P. 1
Aug2011 Posted by Umarabduh in Aug 22

Aug2011 Posted by Umarabduh in Aug 22

|Views: 155|Likes:
Dipublikasikan oleh shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Sep 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

Aug2011 Posted by umarabduh in Aug 22,2011 Uncategorized

SKANDAL POLITIK, INTELEJEN ORDE BARU DAN RADIKALISASI DI INDONESIA Oleh Umar Abduh

ORDE BARU MEMILIKI CATATAN sepak-terjang skandal dan rekayasa intelejen yang sangat panjang dalam peran sertanya sebagai sutradara, aktor dan sekaligus figuran di berbagai peristiwa konflik dan kekerasan politik. Ia selalu menyusup, memagut, membelit berbagai individu dan kelompok dalam masyarakat yang dianggap dan diposisikan sebagai lawan politik ideologi negara (penguasa). Tugas dinas intelejen semenjak ORBA pada umumnya memang dirancang tidak sekedar untuk mengetahui secara rinci terhadap setiap potensi, baik yang akan terjadi maupun yang sedang dan tengah berlangsung dalam masyarakat yang menurut disiplin intelejen dianggap dapat mengancam keselamatan dan keamanan kekuasaan Negara. Yang problematis, secara lebih jauh aparatus intelejen semenjak ORBA memiliki fungsi rangkap, pertama untuk mendata dan menggalang sekaligus berwenang mengeksekusinya [1] Berdasarkan kajian maupun pengalaman pahit kalangan aktivis pergerakan, tingkat penyusupan dan derajat pembusukan Intelejen atas pergerakan sangat demikian tinggi dan terus berlangsung sampai saat ini. Hal ini disebabkan karena terlalu lemahnya kesadaran masyarakat, khususnya kalangan pergerakan Islam terhadap taktik-strategi destruktif yang diterapkan oleh penguasa mana pun melalui program intelejen mereka. Operasi intelejen cenderung berprinsip dan menerapkan metodologi aksi galang, rekrut, bina, tugaskan dan (khususnya) binasakan terhadap kelompok mana pun yang dianggap potensial, berlawanan dan membahayakan penguasa, ideologi maupun kekuasaan negara. Operasi intelejen yang diterapkan terhadap rival politik ideologis berprinsip memperlemah dan memprematurkan melalui aksi susup, kacaukan dan pecah-belah. Lain halnya terhadap individu-individu yang menonjol dan potensial, intelejen sangat berkepentingan untuk merekrutnya, tetapi kalau mereka menolak, maka prinsip intelejen akan menerapkan kebijakan mempersulit dan mengkondisikan melalui berbagai kendala, baik fisik, psikologi maupun akses kordinasi. Namun bila dianggap tetap membahayakan, prinsip intelejen akan menerapkan aksi fitnah, sudutkan dan jebak dalam killing ground.

Skandal kebijakan politik intelejen secara sistematis mulai dirintis Soeharto sejak berhasil memperoleh dan memanfaatkan peluang emas mencuri jalan di tikungan sesaat setelah proses kudeta-prematur (abortive-coup) serta kontra-kudeta yang amat berdarah dengan memakai PKI sebagai alat.[2] ‘Kudeta’ gagal tersebut serta jurus telikung Soeharto bersama komplotannya berhasil memanfaatkan momentum berdarah tersebut sebagai bukti pengkhianatan dan dosa sejarah terhadap Pancasila, sementara kontra-kudeta sesungguhnya adalah yang dilakukan oleh Soeharto sendiri dengan menyingkirkan Bung Karno. Sambil menyalahgunakan momentum Surat Perintah 11 Maret, Soeharto tampil menjadi pahlawan, penguasa dan sebagai bukti kesaktian Pancasila.[3] Peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 dan hari-hari kelanjutannya mempertontonkan praktek kekejian yang amat vulgar di hadapan siapa pun yang bersedia mengkaji peristiwa tersebut secara jernih. Tetapi karena sistem politik, hukum dan perundangan di negeri ini tidak mendukung, akibatnya sampai hari ini skandal politik dan intelejen yang sebesar itu masih bisa ditutupi dan tetap seakan menjadi misteri. Masyarakat politik dan insan pers hanya bisa berupaya membuka wilayah perbincangan yang masih amat terbatas. Pergantian rezim pun ternyata tidak mampu membuka brankas informasi yang berisi dokumen classified tentang peristiwa dan skandal politik intelejen terbesar di negeri ini. Skandal politik dan intelejen berikutnya sebagaimana yang dirujuk di muka membuktikan berlangsungnya penerapan teori dan praktek intelejen yang amat jahat dan keji di negeri ini. Betapa pun operasi intelejen telah berhasil melemahkan musuh politik-ideologisnya (Islam maupun Komunis) baik yang di permukaan (ormas dan partai politik) maupun kekuatan underground (seperti gerakan DI-TII atau NII).[4] Peningkatan kualitas dan kuantitas skandal politik dan intelejen dari tahun ke tahun terlihat semakin telanjang dan signifikan, namun pihak yang menjadi musuh politik ideologis militer dari dulu hingga sekarang justru bertambah pula kedunguannya. Jika di awal perselingkuhan politik intelejen terhadap para pecundang itu mereka cukup ditipu hanya dengan sedikit bantuan dana dan iming-iming pasokan senjata, namun setelah mereka berhasil menyusun rencana, data inventarisasi anggota dan sebagainya mereka segera ditangkap dan dikambing hitamkan. Metode jebakan seperti ini kemudian diterapkan intelejen hingga tahun 1990, sebagai contoh kasus NII-Komando Jihad (1974-1977), Woyla (1981), Talangsari Lampung (1989). Taktik serupa digunakan kembali pada rentang tahun 1998-2002 terhadap komunitas NII dan laskar pesantren. Apa yang terjadi di lingkungan pesantren sejak arus politik intelejen dikesankan berpihak kepada Islam, apalagi pesantren yang sejak dahulunya memiliki hubungan dengan gerakan NII atau gerakan yang lain seperti pesantren Al Mukmin Ngruki atau pesantren-pesantren lain dan mungkin termasuk pesantren Hidayatullah. Berbagai latihan ‘kemiliteran’ memang lazim dilakukan komunitas pesantren, seperti latihan bela-diri, ketahanan fisik dan termasuk barangkali latihan menggunakan, bongkar pasang, membeli, mengumpulkan dan menyimpan senjata api pada akhirnya menjadi suatu trend pada kalangan masyarakat Islam dan pesantren pada tahun-tahun 1996 hingga 2001 tersebut. Agaknya skenario intelejen memang membutuhkan prakondisi semacam itu. Antara lain melibatkan dan memperalat, dan kemudian menarik jeratnya, setelah jaring berhasil ditebarkan melingkupi berbagai gerakan Islam

beserta simpul-simpulnya ke dalam kerusuhan politik dan pertarungan ideologis di Indonesia, sebagaimana yang bisa kita saksikan bersama dalam rentetan peristiwa kekerasan di Jawa, Ambon dan Poso antara tahun 1998-2001.

Ponpes Ngruki Jika saat ini pemerintah dan institusi kepolisian tidak melihat latar belakang beberapa pesantren –terutama pesantren Ngruki dan sejenisnya- secara jernih, obyektif proporsional tentang fenomena keterlibatan pesantren dan organisasi Islam tertentu dalam tindak kekerasan maupun “terorisme”, maka seluruh sikap, penilaian dan kebijakan pemerintah yang tidak adil tersebut sepatutnya dikesampingkan, bahkan harus dilawan. Jika tidak, pemerintah cq. institusi Polri telah sama artinya dengan ikut bersekongkol dan terlibat dalam operasi represi intelejen dan berbagai tindak kerusuhan, kekerasan maupun terorisme itu sendiri. Termasuk latar belakang dan jebakan dibentuknya Pam Swakarsa, rekayasa kasus Ambon, Maluku dan Poso yang terang-terangan mengijinkan para ‘Laskar Mujahidin’ menggunakan senjata, baik yang berstandar organik maupun rakitan dalam wujud senjata api atau bom dalam perang melawan ‘Laskar Kristen’.

Pamswakarsa Di masa lalu semua senjata pemberian intelejen militer yang jatuh ke tangan gerakan Islam militan tidak akan pernah berlangsung lama, karena begitu mereka ditangkap, secara otomatis senjata-senjata dan amunisinya dirampas kembali dengan tuntas oleh tentara. Bahkan kerap kali operasi intelejen tersebut malah menjarah barang-barang berharga milik aktivis dengan alasan sebagai bukti dan sebagainya. Nah, bagaimana bila skenario intelejen justru tidak menarik kembali senjata-senjata yang didistribusikan secara besar-besaran kepada aktivis gerakan Islam militan yang terlibat di Ambon, Maluku dan Ternate maupun Poso (?) Gerangan apakah yang hendak dimainkan ?! Bahkan membiarkan para aktivis gerakan Islam militan tersebut membawa senjata-senjata organik maupun rakitan yang jumlahnya puluhan ribu keluar dari daerah konflik dengan leluasa menyebar ke Sulawesi, Kalimantan maupun yang terkonsentrasi di Jawa. Bukankah keberadaan senjata-senjata di tangan mujahidin Ambon dan Poso yang berjumlah ribuan

tersebut akan merangsang mereka untuk merencanakan, mempersiapkan serta melakukan aksi ini dan itu di tempat mereka masing-masing atau terkordinasi secara baik dalam satu komando? Bahkan dengan keberadaan senjata di tangan mereka tersebut sangat mungkin membuat mereka mudah terjebak dalam aksi-aksi kekerasan, kriminal dan teror baik dengan atau tanpa harus dikendalikan (digiring) lagi oleh kooptasi ataupun komando.[5] Menurut sumber intelejen BIN yang tidak mau disebut namanya jumlah senjata organik yang hilang di gudang Sukabumi sebanyak 2.500 pucuk, di Ambon sebanyak 6.500 pucuk dan belum lagi yang diberikan secara tidak langsung oleh pasukan infantri AD (Kostrad) yang diterjunkan ke Ambon, begitu pula yang berhasil dirampas laskar Mujahidin dari gudang Brimob dan laskar Kristen. Jenderal Endriartono Sutarto sewaktu masih menjabat sebagai KSAD melalui media cetak dan televisi pernah secara resmi mengakui tentang raibnya persenjataan TNI-AD tersebut dari gudang-gudang senjata. Karena gudang senjata itu menurut Kasad Endriartono Sutarto kondisinya tidak layak. Apalagi jika memperhitungkan masuknya pasokan senjata dari Filipina Selatan, Australia dan Selandia Baru untuk kedua belah pihak dari laskar yang bertempur di daerah konflik.

Endriartono Soetarto Kondisi inilah yang kemudian sering dijadikan alasan pihak TNI untuk cuci tangan terhadap berbagai kasus pemakaian senjata organik oleh para pelaku kerusuhan dan teror di daerah-daerah konflik. Padahal hampir seluruh data lalu-lintas senjata yang beredar tersebut sebenarnya diketahui secara cermat oleh dinas intelejen. Tetapi kenapa jumlah senjata yang ditangkap atau diungkap ke permukaan sangat sedikit? Seperti kasus senjata yang disimpan Amrozy bersaudara di Lamongan Jawa Timur, juga penemuan di Klaten, Solo, Makassar, Pandeglang, dan Jakarta. Bukankah ini seperti hendak memperlihatkan adanya kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang melakukan gerakan bersenjata (plus rencana makar), hari-hari ini skenarionya berlaku atas kelompok pergerakan Islam radikal. Selanjutnya, siapa yang bisa menjamin bahwa skenario yang serupa tidak akan menimpa kelompok-kelompok lainnya (?) yang akan “dinaikkan ke panggung” untuk skenario berikutnya.

Al Farouq Mungkin hal seperti ini akan terus berkelanjutan pada bulan dan tahun-tahun mendatang sehubungan dengan situasi dan konstelasi politik serta stabilitas keamanan di Indonesia. Apalagi ketika sejumlah kelompok gerakan Islam tersebut masih secara tidak sadar masih terus menjalin komunikasi dengan poros militer. Mereka belum menyadari kasus konflik Ambon, Poso dan seluruh keterlibatan mereka merupakan mata rantai, skenario jebakan intelejen dalam rangka memberangus dan menghancurkan gerakan Islam, itulah tujuan politik militer untuk masa kini dan mendatang. Dalam situasi dan kondisi politik yang tidak menentu seperti inilah, intelejen hanya butuh tampilnya figur-figur intelejen binaan[6] seperti Omar Al Farouk, Hambali, Zulkarnaen dan yang lain untuk membuka seluruh informasi jaringan gerakan Islam di Indonesia dan kaitannya dengan berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun luar negeri secara cantik dan licin. Seluruh titik lemah dan strategis yang terdapat dalam peta kekuatan jaringan kordinasi gerakan Islam boleh dikatakan telah dikuasai secara mutlak,[7] seperti halnya pernah diterapkan intelejen BAIS dan BAKIN di masa lalu seperti terhadap gerakan NII, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) [8] misalnya. Inilah contoh dan ‘bukti konkret’ skandal penerapan politik intelejen yang sangat keji dan jahat, terhadap bangsa Indonesia, melalui proyek pembusukan serta kejahatan kemanusiaan secara sistematis.

AS Panji Gumilang Dalam kurun waktu hampir sama, di dataran lain skandal politik intelejen juga dilakukan guna melindungi keberadaan faksi NII Al Zaytun pimpinan Abu Toto A.S. Panji Gumilang yang amat mencolok dalam berbagai kesesatan maupun

kejahatan kriminalnya, baik oleh berbagai LSM dan organisasi massa muslim termasuk hasil team investigasi MUI. Pemerintah (Departemen Agama, Menko Kesra, BIN dan Kepolisian) malah enggan melakukan koordinasi. Pengumuman hasil final tim investigasi MUI berkenaan dengan bukti-bukti kesesatan dan keterkaitan langsung antara Ma’had Al Zaytun dengan gerakan politik NII faksi Al Zaytun pimpinan Abu Toto AS Panji Gumilang secara hukum seyogyanya bisa ditindaklanjuti. Namun sangat disesalkan karena pihak aparat keamanan (kepolisian) seakan membutakan-diri atas keresahan yang dialami masyarakat, khususnya ummat Islam. Demikian halnya terhadap kenyataan yang sebenarnya tentang kesatuan antara gerakan NII yang membahayakan dengan ma’had Al-Zaytun, ternyata petinggi Polri tetap cuek seraya mengeluarkan pernyataan sinis: ‘Masalah Al-Zaytun bukan masalah kepolisian tapi masalah ummat Islam ![9] Kebijakan pemerintah, Kepolisian dan intelejen justru terkesan sangat melindungi keberadaan faksi NII sesat pimpinan AS Panji Gumilang dan pesantren kontroversi tersebut. Sebagian ‘komunitas keamanan’ Orde Baru di bawah komando R. Hartono, Syarwan Hamid, Hendropriyono dan Harmoko bahkan sampai hari ini tetap setia, merangkul dan melindungi Abu Toto AS Panji Gumilang dalam satu partai PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa). Sementara sikap aparat kepolisian nampak amat agresif terhadap keberadaan berbagai kelompok Islam seperti Laskar Jihad, FPI, Laskar Jundullah, MMI, KPPSI, KOMPAK dan sebagainya justru dicari-cari kesalahannya, antara lain dengan cepat mengkaitkan semuanya kepada stempel sebagai terorisme, Jama’ah Islamiyah atau Al Qaeda, tanpa perlu bukti yang memadai. Pemerintah beserta segenap aparatus keamanannya seakan membiarkan saja gerakan militan non Muslim dan yang lain melakukan konsolidasi baik melalui Kasebul (Kaderisasi Sebulan).[10] Kebijakan dan strategi intelejen yang diterapkan TNI terhadap elemen kekuatan bangsa telah berjalan lama terutama dalam melancarkan stigma terhadap kalangan Islam. [11] Indikator kekuatan massa militan dan persenjataan kalangan non Muslim dalam berbagai tindak kerusuhan, kekerasan serta pembantaian besar-besaran di Ambon, Maluku dan Poso sudah dilakukan terhadap masyarakat Muslim yang menelan korban puluhan ribu nyawa, hancurnya tempat ibadah dan harta benda serta fasilitas umum. Sekalipun tidak menutup kemungkinan unsur kesengajaan demi terciptanya konflik horizontal antar agama dan suku dalam berbagai kerusuhan tersebut memang dirancang sesuai dan menurut strategi intelejen.

Arroyo dan Bush Indikasi ini mendasarkan pada adanya sinyalemen beredarnya berbagai dokumen dan isu gerakan militan Kristen garis keras membentuk ‘Negara Kristen Raya’ di Asia Pasifik sebagaimana surat Presiden Filipina Arroyo kepada George Bush Jr. Ini sebenarnya memberi indikasi kuat adanya gerakan fundamentalis Kristen yang tertata rapi dan sistematis. Hal itu bisa terjadi karena intelejen Indonesia tidak pernah mengkonsentrasikan perhatiannya kepada gerakan tersebut berikut perkembangannya. Menurut George Junus Aditjondro karena gerakan itu memang hanya ada dalam imajinasi para konseptor operasi intelijen militer. Sementara gerakan fundamentalis Islam yang dikooptasi dan diprogram sendiri malah

didramatisir sebagai sosok kekuatan potensial yang menjadi ancaman berskala nasional, regional bahkan internasional. Atau mungkinkah isu fundamentalisme dan ‘Negara Kristen Raya’ juga termasuk bagian dari produk dan operasi intelejen. Masalah pengeboman di Indonesia dari bom Istiqlal, bom di kediaman ke dubes Filipina, bom Natal hingga bom Bali telah berhasil didramatisir dan dialamatkan kepada kelompok fundamentalis Muslim serta diakui pihak Jama’ah Islamiyah harus diungkap tuntas. Kepolisian harus berani dan bekerja secara profesional dalam mengungkap pelaku maupun intelectual dader atau master mind dari berbagai peristiwa dan tragedi konflik maupun kekerasan teror yang ada. Polri harus berani menolak order dan tekanan politik ideologis pihak sutradara dari berbagai peristiwa yang ada maupun pengaruh asing. Polri harus bekerja secara profesional mengungkap fakta di lapangan maupun kaitannya sekalipun pelik dan membutuhkan banyak dukungan. Pengetahuan dan kemampuan masyarakat terhadap konstelasi politik, jaringan klandestin dan informasi yang menjadi latar maupun proses investigasi partikelir terhadap kasus bom Bali tidak bisa dikesampingkan begitu saja oleh Mabes Polri. Pihak kepolisian tidak perlu keki terhadap kecurigaan adanya sinyalemen indikasi rekayasa atas laporan mengada-ada terjadinya proses penemuan tim investigasi Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri. Apalagi tentang kronologi keberhasilan yang dimulai dari penemuan nomor kir mobil Amrozy, kemudian mencari nomor rangka, mesin dan seterusnya. Menarik untuk mencermati bagaimana Tim Investigasi Bom Bali yang disebut-sebut mengawali keberhasilan pengungkapan tabir identitas mobil Amrozy dengan penemuan nomor kir?[12] Apakah nomor kir mobil L 300 omprengan Amrozy registrasinya tercetak pada rangka mobil atau pada penning pajak atau bukti registrasi kir yang mana? Bukankah kir mobil Amrozy hanya tertera dalam wujud semprotan cat pylox di badan mobil omprengan tersebut, yang harus diulangi setiap enam bulan sekali? Antara Radikalisme, Politik Radikalisasi oleh Negara dan Pelanggaran HAM Pada tulisan ini saya akan menyodorkan beberapa contoh kasus radikalisme yang dilekatkan kepada Islam, di mana hal tersebut merupakan akibat dari kebijakan radikalisasi oleh Negara dan pada gilirannya menumbuhkan aksi radikalisme dan pelanggaran HAM oleh negara terhadap bangsa dan masyarakatnya sendiri.

Kahar Muzakkar Salah satu momok yang menghantui masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan adalah diakrabkannya istilah Islam Radikal. Antara lain, direpresentasikan melalui tokoh pejuang kemerdekaan dari Sulawesi Selatan, yaitu Kahar Muzakar. Dalam

catatan sejarah nasional, sosok Kahar Muzakar digambarkan sebagai simbol pemberontak sekaligus sebagai gerakan Islam radikal yang hendak mendirikan negara Islam bersama-sama dengan SM Kartosoewirjo (SMK). Faktanya, pada bulan Januari 1952 Kahar Muzakar dan Kasso Abdul Ghani pernah mendeklarasikan Sulawesi Selatan menjadi bagian apa yang disebut dari Negara Islam Indonesia pimpinan SMK yang terkonsentrasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Selama lebih 13 tahun Kahar Muzakkar menggelorakan perlawanan, hingga akhirnya ia menjadi korban radikalisme Negara melalui aksi pembunuhan, ditembak mati di dekat Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 3 Februari 1965. Namun fakta di atas sebenarnya, hanyalah salah satu saja dari sejumlah fakta yang menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang Kahar Muzakar. Masih banyak fakta lain seputar Kahar, antara lain tentang latar belakang yang mendorong Kahar bergabung ke dalam gerakan Kartosoewirjo. Menurut Barbara Sillars Harvey (Cornell University), alasan kuat yang mendorong Kahar bergabung ke dalam gerakan DI/TII Kartosoewirjo karena adanya perselisihan terkait dengan status militer dan tuntutan keadilan. Ketika itu terdapat kebijakan politik pemerintahan Sukarno, bahwa gerilyawan Sulawesi Selatan yang ikut perang kemerdekaan tidak diterima masuk ke dalam TNI karena dianggap tidak memenuhi syarat, yaitu masalah pendidikan formal para anggota laskar dijadikan sebagai alasan. Kahar, saat itu adalah pemimpin para pejuang yang tergabung ke dalam KGSS (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan). Keinginan Kahar membentuk Resimen Hasanuddin ditolak Kolonel Kawilarang, padahal Kahar merasa kontribusi laskarnya sangat besar dalam perjuangan di Sulawesi Selatan. Menurut Barbara dalam bukunya yang berjudul Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/TII, Kahar juga sempat menjalin kontak dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Kartosoewirjo. Fakta lain yang hampir tidak pernah diungkap, bahwa Kahar Muzakar adalah perwira angkatan darat dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Bahkan, sebagai nasionalis, Kahar pernah menjadi ajudan Bung Karno. Selain itu, Kahar Muzakar adalah anggota PMC (Penjelidik Militer Choesoes), salah satu institusi intelejen pada masa awal kemerdekaan. Bahkan, Kahar Muzakar merupakan orang kedua setelah Zulkifli Lubis yang pernah mengenyam pendidikan intelejen di Jepang dan di Cebu, Philipina. Pada November 1945 Zulkifli Lubis mendirikan sebuah Diklat Intelejen khusus untuk prajurit tempur dengan nama Penjelidik Militer Choesoes (PMC). Diklat yang dipimpin Ateng Djauhari ini, berdomisili di sekitar Cileungsi, dan mempunyai tujuan untuk mencetak calon anggota intelejen tempur (intelpur) sekaligus dalam rangka melakukan pembinaan terhadap pasukan-pasukan bagi kepentingan perang gerilya setingkat komandan regu. Angkatan pertama Diklat PMC ini diikuti 100 peserta. Pembentukan Diklat PMC merupakan salah satu realisasi dari sejumlah rencana Zulkifli Lubis yang pada akhir Agustus 1945, ia dan sejumlah orang termasuk Singgih, Kemal Idris, Amir Syamsudin, Daan Mogot, melakukan pertemuan di jalan Cikini untuk merencanakan pendirian cikal-bakal badan intelejen. Sebagai anggota PMC, Kahar dipersiapkan untuk menjalankan tugas pengintegrasian Sulawesi ke dalam tubuh RI bersama Andi Muhammad Yusuf dan Wolter Monginsidi. Pada masa itu, salah satu kerja keras yang harus dilakukan adalah mengintegrasikan kembali daerah-daerah bekas Nederlands Indie yang dipecah belah Jepang. Apalagi saat itu banyak agen rahasia asing yang berkeliaran mengancam keutuhan NKRI. Ketika itu, Kahar mengajukan usul kepada Zulkifli Lubis untuk membentuk jaringan intelejen sendiri di Sulawesi Selatan yang anggota-anggotanya direkrut dari napi asal Sulawesi yang saat itu sedang mendekam di Nusakambangan. Usul

tersebut disetujui Zulkifli Lubis, demi memuluskan perjuangan penggabungan Sulawesi ke dalam NKRI. Maka, sejumlah napi Nusakambangan diikutkan ke dalam diklat intel. Giliran berikutnya, kelompok intel Kahar yang baru terbentuk itu kemudian bergabung ke dalam Biro Perjuangan yang dibentuk Amir Syarifuddin. Pada 1945, Amir Syarifuddin menjabat sebagai Menteri Muda Pertahanan menggantikan Soepriadi. Pada pertengahan 1947 Amir Syarifuddin yang berhaluan Sosialis Kiri (Komunis) berusaha menguasai lembaga intelijen, antara lain dengan mendirikan kelompok Intel yang diberi nama Kementrian Pertahanan Bagian B. Pada peristiwa Madiun 1948, Biro Perjuangan menjadi semacam lembaga (organisasi) paramiliter andalan PKI. Sosok Kahar yang multi warna itu, dalam catatan sejarah ternyata ditulis hanya dalam satu warna yang tendensius dan merugikan kalangan Islam, yaitu sebagai sosok pemberontak dan penganut Islam radikal (Islam garis keras). Padahal, latar belakang bergabungnya Kahar ke dalam gerakan Kartowoewirjo, adalah akibat adanya perlakuan tidak adil. Kemudian ketidak-adilan itu terus dihidup-hidupkan oleh penulis sejarah nasional yang tidak jujur dan tidak obyektif. Ketidak-adilan yang berkelanjutan inilah yang pada gilirannya menjadi pupuk dan penyubur sekaligus sebagai bentuk upaya radikalisasi oleh pihak penguasa / Negara bagi lahirnya komunitas radikal dalam sejarah bangsa ini. Fakta lain yang tidak bisa dipungkiri, bahwa gerakan radikal Islam tumbuh justru di saat Indonesia setelah menyatakan merdeka. Sebelum kemerdekaan, seluruh kekuatan Islam dicurahkan untuk melawan kolonialis Belanda. Munculnya pemberontakan gerakan Islam radikal di era kemerdekaan semata-mata hanya karena adanya perlakuan tidak adil. TNI yang lahir beberapa bulan setelah kemerdekaan (Oktober 1945) yang pada masa awal kemerdekaan dipimpin para perwira hasil didikan penjajah Belanda dan Jepang, terbukti tidak mampu mengakomodir pejuang rakyat yang bertumpah-darah memperjuangkan lahirnya Republik Indonesia.

