P. 1
aceh

aceh

|Views: 30|Likes:
Dipublikasikan oleh Muhammad

More info:

Published by: Muhammad on Sep 06, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2011

pdf

text

original

DAFTAR PONDOK PESANTREN UNIT USAHA AGRIBISNIS PROPINSI ACEH

No. 1
I 1. Pondok Pesantren 2 Kabupaten: ACEH TENGAH PP. Darul Mukhlisin Tan Saril Burnijim et, Bebesan Telp : (0643) - 322220 Jl.Kala Tenang, Bener Kelimpah Utara, Bandar Telp : 609 153 Palawija, Peternakan, Koperasi. Palawija, Sapi, Ikan Air Tawar, Koperasi. Alamat 3 Santri 4 Guru 5 Bidang Usaha 6

2.

PP.Yayasan Darussaadah

363

16

II 3.

Kabupaten : ACEH BARAT. PP. Babussalam Cut Mutiah, Ujong Baroh, Johan Pahlawan. Telp. : (0655) - 21789. 946 41 Padi, Palawija, Sawit, Singkong, Unggas, Koperasi. Padi, Unggas, Peternakan, Koperasi. Sawit, Peternakan, Koperasi. Buah-Buahan, Padi, Sayuran, Singkong, Peternakan, Koperasi. Buah-Buahan, Padi, Tambak, Koperasi.

4.

PP. Ar Raudhatun Nabawiyah

Desa Mesjid Baro, Samatiga Telp :

456

27

5.

PP. Darunnizham

Dusun Aula, Tanoh Anom, Teunom Telp : (0655) - 22165 Desa Babah Krueng, Jaya Telp : (0651) - 95252

488

26

6.

PP. Guppi Tgk Cik Babah Krueng

585

10

7.

PP. Yayasan Budi

Jl. Cut Nyak Din,Janguet Jaya Telp : (0651) – 95094

938

86

III 8.

Kabupaten : ACEH BESAR. PP. Bustanul Atfhal Jl. T. Rayek, Lansujen, Lhoong. Telp : 369 20

Sayuran, Singkong, Unggas, Koperasi.

9.

PP. Dayah Ruhul Islam

Banda Aceh – Medan Km 32 Lambeungak, Indrapuri

365

18

Palawija, Padi, Peternakan,

(286)

Telp : 10. PP. Tgk Chie Tanoh Abee Desa Ujung Mesjid, Seulimeum. Telp : (0651) - 93132 620 65

Koperasi. Buah-Buahan, Padi, Sawit, Peternakan, Koperasi. Padi, Palawija, Singkong, Peternakan, Koperasi. Padi, Palawija, Singkong, Unggas, Peternakan, Koperasi. Padi, Sayuran, Singkong, Ikan Air Tawar, Koperasi. Padi, Sayuran, Peternakan, Koperasi. Palawija, Sayuran, Singkong, Koperasi. Sayuran, Peternakan, Koperasi

11.

PP. Darul Ihsan Tgk H. Hasan K

Tgk Glee Iniem, Siem, Darssalam. Telp : (0651) - 26008

347

33

12.

PP. Darul Aman

Tungkop, Lampuuk, Darussalam Telp :

400

37

13.

PP. Darul Ulum

Jln. Syah Kuala, Banda Aceh Telp :

1558

44

14.

PP. Dayah Miftahul Salam

Teu Dayah Samahani, Sukamakmur. Telp : Punie, Darul Imarah Telp :

590

22

15.

PP. Tarbiyatul Ula Punie

1500

50

16.

PP. Dayah Pantee

Ateung Tuha Pagaraye No. 17, Pantee, Ingin Jaya Telp : (0651) - 27411

384

40

17.

PP. Dayah Riyadhus Shalihin

Blang Bintang Lama Km 85, Ateuk Nguk, Ingin Jaya. Tepl : (0651) - 26830

436

22

Buah-buahan, Padi, Sayuran, Unggas, Peternakan, Koperasi. Padi, Palawija, Singkong, Unggas, Peternakan, Koperasi.

