Anda di halaman 1dari 21

MENTERI PEKERJAAN UMUM

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM


Nomor : . . . . /PRT/M/2009

TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS JALAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

Menimbang :

bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 24, pasal 30 ayat (3), pasal 32 ayat (6),
Pasal 35 ayat (5) dan Pasal 36 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006
tentang Jalan perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang
Persyaratan Teknis Jalan

Mengingat :

1. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya

2. Undang–undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437);

3. Undang–undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4444);

4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana


dan Lalulintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 60);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol; (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4489);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik


Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4655);

9. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang …………………….

10. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia;

11. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006 tentang Unit Organisasi dan Tugas
Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia;

12. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M/Tahun 2004 tentang


Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu;

13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 286/PRT/M/2005 tentang Organisasi


dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PERSYARATAN TEKNIS


JALAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Pertama

Pengertian dan Definisi

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Menteri adalah Menteri yang menangani urusan Pemerintahan di bidang jalan;

2. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk
bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang
berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah
dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel; (Ditambahkan pengertian masing2)

3. Kecepatan rencana adalah kecepatan maksimum yang aman dalam keadaan normal,
yang akan menjadi dasar perangcangan geometrik jalan.

4. Bagian jalan adalah, bagian-bagian jalan yang meliputi jalur lalu lintas, dengan atau
tanpa jalur pemisah, dan bahu jalan.

5. Bangunan pelengkap jalan adalah bangunan yang tidak dapat dipisahkan dari jalan,
yang antara lain meliputi jembatan, lintas atas (overpass), lintas bawah (underpasss),
gorong-gorong, tembok penahan, dan saluran samping;

6. Perlengkapan jalan adalah ..........

7. ............... (Akan diisi kemudian setelah konsep Permen tuntas)

Bagian Kedua

Maksud dan Tujuan

Pasal 2
(1) Persyaratan teknis jalan ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman teknis
pelaksanaan penyelenggara jalan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan
pembangunan, dan pengoperasian jalan yang ingin diwujudkan;

(2) Persyaratan teknis jalan ini dengan tujuan yang ingin dicapai adalah:
a. supaya tertib dalam pelaksanaan perencanaan serta memenuhi ketentuan
keamanan, keselamatan dan lingkungan;
b. tersedianya jalan yang memenuhi syarat sesuai dengan Peraturan Menteri ini;
Bagian Ketiga

Ruang Lingkup

Pasal 3
(1) Lingkup pengaturan persyaratan teknis jalan meliputi pengaturan pemenuhan
persyaratan, perancangan, unsur geometrik jalan, pengoperasian, dan bangunan
pelengkap jalan; kecepatan rencana, lebar badan jalan, kapasitas, jalan masuk,
persimpangan sebidang, bangunan pelengkap, perlengkapan jalan, kelas jalan,
tinggi dan kedalaman ruang bebas pada jalan, saluran tepi jalan, ruang manfaat
jalan dan ruang milik jalan.

(2) Persyaratan Teknis Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat
persyaratan sebagaimana yang terdapat pada Peraturan Menteri ini dan
lampirannya (Pedoman terkait, akan diatur kemudian)
,

BAB II
PARAMETER PERANCANGAN

Bagian Pertama
Umum

Pasal 4
(1) Parameter perancangan merupakan kendali menyeluruh dari disain teknis jalan dan
pengoperasian, harus sedemikian rupa agar unsur-unsur teknis jalan tersebut bisa
memberikan nilai yang memenuhi kebutuhan pengguna jalan;

(2) Parameter perancangan seperti dimaksud pada ayat (1) meliputi aspek, kecepatan
rencana, volume lalulintas rencana, kelas jalan, dan umur rencana jalan;

(3) Parameter perancangan menjadi dasar pertimbangan yang sangat mendasar, baik
untuk jalan baru maupun peningkatan, sekali parameter perancangan ditetapkan
maka mempunyai konsekuensi terhadap besaran dan daya dukung fisik unsur-unsur
teknis jalan dang pengoperasian;

Bagian Kedua Pertama


Kecepatan Rencana

Pasal 5 (ayat disesuaikan)


(1) Kecepatan rencana digunakan sebagai dasar dalam perhitungan perencanaan
teknis perancangan, dan akan mengikat semua unsur-unsur elemen-elemen
geometrik jalan dan pengoperasian lalulintas;

(2) Kecepatan rencana seperti dimaksud pada ayat (1) akan dievaluasi secara berkala
berdasarkan hasil kajian ekonomis;

