Anda di halaman 1dari 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Polimer Plastik, serat, film dan sebagainya yang biasanya dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai berat molekul diatas 10.000. Bahan dengan berat molekul yang besar itu disebut polimer, mempunyai struktur dan sifat yang rumit disebabkan oleh jumlah atom pembentuk yang lebih besar dibandingkan senyawa yang berat atomnya rendah. Umumnya polimer dibangun oleh satuan struktur tersusun secara berulang diikat oleh gaya tarik-menarik yang disebut ikatan kovalen, dimana ikatan setiap atom dari pasangan menyumbangkan satu elektron untuk membentuk sepasang elektron. Dibawah ini dijelaskan istilah teknis yang sering dipakai bagi polimer, yaitu : 1). Monomer Polimer yang terbentuk oleh satuan struktur secara berulang disebut monomer. Contoh : Polietilen H H H H H H

C = C C C C .. H H Etilen (monomer) H H

Polietilen

2). Berat molekul dan derajat polimerisasi. Polipropilen terdiri dari banyak monomer propilen dalam rantai kombinasi. CH3 H H H n.C = C H3 H H H n

CC

Propilen

Polipropilen

26
Universitas Sumatera Utara

Sifat-sifat khas bahan polimer pada umumnya adalah sebagai berikut : 1. Kemampuan cetaknya baik. Pada temperatur rendah bahan dapat dicetak dengan penyuntikan, penekanan, ekstruksi, dan seterusnya. 2. Produk ringan dan kuat. 3. Banyak polimer bersifat isolasi listrik. Polimer dapat bersifat konduktor. 4. Baik sekali ketahannya terhadap air dan zat kimia. 5. Produk dengan sifat yang berbeda dapat dibuat tergantung cara pembuatannya. 6. Umumnya bahan polimer lebih murah harganya. 7. Kurang tahan terhadap panas sehingga perlu diperhatikan penggunaannya. 8. Kekerasan permukaan yang sangat kurang. 9. Kurang tahan terhadap pelarut. 10. Mudah termuati listrik secara elektrostatik. 11. Beberapa bahan tahan abrasi, atau mempunyai koefisien gesek yang kecil. 2.2. Komposit Komposit adalah penggabungan dua atau lebih material yang berbeda sebagai suatu kombinasi yang menyatu. Bahan komposit pada umumnya terdiri dari dua unsur, yaitu serat (fiber) sebagai pengisi dan bahan pengikat serat yang disebut matrik. Didalam komposit unsur utamanya serat, sedangkan bahan pengikatnya polimer yang mudah dibentuk. Penggunaan serat sendiri yang utama adalah menentukan karakteristik bahan komposit, seperti kekakuan, kekuatan serta sifat mekanik lainnya. Sebagai bahan pengisi, serat digunakan untuk menahan gaya yang bekerja pada bahan komposit, matrik berfungsi melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik terhadap gaya-gaya yang terjadi. Oleh karena itu untuk bahan

27
Universitas Sumatera Utara

serat digunakan bahan yang kuat, kaku dan getas, sedangkan bahan matrik dipilih bahan-bahan yang liat, lunak dan tahan terhadap perlakuan kimia. 2.2.1. Klasifikasi Bahan Komposit Klasifikasi komposit serat (fiber-matrik composites) dibedakan menjadi; 1. Fibre composites (komposit serat) adalah gabungan serat dengan matrik. 2. Flake composites adalah gabungan serpih rata dengan matrik. 3. Particulate composites adalah gabungan partikel dengan matrik. 4. Filled composites adalah gabungan matrik continous skeletal 5. Laminar composites adalah gabungan lapisan atau unsur pokok lamina. Klasifikasi komposit ditunjukkan pada gambar dibawah ini ;
Bahan Komposit

Komposit Serat

Komposit

Serat Satu

Serat Multi

Arah Hybrid

Arah

Laminat

Serat
Serat Satu Arah Serat Dua Arah (woven)

Serat Tidak

Arah

Arah

Gambar 2.1. Klasifikasi Bahan Komposit (Hadi, 2001) Bahan komposit terdiri dari dua macam, yaitu komposit partikel (particulate composite) dan komposit serat (fibre composite). Bahan komposit partikel terdiri dari partikel yang diikat matrik. Komposit serat ada dua macam, yaitu serat panjang (continuos fibre) dan serat pendek (short fibre atau whisker).

