P. 1
KPK Annual Report 2007 - Empowering Law Enforcement

KPK Annual Report 2007 - Empowering Law Enforcement

4.0

|Views: 1,378|Likes:
Dipublikasikan oleh Indo, Inc.
Salam Anti Korupsi,

Mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi, demikian visi yang dicanangkan oleh KPK. Namun, untuk mencapai visi itu bukanlah pekerjaan mudah. Mustahil KPK mampu melenyapkan penyakit kronis bernama korupsi dari tanah air ini sendirian. Peran aktif masyarakat didukung kesungguhan jajaran pemerintah di tingkat pusat maupun daerah serta perbaikan dan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan harapan tersebut.

Karena itulah, selain melakukan upaya penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi, Undang-undang No. 30 Tahun 2002 juga mengamamatkan KPK untuk melakukan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum. Tugas tersebut tertuang dalam pasal 6 yang di antaranya melalui kegiatan supervisi, monitor, dan koordinasi. Pada tahun keempat ini, KPK semakin giat melakukan upaya pemberdayaan tersebut. Koordinasi dan supervisi tentang penanganan kasus-kasus tindak pidana korupsi dengan kejaksaan dan kepolisian semakin ditingkatkan. Begitu pun upaya KPK dalam memperbaiki sistem birokrasi di instansi-instansi yang ada di negara ini. Rekomendasi perbaikan sistem di bea cukai, imigrasi, dan pengelolaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan beberapa contohnya.

Di sisi lain, upaya pencegahan dan penindakan juga terus dilakukan KPK secara simultan dengan kecepatan yang seimbang. Saat koruptor-koruptor terus ditangkapi, di saat yang sama usaha pembentukan mental antikorupsi dan pembangunan semangat perlawanan terhadap korupsi di kalangan masyarakat semakin gencar dilakukan. Pimpinan KPK menyadari bahwa upaya pemberdayaan terhadap birokrasi dan aparat penegak hukum tidak akan menuai hasil nyata jika tidak ada kemauan dan dukungan dari birokrasi dan penegak hukum itu sendiri. Akhir kata, kami kembali mengingatkan semua pihak bahwa perang melawan korupsi adalah proses perubahan jangka panjang yang memerlukan keberanian, kebersamaan, langkah-langkah dan jiwa yang besar, serta ketulusan nyaris tanpa batas.
Salam Anti Korupsi,

Mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi, demikian visi yang dicanangkan oleh KPK. Namun, untuk mencapai visi itu bukanlah pekerjaan mudah. Mustahil KPK mampu melenyapkan penyakit kronis bernama korupsi dari tanah air ini sendirian. Peran aktif masyarakat didukung kesungguhan jajaran pemerintah di tingkat pusat maupun daerah serta perbaikan dan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan harapan tersebut.

Karena itulah, selain melakukan upaya penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi, Undang-undang No. 30 Tahun 2002 juga mengamamatkan KPK untuk melakukan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum. Tugas tersebut tertuang dalam pasal 6 yang di antaranya melalui kegiatan supervisi, monitor, dan koordinasi. Pada tahun keempat ini, KPK semakin giat melakukan upaya pemberdayaan tersebut. Koordinasi dan supervisi tentang penanganan kasus-kasus tindak pidana korupsi dengan kejaksaan dan kepolisian semakin ditingkatkan. Begitu pun upaya KPK dalam memperbaiki sistem birokrasi di instansi-instansi yang ada di negara ini. Rekomendasi perbaikan sistem di bea cukai, imigrasi, dan pengelolaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan beberapa contohnya.

Di sisi lain, upaya pencegahan dan penindakan juga terus dilakukan KPK secara simultan dengan kecepatan yang seimbang. Saat koruptor-koruptor terus ditangkapi, di saat yang sama usaha pembentukan mental antikorupsi dan pembangunan semangat perlawanan terhadap korupsi di kalangan masyarakat semakin gencar dilakukan. Pimpinan KPK menyadari bahwa upaya pemberdayaan terhadap birokrasi dan aparat penegak hukum tidak akan menuai hasil nyata jika tidak ada kemauan dan dukungan dari birokrasi dan penegak hukum itu sendiri. Akhir kata, kami kembali mengingatkan semua pihak bahwa perang melawan korupsi adalah proses perubahan jangka panjang yang memerlukan keberanian, kebersamaan, langkah-langkah dan jiwa yang besar, serta ketulusan nyaris tanpa batas.

More info:

Published by: Indo, Inc. on Oct 09, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

KORUPSI terjadi tidak

hanya karena PEJABAT
ber-MENTAL BOBROK,
tetapi juga karena SISTEM
yang JELEK
CORRUPTION does not
happen merely, because
we have BAD PEOPLE,
but also because we have
a BAD SYSTEM


ii
Visi/Vision
Mewujudkan Indonesia yang Bebas
dari Korupsi
Misi/Mission
Creating an Indonesia Free from Corruption
Penggerak Perubahan untuk
Mewujudkan Bangsa yang Anti Korupsi
To be the Driver of Change in the
Creation of an Anti-Corruption Nation
iii
Asas/Principles
Kepastian Hukum / Legal Certainty
Keterbukaan / Transparency
Akuntabilitas / Accountability
Kepentingan Umum / Public Interest
Proporsionalitas / Proporsionality
Nilai-Nilai/Values
Integritas / Integrity
Profesionalisme / Professionalism
Inovasi / Innovation
Religiusitas / Religiosity
Transparansi / Transparency
Kepemimpinan / Leadhership
Produktifitas / Productivity
Mewujudkan Indonesia
sejahtera adalah cita-cita
luhur pendiri bangsa ini
Creating a prosperous
Indonesia was the noble
goal of this nation’s founders
Pimpinan KPK / Commissioners
TAUFIEQURACHMAN RUKI
AMIEN SUNARYADI
SJAHRUDDIN RASUL
TUMPAK H. PANGGABEAN
ERRY RIYANA HARDJAPAMEKAS
Salam Anti Korupsi,
Mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi, demikian visi yang dicanangkan oleh KPK. Namun, untuk mencapai
visi itu bukanlah pekerjaan mudah. Mustahil KPK mampu melenyapkan penyakit kronis bernama korupsi dari tanah air
ini sendirian. Peran aktif masyarakat didukung kesungguhan jajaran pemerintah di tingkat pusat maupun daerah
serta perbaikan dan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan
harapan tersebut.

Karena itulah, selain melakukan upaya penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi, Undang-undang No.
30 Tahun 2002 juga mengamamatkan KPK untuk melakukan pemberdayaan instansi dan aparat penegak hukum.
Tugas tersebut tertuang dalam pasal 6 yang di antaranya melalui kegiatan supervisi, monitor, dan koordinasi.
Pada tahun keempat ini, KPK semakin giat melakukan upaya pemberdayaan tersebut. Koordinasi dan supervisi
tentang penanganan kasus-kasus tindak pidana korupsi dengan kejaksaan dan kepolisian semakin ditingkatkan.
Begitu pun upaya KPK dalam memperbaiki sistem birokrasi di instansi-instansi yang ada di negara ini. Rekomendasi
perbaikan sistem di bea cukai, imigrasi, dan pengelolaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan beberapa
contohnya.

Di sisi lain, upaya pencegahan dan penindakan juga terus dilakukan KPK secara simultan dengan kecepatan yang
seimbang. Saat koruptor-koruptor terus ditangkapi, di saat yang sama usaha pembentukan mental antikorupsi
dan pembangunan semangat perlawanan terhadap korupsi di kalangan masyarakat semakin gencar dilakukan.

Pimpinan KPK menyadari bahwa upaya pemberdayaan terhadap birokrasi dan aparat penegak hukum tidak akan
menuai hasil nyata jika tidak ada kemauan dan dukungan dari birokrasi dan penegak hukum itu sendiri.

Akhir kata, kami kembali mengingatkan semua pihak bahwa perang melawan korupsi adalah proses perubahan
jangka panjang yang memerlukan keberanian, kebersamaan, langkah-langkah dan jiwa yang besar, serta ketulusan
nyaris tanpa batas.
Anti-corruption greetings!
To realize a corruption-free Indonesia; this is the vision that the KPK strives for. However, all involved have always
known that this would not be an easy job. It is impossible for the KPK to address the chronic illness of corruption all by
itself. The active participation of the general public, as well as the real commitment of public servants from all levels
of central and regional government, combined with the reformation and empowerment of institutions and legal
enforcement public servants are all pre-requisites to any real hope or realizing the KPK’s vision.
It is therefore important that aside from performing prevention and repression eforts in the war on corruption, the
KPK also have regard to a long burning issue: reform of bureaucratic systems. Law No. 30 of 2002 also mandates
the KPK to conduct the empowerment of State institutions and public servants who work in law enforcement. This
refects the mandate of Law No. 30 of 2002, specifcally article 6, which provides for supervision, monitoring, and
coordinating activities.
In its fourth year since it started operations, the KPK had increased the intensity of such empowerment eforts. The
coordination and supervision of corruption cases handled by the Police and the Attorney General’s Ofce were en-
hanced. The KPK had also enhanced its eforts to reform the bureaucratic systems of our State institutions. Specifcally,
the KPK had provided recommendations for reforms for the Customs and Excise, Immigration, and the management
of Indonesian Migrant Labor (TKI) systems.
Simultaneously, the KPK has continued to perform its prevention and repression eforts at a balanced pace. As crimi-
nals guilty of corruption have continued to be detained by the KPK, we have also intensifed our eforts to build a
national anti-corruption mental attitude, as well as to build a fghting spirit to fuel our war on corruption at various
strategic locations in the fabric of society.
The KPK Commissioners are aware that in order for the efort of empowering bureaucrats and legal enforcement
public servants to bear fruit, the respective institutions will need to cooperate by contributing their will and support
into the efort.

To conclude, we would like to remind the reader once again that the war on corruption is a process for fundamental
change that requires courage, togetherness, big steps taken, and for men with big hearts to lead, who must also pos-
sess near limitless integrity.
Pengantar Pimpinan KPK
Foreword by KPK Commissioners
vi
Daftar isi
Contents
Visi dan Misi / Vision and Mission
Asas dan Nilai-nilai / Principles and Values
Pengantar Pimpinan KPK / Foreword by KPK Commissioners
Daftar isi / Contents
1. BAB 1 : Sekilas KPK / Chapter 1 : KPK in Brief
Tugas, Wewenang dan Kewajiban / Duties, Authorities and Obligations
Koordinasi / Coordination
Supervisi / Supervision
Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan
Preliminary investigation, investigation and Prosecution
Pencegahan / Prevention
Monitoring / Monitoring
Organisasi / Organization
Struktur Organisasi / KPK Structure
2. BAB 2: Kondisi dan Strategi / Chapter 2 : Conditions and Strategies
Tantangan dan Hambatan / Challenges and Obstracles
Strategi Pemberantasan Korupsi/ Corruption Eradication Strategy
3. BAB 3 : Pembangunan Kelembagaan
Chapter 3 : Institution Building
Pengembangan Manajemen SDM / Human Resource Development
Komposisi SDM Tahun 2007/ Human Resource Composition 2007
Peningkatan Kapasitas SDM / Human Resource Capacity Improvement
Pengawasan Internal / Internal Supervision
Dukungan Keuangan / Financial Support
Infrastruktur Gedung KPK / KPK Building Infrastructure
Dukungan Teknologi Informasi / Information Technology Support
Penguatan Aspek Yuridis / Strengthening of Juridical Aspect
KPK Peduli / The KPK’s Social Responsibility
4. BAB 4 : Penindakan / Chapter 4 : Repression
Koordinasi dan Supervisi/ Coordination and Supervision
Penanganan Perkara / Case Handling
Tertangkap Tangan / In Flagrante Delicto Arrests (Caught Red-handed)
Uang Negara Diselamatkan / Recovering State Losses
i
ii
iii
iv
1
2
2
3
3
4
4
5
6
7
10
13
17
18
21
23
27
28
33
34
35
36
37
38
30
43
54
vii
5. BAB 5 : Pencegahan / Chapter 5 : Prevention
Pendaftaran dan Pemeriksaan LHKPN
Recording and Evaluation of Wealth Report of Public Ofcials (LHKPN)
Penanganan Gratifkasi / Gratuities
Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat / Education and Public Services
Penelitian dan Pengembangan/ Research and Development
Monitor / Monitoring
Pengembangan Jaringan Kerjasama / Development of Cooperative Networks
6. BAB 6 : Penggalangan Dukungan Masyarakat
Chapter 6 : Rallying Public Support
Penanganan Pengaduan Masyarakat / The Handling of Public Complaints
Sosialisasi Pengaduan Masyarakat / Socialization of Public Complaints
Dukungan Media Massa terhadap KPK / Media Support for KPK
7. BAB 7 : Program Kerja 2007 / Chapter 7 : 2008 Work Program
Program Penegakan Hukum dan HAM
Law Enforcement and Human Rights Program
Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan HAM
Increasing Legal and Human Right Awarness Program
Program Peningkatan Kualitas Profesi Hukum
Quality Improvement in Legal Profession Program
Program Perencanaan Hukum / Legal Planning Program
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana
Facilities and Infrastructure Improvement Program
Program Kepermerintahan yang Baik
Good Governance Implementation Program
55
56
60
65
71
77
95
109
111
116
116
120
121
121
122
123
124
124
Sekilas KPK
KPK In Brief
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
2
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Sekilas KPK
KPK in Brief
KPK diberi amanat melakukan pemberantasan
korupsi secara profesional, intensif, dan
berkesinambungan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi, menjadi dasar
pembentukan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). KPK diberi amanat
melakukan pemberantasan korupsi
secara profesional, intensif, dan
berkesinambungan untuk mewujudkan
masyarakat yang adil, makmur, dan
sejahtera berdasarkan Pancasila dan
UUD Tahun 1945.
Tugas, Wewenang, dan Kewajiban
(Pasal 6)
t Koordinasi dengan instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi (TPK);
t Super vi si terhadap i nstansi
yang ber wenang mel akukan
pemberantasan TPK;
t Melakukan penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan terhadap TPK;
t Melakukan tindakan-tindakan
pencegahan TPK; dan
t Melakukan monitor terhadap
penyelenggaraan pemerintahan
negara.
Koordinasi (Pasal 7)
t Koordinasi penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan TPK;
t Menetapkan sistem pelaporan
dalam kegiatan pemberantasan
TPK;
t Meminta informasi tentang kegiatan
pemberantasan TPK kepada instansi
terkait;
Law No. 30 of 2002 on the Corruption
Eradication Commission (KPK) provides the
legal basis for the formation of the KPK. The
KPK has been given a mandate to conduct
corruption eradication professionally,
intensively, and continuously in order to
create a just, prosperous and peaceful
society based on Pancasila and the
Constitution of 1945.
Duties, Authorities and Obligations
(Article 6)
- Coordinate with institutions authorized
to combat acts of corruption;
- Supervise institutions authorized to
combat acts of corruption;
- Conduct preliminary investigations,
investigations and prosecutions
against acts of corruption;
- Conduct corruption prevention activities;
and
- Conduct monitoring of state governance.
Coordination (Article 7)
- Coordinate preliminary investigations,
investigations and prosecutions against
corrupt acts;
- Establish a reporting system for corruption
eradication activities;
- Request information on corruption
eradication activities from related
institutions;
The KPK has been given a mandate to conduct
corruption eradication professionally, intensively, and
continuously


3
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Sekilas KPK
KPK in Brief
- Conduct discussions and meetings with institutions
authorized to eradicate corruption; and
- Request reports from related institutions on corruption
prevention.
Supervision (Article 8 (1))
The KPK is authorized to conduct supervision research,
and/or analysis on institutions tasked with and authorized
to eradicate corruption, as well as public service institutions.
Preliminary investigation, Investigation and
Prosecution (Articles 11 and 12)
The KPK is authorized to conduct preliminary investigation,
investigation and prosecution of corrupt acts that:
- Involve legal ofcials, public ofcials and any other
person related to a corrupt act conducted by a legal or
public ofcial;
- Has aroused public attention, and/or
- Involve state losses of at least Rp.1 billion.
In conducting its tasks of preliminary investigation,
investigation and prosecution, the KPK is authorized to:
- Conduct wiretapping and recording of conversations;
- Order authorized institutions to not allow an individual
to travel outside the jurisdiction;
- Request information from banks or other fnancial
institutions on the financial status of suspects or
convicted individuals being checked by the KPK;
- Order banks or other fnancial institutions to block
accounts suspected of holding corruption proceeds of
a suspect, convicted individual, or other related party;
- Order the superior or employer of a suspect to
temporarily suspend the suspect from his/her ofce;
- Request data on the wealth and tax information of a
suspect or a convicted individual from the relevant
institutions;
t Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan
dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan TPK; dan
t Meminta laporan instansi terkait mengenai
pencegahan TPK.
Supervisi (Pasal 8 Ayat 1)
KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian,
atau penelaahan terhadap instansi yang menjalankan
tugas dan wewenangnya di bidang pemberantasan
TPK, serta instansi yang melaksanakan pelayanan publik.
Penyelidikan, Penyidikan, dan Penuntutan (Pasal
11 dan 12)
KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan TPK yang:
t Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara
negara (PN), dan orang lain yang ada kaitannya
dengan TPK yang dilakukan oleh aparat penegak
hukum atau PN;
t Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat;
dan/atau
t Menyangkut kerugian negara paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan ini, KPK berwenang:
t Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;
t Memerintahkan kepada instansi terkait untuk
melarang seseorang bepergian ke luar negeri;
t Meminta keterangan kepada bank atau lembaga
keuangan lainnya tentang keadaan keuangan
tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa;
t Memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan
lainnya untuk memblokir rekening yang diduga hasil
dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak
lain yang terkait;
t Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan
tersangka untuk memberhentikan sementara
tersangka dari jabatannya;
t Meminta data kekayaan dan data perpajakan
tersangka atau terdakwa kepada instansi terkait;
t Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan,
transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau
pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsesi
yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau
terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang
cukup ada hubungannya dengan TPK yang sedang
diperiksa;
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
4
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Sekilas KPK
KPK in Brief
t Meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi
penegak hukum negara lain untuk melakukan
pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang
bukti di luar negeri;
t Meminta bantuan kepolisian atau instansi lain
yang terkait untuk melakukan penangkapan,
penahanan, penggeledahan, dan penyitaan
dalam perkara TPK yang sedang ditangani.
Pencegahan (Pasal 13)
Wewenang KPK dalam langkah atau upaya
pencegahan TPK:
t Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap
laporan harta kekayaan PN (LHKPN);
t Menerima laporan dan menetapkan status
gratifikasi;
t Menyelenggarakan program pendidikan antikorupsi
pada setiap jenjang pendidikan;
t Merancang dan mendorong terlaksananya
program sosialisasi pemberantasan TPK;
t Melakukan kampanye antikorupsi kepada
masyarakat umum;
t Melakukan kerja sama bilateral atau multilateral
dalam pemberantasan TPK.
Monitor (Pasal 14)
Dalam upaya peningkatan efsiensi dan efektivitas
serta mencegah terjadinya TPK di lembaga negara
dan pemerintahan, KPK diberi amanat oleh undang-
undang untuk melaksanakan tugas monitor, dengan
kewenangan:
t Melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan
administrasi di semua lembaga negara dan
pemerintah;
- Temporarily freeze a fnancial transaction, trade transaction
or other agreement; or temporarily revoke a permit,
license or concession conducted by or held by the
suspect or convicted individual which is suspected to
be, based on sufcient preliminary evidence, connected
to a corrupt act that is being processed;
- Request the assistance of Interpol Indonesia or a law
enforcement agency of a foreign country to conduct
searches, arrests, and the confscation of evidence in
foreign jurisdictions;
- Request the assistance of the Police or other related
agencies to perform arrests, detainments, searches,
and confscations in the course of processing a corrupt
act.
Prevention (Article 13)
The KPK’s authorities in the course of preventing corrupt
acts:
- Record and cross-check the Wealth Reports of State
Ofcials (LHKPN);
- Receive reports on, and determine the status of
gratifications;
- Establish anti-corruption education programs at every
tier of education;
- Design and implement corruption eradication
socialization programs;
- Conduct anti-corruption campaigns among the
general public;
- Engage in bilateral or multilateral cooperation in
eradicating corruption.
Monitoring (Article 14)
In the efort to enhance efciency and efectiveness in
preventing corruption in State and Government agencies,
the KPK has been given a legal mandate to conduct
monitoring duties based on the following authorities:
- Conduct analyses on the administrative management
systems of all State and Government institutions;
- Provide guidance and suggestions to the Head of State
and to Government institutions with a view to
instigating change if, based on the KPK’s analysis, the
administrative management system of that institution
is vulnerable to corruption;
- Report to the President, the Parliament, and the State
Audit Board if the KPK’s guidance and suggestions have
been ignored.
5
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Sekilas KPK
KPK in Brief
t Memberikan saran kepada pimpinan lembaga
negara dan pemerintah untuk melakukan
perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian,
sistem pengelolaan administrasi tersebut
berpotensi korupsi;
t Melaporkan kepada Presiden, Dewan Perwakilan
Rakyat, dan Badan Pemeriksa Keuangan, jika saran
KPK mengenai usulan perubahan tersebut tidak
diindahkan.
Organisasi (Pasal 21)
Organisasi KPK terdiri atas:
t Pimpinan yang terdiri dari seorang Ketua
merangkap Anggota dan empat orang Wakil
Ketua merangkap Anggota;
t Tim Penasehat yang terdiri dari empat orang;
t Deputi Bidang Pencegahan yang terdiri dari
Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan
Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (PP-LHKPN),
Direktorat Gratifkasi, Direktorat Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat, dan Direktorat Penelitian
dan Pengembangan;
t Deputi Bidang Penindakan yang terdiri dari
Direktorat Penyelidikan, Direktorat Penyidikan,
dan Direktorat Penuntutan.
t Deputi Bidang Informasi dan Data yang terdiri
dari Direktorat Pengolahan Informasi dan Data,
Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi
dan Instansi, dan Direktorat Monitor.
t Deputi Bidang Pengawasan Internal dan
Pengaduan Masyarakat yang terdiri dari
Direktorat Pengawasan Internal, dan Direktorat
Pengaduan Masyarakat.
t Sekretariat Jenderal yang terdiri dari Biro
Perencanaan dan Keuangan, Biro Umum, dan
Biro Sumber Daya Manusia.
Organization (Article 21)
The KPK Organization is constituted as follows:
- 8ootJ ol Comm|ss|onets composed of one Chairman
and 4 (four) Vice-Chairmen;
- AJv|sotv 7eom composed of 4 (four) advisors;
- Omce ol the 0eµutv lot Ptevent|on, composed of the
Directorate of Recording and Examining the Wealth
Reports of State Ofcials, the Directorate of Gratuity,
the Directorate of Education and Public Services, and
the Directorate of Research and Development;
- Omce ol the 0eµutv lot keµtess|on, composed of the
Directorate of Preliminary investigations, the Directorate
of Investigations, and the Directorate of Prosecutions.
- Omce ol the 0eµutv lot lnlotmot|on onJ 0oto,
composed of the Directorate of Information and Data
Processing, the Directorate of Network Cultivation
between Commissions and Institutions, and the
Directorate of Monitoring.
- Omce ol the 0eµutv lot lntetnol Von|tot|nç onJ
Public Complaints, composed of the Directorate
of Internal Monitoring and the Directorate of Public
Complaints.
- 5ectetot|ot Cenetol composed of the Bureau of
Planning and Finance, the Bureau of General Afairs,
and the Bureau of Human Resources.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
6
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Sekilas KPK
KPK in Brief
6
Struktur Organisasi KPK
KPK Structure
Sekretariat D i
Pimpinan
Board of Commissioners
Deputi Bidang Pencegahan
Ofce of the Deputy for Prevention
Sekretariat Deputi
Secretary of Deputy
Sekretariat Deputi
Secretary of Deputy
Sekretariat Deputi
Secretary of Deputy
Sekretariat Deputi
Secretary of Deputy
Biro Perencanaan dan Keuangan
Bureu of Planning and Finance
Biro Umum
Bureu of General Afairs
Biro Sumber Daya Manusia
Bureu of Human Resources
Direktorat Pendaftaran dan
Pemeriksaan LHKPN
Directorate of Recording & Examining
the Wealth Report of State Ofcials
Direktorat Gratifkasi
Directorate of Gratuity
Direktorat Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat
Directorate of Education and
Public Services
Direktorat Penuntutan
Directorate of Prosecutions
Direktorat Monitoring
Directorate of Monitoring
Direktorat Penelitian dan
Pengembangan
Directorate of Research and
Development
Direktorat Penyidikan
Directorate of Investivigations
Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja
Antar Komisi & Instansi
Directorate of Network Cultivations
between Commissions and
Institutuions
Direktorat Pengaduan Masyarakat
Directorate of Public Complaints
Direktorat Penyelidikan
Directorate of
Preliminary Investivigations
Direktorat Pengawasan Internal
Directorate of
Internal Monitoring
Direktorat Pengolahan Informasi
dan Data
Directorate of
Information and Data Processing
Deputi Bidang Penindakan
Ofce of the Deputy for Repression
Deputi Bidang Informasi dan Data
Ofce of the Deputy for
Information and Data
Deputi Bidang Pengawasan Internal
dan Pengaduan Masyarakat
Ofce of the Deputy for
Internal Monitoring and Public
Complaints
Sekretariat Jenderal
Secretary General
Penasehat
Advisory Team
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Pemberantasan korupsi harus disikapi sebagai
sebuah perang bukan pertempuran
“Korupsi terjadi tidak hanya karena
bad people (pejabat bermental
bobrok) , tetapi j uga karena
bad system (sistem pemerintahan
yang jelek)”
The war against corruption is never
ending. Ungkapan tersebut terasa
t epat unt uk menggambar k an
semangat bangsa Indonesia dalam
melawan korupsi. Pemberantasan
korupsi harus disikapi sebagai sebuah
perang bukan pertempuran (battle),
apalagi hanya sekadar perkelahi an
(fght). Dimensi perang pun sangat
luas. Waktu yang dibutuhkan bukanlah
dal am hi tungan hari , bul an atau
tahun tetapi bisa jadi dengan ukuran
generasi . Karena menghi l angkan
korupsi dari negeri yang tercatat
menempati urutan keenam sebagai
negara terkorup di dunia itu, adalah
pekerjaan maha berat.
Membebaskan bangsa dari kubangan
korupsi yang membelenggu sejak
lama adalah pekerjaan maha besar.
Dan hal itu mustahil dilakukan KPK
sendiri. KPK tidak mungkin soliter
dal am membasmi korupsi . Karena
i t u, but uh per an ser t a publ i k,
dukungan masyar akat . Dengan
begi tu akan ti mbul upaya masi f
segenap rakyat nusantara melawan
kanker korupsi. Dengan pertimbangan
i t u, KPK t i dak hent i - hent i nya
menggalang peran serta masyarakat
dal am pemberantasan korupsi .
“Corruption does not happen merely
because we have bad people (ofcials
with no integrity), but also because we
have a bad system (an inadequate
system of governance)”
The war against corruption is never ending.
This phrase is apt in describing Indonesia’s
spirit in combating corruption. Corruption
eradication must be fought as a ‘war’, and
not a ‘battle’, and it is by no means a mere
‘fght’. The dimensions of this war are very
wide. The time required to fght it cannot
be counted in days, months, or even years;
perhaps it is best to count it in generations.
This is because the eradication of corruption
in a nation that is ranked the 6th most corrupt
in the whole world will be a very onerous
task.
To free a nation from the chains of
corruption that have bound it for so long
is an immense task. It is impossible that
the KPK will be able to achieve this on its
own. The war against corruption requires
the public’s participation, and the support
of the people. If this is achieved, there will
be a massive effort by the whole of the
Indonesian nation to rid Indonesia of the
cancer of corruption. With this in mind,
the KPK will ceaselessly strive to rally the
suppor t of the public in combating
corruption. Eradicating the plague of
corruption and permissive attitudes
towards corruption shall be undertaken
continuously and relentlessly.
Corruption eradication must be fought as a ‘war’,
and not a ‘battle’


Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
8 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
9
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penebaran wabah antikorupsi sekaligus pereduksian
sikap permisif terhadap korupsi dilakukan secara
terus-menerus dan berkesinambungan.
Kepercayaan masyarakat terhadap upaya penegakan
hukum terutama dalam kaitan dengan tindak pidana
korupsi berada pada titik terendah ketika orde baru
berkuasa. Kepercayaan rakyat mulai kembali tumbuh,
meski secar a t er t at i h, ket i ka or de r ef or masi
di gel or akan.
Masyarakat mul ai pedul i dengan gerakan
pemberantasan korupsi . Di sana si ni muncul
lembaga swadaya masyar akat yang konser n
t er hadap pember ant asan kor upsi . Ter cat at ,
sej ak er a ket er bukaan mulai digulirkan seiring
dengan jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto,
ratusan bahkan mungkin ribuan LSM berdiri yang
tersebar sampai ke pelosok-pelosok. Rakyat begitu
antusias untuk terlibat secara langsung dalam gerakan
pemberantasan korupsi.
Lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada
29 Desember 2003 semaki n menggel orakan
masyarakat untuk aktif dalam gerakan melawan
korupsi. Di awal kelahirannya, KPK bak mata air
di tengah padang pasir bagi pencari keadilan dan
sistem hukum yang tidak pandang bulu. Masyarakat
begitu antusias melihat kehadiran KPK.
Menjelang berakhirnya masa Pimpinan KPK yang
pertama, perhatian dan harapan masyarakat yang
ditunjukan kepada KPK juga semakin tinggi. Salah
satu tolok ukurnya adalah meningkatnya jumlah
pengaduan masyarakat yang kini sudah mencapai
angka di atas 22 ribu pengaduan.
Namun, seiring bertambahnya waktu, kinerja yang
di hasi l kan KPK ti dak memadai dengan harapan
masyarakat yang begitu tinggi kepada lembaga
pemberangus koruptor itu. Sebagian perhatian itu
juga muncul dalam bentuk kritik tajam yang terkadang
disampaikan tidak dengan hati melainkan dengan
emosi. Bahkan segelintir di antaranya menginginkan
agar KPK dibubarkan.
Kritik pun mulai berdatangan. KPK dianggap tebang
pilih kasus-kasus korupsi. Sederet judicial review
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang
KPK dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
The public’s confidence in law enforcement efforts,
especially in relation to corruption, was at its lowest ebb
during Suharto’s New Order regime. Now, the people’s
confdence is slowly being restored, as the New Era of
Reform is consolidated.
The people of Indonesia have started to care again about
the anti-corruption effort. Among the public, Non-
Governmental Organizations have been formed which
focus the public’s concern on the fght against corruption.
Since the era of transparency began with the fall of
Suharto’s government, hundreds or even thousands of
NGOs have been formed. The people have enthusiastically
responded to the opportunity to participate directly in the
war against corruption.
The formation of the Corruption Eradication Commission
(KPK) on December 29th, 2003 further amplifed the people’s
desire to play an active role in anti-corruption eforts. In
those early days of the KPK’s operations, this Commission
was like an oasis in the midst of a desert for a people thirsty
for legal certainty and equality. The public was greatly
encouraged by the KPK’s establishment.
As the tenures of the frst KPK Commissioners near an end,
the people’s attention and hopes in the KPK’s viability as an
anti-corruption agency have risen sharply. One measure
of this rise in expectations has been the number
of complaints received by the KPK, which has exceeded
22,000 to date.
However, as time went on, the KPK found it increasingly
difcult to satisfy the high expectations of the public. Such
was the intensity of the public’s desire to see corruption
eradicated once and for all that the criticisms launched
against the KPK were frequently not from the head but
from the heart. There were even calls for the KPK to be
disbanded.
The criticism intensifed, and the KPK was accused of
cherry-picking in its handling of corruption cases. Judicial
reviews of Law No. 30 of 2002 on the KPK and Law No. 31
of 1999 on Corruption Eradication were sought some by
KPK suspects.
It was clear that not all of the criticism was based on a
desire to develop and improve the KPK’s performance. The
criticism was frequently disproportionate, alleging, for
example, that the cost of the KPK was far too high compared
to the level of asset recovery. It was apparent that much
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
10 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
of the criticism and condemnation was based on a lack
of comprehensive knowledge of the KPK’s structure and
work.
Challenges and Obstacles
The corruption eradication movement reached its zenith
in 2007. Law Enforcers, such as the Police and the Attorney
General’s Ofce, became involved in a race to capture
corruptors. The media, as a reflection of the public’s
desires, also played an active role in the strengthening
anti-corruption movement. Hardly a day passed without
news of more corruption suspects being arrested by the
law enforcement authorities.
The year 2007 also saw the arrests of a number of ‘big fsh’
corruptors, in terms of the amount of money stolen or how
famous (or infamous) the perpetrator. Among these were
members of the Judicial Commission and Parliament,
and a former presi dent di rector of a state- owned
enterpri se, who was found to possess assets worth
trillions of rupiah. On the other hand, the anti-corruption
movement has also given rise to a sense of fear among
bureaucrats, manifested in the form of a reluctance to
become project leaders, especially in the area of government
procurement of goods and services. This situation has
understandably raised concerns about its impact on the
state of the Indonesian economy.
On the other hand, the KPK’s corruption prevention eforts
have not received any serious response from the bureaucratic
sphere nation-wide. Bureaucracy reform is an integral part
of corruption eradication that is not being taken seriously
by bureaucratic stakeholders.
Bureaucratic reform, especially reform in the provision
of public services, has not seen any worthwhile progress.
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
pun muncul dan di antaranya disampaikan para
“alumni” tersangka KPK.
Ti dak semua kr i t i k di l andasi t uj uan unt uk
membangun/ memperbaiki kinerja KPK. Muncul
kri ti k l ai n yang ti dak proposi onal dengan
mengatakan bahwa anggaran yang digunakan
KPK tidak sepadan dengan uang negara yang
berhasil diselamatkan. Kritik dan “kecaman” itu tidak
semua dilandasi dengan pengetahuan yang lengkap
tentang sosok KPK.
Tantangan dan Hambatan
Gerakan pemberantasan korupsi semaki n
bergemuruh dalam tahun 2007. Aparat penegak
hukum seperti kepolisian dan kejaksaan seperti
berlomba dalam menjerat koruptor. Media massa
sebagai cermin keinginan masyarakat juga terlibat
aktif dalam menggelorakan gerakan anti korupsi.
Tiada hari tanpa pemberitaan tentang upaya aparat
penegak hukum dalam memberantas korupsi.
Tahun 2007 tercatat koruptor-koruptor kelas kakap
berhasil ditahan. Baik dari nilai kerugian negaranya
maupun dari ketokohannya. Di antaranya, anggota
Komisi Yudisial, anggota DPR bahkan mantan
Direktur Utama BUMN dengan aset triliunan
ber hasi l di t angkap. Di si si l ai n, ger akan
pember antasan korupsi juga sudah melahirkan
rasa takut para bi rokrat dengan muncul nya
keengganan menjadi pimpinan proyek pengadaan
barang dan jasa pemerintah. Kondisi tersebut sempat
memunculkan kekhawatiran akan memperlambat
geliat laju perekonomian.
Di sisi lain, upaya melakukan pencegahan korupsi
yang di l akukan KPK masi h bel um mendapat
tanggapan serius dari aparat birokrasi. Reformasi
bi r okr asi sebagai bagi an pent i ng dal am
pemberantasan korupsi masih dianggap sebelah
mata.
Reformasi birokrasi khususnya perbaikan yang
berkai tan dengan pel ayanan publ i k ti dak
mengal ami kemaj uan yang berar ti . Bahkan,
pada tahun 2007 ini, Indeks Persepsi Korupsi (IPK)
sebagai tolok ukur efektifitas pelayanan publik
11
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
yang dikeluarkan Transparency International justru
turun. Jika pada tahun 2006, IPK Indonesia 2,4
maka pada tahun 2007 ini turun menjadi 2,3.
Sesuai dengan namanya, IPK bukanlah gambaran
tentang ti ngkat korupsi yang terj adi , tetapi
merupakan gambaran buruknya pel ayanan
publ i k. Rendahnya IPK Indonesia ini antara lain
disebabkan oleh tidak diterapkannya prinsip-
prinsip good governance dalam praktik tata kelola
pemerintahan pada umumnya dan khususnya
dalam praktik pelayanan publik.
IPK ini mengindikasikan relevansi buruknya
pelayanan publik akibat korupsi yang terjadi
di l i ngkungan i nstansi pemeri ntah, padahal
Presi den mel al ui I nstruksi Nomor 5 Tahun
2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi
telah mengamanatkan peningkatan kualitas
pelayanan publik (butir keempat) dan penetapan
program dan wilayah bebas korupsi.
IPK yang justru turun tersebut, menunjukkan bahwa
upaya pencegahan korupsi di Indonesia masih
belum optimal. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun
2004 selama ini belum dijalankan secara penuh
dan manfaatnya belum dirasakan masyarakat
banyak. Beberapa unit kerja dan Pemerintah
Daerah memang telah melakukan perbaikan-
perbaikan secara internal. Namun gerakan ini
masih bersifat sporadis dan parsial, karena itu
perl u di gerakkan secara progresi f ol eh para
penyelenggara negara baik di pusat maupun di
daerah.
Selain belum optimalnya upaya mengubah
perilaku birokrat, hambatan dan kendala yang
muncul memasuki tahun keempat KPK di
antaranya yang bisa dicatat adalah:
- Upaya amandemen Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi pad tahun 2006, Mahkamah
Konstitusi (MK) telah membatalkan Penjelasan
Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun
1999 yang berarti penegak hukum (termasuk
KPK) tidak lagi diperbolehkan menerapkan
unsur perbuatan mel awan hukum secara
materiil untuk membuktikan apakah seseorang
Transparency International’s 2007 Corruption Perception
Index, which serves as a benchmark for gauging the
effectiveness of public service provision, showed that
Indonesia’s previous rating of 2.4 weakened to 2.3 in
2007.
The Corruption Perception Index does not represent the
actual amount of corrupt activities being engaged in, but
rather refects the severely inadequate level of public service
provision. The low score rating accorded to Indonesia by
the CPI is due to the national failure to apply the principles
of good governance to the practice of governance in
general, and in the public services arena in particular.
This latest CPI indicates the low level of public services due
to corruption in public institutions, even though Presidential
Decree No. 5 of 2004 on the Accelerated Eradication of
Corruption, requires the quality of public services to be
improved, and has established a number of corruption-free
zones and pilot projects.
Further, this 2007 CPI shows that corruption prevention
eforts in Indonesia are not yet optimal. Presidential De-
cree No. 5 of 2004 has never been properly implemented,
and the benefts have not been felt by the public. Various
government line units and local goverments have intro-
duced internal improvements, but these are still sporadic
and partial in nature. Accordingly, a progressive reform
movement needs to be promoted by both central and lo-
cal government.
Aside from the sub-optimal success of the eforts to change
the behavior of the bureaucrats, other notable challenges
and obstacles faced in the fourth year of the KPK’s operations
are as follows:
t Eforts to amend Law No. 31 of 1999 and Law No. 20
of 2001 on the Eradication of Corruption in 2006 led to
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
12 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
the Constitutional Court striking down the Commentary
on Article 2(1) of Law No. 31 of 1999, which meant that
law enforcement agencies (including the KPK) can no
longer act upon the element of “material conduct
contrary to law” in order to prove culpability. The
Constitutional Court also held that Article 53 of Law
No. 30 of 2002, which provides for the existence of the
Anti - corrupti on Cour t, i s contrar y to the 1945
Consti tuti on. The Court also held however that
Article 53 would remain in efect until it was amended,
with such amendments having to be made within
three years from the date of the Court’s decision. More
than a year after the decision was made, the process
of amending Law No. 31 of 1999 and Law No. 30 of
2002 appears to have stalled. The Constitutional Court’s
decision on article 53 of Law No. 30 of 2002 means that
the anti-corruption legislation MUST be amended. This
is so that in the future the KPK, in the implementation
of its duties and authorities, will be able to conduct
proper preliminary investigations, investigations, and
prosecutions in a wide and holistic manner, with fur-
ther opportunities for constitutional challenges being
closed of.
t Currently, the KPK’s human resources are still minimal.
The KPK currently employs 450 personnel, 27% of whom
are employed in the Ofce of the Deputy for Repression.
These numbers are clearly inadequate in terms of the
number of public complaints received, cases handled,
and the public’s expectations of the KPK. As of November
2007, the number of public complaints received by the
KPK stood at 22,172.
t The challenges and obstacles faced by the KPK in 2007
cannot be separated from the infuence of a wave of
anti-corruption eforts in other countries. The UN
Convention Against Corruption, signed on December
9th, 2003, in Merida, Mexico, has had a signifcant
impact on the anti-corruption efort in Indonesia. At
ber sal ah mel akukan kor upsi . MK j uga
memutuskan bahwa Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun
2002 yang mengatur tentang eksistensi peradilan
tipikor bertentangan dengan UUD 1945. Aturan
pasal 53 tetap mempunyai kekuatan hukum
mengikat sampai diadakan perubahan pal i ng
lambat 3 (tiga) tahun terhitung sejak putusan
tersebut di buat. Lebi h dari setahun sej ak
keputusan dikeluarkan MK, proses perubahan
penyusunan UU Nomor 31 Tahun 1999 maupun
UU Nomor 30 Tahun 2002 masih belum juga
selesai dibahas. Keputusan MK terhadap uji materi
pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 mengharuskan
per a ngk a t unda ng- unda ng t ent a ng
pe mbe r a nt a s a n k o r u ps i ma u pu n K P K
diamandemen. Agar di masa depan KPK dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya bisa
mengakomodasi kepentingan penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan secara lebih luas
dan menyeluruh dan sekaligus menutup peluang
munculnya permohonan uji materi.
- Masih minimnya jumlah Sumber Daya Manusia
(SDM) KPK. Saat ini KPK memiliki pegawai
sebanyak 450 orang, 27 persen di antaranya
berada di Deputi Penindakan. Jumlah ini tentu
jauh dari mencukupi jika dilihat dari sisi jumlah
pengaduan masyarakat, kasus-kasus yang
di tangani dan harapan masyarakat terhadap
KPK. Sampai bulan November 2007, jumlah
pengaduan masyarakat yang masuk sekitar
22.172 pengaduan.
- Masalah sekaligus tantangan yang dihadapi
KPK sepanj ang tahun 2007 j uga ti dak bi sa
di l epaskan dar i pengar uh gel ombang
pemberantasan korupsi di negara-negara
l ai n. Pengesahan Konvensi Perseri katan
Bangsa-Bangsa (PBB) Menentang Korupsi
(United Nations Convention Against Corruption,
2003) pada tanggal 9 Desember 2003 di Merida,
Meksiko, sedikit banyak mempunyai dampak
terhadap upaya pemberantasan korupsi di
I ndonesia. Sedikitnya 137 negara turut ambil
bagian menandatangani konvensi tersebut,
termasuk I ndonesia. Sebagai anggota PBB,
I ndonesia telah meratifikasi UNCAC 2003 pada
tanggal 21 Maret 2006, sebulan kemudian
lahirlah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006
tentang Pengesahan UNCAC 2003. Dengan
di sahkannya undang- undang t er sebut ,
13
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
I ndonesi a harus menyel araskan undang-
undang tindak pidana korupsi dengan sejumlah
ketentuan yang tercantum dalam UNCAC 2003.
Di antaranya adalah yang tertuang dalam Pasal
5 sampai 14 (Bab 2) mengenai ruang lingkup
tindakan pencegahan korupsi, disebutkan
bahwa pencegahan dan penuntutan praktik
korupsi meliputi sektor swasta dan tindakan-
tindakan untuk mencegah kegiatan pencucian
uang. Sesuai dengan UU Nomor 30 Tahun 2002,
KPK melakukan upaya hukum (penyelidikan,
penyi di kan, dan penunt ut an) apabi l a
menyangkut penyel enggar a negar a dan
aparat penegak hukum, sedangkan kor upsi
di sekt or swast a masi h bel um t er j amah
KPK. Di sisi lain, kehadiran konvensi antikorupsi
tersebut menandai diakuinya korupsi sebagai
kejahatan luar biasa (extraordinary crime).
Bahkan, dalam konferensi Asosiasi Internasional
Otoritas Pemberantasan Korupsi (International
Association of Anti-Corruption Authoriti es,
I AACA) di Beijing, 25 Oktober 2006, disepakati
bahwa korupsi merupakan kejahatan lintas
negara (transnational crime).
- Kendala yang muncul dalam upaya melakukan
reformasi birokrasi tercatat beberapa hal antara
lain: Sistem pemerintahan dan pelayanan publik
yang buruk, kompensasi gaji Pegawai Negeri
Si pi l yang masi h tergol ong rendah, si stem
pengawasan pegawai tidak berjalan baik dan
terkesan tumpang tindih, sedikitnya pemimpin
yang bisa menjadi teladan, dan sikap permisif
masyarakat yang ditunjukkan dengan perilaku
koruptif.
Strategi Pemberantasan Korupsi
KPK dalam tugas memberantas korupsi melakukan
dua cara yakni menindak (represif ) dan mencegah
(preventif ). Keduanya dilakukan secara simultan
dengan kecepatan yang seimbang. Hal itu dilandasi
prinsip bahwa berapa pun koruptor yang berhasil
dipenjara tanpa ada upaya pencegahan tindak
pidana korupsi pekerjaan itu akan sia-sia belaka.
Tunas koruptor yang baru akan tumbuh kembali.
Cara tersebut dilakukan setelah mencermati kondisi
dan situasi pemberantasan korupsi di Indonesia.
Sej arah tel ah membukti kan bahwa upaya
pemberantasan korupsi dengan cara represif tanpa
least 137 nations took part in signing the convention,
including Indonesia. As a member of the UN, Indonesia
ratifed the UNCAC on March 21st, 2006, and a month
later, Law No. 7 of 2006 on the Ratifcation to UNCAC
was promulgated. This legislation requires Indonesia
to harmonize its laws with the provisions of UNCAC as
regards international cooperation against corruption.
Articles 5 to 14 of Chapter 2 of UNCAC, on the scope
of the anti-corruption prevention, for example, provide
that the prevention and prosecution of corrupt
conduct must extend to the private sector, and include
the legal and other steps that need to be taken
to prevent money laundering. Based on its mandate
under Law No. 30 of 2002, the KPK is responsible for
various law enforcement activities (preliminary
investigation, investigation, prosecution), only when
public ofcials are involved – private sector corruption
is beyond the jurisdiction of the KPK. The signing of
UNCAC by the state parties also marks the recognition
of corruption as an extraordinary crime. At a meeting
of the International Association of Anti-Corruption
Authorities in Beijing on October 25th, 2006, it was
further agreed that corruption is a grave transnational
crime.
t Obstacles that arise in the efort to reform the Indonesian
bureaucracy are as follows: severely inadequate gover-
nance and public service systems, low levels of public
service remuneration, public service oversight mechanisms
that are not operating well and overlap with one
another, low level of leadership, and the permissive
attitude of the Indonesian people to corruption.
Corruption Eradication Strategy
The KPK, in the performance of its duty to eradicate
corruption, conducts repressive and preventive approaches.
Both of these types of approach must be appl i ed
si mul taneousl y in a balanced manner. This overall
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
14 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
strategy is based on the principle that the arrest of all
known corruptors by the KPK would be for naught
because without prevention, new corruptors, or undetected
corruptors will always cultivate corrupt behavior.
This two-pronged strategy was adopted after the KPK
analyzed the condition of the anti-corruption terrain in
Indonesia. History informs us that a repressive approach
unaided by a preventive one will never be efective. Various
teams, commissions, and boards tasked with corruption
eradication since the 1950s, such as the OPSTIB in 1977,
only focused on repressive activities – results were achieved
in the early days by all such groups, but their zeal was
always quickly smothered by corruption in the ranks.
Learning from history, the KPK has placed preventive
efforts on the same level of importance as repressive
efforts. Preventive efforts include the reform of the
bureaucratic system in an efective, transparent, and
accountable manner. Again, corruption happens not
just because of ‘bad people’, it thrives because the system
itself is bad.
Law No. 30 of 2002 gives a mandate to the KPK to
support the reform of the bureaucratic system. Among
the KPK’s most important tasks in this regard is analyzing
the bureaucratic system, providing suggestions for
improvements, and the conducting of supervision over
bureaucratic institutions and law enforcers. The final
objective of this work is the creation of a bureaucracy and
law enforcement institutions that are clean and efective.
Reform and improvements to the governance system will
be conducted in respect of both the administrative
system and legal system. These eforts are intended to
bring about the renewal of governance in Indonesia with
a view to instituting good governance. The creation of a
clean, efective, and efcient bureaucracy is the goal of the
entire Indonesian people.
ada preventif hasilnya tidak akan efektif. Tercatat
beberapa Tim, Komisi atau Badan yang bertugas
memberantas korupsi sejak tahun 1950-an, seperti
OPSTIB (Operasi Penertiban) tahun 1977, yang
hanya fokus pada penindakan tanpa menyentuh
upaya pencegahan. Hasilnya menyala di awal lalu
pelan-pelan redup tanpa bekas bahkan tim/badan
tersebut tidak steril dengan virus korupsi.
Belajar dari sejarah itulah, KPK meletakkan upaya
pencegahan pada posisi yang sama dengan
penindakan. Upaya pencegahan itu salah satunya
adal ah dengan mel akukan perbai kan si stem
bi rokrasi yang efektif, transparan dan akuntable.
Karena korupsi terjadi tidak hanya karena bad
people (penyelenggara negara yang bermental
bobrok) tetapi juga karena adanya bad system
(sistem pemerintahan yang jelek).
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 memberi
amanat kepada KPK untuk i kut andi l dal am
menciptakan kondisi tersebut. Di antara tugas
KPK tersebut adalah melakukan pengkajian
sistem birokrasi, memberi saran perbaikan dan
melakukan supervisi terhadap institusi birokrasi dan
aparat penegak hukum. Tujuan akhirnya adalah
menciptakan birokrat dan aparat penegak hukum
yang bersih dan mumpuni.
Perbaikan/reformasi sistem pemerintahan dilakukan
kepada semua sistem yang meliputi sistem
administrasi dan sistem hukum. Upaya tersebut
antara l ai n adal ah dal am bentuk pembaruan
tata kelola pemerintahan. Terciptanya birokrasi
yang bersih, efektif dan mumpuni merupakan
harapan semua rakyat Indonesia.
15
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
In 2007, aside from conducting arrests of corruptors and
supervizing the work of the law enforcement agencies,
the KPK was also active in conducting preventive eforts,
especially in relation to bureaucratic reform. Such eforts
were focused on empowering the law enforcement
institutions, and other institutions related to the provision
of public services.
Of the various activities conducted in pursuit of public
service empowerment, perhaps the most prominent was
an analysis of the systems employed by State and
Government institutions, including the placement system
for Indonesian migrant workers.
The results of this analysis were 11 (eleven) main fndings
demonstrating just how rife bribery is in the document
processing area. The lack of established standards of
service and the lack of protection for Indonesian migrant
workers left the door open wide to corruption. These
fndings were delivered to the Department of Labour and
Transmigration and the National Agency for the Placement
and Protection of Migrant Labor for follow-up.
Another prominent case was the examination made by
the KPK on the import administration system employed by
the Directorate General of Customs and Excise. The results
of this examination showed that illicit fee-collecting is still
common, and importers are able to choose the physical
inspections they prefer. These, along with other questionable
procedures, have increased the opportunities for corruption.
The results of this examination were communicated by
the KPK to the Directorate General of Customs and Excise.
Another examination conducted by the KPK was
on the licensing services provided by the Investment
Coordinating Agency (Badan Koordinasi Penanaman
Modal – BKPM). The fndings of that examination were
communicated by the KPK to the BKPM.
In relation to the KPK’s function as a national trigger
mechanism in the fght against corruption, it works to
encourage State and Government institutions to establish
their own systems that could have signifcant impacts
on the corruption eradication efort. In this area, one
prominent activity in 2007 was the implementation of
e-announcement in the feld of public goods and services
procurements.
Pada tahun 2007, selain melakukan penangkapan
koruptor, supervisi terhadap aparat penegak
hukum, KPK juga giat melakukan upaya pencegahan
terutama dalam kaitan dengan reformasi birokrasi.
Upaya ter sebut l ebi h di ar ahkan kepada
pemberdayaan (empowering) aparat hukum dan
instansi lain terutama yang berkaitan dengan
pelayanan publik (public services).
Di antara kegiatan yang menonjol dalam upaya
melakukan pemberdayaan adalah mengkaji
sistem di lembaga negara dan pemerintahan.
Pengkajian itu meliputi sistem penempatan tenaga
kerja Indonesia. Hasilnya, KPK menemukan sebelas
(11) temuan pokok seperti maraknya praktik suap
dalam pengurusan dokumen, Belum adanya standar
pelayanan yang baku serta perlindungan terhadap
TKI yang masih lemah. Hasil kajian tersebut diberikan
kepada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
TKI untuk segera ditindaklanjuti.
Hal lain yang menonjol adalah pengkajian sistem
administrasi impor di Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai. Hasil kajian, KPK menemukan masih adanya
pungutan liar , importir dapat memilih pemeriksaan
fsik yang dikehendaki serta prosedur yang membuka
peluang terjadinya korupsi. Kajian ini kemudian
disampaikan oleh KPK kepada Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai. Kajian lain yang dlakukan KPK adalah
dal am si stem pel ayanan peri j i nan di Badan
koordi nasi Penanaman Modal (BKPM). Beberapa
temuan juga sudah disampaikan KPK kepada BKPM.
Dalam kaitan dengan fungsi pemicu (trigger) KPK
melakukan kegiatan mendorong upaya lembaga
pemerintah atau negara untuk melaksanakan
sebuah sistem yang dinilai memberi dampak yang
besar terhadap pemberantasan korupsi. Hal-hal
yang menonj ol dal am tahun 2007 adal ah
implementasi pelaksanaan E-Announcement dalam
pengadaan barang dan jasa pemerintah.
E -Annoucement yang merupakan tahap awal dari
E -procurement adalah langkah perbaikan sistem
pengadaan barang dan jasa pemerintah. KPK telah
memberi saran dan mendorong adanya quick-win
untuk meningkatkan transparansi dalam proses
pengadaan barang dan jasa pemerintah dengan
penerapan e-Announcement pada situs web
Pengadaan Nasional.
Kondisi dan Strategi
Conditions and Strategies
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
16 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Database Nasabah Terpusat (DNT) juga menjadi
sorotan KPK dalam tahun 2007. Implementasi
sistem DNT sebenarnya sudah dimulai sejak
tahun 2006. Data tersebut sangat penting dalam
rangka melacak rekening tersangka korupsi.
Untuk mendapatkan gambaran atau best practices,
tim gabungan antara KPK dan BI melakukan studi
banding ke Korea Selatan, China, Perancis, dan Jerman.
Strategi lain sebagai pelaksanaan tugas dan
wewenang KPK sesuai dengan Undang-undang
No. 30 Tahun 2002 adalah melakukan koordinasi
dan supervisi. Dua tugas ini bertujuan untuk lebih
memberdayakan (empowering) instansi penegak
hukum atau yang lain.
Kegiatan koordinasi dilaksanakan dalam bentuk
rapat koordinasi dengan instansi Kejaksaan dan
Kepolisian untuk membahas penanganan perkara-
per kar a TPK. Sementar a kegi atan super vi si
di l aksanakan dal am bentuk penel i ti an dan
penelaahan, serta gelar perkara hasil penyidikan
atau penuntutan perkara TPK yang sedang
dilakukan oleh Kepolisian dan Kejaksaan berdasarkan
Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP)
yang dilaporkan kepada KPK.
Koordinasi dan supervisi dilakukan KPK di antaranya
kepada Kejaksaan Tinggi maupun Polisi Daerah. Salah
satu hal yang menonjol dalam upaya supervisi dan
koordinasi yang dilakukan KPK adalah munculnya
hambatan baik kepolisian maupun kejaksaan
terhadap turunnya surat ijin Presiden untuk
memeriksa pejabat negara. Dalam kaitan dengan
hambatan/kendala tersebut KPK membantu
memonitor proses permintaan perijinan tersebut.
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam
perang melawan korupsi ini memang tidak serta-
merta langsung melenyapkan korupsi di Indonesia.
Namun, melalui usaha yang terus-menerus dan
dengan dukungan dari berbagai pihak, niscaya visi
menciptakan Indonesia yang bebas dari korupsi
bukanlah hal yang mustahil.

