Anda di halaman 1dari 8

Tidak ada pernyataan jelas yang menyebutkan bahwa hammering pile tidak sama dengan driven pile.

Jadi dengan demikian, dianggap keduanya mengacu pada suatu sistem pondasi yang sama, yaitu pondasi yang pemasangannya dengan alat tekan/pukul atau pancang. Jika mengaitkan istilah hammering pile dengan underground parking, maka itu tentu tidak saja membahas tentang pondasi, tetapi juga bisa dikaitkan dengan retaining wall, itu lho dinding penahan tanah. Padahal jika dinding penahan tanahnya adalah steel sheet pile, maka jelas satu-satunya cara pemasangannya adalah dengan hammer (pemukulan / penekanan).

Pemasangan steel-sheet-pile dengan vibro hammer Saya kira pemakaian sheet-pile atau sistem penahan tanah kedap air di sana (Belanda) adalah mutlak khususnya untuk proyek underground seperti yang akan dibahas Ardhika. Dari sisi kecepatan maka jelas ini lebih menguntungkan jika dibanding cast-in-situ concreting system, seperti contiguous bore pile atau diaphragm walls. Ke dua sistem tersebut tidak memakai hammer tetapi auger untuk pelaksanaannya.

Pelaksanaan contiguous-bore-pile (Sumber : Land Transport Authority)

Pelaksanaan system diaphragm walls (sumber : Soletanche Bachy) Bisa juga sih digunakan precast sheet pile, tetapi kalau masalah kekedapan terhadap air, rasanya steel sheet pile lebih baik karena interlocking-nya yang kuat dan presisi, dari besi baja sih buatnya. Dari gambar juga terlihat bahwa steel-sheet-pile yang dipasang dengan hammer, mempunyai ketebalan yang relatif tipis, dan karena tidak ada tanah yang dibor ke luar jika memakai auger (mesin bor) maka jelas proyek yang memakai hammer relatif lebih bersih. Ini tentu faktor penting jika proyek yang dilaksanakan berada di daerah perkotaan atau ramai. Hal-hal seperti ini juga penting lho dipikirkan dan tidak hanya berkaitan dengan kekuatan dan kekakuan. Otomatis biaya yang diperlukan untuk pembersihan relatif lebih kecil. Bising. Ini salah satu kelemahan jika digunakan metode pelaksanaan yang memakai hammer, yaitu relatif lebih bising. Apalagi jika memakai diesel hammer tipe impact. Nggak bisa tidur lho. Bayangin jika proyeknya dekat dengan tempat ibadah, misalnya mesjid. Jelas nggak bisa dilakukan pelaksanaan pada hari jumat, tahu khan. Dalam perkembangannya, dibuat berbagai macam tipe hammer, selain terjadi peningkatan dari sisi efisiensi pemancangan, tetapi kebisingan yang dihasilkan berkurang. Type-type hammer yang ada sekarang antara lain adalah:

impacting hammer (hidrolik atau diesel) vibrating hammer pressing device

Sistem yang terakhir memberikan tingkat kebisingan yang rendah. Tapi tentu kapasitasnya atau daya tekan yang dapat diberikan lebih rendah dari yang lain. Sistem ini juga efektif digunakan pada tanah yang terpadatkan, baik clay, sand atau gravel. Juga jika tidak mau terjadi getaran yang merusak kepada bangunan-bangunan disekitarnya.

Kita tadi telah membahas hammer untuk retaining wall. Selanjutnya kita akan membahas hammer pada pondasi. Pondasi dalam yang tidak memakai hammer , adalah pondasi tiang bor, untuk pelaksanaannya memakai auger atau mesin bor. Ini bentuk salah satu mesin bor yang cukup modern dari Hammer & Steel.

Mesin bor modern Selanjutnya, sistem pondasi dalam yang memakai hammer kita sebut tiang pancang, sedangkan yang pakai bor, kita sebut tiang bor saja. Untuk membahas perbedaan antara kedua jenis tersebut tentu perlu dipandang dari sudut mana dulu. Jika dari segi pelaksanaannnya maka perbedaan kira-kira sama jika diterapkan pada struktur retaining wall, misal dari segi kebisingan, getaran. Jika dari sisi kekuatannya, maka tiang pancang dapat digolongkan sebagai displacement pile, dimana rekatan pada sepanjang tiang cukup efektif untuk diperhitungkan, sedangkan tiang bor termasuk sebagai non-displacement pile, rekatan disekeliling tiang kurang efektif. Bayangkan saja jika anda memasang paku pada kayu, bandingkan jika langsung di palu atau dibuat lobang dengan bor terlebih dahulu. Beda khan. Ya seperti itulah prinsipnya. Jadi tiang pancang dapat secara efektif memanfaatkan end-bearing dan friksi, tentu saja ini tergantung dari jenis tanahnya bukan. Sedangkan tiang bor maka kekuatan utama didasarkan pada end-bearing. Jadi kalau tanah keras sangat jauh di bawah tanah atau bahkan tidak ada sama sekali tanah kerasnya (SPT > 40) sehingga hanya bisa memanfaatkan kekuatan lekat (friksi) tanah maka jelas sistem pondasi yang dapat digunakan adalah tiang pancang. Kalau memaksa memakai tiang bor, bisa-bisa hilang itu pondasinya masuk ke bawah karena berat sendirinya.

