P. 1
Jun 2011 Posted by Umarabduh in Jun 30

Jun 2011 Posted by Umarabduh in Jun 30

|Views: 1,006|Likes:
Dipublikasikan oleh shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Sep 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2012

pdf

text

original

Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 30,2011 Uncategorized

KASUS AMBON JANUARI 1999

Majalah Panji Masyarakat No. 48 Tahun II, 17 Maret 1999 Wawancara Khas Des Alwi ORANG KRISTEN MENGAKU MEREKA YANG MULAI Kerusuhan yang terjadi di Ambon kini kian kompleks. Berawal dari ulah preman, kemudian berkembang menjadi perang terbuka antara Islam dan Kristen. ABRI dituntut lebih tegas bertindak dan tidak pandang bulu. Entah sampai kapan Ambon masih harus tetap nangise. Tanda-tanda damai belum juga tampak. Lihat saja, sehari setelah tim khusus yang terdiri atas 19 perwira ABRI asal Maluku dipimpin Mayjen TNI Suaedi Marasabessy tiba di sana, Minggu lalu (7 Maret), bom kembali mengguncang. Warga kota Ambon pun dibuat panik. Tampaknya para perusuh tak gentar dengan datangnya para perwira yang dikirim ke sana itu. Atau, mungkin memang para perusuh sengaja ingin menguji kemampuan ABRI.

Menurut Des Alwi, pengiriman 19 perwira ABRI asal Maluku ke Ambon untuk menghentikan pertikaian, secara psikologis sudah merupakan satu kesalahan. Anggota tim pencari fakta (TPF) kasus Ambon ini mempertanyakan kenapa tidak dikirim pasukan yang datangnya dari Bali atau daerah mana saja yang netral. “Kan ada tentara atau polisi yang Kristen. Soalnya akan jadi lain. Mestinya yang memegang teguh janjinya. Jangan pandang bulu. Susah kalau aparat yang asli sana. Harusnya aparat dari luar (Ambon),” ucapnya.

Sejak ditunjuk Presiden Habibie untuk menjadi anggota TPF kasus Ambon, Om Des– demikian panggilan akrab pria kelahiran Banda 71 tahun lalu ini—sering terbang ke sana bersama anggota tim lain seperti Mayjen (Purn.) Yos Mustika dan Balkan Kaplale. Mereka berkeliling ke tempat-tempat yang dilanda kerusuhan dan melakukan dialog dengan berbagai tokoh Islam dan Kristen, para ketua adat, dan lain-lain. “Mereka sebenarnya sudah mau damai. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada saja yang memulai lagi. Persoalannya memang sudah kompleks. Kalau awalnya hanya ulah preman, sekarang sudah menjadi perang terbuka antara Islam dan Kristen,” ujarnya.

Senin lalu (8 Maret), di kantornya di Jl. Narada No. 36, Tanah Tinggi Jakarta, tokoh yang selama ini dikenal sebagai pembuat film-film dokumenter itu menerima Redaktur Khusus Panji Laode Ida untuk wawancara khusus. Sebelumnya, ia juga sempat memutarkan rekaman video hasil kunjungannya beberapa kali ke Ambon sambil sesekali menjelaskan apa yang sudah direkamnya itu. Berikut petikannya. Bagaimana hasil temuan TPF mengenai kerusuhan di Ambon yang hingga kini masih bergejolak? Peristiwa Ambon memang mencekam dan bergolak. Terus terang saya juga agak bingung. Saya diminta Presiden Habibie untuk menjadi salah seorang anggota tim pencari fakta. Saya menerima tugas itu. Kerja tim ini sekarang sudah selesai. Kita sudah memberi laporan dan merekomendasikan untuk minta tambah pasukan dan helikopter ke sana.

Sebetulnya apa sih yang menjadi penyebab? Apa betul hanya karena persoalan etnis? Memang, pada awalnya soal etnis. Orang Kristen di kota Ambon yang tadinya 70% sekarang tinggal 50%. Sementara penduduk Islamnya bertambah dengan masuknya unsur Bugis, Buton, dan Makasar (BBM). Orang Kristen protes, kok banyak unsur Bugis yang masuk. Orang Bugis juga jadi merasa khawatir. Mereka pun sempat protes kenapa kalau orang Cina atau orang Toraja yang datang dan buka toko di sana, tidak diprotes. Tapi ini terus berjalan secara diam-diam. Pemerintah setempat tidak berbuat apa-apa. Jadi konflik etnis itu pemicunya sudah lama terjadi?

Ya. Persoalan etnis itu memang sudah menyejarah sejak lama. Nah, kenapa orang-orang, baik yang Kristen maupun yang Islam, datang ke sana, itu karena Ambon merupakan pusat perdagangan sejak zaman VOC. Jadi begitulah. Persoalan terus terpendam lama dan tidak ada dialog antarmereka. Para pendatang itu banyak yang jadi tukang becak, buruh pelabuhan, tukang parkir, pelayan di restoran, dan lain-lain. Sementara penduduk asli Ambon yang mayoritas Kristen tidak mau seperti itu. Mereka hanya jadi pegawai negeri atau pokoknya kalangan white collar job-lah. Dari situ muncul soal kesenjangan sosial. Apalagi kondisi perekonomian negara sekarang sedang krisis. Apakah hanya faktor kesenjangan sosial dan situasi krismon saja yang memicu kerusuhan? Tapi kok sebegitu parahnya kerusuhan di sana? Apa ada faktor lain? Memang, selain faktor dendam sejarah yang tidak segera diselesaikan tadi, ada faktor lain. Menurut saya, meletusnya kerusuhan di sana juga ikut dipicu oleh munculnya preman-preman dari Jakarta yang tertangkap dalam beberapa kerusuhan lalu. Lihat saja kasus Ketapang, kan banyak preman Ambon yang setelah tertangkap kemudian dipulangkan ke kampung mereka di sana. Selama di Jakarta, nasib mereka beragam. Kalau sukses bisa jadi orang seperti Christ Pattikawa. Tapi kalau gagal, ya jadi preman. Kan banyak orang Ambon yang jadi bodigar atau semacamnya. Pokoknya hidup mereka dalam dunia kekerasan, termasuk ikut dalam berbagai kerusuhan. Nah, sebelum terjadi kerusuhan di Ambon, menurut data yang saya dapatkan, ada sekitar 80-100 orang Ambon, termasuk preman, yang pulang kampung untuk perayaan Natal. Setelah Natal, mereka tidak bisa datang lagi ke Jakarta karena selain krismon, banyak di antara mereka yang sedang dicari aparat akibat terlibat sejumlah kerusuhan. Namun di sana mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah terisolasi akibat banyaknya orang luar yang tinggal di sana. Mau cari makan susah. Mau kerja di kebun atau semacamnya, mereka gengsi karena pengaruh kehidupan di Jakarta. Sementara ketegangan antarsuku dan agama sudah mulai tegang. Jadi Anda melihat para preman itulah yang memicu kerusuhan di Ambon yang memang sebelumnya sudah panas? Tim melihatnya begitu. Mereka merekayasa bagaimana cara mencari uang dengan memunculkan kerusuhan seperti yang mereka lakukan di Jakarta. Mereka juga mendatangkan sekitar 800 orang Saparua yang hobinya memang ribut dan berkelahi. Mereka memanfaatkan sentimen antipendatang. Kalangan Cina mereka lindungi dengan imbalan uang. Ada pihak yang mencetuskan, lalu berkembang. Hari pertama, kerusuhan hasil rekayasa. Ada Yopie yang Kristen berkelahi dengan Hasan yang Islam. Mereka mencari waktu Idul Fitri setelah zuhur. Kita tahu, saat itu orangorang Islam kan sedang lelah. Nah saat itulah terjadi perkelahian. Mereka juga membakar-bakar ban di depan masjid dan gereja sehingga orang mengira ada masjid dan gereja dibakar. Akhirnya masyarakat yang sudah “panas” sejak lama itu terkena provokasi. Para preman kemudian menyapu kedai dan toko para pedagang menengah. Terjadi penjarahan. Preman-preman itu tahu orang-orang Bugis, Buton,

dan Makasar (BBM) sedang panen hasil penjualan pada saat Lebaran. Saat itu toko-toko milik pendatang hancur. Juga milik orang Jawa, Minangkabau, termasuk orang Banda. Semua dijarah lalu dibakar. Pada hari kedua, pagi-pagi sekali terjadi peristiwa yang lebih hebat lagi. Islam mulai terbangun, marah. Para pelaku kerusuhan itu lalu sengaja bikin panik. Caranya, mereka membakar-bakar ban di depan berbagai masjid dan gereja. Rekayasanya hebat betul. Tapi mereka belum membunuh, baru menjarah saja. Mereka baru membunuh setelah melihat orang Bugis berlebaran. Ditunggu di terminal bus, lalu dibabat. Yang masih hidup dan menyelamatkan diri di Hotel Asia, hotelnya dibakar. Juga, orang-orang Bugis yang sembunyi di bioskop Amboina, bioskopnya juga dibakar beserta orang-orangnya.

Bisa Anda lukiskan konfigurasi masyarakat Ambon saat-saat itu? Bagaimana reaksi mereka? Di Ambon itu ada beberapa pengelompokan penduduk. Ibarat ring, di tengah-tengah adalah pedagang Islam, termasuk juga orang-orang keturunan Cina. Tapi di situ pun ada perkampungan orang Islam dan Kristen. Selanjutnya orang Ambon Kristen berlokasi di gunung dan daerah sekitarnya. Susahnya, di tempat ini, terutama di pesisir, pun merupakan tempat orang-orang Islam. Nah, setelah mendengar ada masjid dibakar, ribuan orang Islam berusaha masuk kota Ambon, lalu dicegat di Paso. Sepanjang perjalanan sekitar 20 km, di tengah jalan, apa saja yang berbau Kristen dihabisi, termasuk gereja. Orang-orang Kristen ini ada juga yang kena di tempat terakhir yang penduduknya muslim. Jadi bantuan dari orang-orang Kristen di pulau-pulau lain seperti dari Haruku dan Saparua tidak bisa masuk. Sebab, di pesisir itu dikuasai oleh kalangan Islam. Di Maluku penduduknya mayoritas Ambon, sedangkan di Ambon penduduknya mayoritas Kristen. Itu kan di Ambon. Bagaimana dengan masyarakat di pulau-pulau lain? Penduduk pulau lain yang melihat toko-toko di Ambon sudah mati dan rumah-rumah pemiliknya dirusak, terutama penduduk Islam yang melihat keluarganya dihancurkan, lalu balas dendam. Sementara preman-preman sudah tidak diketahui lagi ke mana perginya. Mereka sudah menghilang. Bagaimana dengan dugaan bahwa RMS juga ikut bermain dalam hal ini? Menurut saya siapa yang bilang ini soal RMS, itu bodoh. Pentolan-pentolan RMS itu kan sudah tua-tua. Mana mungkin mereka bisa mengurus republik lagi. Tidak gampang kan. Tadi Anda katakan para preman itu sewaktu di Jakarta sudah tertangkap, tetapi kemudian dilepaskan dan dipulangkan. Kenapa begitu? Saya juga tidak tahu kenapa polisi melepas mereka. Alasannya sementara ini hanya karena praduga-praduga. Seharusnya, kalau sudah tertangkap, ya ditahan terus dong, tidak dilepas begitu saja. Kalau zaman normal bisa saja. Tapi ini kan zamannya sudah bakar-bakaran. Saya juga kecewa. Kami sudah tanya mereka soal pelepasan itu. Alasannya ya itu tadi, polisi menggunakan sistem praduga tak bersalah di tempat yang terjadi pembunuhan besar-besaran, perkelahian, pembunuhan antarsuku dan antaragama. Menurut saya ini salah. Polisi harus tetap bertindak tegas. Apalagi sekarang sudah ada perintah, siapa yang menyerang polisi berhak menembak kaki. Tapi tampaknya perintah tembak di tempat itu tidak efektif? Ya. Buktinya baru-baru ini ada pembantaian orang Islam lagi. Begitu lewat gereja yang lokasinya tidak jauh dari kantor gubernur, disuruh turun lalu dibantai.

Apakah ada kekuatan lain yang memang mempengaruhi polisi untuk melepas para preman itu? Saya tidak tahu. Itu bukan tugas tim. Tapi yang jelas, saya tahu ada preman yang bernama Pilo. Dia sudah bunuh orang, tetapi karena dianggap tidak ada bukti-bukti, dilepas lagi. Saya punya daftar nama-nama preman itu. Kapolri pernah bilang bahwa kerusuhan di Ambon ada aktor intelektualnya yang berasal dari Jakarta. Siapa mereka? Entahlah. Tapi menurut saya ada indikasi mereka adalah para ketua gereja itu. Sebab, saya melihat dalam beberapa kali rapat perdamaian yang dilakukan tim, ketua sinodenya tidak pernah muncul. Kini di kota sulit bagi orang Kristen untuk keluar, karena di luar kota orang Islam berkuasa. Orang-orang Kristen tidak bisa turun untuk belanja. Orang-orang Islam di kantong-kantong Islam melakukan razia, kalau ada orang Kristen bisa bahaya. Beberapa hari lalu ada sopir truk lewat depan Masjid AlFatah, langsung dibantai. Jadi memang kalau mau membuat perdamaian harus dari bawah (grass root). Artinya kita langsung bicara dengan para ketua adat, tokoh-tokoh agama (pendeta, imam masjid), tokoh-tokoh pemuda, dan lain-lain. Dari pertemuan itu kita menerima berbagai keluhan. Sementara ini keluhan apa saja yang ditemukan TPF? Bisa Anda gambarkan suasana rapat perdamaian itu? Dalam rapat-rapat dengan berbagai kalangan bawah di sana yang terlibat konflik, tim bekerja sama dengan enam orang dari gubernur dan dua dari kelompok Islam dan Kristen untuk masuk ke kampung-kampung. Para ketua adat, kepala desa, juga ikut. Begitu kami selesai rapat, sudah setuju antara Islam dan Kristen untuk berdamai. Pendeta kami bawa ke masjid, ulama kami bawa ke gereja supaya ada pendekatan. Tapi suatu kali terjadi, setelah damai tercapai, suasana panas terjadi lagi di tingkat bawah. Jadi kacau lagi, bahkan sudah ada yang buang bom di kiri-kanan. Ada lagi gereja yang tiba-tiba mulai, ada orang Islam yang menghantam orang Kristen dan semacamnya.

Menurut Anda yang agak sulit diajak berdamai itu kelompok mana? Kesan saya kelompok Kristen. Mungkin mereka takut. Seperti ada orang Banda yang lapor kepada saya bahwa mereka terjepit. Di setiap gereja lonceng berbunyi sebagai isyarat tertentu seperti akan diserang, sudah masuk ke daerah mereka, ada peristiwa tetapi bukan di daerah mereka, atau ada penyerbuan. Jadi kalau ada isyarat penyerangan, orang Islam keluar sambil meneriakkan Allahu Akbar dan mencari perlindungan ke asrama aparat tentara. Mendengar ada teriakan Allahu Akbar, orang Kristen yang belum siap lalu mundur. Mereka menduga teriakan Allahu Akbar itu sebagai isyarat penyerangan. Dari hasil beberapa pertemuan itu, kesimpulan tim bagaimana? Kelompok mana sih yang paling bersalah?

Kami ngobrol dengan pendeta dan ulama. Menurut orang Islam, orang Kristen ada beberapa yang terlibat. Sementara orang Kristen tidak menuduh siapa-siapa. Tapi mereka bilang, mereka selalu dituduh RMS, padahal bukan RMS. Jadi mereka tidak bilang orang Islam yang memulai karena memang mereka yang memulai. Jadi orang-orang Kristen itu mengakui? Ya. Mereka juga mau berdamai. Tapi para provokator itu yang tidak mau. Kelompokkelompok Kristen di Ambon banyak yang mengirim faksimile ke kedutaan-kedutaan negara Barat, minta bantuan. Tapi kedutaan belum memberi reaksi karena mereka tahu bahwa ini perang agama. Soal pengamanan yang selama ini dilakukan aparat, bagaimana Anda menilainya? Payah. Menurut saya ini karena ABRI terlalu banyak main politik di pusat. Kasus penembakan di Masjid Al Huda yang diduga dilakukan oleh aparat menjadikan orang Islam tidak lagi merasa aman bersama aparat keamanan. Menurut Anda? Ya memang. Apalagi jumlah tentara kurang. Mereka memang sudah kirim lagi pasukan Kostrad, tetapi banyak orang Bugisnya. Secara psikologis ini sudah salah. Kenapa tidak dikirim pasukan yang datangnya dari Bali atau daerah mana saja yang netral Kenapa? Apa karena kasus Masjid Al Huda itu? Ya, kan ada tentara atau polisi yang Kristen. Juga yang Islam. Soalnya kan jadi lain. Mestinya yang memegang teguh janjinya. Jangan pandang bulu. Susah kalau polisi dari sana. Harusnya dari luar. Jadi dalam tubuh aparat sendiri sudah ada perpecahan? Ya, aparat juga terpecah. Kalau begitu tidak ada garis komando yang jelas dong? Kalau ABRI sih masih lumayan. Yang repot polisi itu. Menurut Anda, untuk mendamaikan yang bertikai, apa yang harus dilakukan? Militer harus unjuk kekuatan (show of force). Mereka harus banyak jumlahnya. Selama ini kaum perusuh maunya keadaan tetap begitu terus, rawan dan kacau. Sebab, kalau damai, mereka bisa ditangkap. Tapi sekarang mereka sudah ketakutan, tidak bisa berbuat apa-apa. Para preman itu tidak menyangka kalau akan terjadi peristiwa seperti ini. Sekarang sudah perang terbuka antara Kristen dan Islam. Awalnya kan para preman itu hanya mau menjarah saja untuk cari uang.

Perlukah diberlakukan kebijakan darurat sipil? Tidak. Yang penting unjuk kekuatan. Bikin bersih semua senjata yang ada. Itu lebih bagus daripada darurat sipil. Belakangan ada usulan agar beberapa tokoh seperti Megawati, Gus Dur atau yang lain datang ke sana untuk ikut menyelesaikan persoalan. Apakah ini akan efektif? Kalau sudah damai mungkin bisa efektif. Tapi kalau masih panas, saya kira sulit. Misalnya Megawati ke sana, tetapi tidak mencapai apa-apa, kan bisa malu dia. Bisa saja orang-orang itu datang ke sana. Tapi ajak juga jenderal-jenderal atau pendeta-pendeta Maluku. Apakah Anda melihat bahwa persoalan Ambon pada tingkat lokal punya hubungan erat dengan persoalan politik tingkat nasional atau bahkan internasional? Sebab, ada juga dugaan bahwa peristiwa ini sengaja dibiarkan untuk menjatuhkan pemerintah Saya tidak melihat sejauh itu. Memang ada juga anggapan seperti itu. Misalnya soal pengamanan. Ketidaktegasan aparat jelas menimbulkan anggapan bahwa itu disengaja. Kapolda baru ditempatkan di sana. Danremnya beberapa kali membuat kesalahan macam-macam. Mahasiswa berdemonstrasi dibabat habis-habisan. Bagaimana perkiraan Anda ujung dari persoalan ini. Apakah nanti akan tercipta masyarakat yang secara homogen Kristen yang akan berkembang, sementara kalangan Islamnya eksodus seperti sudah terjadi sekarang? Tidak. Saya merasa bahwa mereka yang eksodus itu harus kembali. Mereka kan juga penduduk asli sana. Dan mereka punya sentimen emosional yang begitu kuat. Anda katakan perdamaian di Ambon akan muncul jika dikembalikan kepada tokoh-tokoh bawah di sana. Apakah mereka bisa akur dengan cara itu? Memang tidak akur. Tapi di situlah kita tahu bahwa sebetulnya antarmereka sudah mau berdamai. Mereka sudah lapar dan letih konflik. Semua tidak bisa berbuat apa-apa dalam suasana mencekam. Tapi kenapa konflik masih terus muncul hingga sekarang? Persoalannya memang kompleks. Tapi suatu saat pasti akan teratasi. Makanya kalau kita kembalikan ke soal kesenjangan sosial seperti kita bicarakan di awal, orang-orang Kristen Ambon atau siapa pun harus dimotivasi agar mereka tidak hanya mau menjadi pegawai negeri saja. Saya setuju kalau mereka juga lebih dididik keterampilan kejuruan. Sementara unsur pendatangnya juga tetap saja tinggal di sana. Soal seperti ini juga kan muncul misalnya di Kupang dan Timtim.

Nasrullah Alief dan Elly Burhaini Faizal Share:
• • • • •

1 Comment

Insiden Jalan Ketapang November 1998
30 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 30,2011 Uncategorized

INSIDEN JALAN KETAPANG NOVEMBER 1998

Majalah Panji Masyarakat No. 33 Tahun II, 02 Desember 1998, hal. 75-76 Nasional LAGI, MASSA TERSULUT Insiden Ketapang: Bermula dari berebut lahan parkir, bentrok antara pemuda dan preman berlanjut menjadi kerusuhan massal. Mengapa massa mudah terpancing isu SARA?

Hingga Senin sore suasana mencekam masih menyelimuti RT 06 RW 01 Ketapang, Kelurahan Petojo Utara, Jakarta Pusat. Tak ada aktivitas yang terlihat seperti biasa dalam perkampungan tersebut. Beberapa rumah tampak lengang ditinggalkan penghuninya sejak pecahnya kerusuhan pada Ahad dini hari lalu. Sejumlah pemuda tampak berjagajaga di sepanjang mulut gang Jl. Ketapang hingga depan rumah masing-masing. Hampir semuanya melengkapi diri dengan berbagai senajat tajam, seperti samurai, golok, celurit, dan bambu runcing. Penjagaan kian ketat dilakukan di sekitar Masjid Jami’ Khairul Biqa’. Di depan masjid tampak beberapa pemuda duduk sambil berjaga-jaga. Di tangan mereka tampak sebuah tongkat dengan sebuah pisau atau celurit yang dikatkan pada ujungnya.