18.

PP. Dayah Babussa’adah

Mata Le Gle Gurah, Peukan Bada Telp : (0651) - 45344

550

21

IV

KABUPATEN ACEH UTARA PP. Mahadul Ulum Diniyah Mideunjok Kemukiman, Mesjid Raya, Samalanga, Aceh Utara Telp: 1527 183

19.

Pertanian, Perikanan, Koperasi

(287)

Pondok Pesantren Darul Ulum Nangroe Aceh Darussalam Nama Pontren Pondok Pesantren Darul Ulum Alamat Jl. Syiah Kuala 5, Banda Aceh, DI Aceh Pendiri Tgk H. Mahyidin Yusuf Tahun berdiri 1 Juni 1990 Pimpinan Drs. Muhammad Isa Ali Jumlah santri 653 orang (321 orang putra dan 332 orang putri) Jumlah guru/ustadz 85 orang Ciri khas/kajian utama Pembinaan hafidz dan hafidzah 1. Sejarah Berdirinya Ide pendirian pesantren di lakukan di komplek Yayasan Pembangunan Umat Islam (YPUI) Banda Aceh. Sejak yayasan berdiri pada 17 Oktober 1961 hingga 1980 belum terwujud. Ide itu kembali muncul pada awal 1990. Kala itu pemerintah pusat tengah mencanangkan madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Departemen Agama memberikan kesempatan kepada Kanwil Depag Aceh untuk mendirikan MAPK. Syaratnya harus (1) berada di lingkungan pesantren yang ada di pusat kota. Kanwil Depag kemudian menawarkan pendirian MAPK di atas tanah komplek YPUI. Mei 1990 pimpinan yayasan Tgk H. Mahyidin Yusuf memutuskan menerima tawaran tersebut. Kemudian memberi nama pondok pesantren Terpadu Darul Ulum. Untuk proses administrasi dan pendaftaran menugaskan Drs. Muhammad Isa Ali selaku Ketua Yayasan. Ia juga Kasi Madrasah Aliyah Kanwil Depag. Akhirnya pada 1 Juni 1990 secara resmi Pondok pesantren Darul Ulum terdaftar di Kanwil Depag. Didirikan diatas areal 48.938 M2 terletak dijalan Syiah Kuala 5 Kelurahan Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kodya Banda Aceh. Nama Darul Ulum digunakan dengan tujuan membina generasi yang berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berfikiran realistis dalam kerangka iman dan takwa. 2. Penyelenggaraan Pendidikan Sistem pendidikan menganut sistem madrasah /sekolah yang terintegrasi dengan sistem pesantren. Masa pendidikan enam tahun secara berjenjang. Mulai tingkat tsanawiyah/SMP hingga Aliyah/SMU. Untuk melaksanakan program tersebut didirikan madrasah Tarbiyah Muta’alimim Islamiyah (MTMI), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (Mts),juga sekolah umum (SMU) dan juga sekolah menengah pertama (SMP). Keterpaduan dalam pendidikan di formulasikan setiap santri/santriwati. Jadi yang terdaftar di Mts/MA/SMP/SMU,