E-announcement is the frst step towards e-procurement,
and strives to improve the Government goods and services
procurement systems. The KPK has provided suggestions
and encouraged the pursuit of quick wins in improving
transparency in the government goods and services
procurement process through the implementation of e-
announcement on the National Procurement website.
The establishment of a Central Customer Database
(Database Nasabah Terpusat - DNT) was also a focus for
the KPK in 2007. The implementation of the DNT system
actually started in 2006. The data contained in the system
will be integral to the effort to trace the accounts of
corruption suspects. In order to obtain information on
best practices, a joint team composed of Bank Indonesia
and KPK personnel conducted comparative studies in
South Korea, China, France and Germany.
Other strategies involved in the discharge of the KPK’s duties
and authorities in line with Law No. 30 of 2002 are the
conducting of coordination and supervision. These strategies
are aimed at the empowerment of law enforcement and
other institutions.
Coordination activities took the form of coordination
meetings with the Prosecution Service and Police to
discuss the handling of corruption cases. Meanwhile,
supervisory activities took the form of analyses and studies,
publication of the results of investigations and the
prosecution of corruption cases being handled by the
Police or the Attorney General’s Ofce based on an SPDP
(Investigation Commencement Notice) forwarded to the
KPK.
The KPK conducted coordination and supervisory activities
in respect of Provincial Prosecution Ofces and Regional
Police Forces. One prominent issue that emerged from
these supervisory and coordinating activities were the
obstacles met by the Police and Prosecution Ofces in
obtaining Presidential consent to question State ofcials.
In relation to these obstacles, the KPK has assisted in the
monitoring of the consent process.
The various eforts expended in the war against corruption
are certainly not going to make corruption in Indonesia
disappear overnight. However, through continuous efort
and support from all sections of the community, the KPK is
optimistic that its vision of a corruption-free Indonesia will
eventually come to pass.
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
18
Organisasi yang profesional dan menerapkan
prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang
baik
Salah satu modal utama agar kinerja
KPK bisa efsien dan efektif adalah
melalui organisasi yang profesional dan
menerapkan prinsip-prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik berlandaskan
pada budaya kerja, perilaku organisasi
modern, dan nilai-nilai bermartabat.
Itulah yang menjadi sasaran jangka
pendek KPK dalam empat tahun pertama
keberadaannya. Sasaran tersebut tercipta
melalui pembangunan kelembagaan
dengan cara pengembangan struktur
organisasi, personel, penyusunan metode
dan prosedur kerja, serta penyiapan
sarana dan prasarana kerja.

Untuk mendukung pembangunan
kelembagaan, KPK telah melakukan
pengembangan manajemen sumber
daya manusia (SDM), efisiensi dan
efektivitas pengelolaan keuangan,
peningkatan dukungan infrastuktur,
peralatan dan teknologi, penguatan
peraturan pendukung kegiatan, dan
penyelenggaraan pengawasan internal.
Pengembangan Manajemen SDM
Penyempurnaan pengelolaan dan
manajemen SDM mengacu kepada
Peraturan Pemerintah Nomor 63
Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen
Sumber Daya Manusia (MSDM) KPK. KPK
telah melakukan beberapa program
kerja terkait dengan pembenahan dan
penyempurnaan MSDM berbasis
kompetensi dan kinerja sesuai dengan
perkembangan organisasi, yakni:
One of the main strategies for ensuring an
efcient and efective performance on the
part of the KPK is through the formation of
a professional organization that adheres to
the principles of good governance, based
on a solid work ethic, modern organizational
behaviour, and dignifed values. This has
been the KPK’s short-term target since its
formation four years ago, and has been
realized through a process of institution-
building involving structural development,
the designing of working procedures and
methodology, and the provision of
infrastructure and facilities.
In order to support the process of institu-
tion-building, the KPK has focused on
the development of human resources
management, fnancial management
efciency and efectiveness, infrastructure
support, procurement of equipment and
technology, strengthening of the legislative
framework, and the implementation of
effective internal monitoring.
Human Resources Development
The efort to improving the management
of human resources was carried out under
Government Regulation No. 63 of 2005 on
the KPK Human Resources Management
System. The KPK has undertaken various
programs related to the restructuring and
improving of human resources management
based on competency and performance in
line with organizational development:
The formation of a professional organization that
implements good governance principles


19
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
1. Rekruitmen dan Seleksi Pegawai dalam rangka
pemenuhan kebutuhan terhadap operasional kerja
sejalan dengan perkembangan organisasi, melalui:
- Program Indonesia Memanggil II sebanyak 106
pegawai, yakni 54 pegawai Fungsional dan
pegawai Administrasi, dan 52 Calon Pegawai
Fungsional;
- Instansi Pemerintah sebanyak 26 pegawai, yak-
ni 5 orang dari Kejaksaan Agung, 6 orang dari
Kepolisian RI, 11 orang dari BPKP, dan 4 orang
dari ANRI;
- Pegawai Tidak Tetap sebanyak 1 orang.
2. Re-evaluasi Jabatan, yaitu melakukan pembobotan
ulang atas jabatan yang ada dengan menggunakan
sistem Hay Point melalui faktor Pengetahuan
(Know-How), Pemecahan Masalah (Problem
Solving), Hasil Kerja (Accountability), dan Risiko Kerja
(Working Condition), terkait dengan perkembangan
organisasi KPK dan perubahan fungsi pada beberapa
jabatan sesuai dengan bisnis prosesnya. Proses ini
menghasilkan dokumen proses bisnis tiap-tiap
unit kerja, uraian jabatan setiap jenis pekerjaan,
dan pembobotan tiap-tiap jabatan sesuai dengan
pengelompokan tingkat rumpun jabatannya, yaitu
Tingkat Utama, Tingkat Madya, dan Tingkat Muda.
Dari hasil analisis terhadap Re-evaluasi Jabatan,
ditetapkan 125 nama posisi jabatan dalam 7 rumpun
jabatan (RJ), yaitu RJ Struktural, RJ Fungsional Represi,
RJ Fungsional Preventif, RJ Fungsional Pendidikan
dan Pelayanan Masyarakat, RJ Fungsional Umum, RJ
Teknis, dan RJ Administrasi Umum.
3. Penyempurnaan data kompetensi, baik kompetensi
teknis (hard competencies) maupun kompetensi
perilaku (soft competencies). Kompetensi teknis
(hard competencies), dibedakan sesuai dengan
tiap-tiap rumpun jabatannya, sehingga diperoleh
data kompetensi teknis yang dipersyaratkan
untuk masing-masing rumpun jabatan terkait unsur
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan
kemampuan yang dipersyaratkan (aptitude) yang
akan dipergunakan dalam proses penilaian kinerja
serta penyusunan program pendidikan dan pelatihan
per jabatan maupun per Pegawai.
Kompetensi perilaku (soft competencies), telah
ditetapkan Kamus Kompetensi Perilaku, lengkap
dengan dimensi dan tingkat indikator perilaku (pro-
ficiency levelling) untuk tiap-tiap rumpun jaba-
tan. Ada 24 jenis kompetensi perilaku di KPK, yang
1. Recruitment and Selection of Personnel in the context
of fulflling the operational needs of the KPK, in accordance
with organizational growth, through:
- Second Indonesia Calls Program, which recruited
106 personnel: 54 functional and administrative
personnel, and 52 candidate functional personnel;
- 26 personnel were recruited from other Government
Institutions: 5 individuals from the Attorney Gener-
al’s Ofce, 6 individuals from the Police, 11 individu-
als from the BPKP (Finance and Development Audit
Board), and 4 individuals from ANRI (National
Archives);
- Temporary personnel: 1 individual.
2. Job re-evaluation, that is, the re-weighting of jobs
using the Hay Point system, which uses the following
factors: Know-How, Problem Solving, Accountability,
and Working Conditions. This was necessary given the
KPK’s growth as an organization and the resulting
changes in the functions of various jobs. This process
produced business process documents for each line
unit, descriptions of each job, and the re-weighting
of each job according to its categorization: Senior
Level, Middle Level, or Junior Level. Based on the job
re-evaluation analysis, 125 jobs in 7 work groupings
were established. The 7 work groupings are: Struc-
tural, Functional, Repression, Functional – Preventive,
Functional – Education and Public Services, Functional
– General, Technical, and Administration.
3. Improving data competency, including both hard
(technical) competencies and soft (behavioural)
competencies. Hard competencies are diferentiated
according to the work groupings listed above, so as
to produce the technical competency data that is
a pre-requisite for each work group, This covers such
areas as knowledge, skills, and aptitude – all of which
are assessed in performance evaluations, as well as the
education and training program designs for each job,
or for individual staf members.
For soft competencies, a Behavioral Competence
Manual has been produced, which contains all
the dimensions and ‘profciency levelling’ indicators
for each work group. There are 24 types of behavioral
competencies in the KPK, which are categorized as
follows: (a) core competencies, which all KPK personnel
must satisfy at the lowest permissible competency level,
including competency in the following areas: integrity,
needs achievement, organizational commitment, self
control, and persistence; (b) primary competencies,
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
20
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
dibagi menjadi tiga kategori kompetensi, yaitu:
(a) kompetensi inti (core competencies) yaitu
kompetensi perilaku yang wajib dimiliki seluruh
Pegawai KPK dengan batas tingkat kompetensi
terendah sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan oleh KPK, meliputi kompetensi integrity,
need achievement, commitment organization, self
control, dan persistent; (b) kompetensi primer
(primary competencies), yaitu kompetensi yang
harus dimiliki oleh setiap Pegawai KPK, dengan
batas tingkat kompetensi terendah sesuai dengan
persyaratan rumpun j abatannya, mel i puti
communi cati on, initiative information seeking,
teamwork, planning and organizing, self confdence;
dan (c) kompetensi sekunder (secondary
competencies), yaitu kompetensi perilaku yang
perlu dimiliki oleh pegawai pada pekerjaan
tertentu dengan batas ti ngkat kompetensi
terendah disesuaikan dengan persyaratan
pekerjaan tersebut, terdiri dari analytical thinking,
building partnership, conceptual thinking, concern
for order and quality, service orientation, decision
making dan delegation, developing others, directive,
impact and infuence, interpersonal understanding,
team leadership, strategic orientation.
4. Desai n si stem penggaj i an baru sebagai
penyempurnaan sistem penggajian tahun
2006 mengacu kepada hasil re-evaluasi jabatan di
tahun 2007 untuk bisa segera diimplementasikan
pada tahun 2008. Proses penyempurnaan sistem
penggaj i an mel i puti 3 ( ti ga) hal yai tu
memper hati kan tingkat jabatan suatu posisi
pekerjaan (Pay For Position), memperhatikan
kompetensi pegawai sebagai pemegang jabatan
(Pay For Person), serta memperhatikan hasil kinerja
pegawai sesuai dengan pencapaian target
kinerjanya (Pay For Performance) melalui pemberian
insentif, penyesuaian gaji dengan sistem merit
serta pengembangan pegawai melalui program
promosi atau rotasi jabatan.

5. Penyempurnaan Manajemen Kinerja Pegawai
melalui aplikasi PMS (Performance Management
Systems) dengan metode penilaian pribadi (self
assesment), penilaian atasan langsung, serta
penilaian atasan dari atasan langsung. Komponen
yang dinilai adalah kompetensi perilaku dan
pencapaian target kinerja yang telah disusun
berdasarkan Key Result Area, Objective, dan Key
which must be possessed by all KPK personnel at the
lowest permissible competency level for their working
group, including competency in communication,
proactive information seeking, teamwork, planning
and organizing, self confdence; and (c) secondary
competencies, which personnel performing certain
tasks must satisfy at the lowest permissible competency
level, including competency in analytical thinking,
partnership building, conceptual thinking, concern for
order and quality, service orientation, decision-making
and delegation, developing others, directive, impact
and infuence, interpersonal understanding, team
leadership, and strategic orientation.
4. The new salary system design, which improves on the
2006 salary system, takes the 2007 job re-evaluation
into account, so that it can be implemented immediately
in 2008. The new salary system takes into account three
issues: ‘Pay for Position’; ‘Pay for Person’; and ‘Pay for
Performance’ through the provision of incentives, salary
adjustments based on a merit system, and personnel
development through promotions and transfers.
5. Improving Personnel Performance Management
through the application of a Performance Management
System based on self-assessment, assessment by
immediate superiors, and assessment by the superior
of the immediate superior. Components to be assessed
are: behavioral competency and the achievement
of the performance targets that have been adopted
based upon ‘Key Results Areas’, ‘Objectives’, and ‘Key
Performance Indicators’. The results will be used in
making decisions on incentives and personnel
development programs.
21
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Performance Indicator-nya. Hasil dari PMS
ini digunakan sebagai salah satu pengambilan
keputusan kepegawaian menyangkut insentif dan
program pengembangan Pegawai.
6. Pembuatan desain Knowledge Management
(KM), sebagai salah satu sarana pengembangan
SDM KPK melalui proses sinergi seluruh potensi
pengetahuan yang ada di organisasi KPK.
Diharapkan melalui program KM, pegawai
mampu memanfaatkan dan meningkatkan
penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang
kajian yang spesifk, untuk kemudian diaplikasikan
sehi ngga menci ptakan ni l ai tambah dan
meni ngkatkan keunggulan kompetitif organisasi
KPK.
7. Pembuatan desain Talent Management bertujuan
untuk mendapatkan, mengembangkan, dan
menempatkan pegawai yang memiliki tingkat
kualifkasi tinggi dan yang mampu menghasilkan
kinerja unggul, pada posisi-posisi kunci organisasi
sehingga kelangsungan organisasi dapat terjamin
melalui regenerasi SDM yang berkualitas.
8. Pelaksanaan Evaluasi Sistem MSDM KPK melalui
Tim Evaluasi yang beranggotakan wakil-wakil dari
Kementerian Negara Aparatur Negara, Departemen
Keuangan, Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet,
Badan Kepegawaian Negara, Lembaga Administrasi
Negara, dan Komisi Pemberantasan Korupsi . Periode
2007 evaluasi pelaksanaan PP 63 Tahun 2005 lebih
ditekankan pada proses pelaksanaan per pilar
manajemen SDM, terutama penyempurnaan sistem
penggajian dan manajemen kinerja.
9. Pembuatan Human Resources Information
System (HRIS) sebagai salah satu sarana database
kepegawaian yang terintegrasi, untuk membantu
pengambilan keputusan kepegawaian melalui
informasi dan data yang tersaji secara akurat,
terkini, dan sistematis, yang dapat diakses seluruh
pegawai melalui sistem jaringan (online).
Komposisi SDM Tahun 2007
Sampai dengan 18 Desember 2007, KPK memiliki
pegawai sebanyak 450 orang, dengan perincian
sebagai berikut:
6. The preparing of a Knowledge Management design
as one of the KPK’s human resources development
approaches. This involves a process of synergizing all
of the knowledge potential within the KPK organization.
It is hoped that through the KM program, personnel
will be better able to make use of and improve their
masteries of specifc areas of knowledge.
7. Preparing Talent Management design for the
recruitment, training, and assignment of high-calibre
personnel in key positions of the organization, thereby
ensuring the sustainability of the organization through
the ‘regeneration’ of high quality human resources.
8. Conducting evaluations of the KPK Human Resources
Management System through an Evaluation Team
that will be made up of representatives from the Civil
Service Reform Department (MenPAN), the Department
of Finance, the State Secretariat, the Cabinet Secretariat,
the Civil Service Personnel Board (Badan Kepegawaian
Negara), the State Administration Institute, and the
Corruption Eradication Commission. Evaluation of the
application of Government Regulation No. 63 of 2005
will be focused on implementation per each human
resources management pillar, with particular emphasis on
improvements to the salary system and performance
management.
9. Establishment of the Human Resources Information
System (HRIS) as an integrated personnel database in
order to support personnel decision-making based on
information and data that is accurate, up-to-date,
systematic, and accessable by all personnel online.
Human Resources Composition 2007
As of December 18th, 2007, the KPK employed 450
personnel, with the details being as follows:
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
22
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
1. Menurut Unit Organisasi
2. Menurut Kelompok Jabatan
3. Menurut Status Kepegawaian
Komposisi Pegawai KPK Menurut Status Kepegawaian
KPK Staf Based on Personnel Status
Komposisi Pegawai KPK Menurut Kelompok Jabatan
KPK Staf Based on Job Groups
1. According to Organizational Units

2. According to Job Groups

3. According to Personnel Status

PIPM
(Internal Monitoringand
Public Complaints)
46 (10,22%)
Setjen
(Secretariat General)
73 (16,22%)
INDA
(Information&Data) 72 (16,00%)
Penindakan
(Represive) 120 (26,67%)
Pencegahan
(Preventive) 80 (17,78%)
Pimpinan
(Commisioners)
5 (1,11%)
Penasehat
(Advisors)
2 (0,44%)
CPF
(Functional Personnel Candidate)
52 (11,56%)
Pimpinan
(Commisioners)
5 (1,11%)
CPF
(Functional Personnel Candidate)
52 (12,56%)
Administrasi dan Pendukung
(AdministrativeandSupporting)
118 (26%)
Penasehat
(Advisor)
2 (0,44%)
Struktural
(Structural)
26 (5,78%)
Fungsional Spesifk
(Functional Specifc) 214 (47,56%)
Fungsional Umum
(Functional General) 33 (7,33%)
Pegawai Negeri Dipekerjakan
(SecondedCivil Servants)
195 (43,33%)
Pimpinan
(Commissioners)
5 (1,11%)
Penasehat
(Advisor)
2 (0,44%)
Pegawai Tidak Tetap
(TemporaryPersonnel)
58 (12,89%)
Pegawai Tetap
(Permanent Personnel)
190 (42,22%)
Komposisi Pegawai KPK Menurut Unit Organisasi
KPK Staf Based on Organizational Units
23
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Peningkatan Kapasitas SDM
Dalam tahun 2007, program pendidikan dan pelatihan
di KPK mulai dibuat secara terstruktur mengacu
kepada hasil analisis kebutuhan pelatihan dan masih
berbasiskan organisasional. Program pendidikan dan
pelatihan selama 2007 dijabarkan ke dalam program-
program sebagai berikut:
1. Analisis Kebutuhan Pelatihan
Kegiatan analisis kebutuhan pelatihan difasilitasi
oleh konsultan Internasional dari Investigator
Training Internasional (ITI) dengan bantuan donor
dari Legal Development Facility (LDF) yang meliputi
3 tahap yaitu tahap (1) identifkasi proyek di tahun
2006, (2) identifkasi kebutuhan pelatihan, dan (3)
pembuatan Lesson Plan dan Calender of Training.
Hasil dari kegiatan analisis kebutuhan pelatihan
ini adalah strategi dan skema pelatihan untuk KPK,
penyempurnaan kegiatan induksi dan basic
training untuk pegawai baru, kumpulan modul
dan lesson plan, Calender of Training untuk tahun
2008 dan 2009.
2. Diklat Pegawai Baru KPK
Diklat Pegawai Baru KPK dibagi menjadi dua yaitu
kategori A (fresh graduate) dan kategori B (Pegawai
dengan pengalaman kerja). Tahun 2007 telah
dilaksanakan induksi kategori A sebanyak 1 kali,
dan induksi kategori B sebanyak 3 kali. Untuk
orientasi Pegawai KPK kategori A (52 orang)
dilakukan selama 5 hari di setiap unit kerja
(13pekan) dilanjutkan dengan Job Shadowing
sampai dengan bulan April 2008.
3. Diklat Peningkatan Kompetensi Pegawai KPK
Salah satu proses peningkatan kompetensi
pegawai KPK dipenuhi dengan cara melakukan
pengiriman peserta pelatihan di dalam negeri
maupun di luar negeri. Pelatihan di dalam negeri
ada yang bersifat pelatihan internal dan pelatihan
eksternal. Pelatihan yang sifatnya internal (swakelola)
dikelola oleh KPK, sedangkan untuk pelatihan
bersifat eksternal, KPK hanya memfasilitasi secara
administratif ke training provider.
Program pelatihan swakelola pada tahun 2007 ini
sebanyak 37 (tiga puluh tujuh) pelatihan, sedangkan
pelatihan eksternal sebanyak 42 (empat puluh
dua) pelatihan. Pelatihan yang dilaksanakan di
luar negeri sebanyak 12 (dua belas) pelatihan yaitu
Human Resources Capacity Improvements
In 2007, the KPK’s education and training programs started
to be structured based on training needs analyses, and are
still organization-based. Education and training programs
conducted in 2007 were as follows:
1. Training Needs Analysis
The conducting of a training needs analysis were
facilitated by international consultants from
Investigator Training Internasional (ITI) with donor
assistance from the Legal Development Facility (LDF).
The analysis included three phases: (1) identifcation
of projects in 2006, (2) identifcation of training needs,
and (3) structuring of Lesson Plans and Calender of
Training. The training needs analysis resulted in a KPK
training strategy and schemes, improved induction
processes and basic training for new personnel,
designing of modules and lesson plans, and Calendars
of Training for 2008 and 2009.
2. KPK Education and Training for New Personnel
The KPK’s education and training for new personnel is
divided into two categories: Category A (fresh graduates)
and Category B (with work experience). In 2007,
category A inductions were conducted once, and
category B inductions were conducted 3 times.
Orientations of categor y A personnel (52) were
conducted for 5 days by each line unit (13 weeks),
which was followed by ‘job shadowing’ until April
2008.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
24
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
di Hongkong, Singapura, Malaysia, Brunei
Darussalam, Thailand, Perancis, Swiss, Inggris,
Jerman, dan Australia.
Jumlah hari pelatihan rata-rata per Pegawai
berdasarkan realisasi program pelatihan tahun
2007 ini sebanyak 9 (sembilan) hari pelatihan/
orang
4. Matrikulasi dan Sertifkasi
Matrikulasi Auditor dilaksanakan dalam 2 angkatan,
Angkatan I (Maret 2007) diikuti oleh 17 peserta
dan Angkatan II (Oktober 2007) diikuti oleh 15
peserta, pelaksanaannya bekerjasama dengan
BPKP.
Sertifkasi yang dikelola secara langsung oleh KPK
terdiri dari Sertifkasi Pengadaan Barang dan Jasa
dari Bappenas dan Sertifkasi CFE (Certifcate Fraud
Examiner). Selain itu, ada juga pegawai di beberapa
unit kerja yang secara langsung mengikuti sertifkasi
yang penyelenggaraan dilaksanakan oleh pihak
eksternal yaitu CIA (Certifcate Internal Auditor), CISA
(Certifcate Internal Systems Auditor), dan CAMS
(Certifcate of Anti Money Laundering Specialist).
Khusus untuk CAMS merupakan sertifkasi atas
bantuan dari AusAID.
Sertifkasi Pengadaan Barang dan Jasa tahun 2007
dilaksanakan dalam 2 angkatan. Angkatan I (Maret
2007) diikuti oleh 16 peserta dan yang berhasil
lulus sebanyak 12 peserta. Angkatan II (Oktober
2007) diikuti oleh 20 peserta dan yang berhasil lulus
sebanyak 7 orang.
Sertifkasi CFE tahun 2007 merupakan kelanjutan
dari tutorial yang dilaksanakan tahun 2006,
Angkatan I dilaksanakan pada Januari 2007 diikuti
oleh 27 peserta dan yang berhasil lulus sebanyak
23 peserta. Sertifkasi CFE Angkatan II sedang dalam
proses dan diikuti oleh 18 peserta.
Tahun 2007, KPK telah merancang sistem
sertifikasi yang tidak sekedar untuk pengakuan
kemampuan individu, namun berusaha
memberdayakan sertifkasi sebagai alat untuk
Knowledge Management dan implementasi
hasil pelatihan dan peningkatan kualitas menuju
kesempurnaan. Sertifkasi tersebut terdiri dari:
3. KPK Competency Improvement Education and
Training
Improving the competencies of KPK personnel can be
enrolling staf in training either in Indonesia or abroad.
Domestic training includes both internal and external
training. Internal training is conducted by the KPK,
while in the case of external training the KPK facilitates
the training provider administratively.
In 2007 t 37 internal training programs and 42 external
training programs were provided. There were also 12
training programs conducted abroad, namely, in Hong
Kong, Singapore, Malaysia, Brunei, Thailand, France,
Switzerland, UK, Germany, and Australia.
The average number of training days per staf member
based on the realization of training programs in 2007
was 9.
4. Matriculation and Certifcation
Auditor matriculation takes place over 2 weeks, and
involved two intakes in 2007. Group I (March 2007) had
17 participants, while Group II had 15 participants.
implementation was carried out in co-operation with
the BPKP.
Certifcation was organized directly by the KPK, and
included Goods and Services Procurement Certifcation
(Sertifkasi Pengadaan Barang) by Bappenas, and CFE
(Certifed Fraud Examiner) certifcation. In addition,
there were a number of personnel from diferent line
units who directly participated in external certifcation
programs, including CIA (Certifed Internal Auditor),
CISA (Certifed Internal Systems Auditor), and CAMS
(Certifed Anti Money Laundering Specialist) programs.
CAMS certifcation was made possible thanks to support
from AusAID.
Certifcation of Goods and Services Procurement
training in 2007 was participated in by 2 Groups. Group
I (March 2007) had 16 participants, with 12 graduates,
while Group II (October 2007) had 20 participants and
7 graduates.
CFE Certifcation training in 2007 was a continuation
of the tutorials conducted in 2006. This also consisted
of 2 Groups. Group I (January 2007) had 27 participants
and 23 graduates, while Group II is still receiving training
and has 18 participants.
25
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
- Certificate of Attendance (CoA), sertifikat
pengakuan bahwa peserta telah lulus dari
suatu program pelatihan dan pendidikan.
- Certificate of Sharing (CoS), sertifikat
pengakuan bahwa peserta telah melakukan
sharing hasil pelatihan dan pendidikan.
- Certificate of Experience (CoE), sertifikat
pengakuan ba hwa pes er t a t el a h
mengi mpl ement a s i k a n hasil pelatihan
dan pendidikan di lingkungan kerja.
- Certificate of Perfection (CoP), sertifikat
pengakuan bahwa peserta telah menjadi
teladan dalam bidang yang dilatihkan.
Mulai triwulan keempat 2007, telah dilaksanakan
beber apa k al i t r ai ni ng t r ansf er, yai t u
kegi at an penyampai an kembali hasil
pelatihan dan pendidikan sebagai sal ah satu
upaya implementasinya CoS, khususnya pelatihan-
pelatihan luar negeri dan pelatihan yang kepesertaan
dari KPK dibatasi oleh instansi penyelenggara.
Untuk implementasi CoA telah dilaksanakan yaitu
bagi peserta yang tidak lulus atau tidak dapat
memenuhi batas minimal kehadiran tidak diberikan
sertifkat.
5. Dukungan Donor dan Beasiswa
Selain dari anggaran APBN, kegiatan pelatihan
KPK juga berasal dari donor beberapa negara/
lembaga, baik itu dalam bentuk bantuan instruk-
tur, pendanaan sarana dan prasarana pelatihan,
pengiriman peserta. Lembaga tersebut antara
lain LDF, USAID, AusAID, JCLEC, FCPP, JICA, ILEA,
GTZ, dan Perancis.
Bantuan donor juga diterima KPK dalam bentuk
program Beasiswa, yaitu Beasiswa ADS dan
Wolongong yang merupakan bantuan dari
AusAID, Beasiswa Chievening dari Inggris, dan
Beasiswa dari Perancis. Dari pemerintah Korea
Selatan melalui lembaga KOICA, KPK difasilitasi
bantuan pelatihan dan konsultasi tenaga ahli
terkait reformasi birokrasi yang implementasinya
akan dilaksanakan mulai bulan April 2008.
In 2007, the KPK designed a certifcation system that
not only refects the individual’s abilities, but also
attempts to strengthening certifcation itself so as to
serve as a Knowledge Management tool. This certifcation
system is composed of:
t Certifcate of Attendance (CoA), showing that the
participant has graduated from a training/education
program.
t Certificate of Sharing (CoS), showing that the
participant has shared the results of his/her training
and education.
t Certifcate of Experience (CoE), showing that the
participant has been putting what he has learned
into efect in his/her work environment.
t Certifcate of Perfection (CoP), showing that the
participant has become a role model in the area for
which he was trained.
Starting in the fourth quarter of 2007, training transfer
events have been held on a number of occasions. These
are designed to spread the knowledge that has been
learned as one way of implementing CoS, especially for
training conducted outside Indonesia, and training in
which the number of KPK participants was limited by
the training provider. The CoA program has also been
implemented – participants who fail to graduate or
satisfy the attendance threshold are not awarded CoA
certifcates.
5. Donor Support and Scholarships
Aside from the State Budget, the KPK’s training activities
were supported by donors from various institutions and
nations. This support took the form of infrastructural aid,
fnancing of training, and sending of participants on
training courses. The donors involved were: LDF, USAID,
AusAID, JCLEC, FCPP, JICA, ILEA, GTZ, and France.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
26
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
6. Workshop Bersama Percepatan Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi
Sebagai trigger mechanism, maka KPK melan-
jutkan program workshop bersama perce-
patan pemberantasan TPK antara KPK, BPK,
Kejaksaan, dan Kepolisian. Workshop tahun 2007
diselenggarakan pada 26-30 November di Jakarta,
dengan penekanan pada pemberantasan TPK di
daerah sehingga kepesertaannya diperluas den-
gan melibatkan BPKP dan Mahkamah Agung.
7. Bimbingan Mental dan Spiritual
Pada bulan Ramadhan 1428 H dibentuk Panitia
Kegiatan Ramadhan yang telah melaksanakan
kegiatan: pembagian Buku Panduan Ramadhan,
Ceramah menjelang Ramadhan, Kultum setiap
Ba’da Dzuhur, Peringatan Nuzulul Qur’an,
Pengumpulan I nfaq, Halal bi-Halal, serta
pelaksanaan Sholat Jum’at di lingkungan KPK.
Untuk Pegawai yang beragama Nasrani, sejak
bulan Oktober 2007 tel ah di l aksanakan
pembi naan spiritual melalui ibadah bersama
(kebaktian) setiap hari Jumat jam 11.45 – 12.45,
dengan mengundang pembicara dari luar.
Donor assistance was also received by the KPK in the
form of scholarships, namely, the ADS Scholarships
and Wolongong Scholarships, which were provided
by AusAID; Chievening Scholarships from England;
and Scholarships from the French Government. From
the South Korean Government (through KOICA), the
KPK was provided with training support and expert
consultants for the bureaucratic reforms which will be
implemented in April 2008.
6. Joint Workshops on Accelerated Corruption
Eradication
As a trigger mechanism, the KPK is continuing its joint
workshop program on Accelerated Corruption Eradication
with the State Audit Board, the Attorney General’s
Office, and the Police. This 2007 Workshop was held
from 26th to 30th of November in Jakarta, with the
focus on corruption eradication in the regions, which
necessitated the participation of the BPKP and the
Supreme Court.
7. Mental and Spiritual Support
During Ramadhan, a Ramadhan Committee was
formed which undertook the following activities:
distribution of Ramadhan Guide, Sermons, and
Kultum for each Ba’da Dzuhur, Nuzulul Qur’an
activities, Infaq Collections, Halal bi-Halal (gatherings),
and Friday Prayers within the KPK.
For Christian personnel, October 2007 saw the launch
of a spiritual guidance program each Friday from 11.45
to 12.45, with speakers from outside the KPK being
invited to attend.
27
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Internal Supervision
Internal supervision involves the functions of consultation,
evaluation, and the provision of recommendations in the
areas of risk management, control, and management in
general in order to increase the KPK’s efectiveness and
efciency in achieveing its Vision and Mission. In the efort
to create a professional organization of high integrity, the
KPK implemented the following programs in 2007:
t Improving Organizational Effectiveness and
Efficiency, whi ch was i mpl emented through
i ndependent and objective audits and reviews on
line units and organizational functions within the KPK.
Through these activities, weaknesses in management
and control were identifed, and remedial actions taken.
In 2007, 5 audits and reviews were conducted on line
units and organizational functions.
t Improving/Strengthening Organizational Integrity.
Organizational Integrity is required by the KPK in its
role as a locomotive for the eradication of corruption.
In order to create an organizational culture that
is characterized by high integrity, appropriate action
must be taken against all irregularities, breaches, abuses
of power, and violations of the KPK code of ethics by
KPK personnel. Recommendations on remedial action
and guidance were produced after internal supervision
performed special audits. In 2007, 17 special audits
were conducted into alleged breaches of the code of
ethics or abuses of authority following public
complaints.
t Strengthening of Control. The achievement of an
organization’s goals is infuenced by that organization’s
capacity to adapt to the environment and to anticipate
risks that can afect the achievement of strategic goals.
The KPK assists its personnel in heightening organizational
awareness of the risks faced, especially as regards
compliance with the laws and regulations in efect . In
2007, the KPK conducted three rounds of drugs tests on
staf through the testing of urine samples with the help
of the DKI Jakarta Provincial Narcotics Board.
t Manual and SOP Development. The KPK Manual and
Standard Operating Procedures play a strategic role as
they provide guidance for the execution of duties and
decision-making. The Internal Supervision Manuals
and SOPs that have already been produced, as well as
those still under development, include the following:
Internal Supervision Charter, Internal Audit Manual,
Pengawasan Internal
Pengawasan internal menyediakan fungsi konsultasi,
evaluasi, dan memberi rekomendasi dalam lingkup
manajemen risiko, pengendalian, dan tata kelola,
untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi KPK
dalam mencapai visi dan misinya. Dalam upaya
mewujudkan organisasi yang profesional dan
berintegritas, pada 2007 KPK menjalankan program-
program sebagai berikut:
- Peningkatan Efektivitas dan Efsiensi Organisasi,
yang dilakukan melalui kegiatan audit dan reviu
yang independen dan obyektif terhadap unit kerja
maupun fungsi-fungsi organisasi di KPK. Melalui
kegiatan tersebut, diidentifkasi kelemahan dalam
lingkup pengendalian dan tata kelola, dan
direkomendasikan tindakan perbaikan secara
berkesinambungan. Dalam tahun 2007, telah
dilakukan 5 (lima) kegiatan audit dan reviu reguler
terhadap beberapa unit kerja dan fungsi organisasi
yang ada.
- Peningkatan/Penguatan Integritas Organisasi.
Integritas organisasi dibutuhkan KPK dalam
perannya sebagai lokomotif pemberantasan tindak
pidana korupsi. Untuk mewujudkan budaya
organisasi yang berintegritas, perlu dilakukan
tindakan yang tepat terhadap setiap bentuk
penyi mpangan, pel anggar an, maupun
penyal ahgunaan wewenang dan kode etik
yang dilakukan pegawai KPK. Rekomendasi tindakan
perbaikan dan pembinaan dihasilkan setelah
pengawasan internal melakukan audit khusus.
Selama 2007 telah dilakukan 17 (tujuh belas) audit
khusus atas dugaan pelanggaran kode etik dan
penyalahgunaan wewenang, sebagai tindak lanjut
dari pengaduan masyarakat.
- Penguatan Pengendalian. Pencapaian tujuan
organisasi dipengaruhi oleh kemampuan organisasi
dalam beradaptasi dengan lingkungan dan
antisipasi terhadap risiko yang dapat mempengaruhi
pencapaian tujuan strategis. KPK membantu para
pegawai dalam meningkatkan kesadaran organisasi
terhadap risiko yang dihadapi, terutama dalam
mendorong ketaatan terhadap peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku. Pada 2007,
KPK telah melakukan tes narkoba melalui
pengujian sampel urine pegawai/pejabat KPK
sebanyak 3 (tiga) sesi, yang pelaksanaannya bekerja
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
28
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Financial Report Review Working Paper SOP, Whistle
Blowing Program SOP, and the Public Complaints
Analysis SOP.
Financial Support
In Fiscal Year 2007, the KPK had two sources of funding.
The frst was direct support from the State Budget (APBN),
which amounted to IDR247,660,200,000.00, while the
second was grants from various donors, which amounted
to IDR98,590,961,000.00. Thus, the total KPK’s budget for
2007 was IDR346,251,161,000.00.
1. State Budget
Out of the KPK’s budget allocation, as of
December 18th, 2007, 60.46% had been spent:
IDR149,779,093,179.00.
- Realization by Type of Expenditure
sama dengan Badan Narkotika Provinsi (BNP) DKI
Jakarta.
- Pengembangan Manual dan SOP. Manual dan
Standar Operating Prosedur (SOP) memiliki peran
strategis karena dapat memberikan pedoman
dan arahan yang jelas dalam pelaksanaan tugas
dan pengambilan keputusan. Manual dan SOP
pengawasan internal yang telah dibuat maupun
dalam proses pengembangan, yaitu Charter
Pengawasan Internal, Manual Audit Internal, SOP
Kertas Kerja Reviu Laporan Keuangan, SOP Whistle
Blowing Program, dan SOP Penelaahan Pengaduan
Masyarakat.
Dukungan Keuangan
Dalam Tahun Anggaran 2007, KPK memiliki dua
sumber pembiayaan untuk seluruh program dan
kegiatannya. Sumber pertama adalah Rupiah Murni
APBN sebesar Rp247.660.200.000,00 dan yang
kedua adalah hibah yang berasal dari beberapa
donor sebesar Rp98.590.961.000,00. Sehingga,
total alokasi anggaran KPK untuk 2007 adalah sebesar
Rp346.251.161.000,00.
1. Pembiayaan Rupiah Murni APBN
Dari pagu Rupiah Murni APBN yang dialokasikan
sampai dengan 18 Desember 2007 telah
direalisasikan sebesar 60,46% atau senilai
Rp149.779.093.179,00.
- Realisasi Menurut Jenis Belanja
96.646
65.740
94.145
40.740
56.869
43.299
Pagu / Cap Realisasi / Realized
Belanja Pegawai
Personnel Expenditures
Belanja Barang
Material Expenditures
Belanja Modal
Capital Expenditures
Realisasi APBN RM Tahun 2007 menurut Jenis Belanja (dalam Miliar Rupaih)
IDR APBN Realization 2007 by Expenditure (Billion Rupiah)
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
120.000
29
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Realisasi APBN RM Tahun 2007 menurut Unit Organisasi (dalam Jutaan Rupiah)
IDR APBN Realization 2007 by Organization Unit (Mllion Rupiah)
Pagu / Cap Realisasi / Realized
94.290
139.126
20.538
12.212
6.444
31.298
52.335
34.814
4.363
2.019
Pencegahan
Preventive
Penindakan
Repressive
INDA
Information and Data
PPIM
Internal Monitoring &
Public Complaints
Setjen
Secretariats General
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
120.000
140.000
160.000
Capital Expenditure accounted for 76.13% of spending,
Personnel Expenditure for 68.02%, and Material Expenditure
for 43.38%.
- Spending by Organizational Unit (Ofce of Deputy)

By Organizational Unit, spending as per December 18th,
2007, by the Ofce of the Repression Deputy accounted
for 20.59% (IDR31,298,150,000.00), Ofce of the
Prevention Deputy 59.47% (IDR20,538,285,000.00),
Office of the In¬ternal Monitoring and Public
Complaints Deputy 46.28% (IDR4,363,234,000.00),
Ofce of the Information and Data Deputy 66.52%
(IDR52,334,596,000.00), and the Secretariat General
67.77% (IDR139,125,935,000.00).
2. Funding from Grants
In 2007, the KPK received grants from various agencies/
nations amounting to IDR98,590,961,000.00, of
which IDR12,058,316,012.00 had been spent as per
December 18th, 2007, with the details being as follows:
t ADB, for the Strengthening the Capacity of the KPK
project, which included activities to develop the
KPK’s Standard Operating Procedures; information,
communication and technology (ICT) development;
operating information system development;
investigation training; seminars and workshops,
with a total aid amount being IDR2,450,000.00. To
date, IDR2,355,983,171.00 has been spent.
Realisasi Belanja Modal terbesar yakni 76,13%,
disusul Belanja Pegawai sebesar 68,02%,
dan terakhir Belanja Barang sebesar 43,38%.
- Realisasi Menurut Unit Organisasi (Kedeputian)
Berdasarkan unit organisasinya, realisasi sampai
dengan 18 Desember 2007 untuk Deputi
Penindakan terealisasi sebesar 20,59% dari
alokasi dana sebesar Rp31.298.150.000,00, Deputi
Pencegahan terealisasi 59,47% dari alokasi
anggaran sebesar Rp20.538.285.000,00, Deputi
Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat
direalisasikan sebesar 16,28% dari alokasi dana
Rp4.363.234.000,00, Deputi Informasi dan Data
terealisasi 66,52% dari alokasi dana sebesar
Rp52.334.596.000,00, Sekretariat Jenderal telah
direalisasikan sebesar 66,77% dari alokasi dana
sebesar Rp139.125.935.000,00.
2. Pembiayaan dari Hibah
Sel ama 2007, KPK mendapat hi bah dari
beberapa lembaga/negara yang menjadi donor
sebesar Rp98.590.961.000,00, sampai dengan
18 Desember 2007 telah direalisasikan sebesar
Rp12.058.316.012,00 dengan rincian sebagai beri-
kut:
- ADB pada proyek Strengthening the Capacity
of KPK; untuk kegiatan pengembangan SOP
KPK, pengembangan informasi, komunikasi
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
30
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
· PGRI (Partnership for Governance Reform in Indonesia)
through the Crash Program to Support the Anti
Corruption Commission project; which included
training for the conducting of raids, intelligence
and witness protection training; law enforcement
monitoring, campaigning for a Witness Protection
Law, gaps analysis studies, workshops, and
“advocating to advocates”, with the total aid
budget amounting to IDR1,616,100,000.00. To
date, IDR1,431,017,005.00 has been spent.
· ADB, for the Earthquake and Tsunami Emergency
Support Project (ETESP), which addressed anti-cor-
ruption activities in Aceh and Nias, including help with
the handling of public complaints, training
and socialising, office rents, vehicle leasing,
surveys, and technical guidance. The total
cap for the aid was set at IDR3,187,900,000,00, of
which IDR1,023,284,892.00 has been spent.
t DANIDA Support For KPK (Denmark); for
corruption prevention activities at the DPRD
(local parliament) level through anti-corruption
campaigns, information technology capacity
improvements, and improving the democratic
process at the local level. The total cap for the
aid was set at IDR6,868,679,000.00, of which
IDR5,359,291,048.00 has been spent.
t USAID through the Millenium Challenge
Cooperation Indonesia / Control of Corruption
Project; for the procuring of Monitoring Center
equipment, IPK surveys, and bribery surveys. The
total aid was set at IDR81,994,026,000.00 with
none of this having been spent to date.
t CANADA–CIDA through the project Supporting
Awarness of Good Governance to Reduce
Corruption in the Government and Community;
this is a contribution from the Canadian government
to Indonesia as the host of “Indonesia’s Anti Corruption
Events” which were held in Jakarta and Bali. The total
dan teknologi (ICT Development), pengembangan
operating information system, investigation training,
seminar, dan workshop. Dari total pagu hibah
sebesar Rp2.450.000.000,00, telah direalisasikan
sebesar Rp2.355.983.171,00.
- PGRI (Partnership for Governance Reform in
Indonesia) melalui proyek Crash Program to
Support the Anti Corruption Commission; untuk
kegiatan pelatihan penggeledahan, intelejen
dan perlindungan saksi, monitoring peradilan
dan kampanye UU Perlindungan Saksi, study
gap anal ysi s, workshop, dan advokasi
advokat. Dari total pagu hibah sebesar
Rp1.616.100.000,00, telah direalisasikan
sebesar Rp.1.431.017.005,00.
- ADB pada proyek Earthquake and Tsunami
Emergency Support Project (ETESP); untuk
kegiatan pencegahan korupsi di NAD dan
Nias, antara lain penanganan pengaduan
masyarakat, pelatihan dan sosialisasi kepada
masyarakat Aceh, sewa kantor, sewa kendaraan,
survey, dan bimbingan teknis. Total pagu hibah
sebesar Rp3.187.900.000,00 dan telah
direalisasikan sebesar Rp1.023.234.892,00.
- DANIDA Support For KPK (Denmark); untuk
kegiatan pencegahan korupsi di DPRD,
kampanye antikorupsi, peningkatan kapasitas
teknologi informasi, dan peningkatan proses
demokrasi di parlemen. Total pagu hibah sebesar
Rp6.868.679.000,00, telah direalisasikan sebesar
Rp5.359.291.048,00.
- USAID pada proyek Millenium Challenge
Cooperation Indonesia/Control of Corruption
Project; untuk kegiatan pengadaan perala-
tan Monitoring Center, survey IPK, dan sur-
vey penyuapan. Dari total hibah sebesar
Rp81.994.026.000,00 sampai saat ini belum
ada realisasi.
- CANADA–CIDA pada proyek Supporting
Awarness of Good Governance to Reduce
Corruption in the Government and Community;
merupakan kontribusi pemerintah Kanada
kepada I ndonesia sebagai tuan rumah
Indonesia’s Anti Cor r upt i on Event s yang
di sel enggar ak an di Jakarta dan Bali. Total
hibah sebesar Rp800.000.000,00 telah
direalisasikan sebesar Rp481.751.780,00;
- GTZ pada proyek Supporting the Implementation of
the UN Convention against Corruption (UNCAC),
German UNCAC Project, merupakan kontribusi
31
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
aid amounted to IDR800,000,000.00 of which
IDR481,751,780.00 has been spent.
t GTZ through the proj ect Supporting the
Implementation of the UN Convention against
Corruption (UNCAC); German UNCAC Project,
which is a contribution from the German government
in respect to the international seminar on Asset Recovery
and Mutual Legal Assistance that was held in Bali,
Indonesia. The total cap for the aid amounted to
IDR659,750,290.00, of which IDR651,947,748.00
has been spent.
t AUSTRALIA – AusAID, Australian government
support for the Seminar on Fighting Bribery in
Public Procurement, which will be held in Bali.
The aid is valued at IDR1,014,506,500.00, of which
IDR755,040,368.00 has been spent.

