Anda di halaman 1dari 42

RINGKASAN KITAB YOSUA

Kitab Yosua bercerita tentang bangsa Israel memasuki tanah Kanaan dan cara membagibagi tanah itu kepada suku-suku Israel. Diceritakannya secara rinci bagaimana mereka menyeberangi Sungai Yordan dan merebut daerah itu, sebagai basis untuk serangan selanjutnya. Dengan ringkas dilaporkan dua pertempuran yg memusnahkan kekuasaan bangsa Kanaan, kemudian kemenangan-kemenangan tentara Israel. Laporan pembagibagian negeri itu mencakup keterangan lengkap tentang daerah Yehuda, disertai catatan mengenai pendudukan Hebron oleh bangsa Keni dan kesukaran-kesukaran yg dialami di Manasye utara, juga pendudukan kota-kota Lewi dan masalah suku-suku Transyordan. Kitab berakhir dengan-keterangan tentang wasiat rohani oleh Yosua, puncaknya ialah perjanjian nasional di Sikhem.

Memahami Kitab Yosua

Kitab Yosua adalah Kitab tentang penaklukan atau pertempuran tanah Kanaan yang diwariskan kepada bangsa Israel sebagai kepenuhan janji Tuhan kepada Abraham. Di dalam kitab ini, kita menjumpai nama YOSUA, sang pahlawan penakluk. Hosea adalah nama asal Yosua yang berarti keselamatan atau Yehosua, artinya: keselamatan dari Allah. Kitab Yosua merupakan kelanjutan dari kitab Ulangan, yakni sejarah pemilihan umat Allah di bawah pimpinan Musa untuk dilanjutkan oleh Yosua masuk dalam tanah perjanjian. Yosua menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Musa. Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan pekerjaan-Nya tak terselesaikan! Musa telah meninggal tetapi perjalanan bangsa Israel harus dilanjutkan (Yosua 1:2). Suara Tuhan masih terus berbicara kepada Yosua (Yosua 1:5-9) dan Dia telah menyiapkan Yosua selama bertahun-tahun.

Bagi umat Kristiani, Musa menggambarkan hukum sedangkan Yosua menggambarkan Kristus. Jadi Kristus sendiri yang akan membawa kita masuk ke tanah warisan yang merupakan milik kita.

Kitab Yosua terbagi menjadi dua pokok pembahasan mengenai hal-hal penting berikut ini:

Penaklukan atas tanah perjanjian (Bab 1 12) Pendudukan atas tanah perjanjian (Bab 13 24)

Firman Tuhan kepada Yosua, Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau (Yosua 1:5) merupakan jawaban doa permohonannya dalam melakukan tugas besar.

Perjalanan yang makan waktu lama di padang belantara telah berakhir dan misteri negeri yang tidak diketahui oleh bangsa Israel berada di depan mereka. Pada saat mereka keluar dari Mesir, mereka menghadapi Laut Merah untuk diseberangi; saat mengakhiri pengembaraan, mereka dihadapkan dengan sungai Yordan yang juga harus diseberangi. Sangatlah mustahil bagi mereka untuk dapat menyeberangi sungai Yordan dengan membawa serta wanita-wanita, anak-anak dan barang bawaan; akan tetapi Yosua memerintahkan imam-imam untuk mengangkat Tabut Perjanjian dan menapakkan kaki mereka ke dalam air sungai Yordan yang saat itu sedang meluap sepanjang tepi sungai. Keajaiban terjadi, saat kaki mereka menyentuh air sungai, air berhenti mengalir dan mereka menyeberang di tanah kering (Yosua 3:9-17). Bagi manusia hal itu sangat mustahil, tetapi bagi Tuhan segala sesuatu adalah sangat mungkin. Tuhan selalu melakukan hal yang mustahil.

Demikian pula saat kota Yerikho ditaklukkan. Bagi bangsa Israel, petunjuk Tuhan dirasakan sangat aneh, tetapi ketika mereka patuh terhadap perintah Tuhan melalui Yosua, mereka menyaksikan kekuatan Tuhan yang meruntuhkan tembok yang mengelilingi kota Yerikho. Dengan direbutnya kota Yerikho, bangsa Israel mempunyai kesempatan masuk ke tanah Kanaan. Masih ada beberapa tempat lain yang harus ditaklukkan oleh bangsa Israel setelah Yerikho. Ketika mengalami kekalahan dalam menyerang kota Ai, bangsa Israel mengerti bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri saat Tuhan menarik tuntunan tangan-Nya; dalam hal ini strategi berperang tidak ada artinya tanpa ketaatan. Hanya karena dosa satu orang (Akhan), bangsa Israel mengalami kekalahan. Ingat, dosa seseorang tidak hanya terkena pada dirinya sendiri karena tidak satupun manusia dapat hidup untuk diri sendiri; sama halnya dengan kuman influenza dapat menular ke banyak orang di sekitarnya atau virus cacar air menyebabkan banyak murid dalam kelas terjangkit penyakit yang sama. Seseorang akan selalu dihantui dengan setiap perbuatan dosa yang dia lakukan dan dia harus membayar harganya. Sekalipun dia mungkin dapat menghindar dari hukum dunia, dia tidak mungkin dapat lari dari hukum Allah. Tuhan tidak pernah menjanjikan kemudahan-kemudahan dalam melayani Dia; tetapi Dia berjanji akan memberikan kemenangan-kemenangan.

Saat Yosua memasuki usia sekitar 90 tahun, dia menyadari bahwa masih banyak tanah yang belum di taklukkan sedangkan dia sudah semakin tua. Sekalipun tanah-tanah itu masih diduduki musuh (orang Amori, orang Yebus, orang Het, dll), Yosua telah membagi-bagikannya kepada bangsa Israel untuk ditaklukkan dan dimiliki. Yosua makin bertambah tua dan dia mengumpulkan bangsa Israel untuk mengingatkan mereka tentang kuasa dan kesetiaan Tuhan serta menegur mereka untuk juga setia kepada-Nya (Yosua 24-:14).

Yosua akhirnya meninggal di usia seratus sepuluh tahun dan dia patut menerima penghargaan sebagai seorang pemimpin besar (Yosua 24:31). Kitab Yosua diakhiri dengan cerita tentang kematian Yosua.

Perebutan Kanaan (6:1-13:7). Untuk memiliki Kanaan berarti harus mengusir musuh. Musuh yang dihadapi sangat banyak, antara lain: orang Het, Amori, Feris, Yebus. Setiap musuh ditaklukkan dengan strategi Yosua, terlihat urapan Tuhan atasnya. Strategi perebutan ialah penyerangan pertama dilakukan ke pusat daerah dan kemudian dijadikan basis untuk penyerangan selanjutnya. Namun tidak semua musuh ditaklukkan, beberapa diantaranya baru ditaklukkan pada masa Daud dan Salomo.

- Pembagian (13:8-21:45). Sesudah mengusai daerah secara umum, mereka mengadakan pembagian. Kesulitan dan perjuangan (bayar harga) pada saat perebutan berubah menjadi saat yang mengharukan dan menyenangkan, yaitu pemilikan tanah tersebut. Hari itu merupakan hari bahagia bagi bangsa Israel. Inilah pertama kali mereka menyatakan suatu negeri menjadi milik mereka sendiri yang diberikan Tuhan kepada mereka. Penaklukan memakan waktu sekitar 7 tahun setelah menyeberang Yordan.

- Perjanjian. Tiga pasal terakhir berisi perjanjian tentang gaya kehidupan bangsa itu di tanah perjanjian. Paska pembagian wilayah, dalam saat yang menyentuh emosi, Yosua menghimbau bangsa itu untuk mengadakan ikrar total kepada Tuhan, suatu komitmen loyalitas tunggal kepada Tuhan. Secara ringkas komitmen itu adalah:

Dalam Kitab Yosua, Hakim-hakim dan Rut, kita menyaksikan penaklukan Tanah Kanaan dan gejolak-gejolak peristiwa menuju pembentukan suatu kerajaan. Kitab Raja-raja dan Tawarikh menggambarkan kejayaan dan kemerosotan dinasti-dinasti serta kerajaan-kerajaan. Kitab Ezra, Nehemia, dan Ester menggambarkan kehidupan Israel di negeri pembuangan dan kembalinya kaum sisa ke kota Yerusalem. Semua kitab itu diakhiri dengan catatan-catatan tentang peristiwa yang belum tuntas, dan menunjuk ke depan, yaitu apa yang akan dilakukan Allah pada masa yang akan datang. Semuanya tidak akan mencapai klimaksnya sampai kedatangan Yesus, Mesias. Ada dua belas kitab dalam Perjanjian Lama yang biasanya kita sebut Kitab-Kitab Sejarah. Berbagai cerita di dalamnya menggambarkan kejadian-kejadian yang menegangkan, dan sering kali merupakan kejadian yang luar biasa di mana kesemuanya membentuk sejarah Israel sebagai satu bangsa. Melalui halaman demi halaman, Anda akan bertemu beberapa nabi besar Elia, Elisa, Yesaya dan Yeremia dan mengetahui betapa pentingnya tokoh-tokoh tersebut. Anda akan belajar tentang karya-karya besar mereka, budaya mereka, dan latar belakang mereka. Anda juga akan menemukan kekayaan pemikiran teologi di dalamnya. Meskipun kedua belas kitab sejarah dikemas dalam bentuk sejarah, namun di dalamnya mengandung berbagai tema teologis menegangkan, di antaranya:

KITAB HAKIM2 Kemurtadan dan Akibatnya. Kitab Hakim-hakim meriwayatkan sejarah bangsa Israel antara kematian Yosua s/d munculnya nabi Samuel, yang merupakan kisah pendudukan tanah Kanaan yang belum selesai pada masa Yosua. Dari seluruh Alkitab, kitab ini paling menyedihkan karena menggambarkan kegagalan bangsa Israel dalam mengikut Tuhan. Itulah sebabnya kitab ini disebut juga Kitab Kegagalan. Walaupun terdapat kemenangan, tetapi inti kitab adalah melaporkan tekanan, serangan dan kekalahan yang mereka derita. Pada intinya, hal itu disebabkan oleh setiap orang berbuat apa yang benar di matanya sendiri (21:25).

Pendahuluan Hakim-Hakim
Kitab Hakim-Hakim menggabungkan fragmen-fragmen sejarah Israel sejak kematian Yosua sampai kepada pelayanan Samuel, suatu periode yang mencakup kira-kira 330 sampai 400 tahun. Setelah kematian Yosua, tak ada lagi pemimpin nasional yang diangkat oleh Allah untuk menggantikannya, dan masing-masing suku bertindak atau memerintah sendiri-sendiri (Hakim-hakim 1:1 - 2:23). Kemudian tujuh kemurtadan besar dicatat yakni pada saat bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (Hakim 2:11; 3:7,12; 4:1; 6:1; 10:6; 13:1). Dalam setiap peristiwa itu, umat Israel selalu

dikalahkan oleh musuh, harta mereka dirampas dan mereka tertawan dan tertindas. Namun, ditengah-tengah situasi sulit itu, pada saat umat berdoa, maka Allah membangkitkan pemimpin yang melepaskan mereka sehingga mereka dapat merasakan kembali ketenteraman dan kemakmuran. Namun keadaan berubah kembali setiap kali mereka berpaling dari Tuhan (Fsl 3 -- 16). Kita diperkenalkan kepada seorang wanita, yaitu nabiah Debora, dan ke dua belas hakim yang diangkat di tempat dan waktu yang berbeda-beda. Mereka disebut pelepas karena mereka melepaskan bangsa itu dari sikap tidak mengindahkan Firman Allah dan dari musuh-musuh mereka yang menindas. Para pelepas itu adalah Otniel (Hakim 3:5-11); Ehud (Hakim 3:12-30); Samgar (Hakim 3:31); Debora/Barak, yang memerintah bersamaan waktu (Hakim 4:1 - 5:31); Gideon (Hakim 6:1 - 8:32); Tola (Hakim 10:1-2); Yair (Hakim 10:3-5); Yefta (Hakim 10:6 - 12:7); Ebzan (Hakim 12:8-10); Elon (Hakim 12:11-12); Abdon (Hakim 12:13-15); and Simson (Hakim 13:1 - 16:31). Anak Gideon yaitu Abimelekh tidak disebut sebagai hakim oleh Allah, karena ia berbuat jahat dengan merampas takhta pemerintahan dan ia menjadi raja bagi orang-orang Efraim selama tiga tahun (Hakim 9:1-54). Di dalam kitab I Samuel, imam Eli dan nabi Samuel juga disebut sebagai hakim. Kemungkinan ada lebih banyak hakim lagi dan periode pemerintahan mereka mungkin tumpang tindih. Hakim-hakim itu tidak menguasai seluruh suku, melainkan tampaknya masing-masing berkuasa atas sesuatu wilayah tertentu di mana penindasan sedang terjadi. Di saat tak ada pemimpin atau pemerintahan nasional, kejahatan dan kekacauan rohani merajalela. Namun, penyebab utama kegagalan Israel disebutkan dua kali: Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (Hakim 17:6; 21:25) -- yang berarti bahwa mereka tidak mengindahkan Firman Allah sebagai kekuasaan tertinggi atas kehidupan mereka. Sangat menyedihkan karena di dalam kitab Hakim-Hakim ini kita membaca mengenai ketidakpedulian mereka terhadap Firman Allah yang membawa penderitaan dan perbudakan atas bangsa itu. Namun, kita bersukacita dalam menyaksikan kemurahan Allah yang ditunjukkanNya ketika orang-orang berdoa dan mematuhi FirmanNya. Kebanyakan suku Israel tidak mengindahkan perintah Tuhan agar mengusir semua orang Kanaan yang masih menduduki wilayah mereka (Yosua 17:18). Sebaliknya, bangsa Israel berkompromi dengan mereka dengan mengangkat orang-orang Kanaan sebagai budak dan mempekerjakan mereka pekerjaan-pekerjaan yang berat dan mengenakan pajak berat (Hakim 17:13). Keadaan ini lambat laun menyebabkan mereka kawin mawin dan akhirnya menjerumuskan umat Israel ke dalam penyembahan dewa-dewa Kanaan. Konsekuensinya adalah bahwa Allah menarik perlindunganNya atas umat Israel sehingga mereka menjadi mangsa serangan bangsa-bangsa kafir. Fasal-fasal akhir (Hakim 17-21) bukan merupakan lanjutan sejarah Israel, melainkan berisi penjelasan tentang degradasi moral dan spiritual yang dialami bangsa Israel akibat ketidakpedulian mereka terhadap Tuhan dan firmanNya.

Keberdosaan, penderitaan, dan perhambaan yang dialami umat ini jelas berlawanan dengan kemenangan dan kebebasan yang dilaporkan dalam Kitab Yosua sebagai akibat kesetiaan umat kepada Tuhan. Kitab Hakim-Hakim mengajar bahwa ketidaktaatan kepada Firman Allah selalu membawa kekalahan. Sebaliknya, ketaatan kepada Firman Allah menjamin perolehan berkat-berkatNya. Judul Kitab : Kitab ini mendapatkan penamaan dari isinya, yaitu tentang para hakim Israel, yang merupakan para pemimpin selama masa kesukuan atau keadaan bangsa dalam kondisi darurat yaitu pada saat tidak ada pemerintah yang terpusat. Judul kitab ini berasal dari bahasa Ibrani, Shopetim, yang berarti para pemimpin yang berkuasa atauHakim-hakim Latar Belakang : Kitab ini meliputi masa setelah kematian Yosua dan penduduk awal Israel di Kanaan. Selama masa ini mereka, yang mengalami guncangan antara lemurtadan dan pertobatan, dipimpin oleh pemimpin-pemimpin individu yang disebut hakim. Kitab Hakim-hakim ini mencatat masa ketidaktaatan dan kekalahan. Tempat Penulisan : Di tanah perjanjian. (Kanaan) Mulanya Ditujukan Kepada : Bangsa Israel. Isi : Karena bangsa Israel belum sepenuhnya menduduki dan menempati seluruh tanah perjanjian, mereka mulai mengadopsi cara-cara berdoa dari bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Siklus tragis pun terjadi: Bangsa Israel jatuh ke dalam dosa; Allah mendisiplinkan mereka dengan penindasan bangsa-bangsa asing; mereka berseru minta tolong kepada Allah; Allah membangkitkan seorang pelepas (hakim); kedamaianpun dipulihkan. Siklus pemberontakan ini diulang sebanyak tujuh kali di dalam kitab ini, dan menekankan kasih dan pengampunan Allah dan hukuman karena kurangnya iman dan ketaatan. Kisah-kisah penting dari tiga orang hakim dibahas secara detail: Debora (pasal 4) ; Gideon (pasal 6-8); dan Simson (pasal 13-16). Kata Kunci : Kemurtadan; Penghakiman; Pertobatan; Kemurahan. Bangsa Israel terus-menerus gagal untuk belajar dari kesalahan mereka. Kemurtadan mereka berarti mereka harus membayar harga penghakiman dari Allah. Namun, ketika akhirnya mereka menunjukkan pertobatan, Allah di dalam kemurahan-Nya akan membangkitkan seorang hakim untuk memimpin mereka pada pemulihan dan ketentraman. Tema :

Selalu ada harga yang harus dibayar atas dosa kita. Harga dosa adalah kehancuran dan kematian. Kita semua membutuhkan pemimpin yang benar dalam hidup kita. (Pemimpin dan hakim yang paling penting bagi setiap orang pada masa sekarang adalah Yesus Kristus).