otomatis terdaftar sebagai santri/santriwati di MTMI. Dengan demikian mereka akan mampu memadukan ilmu yang dipelajari di sekolah umum dengan pendidikan agama melalui pesantren. Sistem madrasah mengacu pada pada kurikulum Depag, sedangkan untuk tingkat SMP, SMU menggunakan kurikulum Depdiknas. Pada masa akhir pendidikan para santri/santriwatii dapat mengikuti Ebtanas dan memiliki ijazah yang dikeluarkan pemerintah. Bahkan Madrsah Tsanawiyah sejak tahun pelajaran tahun 1998/1999 telah memperoleh akreditasi dengan status disamakan. Sehingga diberi wewenang penuh untuk menyelenggarakan Ebta/ Ebtanas tersebut. Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara klasikal juga dilakukan pada MTMI. Dengan menggunakan kurikulum pesantren yang disusun tersendiri berdasar sintesa dari beberapa pesantren yang ada. Seperti Pondok Pesantren Modern Gontor dan pesantren-pesantren di Propinsi DI Aceh. Kurikulum pesantren ini diarahkan pada upaya transformasi pemahaman nilai-nilai Islami melalui literat berbahasa Arab klasik dan kontemporer.Selain kurikulum yang sudah diprogramkan, Darul Ulum juga menyelenggarakan program ekstra kurikuler. Bentuknya berupa pembinaan mental dan ketrampilan. 3. Sarana dan Prasana Pihak Darul Ulum mengakui bahwa perbandingan jumlah santri/santriwati yang keluar masuk tidak seimbang, satu berbanding tiga. Akibatnya penggunaan sarana dan prasarana yang ada tak memadai. Hanya saja keterbatasan dana , masalah te rsebut belum dapat teratasi. Bertolak dari persoalan tersebut, pihak pesantren telah merancang rencana (2)

pengembangan dan pembangunan kawasan. Disesuaikan dengan zona dan peruntukannya.Realisasi rencana tersebut dilakukan dengan skala prioritas. Selain penataan lingkungan, juga pengadaan sarana dan prasarana, seperti Laboratorium MIPA, bahasa, perpustakaan dan bengkel kerja. Untuk memperbaiki keterbatasan sumber daya manusia, pihak pesantren berupaya meningkatkan manajemen pondok, misalnya menerapkan sistem kerja efektif dan efisien. Membuat kriteria pendidikan minimal S1 bagi para guru dan pengasuh santri juga melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta dalam bidang pelatihan manajemen dan ketrampilan, serta membuka jalur dengan lembaga-lembaga pemberi beasiswa. Terakhir melakukan program kaderisasi dengan jalan merekrut santri/santriwati yang berprestasi. 4. Bidang Usaha Yang Dikembangkan Darul Ulum memiliki Koperasi, tetapi tidak ditujukan untuk usaha yang menghasilkan (proft oriented). Karena itu kegiatan ekonomi yang digerakan tidak nampak. Meski demikian, untuk memenuhi kebutuhan santri, sirkulasi keuangan berjalan cukup besar lebih-lebih utnu kebutuhan makan santri pasokan bahanbahan untuk dapur umum dan kantin pesantren cukup besar. Kenyataan ini memberi lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, misalnya sebagai tenaga administratif, buruh, dan pasokan bahan makanan. Sementara untuk pemberdayaan masyarakat lebih ditekankan pada bidang keagamaan caranya dengan menghidupkan shalat berjamaah, peringatan hari besar Islam dan mengirim duta pesantren untuk mengisi kegiatan keagamaan di tempat lain.

Selain itu sejak berdiri Darul Ulum telah melaksanakan program safari Ramadhan. Secara khusus lembaga ini pun membangun ruko dengan maksud mendukung kegiatan bidang ekonomi. Melalui peningkatan sarana dan prasarana serta penataan pembangunan, maka semua fasilitas di prediksikan mampu menampung 1.500 orang. Pondok Pesantren Mudi Mesra AcehUtara Nama Pontren Pondok Pesantren Ma’hadul Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raua Samalanga (Mudi Mesra) Alamat Mideun Jok, Kemungkinan Mesjid Raya Samalanga, Aceh Utara Daerah Istimewa Aceh Pendiri Faqeh Abdul Ghani Pimpinan Tgk. H. Hasanoel Basry Jumlah santri 1.527 santriwan dan 910 santriwati Jumlah guru/ustadz 183 guru Ciri khas/kajian utama Santri wajib mondok 1. Sejarah Berdirinya Mudi didirikan semenjak pemerintahan Sultan Iskandar Muda, di bawah pimpinan Faqeh Abdul Ghani yang (3)

