Anda di halaman 1dari 36

Laporan PBL I Blok Medikolegal

Kelompok PBL 1
Bayu Adiputra Afian Ishak Maria Franciska Octavianus Marciano Caroline Stella Elizabeth Purnamasari Felix Tasbun Sari Novia Gavrila Novi Felisitas Gisca Meiviana Marcella Auditta Audrey 2006.060.185 2008.060.001 2008.060.006 2008.060.007 2008.060.012 2008.060.014 2008.060.015 2008.060.017 2008.060.036 2008.060.037 2008.060.039 2008.060.070 2008.060.128

Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta 2011

Bab I Pendahuluan
1.1. Skenario

Anda bekerja di sebuah Puskesmas di daerah yang agak terpencil. Suatu hari, Anda kedatangan seorang anggota polisi mengaku sebagai Wakapolsek setempat. Ia meminta Anda datang ke sebuah tempat di tepi sungai yang menurutnya telah ditemukan sesosok mayat yang telah agak berbau busuk. Polisi tersebut juga bercerita bahwa mayat tersebut ditemukan warga yang sedang memancing di sungai. Mayat tersebut seorang laki-laki yang hingga saat ini tidak dikenal karena tidak ditemukan kartu identitas dan bukan warga setempat. Mayt belum busuk karena wajah masih tampak jelas dan di lehernya terdapat memar dan lecet. Sebuah luka terbuka berbentuk lubang kecil ditemukan di dada kanan mayat. Polisi ingin agar Anda melakukan pemeriksaan di TKP dan dilanjutkan pemeriksaan autopsi di Puskesmas. Ia akan membantu apa saja yang menurut Anda diperlukan karena ia ingin sekali mengungkap kasus tersebut. 1.2. Latar Belakang Ilmu kedokteran forensik merupakan salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Dokter memiliki kontribusi dalam penegakan hukum dan keadilan ini. Salah satunya adalah kewajiban membuat surat keterangan ahli atau surat keterangan untuk digunakan sebagai alat bukti yang sah untuk kasus pidana. Menurut KUHAP 133 ayat (1), penyidik untuk kepentingan peradilan (dalam menangani seorang korban luka, keracunan, atau mati) berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. Keterangan ahli dapat diberikan secara tertulis (KUHAP pasal 133 ayat (2)) maupun secara lisan di sidang pengadilan (KUHAP pasal 186). Dalam kedokteran forensik dipelajari tanatologi yaitu ilmu yang mempelajari kematian, perubahan yang terjadi setelah kematian, dan faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Setelah seseorang meninggal, akan tampak perubahan-perubahan dalam tubuhnya seperti lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu tubuh, dan lainlain. Segala bentuk luka atau cedera dan penyakit yang bertanggung jawab atas kematian seseorang disebut sebagai sebab kematian. Luka dapat muncul karena

kekerasan yang bersifat mekanik, fisik, atau kimiawi. Luka karena kekerasan mekanik dapat disebabkan karena benda tumpul, benda tajam, atau senjata api.

Bab II Isi
2.1. Rumusan Masalah (pertanyaan) 1. Apa yang harus diperiksa pada mayat yang ditemukan? 2. Tanda-tanda kematian dan tanatologi (tanda pasti dan tidak pasti dari kematian, jenis kematian) 3. Penyebab luka bentuk lubang, luka memar, dan luka lecet? 4. Proses tercemplung sampai mengambang di air memutuhkan waktu berapa lama? 5. Prosedur pemeriksaan di TKP? 6. Langkah-langkah dan hal-hal yang harus dipersiapkan untuk autopsi dan pemeriksaan laboratorium? 7. Tata cara penyelidikan?tingkatan polisi? 8. Aturan hukum 9. Perkiraan waktu dan sebab kematian pada kasus? 10. Identifikasi luka 2.2. Brainstorming 1. Tata cara penyidikan: Penemuan mayat laporan saksi ke RT/RW laporan ke polisi penyelidikan (oleh polisi tingkat apapun) penyidikan (oleh polisi pembantu Letnan II polisi/Ajun Inspektur Polisi II) dokter atau dokter ahli membuat Visum et Repertum diberikan kepada penyidik untuk dijadikan alat bukti penuntutan sidang pengadilan. 2. Tanda-tanda kematian: a. Cek SSP, jantung, dan paru (nadi, tekanan darah, laju respirasi) b. Refleks c. Kornea kering d. Palpasi dada, nafas berhenti > 10 menit) e. Relaksasi otot f. Cyanosis (kebiruan)