28
Universitas Sumatera Utara

2.2.2. Tipe Komposit Serat Berdasarkan penempatannya terdapat beberapa tipe serat pada komposit, yaitu : 1. Continuous Fibre Composite Tipe ini mempunyai susunan serat panjang dan lurus, membentuk lamina diantara matriknya. Tipe ini mempunyai kelemahan pemisahan antar lapisan. 2. Woven Fibre Composite (bi-directional) Komposit ini tidak mudah dipengaruhi pemisahan antar lapisan karena susunan seratnya mengikat antar lapisan. Susunan serat memanjangnya yang tidak begitu lurus mengakibatkan kekuatan dan kekakuan melemah. 3. Discontinous Fibre Composite Discontinous Fibre Composite adalah tipe komposit dengan serat pendek. Tipe ini dibedakan lagi menjadi 3 : a) Aligned discontinous fibre b) Off-axis aligned discontinous fibre c) Randomly oriented discontinous fibre

a) aligned

b) off-axis

c) randomly

Gambar 2.2. Tipe discontinous fibre (Gibson, 1994) 4. Hybrid Fibre Composite Hybrid fibre composite merupakan komposit gabungan antara tipe serat lurus dengan serat acak. Tipe ini digunakan supaya dapat menganti kekurangan sifat dari kedua tipe dan dapat menggabungkan kelebihannya.

29
Universitas Sumatera Utara

Continous Fibre Composit

Woven Fibre Composite

Randomly Oriented Discontinous

Fibre Hybrid Fibre Composite

Gambar 2.3. Tipe Komposit Serat (Gibson, 1994) 2.2.3. Faktor yang mempengaruhi Performa Komposit 1. Faktor Serat 2. Letak Serat A. One dimensional reinforcement, mempunyai kekuatan pada arah axis serat. B. Two dimensional reinforcement (planar), mempunyai kekuatan pada dua arah atau masing-masing arah orientasi serat. C. Three dimensional reinforcement, mempunyai sifat isotropic kekuatannya lebih tinggi dibanding dengan dua tipe sebelumnya. 3. Panjang Serat Serat panjang lebih kuat dibanding serat pendek. Oleh karena itu panjang dan diameter sangat berpengaruh pada kekuatan maupun modulus komposit. Serat panjang (continous fibre) lebih efisien dalam peletakannya daripada serat pendek. 4. Bentuk Serat Bentuk serat tidak mempengaruhi, yang mempengaruhi adalah diameter seratnya. Semakin kecil diameter serat akan menghasilkan kekuatan komposit yang tinggi.

30
Universitas Sumatera Utara

5. Faktor Matrik Matrik berfungsi mengikat serat. Polimer sering dipakai termoplastik dan termoset. a. Thermoplastik 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. Polyamide (PI), Polysulfone (PS), Poluetheretherketone (PEEK), Polypropylene (PP), Polyethylene (PE) dll. Epoksi, Polyester. Plenol, Resin Amino, Resin Furan dll.

b. Thermosetting

6. Katalis Katalis digunakan untuk membantu proses pengeringan (curring) pada bahan matriks suatu komposit. Penggunaan katalis yang berlebihan akan semakin mempercepat proses laju pengeringan, tetapi akan menyebabkan bahan komposit yang dihasilkan semakin getas. 2.3. Serat Sabut Kelapa Buah kelapa terdiri dari epicarp yaitu bagian luar yang permukaannya licin, agak keras dan tebalnya 0,7 mm, mesocarp yaitu bagian tengah yang disebut sabut, bagian ini terdiri dari serat keras yang tebalnya 35 cm, endocarp yaitu tempurung tebalnya 36 mm. Sabut merupakan bagian tengah (mesocarp) epicarp dan endocarp. Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa. Ketebalan sabut kelapa berkisar 5-6 cm yang terdiri atas lapisan terluar (exocarpium) dan lapisan dalam (endocarpium). Endocarpium mengandung serat halus sebagai bahan pembuat

31
Universitas Sumatera Utara

tali, karpet, sikat, keset, isolator panas dan suara, filter, bahan pengisi jok kursi/mobil dan papan hardboard. Satu butir buah kelapa menghasilkan 0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat.