(3) Evaluasi yang dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Mentri terkait;

(4) Penentuan kecepatan rencana dalam perencanaan geometrik dilakukan dengan


mempertimbangkan: Kecepatan rencana harus ditetapkan dengan
mempertimbangkan meliputi aspek:
a. fungsi jalan;
b. golongan klasifikasi medan;
c. sistem jaringan jalan (primer/sekunder); dan
d. penggunaan lahan sisi jalan kelas jalan;

(5) Kecepatan rencana seperti dimaksud pada ayat (4) merupakan pilihan dari paling
bawah hingga paling atas;

(6) Batas bawah dan batas atas kecepatan rencana sebagaimana dimaksud ayat (2)
menurut fungsional jalan adalah;

Kelas Jalan Jaringan Jalan Primer Jaringan Jalan Sekunder


Fungsi
datar bukit gunun datar bukit gunung
Jalan
g
Jalan bebas Arteri 60 - 140 60 - 80 60 30 - 100 30 – 80 30
hambatan dan
jalan raya
Jalan raya dan Kolektor 40 - 120 40 - 60 40 20 - 80 20 – 60 20
jalan sedang
Jalan sedang Lokal 20 - 80 20 - 40 20 10 - 40 10 – 40 10
dan jalan kecil
Jalan Kecil Lingkunga 15 - 40 15 - 30 15 10 - 30 10 – 30 10
n

(7) Kecepatan rencana harus sama di setiap bagian segmen jalan;

(8) Kecepatan rencana harus dibuat setinggi mungkin yang masih dapat diterapkan,
untuk memenuhi aspek keselamatan, mobilitas, dan efisiensi dengan tetap
memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan, dan dampak sosial;

(9) Kecepatan rencana paling bawah hanya diterapkan pada keadaan tertentu di mana
terdapat kendala kondisi topografi, dan tataguna lahan, atau kendala teknis lain yang
tidak dapat dielakkan;

(10)Kecepatan rencana seperti dimaksud pada ayat (6), dapat diturunkan atau dinaikkan
sesuai dengan perubahan kondisi medan dengan penurunan berangsur-angsur
sebesar-besarnya sebesar 20 km/jam% dan tidak boleh lebih rendah dari batas
bawah kecepatan rencana;
Bagian Ketiga
Lebar Badan Jalan
Pasal 6 (disesuaikan) ......

Diisi oleh Pak Harry Purwantara (nara sumber)

Bagian Ketiga Keempat


Volume Lalu Lintas Rencana Kapasitas Jalan

Pasal 6 (pasal disesuaikan)


(1) Volume lalulintas dinyatakan dalam Lalulintas Harian Rata (LHR), dan Lalulintas Jam
Perancangan (VJP);

(2) Volume lalulintas seperti dimaksud pada ayat (1), LHR biasa digunakan untuk
analisis ekonomi, klasifikasi sistem jalan, atau program investasi, sedang VJP
digunakan untuk perancangan detail teknik.

(3) Pertimbangan untuk menetapkan besaran volume lalulintas rencana pada sistem
jaringan jalan primer adalah;
a. Untuk jalan baru dengan fungsi arteri dirancang untuk mengakomodasi lalulintas
untuk periode waktu minimum 20 tahun.
b. Untuk jalan baru dengan fungsi kolektor dirancang untuk mengakomodasi
lalulintas untuk periode waktu minimum 15 tahun.
c. Untuk jalan baru dengan fungsi lokal dirancang untuk mengakomodasi lalulintas
untuk periode waktu minimum 10 tahun.
d. Untuk jalan baru dengan fungsi lingkungan dirancang untuk mengakomodasi
lalulintas untuk periode waktu minimum 10 tahun.
Catatan : Angka-angka akan didiskusikan lebih lanjut

(4) Pertimbangan untuk menetapkan besaran volume lalulintas rencana pada sistem
jaringan jalan sekunder adalah;
a. Untuk jalan baru dengan fungsi arteri dirancang untuk mengakomodasi lalulintas
untuk periode waktu minimum 15 tahun.
b. Untuk jalan baru dengan fungsi kolektor dirancang untuk mengakomodasi
lalulintas untuk periode waktu minimum 10 tahun.
c. Untuk jalan baru dengan fungsi lokal dirancang untuk mengakomodasi lalulintas
untuk periode waktu minimum 10 tahun.
d. Untuk jalan baru dengan fungsi lingkungan dirancang untuk mengakomodasi
lalulintas untuk periode waktu minimum 10 tahun.
Catatan : Angka-angka akan didiskusikan lebih lanjut

5. Tata cara perhitungan volume rencana mengacu pada Arahan lebih lanjut tentang
pemilihan periode yang sesuai untuk meramalkan volume lalulintas rencana, dapat
mengacu manual mengenai kapasitas jalan,1997.