Tanda pasti kematian: a. Lebam mayat Merupakan gambaran merah kebiruan akibat hipostasis darah di bagian terendah tubuh. Lebam mayat muncul 20-30 menit post mortem. Lebam mayat ini dapat hilang dengan penekanan dan menetap setelah 8-12 jam. Lebam mayat digunakan untuk menentukan sebab (contoh keracunan CO, CN), posisi, dan waktu kematian. Lebam mayat harus dibedakan dengan memar. Apabila bagian kulit disayat dan disiram air, lebam mayat akan menghilang. Sementara memar tidak akan hilang pada perlakuan tersebut. b. Kaku mayat Otot memiliki cadangan glikogen. Glikogen ini akan dimetabolisme untuk menghasilkan ATP. ATP ini digunakan untuk membuat aktin dan miosin tetap lentur. Cadangan glikogen akan habis sehingga aktin dan miosin lama kelamaan akan menjadi kaku. Kaku mayat muncul 2-3 jam post mortem dan lengkap pada 10 jam. Kaku mayat harus dibedakan dengan cadaveric spasm, heat stiffening, dan cold stiffening. c. Pembusukan Pembusukan merupakan akibat autolisis dan kerja dari bakteri pembusuk. Bakteri pembusuk akan menghasilkan gas pembusukan. Pembusukan dapat terlihat di perut kanan bawah berupa gambaran kehijauan. Pembusukan ini ditunjukkan oleh bagian caecum karena lebih cair, banyak berisi bakteri, dan dekat dengan dinding perut. Pada mayat yang tenggelam, lama kelamaan tubuhnya akan berisi gas pembusukan sehingga mayat tersebut dapat mengambang d. Penurunan suhu tubuh Penurunan suhu tubuh terjadi sesuai asas Black dimana benda dengan suhu lebih tinggi akan melepaskan panasnya ke lingkungan sekitarnya agar panasnya menjadi setara. Dalam waktu setengah sampai satu jam, ATP habis sehingga panas tubuh berkurang. Penurunan suhu tubuh terjadi kurang lebih 1oC per jam dan dipengaruhi kelembaban udara. e. Adiposera Merupakan pembusukan yang terjadi di tempat lembab atau rawa-rawa. Asam lemak tidak jenuh akan dihidrolisis menjadi asam lemak jenuh yang lagi. Faktor yang mempercepat pembusukan adalah suhu tubuh dan kelembaban.

kemudian membentuk lapisan lilin. Lapisan lilin membuat mayat terlihat lebih awet. f. Mumifikasi Mumifikasi merupakan bentuk pembusukan di tempat kering. 3. Dasar hukum Pasal 133: penyidik berhak meminta keterangan untuk pemeriksaan luka, keracunan,atau kematian kepada dokter ahli atau dokter. Pasal 184: Alat bukti yang sah adalah saksi, keterangan akhli, surat, keterangan terdakwa, dan petunjuk. 4. Jenis kematian: a. Mati somatis: kematian 3 sistem utama tubuh yaitu sistem saraf pusat, respirasi, dan kardiovaskuler. b. Mati suri: kematian 3 sistem utama tubuh yang sifatnya reversibel bila dicek dengan alat sederhana. Mati suri dapat terjadi pada korban tenggelam, keracunan, atau tersengat listrik. c. Mati seluler: kematian sel-sel tubuh yang terjadi setelah kurang lebih 6 jam postmortem. d. Mati serebral:kematian otak tanpa disertai kematian batang otak sehingga sistem respirasi dan kardiovaskuler masih dapat bekerja. e. Mati batang otak: kematian dimana fungsi vegetatif seseorang sudah tidak ada. Sistem respirasi dan kardiovaskuler sudah tidak berfungsi bila tidak dibantu alat. 5. Waktu kematian dapat diperkirakan dari lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu tubuh, larva pada pembusukan mayat, dan warna memar. 6. Luka dapat dibedakan akibat: a. Mekanik: akibat benda tumpul, tajam, atau senjata api. b. Fisik: akibat radiasi, tekanan udara, petir, listrik, suhu dingin/panas, dll. c. Kimiawi: akibat asam atau basa kuat. Memar atau lecet di leher kemungkinan disebabkan oleh penjeratan, pencekikan, gantung, atau lecet yang terbentuk saat tenggelam (karena terbentur batu atau benda di sungai atau laut). Luka terbuka berbentuk lubang

kecil di dada kanan mayat dapat disebabkan karena senjata api atau luka tusuk (seperti pemecah es, obeng, dll). Sebab kematian: pencekikan, tenggelam, atau penembakan. Korban yang tenggelam diperiksa dari hemokonsentrasi atau hemodilusi darah dari ventrikel kiri jantung dan pemeriksaan diatome. Korban penjeratan dibedakan mati karena penjeratan atau setelah mati baru dijerat. Bila mati karena dijerat, warna jejas jerat lebih merah gelap dan tanda jeratan lebih jelas. Bila penjeratan dilakukan setelah korban mati, gambaran jejas jerat tidak jelas dan warnanya pun kurang jelas. 2.3. SKEMA
Mayat laki-laki ditemukan di tepi sungai tanpa identitas oleh seorang warga yang sedang memancing

Warga lapor ke polisi

Polisi melakukan penyelidikan

Penyidikan dilakukan oleh Wakapolsek

Dilakukan Autopsi Forensik

Penyidik meminta bantuan dokter di Puskesmas untuk melakukan visum

Traumatologi

Tanatologi

Pembuatan Visum et Repertum

2.4. Learning Objective 1. Tanatologi (tanda-tanda pasti kematian) 2. Sebab, Cara, dan mekanisme kematian 3. Traumatologi mekanik 4. Aturan hukum yang mengatur tindak forensik 5. metode identifikasi korban

IDENTIFIKASI FORENSIK Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang rusak , membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtua nya. Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang digunakan memberikan hasil positif (tidak meragukan). Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologic, dan secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA. 1. PEMERIKSAAN SIDIK JARI Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari antemortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantong plastik. 2. METODE VISUAL Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang. Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut. 3. PEMERIKSAN DOKUMEN Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor) dan sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali

jenazah tersebut. Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang bersangkutan. 4. PEMERIKSAAN PAKAIAN DAN PERHIASAN Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang semuanya dapat membantu proses identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.Khusus anggota ABRI, identifikasi dipermudah oleh adanya nama serta NRP yang tertera pada kalung logam yang dipakainya. 5. IDENTIFIKASI MEDIK Metode ini menggunakan data umum dan data khusus. Data umum meliputi tinggi badan, berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan sejenisnya. Data khusus meliputi tatto, tahi lalat, jaringan parut, cacat kongenital, patah tulang dan sejenisnya. Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatan nya cukup tingi. Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. Melalui identifikasi medik diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya. 6. PEMERIKSAAN GIGI Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (Odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Seperti hal nya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Dengan demikian dapat dilakukan indentifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding antemortem. 7. PEMERIKSAAN SEROLOGIK Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang. Saat ini telah dapat dilakukan pemeriksaan sidik DNA yang akurasi nya sangat tinggi.