Terhadap warga asing yang datang pun mereka menaruh curiga dan kurang bersahabat. Setiap orang asing yang hendak memasuki kawasan tersebut ditanyai identitas dan maksud kedatangannya. Setelah yakin barulah orang asing diizinkan masuk, termasuk

wartawan. Sikap untuk selalu siaga memang merupakan anjuran pemuka masyarakat setempat. Terlebih setelah beredar kabar akan ada serangan balik pada malam harinya. “Maklum Mas, soalnya masyarakat masih waswas. Pengalaman di Tanah Abang membuat kami serba berhati-hati,” ujar Mochtar Wiganda, ketua RT 06 RW 01 Ketapang saat ditemui Panji. Sekitar 200 meter keluar dari gang tersebut ke arah kanan, tepatnya di Jl. Zainul Arifin No. 11, tampak bangunan berlantai tiga yang telah menghitam. Dikelilingi police line, pusat bola tangkas Mickey Mouse Enko itu masih dijaga ketat sejumlah aparat dari Polres Jakarta Pusat. Dari sinilah amuk massa di kawasan Jakarta Pusat yang terjadi sepanjang Ahad lalu bermula. Saat itu Ivan, pemuda warga Jl. Pembangunan IV –masih wilayah Petojo Utara namun berjarak beberapa ratus meter dari Ketapang– sekitar pukul 02.00 dini hari bertikai dengan seorang preman penjaga gedung tersebut. Pertengkaran bermula dari perebutan lahan parkir antara keduanya. Pertikaian kian memanas saat Zaenudin, bapak Ivan, yang juga anggota hansip setempat ikut terlibat. Pasalnya, Zaenudin tidak terima anaknya menjadi bulan-bulanan para preman. Ia lalu mendatangi para preman itu. Namun rupanya kedatangan Zaenudin justru disambut bogem mentah dari centeng gedung tersebut. “Kami anggap pertikaian itu selesai. Karena telah dilerai dan terjadi kesepakatan damai,” tutur Mochtar. Tak disangka, aksi damai itu hanya berlangsung sesaat. Hanya selang beberapa jam sekitar pukul 06.30 WIB, menurut pengakuan warga setempat, ratusan preman mendatangi kampung Ketapang. Sembari menantang, para preman itu mengamuk dan melempari rumah-rumah penduduk. “Bahkan sebuah sepeda motor yang pagi itu diparkir di halaman rumah salah seorang warga ikut dibakar,” ujar Mochtar. Aksi pelemparan para preman itu kemudian mengenai kaca Masjid Khairul Biqa’. Melihat kaca masjid pecah, kontan emosi warga meledak. Hingga kemudian bentrok fisik antara preman dan warga setempat tak terelakkan. Puluhan pemuda dan warga segera merangsek maju menyerang preman. Bahkan salah seorang preman bernama Tahan Manahan Simatupang (22) sempat tertangkap warga setelah babak belur dihajar.

Entah dari mana mulanya, yang jelas isu pembakaran masjid di kawasan Ketapang dengan cepat menyebar. Dan segera saja membuat banyak massa dari kawasan Telukgong, Tanjung Priok, Tanah Abang, Tambora, dan Tengarang berdatangan. Massa yang membawa berbagai macam senjata tajam seperti samurai, golok, celurit, pisau, dan bambu runcing terus mengamuk. Pasukan anti huru-hara PHH dari Kodam Jaya dan Yon 202 Jakarta yang didatangkan tak mampu mengendalikan massa sehingga amuk massa dengan cepat meluas.

Mereka mendatangi gedung Mickey Mouse Enko dan membakarnya. Gereja Kristus Ketapang yang terletak persis di sebelahnya tak luput dari amukan massa. Rumah ibadah beserta gedung Yayasan Pendidikan kristen SLTP Kristen Ketapang I itu pun hangus dilalap api. Ikut terbakar pula sebuah mobil Suzuki Carry di depan gedung SLTP dan dua sepeda motor yang terletak di belakang gereja. Tak puas, massa terus memburu dan menghajar para preman yang terkepung hingga tewas. Bahkan beberapa di antaranya tewas, dalam kondisi yang mengenaskan. Massa juga mengepung gedung Plaza Gajah Mada yang diduga sebagai tempat persembunyian para preman. Pusat pertokoan ini pun menjadi sasaran amuk massa. Mujur, sekitar pukul 10.30 WIB pasukan Marinir yag diterjunkan ke lokasi dapat menghalau massa hingga upaya penjarahan dapat dihindari.

Sebagian massa yang lain bergerak menuju kawasan sekitarnya. Lantas mencoba membakar dan merusak Gereja HKBP di Jl. Kiai Patah, Gereja Pantekosta di Jl. Perniagaan, Gereja Sidang Jemaat Allah di Jl. Bandengan, Gereja Santo Antonius Jl. Taman Sari, Gereja Kristen Bethel Indonesia, dan Gereja Katolik Kemakmuran. Amuk massa juga berusaha merusak Gereja Katedral di Lapangan Banteng, namun sempat dihalau aparat. Tetapi massa sempat membakar sejumlah ruang di Sekolah Santa Ursula yang terletak di belakang gereja tersebut. Massa juga merusak Gereja Bakti Elis di Jl. Susilo Grogol dan Gereja Bala Keselamatan Jl. Mangga Besar. Bahkan sejumlah toko di Roxi Mas, Pasar Baru, dan sepanjang Gunung Sahari sempat dirusak massa. Hotel Permata di Jl. Sukarjo Wiryopranoto pun tak luput dari aksi perusakan. Amuk massa ini juga diikuti dengan aksi penjarahan yang sempat terjadi di sejumlah ruas jalan tol dalam kota. Menjelang malam, aksi perusakan dan pembakaran mulai reda. Akibat amuk massa tersebut, hingga Selasa (24 November) tercatat korban meninggal sebanyak 13 orang. Enam orang meninggal akibat benda tajam saat terjadi bentrok antara massa dan preman. Mereka adalah Stevi Viktor Subit Mele (21) warga kampung Muara Bahari Gang Samudra RT 11/014 Tanjung Priok, Jakarta Utara; Jimmi S. (35) warga Jl. Cikunir Indah No. 2 Blok C II Bekasi Selatan; Izhak Kaihatu warga Cililitan Besar, Kelurahan Kramat jati, Jakarta Timur; Yunas Mustam; Jefry Yelaury dan Tahan Manahan Simatupang warga Rawasari Barat 10 RT 01/04 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Timur. Sedang tujuh orang lainnya yang ditemukan hangus di dalam gedung Enko adalah karyawan arena ketangkasan bola tersebut. Masing-masing adalah Agus, Jumi, Antoni, Hermawan, Jusuf, Frendi, dan seorang lainnya yang belum diketahui identitasnya. Korban lainnya adalah empat orang menderita luka bacok, yakni Roni Kurniawan (20) dan Muhammad Urfan (17), keduanya warga Ketapang, serta Dandim 0501 Jakarta Pusat Letkol (Inf.) Susiswo Widodo yang saat itu berusaha mengendalikan massa terpaksa dilarikan ke rumah sakibat akibat luka pada bagian kepalanya. Delapan orang lainnya diketahui luka-luka. Guna menghindari bretambahnya jatuh korban, sebanyak 185 orang penduduk setempat terpaksa dievakuasi. Bentrok fisik itu juga mengakibatkan empat gereja dibakar, 12 lainnya dirusak, sebuah hotel dirusak. Kerusakan lainnya meliputi tiga sekolah, satu kantor Koramil, satu masjid, tujuh rumah warga, empat kantor bank, dan empat unit mesin dingdong. Selain itu, sembilan mobil dirusak dan 23 lainnya dibakar, dua buah sepeda motor dirampas dan satu dirusak. Atas kejadian tersebut, berbagai pihak mengungkapkan penyesalannya. Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengimbau semua pihak agar tidak terpancing isu SARA. Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta juga menyerukan hal senada kepada umatnya. Dalam pernyataan yang ditandatangani A.B. Susanto, ketua umumnya, mengharap masyarakat Katolik tetap tenang.

Sementara itu melalui Mensesneg Akbar Tandjung, Presiden Habibie berjanji membangun kembali rumah ibadah dan sekolah yang rusak. Pertanyaannya apakah itu solusinya? Terlebih jika persoalannya adalah ketidakmerataan resources yang bukan saja terjadi secara vertikal tetapi horizontal, seperti diungkapkan sosiolog Sardjono Jatiman. Menurutnya, kesenjangan horizontal ditambah akumulasi persoalan akibat krisis ekonomi menjadi potensi terjadinya konflik kekerasan. “Sumbu yang paling tepat adalah komponen SARA,” tutur dosen UI ini. Sintesis Sardjono ditambah pernyataan Gus Dur yang menengarai adanya upaya memecah belah persatuan bangsa melalui kasus Ketapang, agaknya tak dapat diabaikan. Untuk itu pemerintah sudah selaiknya mendengar aspirasi berbagai unsur masyarakat yang tergabung dalam deklarasi di kantor YLBHI Selasa siang yang menghendaki kasus ini diusut tuntas. Dalam deklarasi yang ditandatangani Matori Abdul Djalil (PKB), Faisol (PRD), Sarwono Kusumaatmadja (GKPB), Arnold M. (Solidaritas Nusa Bangsa), Helmi Faisal (AMNU), Dadang Trisasongko (YLBHI), Said Agil Siradj (PBNU), Dr Med Ciptaning (Komite Peduli Megawati), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia itu antara lain menyerukan agar rakyat Indonesia tetap bersatu. Deklarasi ini juga mengutuk sasaran agama sebagai legitimasi untuk menghancurkan agama lain. Yunita Trihandidi Laporan: Mas’ad T., Agung Y. Achmad, dan Akmal Stanzah Share:
• • • • •

0 Comments

Fenomena Pembunuh Bayaran
29 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 29,2011 Uncategorized

FENOMENA PEMBUNUH BAYARAN Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*

Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede BAGI SEBAGIAN MASYARAKAT INDONESIA, mungkin masih membayangkan sosok dan keberadaan pembunuh bayaran hanya berada di film-film atau di luar negeri. Ternyata, di Indonesia sosok pembunuh bayaran sudah menjadi sesuatu yang nyata, setidaknya dapat dirasakan melalui berbagai kasus yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Juga, melalui berbagai pemberitaan yang berkaitan dengan itu. Pada bulan April 2010 lalu, misalnya, Polres Minahasa Utara (Sulawesi Utara), pernah mengungkap keberadaan kelompok pembunuh bayaran yang disinyalir bekerja profesional lintas wilayah Indonesia. Kelompok pembunuh bayaran beranggotakan lima lelaki dewasa ini dapat terungkap, setelah mereka gagal menghabisi nyawa Alfrets Kumiliang (31 tahun), yang akrab disebut Boteng alias Boang. Percobaan pembunuhan terhadap Alfrets terjadi pada hari Rabu tanggal 28 April 2010, sekitar pukul 21.20 Wita. Saat itu mereka bekerja untuk Meidy Umase (37 tahun), yang merupakan tetangga depan rumah Alfrets di Desa Kaima, Jaga Delapan, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara. Bahkan, pernah diberitakan tentang pembunuh bayaran asal Indonesia yang beroperasi di Malaysia, dan berhasil ditembak mati aparat setempat. Mereka adalah Mat Shaari dan Andi, asal Madura, Jawa Timur. Sasasannya juga orang Jawa Timur yang bekerja di Malaysia. Uniknya lagi, mereka diupah olah orang Jawa Timur juga, dengan kisaran harga antara 3000 hinga 7000 ringgit Malaysia (sekitar Rp9 juta hingga Rp20 juta per kasus). Rupanya, bukan hanya upah mereka yang murah, bahkan nyawanya pun dihargai begitu murah. Motif yang paling sering melatari adalah urusan utang-piutang dan rebutan perempuan serta jabatan. Semula, pembunuh bayaran asal Jawa Timur ini melakukan aksinya dengan menggunakan clurit. Terakhir, mereka sudah terampil menggunakan senjata api untuk membunuh korbannya. Selain menjalani profesi sebagai pembunuh bayaran, anggota kelompok ini juga menjadi bandar judi di sekitar bedeng pekerja asal Jawa Timur atau Madura yang bekerja di Malaysia. Di Lumajang, Jawa Timur, seorang istri bernama Nami (40 tahun) menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi suaminya Samuri (45 tahun), karena sakit hati akibat sering disiksa sang suami selama beberapa tahun belakangan ini. Keduanya warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ranuyoso, Lumajang.

Sebagaimana dikaui Nami di hadapan aparat kepolisian 6 Oktober 2010, ia menyewa SW (30 tahun) untuk menghabisi Samuri. Nami mengenal SW melalui perantaraan Tori (35 tahun) warga Dusun Karang Tengah, Desa Tegalbangsri, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang. Samuri dihabisi dengan cara dipukul berkali-kali menggunakan sebilah balok di bagian kepala hingga tewas. SW dibayar Rp4 juta untuk aksi biadabnya itu. Di tahun 2009, Polda Metro Jaya bersama dengan Polda Bangka Belitung berhasil menangkap seorang pembunuh bayaran bernama Ali Mudin pada akhir Januari 2009. Ali Mudin pada tanggal 19 Januari 2009 membunuh seorang pengusaha distributor timah asal Bangka Belitung bernama Abu. Ternyata, Ali Mudin disewa oleh istri Abu sendiri (WN). Motifnya, rebutan harta. *** Bila contoh di atas lebih bersifat amatiran, contoh berikut ini terkesan lebih serius dan melibatkan pejabat negara serta pengusaha besar. Juga, melibatkan dana lumayan besar, dan melibatkan aparat penegak hukum baik yang masih aktif maupun yang sudah dipecat akibat desersi.

Erlangga Masdiana Menurut Erlangga Masdiana (kriminolog UI), di sebuah kota yang kompleks seperti Jakarta, memang terdapat orang-orang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Biasanya, mereka berlatar belakang aparat bersenjata. Akibat desakan ekonomi, mereka cenderung menggunakan keahlian yang dimilikinya, yakni menggunakan senjata api, untuk mencari nafkah. Syafiuddin Kartasasmita (2001) Ketika Syafiuddin Kartasasmita tewas ditembak, 26 Juli 2001, khalayak sudah bisa menduga, peristiwa tragis itu ada kaitan dengan kasus-kasus yang ditanganinya. Yaitu, kasus tukar guling Goro Batara Sakti, kasus yayasan milik HM Soeharto, kasus Bob Hasan.

Sebelum tewas ditembak, Syafiuddin adalah hakim Agung pada Mahkamah Agung RI dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Muda Bidang Pidana. Ia ditembak mati ketika menuju kantor, oleh empat orang yang mengendarai dua Yamaha RX King. Empat peluru yang ditembakkan ke tubuh Syafiuddin membuatnya tewas tak terselamatkan. Peristiwa penembakan itu, melibatkan nama pengusaha besar Hutomo Mandala Putra (HMP). Bahkan, HMP sempat divonis 15 tahun penjara, untuk kasus pembunuhan Syafiuddin.

Salah satu bukti kuat yang menjerat HMP dalam kasus Syafiuddin antara lain keterangan Mulawarman dan Noval Hadad sebagai pelaku utama penembakan. Keduanya berhasil ditangkap pada 7 Agustus 2001. Berdasarkan pemeriksaan aparat, Mulawarman mengakui telah menerima order dari Dodi untuk melakukan pembunuhan Syafiuddin Kartasasmita. Mulawarman menerima imbalan Rp100 juta langsung dari tangan HMP. Kemudian, Rp50 juta diantaranya diberikan kepada Noval Hadad.

Noval Hadad dan Juan Felix

Sedangkan senjata yang digunakan untuk mengeksekusi Syafiuddin, yaitu pistol Baretta FN Kaliber 9 mm diserahkan oleh HMP langsung kepada Mulawarman, dan sudah dikembalikan setelah aksi penembakan. Boedyharto Angsono (2003) Sebelum terjadi kasus pembunuhan terhadap Boedyharto Angsono yang merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT Asaba), sudah terjadi percobaan pembunuhan terhadap anak buah Boedyharto, yaitu Paulus Teja Kusuma (Direktur Keuangan PT Asaba), yang terjadi pada tanggal 6 Juni 2003 di Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden. Dua pembunuh bayaran bersepeda motor meski berhasil menyarangkan peluru ke dada dan leher Paulus, namun Paulus selamat dari kematian.

Boedhyarto Angsono Barulah sekitar enam pekan kemudian, persisnya tanggal 19 Juli 2003, sejumlah pembunuh bayaran beraksi membunuh Boedyharto Angsono yang saat itu sedang bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep (anggota Kopassus). Keduanya ditembak mati sekitar pukul 05:30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

Tak sulit bagi aparat kepolisian mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Sekitar dua pekan kemudian, tanggal 31 Juli 2003, aparat keamanan menangkap empat anggota Marinir yang diduga terkait kasus pembunuhan Boedyharto. Yaitu, Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto. Keempatnya merupakan pengawal pribadi Gunawan Santoso, mantan menantu Boedyharto sendiri. Untuk tugas biadab itu, keempatnya konon hanya dibayar sekitar Rp4 juta saja.

Gunawan Santoso Siapa Gunawan Santoso? Selain pernah menjadi menantu Boedyharto, Gunawan juga pernah menjabat sebagai eksekutif di PT Asaba. Sayangnya, ia terkait kasus penggelapan dana perusahaan sebesar Rp25 milyar. Akibat perbuatannya itu (2002), Gunawan divonis 28 bulan penjara. Namun pada tanggal 16 Januari 2003, Gunawan berhasil kabur dari LP Kuningan, Jawa Barat. Dalam masa pelariannya itu, ternyata Gunawan merancang aksi pembunuhan terhadap Paulus Teja Kusuma dan mantan mertuanya Boedyharto Angsono. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitu juga dengan Gunawan. Ia berhasil ditangkap aparat pada tanggal 12 September 2003, sekitar pukul 04.00 wib oleh anggota Reserse Polda Metro Jaya di lantai bawah area parkir Griya Kemayoran, Jakarta Pusat. Selama dalam pelarian Gunawan melakukan face off (merubah wajah), terutama bentuk mata, hidung, dan bibir. Juga mengganti identitas. Ia bersembunyi di Griya Kemayoran, dengan uang sewa Rp1,8 juta per bulan. Gunawan tak lupa melengkapi penampilannya dengan mobil mewah. Imran Ray (2003) Kasus Imran Ray terjadi pada tahun 2003, di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, saat sang pengacara masih berusia 36 tahun. Imran dibunuh oleh pembunuh bayaran yang disewa oleh Dwi Aryanto (saat itu juga berusia 36 tahun) yang punya nama panggilan berbau syi’ah, yaitu Husen Karbala, warga Perumahan Taman Laguna di Cibubur, Jakarta Timur. Menurut Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol Makbul Padmanagara, Dwi Aryanto menyewa pembunuh bayaran dengan imbalan Rp300 juta, yang melibatkan sejumlah anggota dan mantan anggota TNI. Motifnya, Dwi Aryanto merasa ditipu oleh sang pengacara. Peristiwa berdarah ini bermula pada tahun 2002. Ketika itu, Dwi Aryanto yang bekerja sebagai pegawai eselon V di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak di Jakarta, dimutasi ke Kantor Wilayah Pajak Jawa Timur di Surabaya. Kepindahan itu membuat Dwi merasa tidak nyaman, dan ia berupaya bisa kembali ke tempat semula. Dalam rangkaian upayanya itu, Dwi diperkenalkan seorang temannya dengan pengacara bernama Imran Ray. Konon, Imran Ray punya kenalan dengan sejumlah pejabat di Ditjen

Pajak. Kepada Imran, Dwi meminta bantuan agar dirinya dikembalikan ke Jakarta. Imran pun menyanggupi dengan syarat Dwi menyediakan dana sebesar Rp650 juta. Namun hingga pertengahan 2003, kesanggupan Imran tak terbukti. Sementara itu, kesabaran Dwi tak lagi bersisa. Maka, ia menghubungi oknum bintara dari sebuah angkatan dan mengutarakan maksudnya membunuh Imran Ray, sang pengacara yang dianggap telah menipunya. Untuk pekerjaan itu, Dwi menyediakan imbalan Rp300 juta. Pagi hari tanggal 3 September 2003, masyarakat menemukan jasad Imran Ray dalam sebuah mobil di sekitar Kali Malang, Jakarta Timur, dengan penuh luka tusukan. Empat hari kemudian, polisi berhasil membekuk pelakunya. Beberapa hari kemudian, polisi membekuk Dwi Aryanto di rumahnya. Di tempat itu pula polisi menemukan empat senapan laras panjang, lima pistol, dua senapan angin, dan 2.016 butir peluru.v Diduga, Dwi Aryanto nyambi sebagai pedagang senjata api ilegal. Dari satu kasus di atas, kepada kita telah disodorkan fakta bahwa pegawai eselon V Ditjen Pajak memiliki sejumlah uang yang begitu banyak. Pertama, ia mampu menyediakan dana sebesar Rp650 juta untuk mempertahankan posisinya di tempat semula. Namun gagal, dan ia merasa tertipu. Oleh karena itu, ia menyewa pembunuh bayaran dengan imbalan Rp300 juta untuk menghabisi nyawa orang yang dituju. Total hampir Rp1 milyar dana yang ia gunakan untuk kemunkaran. Boleh jadi, uang sebanyak itu diperoleh melalui penyelewengan pajak sebagaimana dilakoni Gayus Tambunan yang ramai diberitakan media massa akhir-akhir ini.

