Anda di halaman 1dari 7

PEKERJAAN RUMAH PEMERINTAH INDONESIA MEMBERANTAS PIRACY Wednesday, 20 April 2011 10:07 | Written by Melda Kamil | Pembajakan di laut

(piracy) merupakan kejahatan internasional (international crime) yang memberikan yurisdiksi kepada Negara manapun untuk mengambil langkah tegas terhadapnya. Konvensi Hukum Laut Tahun 1982 (1982 UNCLOS) mendefinisikan piracy sebagai pembajakan laut yang dilakukan di luar yurisdiksi Negara pantai, sehingga kemudian praktek Negara membedakan antara pembajakan laut yang terjadi di luar yurisdiksi Negara yang disebut sebagai pembajakan di laut (piracy) dimana yurisdiksinya bersifat universal (universal jurisdiction) dan pembajakan laut yang terjadi di dalam wilayah satu Negara yang lebih dikenal dengan istilah perampokan di laut (sea armed robbery) dimana yurisdiksinya berada di bawah Negara pantai. Persoalan pembajakan laut yang berlangsung sejak berabad-abad khususnya di wilayah yang kerap dilewati oleh pelayaran internasional merupakan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai, termasuk pembajakan laut yang terjadi di wilayah perairan Somalia dan baru-baru ini melibatkan kapal MV Sinar Kudus, kapal yang berbendera Indonesia milik PT Samudera Indonesia. Awak kapal telah disandera dengan meminta tebusan yang tidak sedikit, dan sampai saat ini nasib sandera ini masih terkatung-katung di tengah negosiasi yang sedang terjadi. Kasus ini setidaknya bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Pertama, pembajakan di laut tidak dapat dibenarkan dari segi pertimbangan apapun, baik dilakukan karena alasan ekonomis ataupun alasan politik. Kejahatan ini telah berlangsung sejak laut menjadi jalur transportasi bagi masyarakat dunia, bahkan Inggris pernah melancarkan upaya pemberantasan bajak laut beratus abad yang lalu, ketika bajak laut masih memakai kapal bertiang tinggi dengan bendera hitam tengkoraknya yang khas. Hukum Laut Internasional memang kemudian

membagi kewenangan untuk menumpasnya dengan melihat dimana pembajakan laut itu terjadi. Jika di laut bebas maka sudah pasti kewenangan itu dimiliki oleh Negara manapun yang ingin menumpasnya, bahkan Negara-negara diwajibkan untuk bekerjasama menumpas pembajakan tersebut, akan tetapi jika di wilayah satu Negara khususnya laut teritorial maka sudah pasti kewenangan itu dimiliki oleh Negara pantainya. Dalam kasus pembajakan laut di Somalia ini, yurisdiksi harusnya jatuh kepada Negara Somalia untuk menumpasnya akan tetapi sudah terbukti bahwa Pemerintah Somalia tidak pernah berdaya menghadapi masalah ini yang sudah sangat sering terjadi sampai akhirnya mengundang keluarnya beberapa Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Security Council Resolution) mulai dari Nomor 1814 Tahun 2008 sampai dengan Nomor 1976 Tahun 2011 (11 April 2011) yang intinya memanggil kerjasama internasional untuk memberantas pembajakan di Somalia dengan mempertimbangkan ketidakmampuan Pemerintah Somalia dalam memberantas pembajakan laut di wilayahnya sendiri. Serangkaian resolusi ini antara lain menekankan: (1) urges States whose naval and military aircraft operate on the high seas and airspace off the coast of Somalia to be vigilant to acts of piracy and armed robbery and encourages States using the commercial maritime routes off the coast of Somalia to increase and coordinate their efforts to deter acts of piracy and armed robbery (Resolusi DK No. 1816-2008); (2) calls on all States, including States in the region, to criminalize piracy under their domestic law and favourably consider the prosecution of suspected, and imprisonment of convicted, pirates apprehended off the Coast of Somalia (Resolusi DK No. 19182010); (3) re-authorizes States, Regional Groups to intervene at sea in the case of Piracy and Armed Robbery off Somalias coast (Resolusi DK No. 1950-2010), (4) calls upon States to cooperate as appropriate on the issue of hostage taking (Resolusi DK No. 1976-2011). Pemerintah Indonesia sebagai anggota PBB memiliki kewajiban untuk melaksanakan Resolusi ini terutama ketika kejadian tersebut menimpa kapal berbenderanya dan warga negaranya. Kedua, beberapa kali di media massa selalu dikemukakan baik oleh pihak perusahaan maupun pemerintah bahwa telah terjadi negosiasi penebusan para sandera antara pihak perusahaan dengan pihak pembajak, dan uang tebusan ini akan ditanggung oleh pihak asuransi. Persoalannya sepertinya akan beres disitu, akan tetapi sesungguhnya tidak. Sangat diragukan bahwa pembayaran tebusan akan menyelesaikan masalah perompakan di Somalia atau dimanapun di belahan dunia ini, meskipun hal itu menjadi tanggungan pihak asuransi. Hal ini hanya akan menyelesaikan masalah secara kasuistis tetapi tidak akan menyeluruh. Hal yang paling perlu dilakukan sekarang adalah