8. METODE EKSKLUSI Metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut dan sebagainya. Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode identifikasi yang lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan metode-metode tersebut diatas, maka sisa korban diidentifikasi menurut daftar penumpang.
9. IDENTIFIKASI POTONGAN TUBUH MANUSIA (KASUS MUTILASI)

Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan jaringan berasal dari manusia atau hewan. Bilamana berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-potongan tersebut dari satu tubuh. Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan, dan keterangan lain seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, serta cara pemotongan tubuh yang mengalami mutilasi. Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat digunakan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi presipitin). Penentuan jenis kelamin ditentukan dengan pemeriksaan makroskopik dan harus diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopik yang bertujuan menemukan kromatin seks wanita, seperti Drumstick pada leukosit dan badan Barr pada sel epitel serta jaringan otot. 10. IDENTIFIKASI KERANGKA Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi badan, ciri-ciri khusus dan deformitas serta bila memungkinkan dilakukan rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda-tanda kekerasan pada tulang dan memperkirakan sebab kematian. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan kekeringan tulang. Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi dengan membandingkan data antemortem. Bila terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa hidup, dapat dilaksanakan metode superimposisi, yaitu dengan jalan menumpukkan foto Rontgen tulang tengkorak diatas foto wajah orang tersebut yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pengambilan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan.

Tengkorak Dahi Tepi orbital Orbital Tonjolan mastoid Rigi (musle ridges) Pelvis Bentuk Arcus pubis Foramen ischiadica Incisura ischiadica Os sacrum

Laki-laki Rendah Lebih menonjol Persegi empat Besar Kasar (nyata) Laki-laki Sempit dan panjang < 90 derajat Oval Lebih dalam Kurang lebar

Perempuan Tinggi Kurang menonjol Bulat Kecil Halus Perempuan Lebar dan pendek >90 derajat Segitiga Lebih dangkal Lebih lebar

Sedangkan menurut sumber Krogmann (1955) Tanda Ukuran, volume endokranial Arsitektur Tonjolan supraorbital Prosesus mastoideus Daerah oksipital, linea mus-kularis dan Protuberensia Eminensia frontalis Eminentia parietalis Orbita Kecil Kecil Persegi, rendah Relatif kecil Dahi Tulang pipi Mandibula Tepi tumpul Curam kurang Membundar Berat, arkus lebih ke lateral Besar, simfisisnya tinggi, ramus Palatum asendingnya lebar Besar dan lebar, cenderung seperti huruf Besar Besar Bundar, tinggi Relatif besar Tepi tajam Membundar Penuh, infantil Ringan, lebih memusat Kecil, dengan ukuran korpus dan ramus lebih kecil Kecil, cenderung seperti parabola Pria Besar Kasar Sedang besar Sedang besar Tidak jelas Kecil Halus Kecil sedang Kecil sedang Jelas/menonjol Wanita

Kondilus oksipitalis Gigi-geligi

U Besar Besar, M1 bawah sering 5 kuspid

Kecil Kecil, molar biasanya 4 kuspid

11. PEMERIKSAAN ANATOMIK Dapat memastikan bahwa kerangka adalah kerangka manusia.Kesalahan penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik/ reaksi presipitin dan histologi (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers). 12. PENENTUAN RAS Penentuan ras dapat dilakukan dengan pemeriksaan antropologik pada tengkorak, gigi geligi, tulang panggul atau lainnya.Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang berbentuk seperti sekop memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid. Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak, sternum, tulang panjang serta skapula dan metakarpal. Sedangkan tinggi badan dapat diperkirakan dari panjang tulang tertentu, dengan menggunakan rumus yang dibuat oleh banyak ahli. Melalui suatu penelitian, Djaja Surya Atmaja menemukan rumus untuk populasi dewasa muda di Indonesia: Pria: TB= 72,9912 + 1,7227 (tib) + 0,7545 (fib) ( 4,2961 cm) TB= 75,9800 + 2,3922 (tib) ( 4,3572 cm) TB= 80,8078 + 2,2788 (fib) ( 4,6186 cm) Wanita : TB= 71,2817 + 1,3346 (tib) + 1,0459 (fib) ( 4,8684 cm) TB= 77,4717 + 2,1889 (tib) ( 4,9526 cm) TB= 76,2772 + 2,2522 (fib) ( 5,0226 cm)

Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih pendek 2 milimeter dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tingi badan perlu diperhatikan. Rata-rata tinggi laki-laki lebih besar dari wanita, maka perlu ada rumus yang terpisah antara laki-laki dan wanita. Apabila tidak dibedakan, maka diperhitungkan ratio laki-laki banding wanita adalah 100:90. Selain itu penggunaan lebih dari satu tulang sangat

dianjurkan. (Khusus untuk rumus Djaja SA, panjang tulang yang digunakan adalah panjang tulang yang diukur dari luar tubuh berikut kulit luarnya). Ukuran pada tengkorak, tulang dada, dan telapak kaki juga dapat digunakan untuk menilai tinggi badan. Bila tidak diupayakan rekonstruksi wajah pada tengkorak dengan jalan menambal tulang tengkorak tersebut dengan menggunakan data ketebalan jaringan lunak pada berbagai titik di wajah, yang kemudian diberitakan kepada masyarakat untuk memperoleh masukan mengenai kemungkinan identitas kerangka tersebut. TANATOLOGI Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Tanda-tanda kematian tidak pasti: 1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi). 2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba. 3. Kulit pucat, karena terjadinya spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Menyebabkan kulit menimbul sehingga membuat

orang tampak lebih muda. 5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi yang bergerak ke arah tepi retina. 6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam 10 menit dan masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air. Tanda-tanda kematian pasti: 1. Lebam mayat (livor mortis). Setelah kematian klinis maka eritrtosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi membentuk bercak merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh kecuali bagian tubuh yang tertekan alas keras.

Darah tetap cair karena adanya fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat mulai tampak 20-30 menit pasca mati, dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini lebam mayat masih memucat pada penekanan dan bisa berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih sempurna atau perubahan posisi mayat dilakukan dalam 6 am pertama setelah mati klinis. Lebam mayat bisa memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat, dan memperkirakan saat kematian. Jika pada mayat terlentang yang lebam mayatnya belum menetap pada penekanan menunjukan saat kematian masih kurang dari 8-12 jam dan dilakukan perubahan posisi mayat menjadi telungkup maka terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Pada lebam mayat darah terdapat dalam pembuluh darah, untuk membedakan dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi) dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka pada lebam mayat warna merah darah akan hilang atau pudar, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang. 2. Kaku mayat (rigor mortis) Kelenturan otot setelah mati dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan karena pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP, selama masih ada ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur, jika cadangan glikogen habisa sehingga tidak terbentuk ATP makan otot akan menjadi kaku.

Kaku mayat dilakukan dengan pemeriksaan pada persendian. Mulai tampak setelah 2 jam pasca mati yang dimulai dri luar tubuh ke dalam tubuh (sentripetal). Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat sudah menjadi lengkap, dan dipertahankan setelah itu maka kaku mayat akan menghilang sesuai urutan yang sama. Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap : 1. Periode relaksasi primer (flaksiditas primer) Relaksasi primer terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi, dan bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga akan turun dan lemas. 2. Kaku mayat (rigor mortis) 3. Periode relaksasi sekunder Otot menjadi relaks (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi sekunder. Kaku mayat digunakan memperkirakan saat kematian. Faktor yang dapat mempercepat kaku mayat adalah: - Aktivitas fisik sebelum mati - Suhu tubuh yang tinggi - Tubuh yang kurus - Suhu lingkungan yang tinggi Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat yaitu: a. Cadaveric spasm (instantaneous rigor) Kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah kehabisan cadangan glikogen dan ATO yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. untuk menunjukan tanda pasti kematian dan

Kepentingan medikolegal adalah menunjukan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya tangan menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam atau bunuh diri. b. Heat stiffening Kekakuan otot akibat koagulasi protein oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan flexi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab dan cara kematian. c. Cold stiffening Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi. 3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurvas sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran, dan kelembapan udara, bentuk tubuh, posis tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih capat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembapan rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil. Berbagai rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil dari penelitian di negara barat, namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena faktor-faktor yang berpengaruh di atas berbeda pada setiap kasus, lokasi, cuaca, dan iklim. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rektal dengan interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati

dianggap 37 derajat celcius bila tidak ada penyakit demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat celcius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka diatas, dengan menggunakan rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dengan saat pemeriksaan. Saat ini telah tersedia program komputer guna pengitungan saat mati melalui cara ini. 4. Pembusukan (decomposition, putrefaction) Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakkan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaaan steril. Autolisis timbulk akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2s, dan HCN serta asam amino dan asam lemak. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dengan dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman. Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk. Pembentukkan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini akan menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longggar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju (pugilistic atitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi. Selanjutnya, rambut dengan mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi

tembem, bibir tebal, lidah membengkan dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga. Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukkan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati, di alis mata, sudut mata, lubang hidung, dan diantara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tdak lagi dapat mengusir lalat yang hinggap). Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda. Perubahan warna yang terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan m udah robek. Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26,5 derajat celcius hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembapan dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat dapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam tanah : air : udara adalah 1 : 2 : 8. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk, karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat pada bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.

5.

Adiposera Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak, atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena menunjukkan sifat-sifat diantara lemak dan lilin. Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi (Mant dan Furbank, 1957) dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial (Evans,1962). Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di dalam alkohol panas dan eter. Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara, atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera. Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembapan dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya. Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0,5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas secara makroskopis sebagai bahan berwarna putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannyaa sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam palmitat.

6.

Mummifikasi Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembapan rendah, aliran udara yang baik, tubuhyang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.

Perkiraan saat kematian Selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati. 1. Perubahan pada mata Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kirakira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak di sekitar makula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar

belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna coklat gelap. 2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk memberi petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam isi lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut. 3. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut 0,4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat digunakan untuk memeprkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur. 4. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas, pertmbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1mm/ hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. 5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.

