimbangan sebuah bola
dengan hidungnya, sehingga menjadi tontonan di sirkus. Sungguh prospek yang tidak cerah, apalagi
jikalau pilihan bagi manusia bumi yang diculik makhluk UFO hanya terdiri dari kelinci percobaan,
penghuni kebun binatang, atau pemain sirkus. Di samping itu kemungkinandijadikan budak belian kiranya
kurang, mengingat peradaban yang sudah begitu maju tentunya tidak memakai tenaga kasar lagi. Dari
uraian terdahulu rupa-rupanya juga masih terbuka suatu bidang pekerjaan bagi manusia bumi, yaitu
sebagai astronot pembantu Ufonaut khusus untuk planet-planet di mana manusianya mirip dengan kita.
Akhirnya bumi kita dapat juga dieksploatir oleh peradaban lain yang sangat maju sebagai obyek
pariwisata, sehingga dalam hal itu maksut tujuan kedatangan UFO ialah tamasya belaka. Dapat
dibayangkan betapa luasnya kemungkina untuk tamasya bagi suatu peradaban yang dapat melancong ke
berbagai planet yang masih dalam taraf perkembangan yang berbeda-beda, mulai dari zaman ketika
masih ada binatang-binatang raksasa purbakala, zaman ketika mulai timbul manusia-manusia purbakala
yang pertama, sampai kepada peradaban yang baru saja menginjak zaman atom dan angkasa luar seperti
halnya dengan kita ini.
Kemungkinan maksud tujuan kedatangan UFO menurut Keyhoe ialah untuk mengawasi kemajuan
peradaban kita baik dalam penerbangan antariksa maupun dalam kemungkinan meletusnya perang nuklir.
Makhluk UFO khawatir bahwa timbulnya kemampuan manusia bumi untuk menjelajah antariksa akhirnya
akan membawanya ke tingkat penerbangan interstellar, di mana dia kan berhubungan dengan umat-umat
manusia di tata surya lain. Mengingat pergaulan antarbangsa di bumi kita ditandai oleh ketengangan,
pertentangan dan peperangan, maka kekhawatiran bahwa manusia bumi akhirnya dapat menularkan
penyakit-penyakit masyarakatnya kepada lingkungan masyarakat galaktik bukannya tidak beralasan.
Perhatian makhluk UFO terhadap kemungkinan meletusnya perang nuklir di bumi adalah terpengaruhnya
orbit planet-planet lain, seperti planet Mars, di mana mereka boleh jadi mempunyai pangkalan.
Kemungkinan timbulnya pengaruh interplanetar semacam itu menurut Keyhoe biasanya didasarkan teori
Dr. George Gamov bahwa perubahan tertentu yang tidak dapat diterangkan di planet Saturnus misalnya
telah menimbulkan zaman es di bumi kita. Kemungkinan maksud tujuan kedatangan makhluk UFO yang
paling menggemparkan ialah teori migrasi yang menurut ungkapan Keyhoe dimuat dalam naskah yang
tidak diterbitkan dan ditulis oleh W.C. Odell, seorang kolonel Intelijen Angkatan Udara Amerika Serikat.
Menurut Odell, makhluk-makhluk angkasa luar penghuni sebuah planet mungkin sedang di ambang
kiamat, sehingga mereka mencari tempat pemukiman lain dan kebetulan bumi kita mirip dengan tempat
asal mereka. Pengintaian yang telah berlangsung begitu lama mungkin tidak lama bagi makhluk UFO yang
berumur sangat panjang, seperti dugaan Dr.Hynek. Teori migrasi itu patut diperhitungkan, meskipun tidak
dapat dimengerti mengapakah peradaban yang sudah begitu maju akan mengincar bumi kita yang sudah
kelebihan penduduk itu? Sedangkan sekarang saja NASA telah membuat studi disain bagi pemukiman
antariksa yang dilaksanakan oleh Prof. Gerard O’Neill dari Princeton University, N>J. (1976). Pemukiman
antariksa itu terdiri dari satelit raksasa di titik Lagrange dan dalam tahap permulaan akan dihuni oleh
10.000 jiwa, lengkap dengan insustri, hiburan, pertanian, pertamanan, sekolah, dan sebagainya.
Pemukiman antariksa itu bebas polusi dan lebih nyaman daripada lingkungan bumi. Dari suatu peradaban
yang lebih maju dapat diharapkan kemampuan untuk menciptakan pemukiman antariksa sedemikian akan
tetapi yang lebih maju dan lebih lengkap, tanpa merebut suatu planet lain yang sudah berpenghuni.
Kemungkinan lain dari maksud dan tujuan UFO ialah yang disuarakan oleh beberapa penulis,
bahwa UFO datang dengan mengemban tugas suci untuk membimbing umat manusia ke tingkat yang
lebih tinggi secara material atau spiritual. Misalnya Dr. Jacques Vallee memandang sebagai salah satu
kemungkinan bahwa gejala UFO itu merupakan percobaan komunikasi dari kecerdasan extraterrestrial,
akan tetapi yang disampaikan dengan cara yang teliti namun sukar difahami (Hipotesa Intervensi
Esoterik). Ada lagi yang menganggap bahwa pembangunan piramida dan bangunan-bangunan purbakala
lainnya yang mengagumkan hanya dimungkinkan karena bantuan makhluk-makhluk angkasa luar.
Timbulnya pikiran-pikiran sedemikian pada bangsa-bangsa yang tergolong maju tentulah menarik
terutama bagi para ahli sosial budaya, dan mengingatkan kita kepada reaksi suku-suku bangsa primitif
yang ketika dikunjungi oleh pesawat terbang untuk pertama kali menamakannya “burung kendaraan
dewata”. Ataukah sesuai dengan analogi sejarah manusia bumi, maka tamu-tamu yang datang dengan
UFO itu juga terdiri dari awak pesawat, cendekiawan, pengusaha, tentara dan pendeta?
Demi obyektivitas perlu dicatat, bahwa tidak semua penulis memandang UFO itu sebagai pembawa
malaikat, melainkan justru sebaliknya membawa makhluk-makhluk yang beriktikad kurang baik terhadap
umat manusia. John A. Keel misalnya mencurigai gejala UFO sebagai “Kuda Troya” atau penyusupan
tersamar ke dalam masyarakat manusia bumi dari kecerdasan ekstraterestrial. Demikian pula Drs.
Arimurthy, Direktur Pembinaan Penghayatan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa Departemen P
dan K, menyampaikan pandangan kepada penulis ini bahwa gejala UFO ialah pameran keunggulan