Begitulah perjalanan uang yang diperoleh secara bathil, cenderung digunakan untuk urusan yang bathil pula. Akibatnya, meski sudah keluar uang sedemikian banyak, akhirnya yang diperoleh bukan sesuatu yang ingin diraihnya, justru masuk penjara. Nasrudin Zulkarnaen (2009) Kasus tewasnya Nasrudin Zulkarnaen boleh jadi merupakan kasus terbesar sepanjang tahun 2009. Karena, melibatkan banyak orang besar. Nasrudin sendiri menjabat sebagai Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia ditembak mati usai main golf di Modernland, Tangerang, pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2009, pagi hari. Sebelum akhirnya meninggal dunia pada pukul 12:05 wib, Nasrudin sempat koma beberapa jam.

Nama-nama besar lain yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan ini adalah Antasari Azhar (saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi), Komisaris Besar Polisi Wiliardi Wizard (saat itu menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan), Sigid Haryo Wibisono (pengusaha, namun lebih diduga markus alias makelar kasus).

Antasari Azhar

Wiliardi Wizard dan Sigid Haryo Wibisono Nama-nama eksekutor yang disewa adalah Eduardus Ndopo Mbete alias Edo, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen Sabon, dan Heri Santosa. Mereka disewa Williardi melalui Jerry Hermawan Lo. Untuk tugas ini Williardi menerima Rp500 juta untuk biaya operasional. Uang sebanyak itu diperoleh dari Sigit Haryo Wibisono. Sebagai makelar kasus, Sigid

mau memenuhi keinginan Antasari membiayai ‘proyek’ tersebut, tentu untuk tujuan yang sesuai dengan kiprahnya selama ini. Di persidangan para eksekutor mengaku semula hanya ditugaskan meneror Nasrudin. Namun kenyataannya, Nasrudin tewas tertembus peluru. Kematian Nasrudin membuka fakta baru, bahwa ia punya istri ketiga bernama Rhani Juliani yang dinikahi secara sirri pada Juni 2007. Istri pertama Nasrudin bernama Sri Martuti. Sedangkan istri keduanya bernama Irawati Arienda, mantan pramugari Garuda Indonesia Arways.

Istri ketiga Nasrudin, Rhani Juliani, selama ini dikenal sebagai caddy yang sering menemani Antasari Azhar bermain golf di Modernland. Melalui Rhani yang ndeso inilah kasus besar yang melibatkan dana cukup besar, melibatkan nama-nama besar, bergulir tak terkendali. Ancaman Allah terhadap para pemimpin Begitulah perilaku sebagian pembesar kita. Ketika mereka diberi kekuasaan dan harta yang lebih dari cukup, mereka justru melakukan kemungkaran. Bahkan, dengan kekuatan finansialnya, mereka menyewa pembunuh bayaran demi harta, tahta dan barangkali juga wanita. Pertanyaannya, kenapa sampai kekerasan bahkan pembunuhan itu melibatkan orangorang besar dan dengan biaya besar? Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan: ‫وما لم تحكم أئمتهم بكتاب ال ويتخيروا فيما أنزل ال إل جعل ال بأس ُم بينهم { . )ابن ماجه ، وأبو نعيم ، والحاكم‬ ْ ُ َ ْ َ ْ ‫َ َ َ ْ َ ْ ُ ْ َ ِ ّ ُ ُ ْ ِ ِ َ ِ ّ َ َ َ َ ّ ُ ِ َ َ ْ َ َ ّ ّ َ َ َ ّ َ ْ َه‬ ُ ُ ِ ‫)، والبيهقى فى شعب اليمان ، وابن عساكر عن ابن عمر‬ “Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan keganasan mereka di antara mereka.” (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-

Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani). Fenomena pembunuh bayaran telah nyata. Korbannya pun bergelimpangan. Beritanya pun memenuhi atmosfir negeri ini. Sebelum fenomena buruk itu terjadi pun ancaman terhadap para pemimpin dari Allah Ta’ala lewat Nabi-Nya telah tegas seperti dalam hadits tersebut. Kasus-kasus itupun kemungkinan bisa membesar dan merajalela, bila semakin para pemimpinnya menyepelekan apa yang telah Allah turunkan yakni wahyu yang mengatur tata kehidupan ini dengan agama. Lebih lancang lagi bila para pemimpin itu tingkahnya bukan sekadar menyepelekan apa yang diturunkan Allah Ta’ala, namun lebih dari itu, yakni pura-pura mengindahkannya, padahal hanya untuk mengelabui manusia. Itulah yang disebut dalam Al-Qur’an: ‫يخادعون ال والذين آمنوا وما يخدعون إل أنفسهم وما يشعرون )9( في قلوبهم مرض فزادهم ال مرضا ولهم‬ ْ ُ َ َ ً َ َ ّ ُ ُ َ َ َ ٌ َ َ ْ ِ ِ ُُ ِ ُ َ ُ ُ ْ َ َ َ ْ ُ َ ُ ْ َ ّ ِ َ ُ َ ْ َ َ َ َُ َ ِ ّ َ ّ َ ُ ِ َ ُ َ 10 ، 9 : ‫]عذاب أليم بما كانوا يكذبون ]البقرة‬ َ ُ ِ ْ َ ُ َ َ ِ ٌ َِ ٌ َ َ 9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. 10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah: 9, 10). Upaya mereka membohongi Allah dan membohongi orang Islam pada hakekatnya hanyalah menipu diri mereka sendiri. Kalau toh selamat di dunia ini, (dan kenyataannya belum tentu selamat, karena ancaman bahwa Allah akan menjadikan keganasan sesama mereka itu adalah di dunia, dan memang terjadi) masih ada lagi ancaman yang lebih dahsyat yaitu untuk dirasakan di akherat kelak siksa yang pedih telah Allah sediakan untuk mereka.

Sadarilah wahai para manusia, terutama para pemimpin. Dan pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas apa yang kita pimpin. Jangan menipu Allah, jangan pula menipu orang Islam. Allah yang Maha dahsyat siksanya telah mengancam kita bila kita berbuat demikian. Fenomena pembunuh bayaran itu telah jadi bukti benarnya ancaman Allah Ta’ala lewat Nabi-Nya ‘alaihis shalatu wassalam.

*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, penulis buku Ummat Dikepung Maksiat, Politik Kotor dan Sesat. Sumber: http://www.nahimunkar.com/fenomena-pembunuh-bayaran/ Share:
• • • • •

1 Comment

Tiga Wanita di Sekitar Pejabat di Indonesia
28 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 28,2011 Uncategorized

TIGA WANITA DI SEKITAR PEJABAT DI INDONESIA AKHIR-AKHIR INI ADA TIGA WANITA yang terkesan begitu amat dekat dengan sejumlah pejabat negara. Ketiganya adalah Artalita Suryani alias Ayin, Ong Yuliana Gunawan alias Lien, dan Rhani Juliani. Ketiganya beredar di sekitar kasus korupsi, dengan berbagai tambahan kasus lainnya. Seperti Lien yang pernah terlibat kasus narkoba bahkan diduga bandar. Sedangkan Rhani diduga mengetahui kasus terbunuhnya Nasruddin dan diduga terlibat asmara segitiga. Artalita Suryani

Artalita Suryani

Bagi masyarakat luas, nama Artalita Suryani baru dikenal ketika terjadi kasus penangkapan Jaksa Urip Tri Gunawan pada Ahad petang tanggal 02 Maret 2008 oleh KPK. Jaksa Urip tertangkap tangan menerima suap sebesar 660.000 dollar AS atau setara dengan Rp 6,1 miliar.

Jaksa Urip Namun bagi pejabat negara dan elite politik nasional, nama Artalita Suryani sudah sejak lama dikenal kiprahnya. Sebagaimana diberitakan detikcom edisi 04 Maret 2008, Artalita pernah masuk ke dalam jajaran pengurus DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sebagai Bendahara menggantikan Erman Soeparno, yang kala itu diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans).

Eiffel Tedja dan Imelda Surya Dharma Pada 9 Juni 2007, Artalita menikahkan anaknya Imelda Surya Dharma dengan Eiffel Tedja di Ballroom Hotel Sheraton, Surabaya. Pernikahan yang super mewah itu dihadiri sekitar empat ribu undangan, termasuk sejumlah pejabat tinggi negara seperti Jenderal Sutanto (waktu itu Kapolri), Letnan Jenderal purnawirawan Sutiyoso (waktu itu Gubernur DKI), dan Mayor Jenderal purnawirawan Imam Utomo (waktu itu Gubernur

Jawa Timur). Perhelatan yang diperkirakan menghabisan dana miliaran rupiah ini merupakan pesta pernikahan termewah yang pernah terjadi di Surabaya.

Alexander Tedja dan istri Eiffel Tedja merupakan putra sulung Alexander Tedja, bos Pakuwon Group, salah satu konglomerat keturunan Cina. Ayah Imelda, mendiang Surya Dharma tercatat sebagai bos Gajah Tunggal, salah satu perusahaan milik konglomerat keturunan Cina asal Lampung, Sjamsul Nursalim.

Sebelumnya, 15 April 2007 lalu, Presiden SBY menghadiri resepsi perkawinan putra dari Artalyta yaitu Rommy Dharma Satriawan, yang berlangsung di Hall A23 Pekan Raya Jakarta. Selain SBY, hadir juga Agung Laksono, dan beberapa petinggi nasional, juga petinggi Partai Demokrat.

Rommy Dharma Satriawan merupakan Direktur PT Alam Surya yang pernah dicekal oleh KPK selama satu tahun tidak boleh bepergian keluar negeri, terhitung sejak 26 Maret 2008 hingga 26 Maret 2009. Pencekalan tersebut terkait dengan kasus suap Artalita Suryani terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan. Menurut Syaiful Anwar (Direktur Penyidikan dan Penindakan Ditjen Imigrasi) ketika itu, selain Rommy yang turut dicekal atas permintaan KPK adalah Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim, isteri kedua Sjamsul. Pada mulanya, Artalita berusaha menyangkal, dengan mengajukan dalih bahwa uang yang ada di tangan Jaksa Urip Tri Gunawan bukan suap, tetapi dalam rangka bisnis permata. Menurut Artalita, ia sudah mengenal Urip Tri Gunawan (UTG) selama lima tahun. Namun, ia tidak tahu latar belakang Urip yang berprofesi sebagai jaksa. Menurut Artalita, sore itu ia mendapat laporan dari sekuriti rumahnya yang mengatakan terjadi keributan di depan rumah. Ia lalu memerintahkan putranya untuk mengecek. “Ternyata ada petugas KPK di luar rumah saya. Sebagai warga negara yang baik, saya minta anak saya untuk membukakan pintu pada petugas KPK. Mereka mengajak saya untuk memberikan keterangan di kantor KPK, dan sebagai warga negara yang baik saya bersedia.” Artalita juga berusaha menyangkal, bahwa rumah mewah di jalan Terusan Hanglekir II WG-9, kawasan Simprug, Jakarta Selatan itu merupakan rumah milik obligor BDNI Sjamsul Nursalim, salah satu tersangka kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Menurut pengakuan bohong Artalita, rumah itu miliknya yang dibeli beberapa tahun lalu. Namun ketika ditanya dibeli dari siapa rumah tersebut, Artalita tidak bisa memberikan jawaban. Di persidangan, kebohongan Artalita terbukti. Salah satunya, melalui rekaman hasil sadapan yang dilakukan KPK. Pada persidangan yang berlangsung hari Senin tanggal 2 Juni 2008, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan bukti berupa rekaman percakapan Artalita dan Urip yang terjadi pada tanggal 27 Februari 2008. Rekaman percakapan itu diperdengarkan di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi.

Intinya, Artalita dan Urip sedang mengatur penyelesaian kasus Sjamsul Nursalim (SP3), termasuk pembicaraan tentang rencana ‘pembayaran’ dan teknis pengambilannya. Dua hari kemudian, Kejaksaan Agung menghentikan penyelidikan dua kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang diantaranya menjerat Sjamsul Nursalim. Penghentian penyelidikan itu disampaikan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus yang waktu itu dijabat oleh Kemas Yahya Rahman dengan didampingi diantaranya oleh jaksa Urip Tri Gunawan. Pernyataan Kemas waktu itu sama persis dengan penyataan Urip dalam rekaman pembicaraan dengan Artalita.

Artalita di Sel Mewah Selama ini, Artalita Suryani menduduki jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama di PT Indonesia Prima Property Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perumahan hotel dan apartemen, pusat pertokoan dan perkantoran. Sedangkan jabatan Komisaris Utamanya dipegang oleh mantan Kapolri Jenderal (Purnawirawan) Dibyo Widodo. Perusahaan ini berkantor di Wisma Diners Club Lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 34, Jakarta. (Kompas edisi 04 Maret 2008). Ong Yuliana Gunawan Yang juga terkesan pinter dan bisa ngatur-ngatur pejabat negara, adalah Ong Yuliana Gunawan alias Lien. Nama Ong Yuliana Gunawan baru dikenal publik secara meluas setelah MK (Mahkamah Konstitusi) pada 3 November 2009 memperdengarkan rekaman hasil sadapan KPK tentang pembicaraan antara Anggodo dengan dirinya yang terjadi pada 6 Agustus 2009.

Ong Yuliana Gunawan Pada pembicaraan itu, menurut Yuliana, Ritonga yang saat itu menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) –kemudian dilantik sebagai Wakil Jaksa Agung pada 12 Agustus 2009– mendapatkan dukungan dari RI-1 (maksudnya tentu SBY), dalam kasus Anggoro (PT Masaro).

Ritonga mantan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Ong: Tadi Pak Ritonga telepon, besok dia pijet di Depok, ketawa-ketawa dia, pokoknya harus ngomong apa adanya semua, ngerti? Kalau enggak gitu kita yang mati, soalnya sekarang dapat dukungan dari SBY, ngerti ga? Anggodo: Siapa? Ong: Kita semua. Pak Ritonga, pokoknya didukung, jadi KPK nanti ditutup ngerti ga? Anggodo: Iya-iya. Ong Yuliana Gunawan (OYG) ternyata pernah tersangkut kasus narkoba. Menurut AKP Effendi (Kepala Unit Idik II Narkoba, Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya), OYG sempat menjadi tahanan polwil karena kasus narkoba. Ketika itu OYG tertangkap di apartemennya bersama Fredi, pada tanggal 18 Januari 2007 dengan barang bukti 0,9 gram sabu-sabu bersama alat hisapnya. Akibat dari itu, OYG sempat meringkuk di tahanan polwiltabes beberapa bulan, sebelum akhirnya dibebaskan. Dua tahun sebelumnya (2005), OYG juga pernah ditangkap Unit Idik Narkoba Kepolisian Resor Surabaya Selatan dengan kasus yang sama.

Anggodo Selain terampil di bidang narkoba, OYG juga terampil dalam hal pijat memijat. Selama OYG berada dalam tahanan polwiltabes Surabaya untuk kasus narkoba, ia sempat dijenguk Anggodo, yang kala itu mengaku sebagai teman akrab OYG. Selama ini, OYG memang dekat dengan Anggodo, baik sebagai rekan bisnis maupun dalam kapasitas antara pemijat dan pasiennya. Bahkan, OYG diduga sebagai tangan kanan sekaligus penghubung Anggodo dengan sejumlah petinggi Polri dan Kejaksaan Agung. (http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/12/16452265%20/siapa.wanita.bernama.o ng.yuliana.gunawan.ini) Yang menarik, meski namanya dicatut OYG, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan tidak akan menuntut secara hukum. Karena, menurut Denny Indrayana (Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum Denny Indrayana), “Itu kan kembangkembang, dan sampingan yang bukan fokus. Kalau menurut saya penyebutan itu maksud orang untuk meningkatkan bargaining saja pada lawan bicara. Kalau kita fokus ke sana malah kehilangan arah.”

Eggi Sudjana Sikap SBY berbeda ketika Eggi Sudjana pada tanggal 3 Januari 2006, melakukan klarifikasi tentang adanya dugaan seorang pengusaha yang memberikan mobil (Jaguar) kepada sejumlah pejabat negara (Sekretaris Kabinet, Jurubicara Presiden dan kepada Presiden SBY). Konon, Jaguar untuk SBY itu sehari-hari digunakan oleh putra SBY. Klarifikasi itu ditujukan Eggi kepada Ketua KPK dan jajarannya, untuk mengetahui tingkat kebenaran dugaan tersebut. Akibatnya, Eggi Sudjana didakwa melakukan

penghinaan terhadap presiden. Eggi harus mengikuti proses hukum yang lumayan panjang.

Zainal Ma'arif Selain Eggi Sudjana, Zainal Ma’arif pernah mengalami hal serupa. Zainal Ma’arif (mantan Wakil Ketua DPR RI periode sebelumnya) mengatakan, bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk akademi militer kepada sejumlah wartawan pada 26 Juli 2007. Zainal Ma’arif dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik, dan divonis hukuman satu tahun penjara. Di Kalimantan Barat, seorang kepala sekolah bernama Felix Setiawan ditangkap Polda Kalimantan Barat karena mengirim SMS yang isinya antara lain mengatakan bahwa SBY bermental tempe. Selama ini Felix telah berusaha melakukan verifikasi soal tanah milik sekolah yang dipimpinnya kepada pemerintah setempat. Namun tidak digubris. Maka, ia pun melayangkan SMS berisi keluh kesah ke nomor SMS Presiden SBY (nomor 9949). Felix kemudian mendapat respon, yang isinya: “Itu bukan urusan saya, silahkan ke pemerintah setempat.” Karena merasa tidak mendapatkan tanggapan serius, Felix kemudian membalas SMS tersebut dengan pesan: “Bagaimana Bapak Presiden, jangan hanya mengurusi tahu tempe. Ini masalah serius, ini masalah pendidikan. Kalau bapak seperti ini, berarti mental bapak seperti tempe.” Dari perbandingan di atas, dapat disimpulkan betapa hebatnya OYG ini. Powerfull. Rhani Juliani Berbeda dengan dua wanita di atas, wanita ketiga ini terkesan bagai bawang kotong, atau bagai ayam sayur. Bahkan ada yang bilang, ia bagai umpan yang berada di mata kail. Dialah Rhani Juliani, isteri ketiga mendiang Nasruddin Zulkarnaen, Direktur PT Putra

Rajawali Banjaran, salah satu perusahaan di lingkungan BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Rhani Juliani Rhani lahir di Tangerang pada tanggal 1 Juli 1986, dan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Endang M. Hasan dan Kuswati. Mereka tinggal di lingkungan RT 1 RW 4 Kampung Kosong, Kelurahan Penanggungan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Ia bekerja sebagai caddy (kacung permainan golf) di Padang Golf Modernland. Selain dikenal sebagai caddy primadona, Rhani juga dianggap paling jago mendekati para pemain golf.

Antasari Azhar Di padang golf inilah Rhani mengenal Antasari Azhar (sebelum jadi Ketua KPK) dan Nasruddin Zulkarnaen. Sambil bekerja sebagai caddy, Rhani kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer. Ia mengambil diploma tiga jurusan manajemen informatika dengan konsentrasi sistem informasi manajemen. Meski lebih dulu kenal Antasari, namun akhirnya pada Juni 2007 Rhani dinikahi secara sirri oleh Nasruddin. Pernikahan mereka dilangsungkan di hadapan penghulu Amil Sanjaya, dan yang bertindak selaku wali nikah adalah orangtua Rhani sendiri yaitu Endang M. Hasan.

