Anda di halaman 1dari 260

EFEKTIVITAS SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA

MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI


NO. 9 DAN NO. 8 TAHUN 2006
TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM
PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT
BERAGAMA, DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT




Editor
Dra. Kustini, M.Si.



Penulis:
Dr. Ir. Sumaryo Gs, M.Si.
Dra. Kustini, M.Si.
Dr. M.O. Royani, M.Si.








DEPARTEMEN AGAMA RI
BADAN LITBANG DAN DIKLAT
PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN
2009

ii


iii

EFEKTIVITAS SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
NO. 9 DAN NO. 8 TAHUN 2006
TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM
PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT
BERAGAMA, DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT


Editor
Dra. Kustini, M.Si.


Penulis:
Dr. Ir. Sumaryo Gs, M.Si.
Dra. Kustini, M.Si.
Dr. M.O. Royani, M.Si.


Tim Peneliti:


Ahmad Syafii M. Akmal Salim Ruhana Bashori A. Hakim
Haidlor Ali Ahmad Fakhrudin Ibnu Hasan Muchtar Imam Syukani Kustini
Lastriyah Mulyadi Mursyid Ali Reslawati Reza Perwira Suhanah
titik Suwariyati Zaenal Abidin







PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN
BADAN LITBANG DAN DIKLAT DEPARTEMEN AGAMA
REPUBLIK INDONESIA
2009

iv
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Tim Peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Efektivitas Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama
dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan No.8 Tahun 2006
tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil
Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat
Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat
Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat
Cet. 1.
Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan 2009
xix + 236 hlm; 15 x 21 cm.
ISBN : 978-979-18628-9-9

Hak cipta pada penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun,
termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy tanpa izin sah dari
penerbit.
Cetakan pertama, Oktober 2009

Editor : Dra. Hj. Kustini, M.Si.
Hak penerbit pada Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Jakarta

Desain cover dan layout oleh : Suka, SE

Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Badan Litbang Dan Diklat Departemen Agama RI
Gedung Bayt al-Quran dan Museum Istiqlal
Komplek Taman Mini Indonesia Indah
Telp./Fax. (021) 87790189 Jakarta

Dicetak oleh CV PRASASTI

v



vi
SAMBUTAN
KEPALA BADAN LITBANG DAN DIKLAT
DEPARTEMEN AGAMA RI

Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam
Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat (sering
disingkat dengan sebutan PBM) merupakan salah satu
kebijakan Pemerintah dalam rangka memelihara kerukunan
umat beragama. Salah satu faktor yang menjadi latar
belakang terbitnya PBM tersebut adalah sebagai respon atas
beberapa permasalahan yang timbul di masyarakat khususnya
terkait dengan masalah pendirian rumah ibadat.
Sesuai judulnya, PBM merupakan pedoman bagi para
kepala daerah/wakil kepala daerah dalam pemeliharaan
kerukunan umat beragama. Hal ini penting ditegaskan karena
dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, agama tidak termasuk yang
diotonomikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah
masalah kerukunan umat beragama bukan menjadi kewajiban
kepala daerah? PBM ini menegaskan bahwa pemeliharaan
kerukunan umat beragama adalah juga kewajiban pemerintah
daerah karena pemeliharaan kerukunan umat beragama
merupakan bagian penting dari kerukunan nasional yang
menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 22
adalah tugas daerah.
Sebagai sebuah kebijakan pemerintah, maka PBM ini
harus segera disosialisasikan agar dapat dipahami dan
dijadikan pedoman khususnya oleh para kepala/wakil kepala
daerah. Kami menyambut baik penerbitan buku ini yang

vii

diangkat dari hasil penelitian tentang sosialisasi Peraturan
Bersama tersebut. Meskipun sosialisasi baru dilakukan di
beberapa tempat dengan peserta terbatas, namun berdasarkan
perhitungan statistik, sebagaimana dapat dilihat dari hasil
penelitian, ternyata sosialisasi memberi pengaruh yang cukup
signifikan bagi pemeliharaan kerukunan umat beragama. Oleh
karena itu ke depan program-program terkait dengan
sosialisasi harus terus dilakukan dengan meminimalisasi
kekurangan yang ada pada sosialisasi sebelumnya.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha
Kuasa kami senantiasa memohon bimbingan dan petunjuk
agar kehidupan bangsa ini semakin harmonis dan damai.

Jakarta, Oktober 2009
Kepala Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama,



Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar
NIP. 19481020 196612 1 001

viii
PENGANTAR
KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN

Puji syukur kepada Allah SWT karena hanya dengan
rakhmat dan karuniaNya maka penerbitan buku ini dapat
diselesaikan. Kami menyambut baik penerbitan buku ini
sebagai upaya sosialisasi hasil-hasil penelitian dan
pengembangan. Sebagai sebuah lembaga penelitian di
lingkungan instansi Departemen Agama, maka penerbitan
hasil-hasil penelitian dalam bentuk buku merupakan salah
satu kegiatan yang perlu terus dilakukan. Melalui penerbitan
buku seperti ini, para peneliti telah memenuhi salah satu
tanggung jawab akademiknya yaitu menyosialisasikan hasil-
hasil penelitiannya sehingga dapat bermanfaat secara lebih
luas.
Pada tahun 2006 Menteri Agama RI mengeluarkan
beberapa kebijakan penting terkait dengan kehidupan
keagamaan antara lain penerbitan Peraturan Bersama Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8
Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat
Beragama Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan
Pendirian Rumah Ibadat. Jika dilihat dari proses sampai
terbitnya kebijakan itu, maka peran Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama, khususnya Puslitbang Kehidupan
Keagamaan sangat signifikan. Kebijakan itu berawal dari hasil
kajian yang dilakukan di Puslitbang Kehidupan Keagamaan.
Oleh karena itu, tindak lanjut pasca penerbitan kebijakan
Menteri Agama tersebut merupakan program yang sama
pentingnya dengan proses penyusunan sampai terbitnya
peraturan tersebut.
Kebijakan Menteri Agama yang didasari kajian atau
hasil penelitian merupakan satu indikasi bahwa lembaga atau

ix

unit penelitian seperti Puslitbang Kehidupan Keagamaan
memiliki peran strategis dalam menyiapkan data atau
informasi bagi pimpinan di Departemen Agama. Oleh karena
itu kami mengharapkan ke depan seluruh jajaran di
Puslitbang Kehidupan Keagamaan merencanakan kegiatan-
kegiatan strategis lainnya, baik berupa penelitian maupun
kajian atau pengembangan, yang secara langsung dapat
dijadikan bahan bagi penyusunan kebijakan pimpinan.
Penelitian tentang Efektivitas Sosialisasi Peraturan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri kami
anggap merupakan satu tindaklanjut yang baik setelah
dilakukan sosialisasi PBM. Melalui penelitian ini diketahui
secara statistik bahwa sosialisasi memberi pengaruh yang
cukup signifikan sebesar 17,4%. Oleh karena itu, sebagaimana
yang direkomendasikan dari hasil penelitian, ke depan
sosialisasi harus terus dilakukan dengan diversifikasi metode
atau cara penyampaian materi sehingga lebih efektif. Kami
berharap hasil penelitian itu dapat terus ditindaklanjuti dalam
program-program yang lebih terarah.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan
Litbang dan Diklat Departemen Agama atas segala arahannya.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi
kontribusi bagi kelancaran penerbitan buku ini.

Jakarta, Oktober 2009
Kepala
Puslitbang Kehidupan Keagamaan


Prof. H. Abd. Rahman Masud, Ph.D
NIP. 19600416198903 1 005

x
CATATAN EDITOR

Buku yang ada di hadapan pembaca ini merupakan
salah satu naskah yang berasal dari hasil penelitian yang
dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan tahun 2006.
Dilihat dari judulnya yaitu Efektivitas Sosialisasi Peraturan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan
Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat
Beragama Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan
Pendirian Rumah Ibadat, maka bisa diketahui bahwa buku ini
merupakan hasil penelitian evaluatif terhadap salah satu
kebijakan pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama,
yang diwujudkan dalam Peraturan Bersama.
Bagi Puslitbang Kehidupan Keagamaan, penelitian
tentang Efektivitas Sosialisasi Peraturan Bersama ini
memiliki makna penting setidaknya karena tiga hal. Pertama,
Peraturan Bersama lahir sebagai tindak lanjut dari kajian yang
dilaksanakan Puslitbang Kehidupan Keagamaan terhadap
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri No. 01/BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas
Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan
Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh
Pemeluk-Pemeluknya. Simpulan hasil kajian yang menyatakan
bahwa SKB Nomor 1 Tahun 1969 mengandung banyak
kelemahan dan multi tafsir. Oleh karena itu perlu disusun
peraturan penggantinya yang kemudian disepakati
diterbitkan Peraturan Bersama. Kedua, Puslitbang Kehidupan
Keagamaan merasa perlu untuk memantau perkembangan
dan implementasi PBM di daerah yang akan menjadi bahan
penyusunan kebijakan terkait dengan masalah PBM. Hasil
pantauan itu akan menjadi bahan masukan untuk menyusun

xi

strategi dan berbagai kebijakan agar PBM dapat menjadi
acuan di daerah dalam hal pemeliharaan kerukunan umat
beragama. Ketiga, dari segi metodologi, penelitian ini
merupakan implementasi dari kebijakan teknis Kepala Badan
Litbang dan Diklat dalam hal diversifikasi metode penelitian.
Sebagaimana dapat dilihat dari naskah hasil-hasil penelitian
sebelumnya, penelitian di Puslitbang Kehidupan Keagamaan
didominasi oleh penelitian dengan pendekatan kualitatif yang
bertumpu pada teori-teori antropologi. Oleh karena itu,
penelitian tentan Efektivitas PBM yang menggunakan
pendekatan kuantitatif memberi pengalaman tersendiri bagi
para peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang sedang
menapak jalan menuju penguasaan metode kuantitatif dalam
berbagai penelitian.
Penelitian tentang Efektivitas PBM memberi pengalaman
tersendiri bagi para peneliti dalam menyusun desain
penelitian kuantitatif, menyusun instrument atau kuesioner
yang kemudian dianalisis melalui statistik serta melakukan
keseluruhan tahapan penelitian kuantitatif secara terstruktur.
Meskipun hanya menggunakan statistik sederhana yaitu
regresi tetapi cukup untuk menjadi alat uji sehingga pada
akhir penulisan laporan disimpulkan bahwa sosialisasi PBM
berpengaruh secara nyata terhadap kerukunan umat
beragama sebesar 17,4%. Untuk sebuah fenomena sosial tentu
angka tersebut cukup tinggi sebab sebagaimana kita ketahui
bahwa setiap gejala atau fenomena sosial diperngaruhi oleh
banyak faktor.
Dalam kaitannya dengan fenomena kerukunan atau
ketidakrukunan umat beragama, secara umum ada dua faktor
yang mempengaruhi yaitu faktor keagamaan dan non
keagamaan. Faktor keagamaan adalah doktrin-doktrin agama
yang mengajarkan kepada umatnya untuk meyakini bahwa

xii
agama yang dianutnya adalah jalan hidup yang paling benar
sehingga dapat menimbulkan prasangka negatif atau sikap
memandang rendah agama lain. Di samping itu ada faktor
keagamaan lain yang secara tidak langsung dapat
menimbulkan konflik di antara umat beragama yaitu masalah
penyiaran agama, bantuan keagamaan dari luar negeri,
perkawinan antar pemeluk agama berbeda, pengangkatan
anak, pendidikan agama, perayaan hari besar keagamaan,
perawatan dan pemakaman jenazah, penodaan agama,
kegiatan kelompok sempalan, transparansi informasi
keagamaan, dan masalah pendirian rumah ibadat
(Muhammad M. Basyuni, Kebijakan dan Strategi Kerukunan
Umat Beragama). Jika dikaitkan dengan manfaat sosialisasi
PBM, yang isinya antara lain terkait dengan masalah
pendirian rumah ibadat, maka pengaruh sebesar 17,4%,
merupakan angka yang cukup signifikan untuk menciptakan
kerukunan.
Kegiatan penelitian sampai tersusunnya buku ini
merupakan proses yang cukup panjang dan melibatkan
banyak pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami
mengucapkan terima kasih khususnya kepada Kepala Badan
Litbang dan Diklat Departemen Agama serta Kepala
Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang telah memberi
arahan terhadap kegiatan penelitian ini serta dalam berbagai
kesempatan telah menyosialisasikan hasil penelitian ini.
Terima kasih kepada Dr. Ir. Sumaryo Gs, M.Si. dan Dr. M. O.
Royani, M.Si. yang telah membantu hampir keseluruhan
proses penelitian ini sampai dengan proses penyusunan
naskah buku ini. Terima kasih kepada seluruh tim peneliti
lapangan yang telah mengumpulkan data dan memberikan
masukan untuk penyusunan buku ini.

xiii

Akhirnya, kami memohon kepada Allah SWt semoga
usaha penerbitan buku hasil penelitian ini dapat memberi
makna bagi peningkatan kehidupan keagamaan yang lebih
humanis dan dinamis serta berkeadaban.

Jakarta, Oktober 2009
Editor

Kustini




xiv
DAFTAR ISI

Halaman
SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG DAN
DIKLAT DEPARTEMEN AGAMA RI ......................... v
PENGANTAR KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KE-
AGAMAAN .............................................................................. vii
CATATAN EDITOR ........................................................ ix
DAFTAR ISI ...................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ............................................................... xvi
ABSTRAK .......................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................ 1
B. Masalah Penelitian ................................. 3
C. Tujuan ...................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA
BERFIKIR DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka ................................... 7
1. Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Perubahan Perilaku ........... 7
2. Aspek Perilaku dan Perubahannya 17
3. Teori Peran ........................................ 19
4. Diseminasi Informasi ....................... 20
5. Dinamika Kelompok/Organisasi ... 21
6. Kerukunan Umat Bergama ............. 25
B. Kerangka Berpikir .................................. 26
C. Hipotesis .................................................. 28

xv


BAB III METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel .............................. 31
B. Rancangan Penelitian ............................ 32
C. Data dan Instrumentasi ......................... 32
D. Validasi dan Reliabilitas Pengukuran . 33
E. Pengumpulan Data ................................. 33
F. Analisis Data ........................................... 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden ...................... 35
B. Persepsi Masyarakat terhadap
Sosialisasi PBM ....................................... 38
C. Tingkat Pengetahuan tentang PBM ..... 39
D. Derajat Sikap terhadap PBM ................. 40
E. Diseminasi Informasi ............................. 42
F. Peraturan Gubernur terkait PBM ......... 44
G. Peran Pemda dalam KUB ...................... 45
H. Peran Majelis Agama dalam KUB ........ 47
I. Dinamika FKUB ...................................... 48
J. Pemenuhan Syarat Pendirian Rumah
Ibadat ........................................................ 49
K. Tingkat Toleransi Antar Umat
Beragama ................................................. 50
L. Hubungan Karakteristik Responden
dengan Persepsi tentang Sosialisasi
PBM dan Perilaku Penerapan PBM ..... 52
M. Pengaruh Karakteristik Responden
terhadap Persepsi tentang Sosialisasi
PBM dan Perilaku Penerapan PBM ..... 57
N. Pengaruh Persepsi terhadap Perilaku
Penerapan PBM ...................................... 59

xvi
O. Pengaruh Perilaku Penerapan PBM
terhadap Manfaat Sosialisasi PBM ....... 63
P. Pengaruh Manfaat Sosialisasi PBM
terhadap Kerukunan Umat Beragama 64
Q. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pencapaian Tujuan Sosialisasi PBM ..... 65
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan ............................................. 70
B. Rekomendasi ........................................... 71
DAFTAR PUSTAKA ........................................................ 74
LAMPIRAN 1 PROPOSAL PENELITIAN ................. 77
LAMPIRAN 2 CATATAN HASIL WAWANCARA
DAN PENGAMATAN ....................... 107
LAMPIRAN 3 KUESIONER PENELITIAN ............... 211

xvii

DAFTAR TABEL

No.
Tabel
Judul Halaman
1 Populasi dan Sampel 31
2 Rataan Karakteristik Responden 35
3 Sebaran Persepsi Responden
Terhadap Sosialisasi PBM
38
4 Tingkat Pengetahuan Responden
tentang PBM
39-40
5 Derajat Sikap Responden terhadap
PBM
40-41
6 Diseminasi Informasi PBM 42
7 Keberadaan Peraturan Gubernur
tentang PBM
44-45
8 Peranan Pemda dalam KUB 46
9 Peran Majelis Agama dalam KUB 47
10 Dinamika FKUB 48
11 Pemenuhan Syarat Pendirian Rumah
Ibadat
49-50
12 Tingkat Toleransi Antar Umat
Beragama
51-52
13 Nilai Korelasi antar Variabel
Penelitian
53
14 Korelasi antar Karakteristik dengan
Persepsi dan Perilaku
55
15 Pengaruh antar Variabel 7


xviii
ABSTRAK
Salah satu isu penting dalam pemeliharaan kerukunan
umat beragama adalah pendirian rumah ibadat.
Memperhatikan hal tersebut, diterbitkan Peraturan Bersama
Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9
dan 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan
Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah
Ibadat. PBM tersebut telah diperkenalkan kepada masyarakat
melalui kegiatan sosialisasi. Sejak mulai disosialisasikan
sekitar satu tahun yang lalu, belum pernah ada umpan balik
yang dapat menjelaskan bagaimana pencapaian tujuan
sosialisasi tersebut. Untuk itu dilakukan penelitian evaluatif
yang bersifat dekriptif dan korelasional untuk (1)
mendeskripsikan, menentukan hubungan dan pengaruh
peubah karakteristik responden (X1), persepsi responden
terhadap sosialisasi PBM (X2), perilaku penerapan PBM (Y1),
manfaat sosialisasi (Y2), kerukunan umat beragama (Y3); (2)
mengidentifikasi faktor-faktor penentu efektivitas sosialisasi
PBM; (3) merumsukan strategi sosialisasi yang efektif.
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli
Agustus 2007 di 13 kota pada 13 provinsi yaitu Medan,
Pekanbaru, Padang, Pangkal Pinang, Semarang, Denpasar,
Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Ambon, Gorontalo,
Mataram, Makassar. Data primer diolah dari 259 orang
responden yang pernah mengikuti sosialisasi PBM yang
diselenggarakan oleh Departemen Agama bekerjasama
dengan Departemen Dalam Negeri dan pemerintah daerah
setempat. Analisis data kuantitatif yang dilengkapi oleh data
kualitatif digunakan untuk menjelaskan hasil penelitian.

xix

Karakteristik responden; jenis kelamin laki-laki (81 %),
rata-rata usia 45 tahun, berpendidikan tinggi, pekerjaan lebih
banyak sebagai PNS, hampir setengahnya beragama Islam,
rata-rata berpenghasilan menengah (1,7 juta rupiah).
Persepsinya terhadap sosialisasi tergolong cukup; perilaku
penerapan PBM untuk unsur pengetahuan tentang PBM ada
dalam kategori kurang baik; sementara sikapnya lebih banyak
berada pada taraf ragu untuk menerima atau menolak PBM;
manfaat sosialisasi untuk unsur diseminasi informasi,
keberadaan peraturan gubernur, peran pemda dan majelis
agama, dinamika Forum Komunikasi Umat Beragama berada
dalam kategori sedang; kondisi kerukunan umat beragama
yang dilihat berdasarkan pemenuhan syarat pendidirian
rumah ibadat dan toleransi antar umat beragama dapat
digolongkan sedang mengarah ke kurang baik. Karakteristik
responden tidak berhubungan nyata dengan persepsi tentang
sosialisasi, dan berhubungan sangat nyata dengan perilaku
penerapan responden. Persepsi berhubungan nyata dengan
perilaku penerapan responden. Perilaku tersebut berpengaruh
sangat nyata sebesar 4,7 % terhadap manfaat sosialisasi.
Manfaat sosialisasi PBM berpengaruh sangat nyata sebesar
17,4% terhadap kerukunan umat beragama.
Faktor pendukung efektivitas sosialisasi adalah
kerjasama antara Depag dengan Depdagri, dukungan majelis
agama, ketersediaan program dan dukungan sumber daya
pada pemerintah pusat, fasilitator menguasai materi dengan
baik. Sedangkan penghambatnya antara lain subyek sosialisasi
masih tersegmentasi untuk laki-laki, pegawai negeri sipil,
tokoh agama, berpendidikan tinggi; kurang variasi metode;
masih menggunakan pendekatan tunggal melalui kelompok;
belum didisain untuk perubahan keterampilan; belum tersedia

xx
cukup sumber daya bagi eks peserta sosialisasi untuk
melakukan sosialisasi lanjutan kepada khalayak luas; belum
semua provisni mempunyai peraturan gubernur tentang
FKUB dan dewan penasehatnya.
Strategi sosialisasi yang efektif bertumpu pada non
segmentasi subyek sosialisasi; menggunakan pendekatan
beragam melalui media massa, kelompok, keluarga dan
sekolah; merancang kurikulum secara lengkap; memilah dan
menyesuaikan materi dengan subyek sosialisasi, variasi
metode dan media belajar; evaluasi formatif dan sumatif.



Kata Kunci: sosialisasi, perilaku, kerukunan umat beragama,
pendirian rumah ibadat.

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keragaman budaya dan agama dapat menjadi social glue
dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, apabila
keragaman tersebut tidak dikelola dengan arif dapat menjadi
penyebab terganggunya kehidupan bermasyarakat dan
beragama. Salah satu aspek yang dapat mengganggu
terwujudnya kerukunan umat beragama adalah persoalan
pendirian rumah ibadat. Masalah tersebut muncul antara lain
karena belum adanya kejelasan mengenai persyaratan dan
tata-cara pendirian rumah ibadat; proses perizinan pendirian
rumah ibadat sering berlarut-larut; penyalahgunaan rumah
tinggal atau bangunan lain yang difungsikan sebagai rumah
ibadat; pendirian atau keberadaan rumah ibadat yang tidak
sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tidak sesuai dengan
aspirasi masyarakat setempat; pengaturan oleh masing-
masing pemerintah daerah (pemda) sangat beragam, juga
masih banyak pemda yang belum memiliki peraturan tentang
pendirian rumah ibadat; serta kurangnya komunikasi antar
pemuka agama di suatu wilayah.
Dalam rangka mengatur masalah pendirian rumah
ibadat, pada masa lalu Pemerintah telah mengeluarkan Surat
Keputusan Bersama Nomor 1 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan
Tugas Aparatur Pemerintah dalam Menjamin Ketertiban dan
Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh
Pemeluk-Pemeluknya. Namun demikian dalam pelaksanaan di
lapangan masih tetap ditemui berbagai kendala. Hal itu terjadi
karena beberapa faktor antara lain dalam SKB terdapat
kalimat multitafsir sehingga tidak ada kejelasan siapa yang

2
disebut pemerintah daerah, tidak adanya kejelasan siapa yang
disebut pejabat pemerintahan di bawahnya yang dikuasakan
untuk itu, tidak adanya kejelasan siapa yang disebut
organisasi keagamaan dan ulama/ rohaniawan setempat, serta
apa yang dimaksud dengan kata-kata planologi dan
kondisi & keadaan setempat. Masalah pendirian rumah
ibadat ini kembali mencuat khususnya pada akhir tahun 2004
dan awal tahun 2005. Pro dan kontra di masyarakatpun terkait
keberadaan SKB Nomor 1 Tahun 1969 terlihat di berbagai
media massa. Sebagian pemuka agama mengusulkan SKB
Nomor 1 Tahun 1989 dicabut, sementara sebagian pemuka
agama lainnya mengusulkan untuk tetap dipertahankan (lihat
naskah Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006).
Untuk merespon permasalahan ini, pemerintah
(Departemen Agama dan Departemen Dalam Negeri) bersama
majelis-majelis agama (MUI PGI - KWI PHDI - WALUBI)
telah sepakat bahwa masalah pengaturan pendirian rumah
ibadat yang sebelumnya berlaku, perlu ditata ulang. Melalui
proses pembahasan dan dialog yang relatif intensif, serius,
dan berulang-ulang, selama lebih kurang enam bulan, berhasil
mencapai kesepakatan, yang kemudian dituangkan dalam
Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan
Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat
Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat (PBM Nomor 9 dan 8
Tahun 2006).
Agar PBM ini diketahui, dipahami, dihayati, dan
diterapkan oleh umat beragama, Pemerintah bersama dengan
majelis-majelis agama, pada tahun 2006 telah melakukan

3

sosialisasi PBM baik di tingkat pusat, provinsi dan
kabupaten/kota. Pencapaian tujuan sosialisasi tersebut perlu
diketahui secara akurat sehingga dapat dinilai efektivitasnya
dalam mengubah perilaku umat beragama untuk memelihara
dan mewujudkan kerukunan dalam kehidupan masyarakat.
Untuk itu perlu dilakukan pengukuran melalui pengumpulan
data sebagai bahan kajian untuk perbaikan kegiatan serupa
pada masa mendatang. Berbagai informasi yang berhasil
dihimpun melalui kajian ini, bermanfaat sebagai bahan
masukan bagi pembuat kebijakan pada instansi pemerintah
dan lembaga-lembaga sosial keagamaan yang ada di
masyarakat, pemimpin organisasi keagamaan, dan pihak-
pihak lain yang berkepentingan, dalam rangka penyusunan
kebijakan dan program untuk memelihara dan mewujudkan
kerukunan umat beragama.

B. Masalah Penelitian
Pada tahun 2006, Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Departemen Agama, telah melakukan sosialisasi PBM Nomor
9 dan 8 Tahun 2006 kepada aparat pemerintah daerah dan
tokoh agama di beberapa provinsi. Sosialisasi PBM Nomor 9
dan 8 Tahun 2006 pada dasarnya merupakan input berbentuk
proses pendidikan nonformal yang berupaya mewujudkan
kerukunan umat beragama, pemberdayaan Forum Kerukunan
Umat Beragama (FKUB), dan pemenuhan syarat-syarat dalam
pendirian rumah ibadat. Ketiga kondisi tersebut tidak dapat
terwujud begitu saja, tetapi melalui serangkaian pencapaian
tujuan secara bertahap yaitu output dan outcome.
Output sosialisasi adalah tertanamnya nilai-nilai baru
yang akan mendasari perubahan suatu perilaku umat
beragama. Dengan demikian output sosialisasi PBM dapat

4
dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, tertanamnya
nilai-nilai baru dalam kerukunan umat beragama, FKUB, dan
pendirian rumah ibadat. Kedua, kelompok tujuan ini dapat
dirinci menjadi dua aspek perilaku: (1) terjadinya peningkatan
pengetahuan tentang materi PBM yang telah disosialisasikan;
dan (2) terwujudnya sikap menerima terhadap aturan PBM.
Outcome sosialisasi merupakan jembatan antara output
dan impact, sehingga merupakan kondisi yang harus ada agar
impact dapat terwujud. Dengan demikian kategori outcome
yang akan dicapai adalah: (1) terjadinya diseminasi informasi
tentang PBM; (2) pembuatan dan ditetapkannya peraturan-
peraturan di tingkat provinsi/kabupaten/kota sebagai
pendukung pelaksanaan PBM di daerah; (3) terwujudnya
peran pemerintah daerah dalam penciptaan kerukunan umat
beragama; (4) terwujudnya peran majelis agama dalam
penciptaan kerukunan umat beragama; dan (5) terjadinya
dinamika FKUB.
Pascasosisalisasi PBM tersebut, belum diketahui secara
jelas sejauhmana kegiatan tersebut telah mencapai tujuan
(output, outcome, impact). Untuk itu perlu dilakukan penelitian
yang bersifat evaluatif untuk mengetahui sejauhmana
pencapaian tujuan tersebut. Bila hasil kajian ternyata tujuan
tercapai, berarti sosialisasi yang dilakukan sudah efektif, dan
sebaliknya.
Selain untuk mendapatkan informasi tentang pencapaian
tujuan tersebut, dalam penelitian ini diperlukan juga
informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi respon
sasaran sosialisasi terhadap PBM. Faktor-faktor tersebut
meliputi faktor karakteristik dan persepsi terhadap sosialisasi
PBM. Hal ini akan berguna untuk merumuskan strategi
sosialisasi yang mampu mencapai tujuan secara optimal.

5

Selain itu diperlukan juga informasi kualitatif berupa faktor
pendukung dan penghambat pencapaian tujuan sosialisasi.
Dari paparan di atas dapat diidentifikasi beberapa
masalah pokok yang perlu dikaji:
1. Bagaimana karakteristik eks peserta sosialisasi PBM?
2. Bagaimana persepsi eks peserta terhadap sosialisasi PBM?
3. Sejauhmana pengetahuan dan sikap eks peserta sosialisasi
PBM tentang pemeliharaan kerukunan umat beragama,
pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB), dan persyaratan pendirian rumah ibadat?
4. Apa dan seberapa besar kontribusi sosialisasi PBM
terhadap kerukunan umat beragama?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian
tujuan sosialisasi PBM?

C. Tujuan
Selaras dengan permasalahan yang telah teridentifikasi di
atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan karakteristik responden, persepsi
tentang sosialisasi, perilaku eks peserta sosialisasi dalam
penerapan PBM, manfaat sosialisasi, dan kondisi
kerukunan umat beragama.
2. Menetapkan hubungan dan atau pengaruh peubah
peubah karakteristik, persepsi, perilaku, manfaat
sosialisasi PBM, dan kerukunan umat beragama.
3. Menetapkan kontribusi sosialisasi PBM terhadap
kerukunan umat beragama.
4. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
efektivitas pencapaian tujuan sosialisasi PBM.
5. Merumuskan strategi sosialisasi PBM yang efektif.


6
D. Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1 Departemen Agama, khususnya Puslitbang Kehidupan
Keagamaan dalam menetapkan dan mengimplementasi-
kan kebijakan dalam rangka meningkatkan efektivitas
sosialisasi PBM untuk mewujudkan kerukunan umat
beragama, pemberdayaan FKUB, serta pendirian rumah
ibadat.
2 Pemerintah daerah dalam meningkatkan perannya untuk
mendukung keberhasilan sosialisasi dan implementasi
PBM.
3 Forum Kerukunan Umat Beragama dalam melaksanakan
tugasnya yang meliputi dialog keagamaan, penampungan
dan penyaluran aspirasi masyarakat, melakukan
sosialisasi PBM, serta rekomendasi pendirian rumah
ibadat.
4 Masyarakat secara luas dalam meningkatkan partisi-
pasinya untuk memelihara kerukunan umat beragama.

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN
HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka/Kajian Teoritis
Untuk mendapatkan gambaran teoritis tentang
peubah (variabel) yang akan dikaji, diperlukan suatu dasar
yang kuat untuk menentukan bahwa peubah-peubah tersebut
saling terkait atau saling mempengaruhi. Dasar tersebut
diperoleh melalui kajian teoritis atau tinjauan pustaka yang
memaparkan pendapat atau hasil penelitian para pakar terkait
dengan peubah-peubah yang akan diteliti.

1. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perubahan
Perilaku
Beberapa pakar mengemukakan beberapa faktor yang
berhubungan dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Faktor-faktor tersebut atara lain umur, pendidikan, agama,
status atau tingkat sosial ekonomi, derajat partisipasi,
kekosmopolitanan, dan persepsinya terhadap sesuatu.
Umur menurut kronologi dapat memberikan petunjuk
untuk menentukan tingkat perkembangan individu, sebab
umur relatif lebih mudah dan akurat untuk ditentukan
(Salkind 1985: 31). Menurut Soedijanto Padmowihardjo (1994:
36) umur bukan merupakan faktor psikologis, tetapi apa yang
diakibatkan oleh umur adalah faktor psikologis. Umur
seseorang biasanya dibarengi dengan pertumbuhan secara
fisiologis (fisik), sehingga sampai umur tertentu ( 30 tahun)
fisik seseorang akan mengalami pertumbuhan berat dan
tinggi. Pertumbuhan fisiologis juga diiringi perkembangan

8
psikologis (tingkat kedewasaan). Secara umum, semakin tua
umur seseorang maka tingkat perkembangan psikologisnya
juga semakin meningkat (semakin dewasa), namun demikian
tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus
dengan umurnya.
Pendidikan adalah suatu proses terencana untuk
mengubah perilaku seseorang yang dilandasi adanya
perubahan pengetahuan, keterampilam, dan sikapnya
(Lunandi 1993: 3). Senada dengan itu, Margono Slamet (2003:
20) mendefinisikan pendidikan sebagai usaha untuk
menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku manusia.
Menurut Soeitoe (1982: 31) pendidikan merupakan suatu
proses yang diorganisir dengan tujuan mencapai sesuatu hasil
yang tampak sebagai perubahan dalam tingkah laku.
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia,
terutama dalam membuka pikiran serta menerima hal-hal
baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Dengan
demikian melalui pendidikan maka pengetahuan dan
keterampilan seseorang akan bertambah.
Definisi pendidikan juga dapat dirumuskan dengan
merujuk kepada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang
tersebut dijelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa, dan negara (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Pasal 1, ayat 1).

9

Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat dijelaskan
sebagai berikut. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan
formal, nonformal, dan informal yang dapat saling
melengkapi dan memperkaya. Jenjang pendidikan formal
terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar
(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang
sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan
Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar
berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah
(MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah
Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
Sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan
setelah pendidikan menengah yang mencakup program
pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor
yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi (Lihat UU
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Bab VI, Pasal 13 sampai dengan Pasal 19).
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga
masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang
berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap
pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas
lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat
kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan
pendidikan yang sejenis. Sedangkan kegiatan pendidikan
informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk
kegiatan belajar secara mandiri.
Agama merupakan salah satu identitas penting dalam
kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam karyanya The

10
Elementary Form of The Religious Life Emile Durkeim
memberikan batasan atau definisi tentang agama. A religion is
a unified system of beliefs and practices relatives to sacred things,
that is say, thinks set apart and forbidden- beliefs and practices wich
unite in to one single moral community called Church, all those who
adhere to them (Durkheim; 1965: 62). Dari definisi tersebut bisa
dilihat bahwa bagi Durkhiem, dalam sebuah agama
mengandung tiga unsur pokok yaitu: sistem kepercayaan,
benda suci, dan praktek atau ritus keagamaan. Pemikiran
Durkheim tentang agama juga dapat ditelusuri dari
pembedaan apa yang disebut sacred dan profane. Semua
keyakinan agama, baik sederhana maupun kompleks,
mempunyai satu ciri yang sama, berisikan satu penggolongan
mengenai sesuatu yang baik, yang nyata maupun yang ideal.
Hal yang bersifat sakral adalah terkait dengan ritus-ritus
terhadap benda-benda suci. Sedangkan profane lebih
menunjuk kepada fakta sosial yang ada dalam kehidupan
keseharian individu sebagai bagian dari suatu jemaat.
Durkheim juga menjelaskan bahwa tinggi rendahnya
ikatan sosial atau integrasi dalam setiap kelompok agama
berpengaruh terhadap angka bunuh diri. Dalam Suicide (1897)
Durkheim menunjukkan bahwa bunuh diri terjadi jika
integrasi dalam kelompok sangat lemah, dan individu merasa
tidak memiliki arti dalam kelompoknya. Durkheim
memberikan contoh bahwa angka bunuh diri pada
masyarakat Protestan jauh lebih tinggi dibandingkan angka
bunuh diri pada masyarakat Katholik. Peningkatan angka
kasus bunuh diri tersebut tidak berkaitan dengan
pengetahuan. Bunuh diri terjadi karena kehilangan ikatan
dengan kelompok (jemaatnya). Integrasi dalam jemaat yang
beragama Protestan jauh lebih longgar dibandingkan dengan
jemaat dalam agama Katholik. Secara umum Durkheim

11

mengakui bahwa semua ajaran agama memiliki efek cegah
terhadap bunuh diri. Dengan kata lain, agama memandang
negatif terhadap fakta sosial bunuh diri. Tingginya angka
bunuh diri pada jemaat Protestan tidak terjadi karena alasan
teologis, tetapi semata-mata karena organisasi gereja yang
mengakibatkan integrasi antar jemaat menjadi longgar.
Status sosial (social status) merujuk pada posisi yang
diduduki seseorang. Posisi tersebut dapat mengandung
prestise tinggi, atau mengandung prestise rendah. Kita semua
menduduki berbagai status pada waktu yang bersamaan.
Seseorang dapat secara bersamaan menjadi laki-laki (atau
perempuan) sekaligus seorang pekerja, atau seorang
mahasiswa. Para sosiolog menggunakan istilah perangkat
status (status set) untuk merujuk semua status atau posisi yang
diduduki seseorang. Status seseorang merupakan kerangka
dasar untuk hidup dalam masyarakat (Henslin: 2006; 92).
Kedudukan (status) seseorang dalam masyarakat terkait
dengan posisi seseorang dalam struktur masyarakat. Mereka
dapat berada pada lapisan atas, lapisan menengah atau
lapisan bawah. Perilaku anggota masyarakat yang berada
dalam lapisan atas biasanya menjadi panutan bagi anggota
masyarakat dalam lapisan di bawahnya.
Perilaku seseorang (terutama untuk mengadopsi suatu
inovasi baru) yang bersifat fisik biasanya memerlukan biaya
untuk mendapatkan inovasi (teknologi) dimaksud. Dengan
demikian, tingkat pendapatan seseorang dapat memperlancar
atau menghambat proses adopsi tersebut. Seseorang yang
memiliki tingkat pendapatan tinggi akan lebih mudah
menjangkau inovasi (teknologi) baru, sebaliknya mereka yang
berpendapatan rendah untuk mengadopsi suatu teknologi

12
harus menunggu sampai inovasi (teknologi) tersebut pada
harga yang terjangkau.
Partisipasi adalah keterlibatan seseorang dalam
pengambilan keputusan mengenai tujuan, kelompok sasaran,
pesan-pesan, metode, dan evaluasi kegiatan (van den Ban &
Hawkins, 1988). Lebih lanjut dikatakan bahwa partisipasi
memungkinkan perubahan-perubahan yang lebih besar dalam
cara berpikir manusia. Perubahan dalam pemikiran dan
tindakan akan lebih sedikit terjadi dan perubahan-perubahan
ini tidak akan bertahan lama jika mereka menuruti saran-
saran agen penyuluhan dengan patuh, dari pada bila mereka
ikut bertanggungjawab.
Mubyarto (Taliziduhu Ndraha, 1990) mengartikan
partisipasi sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya
setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti
mengorbankan kepentingan diri sendiri. Berbagai bentuk atau
tahapan partisipasi seperti dikemukakan oleh Ndraha (1990)
antara lain:
a. Partisipasi dalam/melalui kontak dengan pihak lain
(contact change) sebagai salah satu titik awal perubahan
sosial.
b. Partisipasi dalam memperhatikan/menyerap dan memberi
tanggapan terhadap informasi, baik dalam arti menerima
(menaati, memenuhi, melaksanakan), mengiyakan,
menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya.
c. Partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk
pengambilan keputusan (penetapan rencana). Perasaan
terlibat dalam perencanaan perlu ditumbuhkan sedini
mungkin di dalam masyarakat. Partisipasi dalam arti ini
termasuk juga dalam hal pengambilan keputusan, baik

13

keputusan politik yang menyangkut nasib mereka,
maupun partisipasi dalam hal yang bersifat teknis.
d. Partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan.
e. Partisipasi dalam menerima, memelihara dan
mengembangkan hasil pembangunan.
f. Partisipasi dalam menilai pembangunan, yaitu
keterlibatan masyarakat dalam menilai sejauh mana
pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana dan
sejauh mana hasilnya dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan
terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi
adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu: (a)
kemauan, (b) kemampuan, dan (c) kesempatan bagi
masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992). Masyarakat
perlu mengalami proses belajar agar mampu mengetahui
kesempatan-kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Setelah mengetahui, kemampuan atau ketrampilan perlu
ditingkatkan agar dapat memanfaatkan kesempatan-
kesempatan itu. Akhirnya, diperlukan usaha khusus untuk
membuat masyarakat mau bertindak memanfaatkan
kesempatan memperbaiki kehidupannya.
Kemauan partisipasi bersumber pada faktor psikologis
individu yang menyangkut emosi dan perasaan yang melekat
pada diri manusia. Faktor-faktor yang menyangkut emosi dan
perasaan ini sangat kompleks sifatnya, sulit diamati dan
diketahui dengan pasti, dan tidak mudah dikomunikasikan,
akan tetapi selalu ada pada setiap individu dan merupakan
motor penggerak perilaku manusia. Faktor yang menarik
minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses
pembangunan apabila dengan berpartisipasi akan

14
memberikan manfaat, dan dengan manfaat itu dapat
memenuhi keperluan-keperluan masyarakat setempat
(Goldsmith dan Blustain dalam Jahi, 1988). Selain itu
kebutuhan masyarakat merupakan faktor pendorong
timbulnya partisipasi masyarakat dalam proses
pembangunan.
Tjokroamidjojo (1984) mengungkapkan ada tiga hal yang
perlu diperhatikan dalam rangka partisipasi masyarakat,
yaitu: (a) masalah kepemimpinan, (b) komunikasi, dan (c)
pendidikan. Peranan kepemimpinan sangat menentukan
karena pembangunan memerlukan pemimpin yang
mempunyai atau menerima gagasan pembaharuan, mampu
berkomunikasi dan menerjemahkan proses-proses yang
berlangsung. Untuk menggerakkan partisipasi masyarakat
diperlukan pemimpin-pemimpin formal yang mempunyai
legalitas dan pemimpin-pemimpin informal yang mempunyai
legitimitas. Komunikasi merupakan sarana yang
memungkinkan gagasan, kebijakan, dan rencana
mencerminkan kepentingan dan aspirasi masyarakat.
Komunikasi dimaksudkan untuk menumbuhkan berbagai
perubahan nilai dan sikap yang intern di dalam proses
pembaharuan. Selain memberikan kesadaran, pendidikan
memberikan prasyarat kemampuan serta pengembangan
nilai-nilai dan sikap-sikap yang berguna untuk memperbaiki
kualitas hidup seseorang.
Perspektif sosiologi mengamati pengaruh-pengaruh
sosial-ekonomi terhadap masyarakat, sedangkan perspektif
ekonomi memusatkan perhatian pada pilihan-pilihan yang
dibuat masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuannya. Bryant
dan White (1982) mengemukakan model ekonomi partisipasi
dengan rumus:

15

P = [(B x Pr) (DC + OC)] R
Partisipasi (P) adalah sebuah fungsi dari manfaat (Benefits B)
yang akan di-peroleh, dikalikan dengan probabilitas atau
kemungkinan untuk benar-benar memetik manfaat itu
(Probability Pr), dikurangi dengan dua jenis biaya yakni
biaya langsung (direct costs DC) dan biaya oportunitas
(opportunity costs OC); semuanya itu dikalikan dengan
besarnya resiko yang sanggup ditanggung (Risks R).
Tingkat kekosmopolitanan (cosmopoliteness) merupakan
gambaran sampai sejauh mana tingkat keterbukaan seseorang
terhadap dunia luar dan sejauh mana tingkat
keterendahannya terhadap media (media exposure). Dengan
demikian segala sesuatu yang memungkinkan seseorang lebih
terbuka terhadap dunia luar akan meningkatkan
kekosmopolitanan seseorang. Seseorang yang lebih sering
berkunjung atau bepergian ke tempat lain akan meningkatkan
kekosmopolitanannya, sebab mereka akan mendapatkan
informasi dan relasi baru yang dapat memberi tambahan
pengetahuan dan memperluas cakrawala berfikirnya.
Demikian halnya dengan media yang mereka manfaatkan,
semakin banyak mereka memanfaatkan atau tersentuh media
massa akan menambah pengetahuan dan memperluas
cakrawala berfikirnya pula.
Hasil penelitian Lies Fahimah (2001) tentang sikap
pekerja sosial panti terhadap etika kerja menyatakan bahwa
pada taraf kepercayaan 99%, kekosmopolitan berhubungan
nyata secara positif dengan sikap. Dalam penelitian tersebut
yang dimaksud dengan kekosmopolitan adalah frekuensi
melakukan kontak dengan sumber informasi, frekuensi
mengikuti pelatihan, frekuensi mengikuti pembinaan secara

16
fungsional, dan frekuensi mencari informasi melalui media
massa. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan dasar dalam
mencari informasi sejauhmana hubungan antara
kekosmopolitan peserta sosialisasi PBM dengan aspek
perilaku yang salah satunya adalah sikap.
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh
penginderaan. Penginderaan merupakan suatu proses
diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.
Stimulus yang mengenai individu tersebut kemudian
diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu
menyadari tentang apa yang diinderanya (Bimo Walgito,
2003: 45). Proses penginderaan terjadi setiap saat individu
menerima stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indera
(penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan
pengecapan/perasaan). Stimulus dapat berupa obyek yang
bersifat konkret maupun abstrak. Obyek konkret berupa
benda dapat mengenai semua jenis indera manusia,
sedangkan obyek yang abstrak dapat diindera setelah melalui
proses audial dan atau visual. Selanjutnya dikatakan bahwa
persepsi merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh
apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan,
pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan
aspek-aspek lain yang ada dalam individu akan ikut berperan
dalam persepsi tersebut.
Secara rinci van den Bann & Hawkins (1996) menyatakan
lima prinsip umum persepsi, yang mencakup relativitas,
selektivitas, terorganisasi, arah, dan perbedaan kognitif. Dari
lima prinsip tersebut dapat dipahami bahwa (1) persepsi
seseorang terhadap sesuatu bersifat relatif, meskipun
obyeknya sama, namun persepsinya dapat berbeda-beda,
dapat melebihi atau kurang dari yang sebenarnya; (2) persepsi

17

terhadap sesuatu bersifat selektif, hal ini disebabkan kapasitas
memproses informasi yang dimiliki indera kita terbatas; (3)
persepsi kita terhadap sesuatu terorganisir yang didasari oleh
pengalaman yang dimiliki; (4) persepsi dapat memilih dan
mengatur serta menafsirkan pesan yang ditangkap melalui
pengamatan; (5) karena perbedaan kognitif, persepsi
seseorang dapat berlainan satu sama lain meskipun dalam
situasi yang sama.
Obyek yang diindera akan dipersepsi oleh seseorang dan
menjadi dasar pemahaman seseorang terhadap sesuatu.
Litterer (Asngari, 1982:16) menyatakan bahwa persepsi
seseorang individu dipengaruhi oleh keberadaannya dalam
melihat situasi, fakta atau suatu aksi. Lebih lanjut dinyatakan
bahwa ketika seseorang menangkap informasi maka terjadilah
pembentukan persepsi, kemudian diikuti pemilihan atau
seleksi terhadap informasi, penutup, dan interpretasi terhadap
obyek yang diindera. Dari pengertian tersebut dapat
dipahami bahwa bila materi PBM disosialisasikan maka
seseorang dapat menangkap materinya melalui indera
penglihatan dan pendengaran, hal ini selanjutnya akan
membentuk persepsi seseorang terhadap PBM tersebut.

