P. 1
Majalah GURU Edisi 1/2011

Majalah GURU Edisi 1/2011

|Views: 1,634|Likes:
Dipublikasikan oleh Dipo Handoko
Majalah GURU diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (SDMP dan PMP)
Majalah GURU diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (SDMP dan PMP)

More info:

Published by: Dipo Handoko on Sep 06, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

S

I have come to believe that a great teacher is a great artist and that there are as few as there are any other great artists. Teaching might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit (John Steinbeck , 1902-1968)

CATATAN REDAKSI
SAYA menyambut baik terbitnya Majalah GURU Edisi I Tahun 2011 ini, yang pada edisi sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan rutin Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK). Reformasi birokrasi telah menghapus Ditjen PMPTK berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi, Eselon I Kementerian Negara, yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2010. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional menjelaskan secara rinci susunan organisasi Kemdiknas. Salah satu yang baru dalam organisasi Kemdiknas adalah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Badan PSDMP dan PMP inilah yang kini menangani penerbitan Majalah Guru. Keberlangsungan Majalah Guru perlu dijaga bukan semata menjaga eksistensi media ini. Namun Majalah Guru selama ini telah menjadi bagian dari wahana pemerintah untuk menyampaikan kebijakan, program, dan kegiatan peningkatan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK). Tanggung jawab terhadap penyusunan kebijakan teknis dan pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) ini kini tidak ditangani satu institusi Eselon I seperti halnya era Ditjen PMPTK.

''

Badan PSDMP dan PMP yang dipimpin Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, hanya bertugas menyusun kebijakan teknis dan pengembangan PTK. Sedangkan terkait perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis di bidang PTK dilaksanakan oleh sejumlah direktorat, yakni Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah, dan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal. Badan PSDMP dan PMP juga membawahi pengembangan profesionalitas tenaga pimpinan pegawai di lingkungan Kemdiknas. Peran ini dulu dijalankan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kemdiknas. Bidang lain yang menjadi kewenangan Badan PSDMP dan PMP adalah penjaminan mutu pendidikan. Kedekatan cakupan kerja Badan PSDMP dan PMP dengan direktorat terkait membutuhkan penyelarasan. Badan PSDMP dan PMP lebih fokus pada penyusunan standar, mekanisme dan prosedur pengembangan PTK. Direktorat terkait fokus pada sistem perencanaan dan pemberdayaan PTK, yang penyelenggaraannya berdasarkan produk hasil Badan PSDMP dan PMP. Saya berharap penerbitan Majalah Guru di era Badan PSDMP dan PMP bisa jauh lebih efektif sebagai media informasi dan komunikasi bagi PTK, baik di jalur pendidikan formal maupun nonformal.

Saya percaya bahwa seorang guru yang hebat adalah seniman besar, dan hanya ada beberapa seniman yang benar-benar besar. Mengajar mungkin merupakan seni terbesar karena mediumnya adalah pikiran dan semangat manusia.

Jakarta, Mei 2011 Pemimpin Redaksi

Drs. Sam Yhon , MM NIP 195812061980031003

NOMOR 1 TAHUN I MEI 2011
PEMBINA: Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Kepala Badan PSDMP dan PMP PENGARAH: Ir. Giri Suryatmana (Sekretaris Badan PSDMP dan PMP) Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd (Kepala Pusbang Prodik) Dr. Abi Sujak (Kepala Pusbang Tendik) Muhammad Hatta, M.Ed, Ph.D (Kepala Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan) PEMIMPIN REDAKSI/PENANGGUNG JAWAB: Drs. Sam Yhon, MM Kabag Umum Sekretariat Badan PSDMP dan PMP SIDANG REDAKSI: Budha Gautama, D.B. Pt. Ngr Pantjaudara KP, Tina Jupartini, Nyoman Subamia, Nuhman, Saiful Anam, Dipo Handoko, Mukti Ali, Eva Rohilah, Nabilla Desyalika Putri, Andi Wahyudi DISAIN VISUAL: Dipo Handoko SEKRETARIAT: Rima Martgiani, Evi Anita Siregar, Ilham, Yuhana, IDG Agung Indira, Firdaus Syah, Andrika Remiyanti, Jenny Marsaulina, Wilhelmus Doni, Panji Wibisono, Evi Susilowati, Supriono PENERBIT: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional ALAMAT REDAKSI: Sekretariat Badan PSDMP dan PMP Gedung D Lt. 17 Kompleks Kemdiknas Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Jakarta Telepon: 021-57974164, Faksmilii: 021-57974163
4
Pembaca Majalah GURU yang budiman, Mungkin sidang pembaca bertanya-tanya, Majalah GURU berubah, baik dari sisi tampilan, nomor majalah yang bermula dari Edisi 1 kembali, hingga Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP) sebagai penerbit. Memang, majalah ini merupakan edisi perdana yang diterbitkan Badan PSDMP dan PMP, institusi Eselon I yang baru didirikan pada 2 Desember 2010, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2010. Meski institusinya baru, sejatinya para pengelola Majalah GURU tidak 100% baru. Awak redaksi dan sekretariat yang terlibat sebenarnya "orang-orang lama" yang dulu mengabdi di Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK). Reformasi birokrasi Kemdiknas menghapus Ditjen PMPTK. Sebagian tugas dan fungsi Ditjen PMPTK kini diemban Badan PSDMP dan PMP, yakni dalam perumusan kebijakan teknis dan pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK). Sedangkan menyangkut perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis bidang PTK dilaksanakan sejumlah direktorat, yakni Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah, dan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal. Majalah GURU pun merasakan perubahan itu. Pemimpin Redaksi kini dijabat Drs. Sam Yhon, MM, yang pernah tergabung dalam Ditjen PMPTK kurun 2005-2008. Tak ada salahnya di "edisi perdana" kami mengenalkan jajaran pengelola yang baru. Kami berharap dengan gairah baru, majalah ini bisa semakin besar berkontribusi dalam peningkatan mutu PTK dan penjaminan mutu pendidikan. Edisi ini mengangkat cover story mengenai Badan PSMP dan PMP, dari A sampai Z kami bahas di Laporan Utama. Tulisan-tulisan lainnya adalah seputar peristiwa penting seperti Rembuk Nasional Pendidikan 2011, peringatan Hari Pendidikan Nasional, serta isu-isu baru lainnya. Selamat membaca!

Kehadiran Badan PSDMP dan PMP sebagai institusi baru juga diikuti hadirnya orang-orang baru. Satu di antaranya adalah Drs. Sam Yhon, MM, yang mendapat tugas baru sebagai Kepala Bagian Umum, Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Sejatinya, Pak Sam Jon, biasa orang menyapa, bukan orang baru di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). NIP-nya menunjukkan pria berkumis tebal ini mengabdi sebagai PNS pada tahun 1980. Lama berkecimpung di bagian program di Direktorat Pembinaan SMP selama kurun 1989-2005. Kemudian ditugaskan di masa awal Ditjen PMPT K (2005-2008) sebagai Kasubag Data dan Informasi. Sempat "melompat" berpindah di bagian yang sama sekali berbeda, yakni di Inspektorat Jenderal Kemdiknas. "Dari dulu cita-cita saya memang menjadi pemeriksa," kata pria kelahiran Pematang Siantar, 6 Desember 1958 ini. Dulu, ceritanya, jadwal seleksi di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) bersamaan, yakni pada 12 Desember 1979 --tanggal yang masih diingat Sam Jon. Namun dengan sejumlah pertimbangan, Sam Jon akhirnya memilih Depdikbud sebagai pengabdiannya. Masuk di Bagian Program Badan PSDMP dan PMP justru dunia baru baginya. Namun tak butuh lama buatnya untuk beradaptasi. Sam Jon melihat Badan PSDMP dan PMP memiliki tugas lebih berat dari tugas direktorat yang juga bertanggung jawab terhadap pembinaan kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK). "Sebagai pembina PTK mestinya harus lebih baik dari yang dibina," kata Pemimpin Redaksi Majalah GURU ini. Sam Jon pun antusias dengan penerbitan Majalah GURU. Ia ingin muatan majalah pada penerbitan ke depan bisa jauh lebih banyak bernuansa untuk kepentingan peningkatan mutu PTK. Distribusi majalah juga harus bisa menjangkau lebih banyak PTK. "Sudah seharusnya majalah tidak hanya disimpan, tapi harus banyak dibaca oleh banyak orang," katanya.

Bagi pembaca Majalah GURU, nama Drs. Budha Gautama, MM, boleh dibilang tak asing. Ia awak redaksi yang sering nongol di majalah melalui tulisan-tulisannya tentang persuratan dan kearsipan. Mantan Kasubag Tata Usaha, Bagian Umum, Set. Ditjen PMPTK ini menjabat kasubag Persuratan dan Kearsipan, Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Tengok saja tulisan kolom di "edisi perdana" Majalah GURU di era Badan PSDMP dan PMP. " T u l i s a n saya seb atas persoalan yang b erhubungan dengan bidang persuratan dan kearsipan yang saya geluti cukup lama. Melalui tulisan saya banyak belajar untuk meningkatkan kompetensi saya," kata Budha Gautama yang masih rutin bermain tenis setiap pekannya. Budha menilai penerbitan majalah bukan semata simbol institusi. Majalah GURU adalah media tepat bagi Badan PSDMP dan PMP untuk mensosialisasikan program dan kebijakan. Kalangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), juga punya ruang untuk menulis seputar pengalaman, permasalahan dan best practices yang banyak bermanfaat bagi PTK lain.

N a m a n y a memang baru muncul di edisi ini. Dijamin orang yang baru mengenalnya akan sulit menghapal namanya. Catat: D.B. Pt. Ngr. Pantjaudara K.P. Pak Putu, b egitu rekanrekannya di kantor biasa memanggil, memang baru dipindahtugaskan dari tempat lamanya, Pusdiklat Pegawai Kemdiknas ke Badan PSDMP dan PMP. "Sejak awal bekerja di Kemdiknas tahun 1989, saya ditempatkan di Pusdiklat Sawangan," kata pria 51 tahun yang menjabat Kasubbid Diklat Teknis dan Fungsional, posisi terakhirnya di Pusdiklat Pegawai. Lama di Pusdiklat Pegawai, otomatis membuat ia kenal b anyak p egawai Kemdinas, yang sudah p asti harus mengikuti diklat. "Ketika saya dipindah ke sini, beruntungnya banyak yang sudah saya kenal baik. Mereka semua mendukung pekerjaan baru saya," kata Putu yang kini bertanggung jawab sebagai Kasubag Rumah Tangga, Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Ia berharap bisa menyumbangkan tenaga untuk pengelolaan mahalah GURU mejadi lebih baik lagi.

Awak redaksi satu ini rajin membantu distribusi. Di sekitar tempat tinggalnya, ia antar sendiri majalah ke beberapa rekan guru dan tenaga kependidikan yang dikenalnya. Saat tugas ke luar kota, Nuhman, SE, M.Pd memboyong segepok majalah untuk disebar di daera-h yang dikunjunginya. " S a y a n gn y a , d i s t r i b u s i Majalah Guru belum menjangkau banyak guru di semua kabupaten/kota. Pernah satu kunjungan ke daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, ada guru-guru yang belum pernah mendapat kiriman majalah GURU. Jika distribusi bisa lebih banyak menjangkau para guru pasti lebih baik," kata Nuhman, yang tengah merampungkan program doktornya. Nuhman berharap ada upaya penambahan oplah, dengan distribusi yang menjangkau banyak guru di daerah, dan benar-benar sampai. Selain itu, Majalah Guru perlu diperkaya dengan tulisan dari PTK dan pejabat terkait di lingkungan Kemdiknas.

5

Nyoman Subamia SE, MM, juga tergolong "senior" pengelola Majalah GURU, sejak awal ia terlibat dalam keredaksian. Ia berharap Majalah GURU ke depan bisa memuat informasi yang lebih fresh tiap edisinya. ”Mungkin edisi dua bulanan sehingga informasi yang kita sampaikan ke pembaca masih segar," kata staf Bagian Umum Badan PDSMP dan PMP. Menurut Nyoman, Majalah GURU amat diperlukan para Pendidik dan Tenaga Kep endidikan (PT K), terutama di daerah. Sebab majalah pendidikan yang seperti Majalah GURU sangat jarang yang bisa menjangkau PT K di daerah. Jika informasi bisa sampai ke daerah, konten majalah juga semakin berbobot, Majalah GURU turut andil meningkatkan kinerja Badan PSDMP dan PMP dalam mengantarkan pembentukan PTK profesional.

Pos jabatannya berpindah: di masa Ditjen PMPT K dipercaya sebagai Kasubag Rumah Tangga, Bagian Umum, Sekretariat Ditjen PMPT K, kini ia menjabat Kasubag Barang Milik Negara, Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Namun keterlibatannya sebagai pengelola Majalah GURU tetap ia jalani di sela kesibukannya. Namanya, Dra. T ina Jupartini, M.Pd, tetap ada di jajaran redaksi. Di setiap rapat redaksi Majalah GURU, rasanya kurang afdol tanpa kehadiran wanita berjilbab yang tetap cantik di usianya yang genap 45 tahun, pada 6 Juni lalu. Sepanjang pengamatannya, Majalah GURU mendapat sambutan hangat di kalangan guru. Sejumlah guru pernah meminta bisa berlangganan rutin. Tentu saja, Majalah GURU yang dibiayai APBN tidak boleh dijual. Distribusi majalah yang sebagian dikirim ke sekolah-sekolah diharapkan bisa menjangkau banyak guru. “Tentu tidak mungkin bisa dikirim ke semua guru yang jumlahnya hampir 2,8 juta, karena anggarannya tidak mencukupi,” katanya. Namun setidaknya di setiap sekolah, satu majalah bisa dibaca puluhan guru secara bergantian.

Rima Martgiani, S.Sos, sehari-harinya bekerja di subbagian BMN, Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Rima juga berkecimpung mengelola Majalah Guru sejak terbitan perdana, Desember 2006, saat masih ditangani Ditjen PMPTK. "Isinya semakin bagus dan semakin banyak informasi yang bermanfaat bagi guru dan tenaga kependidikan. Jika jadwal terbitanya lebih banyak dalam setahun tentu lebih bagus," kata wanita kelahiran 6 Maret 1979 ini. Rima berharap konten majalah ke depan bisa lebih memasukkan tulisantulisan dari kalangan guru dan tendik sendiri. Sebab kemampuan menulis bagi guru dan tendik kini menjadi sangat penting. "Kenaikan pangkat dari golongan III kini kan harus disertai syarat menulis karya ilmiah. Jadi ini kesempatan bagi guru untuk belajar menulis," kata Rima yang hobi berenang ini. Namanya singkat: Yuhana. Namun keterlibatannya dalam mengelola Majalah GURU tak singkat. Kesibukannya di seputar kesekretariatan, di antaranya menyiapkan ruang, jadwal dan materi rapat, hingga mendistribusikan hasil tulisan untuk diperiksa ke para editor naskah. Meski tak terlibat dalam penulisan, namun Hana, sapaan akrabnya, tetap setia membaca tiap edisi. "Isinya bagus, banyak informasi yang bisa menambah wawasan dan ilmu bagi para guru," kata wanita kelahiran 29 Juli 1985 ini. Informasi tentang kebijakan dan kegiatan pembinaan PT K di Badan PSDMP dan PMP pun bisa di dapat para guru dan tendik di daerah. "Jika bisa menjangkau ke semua kabupaten, kota, tentu sangat bermanfaat bagi mereka. Sehingga mereka yang di daerah selalu update berita di Kemdiknas, khususnya pembinaan PTK dan penjaminan mutu, cukup dengan membaca majalah GURU," katanya.

daftar isi
3 4 7 10
CATATAN REDAKSI SALAM REDAKSI DINAMIKA Wamendiknas Fasli Jalal: Masalah Terbesar Guru Ada di SD LAPORAN UTAMA Meningkatkan Kinerja Kemdiknas Melalui Badan PSDMP dan PMP Wawancara Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Profil Sekretariat Badan PSDMP dan PMP Profil Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Profil Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Profil Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan

7-9

10-25

26 32

GURU Mengoptimalkan Keterbukaan Seleksi Peserta Sertifikasi Gerak Cepat Lahirkan Guru Profesional LPMP LPMP Nanggroe Aceh Darussalam LPMP Papua LPMP Lampung LPMP Sulawesi Selatan P4TK QITEP Centre P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang PENJAMINAN MUTU Evaluasi Diri Sekolah PERISTIWA Puncak Hardiknas 2011 Seminar Pendidikan Karakter Rakor Badan PSDMP dan PMP Ujian Nasional Rembuk Nasional Pendidikan KOLOM Drs. Budha Gautama, MM UNIT KERJA BADAN PSDMP DAN PMP

40 44
46

46-59

60 62

[D]

DINAMIKA Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Fasli Jalal, PhD
7

PENULIS: SAIFUL ANAM FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO, DOK.FASLI JALAL

MASALAH TERBESAR GURU ADA DI SD

M

MENYUSUL diberlakukannya reformasi birokrasi internal di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan dari jenjang TK sampai SMA/SMK yang sebelumnya ditangani secara khusus oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), kini ditangani sejumlah lembaga. Pertama, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Unit utama setingkat eselon satu ini antara lain menangani proses pelaksanaan sertifikasi guru, evaluasi kinerja guru, peningkatan kinerja guru, peningkatan kompetensi tenaga kependidikan (kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga laboran,

tenaga administrasi sekolah, dan tenaga perpustakaan sekolah), hingga penjaminan mutu pendidikan. Kedua, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (Dit. P2TK Dikdas), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar. Direktorat ini antara lain menangani peningkatan kualifikasi guru, perencanaan kebutuhan guru, pembayaran tunjangantunjangan guru, hingga penghargaan dan perlindungan. Direktorat P2TK Dikdas

menangani PTK SD dan SMP. Ketiga, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah (Dit. P2TK Dikmen), Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Program yang dijalankan direktorat ini secara umum sama dengan Dit. P2TK Dikdas, hanya fokus utamanya pada para PTK di tingkat SMA dan SMK. Keempat, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

DOK. FASLI JALAL

[D]

DINAMIKA
mahal, karena kemampuan pedagogik guru-guru tersebut amat lemah. Padahal, pembelajaran di SD yang paling penting adalah joyfull learning atau PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). “Mestinya guru-guru senior yang berpengalaman dan sangat canggih kemampuan pedagogiknya, yang harus mengajar di SD. Tetapi kita ini terbalik. Karena luapan jumlah sekolah dari proyek SD Inpres, akhirnya mutu guru kita korbankan,” ungkapnya. Fasli Jalal menambahkan, inilah konsekuensi yang harus kita terima, yang mengakibatkan mutu pendidikan di SD terus bermasalah. “Jangankan melakukan joyfull learning, untuk melaksanakan prinsip-prinsip pedagogik yang minimal saja mereka tidak bisa memenuhi. Apalagi kalau kita kaitkan dengan berbagai paradigma pembelajaran yang baru, yang menempatkan guru sebagai bagian dari masyarakat pembelajar, guru adalah pembelajar seumur hidup, pembelajaran yang berpusat kepada siswa, quantum learning, dan lain-lain, mereka jelas tidak mengenal. Padahal, seharusnya guru SD paling canggih kemampuan pedagogiknya. Tetapi karena kualifikasinya seperti itu dan jumlahnya banyak, maka mutu mereka terabaikan,” tandasnya terus terang.

DOK. FASLI JALAL

Usia Dini Nonformal dan Informal (Dit. P2TK PAUDNI), Direktorat Jenderal PAUDNI. Direktorat ini merupakan kelanjutan dari Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (Dit. PTK-PNF) yang dulu ada di bawah Ditjen PMPTK. Hanya saja, direktorat ini lebih menitikberatkan pada pembinaan PTK PAUD yang merupakan salah satu program prioritas Kemdiknas. Selain itu, direktorat ini juga menangani PTK pada PAUD formal (Taman Kanak-kanak), yang sebelumnya ditangani oleh Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK. Sementara Direktorat PTK-PNF dulu hanya menangani PTK pada PAUD nonformal.

TERBESAR DI SD
Berdasarkan data terbaru di Kementerian Pendidikan Nasional (NUPTK 2011), jumlah guru kita saat ini dari tingkat Taman Kanakkanak (TK) hingga SMA/SMK sebanyak 2.791.204 orang. Sekitar 800.000 guru lainnya berada dalam binaan Kementerian Agama. Secara kualifikasi akademik, dari 2.791.204 guru binaan Kemdiknas, sebanyak 1.540.413 guru (55,19%) belum memiliki kualifikasi

8

akademik S1 atau D-IV. Sedangkan guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik baru sebanyak 746.727 orang, atau baru sekitar 27%. Menurut Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, dari hampir 2,8 juta guru itu kurang lebih 1,45 juta merupakan guru SD, dan kurang lebih 600.000 guru SMP. Dengan demikian, lebih dari 2 juta guru mengajar di tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP). Khusus di tingkat SD, selain jumlahnya paling banyak, persoalan paling berat adalah menyangkut kualifikasi akademiknya. “Dulu waktu mereka diangkat menjadi guru syaratnya cukup lulusan SPG atau setara dengan SPG. Bahkan pada awal kita menggalakkan SD Inpres tahun 1970an, kita waktu itu mengangkat guru besar-besaran dari kondisi apa adanya untuk memenuhi kebutuhan guru. Tidak sedikit lulusan SD, SMP, SMEP, dilatih di KPG (Kursus Pelatihan Guru) beberapa bulan saja kemudian diangkat jadi guru SD. Syukur-syukur kalau mereka lulusan STM, SMA, SMEA, atau SKKA,” katanya. Akan tetapi, lanjut Fasli Jalal, apa yang dilakukan pemerintah waktu itu harus dibayar

DAERAH KURANG OPTIMAL
Dalam pandangan Fasli Jalal, mutu guru SD semakin memprihatinkan antara lain juga disebabkan oleh penanganannya yang dulu dilakukan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota. Dinas pendidikan mengurus tiga M, yaitu money, material, dan man. Sayangnya, mereka cenderung melihat guru lebih sebagai komoditas dibanding sebagai tenaga profesional. Disamping itu, dinas juga tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan mutu guru. Berbeda dengan guru SMP, SMA, dan SMK, yang pembinaan mutunya jauh lebih baik karena langsung dipegang Kantor Wilayah (Kanwil) yang merupakan perwakilan pusat. “Jadi sebetulnya masalah paling besar pendidikan kita sampai sekarang, terutama gurunya, ada di SD. Hal itu pula yang menyebabkan mutu SMP dan SMA/SMK tidak pernah mencapai standar. Saya tidak punya penelitian, tapi feeling saya mungkin hanya sekitar 10 s.d 20% lulusan SD yang betul-betul memenuhi standar secara wajar lulus SD dan layak masuk SMP,” tutur Fasli Jalal. Karena sebagian besar anak-anak

lulusan SD yang masuk kelas satu SMP tidak memenuhi standar, maka mereka diberi remedial selama beberapa bulan, bahkan ada pula yang sampai satu tahun. Tapi banyak juga SMP yang menerima lulusan SD apa adanya. “Akibat selanjutnya, ketika anak-anak tersebut lulus SMP, juga tidak memenuhi standar yang diharapkan atau layak untuk masuk ke jenjang berikutnya. Hal serupa juga terjadi bagi anak-anak lulusan SMA/SMK . Jadi persoalan pendidikan kita terus berputar seperti itu, yang diakibatkan oleh rendahnya mutu guru-guru SD kita,” katanya. Kondisi ini tentu sangat mencemaskan. Akibatnya, anak-anak yang bisa masuk ke perguruan tinggi bagus pada umumnya berasal dari sekolah-sekolah yang memenuhi standar mutu, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK. Padahal, sekolah-sekolah seperti itu pada umumnya terdapat di kota-kota dan di Pulau Jawa. Dampak selanjutnya, kesenjangan sebakin besar. Inilah persoalan besar yang kita hadapi. “Jadi guru SD itu jumlahnya besar, tapi profesionalisme dan kualifikasinya amat terbatas. Pada waktu saya masih Dirjen Dikti, saya lihat datanya ketika akan dilakukan sertifikasi guru, sekitar 90% kualifikasi akademiknya masih di bawah S1. Mereka tersebar di dua kelompok besar, yaitu lulusan SPG dan D-II,” katanya. Dulu guru-guru SD juga selalu dicitrakan dengan hal-hal yang kurang baik. “Bayangan orang kalau mendengar profesi guru SD itu digambarkan seperti guru SD Inpres, pakai sandal jepit, gajinya sangat rendah, hidupnya pas-pasan, dan gedung sekolahnya juga sangat sederhana. Fakta itu diterima apa adanya. Padahal image seperti ini mengganggu benar profil guru kita,” ujar Fasli. Dari sisi itulah, tambah Fasli, kita bisa melihat betapa beratnya persoalan PTK, terutama guru SD. Jumlahnya besar, kualifikasi akademik yang belum baik, rekrutmennya dulu dilakukan asal-asalan tanpa mempertimbangkan kemampuan pedagogiknya, kesejahteraannya dulu kurang baik, sehingga image guru SD di mata masyarakat sejak dulu sampai sekarang masih dilihat sebagai profesi yang rendah. Jadi mengangkatnya memang agak berat dan perlu kerja keras. Dari sisi kompetensi, Fasli Jalal juga pernah menemukan ada guru SD yang sudah bekerja selama 24 tahun tapi belum pernah sekali pun mendapatkan pelatihan. Ini terutama terjadi di daerah-daerah pinggiran. Padahal kalau seorang guru secara periodik

mendapat pelatihan, pasti pengetahuannya akan bertambah baik. Karena jumlahnya banyak, akhirnya mereka kurang terurus. Dampak selanjutnya, gapnya besar sekali antara kompetensi guru SD di desa dan di kota. “Saya juga pernah menjumpai guru-guru SD yang masih menggunakan kurikulum 1974 atau 1984. Saya waktu berkunjung ke Yahukimo, Papua, beberapa tahun lalu, bertemu dengan para guru di sana dan mereka bangga menunjukkan buku kurikulum 1984 kepada saya. Rupanya, waktu sekolah itu dibangun langsung dikasih buku-buku baru, tetapi setelah itu tidak pernah mendapatkan lagi. Saya bilang, masya Allah. Tapi itu realita,” ungkapnya.

UPAYA PERBAIKAN
Melihat kondisi guru-guru SD yang seperti itu, kata Wamendiknas Fasli Jalal, pemerintah dalam hal ini Kemdiknas berupaya keras membuat para guru SD memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebagai guru dan punya profesionalisme. Efektivitas mereka dalam mengajar terus dipacu supaya menjadi lebih baik. “Kebanggaan mereka sebagai guru harus tercipta, karena kebanggaan profesi itu penting. Selain itu, bagaimana mendorong mereka untuk mau melakukan pengembangan profesi secara berkelanjutan (continuous professional development/CPD),” katanya. Oleh karena itu, sejak menjadi Dirjen PMPTK dulu, Fasli Jalal gigih menyediakan dana block grant kepada KKG (Kelompok Kerja Guru) di kabupaten/kota hingga kecamatan, supaya melalui dana bantuan tersebut KKG secara periodik mereka bisa bertemu setiap

bulan. “Nah, sekarang di BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sudah dimasukkan. Guru boleh melakukan pertemuan KKG dengan menggunakan dana BOS,” ujarnya. Kualifikasi akademik para guru SD juga terus ditingkatkan, karena ini merupakan pekerjaan besar. Kesejahteraannya terus ditingkatkan. Dari sisi kesejahteraan ini, syukurlah para guru sekarang sudah jauh lebih makmur dibanding dulu. Proses kenaikan pangkatnya juga baik. “Bahkan orang-orang kecamatan dan puskesmas itu cemburu benar terhadap guru-guru SD, karena proses kenaikan pangkatnya cepat. Setiap dua tahun sekali naik pangkat. Tapi mereka kemudian stagnan di pangkat IVa, karena terbentur kemampuan menulis karya ilmiah untuk naik ke pangkat IVb. Karena itu sekarang banyak menumpuk guru-guru SD kita pada level itu,” katanya. Proses sertifikasi guru bagi mereka yang sudah memenuhi syarat juga harus dipercepat. Selain itu, mereka juga terus ditingkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), agar mereka bisa men-download berbagai bahan yang relevan untuk memperkaya materi pelajaran. “Mungkin hanya ada satu atau dua guru di kecamatan yang canggih dalam menggunakan komputer, tapi itu sudah cukup kalau mereka bisa men-download bahanbahan melalui internet. Apalagi kalau guru-guru yang lain lama-lama juga ikut. Kalau ini bisa dilakukan secara gratis, paling-paling nanti yang diperlukan hanya biaya fotokopi saja yang nilainya tidak seberapa. Itulah yang kita harapkan,” tegas Fasli.

9

Wamendiknas Fasli Jalal saat berbicara pada pembahasan Komisi I Rembuk Nasional Pendidikan 2011, didampingi Dirjen Pendidikan Dasar Suyanto dan Sesditjen Pendidikan Dasar Bambang Indriyanto

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

DIPO HANDOKO

[L]

LAPORAN UTAMA

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO, SAIFUL ANAM

MENINGKATKAN KINERJA KEMDIKNAS MELALUI BADAN PSDMP DAN PMP

K
10

KERESAHAN sempat mengusik kenyamanan sebagian kalangan guru ketika tersiar kabar Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) dibubarkan. Kabar itu sudah cepat menyebar saat masih berupa bisikbisik adanya perubahan besar-besaran di tubuh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pada akhir 2009 lalu. Di mata para guru, perubahan paling heboh adalah pembubaran Ditjen PMPTK, institusi eselon I yang didirikan tahun 2005 itu adalah simbol kepedulian pemerintah pada guru dan tenaga kependidikan. Gambaran buruk pengelolaan guru akan terabaikan sudah merasuki banyak guru jika Ditjen PMPTK dibubarkan. Syukurlah, penolakan besar-besaran dari kalangan guru akhirnya tak terjadi. Pemerintah memang akhirnya menggulirkan kebijakan mereformasi birokrasi di sejumlah kementerian, termasuk Kemdiknas. Perubahan organisasi kementerian itu dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, yang ditandatangani

DIPO HANDOKO

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 April 2010. Perpres ini melikuidasi Ditjen PMPTK. Pasal 436 Perpres menetapkan susunan organisasi eselon I Kemendiknas terdiri atas: Wakil Menteri Pendidikan Nasional; Sekretaris Jenderal; Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Ditjen PAUDNI); Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (Ditjen Dikdas); Direktorat

Jenderal Pendidikan Menengah (Ditjen Dikmen); Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi; Inspektorat Jenderal; Badan Penelitian dan Pengembangan; Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Staf Ahli Bidang Hukum; Staf Ahli Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan; Staf Ahli Bidang Kerjasama Internasional; Staf Ahli Bidang Organisasi dan Manajemen; dan Staf Ahli Bidang Budaya dan

Psikologi Pendidikan. Perpres tersebut belum menjelaskan sebagai siapa pengganti Ditjen PMPTK yang dihapus. Struktur organisasi Kemdiknas meski sudah beredar di kalangan terbatas, namun belum ditetapkan oleh Menteri. Barulah setelah keluar Perpres Nomor 67 Tahun 2010 tentang perubahan Perpres Nomor 24 Tahun 2010, yang ditandatangani Presiden pada tanggal 2 Desember, segera disusul Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional. Perpres Nomor 36 Tahun 2010 menegaskan keberadaan Badan Pengembangan Sumber

Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Secara rinci, Badan PSDMP dan PMP dijelaskan oleh Pasal 663 hingga 733 Permendiknas Nomor 36 Tahun 2010. Pembentukan Badan PSDMP dan PMP serta penghapusan Ditjen PMPTK itu merupakan bagian dari Reformasi Birokrasi

Internal (RBI) Kemdiknas yang hakikatnya untuk meningkatkan kinerja Kemdiknas. Restrukturisasi organisasi tersebut merupakan bagian dari reformasi birokrasi Kemdiknas yang dilakukan secara bertahap sejak tahun 2007, di antaranya kebijakan hak cipta buku teks, penyediaan buku sekolah elektronik, penyediaan fasilitas internet dan multimedia di sekolah dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pada tahun 2009 dilaksanakan reformasi sistem layanan dengan mengedepankan electronic-layanan (e-layanan) yang efisien, transparan melalui portal Layanan Prima Pendidikan Nasional. Menurut Menteri Perndidikan Nasional, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, setidaknya ada tiga ruh besar yang melekat dalam RBI Kemdiknas, yakni ruh efisiensi, ruh transparansi, dan ruh akuntabilitas. “Pada ruh efisiensi, maka ke depan bentuk-bentuk layanan yang memang menjadi tugas pokok Kemdiknas harus lebih efisien, cepat dan murah,” kata Mendiknas. Pada ruh transparansi, semua kegiatan program dan layanannya juga harus dapat dipantau, sehingga kinerjanya juga bisa terlihat. Sedang pada ruh akuntabilitas, terkandung makna, semua proses di Kemdiknas dapat dipertanggungjawabkan dengan benar. “Sehingga kegiatan dan program, tidak hanya dilakukan dengan benar tapi juga dilakukan dengan tepat sasaran dan bias dipertanggungjawabkan,” katanya. Urusan pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) tak lagi ditangani satu institusi. Menyangkut penyusunan kebijakan teknis dan pengembangannya menjadi wilayah kerja Badan PSDMP dan PMP. Sedangkan terkait perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis di bidang

pendidik dan tenaga kependidikan menjadi tanggung jawab direktorat terkait, dalam hal ini Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah, dan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal. Selain bertanggung jawab terhadap penyusunan kebijakan teknis dan pengembangan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan, Badan PSDMP dan PMP juga membawahi pengembangan profesionalitas tenaga pimpinan pegawai di lingkungan Kemdiknas. Peran ini dulu dijalankan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kemdiknas. Bidang lain yang menjadi kewenangan Badan PSDMP dan PMP adalah penjaminan mutu pendidikan. Domain kinerja penjaminan mutu pendidikan menyangkut setidaknya tiga hal, yakni standar pendidikan, audit standar pendidikan, dan peningkatan mutu pendidikan. Kedekatan cakupan kerja Badan PSDMP dan PMP dengan direktorat terkait membutuhkan penyelarasan. Badan PSDMP dan PMP lebih fokus pada penyusunan standar, mekanisme dan prosedur pengembangan PTK. Direktorat terkait fokus pada sistem perencanaan dan pemberdayaan PTK, yang penyelenggaraannya berdasarkan produk hasil Badan PSDMP dan PMP. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, Kepala Badan PSDMP dan PMP didukung jajaran pimpinan dan staf Badan PSDMP dan PMP, mengemban tanggung jawab besar tersebut.

