Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

Krisis

multidimensional

yang

melanda

Asia

dan

khususnya

Indonesia pada tahun 1997 memakan biaya fiskal yang amat mahal dan menyita sebagian besar dari porsi PDB Indonesia. Dengan terjadinya krisis yang menggoyahkan fundamental ekomi Indonesia sejak akhir 1997 tersebut telah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya stabilitas pasar keuangan dan kesehatan lembaga-lembaga keuangan keuangan yang dan membentuk kesehatan sistem keuangan. Kestabilan lembaga-lembaga keuangan pasar yang

selanjutnya mampu meredam krisis, sebenarnya merupakan interaksi dari beberapa resiko yang harus selalu dikelola dengan baik. Salah satu resiko yang harus dikelola dengan baik sehingga menyebabkan kestabilan pasar keuangan dan kesehatan lembaga keuangan, fundamental ekonomi Indonesia tidak terganggu untuk yang kesekian kalinya, dan pada akhirnya menyebabkan krisis adalah gagalnya perusahaan di sektor riil mengembalikan pinjaman (corporate failure). Disisi lain, terus berkembangnya perekonomian global yang menembus lintas batas negara baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perkembangan tatanan hukum, khususnya untuk tatanan hukum ekonomi. Erman Radjagukguk dalam Sunarmi (2004: 1) menyatakan bahwa globalisasi hukum akan menyebabkan mengenai ekonomi peraturan-peraturan perdagangan, mendekati negara-negara jasa-jasa dan maju berkembang bidang-bidang (Convergency). investasi, lainnya

negara-negara

Sebagai salah satu konsekuensi dari keterlibatan Indonesia dalam tatanan internasional, untuk menselaraskan dengan perkembangan perekonomian global, Indonesia harus merevisi keseluruhan dari hukum ekonominya. 1

Bidang hukum ekonomi yang mengalami revisi diantaranya adalah hukum kepailitan yang merupakan warisan dari hukum pemerintahan kolonial Belanda yang notabenenya bercorak sistem hukum Eropa Kontinental. Perlu adanya revisi terhadap hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia dikarenakan sistem perekonomian global sendiri lebih familiar dengan sistem hukum Anglo Saxon. Selain itu, perlu adanya perbaikan dalam hukum kepailitan yang berlaku juga untuk menanggulangi dan meredam resiko yang bisa saja terjadi karena gagalnya perusahaan di sektor riil mengembalikan pinjaman (corporate failure) seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selanjutnya menurut Sunarmi (2004: 2), Mempelajari

perkembangan hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia tidak terlepas dari kondisi perekonomian nasional khususnya yang terjadi pada pertengahan tahun 1997. Dari sisi ekonomi patut disimak data yang dikemukakan oleh Lembaga Konsultan (think tank) Econit Advisory Group, yang menyatakan bahwa tahun 1997 merupakan Tahun Ketidak pastian (A Year of Uncertainty). Sementara itu, Tahun 1998 merupakan Tahun Koreksi (A Year of Correction). Pada pertengahan tahun 1997 terjadi depresiasi secara drastis nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US $ dari sekitar Rp. 2300,00 pada sekitar bulan Maret menjadi sekitar Rp. 5000,00 per US $ pada akhir tahun 1997. Bahkan pada pertengahan tahun 1998 nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp. 16.000,00 per US $. Kondisi perekonomian ini mengakibatkan keterpurukan terhadap pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya positif sekitar 6 7 % telah terkontraksi menjadi minus 13 14 %. Tingkat inflasi meningkat dari di bawah 10 % menjadi sekitar 70 %. Banyak perusahaan yang kesulitan membayar kewajiban utangnya terhadap para kreditor dan lebih jauh lagi banyak perusahaan mengalami kebangkrutan (Pailit). Sedangkan Menurut Dr. Feddy Harris (2007), salah satu adanya reformasi hukum kepailitan di Indonesia juga disebabkan oleh adanya desakan dari IMF. IMF mendesak pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah hutang yang telah jatuh tempo, proses peradilan

yang terlalu lama, membuat UU kepailitan yang baru, membentuk pengadilan niaga, dan juga membentuk hakim khusus Ad Hock. Dilatarbelakangi oleh terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 dan juga semakin berkembangnya kegiatan perekonomian global selanjutnya 1997, UU Undang-Undang Kepailitan yang berlaku di Indonesia tentang kepailitan yang sebelumnya beracuan pada beberapa kali mengalami perubahan. Sejak terjadinya krisis tahun Faillisements Verordening Staatsblad 1905-217 jo. Staatsblad 1906348 selanjutnya diubah melalui Perpu No. 1 Tahun 1998 yang kemudian dikuatkan menjadi UU No. 4 Tahun 1998. Dan pada akhirnya, di tahun 2004 pemerintah mengeluarkan UU No.37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Terdapat beberapa kelebihan dari UU No. 37 tahun 2004 jika dibandingkan dengan UU sebelumnya yang mengatur tentang masalah kepailitan. Beberapa kelebihan tersebut adalah lebih diperjelasnya definisi tentang utang, kreditor, debitor, dan pailit; penentuan jangka waktu proses pailit yang lebih singkat; dikecualikannya perusahaan asuransi; serta adanya ketentuan yang mengatur wajibnya menggunakan jasa advokat dalam penyelesaian masalah kepailitan (Harris, 2007). Selanjutnya yang patut dipertanyakan tentang keberadaan UU No. 37 tahun 2004 yang notabenenya merupakan UU paling aktual tentang kepailitan yang dimiliki oleh Indonesia adalah seberapa jauhkah UU tersebut memberikan suatu aturan yang jelas dan konsisten serta jaminan kepastian hukum terhadap para kreditor yang mana debitornya mengalami pailit (kebangkrutan). Dan nampaknya, pertanyaan yang mengemuka tersebut diwakili dengan adanya kasus aktual tentang kepailitan yang dialami oleh salah satu perusahaan penerbangan terkemuka di Indonesia pada tahun 2008, yaitu pailitnya PT Adam Skyconnection tersebut, Air Lines. penulis Untuk tertarik mencoba untuk menjawab pertanyaan maka mengangkat

KONSISTENSI JATUHNYA PUTUSAN PAILIT DAN KEPASTIAN JAMINAN HUKUM BAGI PARA KREDITOR SAAT DEBITOR PAILIT BERDASARKAN UU NO. 37 TAHUN 2004 SERTA HUBUNGAN TERJADINYA PAILIT DENGAN 3

GOING CONCERN PERUSAHAAN (Tinjauan Kasus Pailit Pada PT Adam Skyconnection Air Lines Di Tahun 2008) sebagai judul dari makalah ini.

BAB II LANDASAN TEORI

1. Pengertian Hukum Pailit Kata pailit berasal dari bahasa Perancis failite yang berarti kemacetan pembayaran. Dalam bahasa Belanda digunakan istilah failliet . Adapun pengertian kepailitan menurut UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004 pasal 1 ayat 1 adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini (Hartini, 2007: 5). Pengertian lain tentang pailit diungkapkan oleh Poerwadarminta dalam Joni (2007: 1). Menurutnya, pailit artinya bangkrut; dan bangkrut artinya menderita kerugian besar hingga jatuh (perusahaan, toko, dan sebagainya). Sedangkan menurut Simanjuntak (2008), kepailitan merupakan putusan Pengadilan Niaga yang meletakkan seluruh harta dari seorang debitor pailit dalam status sita umum (public attachment). Untuk kemudian oleh kurator yang diangkat untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit tersebut akan dijual dan hasilnya akan dibagikan kepada seluruh kreditor berdasarkan dari masing-masing tingkatan hak yang dimilikinya. Dari beberapa uraian tentang pengertian kepailitan dan hukum kepailitan tersebut diatas selanjutnya dapat disimpulkan bahwa kepailitan dikaitkan dengan ketidakmampuan untuk membayar (insolvent), sedangkan prinsip paling mendasar dari kepailitan adalah jatuhnya sita umum atas segala harta kekayaan debitor. Begitu debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga, selanjutnya secara prinsip harta kekayaan debitor akan dianggap sebagai sebuah hal yang harus dilihat lepas dari penguasaan debitor, menjadi apa yang disebut harta pailit. Selanjutnya, dengan adanya proses sita umum atas segala harta kekayaan milik debitor setelah adanya keputusan dari pengadilan niaga, maka debitor akan kehilangan haknya untuk menguasai, mengelola dan menikmati harta kekayaan yang telah ditetapkan menjadi harta pailit. Lebih jauh lagi, setelah jatuhnya keputusan, debitor juga tidak mempunyai wewenang lagi untuk 5