54
teknologi mereka untuk memikat manusia bumi, sedang maksud tujuannya ialah justru untuk
memanfaatkan manusia bumi di dalam mencari jalan ke arah kesempurnaan spiritual dalam hal mana kita
lebih unggul dari mereka. Dalam menghadapi persoalan ini, kiranya perlu dicatat penjelasan
Prof.Dr.Sumantri Hardjoprakoso (almarhum) yang di dalam disertasinya (Indonesisch Mensbeeld als Basis
ener Psychotherapie, Rijksuniversiteit te Leiden, 1956) antara lain memperingatkan kita terhadap bahaya
eksploatasi spiritual. Yaitu adanya makhluk-makhluk halus yang di dalam konsepsi Pangestu (Paguyuban
Ngesti Tunggal) dinamakan dewa*) dan menurut kodratnya dapat hidup 1000 kali lebih panjang dari
manusia. Namun jangka hidupnya itu dapat diperpanjang lagi jikalau ada manusia yang percaya
kepadanya, ibarat baterai yang ditambah arus listriknya. Jadi, kepercayaan rupa-rupanya merupakan
suatu bentuk energi pula yang dapat membawa manusia kembali kepada sumbernya, yaitu Tuhan, yang
oleh karena itu ingin direbut oleh makhluk-makhluk halus tertentu yang negatif dengan mengerahkan tipu
muslihatnya.
Bagaimanakah maksud dan tujuan UFO yang sebenarnya, mungkin hanya sejarah akan
membuktikannya. Atau jikalau masalah UFO ternyata tidak berkesudahan, maka hal itu akan menjadi
pertanyaan abadi. Barangkali jawaban-jawaban yang diberikan di atas bersifat terlalu antroposentris.
Perhatian makhluk-makhluk UFO terhadap kita mungkin tidak menyangkut maksud-maksuk lebih lanjut
kecuali untuk menambah ilmu pengetahuan mereka. Mungkin maksud dan tujuan makhluk UFO
sebenarnya adalah di luar jangkauan pengertian manusia, sama halnya dengan kelinci percobaan yang
tidak akan dapat mengerti program penelitian yang sedang diterapkan terhadap dirinya oleh para ilmuwan
di dalam sebuah laboratorium.