6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat.

Peningkatan tersebut untuk memperkirakan saat kematian antara 24 jam hingga 100 jam pasca mati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian.

Hal ini menyebabkan analisis darah pasca mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat. 8. Reaksi supravital Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama dengan reaksi tubuh seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati. TRAUMATOLOGI Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (ruda paksa), sedangkan yang di maksud dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Berdasarkan sifat dan penyebabnya, kekerasan dapat disebabkan atas kekerasan yang bersifat: - Mekanik Kekerasan oleh benda tajam Kekerasan oleh benda tumpul Tembakan senjata api - Kimia Asam atau basa kuat - Fisika Suhu Listrik dan petir Perubahan tekanan udara Akustik Radiasi

LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL Luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul bisa berupa memar (kontusio, hematome), luka lecet (ekskoriasi, abrasi), dan luka terbuka atau robek (vulnus laseratum). Memar / Hematoma Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya. Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit penyerta ( hipertensi, diastesis hemoragik, penyakit kardiovaskular). Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan. Pada bayi, hematome cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula pada usia lanjut sehubungan dengan menipisnya jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah yang kurang terlindung. Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai factor yang mempengaruhinya. Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar merupakan hal penting, apalagi bila luka memar itu disertai luka lecet. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang hidup atau mati, luka memar akan memberikan gambaran yang makin jelas. Hematoma ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan menunjukkan pembengkakan dan infltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat, darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih. Sedangkan pada hematom penampang sayatn tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini. Luka lecet (ekskoriasi / abrasi) Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing.

Manfaat interpretasi luka lecet ditinju dari aspek medikolegal seringkali diremehkan, padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan TKP dapat mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sesuai dengan mekanisme terjadinya, lika lecet diklasifikasikan sebagai luka lecet gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression) dan luka lecet geser (friction abrasion). Luka lecet gores (scratch) diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggesar lapisan permukaan kulit (epidermis) didepannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi. Luka lecet serut (graze) adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel. Luka lecet tekan (impression, impact abrasion) disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk kula lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas. Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca kematian. Luka lecet geser (friction abrasion) disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser. Semisal pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet yang terjadi segera pasca kematian. Luka robek Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan bila batas elstisitas kulit terlampaui makan akan terjadi robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka. Kekerasan benda tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang. Bila terdapat lebih dari 1 garis patah tulang yang saling bersinggungan maka garis yang terjadi belakangan akan terhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya.

Patah tulang jenis impresi terjadi akibat kekerasan benda tumpul pada tulang dengan luas persinggungan yang kecil dan dapat memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya. Pada cedera kepala, tulang tengkorak yang tidak terlindung oleh kulit hanya mampu menahan benturan sampai 40 pound /inch2, tetapi bila terlindung oleh kulit maka dapat menahan sampai 425.900 pound/inch2. Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera kepala dapat pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural, subdural dan subarakhnoid juga kerusakan selaput dan jaringan otak. Perdarahan epidural sering terjadi pada usia dewasa sampai pertengahan, dan sering dijumpai pada kekerasan benda tumpul di daerah pelipis (kurang lebih 50%) dan belakang kepala (10-15%), akibat garis patah yang melewati sulcus arteria meningea, tetapi perdarahan epidural tidak selalu disertai patah tulang. Perdarahan subdural terjadi karena robeknya sinus, vena jembatan (bridging vein), arteri basilaris atau berasal dari perdarahan subarakhnoid. Perdarahan subarakhnoid biasanya berasal dari fokus kontusio/laserasi jaringan otak. Perlu diingat bahwa perdarahan ini juga bisa terjadi spontan pada sengatan matahari (heat stroke), leukemia, tumor, keracunan CO dan penyakit infeksi tertentu. Lesi otak tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan (coup) tetapi dapat terjadi di seberang titik benturan (contrecoup) atau diantara keduanya (intermediate lesion). Lesi contrecoup terjadi karena adanya likuor yang mengakibatkan terjadinya pergerakan otak saat terjadinya benturan, sehingga pada sisi kontralateral terjadi gaya positif akibat akselerasi, dorongan likuor dan tekanan oleh tulang yang mengalami deformitas. Penelitian lain menyatakan contrecoup terjadi karena adanya deformitas tulang tengkorak yang dapat menimbulkan tekanan negative pada sisi kontralateral. Cedera kontralateral terjadi bila tekanan negatif yang terjadi minimal 1 ata (atmosfir absolut). Kontusio biasanya terjadi bila ada kekerasan paling tidak sebesar 250 g gaya gravitasi (1 g = 9,81 m/detik 2), sedangkan komosio kira-kira 60-100 g. LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TAJAM Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keping kaca. Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepid an dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik.

Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka tusuk dan luka bacok. Selain gambaran umum luka diatas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu segaris. Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebab, apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip, luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dbentuk oleh ujung dan sisi tajamnya. Kulit disekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Hali ini disebabkan oleh factor elastisitas jaringan dan gerakan korban. LUKA AKIBAT TEMBAKAN SENJATA API Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil perledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Akibat yang ditimbulkan oleh anak peluru pada sasaran tergantung pada berbagai faktor :

Besar dan bentuk anak peluru Balistik (kecepatan, energi klinik, stabilitas anak peluru). kerapuhan anak peluru Kepadatan jaringan sasaran Vulnerebilitas jaringan sasaran.