Tanpa pemimpin yang kuat kita akan lebih condong dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang merusak ataupun orang-orang yang menipu. Allah dalam belas kasihan-Nya akan melepaskan kita, saat dengan segenap hati kita bertobat dari dosa kita dan menaati-Nya. Melakukan suatu hal yang benar dalam pandangan kita sendiri bukanlah selalu berarti benar dalam pandangan Allah

Garis Besar :

Kegagalan Israel untuk menyelesaian pendudukan tanah Kanaan. 1:1-3:6 Siklus kemurtadan dan pelepasan. 3:7-16:3. Kejatuhan Israel dalam penyembahan berhala, kehancuran moral, dan perang saudara. 17:1-21:25.

KITAB RUT

Pendahuluan Rut
Peristiwa-peristiwa dalam kitab Rut terjadi ketika para hakim memerintah (Rut 1:1). Ceritanya mulai ketika Elimelekh, dan Naomi, istrinya, serta anak-anak mereka, Mahlon dan Kilyon yang sedang tinggal di Betlehem, menghadapi bencana kelaparan yang hebat. Mungkin, sementara mereka sedang berdiri di ladang di perbukitan Yehuda, mereka dengan mudah memandang ke Moab dan menyaksikan kesuburan tanah itu. Sebab itu mereka memutuskan untuk meninggalkan warisan yang telah diberikan Allah di tanah perjanjian itu dan pergi untuk menetap di sana sebagai orang asing (untuk sementara waktu) sampai musim kekeringan itu berakhir (Rut 1:1-2). Namun, suatu bencana menimpa mereka selama 10 tahun mereka tingal di sana (Rut 1:3,5). Elimelekh meninggal pertama, tak lama kemudian Mahlon dan Kilyon, yang telah kawin dengan perempuan Moab yakni Orpa dan Rut, juga meninggal. Ketiga janda yang tak beranak itu kemudian ditinggalkan tanpa ada yang akan mewarisi atau meneruskan nama keluarga. Tak lama kemudian, Naomi mendengar bahwa Tuhan telah kembali memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka (Rut 1:6), karena itu, bersama-sama dengan Orpa dan Rut, mereka kembali pulang ke Betlehem. Tak lama kemudian Orpa kembali lagi ke kampung Kitabnya dan kepada Kamos, allah kafirnya; namun Rut tetap mempertahankan imannya kepada Allah yang benar sehingga ia berkata kepada Naomi: Kemana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam, bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku (Rut 1:16). Rut dan Naomi kembali ke Betlehem tepat pada musim panen jelai. Naomi terlalu tua untuk bekerja di ladang, tetapi Rut meminta izin untuk menjadi pemungut jelai -- suatu kesempatan yang diberikan Allah kepada orang miskin untuk mengumpulkan apa yang ditinggalkan oleh para penuai (Imamat 19:9-10; Ulangan 24:19). Atas perkenan Allah, ia mulai bekerja di ladang milik Boas, seorang Israel yang kaya, yang masih saudara dekat dari almarhum Elimelekh, ayah mertuanya. Namun, keduanya tak mengetahui bahwa

mereka masih punya ikatan kekeluargaan. Rut ternyata adalah seorang pekerja yang rajin. Ia juga dikenal sebagai orang yang menyediakan segala kebutuhan bagi Naomi, ibu mertuanya yang sudah tua itu (Rut 2:11,18). Beberapa minggu telah berlalu, akhirnya orang-orang tahu bahwa suami Rut yang telah meninggal itu masih punya ikatan keluarga dengan Boas yang kaya raya itu. Ketika sedang panen, sesuai nasihat Naomi, Rut berbaring di kaki Boas ketika ia sedang tidur dekat tempat pengirikan. Kemudian Rut meminta agar Boas menebarkan kain penutup ke atas dirinya. Boas memahami tindakan itu sebagai usul perkawinan oleh Rut yang telah menjadi janda itu (lihat Yehezkiel 16:8-14). Hukum Taurat mengizinkan bagi Boas, sebagai seorang saudara-penebus, untuk memikul tanggung jawab bagi Naomi dan Rut dan menebus atau meneruskan warisan Elimelekh yang telah meninggal itu. Apabila diminta, maka tanggung jawab Boas adalah mengawini Naomi dan membesarkan anak agar dapat meneruskan nama Elimelekh. Namun Naomi sudah terlalu tua dan ia ingin agar Rut yang menggantikan posisinya sebagai janda pewaris Elimelekh. Setelah mengadakan persiapan yang diperlukan, Berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: ..... bahwa segala milik Elimelekh .. Aku beli dari Naomi .... juga Rut ... aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya (Rut 4:9-10; Imamat 25:25-34; Ulangan 7:6-8; 23:3-4; 25:5-10). Rut akhirnya melahirkan anak dari Boas dan Naomi membantu merawat anak itu. Mereka menyebutkan namanya Obed; Dialah ayah Isai, ayah Daud (nenek moyang Yesus Kristus) (Rut 4:17). Kitab Rut menekankan tentang kasih setia Tuhan kita yang telah memilih seorang perempuan Moab untuk diikutsertakan dalam perjanjianNya dengan Israel, dan menjadi salah satu dari dua wanita yang nama mereka disebut sebagai nama buku dalam Alkitab. Rut juga adalah salah satu dari keempat wanita yang disebut dalam silsilah Yesus (Matius 1:5-6,16), yang menyaksikan kasih Allah terhadap semua manusia.

KITA 1 SAMUEL Kitab I Samuel merupakan lanjutan dari kitab Hakim-Hakim. Kitab ini mencakup periode transisi dari federasi 12 suku selama pemerintahan hakim-hakim kepada pemerintahan monarkis dibawah pimpinan Raja Saul. Isi kitab I Samuel mencakup kira-kira 100 tahun, sejak kelahiran Samuel sampai pada kematian Saul, raja Israel yang pertama. Setelah kekalahan Filistin oleh Israel, Eli, yang telah memimpin Israel sebagai imam dan hakim, mendadak meninggal pada saat mendengar hukuman Allah yang menimpa anakanaknya dan dirampasnya Tabut perjanjian (I Samuel 3:11-14; 4:12-18). Samuel, yang telah dikenal oleh seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba .... telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan, dan ia menjadi hakim Israel yang terkemuka (I Samuel 3:20).

Samuel mendirikan sekolah nabi yang pertama, dan dengan setia ia mengajarkan firman Allah dan berhasil menuntun umat kepada tingkat kesalehan hidup yang tertinggi sejak masa Yosua kira-kira 300 tahun sebelumnya. Karena Samuel dikenal sebagai orang yang mengutamakan doa dan Firman Allah (I Samuel 7:5-8; 8:6; 12:17; 15:11), maka ia mampu mempersatukan suku-suku Israel, dan menetapkan Kerajaan Israel. Ia juga meletakkan dasar bagi jabatan kenabian. Sejak saat itu, para nabi menjadi jabatan yang penting dan mereka digunakan sebagai alat Allah untuk menyampaikan kehendakNya kepada pemerintah dan kepada seluruh umat. Namun, ketika Samuel telah lanjut usianya, seluruh tua-tua Israel datang kepadanya di Rama dan mengingatkannya bahwa anak-anaknya tak layak menggantikannya sebagai pemimpin. Karena itu mereka menuntut seorang raja ....seperti pada segala bangsabangsa lain (I Samuel 8:5). Walaupun Musa telah memberi petunjuk mengenai prosedur pemilihan seorang raja (Ulangan 17:14-20), tuntutan mereka ini membuktikan ketidakberimanan bangsa Israel kepada Allah, sebagai satu-satunya Raja mereka yang benar. Mereka lupa bahwa setelah kematian Eli, Allah telah turun tangan dan mengalahkan bangsa Filistin ketika Samuel berseru kepada Tuhan dalam doa (I Samuel 7:9-13). Allah berbicara kepada Samuel dan berkata: Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka (I Samuel 8:7). Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka (I Samuel 8:22). Allah kemudian menyuruhnya untuk mengurapi Saul sebagai raja. Saul tampak lebih tinggi dan lebih gagah dari pada setiap orang sebangsanya (I Samuel 9:2), jadi pantaslah bila ia dipilih sebagai raja. Dan sebagaimana biasanya, kemurahan dan kesabaran Allah jauh melampaui apa yang menjadi harapan: Allah mengubah hatinya menjadi lain ..... Roh Allah berkuasa atasnya (I Samuel 10:6-10). Tuhan pula menggerakkan orang-orang gagah perkasa untuk ikut pergi dengannya (I Samuel 10:26). Pemerintahan Saul dimulai dengan kemenangan militer yang spektakuler (I Samuel 11:613). Namun, pada saat Saul telah ditetapkan menjadi raja, kegagalannya dalam mentaati Tuhan secara penuh tampak jelas (I Samuel 15:3,20-21). Hal ini membuat Samuel harus menegur Saul dengan berkata: Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.(I Samuel 15:23,26). Hal ini merupakan titik balik dalam kehidupan Saul, karena kita membaca: Tetapi Roh Tuhan telah mundur dari pada Saul (I Samuel 16:14). Karena itu Allah kemudian menyuruh Samuel mengurapi Daud sebagai raja. Ketika popularitas Daud meningkat, maka timbullah rasa iri dalam hati Raja Saul. Tiga kali Saul mencoba membunuh Daud. Karena itu, Daud terpaksa harus selalu bersembunyi sampai Saul terbunuh dalam perang di Gunung Gilboa (fasal 16 -- 31). Kitab I & II Samuel menegaskan kembali bahwa kesetiaan kepada Allah dan FirmanNya selalu membawa keberhasilan dan berkat, sedangkan ketidaktaatan selalu mendatangkan malapetaka (lihat I Samuel 2:30). Allah mengendalikan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk mewujudkan maksudNya; Ia senantiasa bertindak demi kebaikan umatNya, baik

dalam hal Ia memberkati mereka atau menghukum mereka. Kitab ini menuntun kita untuk melihat bahwa Allah itu adalah Allah yang benar dan Ia ingin agar anak-anakNya mencerminkan sifatNya.

Pendahuluan II Samuel
Kitab II Samuel diawali dengan laporan peristiwa-peristiwa seputar kematian Saul. Suku Yehuda segera mengangkat Daud sebagai Raja mereka. Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah. Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan (II Samuel 5:4-5). Namun, Abner, kepala pasukan Saul, yang juga adalah saudara sepupu Saul (I Samuel 14:50), mempengaruhi suku-suku yang lain agar mengangkat Isyboset, anak Saul, sebagai raja mereka. Setelah Yoab membunuh Abner, Isyboset dibunuh oleh kedua kepala pasukannya sendiri. Kemudian seluruh suku yang lain datang kepada Daud dan berkata: Tuhan telah berfirman kepadamu, Engkaulah yang harus menggembalakan umatKu Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel .... kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel (II Samuel 5:2-3). Kemenangan pertama Daud sebagai raja Kerajaan yang telah dipersatukan terjadiketika ia menaklukkan kota Yebus (Yerusalem). Orang-orang Yebus (Kanaan) telah menguasai kota yang strategis selama ratusan tahun (I Tawarikh 11:4-5). Setelah kemenangannya itu, Daud memindahkan ibu kotanya dari Hebron ke Yerusalem dan sejak itu ia tinggal di dalam kubu pertahanan Sion (II Samuel 5:7). Perjanjian tentang Mesias kemudian dinubuatkan kepada Daud oleh nabi Natan yang berkata: Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya (II Samuel 7:13). Fakta bahwa Mesias itu akan muncul dari keturunan Daud ditetapkan, dan hal ini ditegaskan kembali oleh nabi Yesaya yang menubuatkan: Tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya (Yesaya 9:6; 11:1; Yeremia 23:5; Yehezkiel 37:25). Selama 20 tahun pertama pemerintahannya sebagai raja, Daud mengalahkan bangsa Filistin di sebelah barat, bangsa Aram di utara, bangsa Amon dan Moab di sebelah timur, dan bangsa Edom dan Amalek di sebelah selatan (II Samuel 18 - 10). Daud tidak pernah mengalami kekalahan. Rahasia dibalik kemenangan-kemenangan Daud yang ajaib itu adalah karena ia senantiasa mencari dan bertanya kepada Tuhan sebelum berperang menghadapi musuh-musuhnya sehingga ia dikenal sebagai seorang yang berkenan di hati Allah (I Samuel 13:14; bandingkan dengan Kisah 13:22). Ditengah-tengah masa kemakmuran dan sukses, kita sering diperhadapkan dengan godaan yang besar yang dapat membahayakan kita, dan raja Daud tidak dikecualikan dari hal ini. Ia terjerat oleh godaan ini ketika ia sedang bersantai di sebuah bilik di atas sambil memandang Batsyeba yang cantik yang sedang mandi. Hal ini pertama-tama telah

membawanya kepada perbuatan zinah dan kemudian ia mengatur siasat bagi kematian suami wanita itu dalam peperangan. Namun akhirnya Daud menyesali dan bertobat dari dosa-dosanya itu. Kita dapat membaca pengakuannya dan penyesalannya itu dalam Mazmur 51. Namun dosa Daud telah membawa penderitaan pribadi dan penderitaan terhadap bangsa itu selama 20 tahun terakhir pemerintahannya. Dosa-dosanya memang diampuni, namun sebagaimana terjadi kepada setiap orang, akibat-akibat dosa itu tidak dapat dihindari.

Pendahuluan I Raja-Raja
Sebelas fasal pertama dalam kitab I Raja-Raja membahas sekitar pemerintahan Salomo. Fasal 12 - 22 mencakup kira-kira 80 tahun pertama dari kerajaan yang terbagi. Selama masa itu, empat raja memerintah Kerajaan Selatan di Yerusalem dan sembilan raja memerintah Kerajaan Utara di Samaria. Tujuan dari I & II Raja-Raja adalah untuk menunjukkan apabila raja menunjukkan kesetiaan kepada Allah, maka bangsanya akan diberkati; sebaliknya pada saat raja tidak mengindahkan firman Allah, maka bangsanya mengalami kemerosotan dan pada akhirnya ditaklukkan oleh musuh-musuhnya. Kedua kitab ini menjelaskan berkat-berkat yang diterima akibat kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan, dan hukuman yang ditimpakanNya karena ketidaksetiaan dan ketidaktaatan. Kitab I Raja-Raja diawali dengan laporan bahwa Daud telah memerintah kira-kira 40 tahun. Sekarang ia telahlanjut usia dan sakit-sakitan. Adonia, anaknya yang tertua yang masih hidup bersekongkol dengan Yoab, keponakan Daud dan panglima pasukan, dan Abiatar, kepala imam untuk menjadikan dirinya sebagai raja walaupun ia tahu bahwa Allah telah memilih Salomo sebagai pengganti raja Daud (I Raja-Raja 2:15). Nabi Natan mengingatkan Batsyeba akan persekongkolan ini, dan Natan sendiri menghadap Daud untuk memberitahukannya tentang hal ini. Daud langsung mengangkat Salomo sebagai raja. Pesan terakhir Daud kepada Salomo mirip dengan pesan Musa kepada Yosua: Kuatkanlah hatimu .... Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuanNya supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju (I Raja-Raja 2:2-3; Yosua 1:7). Yosua menuruti nasihat Musa, namun Salomo kurang mengindahkan nasihat ayahnya. Tahun-tahun pertama ia menjadi raja, ia sibuk dengan mengumpulkan kuda-kuda dalam jumalah besar bagi dirinya (I Raja-Raja 4:26). Pada tahun keempat pemerintahannya (II Tawarikh 3:2), Salomo memulaikan pembangunan Bait Allah (I Raja-Raja 5:5). Kemudian Allah kembali berfirman kepada Salomo: Jika engkau hidup menurut segala ketetapanKu dan melakukan segala peraturanKu, dan tetap mengikuti segala perintahKu dan tidak menyimpang daripadanya, maka Aku akan menepati janjiKu kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud, ayahmu (I Raja-Raja 6:12).