Teungku Muhammad Daud Beureueh Hampir setahun setelah Kahar mendeklarasikan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia akibat radikalisasi secara sistematis oleh Negara / pemerintah Indonesia, dalam waktu yang hamper bersamaan radikalisasi juga terjadi di wilayah Aceh. Pada tanggal 20 September 1953 Teungku Muhammad Daud Beureueh mendeklarasikan dan memproklamasikan lahirnya Negara Islam Indonesia Bagian Aceh dan daerah sekitarnya. Radikalisme masyarakat Aceh merupakan reaksi atas kebijakan pemerintahan Soekarno yang menerbitkan Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun

1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi (pada tanggal 14 Agustus 1950), kemudian disusul dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera Utara yang menjadikan Aceh sebagai bagian dari propinsi tersebut. Pada masa awal kemerdekaan (orde lama), maraknya pemberontakan dan lahirnya gerakan Islam radikal, terutama lebih disebabkan oleh ketidak-mampuan para pemimpin sipil dan militer dalam mengelola konflik. Sedangkan di masa berikutnya, pada masa orde baru, lebih disebabkan oleh rekayasa politik. Yang paling menonjol adalah instrumen politik yang dimainkan oleh Ali Moertopo bernama Komando Jihad, yang mengorbankan para aktivis DI/TII. Komji disebut sebagai instrumen politik, karena memang semata-mata diciptakan dalam rangka program radikalisasi terhadap kelompok ex DI/TII sekaligus untuk memenuhi ambisi politik Ali Moertopo. Ketika itu, Ali merasa perlu mempersiapkan diri untuk menjadi pengganti Soeharto. Ternyata Soeharto kian kuat dan panjang umur. Karena permainan politiknya terbaca, maka para aktivis DI/TII yang semula diajak bersama-sama ‘mendirikan negara Islam’ oleh Ali Moertopo akhirnya dibusukkan menjadi gerakan separatis dan makar yang hendak menggantikan ideologi negara.

Adah Djaelani Tokoh gerakan Islam seperti Hispran bisa terpedaya oleh tipu daya Ali Moertopo tentu berkat kegigihan para petualang politik seperti Adah Djaelani (Presiden Neo NII) dan kawan-kawan seperti Ateng Djaelani serta Danu Muhammad Hasan. Hispran mau terlibat karena ia berhasil diyakinkan oleh para oportunis NII tersebut, bahwa Ali Moertopo bersungguhsungguh setuju untuk mendirikan negara Islam. Sedangkan komunitas Islam di tingkat akar rumput siap menghimpun diri menjadi laskar dadakan yang dibentuk para oportunis tersebut setelah mereka berhasil diyakinkan para oportunis melalui agitasi dan radikalisasi, melalui isu bahaya laten yang mengancam Islam Indonesia yaitu bahaya komunis dari utara.

Hilmi Aminuddin putra Danu M Hasan Dari luka rekayasa akibat radikalisasi negara yang bersalut fitnah dan pengkhianatan terhadap komunitas ex DI/TII atau NII ini, kelak akan lahir generasi kedua komando jihad yang tampil lebih radikal berbendera Jama’ah Islamiyah. Misalnya, Fathurrahman Al-Ghozi, yang tewas ditembak mati polisi Philipina pada 12 Oktober 2003, menjelang kedatangan Presiden AS George Walker Bush ke negara tersebut. Sebelumnya, Al-Ghozi yang didakwa bersalah membawa bahan peledak ilegal sehingga divonis 17 tahun penjara, dikabarkan kabur dari penjara Philipina 14 Juli 2003.

Al-Ghozi kelahiran Madiun 17 Februari 1971 adalah putra M. Zainuri, selain menjadi bagian dari gerakan DI/TII, M. Zainuri juga merupakan salah satu anggota Komando Jihad asal Jawa Timur pimpinan Hispran yang ditahan Ali Moertopo. Putra almarhum M. Zainuri yang menjadi anggota JI selain Fathurrahman Al-Ghozi adalah Muhajir alias Idris alias Gempur Budi Angkoro alias Jabir, yang dijadikan sasaran tembak para sniper Densus 88 di Wonosobo, bersama Abdul Hadi alias Agung Rohmawan. Al-Ghozi yang menguasai bahasa Tagalog ini, adalah alumni Afghan angkatan 1990, dan pernah menjadi instruktur di Camp Hudaibiyah Philipina sejak 1995, serta terlibat di beberapa kasus peledakan di Indonesia termasuk kasus peledakan di kediaman Duta Besar Filipina pada Agustus 2000. Alasan Al-Ghozi menjadikan Duta Besar Filipina sebagai sasaran, karena mereka berhasil membuktikan bahwa Philipina ikut mensuplai senjata untuk kalangan Kristen di Maluku (Ambon).

Thoriqudin alias Hamzah alias Abu Rusydan

Nama lain yang juga eksis menjadi generasi kedua DI/TII dan Komji adalah Thoriqudin alias Hamzah alias Abu Rusydan. Thoriqudin adalah salah satu putra dari Haji Moh. Faleh yang pernah menjadi anggota Laskar Hizbullah (tentara di masa perang kemerdekaan). Kemudian Haji Moh. Faleh menjadi tokoh DI/TII yang di tahun 1980-an ditangkap Ali Moertopo dalam kasus Komando Jihad. Thoriqudin adalah alumni Afghan, pimpinan militer untuk JI Mantiqi II. Pada 2000 Thoriqudin menjabat sebagai caretaker JI, barulah pada tahun 2002 dikukuhkan sebagai Imam JI. April 2003, Thoriqudin ditahan dan akhirnya divonis 3,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan dakwaan memberikan bantuan dan menyembunyikan informasi tentang pelaku bom Bali I, Ali Gufron alias Mukhlash. Rusydan bebas dari LP Cipinang tepat pada 1 Syawal 1426 H (November 2005). Bukti-bukti Radikalisasi Negara, Kekerasan dan Pelanggaran HAM Seperti diketahui pasca jatuhnya ibukota Afghanistan Kabul ke tangan Mujahidin dan hengkangnya pasukan Rusia, ribuan mujahidin yang berasal dari Indonesia berangsur kembali ke tanah air dengan tanpa membawa senjata maupun style sebagai mujahidin atau veteran perang. Saat itu oleh aparat militer, intelejen dan kepolisian pemerintah Suharto para pejuang dan relawan Afghan yang rata-rata ahli mengoperasikan berbagai jenis senjata dan memiliki kemampuan tempur di medan perang tersebut justru disambut dan diperlakukan secara terhormat sebagaimana layaknya relawan perang. Bahkan pada tahun 1994 secara demonstratif Suharto dan segenap jajaan militer terlibat langsung dalam aksi penggalangan dukungan politik dan finansial untuk Bosnia yang saat itu menjadi korban radikalisme Serbia. Pengiriman relawan veteran mujahidin Afghan ke Bosnia dan Chechnya bahkan secara tidak langsung mendapat dukungan dana dari pemerintah dan pengusaha Probosutedjo serta penguasaha lainnya. Terhitung hampir 10 tahun situasi ‘keberpihakan’ Negara terhadap para ‘aktivis Islam radikal’ tersebut berlangsung tanpa pernah ada gesekan. Radikalisme dari kelompok ‘aktivis Islam radikal’ veteran perang Afghan, Mindanau, Bosnia, Chechnya dan Kashmir tidak pernah terjadi terhadap pihak manapun. Tetapi pasca lengsernya Suharto pada Mei 1998 radikalisme justru dilakukan oleh sebuah Ormas baru FPI, Hizbullah, milisi-milisi Ormas dan Pamswakarsa hasil bentukan militer yang secara tersamar digunakan untuk menghadapi potensi kekuatan kiri Sosialis (Megawati yang PDI-P), Komunis (PRD), Katholik (Benny Moerdani, Theo Syafe’i dan Frans Seda) serta Protestan (Johny Lumintang, HBL Mantiri dan Arie J Kumaat) yang direpresentasikan sebagai kekuatan pro Amerika. Proses radikalisasi oleh para jenderal militer dan polisi terhadap kelompok Islam dan kelompok non Islam tersebut berlangsung sangat cepat. Dalam waktu singkat radikalisme kelompok-kelompok Islam yang belum pernah terlibat sebagai relawan mujahidin baik di Afghan, Mindanau, Bosnia, Kashmir maupun Chechnya berhasil dibenturkan melalui aksi kekerasan terhadap komunitas preman Ambon di kawasan judi Billyard Ketapang, Jakarta Pusat. Meletusnya kerusuhan 13-15 Mei 1998 berhasil memojokkan habis posisi ummat Islam yang selama itu diketahui telah berkolaborasi secara terang-terangan dengan Prabowo–Militer. Permainan makin seru karena skenario dan rekayasa intelejen militer berjalan lancar, apalagi setelah sejumlah Pam Swakarsa dari etnis Ambon menurut isu intelejen-militer dihembus-hembuskan telah ‘dibantai secara sadis oleh massa dan mahasiswa UKI di Cawang sebagai kekuatan PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan kaum fundamentalis / militan Kristen – Katholik’. Radikalisasi oleh aparat negara terhadap komunitas Islam dan non Islam pada kurun waktu 1998–2001 telah mengakibatkan posisi pemerintah dibuat seakan tidak berdaya. Radikalisme dalam komunitas agama dan ideologi yang berbeda yang dibiarkan berhadap-hadapan, siap tempur tersebut akhirnya baku serang dan baku bunuh hingga menelan korban jiwa, luka-luka dan musnahnya harta benda. Pembiaran terhadap aksi dan tindakan radikalisme antara dua kelompok yang berbeda dari masyarakat sebangsa oleh pihak yang berkemampuan, baik dalam struktur organisasi, jumlah personil, senjata maupun secara tanggungjawab (pemerintah yang berkuasa) jelas merupakan bentuk pelanggaran hukum dan pelanggaran HAM. Demikian halnya bagi mereka yang memiliki posisi politik serta kemampuan seperti partai-partai dan ormas besar serta Komnas HAM jika membiarkan radikalisme dan kekerasan terjadi dalam masyarakat yang menjadi tanggungjawabnya maka sikap pembiaran tersebut juga melanggar hukum dan HAM.

Radikalisme dan kekerasan serta pelanggaran HAM oleh aparat Negara yang paling faktual adalah apa yang terjadi terhadap salah satu korban tewas akibat kasus penyergapan DPO Poso 11 Januari 2007 lalu, yaitu Ustadz Riansyah alias Santoso alias Abdul Hakim. Dia adalah alumnus Akmil DI/NII yang turut juga berlatih di Afghanistan, Riansyah satu angkatan dengan Thoriquddin, namun secara hukum Rian tidak termasuk sebagai tersangka DPO. Tetapi karena Rian kerap berhubungan dengan Abu Dujana, tokoh JI yang selanjutnya diyakini oleh Densus 88 sebagai panglima komando lapangan dan pengatur strategi peledakan bom di Indonesia, maka Riansyah pun menjadi target yang harus ditembak mati. Nampaknya, pemerintah dan TNI-Polri memang tidak pernah serius dalam menangani hal ini, dengan artian pemerintah sepertinya tidak pernah berupaya menyembuhkan luka atau mengantisipasi potensi radikalisme yang ada dalam masyarakat bangsa Indonesia ini secara komprehensif, sistematis, terstruktur, konstitusional dan berkelanjutan. Namun kenyataannya pemerintah, BIN dan Polri lebih cenderung hanya menyalahkan dan menjadikan kambing hitam terhadap doktrin radikalisme yang diajarkan oleh sejumlah gerakan maupun pesantren sebagai penyebab lahirnya gerakan radikal tersebut. Padahal, penyebab utama radikalisme itu adalah ketidak-adilan, pembiaran dan adanya rekayasa melalui politik radikalisasi yang sistematis oleh Negara. Kebijakan pembiaran dan tidak menangani secara serius (komprehensif, sistematis, terstruktur, konstitusional dan berkelanjutan) oleh pemerintah dan aparat keamanan bahkan seperti sengaja menyulut terjadinya radikalisme tersebut dalam masyarakat dan membiarkan radikalisme menjadi luka agar kering dengan sendirinya seiring berjalannya waktu jelas merupakan pelanggaran konstitusi, hukum dan HAM. Keberadaan komunitas radikal tidak pernah ada habisnya selama upaya radikalisasi Negara terhadap masyarakat Islam tetap menjadi kebijakan pemerintah maupun pihak keamanan, dan luka akibat radikalisme oleh Negara tersebut tentu tak akan kunjung kering.

Misalnya di Sulawesi Selatan. Dari kawasan ini pernah muncul nama Agus Dwikarna yang hingga kini masih dalam tahanan polisi Philipina, karena diduga memiliki bahan peledak dalam jumlah besar. Agus Dwikarna juga dituduh merupakan sel jaringan terorisme internasional. Di Sulawesi Selatan, Agus Dwikarna bersama Abdul Aziz Qahhar dan Yassin Syawwal merupakan tokoh menonjol di dalam ‘organisasi’ KPPSI (Komite Persiapan Pengerakan Syariat Islam). KPPSI dibentuk di Makassar pada Mei 2000, dipimpin oleh Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, putra Kahar Muzakar alias La Domeng. Pada saat kongres pertama KPPSI mendapat dukungan tidak saja dari kalangan pesantren dan ormas Islam lokal maupun nasional, tetapi dukungan terhadap KPPSI juga datang dari para kepala daerah dan DPRD bahkan Gubernur serta Pangdam Sulsel. Tujuan KPPSI, tersurat sebagai persiapan penegakan syari’at Islam, memanfaatkan munculnya undangundang Otonomi Daerah, namun yang tersirat adalah melanjutkan perjuangan Darul Islam secara demokratis melalui konstitusi.

Abdul Wahid Kadungga Selain Agus, ada nama lain dari Sulsel, yaitu Abdul Wahid Kadungga, menantu Kahar Muzakar, pendiri organisasi pelajar Islam PPME di tahun 1971 ketika studi di Cologne, Jerman. Tahun 1980-an. Kadungga mulai membangun persahabatan dengan Usama Rushdi dari Gama Islami, pecahan Ikhwanul Muslimin Mesir. Kadungga selain terlibat dalam pendirian KPPSI di Makassar, ia juga diisukan oleh pihak asing punya kedekatan dengan Osama bin Laden dan merupakan penghubung internasional Jamaah Islamiyah. Pada masa Orde Baru, Kadungga merupakan salah satu musuh politik pemerintah, karena aktivitas dakwahnya bersama-sama M. Natsir dan aktivis Dewan Dakwah Islamiyah lainnya. Oleh aparat keamanan kala itu, Kadungga dianggap sebagai tokoh dan pemikir negara Islam di Indonesia dan merupakan salah satu sosok yang dimusuhi, padahal sebelumnya Kadungga aktif melawan PKI. Meski reformasi sudah melewati 13 tahun, dan pemimpin terus berganti, namun kebijakan menyembuhkan luka terkait dengan akibat radikalisasi masyarakat Islam tak pernah terbukti. Kasus Poso yang terjadi 11 Januari 2007, yang hingga dua pekan kemudian masih terus bergolak, merupakan salah satu petunjuk kuat bahwa pemerintah memang tidak serius menyembuhkan luka radikalisme tersebut, yang lebih terkesan dari sikap pemerintah justru berbentuk kebijakan yang bersifat mengabadikan dan menambah ketidakadilan dan diskriminasi terhadap umat Islam. Seperti yang berlangsung di Poso Sulteng, dengan dalih memburu DPO dan melumpuhkan potensi terorisme, aparat kepolisian khususnya Densus 88 dan Brimob merasa telah bertindak benar dan sangat enjoy saat menembaki warga sipil yang dengan mudahnya diklasifikasikan sebagai ‘teroris’ hanya karena mendukung para tersangka DPO. Padahal sikap dan kebijakan hukum, politik, sosial dan demokrasi yang seharusnya dilakukan Polri adalah memilah dan memilih pihak mana dari masyarakat Tanah Runtuh Gebang Rejo yang harus dipisahkan dari kaitan hukum dan sanksi hukum sebagai ‘teroris’ atau ‘pendukung dan pembela’ para tersangka DPO, dan pihak mana yang secara hukum, politik dan demokrasi boleh diklasifikasikan sebagai berstatus sama dengan para tersangka DPO. Mengingat para pihak yang ‘digebyah uyah’ oleh kepolisian sebagai kalangan sipil bersenjata tersebut secara hukum belum tentu ada hubungannya dengan aktifitas dan ikatan organisasi para tersangka DPO kasus Poso. Artinya, masyarakat manapun yang berada di sekitar para tersangka DPO kasus Poso, baik yang secara langsung atau tidak langsung telah dijadikan tameng politik para DPO seyogyanya tidak diperlakukan sama seperti memperlakukan terhadap para tersangka DPO kasus Poso. Apalagi setelah terbukti di antara para korban radikalisme dan kekerasan serta pelanggaran HAM oleh pihak aparat (yang tertembak para snipers Densus 88 dan Brimob tersebut) justru banyak yang saat itu tidak bersenjata. Mengambil sikap dan kebijakan yang demokratis, sesuai hukum dan protap untuk memilah dan memilih langkah mana yang diprioritaskan untuk keamanan dan keselamatan rakyat atau aparat, jelas itu merupakan tanggungjawab para penegak demokrasi, hukum dan sosial, khususnya para apparatus keamanan dan ketertiban (polri). Dalam protap penegakan hukum dan keamanan, penggunaan senjata adalah ultimatum terakhir setelah proses panjang melakukan sosialisasi dan negosiasi

yang penuh perhitungan dan kesabaran, hal tersebut harus dilakukan dalam rangka penghormatan terhadap nilai-nilai universal HAM. Dalam persoalan ini, pihak pimpinan kepolisian tertinggi maupun pimpinan operasi para snipers Densus 88 dan Brimob tersebut sepertinya sudah kehilangan rasio akal sehat, sehingga yang dijadikan dalih untuk menghadapi dan menindak para sipil yang bersenjata “akibat terprovokasi” oleh para tersangka DPO adalah harus membunuh mereka, bukan melumpuhkan. Tidak bisakah satuan intelejen TNI-Polri (Densus 88) menakar kekuatan riil tentang logistik, persenjataan dan amunisi yang dimiliki para tersangka DPO dan sebagian masyarakat Tanah Runtuh Gebang Rejo tersebut tentang berapa lama mereka bisa bertahan? Jika keputusan yang diambil Polri adalah untuk melumpuhkan dan menangkap para tersangka DPO, bukankah hal itu bisa dilakukan misalnya dengan cara mengepung dengan pagar betis, menunggu sampai mereka lelah kehabisan logistik dan akhirnya menyerah? Bukan sebaliknya, Polisi sama sekali tidak memperhatikan jatidirinya yang telah direformasi dan dipisahkan dari sikap militeristik TNI. Bukan sebaliknya, polisi sama sekali tidak menggunakan pilihan pendekatan yang demokratis, edukatif dan manusiawi. Bukan sebaliknya, Polisi sama sekali tidak mengubris nilai-nilai ketuhanan (keagamaan), kemanusiaan dan keadilan yang beradab yang terdapat dalam butir-butir Pancasila? Sikap dan tindakan kekerasan yang didemonstrasikan Densus 88 dan Brimob Polri terhadap muslim Gebang Rejo Poso sungguh telah menginjak-injak undang-undang, hukum, rasa keadilan dan HAM. Melumpuhkan, menangkap dan membunuh terhadap mereka yang dianggap telah melanggar hukum bagi aparat kepolisian telah ada aturan maupun protapnya. Kalau keputusan Polri terhadap para tersangka DPO dan masyarakat yang terprovokasi adalah untuk dilumpuhkan atau ditangkap, bukankah Polri memiliki perangkat maupun kemampuan yang telah memadai? Seperti, kemampuan memisahkan antara masyarakat yang tidak terprovokasi terlebih dahulu setelah menerapkan kebijakan pagar betis. Selanjutnya memaksa para tersangka DPO dan masyarakat yang terprovokasi tersebut untuk dilumpuhkan dan ditangkap satu persatu dengan menggunakan gas air mata atau senjata bius. Bukan sebaliknya, Polisi justru memilih untuk dirinya agar lebih militeristik dari TNI dan berjiwa pembunuh! Itukah gaya militerisme yang hendak demonstrasikan Polri, para snipers Densus 88 dan Brimob terhadap masyarakat Islam Poso dan Indonesia? Kekerasan yang biadab seperti itukah yang hendak ditunjukkan Densus 88 Polri kepada dunia dan para pihak (asing) yang selama ini mensposorinya? Sikap dan kebijakan Densus 88 (Polri) yang menggelar drama pembunuhan terhadap Dr Azhari di Batu Malang November 2005, juga dalam drama pembunuhan terhadap Abdul Hadi alias Agung Rohmawan alias Bachrudin Shaleh dan Jabir alias Gempur Budi Angkoro, di Wonosobo 2006 merupakan bukti nyata bahwa Polri lebih militeristik dan arogan ketimbang TNI di zaman orde baru di bawah Opstib Ali Moertopo, Benny Moerdani dan Hendropriyono. Demi melihat banyaknya jumlah korban yang terbunuh, tertembak dan teraniaya dalam tragedi Tanah Runtuh Gebang Rejo, Poso pada 22 Januari 2007 sepertinya Densus 88 Polri semakin membabi buta dan telah bersikap adigang adigung adiguno! Apakah sikap mental dan jiwa kemanusiaan yang dimiliki komunitas Densus 88 dan Brimob (Polri) sebagai bangsa Indonesia telah tergadai dan berubah brutal, mental dan tindakannya menjadi milisi asing dan sebagai bangsa asing yang selama ini mensponsorinya, sehingga begitu enjoy melepaskan tembakan, pukulan dan tendangan kepada masyarakat Islam Poso? Sungguh perilaku brutal oknum-oknum Densus 88 dan Brimob Polri persis sama dengan para serdadu Zionis Israel saat menghajar masyarakat sipil Palestina! Di sisi lain, dalam pandangan pihak muslim Poso khususnya dan muslim manapun umumnya, terhadap sejumlah nama yang pernah disebut Tibo dkk sebagai tokoh penting di balik kasus penyembelihan ratusan warga pesantren Walisongo dan ratusan warga muslim lainnya, sikap kepolisian justru sama sekali tidak adil, bahkan sama sekali tidak menggubris. Padahal, mereka yang termasuk ke dalam tersangka DPO kasus Poso, adalah orang-orang yang kecewa, marah dan sakit hati atas sikap aparat keamanan yang begitu lunak terhadap para pelaku muslim cleansing yang terjadi Mei 2000. Menurut para tokoh masyarakat muslim Gebang Rejo, Poso, para pemuda yang namanya terdaftar sebagai tersangka DPO adalah penduduk asli Poso, mereka bukan pendatang dan tidak pernah terlibat dalam konflik atau melakukan latihan kemiliteran di Philipina maupun Afghanistan. Pernyataan dan tuduhan, baik yang dilakukan oleh Polri, Ketua Desk Anti Teror Ansyad

Mbay, mantan kepala BIN Hendropriyono maupun Sidney Jones dari ICG terhadap DPO kasus Poso sebagai mantan alumnus Afghan atau Philipina jelas merupakan fitnah dan kebohongan yang sangat tendensius dan menyakitkan. Selain itu dalam ingatan kuat ummat Islam, kasus Poso yang terjadi 25 Desember 1998, seolah menjadi ‘batu pertama’ terjadinya serangkaian konflik horizontal di tanah air. Ketika itu, Roy Runtu pemuda Kristen membacok Ridwan (warga Muslim) di masjid. Beberapa pekan kemudian, terjadi kasus Ambon 19 Januari 1999 (saat Idul Fitri) di kawasan Batu Merah. Ketika itu, preman Ambon yang Kristen memalak dua pemuda muslim sehingga terjadi keributan massal. Ketidakadilan sikap pemerintah terhadap kasus tersebut (Poso dan Ambon) boleh jadi telah menjadi trigger bagi kasus peledakan malam natal 24 Desember 2000. Ketika kasus peledakan malam natal 2000 terjadi, semua perhatian tercurah kepada kasus tersebut, sehingga kasus Poso dan Ambon tenggelam. Media nasional dan internasional menyoroti kasus ini, meski jumlah korban jiwa dari kasus bom malam Natal relatif sedikit dibanding kasus pembantaian di Poso dan Ambon (Maluku).