berlokasi di Desa Mideun Jok. Tempat Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Tepatnya di sebelah Barat kota industri/gas alam Lhokseumawe kirakira 100 km. Setelah pimpinan pertama wafat pesantren tersebut di pimpin oleh banyak para ulama secara berganti-ganti hingga tahun 1927, tetapi sayangnya para ulama tersebut kurang jelas identitasnya. Barulah pada tahun 1927 pesantren tersebut di pimpin oleh Tgk. H. Syihabuddin bin Idris. Jumlah santri saat itu 100 orang putra dan 50 orang putri. Dengan tenaga pengajar lima orang putra dan dua orang putri serta bangunan tempat penampung para santri terdiri dari barak-barak darurat. Setelah Tgk. H. Syihabuddin bin Idris wafat (1935) pesantren tersebut di pimpin oleh adik iparnya yaitu Tgk. H. Hanafiah bin Abbas (Tgk Abi). Dengan 150 orang santri yang terdiri dari santri 50 orang, tenaga pengajar 10 orang putra dan 5 orang putri. Pesantren terus berjalan meskipun tempat penampungannya masih memakai barak-barak seperti di masa Tgk H. Syihabuddin bin Idris. Dalam masa kepemimpinan Tgk. Abi pernah diperbantukan kepada Tgk. M. Shaleh lebih kurang dua tahun. Alasannya karena Tgk. H. Hanafiah berangkat ke Mekkah untuk menambah ilmu pengetahuannya. Sejak Tgk. H. Hanafiah wafat (1964) pesantren tersebut dipimpin oleh salah seorang menantunya, yaitu Tgk. H. Abdul Aziz bin M. Shaleh ia lulusan dari Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan. Semenjak kepemimpinan di tangan Abdul Aziz pesantren tersebut terus bertambah muridnya, terutama dari Banda Aceh dan Sumatera.

Dari segi pembangunanpun, pesantren mulai mengalami perubahan dari barak-barak darurat menjadi asrama semi permanen berlantai tiga. Untuk pelajar putri pun di bangun asrama berlantai dua yang dapat menampung 150 orang di lantai atas, sedangkan di lantai bawah digunakan untuk mushalla. Setelah Tgk. H. Abdul Aziz bin M. Saleh wafat (1989), pesantren tersebut dipimpin oleh salah seorang menantunya yaitu Tgk. H. Hasanoel Basry bin H. Gadeng ia merupakan alumni pesantren itu sendiri. Di masa kepemimpinannya pesantren tersebut semakin bertambah muridnya, bahkan telah mencapai 1.527 orang santri. Terdiri dari 910 santriwan dan 617 santriwati. Tak kurang 183 orang dewan guru, 124 orang guru tetap dan 59 orang guru cadangan, terdiri dari (173 orang guru lakilaki dan 10 orang perempuan). Jumlah keseluruhan santriwan dan santriwati dan dewan guru 1.710 orang. Kini Mudi telah banyak menghasilkan alumni yang sebagian dari mereka melanjutkan studinya baik di dalam maupun di luar negeri. Ada pula yang sudah bekerja di lembaga instansi pemerintah dan juga berwiraswasta. Banyak di antara para lulusannya yang berkarya mendirikan pesantren di desa mereka masing-masing. Pesantren tersebut telah menciptakan para lulusannya yang bermanfaat bagi pemerintah dan bagi masyarakat dalam membangun manusia seutuhnya. Untuk mengoperasikan pesantren tersebut dibentuklah organisasi dan kelembagaan. Terdiri dari pimpinan yayasan, pimpinan pesantren (Mudir), Wadir-wadir), Pesantren juga mendirikan sejumlah organisasi otonom seperti pondok koperasi pesantren (Kopontren), pesantren (4)