Sistem pondasi tiang pancang mempunyai keterbatasan, baik akibat dimensi tiangnya agar dapat diangkat, maupun kemampuan alat pancang itu sendiri dalam memancang tiang. Oleh karena itu pondasi tiang pancang ukuran dan kapasitasnya terbatas. Sehingga jika diperlukan suatu tiang pondasi dengan kapasitas besar maka dipilihlah pondasi tiang bor, karena kalau memakai tiang pancang diperlukan banyak tiang pancang sehingga pile-cap-nya juga besar (luas).

Pondasi tiang bor ber diameter besar Dengan alasan itu pula (bebannya besar) maka pondasi tiang bor dipakai pada proyek jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa-Madura. Adapun tekniknya cukup baru juga yang mengadopsi peraturan Cina, yaitu memakai grouting pada dasar pondasi. O ya, kadang-kadang diperlukan juga suatu pondasi dengan kemirangan, ini biasa dipakai di pelabuhan, sedangkan di proyek gedung sangat jarang. Jika itu diperlukan maka hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara pemancangan (pakai hammer).

Hammer untuk pemancangan miring. Saya kira itu dulu cerita tentang hammering. Ada juga beberapa link yang terkait, jika ingin tahu lebih banyak tentang pondasi tiang :

Pile Foundation Design: A Student Guide FHWA Pile Driving Inspectors Tutorial FHWA Pile Foundation Design Example Design of Pile Foundations

Jadi apakah pondasi tiang pancang atau pondasi tiang bor, kesemuanya memerlukan teknologi bantu khusus buatan barat (Eropa atau Amerika).

Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih karena artikelnya yang bagus dan gambarnya yang juga bagus. Saya baru kali ini melihat gambar tiang pancang yang dipancang miring.

Saya ingin menambahkan sedikit. Untuk pondasi tiang, sebaiknya dilakukan pada Nspt maksimal <40. Pertimbangannya, jika tanah terlalu keras, maka tiangnya bisa rusak akibat pukulan hammernya. Sedangkan untuk sheetpile, cara memasukkannya dengan cara digetar (seperti gambar yang bapak berikan). Dan digunakan pada tanah yang lunak dan jenuh air (jika tidak jenuh dan rigid, maka dapat digunakan soldier pile). Dan setau saya, Nspt yang dapat ditembus sheet pile itu maksimal 20.

Cara pemasangan tiang pancang akan memberikan kekuatan yang berbeda. Tapi saya tidak tau apakah selisihnya jauh apa tidak. Apakah Pak Wir punya referensi ttg perbedaannya? Wirs responds: trims atas sharingnya, tentang pengaruh pemasangan tiang pancang saya belum punya literatur yang membahasnya. Setahu saya, perilaku pondasi tiang terhadap cara pemasangannya cukup digolongkan pada displacement pile dan non-displacement pile. Perkembangan yang terbaru, untuk pondasi tiang bor yang dikategorikan pada nondisplacement pile maka ketika diberi grouting akan berubah menuju displacement-pile (meskipun tidak sempurna) sehingga terlihat terjadi adanya peningkatan daya dukung. Informasi ini cukup baru seperti yang dilaksanakan pada pondasi tiang bor jembatan Suramadu. Menurut Dr. Mansyur Irsyam (ITB) itu mengacu pada pengalaman engineerengineer China dan telah dibuktikan dengan pengujian di lapangan. Dari pengalaman, untuk tiang pancang terutama yang pracetak atau PC Spun Pile, N Spt pada kisaran < 50. Ini mungkin lapangan yang ngeyel kali ya pak? Maksa sampai 50 hehee:) Untuk cara pemasangan memang ada pengaruh untuk nanti final seatlement nya, tetapi itu juga sangat dipengaruhi jenis tanahnya. Sedikit menambahkan untuk sheetpile, sheetpile yang berbentuk flat concrete sheetpile (FPC flat precast concrete), itu cara pemasangannya dipukul. Jadi memang berbeda dengan kakaknya si Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) yang digetar. Gunanya untuk tanah-tanah yang keras, jadi harus dipukul. Untuk karakter tanah tertentu, granuler seperti di laut, menggunakan bantuan waterjet. Tetapi metode ini harus sekali jalan, jika sempat terhenti karena apapun, maka pasir sudah akan langsung menyumbat pipa, dan untuk selanjutnya sudah tidak bisa di waterjet lagi.