11

Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA
pendidikan formal ditangani Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan PTK pendidikan nonformal ditangani Direktorat Tenaga Teknis, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah. Sejak akhir 2010, kewenangan pembinaan terhadap PTK dikembalikan ke Ditjen yang membawahi satuan pendidikan. Sehingga terbentuklah Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Ditjen Pendidikan Dasar; Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah, Ditjen Pendidikan Menengah; serta Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal. Diharapkan pembinaan terhadap PTK bisa sejalan dengan pembinaan terhadap satuan pendidikan. Namun, pembinaan terhadap PTK yang jumlahnya lebih dari 3 juta tidak bisa semuanya ditangani masing-masing direktorat di ditjen satuan pendidikan. Sehingga pemerintah perlu memilah urusan yang menjadi tanggung jawab direktorat adalah sebatas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi tentang penerapan standar teknis PTK. Artinya direktorat tidak berwenang menyelenggarakan penyusunan kebijakan teknis, seperti standar, mekanisme dan prosedur pengembangan PTK. Tanggung jawab mengenai regulasi dan standardidasi terhadap PTK inilah yang kini menjadi salah satu tanggung jawab Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Badan PSDMP dan PMP juga ditambah tanggung jawabnya dalam bidang penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan bukan pekerjaan mudah. Penjaminan mutu menyangkut sekolah, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS), bahkan menyangkut keseluruhan Kemdiknas khususnya pengembangan SDM pendidikan. “SDM pendidikan itu menyangkut pendidik dan tenaga kependidikan, dan seluruh orang-orang yang bekerja di lembaga pendidikan,“ kata Syawal Gultom. Pengembangan SDM pendidikan secara khusus ditangani Pusat Pengembangan Profesi Pendidik (Pusbang Prodik) dan Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik). Sedangkan penjaminan mutu ditangani Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan. Badan PSDMP dan PMP juga dibantu tiga unit pelaksana teknis yakni LPMP, P4TK dan LP2KS. Fokus pembinaan PTK tahun 2011 adalah menyiapkan standar mutu mulai pemberdayaan hingga pembinaan. Sedangkan terkait pengadaan ditangani ditjen yang membawahi satuan pendidikan. Komponen penting yang menentukan standar mutu satuan pendidikan adalah guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Model pembinaan terhadap guru yang akan dikembangkan Badan PSDMP dan PMP adalah evaluasi kinerja guru. Kinerja guru diukur setidaknya pada dua hal, yakni konten dan performa. Konten menyangkut kemampuan guru menguasai materi pekerjaann, sedangkan performa menyangkut implementasi penguasaan konten dalam kinerja guru. Prioritas pengukuran kinerja guru ditujukan kepada 746.727 guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik. Mereka harus sudah menjalankan profesinya dengan standar minimal profesi pendidik. Indeks kinerja guru setidaknya mencerminkan outcome base performance dari program sertifikasi guru. Harapannya, guru yang memiliki sertifikat pendidik menjadi contoh bagi guru lain. Implikasi terhadap penilaian kinerja guru bersertifikat bisa saja berupa penundaan atau penghentian pemberian tunjangan profesi, yang hingga kini masih belum ditetapkan dalam

URGENSI BADAN PSDMP DAN PMP
Sejarah mencatat di era Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) saat dijabat Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA mengesahkan pembentukan direktorat jenderal baru dengan keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 8 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), tanggal 5 Juli 2005. Permendiknas tersebut menindaklanjuti Surat Persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor B/1061/M.PAN/6/2005, tanggal 6 Juni 2005, yang mengesahkan pembentukan Ditjen PMPTK. Sejak itulah pendidik dan tenaga kependidikan ditangani dalam satu institusi eselon I. Pendidik adalah istilah yang dipakai untuk guru dan jenis sebutan lain pendidik di jalur pendidikan nonformal seperti tutor, instruktur, dan pamong belajar. Sedangkan tenaga kependidikan terdiri dari kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, dan tenaga laboratorium (tenaga kependidikan pendidikan formal), serta penilik, tenaga lapangan dikmas, dan fasilitator desa binaan intensif (tenaga kependidikan pendidikan nonformal). Di masa sebelumnya, urusan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) terpilahpilah di sejumlah direktorat yang bernaung di bawah direktorat jenderal yang berbeda-beda. Ketika itu pendidik dan tenaga kependidikan

12

DIPO HANDOKO

regulasi. Pengukuran kinerja guru yang belum mengikuti sertifikasi pendidik menjadi bagian dari program Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Program EDS setidaknya menggambarkan data-data mendasar tentang 8 standar nasional, yakni Standar Kompetensi Lulusan; Standar Isi; Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; Standar Proses; Standar Sarana dan Prasarana; Standar Pembiayaan; Standar Pengelolaan; serta Standar Penilaian Pendidikan. Badan PSDMP dan PMP juga menyusun rumusan pengembangan terhadap PTK, baik yang melalui diklat maupun pengembangan profesi mandiri. Badan PSDMP dan PMP perlu melakukan disain ulang berkaitan dengan materi diklat, instruktur, proses dan evaluasi diklat. Sedangkan untuk pengembangan profesi mandiri, Badan PSDMP dan PMP juga menyiapkan kembali modul-modul pengembangan profesi pendidik yang sesuai standar. Mengenai modul pengembangan profesi itu Badan PSDMP dan PMP juga dituntut selalu meng-update setidaknya lima hal, yakni: kompetensi, materi, strategi-pendekatan-teknik dan metode belajar, sumber belajar dan evaluasi. Modul tersebut bisa diunduh bebas melalui website P4TK dan LPMP. Badan PSDMP dan PMP juga akan mengembangkan pengukuran kinerja berbasis web. Melalui portal Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), siapapun guru bisa membukanya, meng-update kinerjanya. Badan PSDMP dan PMP bisa melihat berapa banyak guru yang tidak meng-update. Pada tahap awal, untuk mengukur kinerja guru dimulai dengan mengukur kinerja kepala sekolah dan pengawas sekolah. Setidaknya ada sejumlah indikator yang dapat dipakai untuk mengukur kinerja. Begitu guru menjawab semua pertanyaan maka akan keluar skor kinerjanya. Berkaitan dengan penjaminan mutu, Badan PSDMP dan PMP harus mampu mendorong guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah melaksanakan budaya mutu. Peningkatan mutu bukanlah tujuan akhir. Mutu harus

13
1. 2. 3. 4. 5. Sekretariat Badan Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan. Unit Pelaksana Teknis, yaitu Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS)

Badan PSDMP dan PMP terdiri atas:

Terselenggaranya layanan prima untuk membentuk sumber daya manusia pendidikan yang profesional dan bermartabat serta penjaminan mutu pendidikan yang terstandar.

Visi:

selalu naik sehingga tidak ada batas pencapaiannya. Hakikat penjaminan mutu adalah continous quality improvement atau perbaikan mutu secara terus menerus. Jika sekolah sudah menjadikan mutu sebagai budaya, sekolah dengan sendirinya akan menjaga standar mutunya. Sehingga penjaminan mutu dilaksanakan berdasarkan internally driven bukan externally driven. Saat ini, peran untuk menjaga mutu pendidikan harus didorong dari pemerintah. LPMP memiliki peran penting, sebagai lembaga di bawah Badan PSDMP dan PMP yang berada di setiap provinsi. LPMP memang belum menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga Badan PSDMP dan PMP perlu membangun kapasitas (capacity buiding) LPMP. Evaluasi Diri Sekolah (EDS) menjadi instrumen penting untuk memperoleh gambaran akar masalah pendidikan di satuan pendidikan. Yang menjadi masalah besar adalah cukup banyak satuan pendidikan tidak mengetahu baseline permasalahan dan mengenali tantangan strategiknya. Inilah tantangan LPMP dalam membumikan EDS di semua satuan pendidikan. Berkaitan dengan peningkatan mutu pendidik menjadi tanggung jawab Pusbang Prodik. Sedangkan soal mutu tenaga kependidikan menjadi tanggung jawab Pusbang Tendik. Di sini dibutuhkan penyelarasan antara Pusbang Prodik, Pusbang Tendik dan Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan.

1. Meningkatkan Ketersediaan Layanan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. 2. Memperluas Keterjangkauan Layanan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. 3. Meningkatkan Kualitas/Mutu dan Relevansi Layanan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. 4. Meningkatkan Kesetaraan dalam memperoleh Layanan bagi SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. 5. Meningkatkan Kepastian/Keterjaminan memperoleh Layanan bagi SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

Misi:

Badan P DMP dan PMP melaksanakan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan.

Tugas :

Badan PSDMP dan PMP menjalankan fungsi: 1. penyusunan kebijakan teknis, rencana, dan program pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; 2. pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; 3. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; dan 4. p e l a k s a n a a n a d m i n i s t r a s i B a d a n Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

Fungsi:

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA Wawancara Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Kepala Badan PSDMP dan PMP

PENULIS: SAIFUL ANAM FOTO-FOTO: SAIFUL ANAM , DIPO HANDOKO, DAN MUKTI ALI

MEMPERBAIKI KINERJA GURU BERSERTIFIKASI

S
14

SEBAGAI konsekuensi dari dilaksanakannya reformasi birokrasi internal di Kementerian Pendidikan Nasional, maka sejak akhir tahun 2010 lalu dibentuk Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Unit utama setingkat eselon satu ini merupakan pengganti dari Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) yang telah dihapus. Hanya saja, ada beberapa bidang tugas yang dulu ditangani Ditjen PMPTK, kini ditangani oleh Ditjen Pendidikan Dasar, Ditjen Pendidikan Menengah, dan Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI). Dengan demikian, Badan PSDMP dan PMP melaksanakan sebagian tugas dan fungsi yang sebelumnya dilaksanakan oleh Ditjen PMPTK. Kendati dilihat dari cakupan kerjannya lebih kecil dibanding Ditjen PMPTK, namun bukan berarti kesibukan Badan PSDMP dan PMP lebih ringan. Justru karena pekerjaan yang ditanganinya lebih fokus, maka akuntabilitas yang dituntut dari kinerja Badan ini akan jauh lebih berat. Beberapa bidang garapan yang menjadi fokus perhatian Badan ini antara lain

SAIFUL ANAM

evaluasi kinerja guru, peningkatan kinerja guru bersertifikasi, revitalisasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, peningkatan kompetensi tenaga kependidikan, hingga peningkatan kualitas pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan. Untuk mengetahui lebih lanjut program-program yang akan dilaksanakan Badan PSDMP dan PMP, Saiful Anam dari Majalah GURU mewawancarai Kepala Badan PSDMP dan PMP Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd di ruang kerjanya April lalu. Berikut

wawancara lengkapnya. Kami ingin tahu dari awal dulu, apa saja pesan yang disampaikan Bapak Menteri Pendidikan Nasional ketika meminta Bapak menjadi Kepala Badan PSDMP dan PMP? Pesan beliau antara lain bagaimana kita bersama-sama meningkatkan kinerja di kementerian ini, terutama terkait dengan pengembangan profesi pendidik. Tentu di dalamnya ada kompetensi, ada kinerja,

ada pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Yang kedua soal pengembangan tenaga kependidikan, yang di dalamnya mencakup kepala sekolah, pengawas sekolah, laboran, pustakawan, dan tenaga administrasi sekolah. Kemudian pesan ketiga yang beliau tekankan adalah bagaimana melaksanakan penjaminan mutu pendidikan dengan baik. Khusus penjaminan mutu pendidikan, domain kerjanya ada tiga hal, yakni bagaimana menetapkan standar pendidikan, mengaudit standar pendidikan, dan meningkatkan mutu standar pendidikan. Secara umum, pekerjaan yang kami lakukan menyangkut peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), pemberdayaan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) dan P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan), dan bahkan menyangkut pula sumber daya manusia yang ditangani Kemdiknas secara keseluruhan. Badan ini menangani peningkatan kompetensi PTK baik pada satuan pendidikan formal maupun nonformal. Dalam pandangan Bapak, apa perbedaan mendasar antara tugas dan fungsi yang ditangani Badan PSDMP dan PMP dengan Ditjen PMPTK dulu? Sudah pasti perbedaan mendasarnya itu terletak dari tekanan penjaminan mutunya. Dulu Ditjen PMPTK lebih menitikberatkan pada peningkatan mutu PTK. Kalau Badan ini, selain tetap meningkatkan mutu PTK dalam konteks pengembangan SDM pendidikan, juga ada tambahan penjaminan mutu pendidikan. Ini yang lebih ditekankan. Tapi ada beberapa hal yang dulu ditangani Ditjen PMPTK, sekarang tidak lagi ditangani Badan. Beberapa program itu sekarang ditangani oleh Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, dan Ditjen PAUDNI. Di sana ada direktorat yang menangani pembinaan PTK. Bagaimana menghindari duplikasi antara program-program yang dilaksanakan Badan PSDMP dan PMP dengan programprogram yang dilaksanakan Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, dan Ditjen PAUDNI terkait penanganan PTK? Pertama, harus ada proses penyelarasan antara Badan dan direktorat-direktorat pembinaan PTK yang berada di bawah Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, dan Ditjen PAUDNI. Kalau mencermati arahan Pak Menteri pada waktu pelantikan saya sebagai Kepala

Badan, sebetulnya kita bisa menjelaskan perbedaan itu. Badan sebetulnya bertugas untuk mengembangkan seluruh standar dan bagaimana itu dilakukan. Sedangkan kalau di direktorat lebih pada sistem perencanaannya dan sistem pemberdayaannya, dengan menggunakan produk-produk yang telah dihasilkan oleh Badan. Dengan demikian kalau di direktorat-direktorat itu sifatnya lebih teknis. Jadi kalau di Badan ini lebih menyangkut bagaimana menciptakan standar, merumuskan mekanisme dan prosedur. Soal pelaksanaannya, secara teknis dilakukan oleh direktorat-direktorat, dan itu tidak masalah. Program sertifikasi guru yang dulu merupakan salah satu program prioritas Ditjen PMTK, apakah sekarang ditangani Badan? Iya, prosesnya ditangani Badan. Tapi untuk pembayaran tunjangannya ditangani oleh direktorat-direktorat. Apa saja fokus kerja Badan PSDMP dan PMP ke depan? Kalau kita bicara pengembangan profesi pendidik, misalnya, fokus kita adalah bagaimana menyiapkan standar mutu untuk seluruh domain mulai dari pemberdayaan sampai sampai pembinaan guru. Jadi fokus kerja kita ke depan terkait pengembangan profesi pendidik kira-kira seperti itu. Secara umum, saya melihat ada tiga komponen penting yang sangat menentukan kualitas sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Ketiga komponen inilah yang akan kita dorong untuk menciptakan sekolah agar memiliki standar kinerja. Sesungguhnya fokus kerja Badan ini ke depan ada adalah bagaimana supaya ketiga komponen tersebut bisa menunjukkan kinerja yang maksimal. Terkait guru, fokus kita adalah mendorong kinerja guru. Nah, kinerja guru ini harus digunakan sebagai proksi untuk menetapkan model pembinaan yang diikuti oleh guru. Misalnya pelaksanaan diklat, mestinya harus dilihat atau didasarkan pada indeks kinerja guru. Janganlah kegiatan diklat dipandang sebagai tujuan. Untuk mendorong kinerja guru, kita akan mengevaluasi kinerja mereka. Hal ini untuk mengetahui baseline-nya secara jelas. Kalau kita tidak tahu baseline kinerja guru sekarang, maka pertanyaan mendasar adalah kita dalam meningkatkan kinerja guru itu dari posisi baseline yang mana dan untuk menuju yang mana? Kalau itu saja tidak jelas, maka upaya-

upaya yang kita lakukan untuk mendorong kinerja guru juga tidak akan memperoleh hasil yang signifikan. Baseline itu acuannya apa, apakah kualifikasi akademik atau kompetensi? Dalam kinerja guru itu di dalamnya melekat kompetensi. Kinerja itu adalah bagaimana guru mengaktualisasikan kompetensi yang dimilikinya. Itulah acuan yang menjadi baseline. Ukuran kinerja itu sudah jelas sehingga bisa kita ukur. Bahkan di Permendiknas juga sudah dibuat apa yang menjadi ukuran kinerja guru. Jadi bagaimana cara mengukur kinerja guru dan indikator apa saja yang kita pasang sudah ada ketentuannya. Kalau soal bagaimana proses kuantifikasi dari data kinerja itu kan hanya aspek metodologis saja. Bisa saja kinerja guru dilihat dulu berdasarkan penilaian melalui observasi. Bisa juga melalui penguasaan konten dan performa. Dengan kata lain, kinerja guru itu secara umum hanya dinilai dari dua hal saja, yakni apakah guru menguasai konten, dan apakah penguasaan konten tersebut terimplementasi dalam performa. Jadi pada dasarnya standar kinerja guru yang kita pakai itu mencakup standar konten dan standar performa. Kalau kompetensi dijadikan sebagai baseline untuk acuan peningkatan kinerja guru, apakah sudah ada data pemetaan kompetensi guru selama ini? Data itu memang belum ada dan baru akan kita kumpulkan mulai tahun 2011 ini. Paling tidak kita akan fokus dulu pada pemetaan kompetensi guru-guru yang sudah bersertifikasi. Kaitannya dengan guru-guru yang sudah bersertifikasi, kabarnya cukup banyak mereka yang kompetensinya ternyata tidak meningkat. Lantas mereka mau diapakan? Bagi guru yang sudah bersertifikat, mereka diklaim sebagai guru profesional. Artinya, mereka harus menjalankan profesinya dengan benar. Tunjangan profesi pendidik itu diberikan kepada mereka yang menjalankan profesinya dengan baik. Kalau dikatakan menjalankan profesi, maka mereka harus memiliki standar minimal tertentu. Itulah bedanya profesi dengan pekerjaan. Oleh karena itu, tugas kita adalah bagaimana mengukur dan memastikan bahwa guru-guru pemegang sertifikat itu menjalankan profesinya. Itulah perlunya indeks kinerja guru. Hanya indeks kinerja guru itu yang bisa menggambarkan apakah mereka menjalankan

15

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA
oleh Badan, memang harus kita tata ulang, baik menyangkut materinya, instrukturnya, prosesnya, maupun evaluasinya. Pendekatan yang digunakan harus berbasis kompetensi. Sementara terkait jalur pengembangan profesi mandiri, kita harus menyiapkan modul-modul yang diperlukan baik dalam bentuk hardcopy maupun softcopy, bisa melalui intranet maupun internet. Kita tidak bisa hanya sebatas menganjurkan mereka mengembangkan profesinya secara mandiri. Tetapi kita harus menyiapkan bahan-bahan relevan yang mereka perlukan. Modul-modul itu harus dilengkapi dengan panduan yang dapat memandu mereka dalam meningkatkan kinerjanya. Inilah pentingnya sentuhan IT dalam pengembangan jalur mandiri, karena harus berbasis web. Untuk mengoptimalkan web itu, kita memberdayakan LPMP dan P4TK untuk menyiapkan modul-modul yang diperlukan. Modul-modul itu nantinya bisa dengan mudah di-download oleh para guru. Bisa juga web tersebut memuat best practices dari guru-guru tertentu yang kita pilih, sehingga memudahkan para guru yang membuka web tersebut dalam meniru atau mengadopsinya untuk pengembangan profesinya secara mandiri. Jadi intinya Badan harus fokus pada karya nyata untuk mengembangkan profesi guru, baik secara langsung melalui diklat maupun secara tidak langsung melalui pengembangan profesi mandiri. Kita akan reposisi sistem diklatnya, dan kita juga akan berdayakan web-nya. Persoalannya, guru-guru kita masih banyak yang belum familier dengan IT. Mereka lebih terbiasa dengan bahan-bahan modul dalam bentuk hardcopy. Bagaimana mengatasinya? Karena itu modul-modul dalam bentuk hardcopy harus tetap ada, sebab tidak semua sekolah terjangkau IT dan tidak semua guru mampu menggunakannya. Kalau proses mengedukasi guru untuk menggunakan IT sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang justru lebih penting adalah bahan-bahan yang diperlukan oleh guru itu harus tersedia. Kalau seorang guru ingin mendalami materi tertentu, maka bahannya harus tersedia di web. Bahan-bahan inilah yang harus disuplai oleh Badan. Web itu juga harus di-update secara rutin oleh Badan. Paling tidak ada lima hal yang harus selalu di-update oleh Badan di web tersebut, yakni pemutakhiran kompetensi, materi, strategi/ pendekatan/metode belajar, sumber belajar,

MUKTI ALI

Suasana di perpustakaan SMP Wachid Hasyim 2 Surabaya, almamater Mendiknas Mohammad Nuh

profesinya dengan benar atau tidak. Kita ingin memastikan bahwa sejak awal program sertifikasi guru ini dirancang adalah dalam rangka meningkatkan kinerja guru, yang di dalamnya sudah pasti mencakup kualitas pembelajaran. Jadi kita menggunakan pendekatan outcome base performance. Yang kita ukur itu outcome dari pemegang sertifikasi. Kita berharap mereka bisa menjadi contoh bagi guru-guru yang lain. Kita ingin memastikan bahwa mereka itu benar-benar menjalankan profesinya. Siapa yang melakukan pengukuran kinerja guru bersertifikasi itu? Yang melakukan mestinya kita. Bisa juga kita kembangkan tim yang di dalamnya ada LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), kepala sekolah, pengawas sekolah, dan asosiasi profesi, tetapi semua itu berada di bawah kendali Badan. Mereka itu merupakan komponen-komponen yang layak melakukan pengukuran kinerja guru. Ini yang akan kita lakukan mulai tahun ini. Selama ini ada kesan kuat bahwa guru-guru yang lulus sertifikasi kurang diperhatikan, mau meningkat atau tidak kompetensinya. Kalau nanti diketahui cukup banyak guru bersertifikasi ternyata kinerjanya kurang baik, apa yang akan dilakukan? Apakah mereka diberi sanksi, misalnya sampai sertifikatnya dicopot? Memang nanti harus kita buat regulasinya, karena sekarang masih belum ada. Tetapi, kalau kinerja mereka di bawah standar minimal, tentu harus berimplikasi pada tunjangan profesinya. Misalnya, tunjangan profesinya bisa ditunda sementara atau bisa dihentikan.

Namun untuk kedua hal pemberian sanksi itu harus ada payung hukumnya, yang sekarang sedang kita dorong. Sambil menunggu keluarnya payung hukum tersebut, biarlah kita buat peta kinerja guru yang benar, indeksnya yang benar, karena selama ini kinerja guru belum pernah diukur. Implikasinya nanti sudah pasti dua hal itu, apakah penundaan atau penghentian tunjangan profesinya. Kalau guru bersertifikasi nanti akan diukur kinerjanya, bagaimana dengan guru yang belum bersertifikasi? Bagi guru yang belum bersertifikat, tentu akan kita dorong terus supaya mereka masuk kategori guru yang profesional. Untuk guruguru yang belum bersertifikat, kinerjanya bisa juga diukur melalui program EDS (Evaluasi Diri Sekolah), yang akan kita mulai juga tahun ini. EDS ini minimal akan menggambarkan datadata dasar tentang delapan standar nasional di suatu sekolah, karena EDS memang bicara tentang itu. Jadi EDS akan kita lakukan untuk memetakan suatu sekolah secara keseluruhan. Di era Ditjen PMPTK, untuk meningkatkan kinerja guru bersertifikasi, saat itu ada program Pengembangan Profesi Berkelanjutan (PPB) atau Continuous Professional Development (CPD). Tapi kalau sekadar dianjurkan saja dan berharap guru yang melakukan sendiri, tampaknya agak susah jalan. Tanggapan Bapak? Kita sebenarnya sudah menetapkan standar-standar peningkatan kinerja yang harus dipenuhi oleh guru bersertifikat, apakah jalurnya lewat diklat yang didisain oleh Badan atau melalui pengembangan profesi mandiri. Untuk program diklat yang didisain

16

dan evaluasi. Lima hal inilah yang harus kita sajikan di web, dan terus menerus di-update. Web itu nantinya harus menjadi tempat bagi guru untuk bertanya dalam rangka mengembangkan kompetensinya, dan sudah tersedia pilihan-pilihan jawabannya. Web ini juga menyediakan soal-soal yang bisa dikerjakan oleh guru dan secara otomatis akan menunjukkan skornya. Kalau skornya kurang bagus, komputer akan merekomendasikan hal-hal yang harus diperbaiki oleh guru. Intinya, kita harus terus berupaya menggiring para guru supaya melek IT dan memotivasi mereka agar terus berpetualang melalui fasilitas web untuk mengembangkan kompetensinya secara mandiri. Kalau kondisi seperti itu sudah tercipta, maka guru akan terus memacu kompetensinya. Ini akan menjadi kebutuhan mereka, menjadi budaya. Mereka tanpa disuruh akan terus berupaya mencapai standar, dan standar ini akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Kalau para guru terdorong kebutuhannya untuk terus meningkatkan kompetensinya secara mandiri, maka tentu akan bisa mewujudkan fungsi sekolah sebagai pusat peradaban. Kalau dari tadi kita bicara tentang kompetensi guru, bagaimana dengan kompetensi tenaga kependidikan, terutama kepala sekolah dan pengawas sekolah? Untuk kepala sekolah, kita akan kembalikan ke awal bahwa jalur karier kepala sekolah itu ditentukan dari guru-guru yang berprestasi. Jadi jalur karier kepala sekolah mestinya konsisten seperti itu. Tetapi kaitannya dengan otonomi daerah yang penentuan kepala sekolah berada di tangan bupati/walikota, maka perlu ada penyelarasan lintas kementerian. Begitu pula terkait dengan rekrutmen pengawas sekolah, juga harus dilakukan dengan standar kompetensi. Kita juga akan melakukan pengukuran kinerja kepala sekolah dan pengawas sekolah, sebagaimana yang akan kita lakukan terhadap guru. Ketiga komponen ini harus diukur. Kita akan mulai semua tahun ini, dan hasilnya dipublikasikan di NUPTK. Jadi para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah nanti bisa melihat hasil indeks kinerjanya di NUPTK, karena ini sifatnya individual. Soal penjaminan mutu pendidikan, apa saja program yang akan dilakukan Badan? Hakikat penjaminan mutu adalah continuous quality improvement, bagaimana sekolah bisa melakukan perbaikan mutu secara terus

menerus. Lalu basisnya adalah Evaluasi Diri Sekolah. Instrumen EDS sudah ada, sekolah tinggal pakai saja. Bagaimana sekolah menggunakan instrumen EDS, itu perlu pendampingan. EDS paling tidak menggambarkan baseline dan akar masalah. Kalau baseline dan akar masalahnya jelas, artinya sekolah bisa menemukan tantangan strategiknya, sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Yang menjadi masalah selama ini adalah sekolah tidak tahu baseline-nya dan tidak bisa mengenali tantangan strategiknya. Akibatnya, sekolah tidak bisa menemukan eksekusi program yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Itulah yang akan kita lakukan di Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan. Peran LPMP adalah mendorong sekolah agar mampu melakukan EDS. Memang sejauh ini peran LPMP masih belum optimal karena keterbatasan kapasitas dan kapabilitasnya. Oleh karena itu, kita akan membangun kapasitas atau capacity building LPMP ini. Jadi fokus LPMP nantinya melakukan pendampingan terhadap sekolah dalam melaksanakan EDS. Ini saja sudah merupakan pekerjaan besar. LPMP juga bisa memanfaatkan infrastruktur yang bisa digunakan di tingkat kabupaten/kota, yakni KKG/MGMP, KKKS/MKKS, dan KKPS/ MKPS. Mereka bisa diminta bantuannya untuk melakukan pendampingan ke sekolah-sekolah dalam melaksanakan EDS. Inilah sebenarnya fokus penjaminan mutu pendidikan, yaitu melakukan perbaikan mutu terus menerus secara internal (internally driven). EDS merupakan salah satu instrumennya. Memang prosesnya butuh waktu lama, tapi begitu berhasil maka kecepatannya

akan luar biasa. Sama dengan pesawat, saat masih hendak take off di landasan perlu energi besar. Tapi begitu terbang, kecepatannya bisa 850 km/jam. Intinya, kita harus fokus menyelamatkan empat makhluk penting sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan siswa. Kita pastikan posisi mereka masing-masing dengan benar. Kalau empat makhluk ini bersepakat dan memiliki komitmen tinggi, maka pembelajaran akan berjalan dengan baik.

17

Data Pribadi
1. 2. 3. 4.

Nama Lengkap : Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Kelahiran : Tapanuli Utara, 3 Februari 1962 Agama : Islam Pangkat/Gol. : Pembina Utama Madya, IV/d

Pendidikan

1. Sarjana Pendidikan Matematika, IKIP Medan (1986) 2. Magister Pendidikan, IKIP Yogyakarta (1992) 3. Doktor Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (2009).

