Anda di halaman 1dari 12

PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA UPAYA KESEHATAN KERJA PADA SEKTOR INFORMAL

KESEHATAN KERJA UPAYA KESEHATAN KERJA PADA SEKTOR INFORMAL RETNO ASIH 06 903 325 EPIDEMIOLOGI SEMESTER V

RETNO ASIH 06 903 325 EPIDEMIOLOGI SEMESTER V

Dosen Pengasuh : NOVITA MEDYATI, SKM, M.kes

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS CENDERAWASIH JAYAPURA

2008

UPAYA KESEHATAN KERJA PADA PABRIK TAHU

Jenis Perusahaan Alamat Perusahaan Nama Pemilik/Pengurus Tanggal/Jam Pemeriksaan

: Pabrik Tahu : Jalan Yotefa depan gudang sumber makmur : Bapak Suroso : 13 November 2008/ pukul 16.00-17.30 WIT

I. PENDAHULUAN

Sebagai sesama makhluk hidup di dunia yang perduli akan orang lain akan mempertimbangkan teknik keselamatan yang lebih baik di dalam dunia usaha. Seorang pekerja yang kehilangan lengan, kaki atau bagian lain pada tubuhnya dalam kecelakaan dibidang industri tidak hanya dihadapkan pada penderitaan dan kekurangan yang sementara saja, tetapi harus juga mengantisipasi pengeluaran serta trauma dengan kekurangannya kemampuan dan pendapatan selama hidupnya. Kecelakaan dibidang industri formal termasuk untuk biaya kesehatan, biaya kompensasi, tunjangan korban, dan semua biaya tersebut dibayar oleh asuransi bagi yang telah membayar premium asuransi. Pemerintah mengestimasi biaya tidak langsung kecelakaan dibidang industri tiga sampai lima kali lipat dari biaya langsung. Studi kasus menunjukkan pabrik yang aman adalah pabrik yang efisien, apalagi untuk pabrik yang luas dan besar, aman dari produktivitas. Pekerja pada pabrik yang aman dapat meningkatkan pengembangan kuantitas dan kualitas dan berhenti memikirkan kekurangan kesejahteraan yang akan diterima. Bagian manajemen akan menyadari keselamatan pekerja pada saat bekerja sangat penting untuk dikemukakan. Ditandai dengan banyaknya biaya tidak langsung yang baru dibahas dari hasil kecelakaan. Hasil efisiensi dari pergantian sementara dan turunnya efektivitas dari pekerja yang menjadi korban kecelakaan tidak tergantung pada dimana atau kapan penderitaan yang dialaminya. Sedangkan kecelakaan dibidang industri informal seperti buruh-buruh lepas kecelakaan kerja yang terjadi pada saat bekerja biaya pengobatan biasanya merupakan tanggungan dari pekerja tersebut. Baik kecelakaan kerja yang berakibat ringan atau pun

kecelakaan kerja yang dapat berakibat fatal seperti kehilangan lengan, kaki atau bagian tubuh lainnya.

II. SEBAB-SEBAB KECELAKAAN

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan, ventilasi yang memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan pekerja, pelindung mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti helm dan gudang yang kurang baik.

Diantara tindakan yang kurang aman salah satunya diklasifikasikan seperti latihan sebagai kegagalan menggunakan peralatan keselamatan, mengoperasikan pelindung mesin mengoperasikan tanpa izin atasan, memakai kecepatan penuh, menambah daya dan lain-lain. Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman, tidak hanya satu saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk tingkat efektivitas maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan peralatan keselamatan.

III. PERALATAN PERLINDUNGAN PEKERJA

Suatu varietas yang besar bagi peralatan perlindungan bagi pekerja yang dibutuhkan pekerja pada pekerjaannya. Untuk tingkat kecelakaan yang tinggi dapat digunakan penutup muka dan lengkap. Perlindungan dengan helm sangat diperlukan dimana sering terjadi masalah terhadap benda-benda yang jatuh, dan penutup rambut dapat digunakan wanita untuk mencegah masuknya rambut keroda gigi, bar, atau tiang yang berputar. Penutup telinga dapat digunakan untuk mengurangi kebisingan. Sarung tangan dapat digunakan untuk melindungi tangan dari melepuh. Terpotong, terkilir dan zat kimia. Secara umum peralatan perlindungan pekerja harus digunakan tujuan akhir. Lebih baik mengurangi resiko kecelakaan agar para pekerja terhindar dari bahaya.