menggunakan harta pailitnya tersebut untuk menunaikan perjanjian ataupun perikatan dengan pihak ketiga kecuali perjanjian atau perikatan tersebut akan mendatangkan keuntungan dan dapat menambah harta kekayaan. Menurut Nasima (2008) Pasal 21 UU No. 37 tahun 2004 telah dengan tegas menyatakan bahwa kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitor saat putusan pailit diucapkan, berikut segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan. Meski begitu, UU Kepailitan membuka adanya beberapa perkecualian dari aturan umum di atas. Dalam beberapa hal, bukan tidak mungkin harta kekayaan debitor dapat dikecualikan dari harta pailit. Tentu, apabila ada dasar yang sahih untuk pengecualian, seperti misalnya pengecualian benda yang benarbenar dibutuhkan debitor pailit untuk menyambung hidupnya sesuai dengan ketentuan yang ada pada pasal 22 dalam Undang-Undang yang sama. 2. Subyek Kepailitan Dari uraian pasal 1 dan pasal 2 UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004, selanjutnya dapat disimpulkan beberapa subyek yang dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut: a) Orang perorangan; b) Perserikatan-perserikatan atau perkumpulan-perkumpulan tidak berbadan hukum; c) Perseroan-perseroan, perkumpulan-perkumpulan, koperasi

maupun yayasan yang berbadan hukum. 3. Syarat-Syarat Pengajuan Pailit Syarat-syarat pengajuan pailit diatur dalam pasal 2 UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004. Adapun syarat-syarat pailit tersebut adalah: a) Debitor mempunyai dua atau lebih kreditor; b) Tidak membayar sedikitnya satu utang jatuh tempo dan dapat ditagih; 6

c) Atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih kreditornya (Hartini, 2007: 27). Sedangkan menurut Joni(2007: 5) terdapat empat syarat permohonan pernyataan syarat pailit, yaitu: a) Syarat adanya dua kreditor atau lebih (Concursus Creditorium). Syarat ini sangat terkait dengan filosofis lahirnya hukum kepailitan. Dengan adanya pranata hukum kepailitan diharapkan pelunasan hutang-hutang debitor kepada para kreditornya dapat dilakukan secara seimbang dan adil. b) Syarat adanya utang. Berdasarkan bunyi pasal 1 ayat 6 UU No. 37 Tahun 2007, yang dimaksud dengan utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undangundang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor. c) Syarat cukup satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Syarat ini menunjukkan bahwa kreditor sudah mempunyai hak untuk menuntut debitor untuk memenuhi prestasinya. d) Syarat pemohon pailit. Sesuai dengan ketentuan pasal 2 UU No. 37 Tahun 2004, pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit adalah sebagai berikut: Debitor sendiri; Seorang kreditor atau lebih; Kejaksaan untuk kepentingan umum; Bank Indonesia dalam hal debitornya adalah bank;

Badan Pengawas Pasar Modal dalam hal debitornya adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; dan Menteri Keuangan Asuransi, dalam hal debitornya Reasuransi, adalah Dana

Perusahaan

Perusahaan

Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik. 4. Kreditor Konkuren Menurut Nasima dan Nugroho (2008), secara teoretis, kreditor dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: a) kreditor dengan jaminan (secured creditor) yang terdiri dari pemegang hak gadai dan atau fidusia (jaminan benda bergerak), serta pemegang hak tanggungan dan atau hipotek (jaminan benda tidak bergerak); dan b) kreditor tanpa jaminan (unsecured creditor) yang dapat memiliki hak istimewa (baik umum, maupun khusus) ataupun tidak. Sedangkan dalam proses kepailitan sendiri, dikenal tiga macam kreditor, yaitu kreditor separatis, kreditor preferen dan kreditor konkuren. Pembedaan menurut UU No. 37 Tahun 2004 tersebut, berhubungan dengan posisi kreditor bersangkutan dalam proses pembagian harta pailit. Dapaun pembedaan tersebut sebagai berikut: a) Kreditor Separatis; yaitu kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya atau kreditor dengan jaminan. Disebut kreditor separatis, karena, berdasarkan pasal 55 ayat 1 UU No. 37 Tahun 2004, kreditor tersebut tidak berwenang terjadi untuk mengeksekusi haknya seolah-olah kepailitan. Separatis, Kreditor Preferen dan Kreditor

Separatis di sini berarti terpisahnya hak eksekusi atas bendabenda yang dijaminkan dari harta yang dimiliki debitor yang dipailitkan. Dengan begitu, kreditor separatis mendapatkan posisi paling utama dalam proses kepailitan, sehubungan dengan hak atas kebendaan yang dijaminkan untuk piutangnya. 8

Sepanjang nilai piutang yang diberikan oleh kreditor separatis tidak jauh melampaui nilai benda yang dijaminkan dan kreditor berkuasa atas benda itu, maka proses kepailitan tidak akan banyak berpengaruh pada pemenuhan pembayaran piutang kreditor tersebut. Terlebih lagi, jika pembayaran cicilan utang secara berkala juga telah dipenuhi oleh debitor. Menurut UU No. 37 Tahun 2004, apabila kuasa atas benda yang dijaminkan ada pada debitor pailit atau pada kurator, maka hak eksekusi terpisah tersebut di atas, ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 hari sejak pernyataan pailit dijatuhkan (pasal 56 ayat 1). Sedang apabila nilai eksekusi benda tertentu tersebut ternyata tidak cukup untuk menutup utang debitor, maka kreditor separatis dapat meminta dirinya ditempatkan pada posisi kreditor konkuren untuk menagih sisa piutangnya. Demi kepastian hukum, hak eksekusi langsung yang dimiliki oleh kreditor separatis hanya bisa digunakan dalam jangka waktu 2 bulan setelah terjadinya keadaan insolvensi. Setelah lewat jangka waktu tersebut, eksekusi hanya dapat dilakukan oleh kurator, meskipun hak yang dimiliki kreditor separatis (sebagai kreditor dengan jaminan) tidak berkurang. Perbedaan proses eksekusi tersebut akan berakibat pada perlu tidaknya pembayaran biaya kepailitan dari hasil penjualan benda yang dijaminkan. b) Kreditor preferen; berarti kreditor yang memiliki hak istimewa atau hak prioritas. UU No. 37 Tahun 2004 memakai istilah hakhak istimewa, sebagaimana diatur di dalam KUH Perdata. Hak istimewa mengandung arti hak yang oleh undang-undang diberikan kepada seorang berpiutang sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada orang berpiutang lainnya. Menurut KUH Perdata, ada dua jenis hak istimewa, yaitu hak istimewa khusus (pasal 1139) dan hak istimewa umum (pasal 1149). Hak istimewa khusus berarti hak istimewa yang menyangkut benda-benda tertentu, sedang hak istimewa umum menyangkut seluruh benda. Sesuai dengan ketentuan KUH Perdata pula, hak istimewa khusus didahulukan atas hak istimewa umum (pasal 9