Pengalaman Kerja

1. Staf pengajar Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan (1987 – Sekarang) 2. Staf pengajar Universitas Muhammadiyah Medan /Unimed (1986 – 1996) 3. Staf Ahli Purek I IKIP Medan (1993 - 1998) 4. Pimpinan proyek Unimed (1999 - 2003) 5. Pembantu Rektor II Unimed (2003 – 2007) 6. Rektor Unimed (2007 – 2011) 7. Tim Seleksi KPU Sumatera Utara (2008 – 2013) 8. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (2011 - sekarang)

Pembelajaran di SMP 2 Temanggung: mantan Mendiknas Bambang Sudibyo dulu bersekolah di sini

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

DOK. SMP 2 TEMANGGUNG

[L]

LAPORAN UTAMA Sekretariat Badan PSDMP dan PMP

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: DIPO HANDOKO

JANTUNGNYA PERENCANAAN DAN ANGGARAN

S
18

SEKRETARIAT memiliki peran penting bergulirnya operasional Badan PSDMP dan PMP. Bagian Perencanaan dan Penganggaran, Bagian Keuangan, Bagian Hukum dan Kepegawaian, serta Bagian Umum merupakan instrumen penting pendukung operasional Sekretariat Badan PSDMP dan PMP. Jabatan Sekretaris Badan PSDMP dan PMP dipercayakan kepada Ir. Giri Suryatmana, yang dulu menjabat Sekretaris Ditjen PMPTK. Jajaran kepala bagian diemban oleh Ir. Siswoyo, M.Si (Kabag Perencanaan dan Anggaran), Dra. Nurcahyanik, M.Pd (Kabag Hukum dan Kepegawaian), Drs. Sam Yhon, MM (Kabag. Umum). Posisi kabag keuangan sementara masih kosong . Jantungnya Sekretariat Badan PSDMP dan PMP adalah Bagian Perencanaan dan Penganggaran. Di sinilah digodok perencanaan kebijakan, program dan kegiatan, serta alokasi anggarannya. Kebijakan Badan PSDMP dan PMP tahun 2011 yang akan dilaksanakan adalah: 1) Prioritas program nasional dan Kemdiknas harus didahulukan; 2) Efisiensi anggaran 2011 terkait dengan refocusing program ke arah Penilaian Kinerja Guru; 3) Strategi eksekusi revisi terkait dengan daya

DIPO HANDOKO

Ir. Giri Suryatmana didampingi Ir. Siswoyo, M.Si

serap dan efisiensi diusahakan cukup melalui revisi KPA; 4) Perlu mempertimbangkan jadwal dan keterkaitan antara kegiatan pusat dan UPT, misalnya evaluasi diri sekolah, kepala sekolah dan pengawas sekolah, blockgrant kelompok kerja, dan penilaian kinerja guru; 5) Perlu disusun jadwal pelaksanaan program secara nasional sesuai dengan prioritas; 6) Perlu

dibuat tim koordinasi untuk memantau realisasi dan capaian kinerja dan anggaran terutama untuk program nasional dan kementrian. Kegiatan prioritas yang diselenggarakan Badan PSDMP dan PMP tahun 2011 adalah: a) operasional tiga SEAMEO QITEP; b) evaluasi kinerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah pasca-sertifikasi; c) refocusing

Sekretariat Badan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis dan administratif serta pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas unit organisasi di lingkungan Badan PSDMP dan PMP. Dalam melaksanakan tugas, Sekretariat Badan menyelenggarakan fungsi:

19

Program Evaluasi Diri Sekolah (Proses Penjaminan Mutu Pendidikan); d) refocusing peningkatan mutu dan profesionalisme PTK melalui pemberdayaan KKG, MGMP, KKKS/ MKKS, KKPS/MKPS. e) refocusing penguatan kepala sekolah dan pengawas sekolah sebagai asessor; f) refocusing pelatihan guru inti di P4TK sebagai asessor. Hal-hal pokok yang harus dikembangkan dalam mewujudkan refocusing: a) sinkronisasi data NUPTK dengan kabupaten/kota, provinsi dan Kementerian Agama sebagai dasar perencanaan pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan; b) pada tahun 2012, guru wajib mengajar 24 jam tatap muka sebagai syarat mengikuti sertifikasi pada poin pertama;c) evaluasi kinerja guru melalui Penilaian Kinerja Guru (PKG), Penilaian Kinerja Kepala Sekolah dan Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah pascasertifikasi, khususnya untuk lulusan sertifikasi dan telah mendapatkan tunjangan profesi tahun 2006-2010. Hasilnya akan sangat menentukan terhadap proses pembinaan guru melalui Pelatihan Profesi Berkelanjutan (PPB), baik dilakukan di P4TK, LP2KS, LPMP, dan komunitas PTK Hasil evaluasi kinerja guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah akan berpengaruh terhadap pengembangan sistem diklat yang ada, baik untuk guru, kepala sekolah, pengawas sekolah berkinerja baik maupun yang berkinerja jelek. P4TK, LP2KS dan LPMP harus merespons sistem diklatnya dengan refocusing tersebut. Sinkronisasi sistem pendataan NUPTK dengan sistem pendataan Nomor Pokok

Sekolah Nasional (NPSN) dan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) akan memperkuat data profil sekolah mengacu 8 SNP dan proses EDS, sehingga akan memperkuat proses analisis penjaminan mutu pendidikan dan dapat digunakan Mendiknas dalam pengambilan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Data guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah merupakan ketersediaan tenaga potensial yang dapat direkomendasikan Badan PSDMP dan PMP ke Daerah dan Direktorat Jenderal. Bagian Keuangan memiliki program unggulan yang dilaksanakan pada tahun 2011, yakni: a) Standar Operasional dan Prosedur (SOP) mekanisme pengelolaan keuangan Pusat dan Daerah; b) Sistem Akuntansi Instansi Online (SAI Online); c) Satuan Pengendalian Intern (SPI). Bagian Keuangan didukung subbagian pembiayaan, subbagian perbendaharaan, serta subbagian akuntansi dan pelaporan keuangan. SOP mekanisme pengelolaan keuangan negara merupakan pedoman pelaksanaan pembayaran atas beban APBN bagi pejabat pelaksana anggaran Satuan Kerja (Satker) Sekretariat dan Pusat-Pusat di lingkungan Badan PSDMP dan PMP. Sedangkan SAI Online dimaksudkan untuk: a) mempercepat penyampaian Arsip Data Komputer (ADK) Laporan Keuangan dari Satker ke tingkat Eselon I (Sekretariat Badan); b) melaporkan kondisi daya serap anggaran setiap Satker untuk kebutuhan evaluasi dan manajemen realisasi anggaran secara real time; c) mengurangi kesalahan pengiriman ADK

1. koordinasi penyusunan kebijakan, rencana, program, dan anggaran di lingkungan Badan PSDMP dan PMP; 2. pengelolaan data dan informasi sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; 3. koordinasi pelaksanaan kegiatan dan kerja sama di bidang pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; 4. pengelolaan keuangan Badan PSDMP dan PMP; 5. penyusunan rancangan peraturan perundangundangan dan kajian hukum di lingkungan Badan PSDMP dan PMP; 6. pelaksanaan urusan organisasi dan tata laksana di lingkungan Badan PSDMP dan PMP; 7. pengelolaan kepegawaian di lingkungan Badan PSDMP dan PMP; 8. koordinasi penyusunan bahan publikasi dan hubungan masyarakat di bidang pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan; 9. pengelolaan barang milik negara di Badan PSDMP dan PMP; dan 10. pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan di lingkungan Badan PSDMP dan PMP

Sekretariat Badan terdiri atas:
1. 2. 3. 4.

Bagian Perencanaan dan Penganggaran; Bagian Keuangan; Bagian Hukum dan Kepegawaian; dan Bagian Umum.

Laporan Keuangan melalui pengiriman data berbasis IT; d) mempermudah koordinasi dengan seluruh Operator SAI Satker di lingkungan Badan. Satuan Pengendalian Intern dilaksanakan melalui langkah-langkah: a) Menyiapkan anggaran untuk memfasilitasi tugas-tugas SPI; b) membentuk Tim Satuan Pengendalian Intern Unit Utama, yang terdiri dari Satker Pusat dan Sekretariat; c) menyiapkan instrumen yang terukur untuk digunakan oleh anggota SPI dalam melakukan pengawasan intern; d) melakukan pembinaan terhadap SPI; e) mendorong pembuatan Program Kerja Audit SPI; e) melakukan Sosialisasi Tugas dan Fungsi SPI di lingkungan Satker Pusat Badan PSDMP dan PMP.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA Pusat Pengembangan Profesi Pendidik

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: DOK. UNIFAH ROSYIDI

DARI SERTIFIKASI HINGGA PENINGKATAN KOMPETENSI

S
20

SIAPAPUN institusinya, yang bertanggung jawab terhadap pembinaan kepada guru berhadapan dengan beban yang tak ringan. Dari sisi jumlah, tanggung jawab pembinaan terhadap guru, dari guru Taman KanakKanak (TK) hingga SMA/SMK, jumlahnya mencapai 2.791.204 orang (NUPTK, 2010). Jumlah yang sangat besar. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) menyadari besarnya tanggung jawab pemerintah dalam membina guru. Sehingga amanah itu kini diemban empat institusi eselon II, yakni Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (Dit.P2TK Dikdas), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar; Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah (Dit. P2TK Dikmen), Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah; Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dit. P2TK PAUDNI), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal; serta Pusat Pengembangan Profesi Pendidik (Pusbang Prodik), Badan Pengembangan Sumber

Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Menurut Pasal 686 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional, Pusbang Prodik bertanggung jawab terhadap penyusunan kebijakan teknis dan pengembangan profesi pendidik, baik pendidikan formal maupun nonformal. Sedangkan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis di bidang pendidik tersebut menjadi tanggung jawab direktorat. Institusi baru ini dipimpin Dr. Unifah

Rosyidi, M.Pd. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Unifah dan jajaran Pusbang Prodik didukung Bagian Tata Usaha, Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini, Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Dasar, dan Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Menengah. Sejumlah kebijakan pengembangan profesi pendidik yang menjadi prioritas utama Pusbang Prodik adalah sertifikasi pendidik, peningkatan kompetensi pendidik, serta pembinaan dan peningkatan karier pendidik. Sampai awal tahun 2011, guru yang memiliki sertifikat pendidik sebanyak 746.727 orang. Masih

tersisa lebih dari 2 juta guru yang wajib mengikuti sertifikasi pendidik. Selain fokus pada sertifikasi, Pusbang Prodik juga menempatkan prioritas kebijakan pada peningkatan kompetensi guru, yakni melalui program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Bentuk PKB dapat berupa kegiatan yang diselenggarakan pemerintah, sekolah maupun kegiatan secara mandiri dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran, pengembangan karya ilmiah/ inovatif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni. Kebijakan pembinaan dan peningkatan karier guru dilaksanakan melalui berbagai program, yakni Penilaian Kinerja Guru (PKG), pemberian penghargaan dan perlindungan, serta tunjangan kesejahteraan. Berdasarkan penilaian kinerja guru dalam melaksanakan tugas utama dan tugas tambahan, guru sebagai profesional layak memperoleh pengembangan karier berupa peningkatan jabatan/pangkat maupun promosi untuk melaksanakan tugas tambahan atau tugas-tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Pengembangan karier guru mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Peraturan ini terdiri dari 18 Bab dan 47 Pasal yang disahkan pada 10 November 2009. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) memberi batas waktu penyesuaian substansi aturan ini hingga 31 Desember 2012. Peraturan ini nafasnya semakin meneguhkan standar keprofesian guru, khususnya dalam pengembangan karier. Penilaian kegiatan pembelajaran dan tugas tambahan dan/ atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah dihitung sacara paket berdasarkan penilaian kinerja guru yang diatur dalam Permendiknas (Pasal 15). Ketentuan sebelumnya, penilaian dilakukan berdasarkan masing-masing subkomponen secara parsial. Pengembangan keprofesian guru berlangsung secara kontinyu. Sebagai bagian dari upaya menjaga kontinyuitasnya, diperlukan penilaian terhadap kinerja guru yang berfokus pada kegiatan pembelajaran, tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah yang dinilai secara teratur dan berorientasi pada kualitas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan

Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Hal ini berbeda dengan ketentuan sebelumnya, dimana penilaian dilakukan secara parsial dan hanya bersifat administratif. Salah satu modal yang diperlukan untuk penetapan kebijakan, program dan kegiatan peningkatkan profesional guru adalah data dan informasi. Pusbang Prodik mengemban tugas untuk menyediakan data yang akurat dan valid tentang guru, baik pendidikan formal maupun informal. Sistem pendataan yang akurat, valid dan terintegrasi dalam pengelolaan guru menjadi sumber informasi berharga dalam perencanaan pengembangan profesional guru.

berkaitan dengan profesinya itu. Kegiatan PKB dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai perwujudan hasil Penilaian Kinerja Guru yang didukung dengan hasil evaluasi diri. Guru berkinerja rendah diwajibkan mengikuti program PKB yang diorientasikan untuk mencapai standar tersebut.
Visi:

21

Mewujudkan pendidik yang profesional dan bermartabat untuk pendidikan bermutu.

Misi:

SERTIFIKASI DAN PENINGKATAN KOMPETENSI GURU
Sertifikasi guru adalah program utama yang menjadi amanat UU Sisdiknas, yakni menuntut adanya reformasi guru untuk memiliki tingkat kompetensi yang lebih tinggi, baik kompetensi yang berkaitan dengan penguasaan bidang studi yang diajarkan, kompetensi yang berkaitan dengan cara mengajarkan bahan dan memfasilitasi terjadinya pembelajaran dalam diri siswa, kompetensi kepribadian yang mencerminkan pemahaman guru atas tugasnya sebagai pendidik, dan kompetensi sosial dalam hubungannya dengan kemampuan berkomunikasi efektif dengan teman sejawat, akademisi, dan masyarakat, termasuk siswa. Untuk menegakkan standar kompetensi guru, pemerintah menyelenggarakan program sertifikasi guru. Sertifikat pendidik yang diperoleh guru berlaku sepanjang yang bersangkutan melaksanakan tugas sebagai guru sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sertifikat pendidik ditandai dengan satu nomor registrasi guru yang dikeluarkan oleh Kemdiknas. Sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, pelaksanaan sertifikasi guru didasarkan pada Peraturan Mendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan. Tahun 2011 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan. Landasan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan sertifikasi guru tahun 2011 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) diarahkan untuk dapat memperkecil jarak antara pengetahuan, keterampilan, kompetensi sosial dan kepribadian yang guru-guru miliki sekarang dengan apa yang menjadi tuntutan ke depan

1. Meningkatkan kompetensi pendidik pada pendidikan formal dan nonformal 2. Mengembangkan sertifikasi guru pada pendidikan formal 3. Mengembangkan sertifikasi keahlian bagi pendidik pada pendidikan non formal 4. Membina dan mengembangkan keprofesian pendidik berkelanjutan 5. Mengembangkan pendidik yang berdaya saing tinggi dan diakui masyarakat 6. Meningkatkan kerjasama antarlembaga 7. Penguatan kelembagaan

Tugas:

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis dan pengembangan profesi pendidik.

Fungsi:

Dalam melaksanakan tugasnya, Pusat Pengembangan Profesi Pendidik menyelenggarakan fungsi: 1. penyusunan kebijakan teknis di bidang pengembangan profesi pendidik; 2. penyusunan program pengembangan profesi pendidik; 3. koordinasi pelaksanaan peningkatan kompetensi dan sertifikasi pendidik; 4. fasilitasi pelaksanaan peningkatan kompetensi dan sertifikasi pendidik; 5. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan profesi pendidik; 6. p e l a k s a n a a n a d m i n i s t r a s i P u s a t Pengembangan Profesi Pendidik.

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik terdiri atas:

1. Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal; 2. Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Dasar; 3. Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Pendidikan Menengah; 4. Subbagian Tata Usaha; dan 5. Kelompok Jabatan Fungsional.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: DIPO HANDOKO

PRIORITAS PADA PROFESIONALITAS TENDIK

I
22

ISTILAH tenaga kependidikan (tendik) memang sudah lama dipakai. Namun tendik tampaknya menemukan pamornya sejak era Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK). Pembinaan tendik memang lebih digenjot pada masa itu. Tidak hanya fokus pada kepala sekolah dan pengawas sekolah, namun juga menyentuh tenaga administrasi, tenaga perpustakaan dan tenaga laboratorium. Kini pembinaan kepada tendik bukan lagi di pundak Ditjen PMPTK, yang dihapus sejak 2010 lalu. Tanggung jawab menyangkut penyusunan kebijakan teknis dan pengembangan tenaga kependidikan menjadi wilayah kerja Pusat Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Sedangkan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis di bidang tenaga kependidikan diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (Dit. P2TK Dikdas); Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah

DOK. DITJJEN PMPTK

Dr. Abi Sujak

(Dit. P2TK Dikmen); dan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dit. P2TK PAUDNI). Rumusan kebijakan terhadap tenaga

kependidikan yang harus disiapkan Pusbang Tendik meliputi tenaga pendidikan pendidikan formal dan nonformal. Tenaga kependidikan pada pendidikan formal yang menjadi fokus pembinaan adalah pengawas sekolah,

kepala sekolah, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga administrasi sekolah. Sedangkan tenaga kependidikan yang bekerja pada jalur pendidikan nonformal meliputi tenaga penilik, pengelola pendidikan nonformal, Tenaga Lapangan Dikmas/ pendidikan masyarakat (TLD) dan Fasilitator Desa binaan Intensif (FDI). Pada periode awal kepemimpinan institusi ini, Dr. Abi Sujak dipercaya memimpin Pusbang Tendik. Abi Sujak dan jajarannya juga bertanggung jawab terhadap pengembangan tenaga pimpinan pegawai di lingkungan Kemdiknas, yang dulu menjadi wilayah kerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemdiknas. Pusdiklat Pegawai Kemdiknas kini melebur menjadi Bidang Pengembangan Tenaga Pimpinan Pegawai. Selain bidang ini, susunan organisasi Pusbang Tendik didukung oleh Bidang Pengembangan Tenaga Teknis dan Fungsional Non-Pendidik, Bagian Tata Usaha, dan Kelompok Jabatan Fungsional (Pasal 704 Permendiknas Nomor 36 Tahun 2010). Yang termasuk tenaga teknis dan fungsional nonpendidik adalah kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga administrasi, tenaga laboran, tenaga perpustakaan (kelimanya adalah tenaga kependidikan pendidikan formal) serta penilik, TLD dan FDI (ketiganya tenaga kependidikan pendidikan nonformal).

dengan karakter profesi PTK-PNF yang bersifat on off. Mereka bisa keluar masuk menjadi PTK-PNF kapan saja. Ada kalanya, jumlah PTK PNF pada tahun tertentu meningkat pesat, namun pada tahun berikutnya menurun. Apalagi, pendataan PTK-PNF jauh lebih sulit dibanding PTK pada satuan pendidikan formal.

Visi:

23

Menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia aparatur negara yang dikenal berkualitas baik di Indonesia

Misi:

PEMBINAAN PROFESIONAL
Pembinaan profesional tenaga kependidikan mengacu pada sejumlah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas), yakni Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/ Madrasah, Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Permendiknas Nomor 26 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah. Aturan mengenai standar tenaga kependidikan ini menetapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi. Kemdiknas juga menerbitkan Permendiknas Nomor 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan, yang di dalamnya mengatur proses sertifikasi guru dan pengawas sekolah. Di sini ada sejumlah ketentuan mengenai sertifikasi bagi guru dalam jabatan yang diangkat sebagai pengawas sekolah. Pengawas sekolah yang lulus sertifikasi juga mendapat tunjangan profesi satu kali gaji pokok sebagaimana juga berlaku pada guru. Kepala sekolah menempati posisi strategis program pembinaan tenaga kependidikan. Dari sisi jumlah, kepala sekolah yang paling banyak di antara tenaga kependidikan lainnya. Di era otonomi daerah, peran kepala sekolah menjadi lebih besar. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) mengamanahkan adanya manajemen berbasis sekolah (MBS) atau school based management, yakni pola penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan yang mengedepankan pada otonomi sekolah. Secara filosofis terdapat perbedaan fundamental tugas pokok dan fungsi kepala sekolah menurut Permendiknas Nomor 13/2007 dengan aturan di masa lampau. Di masa lalu, peran kepala sekolah sebatas pada ketatausahaan atau administrasi. Sedangkan Permendiknas Nomor 13/2007 menekankan aspek leadership, manajerial, entrepreneurship (kewirausahaan), dan kepengawasan.

Misi utama Pusbang Tendik adalah “Melayani dengan amanah, memberikan yang terbaik”. 1. Menyelenggarakan dan mengembangkan berbagai jenis diklat yang berorientasi pada kebutuhan peningkatan kompetensi sumber daya manusia aparatur pendidikan. 2. Mewujudkan manajemen diklat yang profesional sebagai model pembelajaran. 3. Mengembangkan jaringan kerja sama dengan mengoptimalisasikan pemanfaat teknologi informasi dan komunikasi dengan stakeholder serta organisasi terkait didalam dan luar negeri

Tugas:

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, koordinasi, dan pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai di lingkungan Kementerian.

Fungsi:

PRIORITAS PEMBINAAN
Kepala sekolah dan pengawas sekolah menjadi prioritas pembinaan karena keduanya menempati posisi jabatan strategis dalam peningkatan mutu pendidikan di setiap jenjang satuan pendidikan dasar dan menengah. Dari sisi jumlah, kepala sekolah dan pengawas sekolah juga mendekati jumlah ideal. Sementara jumlah tenaga administrasi, tenaga perpustakaan dan tenaga laboratorium masih jauh dari ideal. Menurut data Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) 2009, jumlah pengawas sekolah 23.050 orang, kepala sekolah sebanyak 195.633 orang. Jika diratarata, satu orang pengawas sekolah melakukan tugas pengawasan terhadap kurang lebih 8 sekolah. Jumlah yang cukup, sebab Kemdiknas menetapkan rasio pengawas sekolah dengan sekolah yang diawasi adalah 1:10. Berbeda dengan data tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang jumlahnya relatif stabil, data tenaga kependidikan pendidikan nonformal sering mengalami fluktuasi atau tidak stabil. Hal ini sejalan

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidik an menyelenggarakan fungsi: 1. penyusunan kebijakan teknis di bidang pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai di lingkungan Kementerian; 2. penyusunan program pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai di lingkungan Kementerian; 3. p e n y u s u n a n b a h a n p e l a k s a n a a n pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai di lingkungan Kementerian; 4. fasilitasi pelaksanaan pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai; 5. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pengembangan tenaga kependidikan dan pegawai di lingkungan Kementerian; dan 6. p e l a k s a n a a n a d m i n i s t r a s i P u s a t Pengembangan Tenaga Kependidikan.

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidik an terdiri atas:

1. Bidang Pengembangan Tenaga Teknis dan Fungsional Non-Pendidik; 2. Bidang Pengembangan Tenaga Pimpinan Pegawai; 3. Bagian Tata Usaha; dan 4. Kelompok Jabatan Fungsional.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LAPORAN UTAMA Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: KEMDIKNAS

MENJADIKAN LEMBAGA PENDIDIKAN BERMUTU

P
24

PENJAMINAN mutu (quality assurance/QA) pendidikan kini semakin menjadi bahasan penting. Penjaminan mutu bukan hanya jadi tren perbincangan, namun sudah menjadi kebutuhan yang diharapkan mampu menciptakan percepatan yang sangat signifikan terhadap upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan, baik pada satuan pendidikan formal maupun nonformal, mulai jenjang pendidikan terendah di Pendidikan Anak Usia Dini hingga di perguruan tinggi. Tugas penjaminan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP). Secara khusus penjaminan mutu pendidikan menjadi wilayah kerja Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan yang dipimpin Muhammad Hatta, M.Ed, Ph.D. Cakupan kerja penjaminan mutu pendidikan sebenarnya sangat luas. Sebab penjaminan mutu pendidikan berkait dengan mutu sekolah, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, juga bertautan dengan kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), serta

PIH. KEMDIKNAS

Muhammad Hatta, M.Ed, Ph.D

Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) --tiga unit pelaksana teknis di bawah Badan PSDMP dan PMP. Bahkan urusan penjaminan mutu juga berhubungan dengan keseluruhan Kemdiknas, khususnya pengembangan SDM pendidikan di semua direktorat jenderal dari pimpinan hingga staf, yang kesemuanya adalah SDM yang bekerja di lembaga pendidikan. Pusbang Prodik turut bertanggung

jawab terhadap mutu pendidik. Begitu juga penjaminan mutu tenaga kependidikan menjadi tanggung jawab Pusbang Tendik. Sehingga dibutuhkan penyelarasan penjaminan mutu antara Pusbang Prodik, Pusbang Tendik dan Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan.

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Penjaminan mutu pendidikan mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pasal 35 ayat 1 menyatakan SNP terdiri dari 8 komponen, yakni standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Ketentuan mengenai SNP ini tidak pernah ada sebelumnya dalam peraturan perundangan, baik yang berbentuk undang-undang (UU), peraturan pemerintah (PP), peraturan menteri (Permen) atau yang lain yang menyebutkan standar nasional pendidikan. Pasal 91 ayat (1) PP 19/2005 secara eksplisit menegaskan setiap satuan pendidikan wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan. Artinya adanya internally driven yang harus dilakukan satuan pendidikan. Ayat 3 juga menegaskan bahwa penjaminan mutu pendidikan dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana, karena tidak mungkin semua sekolah langsung bisa mencapai atau melampaui SNP. Hal ini mengingat varian mutu sekolah kita sangat tinggi. Inilah perlunya membuat Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP), agar kita bisa melakukannya secara bertahap, sistematis, terencana, serta memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. LPMP mensupervisi dan membantu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam upaya melakukan penjaminan mutu pendidikan (ayat 6). Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (6), LPMP bekerjasama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi (ayat 7). Menteri menerbitkan pedoman program penjaminan mutu satuan pendidikan pada semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan (ayat 8). Aturan turunan mengenai penjaminan mutu pendidikan diuraikan dalam Permendiknas Nomor 63 Tahun 2009 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan. Permendiknas lain yang berkaitan adalah Permendiknas Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota. Aturan ini memuat 14 indikator pelayanan minimal pendidikan dasar di kabupaten/kota dan 13 indikator pelayanan minimal oleh satuan pendidikan.

GRAND DESIGN SPMP
Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan telah

menyusun grand design Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang diharapkan menjadi acuan para penentu kebijakan, pembina, penyelenggara pendidikan, dan satuan/program pendidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Sasaran pengguna grand design ini, adalah satuan pendidikan formal (pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi), satuan pendidikan informal, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan layanan khusus dan berkebutuhan khusus, lembaga pemerintah Pusat, pemerintah propinsi, kabupaten/kota, Badan Akreditasi Nasional (BAN), dan Badan SDMP dan PMP sendiri, yang di dalamnya ada Unit Pelaksana Teknis (UPT) yakni LPMP, P4TK, LP2KS, juga UPT lainnya seperti Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BP2NFI), Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (P2PNFI). SPMP dilaksanakan dalam bentuk siklus perbaikan secara berkelanjutan. Siklus penjaminan mutu dimulai dari penetapan standar mutu yang ditentukan dalam bentuk regulasi dan kebijakan. Standar yang ditetapkan harus dipenuhi oleh pembina pendidikan (pemerintah pusat), penanggung jawab pendidikan (pemerintah kabupaten/kota yang dikoordinasikan oleh pemerintah provinsi), dan penyelenggara pendidikan (satuan pendidikan atau yayasan). Ketercapaian dalam pemenuhan standar diukur secara reguler dan sistematik baik dalam bentuk audit internal maupun audit eksternal. Grand design SPMP dilaksanakan melalui kegiatan: a) menjelaskan kebijakan dan penetapan standar nasional pendidikan untuk seluruh satuan: Pendidikan Informal, Nonformal, PAUD, Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi; b) menjelaskan fokus penjaminan mutu pendidikan pada 8 standar terutama proses pembelajaran, penelitian, mutu keluaran dan kepuasan pelanggan; c) strategi pemenuhan standar mulai tingkat Pusat Propinsi, Kab/Kota, dan satuan pendidikan; d) sistem pengukuran dan evaluasi pencapaian standar; e) kewenangan dan tanggung jawab UPT :LPMP, P4TK, BP2PNFI, P2PNFI dan UPT lainnya dalam PMP; f) pembagian kewenangan dan tanggung jawab Pusat, Provinsi, Kab/Kota dan satuan pendidikan dalam pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan; f) parameter pengukuran pencapaian SNP; g) perbaikan dan pengembangan SNP dan melampaui SNP.

25 Visi:
Terbangunnya budaya mutu satuan pendidikan dalam menerapkan standar nasional pendidikan menuju daya saing internasional 2020.

Misi:

1. Menciptakan kepastian pemenuhan mutu oleh semua pemangku kepentingan dalam rangka penjaminan mutu pendidikan; 2. Membangun sinergi semua pemangku kepentingan dalam pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan; 3. Mengembangkan kapasitas sumberdaya di pusat, daerah dan satuan pendidikan dalam pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan; 4. Membangun layanan system informasi penjaminan mutu pendidikan dalam rangka transparansi dan akuntabilitas publik; 5. Membangun kesadaran mutu pada setiap satuan pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam melaksanakan pemenuhan standar nasional pendidikan.

Tugas:

Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan kebijakan teknis dan penjaminan mutu pendidikan.

Fungsi:

1. penyusunan bahan kebijakan teknis di bidang penjaminan mutu pendidikan; 2. penyusunan program penjaminan mutu pendidikan; 3. pelaksanaan pemetaan mutu pendidikan; 4. koordinasi dan fasilitasi pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan; 5. pengembangan dan pengelolaan sistem informasi mutu pendidikan; 6. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan; dan 7. pelaksanaan administrasi Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan.

1. 1. 1. 1. 1.

Tata Nilai

Komitmen (commitment) Kejujuran (honesty) Kredibilitas (credibility) Keunggulan (excellence) Kepercayaan (trust)

Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan terdiri atas:

1. Bidang Penjaminan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal; 2. Bidang Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar; 3. Bidang Penjaminan Mutu Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi; 4. Subbagian Tata Usaha; dan 5. Kelompok Jabatan Fungsional.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[G]

GURU U R U G

PENULIS: SAIFUL ANAM FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO sertifikasiguru.blog.dada.net, beritalumajang.com, sergurayon20.net, Dok. Unifah Rosyidi

MENGOPTIMALKAN KETERBUKAAN SELEKSI PESERTA SERTIFIKASI

K
26

P ERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei lalu di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dipusatkan di Alun-alun Kota Lumajang. Ratusan pegawai di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, guru, siswa, dan para pelaku pendidikan lain menghadiri upacara tersebut. Kegiatan ini dipimpin oleh Wakil Bupati Lumajang KH As’at Malik, M.Ag.