(5) Pengelompokan jenis kendaraan untuk keperluan perancangan teknis jalan, disesuai
dengan tujuannya;
a. Untuk disain perkerasan didasarkan atas konfigurasi sumbu roda kendaraan.
b. Untuk disain geometrik dan kapasitas jalan didasarkan atas ruang, radius putar,
dan kemampuan mesin.

(6) Jenis kendaraan seperti dimaksud pada ayat (4), terdapat pada lampiran yang
merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Batas pembahasan tanggal 24 September 2008 jam 17.55 WIB, di Novotel Bogor.

Bagian Keempat
Kendaraan Rencana (dibahas kemudian)

Pasal 7
(1) Jalan diperuntukkan bagi lalulintas kendaraan bermotor dan takbermotor;

(2) Semua unsur geometri jalan harus bisa melayani kebutuhan gerak dari kendaraan
rencana;

(3) Unsur teknis kendaraan rencana yang harus diperhatikan meliputi dimensi, panjang,
lebar, tinggi, tinggi mata pengemudi, tonjolan, radius putar, dan kemampuan
mengembangkan kecepatan lebih tinggi.

(4) Dimensi kendaraan rencana seperti dimaksud pada ayat (3), lebih lanjut diatur pada
Peraturan Menteri ini dalam lampiran;

(5) Pengelompokan jenis dan dimensi kendaraan rencana bermotor seperti dimaksud
pada ayat (4), terdapat pada lampiran yang merupakan satu kesatuan dan tidak
dapat dipisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Kelima
Kelas Jalan
Pasal 8
(1) Jalan harus direncanakan dengan mempertimbangkan batasan muatan sumbu
terberat (MST) yang ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk jaringan
jalan pada koridor jalan yang bersangkutan.

(2) Muatan sumbu terberat 8 ton hanya diterapkan pada jalan dengan komposisi
lalulintas kendaraan berat (truk dan bus) lebih kecil daripada 10 % terhadap volume
lalulintas rata-ratanya.

(3) Perkerasan jalan didesain berdasarkan beban Sumbu Standar Tunggal (SST) 8,16
ton (18.000 lbs).

(4) Pengelompokan kemampuan jalan dalam menerima beban lalulintas, didasarkan


atas fungsi jalan, seperti diuraikan di bawah ini.

Klasifikasi Menurut Kelas Jalan.


Fungsi Jalan Kelas Jalan Daya Dukung MST (Ton)

I > 10
Arteri
II ≤ 10

Arteri atau Kolektor IIIA ≤8

Kolektor IIIB ≤8

Lokal dan Lingkungan IIIC ≤8

BAB III
BAGIAN-BAGIAN JALAN

Bagian Pertama
Ruang Jalan

Pasal 9
(1) Ruang jalan ditinjau secara melintang jalan terbagi-bagi atas;
a. Ruang manfaat jalan, disingkat Rumaja;
b. Ruang milik jalan, disingkat Rumija;
c. Ruang pengawasan jalan, disingkat Ruwasja;

(2) Rumaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan ruang sepanjang jalan
yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu, meliputi bagian badan jalan,
saluran tepi jalan, dan ambang pengaman.
a. Tinggi ruang bebas sekurang-kurangnya 5 meter di atas permukaan jalur lalu
lintas;
b. Kedalaman ruang bebas sekurang-kurangnya 1,5 meter di bawah permukaan
jalur lalu lintas terendah;
c. Lebar ruang bebas diukur di antara 2 (dua) garis vertikal batas bahu jalan;

(3) Rumija sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan ruang sepanjang jalan
yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu, meliputi Rumaja dan sejalur
tanah tertentu di luar Rumaja, sekurang-kurangnya sama dengan Rumaja.

(7) Rumija seperti dimaksud pada ayat (3), harus diberi batas dengan persyaratan
sebagai berikut:
a. Pagar Rumija harus dipasang di batas Rumija dan tanah milik masyarakat
setempat, dengan menggunakan bahan berupa tembok pra-cetak, pasangan
batu, atau kawat baja polos, dengan tinggi minimum150 cm.

b. Pondasi bangunan pagar Rumija harus kuat dan mampu menahan daya guling
dan longsor.

c. Batasan dimensi Rumija terdapat pada lampiran yang merupakan satu kesatuan
dan tidak dapat dipisahkan dari Peraturan Menteri ini.