bagaimana menimbulkan efek jera bagi pelaku pembajakan tersebut. Jika itu berarti harus dilakukan penyerangan yang sistematis kepada para pembajak, mengapa tidak? karena masalah pembajakan ini tidak sesederhana pembayaran uang tebusan. Jika pembajakan ini dibiarkan diselesaikan perkasus dengan cara pembayaran uang tebusan, maka dampak ganda akan terlihat. Pertama tentunya para pembajak akan tergoda untuk mencoba lagi karena yakin bahwa pasti akan dibayar, kedua setiap kapal akan berlomba-lomba memakai asuransi dan pihak asuransi akan menerapkan biaya asuransi yang cukup mahal mengingat resiko yang akan ditanggungnya. Hal ini berarti secara tidak langsung membiarkan pembajakan tetap terjadi dan akan semakin menaikkan biaya pengiriman barang yang akibatnya akan mempengaruhi harga jual barang sehingga perdagangan internasional mau tidak mau pasti terganggu, karena tidak lagi efisien dan berbiaya tinggi. Ketiga, setiap Negara memiliki yurisdiksi dalam hukum internasional, termasuk yurisdiksi terhadap warga negaranya dimanapun dia berada, baik yurisdiksi nasionalitas aktif (dimana warga negaranya menjadi korban kejahatan) maupun yurisdiksi nasionalitas pasif (dimana warga negaranya menjadi korban dari kejahatan). Setiap Negara berbedabeda dalam mengexercise yurisdiksinya tersebut. Ada Negara seperti Amerika Serikat dan Australia yang selalu mengedepankan perlindungan kepada warga negaranya dimanapun mereka berada baik sebagai pelaku ataupun korban kejahatan, mungkin kita masih ingat kasus Corby sebagai salah satu contohnya. Serangan-serangan yang diakukan oleh Amerika Serikat ke beberapa titik teroris ataupun Negara yang dianggap berbahaya merupakan penerusan yurisdiksinya untuk melindungi kepentingan warga negaranya atau subyek hukumnya dimanapun mereka berada. Namun Indonesia beberapa kali terlihat seperti setengah hati dalam melaksanakan yurisdiksinya tersebut dengan alasan yang berbedabeda di setiap kasus, namun tetap tidak dapat meyakinkan publik bahwa Pemerintah Indonesia telah menjalankan tugasnya untuk melindungi warga negaranya. Ketiga hal di atas perlu dijadikan bahan pertimbangan oleh Pemerintah Indonesia dalam mengambil langkah penyelesaian kasus Pembajakan Somalia ini. Untuk menumpas pembajakan di laut ini atau setidaknya menimbulkan efek jera (deterrent effect) kepada pihak pembajak, maka memang seharusnya Indonesia menurunkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap pembajak tersebut, kalau perlu membawanya ke Indonesia untuk diadili, karena Indonesia memiliki yurisdiksi terhadapnya apalagi diperkuat dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB. Jika dikatakan Pemerintah Indonesia sudah mengirimkan kapal fregat dan helikopternya ke perairan Somalia untuk operasi pembebasan kapal pada Bulan Maret yang lalu sebagaimana dilansir oleh

