Anda di halaman 1dari 2

Stress...

Siapa yang tidak mengenal kata ini? Di jaman modern ini, semua orang bisa dan pernah mengalaminya, bahkan anak-anak sekalipun. Ya, anak-anak pun bisa mengalami stress. Orang sering mengabaikan stress yang dialami anak karena mengira bahwa anak-anak masih terlalu kecil untuk memiliki masalah. Namun di jaman modern ini, tidak naik kelas, menunggak SPP, dan kurikulum yang terlalu padat bisa menimbulkan stress pada anak-anak. Inti dari stress adalah tekanan yang dialami oleh seseorang akibat rasa terancam atau hilangnya rasa aman. Penyebab atau sumber stress disebut sebagai stressor. Stressor yang lazim di antaranya adalah sbb: Pola asuh orang tua authoritarian (otoriter). Orang tua mengasuh tanpa memberi anak kebebasan, dan memaksa anak agar memenuhi tuntutan orangtua, bahkan menganiaya anaknya. Pertengkaran antarorang tua. Ini dapat menyebabkan ketakutan pada anak, karena seorang anak mendambakan kasih sayang orang di sekelilingnya, terutama orangtuanya, untuk membuatnya merasa aman dan terlindung.

Perubahan komposisi keluarga, di antaranya adalah perpisahan/ perceraian orang tua dan hadirnya anggota keluarga baru. Ini menjadikannya cemas mengenai keutuhan pembagian kasih sayang. Penolakan dari sebayanya. Anak memiliki kebutuhan untuk diterima di lingkungan pergaulannya, kadang-kadang temantemannya menetapkan suatu standar yang sulit dipenuhi anak untuk bisa masuk dalam lingkaran pertemanan yang diinginkannya. Ancaman kekerasan sering dialami anak dalam kasus bullying terutama pada anak-anak yang secara fisik cenderung lemah atau tidak ideal, memiliki kepribadian yang berbeda, memiliki kelebihan dalam hal finansial, dll. Tuntutan akademis yang melampaui kemampuan anak. Misalnya, dituntut untuk selalu juara kelas, dibanding-bandingkan dengan saudaranya atau teman sekelas lainnya, ditakut-takuti dengan kemungkinan tidak naik kelas atau tidak lulus, kurikulum terlalu padat, dll. Beban kegiatan yang berlebihan, misalnya sudah memiliki pekerjaan, les setiap hari bahkan sehari bisa lebih dari sekali, dll.

Tanda-tanda stress pada anak bisa bermacam-macam, namun biasanya dikenali sebagai perubahan dari kondisi normal, di antaranya adalah sbb: Perubahan pada tidurnya: Sulit tidur, mimpi buruk, mudah terjaga tiba-tiba di waktu malam, mengompol, dll Perubahan pada pencernaannya: Kehilangan nafsu makan, mual-muntah, nyeri pada perut, diare, dll. Perubahan pada bergaulnya: Lebih pendiam, menarik diri, bertengkar dengan teman atau anggota keluarga yang lain, dll. Perubahan pada belajarnya: Nilai-nilai menurun, hilang konsentrasi, enggan bersekolah, tugas tidak tuntas, dll Perubahan pada pola berperilaku: Membangkang, merusak, marah-marah, terlihat gelisah, mengabaikan tugas sehari-hari, tidak disiplin, dll. Dan lain-lain gangguan fisik, seperti pusing, kelumpuhan, dll yang tidak ditemukan penyebabnya secara pasti.

Jika menduga anak mengalami stress, apa yang sebaiknya dilakukan? Introspeksi, mungkin ada tuntutan yang berlebihan atau pola asuh yang terlalu kaku/keras, bisa juga komunikasi yang tidak terbuka, dll. Coba selidiki di lingkungan luar rumah, misalnya di sekolah, apakah ada guru yang dianggap terlalu galak, pernah dihukum terlalu keras, ada teman sekolah yang melakukan pemalakan/ pemeloncoan/ premanisme, ditolak teman-temannya, dll. Untuk itu, kerja sama yang baik dengan pihak sekolah amat diperlukan. Perbaiki pola asuh dan cara berkomunikasi menjadi lebih demokratis dan terbuka. Bisa dicoba menjelaskan kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami anak, akan tetapi perlu diingat bahwa inti komunikasi yang baik adalah menyimak, bukan bicara. Konsultasikan dengan psikolog klinis anak untuk membantu menegakkan diagnosis dan cara mengatasinya Bila perlu, konsultasikan dengan psikiater untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan Jika anak diduga mengalami stress, apa yang sebaiknya TIDAK dilakukan? Meremehkan atau mengabaikan, berharap akan berlalu dengan sendirinya.

Menduga yang terburuk terlalu cepat, juga bereaksi berlebihan atau panik, karena hanya akan menambah beban pada pikiran anak. Mendesak anak untuk terbuka dengan cara apapun, termasuk mengkhotbahi, mengancam, melakukan pemerasan emosional, dll Mencari-cari siapa yang salah, melempar kesalahan, menyalahkan pasangan, dan menyalahkan diri sendiri. Pasif, menyerahkan masalah hanya pada pasangan/ profesional/ sekolah, hanya mau tau beres. Menempuh cara mudah, misalnya mengatakan Jangan begini atau Harus begitu. Tidak semua stressor bisa dicegah, tapi orang tua bisa menguranginya dan anak bisa dilatih untuk mengatasinya dengan cara sbb: Menerapkan pola asuh authoritative dan pola komunikasi yang hangat dan terbuka Menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan Bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memantau kegiatan dan perilaku anak Mendampingi anak dalam mengatasi masalahnya sendiri. Membantu anak mengatur kegiatan rutinnya jika perlu.

PEMERINTAH KOTA SURABAYA RSUD dr MOHAMAD SOEWANDHIE POLI PSIKOLOGI


Jl. Tambak Rejo No. 45 - 47 Lt. 2 Telp. (031) 3717141 ext. 201 Fax. (031) 3713651

SURABAYA