Nasruddin Zulkarnaen (Direktur PT Putra Rajawali Banjaran) Pernikahan Rhani-Nasruddin tidak diketahui pihak keluarga Nasruddin, termasuk kedua isteri Nasruddin sebelumnya. Barulah ketika Nasruddin tertembak mati, keberadaan Rhani sebagai isteri ketiga mendiang, diketahui secara luas. Sehari setelah Nasruddin ditembak mati, Rhani dan keluarganya lenyap bagai ditelan bumi. Menurut aparat, karena Rhani merupakan saksi kunci, maka keberadaannya dirahasiakan dan dalam pengawasan aparat. Sesekali Rhani muncul di persidangan, sebagai saksi. Hanya sebatas itu. Selebihnya, Rhani sulit ditemui wartawan. Ia seperti terlindungi dengan proteksi yang sangat ketat dan serius. Barulah setelah Williardi Wizard mengungkapkan pengakuannya yang mengejutkan pada 10 November 2009, beberapa hari kemudian Rhani begitu terbuka, bersedia diwawancarai media massa bahkan berinisiatif menggelar konferensi pers. Intinya, Antasari Azhar merupakan dalang dalam kasus pembunuhan Nasruddin. Dari cara Rhani menjelaskan segala sesuatu yang diketahuinya, semakin kita tahu dari kelas sosial dan intelektual mana ia berasal. Setidaknya, dari kelas yang sebenarnya berbeda dengan kelasnya para pejabat negara seperti Antasari atau Nasruddin. Namun faktanya, Rhani disunting Nasruddin. Meski sudah menjadi istri pejabat negara, ternyata Rhani masih mau menjalani profesi sampingan sebagai tenaga pemasaran freelance bagi Padang Golf Modernland. Ini tentu sangat aneh. Karena, komisi dari pekerjaan itu tidak seberapa bagi seorang isteri direktur. Lebih aneh lagi, ketika Rhani justru berinisiatif mengontak Antasari secara terus menerus, ketika Antasari sudah menjadi Ketua KPK, untuk mengajak kembali Antasari bermain golf di Modernland. Rhani pula yang berinisiatif menemui Antasari di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Kedua kalinya, Rhani justru disuruh mendiang suaminya untuk menemui Antasari di tempat yang sama, seraya menganjurkan agar tetap memposisikan ponselnya dalam kondisi tersambung, dengan alasan agar Nasruddin dapat memonitor apa yang terjadi melalui ponsel tersebut. Nasruddin menitipkan pesan melalui Rhani untuk disampaikan kepada Antasari, berisi permohonan bantuan, tentang saudaranya yang bekerja di BUMN yang sudah turun SK-nya sebagai Direktur namun belum juga dilantik. Sekitar 5-10 menit Rhani berada dalam sebuah kamar di hotel itu, ketika Rhani berada di balik pintu keluar hotel, sekonyong-konyong mendiang suaminya sudah berada di

hadapannya. Kemudian Rhani didorong masuk kembali ke kamar hotel, sambil ditampar dan dimarahi, di hadapan Antasari yang memang masih berada di dalam kamar itu. Sebagai sesama pejabat negara, mengapa mendiang Nasruddin ‘menugaskan’ Rhani untuk meminta bantuan Antasari. Bukankah ia dapat berhubungan langsung, secara formal atau informal? Keberadaan Rhani di antara pejabat negara, hingga ia bisa dinikahi secara sirri oleh Nasruddin, tentu merupakan sebuah ‘prestasi’ tersendiri bagi Rhani (dan keluarganya). Namun, nilai berapa yang patut kita berikan kepada pejabat negara yang berada di antara para caddy? Bagaimana kita bisa menghormati pejabat negara yang sudah punya kantor bagus masih menerima tamu di sebuah hotel, untuk urusan pribadi (keanggotaan golf di Modernland). Apalagi tamu itu adalah seorang wanita muda. Ini jelas rangkaian keanehan. Tidak sekedar aneh, tetapi juga berpotensi mengundang fitnah. Sejak Rhani menghilang, hingga ia muncul dengan berani di hadapan pers, orang sudah menduga ia dikendalikan sebuah kekuatan. Rhani ibarat boneka yang bergerak atas arahan sutradaranya. Rhani berbeda dengan Artalita Suryani atau Ong Yuliana Gunawan yang cerdik, licik, powerfull dan bisa ngatur-ngatur pejabat. Rhani terkesan naif, mudah diatur-atur, disuruh-suruh, sebagaimana layaknya seorang caddy. Dari tiga ilustrasi di atas, seharusnya masyarakat luas sudah bisa menilai kualitas moral pejabat negara kita. Antasari dan Nasruddin hanyalah sebuah sample yang representatif dari sejumlah (besar) pejabat kita yang secara moral membuat kita miris. Untuk menambah kehati-hatian dan waspada, agaknya perlu pula membaca tulisan berjudul Iblis Menyesatkan Manusia dengan Wanita, oleh Hartono Ahmad Jaiz, nahimunkar.com, October 19, 2009 3:24. Pertanayaan yang muncul, lantas siapa Iblisnya dalam kasus Rhani ini? Wallahu a’lam bis shawaab. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/tiga-wanita-di-sekitar-pejabat-di-indonesia/ Share:
• • • • •

1 Comment

Korban-korban Video Porno Ariel
27 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 27,2011 Uncategorized

KORBAN-KORBAN VIDEO PORNO ARIEL PADA SIDANG KETUJUH kasus video porno Ariel yang berlangsung pekan ketiga Desember 2010 lalu, majelis hakim menghadirkan sejumlah saksi ahli, diantaranya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menurut Hadi Supeno, sejak tanggal 14 Juni 2010 hingga akhir Juli 2010, ada sekitar 59 anak yang melapor ke KPAI karena jadi korban video porno. Angka 59 kemudian berkembang menjadi 64 laporan. Sebelum beredar video porno Ariel-Luna-Cut, KPAI paling banyak menerima laporan korban anak karena video porno dalam satu bulan hanya dua atau tiga kasus.

Luna Maya, Ariel dan Cut Tari Sedangkan menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), meski tahun 2011 baru berjalan dua pekan, mereka sudah mencatat ada 110 korban kekerasan seksual terhadap anak-anak. Terjadi peningkatan 300 persen dibanding yang berhasil dicatat Komnas PA sepanjang tahun 2010. Salah satunya, kasus Yayat Supriyatna (40 tahun), seorang guru mata pelajaran agama di SDN V Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten. Yayat diduga telah mencabuli lima siswa laki-laki di tempat ia biasa mengajar. Bahkan, salah seorang diantaranya telah diajaknya bersetubuh. Menurut pengakuan Yayat, ia terdorong mencabuli siswanya setelah menonton video porno yang dilakoni pasangan mirip Ariel dan Luna Maya. Kini, rencana Yayat menikah pada Februari 2011 kandas sudah, karena ia dijerat Pasal 290 KUHP tentang pencabulan terhadap anak di bawah umur, dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara. Beberapa kasus 2010

Pada pertengahan Juni 2010, di Benowo, Surabaya, Jawa Timur, dua siswa Sekolah Dasar (SD) dan SMP dikabarkan mencabuli siswi SD usai menonton video porno artis di sebuah warnet. Kedua bocah tersebut masing-masing bernama Robbi (14 tahun, pelajar SMP) dan Roni (10 tahun, pelajar SD), sedangkan korbannya (nama disamarkan) yaitu Sari (9 tahun) siswi kelas 3 SD. Ketiganya warga Benowo. Korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuanya. Hal tersebut kemudian diteruskan orangtua korban dengan melaporkan kasus tersebut ke aparat kepolisian. Maka pada tanggal 19 Juni 2010 kedua pelaku pencabulan yang masih di bawah umur ditangkap aparat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polwiltabes Surabaya. Di Kecamatan Cibugel, Sumedang, Jawa Barat, seorang pelajar putri kelas enam sekolah dasar diperkosa tiga pemuda yang terangsang usai melihat video porno mirip Ariel-Luna Maya yang tersimpan di dalam ponsel salah satu dari pelaku. Ketika pelaku adalah Ade Irawan, Komar, dan Tedi Mulyadi. Kasus ini terkuak berkat keberanian korban melaporkan kejadian buruk yang menimpanya kepada orangtua dan aparat kepolisian. Ketiganya ditangkap pada 23 Juni 2010, dan dijerat dengan pasal berlapis yakni UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta pasal 287 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang perkosaan anak di bawah umur, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, bocah lelaki berusia 13 tahun mencabuli bocah perempuan berusia lima tahun setelah menonton dua video porno yang salah satu pelakunya mirip Ariel. Pelaku dan orangtuanya selama ini mengontrak salah satu kamar di rumah orangtua korban di Jalan Gowa Ria, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Pada saat kejadian (19 Juni 2010), korban dan pelaku berada di rumah yang sama, dan sama-sama sedang ditinggal pergi oleh orangtua masing-masing. Pelaku mengakui, ia sering ke warnet mengunduh film (video) porno, antara lain berisi adegan mesum yang salah satu pelakunya mirip Ariel Peterpan. Setelah menonton dua video mesum Ariel, pelaku kembali ke kontrakan. Di dalam rumah ia menemui korban sedang sendirian. Akhirnya, ia berhasil memaksa korban. Setelah cukup lama tertutup rapat, kasus ini terbuka juga setelah korban punya keberanian mengadukan peristiwa buruk yang menimpa dirinya. Orangtua korban yang mengetahui

anaknya telah menjadi korban perbuatan asusila kemudian melaporkan kasus tersebut ke Mapolsekta Biringkanaya, Makassar, pada hari Rabu tanggal 30 Juni 2010. Di Klaten, Jawa Tengah, juga terjadi kasus serupa. Kali ini, pelakunya Darmono (20 tahun) warga Desa Ngemplak Seneng, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Ia tidak kuasa menahan birahi setelah melihat video Ariel-Luna dan Cut Tari, pada pertengahan Juni 2010 lalu. Usai menyaksikan video porno, pelaku menemui sang pacar yang masih berusia 12 tahun diajak membeli minuman keras di warung seputar Jalan Manisrenggo-Prambanan, Klaten. Pelaku kemudian memaksa korban menenggak minuman keras hingga keduanya mabuk di persawahan Desa Nangsri, Manisrenggo. Kemudian pelaku membawa korban dengan sepeda motor ke rumahnya. Saat itulah, pelaku mencabuli korban. Kasus ini sempat tersimpan lama. Barulah setelah korban punya keberanian, ia mengadu kepada orangtua dan melaporkan ke aparat kepolisian setempat (12 Juli 2010). Pelaku dijerat Pasal 81 Ayat 1 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Di Kapuaskuala, Kalimantan Tengah, kasus yang terjadi adalah antara Paman (pelaku) dengan korbannya (kemenakan). Sang Paman bernama Nesadi (37 tahun), warga Desa Sungaiteras RT 23 Kecamatan Kapuaskuala. Sedangkan korbannya adalah (nama disamarkan) Mawar yang masih berusia 15 tahun. Senin, 12 Juli 2010, Neshadi mengajak Mawar menyaksikan video porno Ariel yang tersimpan di dalam ponselnya, namun tak sampai tuntas karena baterei ponsel Nesadi keburu drop. Saat men-charge baterei ponsel, Nesadi melakukan pencabulan terhadap Mawar, karena ia tak kuasa menahan birahi yang membuncah setelah meyaksikan video mesum Ariel. Karena merasa diperlakukan tidak senonoh, Mawar pun berteriak. Teriakan Mawar terdengar anggota keluarga lain, yang kemudian membawa kasus ini ke aparat kepolisian. Nesadi pun ditangkap dan dijerat dengan pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun dan pasal 289 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara. Perilaku Ariel yang memvideokan perzinaannya dengan Luna Maya dan Cut Tari, ternyata ditiru sepasang remaja (DA dan LF) di Bogor. Remaja putri berinisial DA (16 tahun), adalah warga Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Sedangkan remaja putra berinisial LF (19 tahun) warga Tamansari yang berbatasan dengan Desa Sukamulya. Diduga perzinaan itu direkam dengan mengggunakan ponsel, dan dilakukan di sebuah hotel kelas melati di kawasan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Video porno berdurasi 20 menit 9 detik itu mulai merebak di Desa Sukamulya dan Tamansari sejak akhir Juni 2010 lalu. Menurut Jejen, Sekretaris Desa Sukamulya, tokoh masyarakat setempat sepakat memberikan sanksi sosial bagi keduanya, termasuk menikahkan kedua pelaku zina tersebut.

Di Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, seorang lelaki berusia 32 tahun yang doyan nonton video porno Ariel, melakukan perbuatan bejad terhadap adik iparnya yang masih berusia 14 tahun. Saat keadaan rumah sepi, dan hanya ada dia dengan adik iparnya, pelaku memaksa korban ke kamar dan langsung melucuti pakaiannya. Tentu saja korban melawan. Namun sia-sia, karena tenaga pelaku lebih besar. Bahkan pelaku sempat membekap mulut korban, sehingga tidak dapat menjerit. Kasus ini sempat tersimpan lama, barulah setelah korban punya keberanian, ia mengadu kepada orangtua dan kepada aparat kepolisian (4 Juli 2010). ***

Peniru zina video porno diancam 9-15 tahun penjara, Ariel yang jadi sumber kejahatan itu hanya divonis tiga setengah tahun Dari kasus di atas dapat disimpulkan, pertama, betapa cepatnya video mesum Ariel beredar. Dalam tempo relatif singkat, video porno itu sudah meracuni daerah yang jauh, bahkan kemungkinan daerah itu belum pernah dikunjungi oleh Ariel sendiri. Kedua, korban video porno Ariel adalah anak remaja atau anak-anak di bawah umur (sesama remaja atau anak-anak di bawah umur mencabuli atau memperkosa sebayanya). Ketiga, meski korban yang terangsang video porno Ariel adalah orang dewasa, namun yang menjadi sasaran (korban) pelampiasan nafsu birahi orang dewasa ini tetap saja remaja usia belasan tahun atau anak-anak di bawah umur. Bila para pelaku di atas dijerat dengan berbagai pasal yang hukumannya antara 9-15 tahun, Ariel ternyata hanya dituntut 5 tahun dan divonis 3 tahun 6 bulan oleh Hakim Pengadilan Negeri Bandung. Hukuman itu masih dikurangi masa penahanan yang pernah dijalani, ditambah denda Rp 250 juta. Menurut Hakim, Ariel terbukti secara sah dan menyakinkan menyebarkan dan membuat tayangan pornografi. Jadi, ia dihukum bukan karena melakukan perzinaan. Putusan Hakim membuat pihak Ariel tidak puas, yang diekspresikan dengan mengajukan banding. Karena menurut OC Kaligis, putusan yang diambil majelis hakim lebih didasari

tekanan publik. Sejumlah artis juga turut menyatakan ketidak-puasannya terhadap keputusan hakim. Bahkan sejumlah fans Ariel sontak menangis saat hakim menjatuhkan vonis tiga setengah tahun bagi idola mereka. Ariel ditangisi bagai pahlawan. Beginilah gambaran zaman edan. Pelaku zina diidiolakan bahkan dibela. Mereka sama sekali tidak punya perasaan dan keberpihakan terhadap sejumlah korban yang dicabuli, diperkosa dan sebagainya oleh sejumlah pelaku yang terangsang setelah menonton video porno Ariel-Luna-Cut. Membela keburukan menjemput adzab Orang-orang yang membela, mendukung, menangisi pembuat dan penyebar video porno zina itu jelas bukan manusia yang berakal sehat apalagi punya rasa solidaritas terhadap kehidupan sesama manusia. Kalau mereka masih ada sisa pikirannya yang waras, maka akan mampu berfikir: kejahatan apa yang sampai menular dengan sangat cepat dan sangat luas sampai para remaja bahkan anak-anak jadi mangsa perkosaan? Kejahatan ringankah itu? Bukankah kalau remaja dan anak-anak saja sudah jadi sasaran korban perkosaan, berarti menjadikan manusia ini lebih buruk derajatnya dibanding binatang? Coba berfikir sejenak, kalau memang masih ada sisa daya nalar yang waras. Sementara di satu pihak mestinya masyarakat ini diingatkan akan bahaya besar rusaknya moral, dan itu Alhamdulillah masih ada yang peduli, buktinya masih ada anggota masyarakat yang berupaya di antaranya dengan menerbitkan buku Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam (Pustaka Nahi Munkar Surabaya –Jakarta karya Hartono Ahmad jaiz dkk), tapi di lain pihak penggencaran dalam rangka perusakan moral bahkan tingkah bejat yang telah terbukti bejatnya dan meracuni manusia sejagat malah ada pihak-pihak yang mendukungnya. Benar-benar manusia tidak beradab.

Manusia semacam itu jauh dari lafal taat, tetapi adalah manusia-manusia yang menentang Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala telah melarang pembelaan terhadap siapapun yang khianat. Sedang video zina yang terbukti penyebarnya jelas bersalah itu dampak buruknya jelas-jelas nyata di mana mana. Lebih dari virus ganas yang menularkan guncangan nafsu syahwat yang tak terkendali hingga merusak masyarakat terutama remaja bahkan merusak anak-anak di bawah umur (karena diperkosa akibat terangsang video porno yang disebarkan). Kejahatan dan kebejatan yang sudah sangat memuncak namun masih ada manusia-manusia yang membelanya, itu berarti mereka benar-benar menantang ayat Allah Ta’ala: 105/‫]ول تكن للخائنين خصيما ]النساء‬ ً ِ َ َ ِِ َ ِْ ْ ُ َ َ َ “…dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS An-Nisaa’/ 4: 105). Sikap dan prilaku seperti itu jelas menunjukkan keburukan mereka yang berbalikan dengan orang yang wajar dan normal hidupnya. Karena yang mereka usung bukannya kebaikan yang menjadikan masyarakat mendapatkan maslahat namun justru keburukan yang membahayakan kehidupan. Manusia-manusia pendukung zina dan porno itu tidak jauh dari apa yang disifati buruk oleh Allah Ta’ala: ‫المنافقون والمنافقات بعضهم من بع ٍ يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا ال فنسيهم‬ ْ ُ َِ ََ ّ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ْ َ َ ُ ِ ْ َ َ ِ ُ ْ َ ْ ِ َ َ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ ُ ْ ِ َ ُ ُ ْ َ ‫ْ ُ َ ِ ُ َ َ ْ ُ َ ِ َ ُ َ ْ ُ ُ ْ ِ ْ َ ْض‬ ُ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ َ ّ ْ ُ َ ِ ِ َ َ ْ ُ َ ِ َ ِ َ ْ ُ ّ َ َ َ َ َ ّ َ َ ِ ِ َ ِ َ ِ َ َ ْ ُه‬ ‫إن المنافقين هم الفاسقون )76( وعد ال المنافقين والمنافقات والكفار نار جهنم خالدين فيها هي حسب ُم ولعنهم‬ ُ َ ُ ِ َ ْ ُ ُ َ ِ ِ َُ ْ ّ ِ 68 ،67/‫]ال ولهم عذاب مقيم ]التوبة‬ ٌ ِ ُ ٌ َ َ ْ ُ ََ ّ ُ 67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. 68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/ 9: 67, 68). Entah itu artis, ahli hukum, atau bahkan professor ketika membela orang yang bersalah jelaslah melanggar ayat Allah QS An-Nisaa’: 105 di atas. Bahkan kemungkinan sekali ketika pembelaannya itu bermuatan membela kepornoan bahkan perzinaan, maka mereka perlu sekali merenungi ayat tentang munafik laki-laki dan perempuan: sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf. Ancaman bagi orang yang seperti itu adalah: Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/ 9: 68).

Di antara pembelaan terhadap tingkah bejat zina dan rangkaiannya yang video mesumnya terbukti dibuat dan disebarkan Ariel, ada yang sangat memalukan bahkan menyinggung suku tertentu. Sejak jauh-jauh hari sebelumnya memang bertekad untuk membela Ariel yang membuat video mesum dan menyebarkannya itu. Inilah contoh nyata:

Thamrin Amal Tomagola Menurut Thamrin, video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia, karena sebagian masyarakat Indonesia menganggap hal itu biasa. Contohnya, menurut Thamrin, dapat dilihat pada masyarakat suku Dayak, sejumlah masyarakat Bali, Mentawai, dan masyarakat Papua. Thamrin juga mengatakan, “Dari hasil penelitian saya di Dayak itu, bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks.”

Agustin Teras Narang Ternyata, hasil penelitian Thamrin di Dayak itu, justru diprotes warga Dayak sendiri. Menurut Agustin Teras Narang Gubernur Kalimantan Tengah sekaligus Ketua Umum Majelis Adat Dayak Nasional, Thamrin telah melukai perasaan, harkat dan martabat masyarakat Dayak, sekaligus melecehkan adat istiadat suku Dayak yang mengedepankan Belom Bahadat (hidup bertata krama dan beradat). Sedangkan menurut Sabran Akhmad (Tokoh Dayak Kalimantan Tengah), pernyataan Thamrin sangat menghina warga Dayak Kalimantan Tengah. Karena, warga Dayak tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak senonoh, sebagaimana diungkap Thamrin.

Masyarakat Dayak, menurut Sabran, justru menjunjung tinggi falsafah Huma Betang, hidup jujur, kebersamaan, sifat sosial, dan kesetaraan.

Tuty Dau Tokoh wanita Dayak yang juga anggota DPR Kalimantan Tengah, Tuty Dau, merasa tersinggung sekaligus merasa dilecehkan oleh Thamrin melalui pernyataannya yang disampaikan pada sidang Ariel, di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat. Menurut Tuty, dalam adat Dayak perilaku sebagaimana dilakukan Ariel-Luna tergolong perbuatan tidak senonoh yang tidak dibenarkan dan akan dikenakan Jipen atau denda adat. (nahimunkar.com, January 18, 2011 5:47 am, Thamrin Amal Tomagola Professor Sekelas Orang Liberal Ngawur, http://www.nahimunkar.com/thamrin-amal-tomagolaprofessor-sekelas-orang-liberal-ngawur/#more-4133) Walaupun kemudian Thamrin dikhabarkan minta maaf atas pernyataannya yang dinilai menyinggung suku Dayak, namun tidak terdengar adanya pencabutan dari Thamrin mengenai pembelaannya terhadap Ariel, sampai Ariel dinyatakan terbukti salah dan divonis hukuman tiga setengah tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan oleh Pengadilan Negeri Bandung, Senin (31/1 2011). Ancaman neraka bagi yang mengusung keburukan (kemunkaran) dan mencegah kebaikan dalam ayat tersebut di atas adalah balasan siksa di akherat kelak. Sedang bahayanya di dalam kehidupan di dunia ini bukan hanya menimpa mereka (seperti di antaranya telah menimpa sang professor tersebut hingga akhirnya minta maaf kepada suku Dayak dan khabarnya masih disidang pula secara adat oleh suku Dayak) namun lebih dari itu mengakibatkan mengganasnya penyakit moral yakni bejatnya moral berupa perkosaan, pencabulan, perzinaan dan bahkan korbannya banyak yang masih anak-anak di bawah umur. Padahal kalau di masyarakat telah tersebar zina, maka Allah akan mengadzab mereka. Sehingga para pelaku zina yang video mesumnya disebarkan hingga mengakibatkan timbulnya perzinaan di mana-mana dan bahkan perkosaan terhadap anakanak itu sebenarnya harus disikapi secara nyata bahwa itu sangat membahayakan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, hukumannya harus setimpal, agar bahaya yang diakibatkannya itu tidak tersebar.