Kemudian, Tuhan sekali lagi menampakkan diri kepada Salomo dengan menyampaikan peringatan yang tegas: Jika engkau ....tidak berpegang pada segala perintah dan ketetapanKu ....maka Aku akan melenyapkkan orang Israel dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka ....dan rumah yang telah Kukuduskan bagi namaKu itu, akan Kubuang dari hadapanKu (I Raja-Raja 9:6-7). Betapa tragisnya karena walaupun telah diperingatkan berulang kali namun sepanjang kehidupannya, Salomo ternyata tidak setia kepada Firman Allah. Menjelang akhir empat puluh tahun pemerintahannya, kita membaca: Tuhan menunjukkan murkaNya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada Tuhan (I Raja-Raja 11:9). Kemudian putusan Allah disampaikan: Oleh karena begitu kelakuanmu ..... maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu (I Raja-Raja 11:9,11). Hanya beberapa hari setelah kematian Salomo, kerajaan itu pecah terbagi dua. Sebagaimana telah dinubuatkan sebelumnya, kesepuluh suku bersatu di bawah pemerintahanYerobeam, hamba Salomo dan membentuk Kerajaan Utara. Yerobeam mendirikan dua pusat penyembahan yang baru guna menggantikan Yerusalem - yang satu terletak di Dan di sebelah utara dan yang satunya lagi di Betel di sebelah selatan. Karena perbuatan-perbuatannya itu, maka ia dikenal sebagai Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa (II Raja-Raja 3:3; 10:29). Rehabeam, anak Salomo, memerintah sukuYehuda dan Benyamin yang kecil. Kira-kira 60 tahun setelah terpecahnya kerajaan itu, nabi Elia secara tiba dengan penuh keberanian menghadap Raja Ahab (I Raja-Raja 17:1-22 - II Raja-Raja 2). Kemudian Elia diikuti oleh Elisa (I Raja-Raja 19:16 - II Raja-Raja 13:15-20). Keduanya terutama menyampaikan nubuatan-nubuatan mereka di Kerajaan Utara.

Pendahuluan II Raja-Raja
Pendahuluan II Raja-raja Semua raja Yehuda dan Israel tercatat dalam I & II Raja-Raja kecuali Saul. Dalam laporan awal kitab II Raja-Raja tampaknya hampir seluruh orang-orang Lewi telah meninggalkan Kerajaan Utara karena merajalelanya penyembahan berhala dan mereka kembali ke Bait Allah yang telah ditetapkan Allah di Yerusalem (II Tawarikh 11:13-15). 17 fasal pertama kitab II Raja-Raja terfokus pada pelayanan nabi Elia dan Elisa dan juga menyoroti kemerosotan yang melanda Kerajaan Utara dan Selatan. Fasal 17 berakhir dengan penawanan dan pembuangan Israel Kerajaan Utara oleh bangsa Asyur. Kemudian delapan fasal yang tersisa membahas tentang situasi Kerajaan Selatan. Namun dalam fasal terakhir dilaporkan bahwa Yerusalem telah hancur dan Bait Allah yang dibangun oleh Salomo telah hangus terbakar. Kebanyakan penduduknya telah ditawan dan terserak di seluruh penjuru negeri Babilonia. Rakyat yang miskin yang

diizinkan tinggal juga akhirnya mengungsi ke Mesir, sehingga memaksa nabi Yeremia untuk ikut serta dengan mereka. Nabi Elia dan Elisa, dan juga Amos, Hosea, dan Yunus, bernubuat di Israel, sedangkan Obaja, Yoel, Yesaya, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, dan Yeremia bernubuat kirakira bersamaan waktu di Yehuda. Hamba-hamba Allah ini membeberkan dosa-dosa bangsa itu dan menasihatkan mereka agar membuang berhala-berhala dan kembali menyembah Allah yang benar atau menanggung akibat kehancuran dan hukuman. Sembilan belas raja memerintah Israel di utara selama kira-kira 245 tahun sepanjang sejarah negeri itu sebagai kerajaan yang terbagi, namun tak ada satupun dari raja-raja negeri ini yang menjadi penyembah Allah yang benar. Selama 30 tahun terakhir sebelum mengalami kejatuhannya, Kerajaan Utara ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Asyur dan mereka terpaksa harus membayar upeti agar bisa tetap eksis. Hosea merupakan raja Israel yang kesembilan belas dan yang terakhir setelah ia membunuh Raja Pekah (II RajaRaja 15:30). Pada tahun keenam pemerintahan Hosea, Tiglat Pileser, raja Asyur wafat, dan Salmaneser menggantikannya. Hosea berpikir bahwa perubahan kepemimpinan ini akan memberikan peluang kepadanya untuk memproklamirkan kemerdekaan dan menghentikan pembayaran upeti yang selama ini harus dibayarkan kepada Asyur. Hosea mengharapkan dukungan dari Mesir untuk mewujudkan rencananya itu. Namun, Salmaneser, raja Asyur dan pasukannya segera menyerbu ke Samaria pada tahun kesembilan pemerintahan Hosea lalu mengepung negerinya selama tiga tahun. Samaria akhirnya jatuh dan Hosea ditangkap dan dibelenggu dalam penjara (II Raja-Raja 17:4-6). Sebagian besar rakyatnya ditawan dan ditempatkan ke berbagai penjuru wilayah Kerajaan Asyur dan bangsa-bangsa lain yang berada di bawah kekuasaan Asyur dipindahkan ke Samaria. Mereka kemudian kawin mawin dengan orang-orang Israel yang tersisa dan keturunan mereka akhirnya dikenal sebagai bangsa Samaria. Negeri Yehuda, sebagai Kerajaan Selatan yang wilayahnya lebih kecil juga memiliki 19 raja (II Raja-Raja 18-25). Ratu Atalya, perampas takhta, bersama Gedalya, yang diangkat sebagai gubernur oleh Nebukadnezar namun terbunuh hanya dua bulan setelah ia memerintah, tak diperhitungkan sebagai pemimpin Yehuda, Kerajaan Selatan (II RajaRaja 11:1-16; 25:22-25). Kerajaan Selatan terus eksis selama 500 tahun dan berhasil melampaui keberadaan Kerajaan Utara kira-kira 135 tahun. Termasuk di dalam periode ini adalah pemerintahan Kerajaan Bersatu oleh Saul, Daud, dan Salomo, yang masingmasing memerintah selama 40 tahun. Kemurtadan dan penyembahan berhala yang diperkenalkan oleh Salomo melalui para isterinya yang berasal dari bangsa kafir terus menggerogoti kehidupan bangsa itu. Akhirnya, Nebukadnezar, raja Babel, digunakan oleh Allah untuk mendatangkan hukuman kepada bangsa Israel akibat penolakan mereka terhadap FirmanNya (Ulangan 7:1-4). Demikianlah nubuatan-nubuatan Tuhan digenapi (II Raja-Raja 25:1-21; Yeremia 52:12-27).

Pendahuluan I Tawarikh
Kitab II Samuel dan I & II Raja-Raja mencakup kira-kira periode yang sama dalam sejarah sama seperti kitab I & II Tawarikh. I & II Raja-Raja mencatat sejarah politik Israel dan Yehuda, sedangkan I & II Tawarikh terutama mencatat mengenai sejarah keagamaan Yehuda, Yerusalem, dan Bait Allah dalam hubungannya dengan perjanjian Daud. Sejarah dari kesepuluh suku di utara yang murtad kurang mendapat perhatian dalam I & II Tawarikh. Kitab Kejadian sampai II Raja-Raja menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak penciptaan Adam, manusia pertama, sampai kepada masa penawanan Kerajaan Yehuda oleh Babel. I & II Tawarikh mungkin ditulis oleh Ezra setelah berakhirnya penawanan di Babel. Fasal kedua dari I Tawarikh mencatat tentang keturunan suku Yehuda, yang khusus disoroti karena Mesias yang dijanjikan itu akan muncul dari suku ini (Kejadian 49:8-12). Kitab I Tawarikh diawali dengan suguhan daftar nama-nama yang terpanjang dalam Alkitab di mana dari segi sejarah, silsilah itu mencakup kira-kira 3,500 tahun (Fasal 1 -9). Laporan ini penting karena menelusuri keturunan yang digunakan Allah dalam mewujudkan rencana penebusanNya yang kekal. Silsilah ini dimulai dengan Adam (I Tawarikh 1:1); kemudian menyoroti Abraham, Ishak, dan keturunannya melalui Yakub; kemudian Yehuda; dan terus kepada Daud, yang melaluinya Mesias itu akan muncul. Keturunan tokoh-tokoh ini merupakan mata rantai penting yang menelusuri silsilah resmi Kristus melalui Yusuf, sebagaimana tercatat dalam Injil Matius (Matius 1:1-17), dan juga menelusuri nenek moyang Kristus lewat keturunan Daud melalui Maria, seperti yang tercatat dalam Injil Lukas (Lukas 3:23-38). Banyak nama lagi yang tidak dicantumkan, namun nama-nama yang tercatat ada hubungannya dengan nubuatan-nubuatan tentang Mesias yang dijanjikan. Silsilah dalam Matius menelusuri daftar nenek moyang Kristus yang sah melalui Yusuf, yang dianggap sebagai ayahNya secara hukum, walau bukan ayahNya secara biologis. Matius menyebut Yesus Anak Daud, karena melalui keturunannya Mesias yang dijanjikan itu akan muncul (II Samuel 7:12-13; Mazmur 89:3-4; 132:11; Yesaya 11:1; Yeremia 23:5). Namun silsilah Mesias yang menjadi Pewaris sah takhta Daud adalah Yesus, yang ditelusuri melalui Maria, sebagaimana tercatat dalam Injil Lukas. Silsilah Mesias ini menyebut tentang Daud, lalu kepada Natan, saudara Salomo. Keturunan Salomo melalui Konya tidak disebut (II Samuel 5:14; I Tawarikh 3:5; 14:4; Lukas 3:31). Orang-orang Yahudi tahu bahwa Abraham, bapa atau nenek moyang mereka, telah menerima perjanjian dari Tuhan. Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:3; 18:18; 22:18). Karena itu baik pada silsilah Yusuf dalam Matius dan silsilah Maria dalam Lukas, Abraham dan Daud tercantum di dalamnya. Peperangan terakhir Saul dan kematiannya disebutkan dalam fasal sepuluh kitab I Tawarikh. Fasal-fasal yang tersisa (11 -- 29) membicarakan tentang pemerintahan Daud yang berakhir dengan kematiannya.

Kitab II Tawarikh melanjutkan sejarah keturunan Daud yang dimulai dengan pemerintahan Salomo. Kitab ini mencatat tentang pembagian kerajan di bawah Rehabeam, anak Salomo, termasuk sejarah Yehuda, di selatan, sampai kepada penawanan mereka ke Babel. Ayat-ayat terakhir mencatat tentang pengumuman Koresy, yang mendorong orang-orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem, sebagaimana dinubuatkan oleh Yeremia (II Tawarikh 36:22-23; Yeremia 29:10-14). Tak ada nabi yang menjadi terkenal selama 40 tahun pemerintahan Salomo. Sebagian besar isi sembilan fasal pertama dalam kitab II Tawarikh menceritakan tentang pembangunan Bait Allah di atas Bukit Moria di Yerusalem (II Tawarikh 3:1). Bait Allah itu dibangun menurut pola Kemah Suci (Fasal 3-- 4). Bait Allah itu selesai dan ditahbiskan bagi Allah pada tahun ke 11 pemerintahan Salomo (fasal 5; bandingkan I Raja-Raja 6:38). Fasal-fasal tersisa dari kitab II Tawarikh mencatat mengenai kemerosotan moral dan spiritual bangsa akibat dosa Salomo (II Raja-Raja 11:9-11). Kitab ini diakhiri dengan laporan tentang kejatuhan Yerusalem dan kehancuran bait Allah Salomo (Fasal 10 -- 36).

Pendahuluan II Tawarikh
Kitab II Samuel dan I & II Raja-Raja mencakup kira-kira periode yang sama dalam sejarah sama seperti kitab I & II Tawarikh. I & II Raja-Raja mencatat sejarah politik Israel dan Yehuda, sedangkan I & II Tawarikh terutama mencatat mengenai sejarah keagamaan Yehuda, Yerusalem, dan Bait Allah dalam hubungannya dengan perjanjian Daud. Sejarah dari kesepuluh suku di utara yang murtad kurang mendapat perhatian dalam I & II Tawarikh. Kitab Kejadian sampai II Raja-Raja menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak penciptaan Adam, manusia pertama, sampai kepada masa penawanan Kerajaan Yehuda oleh Babel. I & II Tawarikh mungkin ditulis oleh Ezra setelah berakhirnya penawanan di Babel. Fasal kedua dari I Tawarikh mencatat tentang keturunan suku Yehuda, yang khusus disoroti karena Mesias yang dijanjikan itu akan muncul dari suku ini (Kejadian 49:8-12). Kitab I Tawarikh diawali dengan suguhan daftar nama-nama yang terpanjang dalam Alkitab di mana dari segi sejarah, silsilah itu mencakup kira-kira 3,500 tahun (Fasal 1 -9). Laporan ini penting karena menelusuri keturunan yang digunakan Allah dalam mewujudkan rencana penebusanNya yang kekal. Silsilah ini dimulai dengan Adam (I Tawarikh 1:1); kemudian menyoroti Abraham, Ishak, dan keturunannya melalui Yakub; kemudian Yehuda; dan terus kepada Daud, yang melaluinya Mesias itu akan muncul. Keturunan tokoh-tokoh ini merupakan mata rantai penting yang menelusuri silsilah resmi Kristus melalui Yusuf, sebagaimana tercatat dalam Injil Matius (Matius 1:1-17), dan juga menelusuri nenek moyang Kristus lewat keturunan Daud melalui Maria, seperti yang tercatat dalam Injil Lukas (Lukas 3:23-38). Banyak nama lagi yang tidak dicantumkan, namun nama-nama yang tercatat ada hubungannya dengan nubuatan-nubuatan tentang Mesias yang dijanjikan.

Silsilah dalam Matius menelusuri daftar nenek moyang Kristus yang sah melalui Yusuf, yang dianggap sebagai ayahNya secara hukum, walau bukan ayahNya secara biologis. Matius menyebut Yesus Anak Daud, karena melalui keturunannya Mesias yang dijanjikan itu akan muncul (II Samuel 7:12-13; Mazmur 89:3-4; 132:11; Yesaya 11:1; Yeremia 23:5). Namun silsilah Mesias yang menjadi Pewaris sah takhta Daud adalah Yesus, yang ditelusuri melalui Maria, sebagaimana tercatat dalam Injil Lukas. Silsilah Mesias ini menyebut tentang Daud, lalu kepada Natan, saudara Salomo. Keturunan Salomo melalui Konya tidak disebut (II Samuel 5:14; I Tawarikh 3:5; 14:4; Lukas 3:31). Orang-orang Yahudi tahu bahwa Abraham, bapa atau nenek moyang mereka, telah menerima perjanjian dari Tuhan. Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:3; 18:18; 22:18). Karena itu baik pada silsilah Yusuf dalam Matius dan silsilah Maria dalam Lukas, Abraham dan Daud tercantum di dalamnya. Peperangan terakhir Saul dan kematiannya disebutkan dalam fasal sepuluh kitab I Tawarikh. Fasal-fasal yang tersisa (11 -- 29) membicarakan tentang pemerintahan Daud yang berakhir dengan kematiannya. Kitab II Tawarikh melanjutkan sejarah keturunan Daud yang dimulai dengan pemerintahan Salomo. Kitab ini mencatat tentang pembagian kerajan di bawah Rehabeam, anak Salomo, termasuk sejarah Yehuda, di selatan, sampai kepada penawanan mereka ke Babel. Ayat-ayat terakhir mencatat tentang pengumuman Koresy, yang mendorong orang-orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem, sebagaimana dinubuatkan oleh Yeremia (II Tawarikh 36:22-23; Yeremia 29:10-14). Tak ada nabi yang menjadi terkenal selama 40 tahun pemerintahan Salomo. Sebagian besar isi sembilan fasal pertama dalam kitab II Tawarikh menceritakan tentang pembangunan Bait Allah di atas Bukit Moria di Yerusalem (II Tawarikh 3:1). Bait Allah itu dibangun menurut pola Kemah Suci (Fasal 3-- 4). Bait Allah itu selesai dan ditahbiskan bagi Allah pada tahun ke 11 pemerintahan Salomo (fasal 5; bandingkan I Raja-Raja 6:38). Fasal-fasal tersisa dari kitab II Tawarikh mencatat mengenai kemerosotan moral dan spiritual bangsa akibat dosa Salomo (II Raja-Raja 11:9-11). Kitab ini diakhiri dengan laporan tentang kejatuhan Yerusalem dan kehancuran bait Allah Salomo (Fasal 10 -- 36).