55
BAB 6
PETUNJUK, JIKALAU MENYAKSIKAN UFO

Tetap tenang dan obyektif.

Kemudian:

1. Tulislah semua pengalaman Anda selengkapnya.


2. Catatlah pukul berapa awal maupun akhir penyaksian Anda.
3. Jikalau Anda membawa alat foto, buatlah beberapa foto dari UFO dan juga keadaan
sekelilingnya.
4. Jikalau UFO mendarat atau mengambang rendah:
a. Janga mendekatinya.
b. Jangan menyentuhnya.
c. Jangan sekali-kali memegang antena atau bagian lain yang menonjol.
5. Jikalau UFO meninggalkan bekas-bekas fisik:
a. Harap segera mengisolasi tempat yang bersangkutan.
b. Buatlah peta situasi yang menggambarkan posisi dan macam bekas-bekas fisik tadi terhadap
keadaan sekelilingnya.
c. Amankanlah bekas-bekas fisik yang dapat dipungut dan berilah tanda yang sesuai dengan 5 b.
6. Jikalau Anda berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO:
a. Jangan menarik perhatian.
b. Jangan mendekati.
c. Bersembunyilah sambil mengawasi segala gerak-geriknya.
d. Buatlah foto daripadanya jikalau mungkin.
e. Jikalau Anda ketahuan dan didekati olehnya, lari dan bersembunyilah jikalau masih mungkin.
7. Isilah formulir laporan penyaksian UFO seperti contoh terlampir dan setelah diisi, kirimkanlah
kepada alamat sebagai berikut:

SUFOI (Studi UFO Indonesia)


KOTAK POS 76
TEBET
JAKARTA SELATAN

(Formulir laporan penyaksian UFO dapat diminta dari alamat tersebut. Bubuhilah perangko
secukupnya untuk balasannya).

Formulir laporan penyaksian UFO terlampir disusun atas dasar “U.S. Air Force Technical
Information Sheet” (Lembaran Keterangan Teknis Angkatan Udara, Pangkalan Angkatan Udara Wright
Patterson, Ohio; “UFO Sighting Account Form” (Formulir Laporan Penyaksian UFO) yang diterbitkan oleh
BUFORA (British UFO Research Association - Perkumpulan Riset UFO Inggris), dan formulir dari
International UFO Reporter yang diterbitkan oleh Center for UFO Studies, Evanston, Illinois.