Ketika hukuman pelakunya/ penyebar video porno itu ringan, sedang pembelanya pun banyak, padahal korban-korban akibat tingkah bejat orang-orang yang menirukan video porno itu makin berjatuhan di mana-mana, berarti masyarakat ini diancam bahaya dahsyat yakni meratanya perzinaan di mana-mana. Kalau sudah begitu, maka adzab Allah menimpa. Karena telah disabdakan: ْ َ َ ٍ َ ْ َ ِ َ ّ َ َ ّ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ َ َ ّ ‫عن ابن عباس رضي ال عنهما ، قال : قال رسول ال صلى ال عليه وسلم: إذا ظهر الزنا والربا في قرية فقد‬ ُ َّ ّ ُ ُ َ َ َ َ َ َ ُ ْ َ ّ َ ِ َ ٍ ّ َ ِ ْ ِ َ ِ ُ ِ َ َ َ ْ ِ ِ ُ ْ َ ِ َّ َ ّ ‫. أحلوا بأنفسهم عذاب ا‬ ‫ل‬ Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, juga riwayat At-Thabrani, dan Al-Baihaqi). Walaupun mereka yang mendukung dan membela Ariel itu merelakan diri mereka diancam neraka, misalnya, namun masyarakat jangan sampai ikut diseret-seret mendapatkan adzab di dunia. Satu hal lagi yang perlu disadari oleh siapapun, baik yang menghukum ringan terhadap pelaku yang terbukti salah dan berbahaya itu, maupun apalagi pelakunya dan para pendukung serta pembelanya, bahwa makar jahat itu tidak kembali kecuali kepada pembuatnya. 43/‫]ول يحيق المكر السيئ إل بأهله ]فاطر‬ ِ ِْ َِ ّ ِ ُ ّ ّ ُ ْ َ ْ ُ ِ َ َ َ Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir/ 35: 43). Hanya saja ketika keburukan tidak diberantas, maka adzab pun akan menimpa semuanya, karena, diam tidak memberantas keburukan itu sendiri adalah termasuk dalam makar jahat. Apalagi yang membelanya, sedang yang membiarkannya pun termasuk dalam yang bermakar jahat. Jadi artinya, apalagi mereka yang membela kejahatan, sedang yang membiarkan kejahatan atau diam atas adanya kejahatan itu sendiri sudah termasuk jahat. Lebih ngeri lagi bila kejahatan itu justru jadi lahan bisnis, dan mereka mendapatkan harta dari situ. Betapa ngerinya, makar jahat itu. Dan betapa tampak nyatanya di dalam dunia ini, hingga sumber kejahatan dihukum ringan, sementara yang menirukannya (karena terangsang oleh kejahatan si sumber itu), justru diancam hukuman lebih berat. Tulisan ini bukan bermaksud agar yang hanya meniru itu diancam ringan, namun kenapa yang masternya sebagai biang yang ditiru justru dikenai hukuman ringan. Apakah memang mereka juga termasuk bermakar jahat dengan cara itu (menghukum ringan)? Wallahu a’lam. Yang jelas, siapapun yang rela dengan kejahatan itu maka termasuk bermakar jahat, apalagi yang membela, bahkan sampai pernyataannya

menabrak-nabrak saking bersemangatnya untuk membela kejahatan Ariel seperti sang professor tersebut. Dua pilihan Menghadapi kejahatan yang membahayakan moral masyarakat ini ada dua pilihan: Satu: Memberantas kejahatan itu dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah masyarakat selamat. Dua: Membiarkan kejahatan itu, bahkan yang melakukan ataupun membelanya dibiarkan semua, akibatnya semua akan rusak dan adzab pun telah jelas diancamkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam dalam sabdanya tersebut di atas. Dari dua pilihan itu secara kenyataan yang sudah-sudah, biasanya yang dipilih adalah di antara keduanya yakni pilih pura-pura. Yakni pura-pura memberantas, padahal sebenarnya membiarkan dan pada ahkekatnya justru seakan memeliharanya. Artinya, ya tempo-tempo diberantas (walau mungkin masih pura-pura pula) bila untuk melayani masyarakat (baca Ummat Islam). Entah itu untuk menutupi sesuatu, atau untuk meraih suara sementara, lalu ketika suara sudah diperoleh dan menang maka nantinya Ummat Islam tidak digubris lagi. Sebagaimana cara-cara yang ditempuh Ben Ali penguasa Tunis yang baru saja ditumbangkan itu. Awalnya memang Ben Ali sebegitu baiknya dalam mengambil simpati Ummat Islam. Tetapi ketika kekuasaan sudah diraih, ternyata sudah beda lagi. Akhirnya kini Ben Ali terjungkal dari kekuasaannya. Demikian pula cara-cara untuk meraih simpati Ummat Islam di negeri ini, sebagaimana masjid-masjid di Indonesia pun banyak yang jadi saksi, ketika menjelang ada pemilihan, ada saja jago yang keliling di masjid-masjid. Namun setelah terpilih, bablas… tidak lagi jago itu menengok-nengok masjid-masjid yang tadinya jadi kancah kampanyenya (secara terselubung). Bagaimanapun Allah tidak akan rela terhadap kejahatan itu, dan yang melindunginya, membisniskannya, memeliharanya, ataupun yang membiarkannya. Bila penduduk negeri banyak yang beriman sungguh-sungguh dan membela agama Allah, maka Allah akan menolong mereka. Entah dengan cara menjungkalkan mereka yang membela kejahatan, mengadzabnya, atau cara lain. Allah tetap akan membela orang yang membela agama-Nya: َ َِ ‫يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا ال ينصركم ويثبت أقدامكم )7( والذين كفروا فتعسا لهم وأضل أعمالهم )8( ذلك‬ ْ ُ َ َ ْ َ ّ َ ََ ْ ُ َ ً ْ َ َ ُ َ َ َ ِ ّ َ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ََُّ ْ ُ ْ ُ ْ َ ّ َ ُ ُ ْ َ ْ ِ َُ َ َ ِ ّ َ َّ َ 9-7/‫]بأنهم كرهوا ما أنزل ال فأحبط أعمالهم ]محمد‬ ْ ُ َ َ ْ َ َ َ ْ ََ ّ َ َ ْ َ َ ُ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ُ 7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

8. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. 9. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS Muhammad/ 47: 7, 8, 9). Oleh karena itu, yang lebih penting adalah membina kaum Mu’minin agar teguh agamanya, hingga benar-benar membela (agama) Allah. Ketika sudah demikian, maka dalam hal tersebarnya kejahatan, maka Allah akan menelangsakan (mencelakakan) pelakunya, pengusungnya, dan pembelanya. (Mungkin kasus Professor Thamrin yang membela Ariel dapat jadi ‘ibrah dalam kasus ini). Dan orang yang sebenarnya pura-pura pun akan memberantas kejahatan –mungkin demi melayani atau cari simpati Ummat Islam atau agar jabatannya naik dan sebagainya— yang hal itu menguntungkan Islam walau mereka sendiri tidak mendapat bagian di akherat. Ketika Ummat Islam benar-benar teguh dengan Islamnya, maka Allah pun menolong Ummat Islam di antaranya dengan orang-orang seperti itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: « ‫إنه ل يدخل الجنة إل نفس مسلمة ، وإن ال ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر « )أحمد ، والبخارى ، ومسلم عن‬ ِ ِ َ ْ ِ ُ ّ ِ َ ّ َ َ ُ ّ َ ُ َ ّ ّ َِ ٌ َ ِ ْ ُ ٌ ْ َ ّ ِ َ ّ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ّ ِ َ ‫)أبى هريرة‬ “Bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang Muslim (bertauhid, meng-Esakan Allah) dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang fajir”. (Hadits riwayat Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah). Fajir artinya orang munafiq atau orang fasiq yaitu orang yang beramal dengan riya’ (pamer, agar amalnya dilihat orang, bukan ikhlas untuk Allah Ta’ala) atau mencampuri amalnya dengan maksiat. (Al-Mala ‘Ali Al-Qari, Mirqatu al-Mafatih Syarhu Misykati al-Mashobih, juz 17 halaman 148). Di hadits lain, agama ini (Islam) kadang didukung oleh orang yang tidak ada bagiannya (di akherat kelak) ‫عن أبي بكرة عن النبي صلى ال عليه وسلم أنه قال إن ال تبارك وتعالى سيؤيد هذا الدين بأقوام ل خلق لهم ) حم‬ ْ ُ َ َ َ َ َ ٍ َ ْ َ ِ َ ّ َ َ ُ ّ َ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ّ ّ ِ َ َ ُ ّ َ َ َّ َ ِ ْ َ َ ّ َ ُ َّ ّ ِ ّ ْ َ َ َ ْ َ ِ َ ْ َ ‫طب ( عن أبي بكرة . قال الشيخ اللباني : ) صحيح ( انظر حديث رقم : 6681 في صحيح الجامع‬ Dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka Wata’ala akan menguatkan Dien (agama) ini dengan suatu kaum yang tidak mendapatkan sedikitpun bagian (di akherat kelak) untuk mereka.” (Hadits Riwayat Ahmad dan At-Thabrani, shahih menurut Al-Albani dalam Shahih AlJami’ nomor 1866).

Kesimpulannya, pilihan yang tepat adalah memberantas kejahatan moral yang sangat membahayakan itu, dan membina Ummat dengan sebaik-baiknya. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/korban-korban-video-porno-ariel/#more-4179 Share:
• • • • •

0 Comments

Menangkal Penetrasi Pemikiran dan Gerakan NII ke Dunia Kampus
24 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 24,2011 Uncategorized

MENANGKAL PENETRASI PEMIKIRAN DAN GERAKAN NII KE DUNIA KAMPUS Disampaikan Dalam Seminar Nasional di UIN Walisongo Semarang 23 Juni 2011 Oleh Umar Abduh

Umar Abduh Latar Belakang

Pemikiran dan Gerakan NII lahir sehubungan dengan kondisi persaingan ideologi dan politik mengisi kemerdekaan, serta dalam memaknai dan atau dalam mengamalkan Pancasila serta UUD 1945. Ditolak dan dihapuskannya tujuh kata Piagam Jakarta dalam Pancasila merupakan pemicu kekecewaan ummat Islam yang mendalam terhadap mereka yang mengklaim sebagai Pemerintahan Nasionalis. Jika pihak Nasionalis boleh menolak dan menghapus tujuh kata dalam Pancasila, seyogyanya pihak Nasionalis juga mentolerir pihak yang menolak Pancasila yang tanpa tujuh kata.

Dari sinilah prasangka ummat Islam, setidaknya mereka yang sepemikiran dengan Kartosoewirjo meyakini bahwa pengamalan Pancasila dan UUD 1945 oleh Pemerintah Soekarno dalam mengisi kemerdekaan tidak akan pernah bertanggung-jawab dalam menghormati eksistensi agama maupun dalam pelaksanaan syari’at-Nya. Penyebutan kalimat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dalam Mukaddimah UUD 1945 tak lebih hanya sebagai basa-basi politik dan kelak terbukti menjadi sumber kemunafikan bangsa. Simbolisasi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan bintang dalam Pancasila jelas merupakan bentuk penghinaan dan kesesatan. Karena, bintang adalah benda langit yang banyak, berbeda dengan matahari yang satu, misalnya. Namun demikian, menggambarkan Tuhan Yang Maha Esa dengan simbol apapun juga sesungguhnya menjurus kepada syirik. Simbolisasi kemanusiaan dalam bentuk untaian rantai merupakan filosofi paradox dalam sistem kemanusiaan. Karena, rantai identik dengan belenggu, ketidakbebasan yang kesemuanya tidak manusiawi.

Soekarno Hal ini terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa fakta riel sistem hukum yang digunakan pemerintah Nasionalis Soekarno menyelenggarakan Negara sejak 1945 hingga pemerintahan SBY di tahun 2011 saat ini, sepenuhnya tetap menggunakan sistem hukum VOC (hukum jajahan), ini sama artinya bahwa visi dan misi pemerintah NKRI tak lebih merupakan perpanjangan dari pemerintahan penjajah. Pemerintah NKRI tidak dan belum pernah memiliki sistem hukum sendiri atau sistem hukum ala Indonesia merdeka.

HOS Tjokroaminoto

Semaoen Soekarno yang muslim Nasionalis, Semaoen muslim Sosialis Komunis dan SM Kartosoewirjo muslim Sosialis adalah anak didik HOS Tjokroaminoto. Tiga anak bangsa yang jelas kiprahnya dalam melawan dan mengusir serta memerdekakan bangsa dari penjajahan. Namun dalam kurun waktu 3 tahun pasca kemerdekaan persaingan politik mengisi kemerdekaan dari ketiga kubu ideologi ini, kubu nasionalis berhasil menempatkan kubu Komunis sebagai pihak yang bersalah, berkhianat dan memberontak atau mengangkat senjata.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo Akan halnya dengan kubu Islam Sosialis SM Kartosoewirjo dan Hizbullah, selain sejak awal telah menolak konsekuensi agressi militer Belanda I (perjanjian Renvile) yang mengharuskan keluar dari Jawa Barat, dalih yang digunakan untuk memproklamasikan diri sebagai berdirinya Darul Islam (Negara Islam Indonesia) pada 7 Agustus 1949 di Wilayah Jawa Barat berdasarkan momen dan fakta riel atas Vacumnya kekuasaan pemerintah NKRI akibat agressi Militer Belanda yang ke II yang berhasil menangkap Soekarno, Sutan Syahrir dan Agus Salim (Menlu) dan mengasingkannya ke Brastagi Sumatra Utara, sementara Moh Hatta (Wapres), RS Suryadharma (KSAU), Mr Assaat (Ketua KNIP) dan Mr AG Pringgodigdo (Sekretaris Negara) diasingkan ke Mentok, Bangka. Dengan demikian memaklumi pola pikir dan gerakan SM Kartosoewirjo dalam memperjuangkan dan memproklamasikan berdirinya NII pada masa itu, jika dianggap sebagai sesuatu yang sah termasuk keyakinannya terhadap proklamasi 7 Agustus 1949 sebagai kelanjutan dari proklamasi 17 Agustus 1945. Pola kebijakan dan solusi top down yang dipilih pemerintah dalam menghadapi persaingan politik ideologis mengisi kemerdekaan, sejak awal penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dan belum pernah ditempuh melalui dan atau berdasarkan bingkai kekeluargaan dan kebhinekaan bangsa. Karenanya praktek pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 yang bersifat top down dalam bernegara tersebut, meski baru berusia 3 dan 4 tahun, cara menyelesaikan masalah persaingan politik ideologis sesama anak bangsa justru menggunakan kekuatan cakar dan kekerasan patukan buas dan liar, sangat berbeda sekali dengan kebijakan penyelesaian yang begitu sopan dan santunnya saat menghadap aggressor Belanda yang sudah jelas terbukti kedzaliman, kebengisannya dan keasingannya. Latar belakang inilah yang setidaknya patut dikuasai dan difahami secara baik dan benar oleh generasi masa kini dalam melihat persoalan masa lalu agar tidak mengulang dan mengulang kesalahan yang sama dalam mengambil kebijakan terhadap keluarga sendiri bangsa sendiri. Pancasila harus difahami sebagai milik bersama segenap rakyat bangsa Indonesia, pancasila bukan milik mereka yang mengaku sebagai nasionalis merah putih semata, nasionalis yang emoh dan tak mau bertanggungjawab terhadap eksistensi agama dan pemeluknya, nasionalis yang mengaku anti komunis tetapi kelakuannya tak jauh beda dengan komunis.

Sifat, Krakteristik dan Eksistensi Gerakan NII Melalui pendekatan sejarah difahami bahwa ide penegakan Islam SM Kartosoewirjo dalam bentuk Negara dan Kekuasaan adalah sebagai cita-cita suci dan tanggungjawab yang berat dan mulia. Gerakan NII dirintis melalui jalan dakwah yang panjang menerapkan konsep “Hijrah” (bersifat non cooperative) sejak 1931-1939 melalui Partai Serikat Islam Indonesia. Tahun 1940 melalui Partai Masyumi. Kartosoewirjo membangun elemen gerakan pendidikan dengan mendirikan Institut Suffah, yang berkonsentrasi di bidang bahasa, agama, politik dan kemiliteran. Institut Suffah inilah yang menjadi sarana penggemblengan fisik dan mental selanjutnya menjadi embrio Laskar Islam, Hizbullah dan Sabilillah yang akhirnya menjadi Tentara Islam Indonesia dan persiapan untuk mendirikan Negara Karunia Allah – Negara Islam Indonesia. Gerakan dakwah SM Kartosoewirjo yang menyeru kepada hijrah atau politik non cooperative dan seruan kepada upaya persiapan lahirnya Negara baru dilakukan secara damai (non confrontative) berlangsung hingga tahun 1948. Sikap non cooperative dan non confrontative Gerakan NII Kartosoewiryo berprinsip menolak dan atau tidak mengakui Pancasila, UUD 1945 dan NKRI dibuktikan antara lain dengan menyusun UUD NII yang berupa Qonun Asasi, Qonun Uqubat – Qonun Jinayat NII (KUHP – Strafrecht) serta PDB Pedoman Darma Bakti Jilid I yang berisi 7 Maklumat Negara Islam Indonesia, 13 Maklumat Komandemen Tertinggi (3 Maklumat terakhir dibuat tahun 1959), 2 Maklumat Militer dan 1 Ketetapan Komandemen Tertinggi; dan Pedoman Darma Bakti Jilid II berisi :IX Bab tentang penjelasan dan alasan Politik Berdirinnya NKA-NII serta 4 Maklumat Pemerintah – NII dan 1 Manifesto Politik NII Adanya agressi Belanda ke-1 dan sikap sopan pemerintah Soekarno yang menerima begitu saja naskah perjanjian Renvile dijadikan sebagai momentum oleh Gerakan NII untuk melakukan konsolidasi dan mobilisasi NII di wilayah Jawa Barat. Konfrontasi pertamakali Gerakan NII SM Kartosoewirjo terhadap pasukan agresor Belanda terjadi setelah terbentuk struktur organisasi Tentara Islam Indonesia NKA-NII pada pertengahan Februari tahun 1948, tepatnya 17 Februari sebagai bukti bentuk penolakan terhadap perjanjian Renville RI-Belanda atas agresi pertama yang mengharuskan wilayah Jawa Barat bersih dari seluruh kekuatan TNI. Baru pada 25 Agustus 1948 Maklumat No 1 dikeluarkan Kartosoewirjo selaku Imam Majelis Islam Pusat Pemerintah NII yang secara resmi menyatakan Negara sebagai keadaan perang (jihad) menghadapi keganasan dan kedzaliman Belanda. Pernyataan dan konfrontasi terhadap tentara pendudukan maupun Negara Pasundan boneka Belanda di wilayah Jawa Barat memacu percepatan pengkodisian secara fisik dan psikologis atas seluruh anggota gerakan NII maupun masyarakat Jawa Barat yang menggambarkan bahwa wilayah Jawa Barat merupakan daerah kekuasaan NII dan berlaku hukum NII dan aturan di masa perang. Ketika 19 Desember 1948 Belanda melakukan agresi ke-2 terhadap Jogjakarta yang berhasil menangkap dan mengasingkan pucuk pimpinan pemerintah RI, gerakan NII menjadikan momentum ini untuk kampanye delegitimasi keberadaan pemerintah RI

sekaligus mengkampanyekan jatuhnya NKRI sebagai karunia Allah dan keniscayaan bagi seluruh rakyat bangsa Indonesia untuk bergabung bersama NII melakukan perang suci bela bangsa, bela Negara bela tanah air serta bela agama melawan penjajah Belanda melalui satu kepemimpinan. Eskalasi suhu politik meningkat dengan keluarnya maklumat NII no 7: “Bahwa sejak hari tanggal diumumkan maklumat ini hanya dikenal 2 golongan yang berperang ialah Negara Islam Indonesia (NII) dengan Belanda dan atau Negaranegara yang menjadi “boneka Belanda”) ……” Pasukan TNI (Siliwangi) yang lari menghindari Jogya kembali ke Jawa Barat, saat sampai di perbatasan Ciamis dihadang Tentara Islam Indonesia (TII) dengan 3 alternatif: 1. Bergabung dengan Tentara Islam Indonesia (TII) yang pengakuan resminya sebagai Mujahid setelah mengikuti 3 kali peperangan. 2. Kembali menjadi rakyat berarti dilucuti senjatanya. 3. Bila tidak memilih poin satu dan dua maka statusnya adalah tentara liar yang mengacaukan keamanan Hal ini selanjutnya memicu Perang Segitiga Antralina (Ciawi) antara TII, Belanda dengan Negara Pasundannya dan TNI, pada 25 Januari 1949. Di beberapa daerah yang terdapat 3 pemerintahan dengan masing-masing aliansi: NII, Pasundan dan Republik. Setiap terjadi pertempuran segitiga kemenangan tetap ada di pihak TII/NII. Pada 7 Mei 1949, hasil kesepakatan Roem-Royen menetapkan: 1. Yogya diserahkan kepada RI 2. Presiden, Wapres dan lain-lain harus dikembalikan ke Yogyakarta 3. Bersedia mengikuti KMB dalam pembentukan Negar Indonesia Serikat (NIS) atau RIS. Ketika 6 Agustus 1949 M. Hatta tiba di Nederland menghadiri KMB esoknya 7 Agustus 1949 SM Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinya NII yang berlaku bagi seluruh Indonesia. Melalui Maklumat demi Maklumat Gerakan NII makin mempertegas sikap politik, administratif Negara dan ketentaraannya serta memperluas lingkup kekuasaan ke seluruh wilayah Indonesia. Hal itu disebabkan karena terdapat klausul yang konspiratif dalam hasil KMB yang berbunyi: 1. Membentuk Negara Indonesia Serikat (NIS/RIS) 2. Hukum yang berlaku adalah hukum kolonial Belanda (VOC) 3. Hancurkan Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesia 4. Berkewajiban mengganti kerugian dana yang diderita Belanda selama menghadapi peperangan dengan Tentara Islam Indonesia.

Dari sinilah starting point permusuhan dan perang ideologi, politik dan fisik sekaligus antara Gerakan NII dengan RI yang dibantu Belanda dengan kamulflase RIS yang pada 17 Agustus 1950 secara resmi dibubarkan dan dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menggunakan UUDS 1950 sebagai landasan konstitusinya. Sampai di sini sejarah pergulatan politik Islam dan politik nasionalis yang notabene pro Belanda (berhukum VOC) sikap politik NII tetap mengabaikan NKRI – UUDS 1950 dan menilai sebagai Negara tidak sah disamping sudah meninggalkan Pancasila dan UUD 1945. Upaya politik RIS terhadap Gerakan NII pun pernah dilakukan melalui PM M. Natsir, tetapi pendekatan tersebut bukan upaya mencari solusi tentang kemungkinan apa yang bisa menghentikan permusuhan antara RI-NII, karena pendekatan PM Natsir kepada Kartosoewirjo hanya bersifat menghimbau Kartosoewirjo untuk berhenti dari bermusuhan dan berperang dengan meminta agar kembali ke pangkuan ibu pertiwi atau NKRI di bawah kepemimpinan Soekarno. Upaya penyelesaian politik seperti ini jelas ditolak mentah-mentah SM Kartosoewirjo dan Gerakan NII-nya.

DN Aidit Pada 1950, PKI diberi kebebasan untuk bangkit melalui kegiatan penerbitan, selanjutnya PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 anggota pada 1954 dan bahkan 1,5 juta anggota pada 1959. Akan halnya dengan perkembangan Gerakan NII SM Kartosoewirjo menjadi semakin mengeras dengan mengklaim sebagai Negara Islam yang berdaulat dengan segala kewibawaannya melalui pemberlakuan status darurat perang. Pengkondisian psikologi gerakan NII ke dalam situasi serba darurat atau dalam keadaan perang yang secara terus menerus digalakkan seperti ini jelas bukan merupakan gerakan, semangat dan kesadarannya yang alami, tetapi merupakan hasil pengkondisian yang dipaksakan. Itu konsekuensi dari sebuah pilihan. Keluarnya Maklumat Komandemen Tertinggi yang berisi perintah dan keharusan untuk begini dan begitu, menyiapkan ini dan itu secara bertubi-tubi sepertinya dilakukan dalam rangka memelihara dan meningkatkan militansi dan semangat perang anggota gerakan NII sekaligus sebagai persiapan perang totaliter menyongsong perang dunia ke III.

Seperti pada 1959, dalam tempo dua bulan dikeluarkan 3 maklumat yang dalam salah satu Maklumat isinya terdapat statement kontroversi secara fiqh Aqidah maupun fiqh syari’ah. Dalam Maklumat No 11 7 Agustus 1959 : angka romawi III (Berpendapat): Bahwa perlu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya diselenggarakan susunan pimpinan perang dalam bentuk baru, ialah perpaduan antara stelsel Komandemen lama yang tetap berlaku hingga saat ini, dan peraturan-peraturan perang baru atau yang diperbarukan demikian rupa: A. Sehingga terjaminlah dengan pasti berlakunya dan pelaksanaan Komando Perang yang berdayaguna sebesar-besarnya, terutama pada saat dikeluarkannya Komando Perang Semesta atau Komando Perang Totaliter dalam arti kata yang seluas-luasnya dan terlebihlebih lagi menjelang saat mustari atau saat dikeluarkannya Komando Perang Mutlak, Komando Umum ialah Komando Allah langsung melalui Imam Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, selaku Khalifatullah dan Khalifatin Nabi di nusantara Indonesia ialah perang semesta dan perang mutlak yang akan menentukan nasibnya Negara Islam Indonesia dan hari depan ummat Islam Bangsa Indonesia dimasa mendatang. B. Sehingga seluruh Negara Islam Indonesia beserta segenap Angkatan Perang dan rakyat warga negaranya tanpa kecuali sungguh-sungguh ikut serta mewujudkan tenaga perang raksasa / maha dahsyat, satu gelombang jama’ah Mujahidin maha besar yang lagi maju bergerak memenuhi panggilan dan seruan Allah langsung menuju arah Mardlatillah sejati di dunia dan di akhirat ialah potensi maha hebat, persatu paduan segenap tenaga dan kekuatan seluruh Ummat Mujahidin; Ummat Pilihan dan kekasih Allah yang sanggup dan mampu menghadapi serta mengatasi dan akhirnya menghancur lindaskan segala jenis dan bentuk musuh-musuh Allah, musuh-musuh Negara Islam Indonesia dan musuh-musuh seluruh Barisan Mujahidin, hingga tekuk lutut atau hancur binasa, dengan karena berkat kehendak dan kekuasaan, tolong dan kasih kurnia Allah yang maha Agung jua adanya. Inilah bentuk puncak doktrinasi, perintah, harapan dan obsesi overlap yang bersumber dari imajinasi yang menggebu… doktrinasi, perintah, harapan atas dasar dzhan, ra’yu yang didasarkan pada pandangan jauh ke depan seorang Imam tentang apa yang akan terjadi dan akan dihadapi serta dilakukan di masa mendatang yaitu adanya perang besar yang akan melibatkan warga masyarakat NII secara total, yang dikemas dalam Maklumat Komandemen Tertinggi. Dorongan Obsesi dan sindrome perang, sindrome kekuasaan dan sindrome kepemimpinan sebagai Imam Tertinggi Angkatan Perang NII yang mengakibatkan kokohnya prasangka dan perasaan SM Kartosoewirjo sebagai pribadi yang dianugerahi derajat kedekatan hubungan dengan Allah, sehingga merasa tak bermasalah mempersonifikasikan diri sebagai Khalifah Allah dan Khalifah Rasul-Nya di Nusantara Indonesia. Padahal di awal pendirian NII pada tahun 1948 claim tentang wilayah yang disebut sang Khalifah hanyalah propinsi Jawa Barat.

Perang totaliter dan perang dunia ke III tidak terjadi, doktrinasi tentang proklamasi, tentang struktur organisasi NII, Qonun dan semua aturan serta tafsir maupun penjelasan tentang berbagai hal yang dikemas secara Top Down sebagai maklumat Imam, khalifatullah dan khalifatin Nabi hanyalah angan-angan seorang SM Kartosoewirjo yang terlanjur dibiarkan mengaliri pola pikir masyarakat tanpa ada sikap kritis dari mereka yang mengaku dirinya ulama atau kiai. Hingga hari ini sifat, karakter dan eksistensi gerakan NII dan pola pikir SM Kartosoewirjo yang fenomenal tersebut belum pernah ditinjau dan ditimbang secara adil dan ilmiah berdasarkan timbangan aqidah, akhlaq dan syari’ah Islam. Demikian halnya tinjauan akademis, tinjauan politik dan ketatanegaraan yang obyektif komprehensif terhadap fenomena gerakan NII SM Kartosoewirjo pun belum pernah dilakukan. Fakta demikian menunjukkan bahwa masyarakat manapun baik dari jajaran ulama, jajaran cendekia dari yang bergelar professor bidang politik, tatanegara, sejarah dan budaya hingga civitas Kampus tak mungkin bisa menangkal, tak mungkin immune terhadap Gerakan NII SM Kartosoewiryo maupun metamorphosenya. Kalau hanya mengandalkan sikap apriori jelas hal itu tidak akan cukup dan pasti kalah, apalagi jika mengikuti kebijakan dan maunya pemerintah yang sejak dulu tak cukup ilmu dan tak cukup akal dalam menghadapi gerakan NII SM Kartosoewirjo kecuali dengan kekuasaan, menimpakan fitnah dan kekerasan. Penutup Menangkal penetrasi ideologi, pemikiran dan gerakan NII dunia kampus seyogyanya mengambil sikap netral dan tindakan cerdas dalam kerangka mengakhiri dan mencari solusi bagi bangsa dan Negara secara bermartabat. Upaya penguasaan secara independen terhadap perspective Islam, Budaya Politik dan Ketatanegaraan maupun perspective Tanggungjawab Negara terhadap Keadilan, keamanan, Ketenteraman, Kemakmuran dan Kesejahteraan yang merupakan hak setiap Rakyat dan bukti eksistensi sebuah Bangsa harus dilakukan. Dunia kampus harus menemukan titik-titik lemah tentang kekeliruan dan kesalahan dalam Ideologi, pemikiran dan Gerakan NII maupun kekeliruan dan kesalahan Penyelenggaraan NKRI.

NII Dalam Timbangan Aqidah Fenomena bangkitnya gerakan NII 1966 – 1976 atas prakarsa intelijen pasca eksekusi SM Kartoeoewiryo 1962 adalah fenomena politik yang membawa-bawa Islam sebagai daya tarik. Gerakan NII secara akidah (dalam timbangan aqidah) sebagaimana pernah diulas oleh Suroso Abdul Salam mantan aktivis NII, adalah menyimpang. Karena, menjadikan sesuatu yang furu’ (siyasah) sebagai ushul (tauhid mulkiyah). Juga, berkaitan dengan sistematika tauhid versi NII Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyyah, yang bertentangan dengan sistematika baku tauhid yakni Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat. SM Kartosoewirjo dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya, tetap tidak punya otoritas untuk menafsirkan eksistensi umat Islam di dalam sebuah negara. Pemerintah Soekarno yang menempatkan SM Kartosoewirjo sebagai musuh ideologis yang diposisikan lebih berbahaya ketimbang komunis merupakan sikap politik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan atau dilanjutkan Karena pada saat komunisme dijadikan anak emas, ironisnya SM Kartosoewirjo dan pengikutnya dijadikan anak tiri. Puncaknya, eksekusi mati terhadap SM Kartosoewirjo telah menjadi kekuatan spiritual tersendiri bagi para pengikutnya, apalagi kemudian diikuti dengan tumbangnya rezim Soekarno akibat percobaan kudeta kaum komunis yang gagal. Sikap Soekarno terhadap SM Kartosoewirjo dan pengikutnya maupun fenomena kebangkitan gerakan NII atas prakarsa Intelijen orde baru seharusnya tidak diikuti dan dilanjutkan oleh pemerintahan sekarang. Agar persoalan masa lalu ini tidak lagi bermakna spiritual dan ideologis, pemerintah harus punya keberanian mendudukkan sosok SM Kartosoewirjo dalam posisi yang tepat di dalam perjalanan sejarah nasional. Misalnya, tetap mengakui SM Kartosoewirjo sebagai sosok yang gigih berjuang melawan Belanda. Tetapi, ia pada titik tertentu berusaha mendirikan NII namun gagal. Kegagalan SMK harus didukung oleh fakta sejarah yang kuat.

AS Panji Gumilang Pemerintah juga harus memberi ruang kepada para ulama mengkritisi pemikiran Negara Islam yang digagas SMK, karena gagasan itu adalah benar-benar menyimpang secara akidah. Dengan demikian pemerintah juga harus berani melawan dan menghentikan gerakan NII masa kini yang mengaitkan dan menggunakan pola-pola NII yang diproklamirkan SMK, dengan memposisikan mereka sebagai aliran sesat yang menyimpang secara akidah. Keberanian pemerintah harus ditunjukkan antara lain dengan bersikap tegas terhadap NII KW9 Al-Zaytun, terutama bersikap tegas terhadap sosok sentralnya yaitu AS Panji Gumilang. Pihak kampus harus berani mensosialisasikan bahwa gerakan NII yang ada saat ini bukanlah gerakan ideologi Islam yang bermanfaat bagi umat Islam, namun sesungguhnya merupakan gerakan penipuan berkedok akidah dengan motif ekonomi semata, khususnya penipuan/pemerasan berkedok Islam seraya mengingatkan pemerintah terhadap tanggungjawab dan kesadaran atas berbagai langkah dan kebijakannya yang tetap melanjutkankan pola kebijakan intelijen masa lalu yang bernuansa pembusukan terhadap gerakan NII yang berjalan sekarang ini untuk diakhiri. Semarang, 23 Juni 2011. Share:
• • • • •

0 Comments

Game Konspirasi Peternakan Manusia

24 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 24,2011 Uncategorized

GAME KONSPIRASI PETERNAKAN MANUSIA Oleh Santrino Mason (santrinomason@gmail.com) PADA ASAL DARI SEMULANYA Allah menciptakan manusia kemudian menyertakan pada dirinya itu petunjuk ajaran hidup yaitu untuk memahasucikan-Nya. ‫سبح اسم ربك العلى الذي خلق فسوى والذي قدر فهدى‬ َ َ َ َ ّ َ ِ ّ َ ّ َ َ َ ََ ِ ّ َْ َ ْ َ ّ َ َ ْ ِ ّ َ Bertasbihlah memahasucikan asma Rabb-mu Yang Mahatinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan takdir (kadar ketentuan masing-masing) dan memberi petunjuk (ajaran hidup) (QS. 87/Al-A’laa : 1-3) Dalam perjalanan hidupnya di alam dunia, manusia menempuhnya dalam rangka memburu ampunan dan surga yang disediakan Allah di alam akhirat sebagaimana telah ditentukan takdirnya oleh Allah. َ ِ ّ ُ ْ ِ ْ ّ ِ ُ ُ ْ َ ْ َ ُ َ َ ّ َ ُ ْ َ ٍ ‫َ َ ِ ُ ِ َ َ ْ ِ َ ٍ ِ ْ َ ّ ُ ْ َ َن‬ ‫وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وج ّة عرضها السموات والرض أعدت للمتقين‬ Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. 3/Aali ‘Imraan : 133) Di tengah perjalanan di dunia, manusia mendapati permainan demi permainan di alam medan ujian menuju kepada alam keridhaan abadi Pencipta-Nya. Ajaran hidup yang disertakan Allah dalam perjalanan makhluk ciptaan ini menunjukkan sifat alam kehidupan dunia yang merupakan permainan demi permainan ini adalah sifat medan ujian. ِ َ ْ َ ْ َ ‫َْ ُ َ ّ َ ْ َ َ ُ ّ ْ َ َ ِ ٌ ََ ْ ٌ َ ِ َ ٌ َ َ َ ُ ٌ َ ْ َ ُ ْ َ َ َ ُ ٌ ِ ْ َ ْ َ ل‬ ‫اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر في الموا ِ والولد‬ Ketahuilah oleh kalian, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. (QS. 57/Al-Hadiid : 20) Sifat alam kehidupan dunia yang adalah sifat medan ujian itulah yang dikehendaki oleh Allah dengan firman-Nya : ُ ِ َ ْ َ ُ َ ً َ َ ُ َ ْ َ ْ ُ ّ َ ْ ُ َ ُْ َ ِ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِ ّ ٌ ِ َ ٍ ْ َ ّ ُ َ َ َ ُ َ ُ ْ ُ ْ ِ ِ َ ِ ِ ّ َ َ َ َ ‫تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عمل وهو العزيز‬ ُ َُ ْ ‫الغفور‬ Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. (QS.67 /Al-Mulk : 1-2)

Untuk itu Rasulullah menggariskan pada para pengikut setianya hingga akhir zaman dengan sabda beliau ٌ ِ َ َ ّ َ َ َ ْ ّ ِ ْ ُ َ َ َ ِ ِ ْ َ ِ َ َّ َ ِ ْ َ َ ُ ‫عنْ عبدال بن عمر رضي ال عنهما قال أخذ رسول ال صلى ال عليه وسلم بمنكبي فقال كن في الدنيا كأنك غريب‬ َّ ِ ُ ُ َ َ َ َ َ َ َ ُ ْ َ ُ ِ َ َ َ ُ ِ ْ ِ َِْ َ ٍ َِ ُ ِ َ ْ َ ‫أو عابر سبيل‬ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam memegang pundakku, kemudian beliau bersabda: Jadilah engkau di dunia ini selaksa orang asing atau orang yang menyeberangi jalan (HR. Al-Bukhari) Kemudian dalam perjalanannya di alam dunia itu manusia menonton pertunjukan, permainan, senda gurau, perlombaan yang indah-indah yang dimilikinya, demikian pula berbangga-banggaan serta berbanyak-banyakan harta dan pendukungnya, kemudian ia menjadi supporter. Kemudian ikut menjadi pemain, bahkan ‘ushbah/insiders Yahudi menjadikan manusia sebagai peternakan manusia untuk dimainkan dalam game, permainan, perlombaan dengan menghilangkan sifat ujian alam dunia itu dengan mengekalkan kesenangan permainan game kehidupan dunia sebagai surga untuk mendustakan surga di alam akhirat. Standar-standar nilai, ukuran-ukuran dalam permainan dan perlombaan duniawi yang dibuat oleh manusia itu dijadikan tolak ukur menggantikan kitab-kitab Allah kepada sekalian para nabi, para rasul Allah yang terakhirnya adalah al-Qur’an dan demikian pula sunnah kenabian Rasulullah. Jadilah manusia sekuler yang dijelaskan Allah yaitu adalah orang yang mengatakan bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan di dunia ini. َ ِ ُ ْ َ ِ ‫َ َ ُ ِ ْ ِ َ ِ ّ َ َ ُ َ ّ ْ َ َ َ َ ْن‬ ‫وقالوا إن هي إل حياتنا الدنيا وما نح ُ بمبعوثين‬ Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan” (QS. 6/Al-An’aam : 29) Peternakan Manusia Sejak dari asal mulanya, yang Allah menghendakinya ialah agar manusia menjadi hamba Allah. Yang tidak mengindahkan apa yang dikehendaki Allah dengan ajaran hidup bagi manusia itu adalah seperti binatang ternak. َ ٌ َ َ ْ ‫َ َ َ ْ َ َ ْ َ ِ َ َ ّ َ َ ِ ً ِ َ ْ ِ ّ َ ْ ِ ْ ِ َ ُ ْ ُُ ٌ َ َ ْ َ ُ َ ِ َ َ َ ُ ْ َ ْ ُ ٌ َ ُ ْ ِ ُ َ ِ َ َ َه‬ ‫ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والنس لهم قلوب ل يفقهون بها ولهم أعين ل يبصرون بها ول ُم ءاذان ل‬ َ ُِ َ ْ ُ ُ َ ِ َ ُ ّ َ َ ْ ُ ْ َ ِ َ ْ َ ْ َ َ ِ َ ُ َ ِ َ ُ َ ْ َ ‫يسمعون بها أولئك كالنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون‬ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang tidak mau berurusan (dengan ajaran Allah). (QS. 7/Al-A’raaf : 179)

Bagi setan jin dan setan manusia, kehendak Allah itu ditentang dan dilawan. Kepada orang-orang Yahudi, Allah memberikan yang diantaranya ialah (1) Al-Kitab (Taurat dan Injil), (2) Kekuasaan pembawa missi kenabian (Sunnah kenabian), (3) Kenabian, (4) Rizki yang baik, (5) Keunggulan atas sekalian alam semesta, maka orangorang Yahudi memilih nomor (4) dan nomor (5) yang bersifat duniawi dan memecah belah institusi nomor (1), (2) dan (3) dengan menjadikan manusia non ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator sebagai manusia ternak untuk dikonspirasi dalam permainan game. َ ْ ِ َ َ ْ ََ ْ ُ َ ْ ّ َ َ ِ َ ّ ّ َ ِ ْ ُ َ ْ َ َ َ َ ّ ُ ّ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ْ ِ ِ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ‫ولقد آتينا بنى إسرآءيل الكتاب والحكم والنبوة ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على العالمين‬ Dan sungguh telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat dan Injil), kekuasaan (pembawa missi kenabian), kenabian, dan Kami rizkikan kepada mereka dari yang baik-baik dan Kami beri keunggulan kepada mereka atas sekalian alam (QS. 45/AlJaatsiyah : 16) Dalam hal Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman: َ ِِ َ ً َ َ ِ ُ ُ ْ ُ َ َُْ َ ِ ْ ّ ‫ولقد علمتم الذين اعتدوا منكم في السبت فقلنا لهم كونوا قردة خاسئين‬ ِ ْ ُ ْ ِ ْ َ َ ْ َ ِ ّ ُ ُ ْ َِ ْ َ ََ Dan sesungguhnya telah kalian ketahui orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina”. (QS. 2/Al-Baqarah : 65) Terhadap pernyataan laknat dan kemurkaan Allah ini ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator memutarbalikkannya menjadi semacam senjata makan tuan. ‘Ushbah/insiders Yahudi konspirator menyatakan pada Baba Mezia statement : 1) Baba Mezia, 114b : “Thе Jews аrе called human beings, but thе non-Jews аrе nοt humans. Thеу аrе beasts.” “Orang-orang Yahudi adalah manusia, tetapi non-Yahudi bukanlah manusia. Mereka adalah binatang” Jewish Family Service: http://www.jewishfamilyservice.net/jewish-books/why-dojewish-bookstalmud-and-torah-teach-to-hate-non-jews Sebagai peternak, ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator mesti menyediakan makanan dan kandangnya. Disamping itu peternak juga mesti memegang lecut dan bahkan pedang untuk pada saatnya ternak disembelih di tempat penyembelihannya. Pada saatnya pula, sesuka hatinya, sang peternak bisa memainkan game semacam adu jago, pacuan kuda, karapan sapi.

Pada semua permainan game itu, sebagaimana juga adu permainan semacam sepak bolapun tidak cukup sebagai game tanpa perebutan kemenangan dengan uang bahkan judi. Karena itu dalam rangka menolak dan menentang menggunakan kitab-kitab Allah yang dibawakan missinya kepada para rasul-rasul Allah sebagai ajaran hidup, ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator menggantinya dengan doktrin ajarannya sendiri. Dalam doktrinnya, sang ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator ini menggariskan pedang dan tangkai zaitun. Sang ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator merancang kaum komunis dengan pedang di satu tangan mereka dan setangkai dahan zaitun bergelantungan di tangan yang lain. Tentu saja setiap orang tertarik ke arah dahan zaitun, tanpa menyadari bahwa dahan zaitun tersebut dikendalikan oleh badan yang juga mengendalikan tangan yang mengacungkan pedang.