Memang borpile kelebihan utamanya adalah pada dimensi dan kekuatan tanah jika N > 50. Tetapi perkembangan sekarang PC Spun Pile juga sudah ada yang mencapai dia 1000mm dengan panjang per segmen bisa 30m. Teknologi ini dikembangkan mengingat borpile juga memiliki kelemahan. Contoh kasus di proyek jembatan2 BKT yang menggunakan borpile. Akhirnya kontraktor mengeluarkan banyak biaya untuk finishing tiang borpile, setelah dilakukannya penggalian. Padahal finishing tersebut beberapa seharusnya merupakan perbaikan struktural, pada kenyataannya tidak. (Contoh di salah satu jembatan hanya di tambal adukan biasa, atau diisi batu bata). Nah lo???? Oya, sekitar Maret 2010 sudah mulai ada proyek yang mengguankan PC Spun Pile dia 1000mm dengan panjang 24m.

Untuk menghitung kuat dukung fondasi tiang (pancang dan bor) berdasarkan nilai NSPT adalah:

Tiang pancang (tanah lempung) Qult = alpha * C * As + 9 * C * Ap dimana alpha = faktor adhesi (ambil dari API Code) C = nilai kohesi = 2/3 * N (t/m^2) As = luas selimut tiang (m^2) Ap = luas penampang tiang (m^2) Tiang bor (tanah lempung), sama spt tiang pancang hanya untuk nilai alpha (faktor adhesi) digunakan kurva Kulhawy 84 / Reese 88. Tiang pancang (pasir) Meyerhoff Qult = 0.2 * N * As + 40 * N * Ap dimana: N = nilai N-SPT 40 N < 1600 t/m^2 N ujung diambil = (N1+N2)/2 N1 = nilai rata2 N 10 D ke atas ujung tiang N2 = nilai rata2 N 4 D di bawah ujung tiang Tiang bor (pasir) Qult = 0.2 N As + 7-13 N Ap dimana: 7-13 N < = 400 t/m^2 (Reese + Wright 77)

kalau hasil sondir baru menemukan tanah keras sedalam 14 s/d 15 m dengan tekanan N-SPT sekitar 150, kira-kira sistim pondasi apa yang cocok? Minipile, bore pile, hammer pile atau strauss-pile?

Definisi SPT (Standard Penetration Test) adalah pengujian kekuatan atau perlawanan tanah terhadap penetrasi sebuah tabung belah baja di dalam lubang bor. Penetrasi dilakukan dengan menjatuhkan palu seberat 63.5 kg dengan tinggi jatuh 760 mm pada sebuah bantalan. Jumlah pukulan (N) yang diperlukan hingga diperoleh penetrasi sebesar 300 mm disebut perlawanan penetrasi SPT atau nilai N-SPT. Definisi ini saya jelaskan karena hati2 dengan ungkapan tekanan N-SPT, ungkapan ini tidak umum akan tetapi yang umum adalah nilai N-SPT. Nilai N-SPT = 150, biasanya para geoteknik cukup menyatakan > 60 artinya begitu N > 60 penetrasi dihentikan kmd dilanjutkan pengeboran kembali karena jk pemukulan dilakukan melebihi 60 agar memenuhi penetrasi 300 mm maka tabung belah baja nya akan cepat rusak dan juga dalam perhitungan untuk tip pile ada pembatasan nilai N (lihat perhitungan kuat dukung menggunakan nilai N).

Nilai N mencapai 150 maka pemancangan dengan teknik hammer sdh pasti tidak bisa menembus, artinya tiang nya akan rusak dulu, biasanya teknik bor yang dipakai, karena mata bor nya bisa terbuat dari material dengan kekerasan tinggi. hydraulic hammer cara kerjanya spt diesel hammer, bedanya dg diesel hammer adalh penggeraknya menggunakan prinsip hidrollik shg beban & tinggi jatuh hammer dapat diatur disesuaikan dg kuat dukung tiang & dimensi tiang (jk menggunakan diesel hammer, untuk pemmancangan misal large pile dia. 40 cm maka digunakan diesel hammer mitsubishi M45) hydraulic hammer berbeda dg injection system atau jack in meskipun sama2 menggunakan sistem hidrolis, jack in ditekan, sedangkan hydr hammer mirip diesel hammer ditumbuk)