1138). Meskipun memiliki keistimewaan dibanding hak-hak yang dimiliki orang berpiutang pada umumnya, posisi pemegang hak istimewa pada dasarnya masih berada di bawah pemegang hak gadai atau hipotek sehubungan dengan benda-benda yang dijaminkan. Ada beberapa perkecualian untuk urutan tersebut, seperti misalnya, biaya-biaya perkara atau tagihan pajak. c) Kreditor konkuren atau kreditor biasa; adalah kreditor pada umumnya (tanpa hak jaminan kebendaan atau hak istimewa). Menurut KUH Perdata, mereka memiliki kedudukan yang setara dan memiliki hak yang seimbang (proporsional) atas piutangpiutang mereka. Ketentuan tersebut juga dinamakan prinsip paritas creditorium. Dari uraian sebelumnya tentang ketiga kelompok kreditor kemudian dapat disimpulkan bahwa posisi pemegang hak jaminan kebendaan (kreditor separatis) pada dasarnya lebih tinggi dari pemegang hak istimewa (kreditor preferen) untuk benda-benda yang dijaminkan, dengan beberapa perkecualian, seperti biaya-biaya perkara atau tagihan pajak. Sedang posisi dua jenis kreditor tersebut berada di atas posisi kreditor konkuren atau kreditor biasa yang menunggu pembagian pembayaran tagihan secara merata dari harta pailit menurut prinsip keseimbangan. Apabila tagihan kreditor separatis ternyata lebih tinggi dari nilai piutang mereka, maka mau tidak mau mereka harus menagih sisa piutangnya sebagai kreditor konkuren. Dengan kata lain, posisi mereka menjadi di bawah posisi kreditor preferen. 5. Prosedur Kepailitan Menurut undang-undang kepailitan, pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara permohonan kepailitan adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor. Yang dimaksud pengadilan menurut UU Kepailitan ini adalah Pengadilan Niaga yang merupakan pengkhususan pengadilan di bidang perniagaan yang dibentuk dalam lingkup Peradilan Umum.

10

Dalam

perngajuan

masalah

kepailitan

di

pengadilan,

tdak

mengenal tingkat banding. Terhadap putusan Pengadilan Niaga tingkat pertama, khususnya mengenai permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang, hanya dapat diajukan kasasi pada Mahkamah Agung. Sedangkan diperbolehkannya Peninjauan kembali untuk putusan pernyataan pailit yg telah berkekuatan hukum tetap dengan syarat: a) terdapat bukti tertulis penting, yang bila diketahui pd tahap sidang sebelumnya akan menghasilkan putusan yang berbeda; dan b) Pengadilan Niaga telah melakukan kesalahan berat dalam penerapan hukum. 6. Akibat Hukum Pernyataan Pailit Hartini (2007: 103) mengelompokkan akibat hukum pernyataan pailit kedalam lima bagian, yaitu: a) Akibat pailit terhadap debitor pailit dan hartanya. Berdasarkan ketentuan lampiran pasal 19 UU No. 4 Tahun 1998 Jo. Pasal 21 UU No. 37 Tahun 2004, yang dinyatakan pailit adalah seluruh kekayaan debitor, bukan pribadinya. Karena itu menurut pasal 24 UU no. 37 Tahun 2004, dengan dinyatakannya pailit, si pailit demi hukum kehilangan haknya untuk berbuat bebas terhadap kekayaannya yang termasuk dalam kepailitan, begitu pula haknya untuk mengurus, sejak tanggal putusan pailit diucapkan. b) Akibat kepailitan terhadap eksekusi atas harta kekayaan debitor pailit. Dalam ketentuan lampiran pasal 32 UU No. 4 Tahun 1998 Jo. Pasal 31 ayat 1 UU No. 37 Tahun 2004 disebutkan, putusan pernyataan pailit berakibat, bahwa segala putusan hakim menyangkut setiap bagian harta kekayaan debitor yang telah dimulai sebelum kepailitan, harus segera dihentikan dan sejak itu tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan termasuk atau juga menyandera debitor.

11

c) Akibat kepailitan terhadap perjanjian timbal balik yang dilakukan sebelum kepailitan. Menurut ketentuan pasal 36 UU No. 37 Tahun 2004, dalam hal pada saat putusan pernyataan palilit diucapkan, terhadap perjanjian timbal balik yang belum atau baru sebagian dipenuhi, pihak yang mengadakan perjanjian dengan debitor dapat meminta tentang kepada kelanjutan kurator untuk memberikan kepastian pelaksanaan

perjanjian tersebut dalam jangka waktu yang disepakati oleh kurator dan pihak tersebut. d) Akibat kepailitan terhadap kewenangan berbuat debitor pailit dalam bidang hukum harta kekayaan. Setelah adanya putusan pernyataan pailit, debitor dalam batas-batas tertentu masih dapat melakukan perbuatan hukum dalam bidang hukum kekayaan sepanjang perbuatan hukum tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi harta pailit. Sebaliknya, apabila perbuatan hukum tersebut akan merugikan harta pailit, kurator dapat meminta pembatalan atas perbuatan hukum yang dilakukan debitor pailit. e) Akibat kepailitan terhadap barang jaminan. Menurut ketentuan dalam pasal 55 Jo. Pasal 56 UU No 37 Tahun 2004 disebutkan bahwa setiap kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. 7. Pihak-Pihak yang Terkait Setelah Adanya Putusan Pailit Setidaknya terdapat tiga pihak terkait setelah adanya pernyataan putusan pailit. Ketiga pihak tersebut adalah sebagai berikut: a) Kurator. Pihak yang berhak melakukan pengurusan atas harta kekayaan debitor pailit untuk melindungi kepentingan debitor pailit sendiri atau pihak ketiga. Kurator diangkat oleh pengadilan bersamaan dengan putusan pernyataan kepailitan. Jika kreditor tidak menentukan kurator maka Balai Harta Peninggalan (BHP)

12

bertindak sebagai kurator. Sedangkan pernyaratan bagi seorang kurator adalah: perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia dan mempunyai keahlian khusus untuk mengurus dan membereskan harta pailit; dan terdaftar di Departemen Hukum dan HAM. b) Hakim Pengawas. Hakim Pengawas bertugas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit. c) Panitia Kreditor. Memberikan nasehat kepada kurator

(memeriksa pembukuan dan surat-surat, mengadakan rapat para kreditor). Terdiri dari 1 sampai 3 orang. 8. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terdapat dalam pasal 212 UU No. 4 Tahun 1998. Pasal tersebut menyebutkan bahwa debitor yang tidak dapat atau memperkirakan bahwa ia tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang, dengan maksud pada umumnya untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran seluruh atau sebagian utang kepada kreditor konkuren. Selanjutnya apa yang dinyatakan pada pasal 222 ayat 2 dan 3 UU No. 37 Tahun 2004 pada prinsipnya mengatur hal yang sama dengan UU No. 4 Tahun 1998, hanya dalam UU No. 4 Tahun 1998 langsung menunjuk kepada kreditor konkuren, sedangkan dalam UU No. 37 Tahun 2004 menunjuk kepada kata kreditor saja. Hal ini menjelaskan bahwa yang dimaksud kreditor dalam UU Kepailitan yang baru tidak hanya terbatas pada kreditor konkuren saja, melainkan juga mencakup kreditor preferen maupun kreditor separatis. Menurut Hartini (2007: 190), maksud penundaan kewajiban pembayaran utang pada umumnya untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran seluruh atau sebagian utang kepada kreditor. Sedangkan tujuan penundaan kewajiban 13

pembayaran utang adalah untuk memungkinkan seorang debitor meneruskan usahanya meskipun ada kesukaran pembayaran dan untuk menghindari kepailitan. 9. Akibat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Hartini (2007: 235) mengelompokkan akibat dari penundaan kewajiban pembayaran utang menjadi lima bagian, yaitu sebagai berikut: a) Terhadap tindakan hukum debitor. Selama penundaan

