Anda di halaman 1dari 9

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

PROF. DR. I GUSTI NGURAH BAGUS DALAM INGATAN


(16 Oktober 2003 - 16 Oktober 2006)
Oleh Pertampilan S. Brahmana

Saya mengenal Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus, berawal ketika saya diterima
menjadi mahasiswa S2 Kajian Budaya di Universitas Udayana. Saya melamar ke
program Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana, karena saya
telah beberapa kali melamar S2 dalam bidang Sastra dan beberapa bidang
lainnya pada beberapa Universitas di dalam negeri, tidak diterima. Pelamaran S2
saya ke Udayana waktu itu disertai pesimisme dan satu tekad, kalau nanti tidak
diterima kembali untuk mengikuti Pascasarjana, ya sudah, sampai pensiun saya
tidak akan melamar S2 lagi, gerutu saya dalam hati. Penyebabnya tentu ada,
saya sudah beberapa kali melamar S2 di Universitas yang ada di Pulau Jawa (UI
dan UGM), tanpa tahun pelamaran yang terputus (1988 hingga 1992), tetap tidak
diterima. Alasan umum yang dikemukakan dalam surat pemberitahuan, Untuk
Tahun Ajaran Ini Anda Belum Dapat Diterima. Lalu sejak tahun 1988-1992
melamar terus tiap tahun, bukanlah ini menunjukkan satu keseriusan. Apakah
keseriusan tidak dihargai!, gerutu saya selalu dalam hati. Inilah kepesimisan
yang membayangi pelamaran mengikuti S2 ke Udayana. Jangan-jangan sistem
penilaian yang dilakukan oleh tim penerimaan mahasiswa Udayana sama
dengan Universitas yang terletak di Pulau Jawa tersebut absurd!!!.

Ketika itu di bulan September atau Oktober 1995, saya membaca di Harian
Kompas tentang Universitas Udayana. Diberitakan oleh Harian Kompas, untuk
tahun akademik 1996/1997, Universitas Udayana akan membuka program studi
Magister Kajian Budaya. Desember 1995, saya mengirim surat minta dikirimkan
brosur tentang program studi ini, tujuannya agar dipelajari apakah syarat
pelamaran sulit, dengan syarat-syarat yang tidak rasional.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Tidak menunggu lama, surat balasan kemudian saya terima, ternyata bukan
hanya brosur yang saya terima seperti permintaan saya, tetapi juga disertai
dengan formulir pendaftaran yang waktu itu, formulir pendaftaran ini masih
berkepala surat Program Studi Linguistik, surat pengantarnya ditandatangani
oleh Pak Prof I Wayan Bawa almarhum. Persyaratan lamaran rasional, tidak
macam-macam, lamaran pun diajukan. Berselang dua bulan kemudian,
jawabanpun diterima, dibuka dibaca dan hasilnya dinyatakan diterima. Inilah
awal yang membawa saya sampai ke Bali.

Awal Saya Mengenal Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus,

Juni 1996, adalah awal saya mengenal Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus, pada Juni
1996, sebagai calon mahasiswa Program Studi magister Kajian Budaya semua
calon mahasiswa diwajibkan mengikuti pramagister selama. Prof Dr. I Gusti
Ngurah Bagus, salah satu penceramah dalam kegiatan ini. Inilah awal pertama
saya mengenal beliau. Beliau kemudian, ditetapkan menjadi Ketua Jurusan
Program Studi Magister Kajian Budaya yang pertama. Sebagai mahasiswa
Kajian Budaya antara tahun 1996 s/d 1998, saya menjadi lebih banyak
berhubungan dengannya.

Maka sosok Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus, tidak dapat dilepaskan dari sejarah
pengembangan kajian budaya yang ada di Universitas Udayana. Angkatan
pertamanya dimulai tahun 1996. Pendiriannya berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia dengan No. 46/DIKTI/Kep/1995, bertanggal 9 November 1995. Surat
Keputusan ini ditandatangani oleh Bambang Soehendro. Kuliah perdana dibuka
oleh Prof. Dr Edi Sedyawati.

Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus akan selalu dikenal sebagai printis pendirian
kajian budaya di Universitas Udayana. Dan memang Udayanalah lembaga
pendidikan tinggi pertama di Indonesia yang mengembangkan Program Studi
Kajian Budaya. Memang ada selentingan-selentingan kabar, gagasan
pembukaan Kajian Budaya ini bukan dari beliau, namun berita tersebut agak sulit
membuktikannya.

Antropolog Dr Henk Schulte Nordholt menjuluki Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus
sebagai "the father of Balinese studies", Bapak Studi Kebudayaan Bali. "The
mother of Balinese studies" (Ibunya) adalah antropolog senior Amerika Serikat,
Hildred Geertz.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Mendapat julukan sebagai "the father of Balinese studies", Prof Dr I Gusti


Ngurah Bagus mengomentari "Ah itu hanya mitos saja. Saya orang biasa yang
membantu siapa saja yang hendak mengetahui kebudayaan Bali entah itu
peneliti asing atau pribumi. Sebagai ilmuwan saya senang dapat membantu
mahasiswa atau peneliti yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan
Bali. Kebetulan banyak sarjana yang dulu saya bantu, kini telah menjadi 'orang'
lalu mereka memberi referensi nama saya bagi kolega atau mahasiswanya."
Katanya (Kompas, 11 September 200). Sebagai tanda terima kasih atas peran .
Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus dalam studi kebudayaan Bali, pada tahun 2000
para sarjana asing menerbitkan sebuah buku kumpulan karangan dengan judul
To Change Bali, Essays in Honour of I Gusti Ngurah Bagus. Buku ini disunting
oleh Prof Dr Adrian Vickers dkk, dari University of Wollongong, Australia. Dalam
buku inilah predikat . Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus sebagai "the father of
Balinese Studies" terpatri yang kelak akan dikenang terus (I Nyoman Darma
Putra, Kompas, 19 Oktober 2003).

Beliau meninggal dunia pada hari Kamis, 16 Oktober 2003 di RS Sanglah


Denpasar. Rumah sakit yang letaknya hanya berseberangan jalan dengan
tempatnya mengabdi selama ini yaitu Fak Sastra Universitas Udayana.

Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus berasal dari dari keluarga ningrat Bali yang
dilahirkan 12 Juli 1932 di Jero Tengah Peguyangan - Denpasar Utara. Beliau
memulai kariernya dari jurusan sastra Timur Universitas Gajah Mada Yogyakarta
(1953), selanjutnya beliau melanjutkan ke Jurusan Sastra Indonesia Fakultas
Sastra Universitas Indonesia (1959), dan Pascasarjana program doktor di
Jurusan Antropologi Universitas Indonesia (1979).
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan daerah pada era reformasi,
beliau juga banyak membimbing mahasiswa pascasarjana dan menguji
mahasiswa pasca sarjana dari berbagai Universitas di dalam dan luar negeri.

Manusia Gagasan

Bagi saya Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus adalah type manusia yang penuh
dengan gagasan-gagasan. Tetapi sangat disayangkan, gagasan-gagasannya,
hanya tinggal gagasan, untuk menggerakkan, mengoperasionalkan, membuat
gagasannya menjadi konkrit, tampaknya menjadi titik lemah orang-orang yang
dipercayanya. Beliau memang mengangkat beberapa asisten, tapi sayang,
hanya satu atau dua orang saja asistennya yang “mengerti” beliau. Lebih
banyak asistennya yang tidak mau tahu atau tidak mengerti menterjemahkan
gagasan-gagasan beliau menjadi konkrit. Dalam bidang keilmuan gagasannya
yang masih lekat dalam kepala saya adalah menjadikan kebudayaan sebagai
paradigma bagi pengembangan ilmu.