Serat Berkaret Matras Kerajinan - Keset - Karpet - Tali, dll Geotekstil Genteng Sabut Serat Pendek Hardboard Cocopeat Debu Sabut Kompos Hardboard Isolator Listrik

Serat Panjang

Gambar 2.4. Produk Turunan Pengolahan Sabut Kelapa (Zainal. M.dan Yulius,2005) Komposisi kimia sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter, tannin, dan potasium. Dilihat sifat fisisnya sabut kelapa terdiri dari : a. b. c. Seratnya terdiri dari serat kasar dan halus dan tidak kaku. Mutu serat ditentukan dari warna dan ketebalan. Mengandung unsur kayu seperti lignin, suberin, kutin, tannin dan zat lilin.

Dari sifat mekanik nya : a. b. c. Kekuatan tarik dari serat kasar dan halus berbeda. Mudah rapuh. Bersifat lentur.

32
Universitas Sumatera Utara

2.3.1. Komposisi Serat Sabut Kelapa Hasil uji komposisi serat sabut kelapa berdasarkan SNI yang dilakukan Sarana Riset dan Standarisasi dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut : Tabel 2.1 Komposisi Serat Sabut Kelapa Parameter Kadar Abu Kadar Lignin ( Metode Klason) Kadar Sari Kadar Alfa Selulosa Kadar Total Selulosa Kadar Pentosan sebagai Hasil Uji Komposisi (%) 2.02 31.48 3.41 32.64 55.34 22.70 20.48 SNI 14-1031-1989 SNI 14-0492-1990 SNI 14-1032-1989 SNI 14-0444-1989 Metoda Internal BBPK SNI 01-1561-1989 SNI 19-1938-1990 Hemiselulosa Kelarutan dalam NaOH 1 % Sumber : Sunario, 2008 dalam ( Laboratorium Balai Besar Pulp dan Kertas) Uji komposisi sifat kimia untuk megetahui komposisi kimia yang terdapat dalam serat sabut kelapa. Uji kadar abu untuk mengetahui kadar abu yang terdapat dalam serat sabut kelapa. Uji lignin untuk mengetahui jumlah lignin dalam serat sabut kelapa. Lignin adalah bagian yang terdapat dalam lamela tengah dan dinding sel yang berfungsi sebagai perekat antar sel, dan merupakan senyawa aromatik yang berbentuk amorf. Suatu komposit akan mempunyai sifat fisik atau kekuatan yang baik apabila mengandung sedikit lignin, karena lignin bersifat kaku dan rapuh. Metode Uji

2.3.2. Morfologis Serat Sabut Kelapa Uji morfologis bertujuan untuk mengetahui dimensi serat dan turunannya. Pengujian yang dilakukan oleh Sunariyo, (2008) dihasilkan sebagai berikut :

33
Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2 Morfologi Serat Sabut Kelapa Parameter Panjang Serat Minimal Panjang Serat Maksimal Panjang Serat Rata-rata Diamater Luar ( D) Diameter dalam ( l) Tebal Dinding (W) Bilangan Runkel (2xW/l) Kelangsingan (LD) x 1000 Kekakuan (W/D) Kelenturan (l/D) Muhisiep ratio (D2-i2/D2 x 100) Hasil Uji Komposisi (%) 0.37 2.49 1.20 23.23 13.26 4.99 0.75 55.53 0.21 0.57 67.42 m m m m m m m m m m m Satuan

Sumber : Sunario, 2008 dalam ( Laboratorium Balai Besar Pulp dan Kertas) 2.4. Matriks Unsaturated Polyester Resin (UPR) Unsaturated Polyester Resin berupa resin cair dengan viskositas yang relatif rendah, dapat mengeras pada suhu kamar dengan menggunakan katalis tanpa menghasilkan gas sewaktu pengesetan. Salah satu Unsaturated Polyester Resin adalah tipe Yukallac 157 BQTN-FR yaitu Halogenated Unsaturated Polyester Resin yang khusus dikembangkan untuk FRP tahan api. Yukallac 157 BQTN-FR merupakan resin yang telah berpromotor, mengandung thixotropic agent, tanpa wax dan bersifat mencegah/mengurangi timbulnya pembakaran sehingga waktu untuk mulai terbakar lebih lama, memperlambat penyebaran api dan berhenti terbakar bila dijauhkan dari sumber api. Dengan spesifikasi sifat yang demikian maka resin ini baik digunakan sebagai bahan dinding panel dengan tahan api