(8) Ruwasja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan ruang sepanjang jalan
yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu. Ruwasja diperuntukan bagi pandangan
bebas pengemudi dan pengaman konstruksi jalan. Ruwasja pada dasarnya adalah
ruang lahan milik masyarakat umum yang mendapat pengawasan dari pembina
jalan.

5m

d b a b d
c c
1,5 m

= RuangManfaat J alan(RUMAJ A) a= J alur LaluLintas x= b+a+b=BadanJ alan

= RuangMilik J alan(RUMIJ A) b= BahuJ alan

= RuangPengawasanJ alan(RUWASJ A) c = SaluranTepi

= Bangunan d= AmbangTepi

Gambar Ruang bagian dari jalan secara melintang jalan pada sebidang tanah
dasar
PERMASALAHAN BERKAITAN DENGAN RUANG JALAN:
Pada Bab dan Pasal ini ada masalah sehubungan dengan lokasi jalan seperti;
1. Jalan pada sebidang tana dasar
2. Jalan di atas tana dasar
3. Jalan pada terowongan
Bagai manamenentukan ukuran dan ruangnya, berikut ini contoh tipikal ruang jalan

5m

x
d b a b d
c c

±15 m

=RuangManfaat Jalan(RUMAJA) a=Jalur LaluLintas x=b+a+b=BadanJalan

=RuangMilikJalan(RUMIJA) b=BahuJalan

=RuangPengawasanJalan(RUWASJA) c=SaluranTepi

=Bangunan d=Trotoar

Gambar Ruang bagian dari jalan secara melintang jalan pada jalan layang
5m

x
d b a b d
c c
1,5 m

= RuangManfaat J alan(RUMAJ A) a= J alur LaluLintas x= b+a+b=BadanJ alan

= RuangMilik J alan(RUMIJ A) b= BahuJ alan

= RuangPengawasanJ alan(RUWASJ A) c = SaluranTepi

= Bangunan d= Trotoar

Gambar Ruang bagian dari jalan secara melintang jalan pada di bawah tanah
dasar

Pada Pasal ini ke bawah, harus mengakodasi kepentingan:


Jalan antara kota (Takterbangun)
Jalan perkotaan (Terbangun)
Bagian Kedua
Unsur Jalan

Jalur:
Pasal 10
(1) Jalur merupakan bagian badan jalan yang dipergunakan untuk lalulintas kendaraan
baik untuk satu arah atau lebih, dan terdiri dari dua atau lebih lajur;

Lajur:
Pasal 11
(1) Jumlah lajur lalulintas pada ruas jalan paling sedikit adalah dua lajur per arah atau
empat lajur dua arah terbagi.

(2) Dalam hal jumlah lajur per arah melebihi 4 lajur, maka dua lajur terluar di sebelah kiri
dipisahkan dengan lajur-lajur lain dengan menggunakan marka yang menggunakan
paku jalan dengan pemantul cahaya berwarna kuning.

(3) Marka dengan paku jalan yang dimaksud pada ayat (2) harus dirancang dan
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam standar dan/atau pedoman yang
berlaku.

(4) Perencanaan lebar lajur lalulintas dipengaruhi oleh kecepatan rencana yang
digunakan.

(5) Lebar lajur lalulintas harus memenuhi ketentuan yang terdapat pada lampiran yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 12
Tentang Lajur Cepat/Lambat

Median:
Pasal 13
(1) Median jalan berfungsi memisahkan arus lalulintas yang berlawanan arah sehingga
memberikan tingkat keselamatan yang lebih tinggi bagi pengguna jalan.

(2) Median dapat berbentuk median yang direndahkan (depressed median), median
yang ditinggikan (raised median), atau median yang sebidang dengan permukaan
perkerasan jalan (flushed median).
(3) Lebar median minimum adalah 550 cm untuk jalan antar kota dan 300 cm untuk
jalan di wilayah perkotaan, diukur dari tepi dalam lajur lalulintas.

(4) Median yang direndahkan dengan lebar minimum harus dilengkapi dengan rel
pengaman atau pengaman jenis lainnya yang sesuai.