Asisten yang dibinanya tampaknya memang banyak yang tidak mengerti akan
kemana arah pikiran dan gagasan-gagasan beliau. Seandainya para asistennya
dapat menterjemahkan pikiran-pikiran gagasan-gagasan beliau, eksistensi
keilmiahan Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus akan tetap dapat diingat, dibaca
melalui hasil karya para asistennya.

Ketidakmengertian atau ketidakmampuan para asistennya ini, bukan hanya


dalam mendokumentasikan gagasan-gagasan beliau, tetapi juga dalam
menterjemahkan arahan bagi pengembangan program studi kajian budaya ke
depan. Cultural Studies (Kajian Budaya), jelas beda dengan The Cultural of
Studies (Kajian Tentang Kebudayaan). Kepada mahasiswa kajian budaya yang
diajarnya pada masa angkatan saya, selalu dianjurkan agar mendalami teori
sosial kritis, tetapi para asistennya banyak tidak mengerti akan dikemanakan
teori sosial kritis ini. Para asistennya banyak yang beranggapan Cultural
Studies (Kajian Budaya), sama dengan The Cultural of Studies (Kajian
Tentang Kebudayaan).

Seperti Nabi (Dukun)

Nabi atau seorang dukun mungkin saja kurang dikenal atau kurang dihargai di
kampung halamannya sendiri. Bahkan ada yang menganggap remeh, tidak ada
apa-apanya, akan tetapi di luar kampung halamannya orang menghormatinya.
Orang menghargainya, mendatanginya dengan berbagai keperluan. Prof Dr. I
Gusti Ngurah Bagus juga tampaknya memiliki sifat seperti ini.

Orang-orang di sekitarnya boleh saja menganggap biasa-biasa saja kepada


beliau, yang terlalu beginilah, yang terlalu begitulah, enggak ada apa-apanyalah
dan sebagainya. Penilaian seperti itu sah-sah saja.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Seorang teman pernah membisikkan kepada saya, bahwa setiap orang Asing
(Barat) yang mau mengadakan penelitian tentang kebudayaan Bali, di Bali,
orang tersebut pasti akan menemui dan berkonsultasi dengan Prof Dr. I Gusti
Ngurah Bagus, katanya.

Nyatanya memang benar, banyak orang-orang Barat yang mau mengadakan


penelitian tentang kebudayaan Bali memang menemui Prof Ngurah Bagus.
Bahkan beberapa peneliti orang asing ini, “dibajak”nya menjadi dosen tamu atau
penceramah tamu untuk mahasiswa Kajian Budaya. Beliau juga banyak
mendapat kiriman buku-buku dari teman-temannya di luar negeri.

Tahun 1988 beliau menerima penghargaan internasional dari Australian National


University di Canberra. Dalam rangka 200 Tahun Australia, di Australia pernah
diadakan Seminar VII Asosiasi Pengkajian tentang Asia. Dalam seminar tersebut
digelar diskusi tentang Bali yang khusus dipersembahkan kepada Prof Dr. I
Gusti Ngurah Bagus (Kompas, 11 September 200). Seminar yang Khusus
Tentang Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus diberi nama: ANTUK PANGUPAYAAN
PROFESSOR: Papers in Honour of Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Sejumlah ahli
memberikan makalah antara lain Adrian Vickers, Doug Miles, Anthony Forge,
Peter Worsley, Don Miller, dan lainnya (Majalah Widya Pustaka, 1991).

Semua ini menunjukkan bahwa nama Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus cukup
dikenal di luar negeri.