Pendahuluan Ezra
Kitab Ezra mencakup sejarah orang-orang Yahudi sejak Koresy dari Persia menaklukkan Babel dan melepaskan mereka dari penawanan di Babel untuk memulihkan Bait Allah di bawah kepemimpinan Zerubabel sampai kembalinya Ezra ke Yerusalem. Setelah Darius orang Media, bupati di bawah Raja Koresy dari Persia, menaklukkan Babilon, ibu kota Kerjaaan Babel, ia mengangkat Daniel sebagai salah satu dari tiga pembesar kerajaan itu dan menunjukknya sebagai pengawas atas 120 wakil-wakil raja yang tersebar di seluruh kerajaannya (Daniel 6:1-2). Ketika Koresy menaklukkan kota Babel itu, Daniel, yang kira-kira berusia 90 tahun, mungkin menunjukkan kepada

penguasa yang baru itu bahwa namanya telah tercantum dalam Kitab Yesaya yang ditulis kira-kira 200 tahun sebelum ia dilahirkan. Selain itu, memang Yesaya juga telah menubuatkan: Koresy ..... mengatakan tentang Bait Suci: Baiklah diletakkan dasarnya! (Yesaya 44:28). Koresy pasti sangat terkesan menyaksikan bahwa seluk beluk mengenai penaklukkannya atas kota Babilonia dan kemenangannya atas Belsyazar juga telah dinubuatkan. Tuhan menggerakkan hati Koresy, raja Persia itu, dan ia mendorong orang-orang Yahudi agar berangkat pulang ke Yerusalem .... dan mendirikan rumah Tuhan, Allah Israel (Ezra 1:1-3). Sebagian besar dari generasi orang-orang Israel yang lebih tua, yang diangkut ke dalam penawanan oleh Nebukadnezar, telah meninggal pada waktu itu. Generasi orang-orang Yahudi yang baru, yang dibesarkan di negeri tempat mereka ditawan, agak enggan untuk kembali ke negeri asal mereka yang belum pernah mereka lihat. Namun, sekelompok kecil dari tawanan-tawanan yang terdahulu itu akhirnya kembali ke Yerusalem. Ezra mencatat bahwa ekspedisi pertama terdiri dari 42,360 orang Yahudi dan 7,337 budak yang dipimpin oleh Zerubabel, cucu Raja Konya (yang juga disebut Yoyakhin) (Ezra 2:2,64-65; I Tawarikh 3:17-19). Setelah tiba di Yerusalem, para tawanan yang kembali itu mendirikan mezbah dan memperingati Hari Raya Kemah (Pondok Daun) untuk pertama kalinya sejak pemerintahan Raja Yosia (II Raja-Raja 23:21-23). Sejak kembalinya mereka, mereka berhasil mengerjakan dan menyelesaikan peletakan fondasi Bait Allah selama kira-kira dua tahun, setelah itu pekerjaannya terhenti akibat tantangan serta berbagai hambatan dari para musuh (Ezra 4). Kira-kira 15 tahun kemudian, karena terdorong oleh pemberitaan Firman Allah oleh nabi Hagai dan Zakharia, seperti tercantum dalam kitab-kita nabi-nabi itu sendiri, orang-orang Yahudi kembali membangun rumah Allah itu (Ezra 5:2). Kali ini mereka berhasil menyelesaikannnya dalam kira-kira lima tahun, walaupun mengalami banyak tantangan serta hambatan (Fasal 5 - 6). Di antara fasal 6 dan 7 terdapat selang waktu kira-kira 60 tahun. Peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Kitab Ester mungkin terjadi selama periode itu, dan juga peristiwa kematian Zerubabel, Hagai dan Zakharia. Fasal 7 - 10 mencatat mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi kira-kira 80 tahun setelah ekspedisi Zerubabel. Pada tahun ketujuh zaman raja Artahsasta, Ezra mendapat surat tugas dari raja untuk memimpin orang-orang Yahudi yang tersisa agar kembali ke Yerusalem dengan berpedoman kepada hukum Allahmu...... Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah ... haruslah dilaksanakan dengan tekun (Ezra 7:7,11-14,23). Pada waktu itu, Ezra memimpin kira-kira 1,800 orang laki-laki, ditambah wanita dan anak-anak, yang seluruhnya berjumlah kira-kira 5,000 orang yang berangkat dari Babel ke Yerusalem (Ezra 7:28-8:31). Kitab ini mengungkapkan tentang bagaimana Allah dapat menggunakan orang, termasuk para pemimpin dari bangsa kafir sekalipun untuk melaksanakan maksud-maksudNya.

Pendahuluan Nehemia
Nehemia termasuk dalam kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi tawanan di Babel yang dibesarkan di Persia setelah Koresy memberikan kebebasan kepada mereka. Nehemia telah mendapat kedudukan yang terhormat sebagai pengangkat anggur bagi raja Artahsasta, raja Kerajaan Persia. Ini merupakan jabatan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar. Tidak banyak orang dalam kerajaan itu yang memiliki hubungan yang sangat akrab dengan raja seperti seorang yang menjabat sebagai pengangkat anggur bagi raja (I Raja-Raja 10:5; II Tawarikh 9:4). Nehemia menerima laporan mengenai kemelaratan jasmani dan rohani yang melanda Yerusalem dan hatinya menjadi sedih mendengar keadaan itu. Karena itu Ezra duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari dan Ia berpuasa dan berdoa kepada hadirat Allah (Nehemia 1:4). Doa-doa Nehemia itu mengakibatkan raja Persia memberikan izin kepadanya untuk berangkat dan sekali gus mengangkatnya sebagai gubernur Yehuda, serta mengaruniakan kepadanya kekuasaan untuk membangun kembali tembok kota itu (Nehemia 2:5-7; 5:14). Nehemia memahami akan Firman Allah dan secara rohani ia telah siap untuk memulihkan kembali penyembahan kepada Allah di Yeruselem. Kedudukannya yang terhormat, kesenangan pribadi dan jaminan materi baginya tidak sepenting seperti kasihnya kepada Allah yang benar dan keprihatinannya terhadap keadaan umat yang berada di Yerusalem. Ketika Nehemia tiba di Yerusalem, ia melayani bersama-sama dengan Ezra dalam menghadapi berbagai tantangan serta hambatan yang datang dari para musuh di sekliling mereka yang berusaha mematahkan semangat mereka. Memulihkan tembok yang telah hancur, yang sebelumnya berfungsi melindungi Yerusalem dari gerombolan perampok mejadi perhatiannya yang terutama. Orang-orang Israel telah tinggal di tengah-tengah puing reruntuhan sejak Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem kira-kira 140 tahun sebelumnya (II Raja-Raja 25:8-11). Orang-orang Yahudi yang tersisa tidak bisa merasakan ketenangan karena mereka tidak dilindungi oleh tembok yang berfungsi menghambat serangan musuh-musuh. Ancaman serangan musuh itu datang dari bangsa-bangsa di sekitar mereka yang mudah sekali menyusup masuk untuk menjarah hasil pertanian atau harta benda mereka. Bahkan beberapa dari pemuka-pemuka di Yerusalem pun tidak mau bekerja sama dengan Nehemia (Nehemia 2:19; 3:5; 4:1-12). Dalam menghadapi berbagai bahaya yang mengancam itu (Nehemia 4:12-23; 6:2-4,10-13), Nehemia tetap mengandalkan doa dan iman kepada Allah dalam memimpin orang banyak untuk menyelesaikan pembangunan tembok yang berhasil dikerjakan dalam waktu yang singkat yang mencakup kira-kira 52 hari saja (Nehemia 6:15).

Setelah tembok itu selesai dikerjakan, seluruh rakyat meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa .......membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu ....... lalu orang-orang Lewi mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu (Nehemia 8:1,3,8). Keesokan harinya para pemuka masyarakat kembali datang kepada Ezra untuk meminta penjelasan mengenai kalimat-kalimat Taurat itu (Nehemia 8:14). Kegiatan-kegiatan ini diakhiri dengan peringatan Hari Raya Pondok Daun di mana pada hari itu diadakan doa, pengakuan, puasa dan pemulihan ikatan perjanjian dengan Tuhan Allah mereka (Nehemia 10:29). Setelah tembok Yerusalem itu ditahbiskan oleh Ezra dan Nehemia (Nehemia 12:27-43), Nehemia terus menjabat sebagai gubernur Yehuda yang berkedudukan di Yerusalem selama kira-kira 12 tahun dan kemudian ia kembali mengadakan kunjungan singkat ke pengadilan Persia (Nehemia 5:14). Selama kepergian Nehemia dari Yerusaelm, Firman Allah kembali dilalaikan yang mengakibatkan merajalelanya korupsi dan perbuatan jahat (Nehemia 13:6). Namun, ketika Nehemia kembali, ia sekali lagi dengan gigih dan penuh semangat mengajak bangsa itu untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan membaharui kembali hubungan perjanjian mereka dengan Allah, serta memulihkan penyembahan yang benar kepada Tuhan (Nehemia 13:7-31). Nehemia dan Ezra kedua-duanya sangat giat dalam memberitakan Firman Allah kepada orang banyak, dan membimbing mereka agar dapat menerapkannya ke dalam kehidupan mereka (Nehemia 8:8,13,18; 13:1-30). Ketaatan hamba-hamba Allah ini harus mengilhami kita agar kita pun terbeban untuk menolong orang-orang Kristen yang lain dalam memahami Firman Allah, yang merupakan satu-satunya sumber pimpinan dan jawaban kepada doa-doa kita dan berkat-berkat Allah.

Pendahuluan Ester
Sebagian dari Kitab Ester mencakup periode kira-kira 10 sampai 15 tahun sejarah keturunan orang-orang Yahudi yang tinggal di Persia setelah 70 tahun mereka mengalami penawanan. Peristiwa-peristiwa dalam kitab ini kemungkinan terjadi di antara fasal enam dan tujuh kitab Ezra dan mungkin terjadi kira-kira 40 tahun setelah Bait Allah dibangun kembali (Ezra 3:10; 5:14-15), dan kira-kira 30 tahun sebelum tembok Yerusalem dibangun kembali (Nehemia 6:15). Kemungkinan besar Ester, yang sekarang telah menjadi ibu suri, telah digunakan Allah untuk menyiapkan jalan bagi Nehemia, rekan tawanannya, untuk menjabat sebagai pengangkat anggur bagi Raja Artahsasta I, yang adalah anak tirinya. Jabatan dan hubungannya dengan raja telah memungkinkan bagi Nehemia untuk membangun kembali tembok dan melaksanakan tugas-tugasnya di Yerusalem. Ketika bangsa Persia mengalahkan Raja Belsyazar dan Kerajaan Babel, semua orang Yahudi dinasihatkan oleh Raja Koresy untuk kembali ke Yerusalem guna membangun kembali Bait Allah (Ezra 1:1-4). Namun, sebagian besar orang Yahudi, yang adalah keturunan mereka yang pertama ditawan ke Babel, telah tinggal di sana selama 50-70

tahun dan mereka belum pernah melihat Tanah Perjanjian itu. Walaupun sekarang mereka telah bebas dari kekuasaan Babel, namun sebagian besar dari mereka lebih senang tinggal di Kerajaan Persia yang ramah dan makmur dari pada meninggalkan Babel dan menanggung banyak penderitaan dalam perjalanan yang panjang yang akan mereka tempuh menuju Yerusalem yang tinggal puing reruntuhan. Ahasyweros (Ester 1:1) adalah nama Ibrani bagi Raja Persia yang memerintah dari 486465 S.M. Namanya dalam bahasa Yunani adalah Xerxes. Dalam perjamuan yang dinyatakan pada awal Kitab Ester, tampaknya ia menyusun rencana untuk memerangi kerajaan Yunani, yang akhirnya membawa kekalahan baginya. Ahasyweros memerintah di Susan (Susa), yang terletak di wilayah Iran sekarang dekat perbatasan dengan Irak. Pemerintahan dari Artahsasta I, putranya, tercatat dalam Ezra 7 - 10 dan Nehemia 1 - 13. Walaupun kuasa dan pemeliharaan Allah jelas nyata sepanjang kitab ini, namun nama Allah tidak pernah disebutkan walau sekalipun. Tujuan dari kitab Ester, Ezra dan Nehemia adalah untuk menyatakan bahwa tak ada situasi yang harus membuat kita putus asa dan karena Allah sanggup mengatasi segala musuh kita. Allah akan menggenapi segala hal yang menyangkut kehendakNya, di dalam dan melalui kehidupan umatNya, walaupun umat Allah itu tergolong minoritas yang tidak berdaya yang dikelilingi oleh orang-orang yang jahat. Seluruh peristiwa dalam Kitab ini membuktikan tentang pengendalian dan pemeliharaan Allah bagi umatNya. Allah itu Mahakuasa, Maha tahu, dan Mahahadir. Ia adalah Tuhan, Allah segala makhluk, tidak ada sesuatupun yang mustahil bagiNya (Yeremia 32:27). Bahkan kalaupun semua manusia membelakangiNya, Tuhan dapat berbicara melalui keledai sebagaimana yang Ia pernah lakukan kepada Bileam (Bilangan 22:28-31). Atau, apabila umat tidak mau berseru kepadaNya, Ia dapat membuat batu-batu berseru kepadaNya (Lukas 19:40) sebagaimana dikatakan oleh Yesus kepada para pengeritikNya. Walaupun Ia tidak membutuhkan pertolongan, namun Ia bisa saja mendatangkan lebih dari dua belas pasukan malaikat (Matius 26:53). Namun, Allah telah berkenan menggunakan para hamba pilihanNya untuk melaksanakan kehendakNya - yaitu mereka yang benar-benar berserah kepadaNya. Hal berpuasa, termasuk doa, yang merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan, telah membawa perlindungan bagi umat Allah. Melalui Mordekhai dan Ester, hambahambaNya, Tuhan menggenapi rencanaNya bagi umatNya dan melindungi garis keturunan Mesias itu (Ester 4:3-4,16-17). Doa yang bersungguh-sungguh sebagaimana yang diucapkan oleh Mordekhai - yang melolong-lolong dengan nyaring dan pedih (Ester 4:1) -- senantiasa diikuti dengan berpuasa, sebagai cara untuk datang dan mendekati Tuhan dan menghindarkan diri dari segala keinginan duniawi dan hawa nafsu daging (bandingkan Yesaya 58:1-14; Daniel 9:3-19; 10:2-3; Matius 17:21; Markus 9:29).

Pendahuluan Ayub
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyatakan penghargaan yang sangat tinggi terhadap tokoh yang bernama Ayub. Allah sendiri menyamakan kebenaran Ayub dengan Nuh dan Daniel: Kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu ..... Aku ... mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang .... Biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan Allah (Yehezkiel 14:13-14,16,18,20). Dalam Perjanjian Baru tertulis: Kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11). Kalimat-kalimat ini membuktikan tanpa keraguan bahwa memang ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub (Ayub 1:1). Tanah Us itu tidak dijelaskan secara tepat lokasinya, namun berdasarkan Kejadian 10:23 dan Kejadian 22:20-22 kita menduga bahwa tanah itu berada di wilayah sebelah timur Israel dekat dengan padang gurun Arab atau mungkin di sekitar daerah Edom, sebelah tenggara Israel. Us itu terletak di wilayah suku Teman, Suah, dan Naama dan Bus (Ayub 2:11; 32:2). Juga tanah itu tidak jauh dari wilayah orang Syeba dan Kasdim (Ayub 1:15,17). Lokasinya yang tepat tidaklah penting, melainkan yang lebih penting adalah pelajaran rohani tentang perlunya memahami dan menerima situasi yang malang atau penderitaan sebagai sesuatu yang tetap relevan dan dapat dikenakan bagi setiap zaman. Kitab ini diawali dengan sejarah singkat mengenai seorang saleh yang berdoa yang bernama Ayub yang dijelaskan oleh Alkitab sebagai orang yang jujur dan takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1; 2:3). Juga ia adalah orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur (Ayub 1:3). Dalam dua fasal yang pertama, kita membaca mengenai tuduhan Iblis terhadap Ayub dan pengalaman pahit yang Allah izinkan berlaku bagi Ayub. Ujian-ujian terhadap Ayub menjadi teladan bagi kita tentang bagaimana seorang yang beriman tetap berserah kepada hikmat Allah yang mahakuasa. Kitapun dapat berserah kepadaNya untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi. Di dalam Kitab Ayub, kita melihat alasan-alasan yang dikemukakan oleh Allah, Setan, Ayub, isterinya, ketiga sahabatnya, dan Elihu. Pada saat anda membaca fasal demi fasal dalam kitab ini, perhatikan dengan saksama perbedaan antara hikmat Ayub yang saleh dan argumentasi-argumentasi yang bermaksud baik, namun keliru atau setengah benar, bahkan menyesatkan yang dikemukakan oleh sahabat-sahabat Ayub. Allah sangat menghargai Ayub karena ia berbicara tentang kebenaran, sedangkan sahabat-sahabat Ayub mengemukakan hal-hal yang jauh atau telah menyimpang dari kebenaran (Ayub 42:7). Allah menghargai Ayub sebagai orang yang memiliki pengetahuan rohani, integritas dan kesetiaan. Namun, Setan selalu menyuguhkan hal-hal yang bohong mengenai orang Kristen, bahkan sampai menggunakan Yudas dan para pemimpin agama pada masa itu untuk mengkhianati dan menyalibkan Anak Allah. Tidaklah mengherankan bila ketiga sahabat Ayub memiliki pandangan yang keliru dan menuduh Ayub sebagai orang berdosa yang dalam keadaan bingung dan kalut.