Gary Allen, None Dare Call It Conspiracy http://www.lust-for-life.org/Lust-For-Life/NoneDareCallItConspiracy/nonedare.html#chapter7 Doktrin itu diwujudkan dalam kebijakan yang disimbolkan 13 daun setangkai zaitun dengan 13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun di kaki kanan burung elang pada lambang Negara Amerika Serikat. Sementara itu 13 anak panah dan 13 bulu

di ujung anak panah di genggaman kaki kirinya (CAHAYA HIDAYAH http://nuurislami.blogspot.com/2011/02/misteri-angka-13.html#ixzz1J7sY4rd4 )

Pedang di satu tangan diantaranya adalah untuk penyembelihan ternaknya. Pada Protokolat ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator ada yang disebutkan pada nomor 10 sebagai berikut: Kuasai eksekutif, legislatif dan yudikatif setiap negara. Gunakan siasat,”gembala kambing untuk dibawa ke tempat penyembelihan” dengan cara pengendalian ekonomi, politik, mata uang dan lapangan kerja.

(Unnanoche’s Blog: http://unnanoche.wordpress.com/2010/04/07/dokumen-protokolat/) Dalam membai’at sumpah setia pengikut setia konspirasi ‘ushbah/insiders Yahudi, Res berkata : “Pedang-pedang ini untuk kamu berbela diri atau untuk menikam kamu jika kamu berkhianat” (A.D El Marzdedeq, DIM, AV, Jaringan Gelap Freemasonry, Sejarah dan Perkembangannya hingga ke Indonesia, Syamil Cipta Media, Bandung, cet. Ke-3, 2007, hal. 40)

Ketika manusia diarahkan setan untuk memilih permainan dunia maka dengan demikian telah memilih permainan itu menggantikan ketaatan pada ajaran hidup yang Allah sertakan dalam penciptaan dirinya dan memilih pengekalan kesenangan duniawi menggantikan kekekalan alam surgawi di alam akhirat di negeri yang Allah tunjukkan agar manusia menuju ke alam akhirat memasuki surga-Nya itu. Untuk menggantikan kesungguhan hidup beribadah hanya kepada Allah semata, permainan game dikreasi setan. Permainan game itu bisa berupa perlombaan kesenangan seni, kekayaan harta, kekuasaan, beraliran-aliran teologi, bermadzhab-madzhab keagamaan, madzhab hukum dan madzhab ekonomi. Demikian pula permainan dan perlombaan dalam beraliran-aliran spiritual keagamaan. Semuanya bisa dengan kemasan berlabel hak asasi manusia, dengan uang bahkan dengan senjata kimia di luar perang maupun segala jenis senjata dalam perang. Diantara ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator terdepan yang dapat diketahui memainkan permainan game manusia ini adalah keluarga Rothschild yang terkenal itu. Pendirinya, Meyer Amschel Rothschild (1743 – 1812) dari Frankfurt, Jerman, memposisikan satu dari lima orang anaknya di rumah dalam negerinya untuk menjalankan bank dan mengirimkan lainnya ke London, Paris, Vienna dan Napoli. Keluarga Rothschild menjadi luar biasa kaya selama abad ke-sembilan belas dengan membiayai pemerintah untuk berperang satu sama lainnya. Profesor Stuart Crane menulis: “Kalau Anda mau melihat kembali pada setiap peperangan di Eropa selama abad ke-sembilanbelas, Anda akan melihat bahwa peperangan tersebut selalu berakhir dengan tercapainya perimbangan kekuatan. Pada setiap perubahan susunan (reshuffle) selalu ada perimbangan kekuatan dalam suatu pengelompokan baru di sekeliling keluarga Rothschild di Inggris, Perancis atau Austria. Mereka membagi bangsa-bangsa dalam kelompok-kelompok sehingga apabila seorang raja menyimpang, perang akan berkobar dan perang tersebut akan ditentukan kemana mengalirnya bantuan keuangan. Dengan meneliti posisi hutang dari bangsa-bangsa yang sedang berperang biasanya akan terlihat siapa yang harus menerima hukuman” Satu sebab utama mengapa sejarah tentang peran para bankir internasional ini digelapkan dalam sejarah politik ialah bahwa keluarga Rothschild adalah (‘ushbah/insiders) Yahudi. (Gary Allen, None Dare Call It Conspiracy) http://www.lust-for-life.org/Lust-For-Life/NoneDareCallItConspiracy/nonedare.html#chapter3 Liberalisme Diidekan untuk Umpan Kosong Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memberikan al-kitab pada para rasul yang diutus. Allah menentukan kualifikasi manusia kepada: (pertama) kualifikasi orang-orang yang

konsisten di jalan taat pada Allah, (kedua) yang dimurkai dan (yang ketiga) yang tertipu penyesatan (QS. 1/Al-Faatihah : 7). Kualifikasi pada dalam Al-Qur’an, Surah 1/Al-Faatihah : 7 itu dijelaskan dan ditegaskan dengan kualifikasi (pertama) orang-orang yang bertakwa mentaati-Nya (QS. 2/AlBaqarah : 1-5), (kedua) orang kafir (QS. 2/Al-Baqarah : 6-7) dan (ketiga) orang munafiq (QS. 2/Al-Baqarah : 8-20) Untuk melecehkan kitab-kitab Allah kepada para rasul-Nya, frasa-frasanya dienyahkan ke samping. َ ْ ِ َ ً ِ َ ً َ َ ِ ِ ْ َ َ ْ َ ْ ِ ِ ُ ُ َ َ َ ُ ُ َ َ َ ُ َ ُ ُ ْ َ َ َ ِ ّ ِ ُ ّ ُ ّ َ ُ َ َ َ ِ ْ ُ ُ َ ِ ّ َ َ ِ ُ َ َ َ ْ َِ ‫وإذ أخذ ال ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ول تكتمونه فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمنا قليل فبئس‬ َ ُ َْ َ َ ‫ما يشترون‬ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga murahan. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. 3/Aali ‘Imraan : 187) Dan untuk melawan kualifikasi manusia yang ditentukan Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa itu, ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator menerapkan ajarannya sendiri mengkualifikasikan manusia kepada kulaifikasi Yahudi dan non-Yahudi. Untuk liberalism diidekan untuk umpan kosong diternaknya manusia non-‘ushbah/insiders Yahudi konspirator untuk dipermainkan dalam game dan pada selanjutnya digiring menuju ke tempat penyembelihannya. Dalam ajaran yang dibuatnya sendiri ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator mendoktrinkan garis program yang protolatnya disampaikan diantaranya oleh Rothschild kepada peara bankir internasional dalam pertemuannya di Frankfurt, Jerman. Diantara doktrin ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator itu diajarkan sebagai berikut: Mengesampingkan frasa yang baik, kita akan berbicara tentang signifikansi pemikiran masing-masing, dengan perbandingan dan deduksi kita akan menyoroti pada fakta seputarnya. Apa yang saya maksudkan untuk arah maju, maka, adalah sistem kita dari dua titik pandang, yaitu diri kita sendiri dan Goyim (yakni non Yahudi). Harus dicatat bahwa orang dengan instink buruk lebih banyak dari pada yang baik, dan karena itu hasil terbaik dalam mengatur mereka bisa tercapai dengan kekerasan dan terorisasi, dan tidak oleh diskusi akademis. Setiap orang bertujuan kekuasaan, semua orang ingin menjadi diktator jika saja dia bisa, dan sungguh jarang orang yang tidak bersedia mengorbankan kesejahteraan semua demi menjamin kesejahteraan mereka sendiri.

Apakah yang bisa mengekang binatang pemangsa yang disebut manusia itu? Apakah yang bisa menjalankan fungsi untuk menjadi pembimbing mereka sampai sekarang? Pada mulanya susunan masyarakat mereka berlangsung dijalankannya kekuasaan brutal dan buta, setelah adanya undang-undang, yang ada adalah mengandalkan kekuasaan yang sama, hanya saja disamarkan. Saya mengambil kesimpulan bahwa, menurut hukum alam, kebenaran hak itu terletak pada kekuasaan. Kebebasan politik adalah ide tetapi bukan fakta. Ide ini orang harus tahu bagaimana menerapkan saatnya ide itu penting untuk tampil (yaitu) dengan umpan suatu ide untuk menarik massa orang banyak kepada partai seseorang dengan satu tujuan menghancurkan orang lain yang ada dalam kekuasaan. Tugas ini diberikan akan lebih mudah jika oposisi dengan sendirinya telah terinfeksi ide kebebasan, yang dijuluki-liberalisme, dan demi kepentingan suatu ide, akan bersedia untuk menyerahkan beberapa kekuasaannya. Justru di sini bahwa kemenangan teori kita muncul : kendali pemerintah berkurang menjadi kendor dengan segera, demi hukum alam kehidupan, (kendali pemerintah) dipegang dan terhimpun bersama di tangan yang baru. Karena mungkin butanya, bangsa itu tidak bisa eksis barang seharipun tanpa ada bimbingan, dan pemegang kekuasaan yang baru bangsa itu hanya cocok di tempat (kuasaan) yang lama yang sudah dilemahkan oleh liberalisme. Saatnya bagi kita, kekuasaan – yang telah berganti pemegang pemerintahan yang adalah liberal – adalah kekuasaan Emas. Masanya adalah saat mana Kepercayaan memerintah. Ide kebebasan adalah mustahil direalisasikan karena tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana menggunakannya dengan moderasi. Hal ini cukup untuk menyerahkan rakyat kepada pemerintahan sendiri untuk suatu jangka waktu tertentu yang untuk itu rakyat berubah menjadi massa yang tidak teratur. Sejak saat itu kita mendapatkan perselisihan yang saling membinasakan, yang segera berkembang ke dalam pertempuran diantara kelas, dimana di tengah-tengahnya negara terbakar dan nilai pentingnya menjadi makin tak berharga bersama setumpuk abu. Apakah (yang pertama,) suatu negara dalam kepayahan dengan sendirinya dalam ketegangan-ketegangannya sendiri, ataukah (yang kedua,) negara yang perpecahan internalnya sendiri membawanya berada di bawah kekuasaan musuh eksternal – dalam hal apapun bisa diperhitungkan binasa tak dapat diselamatkan – itu adalah ada dalam kekuasaan kita. Kesewenangan kekuasaan modal, yang sepenuhnya ada di tangan kita, menyodorkan saluran yang negara itu, mau tak mau, harus mengambil. Jika tidak, negara itu jatuh kedalam keadaan yang paling bawah. (The Protocols) http://www.biblebelievers.org.au/przion2.htm#PROTOCOL%20No. %201 Game ‘Ashabiyah Kebangsaan

Turki, sebagai pusat pemerintah terakhir dunia Islam adalah negeri pertama yang dijadikan tempat persemaian ‘ashabiyah kebangsaan. Orang-orang Eropa mulanya mendirikan kelompok-kelompok rahasia, seperti Turki Muda yang pada awalnya dibantu oleh Perancis melalui konsulatnya. Pada tahun 1908. Turki Muda melancarkan kudeta dan menculik Sultan Abdul Hamid II. Para anggota Turki Muda mengambil alih kekuasaan. Mereka melancarkan kebijakan-kebijakan politik sekularisasi. Sebagai jawaban atas kebijakan itu, orang-orang Arab, Kurdi, Albania dan kelompok masyarakat yang lain membentuk pula kelompok masyarakat sendiri secara rahasia. (Shabir Ahmed dan Abid Karim, Akar Nasionalisme di Dunia Islam, Al-Izzah, Bangil, Cet. I, 1997, hal-74) Jelaslah bahwa kekhilafahan Turki Utsmani yang selama sekitar 500 tahun menyatukan kaum Muslimin se-dunia mendapatkan paham nasionalisme dari Barat. Sebelum gagasan Barat tentang nasioalisme ini berkembang, tidak ada tanda-tanda adanya nasionalisme di wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan sampai pada permulaan abad ke 20, Turki tidak memandang bangsa Arab sebagai orang asing, dan demikian pula sebaliknya. Bangsa Arab damai-damai saja menjadi bagian dari kekhilafahan itu, karena merekapun satu ajaran iman. Malah khalifah Sultan Abdul Hamid didampingi penasihat yang berasal dari Arab, seperti Abdul Huda. Setelah dihidupkan dan dikobarkan ‘ashabiah kebangsaan di Arab oleh sang ‘ushbah/insiders Yahudi konspirator, suku-suku yang kuat dimobilisir untuk bangkit melawan khilafah Utsmani dengan diberikan janji berupa bantuan keuangan dan kemerdekaan negaranya. Inggris pada awalnya memanfaatkan Syarif Hussain bin Ali beserta anaknya Faisal dan Abdullah bin Hussain untuk memberontak melawan Khalifah. Hasil dari kebijakan politik Turki Muda dan pengaruh Inggris terhadap Syarif Hussain, maka terjadilah revolusi Arab tahun 1916. Ketika Inggris mulai tidak menyukai Syarif Hussain bin Ali, kemudian Inggris menggantikannya dengan abdul Al-Aziz bin Sa’ud, yang juga dibantu Inggris dalam usahanya untuk meraih kekuasaan. Pada akhir tahun 1927, keluarga Sa’ud telah berhasil menguasai seluruh jazirah Arab. Pada tahun 1932, jazirah Arab diberi nama baru yaitu Kerajaan Sa’udi Arabia (Shabir Ahmed dan Abid Karim, Akar Nasionalisme di Dunia Islam, Al-Izzah, Bangil, Cet. I, 1997, hal- 60). Hukum Allah tentang alam kehidupan sejarah manusia telah diperlihatkan dengan jelas. ٌ ِ ُ ٌ ْ ِ َ َ ُ َ ً َ ِ ْ ُ َ ُ َ َ ْ ُ ْ َ َ ّ ََ ‫فلما جاءتهم ءاياتنا مبصرة قالوا هذا سحر مبين‬ Maka tatkala ayat-ayat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. 27/An-Naml : 13)

Sehingga secara pasti, seberapa tangguh percaya diri dan seberapa penting seseorang sebagai bagian dari faham teologi, aliran thariqat, madzhab hukum, madzhab politik, madzhab ekonomi, beraliran spiritual, bersistem keyakinan, ritual dan moral keagamaan untuk menggantikan pembenaran dengan ketaatan pada kitab-kitab Allah dan sunnah kenabian Rasul-Nya, lebih-lebih dengan jelas mengesampingkan Shahifah Nabawiyah (http://non-gharqadian.blogspot.com/search/label/Shahifah%20Nabawiyah) dan apalagi membelakanginya, maka adalah menyerahkan leher diri sendiri untuk dijadikan bahan permainan game ‘ushbah/ insiders Yahudi konspirator selayaknya di alam peternakan. Kemudian dari pada itu, untuk pada gilirannya digiring ke tempat penyembelihannya. Share:
• • • • •

0 Comments

Pancasila Dijadikan Alat Pemukul
24 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 24,2011 Uncategorized

PANCASILA DIJADIKAN ALAT PEMUKUL BAGI UMAT NON ISLAM terutama umat Kristiani, Pancasila telah diperlakukan sebagai hammer alias palu untuk mentungi umat Islam. Setiap mereka menolak atau tidak suka dengan sesuatu yang dianggap beraroma Islam, maka dengan serta-merta mereka menjadikan Pancasila sebagai alasan penolakannya. Misalnya, untuk menolak sejumlah perda (peraturan daerah) tentang ketertiban umum mereka menyebutnya perda bias agama yang bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi.

Selama ini Pancasila memang terkenal ampuh alias sakti manakala digunakan sebagai hammer untuk mentungi umat Islam. Sehingga umat Islam yang abangan atau enggan terhadap agamanya, jadi ketakutan, cepat-cepat lari menjauhi Islam. Ekspresi ketakutan itu bisa berupa sikap yang “tidak terlalu fanatik”. Misalnya, ketika ditanya: “Kamu kok ikut-ikutan minum bir sih.” Maka jawabannya, “Ah, saya khan bukan Islam yang terlalu fanatik. Sekali-sekali boleh dong untuk pergaulan…” Ekspresi lainnya adalah sebagaimana ditunjukkan para penganut sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme).

Victor Silaen Islamophobia nampaknya memang masih lekat di kalangan non Islam, termasuk kalangan sekuler yang enggan terhadap agama. Salah satu contohnya adalah sebagaimana digambarkan oleh Victor Silaen, tokoh Batak Kristen melalui tulisannya berjudul 151 Perda Bias Agama yang pernah dipublikasikan Harian Sinar Harapan edisi 13 Juli 2009. Melalui alinea pertama tulisannya itu saja kita sudah bisa menebak arah tujuan yang dimaksud Victor Silaen, dan muatan Islamophobia yang anti demokrasi mencuat dari alinea pertamanya itu: Para uskup se-Indonesia telah menulis surat tertanggal 30 Mei 2009, yang isinya antara lain meminta dengan tegas agar presiden dan wakil presiden terpilih nanti membatalkan 151 peraturan daerah (perda) yang dinilai bertentangan dengan Pancasila. “Peraturanperaturan ini bagaikan puncak karang yang secara kasat mata menghadang bahtera bangsa kita.. Untuk menjaga keutuhan NKRI, kami menganjurkan kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk membatalkan 151 Perda ini serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundangan yang bertentangan dengan konstitusi,” kata Mgr Sutrisno Atmoko yang juga Uskup Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kepada pasangan capres-cawapres JK-Wiranto yang bertandang ke Kantor Waligereja Indonesia, 9 Juni lalu. Jadi, menurut para uskup itu, jika ada peraturan yang nilai-nilainya berlandaskan ajaran agama (Islam), maka hal itu mengancam keutuhan NKRI. Mereka memposisikan ajaran agama atau nilai-nilai agama (Islam) sebagai anasir yang mengancam keutuhan NKRI. Padahal, potensi disintegrasi yang mengancam keutuhan NKRI, sebagaimana

terjadi di Papua, sama sekali tidak ada kaitanya dengan “perda bias agama” seperti diributkan kalangan Non Islam. Begitu juga dengan potensi disintegrasi di Maluku yang dimotori RMS (Republik Maluku Serani). Perda yang dikatakan sebagai “perda bias agama” itu selain dituduh berpotensi mengancam keutuhan NKRI, juga dituduh bertentangan dengan Pancasila dan Konstitusi. Kalau logika ini diikuti dari sudut pandang sebelahnya, maka akan didapat pernyatan bahwa konstitusi dan Pancasila bertentangan dengan agama (Islam). Padahal, konstitusi dan apalagi Pancasila sama sekali tidak dibenarkan berada dalam posisi yang saling bertentangan dengan agama. Pada alinea lain, Victor Silaen mengatakan: “Sejak awal, Indonesia telah didesain menjadi negara hukum dan bukan negara agama. Secara faktual pun tak dapat diingkari bahwa agama-agama di Indonesia sejak dulu memang beraneka ragam. Berdasarkan itulah maka merancang-bangun negara ini di atas pilar-pilar yang bukan-agama merupakan pilihan rasional yang baik dan tepat. Sebab, seandainya agama tertentu dipilih untuk dijadikan pilar negara, pertanyaannya adalah: agama yang mana? Bukankah secara sosiologis tak ada agama yang benar-benar satu (monolitik)? Sementara agama yang secara nasional dikategorikan mayoritas secara statistik, faktanya di sejumlah daerah ia justru merupakan minoritas.” Dari pernyataan di atas kita melihat tokoh Batak Kristen semacam Victor Silaen ini selain mengidap paranoia juga pura-pura tidak tahu, bahwa merupakan sesuatu yang lazim bila hukum positif di suatu daerah menyerap nilai-nilai (termasuk nilai-nilai agama) yang hidup di tempat itu. Nah, orang-oang Non Islam terutama Kristiani, dan mereka yang selama ini berbusa-busa berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika, nyatanya tidak bisa menerima bila orang Islam mau membuat aturan yang menyerap ajaran agamanya, meski nilai-nilai yang diserap itu mengandung makna universal (ada dalam setiap agama). Memaksa umat Islam hanya mengikuti hukum-hukum positif seraya mengabaikan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat (termasuk nilai-nilai agama) itu jelas bertentangan dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika dan bertentangan dengan demokrasi serta konstitusi. Hukum positif yang berlaku, misalnya KUHPidana, merupakan warisan kolonialis Belanda yang notabene Kristen. Salah satu pasal yang ada di dalam KUHP yaitu Pasal 310 tentang pencemaran nama baik, dibuat oleh kolonialis Belanda untuk menangkap kaum pribumi (para pejuang) yang berani mengkritik Belanda. Hingga kini pasal itu masih eksis, antara lain pernah dikenakan kepada Prita Mulyasari yang mengkritik pelayanan RS Omni International.

Prita Mulyasari Indonesia memang negara hukum, tapi bukan berarti hanya berlandaskan hukum positif warisan kolonialis Belanda. Tentu merupakan sesuatu yang wajar bila umat Islam menyerap nilai-nilai agamanya untuk dijadikan hukum atau peraturan yang berlaku. Mungkin bagi Victor Silaen, menyerap nilai-nilai agama (Islam) ke dalam berbagai peraturan termasuk Perda, tidaklah layak, mengingat agama Islam tidak secara mutlak menjadi agama mayoritas di pelosok Nusantara. Meski secara statistik agama Islam merupakan mayoritas, “…faktanya di sejumlah daerah ia justru merupakan minoritas.” Begitu kata Victor. Jadi, kemayoritasan umat Islam itu gugur begitu saja hanya karena di daerahdaerah tertentu Islam merupakan minoritas. Ini khan gaya silat lidah khas orang Batak. Kalau demikian adanya, maka minoritas Kristen sama sekali tidak ada nilainya, karena meski ia mayoritas di suatu tempat tetapi secara nasional tetap minoritas sehingga perlu diabaikan saja keberadaannya. Lha wong yang mayoritas saja bisa diabaikan hanya karena ia minoritas di suatu daerah, apalagi yang minoritas seperti Batak Kristen. Bukankah Batak Kristen minoritas di antara orang Kristen se-Indonesia? Bahkan belum tentu Batak Kristen menjadi mayoritas di kampungnya sendiri (Sumatera Utara), misalnya. Selama Pancasila masih dijadikan hammer untuk mentungi umat Islam, maka selama itu pula Pancasila telah direkayasa dan diposisikan sebagai sumber perpecahan oleh orang-orang non Islam terutama umat Kristiani. Pancasila dipaksakan untuk dijadikan alat yang sakti memberangus kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi umat Islam di dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari sini kita bisa menilai orang-orang semacam Victor Silaen ini justru mempunyai sikap dan pandangan yang bertentangan dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan konstitusi. Ia (atau mereka) telah menjadi provokator dan sumber konflik horizontal. Kalau dosennya saja seperti ini, maka tidak heran bila mahasiswanya tawuran melulu. Dari pernyataan Victor Silaen dan dari sikap para uskup sebagaimana digambarkan Victor Silaen di atas, umat Islam jadi semakin yakin, bahwa Pancasila dihadirkan untuk menghambat Islam, sejak dilahirkan sampai sekarang.