Keterbukaan Ilmiah

Mungkin bagi orang yang sudah lama mengenal beliau, bila saya katakan beliau
sangat terbuka dalam masalah keilmiahan, teman-teman yang berasal dari Bali
mungkin banyak kurang percaya. Saya menyatakan demikian karena, saya
melihat teman-teman dari Bali ”begitu hormat sekali, sehingga bila berbicara
dengan beliau lebih banyak mengatakan ya, ya pak Prof”. Ketika berkonsultasi
masalah proposal penelitian, bimbingan tesis, banyak teman-teman terutama
yang berasal dari Bali, cenderung mengiyakan saja apa yang dikritisi, disarankan
beliau, dengan harapan agar di acc, urusan cepat selesai.

Tanpa saya sadari, saya justru sebaliknya, ketika berkonsultasi masalah


proposal penelitian, bimbingan tesis, saya justru sebaliknya (tanpa saya
sadari/dengan membawa kultur Medan), saya justru kerap adu argumentasi
dalam masalah proposal dan tesis yang saya tulis, terutama dalam masalah alur
pemikiran. Ketika beliau mengkritisi yang saya tulis dengan mengajukan
argumentasinya, bila saya rasa tidak sejalan dengan hal yang saya tulis, spontan
saja saya ajukan agumentasi saya, mengapa saya menulis demikian
(argumentasi di balik teks yang saya tulis). Apakah hal ini tidak pahami teman-
teman yang “babak belur” ketika berkonsultasi dengan beliau, saya tidak tahu.
Sebab bukan tidak sedikit mahasiswa yang berkonsultasi dengannya justru
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

menjadi “babak belur” usai berkonsultasi. Artinya baik proposal atau tesis yang
ditulis, mendapat banyak koreksi berupa perbaikan, penambahan data dan
sebagainya. Lalu kemudian di belakang beliau, si mahasiswa ngomong dengan
mengatakan beliau tidak mengerti dengan yang ditulis si mahasiswa. Saya pikir
bukan demikian, bila kita tidak mengajukan argumentasi yang logis, dan kita
meng”iya”kan semua masukkan yang diberikannya memang akan “babak belur”.
Meng”iya”kan semua masukkan yang diberikannya, sama saja kita mengikuti
kerangka pikir beliau. Sementara kita sebagai mahasiswa yang dibimbing, tidak
mengetahui, tidak menguasai kerangka pikir beliau. Artinya tingkatan pemikiran
kita dengan beliau belum setingkat atau berbeda arah.

Tampaknya dia senang menerima cara yang saya gunakan ini. Buktinya asal
bertemu dengan beliau di program studi kajian budaya, beliau selalu bertanya
masalah yang saya tulis, apa kendala, sampai bab berapa sudah dikerjakan,
atau nanti masukkan tema seperti ini pada bab sekian, sarannya. Kalau memang
beliau tidak suka dengan cara yang saya lakukan ketika berkonsultasi dengan
beliau, tentu beliau tidak akan pernah bertanya dan bersaran banyak hal.

Pengalaman lain yang menunjukkan beliau sangat peduli dengan


mahasiswanya, ketika saya ke Medan untuk penelitian, 3 bulan saya berada di
Medan, rasanya terlalu lama bagi beliau saya berada di Medan, sehingga
melalui seorang teman beliau menyuruh teman tersebut menyurati saya agar
segera kembali ke Denpasar. Apa pasal mengapa beliau berbuat demikian?
Beliau takut saya tidak kembali ke Denpasar untuk menyelesaikan pendidikan
saya, mengingat saya adalah mahasiswa angkatan pertama dari Program Studi
Kajian Budaya ini. Mungkin pantang baginya, bila angkatan pertama ada yang
gagal, mengingat kuat pula keinginan beliau agar segera pula dibuka Program
Kajian Budaya untuk tingkat S3.