Kitab ini membeberkan Setan sebagai penyebab segala penderitaan, dengan segala upayanya yang gigih untuk membohongi setiap orang mengenai siapa yang seharusnya disalahkan untuk segala penderitaan yang menimpa manusia. Dengan cara ini ia berusaha merongrong kesetiaan dan kasih kita kepada Allah. Nasihat-nasihat dari sahabat-sahabat Ayub yang beragama serta dari Elihu membuktikan betapa menipu dan tak dapat dipercaya logika manusia itu. Jawaban-jawaban yang benar dan yang paling memuaskan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita terdapat di dalam Kitab Suci yang tidak mungkin salah, yang bersumber dari Allah Pencipta yang Maha tahu. Anda akan memperhatikan dalam bacaan setiap hari bukan saja mengenai penderitaan Ayub yang hebat, melainkan juga perkembangan pemahaman rohaninya. Pada fasal-fasal terakhir (Ayub 38-42), Allah membekali Ayub dengan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai Allah dan dunia ciptaanNya ini. Dalam fasal terakhir, Allah sekali lagi menegaskan dan menghapus keragu-raguan kita mengenai kebenaran Ayub dalam sepanjang ujian yang harus dilaluinya (Ayub 1:1,8,22; 2:10; 42:7-8). << Sebelumnya

Pendahuluan Mazmur
Kitab Mazmur merupakan kitab yang terpanjang dalam Alkitab. Roh Kudus, yang menggerakkan Daud untuk menulis kira-kira 70 dari 150 mazmur, adalah sebenarnya merupakan penulis kitab ini. Yesus bukan saja mendasarkan suatu argumentasi yang penting tentang keabsahan Mazmur 110 melainkan menguatkan pengilhamannya oleh Roh Kudus ketika Ia berkata: Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku; duduklah di sebelah kananKu, sam[pai musuhmusuhMu Kutaruh di bawah kakiMu (Markus 12:36). Para penulis lainnya yang mendapat ilham untuk menulis mazmur adalah Musa, Salomo, Asaf, Etan, Heman, dan anak-anak Korah. Penulis dari kira-kira 50 mazmur dalam kitab ini tidak diketahui dengan pasti. Kebanyakan dari mazmur-mazmur ini adalah nyanyiannyanyian yang mengungkapkan pujian dan syukur atas kasih dan kesetiaan Sang Pencipta kita. Memang merupakan rencana Allah bagi kita untuk memuji Dia melalui nyanyian, sebagaimana Ia berkata: Bersorak-soraklah bagi Tuhan (Mazmur 100:1). Dalam kelima mazmur terakhir masing-masing diawali dan diakhiri dengan perkataan: Pujilah Tuhan, yang adalah terjemahan dari istilah Ibrani Haleluya. Nada pikiran pemazmur sering beralih dari perasaan gagal kepada keceriaan. Mazmur-mazmur ini mengajar kita untuk mengampuni dan menerima diri kita dan orang-orang lain, serta mengungkapkan syukur kepada Allah kita atas keampunan, kesembuhan, dan pemulihan kita. Mazmur-mazmur ini juga mengungkapkan doa-doa permohonan untuk kemurahan dan pertolongan serta penyerahan dan kepercayaan. Namun hal lain yang menonjol dalam kitab Mazmur adalah penghargaan tinggi yang diberikan kepada Kitab Suci itu sendiri:

Kaubuat namaMu dan janjiMu melebihi segala sesuatu (Mazmur 138:2). Allah telah mengangkat FirmanNya mengatasi segala sesuatu yang lain. Jadi dalam hal ini jelas bahwa Kitab Suci itu sangat penting, dan sikap mengabaikan FirmanNya pada hakekatnya merupakan penghinaan kepada Allah. Pentingnya Kitab Suci itu disebutkan sekurang-kurangnya 170 kali, di dalam 176 ayat dalam Mazmur 119, terkecuali tiga ayat. Mazmur-mazmur ini mengungkapkan pikiran orang yang rindu menyembah dan memuji Bapa Sorgawi kita, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Walaupun ditulis seribu tahun sebelum kelahiran Yesus, banyak mazmur-mazmur yang menunjuk kepada Mesias -- mengenai kelahiran, kehidupan, pengkhianatan, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikanNya. Mazmur-mazmur berikut ini berbicara tentang Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru: 2, 8, 16, 22, 40, 41, 45, 68, 69, 89, 102, 109, 110, 118. Dalam mazmur 2, Mesias itu adalah Anak Allah yang harus disembah; mazmur 16:10-11 menyatakan tentang kebangkitanNya, mazmur 22 tentang penderitaanNya, dan mazmur 40 tentang pengorbananNya; dalam mazmur 45:6 Mesias itu adalah Allah; dalam mazmur 89 Ia adalah Oknum yang dijanjikan untuk menggenapi perjanjian Allah dengan Daud; dan dalam mazmur 110 Ia adalah Imam-Raja dan Tuhan dari Daud. Setelah kebangkitanNya, Yesus membuka mata para muridNya sehingga mereka melihat Dia di dalam Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Lukas 24:27,44), yang berarti seluruh Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa orang yang hanya mau membaca Perjanjian Baru saja telah membatasi pengetahuannya tentang Kristus dan kehendakNya bagi kehidupannya. Mazmur-mazmur ini memberikan pengetahuan yang dalam mengenai ajaran-ajaran mendasar dalam Alkitab, seperti mengenai Allah sebagai Pencipta dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (Mazmur 8:3-9; 90:1-2; 104:1-32) dan bahwa Ia adalah Oknum yang mengenal setiap pikiran kita (Mazmur 139:1-18,23-24). Mazmur-mazmur ini juga menjelaskan perbedaan antara dosa dan kebenaran dan menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sikap kita terhadap penderitaan dan pergumulan yang kita hadapi setiap hari. Perkataan benar dan kebenaran digunakan kira-kira 130 kali. Perkataan dosa, kesalahan, dan kejahatan ditemukan lebih dari 100 kali yang menyatakan tentang peperangan rohani yang harus kita hadapi setiap hari melawan tipu daya Iblis. Mazmur-mazmur tentang hukuman terhadap orang-orang fasik mengajarkan bahwa dosa adalah pemberontakan terhadap Allah dan kekuasaanNya. Ketika Roh Allah memimpin para pemazmur untuk berbicara tentang pembalasan atau hukuman atas orang fasik, yang dimaksud bukan pembalasan pribadi melainkan ungkapan tentang kehendak Allah mengenai segala bentuk ketidakadilan dan janji bahwa dosa pada akhirnya akan dihukum: Pembalasan itu adalah hakKu, .... demikianlah firman Tuhan (Roma 12:19). Berbeda dengan Allah yang mutlak sempurna, manusia dinyatakan telah lahir dalam dosa dan karena itu membutuhkan seorang Penebus. Dalam khotbahnya pada Hari Pentakosta, Petrus mengutip dari kitab Mazmur untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias (Kisah 2:25; Mazmur 16:8-11).

Pendahuluan Salomo
Salomo menggubah tiga ribu amsal (I Raja-Raja 4:32). Namun hikmat yang terkandung di dalam amsal-amsal itu berasal dari Allah. Hikmat itu dimulai dengan takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Sikap takut atau hormat ini merupakan permulaan hikmat ..... dan permulaan pengertian (Amsal 9:10) dan menyangkut setiap aspek kehidupan -- jasmani, moral, spiritual, keuangan, politik dan sosial. Apabila perhatian utama kita adalah kasih, kesetiaan, dan pelayanan kepada Tuhan, maka kita akan sangat bersyukur untuk amsalamsal ini yang akan menolong mengarahkan kehidupan kita. Karena hanya orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7) dari Tuhan. Kesetiaan yang didasari kasih akan mengakibatkan penyerahan penuh kepada FirmanNya dan akan menghindarkan kita dari sikap tidak mengandalkan pandangan-pandangan orang banyak (Amsal 3:5-6). Hikmat itu pada hakekatnya adalah sifat Allah Pencipta kita dan kita membutuhkan hikmatNya untuk dapat menjalani dan menikmati kehidupan yang berarti. Perbedaan mendasar di antara orang berhikmat dan orang bodoh terlihat di dalam penggunaan mereka terhadap waktu, talenta dan harta benda yang dipercayakan kepada mereka. Kita semua berada di salah satu jalan di dalam kita harus menempuh perjalanan mengarungi hidup ini. Jalan yang ditempuh orang yang berhikmat akan membawa kebahagiaan, kepuasan, damai, dan hidup kekal; sedangkan jalan lebar yang ditempuh orang bodoh pada akhirnya akan mengakibatkan tipuan, kekecewaan, dan akhirnya neraka atyau kebinasaan yang kekal. Penyembahan yang benar itu bersifat ke dalam dan keluar. Penyembahan eksternal -berupa nyanyian-nyanyian yang kita lagukan dan kata-kata yang kita ucapkan -seharusnya merupakan ekspresi keluar dari apa yang ada di dalam hati kita (Amsal 17:3). Ketidakkonsistenan dalam bidang-bidang ini merupakan kemunafikan dan kejijikan kepada Allah (Amsal 11:20; 15:8). Ketika kita berdosa, kita harus mengakui kesalahan kita, berdoa untuk pengampunan, dan tunduk kepada didikan (disiplin, koreksi) Tuhan (Amsal 3:11).

Pendahuluan Pengkhotbah
Penulis kitab Pengkhotbah memperkenalkan dirinya sebagai anak Daud, Raja di Yerusalem (Pengkhotbah 1:1), dan juga kita membaca: Aku, Pengkhotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem (Pengkhotbah 1:12). Salomo menyebutkan mengenai 27 hasil karyanya selama hidupnya dan ia mengatakan: Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku bersukacita (kesenangan jasmani) karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku (Pengkhotbah 2:10). Selama waktu pemerintahannya itu, ia banyak melanggar Firman Allah dengan mengumpulkan banyak kuda, menumpuk kekayaan, dan banyak isteri (Ulangan 17:16-

17). Namun kembali ia mengaku: Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan .... segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin ... aku membenci hidup (Pengkhotbah 2:11,17). Salomo berulang kali menggunakan ungkapan: Segala sesuatu adalah kesia-siaan. Istilah kesia-siaan menunjuk kepada sesuatu yang sifatnya sementara, yang akan hilang dan tak berharga dan tidak akan bertahan lama. Salomo mengakui bahwa segala hal yang telah dikerjakannya, seperti segala kemewahannya, kekayaannya, dan isteri-isterinya, semuanya tak dapat memuaskannya. Kekayaan Salomo memang tak terbatas karena ia telah mewarisi harta dan kekuasaan yang sangat besar dari Daud, ayahnya. Namun ia ternyata tidak hidup menurut kehendak Allah. Pada akhir 40 tahun pemerintahannya, kerajaannya menjadi bobrok dan akibat penindasan yang dikenakannya terhadap bangsanya sendiri dengan pajak yang sangat memberatkan sehingga bangsanya telah berencana untuk memberontak terhadapnya. Salomo menoleh ke belakang kepada kehidupannya menjadi teladan yang malang yang tak pantas ditiru oleh orang-orang lain. Ia memang sering berbicara mengenai perlunya mencari hikmat, namun hikmat yang ia maksudkan adalah hikmat dunia, di luar Allah dan di luar FirmanNya sebagaimana telah diperintahkan Allah bagi semua raja-raja (Ulangan 17:18-20). Setelah menjalani kehidupannya dalam kesia-siaan, Salomo menyimpulkan bahwa seseorang adalah bodoh apabila ia berpikir bahwa ia dapat beroleh kesenangan dan kepuasan melalui berbagai usaha-usaha, kemampuan-kemampuan, ambisi dan kekayaannya sendiri. Ia telah menjelaskan mengenai apa yang telah berlaku di dalam kehidupannya sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan ia menyimpulkan: Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi (Pengkhotbah 4:13). Salomo menyebutkan orang jahat atau fasik sebagai orang yang bodoh. Namun ia juga mengamati bahwa banyak orang-orang beragama pun memasuki Rumah Allah tanpa rasa hormat, dan mereka menaikkan doa-doa yang panjang tnpa kesungguhan hati, dan mengucapkan sumpah janji yang kemudian cepat dilupakan (Pengkhotbah 5:1-7). Salomo akhirnya datang kepada kesimpulan bahwa apapun karunia, talenta, kemampuan dan peluang serta harta milik seseorang tak akan dapat memuaskannya karena manusia selalu ingin memperoleh lebih dari apa yang ia telah miliki (Pengkhotbah 5:10-20; 6:1-9). Ketidakpuasan akan sennatiasa ada karena memang seluruh harta milik kita sebenarnya adalah milik Allah dan hanya Dialah yang dapat memberi kepuasan yang kekal apabila kita menggunakan segala apa yang telah Allah berikan bagi kemuliaan dan hormatNya. Seluruh kehidupan ini pada hakekatnya hanya memiliki satu tujuan -- memuliakan Allah. Bagi kita tentu saja ini berarti bahwa kehidupan kita harus menjadi sebagaimana yang Allah inginkan dan kita perlu mewujudkan tujuan penciptaanNya atas kita (Yohanes 12:25-26; Roma 12:1-2; I Korintus 6:20).

Ketika Salomo menyatakan: Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu (Pengkhotbah 11:9), maka sebenarnya ia menyampaikan apa yang telah ia lakukan dalam sepanjang hidupnya. Apabila kita tidak membaca kelanjutan beritanya ini, maka akan terkesan bahwa ia mendorong orang-orang muda untuk terus mengejar kepuasam hawa nafsu dan kesenangan jasmani. Namun, sebagai raja tua yang bodoh (Pengkhotbah 4:13), ia selanjutnya mengingatkan: Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan (Pengkhotbah 11:9; 8:6). Setelah berupaya mencari untuk menemukan arti kehidupan ini, Salomo pada akhirnya menyadari bahwa hikmat sejati manusia itu sebenarnya bergantung kepada takut akan Allah yang pasti akan menjatuhkan hukuman atas perbuatan-perbuatan jahat manusia. Karena itu kita diingatkan: Ingatlah akan Penciptamu (karena engkau bukan milikmu sendiri, melainkan adalah milikNya) pada masa mudamu .....Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:1,14; 8:12-13)

Pendahuluan Kidung Agung


Kitab Kidung Agung ini ditulis oleh Salomo (Kidung Agung 1:1). Para rabbi Yahudi menganggap kitab ini sebagai ilustrasi mengenai hubungan di antara Allah dan Israel. Banyak pemimpin Kristen percaya bahwa kitab ini mengungkapkan kasih yang telah terjalin di antara Kristus dan JemaatNya. Juga kitab ini mengungkapkan kerinduan orang Kristen akan kehadiran Mempelai Lelaki Sorgawi dan akan terwujudnya persatuan yang indah antara Mempelai Wanita dan Mempelai Laki-Laki - Raja segala Raja dan Tuhan atas segala yang dipertuan. Tepat sekali kitab ini menggambarkan hubungan yang kudus di antara Allah dan semua orang yang mengasihiNya. Kitab Kidung Agung ini secara kiasan mengemukakan idaman atau impian yang indah dan kenangan yang indah yang dirasakan oleh seorang isteri muda yang suaminya sedang pergi. Kisah cinta yang indah ini mengungkapkan kasih yang suci dari sebuah hubungan perkawinan yang telah dirancang dan ditetapkan oleh Sang Pencipta: Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur (perkawinan), sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah (Ibrani 13:4). Kisah keseluruhan ini diwarnai oleh impian. Situasinya adalah bayangan atau impian dan bukan sesuatu yang benar-benar terjadi. Kerinduan, gairah, dan usaha pencarian semuanya diungkapkan dalam bahasa impian. Mempelai wanita sedang tidur di ranjangnya, namun pikirannya senantiasa tertuju kepada mempelai laki-laki yang tidak bersamanya. Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia (Kidung Agung 3:1). Ada banyak kesulitan yang dikemukakan dalam interpretasi rohani terhadap beberapa bagian ayat dalam kitab ini, sebagaimana adanya beberapa kesulitan pula dalam interpretasi mengenai Gereja sebagai Mempelai wanita Kristus dan Kristus sebagai

Mempelai Lelaki kita. Terkadang, kita sangat senang terhadap kehangatan kehadiran Kristus yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun seringkali pula kehadiranNya yang indah itu terasa hilang. Namun kasih kita kepadaNya akan terus bertumbuh apabila kita memilki sikap menantikan dia dengan penuh pengharapan untuk bertemu dengan Dia kembali. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samarsamar (hanya memahami sedikit tentang Allah dan kekekalan), tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka (ketika kita bertemu dengan Yesus, segala sesuatu akan menjadi jelas). Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, sepetrti aku sendiri dikenal (dan dipahami oleh Allah) (I Korintus 13:12). Pentingnya Kidung ini dapat dilihat dalam dua hal. Pertama, Sang Pencipta yang mengendalikan hati raja itu telah memimpin para penyusun Kitab Suci ini untuk memasukkan Kidung Agung Salomo ini; dan kedua, Tuhan sendiri telah berkata bahwa: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar (II Timotius 3:16).