2. Aspek Perilaku dan Perubahannya
Dalam ilmu psikologi sosial dinyatakan bahwa perilaku
seseorang dapat dibedakan menjadi tiga aspek penyusunnya,
yakni pengetahuan (aspek cognitif), sikap (aspek persuasif), dan
keterampilan (aspek psikomotorik). Pengetahuan adalah semua
buah pikiran dan pemahaman kita tentang dunia, yang
diperoleh tanpa melalui daur hipotetiko-dedukto-verifikatif
(gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan
pengajuan hipotesa) atau tanpa metode ilmiah. Dengan

18
asumsi bahwa PBM ditetapkan tanpa melalui metode ilmiah,
maka substansi yang terkandung dalam PBM dan menjadi
materi dalam sosialisasi adalah pengetahuan, yaitu
pengetahuan tentang pemeliharaan kerukunan umat
beragama, pemberdayaan FKUB, dan pendirian rumah ibadat.
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia
yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu,
namun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan
dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri
manusia itu. Hubungan antara sikap dan perilaku seseorang,
menurut Ajzen (1988) bahwa keyakinan tentang konsekuensi
perilaku dan penilaian tentang keyakinan akan
menumbuhkan sikap seseorang terhadap sesuatu obyek.
Sikap tersebut bersama-sama dengan norma subyektif yang
mereka miliki selanjutnya melahirkan intensi untuk
berperilaku.
Dalam Taksonomi Bloom, keterampilan ini merupakan
terjemahan dari psychomotor yaitu kompetensi yang berkaitan
dengan tugas dalam suatu sistem dan perilaku sistematis yang
relevan untuk mencapai tujuan. Lebih spesifik lagi
keterampilan ini dapat bermakna kemampuan (ability) yang
menggambarkan suatu sifat (bawaan atau dipelajari) yang
memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang
bersifat mental atau fisik.
Perilaku sosial dapat dipandang dalam berbagai
perspektif, seperti perspektif sosiologi, atau perspektif
psikologi. Beberapa teori sosiologi menjelaskan keteraturan
sosial mendasar yang berhubungan dengan proses-proses
sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas.
Solidaritas sosial dan integrasi merupakan permasalahan
substantif yang diperhatikan Durkheim. Pandangan Durkeim

19

didasarkan pada asumsi bahwa gejala sosial itu riil dan
mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang
berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau
karakteristik individu lainnya. Dalam pandangannya,
kenyataan atau fakta sosial bersifat eksternal, memaksa
individu, dan harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lain.
Pandangan berbeda diungkapkan oleh Weber, bahwa
kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada
motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial (Johnson,
1994).

3. Teori Peran
Para sosiolog melihat peran sebagai hal yang hakiki bagi
kehidupan sosial. Pada saat seseorang dilahirkan, peran (role)
yang mencakup perilaku, kewajiban, dan hak-hak yang
melekat pada status, telah ditentukan bagi orang tersebut.
Masyarakat menunggu dengan uluran tangan untuk
mengajarkan kepada orang tersebut bagaimana masyarakat
berharap agar berperilaku sebagai anak laki-laki atau anak
perempuan. Peran laksana sebuah pagar. Peran
memungkinkan kebebasan tertentu bagi kita, tetapi bagi
sebagian besar di antara kita, kebebasan tersebut bersifat
terbatas. Arti penting sosiologis dari peran ialah bahwa peran
memaparkan apa yang diharapkan dari orang lain. Ketika
individu di seluruh masyarakat menjalankan peran mereka,
peran tersebut saling bertaut untuk membentuk sesuatu yang
disebut masyarakat (Henslin; 2006: 95). Peran (role)
merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status). Bila
seseorang atau lembaga melaksanakan hak-hak dan
kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka
ia sudah menjalankan suatu peranan. Hal yang terpenting dari

20
konsep peranan adalah bahwa hal tersebut dapat mengatur
perilaku seseorang individu atau lembaga dalam kehidupan
bermasyarakat.

4. Diseminasi informasi
Diseminasi informasi merupakan upaya penyebarluasan
informasi dari sumber kepada khalayak sasaran. Kegiatan
diseminasi dapat dilakukan melalui pendekatan massa,
kelompok, maupun perorangan. Menurut Rogers &
Shoemaker (1987), penyebaran informasi dalam sistem sosial
dapat dihambat atau dipercepat oleh struktur sosial yang
formal ataupun informal. Kondisi demikian dikenal sebagai
efek sistem atau pengaruh sistem, sebab norma-norma
status sosial dan hirarkhi yang ada di masyarakat akan
mempengaruhi perilaku anggota masyarakat.
Dalam kegiatan sosialisasi PBM, proses diseminasi
dilakukan oleh sumber (aparat Departemen Agama atau dinas
instansi terkait) kepada khalayak sasaran (masyarakat luas).
Namun karena keterbatasan tenaga, biaya, dan waktu
khalayak sasaran terbatas pada tokoh-tokoh agama yang ada
di berbagai kota terpilih, melalui pendekatan kelompok,
sasaran sosialisasi dikumpulkan pada suatu tempat untuk
mendapatkan informasi tentang PBM yang disampaikan
melalui ceramah dan tanya jawab. Melalui pergaulan dan
kehidupan sehari-hari dalam masyarakat diharapkan terjadi
proses lanjutan, yaitu proses difungsi artinya tokoh agama
yang telah mengetahui informasi tentang PBM dapat
menyebarluaskan kepada anggota kelompoknya, dan anggota
kelompok yang sudah mengetahui informasi PBM tersebut
juga menyebarluaskan kepada anggota masyarakat yang lain,

21

begitu seterusnya sampai semua anggota masyarakat
mengetahui materi PBM tersebut.

5. Dinamika Kelompok/Organisasi
Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui
asal katanya, yaitu dinamika dan kelompok. Dinamika adalah
sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu
bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara
memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya
interaksi dan saling ketergantungan antara anggota kelompok
dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat
terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok
(group spirit) terus-menerus ada dalam kelompok itu, oleh
karena itu kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap
saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah. Slamet
(2003) meyatakan bahwa dinamika kelompok merupakan
aktivitas, sepak terjang anggota, kekuatan-kekuatan yang
terdapat di dalam atau luar lingkungan yang menentukan
perilaku anggota dalam mencapai tujuan bersama atau
kelompok.
Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang
merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang
intensif dan mempunyai tujuan bersama. Beberapa pakar
mendefinisikan kelompok sebagai beberapa orang yang
bergaul satu dengan yang lain. Kurt Lewin berpendapat the
essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its
members but their interdependence. Kelompok adalah suatu
unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai
kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara
dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antar anggota

22
kelompok dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-
masing anggota kelompok:
(1) Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam
kelompok tersebut
(2) Adanya saling menghomati di antara anggota-
anggotanya
(3) Adanya saling menghargai pendapat anggota lain
(4) Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di
antara anggota kelompok
Menurut Reitz (Santosa: 2004), kelompok mempunyai
karakteristik sebagai berikut: (1) terdiri dari dua orang atau
lebih, (2) berinteraksi satu sama lain, (3) saling membagi
beberapa tujuan yang sama, dan (4) melihat dirinya sebagai
suatu kelompok.
Dari berbagai pendapat ahli pengertian kelompok tidak
terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang
melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan bersama. Kelompok merupakan suatu kumpulan
yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki
hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan
yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami
secara bersama. Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan
sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang
selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri
dengan keadaan yang selalu berubah-rubah. Dinamika
kelompok mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
(1) Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok
terhadap anggota kelompok lain, sehingga dapat
menimbulkan rasa saling menghargai

23

(2) Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat
saling menghormati dan saling menghargai pendapat
orang lain
(3) Menciptakan komunikasi terbuka terhadap sesama
anggota kelompok
(4) Menimbulkan adanya itikad baik di antara sesama
anggota kelompok.
Dinamika kelompok telah menjadi bahan perbincangan
dari para ahli psikologi, ahli sosiologi, ahli psikologi sosial,
maupun ahli yang menganggap dinamika kelompok sebagai
eksperimen. Hal tersebut membawa pengaruh terhadap
pendekatan-pendekatan yang ada dalam mempelajari
dinamika kelompok:
(1) Pendekatan oleh Bales dan Homans
Pendekatan ini mendasarkan pada konsep adanya aksi,
interaksi, dan situasi yang ada dalam kelompok. Homans
menambahkan, dengan adanya interaksi dalam kelompok,
maka kelompok yang bersangkutan merupakan sistem
interdependensi, dengan sifat-sifat:
1) Adanya stratifikasi kedudukan warga.
2) Adanya diferensiasi dalam hubungan dan pengaruh
antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain.
3) Adanya perkembangan pada sistem intern kelompok
yang diakibatkan adanya pengaruh faktor-faktor dari
luar.
(2) Pendekatan oleh Stogdill
Pendekatan ini lebih menekankan pada sifat-sifat
kepemimpinan dalam bentuk organisasi formal. Stogdill
menambahkan bahwa yang dimaksud kepemimpinan
adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas kelompok

24
yang terorganisir sebagai usaha untuk mencapai tujuan
kelompok. Kelompok terorganisir yang dimaksud disini
adalah kelompok yang tiap-tiap anggotanya mendapat
tanggungan dalam hubungannya dengan pembagian
tugas untuk mencapai kerja sama dalam kelompok.
(3) Pendekatan dari ahli Psycho Analysis (Freud dan
Scheidlinger)
Scheidlinger berpendapat bahwa aspek-aspek motif dan
emosional memegang peranan penting dalam kehidupan
kelompok. Kelompok akan terbentuk apabila didasarkan
pada kesamaan motif antar anggota kelompok, demikian
pula emosional yang sama akan menjadi tenaga
pemersatu, sehingga kelompok tersebut semakin kokoh.
Freud berpendapat bahwa di dalam setiap kelompok perlu
ada kesatuan kelompok, agar kelompok tersebut dapat
berkembang dan bertahan lama. Kesatuan kelompok akan
terbentuk apabila tiap-tiap anggota kelompok
melaksanakan identifikasi bersama antara anggota yang
satu dengan yang lain.
(4) Pendekatan dari Yennings dan Moreno
Yennings mengungkapkan konsepsinya tentang pilihan
bebas, spontan, dan efektif dari anggota kelompok yang
satu terhadap angota kelompok yang lain dalam rangka
pembentukan ikatan kelompok. Moreno membedakan
antara psikhe group dan sosio group sebagai berikut:
(a) Psikhe group merupakan suatu kelompok yang
terbentuk atas dasar suka/tidak suka, simpati, atau
antipati antar anggota
(b) Sosio group merupakan kelompok yang terbentuk atas
dasar tekanan dari pihak luar.
Yennings menambahkan bahwa pelaksanaan tugas akan
lebih lancar apabila pembentukan Sosio group disesuaikan

25

dengan Psikhe group, dengan memperhatikan faktor-faktor
efisiensi kerja dan kepemimpinan dalam kelompok.
Analisis terhadap dinamika kelompok pada hakikatnya
dapat dilakukan melalui dua macam pendekatan, yakni
pendekatan sosiologis dan pendekatan psikososial (Totok
Mardikanto, 1992: 195-196). Pendekatan sosiologis
menganalisis bagian-bagian atau komponen kelompok dan
analisis terhadap proses sistem sosial. Pendekatan psikososial
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika
kelompok itu sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa ditinjau
dari proses sosial, analisis terhadap suatu kelompok/
organisasi mencakup: komunikasi (communication), pemeli-
haraan batas (boundary maintenance), kaitan sistemik (systemic
linkage), pelembagaan (institutionalization), sosialisasi
(socialization), dan kontrol sosial (social control).

6. Kerukunan Umat Beragama
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan
sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling
pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan
dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (Pasal 1 Peraturan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006).
Terminologi kerukunan umat beragama pertama kali
dikemukakan oleh K.H.Mohammad Dachlan pada acara
pembukaan Musyawarah Antar Umat Beragama yang
dilaksanakan tanggal 30 Nopember 1967. Beliau menyatakan:

26
adanya kerukunan antar golongan beragama adalah
merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya stabilitas politik
dan ekonomi yang menjadi program Kabinet Ampera. Oleh
karena itu kami mengharapkan sungguh adanya kerjasama
antara Pemerintah dan masyarakat beragama untuk
menciptakan iklim kerukunan umat beragama ini, sehingga
tuntutan hati nurani rakyat dan cita-cita kita bersama ingin
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang
dilindungi Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar dapat
terwujud (Sudjangi. 1992/1992,8-9). Penyelenggaraan
musyawarah dilatarbelakangi oleh situasi yang kurang
menguntungkan baik antara umat beragama, khususnya
antara Islam dan Kristen, maupun antara umat beragama
dengan Pemerintah. Pembubaran PKI dan penangkapan para
pengikutnya telah menimbulkan kecenderungan retaknya
hubungan antar pemeluk agama, bahkan tidak jarang
berlanjut menjadi konflik yang menegangkan. (Kamal
Muchtar. 1998. dalam Azyumardi Azra dan Syaiful Umum,
259).
Dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia, masalah kerukunan umat beragama menjadi
sesuatu yang penting untuk diperhatikan sebagai konsekuensi
dari pluralitas masyarakat khususnya dilihat dari pemelukan
agama. Oleh karena itu, Departemen Agama sebagai instansi
yang bertugas membantu Presiden dalam melaksanakan
pembangunan bidang agama, memberi perhatian dan
prioritas terhadap berbagai program yang dapat menciptakan
kondisi rukun. Secara yuridis formal, pentingnya masalah
kerukunan sebagai masalah nasional telah dituangkan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun
2004 2009 sebagaimana ditetapkan melalui Peraturan
Presiden Nomor 25 tahun 2005.

27


B. Kerangka Berpikir
Setelah ditetapkannya PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006,
proses sosialisasi telah dilakukan oleh departemen maupun
dinas/instansi terkait. Sasaran utama sosialisasi PBM di
tingkat provinsi/kabupaten/kota adalah aparat pemerintah
dan tokoh-tokoh agama di daerah. Setelah kurang lebih satu
tahun proses sosialisasi dilakukan, perlu diketahui
keberhasilan atau efektivitas sosialisasi PBM yang telah
dilakukan tersebut.
Karakteristik seseorang (faktor internal) yang meliputi
umur, agama, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan, kekosmopolitan, partisipasi dalam sosialisasi
mempengaruhi perubahan perilakunya, termasuk perubahan
perilakunya setelah seseorang mendapatkan atau mengikuti
sosialisasi materi PBM.
Persepsi terhadap Sosialisasi PBM yang mencakup
kemampuan fasilitator, metode, dan lain-lain, diharapkan
mampu mengubah perilaku sasaran tentang substansi PBM.
Perubahan perilaku sasaran tersebut dapat dikelompokkan
menjadi dua aspek, yakni pengetahuan tentang substansi
PBM, dan sikap terhadap substansi PBM, serta kemampuan
sasaran dalam mengimplementasikan substansi PBM dalam
kehidupan bermasyarakat.
Materi PBM sebagai suatu inovasi dalam kehidupan
bermasyarakat hanya mengandung komponen ide (gagasan)
dan tidak memiliki komponen obyek (fisik), serta dalam
pelaksanaan sosialisasi hanya berupa aspek pengetahuan dan
sikap, sehingga perubahan perilaku yang terkait dengan
materi PBM hanya dapat kita ukur dari aspek pengetahuan

28
dan sikap sasaran sosialisasi terhadap materi PBM. Meskipun
perubahan aspek keterampilan tidak dapat diukur secara
langsung namun dapat dilihat dalam kehidupan
bermasyarakat dalam bentuk outcome [diseminasi informasi
PBM, peraturan terkait PBM (prosedur), peran aparat Pemda
dalam KUB, peran majelis agama dalam KUB, dinamika
FKUB].
Manfaat yang dapat dirasakan dengan adanya sosialisasi
PBM diharapkan akan berdampak pada terciptanya kondisi
kerukunan umat beragama. Sesuai substansi PBM, dampak
tersebut dirasakan melalui adanya pemenuhan syarat-syarat
pendirian rumah ibadat dan meningkatnya derajat toleransi
beragama di daerah. Namun demikian, fakta di masyarakat
dapat dijumpai adanya faktor pendukung dan faktor
penghambat terjadinya dampak (impact) sosialisasi PBM
tersebut. Secara skematis, hubungan antar perubah dalam
penelitian ini dapat dilihat pada diagram atau Gambar 1.
C. Hipotesis
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berfikir,
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Karakteristik responden berhubungan dan berpengaruh
nyata terhadap persepsi tentang sosialisasi PBM, serta
terhadap perilaku penerapan PBM.
2. Persepsi tentang sosialisasi PBM berhubungan dan
berpengaruh nyata terhadap perilaku penerapan PBM.
3. Perilaku penerapan PBM berpengaruh nyata terhadap
manfaat sosialisasi PBM.
4. Manfaat sosialisasi PBM berpengaruh nyata terhadap
kerukunan umat beragama.


29



30

Gambar 1. Hubungan antar variabel penelitian
(X1)
Karakteristik responden
Usia
Jenis kelamin
Pekerjaan
Lama sekolah
Jumlah
pendapatan
Agama
Kekosmopolitan
Frekuensi ikut
sosialisasi
Partisipasi dalam
sosialisasi

(X2)Persepsi
terhadap
Sosialisasi
PBM
- tujuan
- materi
- metode
- media
- kemampuan
fasilitator
- alat
- bahan
- tempat
- sarana
- prasarana
- durasi

(Y1) Perilaku
penerapan PBM
(output)
- Tingkat Pengetahuan
- Derajad Sikap
(Y2) Manfaat sosialisasi
(outcome)
Tingkat diseminasi
informasi PBM
Peraturan terkait PBM
Peran Pemda dalam KUB
Peran majelis dan
pemuka agama dalam
KUB
Dinamika FKUB

Kerukunan beragama
(dampak)
- Pemenuhan syarat
pendirian rumah
ibadat
- Tingkat toleransi
antar umat agama

Penghambat
Penghambat
Penghambat Pendukung
Pendukung
Pendukung

31


32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah eks peserta sosialisasi
PBM di 13 kota pada 13 provinsi yang seluruhnya berjumlah
650 orang. Dengan rumus Yamane (Jalaludin Rakhmat, 2002)
pada tingkat presisi 95%, jumlah sampel yang diperlukan
adalah sebanyak 248 orang yang kemudian digenapkan
menjadi 260 orang. Sampel ditarik dengan teknik proportional
random sampling, prosedurnya sebagai berikut: populasi
dikelompokkan menurut lokasi kota; proporsi untuk tiap
lokasi sebesar 40%; dari tiap lokasi sampel ditarik secara acak
sederhana. Hasilnya tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Populasi dan Sampel
No Lokasi Jumlah populasi Jumlah sampel
1 Banda Aceh 50 20
2 Medan 50 20
3 Padang 50 20
4 Tanjung Pinang 50 20
5 Semarang 50 20
6 Surabaya 50 20
7 Denpasar 50 20
8 Kupang 50 20
9 Pontianak 50 20
10 Palangkaraya 50 20
11 Banjarmasin 50 20
12 Kendari 50 20
13 Ambon 50 20
Jumlah 650 260

33

B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei, artinya
penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data
yang pokok (Masri Singarimbun, 1989: 3). Senada dengan
pendapat tersebut Kerlinger (2004: 660) menyatakan bahwa
penelitian survei mengkaji populasi yang besar maupun
yang kecil dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang
dipilih dari populasi tersebut untuk menemukan insidensi,
distribusi, dan interrelasi relatif dari variabel-variabel
sosiologis dan psikologis.
Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional, artinya
penelitian ini berusaha menggambarkan secara deskriptif
temuan data di lapangan, dan berusaha mencari hubungan
antara data yang bersifat bebas (independent variable) dengan
data yang bersifat terikat (dependent variable). Penelitian ini
juga bersifat confirmatory, artinya data yang dikumpulkan
dengan cara mengkonfirmasi data yang sudah ada kepada
sampel atau responden dengan cara wawancara langsung
(interview).
C. Data dan Instrumentasi
Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik
responden, persepsi responden terhadap sosialisasi PBM,
tingkat pengetahuan dan derajat sikap tentang PBM, tingkat
diseminasi informasi PBM, peraturan daerah terkait PBM,
peran pemerintah daerah dan majelis agama dalam
kerukunan umat beragama, dinamika FKUB, pemenuhan
syarat pendirian rumah ibadat, tingkat toleransi antar umat
beragama.

34
Data primer dikumpulkan dari responden dengan
berpedoman pada instrumen kuesioner dan pedoman
wawancara yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data
primer juga dilengkapi dengan catatan hasil pengamatan
oleh peneliti selama melaksanakan pengumpulan data. Data
ini diharapkan dapat melengkapi data dan gambaran umum
tentang sampel dan wilayah penelitian. Data sekunder
dikumpulkan dari dokumen-dokumen yang ada pada
lembaga atau dinas instansi yang terkait dengan penelitian
ini.

D. Validitas dan Reliabilitas Pengukuran
Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Dalam
penelitian ini menggunakan kuesioner, maka kuesioner yang
digunakan harus mengukur apa yang ingin diukur.
Validitas alat pengumpul data yang digunakan adalah
validitas isi (content validity). Validitas isi suatu alat pengukur
ditentukan oleh sejauhmana isi alat pengukur tersebut
mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek
kerangka konsep.
Reliabilitas instrumen dihitung dengan teknik split half
setelah pelaksanaan ujicoba kuesioner di DKI Jakarta. Dari
perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabilitas sebesar
0.857. Dengan demikian instrumen dianggap cukup reliabel.

E. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan oleh tenaga peneliti dan litkayasa
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Departemen Agama RI
pada akhir bulan Juli sampai dengan awal Agustus 2007.
Petugas pengumpul data sebelumnya telah mengikuti
pembekalan atau pelatihan pengumpulan data.

35


F. Analisis Data
Deskripsi berbagai perubah dalam penelitian ini
dilakukan melalui distribusi frekuensi. Hubungan variabel
berskala nominal yaitu jenis kelamin, pekerjaan, sumber
informasi, dan agama dianalisis dengan menggunakan uji
Kontingensi (Siegel, 1985). Hubungan variabel berskala
ordinal ke atas dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman
dengan rumus sebagai berikut:
rs = 1 -
N N
d
N
i
i

=
3
1
2
6

Keterangan: N = jumlah sampel
di = perbedaan antar kedua ranking
Penentuan pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat menggunakan analisis regresi linear dengan bantuan
perangkat lunak Statistical Package for Social Sciences (SPSS).
Sebelum dianalisis, data terlebih dahulu diolah melalui
verifikasi, skoring dan tabulasi.


36
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini dilihat dari
unsur usia, lama pendidikan dalam tahun, jenis kelamin,
penghasilan perbulan, frekuensi ikut sosialisasi, dan
penyebarluasan informasi. Secara kuantitatif karakteristik
responden dapat dibaca pada tabel berikut.
Tabel 2. Rataan Karakteristik Responden
No. Karakteristik Satuan
1. Rataan usia (th) 45
2. Rataan lama pendidikan (th) 15
3. Rataan jenis kelamin (%)
Laki-laki
Perempuan

81
19
4. Rataan penghasilan /bulan (rp) 1.789.000
5. Rataan frekuensi ikut sosialisasi 2
6. Rataan penyebarluasan informasi Seagama
Tidak seagama
3
2

Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa:
(1) Rata-rata umur responden adalah 45 tahun yang berarti
responden masih termasuk dalam kategori umur
produktif; namun mendekati umur yang memiliki retensi
(daya serap) yang cukup terhadap materi pembelajaran.
Dengan demikian sasaran sosialisasi PBM masih cukup

37

mampu menyerap dan memahami materi PBM.
Pemahaman yang memadai diharapkan dapat
disebarluaskan kepada anggota masyarakat secara benar,
sehingga materi PBM akan tersebar meluas (terdifusi)
dalam masyarakat dalam waktu yang relatif cepat.
(2) Rata-rata tingkat pendidikan responden adalah 15 tahun,
yang berarti mereka telah mengenyam pendidikan tinggi.
Pendidikan sasaran sosialisasi PBM yang cukup tinggi
memungkinkan pemahaman sasaran sosialisasi terhadap
materi PBM cukup baik. Pemahaman yang cukup baik
tersebut diharapkan menjadi modal baginya dalam
menyebarluaskan pengetahuannya tentang PBM kepada
anggota masyarakat di sekitarnya.
(3) Responden sebagian besar (81%) adalah laki-laki. Hal ini
menunjukkan keterlibatan kaum perempuan masih perlu
ditingkatkan, mengingat populasi penduduk negara kita
lebih dari 50% adalah perempuan. Keseimbangan
responden berdasarkan jenis kelamin akan dapat
meningkatkan efektivitas proses difusi informasi materi
PBM di dalam masyarakat.
(4) Rata-rata pendapatan responden sebesar Rp.1.789.000 per
bulan; yang sebagian besar mereka adalah pegawai
negeri. Hasil ini menunjukkan secara personal sasaran
sosialisasi PBM termasuk dalam kelas ekonomi
menengah. Kondisi tersebut memungkinkan mereka
tidak menghadapi kendala ekonomis dalam keperluan
penyebaran informasi materi PBM kepada masyarakat di
lingkungannya.
(5) Rata-rata responden telah mengikuti sosialisasi PBM
sebanyak 2 kali. Pengulangan merupakan salah satu

38
teknik meningkat-kan efektivitas komunikasi. Dengan
adanya pengulangan dalam menerima materi PBM
diharapkan penguasaan mereka terhadap materi PBM
akan semakin meningkat. Penguasaan materi PBM yang
semakin baik menjadi modal berharga baginya dalam
upaya menyebarluaskan materi PBM kepada anggota
masyarakat di lingkungannya.
(6) Responden telah melakukan penyebarluasan informasi
kepada umat seagama sebanyak 3 kali, dan kepada umat
berbeda agama sebanyak 2 kali. Hasil tersebut
menunjukkan frekuensi penyebarluasan informasi
kepada umat seagama lebih tinggi dibandingkan kepada
umat berbeda agama. Namun demikian, penyebaran
kepada umat berbeda agama sudah mencapai 2 kali atau
66,67 persen dari frekuensi penyebaran kepada umat
seagama. Hal ini menunjukkan bahwa upaya saling
pengertian antar umat beragama dalam memahami
materi PBM sudah cukup baik.
Dilihat dari agama yang dianut responden, secara
berturut-turut 48%, 17%, 14%, 11%, 8%, dan 2% beragama
Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Sementara itu, jika dilihat dari jenis pekerjaan responden,
secara berturut-turut sebagai PNS, karyawan swasta,
rohaniawan, wiraswasta, pensiunan, wartawan, LSM, dan
pedagang sebesar 62%, 13%, 9,5%, 7%, 6%, 1%, 1%, dan 5%.
Partisipasi responden dalam sosialisasi PBM
menunjukkan bahwa mereka berperan sebagai penerima
(43%) serta sebagai penerima dan pemberi (41%). Dengan
kata lain, sebanyak 41 persen responden setelah mengikuti
sosialisasi juga berperan sebagai pemateri sosialisasi kepada
anggota kelompok masyarakat yang lain.

39


B. Persepsi Masyarakat terhadap Sosialisasi PBM
Persepsi responden terhadap sosialisasi PBM, tersaji
pada Tabel 3. Dari tabel tersebut dapat dipahami bahwa
secara umum persepsi responden masih dalam kategori
cukup, namun waktu penyelenggaraan sosialisasi dirasakan
masih kurang mencukupi. Oleh karena itu, pelaksanaan
sosialisasi seharusnya ditambah durasinya. Penambahan
waktu tersebut dapat digunakan untuk berdiskusi,
pemahaman lebih lanjut tentang materi, pemberian
kesempatan kepada peserta untuk menanggapi atau
bertanya, pembahasan kasus, pemberian materi melalui
simulasi atau role play, dan sebagainya.
Tabel 3. Sebaran Persepsi Responden Terhadap
Sosialisasi PBM
No Obyek Skor Makna
1 Tujuan 3.7 Tujuan dijelaskan oleh
narasumber, dan hampir tercapai
2 Materi 3.8 Agak mudah dipahami; hampir
memadai untuk PBM
3 Metode 3.8 Cukup sesuai dengan materi;
agak beragam
4 Narasumber 4.0 Menguasai dan menjelaskan
materi dengan baik
5 Tempat 4.0 Nyaman
6 Alat bantu 3.6 Tersedia tetapi kurang lengkap
7 Waktu 3.2 Kurang cukup untuk memahami
materi

40
8 Media 4.2 Membantu untuk memahami
materi
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
C. Tingkat Pengetahuan tentang PBM
Empat unsur pengetahuan responden tentang PBM
masih berada dalam rentang kategori kurang sampai cukup,
sehingga perlu ditingkatkan menjadi baik. Hal ini
dimaksudkan agar masyarakat lebih teliti dalam
mengidentifikasi masalah yang menjadi penyebab
menurunnya kerukunan beragama dalam masyarakat, serta
solusinya. Hal ini disebabkan antara lain kurangnya waktu
sosialisasi, materi PBM belum diketahui sebelumnya, dan
setelah sosialisasi minat responden untuk mendalami PBM
kurang. Pengetahuan tentang PBM merupakan salah satu
indikator tingkat penguasaan materi PBM yang selanjutnya
akan menjadi modal dalam proses penyebarluasan informasi
kepada umat di sekelilingnya. Oleh karena itu perlu
diupayakan peningkatan daya serap materi PBM selama atau
setelah kegiatan sosialisasi. Peningkatan tersebut dapat
dilakukan misalnya melalui penambahan waktu sosialisasi,
pelaksanaan diskusi terkait kasus-kasus kerukunan umat
beragama, peningkatan kualitas narasumber, penggunaan
media pembelajaran secara lebih efektif dan sebagainya.
Tabel 4. Tingkat Pengetahuan Responden tentang PBM
No Obyek Skor Makna
1 Kerukunan umat
beragama
2.7 Mampu mengidentifikasi sebagian
kecil ciri-ciri KUB
2 Tugas kepala
daerah dalam
pemeliharaan
KUB
2.9 Mampu mengidentifikasi sebagian
kecil tugas kepala daerah dalam
pemeliharaan KUB

41

3 Pemberdayaan
FKUB
2.9 Mampu menjelaskan sebagian
kecil: makna FKUB; tugas FKUB;
keanggotaan dan kepemimpinan
FKUB; dewan penasehat FKUB
4 Pendirian rumah
ibadat
2.8 Mampu mengidentifikasi sebagian
kecil: penyebab masalah dalam
pendirian rumah ibadat; prinsip
dan syarat pendirian rumah
ibadat, syarat penggunaan
bangunan non rumah ibadat
untuk rumah ibadat; upaya
penyelesaian perselisihan akibat
pendirian rumah ibadat
Keterangan: Skor dalam rentang 1-4
D. Derajat Sikap terhadap PBM
Sikap peserta sosialisasi terhadap materi PBM secara
rinci disajikan pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Derajat Sikap Responden terhadap PBM
No Obyek Skor Makna
1 Syarat pendirian rumah
ibadat
4.2 Setuju/menerima
2 Pendirian rumah ibadat
agama minoritas
3.2 Ragu-ragu
3 Pendirian rumah ibadat
agama lain
3.6 Ragu-ragu
4 Penggunaan bangunan non
rumah ibadat untuk rumah
ibadat
3.3 Ragu-ragu

42
5 Kewenangan
bupati/walikota dalam
pemberian/penolakan ijin
rumah ibadat
4.2 Setuju/menerima
6 Keberadaan FKUB 4.4 Setuju/menerima
7 Kepemimpinan agama
mayoritas dalam FKUB
3.6 Ragu-ragu
8 Keanggotaan agama
mayoritas dalam FKUB
3.9 Ragu-ragu
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
Dari Tabel 5 dapat dimengerti bahwa ada dua hal yang
perlu diperhatikan, yaitu sikap ragu-ragu responden
terhadap pendirian rumah ibadat agama minoritas dan
terhadap penggunaan bangunan nonrumah ibadat untuk
rumah ibadat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa
masyarakat belum sepenuhnya dapat menerima pendirian
rumah ibadat di wilayahnya bila ada penganut agama yang
minoritas. Hal ini dapat dipahami karena selama ini
masyarakat menganggap bahwa rumah ibadat dianggap
sebagai simbol keberadaan kelompok mayoritas agama di
suatu wilayah. Keraguan masyarakat terhadap pemanfaatan
bangunan nonrumah ibadat untuk rumah ibadat
dilatarbelakangi oleh seringnya terjadi penyalahgunaan oleh
kelompok agama tertentu, sementara sebagian masyarakat
sekitar menghendaki peraturan dipatuhi. Masalah tersebut
timbul karena beberapa faktor: masih relatif kuatnya
fanatisme keagamaan kelompok, kurangnya wawasan
multikultural, dan terbatasnya kegiatan kerjasama sosial
lintas kelompok keagamaan.

43

Sementara itu sikap ragu-ragu peserta juga ditunjukkan
terhadap kepemimpinan agama mayoritas dalam FKUB dan
keanggotaan agama mayoritas dalam FKUB. Kondisi seperti
ini harus dicarikan solusi yang tepat untuk masing-masing
daerah sebab kondisi dan komposisi umat beragama di
setiap daerah beragam. Kepemimpinan agama mayoritas
dalam FKUB seharusnya tidak menjadi mutlak, tetapi dapat
ditentukan secara demokratis dalam proses pemilihannya.
Hal ini dapat digunakan sebagai pembelajaran dalam hidup
bermasyarakat yang dimulai dari proses demokratisasi
dalam FKUB. Keraguan terhadap keanggotaan agama
mayoritas dalam FKUB menjadi salah satu penguatan
tentang perlunya Peraturan Gubernur atau peraturan lainnya
yang menjelaskan tata cara penentuan perwakilan masing-
masing penganut agama dalam keanggotaan FKUB.
E. Diseminasi Informasi
Kegiatan diseminasi informasi oleh peserta sosialisasi
kepada masyarakat tentang kewenangan kepala daerah
dalam kerukunan umat beragama, FKUB, prosedur dan
syarat pendirian rumah ibadat, prosedur dan syarat
penggunaan bangunan nonrumah ibadat, serta penyelesaian
perselisihan akibat pendirian rumah ibadat dilakukan secara
tidak teratur/kadang-kadang (lihat Tabel 6).
Tabel 6. Diseminasi Informasi PBM
No Obyek Skor
Makna
1 Kewenangan kepala daerah 2.7
Tidak teratur,
kadang-
kadang
2 FKUB 2.8
Sda
3 Prosedur dan syarat pendirian 2.9
Sda

44
rumah ibadat
4 Prosedur dan syarat penggunaan
bangunan nonrumah ibadat untuk
rumah ibadat
2.6
Sda
5 Penyelesaian perselisihan akibat
pendirian rumah ibadat
2.6
Sda
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
Tabel tersebut menunjukkan bahwa pascasosialisasi,
peserta belum memiliki kesadaran dalam arti belum secara
proaktif menyebarkan informasi PBM kepada masyarakat
sekitar. Faktor lain yang juga bisa mempengaruhi adalah
pendeknya rentang waktu antara pelaksanaan sosialisasi
PBM dengan pelaksanaan penelitian ini. Sementara itu untuk
wilayah-wilayah tertentu, kurangnya diseminasi akibat
wilayah geografis yang kurang mendukung dan kesibukan
masing-masing pemuka agama dalam membina umatnya.
Beberapa indikasi lain yang menyebabkan kondisi tersebut
terjadi adalah peserta sosialisasi lebih didominasi unsur
pegawai Kanwil Departemen Agama setempat. Panitia
sosialisasi PBM di daerah tidak mau dipusingkan dengan
pertanggungjawaban administrasi penyelenggaraan yang
dianggap kurang berhasil akibat beberapa peserta yang
diundang tidak hadir. Untuk memenuhi kuota peserta maka
dicari pengganti, yakni personil yang berasal dari pegawai
kanwil setempat. Akibat ikutannya dari kejadian tersebut
adalah proses diseminasi informasi PBM tidak berlangsung
di kalangan umat, karena peserta pengganti (pegawai
Kanwil Depag) tidak memiliki legitimasi dari masyarakat di
sekitar tempat tinggalnya sebagai pemimpin umat. Untuk
perbaikan ke depannya, undangan peserta sosialisasi
ditambahkan jumlah persen rata-rata ketidakhadiran peserta
pada pelaksanaan sosialisasi sebelumnya. Ketidakhadiran

45

peserta dapat diantisipasi melalui: (a) penyebaran undangan
dalam rentang waktu yang cukup dari waktu pelaksanaan
sosialisasi, (b) penentuan lokasi harus mempertimbangkan
aksesibilitas yang tinggi, jangkauan sarana transportasi yang
cukup tinggi, terutama untuk daerah yang memiliki kondisi
geografis cukup luas.

F. Peraturan Gubernur terkait PBM
Keberadaan peraturan, kesesuaian peraturan dengan
materi PBM, dan kemampuan peraturan dalam memelihara
kerukunan umar beragama disajikan pada Tabel 7. Tabel ini
menjelaskan bahwa keberadaan Peraturan Gubernur terkait
PBM di beberapa daerah sangat kurang, hal ini menunjukkan
bahwa respon pemerintah daerah terhadap keberadaan PBM
perlu ditingkatkan. Dari beberapa daerah yang sudah
memiliki peraturan gubernur ternyata masih belum sesuai
dengan PBM dan belum tersosialisasi dengan baik. Hal yang
lebih memprihatinkan adalah Peraturan Gubernur yang
sudah ada dirasakan belum mampu memelihara kerukunan
umat beragama di daerah, karena peraturan tersebut tidak
tersosialisasi dengan baik. Dengan demikian, pemerintah
daerah tingkat provinsi harus lebih proaktif dalam
mendukung terciptanya kerukunan umat beragama melalui
peningkatan kuantitas dan kualitas sosialisasi peraturan
gubernur yang sudah ada. Cukup disayangkan apabila
peraturan gubernur sudah ada, namun tidak atau belum
dipahami oleh sebagian besar warga umat beragama di
wilayahnya.
Tabel 7. Keberadaan Peraturan Gubernur
tentang PBM

46
No Obyek Skor Makna
1 Keberadaan
peraturan
gubernur
0.6 Belum semua daerah memiliki
pergub; daerah yang telah
memiliki pergub belum
menyosialisasikannya dengan
baik
2 Kesesuaian
peraturan
gubernur
dengan PBM
2.0 Pergub dianggap tidak sesuai
dengan PBM karena peraturan
tersebut tidak tersosialisasi
dengan baik
3 Kemampuan
peraturan
gubernur dalam
memelihara
KUB
2.1 Pergub dianggap tidak
memelihara kerukunan karena
tidak tersosialisasi dengan baik
Keterangan : Nomor 1, Skor dalam rentang 0-1
Nomor 2 dan 3, Skor dalam rentang 1-5

G. Peran Pemda dalam KUB
Peran dan dukungan sumberdaya dari pemerintah
daerah pada umumnya berada dalam kategori telah
berperan tetapi belum cukup baik untuk memelihara KUB,
kecuali Kanwil Depag yang masuk dalam kategori peran dan
dukungannya telah cukup baik. Dengan demikian, maka
Pemda (termasuk Kanwil Departemen Agama dan Kantor
Departemen Agama sebagai aparat pusat yang ada di
daerah) hendaknya lebih banyak mengalokasikan sumber
daya (manusia, finansial, material, sosial, alamiah) untuk
mewujudkan dan memelihara kerukunan umat beragama.
Terkait dengan program kerukunan, Kanwil Departemen
Agama sejauh ini telah melaksanakan berbagai kegiatan
musyawarah intern dan antar umat beragama serta program
kerukunan lainnya. Dukungan yang masih perlu

47

ditingkatkan terutama dukungan sumberdaya dari
pemerintah kota/kabupaten dan pemerintah provinsi. Untuk
itu, pemerintah kota/kabupaten dan provinsi seharusnya
membekali aparatnya terkait materi PBM, sebab semua
aparat pemerintah daerah (kabupaten/kota dan provinsi)
juga pelayan masyarakat di daerah yang sewaktu-waktu
berhubungan langsung dengan masyarakat di wilayahnya.
Bila masyarakat setempat bertanya tentang materi PBM,
aparat pemerintah daerah seharusnya juga dapat
memberikan jawaban secara benar.
Tabel 8. Peranan Pemda dalam KUB
No Obyek Skor Makna
1 Dukungan sumber
daya dari pemprov
untuk KUB
3.8 Mendukung tetapi
masih belum cukup
baik untuk KUB
2 Dukungan sumber
daya dari pemkot
untuk KUB
3.7 Sda
3 Dukungan sumber
daya dari Kanwil
Depag untuk KUB
4.0 Mendukung dan
cukup baik untuk KUB
4 Dukungan sumber
daya Kandepag untuk
KUB
3.8 Mendukung tetapi
belum cukup baik
untuk KUB
5 Peran pemprov dalam
pemeliharaan KUB
3.9 Berperan tetapi belum
cukup baik untuk KUB
6 Peran pemkot dalam
pemeliharaan KUB
3.9 Berperan tetapi belum
cukup baik untuk KUB
7 Peran Kanwil Depag 4.1 Berperan dan cukup

48
dalam pemeliharaan
KUB
baik untuk KUB
8 Peran Kandepag dalam
pemeliharaan KUB
3.9 Berperan tetapi belum
cukup baik untuk KUB
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
Sebagaimana diketahui, PBM disyahkan oleh Menteri
Dalam Negeri dan Menteri Agama. Menteri Dalam Negeri
adalah atasan langsung gubernur, dan setiap walikota/bupati
mesti mengikuti peraturan gubernur. Dengan demikian
semua staf atau aparat pemerintah daerah (kabupaten/
kota/provinsi) harus sejalan dalam memahami dan
menyukseskan pelaksanaannya di masyarakat agar tercipta
kerukunan umat di wilayahnya.
H. Peran Majelis Agama dalam KUB
Majelis dan pemuka agama selama ini telah berperan
positif dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama.
(lihat Tabel 9).
Tabel 9. Peran Majelis Agama dalam KUB
No Obyek Skor Makna
1 Peran majelis agama
dalam pemeliharaan
KUB
4.1 Berperan dan cukup
baik dalam
memelihara KUB
2 Peran pemuka agama
dalam pemeliharaan
KUB
4.1 Berperan dan cukup
baik dalam
memelihara KUB
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5

49

Majelis agama sebagai lembaga yang menaungi umat
beragama sudah menjalankan fungsi dan perannya dalam
memelihara kerukunan umat beragama. Demikian halnya
para pemuka agama telah berperan dan menjalankan
fungsinya dalam upaya memelihara kerukunan umat
beragama. Kondisi ini harus dipertahankan dan diusahakan
meningkat lagi, agar kondisi kerukunan umat beragama
dapat tetap terwujud dengan baik meskipun permasalahan
masyarakat di masa datang akan semakin kompleks.
I. Dinamika FKUB
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai
lembaga yang merepresentasikan seluruh umat beragama di
suatu wilayah sudah seharusnya mampu mendorong umat
beragama untuk berperilaku saling menghargai dan
terbinanya toleransi antar umat beragama, sehingga
keharmonisan kehidupan umat beragama dapat tercipta.
Namun demikian, dinamika kehidupan masyarakat
menuntut dinamika FKUB dalam menyikapi dan mengatasi
semua kemungkinan permasalahan yang timbul sewaktu-
waktu. Hasil penelitian terhadap dinamika FKUB tersaji
pada Tabel 10.
Tabel 10. Dinamika FKUB
No Obyek Skor Makna
1 Kerjasama FKUB
provinsi
4 Dapat bekerjasama
2 Program kerja FKUB
provinsi
4 Dapat memelihara
kerukunan
3 Pelaksanaan tugas 2 Baru melaksanakan

50
FKUB provinsi sebagian kecil tugas
4 Kerjasama FKUB
kota
4 Dapat bekerjasama
5 Program kerja FKUB
kota
4 Dapat memelihara
kerukunan
6 Pelaksanaan tugas
FKUB kota
2 Baru melaksanakan
sebagian kecil tugas
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
Forum Kerukunan Umat Beragama provinsi dan kota
dinilai telah dapat bekerjasama dan mempunyai program
kerja yang dapat memelihara kerukunan, tetapi baru
melaksanakan sebagian kecil tugasnya. Hal ini berarti dari
sisi kekuatan internal dan perencanaan program telah cukup
baik, yang harus ditingkatkan adalah proses eksekusi dari
rencana program tersebut, sehingga FKUB dapat
melaksanakan semua tugas-tugasnya secara baik sesuai
dengan PBM nomor 9 dan 8 tahun 2006. Belum maksimalnya
peran FKUB antara lain disebabkan FKUB baru terbentuk
sehingga anggaran belum tersedia, sarana termasuk gedung
atau ruang kesekretariatan belum ada.
J. Pemenuhan Syarat Pendirian Rumah Ibadat
Dalam kehidupan beragama di Indonesia, pengalaman
yang ada menunjukkan bahwa masalah pendirian rumah
ibadat merupakan sesuatu yang sangat sensitif dan
seringkali menjadi pemicu terjadinya konflik. Oleh
karenanya pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah
terhadap syarat pendirian rumah ibadat menjadi sesuatu
yang mutlak. Hasil penelitian terhadap pemenuhan syarat
pendirian rumah ibadat disajikan pada Tabel 11 berikut.