mitra, majelis taklim, TPA dan rabithah alumni. Ciri khusus atau keunggulan dari Pontren Mudi Mesra, para santri tidak dibenarkan mengikuti pendidikan formal di luar kompleks. Selama masih belajar di pesantren dan tidak dibenarkan menginap di luar kompleks Lembaga telah menyediakan tempat mondok serta cara metode klasikal. 2. Kondisi Masyarakat Sekitar Pontren terletak di Desa Mideun Jok berbatasan dengan di sebelah kiri Desa Kampong Putoh. Sebelah kanan dengan Desa Mideun Geudong jaraknya ke pusat Kota Samalanga sekitar 3 km. Mata pencaharian masyarakat sekitar pondok pesantren sekitar 74,5 persen adalah petani. Tingkat pendidikan umumnya tamat sekolah dasar sekitar 71 persen. Mereka umumnya masih memiliki sifat kekeluargaan. Di sekitar pondok pesantren masyarakat memiliki potensi bertani. Terdapat areal persawahan yang luasnya sekitar 150 hektar dan perkebunan sekitar 35 hektar. 3. Keadaan Santri dengan Ustadz/Guru Dari jumlah santri sebanyak 1.527 terdiri dari : 86,9 persen berusia 15 hingga 25 tahun. Latar belakang pendidikan santri 65,5 persen berasal dari SLTP atau sederajat. Sedangkan tingkat SMA atau sederajat sekitar 22,3 persen. 4. Kegiatan Pendidikan Metode pengajaran dan pendidikan di lembaga ini terdiri dari tiga tingkat, Ibtidaiyah dua tahun, tsanawiyah tiga tahun dan aliyah 3 tahun. Para santri di semua tingkat mendapatkan materi khusus praktik berdakwah setiap malam jumat. Mereka juga diwajibkan shalat berjamaah lima waktu. Sedangkan para santri tingkat Aliyah

diberi materi khusus untuk mengikuti pelajaran tambahan dari pimpinan. Kurikulum dikonsentrasikan pada mata pelajaran tafsir, hadits, fiqih. Selain itu usul fiqih, aqidah kalam serta dakwah. Tak ketinggalan materi lain sebagai penunjang keterampilan hidup mandiri dan pengembangan masyarakat. Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Arab, Indonesia, dan Aceh. Kegiatan yang dilaksanakan pondok pesantren meliputi kegiatan pendidikan, seperti belajar, ujian, atau evaluasi, pembagian rapor, dan ujian kenaikan kelas. Disamping itu, juga kegiatan yang sangat penting, yakni ibadah meliputi kegiatan amaliah wajib dan amaliah sunat. Yang tidak kalah penting untuk diajarkan di pesantren ini adalah gotong royong meliputi kegiatan kebersihan asrama, lingkungan, persawahan atau perkebunan. Bagian hubungan masyarakat juga melaksanakan kegiatan fardhu kifayah. Misalnya peringatan Maulid Nabi, kegiatan pendanaan, gerakan sosial, jum’atan dan kegiatan dakwah. Sementara bagian pertahanan keamanan mewajibkan santri untuk belajar kedisiplinan, memberantas kriminal, melakukan ketertiban lembaga. Dan kegiatan reserse atau badan intelijen. Dalam kegiatan ekstra kurikuler Pontren Mudi Mesra bermitra dengan Puskesmas bidang Pesantren Mitra. Kegiatannya memberantas penyakit demam berdarah, diare, dan lain-lain. Selain itu melaksanakan amal sehat, gizi, kesehatan lingkungan, penyuluhan kesehatan masyarakat di setiap desa dan sebagainya. Selain bidang kesehatan, Pontren juga menyelenggarakan kursus bahasa Arab dan Inggris, tak ketinggalan pelatihan kompute r, pertukangan pertanian dan perkebunan. 5. Sarana daan Prasarana (5)