PROTES SELEKSI SERTIFIKASI
Sayangnya, pelaksanaan peringatan Hardiknas di Lumajang ini agak tercoreng. Pasalnya, pada saat sebagian besar guru, siswa, dan para pelaku pendidikan sedang hikmat mengikuti upacara peringatan Hadiknas, puluhan guru ngluruk ke kantor DPRD Lumajang hanya untuk mengadukan nasibnya setelah dinyatakan tidak lolos kuota sertifikasi oleh pemerintah pusat (Kementerian Pendidikan Nasional). Tapi mereka mencurigai ada permainan di Dinas Pendidikan setempat. Mereka menuding Dinas Pendidikan Lumajang tidak transparan dalam rekruitmen guru peserta sertifikasi. Tutik Mardaningsih, salah satu guru yang ngluruk ke Dewan mengaku kalau dirinya
sertifikasiguru.blog.dada.net

Suasana proses sertifikasi guru di Medan

sudah memenuhi syarat mengikuti program sertifikasi guru. Bahkan, pada pengumuman pertama Tutik mengaku sudah dinyatakan lolos kuota sebagai peserta sertifikasi. Pengumuman pertama tersebut malah ditempel di papan pengumuman kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang. Apalagi Tutik mengaku sudah 30 tahun mengabdi di dunia pendidikan,

dan kualifikasi pendidikannya pun sudah S1. Jadi kurang apa lagi? Namun, dia heran dalam perkembangan selanjutnya ia dinyatakan tidak lolos sebagai peserta sertifikasi tersebut. “Saya tidak tahu alasannya, padahal semuanya sudah lengkap,” ungkap Tutik yang guru sebuah SMP di Lumajang itu. Anehnya, kata Tutik, pengumuman bagi

guru yang dinyatakan lolos sebagai peserta sertifikasi hanya lewat SMS. Yakni, ditandai dengan undangan pelatihan sertifikasi di Jember dilaksanakan pada Mei 2011. “Yang lebih mengherankan, ada sejumlah guru yang sebelumnya dinyatakan tidak lolos sebagai peserta sertifikasi tahap pertama yang diumumkan oleh Diknas, ternyata malah mendapat SMS dan lolos,” selorohnya protes. Ironis bagi Tutik, ia justru tidak mendapat SMS yang berisi pemberitahuan tersebut. Dia menduga ada ketidaktransparanan dan ketidakberesan dalam proses rekrutmen sertifikasi tersebut. “Malah ada guru yang pengabdiannya hanya 10 tahun lolos sertifikasi,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan oleh Suwignyo, yang nasibnya sama dengan Tutik. Dia mengatakan, perlu penjelasan secara transparan dari Dinas Pendidikan Lumajang untuk mendapatkan kepastian alasan dirinya tidak lolos kuota sertifikasi. “Kami perlu penjelasan. Jika dinas pendidikan transparan dalam pelaksanaan sertifikasi guru, mestinya pengumuan harus dilakukan seperti tahap pertama,” ungkap Suwignyo, yang juga guru di sebuah SMP. Maksudnya, ditempel di papan pengumuman, bukan diberitahukan melalui SMS. Pengumuman secara terbuka itu juga untuk menghindari tuduhan adanya kong kalikong atau main mata antara pihak Dinas Pendidikan dengan sejumlah guru tertentu. Anggota Komisi D DPRD Lumajang, Hartono, mengaku telah menampung aspirasi yang disampaikan oleh para guru tersebut. Oleh karena itu, keesokan harinya atau pada 3 Mei lalu, DPRD Lumajang langsung memanggil Kepala Dinas Pendidikan dan pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) untuk dimintai klarifikasi. “Dalam pertemuan tersebut ada keinginan kuat dari seluruh pihak agar 355 guru yang belum lolos sertifikasi segera diurus ke pemerintah pusat,” ungkapnya kepada wartawan di Lumajang. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang Winhatno Hari Surya, menampik kalau tidak lolosnya guru tersebut disebabkan oleh kebijakan Dinas Pendidikan Lumajang. “Itu bukan kesalahan kami. Itu wewenang pemerintah pusat,” ungkapnya. Winhatno mengatakan, masalah sertifikasi guru tidak hanya terjadi di Lumajang, tapi juga terjadi di sejumlah kabupaten lain. Itu terjadi karena tahun ini penerapan sertifikasi menggunakan data online Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidikan (NUPTK). Dengan sistem tersebut, kata dia, guru yang terdaftar Diploma Satu

(D1), Diploma Dua (D2), D3 atau SPG namanya tidak muncul. “Saya minta guru-guru bersabar dulu,” ungkapnya. Ia menambahkan, di Lumajang, kuota guru sertifikasi sebanyak 971 guru. Dari jumlah tersebut, sebenarnya sudah terisi semua dan disampaikan ke Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta. Namun, dari total jumlah guru tersebut, hanya 616 yang dinyatakan lolos peserta sertifikasi tahun ini, dan 355 guru tidak lolos karena dianggap masih bermasalah. “Padahal seluruh guru yang kita nilai sudah memenuhi segala persyaratan diajukan bersama-sama,” tukas Winhatno. Meskipun mereka tidak masuk, Winhatno berjanji dan berusaha semaksimal mungkin agar mereka bisa masuk. Ia menegaskan bahwa kebijakan lolos tidaknya guru untuk mengikuti program sertifikasi profesi pendidik merupakan wewenang penuh pemerintah pusat, bukan dinas pendidikan kabupaten/kota. “Jadi, kalau ada kasus guru tidak lolos sebagai peserta sertifikasi penyebabnya bukan karena adanya rekayasa dari dinas pendidikan di kabupaten/ kota bersangkutan, apalagi sekarang adanya

pemberlakuan data NUPTK,” katanya. Selain menampung keluhan para guru yang tidak lolos kuota sertifikasi, DPRD Lumajang juga menyoroti kinerja para guru yang sudah memperoleh atau mengantongi sertifikat profesi pendidik. Agar tidak mubazir, DPRD meminta pengawasan ketat dan evaluasi atas program sertifikasi guru, terutama bagi para guru yang sudah bersertifikat. Penegasan ini disampaikan Achmad Jauhari, Wakil Ketua DPRD Lumajang. Menurut Jauhari, Dewan menghargai guru yang sudah mendapatkan sertifikasi, dan mereka pun pasti bangga. Sayangnya, karena bangga berlebihan itulah akhirnya cukup banyak di antara mereka yang lupa bahwa mereka terikat aturan, misalnya jumlah jam mengajar yang harus dipenuhi minimal 24 jam tatap muka per minggu dan keharusan untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. “Oleh karena itu ke depan dinas pendidikan harus melakukan pengawasan intensif bagi para guru yang sudah bersertifikat, sehingga program sertifikasi guru tidak mubazir alias tidak sia-sia,” ungkapnya. Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa

27

beritalumajang.com

Wakil Bupati Lumajang K.H. As'at Malik, M.Ag pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Alun-alun Lumajang.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[G]

GURU U R U G
TIGA POLA SERTIFIKASI GURU
Menurut Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Kementerian Pendidikan Nasional, Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2011 dibagi dalam 3 pola, yakni Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik Secara Langsung (PSPL), dan PLPG. Sertifikasi guru pola PF diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang: (1) memiliki prestasi dan kesiapan diri untuk mengikuti proses sertifikasi melalui pola PF, (2) tidak memenuhi persyaratan dalam proses PSPL. Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan berkas yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Pola PSPL untuk guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki: a) kualifikasi akademik magister (S-2) atau doktor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya, atau guru kelas dan guru bimbingan dan konseling atau konselor, dengan golongan sekurang-kurangnya IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b; b) golongan serendah-rendahnya IV/c atau memenuhi angka kredit kumulatif setara golongan IV/c. Sedangkan sertifikasi guru pola PLPG diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang: (1) memilih langsung mengikuti PLPG; (2) tidak memenuhi persyaratan PSPL dan memilih PLPG; dan (3) tidak lulus penilaian portofolio. PLPG harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru. Beban belajar PLPG sebanyak 90 jam pembelajaran. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAIKEM) disertai workshop Subject Specific Pedagogic (SSP) untuk mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran.

(PKB) ini juga meminta agar sertifikat guru bisa dicabut jika ditemukan guru bersertifikasi ternyata tidak taat aturan. “Mereka yang sudah menyandang guru bersertifikat harus lebih baik daripada guru yang belum lulus sertifikasi. Mereka harus lebih cerdas, lebih kreatif, lebih inovatif, dan lebih memenuhi ketentuan minimal jam mengajarnya. Kalau sama saja dengan guru biasa yang belum bersitifikat, apalagi lebih malas, buat apa sertifikasi yang disandangnya? Lebih baik sertifikasinya dicabut,” tandasnya.

IMPLEMENTASI PROGRAM SERTIFIKASI
Protes Tutik dan Suwignyo yang mewakili puluhan teman-temannya sesama guru yang ngluruk ke DPRD Kabupaten Lumajang pada tanggal 2 Mei lalu, boleh jadi juga dirasakan dan terjadi di sejumlah daerah lain. Kasus yang menimpa Tutik, Suwignyo maupun guru-guru lain itu hanyalah sebagain saja dari berbagai persoalan yang terjadi dalam proses pelaksanaan sertifikasi guru. Masih ada sederet persoalan yang menggelayuti program ini sampai sekarang. Jika ditilik kembali ke belakang, program sertifikasi guru mulai digulirkan Kemdiknas sejak tahun 2006, yang pelaksanaannya mulai dilakukan tahun 2007, sebagai implementasi dari pelaksanaan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Kemdiknas telah menargetkan seluruh guru sudah harus bersertifikasi profesi pendidik pada tahun 2015. Berdasarkan data terbaru di Kemdiknas, total guru kita saat ini dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMA/SMK sebanyak 2.791.204 orang (NUPTK Kemdiknas 2011). Sekitar 800.000 guru lainnya berada dalam binaan Kementerian Agama. Secara kualifikasi akademik, dari 2.791.204 guru binaan Kemdiknas, sebanyak 1.540.413 guru (55,19%) belum memiliki kualifikasi akademik S1 atau D-IV. Sedangkan guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik baru sebanyak 746.727 orang, atau baru sekitar 27%. Mengacu pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan UU Guru dan Dosen, untuk menegakkan standar kompetensi guru, pemerintah menyelenggarakan program sertifikasi guru. Secara lebih rinci, acuan pelaksanaan sertifikasi guru itu dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Dalam PP itu disebutkan, program
DOK. UNIFAH ROSYIDI

Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

sertifikasi guru bertujuan untuk: 1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; 2) peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan; dan 3) peningkatan profesionalitas guru. Sejumlah manfaat pelaksanaan sertifikasi guru di antaranya adalah: 1) melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru; 2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional; 3) menjaga LPTK dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku; dan 4) meningkatkan kesejahteraan guru. Pada tahap awal, pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan melalui penilaian portofolio dan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Namun karena dari sejumlah penelitian terbukti bahwa guru-guru yang lulus portofolio ternyata tidak memberikan peningkatan kinerja yang signifikan, maka mulai tahun ini sekitar 99% pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan melalui PLPG. Hanya sekitar 1% yang dilaksanakan melalui penilaian portofolio dan PSPL (Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung), yang terutama disediakan bagi guru-guru berprestasi dan guru-guru yang berkinerja baik. Selain itu, untuk menjunjung tinggi transparasi dan akuntabilitas, mulai tahun ini proses penetapan dan pendaftaran peserta melalui sistem NUPTK online.

28

TRANSPARANSI SELEKSI SERTIFIKASI
Kendati secara konsep program sertifikasi guru sudah dirancang dengan baik, namun dalam pelaksanaannya memunculkan sejumlah masalah yang bisa mendegradasi esensi dan tujuan program mulia tersebut. Beberapa persoalan yang menonjol antara lain: belum terjadinya peningkatan kinerja yang signifikan guru yang sudah bersertifikat, pola rekruitmen di tingkat daerah yang cenderung tebang pilih alias tidak transparan, tidak terpenuhinya persyaratan minimal jam mengajar tatap muka minimal 24 jam per minggu, dan sebagian besar tunjangan profesi justru digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumstif, bukan untuk pengembangan kompetensinya. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh terus terang mengakui bahwa secara umum para guru yang sudah bersertifikat belum menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan. Walaupun begitu, para guru yang lulus sertifikasi melalui jalur PLPG, mutunya lebih meningkat dibanding mereka yang lulus lewat jalur portofolio. Menurut Mendiknas, bagi guru yang sudah bersertifikat, secara formal tunjangan profesi itu memang haknya dan harus tetap dipenuhi. “Tetapi, sembari hak mereka tetap dipenuhi, guru harus melakukan perbaikan atas inisiatif mereka sendiri. Ini yang paling mahal, yaitu melakukan self improvement. Harus ditumbuhkan kemampuan meningkatkan kualitas diri, sehingga mbejaji atau sepadan dengan reward yang diperolehnya,” katanya. “Saya tidak ingin ada fenomena begini: karena guru sudah mendapatkan tunjangan profesi, maka mereka tidak perlu mengajar lagi. Mereka bisa mengangkat asisten, lalu sebagian tunjangan profesinya diberikan kepada asistennya. Ini tidak boleh terjadi,” ia menambahkan. Selain masalah peningkatan kompetensi, persoalan lain yang paling menonjol dalam pelaksanaan sertifikasi guru adalah pola rekruitmen peserta sertifikasi yang selalu menjadi persoalan paling panas sampai sekarang. Muncul dugaan kuat bahwa cukup banyak dinas pendidikan kabupaten/kota, dengan otonomi yang dimilikinya, menjalankan pola rekrutmen yang seenaknya dan bersifat tebang pilih, tidak sesuai dengan petunjuk teknis dari Kemdiknas. Akibatnya, ada guruguru yang secara urut belum waktunya mengikuti sertifikasi, ternyata diikutkan juga. Sebaliknya, ada sebagian guru yang sudah waktunya mengikuti sertifikasi, justru tergusur.

29

DIPO HANDOKO

Kemdiknas pusat tidak berdaya karena hanya bisa meloloskan usulan yang disampaikan oleh kabupaten/kota. Atas dasar itu, mulai tahun 2011 ini pola rekrutmen calon peserta sertifikasi dilakukan melalui sistem online. Unifah Rosyidimengakui bahwa pemberlakukan sistem online ini ditujukan untuk melindungi hak-hak guru, sekaligus memberantas praktikpraktik rekayasa yang dilakukan cukup banyak dinas pendidikan kabupaten/kota. Dengan sistem online ini, maka bagi para guru yang tidak memenuhi syarat (kualifikasi pendidikan, masa kerja, jam mengajar, dan lain-lain) akan

gugur dengan sendirinya. Sebaliknya, bagi para guru yang sudah memenuhi syarat, bisa mendaftarkan diri. Unifah Rosyidi yang juga salah satu Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia itu tidak ingin melihat para guru menjadi korban permainan sejumlah pejabat dinas pendidikan daerah. Selain untuk melindungi hak-hak guru dan menjamin terjadinya transparansi, pemberlakuan sistem online dalam pola seleksi ini juga untuk mencegah distorsi dalam implementasi program sertifikasi guru.

sergurayon20.net

Proses sertifikasi guru di Rayon 20 Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[G]

GURU U R U G

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: DOK..SMA SUTOMO MEDAN

Gerak Cepat Lahirkan Guru Profesional

K
30

PENDIDIKAN Profesi Guru (PPG) baru dimulai Juli mendatang dengan kuota 13.040 guru dalam jabatan. Jumlah tersebut kurang lebih setara 4 persen dari total 313.040 guru yang mengikuti program sertifikasi tahun 2011. Selebihnya, 300 ribu guru mengikuti sertifikasi melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan portofolio. Guru dalam jabatan yang boleh mengikuti PPG minimal baru diangkat tahun 2006, dengan harapan, tidak antre lama dalam PLPG atau portofolio. "Dengan adanya PPG, kompetensi guru diharapkan meningkat secara signifikan. Harapannya, setelah mendapat sertifikat pendidik, bisa lebih baik dalam mendidik dan menyampaikan materi pelajaran dengan inovatif," kata Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiknas, Prof Dr Supriadi Rustad. PPG memang lebih lama pelaksanaannya yakni 6 bulan sampai 1 tahun. Sedangkan PLPG hanya 90 jam tatap muka. Guru yang mengikuti sertifikasi melalui portofolio bahkan hanya melalui penilaian dokumen. Guru yang mengikuti sertifikasi melalui PPG juga harus merogoh kocek lebih banyak.

Suasana pemberlajaran di SMA Sutomo Medan

Pembiayaan PPG selama 1 tahun sekitar Rp 12 juta. Pengorbanan yang harus dikeluarkan para guru itu bukan lantaran pemerintah tak peduli pada guru. Tujuan pelaksanaan sertifikasi melalui pola PPG adalah untuk mempercepat guru mendapatkan sertifikat pendidik. Hingga akhir 2010, baru sekitar 800.000 guru yang telah lulus sertifikasi, dari total 2,7 juta guru. Peran pemerintah pusat dalam pembiayaan pendidikan hingga kini semakin besar termasuk untuk pembiayaan sertifikasi guru melalui portofolio dan PLPG. "Bagi guru yang tidak mampu atau berpenghasilan masih kecil, diharapkan tetap mengikuti sertifikasi melalui PLPG atau portofolio," kata Supriadi. Pemerintah pusat menyerahkan penyelenggaraan PPG sepenuhnya kepada pemerintah daerah ataupun kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan. "Ini

semata-mata demi mendorong pemda turut serta dalam peningkatan kualitas guru. Sebab, selama ini, hanya pemda Jatim, Riau, DKI yang memiliki komitmen bagus terhadap peningkatan kualitas guru di daerahnya," kata Supriadi Rustad, yang juga Guru Besar Universitas Negeri Semarang. PPG bagi guru dalam jabatan hanya bisa diikuti guru yang masuk database Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Untuk guru SD yang memenuhi kualifikasi akademik D-IV/S-1, menjalani PPG selama enam bulan. Sedangkan guru dengan kualifikasi akademik SMP/SMA sederajat atau guru bidang studi butuh waktu PPG selama satu tahun. Selain guru dalam jabatan, PPG juga diperuntukkan bagi guru prajabatan. Calon guru, baik yang tengah kuliah di LPTK maupun

perguruan tinggi nonLPTK, bisa mengikuti PPG mulai Juli 2011. Calon guru yang lulus PPG diharapkan sudah memenuhi kompetensi. Sehingga guru prajabatan yang sudah lulus PPG tidak perlu lagi mengikuti proses sertifikasi

KURIKULUM PPG
Uji kompetensi dalam PPG melalui ujian tertulis dan ujian kinerja sesuai standar kompetensi. Ujian tertulis dilaksanakan secara komprehensif yang mencakup wawasan atau landasan kependidikan, materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi mata pelajaran, konsep-konsep disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang secara konseptual menaungi materi pelajaran. Ujian kinerja dilaksanakan secara holistik dalam bentuk ujian praktik pembelajaran yang mencerminkan penguasaan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional pada satuan pendidikan yang relevan. Beban belajar pada pendidikan profesi guru berkisar antara 18 sampai dengan 40 Satuan Kredit Semester (SKS). Penetapan beban belajar berdasarkan persyaratan latar belakang bidang keilmuan dan satuan pendidikan tempat penugasan. Bobot muatan belajar untuk lulusan program S1/D-IV kependidikan dititikberatkan pada penguatan pada kompetensi profesional. Sedangkan bobot muatan belajar untuk lulusan program S1/D-IV nonkependidikan dititikberatkan pada pengembangan kompetensi pedagogik. Sertifikat pendidik bagi seseorang yang akan menjadi guru dipenuhi sebelum yang bersangkutan diangkat menjadi guru. Kurikulum PPG disusun berdasarkan tuntutan standar kompetensi guru seperti yang dikehendaki Pasal 10 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Pengelompokan kompetensi tersebut tidak dijadikan sebagai pengelompokan mata kuliah, oleh karena kompetensi merupakan hasil akhir dari proses pendidikan. Kompetensikompetensi dapat tertampung dalam beberapa matakuliah. Misalnya mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dapat menampung kompetensi kepribadian dan sosial. Kompetensi yang ingin dicapai dalam PPG dapat disederhanakan menjadi kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Kompetensi akademik adalah seluruh bekal yang bersifat basis keilmuan dari

kegiatan mendidik yang akan diaplikasikan secara otentik dalam melaksanakan tugas keprofesionalan di lapangan. Sedangkan kompetensi profesional adalah seluruh kemampuan mengaplikasikan prinsipprinsip keilmuan dalam praktik nyata di sekolah yang memiliki struktur, yang terdiri atas orientasi, latihan terbimbing, latihan mandiri, mengatasi masalah-masalah belajar siswa, dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan non mengajar yang terjadi di sekolah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sudah melalukan analisi apa saja kompetensi yang sudah diperoleh mahasiswa lulusan S-1 kependidikan dan S-1/D-IV nonkependidikan. Analisis menentukan apa saja kegiatan perkuliahan yang perlu ditambahkan untuk kedua program tersebut. Pada program PPG untuk lulusan S-1 kependidikan memerlukan mata kuliah bidang studi dalam bentuk subject specific pedagogy (pendidikan bidang studi) dan program pengalaman lapangan (PPL) kependidikan. Sedangkan pada program PPG pasca S1/D-IV Non kependidikan perlu diberikan mata kuliah mengenai kompetensi akademik kependidikan (pedagogik), bidang studi dalam bentuk subject specific pedagogy (pendidikan bidang studi), dan latihan mengajar atau Program Pengalaman Lapangan (PPL). Struktur kurikulum PPG pascaS1 kependidikan meliputi: a) pemantapan dan pengemasan materi bidang studi untuk pembelajaran bidang studi yang mendidik (subject specific pedagogy atau pendidikan bidang studi); b) PPL kependidikan. Sedangkan struktur kurikulum PPG pasca S1/D-IV nonkependidikan meliputi: 1) kajian tentang teori pendidikan dan pembelajaran; b) kajian tentang peserta didik; c) pengemasan materi bidang studi untuk pembelajaran bidang studi yang mendidik (subject specific pedagogy atau pendidikan bidang studi); d) pembentukan kompetensi kepribadian pendidik; e) matakuliah kependidikan dan PPL kependidikan.

Gagasan memberi kesempatan melakukan wider mandate dan terakhir menjadi konversi telah mengubah kondisi kapasitas LPTK. Meskipun perubahan itu semula dilandasi niat untuk memperkuat program-program bidang studi kependidikan yang akan mempersiapkan calon guru agar dapat memperkuat penguasaan struktur keilmuan bidang studi. Namun program-program nonkependidikan dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan mahasiswa. Para dosen juga banyak diberi kesempatan melanjutkan pendidikan ke universitas nonkependidikan. Usaha meningkatkan kemampuan akademik bidang studi yang diajarkan ternyata tidak menjadi kenyataan. Sebaliknya terjadi dislokasi besar-besaran dari sumber-sumber yang sebelum terjadi konversi sepenuhnya diperuntukkan bagi pengembangan program pendidikan calon guru dan tenaga kependidikan lainnya. Pengangkatan dosen baru diutamakan dari lulusan nonkependidikan, tugas belajar bagi dosen di dorong ke program nonkependidikan, sehingga bidang kependidikan menjadi terabaikan.

31

KESEIMBANGAN SUPPLY DAN DEMAND
LPTK yang berbentuk universitas, institut, fakultas, dan sekolah tinggi, hanya berperan dalam hal pendidikan calon guru, dan tidak berperan dalam penempatan dan pembinaan guru di lapangan. Dinas Pendidikan dan yayasan sangat berperan dalam penempatan dan pembinaan namun sangat kurang berperan dalam ikut serta memberi corak dan relevansi kurikulum. Selama ini kelihatan tidak ada kerjasama antara LPTK sebagai produsen guru dengan pemakai lulusan pendidikan guru. LPTK belum merupakan lembaga pendidikan yang terencana dengan baik seperti pada lembaga pendidikan kedinasan, melainkan merupakan lembaga pendidikan umum yang lulusannya mencari pekerjaan sendiri. Tidak ada mekanisme untuk mengendalikan “supply and demand”. Paradigma supply and demand yang tidak didukung dengan pendataan dan pemetaan yang akurat, otonomi yang tidak memberikan kemudahan untuk terjadinya mobilitas layanan pendidikan antara satu daerah dengan daerah lain, telah menyebabkan kesulitan dalam merencanakan keluaran suatu lembaga pendidikan guru secara tepat jumlah, tepat keahlian dan tepat mutu. .

KRITIK TERHADAP LPTK
Di antara kritik yang disampaikan terhadap LPTK adalah bahwa program LPTK kurang didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah, serta kurang relevannya program LPTK dengan kebutuhan lapangan. Upaya-upaya memperkuat penguasaan bidang studi telah menghasilkan sejumlah dosen yang lulus dari program magister dan doktor dari bidang studi nonkependidikan.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LPMP
LPMP Nangroe Aceh Darussalam

PENULIS: MUKTI ALI FOTO-FOTO: MUKTI ALI, ARIEF(PIH. KEMDIKNAS)

Butuh Banyak Widyaiswara

S
32

SATU dari sekian banyak gedung perkantoran yang tersapu gelombang tsunami yang melanda sebagian besar Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di Jalan Ujong Batee, Banda Aceh. Akibat bencana tersebut, kantor LPMP terpaksa berpindah ke Jalan Pemancar No. 13 Lamteumen Timur, Banda Aceh. Kantor baru ini sampai sekarang masih berstatus sewa. Meski begitu, LPMP NAD tetap ditunjang beberapa fasilitas memadai, walupun beberapa di antaranya juga sewa dan tidak berada dalam satu komplek. Di antara fasilitas tersebut adalah gedung pengelola, gedung serbaguna/ aula, masjid, perpustakaan multimedia, laboratorium, gedung pelatihan, gedung kelas, ruang makan, mess putri, mess putra, wisma, ruang bersama/hall, rumah staf, lapangan olahraga dan upacara, area parkir, serta beberapa fasilitas penunjang lainnya. Dengan fasilitas pendukung tersebut, LPMP kembali berkegiatan sebagaimana tugas dan fungsinya. Pengembangan pelayanan LPMP dapat dilihat dari visi misi lembaga tersebut. Visi LPMP NAD adalah menjadi pusat pelayanan, kajian, dan peningkatan mutu pendidikan

yang islami berstandar nasional berwawasan global. Sedangkan misi LPMP NAD meliputi: 1) melaksanakan pendataan dan sistem informasi pendidikan dasar dan menengah termasuk TK, RA dan bentuk lainnya yang sederajat; 2) melaksanakan penelitian dan pengkajian mutu pendidikan; 3) melaksanakan supervisi satuan pendidikan dasar dan menengah termasuk TK, RA atau bentuk lain yang

sederajat dalam pencapaian standar mutu pendidikan nasional; 4) memfasilitasi sumber daya pendidikan terhadap satuan pendidikan dasar dan menengah termasuk TK, RA atau bentuk lain yang sederajat dalam penjaminan mutu pendidikan; 5) menjalin kerjasama dengan lembaga terkait (stakeholders) untuk meningkatkan mutu pendidikan; 6) meningkatkan kualitas pencitraan LPMP NAD. ”Dari visi misi tersebut, LPMP Nangroe Aceh Darussalam memiliki tujuan menjamin terlaksananya pendidikan dasar dan menengah sesuai standar, norma, kriteria, dan pedoman penyelenggaraan pendidikan nasional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam pelaksanaannya dibagi dalam tiga seksi, meliputi Sistem Informasi, Pemetaan Mutu dan Supervisi, dan seksi Fasilitasi dalam Pendidikan,” terang Drs. Makmun Ibrahim, MM, Kepala LPMP NAD.

HANYA MEMILIKI 24 WI
Bukan hal mudah bagi LPMP NAD mewujudkan visi misi dengan waktu cepat, kata Makmun. Terdapat beberapa permasalahan yang harus ditangani secara serius dan intensif. Dari sisi internal LPMP, kendala utama yang
MUKTI ALI

Drs. Makmun Ibrahim, MM

DOK. MKKS.ACEH BESAR

tengah dihadapi adalah minimnya tenaga Widyaiswara (WI) yang dimiliki, yakni hanya 24 orang saja. Adapun 10 orang tambahan lagi yang diproyeksikan menjadi WI tetapi statusnya belum ter-SK-kan, bahkan lima orang di antaranya belum mengikuti pendidikan dan latihan sebagai WI. Kalaupun nantinya 10 orang tambahan itu ter-SK-kan hingga jumlah total WI NAD menjadi 34 orang, jumlah itu masih jauh dari kebutuhan ideal LPMP NAD. ”LPMP NAD itu harus memiliki 64 widyaiswara, karena berdasar surat edaran yang dikeluarkan Direktorat Bindiklat dulu, dikaitkan dengan jumlah kabupaten/kota yang dibina dan NAD memiliki 23 kabupaten/ kota, ada 22 bidang studi yang harus ada WInya. Masing-masing bidang studi harus dibina tiga orang WI, kecuali matematika dan fisika harus dibina 6 WI, dan kelompok bidang studi teknologi cukup satu orang WI. Atas dasar surat edaran itulah mestinya LPMP NAD memiliki 64 orang WI,” kata Makmun yang menjabat Kepala LPMP NAD sejak 2009. Sementara jumlah sekolah yang ada di NAD, untuk sekolah negeri dari SD-SMA/SMK sekitar 790 sekolah. Jumlah tersebut menjadi berlipat-lipat jika dimasukkan sekolah-sekolah swasta, termasuk madrasah (MI,MTs, dan MA). Dengan sekolah swasta, jumlah SD di NAD mencapai 3000-an sekolah, MI 500 sekolah, MTs 40 sekolah, SMP 900 sekolah, SMA 600 sekolah, MA 30 sekolah, dan SMK 115 sekolah. Jumlah guru di NAD juga sangat berlipat, dari jenjang dasar hingga menengah jumlah guru berkisar antara 90.000-100.000. ”Data guru di NAD memang sering berubah, itu disebabkan sering berubah-ubahnya data guru nonPNS. Namanya pun macam-macam, ada guru honorer, guru honda, guru bhakti, bahkan ada juga guru lillahi ta'ala. Kalau guru PNS sendiri jumlahnya 49.000 orang,” kata Makmun.

33

kelebihan guru. Namun guru- guru tersebut sebagian besar menumpuk di sekolah-sekolah di perkotaan, sementara untuk kawasan terpencil jumlah guru masih pas-pasan, bahkan kurang. Persoalan kualifikasi, guru-guru NAD boleh dikata dalam keadaan gawat, karena dari 90.000-an guru masih 50 persen saja yang sudah S1, sisanya atau 50 persen lagi belum mengantongi ijazah S1. Sebagian dari guru yang belum S1 tersebut adalah guru-guru SD. Masih rendahnya kualifikasi guru-guru di NAD, tidak bisa dimungkiri juga berimbas pada masih rendahnya kompetensi yang dimiliki. ”Tetapi, sejak ada Undang-Undang Guru dan Dosen, sampai sekarang sudah ada sekitar 10.000 guru meningkatkan kualifikasinya menjadi S1. Sebagian sudah ada yang lulus, ada yang masih dalam proses kuliah, dan ada yang baru memulai kuliah. Saya harap semangat meningkatkan kualifikasi ini dapat meningkatkan kompetensinya dan menular ke guru-guru yang lain,” tutur Makmun.

