Anda di halaman 1dari 2

MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA

Renungan: Anton Sri Probiyantono

Arti Damai Sejahtera


Damai sejahtera yang dimaksud di sini tentu bukanlah seperti yang disampaikan “dunia” (Yoh 14:27).
Tidak serupa dengan ungkapan seorang politisi yang ingin menguasai keadaan suatu wilayah atau
negara melalui pidato-pidatonya yang mengusung isu perdamaian karena ingin mendapatkan
dominasi/ dukungan politik. Hal ini juga tidak sama dengan kondisi fisik tertentu yang menjadikan
seseorang merasa “puas” karena serba cukup dalam menikmati pakaian yang indah, makanan enak
yang berlimpah, rumah bagus, mobil mewah, tempat liburan yang diidamkan, dan lain sebagainya
(Luk 12:16-21). Damai-damai seperti ini bersifat semu dan sementara. Tidak bisa mengisi
kekosongan harapan atau hati seseorang, tidak dapat menjembatani hubungan seseorang dengan orang
lain, lingkungannya atau bahkan dengan Sang Pencipta-nya.
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia telah merasa kehilangan damai sejatera. Mereka berusaha
bersembunyi dari Sang Pencipta karena mereka menjadi “sang tertuduh”. Dosa telah merampas damai
sejahtera yang telah Tuhan tanamkan dalam diri mereka. Dosa menunjukkan kesalahan-kesalahan
mereka. Menjadikan mereka takut terhadap bayangan hukuman yang akan diterima (Kej 3). Dosa
membuat mereka terpisah dari Allah sehingga mereka tidak mungkin dapat bertemu Allah lagi. Dosa
menyebabkan terjadinya segala macam jenis ketidakharmonisan, konflik dan pertengkaran. Dosa
menjadi pemicu konflik di dalam diri atau luar diri seseorang, mendorong keinginan untuk selalu
mementingkan diri sendiri (egois), memicu ketegangan, ketidakbahagiaan di dalam rumahtangga, di
antara sahabat, di antara ayah, ibu, dan anak-anak, dan lain sebagainya.

Peran Tuhan Yesus


Oleh kematian Tuhan Yesus, tembok pemisah yang berupa dosa itu telah diruntuhkan sehingga
manusia boleh kembali bersekutu dengan Allah secara langsung. Pada waktu penyaliban, seakan-akan
tangan Tuhan Yesus yang satu menggenggam tangan manusia dan tangan-Nya yang lain
menggandeng tangan Allah Bapa sehingga manusia yang sebelumnya sangat jauh dari Allah menjadi
satu dengan Dia oleh pengorbanan Anak-Nya di kayu salib. Tuhan Yesus menjadi sumber damai
sejahtera karena berkuasa mendamaikan manusia dengan Allah Bapa. Yesus adalah Raja Damai
Sejahtera (Yes 9:6). Dia memberikan damai sejahtera-Nya kepada mereka yang percaya kepada-Nya
sehingga manusia yang percaya kepadaNya menjadi sanggup berdoa secara langsung kepadaNya.
Damai sejahtera yang dimaksud di sini merupakan hasil keinginan Roh (Roma 8:6). Damai ini juga
merupakan salah satu buah Roh (Galatia 5:22). Keinginan dan buah Roh yang tumbuh karena
seseorang lahir baru, iman dan percayanya kepada Tuhan Yesus, dan melakukan kehendakNya (Ef
2:14,17). Damai ini mendorong seseorang menyerahkan hidupnya ke dalam tangan kuasa Tuhan dan
memiliki keberanian untuk melakukan kehendak Tuhan dalam membawa damai sejahtera kepada
kehidupan nyata (Mat 5: 9).

Peran Kita dalam Membawa Damai Sejahtera


Ungkapan “Berbahagialah orang yang membawa damai” dalam Matius 5:3-12 ternyata tidak bisa
dilepaskan begitu saja dari ungkapan-ungkapan sebelumnya. Ungkapan ini memiliki arti yang sangat
dalam. Tuhan Yesus tidak menyampaikannya secara tiba-tiba tanpa pengertian dari konteks awal
terlebih dahulu. Seseorang yang ingin membawa damai sebaiknya (atau lebih tegasnya, “seharusnya”)
adalah orang yang terlebih dulu diubahkan untuk menjadi miskin di hadapan Allah (ayat 3), mampu
mengerti kehendak Tuhan (ayat 4), lemah lembut (ayat 5), lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6),
murah hati (ayat 7), suci hati (ayat 8), sanggup menyatakan kebenaran walaupun terancam untuk

1
dianiaya dan difitnah karena kebenaran yang mereka sampaikan (ayat 10). Ia harus lahir dari kasih
yang sejati terhadap Allah dan sesama manusia.
Dapat diumpakan andaikata terdapat dua pihak yang sedang bersengketa, seorang pembawa damai
adalah seseorang yang mengenal dan dikenal serta bisa dipercaya kedua belah fihak dengan baik.
Orang yang demikian adalah orang yang dikenal “baik” sebagai orang yang bisa dipercaya
omongannya, janjinya dan perbuatannya. Damai dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Orang yang
membawa damai sejahtera adalah orang yang berani angkat bicara menentang kejahatan dan dosa.
Tanpa kebenaran, seseorang tidak punya dasar untuk membawa damai sejahtera. Dasar yang pasti
bagi damai sejahtera yang abadi ialah keadilan dan kebenaran. Seorang pembawa damai tidak dapat
membawa damai dengan mengesampingkan kebenaran.
Seseorang akan merasa kesulitan mendamaikan pertengkaran pasangan suami-istri bila dalam
kehidupannya sehari-hari ia sering bertengkar dengan pasangan hidupnya dan/ atau tetangganya.
Sangat sulit membawa damai jika pada saat membawa damai, satu atau dua pihak berkata, "Kamu
sendiri tidak memberikan contoh yang baik" (yang bisa berarti bahwa mereka tidak percaya
kepadanya karena tidak menyampaikan kebenaran yang patut ditiru) atau “kamu berpihak kepadanya”
(yang bisa berarti bahwa tindakannya untuk menjadi “juru damai” dianggap tidak tulus).
Betapa tingginya panggilan sebagai pembawa damai sejahtera! Membawa damai sejahtera tidak
segampang berbicara, menggurui orang lain, mengibarkan spanduk dan berarak di jalan sambil
berteriak-teriak tentang “damai”. Orang lain bisa menilai dari berbagai macam aspek berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman hidup mereka. Membawa damai sejatera bisa juga dianggap sebagai
pekerjaan yang berbahaya. Jika tidak tepat dan bijak, seseorang malah bisa menjadi sasaran
“pertengkaran” kedua belah pihak yang sedang bersengketa.
Saat seseorang menerima damai sejahtera dari TUHAN, ia tidak perlu lagi merasa gentar dan takut.
Paulus dan Silas adalah dua model anak-anak TUHAN yang benar-benar merasakan dan mengalami
damai sejahtera ALLAH. Walaupun disesah dan dipenjarakan di bawah tanah yang gelap, mereka
tidak putus-putusnya mengucap syukur dan melantunkan pujian bagi kebesaran Nama TUHAN.
Kondisi seburuk apapun tidak mempengaruhi damai sejahtera ALLAH yang melampaui segala akal
manusia (Fil 4:7).

Tantangan
Apakah kita sanggup menjalankan tugas yang diembankan kepada kita untuk membawa damai
sejahtera kepada keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja dan “dunia”? Kiranya Tuhan Yesus
memberkati usaha kita.

antsprobi@yahoo.com