Anda di halaman 1dari 14

NIFAS FISIOLOGIS (POST PARTUM)

A.

PENGERTIAN Postpartum (masa nifas) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Kejadian yang terpenting dalam nifas adalah involusi dan laktasi. Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Sarwono, 2002 : 122) Nifas dibagi dalam 3 periode : 1. Pueperperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. 2. Pueperperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetika yang lamanya 6-8 minggu. 3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil/waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulan-bulanan atau tahunan . (Mochtar, 1998: 155) Perubahan Fisik Pada Masa Nifas 1. a. Sistem Reproduksi Involusio

Adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan sebelum hamil dan melahirkan. Proses : jaringan ikat dan otot mengalami proses proteolitik / autolisis Yaitu suatu proses dimana endometrium mengalami pemecahan protein yang nantinya akan di absorbsi dan dibuang melalui urine maupun PPV. Proses proteolitik mengakibatkan ukuran uterus berangsur-angsur pulih seiring dengan with drawa estrogen sehingga oxytosin meningkat kontraksi konstan involusi. b. Lochea Adalah merupakan hasil konsepsi (sekret) yang dikeluarkan melalui vagina yang mengandung darah, desidua, dosis trofoblast, bakteri. c. Laktasi Adalah pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Proses pengeluaran ASI ada 2 : 1) Maternal

a)Reflek Prolaktin Sewaktu bayi menyusu, rangsangan dari ujung saraf sensorik puting susu dikirim ke hipotalamus yang akan memacu keluarnya hormon prolaktin yang kemudian merangsang sel kelenjar memproduksi ASI. Menyusukan dengan kerap adalah cara terbaik untuk mendapatkan ASI dalam jumlah banyak. b)Let down reflek Keluarnya air susu karena kontraksi rahim yang membantu lepasnya placenta dan mengurangi perdarahan. Oleh karena itu setelah dilakukan, bayi perlu disusukan ibunya jika mungkin. 2) Pada bayi a)Rooting reflek b)Reflek menghisap Terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit-langit pada mulut bayi, biasanya puting susu. c)Reflek menelan Timbul bila ada cairan di rongga mulut. (Monsjoer. dkk, 1999: 322) 2. Sistem Cardiovaskuler

Pada ibu hamil cenderung terjadi hipervolemia, kenaikan darah kurang lebih 40 % untuk persendian kelahiran. Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300 400 cc, bila kelahiran melalui section caesaria kehilangan darah dapat dua kali lipat. Perubahan yang terdiri dari blood volume (volume darah) dan hematokrit (haemocosentrasi) dan akan kembali normal setelah 4-6 minggu. Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini menimbulkan beban jantung dapat menimbulkan decompensatio cordis pada penderita vitium cordis. Untuk keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya haemoconsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala umumnya hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima hari post partum. 3. Sistem Pencernaan Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan, alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan calon menjadi kosong, pengeluaran yang berlebihan pada waktu persalinan, kurang makan, laserasi jalan lahir. Untuk mengatasinya dapat diberikan diet tinggi serat dan pemberian cairan cukup. Jika

dalam waktu 2 atau 3 hari belum dapat BAB dapat diberikan huknah atau obat laxantia yang lain. 4. Sistem Perkemihan Dinding kandung kemih memperlihatkan oedema dan hyperema kadang-kadang oedema tergonium, menimbulkan obstruksi dari urethra sehingga terjadi retensio urine. Dialatasi ureter dan pyllum normal kembali dalam waktu 2 minggu. (Saifuddin, 2002 : 123)

B.

PATOFISIOLOGI:
Post partum/masa nifas/puerperium

Aspek fisiologis

Aspek psikososial

Tanda vital

Sist.kardiovaskuler

Sist.endokrin

Sist.urinaria

Kelahiran bayi

Sist.pencernaan

Sist.muskuloskletal

Reproduksi

Perubahan dalam keluarga

Adaptasi Suhu meningkat Breast engorgement Sensasi eks.bawah Tromboplebitis Edema Nyeri Resiko infeksi puerperalis Nafsu makan Meningkat Penurunan tonus abdomen Prod. Hormon turun. Prolaktin meningkat Prod. ASI Resiko konstipasi Resiko ggn. Proses parenting Ggn. Eleminasi BAK Ggn. Pemenuhan ADL Diuresis Urgensi Urinary frekuency

Tidak beradaptasi

Resiko ggn.proses parenting

Resiko gangguan proses laktasi

Bradikardia Takikardia Instability vasomotor Diaporesis/menggigil Gangguan rasa nyaman Resiko infeksi puerperalis

Involusi uteri involusi daerah impalntasi plasenta Cerviks Perubahan pd. vagina Kencang pd clitoris dan labia Luka perineum Pengeluaran kolostrum.

Ggn.rasa nyaman(nyeri) Resiko ggn proses laktasi

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) b) c) d) e) Kondisi uterus: palpasi fundus, kontraksi, TFU. Jumlah perdarahan: inspeksi perineum, laserasi, hematoma. Pengeluaran lochea. Kandung kemih: distensi bladder. Tanda-tanda vital: Suhu 1 jam pertama setelah partus, TD dan Nadi terhadap penyimpangan cardiovaskuler.