MERUBAH MINDSET
Dalam kondisi yang begitu berat, semangat membina tenaga pendidik dan kependidikan harus tetap tinggi. Untuk memaksimalkan peran pembinaan, Makmun hendak merubah mindset tugas pembinaan yang akan dilakukan LPMP. ”Tugas pembinaan sekolah selama ini hanya dilakukan oleh widyaiswara dengan melibatkan pengawas sekolah. Ke depan kami akan mengubah pandangan itu. Ke depan, kami akan melibatkan pula staf atau pegawai nonWI yang mumpuni untuk berperan dalam pembinaan-pembinaan yang dilakukan WI. Apalagi jika mereka yang sudah S2. Ini menjadi salah satu solusi mengatasi minimnya WI yang kami miliki,” kata Makmun. Tentang kemampuan pengawas menjadi kepanjangan tangan WI dalam pembinaan

SEBAGIAN BESAR BELUM S1
Dengan jumlah guru yang melimpah, tentu pembinaan LPMP tidak bisa dengan cepat menjangkau semua guru tersebut. Diperlukan waktu yang cukup lama. Karena, dalam setahun LPMP NAD hanya mampu melatih sekitar 500 guru. Meskipun dalam tugasnya LPMP hanya membina guru-guru dalam naungan Kemdiknas, namun kenyataan di LPMP NAD juga melayani permintaanpermintaan dari madrasah (sekolah di bawah naungan Kementerian Agama). Jika dilihat antara sekolah dengan kebutuhan guru, lanjut Makmun, NAD sejatinya

sekolah, lanjut Makmun, memang belum bisa diandalkan sepenuhnya. Pasalnya, kemampuan pengawas masih beragam, ada yang sudah bagus, ada pula yang kurang bagus. Hal itu disebabkan pengawas belum sepenuhnya direkrut dari orang-orang yang kompeten dalam pembelajaran. Di beberapa kabupaten/kota di NAD, pos pengawas sekolah masih dijadikan pos perpanjangan usia untuk guru atau kepala sekolah yang akan pensiun. Pengawas sekolah juga menjadi pos kalangan guru atau kepala sekolah yang kurang disukai kapala daerah. Masih dianggapnya pengawas sekolah sebagai pos buangan, kata Makmun, sampaisampai ada satu kabupaten di NAD yang kebanyakan pengawas sekolah. Itu terjadi karena terlalu banyak membuang guru atau kepala sekolah yang kurang kompeten atau kurang disukai. Ke depan, Makmun sangat berharap hal semacam itu tidak terjadi lagi. Pasalnya pengawas sekolah memiliki peran sangat penting dalam mengawal kemajuan suatu sekolah. Mulai dari mengawal kelembagaannya hingga tenaga pendidik dan kependidikannya. Untuk itu, seiring dengan munculnya program Evaluasi Disi Sekolah (EDS), pada Februari lalu LPMP mengenalkan tentang EDS tersebut ke kalangan WI, staf LPMP dan pengawas sekolah. Pengenalan dalam bentuk pelatihan selama lima hari. Setelah itu, sebagai tahap awal, EDS dilatihkan ke 111 kepala sekolah dari Banda Aceh dan Aceh Besar. ”Untuk sementara pelatihan EDS belum bisa dilanjutkan kembali karena di tingkat pusat masih ada beberapa revisi. Tetapi pada dasarnya sekolah menyambut baik EDS tersebut, dan kami yakin itu sangat membantu sekolah menata diri untuk menjadi lebih baik,” kata Makmun.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

DOK. MKKS.ACEH BESAR

[L]

LPMP
LPMP Papua

PENULIS: EVA ROHILAH FOTO-FOTO: EVA ROHILAH, FATHONI ARIEF DAN SAIFUL ANAM

Pengembangan Guru Jadi Prioritas

S
34

SEPTINUS George Saa yang meraih emas First Step to Nobel Prize in Physics tahun 2004, mampu menepis konotasi negatif bahwa Papua itu terbelakang, tertinggal dan bodoh. Setelah George Saa, Papua melahirkan Annike Nelce Bowaire, yang juga meraih emas di ajang yang sama tahun 2005. Kehebatan Papua diteruskan Rudolf Surya Bonai, yang meraih emas pada First Step to Nobel Prize in Chemistry tahun 2006. Namun prestasi George Saa, Nelce, dan Surya Bonai belum mampu diikuti anak-anak lain sehingga secara umum pendidikan Papua masih tertinggal. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) menyadari kompleksitas permasalahan pendidikan di Papua harus diselesaikan dengan kebijakan khusus, sehingga perlu percepatan peningkatan mutu pendidikan melalui kerjasama pemerintah pusat dan daerah, praktisi pendidikan, dan akademisi dalam pemberdayaan masyarakat secara utuh. Kebijakan afirmasi untuk pendidikan Papua itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Fasli Jalal,

SAIFUL ANAM

Ph.D, ditandai dengan penyelenggaraan Lokakarya Nasional Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan di Papua di Kemdiknas, April 2011 lalu Lokakarya membahas percepatan penuntasan wajib belajar 9 tahun, percepatan pemenuhan guru dan peningkatan kompetensi guru, pengembangan model Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terpadu di Papua, pengembangan model pembelajaran jarak jauh melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), pengembangan model Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) integrasi konteks lokal Papua, serta penuntasan melek huruf dengan keterampilan dasar masyarakat (life skills). Satu di antara prioritas kebijakan pendidikan Papua adalah guru. Dari 36.000 guru di sana, baru 4% yang sudah mengantungi sertifikat guru. "Tantangan berat karena guru berada di daerah sulit dijangkau dan dilema antara meningkatkan

sertifikasi guru dan meninggalkan anak tidak belajar," kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua, Drs. James Modouw, M.MT. Rekrutmen guru baru menjadi kebutuhan mendesak Papua karena hingga dua tahun ke depan, sekitar 30% guru memasuki masa pensiun. "Spesifikasi guru yang direkrut terutama untuk bidang matematika, fisika, dan bahasa asing," kata James Modouw. Anggaran pendidikan Papua sebanyak Rp 241 miliar, Rp 80 miliar di antaranya untuk bantuan pembebasan biaya pendidikan di kabupaten/kota. Sekitar Rp 60 miliar anggaran dialokasikan untuk program bantuan anak guru serta beasiswa peningkatan kualifikasi akademik menjadi S1, S2, dan S3. PERAN LPMP PAPUA Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Papua dituntut berperan

FATHONI ARIEF

besar dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pengembangan profesi dan karier Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK). LPMP Papua yang beralamat di Jalan Guru No. 79 Kotaraja, Jayapura Selatan ini menempatkan peningkatan mutu PTK sebagai visi lembaga. Visi LPMP Papua adalah menjadi pelayan pendidikan dasar dan menengah yang profesional dalam peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan. Misi LPMP Papua adalah meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi diklat guru dan tenaga kependidikan lainnya dan Standar Kompetensi Guru (SKG); fasilitisasi pendidikan dan pelatihan (diklat) dalam upaya peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan dasar dan menengah; pemberdayaan sumber daya di pendidikan dasar dan menengah secara efektif dan efisien; menjalin kemitraan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah, serta memfasilitasi informasi yang akurat terhadap guru. Menurut Kepala LPMP Papua Drs. Saul Bleskadit, M.Si, prioritas percepatan pendidikan di Papua adalah jumlah dan mutu guru. SaulBleskadit turut hadir dalam pembahasan percepatan pendidikan Papua bersama Wamendiknas Fasil Jalal, gubernur Papua, kepala dinas dan para bupati di Papua. "Banyak rekomendasi pembahasan. Fokus kerja LPMP Papua adalah pada peningkatan mutu guru,” kata Saul Bleskadit saat ditemui dalam Rapat Koordinasi Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BPSDM) dan Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) di Bogor 19-21 Mei 2011. Dalam pelaksanaan program sertifikasi kerja LPMP Papua terkendala oleh kondisi geografis terutama dalam pendataan untuk Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Pendataan guru dari kabupaten ke kabupaten lainnya harus menggunakan pesawat kecil yang harga tiket pesawatnya juga mahal. Namun, semua itu bisa dilalui dan sampai sekarang proses pendataan sudah berjalan dengan baik. “Kita di Papua, bersyukur sekali karena proses pendataan sudah 97%. Capaian ini berkat koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi," kata Saul. Menurut Saul, sebagai wakil Kemdiknas, LPMP harus cepat tanggap, kecuali beberapa kabupaten pemekaran yang masih banyak

Drs. Saul Bleskadit

kendala. "Ketika ada masalah, kami proaktif mengundang operatornya. Papua kan sangat luas, untuk koordinasi ke daerah menggunakan pesawat, naik turun mobil, naik ojek dan jalan kaki,bahkan sampai menginap di sekolah, kalau mengingat pendataan itu sangat menyedihkan,” kata Saul Bleskadit. Pendataan yang belum terjangkau adalah guru di daerah terpencil. “Masih ada 3000 guru yang belum memiliki NUPTK." MASALAH DAMPAK OTONOMI Selain masalah geografis, masalah lain yang dialami para guru adalah rendahnya kreativitas menulis. Menurut data, banyak guru bergolongan IVa kesulitan naik pangkat karena mengalami kendala dalam penulisan karya tulis ilmiah. “Yang bisa naik pangkat masih kecil sekali, baru 5%. Oleh karena itu paradigma guru yang lama itu belum mengalami perubahan,” ujar Saul. Akan tetapi, dengan adanya sertifikasi mulai ada pencerahan. Para guru dibimbing menulis. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan kesejahteraan. Sehingga dari

sisi itu mereka mulai semangat. “Mereka harus di dorong menulis, karena birokrasi ekonominya harus kuat. Kita memberikan bantuan blockgrant melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Para bupati juga sudah memberikan kesepakatan untuk memberi semangat kepada para guru,” ujar Saul menambahkan. Dampak penerapan otonomi daerah juga masih menjadi kendala pelaksanaan penjaminan mutu di Papua. Di antaranya pergantian bupati dan pemekaran kabupaten baru yang mengharuskan adanya perubahan kebijakan serta berubahnya tenaga operasional yang melakukan pendataan. Contohnya, pendataan sudah dilakukan di satu kabupaten. Namun karena saat pergantian bupati, kepala dinas pendidikan juga ganti. Petugas pendataan pun ganti juga. "Kami harus melatih tenaga baru. Hal ini terjadi di beberapa daerah,” kata Saul. Dampak otonomi pendidikan, kata Saul, juga tampak pada kepedulian bupati terhadap nasib guru yang belum semuanya memberikan porsi lebih. “Ada kejadian di satu kabupaten uang lauk pauk tidak dibayar pemerintah daerah. Di akhir tahun bupati itu tidak tahu menahu kok tibatiba ada uang banyak di Dana Alokasi Khusus (DAK). Dia baru sadar bahwa uang itu adalah uang para guru. Kondisi itu memprihatinkan,” ujarnya/ Saat ini menurut pria berkacamata ini, karena luasnya jangkauan wilayah Papua dalam penjaminan mutu pendidikan, sedang diusahakan untuk mendirikan rintisan LPMP Papua Barat. “Baru rintisan dan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) kami yang akan menjadi kepala LPMP Papua Barat, supaya lebih mempermudah jangkauan dan koordinasi,” pungkas Saul Bleskadit.

35

EVA ROHILAH

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[L]

LPMP
LPMP Lampung

PENULIS: EVA ROHILAH FOTO-FOTO: EVA ROHILAH, DOK.LPMP LAMPUNG

Unggul Dalam Pendataan Pendidik dan Tenaga Kependidikan

L
36

LEMBAGA Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Lampung merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan Nasional yang berkedudukan di Provinsi Lampung dan bertugas untuk membantu pemerintah daerah Lampung dalam bentuk supervisi, bimbingan, arahan, saran, dan bantuan teknis kepada satuan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal, dalam berbagai upaya penjaminan mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar nasional pendidikan. LPMP Lampung mensupervisi dan membantu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam melakukan upaya penjaminan mutu pendidikan. LPMP Lampung menempati bangunan yang beralamat di Jalan Gatot Soebroto Nomor 44A Pahoman Bandar Lampung yang sebelumnya merupakan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Kemudian SPG dibubarkan yang pegawainya kemudian masuk dalam badan baru yang dibentuk tahun 1992 dengan nama Balai Pelatihan Guru. Kemudian pada tahun 2003 menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan yang

kemudian perubahan tupoksi menjadi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Saat ini LPMP Lampung dipimpin Dra. Djuariyati, M.Pd. . BERJALAN SESUAI RENCANA Ditemui dalam Rapat Koordinasi Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BPSDM) dan Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) 19-21 April 2011, Djuariyati mengakui dengan keberadaan LPMP dibawah Badan PSDM dan PMP, pekerjaannya dalam melaksanakan tugas sebagai kepala LPMP menjadi lebih

fokus dan terarah. ”Beberapa program kerja kita berjalan sesuai rencana seperti pelaksanaan sertifikasi, pemetaan pendidikan, evaluasi diri sekolah, dan pendampingan di sekolah jadi lebih fokus,” ujar perempuan berjilbab ini. Rakor Badan PSDM dan PMP yang melibatkan seluruh LPMP merupakan kesempatan bagi setiap kepala seksi (kasi) dan kepala subbagian (kasubbag) mensinergikan program LPMP di masa yang akan datang sesuai dengan anggaran yang sudah ditetapkan. “Jarang kan mereka diberi kesempatan bersama

DOK. LPMP LAMPUNG

37

kumpul dengan kasi dan kasubag provinsi lain, jadi ada saling diskusi dan tukar pikiran,” katanya alumni Universitas Lampung ini. Usai mengikuti rakor, jajaran LPMP Lampung bisa semakin fokus dengan apa yang harus dikerjakan. "Selama ini kita mencari-cari bagaimana caranya agar bisa tetap fokus, mengawal program sertifikasi dalam peningkatan mutu pendidikan. Selama ini terkadang apa yang dilakukan Dinas Pendidikan Provinsi juga dikerjakan oleh LPMP. Nah dengan adanya Badan ini hal itu tidak akan terulang,” ujarnya. Djuariyati juga berpegang teguh terhadap visi dan misi LPMP Lampung yang bertekad untuk menjadi lembaga penjaminan mutu pendidikan di tingkat dasar dan menengah. “Kita akan kerja keras mewujudkan visi dan misi tersebut,”kata Djuariyati. Kinerja LPMP Lampung sejauh ini tidak memiliki hambatan yang berarti, jika dilihat dari posisi geografis Lampung dalam menyelenggarakan proses pendataan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) dan pelaksanaan proses sertifikasi. Kedua kegiatan ini berjalan dengan lancar. Peran lain yang sudah dijalankan LPMP Lampung adalah melakukan sistem penjaminan mutu dan pendampingan di sekolah. Mereka baru menyusun profil sekolah-sekolah di empat kabupaten dari 14 kabupaten/kota di Lampung. ”Diharapkan ke depannya ada peta dan profil sekolah di 14 kabupaten dan kota di Lampung,” kata Djuariyati. Selain meningkatkan mutu para guru, LPMP Lampung juga meningkatkan mutu tenaga kependidikan seperti kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga laboran dan tata usaha. Meskipun Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) saat ini sudah dipisah antara pendidikan menengah dan pendidikan dasar, hal ini tidak berpengaruh pada kinerja LPMP. Begitu juga dengan kegiatan seperti pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan pendataan kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk mendapatkan NUPTK berjalan baik, setidaknya juga andil dari pengalaman Djuariyati sebelum menjadi kepala LPMP,

Salah satu kegiatan LPMP Lampung, yakni pelatihan auditor ISO

yakni sebagai Kepala Seksi Program dan Sistem Informasi yang tugasnya adalah melakukan pendataan. “Mulai 2003 saya sudah melakukan pendataan, mengentri langsung data para guru, pengawas dan kepala sekolah, bahkan di hari Sabtu dan Minggu juga kita kerja untuk mencari data dari kabupaten,” ujarnya. Kegiatan pendataan tenaga pustakawan, LPMP Lampung bekerjasama dengan Asosiasi Tenaga Pustakawan Indonesia (ATPUSI) pada tahun 2010. Sayangnya, organisasi ini tidak berkembang dengan baik dan terbentur masalah dana. “Dana

Dra. Djuariyati, M.Pd

cuma diberikan saat didirikan saja. Untuk pembinaan jangka panjang tidak diberikan lagi,” kata Djuariyati. Namun ada satu hal yang masih menjadi hambatan di LPMP Lampung, yang menurut Djuariyati dialami banyak LPMP lainnya, yakni membantu guru dalam mendongkrak pangkat/golongannya. Menurut catatannya, jumlah guru yang sulit naik pangkat saat ini kurang lebih 15.000 guru. Mereka mentok pangkat dan golongannya di IVa. Mereka terkendala dalam hal penulisan karya tulis untuk Penilaian Angka Kredit (PAK). Untuk mengantisipasinya, langkah LPMP Lampung yang sudah dilakukan adalah menyelenggarakan pembimbingan dan workshop penulisan karya tulis. “Kita coba tahun ini menyertakan 300 guru mengikuti pelatihan, terutama diikuti para guru yang sudah pernah mengikuti pelatihan tapi belum juga mampu menaikkan pangkatnya,” ujarnya. Dalam kepemimpinannya Djuariyati menerapkan pola demokratis. Jika ada masalah atau konflik, "Kami upayakan menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Sebab kita berada dalam keluarga besar. Yang terpenting bagaimana caranya bisa bersinergi dan melaksanakan tugas dengan baik, secara bersama antara kepala seksi, kepala sub bagian tata usaha dan staf yang lain,” ujarnya. GURU Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

EVA ROHILAH

[L]

LPMP
LPMP Sulawesi Selatan

PENULIS: EVA ROHILAH FOTO-FOTO: EVA ROHILAH, DAN DOK.LPMP SULSEL

Bekerja Keras dan Cerdas

L
38

LEMBAGA Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Selatan memiliki visi menjadi lembaga penjamin mutu pendidikan dasar dan menengah yang berstandar nasional dan berwawasan global. Untuk mencapai visi tersebut, LPMP yang beralamat di Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Makasar ini mewujudkannya dengan kerja keras dan cerdas. Di antaranya adalah dengan menjamin pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah sesuai standar nasional; memfasilitasi peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan; memfasilitasi peningkatan kinerja; melakukan pengkajian dan pengembangan mutu; serta menjadi pusat data dan informasi mutu pendidikan dasar dan menengah. Ada lima kebijakan mutu yang dilaksanakan LPMP Sulsel secara bersama dengan berbagai pihak, di antaranya: mengedepankan kepuasan pihak-pihak yang berkepentingan; mematuhi ketentuan perundang-undangan dan persyaratan lain yang berlaku; melakukan inovasi dalam peningkatan mutu pendidikan; serta meningkatkan kompetensi tenaga

DOK. LPMP SULSEL

Semiloka guru berprestasi yang diselenggarakan di LPMP Sulsel, April 2011.

kependidikan dan melakukan perbaikan di segala bidang secara berkesinambungan. Saat ini Kepala LPMP Sulawesi Selatan dijabat oleh Prof. Dr. H. Andi Qashas Rahman, M.Hum. Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan melalui program sertifikasi guru. Pelaksanaan sertifikasi guru merupakan salah satu wujud implementasi dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tahun 2011 merupakan tahun kelima pelaksanaan sertifikasi guru yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Mengacu pada pelaksanaan sertifikasi tahun sebelumnya, perbaikan dalam penyelenggaraan sertifikasi guru terus dilakukan agar dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan manfaat yang besar terhadap peningkatan proses pembelajaran.

Tahun 2010 lalu proses sertifikasi masih melalui pola portofolio dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi guru dalam jabatan. Tahun ini proses sertifikasi juga diselenggarakan dengan bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) , yakni melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru dalam jabatan. Menurut Kepala Seksi Pemetaan Mutu Pendidikan LPMP Sulsel Dra. Kisdar Kasa, M.Si, pelaksanaan sertifikasi guru tahun 2011 mengalami perubahan mendasar antara lain menyangkut mekanisme registrasi dan mekanisme penyelenggaraan sertifikasi; penataan ulang substansi dan rubrik penilaian portofolio; substansi pelatihan, strategi pembelajaran, dan sistem penilaian PLPG. Hal ini perlu dipahami dengan baik oleh semua unsur yang terkait, baik di pusat

39

maupun di daerah. Unsur pusat terkait adalah direktorat yang menangani pendidik dan LPMP. Unsur daerah terdiri dari dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, kepala sekolah, guru yang diangkat dalam jabatan pengawas, dan guru sendiri. Menurut Kisdar, LPMP Sulsel juga mengadakan prasertifikasi dan pasca sertifikasi, di antaranya, kegiatan pemberkasan Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP). “Jika ada masalah aplikasi atau proses sertifikasi, silakan datang ke LPMP. Kami akan fasilitasi termasuk untuk internet dan jaringannya. Atau jika ada yang belum dipahami silakan bertanya, kami akan jelaskan,” ujar Kisdar saat ditemui dalam acara Sinkronisasi Pelaksanaan Program Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dengan Lembaga Terkait yang digelar oleh Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah (Dit. P2TK Dikmen) di Jakarta, 25-26 April 2011. LPMP Sulsel saat ini masih membawahi pembagian kuota sertifikasi di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Cakupan ini menjadi lebih luas dan menuntut perhatian lebih. LPMP Sulsel berharap segera dibangun LPMP Sulawesi Barat. "Pendidikan di Sulawesi Barat masih tertinggal jauh, jumlah gurunya juga masih kurang,” kata Kisdar. Salah satu kendala yang dihadapi LPMP Sulsel dalam pelaksanaan sertifikasi adalah masalah koordinasi terutama dalam penerbitan SKTP. "Ada beberapa guru yang seharusnya sudah menerima

DOK. LPMP SULSEL

Prof. Dr. Andi Qashas Rahman, M.Hum

Dra. Kisdar Kasa, M.Si

SKTP, tapi sampai saat ini belum turun juga. Padahal datanya sudah kita kirim ke pusat, sehingga para guru di daerah menunggu. Oleh karena itu hari ini kami bawa data tersebut untuk dicari cara penyelesaiannya,” ujar Kisdar. Selain masalah koordinasi dalam penerbitan SKTP, LPMP Sulsel juga mengalami masalah dalam hal peningkatan kualifikasi akademik guru, dimana masih banyak guru terutama di tingkat Sekolah Dasar yang belum sarjana. “Kalau mengenai mutu pendidikan di tingkat pendidikan menengah sudah bagus, ratarata sudah S-1 bahkan sekarang banyak juga yang sudah S-2, tapi kalau untuk guru SD masih banyak yang belum S-1. Mereka kebanyakan lulusan Diploma II dan Diploma I. Mereka yang belum sarjana, harus mengikuti program peningkatan

kualifikasi akademik untuk melanjutkan ke jenjang S-1,” kata Kisda. Persolan lainnya, kata Kisdar, merupakan problem yang dialami provinsi lain di era otonomi daerah, yakni sering bergantinya staf atau tenaga operasional bagian pendataan di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Hal ini membuat kerja LPMP harus dua kali. “Saat staf kabupaten/ kota sudah mahir kita ajari operasional pendataan, tiba-tiba staf tersebut diganti karena kepala dinas pendidikan juga ganti seiring bergantinya gubernur atau walikota. Terpaksa kami harus melatih tenaga baru,” ujar Kisdar menyayangkan. Program lainnya yang juga dilaksanakan oleh LPMP Sulsel pada tahun 2011 adalah pembagian blockgrant untuk Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). .

DOK. LPMP SULSEL

Kegiatan pengembangan profesi guru membahas penilaian angka kredit.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

EVA ROHILAH

[P]

P4TK
QITEP CENTRE

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO-FOTO: WURI, FATHONI ARIEF DAN DOK.P4TK MATEMATIKA

MERAMBAH JEJARING REGIONAL

DOK. LP4TK MATEMATIKA YOGYAKARTA

K
40

K EBANGGAAN itu bernama Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (QITEP), yakni Pusat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) yang statusnya naik menjadi bertaraf internasional. P4TK berlabel QITEP adalah P4TK Bahasa Jakarta, P4TK IPA Bandung dan P4TK Matematika Yogyakarta, yang telah meningkat levelnya sebagai Regional Center di South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), organisasi menteri pendidikan se-Asia Tenggara. Indonesia bangga karena dari 18 SEAMEO Regional Center, enam di antaranya berada di Indonesia. Selain ketiga Pusat Regional SEAMEO baru itu, Indonesia sudah memiliki SEAMEO BIOTROP (bidang tanaman tropis di Tajur Bogor), SEAMEO SEAMOLEC (bidang pendidikan dan pembelajaran jarak jauh di Pustekkom Depdiknas, Ciputat, Tangerang), dan SEAMEO TROPMED (bidang kesehatan masyarakat di Universitas Indonesia, kampus Salemba, Jakarta). Sementara 12 Pusat Regional SEAMEO lainnya, di antaranya adalah SEAMEO RECSAM (Malaysia), SEAMEO Innovation Technology/INNOTECH (Filipina), dan SEAMEO Vocational and

Technical Education and Training/VOCTECH (Brunei Darussalam). Di level internasional, nama P4TK Bahasa berubah menjadi SEAMEO QITEP in Language, P4TK IPA menjadi SEAMEO QITEP in Science, dan P4TK Matematika menjadi SEAMEO QITEP in Mathematics. Peluncuran lembaga baru SEAMEO Regional Centre itu diresmikan oleh Jurin Laksanawisit, Presiden SEAMEO Council, di Gedung D Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, Jakarta, pada 13 Juli 2009. Naiknya level tiga P4TK itu menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia tidak kalah dengan mutu pendidikan di negara-negara Asia Tenggara. Tiga pusat pendidikan ini mengakomodasi semua anggota dari negaranegara ASEAN serta memfasilitasi pertukaran

pengalaman sesama guru dan tenaga kependidikan di ASEAN. QITEP in Language di Jakarta diyakini tidak kalah mutunya dengan pusat pengembangan bahasa SEAMEO RELC (Regional Language Centre) di Singapura. Begitu juga QITEP in Mathematics di Yogyakarta dan QITEP in Science di Bandung tidak kalah dari RECSAM di Malaysia. Perjalanan tiga P4TK menjadi SEAMEO Regional Center cukup panjang, setidaknya lebih dari 1,5 tahun. Usulan meningkatkan status ketiga P4TK menjadi regional centre digagas ketika Menteri Pendidikan Nasional dijabat Bambang Sudibyo yang saat itu juga Presiden SEAMEO Council (Seamec). Bambang melihat regional center di negaranegara ASEAN, kualitasnya sama dengan

P4TK di Indonesia. Bambang menyampaikan usulan pada SEAMEO High Officials Meeting di Bangkok, Thailand, 20-22 November 2007. Ketika itu usulan baru disampaikan kepada para petinggi SEAMEC. Usulan Indonesia kemudian dibahas pada forum yang dihadiri seluruh anggota SEAMEC yakni pada SEAMEO Council Conference di Kuala Lumpur, Malaysia, 1315 Maret 2008. Hasil dari feasiblity study dan pengembangannya telah dipaparkan di depan semua anggota SEAMEO dan disetujui 11 negara anggota. Keputusan disetujuinya tiga P4TK menjadi SEAMEO Center ditetapkan pada In-Camera Session pada rangkaian acara The 44th SEAMEO-Council Conference dan 4th Asean Education Ministers (ASED) Meeting di Phuket, Thailand, 5-8 April 2009. Ketika itu, H. E. Dato’ Seri Hishammuddin bin Tun Hussein, Menteri Pendidikan Malaysia, yang juga President of the SEAMEO Council (SEAMEC) periode itu, mengumumkan disetujuinya pembentukan SEAMEO Regional Centres for QITEP in Language di Jakarta, QITEP in Science di Bandung, dan QITEP in Mathematics di Yogyakarta. Kebutuhan akan pusat regional baru itu karena guru di Asia Tenggara jumlahnya banyak. Data SEAMEO 2008 mencatat jumlah guru di Indonesia sendiri lebih dari 2,7 juta. Negara lainnya dengan jumlah guru cukup banyak adalah Vietnam dengan 780.601 guru, Filipina (409.258 guru), Myanmar (406.034 guru), dan Thailand (372.575 guru). Lembaga pelatihan juga diperuntukkan bagi tenaga kependidikan. Menurut data UNESCO 2004, jumlah kepala sekolah di negara Asia Tenggara sebanyak lebih dari 341.000

41

WURI WG

LIMA PROGRAM
Setelah diraihnya status sebagai regional centre, visi ketiga P4TK adalah menjadi pusat pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik di Asia Tenggara sesuai bidangnya masing-masing. Arah dan tujuan regional center ini adalah menyediakan program yang relevan dan terbaik untuk pengembangan SDM melalui diklat, penelitian dan pengembangan, dimensi informasi-informasi terkini, serta analisis kebijakan dan evaluasi. Harapannya dengan kehadiran tiga regional center adalah untuk memenuhi kebutuhan peningkatan pendidik dan tenaga kependidikan di Asia Tenggara, memiliki jaringan lebih luas, sharing dan pertukaran informasi serta pengalaman antarnegara-negara anggota

SEAMEO. Selain itu juga menjadi bagian proses penyediaan forum intelektual untuk para pengambil kebijakan dan para ahli untuk perkuatan dan sebagai investasi dari negaranegara di Asia Tenggara. Dari segi program, secara bertahap masingmasing regional center memprioritaskan pada penyediaan program-program terbaik dan relevan, meningkatkan mutu dan efisiensi manajemen, menyediakan kebutuhan dana, meningkatkan akses ke pasar regional ASEAN dan meningkatkan dan menambah jejaring dengan sebelas negara ASEAN khususnya. Secara spesifik, kerangka peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan untuk Asia Tenggara ke tiga center memiliki berbagai prospek. Yakni program peningkatan kapasitas untuk guru dan tenaga kependidikan di Asia Tenggara, berbagai penelitian dan pengembangan untuk guru dan tenaga kependidikan di Asia Tenggara, beasiswaprogram berkualifikasi maupun non kualifiaksi,

magang, berbagai publikasi dan promosi, serta forum regional bagi guru dan tenaga kependiikan di Asia Tenggara. Setidaknya ada lima program yang dilaksanakan Regional Centre, yakni Training Needs Analysis (TNA), capacity bulding (human resources, facilities, management system), in-service education and training (INSET)/workshop, research and development dan monitoring and evalution. Program yang ditawarkan selain yang terkait langsung dengan substansi untuk berbagai program tingkatan PTK, juga di bidang TIK , pengelolaan dan manajemen diklat dalam membangun kapasitas kepemimpinan (leadership), quality assurance serta efisiensi manajemen. Pembiayaan Regional Centre merupakan sharing biaya di dalam dan luar negeri antarnegara, antarprovinsi, kabupaten, institusi, lembaga diklat, perguruan tinggi , dan sekolah.

FATHONI ARIEF

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

P4TK
P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang

PENULIS: MUKTI ALI FOTO-FOTO: MUKTI ALI. DAN VEDC MALANG

Mengukur Kompetensi melalui Direktori Sistem Diklat

S
42

KOMPETENSI, kompetensi dan kompetensi. Itulah kata yang belakangan melambung mengiringi kinerja seorang guru. Guru memang dituntut memiliki kompetensi, mengingat kini guru merupakan jabatan profesional. Ketika guru telah mengantongi sertifikat sebagai guru profesional, maka ia punya hak mendapatkan kesejahteraan berlipat ,berupa tunjangan profesional. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat masih meragukan akan kompetensi dan profesionalitas kerja guru meskipun guru tersebut telah mengantongi sertifikat guru profesional. Pasalnya, meskipun sudah mengantongi sertifikat guru profesional, guru bersangkutan banyak yang tidak serta merta tergerak meningkatkan kompetensinya. Terkadang malah merasa merdeka dan bersikap superior di sekolah. Di tambah lagi kondisi guru yang sebagian besar terutama guru SD yang kualifikasinya masih di bawah S1. Untuk itu, mendongkrak kualifikasi guru hingga meraih minimal S1 menjadi keharusan. Selain itu, beragam kegiatan peningkatan kompetensi guru juga harus makin giat digalakkan. Baik berupa diklat, workshop,

seminar, dan lain-lain. Guru pun harus secara sadar diri mampu membangun motivasi untuk terus dan terus meningkatkan kompetensinya. Ujung yang hendak diraih adalah meningkatnya kompetensi siswa sebagai cermin dari meningkatnya proses belajar mengajar oleh guru. Terlebih lagi dengan standar kompetensi siswa yang telah ditentukan oleh pemerintah, guru berkewajiban semakin kompeten dalam mengajar. Siapapun dan apapun latarbelakang guru tersebut, dia harus kompeten dalam mengajar siswa.

NADA MIRING TENTANG DIKLAT
Salah satu jalan mendongkrak kompetensi guru adalah diklat kompetensi. Namun, beragam pendapat pendapar bermunculan dari kalangan guru terkait diklat tersebut. Setidaknya itulah yang ditangkap Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika (P4TK BOE) Malang. Demikian dikatakan Drs. Jojon Suherman, ST, MT kala memaparkan Direktori Sistem Diklat (Directory Training System) kompetensi guru yang dikembangkan oleh P4TK BOE Malang.

google.com

43

”Ada guru yang mengaku sudah sering mengikuti diklat atau penataran kompetensi, tapi dia bilang materinya itu dan itu saja. Ada pula yang mengatakan, saya tidak pernah ikut penataran karena saya tidak pernah ditugaskan oleh sekolah. Ada yang mengatakan, untuk apa ikut penataran karena saya sudah sertifikasi. Bahkan ada pula yang bilang untuk apa ikut penataran, toh hasilnya tidak dapat diterapkan. Jadi itulah tantangan kita sebagai pengembang diklat,” kata Drs. Jojon Suherman, ST, MT saat memaparkan Direktori Diklat kompetensi guru yang dikembangkan P4TK BOE Malang pada kegiatan Rapat Koordinasi Rencana Pelaksanaan Program dan Anggaran Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP) di Hotel Jaya Raya, Puncak, Bogor, Jawa Barat, tanggal 19-21 April 2011. Beberapa pendapat dari kalangan guru itulah, terutama guru-guru SMK, yang mendorong P4TK BOE Malang menyusun sistem diklat disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki guru. ”Jadi diklat memang berdasar tuntutan kompetensi, bukan profesi. Tuntutan profesi itu hanya sekedar cerminan kesejahteraan di dunia saja. Kalau tuntutan kompetensi, itu merupakan jaminan diterimanya guru di masyarakat. Juga menjadi ibadah yang membuat guru akan masuk surga,” lanjut Jojon.

