Anda di halaman 1dari 7

Renungan Rekan-rekan yang baik!

Pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus tahun A ini dibacakan Yoh 6:51-58. Marilah sekadar kita tengok konteksnya. Dalam Yoh 6:25-58 Yesus memperkenalkan diri sebagai "roti kehidupan", yakni makanan yang memberi hidup. Pengajaran di rumah ibadat di Kapernaum ini mengingatkan pada pokok mengenai "air kehidupan" yang diutarakannya kepada perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Pembicaraan itu memperkaya batin perempuan tadi. Demikian juga, orang-orang Yahudi diajak semakin mengenali siapa Yesus itu sesungguhnya. Dalam bagian pertama pengajarannya, Yoh 6:25-50, Yesus membuat orang-orang itu menengok kepada pengalaman mereka sendiri sambil mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka. Tetapi mereka tidak memahami dan malah berputarputar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu. Pembaca akan dapat melihat kesulitan mereka. Dalam bagian kedua, yakni Yoh 6:51-58, Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali dia, melainkan bagaimana menerima dia. Reaksi orang-orang Yahudi yang meragukannya itu dapat menjadi cermin bagi pembaca. Apakah kita lebih condong mengikuti cara berpikir mereka yang membuat mereka tidak memahami Yesus atau lebih terbuka kepada ajakannya. "DAGING" DAN "DARAH" Dalam Injil Yohanes, "daging" dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus dan Lukas dan juga Paulus memakai kata "tubuh" dengan arti yang sama. (Boleh dicatat, dalam tulisan-tulisan Paulus, "daging" memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa; untuk pengertian ini Yohanes memakai kata "dunia".) Dalam Pembukaan Injil Yohanes, dikatakan, Sang Sabda menjadi "daging" (Yoh 1:14), artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun ia sendiri tidak kalah dan menjadi bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai yang jahat. Dengan demikian ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikutinya dan bersatu dengan dia akan selamat dan mencapai hidup kekal. Bagaimana dengan "darah"? Dalam cara bicara orang waktu itu, "darah" biasa dipakai untuk menyebut tempat nyawa. Di situlah letak kehidupan Dengan menyerahkan nyawanya - darahnya - bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak pula. Hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafatnya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. "Daging" (kerapuhan manusia) dan "darah" (kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengannya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang kemudian dibahasakan dengan siapa saja yang makan dagingnya akan mengambil bagian dalam hidup kekal. Tetapi orang-orang tidak menangkap dan saling mempertengkarkan bagaimana dia bisa memberikan dagingnya untuk dimakan (ay. 52). Kesulitan memahami kata-kata Yesus itu disampaikan dan dijelaskan dalam petikan ini. Orang-orang sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14). Yesus sendiri berkata bahwa mereka mencari dia karena telah makan roti dan kenyang dan bukan karena mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti tadi (Yoh 6:26). Orang-orang itu tak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri bagi mereka. Kisah ini dapat membantu kita melihat kerugian memahami Yesus dari segi "kegunaan" belaka: mengenyangkan tapi kemudian akan lapar lagi, memuaskan keinginan mengalami mukjizat, tapi setelah itu keadaan akan menjadi biasa kembali. ROTI KEHIDUPAN - EKARISTI

Apa yang hendak disampaikan Yesus? Bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Yesus sebagai "nabi" (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (6:15). Yesus malah menghindari harapan seperti itu. Orang-orang Yahudi berpikir apakah Yesus itu Musa yang baru (bdk. Yoh 6:30-31) tokoh yang membuat orang menemukan makanan harian atau manna yang diberikan Tuhan sampai mereka memasuki Tanah Terjanji (Kel 16). Tetapi Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu ialah Bapanya. Lebih lanjut lagi, sekarang ini dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima dia, mempercayainya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40). Orang-orang malah semakin tidak bisa melihat siapa Yesus itu. Mereka hanya bisa