51

Tabel 11. Pemenuhan Syarat Pendirian Rumah Ibadat
No Obyek Skor Makna
1 Derajat kepahaman
masyarakat tentang syarat
3,1 Masyarakat kurang
memahami syarat
2 Derajat kepahaman aparat
pemerintah tentang syarat
3,4 Aparat pemerintah
kurang memahami
syarat
3 Kemampuan pemenuhan
syarat
2,9 Dapat memenuhi
sebagian kecil
syarat
4 Kesesuaian pendirian
rumah ibadat dengan
PBM
1,3 Pendirian rumah
ibadat belum sesuai
dengan PBM
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5
Tabel 11 menunjukkan masih banyak ketidaksesuaian
syarat pendirian rumah ibadat dengan PBM. Bila
permasalahan ini tidak segera diantisipasi, dapat menjadi
faktor penentu instabilitas kerukunan umat beragama di
suatu wilayah. Rendahnya kemampuan pemenuhan syarat
pendirian rumah ibadat harus disikapi secara arif, sebab
seringkali pendirian rumah ibadat di suatu wilayah
dijadikan sebagai simbol atau legitimasi umat terhadap
eksistensi umat beragama tertentu meskipun secara kuantitas
jumlah umat beragama di wilayah tersebut tidak memenuhi
syarat pendirian rumah ibadat. Kondisi geografis dengan
jumlah penduduk tertentu di setiap wilayah memungkinkan
tidak terpenuhinya syarat jumlah umat bagi pendirian
rumah ibadat di suatu desa/kecamatan. Rendahnya skor
kesesuaian pendirian rumah ibadat dengan PBM disebabkan

52
umumnya responden menilai syarat pembangunan rumah
ibadat sebelum terbitnya PBM dengan syarat pendirian
rumah ibadat setelah terbitnya PBM. Kondisi demikian
menuntut sikap bijak dan ketegasan aparat pemerintah
daerah dalam pemberian izin pendirian tempat ibadat.
K. Tingkat Toleransi Antar Umat Beragama
Tingkat toleransi antar umat beragama, secara umum
responden tidak menolak pendirian rumah ibadat dan
toleransi terhadap pemeluk agama lain dalam menjalankan
ritual ibadatnya dalam lingkup yang relatif jauh (lingkup
desa/kelurahan kecamatan). Namun mereka bersedia
hidup bertetangga dengan pemeluk agama lain dalam
lingkup yang lebih dekat (rukun warga desa/kelurahan)
(lihat Tabel 12). Dalam hal kerjasama antar umat beragama,
mereka bersedia menghadiri undangan peringatan hari besar
agama lain dan bersedia mengundang pemeluk agama lain
dalam peringatan hari besarnya. Kondisi ini belum cukup
memadai untuk mencapai tingkat kerukunan umat
beragama secara optimal. Perlu dilakukan berbagai upaya
komprehensif yang bertujuan untuk mendekatkan jarak
sosial antar umat beragama, sehingga derajat penerimaan
terhadap keberadaan pemeluk agama lain, kebebasan dalam
menjalankan ibadat agama, serta kerjasama optimal yang
diwujudkan dalam tindakan saling bantu (materi, tenaga,
pikiran). Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain:
peningkatan kerjasama sosial antar umat beragama,
peningkatan wawasan multikultural melalui pendidikan
formal dan informal. Hal-hal tersebut dapat membantu
dalam mewujudkan kondisi kerukunan antar umat
beragama.
Tabel 12. Tingkat Toleransi Antar Umat Beragama

53

No Obyek Skor Makna
1 Toleransi terhadap
pendirian rumah
ibadat agama lain
2.5 Tidak menolak pendirian
rumah ibadat agama lain,
asalkan dalam lingkungan
yang relatif jauh (lingkup
desa-kecamatan)
2 Toleransi terhadap
pemeluk agama
lain dalam
menjalankan ritual
ibadatnya
2.7 Menghargai kebebasan
pemeluk agama lain untuk
menjalankan ibadatnya,
tetapi dalam lingkungan
yang relatif jauh (lingkup
desa-kecamatan)
3 Toleransi dalam
jarak fisik antar
umat beragama
3.7 Bersedia hidup bertetangga
dengan pemeluk agama
lain dalam lingkungan
yang relatif dekat (lingkup
rukun warga -
desa/kelurahan)
4 Tingkat kerjasama
antar umat
beragama dalam
penyelenggaraan
peringatan hari
besar
2.7 Bersedia menghadiri
undangan peringatan hari
besar agama lain; bersedia
mengundang pemeluk
agama lain dalam
penyelenggaraan hari besar
agamanya.
Keterangan: Skor dalam rentang 1-5

L. Hubungan Karakteristik Responden dengan Persepsi
tentang Sosialisasi PBM dan Perilaku Penerapan PBM

54
Hasil analisis data penelitian seperti tersaji pada Tabel
13 menunjukkan bahwa antara karakteristik responden yang
bersifat nominal (jenis kelamin, pekerjaan, sumber informasi,
dan agama) tidak menunjukkan adanya perbedaan nyata
dalam mempersepsi PBM maupun dalam berperilaku untuk
penerapan PBM. Namun demikian, bila dilihat dari
besarnya korelasi (nilai kontingensi), pekerjaan, sumber
informasi, dan agama berhubungan cukup erat dengan
perilaku seseorang dalam menerapkan PBM. Implikasi dari
hasil uji ini terhadap pelaksanaan sosialisasi adalah tidak
diperlukan segmentasi terhadap sasaran sosialisasi. Secara
tegas dapat dinyatakan bahwa semua orang tanpa melihat
karakteristik tersebut di atas, dapat dijadikan subyek
sosialisasi PBM. Hal ini berkaitan erat dengan substansi
tujuan PBM untuk mewujudkan dan memelihara kerukunan
umat beragama yang tentunya diperlukan oleh semua orang,
baik itu laki-laki maupun perempuan; pekerja kasar atau
kantoran; yang mendapat informasi dari tokoh agama,
aparat pemerintah, media massa; serta semua pemeluk
agama.
Tabel 13. Nilai Korelasi antar Variabel Penelitian
No.
Hubungan
antar Variabel
X
2
db
Tabel
X
2

=
0,05
Konti-
ngensi
1 Jenis Kelamin-Persepsi 23,14 23 35,17 0,28
2 Pekerjaan-Persepsi 135,80 161 191,61 0,58
3 Sumber info-Persepsi 136,07 161 191,61 0,58
4 Agama-Persepsi 117,59 115 141,00 0,56
5 Jenis kelamin-Perilaku 71,74 61 80,23 0,47
6 Pekerjaan-Perilaku 379,24 427 476,18 0,77*
7 Sumber info-Perilaku 441,96 427 476,18 0,79*

55

8 Agama-Perilaku 321,74 305 346,73 0,74*
Keterangan: * = signifikan pada = 0,05
Hasil analisis karakteristik responden yang berskala
rasio (pendidikan, pendapatan, frekuensi mengikuti
sosialisasi, dan kekosmopolitan) serta berskala interval
(partisipasi dalam sosialisasi) menunjukkan bahwa kelima
jenis karakteristik tersebut tidak berhubungan dengan
persepsi tentang sosialisasi PBM. (Tabel 14). Hal ini
menambah informasi lagi bahwa semua orang
(berpendidikan rendah, menengah maupun tinggi; kaya,
miskin; tidak pernah, jarang atau sering ikut sosialisasi;
sering atau jarang berhubungan dengan orang-orang dari
komunitas berbeda atau agama berbeda; apapun bentuk
partisipasinya dalam sosialisasi) adalah subyek-subyek
penting yang perlu dijadikan sasaran sosialisasi. Tentu saja
dengan pertimbangan efisiensi, maka orang-orang yang
belum pernah ikut sosialisasi merupakan prioritas sasaran
kegiatan sosialisasi. Dengan perkataan lain, sebaiknya
dihindari terjadinya pengulangan seseorang mengikuti
sosialisasi lebih dari satu kali. Kejadian ini banyak
ditemukan terutama para tokoh agama atau tokoh
masyarakat level provinsi, sehingga pada saat kegiatan
sosialisasi di tingkat provinsi maupun tingkat
kabupaten/kota diundang sebagai peserta. Temuan ini
sangat penting apabila dikaitkan dengan fakta bahwa peserta
sosialisasi yang selama ini sudah dilakukan, lebih terfokus
kepada laki-laki, pegawai negeri sipil dan tokoh agama, serta
berpendidikan tinggi. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa
tidak perlu segmentasi sasaran sosialisasi berdasarkan
karakteristiknya, karena semua orang mempunyai hak yang

56
sama untuk memperoleh proses pendidikan non formal
tentang kerukunan umat beragama melalui sosialisasi PBM.
Berbeda halnya terhadap persepsi tentang sosialisasi
PBM, hasil uji menunjukkan bahwa pendidikan, pendapatan,
frekuensi ikut sosialisasi, kekosmopolitan dan bentuk
partisipasi dalam sosialisasi berhubungan positif secara
sangat nyata dengan perilakunya dalam penerapan PBM
(Lihat Tabel 14). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat
pendidikan, pendapatan, frekuensi ikut sosialisasi,
kekosmopolitan, dan bentuk partisipasi maka semakin baik
perilakunya dalam menerapkan PBM, karena mereka
mempunyai tingkat pengetahuan dan derajat sikap tentang
PBM yang semakin baik juga. Implikasi dari hasil uji ini tidak
mengarah kepada pemilihan subyek sasaran sosialisasi PBM
berdasarkan kelima jenis karakteristik tersebut, tetapi
sebaiknya mengarah kepada penggunaan metode sosialisasi
Tabel 14. Korelasi antara Karakteristik dengan
Persepsi dan Perilaku
No Variabel Karakteristik
Persepsi
Sosialisasi
PBM
Perilaku
Penerapan
PBM
1 Pendidikan -0.077 0.184**
2 Pendapatan 0.180 0.191**
3 Frekuensi ikut sosialisasi 0.056 0.277**
4 Kekosmopolitan 0.089 0.194**
5 Partisipasi dalam
sosialisasi
-0.060 0.267**
Keterangan : * = signifikan pada = 0,05
** = signifikan pada = 0,01

57

yang mampu mengakselerasi peningkatan pengetahuan dan
sikap tentang PBM pada subyek sasaran sosialisasi yang
berpendidikan rendah, berpenghasilan kecil, tidak pernah
atau jarang ikut sosialisasi, kurang kosmopolit, dan bentuk
partisipasinya lebih bersifat sebagai penerima informasi, agar
mereka mempunyai kemampuan berperilaku yang sama
baiknya dengan subyek sasaran sosialisasi atau anggota
masyarakat yang mempunyai karakteristik lebih tinggi.
Metode yang meminimalkan komunikasi satu arah dan
mengoptimalkan komunikasi konvergen, yaitu yang tidak
didominasi oleh ceramah tetapi sebaiknya mengarah kepada
diskusi, pembahasan kasus, role play, simulasi, benchmarking
serta teknik-teknik lainnya yang mampu meningkatkan
aktivitas belajar peserta sosialisasi, dapat membantu mereka
yang berpendidikan rendah dan seterusnya agar memiliki
tingkat pengetahuan dan derajat sikap yang lebih baik,
sehingga berperilaku lebih baik pula dalam menerapkan
PBM. Selain itu, penggunaan teknik-teknik tersebut, dapat
meningkatkan keterampilan peserta sosialisasi dalam
memecahkan masalah (problem solving) yang timbul dalam
kehidupan bermasyarakat yang terkait dengan kerukunan
umat beragama.
Karakteristik peserta sosialisasi yang tidak diteliti antara
lain bakat, kematangan mental, kematangan fisik, sikap
mental, kesehatan, dan kemampuan evaluasi. Fasilitator
sosialisasi seharusnya mengenali bakat, kesiapan mental, dan
kondisi kesehatan peserta sosialisasi. Umur peserta
pembelajaran yang ideal dalam menyerap materi
pembelajaran adalah 26 tahun ke bawah, sementara hasil
penelitian menunjukkan rata-rata umur peserta lebih dari 45
tahun pada hal memasuki usia 46 tahun sudah menurun
kemapuan belajarnya (termasuk daya ingatnya), mereka sulit

58
berubah dan sulit untuk menerima sesuatu yang baru
(Soedijanto Padmowihardjo, 1994).
Selama ini penentuan peserta sosialisasi belum atau
tidak memperhatikan kebutuhan sosialisasi. Materi PBM
seolah-oleh sudah harga mati, sehingga materi sosialisasi
oleh semua fasilitator isinya sama. Minat peserta belajar
(peserta sosialisasi) akan menentukan hasil proses
pembelajaran, terutama materi yang terkait dengan
kebutuhan peserta sosialisasi. Untuk itu, identifikasi
kebutuhan materi sosialisasi yang diperlukan atau
dibutuhkan peserta semestinya dilakukan sebelum
penyampaian materi PBM dilakukan, misalnya fasilitator
(penyelenggara sosialisasi) melakukan kontrak belajar di
awal kegiatan. Melalui kontrak belajar, diharapkan peserta
sosialisasi dapat memberikan informasi atau umpan balik
terhadap isi atau materi sosialisasi, metode dan teknik
pembelajaran, media dan alat bantu pembelajaran yang
digunakan, waktu pelaksanaan dan sebagainya.
M. Pengaruh Karakteristik Responden terhadap Persepsi
tentang Sosialisasi PBM dan Perilaku Penerapan PBM

Analisis statistik lebih lanjut disajikan pada Tabel 15
berikut.
Tabel 15. Pengaruh antar variabel
No. Model R R Square Sig. F
1 Karakteristik persepsi 0,289 0,084 0,015*
2 Karakteristik perilaku 0,366 0,134 0,000**
3 Karakteristik manfaat 0,272 0,074 0,037*
4 Karakteristik dampak 0,276 0,076 0,029*

59

5 Persepsi perilaku 0,138 0,019 0,026*
6 Persepsi manfaat 0,230 0,053 0,000**
7 Persepsi dampak 0,041 -0,002 0,506
8 Perilaku manfaat 0,226 0,047 0,000**
9 Perilaku dampak 0,006 0,000 0,922
10 Manfaat dampak 0,417 0,174 0,000**
Keterangan: * = signifikan pada = 0,05
** = signifikan pada = 0,01
Secara lebih jelas besarnya pengaruh antar variabel
dalam penelitian disajikan pada Gambar 2.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa karakteristik
responden secara nyata berpengaruh terhadap persepsi
tentang sosialisasi PBM, serta sangat nyata berpengaruh
terhadap perilaku dalam penerapan PBM. Variabel
karakteristik responden tersebut (umur, jenis kelamin,
agama, pekerjaan, sumber informasi, pendidikan,
pendapatan, frekuensi ikut sosialisasi, bentuk partisipasi
dalam sosialisasi, kekosmopolitan) berpengaruh sebesar 8,4%
terhadap persepsi tentang sosialisasi PBM, dan berpengaruh
sebesar 13,4% terhadap variabel perilaku penerapan PBM.
Mengingat pentingnya perluasan sasaran sosialisasi, di mana
setiap orang dapat dijadikan sasaran sosialisasi seperti telah
diuraikan pada bagian terdahulu, maka pengaruh variabel
karakteristik tersebut dapat diabaikan.
Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu
dicermati sehubungan dengan kecilnya pengaruh
karakteristik responden tersebut. Pertama, usia; rata-rata usia
responden adalah 45 tahun, di mana pada usia sekitar itulah
kemampuan retensi telah menurun cukup drastis. Kedua,

60
sikap mental; semakin bertambah usia semakin relatif sulit
mengalami perubahan dan menerima sesuatu yang baru
karena telah mempunyai keyakinan berdasarkan
pengalaman hidupnya. Ketiga, motivasi; kebanyakan peserta
terutama yang berasal dari unsur pegawai negeri sipil,
mengikuti kegiatan sosialisasi karena menerima perintah
dari atasan atau instansi tempat ia bekerja, bukan atas
kesadaran sendiri yang dilandasi minat dan motivasi yang
tinggi untuk melakukan proses belajar. Hal-hal tersebut
berpengaruh terhadap curahan perhatian dan aktivitas
belajar yang ia lakukan dalam sosialisasi yang selanjutnya
akan menentukan hasil proses belajar serta implementasinya
dalam kehidupan bermasyarakat. Pegawai Negeri Sipil di
lingkungan Kanwil Depag dalam kehidupan bermasyarakat
belum tentu ditokohkan oleh anggota masyarakat sekitarnya,
sehingga hasil dari proses sosialisasi kurang membawa
dampak dalam kehidupan umat beragama.

61

Gambar 2. Pengaruh antar Variabel penelitian

N. Pengaruh Persepsi terhadap Perilaku Penerapan PBM
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel
persepsi tentang sosialisasi PBM berpengaruh secara sangat
nyata terhadap perilaku (pengetahuan dan sikap) penerapan
PBM. variabel tersebut berpengaruh sebesar 1,9 % terhadap
perilaku penerapan PBM. Kecilnya pengaruh persepsi ini
berkaitan dengan kondisi persepsi terhadap sosialisasi PBM
yang rata-rata baru termasuk dalam kategori cukup baik,
yang disebabkan terutama unsur durasi sosialisasi yang
dinilai kurang dan tidak dapat mencukupi kebutuhan untuk
memahami materi. Padahal untuk berpengaruh lebih baik
terhadap pembentukan perilaku, persepsi tentang sosialisasi
ini harus berada dalam kategori baik bahkan sangat baik.
(Y1) Perilaku penerapan
PBM (output)
- Pengetahuan
- Sikap
(Y3) Kerukunan beragama (dampak)
Pendirian rumah ibadat
Tingkat toleransi antar umat
agama
(Y2) Manfaat sosialisasi (outcome)
- Diseminasi informasi PBM
- Peraturan terkait PBM
- Peran pemda dalam KUB
- Peran majelis dan
pemuka agama dalam
KUB
- Dinamika FKUB
(X2) Persepsi terhadap
Sosialisasi PBM
o
d
e

0,019*
0,047*
*
0,174*
*
(X1) Karakteristik
Responden
0,084*
0,134**

62
Sebagaimana diketahui, persepsi baru merupakan unsur
potensial, dalam arti persepsi tidak berbanding lurus (linear)
dengan perilaku.
Kecilnya pengaruh persepsi tersebut dapat dipahami
dari variabel yang dapat mempengaruhi efisiensi belajar
yakni: mata ajaran, fasilitas fisik, perilaku pengajar dan
pelajar, lingkungan, sifat kelompok pelajar, sifat pengajar,
dan sifat pelajar. Peningkatan persepsi tersebut dapat
ditempuh melalui upaya-upaya antara lain sebagai berikut:
1. Pelibatan panca indera peserta sebanyak mungkin dalam
proses sosialisasi. Hal ini berimplikasi pada penggunaan
media dan metode belajar yang variatif dan
memungkinkan peserta sosialisasi terdedah informasi
atau materi belajar melalui penglihatan, pendengaran,
dan perasaan. Slide pembelajaran harus dibuat lebih
menarik agar tidak ada kesan monoton, materi yang
diberikan dalam bentuk buku saku PBM diubah dalam
format lain, seperti hand out, CD pembelajaran (tanya
jawab atau solusi terhadap kasus-kasus kerukunan umat
beragama yang pernah ditemui di berbagai daerah di
tanah air. Perasaan (afeksi) merupakan unsur tersulit
untuk disentuh, oleh karena itu disarankan agar teknik
pemeranan (role play), simulasi, benchmarking, curah
pendapat (brainstorming), tayangan slide atau film dan
yang sejenis penting untuk digunakan dalam sosialisasi
PBM. Selain itu aktivitas belajar peserta sosialisasi juga
jangan hanya berdiskusi, bertanya, atau sekedar menjadi
pendengar suatu ceramah, karena itu penting sekali
fasilitator menguasai teknik-teknik yang lebih variatif
seperti telah diuraikan pada bagian terdahulu.
2. Durasi (rentang atau lamanya) terdedah informasi atau
materi dalam sosialisasi perlu ditambah. Hal ini
dinyatakan oleh responden yang menilai durasi tersebut

63

tidak cukup untuk memahami materi. Sosialisasi rata-
rata hanya berlangsung dalam sehari dengan waktu
pembelajaran efektif tidak sampai empat jam. Sosialisasi
selalu diawali seremonial yang sering membutuhkan
waktu cukup panjang, peserta jadi bosan dan lelah
menunggu inti materi, hal ini dapat mempengaruhi hasil
sosialisasi tidak efektif. Penambahan waktu bisa
ditempuh dengan menambah waktu di hari kedua,
meskipun ini membawa konsekuensi waktu dan biaya.
Perlu dipahami pula bahwa durasi ini memerlukan
pengaturan yang tepat, karena dapat menyebabkan
kebosanan dan rendahnya retensi. Di sini berlaku kiasan
enam kali satu jam belajar, akan lebih efektif daripada
satu kali enam jam belajar .
3. Pengaturan materi. Pada dasarnya pengaturan materi
untuk sosialisasi PBM dapat menggunakan teori belajar
kognitif yaitu materi diurutkan dari yang termudah
kepada yang tersulit, informasi yang terkandung dalam
materi belajar harus berhubungan dengan informasi yang
telah ada pada diri peserta. Pelaksanaan sosialisasi
selama ini cenderung memberikan materi yang sama
dengan media (slide pembelajaran) yang sama pula,
padahal kemampuan fasilitator atau narasumber serta
peserta sosialisasi belum tentu sama. Implikasinya adalah
(1) melakukan identifikasi kebutuhan latihan sebelum
sosialisasi dilakukan, sehingga dapat dikenali informasi
apa saja yang diperlukan dan tidak diperlukan, hal
tersebut akan menjamin efektivitas dan efisiensi belajar;
(2) mengelompokkan peserta sosialisasi dalam
karakteristik yang relatif homogen, sehingga kecepatan
belajar dapat diikuti oleh semua anggota kelompok
belajar sehingga hasil belajarnya juga tidak jauh berbeda;

64
(3) mengemas materi dalam bentuk yang menarik
perhatian, dan minat belajar. Materi demikian adalah
yang secara bersamaan memunculkan bentuk audio dan
visual, misalnya slide warna yang diiringi narasi, dan film
dokumenter.
4. Sosialisasi dilakukan di tempat dan fasilitas yang
nyaman. Makna nyaman disini harus menurut definisi
peserta bukan panitia atau fasilitator, dan tidak melulu
merujuk pada ruangan luas, tertutup, terang, sejuk, akan
tetapi lebih merujuk kepada apa lingkungan dan habit
peserta sosialisasi, sehingga tidak aneh kalau banyak
orang yang senang belajar dalam ruang terbuka dan
alamiah. Dengan demikian tempat dan fasilitas yang
nyaman menurut orang-orang yang berdomisili di
kampung akan berbeda dengan yang tinggal di kota, dan
seterusnya. Tidak jarang dijumpai orang-orang yang
canggung ketika berada dalam ruangan megah,
berpendingin ruangan (AC), dan fasilitas mewah
sehingga mengganggu curahan perhatiannya terhadap
aktivitas belajar.
5. Fasilitator memahami sensitivitas peserta terhadap
materi, sebab masalah kerukunan umat beragama cukup
peka apabila sudah bersinggungan dengan kelompok
umat beragama yang berbeda. Fasilitator jangan
memunculkan kesan bahwa PBM berpihak pada
kelompok agama tertentu. Misalnya terhadap peserta
yang ditengarai bersikap negatif dalam pemenuhan
syarat pendirian rumah ibadat, adalah tidak bijaksana
apabila kepada mereka dijelaskan bahwa aturan PBM
harus diterapkan tanpa kecuali. Akan lebih bijaksana
apabila terlebih dahulu dijelaskan kepada mereka reason
atau alasan-alasan logis pentingnya pemenuhan syarat

65

tersebut, apa konsekuensinya apabila dipenuhi atau tidak
dipenuhi.
O. Pengaruh Perilaku Penerapan PBM terhadap Manfaat
Sosialisasi PBM
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa perilaku
berpengaruh secara sangat nyata terhadap manfaat
sosialisasi PBM. Variabel tersebut berpengaruh sebesar 4,7
persen terhadap manfaat sosialisasi PBM. Kecilnya
pengaruh perilaku penerapan PBM tersebut karena perilaku
yang berunsur pengetahuan dan sikap, baru merupakan
potensi tindakan, sehingga memerlukan adanya unsur lain
yaitu keterampilan dan sumber daya (finansial, material,
alamiah, sosial). Secara ringkas, perilaku seseorang sulit
diaplikasikan secara baik tanpa dukungan sumber daya
sehingga kurang membawa manfaat bagi dirinya dan orang
lain, misalnya seorang petani yang pengetahuan, sikap dan
keterampilan bertaninya baik, tetapi tidak didukung oleh
ketersediaan lahan, modal, input usaha tani, alat dan bahan
tani, maka ia akan menarik manfaat yang kecil dari
perilakunya tersebut. Begitu pula pada eks peserta sosialisasi
PBM, mereka telah memiliki pengetahuan dan sikap tentang
PBM dalam kadar tertentu, tetapi belum didukung oleh
ketersediaan anggaran, alat, bahan, sarana dan prasarana
sehingga pengaruhnya terhadap manfaat sosialisasipun
menjadi kurang.
Agar diseminasi infromasi PBM berjalan di masyarakat,
eks peserta sosialisasi harus melakukan diseminasi kepada
anggota masyarakat di sekitarnya, kerabat, kawan dekat, dan
warga masyarakat lainnya baik warga yang seagama
maupun yang tidak seagama. Namun demikian, diseminasi
tersebut akan terjadi bila eks peserta sosialisasi memiliki

66
motivasi dan tanggungjawab dalam pemeliharaan
kerukunan umat beragama, adanya dukungan sarana dan
prasarana, serta memiliki pengaruh (ketokohan) di
lingkungan tempat tinggalnya. Diseminasi akan berjalan
lebih cepat bila peserta sosialisasi benar-benar sebagai tokoh
(tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda,
tokoh wanita). Diseminasi juga memerlukan dukungan dan
peran pemerintah daerah terkait PBM maupun dalam
kerukunan umat beragama.
Pengetahuan dan sikap yang cukup terhadap PBM akan
bermanfat dalam peningkatan peran majelis dan pemuka
agama dalam KUB. Dengan penguasaan materi PBM, para
tokoh agama yang tergabung dalam majlis agama memiliki
wahana dan kesempatan untuk melakukan diseminasi.
Pengetahuan dan sikap yang cukup terhadap PBM juga
dapat meningkatkan dinamika FKUB, sebab penguasaan
atau materi PBM dapat menjadi bahan diskusi anggota
FKUB.

P. Pengaruh Manfaat Sosialisasi PBM terhadap Kerukunan
Umat Beragama
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa manfaat
sosialisasi PBM berpengaruh secara sangat nyata terhadap
kerukunan umat beragama. Variabel tersebut berpeng-aruh
sebesar 17,4%. Persentase pengaruh tersebut meskipun
masih relatif kecil tetapi menunjukkan bahwa diseminasi
informasi tentang PBM, keberadaan peraturan terkait PBM
(pergub), peran pemda dan majelis agama dalam KUB, serta
FKUB yang dinamis dapat memberi kontribusi positif dalam
menciptakan kondisi kerukunan umat beragama.

67

Implikasi dari hasil analisis adalah perlu
ditingkatkannya manfaat sosialiasasi PBM, karena fakta
sebagaimana terungkap dalam deskripsi manfaat sosialisasi
tersebut pada bagian terdahulu, menunjukkan bahwa
diseminasi informasi, peraturan gubernur, peran pemda dan
majelis agama serta dinamika FKUB secara umum baru
sampai pada taraf cukup bahkan cenderung kurang. Dapat
diduga apabila berbagai indikator manfaat sosialisasi
tersebut berada dalam taraf baik atau sangat baik, maka
kondisi kerukunan umat beragamapun akan baik atau sangat
baik. Dengan perkataan lain kerukunan umat beragama
yang ditandai dengan pemenuhan syarat pendirian rumah
ibadat dan meningkatnya toleransi umat beragama dapat
ditingkatkan melalui peningkatan diseminasi informasi PBM,
keberadaan peraturan gubernur, dan peningkatan peran
pemerintah daerah dalam mendukung implementasi PBM
dalam kehidupan umat beragama.

Q. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Tujuan
Sosialisasi PBM
Sebagaimana dijelaskan pada kerangka berpikir
penelitian, bahwa pencapaian tujuan sosialisasi PBM, selain
dipengaruhi oleh variabel yang diteliti juga dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, baik yang bersifat
mendukung atau sebaliknya bersifat menghambat. Hasil
identifikasi terhadap beberapa faktor yang mendukung atau
menghambat adalah sebagai berikut:
Pendukung
1. Terdapat kerjasama antara Departemen Agama dan
Departemen Dalam Negeri untuk melakukan sosialisasi

68
PBM. Koordinasi antara dua departemen dari tingkat
pusat sampai di tingkat desa/kelurahan memungkinkan
implementasi PBM di tingkat lapangan (umat beragama)
lebih terstruktur.
2. Terdapat dukungan dari majelis-majelis agama (MUI,
PGI, KWI, PHDI, WALUBI, dan MATAKIN) kepada
pemerintah dalam melakukan sosialisasi PBM. Setelah
pemerintah melakukan sosialisasi PBM, majelis-majelis
agama tersebut juga bersifat proaktif dalam membantu
tersebarluasnya materi PBM kepada umatnya.
3. Pada tingkat pusat telah tersedia program dan dukungan
sumber daya untuk melakukan sosialisasi PBM. Akan
lebih baik lagi, bila pemerintah pusat dan atau pemerintah
daerah memberikan dukungan dan komitmen yang tinggi
bagi terlaksananya proses sosialisasi PBM sampai di
tingkat desa/kelurahan.
4. Fasilitator sosialisasi menguasai materi sosialisasi PBM
dengan baik. Tujuan sosialisasi masih dapat ditingkatkan
dengan penguasaan metode dan teknik pembelajaran oleh
fasilitator.
5. Nilai-nilai budaya lokal yang mendukung kerukunan.
Kearifan lokal yang mendukung nilai-nilai toleransi dan
kerukunan umat beragama perlu digali, dilestarikan, dan
disebarluaskan dalam kehidupan modern umat
beragama.
6. Peran pemuka agama setempat sebagai pemersatu umat.
Tujuan sosialisasi akan lebih baik lagi apabila didukung
peran tokoh-tokoh lain seperti tokoh adat, tokoh budaya,
tokoh pemuda, tokoh wanita dalam upaya
mempersatukan umat beragama.

69

7. Kesediaan masyarakat di beberapa daerah yang telah
memiliki forum sejenis FKUB untuk menyesuaikan
keberadaan forum dengan PBM. Sebagaimana diketahui,
sebelum PBM dikeluarkan, beberapa daerah sudah
membentuk dan memiliki forum sejenis FKUB yang
memiliki peran dan fungsi sama dengan FKUB bersedia
melebur atau mengganti nama menjadi FKUB. Dapat
dibayangkan apabila mereka bertahan dengan keberadaan
forum-forum yang sudah ada, sementara peraturan
sifatnya harus dilaksanakan sampai di tingkat
kabupaten/kota sehingga akan terjadi forum ganda yang
memiliki peran dan fungsi sama yang selanjutnya dapat
memicu munculnya konflik dalam kehidupan umat
beragama.
Penghambat
1. Kegiatan sosialisasi masih difokuskan pada kelompok
masyarakat tertentu dengan karakteristik utama antara
lain laki-laki, berpendidikan tinggi, pegawai negeri sipil,
tokoh agama, sehingga proses difusi inovasi menjadi
relatif lambat. Hal ini dapat dikurangi dengan penetapan
peserta sosialisasi yang mengabaikan karakteristik
tersebut, semua warga negara memiliki hak yang sama
untuk memperoleh informasi, termasuk dalam
memperoleh informasi PBM.
2. Fasilitator sosialisasi kurang variatif dalam penggunaan
metode belajar yaitu masih bertumpu pada model
ceramah/kuliah, tanya jawab, dan diskusi, sehingga
aktivitas belajar peserta sosialisasi terbatas pada
mendengarkan, bertanya dan mengemukakan pendapat.
Hal ini dapat diantisipasi dengan pembekalan fasilitator

70
terutama dalam penguasaan metode dan teknik
pembelajaran, serta penguasaan media dan alat bantu
pembelajaran.
3. Durasi waktu sosialisasi kurang lama, sehingga tidak
cukup waktu bagi peserta untuk mengetahui, memahami
dan menghayati materi dengan baik. Penambahan waktu
kegiatan sosialisasi dengan memperhatikan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran.
4. Sosialisasi masih menggunakan pendekatan tunggal yaitu
pertemuan tatap muka dengan suatu kelompok
masyarakat untuk menyampaikan informasi atau materi
PBM, sehingga daya jangkau terhadap sasarannya
menjadi relatif terbatas. Hal ini dapat ditempuh melalui
penerapan pendekatan lainnya, yakni pendekatan massal.
Narasumber atau fasilitator dapat memanfaatkan media
massa seperti radio, televisi, surat kabar, dan majalah
yang memiliki jangkauan di tingkat daerah maupun
nasional dalam penyampaian atau sosialisasi materi PBM.
Pendekatan massal cukup efisien dari aspek waktu,
tenaga, dan biaya.
5. Sosialisasi baru didesain untuk melakukan perubahan
pengetahuan dan sikap dalam penerapan PBM, tetapi
belum didesain untuk melakukan perubahan unsur
perilaku yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan
dalam penerapan PBM, sehingga unsur pembentuk
perilaku dalam penerapan PBM untuk mewujudkan
kerukunan umat beragama menjadi kurang lengkap.
6. Belum tersedia cukup sumber daya terutama modal
finansial, material, dan sosial yang dapat digunakan eks
peserta sosialisasi untuk melakukan aktivitas-aktivitas
sosialisasi pada masyarakat yang lebih luas, sehingga

71

manfaat sosialisasi berupa diseminasi informasi, peran
pemda dan majelis agama dalam kerukunan umat
beragama, dinamika FKUB hanya berada pada tataran
cukup. Hambatan ini dapat dikurangi melalui penyediaan
sumberdaya yang memadai atau memfasilitasi kebutuhan
dukungan finansial eks peserta sosialisasi untuk
melakukan sosialisasi kepada umat beragama di
lingkungannya.
7. Belum semua provinsi mempunyai peraturan gubernur
sesuai PBM yang mengatur FKUB dan Dewan Penasehat
FKUB provinsi dan kabupaten/kota, sehingga kedua
institusi tersebut belum sepenuhnya terbentuk dan
operasional dalam pemeliharaan kerukunan umat
beragama. Pemerintah pusat melalui Departemen Dalam
Negeri dan Departemen Agama melakukan koordinasi
dalam mengevaluasi provinsi mana saja yang belum
memiliki peraturan gubernur, dan mendorong serta
memfasilitasi penyusunan peraturan gubernur dimaksud.
8. Keberadaan forum sejenis FKUB di beberapa daerah yang
selama ini telah berfungsi mendukung kerukunan, namun
dari segi organisatoris belum sesuai dengan PBM.
Ketidaksesuaian forum sejenis FKUB memerlukan
penyesuaian agar dapat sejalan dan berganti nama
menjadi FKUB. Proses penyesuaian tersebut ternyata
tidak didukung oleh beberapa daerah yang sudah
memiliki forum sejenis FKUB. Penyesuaian yang berlarut
dapat menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk
mengatasi hal-hal yang tidak prinsip.


72
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan dapat disarikan
beberapa kesimpulan berikut:
1. Karakteristik peserta sosialisasi PBM: usia rata-rata 45
tahun, tingkat pendidikan tinggi, dominan laki-laki,
pendapatan rata-rata Rp. 1,7 juta, pada umumnya
pekerjaan PNS, pernah mengikuti sosialisasi sebanyak 2
kali, melakukan penyebaran informasi PBM 3 kali kepada
umat seagama, dan 2 kali kepada umat berbeda agama.
Persepsi tentang sosialisasi PBM, perilaku eks peserta
sosialisasi dalam penerapan PBM dari aspek
pengetahuan dan sikapnya, manfaat sosialisasi, dan
kondisi kerukunan umat beragama belum optimal
sehingga perlu ditingkatkan.
2. Karakteristik responden tidak berhubungan nyata
dengan persepsi tentang sosialisasi PBM, tetapi
berhubungan nyata dengan perilaku penerapan PBM.
3. Variabel karakteristik responden tersebut (umur, jenis
kelamin, agama, pekerjaan, sumber informasi,
pendidikan, pendapatan, frekuensi ikut sosialisasi,
bentuk partisipasi dalam sosialisasi, kekosmopolitan)
berpengaruh sebesar 8,4% terhadap persepsi tentang
sosialisasi PBM, dan berpengaruh sebesar 13,4% terhadap
variabel perilaku penerapan PBM.
4. Persepsi tentang sosialisasi PBM berpengaruh secara
sangat nyata sebesar 1,9% terhadap perilaku
(pengetahuan dan sikap) penerapan PBM.

73

5. Perilaku berpengaruh secara sangat nyata sebesar 4,7%
terhadap manfaat sosialisasi PBM.
6. Manfaat sosialisasi PBM berpengaruh secara sangat nyata
sebesar 17,4% terhadap kerukunan umat beragama.

B. Rekomendasi
1. Strategi sosialisasi PBM yang efektif untuk menciptakan
kerukunan umat beragama adalah:
a. Tidak melakukan segmentasi dalam penetapan
subyek sasaran, sehingga semua orang mempunyai
kesempatan yang sama dalam mengikuti proses
pendidikan nonformal untuk menciptakan dan
memelihara kerukunan umat beragama melalui
sosialisasi PBM.
b. Sosialisasi dilakukan dengan pendekatan beragam,
yaitu penggunaan media massa cetak (koran,
majalah, leaflet, booklet dan sejenisnya), maupun
elektronik (televisi, radio, internet), kelompok dalam
masyarakat, keluarga, dan sekolah dari tingkatan
dasar sampai perguruan tinggi.
c. Menetapkan tujuan sosialisasi yang sesuai dengan
subyek dan kelompok sasaran, serta dapat diukur
pencapaiannya.
d. Merancang kurikulum sosialisasi yang memuat unsur
topik, episode, tujuan, materi, aktivitas belajar,
sumber daya (manusia dan material), waktu, tempat,
durasi, dan evaluasi.
e. Memilah materi yang disesuaikan dengan subyek dan
kelompok sasaran yang mengacu pada prinsip
jumlah optimal, urutan (sequence), hubungan
informasi baru dengan yang telah dimiliki subyek.

74
f. Menggunakan variasi metode secara komprehensif
yang antara lain terdiri atas ceramah, tanya jawab,
diskusi, simulasi, role play, benchmarking.
g. Menggunakan variasi media belajar yang antara lain
terdiri dari bahan tulisan/cetakan, photo, slide naratif,
film dokumenter.
h. Melakukan evaluasi formatif dan sumatif untuk
memantau perubahan perilaku dan perubahan
kinerja eks peserta sosialisasi dalam menciptakan dan
memelihara kerukunan umat beragama.
i. Sosialisasi dengan pendekatan kelompok, selalu
diawali dengan kontrak belajar untuk mengetahui
dan menampung aspirasi peserta.
2. Pemerintah daerah dan instansi pemerintah pusat di
daerah terutama Kanwil Depag dan Kadepag
menyediakan atau meningkatkan dukungan sumber
daya (manusia, finansial, material, sosial) kepada FKUB
dan dewan penasehat FKUB provinsi, kabupaten/kota
agar mereka mampu merancang dan melaksanakan
program untuk memelihara kerukunan umat beragama
yang antara lain melalui sosialisasi PBM.
3. Provinsi yang belum memiliki peraturan gubernur
tentang FKUB dan dewan penasehat FKUB provinsi,
kabupaten/kota, perlu segera didesak melalui advokasi
untuk menerbitkannya. Bagi provinsi yang telah
memiliki peraturan gubernur tersebut segera
mensosialisasikannya kepada umat beragama melalui
instansi terkait, pemuka dan majelis agama, agar FKUB
dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara optimal.
4. Forum sejenis FKUB yang ada pada provinsi,
kabupaten/kota tetap dijaga keberadaannya, dan

75

dihimbau untuk berpartisipasi penuh dalam keanggotaan
FKUB menurut PBM nomor 9 dan 8 tahun 2006.








76
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I. 1988. Attitude, Personality and Behavior. Chicago:
Dorsey.
Asngari, Pang S. 1982. Perceptions of District Extension
Directors and County Extension Agent Chairmen
Regarding The Roles and Functions of The Texas
Agricultural Extensin Service. Disertation. Texas:
East Texas State University.
Berlo, D.K. 1964. Process of Communication. New York: Holt
Rhinehart.
Bimo Walgito. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Penerbit
ANDI.
Durkheim, Emile. 1965. The Elementary Forms of The Religious
Life, translated from the French by Joseph Ward
Swain, New York: Free Press.
Durkheim, Emile. 2002. Suicide, translated by John A.
Spaulding and George Simpson, edited with and
introduction by George Simpson, New York: Free
Press.
Henslin. James M. 2007. Essensials of Sociology: A Down to
Earth Approach. Alih Bahasa: Kamanto Sunarto.
Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta.
Erlangga.
Jahi, Amri. 1993. Komunikasi dan Pembangunan dalam
Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di
Negara-negara Dunia Ketiga: Suatu Pengantar.
Disunting oleh Amri Jahi. PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Jalaluddin Rakhmat. 2002. Metode Penelitian Komunikasi.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

77

Johnson, Doyle Paul. 1990. Teori Sosiologi: Klasik dan Modern
Jilid II. Ter-jemahan oleh Robert M.Z. Lawang.
Gramedia. Jakarta.
Kerlinger, Fred N. 2004. Asas-asas Penelitian Behavioral.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lies Fahimah. 2001. Sikap Pekerja Sosial Panti terhadap
Etika Kerja. Thesis. Bogor: IPB.
Margono Slamet. 2003. Membentuk Perilaku Manusia
Pembangunan. Bogor: IPB Press.
_______________. 1992. Perspektif Ilmu Penyuluhan
Pembangunan Menyong-song Era Tinggal Landas
dalam Penyuluhan Pembangunan di Indonesia:
Menyongsong Abad XXI. Diedit oleh Aida Vitayala
Sjafri Hubeis, Prabowo Tjitropranoto, dan Wahyudi
Ruwiyanto. PT Pustaka Pemba-ngunan Swadaya
Nusantara. Jakarta.
Masri Singarimbun, dan S. Effendi (Editor). 1989. Metode
Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.
Taliziduhu Ndraha. 1990. Pembangunan Masyarakat:
Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Rineka
Cipta. Jakart
Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil
Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan
Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan
Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat.

78
Puslitbang Kehidupan Keagamaan. 2006. Peraturan Bersama
Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan
8 Tahun 2006. Jakarta.
Roger, E.M. (ed). 1985. Komunikasi dan Pembangunan
Perspektif Kritis (terjemahan Dasmar Nurdin) Jakarta:
LP3ES.
_________ dan F.F. Shoemaker. 1981. Memasyarakatkan Ide-
ide Baru. Terjemahan Abdillah Hanafi. Surabaya:
Usaha Nasional.
Salkind,N.J. 1985. Theories of Human Development. Second
Edition. New York: John Willey & Son, Inc.
Santosa, S. 2004. Dinamika Kelompok. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Siegel, S. 1985. Statistika Non-Parametrik untuk ilmu-Ilmu
Sosial (terjemahan Zanzawi Suyuti). Jakarta: PT.
Gramedia.
Soedijanto Padmowihardjo. 1994. Psikologi Belajar Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Soeitoe. 1982. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Tjokroamidjojo, Bintoro. 1984. Pengantar Administrasi
Pembangunan. LP3ES. Jakarta.
Totok Mardikanto. 1992. Penyuluhan Pembangunan Pertanian.
Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Van den Ban, A.W. dan H.S. Hawkins. 1988. Agricultural
Extension. New York: John & Son, Inc.


79

LAMPIRAN 1

PROPOSAL PENELITIAN
EFEKTIVITAS SOSIALISASI PERATURAN
BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM
NEGERI (PBM) NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006

A. Latar Belakang Penelitian
Salah satu aspek yang dapat mengganggu dan
merugikan upaya menciptakan suasana dan kondisi yang
kondusif bagi kerukunan umat beragama adalah persoalan
pendirian atau keberadaan rumah ibadat. Beragam kasus
yang seringkali muncul, sehubungan dengan pendirian dan
keberadaan rumah ibadat di berbagai daerah selama ini,
dipandang terkait dengan sejumlah faktor yang dapat
menjadi latar belakang penyebabnya, antara lain: 1) Belum
adanya Kejelasan mengenai persyaratan dan tata-cara
Pendirian Rumah Ibadat, 2) Proses perinzinan pendirian
rumah ibadat sering berlarut-larut , 3) Penyalahgunaan
rumah tinggal atau bangunan lain yang difungsikan sebagai
rumah ibadat, 4) Pendirian atau keberadaan rumah ibadat
yang tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku dan aspirasi
masyarakat setempat, 5) Selain pengaturan oleh masing-
masing Pemda sangat beragam, masih banyak Pemda yang
belum memiliki peraturan tentang pendirian rumah ibadat ,
6) Kurangnya komunikasi antar pemuka keagamaan di suatu
wilayah.
Adanya sejumlah kenyataan lapangan yang
menyangkut rumah ibadat seperti di atas, acapkali
mengundang munculnya kasus-kasus yang menimbulkan

80
ketegangan dan keresahan sosial yang dapat mengganggu
dan sangat merugikan upaya mewujudkan bangunan
kerukunan. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah yang
diwakili oleh Departemen Agama dan Departemen Dalam
Negeri, bersama-sama dengan perwakilan dari Majelis-
Majelis Agama (MUI, PGI, KWI, PHDI, dan WALUBI)
bersepakat bahwa masalah pengaturan pendirian rumah
ibadat yang sebelumnya berlaku, perlu ditata ulang. Melalui
proses pembahasan dan dialog yang relatif intensif, serius,
dan berulang-ulang, selama lebih kurang enam bulan,
berhasil mencapai kesepakatan, yang kemudian dituangkan
dalam PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN
MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN
PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL
KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN
FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN
PENDIRIAN RUMAH IBADAT (PBM Nomor : 9 dan 8
Tahun 2006).
Berikutnya, supaya PBM ini bisa dipahami, dihayati,
dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial beragama
dan berbangsa secara luas, tepat dan benar serta efektif,
selama kurun waktu sekitar sepuluh bulan sepanjang tahun
anggaran 2006, pemerintah bersama-sama dengan majelis-
majelis agama, telah melakukan serangkaian kegiatan
sosialisasi PBM, baik di tingkat pusat, provinsi dan
kota/kabupaten. Bagaimana dan sampai sejauhmana respon
masyarakat diberbagai daerah, berkenaan dengan upaya
sosialisasi ini, baik dari sisi pemahaman, maupun
aktualisasinya dalam praktek di lapangan, sampai sejauh ini,
setelah sosialisasi PBM selama setahun berlangsung, belum
banyak diketahui secara jelas. Untuk mendapatkan kejelasan
yang lebih lengkap, utuh dan bisa dipertanggungjawabkan,

81

khususnya mengenai keberhasilan atau efektivitas sosialisasi
PBM ini, dipandang perlu dilakukan monitoring dan kajian
tersendiri dari waktu ke waktu secara seksama, terprogram
dan terarah. Berbagai informasi yang berhasil dihimpun
melalui kajian ini, dipandang cukup bermakna, selain buat
evaluasi, juga dapat dijadikan masukan tambahan buat para
pejabat terkait, pemimpin keagamaan, dan pihak-pihak lain
yang berkepentingan, dalam rangka penyusunan kebijakan
di bidang kehidupan keagamaan, di bidang kerukunan dan
pendirian rumah ibadat, khususnya terkait dengan upaya
peningkatan efektivitas sosialisasi PBM Nomor 9 dan 8
Tahun 2006.
B. Masalah Penelitian
Dalam kurun waktu 2006 2007, Pusat Penelitian dan
Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Beragama
Departemen Agama, telah melakukan sosialisasi PBM
Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 kepada aparat pemerintah
daerah dan tokoh agama di beberapa provinsi. Sosialisasi
PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 pada dasarnya merupakan
input berbentuk proses pendidikan nonformal yang
berupaya mewujudkan dampak berupa terciptanya kondisi
kerukunan umat beragama, pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan pemenuhan syarat-
syarat dalam pendirian rumah ibadat. Ketiga kondisi
tersebut (impact) tidak dapat terwujud begitu saja, tetapi
melalui serangkaian pencapaian tujuan secara bertahap yaitu
output dan outcome.
Output sosialisasi adalah tertanamnya nilai-nilai baru
yang akan mendasari perubahan suatu perilaku. Dengan
demikian output sosialisasi PBM dapat dikategorikan dalam

82
dua kelompok. Pertama, tertanamnya nilai-nilai baru dalam
kerukunan umat beragama, FKUB, dan pendirian rumah
ibadat. Sedangkan kelompok tujuan kedua dapat dirinci
menjadi tiga aspek perilaku; (1) terjadinya peningkatan
pengetahuan tentang materi PBM yang telah disosialisasikan;
(2) terwujudnya sikap menerima terhadap aturan PBM; (3)
terwujudnya kemampuan untuk menerapkan aturan yang
tercantum dalam PBM.
Outcome sosialisasi merupakan jembatan antara
output dan impact, sehingga merupakan kondisi yang harus
ada, agar impact dapat terwujud. Dengan demikian kategori
outcome yang akan dicapai adalah (1) terjadinya diseminasi
informasi tentang PBM, (2) pembuatan peraturan-peraturan
di tingkat provinsi/kabupaten/kota sebagai pendukung
pelaksanaan PBM di daerah, (3) peran pemerintah daerah
dalam penciptaan kerukunan umat beragama, (4) peran
majelis agama dalam penciptaan kerukunan umat beragama,
(5) program dan kegiatan penciptaan kerukunan umat
beragama.
Pascasosialisasi PBM tersebut, belum diketahui secara
jelas sejauhmana kegiatan tersebut telah mencapai tujuan
(output, outcome, impact). Untuk itu perlu dilakukan
penelitian yang cenderung bersifat evaluatif untuk
mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan tersebut. Bila
hasil kajian ternyata tujuan tercapai, berarti sosialisasi yang
dilakukan sudah efektif, dan sebaliknya.
Disamping menemukan informasi tentang
pencapaian tujuan tersebut, dalam penelitian ini diperlukan
juga informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
respon sasaran sosialisasi terhadap PBM. Faktor-faktor
tersebut meliputi faktor karakteristik dan persepsi terhadap
sosialisasi PBM. Hal ini akan berguna untuk merumuskan

83

suatu model sosialisasi yang mampu mencapai tujuan secara
optimal. Selain itu diperlukan juga informasi kualitatif
berupa faktor pendukung dan penghambat pencapaian
tujuan sosialisasi.
Dari paparan di atas dapat diidentifikasi beberapa
masalah pokok yang perlu dikaji:
1. Apakah terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam
pemeliharaan kerukunan beragama?
2. Apakah terjadi pemberdayaan forum kerukunan
beragama?
3. Apakah masyarakat mampu memenuhi syarat pendirian
rumah ibadat sesuai PBM?
C. Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan
penelitian ini adalah:
1. Mengetahui tingkat pencapaian tujuan sosialisasi PBM.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
efektivitas pencapaian tujuan sosialisasi PBM
3. Merumuskan model sosialisasi PBM yang efektif.