kewajiban pembayaran utang tanpa diberi kewenangan oleh pengurus, debitor tidak dapat melakukan tindakan pengurusan atau memindahkan hak atas sesuatu bagian hartanya, sebagaimana disebutkan dalam pasal 240 UU No. 37 Tahun 2007. Apabila melanggarnya, maka pengurus berhak untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk memastikan bahwa harta debitor tidak dirugikan karena tindakan debitor tersebut. Di lain pihak, atas dasar kewenangan yang diberikan oleh pengurus, debitor dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga semata-mata dalam rangka meningkatkan nilai harta debitor. b) Terhadap utang-utang debitor. Selama penundaan kewajiban pembayaran utang debitor tidak boleh dipaksa untuk membayar utang-utangnya sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 242 jo. Pasal 245 UU No. 37 Tahun 2004. Dalam semua tindakan eksekusi yang telah dimulai guna mendapatkan pelunasan utang, harus ditangguhkan, termasuk eksekusi dan sitaan barang yang tidak dibebani agunan, sekalipun eksekusi dan sitaan tersebut berkenaan dengan tagihan kreditor separatis. c) Terhadap perjanjian timbal balik. Menurut pasal 249 UU No. 37 Tahun 2004 apabila pada saat putusan PKPU ditetapkan terdapat perjanjian timbal balik yang belum atau baru sebagian dipenuhi, maka pihak dengan siapa debitor mengadakan perjanjian dapat minta pada pengurus untuk memberikan 14

kepastian mengenai kelanjutan pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan dalam jangka waktu yang disepakati oleh pengurus dan pihak tersebut. d) Terhadap perjanjian untuk menyerahkan barang. Apabila pada putusan PKPU ditetapkan telah diadakan perjanjian untuk menyerahkan barang-barang dagangan yang diperdagangkan di bursa dengan penyebutan tenggang waktunya, dan penyerahan itu dilakukan menjelang suatu saat atau dalam tenggang waktu itu berakhir sesudah mulai berlakunya PKPU, maka hapuslah perjanjian itu dengan pemberian PKPU yang bersifat sementara. e) Terhadap debitor penyewa. Apabila dalam perjanjian sewa menyewa, debitor bertindak sebagai penyewa suatu barang maka segera setelah PKPU dimulai, dengan kewenangan dari pengurus dapat mengakhiri sewa tersebut untuk sementara, asalkan pemberitahuan untuk menghentikan sewa itu dilakukan menjelang suatu waktu perjanjian itu akan berakhir menurut kebiasaan setempat.

15

BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN

1. Kasus PT Adam Skyconnection Air Lines Di Tahun 2008 Pada bulan April 2008, setelah mengalami berbagai masalah finansial yang memberatkan kondisi perusahaan hingga membuat perusahaan berhenti beroperasi, PT Adam Skyconection Air Lines atau yang lebih dikenal dengan PT Adam Air menghadapi tuntutan hukum dari kalangan interen perusahaan. Adalah mantan pegawai yang menempuh langkah hukum terhadap Adam Air di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Februarintino, seorang mantan Pilot Adam Air memohon agar Pengadilan Niaga memailitkan Adam Air. Apa yang dituntut Februantino sebenarnya tidak terlalu muluk. Ia hanya menuntut haknya atas gaji yang belum dibayarkan perusahaan sebanyak 1 bulan gaji. Bersamaan dengan sidang permohonan pailit itu, Adam Air juga harus menghadapi gugatan dari ahli waris Ratih Sekar Sari di PN Jakarta Barat. Ratih adalah pramugari Adam Air yang menjadi salah satu korban tragedi jatuhnya pesawat Adam Air di Perairan Majene Sulawesi Selatan, pada 1 Januari 2007 silam. Perkara Februantino bermula ketika pada Mei 2005 silam, ia mengajukan pengunduran diri dengan alasan Adam Air tidak bisa menjamin nasib karyawan maupun keselamatan penumpang. Namun apa yang terjadi kemudian tak pernah disangka Februantino. Ketika pengunduran diri disetujui, Februantino ternyata tidak bisa menikmati gaji bulan April 2005 sebesar Rp7,5 juta yang mestinya tetap berhak ia terima. Februantino rupanya tidak sendirian. Berdasarkan dokumen permohonan pailit, Februantino juga membeberkan bahwa ada 16 16

mantan pilot lain yang senasib dengannya. Para pilot itu juga mengundurkan diri dan berhak atas gaji sebulan terakhir sebesar Rp7,5 juta. Selain itu, ia juga menyertakan nasib seorang karyawan Adam Air lain yang berhak atas gaji sebesar Rp509 ribu. Bagi Februantino, adanya hak atas gaji terakhir yang belum pernah dibayarkan sejak 2005 hingga sekarang, sudah cukup menunjukan adanya hutang Adam Air yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Sementara keberadaan 16 mantan pilot lain dan seorang karyawan Adam Air, menurut Februantino dianggap sudah cukup untuk menunjukan adanya kreditor lain dari Adam Air. Artinya, dua syarat utama permohonan pailit yang diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) UU No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU Kepailitan) dinilai cukup terpenuhi. Sementara Februantino yang diwakili kuasa hukumnya, Rusdah Syarif, enggan membeberkan detail permohonan. Yang jelas dalam sidang pihak pemohon selain mencantumkan mantan pegawai lain sebagai komponen kreditor juga menambahkan dua kreditor baru, yaitu BRI dan PT Angkasa Pura. Seperti diketahui, Adam Air memang disebut menangguk utang kepada BRI hingga mencapai Rp50 miliar. Di saat bersamaan, PT Angkasa Pura mengaku memiliki piutang sekitar Rp3 miliar kepada Adam Air. Hotman Paris Hutapea, kuasa hukum Global Transport Services (GTS) dan Bright Star Perkasa (BSP) yang menguasai 50 persen saham Adam Air mengutarakan bahwa Adam Air juga berhutang kepada perusahaan asing yang menyewakan pesawatnya dan juga asuransi atas pesawat tersebut. Jumlahnya tidak main-main, ratusan miliar rupiah. (http://hukumonline.com/detail.asp?id=18906&cl=Berita) Setelah beberapa kali melakukan persidangan terhadap tuntutan mantan pegawai Adam Air, diakhir bulan April 2008 putusan pengadilan niaga yang mengurus masalah tersebut mulai menemukan titik terang. Sebelumnya, di ruang sidang, majelis hakim yang diketuai M. Elly Mariani membacakan putusan dalam perkara permohonan pailit terhadap Adam Air yang diajukan Rusdah Syarif, kuasa hukum Februantino. Dalam amar putusannya, hakim menolak permohonan pailit. Pada pertimbangan hukumnya, hakim sependapat dengan 17

beberapa bagian tanggapan dan kesimpulan yang diajukan oleh kuasa hukum Adam Air yang menyatakan bahwa permohonan pailit harus ditolak karena tidak berdasar dan tidak beralaskan hukum. Saat itu, kuasa hukum Adam Air menandaskan bahwa pembuktian dalam perkara ini tidak bisa dilakukan secara sederhana lantaran perihal 'utang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih', masih terjadi silang sengketa. Pemohon pailit beranggapan gaji bulan terakhir yang belum dibayar sudah cukup membuktikan adanya utang. Sementara, Adam Air berpikir sebaliknya, dimana berhak atau tidaknya pemohon pailit atas gaji bulan terakhir, masih harus menunggu putusan pengadilan dalam perkara lain. Perlu diketahui, mengenai pembuktian yang tidak sederhana yang disebabkan adanya silang sengketa antara kedua belah pihak, kuasa hukum Adam Air dalam berkas kesimpulan membeberkan argumentasinya. Dari sejumlah bukti yang diajukan pemohon, ternyata tidak ada satu pun yang mendukung dalil pemohon. Salah satunya adalah Perjanjian Ikatan Dinas Peserta Pendidkan dan Pelatihan Pilot Program antara pilot dengan Adam Air yang ditandatangani pada 19 Februari 2004. Perjanjian itu berisikan hak dan kewajiban pilot dan manajamen, yang antara lain adalah kewajiban pilot untuk membayar denda jika mengundurkan diri di tengah masa perjanjian. Ketika pada Mei 2005 lalu, diri, Februantino Adam Air beserta tidak belasan pilot lainnya mengundurkan tinggal diam. Perusahaan

mengajukan gugatan di PN Jakarta Barat. Dalam putusannya, hakim menghukum perusahaan untuk membayar gaji bulan terakhir para mantan pilot, masing-masing Rp7,5 juta. Selain itu, hakim juga memerintahkan agar mantan pilot membayar kewajibannya masingmasing sebesar Rp264 juta kepada perusahaan karena telah melanggar perjanjian. Terhadap putusan itu, kedua belah pihak memakai upaya hukum banding. Berdasarkan bukti tersebut jelas terbukti bahwa pemohon yang justru memiliki kewajiban lebih besar kepada Termohon. Setidaknya, keberadaan utang yang didalilkan Pemohon masih disengketakan sehingga pembuktian secara sederhana tidak terpenuhi, tulis kuasa hukum Adam Air dalam berkas kesimpulan. (http://hukumonline.com/detail.asp?id=19072&cl=Berita) 18