Pendahuluan Yesaya
Pelayanan Yesaya terjadi selama pemerintahan raja-raja Yehuda yaitu Uzia, Yotam, Ahas Hizkia, dan Manasye (Yesaya 1:1; II Tawarikh 26:22; 32:20-23). Kitab Yesaya ditujukan kepada seluruh dunia: Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab Tuhan berfirman (Yesaya 1:2). Fasal 1 terpusat pada berita yang ditujukan kepada bangsa Yehuda dan kepada Yerusalem, yang merupakan kota yang telah diberi kesempatan yang paling banyak tetapi juga merupakan kota yang diberi tanggung jawab yang terbesar (perhatikan Yesaya 1;8;21;26;27). Fasal 2 -- 6 dimulai dengan penglihatan mengenai hari Tuhan (Yesaya 2:11-12,17,20; 3:7,18; 4:1-2; 5:30) dan yang juga berkaitan langsung dengan Yehuda (Yesaya 2:1,3,6; 3:1,8,16; 4:3-5; 5:3), serta juga membahas mengenai enam ucapan celaka yang ditujukan kepada mereka yang tidak beriman (Yesaya 5:8,11,18,20-22). Fasal-fasal ini diakhiri dengan penglihatan yang baru mengenai Raja yang kekal: Aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang ......mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan semesta alam (Yesaya 6:1,5). Fasal 7 -- 12 terfokus kepada Israel, Kerajaan Utara, yang ibukotanya adalah Samaria. Berita dalam fasal-fasal ini merupakan penghiburan kepada Raja Ahas yang sedang mengalami serangan oleh Kerajaan Utara dan Aram (Yesaya 7:3-16). Fasal-fasal ini juga menubuatkan tentang hukuman yang akan menimpa Israel: Tuhan akan mendatangkan ke atasmu dan atas rakyatmu .... hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda - yakni raja Asyur ..... Kekayaan Damsyik (ibu kota Aram) dan jarahan Samaria (ibu kota Israel) akan diangkut di depan raja Asyur (Yesaya 7:17; 8:4). Fasal-fasal ini diakhiri dengan nubuatan mengenai pemerintahan Mesias yang akan

datang: Yang akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi (Yesaya 11:12). Perhatian khusus juga diberikan kepada hari Tuhan (Yesaya 7:18,20-21, 23; 10:20,27; 11:10-11; 12:1,4). Fasal 13 -- 23 terfokus kepada bangsa-bangsa kafir yang ada pada masa Yesaya, terkecuali fasal 22, yang adalah lembah penglihatan (Yesaya 22:1). Fasal-fasal ini juga menyoroti tentang hari Tuhan (Yesaya 13:6,9,13; 14:3; 17:4,7,9; 19: 16,18-19,21,23-24; 22:5,12,20,25; 23:15). Fasal 24 -- 27 menjelaskan tentang hubungan hari Tuhan dengan seluruh dunia (Yesaya 24:1,4-5,16,19-21; 25:6-9; 26:1,21; 27:1-2,12-13). Fasal 28 -- 34 terfokus kepada enam ucapan celaka mengenai Yerusalem yang mirip dengan keenam ucapan celaka dalam fasal 5. Penekanan kembali diberikan pada hari Tuhan (Yesaya 28:5; 29:18; 30:23; 31:7). Berita dalam fasal 34 adalah berita kepada seluruh dunia: Baiklah bumi serta segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpencar dari padanya (Yesaya 34:1-2). Sebab Tuhan mendatangkan hari pembalasan dan tahun pengganjaran karena perkara Sion (Yesaya 34:8). Fasal 35 berbicara tentang 1,000 tahun pemerintahan Kristus. Fasal 36 -- 37 menjelaskan tentang serangan terhadap Yehuda oleh Asyur, menunjukkan tentang kuasa doa, campur tangan Allah, dan kemerosotan serta kehancuran Asyur. Fasal 38 -- 39 berbicara tentang penyakit yang menimpa Hizkia, kesembuhannya yang ajaib, sambutannya yang bodoh terhadap utusan-utusan dari Babel, dan kekuatan dunia baru yang pada akhirnya akan menghancurkan mereka. Fasal 40 -- 48 menyoroti keberadaan Mesias yang kekal (Yesaya 40:12-28; 41:4, 21-29); penebusanNya yang kekal; dan keunggulanNya sebagai Hakim yang tertinggi (Yesaya 46:5,9-10; 47:4; 48:12-14,20-22). Fasal-fasal ini diakhiri dengan perkataan ini: Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik (Yesaya 48:22; 57:21). Fasal 49 -- 66 berisi penglihatan nabi tentang Mesias yang harus terlebih dahulu menjadi Hamba, namun pada akhirnya akan memerintah sebagai Raja yang menang (Yesaya 42:1-7; 49:5-6; 50:4-10; 52:13; 53:12). Fasal 53 menjelaskan tentang keunggulan Mesias sebagai Anak Domba Allah yang harus menjadi pusat utama di dalam kehidupan mereka yang adalah anak-anakNya.

Pendahuluan Yeremia
Yeremia yang berprofesi sebagai imam memulai pelayanannya sepanjang 40 tahun sejarah Yehuda, Kerajaan Selatan. Ini berlangsung kira-kira 100 tahun setelah bangsa Asyur menaklukkan Israel, Kerajaan Utara. Pelayanan publiknya dimulai pada tahun ke 13 pemerintahan Raja Yosia yang saleh (Yeremia 1:2), yang memerintah selama 31

tahun. Yeremia melanjutkan pelayanannya sepanjang pemerintahan keempat raja Yehuda yang terakhir yang terkenal jahat yaitu: Salum (Yoahas), Yoyakim, Konya (Yoyakin), Zedekia, dan kepada para tawanan yang berada di Mesir. Selama masa yang sulit itu, Yeremia hanya sendirian -- dan ia dibenci bahkan dianiaya oleh umatnya sendiri. Beberapa tahun kemudian, Kerajaan Asyur menjadi lemah dan ditaklukkan oleh bangsa Babel. Kerajaan Yehuda takluk di bawah kekuasaan Nebukadnezar setelah ia mengalahkan Mesir pada peperangan di Karkemis, kota penting di Aram sebelah utara. Kota ini mengawal jalur utama perdagangan yang melintasi Sungai Efrat. Serangan kedua terhadap Yehuda terjadi kembali kira-kira tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun kesebelas pemerintahan Zedekia, dan pada serangan itu Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar dan pasukan Babel akhirnya menguasai seluruh wilayah Timur Dekat. Peristiwa-peristiwa dalam kitab ini tidak tersusun secara kronologis, melainkan menurut pokok pembicaraan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman rohani yang terbaik bagi kita. Fasal 1 memperkenalkan tentang Yeremia dan panggilan Allah kepadanya sebagai nabi. Fasal 2 -- 38 adalah nubuatan-nubuatan yang terjadi sebelum kejatuhan Yerusalem, yang dimulai pada zaman raja Yosia (Yeremia 3:6). Allah telah menetapkan Yeremia menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yeremia 1:5) ketika para nabi bernubuat palsu dan para imam mengajar dengan sewenang-wenang (Yeremia 5:31). Hal yang lebih buruk lagi adalah bahwa Allah mengatakan bahwa umatKu senang melakukan hal demikian. Sesungguhnya dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, senantiasa mengejar untung (Yeremia 6:13). (Perhatikan: Pasyhur dalam fasal 20 tidak sama dengan Pasyhur bin Malkia dalam Yeremia 21:1; 38:1). Yeremia mengecam keempat raja Yehuda yang terakhir sebagai gembala-gembala palsu (Yeremia 23:1-2; 25:34). Ia juga mengecam nabi-nabi palsu (Yeremia 23:9) dan imam-imam palsu (Yeremia 23:11). Fasal 29 -- 30 ditujukan kepada kelompok tawanan pertama yang telah diangkut dari Yehuda ke Babel beberapa tahun sebelum kehancuran Yehuda yang terakhir: Sebab sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umatKu Israel dan Yehuda .... Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan (Yeremia 30:3). Fasal 31 -- 33 menjelaskan tentang Kerajaan Mesias dan Perjanjian yang akan datang. Fasal 34 -- 38 membahas tentang peringatan-peringatan yang disampaikan kepada Zedekia, sikapYoyakim yang menentang Firman Allah, pengepungan Yerusalem, dan pemenjaraan Yeremia. Fasal 39 membahas tentang kehancuran Yerusalem, penawanan Zedekia, dan kelepasan Yeremia dari penjara.

Fasal 40 -- 44 berisi berita kepada orang-orang Israel setelah kehancuran Yerusalem -pertama di Yehuda (Yeremia 40 - 42) dan kemudian di Mesir (Yeremia 43 - 44). Fasal 45 membahas khusus tentang Barukh, sekretaris Yeremia. Fasal 46 -- 51 berisi nubuatan-nubuatan mengenai bangsa-bangsa kafir. Fasal 52 menguraikan tentang kejatuhan Yerusalem dan Yehuda dan berita kepada Zedekia. Allah menjelaskan tentang alasan di balik kehancuran Kerajaan Yehuda dan Yerusalem, ibu kotanya yang tadinya sangat megah, dengan berkata: Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar maka Aku telah melakukan semuanya ini kepadamu (Yeremia 30:15). Walaupun pemberitaan Yeremia menubuatkan tentang hukuman yang tak terhindari, ia juga mengatakan: Masih ada harapan untuk hari depanmu (Yeremia 31:17), karena Allah akan memperhatikan mereka yang bertobat dan berbalik kepadaNya (Yeremia 31:19). Allah yang penuh kasih karunia berjanji: Aku akan membangun engkau kembali ....Dengan menangis mereka akan datang .... Dengarlah firman Tuhan ....Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka ... dan mereka akan menjadi umatKu (Yeremia 31:4,9-10,33).

Pendahuluan Ratapan
Nabi Yeremia dengan giat dan setia berusaha memperingatkan orang-orang Israel bahwa penderitaan yang dahsyat akan terjadi apabila mereka terus bersikap tidak mengindahkan Firman Allah. Karena hanya Tuhanlah yang dapat menuntun kehidupan mereka menuju kemakmuran, keamanan, dan perdamaian dengan Allah. Kitab Ratapan merupakan ungkapan dukacita yang dalam atas kehancuran Kerajaan Yehuda dan kota Yerusalem. Yeremia mengetahui konsekuensi yang tak terhindari dari sikap ketidaktaatan, sungguh Tuhan membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya; kanak-kanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan ....Hal itu terjadi oleh sebab dosa nabi-nabinya dan kedurjanaan imam-imamnya ..... Mereka terhuyung-huyung seperti orang buta di jalanjalan, cemar oleh darah sehingga orang tak dapat menyentuh pakaian mereka (Ratapan 1:5; 4:13-14). Orang-orang Israel tidak mau menyadari akan bahaya kehancuran yang telah berada di ambang pintu karena selama kira-kira 475 tahun mereka telah berhasil luput dari banyak serangan musuh. Mereka percaya akan jaminan keamanan mereka karena mereka yakin tembok yang mengelilingi kota kudus itu dapat melindungi umat perjanjian Allah, Bait SuciNya, dan Tabut Perjanjian yang berisi hukum-hukum yang telah diberikan kepada Musa beberapa abad sebelumnya. Nabi-nabi palsu yang populer pada masa Yeremia dengan berani memberitakan jaminan perlindungan dan keamanan kekal bagi Yerusalem karena mereka yakin bangsa Israel adalah umat perjanjian Allah.

Yerusalem adalah satu-satunya tempat di muka bumi ini di mana korban-korban yang berkenan dapat dipersembahkan kepada Allah. Fakta ini lebih meningkatkan jaminan palsu bagi mereka bahwa Yerusalem, Kota Raja Besar tidak akan pernah dapat dihancurkan (Mazmur 48:2). Namun Yerusalem terancam bahaya kehilangan berkat, ditimpa penyakit, penderitaan, kelaparan dan kehancuran Bait Suci mereka sebagai akibat dari sikap mereka yang tidak mengindahkan Firman Allah (Ratapan 2:19-22; 4:8-10). Lebih dari tiga puluh kali dalam lima fasal yang singkat ini kita diingatkan bahwa Tuhan Allah itulah - bukan bangsa yang lebih perkasa yang telah menghukum dan membantai .....Tuhan telah melepaskan segenap amarahNya, mencurahkan murkaNya yang menyala-nyala, dan menyalakan api di Sion, yang memakan dasar-dasarnya (Ratapan 3:43; 4:11). Kehancuran oleh Tuhan sendiri telah dinubuatkan oleh Musa dan Salomo dalam doanya yang terkenal, sehingga tidak diragukan lagi apa yang sebenarnya telah menjadi penyebab kehancuran kerajaan mereka (Ulangan 28:63-65; II Tawarikh 6:36). Nabi Yeremia juga memandang jauh ke depan dan menubuatkan saatnya ketika umat Israel akan kembali kepada Allah: Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setiaNya .... Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan (Ratapan 3:31-32,40; bandingkan Ratapan 4:22).