IV. KONDISI KERJA

kerja berhubungan dengan

lingkungan kerja, penjadwalan dari pekerjaan, lamanya bekerja dalam hari dan dalam waktu sehari atau malam selama orang-orang bekerja. Oleh sebab itu kondisi kerja yang terdiri dari faktor-faktor seperti kondisi fisik, kondisi psikologis, dan kondisi sementara dari lingkungan kerja, harus diperhatikan agar para pekerja dapat merasa nyaman dalam bekerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Menurut Newstrom kondisi kerja terdiri dari:

Menurut

Newstrom,

kondisi

1. Kondisi fisik dari lingkungan kerja: Kondisi fisik dari lingkungan kerja di sekitar karyawan sangat perlu diperhatikan oleh pihak badan usaha, sebab hal tersebut merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjamin agar karyawan dapat melaksanakan tugas tanpa mengalami gangguan.

2. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja. Rancangan fisik dan desain dari pekerjaan, sejumlah ruangan kerja yang tersedia dan jenis-jenis dari perlengkapan dapat mempengaruhi perilaku pekerja dalam menciptakan macam-macam kondisi psikologi. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja dapat mempengaruhi kinerja yang meliputi perasaan yang bersifat pribadi atau kelompok, status dihubungkan dengan sejumlah lokasi ruang kerja dan sejumlah pengawasan atau lingkungan kerja.

keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan, dan pendengaran. Menurut Mangkunegara bahwa tujuan dan keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

a) Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.

b) Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin.

c) Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

e) Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.

f) Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.

g) Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja. Pendekatan sistem pada manajemen keselamatan kerja dimulai dengan mempertimbangkan tujuan keselamatan kerja, tehnik, dan peralatan yang digunakan, proses produk, dan perencanaan tempat kerja. Tujuan keselamatan kerja harus integral dengan bagian dari setiap manajemen dan pengawasan kerja.

Kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja karyawan antara lain:

a. Pengaturan udara. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor berdebu, pengap, panas, dan berbau tidak enak). Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya. Kondisi fisik pegawai.

b. Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang tidak sehat.

c. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh, dan cara berpikir dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang ceroboh, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa resiko berbahaya.

d. Adanya program jaminan kesehatan.

e. Pengaturan pencahayaan dan peneranganAdanya pencahayaan dan penerangan yang cukup dalam ruang.

V. Strategi, Program dan Pendekatan K3

Tidak jarang para karyawan dihadapkan pada persoalan di keluarga dan perusahaan. Tekanan persoalan dapat berupa aspek emosional dan fisik, terbatasnya biaya pemeliharaan kesehatan, dan berlanjut terjadinya penurunan produktivitas karyawan. Pihak manajemen seharusnya mampu mengakomodasi persoalan karyawan sejauh terkait dengan kepentingan perusahaan. Pertimbangannya adalah bahwa unsur

kesehatan dan karyawan memegang peranan penting dalam peningkatan mutu kerja karyawan. Semakin cukup jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan dan keamanan kerja maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawan. Dengan demikian perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pengembangan bisnisnya. Setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil dan bahkan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja di kalangan karyawan sesuai dengan kondisi perusahaan. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi:

a) Pihak manajemen perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja. Misalnya karena alasan finansial, kesadaran karyawan tentang keselamatan kerja dan tanggung jawab perusahaan dan karyawan maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat perlindungan yang minimum bahkan maksimum.

b) Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan kesepakatan-kesepakatan.

c) Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berarti pihak manajemen perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.

d) Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sesuai dengan strategi di atas maka program yang diterapkan untuk menterjemahkan strategi itu diantara perusahaan biasanya dengan pendekatan yang berbeda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Secara umum program

memperkecil dan

menghilangkan kejadian kecelakaan kerja dapat dikelompokkan :

telaahan personal, pelatihan keselamatan kerja, sistem insentif, dan pembuatan aturan penyelamatan kerja.

a) Telaahan Personal Telaahan personal dimaksudkan untuk menentukan karakteristik karyawan tertentu yang diperkirakan potensial berhubungan dengan kejadian keselamatan kerja:

1. faktor usia; apakah karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih lebih aman dibanding yang lebih muda ataukah sebaliknya,

2. ciri-ciri fisik karyawan seperti potensi pendengaran dan penglihatan cenderung berhubungan derajat kecelakaan karyawan yang kritis, dan

3. tingkat pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan

penyelamatan dari kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ciri-ciri personal itu maka perusahaan dapat memprediksi siapa saja karyawan yang potensial untuk mengalami kecelakaan kerja. Lalu sejak dini perusahaan dapat menyiapkan upaya-upaya pencegahannya.