SOFTWARE KOMPETENSI
Untuk itulah, tim pengembang diklat kompetensi guru, harus mampu mengukur sejauh mana kompetensi guru, sebelum dan sesudah mengikuti diklat. Hal itu sangat berguna agar guru tidak menerima manu diklat yang selalu sama. Juga berguna bagi tim pengembang diklat agar tidak menerima peserta diklat yang selalu itu-itu saja. Kenyataannya memang kerap terjadi demikian. Banyak kepala sekolah yang mengutus guru yang sama untuk mengikuti diklat, akibatnya tingkat kompetensi guru di suatu sekolah tersebut terjadi kesenjangan. Direktori sistem diklat yang dikembangkan P4TK BOE Malang, kata Jojon, akan menjadi salah satu alternatif yang mampu menjawab hal tersebut. Adalah standar kompetensi siswa dan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan pemerintah menjadi dasar bagaimana sistem diklat disusun dan dikembangkan. Dalam direktori sistem diklat, memuat software kompetensi guru. Software tersebut memuat data tingkat kompetensi tiap guru

hasil isisan guru pada isntrumen yang ada dalam software tersebut. Selanjutnya, data tingkat kompetensi guru bisa digunakan untuk mengukur kompetensi guru secara individu maupun guru dalam satu sekolah, guru dalam satu kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. ” Software ini juga bisa kita gunakan merencanakan materi apa yang akan diberikan, berapa jam diklat harus diikuti, sampai berapa duit yang dibutuhkan. Jadi sistem ini bisa kita gunakan apa saja tergantung kita mau gunakan informasi yg mana,” kata Jojon. Software tersebut, lanjut Jojon, bisa juga digunakan untuk menentukan apakah seorang guru layak atau tidak mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional berserta tunjangan profesinya. Bahkan jika perlu, software tersebut dapat pula digunakan sebagai acuan perlu tidaknya tunjangan profesi ditangguhkan atau dicabut bila seorang guru tidak memenuhi standar kompetensi yang telah ditentukan. Setelah software kompetensi, masih kata Jojon, dilanjutkan dengan melakukan mapping kompetensi. Mapping kompetensi merupakan upaya memformatkan peta kompetensi standar, peta kompetensi perolehan serta pengembangan kompetensi. Peta kompetensi standar adalah dalam upaya mempetakan kompetensi tertentu sebagai tuntutan dari tugas dan fungsi untuk berbagai kompetensi baik kompetensi sebagai pendidik ataupun sebagai tenaga kependidikan. kompetensi perolehan adalah upaya memfomatkan peta kompetensi yang sudah dimiliki oleh pendidik atau tenaga kependidikan. Perbedaan atau selisih kompetensi standar

dan kompetensi perolehan merupakan hasil sebuah analisis sebagai dasar dilaksanakan diklat yang harus ditempuh seseorang untuk memperoleh kompetensi standar. ”Dan peta pengembangan kompetensi adalah upaya memformatkan pengembangan dari kompetensi standar, karena pada khakekatnya kompetensi selalu berkembang sesuai dengan tuntutan kemajuan,” Jonon menerangkan.

DIKLAT DENGAN UJI KOMPETENSI
Dalam diklat yang dikembangkan P4TK BOE Malang, kata Jojon, dilengkapi dengan sistem kompetensi dan uji kompetensi. Sejak tahun 2011 setiap uji kompetensi yang diberikan P4TK BOE Malang sudah dilengkapi dengan uji kompetensi. ”Kita sudah menyusun pedomannya menurut versi. Barangkali kalau mungkin perlu dipublish lebih luan dan menjadi sistem lebih besar lagi tidak apa-apa. Tetapi intinya intinya kita sudah mencoba dengan menggunakan pedoman yang kita yakini itu bisa dipakai untuk membantu meningkatkan kompetensi guru,” Jojon menambahkan. Dalam prakteknya, P4TK BOE Malang sudah mencoba melemparkan forware direktori sistem diklat tersebut ke sekolah. Uji coba dilakukan tahun 2010 lalu, target uji coba dengan membentuk 25 sekolah admin atau induk. Tiap sekolah admin menjaring sekita 3 sekolah lain, sehingga total keseluruhan yang terjaring dalam uji coba mapping kompetensi P4TK BOE Malang sebanyak 102 sekolah. Selanjutnya, masih kata Jojon, dari 102 sekolah tersebut diperoleh sekitar 4000-an peta kompetensi guru sesuai bidang studi. Jojon juga mencontohkan pada bidang studi otomotif. Dalam direktori sistem diklat P4TK BOE Malang menganalisis bahwa tiap guru otomotif minimal harus menguasai sedikitnya 70 modul paket diklat peningkatan kompetensi. Tiap modul sudah disertakan berapa jam yang harus diikuti. ”Jadi seperti itulah sedikit gambaran tentang sistem diklat yang dikembangkan P4TK BOE Malang. Permasalahannya sekarang adalah kalau guru yang dipetakan itu adalah guru-guru yang sudah memiliki ijasah S1 dari sebuah LPTK tetapi ketika diuji kompetensi mereka tidak lulus. Tetapi prinsip dari uji kompetensi, siapapun orangnya punya ijasah atau tidak, ketika diuji tidak lulus mereka harus menerima dan mengakui kalau kompetensinya memang masih kurang,” Jojon menandaskan.

Dr. Imam Sutadji

MUKTI ALI

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PENJAMINAN MUTU
Evaluasi Diri Sekolah

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO: FATHONI ARIEF

MEMBANGUN SIKLUS PENJAMINAN MUTU

S
44

SIKLUS penjaminan mutu pendidikan yang sudah dilaksanakan dibedakan dalam dua bagian, yakni internally driven dan externally driven. Bagian internally driven dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan Rencana Kerja Sekolah (RKS) maupun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Setelah itu satuan pendidikan atau sekolah mengimplementasikan RKS maupun RAPBS tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Tahap kedua, satuan pendidikan atau sekolah melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Apabila ditemukan kekurangan atau hal-hal yang belum sesuai dengan standar, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu satuan pendidikan atau sekolah melakukan perbaikan. "Tahapan satu sampai ketiga inilah yang dilakukan sekolah dalam menyelenggarakan sistem penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan terus menerus untuk perbaikan dari waktu ke waktu." kata Muhammad Hatta, M.Ed, Ph.D, Kepala Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan. Bagian externally driven, penilaian dari luar, salah satunya melalui akreditasi. Satuan pendidikan atau sekolah, dalam periode tertentu dapat mengajukan atau dikenai kewajiban

FATHONI ARIEF

untuk melakukan evaluasi eksternal yaitu akreditasi. Hasil akreditasi adalah keputusan akreditasi tidaknya satuan pendidikan atau sekolah berdasarkan standar yang ditetapkan oleh badan akreditasi. Hasil akreditasi, selain penetapan terakreditasi tidaknya, tetapi juga diperoleh rekomendasi untuk melakukan perbaikan. Rekomendasi tersebut dapat dijadikan dasar untuk penyusunan RKS ataupun RAPBS. Makna evaluasi diri sekolah/madrasah adalah suatu upaya satuan pendidikan atau sekolah untuk mengetahui gambaran mengenai kinerja dan keadaan dirinya melalui pengkajian dan analisis yang dilakukan oleh satuan pendidikan atau sekolah sendiri berkenaan dengan SWOT (Strengths/kekuatan, Weaknesses/kelemahan, Oppurtinities/ kesempatan, dan Threats/ancaman) Pusat Penjuaminan Mutu Pendidikan

menyusun tujuan evaluasi diri sekolah/ madrasah setidaknya untuk mendapatkan gambaran keseluruhan input – process – output – outcome - impact penyelenggaraan pendidikan satuan pendidikan atau sekolah untuk perencanaan, pengembangan, dan perbaikan. Ditinjau dari segi internal, tujuan evaluasi diri adalah (1) diperolehnya profil yang komprehensif; (2) tersusunnya pangkalan data pencapaian standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan atau sekolah; dan (3) dapat dikembangkannya sistem penjaminan mutu pendidikan secara internal. Ditinjau dari segi eksternal, tujuan evaluasi diri adalah (1) tersedianya sistem informasi yang lengkap tentang pencapaian standar nasional pendidikan; dan (2) kesiapan untuk evaluasi eksternal oleh badan akreditasi. Pada paradigma lama, penjaminan mutu pendidikan dikonotasikan atau diidentikkan

sebagai pengendalian mutu (quality control) yang bersandarkan pada audit eksternal (externally driven), baik berupa akreditasi dari BAN S/M maupun ujian nasional. Paradigma ini diubah menjadi penjaminan dan peningkatan mutu, yang bermakna internally driven atau atas kemauan sendiri. "Pada paradigma yang lama, konsep utama penjaminan mutu pendidikan adalah ujian, inspeksi, dan pengawasan eksternal," kata Hatta. Di lapangan sering dijumpai sekolah melakukan kebohongan untuk menghadapi audit eksternal. Ketika ada assesor dari badan akreditasi atau pembinaan dari pengawas sekolah, sekolah berupaya tampil sebaik mungkin, tidak punya alat bisa meminjam untuk menunjukkan kepada assesor bahwa sekolah sudah memenuhi standar sarana prasarana. Pada paradigma yang baru, konsep penjaminan mutu diubah menjadi perencanaan, kajian internal, dan manajemen satuan kerja. Sekolah menyusun RKS/RAPBS sendiri yang mencakup 8 standar dengan melibatkan guru, kepala sekolah, komite sekolah, mungkin juga pengawas sekolah. Setelah RKS/RAPBS disusun, sekolah mengimplementasikan. Selanjutnya, sekolah melakukan kajian internal untuk mengukur ketercapaian pelaksanaan RKS/RAPBS. Paradigma baru ini mengedepankan kejujuran. Ketika dijalankan, tidak ada lagi upaya untuk merekayasa mutu. "Kalau sebuah sekolah mutunya jelek, maka mereka harus melakukan kajian internal untuk menentukan langkah-langkah perbaikannya," kata Hatta. Tujuan utama penjaminan mutu pendidikan pada paradigma yang lama adalah laporan eksternal kepada pimpinan dan penerapan sanksi/hadiah. Dengan kata lain, basisnya adalah inspeksi. Sedangkan pada paradigma yang baru, tujuan utama penjaminan mutu pendidikan adalah laporan internal dan pengambilan keputusan berbasis kinerja. Dengan demikian, pada paradigma baru, basisnya adalah data. Atas dasar data yang dimiliki itulah guru, kepala sekolah, komite sekolah, mementukan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu. Pada paradigma lama, proses penjaminan mutu pendidikan dilakukan oleh pihak eksternal dan pengendalian dilakukan dari atas ke bawah (top down). Sedangkan pada paradigma yang baru, proses penjaminan mutu pendidikan dilakukan secara internal dan pengendaliannya dilakukan dari bawah ke atas (bottom up). Pada paradigma yang lama, kualitas

45

menjadi tanggung jawab sebagian orang, yakni pimpinan atau kepala sekolah. Pada paradigma yang baru, kualitas menjadi tanggung jawab semua pihak, yakni guru, kepala sekolah, komite sekolah. Seluruh pelaku sekolah mempunyai peran dan tanggung jawab atau dengan kata lain quality is every body’s business. Selain itu, pada paradigma yang lama, budaya penjaminan mutu pendidikan adalah pemeriksaan eksternal. Budaya tersebut diubah menjadi peningkatan mutu secara berkelanjutan atau continuous quality improvement. Seluruh kegiatan Evaluasi Diri Sekolah/ Madrasah (EDS/M) dilakukan oleh guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan bisa juga melibatkan pengawas sekolah. Manfaat evaluasi diri sekolah/madrasah antara lain untuk: a) mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan; b) melakukan peninjauan kembali seluruh kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas; c) memperkuat budaya evaluasi diri; d) menemukan kader baru; e) memberikan informasi kepada seluruh anggota satuan pendidikan. Beberapa kiat melakukan EDS antara lain melalui evaluasi-diri merupakan upaya mawas diri yang digunakan untuk mengembangkan dan memperbaiki mutu program studi/ perguruan tinggi yang dilakukan secara sinambung (continuous), tidak atas permintaan pihak lain: institutional/management tool. Selain itu juga menjadikan dokumen evaluasi-diri sebagai bahan dasar untuk menyusun borang, portofolio, atau proposal

lainnya. Data dan informasi yang diberikan dalam laporan evaluasi-diri sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kiat lain adalah melalukan analisis antarkomponen. "Sebaiknya dalam bentuk analisis SWOT – bukan hanya deskripsi yang terpisah-pisah – yang digunakan sebagai dasar untuk pengembangan program dan strategi pelaksanaannya," kata Hatta. Kiat lainnya adalah format dan isi laporan selaras dengan pedoman yang diberikan oleh pihak yang meminta laporan evaluasi-diri. Evaluasi diri dilaksanakan oleh suatu tim khusus yang terdiri atas personel yang paling mengetahui keadaan satuan pendidikan atau sekolah. Pimpinan satuan pendidikan atau sekolah dan semua pihak di dalam satuan pendidikan atau sekolah memberikan dukungan penuh. EDS juga bisa dilakukan didukung orang luar, misalnya komite sekolah, untuk turut melakukan penilaian, tapi bukan untuk menyusun laporan. Evaluasi-diri dilaksanakan dengan motivasi intrinsik, dirancang sesuai dengan keperluan satuan pendidikan atau sekolah. EDS dimaksudkan untuk menilai kembali tujuan dan kebijakan satuan pendidikan atau sekolah, serta mengembangkan satuan pendidikan. Berbagai permasalahan ditemukan, diteliti dan dicari alternatif pemecahannya. Perbaikan dilakukan selama proses berlangsung. Hasilnya berupa perbaikan proses evaluasi kelembagaan dan analisis-diri. Laporan disusun dengan baik bukan untuk atasan, melainkan untuk perbaikan ke dalam.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
Puncak Hardiknas 2011

PENULIS: MUKTI ALI FOTO-FOTO: MUKTI ALI, KEMDIKNAS

Kebangkitan Bangsa Melalui Pendidikan Karakter

S
46

P ERINGATAN puncak Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kali ini dibarengkan dengan peringatan puncak Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Kegiatan dilangsungkan di Hall D Kompleks Pekan Raya Jakarta (PRJ). Peringatan dua hari besar nasional itu sungguh meriah, meskipun berbeda dengan puncak Hardiknas tahun-tahun sebelumnya. Sebelum era Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA, puncak Hardiknas seringkali dilakukan di luar Jakarta dan berganti-ganti tempat daerah. Misalnya tahun 2007 puncak Hardiknas berlangsung di Taman Siva, Yogyakarta. Kemudian berpindah ke Surabaya pada tahun 2008 dan Bandung (2009). Perihal penyatuan Puncak Hardiknas dan Harkitnas 2011, Mohammad Nuh, dalam sabutannya mengatakan bahwa hal itu menjadi bagian dari komitmen Kemdiknas tentang efektivitas dan efisiensi. ”Ada dua makna dalam penyatuan peringatan puncak Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Pertama, pendidikan nasional dan kebangkitan nasional merupakan dua unsur yang menyatu secara kimiawi dan fisikawi, yaitu hidrogen dan oksigen. Dari dua unsur itulah asal

segala kehidupan, dan hanya dengan itu pula kehidupan dapat berlangsung. Itulah makna pendidikan dan kebangkitan dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Makna kedua adalah sebagai wujud upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas,” kata Mendiknas. Kemeriahan puncak Hardiknas dan Harkitnas 2011 terlihat banyaknya undangan yang datang, sekitar seribu lebih pasang mata. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru dan kepala sekolah, dosen, hingga pegawai dan pejabat

teras di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), termasuk Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono juga hadir pada acara tersebut yang didampingi Wakil Presiden Budiono beserta Ibu Herawati Budiono. Mendampingi rombongan Presiden dan Wakil Presiden ada beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Di antaranya yang tampak adalah Menteri Komunikasi

dan Informasi Tifatul Sembiring dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Di hadapan para undangan, aksi menawan diperlihatkan puluhan pelajar. Ada yang tergabung dalam tim paduan suara, salah satunya membawakan Mars Karakter Bangsa karya Taufik ER dengan iringan orkestra pimpinan Dwiki Darmawan. Ada pula tim tari tradisional sekitar 50 pelajar lebih yang menyuguhkan beragam tarian tradisional. Selain itu, tampil pula artis nasional, Andien membawakan theme song Pendidikan Karakter

MEMBANGUN BUDAYA PRESTASI
Dalam sambutannya, seperti yang telah digaungkan kala Upacara Hardiknas 2011, Mendiknas mengatakan bahwa tema besar Hardiknas 2011 adalah Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa. Sedangkan subtemanya adalah Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti. Mendiknas menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya bertujuan membangun karakter yang berbasis kemuliaan diri semata, tetapi secara bersamaan, juga bertujuan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa. Ada tiga landasan yang hendak dibangun melalui pendidikan karakter. ”Yaitu menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk Tuhan, membangun dan menumbuhkan wawasan keilmuan, serta menumbuhkan karakter kecintaan tanah air sepenuhnya,” katanya. Menumbuhkan kesadaran bahwa semua adalah mahkluk Tuhan, bertujuan agar tidak ada lagi sifat sombong, karena semua samasama makhluk ciptaan Tuhan. Sedangkan membangun dan menumbuhkan keilmuan, adalah untuk memunculkan kreativitas dan motivasi sebagai mesin kesejahteraan, sekaligus akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan menumbuhkan karakter kecintaan Tanah Air, dilakukan sepenuhnya dengan membangun kebanggaan sebagai bangsa indonesia. ”Cara paling tepat membangun kebanggaan terhadap bangsa Indonesia adalah dengan membangun tradisi budaya berprestasi. Di sinilah pentingnya membangun karakter berprestasi. Tanpa prestasi kita bisa terjebak dalam kebahagiaan semu,” Mendiknas menandaskan.

MELAHIRKAN MANUSIA UNGGUL
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato dihadapan para undangan puncak Hardiknas dan Harkitnas 2011 juga menyampaikan pentingnya penerapan pendidikan karakter di Indonesia. Dengan nmngutip pernyataan Aristoteles, SBY berujar, bahwa ada dua keunggulan dan kehebatan manusia, atau human excellence. Pertama adalah excellence of thought, artinya keunggulan dan kehebatan dalam pemikiran. Kedua adalah excellece of character atau kehebatan dan keunggulan dalam karakter. Secara seksama, lanjut SBY, kedua jenis keunggulan manusia tersebut dapat dibangun, dibentuk dan dikembangkan melalui pendidikan. Oleh karena itu SBY mengingatkan kepada kalangan pendidik, formal maupun

karya Dwiki Dharmawan. Artis muda belia "lulusan" program pencarian bakat di televisi, Indonesia Mencari Bakat, Putri Ayu juga unjuk kebolehan mengalunkan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan lengkingan nada tinggi khasnya. Remaja cantik ini juga didaulat menjadi dirigen lagu Indonesia Raya. Dewi Yull, sang Duta Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus juga hadir dengan bacaan puisinya.

nonformal dan seluruh masyarakat Indonesia, bahwa sasaran pendidikan bukan hanya kepintaran, kecerdasan, serta ilmu dan pengetahuan saja. Tetapi, lanjut SBY, sasaran pendidikan juga tentang moral, budi pekerti, bakat, nilai, perilaku, mental dan kepribadian yang tangguh, unggul dan mulia. “Yang kedua inilah yang sesungguhnya karakter. Tumbuhnya karakter manusia pada akhirnya menjadi karakter masyarakat dan menjadi karakter bangsa,” tegas SBY. SBY yakin, dalam perkembangan generasi Indonesia di masa mendatang, hingga kurun 10 sampai 100 tahun ke depan akan lahir manusia-manusia unggul dari Indonesia. Lahirnya generasi-generasi unggul tersebut sangat diperlukan Indonesia, pasalnya Indonesia bertekad menjadi negara maju. “Saya sudah menegaskan komitmen itu pada tanggal 20 Mei 2008 silam, saat memperingati satu abad kebangkitan nasional. Saya katakan waktu itu, insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Mahakuasa, dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras seluruh rakyat indonesia, di abad 21 ini Indonesia bisa menjadi negara maju,” katanya. Tetapi, lanjut Presiden, menjadi negara maju tidak datang dari langit. Tidak pula gampang seperti membalikkan telapak tangan. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Syarat pertama adalah kemandirian bangsa harus makin tinggi. Kedua, daya saing bangsa juga harus makin tinggi, dan syarat ketiga harus mampu membangun peradaban yang unggul dan mulia. Ketiga syarat tersebut akan dapat dicapai kalau manusia-manusia Indonesia makin ke depan makin menjadi manusia unggul. Tentunya melalui pendidikan yang semakin maju dan berkualitas. ”Saya kira Saudara-Saudara sepakat dengan saya, bahwa bangsa kita tidak boleh kalah unggulnya dengan bangsa-bangsa lain. Tidak boleh kalah dengan Jepang, Korea, India, Tiongkok, Arab, Australia, bangsabangsa di Eropa, Amerika, bahkan dengan bangsa manapun juga. Saya yakin dengan potensi besar dari bangsa kita, kemajuan anak-anak kita, serta generasi muda sekarang ini. Sekali lagi, dengan ridho Allah kita akan menjadi bangsa yang maju, bangsa yang unggul di masa datang,” kata Presiden. Untuk bisa melahirkan generasi-generasi unggul dan menjadi negara maju, lanjut SBY, ada lima hal yang harus dikedepankan. Pertama, manusia Indonesia harus sungguhsungguh bermoral, berakhlak dan berperilaku baik. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia

47

MUKTI ALI

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
bekerja keras melalui jalur pendidikan untuk menjadikan bangsa kita bangsa yang unggul dan maju,”kata Presiden. Indonesia lebih memperkuat jati diri, identitas dan karakter sebagai bangsa Indonesia. Dengan kematangan pendidikan, manusia Indonesia juga harus mampu menyikapi perkembangan aktual terhadap munculnya perilaku destruktif, anarkis dan radikalis, pendidikan memiliki peran dan tanggung jawab yang besar. Pemangku kepentingan pendidikan, terutama kepala sekolah, guru, pimpinan perguruan tinggi dan dosen, harus memberikan perhatian dan pendampingan lebih besar kepada peserta didik dalam membentuk dan menumbuhkan pola pikir dan perilaku yang berbasis kasih sayang, toleran terhadap realitas keanekaragaman yang dibenarkan oleh peraturan dan perundangan. Karena itulah, pndidikan karakter menjadi mutlak harus diberikan. Pendidikan karakter memiliki tiga kelompok, yaitu a) pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa; b) pendidikan karakter yang terkait dengan keilmuan; dan 3) pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi orang Indonesia. Pendidikan karakter akan kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa akan menumbuhkan nilai transendensi dan nilai keagamaan yang kuat, yang pada gilirannya tumbuh sifat kasih sayang dan toleran saling menghargai dan menghormati (karena merasa sesama makhluk) dan menjauhkan diri dari perilaku

harus menjadi masyarakat yang religius, beradab, dan anti kekerasan. Kedua, manusia dan Bangsa indonesia harus menjadi manusia dan bangsa yang cerdas dan rasional, serta berpengetahuan. Memiliki daya nalar yang tinggi, punya visi, dan punya ide membangun masa depan yang baik. Ketiga, manusia Indonesia ke depan harus makin menjadi manusia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan. Keempat, manusia Indonesia harus memperkuat semangat harus bisa. “Can do spirit. Seberat apapun persoalan jikalau sungguh ingin menyelesaikan, pasti akan ada solusinya, kemudian laksanakan solusi itu dengan sungguh-sungguh,” kata SBY. Kelima, lanjut Presiden, bahwa semua manusia Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus menjadi patriot sejati yang senantiasa mencintai bangsa, negara dan tanah air Indonesia. Juga rela berkorban untuk memajukan masa depan Bangsa dan Negara Indonesia. ”Kini, sejarah meunggu apa yang akan kita lakukan. Apakah kita akan menulis sejarah yang tidak ada artinya dan tidak dibanggakan generasi yang akan datang? Atau kita akan menulis sejarah yang bisa mengubah keadaan, memberikan harapan bagi masa depan bangsa kita? Mari kita pilih yang kedua. Oleh karena itu, dengan semangat Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, marilah kita bersatu padu melangkah bersama,

GERAKAN PENDIDIKAN KARAKTER
Selain malam puncak, Hardiknas 2011 juga memiliki rangkaian kegiatan lain. Di antaranya upacara bendera tanggal 2 Mei 2011 serta Gebyar Apresiasi Karakter Siswa Indonesia (AKSI). Dalam pidato upacara Hardiknas, Mohammad Nuh memaparkan tentang pendidikan karakter. Dalam dunia pendidikan, kata Mohammad Nuh, manusia adalah pemeran utamanya, bertindak sebagai subyek sekaligus obyek, sedangkan keilmuan sebagai medianya. Memanusiakan manusia menjadi salah satu tujuan, dan kemampuan menjawab berbagai persoalan kekinian maupun antisipasi masa depan sebagai keniscayaan, begitu amanat yang disampaikan Mendiknas. Itulah sebabnya mengapa dunia pendidikan itu kompleks, menantang namun sangat mulia. Kompleksitas dan tantangan terus berkembang, seiring dengan perjalanan zaman. "Oleh karena itu, kita semua harus secara bersama-sama terusmenerus berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk menanganinya, demi kemuliaan diri, bangsa, negara dan umat manusia,” katanya. Namun, lanjut Mohammad Nuh, harus dipahami dan disadari munculnya tantangan global dan internal yang sedang dihadapi. Tantangan itu mengharuskan masyarakat

48

MUKTI ALI

destruktif dan anarkistis. Kesadaran sebagai makhluk-hamba juga menumbuhkan sifat jujur. ”Alangkah indahnya, sesama makhluk dan hamba termasuk lingkungan alam semesta tumbuh rasa kasih sayang secara tulus dan jujur. Tidakkah kita ini memiliki misi utama untuk memberikan ‘kerahmatan’ bagi alam semesta,” kata Mohammad Nuh. Pendidikan karakter terkait dengan keilmuan menuntut metodologi dan materi pembelajaran yang merangsang tumbuhnya kepenasaranan intelektual harus lebih ditonjolkan untuk membangun pola pikir, tradisi dan budaya keilmuan, menumbuhkan kreativitas dan sekaligus daya inovasi. Peran guru lebih dominan dibanding kecukupan sarana dan prasarana. Budaya keilmuan merupakan modal penting dan menjadi semakin rasional dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dan tantangan. Dengan kreativitas dan daya inovasi, cerdas mengelola sumber daya, akan makin tinggi nilai tambah diberikan. Pada akhirnya kesejahteraan akan naik lebih signifikan. Kelompok karakter ketiga yang harus dibangun adalah menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Kecintaan karena sadar bahwa bangsa dan negara dengan empat pilarnya yaitu: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penumbuhan kebanggaan tersebut dilakukan melalui kegemaran berprestasi. ”Prestasi positif dikontribusikan dan dedikasikan demi kemajuan bangsa dan negara. Inilah yang bisa menumbuhkan kebanggaan sejati,” katanya.

49

MENYIAPKAN GENERASI 2045
Melalui pendidikan karakter, Mohammad Nuh juga mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia bersama-sama menyiapkan generasi Indonesia tahun 2045, tepat saat 100 tahun Indonesia merdeka. Hal itu, harus dimulai dengan memberikan perhatian khusus pada Pendidikan Anak Usia Dini. Pasalnya, anak usia dini adalah anak-anak yang berada dalam masa emas. Merekalah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia, serta, menjadi kunci kemajuan bangsa. ”Tidak ada pilihan lain kalau ingin menyiapkan generasi 2045, harus dimulai dari sekarang, yaitu dengan memberikan perhatian khusus pada PAUD, dengan tetap memberikan perhatian pada jenjang yang lain. Mulai tahun 2011, Kementerian Pendidikan Nasional menjadikan PAUD sebagai gerakan nasional,” tegas Mendiknas.

”Pada PAUD kita mulai tanamkan tiga kelompok pendidikan karakter tersebut, yaitu karakter sebagai hamba Tuhan, karakter keilmuan, dan karakter cinta terhadap bangsa dan negara. Harus diakui, pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah proses panjang, berkelanjutan, dan memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, konsistensi kebijakan dan kebersamaan diperlukan. Inilah hadiah yang kita siapkan dan persembahkan menyambut 100 tahun Indonesia merdeka,” kata Mohammad Nuh.