Pendahuluan Yehezkiel
Yehezkiel tinggal di Yerusalem selama masa pembaharuan yang besar yang terjadi setelah ditemukannya Kitab Taurat di Bait Allah dalam pemerintahan Raja Yosia. Yosia adalah Raja Yehuda terakhir yang terkenal sangat saleh (II Raja-Raja 22:8-20; 23:1-29). Setelah kematiannya, rakyat memilih putra keempat Yosia yaitu Yoahaz, yang juga dikenal sebagai Salum (Yehezkiel 23:30-34; I Tawarikh 3:15, Yeremia 22:10-12). Namun tiga bulan kemudian Firaon Nekho menawannya ke Mesir sehingga ia digantikan oleh Elyakim, putra kedua Yosia untuk memerintah sebagai raja atas Yehuda (II RajaRaja 23:31-34; II Tawarikh 36:1-4). Firaon mengubah Nama Elyakim menjadi Yoyakim (II Raja-Raja 23:34-36), dan ia tunduk di bawah kekuasaan Firaon dari Mesir kira-kira selama empat tahun (Yeremia 46:2). Nebukadnezar mengalahkan Firaon dari Mesir di Karkemis, yakni suatu benteng pertahanan yang sangat strategis di perbatasan antara Aram Utara dan Turki. Benteng ini mengawal tempat peneyeberangan Sungai Efrat. Kira-kira setahun kemudian, Nebukadnezar memasuki Yerusalem, mengobrak abrik kota itu dan menjarah semua harta benda yang ada di Bait Allah termasuk bejana-bejana dari emas. Ia juga menawan banyak kaum muda Yehuda ke Babel, termasuk Daniel dan ketiga sahabatnya (Daniel 1:1-3,6; Yehezkiel 33:21). Nebukadnezar membiarkan Yoyakim menjadi sebagai raja bonekanya. Setelah tiga tahun tunduk di bawah kekuasaannya, Yoyakim memberontak terhadap pemerintahan Babel (II Raja-Raja 24:1). Alkitab tidak mencatat apakah ia meninggal atau dibunuh ketika Nebukadnezar, raja Babel maju melawan dia, membelenggunya dengan rantai tembaga

untuk membawanya ke Babel (II Tawarikh 36:6). Kemudian Yoyakin, putra Yoyakim yang berusia 18 tahun (yang juga dikenal sebagai Konya) menduduki takhta raja (I Tawarikh 3:16-17; Yeremia 22:24; 24:1; 27:20; 28:4; 37:1). Ia menuruti cara-cara dan sikap ayahnya yang jahat (II Raja-Raja 24:8-9). Karena itu ia terkena kutuk dari Allah dan kehilangan tempat atau posisinya dalam garis keturunan Mesias (Yeremia 22:30). Tiga bulan kemudian, Yoyakin ditawan ke Babel bersama-sama dengan Yehezkiel dan sepuluh ribu orang yang berpengaruh serta tukang-tukang; dan ia (Nebukadnezar) mengeluarkan dari sana segala barang perbendaharaan rumah TUHAN (yang tersisa) .... tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang lemah dari rakyat negeri. (II Raja-Raja 24:8-16). Nebukadnezar kemudian mengangkat Matanya, yang adalah putra ketiga Yosia dan juga paman dari Yoyakin, untuk memerintah Yehuda. Namanya diganti menjadi Zedekia (Yehezkiel 24:17; I Tawarikh 3:15). Kira-kira 10 tahun kemudian, Zedekia pun memberontak melawan Nebukadnezar, sehingga Nebukadnezar kembali menyerang Yerusalem, merobohkan temboknya dan kali ini ia menghancurkan Bait Allah yang telah dibangun oleh Salomo (II Raja-Raja 24:18 - 25:21; II Tawarikh 36:11-21). Yehezkiel ditawan kira-kira delapan tahun setelah Daniel ditawan ke Babel. Yehezkiel ditempatkan di Tel-Abib di sepanjang Sungai Kebar -- suatu terusan irigasi yang mengalirkan air dari sungai Efrat ke ladang-ladang pertanian di pedalaman yang kemudian menyatu kembali dengan Sungai Efrat. Yehezkiel bernubuat selama 22 tahun (Yehezkiel 1:2; 29:17). Beritanya dapat dikategorikan ke dalam delapan pokok utama: 1. Penglihatan ajaib tentang Tuhan Allah yang berada dalam segala kemuliaanNya dan yang mengendalikan serta mengatur setiap perkara yang terjadi di dunia (Yehezkiel 1 - 3); 2. Nubuatan-nubuatan tentang hukuman atas Yerusalem dan KerajaanYehuda karena sikap mereka yang tidak mengindahkan Firman Allah yang membawa kehancuran Yerusalem dan penawanan atas Yehuda (Yehezkiel 4 - 24); 3. Pemberitaan Yehezkiel tentang hukuman atas bangsa-bangsa sekitar (Yehezkiel 25 - 32); 4. Para tawanan mendapat laporan bahwa Yerusalem dan Bait Allah telah dihancurkan (Yehezkiel 33); 5. Hukuman terhadap para pemimpin Israel yang berdosa dan terhadap Edom (Yehezkiel 34 - 35); 6. Yehezkiel secara ajaib menerima jaminan dari Allah bahwa umat Israel akan dikumpulkan dari antara bangsa-bangsa kafir dan akan kembali mewarisi tanah mereka (Yehezkiel 36); Pemulihan Israel tersebut digambarkan sebagai tulangtulang kering yang hidup kembali (Yehezkiel 37); 7. Campur tangan Allah ketika musuh-musuhNya bangkit dan negeri itu dibersihkan dari musuh-musuhnya (Yehezkiel 38 - 39); 8. Penglihatan Yehezkiel yang terakhir tentang Bait Allah masa yang akan datanng yang penuh dengan kemuliaan serta penyembahan yang baru (Yehezkiel 40 - 48).

Perkataan Firman Tuhan datang kepadaku ditemukan kira-kira 60 kali dalam kitabYehezkiel. Gelar Anak Manusia adalah gelar mesias dan ditemukan lebih dari 90 kali. Yesus menggunakannya ketika Ia berbicara tentang DiriNya (Lukas 5:24; 6:5). Stefanus pun menggunakannya ketika ia dilempari batu, lalu ia menjelaskan penglihatan sorgawinya dengan berkata: Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah 7:56). Pokok pikiran utama dalam kitab ini adalah: Mereka akan mengenal Akulah Tuhan, Allah mereka. Perkataan ini ditemukan kira-kira 68 kali.

Pendahuluan Daniel
Daniel adalah pemuda yang bersama-sama dengan Hananya, Misael, dan Azarya ditawan ke Babel bersama dengan beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan (Daniel 1:3). Mereka adalah termasuk dalam kelompok para tawanan pertama yang diangkut ke Babel ketika Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem dan menawan Raja Yoyakim (Daniel 1:1-7). Di kota Babilon, Daniel menyaksikan kejahatan di sekililingnya, namun ia tak pernah mengkompromikan keyakinannya yang ia ketahui sebagai kehendak Allah. Yehezkiel dan Daniel berada di Babel pada waktu yang bersamaan. Daniel telah berada di Babel kira-kira sepuluh tahun barulah Roh Kudus menggerakkan Yehezkiel untuk memuji kesalehan Daniel yang luar biasa, dengan mengatakan: Biarpun di tengahtengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub,..... demikianlah firman Tuhan ALLAH...... mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka (Yehezkiel 14:14,20) . Fasal pertama ditulis dalam bahasa Ibrani, fasal 2 sampai 7 ditulis dalam bahasa Aram, yang merupakan bahasa yang digunakan orang banyak. Fasal 1 sampai 6 menjelaskan bagaimana Daniel dan rekan-rekan tawanan yang karena ketaatan kepada Allah bisa berhasil dan menang melintasi tekanan serta tantangan hidup yang mengancam dan dapat menghancurkan kehidupan mereka. Fasal 3 dan 6 menceritakan tentang kelepasan ajaib yang dialami mereka. Fasal 4 dan 5 menjelaskan tentang hukuman atas para penguasa. Fasal 7 melaporkan tentang penglihatan Daniel mengenai keempat binatang. Kemudian dalam fasal 8 sampai 12, kembali Daniel menulis dalam bahasa Ibrani tentang peristiwaperistiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hanya Daniel yang ternyata dapat menjelaskan arti dari patung raksasa dalam mimpi Nebukadnezar dalam fasal 2. Ini merupakan cara yang digunakan Allah untuk mengalihkan Daniel kepada posisi yang terkemuka dalam pemerintahan. Patung dalam mimpi Nebukadnezar dalam fasal 2 dan binatang-binatang yang dinyatakan dalam penglihatan Daniel dalam fasal 7, keduanya menjelaskan tentang pemerintahan kerajaan-kerajaan Babel, Persia, Yunani, dan Roma secara berturut-turut. Ini adalah bangsa-bangsa yang akan memerintah dunia secara bergantian yang dimulai dari pemerintahan Nebukadnezar sampai genap zaman bangsabangsa itu (Lukas 21:24). Menjelang akhir zaman, seorang pemimpin dunia akan muncul yang dikenal sebagai antikristus yang akan berperang melawan orang-orang kudus (Daniel 7:21). NamunYesus Kristus akan kembali dan mengalahkannya dan akan

mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya (Daniel 2:44). Kerajaan ini dilukiskan lewat sebuah Batu yang tidak diperbuat oleh tangan manusia, yang akan menjadi semakin besar seperti gunung yang akan memenuhi seluruh bumi (Daniel 2:34-35). Pelayanan Daniel mencakup keseluruhan 70 tahun penawanan Yehuda. Ia bertugas sebagai pembesar di istana kerajaan Kasdim, Medi dan Persia. Daniel menulis pada waktu orang-orang Yahudi sedang mengalami penindasan yang sangat merendahkan dan ketika bangsa itu sedang berdukacita yang sangat dalam atas kehilangan semua harta benda mereka. Kitab Daniel merupakan penghiburan bagi para tawanan di Babel, karena kitab ini memberikan jaminan mengenai kemenangan Israel yang terakhir atas segala musuh-musuhnya. Kitabnya ini rupanya menjadi acuan dari orang-orang majus yang muncul beberapa ratus tahun kemudian ketik mereka mau mencari Yesus, karena mereka mengatakan: Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur (Matius 2:2) Kitab ini menceritakan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk ciptaanNya, termasuk setiap manusia dan pemerintahan di dunia ini. KeraajaanNya akan memenuhi seluruh bumi. Walaupun mudah sekali untuk terperangkap kepada keasyikan membicarakan halhal mendetail tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, namun perhatian utama kita adalah kepada pentingnya ketaatan yang jelas merupakan maksud utama penulisan kitab ini. Hal ini hanya dapat terlaksana bila kita giat membaca FirmanNya setiap hari untuk dipersiapkan dalam perjumpaan kita dengan Tuhan. Bangsabangsa akan bangkit dan jatuh, tetapi Kerajaan Allah akan tetap selama-lamanya. Yesus mengutip nabi Daniel ketika Ia berbicara tentang Pembinasa keji (Matius 24:15; Markus 13:14; bandingkan Daniel 9:27; 11:31; 12:11) dan tentang siksaan yang dahsyat (Matius 24:21; bandingkan Daniel 12:1) yang akan terjadi. Kristus juga mengutip Daniel ketika Ia mengatakan tentang tanda Anak Manusia di langit (Matius 24:30; bandingkan Daniel 7:13-14). Ditengah situasi ketika di mana kekuatan Iblis sedang merajalela, kita harus tetap ingat bahwa Daniel telah digerakkan oleh Roh Kudus tiga kali untuk memberi jaminan kepada setiap anak Allah bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya (Daniel 4:17,25,32).

Pendahuluan Yosea
Nabi Hosea diam di Israel, Kerajaan Utara dan ia bernubuat selama kira-kira 50 tahun. Pelayanannya terjadi selama generasi terakhir Kerajaan Utara, mungkin pada beberapa tahun terakhir dalam pemerintahan Yerobeam II, sebelum serangan bangsa Asyur yang mengakhiri Kerajaan Israel itu (Hosea 8:9). Tampaknya selama pelayanan Hosea sebagai nabi, Kerajaan Utara sedang mengalami kemakmuran yang sangat besar dan perluasan wilayahnya. Ini disebabkan oleh kemerosotan Aram dan Moab yang mengakibatkan Kerajaan Utara itu menguasai

sebagian besar jalur perdagangan timur-barat di kawasan itu. Namun, pusat penyembahan patung emas yang telah didirikan sebelumnya di kota Betel dan Dan telah menyiapkan jalan bagi menyusupnya penyembahan kafir yang tak bermoral yakni penyembahan kepada dewa Baal dan Asytoret (I Raja-Raja 12:28-32; Juga Hosea 2:13; 10:5-6; 13:2). Israel telah melanggar hubungan perjanjiannya dengan Allah, sama seperti seorang istri yang telah berselingkuh dengan kekasih lain dan telah mengingkari perjanjian nikahnya (Hosea 2:7-13). Hosea telah mengalami banyak penderitaan dan rasa malu karena tindak tanduk Gomer, istrinya. Pengalaman pahit ini telah menyiapkannya untuk memahami dukacita yang Allah rasakan atas kejahatan yang dilakukan bangsa Israel. Ia juga menyadari bahwa dosa-dosa mereka bukan hanya pelanggaran terhadap Hukum Allah, melainkan juga merupakan penghinaan kepadaNya dan kasihNya bagi mereka. Karena kasih Hosea yang rela mengampuni istrinya yang telah menyeleweng, maka hubungan dengan istrinya itu dipulihkan. Lewat pengalaman ini ia pun mengajak orang-orang Israel untuk bertobat dari perzinahan rohani yakni penyembahan berhala dan berbalik kepada Allah yang karena kasih dan kemurahanNya akan dapat memulihkan pemeliharaan dan berkatNya ke atas bangsa itu (Hosea 2:8,16; 10:12; 11:8-9; 12:6; 14:1,4). Hosea disebutkan beberapa kali di dalam Perjanjian Baru (bandingkan Hosea 6:6 dan Hosea 12:6 dengan Matius 9:13; 12:7; and Hosea 10:8 dengan Wahyu 6:16).

Pendahuluan Yoel
Hari Tuhan disebutkan lima kali (Yoel 1:15; 2:1,11,31; 3:14) dan Yehuda disebutkan enam kali (Yoel 3:1,6,8,18-20). Namun karena Kerajaan Utara tidak disebutkan, maka kita menduga negeri itu telah dihancurkan oleh bangsa Asyur dan Yerusalem akan segera mengalami kehancuran oleh bangsa Babel. Namun tak seorangpun yang dapat memastikan kapan dalam sejarah nabi Yoel menulis kitabnya karena tak ada raja atau nabi lain yang disebut dalam kitabnya. Berita dari Yoel merupakan peringatan kepada Yehuda, Kerajaan Selatan, mengenai akan datangnya bencana nasional, karena sikap mereka yang tidak mengindahkan Firman Allah. Yoel menggambarkannya sebagai serangan belalang yang menyapu negeri, merusak seluruh tanaman, membuat setiap pohon gundul dan akhirnya membawa bencana kelaparan yang dahsyat. Ia menubuatkan akan datangnya suatu bangsa yang kuat dan tidak terbilang banyaknya (Yoel 1:6) yang akan menyerang dan memakan habis sehingga meninggalkan di belakangnya padang gurun tandus, dan sama sekali tidak ada yang dapat luput (Yoel 2:3). Serangan ini datangnya dari utara (Yoel 2:20) yang membawa kehancuran total bagi bangsa Yehuda karena dosa-dosanya. Nabi itu juga menubuatkan akan datangnya hari Tuhan ketika Allah akan mencurahkan RohNya ke atas semua manusia (Yoel 2:28). Kita sekarang sedang hidup di hari-hari terakhir yang dimulai sejak hari Pentakosta, ketika para muridNya penuh dengan Roh Kudus, lalu mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kisah 2:4). Rasul Petrus mengatakan: Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel (Yoel 2:16).

Kemudian Petrus mengutip Yoel sama seperti yang dilakukan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma: Barang siapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan (Yoel 2:32; Roma 10:13). Ini berarti bahwa setiap orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan menerima Roh Kudus sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh nabi Yoel (Kisah 2:38; Yohanes 7:37-38; 16:7). Nubuatan Yoel juga menyatakan tentang waktu hukuman Tuhan itu akan menimpa yakni ketika Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka turun ke lembah Yosafat (Yoel 3:2). Lembah Yosafat, yang dikenal sekarang sebagai Lembah Kidron dan juga sebagai Lembah Keputusan, menunjuk kepada tempat di mana bangsabangsa yang menentang Kerajaan Allah akan berkumpul untuk diadili. Peristiwa historis ini digunakan untuk menggambarkan masa gemilang ketika Yesus Kristus akan menaklukkan musuh-musuhnya. . Raja Damai yang berkemenangan akan mengakhiri seluruh peperangan dan akan memulaikan pemerintahanNya yang penuh damai: Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar tidak akan melintasinya lagi..... TUHAN tetap diam di Sion (Yoel 3:17,21).

Pendahuluan Amos
Amos adalah seorang gembala dan pemungut buah ara dari desa berbukit yaitu Tekoa (Amos 1:1; 7:14). Tekoa terletak kira-kira 10 mil selatan Yerusalem. Namun, Allah memanggil Amos untuk melayani sebagai nabi di Israel, Kerajaan Utara (Amos 1:1; 3:9; 7:7-15). Karena ketaatannya atas panggilan ini, Amos harus menempuh perjalanan ke utara kira-kira 22 mil ke Betel, yang menjadi pusat penyembahan lembu emas oleh Israel. Nubuatan Amos tampaknya disampaikan di pintu gerbang (kota) (Amos 5:10,12,15), yang menjadi pusat kegiatan bisnis dan pemerintahan dan sekali gus lokasi di mana para tua-tua Israel memutuskan perkara bagi rakyat (Yeremia 17:19; 19:2-3). Di tempat inilah Allah berbicara melalui Amos yang menubuatkan tentang kehancuran Kerajaan Utara (Amos 5:1-3). Pada waktu itu, Uzia memerintah sebagai Raja Yehuda, Yerobeam II menjadi Raja Israel, dan nabi Yesaya, Hosea, dan Yunus sedang melayani. Kedua Kerajaan itu sedang dalam suasana makmur secara materi (II Tawarikh 26:1-16; II Raja_Raja 14:23,25), namun Amos mengecam mereka karena praktek-praktek keagamaan mereka yang korup dan segala jenis kejahatan yang mewarnai kehidupan mereka (Amos 2:4-8; 3:9-10; 4:1-5). Tampaknya segala peringatan yang disampaikan oleh gembala dari Tekoa ini tidak langsung digenapi, namun menurut Firman Tuhan, kira-kira 30 tahun kemudian Israel, Kerajaan Utara diserang dan dihancurkan oleh bangsa Asyur.