D. Manfaat
Apabila tujuan penelitian dapat dicapai, maka
hasilnya akan bermanfaat bagi:
1. Departemen Agama, khususnya Puslitbang Kehidupan
Keagamaan dalam menetapkan dan mengimplementasi-
kan kebijakan dalam rangka meningkatkan efektivitas
sosialisasi PBM untuk mewujudkan kerukunan umat
beragama, pemberdayaan FKUB, serta pendirian rumah
ibadat.

84
2. Pemerintah Daerah dalam meningkatkan perannya untuk
mendukung keberhasilan sosialisasi dan implementasi
PBM.
3. Forum Kerukunan Umat Beragama dalam melaksanakan
tugasnya yang meliputi dialog keagamaan, penjaringan
dan penyaluran aspirasi masyarakat, melakukan
sosialisasi PBM, serta rekomendasi pendirian rumah
ibadat.
4. Masyarakat secara luas dalam meningkatkan
partisipasinya untuk memelihara kerukunan umat
beragama.
E. Definisi Istilah
1. Tingkat pendidikan adalah jumlah tahun sukses
mengikuti pendidikan formal.
2. Jumlah pendapatan adalah jumlah uang yang diperoleh
dari usaha atau pekerjaan dalam kurun waktu satu bulan.
3. Kedudukan dalam organisasi keagamaan adalah posisi
yang diamanahkan oleh organisasi keagamaan dan atau
pengikutnya.
4. Kekosmopolitan adalah frekuensi berinteraksi dengan
pemeluk agama lain, mengikuti sosialisasi, mencari
informasi dari berbagai sumber informasi tentang PBM.
5. Persepsi terhadap sosialisasi PBM adalah pengalaman dan
pengetahuan tentang proses belajar yang meliputi tujuan,
materi, metode, media, kemampuan fasilitator, alat,
bahan, tempat, sarana, prasarana, dan durasi.
6. Partisipasi adalah intensitas keterlibatan dalam
pengambilan keputusan tentang perencanaan,
pelaksanaan, penilaian sosialisasi PBM.
7. Pengetahuan tentang PBM adalah jumlah skor test tentang
materi sosialisasi PBM.

85

8. Sikap terhadap PBM adalah derajad penerimaan atau
penolakan terhadap substansi PBM.
9. Diseminasi informasi PBM adalah penyampaian informasi
tentang PBM kepada khalayak luas.
10. Peraturan terkait PBM adalah keberadaan nilai-nilai
formal secara tertulis yang mendukung substansi PBM.
11. Peran pemerintah daerah adalah pelaksanaan tugas
kepala daerah dan aparatnya dalam membina kerukunan
umat beragama.
12. Peran majelis agama/pemuka agama adalah pelaksanaan
keterlibatan mereka dalam membina kerukunan antar
umat beragama.
13. Dinamika FKUB adalah proses-proses yang terjadi dalam
organisasi FKUB yang meliputi hubungan antar peran,
proses komunikasi, dan kerjasama antar mereka.
14. Pendirian rumah ibadat adalah pemenuhan syarat-syarat
dan prosedur formal seperti yang tercantum dalam PBM
untuk membangun sarana fisik peribadatan.
15. Tingkat toleransi antar umat beragama adalah adalah
derajad penerimaan individu terhadap individu lain yang
dilatarbelakangi perbedaan agama.
F. Tinjauan Pustaka
1. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perubahan
Perilaku
a. Usia
Usia menurut kronologi dapat memberikan petunjuk
untuk menentukan tingkat perkembangan individu,
sebab umur menurut kronologi relatif lebih mudah dan
akurat untuk ditentukan (Salkind 1985: 31). Menurut
Padmowihardjo (1994: 36) umur bukan merupakan

86
faktor psikologis, tetapi apa yang diakibatkan oleh
umur adalah faktor psikologis. Seseorang yang
berumur 15-25 tahun akan belajar lebih cepat dan akan
berhasil mempertahankan prestasi belajar jika diberi
bimbingan belajar dengan baik. Kemampuan belajar
berkembang hingga usia 45 tahun dan akan terus
menurun setelah mencapai usia 55 tahun. Terdapat dua
faktor yang menentukan kemampuan seseorang
berhubungan dengan umur. Faktor pertama ialah
mekanisme belajar dan kematangan otak, organ-organ
sensual, dan otot organ-organ tertentu. Faktor kedua
adalah akumulasi pengalaman dan bentuk-bentuk
proses belajar yang lain. Berkenaan dengan umur, von
Senden, et.al, (Havighurst 1974: 6) mengamati gejala
yang menyatakan bahwa terdapat periode kritis dalam
tahap perkembangan selama manusia secara maksimal
menerima stimuli spesifik. Tahap seperti itu hadir
dalam perkembangan proses sensor utama, seperti
konsepsi tentang ukuran, bentuk, dan jarak, dan juga
dalam pengembangan perilaku sosial.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses terencana untuk
merubah perilaku seseorang yang dilandasi adanya
perubahan pengetahuan, keterampilam, dan sikapnya
(Lunandi 1993: 3). Senada dengan itu, Slamet (2003: 20)
mendefinisikan pendidikan sebagai usaha untuk
menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku
manusia. Menurut Soeitoe (1982: 31) pendidikan adalah
suatu proses yang diorganisir dengan tujuan mencapai
sesuatu hasil yang nampak sebagai perubahan dalam
tingkah laku. Pendidikan memberikan nilai-nilai
tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka
pikiran serta menerima hal-hal baru dan juga

87

bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Menurut
Vaizey (1978: 34) tujuan utama pendidikan adalah
mengembangkan kapasitas untuk dapat menikmati
hidup yang biasa. Selanjutnya, Salam (1997: 12)
berpendapat bahwa pendidikan pada hakekatnya
merupakan usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan seseorang dapat melalui atau di luar
sekolah dan dapat dialami selama hidup. Dengan
demikian melalui pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan seseorang akan bertambah.
c. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap perilaku. (Bordenave dalam
Rogers, 1985: 52). Struktur sosial masyarakat
diantaranya adalah kedudukan seseorang dalam
kelompok atau organisasi kemasyarakatan, sementara
itu struktur ekonomi masyarakat diantaranya adalah
jumlah atau tingkat pendapatan setiap anggota
masyarakat.
d. Partisipasi
Partisipasi adalah keterlibatan seseorang dalam
pengambilan keputusan mengenai tujuan, kelompok
sasaran, pesan-pesan, metode, dan evaluasi kegiatan
(van den Ban & Hawkins, 1988). Beberapa alasan
pentingnya partisipasi sasaran perubahan perilaku
adalah (1) mereka memiliki informasi yang sangat
penting untuk merencanakan program yang berhasil,
termasuk tujuan, situasi, pengetahuan dan pengalaman
mereka dengan tekonologi proses pendidikan, serta
struktur sosial masyarakat mereka. (2) mereka akan

88
lebih termotivasi untuk bekerjasama dalam proses
pendidikan jika ikut bertanggungjawab di dalamnya.
(3) masyarakat yang demokratis secara umum
menerima bahwa rakyat yang terlibat, berhak
berpartisipasi dalam keputusan mengenai tujuan yang
ingin mereka capai. (4) banyak permasalahan dalam
kehidupan termasuk kehidupan beragama misalnya
konflik antar agama yang tidak mungkin lagi
dipecahkan dengan pengambilan keputusan
perorangan. Lebih lanjut van den Ban & Hawkins
(1988) menyatakan bahwa partisipasi memungkinkan
perubahan-perubahan yang lebih besar dalam cara
berpikir manusia. Perubahan dalam pemikiran dan
tindakan akan lebih sedikit terjadi dan perubahan-
perubahan ini tidak akan bertahan lama jika mereka
menuruti saran-saran agen penyuluhan dengan patuh,
dari pada bila mereka ikut bertanggungjawab.
Pertanyaan penting yang menyusul setelah uraian
tentang partisipasi adalah siapa yang berpartisipasi?.
Dalam masyarakat yang ukurannya besar, misalnya
pada lingkup provinsi, kabupaten/kota diperlukan
wakil-wakilnya. Dengan demikian sangat penting
untuk menetapkan bagaimana mereka dipilih dan
bagaimana mempertanggungjawabkan keputusan-
keputusan mereka kepada yang mereka wakili. Dalam
konteks kerukunan umat beragama, maka yang
diwakili adalah seluruh umat beragama. Wakil-wakil
tersebut dapat dipilih melalui (1) organisasi
keagamaan, sekurang-kurangnya dengan sejumlah
besar umat yang menjadi anggotanya. Wakil-wakil itu
dapat dimintai pertanggungjawabannya dalam rapat-
rapat organisasi rutin. (2) warga setempat yang terpilih
menjadi anggota DPRD, karena ia dapat meningkatkan

89

pengaruh politik pada penyuluhan yang tidak selalu
diinginkan. (3) agen penyuluhan mencoba memilih
orang-orang yang dapat mewakili seluruh kelompok
sasaran. (4) kepala daerah dan tokoh masyarakat.


e. Kekosmopolitan
Hasil penelitian Lies Fahimah (2001) tentang sikap
pekerja sosial panti terhadap etika kerja menyatakan
bahwa pada taraf kepercayaan 99%, kekosmopolitan
berhubungan nyata secara positif dengan sikap. Dalam
penelitian tersebut yang dimaksud dengan
kekosmopolitan adalah frekuensi melakukan kontak
dengan sumber informasi, frekuensi mengikuti
pelatihan, frekuensi mengikuti pembinaan secara
fungsional, frekuensi mencari informasi melalui media
massa. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan dasar
dalam mencari informasi sejauhmana hubungan antara
kekosmopolitan peserta sosialisasi PBM dengan aspek
perilaku yang salah satunya adalah sikap.
f. Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh
penginderaan. Penginderaan merupakan suatu proses
diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.
Stimulus yang mengenai individu tersebut kemudia
diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu
menyadari tentang apa yang diinderanya (Walgito,
2003: 45). Selanjutnya dikatakan bahwa persepsi
merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh
apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan,
pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan,

90
dan aspek-aspek lain yang ada dalam individu akan
ikut berperan dalam persepsi tersebut. Sementara itu
van den Ban dan Hawkins (1999: 83) menyatakan
bahwa persepsi adalah proses menerima informasi atau
stimuli dari lingkungan dan mengubahnya ke dalam
kesadaran psikologis. Persepsi bersifat relatif, selektif,
dan terorganisir pada diri seseorang.

2. Aspek Perilaku dan Perubahannya
a. Pengetahuan
Untuk memahami lebih luas tentang apa yang
dimaksud dengan pengetahuan, terlebih dahulu harus
diketahui secara jelas perbedaan dan persamaannya
dengan ilmu. Pengetahuan adalah semua buah pikiran
dan pemahaman kita tentang dunia, yang diperoleh
tanpa melalui daur hipotetiko-dedukto-verifikatif
(gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan
pengajuan hipotesa), atau tanpa metode ilmiah.
Sedangkan ilmu adalah produk (buah pikiran,
pemahaman atas dunia termasuk manusia) dari proses
berpikir ilmiah atau metode ilmiah. Dengan demikian
faktor pembedanya jelas, yaitu tata cara perolehan
metode ilmiah. Sedangkan faktor persamaannya
adalah buah pikiran manusia atas dunianya termasuk
atas manusia itu sendiri.
Dengan asumsi bahwa PBM ditetapkan tanpa
melalui metode ilmiah, maka substansi yang
terkandung dalam PBM dan menjadi materi dalam
sosialisasi adalah pengetahuan, yaitu pengetahuan
tentang pemeliharaan kerukunan umat beragama,
pemberdayaan FKUB, dan pendirian rumah ibadat.
Untuk mengukur sejauhmana terjadi perubahan

91

pengetahuan, dapat dilihat dari dimensinya. Menurut
Bloom (dikutip dalam Soedijanto Padmowihardjo,
1994) dimensinya adalah:
(1) Knowledge (pengetahuan) yang antara lain dapat
diukur dengan kata kerja mendefinisikan,
mendeskripsikan, mengidentifikasikan.
(2) Comprehension (pemahaman), dapat diukur antara
lain dengan kata kerja membedakan, menerangkan,
menyimpulkan, menuliskan, memberi contoh.
(3) Aplication (penerapan), dapat diukur antara lain
dengan kata kerja mengubah, mendemonstrasikan,
menghubungkan, memecahkan.
(4) Analysis (analisis), dapat diukur antara lain dengan
kata kerja merinci, membedakan, memilih,
memisahkan.
(5) Synthesis (sintesis), dapat diukur antara lain dengan
kata kerja menciptakan, mengarang,
mengkategorisasi, membuat disain.
(6) Evaluation (evaluasi), dapat diukur antara lain
dengan kata kerja menilai, membandingkan,
menyimpulkan, menafsirkan.

b. Sikap
Thurstone memandang sikap sebagai suatu
tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun
negatif dalam hubungannya dengan obyek-obyek
psikologis (Edwards, 1957: 2). Selanjutnya Walgito
(2003: 110) menegaskan bahwa sikap merupakan
organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai
obyek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya
perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada

92
seseorang untuk membuat respon dalam cara tertentu
yang dipilihnya.
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri
manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan
perilaku tertentu, namun demikian sikap mempunyai
segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain
yang ada dalam diri manusia itu. Oleh karenanya untuk
membedakan sikap dengan pendorong yang lain, perlu
dipahami beberapa ciri atau sifat dari sikap. Adapun
ciri-ciri sikap adalah: (a) sikap tidak dibawa sejak lahir,
(b) sikap selalu berhubungan dengan obyek, (c) sikap
tidak hanya dapat tertuju pada satu obyek saja, namun
juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek, (d) sikap itu
dapat berlangsung lama atau sebentar, dan (e) sikap
mengandung faktor perasaan dan motivasi.
Hubungan antara sikap dan perilaku seseorang,
menurut Ajzen (1988) bahwa keyakinan tentang
konsekuensi perilaku dan penilaian tentang keyakinan
akan menumbuhkan sikap seseorang terhadap sesuatu
obyek. Sikap tersebut bersama-sama dengan norma
subyektif yang mereka miliki selanjutnya melahirkan
intensi untuk berperilaku.
Pengukuran sikap yang paling umum digunakan
skala Likert. Teknik ini dilakukan dengan mengajukan
pernyataan-pernyataan baik yang positif maupun
negatif terhadap materi PBM untuk dinilai oleh
seseorang, apakah dia sangat setuju, setuju, tidak punya
pendapat (netral), tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Skor atas pilihan terhadap pernyataan positif dan
pernyataan negatif adalah kebalikannya.


93

c. Keterampilan
Dalam Taksonomi Bloom, keterampilan ini
merupakan terjemahan dari psychomotor yaitu
kompetensi yang berkaitan dengan tugas dalam suatu
sistem dan perilaku sistematis yang relevan untuk
mencapai tujuan. Lebih spesifik lagi keterampilan ini
dapat bermakna kemampuan (ability) yang
menggambarkan suatu sifat (bawaan atau dipelajari)
yang memungkinkan seseorang untuk melakukan
sesuatu yang bersifat mental atau fisik. Untuk mengukur
sejauhmana terjadi perubahan keterampilan, dapat
menggunakan dimensinya. Menurut Bloom (dikutip
dalam Soedijanto Padmowihardjo, 1994) dimensi
keterampilan adalah:
(1) Imitation (peniruan); meniru gerak yang telah diamati.
(2) Manipulation (manipulasi); menggunakan konsep
untuk melakukan gerak.
(3) Precision (ketepatan); melakukan gerak dengan teliti
dan benar.
(4) Articulation (perangkaian); merangkaikan berbagai
gerakan secara berkesinambungan.
(5) Naturalization (naturalisasi); melakukan gerak secara
wajar dan efisien.
Untuk mengukur keterampilan sasaran sosialisasi
PBM dalam memelihara kerukunan umat beragama,
pemberdayaan KUB, dan pendirian rumah ibadat, maka
diukur sejauhmana kelima dimensi keterampilan
tersebut bersesuaian dengan substansi PBM yang
menjadi materi dalam sosialisasi PBM. Untuk
mengurangi kerancuan tentang konsep gerak, kiranya
bisa dimaknai sebagai segala upaya yang mungkin
dilakukan untuk memelihara kerukunan umat

94
beragama, pemberdayaan FKUB, dan pendirian rumah
ibadat.
3. Teori Peran
Peranan (role) merupakan aspek dinamis dari
kedudukan (status). Bila seseorang atau lembaga
melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya maka ia sudah
menjalankan suatu peranan (Soekanto, 1982: 237). Hal
yang terpenting dari konsep peranan adalah bahwa hal
tersebut dapat mengatur perilaku seseorang individu
atau lembaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih lanjut Soekanto (1982:238-239) menyatakan
pentingnya peranan paling sedikit mencakup tiga hal: (1)
norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau
kedudukan seseorang individu atau lembaga dalam
masyarakat, dalam arti merupakan serangkaian
peraturan yang membimbingnya dalam kehidupan
bermasyarakat; (2) suatu konsep yang dapat dilakukan
oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi; (c)
sebagai perikelakuan individu yang penting bagi struktur
sosial masyarakat. Seseorang pada kedudukan atau
status tertentu dapat dikatakan sudah melaksanakan
perannya bila seseorang tersebut sudah melaksanakan
tugas dan fungsinya sesuai status yang disandangnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Berlo (1964)
membagi peran seseorang menjadi tiga, yakni: (1) role
prescription; (2) role description; dan (3) role expectation.
Role prescription merupakan peran yang dilakukan karena
seseorang harus berperan sesuai kedudukan yang
diberikan menurut kehendak penyusun skenario.
Dengan kata lain peran tersebut layaknya peran yang

95

dilakukan oleh seorang bintang dalam sebuah cerita film
sesuai arahan sutradara. Role description merupakan
peran aktual yang dilakukan sesuai dengan kedudukan
atau status yang disandang dalam kehidupan
bermasyarakat. Sementara itu, role expectation merupakan
peran yang diharapkan oleh anggota kelompok atau
masyarakat pada seseorang individu atau lembaga pada
status atau kedudukan tertentu. Dengan demikian,
FKUB sebagai suatu lembaga keagamaan semestinya
masyarakat berharap dapat melaksanakan peran dengan
sebaik-baiknya.
4. Diseminasi Informasi
Diseminasi infromasi merupakan upaya
penyebarluasan informasi dari sumber kepada khalayak
sasaran. Kegiatan diseminasi dapat dilakukan melalui
pendekatan massa, kelompok, maupun perorangan.
Pendekatan massa dapat memanfaatkan media cetak dan
elektronik seperti surat kabar, majalah, radio, atau
televisi. Diseminasi informasi bertujuan agar materi
informasi dapat dipahami, disikapi, dan dilaksanakan
oleh sasaran dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kegiatan sosialisasi PBM, proses
diseminasi dilakukan oleh sumber (aparat Depag atau
dinas instansi terkait) kepada khalayak sasaran
(masyarakat luas). Namun karena keterbatasan tenaga,
biaya, dan waktu khalayak sasaran terbatas pada tokoh-
tokoh agama yang ada di berbagai kota terpilih, melalui
pendekatan kelompok dimana sasaran dikumpulkan
pada suatu tempat untuk mendapatkan informasi

96
tentang PBM yang disampaikan melalui ceramah dan
tanya jawab.
Melalui pergaulan dan kehidupan sehari-hari
dalam masyarakat diharapkan terjadi proses lanjutan,
yaitu proses difusi artinya tokoh agama yang telah
mengetahui informasi tentang PBM dapat
menyebarluaskan kepada anggota kelompoknya, dan
anggota kelompok yang sudah mengetahui informasi
PBM tersebut juga menyebarluaskan kepada anggota
masyarakat yang lain, begitu seterusnya sampai semua
anggota masyarakat mengetahui materi PBM tersebut.
5. Dinamika Kelompok / Organisasi
Analisis terhadap dinamika kelompok pada
hakekatnya dapat dilakukan melalui dua macam
pendekatan, yakni pendekatan sosiologis dan
pendekatan psiko-sosial (Mardikanto, 1992: 195-196).
Pendekatan sosiologis menganalisis bagian-bagian atau
komponen kelompok dan analisis terhadap proses sistem
sosial. Pendekatan psiko-sosial menganalisis faktor-
faktor yang mempengaruhi dinamika kelompok itu
sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa ditinjau dari
proses sosial, analisis terhadap suatu
kelompok/organisasi mencakup:
(1) Komunikasi (communication), yaitu interaksi antar
sesama anggota dalam pelaksanaan kegiatan demi
tercapainya tujuan kelompok. Komunikasi dalam
kelompok diupayakan agar semua anggota dapat dan
mau berinteraksi untuk mencapai tujuan kelompok
yang sudah disepakati.
(2) Pemeliharaan batas (boundary maintenance), yaitu
pemeliharaan batas-batas sistem sosial

97

(kelompok/organisasi) dengan lingkungannya agar
ada perbedaan yang jelas antara sesama anggota (in-
group) dengan bukan anggota (out-group) sehingga
terjalin rasa setia kawan dalam mewujudkan identitas
kelompok maupun untuk mengahadapi tekanan dari
luar.
(3) Kaitan sistemik (systemic linkage), yaitu proses
terjadinya jalinan atau keterkaitan antar sistem sosial
atau antar kelompok satu dengan kelompok lainnya.
(4) Pelembagaan (institutionalization), yaitu proses
pengembangan fungsi-fungsi sosial atau hubungan-
hubungan sosial yang dapat memberikan arahan
demi tercapainya tujuan-tujuan kelompok.
(5) Sosialisasi (socialization), yaitu proses pembelajaran
atau pewarisan nilai-nilai kelompok dalam rangka
menyiapkan setiap anggota kelompok untuk dapat
melaksanakan perannya sesuai dengan
kedudukannya dalam kelompok sehingga mampu
berperilaku dan dapat melaksanakan kegiatan demi
pencapaian tujuan kelompok.
(6) Kontrol sosial (social control) yaitu proses pengawasan
terhadap perilaku atau kegiatan setiap anggota
kelompok agar tidak menyimpang dari aturan-aturan
yang telah disepakati, demi tercapainya tujuan seperti
yang diharapkan.

G. Kerangka Berpikir
Setelah ditetapkannya PBM Nomor 9 dan 8 Tahun
2006, proses sosialisasi telah dilakukan oleh departemen
maupun dinas/instansi terkait. Sasaran utama sosialisasi
PBM di tingkat provinsi/ kabupaten/kota adalah para tokoh

98
agama yang ada di setiap daerah. Setelah kurang lebih satu
tahun proses sosialisasi dilakukan, perlu diketahui
keberhasilan atau efektivitas sosialisasi PBM yang telah
dilakukan tersebut. Namun demikian, keberhasilan atau
efektivitas sosialisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor,
terutama karakteristik sasaran.
Karakteristik seseorang (faktor internal) yang
meliputi umur, agama, kedudukan dalam organisasi, tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan, kekosmopolitan, partisipasi
dalam sosialisasi akan mempengaruhi perubahan
perilakunya, termasuk perubahan perilakunya setelah
seseorang mendapatkan atau mengikuti sosialisasi materi
PBM.
Persepsi terhadap Sosialisasi PBM yang mencakup
kemampuan fasilitator, metode, dan lain-lain, diharapkan
mampu mengubah perilaku sasaran tentang substansi PBM.
Perubahan perilaku sasaran tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga aspek, yakni pengetahuan tentang substansi
PBM, sikap terhadap substansi PBM, dan kemampuan
sasaran dalam mengimplementasikan substansi PBM dalam
kehidupan bermasyarakat.
Materi PBM sebagai suatu inovasi dalam kehidupan
bermasyarakat hanya mengandung komponen ide (gagasan)
dan tidak memiliki komponen obyek (fisik), serta dalam
pelaksanaan sosialisasi hanya berupa aspek pengetahuan
dan sikap, sehingga perubahan perilaku yang terkait dengan
materi PBM hanya dapat kita ukur dari aspek pengetahuan
dan sikap sasaran sosialisasi terhadap materi PBM.
Meskipun perubahan aspek keterampilan tidak dapat diukur
secara langsung namun dapat dilihat dalam kehidupan
bermasyarakat dalam bentuk outcome (diseminasi informasi
PBM, peraturan terkait PBM (prosedur), peran aparat pemda

99

dalam KUB, peran majelis agama dalam KUB, program
KUB).
Manfaat yang dapat dirasakan setelah sosialisasi PBM
diharapkan akan berdampak pada terciptanya kondisi
kerukunan umat beragama. Sesuai dengan substansi PBM,
dampak tersebut dirasakan melalui adanya pemenuhan
syarat-syarat pendirian rumah ibadat, peningkatan
dinamika FKUB, dan meningkatnya derajad toleransi
beragama di daerah. Namun demikian, fakta di masyarakat
dapat dijumpai adanya faktor pendukung maupun faktor
penghambat terjadinya dampak (impact) sosialisasi PBM
tersebut.
Secara skematis, hubungan antar peubah dalam
penelitian ini dapat dilihat pada diagram atau Gambar 1
berikut:

100

Gambar 1. Hubungan antar variabel penelitian
H. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, masalah, tinjauan
pustaka, dan kerangka berfikir, hipotesis penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
(X1) Karakteristik (faktor-faktor yg
Berpengaruh)
Usia
Lama sekolah
Jumlah pendapatan
Kedudukan dalam org. keagamaan
Agama
Kekosmopolitan
Partisipasi dalam sosialisasi
(Y1) Variabelan aspek
perilaku tentang substansi
PBM (output)
- Pengetahuan
- Sikap
(Y3) Kerukunan beragama (dampak)
Pendirian rumah ibadat
Tingkat toleransi antar umat
agama
(Y2) Manfaat sosialisasi
(outcome)
- Diseminasi informasi PBM
- Peraturan terkait PBM
- Peran pemda dalam KUB
- Peran majelis dan oemuka
agama dalam KUB
- Dinamika FKUB
(X2) Persepsi terhadap
Sosialisasi PBM
- tujuan
- materi
- metode
- media
- kemampuan
fasilitator
- alat
- bahan
- tempat
- sarana
- prasarana
- durasi
Pendukung
Penghambat
Penghambat
Penghambat
Pendukung
Pendukung

101

(1) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik sasaran
(usia, lama sekolah, jumlah pendapatan, kedudukan
dalam organisasi keagamaan, agama, kekosmopolitan,
dan partisipasi dalam sosialisasi dengan perubahan
pengetahuan dan sikap terhadap PBM.
(2) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik sasaran
dengan persepsi terhadap sosialisasi PBM.
(3) Terdapat hubungan nyata antara persepsi terhadap
sosialisasi PBM dengan perubahan pengetahuan dan
sikap terhadap PBM.
(4) Karaktersistik individu berpengaruh nyata terhadap
perubahan pengetahuan dan sikap tentang PBM.
(5) Karaktersistik individu berpengaruh nyata terhadap
persepsi sosialisasi PBM.
(6) Persepsi sosialisasi PBM berpengaruh nyata terhadap
perubahan pengetahuan dan sikap PBM.
(7) Perubahan pengetahuan dan sikap tentang PBM
berpengaruh nyata terhadap manfaat sosialisasi PBM.
(8) Manfaat sosialisasi PBM berpengaruh nyata terhadap
tingkat kerukunan beragama.

I. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di 13 lokasi, masing-masing
di Medan-Sumatera Utara; Padang-Sumatera Barat; Banda
Aceh Nangroe Aceh Darussalam; Semarang Jawa Tengah;
Surabaya Jawa Timur; Denpasar-Bali; Pontianak
Kalimantan Barat; Banjarmasin Kalimantan Selatan; Ambon
Maluku; Kupang - Nusa Tenggara Timur; Tanjung Pinang
Kepulauan Riau; Kendari Sulawesi Tenggara dan
Palangkaraya-Kalimantan Tengah. Pemilihan 13 lokasi ini
dengan pertimbangan, selain di daerah setempat sudah
pernah dilakukan sosialisasi PBM, secara geografis wilayah

102
sasaran tersebut terletak di kawasan berbeda yakni kawasan
barat, tengah, dan timur.

J. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah anggota masyarakat
Indonesia yang telah mengikuti sosialisasi. Kegiatan
sosialisasi ini telah di laksanakan di tiga belas kota (provinsi),
yang dihadiri oleh perwakilan semua pemeluk agama di
lokasi sosialisasi.
Menurut Yamane (1967:99 dalam Rahmat, 2002:82),
untuk menghitung ukuran sampel didasarkan pada
pendugaan proporsi populasi. Rumus sederhana yang
digunakan sebagai berikut:
1
2
+
=
o N
N
n
dimana : n = jumlah sampel
N = populasi
= 1 - presisi (tingkat kepercayaan)
Dengan asumsi sasaran sosialisasi di setiap provinsi
sebanyak 50 orang, berarti populasi sasaran dari 13 lokasi
adalah sejumlah 650 orang. Berdasarkan rumus Yamane
tersebut, dengan presisi 95% maka jumlah sampel sebesar
248 orang. Penentuan sampel penelitian ini dilakukan secara
proporsional random sampling. Proporsi sampel didasarkan
atas jumlah pemeluk agama peserta sosialisasi di masing-
masing lokasi penelitian.
K. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey, artinya
penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data

103

yang pokok (Singarimbun, 1989:3). Senada dengan pendapat
tersebut Kerlinger (2004 : 660) menyatakan bahwa penelitian
survey mengkaji populasi yang besar maupun yang kecil
dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari
populasi tersebut untuk menemukan insidensi, distribusi,
dan interrelasi relatif dari variabel-variabel sosiologis dan
psikologis.
Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional, artinya
penelitian ini berusaha menggambarkan secara deskriptif
dari temuan data di lapangan, dan berusaha mencari
hubungan antara data yang bersifat bebas (independent
variable) dengan data yang bersifat terikat (dependent variable).
Penelitian ini juga bersifat confirmatory, artinya data yang
dikumpulkan dengan cara mengkonfirmasi data yang sudah
ada kepada sampel atau responden dengan cara wawancara
langsung (interview) dengan berpedoman pada kuesioner
yang telah dipersiapkan sebelumnya.

L. Data dan Instrumentasi
Data penelitian ini dibedakan menjadi data primer
dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dari kepala
keluarga sebagai sampel. Jenis data yang dikumpulkan
beragam dari data nominal untuk: agama; data interval
untuk: kedudukan dalam organisasi keagamaan,
kekosmopolitan, partisipasi dalam sosialisasi, persepsi
terhadap sosialisasi (fasilitator, media, metode, materi, dan
akses terhadap informasi); data rasio untuk usia, lama
sekolah (tingkat pendidikan), dan jumlah pendapatan. Data
primer juga dilengkapi dari pengamatan langsung yang
diperoleh peneliti selama melaksanakan pengumpulan data
primer, namun tidak tercantum dalam kuesioner. Data ini

104
diharapkan dapat melengkapi data dan gambaran umum
tentang sampel dan wilayah penelitian. Data sekunder
dikumpulkan dari lembaga atau dinas instansi yang terkait
dengan penelitian ini.
Instrumentasi merupakan upaya menyusun alat ukur
atau menentukan parameter terhadap variabel yang diteliti.
Instrumentasi yang berupa kuesioner dikembangkan melalui
penentuan batasan operasional dari variabel, menetapkan
indikator-indikator variabel, dan menentukan parameter dari
setiap indikator variabel. Kuesioner yang telah disusun,
sebelum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian
terlebih dulu diuji validitas dan reliabilitasnya.

M. Validitas dan Reliabilitas
Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Dalam
penelitian ini menggunakan kuesioner, maka kuesioner yang
digunakan harus mengukur apa yang ingin diukur.
Validitas alat pengumpul data yang digunakan adalah
validitas isi (content validity). Validitas isi suatu alat
pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur
tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek
kerangka konsep.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh
mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat
diandalkan. Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat
pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Setiap alat
pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk
memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Dalam
pengukuran gejala sosial selalu diperhitungkan unsur
kesalahan pengukuran (measurement error). Setiap hasil

105

pengukuran sosial selalu merupakan kombinasi antara hasil
pengukuran yang sesungguhnya (true score) ditambah
dengan kesalahan pengukuran. Makin kecil kesalahan
pengukuran, makin reliabel alat pengukur tersebut,
sebaliknya semakin besar kesalahan pengukuran, alat
pengukur tersebut makin tidak reliabel.
Reliabilitas alat ukur dilakukan dengan menghitung
nilai korelasi product moment antara masing-masing
pertanyaan dengan skor total, dengan rumus sebagai berikut:
r =
|| | |




2 2 2 2
) ( ) (
) ( ) (
Y Y N X X N
Y X XY N

(Singarimbun, 1989: 137)

N. Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer melalui wawancara
dengan responden dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2007.
Lokasi dalam kajian ini meliputi 13 wilayah sasaran, masing-
masing di Banda Aceh-Nangroe Aceh Darussalam; Medan-
Sumatera Utara; Padang-Sumatera Barat; Tanjungpinang-
Kepulauan Riau; Surabaya-Jawa Timur; Denpasar-Bali;
Mataram-Nusa Tenggara Barat; Palangkaraya-Kalimantan
Tengah; Banjarmasin-Kalimantan Selatan; Pontianak-
Kalimantan Barat; Kendari-Sulawesi Tenggara, Ambon-
Maluku; dan Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pemilihan 13 lokasi ini dengan pertimbangan, selain di
daerah setempat sudah pernah dilakukan sosialisasi PBM,
secara geografis wilayah sasaran tersebut terletak di kawasan
berbeda yakni kawasan barat, tengah, dan timur. Sumber
data primer penelitian ini adalah anggota masyarakat yang

106
telah mengikuti sosialisasi di lokasi terpilih, yang diharapkan
mewakili semua anggota masyarakat, semua pemeluk,
semua agama yang ada di wilayah tersebut. Pengumpulan
data akan dilakukan oleh enumerator. Untuk menyamakan
pemahaman terhadap materi kuesioner, enumerator
diberikan pembekalan (coaching) dilanjutkan dengan uji coba
kuesioner (try out)di DKI Jakarta.

O. Analisis Data
Analisis data penelitian ini menggunakan uji korelasi
Koefisien Kontingensi, uji korelasi Rank Spearman, dan
dilanjutkan dengan regresi linear berganda, serta analisis
jalur (path analysis).
Uji korelasi Koefisien Kontingensi digunakan untuk
mengetahui hubungan antara variabel jenis kelamin, agama,
dan etnis responden dengan variabel lain. Uji Koefisien
Kontingensi dipilih karena data tersebut termasuk data
nominal. Uji Koefisien Kontingensi didapatkan setelah kita
dapatkan nilai
2
(Chi-Square). Besarnya Koefisien
Kontingensi menurut Siegel (1986: 243) adalah sbagai
berikut:
2
2
_
_
+
=
N
C
dimana
2
=

= =

r
i
k
j
ij
ij ij
E
E O
1 1
2
) (
,
dimana Oij = jumlah observasi untuk kasus-kasus
yang dikategorikan dalam baris ke-I
pada kolom ke-j,

107

Eij = banyak kasus yang diharapkan di
bawah Ho untuk dikategorikan
dalam baris ke-i pada kolom ke-j.
Uji Korelasi Rank Spearman (rs atau ) digunakan
untuk mengetahui keeratan hubungan antara data variabel
yang termasuk data ordinal atau interval. Dalam penelitian
ini data karakteristik responden kedudukan dalam
organisasi keagamaan, kekosmopolitan, partisipasi dalam
sosialisasi, persepsi terhadap kemampuan fasilitator, media,
metode, materi, dan akses terhadap informasi; data rasio
untuk usia, lama sekolah (tingkat pendidikan), dan jumlah
pendapatan, serta frekuensi mendapat informasi. Besarnya
Korelasi Rank Spearman (rs) menurut Siegel (1986: 253)
adalah sebesar:
rs = 1 -
N N
d
N
i
i

=
3
1
2
6

dimana: N = jumlah sampel
di = perbedaan antar kedua ranking
Untuk variabel yang memiliki hubungan nyata
dengan variabel terikat (Y1 atau perubahan aspek perilaku,
Y2 atau manfaat sosialisasi (outcome), dan Y3 atau kerukunan
beragama (dampak) dilanjutkan dengan uji regresi linear
berganda, dimana besarnya Y = f (a + b1X1 + b2X2 + b3X3 +
<.+ ) (Supranto, 2004:57)
Untuk memperkuat alasan kemana arah pengaruh
berbagai variabel bebas (X1 dan X2) terhadap variabel terikat
(Y), maka dilanjutkan dengan analisis jalur (path analysis).
Langkah yang dilakukan terhadap hasil uji regresi adalah

108
merumuskan fungsi (Y1) dengan koefisien X yang
berpengaruh, dengan persamaan fungsi Z dengan koefsien X
yang distandarisasi. Dari berbagai variabel yang
berpengaruh kemudian kita rumuskan fungsi dari koefisien
variabel bebas yang pengaruhnya nyata.
Selanjutnya kita lakukan pemeriksaan validitas
model, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesahihan
suatu analisis yang kita lakukan, dengan menghitung
besarnya koefisien determinasi. Koefisien determinasi total
untuk mengetahui validitas model. Untuk itu harus dihitung
besarnya 1 dan 2, dengan rumus (Solimun, 2002)
=
2
1 R
Besarnya koefisien determinasi total, menurut
Solimun (2002) dirumuskan sebagai berikut:

2 2
2
2
1
2
... 1
ep e e m
P P P R =
Uji ini untuk mengetahui keragaman data yang dapat
dijelaskan oleh model tersebut. Dengan kata lain seberapa
besar (persentase) informasi yang terkandung dalam data
yang dapat dijelaskan oleh model tersebut, dan informasi
yang dapat dijelaskan oleh variabel lain (yang belum
terdapat di dalam model), serta tingkat kesalahan (error) dari
model. Setelah dilakukan validasi kita dapatkan jalur atau
arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Tahap pengolahan data dimulai dari editing, tabulasi,
kompilasi, dan data entry yang memanfaatkan software Exel
2003 dan selanjutnya dianalisis dengan bantuan software
SPSS (Statistical Package for Social Sciences).


109





110
LAMPIRAN 2
CATATAN HASIL WAWANCARA DAN PENGAMATAN

I
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Nangroe Aceh Darussalam
Oleh: Haidlor Ali Ahmad, MM

Pada pertengahan bulan Desember 2006 telah
dilaksanakan Sosialisasi PBM bagi 100 orang peserta yang
terdiri dari para pemimpin formal dan informal, yaitu
pejabat pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten/kota,
para tokoh agama, pimpinan ormas keagamaan, tokoh adat,
tokoh masyarakat, tokoh muda, dan unsur perguruan tinggi.
Selanjutnya, dalam setiap orientasi atau dialog baik
yang bersifat intern umat beragama dengan pemerintah
maupun antar umat beragama selalu dilakukan Sosialisasi
Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Kegiatan
sosialisasi PBM tersebut biasanya diikuti 160 orang peserta,
dengan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk masing-
masing kegiatan selama 4 jam permateri.
Menurut salah seorang pejabat di Kanwil
Departemen Agama, sosialisasi PBM di wilayah Provinsi
NAD baru dilaksanakan oleh Kanwil Departemen Agama
Provinsi, sedangkan instansi-instansi lain belum ada yang
melaksanakan. Pihak Kesbang Linmas membenarkan
pernyataan pejabat Kanwil Departemen Agama tersebut,

111

menegaskan bahwa sosialisasi dari Departemen Dalam
Negeri secara khusus memang belum pernah dilakukan.
Tapi dari Depdagri biasanya memasukkan materi sosialisasi
PBM dalam berbagai macam kegiatan. Diakui pula mereka
yang mengikuti kegiatan tersebut memang sangat terbatas,
khususnya dari jajaran Kesbang Kota Banda Aceh.
Rencana sosialisai yang akan datang akan diadakan
sosialisasi PBM bagi seluruh BEM perguruan tinggi di
wilayah Provinsi NAD, dengan tema Revitalisasi Wawasan
Kebangsaan.
Dalan pelaksanaan sosialisasi PBM masalah sarana
dan prasarana tidak menjadi hambatan karena sosialisasi
PBM tidak membutuhkan sarana dan prasarana secara
khusus. Demikian pula, SDM tidak pada hambatan, Karena
SDM untuk sosialisasi PBM cukup. Namun yang terasa
menjadi hambatan adalah masalah dana.

Pasca Sosialisasi
Penyelesaian Kasus Rumah Ibadat
Setelah diselenggarakan sosialisasi PBM, pemerintah
daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota
memiliki acuan jelas, yang memiliki kekuatan hukum yang
sah. Penyelesaian kasus rumah ibadat, antara lain dilakukan
di Kota Langsa berupa penyalahgunaan bangunan ruko
menjadi tempat ibadat. Hal ini telah selesai dengan
kesadaran dan pengakuan dari pihak pelaku serta telah
ditandatangani surat pernyataan dan mengembalikan
bentuk bangunan sesuai dengan Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB) yang dikeluarkan oleh Wali Kota Langsa.

112
Selain itu juga dilakukan penyelesaian kasus
penyalahgunaan bangunan rumah dijadikan tempat ibadat
di Desa Dalam Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh
Tamiang. Kasus ini diselesaikan dengan diterbitkannya
Instruksi Gebernur NAD kepada Bupati Aceh Tamiang.
Instruksi ini telah ditindaklanjuti oleh pihak terkait dan yang
pemeluk agama yang bersangkutan telah menghentikan
kegitannya.

Program Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Setelah dilaksanakan sosialisasi di wilayah Provinsi
NAD, selanjutnya akan dilaksanakan langkah-langkah
berupa program jangka pendek dan jangka panjang sebagai
berikut:
Program Jangka Pendek
1. Musyawarah/Dialog Kerukunan Intern , Antar Umat
Beragama dan Antara Umat Beragama dengan
Pemerintah;
2. Orientasi dan Pembinaan Kerukunan Umat Beragama
bagi Penyuluh Agama;
3. Sosialisasi secara intensif tentang Peningkatan
Kerukunan Umat Beragama Sesuai dengan PBM Nomor
9 dan 8 Tahun 2006 serta peraturan dan perundangan
lain yang berlaku.
Ketiga kegiatan tersebut tersebut telah dilaksanakan
dalam bulan April 2007 dan berakhir pada tanggal 5 Mei
2007.
4. Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB) untuk tingkat provinsi dan semua
kabupaten/kota.
Sesuai dengan tuntutan PBM Nomor 9 dan 8 Tahun
2006 bahwa FKUB harus terbentuk selambat-lambatnya satu

113

tahun sejak PBM tersebut diberlakukan. Namun untuk
Provinsi NAD pada waktu penelitian ini dilakukan, baru
menerbitkan Peraturan Gubernur yang mengatur tentang
FKUB. Sedangkan pembentukan FKUB nya sedang dalam
proses pembuatan SK pengurus.
Keterlambatan Provinsi NAD dalam pembentukan
FKUB adalah karena :
- Di wilayah Provinsi NAD tidak pernah terjadi konflik
antar umat beragama .
- Segenap komponen masyarakat sedang sibuk berbenah
diri dari berbagai persoalan baik karena peristiwa
tsunami yang meluluhlantakkan berbagai sarana dan
prasarna, maupun karena konflik antara pemerintah RI
dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua hal ini
menjadi prioritas utama pemerintah dan elemen
masyarakat.
- Sejak tahun 2004 Gubernur NAD tidak definitive dan
dari 21 bupati/walikota dalam wilayah NAD 19
bupati/walikota diantaranya adalah pejabat sementara
yang masa jabatannya hanya 6 bulan, yang selanjutnya
digantikan oleh pejabat sementara yang baru.
- Kesibukan Gubernur NAD, Bupati/Walikota di seluruh
wilayah Provinsi NAD dan staf-stafnya serta instansi
terkait dan sejumlah elemen masyarakat menangani
persiapan hingga penyelenggaraan Pilkada.yang
dilaksanakan secara serentak pada tanggal 11 Desember
2006.
Program Jangka Panjang
1. Mewujudkan Sekretariat Bersama Forum Kerukunan
Umat Beragama (FKUB)

114
2. Membangun jaringan komunikasi (network) kerukunan
umat beragama.
3. Melaksanakan program peningkatan pengamalan dan
penghayatan ajaran agama secara konsekuen dan
konsisten melalui dakwah /khutbah/pengjian dan
berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
4. Mengupayakan penyediaan dana pendukung kerukunan
umat beragama baik melalui ABPD maupun ABPN
untuk seluruh kabupaten/kota.

Pembinaan Kerukunan Umat Beragama
Pembinaan kerukunan umat beragama yang telah
dilakukan hingga tahun 2006 sebagai berikut:
1. Dialog Intern Umat Beragama Angkatan I berjumlah 40
orang peserta yang terdiri dari tokoh agama (Islam ).
Dilaksanakan pada tanggal 21 24 Juli, bertempat di
Gedung PSBB MAN Model Banda Aceh.
2. Dialog Antara Umat Beragama dengan Pemerintah satu
angkatan jumlah peserta 40 orang, yang terdiri dari
tokoh-tokoh agama. Dilaksanakan pada tanggal 21-24 Juli
2006 bertempat di gedung PSBB MAN Model Banda
Aceh.
3. Dialog Intern Umat Beragama Angkatan II jumlah
peserta 40 orang , terdiri dari tokoh agama Islam.
Dilaksanakan pada tanggal 28-31 Juli 2006 di Gedung
Islamic Center Kota Langsa.
4. Dialog Antar Umat Beragama satu angkatan, jumlah
peserta 40 orang yang terdiri dari tokoh/pemuka agama
dari semua agama, dilaksanakan pada tanggal 28-31 Juli
2006 bertempat di Gedung Islamic Centre Kota Langsa.

Pembentukan FKUB

115

Pada tanggal 19 Juli 2007 Provinsi NAD telah berhasil
menyusun personalia FKUB Provinsi NAD. Susunan
personalia tersebut sebagai berikut:
No Nama Agama Jabatan
1 Dr. H. Syamsul Rijal,
M.Ag.
Islam Ketua
2 H. Syamsunan
Muhammad, SE
Islam Wakil
Ketua
3 P. Sebastianus Eka, BS Katolik Wakil
Ketua
4 Drs. Muharrir Asyary Islam Sekretaris
5. Dr. Nurjanah Ismail,
M.Ag.
Islam Wakil
Skretaris
6 Drs.HM. Jamil Ibrahim Islam Anggota
7 Drs. H. Abdurrahman
Kaoy
Islam Anggota
8 Syamsul Bahri, S.Ag,
M.Ag.
Islam Anggota
9 Tgk H. Daud Zamzamy Islam Anggota
10 Dr.H. Azman Ismail Islam Anggota
11 Drs. H. Salahuddin Hasan Islam Anggota
12 Dra. Raihan Putri,M.Pd. Islam Anggota
13 Ir. Zardan Araby, MM,
MT.
Islam Anggota
14 Dr.Ir.H. Agussalim Islam Anggota
15 H.Zainuddin Ahmad,
S.Ag
Islam Anggota
16 Drs.H. Adnan Jamal Islam Anggota
17 Drs. Tgk. H.Ghazali M.
Syam
Islam Anggota
18 Firman Mangunso Protestan Anggota

116
19 Kasai Buddha Anggota
20 Ir. Paini Hindu Anggota
21 Khonghucu Anggota
Nama Susunan Personalia FKUB ini masih
merupakan konsep, belum diberi nomor dan baru diparaf
oleh Kaba Kesbang, Drs. Suwarno Amin. Anggota nomor 21
yang disediakan untuk wakil dari Khonghucu masih kosong.
Sebagaimana di atas sudah dijelaskan, kalangan WNI
keturunan Cina/Tionghoa tidak ada yang mengaku sebagai
penganut Khonghucu, pada umumnya mereka menganut
agama Katolik atau Buddha.