Sebagai upaya untuk memajukan pondok dalam bidang fisik, lembaga ini memiliki bangunan permanen berupa asrama pemondokan berlantai tiga dan empat, dilengkapi laboratorium bahasa, perpustakaan, dan ruang pos kesehatan. Untuk para guru disediakan perumahan guru total tanah yang digunakan untuk bangunan sekitar 3 hektar. Dalam bidang non fisik, Pontren memberikan kesempatan untuk meningkatkan ketrampilan. Para santri bebas memilih untuk mengikuti pelatihan manajemen, komputer, bahasa maupun tata boga. Para santri yang telah menyelesaikan pendidikannya, diberi peluang dan kemudahan untuk mendirikan Pontren di daerahnya masing-masing. Untuk mempererat tali silaturahmi diadakan rabithah alumni, kegiatan majelis taklim taman pendidikan Al Quran (TPA) serta gotong royong. 6. Bidang Usaha Yang Dikembangkan Sejak tahun 1982 Pontren telah membentuk badan usaha berupa koperasi yang bergerak dalam bidang warung serba ada (Waserda), kantin dan simpan pinjam. Badan usaha itu dinamakan Kopontren AlBarkah, beranggotakan santri dan masyarakat sekitar. Disamping itu, Pesantren Mudi Mesra juga telah memiliki areal perkebunan seluas 250 hektar. Dari lahan tersebut 25 hektar untuk penanaman kelapa sawit. Dalam pengembangan dan penberdayaan masyarakat, mereka memberikan pinjaman modal usaha. Untuk para petani diberikan bibit dan pupuk. Pinjaman tersebut dikembalikan setelah selesai panen.

Sistem pendidikan tradisional murni 1. Sejarah Berdirinya Pesantren ini berawal dari pengajian kecil kalangan dewasa setiap malam Sabtu di tahun 1984. Pengajian itu makin lama makin berkembang dan mengkristal menjadi pesantren. Berkat dukungan masyarakat, khususnya kemasjidan Daroy, maka pada 1988, pesantren ini mulai menerima santri dari berbagai daerah di Sumatera termasuk dari Jawa. Pendiri pesantren tersebut Tgk. Haji Sofyan Ahmad, ia mendirikan pesantren/dayah setelah mendapat petunjuk dari gurunya, Tgk Haji Syekh Abdul Wahab Seulimun. Pesantren Dayah Tarbiyatul Ula Punie menjadi salah satu cabang Dayah Ruhul fata pimpinan Syekh tersebut. Syekh Abdul Wahab adalah seorang pejuang kemerdekaan yang menganut Tharekat Syathariah dan Kulutiah. Tharekat ini berasal dari Syekh Qusyaisyi Dhahir Madinah yang terus berkembang hingga saat ini. Menempati lokasi seluas 1,5 Ha, pesantren terletak di desa Punie Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 9 km dari kota Banda Aceh pesantren ini memiliki pemandangan yang cukup indah karena letaknya di daerah perbukitan, sehingga aman dari banjir. Selain itu, letaknya yang tepat di tengahtengah pemukiman membuat pesantren mudah dijangkau. Para santri merasa aman dn tenang menuntut ilmu di pesantren, karena jauh dari kebisingan kota. Pesantren dialiri oleh sebuah sungai yang sebagian airnya ditampung dalam sebuah waduk kecil hingga berfungsi sebagai tempat mencuci pakaian serta perikanan rakyat. Selain itu, lahan pertanian yang subur menjadi potensi yang besar (6)

Pondok Pesantren Tarbiyatul Ula Punie Aceh Besar Nama Pontren Dayah Tarbiyatul Ula Punie Alamat Punie, Darul Imarah, Aceh Besar DI. Aceh Pendiri Tgk. Haji Sofyan Ahmad Tahun berdiri 1984 Pimpinan Tgk. Haji Sofyan Ahmad Jumlah santri 1.500 orang Jumlah guru/ustadz 15 orang Ciri khas/kajian utama

