Anda di halaman 1dari 8

Dasar Mengikat Hukum Sehingga Ditaati Oleh Masyarakat

Dalam dunia ilmu hukum terdapat dua kelompok besar yang memahami pengertian mengenai hakekat hukum, yaitu mereka yang memahami pengertian hukum dari sudut pandang sosiologis, dan yang memahami hakekat hukum dari sudut pandang normatif yuridis. Dari sudut pandang sosiologis, hukum dipahami sebagai salah satu nilai dari sekian banyak nilai yang terdapat di dalam pergaulan hidup masyarakat. Ini berarti hukum dipandang sebagai salahsatu gejala sosial masyarakat. Oleh sebab itu konsep-konsep teori hukum diperoleh dari relitas sosial di dalam masyarakat. Sedangkan yang memahami pengertian hukum dari sudut pandang normatif yuridis, menekankan penglihatannya pada hukum sebagai peraturanperaturan tertulis yang logis dan konsisten. Apabila ditinjau dari sudut pandang sosiologis pengertian hukum adalah kumpulan dari nilai-nilai kemasyarakatan sebagai hasil dari proses integrasi dari sektor-sektor (sub-sub sistem) yang terdapat di dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. Sedangkan dalam pemahaman yang normatif yuridis, hukum dipandang sebagai sarana pengendali sosial yang mengarahkan kepada tercapainya suatu tertib atau pola kehidupan yang telah ada. Dalam pengertian seperti ini fungsi hukum dianggap hanya sekedar menjaga agar setiap orang menjalankan peranannya sebagaimana telah ditentukan atau sebagaimana diharapkan daripadanya. Dari pengertian yang demikian inilah, maka hukum dianggap sebagai suatu sarana untuk mempertahankan status quo dan tidak tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Oleh karena pemahaman hukum menurut sudut pandang normatif yuridis dianggap hanya mempertahankan pola kehidupan yang sudah ada, maka tidaklah berlebihan jika hukum hanya dipandang sebagai sekumpulan peraturan-peraturan yang tertulis dan bersifat logis, konsisten dan tertutup serta berfungsi untuk mengatur
1

kehidupan manusia dalam ikatan pergaulan masyarakat. Hukum merupakan kristalisasi norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diakui kebenarannya, sehingga menjadi pedoman dalam melaksanakan pergaulan hidup bersama. Dari uraian diatas muncul permasalahan, yaitu : Apakah yang menjadi dasar mengikat hukum sehingga ditaati oleh masyarakat? Berbicara mengenai berkembangnya hukum di dalam masyarakat tidak terlepas dari teori-teori hukum. Begitu juga mengenai dasar mengikat hukum sehingga dapat ditaati oleh masyarakat tidak terlepas dari teori-teori / ajaran / pendapat hukum, diantaranya yaitu :
1. Teori Teokrasi (Kehendak Tuhan)

Dalam perkembangan historisnya, teori / ajaran ini memperlihatkan kecondongan untuk mengembalikan campur tangan ketuhanan dalam hal-ikhwal manusia sampai batas-batas yang makin lama makin sempit. Dalam perkembangannya teori ini terbagi kedalam dua pandangan, yaitu : a. Teokrasi Lama Dalam zaman yang tertua, segala hukum adalah hukum ketuhanan. Tuhan sendirilah yang menetapkan hukum, dan pemerintah-pemerintah duniawi adalah pesuruh-pesuruh kehendak ketuhanan. Ajaran hukum kristen dari abad menengah membatasi wilayah campur tangan tuhan sampai kepada peraturan-peraturan yang dinyatakannya dalam surat suci, dan sampai kepada asas-asas hukum umum yang digores oleh tuhan dalam jiwa tiap-tiap orang yang dirahmati dengan akal (hukum kodrat). Suatu kewajiban raja / pemimpin yang memperoleh kekuasaannya karena langsung diangkat oleh tuhan dan asal saja tetap dalam batas-batas hukum kodrat dan hukum ketuhanan, ia mempunyai kuasa ketuhanan penuh untuk menetapkan hukum.

b. Teokrasi Modern Dalam abad menengah muncul pandangan bahwa pemerintah langsung memperoleh kekuasaannya dari kehendak rakyat dan hanya secara tidak langsung dari tuhan. Beberapa penganut scholastiek mulai melepaskan hukum kodrat dari kehendak tuhan dan hal tersebut dilanjutkan oleh aliran rasionalisme abad 17 dan 18 yang ditandai dengan aufklarung. Menurut Friedrich Julius Stahl (1802-1861), negara adalah badan yang dibubuhi kuasa penuh dari tuhan, akan tetapi pendukung kuasa penuh bukan orangorang pemerintahan yang tertentu melainkan pendukungnya adalah negara sendiri sebagai badan, walaupun dimana-mana tata hukum hukum negara yang telah ada dan orang-orang ynag memerintah mempunyai sanksi ketuhanan. Menurut Stahl hukum adalah susunan manusia akan tetapi ia digunakan untuk membantu mempertahankan tata tertib dunia ketuhanan. 2. Teori Perjanjian Teori ini tidak mencari sumber kekuasaan pemerintah pada kehendak tuhan, melainkan pada kehendak manusia yakni pada kehendak penduduk sendiri. Mereka wajib taat kepada pemerintahan dan hukum karena dengan tegas atau diam-diam mereka berjanji demikian atau dengan kata lain mereka menghendakinya sendiri. Dalam abad ke 17 orang mendasarkan terjadinya negara dan terjadinya seluruh tata hukum atas perjanjian. Perjanjian itu tidak semata-mata suatu perjanjian yang dilakukan oleh rakyat dengan raja (perjanjian penaklukan) melainkan adalah suatu perjanjian yang diadakan oleh manusia satu sama lain dengan mana mereka mendirikan negara, tata hukum (perjanjian masyarakat).

