Anda di halaman 1dari 7

RESUME TERJEMAHAN ENCYCLOPEDIA OF THE QURAN Vol. One.

Jane Dammen McAuliffe Disusun guna memenuhi tugas untuk dipresentasikan pada mata kuliah: Isu-Isu Aktual dan Pengembangan Tafsir Hadits Konteks keindonesian Dosen pengampu: Dr. Phil. H. Sahiron Syamsudin

Disusun oleh: Ahd. Fauzi, S. Ag Kahorul Anam S, S. Ag M. Mustanadi, S, Ag Muhammad Tibri, S. Ag Drs. Mukhtaruddin 07.223.761 07.223.763 07.223. 765 07.223.768 07.223.769

MINAT STUDI AL-QURAN HADIST MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2008
1

Musyawarah Berunding dengan orang atau kelompok lain. Istilah musyawarah (syura) tampaknya belum pernah digunakan dalam bahasa Arab sebelum Islam dan turunnya al-Quran. Kata tersebut hanya muncul sekali dalam al-Quran pada surah 42: 38. Selanjutnya istilah syura berperan penting dalam teori sosial dan politik.

Asal Kata Kata syura memiliki hubungan dengan kata kerja syara yang artinya menyingkiri sesuatu dari tempatnya. Bisa juga berarti memperlihatkan sesuatu, menunjukkan kualitas yang bagus yang melekat padanya. Oleh sebab itu istilah syura bisa berarti secara konotatif penampilan yang indah. Penggunanaan kata ini belum ada dalam puisi Arab pra-Islam (Lisan al-Arab, iv, hal. 434-437). Istilah ini belum ada dalam puisi Arab pra-Islam (masa jahiliyah), melainkan muncul pertama kali dalam al-Quran. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan peristiwa perundingan dan pertimbangan yang mendalam. Praktik semacam ini sudah ada di kalangan Arab sebelum Islam untuk membahas sosial dan politik.

Perundingan Menurut Arab Sebelum Islam Bangsa Arab sebelum Islam telah terlibat dalam berbagai praktik perundingan untuk membahas masalah sosial dan politik serta urusan-urusan duniawi lainnya. Suku Quraisy mempunyai tempat pertemuan (dar al-nadwa) yang dibangun oleh Qusay bin Kulab di sebelah Barat Daya Kabah. Tempat itu disebut demikian karena suku Quraisy menggunakannya untuk bersidang dan melakukan rapat mengenai isu-isu politik dan sosial. Kekuasan pertimbangan berada di tangan sekelompok dewasa, karena suku Quraiys menetapkan syarat bahwa seseorang tidak memiliki hak untuk memutuskan kecuali sudah berusia 40 tahun. Sejumlah pertemuan yang berbeda diadakan di tempat itu, termasuk pembahasan masalah perdagangan, pernikahan, perang dan perdamaian (Shintinawi, Da-irat al-Maarif, ix, 92-93; Jawad Ali, Mifdal, ii, 109). Kelompok yang akrab dengan kegiatan perundingan adalah masyarakat Yastrib, Aus dan Khazraj di antara mereka ada yang menjadi kelompok Anshar yang menolong Nabi Muhammad setelah hijrah ke Madinah. Ibnu Ishaq (wafat 150 H/ 767 M) menyebutkan bahwa mereka melakukan diskusi intern kelompok saat mengirim utusan untuk bernegosiasi dalam perjanjian pertama di Aqobah. Utusan ini terdiri dari dua belas orang yang masing-masing
2