Inilah kenangan manis terhadap pribadi Prof


Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Ada kepedulian
sang dosen terhadap pendidikan
mahasiswanya, tanpa memandang asal usul.
Kepedulian ini disertai pula dengan
keterbukaan ilmiah yang menyenangkan.
Adu argumentasi rasional, dapat diterima
logika ilmiahnya.
Henk Maier, Ngurah Bagus,
Schulte Nordholt (dari kiri ke
Penolong
kanan) sedang menguji seorang
mahasiswa yang bernama Maya
Bagi saya orang non Bali, Prof Dr. I Gusti
HT Liem di Tanggal 7 Mei 2003 di
Ngurah Bagus (dan juga Prof I Wayan Bawa)
Universitas Leiden Negeri
sangat banyak membantu khususnya
Belanda
mahasiswa yang datang dari luar Bali.
(Terhadap Prof. Dr I Wayan Bawa ini saya kurang begitu sering bertemu karena
beliau menjabat Ketua Jurusan Program Studi Linguistik, sementara saya
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

mahasiswa di Program Studi Kajian Budaya). Jadi sepak terjang keilmiahannya


saya kurang banyak mengetahui. Namun berdasarkan cerita teman-teman,
beliau juga sangat banyak membantu para mahasiswanya. Mentraktir makanan
atau minuman para mahasiswa bila bertemu dengan beliau di lingkungan FS
Unud, sudah menjadi hal yang biasa dilakukannya).

Kalau Prof I Wayan Bawa, siap membantu memberikan pinjaman uang bagi
mahasiswa dari luar Bali yang mengalami kesulitan uang di Bali, Prof I Gusti
Ngurah Bagus, siap membantu dalam bidang keilmiahan, baik meminjamkan
buku-buku yang ada diperpustakaan pribadinya yang ada di Kampus Fakultas
Sastra Udayana maupun yang ada di perpustakaan pribadinya di rumahnya di
daerah Peguyangan Denpasar serta membantu kendala administrasi lainnya.

Pada awalnya banyak mahasiswa terheran-heran dengan sikap Prof Dr. I Gusti
Ngurah Bagus. Keheranan ini dikarenakan, dalam setiap matakuliah di Kajian
Budaya yang akan diajarkan tiap semester secara tim, tiap semester, nama
beliau tetap ada tercantum sebagai dosen pengajar. Beberapa teman dan juga
dari kalangan UNUD sendiri sedikit menanggapinya dari sisi negatif dengan
mengatakan “rakus”. Namun karena belum ada bukti nyata apakah memang
demikian, isu itu tetap tersimpan di kepala semua mahasiswa khususnya yang
belum mengenal siapa sebenarnya Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus ini. Barulah
setelah kuliah teori selesai, mahasiswa mengerti, mengapa Prof Gusti Ngurah
Bagus, tetap mencantumkan namanya pada setiap matakuliah yang diajarkan.

Semester pertama berjalan dengan baik, demikian juga semester dua hingga
akhirnya tiba waktu untuk menempuh ujian proposal, ternyata masih banyak nilai
mata kuliah teori yang belum diserahkan oleh dosen pengajar. Konsekwensinya
si mahasiswa belum boleh ujian proposal. Untuk mengatasi ini tampillah Prof Dr.
I Gusti Ngurah Bagus sebagai penyelamat. Nilai yang sulit dikeluarkan oleh
dosen tertentu, diambilalihnya, sehingga si mahasiswa dapat melanjutkan ke
ujian proposal. Ini dilakukannya terhadap mahasiswa yang sudah menunjukkan
proposal penelitian kepada beliau.

Ternyata setelah dia melihat proposal penelitian si mahasiswa, muncullah


kearifannya. Kearifan ini terlihat pada blangko nilai, semua matakuliah yang
belum diserahkan nilainya oleh dosen pengajar, ditandatanganinya sendiri
(diambilalih).