Harus diakui bahwa lebih mudah untuk menyusun pedoman apa yang sebaiknya diperbuat jikalau
menyaksikan UFO, daripada berbuat sebagaimana mestinya apabila hal itu benar-benar terjadi.
Penyaksian UFO merupakan suatu pengalaman yang menurut kebanyakan saksi tidak ada duanya, tidak
pernah dilihat sebelumnya dan tidak pernah terulang lagi sesudahnya. Jikalau angka-angka hasil angket
Gallup di Amerika Serikat boleh diterapkan secara mondial, maka jkalau Anda menyaksikan UFO, Anda
termasuk satu di antara 7 orang yang beruntung mendapat kesempatan itu.
Satu hal yang selalu harus diingat ialah, apabila Anda kebetulan membawa alat foto, pertama-tama
janganlah lupa mempergunakannya. Kedua, buatlah foto sebanyak mungkin dari UFO yang Anda lihat,
jikalau mungkin dari sudut yang berbeda-beda. Jikalau Anda hanya membuat sebuah foto saja, para ahli
akan menyangsikan kebenarannya oleh karena ia tidak dibedakan dari kerusakan film sebelum atau
sewaktu mencucinya. Jikalau membuat foto atau film, aturlah pengambilan gambarnya sedemikian rupa
sehingga UFOnya tampak dalam hubungan dengan awan, kaki langit atau benda-benda lain di
sekelilingnya atau di bawahnya. Hal itu akan mempermudah analisa foto atau filmnya.
Perlu ditekankan betapa pentingnya Anda bertindak hati-hati jikalau menyaksikan UFO yang
sedang berhenti di daratan atau mengambang rendah. Adalah mengherankan bahwa berulang kali terjadi
saksi itu mengalami kesakitan atau cidera gara-gara mendekati atau menyentuh UFO. Kita tidak tahu
bahaya-bahaya yang timbul dari benda-benda tersebut terhadap manusia dan mungkin makhluk UFO
sendiri juga belum mengetahuinya jikalau mereka masih pada tahap eksplorasi ilmiah. Suatu contoh sikap
sembrana ialah saksi yang mengalami kejutan seperti terkena arus listrik gara-gara dia memegang antena
sebuah UFO kecil, suatu perbuatan yang pantang biarpun terhadap antena pemancar radio biasa.
Jikalau Anda berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO, Anda termasuk satu di antara 2 juta orang
yang mengalaminya. Apakah hal itu merupakan keberuntungan, tergantung dari apa yang terjadi

56
selanjutnya atas diri Anda. Apabila Anda dapat menceriterakan pengalaman itu, Anda beruntung. Apabila
Anda tidak dapat berbuat demikian, Anda tergolong yang malang. Sangat sulit untuk memberi petunjuk
bagi mereka yang sampai diculik makhluk UFO. Nasihat yang terbaik ialah untuk menghindarkan diri dari
kemungkinan itu. Jikalau Anda sampai diculik makhluk UFO, dari pengalaman sampai sekarang terdapat
petunjuk bahwa makhluk UFO itu mampu menghipnotis korbannya untuk selanjutnya mengadakan
komunikasi lewat telepati. Untuk menjaga segala kemungkinan ada baiknya jikalau Anda menguasai
Hipnotisme dan telepati.