melihat dia sebagai anak Yusuf yang mereka kenal dari dulu (Yoh 6:42). Kepekaan batin mereka tidak berkembang. Mereka hanya mau memandanginya dengan ukuran-ukuran yang membuat mereka merasa aman: nabi, pemimpin tipe Musa, zaman kebesaran dulu, dan ketika ia mengajak mereka menengok ke arah yang lebih dalam, mereka malah berkata, lho, ini kan anak Pak Yusuf itu, mana bisa jadi pimpinan seperti kita gambarkan tadi? Kepada pembaca Injil Yohanes disodorkan ketidakpahaman orang-orang yang sudah sedemikian dekat dengan sang roti kehidupan itu sendiri. Apakah kita seperti mereka? WARTA Yoh 6:51-58 BAGI GEREJA Yohanes memakai pengertian "daging" (dan bukan "tubuh" seperti Injil Sinoptik dan Paulus) untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara itu dengan yang diwartakan pada awal Injil: "Dan sang Sabda itu telah menjadi manusia, harfiahnya "daging", dan tinggal di antara kita..." (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk ekaristi. Yesus itu pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Dan pemberian ini lebih luas kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Bagaimana kenyataannya, tidak dikatakan dengan jelas, dan justru sulit diperkatakan. Hanya dapat dipahami dengan menghayatinya. Inilah cara berbagi hidup kekal dengannya seperti terungkap dalam Yoh 6:51 dan 58. Iman akan ekaristi menjadi cara Gereja menerima kebenaran warta Yesus itu. Sikap orang beriman berkebalikan dengan sikap mereka yang mempertanyakan bagaimana itu mungkin (ay. 52). Mereka yang mengikuti Yesus dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ini iman yang mengangkat kesehari-harian menjadi yang makin dekat ke kehadiran ilahi. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani itu berdampak pada kenyataan sehari-hari juga. Tidak disangkal adanya ketimpangan di kalangan pengikut Yesus sendiri. Ini kelemahan mereka. Tapi justru dengan menyadari sisi-sisi yang manusiawi itu orang beriman semakin dapat berharap bersatu dengan kurban persembahan Yesus sendiri. Itulah makna pernyataan "siapa yang makan dagingnya dan minum darahnya akan tinggal dalam aku dan aku dalam dia" (Yoh 6:56). Dan kurban bersama ini menyelamatkan dunia. Dalam arti ini ekaristi ialah bentuk nyata ikut serta dalam kurban penebusan tadi. EKARISTI DAN HIDUP SEHARI-HARI Apakah menyambut komuni sama dengan kepercayaan itu? Kalau begitu kok orang tidak jadi makin baik. Di lingkungan keagamaan mungkin semuanya baik-baik, tapi di luar di dalam hidup sehari-hari tingkah lakunya lain. Kenyataan ini memang sering kita lihat. Namun demikian, acap kali kita terlalu memandang ekaristi sebagai obat kuat rohani atau jamu kelakuan baik. Pandangan seperti itu malah menjauhkan kita dari nilai ekaristi yang sesungguhnya Mengapa? Ekaristi itu sakramen yang menghadirkan kenyataan rohani dalam diri kita. Tetapi kehadiran ini perlu diberi ruang dalam kehidupan sehari-hari pula. Lalu, bila begitu apa bedanya dengan orang yang tidak kenal akan ekaristi tapi toh berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa kita hadapkan dua perkara ini begitu saja. Tiap orang dapat berlaku baik, dengan atau tanpa ekaristi. Dan

memang manusia memiliki bakat berbuat baik. Tapi orang yang percaya akan kekuatan ekaristi akan semakin melihat dan mengakui bahwa kemampuan berbuat baik serta keberanian untuk menjadi makin manusiawi dan makin lurus itu datang dari atas sana. Bukan dari kekuatan manusiawi sendiri. Bagi orang yang percaya, kemampuan berbuat baik itu anugerah ilahi. Dan anugerah inilah yang ditandai dengan ekaristi. Dalam arti inilah ekaristi membuat kita semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri. inggu, 14 Juni 2009 HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/ Tahun B "Ambillah, inilah tubuh-Ku." Yang akan menerima Ekaristi mahakudus, hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan (KHK kan 919.1). Maksud dari hukum atau aturan ini kiranya adalah bahwa setiap kali akan berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut Tubuh Kristus atau menerima komuni kudus hendaknya diadakan persiapan yang memadai. Jika dicermarti kebanyakan umat di kota-kota besar nampak kurang ada persiapan dalam rangka berpartisipasi dalam