34
Universitas Sumatera Utara

Unsaturated Polyester Resin yang digunakan dalam penelitian ini adalah seri Yukalac 157 BQTN-FR yang memiliki spesifikasi sebagai berikut : Tabel 2.3 Spesifikasi Unsaturated Polyester Resin Yukalac 157 BTQN-EX Item Berat Jenis Kekerasan Suhu distorsi panas Penyerapan air ( suhu ruang) Kekuatan Fleksural Modulus Fleksural Daya Rentang Modulus Rentang Elongasi
o

Satuan _ C % % Kg/mm Kg/mm


2 2

Nilai Tipikal 1,215 40 70 0,188 0,466 9,4 300 5,5 300 2,1

Catatan 250 C Barcol/GYZJ 934-1 24 jam 7 hari _ _ _ _ _

Kg/mm2 Kg/mm2 %

Catatan untuk sifat-sifat Resin : Kekentalan (Poise, pada 25oC ) Thixotropic Index Waktu gel (menit, pada 25oC) Bilangan asam, mgKOH/gr Formulasi : Bagian Resin 157 BQTN FR MEKPO 2.5. Katalis Mekpo Katalis digunakan untuk membantu proses pengeringan resin dan serat dalam komposit. Waktu yang dibutuhkan resin untuk berubah menjadi plastik tergantung pada jumlah katalis yang dicampurkan. Penelitian ini menggunakan katalis metil ethyl katon peroxide (MEKPO) yang berbentuk cair dan bewarna bening. Semakin banyak katalis yang ditambahkan pada resin maka makin cepat 35
Universitas Sumatera Utara

: 4,0 5,0 : > 1,5 : 20 30

: 20 - 30

Lama dapat disimpan (bulan) : < 6, pada 25oC. : 100 bagian : 1 bagian

pula proses curringnya, tetapi apabila kelebihan katalis material yang dihasilkan akan getas atau resin bisa terbakar. Penambahan katalis yang baik 1% dari volum resin. Bila terjadi reaksi akan timbul panas antara 600C 900C. Panas ini cukup untuk mereaksikan resin sehingga diperoleh kekuatan dan bentuk plastik yang maksimal sesuai dengan bentuk cetakan yang diinginkan. 2.6. Karakteristik Papan Partikel Papan partikel umumnya berbentuk datar dengan ukuran relatif panjang, relatif lebar, dan relatif tipis sehingga disebut panel. Ada papan partikel yang tidak datar (papan partikel lengkung) dan mempunyai bentuk tertentu tergantung pada acuan (cetakan) yang dipakai. Papan partikel adalah papan yang dibuat dari partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat dengan perekat organik dan dengan bantuan satu atau lebih unsur panas, tekanan, kelembaban, ataupun katalis (Sutigno, P. 2002). Untuk mengetahui mutu dan karakteristik papan partikel yang dihasilkan perlu dilakukan pengujian, yaitu : 2.6.1.Sifat-sifat Mekanik 1. Pengujian Kuat Tarik (Tensile Strength). Uji tarik adalah salah satu uji stress-strain mekanik yang bertujuan mengetahui kekuatan bahan terhadap gaya tarik. Dengan melakukan uji tarik kita mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material bertambah panjang. Bila kita terus menarik suatu bahan sampai putus, kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap berupa kurva. Kurva ini menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang.

36
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.5. Gaya Tarik terhadap Pertambahan Panjang.

Yang menjadi perhatian dalam gambar tersebut adalah kemampuan maksimum bahan dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut "Ultimate Tensile Strength" disingkat dengan UTS. Untuk semua bahan, pada tahap sangat awal uji tarik, hubungan antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini disebut daerah linier atau linear zone. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang vs beban mengikuti aturan Hooke, yaitu : rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan

Bentuk sampel uji secara umum digambarkan seperti gambar 2.6. berikut :

Gambar.2.6 Uji Tarik ASTM D 638M

37
Universitas Sumatera Utara

Pengujian dilakukan sampai sampel uji patah, maka pada saat yang sama diamati pertambahan panjang yang dialami sampel uji. Kekuatan tarik atau tekan diukur dari besarnya beban maksimum (Fmaks) yang digunakan untuk memutuskan/mematahkan spesimen bahan dengan luas awal A0. Umumnya kekuatan tarik polimer lebih rendah dari baja 70 kg.f/mm2. Hasil pengujian adalah grafik beban versus perpanjangan (elongasi).