GEBYAR AKSI
Kegiatan yang merupakan program dari Ditjen Pendidikan Menengah (Dikmen) itu menjadi rangkaian peringatan Hardiknas selain kegiatan rutin upacaya Hardiknas yang berlangsung di lapangan kantor Kemdiknas tanggal 2 Mei 2011. Gebyar AKSI berlangsung 15-21 Mei 2011 di Taman Wisata Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Gebyar AKSI 2011 diikuti 363 siswa sekolah menengah berasal dari 33 provinsi. Tiap provinsi disertai dua guru pendamping, total guru pendamping 66 orang. Peserta Gebyar AKSI beserta guru pendamping juga diundang mengikuti malam Puncak Hardiknas dengan balutan busana khas daerahnya masingmasing. Saat membuka Gebyar AKSI, Mohammad Nuh mengatakan, bahwa Gebyar AKSI adalah

wadah bagi siswa sekolah menengah untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan kreativitas dan karakter kebangsaan dalam sikap dan perbuatan. Gebyar AKSI juga menjadi wadah melaksanakan pendidikan karakter, terutama tentang kebangsaan dan Bhinneka Tunggal Ika. Gebyar AKSI merangkai tiga kegiatan utama, yakni Aksi Kebangsaan, Aksi Kreatifitas, dan Aksi Kepedulian. Ada enam games dalam Aksi Kebangsaan, yakni berkibar benderaku, flying fox, bertahan hidup, balok keseimbangan, satria bangsa, dan perang naga. Pada Aksi Kreatifitas terbagi dalam dua sesi, yakni presentasi dan hasta karya. Pada sesi presentasi, peserta harus menunjukkan bakat, minat dan kreativitas dalam memahami isu-isu yang berkembang di daerahnya. Pada sesi hasta karya, peserta diuji kreativitasnya dalam mendaur ulang barang-barang bekas. Sedangkan dalam Aksi Kepedulian peserta melakukan bakti sosial ke Panti Asuhan Ponpes Ulul Ilmi, Pondok Rangon, Jakarta Timur dan Panti Asuhan Yatim Piatu SOS Desa Taruna, Cibubur. Di sela-sela siswa melakukan berbagai aksi, guru-guru pendamping mengikuti workshop tentang pendidikan karakter. Workshop tersebut bertujuan agar para guru lebih intensif memperhatikan perkembangan kepribadian siswa.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

kemdiknas.go.id

[P]

PERISTIWA
Semiloka Pendidikan Karakter

Bangsa Berkarakter
PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO

Kunci Indonesia Bangkit

B
50

BUKU ukuran raksasa yang diusung pasukan pengibar bendera memasuki Aula Gedung D Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Buku dengan sampul muka berjudul Pendidikan Karakter di Sekolah, dari Gagasan ke Tindakan, menjadi simbol peluncuran buku yang diterbitkan Yayasan Jati Diri Bangsa, Jakarta. Peluncuran buku pendidikan karakter itu merupakan salah satu rangakaian acara bertajuk Seminar dan Lokakarya Nasional bertema Bangsa Berkarakter Kunci Indonesia Bangkit, 28 Mei 2011. Semiloka dibuka Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof, dr. Fasli Jalal, Ph.D, sekaligus berbicara sebagai keynote speaker. Narasumber seminar yang dihadirkan adalah Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Letjen TNI (purn) Sayidiman Suryohadiprodjo, Franz Magnis Suseno, Letjen TNI (purn) Moetojib dan Rikard Bagun. Fasli Jalal menekankan empat nilai karakter yang menjadi prioritas pengembangan di sekolah-sekolah, yakni: jujur, cerdas, peduli dan tangguh. "Untuk mencapai kualitas empat nilai karakter itu, dalam pelaksanaannya harus tampak dan dimulai dari indikator sederhana dan dapat langsung dilihat langsung, seperti bersih, rapi, nyaman, disiplin, dan saling

FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO

menghargai," kata Fasli Jalal. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mengidentifikasi ada 18 nilai karakter dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yakni religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Meski Kemdiknas menetapkan empat nilai esensial yang jadi prioritas, namun sekolah bebas menerapkan jumlah dan jenis karakter yang dipilih disesuaikan kepentingan dan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Pendekatan yang dipakai Kemdiknas dalam mengembangkan pendidikan karakter ada tiga: melalui kebijakan nasional turun ke satuan pendidikan (top down), menemukenali (talentscouting) praktik pendidikan karakter di sekolah-sekolah (bottom up), serta pendekatan revitalisasi kegiatan-kegiatan yang sudah diterima dan dipraktikkan secara luas selama

ini, dengan penekanan kembali pada nilainilai karakter yang ada di dalamnya, terutama kegiatan ekstra kurikuler. Kebijakan topdown dikembangkan melalui sosialisasi, pengembangan regulasi, kapasitas, implementasi dan kerjasama, serta monitoring dan evaluasi. "Langkah awal yang sudah dilakukan Kemdiknas adalah menempatkan pendidikan karakter sebagai salah satu program seratus hari pertama Kemdiknas dari delapan program yang lain," kata Wamendiknas. Ketika itu sudah dilaksanakan Sarasehan Nasional Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa yang dihadiri 200 peserta terdiri dari pakar pendidikan, tokoh masyarakat, budayawan, agamawan, akademisi, birokrat, praktisi, pengelola pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Kaitannya dengan pengembangan regulasi, pemerintah sudah memasukkan pembangunan pendidikan karakter ke dalam banyak regulasi, di antaranya, Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, Disain Induk Pendidikan Karakter (2010), Rencana Aksi Nasional

Pendidikan Karakter, buku-buku petunjuk pelaksanaan dan teknis, seperti Panduan Umum Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan (Pusat Kurikulum 2011), serta Panduan Pelatihan Pendidikan Karakter. "Ada empat prinsip dasar yang dipegang Kemdiknas dalam proses kebijakan pendidikan karakter yaitu berkelanjutan; melalui semua matapelajaran; pengembangan diri dan budaya satuan pendidikan; nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan melalui proses belajar; serta prinsip proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan," kata Fasli Jalal. Pendekatan talentscouting, pemerintah memfasilitasi forum-forum pertemuan tahunan contoh baik pendidikan karakter pada satuan pendidikan. Dimulai dari pertemuan best practices tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pertemuan nasional. "Di sini terjadi diseminasi, saling belajar terus menerus antarsekolah," kata Fasli Jalal. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010, Kemdiknas sudah meluncurkan buku dan alam bentuk cakram padat berjudul Pendidikan Karakter Kebutuhan Mendesak, Aneka Model Pendidikan Karakter di Sekolah. Dalam catatan Kemdiknas, setidaknya ada 185 sekolah yang telah mempraktikkan pendidikan karakter yang siap direduplikasi. Pendekatan revitalisasi kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya menyasar pada kegiatan Pramuka. Pramuka memiliki anggota tidak kurang dari 16,3 juta. Namun saat ini Pramuka dipandang kurang dinamis, tidak menarik, dan tidak sesuai dengan remaja sekarang. Padahal Pramuka menanamkan nilai-nilai karakter, seperti cinta Tanah Air, kesetiakawanan, kejujuran, kerjasama, rasa tanggung jawab, pantang menyerah dan tidak putus asa. Kegiatan lain yang terus dikembangkan adalah kantin kejujuran, olimpiade sains dan perlombaan, Usaha Kesehatan Sekolah, (UKS), dan Palang Merah Remaja (PMR). Kebijakan tahun 2011 terkait pendidikan karakter ada tiga hal. Pertama, seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional harus berbagi sarana prasarana. Untuk pelaksanaan pendidikan karakter, juga program pendidikan lain, tidak ada fasilitas yang tertutup bagi yang lain, jika dibutuhkan. Kedua, semua harus berbagi dan bersinergi dalam

pemanfaatan sumber daya pelatih dari berbagai sumber, yakni dosen, widyaiswara (LPMP dan P4TK), tim pengembang kurikulum, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru yang telah mendapat sertifikat pelatih. Ketiga, memanfaatkan dan memaksimalkan peran multimedia. Sebagai bahan kebijakan, panduan, CD, dan film-film contoh pendidikan karakter diunduh, dan dapat diakses oleh yang lain dengan mudah dalam portal nasional pendidikan karakter. "Beberapa program tahun 2011 adalah pelatihan masif pendidikan karakter di 215.000 sekolah, diikuti tiga peserta setiap sekolah, terdiri dari unsur kepala sekolah, bendahara, dan komite sekolah," kata Fasli. Pelatihan pendidikan karakter dilakukan selama 4 jam diinsersikan ke dalam kegiatan sosialisasi program BOS yang berlangsung kurang lebih tiga hari. Di tingkat SMA/SMK juga dilakukan pelatihan melalui worshop program BOM dan pengembangan KTSP. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi pelatihan diikuti 15.000 mahasiswa.

JATI DIRI BANGSA
Brigjen TNI (purn) Soemarno Soedarsono, Ketua Umum Yayasan Jati Diri Bangsa, dalam sambutan pembuka menekankan bahwa saat ini antara pemerintah dan rakyat belum mencapai titik temu. Sehingga terjadilah ironi menyedihkan kehidupan berbangsa dan bernegara. "Kita harus mencari perekat

yang menyatukan pendapat pemerintah dan rakyat. Tidak perlu susah payah mencari-cari, tapi cukup menoleh ke belakang melihat apa yang dicontohkan founding father kita," kata Soemarno. Pendidikan karakter dinilai sebagai upaya sangat strategis untuk membuka pintu bagi bangsa ini keluar dan bangkit dari keterpurukan. Ketika bangsa ini lama mengabaikan pendidikan dan pembangunan karakter bangsa, tidak ada daya juang dan dorong dari dalam diri tiap anak bangsa yang mempersatukan pemerintah dan rakyat. "Kita harus mengetuk pintu semua elemen untuk berkomitmen menjalankan pendidikan karakter sebagai bagian dari jati diri bangsa. Karakter, yang melampaui dari sekadar soal baik dan buruk, sudah lama ditinggalkan. Hasilnya, Indonesia di ujung tanduk," kata Soemarno . Acara semiloka juga diselingi peringatan HUT ke-9 Yayasan Jati Diri Bangsa, yang berkomitmen membangun karakter bangsa, mengambil bagian untuk memberi arah pendidikan karakter yang digaungkan kembali oleh pemerintah. Soemarno menambahkan, pendidikan karakter yang dicanangkan Presiden SBY semestinya tidak sekadar dimaknai sebagai instruksi oleh para pejabatnya. Namun, menjadi peluang emas yang mesti dijalankan tanpa henti untuk kembali menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter.

51

Wakil Mendiknas Fasli Jalal

Soemarno Soedarsono

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
Rakor Badan PSDMP dan PMP

PENULIS: MUKTI ALI FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO

Refocusing Program Pembinaan PTK dan Penjaminan Mutu

M
52

MEMULAI langkah baru, Badan Penjaminan Mutu Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (PSDM P2MP), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), menggelar rapat korrdinasi Rencana Pelaksanaan Program dan Anggaran Tahun 2011. Bertempat di Hotel Grand Jaya Raya, Puncak, Bogor, Jawa Barat, rakor yang berlangsung pada tanggal 19-21 April 2011 itu diikuti kurang lebih 200 peserta. Mereka adalah para Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) beserta jajaran kepala bidangnya, para kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) beserta kepala seksi (kasi) dan kepala bagiannya, serta kepala Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) dan jajarannya. Para peserta mendapatkan paparan dan penjelasan terkait materi rakor dari pejabatpejabat terkait di lingkungan Kemdiknas. Nara sumber dari lingkungan Badan PSDMP dan PMP meliputi Dr. Syawal Gultom, M,Pd (Kepala Badan PSDM dan P2MP), Ir. Giri Suryatmana (Sekretaris Badan PSDMP dan PMP), Dr. Mohammad Hatta, M,Sc (Kepala Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan), Dr.

Abi Sujak (Kepala Pusat Pengembangan Tendik), Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd (Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik), dan lain-lain. Nara sumber lain dari beberapa direktorat jenderal terkait adalah Dr. Baedhowi, M.Si (Direktur Jenderal Pendidikan Menengah), Prof. Suyanto, Ph.D (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar), serta Dr. Gutama (Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal), mewakili Hamid Muhammad,

Dirjen PAUDNI. Dihadirkan pula nara sumber dari Japan International Cooperation Agency (JICA) yakni Koji Sato serta nara sumber dari Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC). Dengan penegaskan bahwa program dirancang dan dilaksanakan dengan prinsip efisiens dan efektif, rakor tersebut mengusung beberapa tujuan. Meliputi, mensosialisasikan tugas pokok dan fungsi Badan PSDM dan

P2MP, menyepakati kebijakan Badan PSDMP dan P2MP, serta menyepakati rencana penyesuaian dan strategi implementasi program. Rakor juga untuk menjaring learning experience dari pelaksanaan diklat kepala sekolah dan pengawas sekolah, menjaring learning experience program BERMUTU (KKG/ MGMP/MKKS/MKPS), menjaring learning experience pelaksanaan sistem diklat dan strategi implementasi, serta membentuk tim koordinasi dan koordinator pada tiap satuan kerja (pusat, P4TK, LP2KS,LPMP).

REFOCUSING PROGRAM
Dalam kesempatan memberikan sambutan sekaligus membuka rakor, Syawal Gultom memaparkan berbagai program Badan PSDMP dan PMP. Di antaranya adalah pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan serta penjaminan mutu pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, Syawal Gultom menegaskan perlunya refocusing sertifikasi, pasca sertifikasi, serta pada penjaminan mutu pendidikan. Terdapat beberapa hal pokok yang harus dikembangkan untuk mewujudkan refocusing tersebut. Pertama, sinkronisasi data NUPTK dengan kabupaten, kota, provinsi dan kementerian agama sebagai dasar perencanaan pengembangan PTK. Kedua, pada tahun 2012 wajib mengajar 24 Jam sebagai syarat mengikuti sertifikasi pada point pertama. Ketiga, evaluasi kinerja guru melalui Penilaian Kinerja Guru (PKG), Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKK) dan Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah (PKP) pasca sertifikasi khususnya untuk lulusan sertifikasi dan telah mendapatkan tunjangan profesi tahun 2006-2010. “Keempat, hasil evaluasi kinerja guru, kepala sekolah dan pengawas akan berpengaruh

terhadap pengembangan sistem diklat. Kelima, P4TK, LP2KS dan LPMP harus merespons sistem diklatnya dengan refocusing tersebut. Keenam, dalam proses penjaminan mutu, sinkronisasi sistem pendataan NUPTK dengan sistem pendataan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan Nomor Induk Siswa Sekolah (NISN) akan memperkuat data profil sekolah mengacu delapan standar dan proses Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Dan ketujuh adalah, data guru, kepala sekolah ekolah dan pengawas yang terdata dari hasil pembinaan yang terbaik merupakan stock tenaga potensial yang dapat direkomendasikan Badan ke daerah maupun Direktorat Jenderal,” katanya.

SERTIFIKASI BERBASIS NUPTK
Syawal Gultom juga menegaskan bahwa refocusing dalam efektivitas dan efisiensi pada setiap program di antaranya dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT). Satu contoh riil peran IT diwujudkan pada penerapan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) secara online. ”Ini adalah lompatan yang sangat baik, dan NUPTK merupakan karya yang menurut saya sangat spektakuler. Dengan sistem online data NUPTK bisa diakses dengan sangat mudah,” lanjut Syawal Gultom. Demikian pula jika pada tahun 2012 dilakukan reorientasi sertifikasi guru, penetapan peserta dapat dilakukan dengan basis NUPTK. Dengan demikian, dan apalagi NUPTK online, maka penentuan peserta sertifikasi akan jauh lebih objektif. Pasalnya, berbagai variabel sifatnya real time serta hasil verifikasinya bisa dilihat oleh semua orang. Termasuk penentuan siapa-siapa yang masuk daftar tunggu, mestinya juga dilakukan oleh Badan. Cara ini akan memperkuat keobyektifan. ”Karena

dengan berbagai persoalan di daerah, meski tanpa harus menyebut apa saja persoalanpersoalannya, bahwa untuk menjadi peserta sertifikasi banyak guru melakukan hal-hal menyimpang dari aturan,” katanya. Syawal Gultom bahkan berpikir, ke depan guru-guru yang ikut sertifikasi adalah yang sudah memenuhi syarat mengajar selama 24 jam dalam sepekan. Jika belum memenuhi, mestinya tidak memaksakan dan dipaksakan masuk daftar tunggu. ”Walaupun akan ada wacana redefinisi dari 24 jam, yaitu apakah 24 jam itu waktu berdiri di kelas atau masih ada muatan lain. Terlepas dari itu, ke depan memang sepatutnya mereka-mereka yang berhak ikut sertifikasi kalau sudah memenuhi 24 jam. Jadi begitu sertifikat diserahkan, tidak usah lagi minta jumlah jamnya berapa,” katanya.

53

OUTCOME BASED PERFORMANCE
Syawal Gultom menegaskan, bahwa ketiga pusat di Badan PSDMP dan PMP, yakni Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan, Pusat Pengembangan Tendik, dan Pusat Pengembangan Profesi Pendidik akan melakukan penyelarasan program dengan P4TK, LPMP dan LP2KS. Tujuannya tak lain agar reorientasi yang ada di Badan PSDMP dan PMP ini benar-benar menjawab tantangan strategis kita. ”Adalah hal yang menyedihkan ketika kita mengenali tantangan strategis tapi begitu kita elaborasi programnya tidak nyambung dengan tantangan strategis tadi. Itulah persoalan yang paling krusial,” katanya. Untuk itu, Syawal Gultom mengurai kembali orientasi penguatan kompetensi yang biasa dilakukan oleh P4TK, LPMP maupun LP2KS. Selama ini diklat-diklat yang dilakukan P4TK,LPMP maupun LP2KS umumnya masih berbasis output. Cara ini lebih menekankan berapa PTK yang sudah mengikuti diklat. Sedangkan mulai tahun 2011, Syawal Gultom menegaskan bahwa diklat-diklat harus berbasis outcome based performance. Untuk itu indikator diklat juga harus disesuaikan. Kalau indikatornya output, berarti diklat menjadi cara, dan itu menjadi tujuan. ”Padahal tujuannya bukan itu. Kalau cara sudah diletakkan menjadi tujuan, maka outcome tidak akan kelihatan. Bagaimana caranya mengukur outcome? Kita tidak mengukur outcome sejak awal. Tetapi kita bisa memprediksi bahwa produk-produk diklat itu diarahkan bisa memenuhi standar yang kita tetapkan,” lanjut Syawal Gultom.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
KUALIFIKASI AKADEMIK SMA
6.336 6.383 12.719

Untuk itu, masih kata Syawal Gultom, dengan menetapkan diklat berorientasi pada outcome based performance, maka terdapat tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, memantapkan ulang para widyaiswara dari struktur yang akan dilibatkan pada diklat. Kedua, mengevaluasi ulang materi diklat dan proses-proses diklat yang dilakukan selama ini. Ketiga, adalah sistem evaluasi diklat. Dalam sistem evaluasi diklat, harus dihindari untuk langsung mengatakan kepada seseorang peserta lulus atau tidak lulus. Langkah paling bijak adalah dengan menunjukkan standar kompetensi suatu materi yang harus dipenuhi sebelum diklat dilangsungkan. Untuk itu, perlu dilakukan tes sebelum dan sesudah diklat dilaksanakan, agar guru dapat mengukur dengan sendirinya. Selama diklat berlangsung, lanjut Syawal Gultom, harus sangat dihindari kegiatankegiatan ceramah. “Kalau mau mendiklat guru kurangi hal-hal yang sifatnya ceramah. Menceramahi orang lebih dari 10 menit, maka orang yang diceramahi itu berhak untuk tidur,” katanya. Menceramahi guru dalam rangka meningkatkan kompetensinya, sangatlah tidak tepat. Lebih baik langsung saja pada tujuan utama pelatihan dalam hal kompetensi atau keterampilan yang seperti apa yang perlu ditingkatkan. Guru yang sudah punya bermodal penguasaan materinya bagus, maka dia layak dilatih teaching learning pattern atau kemampuan belajar mengajar yang lebih bagus. Jika penguasaan materinya saja kurang, maka pelatihan cara belajar mengajar, bahkan inovasi pembelajaran diyakini tidak akan berguna.

GURU
SMA SMK JUMLAH

D-I
916 866 1.782

D-II
1.559 1.053 2.612

D-III
13.125

S1
36.056

S2
7.736 4.141 11.877

S3
86 32 118

JUMLAH
254.387 161.656 416.043

12.208 225.546

25.333 361.602

menyebutkan bahwa guru SMA/SMK sebagian besar sudah S1, bahkan sudah banyak pula yang S2 dan S3. Berdasar NUPTK 2010, 92% guru SMA sudah berkualifikasi akademik S1/D-IV, yang kurang S1/D-IV hanya 8% saja. Sedangkan guru SMK, 87% sudah S1/D-IV dan hanya 13% yang kurang dari S1/D-IV. Jika dilihat dalam angka, dari jumlah guru SMK/ SMK yang totalnya 416.043 guru. Dari data tersebut, jumlah guru SMA/SMK yang belum S1/D-IV sebanyak 42.446 orang guru. “Jumlah ini lebih sedikit dibanding guru SD. Ini proyeksi kami untuk kami tuntaskan sekiranya nanti 2015 nanti bisa sertifikasi semua,” kata Baedhowi. Sedangkan guru di sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Baedhowi tidak menampik kalau masih ada beberapa RSBI yang masih memiliki kualifikasi kuarang dari S1/D-IV. Dengan kondisi demikian, tentu guru tersebut sangat diragukan kompetensinya. Untuk itu, sangat dibutuhkan peran LPMP,P4TK dan LP2KS untuk meningkatkan kompetensi guru-guru tersebut. Termasuk guru-guru yang disiapkan

menjadi kepala sekolah diharapkan nantinya daerah bisa dipaksa memilih kepala sekolah berasal dari calon kepala sekolah yang benarbenar sudah mendapat pengakuan dari Badan bahwa calon kepala sekolah tersebut benarbenar memenuhi syarat. Demikian pula dengan pengawas sekolah. Memang tidak gampang memaksa daerah mengikuti kebijakan pusat sepenuhnya, karean di era otonomi, daerah punya kewenangan yang terkadang sangat sulit untuk disentuh. Meskipun seringkali kebijakan daerah, termasuk menentukan kapala sekolah dan pengawas sekolah jauh dari kriteria. Agar pengelolaan PTK dapat dilakukan oleh pusat, Baedhowi berharap legislatif yang menangani masalah pendidikan dapat menelaah hal tersebut serta mampu memberi kemudahan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan. “Barangkali LPMP,P4TK, dan LP2KS jika memungkinkan monggo membuat kajian terhadap pengelolaan PTK di daerah. Karena kemarin waktu mengunjungi ujian nasioan di Cimahi, di sana ada orang dinas pendidikan yang di-guru-kan atau dijadikan

KEBIJAKAN YANG MEMAKSA DAERAH
Sementara itu Prof. Dr. Baedhowi, M.Si, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah (Dirjen Dikmen) menjelaskan beberapa permasalahan dan program-program pembinaan PTK Dikmen. Lingkup pembinaan PTK Dikmen, rencana kebutuhan PTK, peningkatan kualifikasi, pembinaan sistem karir, peningkatan kesejahteraan, pemberian penghargaan dan perlindungan (harlindung), fasilitasi bimbingan teknik (bintek), kerjasama dan pemberdayaan masyarakat, serta monitoring dan evaluasi. PTK yang menjadi tanggungjawab meliputi PTK SMA, SMK, SMLB dan Pendidikan Kesetaraan (Paket C). Dalam kaitannya memenuhi UndangUndang Guru dan Dosen, bahwa guru harus berkualifikasi minimal S1/D-IV, Baedhowi

54

Wajah ceria siswa-siswa SD Greges Temanggung, tempat mantan Mendiknas Bambang Sudibyo menamatkan sekolah dasar.

DIPO HANDOKO

guru. Di Jawa Timur juga ada kepala dinas yang dijadikan guru. Ada yang hebat lagi kepala bidang pendidikan dasar berasal dari lurah,” katanya.

DIPERLUKAN GURU FUTURISTIK
Jika PTK Dikmen jumlah guru yang kualifikasi akademik S1/D-IV jauh lebih banyak dibanding dengan yang kurang dari S1/D-IV, tidak demikian yang terjadi pada PTK Pendidikan Dasar. Jumlah guru yang kualifikasi akademiknya di bawah S1 /D-IV masih banyak, terlebih guru Sekolah Dasar (SD). Kondisi tersebut menjadikan peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi PTK menjadi program sangat penting bagi Ditjen Dikmen. Hal tersebut seiring dengan tahap pembangunan nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Yakni, tahun 2005-2009 targetnya adalah peningkatan kapasitas modernisasi. Tahun 2010-2014 sebagai penguatan pelayanan. Tahun 2015-2019 meningkatkan daya saing regional. Tahun 2020-2024 mampu berdaya saing internasional. ”Jadi kita sekarang berada pada masa penguatan nasional yang akan memasuki daya saing regional. Untuk itu harus didukung oleh guru-guru yang profesional,” kata Prof. Suyanto, Ph.D, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas). Menurut Suyanto, guru profesional adalah guru yang mampu membangun inspirasi pada siswa. ”Guru-guru harus menginspirasi siswa bisa membangun futuristik siswa, agar mereka bisa maju. Negara Indonesia tidak maju-maju karena guru-gurunya tidak mampu membangun futuristik pada siswa,” katanya. Suyanto mencontohkan hal yang kesannya sangat sepele, namun mengandung makna sangat besar dan mendasar. ”Mengapa minus empat dikalikan minus empat sama dengan enam belas. Kok bisa minus dikali minus hasilnya positif. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tahu hasilnya 16," kata Suyanto disambut tawa peserta. Contoh lain , anak-anak di luar negeri kalau ditanya untuk apa belajar matematika, mereka menjawab ingin bekerja di bank, ingin pandai matematika, dan lain-lain. Namun pertanyaan itu jika ditanyakan ke siswa Indonesia, ada yang menjawab karena hari ini Kamis, jadwalnya memang matematika. "Jawaban siswa itu menunjukkan guru kita tidak futuristik,” kata Suyanto. Suyanto juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke sekolah di Singapura.Anakanak SD ada yang belum memahami anatomi kacang tanah. Sebagian ada yang mengira biji kacang tanah adalah buah dari pohon yang

tinggi, bahkan bisa dipanjat. Begitu datang ke Indonesia dan melihat kacang tanah, mereka terkejut. ”Karena kacang tanah pohonnya sangat rendah, bunganya ada di atas tapi buahnya sembunyi di dalam tanah. Logikanya buah itu berasal dari bunga. Lha itu anak-anak Singapura mengakui kacang itu hebat. Nah, apakah guru-guru SD kita bisa menjelaskan itu? Inilah tugas-tugas LPMP, P4TK untuk memecahkan hal tersebut, agar guru-guru kita menjadi guru yang futuristik,” kata Suyanto.

PEMBINAAN PTK PAUDNI
Sedangkan Dr. Gutama, Sekretaris Ditjen PAUDNI memaparkan berbagai hal pembangunan PAUDNI. Termasuk di antaranya upaya pembinaan PTK PAUDNI. Meliputi: peningkatan ketersediaan dan pendistribusian PTK PAUDNI sesuai jenis dan jenjang kualifikasi dan kompetensi, meningkatkan kemitraan untuk mendukung mutu PTK PAUDNI serta optimalisasi partisipasi asosiasi/organisasi mitra independen, serta memberikan penghargaan dan perlindungan secara adil dan proporsional. ”Selain itu juga akan dilakukan peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi PTK PAUDNI

melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan tugas dan fungsinya, serta akan dilakukan peningkatan layanan pendidikan kepramukaan dalam rangka membangun karakter bangsa,” ujar Gutama. Upaya pembinaan tersebut untuk memenuhi target capaian Ditjen PAUDNI yang meliputi: Capaian APK PAUD (KB,TPA,SPS, TK) sebesar 33, 67%, lembaga PAUD terakreditasi sebesar 2,5 %, capaian kabupaten/kota yang mengembangkan parenting education sebesar 10%, dan layanan pendidikan ketrampilan untuk lulusan SMP/SMA yang tidak melanjutkan atau putus sekolah sebesar 13%, terakreditasinya lembaga kursus dan pelatihan sebesar 5%, serta terlayaninya pendidikan melek aksara usia > 15 tahun sebesar 4,8%. Selain itu juga tercapainya kabupaten/kota yang menerapkan gender dalam bidang pendidikan sebesar 23%, capaian PKBM terakreditasi sebesar 5%, terpenuhinya kabupaten/kota dengan minimal 10 TBM sebesar 20,41%, PTK PAUDNI mengikuti peningkatan kompetensi sebesar 20,41%, serta PTK PAUDNI mendapatkan penghargaan dan perlindungan sebesar 15%.

55

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
Ujian Nasional 2011

PENULIS: DIPO HANDOKO FOTO-FOTO: DOK. KAB.GUNUNG MAS

Raih Nilai Terbaik

Siswa Denpasar & Bantul

S
56

SUARA sumbang yang biasanya mengiringi Ujian Nasional (UN), baik sebelum dan sesudah Hari H pelaksanaan, kini tak lagi nyaring terdengar. Setidaknya hingga pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SMA/MA dan SMK, pada tanggal 16 Mei. Ujian Nasional 2011 memang lebih menggembirakan hasilnya dibanding tahun lalu. Tingkat ketidaklulusan siswa SMA/MA dan SMK yang selalu disorot kalangan yang kontra UN, kini menunjukkan penurunan. “Secara umum setelah intervensi dilakukan tahun lalu, terjadi penurunan ketidaklulusan peserta UN SMA sebesar 1,42%,” kata Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, dalam jumpa pers hasil Ujian Nasional 2011, di Gedung A Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Mendiknas memaparkan data dan analisis hasil UN, baik secara nasional, maupun data per kabupaten, bagi yang memiliki kasus khusus. Tahun 2010 kelulusan mencapai 99,04%. Tahun 2009, tingkat kelulusan hanya 95%. Tahun ini kelulusan SMA/MA mencapai 99,22 persen dengan jumlah peserta ujian sekitar 1,4 juta. Provinsi Bali paling sedikit siswanya yang tak lulus, yakni 17 orang, atau 0,04%

dari total 42.572 siswa yang mengikuti ujian. Siswa SMA/MA yang tak lulus paling banyak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni 1.812 siswa (5,57%) dari 32.532 peserta. Sedangkan di jenjang SMK, tingkat kelulusan mencapai 99,51 persen dari total peserta 942.698 siswa. Provinsi yang paling sedikit siswa tak lulusnya adalah Sumatera Selatan. Sedangkan persentase ketidaklulusan tertinggi dipegang Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara keseluruhan, dalam pelaksanaan UN 2011, dari 1.461.941 siswa SMA yang ikut ujian, 1.450.498 siswa dinyatakan lulus (99,22%). Sisanya, 11.433 siswa tidak lulus (0,78%). Persentase kelulusan tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 99,04%. Syarat kelulusan siswa tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Nilai akhir kelulusan siswa SMP dan SMA dan sekolah sederajat ditentukan berdasarkan gabungan nilai Ujian Nasional dan nilai sekolah. Pembobotannya 60 persen nilai ujian dan 40 persen nilai sekolah. Nilai sekolah

merupakan gabungan nilai ujian sekolah dan nilai rapor sampai semester IV. Angka kelulusan untuk SMK juga meningkat dibandingkan tahun lalu. Tahun ini, angka kelulusan untuk SMK mencapai 99,51%, sedangkan tahun 2010 sebesar 99,20%. NTT menjadi provinsi dengan angka ketidaklulusan tertinggi. Di provinsi ini terdapat 1.813 siswa yang dinyatakan tidak lulus UN, dan kebanyakan berasal dari Kabupaten Ende. Mendiknas juga mengumumkan lima sekolah dengan angka kelulusan nol persen. Lima sekolah itu adalah SMA Abadi di Jakarta Utara (7 siswa), SMAN 3 Kabupaten Simeulue, NAD (26 siswa), MA Nurul Ikhlas Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi (2 siswa), SMA LKMD Klan Darat Kabupaten Seram Timur, Maluku (48 siswa), dan SMAN Urei Fasei Kabupaten Waropen, Papua (64 siswa). Untuk SMA Abadi dan MA Nurul Ikhlas, bentuk intervensi perbaikan yang bisa dilakukan adalah dengan menggabungkan dengan SMA atau MA terdekat. “Jadi sekolahnya tidak ditutup, tetapi digabungkan dengan

DOK. KAB. GUNUNG MAS

sekolah lain yang terdekat,” ujar Mendiknas. Sedangkan untuk tiga SMA lainnya, intervensi perbaikannya adalah dengan membangun perpustakaan dan laboratorium, peningkatan kualifikasi guru, serta sertifikasi guru.

SISWA DAN SEKOLAH TERBAIK
Pencapaian Ujian Nasional 2011 yang membanggakan yang diraih 10 siswa dan 10 sekolah dengan nilai terbaik. Nilai rata-rata terbaik jenjang SMA/MA dicapai Anak Agung Indah Suadnyani dan Ni Putu Maitri Nara Suari dengan rata-rata nilai 9,83, yang samasama berasal dari SMA Negeri 4 Denpasar. Siswa SMA 4 Denpasar mengusai empat peringkat tertinggi. Hanya ada satu laki-laki di antara sepuluh peraih nilai ujian nasional SMA tertinggi, yakni Agung Waluyo Utomo, dari SMAN 2 Lamongan, Jawa Timur. “Walau yang pinter perempuan semua, tapi tetap lakilaki yang paling pinter yang dapet perempuan ini,” kata Mendiknas. Nilai terbaik jenjang SMK milik Atik Fajaryani dari SMKN 1 Bantul. Atik meraih nilai nyaris sempurna, 9,93. Ia meraih nilai sempurna pada ujian Matematika dan Bahasa Inggris. Sedangkan sepuluh SMA dan SMK dengan nilai rata-rata Ujian Nasional tertinggi, yang semuanya di atas 9,2. Di jenjang SMA, peringkat satu diraih SMA Negeri Fajar Harapan, Banda Aceh, dengan rata-rata 9,53. Di bawahnya SMAN 4 Denpasar (9,49), SMAN 1 Tasikmalaya dan SMAN 2 Tasikmalaya (9,4), SMA 2 Modal Bangsa Kuta Baro, Aceh Besar (9,37), SMAN 1 Denpasar (9,34), SMAN 3 Denpasar (9,3), SMAN 1 Bekasi (9,24), SMAN 3 Lamongan (9,21), SMAN 1 Kudus (9,2). Sementara di tingkat SMK, tiga besar peringkat pertama dikuasai SMK di Kabupaten Serdang Bedagai, yakni SMKN 1 Sipispis dengan rata-rata 9,44, SMKN Swasta Yapim Sei Bamban (9,4) dan SMK Swasta Darul Amaliyah (9,39). Dari keduapuluh sekolah menengah terbaik itu, 19 sekolah berhasil mengantarkan siswa mereka lulus ujian nasional 100 persen. Hanya satu sekolah yakni SMK Bina Putera Banjar, yang 1 siswanya gagal lulus. Mendiknas Mohammad Nuh akan memberikan penghargaan kepada 10 siswa dan sekolah yang mendapatkan nilai ujian nasional terbaik. Penghargaan khusus itu berupa tabungan dan beasiswa. Rata nilai akhir terbaik SMA dipegang Provinsi Bali dengan nilai 8,40. Siswa SMA Bali mengungguli Sumatra Utara (8,17), Bengkulu (8,11), Jawa Barat (8,08), Jawa Timur (8,05), Sumatra Selatan (7,96), Sulawesi Utara (7,94),

Lampung (7,91), Riau (7,90), dan Jawa Tengah (7,89), yang merupakan sepuluh provinsi dengan rata-rata nilai akhir terbaik. Sedangkan di jenjang SMK, sepuluh provinsi dengan ratarata nilai akhir terbaik adalah Sumatra Utara (8,10), Bali (8,08), Jawa Timur (8,02), Jawa Tengah (7,95), Jawa Barat (7,91), Sumatra Selatan (7,89), Sulawesi Utara (7,87), Banten (7,86), Sulawesi Selatan (7,76), dan Daerah Istimewa Yogjakarta (7,75).