Perayaaan Ekaristi, bahkan cukup banyak yang datang terlambat; sebaliknya di pedesaan cukup banyak umat datang lebih awal dan kemudian berdoa didalam gereja, antara lain berdosa rosario . Maka dalam rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk berrefleksi atau mawas diri perihal keterlibatan kita dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut komuni kudus. "Ambillah, inilah tubuh-KuInilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya (KHK kan 899.1). Tata Perayaan Ekaristi terdiri dari atau meliputi: (1) Ritus Pembuka, (2) Liturgi Sabda, (3) Liturgi Ekaristi dan (4) Ritus Penutup, maka baiklah saya sampaikan secara sederhana arti, makna atau maksud dari setiap bagian tersebut: (1) Ritus Pembuka. Di dalam pembukaan kita diajak untuk menyadari dan menghayati kelemahan, kerapuhan dan dosadosa kita yaitu dengan doa Tobat. Maka baiklah dalam bagian pembukaan ini kita mengenangkan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita setia dan taat pada janji-janji tersebut. Sebagai contoh adalah janji baptis, dimana kita pernah berjanji hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan. Marilah kita memeriksa batin atau hati kita masing-masing: apakah semakin cenderung mengabdi Tuhan Allah atau mengikuti godaan setan. Jika ada kesalahan dan dosa-dosa dalam diri kita marilah bertobat atau memperbaharui diri dengan bantuan kasih pengampunan Tuhan. Salah satu usaha untuk bertobat atau memperbaharui diri antara lain kita dapat mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan yang akan dibacakan maupun dikotbahkan dalam Liturgi Sabda. (2) Liturgi Sabda. Dalam bagian ini kepada kita dibacakan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, yang ditulis dalam dan oleh ilham Roh. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim 3:16 ). Di dalam bagian ini kiranya apa yang diharapkan dari kita semua adalah mendengarkan (bukan mendengar). Agar kita dapat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik, hendaknya bersikap rendah hati, membuka hati, jiwa, pikiran dan tubuh terhadap apa yang disabdakan oleh Tuhan. Jika kita sungguh dapat dengan rendah hati mendengarkan sabda Tuhan, maka kita akan tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang dalam Perayaan Ekaristi ini diberi kesempatan untuk mewujudkannya dalam bentuk persembahan harta benda/uang maupun doa-doa; kita siap untuk memasuki Liturgi Ekaristi. (3) Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi terdiri dari tiga bagian: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung dan Komuni. Di dalam persembahan kita persembahkan bersama uang/kolekte, hasil jerih payah kita atau hasil bumi (bunga atau buah), doa-doa permohonan serta roti dan anggur. Dalam memberi persembahan uang atau kolekte hendaknya kita

meneladan janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangannya bukan kelebihannya. Di dalam doa permohonan selain yang telah disiapkan oleh Panitia Luturgi sebagaimana tertulis dalam buku Liturgi juga dapat ditambahkan ujud atau intensi umat. Persembahan roti dan anggur akan menjadi bahan untuk mengenangkan perjamuan malam dimana Yesus memberikan diri-Nya/tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur. Roti dan anggur dikonsekrasikan dalam Doa Syukur Agung oleh imam menjadi tubuh dan darah Kristus. Dalam upacara Komuni setiap orang yang telah dibaptis dan tidak dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci (KHK kan 912). Dengan menerima komuni suci berarti kita disatukan dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian kita juga diutus untuk mewartakan Kabar Baik di dalam hidup sehari-hari kita. Tugas pengutusan ini kita ikuti didalam Ritus Penutup. . (4) Ritus Penutup. Didalam Ritus Penutup ini antara lain kita menerima berkat Tuhan serta tugas pengutusan. Marilah pergi! Kita diutus, demikian ajakan imam, pemimpin ibadat dan kita jawab Amin, yang berarti kita dengan positif menyutui ajakan tersebut serta akan melaksanakan tugas pengutusan dalam hidup sehari-hari. Tema atau bahan tugas pengutusan kiranya dapat diambil dari bacaan Sabda Tuhan/Kitab Suci atau bahan renungan/kotbah pengkotbah, yang telah disampaikan dalam Perayaan Ekaristi yang kita ikuti.

Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup (Ibr 9:13-14) Dengan menerima komuni suci kita dipanggil untuk menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia dalam dan melalui aneka kesibukan, pelayanan, pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, beribadah kepada Allah yang hidup. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati untuk mendunia, berpartisipasi dalam aneka macam seluk-beluk duniawi. Hendaknya kita tidak melakukan apa-apa atau segala sesuatu yang sia-sia, yang semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan, Marilah kita senantiasa melakukan apa yang baik dalam hidup mendunia, karena dengan dan melalui perbuatan baik hati naruni kita juga semakin disucikan, dijernihkan serta dicerdaskan, sehingga kita semakin cerdas secara spiritual. Beribadah kepada Allah yang hidup dalam hidup sehari-hari itulah panggilan kita, yang berarti entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan beribadah, belajar dan bekerja adalah ibadah kepada Allah. Jika belajar atau bekerja sebagai ibadah kepada Allah berarti rekan kerja atau belajar adalah rekan beribadah, sarana-prasarana belajar atau bekerja adalah sarana-prasarana ibadah, suasana adalah suasana ibadah. Sikap hormat, sopan, hening, serius dan bersama-sama itulah yang terjadi selama beribadah, maka sikap yang sama hendaknya juga terjadi baik dalam belajar maupun bekerja. Karena kita telah makan roti yang satu dan sama yaitu tubuh Kristus, maka kita semua disatukan dalam Kristus, sehingga kita hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling menghormati, memuji, memuliakan dan melayani. Ignatius Sumarya, SJMakan dan Minumlah. Injil Markus 14 : 12 16. 22- 26 . Ekaristi Tgl. 14 Juni 2009. Ibu bapak saudari-saudara terkasih dalam Tuhan. Dalam teks Ekaristi hari ini dengan judul besar, Makan dan Minumlah. Yang ditawarkan makan dan minum adalah Tubuh dan Darah Kristus yang menjadi sumber hidup kita. Karena hari ini adalah hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau juga bisa disebut hari raya Ekaristi Kudus. Perayaan ini tidak terlepas dari rangkaian perayaan yang sudah kita jalani. Kita merayakan Paskah yang memang kita sadari sebagai puncak dari perayaan-perayaan kita. Karena pada perayaan Paskah itu kita merayakan wafat dan kebangkitan Kristus. Namun perayaan Paskah tidak terhenti pada perayaan itu karena seperti kalau saudari masih ingat dua minggu yang lalu ketika romo Martin berkotbah mengawali dengan menanyakan, Pentakosta, penta berarti lima, berarti lima puluh, mengapa lima puluh? Lalu ada yang memberi jawaban ini dan itu. Romo Martin mengatakan, karena lima puluh, adalah sesudah hari ke 49.

Lalu anda tertawa. Karena memang ada kaitannya sesudah 49 menjadi lima puluh menjadi penyempurnaan, kelengkapan hari yang istimewa itu kita rayakan pada waktu kita menyambut penganugerahan Roh Kudus perayaan Pentakosta sebagaimana dijanjikan oleh Kristus. Namun kalau disebut sebetulnya puncak dari perayaan kita semestinya minggu yang lalu ketika kita merayakan? Masih ingat minggu yang lalu kita merayakan apa? Podho lali. Kita merayakan Tri Tunggal Mahakudus. Karena justru dari sana sumber dari karya penyelamatan Allah itu Tri Tunggal Maha Kudus yang kita rayakan sesudah kita dianugerahi Roh Kudus sehingga kita mampu menyambut menangkap anugerah istimewa itu. Kalau saya katakan sebetulnya puncaknya justru pada perayaan Tri Tunggal Mahakudus karena Tri Tunggal Mahakuduslah yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia maka lalu Putera di utus dan Putera melaksanakan tugas perutusan itu sehingga dengan wafat dan kebangkitanNya karya penyelamatan sudah dilaksanakan melengkapi karya penyelamatan itu agar bisa berlangsung, Bapa dan Putera mengutus Roh Kudus yang sudah kita terima, lalu hari ini apa hubungannya, apa rangkaiannya. Hari ini kalau kita merayakan Tubuh dan Darah Kristus adalah buah dari karya penyelamatan Kristus itu yang dianugerahkan kepada kita. Inilah yang membuat kita memperoleh bekal untuk menjalani hidup, karena dengan anugerah Tubuh dan Darah Kristus kita lalu dapat mengikuti Yesus Kristus dalam hidup kita sehingga kita dapat melaksanakan tugas perutusan yang kita terima melanjutkan karya