Tragedi Sampit: Sebagian kepala warga Madura yang dipenggal warga Dayak. Beberapa bulan setelah bom malam natal 2000, pada Februari 2001, terjadi kasus Sampit. Yaitu, pembantaian terhadap etnis Madura. Kasus ini pada mulanya berupa pembunuhan terhadap empat anggota sebuah keluarga Madura pada pukul 03:00 dinihari waktu setempat. Ketika komunitas Madura melakukan balasan, informasi yang berkembang justru menyudutkan etnis Madura yang diposisikan sebagai pencetus konflik. Dari ketiga kasus di atas, yakni Poso, Ambon dan Sampit, warga Muslim merupakan pihak yang menjadi korban dan bukan sebagai pihak yang mencetuskan konflik. Tapi sikap pemerintah justru memposisikan warga muslim seolah-olah sebagai pencetus konflik. Ini jelas tidak adil dan sangat menyakitkan hati. Boleh jadi, kasus kekerasan berseri yang terjadi di tanah air seperti Bom BEJ, Bom Kuningan, Bom Marriott, dan sebagainya, disebabkan oleh sikap tidak adil pemerintah. Seharusnya, pemerintah selain bersikap tegas, juga mengedepankan keadilan. Misalnya, bila DPO kasus Poso diburu dan mendapat ultimatum tembak di tempat, maka sikap tegas serupa juga harus diberlakukan bagi mereka yang menjadi aktor intelektual pembantaian warga muslim Poso, jika hal ini tidak dilakukan jelas menimbulkan luka ketidak adilan yang kelak memicu timbulnya dendam. Kalau pertimbangan hukum dan politik yang digunakan Polri (Densus 88 dan Brimob) dalam melakukan radikalisme dan kekerasan bersenjata serta mengeksukesi masyarakat Tanah Runtuh Gebang Rejo, Poso, adalah semata-mata karena senjata telah disandang oleh mereka, kenapa Densus 88 dan Brimob tidak melakukan hal yang sama terhadap masyarakat Kristen dan Katholik yang juga menyandang senjata di Papua dan Maluku? Apakah karena mereka beragama Katholik dan Protestan serta berorganisasi OPM dan RMS maka Densus 88 dan Brimob tidak menertibkannya? Densus 88 dan Brimob juga tidak pernah melakukan razia penertiban senjata yang berada di wilayah masyarakat Kristen dan Katholik Poso, kenapa? Karena Negara tidak ingin membangun masyarakat, bangsa dan Negara ini dengan serius serta tanggungjawab, yang melibatkan seluruh komponen dan para pihak yang kompeten dalam pembangunan tersebut. Karena

Negara tidak memiliki pemimpin yang berkeingingan kuat dan berkemampuan memadai menyelesaikan berbagai persoalan radikalisme, kekerasan dan pelanggaran HAM secara bertanggung jawab. Kepedulian dan tingkat kemampuan para aktivis HAM di negeri ini masih tertinggal, baik secara intelegensia, jaringan maupun kemampuan pressure politiknya. Penutup Dengan melihat kondisi riil tingkat basic, potensi dan kesadaran serta niat baik para warga bangsa negeri ini terhadap Agama, Negara dan HAM yang terbukti selama lebih enam puluh tahun tidak juga menunjukkan adanya kecenderungan yang terus menurun dan inkonsisten, maka diperlukan kerja keras untuk melakukan review dan rewind serta evaluasi secara berani terhadap perilaku, jati diri maupun terhadap kemauan bangsa ini. Kita harus memilih dan menentukan sikap, sekalipun konsep demokrasi membebaskan kita untuk ikut tertiup atau terbawa angin dan zaman. Catatan kaki: [1] Dalam sebuah Negara demokratis, dinas intelijen terutama menyajikan hasil aktivitas pengumpulan informasi dan analisis mereka dalam bentuk produk intelijen kepada pemerintah (Parlemen dan Eksekutif), untuk dijadikan bahan pengambilan keputusan/kebijakan … Sedangkan eksekutornya dikerjakan oleh aparatus penegak hukum, yang terpisah dari dinas intelejen. Praktek-praktek intelejen semasa orde Baru samapai sekarang amat mirip dengan praktek dinas rahasia KGB (Eks Uni Soviet) yang punya fungsi self-executing. [2] Ada istilah yang layak dipertimbangkan untuk menggambarkan peristiwa ini, yakni, “sebuah ‘Kudeta’ yang memang dirancang untuk gagal” (Wawancara Let.Kol. (Udara) Heru Atmodjo, 30 Januari 2004). Menurut kesaksian beberapa mantan Jenderal TNI, peristiwa “Upaya Pengambil-alihan Kekuasaan oleh PKI” yang gagal itu sudah direncanakan dalam satu skenario, program maupun agendanya secara matang melalui forum Rapim ABRI Januari 1965. Namun mantan jenderal TNI yang dekat dengan Jenderal AH Nasution tersebut, masih belum bersedia untuk dipublikasikan namanya. [3] Bandingkan ini dengan taktik dan strategi politik raja pertama kerajaan Majapahit Raden Wijaya ketika mempecundangi pasukan Kubilai Khan dalam keberhasilannya menghancurkan Daha dan Tumapel. Soeharto disebut-sebut menjadikan situs kerajaan Mojopahit di Trowulan Mojokerto Jawa Timur sebagai tempat meditasi dan memanjatkan ‘shalawat politik’ setiap Jum’at kliwon. [4] Sandiwara dan rekayasa intelejen ditulis dan diciptakan sendiri naskahnya dan ditampilkanlah skenario klasik ke hadapan publik: meletusnya peristiwa “perlawanan subversif” terhadap pemerintah, perburuan atas para pelakunya, penangkapan dan penumpasan atas para operator maupun aktor-intelektualnya. Ini semua ditampilkan dengan mengesankan seolah-olah segala praktek pemberantasan ini dilakukan demi menegakkan hukum dan memenuhi prinsipprinsip demokrasi. Praktek-praktek semacam ini sedemikian rupa diulang-ulang dan direproduksi guna menyebarluaskan ketakutan akan ancaman “unsur-unsur subversif” yang terus-menerus berkeliaran dalam masyarakat (dalam wujud bahaya laten ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, bahkan ekstrem tengah [!]) guna menumpulkan kecerdasan kritis masyarakat. [5] Dengan kondisi seperti inilah mereka terjebak dalam lingkaran setan, mereka tidak lagi kritis terhadap mana musuh yang hendak menjebak dan mengarahkan ke arena pembantaian. Demikian pula halnya ketika mereka mendapatkan senjata, amunisi maupun informasi valid, tentang: lokasi-lokasi strategis, tokoh-tokoh, hasil keputusan rapat rahasia dari pihak yang diidentifikasi sebagai musuh ideologis mereka (Yahudi, Vatikan dan A.S.); yang dipasok dari planted-agent yang telah diketahui latar belakangnya, mereka justru begitu menggebu-gebu bahkan berterima kasih . Mereka telah kehilangan nalar dan naluri intelejennya, mereka sama sekali lupa jika agen intelejen yang memasok data informasi tersebut tentunya memiliki motif/kepentingan tertentu dalam rangka kepentingan tugas mereka. Di sisi lain para planted

agent intelejen tersebut tidak pernah mau memberi pasokan data informasi pertemuan penting atau rencana pertemuan para tokoh intel dan jenderal TNI-Polri yang bisa dijadikan target sasaran? Karenanya semua kasus pengeboman selalu saja mudah dilacak dan bahkan di antaranya sudah diketahui pelakunya sebelum peristiwa terjadi. Selama ini belum pernah satu pun sasaran pengeboman tersebut merupakan instalasi strategis milik pemerintah maupun TNI-Polri. Kenyataan ini merupakan indikasi kuat adanya permainan antara teroris dengan aparat keamanan negeri ini. [6] Istilah ini berasal dari beberapa intel senior TNI yang enggan disebut namanya. [7] Posisi Abdul Haris dan Syamsuri, jelas berbeda dengan posisi Umar Faruk, Hambali, Zulkarnaen dan Abu Toto maupun dari neo NII, Ajengan Masduki, Abu Dzar, Abu Jihad, Yoyok, Bashir, Mafa’it Faedah Harahap, Gaos Taufik atau yang lebih rendah tingkat hubungannya dengan intelejen secara langsung seperti Nurhidayat, Dharsono, Ahmad Yani Wahid, Ariyanto dan yang lain. Mereka yang direkrut dan diperalat intelejen memang diformat tidak untuk dilindungi, mereka bisa dipakai dalam pendek atau jangka panjang, akan tetapi hanya digunakan untuk kepentingan operasi intelejen yang bersifat sesaat dan kapan saja bisa dihancurkan. Sedangkan posisi planted-agent selain dididik, dibina dan ditugaskan mereka diberi Nip/Nrp dan fasilitas pendukung yang lengkap. Mereka juga memperoleh perlindungan serta jaminan. [8] Gerakan Aceh Merdeka dihadapi dengan strategi pembentukan GAM made in intelligence, melalui Abu Jihad yang secara resmi masuk anggota intel TNI sejak tahun 1979 dan disusul Teungku Abdul Manaf. Ini berdasarkan keterangan sekretaris Abdul Manaf. Aktifis Acehpun menyebutnya cuak GAM Abu Jihad memiliki anggota (milisi) cukup banyak, ketika Bakin di bawah Arie J. Kumaat. Ia mendapat tugas membangun milisi dan mengajak Teungku Sofyan Daud turun gunung. Abu Jihad akhirnya dikabarkan sempat berhasil membawa utusan GAM untuk menyerahkan senjata 10.000 pucuk senjata dan 5000 personil sekitar tahun 2002, sayang Hendropriyono sama sekali tidak menanggapinya. Abu Jihad bereaksi tidak patuh kepada perintah BIN saat diminta membuka jaringan JI – Abu Bakar Ba’asyir maupun yang lain melalui media massa, berbeda dengan laporan yang ia berikan kepada Lembaga Intelejen maupun yang resmi dalam BAP kepolisian. Dua bulan kemudian Abu Jihad dieksekusi mati di Ambon oleh Ariyanto alias Anto (agen intel) bersama komunitas Mujahidin Kompak, setelah sebelumnya menerima ancaman dan tekanan Jakarta. Pengusutan misteri terbunuhnya Abu Jihad bersama Ahmad Saridup dan Edy Putra ternyata dicukupkan hanya sampai pada para eksekutor lapangan belaka. Bahkan Kadit Intel dan Kadit Serse Polda Ambon sepakat tidak memproses lebih jauh karena besarnya ancaman dan risiko yang mungkin mereka terima. Mabes Polri pun tak peduli dengan kasus kematian Abu Jihad dkk tersebut. Kasus Abu Jihad menjadi pelajaran berharga bagi para binaan intelejen lainnya sebelum mereka menerima giliran pembinasaan. Satu bulan sebelum Abu Jihad berangkat ke Ambon ia sempat menuturkan banyak cerita keluh kesah dan berbagai rahasia petualangannya sebagai intel madya BIN maupun program dan permainan intelejen terhadap berbagai peristiwa politik sdan gerakan di Indonesia. Begitu dituturkan keluarga besar Abu Jihad yang kini terlantar menderita. Kini Lamkaruna putra Abu Jihad dikabarkan justru malah bergabung untuk melanjutkan missi pengabdian intelejen Abu Jihad sang ayah. [9] Menurut Umar Abduh dkk, Kakorserse Irjen Engkesmen R Hillep selain sudah membuat rekomendasi lengkap tentang Ma’had Al-Zaytun, beliau juga mengajukan ide dan opsi penanganan keamanan kepada Kapolri Da’i Bachtiar terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun yang menjadi mabesnya gerakan NII. Namun sikap dan jawaban Da’i selaku Kapolri justru sangat mengecewakan. Menurut Abduh yang saat itu menunggu di ruang Kakorserse Mabes Polri, Irjen Pol Engkesmen R. Hillep sempat menyatakan kekecewaannya dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan sikap dan jawaban Kapolri Da’i Bachtiar sebagaimana di atas berkenaan dengan upaya serius untuk menangani gerakan NII dan Al-Zaytun. [10] Pater Beek memang sudah lama meninggal dunia, dan program kaderisasinya sudah lama mati… [11] Ibid

[12] Namun tim Made Pastika membantah dan berdalih bahwa nomor kir tersebut memang hanya khusus dibuat oleh DLLAJR Bali. Khusus untuk mobil Amrozy? Demikian pula pengakuan Amrozy saat di persidangan tentang nomor mesin dan nomor rangka mobil L 300 sudah dihapus dengan gerinda hingga cekung, bagaimana team investigasi bisa berhasil menimbulkan angka-angka yang hilang dan sudah cekung bisa terlihat kembali? Barang bukti potongan rangka chasis mobil yang ditimbulkan nomornya diajukan ke persidangan malah utuh tidak cekung atau rusak karena gerinda sebagaimana dibantah Amrozy. Dari mana Polri memperoleh potongan utuh chasis mobil L-300 Amrozy tersebut? Dari Jepang, dari bengkel Mabes Polri, dari Polda Bali, atau dari reruntuhan Paddy’s Café?
Aug2011 Posted by umarabduh in Aug 14,2011 Uncategorized

RADIKALISASI PESANTREN : AKAR PENYEBAB DAN PENYELESAIANNYA

Disampaikan dalam diskusi publik yang diselenggarakan CDCC (CENTRE for DIALOGUE and COOPERATION among CIVILIZATIONS) di Jakarta, tanggal 12 Agustus 2011. HANYA DIKARENAKAN BANYAK DIANTARA para pelaku pada aksi-aksi terorisme di Indonesia selama ini dilakukan oleh alumni pesantren hal tersebut ternyata semakin memperkuat asumsi mereka yang phobia terhadap Islam bahwa pesantren telah menjadi breeding ground (tempat pembiakan) radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Menggeneralisasi pesantren sebagai inkubator teroris tentu merupakan kesimpulan yang amat berlebihan dan sangat tidak arif. Buktinya, lebih banyak alumnus pesantren yang tidak menjadi teroris. Namun, bagi mereka yang pada dasarnya benci terhadap Islam sangkalan terhadap keterliban itu justru dianggap sebagai apologia, mengingat fakta itu jelas ada.

Kartosoewirjo dan Soekarno Pertarungan antara Islam dan Nasionalis Pancasila yang digalang pemerintah sepertinya semakin menemukan bukti adanya upaya sistematis mengarah kepada pengkondisian terhadap pecah dan maraknya konflik horizontal yang sungguh sangat mengkhawatirkan. Pelibatan dan penggalangan komponen civil society secara massif yang dilakukan pemerintah tanpa malu-malu dalam menghadapi radikalisme -seperti yang sempat diamanatkan SBY kepada Said Agil Siraj (Ketum PB NU) dan disambut antusias oleh Banser dengan membuat Den 99- dinilai sebagai bentuk kelicikan pemerintah.

Snouck Hurgronje, SBY, Said Agil Siradj dan Nusron Wahid Upaya dan kebijakan pecah belah antara sesama ummat Islam oleh pemerintah seperti ini mengingatkan kita kepada Snouck Hurgronje di masa penjajahan Belanda, merusak Islam dan ummat Islam dari dalam. Kita akan maklum jika yang melakukan hal itu adalah manusia penjajah berkebangsaan Belanda. Tetapi jika yang melakukan upaya pecah belah, adu domba antara sesama warga Negara dan sesama agama bahkan antar agama tersebut adalah pemerintah NKRI sendiri, maka nyatalah jika pemerintah NKRI merupakan kepanjangan tangan penjajah Belanda yang kelakuannya lebih buruk dari Belanda. Terorisme, radikalisme dan fundamentalisme yang dituduhkan pemerintah sebagai kekerasan atas nama agama (baca: Islam) dalam pandangan ummat Islam justru merupakan hasil kebijakan culas, keji dan jahat kaum Nasionalis Pancasila dalam bersaing mengisi kemerdekaan dan memenangkan ideologi politik. Berdasarkan fakta sejarah di atas setidaknya terdapat tiga akar besar dan tiga akar kecil yang melatari dan sebagai penyebab terjadinya radikalisasi terhadap kalangan Islam dan pesantren yang merupakan pusat dan benteng pertahanan Islam. Yakni, adanya kebijakan pemerintah NKRI sejak awal mengisi kemerdekaan dalam menghadapi persaingan politik dan ideologi bangsa dengan dalih membangun karakter nasionalisme bangsa dengan segala konsekuensinya. TIGA AKAR BESAR

Pertama, adanya penetapan ideologi Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang final, sehingga menutup rapat tentang kemungkinan adanya ideologi lain untuk boleh ada dan eksis, meski eksistensi ideologi lain tersebut merupakan realita, bahkan majority. Ideologi tersebut adalah Islam dan Sosialis Komunis. Kedua, adanya penetapan kebijakan pemerintah terhadap pelaksanaan dan penerapan ideologi Pancasila atas bangsa yang dilaksanakan secara Top Down, sehingga mengharuskan pemerintah bersikap dan terjebak ke dalam perspektif negara diktator dan otoriter. Ketiga, konsekuensi dari kebijakan sistem Top Down dalam menghadirkan dan menerapkan ideologi Pancasila berdampak pada langkah-langkah dan tindakan politis pemerintah, untuk menyalahgunakan kekuasaan, abuse of power yang dilakukan melalui operasi intelijen yang dirancang dalam rangka mengalahkan (provokasi, pembusukan dan assassination) terhadap potensi ideologi Islam dan yang lain, tentu dalam rangka memenangkan Penguasa. TIGA AKAR KECIL Pertama, kemenangan politis, ideologis dan strategis pemerintah terhadap Komunisme tahun 1965 dan segala dampak aturan yang dibuat selanjutnya di masa orde baru untuk mendukung sistem Top Down ideologi Pancasila menjadi ideologi Kekuasaan. Di mana pada era orde baru inilah potensi Islam ideologis dirangkul atau digalang untuk dibusukkan melalui operasi intelijen, sementara kalangan islam moderat dikungkung melalui partai dan ormas yang pimpinan dan kordinatornya merupakan hasil dropping penguasa. Dari sini kita melihat bahwa yang namanya problema internal dalam bangsa ini merupakan buah tangan dan ciptaan pemerintah sendiri. Belum puas dan tidak cukup dengan skenario domestik pemerintah orde baru menggunakan skenario internasional, yaitu melibatkan kelompok Islam ideologis ke dalam konflik agama di dunia internasional seperti Afghanistan, Kashmir, Palestina, Mindanau, Bosnia dan Chechnya setelah sebelumnya membuka pintu lebar-lebar masuknya paham Islam ideologis dan radikal dari timur tengah, yang hasilnya adalah munculnya kelompok-kelompok Islam ideologis dan radikal.

Frans Seda Kedua, kebijakan pemerintah era reformasi yang membenturkan antara kalangan pesantren dan atau komunitas muslim awam dengan kalangan Katholik dan Protestan di kawasan Poso dan Maluku dengan membiarkan munculnya semangat di kalangan Katholik dan Protestan untuk mendirikan Negara Kristen Raya sekaligus membiarkan kalangan Katholik dan Protestan melakukan pembantaian massal terhadap kalangan muslim pondok pesantren di Poso dan di Ambon Maluku.

Kebijakan pembiaran pemerintah terhadap konflik dan pemanfaatan momen tersebut untuk meningkatkan eskalasi konflik tersebut melalui fasilitasi peralatan tempur dengan melibatkan para veteran Mujahidin Afghan, Bosnia, Mindanau dan yang lain, meski melalui jual beli. Kesengajaan pihak yang berkompeten di bidang keamanan dalam memperjual belikan senjatasenjata organik untuk keperluan di daerah konflik yang jumlahnya mencapai puluhan ribu pucuk dan belum lagi hasil impor dari Mindanau selama konflik Maluku berlangsung.

Fabianus Tibo dkk : Pembantai santri Ponpes Walisongo Ketiga, lemahnya kesadaran ummat Islam terhadap rekayasa pemerintah yang melancarkan sikap dan permusuhan, kebencian ideologis dan segala instrumen jebakan politis dan intelijen yang dilakukan secara sistematis menjadikan pemerintah begitu sangat leluasa memainkan peran dan fungsi alat keamanan, media dan birokrasinya untuk memecah belah, memporak porandakan dan menempatkan sebagian kalangan Islam dan Pesantren menjadi pihak yang pantas dan harus dituduh, patut dihukum dan menjadi musuh bersama bangsa. Padahal jika ummat Islam bermampuan untuk membongkar semua kebijakan jahatnya terhadap ummat Islam yang berwujud abuse of power dan kejahatan-kejahatan politik lainnya bisa dipublikasikan secara meluas dan sistematis, maka pemerintah pasti akan beringsut dengan sendirinya. Lemahnya kemampuan ummat Islam dalam menghadirkan Islam dengan segala budaya dan sistem pengelolaan kekuasaan dengan tanpa harus terjebak dengan provokasi maupun gangguan pemerintah. Hal inilah yang mengakibatkan Pesantren yang merupakan benteng pertahanan terakhir ummat Islam mulai menjadi target sasaran yang akan dihancurkan pemerintah. SOLUSI Pemerintah selaku penanggungjawab penyelenggaraan sistem Kebangsaan dan Kenegaraan yang selama ini melakukan kebijakan radikalisasi terhadap warga dan bangsanya sendiri, yang kemudian memusuhi serta menumpasnya seperti itu, harus sebagai pihak yang pertama dan memulai melakukan kebijakan deradikalisasi, pemerintah harus menghentikan niat dan kinerja buruknya memusuhi warga dan bangsanya sendiri. Tanggungjawab pemerintah terhadap Islam sebagai agama dan terhadap ummat Islam sebagai warga harus tetap dalam kerangka melayani, melindungi dan bekerjasama dalam membangun serta mengisi kemerdekaan. Pemerintah harus bertanggungjawab dalam mengisi dan menegakkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan membuktikan makna kemerdekaan tersebut dalam bentuk dan wujud kemandirian dari bangsa yang betul-betul berdaulat atas seluruh wilayah tanah, air dan udara Indonesia, tidak bisa didikte, tidak menjadi boneka Negara lain.

Pemerintah harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada ummat Islam untuk menghadirkan Islam dan segala kebaikannya yang rahmatan lil ‘alamin tanpa harus mencampuri dengan keinginan untuk mengarahkan paham serta penjelasan tentang Islam menjadi seperti apa. Islam adalah agama Allah, agama pemilik dan pencipta bumi Indonesia dan seluruh isi serta kekayaannya, Allah juga yang akan menghakimi para ciptaan-Nya yang bernama bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diamanatkan dan atas rahmat-Nya tersebut: sudahkah dikelola dengan baik atau malah dirusaknya?
Jul2011 Posted by umarabduh in Jul 3,2011 Uncategorized

KETURUNAN NABI DAN TIGA SOSOK ASSEGAF YANG MENGHEBOHKAN BILA ADA SESEORANG ATAU SEKELOMPOK ORANG mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi, sebenarnya kalau secara umum sah-sah saja dan tidak salah sama sekali. Karena, pada dasarnya semua umat manusia di muka bumi ini merupakan keturunan Nabi Adam Alaihissalam, Nabi pertama. Namun, tidak semua keturunan Nabi Adam Alaihissalam beriman kepada Allah SWT dan mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah. Artinya, secara umum, tidak ada yang ‘istimewa’ dengan status keturunan Nabi. Apalagi, yang sesungguhnya dinilai oleh Allah SWT bukanlah asal-usul keturunan seseorang tetapi tingkat ketaqwaannya kepada Allah.

George Bush, Osama bin Laden dan Ariel Sharon: ketiganya keturunan Nabi Adam Alaihissalam George Bush mantan Presiden Amerika Serikat juga keturunan Nabi Adam Alaihissalam, begitu juga dengan Osama bin Laden dari Saudi Arabia dan Ariel Sharon dari Israel. Semua nabi yang jumlahnya ribuan, juga keturunan Nabi Adam Alaihissalam, begitu juga dengan para Rasul Allah. Sementara itu, tidak ada satu pun keturunan Nabi Muhamad SAW yang menjadi Nabi atau Rasul, kecuali kalau ada yang mengaku-ngaku, maka bisa jadi nabi dan rasul palsu pembawa kesesatan. Dalam perspektif antropologis, ada fenomena ‘penghormatan’ terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW yang muncul dari sebuah penafsiran atau penyikapan terhadap sebuah hadits (?) yang berbunyi: “Sesungguhnya keturunanku itu dari Fatimah.” Maka, tersusunlah sebuah silsilah yang menjuntai hingga belasan abad kemudian dari Hadramaut (Yaman) hingga ke Tanah Abang (Jakarta). Yaitu sebuah silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Fathimah ra yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra. Maka, muncullah sebuah penyebutan khusus bagi keturunan Fathimah ra ini, yaitu Habib (yang tercinta), Sayid (tuan), Syarif (yang mulia), dan sebagainya. Di Jakarta, sebutan yang paling populer untuk ‘menghormati’ para keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah ra ini adalah habib atau habaib (jamak).