Menkopolhukam, maka sebaiknya upaya itu diteruskan, kali ini dengan kekuatan penuh. Dalam melakukan hal itu Indonesia bisa saja calls upon kerjasama dari Negara lain yang mempunyai kepentingan yang sama yaitu jalur pelayaran internasional harus aman dari serangan para pembajak sehingga perdagangan internasional bisa berjalan dengan baik. Setidaknya India dan Malaysia sudah menawarkan bersedia bekerjasama dengan Indonesia untuk memberantas pembajak laut Somalia tersebut, dan bukan tidak mungkin akan menjadi operasi penyelamatan bersama yang akan diikuti oleh Negara-negara lain mengingat telah didukung oleh seruan PBB dan masih adanya Negara-negara lain yang kapalnya juga masih dikuasai pembajak. Sudah saatnya Indonesia membuktikan bahwa Negara kita mau dan sanggup melindungi subyek hukumnya, baik itu orang maupun kapal, setelah dalam beberapa kasus hampir tidak terselesaikan dengan baik. Penyelesaian dengan jalan sekedar membayar tebusan habis perkara, toh itu dana asuransi sebaiknya tidak menjadi opsi penyelesaian masalah ini, karena itu berarti sama saja membiarkan kejahatan internasional, apalagi yang berdampak pada subyek hukum Indonesia, berlenggang bebas tanpa hukuman, dan lebih parah lagi mengundang kejadian yang sama terjadi lagi di masa datang, karena perompak atau pembajak terbukti tidak pernah jera dalam berabad-abad kehidupannya. Analisa mengenai kasus perompakan Somalia berkaitan dengan paham monisme dengan primat hukum nasional: Pelaksanaan jurisdiksi oleh suatu negara terhadap harta benda, orang, tindakan atau peristiwa yang terjadi di dalam wilayahnya jelas diakui oleh hukum internasional untuk semua negara anggota masyarakat internasional. Prinsip tersebut dikemukakan dengan tepat oleh Lord Macmillan, bahwa, Adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batasbatas ini, seperti semua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus memiliki jurisdiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas-batas teritorialnya dan dalam semua perkara perdata dan pidana yang timbul di dalam batas-batas territorial ini. Namun, dengan peningkatan komunikasi, lebih canggihnya struktur organisasi atau perusahaan komersial dengan cabang-cabang transnasional, dan timbulnya karakter internasional dari aktifitas-aktifitas kriminal, ada kecenderungan besar ke arah pelaksanaan jurisdiksi atas dasar kriteria lain selain kriteria lokasi teritorial. Hukum internasional hanya sedikit membatasi atau sama sekali tidak membatasi jurisdiksi yang dapat dijalankan negara tertentu. Hal tersebut tampak dari keputusan Permanent Court of International Justice a. Tidak ada pembatasan atas pelaksanaan jurisdiksi oleh setiap negara, kecuali jika pembatasan itu dapat diperlihatkan dengan bukti konklusif yang keberadaannya sebagai suatu prinsip hukum internasional.

Menurut Mahkamah, negara yang menyatakan bahwa pelaksanaan suatu jurisdiksi tidak sah, berkewajiban untuk memperlihatkan bahwa praktek jurisdiksi oleh suatu negara dilarang oleh hukum internasional. Ada suatu pembatasan praktis atas pelaksanaan jurisdiksi yang luas oleh negara tertentu. Yaitu, Tidak ada satu negara pun berusaha untuk melaksanakan suatu jurisdiksi terhadap persoalan orang atau benda, di mana negara itu sama sekali tidak tersangkut paut. Jurisdiksi negara dalam hukum internasional berdasar ruang atau tempat dari objek atau masalah hukumnya meliputi : 1. Jurisdiksi teritorial; Jurisdiksi teritorial yaitu jurisdiksi suatu negara untuk mengatur, menerapkan dan memaksakan hukum nasionalnya terhadap segala sesuatu yang ada atau terjadi (bisa berupa benda, orang, peristiwa) di dalam batas-batas wilayahnya. Menurut hukum internasional yang termasuk dalam ruang lingkup wilayah negara meliputi, wilayah daratan, tanah di bawah wilayah daratan tersebut yang batasnya ke arah bawah tidak terhingga, wilayah perairan, dasar laut dan tanah di bawahnya yang terletak di bawah laut pedalaman ataupun di bawah perairan kepulauan (bagi negara kepulauan), ruang udara di atas wilayah daratan dan di atas wilayah perairan. 2. Jurisdiksi quasi-teritorial; Jurisdiksi quasi teritorial yaitu perluasan atau perpanjangan atas penerapan jurisdiksi teritorial di tempat atau area di luar dan berdekatan dengan batas wilayahnya. 3. Jurisdiksi ekstra-teritorial; Jurisdiksi ekstra-teritorial adalah penerapan jurisdiksi suatu negara di wilayah yang bukan merupakan wilayah negara. Seperti laut lepas, ruang udara internasional (ruang udara bebas), atau pada wilayah lain yang status yuridisnya sama seperti laut lepas maupun ruang udara internasional, seperti Antartika (kutub selatan) dan Artika (kutub utara). 4. Jurisdiksi universal (universal jurisdiction) atau jurisdiksi atas dasar prinsip universalitas; Jurisdiksi universal adalah jurisdiksi suatu negara berdasarkan hukum internasional atas suatu peristiwa hukum yang melibatkan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, yang menyangkut kepentingan dan rasa keadilan semua umat manusia. 5. Jurisdiksi eksklusif; Jurisdiksi eksklusif adalah jurisdiksi suatu negara atas landas kontinen dan zona ekonomi eksklusifnya. Salah satu bentuk jurisdiksi negara berdasarkan objek yang diaturnya adalah jurisdiksi kriminal. Jurisdiksi kriminal adalah jurisdiksi suatu negara untuk membuat, memberlakukan, melaksanakan dan memaksakan pelaksanaan peraturan perundang-undangan pidananya, atas suatu