pewartaan, melanjutkan karya penyelamatan di tengah masyarakat. Kalau ini menjadi buah dari karya penyelamatan yang kita terima maka sebetulnya ini merupakan hadiah yang sangat istimewa, sangat istimewa karena lalu memberi kita kemungkinan untuk hidup berkembang terus bersama dengan Kristus sebagaimana dijanjikan sebelum Dia terangkat ke surga. Dan ingatlah Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir jaman. Dan janji itu dilaksanakan dengan memberikan dirinya sehingga kita senantiasa di bisa disertai oleh Kristus. Maka kalau itu merupakan anugerah semua seharusnya juga kita hargai dengan semestinya dengan selayaknya. Tapi memang apakah kita juga menghargai itu sebagaimana seharusnya. Saudari-saudara yang terkasih kalau seperti beberapa tahun lalu pernah terjadi. Ada isu ada rumor, Katanya mau ada defaulasi semua orang bingung karena lebih-lebih yang punya duit kalau terjadi defaulasi duitnya pasti akan merosot nilainya. Tetapi kalau ada berita terjadi defaulasi Ekaristi, Apa kuwi. Mungkin tidak ada yang perduli. Beberapa Tahun yang lalu pernah dibuat suatu tulisan pada suatu majalah di satu Keuskupan yang diberi judul memang Defaulasi Ekaristi. Terhadap judul itu tentu sebagian orang dan mungkin juga anda merasa wah kok adaada saja Defaulasi Ekaristi. Banyak yang tidak setuju akan apa yang dikatakan lebih-lebih kalau melihat di gereja kita ini kapan sih pernah sepi? Tujuh kali perayaan saja selalu mbludak, meluber-luber sampai diluar. Belum lagi kalau ada acara khusus semacam EKM, Ekaristi Kaum Muda. Apa lagi kalau pas penyelenggaranya Debrito wah.. Stece,.. Setero.. ramai lagi, atau mungkin juga Padmanaba, pasti banyak yang datang sampai jalanan di sana itu berjubel dipenuhi mereka yang datang ke gereja. Maka mungkin apa yang tadi dikatakan Devaulasi Ekaristi oleh orang yang melihat kenyataan seperti itu pasti dibantah, Wong begitu banyak yang datang ke gereja kok dikatakan Defaulasi. Defaulasi berarti kan penurunan. Itu di gereja belum permintaan-permintaan lain, entah Ekaristi dilingkungan dengan ujub tertentu, syukur peringatan salah seorang anggota keluarga yang meninggal, mau misa tutup peti dan sebagainya. Itu justru banyaknya permintaan untuk misa dengan macam-macam ujub seperti itu membuat kita meskinya bertanya-tanya. Kalau melihat jumlahnya memang menggembirakan, begitu banyak orang yang datang. Menurut survey yang dibuat oleh litbang pada tahun yang lalu. Di gereja kita ini setiap minggu dengan tujuh kali perayaan Ekaristi itu, sekitar sepuluh ribu dua ratusan umat yang datang. Ha wong begitu banyak kok dikatakan Defaulasi. Memang kalau melihat banyaknya tentunya kita senang. Sepuluh ribu setiap minggu, jumlah yang tidak sedikit. Masalahnya apakah semua yang datang itu juga sungguh memahami dengan benar apa yang dijalani, apa yang diikuti? Karena misalnya kalau ditanyakan, Untuk apa sih anda ke gereja pada hari minggu? Maka jawabannya pasti akan beragam. Ada yang akan menjawab, Ya kan orang katolik itu wajib mengikuti misa setiap Minggu. Itu seperti dicantumkan dalam lima perintah gereja bukan? Atau yah untuk berdoa. Karena mau ujian maka ikut misa rajin bersembahyang. Tapi juga tidak sedikit yang masih mengatakan ndak sempat, ndak ada waktu. Padahal tadi saya juga menyebut ada tujuh kali kemungkinan. Artinya bisa memilih waktunya kapan saja, mau sabtu sore, atau hari minggu artinya ada banyak kemungkinan toh Ada yang masih menjawab tidak sempat, tidak ada waktu. Maka dari beberapa jawaban tadi kalau yang diungkapkan hanya sekedar wajib itulah yang akan menunjukkan menurunnya nilai perayaan Syukur atas karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Liturgi artikel ke sepuluh, menegaskan peran sentral dan utama perayaan Ekaristi yaitu sebagai puncak yang dituju jadi yang paling tinggi oleh kegiatan gereja. Tapi sekaligus juga asal dan sumber semua kekuatanNya. Jadi memang itu menjadi yang paling istimewa. Karena untuk itu lalu dibutuhkan partisipasi dari seluruh umat supaya dapat terwujud satu perayaan yang melibatkan semua yang datang. Karena dalam konstitusi yang sama artikel 48 dikatakan perayaan seperti itu tidak boleh hanya dihadiri sebagai orang luar. Maksudnya penonton yang tidak terlibat, tidak ikut berpartisipasi.