Abu Bakar Ba'asyir dan Habib Riziek Shihab Tidak semua keturunan Arab bisa disebut habib. Misalnya, Abu Bakar Ba’asyir mantan Amir Mujahidin MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang kini memimpin Jama’ah Ansharut Tauhid meski merupakan keturunan Arab dari Yaman, bukanlah tergolong habib, dan tidak pernah mau dipanggil habib atau diperlakukan sebagai habib. Ba’asyir memang bukan keturunan Fathimah ra, maka tidak disebut habib, berbeda dengan Riziek Shihab Ketua FPI (Front Pembela Islam). Dari sejumlah komunitas keturunan Fathimah ra ini, mereka terkelompokkan ke dalam sejumlah fam (nama keluarga) seperti Syihab, Shahab, Assegaf, dan sebagainya. Dari sejumlah fam komunitas keturunan Fathimah ra ini, salah satu yang menonjol adalah Assegaf. Bahkan tiga sosok yang cukup menghebohkan ‘dunia persilatan’ di Indonesia, menyandang nama Assegaf. Siapa saja mereka? MAHMUD BIN AHMAD ASSEGAF Nama yang menghebohkan ini pasti tidak begitu mudah dikenali bila tidak disebut nama aslinya. Nama Mahmud bin Ahmad Assegaf adalah nama alias dari sosok bernama Omar Al-Farouq, kelahiran Kuwait 24 Mei 1971.

Omar Al-Farouq dan Mira Agustina Menurut catatan majalah Tempo edisi 25 November – 1 Desember 2002, Al-Farouq merupakan tokoh kunci Al-Qaidah di Asia Tenggara yang berperan membekingi dana gerakan Jamaah Islamiyah (JI), dan merupakan tangan kanan Osama bin Laden yang oleh Geroge Bush disebut teroris. Al-Farouq juga diduga terlibat pada sejumlah aksi peledakan gereja di Indonesia pada malam Natal 2000, kerusuhan di Poso dan Ambon. Di Indonesia, Al-Farouq punya beberapa buah KTP. Bahkan ia sempat menikahi Mira Agustina pada 26 Juli 1999, dan punya dua orang anak. Menurut Mira, suaminya itu meski sering dipanggil Abu Faruq, namun bernama asli Mahmud bin

Ahmad Assegaf, keturunan Arab yang lahir di Ambon pada tanggal 24 Mei 1971 dan fasih berbahasa Indonesia dengan logat Ambon. Begitu pengakuan Mira.

ilustrasi Pada tanggal 5 Juni 2002, Al-Farouq ditangkap aparat di Masjid Raya Bogor, dan langsung dideportasi ke Amerika Serikat, karena diidentifikasi sebagai warga negara asing yang menjadikan Indonesia sebagai arena menebar teror. Dari Bogor, Al Farouq langsung dibawa ke Halim Perdana Kusumah. Di Halim, sudah menunggu pesawat militer AS yang membawa Al-Farouq ke tempat tujuan selanjutnya (penjara AS di Baghram, Afghanistan). Hal itu dimungkinkan karena adanya kerja sama antara intelijen Indonesia dan Amerika dalam perang melawan teror. Beberapa bulan kemudian, September 2002, muncul wawancara antara majalah Time dengan Al-Farouq. Antara lain berisi pengakuan Al-Farouq bahwa ia merupakan wakil senior Al-Qaida di Asia Tenggara dengan tugas merencanakan sejumlah serangan terhadap kepentingan AS di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

AC Manullang Menurut Manullang (mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Nasional), Al-Farouq adalah agen binaan badan intelejen Amerika Serikat (CIA), yang ditugaskan menyusup dan merekrut agen lokal melalui kelompok-kelompok

Islam radikal. Karena tugasnya sudah selesai, dibuat skenario tertangkap. Hal tersebut dikatakan Manullang kepada Tempo News Room pada hari Kamis sore (19 Sep 2002). Pada 12 Juli 2005, Al Farouq dikabarkan berhasil kabur dari penjara Baghram yang super ketat itu. Namun kasusnya baru terpublikasikan pada November 2005. Hampir satu tahun kemudian, pada hari Senin tanggal 25 September 2006, Al-Farouq dikabarkan tewas akibat ditembak tentara Inggris di Irak. Menurut Mayor Charlie Burbridge juru bicara militer Inggris, Al-Farouq ditembak mati setelah terlibat baku tembak dengan 250 tentara Inggris di sebuah rumah tempat dia bersembunyi di Kota Basra, Irak. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=156466) HABIB ABDURRAHMAN ASSEGAF Nama Habib Abdurahman Assegaf menjulang ketika terjadi pengerahan sejumlah massa ke markas Ahmadiyah di Parung pada hari Jum’at tanggal 15 Juli 2005, sekitar pukul 16:00 wib. Begitu juga ketika mencuat kasus aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah, sosok Habib Abdurrahman Assegaf kembali menonjol dalam rangkaian aksi menghancurkan dan membakar gubuk tempat pertapaan Ahmad Mushaddeq (pemimpin Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang mengaku sebagai nabi) yang berlokasi di lereng kaki Gunung Salak Endah, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Selasa 30 Oktober 2007. Habib Abdurrahman Assegaf pada saat itu merupakan pemimpin atau koordinator GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia). Sebelumnya, Al-Qiyadah Al-Islamiyah telah dinyatakan sesat oleh MUI pada 4 Oktober 2007.

Habib Abdurrahman Assegaf dan artis Menurut Arrahmah.com, Abdurrahman Assegaf adalah seorang habib palsu yang bernama (asli) Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella. Namun ada juga yang mengatakan nama aslinya adalah Amsari Umarella. Ayahnya asal Makassar dan ibunya berasal dari Ambon.

Habib Abdurrahman Assegaf dan rokok Amsari alias Abdul Haris yang kini menjelma menjadi Habib Abdurrahman Asegaf, pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 yang terletak di jalan Mardani Raya, Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Setelah lulus dari SMPN 2, Amsari melanjutkan ke SMA Negeri 68 jurusan IPS. Selama bersekolah di SMAN 68, Amsari tidak tertarik bergiat di rohis (rohani Islam, sebuah lembaga ekstra yang bergerak di bidang pembinaan rohani atau keagamaan). Bahkan saat itu ia termasuk yang tidak mendukung jilbab. Setelah lulus dari SMAN 68, Amsari melanjutkan pendidikan di Unkris Pondok Gede, Jakarta. (http://www.arrahmah.com/index.php /news/read/5459/ iapa-habib-palsu-abdurrahman-assegaf) NUR HIDAYAT ASSEGAF

Februari 1989, terjadi peristiwa berdarah-darah di Lampung, yang dikenal dengan nama Kasus Talangsari. Sebuah komunitas pengajian pimpinan Warsidi yang merupakan serpihan Darul Islam (NII), disapu bersih aparat, karena telah dengan terang-terangan mempersiapkan sebuah perlawanan terhadap pemerintahan, dan membunuh Kapten Soetiman (yang waktu itu menjabat sebagai Danramil Way Jepara).

Kapten Soetiman Salah satu tokoh pencetus kasus Talangsari ini adalah Nur Hidayat, mantan Karateka Nasional yang pernah menjadi bagian dari kelompok pengajian usroh Abdullah Sungkar. Sosok Abdullah Sungkar adalah salah satu tokoh DI/TII atau NII yang kemudian melepaskan diri dari NII dan membentuk Al-Jama’ah Al-Islamiyah (JI).

Abdullah Sungkar Dalam kasus Talangsari (Lampung, 1989), Nur Hidayat merupakan tokoh penting. Antara lain, ia menjadi Amir Musafir dan penentu bagi orang-orang yang akan ‘hijrah’ ke Talangsari. Bahkan setelah kasus Talangsari pecah, Nur Hidayat merencanakan sejumlah aksi teror lanjutan, sebagai perlawanan atau balasan terhadap penyerbuan aparat ke Talangsari. Yaitu, mengacaukan Jakarta dengan jalan membakar sejumlah pom bensin, membakar Pasar Pagi, Glodok dan Tanjung Priok. Hanya saja, rencana itu berhasil digagalkan aparat.

Nur Hidayat dan mantan isteri pertamanya Dwi Rani Pertiwi alias Rani Beberapa tahun belakangan, Nur Hidayat melengkapi namanya dengan membubuhi nama fam Assegaf, dan berprofesi sebagai rohaniwan (ustadz, penceramah agama). Hal ini setidaknya bisa dilihat pada harian Republika edisi 30 Januari 2001 dalam serial tulisan bertajuk Melacak Bom di Malam Natal. Pada tulisan serial itu, Republika menuliskan nama Nur Hidayat dengan tambahan Assegaf. Padahal, menurut mantan isteri pertamanya, Nur Hidayat bukan keturunan Arab, apalagi bermarga Assegaf yang tergolong ahlul bait atau keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Fathimah ra.

Putri Seorang Mjujahid? Berkenaan dengan Bom Malam Natal yang terjadi 24 Desember 2000, Nur Hidayat memang pernah berkoar-koar bahwa ia tahu siapa pelaku di balik kasus yang menghebohkan itu. Ketika diwawancarai oleh Rakyat Merdeka pada tanggal 29 Januari 2001, Nur Hidayat menyatakan bahwa ia tahu akan terjadinya peledakan Bom Malam Natal 2000 dari seorang kawannya asal Bandung, bahkan sang kawan itu berusaha mengajaknya terlibat, namun Nur Hidayat menolak. Meski sudah secara terbuka mengatakan hal itu, namun Nur Hidayat tidak ikut diciduk aparat dalam kasus Bom Malam Natal 2000.

Dari data-data di atas, nampaknya fam Assegaf dibanding fam ahlul bait lainya, sering ‘dimanfaatkan’ oleh orang-orang yang mengerti adanya benefit di balik penggunaan nama keluarga keturunan Fathimah ra tersebut. (haji/tede/nahimunkar.com) Awas Kyai Palsu Bentukan Amerika
1Jul2011 Posted by umarabduh in Jul 1,2011 Uncategorized

AWAS KYAI PALSU BENTUKAN AMERIKA Pengantar: Pagi ini, pada harian REPUBLIKA edisi Jum’at 01 Juli 2011, khususnya di rubrik Suarapublika ada sebuah surat pembaca yang ditulis oleh Hari Tanjung (Tanjung Barat, Jakarta Selatan). Intinya, penulis surat pembaca memohon penjelasan Kyai Haji Imam Ghazali tentang pernyataannya di hadapan pejabat Australia.

Sebagaimana diberitakan media massa, pada 3 Juni 2011, Diplomat dari Kementerian Luar Negeri Australia Greg Ralph mengunjungi Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur pimpinan Kyai Haji Imam Ghazali Said. Pada kesempatan itu, Kyai Haji Imam Ghazali Said mengatakan bahwa pondok pesantren yang berafiliasi kepada pesantren Ngruki atau berafiliasi kepada Wahabi di Arab Saudi telah mencetak kader yang radikal. Sedangkan ponpes An-Nur yang dipimpinannya, tidak seperti itu. Kyai Haji Imam Ghazali Said selain menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PC NU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, juga anggota jaringan The Wahid Institute. Ia pendukung Ahmadiyah. Lelaki kelahiran Sampang (Madura), pada 12 Februari 1960 ini pernah mengatakan: “…Ahmadiyah itu kawan saya, ikhwanuna fiddiin…” (Wahid Institute Networks, Senin, 26 Mei 2008 11:19) Hari Tanjung dari Tanjung Barat juga mempertanyakan sikap Kyai Haji Imam Ghazali Said: “… apakah pantas seornag Muslim menuduh saudaranya di hadapan non-Muslim dengan tuduhan seperti itu, meski dalam rangka membela ponpes yang diipimpinnya?” Surat pembaca tersebut telah mengingatkan kami akan sebuah tulisan berjudul AWAS KYAI PALSU BENTUKAN AMERIKA sebagaimana pernah dipublikasikan Tabloid SAPUJAGAT Nomor 17 Tahun IV, 10-25 Januari 2004, hal. 5. Selengkapnya kami turunkan di blog ini. Untuk melengkapi tulisan tersebut, sekaligus untuk memperkaya wawasan pembaca tentang sosok KYAI, kami turunkan tulisan berkenaan dengan kyai, seperti KYAI KOK BERGELIMANG KEMUSYRIKAN, juga tulisan berjudul MACAMMACAM KYAI. Semoga bermanfaat.(umarabduh and friends) AWAS KYAI PALSU BENTUKAN AMERIKA

“Konstelasi politik dunia pasca ‘perang dingin’ ternyata suasananya tidak dingin, justru semakin memanas dan memprihatinkan,” ungkap Dr. Hidayat Nur Wahid saat tampil sebagai pembicara dalam seminar Ancaman Neo Kolonialisme Terhadap NKRI di Hotel Kartika Candra Jakarta (5/1). Konvensi-konvensi internasional, regulasi dan penegakan hukum yang diperankan PBB tidak bergigi dan dimandulkan. Kekuasaan adidaya tunggal Amerika Serikat pun muncul dan bergerak tanpa tersentuh hukum (above the law). Peristiwa 11 Setember 2001 seakan menjadi justifikasi bagi Amerika untuk mengukuhkan diri sebagai ‘polisi dunia’. Negara-negara berdaulat, tambah Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, dilanggar kedaulatannya secara semenamena. Afghanistan dihancurkan, Iraq diacak-acak dan dijajah, Syuriah dan Iran pun diancam. Bahkan menurut sumber penting petinggi Amerika, ekspedisi militer ala Amerika ini akan berlangsung lama dan mencakup 60 negara dengan slogan “war against terrorism” (perang terhadap terorisme). “Dunia pun kini dibagi-bagi dalam dua kubu, with them (terroris, Red) or with us (Amerika, Red). Siapa yang menjamin Indonesia tidak akan masuk sasaran bidik,” tegas Hidayat Nur Wahid.

Masih menurut Hidayat Nur Wahid, kebijakan politik iuar negeri (LN) Amerika yang dinilai banyak kalangan amat ekstrem ini tak lepas dari para perancang politik di sekitar Presiden George W. Bush. Para perancang kebijakan yang lazim disebut neo conservative (neo-cons) terlibat aktif dalam formulasi politik LN Amerika dan bekerja keras untuk menceburkan Amerika dalam one world government (satu pemerintahan dunia).

Dick Cheney “Wapres Dick Cheney yang merupakan pentolan neo-cons pun sukses mengimplementasikan cetak biru yang telah dirancang sejak Juni 1997 dengan Projects for New American Century (PNAC),” kata Hidayat Nur Wahid. Pada September 2000 PNAC berhasil menelurkan rujukan politik LN Amerika, yang dikenal dengan Rebuilding America’s Defenses (RAD). Strategi pertahanan ini kental dengan doktrin pre-emptive war (serangan mendahului/serang dulu urusan belakangan, Red) dan upaya pengembangan senjata nuklir baru. Guna menjamin kesuksesan RAD, Amerika dalam rancangan pertahanan baru itu diminta untuk mengembangkan nuklir generasi baru, memulai program pertahanan missile dan keluar dari Anti Ballistic Missile Treaty. Amerika juga menambah anggaran belanja militer, serta menempatkan pasukan secara besar-besaran di 140 negara dengan 40 negara sebagai basis permanen. “Hebatnya visi membangun imperium baru Amerika ini bukan hanya di atas kertas, namun betul-betul diwujudkan setelah mendapat momentum yang tepat pasca 11 September,” kata Nur Wahid. Sebagai bukti realisasi visi tersebut, Senate Amerika menyetujui permintaan Presiden Bush untuk mencabut larangan riset, pengembangan dan produksi senjata nuklir (5 kiloton), padahal 10 tahun belakangan semua itu dilarang. Menurut analis anggaran pertahanan Bill Donahue, lanjut Hidayat Nur Wahid, Amerika pada tahun 2003 telah menghabiskan dana 5,8 milyar dollar untuk laboratorium nuklir. Bahkan, Los Alamos National Laboratories telah diperintahkan memulai pengembangan senjata nuklir mini jauh sebelum meminta izin kepada Kongres. Fakta-fakta tersebut, menurut Capres favorit versi SMS ini, menunjukkan Amerika secara serius tengah mempraktekkan neo kolonialisme secara sistematis. Ambisi membentuk imperium baru ini ditunjang pula dengan globalisasi yang merupakan jurus lain dalam melakukan kolonialisme. Ini secara jelas dinyatakan oleh mantan Menlu Amerika Henry Kissinger yang mengatakan globalisasi adalah nama lain dari dominasi Amerika Serikat. Demikian pula diungkap Thomas Friedman dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree mengatakan globalisasi telah mengarah pada proses penyebaran Amerikanisasi. Pula dikatakan oleh Joseph Stiglitz, pemenang Nobel bidang ekonomi 2001. Ia mengemukakan bahwa Amerika memang berniat menguasai dunia dengan menjadikan IMF, Bank Dunia dan WTO sebagai kuda tunggangan. “Indonesia telah masuk era ini. Akibatnya muncul ketergantungan terhadap hutang luar negeri, dominannya budaya hedonistik, materialistik dan permisif yang sama sekali bertentangan dengan moral dan etos orang Timur. Kedaulatan ekonomi dan moral bangsa pun tergadaikan akibat dampak buruk globalisasi,” tegas Dr. Hidayat Nur Wahid.

Ulama Palsu

Dari fakta-fakta yang dibeberkan, ada kenyataan menarik yang diungkapkan Dr. Hidayat Nur Wahid. Ia mewanti-wanti agar mewaspadai ulama-ulama atau kyai-kyai palsu bentukan Amerika. Memang dalam rangka meredam aksi-aksi dan sentimen negatif Amerika di Indonesia, negeri Paman Sam ini banyak menguras koceknya untuk membeli ulama, menciptakan ulama palsu. Hal ini terungkap dari buku The CIA at War yang menguak program membeli ulama dan pemimpin Islam dalam menghadapi sentimen-sentimen anti Amerika di dunia Islam dan Arab. Dalam wawancara pengarang buku tersebut dengan George Tenet (Direktur CIA), ditegaskan bahwa Amerika menemukan ruang untuk melawan gelombang anti Amerika dengan cara menyuap para ulama atau kyai, menciptakan kyai palsu dan merekrut tokoh-tokoh agama Islam sebagai agen.

George Tenet Amerika juga melakukan politik stick and carrot terhadap pesantren-pesantren. Pada 18-28 September 2002 lalu, Institute for Training and Development (ITD) sebuah lembaga Amerika mengundang 13 pesantren ‘pilihan’ (Dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) untuk berkunjung ke Amerika. Masing-masing juga mendapat bantuan USD 2000.

Amerika dan Australia juga membantu USD 250 juta dengan dalih mengembangkan pendidikan Indonesia. Padahal menurut sumber diplomat Australia yang dikutip The Australian (4/10/2003), sumbangan tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir ‘madrasah-madrasah’ yang menghasilkan terorisme dan ulama yang membenci Barat. “Memang ada sebagian pemimpin pesantren yang menganggap bahwa semua bantuan tersebut layak diterima asal kita tidak terpengaruh dengan kepentingan-kepentingan Amerika. Tapi yang saya lihat di kita masih ada budaya ewuh pakewuh dan sungkan. Jadi sulit bila kita menerima bantuan tanpa memberi imbalan balik sesuai kepentingan pemberi,” tandas Nur Wahid. Maka pada 2003 lalu, 1000 ulama dan kyai berkumpul di Jakarta untuk menolak program bantuan tersebut, apalagi yang mensyaratkan perubahan kurikulum pesantren. “Semua sepakat untuk mewaspadai ulama atau kyai-kyai yang merupakan boneka-boneka Amerika untuk melemahkan tradisi pendidikan Islam dan nilai-nilai moral bangsa,” kata Hidayat Nur Wahid.

Alex Manuputty Apalagi, secara jelas Amerika telah ikut campur tangan dalam berbagai persoalan dalam negeri Indonesia. Sebagai contoh, desakan kepada TNI untuk menghentikan operasi militer dalam menumpas Gerakan Aceh Merdeka yang separatis. Begitu pula dalam kasus Organisasi Papua Meredeka. AS tampak getol mendesak Indonesia untuk menggelar referendum untuk rakyat Papua seperti modus di Timor Timur. Yang terakhir adalah kasus kaburnya Alex Manuputy (terpidana 4 tahun penjara karena terbukti makar) ke Amerika. Kejanggalan dalam proses kaburnya pentolan Republik Maluku Selatan (RMS) ini, menguatkan indikasi adanya keterlibatan pihak Amerika. “Menghadapi semua ini, integritas nasional merupakan harga final yang tak dapat ditawar. Harus dipertahankan berapa pun harga yang harus dibayar,” tegas Hidayat Nur Wahid. Ia pun menyerukan agar umat Islam menyatukan barisan, memperkokoh ketahanan nasional dan menyusun strategi jitu sebelum semuanya terlambat. • (arh)
Jul2011 Posted by umarabduh in Jul 1,2011 Uncategorized

KYAI KOK BERGELIMANG KEMUSYRIKAN BILA ANDA DIPANGGIL KYAI, jangan senang dulu. Sebab, makna kyai tidak selalu berarti ulama yang benarbenar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya. Boleh jadi, anda sedang disamakan dengan seekor kerbau, sepasang gamelan atau justru dukun pelaku musyrik. Kenyataannya, di kalangan masyarakat Jawa, gelar kyai tidak saja dilekatkan kepada sosok ulama tetapi juga kepada seekor kerbau yang diangap keramat, dalang, gamelan, bendera keramat dan sebagainya.

Bahkan, meski gelar kyai dilekatkan kepada sosok yang dikenali sebagai ulama, namun belum tentu sosok itu ulama beneran. Bukan mustahil sosok “ulama” yang digelari kyai itu justru pendukung takhayul, bid’ah dan khurafat serta aneka kemunkaran lainnya seperti percaya kepada ilmu kebal dan sebagainya.

Contohnya, sebagaimana pernah diberitakan majalah GATRA edisi 16 Desember 2000, ada seorang kyai khos bernama Abdullah Faqih dari Pesantren Langitan, Tuban. Konon, sang kyai ini menerima wangsit dari Walisongo melalui mimpi. Isi wangsit Walisongo itu memastikan bahwa Gus Dur tak akan jatuh dari kursi kepresidenan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2004. Saat itu masyarakat sedang ramai-ramainya menggoyang Gus Dur dari kursi kepresidenannya.

Kyai Makhdum alias Sunan Bonang Bukan hanya Kyai Abdullah Faqih yang sesumbar seolah-olah diberitahu atau dibisiki tentang kejadian masa depan, bahkan juga Gus Dur sendiri. Oleh kalangan NU Gus Dur tidak saja disebut kyai, tetapi lebih jauh dari itu, ia diposisikan sebagai wali. Sebagaimana diberitakan GATRA, Gus Dur pernah menyatakan bahwa ia pernah ditemui seorang kyai bernama Makhdum yang menyerahkan sebuah keris kecil kepadanya, sambil memberikan isyarat bahwa goyangan terhadap Gus Dur itu harus diselesaikan lewat pemilu (pemilihan umum) baru (sekitar awal 2002). Melalui pemilu itu, menurut Kyai Makhdum, Gus Dur akan berhasil memenangkan pemilu itu dan akan bertahan lagi sebagai Presiden sampai 2004. Gus Dur menduga, tamu itu tak lain adalah Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang salah

seorang Wali Songo. Itu artinya, Gus Dur punya keyakinan, ditamoni (didatangi tamu) dan berjagongan (duduk dan berdialog) dengan orang yang sudah wafat zaman awal kerajaan Islam di Jawa masa dulu. Kenyataannya, pada Juli 2001 Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan akibat desakan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) pimpinan Akbar Tanjung dan MPR (Majlis Permusyawaratan Rakyat) pimpinan HM Amien Rais. Ini salah satu bukti bahwa yang namanya kyai itu, tidak lebih “sakti” dari anggota DPR-MPR RI yang oleh Gus Dur dinilai seperti anak TK (Taman Kanak-kanak) itu. Pernyataan Kyai Abdullah Faqih maupun Gus Dur itu, sesungguhnya merupakan kebohongan yang nyata, dan merupakan sebuah pembodohan kepada ummat Islam, bahkan penipuan yang terang-terangan. Mereka selain telah berbuat kemusyrikan, juga telah melecehkan agama Islam, serta menjadikan agama Islam sebagai alat politik untuk melegitimasi kepemimpinan Gus Dur yang kala itu sudah tidak dipercaya rakyat. Dalam surat Az-Zumar (39) ayat 42, Allah berfirman, َ ُ ّ َ َ َ ٍ ْ َ ِ ٍ َ َ ِ َ ِ ّ ِ ّ َ ُ ٍ َ َ َ ِ َ ْ ُ ُ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ َ َ ِ ّ ُ ِ ْ ُ َ َ ِ َ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ ّ َ َ ِ ْ َ َ ِ ‫ّ َ َ َ ّ َ ْ ُس‬ ‫ال يتوفى النف َ حين موتها والتي لم تمت في منامها فيمسك التي قضى عليها الموت ويرسل الخرى إلى أجل مسمى إن في ذلك ليات لقوم يتفكرون‬ ُ “Allah yang memegang jiwa ketika matinya dan yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan (jiwa) yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS 39:42). Jadi, merupakan suatu hal yang mustahil seseorang yang sudah mati puluhan atau ratusan tahun lalu, bisa jalan-jalan ke istana untuk menasehati Gus Dur. Sebuah lelucon yang tidak lucu karena terlalu banyak muatan membodohi umat. Demikian halnya dengan mimpi yang dialami Abdullah Faqih, yang melalui mimpi itu ia menerima wangsit Walisongo, juga merupakan sebuah upaya pembodohan yang telanjang. Berdasarkan QS Az-Zumar (39) ayat 42 tadi, maka dengan jelas kita simpulkan bahwa baik Gus Dur maupun Abdullah Faqih (beserta seluruh jajaran NU –Nahdlatul Ulama—dan lainnya yang mempercayai hal itu), adalah telah melenceng dari Al-Qur’an, bahkan telah mempermainkan Al-Qur’an dan ummat Islam. Ilmu Kebal dari Syathon Contoh lain, dalam atmosfir yang sama yaitu dalam rangka membela-bela Gus Dur yang kala itu sedang digoyang dari kursinya, ada sesosok kyai yang dalam rangka membela Gus Dur bersama sejumlah anggota gerombolannya, (bermaksud) mendatangi gedung DPR-MPR RI. Jauh-jauh dari Jawa Timur mereka ke Jakarta untuk memberi tekanan kepada anggota legislatif, dan mereka mengaku-ngaku kebal (jadug). Segerombolan kyai lain bersama santrinya yang mengaku-ngaku kebal juga memberikan tekanan dari jauh (Jawa Timur), antara lain menumbangkan pohon sehingga menghambat jalan umum. Mereka juga merusak fasilitas milik Ormas Muhammadiyah, dan Al Irsyad di kawasan Jawa Timur.