4. Diagnosa Keperawatan:
1. Resiko defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan; perdarahan; diuresis; keringat berlebihan. 2. Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) b/d trauma perineum dan saluran kemih. 3. Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) b/d kurangnya mobilisasi; diet yang tidak seimbang; trauma persalinan. 4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d peregangan perineum; luka episiotomi; involusi uteri; hemoroid; pembengkakan payudara. 5. Resiko infeksi b/d trauma jalan lahir. 6. Resiko gangguan proses parenting b/d kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi. 7. Gangguan pemenuhan ADL b/d kelemahan; kelelahan post partum.

5. RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan


Resiko defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan; perdarahan;

Tujuan dan Kriteria Hasil


Pasien Kriteria manifestasi dapat mendemostrasikan tak ada Pantau: resolusi status cairan membaik. evaluasi: dehidrasi,

Rencana Intervensi
Mengidentifikasi Tanda-tanda vital setiap 4 jam. Warna urine. Berat badan setiap hari. Status umum setiap 8 jam.

Rasional
penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

diuresis; keringat berlebihan.

oedema, haluaran urine di atas 30 ml/jam, kulit kenyal/turgor kulit baik.

Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus, takikardia, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap atau encer gelap. Konsultasi dokter bila manifestasi kelebihan cairan terjadi. Pantau: cairan masuk dan cairan keluar setiap 8 jam.

Temuan-temuan ini mennadakan hipovolemia dan perlunya peningkatan cairan. Mencegah pasien jatuh ke dalam kondisi kelebihan cairan yang beresiko terjadinya oedem paru. Mengidentifikasi keseimbangan cairan pasien secara adekuat dan teratur. Mengidentifikasi penyimpangan dalam pola berkemih pasien. Ambulasi dini memberikan rangsangan untuk pengeluaran urine dan pengosongan bladder. Membasahi bladder dengan air hangat dapat mengurangi ketegangan akibat adanya luka pada bladder. Menerapkan pola berkemih secara teratur akan melatih pengosongan bladder secara teratur. Minum banyak mempercepat filtrasi pada glomerolus dan mempercepat pengeluaran urine. Kateterisasi memabnatu pengeluaran urine untuk mencegah

Perubahan

pola

eleminasi

Pola teratur.

eleminasi hasil:

(BAK) eleminasi

pasien BAK

Kaji haluaran urine, keluhan serta keteraturan pola berkemih. Anjurkan pasien melakukan ambulasi dini. Anjurkan pasien untuk membasahi perineum dengan air hangat sebelum berkemih. Anjurkan pasien untuk berkemih secara teratur. Anjurkan pasien untuk minum 2500-3000 ml/24 jam. Kolaborasi untuk melakukan kateterisasi bila

BAK (disuria) b/d trauma perineum dan saluran kemih.

Kriteria

lancar, disuria tidak ada, bladder kosong, keluhan kencing tidak ada.

Perubahan BAB kurangnya persalinan.

pola

eleminasi b/d diet

Pola eleminasi (BAB) teratur. Kriteria hasil: pola eleminasi teratur, feses lunak dan warna khas feses, bau khas feses, tidak ada kesulitan BAB, tidak ada feses bercampur darah dan lendir, konstipasi tidak ada.

pasien kesulitan berkemih. stasis urine. Kaji pola BAB, kesulitan BAB, warna, bau, Mengidentifikasi penyimpangan serta kemajuan dalam pola konsistensi dan jumlah. Anjurkan ambulasi dini. eleminasi (BAB). Ambulasi dini merangsang pengosongan rektum secara lebih cepat. Anjurkan pasien untuk minum banyak 2500-3000 Cairan dalam jumlah cukup mencegah terjadinya penyerapan ml/24 jam. Kaji bising usus setiap 8 jam. Pantau berat badan setiap hari. cairan dalam rektum yang dapat menyebabkan feses menjadi keras. Bising usus mengidentifikasikan pencernaan dalam kondisi baik. Mengidentifiakis adanya penurunan BB secara dini.

(konstipasi) mobilisasi;

yang tidak seimbang; trauma

Anjurkan pasien makan banyak serat seperti buah- Meningkatkan pengosongan feses dalam rektum. Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan. ADL dan kebutuhan beraktifitas pasien terpenuhi secara adekuat. Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas. Kelemahan dan kelelahan berkurang. Kebutuhan dengan bantuan. frekuensi jantung/irama dan Td dalam batas normal. kulit hangat, merah muda dan kering ADL terpenuhi secara mandiri atau dasar buahan dan sayur-sayuran hijau. Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi 20/mnt di atas frek nadi istirahat, catat peningaktan TD, dispnea, nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pinsan. Tingkatkan istirahat, batasi aktifitas pada nyeri/respon Kaji aktifitas peningaktan Dorong kesiapan hemodinamik, untuk TD berikan aktifitas senggang yang tidak berat. meningkatkan penurunan stabil/frek aktifitas nadi, dan memajukan aktifitas/toleransi Komsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan pada Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas individu. contoh: perhatian Menurunkan kerja miokard/komsumsi oksigen , menurunkan resiko komplikasi. Parameter menunjukkan respon fisiologis pasien

terhadap stres aktifitas dan indikator derajat penagruh kelebihan kerja jnatung.