Atau mungkin kalau ada yang mengajukan pertanyaan. Kapan sih Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi, ada yang mau menjawab? Kapan? Banyak yang biasanya mengatakan waktu Konsekrasi, waktu sambut komuni, lalu sebelumnya Malioboro Mall, mungkin ada di Amplas, masih agak jauh. Nah kalau orang mempunyai pandangan semacam itu tidak mengherankan lalu kalau ada yang datang terlambat dan dengan enak mengatakan, Kan masih belum konsekrasi. Jadi nggak apa-apa! Kan masih belum komuni. Karena ada juga ketika ditanya kenapa ke gereja hari Minggu? Untuk terima hosti katanya. Biasanya kalau ada yang menjawab seperti itu saya mengatakan, Mas nggak usah repot-repot, buang waktu kalau cuman mau terima hosti langsung saja ke Sakristi bilang sama pak koster, Pak koster minta hostinya dong. Selesai pulang, sudah terima hosti kok. Karena orang tidak melihat bahwa yang diterima adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Maka kalau kita mempunyai anggapan seperti itu kita lupa bahwa Yesus pernah mengatakan, Bila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, Aku hadir ditengahnya. Berarti sejak kita secara sadar datang ke gereja. Sejak awal kita bersama-sama menghadirkan Kristus ditengah kita. dan kehadiranNyapun menjadi semakin nyata kita sadari dalam pembacaan Kitab Suci. Maka Ibadat Sabda bukan hanya tempelan, bukan hanya tambahan, membacakan cerita-cerita jaman dulu, bukan. Karena dalam Konstitusi liturgi III dikatakan, Kristus sendiri hadir dalam sabdaNya dan berbicara bila dalam gereja. Kitab Suci dibacakan. Namun karena sering kali tidak paham apa sih yang dibacakan itu, hubungannya apa, maka tidak jarang lalu sibuk sendiri ber-SMS ria malah bertelpon ria sementara Kitab Suci dibacakan. Lalu sesudah itu kehadiran kristus menjadi nyata pada saat kita menyambutnya dengan menerima komuni. Tetapi apakah kehadirannya sungguh mempunyai makna bagi kita. Mungkin dari pengalaman jika kita tengok. Pernah ada cerita orang dipandang menghojat, menghina sakramen Maha Kudus lalu dipukuli. Karena setelah sambut dia tidak tahu dibuang, orangnya dipukuli. Maka kalau ditanyakan apakah saudara sendiri yang memukuli itu juga menghormati sakramen Mahakudus dengan sepantasnya, tanpa persiapan untuk menyambut, saya kira itu juga merupakan tanda tidak memahami tidak bisa mengerti bahwa yang disambut, diterima itu adalah Kristus sendiri. Dalam teks hari ini cukup panjang dikutip suatu penjelasan menyangkut disana diberi judul Transubstansiasi yaitu apa yang terjadi pada saat Konsekrasi perubahan tubuh dan darah Kristus. Dari roti dan anggur. Kalau anda membaca nanti saya kira anda dapat membaca kembali dan merenungkan dimulai dengan pertanyaan atau cerita tentang anak yang baru saja menyambut komuni pertama pada hari raya Paskah tetapi temannya cuma mengatakan, Oh itu cuma roti dan anggur. lalu anak kecil itu kecewa. Kiranya pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa penjelasan yang keliru orang tidak memahami, maka kalau kita merayakan Ekaristi dengan sungguh tentunya kita juga akan membukakan hati kita dalam Injil hari ini Markus mau mengajarkan kepada kita supaya penyambutan Kristus sungguh menjadi bermakna bila kita menyambut tubuh dan darahNya dengan sikap iman sebagaimana diharapkan bahwa yang kita sambut adalah Tubuh dan Darah Kristus, bukan semata-mata roti dan anggur. Kalau Kristus sendiri memberikan dirinya menyerahkan hidupNya masuk kedalam persekutuan dengan hidup kita maka diharapkan persekutuan itu yaitu komuni dengan Yesus Kristus akan menumbuhkan di dalam hidup kita juga semangat seperti kristus sendiri. Oleh karena itu saudara-saudari yang terkasih saya membawa beberapa majalah hidup yang juga kebetulan menyinggung menyangkut beberapa hal yang terkait dengan perayaan Ekaristi yang pernah dimuat di dalam warta iman, saya kira dua, tiga minggu yang lalu. Mengenai tanggapan anda dari SMS ini umat yang membolehkan anaknya makan saat misa, mungkin anda bisa membaca lagi dalam teks warta iman dua tiga minggu yang lalu Salah satu komentarnya di sana dikatakan, Jangan-jangan kita sudah tidak bisa membedakan gedung gereja dengan rumah makan. Sehingga kita ogah mengingatkan mereka yang masih sibu menyuapi atau membiarkan anaknya makan, wah kasihan lho ya itu tanggapan dari salah satu SMS. Ada juga tanggapan yang lain, Kalau kita membiarkan makan seakan -akan membiarkan tontonan Yesus yang mengobarkan dirinya. Saya kira hal-hal seperti ini pantas menjadi permenungan kita ber-sama supaya perayaan kita ini sungguh menjadi perayaan yang mem-bangun hidup kita. Salah satu konsu-ltasi iman yang juga menanyakan saya me-lihat ada seorang ibu yang memakan hosti, kemudian mencuilkan sedikit dan memberikan kepada anaknya yang merengek minta komuni. Apakah hal ini dibenarkan? Jawaban yang diberikan tentu saja hal itu tidak bisa dibenarkan karena anak belum mampu menggunakan akal budinya secara penuh berarti butuh bimbingan, butuh pendampingan dan penjelasan dari orang tua. Jangan asal memberikan supaya anaknya diam tetapi bagaimana memberikan pemahaman kepada anak supaya juga menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan selayaknya dan sepantasnya. Dan yang terakhir yang saya kira perlu juga menjadi bahan permenungan kita yang sebetulnya sudah ada dalam madah bakti nomer 150 barang kali ini lebih penting untuk diperhatikan mereka yang bertugas mengiring sebagai paduan suara, komuni Imam dan umat di iringi dengan nyanyian komuni. Maksudnya ialah agar umat yang bersatu dalam komuni secara rohani menyatakan persatuannya dalam nyanyian bersama secara lahir dan menunjukkan kegembiraan hati serta persaudaraan sewaktu maju menyambut komuni, perlu diperhatikan jangan sampai seluruh waktu komuni di penuhi dengan nyanyian. Perlu diberikan waktu untuk berdoa secara pribadi maka kalau

beberapa kali saya mengajak anda untuk menyadari kembali bahwa baru saja menyambut komuni karena koornya hebat, koornya bagus langsung tepuk tangan padahal baru saja menyambut pulang belum sampai dibangku. Saya kira hal ini terkait dengan ajakan ini. Maka kalau tahun lalu di Keuskupan Agung Semarang diselengarakan konggres Ekaristi maksudnya untuk mengajak kita semua seluruh umat untuk sungguh berusaha memahami makna Ekaristi yang dianugerahkan kepada kita agar kita juga dapat membangun kita semakin Ekaristi semakin sesuai dengan apa yang dianugerahkan Kristus dengan memberikan tubuhnya di dalam Tubuh dan Darah dalam Roti dan anggur dalam Sakramen Mahakudus itu. Amin Diposkan oleh MimbarMingguan di 04:29