dalam pengembangan agribisnis. Untuk itu, dukungan pemerintah sangat diharapkan dalam pengembangan usaha ini. 2. Hubungan Masyarakat Sekitar Salah satu kekhasan lembaga pendidiakn ini adanya hubungan erat antara masyarakat dengan pondok pesantren. Hal ini dapat dimengerti mengingat pendirian pesantren Tarbiyatul Ula didukung sepenuhnya oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian, rasa memiliki masyarakat sekitar terhadap pondok sangat kuat dan inilah yang menjadi ciri khas kebersamaan pondok dibanding lem baga sejenis ditempat lain yang seringkali terkesan putus hubungan dengan masyarakat sekitar. Salah satu bentuk hubungan erat tersebut, adalah program manasik haji. Program ini terlaksana atas kerjasama Kandepag, Perbankan dan Pesantren. Sejak 1992 setiap tahun calon jamaah haji dari Aceh Besar Kota Banda Aceh, dan daerah-daerah lain mengikuti manasik haji di Pesantren ini. Keunikan lain dari Pesantren Tarbiyatul Ula, adalah tak dipungutnya biaya pendidikan kepada semua santri. Para santri difokuskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Hanya saja untuk makan diterapkan sistem dapur, dimana semua santri memasak sendiri sesuai kemampuannya masing-masing. Biaya makan inilah yang hanya ditanggung santri, dengan mengandalkan kiriman uang dari rumah. Sementara untuk membiayai guru atau staf pengajar, pimpinan pesantren menggali dana dari maktab Asia Tenggara di Saudi Arabia. 3. Kegiatan Pendidikan Pimpinan Pesantren Tarbiyatul Ula meyakini ulama tangguh tak akan bisa dihasilkan oleh sistem sekolah terpadu, yang wakt unya singkat, sehingga tak (7)

memungkinkan proses pewarisan dan upaya mempertahankan keulamaan dapat tercapai. Kalau ini terjadi, dikhawatirkan akan hilang generasi yang benar-benar menguasai semua kitab-kitab mu’tabar. Untuk itu, sistem pendidikan yang dipakai Pesantren Tarbiyatul Ula adalah tradisional murni. Sistem ini tetap dipertahankan agar menjadi ciri khas dayah-dayah di Dareah Istimewa Aceh. Dengan tradisi murni akan mampu mempertahankan proses transformasi keilmuan dari kitab-kitab yang digunakan di seluruh dayah di Aceh. Sehingga regenerasi keulamaan dapat berjalan baik. Kurikulum yang digunakan Pesantren Tarbiyatul Ula adalah kurikulum pesantren yang disesuaikan dengan pondok-pondok lain di Aceh. Ilmu-ilmu yang dipelajari di pondok ini meliputi fi qih, ushul fiqih, tauhid, sejarah Islam, tasawuf, akhlak, nahwu, mantek, sharaf, balaqhah atau maani, bayan dan lain-lain. Hubungan sosial yang dibangun dalam pesantren baik antara guru dan santri atau antara guru santri dengan pimpinan pondok terorganisir sedemikian rupa sehingga setiap keluhan dari santri dan dewan guru selalu disampaikan kepada pimpinan. Demikian pula, antara guru dengan guru terjalin hubungan kerjasama yang harmonis. Sedangkan dikalangan santri kendati belum memiliki nama yang baku org anisasi santri telah berjalan dengan baik.

Pondok Pesantren Teungku Chik Eumpe ‘Awee Jl. Tgk. Imeum Lueng Bata No. 211, Banda Aceh – Nangroe Aceh Darussalam Telp/Fax : (0651)33711 Pendiri : Teungku Chik Eumpe ‘Awee Tahun Berdiri : 1931 Jumlah Santri : 300 orang Jumlah Guru/Ustadaz : 21 orang Kajian Utama / Ciri Khas : Bahasa Arab, Kitab Kuning, Tasawuf 1. Sejarah Berdirinya Sejarah Idonesia mencatat ajaran Islam yang ada di Nusantara untuk pertama kali berkembang di Aceh melalui jalur perdagangan dari Gujarat, India. Perkembangan Islam di Aceh mencapai puncak kejayaannya. Teungku Syekh Said A. Samad Eumpe “Awee di lahirkan pada tahun 1598 di Desa Warabo, Kecamatan Montasiek, Kabupaten Aceh Besar. Beliau merupakan Ulama Legendaris Aceh. Penganut Ajaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah di awal jaman kerajaan Sultan Iskandar Muda. Teungku Syekh Said A. Samad Eumpe “Awee yang dikenal dengan panggilan Teungku Chik Eumpe “Awee selain kegiatannya berda’wah (8)