Benarkah ada segerombolan manusia yang diberi kekebalan oleh Allah, padahal Allah tidak pernah memberikan kekebalan kepada para Nabi, sejak Nabi Adam ‘Alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Dan para Nabi sendiri tidak pernah belajar ilmu kebal, tidak pula mengajarkan ilmu sejenis itu kepada ummatnya. Sebagai contoh, pada Perang Uhud, gigi Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam patah, bahkan beliau menderita lukaluka ketika masuk ke dalam sumur perangkap yang disediakan musuh. Nabi Yahya ‘alahissalam kepalanya dipenggal dan dijadikan mahar (maskawin) oleh raja kafir yang dzalim. Sayyidina Hamzah ditombak oleh Wahsyi seorang hamba sahaya milik Hindun, kemudian oleh Hindun jantung sayyidina Hamzah dicabik-cabik dengan penuh dendam. Sayyidina Umar ketika sedang shalat terbunuh dengan khonjir (semacam pisau belati) oleh Abu Lu’ lu’ seorang majusi yang pura-pura masuk Islam. Sayyidina Utsman bin Affan terbunuh oleh demonstran yang terhasut provokasi Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Padahal ketika itu sayyidina Utsman bin Affan sedang menjalankan ibadah shaum dan sedang membaca Al-Qur’an: ُ ِ َ ْ ُ ِ ّ َ ُ َ ُ ُ ُ َ ِ ْ َ َ َ ٍ َ ِ ِ ْ ُ َ ّ ِ َ ْ ّ َ َ ْ َِ ْ َ َ ْ ِ َ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ َ َ ِ ْ ِ ِ ُ َ َ ْ ِ َ ‫فإن ءامنوا بمثل ما ءامنتم به فقد اهتدوا وإن تولوا فإنما هم في شقاق فسيكفيكهم ا ّ وهو السميع العليم‬ ‫ل‬ َ “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 137). Pada lafal ‫ فسيكفيكهم ال‬itulah darah Utsam bin Affan menetes di mush-haf (Al-Qur’an) yang dibacanya di kamar ketika dia ُ ّ ُ ُ َ ِ ْ ََ َ dibunuh. (Lihat Al-Kamil fit Tarikh oleh Ibnul Atsir juz 2 halaman 19). Sayyidina Ali ditusuk oleh Abdul Rahman bin Muljam seorang khawarij. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan ilmu kebal kepada para Nabi sekalipun. Kalau kepada para Nabi saja tidak, apalagi kepada orang biasa. Bukti lain yang menunjukkan bahwa ilmu kebal bukan berasal dari Allah adalah: meski seseorang tergolong kafir, penganut animisme atau atheisme, ia bisa mendapatkan ilmu kebal, tanpa perlu beriman kepada Allah sama sekali.

Kesimpulannya, ilmu kebal seperti yang dipertontonkan oleh segerombolan orang kala itu, bukanlah ilmu yang bersumber dari Allah Swt tetapi dari syaithon. Dengan demikian, mereka (para kyai, santri dan massanya) yang bergelimang dalam kemusyrikan seperti itu adalah pengikut syaithon, dan sesuatu yang berasal dari syaithon biasanya digunakan untuk membela syaithon juga. (haji/mua/tede/nahimunkar.com). Contoh Korban Kesetaraan Gender?
23Jun2011 Posted by umarabduh in Jun 23,2011 Uncategorized

CONTOH KORBAN KESETARAAN GENDER? RATNA SARUMPAET sempat keheranan. Pasalnya, para kaum perempuan, para kaum ibu tidak begitu antusias merespon pencalonannya sebagai presiden Republik Indonesia. Padahal menurut ekspektasi (perkiraan disertai harapan) Ratna, sebagai sesama perempuan, para kaum ibu itu seharusnya antusias merespon keberaniannya maju sebagai calon presiden. Namun kenyataannya, para kaum perempuan, para kaum ibu itu justru lebih tertarik memilih presiden berjenis kelamin laki-laki dan ganteng.

Ratna Sarumpaet Sebagaimana diucapkan Ratna pada forum seminar bertajuk Menimbang Kebijakan Pengesahan RUU Pornografi di Graha Mahbub Junaedi, Jl Salemba Tengah, Jakarta Pusat, hari Minggu 21 September 2008, “Saya mencalonkan diri sebagai capres wanita, tetapi ibu-ibu lebih memilih SBY yang ganteng itu.” Ratna juga mengeluh karena dia tidak mendapat dukungan dari kaum perempuan, kecuali dari korban Lapindo. (http://forum.detik.com/archive/index.php/t-60902.html). Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin karena para kaum perempuan itu, para kaum Ibu itu masih bingung mengidentifikasi seorang Ratna Sarumpaet. Secara jenis kelamin (sex), Ratna Sarumpaet sudah pasti digolongkan sebagai

perempuan. Apalagi ia terbukti pernah bersuami dan melahirkan sejumlah anak. Tetapi secara gender, para kaum ibu itu mungkin bingung mau memasukkan Ratna ke dalam kelompok lelaki (maskulin) atau perempuan (feminin)? Jadi, kalau kaum perempuan dan kaum Ibu itu lebih cenderung memilih presiden yang ganteng (laki-laki), mungkin karena mereka tidak mengalami kesulitan ketika melakukan identifikasi terhadap pilihannya. Bolehlah dikatakan, bahwa dari ‘kasus’ ini Ratna Sarumpaet telah menjadi ‘korban’ dari konsep kesetaraan gender. Sebuah konsep yang tidak dimengerti oleh orang banyak, sebuah konsep yang tidak dipedulikan oleh orang banyak. Tetapi hanya dimengerti dan dipedulikan oleh sebagian amat sangat kecil anggota masyarakat yang terbawa arus snobisme (bangga diri). Tentang Gender Kosakata gender tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang digandrungi oleh sebagian cewek-cewek (maaf, lafal ini sengaja digunakan sesuai dengan maqomnya) yang disebut sebagai aktivis perempuan. Menurut Suryanto, ada perbedaan antara istilah jenis kelamin (seks) dengan gender. Jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki memiliki penis, memiliki jakala, dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, leher rahim, vagina, alat untuk menyusui dan memproduksi sel telur. Sedangkan gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan kepada orang lain bahwa seseorang itu feminin atau maskulin. (http://suryanto.blog.unair.ac.id/2009/02/11/gender-apa-itu/) Jika jenis kelamin bersifat menetap (permanen), gender tidaklah demikian, tetapi dibentuk secara sosial. Atau dalam bahasa para aktivis kesetaraan gender, seperangkat peran yang dijalani seseorang (gender) merupakan konstruksi sosial. Secara ilmiah, gender merupakan konstruksi sosial adalah pendapat yang aneh. Menurut Inal (http://www.forumsains.com/artikel/memahami-sains-memahami-gender/), perbedaan laki-laki dan perempuan bukan karena konstruksi sosial, tetapi karena secara biologis memang berbeda sehingga kecenderungan psikologis antar keduanya juga berbeda. Fenomena itu terwujud nyata di berbagai kebudayaan, kelas, etnis, agama, baik di masa kini maupun di masa lampau. Sayangnya, penjelasan ilmiah semacam itu dinilai tidak relevan oleh para aktivis kesetaraan gender, mereka justru mengkritik para ilmuwan dianggap sama sekali tak berpihak kepada kesetaraan gender. Lebih jauh mereka menganggap para ilmuwan dan lembaga keilmuan sama tak beresnya dengan institusi lain yang cenderung meminggirkan kaum perempuan sejak 1990-an. Bagi Helena Cronin (filsuf ilmu alam dan salah seorang direktur di Centre for Philosophy of the Natural and Social Science), mengabaikan penjelasan ilmiah soal gender, merupakan tindakan yang keliru. Dalam sebuah esainya yang diberi tajuk Darwinian Insights into Sex and Gender, Helena Cronin mengatakan, pemahaman ilmiah justru sangat berguna dalam membantu kita bagaimana seharusnya memandang persoalan kesenjangan gender. Secara ilmiah sudah dikatakan sejak lama, adalah keliru bila gender merupakan konstruksi sosial, merupakan bentukan sosial, merupakan rekayasa sosial. Bahkan secara empirik, juga telah dibantah. Misalnya, pada kasus yang terjadi pada tahun 1960, di Amerika Serikat. Ketika itu, seorang anak laki-laki bernama John mengalami kerusakan penis parah akibat tindakan sirkumsisi yang ceroboh. Untuk mengatasinya, dokter memutuskan melakukan amputasi dan mencoba mengubah si anak laki-laki tadi menjadi perempuan melalui kastrasi (kebiri), pembedahan, dan terapi hormon. Nama John diubah menjadi Joan, didandani sebagai perempuan, dan diberi boneka. Dia pun tumbuh menjadi seorang gadis.

Tiga belas tahun kemudian (1973) seorang psikolog bernama John Money menyatakan, bahwa Joan adalah remaja (putri) yang sukses direkayasa dengan baik. Sekaligus membuktikan bahwa peran gender dapat dibangun lewat pendekatan sosial (konstruksi sosial). Namun di tahun 1997, pernyataan John Money terbantahkan. Menurut penuturan Joan, di masa kanak-kanak dia sangat tidak bahagia, dia selalu ingin memakai celana panjang, bercampur dengan laki-laki, buang air kecil sebagaimana layaknya anak laki-laki. Ketika usianya menginjak 14 tahun, Joan berhasil mengetahui kejadian yang sesungguhnya dan itu justru membuatnya lega. Dia pun menghentikan terapi hormon, mengubah kembali namanya menjadi John, kembali menjalani hidup sebagai laki-laki, menjalani operasi pengangkatan payudara, dan pada usia 25 tahun menikahi seorang janda serta mengadopsi anak. Melalui John yang direkayasa menjadi Joan dan kembali menjadi John, telah dapat dibuktikan bahwa yang berperan dalam penentuan gender adalah faktor bawaan, bukan rekayasa sosial. Bukti makin diperkuat dengan sejumlah penelitian di bidang neurologi dan genetika yang senantiasa mengarah pada kesimpulan serupa. Tentang Ratna Sarumpaet Salah satu aktivitas menonjol dari Ratna Sarumpaet adalah menolak undang-undang pornografi, sejak masih bernama RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) hingga RUU Pornografi. Namanya tercantum dengan huruf kapital pada petisi AKKBB yang dipublikasikan antara lain oleh harian Kompas edisi 30 Mei 2008 lalu. Cewek kelahiran Tarutung (Sumatera Utara) tanggal 16 Juni 1949 ini, meski menolak UU Pornografi, namun emoh dikatakan mendukung pornografi.

KOMPAS 30 Mei 2008 Pada salah satu media online, Ratna Sarumpaet pernah mengatakan, “Jangan salah ya. Seperti yang digembar-gemborkan kalau Ratna Sarumpaet itu mendukung atau menikmati pornografi, saya justru menolak pornografi. Saya kan juga punya anak cucu, tapi di sini saya tidak setuju sama undang-undang pornografi karena tidak relevan dan ada masalah dalam undang-undang tersebut. Tapi saya nggak menyalahi juga sama orang yang setuju dengan undang-undang tersebut karena mungkin mereka melihat dari masalah moral seperti sekarang ini. Jadi buat saya yang jadi masalah itu adalah bagaimana memperbaiki moral bangsa…” (http://www.kapanlagi.com/h/0000256676.html)

Dari pernyataan itu, kita bisa melihat betapa Ratna sedang berada dalam kebingungan yang amat sangat. Menurut pengakuannya, ia tidak mendukung dan tidak menikmati pornografi. Namun, ia ‘hanya’ tidak setuju dengan undangundang pornografi yang menurutnya bermasalah dan tidak relevan. Lha, Ratna khan seorang seniman, bukan pakar di bidang penyusunan undang-undang, bukan ilmuwan yang pernah meneliti dampak pornografi, dan sebagainya. Lalu untuk apa Ratna ngotot menolak undang-undang pornografi yang dikatakannya bermasalah dan tidak relevan itu? Jawabannya sudah jelas, yaitu islamophobia dan syari’at phobia. Bagi Ratna dan organisme sejenisnya, undangundang pornografi adalah syari’at Islam, sehingga perlu ditolak, meski isinya sangat bagus sekalipun. Mungkin sikap Ratna akan berbeda bila rumusan undang-undang sejenis diberlakukan di negeri Belanda, Jepang, Amerika Serikat, dan sebagainya yang mayoritas penduduknya non Muslim. Lagi pula buat apa Ratna begitu ngotot menolak sebuah undang-undang, bukankah sudah menjadi tabiat bangsa Indonesia yang gemar melanggar aturan yang sudah dibuat. Kalau toh RUU itu disahkan menjadi undang-undang, paling hanya beberapa saat saja dipatuhi, setelah itu masyarakat akan kembali menemukan celah strategis untuk melanggarnya. Kebiasaan ini terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan. Makanya, korupsi tidak bisa diberantas tuntas meski ada berbagai undang-undang dan lembaga yang menanganinya. Sehingga kerusakan lingkungan terus saja terjadi karena aturan yang ada diabaikan, barulah jika terjadi bencana seperti di Situ Gintung Tangerang Banten (27 Maret 2009), kewaspadaan terhadap lingkungan kembali ditonjolkan, meski hangat-hangat tembelek. Berbeda dengan Ratna dan organisme sejenisnya, mereka yang mendukung diterbitkannya undang-undang pornografi, meski tahu undang-undang itu belum tentu efektif, setidaknya hal itu dapat dijadikan landasan membangun harapan terhadap Indonesia yang lebih baik, terbebas dari pornografi, terbebas dari pornoaksi, rendah kasus-kasus perkosaan dan pelecehan seksual, dan sebagainya. Menggantungkan harapan melalui sebuah rumusan undang-undang, apa salahnya? Yang salah, adalah mereka yang justru mempersoalkan orang-orang yang berharap. Mosok sih berharap saja tidak boleh? Kejam nian! Ivan, Ruben dan Olga Kalau Ratna Sarumpaet merupakan kaum perempuan yang menjadi ‘korban’ konsep kesetaraan gender, bagaimana bila yang jadi ‘korban’ adalah kaum laki-laki? Barangkali sosok ‘korban’ itu bisa dilihat pada diri Ivan Gunawan, Ruben Onsu, dan Olga Sahputra.

Ivan Gunawan Ivan Gunawan adalah lelaki kelahiran Jakarta, 31 Desember 1981, yang kini merupakan salah satu perancang busana terkenal. Orangtuanya berprofesi sebagai diplomat. Adji Notonegoro, sang paman, telah lebih dulu menjadi perancang busana terkenal di Indonesia. Secara jenis kelamin, Ivan Gunawan adalah laki-laki. Tetapi secara gender, belum tentu: bisa feminin, bisa maskulin. Kenyatannya, Ivan Gunawan begitu fleksibel mengganti peran. Kadang feminin, kadang maskulin. Tapi lebih sering

feminin. Sebagai Muslim, Ivan juga pernah menjalankan ibadah umroh ke tanah suci. Namun feminitasnya tidak lekang, ketika itu ia menggunakan gamis berwarna pink (sebuah warna feminin). Olga Sahputra barangkali juga bisa dimasukkan ke dalam deretan ‘korban’ kesetaraan gender. Dia sadar betul dirinya laki-laki, bahkan dia pernah mengatakan, “Biarpun Olga klamar-klemer kayak gini, cewek masih bisa bunting sama Olga…”

YOGA alias Olga Sahputra Selain menyadari dirinya laki-laki yang bisa menghamili wanita, Olga juga sadar bahwa dirinya punya gesture (gerak langkah) perempuan. Bahkan ia sadar, berperan sebagai perempuan dalam rangka memenuhi permintaan pasar (jadi presenter, pemain sinetron, pelawak). Dari sinilah, Olga bisa meraup ketenaran dan kekayaan. Begitu juga dengan Ruben Onsu, laki-laki kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1983, ia menyadari betul dirinya secara jenis kelamin adalah laki-laki. Namun ia juga sadar betul secara gender (meski kita yakin ia tidak tahu apa-apa soal konsep gender), ia bisa berperan feminin. Ketiganya, Ivan, Olga dan Ruben punya ciri khas yang sama, yaitu cenderung kasar dalam menampilkan banyolan, ceplas-ceplos, bahkan vulgar. Tapi, anehnya gaya seperti inilah yang diminati penonton. Artinya, penonton, pelakon, dan produser sama-sama sakit.

Ruben Onsu

Nah, dari beberapa contoh para ‘korban’ kesetaraan gender tadi, kita sudah semakin bisa memahami apa yang sedang diperjuangkan para aktivis perempuan (aktivis kesetaraan gender). Yaitu, mereka ingin menciptakan kaum perempuan seperti Ratna Sarumpaet, sedang kaum lelaki seperti Ivan-Olga-Ruben.

Ruben dan Ivan Dari situ sikap islamo phobia (ketakutan kepada Islam) atau bahkan anti Islam disalurkan, untuk membentuk manusiamanusia yang dilaknat menurut ajaran Islam. Sebagaimana sifat berseteru, orang akan berupaya menampilkan apa-apa yang menjadi kebencian seterunya. Demikian pula para pembenci Islam tentu akan berupaya apa saja yang jadi larangan Islam, bahkan yang dilaknat oleh Islam. Di antara yang dilaknat oleh Islam adalah perempuan yang bergaya laki-laki dan juga laki-laki yang bergaya perempuan. Laki-Laki Tidak Sama dengan Perempuan Dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits menunjukkan, laki-laki tidak sama dengan wanita. Di antaranya ayat Al-Qur’an menegaskan: 1. ‫وليس الذكر كالنثى‬ َ ْ ُْ َ ُ َ ّ َ ْ َ َ “Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (Ali Imran : 36) 2. ٌ َ َ َ ّ ِ ْ ََ ِ َ ّ َِ ‫وللرجال عليهن درجة‬ ”Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228) Hal ini karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga. (Al Quran dan Terjemahannya, Depag RI hal 55) 3. ٍ ْ َ َ ‫ّ َ ُ َ ّ ُ َ َ َ ّ َ ِ ِ َ َ ّ َ ُ َ ْض ُ ْ ع‬ ‫الرجال قوامون على النساء بما فضل ا ّ بع َهم َلى بعض‬ ‫ل‬ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (An Nisaa: 34) Perbedaan antara lelaki dan perempuan serta kedudukan laki-laki sebagai pemimpin atas perempuan, dan kelebihan derajat laki-laki atas perempuan; itu semua ditentukan oleh Allah. Sehingga tidak boleh saling menyerupakan diri.

Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri sebagai wanita dan sebaliknya. Rasulullah menegaskan hal ini. ِ َ ّ ِ ِ َ ّ َ ِ ِ َ َّ َُ ْ َ ِ َ ّ ِ ِ َ ّ َ ِ َ ِ َّ َُ ْ ّ َ َ َ ‫.لعن ال المتشبهين من الرجال بالنساء ، والمتشبهات من النساء بالرجال‬ ُ “Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri dengan wanita dan perempuan-perempuan yang menyerupakan diri dengan laki-laki.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas, Shohih). Lihat Shohih Bukhori kitab Libas. 5886 – ‫عن ابن عباس قال لعن النبى – صلى ال عليه وسلم – المخنثين من الرجال ، والمترجل ِ من النساء وقال » أخرجوهم من بيوتكم « . قال فأخرج‬ َ َ ْ ََ َ َ ْ ُ ِ ُ ُ ْ ِ ْ ُ ُ ِ ْ َ َ َ َ ِ َ ّ َ ِ ‫ْ ُ َ ّ ِ َ ِ َ ّ َ ِ َ ْ ُ َ َ ّ َت‬ ّ ِ ّ َ َ َ َ َ ٍ َّ ِ ْ ِ َ 420 ‫(النبى – صلى ال عليه وسلم – فلنا ، وأخرج عمر فلنا . )صحيح البخارى (-ج 91 / ص‬ ً َ ُ ُ َ ُ َ َ ْ ََ ً َ ُ ّ ِّ Dan dari Ibnu Abbas juga, dia berkata: Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, dan beliau bersabda, ‘Usir mereka dari rumah kalian. ‘Ibnu Abbas mengatakan , ‘Maka Nabi pun mengusir si Fulan, sedangkan Umar mengusir si Fulanah.” (HR Bukhari nomor 5886) ِ ُ ّ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ َْ َ ْ َ ِ َْ َ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ ُ ّ ‫.لعن رسول ال -صلى ال عليه وسلم- الرجل يلبس لبسة الْمرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل‬ ِ ّ ُ ُ َ َ ََ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR Abu Daud dan Al Hakim, dari Abu Hurairah, Shohih). (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998). (haji/tede/nahimunkar.com).
Jun2011 Posted by umarabduh in Jun 16,2011 Uncategorized

ANAS URBANINGRUM DAN ZIARAH KUBUR POLITIS ZIARAH KUBUR selain ada yang syar’iyah dan syirkiyah, ternyata ada juga yang politis-bid’ah sebagaimana dilakoni Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat) baru-baru ini.

Anas Urbaningrum Ziarah ke Makam GUS DUR Ziarah kubur yang sesuai syari’at Islam ada beberapa persyaratan. Pertama, kuburan yang diziarahi adalah kuburan manusia. Kedua, tujuan menziarahi kuburan untuk mengingat akherat dan menjauhkan diri dari kecintaan kepada dunia, sekaligus untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kelak kita pun akan menjadi penghuni kubur. Ketiga, ketika memasuki areal pemakaman, mengucapkan salam kepada ahli kubur. Keempat, setelah berada di areal pemakaman, memanjatkan doa

kepada Allah SWT untuk memberi maghfirah kepada ahli kubur yang muslim. Kelima, untuk mengambil pelajaran (i’tibar).

Mengambil pelajaran (i’tibar) saat menziarahi kuburan orang Islam, maksudnya untuk mengingatkan diri kita sendiri, bahwa seseorang yang dimakamkan itu, semasa hidupnya boleh jadi adalah orang yang saleh, orang yang kuat, orang yang kaya, orang yang banyak pengikut. Namun, itu semua tidak dapat melebihi kekuatan dan kekuasaan Allah. Mereka semua akan mati, dikubur dan tidak berdaya apa-apa, kecuali amal saleh yang pernah dibuatnya selama hidup. (Untuk lebih jelasnya masalah ziarah kubur dan rangkaiannya, dapat dibaca buku Kuburan-kuburan Keramat di Nusantara oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011).

Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede Kenyataannya, dalam i’tibar ini seringkali dimaknai dan dipraktekkan secara keliru. Sosok yang sudah dikubur justru dianggap punya kelebihan, punya kekuatan, dan bahkan dijadikan tempat meminta pertolongan. Tidak hanya itu, perilaku menyimpang itu masih pula ditingkahi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an seperti Al-Fatihah, Yaasiin, dan sebagainya. Juga, menaburi bunga-bunga, air mawar, dan bahkan sesaji. Dalam perspektif politisi, menjadikan kuburan sebagai tempat ‘meminta’ dan ‘memohon pertolongan’ diwujudkan dengan ziarah ke makam-makam tokoh yang semasa hidupnya punya banyak pengikut fanatis, siapa tahu pengikutnya yang fanatis tadi bisa memberi suara tambahan kepada partai yang dipimpinnya, pada musim pemilihan umum kelak. Tanpa harus berfikir keras, kita sudah bisa memaknai motif yang melatari sepak terjang Anas Urbaningrum melakoni ziarah kubur ke makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada hari Rabu tanggal 08 Juni 2011 lalu. Yaitu, melalui ziarah kubur, Anas seperti sedang meminta dan memohon pertolongan.

Meminta dan Memohon Pertolongan Hanya Kepada Allah SWT Dalam perpektif kebebasan, boleh jadi sepak terjang Anas itu dikatakan sah-sah saja. Dengan alasan, hal itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi. Bagi mereka yang berpaham bebas, boleh jadi tindakan Anas bisa dimengerti, dengan alasan Anas adalah Ketua Umum Partai Demokrat yang punya kewajiban meraih suara sebanyak-banyaknya pada musim pemilihan umum kelak. Namun, dari perspektif lain, sepak terjang Anas Urbaningrum sangat memprihatinkan. Karena, ia adalah lapis kedua komunitas politisi Indonesia. Anas Urbaningrum adalah generasi lebih muda yang berhasil memimpin partai politik, ketika sejumlah parpol justru masih digenggam generasi tua (Golkar, PDIP dan sebagainya). Tentu masyarakat mengharapkan, Anas bisa tampil otentik. Kenyataannya, Anas justru hanya mencontoh dan mengikuti sepak terjang politisi seniornya. Antara lain, menjadikan agama atau sesuatu yang berbau agama sebagai kosmetik politik untuk mempercantik penampilannya. Khususnya menjelang musim pemilihan umum kelak.