Enginering Stess () :

maks

(1)

Fmaks = Beban yang diberikan arah tegak lurus terhadap penampang spesimen (N) A0 = = Luas penampang mula-mula spesimen sebelum diberikan pembebanan (m2) Enginering Stress (Nm-2)

Enginering Strain ():

l l 0

l l 0

(2)

= Enginering Strain l0 = Panjang mula-mula spesimen sebelum pembebanan l = Pertambahan panjang

Hubungan antara stress dan strain dirumuskan:

.... (3)

E = Modulus Elastisitas atau Modulus Young (Nm-2)

= Enginering Stress (Nm-2) = Enginering Strain

38
Universitas Sumatera Utara

Dari gambar kurva hubungan antara gaya tarikan dan pertambahan panjang kita dapat membuat hubungan antara tegangan dan regangan (stress vs strain). Selanjutnya kita dapat gambarkan kurva standar hasil eksperimen uji tarik. Deformasi Plastis

Gambar 2.7 Kurva Tegangan dan Regangan Hasil Uji Tarik Daerah Linear ( elastic limit) Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula (tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan nol pada titik O. Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A, hukum Hooke tidak lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan tersebut. Terdapat konvensi batas regangan permamen (permanent strain) sehingga disebut perubahan elastis yaitu kurang 0.03%, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005% . Titik Luluh atau batas proporsional Titik dimana suatu bahan apabila diberi suatu beban memasuki fase peralihan deformasi elastis ke plastis. Yaitu titik sampai di mana penerapan hukum Hook masih bisa ditolerir. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.

39
Universitas Sumatera Utara

Deformasi plastis (plastic deformation) Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula, yaitu bila bahan ditarik sampai melewati batas proporsional. Ultimate Tensile Strength (UTS) Merupakan besar tegangan maksimum yang didapatkan dalam uji tarik. Titik Putus Merupakan besar tegangan di mana bahan yang diuji putus atau patah. 2. Pengujian Kuat Lentur (Flexural Strength). Kekuatan lentur atau kekuatan bending adalah tegangan bending terbesar yang dapat diterima akibat pembebanan luar tanpa mengalami deformasi besar. Pengujian kuat lentur dilakukan untuk mengetahui ketahanan suatu bahan terhadap pembebanan pada titik lentur dan juga untuk mengetahui keeleksitasan suatu bahan. Cara pengujian kuat lentur ini dengan memberikan pembebanan tegak lurus terhadap sampel dengan tiga titik lentur dan titik-titik sebagai penahan berjarak tertentu. Titik pembebanan diletakkan pada pertengahan panjang sampel. Pada pengujian ini terjadi perlengkungan pada titik tengah sampel dan besarnya perlengkungan ini dinamakan defleksi (). Kemudian dicatat beban maksimum (Wmaks) dan regangan saat spesimen patah. Pengujian dilakukan dengan three point bending. PEMBEBANAN

SAMPEL

W h

l Gambar 2.8. Pemasangan Benda Uji Lentur

40
Universitas Sumatera Utara

Pada perhitungan untuk menentukan kekuatan lentur/bending, digunakan persamaan sesuai standar ASTM D-790, yaitu :

K
K W b h l

3 Wl 2 bh

(4)

= Tegangan lentur maksimum (N/m3) = Beban maksimum (N) = Lebar dari benda uji (m) = Tebal benda uji (m) = Jarak antara penyangga (m)

3. Pengujian Kuat Impak (Impact Strength) Kekuatan impak adalah ketahanan terhadap tegangan yang datang secara tibatiba. Polimer mempunyai kekuatan impak jika kuat saat dipukul dengan keras secara tiba-tiba. Kekuatan impak dilakukan untuk mengetahui kegetasan bahan polimer. Kekuatan impak bahan polimer lebih kecil daripada kekuatan impak logam. Bahan polimer menunjukkan penurunan besar pada kekuatan impak kalau diberi regangan pada pencetakannya. Cara pengujian impak dapat dilakukan dengan pengujian Charphy, Izod atau dengan bola jatuh. 2.6.2. Analisa Termal (Differential Thermal Analisis) Analisa termal dilakukan untuk mengetahui intensitas tahanan termal panel dinding terhadap bahan dinding tersebut. Sampai pada suhu berapa panas berpengaruh pada bahan komposit. Sifat termal dilakukan karena sifat ini penting untuk menentukan sifat mekanis bahan polimer. Metoda yang dapat digunakan dalam pengujian termal adalah Differential Thermal Analysis (DTA). DTA adalah salah satu tehnik yang dapat mencatat perbedaan antara suhu sampel dan senyawa pembanding baik terhadap waktu atau suhu saat kedua spesimen dikenai kondisi suhu yang sama dalam sebuah lingkungan yang dipanaskan atau didinginkan pada laju terkendali.