dalam bidang pendidikan. Disamping belajar pada ulamaulama terkenal di Daerah Iskandar Muda, beliau belajar Islam di Mekkah, beliau menjadi ulama besar serta menjadi Mufti untuk Wilayah Kerajaan Aceh Besar. Beliau mendirikan Lembaga pendidikan Agama (Dayah) yang terletak di Warabo, dan sampai saat ini masih tetap dan eksis. Tahun 1931 nama Dayah ini berubah menjadi Jaddam (Jamlah Diniyyah Al Montasikiyah), dibawah naungan Yayasan Jaddam, dengan para pendidiknya, antara lain; Teungku Hasan Perwira, Teungku Mizan Ali, T.M. Asyik, Hajjah Ainul Mardhiah, Nyak Mu Sya’ya, Teungku Rasyid Zein, Yayasan ini mendatangkan pengajar dan mengirimkan santrinya ke Yayasan Thawalib Padang Panjang-Sumatera Barat. Tahun 1962, seorang Alumni Yayasan Jaddam, Teungku Mahmud Ali mendirikan Pondok Pesantren Dayah Bustanul Ulum yang berkedudukan di Pemukiman Baro, Kecamatan Muntasik dengan Badan Pendirinya; Teungku Mahmud Ali. Tahun 1971, Pondok Pesantren Dayah Bustanul Ulum mengembangkan diri dengan mendirikan gedung permanen 2 lantai di Komplek Masjid Jamik Bukit Baro, dengan fasilitas antara lain; 4 ruang kelas, 1 ruang kantor, 1 ruang perpustakaan dan 10 ruang pondokan. Yayasan Bustanul Ulum beritiar untuk mengembangkan Pondok Pesantren/Dayah terpadu dan mandiri di lokasi makam Teungku Syekh Said A. Samad Eumpe ‘Awee. Luas lahan yang telah tersedia kurang lebih 102 Ha dengan lokasi penggunaan lahan 10 Ha untuk fasilitas pesantren/dayah, seperti masjid, ruang belajar, pondokan, perpustakaan, dan sebaginya. Adapun selebihnya digunakan

untuk lahan pertanian, perikanan, dan laboratorium.

peternakan,

5. Perkebunan Karet 6. Ikan Air Tawar

2. Sarana dan Prasarana Sejak mulai gagasan, rancangan dan pembangunan maka dilokasi Pondok Pesantren/ Dayah Teungku Chik Eumpe “Awee telah dilak-sanakan sebagai berikut : Sarana Pendidikan yang telah ada : Ø 3 unit ruang kelas belajar, 6 lokasi. Ø 1 unit asrama santri 2 lantai, 12 kamar Ø 1 unit dapur umum seluas 60 M2 Sarana Pendidikan yang ada; Ø 1 unit SLTP Plus Ø Mesjid Agung kapasitas 1.500 orang. Sarana Pertanian/Usaha; Ø Saluran Irigasi dan pintu pembagi irigasi 600 M. Ø Areal persawahan seluas 50 Ha Ø Areal Perkebunan untuk tanaman hortikul-tura. Ø Areal perkebunan untuk penanaman untuk penamanan pinang seluas 30 Ha sebanyak 15.000 batang. Ø Areal perkebunan untuk 5.000 batang. Sarana Pendukung untuk pengembangan Sektor Pertanian / Usaha; 1. Pembuatan Embung Lubuk serta jaringan irigasi lubuk. 2. Balai Benih ikan dan tambak untuk budidaya air tawar. 3. Bidang Usaha Yang Dikembangkan Bidang usaha yang dikembangkan di Pondok Pesantren Dayah Bustanul Ulum antara lain; 1. Koperasi 2. Padi 3. Buah -buahan 4. Perkebunan Pinang (9)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->