57
EPILOG

Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” (Pustaka Rakyat, Jakarta 1960) Menteri
Pertama RI/Ketua Dewan Penerbangan Bapak Ir.H.Djuanda (almarhum) di dalam kata sambutannya
antara lain menyebutkan 3 ciri dari benda-benda terbang tak dikenal, yaitu berkesinambungan, meliputi
seluruh dunia, dan tidak dapat diterangkan seluruhnya sebagai gejala biasa. Dewasa ini masalah UFO
masih tetap menghantui umat manusia demikian pula ketiga aspek tersebut di atas masih tetap berlanjut
seperti 22 tahun yang silam. Malahan jumlah penyaksian dan pengalaman UFO telah semakin banyak.
Tepatlah kata sesepuh UFOlogi Dr.J.Allen Hynek bahwa penelitian UFO sekarang dibingungkan justru oleh
kekayaan datanya!
Tak berbeda dari bagian-bagian dunia lainnya, di Indonesia pun perbendaharaan penyaksian UFO
semakin lama semakin banyak dan memperlihatkan keanekaragaman yang sama pula. Syukur
alhamdulilah hingga sekarang di negara kita kasus penculikan oleh makhluk UFO hanya terjadi sekali saja
dan mudah-mudahan untuk selanjutnya hal itu tidak terulang lagi. Naun semakin banyaknya kasus
penculikan itu di negara-negara lain terutama sejak tahun 70-an merupakan suatu kecenderungan yang
memprihatinkan. Makhluk-makhluk UFO menculik manusia bumi untuk diselidiki secara fisiologis dan ada
yang dikembalikan dan ada yang dibawa untuk selamanya. Perlakuan mereka terhadap kita itu adalah
seperti perlakuan terhadap kelinci percobaan yang tidak berdaya.
Apakah yang dapat kita perbuat? Di dalam bagian terdahulu tentang jikalau anda berjumpa dengan
makhluk UFO antara lain disinggung bahwa sebaiknya kita sedia payung sebelum hujan dengan jalan
menguasai telepati dan hipnotisme, oleh karena makhluk-makhluk UFO itu mempergunakan saluran-
saluran tersebut untuk menundukkan kelinci-kelinci percobaannya. Seseorang yang menguasai saluran-
saluran tersebut andaikata akan dijadikan korban mudah-mudahan dapat membuka dialog yang
diplomatis untuk menghindarkan diri dari perlakuan yang tidak menguntungkan itu.
Lebih baik lagi daripada membuka saluran dialog dan diplomasi adalah jikalau kita memiliki suatu
kekuatan pendukung yang mempunyai dampak terhadap makhluk UFO. Salah satu pertanyaan yang
belum dapat dijawab dewasa ini ialah apakah tingkah laku makhluk UFO itu disebabkan karena ilmu
pengetahuan dan teknologi mereka itu sangat maju ataukah karena secara alamiah mereka itu sudah
memiliki kemampuan paranormal. Dalam hubungan ini patut kita ingat ucapan Sir Arthur C. Clarke bahwa
bagi orang awam sebenarnya tidak ada perbedaan antara sihir dengan teknologi maju. Jikalau kita belum
dapat menandingi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mereka maka satu-satunya kemungkinan
yang masih terbuka bagi kita adalah untuk memperkembangkan kemampuan paranormal kita.
Untuk memperkembangkan kemampuan paranormal kita sayang belum tersedia jalan yang bersifat
ilmiah oleh karena ilmu pengetahuan yang kita warisi dari dunia Barat sampai sekarang tidak mampu
untuk mewadahinya. Bagi mereka yang berminat untuk memperkembangkan kemampuan paranormalnya
dengan demikian dapat mencapai maksudnya dengan cara menjalankan kebatinan atau mistik. Pilihan
untuk menjalankan kebatinan itu sungguh banyak aneka ragamnya dan terserah kepada selera kita dapat
memilih aliran kebatinan yang bercorak keagamaan (Islam, Kristen, Budha, atau Hindu) atau bercorak
kepercayaan yaitu penghayatan Tuhan Yang Mahaesa.
Namun, biarpun kita telah berhasil memperkembangkan kemampuan paranormal sehingga dapat
berbuat mukjizat, kita adalah tetap manusia dan bukan menjadi Tuhan Yang Mahakuasa. Apa yang kita
raih baik berupa ilmu pengetahuan maupun kemampuan pada hakikatnya adalah oleh karena ikhtiar kita
sendiri di samping oleh rida Allah S.W.T. Jadi kita tidak boleh sekali-kali bersikap sok oleh karena
sesungguhnya tidak ada yang mutlak di dunia ini keculai Tuhan. Maka dari itu seyogyanya segala ikhtiar
yang kita tempuh perlu disertai dengan ingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan pasrah kepadaNya.
Alam semesta eisinya, termasuk UFO dan makhluk-makhluk UFO, apakah itu di dalam galaksi kita
ataukah di tempat lain yang lebih jauh, ataukah di dimensi lain, atau di bumi kita sendiri dari masa silam
atau masa depan, itu semua adalah sekedar bagian daripada tahta Tuhan.
Marilah kita mengambil hikmah dari kekecutan hati kita karena diperlakukan sekedar sebagai
kelinci percobaan yang tak berdaya oleh makhluk-makhluk UFO. Bukankah selama ini kita juga berbuat
sama dengan mereka terhadap hewan atau makhluk hidup lainnya yang kita jadikan kelinci percobaan di
dalam laboratorium kita? Apakah kita tidak dapat berbuat lebih manusiawi misalnya dengan jalan
memperlakukan mereka itu lebih daripada suatu kumpulan sel-sel hidup belaka? Siapa tahu makhluk-
makhluk hidup itu juga memiliki suatu kesadaran hidup meskipun dari taraf yang lebih rendarh daripada
kita. Mengapakah kita tidak menyelidiki kemungkinan untuk memakai saluran telepati dan hipnotisme
pula untuk berkomunikasi dengan species yang lebih rendah? Penulis ini kagum terhadap tata krama Ilmu
Kejawen misalnya yang setiap kali hendak mengambil sesuatu dari alam sekelilingnya tidak lupa
menyampaikan salam dan meminta ijin, oleh karena kebiasaan itu tidak hanya membuktikan adanya
kesadaran akan tetapi penghayatan terhadap ecosystem, suatu kemanunggalan manusia dan alam
sekelilingnya. Penulis ini juga bertambah kagum lagi leh karena para ilmuwan Barat kini juga ada yang
mulai menyadari bahwa bumi, matahari, planet-planet lain dan bintang-bintang serta galaksi-galaksi itu
yang disebut makrokosmos merupakan suatu benda hidup! Bukankah di dalam warisan kebudayaan kita
segala sesuatu itu lazimnya dipersonifikasikan pula?
Syahdan, saya ingin mengucap terima kasih banyak kepada mereka yang memungkinkan
penerbitan buku ini. Melalui jalan ini saya juga ingin mengucap terima kasih banyak kepada Saudara
Goenadi Siswanto khususnya, yang telah memberikan hadiah yang amat saya hargai yaitu berupa