Tembakan yang mengenai tubuh akan menimbulkan luka tembak yang gambarannya tidak hanya terjadi sebagai akibat terjangan anak peluru pada sasaran, tetapi juga oleh produk ikutan yang terjadi saat tembakan dilepaskan yaitu partikel logam akibat gesekan anak peluru dengan laras, butir mesiu yang tidak sempurna terbakar, asap serta panas akibat ledakan mesiu dan pada luka tembak yang terjadi akibat tembak tempel, kerusakan jaringan akibat

moncong laras yang juga menekan sasaran. Tergantung pada komponen produk ikutan mana yang masih dapat mencapai sasaran. Luka tembak masuk dibedakan menjadi luka tembak masuk jarak jauh, luka tembak masuk jarak dekat, luka tembak masuk jarak sangat dekat dan luka tembak tempel. Luka tembak masuk jarak jauh Gambaran luka dibentuk oleh komponen anak peluru, sedangkan luka tembak masuk jarak dekat dibentuk oleh komponen anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar. Luka tembak masuk jarak sangat dekat dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga, dan panas/ api. Luka tembak masuk jarak dekat Gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar, sehingga disamping lubang luka dan kelim lecet, ditemukan pula kelim tatoo yang merupakan bintik-bintik berwarna hitam di sekitar lubang luka. Luka tembak masuk jarak sangat dekat Gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru, sisa mesiu yang tidak habis terbakar, asap serta udara panas yang keluar pada suatu penembakan. Akan tampak lubang luka yang dikelilingi oleh kelim lecet, kelim tatoo, kelim jelaga dan kelim api. Luka tembak masuk tempel atau kontak Gambaran luka dibentuk oleh seluruh komponen tersebut diatas (yang akan masuk ke dalam saluran luka) dan jejas laras. Saluran luka akan berwarna hitam dan jejas laras akan tampak mengelilingi luka tembak masuk sebagai luka lecet jenis tekan yang terjadi sebagai akibat tekanan berbalik dari udara hasil ledakan mesiu. Apabila setelah mengenai sasaran, anak peluru masih memiliki tenaga untuk meneruskan lintasannya dan menembus ke luar tubuh maka akan terjadi luka tembak luar. Anak peluru yang menembus kulit akan menyebabkan terjadinya lubang dikelilingi bagian yang kehilangan kulit ari berupa kelim lecet. Selain itu zat yang melekat pada anak peluru seperti minyak pelumas, jelaga dan elemen mesiu (Pb, Sb, Ba) akan terusap pada tepi lubang sehingga terbentuk kelim kesat/kelim lemak yang terdapat tepat di tepi lubang (pada luka tembak masuk jarak jauh). Butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar akan tertanam pada kulit disekitar kelim lecet, membentuk kelim tatto (pada luka tembak masuk jarak dekat), dan jelaga/asap yang keluar dari ujung laras senjata akan membentuk kelim jelaga, sedangkan api yang ikut keluar akan membentuk kelim api (berupa hiperemis atau jaringan yang terbakar pada luka tembak masuk jarak sangat dekat).

Ujung laras yang menempel pada kulit saat senjata api ditembakkan akan membentuk luka lecet tekan yang mengelilingi kelim lecet dengan sekitar byang menonjol dikenal sebagai jejak laras. Bila seluruh lingkaran laras senjata menempel tegak lurus pada kulit, maka butir mesiu, jelaga, api, semuanya langsung masuk ke dalam saluran luka. Tekanan balik gas panas yang ikut masuk ke dalam saluran dapat mengakibatkan peregangan kulit yang sangat besar dan memberikan gambaran luka seperti bintang. Bila tidak seluruh lingkaran laras senjata menempel pada permukaan kulit maka akan terbentuk gambaran luka tembak masuk yang merupakan kombinasi luka tembak masuk tempel dan luka tembak masuk jarak sangat dekat. Gambaran luka tembak masuk jarak jauh dapat juga ditemukan pada korban yang tertembak pada jarak yang dekat/ sangat dekat, apabila di atas permukaan kulit terdapat penghalang (pakaiaan tebal, helm, dll) sehingga butir mesiu yang tidak habis terbakar, jelaga dan api tertahan oleh penghalang tersebut. Jarak penembakan yang tepat hanya dapat diperkirakan dengan membandingkan luka tembak masuk yang ditemukan dengan luka tembak masuk yang diperoleh dari uji coba tembakan yang menggunakan senjata dan peluru yang sejenis. Pada umumnya mesiu mengandung unsur Sb, Ba, nitrat. Penentuan kuantitatif terhadap Sb pada luka tembak masuk mungkin dapat memberikan perkiraan kasar terhadap jarak tembak. Uji difenhidramin terhadap adanya nitrat dan pemeriksaan spektrofotometri terhadap Sb pada tangan tersangka pelepas tembakan terutama pada senjata jenis revolver merupakan salah satu cara pembuktian terhadap pelaku penembakan. Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban akan ditemukan luka tembak keluar. Luka tembak keluar umumnya lebih besar dari luka tembak masuk akibat terjadinya deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari luka tembak keluar. Pada anak peluru yang menmbus tulang pipih, seperti tulang atap tengkorak akan terbentuk corong yang membuka searah dengan gerak anak peluru. Luka tembak keluar mungkin lebih kecil dari luka tembak masuk bila terjadi pada luka tembak tempel/ kontak, atau pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat akan keluar meninggalkan tubuh. Bentuk luka tembak keluar tidak khas dan sering tidak beraturan. Di sekitar luka tembak keluar mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras (ikat pinggang) atau korban sedang bersandar di dinding.