Efektivitas Sosialisasi PBM.
Tidak efektifnya sosialisasi PBM di wilayah Provinsi
NAD karena tidak dosialisasikan hingga akar rumput. Saran
dari pejabat Kesbang Linmas Provinsi NAD di wilayah NAD
harus ada kebijakan lain.
Belum efektifnya sosialisasi PBM antara lain terlihat
sebagian besar responden yang mengisi kuesioner, tidak
bersedia mengisi/menjawab pertanyaan berkenaan dengan
keberadaan rumah ibadat umat lain di lingkungannya.
Responden tersebut berasal dari berbagai agama dan sudah
mengikuti sosialisasi PBM.
Salah seorang responden (muslim) mengatakan jika
ada rumah ibadat dari agama lain dan sudah ada sejak
dahulu, maka kami berkewajiban untuk menjaganya. Tapi
jika di lingkungan kami akan didirikan rumah ibadat baru
oleh umat lain, hal itu jangan sampai terjadi.




117




Daftar Bacaan

Pakeh, M. Daud, Drs. H., Kondisi Kerukunan Umat Beragama di
Provinsi Nangro Aceh Darussalam,
(makalah, tidak diterbitkan), Banda Aceh,
5 Mei 2007.

Satker Sementara BRR Penguatan Kelembagaan Kominfo,
Undang-undang Republik Indonesia No. 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.










118
II
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Sumatera Utara
Oleh: Titik Suwariyati dan Akmal Salim Ruhana

Hingga Mei 2007 di Sumatera Utara telah dilakukan
sedikitnya enam kali acara Sosialisasi. Tiga kali diantaranya
diselenggarakan oleh Kanwil Departemen Agama Provinsi
Sumatera Utara. Pemberi materi pada Sosialisasi tersebut
ialah Kepala Kanwil Depag Sumatera Utara, Bapak Drs. H. Z.
Arifin Nurdin, SH, M.Kn. Jika beliau berhalangan, maka
Kabag TU, Bapak H. Taufiqurrahman, yang mewakilinya.
Dalam pelaksanaannya, narasumber dari Kanwil ini selalu
dipanel dengan narasumber dari Badan Kesabangpol/Linmas
Sumatera Utara, baik Kepala Badannya maupun yang
mewakilinya. Selain itu, turut dipanel juga narasumber
perwakilan dari FKUB Provinsi Sumatera Utara.
Demikian halnya jika Sosialisasi diselenggarakan oleh
Kesbang/Linmas ataupun FKUB, narasumbernya berasal dari
ketiga instansi Depag, Kesbang/Linmas dan FKUB.
Tatacara Sosialisasi yang dilakukan masih
konvensional. Setelah acara seremoni pembukaan,
dilanjutkan dengan pemaparan oleh para narasumber secara
panel. Biasanya pemaparan ini dibantu alat peraga berupa
LCD yang menayangkan slide powerpoint PBMyang telah
baku dan diterima dari pusat. Setelah pemaparan ketiga
narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab
dengan peserta, hingga dua atau tiga sesi.

119

FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama)
Di Provinsi Sumatera Utara, seluruh kabupaten/kota
telah membentuk FKUB dan Dewan Penasihat FKUB.
Namun demikian, hingga penelitian ini dilakukan baru 6
dari 28 kabupaten/kota saja yang telah dikukuhkan dengan
Surat Keputusan Bupati/Walikota. Di tingkat provinsi sendiri
telah dibentuk dikukuhkan dengan Peraturan Gubernur,
yakni Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 24 Tahun
2006 tentang FKUB dan Dewan Penasihat FKUB Provinsi dan
Kabupaten/Kota Sumatera Utara, tertanggal 19 Agustus 2006.
Surat Keputusan dan Peraturan tersebut
sesungguhnya bukanlah semata pengukuhan eksistensi
FKUB dan Dewan Penasihat FKUB, melainkan jawaban atas
tuntutan Pasal 12 PBM yang menjadi guidance dalam
pelaksanaan tugas FKUB dan Dewan Penasihat FKUB di
daerah masing-masing. Berikut selengkapnya beberapa SK
dan Peraturan yang telah diterbitkan di Sumatera Utara:

No.
Pemerintah
Daerah
Peraturan terkait FKUB
1 Provinsi
Sumatera Utara
1. Peraturan Gubernur Sumatera
Utara No. 24 Tahun 2006
tentang FKUB dan Dewan
Penasihat FKUB Provinsi dan
Kabupaten/Kota Sumatera
Utara (tgl. 19 Agustus 2006)
2. SK Gubernur Sumatera Utara
No. 450/417/K/2007 tentang
Komposisi Keanggotaan FKUB
Provinsi Sumatera Utara,
periode 2007-2012 (tgl. 22

120
Maret 2007)
3. SK Gubernur Sumatera Utara
No. 450-05/418/K/2007 tentang
Pembentukan Dewan
Penasihat FKUB Provinsi
Sumatera Utara (tgl. 22 Maret
2007)
2 Kabupaten Dairi 1. SK Bupati Dairi No. 53 Tahun
2007 tentang Pengukuhan
Kepengurusan FKUB
Kabupaten Dairi, periode
2007-2012 (tgl. 8 Maret 2007)
2. SK Bupati Dairi No. 58 Tahun
2007 tentang Dewan Penasihat
FKUB Kabupaten Dairi (tgl. 14
Maret 2007)
3 Kabupaten Toba
Samosir
1. SK Bupati Toba Samosir No.
29 Tahun 2007 tentang
Komposisi Keanggotaan FKUB
Kabupaten Toba Samosir,
periode 2007-2012 (tgl. 19
Februari 2007)
2. SK Bupati Toba Samosir No.
31 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Dewan
Penasihat FKUB Kabupaten
Toba Samosir (tgl. 21 Februari
2007)
4 Kabupaten
Mandailing
Natal
SK Bupati Mandailing Natal No.
400/251/K/2007 tentang
Pembentukan Dewan Penasihat
dan Dewan Pengurus FKUB
Kabupaten Mandailing Natal

121

(tgl. 1 Mei 2007)
5 Kabupaten
Serdang Bedagai
SK Bupati Serdang Bedagai No.
175/450/2007 tentang Penetapan
Susunan Pengurus FKUB dan
Dewan Penasihat FKUB
Kabupaten Serdang Bedagai (tgl.
31 Mei 2007)
6 Kabupaten
Asahan
SK Bupati Asahan No. 158-
SOS/2007 tentang Komposisi
Dewan Penasihat, Sekretariat
Dewan Penasihat, dan Struktur
Pengurus FKUB Kabupaten
Asahan, periode 2007-2012 (tgl.
30 Mei 2007)
7 Kota Sibolga SK Walikota Sibolga No.
230/72/2007 tentang
Pembentukan FKUB Kota
Sibolga, periode 2007-2012 (tgl.
11 April 2007)

Adapun kabupaten/kota yang belum menerbitkan SK
atau peraturan tentang ini, adalah: Kabupaten Batubara,
Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Humbang Hasundutan,
Kabupaten Karo, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten
Langkat, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan,
Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Samosir, Kabupaten
Simalungun, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten
Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten
Padang Lawas, Kabupaten Angkola Sipirok, Kota Binjai,
Kota Medan, Kota Padang Sidempuan, Kota
Pematangsiantar, Kota Tanjung Balai, dan Kota Tebing
Tinggi.

122
Sesungguhnya di Sumatera Utara sebelum adanya
perintah PBM untuk membentuk FKUB ini telah ada forum
sejenis FKUB yang telah lama eksis dan dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat. Forum itu adalah Forum
Komunikasi Pemuka Agama (FKPA) Sumatera Utara, yang
telah berdiri sejak tahun 1996. Namun sejak diterbitkannya
PBM, dalam rangka mematuhi perintah Pasal 27 Ayat 2
tentang Ketentuan Peralihan, maka FKPA dibubarkan dan
dibentuk FKUB sesuai ketentuan dalam PBM.
Di Sumatera Utara, di samping FKUB ada juga
LPKUB (Lembaga Pengkajian Kerukunan Umat Beragama),
yang juga telah eksis sejak 1996. Lembaga ini tidak
mengalami peleburan atau pembubaran karena bukan sejenis
FKUB, melainkan sebuah lembaga yang memfokuskan diri
pada masalah-masalah kerukunan di Sumatera Utara dari
sisi kajian/penelitian an sich dan tidak pada tataran praksis
sebagaimana FKPA. Lembaga ini tetap ada bahkan satu
atap (maksudnya, berkantor pada gedung yang sama
namun berbeda lantai) dengan Kantor FKUB Provinsi
Sumatera Utara, yakni di Lt. 3 sebuah ruko di bilangan Jl.
Amal Medan, Sumatera Utarasatu lantai di atas Ruang
Rapat Kantor FKUB.
Penolakan terhadap PBM?
Sejauh ini, di Sumatera Utara tidak ada penolakan
terhadap PBM, selain adanya beberapa keberatan secara
pribadi-pribadi atas Pasal 14, yang mengandung ketentuan
tentang persyaratan minimal 90 orang calon pengguna
rumah ibadat dan 60 orang pendukung dari masyarakat
sekitar rumah ibadat yang akan didirikan. Namun demikian,
setelah diberikan penjelasan bahwa ketentuan itu dan
seutuhnya PBM adalah kesepakatan para wakil masing-

123

masing agama di tingkat pusat, maka mereka yang keberatan
tadi dapat menerimanya.
1
Secara umum, hal ini dapat
dijelaskan. Banyaknya masyarakat yang belum memahami
secara utuh tentang isi dan sejarah PBM tersebut, sehingga
masih menggunakan paradigma lama dalam melihat sebuah
peraturan, maka muncul beberapa sikap resistan. Padahal
jika dipahami betul hakikat keberadaan peraturan ini dan
juga isinya, dapat dipastikan tak akan ada lagi nada-nada
penolakan itu.
Kasus-kasus
Sejak setahun PBM diberlakukan jarang sekali
ditemukan kasus terkait pendirian rumah ibadat di Sumatera
Utara. Hal ini karena memang jarang sekali yang berencana
membangun rumah ibadat baru, mungkin rumah ibadat
yang ada sudah mencukupi. Yang ada adalah masalah ruko
yang dijadikan tempat ibadat. Salahsatunya terjadi di Medan
Plaza yang digunakan untuk kebaktian.
Gejala seperti ini berlaku juga di daerah lain.
Menurut laporan Gatra, edisi 21 Januari 2008, penggunaan
ruko dan mal sebagai tempat ibadat dimulai sejak tahun
1990-an, terutama diawali Gereja Tiberias. Hal ini dipicu rasa
tidak nyaman para penganut agama Kristen untuk beribadat
di gereja yang belum berizin (baca: IMB) yang dituntut
warga sekitar untuk ditutup. Perkembangan terbaru bahkan
diberitakan bahwa PGI dan KWI mengadukan kepada
Komnas HAM atas penutupan paksa oleh warga atas
seratusan gereja di berbagai tempat.

1
Wawancara dengan Solehudin, SH, Kabag Humas dan KUB,
Kanwil Departemen Agama Sumatera Utara, 30 Juli 2007.

124
Solusi permasalahan ini sesungguhnya telah
diberikan oleh PBM itu sendiri. Pertama, perlu diklarifikasi,
jika gereja tersebut memang telah ber-IMB rumah ibadat,
maka semestinya tidak perlu ada penutupan paksa itu.
Namun jika memang tempat ibadat itu belum ber-IMB
rumah ibadat (misalnya ber-IMB rumah tinggal atau mall),
maka kembalikan ke pasal-pasal tentang pemberian izin
sementara bangunan gedung bukan rumah ibadat untuk
tempat beribadat. (Pasal 18-20 PBM).
Faktor Pendukung Sosialisasi PBM
Beberapa faktor yang mendukung sosialisasi ini
adalah adanya political will dari pihak Departemen Agama,
Kesbang Linmas, dan FKUB dalam menyosialisasikan PBM
ini.
Bagaimana Sosialisasi ke depan?
Berkaca dari pelaksanaan sosialisasi PBM yang telah
dilaksanakan, maka perlu disusun rencana baru pelaksanaan
sosialisasi yang lebih baik. Di antara masukan bagi perbaikan
tersebut adalah:
1. Sosialisasi dilakukan dengan role playing, yakni peserta
dibuat berkelompok dan diberi peran masing-masing
sebagai panitia pembangunan, yang lain sebagai anggota
FKUB, bupati/walikota, dan seterusnya. Atau dengan
studi kasus, yakni peserta diminta menyelesaikan
masalah dengan diberikan soal suatu kondisi perihal
pendirian rumah ibadat di kampung x, misalnya.
2. Dilakukan evaluasi pelaksanaan Sosialisasi pada setiap
akhir pelaksanaannya. Hal ini untuk secara langsung
melihat feedback dari Sosialisasi materi PBM yang
diberikan.

125


Penutup
Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan, sebagai berikut:
1. Pelaksanaan sosialisasi Peraturan Bersama Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8
Tahun 2006 di Provinsi Sumatera Utara telah
berjalan cukup baik, meski perlu terus ditingkatkan.
oleh pihak pemerintah (Depag, Kesbang Linmas,
atau Pemda sendiri), juga oleh pihak masyarakat
umum (termasuk FKUB dan ormas keagamaan)
2. Faktor yang dapat mendorong sosialisasi
diantaranya adalah: 1. 2. 3. . Sedangkan faktor yang
menghambat proses sosialisasi diantaranya adalah
1.2.3. ; dan
3. Untuk pelaksanaan sosialisasi yang lebih efektif di
masa yang akan datang, yakni dengan
memvariasikan pemberian materi. Misal dengan role
playing atau case study.

Saran
Adapun beberapa saran, sebagai berikut:
1. Dalam pelaksanaan sosialisasi PBM hendaknya ada
koordinasi antar berbagai instansi pemerintah dalam
menjangkau obyek sosialisasi seluas mungkin, agar tidak
terjadi pengulangan peserta sosialisasi di satu sisi dan
pengabaian obyek sosialisasi di pihak lain. Sehingga

126
mudah-mudahan ke depan segenap masyarakat
Sumatera Utara dapat kesempatan untuk mengikuti
sosialisasi PBM ini. Seperti diketahui, wilayah kecamatan
dan kelurahan/desa belum seutuhnya terjangkau oleh
sosialisasi ini.
2. Untuk mem-back-up pembiayaan, perlu dianggarkan
secara matang dalam tahun anggaran yang akan datang
untuk pelaksanaan sosialisasi PBM ini.
3. Perlu variasi pelaksanaan sosialisasi ini. Selain presentasi
dengan powerpoint, mungkin perlu dengan cara lain,
seperti role playing atau studi kasus.









127

III
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Sumatera Barat
Oleh: Ibnu Hasan Muchtar

Setelah dilakukan penelusuran di lapangan melalui
wawancara dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian ini maka dapat disampaikan
beberapa temuan sebagai berikut:
1. Dari hasil wawancara dengan Kepala Kantor Wilayah
Departemen Agama Provinsi Sumatera Barat, Kepala
Bidang Kesatuan Bangsa pada Kantor Badan Kesbangpol
dan Linmas Provinsi Sumatera Barat, berbagai nara
sumber dan informan serta responden diperoleh
informasi bahwa faktor utama sebagai penghambat dari
penyelenggaraan sosialisasi Peraturan Bersama Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 9 dan 8
Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan
Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama Dan Pendirian Rumah
Ibadat, adalah faktor biaya/dana;
2. Di provinsi Sumatera Barat sosialisasi PBM ini baru
dilakukan sebanyak 2 (dua) kali yaitu oleh Kanwil
Departemen Agama selaku pelaksana dengan biaya
difasilitasi oleh Badan Litbang dan Diklat Departemen
Agama dan dilaksanakan oleh Kantor Badan Kesbangpol
dan Linmas Provinsi Sumatera Barat. Sedang sosialisasi
oleh pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama

128
(FKUB) Provinsi sampai penelitian ini dilakukan awal
bulan Juli 2007 belum pernah dilakukan karena
kepengurusannya sendiri baru dibentuk dan di SK kan
oleh Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 17 April
2007 dan sedang mengadakan rapat-rapat intensif untuk
menyusun program;
3. Untuk faktor pendukung, semua pemuka agama dan
pejabat pemerintah mendukung kegiatan ini, bahkan
dalam pembentukan FKUB semua pemuka agama
antusias untuk menyukseskan sosialisasi PBM. Selain itu
sumber daya manusianya, sarana dan prasarana serta
metode/cara sosialisasi sangat memadai dan tidak
menjadi persoalan berarti;
4. Keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan
Dewan Penasehat untuk Provinsi Sumatera Barat baru
saja terbentuk. Dari data yang ada forum yang telah
terbentuk baik Provinsi maupun di dua Kota/Kabupaten
dilihat dari jumlah personil pengurus dan nama forum
sudah sesuai dengan yang diatur oleh Peraturan Bersama
Menteri (PBM), hanya saja dilihat dari struktur dan
jumlah keterwakilan keanggotaan/kepengurusan yang
masuk dalam forum terlihat berbeda-beda antara satu
dengan yang lain. Misalnya untuk forum tingkat provinsi
dan Kota Solok dari struktur sama yaitu menggunakan
pembagian bidang-bidang tidak seperti dalam Peraturan
Bersama Menteri (PBM) yang tidak menyebut bidang-
bidang. Sedangkan untuk Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) Kabupaten Pariaman Barat mengikuti
apa yang tertuang di dalam PBM. Demikian halnya
dengan jumlah keterwakilan dari kelompok agama
menurut persentasi jumlah pemeluk agama. Untuk
Provinsi Sumatera Barat misalnya walaupun persentasi
jumlah pemeluk agama Islam jauh lebih besar (95%

129

lebih) dari jumlah pemeluk agama yang ada, tetapi
pengurus yang muslim dari jumlah 21 orang pengurus,
hanya 11 orang dan lainnya 10 orang dari non muslim.
Menurut Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi Sumatera Barat Bapak Drs. H. Darwas, hal ini
sengaja dilakukan untuk memberikan rasa tanggung
jawab kepada perwakilan agama masing-masing yang
telah diberi kepercayaan untuk mengemban tugas ini.
Tuntutan tanggungjawab juga terlihat dalam struktur
adanya bidang-bidang, jika terjadi sesuatu maka pada
bidang itulah dimintakan pertanggung jawabannya.
5. Berkenaan dengan program kerja FKUB Provinsi telah
dapat disusun menurut skala prioritas misalnya, Prioritas
Tahun 2007 (Juli s.d. Desember 2007):
a. Menyusun Program FKUB Semester ke II Tahun 2007;
b. Menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Forum
untuk diajukan kepada Pemerintah Daerah Sumatera
Barat (termasuk untuk sekretariat, ATK, biaya rutin,
fasilitas yang diperlukan dsb);
c. Memberikan dorongan agar segera dibentuk
kepengurusan FKUB pada tingkat Kabupaten/Kota
yang belum terbentuk;
d. Memasyarakatkan serta mensosialisasikan Peraturan
Bersama Menag dan Mendagri Nomor: 9 dan 8 Tahun
2006 serta keberadaan FKUB kepada semua pihak;
e. Melakukan kunjungan untuk memberikan dorongan,
motivasi kepada umat di mana pun berada di
Sumatera Barat agar terdapat "budaya hidup rukun
antar umat beragama";
f. Melakukan audiensi kepada Pemerintah Daerah,
Departemen Agama untuk memperkenalkan diri;

130
g. Melakukan konsultasi dengan berbagai pihak
khususnya mengenai masalah Kerukunan Umat
Beragama (KUB);
h. Selain program prioritas untuk tahun 2007 ini juga
diprogramkan Rencana Kerja FKUB Sumatera Barat
tahun 2008 sd. 2010 sebagai kegiatan tentative,
bertahap dan terjadwal.
6. Berkenaan dengan keberadaan PBM menurut keterangan
berbagai pihak baik dari Kanwil DepartemenAgama,
pemuka masyarakat, tokoh-tokoh agama dan Kantor
Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Sumatera Barat
bahwa umumnya dapat diterima masyarakat, walaupun
ada dari kalangan agama tertentu yang merasa apriori
terhadap peraturan ini seperti terungkap dalam
pernyataannya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
intinya jika penegakan hukum tidak dilakukan maka
sebaik apapun peraturan tidak ada gunanya. (terlampir).
7. Yang menjadi banyak pertanyaan dalam persyaratan
pendirian rumah ibadat adalah ketentuan jumlah calon
pengguna rumah ibadat sebanyak 90 orang berkartu
penduduk (KTP) dan pendukung sejumlah 60 orang di
sekitar calon rumah ibadat;
8. Hasil penelusuran terhadap kasus-kasus keagamaan
khususnya berkenaan dengan pendirian rumah ibadat
sampai setelah PBM ini diterbitkan dan disosialisasikan
belum pernah terjadi hal-hal yang dapat menimbulkan
perselisihan;
9. Daerah-daerah yang telah membentuk FKUB melalui
Surat Keputusan Gubernur maupun Bapati/Walikota
adalah sebagai berikut:
a. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi
melalui SK Gubernur Nomor: 450.110. Tahun 2007
tertanggal 17 April 2007, Dewan Penasehat FKUB

131

Provinsi Nomor: 200 237 2007 tertanggal 18 Juli
2007 dan Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor:
01 Tahun 2007;
b. Pembentukan Dewan Penasehat dan Pengurus FKUB
Kota Solok melalui Keputusan Walikota Solok
Nomor: 188.45/226/KPTS/WSL-2007;
c. Pembentukan Dewan Penasehat dan Pengurus FKUB
Kabupaten Pasaman Barat melalui Keputusan Bupati
Pasaman Barat Nomor: 188.45/04/BUP-PASBAR/2007.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disampaikan beberapa
kesimpulan di antaranya:
1. Lahirnya Peraturan Bersama (PBM) Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri Nomor: 9 dan 8 Tahun 2006,
Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan
Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama Dan Pendirian Rumah
Ibadat, sangat relevan dan signifikan untuk mewujudkan
kerukunan umat beragama yang akhir-akhir ini terusik
disebabkan salah satunya adalah masalah pendirian
rumah ibadat;
2. Secara resmi di Provinsi Sumatera Barat baru 2 (dua) kali
dilakukan sosialisasi tentang Peraturan Bersama Menteri
(PBM) ini oleh instansi pemerintah dengan metode
ceramah dan tanya jawab yang pesertanya masih terbatas
pada para tokoh agama/masyarakat dan pejabat
pemerintah terkait. Belum menyentuh lapisan bawah
masyarakat dan pemerintah pada tingkat Kecamatan dan
Kelurahan;

132
3. Tingkat pemahaman peserta sosialisasi masih sangat
bervariatif, hal ini disebabkan karena lama waktu
sosialisasi masih dianggap kurang hanya 2 jam dan
peserta sosialisasi masih bersifat massal;
4. Untuk tindak lanjut dari sosialisasi PBM ini, Pemerintah
Daerah Provinsi Sumatera Barat telah mengeluarkan Dua
Surat Keputusan masing-masing berkenanan dengan
Susunan Pengurus FKUB Provinsi dan Susunan Dewan
Penasehat. Sehubungan dengan itu pula telah diterbitkan
Peraturan Gubernur berkenaan dengan pembentukan
Forum Kerukunan Umat Beragama dan tatacara yang
perlu diatur sebagai konsekwensinya, sedangkan untuk
Kabupaten/Kota dihimbau dapat segera membentuk
Forum dimaksud;
5. Masalah dana masih menjadi faktor penghambat utama
untuk melakukan sosialisasi yang lebih intensif dan
merata di berbagai kalangan khususnya pada daerah
Kota/Kabupaten, sedangkan kesediaan berbagai pihak
untuk terlibat khususnya para pemuka agama dan
pemerintah daerah menyambut baik diterbitkannya PBM
ini, merupakan faktor pendukung yang perlu mendapat
perhatian bersama.
Rekomendasi
Beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan
1. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Agama dan
Departemen Dalam Negeri perlu lebih mendorong
masing-masing aparatnya di daerah untuk terus
melakukan sosialisasi Peraturan Bersama ini agar semua
kalangan dapat memahami dan menghayati betul PBM ini
sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan
bermasyarakat, selain juga mendorong mereka untuk

133

segera membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB);
2. Masing-masing pemerintah Kota/Kabupaten (FKUB)
bekerjasama dengan Kantor Departemen Agama dapat
melakukan sosialisasi PBM kepada masyarakat luas
melalui kecamatan masing-masing;


134
IV
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Kepulauan Riau
Oleh: Reslawati

Menindaklanjuti PBM No.9 dan 8 Tahun 2006, maka
masyarakat dan Pemerintah Daerah Kepulauan Riau
merespon positif diterbitkannya peraturan tersebut. Salah
satu tugas pokok Pemda adalah untuk membentuk Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Dewan Penasehat
FKUB dalam rangka mewujudkan kerukunan umat
beragama di daerah tersebut. Menjamin kemudahan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan
beribadat menurut agama dan kepercayaannya selagi tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, tidak
menggangu ketentraman dan ketertiban umum. Oleh karena
itu melalui Peraturan Gubernur Kepulauan Riau No. 21.a
Tahun 2006 tentang Forum Kerukunan Umat Beragama dan
Pendirian Rumah Ibadat Provinsi Kepulauan Riau dan
Keputusan Gubernur Kepulauan Riau No. 285 Tahun 2006
tentang Pembentukan Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama dan pengurus Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) provinsi Kepulauan Riau.
Setelah di keluarkannya keputusan dan Peraturan
Gubernur tersebut, diharapkan forum yang sudah dibentuk
dapat menyusun program-program kegiatannya sesuai
dengan fungsi dan tujuannya dibentuk forum tersebut.
Dalam perjalanannya setelah dibentuk FKUB tingkat
Provinsi ini belum melaksanakan secara mandiri sosialisasi

135

PMB tersebut. Namun sebagai forum yang dibentuk secara
partisipatif selalu diundang dan menghadiri undangan dari
Pemda maupun dari Kanwil dalam pelaksanaan pelantikan
FKUB tingkat Kota/Kab yang dibentuk sekaligus sosialisasi
PBM tersebut. Dalam rangka menindaklanjuti surat
Gubernur Kepulauan Riau No. 26/KESBANGPOL/II/2007,
tanggal 6 Februari 2006 tentang Pembentukan FKUB di
tingkat kota/kab., maka Walikota dan para Bupati di
Kepulauan Riau merespon secara baik pula pembentukan
FKUB maupun Dewan Penasehat FKUB tersebut.
Dilihat dari terbitnya PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006
tersebut serta respon positif Pemda Provinsi/Kota/Kab, untuk
menindaklanjuti hasil PBM dimaksud dengan melakukan
pembentukan Dewan Penasehat dan Pengurus FKUB pada
tahun yang sama (2006), ternyata belum banyak yang dapat
diperbuat oleh lembaga yang sudah dibentuk tersebut.
Bahkan dari 6 (enam) Kabupaten di Kepulauan Riau, dua
diantaranya yaitu Kab. Natuna dan Kab. Lingga baru
terbentuk pengurusnya pada bulan Februari dan Juli 2007,
artinya baru dua (2) bulan terbentuk saat penelitian ini
dilakukan, sehingga kita tidak dapat banyak berharap dari
dua (2) Kabupaten tersebut mengenai implikasi hasil
implementasi efektifitas sosialisasi PBM tersebut di
masyarakat.
Hasil wawacara dengan Ka. Kesbangpol, Ka. Kanwil
Depag, Ka. Kandepag Kota Tj. Pinang dan Ka. Kandepag
Kab. Bintan, Ketua FKUB Provinsi/Kota Tanjung Pinang
menyatakan senada, bahwa sosialisasi baru dilakukan tiga
(3) kali semenjak adanya PBM tersebut. Dan bahkan
masyarakat belum banyak mengetahui yang termuat dalam
PBM tersebut. Pemda dan Kanwil Depag telah melakukan

136
koordinasi dalam pelaksanaan sosialisasi ini, namun hanya
mengundang instansi pemerintah dan Majelis-majelis Agama
yang tergabung dalam FKUB.
Namun demikian Kanwil telah melakukan terobosan
yaitu mengadakan sosialisasi selain mengundang Kandepag-
Kandepag di wilayah kerja Kanwil dan FKUB, juga
mengundang kalangan guru agama, petani, wiraswasta,
pedagang, dll.
2
Sementara itu untuk pelaksanaan kegiatan
dari FKUB yang sudah terbentuk, baru sebatas menyusun
program, ada yang disusun secara tertulis dan ada juga
program bersifat spontanitas saja, artinya hanya menghadiri
undangan-undangan dalam sosialisasi. Dalam pelaksanaan
kegiatan FKUB belum mendapatkan bantuan berupa materi
maupun pendanaan sehingga untuk sekretariat FKUB masih
menyewa dan biaya ditanggung oleh pengurus sebesar Rp 18
juta.
Sedangkan kegiatan sosialisasi pendanaannya
dibiayai oleh Pemda baik Kota atau Kabupaten. Hal ini
terjadi karena tidak masuk dalam APBD. Pada saat pengurus
FKUB dilantik RAPBD telah disahkan, sehingga semua
kegiatan FKUB dibantu melalui Kesbang. Jadi berapa
jumlahnya Kesbang yang mengatur dan tidak diserahkan ke
FKUB
3
. Lebih lanjut beliau mengungkapakan bahwa untuk
tahun ini Bupati menganggarkan dalam RAPBD sebesar 250
juta. Namun, hingga saat ini FKUB belum mendapatkannya.
Beliau bilang bulan Juli ini baru ada. Hanya saja, karena ini
sudah pertengahan tahun 2007, berarti bukan 250 juta lagi.

2
Hasil angket yang disebar menyebutkan pekerjaan responden
yang telah mengikuti sosialisasi PBM adalah; pedagang,
wiraswasta, petani, pns, guru agama swasta/negeri, pengacara,
dokter.
3
Hasil wawancara dengan Ketua FKUB Provinsi Kep. Riau.

137

Informasi senada juga disampaikan Kepala Tata U
saha Kanwil Depag Provinsi Kep. Riau. Bahwa kegiatan
beberapa waktu yang lalu berkenaan dengan sosilaisasi PBM
ini tidak ada bantuan keuangan. Kebetulan di Kanwil Depag
ada dana pembinaan keagamaan di setiap kabupaten
sehingga dibantu sebesar 5 juta. Itu pun bukan untuk FKUB,
namun untuk pembinaan keagamaan di setiap
kabupaten/kota yang ada di Kepulauan Riau. Makanya kami
memberikan 5 juta untuk kegiatan tersebut. Sedangkan
untuk FKUB sendiri dalam rangka perluasan sasaran
sosialisasi telah terbentuknya FKUB sehingga tempat
diadakannya rapat-rapat FKUB selalu bergantian. Bulan lalu
kami rapat di Kecamatan Tanjung Barat dan bulan ini kami
akan mengadakan di Kecamatan Teluk Bintan. Kami sengaja
melakukannya untuk perluasan. Dan pesertanya perwakilan
dari setiap kecamatan sesuai dengan porsi jumlah penduduk
agama. Kebetulan di sini jumlah penduduk terbanyak adalah
pemeluk Islam. Di kecamatan Bintan Utara ada 5 orang;
Bintan 4 orang; kemudian di kecamatan lainnya mewakili
setiap agama masing-masing, minimal satu orang. Demikian
diungkapkan Ketua FKUB Provinsi Kepulauan Riau. Dalam
waktu dekat ini program yang dilakukan FKUB adalah
pendataan rumah ibadat. Dan ini sedang berjalan di
kecamatan-kecamatan. Dan ini tidak bisa dilepaskan dari
Kandepag. Kalau di kecamatan kami meminta bantuan KUA
lah yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya.
Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan oleh FKUB
Provinsi, Pemda dan Kanwil Depag dalam upaya untuk
melakukan sosialisasi dan konsolidasi mengenai PBM ini
kepada berbagai pihak cukup optimal, namun karena
kondisi geografis Kepulauan Riau yang dipisahkan oleh
pulau-pulau mengakibatkan pelaksanaan kegiatan sedikit

138
terhambat. Hal ini dapat dilihat dari FKUB Provinsi dalam
melakukan pertemuan pengurus dua bulan sekali.
Pengurusnya tersebar dan mewakili enam (6) Kabupaten di
Kep. Riau, sementara kabupaten-kabupaten yang ada di
Kepulauan Riau terpisah oleh laut dan jarak tempuhnya
sangat jauh untuk ke ibukota Provinsi ini sehingga perlu
persiapan yang matang baik secara finansial maupun tenaga
dan pikiran untuk melakukan koordinasi, konsolidasi dan
rapat-rapat. Adapun pengurus FKUB Propinasi maupun di
Kota/Kab adalah orang-orang sibuk dan penting semua di
daerah. Ada yang ketua MUI, wakil ketua DPR, ketua agama
Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu. Bercermin
dari kepengurusan FKUB Provinsi, sesungguhnya tidak
semestinya pengurus FKUB Provinsi harus penduduk yang
bermukim di Kabupaten-kabupaten. Bisa juga yang
bermukim di Tanjung Pinang sebagai ibukota Provinsi,
namun pengurus tersebut harus direkomendasi oleh
kabupaten/kota sehingga kepengurusan dapat efisien dan
efektif dan roda organisasi dapat berjalan lancar, karena
tidak saling menunggu pengurus.

a. Pemahaman masyarakat terkait materi atau isi yang
dimuat dalam PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006
Diatas sudah disebutkan bahwa sosialisasi baru tiga (3)
kali dilakukan oleh Pemda dan Kanwil Depag, Pemda Kota
dan Kandepag Bintan telah 4 kali mengadakan sosialisasi
kekecamatan-kecamatan sementara FKUB Provinsi, Kota,
Kabupaten belum pernah melakukan sosialisasi secara
mandiri karena terbentur dana dan SDM yang terbatas
sehingga belum dapat banyak yang bisa di harapkan dan
dirasakan. Namun dari hasil wawancara kepada responden
yang sudah mengikuti sosialisasi PBM tersebut didapatkan

139

bahwa sebagian belum memahami sepenuhnya materi
ataupun isi yang termuat dalam PBM tersebut. Apalagi buku
PBM tersebut tidak tersosialisasi secara baik dimasyarakat,
bahkan banyak pegawai pemerintah dan masyarakat yang
tidak mengetahui adanya PBM tersebut. Sedangkan bagi
mereka yang pernah ikut sosialisasi saja belum begitu
memahami maksud yag terkandung dalam PMB tersebut.
Sekalipun sosialisasi sudah dilakukan oleh pihak
pemerintah setempat, namun masyarakat tetap saja
mendirikan rumah ibadat tidak mengikuti prosedur yang
sudah ditetapkan. Contohnya saja ada tiga gereja bermasalah
di Kijang, di Bintan Utara dan di Pulau Kuban, ingin
mendirikan gereja ditengah-tengah komunitas agama lain
dan bahkan mendirikan gereja di hutan yang tidak ada
penduduknya. Gereja didirikan awalnya sebelum adanya
PBM, namun masih dalam bentuk pondasinya saja. Ketika
PBM sudah ada gereja tetap didirikan, ternyata belum sesuai
dengan syarat-syarat yang ada dalam ketentuan tersebut.
Pihak yang mendirikan gereja masih memakai aturan lama
tanpa ketentuan-ketentuan yang ada di PBM. Sementara
berbagai pihak menginginkan disesuaikan dengan ketentuan
yang ada di PBM.
Kontroversial dengan pendirian gereja tersebut,
terjadi dimana dari pihak gereja merasa sudah mendapat
persetujuan dari berbagai pihak dan sudah memenuhi
syarat-syarat pendirian rumah ibadat. Namun dari
komunitas yang lain disekitar tempat yang akan mendirikan
gereja mereka merasa belum pernah dimintai persetujuan,
apalagi tidak ada rekomendasi dari FKUB. Akhirnya
permasalahan ini di selesaikan oleh pemerintah setempat,

140
tokoh agama, tokoh masyarakat, Kanwil Depag, Kandepag,
FKUB dan akhirnya dapat diatasi.
Hasil wawancara dengan Kakandepag Kab. Bintan
dan FKUB Kab. terungkap bahwa ada juga di daerah Teluk
Salsa, Kecamatan Bintan Utara, banyak rumah pakai salib,
ada kios kecil menjual minyak dan ada embel-embelnya dan
kios minyak itu kemudian tidak ada lagi sudah kosong dan
dijadikan tempat kebaktian mingguan, dan itu semua tidak
didaftar. Namun karena tidak ada masyarakat yang
komplain dan melapor, jadi kita permasalahkan. Ibu, "Kalau
Ka kanwil bilang itu laporan dari FKUB juga. FKUB
melaporkan ada kejadian seperti itu."
Untuk kasus di Kijang terungkap bahwa gereja yang
akan dibangun cukup besar seperti Gereja Katedral dalam
rangka menampung ribuan jamaat Kristiani yang ada di
Kepri, hal ini diketahui setelah memanggil enam orang
pendeta HKBP. Setelah dilakukan diskusi dan koordinasi
dengan berbagai pihak terkait, maka pembangunan gereja
dihentikan dan dapat diteruskan setelah ada izin dan
memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam
pendirian rumah ibadat.
Dilihat dari telah dilakukannya sosialisasi PBM
ternyata masyarakat tetap saja belum memahami isi atau
materi yang ada di PBM tersebut. Hal ini belum diketahui
penyebabnya. Perhatikan saja hasil wawancara peneliti
dengan responden
4
sbb: "Peneliti (P), menurut Bapak, ada
atau tidak masyarakat yang menolak persyaratan PBM
tentang rumah ibadat?" Bapak (B), "kalau secara nyata tidak
ada. Tapi kalau diam-diam ada." P: "tapi, kenyataannya
orang-orang yang telah ikut sosialisasi tetap saja mendirikan

4
Responden meminta identitasnya di rahasiakan.

141

rumah ibadat. (B), "kita telah menyampaikan, namun kita
tidak mengerti sampai ke mana?". (P), kira-kira apa yang
salah? sosialisasi sudah dilakukan kepada para tokoh agama
dan masyarakat, tapi perilaku itu tidak berubah.
Apakah ini sudah menjadi watak masyarakat di sini
atau bagaimana?". (B), "itu bukan hanya di sini saja, banyak
yang seperti itu. Itu sudah dogma dan doktrin mereka.
Selama mereka memperbanyak jemaat dengan cara
mengiming-imingi, jadi PBM ini tidak mempan. Karena kita
legowo dengan mereka, kita tidak mengerti. Tapi, merekakan
segelintir, tidak kebanyakan. Kita tidak pernah mengajak,
menipu, merayu karena kita tidak punya uang. Kita tidak
pernah mengiming-imingi memberi supermie atau
mengobati orang gratis dan macam-macam.
Makanya kalau bertemu dengan Kapolsek atau
Kodim daerah sini kita itu satu. Malah, kepala Koramil
pernah berkelahi. Sampai terungkaplah rahasia ini. Di pulau
Natuna, mereka mengatakan membantu orang yang tidak
punya rumah dan dibuatkan, membantu orang yang
kesusahan, dan lain-lain, terbukalah misi mereka. Berarti
tujuan mereka tidak murni. Nanti pada acara-acara
kebaktian, orang yang diiming-imingi inilah yang jadi
pengurus-pegurusnya. Begitulah gaya-gaya mereka. Mereka
membantu orang-orang yang susah." Namun tidak dengan
murni.
(B), "sebenarnya mereka membangun sebelum FKUB
disahkan. Namun, kecamatan menolak karena dengan
peraturan yang lama pun, persyaratannya mereka tidak ada.
Setelah kami dilantik, kami langsung ke kecamatan Bintan
Timur dan langsung bicara dengan Camatnya. Karena itu
akhirnya dihentikan. Setelah itu mereka datang kepada kita,

142
mereka beranggapan bahwa dengan adanya FKUB itu
mendapatkan angin segar. Kita tentunya mensyaratkan 90
pengguna dan 60 simpati. Namun, hingga kini mereka belum
bisa memenuhinya. Bahkan penduduk di sekitar itu
mengatakan bahwa mereka disodorkan secarik kertas tidak
ada judul dan ditanda tangani oleh masyarakat.
Setelah itu datang surat dari masyarakat dan
menolak bahwa sebenarnya persetujuan kami tidak ada.
Masyarakat melakukan penolakan, setelah menandatangani.
Lalu, mereka ke sini. Di FKUB kami bilang, belum bisa
dibangun. Lalu mereka lari ke Kandepag. Kandepag juga
baru. Mereka berkali-kali ke sini dan orangnya berbeda-
beda. Kebetulan ada anggota FKUB yang bernama Sabar
Hutagalung. Dia anggota di FKUB juga dia menjadi panitia
pendirian gereja. Saya bilang, 'Saya tidak menyalahkan.
Secara organisasi juga tidak salah. Tapi, alangkah baiknya
jangan kamu yang datang. Karena posisi kamu sama seperti
saya. Kami tidak ada alasan menerima atau menolak kalau
syarat-syarat itu terlengkapi. Terakhir kita rapat, dia bilang
apa lagi alasan kita menolak. Saya bilang, tidak ada alasan
kita menolak, tapi penuhi dahulu persyaratannya. Kita hanya
meminta dua persyaratan: 90 dan 60. Namun, hingga
sekarang belum terpenuhi juga. Di Bintan hanya itu yang
kami tahu."
Dari hasil wawancara diatas terungkap bahwa
masyarakat belum memahami secara mendalam manfaat
positif dari diberlakukannya Peraturan Bersama Menag dan
Mendagri ini. Sehingga sosialisasi perlu terus dilakukan dan
ditingkatkan secara kontinu agar tidak lagi terjadi
perdebatan diantara pemeluk agama. Apalagi mendirikan
rumah ibadat adalah suatu kebutuhan umat untuk
mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

143


b. Tingkat kesiapan masyarakat sehubungan dengan
implementasinya di lapangan.
Dari deskripsi diatas, sesungguhnya masyarakat di
Kepulauan Riau sangat menyambut secara positif adanya
PBM ini. Namun karena kurangnya sosialisasi dari isi atau
materi dan kurangnya penjelasan yang mendalam kepada
masyarakat berakibat pelaksanaan PBM di lapangan sedikit
mengalami hambatan. Adapun masyarakat yang melakukan
kegiatan pendirian rumah ibadat setelah adanya PBM, hal
tersebut karena kurang kejelasan dalam menginterpretasi
dan mempersepsi keberlakuan pelaksanaan peraturan yang
ada. Terbukti masyarakat yang ingin membangun rumah
ibadat setelah mendapat penjelasan dari berbagai pihak siap
menghentikan pendirian rumah ibadat dan akan memenuhi
syarat-syarat yang telah ditentukan. Namun hal yang juga
perlu diperhatikan adalah dimana FKUB yang sudah
dibentuk baik di tingkat provinsi, kota dan kabupaten
hendaknya harus didukung oleh sarana, prasarana dan dana
yang memadai, agar tujuan dibentuknya FKUB tersebut
dapat tercapai dan tugas kepala pemerintahan dapat
terlaksana dengan baik.

Kesimpulan
1. Respon masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau
khususnya Tanjung Pinang sangat positif terhadap
ditetapkannya PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Hal ini
terbukti sudah dibentuknya FKUB Provinsi, Kota,
Kabupaten, dan telah dilakukan beberapa kali sosialisasi.

144
2. Masyarakat dan pegawai yang sudah menerima
sosialisasi belum sepenuhnya memahami materi atau isi
yang dimuat dalam PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006.
Dikarenakan kurangnya frekwensi sosialisasi dan
kurangnya penjelasan terhadap isi dari PBM tersebut.
3. Pada dasarnya masyarakat siap dalam pelaksanaan
diberlakukannya PBM tersebut. Karena kurangnya
penjelasan dan kurangnya dipahami isi dari PBM
tersebut berakibat terjadi kesalahan persepsi dilapangan
dalam pelaksanaan peraturan tersebut.

Saran
1. Perlu ditingkatkan sosialisasi secara terus menerus
sampai ke akar rumput, agar respon masyarakat di
Provinsi Kepulauan Riau khususnya Tanjung Pinang
terhadap ditetapkannya PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006
akan lebih baik lagi. Dan FKUB perlu diberdayakan
secara maksimal.
2. Perlu diberikan penjelasan secara lebih terperinci tentang
isi pasal demi pasal yang terdapat dalam PBM No. 9 dan
8 Tahun 2006, agar masyarakat lebih mudah untuk
memahaminya.
3. Perlu adanya penyatuan persepsi antara pemerintah,
tokoh agama, masyarakat dalam menterjemahkan materi
dari PBM tersebut, agar tidak terjadi mis persepsi dan
mis komunikasiketika pelaksanaan di lapangan.