mewakili satu puak dalam suku Nabi Muhammad. Perjanjian itu sendiri disebut sebagai ikrar kaum wanita, tidak seperti perjanjian kedua di Aqobah, perjanjian ini menyulut perang karena keberadaan Nabi Muhammad (Ibnu Ishaq, Sirah, 288-303). Perundingan dalam al-Quran Karena kebiasaan berunding sudah ada di masyarakat Arab sebelum Islam, penyebutan kata syura dalam al-Quran tidak perlu dipahami sebagai pengenalan sebuah konsep baru. Sebagaimana disebutkan di atas, meskipun kata tersebut hanya sekali muncul sekali dalam alQuran, kata musyawarah (tasyawur) muncul dalam surah 2: 233 dan perintah bermusyawarahlah dengan mereka (syawirhum) ada dalam surah 3: 259. Ketiga contoh ini diterapkan kepada semua Muslim. Surah 2: 233 diterapkan secara khusus pada pertentangan yang dikwatirkan terjadi antara pasangan yang sudah bercerai mengenai masalah pemeliharaan anak. Surah 3: 159 adalah sebuah teks yang dihubungkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam lingkup peristiwa perang Uhud di mana umat Islam dikalahkan. Tiga penandaan yang berbeda dari ayat-ayat tersebut bisa mengarah pada kesimpulan berikut ini. Pertama, perundingan tersebut pada dasarnya dipahami sebagai peristiwa yang berhubungan dengan Nabi Muhammad dan perang Uhud sebagai salah satu pertempuran awal yang paling penting. Kedua, perundingan tersebut berhubungan dengan upaya umat Islam dalam membangun masyarakta Muslim. Ketiga, perundingan tersebut dipahami sebagai peristiwa yang berhubungan dengan situasi perselisihan di mana sekelompok kecil persidangan dibutuhkan untuk mahkamah Muslim. Hal yang sama masih dipakai hingga zaman modern. Surah al-Syura Menurut pemahaman tradisional (ulama salaf), surah ini diturunkan di Mekkah kecuali ayat 23-26 yang diturunkan di Madinah. Ini juga berhubungan dengan kenyataan bahwa surah tersebut diawali dengan huruf ha-mim dan ain-sin qaf. Surah-surah lain yang berawalan dengan ha-mim semuanya diturunkan di Mekkah (surah 41-46) dengan pengecualian ayat 23-26 surah 42 dan ayat 14 surah 45 di Madinah. Belum diketahui dengan pasti mengapa surah tersebut dinamai al-Syura, namun yang jelas surah tersebut dikenal dengan sebutan ha-mim-ain-sin-qaf sesuai dengan huruf-huruf yang dimuat dalam dua ayat pertama. Menurut al-Suyuti (wafat 911 H/ 1505; Itqan hal. 148-157), surah-surah lain dinamai dengan kata yang disebutkan dalam salah satu ayat. Boleh jadi bahwa
3

surah 42 juga dinamai demikian dengan mengambil kata syura yang ada dalam ayat 38. Dalam tafsir Jalalain juga tidak dijelaskan asal-usul pemahaman tersebut. Sejumlah ulama menyatakan bahwa ayat 27 dari surah ini diturunkan sehubungan dengan ahl al-shuffah, kelompok Muslim yang berhijrah ke Madinah bersama Nabi SAW namun mereka tidak memiliki uang dan pakaian sama sekali (lihat masalah sufisme). Mereka bermalam di masjid Madinah dan diberi makan di sana. Kelompok tersebut mencangkup sejumlah pengikut Nabi SAW yang terkemuka seperti Abu Hurairah, Saad bin Abu Waqqas dan Abu Dzar alGhifari dan Abu Dzar al-Ghifari (Qurthubi, Jami, xvi, 27). Adapaun ayat 37 diturunkan sehubungan dengan peristiwa fitnah yang menimpa Umar Bin Khatab di Mekkah. Juga dikatakan bahwa ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan Abu Bakar al-Shiddiq ketika dicela oleh orang-orang karena mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah (Qurtubi, Jami, xvi, 35). Kata perundingan dalam yang muncul dalam ayat 38 dipahami, dalam konteks kandungan ayat 37-39, sebagai salah satu prasyarat kelengkapan Muslim: mereka menghindari dosa besar dan perbuatan keji, bersedia memaafkan di kala marah, mematuhi seruan Allah dan tekun serta gigih dalam melaksanakan shalat. Kebiasaan mereka adalah bermusyawarah satu sama lain, menafkahkan harta yang diberikan Allah kepada mereka dan jika diperlukan dengan aniaya mereka membela diri. Para ahli tafsir sepakat bahwa ketiga ayat tersebut diturunkan berhubungan sehubungan dengan kaum Anshar yakni ketika mereka dianjurkan untuk melaksanakan perundingan di antara mereka. Juga dikatakan bahwa ayat 38 menunjukkan perundingan mereka ketika mendenar cerita kedatangan Nabi Muhammad (Qurtabi, Jami, xvi, 56-57; Tabarsi, Majma, xxv, 57-60). Penafsiran ini terkesan bermasalah karena masalah surah tersebut konon diturunkan Mekkah dan oleh karena itu berarti kaum Anshar sudah mengatahui cara shalat sebelum mereka bertemu dengan Nabi SAW. Quthub (wafat 1966) menyelesaikan permasalahan ini dengan menyebutkan bahwa ketiga ayat tersebut ditujukan secara umum kepada semua Muslim, berupa perintah untuk mematuhi seruan Allah, beriman dan mendirikan shalat, bermusyawarah di antara mereka, serta menunaikan zakat. Jelas pula bahwa dilihat dari konteks ayat 37, peristiwa tersebut ditujukan kepada Muslim Mekkah secara khusus, yakni mereka yang mematuhi seruan Allah dengan cara beriman kepada ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Selanjutnya mereka pada kenyataannya adalah orang-orang yang diperlukan