(5) Untuk kondisi khusus di mana lebar Rumija tol terbatas, maka lebar median paling
sedikit adalah 280 cm untuk jalan antar kota dan 160 cm untuk jalan di wilayah
perkotaan.

(6) Penentuan kondisi khusus yang dimaksud pada ayat 5 harus mendapat persetujuan
Pembina Jalan;

(7) Median dapat mempunyai bukaan untuk tempat berputar ke arah yang berlawanan
bagi petugas jalan tol pada kondisi darurat.

(8) Lebar minimum bukaan median yang dimaksud pada ayat (7) adalah 10 meter.

(9) Ketentuan mengenai median terdapat pada lampiran yang merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Trotoar:
Pasal 14
(1) Trotoar berfungsi sebagai jalur pejalan kaki yang diperkeras dan ditinggikan.

(2) Trotoar ditempatkan sejajar dengan lajur lalulintas kendaraan

(3) . . . . . . . . . . . . . . . .

Bahu:
Pasal 15
(1) Bahu jalan adalah bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur
lalulintas yang dimaksudkan untuk menampung lalulintas pada kondisi darurat dan
sebagai pendukung samping bagi lapis pondasi bawah, dan lapis permukaan;

(2) Untuk jalan antar kota lebar bahu luar minimum adalah 200 cm dan lebar bahu
dalam minimum adalah 100 cm, sedangkan untuk jalan di wilayah perkotaan lebar
bahu luar minimum adalah 1000 cm dan lebar bahu dalam minimum adalah 50 cm;

(3) Untuk jalan yang terletak di atas permukaan tanah, ramp simpang susun, dan jalan
penghubung lebar bahu luar minimum adalah 150 cm dan lebar bahu dalam
minimum adalah 50 cm;
(4) Pada jalan berupa konstruksi jalan layang, jembatan panjang, atau terowongan
dengan panjang lebih dari 1 (satu) km dan mempunyai lebar bahu luar 150 cm,
harus disediakan tempat parkir darurat berbentuk teluk (parking bay atau lay-bay) di
setiap jarak antara 500 m hingga 750 m pada arah yang sama;

(5) Tempat parkir darurat yang dimaksud pada ayat (4) paling sedikit mempunyai lebar
3,5 m, panjang efektif 20 m, dan panjang taper 20 m.

Saluran Samping:
Pasal 16
(1) . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . .

Ruang Hijau:
Pasal 17
1) . . . . . . . . . . . . . . .

2) . . . . . . . . . . . . . . .

BAB IV
ALINEMEN

Bagian Pertama
Alinemen Harisontal

Lengkungan:
Pasal ...
(1) Lengkung lingkaran harus menggunakan jari-jari dan superelevasi yang sesuai,
dengan memperhatikan kenyamanan dan keselamatan lalulintas.

(2) Superelevasi maksimum yang dapat digunakan pada kondisi normal adalah 8% dan
pada kondisi khusus adalah 10%.

(3) Kondisi khusus seperti dimaksud pada ayat (2) disebabkan oleh kendala topografi,
tata guna lahan, faktor lingkungan, atau faktor-faktor lain, yang penetapannya harus
mendapat persetujuan Pembina Jalan.
(4) Jari-jari minimum absolut dan superelevasi maksimum sebesar 10% hanya dapat
diterapkan pada kondisi khusus dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan,
keamanan, dan kenyamanan.

(5) Jari-jari minimum absolut yang dimaksud pada ayat (4) merupakan jari-jari lengkung
lingkaran minimum yang masih menjamin kendaraan dapat berjalan dengan
kecepatan rencana melintasi tikungan yang direncanakan dengan aman sedemikian
rupa sehingga koefisien gesekan samping yang timbul masih lebih kecil daripada
koefisien gesekan samping yang diijinkan pada superelevasi maksimum yang
digunakan.

(6) Penentuan panjang lengkung lingkaran minimum dipengaruhi oleh kecepatan


rencana dan sudut simpang (intersection angle).

(7) Ketentuan mengenai jari-jari lengkung, superelevasi, dan panjang lengkung


lingkaran minimum terdapat pada lampiran yang merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

(8) Lengkungan jenis busur lingkaran digunakan pada tikungan dan dimaksudkan untuk
mengimbangi gaya sentrifugal dan agar kendaraan tetap pada lajurnya.

Lengkung Peralihan:
Pasal 76
(1) Alinyemen horisontal antara bagian jalan yang lurus (tangent) dan bagian jalan yang
berbentuk lengkung lingkaran, atau antara dua bagian jalan yang berbentuk
lengkung lingkaran dengan jari-jari yang berbeda, direncanakan dengan lengkung
peralihan yang berbentuk spiral (clothoide).