145

V
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Jawa Tengah
Oleh: Ahmad Syafii Mufid dan Mulyadi

Pada pertengahan bulan Juli 2007 diadakan penelitian
tentang Efektifitas Sosialisasi PBM di provinsi Jawa Tengah.
Penelitin ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan
dilengkapi dengan informasi kualitatif. Pendekatan
kuantitatif dipilih untuk menggambarkan kecenderungan
umum (Generalisasi) efektifitas sosialisasi secara nasional
dengan cara pengisian kuesioner kepada 20 orang
koresponden . Sedangkan informasi kualitatif diperlukan
untuk dapat memberikan gambaran tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi efektifitas sosialisasi PBM tersebut.
Berikut ini adalah laporan yang bercorak kualitatif
berkaitan dengan keberadaan FKUB di provinsi Jawa
Tengah, tanggapan masyarakat beragama serta faktor
penghambat dan pendukung sosialisasi PBM di wilayah ini.
Informasi kualitatif dari Provinsi Jawa Tengah diperoleh
melalui wawancara mendalam dengan pimpinan Majelis-
majelis Agama dari enam agama yang ada. Penelitian
lapangan dilakukan sebelum peraturan gubernur tentang
pembentukan FKUB terbit, yakni pada tanggal 20 s.d. 27 Juli
2007. Informasi tentang peraturan gubernur diperoleh
melalui komunikasi, setelah penelitian lapangan dilakukan.
Selanjutnya informasi yang akurat diperoleh melalui
dokumen resmi,seperti Peraturan Gubernur Jawa Tengah

146
Nomor 108 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Dewan
Penasihat FKUB se-Jawa Tengah (Berita Daerah Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2006) juga Keputusan Gubernur Jawa
Tengah Nomor 450/17/2007, tanggal 15 Maret 2007 tentang
Pembentukan Dewan Penasihat Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, Keputusan
Gubernur Jawa Tengah Nomor 450/64/2007 tentang
Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
Provinsi Jawa Tengah, tanggal 27 Juli 2007.
Adapun hasil penelitian tersebut adalah:
1. Keberadaan FKUB Provinsi Jawa Tengah
FKUB Provinsi Jawa Tengah dibentuk berdasarkan
Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 450/64/2007,
sedangkan untuk Dewan Penasihat, Forum Kerukunan
Umat Beragama dibentuk berdasarkan Keputusan
Gubernur Jawa Tengah Nomor 450/17/2007, tanggal 15
Maret 2007. Tugas pengurus FKUB Provinsi Jawa Tengah
adalah sama sebagaimana yang telah diatur dalam PBM,
yaitu:
a) Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh
masyarakat;
b) Menampung aspirasi organisasi massa (ormas)
keagamaan;
c) Menyalurkan aspirasi organisasi massa (ormas)
keagamaan dan masyarakat dalam bentuk
rekomendasi sebagai bahan kebijakan gubernur;
d) Melakukan sosialisasi peraturan perundang-
undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang
berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan
pemberdayaan masyarakat;

147

e) Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan sbagaimana
dimaksud pada huruf a) sampai dengan huruf d)
kepada gubernur Jawa Tengah.
Jumlah anggota FKUB Provinsi Jawa Tengah adalah
sebanyak 21 (dua puluh satu) orang sebagaimana diatur
dalam PBM. Jumlah tersebut terdiri atas wakil-wakil
komunitas: Islam 11 orang, Kristen 3 orang, Katholik 3 orang,
Budha 2 orang, serta Hindu dan Konghucu masing-masing 1
orang. Komposisi kepengurusan juga menunjukkan
kebersamaan, yaitu ketua dan wakil ketua I dari komunitas
muslim, sedangkan wakil ketua II berasal dari komunitas
Kristen. Untuk jabatan sekretaris dan wakil sekretaris,
masing-masing ditempati oleh wakil komunitas Katolik dan
Budha, sedangkan untuk anggota, semua komunitas umat
beragama terwakili, tidak terkecuali dari Konghucu. Masa
bakti anggota FKUB adalah 5 (lima) tahun. Karena FKUB
Provinsi baru dibentuk, maka FKUB kabupaten/kota belum
diketahui berapa jumlah daerah yang telah membentuk dan
berapa yang belum.
2. Program, Kegiatan, dan Anggaran
Sebagai lembaga atau organisasi baru, maka FKUB
yang dibentuk pada pertengahan tahun ini belum
memiliki program yang berorientasi pada pelaksanaan
tugas dan fungsi organisasi. Kegiatan yang telah
dilaksanakan adalah konsolidasi organisasi yang berupa
pertemuan-pertemuan dan konsultasi antara pengurus
dengan Kanwil Dpartemen Agama Provinsi Jawa Tengah
dan Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan
Masyarakat. Adapun kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan pembinaan kerukunan, FKUB baru bisa

148
terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan
oleh Kesbanglinmas. Hal itu disebabkan karena belum
adanya anggaran mau pun bantuan untuk kegiatan pada
tahun 2007.
Untuk tahun anggaran 2008, FKUB telah melakukan
konsultasi dengan Kesbanglinmas agar mendapatkan
pembiayaan dan penganggaran sebagaimana
diamanatkan oleh PBM dan Peraturan Gubernur Nomor
450/64/2007 pasal 4, yaitu: Semua biaya yang timbul
sebagai akibat ditetapkannya keputusan ini, dibebankan
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi
Jawa Tengah.
3. Pandangan Majelis-Majelis Agama
Kalangan wakil-wakil majelis agama di Jawa Tengah
memandang bahwa sosialisasi yang dilakukan, baik oleh
pemerintah mau pun intern majelis agama dapat
memberikan gambaran tentang pentingnya peraturan
yang jelas tentang bagaimana pendirian rumah ibadat itu
diatur, pemberdayaan Forum Komunikasi Umat
Beragama, dan peranan pemerintah dalam memberikan
ijin pendirian rumah ibadat, penggunaan rumah ibadat
sementara, dan peranan FKUB dalam memberikan
rekomendasi, saran dan bahan kebijakan kerukunan
kepada pemerintah daerah. Meskipun demikian, majelis-
majelis masih sangat kekurangan buku atau bahan untuk
sosialisasi kepada umat, seperti buku PBM mau pun
peraturan-peraturan serta bahan-bahan lainnya untuk
kepentingan sosialisasi lebih lanjut.
Wakil Konghucu merasa belum banyak mengerti
tentang PBM. Pada kesempatan sosialisasi, yang hadir
dari kalangan Konghucu adalah ketua Majelis Agama

149

Konghucu (Makin). Anggota pimpinan yang lain belum
mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sosialisasi,
apalagi penganut Konghucu lainnya.
Penutup
Pada tataran pimpinan majelis-majelis agama, pejabat
pemerintah, dan pemuka agama telah menerima penjelasan
(desiminasi) Peraturan Mnteri gama dan Menteri Dalam
Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2007. Pemahaman
tentang isi PMB dapat dilihat pada produk-produk peraturan
pada tingkat pemerintah daerah provinsi yang juga sudah
memenuhi harapan PBM dengan lahirnya beberapa
peraturan gubernur. Untuk tahun 2007, FKUB Provinsi Jawa
Tengah belum dapat melakukan fungsi dan tugasnya dengan
baik, karena FKUB adalah lembaga baru pada saat itu. Masih
banyak agenda yang harus diselesaikan oleh anggota dan
pengurus, seperti penyediaan kantor, penyediaan anggaran,
penataan organisasi, dan lain-lain.
Hasil kajian ini dapat dipergunakan untuk
bahan kebijakan penyelenggaraan penyebarluasan PBM, dan
Peraturan Gubernur berkaitan dengan kerukunan umat
beragama. Bagaimana hasil akhir dari proses sosialisasi,
ternyata pada tingkat implementasi, pembentukan FKUB
mengalami keterlambatan. Jika PBM menyatakan selambat-
lambatnya satu tahun setelah ditetapkan peraturan ini telah
dibentuk FKUB di seluruh Indonesia, nyatanya hampir
semua daerah mengalami keterlambatan.. Keterlambatan ini
tidak semata-mata karena sosialisasi tidak efektif, tetapi lebih
kepada masalah anggaran yang disediakan. Berdasarkan
pendekatan anggaran, sebuah program atau kegiatan baru
bisa dilaksanakan paling cepat satu tahun berikutnya. Inilah

150
sebab utama mengapa FKUB pada tingkat kabupaten dan
kota belum terbentuk.

151

VI
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Bali
Oleh: Kustini

Pada tanggal 16 Desember 2006 Puslitbang
Kehidupan Keagamaan bekerja sama dengan Balai Diklat
Keagamaan Denpasar dan Kantor Wilayah Departemen
Agama Provinsi Bali melakukan sosialisasi Peraturan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor
9 dan Nomor 8 Tahun 2006. Sosialisasi diikuti oleh 100
(seratus) orang peserta terdiri atas pimpinan majelis-majelis
agama, pengurus FKUB pejabat di lingkungan Departemen
Agama dan Pemerintah Daerah setempat khususnya Badan
Kesatuan Bangsa dan Linmas Pemda Provinsi Bali, tokoh
adat, widyaiswara, pimpinan dari ormas-ormas keagamaan
dan tokoh pemuda di Provinsi Bali. Peserta berasal dari Kota
Denpasar, Kabupaten Buleleng, Kebupaten Jembrana,
Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem, Kabupaten
Gianyar, dan Kabupaten Tabanan. Jika dilihat dari agama,
peserta beragama Hindu berjumlah 46 orang, Islam 22 orang,
Katolik 9 orang, Kristen 5 orang, Buddha 9 orang, dan
Khonghucu 2 orang.
Nara sumber sosialisasi terdiri atas pejabat di
lingkungan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama,
Dirjen Kesatatuan Bangsa dan Politik, serta Tim Perumus
PBM. Secara rinci, nara sumber adalah:

152
1. Drs. H. Mudjahid AK, M. Sc. Sekretaris Badan Litbang
dan Diklat
2. Prof. DR. H.M. Ridwan Lubis Kepala Puslitbang
Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama;
3. Drs. Denty Ierdan, MM. Kasubdit pada Ditjen
Kesbangpol Departemen Dalam Negeri;
4. Drs. I Gusti Made Ngurah, M. Si. Kepala Kanwil
Departemen Agama Provinsi Bali;
5. Kol (Purn) I Nengah Dana, Parisada Hindu Dharma
Pusat;
6. KH. Anwar Abbas, Majelis Ulama Indonesia Pusat;
7. Soedjito Kusumo, MBA. Perwakilan Umat Buddha
Indonesia Pusat.
Sosialisasi memperoleh tanggapan yang positif dari
masyarakat. Hal ini terlihat dari antusias masyarakat untuk
menjadi peserta sosialisiasi serta pertanyaan atau respon
yang diajukan kepada nara sumber. Beberapa pertanyaan
yang sempat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Salah satu masalah yang sering mengganggu kehidupan
beragama di Bali adalah masalah tanah kuburan. Umat
Islam di beberapa daerah di Bali memiliki kesulitan
dalam hal kuburan. Oleh karena itu kami berharap
masalah tanah kuburan juga ada aturan tertentu;
2. Ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 29 PBM
rasanya sulit terpenuhi. Oleh karena itu sosialisasi PBM
perlu terus dilakukan ke seluruh lapisan masyarakat;
3. Sosialisasi PBM di Bali hendaknya juga dilakukan
melalui desa adat;
4. Konflik yang sering terjadi di Bali walaupun tidak besar
adalah terkait dengan masalah pendirian rumah ibadat

153

dan penggunaan simbol-simbol agama yang dianggap
tidak pada tempatnya;
5. Di Provinsi Bali telah memiliki Perda tentang persyaratan
pendirian rumah ibadat. Apakah pelaksanaan PBM tidak
bisa disesuaikan ?;
6. Mohon dijelaskan tentang syarat pendirian rumah ibadat
yaitu 90 orang calon pengguna. Ukuran 90 itu KTP atau
KK?;
7. Bangunan yang digunakan untuk tempat ibadat
sementara jika sudah melebihi jangka waktu 2 (dua)
tahun, apa yang harus dilakukan?
8. Di Provinsi Bali sudah diterbitkan Surat Keputusan
Gubernur Nomor 33 Tahun 2003 tentang Persyararatan
Pendirian Rumah Ibadat. Apakah peraturan tersebut
tidak tumpang tindih dengan PBM?;
9. PBM seharusnya disosialisasikan juga kepada pejabat
terkait seperti bupati, camat, lurah, dan sebagainya;
10. PBM berlaku unifikasi/umum untuk seluruh wilayah
NKRI, tetapi tidak ada satupun pasal yang memuat
sanksi. Mohon dijelaskan.

Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan
Sosialisasi PBM
Sosialisasi PBM yang dilaksanakan di Provinsi Bali
memperoleh dukungan dari berbagai pihak, baik berupa
bantuan untuk kesuksesan pelaksanaan sosialisasi maupun
bantuan terkait dengan antusias masyarakat untuk
mengikuti sosialisasi. Secara garis besar, factor pendukung
sosialisasi adalah sebagai berikut:

154
1. Komitmen instansi pemerintah di daerah (provinsi,
kabupaten/kota) untuk menindaklanjuti kebijakan-
kebijakan pemerintah pusat.
2. Dukungan dari Pemerintah Pusat (Dirjen Kesatuan
Bangsa dan Politik, Badan Litbang dan Diklat, Pusat
Kerukunan Umat Beragama, Dirjen-Dirjen di
Departemen Agama) untuk melakukan sosialisasi PBM
di Provinsi Bali;
3. Kondisi heterogen masyarakat Bali khususnya dari
agama yang dipeluk maupun etnik sehingga
memudahkan masyarakat untuk menerima aturan terkait
dengan kerukunan umat beragama;
4. Masih tingginya charisma tokoh agama dan tokoh adat.
Tokoh-tokoh inilah yang menjadi mediator untuk
sosialisasi berbagai peraturan perundangan tentang
kehidupan beragama termasuk PBM;
5. Hubungan antar tokoh agama maupun antara tokoh
agama dengan pemerintah relatif baik sehingga mudah
mencapai kesepakatan bahkan tentang hal-hal yang
selama ini dianggap rumit.
6. Networking yang memadai diantara tokoh agama di Bali
dengan tokoh-tokoh agama di provinsi lainnya yang
terbentuk melalui berbagai pertemuan tingkat nasional,
baik intern beragama maupun antar umat beragama.
Sementara itu, ada juga factor yang menjadi
penghambat antara lain: (1) Ketidaksesuaian struktur
kepengurusan FKUB dengan struktur kepengurusan forum
sejenis yang telah lama terbentuk di Provinsi Bali; (2) PBM
dirasakan kurang dapat mengakomodir peran tokoh adat
sekaligus tokoh agama Hindu dalam struktur kepengurusan
FKUB;

155



Keberadaan FKUB dan Dewan Penasehat FKUB
Forum Kerukunan Umat Beragama sebagaimana
yang diatur pada PBM BAB III Pasal 8 sampai 11, belum
terbentuk. Kendalanya adalah Pemerintah Daerah dan
khususnya para pengurus FKAUB belum sepakat dengan
beberapa aturan dalam PBM. Sejak tanggal 29 Pebruari 1999
di Provinsi Bali telah terbentuk Forum Komunikasi Antar
Umat Beragama (FKAUB). Forum ini dicetuskan pada
Musyawarah Antar Umat Beragama di Bedugul yang
diprakarsai oleh ketua-ketua lembaga agama yang menjadi
peserta musyawarah. Peserta Musyawarah antara lain terdiri
atas unsur PHDI Provinsi Bali, MUI, MPAG, Keuskupan
Bali-Lombok, dan WALUBI.
Struktur kepengurusan FKAUB terdiri atas:
- Penasehat sebanyak 9 (sembilan) orang yang terdiri atas
tokoh tokoh agama dan pejabat pemerintah;
- Ketua Umum dan Wakil-wakil Ketua sebanyak 6 (enam)
orang terdiri atas pimpinan majelis-majelis agama;
- Sekretaris, Bendahara, Humas, Pengabdian Masyarakat
dan Komisi-Komisi sebanyak 27 (dua puluh tujuh orang).
Dengan demikian seluruh jumlah pengurus, di luar
penasehat, adalah 33 (tiga puluh tiga orang). Jumlah tersebut
jelas tidak sesuai dengan PBM Pasal 10 Ayat (2) yang
menyebutkan bahwa: Jumlah anggota FKUB provinsi paling
banyak 21 orang dan jumlah anggota FKUB kabupaten/kota
paling banyak 17 orang.
Data yang tercatat di Dirjen Kesatuan Bangsa dan
Politik Departemen Dalam Negeri menyebutkan bahwa di

156
Provinsi Bali sudah terbetuk FKUB berdasarkan PBM
berdasarkan surat yang dikirim dari Bali tanggal 5 Februari
2007 tanpa melampirkan SK tentang Susunan Pengurus
FKAUB. Pada Dirjen tersebut juga tercatat FKUB Kabupaten
Gianyar. Namun demikian, berdasarkan wawancara dengan
para pengurus FKAUB, dapat disimpulkan bahwa di
Provinsi Bali belum memiliki FKUB sebagaimana diatur
dalam PBM. Forum yang dilaporkan ke Departemen Dalam
Negeri adalah FKAUB.
Dari observasi di lapangan ditemukan bahwa di
Kabupaten Buleleng telah terbentuk Forum Komunikasi
Antar Umat Beragama periode 2006 2011 yang telah
dikukuhkan. Dalam beberapa hal, Forum tersebut telah
mengacu kepada PBM, tetapi dalam banyak hal ternyata
tidak sesuai dengan PBM. Dikatakan mengacu kepada PBM,
karena dalam butir 6 diktum mengingat, menyebutkan:
Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri
Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006. Demikian
juga dalam menjelaskan tugas FKUB, sepenuhnya mengacu
kepada PBM Pasal 9 Ayat (2).
Namun demikian, dalam beberapa hal, FKUB
Kabupaten Buleleng belum mengacu kepada PBM.
Setidaknya hal itu dapat dilihat dalam 3 (tiga) factor:
1. Nama Forum masih mengacu pada forum lama yaitu
Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB);
2. Jumlah pengurus: ketua, wakil-wakil ketua, sekretaris,
bendahara, humas dan komisi pengandian masyarakat
seluruhnya ada 20 orang;
3. Penasehat terdiri atas: Kepala Kandepag Kabupaten
Buleleng dan Ketua-ketua Umum Majelis Agama.

157

Informasi lain yang dapat diperoleh dari Surat
Keputusan Bupati tersebut adalah dalam struktur
kepengurusan ada unsur Pelindung yang terdiri atas: (1)
Bukapi Kabupaten Buleleng; (2) Ketua DPRD Kabupaten
Buleleng; (3) Unsur Muspida Kabupaten Buleleng.
Dalam PBM Pasal 27 Ayat (2) ditegaskan bahwa
forum-forum sejenis yang telah terbentuk sebelum
berlakunya PBM harus menyesuaikan dengan FKUB seperti
dalam PBM. Namun para pengurus FKAUB masih
keberatan untuk menyesuaikan dengan ketentuan dalam
PBM terutama dalam kaitannya dengan struktur Dewan
Penasehat.

Peraturan Gubernur Tentang FKUB dan Dewan Penasehat
FKUB
PBM Pasal 12 mengamanatkan bahwa ketentuan
lebih lanjut tentang FKUB dan Dewan Penasehat FKUB
provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan
Gubernur. Sampai penelitian ini dilaksanakan, di Provinsi
Bali belum terbentuk Peraturan Gubernur sebagaimana
diamanatkan dalam PBM. Namun demikian, jauh sebelum
PBM disyahkan, di Bali telah ada Peraturan Gubernut Bali
Nomor 33 Tahun 2003 tentang Prosedur dan Ketentuan-
ketentuan Pembangunan Tempa-tempat Ibadat di Provinsi Bali.
Peraturan Gubernur tersebut kemudian diperbaharui
dengan Peraturan Gubernur Nomor 10 tahun 2006 tentang
Prosedur dan Ketentuan-ketentuan Pembangunan Tempa-tempat
Ibadat di Provinsi Bali, yang mulai berlaku pada tanggal 27
Pebruari 2007.

158
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Gubernur
Nomor 10 Tahun 2006 tentang pendirian rumah ibadat
antara lain:
1. Pembangunan tempat ibadat harus memperoleh izin
tertulis dari Gubernur Bali;
2. Gubernur mengeluarkan surat izin pembangunan rumah
ibadat setelah mendapat pertimbangan dari Tim
Pertimbangan Pembangunan Tempat-tempat Ibadat;
3. Untuk mendapatkan izin, harus mengajukan surat
permohonan dengan melampirkan antara lain:
persetujuan kepala lingkungan, persetujuan kepala desa
pakraman, surat keterangan kepala desa, daftar jumlah
umat calon pengguna rumah ibadat minimal 100 Kepala
Keluarga, foto copy KTP dan KK dari calon pengguna
rumah ibadat tersebut.
Dilihat dari persyaratan-persyaratan teknis tersebut,
maka dengan jelas dapat disimpulkan bahwa peraturan
tentang pendirian rumah ibadat tersebut tidak (belum)
mengacu kepada PBM.
Dengan demikian, sampai saat ini di Bali belum
terbentuk Peraturan Gubernur sebagaimana yang ditetapkan
dalam PBM. Beberapa keberatan untuk menyesuiakan
Peraturan Gubernur yang sudah ada dengan Peraturan
Gubernur sebagaimana ditentukan dalam PBM, dapat
disimak dari ungkapan berikut:
Jika mengacu kepada Pasal 12, maka Peraturan
Gubernur nanti judulnya adalah Peraturan Gubernur
tentang FKUB dan Dewan Penasehat FKUB. Hal ini tidak
sesuai dengan apa yang sudah lama terjadi di Bali. Kami
tidak sepakat jika FKUB diatur oleh Gubernur. Selama ini
justru kami yang mengatur, dalam arti memberi masukan

159

dan kritik, kepada Gubernur. Kalau Peraturan Gubernur
tersebut isinya mengesahkan pengurus FKUB, kami setuju.
Tapi jika demikian, namanya bukan Peraturan Gubernur,
cukup disebut Keputusan Gubernur. Mestinya orang pusat
waktu menyusun PBM belajar dari masyarakat yang sudah
lama memiliki system pengaturan tentang pendirian rumah
ibadat dan masalah kerukunan sehingga kearifan-kearifan
local yang ada di wilayah nusantara dapat terakomodir
dalam PBM. Namun kami juga memiliki niat baik untuk
mengikuti apa yang telah ditetapkan Pemerintah. Kami
pernah melakukan studi banding ke DKI tentang FKUB. Di
samping itu kami terus melakukan diskusi antara para
pengurus FKAUB dengan Pemerintah Daerah Provinsi
dalam rangka menyusun Peraturan Gubernur. (Wawancara
dengan Drs. Ida Bagus Gede Wiyana, Ketua FKAUB, tanggal
31 Juli 2007)
Keingian untuk mengikuti turan dalam PBM juga
diungkapkan oleh Kepala Badan Kesbanglinmas Provinsi
Bali. Pada hari selasa tanggal 31 Juli 2007 Biro Hukum
Pemerintah Provinsi Bali mengadakan pertemuan dengan
mengundang para pejabat pemerintah terkait, pakar hokum,
unsure perguruan tinggi, unsure desa palraman dan
pengurus FKAUB. Pertemuan tersebut membicarakan
tentang rencana peyusunan peraturan gubernur.
Hari ini memang baru pertemuan yang pertama kali
sehingga hasilnya belum mengerucut. Kami sepakat harus
ada Peraturan Gubernur sebagaimana ditetapkan dalam
PBM. Yang masih kami diskusikan adalah: apa substansi
peraturan gubernur tersebut. Ada 3 (tiga) substansi yang
salah satunya, dua, atau ketiganya dituangkan dalam
peraturan gubernur yaitu masalah: Forum Kerukunan Umat

160
Beragama, kerukunan umat beragama, atau tentang
pendidirian rumah ibadat. Diskusi tadi belum sempat
memutuskan substansi mana yang akan dituangkan. Oleh
karena itu, kami masih perlu waktu agam longgar untuk
mencapai kesepakatan bersama.
Di samping itu kami di Bali sesungguhnya masih
mempertanyakan tentang perlu tidaknya PBM. Kami sepakat
bahwa hidup rukun dan damai adalah dambaan semua
pihak. Tetapi sebagimana diketahui, di Bali sudah sejak lama
memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga kerukunan
melalui FKAUB. Hasilnya sudah kita rasakan bersama.
Mengapa kami tidak dibiarkan saja dengan system yang
kami punya. Oleh karena itu kami tidak yakin dengan
system baru (PBM) dapat mempertahankan situasi yang
sudah ada atau bahkan dapat meningkatkan kerukunan di
Bali. Satu hal yang sulit kami terima dari struktur
kepengurusan FKUB adalah tentang dewan penasehat. Siapa
yang pantas menjadi dewan penasehat? Selama ini tokoh-
tokoh agama di Bali sangat mandiri dan dapat
menyelesaikan berbagai persoalan. (Wawancara dengan
Kepala Badan Kesbanglinmasda Provinsi Bali, Drs. M.
Sihombing, M. Si. Tanggal 31 Juli 2007)

Sikap Penerimaan Masyarakat Terhadap PBM
Pada dasarnya masyarakat menerima PBM tersebut.
Hal ini antara lain ditunjukkan oleh respon positif ketika
Departemen Agama Pusat (Badan Litbang dan Diklat, serta
Pusat Kerukunan Umat Beragama) melakukan sosialisasi
yang kepanitiaannya merupakan kerjasama dengan Kanwil
Departemen Agama, mereka menerima baik tawaran
kerjasama tersebut dan kegiatan sosialisasi dilakukan
sebagaimana yang direncanakan. Demikian juga ketika tokoh

161

agama (Hindu dan Islam) di Bali diundang ke Jakarta untuk
mengikuti semiloka nasional yang salah satu materinya
adalah sosialisasi PBM, mereka mengikuti kegiatan itu
dengan sungguh-sungguh.
Sekalipun di Provinsi Bali belum terbentuk FKUB dan
belum tersusun Peraturan Gubernur sebagaimana
diamanatkan dalam PBM, tetapi beberapa hal penting dalam
PBM tersebut tetap diterima. Misalnya dalam hal persyaratan
pendirian rumah ibadat, Peraturan Gubernur Bali Nomor 10
Tahun 2006 menyebutkan salah satu syarat adalah 100 KK
calon pengguna rumah ibadat tersebut. Dalam kesempatan
wawancara peneliti dengan Ketua FKAUB maupun tokoh
agama lainnya, mereka sepakat tentang syarat calon
pengguna yaitu 90 orang seperti yang diatur dalam PBM.
Kalau ukurannya Kepala Keluarga (KK) memang
sulit karena dalam satu keluarga bisa saja terjadi lebih dari
satu pemeluk agama. Oleh karena itu dalam peraturan
gubernur nanti kami sepakat untuk menggunakan ukuran 90
orang seperti yang disebutkan dalam PBM. (Wawancara
dengan Drs. Ida Bagus Gede Wiyana, Ketua FKAUB Provinsi
Bali, tanggal 1 Agustus 2007)

Kasus-Kasus Perselisihan Akibat Pendirian Rumah Ibadat
Dalam sejarah kehidupan antarumat beragama di
Bali, salah satu masalah yang masih menjadi hambatan
dalam kehidupan beragama adalah masalah pendirian
rumah ibadat. Meskipun sebelum PBM di Bali telah ada
Peraturan Gubernur tentang Pendirian Rumah Ibadat, tetapi
kasus tersebut selalu ada. Sebagai contoh. GPIB Maranatha
sudah memperoleh izin dari Gubernur tetapi masyarakat

162
sekitarnya menolak pendirian gereja tersebut sehingga
pembangunan gereja yang hampir mencapai 50% dihentikan.
Kelompok atau pihak yang menolak pendirian gereja
mengatakan bahwa izin diperoleh langsung dari pejabat
tingkat atas karena ada kedekatan antara pengurus gereja
dengan pejabat. Sementara pihak pengurus gereja
mengatakan bahwa bagaimana mungkin sebuah rumah
ibadat yang telah lengkap izinnya tidak dapat digunakan
karena ketidaksetujuan beberapa gelintir orang. Jika
demikian, dimana kewibawaan pemerintah untuk
menegakkan segala peraturan?
Beberapa kasus terjadi di tempat lain, khususnya
terkait dengan pendirian gereja. Menanggapi hal tersebut,
seorang informan mengungkapkan :
Hubungan antar tokoh agama di Bali relative baik.
Kami selalu bertemu, baik yang terjadwal maupun yang
sifatnya spontanitas, dalam berbagai kesempatan. Namun di
tingkat grass root tidak selalu demikian. Selalu ada
kecurigaan dan ada potensi konflik baik terkait dengan
pendirian/penggunaan rumah ibadat, terkait dengan
masalah kuburan, maupun penggunaan symbol-simbol
keagamaan. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan
kami tekankan kepada umat untuk selalu menjaga
hubungan baik terutama dengan masyarakat yang ada di
sekeliling kita (Wawancara dengan tokoh agama Islam,
tanggal 1 Agustus 2007).
Salah satu faktor pendukung terciptanya kerukunan
umat beragama di Bali adalah karena peran FKAUB. Sejak
didirikan FKAUB tahun 1999 telah banyak kesepakatan yang
dihasilkan antara lain:

163

1. Semua tempat ibadat yang ada di Bali, keamanan dan
kesuciannya menjadi tanggung jawab semua umat
beragama di Bali;
2. Pengucapan salam hanya dilakukan dalam tata cara
agama orang yang berbicara walaupun pertemuan
tersebut dihadiri oleh orang dari berbagai agama;
3. Pertemuan satu bulan minimal satu kali, baik ketika ada
masalah maupun tidak.
Selain kesepakatan tersebut, FKAUB telah melakukan
berbagai aksi nyata dalam rangka memelihara kerukunan
umat beragama. Aksi-aksi tersebut antara lain:
1. Sekali dalam setahun mengadakan kunjungan ke
kabupaten/kota se Provinsi Bali bekerja sama dengan
pemerintah daerah. Tujuan kunjungan tersebut adalah
untuk saling tukar informasi dan berdialog serta
meningkatkan hubungan menyamabraya:
2. Mengadakan kunjungan ke kabupaten/kota se Bali ketika
menghadapi event-event tertentu misalnya menjelang
Pemilu;
3. Mengadakan kunjungan ke kabupaten/kota se Bali
setelah terjadi peristiwa-pweritiwa tertentu yang
melibatkan issu agama, etnik maupun identitas lainnya.
Peristiwa dimaksud adalah peristiwa Kamis Kelabu pada
tahun 1999 serta meletusnya bom di Legian Kuta;
4. Pada tanggal 2 4 Juni 2002 mengadakan kunjungan ke
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka
sosialisasi FKAUB serta berdialog tentang masalah
kerukunan umat beragama;

164
5. Menerbitkan bulletin Puja Media sebagai media
komunikasi dan informasi tentang kehidupan beragama
di Bali.




Penutup
Dalam usianya yang relatif muda, PBM telah menjadi
rambu-rambu yang penting sebagai sarana peningkatan
kerukunan umat beragama. Di beberapa provinsi di
Indonesia, pemda setempat dengan cepat merespon PBM
antara lain dengan membuat peraturan gubernur,
membentuk FKUB atau menyesuaikan forum sejenis FKUB
dengan FKUB sebagaimana diatur dalam PBM.
Sejak tahun 1999 di Provinsi Bali telah terbentuk
Forum Komunikasi Antar Umat Beragama. Sejak
terbentuknya sampai penelitian ini dilaksanakan FKAUB
diresakan efektif untuk membentu memelihara kerukunan
umat beragama. Oleh karena itu ketika PBM diberlakukan,
masyarakat di Bali memerlukan tempo untuk dapat
mengimplementasikan PBM tersebut. Masyarakat
bersikap sangat hati-hati dalam menerima sesuatu yang
baru seperti halnya PBM. Oleh karena itu, jika sampai saat
ini di Bali belum terbentuk FKUb sebagaimana yang diatur
dalam PBM, bukan karena sipak pembangkangan, tetapi
merupakan ketelitian dan kehati-hatian sebagaimana
tercermin dalam budaya Bali yang sellau mengutamakan
kepentingan bersama.


165










VII
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Nusa Tenggara Timur
Oleh: Suhanah

Proses Pembentukan FKUB dan Dewan Penasihat Tingkat
Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Perlu kita ketahui bahwa kondisi Provinsi Nusa
Tenggara Timur sebagai Provinsi Kepulauan dengan
beragam suku, ras, bahasa, budaya dan agama, merupakan
suatu kekayaan dan karunia Tuhan yang Maha Esa, sehingga
kita harus senantiasa tetap menjaga dan memelihara karunia
itu, karena dengan demikian berarti kita menghargai
kebhinekaan yang ada. Bila secara khusus kita mau
mencermati kehidupan keagamaan di Nusa Tenggara Timur,
memang cukup unik, karena dalam satu keluarga bisa dihuni
lebih dari satu pemeluk agama, sehingga dapat dikatakan
bahwa interaksi dan tatakrama pergaulan antar pemeluk

166
agama tidak menjadi persoalan, bahkan dapat tercipta
suasana kehidupan yang rukun dan damai.
Oleh karena itu peroses pembentukan FKUB
tingkat provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan melalui
pertemuan para tohoh agama/ tokoh masyarakat yang
difasilitasi oleh pemerintah daerah yang berlangsung pada
tanggal 27 Maret dan 13 April 2007. Pada pertemuan kedua
tanggal 13 April tersebut, para tokoh agama/tokoh
masyarakat secara bersama sepakat untuk membentuk FKUB
dengan komposisi keanggotaannya berdasarkan
perbandingan jumlah pemeluk agama dengan keterwakilan
minimal 1(satu) orang dari setiap agama yang ada di
Provinsi. Peristiwa ini mengandung makna semua
komponen masyarakat berkepentingan dan memiliki
tanggung jawab memelihara kerukunan hidup antar umat
beragama dengan damai. (Gubernur Nusa Tenggara Timur,
Badan Perlindungan Masyarakat Provinsi NTT, 2007).
A. Respon Masyarakat terhadap keberadaan PBM Nomor 9
dan 8 Tahun 2006
Pada umumnya masyarakat Nusa Tenggara Timur
menerima dengan baik keberadaan PBM Nomor 9 dan 8.
Namun ada beberapa tanggapan yang dijabarkan dalam
tulisan ini yaitu:
1. DR. H. Abdul Kadir Makarim (Ketua MUI NTT, Ketua
NU sekaligus sebagai ketua RW)
Menyatakan bahwa isi dari PBM Nomor 9 dan 8 itu
kan intinya masalah pendirian rumah ibadat. Dulu sebelum
adanya PBM No. 9 dan 8 umat Islam mau mendirikan
rumah ibadat dipersulit dalam mengurus surat perizinannya.
Apalagi dengan adanya PBM Nomor 9 dan 8 yang mengatur
persyaratan dalam pendirian rumah ibadat harus ada 90

167

(sembilan puluh ) orang pengguna dan 60 (enam puluh)
orang pendukung. Hal ini malah tambah mempersulit umat
Islam yang ada di NTT untuk mendirikan rumah ibadat.
Kenapa persyaratan tersebut tidak diperhitungkan untuk
daerah-daerah minoritas. Memang sebelum adanya PBM
Nomor 9 dan 8 , saya mendirikan rumah ibadat (Masjid)
tidak memakai surat IMB, tapi berjalan lancar tanpa
hambatan. Orang mau mendirikan rumah ibadat kok pakai
izin. Jadi menurut saya PBM No. 9 dan 8 itu merugikan
umat minoritas.
2. Drs. Jeremi (Pendeta dari Gereja Pantekosta).
Menyatakan bahwa secara pribadi menurut saya
kehadiran PBM Nomor 9 dan 8 itu isinya adalah baik dan
bisa diterima oleh sebagian masyarakat. Saya katakan baik
karena isinya adalah mengatur tentang pendirian rumah
ibadat. Jadi tidak bisa sekelompok orang dengan seenaknya
membangun rumah ibadat tanpa izin dahulu dari
pemerintah, dalam hal ini FKUB setempat yang dibentuk
olah masyarakat. Sosialisasi PBM No. 9 dan 8 belum sampai
ke masyarakat bawah, baru sebatas PNS, oleh karena itu
perlu digalakkan sosialisasi tersebut. Sumberdaya manusia
yang ada di daerah NTT ini cukup bagus dalam artian latar
belakang pendidikannya cukup tinggi dan wawasannya luas.
Kalau masalah anggaran kan wewenang dari Pemda dalam
hal ini Kesatuan Bangsa dan Politik, jadi saya tidak tau.
Metode penyampaian dalam kegiatan sosialisasi itu cukup
bagus, namun perlunya diadakan diskusi-diskusi kelompok
yang membicarakan tentang isi PBM itu. Materi yang
disampaikan dalam sosialisasi PBM No. 9 dan 8 sangat
terbatas, karena waktu yang tersediapun juga terbatas.
Sehingga para peserta sosialisasi PBM No. 9 dan 8 perlu

168
banyak membaca sendiri dari buku PBM itu, supaya bisa
memahami. Sebab kalau peserta hanya mengandalkan dari
apa yang disampaikan oleh para nara sumber, ya sulit untuk
memahami isi PBM itu. Memang di Provinsi NTT ini jauh
sebelum adanya PBM No. 9 dan 8 sudah ada forum-forum
kerukunan sejenis FKUB . Paling tidak, 3 bulan sekali para
pemuka agama mengadakan pertemuan-pertemuan. Forum-
forum sejenis FKUB yang sudah ada, sekarang ini dengan
adanya Pergub tentang PKUB, maka namanya menyesuaikan
diri, dan susunan keanggotaannya disesuaikan dengan
aturan PBM No. 9 dan 8.
3. Kepala Kandepag Kabupaten Rotendau (Drs. Mikail Pah)
Menyatakan bahwa masyarakat kami mayoritas
beragama Kristen Protestan. SDM yang ada pada umat kami
masih kurang, bila dilihat dari segi pimpinan umat sendiri.
Sarana dan prasarana yang ada masih kurang mendukung,
sehingga sosialisasi yang dilakukan baru satu kali hanya
sebatas tingkat Kabupaten dan belum menjangkau untuk
tingkat kecamatan, hal ini karena keterbatasan sarana dan
dana. Sarana yang ada hanya terbatas kendaraan dinas.
Untuk poto copy bahan-bahan sosialisasi saja uangnya
sangat terbatas apalagi untuk tingkat Kecamatan uangnya
dari mana. Pada waktu pelaksanaan sosialisasi dibantu dari
Kesbangpol Linmas hanya sebatas uang trasport dan snaek.
Begitu juga pada waktu pembentukan FKUB tingkat
Kabupaten Rotendau April 2006, dananya diambil dari dana
perjalanan dinas. Sosialisasi untuk pimpinan umat kami,
belum berjalan karena keterkaitan dengan masalah anggaran.
Untuk itu kami memberi saran mohon dipertimbangkan
supaya Kepala Seksi diberi motor.
4. Drs. MP.Florianus Mekeng (Kepala Bidang Hubungan
Antar Lembaga )

169

Menyatakan bahwa pada umumnya kondisi
kerukunan umat beragama di NTT ini relatif baik-baik saja,
di mana sebelum adanya PBM No. 9 dan 8, semua umat
beragama dengan mudah saja bisa mendirikan rumah ibadat
tanpa ada kesulitan. Namun dengan adanya PBM No. 9 dan
8 ini, sebenarnya ya baik juga, tetapi kalau mau mendirikan
rumah ibadat ada payung hukumnya yang diatur oleh
pemerintah yaitu ada syaratnya 90 (sembilan puluh ) orang
pengguna, dan 60 (enam puluh) orang pendukung. Bagi
masyarakat mayoritas tidak ada masalah tetapi bagi yang
minoritas setidaknya ada sedikit masalah, mereka harus
melakukan komunikasi dahulu dengan FKUB bila mau
mendirikan rumah ibadat. Kalau berbicara masalah
kerukunan, jauh sebelum adanya PBM No. 9 dan 8,
masyarakat NTT sudah hidup dengan rukun dan damai
antar sesama umat beragama. Bahkan sebelum adanya PBM
Nomor 9 dan 8 masyarakat NTT sudah memiliki forum-
forum sejenis FKUB. Oleh karena itu menurut saya forum
yang sudah ada itu jangan dihilangkan, hanya menyesuaikan
dengan aturan-aturan yang ada dalam PBM No. 9 dan 8.
5. Bapak Drs. Irwan (sekretaris perlindungam masyarakat)
Menyatakan bahwa sebelum adanya PBM Nomor 9
dan 8, di Provinsi NTT ini sudah ada forum-forum
kerukunan seperti forum bersama antar pemuka agama.
Namun kedatangan PBM No. 9 dan 8 ini, bisa diterima
dengan baik oleh masyarakat. Tetapi dalam aturan PBM No.
9 dan 8 ada pasal yang menyulitkan umat beragama yaitu
dalam pendirian rumah ibadat, dilihat dari segi persyaratan
90 (sembilan puluh ) orang pengguna dan 60 (enam puluh )
orang pendukung . Dulunya sebelum ada PBM No. 9 dan 8
kearifan lokal sangat lentur. Kelompok umat beragama

170
membangun rumah ibadat atas musyawarah umat,
mengadakan dialog dan komunikasi dengan tokoh agama
dan tokoh masyarakat. Sekarang ini setelah adanya PBM No.
9 dan 8 , kalau umat beragama mau membangun rumah
ibadat harus mengikuti aturan PBM No. 9 dan 8 yang diatur
oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri.
Romo Agustinus (Ketua FKUB Provinsi NTT)
menyatakan bahwa Umat kami sangat menerima keberadaan
PBM No. 9 dan 8, tidak ada masalah, karena kerukunan umat
beragama bukan hal baru, dimana sebelum adanya PBM No.
9 dan 8 sudah ada forum-forum kerukunan yang bisa
meningkatkan kerukunan umat beragama. Masalah
Kerukunan Umat Beragama sekarang ini koordinasinya
dipayungi oleh PBM No. 9 dan 8 , menurut saya hal tersebut
menjadi lebih baik karena ada payung hukumnya yang
diatur oleh pemerintah. Oleh karena itu usul saya, anak-
anak didik sebaiknya diberikan pendidikan agama-agama,
sehingga mereka bisa merasakan keunikan dari semua
agama.

B. Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan
Dari uraian-uraian tersebut di atas, kiranya dapat
disimpulkan sebagai berikut:
a. Proses pembentukan FKUB di Nusa Tenggara Timur
berjalan cukup lancar karena dilakukan melalui
pertemuan para tokoh agama dan tokoh masyarakat
yang difasilitasi oleh Pemda dalam hal ini Kesbangpol
Linmas yang berlangsung pada tanggal 27 Maret dan 13
April 2007. Mereka sepakat membentuk FKUB yang
komposisi keanggotaannya berdasarkan perbandingan

171

jumlah pemeluk agama dengan keterwakilan minimal
(satu orang) dari setiap agama yang ada di provinsi.
b. Pada umumnya masyarakat Nusa Tenggara Timur
menerima dengan baik atas kehadiran PBM No.9 dan 8,
namun ada sedikit yang menjadi ganjalan yaitu adanya
persyaratan dalam pendirian rumah ibadat 90 orang
pengguna dan 60 orang pendukung. Sementara yang
telah berjalan di NTT dalam membangun rumah ibadat
berdasarkan kearifan lokal.
c. Tingkat pencapaian sosialisasi PBM No.9 dan 8 itu masih
perlu ditingkatkan karena belum menjangkau
masyarakat bawah dan baru sebatas masyarakat
menengah ke atas yang kedudukannya sebagai tokoh
agama dan tokoh masyarakat juga sebagai PNS. Selain
itu, waktu yang tersedia dalam pelaksanaan sosialisasi
tersebut sangat terbatas sehingga bagi peserta sosialisasi
tersebut sulit memahami isi PBM itu.
d. Masalah dana dan sarana yang tersedia dalam
melakukan sosialisasi masih sangat terbatas, baik
bantuan dari Pemda setempat maupun dari Kanwil
Depag.
e. Faktor pendukung terlaksananya sosialisasi PBM No.9
dan 8 itu adalah :
1) Karena hal ini tugas Kepala Daerah /Wakil Kepala
Daerah;
2) Karena Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),
ini dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh
Pemerintah Daerah.
f. Faktor penghambatnya adalah :
1) sarana dan dana bantuannya masih terbatas, dan

172
belum dianggarkan dalam DIPA
2) Wilayah Nusa Tenggara Timur ini, sulit dijangkau
karena menyeberang pulau-pulau.
g. Para pemuka agama setempat memberikan respon positif
terhadap keberadaan PBM No. 9 dan 8 dan
mengharapkan supaya para pihak terkait melaksanakan
sosialisasi itu.
h. Pada umumnya, pelaksanaan sosialisasi PBM No. 9 dan 8
yang telah dilakukan di provinsi Nusa Tenggara Timur
dapat berjalan dengan baik dan benar, dalam artian
berjalan sesuai jadwal, baik yang telah dilakukan oleh
pihak Departemen Agama Pusat dan Daerah, maupun
dari Kesbangpol Pusat dan daerah.
2. Rekomendasi
a. Perlunya digalakkan sosialisasi PBM No. 9 dan 8
tidak hanya untuk kalangan atas saja, melainkan
untuk masyarakat bawah yang bukan hanya PNS
saja;
b. Untuk kegiatan sosialisasi PBM No. 9 dan 8 perlu
ditingkatkan; dan dianggarkan dalam DIPA;
c. Perlunya penambahan waktu pelaksanaan sosialisasi
PBM No. 9 dan 8;
d. Metode penyampaian dalam sosialisasi PBM No. 9
dan 8 perlu ditambah, jangan hanya sebatas ceramah
dan tanya jawab tetapi lebih ditingkatkan dengan
membentuk kelompok diskusi-diskusi.