pemer i nt ah J er man dal am r angk a
penyel enggar aan konferensi UNCAC
yang diselenggarakan di Jakarta, Indonesia.
Total pagu hibah sebesar Rp659.750.290,00
telah direalisasikan Rp651.947.748,00.
- AUSTRALIA – AusAID, dukungan pemerintah
Australia dalam rangka penyelenggaraan
Seminar on Fighting Bribery in Public Procurement
di Bali. Nilai hibah sebesar telah direalisasikan
Rp1.014.506.000,00, sampai saat ini telah
direlisasikan sebesar Rp755.040.368,00.
Realisasi Hibah TA 2007 menurut donor
Grant Realization 2007 by Donor
USAID-MCC
Pagu / Cap Realisasi / Realized
ADB-4341- INO ADB-ESTP PGRI DANIDA CIDA
90.000
80.000
70.000
60.000
50.000
40.000
30.000
20.000
10.000
0
(
d
a
l
a
m

J
u
t
a
a
n

R
u
o
i
a
h
)
81.994
0
3.188
1.023
2.450
2.356
1.616
1.431
6.869
5.359
800
482
660
652
GTZ Aus-AID
1.015
755
3. Non-Tax State Revenues (PNBP) from the Handling
of Corruption and Gratuity Cases
In line with the KPK’s core duties and functions, PNPB
in 2007 were received from two sources: from the
handling of corruption and gratuity cases, with the
total amount logged with the State Treasury as per
December 18th, 2007, being IDR48,403,649.506,00.
Of that total, corruption cases contributed
IDR45,513,032,038.00, composed of:
t Corruption compensation ordered by the Court
(MAP 424114): IDR34,312,007,190.00.
t Confscated Corruption Proceeds, as ordered by the
Court (MAP 424111): IDR8,055,173,827.00.
t Revenue from Fines in Corruption Cases (MAP
423214): IDR2,250,000,000.00.
t Revenue from Anti-Corruption Court Fees (MAP
423215): IDR347,500.00
t Giro Services (MAP 423151): IDR895,503,521.00.
Revenue from gratuities cases contributed
IDR2,890,617,468.00, composed of:
t Gratuities ordered forfeit to the State by the KPK
(MAP 424112): IDR2,886,808,144.00.
t Giro Services (MAP 423151): IDR3,809,324.00.
During this first four years period, the budget
provided for the handling of corruption and gratuity
cases amounted to IDR56,975,052,000.00, with budget
spending amounting to IDR13,748,712,526.00, while
the non-tax state revenues (PNBP) received from the
handling of corruption and gratuity cases amounted
to IDR68,353,337,863,00. The following graph
presents the breakdowns on an annual basis:
3. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari
Penanganan Kasus TPK dan Gratifkasi
Sesuai dengan tupoksinya, sepanjang TA 2007
PNBP yang berhasil diperoleh KPK berasal dari dua
sumber, yaitu penerimaan dari kasus TPK dan
penerimaan gratifkasi dengan total nilai yang
disetor ke rekening kas negara per tanggal 18
Desember 2007 sebesar Rp48.403.649.506,00.
Dari total nilai tersebut, penanganan kasus TPK
menyumbangkan sebesar Rp45.513.032.038,00
terdiri dari:
- Pendapatan Uang Pengganti TPK yang
Ditetapkan Pengadilan (MAP 424114) sebesar
Rp34.312.007.190,00.
- Pendapatan Uang Sitaan Hasil Korupsi yang
Telah Ditetapkan Pengadilan (MAP 424111)
sebesar Rp8.055.173.827,00.
- Pendapatan Hasil Denda Kasus TPK (MAP
423214) sebesar Rp2.250.000.000,00.
- Pendapatan Ongkos Perkara Kasus TPK (MAP
423215) sebesar Rp347.500,00.
- Jasa Giro (MAP 423151) sebesar Rp895.503.521,00
Sedangkan penanganan gratifkasi menyumbangkan
Rp2.890.617.468,00 terdiri dari:
- Pendapatan Gratifikasi yang ditetapkan KPK
menjadi Milik Negara (MAP 424112) sebesar
Rp2.886.808.144,50.
- Jasa Giro (MAP 423151) sebesar Rp3.809.724,00.
Selama empat tahun periode pertama ini, dana
anggaran yang disediakan untuk operasional
penanganan TPK dan grati fi kasi adal ah
sebesar Rp56. 975. 052. 000, 00 dengan
real i sasi penggunaan dananya sejumlah
Rp13.748.712.526,00 dan PNBP yang diper-
oleh dari penanganan TPK dan gratifkasi adalah
Rp68.353.337.863,00. Adapun rincian per tahunnya
sebagaimana grafk berikut:
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
32
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
33
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
KPK Ofce Infrastructure
When the KPK was formed at the beginning of 2004, it
has been housed in two separate ofce buildings: (a) the
Commissioners and the Ofce of the Deputy for Repression
were housed on Jl. Veteran, Jakarta; while (b) the Secretary
General, Ofce of the Deputy for Prevention, Ofce of the
Deputy for Information and Data, and the Ofce of the
Deputy for Internal Monitoring and Public Complaints
were housed at Jl. Juanda No. 36, Central Jakarta.
With the steady increase in work-load and personnel numbers,
the need for tighter inter-deputy/ditrectorate coordination,
and technological and security needs, it is clear that the
KPK needs infrastructure and facilities that are capable of
supporting the task of combating corruption in Indonesia.
Based on Finance Minister Letter No: S-164/MK.06/2005
dated April 20, 2005, the KPK was given permission to use
the building that formerly housed PT Bank Papan
Sejahtera, on Jl. HR Rasuna Said Kav. C1, Jakarta Selatan.
In order to accommodate the KPK’s specifc needs, the
building needed to be renovated. Renovation began in
2005, and the building has been operational since 2007.
Infrastruktur Gedung KPK
Sejak dibentuk pada awal 2004, KPK menempati 2
(dua) lokasi gedung kantor, yaitu: (a) Pimpinan KPK
dan Deputi Penindakan di Jl. Veteran, Jakarta; dan (b)
Setjen, Deputi Pencegahan, Deputi INDA, dan Deputi
PIPM di Jl. Juanda No. 36 Jakarta Pusat.
Seiring dengan meningkatnya volume kerja dan
personil, kebutuhan koordinasi yang erat antarbidang,
dan kebutuhan keamanan dan teknologi, KPK perlu
mempunyai sarana dan prasarana yang memadai
untuk menunjang pelaksanaan tugas. Berdasarkan
Surat Menteri Keuangan Nomor: S-164/MK.06/2005
tanggal 20 April 2005, KPK mendapatkan izin untuk
menempati Gedung eks-PT. Bank Papan Sejahtera
di Jl. H. R. Rasuna Said Kav. C1, Jakarta Selatan.
Untuk mengakomodasi kebutuhan KPK, maka
gedung tersebut perlu direnovasi sehingga dapat
menunjang pelaksaaan tugas-tugas KPK secara optimal.
Renovasi telah dimulai sejak 2005, dan telah dapat
dioperasikan secara penuh pada 2007.
Perbandingan Anggaran, Realisasi, dan PNBP dari Penanganan TPK dan Gratifkasi
(Posisi 18 Desember 2007
Budget, Non Tax Revenue, and Budget Comparison from The Handling of Corrupt Conduct and Gratifcation
(per December 18th, 2007)
2006
Pagu / Cap Realisasi / Realized
2004
0
7.000
PNBP/Non Tax Revenues
2005 2007
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
40.000
45.000
399
10.879
981
6.959
13.914
12.991
5.025
7.344
25.182
50.000
48.404
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
34
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Penempatan gedung baru KPK di Kuningan yang
awalnya direncanakan 11 Desember 2006, terpaksa
ditunda hingga awal Agustus 2007 akibat gedung
tersebut masih ditempati oleh instansi lain dan
beberapa persoalan teknis lainnya. Gedung baru
KPK Kuningan terdiri dari 8 lantai yang diisi oleh 500
orang, terdiri dari Pimpinan, Penasehat, 4 Kedeputian
dan Setjen.
Dukungan Teknologi Informasi
Sejalan dengan renovasi gedung kantor KPK di Kuningan,
dibangun pula prasarana teknologi informasi (TI)
untuk mendukung operasional kegiatan KPK, berupa
IT Networking, Building Automation Systems (BAS),
dan Integrated Security Systems (ISS). Di samping
pembangunan prasarana TI, dibangun berbagai
aplikasi komputer yang terdiri dari Aplikasi Pengaduan
Masyarakat, Aplikasi Keuangan, dan Aplikasi Human
Resources Information System (HRIS). Pada 2007 juga
telah disusun IT Blue Print KPK tahun 2008-2010 yang
merupakan rencana jangka menengah pengembangan
TI KPK yang didasarkan pada (Draft) Rencana Strategis
KPK 2008-2012.
The KPK intended to relocate to its new address in Kun-
ingan on 11 December 2006, but was only able to do so
in early August 2007 as other institutions were still using
the building, as well as a number of technical issues. The
new KPK building has 8 foors and houses 500 people: the
Commissioners, Advisors, the 4 Deputies’ Ofces and the
Secretary General.
Information Technology Support
During the renovations to the Kuningan ofces of the KPK,
the necessary information technology facilities to support
the KPK’s work were installed. These include such facilities
as IT Networking, a Building Automation System (BAS),
and an Integrated Security System (ISS). Aside from
developing IT facilities, various computer applications
were also devised, including a Public Complaints Application,
Financial Applications, and the Human Resources
Information System (HRIS) Application. In 2007 the KPK
IT Blue Print for 2008-2010 was designed, which is a mid-
term plan to develop the KPK’s IT in line with the Draft KPK
Strategic Plan for 2008 – 2012.
35
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
Penguatan Aspek Yuridis
Undang-undang mengamanatkan KPK agar mampu
meningkatkan efektivitas, profesionalitas, dan intensitas
pemberantasan korupsi baik yang dilakukan oleh
KPK maupun instansi lain yang berwenang, sehingga
di perl ukan penguatan aspek yuri di s. Untuk
mewuj udkan penguatan ini, KPK berperan aktif
dalam:
- penyusunan rancangan Perubahan atas Undang-
Undang UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- keanggotaan Tim Penyusun Undang-Undang
tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi;
- keanggotaan Tim Penyusun Undang-Undang
Pemberantasan Korupsi yang akan mengubah UU
Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah
dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Korupsi;
- pemberian rekomendasi tentang Rancangan
Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana;
- penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah
tentang Perlindungan Hukum Terhadap Pimpinan
Komisi Pemberantasan Korupsi;
- penyusunan Rancangan Keputusan Bersama
Kerjasama Antara Komisi Pemberantasan Korupsi
dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia
di Bidang Penegakan Hukum;
- penyusunan Rancangan Hibah Dari Negara melalui
Komisi Pemberantasan Korupsi kepada Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia;
- penyusunan Rancangan Hibah Dari Negara melalui
Komisi Pemberantasan Korupsi kepada Pemerintah
Kabupaten Maluku Tenggara;
- penyusunan Rancangan Hibah Dari Negara melalui
Komisi Pemberantasan Korupsi kepada Badan
Koordinasi Keamanan Laut.
Strengthening of Juridical Aspects
The legislation gives a mandate to the KPK to improve the
efectiveness, professionalism, and intensity of corruption
eradication eforts, especially by the law enforcement
agencies that have been vested with anti-corruption powers.
Accordingly, it will be necessary to strenthen the juridical
aspects. In order to realize this, the KPK has played an
active role in:
t Drafting a bill to amend Law No. 30 of 2002 on the
Corruption Eradication Commission;
t The membership of the Anti-Corruption Court Law
Drafting Team;
t The membership of the Corruption Eradication Law
Drafting Team, which will draw up amendments to
Law No. 31 of 1999, as previously amended by Law No.
20 of 2001 on Corruption Eradication;
t Providing recommendations for the drafting of the
Criminal Procedures Bill;
t Drafting the Government regulation on Legal Immunity
for Corruption Eradication Commission Commissioners;
t Drafting a Joint Decree on Collaboration between the
Corruption Eradication Commission and the Department
of Law and Human Rights in the area of Law Enforcement;
t Designing a State Grant Scheme through the Corruption
Eradication Commission to the Department of Law
and Human Rights;
t Designing a State Grant Scheme through the Corruption
Eradication Commission to the Government of South
East Maluku;
t Designing a State Grant Scheme through the Corruption
Eradication Commission to the Maritime Security
Coordination Board.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
36
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
KPK Peduli
Di samping melaksanakan tugas pemberantasan
korupsi, insan KPK pun “peduli” pada lingkungannya.
Donor darah, bingkisan (parcel) bagi pegawai honorer,
dan bantuan bagi korban banjir, merupakan bentuk
nyata kepedulian itu.
KPK’s Social Responsibility
Aside from performing its corruption eradication duties,
the KPK Organization and personnel take their social
responsibilities seriously. This is shown by various activities,
including blood donor drives, the giving of parcels to
non-permanent staf, and the provision of assistance to
food victims.
37
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
37
Pergantian Pimpinan KPK
Pada 18 Desember 2007, pimpinan KPK periode 2003-
2007 yang terdiri dari Taufequrachman Ruki, Amien
Sunaryadi, Tumpak Hatorangan Panggabean, Sjahruddin
Rasul, dan Erry Riyana Hardjapamekas secara resmi
digantikan oleh Pimpinan KPK periode 2007-2011
yang terdiri dari Antasari Azhar (ketua merangkap
anggota), Chandra M. Hamzah, Bibit Samad Rianto,
Haryono, dan Mochammad Jasin (wakil ketua merangkap
anggota). Pengangkatan sumpah pimpinan KPK
periode 2007-2011 dilakukan di hadapan Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono di
Istana Negara pada Selasa sore, (18/12).
Setelah pengangkatan sumpah, diadakan serah terima
jabatan antara pimpinan KPK periode 2003-2007
kepada pimpinan KPK 2007-2011 yang diselenggarakan di
Gedung KPK. Dalam serah terima jabatan ini, pimpinan
KPK periode 2003-2007 secara resmi juga menyerahkan
sejumlah dokumen yang berkaitan dengan segala
kegiatan dan program yang telah dan sedang dilakukan
KPK kepada pimpinan KPK periode 2007-2011. Pimpinan
KPK periode 2003-2007 juga menyerahkan ID Card
KPK sebagai simbolisasi berakhirnya masa jabatan
mereka.
Pada malam harinya, dilaksanakan acara pisah-
sambut antara pimpinan KPK periode 2003-2007
dan pimpinan KPK 2007-2011. Dalam kegiatan ini,
disampaikan pesan dan kesan pimpinan KPK periode
2003-2007 tentang pengalaman mereka selama empat
tahun memimpin KPK. Kegiatan ini dihadiri oleh
beberapa pejabat negara RI, anggota Kabinet
I ndonesia Bersatu, para Duta Besar negara sahabat,
dan perwakilan lembaga-lembaga donor.
Hand-over of the Commissioners’ Ofces
On December 18th, 2007, the KPK Commissioners for the
2003-2007 period: Taufiequrachman Ruki, Amien
Sunaryadi, Tumpak Hatorangan Panggabean, Sjahruddin
Rasul, and Erry Riyana Hardjapamekas ofcially handed
over the leadership of the KPK to the KPK Commissioners
for the 2007-2011 period, who are: Antasari Azhar (Chairman),
Chandra M. Hamzah, Bibit Samad Rianto, Haryono, and
Mochammad Jasin (all as Vice-chairmen). The new
Commissioners took their oaths before the President of
the Republic of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono at
the State Palace.
After the palace event, the 2003-2007 Commissioners
officially handed over leadership of the KPK to the 2007-
2011 Commissioners during an event held at the KPK
Ofce in the afternoon. During this event, the 2003-2007
Commissioners also handed over official documents
relevant to all activities and programs already concluded
or still being pursued to the 2007-2011 Commissioners.
As a symbol of the end of their tenures, the outgoing
Commissioners also handed over their ID cards.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
38
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pembangunan Kelembagaan
Institution Building
38
Sebagaimana termaktub di dalam UU 30 Tahun 2002,
Pimpinan KPK merupakan penanggung jawab
tertinggi KPK yang dipilih oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia berdasarkan calon
anggota yang diusulkan oleh Presiden Republik
Indonesia dan memiliki periode jabatan selama
empat tahun.
The 2003-2007 Commissioners took the opportunity of the
event held at the KPK ofce to share their experiences of
leading the KPK for four years to various invitees, including
State Officials, Indonesia United Cabinet Members,
Ambassadors, and donor countries.
As provided for in Law No. 30 of 2002, the KPK Commissioners
are the ultimate wielders of responsibility in the KPK, who
have been selected by the Parliament out of candidates
who have already passed selection by the President of the
Republic of Indonesia, to lead the KPK for a period of four
years.
Penindakan
Repression
Menangkap hingga menuntut koruptor di muka
pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan
Pelaksanaan tugas penindakan yang
diamanatkan kepada KPK adalah
dengan menangkap hingga menuntut
koruptor di muka pengadilan sesuai
dengan per at ur an per undang-
undangan dan harapan masyarakat.
Hal ini diharapkan akan menimbulkan
efek jera dan meredam niat untuk
melakukan korupsi. Pemberantasan
korupsi secara represif dilaksanakan
mel al ui kegi atan koordi nasi dan
supervisi, penanganan kasus/perkara,
pelimpahan, dan pengambilalihan
kasus.
Koordinasi dan Supervisi
1. Kegiatan Koordinasi
Kegiatan koordinasi dilaksanakan
dalam bentuk rapat koordinasi
dengan instansi Kejaksaan dan
Kepol i si an untuk membahas
penanganan perkara-perkara TPK
dengan 30 (tiga puluh) instansi,
antara lain koordinasi dengan
Kejaksaan Agung, Mabes POLRI,
Polda dan Kejati Sumatera Barat,
Polda dan Kejati Papua, Polda dan
Kejati Sulawesi Utara, Polda Metro
Jaya, Polda dan Kejati Jawa Timur,
Polda dan Kejati Gorontalo, Polda
dan Kejati Kalimantan Selatan, Polda
dan Kejati Kalimantan Tengah, Polda
Jawa Tengah, Pol da dan Kej ati
Sumatera Barat, Polda dan Kejati
Riau, Polda dan Kejati Jawa Tengah.
The i mpl ement at i on of t he KPK’s
mandated repression activities range from
arrests to prosecutions of corruptors in a
court of law as per the relevant laws as well
as the hopes of the public. Repression
activities are meant to have a deterrent
efect on corrupt behaviour. Repressive
corruption eradication is also conducted
through coordination and supervision
activities, the handling of cases, transfer of
cases, and the taking-over of cases.
Coordination and Supervision
1. Coordination
Coordi nati on takes the form of
coordinating meetings with Police and
Attorney General ’s Of f i ce of f i ci al s
i n or der t o di scuss t he handl i ng
of corruption cases with 30 (thirty)
institutions, including coordination
involving: the Attorney General’s Ofce
(Kejaksaan Agung - Kejagung), Police
HQ, Regi onal Pol i ce Forces and
Provi nci al Prosecutor ’s Of f i ces
( Kej aksaan Ti nggi - Provi nci al
Prosecutor’s Ofce) of West Sumatra; Re-
gional Police Force and Provincial Prose-
cutor’s Office of Papua; the Regional
Police Force and Provincial Prosecutor’s
Ofce of North Sulawesi; the Jakar ta
Metropolitan Police, the Regional
Police Force and Provincial Prosecu-
tor ’s Offi ce of East Java; t he Re-
gi onal Pol i ce Force and Provincial
Ar r est s t o pr osecut i ons of cor r upt or s i n
a court of law as per the relevant laws


Laporan Tahunan /Annual Report 2007
40 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
41
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
2. Kegiatan Supervisi

Kegiatan supervisi dilaksanakan dalam bentuk
penelitian dan penelaahan, serta gelar perkara
hasil penyidikan atau penuntutan perkara TPK
yang sedang dilakukan oleh Kepolisian dan
Kejaksaan berdasarkan Surat Pemberitahuan
Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang dilaporkan
kepada KPK.

Beberapa instansi yang mendapat supervisi KPK
dalam penanganan perkara-perkara TPK selama
tahun 2007, di antaranya:
- Mabes POLRI dalam: (a) penyidikan TPK
dalam pengadaan 2 mesin PLTG TM Borang;
dan (b) penyidikan perkara TPK Dana APBN-P
di PT Perikanan Nusantara (Persero);
t ,FKBUJ 4VNBUFSB #BSBU dalam: (a) penyidikan
TPK penyimpangan dana APBD Provinsi Sumbar
TA 2002 terhadap anggaran belanja DPRD;
dan (b) penyidikan TPK penyalahgunaan dana
APBD DPRD TA 2001-2002 pada DPRD Kota
Sawahlunto. Penyidikan kedua TPK tersebut
ditunda karena adanya perdebatan mengenai
PP 10;
t 1PMEB 4VNBUFSB #BSBU dalam penyidikan TPK
di Dinas Kehutanan Kab. Kepulauan Mentawai
berkaitan dengan illegal logging;
t 1PM EB 1BQVB dal am: ( a) penyi di kan TPK
dalam penggunaan dana OTSUS Tahun 2004
di lingkungan Pemda Kab. Teluk Wondama,
yang saat ini sedang menunggu hasil audit
Prosecutor’s Ofce of Gorontalo; the Regional Police and
Provincial Prosecutor’s Ofce of South Kalimantan; the
Regional Police Force and Provincial Prosecutor’s Ofce
of Central Kalimantan; the regional Police of Central
Java, the Regional Police Force and Provincial Prosecutor’s
Ofce of West Sumatra; the Regional Police Force and
Provincial Prosecutor’s Ofce of Riau; and the Regional
Police Force and Provincial Prosecutor’s Ofce of Central
Java.
2. Supervision

Supervision takes the form of studies and analyses of
the investigation or prosecution of corruption cases
by the Police or the AGO based on an Investigation
Commencement Notice (Surat Pemberitahuan
Dimulainy Penyidikan - SPDP), where complaints have
been made to the KPK.
The various institutions that were the subject of
supervision by the KPK as regards the handling of
corruption cases in 2007 were as follows:
t Indonesian Police Headquarteres in: (a) the
corruption investigation into the procurement of 2
gas-powered electricity generators at Borang; dan
(b) the investigation into a corruption case
involving the misuse of State Budget (APBN-P)
funds and PT Perikanan Nusantara;
- west 5umotto Ptov|nc|ol Ptosecutot´s Omce in:
(a) investigation of misuse of West Sumatra Budget
(APBD) funds in 2002 by the local parliament;
and (b) investigation of misuses of regional
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
42 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
BPKP Per wakilan Provinsi Papua; dan (b)
penyidikan TPK dalam pengadaan barang
inventaris mesin kantor pada Sekda Kab.
Biak Numfor tahun 2001, yang saat ini P19,
belum ada ijin tertulis dari Presiden untuk
melakukan pemeriksaan terhadap Wakil
Bupati Biak Numfor;
t ,FKBUJ4VMBXFTJ6UBSB dalam penyidikan TPK
dugaan upaya suap kepada anggota DPRD
Kota Manado yang dilakukan oleh Walikota
Manado periode 2000–2005. Berkas perkara
tahap I telah diserahkan kepada JPU Kejati
Sulut dan setelah diteliti hanya 1 orang yang
cukup bukti selaku tersangka. Pada tanggal
14 Maret 2006 dengan Surat Model P19,
berkas perkara tersebut telah dikembalikan
kepada Penyidik untuk dilengkapi. Tanggal
25 April 2006, tersangka dan barang bukti
telah diserahkan kepada Kejati Sulut dan
sedang dipersiapkan untuk dilimpahkan
ke PN Manado;
t 1PMEB +BXB 5JNVS dalam penyidikan TPK
pemalsuan jumlah stok beras/gabah di Perum
Bulog Sub Divre XI, dan penyidikan perkara
TPK Penjualan tanah dan bangunan rumah
dinas PT IGLAS (Persero) di Surabaya;
t ,FKBUJ +BXB 5JNVS dalam: (a) penyidikan TPK
penyelewengan dana anggaran pos DPRD
dan Sekretariat DPRD Kab. Lumajang TA.
2002-2003; (b) penyi di kan TPK dal am
pengel ol aan APBD Kab Magetan TA
1999-2004; (c) penyidikan TPK penggunaan
anggaran belanja DPRD Jember TA 2004; dan
(d) Penyidikan TPK gaji calon PNS di kantor
Departemen Agama Kab. Jombang;
t 1PMEB ,BMJNBOUBO 5FOHBI dalam penyidikan
TPK pada pembayaran santunan eks PLG
tahap IV Tahun 2005 di Barito Selatan;
t ,FKBUJ ,BMJNBOUBO 5FOHBI dal am: ( a)
penyi dikan TPK proyek pengadaan buku
SLTP/MTS di Di nas Pendi di kan dan
Kebudayaan, dan ( b) penyi di kan TPK
penyimpangan atas pemberian kredit KUD
pada PT Bank Pembangunan Daer ah
Kal i mantan Tengah;
t 1PMEB 3JBV dal am: (a) penyi di kan TPK
penyalahgunaan wewenang dalam jabatan
pada proyek pembangunan jaringan internet
TA 2002 di Kab. Natuna, dan (b) penyidikan
TPK penyalahgunaan wewenang dalam
budget funds in 2001-2002 in the city of Sawahlunto.
The investigations into both these cases had
been stalled due to a dispute over Government
Regulation (PP) No. 110;
- 7he keç| onol Pol | ce ol west 5umotto:
corruption investigations into the Kepulauan
Mentawai Regency Forestry Department involving
illegal logging;
- 7he keç|onol Pol|ce ol Poµuo for: (a) the
investigation into alleged corrupt conduct in the
use of OTSUS funds in 2004 by officials of the
government of the Regency of Teluk Wondama,
which is currently still awaiting an audit by the
Papuan Provincial BPKP; and (b) an investigation
into the procurement of machinery by the Regional
Secretariat of the Regency of Biak Numfor in 2001 –
as of the writing of this report, the President has not
provided his written consent for the questioning of
the Deputy Regent of Biak Numfor;
- Notth 5ulowes| Ptov|nc|ol Ptosecutot´s Omce:
for the investigation of an alleged bribery attempt
involving a member of the Manado regional
parliament by the governor of the city of Manado
for the period 2002 and 2005. The Stage I case fle
has been delivered to the North Sulawesi Provincial
Prosecutor’s Ofce, and after analysis it was found
that only 1 person could be charged based upon the
evidence as a suspect. On March 14th, 2006, based
on a P19 Form, the case fle was returned to the
investigators to be completed. On April 25th, 2006,
the suspect and all the evidence were delivered
to the North Sulawesi Provincial Prosecutor’s Ofce
with a view to submission to the Manado district
court;
- 7he keç|onol Pol|ce ol lost 1ovo: for the
investigation into the fraudulent recording of the
amount of rice stored by Perum Bulog (Bureau of
Logistics State-owned company) Sub Operations
Unit XI, and the investigation of corrupt activities
concerning the sale of land and housing for public
ofcials working with PT IGLAS in Surabaya;
- lost 1ovo Ptov|nc|ol Ptosecutot´s Oll|ce: (a)
investigation of corrupt conduct involving abuse
of funds by officials of the Lumajang Regency
regional parliament and regional parliament
secretariat in 2002-2003; (b) investigation of
corrupt conduct in the management of the
Magetan Regency State Budget in 1999-2004;
(c) i nvesti gati on of corrupt conduct i n the
manage me nt of t he J e mbe r r e gi onal
43
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
jabatan pada proyek pengadaan bibit sapi
ternak bagi masyarakat mi ski n di kota/
kabupaten se-Provinsi Riau TA 2006;
t ,FK BU J 3J BV dal am penyi di kan TPK
penyelewengan dalam pemanfaatan hasil
produksi hutan kayu tahun 2001;
t 1PMEB (PSPOUBMP dalam penyidikan TPK
penyalahgunaan pinjaman kredit pada
PT Bank BRI (Persero) Cab. Limboto tahun
2003-2006;
t ,FKBUJ (PSPOUBMP dalam: (a) penyidikan TPK
APBD Kab. Gorontalo TA 2003 pada proyek
pembebasan tanah dan pembangunan Mal
Limboto dengan cara mark up; dan (b)
penyidikan TPK APBD Kab. Boalemo TA 2003
pada proyek peni ngkatan j al an pasar
I l ohel uma-Sukamakmur ;
t 1PM EB , B M J NB OU B O 4 FM B U B O da l a m
pe ny i dikan TPK APBD Kab. Hulu Sungai
Tengah pada proyek pembangunan SMAN 1
Labuhan Amas Utara;
t ,FKBUJ,BMJNBOUBO4FMBUBO dalam: (a) penyidikan
TPK dana APBD Kab. Hulu Sungai Selatan TA
2002-2003 pada pos belanja Sekda Kab. Hulu
Sungai Selatan untuk pembayaran premi
asuransi anggota DPRD Kab. Hulu Sungai
Selatan periode 1999-2004, dan (b) penyidikan
TPK penyalahgunaan APBD Kota Banjarmasin
TA 2001-2004;
t 1PMEB +BXB 5FOHBI dalam: (a) penyidikan
perkara TPK pada anggaran tak langsung
kegiatan belanja pegawai DPRD Blora Tahun
par l i ament ar y budget i n 2004; and ( d)
investigation of corrupt conduct concerning
salaries of candidates for public office in the
Jombang Regency Department of Religious
Afairs;
- 7he keç|onol Pol|ce ol Centtol lol|monton for
the investigation of alleged corrupt conduct in
relation to the payment of ex workers of PLG Phase
IV in South Barito in 2005;
- 7he Centtol lol|monton Ptov|nc|ol Ptosecutot´s
Omce: (a) investigation of alleged corrupt conduct
in the procurement of SLTP/MTS level school books
by the Departement of Education and Culture, and
(b) investigation of KUD loan abuse in relation to
PT Bank Pembangunan Daerah (Regi onal
Development Bank) of Central Kalim¬antan;
- 7he keç|onol Pol|ce ol k|ou: (a) investigation of
alleged abuse of office involving the Internet
Network Development Project in 2002 in the
Regency of Natuna, and (b) investigation of alleged
abuse of office in a cattle breeding project
throughout Riau province in 2006;
- k| ou Pt ov| nc | ol Pt os ec ut ot ´ s Ol l | ce:
investigation of corrupt conduct in the exploitation
of forest wood products in 2001;
- 7he keç|onol Pol|ce ol Cotontolo: investigation
of abuse of loans involving PT Bank BRI, Limboto
branch, in 2003-2006;
- Cotontolo Ptov|nc|ol Ptosecutot´s Oll|ce: (a)
investigation of alleged corrupt conduct involving
the Regional Budget of the Regency of Gorontalo in
2003, concerning land acquisition projects and the
construction of the Limboto Mall – mark ups were
suspected; and (b) investigation of alleged corrupt
conduct involving the Regional Budget of Boalemo
Regency in 2003 concerning the Iloheluma-
Sukamakmur Market Road Improvement Project;
- 7he keç|onol Pol|ce ol 5outh lol|monton:
investigation of alleged corrupt conduct involving
the Regional Budget of the Regency of Hulu Sungai
Tengah concerning the Labuhan Amas Utara High
School development project;
- 5outh lol|monton Ptov|nc|ol Ptosecutot´s
Oll|ce: (a) investigation of alleged corrupt conduct
involving the Regional Budget of the Regency of
Hulu Sungai Selatan in 2002-2003 concerning
expenditure by the Regional Secretariat on
insurance premiums for the Regency’s parliament
members in 1999-2004, and (b) investigation of
misuse of Regional Budget funds in the city of
Banjarmasin in 2001-2004;
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
44 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
2004; (b) Perkara TPK penyimpangan dana
APBD TA 2004 Kab. Banjarnegara pada pos
dana tak tersangka; dan (c) penyidikan
Perkara TPK APBD Kab. Demak pada proyek
dana bantuan keuangan pada pemerintah
desa/kelurahan se-Kabupaten Demak;
t ,FKBUJ +BXB 5FOHBI dalam: (a) perkara TPK
APBD Kab. Semarang pada proyek pengadaan
buku SD/MI TA 2004, yang saat ini P-21 dan
telah diputus bebas pada putusan sela oleh
PN Ungaran Kab. Semarang, karena berkas
perkara menyi mpang Pasal 144 ayat (2)
KUHAP; dan (b) penyidikan perkara TPK dalam
pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran
Kab. Wonosobo TA 2003;
t ,FKBUJ ,BMJNBOUBO5JNVS dalam penyidikan
perkara TPK berkaitan dengan 43 anggota
DPRD Provinsi Kalimantan Timur.
Penanganan Perkara
1FOZFMJEJLBO

Kegiatan penyelidikan yang telah dilakukan
sebanyak 68 (enam puluh delapan) kasus, dan
5 (l i ma) kasus di antaranya EJ M J NQBILBO
LF ,FQPM J TJ BO EBO ,FK BLTBBO, yai tu:
- Hasi l Penyel i di kan Dugaan TPK dal am
Pengadaan Rice Milling Plant (RMP) oleh
Perum Bulog ke Kejaksaan Agung (Surat ke
Jaksa Agung Nomor R-198/P.KPK/VI/07 tanggal
4 Juni 2007);
- Hasil Penyelidikan Dugaan TPK dalam Kegiatan
Tukar Menukar Beras (TMB) oleh Perum Bulog
Tahun 2004 (Surat ke Jaksa Agung Nomor
R-267/P.KPK/VII/07 tanggal 12 Juli 2007);
- Hasil Pengumpulan Informasi Dugaan TPK
dalam Pembangunan WTC dan Ruko di
Jambi tahun 2003-2007 (Surat ke Kepala
Kej aksaan Ti nggi Provi nsi Jambi Nomor
R-317/P.KPK/VII/07 tanggal 9 Agustus 2007);
- Hasi l Penyel i di kan Dugaan TPK dal am
Pengel ol aan Keuangan APBD pada
Pemeri ntah Kota Tarakan tahun 2005 dan
2007 (Surat ke Kepala Kepolisian Daerah
Kalimantan Timur Nomor R-318/P.KPK/VIII/07
- 7he keç| onol Pol | ce ol Centtol 1ovo: (a)
investigation of corrupt conduct involving
the indirect budget for personnel spending in the
Bl or a Regi onal Par l i ament i n 2004; ( b)
investigation of the 2004 Regional Budget for the
Regency of Banj ar negara, i nvol vi ng t he
contingency funds account; and (c) investigation
of corrupt conduct involving the Regency of Demak
Regional Budget concerning fnancial aid projects
to village/subdistrict governments throughout the
Regency of Demak;
- Centtol 1ovo Ptov|nc|ol Ptosecutot´s Omce: (a)
corruption case involving the Regional Budget of
the Regency of Semarang, concerning an SD/
MI-level schoolbook procurement project in 2004;
and (b) the investigation of corrupt conduct
involving the procurement of fre-fghting vehicles
in the Regency of Wonosobo in 2003;
- lost lol|monton Ptov|nc|ol Ptosecutot´s
Oll|ce: investigation of corrupt conduct involving
43 members of the East Kalimantan Provincial
Parliament.
Ptocess|nç ol Coses
1. Ptel|m|notv |nvest|çot|on 5toçe
The KPK conducted preliminary investigation activities
in 68 cases, fve of which have been transferred to the
Police and the AGO, namely:
- Results of preliminary investigation into the
procurement of a Rice Milling Plant by Perum Bulog
(Bureau of Logistics - State Owned Enterprise) has
been transferred to Attorney General’s Ofce
- Results of preliminary investigation into rice swap
deals by Perum Bulog in 2004, also transferred to
Attorney General’s Ofce;
- Results of information gathering process
concerning the Construction of the WTC complex
45
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
tanggal 10 Agustus 2007);
- Hasil Penyelidikan Dugaan TPK Penyuapan
Pejabat Indonesia oleh Monsanto Company
(Surat ke Jaksa Agung Nomor R-344/P.KPK/
VIII/07 tanggal 31 Agustus 2007.
5FSUBOHLBQ5BOHBO
Tertangkap tangan (ontdekking op heterhand)
adalah tertangkapnya seorang pada waktu sedang
melakukan tindak pidana korupsi, atau dengan
segera, sesudah, beberapa saat tindak pidana korupsi
itu dilakukan atau apabila sesaat kemudian
ditemukan oleh khalayak ramai sebagai orang
yang melakukanhya, atau apabila sesaat kemudian
padanya diketemukan benda yang diduga keras
sebagai hasil kejahatan atau dipergunakan untuk
melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan
bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan
atau membantu melakukan tindakan Pidana itu
(KUHAP atau Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1981 tentang Hukum Acara Pidana pada Pasal 1
butir ke-19).
Berdasarkan informasi atau pengaduan yang
akurat atas dugaan akan terjadinya suatu tindak
pidana korupsi, KPK segera menindaklanjutinya
dengan melakukan tindakan yang diperlukan.
Dal am hal seseor ang t er t angkap t angan
mel akukan ti ndak pi dana korupsi , penyi di k/
penyelidik dapat melakukan penangkapan tanpa
Surat Perintah Penangkapan.
Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pelaku
yang tertangkap tangan akan dilanjutkan dengan
penyidikan atas perkara tersebut, apabila tindak
pidana korupsi yang dilakukan memenuhi kriteria
perkara yang dapat ditangani oleh KPK. Dalam hal
tindak pidana korupsi tenyata tidak memenuhi
krteria perkara yang dapat ditangani oleh KPK,
maka perkara tersebut diserahkan kepada instansi
Kepol i si an/Kej aksaan dan perkembangan
penanganannya disupervisi oleh KPK.
and shophouses in Jambi in 2003-2007. transferred
to the Provincial Prosecutor’s Ofce in Jambi;
- Results of preliminary investigation into the
management of the fnances of the Tarakan City
Government Budget (APBD) in 2005-2007.
Transferred to the Regi onal Pol i ce of East
Kalimantan;
t Results of preliminary investigation into the
bribery of various Indonesian public officials
by the Monsanto Company, a US corporation.
Transferred to Attorney General’s Ofce.
ln lloçtonte 0el|cto
(Couçht keJ-honJeJ} Attests
Being arrested in fagrante delicto in the context the KPK
refers to a situation where an individual is arrested while
committing a corrupt act, or immediately after such an
act(s), or is placed under citizen’s arrest, or is found
immediately afterwards in the possession of evidence
that strongly suggests that he is the perpetrator of a
corrupt act. Such arrests are provided for by article 1(19)
of the Criminal Procedures Code (Law No. 8 of 1981 on
Criminal Procedure).
Based on accurate information or a report that a corrupt
act is likely to be perpetrated, the KPK will respond with the
necessary action. In the case of an in fagrante delicto
situation, an investigator can arrest the individual without
a warrant .
Corrupt conduct by the perpetrator will be followed up
by the KPK with the initiation of an investigation into the
case, if the corrupt act satisfies the legal criteria that
determines the threshold of cases that the KPK can pursue.
If such a case does not satisfy the KPK’s legal criteria, then
the case will be transferred to the Police or the AGO, and its
handling will be supervised by the KPK.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
46 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
2. Tahap penyidikan

Kegiatan penyidikan telah dilakukan sebanyak
29 (dua puluh sembilan) perkara, yang terdiri
dari 8 (delapan) perkara sisa tahun 2006 dan
21 (dua puluh satu) perkara penyidikan tahun
2007 yaitu :
Penyidikan Sisa Tahun 2006 :
- 3 (tiga) perkara TPK berkaitan dengan turut
serta atau membantu melaksanakan TPK
pada pelaksanaan program pembangunan
perkebunan kelapa sawit sejuta hektar
di Kalimantan Timur yang diikuti dengan
penerbitan ijin pemanfaatan kayu secara
melawan hukum;
- Perkara TPK dalam penyalahgunaan atau
penggunaan tidak sesuai dengan peruntukannya
pada Anggaran Belanja Rutin Pos Kepala Daerah
Kalimantan Selatan Tahun 2001-2004;
- Perkara TPK dalam penggunaan dana APBD
TA 2003 pada Pos Dana Tak tersangka, Dana
Alokasi Umum (DAU) dan dana Pinjaman
Daerah Kabupaten Kendal;
- Perkara TPK dal am penyal ahgunaan
wewenang penggunaan Dana APBD TA
2003 Pos Dana Tak Tersangka DAU dan
Dana Pi njaman Daerah yang tidak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atau pegawai
negeri yang menggelapkan Dana APBD TA
2003 Pos Dana Tak Tersangka DAU dan Dana
Pinjaman Daerah di Kabupaten Kendal;
- 2 (dua) perkara TPK dalam permintaan atau
pemungut an dana yang t i dak ada
pengat ur annya dar i par a Sekr et ar i s
Di r ekt or at Jender al di Li ngkungan
Departemen Kelautan dan Perikanan tahun
2002-2006.
2. Investigation Phase
The KPK conducted investigations into 29 (twenty nine)
cases, 8 of which were carried over from 2006, and 21 of
which were cases initiated in 2007:
2006 Cases:
- 3 (three) corruption cases related to involvement
in, or facilitation of, corrupt conduct in the
implementation of a 1-million-hectare palm
pl antati on devel opment program i n East
Kalimantan, which was followed with the illegal
issuing of logging permits;
- A corruption case involving the misuse of the
Regi onal Leader Account of the Routi ne
Expenditure Budget in South Kalimantan in 2001-
2004;
- A corruption case concerning the use of 2003
Contingency Funds, General Transfer Funds,
and Borrowed Funds in the Regency of Kendal;
- A corruption case concerning abuse of power in the
use of 2003 Regency of Kendal Budget, involving
various funds: contingency funds account, general
allocation funds account, and regional borrowings
account. The abuse of power is thought to either
take the form of the unauthorized use of the funds,
or the embezzlement of such funds by a public
ofcial;
- 2 (two) corruption cases involving requests for
moni es t hat were unaut hor i zed by t he
Secretaries to the Directorates General in
the Department of Maritime Afairs and Fisheries
in 2002-2006.
47
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
Penyidikan Dimulai Tahun 2007 :
- 2 (dua) perkara TPK dalam pengadaan alat
Automatic Fingerprint Identification System
(AFIS) pada Ditjen Administrasi Departemen
Hukum dan HAM RI tahun 2004;
- Perkara TPK dalam penyalahgunaan Anggaran
Pembangunan dan Belanja Kas Daerah TA
2003, 2004, dan 2005 yang antara lain untuk
Bandara Samarinda Kutai Kartanegara yang
terjadi di Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur;
- Perkara TPK dal am pengel ol aan dana
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terkait
pungutan tarif dokumen keimigrasian di
KBRI Kuala Lumpur Tahun 2000 s.d 2003;
- Perkara TPK dalam Pengelolaan dana PNBP
terkait pungutan tarif dokumen keimigrasian
di KBRI Kuala Lumpur Tahun 2004 s.d 2005;
- Perkara TPK dalam Proyek Peningkatan
Kelembagaan dan Sarana dalam Pengadaan
Tanah di BAPETEN tahun 2004;
- Perkara TPK dalam Proyek Pengadaan Mobil
Pemadam Kebakaran Merk Tohatsu Ti pe
V-80-ASM di Pemerintah Kota Makassar
APBD Tahun 2003 dan APBD Tahun 2004;
- Perkara TPK dal am Proyek Pengadaan
Mobil Pemadam Kebakaran Merk MORITA di
Pemerintah Kota Medan APBD Tahun 2005;
- Perkara TPK dalam Proyek Pengadaan Mobil
Pemadam Kebakaran Merk Tohatsu Ti pe
V-80-ASM dan Merk Tohatsu Tipe V-80-ASM
di Pemerintah Provinsi/Kota/Kabupaten
Jawa Barat, Bali, Riau, Bengkulu, Medan dan
Makassar. APBN dan APBD Tahun 2003-2005;
- Perkara TPK dalam Proyek Pengadaan Mobil
Pemadam Kebakaran Merk Tohatsu Ti pe
V-80-ASM dan Merk Tohatsu Tipe V-80-ASM
di Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
APBD Tahun 2003 dan APBD Tahun 2005;
- Perkara TPK dal am proyek Pekerj aan
Pemeri ksaan Penggunaan TKA/Audi t
I nvestigasi pada 46 Kab/Kota TA 2004 pada
Ditjen PPK Depnakertans;
- Perkara TPK berkaitan dengan PNS atau
Penyelenggara Negara yang menerima
hadiah berkaitan dengan kekuasaan atau
kewenangan yang berhubungan dengan
jabatannya;
- Per kar a TPK dal am penyi mpangan
penggunaan dana APBD Garut TA. 2004-2007;
Cases initiated in 2007 :
- 2 (two) corrupti on cases concerni ng the
procurement of an Automatic Fingerprint
Identifcation System (AFIS) by the Directorate
General of Administration at the Department of
Law and Human Rights in 2004;
- Corruption case concerning the misuse of funds
from the Development and Spending Budget
in 2003, 2004, and 2005, among others in
connecti on wi th Samar i nda Ai r por t i n t he
Re ge nc y of Kut ai K ar t ane gar a ( E as t
Kalimantan);
- Corruption case concerning the management of
Non-Tax State Revenues (PNPB) in relation to the
fees collected for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Kuala
Lumpur from 2000 to 2003;
- Corruption case concerning the management of
Non-Tax State Revenues (PNPB) in relation to the
fees collected for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Kuala
Lumpur from 2004 to 2005;
- Corruption case concerning the Institutional and
Facility Improvement Project in Land Procurement
in BAPETEN in 2004;
- Corruption case concerning the procurement of a
Tohatsu Fire Engine Type V-80-ASM by the City of
Makassar Regional Government through its
Regional Budget of 2003 and 2004;
- Corruption case concerning the procurement of a
MORITA Fire Engine by the City of Medan Regional
Government through its Regional Budget of 2005;
- Corruption case concerning the procurement of 2
Tohatsu Fire Engines Type V-80-ASM by the West
Java, Bali, Riau, Bengkulu, Medan and Makassar
Regional Governments through their Regional
Budgets, as well as the State Budgets, of 2003
through to 2005;
- Corruption case involving the procurement of
2 Tohatsu Fire Engines Type V-80-ASM by the
Regional Government of the East Kalimantan
Province through its Regional budgets of 2003 and
2005;
- Corruption case concerning usage of expatriate
labor in 46 Regencies and Cities in 2004 by the PPK
Directorate General at the Department of
Manpower and Transmigration;
- Corruption cases concerning civil servants and
public ofcials who accepted gifts in connection
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
48 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
- 2 (dua) perkara TPK dalam pengadaan
perahu mesin dan alat tangkap menggunakan
APBNP tahun 2006 di Dinas Perikanan dan
Kelatan Provinsi Jawa Tengah;
- Perkara TPK dal am pengadaan mobi l
Pemadam Kebakaran Type V 80 ASM TA
2003-2005 di Pemerintahan Provinsi Riau;
- Perkara TPK dalam penyalahgunaan anggaran
belanja dan pendapatan daerah Kabupaten
Kutai Kartanegara;
- 2 (dua) perkara TPK berhubungan dengan
penyuapan atau pemberian sejumlah uang
kepada pegawai negeri/ penyelenggara
negara;
- Perkara TPK berhubungan dengan pengadaan
peningkatan fasilitas mesin dan peralatan
latihan di UPT/BLK Depnakertrans.
3. Tahap Penuntutan