Sampai di sini majelis hakim sependapat dengan Adam Air. Mengenai utang yang jatuh tempo dan dapat ditagih dalam perkara ini ternyata masih disengketakan. Sehingga butuh pembuktian lebih lanjut, ungkap hakim. Dengan demikian, lanjut hakim, permohonan pailit dalam perkara ini tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 8 Ayat (4) UU No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Pasal 8 Ayat (4) UU Kepailitan itu menjelaskan, permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah dipenuhi. Sementara dalam perkara ini tidak terbukti adanya fakta atau keadaan yang sederhana itu. Sehingga permohonan ini harus ditolak, tegas Elly. (http://hukumonline.com/detail.asp?id=19136&cl=Berita) Tidak Berhenti sampai disitu, pada bulan Mei 2008, kreditor lain dari PT Adam Air kembali mengajukan gugatan pailit terhadap perusahaan. Pengajuan permohonan pailit kali ini muncul dari CV CICI yang merupakan rekanan PT Adam Air dalam kegiatan antar jemput karyawan. CV CICI memohonkan pailit Adam Air dengan alasan ada sisa tagihan bulan Maret 2008 yang belum dibayar maskapai itu terkait pembayaran jasa antar jemput crew pesawat. Tagihannya sebesar Rp29,375 juta. Tidak banyak memang, tetapi hal itu cukup membuat jengkel Luvida Eviyanti, pengelola CV CICI. Tidak seperti keputusan hakim sebelumnya yang menolak gugatan dari mantan pilot Adam Air, pada perkara ini pengadilan meloloskan permohonan pengajuan pailit oleh CV CICI. Di awal bulan Juni 2008, disebabkan bermaksud menyelesaikan utang secara langsung di persidangan, hakim justru menganggap Adam Air mengakui utangnya. Bukti pengakuan utang itu berakibat fatal. Majelis hakim menggunakannya sebagai salah satu alasan untuk mengabulkan permohonan pailit yang diajukan CV CICI terhadap Adam Air. Menyatakan PT Adam SkyConnection Airlines pailit dengan segala akibat hukumnya, hakim Makassau merapal amar putusannya di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat. Hakim, dalam amar putusannya yang lain, mengangkat Gunawan Widiatmadja dan Antoni Prawira sebagai tim kurator yang akan memimpin pembagian harta 19

Adam Air kepada para kreditornya. Hakim PN Jakarta Pusat, Reno Listowo juga ditunjuk sebagai hakim pengawas. Selain itu, Adam Air masih dibebani untuk membayar biaya perkara sebesar Rp5 juta. Dalam pertimbangan hukumnya, hakim menilai keinginan kuasa hukum Adam Air membayar secara lunas utangnya kepada CV CICI di muka persidangan adalah suatu perbuatan yang tidak dikenal dalam UU No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU Kepailitan dan PKPU). Menurut Makassau, jika Adam Air berkeinginan menyelesaikan kewajibannya, maka Adam Air bisa menempuh prosedur PKPU. Dalam proses kepailitan di persidangan tidak dikenal pembayaran utang secara langsung kepada debitor, kecuali PKPU dan telah terjadi perdamaian. Maka menurut majelis telah terbukti bahwa termohon pailit memiliki utang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih, Makassau menguraikan pertimbangan hukumnya. Unsur pailit yang lain mengenai adanya dua atau lebih kreditor juga dinyatakan terpenuhi. Hakim merujuk pada bukti adanya surat kuasa yang diberikan kreditor lain kepada kuasa hukum pemohon. Kreditor itu antara lain PT Merpati Indonesia, Toko Global, PT Jaya Makmur, PT Bintang dan ribuan karyawan yang belum memperoleh gaji dua bulan terakhirnya. Pada bagian lain pertimbangan hukumnya, hakim mengabaikan dalil Adam Air yang menyatakan bahwa adendum perjanjian antara CV CICI dan Adam Air tidak sah karena tidak dibuat dan ditandatangani oleh pihak yang berwenang. Itu adalah permasalahan intenal termohon. Yang jelas termohon sudah mengakui di persidangan mengenai adanya utang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih, tegas Makassau. (http://hukumonline.com/detail.asp?id=18906&cl=Berita) Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya muncul sedikit harapan bagi para kreditor Adam Air tentang kejelasan nasib uang mereka. Perkembangan selanjutnya, di awal tahun 2009, kurator telah selesai melakukan verifikasi kreditor sementara. Rampungnya tugas itupun tidak lepas dari keputusan hakim pengawas yang pada akhirnya mengabulkan tuntutan dari para kreditor untuk merombak susunan kurator yang sebelumnya hanya terdiri dari 2 orang menjadi 5 orang. 20

Para kreditor menganggap para kurator tersebut kurang cakap dalam melaksanakan tugasnya. Tahap selanjutnya, dalam waktu tiga bulan, kurator akan melakukan pemberesan terhadap harta pailit untuk membayar piutang kreditor. Kami minta kerja sama dengan para kreditor untuk membantu menelusuri aset Adam Air, ujar kurator Tafrizal Hasan Gewang dalam rapat kreditor di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Hakim pengawas pailit Reno Listowo menyatakan perusahaan penerbangan itu resmi berstatus insolvensi (pailit). Karena itu kurator akan mengajukan pembubaran perusahaan ke Departemen Hukum dan HAM. Bagi 16 kreditor yang tagihannya tidak diakui kurator, Reno memberikan waktu dua minggu terhitung sejak hari ini, untuk mengajukan keberatan kepada hakim pengawas. Yang sudah masuk dalam daftar piutang bisa jalan, ujarnya. Dari hasil verifikasi, pegawai Adam Air yang tergabung dalam Forum Serikat Pekerja Adam Air (Forsikad) ditetapkan sebagai kreditor istimewa (preferen) dengan piutang sebesar Rp104,5 miliar. Pegawai Adam Air di Surabaya yang tergabung dalam Serikat Buruh Anak Bangsa juga terdaftar sebagai kreditor istimewa. Jumlah tagihan 143 pegawai itu mencapai 706,786 juta. Namun notaris memberi catatan bahwa pembayaran gaji dan pesangon 80 pegawaidari 143 pegawai yang juga anggota Serikat Buruh Anak Bangsa, akan diselesaikan secara internal dengan Forsikad. Alasannya, nama ke-80 pegawai itu tergabung dalam putusan pemecatan Pengadilan Hubungan Indistrial terhadap anggota Forsikad. Ketua Departemen Hukum Forsikad, Nasrullah menyatakan hakim pengawas hanya terpaku pada UU Kepailitan. Ia menjelaskan menurut UU Ketenagakerjaan, hak-hak buruh harus dieksekusi lebih dulu dibanding kreditor lain dalam kepailitan. Seharusnya hakim melihat hukum secara keseluruhan, ujarnya usai rapat kreditor. Kreditor preferen lain adalah pramugari Adam Air, Ratih Sekarsari, yang menjadi korban kecelakaan pesawat di perairan Majene, Sulawei Selatan. Nilai tagihan yang diakui kurator adalah Rp284,830 juta. Nilai itu sesuai dengan nilai gugatan ganti kerugian yang diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Kuasa hukum korban, Muanas, 21