kelemahan/kelelahan, perawatan diri.

perawatan diri. Anjurkan keluarga untuk membantu

aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung. Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Aktifitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningaktkan regangan dan mencegah aktifitas berlebihan.

pemenuhan kebutuhan ADL pasien. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst. Gangguan (nyeri) involusi rasa b/d uteri; nyaman peregangan hemoroid; Pasien mendemonstrasikan tidak adanya nyeri. Kriteria hasil: vital sign dalam batas normal, pasien menunjukkan peningkatan aktifitas, keluhan nyeri terkontrol, payudara lembek, tidak ada bendungan ASI. Anjurkan pasien untuk membasahi perineum dengan air hangat sebelum berkemih. Anjurkan dan latih pasien cara merawat payudara secara teratur. Jelaskan pada ibu tetang teknik merawat luka perineum dan mengganti PAD secara teratur setiap 3 kali sehari atau setiap kali lochea keluar banyak. Kolaborasi dokter tentang pemberian analgesik bial Resiko infeksi b/d trauma jalan lahir. Infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil: tanda infeksi tidak ada, luka episiotomi kering dan bersih, takut berkemih dan BAB tidak ada. Kaji pengeluaran lochea, warna, bau dan jumlah. Kaji luka perineum, keadaan jahitan. nyeri skala 7 ke atas. Pantau: vital sign, tanda infeksi. Kaji tingkat nyeri pasien. Kaji kontraksi uterus, proses involusi uteri.

Menentukan intervensi keperawatan sesuai skala nyeri. Mengidentifikasi penyimpangan dan kemajuan berdasarkan involusi uteri. Mengurangi ketegangan pada luka perineum. Melatih ibu mengurangi bendungan ASI dan memperlancar pengeluaran ASI. Mencegah infeksi dan kontrol nyeri pada luka perineum.

perineum; luka episiotomi; pembengkakan payudara.

Mengurangi intensitas nyeri denagn menekan rangsnag nyeri pada nosiseptor. Mengidentifikasi penyimpangan dan kemajuan sesuai intervensi yang dilakukan. Mengidentifikasi kelainan pengeluaran lochea secara dini. Keadaan luka perineum berdekatan dengan daerah basah mengakibatkan kecenderunagn luka untuk selalu kotor dan

Anjurkan pasien membasuh vulva setiap habis berkemih dengan cara yang benar dan mengganti PAD setiap 3 kali perhari atau setiap kali pengeluaran lochea banyak. Pertahnakan teknik septik aseptik dalam merawat pasien (merawat luka perineum, merawat payudara, Resiko parenting pengetahuan merawat bayi. gangguan b/d tentang proses cara Gangguan proses parenting tidak ada. Kriteria hasil: ibu dapat merawat bayi secara mandiri (memandikan, menyusui). Latih ibu untuk perawatan payudara secara mandiri dan teratur. Motivasi ibu untuk meningkatkan intake cairan dan diet TKTP. Lakukan rawat gabung sesegera mungkin bila tidak terdapat komplikasi pada ibu atau bayi. merawat bayi). Beri kesempatan ibu untuk melakuakn perawatan bayi secara mandiri. Libatkan suami dalam perawatan bayi.

mudah terkena infeksi. Mencegah infeksi secara dini.

Mencegah kontaminasi silang terhadap infeksi.

Meningkatkan kemandirian ibu dalam perawatan bayi. Keterlibatan bapak/suami dalam perawatan bayi akan membantu meningkatkan keterikatan batih ibu dengan bayi. Perawatan payudara secara teratur akan mempertahankan produksi ASI secara kontinyu sehingga kebutuhan bayi akan ASI tercukupi. Mneingkatkan produksi ASI. Meningkatkan hubungan ibu dan bayi sedini mungkin.

kurangnya

6.

IMPLEMENTASI & EVALUASI Pada tahap implementasi atau pelaksanaan ini, fase pelaksanaan terdiri dari berbagai kegiatan yaitu : 1. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan konsulidasi 2. Keterampilan interpersonal, intelektual, tehnical, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat 3. Keamanan fisik dan psikologia dilindungi 4. Dokumentasi intervensi dan respon klien ( Budi Anna keliat, SKP, th 1994, hal 13). Sedangkan pada tahap evaluasi yang evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (Diagnosa, tujuan untervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan klien, perawatan dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan perkajian ulang jika tindakan belum hasil. Ada tiga alternatif yang dipakai perawat dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak dan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana yang ditentukan, adapu alternatif tersebut adalah : 1. Tujuan tercapai hentikan intervensi atau lanjutkan intervensi mandiri 2. Tujuan tercapai sebagian lanjutkan intervensi 3. Tujuan tidak tercapai lanjutkan intervnsi