Pendahuluan Obaja
Kitab Obaja adalah kitab yang tersingkat dalam Perjanjian Lama, mungkin ditulis setelah kehancuran Yerusalem. Kebanyakan orang berpendapat bahwa Obaja bernubuat selama

pemerintahan Yoram, putra Ahab, atau Zedekia, Raja Yehuda yang terakhir, dan bersamaan waktu dengan nabi Yeremia. Obaja memperingatkan hukuman Allah yang pasti dan yang tidak memandang bulu ke atas semua orang yang menentang Allah dan umatNya. Nabi ini menubuatkan tentang kehancuran bangsa Edom yang telah menuruti teladan Esau, nenek moyang mereka yang tidak menghiraukan perkara-perkara rohani. Bangsa Edom telah mendukung Nebukadnezar dalam menghancurkan Yerusalem. Seharusnya mereka memperlihatkan simpati atau belas kasihan dan melindungi saudara mereka sebagai keturunan Abaraham dan Ishak (Obaja 1:10; Ulangan 23:7), namun mereka tidak melakukannya. Wilayah Edom terbentang di selatan Laut Mati dan sepanjang dataran gurun Araba. Tanah Edom juga disebut Gunung Seir -- suatu daerah pegunungan terjal yang tingginya kira-kira 3500 kaki dari dataran gurun dan kira-kira 4500 kaki di atas permukaan laut. Ibu kota Edom adalah Petra yang letaknya terlindung dtengah-tengah bukit-bukit batu karang. Orang-orang Edom sendiri dikalahkan oleh Nebukadnezar kira-kira empat tahun setelah ia mengalahkan Yerusalem. Bangsa Edom akhirnya dihancurkan dan tak pernah dipulihkan lagi. Obaja juga menubuatkan bahwa Yehuda akan dipulihkan dan mereka kembali akan memiliki pula tanah miliknya (Obaja 1:15-17). Obaja juga menyoroti pendirian Kerajaan Allah di bumi ketika Yesus Kristus datang kembali.

Pendahuluan Yunus
Yunus adalah nabi yang terkenal di Israel, Kerajaan Utara, selama pemerintahan yang makmur oleh Raja Yerobeam II yang jahat.Yunus telah menubuatkan keberhasilan militer yang besar Raja Yerobeam II atas bangsa Aram (II Raja-Raja 14:25). KitabYunus sebenarnya merupakan laporan sejarah tentang misi nabi Yunus ke Niniwe, musuh besar Israel, untuk mengumumkan kehancuran yang segera akan menimpa mereka. Pada awalnya, Yunus tidak mau menuruti apa yang Allah telah perintahkan kepadanya untuk dilakukan. Namun lewat pengalaman pahit, ia terpaksa mengikutinya. Ia tidak senang bila raja dan rakyat Niniwe bertobat lalu Allah berdasarkan belas kasihanNya membatalkan hukuman ke atas mereka. Kitab ini mengajarkan bahwa Allah tidak memandang bulu. Belas kasihan Hakim Dunia yang Maha Kuasa, Kudus dan Benar ini dapat menjangkau setiap orang yang mau bertobat kepadaNya. Yesus membandingkan pertobatan bangsa Niniwe, yang hanya mengenal sedikit tentang Allah, namun mau berpaling dari dosa-dosa mereka dan datang kepadaNya. Sebaliknya umat Israel memiliki sebegitu banyak pengetahuan akan Firman Allah namun tetap menolak untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Mesias mereka. Bangsa Niniwe bertobat setelah Yunus menyampaikan beritanya; namun kebanyakan pemimpin agama Israel menolak untuk bertobat, walaupun mereka telah banyak menyaksikan mujizat dan

mendengar berita tentang Yesus. Yesus berkata tentang mereka: Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orangorang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! (Matius 12:40-41). Allah menggunakan nabi ini dan pengalamannya di dalam perut ikan untuk meyakinkan bangsa Niniwe bahwa hanya ada Satu Allah yang Benar yang berkuasa dan mengendalikan alam dan setiap perkara yang terjadi di dunia ini. Kitab Yunus juga mengajarkan bahwa Allah menaruh perhatian atas bangsa kafir maupun Yahudi yang tanpa pengharapan dan tersesat.

endahuluan Mikha
Mikha adalah seorang desa yang diam di Yehuda selama pemerintahan Raja Yotam, Ahaz, dan Hizkia dari Yehuda. Pada waktu yang sama, Yesaya adalah nabi yang sedang melayani di Yerusalem. Mikha membeberkan dosa-dosa dari kedua Kerajaan yakni, Israel dan Yehuda, dan dengan berani memberitakan hukuman Allah yang akan dijatuhkan termasuk kepada Moresyet-Gat, kampung Kitabnya (Mikha 1:14). Ia juga menubuatkan tentang pemulihan dan kedatangan Kristus. Beritanya pasti menjadi sumber penghiburan bagi Raja Hizkia (Yesaya 1:1; Yeremia 26:18; Mikha 1:1). Pada masa itu Pekah dan Hosea adalah dua raja terakhir yang sedang memerintah Israel, Kerajaan Utara (II Raja-Raja 15:30; 17:1; 18:9). Dalam fasal 1 -- 3, Mikha dengan setia menjalankan tugasnya untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya (Mikha 3:8). Ia mengumukan kehancuran Israel (Mikha 1:6-7), maupun kemalangan yang akan menimpa Yerusalem dan Bait Suci (Mikha 3:12). Dalam dua fasal berikutnya, ia menubuatkan tentang hukuman dan pemulihan mereka: Terpaksa engkau berjalan sampai Babel; ...... di sanalah engkau akan ditebus oleh TUHAN dari tangan musuhmu (Mikha 4:10). Mikha juga menyampaikan nubuatan yang menarik bukan hanya mengenai lokasi kelahiran Yesus sebagai Mesias di Betlehem, melainkan juga mengenai asal usulNya: dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mikha 5:1). Penggenapan nubuatan ini sekali lagi menunjukkan ketepatan dari setiap Firman Allah. Nubuatan Mikha bertujuan untuk mendorong Israel danYehuda agar bertobat dari dosadosa mereka, kalau tidak hukuman Allah akan menimpa mereka. Karena itu ia memperingatkan Israel: Aku membuat engkau menjadi ketandusan (Mikha 6:16). Mikha mengakhiri kitabnya dengan berita pengharapan dan pernyataan tentang penggenapan akhir berkat perjanjian yang Allah telah sampaikan kepada Abraham dan Yakub (Mikha 7:20).

Pendahuluan Nahum
Nabi Nahum mungkin hidup sebelum kekalahan Ayur, mungkin bersamaan waktu dengan Zefanya. Kedua nabi itu menubuatkan tentang kehancuran Niniwe, yang tertunda kira-kira 150 tahun karena pertobatan mereka yang diakibatkan oleh pemberitaan Yunus tentang hukuman yang akan menimpa mereka (Nahum 1:1,8; Zefanya 2:13-15). Kedua nabi ini bernubuat setelah Yesaya, selama pemerintahan Manasye, Raja Yehuda yang jahat. Agak sulit untuk mempercayai bahwa ibukota dari Kerajaan Asyur yang perkasa itu harus jatuh karena temboknya yang sangat kokoh yang membentengi kota itu. Namun, Nahum dengan tegas menubuatkan kehancuran Niniwe sebagai akibat dari kekejamannya, penindasannya, perzinahannya, dan perbuatan sihirnya. Kerajaan Asyur yang perkasa, yang telah menghancurkan Israel, Kerajaan Utara, akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Babel dalam kurun waktu 50 setelah nubuatan Nahum disampaikan. Sejak itubangsa Asyur tak pernah bangkit kembali untuk berkuasa. Habakuk hidup ketika Nebukadnezar sedang dalam puncak kejayaannya. Mungkin ia bernubuat di Yehuda pada tahun-tahun akhir pemerintahan Yosia dan pemerintahan Raja Yoyakim. Berbeda dengan Yosia, ayahnya, Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata TUHAN (2 Raja-Raja 23:37). Habakuk mengecam kebobrokan moral yang merajalela pada masanya. Ia menubuatkan bahwa Allah akan mengizinkan bangsa Babel yang kejam untuk mendatangkan hukuman atas Yehuda. Namun, walau mereka harus melintasi pengalaman-pengalaman yang dahsyat itu, orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (Habakuk 2:4; bandingkan Yohanes 3:36; Roma 1:17; Galatia 3:11; Ibrani 10:38). Habakuk berbicara kepada semua orang percaya sepanjang zaman agar menerima setiap situasi dengan iman karena kebenaran dan keadilan pada akhirnya akan menang.

Pendahuluan Habakuk
Nabi Nahum mungkin hidup sebelum kekalahan Ayur, mungkin bersamaan waktu dengan Zefanya. Kedua nabi itu menubuatkan tentang kehancuran Niniwe, yang tertunda kira-kira 150 tahun karena pertobatan mereka yang diakibatkan oleh pemberitaan Yunus tentang hukuman yang akan menimpa mereka (Nahum 1:1,8; Zefanya 2:13-15). Kedua nabi ini bernubuat setelah Yesaya, selama pemerintahan Manasye, Raja Yehuda yang jahat. Agak sulit untuk mempercayai bahwa ibukota dari Kerajaan Asyur yang perkasa itu harus jatuh karena temboknya yang sangat kokoh yang membentengi kota itu. Namun, Nahum dengan tegas menubuatkan kehancuran Niniwe sebagai akibat dari kekejamannya, penindasannya, perzinahannya, dan perbuatan sihirnya.

Kerajaan Asyur yang perkasa, yang telah menghancurkan Israel, Kerajaan Utara, akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Babel dalam kurun waktu 50 setelah nubuatan Nahum disampaikan. Sejak itubangsa Asyur tak pernah bangkit kembali untuk berkuasa. Habakuk hidup ketika Nebukadnezar sedang dalam puncak kejayaannya. Mungkin ia bernubuat di Yehuda pada tahun-tahun akhir pemerintahan Yosia dan pemerintahan Raja Yoyakim. Berbeda dengan Yosia, ayahnya, Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata TUHAN (2 Raja-Raja 23:37). Habakuk mengecam kebobrokan moral yang merajalela pada masanya. Ia menubuatkan bahwa Allah akan mengizinkan bangsa Babel yang kejam untuk mendatangkan hukuman atas Yehuda. Namun, walau mereka harus melintasi pengalaman-pengalaman yang dahsyat itu, orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (Habakuk 2:4; bandingkan Yohanes 3:36; Roma 1:17; Galatia 3:11; Ibrani 10:38). Habakuk berbicara kepada semua orang percaya sepanjang zaman agar menerima setiap situasi dengan iman karena kebenaran dan keadilan pada akhirnya akan menang.

Pendahuluan Zefanya
Zefanya, cicit dari Raja Hizkia adalah nabi yang melayani selama permulaan pemerintahan Raja Yosia. Zefanya mungkin mempengaruhi Raja Yosia dalam usaha pembaharuan yang diadakannya yang dimulai pada tahun ke 12 pemerintahannya (II Tawarikh 34:3-7). Zefanya menubuatkan tentang kejatuhan Yerusalem kira-kira 30 tahun sebelum peristiwa itu terjadi (Zefanya 1:4-13). Ia memperingatkan bahwa hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam akan menimpa sebab mereka telah berdosa kepada TUHAN (Zefanya 1:15,17). Kemudian nabi mengajak Yehuda untuk bertobat: Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukumNya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati (Zefanya 2:3). Ia menubuatkan bahwa bangsa Yehuda akan dihukum karena menyembah berhala, dan bangsa-bangsa sekitar merekapun akan dihukum karena dosa-dosa mereka (Zefanya 1:1 - 3:8). Allah menyatakan bahwa Yerusalem akan ditimpa kehancuran; namun pada saat yang telah ditetapkan negeri itu akan dipulihkan kembali (Zefanya 3:9-20). Zefanya juga menubuatkan bahwa Kristus akan datang dengan kuasa dan kemuliaan. Hari itu yang dikenal sebagai hari Tuhan yang besar, disebutkan lebih dari 15 kali dalam ketiga fasal ini. Hari Tuhan akan menjadi hari murka bagi mereka yang berbuat jahat; namun akan menjadi hari yang penuh berkat bagi mereka yang setia yang nantinya akan bersorak-sorai, ...... bertempik sorak .... Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu .... Ia bergirang karena engkau dengan sukacita (Zefanya 3:14-17). Betapa bahagianya hari itu! Zefanya, Nahum, Habakuk, dan Yeremia mungkin bernubuat pada waktu yang sama. Mereka terhisab nabi-nabi terakhir sebelum penawanan oleh bangsa Babel.

Pendahuluan Hagai dan Zakharia


Hagai dan Zakharia dilahirkan di Babel selama penawanan dan mereka kembali ke Yerusalem setelah Raja Koresy memerintahkan untuk membangun kembali Bait Suci. Periode sejarah Israel di mana kedua nabi ini melayani dilaporkan dalam kitab Ezra, Nehemia, dan Ester. Pekerjaan pembuatan fondasi Bait Suci dimulai segera setelah para tawanan pertama tiba di Yerusalem di bawah kepemimpinan Zerubabel, yang adalah keturunan Raja Daud. Setelah fondasi telah diletakkan, bangsa Israel menghadapi oposisi atau tantangan dari bangsa Samaria sehingga pembangunan menjadi terhenti (Ezra 4:23-24). Hagai dan Zakharia mulai berkhotbah di Yerusalem kira-kira 15 tahun setelah peristiwa ini terjadi. Hagai adalah nabi pertama yang berbicara atas nama Allah setelah kembalinya bangsa Israel dari penawanan di Babel. Ia menegur mereka yang hanya memperhatikan pembangunan rumahnya sendiri lalu melalaikan pembangunan Rumah Allah. Ia menasihatkan mereka untuk mendahulukan Tuhan. Zakharia bergabung dengan Hagai dalam memberikan dorongan kepada orang-orang Yahudi untuk memprioritaskan tanggung jawab spiritual mereka yakni membangun kembali Bait Suci: Para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan itu dengan lancar digerakkan oleh nubuat nabi Hagai dan nabi Zakharia bin Ido. Mereka menyelesaikan pembangunan menurut perintah Allah Israel (Ezra 6:14) kira-kira empat tahun kemudian. Pemberitaan Firman Allahlah yang telah mengubah sikap orang Israel dari sikap acuh kepada ketaatan untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Mereka meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri dan menyelesaikan pembangunan Bait Suci. Malaikat Tuhan (Zakharia 3:5-6) berperan besar dalam kitab Zakharia. Zakharia juga menubuatkan lebih banyak hal tentang Kristus dari pada nabi-nabi lainnya terkecuali Yesaya (Perhatikan Zakharia 3:8; 9:9,16; 11:11-13; 12:10; 13:1,6). Nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali ditemukan dalam Zakharia 6:12; 14:1-21.

Pendahuluan Maleakhi
Maleakhi mungkin telah bernubuat lebih dari 100 tahun setelah Zerubabel memimpin para tawanan kembali ke Yerusalem. Kerinduan Maleakhi adalah agar bangsa Israel akan memperbaharui hubungan perjanjian mereka dengan Allah. Mereka belum terjerumus ke dalam penyembahan berhala, namun sikap acuh dan keduniawian telah menguasai hati mereka sebagaimana kita dapat saksikan pula di kalangan sebagian masyarakat Kristen masa kini. Maleakhi menunjukkan dosa-dosa mereka yang telah memisahkan umat Israel dari berkat-berkat Allah dan mengajak mereka untuk bertobat (Maleakhi 3:7).

Dalam fasal 1, Maleakhi pertama-tama menasihatkan Israel untuk kembali kepada Tuhan yang mengasihi mereka. Kemudian dalam fasal 2, ia berbicara tentang keadaan para imam dan menunjukkan kemunafikan mereka. Dalam fasal 3, ia memandang 400 tahun ke depan kepada masa Perjanjian Baru dengan mengatakan: Lihat, Aku menyuruh utusanKu (Yohanes Pembaptis), supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu! ..... Malaikat Perjanjian (Yesus) yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang (Maleakhi 3:1). Akhirnya, Maleakhi menubuatkan akan datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu (Maleakhi 4:5), ketika setiap orang yang berbuat fasik akan dibinasakan dan setiap orang yang hidup memperkenankan Tuhan akan diberi pahala (Maleakhi 4:1-2).