3. Teori Kedaulatan Negara Ajaran ini mendasarkan kekuatan mengikat dari hukum pada kehendak negara dan mendasarkan adanya kekuasaan negara pada suatu hukum kodrat yang menyatakan bahwa yang lebih kuat menguasai yang lemah. Oleh daya hukum itulah maka terjadi negara, yang bukan buatan manusia melainkan hasil alam. Menurut reine Rechtslehre dari Hans Kelsen, negara tidak termasuk dunia sein, tidak termasuk alam, melainkan termasuk dunia sollen atau dengan kata lain tidak termasuk dunia undang-undang kausal melainkan dunia undang-undang normatif. Dipandang dari sudut yuridik, negara tidak lain daripada tata hukum itu sendiri, negara dan hukum adalah sama, negara adalah penjelmaan dari hukum. 4. Teori Kedaulatan Hukum Menurut Krabbe, manusia tidak hanya dapat membedakan yang suci dan najis, baik dan jahat, bagus dan buruk, tetapi juga yang adil dan tidak adil. Khasiat untuk membedakan yang adil dan tidak adil terletak dalm individueel rechtsbewestzijn / kesadaran hukum individual. Undang-undang itu mengikat karena merupakan perumusan kesadaran hukum individual dari orang-orang yang berkumpul dalam parlemen sehingga dapat dikatakan bahwa undang-undang dibentuk oleh mayoritas dalam parlemen. Undangundang berlaku bukan karena kehendak negara, melainkan karena nilai batinnya (innerlijke waarde) yang tercantum didalamnya. 5. Madzhab Perancis Tokoh madzhab ini adalah Leon Duguit yang mendasarkan kekuatan mengikat hukum pada faktor-faktor biologs, sosial, dan sejarah kehidupan manusia yang dinamakan fakta-fakta kemasyarakatan (fait social) yang mennjadi dasar dari kekuatan mengikat hukum.
4

Persoalannya dapat dikembalikan pada sifat alami manusia sebagai mahluk sosial, hasratnya untuk bergabung dengan manusia lain dan menurut kebutuhannya akan solidaritas. Jadi dasar kekuatan mengikat suatu hukum terdapat dalam kenyataan sosial bahwa mengikatnya hukum itu perlu mutlak bagi dapat terpenuhinya kebutuhan manusia untuk hidup bermasyarakat. 6. Pendapat Frans Magnis Suseno (1987) Hukum berkembang dari kesadaran masyarakat bahwa hukum itu

dibutuhkannnya demi suatu kehidupan yang dinilai baik dan bermutu. Jadi dasar adanya hukum adalah kesadaran masyarakat bahwa hukum itu diperlukan. Walaupun hukum membawa pelbagai pembatasan dan pengorbanan, namun tetap dinilai baik kalau dibandingkan dengan kesadaran tanpa hukum dan karena itu masyarakat bersedia untuk menerima hukum.
7. Pendapat R. Bierstadt (Soekanto, 1982)

Dasar-dasar kepatuhan adalah : a. Indoctrination Sebab pertama mengapa warga masyarakat mematuhi kaedah-kaedah adalah karena dia diindoktrinasi untuk berbuat demikian. Sejak kecil manusia telah dididik agar mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Melalui proses sosialisasi manusia dididik untuk mengenal, mengetahui serta mematuhi kaidahkaidah tersebut. b. Habituation Oleh karena sejak kecil mengalami proses sosialisasi maka lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan untuk mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku.

c. Utility Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk hidup pantas dan teratur. Akan tetapi pantas dan teratur bagi seseorang belum tentu pantas dan teratur bagi orang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu patokan tentang kepantasan dan keteraturan tersebut. Patokan tersebut merupakan pedoman tentang tingkah laku dan dinamakan kaidah. Dengan demikian, salah satu faktor yang menyebabkan orang taat pada kaidah adalah karena kegunaan kaidah tersebut. Manusia menyadari bahwa kalau dia hendak hidup pantas dan teratur maka diperlukan kaidah-kaidah. d. Group Identification Salah satu sebab mengapa seseorang patuh pada kaidah adalah karena kepatuhan tersebut merupakan salah satu sarana untuk mengadakan identifikasi dengan kelompok.

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dasar mengikat hukum sehingga ditaati oleh masyarakat dilandasi oleh teori / ajaran / pendapat, diantaranya : 1. Teori Teokrasi (Teori Ketuhanan) 2. Teori Perjanjian 3. Teori Kedaulatan Negara 4. Teori Kedaulatan Tuhan 5. Madzhab Sejarah 6. Pendapat Frans Magnis Suseno 7. Pendapat R. Bierstadt

DAFTAR PUSTAKA

Apeldoorn, L.J. van. 1954. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta : Pradnya Paramita. Handoyo, B. Hestu Cipto. 2003. Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia (Memahami Proses Konsolidasi Sistem Demokrasi di Indonesia). Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta.