Anda di halaman 1dari 4

MUHASABAH DAN MUROQOBAH JALAN MENUJU TAKWA

ُ‫ل نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ الُ فَلَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَ هَادِيَ لَه‬ ِ ِ َ‫إِنّ الْحَمْد‬
ُ‫أَشْهَدُ أَنْ لَ إِلهَ إِلّ الُ َوأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا َعبْدُهُ وَرَسُوْلُه‬
.‫اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ ِوأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ ِبإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن‬
َ‫يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا الَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلَ تَمُوْتُنّ إِلّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن‬
ِ‫يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْ ُهمَا رِجَالً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا الَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ ِبه‬
‫وَاْلَرْحَام َ إِنّ الَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا‬
ُ‫ أَمّا بَعْد‬،‫يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا الَ وَقُوْلُوْا قَوْلً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ َأعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَ ُكمْ وَمَنْ يُطِعِ الَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَ ْوزًا عَظِيْمًا‬

ٍ‫ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَة‬،‫ وَشَرّ اْلُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا‬،َ‫ وَ َخيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى ال عَلَيْهِ وَسَلّم‬،ِ‫فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ ال‬
.ِ‫ضلَلَةِ فِي النّار‬
َ ّ‫ وَكُل‬،ً‫ضَلَلَة‬

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


Kami wasiatkan kepada diri kai sendiri dan jamaah sekalian, marilah kita bertakwa kepada Allah
Ta’ala. barangsiapa bertakwa kepada Allah Ta’ala, ia akan terjaga dari siksa dan murkaNya. Allah
memerintahkan manusia seluruhnya untuk bertakwa dengan firman-Nya,
ْ ً ْ ْ ْ ْ ْ
‫كِث يًا‬
َ ‫جال‬ ‫ث ِمن ُما ِر‬
ّ ‫خلَََق ِم نا َزْوج َها وب‬ ‫و‬ ‫ة‬
ٍ ‫د‬‫ح‬ِ ‫وا‬ ‫س‬ ٍ ‫ف‬ ‫ك م ِم ن َن‬
ُ ‫خلَق‬
َ َ ‫لي‬ ِ ّ ‫ك ما‬ ‫ياأ َ ّيا النَا س اّتق ُْوا رّب‬
َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ُ ُ َ ُ َ َ
ْ
﴾١﴿ ‫كْم رِقْيًبا‬ ُ ‫علْي‬
َ ‫كان‬ َ ‫لْرحام َ ِإّن ال‬َ ‫لي ت َساءلُْون ِبِه وا‬ِ َ ‫ال ا‬ ُ ّ ‫َونَِساءً َوا‬
‫تقوا‬
َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu,
dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS.an-Nisa’: 1)

Allah memerintahkan kaum mukminin untuk bertakwa dengan firman-Nya,


ْ
﴾١٠٢﴿ ‫ل وأ َنُتْ مْسِلُمْون‬
ّ ‫ن ِإ‬ ْ ‫ياأيا ا ّلْين آمنْوا اتقوا ال حق تقاته ول تم‬
‫وت‬
َ ُ َ ّ ُ ََ َ ِ ِ َُ ّ َ َ
ُ ُ ّ ُ َ َ َ َ َّ َ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bertakwa dengan firman-Nya,


ً ً ْ ْ
﴾١﴿ ‫كيما‬ ‫ح‬
ِ َ ‫ليما‬ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫كا‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬‫إ‬ ‫قي‬ ‫ف‬‫ا‬‫من‬
ِ َ َ َ َ َّ َّ ِ َ ِ ِ َ ُ َ ‫وال‬ ‫ن‬ ‫ري‬ ‫ف‬‫كا‬ ‫ط ِع ال‬
ِ ُ ‫ل َوَل ت‬ ‫يا أيا النبي اتق ا‬
َ ِِ َ َ َّ ِ َّ ُ ّ ِ َّ َ ُ ّ َ َ
“Hai Nabi, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir
dan orang-orang munafik.Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS.
al-Ahzab: 1)

Takwa merupakan wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang pertama hingga yang terakhir. Takwa
merupakan faktor yang menjadikan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan mengaruniainya al-Furqan. Sehingga ia akan mampu
membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Barang siapa yang bertakwa, Allah akan memberikan
baginya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Orang yang bertakwa akan mendapatkan tempat
yang aman di akhirat. Sungguh ia berada di tempat yang mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala
Hakikat takwa, ialah kita mencari perisai yang bisa melindungi diri dari adzab Allah. yaitu dengan cara
menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mempu berbuat
demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. untuk itu, semestinya kita
berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram.

Umar bin khathtab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab,
“Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat
yang penuh duri?, maka umar menjawab, “Aku akan melihat kakiku, sehingga aku bisa mengetahui,
apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman.”. inilah hakikat takwa, dengan selalu
melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah, ataukah sebaliknya?
Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan
sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha agar berada dalam keadaan yang diridhai-Nya. Allah
senang apabila kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, taat kepada aturan-Nya, berbakti
kepada kedua orang tua, dan tekun menuntut ilmu. Marilah kita selalu berusaha untuk meninggalkan
perbuatan yang dibenci Allah Ta’ala. jangan mendatangi kemaksiatan, tinggalkan perbuatan zina,
mencuri, dusta, ghibah, dan namimah. Dan yang paling besar dari itu semua, yaitu meninggalkan
perbuatan syirik; suatu perbuatan dan pelaku kemaksiatan yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala.
karena Allah tidak ridha disekutukan. Allah hanya ridha, apabila hamba-hamba-Nya beriman dan
bertauhid kepada-Nya. Maka, marilah kita menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertauhid kepada-
Nya.

Allah sangat senang apabila kita menjadi orang-orang yang melaksanakan sunnah-sunnah Nabi-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita jauhkan diri dari perbuatan bid’ah, tinggalkan setiap larangan Allah.
adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan
akhirat. Allah berfirman,
.‫جار لَِفي جِحٍي‬ ‫ف‬
ْ
‫ال‬ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫و‬ ‫ي‬ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫في‬ ‫ل‬ ‫ر‬ ‫را‬‫ب‬ْ ‫إن ا ْل‬
َ ِ
َ َّ ُ َّ َ ٍ َ
ِ ِ َ َ َ َ َّ ِ
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh
kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS.
Al-Infithor: 14)

Al-Abrar (orang yang banyak berbuat kebaikan), ia akan selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah
di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum fajir (orang yang banyak berbuat kejahatan), maka mereka
akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Ibnul-Qoyyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan menyamakan antara
orang-orang yang berbuat taat dengan orang-orang yang maksiat, maka sesungguhnya ia telah
berperasangka buruk terhadap Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman, “Patutkah Kami
menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang
yang berbuat kerusakan di muka bumi Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa
sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat. (QS. Shad: 28)

Apakah Allah akan menyamakan kedudukan orang yang taat dengan ahlul maksiat? Tentu tidak!
Barangsiapa beriman dan bertakwa, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Adapun
orang-orang yang suka bermaksiat, maka ia akan mendapatkan kesusahan dan kesempitan. Allah
berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta". Berkatalah ia:"Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan
buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat" Allah berfirman,"Demikianlah, telah datang
kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu
dilupakan". (QS. 20: 124-126).

Barangsiapa berpaling dari peringatan Allah dan kataatan kepada Allah ta’ala, berpaling dari ilmu yang
bermanfaat, maka ia seperti orang yang buta. Dan ia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam
keadaan buta. Waiyyadzu billah.

Adapun orang yang beriman kepada Allah, maka keadaannya sebagaimana disebutkan dalam firman-
Nya, yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Orang-orang yang akan dekat dengan Allah Ta’ala. mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia
dan akhirat. Sebagian salaf berkata, “Sesungguhnya ad ataman penuh kebahagiaan di dunia ini.
Barangsiapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga yang ada di akhirat.”
Taman yang dimaksud ialah kebahagiaan yang diperoleh dengan ketaatan dan kedekatan dengan Allah
Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga keadaan; Barangsiapa memilikinya, maka ia
akan merasakan manisnya iman. (yaitu) apabila ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya
kepada siapapunselain keduanya. Apabila ia mencintai manusia tidak lain hanya karena Allah, apabila
ia merasa benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana
bencinya untuk dicampakkan ke dalam api.”

Demikianlah wasiat yang dapat kami sampaikan untuk diri kami pribadi dan untuk saudara-saudara
sekalian; takwa kepada Allah dan beramal shalih. Dengan keduanya, kita akan mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua
termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa, dan menutup akhir hayat kita dengan husnul
khatimah.

ِ‫أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ الَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ ِإنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم‬

KHUTBAH YANG KEDUA

‫إِنّ الْحَمْدَ ِلِ رَبّ الْعَالَمِيَ وَأَشْهَدُ أَنْ لَ إِلهَ إِلّ الُ وَلِيّ الصّالِحِيَ َوأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيَ اَللّهُمّ صَ ّل عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى‬
َ‫ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّ دٍ َوعَلَى آ لِ مُحَمّ دٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْ م‬.ٌ‫ ِإنّ كَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬،َ‫آ لِ مُحَمّ دٍ كَمَا صَلّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْ مَ وَعَلَى آ لِ إِبْرَاهِيْ م‬
,‫ أَمّابعد‬,.ٌ‫ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬،َ‫وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم‬

Allah Ta’ala telah menyeru kita semua dengan firman-Nya,


ْ ٌ ْ ٌ ْ ْ ْ
﴾١٨﴿ ‫خِبي ِبما َتعملُون‬
َ َ َ
‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬‫إ‬ ‫ل‬
َ َ َّ َّ ِ َ َّ ‫ا‬ ‫وا‬ ‫تق‬ ‫وا‬ ‫د‬
ٍ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫ت‬ ‫م‬‫د‬‫ق‬ ‫ما‬
ُ َّ َ َ ِ َ َّ َ َّ ‫س‬ ‫ف‬‫ن‬َ ‫ر‬ُ ‫ظ‬ ‫تن‬ ‫تقوا ال ول‬
َ َ َ َّ ُ َ ّ ‫ن آَمنُوا ا‬ ِ َ ّ ‫يا أ َ ّ ُيا ا‬
‫لي‬
َ َ َ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita dua perkara agung. Barangsiapa melaksanakan dua perkara ini,
maka ia termasuk orang yang bertakwa.