Selama tahun 2007, telah dilakukan penuntutan
24 (dua puluh empat) perkara, yang terdiri dari
10 (sepuluh) perkara sisa tahun 2006 dan 14
(empat belas) perkara tahun 2007:
- Perkara TPK dal am pengel uaran atau
penggunaan dana yang tidak sesuai dengan
peruntukannya pada Dana Tak Tersangka APBD
Kab. Dompu TA 2003, 2004, dan 2005;
- 2 (dua) perkara TPK dalam pengadaan bus
pada proyek busway yang menggunakan
APBD Provinsi DKI Jakarta TA 2003 dan 2004;
- Perkara TPK dalam pelaksanaan Program
Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit
sejuta Hektar di Kaltim yang diikuti dengan
Penerbitan Ijin Pemanfaatan Kayu Tahun
1999-2002;
- Perkara TPK dalam pengadaan barang
per al at an l abor at or i um Pusat Ri set
with the exercise of the powers vested in his/her
ofce;
- Corruption case concerning the misuse of Regional
Budget funds in Garut from 2004 to 2007;
- 2 (two) corrupti on cases concerni ng the
procurement of motor boats and fishing
equipment using 2006 State Budget funds at the
Marine Afairs and Fisheries Agency in the Province
of Central Java;
- Corruption case concerning the procurement of a
Fire Engine Type V-80-ASM in 2003-2005 by the
Regional Government of the Province of Riau;
- Corruption case concerning the misuse of local
budget funds in the Regency of Kutai Kartanegara;
- 2 (two) corruption cases involving the bribery of
civil servants/public ofcials;
- Corruption case involving the procurement of
facility improvements for machinery and training
equipment at the UPT/BLK (Department of
Manpower and Transmigration).
3. Prosecution Phase
In 2007, 24 (twenty-four) prosecutions were brought,
composed of 10 (ten) cases carried over from 2006 and
14 (fourteen) new cases in 2007.
- Corruption cases involving illicit expenditure and
misuse of contingency funds in the Regency of
Dompu, 2003, 2004 and 2005;
- 2 (two) corruption cases involving procurements
made in relation to the Jakarta Busway Project,
funded out of the DKI Jakarta Regional Budgets of
2003 and 2004;
- Corruption case involving the implementation of
the 1-million-hectare Oil Palm Plantation
Development Program in East Kalimantan, which
was followed by the issuing of a Logging Permits for
1999-2002;
49
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
Pengolahan Produk Sosial Ekonomi Kelautan
dan Perikanan TA 2003;
- 4 (empat) perkara TPK dalam turut serta
atau membantu melaksanakan TPK pada
pelaksanaan program pembangunan
perkebunan kelapa sawit sejuta hektar di
Kalimantan Timur yang diikuti dengan Ijin
Pemanfaatan Kayu;
- Perkara TPK dalam pengadaan Kotak Suara
untuk PEMILU Tahun 2004;
- Per kar a TPK dal am t ur ut ser t a at au
membantu melakukan TPK dalam pengadaan
bus pada Pr oyek Bus way di Di nas
Per hubungan Provinsi DKI Jakarta tahun
2003-2004 dan pegawai negeri yang
menerima hadiah, karena patut diduga
sebagai sebab melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya;
- Perkara TPK dalam pengelolaan dana PNBP
terkait pungutan tarif pengurusan dokumen
keimigrasian di KJRI Johor Bahru;
- Perkara TPK dalam pengelolaan dana PNBP
terkait pungutan tarif pengurusan dokumen
keimigrasian di KJRI Johor Bahru yang terjadi
pada Tahun 2001-2002;
- 2 (dua) perkara TPK dalam permintaan
atau pemungutan dana yang tidak ada
pengaturannya dari para Sekretaris Direktorat
Jenderal di Lingkungan Departemen Kelautan
dan Perikanan Tahun 2002 s.d. 2006;
- Perkara TPK dal am penyal ahgunaan
atau penggunaan ti dak sesuai dengan
peruntukannya pada Anggaran Bel anj a
Rutin Pos Kepala Daerah Kalimantan Selatan
Tahun 2001 s.d. 2004;
- Perkara TPK dal am penyal ahgunaan
wewenang penggunaan Dana APBD TA
2003 Pos Dana Tak Tersangka DAU dan
Dana Pinjaman Daerah yang tidak sesuai
dengan ketentuan yang berl aku atau
pegawai negeri yang menggelapkan Dana
APBD TA 2003 Pos Dana Tak Tersangka, DAU,
dan Dana Pinjaman Daerah di Kabupaten
Kendal;
- Perkara TPK dalam penggunaan dana APBD
TA 2003 pada Pos Dana Tak tersangka, DAU,
dan Dana Pinjaman Daerah Kabupaten
Kendal;
- 2 (dua) perkara TPK dalam pengadaan alat
Automatic Fingerprint Identification System
- Corruption case involving the procurement of
laboratory equipment for the Marine and Fisheries
Product Research Center in 2003;
- 4 (four) corruption cases concerning involvement
in, or facilitation of, corrupt conduct in the
implementation of the 1-million-hectare Oil Palm
Pl antati on Devel opment Program i n East
Kalimantan, which was followed by the issuing of
a Logging Permits;
- Corruption case concerning the procurement of
ballot boxes for the 2004 general elections;
- Corruption case concerning involvement in, or
facilitation of, corrupt conduct in the procurement
of buses for the Jakarta Busway Project by the
Jakarta Communications Agency from 2003 until
2004, as well as public ofcials who received gifts
that might reasonably be suspected to be
connected wi th the per formance or non-
performance of his/her duties in violation of his/
her obligations;
- Corruption case involving the management of
Non-Tax State Revenues (PNPB), specifcally, the
fees paid for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Johor
Bahru;
- Corruption case involving the management of
Non-Tax State Revenues (PNPB), specifcally, the
fees paid for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Johor
Bahru in 2001-2002;
- 2 (two) corruption cases involving unwarranted
fee collections/requests by Secretaries to the
Directorates General of the Departrment of Marine
Afairs and Fisheries in the years 2002-2006;
- Corruption case involving the misuse of budget
funds in South Kalimantan in 2001 until 2004;
- Corruption case involving abuse of power in the use
of contingency, general allocation, and regional
l oans funds i n the 2003 Regi onal Budget i n
violation of the relevant rules or embezzled from
the Regional Budget of 2003 in the Regency of
Kendal;
- Corruption case involving the use of contingency,
general allocation, and regional loan funds in the
2003 Regional Budget in the Regency of Kendal;
- 2 ( t wo) cor r upt i on cases i nvol vi ng t he
procurement of Aut omat i c Fi nger pr i nt
Identification System (AFIS) equipment by the
Directorate General of Administration at the
Department of Law and Human Rights in 2004;
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
50 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
- Corruption case involving the misuse of 2003, 2004,
and 2005 local budget funds, including among
others the Samarinda Airport project by the
Regional Government of the Regency of Kutai
Kartanegara in East Kalimantan;
- Corruption cases involving the management of
Non-Tax State Revenues in relation to the fees
collected for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Kuala
Lumpur for the years 2000 until 2003;
- Corruption case involving the Institutional and
Facility Improvement Project in the BAPETEN Land
Procurement of 2004;
- Corruption case involving the procurement of a
Tohatsu Fire Engine Type V-80-ASM by the City of
Makassar Regional Government through its
Regional Budget of 2004.
4. Resolved Cases
A total of 21 (twenty-one) cases have been conclusively
resolved over the course of the year:

Final Verdict at First Instance
- Corruption case involving the illicit use of
ontingency funds from the Regional Budget of the
Regency of Dompu in the years 2003, 2004, and
2005;
- Corruption case involving the procurement of
buses for the Jakarta Busway Project, which was
funded by the DKI Jakarta Regional Budget for the
years 2003 and 2004;
- Corruption case involving the procurement of
laboratory equipment for the Marine and Fisheries
Products Research Center in 2003;
- Corruption case involving the procurement of
ballot boxes for the 2004 general elections;
- Corruption case involving the management of
Non-Tax State Revenues, specifcally, the fees paid
for the processing of immigration documents at
the Indonesian Consulate in Johor Baru during the
period from 2001 until 2002;
- 2 ( t wo) cor r upt i on cas es concer ni ng
involvement in, or facilitation of, corrupt conduct
during the procurement of buses for the Jakarta
Busway Project at the Jakarta Communications
Agency in 2003-2004, as well as concerning a
public ofcial who accepted a gift that might be
reasonably suspected to have been given due to
his/her per/non-performance of his/her ofcial
duties, contrary to his/her obligations;
(AFIS) pada Ditjen Administrasi Departemen
Hukum dan HAM RI Tahun 2004;
- Perkara TPK dalam penyalahgunaan Anggaran
Pembangunan dan Belanja Kas Daerah TA
2003, 2004, dan 2005 yang antara lain untuk
Bandara Samarinda Kutai Kartanegara yang
terjadi di Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur;
- Perkara TPK dalam Pengelolaan dana PNBP
terkait pungutan tarif dokumen keimigrasian
di KBRI Kuala Lumpur Tahun 2000 s.d. 2003;
- Perkara TPK dalam Proyek Peningkatan
Kelembagaan dan Sarana dalam Pengadaan
Tanah di BAPETEN Tahun 2004;
- Perkara TPK dalam Proyek Pengadaan Mobil
Pemadam Kebakaran Merk Tohatsu Ti pe
V-80-ASM di Pemerintah Kota Makassar
APBD Tahun 2003 dan APBD Tahun 2004.
4. Perkara Inkracht
Perkara yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap adalah sejumlah 21 (dua puluh
satu) perkara, yaitu:

Perkara Inkracht Tanpa Upaya Hukum
- Perkara TPK dal am pengel uaran atau
penggunaan dana yang tidak sesuai dengan
peruntukannya pada Dana Tak Tersangka
APBD Kab. Dompu TA 2003, 2004, dan 2005;
- Perkara TPK dalam pengadaan bus pada
proyek busway yang menggunakan APBD
Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dan 2004;
- Perkara TPK dalam pengadaan barang
per al at an l abor at or i um Pusat Ri set
Pengol ahan Pr oduk Sosi al Ekonomi
Kel aut an dan Perikanan TA 2003;
- Perkara TPK dalam pengadaan Kotak Suara
untuk PEMILU Tahun 2004;
- Perkara TPK dalam pengelolaan dana
PNBP terkait pungutan tarif pengurusan
dokumen kei mi grasian di KJRI Johor Bahru
yang terjadi pada tahun 2001-2002;
- 2 (dua) perkara TPK dal am turut ser ta
atau membantu mel akukan TPK dal am
pengadaan bus pada Proyek Busway di
Di nas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta
tahun 2003-2004 dan pegawai negeri
yang menerima hadiah, karena patut diduga
sebagai sebab melakukan sesuatu atau tidak
51
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
melakukan sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya;
- Per kar a TPK dal am per mi nt aan at au
pemungut an dana yang t i dak ada
pengaturannya dari para Sekretaris Direktorat
Jenderal di Lingkungan Departemen Kelautan
dan Perikanan Tahun 2002 s.d. 2006.
Perkara Inkracht Setelah Upaya Hukum
- Perkara TPK dalam penjualan aset tanah milik
PT I ndustri Sandang Nusantara (Persero)
Cabang Bandung;
- Perkara TPK dalam pengadaan pemancar
RRI TA 2003;
- Perkara TPK dal am usaha penyuapan/
pemerasan terhadap saksi ;
- Perkara TPK dal am pel aksanaan proyek
Indonesia Investment Year Tahun 2003-2004;
- 2 (dua) perkara TPK dalam pengadaan segel
sampul surat suara Pemilu Tahun 2004;
- 2 (dua) perkara TPK dal am percobaan
penyuapan kepada hakim pada MA dalam
perkara kasasi Probosutedjo;
- Perkara TPK dalam pengadaan tinta untuk
kepentingan Pemilu Legislatif;
- Perkara TPK dalam pengadaan buku dan
barang cetakan untuk kepentingan Pemilu
Tahun 2004;
- Perkara TPK dalam pengadaan barang dan
jasa peralatan laboratorium pada Departemen
Kelautan dan Perikanan;
- Perkara TPK dalam turut serta atau membantu
melaksanakan TPK pada pelaksanaan program
pembangunan perkebunan kelapa sawit
sejuta hektar Kalimantan Timur yang diikuti
dengan penerbitan ijin pemanfaatan kayu.
5. Eksekusi
Pelaksanaan putusan tahun 2007 adalah sejumlah
23 (dua puluh tiga) perkara, sebagai berikut:
- Per k ar a at as nama LI EM KI AN YI N
ber hubungan dengan penj ual an
aset tanah mi l i k PT I ndustri Sandang
Nusantara (Persero) Cabang Bandung;
Putusan: pidana penjara 4 tahun, denda
Rp1.000.000.000,00 subs i dai r 10 bul an,
uang penggant i Rp24. 006. 438. 333, 00;
apabi l a uang t i dak di bayar har t a
- Corruption case concerning the request for or
collection of unwarranted fees by Secretaries to the
Directorates General at the Department of Marine
Afairs and Fisheries from 2002 until 2006.
Final Verdict after Appeal
- Corruption case concerning the sale of land
belonging to PT Industri Sandang Nusantara,
Bandung branch;
- Corruption case concerning the procurement of RRI
broadcasting equipment in 2003;
- Corruption case concerning bribery attempts/
extortion of witnesses;
- Corruption case concerning the implementation of
the Indonesia Investment Year Project from 2003 to
2004;
- 2 (two) corruption cases involving the procurement
of seals for ballot papers used in the general
elections of 2004;
- 2 (two) corruption cases involving the bribery
attempt of a Supreme Court Judge during the
Probosutedjo cassation/appeal case;
- Corruption case involving the procurement of ink
during the Legislative Elections;
- Corruption case involving the procurement of
books and printed material during the General
Elections of 2004;
- Corruption case involving the procurement of
laboratory goods and services for the Department
of Marine Afairs and Fisheries;
- Corruption case concerning involvement in, or
f aci l i t at i on of, cor r upt conduct i n t he
implementation of the 1-million-hectare Oil Palm
Plantation Development Program in East
Kalimantan, which was followed by the issuing of
logging permits.
5. Execution

A total of 23 (twenty-three) judicial decisions were
executed in 2007:
- lllV llAN ¥lN´s case: in relation to the sale of
l and bel ongi ng t o PT I ndust r i Sandang
Nusantara, Band¬ung branch; Verdict: 4 years
j ail, IDR1, 000, 000, 000. 00 fine (10 months
additional jail time for non-payment), ordered
to pay a compensation of IDR24,006,438,333.00;
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
52 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
ak an di s i t a dan di l el ang, apabi l a
har t a yang di l el ang t i dak mencuk upi
di gant i pi dana penj ar a 3 t ahun;
- P e r k a r a a t a s n a ma K U N T J OR O
HENDRARTONO berhubungan dengan
penjualan aset tanah milik PT I ndustri
Sandang Nusantara (Persero) Cabang
Bandung; Putusan: pidana penjara selama 10
tahun, denda Rp1.000.000.000,00 subsidair 10
bulan, uang pengganti Rp24.006.438.333,00;
jika tidak membayar paling lama 1 bulan
sesudah putusan memperoleh kekuatan
hukum tetap maka harta bendanya dapat
disita dan dilelang untuk membayar uang
pengganti; apabila tidak mencukupi maka
akan diganti pidana penjara 3 tahun;
- Perkara atas nama RUSADI KANTAPRAWIRA
berhubungan dengan pengadaan tinta untuk
kepentingan Pemilu Legislatif; Putusan: pidana
penjara 4 tahun, denda Rp 200.000.000,00
subsidair 2 bulan kurungan;
- Perkara atas nama terdakwa MALEM PAGI
SINUHAJI berhubungan dengan percobaan
penyuapan kepada hakim pada MA dalam
perkara kasasi Probosutedjo; Putusan:
pidana penjara 3 tahun 6 bulan, denda Rp
150.000.000,00 dengan ketentuan apabila
denda tidak dibayar diganti dengan kurungan
6 bulan;
- Per kar a at as nama FAHRANI SUHAIMI
berhubungan dengan pengadaan pemancar
RRI TA 2003; Putusan: pi dana penjara 10
tahun, denda Rp 300.000.000,00 dengan
ketentuan apabila denda tersebut tidak
dibayar akan diganti dengan pidana kurungan
6 bulan, uang pengganti Rp 9.640.568.857,00;
- Perkara atas nama terdakwa ABUBAKAR
AHMAD berhubungan dengan pengeluaran
atau penggunaan dana yang tidak sesuai
dengan peruntukannya pada Dana Tak
Tersangka APBD Kab. Dompu TA 2003, 2004,
dan 2005; Putusan: pidana penjara 2 tahun,
denda sebesar Rp150.000.000,00 apabila
denda tidak dibayar diganti dengan pidana
kurungan 3 tahun, uang pengganti sebesar
Rp655.000.000,00 paling lama dalam waktu
1 bulan setelah memperoleh kekuatan hukum
tetap, apabila uang pengganti tidak dibayar
akan dipidana selama 6 bulan penjara;
- Perkara atas nama terdakwa ANDJAR
SUPARMAN ber hubungan dengan
if fine not paid, assets to be confiscated and
auctioned, and if auctioned assets do not satisfy
the fne, then 3 years additional time in detention;
- luN71OkO llN0kAk7ONO´s case: in relation to
the sale of land belonging to PT Industri Sandang
Nusantara, Bandung branch; Verdict: 10 years jail,
IDR1,000,000,000.00 fne (10 months’ additional
jail time for non-payment) ordered to pay a
compensation of IDR24,006,438,333.00; if fne not
paid, assets to be confscated and auctioned, and if
auctioned assets do not satisfy the fne then 3 years
additional time in jail;
· ku5A0l lAN7APkAwlkA´s case: in relation to the
procurement of ink for the legislative elections;
Verdict: 4 years jail, IDR200,000,000.00 fine (2
months additional detention time for failure
to pay);
· VAllV PACl 5lNulA1l´s case: in relation to
attempts to bribe a Supreme Court Judge in the
Probosutedjo cassation/appeal case; Verdict: 3
years 6 months jail, IDR150,000,000.00 fne – if fne
is unpaid, an extra 6 months in detention;
- lAlkANl 5ulAlVl´s case: in relation to the
procurement of an RRI transmitter; Verdict: 10
years jail, IDR300,000,000.00 fne – if fne is unpaid,
an extra 6 months in detention; ordered to pay
a compensation of IDR 9,640,568,857.00;
- A8u8AlAk AlVA0´s case: in relation to illicit
expenditures / use of contingency funds in
the Regency of Dompu’s in 2003, 2004 and
2005; Verdict: 2 years jail, IDR150,000,000.00
fine – if fine is unpaid, an extra 3 years in
detention; ordered to pay a compensation of
IDR655, 000, 000. 00 not later than 1 month
after decision enters into conclusive legal effect;
if money not repaid, an extra 6 years detention;
- AN01Ak 5uPAkVAN´s case: in relation to the
procurement of laboratory equipment for the
Marine and Fisheries Product Research Center in
2003; Verdict: 4 years jail and IDR200,000,000.00
fne (2 months extra in detention if not paid);
- ku57AV llllN0¥´s case: in relation to the
procurement of buses for the Jakarta Busway
Proj ect whi ch was funded by the Jakar ta
Regional Budget for the years 2003 and 2004;
Verdict: 3 years jail, IDR200,000,000.00 fne (6
months extra in detention if not paid);
53
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
pengadaan barang peralatan laboratorium
Pusat Riset Pengol ahan Pr oduk Sosi al
Ekonomi Kelautan dan Perikanan TA 2003;
Putusan: pidana penjara selama 4 t a h u n ,
d e n d a R p 200. 000. 000, 00 subsi dai r 2
bul an;
- Per kar a at as nama t er dakwa RUSTAM
EFFENDY berhubungan dengan pengadaan
bus pada proyek busway yang menggunakan
APBD Propinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dan
2004; Putusan: pidana penjara 3 tahun, denda
Rp200.000.000,00 subsidair 6 bulan kurungan;
- Perkara atas nama terdakwa SUPARMAN
berhubungan dengan usaha penyuapan/
pemerasan terhadap saksi; Putusan: pidana
penjara 8 tahun, denda Rp200.000.000,00
subsidair 6 bulan kurungan;
- Per kar a at as nama t er dakwa SRIYADI
berhubungan dengan percobaan penyuapan
kepada hakim pada MA dalam perkara kasasi
Probosutedjo; Putusan: pidana penjara 3
tahun 6 bulan, denda Rp150.000.000,00
dengan ketentuan apabila denda tidak
dibayar diganti dengan kurungan 6 bulan;
- Perkara atas nama ACHMAD ROJADI
berhubungan dengan pengadaan tinta untuk
kepentingan Pemilu Legislatif ; Putusan:
Menolak Permohonan Kasasi, berdasarkan
Putusan PT: pidana penjara 4 tahun dan
denda Rp200.000.000,00;
- Per kar a at as nama t er dakwa THEO
F. TOEMI ON ber hubungan dengan
p e l a k s a n a a n p r o y e k I n d o n e s i a
I nvest ment Year Tahun 2003- 2004;
Putusan: pidana penjara 6 tahun, denda
Rp300.000.000,00 subsidair 3 bulan, uang
pengganti Rp23.115.000.000,00;
- Perkara atas nama terdakwa H. SUHARTOYO
berhubungan dengan percobaan penyuapan
kepada hakim pada MA dalam perkara kasasi
Probosutedjo; Putusan: pidana penjara 3
tahun, denda Rp150.000.000,00 subsidair 6
bulan;
- Perkara atas nama terdakwa PONO WALUYO
berhubungan dengan percobaan penyuapan
kepada hakim pada MA dalam perkara kasasi
Probosutedjo; Putusan: pidana penjara 5
tahun, denda Rp150.000.000,00 subsidair 6
bulan;
- Perkara atas nama terdakwa SILVIRA
ANANDA berhubungan dengan turut serta
- 5uPAkVAN´s case: in relation to attempts
to bribe / extort witnesses; Verdict: 8 years jail,
IDR200, 000, 000. 00 fine (6 months extra in
detention if not paid);
- 5kl¥A0l´s case: in relation to attempts to bribe a
Supreme Court Judge during the cassation/
appeal in the Probosutedjo case; Verdict: 3 years
6 months jail, IDR150,000,000.00 fine – if fine is
unpaid, an extra 6 months in detention;
- AClVA0 kO1A0l´s case: in relation to the
procurement of ink for the legislative elections.
Verdict: Leave to Appeal denied, High Court”s
Verdict: 4 years jail and IDR200,000,000.00 fne;
- 7llO l. 7OlVlON´s case: in relation to the
Indonesia Investment Year Project of 2003-2004;
Verdict: 6 years jail, IDR300,000,000.00 (3 months
extra in detention if not paid), ordered to pay a
compensation of IDR23,115,000,000.00;
- l. 5ulAk7O¥O´s case: in relation to the bribery
attempt on a Supreme Court Judge during the
Probosutedjo cassation/appeal; Verdict: 3 years
jail, IDR150,000,000.00 fine (6 months extra
detention if unpaid);
· PONO wAlu¥O´s case: in relation to the bribery
attempt on a Supreme Court Judge during the
Probosutedjo cassation/appeal; Verdict: 5 years
jail, IDR150,000,000.00 fine (6 months extra
detention if unpaid);
- 5l lvl kA ANAN0A´s case: i n rel ati on to
complicity in or facilitation of corrupt conduct by
RUSTAM EFFENDI during the bus procurement
phase of the Jakarta Busway Project by the
Jakarta Communications Agency in 2003-2004, as
well as the giving of a gift to a public ofcial that
might reasonably be expected to have been
connected with the discharge of his/her official
duties, contrary to his/her obligations; Verdict: 2
years jail, IDR50,000,000.00 fne – if fne is unpaid,
an extra 3 months in detention;
- 5llOl P. VANulANC´s case: in relation to the
procurement of ballot boxes for the 2004 general
elections; Verdict: 4 years jail, IDR200,000,000.00
fne (3 months extra detention if unpaid);
- l0A VAlVuk´s case: i n rel ati on to the
management of Non-Tax State Revenues from
fees paid for the processing of immigration
documents at the Indonesian Consulate in Johor
Bahru i n 2001-2002; Verdi ct: 2 years l ess
detention period, IDR50,000,000.00 fne (3 months
extra in detenti on i f not pai d), ordered to pay
atau membantu RUSTAM EFFENDI melakukan
TPK dalam pengadaan bus pada Proyek
Busway di Dinas Perhubungan Provinsi DKI
Jakarta tahun 2003-2004 dan pegawai negeri
yang menerima hadiah, karena patut diduga
sebagai sebab melakukan sesuatu atau
tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya;
Putusan: pidana penjara 2 tahun, denda
Rp50.000.000,00 apabila denda tidak diba-
yar diganti dengan pidana penjara selama
3 bulan;
- Perkara atas nama terdakwa SIHOL P.
MANULANG ber hubungan dengan
pengadaan Kotak Suara untuk PEMI LU
Tahun 2004; Putusan: pi dana penj ara 4
tahun, denda Rp200.000.000,00 subsidair
3 bulan;
- Perkara atas nama terdakwa EDA MAKMUR
berhubungan dengan pengelolaan dana
PNBP terkait pungutan tarif pengurusan
dokumen keimigrasian di KJRI Johor Bahru
yang terjadi pada tahun 2001-2002; Putusan:
pidana penjara 2 tahun dikurangi masa
tahanan, denda Rp50.000.000,00 subsidair
3 bulan, uang pengganti Rp791.414.000,00
paling lama 1 bulan setelah inkracht, uang
pengganti tidak dibayar dipidana dengan
pidana penjara 1 tahun;
- Perkara atas nama terdakwa UNTUNG
SASTRA WIJAYA berhubungan dengan
sehubungan dengan pengadaan segel
sampul surat suara Pemilu Tahun 2004;
Putusan: pidana penjara 5 tahun penjara,
denda Rp250.000.000,00 subsidair 3 bulan,
uang pengganti Rp 3.540.968.027,16 apabila
tidak membayar dalam waktu 1 bulan setelah
putusan berkekuatan hukum tetap dan
terdakwa tidak mempunyai harta benda
yang mencukupi untuk membayar uang
pengganti tersebut maka terdakwa dipidana
penjara 5 tahun;
- Perkara atas nama terdakwa DAAN DIMARA
berhubungan dengan pengadaan segel
sampul surat suara Pemilu tahun 2004;
Putusan: pidana penjara 4 tahun dikurangi
masa tahanan dan denda Rp200.000.000,00
apabila tidak dibayar diganti dengan pidana
kurungan 2 bulan;
a compensation of IDR791,414,000.00 payable
at the most 1 month after decision enters into
conclusive legal efect; if unpaid, an extra 1 year in
detention;
- uN7uNC 5A57kA wl1A¥A´s case: in relation
to the procurement of ballot seals for the
general elections of 2004; Verdict: 5 years jail,
IDR250,000,000.00 fne (3 months extra in jail
if not paid), ordered to pay a compensation of
IDR3,540,968,027.16, payable at the most 1 month
after decision enters into conclusive legal efect;
should the defendant lack sufcient assets to make
restitution, then he must serve an additional 5
years in detention;
- 0AAN 0l VAkA´s case: i n rel ati on to the
procurement of ballot seals for the general
elections of 2004; Verdict: 4 years jail minus
detention period and IDR200,000,000.00 fne – if
unpaid, an extra 2 months in detention;
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
54 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
- Perkara atas nama FTK HAREFA alias
TJEJEP HAREFA berhubungan dengan
pengadaan buku dan barang cetakan
unt uk kepentingan Pemilu tahun 2004;
Putusan MA: Menolak Permohonan Kasasi,
berdasarkan Putusan PT: pidana penjara
6 tahun, denda Rp300.000.000,00 subsidair 6
bulan, uang pengganti Rp11.762.908.610,00
apabila tidak dibayar dipidana penjara 3
tahun;
- Perkara atas nama terdakwa ANDI N H
TARTOYO berhubungan dengan permintaan
atau pemungutan dana yang tidak ada
pengat ur annya dar i par a Sekr et ar i s
Di r ekt or at Jender al di Li ngkungan
Departemen Kelautan dan Perikanan Tahun
2002 s.d 2006; Putusan: pidana penjara
1 tahun 6 bulan dikurangi masa tahanan,
denda Rp50.000.000,00 apabila denda tidak
dibayar diganti pidana kurungan 3 bulan;
- Perkara atas nama terdakwa TIRTA WINATA
berhubungan dengan pengadaan barang
dan j asa peral atan l aboratori um pada
Depar temen Kel autan dan Peri kanan;
Put us an: Menol ak per mohonan
k as as i , menguatkan putusan di tingkat
banding, menghukum terdakwa dengan
pidana penjara selama 6 tahun dan denda
Rp500. 000. 000, 00 s ubs i dai r 5 bul an
k u r u n g a n , u a n g p e n g g a n t i
Rp2.355.222.890,00 apabila dalam 1 bulan
uang pengganti ti dak di bayar har ta
bendanya akan disita untuk dilelang dan
dipidana selama 2 tahun;
- Perkara atas nama terdakwa WASKITO
SURYODIBROTO berhubungan dengan
turut serta atau membantu SUWARNA
AF melaksanakan tindak pidana korupsi
pada pelaksanaan program pembangunan
per kebunan kelapa sawit sejuta hektar di
Kalimantan Ti mur yang di i kuti dengan
pener bi t an i j i n pemanf aat an kayu;
Putusan: pi dana penjara 2,5 tahun, denda
Rp50.000.000,00 subsidair 3 bulan kurungan.
55
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law
Penindakan
Repression
- l7l lAkllA olo 71l1lP lAkllA´s case: in
relation to the procurement of books and printing
materials for the general elections of 2004; Verdict
of Supreme Court: declined leave for cassation/
appeal, upheld High Court’s Verdict: 6 years jail,
IDR300,000,000.00 fine (6 months extra in
det ent i on i f not pai d) , or der ed t o pay a
compensation of IDR11,762,908,610.00 – if unpaid,
an extra 3 years in detention;
- AN0lN l 7Ak7O¥O´s case: in relation to illicit
requests for / collection of funds by Secretaries to
the Directorates General of the Department of
Marine Afairs and Fisheries from 2002 until 2006;
Verdict: 1 year 6 months j ail minus detention
period, IDR50,000,000.00 fne – if unpaid,
- 7l k7A wl NA7A´s case: i n rel ati on to the
procurement of laboratory equipment at the
Department of Marine Affairs and Fisheries;
Verdict: leave for cassation/appeal declined,
High Court decision upheld, sentenced to 6 years
and fined IDR500,000,000.00 (5 months extra
in det ent i on i f unpai d) , ordered t o pay a
compensation of IDR2,355,222,890.00 – if not paid
within 1 month, the defendant’s assets to be
confscated and auctioned. and defendant to serve
another 2 years;
- wA5ll7O 5uk¥O0l8kO7O´s case: in relation to
involvement in or facilitation of corrupt conduct
by SUWARNA AF in the implementation of the
1- mi l l i on- hect ar e Oi l Pal m Pl ant at i on
Development Program in East Kalimantan,
followed up by the issuing of logging permits;
Verdict: 2.5 years in jail, IDR50,000,000.00 fine (or
3 months extra in detention if unpaid).
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
56 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penindakan
Repression
Uang Negara yang Diselamatkan
Jumlah uang negara yang berhasil diselamatkan
KPK dihitung berdasarkan putusan Pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
(inkracht van gewijsde), yaitu putusan terhadap
uang rampasan, uang pengganti, dan denda sebesar
Rp 119.976.472.962,00 yang terdiri dari:
- Potensi barang bukti yang dirampas untuk
negara senilai Rp22.031.013.912,00
- Potensi hukuman uang pengganti seni l ai
Rp91.395.459.050,00
- P o t e n s i h u k u ma n d e n d a s e b e s a r
Rp6.550.000.000,00.
Dari jumlah potensi uang negara yang berhasil dis-
elamatkan tersebut di atas, yang telah disetor ke
Kas Negara per tanggal 18 Desember 2007 adalah
sebesar Rp45.513.032.038,00 yang terdiri dari:
- Pendapatan Uang Pengganti TPK yang
Ditetapkan Pengadilan (MAP 424114) sebesar
Rp34.312.007.190,00
- Pendapatan Uang Sitaan Hasil Korupsi yang
Telah Ditetapkan Pengadilan (MAP 424111)
sebesar Rp8.055.173.827,00.
- Pendapatan Hasil Denda Kasus TPK (MAP
423214) sebesar Rp2.250.000.000,00
- Pendapatan Ongkos Perkara Kasus TPK (MAP
423215) sebesar Rp347.500,00
- Jasa Giro (MAP 423151) sebesar Rp895.503.521,00.
kecovetv ol 5tote lunJs
The value of the state funds recovered by the KPK, calculated
based upon the court decisions that have entered into
conclusive efect, including decisions on embezzled funds,
and the payment of compensation and fnes, amounts to
l0k119.976.472.962.00 from:
- Potential assets seized by the state: l0k22.031.013.912.00
- Potential compensation payable: l0k91.395.459.050.00
- Potential fnes payable: l0k6.550.000.000.00
Of the potential state funds that can be recovered,
IDR45,513,032,038.00 had been lodged with the State
Treasury as per December 18th 2007, composed of:
- Compensation payments (MAP 424114):
l0k34.312.007.190.00
- Corruption proceeds seized by order of the cour t (MAP
424111): l0k8.055.173.827.00.
- Fines imposed in corruption cases (MAP 423214):
l0k2.250.000.000.00
- Court fees in corruption cases (MAP 423215):
l0k347.500.00
- Giro Services (MAP 423151): kµ895.503.521.00.
Pencegahan
Prevention
Sinergi antara upaya represif dan preventif
merupakan hal yang mut l ak j i ka i ngi n
memberant as korupsi hingga tuntas.
Sej ar ah membukt i kan bahwa
pemberantasan korupsi di Indonesia
yang hanya mengedepankan car a-
car a r epr esi f t i dakl ah sanggup
mengenyahkan kor upsi sampai
ke akar - akar nya. Di but uhkan juga
langkah preventif yang berfungsi
untuk mencegah tumbuhnya kembali
korupsi dan perilaku koruptif di masa
mendatang. Sinergi antara upaya
represif dan preventif merupakan hal
yang mutlak jika ingin memberantas
korupsi hingga tuntas.
Selain memberantas korupsi dengan
cara represif, KPK juga diamanatkan
ol eh Undang- undang unt uk
melakukan langkah preventif. Langkah
KPK dalam menj al ankan f ungsi
pr event i f mel i put i : pendaf t ar an
dan pemer i ksaan LHKPN, gratifkasi,
pendidikan dan pelayanan masyarakat,
penel i ti an dan pengembangan,
monitor, dan pengembangan jaringan
kerja sama.
Pendaftaran dan Pemeriksaan
LHKPN
Menurut pasal 5 angka 2 dan 3
UU Nomor 28 Tahun 1999, seti ap
Penyel enggara Negara (PN) waj i b
mel aporkan dan mengumumkan
harta kekayaannya sebelum, selama,
dan sesudah menjabat. Pengelolaan
LHKPN yang dilakukan KPK terdiri
dari:
History has proven that a corruption
eradication effort in Indonesia that
focuses only on repressive methods will
not be sufficient to eradicate corruption
right down to its roots. Functioning
preventive steps are also required so that
the reemergence of corruption in the
future can be avoided. Thus, synergy
between the repressive and preventive
approaches i s an absol ute must i f
cor r upt i on i n I ndonesi a i s t o be
eradicated.
Accordingly, besides eradicating corruption
using repressive methods, the KPK is also
mandated by law to take substantive
pr event i ve meas ur es. The KPK’ s
preventive approaches include the
recordi ng and eval uati on of LHKPN
( Publ i c Ser vant ’s Weal th Repor ts) ,
discouraging the acceptance of gratuities,
conducting research into preventive
measures, monitoring public and State
institutions, and developing anti-
corruption networks both nationally and
internationally.
Recording and Evaluation of Public
Servant’s Wealth Reports (LHKPN)
Each public official is obliged to report
and announce his/her wealth before,
during, and after his tenure in office, as
per Article 5 (2) and (3) of Law No. 28 of
1999. The KPK’s work i n thi s regard
includes:
Synergy between the repressive and preventive
approaches is an absolute must if corruption in
Indonesia is to be eradicated.


Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
58 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
59
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
1. Upaya Peningkatan Kepatuhan

Posisi tingkat kepatuhan dari jumlah Wajib Lapor
seluruhnya 86.468 telah menyampaikan LHKPN
sebanyak 76.455 (88,42%) terdiri dari: Eksekutif
85,25%, Legislatif 95,59% , Yudikatif 90,57%, dan
BUMN/D 91,92%. Tingkat kepatuhan ini meningkat
sebesar 32,31% dari tahun sebelumnya (2006)
yang mencapai 56,11%. Berbagai kegiatan yang
dilakukan dalam upaya peningkatan kepatuhan
adalah sebagai berikut:
t Bimbingan Teknis Pengisian LHKPN telah
dilakukan sebanyak 120 kali dengan jumlah
peserta sejumlah 10.526 orang, yakni 112
kal i di l akukan di i nstansi dan 8 kal i yang
di l akukan secara regul er di Kantor KPK.
t Sosialisasi LHKPN di 11 instansi yudikatif (Polri,
Pengadilan, dan Kejaksaan) di Provinsi DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta,
dan Jawa Ti mur dengan j uml ah peser t a
kesel ur uhan sebanyak 3. 178 or ang.
t Pemanggilan 126 pejabat Eselon I dan setingkat
Eselon I untuk diminta melaporkan dan/atau
dilakukan bimbingan teknis pengisian LHKPN.
t Untuk menunjang kelancaran pelaporan
LHKPN, selama tahun 2007 telah didistribusikan
formulir LHKPN baik A maupun B sebanyak
61.320 form dan distribusi Compact Disc (CD)
LHKPN sebanyak 11.889.
2. Pengelolaan LHKPN
t Untuk menyelesaikan beban pekerjaan
pengelolaan LHKPN yang tertunda (backlog),
dilakukan penambahan tenaga SDM melalui
rekruitmen tenaga kontrak.
t Dalam rangka digitalisasi dokumen LHKPN,
telah dilakukan pemindaian berkas dari
tahun 2006 sampai dengan tahun 2007
sebanyak 48.200, terdi ri dari tahun 2006
sebanyak 18.809 dan di tahun 2007 sebanyak
29.391. Sisa dokumen yang belum dipindai saat
ini sebanyak 13.036.
t Validasi dan pemutakhiran pada database
Wajib Lapor untuk meningkatkan ketersediaan
informasi LHKPN yang andal dan terkini.
t Menggunakan jasa outsource pada sebagian
pekerjaan untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensi pengelolaan LHKPN.
1. Improving Compliance

The compliance level of public officials who are
required to report (wajib lapor) is as follows: those
who are obliged to report number 86,468 public
officials, 76,455 (88.42%) of which have submitted
their reports. This group is composed of: executive
officials (85.25%), legislative officials (95.59%), legal
officials (90. 57%), and State/Regional Owned
Enterprise (BUMN) ofcials (91.92%). This compliance
level represents an increase 32.31% in compliance from
2006, which saw a total compliance level of 56.11%.
The various activities undertaken in order to improve
the compliance of public ofcials are as follows:
t Technical Guidance on the Filling in of LHKPN
Forms, which was conducted 120 times for a
total of 10,526 participants, during 112 events
in various institutions, and 8 events at the KPK
Office, with 356 participants per event.
t Socialization Road Shows and LHKPN Technical
Guidance at 11 legal institutions (the Police, the
Courts, and the AGO) in Jakarta, West Java,
Central Java, Jogj akar ta, and East Java
provinces, with a total of 3,178 participants.
t Requests for 126 officials of Echelon I and
equivalent to Echelon I to fill out their LHKPN
forms and/or the provision of technical guidance
for these ofcials for flling out their LHKPN forms.
t In order to suppor t the efficiency of LHKPN
reporting, in 2007 the KPK distributed 61,320 copies
of LHKPN forms A and B, as well as 11,889 LHKPN
compact discs (CDs).
2. LHKPN Forms, and their Publicization
t Increased manpower through the recruitment of
contractors to fnish the backlog of unprocessed
LHKPN.
t In the course of digitizing LHKPN documents,
48,200 fles from 2006 (18,809 fles) to 2007 (29,391
fles) have been scanned. There are 13,036 fles that
are as yet unscanned.
t Validation/updating of the database on those who
are obliged to report in order to improve the
availability of reliable and updated LHKPN
information.
t Outsourcing some of the workload of the LHKPN
Directorate in order to comply with Government
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
60 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
regulation No. 63 of 2005 on increasing the
efectiveness and efciency of LHKPN processing.
3. Cooperation with/Support for Institution/Agency
Managers/Leaders

As an expression of appreciation for those institutions
that have made eforts to increase the compliance
of their ofcials, the KPK presents them with LHKPN
awards. In 2007, the institutions that received LHKPN
awards for the best LHKPN management were: (a)
Central Bureau of Statistics; (b) Department of
Communications; and (c) the BPKP (Development and
Financial Audit Board). The giving of an award is based
on a number of variables, including: compliance
levels, and the number of LHKPN reports delivered to
the KPK by public ofcials from the relevant institutions
in 2007.

With the launch of an LHKPN computer application,
the KPK has provided technical guidance on how to
use the application to LHKPN coordinators at 50 cen-
tral government institutions.
4. Transparency to the Public
t The LHKPN reports that were published during 2007
cover 7,427 public officials, an increase from the
targeted 4,200 officials.
t In 2007 the LHKPN reports of a number of ministers
and State officials were published: First, on June
8th, 2007, the KPK published Finance Minister Sri
Mulyani Indrawati’s and Industry Minister Fahmi
Idris’s LHKPNs. Second, on August 29th, 2007, the
KPK made public People’s Consultative Assembly
Speaker Hidayat Nur Wahid’s LHKPN, BUMN (State
Owned Enterprises) Minister Sofyan A. Djalil’s LHKPN,
and former Disadvantaged Regions Development
Mi ni s t er Sai f ul l ah Yus uf ’ s LHKPN. Lastly, on
3. Kerja sama / Dukungan Pimpinan Instansi

Sebagai bentuk apresiasi kepada instansi yang
telah melakukan upaya-upaya peningkatan ke-
patuhan pelaporan kekayaan PN di lingkungan
instansinya, KPK memberikan LHKPN Award.
Instansi yang mendapatkan LHKPN Award
2007 untuk pengelolaan LHKPN terbaik adalah:
(a) Badan Pusat Stati sti k; (b) Depar temen
Perhubungan; dan (c) Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan. Peni l ai an
award ditentukan banyak variabel, di antaranya:
tingkat kepatuhan, jumlah LHKPN yang tel ah
di sampai kan ke KPK ol eh PN dari i nstansi
yang bersangkutan pada 2007.
Dengan diluncurkannya aplikasi wajib lapor
LHKPN, maka telah dilakukan bimbingan teknis
untuk pemahaman penggunaan aplikasi kepada
para koordinator LHKPN di 50 instansi pusat.
4. Transparansi kepada Publik
t Pengumuman LHKPN selama tahun 2007
telah mencapai 7.427 PN dari target sebesar
4.200 PN melalui Tambahan Berita Negara.
t Dalam tahun 2007 telah dilakukan beberapa
pengumuman LHKPN Menteri dan Pejabat
Negara, yakni atas nama Sri Mulyani Indrawati
(Menteri Keuangan), Fahmi Idris (Menteri
Perindustrian), Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR),
Sofyan A. Djalil (Menteri BUMN), Saifullah
Yusuf (Mantan Menteri Pembangunan Daerah
Tertinggal), Suryadharma Ali (Menteri Koperasi
dan UKM), dan Jusman Syafi Djamal (Menteri
Perhubungan).
t Pemenuhan permintaan data LHKPN yang
sudah diumumkan kepada media dan
masyarakat sebanyak 2.693 LHKPN yang
sudah di-TBN-kan.
61
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
- 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000
2004
2005
2006
2007
Jumlah Wajib Lapor dan PN yang Menyampaikan Laporan LHKPN
(Number of Mandatory Reporters and State Administrators who have Submitted LHKPN)
5. Efektivitas Pemeriksaan LHKPN
t Dari analisis data internal sebanyak 211 LHKPN
(target 294), ditindaklanjuti ke pemeriksaan
substantif sebanyak 103 LHKPN (target 92),
dan ke pemeriksaan khusus sebanyak 8 (target
8). Pemeriksaan yang dilakukan sebagai tindak
lanjut dari informasi dari Direktorat Pengaduan
Masyarakat sebanyak 36 (target 20).
t Pemeriksaan substantif sebanyak 103 LHKPN
di atas di l akukan terhadap PN bi dang
eksekutif 55 PN, yudikatif 8 PN, legislatif 7 PN
dan BUMN/D 33 PN.
t Pemenuhan dukungan data dan informasi
terkait LHKPN kepada direktorat lain untuk
kepentingan penyelidikan, pemeriksaan
pengaduan masyarakat maupun pemeriksaan
gratifkasi sebanyak 16 kali.
t Dar i hasi l pemer i ksaan khusus, yang
ditindaklanjuti oleh Bidang Penindakan
sebanyak 2 PN.
November 7t h, 2007, t he KPK publ i s hed
Cooperatives and Small and Medium Enterprise
Minister Jusman Syafii Djamal’s LHKPN.
t The number of requests for LHKPN data that were
announced in the media and to the general public
amount and which were subsequently complied
with amount to 2,693, which have since been
published in the Supplement to the State Gazette.
5. Effectiveness of LHKPN Report Evaluation
t Based on an analysis of internal data involving
about 211 LHKPN reports (out of the targeted 294
reports), 103 reports (target of 92) were subjected
to substantive evaluation; and 8 reports (target of
8) to special evaluation. Such evaluations were carried
out in order to follow up on information from the
Directorate of Public Complaints concerning 36
complaints (target of 20).
· ¯|e ¹03 ||||| ·e¡o·|· ||o| .e·e ·o/·|o·||.e|,
evaluated concerned 55 executive ofcials, 8 judicial/
law enforcement ofcials, 7 legislative ofcials, and 33
state/local-government enterprise ofcials.
t LHKPN-related data and information was provided
to other directorates on 16 occasions for investigative
purposes in connection with public complaints and
the acceptance of gratuities
t The results of special evaluations were followed up
on by the Deputy for Repression in the cases of 2
public officials.