sacara tidak adil oleh kaum kafir, seperti yang terjadi atas Bilal al-Habsyi, Ammar bin Yasir dan ibunya Samiyyah (Ibnu Ishaq, Sira, 205-207). Surah al-Baqarah Menurut ahli tafsir, surah ini adalah yang pertama kali diturnkan di Madinah, kecuali ayat 281 yang katanya adalah ayat terakhir yang diturunkan dari surah ini. Ayat-ayat tentang riba termasuk di antara ayat-ayat al-Quran yang diturunkan menjelang terakhir (Qurtubi, Jami, 1, 151). Penyebutan masalah musyawarah ada pada ayat 233. Ayat ini lumayan panjang dan mengandung 18 aturan hukum yang berbeda mengenai perawatan anak (terutama menyusui) dan peristiwa perceraian antara kedua orang tua (Qurtubi, Jami, iii, 160-173). Jika kedua orang tua setuju menyapih anak yang belum berusia dua tahun dan tidak ada rintangan yang menghalangi, maka hal ini dibolehkan secara hukum asalkan didahului dengan perundingan kedua orng tua demi mencapai kepuasan bersama (Qurtubi, iii, Jami, 170-171). Secra khusus, perundingan di sini diterapkan pada kasus tertentu yakni percerian kedua orang tua. Namun semangat hendak diusung adalah pentingnya musyawarah bahkan dalam suatu anggota masyarakat terkecil seperti keluarga. Dalam masyarakat kesukuan sebelum Islam, laki-laki mempunyai wewenang penuh untuk mengatur semua urusan keluarga. Akan tetapi setelah datangnya Islam hal ini diubah dan hak pengaturan dalam keluarga dilakukan secara bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan.

Surah Ali Imran Surah ini mengandung istilah perundingan dalam bentuk perintah langsung kepada Nabi Muhammad dalam konteks masyarakat Madinah. Istilah ini bisa ditemukan pada ayat 159 yang menceritakan perah uhud di mana kaum Muslim mengalami kekalahan pertama setelah perang Badar. Ayat ini bukan untuk dipahami dalam keadaan sendiri, melainkan harus diterangkan dalam konteks ayat 188-174 dan gambaran hubungan di antara umat Islam pada masa awl hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Di Madinah, hubungan sosial diatur berdasarkan perbedaan kelompok sosial, seperti pembagian antara penduduk asli Madinah (Anshar) dan orang-orang yang berhijrah bersama Nabi Muhammad dari Mekkah (Muhajirin). Demikian juga ada pengelompokan berdasarkan agama seperti antara Muslim dan Yahudi. Pengelompokan ini masih terbagi lagi. Kaum Muhajirin terdiri dari suku aus dan Khazraj, sementara kaum Yahudi mempunyai hubungan sejarah dengan kaum Anshar. Ada juga kelompok yang disebut munafiqun di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay, salah satu tokoh masyarakat Madinah.
5