173

VIII
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Maluku
Oleh: Mursyid Ali

Salah satu aspek yang dapat mengganggu dan
merugikan upaya menciptakan suasana dan kondisi yang
kondusif bagi kerukunan umat beragama adalah persoalan
pendirian atau keberadaan rumah ibadat. Beragam kasus
yang seringkali muncul, sehubungan dengan pendirian dan
keberadaan rumah ibadat di berbagai daerah selama ini,
dipandang terkait dengan sejumlah faktor yang dapat
menjadi latar belakang penyebabnya, antara lain : 1) Belum
adanya kejelasan mengenai persyaratan dan tata-cara
Pendirian Rumah Ibadat, 2) Proses perizinan pendirian
rumah ibadat sering berlarut-larut, 3) Penyalahgunaan
rumah tinggal atau bangunan lain yang difungsikan sebagai
rumah ibdah, 4) Pendirian atau keberadaan rumah ibadat
yang tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku dan aspirasi
masyarakat setempat, 5) Selain pengaturan oleh masing-
masing Pemda sangat beragam, masih banyak Pemda yang
belum memiliki peraturan tentang pendirian rumah ibadat,
6) Kurangnya komunikasi antar pemuka keagamaan di suatu
wilayah
Adanya sejumlah kenyataan lapangan yang
menyangkut rumah ibadat seperti di atas, acapkali
mengundang munculnya kasus-kasus yang menimbulkan
ketegangan dan keresahan sosial yang dapat mengganggu

174
dan sangat merugikan upaya mewujudkan bangunan
kerukunan. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah yang
diwakili oleh Departemen Agama dan Departemen Dalam
Negeri, bersama-sama dengan perwakilan dari Majelis-
majelis Agama (MUI PGI KWI PHDI WALUBI)
bersepakat bahwa masalah pengaturan pendirian rumah
ibadat yang sebelumnya berlaku, perlu ditata ulang. Melalui
proses pembahasan dan dialog yang relatif intensif, serius
dan berulang-ulang, selama lebih kurang enam bulan,
berhasil mencapai kesepakatan, yang kemudian dituangkan
dalam PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN
MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN
PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL
KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN
FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN
PENDIRIAN RUMAH IBADAT (PBM Nomor :9 dan 8
Tahun 2006).
Berikutnya, supaya PBM ini bisa dipahami,
dihayati, dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial
beragama dan berbangsa secara luas, tepat dan benar serta
efektif, selama kurun waktu sekitar sepuluh bulan sepanjang
tahun anggaran 2006, pemerintah bersama-sama dengan
Majelis-Majelis Agama, telah melakukan serangkaian
kegiatan sosialisasi PBM, baik di tingkat pusat, provinsi dan
kota/kabupaten. Bagaimana dan sampai sejauhmana respon
masyrakat diberbagai daerah, berkenaan dengan upaya
sosialisasi ini, baik dari sisi pemahaman, maupun
aktualisasinya dalam praktek di lapangan, sampai sejauh ini,
setelah sosialisasi PBM selama setahun berlangsung, belum
banyak diketahui secara jelas. Untuk mendapatkan kejelasan
yang lebih lengkap, utuh dan bisa dipertanggungjawabkan,
khususnya mengenai keberhasilan atau efektivitas sosialisasi

175

PBM ini, dipandang perlu dilakukan monitoring dan kajian
tersendiri dari waktu ke waktu secara seksama, terprogram
dan terarah. Berbabagi informasi yang berhasil dihimpun
melalui kajian ini, dipandang cukup bermakna, selain buat
evaluasi, juga dapat dijadikan masukan tambahan buat para
pejabat terkait, pemimpin keagamaan, dan pihak-pihak lain
yang berkepentingan, dalam rangka penyususnan kebijakan
di bidang kehidupan keagamaan, di bidang kerukunan dan
pendirian rumah ibadat, khususnya terkait dengan upaya
peningkatan efektivitas sosialisasi PBM Nomor 9 dan 8
Tahun 2006.
Temuan Kajian
Berbagai informasi yang berhasil dihimpun melalui
serangkaian wawancara dengan sejumlah nara sumber
terkait dengan kajian tentang Efektivitas Sosialisasi PBM
Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 yang dilakukan di Ambon
Maluku pada bulan Juli 2007, disampaikan beberapa hal
yang dipandang penting, bersifat umum dan menyeluruh
seperti berikut :
1. Sehubungan dengan penyelenggaraan Sosialisasi PBM
Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 di provinsi Maluku pada
umumnya dinyatakan bahwa terdapat sejumlah faktor
yang dipandang menghambat atau kurang
menguntungkan antara lain : 1) Frekuensi dan durasi
waktu sosialisasi yang tersedia, dirasakan kurang
dibandingkan dengan banyaknya persoalan (materi)
yang harus disampaikan, 2) Pengurus FKUB belum
terbentuk (dilantik) , 3) Anggaran, Sarana dan prasarana,
belum jelas, 4) Trauma kerusuhan Ambon yang
berkepanjangan belum bisa dilupakan sepenuhnya di

176
kalangan warga dan pihak-pihak terlibat setempat, 5)
Masih adanya kelompok sparatis.
Sementara hal-hal yang dianggap
menguntungkan atau mendukung bagi upaya sosialisasi
PBM meliputi : 1) Dukungan, dorongan dan antusiasme
yang tinggi dari Pemda dan Departemen Agama
setempat, 2) Partisipasi aktif Majelis-Majelis Agama, 3)
Kerusuhan Ambon menyadarkan warga setempat betapa
pentingnya arti kerukunan dan kebersamaan, 4) Peran
para tokoh pemerintahan, keagamaan, adat dan
masyarakat selaku lambang pemersatu, 5) Saling
ketergantungan yang tinggi dalam upaya pemenuhan
kebutuhan hidup keseharian antar warga.
2. Sampai bulan Juli 2007, FKUB provinsi Maluku secara
resmi belum terbentuk atau belum dilantik, walaupun
konsep SK Gubernur Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Forum Antar Umat Beragama dan Dewan
Penasehat Forum Provinsi Maluku sudah ditetapkan
pada tanggal 15 Januari 2007. Sementara di daerah
tingkat dua, dari sebanyak delapan wilayah tingkat
kabupaten/kota di lingkungan provinsi Maluku, hanya
satu wilayah yang sudah membentuk FKUB yaitu di
kabupaten Maluku Tengah, dengan Surat Keputusan
Bupati Maluku Tengah Nomor : 240 293 Tahun 2006,
tertanggal 27 Nopember 2006, tentang Forum
Kerukunan Umat Beragama dan Dewan Penasehat
Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Maluku Tengah.
Tertundanya pelantikan FKUB provinsi Maluku
ini, penurut penuturan sejumlah tokoh dari kalangan
majelis-majelis agama, antara lain lantaran adanya
perbedaan dengan PBM Nomor : 9 8 tahun 2006,
seperti dalam nomenklatur FKUB, dalam SK Gubernur

177

Nomor : 17 Tahun 2007, disebut Forum Antar Umat
Beragama (FAUB) dan Dewan Penasehat Forum Provinsi
Maluku
3. Dari pantauan dan wawancara dengan warga dan tokoh
setempat, terkesan sebagian mereka kurang antusias
mendukung PBM Nomor : 9 dan 8 Tahun 2006 antara lain
karena : 1) Trauma kerusuhan di Ambon dan Maluku
tahun 2000 yang berkepanjangan dan menelan banyak
korban, sampai kini masih sulit dihapus, terutama bagi
para korban kerusuhan. Masih terlalu banyak
permasalahan kerusuhan yang belum terselesaikan, 2)
Masih adanya kelompok sparatis yang menginginkan
kemerdekaan, 3) Adanya anggapan bahwa pemerintah
setempat kurang serius menangani dan menyelesaikan
secara tuntas persoalan mendasar di atas, sehingga
mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah, yang pada gilirannya menyulitkan atau
paling tidak mengurangi keberhasilan berbagai upaya
menciptakan suasana dan kondisi kerukunan beragama
dan berbangsa.
4. Sejalan dengan berbagai hal seperti tersebut di atas,
dipandang perlu dilakukan beberapa upaya secara lebih
intensif dan sungguh-sungguh antara lain : 1)
Menggalakkan dialog-dialog multikultural, 2) Penegakan
hukum secara adil dan proporsional, 3) Meningkatkan
rasa dan kesadaran serta memperkokoh ikatan
nasionalisme, 4) Menyelesaikan segera dan proporsional
dampak kerusuhan yang masih tersisa, dan kelompok
sparatis setempat

178
IX
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Kalimantan Tengah
Oleh: Imam Syaukani
Pasca pelaksanaan sosialisasi PBM yang dilakukan
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada
permulaan tahun 2006, pihak Kantor Wilayah Departemen
Agama Provinsi Kalteng melalui Kepala Subbag Humas dan
KUB serta jajarannya, langsung mengadakan sosialisasi
kepada pemuka-pemuka agama se-wilayah Kalteng.
Sosialisasi dilakukan da-lam bentuk pertemuan formal dan
juga informal. Drs. Baihaqi, selaku Kasubbag Humas dan
KUB saat itu menjelaskan, pada mulanya ada beberapa pihak
yang menentang keber-adaan PBM, terutama mereka dari
kalangan Kristen. Namun, setelah dilakukan pendekat-an
secara intensif, berbicara dari hati ke hati, mereka sedikit
demi sedikit bisa menerima PBM. Bahkan, kini mereka sering
berkomunikasi dengan pihak kanwil.
5

Selain dengan ceramah dan pendekatan secara
informal, sosialisasi PBM dilakukan pula dengan media
massa. Dalam hal ini, pihak kanwil telah memanfaatkan
tabloid Cer-mien yang diterbitkan oleh Subbag Humas dan
KUB sebagai media sosialisasi PBM. Cer-mien merupakan
tobloid yang diterbitkan setiap 1 bulan sekali dan
mempunyai jangkauan cukup luas, karena diedarkan pada
seluruh kantor departemen agama se-Kalteng. Upaya kanwil


5
Wawancara dengan Drs. Baihaqi, Kasubbag Humas dan KUB Kanwil Dep.
Agama Provinsi Kalteng.

179

departemen agama tersebut ternyata tidak luput dari
perhatian gubernur. Beliau sangat memuji apa yang telah
dilakukan kanwil departemen agama. Perhatian gubernur itu
dimanfaatkan betul oleh pihak kanwil untuk terus menjalin
hubungan baik dengan pi-hak pemerintah daerah. Hasilnya
cukup menggembirakan. Gubernur sangat merespon ketika
Kanwil Departemen Agama mengajukan diri untuk
memfasilitasi penyusunan peratur-an gubernur tentang
pedoman pembentukan forum kerukunan umat beragama
dan de-wan penasihat provinsi dan kabupaten/kota di
Provinsi Kalteng.
6
Untuk mendukung so-sialisasi gubernur
langsung menganggarkan dalam anggaran pembangunan
belanja dae-rah.
Sosialisasi PBM di tingkat provinsi diteruskan hingga
tingkat kabupaten/kota oleh departemen agama dan ormas
Islam serta majelis agama masing-masing.
7
Kegiatan sosi-
alisasi yang dilakukan oleh majelis ulama Indonesia belum
secara khusus membahas ke-beradaan PBM, tetapi baru
sebatas diselipkan dalam acara pengajian yang diadakan
oleh masyarakat, manakala secara kebetulan mereka
diundang sebagai penceramahnya. Sosial-isasi secara khusus
belum bisa dilakukan karena majelis ulama Indonesia belum
mempu-nyai dana.
8
Kondisi berbeda dijumpai pada majelis-
majelis di luar majelis ulama Indonesia, terutama dari
kalangan Kristen, di mana mereka telah mengundang secara
khusus Ka-subbag Humas dan KUB untuk menjelaskan


6
Berkaitan dengan pergub tentang pedoman pembentukan forum kerukunan
umat beragama dan dewan penasihat akan dijelaskan pada bagian lain tulisan ini.

7
Tabloit Cermin, Edisi Maret 2007, Tahun III.

8
Wawancara dengan Drs. H. Ahzar Slamet, sekretaris MUI dan sekretaris
FKUB Provinsi Kalteng.

180
PBM. Penyelenggaraan sosialisasi secara khusus itu
merupakan instruksi dari pimpinan pusat (Persekutuan
Gereja-gereja di Indo-nesia dan Konferensi Waligereja
Indonesia), karena selain mereka turut membidani PBM juga
karena menganggap masalah ini penting untuk diketahui
oleh jemaat mereka di ting-kat akar rumput (grassroot).
Memperhatikan uraian di atas, maka pelaksanaan
sosialisasi PBM di Kalteng berja-lan cukup baik. Faktor
pendukung yang memungkinkan kondisi itu adalah
kesigapan pi-hak kantor wilayah departemen agama,
dukungan majelis-majelis agama, dan yang ter-penting
adanya dukungan dari gubernur, walaupun sebatas baru
menjanjikan adanya ang-garan sosialisasi dari APBD. Pada
saat penelitian ini dilakukan anggaran sosialisasi dari APBD
itu belum pernah diperoleh kanwil departemen agama,
majelis-majelis agama, atau unsur masyarakat yang lain.
Kondisi ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat
terhadap pemerintah daerah dan akan menjadi faktor
penghambat yang tidak bisa dire-mehkan begitu saja.
Peraturan Gubernur Mengenai FKUB dan Dewan
Penasihat
Pasal 12 PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006 menyebutkan
bahwa dalam rangka mengatur ke-beradaan forum
kerukunan umat beragama (FKUB) dan dewan penasihat
harus melalui peraturan gubernur. Di Kalteng, ketentuan itu
sudah dipenuhi dengan diterbitkannya Per-aturan Gubernur
No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Dewan Penasihat
Forum Kerukunan Umat Beragama Pro-vinsi dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah, tertanggal 8
Maret 2007. Ter-bitnya pergub ini tidak bisa dilepaskan dari
peran kanwil departemen agama. Dengan dana Rp

181

7.000.000,- (tujuh juta rupiah) tim penyusun yang terdiri atas:
Drs. Rahmat Junai-di Rahman, SH dan Drs. Mohadi dari
Kanwil Dep. Agama Provinsi Kalteng, Ir. H. Tonny
Prohartono, Sukosmono, SH dan H. Amir Hamzah dari Biro
Hukum Setda Provinsi Kal-teng.
Tim penyusun di atas bekerja sejak awal November
2006. Ketika naskah sudah men-capai titik final, masuk tim
penyusun baru dari Badan Linmaskesbang Provinsi Kalteng,
Sukarsih, SH untuk ikut serta mengikuti proses
penyempurnaan draf pergub, terutama untuk
penyempurnaan tata bahasa. Setelah mengalami
penyempurnaan draf itu dipresen-tasikan dihadapan
gubernur dan kepala kanwil departemen agama provinsi
Kalteng. Ra-pergub yang kemudian menjadi pergub itu
mengatur tentang: (1) ketentuan umum; (2) pembentukan
FKUB; (3) pertanggungjawaban, pembinaan dan
pengawasan; (4) pembia-yaan; (5) sekretariat; (6) ketentuan
peralihan, yang menyatakan bahwa pedoman pemben-tukan
FKUB atau yang sejenisnya, yang telah terbentuk sebelum
pedoman ini diterbitkan, agar segera menyesuaikan paling
lambat 1 (satu) tahun; dan (7) ketentuan penutup.
9

Keberadaan FKUB dan Dewan Penasihat FKUB Provinsi
dan Kabupaten/Kota
Sebagai tindak lanjut dari PBM dan Pergub No. 6
Tahun 2007, pada 17 April 2007, dise-lenggarakan
musyawarah forum kerukunan umat beragama Provinsi
Kalteng di Palangka-raya dengan agenda utama


9
Tabloid Cermin, Edisi Januari 2007 Tahun III.


182
pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama dan
Dewan Penasihat Provinsi Kalteng.
Setelah melalui proses musyawarah, disepakati
susunan pengurus FKUB dan Dewan Penasihat Provinsi
Kalteng periode 2007 s.d. 2010 dan dikukuhkan melalui
Keputusan Gubernur Kalteng No. 188.44/232/2007 tertanggal
30 Mei 2007 tentang Penetapan Su-sunan Pengurus Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Susunan
Keanggotaan Dewan Penasihat FKUB serta Pegawai
Sekretariat FKUB Provinsi Kalteng. Susunan anggota FKUB
provinsi ialah:
Susunan Pengurus FKUB
Provinsi Kalteng
No. Nama Jabatan dalam FKUB
1. Drs. H.M. Yamin Mukhtar, Lc Ketua/Anggota
2. Pdt. Drs. P.L. Sinaga, DpTh Wakil Ketua/Anggota
3. Drs. Oka Swastika, SH Wakil Ketua/Anggota
4. Drs. H. Ahzar Slamet Sekretaris/Anggota
5. H.M. Syairi Abdullah Wk. Sekretaris/Anggota
6. Pdt. Dr. Rugas Binti Anggota
7. Drs. H. Anwar Isa, Lc Anggota
8. P. Drs. Frieds Meko, SVD Anggota
9. H. Kaspul Rizani, SH Anggota
10. Lewis KDR, BBA Anggota
11. Drs. H. Noordiansyah Anggota
12. Pdt. Untung Christian J. Ekoet, S.Th Anggota
13. Ir. H. Syamsuri Yusuf Anggota
14. Drs. H.A. Aini Baderi, SH, MH Anggota
15. Pdt. Julito, A.Ma.Pd Anggota
16. Ir. H. Abdul Mukti, MP Anggota
17. Drs. H. Tuaini Ismail, M.Ag Anggota
18. H. Sa`aduddin Anggota
19. Drs. H.M. Amin Suhaimi Anggota

183

20. Ir. H. Rajudinnor, M.Si Anggota
21. Drs. Sardimi, S.Ag Anggota
Sedangkan Dewan Penasihat adalah sebagai berikut:
Susunan Keanggotaan Dewan Penasihat
FKUB Provinsi Kalteng
No. Nama Jabatan dalam FKUB
1. Wakil Gubernur Kalteng Ketua
2. Kanwil Depag Provinsi
Kalteng
Wakil Ketua
3. Badan Linmas Kesbang dan
Polisi Pamong Praja Kalteng
Sekretaris
4. Kepolisian Daerah Kalteng Wakil Sekretaris
5. Kejaksaan Tinggi Kalteng Anggota
6. DANREM 102 Panju Panjung Anggota
7. Pengadilan Tinggi Kalteng Anggota
8. Pengadilan Tinggi Agama
Kalteng
Anggota
9. Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Kalteng
Anggota
10. Dinas Kesejahteraan Sosial
Provinsi Kalteng
Anggota
11. Badan Pemberdayaan
Masyarakat Provinsi Kalteng
Anggota
12. Badan Pengolahan dan Sistem
Informasi Daerah Provinsi
Kalteng
Anggota
Selain berhasil membentuk FKUB dan Dewan
Penasihat FKUB Provinsi Kalteng, musya-warah menelurkan
pula beberapa kesepakatan:
10



10
Tabloid Cermin, Edisi Mei 2007, Tahun III.


184
1. FKUB Provinsi Kalteng dalam pelaksanaan tugas
berpedoman kepada ketentuan per-aturan perundang-
undangan yang berlaku;
2. Anggota FKUB dalam melaksanakan tugas hanya untuk
kepentingan kerukunan umat beragama dan
pembangunan;
3. Anggota FKUB dalam melaksanakan tugas
menggunakan bahasa kerukunan;
4. Anggota FKUB dalam melaksanakan tugas berdasarkan
hasil musyawarah dan dilak-sanakan secara kolegial dan
tidak secara individu;
5. Jumlah keterwakilan pemuka agama pada FKUB Provinsi
Kalteng sebagai berikut: (a) dari lembaga keagamaan
Islam sebanyak 14 orang anggota; (b) dari lembaga
keagama-an Kristen Protestan sebanyak 3 orang anggota;
(c) dari lembaga keagamaan Hindu sebanyak 2 orang
anggota; (d) dari lembaga keagamaan katolik sebanyak 1
otang; dan (e) dari lembaga keagamaan Buddha sebanyak
1 orang anggota.
Kesepakatan di atas kemudian dirinci lebih jauh
dalam Keputusan Forum Kerukunan Umat Beragama
Provinsi Kalteng tentang Peraturan Tata Tertib Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalteng.
Menurut kesaksian wakil umat Buddha, proses
pembentukan FKUB berjalan bagus. Komunikasi
antaranggota FKUB dilakukan dengan surat atau sms.
Bahkan surat belum datang sms sudah datang. Kantor FKUB
sedang di-siapkan. Wakil dari Hindu Kaharingan ada di
FKUB Provinsi. Anggaran sedang diusulkan kepala
Pemerintah Daerah. Terlibat dalam berbagai kegiatan hari-
hari besar agama lain sebagai Panitia.
11




185

Setelah terbentuknya FKUB dan Dewan Penasihat
FKUB Provinsi Kalteng, menyusul kemudian pembentukan
lembaga sejenis di tingkat kabupaten/kota. Menurut
Kasubbag Humas dan KUB, bahwa FKUB dan Dewan
Penasihat tingkat kabupaten/kota sudah di-bentuk, kecuali di
Kabupaten Seruyan. Alasan mengapa di kabupaten ini belum
terbentuk FKUB dan Dewan Penasihat, menurut Kasubbag
Humas dan KUB, konon disebabkan ka-rena adanya
perseteruan antara bupati dan wakil bupati.
12
Kondisi yang
hampir sama ter-jadi pula di Kota Palangkaraya. Bedanya, di
kota ini FKUB dan Dewan Penasihat sudah terbentuk, tetapi
belum dikukuhkan melalui keputusan bupati karena ada
perbedaan pen-dapat antara walikota dan sekdanya.
Menurut satu informasi, orang yang dianggap de-kat
dengan walikota tidak masuk dalam keanggotaan FKUB dan
di sisi lain, sekda juga hendak memasukkan orang
dekatnya.
13

Mencermati lambatnya pembentukan FKUB dan
Dewan Penasihat Kab. Seruyan dan pengukuhan FKUB dan
Dewan Penasihat Kota Palangkaraya, ini membuktikan
bahwa ada upaya-upaya untuk memanfaatkan FKUB dan
Dewan Penasihat sebagai bagian dari peng-galangan massa.
Jelas, ini bertentangan dengan tujuan pembentukan FKUB
yang harus lepas dari kepentingan politik dan golongan.
Selain itu, dari kabupaten/kota yang telah membentuk FKUB
dan Dewan Penasihat, ternyata baru dua daerah yang

11
Wawancara dengan Pdt. Julito, anggota FKUB Provinsi wakil dari Buddha.

12
Wawancara dengan Drs. Mohadi, Kasubbag Humas dan KUB Kanwil
Departemen Agama Provinsi Kalimantan Tengah.

13
Ibid.


186
melaporkan ha-silnya kepada sekretariat FKUB Provinsi,
yakni Kab. Kapuas dan Barito Timur. Susunan kepengurusan
dikukuhkan melalui Keputusan Bupati Kapuas No. 387
Tahun 2007 ten-tang Pembentukan Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) Kab. Kapuas (2007-2010), yaitu:
Susunan Pengurus FKUB
Kab. Kapuas (2007-2010)
No. Nama Jabatan dalam FKUB
1. Drs. Masyumi Rivai, MAP Ketua/Anggota
2. Pdt. Erasmus Bataha, SH Wakil Ketua/Anggota
3. Drs. L.H. Tinggam Wakil Ketua/Anggota
4. I Wayan Amatha, SH Sekretaris/Anggota
5. H. Kursani, S.Ag Wakil Sekretaris/Anggota
6. KH. Muchtar Ruslan Anggota
7. H.M. Sugiannor Anggota
8. H. Anwar Kusasi, BA Anggota
9. H. Junaedi, SE, SKM Anggota
10. H. Ikhsan Syahrin Anggota
11. H. Kamaruddin AK Anggota
12. H. Kasiyan, SE, SH, MM Anggota
13. Pdt. Tunggul Hutabalian Anggota
14. Patan Ely Anggota
15. Drs. Saptono Anggota
16. I Wayan Siben, S.Pd Anggota
17. Eyai Anggota
Sedangkan kepengurusan di Kab. Barito Timur
dikukuhkan Keputusan Bupati Barito Ti-mur No. 192 Tahun

187

2007 tentang Pembentukan Forum Komunikasi Kerukunan
Umat Beragama Kab. Barito Timut (2007-2010).
Susunan Pengurus FKUB
Kab. Barito Timur (2007-2010)
No. Nama Jabatan dalam FKUB
1. H. Syaril M, BA Ketua/Anggota
2. Pdt. Antariksa, S.Th Wakil Ketua/Anggota
3. Riwut Mulajari Sekretaris/Anggota
4. Mursid Wakil Sekretaris/Anggota
5. H. Kamardi Anggota
6. Ir. Riza Rahmadi Anggota
7. Umarie Ngubel Anggota
8. Pdm. Lesios Abad Nego, S.Th Anggota
9. H. Rizal Taufik Anggota
10. Pdt. Yerina Bambang Anggota
11. Bermard Salassa Anggota
12. Drs. Satagunawan Anggota
13. H. Dartoyo Anggota
14. Rini Bernard I.N. Anggota
15. Ketut Sandie Anggota
16. Suriadi Ikat Anggota
17. H. Suryanor Anggota

Konsistensi Pembentukan FKUB dan Dewan Penasihat
dengan PBM

188
Memperhatikan susunan kepengurusan FKUB dan
Dewan Penasihat Provinsi Kalteng dan Kab. Kapuas dan
Barito Timur, tampaknya sudah sesuai dengan aturan PBM.


Peraturan dan Keorganisasian FKUB
Provinsi Kalimantan Tengah


LOKASI
Pergub
tentang
FKUB

FKUB
Dewan
Penasihat
FKUB
Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak
Provinsi Kalimantan
Tengah
X X X x X
Kota Palangkaraya X X X X
Kab. Barito Timur X X X X
Kab. Kotawaringin
Barat
X X X X
Kab. Kotawaringin
Timur
X X X X
Kab. Kapuas X X X X
Kab. Barito Selatan X X X X
Kab. Barito Selatan X X X X
Kab. Lamandau X X X x
Kab. Sukamara X X x X
Kab. Seruyan
Kab. Katingan X x X X
Kab. Pulang Pisau X X X X
Kab. Gunung Mas X X X X
Kab. Murung Raya X X X X

Program Kerja FKUB

189

Program kerja FKUB untuk sementara ini
memusatkan diri untuk pemantapan organisasi. Untuk itu,
FKUB telah mengadakan studi banding ke Yogyakarta.
Tujuan studi banding ini adalah untuk menambahkan ikatan
kebersamaan dan pengembangan wawasan multi-kultural
anggota FKUB. Hasil yang dicapai cukup mengejutkan,
karena antusiasme pem-bentukan dan pengembangan FKUB
berkembang lebih baik di Kalimantan Tengah daripa-da di
Yogyakarta. Kasubbag Humas dan KUB menyatakan terus
terang bahwa hasil studi banding tidak sesuai dengan
harapan, tetapi setidaknya tingkat kepercayaan diri anggota
FKUB Kalteng semakin meningkat.
Selain kegiatan studi banding juga diselenggarakan
pendidikan multikultural bagi guru-guru pada tanggal 5-9
Agustus 2007. Kegiatan diarahkan untuk membekali guru-
gu-ru bagaimana cara menyampaikan atau materi yang
berkaitan dengan wawasan multikul-tural kepada anak
didik. Kegiatan ini dibiayai oleh Pusat Kerukunan Umat
Beragama De-partemen Agama (PKUB). Selain itu, program
kerja juga diarahkan untuk mensinergikan kegiatan
kerukunan di Kalimantan Tengah. Untuk itu, komunikasi
antara Kepala Subbag Humas dan KUB dengan FKUB dan
tokoh masyarakat/agama lainnya terus dilakukan.
14
Program
kerja dipusatkan pula---ini yang paling utama---terus
menerus melakukan so-sialisasi PBM kepada masyarakat
dan melakukan pendekatan kepada daerah-daerah yang
belum dibentuk FKUB (Kab. Seruyan) dan belum
dikukuhkan (Kota Palangkaraya).



14
Wawancara dengan Drs. Mohadi, Kasubbag Humas dan KUB Kanwil
Departemen Agama Provinsi Kalimantan Tengah.

190
Hubungan FKUB dengan Forum Sejenis
Sebelumnya ada Forum Kerukunan Antar Umat
Beragama (FKAUB), namun atas prakar-sa Kanwil
Departemen Agama Provinsi Kalteng, FKAUB dilebur jadi
FKUB. Jadi, saat ini tidak ada lembaga sejenis di Kalteng.

Dukungan Pemda, Badan Kesbanglinmas dan Kanwil
Departemen Agama
Dukungan Pemda, Badan Kesbanglinmas dan Kanwil
Departemen Agama cukup baik. Na-mun sepanjang dapat
ditemui dalam tinjauan lapangan, dukungan kanwil
departemen agama patut mendapat perhatian lebih;
terutama ketika awal-awal pembentukan FKUB provinsi dan
kabupaten/kota. Pada saat itu, pihak kanwil departemen
agama harus mela-kukan pendekatan kepada banyak pihak--
-terutama yang tidak setuju dengan PBM---un-tuk
menjelaskan tentang pentingnya PBM bagi peningkatan
kerukunan umat beragama. Pihak Badan Kesbanglinmas
juga pada mulanya enggan karena menganggap mendapat
tugas yang baru. Baru setelah diyakinkan mereka mau
merespon walau sangat terbatas. Untuk mendirikan FKUB
kanwil departemen agama memberikan dukungan berupa
ban-tuan Rp 7.000.000,- (tujuh juta rupiah.
15

Sedangkan dukungan dari pihak pemda, saat ini
sedang diusulkan anggaran operasi-onal FKUB dan
penyiapan gedung sekretariat yang terletak di Jalan Yos
Sudarso, Palang-karaya dengan dana rehabilitas dari APBD.



15
Wawancara dengan Drs. Baihaqi, mantan Kasubbag Humas dan KUB
Kanwil Departemen Agama Provinsi Kali-mantan Tengah.

191

Penerimaan dan Penolakan Masyarakat terhadap PBM
Sebagaimana telah disinggung di atas, daya terima
masyarakat terhadap PBM pada mula-nya tidak merata, ada
yang menolak dan ada pula yang menerima. Yang menolak,
ter-utama dari kalangan Kristen, diarahkan pada ketentuan-
ketentuan tentang syarat-syarat pendirian rumah ibadat dan
pembentukan FKUB. Menurut yang menolak, pembentukan
FKUB tidak diperlukan karena sudah ada FKAUB dan selain
itu, kondisi masyarakat cu-kup rukun sehingga tidak
diperlukan FKUB. Mereka juga berpendapat bahwa syarat-
sya-rat pendirian rumah ibadat cukup berat dan terlalu
mengada-ada. Padahal, menurut me-reka, selama ini
pendirian rumah ibadat di Kalteng tidak perlu syarat-syarat
seperti tertu-ang dalam PBM dan ternyata tidak ada
keberatan apa-apa dari masyarakat. Mereka bisa mendirikan
rumah ibadat kapan saja tanpa halangan apapun.
Atas keberatan masyarakat itu pihak Kanwil
Departemen Agama telah melakukan pendekatan intensif
kepada pihak-pihak yang menolak. Setelah diberikan
penjelasan bah-wa PBM merupakan kesepakatan pemuka
agama tingkat pusat yang diharapkan direspon dengan sama
di tingkat daerah. PBM adalah kode etik bersama dalam
rangka mengatur lalu lintas ajaran agama yang bersentuhan
dengan kepentingan umum. Pihak kanwil juga meyakinkan
bahwa kerukunan tidak bisa berjalan secara alamiah tetapi
perlu diupayakan semua komponen bangsa untuk
menyepakati kode etik kerukunan bersama. Pada bebera-pa
kasus, kondisi kerukunan yang dikawal oleh perangkat etika
tradisional tidak mampu bertahan dari gempuran
modernitas. Untuk itulah, keberadaan PBM sebagai

192
kesepakatan baru antarpemuka agama patut diapresiasi
secara positif oleh banyak pihak.
Ada juga informan yang belum bisa memberikan
pendapat karena belum pernah membaca PBM yang salah
satunya mengatur tentang pendirian rumah ibadat. Masjid
su-dah berkali-kali renovasi tetapi belum pernah punya IMB
dan izin prinsip mendirikan ru-mah ibadat. Padahal ia
merupakan pengurus salah satu masjid besar di
Palangkaraya, di mana salah satu pengurusnya adalah
anggota FKUB provinsi. Ketidaktahuan ini menun-jukkan
bahwa sosialisasi PBM di Kalteng belum berjalan secara
merata. Selain itu, kenya-taan itu menunjukkan pula bahwa
tanggung jawab moral pengurus FKUB untuk menye-
barluaskan PBM kepada jamaahnya masih sangat kurang.

Kasus Perselisihan Akibat Pendirian Rumah Ibadat
Tingkat kerukunan antarumat beragama di Kalteng
cukup baik. Faktor perekat antar anggota masyarakat karena
ada falsafah rumah betang. Dalam rumah ini 1 keluarga
dengan keyakinan yang berbeda. Menurut sekretaris MUI
Provinsi Kalteng, selama ini belum ada masalah pendirian
rumah ibadat.
16
Salah satu buktinya di Bukit Hindu ada
masjid dan gereja yang berdiri berdampingan. Selama itu
belum pernah terjadi bentrok saat ada peraya-an di masing-
masing rumah ibadat tersebut. Dikatakan Bukit Hindu
karena dulu pusat Hindu Kaharingan, dan juga ada beberapa
pura.
17
Lebih rukun lagi, di Jalan Galaksi Kom-plek Amaco,
gereja dan masjid satu tembok.


16
Wawancara dengan Drs. Azhar Slamet, Sekretaris MUI Provinsi
Kalimantan Tengah dan Sekretaris FKUB Provinsi.


193

Pendapat berbeda dikemukakan Kakanwil Departemen
Agama, bahwa kasus pendi-rian rumah ibadat pernah terjadi
di Perumnas. Ketika itu ada penentangan pendirian ge-reja.
18

Tidak diketahui persis alasan penentangan, tetapi kasus ini
dapat diselesaikan de-ngan musyawarah tokoh agama
setempat.
Penutup
Berdasarkan elaborasi di atas maka kesimpulan yang
dapat ditarik adalah: Pertama, sosi-alisasi sudah berjalan baik
tetapi belum merata. Kedua, dukungan terhadap
penyelenggaraan sosialisasi dari aspek sumberdaya manusia
dan sarana prasarana cukup baik, hanya anggaran masih
sangat terbatas. Faktor ini dapat menjadi faktor penghambat
jalannya so-sialisasi. Faktor penghambat lainnya adalah
kurangnya komitmen pengurus FKUB untuk
mensosialisasikan PBM kepada jamaahnya. Ketiga, hampir
seluruh Kalteng sudah diben-tuk FKUB dan dewan
penasihat kecuali di Kab. Seruyan, karena ada kepentingan
patron-klien yang masuk ke dalamnya. Hal yang hampir
sama terjadi pula di Kota Palangkaraya, kendati hanya
sekadar belum diterbitkannya SK bupati untuk
pengangkatan pengurus FKUB dan dewan penasihat.
Pendirian FKUB dan dewan penasihat sesuai dengan aturan
PBM.
Keempat, prioritas program kerja adalah melakukan
sosialisasi dan mempercepat pembentukan FKUB Kab.
Seruyan dan penerbitan SK FKUB di Kota Palangkaraya.

17
Wawancara dengan Muhammad dkk, pengurus Masjid Raya Nurul Iman
Kota Palangkaraya, Bahandut.

18
Wawancara dengan Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi
Kalimantan Tengah.

194
Keli-ma, hubungan FKUB dengan lembaga sejenis berjalan
baik. Keenam, dukungan Kanwil Departemen Agama
dilakukan dengan memberikan dana awal bagi pembentukan
FKUB dan memberikan penjelasan kepada banyak kalangan
tentang pentingnya PBM dan keber-adaan FKUB. Ketujuh,
penolakan masyarakat terhadap PBM relatif kecil. Kendati
pun ada penolakan itu hanya pada awal-awalnya saja, tetapi
setelah diberikan pengertian mereka bisa menerima
keberadaan PBM. Kedelapan, kasus pendirian rumah ibadat
sebelum PBM pernah terjadi di Palangkaraya tetapi bisa
cepat diselesaikan secara arif oleh para tokoh agama. Setelah
PBM belum ada kasus pendirian rumah ibadat.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan Bungin. Ed. Analisis Data Penelitian Kualitatif:
Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan
Model Aplikasi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006).
Ida Bagoes Mantra. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian
Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Jurnal Nasional, Kamis, 16 Agustus 2007.
KMA M. Usop, Pakat Dayak: Sejarah Integrasi dan Jatidiri
Masyarakat Dayak dan Daerah Kalteng (Palangkaraya:
Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Batang Garing,
1994).
Tabloid Cermin, Edisi Januari 2007 Tahun III.
Tabloid Cermin, Edisi Maret 2007, Tahun III.
Tabloid Cermin, Edisi Mei 2007, Tahun III.
Tim Penyusun, Kompilasi Peraturan Perundang-undangan
Kerukunan Hidup Umat Beragama (Jakarta: Puslitbang
Kehidupan Keagamaan, 2006).

195

Tim Penyusun, Selayang Pandang Kota Palangkaraya 2006
(Palangkaraya: Pemda, 2006).
Tjilik Riwut dan Sanaman Mantikei, Maneser Panatan Tatu
Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur) (Palangkaraya:
Pusakalima, 2003).
Wawancara dengan Kepala Kanwil Departemen Agama
Provinsi Kalimantan Tengah.
Wawancara dengan Drs. Baihaqi, Kasubbag Humas dan KUB
Kanwil Dep. Agama Provinsi Kalteng.
Wawancara dengan Drs. H. Ahzar Slamet, sekretaris MUI
dan sekretaris FKUB Provinsi Kalteng.
Wawancara dengan Pdt. Julito, anggota FKUB Provinsi wakil
dari Buddha.
Wawancara dengan Drs. Mohadi, Kasubbag Humas dan
KUB Kanwil Departemen Agama Provinsi Kalimantan
Tengah.
Wawancara dengan Muhammad dkk, pengurus Masjid Raya
Nurul Iman Kota Palangkaraya, Bahandut.




196
X
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Kalimantan Selatan
Oleh: Bashori A. Hakim dan Fakhruddin

Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah
informan yang terdiri atas: para pejabat Kantor Wilayah
Departemen Agama dan Kantor Kesbang Linmas Provinsi
Kalimantan Selatan yang terlait dengan pelaksanaan
sosialisasi PBM, para tokoh agama dan pimpinan
lembaga/organisasi keagamaan dari berbagai agama, para
tokoh masyarakat dan masyarakat peserta sosialisasi, dapat
dipaparkan berikut:
1. Tanggapan Masyarakat terhadap PBM
Masyarakat yang telah mengikuti sosialisasi PBM
yang terdiri atas unsur berbagai agama dan profesi, pada
umumnya menanggapi secara beragam terhadap keberadaan
PBM. Sebagian mereka mengatakan keberadaan PBM tidak
masalah. Dengan disisialisasikannya PBM maka berbagai
aturan tentang kehidupan keagamaan khususnya mengenai
pendirian rumah ibadat menjadi jelas, ada rambu-rambu
yang harus diikuti. Sebagian yang lain berpendapat dengan
adanya PBM justru menyulitkan umat beragama, terutama
bagi umat beragama yang jumlah penganutnya minoritas di
suatu daerah. Persyaratan pendirian rumah ibadat harus ada
persetujuan masyarakat lingkungan mencapai jumlah 60
0rang dan dukungan jamaah minimal 90 orang penganut
agama yang bersangkutan, dinilai sebagian masyarakat

197

sebagai persyaratan yang menyulitkan. Namun menurut
sebagian masyarakat yang lain, persyarakat pendirian rumah
ibadat itu justru dimaksudkan untuk mengayomi umat
beragama yang relatif sedikit jumlahnya di suatu daerah.
Penilaian itu mereka berikan setelah memperoleh penjelasan
dari Pejabat Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama
serta dari pejabat Kantor Kesbang Linmas pada saat
mengikuti sosialisasi PBM setahun tang lalu (2006). Hal ini
menunjukkan adanya pengaruh yang cukup signifikan bagi
peserta sosialisasi PBM terhadap pengetahuan tentang PBM
sekalipun tidak seluruh peserta sosialisasi memahami
demikian.
Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa
banyak pasal-pasal dalam PBM yang perlu penjelasan agar
tidak terjadi salah tafsir. Oleh karena itu mereka
mengharapkan adanya peraturan berupa penjelasan atas
pasal-pasal tertentu. Pendapat itu disampaikan baik oleh
masyarakat yang menganggap keberadaan PBM positif bagi
pengaturan kehidupan beragama maupun bagi yang
menganggap bahwa adanya PBM justru menyulitkan
mereka. Namun ada pula yang menanggapi peraturan-
peraturan dalam PBM itu sebenarnya cukup sederhana, tidak
sulit, dan muatannya luas. Karena itu maka tak perlu
peraturan penjelasan secara tersendiri. Hanya saja dalam
setiap sosialisasi, pasal-pasal tertentu yang dianggap kurang
jelas perlu penjelasan secara rinci berikut contoh-contohnya
agar masyarakat lebih memahami.
Sebagian yang lain menanggapi keberadaan PBM
menghambat umat beragama dalam melakukan ibadat.
Mereka beranggapan, adanya PBM memberikan kesan
bahwa umat beragama diatur dalam beribadat, yang

198
seharusnya pemerintah justru memberikan pelayanan dan
memfasilitasi umat beragama dalam melakukan ibadat
sesuai agama yang diyakini. Bahkan secara ekstrim ada yang
mengatakan bahwa dulu pemerintah telah membuat
peraturan sejenis yakni SKB Menteri Agama dan Menteri
Dalam Negeri Tahun 1979 dan sekarang dibuat lagi PBM.
Hal ini dinilainya sebagai menghabiskan anggaran. Bangsa
kita yang beragam agama ini telah memiliki Pancasila
sehingga tak perlu ada peraturan lagi.
Pendapat terakhir ini tampaknya hanya mewakili
sekelompok kecil umat beragama yang kurang memahami
latarbelakang dan proses perumusan PBM yang memerlukan
waktu yang relatif lama dengan melibatkan perwakilan dari
seluruh unsur-unsur agama yang ada. Walaupun PBM ini
produk pemerintah dalam hal ini berupa Peraturan Bersama
Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, namun
sebenarnya materi PBM ini merupakan hasil kesepakatan
dari seluruh unsur pimpinan agama-agama. Apabila
masyarakat memahami secara benar latarbelakang dan
proses perumusan PBM sebagaimana dipaparkan secara
singkat di atas maka pendapat seperti itu tentu tidak akan
ada.
2. Faktor-faktor Penghambat dan Pendukung Sosialisasi
PBM
a. Faktor-faktor Penghambat:
Di antara faktor penghambat sosialisasi PBM adalah:
1) Kurangnya dana untuk kegiatan sosialisasi, sehingga
waktu sosialisasi terlalu singkat dan kurang dapat
melibatkan peserta sosialisasi lebih banyak dari
seluruh perwakilan unsur yang ada dalam
masyarakat.

199

2) Kurangnya SDM untuk umat tertentu (agama Hindu
dan Buddha), sehingga mereka kesulitan untuk
menyelenggarakan sosialisasi PBM untuk umat
mereka sendiri.
3) Masih adanya sebagian oknum umat beragama yang
belum terbiasa dengan keragaman sehingga terkesan
ekstrim dan bersikap eksklusif. Sikap demikian
apabila dibiarkan dapat menjadi kendala bagi
sosialisasi PBM.
b. Faktor-faktor Pendukung:
Di antara faktor pendukung sosialisasi PBM adalah:
1) Adanya respon dan partisipasi positif dari kalangan
para pejabat setempat maupun masyarakat dari
berbagai unsur agama dan profesi. Para pejabat
setempat memberikan apresiasi cukup tinggi
terhadap penyelenggaraan sosialisasi PBM. Para
pejabat yang mendapat tugas sebagai panitia
penyelenggara sosialisasi, mereka aktif dalam
kepanitiaan sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Bagi para pejabat yang menjadi peserta sosialisasi
PBM. Mereka mengikuti kegiatan sosialisasi sebagai
peserta aktif. Demikian pula masyarakat yang terdiri
atas perwakilan dari unsur agama,
lembaga/organisasi keagamaan dan unsur
masyarakat yang lain.
2) SDM masyarakat pada umumnya relatif cukup
terutama dari segi latar belakang pendidikannya.
Sebagian besar peserta sosialisasi berpendidikan SLA
ke atas, sehingga mudah menyerap dan dapat
memahami materi PBM secara baik.

200
3) Telah terbentuk Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB), sehingga dapat membantu pelaksanaan
sosialisasi PBM di masa mendatang.
3. Keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
Di Banjarmasin telah terbentuk Forum Kerukunan
Umat Beragama (FKUB) pada bulan Juni 2007 yang lalu.
Dengan demikian keberadaan FKUB di Banjarmasin ini
tergolong masih relatif baru /belum lama. Keberadaannya
didukung oleh adanya Peraturan Gubernur (Pergub) tentang
FKUB dan Dewan Penasehat FKUB.
Struktur kepengurusan, keanggotaan/jumlah anggota
pengurus serta nama forum kerukunan yang dibentuk telah
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.9 &
No. 8 Tahun 2006 (PBM).
Karena relatif baru terbentuk maka sampai dengan
penelitian ini dilakukan forum kerukunan ini belum
memiliki program kerja secara permanen. Namun selama ini
telah diadakan rapat pengurus FKUB sebanyak dua kali
membahas antara lain: tempat sekretariat, Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga serta membahas program
kerja.
Sementara menunggu tempat kantor yang permanen,
kantor FKUB untuk sementara difasilitasi oleh Kantor
Kesbang Linmas dengan menempati sebuah ruangan di
kantor tersebut.
Pertemuan/rapat tersebut di atas menghasilkan
antara lain program kerja sementara/jangka pendek yakni:
melakukan silaturrahim ke lembaga-lembaga agama seperti:
MUI, DGI, PGI, Parisada Hindu Dharma dan Walubi yang

201

direncanakan dilakukan pada bulan Agustus 2007,
kunjungan ke Kantor-kantor Kabupaten/Kota, FKUB-FKUB
di berbagai daerah dan tokoh-tokoh masyarakat serta umat
beragama yang akan dilakukan pada tahun depan (2008).
Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama Pengurus
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sudah
menyusun program kerja tahunan.
Untuk mengatasi dana operasional FKUB, disusun
proposal untuk diajukan kepada Kantor Pemda/Gubernur.
Untuk gedung sekretariat FKUB, berdasarkan informasi
Kepala Seksi Hukmas dan KUB Kanwil Departemen Agama
Provinsi Kalimantan Selatan akan diusulkan oleh Kanwil
Depag ke Kantor Depag Pusat di Jakarta.
Hubungan dan kerjasama dengan forum-forum
sejenis yang ada di Banjarmasin seperti lembaga kerukunan
LP3 dan Forum Agamawan Lintas Iman (FALI), untuk
sementara ini praktis belum dilakukan. Dengan demikian
maka kontribusi forum kerukunan ini terhadap peningkatan
kerukunan umat beragama di Banjarmasin dan Kalimantan
Selatan baru akan dirintis oleh para pengurusnya melaui
program kerja yang mereka rumuskan.
Diharapkan pada masa mendatang keberadaan
FKUB ini dapat memberikan kontribusi yang besar bagi
upaya peningkatan kerukunan umat beragama di
Banjarmasin dan Kalimantan Selatan pada umumnya.
Harapan itu bukannya tidak beralasan, karena keberadaan
FKUB di Banjarmasin mendapat respon dan dukungan yang
cukup besar tidak hanya dari unsur pemda seperti para
pejabat Kantor Wilayah Departemen Agama dan pejabat
Kantor Kesbang dan Linmas Provinsi Kalimantan Selatan,
tetapi juga dari para tokoh/pimpinan agama-agama dan

202
tokoh masyarakat serta masyarakat pada umumnya. Para
anggota pengurus FKUB yang terlihat mempunyai respon
yang tinggi terbukti dari disiplin dan tanggungjawab
mereka selalu hadir dalam rapat-rapat pengurus FKUB-
memperkuat kemungkinan akan terwujudnya harapan itu.
Sebagai lembaga keagamaan yang baru terbentuk,
forum kerukunan ini tidak terlepas dari kesulitan danauntuk
biaya operasional. Oleh karena itu, untuk mengatasi
kesulitan dana operasional FKUB maka di antara para tokoh
agama dan tokoh masyarakat menyarankan hendaknya
anggaran operasional FKUB dimasukkan ke dalam anggaran
APBD, sehingga pengurus FKUB tidak mencari dana setiap
kali ada kegiatan. Tetapi ada pula di antara anggota
masyarakat yang memberikan jalan keluar atas dana FKUB,
dengan menyarankan bahwa dana dapat diperoleh dari para
donatur perorangan ekonomi kuat atau perusahaan yang
peduli terhadap keberadaan FKUB. Dengan demikian dana
tidak hanya diperoleh dari anggaran pemerintah. Dengan
cara demikian diharapkan FKUB lambat laun akan dapat
mandiri.
Keberadaan FKUB ini juga diharapkan dapat
menjadi mitra pemerintah daerah dan pimpinan agama-
agama dalam upaya sosialisasi PBM kepada masyarakat
pada waktu yang akan datang.
Untuk melengkapi hasil kajian ini, di sini dipaparkan
struktur kepengurusan FKUB Provinsi Kalimantan Selatan
berikut porsi masing-masing agama dalam kepengurusan
secara garis besar sebagai berikut:


203

Ketua : Guru Besar/mantan Rektor IAIN
Antasari Banjarmasin, (MUI/Islam));
Wakil Ketua : Dosen (Krsiten);
Wakil Ketua : Ketua Pengadilan Agama Banjarmasin
(Islam);
Sekretaris : Ketua NU Provinsi Kalimantan Selatan/
Dosen IAIN Antasari (Islam);
Wakil Sekretaris : Pengacara (Katholik);
Bendahara : Sementara dijabat oleh Pembimas
Buddha Kanwil Depag Provinsi
Kalimantan Selatan (Buddha);
Wakil Bendahara : Dari unsur Parisada Hindu Dharma
(Hindu);
Anggota : 14 orang terdiri atas beberapa
seksi/bagian.
(Islam = 13 orang, Kristen 1 orang).