Pertama, yaitu muhasabah. Yakni, hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk
hari esok. Muhasabah sangat membantu seseorang untuk bertakwa kepada Alloh. Barangsiapa
melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan.
Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan,
maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.

Muhasabah juga sangat membantu seseorang istiqomah di jalan Allah Ta’ala. sehingga para salaf
berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah ta’ala.” Barangsiapa yang dihisab oleh
Allah ta’ala, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi
wasallam kepada ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, “Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, maka
sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.

Oleh karena tiu, hendaklah kita selau mengoreksi diri. Apabila kita terjerumus ke dalam kesalahan.
Segeralah bertaubat kepada-Nya. Allah sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Allah selalu
membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat manusia yang telah berbuat kesalahan di
waktu siang. Begitu pula Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat
seseorang yang telah berbuat kesalahan di waktu malam.

Demikianlah, muhasabah merupakan perkara sangat penting. Oleh karena itu, para salaf selalu
bermuhasabah terhadap diri mereka sebagaimana orang yang terjun dalam perdagangan. Apakah ia
mendapatkan keuntungan, atau justru mengalami kerugian. Begitu pula kita, wahai hamba-hamba
Allah. marilah koreksi diri masing-masing, bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap
Allah Ta’ala?
Suatu ketika, Sulaiman ibnu ‘Abdil Malik pernah bertanya kepada Abu hazim, “Mengapa kita merasa
benci terhadap kematian dan cinta terhadap dunia?” Maka pertanyaan ini dijawab, “Wahai Amirul
Mukminin, hal ini karena kita telah merusak akhirat kita dan memperbagus dunia kita. Tentulah
seseorang tidak akan senang untuk pindah dari rumah yang bagus ke rumah yang telah rusak”.

Sungguh benar! Banyak di kalangan kita yang sibuk dengan dunia dan lalai berbuat taat kepada Allah.
sehingga ia pun mengetahui, tidak ada bagian sedikit pun untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian,
ia benci dan takut terhadap kematian yang pasti akan mengantarkannya ke akhirat.

Adapun orang-orang yang cinta, taat dan selalu mengerjakan perintah-perintah Allah, maka dia tidak
takut terhadap kematian. Sehingga tidak mengherankan, tatkala diseur untuk berperang, para salaf yang
mengatakan, “Esok hari akan datang kematian yang kita cintai…,” hal ini karena mereka selalu
beramal shalih. Dengan amal shalih itu, mereka tidak takut terhadap kematian dan hisab. Maka, jelaslah
bagi kita, muhasabah merupakan perkara penting yang sangat membantu seseorang untuk bertakwa
kepada Allah Ta’ala.

Perkara penting kedua, yang Allah tunjukkan kepada kita, yaitu muroqobah. Yakni sifat seseorang
yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah Ta’ala. sebagaimana firman Allah di akhir ayat…
Innallaha khabiirum bima ta’malun.

Tatkala seseorang merasa enggan berbuat taat, maka iapun sadar bahwa Allah melihatnya. Sehingga ia
pun akan kembali untuk segera berbuat taat kepada Allah. tatkala seseorang berhasrat melakukan
kemaksiatan, maka ia sadar bahwa Allah melihatnya. Sehingga ia pun akan berhenti dari keinginannya
itu dan segera kembali kepada jalan-Nya.

Demikianlah, muroqobah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada
Allah Ta’ala. oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada Mu’adz
bin jabal dengan sabdanya, “Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada…”

Marilah kita bertakwa kepada Allah setiap waktu dan di setiap tempat. Ketahuilah, bahwasannya Allah
selalu mengawasi setiap gerakan kita. Barangsiapa telah memiliki sifat ini, sungguh sangat membantu
dirinya dalam bertakwa kepada Allah Ta’ala. kita memohon kepada Allah Ta’ala, supaya menjadikan
kita orang-orang yang bertakwa kepada-Nya saat di keramaian maupun tatkala sendiri. Wallahu a’lam.

ِ‫ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آل‬.ٌ‫ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬،َ‫اَللّهُمّ صَلّ َعلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم‬
.ٌ‫ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬،َ‫مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى ِإبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم‬
.ِ‫ ِإنّكَ سَمِيْعٌ قَ ِريْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَات‬،ِ‫ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلَمْوَات‬،ِ‫اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات‬
‫رَبّنَا لَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا ِإصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلَ تًحَمّلْنَا مَالَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا‬
.َ‫وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْن‬
.‫ والمد ل رب العالي‬.ِ‫رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ْالَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّار‬

Dikutip dari Majalah as-Sunnah, Solo. Edisi 01/XII/1429H/2008M.