peristiwa pidana atau kejahatan yang terjadi di dalam atau di luar batasbatas wilayah negara tersebut. Berdasarkan atas tempat terjadinya suatu peristiwa pidana, berdasarkan kewarganegaraan orang atau subjek hukum yang melakukan kejahatan, berdasarkan kepentingan negara yang harus dilindungi, dan berdasarkan atas pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan, maka jurisdiksi kriminal suatu negara dapat dibedakan dalam beberapa macam yaitu : 1. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip teritorial; Adalah kewenangan suatu negara membuat peraturan perundangundangan pidana nasionalnya, dan memberlakukan di dalam wilayahnya, melaksanakan terhadap orang atau badan hukum yang ada di dalam wilayahnya dan mengadilinya di hadapan pengadilan nasionalnya. 2. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip ekstra-teritorial; Adalah kewenangan suatu negara membuat peraturan perundangundangan pidana nasionalnya, memberlakukan, dan melaksanakan terhadap orang atau badan hukum yang ada di wilayah yang bukan merupakan wilayah suatu negara. 3. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip kewarganegaraan aktif; Adalah memberlakukan peraturan perundang-undangan pidana nasionalnya bagi warganegara yang berada di luar wilayah negara tersebut. Azas ini didasarkan pada adanya hubungan antara negara dengan warga negaranya yang berada di luar wilayah negaranya. 4. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip kewarganegaraan pasif; Adalah memberlakukan peraturan perundang-undangan pidana nasionalnya bagi seseorang yang bukan warga negaranya, yang berada di luar wilayah negara tersebut, dan melakukan perbuatan pidana yang merugikan warga negaranya. 5. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip perlindungan; Adalah memberlakukan peraturan perundang-undangan pidana nasionalnya bagi warga negaranya maupun bukan warga negaranya, yang mengancam kepentingan negaranya, yang dilakukan di luar wilayah negara tersebut. 6. Jurisdiksi kriminal berdasarkan prinsip universal. Adalah memberlakukan peraturan perundang-undangan pidana nasionalnya bagi siapapun yang melakukan kejahatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal dan rasa keadilan umat manusia, di manapun, kapanpun kejahatan itu dilakukan, siapapun yang menjadi korbannya. Maka berdasarkan jenis-jenis yurisdiksi negara di atas, apabila perampok Somalia belum menarik kapal Sinar Kudus ke wilayah pantai Somalia, maka yurisdiksi Nasional Republik Indonesia dapat diterapkan, sebagaimana dalam jenis yurisdiksi ekstra-territorial dam yurisdiksi kriminal ekstra-territorial. Jadi, dalam hal ini, paham monisme dengan

primat hukum nasional berlaku karena pihak Indonesia dapat menuntut atau menahan para pembajak Somalia, namun hal ini hanya berlaku apabila kejadiannya masih di luar wilayah Somalia, atau dengan kata lain di laut lepas. Sehingga yurisdiksi Nasional Indonesai dapat diterapkan kepada para pembajak Somalia. Dan dalam kasus Pembajakan ini biasanya orang-orang dari negara yang dibajak tersebut yang dapat melaksanakan yurisdiksinya. Seperti, kita lihat kasus-kasus sebelumnya Organisasi NATO pernah menangkap para pembajak Somalia namun karena tidak adanya wewenang mereka terhadap pembajak tersebut, maka para pemabajak dilepaskan. Hal ini dikarenakan Organisasi tersebut tidak dirugikan dan kasus pembajakan ini bukan merupakan salah satu jenis kejahatan Internasional yang mana setiap negara ikut andil dalam menangani kasus ini. Dari berita di atas bahwa kapal Sinar Kudus telah ditarik ke markas para pembajak tersebut, tepatnya di wilayah pantai Somalia. Hal ini membuat yurisdiksi Nasional Indonesia tidak bisa sembarangan diterapkan karena menyangkut kedaulatan negara Somalia. Indonesia hanya boleh menerapkan apabila sudah ada izin dari pemerintah Somalia dan adanya Perjanjian Internasional yang khusus menyangkut masalah pembajakan, sehingga Indonesia dapat menerapkan yurisdiksinya untuk menangkap, mengadili dan menahan para pembajak tersebut. Dan Berlandaskan pada permintaan Pemerintah Somalia sendiri dan juga beberapa Resolusi PBB, Indonesia dapat melakukan yurisdiksinya terhadap para pembajak Somalia tersebut. Namun, karena faktor kehatihatiannya pemerintah kita, jadi yurisdiksi nasional Indonesia tidak dapat diterapkan. Padahal beberapa negara, sudah membuat pernyataan untuk membantu Indonesia. Sehingga, para pembajak Somalia tersebut dengan leluasa meminta uang tebusan kepada pihak pemilik kapal Sinar Kudus tersebut.