41
Universitas Sumatera Utara

Sifat khas bahan polimer akan berubah oleh karena perubahan temperatur. Apabila temperatur bahan polimer berubah, maka pergerakan molekul karena termal akan mengubah kumpulan molekul atau mengubah struktur bahan polimer tersebut. Selanjutnya karena panas, oksigen dan air bersama-sama memancing reaksi kimia pada molekul-molekul dan terjadilah depolimerisasi, oksidasi, hidrolisa dan seterusnnya, dan yang paling hebat terjadi pada temperatur yang tinggi. Dengan demikian keadaan tersebut akan mempengaruhi sifat-sifat mekanik bahan polimer. Hal tersebut akan mengakibatkan modulus elastiknya menurun dan kekerasan bahannya rendah, sedangkan tegangan patahnya lebih kecil dan perpanjangan lebih besar.

Gambar 2.9. Pola Umum Kurva DTA (Laboratorium PTKI Medan) Perubahan temperatur dapat digunakan untuk mengetahui ketahanan panas bahan polimer, selain dari keadaan lingkungan, bentuk bahan, macam dan jumlah pengisi, termasuk bahan penyetabil. Temperatur yang tinggi akan memberikan perubahan atau kerusakan yang banyak terhadap bahan polimer. Ketika zat-zat organik dipanaskan sampai suhu tinggi mereka memiliki kecenderungan untuk membentuk senyawa-senyawa aromatik. Agar suatu polimer layak dianggap stabil panas atau tahan panas, polimer tersebut harus tidak terurai di bawah suhu 4000C dan dapat mempertahankan sifat-sifatnya yang bermanfaat pada suhusuhu dekat suhu dekomposisi tersebut. Stabilitas panas merupakan fungsi dari

42
Universitas Sumatera Utara

energi ikatan. Ketika suhu naik ke titik di mana energi getaran menimbulkan putusnya ikatan, polimer tersebut akan terurai. 6.2.3. Analisa Scanning Electron Microscope (SEM) Analisa Scanning Electron Microscope (SEM) digunakan untuk mengkarakterisasi morfologi permukaan sampel dengan menggunakan metode Secondary Electron Image (SEI). Hasil yang didapat adalah foto polaroid dan mampu memfoto dengan perbesaran dari 35x sampai 10000x. Sampel yang difoto berukuran kecil, yaitu 5 mm x 5 mm untuk luas permukaan dan sampel dalam keadaan kering. Untuk sampel yang tidak bersifat konduktif, sampel harus dilapisi terlebih dahulu dengan bahan yang bersifat konduktif. Ion sputtering, alat yang digunakan untuk melapisi sampel ini tersedia juga di Laboratorium Uji Polimer (LUP). Bahan pelapisnya adalah emas (Au). 6.2.4. Pengujian Ketahanan Nyala Api Pengujian ketahanan nyala api dilakukan sesuai sifat bahan yang sangat mudah menyala seperti bahan yang terkandung didalamnya yaitu seluloid dan yang dapat habis terbakar sendiri secara spontan walaupun api dipadamkan setelah penyalaan (polikarbonat). Pengujian nyala api dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan polimer dan serat-serat yang tak dapat nyala. Dengan mengembangkan polimer dan serat yang tak dapat nyala dapat mengurangi gasgas berasap dan beracun yang terbentuk selama proses pembakaran. Ketahanan nyala api dilakukan dengan cara membakar ujung bahan dengan api yang berasal dari pembakar bunsen. Cara ini telah ditetapkan dalam JIS-K69111970 dan ASTM-D635-1974. Waktu yang diperlukan agar spesimen menyala disebut waktu penyalaan dan panjang spesimen yang terbakar disebut jarak bakar. Adapun kategori kemampuan nyala dapat di kategorikan : 1). Mampu nyala : terbakar lebih lama dari 180 detik dengan nyala. 2). Habis terbakar : jarak bakar lebih dari 25 mm tapi kurang dari 100mm. 3). Tak mampu nyala : jarak bakar kurang dari 25 mm.

43
Universitas Sumatera Utara