Jumlah wajib lapor LHKPN
Laporan LHKPN yang disampaikan
76,455
65,448
56,274
43,668
88,823
86,468
116,649
113,826
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
62 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Gratuities
Generally, the KPK’s duties and powers in relation to
gratuities, based on Law No. 23 of 2002, is to conduct:
· ^·o|,·|· o| ·e¡o·|· o· co·¡|o|·|· |·o· ||e ¡o/||c.
from NGOs, and from government institutions on
suspicions that a gratuity has been received by a
public or state official;
· |e|e··|·|·¸ ||e ·ece|¡| o| o ¸·o|o||, o· ·|·||o·
emolument by a public or state official;
· ´eo·c||·¸ |o· e.|Je·ce |· ·e|o||o· |o ¡o/||c o· ·|o|e
officials suspected of receiving gratuities or similar
emoluments;
· |.o|oo||o·· o| ¸·o|o||, ·e¡o·|· o· ·e¡o·|· o| ·|·||o·
emoluments;
· |e||.e·, o| ¸·o|o|||e· e·|o/||·|eJ |o /e|o·¸ |o ||e
State to the Ministry of Finance.
The various gratuity-related activities conducted by
the KPK duri ng 2007 i ncl uded soci al i zati on and
informal discussions, the processing of reports and the
conducting of evaluations on gratuities.
1. Socialization and Discussions

In 2007, socialization and informal discussions
activities were provided for government and private
institutions, such as the Directorate General of Tarifs
and Import Duties, state/local government-owned
Penanganan Gratifikasi
Secara umum, tugas dan kewenangan KPK terkait
dengan gratifikasi menurut UU Nomor 23 Tahun
2002 adalah melakukan:
t penel i t i a n l a por a n a t a u penga dua n
masyarakat, lembaga swadaya masyarakat,
atau instansi pemerintah tentang dugaan
penerimaan gratifikasi dan sejenisnya kepada
PN atau Pegawai Negeri;
t identifkasi penerimaan gratifkasi dan sejenisnya
oleh PN atau Pegawai Negeri;
t pencarian bukti-bukti untuk penyelidikan PN
atau Pegawai Negeri yang diduga menerima
gratifikasi dan sejenisnya;
t pemeriksaan terhadap laporan penerimaan
gratifikasi dan sejenisnya; dan
t penyerahan gratifkasi yang menjadi milik negara
kepada Menteri Keuangan.
Beberapa kegiatan terkait gratifikasi yang telah
dilakukan KPK selama periode 2007 antara lain
meliputi sosialisasi dan penyuluhan, penanganan
laporan, serta pemeriksaan gratifikasi.
1. Sosialisasi dan Penyuluhan Gratifikasi

Selama tahun 2007 kegiatan sosialisasi dan
penyuluhan gratifkasi diberikan kepada instansi-
Tingkat Kepatuhan Penyampaian LHKPN Tahun 2007
85%
75%
96%
97%
91%
83%
92%
95%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
% Kepatuhan % Diumumkan
Eksekutif Legislatif Yudikatif BUM/D
63
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
instansi pemerintah maupun swasta seperti
Ditjen Bea dan Cukai, BUMN/BUMD, Perguruan
Tinggi, Pemprov, Departemen Luar Negeri,
dan Perwakilan Badan Kepegawaian Nasional
dengan jumlah 54 kegiatan. Sejak 2005, KPK
juga menjalin kerja sama dengan I ndonesia
Business Link (IBL) untuk menyelenggarakan
kegiatan sosialisasi di beberapa IBL daerah
yang difokuskan kepada penerapan aturan
gratifikasi dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
2. Laporan Gratifikasi

Seti ap PN waj i b mel aporkan kepada KPK
selambat-lambatnya 30 hari kerja sejak yang
bersangkutan menerima gratifikasi tersebut
sesuai dengan pasal 17, 18 dan 19 UU Nomor
30 tahun 2002. Dalam hal ini KPK menyediakan
formulir gratifkasi untuk digunakan para pelapor.
Dalam tahun 2007 terdapat luncuran laporan
gratifkasi tahun 2006 yang masih dalam proses
klarifikasi dan verifi kasi yang berbentuk
uang sebesar Rp2.545.372.000,00 dan berbentuk
barang sebesar Rp181.120.000,00.
Selama tahun 2007, KPK telah menerima laporan
gratifkasi sebanyak 306 laporan dengan nominal
sebesar Rp6.872.903.035,00, USD26,990.00,
SGD2,710.00, AUD400.00, EUR100.00,
RM350.00 dan dalam bentuk barang se-
ni l ai Rp57. 480. 000, 00. Juml ah i ni menin-
gkat dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar
Rp3.951.494.341,00 (uang) dan Rp548.977.250,00
(barang), tahun 2005 sebesar Rp215.315.000,00
(uang) dan Rp504.248.000,00 (barang), dan ta-
hun 2004 sebesar Rp20.000.000,00 dalam bentuk
uang.
enterprises, universities, provincial governments,
the Department of Foreign Affairs, and the BKN,
with a total of 54 activities being undertaken. The
KPK has also being cultivating cooperation with
Indonesia Business Link since 2005, in order to
conduct socialization in a number of regional IBL
branches f ocused on the i mpl ementati on of
gratuity rules in day-to-day business.
2. Gratuity Reports
Every public ofcial is obligated to report the receipt of
a gratuity to the KPK at the most 30 days after that
ofcial received that gratuity, according to articles 17,
18, and 19 of Law No. 30 of 2002. The KPK provides
standard gratuity report forms.
In 2007, the Directorate of Gratuities was still in the
process of clarifying and verifying 2006 gratuity
reports involving some IDR2,545,372,000.00 in cash
and IDR181,120,000.00-worth of goods.
In 2007, the KPK received 306 gratuity reports,
involving, in monetary terms, IDR6,872,903,035.00;
USD26,990.00; SGD2,710.00; AUD400; EUR100.00;
RM350.00; and goods worth IDR57,480,000.00. These
amounts showed an increase compared to 2006,
when cash gratuities worth IDR3,951,494,341.00
were recorded, and IDR548,977,250.00 worth
of goods, In 2005, the equivalent figures were
IDR215,315,000.00 and IDR504,248,000.00, and in
2004, IDR20,000,000.00 in cash gratuities.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
64 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Fr om t he r epor t s r ecei ved i n 2007, t he
KPK Commi ssi oner s have est abl i shed t hat
IDR2,114,771,834.00; USD3,030.00; SGD840.00; and
IDR8,175,000.00 of items are to be returned to the State
as State Property. Such gratuities paid into the State
Treasury in 2007 amounted to IDR2,842,150,894.00,
based on 2006 and 2007 reports. The rest, valued at
IDR4,650,008,701.00; USD20,960.00; SGD1,670.00;
AUD400.00; EUR100.00; and non-cash gratuities
valued at IDR49,305,000.00 were established to be the
property of the receivers, as the gratuities were not
related to the ofcials’ positions, or run contrary to his/
her obligations and duties. These permissible
gratui ti es are most commonl y fami l y gi fts/
bequests/i nher i t ances, or i ncome recei ved
i n t he f or m of donations at wedding ceremonies
and birthday parties of relatives. Gratuities valued at
IDR2,140,044,500.00; SGD200.00, and RM350.00 have
not been established either way and are still being
assessed.
Dari jumlah yang dilaporkan selama tahun 2007,
Pimpinan KPK menetapkan Rp2.114.771.834,00,
USD3,030.00, SGD840.00, dan barang senilai
Rp8. 175. 000, 00 menj adi mi l i k negar a.
Penyetoran ke Kas Negara selama tahun 2007
sebesar Rp2.842.150.894,00 yang berasal dari
pelaporan tahun 2006 dan tahun 2007. Sisa
sebesar Rp4.650.008.701,00, USD20,960.00,
SGD1,670.00, AUD400.00, EUR100.00 dan barang
dengan nilai Rp49.305.000,00 ditetapkan seba-
gai milik penerima, karena gratifikasi tersebut
dinilai tidak terkait dengan jabatannya dan tidak
berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya,
seperti hibah dan warisan dari anggota kel uar ga
at au pener i maan saat pesta pernikahan
atau ulang tahun anggota keluarga. Gratifikasi
sebesar Rp2.140.044.500,00, USD3,000.00,
SGD200.00, dan RM350.00 masih dalam proses
penel i ti an sehi ngga bel um di tetapkan
statusnya.
Rekapitulasi Penerimaan Laporan Gratifikasi
Periode 2004-2007
1
50
326
306
-
50
100
150
200
250
300
350
J
u
m
l
a
h

L
a
p
o
r
a
n
2004 2005 2006 2007
65
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Rekapitulasi Penerimaan Laporan Gratifikasi
Periode 2004-2007
Rekapitulasi Penerimaan Gratifikasi yang Disetor ke Kas Negara
Menurut Instansi Tahun 2004-2007
No I nstansi
Mi l i k Negara
Total

2004 2005 2006 2007*
1 DPR – RI - - 30. 470. 000 11. 800. 000 42. 270. 000
2 MA / Pengadi l an - - 15. 000. 000 - 15. 000. 000
3 BPK - - - 114. 012. 850 114. 012. 850
4 Kementeri an - - - 298. 236. 709 298. 236. 709
5 Depar temen - - - 240. 487. 000 240. 487. 000
6 Pem. Provi nsi - - 61. 207. 600 65. 750. 000 126. 957. 600
7 Pem. Kab. / Kota - 15. 000. 000 23. 000. 000 593. 933. 620 631. 933. 620
8 DPRD - - 29. 500. 000 799. 189. 670 828. 689. 670
9 BUMN - - 30. 000. 000 45. 500. 000 75. 500. 000
10 BUMD - - - - 0
11 LPND - - 3. 050. 000 35. 587. 500 38. 637. 500
12 Pol ri - - - 611. 575. 000 611. 575. 000
13 I nternal KPK - 340. 000 25. 265. 910 26. 178. 545 51. 784. 455
Juml ah 0 15. 340. 000 217. 493. 510 2. 842. 150. 894 3. 074. 984. 404
*) per 17 Desember 2007
J
u
m
l
a
h

U
a
n
g

(
R
p
.

J
u
t
a
a
n
)
720
20
4,500
1,001
78
773
641
200
2,726
-1,000
0
1,000
2,000
3,000
4,000
5,000
6,000
7,000
8,000
2004 2005 2006 2007*
Yang Dilaporkan Milik Negara Milik Penerima Dalam proses
6.359
4.399
2.842
2.459
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
66 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
3. Parcels
The receipt of gratuities is closely related to the
habits of public and state officials who , through
the years have been accepted as normal. However,
since the advent of the new gratuity rules, these
previously acceptable habits have come to be
recognized as part of how corruption operates in
Indonesia.
One such oractice is the giving of gifts to public
officials on the eve of major religious holidays,
known as the giving of parcels. Since 2004,
t he KPK has consi st ent l y rel eased publ i c
announcements to discourage the giving of gifts
to public officials; this is accompanied by the
publicizing of the prohibition on public ofcials
receiving parcels and similar gifts related to their
ofcial positions, or which would be contrary to
their duties and obligations.
In 2007, the KPK has also socialized this among
directors of state-owned enterprises.
Further, the KPK has also conducted supervision
on the effectiveness of its ban on public officials
receiving parcels. From the results supervision
conducted over the Idul Firti holiday, empirical
evi dence suggests that there has been a
significant increase in reporting, as well as in the
level of compliance in the reports themselves.
4. Gratuity Evaluation
In 2007, evaluations on reports and other
sources of information involving 33 cases were
conducted, with the details being as follows: (a)
Cases originating from public complaints: 17;
(b) Cases originating from LHKPN reports that
involve bequests/inheritances: 12; and (c)
Other sources of information: 4 cases. Of these
33 cases, 5 cases have been forwarded to the
KPK Directorate of Preliminary Investigation.
3. Parsel
Gratifikasi sangat terkait dengan kebiasaan-
kebiasaan yang dilakukan oleh PN maupun
Pegawai Negeri yang selama ini dianggap
lazim. Namun, sejak dikeluarkannya aturan
mengenai gratifikasi, hal-hal tersebut menjadi
bagian gratifikasi yang merupakan salah satu
delik korupsi.
Salah satu kebiasaan tersebut adalah pemberian
hadiah kepada PN menjelang perayaan hari-hari
besar keagamaan, yang dikenal sebagai
pemberian parsel. Sejak tahun 2004, secara
konsisten setiap tahun, KPK mengeluarkan
imbauan kepada masyarakat untuk tidak
memberikan parsel kepada para pejabat negara,
dan juga larangan kepada PN maupun pegawai
negeri untuk tidak menerima pemberian parsel
dan sejenisnya yang terkait dengan jabatan atau
berlawanan dengan tugas atau kewajibannya.
K hus us unt uk t a hun 2 0 0 7 , K PK j uga
menyosialisasikan imbauan ini kepada Direksi
BUMN.
Di samping itu, KPK juga melakukan kegiatan
pemantauan terhadap efektivitas larangan
penerimaan parsel bagi pejabat dan PN. Dari
hasi l pemantauan yang di l akukan setel ah
l ebaran, di dapat fakta adanya peni ngkatan
pel aporan yang sangat signifikan, termasuk
tingkat kepatuhan dalam pelaporan PN.
4. Pemeriksaan Gratifikasi

Selama 2007 telah dilakukan pemeriksaan atas
pengaduan dan informasi lainnya sebanyak 33
kasus dengan rincian: (a) 17 kasus berasal dari
pengaduan masyarakat; (b) 12 kasus berasal
dari LHKPN yang mengandung unsur hibah;
dan (c) 4 kasus lainnya. Dari 33 kasus tersebut,
5 kasus diteruskan ke Direktorat Penyelidikan KPK.
67
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat
1. Pendidikan Anti Korupsi
Menciptakan Generasi Baru yang Anti Koru-
psi merupakan sasaran antara KPK dal am
membantu mewujudkan Visi KPK “Menciptakan
Indonesia yang bebas dari korupsi”. Salah satu
langkah konkrit yang dilaksanakan adalah dengan
melaksanakan program Pendidikan Anti Korupsi
untuk Pelajar dan Mahasiswa.
Sampai dengan akhir 2007, telah dilaksanakan 28
kali program Train of Trainers (TOT) yang diikuti
oleh para mahasiswa seluruh Indonesia dari 37
universitas. MoU (Nota Kesepahaman) yang telah
ditandatangani antara KPK dengan 67 Perguruan
Tinggi Negeri atau Swasta di seluruh Indonesia,
yang bertujuan melaksanakan pendidikan,
kampanye dan riset Anti Korupsi.

Tindak lanjut dari TOT adalah dilaksanakannya
Pendidikan Anti Korupsi untuk tingkat SMA
dengan fasi l i tator yang di ambi l dari para
mahasiswa hasil TOT. Kegiatan Pendidikan Anti
Korupsi untuk SMP dan SMA telah dilaksanakan
di beberapa kota dan kabupaten yaitu Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD), Jakarta, Bandung
dan Subang, Pangkal Pinang (Bangka Belitung,
Manado, Padang, Bukit Tinggi, Banjarmasin,
Palembang, Garut, Surabaya, dan kota lainnya di
seluruh Indonesia.
Materi pendidikan untuk tingkat SMA dan SMP
terdiri dari Pengenalan Korupsi, Dampak Korupsi,
Upaya Perlawanan Terhadap Korupsi, Warung
Kejujuran dan pemilihan pelajar Panutan/Unggul.
Education and Public Services
1. Anti-Corruption Education
The creation of a new generation imbued with an
anti-corruption ethos is one of the major goals of
the Directorate of Education and Public Services in
supporting the KPK’s vision of “Realizing a Corruption-
Free Indonesia”. One concrete step in achieving this
vision is the provision of anti-corruption education
programs for students at all levels.
As per the 4th quarter of 2007, the KPK had carried
out Training of Trainers 28 times; such programs
were attended by students from 37 Universities
across I ndonesi a. Al so, 67 Memorandums of
Understanding between the KPK and public and
private universities across I ndonesi a were si gned
for the purpose of implementing anti-corruption
education, campaign, and research.
The follow-up to the Training of Trainers program was
the provision of anti-corruption education at the high
school level in cooperation with university students
who had participated in the Training of Trainers
program. Anti-corruption education for high school
students was provided in Aceh, Jakarta, Subang,
Pangkal Pinang (Bangka Belitung), Manado, Padang,
Bukit Tinggi, Banjarmasin, Palembang, Garut,
Surabaya, and other parts of the country.
Education materials at high school levels are on:
Introducing Corruption, the Impact of Corrup-
tion, Efforts to Fight Corruption, Honesty Shop (a
shop where students purchase items and snacks
with no supervision; at the end of a certain time the
proceeds of the shop is matched with its inventory
for further discussion), as well as selecting a Model
Student.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
68 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Materials for primary school students (years 4, 5 and
6) are included in standard subjects such as Religion,
Bahasa Indonesia, Mathematics, Science, Social
Studies and Art and Culture. Materials for primary
school students focus on the following 7 essential
values: Honesty, Courage, Responsibility, Modesty,
Awareness, Fighting Spirit, and Justice.
The KPK has also prepared anti-corruption character-
building education programs for elementary school
students,and modules have been designed for
elementary school grades 4, 5 and 6.
Anti-corruption fairy tales have also been designed
for pre-school (kindergarten) students. Education
activities using the fairy-tale (dongeng) approach will
be implemented in 2008. These will involve simplifed
anti-corruption characters, including mascot animals.
The stories are designed to instill the following values
in children: Honesty, Courage, Justice, Modesty,
Fighting Spirit, Responsibility and Awareness.
Education will also target the public and private
spheres, especially civil servants and public ofcials.
Workshops for members of regional parliaments
(DPRD) have been held to increase the capacity of the
members’ roles and functions. In 2007, such workshops
were held in East Java, Gorontalo, West Sumatra, South
Kalimantan, and North Sulawesi.
A local parliament as an institution has two important
roles – its role as the administrator of local governance,
and its role as the representative of the local people.
These two roles involve three functions: legislative,
budgeting, and monitoring. With these roles and
functions, a local parliament enjoys a very strategic
position in the efort to improve public welfare.
With these KPK-facilitated workshops, it is hoped
that the DPRD members’ understanding of corrupt
conduct will be widened, and thus the DPRDs will
be able to play a more proactive role in preventing
corruption.
Materi untuk kelas 4, 5 dan 6 SD disisipkan
kedalam beberapa mata ajaran diantaranya
pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Matematika,
IPA/IPS dan Kesenian dan Budaya. Materi Anti
Korupsi untuk siswa SD terdiri dari 7 nilai :
Kej uj uran, Keberani an, Tanggungj awab,
Kesederhanaan, Kepedulian, Daya Juang dan
Keadilan.
Dalam pengembangan modul pendidikan, telah
dibuat 3 modul untuk siswa SMP dan telah siap
untuk dipublikasikan pada tahun 2008. Selain itu
juga, untuk pendidikan pengembangan karakter
anti korupsi bagi SD, tel ah di buat modul
pendidikan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6.
Khusus untuk pendidikan pengembangan siswa
Taman Kanak-kanak ( TK) telah dibuat buku
dongeng anti korupsi yang berisi pesan moral
yang memadukan cerita sederhana dengan
tokoh dan karakter hewan-hewan l ucu.
Implementasi kegiatan pendidikan dengan
pendekatan dongeng akan dilaksanakan
pada tahun 2008.
Program Pendidikan Anti Korupsi tidak hanya
menyentuh pelajar dan mahasiswa saja, akan
tetapi dikembangkan pula untuk Sektor Swasta,
Pegawai Neger i Si pi l ( PNS) , dan par a
Penyelenggara Negara (PN). Salah satunya
adal ah program pemberdayaan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang bertiujuan
untuk meningkatkan kapsasitas peran dan fungsi
DPRD. Selama tahun 2007 workshop peningkatan
kapasitas peran dan fungsi DPRD telah dilakukan
di Provinisi; Jawa Timur, Gorontalo, Sumatera
Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.
DPRD memiliki dua peran yang amat penting,
yaitu sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
daerah dan sebagai wakil rakyat. Kedua peran
DPRD tersebut diwujudkan dalam dalam tiga
fungsi, yaitu legislasi, anggaran dan pengawasan.
Dengan peran dan fungsi tersebut DPRD
menempati posisi yang sangat strategis dalam
mewujudkan kesejahteraan rakyat.
69
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Dengan Workshop yang difasilitasi oleh KPK
itu, diharapkan pemahaman anggora Dewan
terhadap tindak pidana korupsi akan semakin
luas sehingga kedepannya diharapkan DPRD
dapat berperan lebih aktif lagi dalam mencegah
perbuatan korupsi sesuai dengan UU yang ada
saat ini.
2. Kampanye dan Sosialisasi

Kalender kegiatan 2007 merupakan salah satu
yang terpadat selama periode empat tahun
yang pertama sejak berdirinya KPK. Dimulai
dengan proses pengadaan perangkat sosialisasi
sebagai bahan kampanye yang terdiri dari 15
macam jenis seperti stiker, brosur, buku saku, pin,
buku dongeng dan komik serta pembuatan video
instruksional pelaporan gratifkasi dan pengisian
laporan harta kekayaan penyelenggara negara
(LHKPN) serta Tatacara Pengaduan Masyarakat.
Sel uruh materi i ni di di stri busi kan dal am
berbagai kegiatan yang diselenggarakan sendiri
oleh KPK maupun atas permintaan masyarakat
dan kegiatan lain yang didukung oleh KPK secara
cuma-cuma.
Materi yang bentuk dan jenisnya disesuaikan
dengan berbagai kalangan termasuk anak-
anak, pel aj ar, mahasi swa dan umum,
di desain sedemikian rupa sehingga menarik
dan merangsang minat untuk memilikinya dan
membacanya.

Selain itu, untuk menggalang peran serta
masyarakat yang lebih besar dalam perlawanan
terhadap korupsi, telah dilaksanakan beberapa
kegiatan yang melibatkan masyarakat secara
l angsung. Kegi atan yang berl angsung di
beberapa kota besar di Indonesia, dilaksanakan
dalam bentuk pameran, diskusi dan interaksi,
menerima saran dan pengaduan serta dilengkapi
dengan pembagian buku dan materi sosialisasi
anti korupsi.
Tahun 2007 kegi atan penggal angan tekad
budaya anti korupsi telah dilaksanakan di
tempat-tempat strategis di Kota Manado,
Palembang, Batam, dan Surabaya dan berhasil
menyedot ant usi asme publ i k dengan
memberikan kesempatan masyarakat seluas-
luasnya mengekspresikan pendapatnya tentang
perlawanan terhadap korupsi.
2. Campaigning and Socialization
The 2007 activity calendar was the busiest compared
to other years as the KPK was frst established only
four years ago. Activities included the procurement
of campaign material, including 15 diferent types of
items: stickers, brochures, pocket books, pins, fairytale
books and comics, and the production of instructional
videos on gratuities and the flling in of LHKPN forms.
These materials are distributed during various
activities conducted by the KPK, at the request of the
public, or during other activities that are supported by
the KPK, all free of charge.
Materials take account of the demographics of the
target group (chi l dren, students, uni versi ty
students, the general public), and are designed so
as to stimulate the interest of the reader.
Further, In order to rally greater public support for
the fight against corruption, various activities
i nvol vi ng t he publ i c di rect l y have al so been
conducted in major cities around Indonesia, including
the holding of exhibitions, discussions, debates, the
gathering of suggestions and complaints, and the
distribution of anti-corruption books and materials.

In 2007, activities intended to forge a local anti-
corruption spirit were conducted at strategic venues in
the cities of Manado, Palembang, Batam, and
Surabaya, and drew an ent husi ast i c publ i c
response, with people urging the eradication of
corruption as quickly as possible.
Campaigning and socialization programs were
also targeted at public officials and the general
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
70 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
public through seminars and workshops on public
complaints, gratuities, and LHKPN, which were held
in Medan, Jayapura, Ambon, Manado. Surabaya,
Po nt i anak , Mak as s ar , and B andung.
T he s e activities help public officials understand
the corruption eradication effort at a deeper level,
as a succession of preventive activities followed
by repressi ve act i vi t i es, suppor t ed by publ i c
participation.
In order to increase the reach of the campaign, the
KPK has made use of innovative outdoor media
such as bus advertising in Jakarta, and bill boards
in major cities, such as Jakarta, Bandung, Medan,
Semarang, Surabaya, and Makassar. Banners and
posters have also been erected in strategic places
(such as village/sub-district offices).
All these activities have been supported by the use
of the print and electronic media, including TV and
Radio talkshows, so as to ensure that the campaign
activities and the socialization of corruption
prevention and eradication information, as well as
information on the KPK’s activities at the local,
national, and even international levels, is made
available to the general public .
Talkshows and campaign events were carried by
private national TV stations and local TV stations,
such as CTV Banten, Batam TV, Makassar TV, JTV
Surabaya, Sriwijaya TV Palembang, GoTV Gorontalo,
Pasifik TV Menado, Makassar TV, Bali TV, O Channel
Jakarta and other local TV stations around Indonesia.
The TV campaign also involved talkshow programs
usi ng fragmented formats featuri ng vari ous
celebrities in order to attract the interest of the
audience and spread the campaign message; these
sort of shows have been broadcast by TVRI as well
as local TV stations, such as Bekasi TV and Ratih TV
Kebumen.
Public service announcements were broadcast by
11 national private TV stations and airport TV ser-
vices in Jakarta, Medan and Bandung, local TV sta-
tions, and more than 200 radio stations associated
with PRSSNI.
Selain itu program kampanye dan sosialisasi
di tuj ukan pul a kepada PNS dan PN ser ta
masyarakat umum melalui kegiatan Seminar
dan Workshop pengaduan masyarakat, gratifkasi
dan LHKPN di Medan, Jayapura, Ambon,
Manado, Surabaya, Pontianak, Makassar dan
Bandung. Dengan diselenggarakannya kegiatan
ini, para PNS dan PN dapat lebih memahami
upaya pemberantasan korupsi yang merupakan
serangkaian upaya pencegahan disertai langkah
penindakan atau represif dan didukung oleh
peran serta masyarakat.
Untuk menambah jangkauan kampanye, KPK
memanfaatkan media luar ruang seperti Bus Ad
di Jakarta dan Billboard untuk kampanye anti
korupsi di kota besar seperti Jakarta, Bandung,
Medan, Semarang, Surabaya, dan Makassar dan
penempelan spanduk (Banner) dan poster di
tempat-tempat strategis termasuk kantor-
kantor kelurahan.
Seluruh kegiatan ditunjang dengan publikasi
melalui media cetak dan elektronik, termasuk
program tal kshow TV dan Radi o, dengan
demikian rangkaian kegiatan Kampanye dan
Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi serta informasi aktivitas KPK di ting-
kat lokal, nasional maupun internasional dapat
senantiasa diikuti oleh masyarakat.
Kegiatan talkshow dan kampanye melalui media
TV dan Radio telah diselenggarakan dan diliput
oleh TV Swasta Nasional dan TV Lokal seperti CTV
Banten, Batam TV, Makassar TV, JTV Surabaya,
Sriwijaya TV Palembang, GoTV Gorontalo, Pasifk
TV Menado, Makassar TV, Bali TV, O Channel
Jakarta dan TV local lainnya di Indonesia.
71
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Kampanye melalui TV dilaksanakan juga dalam
program Talkshow dalam format fragment yang
didukung oleh beberapa artis terkenal untuk
menarik minat pemirsa menyimak pesan kam-
panye, dan disiarkan di TVRI serta beberapa TV
lokal seperti Bekasi TV dan Ratih TV Kebumen.
Iklan Layanan Masyarakat ditayangkan pula di
11 TV Swasta Nasional, Airport TV di Jakarta,
Medan dan Bandung dan TV Lokal serta di lebih
dari 200 Radio yang tergabung dalam PRSSNI.

Untuk program Tal kshow Radi o Regul ar
(berj adwal ) KPK di dukung ol eh j ari ngan
Radi o Ti j aya FM dan I ndonesi a Busi ness
Link (IBL) di jaringan Radio Smart FM, disamping
program di j ari ngan Radi o 68H, j ari ngan
Radi o Ramako FM dan jaringan Radio Suara
Surabaya.

Rangkaian kegiatan kampanye tahun 2007
diakhiri dengan acara Penggalangan Tekad
Budaya Anti Korupsi yang dilaksanakan
bertepatan dengan hari Anti Korupsi Sedunia
t anggal 9 Desember 2007 di Bundar an
HI Jakarta. Diikuti oleh 400 anggota keluarga
besar KPK. Pada kesempatan ini dibagikan
26. 700 buah Buku Saku “Pahami Dul u Baru
Lawan” , 42.000 buah Sticker “Awas Bahaya
Laten Korupsi” dan 12.000 buah Sticker Gratifkasi
kepada masyarakat luas.

Pada kesempatan i ni beberapa organi sasi
kemasyarakatan dan Lembaga Swadaya
Masyarakat ikut serta memeriahkan kegiatan,
sebagai wujud peranserta masyarakat dalam
upaya pencegahan tindak pidana korupsi.
3. Humas

Humas KPK menekankan pelayanan publik.
Memberikan informasi yang akurat dan tepat.
Sambil berusaha menimbulkan citra positif KPK
di mata masyarakat, diiringi promosi sikap dan
kesadaran antikorupsi.
Melalui humas, KPK menyampaikan dan
menjelaskan kebijakan, upaya pencegahan,
program kerja, dan kewajiban-kewajibannya.
Humas KPK berupaya memberikan penjelasan
For scheduled Radio Talkshow programs, the KPK is
supported by the Radio Trijaya FM network and
Indonesia Business Link at Radio Smart FM, as well
as by programs on the Radio 68H, Radio Ramako
FM, and Radio Suara Surabaya networks.
By optimizing the involvement of the mass media,
events, and publications, it is hoped that the KPK’s
campai gn and soci al i zati on approach wi l l
successfully support the Indonesian anti-corruption
efort.

A series of campaign activities in 2007 was capped
with the Rallying Anti-Corruption Culture Event,
which was held on December 9th 2007, on World
Anti-corruption Day, at Bundaran HI Jakarta. This
event was attended by 400 KPK personnel. During
this event, 26,700 handbooks on “Understanding
Corruption in Order to Fight It”, 42,000 “Beware Latent
Corruption” stickers, and 12,000 Gratuity stickers were
distributed to the public.
The KPK was joined by several community and
non-governmental organizations in holding this
event, reflecting public participation in the course
of socializing corruption prevention.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
72 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
3. Public Relations

KPK’ Public Relations (PR) emphasizes the provision
of public service. I t is committed to providing
accurate and reliable information. Further, it
attempts to create a positive image of the KPK in
the eyes of the Public, as well as to promote anti-
corruption behaviour and awareness.

Through its public relations, the KPK delivers and
explains its policies, preventive eforts, work programs,
and obligations to the public. KPK public relations
attempts to explain to the public the policies and
goals to be made and met by the KPK in the
implementation of its work programs. KPK PR also
attempts to instill in the public a sense of trust and
confidence in the KPK.

Thus, KPK PR is dedicated to cultivating good
r el at i ons wi t h t he mass medi a and ot her
stakeholders through the holding of: (a) Meetings
with editors; (b) Routine discussions with the
media; (c) Press conferences; (d) Conducting media
visits; and (e) the provision of a public information
service.
I n 2007, KPK PR has been i nvol ved i n vari ous
activities. Visits to various print and electronic
media offices were made -- 20 offices in Jakarta and
Surabaya, including RCTI, SCTV, TransTV, Antara
News Agency, Radio Trijaya, Radio Smart FM,
Kompas, Tempo, The Jakarta Post, Jawa Pos, and
Indo Pos. Press conferences were conducted about
30 times, including conferences concerning crucial
issues that needed immediate publicizing (27 such
conferences). Responses and repudiations of media
reports were made 7 times. KPK PR has acted as a
source for the media 158 times. Discussions with the
media, as a platform for the media to interact with the
KPK Commissioners and ofcials, were conducted 6
times.
Of course, KPK PR does not conf i ne i tsel f to
cultivating good relations with the media. The media
must be equipped with an accurate, balanced, and
reliable understanding of the KPK, and of the strategic
efort involved in combating corruption. Thus, KPK PR
conducts anti-corruption seminars specifically
targeted at journalists. As per the end of 2007, such
seminars had been conducted 3 times. The frst was
in Jakar ta, followed by one in Surabaya and in
Jogjakarta.
kepada masyarakat tentang kebijakan dan tujuan
yang akan dicapai KPK dalam melaksanakan
program kerjanya. Humas KPK juga berupaya
menanamkan keyakinan dan kepercayaan
masyarakat kepada KPK.
Dalam rangka itu, humas KPK membina
hubungan baik dengan media massa dan
stakeholder lainnya, dalam bentuk: (a) pertemuan
dengan pimpinan redaksi (editor’s meeting); (b)
diskusi rutin dengan media (media discuss); (c)
menyel enggar akan t emu medi a ( pr ess
conference); (d) mengadakan kunjungan media
(media visit); dan (e) pelayanan informasi publik.
Bila dikuantifikasi, selama tahun 2007 telah
terlaksana sejumlah kegiatan. Kunjungan media
(media visit) ke beberapa media besar baik
cetak dan elektronik sebanyak 20 media di Jakarta
dan Surabaya, seperti RCTI, SCTV, TransTV, Kantor
Berita Antara, Radio Trijaya, Radio Smart FM,
Kompas, Tempo, The Jakarta Post, Jawa Pos,
Indo Pos. Siaran pers sebanyak lebih kurang
30 buah, termasuk konferensi pers u n t u k
hal - hal yang kr usi al dan membut uhkan
pember i taan yang cepat sebanyak 27 kali.
Tanggapan dan pelurusan berita di media
sebanyak 7 kali. Menjadi narasumber media
sebanyak 158 kali. Diskusi dengan media
(media discuss), sebagai ajang media dapat
berinteraksi dengan Pimpinan/Pejabat KPK,
sebanyak 6 kali.
Namun, tentu saja humas KPK tak berkutat
pada pembinaan hubungan baik dengan media.
Media itu pun mesti diberikan pemahaman
yang tepat, akurat, dan berimbang mengenai
KPK dan upaya strategi s pemberantasan
korupsi. Untuk itu, humas KPK menyelenggarakan
lokakarya antikorupsi yang khusus diperuntukkan
bagi jurnalis. Sampai akhir tahun 2007, sudah
dilakukan tiga kali lokakarya. Lokakarya pertama
di Jakarta, setelah itu berturut-turut Surabaya dan
Yogyakarta.

Kemudian, untuk membina komunikasi internal,
humas KPK menerbitkan majalah internal, yang
diberi nama WartaKPK. WartaKPK muncul mulai
2007. sampai akhir 2007.
Selama tahun 2007, melalui program Pendidikan,
73
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Kampanye dan Sosialisasi serta kegi atan Humas
tel ah di l aksanakan l ebi h dari 10. 000 poi n
kegiatan yang menyentuh lebih dari 67.000 orang
secara tatap muka langsung (direct touch).
Penelitian dan Pengembangan
1. Implementasi Good Governance (Tata Kelola
Kepemeri ntahan yang Bai k) mel al ui
pelaksanaan pilot project Island of Integrity.
Di tahun 2007, KPK secara aktif terus mendukung
pener apan pr akt i k- pr akt i k t at a kel ol a
kepemer intahan yang baik di daerah. Selain
memberikan bimbingan teknis di berbagai
daerah mengenai pelaksanaan good governance,
bersama-sama Kementerian PAN, dan BPKP
Perwakilan; KPK berusaha mengimplementasikan
rencana kerja yang telah disepakati dalam MoU
yang ditandatangani dengan daerah.
Salah satu penerapan tata kelola kepemerintahan
yang baik yang menjadi perhatian KPK adalah
perbaikan layanan publik. Jenis perbaikan
layanan publik yang menjadi perhatian KPK di
tahun 2007 ini adalah pelayanan perijinan
terpadu dan pelaksanaan e-Procurement di
daerah. Untuk itu, KPK telah menyusun suatu
kajian mengenai pelayanan terpadu dalam
bentuk buku, CD interaktif, dan VCD mengenai
“ I mpl ement asi Layanan Ter padu” dan
mener bi t kan buku mengenai e-Procurement
yang tel ah berj al an di daerah. Publ i kasi i ni
didistribusikan ke daerah-daerah dengan harapan
dapat memberikan inspirasi dan mendorong
daerah untuk mengimplementasikannya.
Beberapa upaya monitor terhadap upaya daerah
dalam menindaklanjuti kerjasama (MoU) yang
Further, in order to cultivate internal communication,
KPK PR publishes an internal magazine: WartaKPK.

In 2007, through the education, campaigning and
socialization programs, including PR activities,
more than 10,000 activities have been conducted,
touching directly on more than 67,000 lives.
Research and Development
1. Good Gover nance t hr ough t he I sl and of
Integrity pilot project
I n 2007, t he KPK ac t i ve l y s uppor t e d t he
implementation of good governance in the regions.
Aside from providing technical guidance in several
regions on the implementation of good governance,
the KPK, in cooperation, with the State Ministry of
Administrative Reform and the BPKP, has attempted
to implement the work plan that was agreed on in a
Memorandum of Understanding with the regions.
One aspect of good governance that the KPK is
particularly interested in is the improvement of
public services. The specific type of improvement
that the KPK focused on during 2007 was the
One-Roof Licensing Services program and the
implementation of e-procurement in the regions.
For these purposes, the KPK designed materials on
One-Roof Licensing Services in the form of books,
interactive CDs and VCDs, and also published books
on e-procurement in the regions. These publications
will be distributed to the regions in the hope of
inspiring and encouraging them to implement the
principles and methodologies contained in the
materials.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
74 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Several monitoring efforts on the efforts of the
regi ons i n fol l owi ng up on the MoU have been
implemented, including open visits and studies, and
surveillance. The results of such monitoring will be
incorporated into materials designed to encourage
good governance in particular regions. One such
study concerns ” Sal ar y I ncreases for Publ i c
Servants in the Regions”.
2. National Anti-Corruption Action Plan (RAN-PK)
and Moni t or i ng t he I mpl ement at i on of
Presidential Instruction No. 5 of 2004.
In its coordinating function under the National
Anti-Corruption Action Plan (RAN-PK), the KPK’s
role in the design of RAN-PK was realized through
the formulation of the RAD-PK (Regional Anti-
Corruption Action Plan), which is composed of a
ser i es of FGDs ( Focus Gr oup Di scussi ons) ,
consultations, and public campaign events, including
the facilitation of cooperation between Bappeda and
Bawasda to ensure the implementation of RAD-PK in
the regions. In 2007, the only region that involved the
KPK i t the desi gn of i ts RAD-PK was Central
Kalimantan.
In order to ensure the success of the implementation
of t he RAN- PK, a Moni t or i ng and Eval uat i on
Coor di nat i ng Team ( Team Kor mone v) was
formed, which comes under the auspices of the
State Ministry of Administrative Reform. The KPK’s
involvement in the Coordinating Team’s activities
include the socializing and monitoring of RAD-PK
implementa¬tion at regional goverment level, as
well as the RAN-PK of the Central Government. The
KPK is also involved in Coordinating Team activities
for the Provinces of East Kalimantan, West Sumatra,
Aceh, Papua, and Jogjakarta.
3. Studies
In order to provide input for the KPK organization
and for the purpose of strategy implementation,
mapping and target-setting work needs to be
undertaken through the conducting of studies. In
2007, the focus has been on Public Sector Integrity,
with 30 institutions targeted for mapping based
on the public services they provide. This study has
been the result of cooperation between the KPK
and the Korean Independent Commission Against
telah disepakati terus dilakukan dengan berbagai
cara, baik secara terbuka melalui kunjungan
atau studi, maupun secara surveillance. Hasil
monitor dijadikan sebagai bahan perbaikan
bagi kegiatan implementasi good governance
di daerah tersebut. Salah satu studi yang
bertujuan untuk upaya monitor ini adalah studi
mengenai ”Pelaksanaan Pemberian Tambahan
Penghasilan bagi Pegawai Negeri Sipil di
Daerah”.
2. Rencana Aksi Nasi onal Pemberantasan
Kor ups i ( RAN- PK) dan Moni t or i ng
Pel aksanaan I npres 5 tahun 2004
Sebagai fungsi koordi nati f dari RAN-PK,
keterlibatan KPK di dalam penyusunan RAN-PK
diwujudkan dengan penyusunan Rencana Aksi
Daerah-Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) yang
terdiri dari serangkaian kegiatan Focus Group
Discussion (FGD), konsultasi dan kampanye
publik, dan melakukan fasilitasi antara Bappeda
dan Bawasda untuk meyakinkan implementasi
RAD-PK di daerah. Untuk tahun 2007, daerah
yang penyusunan RAD-nya melibatkan KPK
adalah Kalimantan Tengah.

Untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan
RAN-PK, telah dibentuk Tim Koordinasi
Monitoring dan Evaluasi ( Tim Kormonev) yang
dikoordinasikan oleh Men-PAN. Keterlibatan
KPK dalam kegiatan Kormonev ini antara lain
adalah sosialisasi dan memonitor implementasi
RAD-PK di pemerintahan daerah dan RAN-PK di
instansi pusat. KPK ikut terlibat dalam kegiatan
Kormonev untuk provinsi Kaltim, Sumbar, NAD,
Papua, dan DI Yogyakarta.
3. Studi.

Untuk memberikan masukan bagi organisasi
dan bagi pelaksanaan strategi, diperlukan
kegiatan pemetaan dan penentuan target yang
dilakukan dalam bentuk kegiatan studi. Kegiatan
studi yang menjadi fokus di tahun 2007 adalah
Studi Integritas Sektor Publik yang bertujuan
melakukan pemetaan terhadap 30 instansi
berdasarkan layanan publiknya. Studi ini
merupakan hasi l kerj asama KPK dan Korea
Independent Commision Against Corruption
(KICAC). Metodologi yang digunakan dalam
75
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
penelitian ini mengacu pada metodologi yang
sejak tahun 2002 digunakan oleh KICAC dalam
mengukur integritas seluruh institusi di Korea
selama ini.
Beberapa studi yang dilakukan oleh KPK dalam
tahun 2007 adalah sebagai berikut:
a. Meni ngkatkan Ki nerj a PNS Mel al ui
Perbaikan Penghasilan: Studi Analisis
TKD di Pemerintah Provinsi Gorontalo
dan TPPK di Pemerintah Kota Pekanbaru.
Studi ini bertujuan untuk memotret hasil
pelaksanaan kebijakan pemberian tambahan
penghasilan bagi PNS di Pemerintah Provinsi
Gorontalo dan di Pemerintah Kota Pekanbaru.
Tujuan diberlakukannya kebijakan perbaikan
penghasilan ini diantaranya adalah untuk
tercapainya pemerataan penghasilan di
kalangan PNS, peningkatan disiplin dan
perbaikan kinerja. Untuk itu studi ini juga
menganalisis apakah dalam implementasinya,
kebijakan tambahan penghasilan yang
dilakukan ini dapat mencapai tujuan seperti
yang di harapkan. Dari studi i ni dapat
di si mpul kan bahwa perbaikan penghasilan
tidak begitu saja dapat meningkatkan kinerja
PNS, dibutuhkan atribut yang jelas dalam
mengatur ukuran kinerja dan pemberlakuan
sanksi yang adil.
b. Ser i Memahami unt uk Mel ayani :
Mel aksanakan e- Announcement dan
e-Procurement dalam sistem Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerint ah. Publikasi
ini ditujukan kepada seluruh instansi di pusat
dan daerah untuk memberi pemahaman
mengenai e-Procurement dal am si stem
pengadaan barang dan jasa pemerintah.
e-Procurement tel ah terbukti mampu
menunjang efisiensi dan menghasilkan
transparansi. Dalam waktu dekat, sistem
pengadaan barang dan jasa pemerintah
secar a nasi onal di r encanakan akan
menggunakan sistem e-Procurement. Oleh
karena itu, buku ini diharapkan dapat
memberikan informasi awal bagi daerah
atau instansi yang mempunyai rencana untuk
menerapkan e-Procurement dalam sistem
pengadaan barang dan jasa di lingkungannya.
Corruption (KICAC). The methodology used in this
study is based on a similar study carried out by the
KICAC in 2002, when it assessed the integrity of all
South Korean government institutions.

Among the studies performed by the KPK in 2007
are the following:
a. Study in the Gorontalo Provincial Government
and TPPK in the Pekanbaru City Government.
This study was intended to provide a picture of
the results produced by increasing the income
of public officials in the Gorontalo Provincial
Government and the Pekanbaru City Government.
The purpose of the income improvement policy
was to achieve more equal income distribution
among public ofcials, to improve discipline and
to improve staf performance. The study analysed
whether the implementation of the policy had
produced the desired results. The main fnding of
the study was that higher income alone was
insufcient to improve the performance of public
ofcials. Clear attributes are required in measuring
performance, as well as the fair implementation of
sanctions.
b. ” To Under st and and t o Ser ve” Ser i es:
I mpl ement i ng e- Announcement and
e-Procurement in Government Goods and
Services Procurement Processes.
This publication is aimed at central and local
government institutions to give them an
understanding of what e-procurement is all about
within the scope of the government goods and
services procurement system. E-procurement has
been proven to support efciency and produce
transparency. Soon, the national government
goods and services procurement system will go
on-line. Thus, this book is hoped to provide
preliminary information for the regions and
institutions that are planning to implement
e-procurement.
c. P r e v e n t i n g C o r r u p t i o n t h r o u g h e-
procurement.
Revi ewi ng the success of e-procurement
i mpl ementati on by the Ci ty Government
of Surabaya. Thi s study shows the benefi ts
and positive impacts felt by the city of Surabaya
af ter 3 years of the i mpl ementati on of i ts
e-procurement program. The success achieved
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
76 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
by the Surabaya Ci ty Government i n the
implementation of its e-procurement program
i s hope d t o i ns pi r e ot he r i ns t i t ut i ons
and governments to i mpl ement thei r own
e-procurement programs.
d. Good Gover nance Ser i es : St udy on
Implementation of One-Roof Services. In 2007,
the provision of licensing and non-licensing ser-
vices was a KPK focus. The aim is to encourage
more regional governments to apply the one-roof
services concept. The procedures, impacts, and the
success stories of three regions (Regency of Sragen,
City of Sare-Sare, and City of Jogjakarta) in
providing integrated services are explained in the
book, and in the related CD and DVD.
e. Public Sector Study on Integrity -- a survey
implemented annually. The study conducted in
2007 will serve as the baseline for future studies.
The main aim of this study is to rank all institutions
at both the central and local levels in Indonesia.
The ‘ ranki ng’ approach i s used so that the
i nsti tuti ons eval uated wi l l be abl e to make
improvements on the services they provide. This
study is the result of cooperation underway
between the KPK and the KICAC of South Korea
since 2002. Budget limitations restricted the 2007
study to respondents within Greater Jakarta.
In 2007, the ranking of 30 central government
i nsti tuti ons was carri ed out. The i ntegri ty
ranking is based on the integrity of the public
services provided by each institution. From each
sample institution, 3-4 service units representing
c. Mencegah Korupsi melalui e-Procurement.
Meninjau Keberhasil an Pel aksanaan
e- Procurement di Pemer i nt ah Kot a
Sur abaya.
Studi ini menggambarkan manfaat dan
dampak positif yang dirasakan Pemerintah
K ot a S ur a ba y a da l a m pe l a k s a na a n
e - Pr oc ur e me nt y a ng s uda h mul a i
di l a k sanakan sejak tahun 2004. Keberhasilan
yang dicapai oleh Pemerintah Kota Surabaya
dal am mel aksanakan e- Pr ocur ement
tersebut diharapkan bisa membuat instansi
dan pemerintah daerah lain ikut tertarik
melaksanakan e-Procurement dalam sistem
pengadaan barang dan jasa di instansi atau
pemerintah daerahnya.
d. Seri Tata Kelola Pemerintahan yang Baik:
Studi Implementasi Layanan Terpadu.
Untuk tahun 2007, implementasi layanan
perijinan dan nonperijinan merupakan
salah satu fokus KPK. Tujuannya adalah agar
semakin banyak pemerintah daerah yang
serius menerapkan konsep layanan terpadu
ini. Prosedur, dampak, dan kisah sukses
tiga daerah (Kabupaten Sragen, Kota
Pare-Pare, dan Kota Yogyakar ta) dal am
mengimplementasikan layanan terpadu akan
dijelaskan dan ditampilkan dalam bentuk
buku, CD multimedia, dan DVD Video.
e. Studi Integritas Sektor Publik, merupakan
salah satu studi yang direncanakan akan
dilaksanakan setiap tahun. Tahun 2007 ini
merupakan baseline untuk pelaksanaan
studi selanjutnya. Tujuan utama studi adalah
mel akukan pemeri ngkatan dari sel uruh
i nstitusi baik pusat maupun daerah yang
ada di Indonesia. Pendekatan pemeringkatan
digunakan agar institusi yang dinilai dapat
memacu perbaikan layanan yang diberikan
institusinya. Studi ini merupakan hasil
kerj asama antara KPK dan KI CAC Korea.
Keterbatasan anggaran mengakibatkan untuk
tahun 2007 ini, responden dibatasi hanya di
area Jabodetabek.
Untuk 2007, penilaian dilakukan dengan
melakukan pemeringkatan terhadap 30
instansi yang berada di pusat. Pemeringkatan
integritas ditentukan berdasarkan integritas
dari layanan publik yang diberikan di tiap
77
Pencegahan
Prevention
instansi. Dari tiap instansi sampel, dipilih 3-4
unit layanan yang mencerminkan pelayanan
publik dari instansi tersebut. Responden
adalah penerima layanan dari jenis layanan
publik sample di tiap instansi tersebut.
Total responden dalam studi ini berjumlah
3600 responden. Indikator integritas dinilai
berdasarkan pengalaman integritas dan
potensi integritas di tiap lembaga. Tiap
indikator dalam studi ini mempunyai bobot
yang ditentukan berdasarkan hasil diskusi
23 ahli yang di hitung melalui metode
Analytical Hierarchy Proces (AHP).