menyatakan jumlah itu memang sesuai dengan tagihan. Namun tidak mencantumkan klaim asuransi Jamsostek senilai AS$25 ribu yang dikabulkan hakim. Kami akan ajukan keberatan, ujarnya. Selain itu, sekitar 40 kreditor ditetapkan sebagai kreditor konkuren. Salah satunya adalah pemohon pailit CV CICI dengan tagihan Rp89,375 juta. Kreditor konkuren lain terdiri dari perusahaan yang bekerja sama dengan Adam Air, antara lain PT Angkasa Pura I dengan tagihan Rp2,5 miliar, PT Pertamina Rp29,527 miliar, PT Garuda Maintenance Fasilities Aeroasia Rp33,4 miliar dan Angkasa Pura II sebesar Rp6,6 miliar. Sementara, tagihan kreditor separatis ditaksir sebesar Rp11,2 miliar. Dari kasus yang diuraikan sebelumnya, selanjutnya diketemukan beberapa permasalahan sebagai berikut: a) Ketidakkonsistenan keputusan yang dibuat oleh pengadilan terhadap mengabulkan atau tidaknya permohonan pengajuan pailit yang didasari dengan alasan kesediaan melunasi utang di muka pengadilan yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengeluarkan putusan pailit karena dengan tindakan seperti itu membuat hakim menganggap bahwa debitor mengakui keberadaan utangnya. Dianggap tidak konsisten karena pada perkara kepailitan sebelumnya yang menimpa stasiun televisi swasta RCTI karena adanya tuntutan dari karyawannya, hakim memutuskan sebaliknya, yaitu tidak mengeluarkan putusan pailit kepada RCTI karena Ketika proses persidangan berjalan, RCTI ternyata bersedia berdamai dengan membayar semua kewajibannya. Sebagai hasilnya permohonan pailit pun dicabut. b) Adanya pandangan yang saling bertolakbelakang antara putusan yang diambil oleh majelis hakim dengan menempatkan posisi karyawan PT Adam Air sebagai kreditor preferen dengan apa yang dimaksud dalam pasal 95 ayat 4 UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan yang mengatur: dilikuidasi Dalam hal perusahaan pailit atau berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Masalah akan tampak nyata 22

ketika harta pailit telah habis untuk melunasi utang debitor kepada kreditor separatis sehingga hak istimewa yang didapatkan oleh para pekerja sesuai dengan yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan menjadi tidak ada artinya lagi. c) Kekurangcakapan 2. Pembahasan Kasus 2.1 hakim Pembahasan Kasus 1 dalam pengadilan kasus kepailitan, Hal tersebut terjadi Terkait dengan ketidakkonsistenan putusan yang dibuat oleh dikarenakan pada perkembangannya pengadilan niaga membolehkan adanya mekanisme penyelesaian di luar yang diatur dalam UU Kepailitan. Ketika para pihak telah berdamai di luar persidangan, kemudian melaporkan ke hakim maka selanjutnya permohonan itu dicabut. Hal ini menurut Simanjuntak dalam HukumOnline(2008) dikarenakan hakim masih sering menafsirkan UU menurut kemauannya sendiri. Menurutnya, UU Kepailitan tidak mengenal istilah pencabutan permohonan seperti halnya pencabutan gugatan dalam perkara perdata biasa. Namun, prakteknya, pencabutan itu dibolehkan hakim ketika para pihak berdamai di luar persidangan. Simanjuntak dalam HukumOnline (2008) menyatakan Dalam perkara ini, kalau tidak boleh menyelesaikan di dalam persidangan, harusnya penyelesaian di luar persidangan juga tidak boleh. Ini menunjukan hakim tidak konsisten dan masih menafsirkan undang-undang sesuai dengan kemauannya sendiri. Disebabkan oleh permasalahan-permasalahan seperti diataslah yang nantinya akan membuat nama hukum dan lembaga peradilan cacat di mata pelaku bisnis. Dengan banyaknya perbedaan penafsiran hakim dalam memutus sebuah perkara maka semakin menunjukkan ketidakkonsistenan terhadap lembaga hukum yang ada Terlebih dan berlaku dan pada adanya kelanjutannya dapat membuat masyarakat menjadi tidak percaya lagi peradilan. lagi, dengan ketidakkonsistenan dari hukum yang berlaku di Indonesia, akan memberikan kesan buruk pada para investor asing, ketika investor asing melihat bahwa tidak ada jaminan hukum yang memadai, maka 23 pihak kurator dalam hal menyegerakan pengurusan dan pembagian harta pailit kepada kreditor.

akan sangat berisiko untuk menginvestasikan dananya di Indonesia yang pada akhirnya akan mengganggu iklim investasi dan kedinamisan dari pergerakan ekonomi Indonesia. Lebih jauh lagi, ternyata tidak sedikit kejadian multitafsir dari para hakim dalam memutus suatu perkara dikarenakan ketidakjelasan informasi yang terkandung dalam peraturan yang dijadikan sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Sesuai dengan permasalahan kepailitan, UU Kepailitan memang tidak mengenal mekanisme perdamaian di muka hakim di dalam persidangan. Namun, tidak ada juga larangan bagi para pihak untuk berdamai di luar persidangan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dibutuhkan suatu peraturan yang jelas untuk dijadikan sebagai landasan dalam memutus sebuah perkara, khususnya dalam masalah pengajuan kepailitan. Khusus untuk putusan hakim terhadap masalah yang dihadapi oleh PT Adam Air, menurut Imam Nasima dalam HukumOnline (2008) mengapresiasi pertimbangan hakim. Hakim sudah bijak dan tepat ketika menyarankan pihak Adam Air menempuh PKPU jika memang mau dan mampu untuk membayar utangnya. Bukan dengan membayar secara tunai di persidangan, cetusnya. Dan selanjutnya, untuk tetap menjaga kekonsistenannya, hendaknya untuk hakimhakim lain yang akan memutuskan perkara yang serupa dengan perkara pailit yang dihadapi oleh PT Adam Air mengunakan putusan yang dijatuhkan kepada PT Adam Air sebagai bahan pertimbangan. Hal ini bertujuan untuk menghindari terulangnya kembali munculnya perbedaan 2.2 putusan yang disebabkan oleh adanya perbedaan penafsiran terhadap peraturan yang ada. Pembahasan Kasus 2 Dalam putusan yang dibuat oleh majelis hakim terkait dengan gugatan kasus kepailitan PT Adam Air, posisi pegawai Adam Air yang tergabung dalam Forum Serikat Pekerja Adam Air (Forsikad) ditetapkan sebagai kreditor istimewa (preferen) dengan piutang sebesar Rp104,5 miliar. Disatu sisi, tampak bahwa keputusan ini menguntungkan posisi pegawai dikarenakan status mereka diatas posisi dari kreditor konkuren yang notabenenya dalam kasus ini merupakan pemohon langsung dari kasus pengajuan kepailitan PT Adam Air. Namun jika 24

mengkaji lebih dalam, hal ini tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam pasal 95 ayat 4 UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengatur: Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Ketidaksesuaian tersebut dikarenakan posisi pegawai masih berada dibawah posisi kreditor separatis dalam hal mengeksekusi harta pailit. Jika beracuan pada UU Ketenagakerjaan tersebut, seharusnya hak-hak para pegawai merupakan hak utama yang wajib dipenuhi terlebeih dahulu jika dibandingkan dengan utangutang lainnya. Ketidak sesuaian antara apa yang diatur dalam UU Kepailitan dengan apa yang tertera dalam UU Ketenagakerjaan dikarenakan adanya aturan-aturan dalam proses kepailitan, belum jelas mengatur posisi buruh yang perusahaannya dinyatakan pailit. Buruh pada prinsipnya berhak atas imbalan dari pekerjaan yang telah mereka kerjakan. Tagihan semacam ini bahkan telah secara tegas dinyatakan sebagai utang yang lebih didahulukan pembayarannya daripada utangutang lainnya. Pertanyaannya, seberapa dahulukah posisi utang tersebut? Yang tidak kalah rumitnya, apabila harta pailit ternyata tidak mencukupi. Apa yang bisa digunakan untuk membayar upah buruh dalam kondisi seperti ini? Sekalipun hak pesangon telah dijamin oleh undang-undang, namun, itu pun masih tergantung pada mampu tidaknya majikan (kurator sebagai pengurus harta pailit) membayarkan uang pesangon tersebut. Terlebih lagi, posisi para pegawai akan sangat tidak aman karena kemungkinan besar hak-hak mereka tidak akan terpenuhi ketika perusahaan mengalami insolvensi yang cukup parah. Pasal dalam UU N0. 37 Tahun 2004 yang dianggap sangat memberatkan posisi para pegawai dalam status perusahaan pailit adalah Pasal 55 ayat 1 yang berbunyi Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, setiap Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Dari sini 25