Sifat membantunya yang lain adalah ketika ada teman yang belum juga selesai
pendidikan S2-nya di Udayana. Ketika saya datang kembali ke Udayana pada
tahun 2003 dan langsung menemui beliau yang ketika itu masih menjabat Ketua
Jurusan, pertanyaan pertama yang diajukan beliau adalah “mana si Tarigan, apa
kendalanya? maka tesisnya belum juga diselesaikannya?”. Tarigan maksudnya
adalah teman se fakultas. Lalu saya jawab “dia sedang dalam kesulitan” kata
saya menjelaskan. Beliau balik menjawab “ Suruh saja beliau ke sini (Denpasar),
semua bisa kita atur” katanya. Ketika hal ini saya sampaikan kepada teman
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

tersebut, dia kurang meresponnya, responnya kemudian, setelah beliau


meninggal dunia.

Demikian pulalah ketika membimbing mahasiswa, untuk mahasiswa angkatan


pertama, beliau semua menjadi pembimbing pertama si mahasiswa. Ternyata
strategi ini, bukan karena rakus, tetapi sebagai strategi mengamankan
pendidikan si mahasiswa dari dosen-dosen yang tampaknya sudah dia kenal
baik cara kerjanya.

Demikianlah sifat membantu yang saya ketahui dari Prof Dr. I Gusti Ngurah
Bagus.

Pertemuan Trakhir Dengan Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus

Ketika saya menghadiri acara serah terima Ketua Jurusan Magister Kajian
Budaya dari Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus ke Dr Emiliana Mariyah MS di FS
UNUD di bulan September tahun 2003 yang lalu, saya merasakan hal yang
aneh.

Selesai acara upacara acara serah terima selesai, kebiasaan yang selalu saya
lihat, acara dilanjutkan dengan acara salam-salaman dan ucapan selamat
bekerja kepada pejabat yang baru dan ucapan selamat jalan kepada pejabat
lama dengan ucapan – walaupun hanya basa-basi – agar tetap sudi memberikan
sumbangan pemikiran kepada lembaga yang ditinggalkan dan diakhiri dengan
acara salam-salaman. Kondisi ini tidak saya temukan usai acara serah terima
tersebut, dan protokolpun tidak menyinggung masalah ini. Saya merasa aneh
mengapa terjadi demikian, yang ada hanya acara salam-salaman kepada
pejabat yang baru sebagai penutup acara.

Ketika acara ini berlangsung, Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus, justru sudah berada
di luar ruangan, berdiri didampingi dengan beberapa mahasiswa Kajian Budaya.
Saya enggak mengerti, mengapa pihak protokol acara tidak menahan beliau
sejenak di dalam ruangan acara, berdiri berdampingan dengan ketua jurusan
yang baru untuk menerima ucapan selama bekerja kepada pejabat yang baru
dan selama jalan dan terimakasih kepada pejabat lama dari para mahasiswa dan
staf pengajar yang hadir dalam acara serah terima ketua jurusan Program Studi
Kajian Budaya ini. Apakah ini suatu kesengajaan atau suatu kealpaan saya
enggak tahu. Tapi bagi saya siapapun seseorang itu dimasa lalu, ya dilupakan
saja hal-hal yang mungkin kurang menyenangkan dari pribadi yang
bersangkutan.

Inilah pertemuan saya yang trakhir dengan Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus,
September 2003, 16 Oktober 2003 kemudian saya mendapat kabar dari teman-
teman beliau telah meninggal dunia.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Sumber Gambar:

Gambar pertama dari Harian Kompas, 11 September 2000, dan Gambar Kedua
dan Ketiga karya foto Maya HT Liem yang dicopy dari situs Radio Nederland
Edisi Bahasa Indonesia 22-10-2003.

Penulis adalah Pengajar Fakultas Sastra di Universitas Sumatera Utara Medan,


pengajar yang tidak biasa di mana-mana. Alumni Pertama Program Magister
Kajian Budaya Dari Luar Bali.

Alamat Tulisan Ini:

http://brahmana-medan.blog.com/1103226/
http://www.geocities.com/kawarmedan/20060929NGURAHBAGUS.pdf