Hasil dari studi ini adalah: Nilai rata-rata
tingkat Integritas dari 30 institusi adalah
5,53. Dengan skala 1-10 nilai ini termasuk
rendah, terlebih dibandingkan dengan negara
lain seperti Korea yang memiliki rata-rata
Depar tment Experi enced Potenti al Score of Rank
I ntegri ty I ntegri ty I ntegri ty
BKN 5, 89 7, 34 6, 31 1
Dep. Dal am Negeri 6, 14 6, 49 6, 25 2
PT. PERTANI 6, 02 6, 52 6, 17 3
Dep. Perdagangan 5, 99 6, 59 6, 17 4
TASPEN 6, 02 6, 37 6, 12 5
Dep. Koperasi & UKM 5, 91 6, 52 6, 09 6
BPOM 5, 79 6, 81 6, 09 7
Depdi knas 5, 82 6, 49 6, 02 8
PT. ASKES 5, 80 6, 37 5, 97 9
Jasa Raharj a 5, 82 6, 22 5, 94 10
BKPM 5, 73 6, 20 5, 87 11
Dep. Sosi al 5, 65 6, 35 5, 86 12
Dep. Peri ndustri an 5, 52 6, 59 5, 84 13
TELKOM 5, 49 6, 38 5, 75 14
Depar temen Keuangan 5, 60 6, 05 5, 73 15
PERTAMI NA 5, 44 6, 29 5, 69 16
BRI 5, 40 6, 19 5, 63 17
RSCM 5, 55 5, 80 5, 62 18
PT. Jamsostek 5, 52 5, 84 5, 62 19
Dep. Kel autan dan Peri kanan 5, 28 5, 72 5, 41 20
Mahkamah Agung 5, 30 5, 24 5, 28 21
Depar temen Kesehatan 4, 85 6, 21 5, 25 22
PT. PLN 4, 95 5, 64 5, 16 23
Depar temen Agama 4, 92 5, 72 5, 15 24
Dep. Naker trans 4, 40 5, 93 4, 85 25
Kepol i si an RI 4, 80 4, 84 4, 81 26
PT. Pel i ndo 4, 50 5, 39 4, 76 27
Dep. Perhubungan 4, 18 4, 38 4, 24 28
BPN 3, 88 4, 84 4, 16 29
Dep. Hukum & HAM 3, 92 4, 67 4, 15 30
Rata-rata 5, 34 5, 60 5, 53
public services provided by that institution were
chosen. The respondents were the end-users of the
services provided by the institutions. The total
number of respondents was 3600. Integrity
indicators are evaluated based on the experience of
integrity and the integrity potential of each in-
stitution. Each indicator in the study is weighted
based on the results of discussions by 23 experts,
and was cal cul ated usi ng the Anal yti cal
Hierarchy Process method.
The study found that the average integrity level of
each of the 30 institutions was 5.53. On a scale of
1-10, this average is quite low, especially compared
to other nations such as Korea which have an
average of over 7. The results of the study shall be
publicized widely in order to suppor t the
improvement of public services in the institutions
which have participated in the study.
Total Skoring dan Peringkat Tingkat Integritas Lembaga
Total Score and Integrity Rank of Department
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
78 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
f. Good Corporate Governance (GCG) Study. Based
on provisions of the UNCAC which focus on the
importance of preventing corruption in the private
sector, the KPK is researching and mapping what
good corporate governance wi l l l ook l i ke
i n Indonesia. This study is being under taken
in preliminary form by the KPK in order to gauge
how close private corporations listed on the stock
exchange and state-owned enterprises, are to
applying GCG principles. This study involved 68
compani es f r om var i ous i ndust r y gr oups.
Respondents, who provided reflections on the
condi ti ons i n each company, were sel ected
i nternal l y by each company, and i ncl uded
commi s s i oner s, di r ect or s, s t af f , as wel l as
individuals external to the companies, but who
were related to the company’s activities, such as
suppliers and service users.
g. Health Modelling in Indonesia. The results of this
study are contained in a video documenting best
practice and regional government policies in the
provision of health services in the selected regions.
This document is intended to support the KPK’s
socialization efforts in supporting improvements to
the provision of public services. The regions which
provided material for this document were the City
of Palangkaraya and the Regency of Jembrana.
h. Study on the I mpl ementati on of UNCAC i n
Indonesia. This study is a continuation of the
UNCAC Gap Anal ysi s whi ch t he KPK produced
recent l y, and document s t he act i vi t i es and
programs I ndonesi a has conducted whi ch are
related to the implementation of UNCAC provisions.
Dat a and i nf or mat i on col l ect i on on t he
implementation of UNCAC is one of the main stages
in reviewing the success of UNCAC implementation,
while these reviews will be on of the main items on the
agenda at the upcoming second UNCAC convention,
which will be held in Bali in February 2008. As the host
and one of the focal points of corruption eradication in
Indonesia, this study is an important document that
the KPK will use during its participation in the
convention.
tingkat integritas diatas 7.
Hasil studi ini akan dipublikasikan secara
luas untuk memberikan efek yang mendukung
perbaikan pel ayanan publ i k di i nst i t usi
yang di ukur i nt egr i t asnya dal am st udi
i ni .
f. Studi Good Corporate Governance (GCG).
Mer uj uk i si dar i UNCAC mengenai
pent i ngnya pencegahan kor upsi di
sektor swasta, maka KPK juga mendalami dan
melakukan pemetaan terhadap pelaksanaan
tata kelola perusahaan yang baik di Indonesia.
Studi ini dilakukan sebagai tahap awal bagi
KPK untuk mengkaji sejauh mana perusahaan
swasta yang terdaftar dalam bursa efek
dan perusahaan BUMN telah menerapkan
GCG. Studi ini melibatkan 68 perusahaan yang
berasal dari berbagai kelompok industri.
Responden yang di gunakan unt uk
mer ef l eksikan kondisi di tiap perusahaan
ber asal dar i i nt er nal per usahaan i t u
sendiri, mulai dari komisaris, direktur,
hi ngga pegawai maupun eks t er nal
perusahaan yang terkait dengan kegiatan usa-
ha perusahaan tersebut seperti supplier mau-
pun pengguna jasa dari perusahaan.
g. Modelling Kesehatan di Indonesia.
Hasil dari studi ini berupa video yang
berisikan dokumentasi best practices
dari kebijakan pemerintah daerah dalam
memberikan layanan kesehatan di daerahnya.
Dokumentasi ini digunakan untuk menunjang
sosialisasi KPK dalam mendukung perbaikan
l ayanan publ i k. Daerah yang di j adi kan
bahan dokumentasi dalam modelling ini
adalah Palangkaraya (Kalimantan Tengah)
dan Jembrana (Bali).
h. Studi Implementasi UNCAC di Indonesia.
Studi ini merupakan lanjutan dari gap analysis
UNCAC terhadap peraturan dan perundangan
Indonesia yang pernah dilakukan KPK. Studi
i ni mendokument asi kan kegi at an dan
pr ogram yang dilakukan Indonesia terkait
dengan implentasi pasal-pasal dalam UNCAC.
Proses pengumpulan data dan informasi
mengenai implementasi UNCAC yang telah
dilakukan suatu negara merupakan salah
79
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Monitoring
Law No. 30 of 2002 mandates the KPK to perform
monitoring in respect of state and public institutions
by evaluating the administrative management
systems of such institutions, by providing suggestions/
recommendations to those institutions, and by
monitoring the implementation of recommendations.
There now follows a description of the monitoring
work performed by the KPK in 2007.
1. System Evaluation, performed by the KPK in order
to prevent the commission of corruption and to
increase efciency and efectiveness in the execution of
the duties of the institution being evaluated.
a. System Eval uati ons i n State and Publ i c
Institutions.
The system eval uati ons that have been
conducted to date are as follows:
t Evaluation of Indonesian Migrant Labor
(TKI) Placement System. This included an
evaluation of pre-placement systems,
evaluation during placement, and evaluation
post-placement (returning home). The
evaluation activities performed in 2007 were
the continuation of activities initiated in
November 2006. From these evaluations,
the following findings are of par ticular
importance:
t Bribery is common in the processing of
migrant worker documents.
t There are no service standards that
regulate procedures, requirements, costs,
and the time limit within which services
must be performed.
t The processi ng of mi grant worker
documents is unprofessional, as refected by
satu tahapan penti ng dal am merevi ew
keberhasilan pelaksanaan UNCAC. Proses
review dari implementasi UNCAC merupakan
salah satu pokok bahasan dalam konvensi
kedua negara peserta UNCAC yang akan
diselenggarakan di Bali pada Februari 2008
nanti . Sebagai tuan rumah, studi i ni
merupakan salah satu dokumen penti ng
y a ng a k a n di guna k a n KPK da l a m
k ei k ut ser taannya di konvensi tersebut.
Monitor
Undang- undang Nomor 30 Tahun 2002
mengamanat kan KPK unt uk mel aksanakan
tugas monitor terhadap lembaga negar a dan
pemer i nt ahan dengan mengkaj i si st em
pengelolaan administrasi di Lembaga Negar a
dan pemer i nt ahan, member i kan sar an/
r ekomendasi kepada i nst ansi t er kai t , dan
memantau implementasi rekomendasi. Kegiatan
monitor yang telah dilakukan KPK pada tahun 2007.
1. Kajian Sistem, dilakukan oleh KPK bertujuan
unt uk mencegah t er j adi nya TPK dan
meni ngkat kan ef i si ensi dan ef ekt i vi t as
pelaksanaan tugas instansi yang menjadi obyek
kajian.
a. Kajian Sistem di Lembaga Negara dan Pe-
merintahan.
Kaj i an si stem di l embaga negara dan
pemeri ntahan yang tel ah di l akukan
adal ah sebagai beri kut:
r Pengkajian Sistem Penempatan Tenaga
Kerja Indonesia (TKI),
menc a k up pengk a j i a n s i s t em
prapenempatan, saat penempat a n,
da n pa s c a penempatan (pemulangan)
TKI . Kegi at an pengkaj i an si st em
penempatan TKI yang dilakukan pada
tahun 2007 merupakan kel anj utan
kegiatan yang sama yang telah dimulai
pada bulan November tahun 2006. Dari
kajian ini, diperoleh 11 (sebelas) temuan
pokok, yaitu:
t Mar aknya pr akt i k suap dal am
pengur usan dokumen CTKI .
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
80 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
(a) the lack of a queuing system; (b) BP2TKI
and Disnaker at the Regency/ City lev-
els do not generally have front offices;
(c) Direct contact between service users
and back office officials; (d) inadequate
service information; (e) no receipts given
out; and (f ) inadequate service facilities.
t Placement services and the protection of
migrant workers are not supported by an
adequate information management
system.
t The migrant labor recruitment process is
fraught with middlemen.
t No standardization of training for migrant
workers at the pre-placement stage.
t No standardization of migrant worker
placement costs.
t Inadequate monitoring of placement
institutions.
t No checks made on the substantive terms
of pl acement contracts and work
contracts.
t Terminal 3 of Soekarno Hatta Airport
has to date been unable to j ustify its
establ i shment as par t of an effor t to
protect migrant workers, as reflected by
the following issues: (a) the steering of
home-bound workers through Terminal
3 not yet effective; (b) no official at the
information center counter; (c) workers
often forced to exchange their foreign
currency at sub-market rates; (d) land
transportation fares from Terminal 3 far
more expensive than normal transporta-
tion fees; (e) No explanations on how long
a worker must wait between the time they
buy their tickets until the time the bus or
minibus departs.
· |·oJe.oo|e .oo·|||, o·J .oo|||, o| ·|o||
in government agencies responsible for
the placement, processing and protection
of TKI.
t Belum ada standar pelayanan baku
yang mengatur tentang prosedur,
per syar at an, bi aya, dan wakt u
penyel esai an pel ayanan.
t Pelayanan pengurusan dokumen CTKI
kurang profesional, yang tercermin
dari: (a) Tidak ada sistem antrian; (b)
BP2TKI dan Disnaker Kabupaten/Kota
umumnya ti dak memi l i ki l oket
pel ayanan (front offi ce); (c) Terjadi
kontak langsung antara pengguna jasa
dan petugas/pejabat back office; (d)
Informasi pelayanan kurang memadai;
(e) Tidak ada tanda terima berkas; dan
(f ) Sarana pelayanan kurang memadai.
t Pel ay a na n penempa t a n da n
perlindungan TKI belum didukung
dengan sistem manajemen informasi
yang memadai.
t Maraknya praktik percaloan dalam
proses perekrutan CTKI.
t Belum ada standardisasi pelatihan
prapenempatan CTKI.
t Bel um ada standardi sasi bi aya
penempatan TKI.
t Kurang memadainya pengawasan
terhadap lembaga penempatan.
t Belum ada pemeriksaan terhadap
substansi perjanjian penempatan dan
perjanjian kerja.
t Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta
belum dapat merealisasikan konsep
awal tentang diperlukannya Terminal
3 s ebagai bagi an dar i upaya
per l i ndungan terhadap TKI yang
tercermi n dari hal -hal beri kut: (a)
Kegi atan pemanduan kepada TKI
yang pulang melalui Terminal 3 belum
dilakukan secara efektif; (b) Tidak ada
petugas yang berjaga di counter pusat
informasi; (c) Para TKI sering dipaksa
untuk menukarkan valasnya dengan
kurs yang lebih rendah daripada
market rate; (d) Tarif angkutan darat
yang disediakan di Terminal 3 jauh
lebih mahal daripada tarif umum; (e)
Tidak ada kejelasan mengenai waktu
tunggu TKI sejak membeli tiket sampai
pemberangkatan kendaraan yang
81
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
mengantar mereka pulang.
t Kurang memadainya kuantitas dan
kual i t as SDM di i nst ansi yang
bertanggung jawab dalam proses
penempatan dan perlindungan TKI .

Kel emahan- k el emahan di at as
mengakibatkan terjadinya hal-hal berikut:
t Pel ayanan penempatan TKI kurang
optimal.
t Membuka kesempatan bagi oknum
petugas/pejabat untuk melakukan
tindak pidana korupsi dalam bentuk
pungutan liar untuk semua jenis
pelayanan yang diberikan.
t Perlindungan kepada CTKI/TKI sangat
lemah.
Hasil kajian sistem penempatan TKI telah
dipaparkan kepada Depnakertrans dan
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan TKI) pada tanggal 28 Agustus
2007.
r Pengkaj i an Si stem Admi ni strasi
I mpor di Direktorat Jenderal Bea Cukai
(DJBC). Hasi l kaj i an menunj ukkan
masi h adanya kel emahan-kel emahan
dalam pelayanan impor dan pengawasan
lalu lintas barang yang menimbulkan
peluang terjadinya korupsi bai k dal am
bentuk pungutan l i ar maupun kol usi .
Beberapa temuan tersebut adal ah:
t Tindak pidana korupsi berupa pungutan
liar yang terjadi di titik analyzing point,
penerimaan dokumen, pengeluaran
barang, dan penutupan manifest
mencapai nilai Rp890.000.000,00 per
bulan.
t Tindak pidana korupsi dalam bentuk
kol usi di ti ti k pemeri ksaan fi si k,
pemeriksaan dokumen, perbendaha-
raan, da n pe ngur us a n dok ume n
di kawasan berikat mencapai nilai
Rp12.795.000.000,00 per bulan. Nilai
ini hanyalah perkiraan 30% dari
jumlah transaksi, sehingga sebenarnya
nilai kolusi jauh di atas 12 miliar rupiah
per bulan.
t Tidak dilakukannya evaluasi profil
The above weaknesses have given rise to the
following problems:
t Sub-optimal migrant worker placement
services.
t Ample opportunities for ofcials to engage
in corrupt activities in the form of the
collection of illicit fees for all types of services
provided.
t Protection provided for migrant workers
extremely weak.

The results of the migrant worker placement
system survey has been communicated to the
Department of Manpower and Transportation and
the BNP2TKI (National Board for Placement and
Protection of Migrant Workers) on August 28th,
2007.
t Evaluation of Import Administration System
at the Directorate General of Customs and
Excise (DJBC). Analysis results show various
weaknesses in impor t services and the
monitoring of goods traffic, which created
opportunities for corruption in the form of illicit
fee collection and acts of collusion. The fndings
of the analysis are as follows:
t Corruption in the form of illicit fee-
collecting usually occurs at the ‘analyzing
point’, when documents are received, when
goods are released, and when manifests are
closed. Corruption in these forms is worth
IDR890,000,000.00 per month.
t Corruption in the form of collusion at points
of physical examination, document
exami nat i on, i nvent or i zat i on, and
document processing in bonded zones is
worth IDR12,795,000,000.00 per month
in value. This amount accounts for an
estimated 30% of all transactions; thus in
reality the total value of collusive activities
may reach far more than Rp. 12 billion per
month.
· ¯|e |o||o·e |o co·Joc| ¡e·|oJ|c e.o|oo||o··
of impor ter profiles has reduced the
accuracy of the importer’ profle database
to the point of unreliability – this has lead to
inefective monitoring of the fow of goods.
· |·¡o·|e·· o·e o/|e |o ¡|,·|co||, c|oo·e
the examiners they prefer; thus increasing
the possibility for collusion with Customs
and Excise officials.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
82 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
· |o |ec|·|co| ¸o|Je||·e· |o· Joco·e·|
examination means that the door is wide
open to abuse.
· |||||co||, o| ·o·||o·|·¸ /o·JeJ o·e·
located far away from the Custom and
Excise Offices (KPBC) raises the potential
for smuggling.

Thus, in order to facilitate the provision of
pri me-l evel ser vi ce through effecti ve
monitoring, and in order to minimize the
opportunity for corruption, the KPK suggests
a number of reforms for the DJBC, with the
primary focus being on the restructuring of
human resources management , more
effective institutionalization of control and
internal monitoring, and the enforcement of a
code of ethics and code of conducts.
The Repor t on Admi ni strati ve System
Examination were communicated to DJBC
officials on June 18th, 2007. The Directorate
General of Tariffs and Quotas has relayed its
appreciation of the findings communicated
by the KPK, and is committed to conducting
improvements on import administration ser-
vices through the establishment of a Main
Services Ofce (Kantor Pelayanan Utama –
KPU).
The KPU was formally established on Monday,
July 2nd, 2007, at the Area IV DJBC Ofce, and,
during the initial stages, its work will be confned
to Tanjung Priok. The KPU is expected to realize
improvements in the services and security
provided in the context of DJBC issues, and to
ofer various benefts, such as the provision of
services free of illicit fees, hand-picked
staf, simplifcation of import procedures,
i mpl ementati on of i mproved physi cal
examination procedures, a new internal
compliance unit, and the optimal use of
information technology to support the pro-
vision of services and monitoring.
As a continuation of import administration
evaluation, and to ensure that the KPU’s
services turn out to be as good as hoped for, the
KPK commenced an evaluation of the services
provided by the KPU in September 2007. As of
October 31st, 2007, the evaluation was
continuing and is expected to be fnished by
December 2007.
impor t i r s ecar a ber k al a yang
mengakibatkan keakuratan database
profl importir belum dapat dihandalkan
sehingga pengawasan terhadap arus
barang menjadi tidak efektif.
t Importir dapat memilih pemeriksa fsik
yang dikehendaki yang mengakibatkan
kemungkinan kolusi dengan petugas.
t Ti dak adanya pet unj uk t ekni s
pemer i ksaan dokumen sehi ngga
memungkinkan terjadinya banyak
penyimpangan.
t Sul i tnya pengawasan ter hadap
kawasan berikat yang lokasinya jauh
dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
(KPBC) yang menimbulkan potensi
penyelundupan.
Ol eh kar enanya, unt uk mampu
memberikan pelayanan yang prima
dengan tingkat pengawasan yang efektif,
dan memi ni mal k an k emungk i nan
terj adi nya ti ndak pi dana korupsi , KPK
member i kan sar an agar di l akukan
reformasi di DJBC dengan fokus utama
adalah pembenahan manajemen sumber
daya manusia, pelembagaan pengendalian
dan pengawasan internal yang lebih
efektif, dan penegakan kode etik (code of
ethics) dan pedoman perilaku (code of
conducts).
Laporan Hasil Kajian Sistem Administrasi
Impor telah dipaparkan kepada para pe-
jabat DJBC pada 18 Juni 2007. Dirjen Bea
dan Cukai menunjukkan apresiasi atas ha-
sil kajian yang telah dipaparkan oleh KPK
dan ber komi t men unt uk mel akukan
per bai kan pelayanan administrasi impor
melalui penerapan Kantor Pelayanan
Utama (KPU).
Peresmian KPU telah dilakukan pada
Senin, 2 Juli 2007 di Kantor Wilayah IV
DJBC dan sebagai tahap awal KPU
di t er apkan di Tanj ung Pr i ok. KPU
di harapkan menj adi wuj ud nyata
perbai kan pelayanan dan pengawasan
kepabeanan DJBC yang menawarkan
berbagai keunggulan utama, yaitu
pelayanan tanpa pungli, SDM pilihan,
83
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
- Anal ysi s of the Expor t and I mpor t
Administration System at the Main Services
Ofce (Kantor Pelayanan Utama – KPU) at
Tanjung Priok. Analysis results show that:
t A large number of services are still being
provi ded manual l y, f or exampl e:
oversight of SPKPBM (documents specifying
the custom duties on particular goods), the
confrmation and reconciliation of BC 2.3
forms/procedures, and monitoring of the
implementation of Client Coordinator
duties.
t No new procedures have been published
despite the new definition of ‘exports’ in
the recently amended Customs and Excise
Law.
t Weak control of compliance in the area
of non-tax state revenues (PNPB) arising
from exports.
t Lack of exporter profling to prevent fctitious
exports.
t Results of reasonableness tests for customs
duties were not set out in Customs Duties
Assessment and Determination Forms (BCF
2.7) by the ofcials responsible for document
examination. This was a clear violation of
DJBC Directive No. P-01/BC/2007.
· ¯|e J||||co||, o| ·o·||o·|·¸ |o||o.|¡
Action Memos on the findings of audits
has resulted in a significant backlog in
monitoring duties.
· |o||o.|¡ ^c||o· /e·o· |··oeJ /, ||e |·|e·-
nal compliance officer to the Head of the
Main Customs and Excise Services Office
(KPU) could not be immediately followed
up on. As a result, significant amounts
of time are consumed i n deal i ng wi th
breaches by ofcials.
simplifikasi prosedur impor, penerapan
prosedur pemeriksaan fisik yang telah
diperbaiki, adanya unit kepatuhan internal,
dan pemanfaatan teknologi informasi
yang opt i mal unt uk mendukung
pelayanan dan pengawasan.
Sebagai kelanjutan atas kajian sistem
administrasi impor dan untuk memastikan
bahwa pelayanan KPU sesuai dengan
yang diharapkan, mulai September 2007
KPK melakukan kajian terhadap sistem
pelayanan di KPU.
- Pengkajian Sistem Administrasi Ekspor
dan Impor di Kantor Pelayanan Uta-
ma (KPU) Tanjung Priok. Hasil kajian
menunjukkan:
t Masih banyaknya proses pelayanan
dilakukan secara manual, contohnya :
pemantauan ter hadap SPKPBM,
konfirmasi dan rekonsiliasi BC 2.3,
pengawasan terhadap pelaksanaan
tugas Client Coordinator.
t Belum diterbitkannya perubahan
tatalaksana ekspor seiring dengan
perubahan defi ni si ekspor yang
tercantum dalam undang-undang
kepabeanan.
t Lemahnya kontrol terhdap kepatuhan
pembayaran PNBP ekspor.
t Belum adanya profiling eksportir
sebagai pendukung pencegahan
terjadinya ekspor fiktif.
t Tidak dituangkannya hasil pengujian
kewajaran nilai pabean ke dalam
Lembar Penelitian dan Penetapan
Nilai Pabean (BCF 2.7) oleh Pejabat
Fungsional Pemeriksa dokumen
(PFPD). Hal ini merupakan pelanggaran
terhadap Peraturan Dirjen Bea dan
Cukai nomor P-01/BC/2007.
t Sulitnya pengawasan terhadap Nota
Dinas Tindak Lanjut laporan hasil
audi t sehi ngga menyebabkan
menumpuk nya beban k er j a
pengawas an.
t Tindak lanjut nota dinas kepala bidang
kepatuhan internal kepada Kepala
KPU tidak dapat langsung diputuskan
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
84 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
sehingga memakan banyak waktu
dalam penyelesaian kasus pelanggaran
pegawai.
t Hasi l kaj i an pengkaj i an si stem
administrasi ekspor impor di KPU
Tanjung Priok akan dipaparkan pada
pertengahan Desember 2007.
t Pengkajian Sistem Pelayanan Perijinan
di Badan Koordi nasi Penanaman
Modal (BKPM), mer upakan bagi an
dar i pengkaj i an t er hadap si st em
pelayanan perijinan usaha. Dari kaj i an
i ni , di per ol eh beber apa t emuan
pokok ber i kut :
t Belum ada SOP internal sebagai acuan
kerja;
t Maraknya praktik suap (pungutan liar)
dalam proses pelayanan perijinan;
t Standar waktu penyelesaian beberapa
j eni s pel ayanan j auh l ebi h l ama
di bandingkan realisasinya;
t Otomatisasi sistem pelayanan belum
optimal;
t Manajemen sumber daya manusia
kurang baik;

Hasil kajian sistem perijinan di BKPM
akan di paparkan kepada BKPM pada
Desember 2007.
b. Kajian Literatur. Kajian literatur yang telah
dilakukan adalah pengkajian terhadap PP Nomor
37 tahun 2006 tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler
dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.
Dari kajian ini, ditemukan beberapa kelemahan
yang terkandung dalam PP No. 37 tahun 2006
tersebut, yaitu:
t Ti dak j el asnya i ndi kat or ki ner j a dan
pertanggungjawaban penggunaan tunjangan
komunikasi intensif dan dana operasional. Hal
ini menimbulkan potensi tidak terwujudnya
tujuan pemberian tunjangan komunikasi
intensif dan dana operasional, sehingga
hanya membebani keuangan daerah.
t Adanya i t em t unj angan yang ber si f at
ganda, yaitu uang representasi, tunjangan
· |e·o||· o| ||e eo·|·o||o· o· ||e e¡o·|
import administration system at the Tanjung
Prior Main Customs and Excise Services Office
will be presented in mid-December 2007.
t The evaluation of the Licensing System at the
Involvement Coordinating Board (BKPM), was
conducted as part of the evaluations on business
licensing services. From this particular evaluation,
the following important fndings surfaced:
· |o |·|e··o| ´C|· o· /e·c|·o·| |o· o¡e·o||o··.
· |·|/e·, (|· ||e |o·· o| ||||c|| |eeco||ec||·¸: |·
common in the licensing services process;
· ´|o·Jo·J ||·e ·e.o|·eJ |o· .o·|oo· ·e·.|ce· |·
much longer than realized;
· ^o|o·o|eJ ·e·.|ce ·,·|e· ·o| ,e| |o·c||o·|·¸
optimally;
· |o·o· ·e·oo·ce· ·o·o¸e·e·| |· |·oJe.oo|e
The resul ts of the BKPM eval uati on wi l l be
informed to the BKPM in December 2007.
b. Literature Study. This has carried out on Government
Regulation (PP) No. 37 of 2006 on the Second
Amendment of Government Regulation No. 24 of 2004
on the status and fnances of local parliament leaders
and members.
From this evaluation, it was revealed that Government
Regulation No. 37 sufers from various weaknesses,
including the following:
t Unclear performance indicators and hazy
account abi l i t y r egar di ng t he us e of
communications allowances and operational
funds. This creates the potential of these funds not
being used for the purposes for which they were
allocated,, thus imposing an extra burden on the
regions.
· ´e.e·o| |o·J|·¸ ||e·· o.e·|o¡ .||| o·e o·o||e·
representation allowance; status allowance,
and DPRD equipment allowance.
· ¯|e /e·e|||· o·e o|| e.oo| |· ·|e ·o ||o| ||e·e |·
a risk that DPRD leaders and members will not
compete to produce the best performance.
· |o|e·||o| ||o| ||e /oJ¸e| .||| /e |·||o|eJ |o |o·J
housing benefits.
· |·o¡¡·o¡·|o|e |e|·ooc||.e o¡¡||co||o· o| ||e
Regulation and benefits financing.
85
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
jabatan, dan tunjangan alat kelengkapan
DPRD.
t Besar t unj angan sama r at a sehi ngga
tidak mendorong Pimpinan dan Anggota
DPRD untuk berlomba mencapai kinerja yang
terbaik.
t Adanya potensi memperbesar anggaran untuk
tunjangan perumahan.
t Pemberlakuan surut dan pembebanan
pembayaran tunjangan yang tidak tepat.
Pada 16 Maret 2007, Pemeri ntah tel ah
mengel uarkan PP Nomor 21 Tahun 2007
tentang Perubahan Keti ga Atas Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2004 tentang Kedudukan Protokoler dan
Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD sebagai
revisi terhadap PP Nomor 37 Tahun 2006.
2. Trigger Activities, adalah kegiatan untuk
mendorong satu atau beberapa lembaga negara
dan pemerintahan untuk mengimplementasikan
suatu sistem yang dinilai memberi dampak
yang besar terhadap upaya pemberantasan
korupsi ,KPK telah mendorong lembaga negara
dan pemerintahan untuk mengimplementasikan
hal-hal berikut:
a. E-Announcement
Dal am upaya memper bai ki si st em
pengadaan barang dan jasa pemerintah,
KPK telah memberi saran dan mendorong
adanya quick-win untuk meningkatk an
transparansi dal am proses pengadaan
bar ang dan j asa pemer i nt ah dengan
penerapan e-Announcement pada situs web
Pengadaan Nasional.
On March 16th, 2007, the Government published
Government Regulation No. 21 of 2007 on the Third
Amendment of Government Regulation No. 24 of
2004 on the status and finances of local parliament
leaders and members, which is a revision of
Government Regulation No. 37 of 2006.
2. Trigger Activities; these are activities intended to
encourage one or more state or government agencies
to implement systems that would have a major impact
on the anti-corruption efort. The KPK has encouraged
various such agencies in implementing the following:
a. E-Announcement
In an effort to restructure the Government’s
goods and services procurement system, the
KPK has provided suggestions and pushed for
quick-win strategies to improve transparency
i n t he Gove r nme nt goods and s e r v i ce s
procurement process through the implementation
of e-announcement on the National Procurement
website.

E-Announcement is the first stage of the much
anticipated e-procurement system, and is the
process of announcing all goods and services
procurements on the National Procurement
Website (www.pengadaannasional-bappenas.
go. id) by all government institutions at both the
central and local levels in Indonesia.
I n order to real i ze the i mpl ementati on of
‘e-announcement’, the KPK has provided the
following suggestions:
· ¯|e ´|o|e /|·|·|e· |o· |e.e|o¡·e·| ||o··|·¸
Head of Bappenas should operate the National
Procurement Announcement website (www.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
86 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
pengadaannasional-bappenas.go.id), which
wi l l be used by Central and Regi onal
Government institutions to place their
announcements of goods and services
procurements.
t The Mi ni st r y of Communi cat i on and
Information should assist in the development of
e-announcement applications and other
technology.
I n the ti me between the commencement of
e-announcement on January 5th, 2007, and
Oc t obe r 31s t , 2007, s e ve r al i mpor t ant
e-announcement developmental issues had
arisen:
t Only 40 out of the 75 central government
institutions (53%) have signed up to implement
e-announcement;
t Only 28 out of 75 central overnment institutions
(37%) have announced their procurement plans
on the e-announcement website;
t Only 259 line units out of 922 in Central
Institutions have announced their procurement
plans;
t The number of planned procurements
announced by the af orementi oned 28
institutions amount to 19,094 plans with a
total value of around IDR8 trillion.
Observing the development of e-announcement,
the KPK has been made aware of the challenges
faced, which primarily spring from the low level
of commitment by the Heads of Government
Depar tments and I nsti tuti ons to i mprove
transparency and accountabi l i t y i n the
procurement of goods and services.
b. Bureaucratic Reform
Bureaucratic reform has been generally seen as
nothing more than increases in remuneration;
this is not so – instead, bureaucratic reform is
a process that must incorporate the following
steps:
· ¯|e oJo¡||o· o| ¡o/ o·o|,·e·. ||e .·|||e·
el aborati on of hob descri pti ons; j ob
specifications; job grading; and job pricing;
· |e|o··o|o||o· o| |··|||o||o·o| /o·|·e··
processes in order to ensure that all of these
are aimed at the achievement of institutional
missions;
E-Announcement merupakan tahap awal
dar i si st em e- Pr ocur ement dengan
mengumumkan rencana dan pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa di Website
Pengadaan Nasional (www.pengadaan-
nasi onal -bappenas. go. i d ) ol eh sel uruh
instansi pemerintah di Indonesia baik di pusat
maupun di daerah.
Unt u k me wu j u dk a n pe l a k s a na a n
e-Announcement ini, KPK telah memberi saran
kepada:
t Me nt e r i Ne ga r a Pe r e nc a na a n
Pembangunan/Kepala Bappenas agar
mengoperasikan website Pengumuman
Pengadaan Nasional (www.pengadaan-
nasional-bappenas.go.id) yang akan
dipakai oleh semua instansi pemerintah
bai k pusat maupun daer ah unt uk
menempatkan pengumuman pengadaan
bar ang/j asa yang t el ah dan akan
di l aksanakan.
t Menteri Komunikasi dan Informatika agar
membantu dalam bidang pengembangan
applikasi dan teknologi E-Announcement.

Sejak diresmikan pengoperasiannya pada
5 Januari 2007 sampai dengan 31 Oktober
2007 terdapat beberapa hal penting yang
me n j a d i c a t a t a n p e r k e mb a n g a n
e-Announcement, yaitu:
t Tercatat 40 dari 75 i nstansi pusat
(53%) yang mendaftar untuk melaksanakan
e-Announcement;
t Tercatat baru 28 dari 75 instansi pusat
(37%) yang telah mengumumkan rencana
pengadaannya pada situs pengumuman
pengadaan nasional (e-Announcement);
t Dari 922 satuan kerja pada instansi pusat
yang telah terdaftar pada e-Announcement
baru 259 satuan kerja (28%) yang telah
mengumumkan rencana pengadaannya;
t Jumlah paket rencana pengadaan yang
diumumkan oleh 28 instansi tersebut
bar u mencapai 19. 094 r encana
pengadaan dengan nilai total sekitar
Rp8 triliun.

87
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Mel i hat per kembangan pel aksanaan
e-Annoucement tersebut, tantangan yang
dihadapi saat ini adalah masih kurangnya
komitmen pimpinan Departemen dan
Lembaga Pemerintah untuk meningkatkan
t r anspar ansi dan akunt abi l i t as dal am
kegiatan pengadaan barang dan jasa.
b. Reformasi Birokrasi
Reformasi birokrasi tidak bisa diartikan hanya
sekedar menaikkan remunerasi pegawai,
melainkan sebuah proses yang sekurang-
kurangnya terdiri dari tahapan-tahapan
sebagai berikut:
t Dilakukannya job analysis, penulisan job
descriptions, job specifcation, job grading,
dan job pricing;
t Perumusan ulang proses bisnis institusi
untuk memastikan bahwa semua proses
bisnis mengarah pada pencapaian misi
institusi;
t Melakukan assessment kebutuhan dan
status SDM;
t Perumusan ukuran kinerja, penetapan
target, dan pengukuran kinerja;
t Pe ne nt ua n s t r uk t ur da n be s a r a n
remunerasi ;
t Penetapan peraturan perundang-
undangan yang mendasari besaran dan
pembayaran remunerasi.
Upaya untuk mendorong reformasi birokrasi
merupakan program lanjutan yang telah
dilaksanakan sejak tahun 2005 dan 2006.
Pada tahun 2007 i nstansi -i nstansi yang
didorong oleh KPK untuk segera melaksana-
kan proses reformasi birokrasi adalah: Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah
Agung (MA), Departemen Keuangan, dan
Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara (Meneg PAN).
Selain pembicaraan pimpinan KPK dengan
instansi-instansi tersebut untuk membahas
langkah-langkah program reformasi birokrasi,
tiap dua minggu dilakukan pertemuan rutin
antara keempat instansi tersebut di mana
KPK bertindak sebagai pendorong. Pertemuan
r ut i n i ni menj adi aj ang unt uk ber bagi
· (o·Joc||·¸ o| ·eeJ· o··e···e·|· o·J o··e··-
ments on the status of Human Resources;
· |o··o|o||o· o| ¡e·|o··o·ce |·J|co|o··.
setting of targets, and the measurement of
performance;
· |e|e··|·o||o· o| ·e·o·e·o||o· ·|·oc|o·e
and size;
· |·|o/| | ·|·e·| o| | e¸o| ·o| e· ||o| |o··
the basi s f or the si ze and payment of
remuneration.
The effort to push for bureaucratic reform
represents a continuation of programs executed
in 2005 and 2006. In 2007, the KPK encouraged
institutions to hasten the implementation of the
bureaucratic reform process. These institutions
were: the State Audit Board (BPK); the Supreme
Court; the Department of Finance; and the State
Ministry of Administrative Reform (MenPAN).
Aside from talks between the KPK Commissioners
and the aforementioned institutions in order to
discuss the steps involved in the bureaucratic
reform process, every two weeks a routine meeting
between the KPK and the four Institutions is held,
with the KPK acting as a trigger mechanism. These
routine meetings act as a platform for exchanging
experience and inputs, as well as for planning the
bureaucratic reform program.
The Department of Finance initiated its bureacracy
reform process in early July 2007 and has published
its bureaucratic reform program. Meanwhile the
State Audit Board and the Supreme Court have
also taken preliminary steps in their bureaucratic
reform processes.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
88 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
In his State Speech on August 16th, 2007, the
President emphasized that the Government will
implement bureaucratic reform in phases based
on proper planning; the President also related
how the preliminary step in this direction takes
the form of the activities now being conducted
by the Department of Finance, the State Ministry
of Administrative Reform (MenPAN), the Supreme
Court and the State Audit Board.
In August, 2007, the National Parliament fnally
approved funding for the support of bureaucratic
reform in three Institutions: the Department of
Finance, the State Audit Board, and the Supreme
Court.
In order to encourage the process of bureaucratic
reform in other Central Government institutions,
the KPK, in cooperation with the State Apparatus
Reform Ministry, has been making attempts to
sosialize the concept of bureaucratic reform,
including the holding of a national seminar on
November 1st, 2007, titled “Corruption Prevention
through Bureaucratic Reform”. This seminar was
attended by ofcials from all Central Institutions.
For the fututre, the KPK will continue to be in the
vanguard of the ongoing bureaucratic reform
process, and will encourage the State Apparatus
Reform Minister to finish the bureaucratic
reform Master Plan and General Guidelines.
c. Central Customer Database

The efort to push for the introduction of a Central
Customer Database (CCD) system began in 2006.
As a follow-up to this efort, between January 1st,
2007, and October 31st. 2007, the KPK conducted
the following steps:
pengal aman dan saling memberi masukan
ser ta merencanakan program reformasi
bi rokrasi .

Departemen Keuangan telah melaksanakan
proses reformasi birokrasinya dan pada
awal Jul i 2007 Depar t emen Keuangan
mengumumkan ke masyarakat (launching)
mengenai program reformasi birokrasi yang
sedang dilaksanakannya. Sementara itu, BPK
dan MA juga sudah mengambil langkah awal
dalam proses reformasi birokrasinya.
Dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI tanggal
16 Agustus 2007, Presiden menegaskan bahwa
pemerintah akan melaksanakan reformasi
birokrasi secara bertahap serta terencana
dan sebagai langkah awal telah dimulai
oleh Departemen Keuangan, Kementerian
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara,
Mahkamah Agung dan Badan Pemeriksa
Keuangan.
Pada Agus t us 2007, DPR ak hi r nya
menyetujui anggaran untuk menunjang
reformasi birokrasi pada tiga instansi, yaitu:
Departemen Keuangan, BPK dan MA.
Untuk mendorong terus bergulirnya proses
reformasi birokrasi di instansi pemerintah
pusat lainnya, KPK bersama-sama dengan
Kementeri an Negara Pendayagunaan
Apar at ur Negar a ber upaya unt uk
mensosialisasikan konsep reformasi birokrasi
dengan menyelenggarakan seminar nasional
pada tanggal 1 November 2007 yang bertajuk
“Pencegahan Korupsi melalui Reformasi
Bi rokrasi .” Semi nar i ni di hadi ri ol eh para
pej abat dari seluruh instansi pusat.
Ke depan, KPK akan terus mengawal jalannya
proses reformasi bi rokrasi yang sedang
di l akukan dan juga mendorong Kementerian
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
untuk segera menyelesaikan rancangan induk
dan pedoman umum reformasi birokrasi.
89
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
c. Sistem Database Nasabah Terpusat (DNT)

Upaya untuk mendorong implementasi
sistem DNT telah dimulai pada tahun 2006.
Sebagai kelanjutannya, sejak 1 Januari
sampai dengan 31 Oktober 2007 KPK telah
melakukan langkah-langkah berikut:
t Rapat dengan Direktorat Hukum dan
Direktorat Penelitian dan Perundangan
Bank Indonesia.
t KPK bersama-sama dengan BI melakukan
studi banding ke Jerman dan Perancis
pada 5–9 Maret 2007. Laporan hasil studi
banding ke Jerman dan Perancis sudah
selesai disusun pada 23 Maret 2007 dan
telah didiskusikan bersama Bank Indonesia
pada 5–6 April 2007.
t KPK bersama-sama dengan BI melakukan
studi banding ke Cina dan Korea Selatan
pada 7-11 Mei 2007. Studi banding ini
bertujuan untuk mencari alternatif solusi
pencarian/penelusuran rekening/aset
tersangka korupsi di lembaga keuangan
tanpa bantuan sistem DNT. Dari studi
banding diketahui bahwa Korsel tidak
membutuhkan DNT karena bank komersial
di Korsel sedikit, sedangkan Cina terbantu
dengan adanya si stem pembukti an
terbalik. Selain itu sistem administrasi
kependudukan dan catatan si pi l
yang sudah bai k di kedua negara
j uga sangat membantu pencari an/
penelusuran rekening/aset tersangka
pelaku korupsi.
t KPK bersama-sama dengan BI melakukan
studi banding ke Italia dan Spanyol pada
23-27 Jul i 2007. Studi bandi ng i ni
di l akukan untuk mempelajari sistem DNT
yang terdapat di I talia dan mengetahui
alternatif solusi pencarian/penelusuran
rekening/aset tersangka korupsi tanpa
bantuan sistem DNT di Spanyol.
Dari hasil studi banding tersebut dapat
ditarik kesimpulan bahwa sistem DNT perlu
untuk diimplementasikan di Indonesia karena:
t Jumlah bank umum di Indonesia cukup
banyak (129 bank);
t Belum ada sistem pembuktian terbalik;
· |e|J o ·ee||·¸ .||| ||e ||·ec|o·o|e o| |e¸o|
Issues and the Directorate of Research and
Policy-Making at Bank Indonesia.
· ¯|e ||| o·J |o·| |·Jo·e·|o co·Joc|eJ
comparative studies in Germany and France
on March 5th – 9th of 2007. Germany and
France were chosen as they have similar
CCD systems. Reports on these comparative
studies were compiled on March 23rd, 2007,
and were discussed with Bank Indonesia on
April 5th - 6th, 2007.
· ¯|e ||| o·J |o·| |·Jo·e·|o co·Joc|eJ
comparative studies in China and South
Kor ea o n May 7 t h - 1 1 t h, 2 0 0 7 . These
comparative studies were intended to discover
alternative solutions to tracking down the
assets and accounts of corruptors in fnancial
institutions without the assitance of a CCD
system. South Korea was found to not need
a CCD system because there were not many
commercial banks operating there, while
the situation in China is ameliorated by
the existence of laws that allow reversing
the burden of proof. Further, those countries
boast excellent civil registration systems,
which greatly assist with tracing the assets/
accounts of corruptors.
· ¯|e ||| o·J |o·| |·Jo·e·|o co·Joc|eJ
comparative studies to Italy and Spain on
July 23rd - 27th, 2007. This comparative
study was intended to study the CCD System
in Italy and to explore alternative solutions
for the tracking down of assets without the
help off CCDs in Spain.
From these comparative studies, it may be
concluded that the CCD system needs to be
implemented in Indonesia because:
· ¯|e·e |· o |o·¸e ·o·/e· o| co··e·c|o| /o·|·
in Indonesia (129 banks);
· ¯|e·e |· ·o ·e.e··o| o| ||e /o·Je· o| ¡·oo|.
· (|.|| ·e¸|·|·o||o· ·,·|e·· o·e ·o/¡o·
Therefore, the KPK will continue to push for the
i mpl ement at i on of t he CCD Sys t em i n
Indonesia.
d. Regional Budget (APBD) Transparency

As a continuation of the literary evaluation of
local budget socialization, the KPK has suggested
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
90 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
the Regional Parliaments produce Regional
Budget 2007 posters and post them up in
st rat egi c pl aces. Thi s i s because such a
campaign greatly increases transparency, which
is very useful in the supervision of budget use.
From February until October 2007, the KPK
delivered letters concerning the APBD 2007 Poster
campaign to the following 94 DPRDs (Regional
Parl i aments): (a) 13 DPRD that attended
the “DPRD Capaci ty and Rol e I mprovement”
workshop; (b) 5 DPRD whose Regional Heads
have been i nvesti gated; (c) 22 DPRD i n
Nanggroe Aceh Daroessalam; (d) 32 DPRD
involved in the Island of Integrity program; (e)
7 DPRD in Banten; (f ) 5 DPRD in the Special
District of Yogyakarta; and (g) 10 DPRD in Riau.
This APBD Poster suggestion has been met with
a positive response by various Regions, which
have sent letters informing the KPK that they
have produced such post er s, t he l et t er s
included sample posters. These Regional
Parliaments involved are: (a) DPRD of Boalemo
Regency; (b) DPRD of Cirebon City; (c) DPRD of
Cilegon City; (d) DPRD of Nagan Raya Regency,
Aceh; (e) DPRD of Northern Aceh Regency, Aceh;
and (f ) DPRD of Sabang City, Aceh.
e. Database System for the State Owned
Enterprises Ministry
Learning from various corruption cases in the
past, most notoriously the BULOG case, the KPK
recommends that the SOE Ministry create a SOE
Directors and Commissioners Database that
can ensure transparency as regards information
per taining to the personal wealth, personal
networks, and confl i cts of i nterest of SOE
Directors and Commissioners. It is expected that
this will help secure state investments in various
SOEs. It is hoped that through this approach,
abuses of power and mismanagement will be
minimized.
In June 2007, the KPK Commissioners and
representatives of the Directorate of Monitoring
met with, and presented the aforementioned
suggestion to various ofcials of the SOE Ministry.
These ofcials have committed themselves to the
t Sistem administrasi kependudukan
dan catatan sipil masih buruk.
Oleh karena itu, KPK akan terus mendorong
implementasi sistem DNT di Indonesia.
d. Transparansi APBD:

Sebagai kel anj utan atas kaj i an l i teratur
terhadap sosialisasi APBD, KPK menyampaikan
saran kepada DPRD untuk membuat poster
APBD 2007 dan menyebar kannya di
t empat-tempat strategis. Pembuatan
poster APBD dan penyebarannya di
tempat-tempat strategis merupakan salah
satu cara untuk meningkatkan transparansi
yang ber guna dal am pengawasan
pel aksanaan APBD.
Sejak Februari sampai Oktober 2007, KPK
telah menyampaikan surat perihal saran
pembuatan poster APBD 2007 kepada 94
DPRD, yakni: (a) 13 DPRD yang telah mengikuti
workshop ‘Meningkatkan Peran dan Kapasitas
DPRD’; (b) 5 DPRD yang petinggi Pemdanya
sudah disidik; (c) 22 DPRD di NAD; (d) 32
DPRD yang termasuk dalam Island of Integrity;
(e) 7 DPRD di Banten; (f ) 5 DPRD di Daerah
Istimewa Yogyakarta; dan (g) 10 DPRD di Riau.
Saran pembuatan poster APBD ini telah
direspon oleh beberapa daerah dengan
mengirimkan surat pemberitahuan telah
membuat poster APBD kepada KPK berikut
contoh poster. Adapun daerah yang telah
mengirimkan contoh poster APBD 2007
tersebut adalah: (a) DPRD Kab. Boalemo; (b)
DPRD Kota Cirebon; (c) DPRD Kota Cilegon;
(d) DPRD Kabupaten Nagan Raya, NAD; (e)
DPRD Kabupaten Aceh Utara, NAD; dan (e)
DPRD Kota Sabang, NAD.
e. Sistem Database Meneg BUMN

Belajar dari beberapa kasus tindak pidana
korupsi sebelumnya dan dipicu oleh kasus
BULOG, KPK memberikan rekomendasi kepada
Menteri Negara BUMN untuk membuat sistem
database direksi dan komisaris BUMN yang
dapat menj ami n adanya transparansi
i nformasi mengenai kekayaan pri badi
(personal wealth), jejaring relasi pribadi
( p e r s o n a l n e t wo r k s ) , d a n k o n f l i k
91
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
k e penti ngan (confl i ct of i nterest) dari
para Direksi dan Komisaris BUMN ataupun
anak perusahaan BUMN. Rekomendasi
i ni bertujuan untuk mengamankan investasi
negara dalam bentuk penyertaan modal
pemeri ntah dal am BUMN i ni . Dengan
adanya transparansi dal am i nformasi -
i nformasi tersebut diharapkan kasus-kasus
s a l a h ur us ( mi s manage me nt ) da n
penyalahgunaan kekuasaan dalam BUMN
bisa diminimalisasi.
Pada Juni 2007, KPK melakukan pertemuan
da n mel a k uk a n pr es ent a s i unt uk
menyampai kan i de t er sebut kepada
beberapa pejabat terkait di Kementerian
BUMN. Pejabat di Kementerian BUMN
tersebut menyanggupi ide database ini dan
telah mengirimkan jadwal implementasi
pembangunan database dimaksud.
f. Pembentukan National Public
Procurement Office (NPPO)
Dalam Laporan Bank Dunia tahun 2001
“Country Procurement Assesment Report”
disebutkan bahwa salah satu kelemahan
ut ama si st em pengadaan pemer i nt ah
I ndonesia adalah tidak adanya sebuah
lembaga yang memiliki mandat untuk
memformulasikan kebijakan serta memonitor
kepatuhan atas pelaksanaannya.
Pembentukan lembaga ini sebenarnya telah
menj adi komi t men pemer i nt ah yang
di nyatakan dalam pertemuan dengan CGI
di Tokyo pada tahun 2000. Dalam pertemuan
ini j uga pemeri ntah menyatakan akan
mendukung NPPO dalam merumuskan suatu
undang-undang pengadaan pemerintah.
Keputusan Presiden Nomor 80 tahun
2003 Pasal 50 juga telah mengamanatkan
Pengembangan kebi j akan pengadaan
barang/jasa pemerintah dilakukan oleh
Lembaga Pengembangan Kebi j akan
Pengadaan Pemeri ntah (LPKPP) yang
pembentukannya ditetapkan dengan
Keputusan Presiden tersendiri (ayat 1) serta
lembaga ini sudah terbentuk paling lambat
pada tanggal 1 Januari 2005 (ayat 2)

creation of the database and have issued a
schedule for the implementation of the database’s
development.
f. Formation of National Public Procurement
Office (NPPO)
In the World Bank’s 2001 “Country Procurement
Assesment Report” it was stated that one of the
main weaknesses of the Government of Indonesia’s
procurement system is its lack of an agency that
has a mandate to formulate procurement policies
and to monitor compliance with such policies.