dapat diambil kesimpulan bahwa bagaimanapun keadaannya, posisi kreditor separatis tetaplah merupakan pihak yang paling utama dalam hal dipenuhi hak-haknya. Ketika harta pailit hanya cukup untuk memenuhi tuntutan utang dari kreditor separatis, maka pegawai tidak akan terpebuhi sama sekali hak-haknya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikarenakan sampai saat ini belum terdapat Judicial Review dari Mahkamah Konstitusi untuk memperbaiki posisi pegawai dalam UU Kepailitan, maka beberapa jalan yang bisa dijadikan sebagai alternatif untuk setidaknya bisa lebih melindungi hak dari para pegawai adalah sebagai berikut: Meningkatkan pengawasan proses kepailitan yang dijalankan oleh kurator. Hal ini dimaksudkan agar harta pailit dapat sepenuhnya dikelola dan dibagi dengan baik oleh kurator. Dengan pengelolaan harta pailit yang baik oleh kurator setidaknya posisi pegawai sedikit menjadi lebih aman. Merombak sistem jaminan sosial yang ada. Resiko kehilangan pekerjaan karena pailitnya perusahaan, adalah resiko yang nyata ada di negeri ini. Perusahaan yang pada akhirnya dinyatakan pailit, biasanya merupakan perusahaan yang telah mengalami krisis finansial selama beberapa waktu lamanya. Sehingga, tak jarang utang pula perusahaan upah tersebut yang telah juga meninggalkan pembayaran buruh

terkatung-katung lama. Untuk itu, jaminan atas pembayaran upah perlu diatur pula di dalam sistem jaminan sosial nasional yang sifatnya antisipatif. Dengan adanya perlindungan asuransi untuk kehilangan pekerjaan, maka buruh tetap akan mendapatkan hak atas upah, melalui santunan dari lembaga jaminan sosial, sekalipun harta pailit telah habis sama sekali. 2.3 Pembahasan Kasus 3 Kekurangcakapan pihak kurator dalam mengelola harta pailit disatu titik bisa menjadi sangat merugikan posisi kreditor preferen dan kreditor konkuren. Hal ini dikarenakan bisa jadi dikarenakan kekurangcakapan dari pihak kurator mengakibatkan dua jenis kreditor tersebut kehilangan haknya dalam pengurusan proses pailit.

26

Dalam kasus pailitnya PT Adam Air kurator terkesan sangat lamban sekali dalam mengelola dan memutuskan pembagian harta pailit. Putusan pailit dikeluarkan bulan Mei tahun 2008, sedangkan pengumuman tentang pembagian harta pailit baru keluar pada bulan Februari tahun 2009. Hal ini akan dirasa merugikan ketika sebagian besar harta pailit merupakan aset yang cepat penyusutannya. Dengan lamanya penanganan dari kurator akan membuat nilai aset pailit terusmenerus mengalami penurunan nilai dikarenakan adanya penyusutan. Dan karena terus menurunnya nilai aset pailit maka selanjutnya akan mengakibatkan Seharusnya, berkurangnya dalam nilai dari harta pailit yang dan akan hakim dibagikan kepada para kreditor. proses kepailitan, kurator pengawas memegang peran yang menentukan. Dari pengurusan harta pailit, penentuan daftar urutan pembagian melalui rapat kreditor, hingga pemberesan harta pailit saat terjadi keadaan insolvensi; itu semua membutuhkan kecermatan dan ketelitian kurator dan hakim pengawas. Pada posisi yang menentukan, tentu obyektivitas dan integritas kedua pelaku proses pailit tersebut harus tetap terjaga. 2.4 Pembahasan Kasus Dari Sudut Pandang Akuntansi Diluar tinjauan dari segi hukum yang berlaku di Indonesia, lebih jauh dari hal itu sebenarnya terdapat aspek fundamental yang juga sangat mempengaruhi terjadinya kepailitan pada sebuah perusahaan. Aspek fundamental tersebut adalah masalah going concern atau juga sering disebut sebagai masalah kelangsungan hidup suatu usaha dari perusahaan yang juga sangat berhubungan dengan profesi auditor. Posisi auditor sangat dikaitkan dengan masalah going concern sebuah perusahaan dikarenakan ketika seorang auditor gagal mendeteksi going concern dari perusahaan yang diauditnya maka nantinya laporan dan opini audit yang dibuatnya akan menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan dari segi finansial. Salah satu pihak yang akan sangat dirugikan dari gagalnya auditor mendeteksi going concern dari perusahaan adalah para kreditor perusahaan yang menyandarkan keputusan investasi dananya pada laporan yang dibuat oleh auditor.

27

Di abad ke 20 ini, hampir semua perusahaan-perusahaan di Indonesia mengalami masalah going concern sebagai dampak dari memburuknya kondisi ekonomi. Beberapa hal yang memicu masalah going concern adalah kerugian yang besar yang dialami oleh perusahaan, rasio hutang terhadap modal yang tinggi, saldo hutang jangka pendek dalam jumlah besar yang segera jatuh tempo, pinjaman dalam mata uang asing yang besar, kekurangan dana kas dan akses untuk mendapatkan kas, pasar yang makin menyusut, masalahmasalah dengan pemasok dan pelanggan, dan tidak adanya action plans yang jelas dari pihak manajemen. Fanny dan Saputra (2005) menyatakan bahwa auditor memiliki suatu tanggung jawab untuk mengevaluasi status kelangsungan hidup perusahaan dalam setiap pekerjaan auditnya. Mengacu kepada Statement On Auditing Standard No. 59 (AICPA, 1988), auditor harus memutuskan apakah mereka yakin bahwa perusahaan klien akan bisa bertahan di masa yang akan datang. PSA 29 paragraf 11 huruf d menyatakan bahwa keragu-raguan yang besar tentang kemampuan satuan usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion), yang dinyatakan oleh auditor. Masih menurut Fanny dan Saputra (2005), IAI disamping menerbitkan ISAK No. 4 melalui Komite Standar Akuntansi Keuangan, juga menerbitkan melalui Komite Standar Profesional Akuntan Publik, Interpretasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) nomor 30,01 tentang Laporan Auditor Independen tentang Dampak Memburuknya Kondisi Ekonomi Indonesia Terhadap Kelangsungan Hidup Entitas. IPSA tersebut menganggap auditor perlu untuk mempertimbangkan tiga hal, yaitu: a) Kewajiban auditor untuk memberikan saran bagi kliennya dalam mengungkapkan dampak kondisi ekonomi tersebut (jika ada) terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