b) Sistem Insentif Insentif yang diberikan kepada karyawan dapat berupa uang dan bahkan karir. Dalam bentuk uang dapat dilakukan melalui kompetisi antarunit tentang keselamatan kerja paling rendah dalam kurun waktu tertentu, misalnya selama enam bulan sekali. Siapa yang mampu menekan kecelakaan kerja sampai titik terendah akan diberikan penghargaan. Bentuk lain adalah berupa peluang karir bagi para karyawan yang mampu menekan kecelakaan kerja bagi dirinya atau bagi kelompok karyawan di unitnya.

c) Pelatihan Keselamatan Kerja Pelatihan keselamatan kerja bagi karyawan biasa dilakukan oleh perusahaan. Fokus pelatihan umumnya pada segi-segi bahaya atau resiko dari pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan kerja, dan perilaku kerja yang aman dan berbahaya.

d) Peraturan Keselamatan Kerja Perusahaan perlu memiliki semacam panduan yang berisi peraturan dan aturan yang menyangkut apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh karyawan di tempat kerja. Isinya harus spesifik yang memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum. Sekaligus

dijelaskan beberapa kelalaian kerja yang dapat menimbulkan bahaya individu dan kelompok karyawan serta tempat kerja. Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian berulang-ulang.

Untuk menerapkan strategi dan program di atas maka ada beberapa pendekatan sistematis yang dilakukan secara terintegrasi agar manajemen program kesehatan dan keselamatan kerja berjalan efektif berikut ini.

1. Pendekatan Keorganisasian

a) Merancang pekerjaan,

b) Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program,

c) Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja,

d) Mengkoordinasi investigasi kecelakaan.

2. Pendekatan Teknis

a) Merancang kerja dan peralatan kerja,

b) Memeriksa peralatan kerja,

c) Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi.

3. Pendekatan Individu

a) Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja,

b) Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,

c) Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program insentif.

VI. PEMBAHASAN

Keberadaan sektor informal di kota jayapura ini sangat banyak dan sebagian besar kurang memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerjanya sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan kerja bagi para pekerjanya yang dapat berakibat fatal. Tahu merupakan makanan yang sudah menjadi menu utama pada masyarakat. Oleh sebab itu, di kota abepura ini terdapat sangat banyak pabrik tahu. Salah satu diantaranya adalah pabrik tahu milik bapak Suroso yang beralamat di jalan Yotefa depan gudang sumber makmur.

Tahu hasil produksi dari pabrik bapak Suroso ini dijual di lingkungan sekitar tempat ia tinggal dan juga di pasar swadaya yotefa. Pengambilan data ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara pada pemilik perusahaan tahu tersebut. Pabrik tersebut mempunyai karyawan sebanyak lima orang pekerja yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki yang semua umurnya berkisar antara 19-25 tahun. Karyawan-karyawan tersebut setiap bulannya menerima upah sebesar 900.000 rupiah. Upah tersebut pada masa sekarang masih jauh dari taraf sejahtera. Pabrik ini mempunyai hari kerja yaitu setiap hari dengan lama kerja 8 jam kerja yaitu mulai dari pukul 05.00 sampai 13.00. Pabrik ini tidak mempunyai sistem pengaturan kerja yang baik karena tidak memiliki jam istirahat, jadi karyawannya hanya akan berhenti bekerja bila jam kerjanya telah habis. Dari segi kesehatan ini kurang baik yang seharusnya yaitu setiap empat jam bekeja pekerja diberi kesempatan satu kali istirahat.

VII. Tempat Lingkungan Kerja

1. Kebersihan Pabrik Lingkungan kebersihan pabrik kurang terawat ini terlihat dari lantai yang tidak seluruhnya di semen yang mengakibatkan tergenangnya air disekitar lantai, tempat sampah yang kurang memadai, terdapatnya sarang laba-laba dibagian atapnya, dan kurangnya sarana pembuangan air limbahnya.

2. Kondisi lingkungan kerja meliputi

a) Pencahayaan Kondisi bangunan yang rendah dan tidak terdapatnya jendela menyebabkan kondisi pencahayaan pada pabrik tahu ini kurang baik.

b) Suhu dan kelembaban udara Kondisi bangunan yang rendah dan proses pembuatan yang menggunakan tungku api menyebabkan suhu ruangan pada pabrik tahu ini sangat tinggi.

c) Pertukaran udara Tidak terdapatnya jendela dan ventilasi yang kurang memenuhi syarat menyebabkan pertukaran udara di ruangan tersebut tidak lancar sehingga kwalitas udaranya kurang baik.

d)

Bau-bauan Kurangnya sarana pembuangan air limbah dan tempat sampah yang kurang memadai menyebabkan masih terciumnya bau-bau sisa atau limbah pembuatan tahu di sekitar tempat tersebut.