Senjata api dengan anak peluru berkecepatan tinggi (>800 m/s) seperti pada senapan berburu, senapan militer, dan senapan mesin memberikan luika tembak masuk dengan daya rusak hebat terutama jarak dekat. TENGGELAM Diagnosis kematian akibat tenggelam kadang-kadang sulit ditegakkan, bila tidak dijumpai tanda-tanda yang khas baik pada pemeriksaan luar atau dalam. Pada mayat yang ditemukan terbenam dalam air perlu diingat bahwa mungkin korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air. Keadaan sekitar individu penting. Tenggelam tidak hanya terbatas di dalam air seperti laut, sungai, danau atau kolam renang tetapi mungkin pula terbenam dalam kubangan atau selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air. Tenggelam dalam air tawar (hipotonik) Pada keadaan ini terjadi absorpsi cairan yang massif. Karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah, maka akan terjadi hemodilusi darah dimana air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya sel darah merah (hemolisis) Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh mencoba mengatasi keadaan ini dengan melepaskan ion kalium dari serabut otot jantung sehingga kadar ion kalium dalam plasma meningkat, terjadi perubahan keseimbangan ion K+ dan Ca++ dalam serabut otot jantung dapat mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah, yan kemmudian menyebabkan timbulnya kematian akibat anoksia otak. Kematian terjadi dalam waktu 5 menit. Hal penting yang perlu ditentukan pada pemeriksaan adalah : 1. Menentukan identitas korban Identitas korban ditentukan dengan memeriksa :

Pakaian dan benda-benda milik korban Warna dan distribusi rambut dan identitas lain Kelainana atau deformitas dan jaringan parut Sidik jari Pemeriksaan gigi Teknik identifikasi lain

2. Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam Pada mayat masih segar, untuk menentukan apakah korban masih hidup atau sudah meninggal pada saat tenggelam, dapat diketahui dari hasil pemeriksaan :

Metode yang memuaskan untuk menentukan apakah orang masih hidup waktu tenggelam adalah pemeriksaan diatom Untuk membantu menentukan diagnosis, dapat dibandingkan kadar elektrolit magnesium darah dari bilik jantung kiri dan kanan Benda asing dalam paru dan saluran pernafasan mempunyai nilai yang menentukan pada mayat yang terbenam selama beberapa waktu dan mulai membusuk. Demikian juga dengan isi lambung dan usus.

Pada mayat yang segar, adanya air dalam lambung dan alveoli yang secara fisika dan kimia sifatnya sama dengan air tempat korban tenggelam mepunyai nilai bermakna. Pada beberapa kasus ditemukannya kadar alcohol tinggi dapat menjelaskan bahwa korban sedang salam keracunan alcohol pada saat masuk ke dalam air.

3. Penyebab kematian yang sebenarnya dan jenis drowning Pada mayat yang segar, gambaran pasca kematian dapat menunjukkan tipe drowning dan juga penyebab kematian lain. 4. Faktor-faktor yang berperan pada proses kematian Misalnya kekerasan, obat-obatan, alkohol dapat ditemukan pada pemeriksaan luar atau melalui bedah jenazah. 5. Tempat korban pertama kali tenggelam Bila kematian korban berhubungan dengan masuknya cairan ke dalam saluran nafas, maka pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan dapat membantu menentukan apakah korban tenggelam ditempat itu atau tempat lain. 6. Apakah ada penyulit alamiah lain yang mempercepat kematian

Bila sudah ditentukan bahwa korban masih hidup pada waktu masuk ke air, maka perlu ditentukan apakah kematian disebabkan karena air masuk ke dalam saluran pernafasan. Pada immersion, kematian terjadi dengan cepat, hal ini mungkin disebabkan oleh sudden cardiac arrest yang terjadi pada waktu cairan melalui saluran nafas bagian atas. Beberapa korban yang terjun dengan kaki terlebih dahulu menyebabkan cairan dengan mudah masuk ke hidung. Factor lain adalah keadaan hipersensitivitas dan alcohol.

Bila tidak ditemukan air dalam paru-paru dan lambung berarti kematian terjadi seketika akibat spasme glottis yang menyebabkan cairan tidak dapat masuk.

Korban tenggelam akan menelan air dalam jumlah yang makin lama makin banyak, kemudian menjadi tidak sadar dalam waktu 2-12 menit (fatal periode). Dalam periode ini bila orban dikeluarkan dari air, ada kemungkinan masih dapat hidup bila upaya resusitasi berhasil. Pemeriksaan luar jenazah tenggelam

Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumuran pasir, lumpur da benda-benda asing lain yang terdapat dalam air. Busa halus pada hidung dan mulut, kadang berdarah Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang pendarahan atau pembendungan. Kutis anserine pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada ekstremitas akibat kontraksi otot erector pili yang dapat terjadi karena rangsang dingin air. Washer womans hand dimana telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput yangdisebabkan karena imbibisi cairan ke dalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu lama

Cadaveric spasme, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja dalam air. Luka-luka lecet pada siku, jari tangan, lutut dan kaki akibat gesekan pada bendabenda dalam air. Puncak kepala mungkin terbentur dasar waktu tenggelam, tetapi dapat pula terjadi luka post mortal akibat benda-benda atau binatang dalam air.