28

b) Pengungkapan

peristiwa

kemudian

yang

mungkin

timbul

sebagai akibat kondisi ekonomi tersebut, dan c) Modifikasi laporan audit bentuk baku jika memburuknya kondisi ekonomi tersebut berdampak terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam menilai apakah perusahaan memiliki going concern atau tidak, perhatian utama auditor tidak lagi ditujukan pada berapa kekayaan perusahaan pada masa yang akan datang yang diharapkan manajemen. Auditor tidak bisa lagi hanya menerima pandangan manajemen bahwa segala sesuatunya baik. Bahkan auditor sudah tidak seharusnya lagi meletakkan kepercayaan sepenuhnya pada jaminan yang diberikan oleh pemerintah bahwa perusahaan tertentu tidak akan ditutup. Evaluasi terhadap going concern perusahaan harus lebih mengacu dari hasil perhitungan discounted cash flow. Auditor perlu mengetahui dengan pasti sumber kas perusahaan, dan kemampuan perusahaan mendapatkan dana kas yang cukup. Jika masalah mendapatkan dana kas terpenuhi, auditor masih perlu mengetahui apakah perusahaan akan sanggup mengembalikan dana-dana tersebut dan apa yang akan dilakukan pihak manajemen untuk menjamin pembayaran kembali dana-dana tersebut. Dengan kata lain kas menjadi fokus utama dalam situasi memburuknya kondisi ekonomi, karena tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi di masa depan. Dalam situasi memburuknya kondisi ekonomi, penilaian going concern lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk melanjutkan operasinya dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. Dengan kata lain penilaian going concern mengacu pada ketersediaan dana kas untuk melakukan kegiatan usaha selama 12 bulan kedepan. Untuk sampai pada kesimpulan apakah perusahaan akan memiliki going concern atau tidak, auditor harus melakukan evaluasi secara kritis terhadap rencana-rencana manajemen (Juniarti, 2006) Untuk masalah kepailitan yang menimpa PT Adam Air di tahun 2008 nampaknya tidak bisa lepas dari kegagalan para auditornya untuk mendeteksi kondisi going concern dari perusahaan. Para auditor gagal mendeteksi arus kas sesungguhnya yang dimiliki oleh perusahaan 29

untuk melunasi utang-utang jangka pendeknya, selain itu auditor PT Adam Air juga gagal mendeteksi kelalaian PT Adam Air dalam mengatur dan mengelola masalah karyawan serta pemberian jaminan keselamatan penerbangan terhadap para penumpang yang notabenenya merupakan stakeholders penting dari perusahaan. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Dari penulisan makalah ini, selanjutnya penulis bisa mengambil beberapa garis besar yang merupakan kesimpulan dari tulisan sebagai berikut: a) Dikarenakan adanya sistem tatanan global, perkembangan hukum, khususnya hukum ekonomi, harus menselaraskan dengan perkembangan perekonomian global yang terjadi. b) Adanya hukum kepailitan dan UU Kepailitan dimaksudkan untuk melindungi hak-hak para kreditor dalam pemenuhan piutangpiutangnya dan juga melindungi keselamatan debitor dan juga harta pailit bisa dari ancaman eksekusi langsung yang akan upaya dilakukan oleh para kreditor. c) Debitor mengambil kewajiban jalan perdamaian dalam pemenuhan hutangnya kepada kreditor dengan

menempuh jalan pengajuan PKPU. d) Dibutuhkannya konsistensi hukum yang berlaku untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat secara umum dan juga para pelaku bisnis secara khusus. e) Belum terjaminnya hak-hak pegawai secara menyeluruh dalam UU Kepailitan dikarenakan berbenturan dengan adanya pasal 55 ayat 1 UU Kepailitan. f) Dibutuhkan kecakapan dan keobyektivitasan dari kurator dalam mengelola harta pailit untuk memastikan adanya pembagian harta pailit secara benar dan adil. 30

g) Masalah

kepailitan

yang

menimpa

suatu

entitas

sangat

berhubungan dengan permasalahan going concern dari entitas tersebut. Dan masalah going concern merupakan salah satu tanggung jawab dari auditor dalam menerbitkan laporan independennya. 2. Saran Dari uraian-raian yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, selanjutnya beberapa saran yang diajukan oleh penulis adalah sebagai berikut: a) Hukum kepailitan pada khususnya dan juga semua hukum yang terkait dengan persoalan ekonomi hendaknya secara terus menerus menselaraskan dirinya dengan perkembangan perekonomian global. Hal ini bertujuan untuk memberikan suatu jaminan dan kepastian bagi para pelaku ekonomi dalam menjalankan kegiatan usahanya. b) Hendaknya terdapat suatu acuan yang jelas dalam tatanan hukum kepailitan yang tertuang dalam peraturan perundangundangan yang ada sehingga dalam memutus suatu perkara kepailitan, antara hakim yang satu dan hakim yang lain tidak mengalami kondisi yang beragam dalam menafsirkan arti dan makna dari undang-undang (multitafsir). Dengan adanya suatu acuan yang jelas diharapkan munculnya putusan hakim yang seragam dan konsisten serta pada akhirnya bisa menjaga wibawa hukum dimata masyarakat luas. c) Posisi pegawai sebagai kreditor dari perusahaan yang telah diputus mengalami pailit hendaknya perlu diperjelas lagi. Dan juga dalam menempatkan posisi pegawai dari susunan kreditor perusahaan yang pailit harus diselaraskan dengan undangundang lain yang berhubungan dengan perlindungan terhadap hak-hak dari para pegawai. Hal ini mempunyai tujuan untuk memberikan kepastian dan jaminan akan hak dari para pegawai yang perusahaannya mengalami kebangkrutan. d) Hendaknya ada peraturan yang jelas atau manual procedure yang mengatur tentang kinerja dari kurator dalam mengurus, 31

mengelola dan membagi harta pailit dengan seadil-adilnya. Dengan adanya peraturan tersendiri tentang kinerja kurator diharapkan nantinya kurator dapat bekerja secara efektif dan efisien sehingga tidak merugikan hak dari para kreditor terhadap harta pailit. e) Kreditor dalam mengambil keputusan untuk memberikan kredit serta membuat perjanjian hutang-piutang dengan calon debitor hendaknya betul-betul memperhatikan penerapan prinsip 5C: Character (watak); Capacity (kemampuan); Capital (modal); Conditions (keadaan); dan Collateral (jaminan). Nilai besaran jaminan seharusnya, selain melindungi resiko kreditur, juga mempertimbangkan kepentingan pelaksanaan pembayaran upah buruh jika kepailitan terjadi. f) Berkaca dari permasalahan yang dihadapi oleh PT Adam Air dalam hal kepailitan, maka sudah selayaknya para auditor untuk benar-benar berhati-hati memperhatikan dalam masalah going concern maka dari tidak perusahaan yang diauditnya. Hal ini dikarenakan jika tidak menjalankan profesinya, menuntup kemungkinan akan terjadi banyak tuntutan hukum dikemudian hari terhadap profesi auditor dari para pemakai jasa auditor dan juga para stakeholders yang menyandarkan keputusannya terhadap laporan dan opini dari auditor.

32

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2008. Adam Air Dinyatakan Pailit. http://hukumonline.com/detail.asp?id=19447&cl=Berita. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Anonymous. 2008. Mantan Pilot Minta Adam Air Dipailitkan. http://hukumonline.com/detail.asp?id=18906&cl=Berita. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Anonymous. 2008. Hakim Tolak Permohonan Pailit Terhadap Adam Air. http://hukumonline.com/detail.asp?id=19136&cl=Berita. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Anonymous. 2009. Daftar Piutang Adam Air Ditetapkan. http://hukumonline.com/detail.asp?id=21208&cl=Berita. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Fanny, Margaretta. Sylvia Saputra. 2005. Opini Audit Going Concern: Kajian Berdasarkan Model Reputasi Kantor Akuntan Publik(Studi Pada Emiten Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi VIII: Solo Harris. Feddy. 2007. Reformasi Hukum Kepailitan. Fakultas Hukum Universitas Indonesia 33

Hartini, Rahayu. 2007. Hukum Kepailitan, Edisi Revisi. UMM Press: Malang Joni SH. 2007. Hukum Kepailitan. Sinar Grafika: Jakarta Juniarti. 2006. Profesi Akuntan Merespon Dampak Memburuknya Kondisi Ekonomi. Http://Puslit.Petra.Ac.Id/Journals/Accounting/ Nasima, Imam. 2008. Menggugat Pasal 29 UU Kepailitan. http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=19640&cl=Kolom. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Nasima, Imam. Eryanto Nugroho. 2008. Pembayaran Upah Buruh Dalam Proses Kepailitan. http://hukumonline.com/detail.asp? id=19037&cl=Kolom. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009)UndangUndang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Simanjuntak, Ricardo. 2008. UU Kepailitan Versus Hak-Hak Buruh. http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=19305&cl=Kolom. (Diakses Tanggal 30 Maret 2009) Sunarmi. 2004. Perbandingan Sistem Hukum Kepailitan Antara Indonesia (Civil Law System) Dengan Amerika Serikat (Common Law System). e_USU Repository: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

34