Anda di halaman 1dari 5

Populasi burung kakaktua Seram (Cacatua moluccensis) di Taman Nasional Manusela terus menurun akibat perburuan liar.

Satwa endemik di Pulau Seram, Provinsi Maluku itu diperkirakan tinggal 400 ekor dari 1.000 ekor pada akhir 1990-an. Kakaktua berbulu putih dengan jambul oranye ini dijual ke Ambon, Bali, dan Jakarta. Perburuan liar juga mengancam satwa liar lainnya seperti nuri raja (Alisterus amboinensis), nuri kepala hitam (Lorius domicella), rusa ( Cervus timorensis moluccensis), dan kasuari (Casuarius casuarius). Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Manusela, menjelaskan, perburuan liar merupakan ancaman utama bagi kakaktua Seram. Para pemburu sebagian besar adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Mereka menggunakan alat-alat berburu tradisional, seperti jerat dan jebakan burung. "Perburuan kakaktua masih banyak dilakukan di desa-desa terpencil. Para pemburu biasanya berjalan kaki 3 hingga 4 hari untuk berburu," ujar Supriyanto. Berdasarkan penelusuran di Ambon, kakaktua Seram biasa dijual sekitar Rp 500.000 per ekor. Kakaktua dibawa ke Ambon dengan menumpang kapal-kapal pelayaran rakyat yang sandar di pelabuhan Slamet Riyadi. Pengawasan terhadap perdagangan satwa liar di Ambon oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam masih sangat longgar. Masyarakat leluasa membawa satwa dilindungi itu tanpa halangan petugas. Perburuan liar, lanjut Supriyanto, terus menurunkan populasi burung endemik Pulau Seram itu. Saat ini, hanya ada sekitar 400 ekor kakaktua Seram yang tersebar di Sawai, Masihulan, dan Wahai. Populasi di sekitar lokasi ekowisata Teluk Sawai dan Masihulan diperkirakan sekitar 100 ekor. Populasi kakaktua di lokasi itu relatif terjaga karena ada Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) yang melibatkan peran masyarakat lokal. Satwa liar yang berhasil diselamatkan, baik dari perburuan maupun perdagangan liar, direhabilitasi di PRS sebelum dilepas ke habitat aslinya. PRS, lanjut Supriyanto, mempekerjakan para mantan pemburu satwa sebagai karyawan. Mereka kini menjadi pelindung hutan yang menjadi habitat satwa liar. Kegiatan itu mampu menekan perburuan satwa liar yang sempat marak di Sawai dan Masihulan. Masyarakat di sekitar Sawai dan Masihulan juga dibina untuk mengelola desa ekowisata. Kegiatan andalan adalah pengamatan burung dari menara setinggi 25 meter, pendakian, penelusuran goa, dan menyelam. Di teluk Sawai yang jernih dengan terumbu karang yang indah juga ada penginapan terapung untuk para wisatawan.

Beruang madu dan Harimau yang merupakan satwa langka menjadi sasaran perburuan liar yang dilakukan pemburu di wilayah Provinsi Bengkulu. Menurut Andi Basrul, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kedua satwa itu dilindungi, meskipun populasinya di Bengkulu cukup banyak, dan berada di hutan lindung serta taman nasional setempat. "Bengkulu merupakan wilayah yang dikelilingi hutan, yakni hutan lindung (HL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat," kata Andi kemarin (17/9) di Bengkulu. Andi menambahkan populasi satwa yang dilindungi tersebut masih dapat berkembang biak karena kawasan habitatnya tersedia dengan baik, dan ke depan ekosistem hutan tetap harus dijaga. Satwa yang dilindungi itu berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma, Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, dan Kaur yang merupakan wilayah perburuan liar. Pada 2009 tim gabungan dari Polres Bengkulu dan BKSDA berhasil mengamankan satu set harimau dan satu set beruang yang telah diawetkan beserta kepalanya. Selain itu, menurut dia juga ditemukan 15 ekor trenggiling yang sudah mati, 674 ekor kumbang tanduk jenis titanas, dan burung elang. Seluruhnya sudah diamankan untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Menurutnya, operasi rutin tersebut dilakukan setiap bulan dengan menggerahkan tim yang bertugas menyelidiki setiap ada laporan dan temuan di lapangan. Andi mengatakan, Kota Bengkulu merupakan tempat penampungan dan penjualan, sedangkan di Kabupaten Bengkulu Utara dan Seluma menjadi tempat perburuan yang cukup dekat dengan hutan lindung Bukit Sanggul. Keragaman Jerat Terdapat sembilan jenis jerat yang dikenal masyarakat; yaitu jerat koloh, lontar, pleret, sruntul, jepit, lubang, jaring, pulut, dan bronjong. Pengetahuan tertinggi tentang jenis jerat ditemukan Pekon Way Nipah (Tabel 1), hal ini sesuai dengan tingginya frekuensi perjumpaan dengan satwa liar di lapangan baik secara langsung maupun tidak langsung (Tabel 2). Tabel 1. Jenis jerat yang dikenal masyarakat di tiga pekon Pekon Jumlah jerat (buah) Jenis jerat yang dikenal Way Nipah 8 koloh, lontar, pleret, sruntul, jepit, pulut, jaring, lubang Tugu Papak 5 koloh, lontar, pleret, sruntul, lubang Sukaraja 4 koloh, lontar, jaring, bronjong Tabel 2. Frekuensi perjumpaan dengan satwa liar
Pekon Frekuensi perjumpaan (kali) Kijang* Babi* Rusa* Burung # Siamang** Gajah* Harimau* Way Nipah 12 19 10 12 4 2 1