Yang lebih memprihatinkan, Anas Urbaningrum adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 1997-1999. Tujuan terbentuknya HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala.” Melalui sosok Anas Urbaningrum, dan sosok-sosok lainnya ‘lulusan’ HMI, masyarakat sudah bisa menilai, sejauhmana tujuan HMI bisa diwujudkan?

Sebelumnya, media massa juga pernah memberitakan sepak terjang Anas Urbaningrum sebagai politisi yang melakukan kunjungan silaturrahim ke Ma’had Al-Zaytun (Kamis 17 Maret 2011). Ketika itu, Anas ditemani Edhie Baskoro Yudhoyono sambil membawa “uang silaturrahim” sebesar US$ 10 ribu. (http://www.nahimunkar.com/inaalillaahi%E2%80%A6menteri-agama-jadi-jubir-presiden-aliran-sesat-nii-kw9/#more-5124) Silaturrahim adalah ajaran Islam. Ketika silaturrahim dimanfaatkan politisi, maka silaturrahim yang semula bernilai mulia, menjadi sekedar kuda tunggangan, menjadi semacam kosmetik untuk mempercantik diri. Dan hal ini juga dipraktekkan Anas meniru-niru politisi seniornya.

Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas Kalau masyarakat mengharapkan lahir sosok politisi muda yang otentik, dan harapan itu tertuju kepada Anas, memang wajar. Karena, masyarakat tidak bisa mengarahkan harapan seperti itu kepada Ibas alias Edhie Baskoro Yudhoyono, yang bisa menjadi elite politik nasional karena adanya sistem ‘monarki’ di kesultanan NKRI ini. Ibas bukan satu-satunya. Sebelumnya ada Megawati, ada Tutut, dan sebagainya. Sebelum manakhodai Partai Demokrat, Anas Urbaningrum pernah menjadi anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) periode 2000-2007, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin, M.A. Pada awal 2005, KPU digoyang dengan tuduhan korupsi yang diduga melibatkan Nazaruddin Sjamsuddin dan Chusnul Mar’iyah. Konon, Anas Urbaningrum lolos berkat kelincahannya berlindung di balik ketiak partai penguasa. Kini, ketika skandal korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang yang menyangkut Nazaruddin (Bendahara Umum Partai Demokrat), nama Anas Urbaningrum juga disebut-sebut. Akankah kali ini Anas kembali lolos dari lubang jarum? Yang jelas, harapan masyarakat akan lahirnya sosok politisi muda yang otentik sama sekali tidak bisa digantungkan kepada Anas. Ternyata, Anas sama saja dengan seniornya: menjadikan bau agama dan simbol agama sebagai kosmetik politik, dan tidak lekang dari kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan yang sedang digenggamnya. Begitu juga dengan politisi muda seperti Andi Mallarangeng bersaudara. Mereka diduga terlibat penyalahgunaan wewenang yang melibatkan Nazaruddin.

Mallarangeng & Mallarangeng Anas mengenal Nazaruddin pada 2004, saat ia menjadi anggota KPU, dan Nazaruddin mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari PPP, namun gagal. Hubungan mereka terus berlanjut, bahkan di tahun 2007, Anas duduk sebagai komisaris di PT Panahatan dan PT Anugerah Nusantara, milik Nazaruddin.

Nazaruddin PT Panahatan yang didirikan tanggal 9 September 1997, bergerak di bidang perkebunan, kontraktor, pertambangan, hingga real estate. Berdasarkan SK Nomor AHU-22783.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008, susunan pemegang saham PT Panahatan adalah: Anas Urbaningrum (35.000 lembar saham, sebagai komisaris), Muhammad Nazaruddin (35.000 lembar saham, sebagai komisaris utama), dan M. Nasir (30.000 lembar saham, sebagai direktur). Setiap lembar saham bernilai Rp 1 juta. Meski saham Anas bernilai Rp 35 milyar, namun menurut pengakuan Anas, ia tidak pernah menyetorkan dana sebanyak itu, bahkan sama sekali tidak keluar tenaga dan biaya dalam proses pendirian atau opersional perusahaan. Anas langsung ditunjuk sebagai komisaris. Namun tak lama. Pada tahun 2009, Anas mengaku mundur dari jabatannya di dua perusahaan milik Nazaruddin tersebut. Namun demikian, kedekatan Anas-Nazar tak lekang. Terbukti, Nazaruddin menjadi sosok penting sebagai tim sukses kubu Anas, sehingga pada Kongres Partai Demokrat yang berlangsung pada Mei 2010 di Bandung, Anas terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, mengalahkan Andi Mallarangeng. Pada Juli 2010, Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menunjuk Nazaruddin sebagai Bendahara Umum. Sebagai Bendahara Umum, Nazaruddin benar-benar bisa diandalkan dalam hal membiayai kegiatan sang Ketua Umum. Setiap kegiatan yang dilakukan Anas, Nazar selalu memberikan dukungan dana. Termasuk biaya penyewaan pesawat yang menelan biaya miliaran rupiah per tahunnya. Konon, Nazaruddin menganggarkan Rp 10 milyar per tahun untuk mendukung kegiatan Anas (Ketua Umum PD) dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas (Sekjen PD).

Dari mana sumber dana Nazaruddin? Dari proyek-proyek pemerintah. Partai demokrat sebagai partai penguasa, tentu punya peluang yang lebih besar dibanding parpol lain di dalam mendapatkan proyek-proyek pemerintah. Konon, dalam setahun, Nazaruddin bisa menghimpun proyek-proyek pemerintah senilai Rp 42 triliun. Jika sepuluh persennya disalurkan untuk membiayai partai, maka setidaknya tersedia dana sekitar Rp 4 triliun lebih setiap tahunnya. Bagaimana cara menghimpun? Sebagai Ketua Umum partai penguasa, Anas selalu mengajak Nazaruddin setiap bertemu dengan menteri atau pejabat pemerintahan. Setelah dikenalkan, Nazar kemudian menindaklanjuti. Hasilnya, dengan mudah Nazaruddin mendapatkan proyek-proyek di pemerintahan. Begitulah modus operandi yang biasa dilakukan petinggi parpol. Inilah bentuk kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang terus berlangsung hingga kini. Ketika jadi mahasiswa dulu, Anas dan Andi Mallarengeng, boleh jadi ikut menyuarakan dihapuskannya KKN. Namun ketika mereka sudah berada di ranah politik, mereka tidak berdaya. Bahkan larut.

Trio Mallarangeng Fenomena Anas Urbaningrum, boleh jadi bagai puncak gunung es: masih banyak kasus serupa yang lebih dahsyat namun tidak terungkap media massa. Yang pasti, sistem yang korup, sampai kapan pun akan menumbuh-suburkan korupsi dalam berbagai bentuk. Tidak hanya sistemnya yang perlu diperbaiki, tetapi juga manusianya. Bila sosok manusianya masih doyan kemusyrikan, bid’ah dan sebagainya, boleh jadi ia tidak bisa membebaskan diri dari kecenderungan untuk korupsi dan menyalahgunakan wewenang. Kalau aturan Allah saja bisa dilanggar atau diabaikan, apalagi aturan manusia?
Jun2011 Posted by umarabduh in Jun 15,2011 Uncategorized

BUKTI KEBODOHAN HANUNG BRAMANTYO

UMAR ABDUH SALAH SATU UPAYA Hanung Bramantyo menjajakan paham sesat pluralisme agama melalui film “?” (tanda tanya) adalah menampilkan tokoh Rika yang karena kecewa dengan suaminya yang menempuh poligami, kemudian memilih

murtad (pindah agama) dari Islam ke Kristen. Dalam film itu digambarkan suami Rika adalah suami yang taat beragama. Meski Rika murtad, namun ia membiarkan putranya untuk mengaji, shalat dan berpuasa.

Gambaran seperti itu ternyata mendapat kritikan dari seorang wanita bernama Sirikit Syah (sirikitsyah@yahoo.com). Sirikit pada dasarnya tidak berminat menonton film tersebut, apalagi mengomentarinya. Namun karena di mailbox-nya terkirim e-mail dari Ade Armando yang mebincangkan film “?” (tanda tanya) Hanung Bramantyo, maka Sirikit pun tergerak. “…karena diposting oleh Bang Ade, terpaksa saya baca ceritanya. Lalu kutemukan sebuah keanehan…”

Ade Armando Keanehan pertama, menurut Sirikit, perempuan Islam tidak akan terkejut ketika tahu suaminya berpoligami, karena sudah tahu ada ayat yang mengizinkan, terlepas dia setuju atau tidak. Kedua, belum pernah terdengar oleh Sirikit ada perempuan Islam memilih murtad gara-gara suaminya berpoligami. Jadi, menurut Sirikit, film “?” (tandatanya) Hanung tidak valid memotret fakta.

Sirikit Syah Boleh jadi, Hanung mendasarkan tokoh Rika dari kisah nyata, dari sosok yang dia kenal atau pernah ditemui. Boleh jadi, memang benar ada wanita yang seperti itu, karena kecewa dimadu, maka menjadi murtad. Boleh jadi, melalui tokoh Rika Hanung sedang mencari sensasi, sehingga filmnya menjadi bahan pembicaraan, kontroversial dan ditonton banyak orang. Sekaligus, jadi pahlawan bagi para penganut pluralisme agama dan pembenci poligami. Selain itu, boleh jadi Hanung sedang melakukan ‘balas dendam’ karena pada film sebelumnya (Ayat-ayat Cinta), tanpa disadari ia sudah menggambarkan proses terjadinya poligami dengan manusawi dan menyentuh, sehingga membuat kesal para pembenci poligami. Pada film Ayat-ayat Cinta juga ada proses perpindahan agama, dari Kristen ke Islam sebagaimana diperankan oleh Carissa Putri yang aslinya memang beragama Islam.

Carissa Putri Bila pada film Ayat-ayat Cinta, seorang wanita Kristen yang diperankan Carissa Putri pindah agama menjadi Islam karena terkesan dengan akhlakul karimah sosok Fahri, maka di film “?” (tandatanya), sosok Rika pindah agama dari Islam menjadi Kristen karena suaminya poligami, yang dikonotasikan sebagai perbuatan tak baik versi penulis skenario yang kebetulan wanita non-Muslim. Dari sini kita sudah bisa menebak isi kepala Hanung: ia cenderung bermain-main dengan tema serius. Mungkin bagi Hanung, murtad hanyalah sebuah proses psikologis yang dialami seseorang yang lepas dari perspektif akidah. Tidak bisa disalahkan bila ada yang berkesimpulan bahwa sesungguhnya Hanung Bramantyo lebih condong menjajakan paham sesat pluralisme agama melalui media film, ketimbang membuat film tentang agama Islam sebagaimana pesan ibunya.

Di akhir komentarnya, Sirikit seperti menasehati: “Kalau Hanung ingin diingat sebagai pelawan kebodohan, janganjangan karena cacat skenario ini dia malah tampak bodoh.” Beberapa kasus Sejauh ini memang belum pernah ditemukan tentang seorang wanita yang pindah agama (murtad) akibat suaminya kawin lagi. Berdasarkan catatan media massa, kasus suami kawin lagi biasanya dibarengi dengan sikap balasan berupa gantung diri (bunuh diri), berperilaku aneh, berperilaku menyimpang, menghabisi suami, membunuh bayinya sendiri, menggugat cerai, dilaporkan ke polisi, dan sebagainya. Semua tindakan itu jelas-jelas dilarang agama, dan tidak dibenarkan secara hukum positif yang berlaku. Dari Tangerang, terbetik kabar tentang seorang wanita berusia 30 tahun bernama Nurlely yang ditemukan tewas gantung diri karena suaminya kawin lagi. Saat itu Nurlely sedang mengandung enam bulan. Jasad Nurlely pertama kali ditemukan suaminya pada pukul 09:00 wib, tergantung di dapur rumah kontrakan mereka di RT 06 RW 05, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Hari itu juga, Senin 25 April 2011, jasad Nurlely dibawa ke RSUD Tangerang untuk dilakukann otopsi. Zuldes (40 tahun), suami Nurlely, berprofesi sebagai supir angkot, setelah kawin lagi kerap pulang pagi. Namun, tetangga tidak pernah melihat Nurlely dan Zuldes bertengkar, sejak menempati rumah kontrakannya, tujuh bulan belakangan. (http://www.detiknews.com/read/2011/04/25/144520/1624748/10/suami-kawin-lagi-wanita-hamil-6-bulan-gantung-diri) Beberapa tahun sebelumnya, modus gantung diri juga dilakoni oleh Surtini (saat itu 35 tahun), warga Kampung Cibahu, Desa Beberan Kecamatan Walantaka, Serang, Banten. Wanita beranak tiga ini nekat gantung diri pada tanggal 01 Juli 2007 sekitar pukul 05:00 wib karena suaminya kawin lagi. Jasad Surtini perama kali ditemukan Sri Sulastri, anak sulungnya yang saat itu berusia 14 tahun. Sri Sulastri sontak menjerit melihat jasad ibunya tergantung di pintu kusen kamarnya. Surtini gantung diri menggunakan sehelai kain yang biasa digunakan untuk menggendong anak bungsunya. (http://www.radarbanten.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=13251) Di Jember, pada hari selasa tanggal 15 Februari 2011, warga kawasan pantai Pancer Puger menggerebek sebuah rumah di Sultan Agung 47, karena diduga terjadi pesta sex. Pelaku utamanya janda beranak tiga bernama Devita (32 tahun). Saat digerebek, Devita dalam pengaruh pil koplo dan sedang berpesta sex dengan lima lelaki (Robi, Lukman, Fendi, Fendik, dan Arif). Ia mengakui sudah beberapa kali menggelar pesta sex. Perbuatan ini dilakukan Devita sejak ia kecewa karena

suaminya kawin lagi di Malaysia. (http://www.wartajember.com/peristiwa/667-suami-kawin-lagi-devita-nekad-pestasex.html) Bila Devita melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan perzinahan berupa pesta sex, di Jakarta, Yeti nekat memanjat salah satu atap koridor busway di Jalan S. Parman, Grogol, Jakarta Barat, karena suaminya kawin lagi. Perilaku aneh itu dilakukan Yeti pada hari Kamis tanggal 22 Februari 2010, siang hari. Di atas atap koridor busway Yeti sesekali menari-nari. Setelah berulangkali dibujuk, Yeti akhirnya mau turun dan mengakhiri aksinya. (http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/04/22/103934) Masih di Jakarta, kali ini terjadi pada Muryani yang bertempat tinggal di Gang Makmur RT09/02, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Karena kecewa dengan suaminya yang melanggar janji untuk tidak berjudi dan kawin lagi, akhirnya Muryani pada tanggal 11 Oktober 2010 lalu menghabisi suaminya, Karyadi (saat itu 53 tahun), dengan cara dimutilasi. Usai memutilasi jasad Karyadi, Muryani membuang potongan tubuh suaminya itu ke Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pada tanggal 13 Oktober 2010, potongan kepala Karyadi ditemukan di pintu air Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur. (http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/10/176553/7/5/Pelaku-Mutilasi-Sakit-Hati-karena-Suami-KawinLagi) Di Pekanbaru, seorang wanita berinisial NW (saat itu 38 tahun) melaporkan suaminya ke Mapoltabes Pekanbaru, Rabu 21 Juli 2010, karena setelah menikah lagi sang suami tidak menafkahi lahir-batin NW dan ketiga anaknya. Menurut Kabid Humas Polda Riau saat itu AKBP Drs Zulkifli MH, hal itu merupakan suatu pelanggaran hukum dari seorang suami yang tidak bertangung jawab. Apalagi, ketika menikah lagi, Desember 2009, sang suami mengatakan kepada istri barunya bahwa ia telah bercerai dengan NW. (http://pekanbarumx.net/content/view/2676/53/) Beberapa tahun lalu di Banyumas, Jawa Tengah, Sartiyem yang menaruh dendam kepada suaminya yang kawin lagi, justru membunuh bayi yang baru dilahirkannya. Peristiwa ini terjadi pertengahan Februari 2006. Sartiyem adalah warga Gunung Sindang, Desa Karang Kemiri, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. Ia tidak lagi diperhatikan suaminya yang kawin lagi, termasuk saat Sartiyem sedang mengandung 9 bulan. Ketika bayi lahir, Sartiyem langsung mencekik dan membuang bayinya itu ke kali. Pada 15 Februari 2006, warga sekitar menemukan jasad bayi Sartiyem di kali. (http://www.indosiar.com/patroli/48297/suami-menikah-lagi-istri-nekad-membunuh-bayinya) Suami yang kawin lagi tidak hanya mengundang reaksi sang istri, tetapi juga salah satu anak mereka. Hal ini sebagaimaan terjadi di Tangerang Selatan baru-baru ini. Mahyudin (52 tahun) dibakar hidup-hidup oleh anak kandungnya sendiri Sadikin (22 tahun). Peristiwa tragis ini terjadi pada hari Senin tanggal 25 April 2011 sekitar pukul 21:00 wib. Sadikin merasa kesal karena sang ayah sejak kawin lagi tidak bertangung jawab terhadap keluarga istri tuanya. (http://www.detiknews.com/read/2011/04/26/175519/1626166/10/mahyudin-dibakar-anak-karena-kawin-lagi) Kejadian-kejadian di atas tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam dan ketentuan hukum positif yang berlaku. Sejauh ini memang belum ditemukan pemberitaan tentang wanita yang memilih murtad ‘hanya’ karena suaminya kawin lagi. Boleh jadi Hanung berpendirian memilih pindah agama (murtad) masih lebih baik daripada membunuh atau bunuh diri, sebagaimana dituangkan dalam film “?” (tandatanya). Boleh jadi, pesan seperti itulah yang disampaikan Hanung kepada khalayak penonton film garapannya. Kedewasaan Hanung memang belum menonjol pada film-film garapannya. Barangkali akan lebih tepat bila Hanung menggarap tema kanak-kanak yang kaya imajinasi dan andai-andai, sehingga tidak terkesan seperti orang yang sedang belagak bodoh. Jun2011 Posted by umarabduh in Jun 30,2011 Uncategorized

INSIDEN JALAN KETAPANG NOVEMBER 1998

Majalah Panji Masyarakat No. 33 Tahun II, 02 Desember 1998, hal. 75-76 Nasional LAGI, MASSA TERSULUT Insiden Ketapang: Bermula dari berebut lahan parkir, bentrok antara pemuda dan preman berlanjut menjadi kerusuhan massal. Mengapa massa mudah terpancing isu SARA? Hingga Senin sore suasana mencekam masih menyelimuti RT 06 RW 01 Ketapang, Kelurahan Petojo Utara, Jakarta Pusat. Tak ada aktivitas yang terlihat seperti biasa dalam perkampungan tersebut. Beberapa rumah tampak lengang ditinggalkan penghuninya sejak pecahnya kerusuhan pada Ahad dini hari lalu. Sejumlah pemuda tampak berjaga-jaga di sepanjang mulut gang Jl. Ketapang hingga depan rumah masing-masing. Hampir semuanya melengkapi diri dengan berbagai senajat tajam, seperti samurai, golok, celurit, dan bambu runcing. Penjagaan kian ketat dilakukan di sekitar Masjid Jami’ Khairul Biqa’. Di depan masjid tampak beberapa pemuda duduk sambil berjaga-jaga. Di tangan mereka tampak sebuah tongkat dengan sebuah pisau atau celurit yang dikatkan pada ujungnya.

Terhadap warga asing yang datang pun mereka menaruh curiga dan kurang bersahabat. Setiap orang asing yang hendak memasuki kawasan tersebut ditanyai identitas dan maksud kedatangannya. Setelah yakin barulah orang asing diizinkan masuk, termasuk wartawan. Sikap untuk selalu siaga memang merupakan anjuran pemuka masyarakat setempat. Terlebih setelah beredar kabar akan ada serangan balik pada malam harinya. “Maklum Mas, soalnya masyarakat masih waswas. Pengalaman di Tanah Abang membuat kami serba berhati-hati,” ujar Mochtar Wiganda, ketua RT 06 RW 01 Ketapang saat ditemui Panji. Sekitar 200 meter keluar dari gang tersebut ke arah kanan, tepatnya di Jl. Zainul Arifin No. 11, tampak bangunan berlantai tiga yang telah menghitam. Dikelilingi police line, pusat bola tangkas Mickey Mouse Enko itu masih dijaga ketat sejumlah aparat dari Polres Jakarta Pusat. Dari sinilah amuk massa di kawasan Jakarta Pusat yang terjadi sepanjang Ahad lalu bermula. Saat itu Ivan, pemuda warga Jl. Pembangunan IV –masih wilayah Petojo Utara namun berjarak beberapa ratus meter dari Ketapang– sekitar pukul 02.00 dini hari bertikai dengan seorang preman penjaga gedung tersebut. Pertengkaran

bermula dari perebutan lahan parkir antara keduanya. Pertikaian kian memanas saat Zaenudin, bapak Ivan, yang juga anggota hansip setempat ikut terlibat. Pasalnya, Zaenudin tidak terima anaknya menjadi bulan-bulanan para preman. Ia lalu mendatangi para preman itu. Namun rupanya kedatangan Zaenudin justru disambut bogem mentah dari centeng gedung tersebut. “Kami anggap pertikaian itu selesai. Karena telah dilerai dan terjadi kesepakatan damai,” tutur Mochtar. Tak disangka, aksi damai itu hanya berlangsung sesaat. Hanya selang beberapa jam sekitar pukul 06.30 WIB, menurut pengakuan warga setempat, ratusan preman mendatangi kampung Ketapang. Sembari menantang, para preman itu mengamuk dan melempari rumah-rumah penduduk. “Bahkan sebuah sepeda motor yang pagi itu diparkir di halaman rumah salah seorang warga ikut dibakar,” ujar Mochtar. Aksi pelemparan para preman itu kemudian mengenai kaca Masjid Khairul Biqa’. Melihat kaca masjid pecah, kontan emosi warga meledak. Hingga kemudian bentrok fisik antara preman dan warga setempat tak terelakkan. Puluhan pemuda dan warga segera merangsek maju menyerang preman. Bahkan salah seorang preman bernama Tahan Manahan Simatupang (22) sempat tertangkap warga setelah babak belur dihajar.

Entah dari mana mulanya, yang jelas isu pembakaran masjid di kawasan Ketapang dengan cepat menyebar. Dan segera saja membuat banyak massa dari kawasan Telukgong, Tanjung Priok, Tanah Abang, Tambora, dan Tengarang berdatangan. Massa yang membawa berbagai macam senjata tajam seperti samurai, golok, celurit, pisau, dan bambu runcing terus mengamuk. Pasukan anti huru-hara PHH dari Kodam Jaya dan Yon 202 Jakarta yang didatangkan tak mampu mengendalikan massa sehingga amuk massa dengan cepat meluas.