The formation of such an agency was commited
to by the Government as stated at the CGI Meeting
in Tokyo in 2000. At that meeting, the Government
stated that it would support the establishment of
NPPO through a new Government Procurement
Law.
Presidential Decree No. 80 of 2003, article 50,
provides that the development of policies
in respect of goods and services procurement
by the Govenrment is to be done by the LPKPP
(Agency for the Development of Government
Procurement Policies), which was formed based
on another Presidential Decree issued on January
1st 2005.
At present, the commitment of the Government,
as well as the aforementioned mandate, has not
been fully acted upon. The mandated agency
has transformed into the PPKPBJ (Center for the
Development of Public Goods and Services
Procurement Policies), which comes under the
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
92 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Saat ini komitmen pemerintah serta amanat
tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan.
Lembaga yang di amanatkan i ni tel ah
dibentuk sebagai Pusat Pengembangan
Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik
(PPKPBJ), yang berada di bawah Sekretaris
Utama Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasi onal /Bappenas.
Ber dasar kan kaj i an yang di l akukan,
di si mpul kan bahwa PPKPBJ dengan
ket er bat asan kapasi tas yang dimilikinya
saat ini, masih belum dapat menjalankan
fungsi-fungsinya secara optimal.
Untuk itu dalam rangka perbaikan sistem
pengadaan nasional, KPK mendorong
pemerintah untuk segera merealisasikan
terwujudnya Undang-Undang Pengadaan
Nasional, sebagai dasar pembentukan
PPKPBJ serta tugas pokok dan fungsinya.
Dal am masa t r ansi si per l u seger a
di t er bi t kan Peraturan Presi den yang
mengatur pembentukan, tugas pokok
dan fungsi PPKPBJ.
KPK juga memberi saran untuk melakukan
restrukturisasi organisasi dan fungsi PPKPBJ.
Struktur yang dibentuk nantinya harus da-
pat menjalankan fungsi-fungsi utama yaitu:
memf or mul asi kan kebi j akan/st andar /
r egul asi , mengawasi kepat uhan at as
kebijakan/ standar/ regulasi, mengedukasi
p i h a k - p i h a k y a n g t e r l i b a t , d a n
mendi st r i busi kannya.
g. Koordinasi Antarinstansi Terkait Import
Clearance di Pelabuhan Tanjung Priok
Dari Kajian Sistem Administrasi Impor pada
DJBC, ditemukan bahwa tanggung jawab
untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas
barang bukan hanya terletak di pundak
DJBC, melainkan seluruh instansi teknis
yang terkait dengan lalu lintas barang,
antara lain:
t Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,
Dep. Perhubungan RI.
t Administrator Pelabuhan Tanjung Priok.
t PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II.
t Direktorat Jenderal Perdagangan Luar
Negeri, Dep. Perdagangan RI.
authority of the Principal Secretary to the Ministry
of National Development Planning/Bappenas.
Based on the KPK’s evaluation, the PPKPBJ, with
its limited capabilities, will not be able to perform
its functions optimally.
In the interest of overhauling the national
procurement system, the KPK is thus pushing for
the Government to enact a National Procurement
Law as the basis for the establishment of the
PPKPBJ, as well as its core duties and functions.
During the transition process, a Presidential
regulation will be required governing the
establishment, core duties and functions of the
PPKPBJ.
The KPK al s o s ugges t s t hat t her e be a
restructurization of the PPKPBJ’s organization and
functions. The structure of the PPKPBJ must be able
to per f orm the f ol l owi ng core f uncti ons:
formulating policies/standards/regulations;
supervising compliance of policies/standards/
regulations; educating related parties; and
distributing information/ policies/standards/
regulations.
g. I mpor t Cl earance I nt er- I nst i t ut i onal
Coordination at Tanjung Priok Port

From the results of the examinations done on
the DJBC’s Import Administration System, it was
found that the responsibility for improving
efficacy in the movement of goods does not lie
solely with the DJBC, but with all technical
institutions related to the traffic of goods:
- Directorate General of Maritime Transportation,
at the Department of Transportation;
- Administrators of Tanjung Priok Port.
- PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II.
- Directorate General of International Trade, at
the Department of Trade;
- Agr i cul t ure Quarant i ne Board, at t he
Department of Agriculture;
93
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
t Badan Kar ant i na Per t ani an, Dep.
Per t ani an RI .
t Balai Besar Karantina Tumbuhan Pelabuhan
Tg. Priok, Dep. Pertanian RI.
t Balai Karantina Hewan Kelas I Pelabuhan
Tg. Priok, Dep. Pertanian RI.
t Pusat Karantina Ikan, Dep. Kelautan dan
Perikanan RI.
t Stasiun Karantina Ikan Pelabuhan Tg. Priok,
Dep. Kelautan dan Perikanan RI.
t Di r ekt or at Jender al Pengendal i an
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Dep. Kesehatan RI.
t Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM).
t Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam, Dep. Kehutanan RI.
t Deputi Bidang Pengelolaan B3 dan
Limbah B3, Kemneg. Lingkungan Hidup.
t Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM).
t Di r ekt or at J ender al Bi na Mar ga,
Depar t emen Peker j aan Umum.
t Di nas Peker j aan Umum, Pemprov
DKI Jakarta.
Oleh karena itu, melalui trigger mechanism
KPK melakukan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mengundang instansi-instansi teknis
terkait import clearance di Pelabuhan
Tanjung Priok untuk bersama-sama
mencar i sol usi dal am per bai kan
pel ayanan Rapat awal ini dilaksanakan
pada 27 Maret dan 3 April 2007.
2. Mengikuti rapat JOB (Joint Operation
Board) yang diadakan secara rutin set-
iap bulan di Kantor Administrator Pelabu-
han Utama Tanjung Priok. Peserta dalam
JOB adalah perwakilan instansi-instansi
yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok, ter-
masuk juga asosiasi-asosiasi forwarder,
kapal, maupun tenaga kerja bongkar
muat. Sampai dengan saat ini KPK telah
mengikuti 5 (lima) Rapat JOB.
3. Melakukan pertemuan dengan masing-
masing instansi terkait import clearance
- Plant Quarantine Center at Tanjung Priok
Port (Department of Agriculture);
- Class I Animal Quarantine Center at Tanjung
Priok Port (Department of Agriculture);
- Cent er f or Fi sh/Seaf ood Quarant i ne
(Department of Maritime Afairs and Fisheries);
- Fish/Seafood Quarantine Station at Tanjung
Priok Port (Department of Maritime Affairs
and Fisheries);
- Directorate General for Disease Control and
Environmental Health, at the Department of
Health;
- Medicines and Foods Supervisory Board
(BPOM).
- Directorate General of Forest Protection and
Nature Conservation, at the Department of
Forestry;
- The Office of the Deputy Hazardous Waste
Management at the Environment Ministry;
- The Investment Coordinating Board (BKPM).
- The Highways Directorate General, at the
Department of Public Works(DGRI).
- The Public Works Agency, DKI Jakarta Provincial
Government.
Through its function as a trigger mechanism,
the KPK has taken the following steps:
1. Invited technical institutions involved in
import clearance at Tanjung Priok Port to
collectively search for a way of improving
import services. This preliminary meeting
was conducted on March 27th and April 3rd,
2007.
2. Attended Joint Operation Board (JOB)
Meetings held routinely each month at the
Administrator’s Ofce, Main Dock, Tanjung
Priok. Participants in the JOB consist of
representatives of the institutions present at
Tanj ung Pri ok Por t, i ncl udi ng for warders’
associ at i ons, shi ppi ng associ at i ons,
and dock workers’ unions. As of the present
time, the KPK has attended 5 JOB Meetings.
3. Held meetings with each institution involved
in import clearance at Tanjung Priok in order
to discover the issues faced by each technical
institution so that the KPK will be able to
perform an ‘issues-mapping’ that can then
be used to formulate integrated suggestions
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
94 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
for improvements. As of October 31st, 2007,
the KPK had attended meetings with the
following 7 institutions:
- Di r ect orat e General of Mar i t i me
Transportation, at the Department of
Transportation.
- PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II.
- Directorate General of International
Trade, at the Department of Trade.
- Plant Quarantine Center at Tanjung Priok
Port, (Department of Agriculture).
- Class I Animal Quarantine Center at
Tanj ung Priok Por t, (Depar tment of
Agriculture).
- Fi sh/Seaf ood Quarant i ne Cent er,
(Department of Maritime Affairs and
Fisheries).
- Medicines and Foods Supervisory Board
(BPOM).
- The Public Works Directorate General, at
the Department of Public Works(DGRI).
- The Public Works Agency, DKI Jakarta
Provincial Government.
4. Meetings with technical institutions to identify
the preparedness of each institution in
implementing the National Single Window
(NSW) program, especially institutions
included in the NSW pilot project at Tanjung
Priok Port. This NSW Pilot Project was intended
to be an expression of Indonesia’s commitment
to complying with the ASEAN Single Window
program. The NSW System is hoped to increase
the efciency of the fow of goods signifcantly
because the NSW is a combination of the Port
System (improvements to the fow of goods at
docks) and the Trade System (improvements in
the flow of document processing), which
functions to facilitate the forwarding of
standard information used in resolving all
prerequisites and requirements, as well as
all activities related to the efficient flow of
imports, exports, and transit goods as part of
the efort to enhance national competitiveness
on the global market.

On November 19th, 2007, the Indonesian
NSW program had its ‘soft launch’ on its
website (http://www.nsw.or.id). According
to the current plan, the official launch is set
to be held on December 17th, 2007. In early
di Tanj ung Pri ok untuk mengetahui
permasalahan yang dihadapi setiap
instansi teknis sehingga KPK dapat
mel akukan pemetaan ( mappi ng)
permasalahan untuk kemudian memberi
saran-saran perbaikan yang terintegrasi.
Sampai dengan 31 Oktober 2007, KPK
telah melakukan pertemuan dengan 9
(sembilan) instansi, yaitu:
t Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut, Dep. Perhubungan RI.
t PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II.
t Direktorat Jenderal Perdagangan Luar
Negeri, Dep. Perdagangan RI.
t Balai Besar Karantina Tumbuhan
Pelabuhan Tg. Priok, Dep. Pertanian RI.
t Balai Karantina Hewan Kelas I Pelabuhan
Tg. Priok, Dep. Pertanian RI.
t Pusat Karantina Ikan, Dep. Kelautan
dan Perikanan RI.
t Badan Pengawasan Obat dan Ma-
kanan (BPOM).
t Di rektorat Jenderal Bi na Marga,
Departemen Pekerjaan Umum.
t Dinas Pekerjaan Umum, Pemprov
DKI Jakarta.
4. Pertemuan dengan instansi teknis untuk
mengetahui kesiapan setiap instansi
dalam pelaksanaan program National
Single Window (NSW), khususnya instansi
yang termasuk dalam pilot project NSW di
Pelabuhan Tanjung Priok. Pilot project NSW
ini merupakan bentuk awal pelaksanaan
komitmen Indonesia dalam pemenuhan
The ASEAN Single Window. Sistem NSW
di har apkan dapat meni ngkatkan
kelancaran arus barang secara signifkan
karena NSW adalah perpaduan antara
Port System (percepatan fsik arus barang
di pel abuhan) dan Tr ade Syst em
(percepatan sisi penanganan dokumen),
yang ber f ungsi untuk memf asi l i tasi
pengajuan i nf or masi st andar guna
menyel esai kan semua pemenuhan
persyaratan dan ketentuan, serta semua
kegiatan yang terkait dengan kelancaran
arus barang ekspor, impor, transit, dalam
rangka meningkatkan daya saing nasional.
95
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention

Pada 19 November 2007 l al u tel ah
dilakukan soft launch Indonesia NSW
dengan alamat http://www.nsw.or.id.
Sesuai dengan rencana maka peresmian
secara resmi akan dilakukan pada 17
Desember 2007 dan mulai awal Januari
2008 por tal NSW sudah di gunakan
(secara terbatas) untuk menyediakan
fasilitas layanan publik dalam kegiatan
ekspor impor.
3. Pemantauan

Pemantauan adalah kegiatan yang dilakukan
untuk mendorong implementasi rekomendasi
KPK. Kegiatan pemantauan dilakukan setelah
KPK selesai melakukan pengkajian sistem di
suatu lembaga negara dan pemerintah.

Sejak 1 Januari sampai 31 Oktober 2007, KPK
tel ah mel akukan kegi atan pemantauan
implementasi rekomendasi di instansi beri kut:
a. BPN (Kantor Pertanahan)
Kegi at an pemant auan i mpl ement asi
rekomendasi di Kantor Pertanahan yang
di l akukan pada tahun 2007 merupakan
kelanjutan dari kegiatan yang sama yang
dilakukan pada tahun 2006. Sejak Januari
sampai akhir 31 Oktober 2007 telah dilakukan
kegiatan pemantauan di 4 (empat) kantor
pertanahan, yaitu: (a) Kantor Pertanahan
Jakarta Utara; (b) Kantor Pertanahan Jakarta
Selatan; (c) Kantor Pertanahan Jakarta Barat;
dan (d) Kantor Pertanahan Jakarta Pusat.
Dari beberapa kali kegiatan pemantauan
yang dilakukan diketahui bahwa praktik
korupsi dalam bentuk suap dan pungli masih
marak terjadi dalam pelayanan pertanahan.
Berdasarkan temuan ini, langkah selanjutnya
yang akan dilakukan adalah:
t Melakukan pertemuan dengan Kepala
BPN dan Tim Reformasi BPN pada akhir
tahun 2007. Untuk pertemuan tersebut
tel ah di si apkan materi presentasi
mengenai hasi l pemant auan dan
beberapa bukti yang menunjukan tentang
maraknya praktik suap dan pungli.
t Meminta Kepala BPN dan Tim Reformasi
January 2008, the NSW portal will be ready
for use (in a limited fashion) to provide public
service facilities for the export-import trade.
3. Monitoring/Oversight
Monitoring covers activities conducted in order to ensure
the implementation of the KPK’s recom¬mendations.
Monitoring by the KPK is conducted after evalutions
are made on State/Government agencies.
Between January 1st and October 31st of 2007, the
KPK has conducted various monitoring activities to
ascertain whether its recommendations have been
imple¬mented:
a. At the BPN (National Land Board)
Monitoring as regards the implementation of
recommendations at BPN ofces was conducted in
2007 as follow-up to monitoring in 2006. Between
January 1st and October 31st of 2007, monitoring
was conducted at the NLB offices in (a) North
Jakarta; (b) South Jakarta; (c) West Jakarta; and (d)
Central Jakarta.
Based on the monitoring conducted, the KPK
found that corrupt conduct was occurring in the
form of bribery and illicit fee-collecting in NLB
offices.

Based on these findings, the next steps to be
taken will be:
- holding meetings with the Head of the BPN
and the BPN Reform Team at the end of 2007.
At this meeting, materials will be presented
on the findings of KPK monitoring, as well as
evidence showi ng how common bri ber y
and i l l i ci t fee-collection are.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
96 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
- Requesting the Head of the BPN and the
BPN Reform Team to take the necessary
steps.
b. Directorate General of Immigration

Following the evaluation of the immigration services
system in immigration offices, in 2006 and 2007
the KPK conducted monitoring as regards the
implementation of recommendations.
Between January 1st, 2007 and October 31st,
2007, the KPK has conducted 15 obser vati ons
of 5 immigration offices in the DKI Jakarta and
Tangerang area.
During observations conducted by the KPK in 2007,
it was found that there have been efforts made to
improve the system, especially in the West Jakarta
immigration office, where the KPK conducted field
reviews. However, illicit fee-collection is still
common at all immigration offices, but especially
the South Jakarta immigration office.
c. Directorate General of Customs and Excise
Based on the action plan devised by the DJBC, the
KPK has conducted as regards the implementation
of recommendations. The results showed that
although several system improvements have bee
made, illicit fee- collecting is still common at
Tanj ung Priok Por t, and this was being done
blatantly.
d. BNP2TKI
As a follow-up on its evaluation of the migrant
worker placement system, the KPK has asked the
BNP2TKI to devise an action plan based on the
system-im¬provement recommendations made by
the KPK.
The Action Plan was received by the KPK on October
27th, 2007. As follow-up, the KPK will conduct
moni t or i ng on t he i mpl e me nt at on of
recommendations based on the action plan.
BPN untuk mengambil langkah-langkah
yang diperlukan.
b. Di rektorat Jenderal I mi grasi (Kantor
I mi grasi )
Sebagai tindak lanjut pengkajian sistem
pelayanan keimigrasian di kantor imigrasi, pada
tahun 2006 dan 2007 KPK telah melakukan
kegi at an pemant auan i mpl ement asi
r ekomendasi .

Sejak 1 Januari 2007 sampai dengan 31
Oktober 2007 KPK telah melakukan 15 (lima
belas) kali observasi di 5 Kantor Imigrasi di
wilayah DKI Jakarta dan Tangerang. Dari pe-
mantauan yang dilakukan oleh KPK pada
tahun 2007 diketahui bahwa telah terdapat
upaya perbaikan sistem, terutama di Kantor
Imigrasi Jakarata Barat, tempat dimana KPK
melakukan kajian lapangan (field review).
Meskipun demikian, praktik pungli masih
marak terjadi di semua kantor imigrasi,
terutama Kantor I migrasi Jakarta Selatan.
c. Ditjen Bea Cukai
Berdasarkan action plan yang disusun oleh
DJBC, KPK mel akukan pemant auan
implementasi rekomendasi. Meskipun
beber a pa per ba i k a n s i s t em t el a h
di i mpl ementasikan, dari pemantauan ini
diketahui bahwa pungutan-pungutan liar
masih terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok dan
dilakukan secara terang-terangan.
d. BNP2TKI
Sebagai kelanjutan atas kegiatan pengkajian
sistem penempatan TKI, KPK telah meminta
BNP2TKI untuk menyusun action plan atas
rekomendasi perbai kan si stem yang
di sampai kan KPK.

Action plan tersebut telah disusun oleh
BNP2TKI dan diterima oleh KPK pada
tanggal 29 Oktober 2007. Selanjutnya KPK
akan melakukan kegiatan pemantauan
implementasi rekomendasi berdasarkan
action plan tersebut.
97
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Pengembangan Jaringan Kerjasama
1. Kerjasama Nasional dan Daerah
Dal am upaya pemberantasan TPK, KPK
menggalang kerja sama dengan segenap unsur
masyarakat dan pemerintahan. Sampai bulan
November 2007, berbagai kerja sama yang
telah digalang di antaranya:
a. Pembent ukan Ker j asama dengan
Lembaga Pendi di kan

Tujuan utama kerjasama dengan lembaga
pendi di k an adal ah dal am r angk a
mengopt i mal k an dan menggal ang
duk ungan ci vi t as ak ademi k a dal am
upaya penelitian dan pengembangan,
kampanye anti korupsi dan pendidikan anti
korupsi , sampai dengan saat i ni tel ah
terbentuk kerjasama dengan 62 (enam puluh
dua) lembaga pendidikan tinggi, yaitu: (1)
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN),
Tangerang; (2) Universitas Udayana (UNUD),
Denpasar; (3) Universitas Andalas (UNAND),
Padang; (4) Universitas Isl am Ri au (UI R),
Pekanbaru; (5) Universi tas Ri au (UNRI ),
Pekanbaru; (6) Universitas Negeri Semarang
(UNNES), Semarang; (7) Universitas Islam
Negeri (UI N), Jakar ta; (8) Uni versi tas
I slam Sumatera Utara (UISU), Medan; (9)
Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM),
Banjarmasin; (10) UNIKA Soegiyo Panoto,
Semarang; (11) Universitas Riau Kepulauan
(UNRIKA), Batam; (12) Universitas Gadj ah
Mada ( UGM) , Yogyakar t a; ( 13) I AI N
Antasari Banjarmasin; (14) Universitas Syiah
Kuala (UNSYIAH), Banda Aceh; (15) IAIN
Ar-Raniry – Banda Aceh; (16) Universitas Bung
Hatta (UBH), Padang; (17) Universitas Negeri
Padang (UNP), Padang; (18) Universitas
Ekasakti (UNES), Padang; (19) Kwar ti r
Nasional Gerakan Pramuka; (20) Universit as
Muhammadi yah ( UMY ) , Yogyakarta; (21)
Universitas Palangkaraya; (22) Yayasan Bina
Nusantara; (23) I nstitut Teknologi Bandung
(ITB), Bandung; (24) Universitas Katolik
P a r a h y a n g a n ( U n p a r ) , B a n d u n g ;
( 25) Uni ver si t as Pasundan ( Unpas) ,
Bandung; (26) Universitas Islam Bandung
(Unisba), Bandung; (27) Universitas Padjajaran
Development of Cooperative Networks
1. Cooperation between Central and Regional
Governments

I n the effor t to eradi cate corrupti on, the KPK
encourages cooperation from all elements of
society and the Government. As of November 2007,
various cooperations efforts had been undertaken:
a. Cooperation with Educational Institutions
The main purpose of engaging in cooperation
with educational institutions is the optimization
and rallying of suppor t for research and
development work, as well as anti-corruption
campaigning and education.
Currently, the KPK cooperates with 62 (sixty-two)
universities: (1) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN – an Accounting University), Tangerang;
(2) Universitas Udayana (UNUD), Denpasar; (3)
Uni ver si t as Andal as ( UNAND) , Padang;
(4) Uni versi tas I sl am Ri au (UI R – an I sl ami c
University), Pekanbaru; (5) Universitas Riau
(UNRI ), Pekanbaru; (6) Uni versi tas Negeri
Semarang (UNNES), Semarang; (7) Universitas
Islam Negeri (UIN – Islamic University), Jakarta; (8)
Universitas Islam Sumatera Utara (UISU – Islamic
University), Medan; (9) Universitas Lambung
Mangkurat (UNLAM), Banjarmasin; (10) UNIKA
Soegiyo Panoto, Semarang; (11) Universitas Riau
Kepulauan (UNRIKA), Batam; ( 12) Uni ver s i t as
Gadj ah Mada ( UGM) , Yogyakarta; (13)
IAIN Antasari Banjarmasin; (14) Universitas
Syiah Kuala (UNSYIAH), Banda Aceh; (15) IAIN
Ar-Raniry – Banda Aceh; (16) Universitas Bung
Hatta (UBH), Padang; (17) Universitas Negeri
Padang (UNP), Padang; (18) Uni versi tas
Ekasakti (UNES), Padang; (19) Kwartir Nasional
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
98 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Gerakan Pramuka (Scouting Movement); (20)
Universitas Muhammadiyah (UMY), Yogyakarta;
(21) Universitas Palangkaraya; (22) Yayasan
Bina Nusantara; (23) Institut Teknologi Bandung
(ITB – the Bandung Institute of Technology),
Bandung; (24) Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar – a Catholic University), Bandung; (25)
Universitas Pasundan (Unpas), Bandung; (26)
Universitas Islam Bandung (Unisba – an Islamic
University), Bandung; (27) Universitas Padjajaran
(Unpad), Bandung; (28) UIN Sunan Gunung Jati
– Bandung; ( 29) Uni ver s i t as Pendi di kan
Indonesia (UPI), Bandung; (30) Universitas
Cendr awas i h ( Uncen) , J ayapur a; ( 31)
Uni ve r s i t as Pat t i mur a, Ambon; ( 32)
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang; (33)
Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang; (34)
Universitas Muhamadiyah Malang (UMM); (35)
IAIN Sumatera Utara, Medan; (36) Universitas
Surabaya (UBAYA); (37) Universitas Airlangga
(UNAIR) Surabaya; (38) Institut Teknologi
Surabaya (ITS – the Surabaya Institute of
Technology); (39) IAIN Sunan Ampel Surabaya;
(40) Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar;
(41) Universitas Islam Negeri (UIN – an Islamic
University) Makassar (UNM); (43) Universitas
Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar; (44)
Universitas “45” (U-45) Makassar; (45) Universitas
Mus l i m I ndones i a ( UMI – An I s l ami c
University) Makassar; (46) Sekolah Tinggi
Administrasi Negara Lembaga Administrasi
Negara (STIA-LAN – State Administration
College (run by the State Administration
Institute) Makassar; (47) Universitas Tanjungpura
Pontianak; (48) Universitas Islam Indonesia
(UII – An Islamic University), Yogyakar ta;
(49) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG),
Semarang; (50) Universitas Mataram (UNRAM);
(51) IAIN Mataram; (52) Sekolah Tinggi Agama
Hindu Negeri Mataram (STAHN – a Hindu
University) Mataram; (53) Universitas Negeri
Gorontalo (UNG); (54) Universitas Gorontalo
(UG); (55) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat),
Manado; (56) Universitas Jambi; (57) IAIN Sulthan
Thaha Saifuddin Jambi; (58) Universitas Sahid
Jakarta; (59) Universitas Muhamadiyah Magelang;
(60) Universitas Sriwijaya; (61) IAIN Raden Fatah
Palembang; and (62) Universitas Kristen Satya
Wacana (a Christian University).
(Unpad), Bandung; (28) UIN Sunan Gunung
Jati – Bandung; (29) Universitas Pendidikan
I ndonesia (UPI), Bandung; (30) Universitas
Cendrawasih (Uncen), Jayapura;
(31) Universitas Pattimura, Ambon; (32)
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang; (33)
Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang;
(34) Universitas Muhamadiyah Malang
(UMM); (35) IAIN Sumatera Utara, Medan;
(36) Universitas Surabaya (UBAYA); (37)
Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya;
(38) Institut Teknologi Surabaya (ITS); (39) IAIN
Sunan Ampel Surabaya; (40) Universi t as
Hasanuddi n ( UNHAS) Makassar ; (41)
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin
Makassar; (42) Universitas Negeri Makassar
(UNM); (43) Universitas Muhammadiyah
(UNISMUH) Makassar; (44) Universitas “45”
(U-45) Makassar; (45) Universitas Muslim
Indonesia (UMI) Makassar; (46) Sekolah Tinggi
Administrasi Negara Lembaga Administrasi
Negara (STIA-LAN) Makassar; (47) Universitas
Tanjungpura Pontianak; (48) Universitas Islam
Indonesia (UII), Yogyakarta; (49) Universitas
17 Agustus 1945 (UNTAG), Semarang; (50)
Universitas Mataram (UNRAM); (51) IAIN
Mataram; (52) Sekolah Tinggi Agama Hindu
Negeri Mataram (STAHN) Mataram; (53)
Uni versi tas Negeri Gorontal o (UNG);
(54) Uni ver si t as Gor ont al o ( UG) ; ( 55)
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado;
(56) Universitas Jambi; (57) IAIN Sulthan
Thaha Saifuddin Jambi; (58) Universitas
Sahid Jakarta; (59) Universitas Muhamadiyah
Magelang; (60) Universitas Sriwijaya; (61) IAIN
Raden Fatah Palembang; dan (62) Universitas
Kristen Satya Wacana.
b. Pembentukan Kerjasama dengan Instansi
Pemerintahan, Institusi Swasta, dan LSM
Dalam rangka memudahkan pelaksanaan
amanat sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang, KPK dituntut mampu
99
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
untuk melakukan bekerjasama dengan
lembaga lain. Lembaga-lembaga yang telah
bekerjasama dengan KPK yang terikat melalui
kesepakatan kerjasama formal (MoU) meliputi
I nstansi Pemerintahan, I nstitusi Swasta
dan LSM, yaitu: (1) PPATK; (2) Kementerian
Komunikasi dan Informasi; (3) Kementerian
Negara PAN; (4) Jawa Pos; (5) Forum Pemantau
Pemberantasan Korupsi 2004; (6) Gubernur 33
Provinsi; (7) Inspektorat Jenderal Departemen
Keuangan; ( 8) Di r ekt or at J ender al
Paj ak; ( 9) Penyedia Jasa Telekomunikasi; (10)
Kepolisian RI; (11) Mabes TNI; (12) BPN; (13)
Kejaksaan Agung; (14) KPPU; (15) DPD; (16)
Meneg BUMN; (17) BPK; (18) Lemhanas; (19)
Bank Indonesia; (20) Bapepam LK; (21) Kwartir
Pramuka; (22) Komisi Yudisial; (23) BPKP; (24)
Dirjen Bea dan Cukai; (25) Departemen Dalam
Negeri; (26) Lembaga Permasyarakatan; (27)
Lembaga Sandi Negara; (28) Dewan Pers;
(29) Departemen Luar Negeri; (30) ICMI (31)
Depar t emen Per t ahanan; dan ( 32)
Depar t emen Agama.
c. Kegiatan Pembinaan Kerjasama
Selain menjalin kerjasama yang dituangkan
dalam bentuk perjanjian kerjasama, KPK
berusaha untuk memelihara, meningkatkan,
dan mengelola jaringan kerjasama yang
telah dibentuk dengan melakukan kegiatan-
kegiatan pembinaan jaringan sebagai berikut:
t Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pokja
Provinsi se-Indonesia, 12 April 2007.
t Workshop Pendidikan dan Nilai-nilai Lokal,
di Padang, 10 Agustus 2007.
t Kunjungan Kerja Peningkatan Kepatuhan
dan Sosialisasi LHKPN dan Gratifikasi, di
b. Forgi ng Cooperati on wi th Government
I nsti tuti ons, Pri vate I nsti tuti ons, and
Non-Governmental Organizations (NGOs)
In the course of facilitating the implementation
of the KPK’s legislative mandate, our Commission
is obligated to engage in cooperation with
institutions from various spheres in Indonesia. The
governmental, private, and non-governmental
enti ti es that have si gned Memorandums
of Understanding committing them to cooperate
with the KPK are: (1) PPATK ( The Indonesian
Financial Intelligence Unit) ; (2) The Ministry of
Communications and Information; (3) The State
Ministry of Administrative Reform; (4) Java Post
(news¬paper); (5) The 2004 Corruption Eradication
Monitoring Forum; (6) Governors of 33 Provinces;
(7) The Inspectorate General of the Depart¬ment
of Finance; (8) The Directorate General of Taxation;
(9) Telecommunications service providers; (10) The
Police; (11) TNI (Army HQ); (12) The National Land
Agency (BPN); (13) The Attorney General’s Ofce;
(14) The Competition Monitoring Commission
(KPPU); (15) The Regional Representatives Assembly;
(16) The SOE Ministry; (17) The State Audit Board;
(18) Lemhanas – the National Defence Agency;(19)
Bank Indonesia; (20) Bapepam (Capital Market
Oversight Agency); (21) Kwartir Pramuka (Scouting
Organization); (22) The Judicial Commission; (23)
The Finance and Development Audit Board; (24)
The Directorate General of Customs and Excise; (25)
The Depar tment of Defence; and (26) The
Department of Religious Afairs.
c. Promoting Cooperation
Aside from cultivating cooperation in the form of
cooperation agreements, the KPK also attempts to
maintain, improve, and manage cooperative net-
works that have been formed through the follow-
ing promotional activities:
· ^| | | ·Jo·e·| o |·o.| ·c| o| /o· || ·¸ O·oo¡
Coordinating Meetings and Evaluations, April 12th,
2007.
· /o·|·|o¡ o· |Joco||o· o·J |oco| vo|oe·. |oJo·¸.
August 10th, 2007.
· /o·||·¸ .|·||· |o |·¡·o.e co·¡||o·ce o·J
socialization of LHKPN and gratuity reports,
held in the following Provinces: (a) Banten; (b)
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
100 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
West Java; (c) Jakarta; (d) Special District of
Jogjakarta; (e) East Java; and (f ) Central Java.
· /o·|·|o¡ |o |·¡·o.e ||e |||· |·|e··o| co¡oc||,
with: (a) KSEI; (b) banking institutions; (c) the
Police; (d) The Department of Trade; (e) Authorities
concerned with Banking Crimes; (f ) Taxation
authorities; (g) Intelligence authorities dealing with
crime ; and (h) Authorities concerned with the KPK’s
ability to conduct proactive investigations.
· /o·|·|o¡ o· coo¡e·o||o· ¡o··|/|||||e· .||| (o:
the Department of Religious Affairs, (b) the
Department of Defence; and (c) the Department
of Law and Human Rights.
· |o||o·o| (o··o¡||o· |·oJ|co||o· (o·|e·e·ce
2007. The KPK organizes annual conferences;
this year the theme was “ Transparency and
Accountability in State Governance”, and the
conference was held at the Jakarta Convention
Centre on December the 4th and 5th of 2007.
The purpose of holding annual conferences is
so that the public could be informed of progresses
made in corruption prevention and repression by
government agencies in their respective fields. 49
agenci es presented repor ts, 32 of whi ch
elaborated fur ther on their methods and
experiences. The conference was attended by 200
participants, and was opened by the Chairman of
the People’s Consultative Assembly, and closed
by the Vice President. The KPK maintains that the
conference is an important annual event that
facilitates national coordination in the form
of the efforts made by government agencies in
contributing to the Indonesian anti-corruption
effort.
2. International Cooperation
As emphasized in the UN Convention against
Corruption (UNCAC), international cooperation is an
important part of corruption eradication eforts. The
UN Convention on Transnational Organized Crime
( UNTOC) al so stresses that corrupti on i s a
transnational crime that needs to be properly and
sternly addressed. In reality, corruptors tend to move
either themselves or their assets to foreign jurisdictions
to escape law enforcement in their original countries.
Based on the aforementi oned i nternati onal
conventions, as well as the reality that corruptors
transfer their criminal proceeds abroad, the KPK must
be able to strengthen Indonesia’s capacity in respect
provinsi: (a) Banten; (b) Jabar; (c) Jakarta; (d)
DI Yogyakarta; (e) Jatim; dan (f ) Jateng.
t Workshop peningkatan kapasitas internal
KPK dengan: (a) KSEI; (b) Perbankan; (c)
POLRI; (d) Departemen Perdagangan; (e)
Tindak pidana perbankan; (f ) Perpajakan;
(g) I ntelijen Kriminal; dan (h) Proaktif
I nvestigasi.
t Workshop pembahasan kerjasama dengan:
(a) Departemen Agama, (b) Departemen
Pertahanan; dan (c) Depkumham.
- Konferensi Nasional Pemberantasan
Korupsi 2007. Konferensi tahunan dengan
sub tema “Transparansi dan Akuntabilitas
Penyelenggaraan Negara” ini diseleng-
garakan di Jakarta pada 4-5 Desember
2007 dengan tujuan melaporkan kepada
publik perkembangan pemberantasan
korupsi yang telah dilakukan lembaga
pemeri ntah berdasarkan tupoksi
masing-masing, baik dari segi penindakan
maupun pencegahan. Kurang lebih 49
lembaga mempresentasikan laporan
pemberantasan korupsi, dan 32 diantaranya
memaparkannya dalam konferensi ini.
Konferensi yang dihadiri 200 peserta ini,
dibuka oleh Ketua MPR dan ditutup oleh
Wakil Presiden. Konferensi ini mejadi wadah
dan sarana yang penting bagi bangsa
Indonesia untuk berkoordinasi dalam
upaya-upaya lembaga negara dalam
berkontribusi bagi pemberantasan korupsi
di Indonesia.
2. Kerjasama Internasional

Sebagaimana tertuang dalam Konvensi PBB Me-
nentang Korupsi (UNCAC) bahwa kerjasama in-
ternasional adalah bagian yang sangat penting
dalam upaya pemberantasan korupsi. Konvensi
PBB yang lain tentang kejahatan lintas negara
yang terorganisir (United Nations on Transna-
tional Organized Crimes, UNTOC) juga menyata-
kan bahwa korupsi adalah salah satu kejahatan
lintas negara. Fakta di lapangan menunjukkan
pula bahwa koruptor cenderung dan merasa
aman untuk mel ari kan di ri dan menyimpan
aset hasil korupsinya di luar negeri. L a nda s a n
huk um i nt er na s i ona l da n kecenderungan
fakta di lapangan ini, menjadikan alasan utama
101
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
KPK untuk sesegera mungkin untuk memperkuat
kerjasama internasional dalam memaksimalkan
hasil pemberantasan korupsi di Indonesia.
Ruang lingkup kerjasama internasional di KPK
meliputi upaya-upaya untuk mendukung
pencegahan dan peni ndakan kor upsi .
Kegi atan internasional dalam mendukung
pencegahan adalah penyelenggaraan kegiatan
internasional (meeting, seminar, workshop,
konf er ensi ) , pengembangan j ar i ngan
kerjasama bilateral dan multilateral (MoU,
perjanjian internasional), kehadiran dalam forum-
forum internasional, capacity building, advokasi,
koalisi dan upaya dalam penggalangan donor.
Sedangkan kegiatan internasional dalam upaya
mendukung kegiatan penindakan meliputi
kerjasama bantuan hukum timbal balik antar
negara (Mutual Legal Assistance, MLA), ekstradisi
( ext radi t i on) dan upaya pencar i an dan
pengembalian asset hasil kejahatan korupsi di
luar negeri (Asset Tracing and Recovery).
a. Pengembangan Jari ngan Kerj asama
Bi l ateral dan Mul ti l ateral

Berbagai kerja sama bilateral dan multilateral
yang t el ah di gal ang dal am bent uk
kesepakatan kerjasama formal (MOU) dengan
lembaga anti korupsi luar negeri diantaranya
adalah: (1) Kementerian Supervisi (Ministry of
Supervision) Republik Rakyat Cina; (2) KICAC
(Korea Independent Commission against
Cor r upt i on) Kor ea Sel at an; ( 3) EFCC
(Economic and Financial Crimes Commission)
Ni geri a; (4) I nspektorat Jenderal (Anti
Corruption Commission Steering Group)
Vietnam; (5) BMR (Badan Memcegah Rasuah)
Brunei Darussalam; (6) BPR (Badan Pencegah
of international cooperation in order to ensure that
its corruption eradication efforts in Indonesia can
be optimized.
The scope of international cooperation in the KPK
covers all efforts to support the prevention and
repressi on of corrupt acti vi t y. I nternati onal
activities that suppor t our prevention effor ts
include the facilitation of international meetings,
semi nars, workshops, and conferences; the
devel opment of bi l at er al and mul t i l at er al
cooperation networks through the signing of
MOUs and international agreements; attending
international forums in other countries; capacity
building cooperation; advocacy efforts, coalition-
building, and negotiations with donor institutions
and countries. International activities that support
repression efforts include mutual legal assistance;
extradition; and the tracing and recovery of stolen
assets and corruption proceeds.
a. Development of Bilateral and Multilateral
Cooperation Networks
The KPK has si gned f ormal Memoranda
of Understanding for bilateral and multilateral
cooperation with the following foreign anti-
corrupti on agenci es: ( 1) The Mi ni str y of
Supervision of the People’s Republic of China; (2)
The Korean Independent Commission Against
Corruption (KICAC); (3) The Nigerian Economic
and Financial Crimes Commission (EFCC); (4)
The Vietnamese Inspectorate General of its Anti-
Corruption Commission Steering Group; (5) The
Brunei Darussalam Corruption Prevention
Agency (Badan Mencegah Rasuah - BMR); (6)
The Malaysian Corruption Prevention Agency
(Badan Pencegah Rasuah - BPR); (7) The Singa-
porean Corrupt Practices Investigation Bureau
(CPIB); (8) The Thailand National Counter
Cor r upt i on Commi ssi on ( NCCC) ; ( 9) The
Inspectorate General of Cambodia; (10) The
Phillipine Ombudsman Agency; and (11) The
State Inspection Organization of the Islamic
Republic of Iran.
The foreign anti-corruption agencies with which
the KPK cooperates with, but with which it has
no formal bilateral or multilateral cooperation
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
102 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
agreements, include: the Hong Kong Independent
Commission Against Corruption (ICAC) SAR
unit; ( 2) The Austral i an Federal Pol i ce; ( 3)
T he De par t me nt of I nv e s t i gat i ons and
Pr os ecut i ons of t he Feder al Republ i c of
Germany; (4) The Thailand Department of
Special Investigation; (5) The United States FBI
and Department of Justice; (6) The Switzerland
Federal Department of Justice; (7) The European
Union OLAF; (8) The Timor Leste Provedor; (9)
The Bhutan Anti-Corruption Commission; and
(10) The Singapore Attorney General’s Office.
The KPK has also developed cooperation in the
form of multilateral forums in 2007 with: (1)
The I AACA ( I nt er nat i onal Associ at i on of
Ant i Corruption Authorities); (2) The APEC Anti
Corruption Task Force; (3) The ADB/OECD Anti
Corruption Initiative; (4) The Anti Corruption
Authorities Forum; (5) The ASEAN Multilateral
Cooperation on Anti-Corruptio (8 members);
(6) The ASEAN Seni or Offi ci al s Meeti ng on
Transnational Crimes; (7) Interpol; (8) The APG/
FATF Forum; (9) The Expert Working Group on
Asset Recovery; (10) The OKI (Organization of
the Islamic Conference); (11) anti-corruption
and enhancing national integrity forums; and
(12) anti corruption networks.
b. International Activities

In 2007, Indonesia hosted seven major events
rel at ed t o t he i nt er nat i onal cor r upt i on
eradication effort, four or which were organized
by the KPK:
- 7he A5lAN- lxµet t Veet| nç on Ant|
Corrupti on. Thi s Exper t Meet i ng was
or gani zed i n cooper at i on wi t h t he
Secretariat of ASEAN and NCB Interpol on
May 1st and 2nd, 2007, in Jakarta. This KPK-
organized event was held as part of the effort
to make the ASEAN countries more vigilant
against corruption as a transnational crime.
A total of ten ASEAN country representatives
and UNODC representatives attended this
event.
Rasuah) Malaysia; (7) CPIB (Corrupt Practices
Investigation Bureau) Singapura; (8) NCCC
(National Counter Corruption Commission)
Thailand; (9) Inspektorat Jenderal Cambodia;
(10) Badan Ombudsman Philipina; dan (11)
I npekt or at Jender al ( St at e I nspect i on
Oragnization) Republik Islam Iran.
Adapun lembaga penegak hukum dan anti
korupsi luar negeri yang telah bekerjasama,
namun tidak terikat dalam kesepakatan
kerjasama formal secara bilateral maupun
multilateral, antara lain dengan: (1) ICAC
Hongkong SAR; (2) AFP Austral i a; (3)
Departemen I nvestigasi dan Kejaksaan
Republik Federal Jerman; (4) Department
of Special Investigation Thailand; (5) FBI dan
Department of Justice United States; (6)
Federal Department of Justice Switzerlands;
(7) OLAF Uni Eropa; (8) Provedor Timor Leste;
(9) Anti Corruption Commission Bhutan; dan
(10) Kejaksaan Singapura.

Pengembangan jaringan kerjasama dalam
forum Multilateral yang dilakukan KPK pada
t ahun 2007 yakni dengan: ( 1) I AACA
( I nternational Association of Anti Corruption
Authorities); (2) APEC Anti Corruption Task
For ce; ( 3) ADB/OECD Ant i Cor r upt i on
I nni tiative; (4) Anti Corruption Authorities
( ACA) For um; ( 5) ASEAN Mul t i l at eral
Cooperation on Anti Corruption (8 negara);
(6) ASEAN SOMTC (Senior Official Meeting
on Transanational Crimes); (7) Interpol; (8)
APG/FATF Forum; (9) Expert Working Group on
Asset Recovery; (10) OKI (Organisasi Konfenesi
Islam); (11) Anti-Corruption and Enhancing
National Integrity; dan (12) Anti Corruption
Networks.
b. Penyelenggaraan Kegiatan Internasional
Selama tahun 2007, tidak kurang tujuh event
besar kegiatan internasional pemberantasan
korupsi diselenggarakan, empat diantaranya
diselenggarakan oleh KPK, yaitu:
t ASEAN- Exper t Meet i ng on Ant i
Corruption. Kegiatan ini diselenggar akan
atas kerjasama Sekretariat ASEAN dan NCB
Interpol pada 1-2 Mei 2007 di Jakarta.
103
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Kegiatan atas prakarsa KPK ini dalam
rangka memperjuangkan kejahatan
korupsi sebagai area kejahatan lintas
negara yang dikerjasamakan dalam forum
ASEAN. Selain dihadiri 10 negara ASEAN,
juga hadir dalam kegiatan ini perwaki l an
UNODC.
t Semi nar I nternasi onal ”Confl i ct of
Interest’. High Profle International Seminar
on Confl i ct of I nterest yang di buka
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
di Istana Negara ini dilaksanakan pada
tanggal 6-7 Agustus 2007 atas kerjasama
dengan berbagai donor, seperti ADB/OECD
Anti Corruption Inntiative, CIDA, Danida,
World Bank, FSVC/USAID, dan Kedutaan
Inggris. Seminar ini mengupas penting-
nya perhatian penegak hukum dalam
isu konfl i k kepenti ngan yang menj adi
fundamental dalam pidana korupsi, yang
banyak melibatkan pejabat pemeri ntah
di i nternasional dan nasional. Konferensi
ini dihadiri kurang lebih 200 peserta dari 29
negara, dengan melibatkan 35 pembicara
ahli internasional dan nasional dan ditutup
oleh ketua MPR, DR. Hidayat Nur Wahid.
Seminar ini menyepakati bahwa konfik
kepentingan adalah upaya mendasar
yang harus dipecahkan secara sistemik
dari upaya pemberantasan korupsi.
t 10
th
Steering Group Meeting of ADB/
OECD Anti Corruption Innitiatives for
Asia and the Pasific. ADB dan OECD
kembali mempercayakan KPK untuk
menjadi tuan rumah program inisiatif
- 7he lntetnot|onol 5em|not on ¨Conll|ct
of Interest’. This high profile international
seminar on Conflict of Interest, which was
opened by Presi dent Susi l o Bambang
Yudhoyono at the State Palace, was held on
August 6th - 7th, 2007, with assistance from
various donors, including the ADB/OECD
Anti Corruption Inntiative, the Canadian
CIDA, the Danish Danida, the World Bank,
FSVC/USAID, the British Embassy, and the
Indonesian Department of Foreign Affairs.
The seminar focused on the importance of
a sense of awareness among law enforcers
that conflict of interest is a fundamental
as pe c t of cor r upt i on c r i me s , and
frequently involves government officials in
Indonesia and abroad. The conference was
attended by 200 participants from 29
countries, and hosted 35 expert speakers
from all over the globe. It was closed by
the Speaker of the People’s Consultative
Assembly (MPR), Dr. Hidayat Nur Wahid. The
seminar recognized that conflict of interest
issues must be resolved systemically as part
of the anti-corruption effort.
- 10
th
Steering Group Meeting of ADB/OECD
Anti Corruption Innitiatives for Asia and
the Pasific. The ADB and the OECD again
bes t owed t he honor on t he KPK of
hosting the ADB-OECD Anti-Corruption
Initiative meeting in Bali on September 3rd
- 5th, 2007, which was followed up back
to back by the international seminar ”MLA,
Extradition, and Asset Recovery”, which was
held on September 5th - 7th, 2007. This meet-
ing yielded resulsts in the form of important
decisions being made in the international
cooperation effort against corruption, and
the publication of survey results from 19
Asia-Pacific countries on MLA, extra¬dition
and asset recovery. These findings will serve
as a guide for countries in their own efforts
to develop international cooperation in the
areas of MLA, extradition and asset recovery.
This meeting was attended by 110 participants
from 29 member and observer states of the
ADB/OECD Anti Corruption Innitiatives.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
104 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
- lntetnot|onol 5em|not on ¨VlA. lxttoJ|t|on
and Asset Recovery”. The enthusiasm of the
participants at this seminar was amazing,
commensurate to the extremely engaging
nature of the issues discussed. More than
180 par t i ci pant s f r om 40 count r i es
and representati ves of i nternati onal
or gani zat i ons at t ended t hi s s emi nar.
International organization leaders from the
UNODC, the OECD, and the ADB were also
present at the seminar, which was held in
Bali on September 5th -7th, 2007. The
event was successful in producing a deep
understanding of the process of international
cooperation to recover stolen assets, the
extradition process, and the forging of MLA. For
this satisfying outcome, we can thank the
cont r i but i ons made by l eadi ng wor l d
experts of these issues, including Malam
Nuhu Ribadu from Nigeria, Jan Bernard
Schidt from Switzerland, Dimitri Vlassis
from the UNODC, the Marcos’ Asset Hunting
Team, the Vladimir Montesinos Asset Hunting
Team, and experts from the World Bank and the
OECD.
- lntetnot|onol 7to|n|nç on Ovetseos Asset
Recovery. The KPK, in collaboration with the
International Center for Asset Recovery (ICAR)
from the Basel Institute on Governance
(Switzerland), with donor assistance from the
DFID, GTZ, and Liechenstein Government,
organized International Training on Overseas
Asset Recovery as a follow-up on the previous
seminars and workships held at the Basel
Institute and in Bali. This training event was
aimed at strengthening the Asset Tracing
and Recover y capabi l i ti es of the KPK and
Attorney General’s Asset Traci ng and Recovery
Teams in the performance of their duties
of asset traci ng and recover y, MLA, and
extradition. Training was provided on
September 17th - 28th, 2007, in Jakarta, with
speakers from the Singapore Attorney General’s
Office, and experts from the United States,
Britain, Switzerland, Costa Rica, and Indonesia
being invited.
anti-korupsi mereka di Bali pada tanggal
3-5 September 2007, berkel anj utan
dengan semi nar I nternasi onal ‘ MLA,
Ekstradisi dan Pengembalian Asset’ pada
tanggal 5- 7 Sept ember 2007. Rapat
i ni menghasilkan keputusan penting
dalam upaya kerjasama internasional
pember ant asan kor upsi , dengan
di t er bi t kannya buku hasi l sur vey
t er hadap 19 negara di Asia Pasifk tentang
”MLA, Extradition and Asset Recovery”. Hasil
survey ini akan menjadi panduan setiap
negara dal am mel akukan kerj asama
i nternasional dalam ketiga area kerjasama
internasional di atas. Acara ini dihadiri lebih
dari 110 peserta dari 29 negara anggota
dan observer ADB/OECD Anti Corruption
Innitiatives.
t Seminar Internasional ”MLA, Extraditi on
and Asset Recovery”. Antusiame peserta
dalam seminar ini luar biasa, karena
daya tarik isu yang disampaikan. Lebih
dari 180 peserta dari 40 negara dan
perwakilan organisasi internasional hadir
dalam seminar ini. Petinggi organisasi
internasional seperti UNODC, OECD dan
ADB juga hadir dalam seminar yang
dilaksanakan di Bali, 5-7 September 2007.
Seminar ini menghasilkan pemahaman
yang yang mendalam dalam proses
k er j as ama i nt er nas i onal dal am
pengembalian aset, ekstradisi dan MLA
karena disajikan langsung oleh ahli-ahli
kel as duni a dari yang mempunyai
pengalaman langsung dibidangnya
seperti Malam Nuhu Ribadu dari Nigeria,
Jan Bernard Schidt dari Swiss, Dimitri
Vlassis dari UNODC, Tim pemburu Aset
Marcos, Tim Pemburu Aset Vladimir
Montesinos, dan pakar dari World Bank,
dan OECD.
t Training International on Overseas
Asset Recover y. KPK beker j asama
dengan ICAR (I nternational Center for
Asset Recovery) dari Basel Institute on
Governance, Switzerlands dan melibatkan
donor dari DFID, GTZ, dan Pemerintah
Liechenstein mengadakan International
105
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
Training on Overseas Asset Recovery
sebagai fol l ow up dari semi nar dan
workshop sebelumnya di Basel dan Bali.
Training ini dalam rangka memperkuat
kemampuan Tim ATR (Asset Tracing and
Recvery) KPK dan Jaksa di Kejaksaan
Agung RI dalam melakukan pengembalian
aset dari Luar Negeri, MLA dan ekstradisi.
Training yang dilenggarakan pada
t anggal 17- 28 Sept ember 2007 di
Jakarta ini mengundang pembicara dari
Kejaksaan Singapura, Ahli dari Amerika,
Enggris, Swiss, Costarica dan Pakar dari
Indonesia.
t 4FNJOBS *OUFSOBUJPOBM on ”Fighting
Bribery in Public Procurements”.
Adanya fenomena kasus-kasus yang
ditangani penegak hukum yang mayoritas
terkait dengan kasus pengadaan barang
dan jasa, KPK menggandeng ADB/OECD
mengadakan semi nar tmembahsa i su
tersebut. Tujuan utama diselenggarkan
kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan
penget ahuan dan pengal aman
penanganan kasus penyuapan dalam
pengadaan barang dan jasa dari berbagai
negara dan lembaga internasional, dan
mencar i sol usi yang t epat unt uk
me n a n g a n i n y a . S e mi n a r i n i
di s e l e ngga r a k a n pa da t a ngga l
5 - 7 No v e mbe r di B a l i .
c. Partisipasi Aktif KPK dalam Forum Anti-
Korupsi Internasional
Dal am r angka memper kuat j ar i ngan
internasional, KPK secara aktif hadir dalam
forum-forum penting internasional yang
meliputi: (1) Global Forum di Johanesburg,
Afrika Selatan; (2) ICPO Interpol di Brasil; (3)
APEC Anti-Corruption Task Force di Australia;
(4) ADB/OECD Anti-Corruption Innitiati ves di
Bali, Indonesia; (5) 1st Conference UNCAC
di Jordan; (6) IAACA Internatinal Seminar;
(7) SOMTC Meeting di Jakarta; (8) APG/FATF
Training di Bangkok; (9) Expert Workshop
on Asset Recovery di Basel, Swiss; (10) 2nd
Conference IAACA di Bali; dan (10) Persiapan
2nd Conference UNCAC Meeting di Bali, 28
Januari – 2 Februari 2008.
t *OUFSOBUJPOBM4FNJOBSPOw'JHIUJOH#SJCFSZ
in Public Procurements”.
Corruption cases are often focused on the
ar ea of publ i c goods and ser vi ces
procurements. The KPK, in cooperation with
theADB/OECD Initiative, held a seminar to
explore this issue further. The main goal of
the seminar was to assemble knowledge and
experience in the handling of bribery cases
in goods and services procurements, The
seminar was attended by representatives of
various countries and international agencies
on November 5
th
- 7
th
, 2007, in Bali.
c. KPK Participation in International Anti-
Corruption Forums
In the context of strengthening international
networks, the KPK regularly attends important
international forums, which to date have included:
(1) The Global Forum in Johanesburg, South Africa;
(2) The ICPO Interpol in Brasil; (3) The APEC Anti-
Corruption Task Force in Australia; (4) The ADB/
OECD Anti -Corrupti on I nni ti ati ves i n Bal i ,
Indonesia; (5) The 1st Conference on UNCAC in
Jordan; (6) The IAACA International Seminar; (7)
The SOMTC Meeting in Jakarta; (8) APG/FATF
Training in Bangkok; (9) Expert Workshop on Asset
Recovery at the Basel Institute in Switzerland; (10)
The 2nd Conference on IAACA in Bali; and (10)
Preparations for the 2nd Conference on UNCAC
Meeting in Bali, to be held on January 28th to
February 2nd in 2008.
d. I nternati onal Assi stance i n Corrupti on
Repression
International cooperation facilitates the
KPK’s efforts in eradicating corruption through
repressi on. I n 2007, the KPK engaged i n
cooperation for repressive purposes: (1) as part of
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
106 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
the Ad hoc National Team on Asset Recovery; (2)
as part of the negotiating team for the Singapore
– Republic of Indonesia Extradition Treaty; (3) as
part of the negotiating team for the ASEAN
Extradition Treaty; (4) as part of the team for
the Indonesia – USA Mutual Legal Assistance
discussions; (5) as part of the negotiating team
for the People’s Repub¬lic of China – Indonesia
Treaty; (6) Hosted and assisted the STAR Initiative
Team from the UNODC and the World Bank in
Jakarta; (7) Pro¬vided Mutual Legal Assistance
to the Federal Republic of Germany; and (8)
Extended re¬quests for investigative assistance
to the Sin¬gapore CPIB, the Malaysian BPR, the
Hong Kong ICAC, and the South Korean KICAC.
3. Asset Tracing

Asset Tracing efforts are conducted in the course of
optimizing the recovery of State losses, as well as
to respond to public concern about the massive
losses suffered by Indonesia due to corruption. As
of September 2007, 5 asset-tracing efforts had been
undertaken, and IDR1,033,050,000,000.00 and US$
4,151,164.00 successfully recovered.
Donor Support
1. DANIDA. Regional Parliament (DPRD) Empowerment
Program, which is designed to increase the capacity
of DPRDs. I n 2007, workshops to i ncrease the
capacity of DPRDs were conducted in the Provinces of
East Java, Gorontal o, West Sumatra, South
Kalimantan, and North Sulawesi, involving 20
Regencies/Cities and 5 Provincial Capitals.
Through the KPK facilitated workshops, it is expected
that DPRD members’ understanding of corruption
will have been improved so that the DPRDs will play a
more active role in corruption prevention.
Other activities supported by Danida include the
production of a series of KPK videos that support
the soci al i zati on LJKPN, Gratui ti es, Publ i c
Complaints, and the History of Corruption Eradication
in Indonesia. The socialization and campaign
program includes ‘Mall to Mall’ activities conducted in
Manado, Palembang, Batam and Surabaya, as well
d. Ba nt ua n I nt er na s i ona l da l a m Pen-
i ndakan Korupsi
Kerjasama internasional diharapkan da-
pat memper mudah upaya KPK dal am
memberantas korupsi di bidang penindakan.
Di tahun 2007, KPK melakukan kerjasama
terkait dengan penindakan yaitu: (1) Menjadi
bagian tim Adhoc nasional dalam Asset
Recovery; (2) Menjadi bagian tim perunding
per j anj i an ekst r adi si Si ngapur a- RI ;
(3) Menjadi bagian tim perunding perjanjian
ASEAN-Ekstradisi; (4) Menjadi bagian tim
MLA Indonesia-USA; (5) Menjadi bagian tim
perunding perjanjian RRC-Indonesia; (6)
Meneri ma dan mendampi ngi ti m STAR
I nnitiative dari UNODC dan World Bank di
Jakarta; (7) Bantuan MLA ke Pemeritah Federal
Jerman; dan ( 8) Permi ntaan bantuan
i nvestigasi ke CPIB Singapura, BPR Mal a y s i a ,
ICAC Hongkong, dan KICAC Korea.
3. Asset Tracing
Asset Tracing dilaksanakan dalam rangka men-
goptimalkan pengembalian kerugian negara ser-
ta menjawab keprihatinan masyarakat meli-
hat jumlah pengembalian asset negara yang
hi l ang karena TPK. Sampai dengan Sep-
tember 2007, telah dilakukan sebanyak 5 keg-
iatan asset tracing dengan jumlah aset yang
ditemukan sebesar Rp1.033.050.000.000,00 dan
USD4,151,164.00.
Dukungan Donor
1. DANIDA. Dalam program pemberdayaan
Dewan Per waki l an Rakyat Daer ah ( DPRD)
107
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
untuk meningkatkan kapasitas peran dan fungsi
DPRD. Sel ama t ahun 2007, wor kshop
peni ngkatan kapasitas peran dan fungsi
DPRD telah dilakukan di provinisi Jawa Timur,
Gorontalo, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan,
dan Sulawesi Utara meliputi 20 Kabupaten/
kota dan 5 Ibukota Provinsi.
Dengan workshop yang difasilitasi oleh KPK
i t u, di har apk an pemahaman anggot a
Dewan terhadap TPK akan semakin luas sehingga
kedepannya diharapkan DPRD dapat berperan
lebih aktif lagi dalam mencegah perbuatan
korupsi sesuai dengan UU yang ada saat ini.
Kegiatan lain yang didukung Danida antara
lain pembuatan Video Serie KPK penunjang
sosialisasi pelaporan LHKPN, Gratifikasi dan
Pengaduan Masyar akat ser t a Sej ar ah
Pemberantasan Korupsi di Indonesia. Program
Sosi al i sasi dan Kampanye dal am bentuk
k egi at an Mal t o Mal di l aks anak an di
Menado, Palembang, Batam dan Surabaya serta
pengadaan 2 unit Mobil Unit I nformasi KPK
untuk sarana menyebarluaskan materi kampanye
anti korupsi bagi kalangan masyarakat luas di
perkotaan dan di pedesaan dan dukungan untuk
program promo dan talkshow TV dan Radio di TV
Lokal dan Nasional selama kegiatan workshop
DPRD, Mal to Mal dilaksanakan.
2. ADB-OECD. Dalam Steering Group ADB-OECD
Anti Corruption I nitiative (SGM) ke-9 yang
diadakan di Bangkok pada 27–29 November
2006 diputuskan bahwa setiap negara anggota
wajib untuk mengirimkan country progress report
sesuai dengan template yang telah ditetapkan.
Sebagai pelaksanaan keputusan tersebut, KPK
mengumpulkan data dari instansi-instansi
pemerintah yang dinilai telah melakukan
kegiatan anti korupsi dan menyusunnya sesuai
template country progress report. Kegiatan-
kegiatan anti korupsi yang dimasukkan dalam
country progress report selain dari KPK, berasal
dari:
t Kement er i an Negar a Per encanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas): melalui
Keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003
mengatur mengenai isu confict of interest
dalam proses pengadaan barang dan jasa
pemerintah.
as the procurement of 2 KPK Mobile Information
Uni t s t o hel p di ssemi nat e ant i - cor r upt i on
campaign material to the general public in cities
and rural areas, as well as support promotional TV
and radio talk shows broadcast on local and
national stations during the course of the DPRD
workshop and the Mall to Mall programs.
2. ADB-OECD. During the ADB-OECD Anti-Corruption
Initiative 9th Steering Group Meeting, which was
held in Bangkok on November 27th - 29th of 2006,
it was agreed that each member state will deliver
a country progress report, which must comply the
established templates.
In complying with this, the KPK has collected data
from government institutions deemed to have
engaged in anti-corruption ac¬tivities, and have
structured this data into the Indonesia country
progress report. The anti-corruption activities that
have been included in the country progress report,
aside from the KPK’s own, have been undertaken
by:
· ´|o|e /|·|·|·, o| |o||o·o| |e.e|o¡·e·| ||o··|·¸
Bappenas: by way of Presidential Decree No. 80 of
2003 on conflicts of interest in public goods and
services procurement.
· |o·| |·Jo·e·|o |o· |o··o|o|eJ ·o|e· ||o| ·|·e·¸||e·
t he bank super vi sor y i nf rast r uct ur e , r i sk
management in the banking industry, and fnancial
reporting standards, in line with the standards set by
the Basel Committee on Banking Supervision (BCBS).
Aside from these rules, Bank Indonesia has also
formulated rules related to money laundering: Bank
Indonesia Ruling No. 8/28/PBI/2006 on Money
Transfers.
· ¯|e ´|o|e ^oJ|| |oo·J (|oJo· |e·e·||·o
Keuangan – BPK): the promulgation of Law
No. 15 of 2006 on the State Audit Board so that
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
108 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
the scope of the BPK’s audits are widened to
include financial audits, performance audits
and specific audits. This was followed up on by
the publishing of the National Financial Audit
Standards (Standard Pemeriksaan Keuangan
Negara – SPKN), which both central and local
government are obligated to use when performing
audits on state financial management and
accountability.
· ¯|e |o||o·o| |o·J ^¸e·c, (|oJo· |e·|o·o|o·
Nasi onal – BPN): i n 2006 – 2007, the BPN
conducted a reselection process to select strategic
officials at the echelon II and III levels in BPN
facilities all over Indonesia.
· ¯|e |o||o·o| |Joco||o· |e¡o·|·e·| ¯|e
Teachers’ Allowance Program, which is designed
to i mpr ove t he wel f ar e, dedi cat i on, and
professionalism of teachers.
· ¯|e |e¡o·|·e·| o| |o·e|¸· ^|o|·· |oJ e·|o/||·|eJ
a competency-based recruitment system that
focuses on openness, accountability, transparency,
fai rness, and probi t y by appl yi ng a stri ct
recruitment method supported by the efective use
of information technology.
· ¯|e ||·ec|o·o|e Oe·e·o| o| ¯oo||o·.
· ¯|e |o||o·o| Oo.e··o·ce |o||c|e· (o··|||ee
The formulation of Good Corporate Governance
Guidelines and Public Governance Guidelines.
· ¯|e .oJ|c|o| (o··|··|o· co·Joc|eJ ||e 2006
selection process for Supreme Court judges.
· ¯|e |·Jo·e·|o· (|o·/e· o| (o··e·ce (|oJ|·:
the f ormul ati on of the three Par tnershi p
Pillars (epk), the establishment of the Bribery-
Free Movement campaign (Bersih Tanpa Suap
– BTP) through the BTP student program, the
selection of BTP students, and so forth.
· |·Jo·e·|o (o··o¡||o· /o|c| (|(/: ·o||J||,|·¸
the participation of the public in the selection
process of the KPK Commissioners, training
teachers to be critical, and the handling of cases
related to the provision of public services.
· |·Jo·e·|o |·oco·e·e·| /o|c| (||/: ||e
publication of anti-corruption books and the
printing of anti-corruption posters.
· ¯·o··¡o·e·c, |·|e··o||o·o| |·Jo·e·|o ( ¯||: ||e
development of Islands of Integrity, campaigning
for a national integrity system to wage war on
corruption, campaigning for bribery-free business
in the private and public sectors, the Corruption
Perception Index Survey of 2006, improving the
t Bank I ndonesia: membuat peraturan-
per at ur an yang memper kuat ker angka
kerja pengawasan perbankan, pengelolaan
manaj emen resi ko di dal am i ndustr i
perbankan, dan peni ngkatan standar
pel apor an keuangan, sesuai dengan
The Basel Committee on Banking Supervision
(BCBS). Selain peraturan tersebut, BI juga
membuat aturan yang terkait dengan
money launderung yaitu Peraturan Bank
Indonesia Nomor 8/28/PBI/2006 tentang
Kegiatan Pengiriman Uang.
t Badan Pemeriksa Keuangan (BPK): pengesahan
UU No.15 Tahun 2006 tentang BPK sehingga
ruang lingkup pemeriksaan BPK menjadi
lebih luas meliputi pemeriksaan keuangan,
kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan
tertentu. Hal ini selanjutnya diikuti dengan
penerbitan Standar Pemeriksaan keuangan
Negara (SPKN) yang wajib digunakan oleh
pemerintah pusat maupun daerah pada saat
dilakukannya pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara.
t Badan Pertanahan Nasional (BPN): pada tahun
2006-2007 telah melakukan kegiatan Seleksi
Pejabat BPN yang bertujuan untuk memilih
pejabat-pejabat strategis untuk Eselon II dan
III di lingkungan BPN di seluruh Indonesia.
t Departemen Pendidikan Nasional: Program
Tunj a nga n Gur u y a ng ber t uj ua n
meningkatkan kesejahteraan, pengabdian,
dan profesionalisme guru sehingga dapat
melaksanakan tugas profesinya dengan
maksimal.
t Departemen Luar Negeri: menetapkan
sistem rekrutmen berbasis kompetensi
yang mengedepankan aspek keterbukaan,
akuntabilitas, transparansi, adil, dan bersih
tanpa pungutan bi aya apapun dengan
menggunakan metode rekrutmen yang ketat
dan di dukung pemanfaatan teknol ogi
informasi.
t Direktorat Jenderal Pajak,
t Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG): penyusunan Pedoman Umum GCG
dan Pedoman Public Governance.
t Komisi Yudisial: melaksanakan proses seleksi
Hakim Agung 2006.
109
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Pencegahan
Prevention
t Kamar Dagang I ndones i a ( Kadi n) :
pembentukan tiga Pilar Kemitraan (epK),
kampanye Gerakan Bersih Tanpa Suap (BTP)
melalui program pelajar BTP, pemilihan
siswa BTP, dll.
t I ndonesi a Cor r upti on Watch ( I CW) :
penguatan partisipasi masyarakat dalam
seleksi pimpinan KPK, pelatihan guru kritis,
penanganan kasus-kasus terkait pelayanan
publik
t I ndonesia Procurement Watch (IPW):
penerbitan buku dan pencetakan poster
anti korupsi.
t Transparency International Indonesia ( TII):
pembangunan pulau-pulau integritas,
kampanye sistem integritas nasional untuk
memerangi korupsi, kampanye bisnis tanpa
suap bagi kalangan pengusaha dan BUMN,
Corruption Perception Index Survey 2006,
peningkatan kapasitas masyarakat dan
pemerintah lokal sebagai upaya pencegahan
korupsi dalam rekonstriksi Aceh.
Country progress report ini telah disampaikan
pada acara Steeri ng Group ADB-OECD
Anti Corruption Initiative (SGM) ke-10 yang
diselenggarakan di Bali pada 2–5 September
2007
3. GTZ. Salah satu kegiatan kerja sama dengan
donor yang berhubungan dengan penelitian
da n pe nge mba nga n di K PK a da l a h
pe mbe nt ukan clearing house. Clearing House
adalah proyek kerja sama antara Indonesia
yang di wak i l i ol eh KPK dan Republ i k
Feder al Jerman mel al ui l embaga Kerj a
Sama Tekni s (GTZ) dal am pembentukan
proyek Pusat I nformasi Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi . Sel ai n i tu, Pemer-
i ntah Jerman j uga menugaskan seorang
tenaga ahl i anti -korupsi ke KPK mel al ui
Center for International Migration and Development
(CI M), sej ak bul an November 2006.

Kegiatan clearing house ini direncanakan
berlangsung selama 2 tahun dari 2007-2009,
dengan anggaran sebesar EUR2,000,000.00,
dimana 10% dari dana tersebut digunakan untuk
lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dana yang
tersedia untuk KPK sebesar EUR200, 000. 00
di gunakan untuk pembel i an bar ang,
capacity of the public and local government in
preventing corruption in the reconstruction of
Aceh.
This Country Progress Report was delivered during the
ADB-OECD Anti-Corruption Initiative 10th Steering
Group Meeting, which was held in Bali on September
2nd - 5th of 2007.
3. GTZ. One of the donor-related cooperation projects
conducted in respect of the KPK’s research and
development activities was the establishment of
a clearing house. This is a cooperative project
between Indonesia (KPK) and the Federal Republic
of Ger many t hrough GTZ ( Ger man Techni cal
Cooperation, with the goal being the establishment
of an Information Center for Corruption Prevention
and Eradi cat i on. I n addi t i on, t he Ger man
Government, through Centre for International
Migration and Development (CIM), has been
supporting the placement of an anti-corruption
expert at the KPK since November 2006.
The Clearing House activities will continue for 2
years from 2007 to 2009, with a budget of EUR
2, 000, 000. 00, wi th 10% of the funds bei ng
earmarked for Non-Governmental Organizations.
The funding available to the KPK amounts to EUR
200,000.00, which will be used for procurements,
the preparing of the information and prevention
project, the publication of the KPK magazine,
holding of Bureaucracy Reform Seminars, website
improvements, and improvements in the KPK’s
public complaints system.
Pencegahan
Prevention
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
110 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
4. Other Donors. In the interests of information sharing
on corruption prevention and eradication activities,
various donors, such as the GTZ, CIDA, AusAid, Asia
Foundation, USAid, UNODC and ADB have also
funded the holding of international seminars.
These seminars have included ones on Conflict of
I nt erest , Asset Recover y and Mut ual Legal
As s i s t ance, and Fi ght i ng Br i be r y i n Publ i c
Procurements.

Donors have also assisted studies conducted by
the KPK, such as the study on integrity, which was
funded bu USAid through its Millenium Challenge
Corporation program, and the involvement of the
KPK in the promotion of good governance in several
Regencies in Sulawesi, with assistance from CIDA,
and studies on the implementation of good
governance in Kupang and NTT, which were
funded by AusAid.
pembentukan proyek informasi dan pencegahan,
penerbitan majalah KPK, Seminar Reformasi
Birokrasi, perbaikan website, dan perbaikan sistem
pengaduan masyarakat di KPK.
4. Donor Lainnya. Untuk kepentingan berbagi
informasi mengenai kegiatan pencegahan dan
pemberantasan korupsi, beberapa donor
seperti GTZ, CIDA, AusAid, Asia Foundation,
USAid, UNODC, dan ADB j uga membi ayai
penyel enggaraan Semi nar I nternasi onal .
Semi nar I nternasi onal yang terselenggara
atas kerjasama donor dan KPK antara lain seminar
Confict of Interest, seminar Asset Recovery and
Mutual Legal Assistance, dan seminar Fighting
Bribery in Public Procurement.
Donor juga membantu penyelenggaraan studi
di KPK seperti studi integritas yang didanai USAid
melalui program MCC-nya (Millenium Challenge
Corporation), melibatkan KPK dalam pelaksanaan
implementasi good governance di beberapa
beberapa kabupaten di Sulawesi yang dibiayai
atau dibantu oleh CIDA, dan implementasi good
governance di Kupang dan NTT yang didanai
AusAid.
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Korupsi ditempatkan sebagai kejahatan yang luar
biasa karena dapat mengakibatkan bencana
Kor upsi di t empat kan sebagai
kej ahatan yang l uar bi asa karena
dapat mengakibatkan bencana, tidak
saja terhadap kehidupan perekonomian
nasional tetapi juga pada kehidupan
berbangsa dan bernegara. Selain itu,
korupsi juga merupakan pelanggaran
terhadap akhlak sosial dan hak-hak
ekonomi masyarakat. Oleh karena itu,
pemberantasan korupsi harusl ah
di lakukan dengan cara yang luar biasa
pula. Salah satu pemegang peranan
penting dalam memberantas korupsi
adalah dukungan dan partisipasi
masyarakat.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 menjamin peran serta masyarakat
dal am upaya pencegahan dan
pemberantasan TPK, yang diwujudkan
dalam bentuk :
- hak mencari, memperoleh, dan
memberikan informasi adanya
dugaan telah terjadi TPK;
- hak memperoleh pelayanan dalam
mencari , memperol eh, dan
memberikan informasi adanya
dugaan telah terjadi TPK kepada
penegak hukum
- hak menyampaikan saran dan
pendapat secara bertanggung
jawab kepada penegak hukum
- hak memperoleh jawaban atas
pertanyaan tentang laporannya
yang diberikan kepada penegak
hukum
- hak memperoleh perlindungan
hukum.
Corrupti on eradi cati on requi res the
par t i ci pat i on of t hree nat i onal
stakeholders: the public sector, the private
sector, and the general public. Corruption is
an extraordinary crime as it violates social
val ues and the economi c ri ghts of
the Indonesian people. Corruption begets
disasters, not just in the economic life of
the nation, as its efects can be seen across
all facets of life. Thus, participation by the
public, as the stakeholder whose rights are
the most undermined by corrupt conduct,
is essential.
Law No. 31 of 1999 on the Eradication of
Corruption mandates the participation of
the general public in the following forms:
- t he r i ght t o seek, obt ai n, and
disseminate information on suspicions
of the commission of corrupt conduct;
- the right to be assisted in seeking,
obt ai ni ng, and di ssemi nat i ng
information about suspected corrupt
conduct to law enforcers;
- the ri ght to convey responsi bl e
suggestions and opinions to law
enforcers;
- the right to obtain answers to questions
concerning the status of a report after it
has been delivered to law enforcers;
- the right to obtain legal protection.
Corruption is an extraordinary crime as it produces
disastrous results for society


Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement 112
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
113 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Peran serta masyarakat diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2000 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan
Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi.
Mengingat pentingnya peran serta masyarakat
dalam mewujudkan gerakan antikorupsi yang
masif, KPK menempatkan strategi penggalangan
kei kutser taan masyarakat sebagai salah satu dari
empat pilar strategi utama. Dengan strategi ini,
diharapkan dapat terbangun komunikasi intensif
dalam rangka penyampaian berbagai informasi
kepada masyar akat t ent ang upaya- upaya
pember antasan korupsi yang telah dilakukan serta
membangun kerja sama dengan mekanisme yang
memungkinkan masyarakat berperan serta secara
aktif dalam pemberantasan korupsi.
St r at egi i ni di t uj ukan unt uk meni ngkat kan
keper cayaan masyarakat terhadap penanganan
pengaduan dugaan TPK yang disampaikan sehingga
di harapkan dapat meni ngkatkan peran ser ta
masyarakat dal am pemberantasan TPK dan
pembangunan sikap antikorupsi. Untuk mewujudkan
hal tersebut, telah dilaksanakan kegiatan peningkatan
efektivitas dan efisiensi penanganan pengaduan
masyarakat melalui sosialisasi tata cara penyampaian
pengaduan masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan
mampu meni ngkatkan kual i tas penanganan
pengaduan masyarakat.
Penanganan Pengaduan Masyarakat
KPK telah membuka akses seluas-luasnya kepada
masyarakat dalam menyampaikan pengaduan
terjadinya TPK.
Public participation in the context of corruption
eradication is further provided for in Government
Regulation No. 71 of 2000 on Public Participation and
Awards in the Context of Corruption Eradication (Tata
Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan
Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi).
Keeping in mind the importance of public participation,
in order to realize a massive anti-corruption effort in
Indonesia, the KPK has positioned its Rallying Public
Support Strategy as one of its main strategies. It is hoped
that the implementation of this strategy will effectively
disseminate information to the public about anti-
corruption eforts, while helping develop a cooperative
relationship through mechanisms that allow the general
public to play an active role in corruption eradication.
This strategy is intended to heighten the public’s trust in
the handling of corruption complaints so that the public
will be motivated to increase its role in the anti-corruption
effort, thus bolstering the national anti-corruption
culture. It is hoped that this will generate a virtuous circle
that will improve the way in which public complaints are
dealt with.
Responding to Public Support
The KPK strives to provide the widest possible access to the
public in submitting corruption complaints.
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
114 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Complaints can be delivered by various means: personal
delivery to the KPK Ofces, by phone, by post, by email, by
phone text message, and by facsimile.
In 2007 (per December 18
th
), the KPK had received 6.441
complaints. Of that number, 92.76% (5,975) have been
analyzed, with 1,227 complaints (19.05%) containing
indications of corrupt conduct. A total of 508 (7.89%)
complaints have been tranferred to other institutions,
while 184 (2.86%) are being handled by the KPK internally.
In all, 4,748 (73.72%) complaints could not be followed up
on as they were unacceptable as corruption complaints.
This was due to the fact that they were not supported by
enough clear information, including, but not limited to,
the identity and address of the complainant. Such
complaints are, however, still archived in the KPK
public complaints information system in anticipation of
the receipt of future complaints on the same subject that
do contain sufcient information.
Of the 184 (2.86%) complaints the KPK is handling inter-
nally, 122 (66.30%) have been forwarded to the Ofce of
the Deputy for Repression; 48 (26.09%) to the Ofce of
the Deputy for Prevention; and 14 (7.61%) to other
KPK Depar tments. Of the 508 (7, 89%) compl ai nts
transferred to other law enforcement institutions, 136
(26.77%) were forwarded to the Police; 198 (39.98%) to the
AGO; 32 (6.30%) to the BPKP; 37 (7.28%) to Inspectorate
Generals; 74 (14.57%) to the State Audit Board; 5 (0.98%)
to the Supreme Court; and 26 (5.12%) to Regional Audit
Boards (Bawasda).
Pengaduan dapat disampaikan melalui berbagai
media, yaitu penyampaian secara langsung ke
kantor KPK, melalui telepon, pos, surat elektronik
(e-mail), layanan pesan singkat (SMS), dan faksimili (fax).
Di tahun 2007 (per 18 Desember 2007), KPK telah
menerima pengaduan sebanyak 6. 441. Dari
Jumlah tersebut, telah ditelaah 5.975 (92,76%)
pengaduan, dengan hasi l 1. 227 ( 19, 05%)
pengaduan mengandung indikasi TPK. Sejumlah 508
(7,89%) pengaduan telah dikoordinasikan dengan
instansi lain, 184 (2,86%) pengaduan ditindaklanjuti
di internal KPK, 4.748 (73,72%) pengaduan tidak
dapat ditindaklanjuti karena bukan merupakan TPK.
Selain itu, alasan adanya pengaduan yang tidak
dapat ditindaklanjuti adalah karena tidak didukung
data memadai, identitas, dan alamat pelapor yang
jelas. Berkas/dokumen pengaduan yang tidak
dapat ditindaklanjuti tetap disimpan dalam sistem
informasi pengaduan masyarakat, sehingga dapat
dipergunakan sebagai tambahan informasi untuk
materi pengaduan yang sama.
Dari 184 (2,86%) pengaduan yang ditindaklanjuti
di internal KPK, 122 (66,30%) pengaduan diteruskan
ke Deputi Penindakan, sebanyak 48 (26,09%)
pengaduan diteruskan ke Deputi Pecegahan, dan
sebanyak 14 (7,61%) pengaduan diteruskan ke
Bidang lain di KPK. Selanjutnya, dari 508 (7,89%)
pengaduan yang telah dikoordinasikan dengan
instansi terkait, terdistribusi sebagai berikut: 136
(26,77%) kepada Kepolisian, 198 (38,98%) kepada
Kejaksaan, 32 (6,30%) kepada BPKP, 37 (7,28%) kepada
Itjen, 74 (14,57%) kepada BPK, 5 (0,98%) kepada MA,
dan 26 (5,12%) kepada Bawasda.
115 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Rekapi t ul asi Lapor an Pengaduan
Masyarakat Tahun 2007 Menurut Provinsi
Recapitulation of Public Complaints in 2007 by
Province
No
Provinsi 1umIah
%
Province Total
1 Nanggroe Aceh Darussal am 123 1, 91%
2 Sumatera Utara 491 7, 62%
3 Ri au 207 3, 21%
4 Kepul auan Ri au 136 2, 11%
5 Sumatera Barat 111 1, 72%
6 Sumatera Sel atan 250 3, 88%
7 Kep. Bangka Bel i tung 47 0, 73%
8 Jambi 131 2, 03%
9 Bengkul u 82 1, 27%
10 Lampung 155 2, 41%
11 Jawa Barat 567 8, 80%
12 Banten 118 1, 83%
13 Kal i mantan Sel atan 139 2, 16%
14 Kal i mantan Tengah 83 1, 29%
15 Kal i mantan Barat 80 1, 24%
16 Kal i mantan Ti mur 250 3, 88%
17 DKI Jakar ta 1. 170 18, 16%
18 D. I . Yogyakar ta 87 1, 35%
19 Jawa Tengah 474 7, 36%
20 Jawa Ti mur 596 9, 25%
21 Sul awesi Utara 88 1, 37%
22 Sul awesi Sel atan 201 3, 12%
23 Sul awesi Tengah 68 1, 06%
24 Sul awesi Tenggara 64 0, 99%
25 Gorontal o 42 0, 65%
26 Papua 109 1, 69%
27 Bal i 75 1, 16%
28 Nusa Tenggara Barat 129 2, 00%
29 Nusa Tenggara Ti mur 62 0, 96%
30 Mal uku Utara 42 0, 65%
31 Mal uku 60 0, 93%
32 I ri an Jaya Barat 10 0, 16%
33 Sul awesi Barat 41 0, 64%
LN Luar Negeri 17 0, 26%
X Bel um di i denti fi kasi kan asal provi nsi nya 136 2, 11%
1umIah 6. 441 100, 00%
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
116 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penanganan Laporan Pengaduan
Masyarakat Tahun 2007
Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat oleh
Internal KPK Tahun 2007
2007 Public Complaints Handling
Internal Follow-up of Complaints by the KPK
2007
Pencegahan
(Del i vered to
Preventi on):
18 (26, 09%)
Bi dang Lai n
(Del i vered to
Other Dept. ):
122 (66, 30%)
Peni ndakan
(Del i vered to
Prosecuti on):
14 (7, 61%)
Pengaduan
Diterima
(Received
Report)
Pengaduan
DiteIaah
(Reviewed
Report)
8erindikasi
7Pk (Report
with Corruption
Indication)
7indakIanjut
oIeh kPk
(Follow-up by
KPK)
7indakIanjut
Instansi Lain
(Follow-up by
Other
Agencies)
1
u
m
I
a
h

(
T
o
t
a
l
)
6.441
0
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
5.975
1.227
184
508
117 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pengaduan Di teri ma (Received Report)
Beri ndi kasi TPK (Report with Corruption Indication)
Ti ndakl anj ut I nstansi Lai n (Follow-up by Other Agencies)
Follow up of Public Complaints to Other
Institutions 2007
Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat ke
Instansi Lain Tahun 2007
Secara ringkas, rekapitulasi penanganan pengaduan
masyarakat periode 2004-2007 terlihat pada grafk di
bawah.
In brief, the recapitulation for the handling of public
compl ai nt s f or t he per i od of 2004 t o 2007 i s
represented graphically below.
Rekap Penanganan Pengaduan Masyarakat Periode 2004-2007
(Public Complaints Handling 2004-2007)
Kepol i si an (National Police)
Kej aksaan (Attorney General)
BPKP ( The Financial & Dev.
Supervisory Board)
I tj en (Inspectorate General)
BPK ( The Audit Board of the
Republic of Indonesia)
MA (Supreme Court)
Bawasda (Regional
Supervisory Board)
189 (39, 0%)
3
2

(
6
,
3
%
)
3
7
(7
, 3
%
)
14%
130(26, 8%)
5 (1, 0%)
26 (5, 1%)
6. 441
5. 975
6. 837
7. 361
2. 281
8. 000
7. 000
6. 000
5. 000
4. 000
3. 000
2. 000
1. 000
-
1. 466
1. 080
2004 2005 2006 2007
13
90
171
184
508
643
1. 628
2. 466
1. 284
1. 227
6. 938
Pengaduan Di tel aah (Reviewed Report)
Ti ndakl anj ut ol eh KPK (Follow-up by KPK)
1
u
m
I
a
h

(
T
o
t
a
l
)
-
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
118 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Socialization of the Public Complaints System
The KPK has conducted a series of socialization activities,
as well as events to improve the public’s understanding of
corruption eradication. These have included a public anti-
corruption campaign through formal and non-formal
education programs; cooperation with community
institutions; information exchange; and by establishing a
database on the profle of corruption. These activities have
been carried out in Pekanbaru, Surabaya, Yogyakarta, and
Makassar.
With these activities, it is hoped that behavioural change
will begin to occur, specifcally, positive changes in respect
of the social system, social rules, and anti-corruption
values that will allow the public to become more active
in implementing social control over potentially corrupt
practices within their own environments. It is expected
that these changes will lead to a greater public willingness
to report indications of corruption to the law enforcement
agencies.
Media Support for KPK
Sosialisasi Pengaduan Masyarakat
KPK melaksanakan serangkaian kegiatan sosialisasi
dan peni ngkatan pemahaman masyarakat
mengenai pemberantasan korupsi seper ti
kampanye publ i k anti korupsi , bai k mel al ui
pendi di kan formal maupun nonformal, kerja sama
dengan lembaga kemasyarakatan, pertukaran
informasi, dan penyediaan database profl korupsi.
Kegiatan dimaksud telah dilaksanakan di beberapa
kota, yakni di Pekanbaru, Surabaya, Yogyakarta, dan
Makassar.
Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta
perubahan perilaku, sistem kemasyarakatan,
pranata sosial, serta nilai-nilai kehidupan yang
antikorupsi sehingga masyarakat dapat berperan
lebih aktif dalam melaksanakan kontrol sosial
terhadap praktik-praktik TPK di lingkungannya
serta meningkatnya keberanian untuk melaporkan
indikasi TPK kepada instansi penegak hukum.
Dukungan Media Massa terhadap KPK
119 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Penggalangan Dukungan Masyarakat
Rallying Public Support
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
120 Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
122
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
KPK mendapatkan dukungan dana Rupiah Murni
APBN sebesar Rp259,03 miliar
Untuk melaksanakan berbagai program
kegiatan tahun 2008, KPK mendapatkan
dukungan dana Rupiah Murni APBN
sebesar Rp259,03 miliar, dengan alokasi
43,34% untuk Belanja Pegawai, 44,28%
untuk Belanja Barang, dan 12,38% un-
tuk Belanja Modal.
Dukungan dana tersebut akan dialokasikan
untuk berbagai kegiatan pemberantasan
korupsi pada tahun 2008 yang dikelompokkan
ke dalam enam program dengan perincian
tiap-tiap kegiatan/sub kegiatan sebagai
berikut:
In order to undertake its various programs
and activities, in 2008 the KPK will receive
IDR259.03 billion from the state budget
(APBN), with an allocation of 43.34% for
personnel expenditure, 44.28% for material
expenditure, and 12.38% for capital
expenditures.
Based on the aforementioned funding, cor-
ruption eradication activities in 2008 will be
grouped into six programs, with the details
being as follows:
In 2008 the KPK will receive IDR259.03 billion
from the state budget (APBN)


Belanja Barang
(Material Expenditure)
44,28%
Belanja Modal
(Capital Expenditure)
12,38%
Belanja Pegawai
(Personnel Expenditure)
43,34%
53,58%
9,41%
12,33%
4,84%
6,78%
13,07%
Penegakan Hukum dan HAM
Law Enforcement & Human Rights
Peningkatan Kesadaran Hukum dan HAM
Improved Legal & Human Rights Awareness
Peningkatan Kualitas Profesi Hukum
Legal Profession Reform
Perencanaan Hukum
Legal Planning
Peningkatan Sarana dan Prasarana
Facilities & Infrastructure Improvement
Penerapan Kepemerintahan yang Baik
Good Governance Implementation
123
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
Program Penegakan Hukum dan HAM
Program ini bertujuan meningkatkan kepercayaan
publik terhadap upaya pemberantasan korupsi di
Indonesia. Sasaran program ini adalah: (a) meningkatnya
penyelesaian kasus TPK; (b) meningkatnya koordinasi
dan supervisi dengan lembaga penegak hukum lainnya;
dan (c) meningkatnya jumlah pengembalian kerugian
negara yang diakibatkan oleh TPK. Untuk program ini
dialokasikan dana sebesar Rp24,295 miliar (9,41%).
Berbagai kegiatan yang direncanakan dalam program
ini meliputi: supervisi dan koordinasi penanganan
perkara TPK; penyelidikan, penyidikan dan penuntutan
kasus TPK; eksekusi putusan pengadilan yang telah
inkracht; perlindungan saksi; bantuan teknis penyelidikan
dan penyidikan TPK; penyelenggaraan rapat koordinasi
dan konsultasi; serta penyelenggaraan diskusi dan
seminar pemberantasan korupsi.
Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan HAM
Dana sebesar Rp31,841 miliar (12,33%) dialokasikan
untuk program yang bertujuan membangun budaya
antikorupsi ini. Sasaran program peningkatan
kesadaran hukum dan HAM adalah: (a) meningkatnya
partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi;
(b) terlaksananya pengawasan yang baik terhadap
kekayaan Pejabat/PN; dan (c) terlaksananya penelaahan
dan tindak lanjut terhadap pengaduan masyarakat.
Untuk melaksanakan program tersebut, telah
direncanakan: (a) kegiatan penanganan pengaduan
masyarakat tentang TPK, yang terdiri dari operasional
pencegahan korupsi di daerah, pengumpulan bahan
dan keterangan tambahan, penguatan jaringan kerja
dan kemitraan, supervisi dan koordinasi penanganan
TPK, serta rapat koordinasi; (b) kegiatan pengelolaan
LHKPN, yang terdiri dari penyuluhan dan penyebaran
informasi, pemutakhiran data LHKPN, pengadaan
formulir LHKPN, pemeriksaan LHKPN, pengumuman
LHKPN dalam BN/TBN, serta pengumpulan bahan dan
keterangan tambahan; (c) kegiatan pengelolaan gratifkasi,
yang terdiri dari penyuluhan dan penyebaran informasi,
penyediaan perangkat penanganan gratifkasi, serta
pemeriksaan gratifkasi; (d) kegiatan pendidikan dan
sosialisasi pemberantasan korupsi, yang terdiri dari
penyelenggaraan humas dan protokol, penyuluhan
dan penyebaran informasi, penyediaan perangkat
Law Enforcement and Human Rights Program
This program is intended to increase public confdence in
the corruption eradication effort in Indonesia. The
objectives of the program are as follows: (a) increasing
the number of corruption cases solved; (b) increasing
coordination with, and supervision of, other law enforcement
agencies; and (c) increasing the value of recovered state
losses. The program has a budget allocation of IDR24.295
billion (9.41%).
Program activities include supervision and coordination
eforts in corruption cases; the execution of conclusive
judicial decisions; witness protection; technical assistance
for preliminary investigations and investigations;
coordinating meetings and consultations; and the holding of
anti-corruption discussions, seminars and informal talks.
Improved Legal and Human Rights Awareness
Program
IDR31.841 billion (12.33%) will be allocated to this
program, which is designed to build a culture of an-
ti-corruption. The objectives of the program are to: (a)
increase public participation in corruption eradication;
(b) achieve efective supervision as regards the wealth of
State and Government Ofcials; and (c) achieve efective
analysis and follow-up of public complaints.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
124
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
sosialisasi, pembuatan dan penayangan public service
advertisement (PSA), dan workshop dalam rangka
percepatan pemberantasan korupsi.
Program Peningkatan Kualitas Profesi Hukum
Dengan alokasi dana sebesar Rp17.508 miliar (6,78%),
program ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja
SDM KPK dalam rangka pemberantasan korupsi. Sasaran
yang ingin dicapai adalah terciptanya SDM KPK, khususnya
penegak hukum, yang profesional dan berkualitas.
Kegiatan yang direncanakan adalah pendidikan dan
pelatihan teknis, penyelenggaraan ceramah/diskusi/
seminar, penyelenggaraan sidang/konferensi internasional
di dalam maupun luar negeri, penelitian dan pengembangan
hukum, penguatan kelembagaan, dan penyempurnaan
standar audit kode etik internal audit.
For the purposes of implementing this program, the
following activities are planned: (a) activities concerning
the handling public corruption complaints, composed of
anti-corruption operations in provincial areas, collection
of material and extra information, strengthening work
networks and partnerships, supervision and coordination
of corruption eradication, and coordination meetings at
various levels; (b) LHKPN (wealth reports of public ofcials)
management activities, composed of the following: holding
education seminars and information dissemination;
updatingLHKPN data; procuring LHKPN forms; checks/
follow-ups on submitted LHKPNs; LHKPN announcements
in the State Gazette and State Gazette Supplement; and
collecting material and additional information; (c) gratuity
management activities, composed of: holding education
seminars and information dissemination; assigning
special ofcers to deal with gratuities and examining
gratuity reports; (d) corruption eradication education
activities, composed of developing Human Resources and
Protocol, holding educational seminars and information
dissemination; supplying socialization materials; production
and broadcasting of Public Service Announcements, and
holding workshops in the context of accelerating the
national anti-corruption efort.
Legal Profession Reform Program
With a budget allocation of IDR17.508 billion (6.78%), this
program is intended to improve the performance of KPK
human resources in the context of corruption eradication.
The main objective is the creation of KPK human resources,
specifcally law enforcers, that are professional and of high
quality.
Activities planned to support the achievement of this
objective include: technical education and training;
arranging events such as speeches, discussions, seminars,
and informal meetings that focus on quality improvements
within the legal professions; arranging international
events, such as conferences in Indonesia or abroad that
address such quality improvements; legal research and
development; fnding ways to strengthen institutions; and
perfecting the auditing standards for internal code of ethics
audits.
125
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
Program Perencanaan Hukum
Terciptanya refomasi sektor publik menjadi tujuan
dari program yang mendapatkan alokasi dana sebesar
Rp12,488 miliar (4,84%) ini. Sasaran yang akan di-
wujudkan program ini adalah terselenggaranya kerja
sama antarinstansi pemerintah/lembaga/swasta da-
lam rangka pemberantasan korupsi, terlaksananya
reformasi birokrasi melalui pengkajian dan evaluasi
pelayanan publik lembaga negara, serta pemantauan
pelaksanaan tugas instansi/lembaga.
Kegiatan yang direncanakan untuk pelaksanaan
program ini adalah: (a) pengkajian sistem pelayanan
publik instansi/lembaga; (b) penyelenggaraan
penelitian dan pengembangan yang terdiri dari studi
kebijaksanaan; penjalinan kerjasama dengan institusi
lain; serta bimbingan teknis, evaluasi, dan permodelan
Good Governance; (c) kegiatan peningkatan efektivitas
dan efsiensi pengawasan, yang terdiri dari audit dan
penyelidikan internal KPK; dan (d) perencanaan/
penyusunan/pengembangan program dan sistem
prosedur yang terdiri dari penyusunan/perumusan
sistem dan prosedur teknis, dan peremajaan hardware
dan software.
Legal Planning Program
The bringing about of real public sector reform is the
objective of this program, which, has a budget allocation
of IDR12,488 billion (4.84%). The objectives of the program
are as follows: forging cooperation between agencies in
the public, institutional and private sectors in the context
of corruption eradication, and the implementation of
bureaucracy reform through analysis and evaluation of
public and state institutions, as well as supervising how
such institutions discharge their duties and obligations.

The following activities are planned as part of this
Program are: (a) evaluations of the public service
systems of public institutions and agencies; (b) research
and development activities, composed of the following
sub-activities: policy analysis; cultivation of cooperation
with other institutions; and technical guidance, evaluation
and modeling for Good Governance; (c) activities to
increase the efectiveness and efciency of supervision,
including the conducting of internal audits and investigations
within the KPK; and (d) activities to plan, structure and
develop procedural programs and systems, including
structuring and formulating technical systems and
procedures; and maintaining and updating hardware
and software.
Laporan Tahunan /Annual Report 2007
126
Pemberdayaan Penegakan Hukum / Empowering Law Enforcement
Program Kerja 2008
2008 Work Program
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana
Untuk program yang bertujuan meningkatkan
produktivitas KPK ini, dialokasikan dana sebesar
Rp33,746 miliar (13,07%). Sasaran yang akan dicapai
adalah tersedianya unit ruang pelatihan, serta tersedianya
peralatan dan sistem yang memadai. Pelaksanaan
program ini rencananya akan dilakukan dengan kegiatan
perekayasaan perangkat lunak, pengadaan peralatan
TI, pengadaan buku perpustakaan, rehabilitasi bangunan
gedung negara, dan pengadaan peralatan penunjang
operasional.
Program Penerapan Kepemerintahan yang Baik
Dengan alokasi dana sebesar Rp138,380 miliar
(50,58%) dan bertujuan demi terselenggaranya
kegiatan operasional KPK. Adapun kegiatan yang
akan dilaksanakan adalah: (a) pengelolaan gaji,
hononarium, dan tunjangan; dan (b) kegiatan
penyelenggaraan operasional perkantoran, yang
terdiri dari operasionalisasi poliklinik , rapat koordinasi
dan konsultasi, penyewaan jaringan telekomunikasi
(leased channel) satelit, perawatan sarana dan gedung
kantor, perawatan kendaraan bermotor, pengadaan
perlengkapan kantor, penyewaan gedung kantor/
peralatan/kendaraan, berlangganan daya dan jasa, dan
kegiatan operasional lainnya.
Facilities and Infrastructure Improvement Program
This program will be implemented for the purpose of
increasing the KPK’s productivity, and will have a budget
of IDR33.746 billion (13.07%). The objectives of the
program are as follows: the establishment of one training
center, and the procurement of appropriate equipment
and systems. In order to implement this program, the
development, procurement and improvement of facilities
and infrastructure are planned, which will include
the following sub-activities: software development; IT
equipment procurement; library materials procurement;
building rehabilitation work; and the procurement of
operational support equipment.
Good Governance Implementation Program
With a budget allocation of IDR138.380 billion (50.58%),
this program is intended to enhance the KPK’s operational
work. Activities will include: (a) salary, honorarium, and
allowances management; and (b) ofce improvements,
including the provision of a clinic; holding coordination
and consultation meetings; the renting of a satellite leased
channel; maintenance of ofce building and facilities;
maintenance of vehicles with 2, 4, 6, and 10 wheels;
procurement of ofce equipment; building, equipment,
and vehicle rental; power and services subscriptions; and
other operational needs.
.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->