VIII. Proses Atau Cara Pembuatan Tahu

a) Memilih kacang kedelai yang akan dijadikan sebagai bahan membuat tahu dengan cara merendam kacang kedelai dalam air kurang lebih enam jam, jika kacang kedelai yang mengambang dipermukaan air maka kedelai tersebut harus dipisahkan karena kedelai tersebut kurang baik untuk dijadikan bahan. Sebaliknya kacang kedelai yang terendam dalam air itulah yang baik untuk dijadikan bahan membuat tahu.

b) Setelah direndam kemudian kacang kedelai tersebut dicuci sampai bersih dan selanjutnya dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan mesin penggiling.

c) Setelah digiling kacang kedelai tersebut disaring untuk memperoleh sari patinya.

d) Kemudian sari kacang kedelai tersebut direbus kurang lebih selama dua jam sampai menjadi sari kacang kedelai.

e) Setelah itu sari kacang kedelai tersebut ditampung dalam suatu wadah dalam bak penampung, pada proses ini diberikan bahan tambahan seperti cuka (CH 3 COOH) sehingga terjadi penggumpalan pada sari kedelai tersebut.

f) Sari kedelai yang itulah yang selanjutnya dimasukkan dalam cetakan kemudian ditekan pada bagian atas cetakan selama kurang lebih tiga jam sehingga sari kacang kedelai menjadi padat dan terbentuk tahu sesuai ukuran yang diinginkan.

IX. Faktor-Faktor Bahaya Di Lingkungan Kerja

Proses kerja atau proses pembuatan tahu diruangan yang sangat panas dapat berdampak kurang baik terhadap kesehatan yaitu dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi pada para pekerjanya. Tidak terdapatnya pengaturan jam atau waktu kerja menyebabkan para pekerjanya tidak mempunyai jam istirahat yang dapat digunakan untuk makan dengan teratur sehingga pekerja tidak dapat bekerja secara efektif. Alat pelindung diri yang digunakan hanya sepatu bot untuk menghndari agar tidak tejatuh karena keadaan lantai yang licin yang mungkin dapat menyebabkan pekerja terjatuh,

sarung tangan yang digunakan untuk menghindari terkenanya air atau benda-benda panas yang dapat menyebabkan kulit melepuh.

X. Fasilitas Sanitasi

Pada pabrik ini terdapat tempat sampah yang terbuat dari drum bekas yang kondisinya kurang memenuhi syarat dan tidak terdapatnya sarana Saluran Pembuangan Air Limbah sehingga air limbahnya dialirakan ke got umum yang menyebabkan tercium aroma kurang sedap disekitar pabrik tersebut. Pada pabrik ini terdapat sarana kamar mandi yang dapat digunakan oleh para pekerjanya.

XI. Fasilitas Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Pabrik ni tidak mempunyai fasilitas kesehatan. Sarana keselamatan kerja yang digunakan hanya sepatu bot dan sarung tangan. Kecelakaan kerja yang biasa terjadi yaitu terkena air panas atau terkena sengatan panas dari suhu ruangan yang tinggi dan terjatuh pada saat bekerja yang dikarenakan lantai yang licin. Pengobatan dilakukan sendiri oleh para pekerja.

XII. Cara Pencegahan dan Penanggulangannya

Usaha-usaha yang ditujukan untuk mengendalikan faktor-faktor yang menyebabkan penyakit akibat kerja pada pabrik tahu ini adalah dengan merubah kontruksi bangunan pabrik yaitu dengan meninggikannya, pemberian jendela dan ventilasi yang cukup baik. Pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah yang baik agar lingkungan sekitarnya tidak tercemar. Kemudian perlu diadakan sosialisasi dan penyuluhan agar dapat meningkatkan pengetahuan khususnya para pekerja dan pembuat tahu.

XIII. Upaya Pendekatan Strategik Kesehatan Kerja

Upaya pendekatan strategik kesehatan kerja yang dapat dilakukan pada pabrik tahu yaitu:

1. Pemberian penyuluhan tentang pentingnya menggunakan alat pelindung diri yang benar dan sesuai pada saat bekerja.

2. Pemberian penyuluhan tentang bahaya pembuangan limbah sembarangan yang dapat menyebabkan polusi udara.

3. Pemberian penyuluhan tentang kontruksi bangunan yang baik serta cara perawatannya.

XIV. Kesimpulan dan Penilaian

Pabrik tahu adalah termasuk salah satu sektor informal yang kesehatan kerja bagi para pekerjanya kurang mendapat perhatian secara serius padahal apabila hal tersebut masih dibiarkan akan membawa dampak yang kurang baik bagi pekerjanya maupun bagi lingkungan sekitarnya. Penilaiannya kurang baik karena ketepatan dalam penggunaan peraturan- peraturan dan norma-norma kesehatan kerja tidak dipenuhi dengan baik.