Pemeriksaan bedah jenazah tenggelam


Busa halus dan benda asing dalam saluran nafas Paru-paru mebesar seperti balon, lebih berat, sampai menutupi kantung jantung. Pada pengirisan banyak keluar cairan. Keadaan ini terutama terjadi pada kasus tenggelam di laut.

Petekie sedikit sekali karena kapiler terjepit diantara septum interalveolar. Mungkin terdapat bercak-bercak perdarahan yang disebut bercak Paltauf akibat robeknya penyekat alveoli. Petekie subpleural dan bula emfisema jarang terdapat dan ini bukan merupakan tanda khas tenggelam tetapi mungkin disebabkan oleh usaha respirasi.

Dapat juga ditemukan paru-paru yang normal karena cairan tidak masuk ke dalam alveoli atau cairan sudah masuk ke dalam aliran darah. Otak, ginjal, hati dan limpa mengalami perbendungan Lambung dapat sangat membesar, berisi air, lumpur dan mungkin juga terdapat dalam usus halus.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan diatome Alga/ ganggang bersel satu dngan dinding terdiri dari silikat yang tahan panas dan asam kuat. Diatom ini dapat dijumpai dalam air tawat, alut, sungai, sumur. Bila seseorang mati karena tenggelam maka cairan bersama diatom masuk ke dalam saluran nafas atau pencernaan, kemudian diatom akan masuk ke dalam aliran darah melalui kerusakkan dinding kapiler pada waktu korban masih hidup dan tesebar ke seluruh jaringan. Pemeriksaan diatom dilakukan pada jaringan paru mayat segar. Bila mayat telah membusuk, pemeriksaan diatom dilakukan dari jaringan ginjal, otot skelet, sumsum tulang paha. Pemeriksaan diatom pada hati dan limpa kurang bermakna sebab berasal dari penyerapan abnormal saluran pencernaan terhadap makanan dan minuman. Pemeriksaan diatom positif bila pada jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak : 4-5/ LPB atau 10-20 per satuan sediaan, atau pada sumsum tulang cukup ditemukan satu. Pemeriksaan diatom dapat dilakukan dengan pemeriksaan destruksi pada paru dan pemeriksaan getah paru.

Pemeriksaan darah jantung Pemeriksaan berat jenis dan kadar elektrolit pada darah yng berasal dari bilik jantung kiri dan bilik jantung kanan. Bila tenggelam di air tawar, berat jenis dan kadar elektrolit dalam darah jantung kiri lebih rendah dari jantung kanan sedangkan pada tenggelam di air asin terjadi sebaliknya. Perbedaan kadar elektrolit lebih rendah dari 10% dapat menyokong diagnosis.

Pemeriksaan mikroskopik jaringan Pemeriksaan keracunan Bila mayat masih segar (belum terdapat pembusukkan), maka diagnosis kematian

Diagnosis tenggelam akibat tenggelam dapat dengan mudah ditegakkan melalui pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, pemeriksaan laboratorium. Bila mayat sudah membusuk, maka diagnosis kematian akibat tenggelam dibuat berdasarkan adanya diatom yang cukup banyak pada paru-paru yang bila disokong oleh penemuan diatom pada ginjal, otot skelet atau sumsum tulang, maka diagnosis akan menjadi pasti.

Sebab kematian adalah penyakit atau cedera atau luka yang bertanggung jawab atas terjadinya kematian. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Bila kematian terjadi sebagai akibat suatu penyakit semata maka cara kematian adalah wajar (natural death). Bila kematian terjadi akibat cedera atau luka, atau pada seseorang yang telah menderita penyakit dan kematiannya dipercepat oleh adanya cedera atau luka, maka kematian demikian adalah kematian tidak wajar (unnatural death). Kematian tidak wajar ini dapat terjadi akibat kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan. Kadang pada akhir suatu penyidikan, penyidik tidak dapat menentukan cara kematian dengan demikian kematian dinyatakan sebagai kematian dengan cara yang tidak tertentukan. Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup. Contoh : seseorang menderita tbc paru. Pada suatu hari mengalami hemoptoe hebat dan meninggal. Penyebab kematian : tbc paru. Mekanisme kematian : shock akibat perdarahan paru-paru. Cara kematian : wajar. DASAR HUKUM KUHAP Pasal 108 : Pelaporan (1) Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis. (2) Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik. (3) Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal itu kepada penyelidik atau penyidik. (4) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditandatangani oleh pelapor atau pengadu. (5) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan harus dicatat oleh penyidik dan ditandatangani oleh pelapor atau pengadu dan penyidik.

(6) Setelah menerima laporan atau pengaduan, penyelidik atau penyidik harus memberikan surat tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan. Pasal 133 Keterangan ahli (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pasal 183 : Alat bukti sah Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Pasal 184 : Jenis alat bukti sah (1) Alat bukti yang sah ialah a.keterangan saksi b.keterangan ahli c.surat d.petunjuk e.keterangan terdakwa (2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

KUHP Kejahatan terhadap penguasa umum Pasal 216 (1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undangundang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda puling banyak sembilan ribu rupiah. (2) Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. (3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga. Pasal 224 Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam: 1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan; 2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan. Kejahatan terhadap nyawa Pasal 338 Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 339 Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap

tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Pasal 340 Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Penganiayaan Pasal 351 (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah, (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.