Mereka mendatangi gedung Mickey Mouse Enko dan membakarnya. Gereja Kristus Ketapang yang terletak persis di sebelahnya tak luput dari amukan massa. Rumah ibadah beserta gedung Yayasan Pendidikan kristen SLTP Kristen Ketapang I itu pun hangus dilalap api. Ikut terbakar pula sebuah mobil Suzuki Carry di depan gedung SLTP dan dua sepeda motor yang terletak di belakang gereja. Tak puas, massa terus memburu dan menghajar para preman yang terkepung hingga tewas. Bahkan beberapa di antaranya tewas, dalam kondisi yang mengenaskan. Massa juga mengepung gedung Plaza Gajah Mada yang diduga sebagai tempat persembunyian para preman. Pusat pertokoan ini pun menjadi sasaran amuk massa. Mujur, sekitar pukul 10.30 WIB pasukan Marinir yag diterjunkan ke lokasi dapat menghalau massa hingga upaya penjarahan dapat dihindari. Sebagian massa yang lain bergerak menuju kawasan sekitarnya. Lantas mencoba membakar dan merusak Gereja HKBP di Jl. Kiai Patah, Gereja Pantekosta di Jl. Perniagaan, Gereja Sidang Jemaat Allah di Jl. Bandengan, Gereja Santo Antonius Jl. Taman Sari, Gereja Kristen Bethel Indonesia, dan Gereja Katolik Kemakmuran. Amuk massa juga berusaha merusak

Gereja Katedral di Lapangan Banteng, namun sempat dihalau aparat. Tetapi massa sempat membakar sejumlah ruang di Sekolah Santa Ursula yang terletak di belakang gereja tersebut. Massa juga merusak Gereja Bakti Elis di Jl. Susilo Grogol dan Gereja Bala Keselamatan Jl. Mangga Besar. Bahkan sejumlah toko di Roxi Mas, Pasar Baru, dan sepanjang Gunung Sahari sempat dirusak massa. Hotel Permata di Jl. Sukarjo Wiryopranoto pun tak luput dari aksi perusakan. Amuk massa ini juga diikuti dengan aksi penjarahan yang sempat terjadi di sejumlah ruas jalan tol dalam kota. Menjelang malam, aksi perusakan dan pembakaran mulai reda. Akibat amuk massa tersebut, hingga Selasa (24 November) tercatat korban meninggal sebanyak 13 orang. Enam orang meninggal akibat benda tajam saat terjadi bentrok antara massa dan preman. Mereka adalah Stevi Viktor Subit Mele (21) warga kampung Muara Bahari Gang Samudra RT 11/014 Tanjung Priok, Jakarta Utara; Jimmi S. (35) warga Jl. Cikunir Indah No. 2 Blok C II Bekasi Selatan; Izhak Kaihatu warga Cililitan Besar, Kelurahan Kramat jati, Jakarta Timur; Yunas Mustam; Jefry Yelaury dan Tahan Manahan Simatupang warga Rawasari Barat 10 RT 01/04 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Timur. Sedang tujuh orang lainnya yang ditemukan hangus di dalam gedung Enko adalah karyawan arena ketangkasan bola tersebut. Masing-masing adalah Agus, Jumi, Antoni, Hermawan, Jusuf, Frendi, dan seorang lainnya yang belum diketahui identitasnya. Korban lainnya adalah empat orang menderita luka bacok, yakni Roni Kurniawan (20) dan Muhammad Urfan (17), keduanya warga Ketapang, serta Dandim 0501 Jakarta Pusat Letkol (Inf.) Susiswo Widodo yang saat itu berusaha mengendalikan massa terpaksa dilarikan ke rumah sakibat akibat luka pada bagian kepalanya. Delapan orang lainnya diketahui luka-luka. Guna menghindari bretambahnya jatuh korban, sebanyak 185 orang penduduk setempat terpaksa dievakuasi. Bentrok fisik itu juga mengakibatkan empat gereja dibakar, 12 lainnya dirusak, sebuah hotel dirusak. Kerusakan lainnya meliputi tiga sekolah, satu kantor Koramil, satu masjid, tujuh rumah warga, empat kantor bank, dan empat unit mesin dingdong. Selain itu, sembilan mobil dirusak dan 23 lainnya dibakar, dua buah sepeda motor dirampas dan satu dirusak. Atas kejadian tersebut, berbagai pihak mengungkapkan penyesalannya. Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengimbau semua pihak agar tidak terpancing isu SARA. Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta juga menyerukan hal senada kepada umatnya. Dalam pernyataan yang ditandatangani A.B. Susanto, ketua umumnya, mengharap masyarakat Katolik tetap tenang. Sementara itu melalui Mensesneg Akbar Tandjung, Presiden Habibie berjanji membangun kembali rumah ibadah dan sekolah yang rusak. Pertanyaannya apakah itu solusinya? Terlebih jika persoalannya adalah ketidakmerataan resources yang bukan saja terjadi secara vertikal tetapi horizontal, seperti diungkapkan sosiolog Sardjono Jatiman. Menurutnya, kesenjangan horizontal ditambah akumulasi persoalan akibat krisis ekonomi menjadi potensi terjadinya konflik kekerasan. “Sumbu yang paling tepat adalah komponen SARA,” tutur dosen UI ini. Sintesis Sardjono ditambah pernyataan Gus Dur yang menengarai adanya upaya memecah belah persatuan bangsa melalui kasus Ketapang, agaknya tak dapat diabaikan. Untuk itu pemerintah sudah selaiknya mendengar aspirasi berbagai unsur masyarakat yang tergabung dalam deklarasi di kantor YLBHI Selasa siang yang menghendaki kasus ini diusut tuntas. Dalam deklarasi yang ditandatangani Matori Abdul Djalil (PKB), Faisol (PRD), Sarwono Kusumaatmadja (GKPB), Arnold M. (Solidaritas Nusa Bangsa), Helmi Faisal (AMNU), Dadang Trisasongko (YLBHI), Said Agil Siradj (PBNU), Dr Med Ciptaning (Komite Peduli Megawati), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia itu antara lain menyerukan agar

rakyat Indonesia tetap bersatu. Deklarasi ini juga mengutuk sasaran agama sebagai legitimasi untuk menghancurkan agama lain. Jul2011 Posted by umarabduh in Jul 22,2011 Uncategorized NAZARUDDIN, KORUPSI DAN GIZI BURUK

BEBERAPA HARI BELAKANGAN INI nama yang sering disebut-sebut media massa cetak dan elektronik adalah Nazaruddin. Sosok muda ini diduga terlibat kasus suap-menyuap pembangunan wisma atlet SEAGames XXVI Jakabaring, Palembang. Suap-menyuap adalah kata lain untuk tindak korupsi.

Proyek pembangunan wisma atlet tersebut, konon bernilai Rp 191 milyar. Sedangkan dana suap-menyuap yang disediakan hampir Rp 40 milyar. Persisnya, sebesar Rp 39.960.000.000 (tiga puluh sembilan milyar sembilan ratus enam puluh juta rupiah).

MOHAMAD EL IDRIS Angka-angka itu mencuat dari dakwaan jaksa penuntut umum pada persidangan Mohammad El Idris (13 Juli 2011), manajer pemasaran PT Duta Graha Indah yang memenangkan tender pembangunan wisma atlet tersebut. Dari sejumlah penerima dana suap, hanya Alex Noerdin (Gubernur Sumatera Selatan) yang belum terlaksana.

WAFID MUHARAM Bagian Nazaruddin sebesar 13% dari nilai proyek atau sekitar Rp 24.830.000.000, dan ini merupakan bagian terbesar, telah disalurkan secara bertahap sejak Februari 2011. Sedangkan bagian Wafid Muharam sebesar 2% atau sekitar Rp 3.820.000.000 telah diserahkan kepada yang bersangkutan pada bulan April 2011. Bagi-bagi uang suap itu sudah berlangsung sejak Desember 2010.

Kalau benar uang sebesar itu (sekitar hampir 40 milyar) dari total Rp 191 milyar nilai proyek, merupakan bagian yang lumrah untuk dibagi-bagi kepada sejumlah pejabat yang terkait dengan proyek itu, maka bisa dibayangkan betapa banyaknya uang lumrah seperti itu digelontorkan untuk para pejabat terkait, dari seluruh proyek yang ada di negara kita. Kalau satu proyek menengah saja bisa menghasilkan uang lumrah hampir Rp 40 milyar, maka dari mega proyek bernilai ratusan milyar atau triliunan rupiah tentu akan menghasilkan uang lumrah yang jauh lebih banyak lagi. Dan uang yang sangat banyak itu masuk ke kantong pribadi para pejabat yang sudah punya penghasilan tetap, tunjangan dan fasilitas, serta kelak mendapat uang pensiun. Sementara itu, rakyat kebanyakan, yang tidak punya penghasilan tetap, tidak memperoleh fasilitas, apalagi uang pensiun, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja kesulitan, sampai-sampai anak balita mereka mengalami malnutrisi energi protein (MEP) alias kekurangan gizi, bahkan hinga mencapai gizi buruk (MEP berat). SECUPLIK KASUS GIZI BURUK

Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, ada tiga penyebab gizi buruk, pertama, anak penderita gizi buruk kekurang makanan. Kedua, anak menderita sakit. Ketiga, ketidakmampuan orangtua memberi makanan yang bergizi kepada anak, meski makanan tersebut tersedia. Penyebab ketiga ini, sebagaimana terjadi pada balita bernama Husein Surya, anak dari Yusrawati, warga Padang Lawas, Sumatra Utara. Balita Husein Surya kian hari kian kurus dengan perut kian buncit, karena Yusrawati sang ibu tidak mampu membelikan makanan bergizi yang diperlukan balitanya. Suami Yusrawati merantau mencari kerja, dan sesekali mengirim sejumlah uang yang tidak tentu jumlahnya, namun seringkali tak mencukupi. Sehingga, manakala Yusrawati tidak mampu membeli beras, ia hanya bisa memberikan Husein Surya beberapa keping biskuit berharga Rp 500 sebungkus, dan air putih. Tetanga kiri-kanan tak bisa membantu, karena sama-sama kekurangan. (liputan6.com edisi 21 September 2010).

SYAWAL Di Polewali Mandar, batita bernama Syawal hanya disuguhi segelas kopi oleh sang Nenek (Tasia), karena tak mampu membeli susu. Sejak ibunya (Hasna) meninggal dunia, Syawal diasuh sang Nenek. Ayah Syawal yang bekerja sebagai tukang batu, tidak diketahui rimbanya. Syawal warga Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Maret lalu berusia 15 bulan dengan berat badan hanya lima kilogram. Padahal, ketika lahir berat badan Syawal normal yaitu 2,9 kilogram. Sehari-hari Syawal tergolek lemah, dan terus menangis di pangkuan sang nenek. (liputan6.com edisi 02 Maret 2011). Di Sampang, Madura, ada balita berusia empat tahun bernama Umi Salamah yang selain mengidap gizi buruk juga menderita lumpuh dan buta sejak usia tiga tahun. Umi Salamah adalah putri dari pasangan Holifah dan Markasan, sejak lahir hingga berusia tiga tahun hidup normal. Pada suatu ketika, Umi Salamah mengalami kejang-kejang dan muntah. Namun karena tidak ada biaya, oangtuanya tidak membawa Umi ke dokter. Sejak saat itu, berat badan Umi tidak bertambah, hanya sembilan kilogram pada usia 4 tahun.

UMI SALAMAH Sebenarnya Umi Salamah pernah dibawa ke RSUD Soetomo Surabaya, namun karena tidak ada biaya, kembali ke rumah setelah hampir sepekan dirawat. Keadaan Umi kian buruk pasca perceraian kedua orangtuanya. Sang Ibu, mencari nafkah keSurabaya, sehingga Umi Salah dirawat oleh kakek dan neneknya. Sehari-hari Umi hanya bisa terolek lemah di bilik bambu kediaman kakeknya. (liputan6.com edisi 11 Maret 2011).

Di Ternate, Maluku Utara, ada Marlina Fabanyo balita berusia 4 tahun yang menderita gizi buruk. Menurut Masyita, sejak usai satu tahun Marlina tidak mendapat perawatan serius. Sehingga, mengalami gizi buruk. Kondisi Marlina memprihatinkan. Bila tersentuh seseorang, Marlina merintih kesakitan, karena menahan rasa sakit yang dideritanya. Untuk biaya makan sehari-hari saja, Masyita kesulitan, apalagi biaya untuk berobat. Meski tetangga kiri-kanan sudah mengumpulkan dana untuk membawa Marlina berobat ke RSUD Chasan Bisorie, namun itu jauh dari cukup untuk menutupi biaya perawatan. (okezone.com edisi 08 April 2011). Di Serang, Banten, ada Efi Afrilia (4 tahun) penderita gizi buruk yang meninggal dunia pada10 April 2011. Efi menderita gizi buruk sejak lima bulan sebelumnya. Kondisi tersebut diketahui orangtua Efi ketika memeriksakan sang anak di Posyandu terdekat. Orangtua Efi sudah empat kali bolak-balik ke RSUD Serang, namun karena tidak ada biaya dan tidak

punya jamkesda, Efi tidak bisa dirawat di rumah sakit. Akhirnya dibawa pulang ke rumah di Kampung Baru, Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Namun Efi akhirnya meninggal dunia.

EFI AFRILIA Orangtua Efi, Jamil, sehari-hari bekerja sebagai pemulung, dengan penghasilan per hari hanya Rp 20.000. Sedangkan ibunya, Titik Fatmawati, menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi, sejaklimabulan sebelumnya. Kakak Efi, Harni Sahara (6 tahun), menunjukkan gejala yang sama, yaitu sering batuk dan panas. Persis seperti Efi sebelum meninggal. (tempointeraktif.com edisi11 April 2011). Di Wates, Kediri, Jawa Timur, ada Adi Purwanto (10 tahun) yang menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 7,9 kilogram. Adi Purwanto merupakan anak dari pasangan Erik Nuryanto dan Siti Khusnul, warga desa Duwet, Kecamatan Wates, yang mengalami gangguan pertumbuhan sejak berusia 7 bulan, meski ketika lahir ia tumbuh normal. Erik bekerja sebagai sebagai sopir di luar Jawa, sedangkan Siti Khusnul bekerja sebagai TKW di Singapura. Adi sehari-hari dirawat oleh Giyem sang nenek.

ADI PURWANTO Adi Purwanto termasuk beruntung, karena ia bisa dirawat di RSUD Pare. Menurut Ahmad Raziq (Kepala Bagian RSUD Pare), Adi menderita gangguan syaraf otak sehingga asupan gizinya berkurang. Akibatnya, berat badan Adi tidak dapat bertambah dengan sempurna. Meski sangat sulit untuk memulihkan kondisi Adi seperti semula, namun menurut Ahmad Raziq penderitaan Adi bisa dikurangi dengan cara terapi agar semua anggota badannya berfungsi. (okezone.com edisi 18 Juni 2011)

Di Nias, Sumatera Utara, ada Gefnia Gulo (4 tahun) warga Desa Zuzundrao Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat Sumatera Utara, yang berbobot hanya 6,7 kilogram. Jauh dari berat ideal, sehingga Gefnia terlihat sangat kurus, tulang belikat menyembul keluar. Tangan dan kaki Gefnia yang kurus tidak bisa digerakkan. Hanya bola matanya sesekali bergerak ke kiri dan kanan, dengan tatapan suram. Gefnia kini dirawat di balai pengobatan Faomasi Santa Margaretha Kompleks Laverna Gunungsitoli. Gefnia berasal dari keluarga tak mampu. Ayahnya, peminta-minta yang menderita lumpuh akibat penyakit polio. Ibunya juga dalam kondisi sakit dan tak sadarkan diri. (okezone.com edisi 27 Juni 2011)

AWALUL RAHMAT dalam gendongan SOFIA FATTAH Di Muara Bulian, Jambi, ada Awalul Rahmat (5 tahun), bocah penderita gizi buruk putra dari Emi dan Asmadi. Ketika lahir, Awalul Rahmat dalam kondisi normal, dengan berat badan 3,5 kilogram. Namun perkembangan selanjutnya, Awalul Rahmat divonis mengidap gizi buruk oleh dokter di RSUD Hamba, Muara Bulian. Emi dan Asmadi merasa sudah berbuat banyak agar anaknya tetap sehat. Bahkan harta mereka terkuras untuk biaya berobat Awalul Rahmat selamalimatahun belakangan. Awalul Rahmat termasuk yang beruntung, karena mendapat perhatian dari istri Bupati Batanghari, Sofia Fattah, yang berjanji akan mengucurkan dana pribadinya jika di Pemkab Batanghari tidak tersedia alokasi dana untuk itu. (jambi.tribunnews.com edisi 30 Juni 2011)

Di Pasaman Barat, Sumatera Barat, ada Wafiatul Ahdi (4,5 tahun) putri pasangan Maswan (43 tahun) dan Misbah (43 tahun), warga jorong Simpang Rabat, Kecamatan Parit Koto Balingka. Berat badan Wafiatul hanya 8 kilogram, jauh dari

bobot ideal. Kondisi gizi buruk yang dialami Wafiatul sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, saat mereka membawa Wafiatul berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Kecamatan Parit Koto Balingka, Pasbar.

Misbah, orangtua Wafiatul bekerja sebagai buruh serabutan, dengan penghasilan sebesar Rp 40 ribu per hari. Dengan penghasilan sebesar itulah Misbah menghidupi keluarganya yang berjumlah 8 orang. Misbah dan Maswan beserta anakanak mereka tinggal di rumah kayu sederhana berukuran 5×5 meter, dengan atap terbuat dari daun rumbia. (padangekspres.co.id edisi 14 Juli 2011)

WAFIATUL saat dikunjungi BAHARUDDIN R (Bupati Pasaman Barat) Wafiatul termasuk yang beruntung, karena ia mendapat perhatian dari Baharuddin R (Bupati Pasaman Barat). Saat itu Wafiatul dirawat di RSUD Jambak, Kecamatan Luhak Nanduo. Menurut Aris Tejo Priharjo (Kepala RSUD Pasbar), berdasarkan diagnosa dan pemeriksaan intensif, Wafiatul bukan menderita penyakit gizi buruk, melainkan menderita penyakit Microsepal, yakni penyakit pengecilan pada otak, yang dibawa sejak dalam kandungan dan mengakibatkan pertumbuhan tubuhnya tidak normal. (padangekspres.co.id edisi 14 Juli 2011) Apapun alasannya, yang jelas itu semua terjadi karena mereka miskin, sehingga tidak punya kemampuan membeli makanan yang bergizi dan berprotein cukup untuk dikonsumsi oleh si ibu saat hamil. Bahkan kemiskinan itu pula yang

menyebabkan orangtua Wafiatul dan orang-orang senasibnya tidak mampu berobat ke dokter, termasuk ke Puskesmas yang relatif murah. Boleh jadi, kemiskinan yang terjadi di sana-sini hingga anak-anak pun mengalami kelaparan hebat yang istilahnya menderita gizi buruk yang sangat mengenaskan itu merupakan dampak langsung dari korupsi yang membudaya, yaitu sebuah perilaku kolektif yang sudah menjadi bagian dari kaidah demokarasi kita. Maksudnya, di dalam kaidah demokrasi, sesuatu yang disepakati bersama, menjadi boleh meski ia bertentangan dengan ajaran agama. Maka, korupsi pun berganti nama menjadi gratifikasi, uang kerohiman, uang rokok, dan sebagainya. NIKITA WILLY, ICON KEMEWAHAN DI TENGAH KEMISKINAN BETAPA BERUNTUNGNYA NIKITA WILLY, gadis kelahiran Jakarta 29 Juni 1994, putri pertama pasangan Henry Willy dan Yora Febrine asal Minang ini, pada saat merayakan ulang tahun ke-17 mendapat hadiah sebuah mobil mewah seharga Rp 3,4 milyar. Mobil mewah Cadillac Escalade ESV berwarna putih ini merupakan salah satu kendaraan termewah di dunia yang lazim dimiliki selebriti Hollywood.

NIKITA WILLY Hadiah mewah itu diterimanya dari sang kekasih bernama Bara Tampubolon (kelahiran Jakarta tahun 1985), putra pengacara kondang Juan Felix Tampubolon yang banyak memangani kasus-kasus keluarga Cendana.

Kado mewah Cadillac Escalade ESV seharga Rp 3,4 milyar Nikita disebut beruntung, karena banyak anak-anak Indonesia seusianya yang boro-boro bisa bermimpi punya mobil mewah seharga milyaran rupiah, bisa bermimpi mampu bayar uang keperluan sekolah saja rasanya cukup sulit.

Logo Kabupaten SRAGEN Misalnya, sebagaimana terjadi pada seorang gadis belia berusia 16 tahun bernama Ari Setyani, siswi kelas X jurusan Tata Boga SMKN 1 Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini, tidak bisa mengambil buku rapor semester ganjil karena belum melunasi uang gedung sebesar ‘hanya’ Rp 800.000, meski ia termasuk salah satu siswi berprestasi. Suyono (46 tahun), orangtua Ari Setyani, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Dana sebesar itu, bagi mereka tidaklah sedikit. Namun Suyono tidak lari dari tanggung jawab. Suyono sudah berdialog dengan pihak sekolah untuk diberi tempo yang cukup memenuhi kewajiban membayar uang gedung. Namun menurut Suyono, “…pihak sekolah tetap ngotot kalau rapor anak saya baru bisa diambil setelah uang gedungnya lunas. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana…” Karena kecewa, akhirnya Suyono mengadu ke LSM Formas (Forum Masyarakat Sragen) pada hari Ahad tanggal 03 Januari 2011. Bila pengaduan Suyono benar, menurut Sri Wahono (Wakil Ketua Formas), “… tindakan pihak sekolah

seperti itu telah mencoreng dunia pendidikan, seharusnya pihak sekolah tidak bertindak sewenang-wenang terutama bagi wali murid yang tidak mampu, apalagi pihak walimurid sudah menyatakan kesanggupan menutup biaya, meski masih butuh waktu.” Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sebuah lembaga pendidikan madrasah dinyatakan bubar akibat orangtua murid tidak mampu membayar biaya sekolah. Sejak pertengahan Desember 2010, proses belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatus Sibyan, yang berlokasi di Jalan Syech Muhammad Arsyad Albanjari Desa Limamar Kecamatan Astambul ini, sudah tidak menentu, karena orangtua murid tidak mampu memenuhi biaya operasional sekolah untuk membayar gaji atau insentif tenaga pengajar. Di lembaga pendidikan swasta ini, ada sekitar enam orang tenaga pengajar, ditambah seorang kepala sekolah, dan jumlah siswa-siswi mencapai 130 orang. Sistem pembayaran yang diterapkan adalah setiap murid menyerahkan sekitar 20 liter gabah satu tahun sekali atau setiap panen. Gabah yang terkumpul kemudian dijual, dan hasil penjualan berupa uang tunai dibagikan kepada seluruh tenaga pengajar yang ada. Termasuk untuk menutupi biaya operasional. Namun karena hasil pertanian di sana mengalami penurunan drastis, maka sistem pembayaran dengan gabah macet. Biaya operasional sekolah pun tak bisa dipenuhi. Menurut Darmili (Ketua Majelis Madrasah Hidayatus Sibyan), Jumat 21 Januari 2011, pihaknya sudah menyampaikan permasalahan yang terjadi di lembaga pendidikan Islam ini kepada aparatur desa, dan konon sudah ada pertemuan lanjutan untuk membahas permasalahan yang ada. Dari sekitar 130 siswa-siswi, sebagian memilih pindah sekolah, sebagian besar lainnya terancam putus sekolah karena orangtua mereka yang tak mampu. Di Demak, Jawa Tengah, ada remaja pria bernama Shobar tak mampu membayar ujian akhir termasuk ujian nasional sebesar Rp1.904.000 karena tak terjangkau. Shobar adalah warga RT 7 RW 3 Desa Menur, Kecamatan Mranggen, Demak, Jawa Tengah, yang menjadi siswa di jurusan Multimedia SMK Al Kautsariyah, Desa Jamus, Mranggen. (Okezone, Selasa, 15 Maret 2011).

Shobar dan Lianah Orangtua Shobar, Lianah (58 tahun) adalah janda beranak delapan, dan Shobar merupakan anak bungsunya. Kegiatan sehari-hari Lianah adalah membuat Tali Tampar dengan penghasilan per hari sebesar Rp 6.000. Meski sudah dibantu oleh anak-anaknya, termasuk Shobar, biaya sebesar hampir dua juta rupiah itu bagi Lianah dan keluarganya sangatlah besar. Di kawasan Sukawati, Bali, tiga siswa-siswi SMK Saraswati terpaksa dipulangkan karena tidak mampu bayar SPP. Mereka adalahNovi, I Wayan Jariana dan Kerta Wiyoga, semuanya siswa kelas satu. Selain dipulangkan, ketiganya juga tidak dibenarkan mengikuti ujian semester sebelum melunasi SPP. Selain di SMK Saraswati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali ini, kasus serupa juga terjadi di Buleleng dan Karangasem. Menurut I Nyoman Parta (anggota DPRD Provinsi Bali), sikap pihak sekolah sungguh keterlaluan. “Seharusnya, pihak sekolah sebelum melakukan itu dapat menempuh jalan musyawarah terlebih dahulu.” (bali.antaranews.com, 23 Mei 2011). Di Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat), ada sebuah keluarga super miskin yang sebagian anak-anaknya dari enam anak sama sekali tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Tiga lainnya, sempat menikmati bangku sekolah berkat bantuan sebuah lembaga pemerhati pendidikan dan anak telantar. Namun ketiganya terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena tidak mampu membayar biaya seragam yang besarnya ‘hanya’ Rp 500.000 per anak (untuk empat jenis seragam: putih merah, batik, olahraga dan pramuka).

Rumah reot Sahawiyah dan enam anaknya Sahawiyah, ibu enam anak yang tinggal di sebuah gubuk reot yang jauh dari permukiman warga dan berbatasan dengan hutan di Kelurahan Ammassangang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hanya bisa pasrah: “Saya, sih, maunya semua anak saya tidak ada yang buta huruf seperti saya dan bapaknya. Tapi karena kami tak mampu, ya, kami terima apa adanya saja.” Begitu juga dengan Hasniwati salah satu anak Sahawiyah yang baru saja tamat SD, hanya bisa pasrah: “Kalau tidak bisa lanjut, ya, terpaksa ikut bantu-bantu orangtua di sawah…”(Kompas 31 Mei 2011).

