Anda di halaman 1dari 20

Pterygium

Jennifer (406107071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode 21 Maret 2011 23 April 2011

Konjungtiva
Merupakan suatu membran mukosa tipis dan transparan yang melapisi bagian posterior palpebra dan bagian anterior sklera.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu: Konjungtiva Palpebra Melapisi bagian belakang palpebra superior dan palpebra inferior Konjungtiva Forniks Merupakan tempat peralihan konjungtiva palpebra dengan konjungtiva bulbi Konjungtiva Bulbi Merupakan konjungtiva tertipis diantara konjungtiva lainnya, melapisi sklera pada mata bagian anterior

Konjungtiva

Konjungtiva

Pterygium

Definisi Pterygium
Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasa terletak pada celah kelopak mata bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterygium berbentuk segitiga,dengan puncak di daerah kornea dan basis terletak pada konjungtiva bulbi

Epidemiologi Pterygium
Pterygium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering Di daerah tropis seperti Indonesia, dengan paparan sinar matahari yang tinggi, risiko timbulnya pterigium 44x lebih tinggi dibandingkan daerah non-tropis, dengan prevalensi 16,8%. Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia Suatu penelitian di sebuah rumah sakit di kota Malang, tahun 2005, didapatkan penderita pterygium terbanyak berusia diantara 30-40 tahun ( 28,4%), disusul usia 41-50 tahun (27,6%) dan usia >60 tahun (24%) Penderita Pterygium, dua kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita.

Faktor Resiko
1. Radiasi ultraviolet Paparan sinat matahari merupakan faktor resiko utama. Sinar UV diabsorbsi kornea & konjungtiva kerusakan sel & proliferasi sel. 2. Faktor Genetik Berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterygium, diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. 3. Faktor lain Debu, kelembaban yang rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus papilloma

Etiologi
Sampai saat ini, etiologi pterygium tidak diketahui dengan jelas, dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang dan degenerasi. Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang yang tinggal di daerah iklim panas. Oleh karena itu gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktorfaktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (ultraviolet), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya

Patofisiologi
Dikarenakan etiologi pterygium belum diketahui dengan pasti, patofisiologinya pun belum jelas, namun ada beberapa teori-teori mengenai timbulnya pterygium

Patofisiologi - 1
Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor supresor gene pada limbal basal stem cell. Tanpa apoptosis, TGF-b >> dan proses kolagenase. Sel-sel bermigrasi dan mengalami angiogenesis terjadi perubahan degenerasi kolagen dan proliferasi jaringan subepitelial fibrovaskular kemudian menembus kornea kerusakan pada membran bowman

Patofisiologi - 2
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Defisiensi limbal stem cell pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik Tanda ini juga ditemukan pada pterygium Oleh karena itu banyak penelitian menunjukkan bahwa pterygium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi limbal stem cell.

Patofisiologi

Klasifikasi
Pembagian menurut Youngson: Derajat 1 : Apeks pada kornea < 1,5 mm dari limbus Derajat 2 : Apeks pada kornea < setengah radius kornea Derajat 3 : Apeks pada kornea melebihi setengah radius kornea Derajat 4 : Apeks mencapai pertengahan kornea
Pembagian menurut Perdami: Derajat 1: Jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea Derajat 2: Jika pterygium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2mm melewati kornea Derajat 3: Jika pterygium sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4mm) Derajat 4: Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan

Klasifikasi
Selain klasifikasi pterygium berdasarkan derajat pertumbuhan dan ketebalannya,terdapat juga klasifikasi pterygium berdasarkan letak pterygium,yaitu: 1. Pterygium Simpleks; jika pterygium hanya terdapat di nasal/ temporal saja. 2. Pterygium Dupleks; jika pterygium terdapat di nasal dan temporal

Pterygium Nasal & Pterygium Temporal

Manifestasi dan Gejala Klinik


Gejala klinis pterygium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tidak ada keluhan sama sekali (asimptomatik). Jika terdapat keluhan pada fase awal, seringkali hanya keluhan kosmetik. Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain: Mata sering berair dan merah Merasa seperti ada benda asing Timbulnya astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterygium tersebut. Biasanya astigmatisme with the rule ataupun astigmatisme irreguler sehingga mengganggu penglihatan. Pada pterygium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual sehingga tajam penglihatan juga menurun

Pemeriksaan dan Diagnosa


Untuk menegakkan diagnosa pterygium, kita perlu melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan yang diperlukan adalah sebagai berikut: Pemeriksaan mata dengan lup dan lampu senter atau dengan slit lamp, diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium. Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen Pemeriksaan Tekanan Intra Okuler (TIO) diukur dengan mengunakan tonometri Schiotz untuk memastikan tidak adanya penyakit penyerta lainnya (glaukoma). Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual atau menggunakan alat auto-refraktokeratometer.

Diagnosa Banding
Pinguekula Merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi, berbentuk kecil, meninggi, bewarna kekuningan, berbatasan dengan limbus dan kadang-kadang mengalami inflamasi. Tindakan eksisi tidak diindikasikan. Jika mengalami inflamasi (pinguekulitis), diberikan obat-obat anti radang. Prevalensi dan insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Sering pada iklim sedang dan iklim tropis, angka kejadian sama pada laki-laki dan perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko penyebab pinguekula

Diagnosa Banding
Pseudopterygium Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Pseudopterygium mirip dengan pterygium, dimana adanya jaringan parut fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbi menuju kornea. Berbeda dengan pterygium, pseudopterygium terjadi akibat adanya inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrikal, trauma bedah atau ulkus perifer kornea. Untuk mengidentifikasi pseudopterygium, cirinya tidak melekat pada limbus kornea. Probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah pseudopterygium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada pterygium.