(2) Lengkung peralihan dimaksudkan untuk memberikan tingkat keselamatan dan


kenyamanan yang lebih tinggi bagi pengguna jalan pada saat bergerak di tikungan.

(3) Ketentuan mengenai lengkung peralihan terdapat pada lampiran yang merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Jarak Pandang:
Pasal ..
(1) Jarak pandang henti adalah panjang minimum bagian jalan di depan pengemudi
yang masih dapat dilihat secara jelas oleh pengemudi dan memungkinkan
pengemudi untuk menghentikan kendaraannya sebelum mencapai suatu obyek
yang berada di lintasannya.
(2) Jarak pandang henti diukur pada sumbu lajur lalulintas tempat kendaraan
bergerak dan ditetapkan berdasarkan tinggi mata 120 cm dan tinggi obyek 10 cm
di atas permukaan jalan.

(3) Ketentuan mengenai jarak pandang henti terdapat pada lampiran yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Jalan Masuk dan Keluar


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Kemiringan Melintang Jalan:


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Jarak dan Kebebasan Pandang:


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . .

Bagian Kedua
Alinemen Vertikal

Lengkung Vertkal:
Pasal ...
(1) Lengkung vertikal berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian alinyemen yang
mengalami perubahan pelandaian.

(2) Lengkung vertikal harus dirancang dengan memperhatikan kenyamanan,


keselamatan, dan keamanan pengguna jalan.

(3) Apabila jumlah aljabar landai yang berpotongan lebih kecil daripada 1,5%, maka
persyaratan lengkung vertikal dapat diabaikan.
(4) Ketentuan mengenai jari-jari minimum dan panjang minimum lengkung vertikal
terdapat pada lampiran yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.

Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . .

Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . .

Bagian Ketiga
Terowongan

(1) Dimaksud dengan terowongan dimana sekelilingnya tertutup, secara umum elevasi
jalan tersebut berada di bawah permukaan tanah.

(2) Tipe jalan dan lebar lajur harus sama seperti bagian jalan sebelum masuk atau
keluar terowongan;

(3) Lebar Rumaja terowongan disesuaikan dengan kebutuhan ruang bebas ke arah
samping.

(4) Tinggi ruang bebas minimum pada terowongan diukur dari permukaan jalan tertinggi
adalah 500 (lima ratus) cm.

(5) Badan jalan harus dilengkapi dengan instalasi atau pipa-pipa saluran drainase agar
air yang masuk terowongan dapat mengalir secepatnya dari badan jalan.

(6) Terowongan dirancang dengan memperhatikan persyaratan pencahayaan, sesuai


dengan ketentuan untuk lampu penerangan jalan umum yang berlaku.

(7) Bila panjang terowongan melebihi 20 (dua puluh) meter, maka terowongan harus
dilengkapi dengan lampu dan ventilasi terbuka yang terlindung dari air hujan, yang
dibangun di bawah median jalan yang berada di atasnya.

(8) Lubang ventilasi harus dilengkapi dengan tralis baja berbentuk grid yang kuat,
dengan ukuran kisi-kisi 50 (lima puluh) mm x 50 (lima puluh) mm.
BAB V
PERSIMPANGAN

Bagian Pertama
Persimpangan Sebidang

Tentang Bentuk Simpang:


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Pertemuan Kaki Simpang:


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Kelandaian:
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bagian Kedua
Persimpangan Tak-Sebidang
Tentang Bentuk Simpang:
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Pertemuan Kaki Simpang:


Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang Kelandaian:
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bagian Ketiga
Jalan Masuk Perkotaan

Tentang . . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang . . . . . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang . . . . . . . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentang . . . . . :
Pasal ...
(1) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

(2) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB V
BANGUNAN DAN PERLENGKAPAN JALAN

Bagian Pertama
Bangunan Perlengkapan Jalan

Pasal ...

Bagian Kedua
Perlengkapan Jalan

Pasal ...
BAB VI

KETENTUAN PENUTUP
Pasal ...
(1) Persyaratan teknis jalan sebagaimana diatur pada Peraturan Menteri ini beserta
lampirannya dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
(2) Pengoperasian jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan dievaluasi
secara berkala berdasarkan hasil pengawasan fungsi dan manfaat .
(3) Evaluasi yang dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Menteri.
(4) Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal .....................

MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO