Anda di halaman 1dari 3

dan axis laring ke garis lurus an arbitrary.

Pasien diminta untuk menahan kepala, menghadap langsung ke depan, kemudian pasien diminta untuk mengekstensikan kepala secara maksimal dan pemeriksa memperkirakan sudut yang dilalui oleh penutupan permukaan gigi atas. Pengukuran dapat dilakukan cara sederhana perkiraan visual atau yang lebih akurat dengan sebuah goniometer. Tingkatan dalam pengurangan sudut ekstensi dibagi menjadi : Grade I:> 35 Grade II : 22-34 Grade III : 12-21 Grade IV : < 12 sudut normal perpanjangan adalah 35 atau lebih5,6 3. Mandibula ruang i. Jarak Thyromental (tes Patil) merupakan jarak dari dagu ke tepi tiroid ketika pasien mengekstensikan lehernya secara maksimal. Pengukuran ini membantu dalam menentukan axis laring yang jatuh di garis axis paring ketika atlanto occipital joint dalam posisi ekstensi. Alignment kedua sumbu sulit jika jarak TM <breadths jari 3 atau <6 cm orang dewasa; 6-6,5 cm tidak terlalu sulit, sementara> 6,5 cm adalah normal.

ii. Jarak Sterno-mental : Savva (1948) perkiraan jarak dari tepi suprasternal ke dagu dengan menyelidiki korelasinya terhadap klasifikasi Mallampati, tonjolan rahang, interincisor gap dan jarak thyromental. Pengukuran ini dilakukan dengan cara kepala ekstensi secara maksimal dan mulut ditutup. Penilaian kurang dari 12 cm memprediksi sulit dilakukan intubasi. iii. jarak Mandibulo-hyoid (gbr. 2) mengukur panjang mandibula dari dagu (mental) ke hyoid yang memiliki nilai harus paling sedikit 4 cm atau tiga breadths jari. Diketahui bahwa laringoskopi yang menjadi lebih sulit karena peningkatan jarak vertikal antara mandibula dan tulang hyoid.

Fig.2 : The hyoid chin distance

iv. jarak Inter-insisivus Ini adalah jarak antara gigi seri atas dengan gigi seri bawah. Normalnya adalah 4,6 cm atau lebih, sedangkan> 3,8 cm dapat terjadi kesulitan jalan napas. Wilson dkk mengembangkan sistem skor lain, dimana mereka membaginya menjadi 5 variabel yaitu berat,kepala, gerakan leher dan rahang, resesi mandibula, atau tidak adanya gigi buck. Skor resiko skor dikembangkan antara 0 sampai 10. Mereka menemukan bahwa semakin tinggi resikoskor , semakin besar akuratnya prediksi dengan lebih rendah proporsi positif palsu. Arne dkk membuat sisitem penilaian baru yang berdasarkan analisis multifactor. Selain indicator Wilson dkk di atas, penilaian ini juga meliputi ada atau tidak adanya patologi pada jalan nafas. Sensitivitas dan spesifisitas tingkat sistem ini di atas 90%. Penilaian jalan nafas berdasarkan skor LEMON (gbr. 3) skor maksimal 10 poin dengan memberikan 1 point untuk masing-masing LEMON, berikut ini kriterianya : L = Look externally / penampilan luar (trauma wajah, gigi seri besar, jenggot or moustache, large tongue) atau kumis, lidah besar) E = Evaluate / Evaluasi aturan 3-3-2 (jarak insisivus jarak-3 jari breadths, hyoid- mental jarak-3 breadths jari, tiroid-ke-mulut jarak-2 breadths jari) M = Mallampati (skor Mallampati > 3). O = Obstruction / obstuksi (adanya kondisi seperti epiglottitis, peritonsillar abses, trauma). N = Neck mobility / mobilitas leher (keterbatasan mobilitas pada leher) Pasien yang termasuk kelompok intubasi sulit memiliki skor LEMON yang lebih tinggi.

Fig. 3 : LEMON airway assessment method ; 1 = Inter-incisor distance in fingers, 2 = Hyoid mental distance in fingers, 3 = Thyroid to floor of mouth in fingers

B. laringoskopi Langsung dan bronkoskopi fibreoptic Kesulitan dalam intubasi dapat diklasifikasikan menurut tampilan yang diperoleh selama laringoskopi langsung ke 4 nilai. 4 nilai dari laryngoscopic didefinisikan by Cormack and Lehane (1984) oleh Cormack dan Lehane (1984).