Sementara itu Julianti salah seorang pemerhati pendidikan dan anak telantar di Polewali Mandar, yang terlibat mendorong tiga dari enam anak Sahawiyah untuk bersekolah, menjanjikan, “Kami sedang mendorong pemerintah agar kewajiban seragam sekolah tak berlaku kepada semua sekolah, untuk meringankan orangtua siswa yang tidak mampu.” Rupanya, uang sebesar Rp 500.000 sangat sulit diperoleh oleh keluarga super miskin ini. Padahal, uang sebesar itu bagi Nikita Willy, barangkali hanya semacam recehan yang begitu mudah keluar dari dompetnya tanpa harus dipikir dua kali. Apalagi, konon, honor Nikita Willy sekali shooting mencapai Rp50 juta. Sebuah angka rupiah yang sangat mustahil dimiliki keluarga Sahawiyah. Di Jember, Jawa Timur, sejumlah siswa kelas X SMA 3 di sana, tidak bisa menerima buku rapor masing-masing, karena belum melunasi biaya uang gedung sekolah yang besarnya mencapai Rp3 juta. Namun, tidak sekaligus dibayar. Melainkan dicicil sebanyak tiga kali. Setiap wali murid diminta membayar angsuran sebesar Rp 250 ribu saat mengambil rapor. Namun, meski sudah diberlakukan sistem pembayaran yang dianggap meringankan, masih ada saja orangtua murid yang tidak punya uang saat mengambil buku rapor anaknya (17 Juni 2011). Menurut Tatang Priyanggono (pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 3 Jember), pihak sekolah sudah melakukan sosialisasi secara lisan dan tertulis agar orangtua murid bisa mengangsur pembayaran uang gedung sekolah. Selain itu Tatang juga mengatakan, pihak sekolah memberikan toleransi kepada siswa yang belum melunasi biaya perawatan gedung sekolah, dan sama sekali tidak menahan buku rapor siswa. Di Jakarta, ada Fiona (16 tahun) siswi SMKN 12 Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara yang baru saja naik ke kelas 11, namun belum bisa menerima buku rapor karena orangtuanyabelum bisa melunasi uang pembangunan sebesar Rp 2,5 juta. Namun menurut Hary Petrus (Kepala sekolah SMKN 12 Kebon Bawang), tidak ada tindakan menahan buku rapor siswa. “…setahu saya memang ada rapot yang saat ini belum diambil oleh beberapa orangtua murid. jadi bukan ditahan.” (Poskota, Rabu, 6 Juli 2011). Selain Fiona ada siswa kelas 12 SMAN 80 Sunter Agung, Jakarta Utara, yang belum bisa menerima buku rapor karena belum melengkapi pembayaran uang pembangunan Mushola dan pagar sekolah sebesar Rp2 juta dari total Rp4 juta. Menurut salah seorang wali murid, seharusnya kekurangan Rp2 juta dicicil sampai siswa yang bersangkutan lulus, ternyata harus dilunasi saat itu juga. Menurut Kepala Sekolah SMAN 80 Sunter Agung, memang ada kesepakatan antara orangtua murid dan komite sekolah berkenaan dengan uang pembangunan, namun tidak dipaksakan. “… kalau tidak mampu bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat. Kalau mampu bisa dicicil. Kami telah membebaskan 70 siswa.” (Poskota, Rabu, 6 Juli 2011). Di Mandau, Duri, Bengkalis, Provinsi Riau, ada Yesica Manulang yang sempat terancam tidak bisa masuk SMKN 1 Mandau, karena orangtuanya tidak sanggup membayar uang masuk sebesar Rp 6 juta sekaligus. Lemiana (45 tahun) orangtua Yesica sempat menangis di depan salah seorang guru SMKN 1 Mandau untuk meminta keringanan pembayaran. Namun sang oknum guru tersebut, sebagaimana ditirukan Lemiana, mengatakan: “Kalo tak bisa membayar, masih banyak anak yang ingin sekolah di sini.” Lemiana juga sempat mengkomunikasikan permasalahan yang dihadapinya dengan salah seorang anggota komite sekolah. Namun ia mendapat jawaban yang tak menggembirakan. Sebagaimana ditirukan Lemiana, anggota komite sekolah itu mengatakan, “…kalo tak mampu bayar itu jadi urusan ibu! Kenapa memaksakan diri menyekolahkan anaknya ke SMK.”

Menurut Miswardi (Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Mandau), bagi orangtua yang tak mampu membayar uang masuk, bisa mengkonfirmasikan ke pihak sekolah. “Untuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, tiap anak diharuskan memiliki perangkat komputer sendiri. Dan kami menetapkan kapasitas kecepatan harus minimal Core 2 Duo. Namun bila yang bersangkutan telah memilikinya, tak perlu mengeluarkan biaya lagi.” Namun, ketika Lemiana survei harga komputer dengan spesifikasi yang ditentukan pihak sekolah, ternyata harganya lebih mahal. Ia jelas tidak mampu. Akhirnya Lemiana mendapat keringanan sistem pembayaran, namun pada akhir Juli 2011 biaya tersebut harus sudah dibayarkan. Menurut Sugito (Kepala Sekolah SMKN 1 Mandau), sejak awal pihak sekolah sudah mengimbau kepada orangtua calon murid, bahwa “…selain lolos seleksi, calon peserta didik juga harus bersiap biaya yang cukup besar, karena memang pada jurusan TKJ akan menghadapi praktikum yang membutuhkan perangkat komputer.” Biaya pendidikan yang berkualitas memang mahal. Tapi, itu merupakan kewajiban pemerintah. Rakyat, justru berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kalau pendidikan berkualitas dengan harga mahal harus ditanggung sendiri oleh peserta didik, maka yang pinter dan berkualitas hanya anak orang kaya. Bagaimana nasib si miskin? Barangkali hal-hal seperti ini belum terfikir oleh sosok muda seperti Nikita Willy. Fenomena njomplang antara yang kaya dengan yang miskin seperti di atas, konon bukan hal yang aneh dan asing bagi masyarakat Indonesia ini. Ada yang tidur dalam keadaan perutnya kekenyangan, namun tak jauh darinya ada yang tak bisa tidur karena kelaparan. Ada yang mati karena kelaparan, namun tak jarang ada yang mati karena kekenyangan. Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‫)ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع إلى جنبه )البخارى فى الدب ، وأبو يعلى ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى ، والخطيب عن ابن عباس‬ ِ ِ ْ َ َِ ٌ ِ َ ُ ُ َ َ ُ َ ْ َ ِ ّ ُ ِ ْ ُ ْ َ ْ َ : (8/167) ‫أخرجه البخارى فى الدب المفرد )25/1 ، رقم 211( ، وأبو يعلى )29/5 ، رقم 9962( ، والطبرانى )451/21 ، رقم 14721( ، قال الهيثمى‬ ‫رجاله ثقات . والحاكم )481/4 ، رقم 7037( ، وقال : صحيح السناد . والبيهقى )3/01 ، رقم 25491( ، والخطيب )193/01( . وأخرجه أيضا : البيهقى فى‬ ً 3389 ‫. )شعب اليمان )522/3 ، رقم‬ Bukanlah mukmin orang yang (perutnya) kenyang sedang tetangganya lapar di sampingnya. (HR Al-Bukhari dalam AlAdab, Abu Ya’la, At-Thabran, Al-Hakim dengan berkata sanadnya shahih, Al-Baihaqi, dan Al-Khathib dari Ibnu Abbas. Al-Albani mengatakan, shahih karena lainnya dalam riwayat Al-Hakim dari Aisyah). Bahkan ada ancaman dari Allah Ta’ala: ٤٤﴿ ‫﴾ما سلككم في سقر ﴿٢٤﴾ قالوا لم نك من المصلين ﴿٣٤﴾ ولم نك نطعم المسكين‬ َ ِ ْ ِ ْ ُ ِ ْ ُ ُ َ ْ ََ َ َّ ُ ْ َ ِ ُ َ ْ َ ُ َ َ َ َ ِ ْ ُ َ ََ َ 042. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” 043. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,044. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (QS Al-Muddatstsir/74: 42, 43, 44). ٢٩﴿ ِ ‫﴾وما أدراك ما سقر ﴿٧٢﴾ ل تبقي َل تذر ﴿٨٢﴾ لواح ٌ للبش‬ ‫َ ّ َ ة ّ ْ َ َر‬ ُ ََ َ ‫َ ُِْ و‬ ُ ََ َ َ َ ْ َ َ َ 027. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? 028. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. 029. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS Al-Muddatstsir/ 74: 27, 28, 29).

Sadarlah wahai para manusia, kemewahan di dunia akan ditanyakan di akherat kelak, dari mana diperolehnya dan untuk apa digunakannya. Ketika di dunia ini tidak memberi makan orang miskin saja, di ayat itu diancam dicemplungkan ke neraka saqar. Mari kita selamatkan diri kita sebelum harta dan kemewahan itu justru akan menjadi siksa kelak di akherat. FENOMENA PEMBUNUH BAYARAN Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*

Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede BAGI SEBAGIAN MASYARAKAT INDONESIA, mungkin masih membayangkan sosok dan keberadaan pembunuh bayaran hanya berada di film-film atau di luar negeri. Ternyata, di Indonesia sosok pembunuh bayaran sudah menjadi sesuatu yang nyata, setidaknya dapat dirasakan melalui berbagai kasus yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Juga, melalui berbagai pemberitaan yang berkaitan dengan itu. Pada bulan April 2010 lalu, misalnya, Polres Minahasa Utara (Sulawesi Utara), pernah mengungkap keberadaan kelompok pembunuh bayaran yang disinyalir bekerja profesional lintas wilayah Indonesia. Kelompok pembunuh bayaran beranggotakan lima lelaki dewasa ini dapat terungkap, setelah mereka gagal menghabisi nyawa Alfrets Kumiliang (31 tahun), yang akrab disebut Boteng alias Boang. Percobaan pembunuhan terhadap Alfrets terjadi pada hari Rabu tanggal 28 April 2010, sekitar pukul 21.20 Wita. Saat itu mereka bekerja untuk Meidy Umase (37 tahun), yang merupakan tetangga depan rumah Alfrets di Desa Kaima, Jaga Delapan, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara. Bahkan, pernah diberitakan tentang pembunuh bayaran asal Indonesia yang beroperasi di Malaysia, dan berhasil ditembak mati aparat setempat. Mereka adalah Mat Shaari dan Andi, asal Madura, Jawa Timur. Sasasannya juga orang Jawa Timur yang bekerja di Malaysia. Uniknya lagi, mereka diupah olah orang Jawa Timur juga, dengan kisaran harga antara 3000 hinga 7000 ringgit Malaysia (sekitar Rp9 juta hingga Rp20 juta per kasus). Rupanya, bukan hanya upah mereka yang murah, bahkan nyawanya pun dihargai begitu murah. Motif yang paling sering melatari adalah urusan utang-piutang dan rebutan perempuan serta jabatan. Semula, pembunuh bayaran asal Jawa Timur ini melakukan aksinya dengan menggunakan clurit. Terakhir, mereka sudah terampil menggunakan senjata api untuk membunuh korbannya. Selain menjalani profesi sebagai pembunuh bayaran, anggota kelompok ini juga menjadi bandar judi di sekitar bedeng pekerja asal Jawa Timur atau Madura yang bekerja di Malaysia. Di Lumajang, Jawa Timur, seorang istri bernama Nami (40 tahun) menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi suaminya Samuri (45 tahun), karena sakit hati akibat sering disiksa sang suami selama beberapa tahun belakangan ini. Keduanya warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ranuyoso, Lumajang. Sebagaimana dikaui Nami di hadapan aparat kepolisian 6 Oktober 2010, ia menyewa SW (30 tahun) untuk menghabisi Samuri. Nami mengenal SW melalui perantaraan Tori (35 tahun) warga Dusun Karang Tengah, Desa Tegalbangsri,

Kecamatan Ranuyoso, Lumajang. Samuri dihabisi dengan cara dipukul berkali-kali menggunakan sebilah balok di bagian kepala hingga tewas. SW dibayar Rp4 juta untuk aksi biadabnya itu. Di tahun 2009, Polda Metro Jaya bersama dengan Polda Bangka Belitung berhasil menangkap seorang pembunuh bayaran bernama Ali Mudin pada akhir Januari 2009. Ali Mudin pada tanggal 19 Januari 2009 membunuh seorang pengusaha distributor timah asal Bangka Belitung bernama Abu. Ternyata, Ali Mudin disewa oleh istri Abu sendiri (WN). Motifnya, rebutan harta. *** Bila contoh di atas lebih bersifat amatiran, contoh berikut ini terkesan lebih serius dan melibatkan pejabat negara serta pengusaha besar. Juga, melibatkan dana lumayan besar, dan melibatkan aparat penegak hukum baik yang masih aktif maupun yang sudah dipecat akibat desersi.

Erlangga Masdiana Menurut Erlangga Masdiana (kriminolog UI), di sebuah kota yang kompleks seperti Jakarta, memang terdapat orangorang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Biasanya, mereka berlatar belakang aparat bersenjata. Akibat desakan ekonomi, mereka cenderung menggunakan keahlian yang dimilikinya, yakni menggunakan senjata api, untuk mencari nafkah. Syafiuddin Kartasasmita (2001) Ketika Syafiuddin Kartasasmita tewas ditembak, 26 Juli 2001, khalayak sudah bisa menduga, peristiwa tragis itu ada kaitan dengan kasus-kasus yang ditanganinya. Yaitu, kasus tukar guling Goro Batara Sakti, kasus yayasan milik HM Soeharto, kasus Bob Hasan.

Sebelum tewas ditembak, Syafiuddin adalah hakim Agung pada Mahkamah Agung RI dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Muda Bidang Pidana. Ia ditembak mati ketika menuju kantor, oleh empat orang yang mengendarai dua Yamaha RX King. Empat peluru yang ditembakkan ke tubuh Syafiuddin membuatnya tewas tak terselamatkan. Peristiwa penembakan itu, melibatkan nama pengusaha besar Hutomo Mandala Putra (HMP). Bahkan, HMP sempat divonis 15 tahun penjara, untuk kasus pembunuhan Syafiuddin.

Salah satu bukti kuat yang menjerat HMP dalam kasus Syafiuddin antara lain keterangan Mulawarman dan Noval Hadad sebagai pelaku utama penembakan. Keduanya berhasil ditangkap pada 7 Agustus 2001. Berdasarkan pemeriksaan aparat, Mulawarman mengakui telah menerima order dari Dodi untuk melakukan pembunuhan Syafiuddin Kartasasmita. Mulawarman menerima imbalan Rp100 juta langsung dari tangan HMP. Kemudian, Rp50 juta diantaranya diberikan kepada Noval Hadad.

Noval Hadad dan Juan Felix Sedangkan senjata yang digunakan untuk mengeksekusi Syafiuddin, yaitu pistol Baretta FN Kaliber 9 mm diserahkan oleh HMP langsung kepada Mulawarman, dan sudah dikembalikan setelah aksi penembakan. Boedyharto Angsono (2003) Sebelum terjadi kasus pembunuhan terhadap Boedyharto Angsono yang merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT Asaba), sudah terjadi percobaan pembunuhan terhadap anak buah Boedyharto, yaitu Paulus Teja Kusuma (Direktur Keuangan PT Asaba), yang terjadi pada tanggal 6 Juni 2003 di Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden. Dua pembunuh bayaran bersepeda motor meski berhasil menyarangkan peluru ke dada dan leher Paulus, namun Paulus selamat dari kematian.

Boedhyarto Angsono Barulah sekitar enam pekan kemudian, persisnya tanggal 19 Juli 2003, sejumlah pembunuh bayaran beraksi membunuh Boedyharto Angsono yang saat itu sedang bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep (anggota Kopassus). Keduanya ditembak mati sekitar pukul 05:30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

Tak sulit bagi aparat kepolisian mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Sekitar dua pekan kemudian, tanggal 31 Juli 2003, aparat keamanan menangkap empat anggota Marinir yang diduga terkait kasus pembunuhan Boedyharto. Yaitu, Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto. Keempatnya merupakan pengawal pribadi Gunawan Santoso, mantan menantu Boedyharto sendiri. Untuk tugas biadab itu, keempatnya konon hanya dibayar sekitar Rp4 juta saja.

Gunawan Santoso Siapa Gunawan Santoso? Selain pernah menjadi menantu Boedyharto, Gunawan juga pernah menjabat sebagai eksekutif di PT Asaba. Sayangnya, ia terkait kasus penggelapan dana perusahaan sebesar Rp25 milyar. Akibat perbuatannya itu (2002), Gunawan divonis 28 bulan penjara. Namun pada tanggal 16 Januari 2003, Gunawan berhasil kabur dari LP Kuningan, Jawa Barat. Dalam masa pelariannya itu, ternyata Gunawan merancang aksi pembunuhan terhadap Paulus Teja Kusuma dan mantan mertuanya Boedyharto Angsono. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitu juga dengan Gunawan. Ia berhasil ditangkap aparat pada tanggal 12 September 2003, sekitar pukul 04.00 wib oleh anggota Reserse Polda Metro Jaya di lantai bawah area parkir Griya Kemayoran, Jakarta Pusat. Selama dalam pelarian Gunawan melakukan face off (merubah wajah), terutama bentuk mata, hidung, dan bibir. Juga mengganti identitas. Ia bersembunyi di Griya Kemayoran, dengan uang sewa Rp1,8 juta per bulan. Gunawan tak lupa melengkapi penampilannya dengan mobil mewah.

Imran Ray (2003) Kasus Imran Ray terjadi pada tahun 2003, di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, saat sang pengacara masih berusia 36 tahun. Imran dibunuh oleh pembunuh bayaran yang disewa oleh Dwi Aryanto (saat itu juga berusia 36 tahun) yang punya nama panggilan berbau syi’ah, yaitu Husen Karbala, warga Perumahan Taman Laguna di Cibubur, Jakarta Timur. Menurut Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol Makbul Padmanagara, Dwi Aryanto menyewa pembunuh bayaran dengan imbalan Rp300 juta, yang melibatkan sejumlah anggota dan mantan anggota TNI. Motifnya, Dwi Aryanto merasa ditipu oleh sang pengacara. Peristiwa berdarah ini bermula pada tahun 2002. Ketika itu, Dwi Aryanto yang bekerja sebagai pegawai eselon V di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak di Jakarta, dimutasi ke Kantor Wilayah Pajak Jawa Timur di Surabaya. Kepindahan itu membuat Dwi merasa tidak nyaman, dan ia berupaya bisa kembali ke tempat semula. Dalam rangkaian upayanya itu, Dwi diperkenalkan seorang temannya dengan pengacara bernama Imran Ray. Konon, Imran Ray punya kenalan dengan sejumlah pejabat di Ditjen Pajak. Kepada Imran, Dwi meminta bantuan agar dirinya dikembalikan ke Jakarta. Imran pun menyanggupi dengan syarat Dwi menyediakan dana sebesar Rp650 juta. Namun hingga pertengahan 2003, kesanggupan Imran tak terbukti. Sementara itu, kesabaran Dwi tak lagi bersisa. Maka, ia menghubungi oknum bintara dari sebuah angkatan dan mengutarakan maksudnya membunuh Imran Ray, sang pengacara yang dianggap telah menipunya. Untuk pekerjaan itu, Dwi menyediakan imbalan Rp300 juta. Pagi hari tanggal 3 September 2003, masyarakat menemukan jasad Imran Ray dalam sebuah mobil di sekitar Kali Malang, Jakarta Timur, dengan penuh luka tusukan. Empat hari kemudian, polisi berhasil membekuk pelakunya. Beberapa hari kemudian, polisi membekuk Dwi Aryanto di rumahnya. Di tempat itu pula polisi menemukan empat senapan laras panjang, lima pistol, dua senapan angin, dan 2.016 butir peluru.v Diduga, Dwi Aryanto nyambi sebagai pedagang senjata api ilegal. Dari satu kasus di atas, kepada kita telah disodorkan fakta bahwa pegawai eselon V Ditjen Pajak memiliki sejumlah uang yang begitu banyak. Pertama, ia mampu menyediakan dana sebesar Rp650 juta untuk mempertahankan posisinya di tempat semula. Namun gagal, dan ia merasa tertipu. Oleh karena itu, ia menyewa pembunuh bayaran dengan imbalan Rp300 juta untuk menghabisi nyawa orang yang dituju. Total hampir Rp1 milyar dana yang ia gunakan untuk kemunkaran. Boleh jadi, uang sebanyak itu diperoleh melalui penyelewengan pajak sebagaimana dilakoni Gayus Tambunan yang ramai diberitakan media massa akhir-akhir ini.

Begitulah perjalanan uang yang diperoleh secara bathil, cenderung digunakan untuk urusan yang bathil pula. Akibatnya, meski sudah keluar uang sedemikian banyak, akhirnya yang diperoleh bukan sesuatu yang ingin diraihnya, justru masuk penjara.

Nasrudin Zulkarnaen (2009) Kasus tewasnya Nasrudin Zulkarnaen boleh jadi merupakan kasus terbesar sepanjang tahun 2009. Karena, melibatkan banyak orang besar. Nasrudin sendiri menjabat sebagai Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia ditembak mati usai main golf di Modernland, Tangerang, pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2009, pagi hari. Sebelum akhirnya meninggal dunia pada pukul 12:05 wib, Nasrudin sempat koma beberapa jam.

Nama-nama besar lain yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan ini adalah Antasari Azhar (saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi), Komisaris Besar Polisi Wiliardi Wizard (saat itu menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan), Sigid Haryo Wibisono (pengusaha, namun lebih diduga markus alias makelar kasus).

Antasari Azhar

Wiliardi Wizard dan Sigid Haryo Wibisono

Nama-nama eksekutor yang disewa adalah Eduardus Ndopo Mbete alias Edo, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen Sabon, dan Heri Santosa. Mereka disewa Williardi melalui Jerry Hermawan Lo. Untuk tugas ini Williardi menerima Rp500 juta untuk biaya operasional. Uang sebanyak itu diperoleh dari Sigit Haryo Wibisono. Sebagai makelar kasus, Sigid mau memenuhi keinginan Antasari membiayai ‘proyek’ tersebut, tentu untuk tujuan yang sesuai dengan kiprahnya selama ini. Di persidangan para eksekutor mengaku semula hanya ditugaskan meneror Nasrudin. Namun kenyataannya, Nasrudin tewas tertembus peluru. Kematian Nasrudin membuka fakta baru, bahwa ia punya istri ketiga bernama Rhani Juliani yang dinikahi secara sirri pada Juni 2007. Istri pertama Nasrudin bernama Sri Martuti. Sedangkan istri keduanya bernama Irawati Arienda, mantan pramugari Garuda Indonesia Arways.

Istri ketiga Nasrudin, Rhani Juliani, selama ini dikenal sebagai caddy yang sering menemani Antasari Azhar bermain golf di Modernland. Melalui Rhani yang ndeso inilah kasus besar yang melibatkan dana cukup besar, melibatkan nama-nama besar, bergulir tak terkendali. Ancaman Allah terhadap para pemimpin Begitulah perilaku sebagian pembesar kita. Ketika mereka diberi kekuasaan dan harta yang lebih dari cukup, mereka justru melakukan kemungkaran. Bahkan, dengan kekuatan finansialnya, mereka menyewa pembunuh bayaran demi harta, tahta dan barangkali juga wanita. Pertanyaannya, kenapa sampai kekerasan bahkan pembunuhan itu melibatkan orang-orang besar dan dengan biaya besar?Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:‫وما لم تحكم أئمتهم بكتاب‬ ِ َِ ِ ْ ُ ُّ َِ ْ ُ ْ َ ْ َ َ َ ‫)ال ويتخيروا فيما أنزل ال إل جعل ال بأسهم بينهم { . )ابن ماجه ، وأبو نعيم ، والحاكم ، والبيهقى فى شعب اليمان ، وابن عساكر عن ابن عمر‬ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َْ ّ َ َ َ ّ ّ َ َ ْ َ َ ِ ُ َّ َ ََ ّ ُ ُ ِ “Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan keganasan mereka di antara mereka.” (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh AlAlbani).Fenomena pembunuh bayaran telah nyata. Korbannya pun bergelimpangan. Beritanya pun memenuhi atmosfir negeri ini. Sebelum fenomena buruk itu terjadi pun ancaman terhadap para pemimpin dari Allah Ta’ala lewat Nabi-Nya telah tegas seperti dalam hadits tersebut. Kasus-kasus itupun kemungkinan bisa membesar dan merajalela, bila semakin para pemimpinnya menyepelekan apa yang telah Allah turunkan yakni wahyu yang mengatur tata kehidupan ini dengan agama. Lebih lancang lagi bila para pemimpin itu tingkahnya bukan sekadar menyepelekan apa yang diturunkan Allah Ta’ala, namun lebih dari itu, yakni pura-pura mengindahkannya, padahal hanya untuk mengelabui manusia. Itulah yang disebut dalam Al-Qur’an:‫يخادعون ال والذين آمنوا وما يخدعون إل أنفسهم وما يشعرون )9( في قلوبهم مرض فزادهم ال مرضا ولهم عذاب أليم بما‬ َ ِ ٌ ِ َ ٌ َ َ ْ ُ َ َ ً َ َ ّ ُ ُ َ َ َ ٌ َ َ ْ ِ ِ ُُ ِ ُ َ ُ ُ ْ َ َ َ ْ ُ َ ُ ْ َ ّ ِ َ ُ َ ْ َ َ َ َُ َ ِ ّ َ ّ َ ُ ِ َ ُ َ 9 [10 ، 9 : ‫ .كانوا يكذبون ]البقرة‬Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu َ ُِ ْ َ ُ َ

dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah: 9, 10).Upaya mereka membohongi Allah dan membohongi orang Islam pada hakekatnya hanyalah menipu diri mereka sendiri. Kalau toh selamat di dunia ini, (dan kenyataannya belum tentu selamat, karena ancaman bahwa Allah akan menjadikan keganasan sesama mereka itu adalah di dunia, dan memang terjadi) masih ada lagi ancaman yang lebih dahsyat yaitu untuk dirasakan di akherat kelak siksa yang pedih telah Allah sediakan untuk mereka.Sadarilah wahai para manusia, terutama para pemimpin. Dan pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas apa yang kita pimpin. Jangan menipu Allah, jangan pula menipu orang Islam. Allah yang Maha dahsyat siksanya telah mengancam kita bila kita berbuat demikian. Fenomena pembunuh bayaran itu telah jadi bukti benarnya ancaman Allah Ta’ala lewat Nabi-Nya ‘alaihis shalatu wassalam

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->