204
XI
SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI
(PBM)
NOMOR 9 DAN 8 TAHUN 2006
di Sulawesi Tenggara
Oleh: Zaenal Abidin

Pelaksanaan sosialisasi PBM di Sulawesi Tenggara
dilaksanakan atas kerjasama antara Puslitbang Kehidupan
Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama
dengan Kanwil Departemen Agama Prov. Sulawesi Tenggara
pada tanggal 14 Desember 2006 bertempat di Asrama Haji
yang diikuti oleh sebanyak 100 orang. PBM juga pernah
menjadi materi pada acara Orientasi Peningkatan
Multikultural Bagi Guru-guru Agama se Prov. Sultra yang
diikuti oleh 125 orang, yang dilaksanakan oleh Kanwil Dep.
Agama bekerjasama dengan PKUB Departemen Agama.
Sehingga jumlah orang yang sudah ikut dalam sosialisasi
PBM masih sangat terbatas, demikian juga ketersediaaan
buku PBM masih sangat kurang.
Provinsi Sulawesi Tenggara sebelum ada PBM dalam
izin mendirikan rumah ibadat menggunakan dasar SK
Gubernur, dan setelah keluarnya PBM persyaratan yang ada
dapat lebih ringan. Sosaialisasi PBM perlu dilaksanakan ke
daerah-daerah sampai masyarakat tingkat bawah (tingkat RT
dan RW), karena kenyataan bahwa masyarakat tersebut yang
sering menghadapi masalah dilapangan.
Menurut Saryono, S.Ag (Pembimas Buddha Kanwil
Dep. Agama Prov. Sultra), dimana sudah pernah mengikuti 2
kali sosialisasi PBM di Makassar dan Kendari yang
pesertanya adalah para pejabat dan para tokoh agama,

205

namun yang paling penting menerima materi PBM adalah
tokoh masyarakat tingkat bawah. Pembimas dan para tokoh
agama tidak mampu untuk menyebarluaskan/
mengsosialisasikan materi PBM ke kampung-kampung, dan
selama ini tidak mengetahui kegiatan sosialisasi PBM yang
dilaksanakan instansi lain. Metode sosialisasi PBM yang
digunakan seharusnya ada kunjungan ke lapangan, misalkan
bersamaan kegiatan kerja bhakti dimasyarakat. Pelaksanaan
sosialisasi PBM dilakukan bersamaan dengan memberi
bantuan untuk rumah ibadat terdekat (masjid atau vihara,
dll), kalau hanya kumpul-kumpul saja kurang bermanfaat.
Sumbangan rumah ibadat bisa dengan mengumpulkan uang
sumbangan seiklasnya dari para peserta, dan dari APBN. Hal
seperti ini pernah dilakukan pada acara Kemah Remaja yang
diadakan PKUB Tahun 2006 di Makassar.
Pastor Martinus Pasomba (Pastor Paroki Santo
Fransiscus Getirus Kendari), menyampaikan sosialisasi PBM
belum sampai ke akar rumput, setelah mengikuti sosialisasi
PBM di Asrama Haji belum ada langkah tindak lanjut. Masih
banyak yang belum membentuk FKUB di daerah
kota/kabupaten, dan mengenai dukungan 60 orang
persyaratan dalam pendirian rumah ibadat tidak ada
masalah.
Yahya Sonaru (Pembimas Kristen Kanwil Dep.
Agama Sultra), menyampaikan ketentuan dalam PBM tidak
ada masalah, sebab dibandingkan dengan aturan yang lama
baik SKB Menag dan Mendagri maupun SK Gubernur Sultra
(Bapak Andi Alala) masih lebih ringan, dimana
ketentuannya dibuat radius 500 m dengan jumlah pemeluk
50 KK hal ini bisa digunakan untuk menekan kelompok lain.
Ketuan dalam PBM lebih jelas, khususnya menyangkut izin

206
mendirikan rumah ibadat. Di Sultra FKUB sudah ada SK
Gubernur namun dalam susunan kepengurusan waktu itu
tidak melibatkan seluruh tokoh agama. Persoalannya para
tokoh agama tidak tahu asal-usul SK Gubernur tersebut,
sehingga nasib SK tersebut sekarang ruwet. Pengurus yang
duduk dalam SK tersebut tidak representatif, maka SK
tersebut perlu ditinjau kembali dengan mengajak duduk
bersama semua tokoh agama.
Setiap tahun Kanwil Departemen Agama Prov. Sultra
selalu melaksanakan dialog antar tokoh-tokoh agama
dimulai sejak 2003 sampai ke kabupaten/kota. Pada tahun
2006-2007 dilakukan sosialisasi PBM di provinsi dan untuk
sosialisasi ke daerah-daerah dilakukan penataran yang
pesertanya adalah tokoh-tokoh agama. Orientasi
Pemeliharaan Toleransi dan Pemberdayaan KUB yang
dilaksanakan oleh Kesbangpol Kabupaten Kolaka dan Kota
Bau-Bau isi materinya antara lain PBM dan kebijakan
Pemprov. Sultra dalam pemeliharaan KUB.
Menurut I Made Karyawan (Pengawas Agama Hindu
Kanwil Prov. Sultra), sudah pernah 5 kali mengikuti
sosialisasi PBM, yaitu: 1) Sosialisasi dengan Badan Litbang
dan Diklat di Asrama Haji; 2) PHDI Sultra di Desa Putemata,
Kec. Teranta, Kab. Kolaka diikuti 500 peserta dengan umat
Hindu se kecamatan; 3) PHDI Sultra dengan PHDI Kab.
Konawe diikuti 500 orang peserta umat Hindu se Kecamatan
Amongendo; 4) PHDI Sultra dengan PHDI Kab. Konawe
Selatan diikuti 400 orang peserta umat Hindu se Kecamatan
Amongendo di Desa Lapoa Indah Kec. Andolo; 5) PHDI
Sultra dengan PHDI Kab. Konawe peserta 500 orang di Desa
Aboki, Kec. Aboki peserta umat Hindu se Kecamatan Aboki.
Bekerjasama dengan pusat ada WHDI (Wanita Hindu
Dharma Indonesia), Pradah (Pemda) dan PHDI,

207

melaksanakan Kerja Bhakti dengan pengobatan gratis yang
juga melayani umat Hindu dan non Hindu. Sosialisasi
dilakukan pada hari besar keagamaan atau hari libur dengan
metode ceramah, pengarahan, penekanan-penekanan baik
narasumber dari Parisada selama 2 jam, yang hasilnya umat
Hindu tidak ada masalah dengan ketentuan dalam pendirian
rumah ibadat yang ada dalam PBM.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
Menurut Abdul Hamid (Kabid Ketentraman
Pemprov Sultra), Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara telah
mengeluarkan SK Pengurus Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB), yang diikuti oleh beberapa FKUB
kabupaten/kota. Sebagai pejabat teknis telah melakukan
langkah-langkah kebijakan yang dibutuhkan dengan
membuat kerangka pikir dan mekanismenya dalam
pembentukan Pengurus FKUB Provinsi Sultra, namun
ditunggu-tunggu masukan dari Kanwil Departemen Agama
tidak merespon maka keluarlah SK Pengurus FKUB Provinsi
Sultra sekarang. Pernah mengusulkan anggaran FKUB ke
DPRD tapi mentok tidak disetujui, dan sarannya diusulkan
menggunakan anggaran dari APBN.
Susunan Pengurus FKUB Prov. Sultra sudah ditanda
tangani oleh Gubernur, namun sampai sekarang para tokoh
agama yang tersebut dalam SK belum pernah melakukan
pertemuan. Permasalahan SK sususnan Pengurus FKUB
Prov. Sultra disebabkan Kepala Kanwil Depag tidak pernah
merespon/mengusulkan, maka tidak pernah ada pengurus
FKUB yang sebenarnya. Memang SK tersebut perlu ditinjau
kembali kalau pihak-pihak merasa kurang jelas, Gubernur

208
sebagai dewan penasehat sudah mendesak, dan koordinasi
dengan Kakanwil Depag sudah dilakukan, namun selama 3
bulan tidak ada jawaban. Oleh karena itu wakil gubernur
mendesak PEMDA untuk mengesahkan SK Pengurus FKUB,
dan sampai sekarang tidak ada tanggapan Kanwil Depag. SK
Pengurus FKUB Provinsi Sultra sudah dan sudah dikirimkan
ke seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sultra, dimana isi
suratnya meminta setiap Kabupaten/Kota untuk segera
membentuk Pengurus FKUB, dengan menggunakan
anggaran dari Kominda Provinsi.
Menurut K.H. Abdullah Umar (Pengurus NU),
pengurus FKUB provinsi sudah terbentuk, tetapi dalam
pembentukannya tidak melibatkan seluruh pemuka agama,
dan NU juga tidak diundang. Sebagian pengurus diisi oleh
para pejabat struktural Kandepag Kota Kendari, padahal
seharusnya diisi oleh para pejabat Kanwil Depag Sultra dan
bukan pejabat Kandepag Kota Kendari.
Menurut Drs. H. Djamil (Kabag TU Kanwil Dep.
Agama Prov. Sultra), pengurus FKUB Provinsi Sultra sudah
ada, tetapi orang-orang yang menjadi pengurus dalam SK
tidak memperlihatkan nama-nama yang kompeten
(khususnya bagi pengurus non muslim), entah siapa yang
menggagas tiba-tiba muncul SK. Kelemahan lainnya SK
Pengurus FKUB tersebut tidak ditunjuk seorang bendahara,
seperti layaknya organisasi, dimana hanya ada ketua,
sekretaris dan anggota. Demikian juga batas waktu masa
kepengurusan Pengurus FKUB tidak dicantumkan. Untuk itu
Subag Humas dan KUB Kanwil Departemen Agama Sultra
sudah diperintahkan untuk mengadakan pertemuan antara
orang-orang yang ada dalam SK dengan para tokoh agama.
Langkah tersebut tidak masalah, karena SK masih
terbungkus dengan rapi dimana yang tahu baru para

209

Pembimas. Susunan Pengurus FKUB kurang tepat dan tidak
selayaknya diduduki oleh orang-orang tersebut, sehingga
para Pembimas takut dituding sebagai pihak mengusulkan
orang-orang yang tidak kompeten tersebut. Selain itu unsur
pejabat Kanwil Departemen Agama tidak ada yang masuk
menjadi pengurus FKUB Provinsi, sementara selama ini
surat-surat dari Pusat masuk melalui Subbag Humas dan
KUB. Ada khabar bahwa FKUB mendapat bantuan anggaran
15 juta rupiah beberapa waktu yang lalu, tetapi Pengurus
FKUB tidak mempunyai bendahara sehingga uang itu
sekarang masuk ke rekening siapa.
Untuk mengetahui keberadaan pembentukan FKUB
Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut:
No. Daerah Peraturan
1. Pemprov
Sulawesi
Tenggara
Surat Keputusan Gubernur
Nomor: 658 Tahun 2006 tentang
Forum Kerukunan Umat
Beragama Provinsi Sulawesi
Tenggara, 30 Desember 2007
2. Pemkab Konawe Surat Keputusan Bupati Nomor:
139 Tahun 2007, 13 Maret 2007
3. Pemkab Kolaka Surat Keputusan Bupati Nomor:
238 Tahun 2007, 9 September 2007
4. Pemkab
Wakatobi
Surat Keputusan Bupati Nomor:
139 Tahun 2007, 2 Juli 2007

Izin Mendirikan Rumah Ibadat
Tokoh-tokoh agama Kristen sangat senang dengan
keluarnya PBM, karena dibandingkan dengan SK Gubernur
Sultra sebelumnya persyaratan izin mendirikan rumah
ibadat lebih ringan. Berdasarkan prosentase dari jumlah

210
penduduk umat Kristen menerima saja, dan proses
keringanan persyaratan seperti itu dapat menjadi bahan
perbandingan.
Umat Buddha di Sultra jumlahnya sangat sedikit
namun sektenya banyak, sehingg terlalu jauh kalau setriap
minggu harus melakukan kebaktian ke Kota Kendari.
Misalkan didaerah terpencil ada sekte Buddha yang hanya
KK, karena itu untuk sementara pinjam rumah-rumah
penduduk untuk tempat ibadat. Saat ini di Kota Kendari ada
2 aliran Buddha yang sudah punya rumah ibadat yaitu:
Maitreya dan Ekadarma, namun aliran Teravada yang
umatnya paling banyak belum punya rumah ibadat dan
sementara numpang dirumah warga. Aliran-aliran dalam
agama Buddha yang berbeda tidak bisa menjadi 1 rumah
ibadat, yang penting sekarang semua dapat melaksanakan
ibadat dan masyarakat lingkungan tidak
mempermasalahkan. Ada 2 rumah ibadat yang sedang
mengurus izin, yaitu di Konawe dan Konawe Selatan masih
dalam proses dalam pendirian rumah ibadat.
Menurut KH. Abdullah, misalkan di Kecamatan
Kadia, Kota Kendari kurang lebih hanya tanah seluas 1 ha
ada 3 bangunan gereja, sehingga sering jumlah umat tidak
seimbang dengan jumlah rumah ibadat. Seharusnya jumlah
rumah ibadat seimbang dengan jumlah penduduk.
Prakteknya jamaah gereja orangnya sama tetapi tempatnya
berpindah-pindah, misalkan ada kebaktian jam 6 di gereja A
semua datang, dan dilanjutkan kebaktian jam 8 di gereja B
dan jam 10 di gereja C, sehingga seolah-olah semua gereja
terisi penuh. Ketidak jujuran antar umat dalam kelompok
jumlah umat/tidak terbuka, dimana ada rekayasa mengenai
jumlah pemeluk agama, dimana mereka mengaku masing-
masing sekte harus mempunyai gereja yang berbeda,

211

sehingga terpaksa harus membangun gereja sendiri-sendiri
dengan cara itu mereka menambah bangunan gereja. Ada
juga ruko prakteknya dijadikan kegiatan untuk gereja.
Jumlah penduduk Sultra masih sangat kurang, sarannya
dalam pemberian izin mendirikan rumah ibadat disesuaikan
dengan komposisi prosentase jumlah pemeluk masing-
masing agama, maka jumlah gereja sudah terlalu banyak
jangan sampai rumah tinggal dijadikan gereja.
Didesa Puriala pada awalnya 99% berpenduduk
Kristen telah berdiri 2 gereja, namun setelah ada kasus ibu
miskin masuk Islam sekarang sudah ada 158 orang yang
bergama Islam dan berdiri masjid yang jaraknya hanya 70 m
dari gereja, tetapi warganya tetap hidup rukun dan damai.
Desa Puriala adalah merupakan desa miskin yang banyak
warganya menjadi pendeta Kristen di Sultra.
Menurut Drs. H. Antamudin (Kasubag Humas dan
KUB Kanwil Dep. Agama Sultra) SK Gubernur Nomor 510
Tahun 1996 merupakan penyempurnaaan SK tentang izin
pendirian rumah ibadat, yang isinya batas minimal 50 KK
dan maksimal 80 KK. Mestinya SK Pengurus FKUB Provinsi
Sultra batal dan cacat demi hukum, karena yang tanda
tangan adalah Wakil Gubernur (sebagai Gubernur
karateker). Rumah ibadat diatur dalam PBM berdasarkan
jumlah penganut agama 90 jiwa dimana dalam SK Gubernur
510 Tahun 1996 diatur harus ada 50 KK.
Kasus-kasus
Setelah lahir PBM di Kecamatan Puwato, Kab.
Pungolaka ada warga yang memberikan tanahnya untuk
mendirikan gereja agar dekat dengan jamaah namun
masyarakat menolak walaupun sudah beberapa kali

212
dilakukan pertemuan di kelurahan, dan untuk itu diserahkan
ke atasan agar dilakukan pergeseran ke lokasi yang ditunjuk
oleh pemerintah.
Menurut Abdul Hadi (Ketua FKUB Sultra), walau
sudah ditunjuk dalam SK gubernur sebagai Ketua Pengurus
FKUB tetapi di Sultra masih banyak komentar bahwa SK
tersebut asal-usulnya tidak jelas, dimana hanya unsur
Kesbangpol Provinsi Sultra yang secara sepihak menyusun
nama-nama pengurus tersebut. Pengurus FKUB menerima
SK tidak secara formal karena belum ada
pengukuhan/pelantikan, namun sampai sekarang
kepengurusan itu masih nganggur, dimana lebih baik
diserahkan secara resmi.
Keinginan Kepala Kanwil Departemen Agama Sultra
untuk merevisi SK Pengurus FKUB dalam waktu dekat
dengan tokoh-tokoh agama yang sekarang tidak melalui
proses itu, karena hal ini didesak para ulama untuk
mengundang Kesbangpol Provinsi untuk merevisi. SK
Pengurus FKUB Provinsi Sultra. Ada khabar dari PKUB
Depag Pusat kalau akan ada anggaran Rp. 500 juta setiap
provinsi, untuk pembangunan Gedung FKUB.
Siapapun Pengurus FKUB agar segera mulai bergerak
dari Kanwil Dep. Agama untuk berkonsultasi dengan
Gubernur. Kewibawaan dan soal teknis dimana sebenarnya
Ketua FKUB sekarang sudah cukup berpengalaman sebagai
Ketua MUI, dan membidangi masalah kerukunan sudah
cukup lama 3-4 tahun. Di Provinsi Sultra persoalannya
adalah masalah etnis dan bukan agama situasi panas di
Muna Daratan (laki-laki), Buton, Bugis (Kolaka), bukan
persoalan agama tetapi lebih banyak masalah etnis, yang
pada umumnya sering terjadi konflik yang berkepanjangan.

213

Masyarakat belum tahu isi PBM jadi tokoh-tokoh
agama yang ada di tingkat RT, RW dan kelurahan perlu
mengikuti sosialisasi PBM, karena yang paling sering
mengalami permasalahan.

Kesimpulan
a. Sosialisasi PBM di Sulawesi Tenggara dilaksanakan atas
kerjasama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan
Litbang dan Diklat Departemen Agama dengan Kanwil
Departemen Agama Prov. Sulawesi Tenggara pada
tanggal 14 Desember 2006 bertempat di Asrama Haji
yang diikuti oleh sebanyak 100 orang. Pelaksanaan
sosialisasi PBM di Sultra dijadikan materi pada beberapa
kegiatan antara lain pada: orientasi untuk guru-guru
agama; orientasi pemeliharaan toleransi dan
pemberdayaan KUB yang dilaksanakan oleh Kesbangpol
Kabupaten Kolaka dan Kota Bau-Bau dengan Pemprov.
Sultra; serta PHDI Sultra pada hari besar keagamaan
Hindu atau hari libur dengan metode ceramah yang juga
dilakukan Kerja Bhakti dengan pengobatan gratis.
b. Di Provinsi Sulawesi Tenggara sebelum ada PBM
pengaturan dalam izin mendirikan rumah ibadat
menggunakan dasar SK Gubernur Nomor 510 Tahun
1996, dan setelah keluarnya PBM persyaratannya lebih
ringan.

Saran-saran
a. Surat Keputusan Gubernur Nomor: 658 Tahun 2006
tentang Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi

214
Sulawesi Tenggara ditanda tangani pada 30 Desember
2007, namun sampai saat ini SK tersebut masih menjadi
polemik. Pengurus FKUB menerima SK tidak secara
formal karena belum ada pengukuhan/pelantikan,
namun sampai sekarang kepengurusan itu masih
nganggur dan belum ada wujud kegiatannya. Dalam
waktu dekat ada keinginan Kepala Kanwil Departemen
Agama Sultra untuk merevisi SK Pengurus FKUB
dengan tokoh-tokoh agama berkonsultasi dengan
Gubernur.
b. Sosaialisasi PBM sebaiknya dilaksanakan ke daerah-
daerah sampai masyarakat tingkat bawah (tingkat RT
dan RW), karena kenyataan bahwa masyarakat tersebut
yang sering menghadapi masalah dilapangan




215

LAMPIRAN 3


KUESIONER PENELITIAN
EFEKTIFITAS SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA
MENTERI AGAMA DAN
MENTERI DALAM NEGERI (PBM) NOMOR 9 DAN 8
TAHUN 2006


Petunjuk Pengisian
a. Tidak perlu mencantumkan identitas diri. Dengan
demikian kerahasiaan Anda terjaga
b. Sebelum menjawab, baca dengan teliti pertanyaan atau
pernyataannya. Apabila ada yang tidak jelas, tanyakan
kepada petugas pengumpul data.
c. Bubuhkan tanda silang (X) untuk jawaban pilihan. Untuk
jawaban isian mohon ditulis secara jelas dan ringkas.
d. PBM adalah Peraturan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahuan 2006
tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan
Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian
Rumah Ibadat.
e. Sosialisasi adalah penyampaian informasi tentang PBM
dan isinya yang dilakukan oleh Departemen Agama, atau
Departemen Dalam Negeri, atau Pemerintah Daerah,
atau lembaga lain atau kerjasama antar lembaga tersebut.


216

Karakter Responden
1. Usia : ........................... tahun
2. Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan
3. Pekerjaan : .................................
4. Tk. Pendidikan : SD/SMP/SMA/D1/D2/D3/S1/S2/S3
5. Pendapat per bulan : Rp. <<<<<<<
6. Agama : <<<<<<<<..
7. Kedudukan dalam organisasi kemasyarakatan
keagamaan
a. Ketua b. Wakil Ketua c. Sekretaris
d. Bendahar e. Setingkat Kepala seksi
f. Anggota
g. Jabatan lain, tuliskan ....................................
h. Tidak aktif dalam organisasi kemasyarakatan
keagamaan
8. Frekuensi mengikuti sosialisasi PBM ? ........ kali
9. Keterlibatan dalam kegiatan sosialisasi PBM ?
a. Penerima informasi dari orang lain
b. Penerima informasi dan pemberi informasi pada
orang lain
c. Terlibat dalam pengambilan keputusan perencanaan
sosialisasi
d. Terlibat dalam pengambilan keputusan pelaksanaan
sosialisasi
e. Terlibat dalam pengambilan keputusan penilaian
keberhasilan sosialisasi.
10. Selain dari sosialisasi, darimana lagi Anda memperoleh
informasi tentang PBM?
(Jawaban boleh lebih dari satu)
a. Pertemuan langsung dengan tokoh agama
b. Pertemuan langsung dengan aparat pemerintah
c. Media massa, tuliskan jenisnya .....................

217

d. Sumber lain, tuliskan ..................................
11. Sejak mengikuti sosialisasi PBM, berapa kali bertemu
dan membicarakan materi PBM dengan orang lain yang
seagama ? ................ kali
12. Sejak mengikuti sosialisasi PBM, berapa kali bertemu
dan membicarakan materi PBM dengan orang lain yang
berbeda agama ? .............. kali

Persepsi terhadap Sosialisasi PBM
13. Apakah dalam kegiatan sosialisasi, nara sumber
menjelaskan tujuan sosialisasi ?
a. Tidak jelas
b. Menjelaskan tapi sulit dipahami
c. Menjelaskan tetapi kurang dipahami
d. Menjelaskan dan mudah dipahami
e. Menjelaskan dan sangat mudah dipahami
14. Apakah tujuan sosialisasi tersebut dapat dicapai?
a. Sangat tercapai b. Tercapai
c. Kurang tercapai d. Tidak tercapai
e. Sangat tidak tercapai
15. Bagaimana penilaian Anda terhadap materi sosialisasi?
a. Sangat sulit dipahami b. Sulit dipahami
c. Kurang dipahami d. Mudah dipahami
e. Sangat mudah dipahami
16. Apakah materi sosialisasi memadai untuk memahami
isi PBM ?
a. Sangat memadai b. Memadai
c. Kurang memadai d. Tidak memadai
e. Sangat tidak memadai
17. Bagaimana kesesuaian cara/metode yang digunakan
nara sumber untuk menyampaikan materi sosialisasi?
a. Sangat sesuai b. Sesuai

218
c. Kurang sesuai d. Tidak sesuai
e. Sangat tidak sesuai
18. Bagaimana keragaman cara/metode yang digunakan nara
sumber untuk menjelaskan materi sosialisasi ?
a. Sangat beragam b. Beragam
c. Kurang beragam d. tidak beragam
e. Sangat tidak beragam
19. Bagaimana kemampuan nara sumber dalam menjelaskan
materi?
a. Sangat baik b. Baik
c. Kurang baik d. Tidak baik
e. Sangat tidak baik
20. Bagaimana kemampuan nara sumber dalam penguasaan
materi?
a. Sangat baik b. Baik
c. Kurang baik d. Tidak baik
e. Sangat tidak baik
21. Bagaimana kenyamanan tempat yang digunakan untuk
sosialisasi?
a. Sangat nyaman b. Nyaman
c. Kurang nyaman d. Tidak nyaman
e. Sangat tidak nyaman
22. Bagaimana ketersediaan alat-alat yang digunakan untuk
membantu penjelasan materi sosialisasi?
a. Sangat lengkap b. Lengkap
c. Kurang lengkap d. Tidak lengkap
e. Sangat tidak lengkap
23. Bagaimana penilaian Anda tentang lama waktu yang
digunakan untuk penyampaian materi sosialisasi?
a. Sangat lama b. Lama
c. Kurang lama d. Tidak lama
e. Terlalu sebentar

219

24. Apakah lama waktu penyampaian materi mencukupi
untuk memahami isi PBM?

a. Sangat cukup b. Cukup
c. Kurang cukup d. Tidak cukup
e. Sangat tidak cukup
25. Apakah media (buku saku, hand out) yang digunakan
membantu pemahaman materi sosialisasi tersebut ?
a. Sangat membantu b. Membantu
c. Kurang membantu d. Tidak membantu
e. Sangat tidak membantu

Pengetahuan tentang PBM
26. Apa ciri-ciri kerukunan umat beragama? (jawaban boleh
lebih dari satu)
a. Toleransi
b. Saling pengertian
c. Saling menghormati
d. Menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran
agama
e. Kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara
27. Apa yang Anda ketahui tentang Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB)? (Jawaban boleh lebih dari satu)
a. Forum yang dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi
pemerintah dalam membangun, memelihara, dan
memberdayakan umat beragama untuk kerukunan
dan kesejahteraan.
b. Dibentuk di provinsi dan kabupaten/kota
c. Bertugas antara lain melakukan dialog dengan
pemuka agama dan tokoh masyarakat.

220
d. Keanggotaannya terdiri atas pemuka-pemuka agama
setempat

28. Apa yang Anda ketahui tentang PBM No. 9 dan 8 Tahun
2006? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil
Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat
Beragama
b. Pemberdayaan FKUB
c. Tata cara dan syarat pendirian rumah ibadat
29. Apa saja sebab-sebab munculnya permasalahan pendirian
rumah ibadat di lapangan (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Sering kali terjadi penyalahgunaan rumah tinggal
sebagai rumah ibadat
b. Tidak transparannya rencana pembangunan rumah
ibadat pada penduduk sekitar lokasi
c. Kurang adanya komunikasi antar pemuka agama
pada tingkat akar rumput
d. Sulitnya diperoleh rekomendasi dari FKUB
30. Apa saja tugas dan kewajiban gubernur menurut PBM
No. 9 dan 8 Tahun 2006? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat
termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat
beragama di provinsi;
b. Mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di
provinsi dalam pemeliharaan kerukunan umat
beragama;
c. Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
di antara umat beragama;
d. Membina dan mengkoordinaskan bupati/wakil
bupati dan walikota/wakil walikota dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang

221

ketentraman dan ketertiban masyarakat dalam
kehidupan beragama.
31. Apa saja tugas dan kewajiban bupati/walikota menurut
PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006? (jawaban dapat lebih dari
satu)
a. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat
termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat
beragama di kabupaten/kota;
b. Mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di
kabupaten/kota dalam pemeliharaan kerukunan umat
beragama;
c. Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati dan saling percaya di
antara umat beragama;
d. Membina dan mengoordinasikan camat, lurah, atau
kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah di bidang ketentraman dan ketertiban
masyarakat dalam kehidupan beragama;
e. Menerbitkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah
ibadat.
32. FKUB tingkat mana saja yang diatur dalam PBM ?
(jawaban dapat lebih dari satu)
a. Provinsi b. Kabupaten/kota
33. Apa saja tugas FKUB provinsi ? (jawaban dapat lebih dari
satu)
a. Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh
masyarakat
b. Menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat
c. Menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai
bahan kebijakan gubernur

222
d. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-
undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang
berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan
pemberdayaan masyarakat.
34. Apa saja tugas FKUB kabupaten/kota? (jawaban dapat
lebih dari satu)
a. Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh
masyarakat;
b. Menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat;
c. Menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai
bahan kebijakan bupati/walikota;
d. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-
undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang
berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan
pemberdayaan masyarakat;
e. Memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan
pendirian rumah ibadat.
35. Apa yang Anda ketahui tentang keanggotaan FKUB?
(jawaban dapat lebih dari satu)
a. Terdiri atas pemuka-pemuka agama setempat
b. Jumlah anggota FKUB provinsi paling banyak 21
orang dan jumlah anggota FKUB kabupaten/kota
paling banyak 17 orang.
c. Komposisi keanggotaan FKUB provinsi dan
kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan
perbandingan jumlah pemeluk agama setempat
dengan keterwakilan minimal 1 orang dari setiap
agama yang ada di provinsi dan kabupaten/kota.
d. FKUB dipimpin oleh 1 orang ketua, 2 orang wakil
ketua, 1 orang sekretaris, 1 orang wakil sekretaris,
yang dipilih secara musyawarah oleh anggota.

223


36. Apa saja tugas Dewan Penasehat FKUB? (jawaban dapat
lebih dari satu)
a. Membantu kepala daerah dalam merumuskan
kebijakan pemeliharaan kerukunan umat beragama;
b. Memfasilitasi hubungan kerja FKUB dengan
pemerintah daerah dan hubungan antar sesama
instansi pemerintah di daerah dalam pemeliharaan
kerukunan umat beragama;
37. Siapa saja yang termasuk dalam Dewan Penasehat FKUB
Provinsi ? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Wakil gubernur
b. Kepala kantor wilayah departemen agama
c. Kepala badan kesbangpol provinsi atau instansi
sejenis
d. Pimpinan instansi terkait
38. Siapa saja yang termasuk dalam Dewan Penasehat FKUB
kabupaten/kota? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Wakil bupati/walikota
b. Kepala kantor departemen agama kabupaten/kota
c. Kepala badan kesbangpol kabupaten/kota atau
instansi sejenis
d. Pimpinan instansi terkait
39. Apa yang Anda ketahui tentang prinsip-prinsip dalam
pendirian rumah ibadat? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan
nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi
jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama
yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa
b. Pendirian rumah ibadat dilakukan dengan tetap
menjaga kerukunan umat beragama, tidak

224
mengganggu ketentraman dan ketertiban umum,
serta mematuhi peraturan perundang-undangan.
c. Dalam hal keprluan nyata bagi pelayanan umat
beragama di wilayah kelurahan/desa tidak terpenuhi,
pertimbangan komposisi jumlah penduduk
digunakan batas wilayah kecamatan atau
kabupaten/kota atau provinsi.
40. Apa saja persyaratan khusus dalam pendirian rumah
ibadat? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadat paling
sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat
sesuai dengan tingkat batas wilayah.
b. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60
orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa.
c. Rekomendasi tertulis kepala kantor depag
kabupaten/kota
d. Rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota
41. Apa saja persyaratan yang harus dipenuhi bagi
pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadat
untuk rumah ibadat? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Izin tertulis pemilik bangunan;
b. Rekomendasi tertulis lurah/kepala desa;
c. Pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten/kota
d. Pelaporan tertulis kepada kepala kantor departemen
agama kabupaten/kota
e. Laik fungsi.
42. Bagaimana penyelesaian perselisihan akibat pendirian
rumah ibadat? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Diselesaikan secara musyawarah oleh masyarakat
setempat.
b. Dalam hal musyawarah tidak dicapai, penyelesaian
perselisihan dilakukan oleh bupati/walikota dibantu
kepala kantor departemen agama kabupaten/kota

225

melalui musyawarah yang dilakukan secara adil dan
tidak memihak dengan mempertimbangkan
pendapat atau saran FKUB kabupaten/kota
c. Dalam hal penyelesaian perselisihan tidak dicapai,
penyelesaian perselisihan dilakukan melalui
pengadilan setempat.


Sikap terhadap PBM
43. Pengaturan syarat pendirian rumah ibadat melalui PBM
dapat memelihara kerukunan umat beragama
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
44. Syarat-syarat pendirian rumah ibadat, bukan merupakan
pembatasan hak melakukan ibadat agama.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
45. Rumah ibadat agama minoritas dapat didirikan di
kawasan pemukiman warga suatu agama mayoritas.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
46. Menolak Pendirian rumah ibadat agama lain.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
47. Gedung bukan rumah ibadat dapat diberi izin sementara
untuk dipakai sebagai rumah ibadat.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju

226
e. Sangat tidak setuju
48. Pendirian bangunan rumah ibadat harus mendapat izin
dari bupati/walikota
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
49. Salah satu tugas dan kewajiban gubernur adalah
memelihara kerukunan umat beragama.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
50. FKUB harus selalu ada di setiap provinsi, kabupaten/kota
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
51. Dalam keanggotaan FKUB, jumlah pemuka agama
mayoritas setempat lebih banyak daripada jumlah
pemuka agama minoritas setempat.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
52. Ketua FKUB harus pemuka agama mayoritas.
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak tahu d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju

Manfaat Sosialisasi PBM
Diseminasi Informasi PBM
53. Apakah Anda menyampaikan informasi kepada orang
lain tentang tugas gubernur dan bupati/walikota dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama?
a. Melakukan secara teratur

227

b. Melakukan meskipun tidak ada permintaan
c. Melakukan apabila ada permintaan
d. Melakukan tetapi tidak teratur/kadang-kadang
e. Tidak pernah melakukan.
54. Apakah Anda menyampaikan informasi kepada orang
lain tentang FKUB?
a. Melakukan secara teratur
b. Melakukan meskipun tidak ada permintaan
c. Melakukan apabila ada permintaan
d. Melakukan tetapi tidak teratur/kadang-kadang
e. Tidak pernah melakukan.
55. Apakah Anda menyampaikan informasi kepada orang
lain tentang syarat pendirian rumah ibadat?
a. Melakukan secara teratur
b. Melakukan meskipun tidak ada permintaan
c. Melakukan apabila ada permintaan
d. Melakukan tetapi tidak teratur/kadang-kadang
e. Tidak pernah melakukan.
56. Apakah Anda menyampaikan informasi kepada orang
lain tentang syarat izin sementara penggunaan bangunan
bukan rumah ibadat, untuk rumah ibadat?
a. Melakukan secara teratur
b. Melakukan meskipun tidak ada permintaan
c. Melakukan apabila ada permintaan
d. Melakukan tetapi tidak teratur/kadang-kadang
e. Tidak pernah melakukan.
57. Apakah Anda menyampaikan informasi kepada orang
lain tentang cara menyelesaian perselisihan pendirian
rumah ibadat?
a. Melakukan secara teratur
b. Melakukan meskipun tidak ada permintaan
c. Melakukan apabila ada permintaan

228
d. Melakukan tetapi tidak teratur/kadang-kadang
e. Tidak pernah melakukan.
Peraturan Terkait PBM
58. Apakah di provinsi Anda ada peraturan gubernur yang
mengatur tentang FKUB dan Dewan Penasehat FKUB
a. Ada
b. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 61)
c. Tidak ada (langsung ke pertanyaan no. 61)
59. Apakah peraturan gubernur tersebut dapat memelihara
kerukunan umat beragama ?
a. Sangat sesuai b. Sesuai
c. Kurang sesuai d. Tidak sesuai
e. Sangat tidak sesuai f. Tidak tahu
60. Apakah peraturan gubernur tersebut dapat memelihara
kerukunan umat beragama ?
a. Sangat memelihara kerukunan
b. Memelihara kerukunan
c. Kurang memelihara kerukunan
d. Tidak memelihara kerukunan
e. Sangat tidak memelihara kerukunan
f. Tidak tahu

Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dan Aparatnya dalam
Pemeliharaan KUB
61. Tugas apa yang telah dilakukan gubernur Anda dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama ? (jawaban
dapat lebih dari satu)
a. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat
termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat
beragama.
b. Mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama;

229

c. Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
di antara umat beragama;
d. Membina dan mengkoordinasikan dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang
ketentraman dan ketertiban masyarakat dalam
kehidupan beragama;
e. Apabila ada jawaban lain, tuliskan ...............................
........................................................................................
62. Tugas apa yang telah dilakukan bupati/walikota Anda
dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama ?
(jawaban dapat lebih dari satu)
a. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat
termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat
beragama;
b. Mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama;
c. Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
di antara umat beragama;
d. Membina dan mengkoordinasikan dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang
ketentraman dan ketertiban masyarakat dalan
kehidupan beragama;
e. Menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan rumah
ibadat
f. Apabila ada jawaban lain, tuliskan ................................
........................................................................................
63. Menurut penilaian Anda, apakah gubernur Anda
mendukung (anggaran, alat, bahan, tenaga,
tatacara/aturan) terwujudnya kerukunan umat beragama.
a. Sangat mendukung b. Mendukung

230
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
64. Menurut penilaian Anda, apakah bupati/walikota Anda
mendukung (anggaran, alat, bahan, tenaga, tatacata/
aturan) untuk terwujudnya kerukunan umat beragama.
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
65. Menurut penilaian Anda, apakah kepala kantor wilayah
Departemen Agama di provinsi Anda mendukung
(anggaran, alat, bahan, tenaga, tatacara/aturan)
terwujudnya kerukunan umat beragama ?
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
66. Menurut penilaian Anda, apakah kepala kantor
departemen agama di kabupaten/kota Anda mendukung
(anggaran, alat, bahan, tenaga, tatacara/aturan)
terwujudnya kerukunan umat beragama.
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
67. Menurut penilaian Anda, apakah gubernur Anda telah
berusaha menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
diantara umat beragama
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
68. Menurut penilaian Anda, apakah bupati/walikota Anda
telah berusaha menumbuhkembangkan keharmonisan,
saling pengertian, saling menghormati, dan saling
percaya diantara umat beragama?

231

a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
69. Menurut penilaian Anda, apakah kepala kantor wilayah
departemen agama di provinsi Anda telah berusaha
menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
diantara umat beragama?
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
70. Menurut penilaian Anda, apakah kepala kantor
departemen agama di kabupaten/kota Anda telah
berusaha menumbuhkembangkan keharmonisan, saling
pengertian, saling menghormati, dan saling percaya
diantara umat beragama ?
a. Sangat mendukung b. Mendukung
c. Kurang mendukung d. Tidak mendukung
e. Sangat tidak mendukung f. Tidak tahu
71. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil yang dicapai
gubernur Anda dalam menumbuhkembangkan
keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati,
dan saling percaya diantara umat beragama ?
a. Sangat berhasil b. Berhasil
c. Kurang berhasil d. Tidak berhasil
e. Sangat tidak berhasil f. Tidak tahu
72. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil yang dicapai
bupati/walikota Anda dalam menumbuhkembangkan
keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati,
dan saling percaya diantara umat beragama ?
a. Sangat berhasil b. Berhasil
c. Kurang berhasil d. Tidak berhasil

232
e. Sangat tidak berhasil f. Tidak tahu
73. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil yang dicapai
kepala kantor wilayah departemen agama di provinsi
Anda dalam menumbuhkembangkan keharmonisan,
saling pengertian, saling menghormati, dan saling
percaya diantara umat beragama ?
a. Sangat berhasil b. Berhasil
c. Kurang berhasil d. Tidak berhasil
e. Sangat tidak berhasil f. Tidak tahu
74. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil yang dicapai
kepala kantor departemen agama di kabupaten/kota
Anda dalam menumbuhkembangkan keharmonisan,
saling pengertian, saling menghormati, dan saling
percaya diantara umat beragama ?
a. Sangat berhasil b. Berhasil
c. Kurang berhasil d. Tidak berhasil
e. Sangat tidak berhasil f. Tidak tahu

Peran Majelis dan Pemuka Agama dalam Pemeliharaan
KUB
75. Menurut penilaian Anda, apakah majelis-majelis agama
(Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu) telah
berperan dalam memelihara kerukunan antar umat
beragama ?
a. Sangat berperan b. Berperan
c. Kurang berperan d. Tidak berperan
e. Sangat tidak berperan f. Tidak tahu
76. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil peran majelis-
majelis agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha,
Konghucu) dalam memelihara kerukunan antar umat
beragama ?
a. Sangat baik b. Baik
c. Kurang baik d. Tidak baik

233

e. Sangat tidak baik f. Tidak tahu
77. Menurut penilaian Anda, apakah para pemuka agama
telah berperan dalam memelihara kerukunan antar umat
beragama ?
a. Sangat berperan b. Berperan
c. Kurang berperan d. Tidak berperan
e. Sangat tidak berperan f. Tidak tahu
78. Menurut penilaian Anda, bagaimana hasil peran para
pemuka agama Anda dalam memelihara kerukunan
antar umat beragama ?
a. Sangat baik b. Baik
c. Kurang baik d. Tidak baik
e. Sangat tidak baik f. Tidak tahu

Dinamika FKUB
79. Apakah di provinsi Anda, telah terbentuk FKUB provinsi?
a. Ada
b. Tidak ada (langsung ke pertanyaan no. 85)
c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 85)
80 Apakah pengurus dan anggota FKUB provinsi Anda
dapat saling bekerjasama dalam memelihara kerukunan
antar umat beragama ?
a. Sangat dapat bekerjasama
b. Dapat bekerjasama
c. Kurang dapat bekerjasama
d. Tidak dapat bekerjasama
e. Sangat tidak dapat bekerjasama
f. Tidak tahu
81. Tugas apa yang telah dilakukan FKUB provinsi anda ?
(jawaban dapat lebih dari satu)
a. Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh
masyarakat

234
b. Menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat
c. Menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan
masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai
bahan kebijakan gubernur
d. Melakukan sosialisasi peraturan perundangan dan
kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan
dengan kerukunan umat beragama dan
pemberdayaan masyarakat
e. Apabila ada jawaban lain, tuliskan .......................
........................................................................................
82. Apakah FKUB provinsi Anda mempunyak program kerja
untuk memlihara kerukunan antar umat beragama ?
a. Ada
b. Tidak ada (langsung ke pertanyaan no. 85)
c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 85)
83. Apakah program kerja FKUB provinsi Anda telah
dilaksanakan ?
a. Sudah terlaksana
b. Belum terlaksana (langsung ke pertanyaan no. 85)
c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 85)
84. Apakah program FKUB provinsi Anda dapat memelihara
kerukunan antar umat beragama ?
a. Sangat dapat memelihara kerukunan
b. Dapat memelihara kerukunan
c. Kurang dapat memelihara kerukunan
d. Tidak dapat memelihara kerukunan
e. Sangat tidak dapat memelihara kerukunan
f. Tidak tahu
85. Apakah di kabupaten/kota Anda, telah terbentuk FKUB
kabupaten/kota ?
a. Ada
b. Tidak ada (langsung ke pertanyaan no. 91

235

c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 91)
86. Apakah antar anggota FKUB kabupaten/kota Anda dapat
saling bekerjasama dalam memelihara kerukunan antar
umat beragama ?
a. Sangat dapat bekerjasama
b. Dapat bekerjasama
c. Kurang dapat bekerjasama
d. Tidak dapat bekerjasama
e. sangat tidak dapat bekerjasama
f. Tidak tahu
87. Tugas apa yang telah dilakukan FKUB kabupaten/kota
Anda ? (jawaban dapat lebih dari satu)
a. Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh
masyarakat
b. Menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi
masyarakat
c. Menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan
masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai
bahan kebijakan gubernur
d. Melakukan sosialisasi peraturan perundangan dan
kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan
dengan kerukunan umat beragama dan
pemberdayaan masyarakat
e. Apabila ada jawaban lain, tuliskan ............................
........................................................................................
88. Apakah FKUB kabupaten/kota Anda mempunay
program kerja untuk memelihara kerukunan antar umat
beragama ?
a. Ada
b. Tidak ada (langsung ke pertanyaan no. 91
c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 91)

236
89. Apakah program kerja FKUB kabupaten/kota Anda telah
dilakasanakan ?
a. Sudah terlaksana
b. Belum terlaksana (langsung ke pertanyaan no. 91)
c. Tidak tahu (langsung ke pertanyaan no. 91)
90. Apakah program kerja FKUB kabupaten/kota anda dapat
memelihara kerukunan antar umat beragama ?
a. Sangat dapat memelihara kerukunan
b. Dapat memelihara kerukunan
c. Kurang dapat memelihara kerukunan
d. Tidak dapat memelihara kerukunan
e. Sangat tidak dapat memelihara kerukunan
f. Tidak tahu

Pendirian Rumah Ibadat
91. Menurut penilaian Anda, apakah masyarakat sudah
paham syarat pendirian rumah ibadat ?
a. Sangat memahami b. Memahami
c. Kurang memahami d. Tidak memahami
e. Sangat tidak memahami f. Tidak tahu
92. Menurut penilaian Anda, apakah kepala desa/lurah anda
sudah paham syarat pendirian rumah ibadat?
a. Sangat memahami b. Memahami
c. Kurang memahami d. Tidak memahami
e. Sangat tidak memahami f. Tidak tahu
93. Menurut penilaian Anda, apakah camat anda sudah
paham syarat pendirian rumah ibadat ?
a. Sangat memahami b. Memahami
c. Kurang memahami d. Tidak memahami
e. Sangat tidak memahami f. Tidak tahu
94. Menurut penilaian Anda, apakah bupati/walikota anda
sudah paham syarat pendirian rumah ibadat?
a. Sangat memahami b. Memahami

237

c. Kurang memahami d. Tidak memahami
e. Sangat tidak memahami f. Tidak tahu
95. Menurut penilaian Anda, apakah masyarakat setuju
terhadap syarat pendirian rumah ibadat ?
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak berpendapat d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju f. Tidak tahu
96. Menurut penilaian Anda, apakah panitia yang akan
mendirikan rumah ibadat, dapat memenuhi syarat
pendiriannya ?
a. Dapat memenuhi seluruh syarat
b. Dapat memenuhi sebagian besar syarat
c. Dapat memenuhi sebagian kecil syarat
d. Tidak satupun syarat dapat dipenuhi
e. Tidak tahu
97. Menurut penilaian Anda, apakah pendirian rumah ibadat
di wilayah anda, sudah sesuai dengan aturan yang
tercantum dalam PBM ?
a. Sudah sesuai PBM b. Belum sesuai PBM
c. Tidak tahu
d. Jelaskan alasan jawaban Anda ...................................
........................................................................................

Tingkat Toleransi Antar Umat Beragama
Pada setiap nomor, pilih salah satu pernyataan yang
menurut Anda paling mewakili pendapat masyarakat di
lingkungan Anda saat ini
98. a. Tidak keberatan terhadap pendirian rumah ibadat
agama lain di lingkungan rukun tetangga saya
b. Tidak keberatan terhadap pendirian rumah ibadat
agama lain di lingkungan rukun warga saya.

238
c. Tidak keberatan terhadap pendirian rumah ibadat
agama lain di lingkungan desa/kelurahan saya.
d. Tidak keberatan terhadap pendirian rumah ibadat
agama lain di lingkungan kecamatan saya.
e. Tidak keberatan terhadap pendirian tumah ibadat
agama lain di lingkungan kabupaten/kota saya.
99. a. Mendukung pendirian rumah ibadat agama lain di
lingkungan rukun tetangga saya
b. Mendukung pendirian rumah ibadat agama lain di
lingkungan rukun warga daya
c. Mendukung pendirian rumah ibadat agama lain di
lingkungan desa/kelurahan saya
d. Mendukung pendirian rumah ibadat agama lain di
lingkungan kecamatan saya
e. Mendukung pendirian rumah ibadat agama lain di
lingkungan kabupaten/kota saya
100. a. Rumah ibadat saya berada dalam rukun tetangga
yang sama dengan rumah ibadat agama lain
b. Rumah ibadat saya berada dalam rukun warga yang
sama dengan rumah ibadat agama lain
c. Rumah ibadat saya berada dalam desa/kelurahan yang
sama dengan rumah ibadat agama lain
d. Rumah ibadat saya berada dalam kecamatan yang
sama dengan rumah ibadat agama lain
e. Rumah ibadat saya berada dalam kabupaten/kota yang
sama dengan rumah ibadat agama lain
101. a. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan rukun tetangga saya
b. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan rukun warga saya
c. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan desa/kelurahan saya

239

d. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan kecamatan saya
e. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan kabupaten/kota saya

102. a. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan rukun tetangga saya
b. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan rukun warga saya
c. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan desa/kelurahan saya
d. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan kecamatan saya
e. Tidak terganggu dengan ibadat/ritual agama lain di
lingkungan kabupaten/kota saya

103. a. Membantuk pemeluk agama lain berupa materi dan
tenaga untuk menyelenggarakan peringatan/
perayaan hari besar agamanya
b. Membantu pemeluk agama lain berupa materi atau
tenaga untuk menyelenggarakan peringatan/
perayaan hari besar agamanya.
c. Berkunjung dan memberi ucapan selamat pada
pemeluk agama lain atas peringatan/perayaan hari
besar agamanya
d. Menghadiri undangan pemeluk agama lain dalam
peringatan/perayaan hari besar agamanya.
e. Memberi ucapan selamat pada pemeluk agama lain
atas peringatan/perayaan hari besar agamanya.


240
104. a. Menerima bantuan dari pemeluk agama lain berupa
materi dan tenaga untuk menyelenggarakan
peringatan/perayaan hari besar agama saya.
b. Menerima bantuan dari pemeluk agama lain berupa
materi atau tenaga untuk menyelenggarakan
peringatan/perayaan hari besar agama saya.
c. Mengundang pemeluk agama lain dalam
peringatan/perayaan hari besar agama saya
d. Menerima kunjungan dan ucapan selamat dari
pemeluk agama lain atas peringatan/perayaan hari
besar agama saya.
e. Menerima ucapan selamat dari pemeluk agama lain
atas peringatan/perayaan hari besar agama saya.