Tugu Papak 6 15 9 10 5 0 0 Sukaraja 8 13 7 9 8 1 0 * Secara tidak langsung melalui jejak ** tidak langsung melalui suara # Secara langsung

Jenis-jenis jerat yang dapat dikategorikan berdasarkan cara kerja yaitu: 1. Jerat lontar adalah jerat yang digunakan untuk menjerat burung, mammalia, dan ular. Organ sasaran: kepala dan leher. Cara kerja jerat lontar untuk: a. Organ sasaran leher: ketika satwa liar melewati pagar dan badan menyentuh penyanggah kait, kait terlepas dari penyanggah dan tiang pelontar melontarkan kait sehingga tali mengikat leher. b. Organ sasaran kaki: pada saat satwa menginjak dudukan, kait terlepas dari tempat kaitan sehingga tali mengikat kaki.

2. Jerat pulut adalah jerat yang terbuat dari getah pohon untuk menangkap burung. Getah ditempelkan pada sebuah ranting, kemudian ranting tersebut diletakkan dekat umpan, ketika burung memakan umpan, bulunya menempel pada jerat pulut. 3. Jerat bronjong adalah jerat yang terbuat dari seling yang digunakan untuk mammalia besar. Jerat diletakkan pada jalur satwa, kemudian pemburu menghalau satwa ke arah jerat tersebut. 4. Jerat lubang adalah jerat yang digali di tanah untuk menjebak mammalia besar. Ukuran jerat lubang. Organ sasaran kaki dan badan: a. Organ sasaran kaki dengan menanamkan potongan bambu atau kaleng di jalur satwa, pada saat satwa melewati jalur tersebut maka kaki satwa terjebak didalam potongan bambu atau kaleng. b. Organ sasaran badan dengan cara menggali lubang di tanah dengan ukuran 200 cm x 200 cm x 150 cm kemudian lubang ditutup kembali dengan serasah atau ranting, sehingga satwa yang melewati lubang tersebut terjebak. 5. Jerat sruntul adalah jerat yang salah satu ujung talinya diikatkan pada pemberat yang dapat bergerak atau diam. Organ sasaran adalah leher. Ketika satwa melewati koloh (lingkaran) maka tali ikut dengan satwa, pada jarak tertentu tali akan menjerat leher sehingga satwa tidak dapat bergerak lebih jauh. 6. Jerat koloh adalah jerat untuk burung, tidak memiliki pelontar, cara kerja jerat koloh adalah tali yang sudah dibentuk koloh diikatkan pada kayu, ketika leher satwa melewati koloh maka leher satwa akan terikat. 7. Jerat pleret adalah jerat untuk mammalia besar, pemasangannya dilakukan pada area yang miring, dilapisi dengan belahan bambu, kulit kayu atau papan. Ketika satwa melewati tempat yang miring, maka satwa tersebut terjatuh ke dalam pagar atau lubang. 8. Jerat jepit, terbuat dari kayu atau bambu, untuk menjerat monyet dan tupai. 9. Jerat jaring, terbuat dari tali nilon untuk menangkap burung, jaring dipasang dekat umpan, ketika burung melewati jaring, tubuhnya tergulung ke dalam jaring. Pengamatan

Klipingipa
D I S U S U N O L E H ketua

Beri Nilai