58
langganan selama 2 tahun atas majalah-majalah “Omni” dan “Science Digest”. Saya telah berusaha untuk
menemukan alamat Saudara tersebut, akan tetapi tidak berhasil. Hadiah Saudara tersebut ternyata amat
berguna bagi saya. Semoga Tuhan membalas budi baik Saudara tersebut.
Akhirulkalam, sebagaimana dikatakan oleh ahli filsafah Immanuel Kant, sumber pengenal semua
ilmu pengetahuan adalah pengalaman manusia. Oleh karena itu sinyalemen penulis bahwa ilmu
pengetahuan gejala-gejala paranormal dan ilmu pengetahuan tentang UFO masih kurang
diperkembangkan sebenarnya mudah saja dimajukan. Untuk membatasi diri kepada negara kita saja,
andaikata 147 juta rakyat Indonesia mau mencatat dan memberitahukan pengalaman-pengalamannya di
kedua bidang tadi, dalam waktu sekejap mata kedua cabang ilmu pengetahuan tadi dapat maju pesat.
Maka dari itu penulis melalui jalan ini mengimbau kepada para pembaca supaya jangan segan-segan
menulis surat (dengan alamat Kotak Pos 76, Tebet, Jakarta Selatan) untuk memberitahukan pengalaman-
pengalamannya di bidang UFO maupun di bidang gejala-gejala paranormal. Bagi mereka yang lebih suka
identitasnya tidak disebutkan, harap memberitahukan di dalam suratnya. Terima kasih sebelum dan
sesudahnya.

Jakarta, 6 Agustus 1982


J.SALATUN

59