Hubungan antara kaum Anshar dan Yahudi berdasarkan pertalian jangka panjang yang perah ada di antara Yahudi dan suku Aus dan Khazraj. Menurut al-Qurtubi (wafat 671 H/ 1272 M) sejumlah keturunan Anshar tersebar di suku Bani Nadhir (Qurtubi, Jami, iii, 280). Hubungan antara penduduk Yastrib, Aus dan Khazraj dan kelompok Yahudi bisa diketahui dengan jelas dari keterangan Ibnu Ishaq. Hubungan antara Muslim, Anshar dan munafiqun jugaa diwarnai dengan hubungan kesukuan. Ayat 118-174 harus diapahami dalam konteks hubungan sosial sebagaimana tersebut di atas. Ayat 118-120 menunjukkan secara khusus kepada kepada kelompok Aus, Khazraj dan Yahudi. Ayat 121-122 menerangkan peristiwa perang Uhud. Ayat 123-136 menunjukkan situasi perang Badar, ayat 137-159 menunjukkan kemenangan umat Islam dalam perang Uhud dan ayat 160-174 menerangkan peristiwa yang terjadi setelah perang Uhud. Ayat 159 dimulai dengan menunjukkan tekanan yang dialami kaum Muslim. Situasi menjadi tidak mudah bagi Nabi SAW yang harus menghadapi kaum Muslim yang merasa terhina karena kekalahan, sekaligus harus menentukan sikap terhadap pasukan yang meningggalkan posisi mereka sehingga bisa diambil alih oleh musuh. Ini masih dipersulit dengan isu lain yang mensinyalir adanya hubungan Anshar dan Yahudi, dan sikap suku Aus dan Khazraj yang tidak mau diajak ikut berperang setelah terluka (Qurtubu, Jami, iv, 185-186). Setelah perang ini, masyarakat Muslim yang baru terbentuk mengalami ketegngan intern. Situasi yang tidak pasti ini mungkin bisa menggambarkan kesembronoan kaum Anshar dalam berperang; tujuh puluh orang di antara mereka terbunuh dalam perang Uhud, sementara yang gugur dari kaum Muhajirin hanya empat orang. Ayat 159 menggambarkan hanya kasih Allah saja yang bisa menghapus ketegangan itu. Kemudian disusul perintah untuk memaafkan dan memintakan ampun bagi mereka, seta mengajak mereka bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Urutan perintah ini menunjukkan bahwa perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengajak orang-orang bermusyawarah diturunan setelah Nabi SAW sudah berada di antara mereka, memaafkan mereka dan memintakan ampun atas dosa mereka. Peristiwa itulah yang bisa meneguhkan hati beliau akan keikhlasan dan ketulusan hati umatnya sehingga beliau merasa mantap untuk berdiskusi dengan mereka.

Teori Modern Tentang Musyawarah Berdasarkan sejumlah petunjuk dalam al-Quran, khususnya perintah dalam surah Ali Imran ayat 159, para pemikir Muslim modern menyimpulkan teori tentang perundingan (musyawarah) dalam dimensi sosial dan politik, termasuk cakupan dan keperluan penerapannya. Penelusuran hadits-hadits yang berhubungan dengan dengan perintah al-Quran tersebut dilaksanakan untuk mengintisarikan prinsip-prisip umu penerapan musyawarah (Anshari, Syura, 65-69 dan 113222). Hal ihwal sejarah di Madinah dikaji secara umum untuk memunculkan pertanyaan mengenai teori politik, seperti aturan musyawarah dalam lembaga legelatif, pemilihan pemimpin masyarakat dan keabsahan pemerintahan negara. Sebagaian ahli teori masa kini mencoba membandingkan antara konsep musyawarah dalam al-Quran dengan ide modern Barat tentang demokrasi. Sebagaian yang lain mengkritik perbandingan tersebut dengan alasan hasilnya akan menjauhkan makna musyawarah dari maksud asalnya yang tepat sebagaimana dikehendaki dalam al-Quran. Ahmad Mubarak al-Baghdadi (diterjemahkan oleh Brannon M. Wheeler)