MATEMATIKA TERSULIT
Analisa terhadap kompetensi siswa terhadap masing-masing mata pelajaran yang diujikan juga telah dilakukan Kemdiknas. Matematika menjadi mata pelajaran tersulit, disusul Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sebanyak 2.391 siswa atau 51,44 persen dinyatakan tidak lulus matematika. Sementara 1.780 siswa atau 38,43 persen tidak lulus Bahasa Indonesia. Dan sebanyak 152 siswa atau 3,27 persen tak lulus Bahasa Inggris. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas, Mansyur Ramly, ketidaklulusan siswa untuk Bahasa Indonesia disebabkan minimnya kemampuan siswa memahami bacaan. Mansyur berharap, para guru Bahasa Indonesia dapat melatih siswa untuk belajar membaca cepat dan memahami makna dari bacaan. Hasil tahun ini juga menunjukkan, Papua menjadi provinsi dengan kelulusan UN terendah di mata pelajaran matematika. Secara keseluruhan, nilai sekolah peserta didik di Papua berada di bawah 5,5. Bahkan dari 25 kemampuan yang diuji dalam UN Matematika, secara merata berada di bawah bobot nilai 50, hanya satu topik yang mendapatkan bobot nilai di atas 70.

kabupaten/kota yang sudah dipetakan nilai ujian nasionalnya. Pada ujian nasional tahun 2011, daerah-daerah tersebut akan dievaluasi, apakah ada perkembangan atau tidak. Penentuan daerah penerima bantuan dilakukan berdasarkan data hasil ujian nasional dengan tingkat kemiskinan, pendapatan per kapita, serta besaran Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD). “Yang memenuhi keempat syarat itu yang akan dapat bantuan,” kata Mendiknas.
RATA NILAI SISWA SMA TERBAIK

57

1. Anak Agung Indah Suadnyani, SMA 4 Denpasar (9,83) 2. Ni Putu Maitri Nara Suari, SMA 4 Denpasar (9,83) 3. Luh Gede Ayu Putri Vebriany, SMA 4 Denpasar (9,82) 4. Made Cindy Widya Murthi, SMA 4 Denpasar (9,80) 5. Asri Nurul Bashiroh, SMA 2 Tasikmalaya (9,79) 6. Helmi Hindasah, SMA 2 Tasikmalaya (9,79) 7. Khairina Femiliani Yudiawan, SMA 2 Tasikmalaya (9,79) 8. Putri Dwi Amelia, SMA 2 Tasikmalaya (9,79). 9. Agung Waluyo Utomo, SMA 2 Lamongan (9,79) 10. Iyar Januarti Alfiani, SMA 1 Bekasi (9,78).

RATA NILAI SISWA SMK TERBAIK
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Atik Fajaryani, SMK 1 Bantul (9,93). Cantika Patma Dewi, SMK 8 Malang (9,78) Taneke Tasungkari, SMK 1 Losarang (9,77) Siti Robbychasana, SMK F. Ditkesad, Jakarta (9,73) Ari Sadewo Yogapratama, SMK Telkom Sandhy Putra, Jakarta (9,73) Ruri Herdiansyah, SMK 2 Bandung (9,73) Aris Sofiyana, SMK 6 Bandung (9,73) Mutiara Septiani Putri, SMK Kesehatan Bhakti Kencana Cimahi (9,73) Ria Mariana, SMK 1 Sragen (9,73) Adi Prasetyo (SMKN 2 Wonogiri (9,73).

RATA NILAI SMA TERBAIK
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

BANTUAN RP 1 MILIAR
Kemdiknas telah memetakan dan menemukan kesenjangan nilai di sekolahsekolah. Kesenjangan nilai ujian nasional dan nilai siswa akan menjadi bahan rekomendasi bagi Badan Akreditasi Nasional dalam menilai akreditasi sekolah. Kesenjangan nilai yang terlalu jauh patut dicermati, karena bisa jadi mengindikasikan tidak objektif dalam penilaian sekolah. Kemdiknas berencana mengucurkan bantuan senilai Rp 1 miliar kepada kabupaten/kota yang rapor ujian nasionalnya buruk. Sokongan dana itu diberikan untuk meningkatkan perbaikan mutu pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah penyumbang nilai buruk. Tahun 2010 lalu, ada 100

SMA Fajar Harapan, Banda Aceh (9,53) SMA 4 Denpasar (9,49) SMA 1 Tasikmalaya (9,4) SMA 2 Tasikmalaya (9,4) SMA 2 Modal Bangsa Kuta Baro, Aceh Besar (9,37), SMA 1 Denpasar (9,34) SMA 3 Denpasar (9,3) SMA 1 Bekasi (9,24) SMA 3 Lamongan (9,21) SMA 1 Kudus (9,2).

RATA NILAI SMK TERBAIK

1. SMK 1 Sipispis, Serdang Bedagai (9,44) 2. SMK Swasta Yapim Sei Bamban, Serdang Bedagai (9,4) 3. SMK Swasta Darul Amaliyah, Perbaungan (9,39) 4. SMK Al-Madani Jampangkulon, Sukabumi (9,39) 5. SMK Yapim Sei Gelugur 1, Deliserdang (9,35) 6. SMK Swasta Yapim Tebing Syahbandar, Serdang Bedagai (9,33) 7. SMK NU Karangampel, Indramayu (9,33) 8. SMK Bina Putera, Banjar (9,32) 9. SMK Bandung Utara (9,3) 10. SMK Swasta Ti Ar Rahman, Medan (9,3)

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[P]

PERISTIWA
Rembuk Nasional Pendidikan 2011

PENULIS: MUKTI ALI FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO

Efisiensi dan Efektivitas Misi Kemdiknas

S
58

BERTEMPAT di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik) atau yang sebelumnya gedung tersebut bernama Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) pegawai Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) di Bojongsari, Depok, Jawa Barat, kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) kembali digelar pada tanggal 15-18 Maret 2011. Kegiatan tersebut diikuti 791 peserta, meliputi pejabat teras Kemdiknas, kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota, para rektor perguruan tinggi negeri dan direktur politeknik negeri, koordinator perguruan tinggi swasta (Kopertis), para Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Kepala Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), para Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Dewan Pendidikan Tinggi, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Pendidikan (BAN) serta atase pendidikan di berbagai negara.

FOTO-FOTO: DIPO HANDOKO

Dalam sambutannya, Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan bahwa tujuan dari RNP 2011 adalah untuk mengevaluasi perjalanan pelaksanaan program-program pendidikan tahun 2010; menyiapkan kegiatan yang dilaksanakan di 2011 karena program 2011 sudah ada maka akan dipertajam dalam makna pelaksanaannya, serta merumuskan masukan-masukan bagi program 2012 nanti,” kata Mohammad Nuh. Tema RNP 2001 adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan 5 K Kemdiknas dalam rangka Menyiapkan Generasi 100 Tahun Indonesia Merdeka. Misi pendidikan nasional 5 K meliputi: 1) Ketersediaan layanan pendidikan; 2) Keterjangkauan layanan pendidikan; 3) Kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan; 4) Kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan; dan 5) Kepastian memperoleh layanan pendidikan.

RESOURCE SHARING
Mohammad Nuh menjelaskan bahwa efisiensi bermakna input oriented. ”Jadi kita memanfaatkan betul input supaya tepat. Efisiensi tidak harus diterjemahkan ngirit, tapi ketepatan dalam mengalokasikan resources, termasuk dana. Kalau anggarannya 100 ya kasih 100, jangan anggaran 100 terus dikasih 70, itu irit namanya. Kalau anggaran 100 dikasih 150 itu boros,” katanya. Namun demikian, efisiensi atau ketepatan saja belum bisa menjawab harapan masyarakat. Pasalnya, lanjut Mohammad Nuh, secara umum masyarakat juga berharap input bisa dilakukan sekecil-kecilnya, tapi outcome sebesar-besarnya. Untuk menjawab itu diperlukan prinsip efektivitas. Prinsip efektivitas diterapkan dengan pola berbagi sumber daya. Mulai sumber daya manusianya, hingga sarana-prasarananya. Untuk mewujudkan prinsip efektivitas dan efisiensi secara bersamaan dalam pelayanan

pendidikan, Kemdiknas lantas merumuskan tiga strategi dasar. “Pertama, supaya bisa efisien ada namanya strategi resource sharing, yang bermakna berbagai sumber daya. Ke depan apa saja yang bisa dishare atau yang bisa dipakai bersama, ya kita pakai bersama. Tadi saya kasih contoh untuk menaikkan APK, ada anak yang sekolah reguler, ada anak yang harus sekolah SMP Terbuka, dan anak yang ikut Paket B. Sekarang ini pelayanannya masih kita siapkan sendiri-sendiri, dan itu kurang efisien, sehingga ke depan anak-anak jalanan yang ikut Paket B atau anak-anak di SMP Terbuka bisa pakai fasilitas sekolah yang reguler itu. Gurunya pun demikian, guru sekolah reguler boleh ngajar di sekolah terbuka, boleh ngajar di paket B, dan itu lebih efisien,” kata Mohammad Nuh. Namun begitu, kata Mendiknas, resource sharing belum bisa menjawab makna efektivitas. Efektivitas bisa dilakukan dengan strategi pengintegrasian proses. Misalkan dalam pendataan, sekolah sudah didata berulang kali. Dari pendataan soal BOS, Ujian Nasional, bangunan fisik, survei-survei yang dilakukan banyak lembaga, termasuk internasional, hingga sensus Badan Pusat Statistik. "Bolak-balik sekolah mengalami pendataan. Sampai-sampai sekolah enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan saat pendataan. Kita akan integrasikan dengan membentuk Pusat Data Statistik Pendidikan (PDSP). Jadi nanti seluruh data nasional pendidikan ada di pusat data itu. Baik yang menyangkut parsial, kewilayahan, atau yang terkait dengan citra sekolah. Sehingga nanti masyarakat akan sangat dimudahkan, tinggal klik saja bisa mengetahui data sekolah, bahkan sampai jarak sebuah sekolah ke sekolah lain,” terang Mohammad Nuh. Efisiensi dan efektivitas yang sudah tampak sangat ideal itu, ternyata kata Mohammad Nuh juga belum bisa menjawab sepenuhnya. ”Kita memerlukan satu energi baru lagi yang mengkombinasikan efisiensi dan efektivitas, yaitu melalui unsur teknologi dalam dunia pendidikan. IT kita masukkan dalam sistem diknas. Oleh karena itu, efisiensi, efektivitas dan sistem IT kita integrasikan menjadi satu, harapannya supaya dalam mengelola sumber daya yang dimiliki diknas bisa efektif dan efisien,” imbuhnya.

59

MEMBANGUN KARAKTER
Selain isu efektivitas dan efisiensi, isu pendidikan karakter juga digaungkan dalam RNP. Adalah Prof. dr. Fasli Jalal, M.Pd,

Wakil Menteri Pendidikan Nasional, yang memaparkan pendidikan karakter. Fasli menegaskan bahwa pondasi meraih kemajuan dan kejayaan suatu bangsa adalah dibangun dari kuatnya karakter individu-individu yang menghuni negara tersebut. ”Karena kemajuan suatu bangsa merupakan akumulasi dari kemajuan masyarakatnya,”katanya Lambannya kemajuan Indonesia, diakui Fasli Jalal, salah satu sebabnya adalah masih lemahnya karakter yang dimiliki setiap warga negaranya. Maraknya korupsi, kolusi, pencurian, tawuran pelajar dan mahasiswa, tawuran antar suku, hingga kasus narkoba menjadi bukti lemahnya karakter tersebut. Untuk itulah, lanjut Fasli, pendidikan karakter menjadi mutlak diberikan dan menjadi bagian dari layanan pendidikan di Indonesia. Dalam paparannya, Fasli juga mengutip kalimat bermakna dari seorang penyair Arab bernama Syauqi Bey. Kalimat tersebut berbunyi sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlak/karakternya. ”Jika itu telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa itu,” kata Fasli melanjutkan petikan kalimat tersebut. Fasli juga memaknai kata karakter secara etimologi. Dalam Bahasa Yunani, kata Fasli, karakter berasal dari kata charassein, berarti to engrave atau mengukir. Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2008) karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain. Sesuai kebijakan nasional tahun 2010 tentang pendidikan karakter, Fasli mengatakan

bahwa pendidikan karakter merupakan nilai-nilai khas-baik, dalam makna tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif yang khas-baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa karsa dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil dari olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa serta olah raga seseorang atau kelompok. Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pertumbuhan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara (kebijakan nasional pembangunan pendidikan karakter 2011-2015). Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang baik dan mana yang salah. Mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). ”Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik, harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik” (moral knowing), tetapi juga “merasakan dengan baik” atau “loving the good” (moral feeling), dan “perilaku yang baik” (moral action). Jadi pendidikan karakter erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan,” kata Fasli menjelaskan panjang lebar.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[K]

KOLOM

DI ANTARA SURAT DAN ARSIP
Oleh: Drs. Budha Gautama, MM Kepala Subbagian Persuratan dan Kearsipan Sekretariat Badan PSDMP dan PMP

S
60

SEJARAH mencatat kegiatan surat menyurat di Indonesia dimulai sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Pajajaran, Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram sudah terbiasa menggunakan surat, meski terbatas pada hubungan antarpetinggi negeri. Media yang dipakai masih sangat sederhana, dari kulit kayu, potongan bambu, daun lontar, atau kulit binatang. Di zaman penjajahan bangsa Portugis, Belanda dan Inggris atas Nusantara, perubahan besar dalam surat menyurat adalah penggunaan kertas dan hadirnya jasa pengiriman surat, yang dinamakan correios (Portugis), postkantoor (Belanda), atau post office (Inggris). Tahun 1809, atas perintah Gubernur Jenderal Herman William Daendels, dibangunlah Jalan Raya Pos (de GrotePostweg) dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km. Lama pengiriman surat pun menjadi lebih cepat. Surat dari Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya memakan waktu 40 hari menjadi 6 hari. Perkembangan berikutnya, surat menjema menjadi sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi tertulis oleh suatu pihak kepada pihak lain, dengan tujuan untuk menyampaikan pemberitahuan, permintaan, permohonan, buah idea atau pikiran, dan gagasan, bahkan bisa berupa ancaman atau tantangan. Makna surat pun semakin luas, tidak sekadar sebagai sarana komunikasi tetapi juga sebagai arsip atau dokumen tertulis, yang pada suatu saat dapat dijadikan sebagai barang bukti, baik dalam bidang hukum, administrasi atau bidang lain. KAIDAH PERSURATAN Secara umum dalam menulis surat harus memenuhi kaidah umum, di antaranya, menggunakan bahasa efektif, jelas, komunikatif , bersih dan rapi. Jika surat ditulis tidak beraturan dapat membingungkan pembacanya, sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh penulis tidak dapat diterima atau dipahami dengan baik. Surat dibedakan menjadi surat tidak resmi dan surat resmi. Surat pribadi termasuk surat tidak resmi. Kaidahnya sederhana, setidaknya ada tempat dan tanggal surat, alamat yang dituju, salam pembuka, isi surat dan salam penutup. Sedangkan surat resmi identik dengan surat dinas. Disebut surat resmi karena dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau swasta. Namun, surat resmi belum tentu surat dinas. Pasal 3 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 42 Tahun 2006 tentang Tata Persuratan di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional menegaskan bahwa surat dinas merupakan surat yang berisi hal penting berkenaan dengan administrasi

pemerintahan, yang terdiri dari kepala surat, pembuka surat, isi surat dan penutup surat. Menulis surat dinas harus mengikuti aturan tertentu, antara lain, sistematika, isi, bahasa surat, bahkan bentuk dan model surat itu sendiri. Contoh surat dinas adalah surat pemberitahuan, surat permohonan, surat keterangan, memo atau nota dinas. Menulis surat resmi setidaknya memenuhi kaidah umum, antara lain, memiliki kop surat yang menerangkan: nama instansi, alamat lengkap, nomor telepon, faksimili, e-mail, lambang atau logo institusi/perusahaan. Kaidah lainnya, wajib mencantumkan nomor surat, hal, dan lampiran (jika ada), tanggal surat, alamat yang dituju, salam pembuka, isi surat, penutup surat, dan diakhiri salam penutup. Pengirim surat juga mencantumkan nama, jabatan, disertai Nomor Induk Pegawai pada surat dinas, dan tanda tangan. Menurut Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Nomor 6196/A.A5/SE/2011 tanggal 7 Februari 2011, penulisan surat dinas memiliki aturan, di antaranya: jarak dari tepi kertas ke garis penutup 4,5 cm; jenis huruf Times New Romance, logo tutwuri handayani (diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977); nama instansi tidak disingkat; kata jalan, telepon, kotak pos tidak disingkat; kata telepon dan kotak pos diikuti oleh nomor tanpa diantarai dengan tanda titik dua (:); tanggal penulisan surat ditulis lengkap, yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis dengan huruf yang diawali huruf kapital, dan tahun ditulis dengan angka. Sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota, karena nama kota sudah ada pada kepala surat, setelah tanggal tidak ada tanda baca ‘titik’ (.)

FENOMENA KLASIK Berbicara masalah surat menyurat tidak akan lepas dengan masalah kearsipan. Surat adalah arsip tapi arsip belum tentu surat. Begitu pentingnya persuratan dan arsip sehingga perlu rambu-rambu hukum yang harus dipatuhi, baik aturan di lingkungan kantor maupun aturan yang lebih luas dampak hukumnya. Di lingkungan Kemdiknas, aturan yang menjadi acuan pengelolaan persuratan adalah Permendiknas Nomor 42 Tahun 2006 tentang Tata Persuratan di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan acuan pengelolaan kearsipan adalah Permendiknas Nomor 37 Tahun 2006 tentang Tata Kearsipan di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Tentang kearsipan sudah memiliki peraturan dengan strata hirarki hukum yang tinggi, yakni UU Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kerasipan. Ada yang perlu diungkap mengenai fenomena klasik persuratan dan kerasipan. Tulisan ini bersumber dari pengalaman penulis dalam bergelut dalam pekerjaan persuratan dan kearsipan. Beberapa fenomena klasik itu adalah: 1. Tidak menarik dan sering disepelekan Ketika ada pertanyaan atau tawaran kepada pegawai: siapa yang mau mutasi atau ditempatkan pada bagian persuratan dan kearsipan, penulis yakin di antara pegawai yang ditawari tidak satu pun menyatakan siap. Mengapa? Paradigma lama yang masih eksis menghantui para pegawai yang beranggapan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan urusan surat dan arsip diasumsikan sebagai pekerjaan bukan pilihan, membosankan, kotor dan tidak menarik. Sehingga secara kongkrit banyak pegawai tidak menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan persuratan apalagi kearsipan. Walaupun secara kompetensi ada pegawai yang bersedia, seringkali sebatas numpang transit untuk menunggu formasi atau tempat lain. 2. Penting manakala dibutuhkan Salah satu kewajiban pegawai adalah memberikan pelayanan dalam penelusuran surat ataupun arsip yang dibutuhkan. Survei membuktikan bahwa petugas persuratan dan kearsipan menjadi sangat dibutuhkan bantuannya ketika suatu surat atau arsip sedang diperlukan. Naif rasanya petugas menerima kepahitan sebelum menemukan arsip yang dicari. Namun apa yang terjadi setelah permasalahan selesai, petugas arsip kembali menjadi sesuatu yang tidak dipandang sebelah mata. 3. Tergantung tradisi dan kebiasaan pimpinan atau lembaga Persuratan dan kearsipan juga dipengaruhi tradisi dan kebiasaan lembaga atau pimpinan. Pimpinan yang mengedepankan harga diri dan jabatannya secara berkelakar mengtakan: “lho yang jadi direktur siapa, kok kamu yang mengatur saya.” Sepintas kelakar tersebut memberikan potret bahwa pimpinan sulit menerima masukan dari pegawainya yang sebenarnya lebih memahami pedoman atau aturan persuratan dan kearsipan. Surat-surat baru bertandatangan sang pimpinan pun beredar meski sebenarnya keliru dan tidak sesuai aturan. 4. Tersisih oleh program atau kegiatan lain Disadari atau tidak, beragam kegiatan di kantor sangatlah berpengaruh dalam menentukan pilihan posisi. Kebanyakan pegawai akan berbondong-bondong memilih posisi yang menyanjikan dan dinilai lebih penting dari posisi di persuratan dan kearsipan. Padahal perlu diingat bahwa apapun kegiatan yang dilakukan dalam satu kantor merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan arsip atau dokumen. Mestinya

61

tak perlu muncul pertanyaan apakah kegiatan yang berhubungan dengan kearsipan juga penting? 5. Terbatasnya faktor pendukung Suatu perkantoran tidak sekadar sebuah tempat berkumpulnya orang-orang. Namun berisi seperangkat peralatan perkantoran, sistem informasi yang sistematis, aneka ragam catatan, arsip dan dokumen yang ditata dan diatur, tempat atau ruangan, serta penciptaan kondisi yang nyaman dan aman. Dalam kondisi normal, demikianlah sebuah kantor sebagai tempat para pegawai melakukan aktivitas pekerjaannya. Coba: tengoklah kondisi ruang kerja yang berhubungan dengan persuratan dan kearsipan. Kebanyakan sangat terbatas, sehingga tiap jengkal luas ruangan seolah tak bersisa dari dokumen surat dan arsip. Beberapa hal tersebut jamak dijumpai di kantor-kantor atau organisasi. Menyadari begitu klasiknya masalah persuratan dan kearsipan, hendaknya kita harus menyadari bahwa surat-menyurat juga memerlukan porsi perhatian yang serius. Penanganan surat dan arsip yang baik merupakan potret wajah satu institusi atau lembaga yang dilihat banyak orang. Apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi permasalahan klasik yang berkaitan dengan persuratan dan kearsipan di lingkungan kantor? Solusi yang bisa menjadi wacana untuk pengelolaan persuratan dan kearsipan antara lain : 1. Meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan persuratan dan kearsipan, baik bagi pegawai maupun sebagai pimpinan . 2. Setiap unit kerja diharapkan memberikan pemahaman dan latihanlatihan dalam membuat surat dinas yang benar sesuai dengan aturan yang berlaku. 3. Setiap unit kerja diharapkan mampu membuat kop surat yang benar sebagai trade mark kebanggaan unit kerjanya. 4. Setiap unit kerja hendaknya dibentuk satuan kerja yang jelas untuk menangani kearsipan. 5. Setiap unit kerja hendaknya memfasilitasi pegawai dalam mengikuti pelatihan kearsipan, baik yang dilaksanakan oleh unit kerja sendiri maupun dari Arsip Nasional Republik Indonesia. 6. Setiap unit kerja hendaknya membentuk unit kearsipan dengan memfasilitasi tempat atau ruangan dan perangkat pendukung lainnya.

GURU

Edisi 1/TAHUN 1/MEI 2011

[U]
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

UNIT KERJA

DAFTAR UNIT KERJA BADAN PSDMP DAN PMP
NAMA UNIT KERJA Sekretariat Badan PSDMP dan PMP Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan P4TK Penjas dan BK P4TK Bisnis dan Pariwisata P4TK Bahasa P4TK Matematika P4TK IPA P4TK Otomotif dan Elektronika P4TK TK dan PLB P4TK Mesin dan Teknik Industri P4TK Pertanian P4TK Seni dan Budaya P4TK Bangunan dan Listrik P4TK PKn/ IPS LPMP Nanggroe Aceh Darussalam LPMP Sumatera Utara LPMP Sumatera Barat LPMP Riau LPMP Jambi LPMP Bangka Belitung LPMP Bengkulu LPMP Sumatera Selatan LPMP Lampung LPMP Banten LPMP DKI Jakarta LPMP Jawa Barat LPMP Jawa Tengah LPMP DI Yogyakarta LPMP Jawa Timur LPMP Bali LPMP Nusa Tenggara Barat LPMP Nusa Tenggara Timur LPMP Kalimantan Barat LPMP Kalimantan Timur LPMP Kalimantan Selatan LPMP Kalimantan Tengah LPMP Sulawesi Utara LPMP Sulawesi Tenggara LPMP Sulawesi Tengah LPMP Sulawesi Selatan LPMP Gorontalo LPMP Maluku LPMP Maluku Utara LPMP Papua LP2KS ALAMAT Kemdiknas Gedung D Lt. 16-17 Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Jakarta Kemdiknas Gedung D Lt .14 Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Jakarta Kemdiknas Gedung D Lt. 17 Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Jakarta Kemdiknas Gedung D Lt. 15 Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Jakarta Jl. Raya Parung No. 420, Parung, Bogor, Jawa Barat Jl. Raya Parung Km 22-23, Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat Jl. Matraman Dalam III No. 4 RT 011/07 Kel. Pegangsaan, Menteng Jakarta Pusat Jl. Kaliurang Km. 6, Sambisari, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta Jl. Diponegoro 12 Bandung Jl. Teluk Mandar, Arjosari, Tromol Pos 05 Kota Malang Jl. Dr. Cipto No. 9 Bandung Jl. Pesantren Km.2, Cimahi KP. 40513 Po.Box 1260, Bandung Jl. Jangari Km.14, Sukadadi, Karangtengah, Cianjur 43201 Jl. Kaliurang Km.12,5 Klidon, Sukaharho, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta Jl. Setiabudi No.75 Helvetia, Medan Sumatera Utara Po Box. 1604 Jl. Raya Arhanud, Pendem, Jurnejo, Kota Batu, Malang, Jawa Timur 65324 Jl. Banda Aceh-Medan km 12,5 Desa Niron, Suka Makmur, Aceh Besar, NAD Jl. Bunga Raya No. 96 Asem Kumbang Pos Sungal, Medan Komplek Perguruan Tinggi, Air Tawar, Padang Jl. Gajah No. 21, Rejosari, Kulim, Pekanbaru, Riau Jl. H.M Yusuf Singadekane No.31 Talanaipura, Jambi 36122 Jl. Pulau Bangka, Air Itam, Pangkalpinang 33148 Jl. Zainul Arifin No. 02, Dusun Besar, Gading Cempaka, Kota Bengkulu, 38229 Jl. Raya Lintas Timur Km.36 Inderalaya Kab. Ogan Ilir 30662 Jl. Gatot Subroto No. 44 A Pohoman, Bandar Lampung Jl. Siliwangi 208 Rangkasbitung, Lebak, Banten Jl. Nangka No. 60 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan Jl. Raya Batujajar Km. 2 No. 90 Kec. Padalarang, Kab. Bandung Jl. Kyai Maja, Srondol Kulon, Semarang Jl. Tirtomartini, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, 55571 Jl. Ketintang Wiyata Pos Box 1 Sb IKIP Surabaya Jl. Letda Tantular (Yangbatu Kauh), Denpasar, 80234 Jl. Panji Tilar Negara No. 8 Mataram Jl. Jend. Soeharto No. 57 A, Kupang Jl. Abdul Muis, Tanjung Hulu, Pontianak Jl. Ciptomangunkusumo KM 2 Sungai Keledeng, Samarindah Seberang, Kota Samarindah Jl. Gotong Royong No. 85 Banjarbaru Jl. Tjilik Riwut KM. 4,5 No.74 Palangkaraya 73112 Jl. Tomohon Pineleng Dua Jl. DI Panjaitan No. 83 Lepo-Lepo, Baruga, Kendari Jl. DR. Sutomo No. 4 Palu Jl. Andi Pangerang Petta Rani, Makassar Jl. Desa Tunggulo, Tilongkabila, Binebolango Jl. Tihu Wailela, Rumah Tiga, Ambon Jl. Raya Room Tidore Jl. Guru No. 79- Kotaraja, Kel VIM Distrik Abepura, Jayapura Lor In Residence Blok D-15 Jl. Adisucipto No.47, Sukoharjo TELEPON/FAKSIMILI Bagian Umum Telp (021) 57974164 Fax (021) 57974163 Tata Usaha Telp/Fax (021) 57974125 Tata Usaha Telp/Fax (021) 57946110 Tata Usaha Telp/Fax (021) 57974128 Telp (0251) 8611714, 8614478, 861365, 861730 Fax (0251) 8615531 Telp (021) 7431270, 75431271 Telp (021) 7271034 Fax (021) 7862715 Telp (0274)885120 Fax (0274)885752 Telp (022) 4231191 Fax (022) 4207922 Telp (0341) 491239, 495849, 404748 Fax (0341) 491342 Telp (022) 4230068, 4237041 Fax (022) 4230068 Telp (0220 6652326, 6654486 Telp. (0263) 285003, 285025 Fax. (0263) 285026 Telp. (0274) 895803,895805, Fax. (0274) 895803 Telp (061) 8455417 Fax (061) 8456871 Telp (0341) 532100 Fax (0341) 532110 Telp (0651) 7556303,7556034 Fax (0651) 7556303,43779 Telp (061) 8222372 Telp (0751) 7054302 Fax (0751) 7053302 Telp (0761) 26390,26389 Telp (0741) 60449 Fax (0741) 62843 Telp (0717) 439418,439420 Fax (0717) 439423 Telp (0736) 26848, 28997 Fax (0736) 28987 Telp (0711) 581368,580130 Fax (0711) 581518 Telp/Fax (0721) 262384 Telp (0252) 209209,209208, 209207 Fax (0252) 209208 Telp (021) 7824149,7805916 Fax (021) 7806827, 780591 Telp/Fax (022) 6866152 Telp (024) 7474192 Fax (024) 7463890 Telp (0274) 497449, 496921 Fax (0274) 497002 Telp (031) 8290243, 8273734 Fax (031) 827732 Telp (0361) 225666 Fax (0361) 246682 Telp (0370) 631088 Fax (0370) 629835 Telp (0380) 821149 Fax (0380) 822910 Telp (0561) 742110 Fax (0561) 746618 Telp (0541) 260304 Fax (0541) 262059 Telp (0511) 4772384 Fax (0511) 4774184 Telp (0536) 3222927 Fax (0536) 3230710 Telp (0431) 822464 Telp/Fax (0401) 3191831 Telp (0451) 422792 Fax (0451) 454792 Telp (0411) 873565 Ext.101 Fax (0411) 873513 Telp (0435) 827730,825875 Telp (0911) 3303488, 3303636 Fax (0911) 310276 Telp/Fax (0921) 22711 Telp (0967)581306 Fax (0967)583619

62

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->