Ini jelas anti demokrasi, bertentangan dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika, Pluralitas, dan mau menang sendiri. Sikap Batak Kristen yang tidak toleran dengan perbedaan keyakinan bisa dilihat dari kasus-kasus pelecehan agama yang pernah ramai di media massa, misalnya munculnya komik penghinaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berbahasa Indonesia yang sempat tayang di www.lapotuak.wordpress.com sejak 12 November 2008. (lihat tulisan berjudul Komik Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di nahimunkar.com edisi November 23, 2008 9:42 pm): “Bagi yang sudah pernah mengunjungi situs tersebut sebelum akhirnya ditutup, dari judulnya saja sudah bisa dipastikan bahwa pemilik blog tersebut adalah etnis Batak, khususnya Batak Karo beragama Kristen yang sudah terpengaruh Yudaisme (Suradi Ben Abraham dan Drs H. Amos adalah penganut Kristen dari sekte Nehemia yang sudah terpengaruh Yudaisme, namun keduanya bukan dari etnis Batak Karo). Di situs yang sudah eksis sejak 05 Desember 2007 itu, antara lain ada sebuah artikel berjudul Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang yang ditayangkan sejak 11 Januari 2008.”

Abdul Aziz Angkat Sedangkan sikap Batak Kristen yang suka memaksakan kehendak dan berakibat tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara, dapat dilihat melalui kasus kematian Abdul Aziz Angkat, politisi dari Partai Golkar (lihat tulisan berjudul Menguak Kasus Kematian Abdul Aziz Angkat di nahimunkar.com edisi February 9, 2009 10:36 pm): “Terlihat jelas, ada pattern of action yang konsisten. Yaitu, setiap mereka (para tokoh Batak Kristen) merasa punya kekuatan, maka yang dilakukan adalah usulan disintegratif yang dilakoni dengan cara-cara yang anarkis sekalipun. Di Sumatera Utara, Chandra GM Panggabean merasa sudah kuat di beberapa Kabupaten, sehingga ingin berkuasa lebih jauh, menjadi Gubernur. Namun di tingkat Provinsi, kapasitasnya masih terbatas, maka diusulkanlah pemekaran dengan membentuk Provinsi Tapanuli (Protap), dengan maksud, di Provinsi baru nanti, ia bisa menjadi Gubernur.” Dari petunjuk-petunjuk di atas, jelas terasakan bahwa umat non Islam terutama Kristen, tidak bermain secara fair di dalam konteks berbangsa dan bernegara. Mereka menjadikan Pancasila sebagai hammer untuk mentungi umat Islam. Manakala

tidak dibutuhkan, hammer biasanya disimpan di dalam laci atau diletakkan di gudang. Artinya, umat Kristen khususnya politisi Kristen seperti Victor Silaen memperalat Pancasila untuk mendapatkan kekuasaan bagi diri pribadi dan kelompoknya, sementara itu mereka sendiri belum tentu mengerti dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. (tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/pancasila-dijadikan-alat-pemukul/ Share:
• • • • •

0 Comments

Contoh Korban Kesetaraan Gender?
23 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 23,2011 Uncategorized

CONTOH KORBAN KESETARAAN GENDER? RATNA SARUMPAET sempat keheranan. Pasalnya, para kaum perempuan, para kaum ibu tidak begitu antusias merespon pencalonannya sebagai presiden Republik Indonesia. Padahal menurut ekspektasi (perkiraan disertai harapan) Ratna, sebagai sesama perempuan, para kaum ibu itu seharusnya antusias merespon keberaniannya maju sebagai calon presiden. Namun kenyataannya, para kaum perempuan, para kaum ibu itu justru lebih tertarik memilih presiden berjenis kelamin laki-laki dan ganteng.

Ratna Sarumpaet Sebagaimana diucapkan Ratna pada forum seminar bertajuk Menimbang Kebijakan Pengesahan RUU Pornografi di Graha Mahbub Junaedi, Jl Salemba Tengah, Jakarta Pusat, hari Minggu 21 September 2008, “Saya mencalonkan diri sebagai capres wanita, tetapi ibu-ibu lebih memilih SBY yang ganteng itu.” Ratna juga mengeluh karena dia tidak mendapat dukungan dari kaum perempuan, kecuali dari korban Lapindo. (http://forum.detik.com/archive/index.php/t-60902.html). Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin karena para kaum perempuan itu, para kaum Ibu itu masih bingung mengidentifikasi seorang Ratna Sarumpaet. Secara jenis kelamin (sex), Ratna Sarumpaet sudah pasti digolongkan sebagai perempuan. Apalagi ia terbukti pernah bersuami dan melahirkan sejumlah anak. Tetapi secara gender, para kaum ibu itu mungkin bingung mau memasukkan Ratna ke dalam kelompok lelaki (maskulin) atau perempuan (feminin)? Jadi, kalau kaum perempuan dan kaum Ibu itu lebih cenderung memilih presiden yang ganteng (laki-laki), mungkin karena mereka tidak mengalami kesulitan ketika melakukan identifikasi terhadap pilihannya. Bolehlah dikatakan, bahwa dari ‘kasus’ ini Ratna Sarumpaet telah menjadi ‘korban’ dari konsep kesetaraan gender. Sebuah konsep yang tidak dimengerti oleh orang banyak, sebuah konsep yang tidak dipedulikan oleh orang banyak. Tetapi hanya dimengerti dan dipedulikan oleh sebagian amat sangat kecil anggota masyarakat yang terbawa arus snobisme (bangga diri). Tentang Gender Kosakata gender tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang digandrungi oleh sebagian cewekcewek (maaf, lafal ini sengaja digunakan sesuai dengan maqomnya) yang disebut sebagai aktivis perempuan.

Menurut Suryanto, ada perbedaan antara istilah jenis kelamin (seks) dengan gender. Jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki memiliki penis, memiliki jakala, dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, leher rahim, vagina, alat untuk menyusui dan memproduksi sel telur. Sedangkan gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan kepada orang lain bahwa seseorang itu feminin atau maskulin. (http://suryanto.blog.unair.ac.id/2009/02/11/gender-apa-itu/) Jika jenis kelamin bersifat menetap (permanen), gender tidaklah demikian, tetapi dibentuk secara sosial. Atau dalam bahasa para aktivis kesetaraan gender, seperangkat peran yang dijalani seseorang (gender) merupakan konstruksi sosial. Secara ilmiah, gender merupakan konstruksi sosial adalah pendapat yang aneh. Menurut Inal (http://www.forumsains.com/artikel/memahami-sains-memahami-gender/), perbedaan laki-laki dan perempuan bukan karena konstruksi sosial, tetapi karena secara biologis memang berbeda sehingga kecenderungan psikologis antar keduanya juga berbeda. Fenomena itu terwujud nyata di berbagai kebudayaan, kelas, etnis, agama, baik di masa kini maupun di masa lampau. Sayangnya, penjelasan ilmiah semacam itu dinilai tidak relevan oleh para aktivis kesetaraan gender, mereka justru mengkritik para ilmuwan dianggap sama sekali tak berpihak kepada kesetaraan gender. Lebih jauh mereka menganggap para ilmuwan dan lembaga keilmuan sama tak beresnya dengan institusi lain yang cenderung meminggirkan kaum perempuan sejak 1990-an. Bagi Helena Cronin (filsuf ilmu alam dan salah seorang direktur di Centre for Philosophy of the Natural and Social Science), mengabaikan penjelasan ilmiah soal gender, merupakan tindakan yang keliru. Dalam sebuah esainya yang diberi tajuk Darwinian Insights into Sex and Gender, Helena Cronin mengatakan, pemahaman ilmiah justru sangat berguna dalam membantu kita bagaimana seharusnya memandang persoalan kesenjangan gender. Secara ilmiah sudah dikatakan sejak lama, adalah keliru bila gender merupakan konstruksi sosial, merupakan bentukan sosial, merupakan rekayasa sosial. Bahkan secara empirik, juga telah dibantah. Misalnya, pada kasus yang terjadi pada tahun 1960, di Amerika Serikat. Ketika itu, seorang anak laki-laki bernama John mengalami kerusakan penis parah akibat tindakan sirkumsisi yang ceroboh. Untuk mengatasinya, dokter memutuskan melakukan amputasi dan mencoba mengubah si anak laki-laki tadi menjadi perempuan melalui kastrasi (kebiri), pembedahan, dan terapi hormon. Nama John diubah menjadi Joan, didandani sebagai perempuan, dan diberi boneka. Dia pun tumbuh menjadi seorang gadis. Tiga belas tahun kemudian (1973) seorang psikolog bernama John Money menyatakan, bahwa Joan adalah remaja (putri) yang sukses direkayasa dengan baik. Sekaligus membuktikan bahwa peran gender dapat dibangun lewat pendekatan sosial (konstruksi sosial).

Namun di tahun 1997, pernyataan John Money terbantahkan. Menurut penuturan Joan, di masa kanak-kanak dia sangat tidak bahagia, dia selalu ingin memakai celana panjang, bercampur dengan laki-laki, buang air kecil sebagaimana layaknya anak laki-laki. Ketika usianya menginjak 14 tahun, Joan berhasil mengetahui kejadian yang sesungguhnya dan itu justru membuatnya lega. Dia pun menghentikan terapi hormon, mengubah kembali namanya menjadi John, kembali menjalani hidup sebagai laki-laki, menjalani operasi pengangkatan payudara, dan pada usia 25 tahun menikahi seorang janda serta mengadopsi anak. Melalui John yang direkayasa menjadi Joan dan kembali menjadi John, telah dapat dibuktikan bahwa yang berperan dalam penentuan gender adalah faktor bawaan, bukan rekayasa sosial. Bukti makin diperkuat dengan sejumlah penelitian di bidang neurologi dan genetika yang senantiasa mengarah pada kesimpulan serupa. Tentang Ratna Sarumpaet Salah satu aktivitas menonjol dari Ratna Sarumpaet adalah menolak undang-undang pornografi, sejak masih bernama RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) hingga RUU Pornografi. Namanya tercantum dengan huruf kapital pada petisi AKKBB yang dipublikasikan antara lain oleh harian Kompas edisi 30 Mei 2008 lalu. Cewek kelahiran Tarutung (Sumatera Utara) tanggal 16 Juni 1949 ini, meski menolak UU Pornografi, namun emoh dikatakan mendukung pornografi.

KOMPAS 30 Mei 2008 Pada salah satu media online, Ratna Sarumpaet pernah mengatakan, “Jangan salah ya. Seperti yang digembar-gemborkan kalau Ratna Sarumpaet itu mendukung atau menikmati pornografi, saya justru menolak pornografi. Saya kan juga punya anak cucu, tapi di sini saya tidak setuju sama undang-undang pornografi karena tidak relevan dan ada masalah dalam undang-undang tersebut. Tapi saya nggak menyalahi juga sama orang yang setuju dengan undang-undang tersebut karena mungkin mereka melihat dari

masalah moral seperti sekarang ini. Jadi buat saya yang jadi masalah itu adalah bagaimana memperbaiki moral bangsa…” (http://www.kapanlagi.com/h/0000256676.html) Dari pernyataan itu, kita bisa melihat betapa Ratna sedang berada dalam kebingungan yang amat sangat. Menurut pengakuannya, ia tidak mendukung dan tidak menikmati pornografi. Namun, ia ‘hanya’ tidak setuju dengan undang-undang pornografi yang menurutnya bermasalah dan tidak relevan. Lha, Ratna khan seorang seniman, bukan pakar di bidang penyusunan undang-undang, bukan ilmuwan yang pernah meneliti dampak pornografi, dan sebagainya. Lalu untuk apa Ratna ngotot menolak undang-undang pornografi yang dikatakannya bermasalah dan tidak relevan itu? Jawabannya sudah jelas, yaitu islamophobia dan syari’at phobia. Bagi Ratna dan organisme sejenisnya, undang-undang pornografi adalah syari’at Islam, sehingga perlu ditolak, meski isinya sangat bagus sekalipun. Mungkin sikap Ratna akan berbeda bila rumusan undang-undang sejenis diberlakukan di negeri Belanda, Jepang, Amerika Serikat, dan sebagainya yang mayoritas penduduknya non Muslim. Lagi pula buat apa Ratna begitu ngotot menolak sebuah undang-undang, bukankah sudah menjadi tabiat bangsa Indonesia yang gemar melanggar aturan yang sudah dibuat. Kalau toh RUU itu disahkan menjadi undang-undang, paling hanya beberapa saat saja dipatuhi, setelah itu masyarakat akan kembali menemukan celah strategis untuk melanggarnya. Kebiasaan ini terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan. Makanya, korupsi tidak bisa diberantas tuntas meski ada berbagai undang-undang dan lembaga yang menanganinya. Sehingga kerusakan lingkungan terus saja terjadi karena aturan yang ada diabaikan, barulah jika terjadi bencana seperti di Situ Gintung Tangerang Banten (27 Maret 2009), kewaspadaan terhadap lingkungan kembali ditonjolkan, meski hangat-hangat tembelek. Berbeda dengan Ratna dan organisme sejenisnya, mereka yang mendukung diterbitkannya undang-undang pornografi, meski tahu undang-undang itu belum tentu efektif, setidaknya hal itu dapat dijadikan landasan membangun harapan terhadap Indonesia yang lebih baik, terbebas dari pornografi, terbebas dari pornoaksi, rendah kasus-kasus perkosaan dan pelecehan seksual, dan sebagainya. Menggantungkan harapan melalui sebuah rumusan undang-undang, apa salahnya? Yang salah, adalah mereka yang justru mempersoalkan orang-orang yang berharap. Mosok sih berharap saja tidak boleh? Kejam nian! Ivan, Ruben dan Olga Kalau Ratna Sarumpaet merupakan kaum perempuan yang menjadi ‘korban’ konsep kesetaraan gender, bagaimana bila yang jadi ‘korban’ adalah kaum laki-laki? Barangkali sosok ‘korban’ itu bisa dilihat pada diri Ivan Gunawan, Ruben Onsu, dan Olga Sahputra.

Ivan Gunawan Ivan Gunawan adalah lelaki kelahiran Jakarta, 31 Desember 1981, yang kini merupakan salah satu perancang busana terkenal. Orangtuanya berprofesi sebagai diplomat. Adji Notonegoro, sang paman, telah lebih dulu menjadi perancang busana terkenal di Indonesia. Secara jenis kelamin, Ivan Gunawan adalah laki-laki. Tetapi secara gender, belum tentu: bisa feminin, bisa maskulin. Kenyatannya, Ivan Gunawan begitu fleksibel mengganti peran. Kadang feminin, kadang maskulin. Tapi lebih sering feminin. Sebagai Muslim, Ivan juga pernah menjalankan ibadah umroh ke tanah suci. Namun feminitasnya tidak lekang, ketika itu ia menggunakan gamis berwarna pink (sebuah warna feminin). Olga Sahputra barangkali juga bisa dimasukkan ke dalam deretan ‘korban’ kesetaraan gender. Dia sadar betul dirinya laki-laki, bahkan dia pernah mengatakan, “Biarpun Olga klamar-klemer kayak gini, cewek masih bisa bunting sama Olga…”

YOGA alias Olga Sahputra Selain menyadari dirinya laki-laki yang bisa menghamili wanita, Olga juga sadar bahwa dirinya punya gesture (gerak langkah) perempuan. Bahkan ia sadar, berperan sebagai perempuan dalam rangka memenuhi permintaan pasar (jadi presenter, pemain sinetron, pelawak). Dari sinilah, Olga bisa meraup ketenaran dan kekayaan. Begitu juga dengan Ruben Onsu, laki-laki kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1983, ia menyadari betul dirinya secara jenis kelamin adalah laki-laki. Namun ia juga sadar betul secara gender (meski kita yakin ia tidak tahu apa-apa soal konsep gender), ia bisa berperan feminin.

Ketiganya, Ivan, Olga dan Ruben punya ciri khas yang sama, yaitu cenderung kasar dalam menampilkan banyolan, ceplas-ceplos, bahkan vulgar. Tapi, anehnya gaya seperti inilah yang diminati penonton. Artinya, penonton, pelakon, dan produser sama-sama sakit.

Ruben Onsu Nah, dari beberapa contoh para ‘korban’ kesetaraan gender tadi, kita sudah semakin bisa memahami apa yang sedang diperjuangkan para aktivis perempuan (aktivis kesetaraan gender). Yaitu, mereka ingin menciptakan kaum perempuan seperti Ratna Sarumpaet, sedang kaum lelaki seperti Ivan-Olga-Ruben.

Ruben dan Ivan Dari situ sikap islamo phobia (ketakutan kepada Islam) atau bahkan anti Islam disalurkan, untuk membentuk manusia-manusia yang dilaknat menurut ajaran Islam. Sebagaimana sifat berseteru, orang akan berupaya menampilkan apa-apa yang menjadi kebencian seterunya. Demikian pula para pembenci Islam tentu akan berupaya apa saja yang jadi larangan Islam, bahkan yang dilaknat oleh Islam. Di antara yang dilaknat oleh Islam adalah perempuan yang bergaya laki-laki dan juga laki-laki yang bergaya perempuan. Laki-Laki Tidak Sama dengan Perempuan

Dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits menunjukkan, laki-laki tidak sama dengan wanita. Di antaranya ayat Al-Qur’an menegaskan: 1. ‫وليس الذكر كالنثى‬ َ ْ ُْ َ ُ َ ّ َ ْ َ َ “Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (Ali Imran : 36) 2. ٌ َ َ َ ّ ِ ْ ََ ِ َ ّ َِ ‫وللرجال عليهن درجة‬ ”Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (AlBaqarah: 228) Hal ini karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga. (Al Quran dan Terjemahannya, Depag RI hal 55) 3. ٍ ْ َ َ‫ّ َ ُ َ ّ ُ َ ََ ّ َ ِ ِ َ َ ّ َ ّ َ ْ َ ُ ْ ع‬ ‫الرجال قوامون على النساء بما فضل ال بعضهم َلى بعض‬ ُ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (An Nisaa: 34) Perbedaan antara lelaki dan perempuan serta kedudukan laki-laki sebagai pemimpin atas perempuan, dan kelebihan derajat laki-laki atas perempuan; itu semua ditentukan oleh Allah. Sehingga tidak boleh saling menyerupakan diri. Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri sebagai wanita dan sebaliknya. Rasulullah menegaskan hal ini. ِ َ ّ ِ ِ َ ّ َ ِ ِ َ َّ َُ ْ َ ِ َ ّ ِ ِ َ ّ َ ِ َ ِ َّ َُ ْ ّ َ َ َ ‫.لعن ال المتشبهين من الرجال بالنساء ، والمتشبهات من النساء بالرجال‬ ُ “Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri dengan wanita dan perempuanperempuan yang menyerupakan diri dengan laki-laki.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas, Shohih). Lihat Shohih Bukhori kitab Libas. 5886 – ‫عن ابن عباس قال لعن النبى – صلى ال عليه وسلم – المخنثين من الرجال ، والمترجلت من النساء‬ ِ َ ّ َ ِ ِ َ ّ َ َ ُ ْ َ ِ َ ّ َ ِ َ ِ َّ ُ ْ ّ ِ ّ َ َ َ َ َ ٍ َّ ِ ْ ِ َ ‫وقال » أخرجوهم من بيوتكم « . قال فأخرج النبى – صلى ال عليه وسلم – فلنا ، وأخرج عمر فلنا . )صحيح‬ ً َ ُ ُ َ ُ َ َ ْ ََ ً َ ُ ّ ِ ّ َ َ ْ ََ َ َ ْ ُ ِ ُُ ْ ِ ْ ُ ُ ِ ْ َ َ َ َ 420 ‫(البخارى (-ج 91 / ص‬ Dan dari Ibnu Abbas juga, dia berkata: Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, dan beliau bersabda, ‘Usir mereka dari rumah kalian. ‘Ibnu Abbas mengatakan , ‘Maka Nabi pun mengusir si Fulan, sedangkan Umar mengusir si Fulanah.” (HR Bukhari nomor 5886) ِ ُ ّ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ َْ َ ْ َ ِ َْ َ ْ َ َ ْ ِ ُ َ ْ ‫ّ ُ َ ي‬ ‫.لعن رسول ال -صلى ال عليه وسلم- الرجل َلبس لبسة المرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل‬ ِ ّ ُ ُ َ َ ََ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR Abu Daud dan Al Hakim, dari Abu Hurairah, Shohih). (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998). (haji/tede/nahimunkar.com). Sumber: http://www.nahimunkar.com/contoh-korban-kesetaraan-gender/ Share:
• • • • •

2 Comments

News Maker From Jombang
22 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 22,2011 Uncategorized

NEWS MAKER FROM JOMBANG JIKA DIPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA, entah mengapa, dari Jombang Jawa Timur sering lahir sejumlah organisme yang masuk kategori news maker (pembuat berita). News maker from Jombang ini, uniknya, adalah sosok yang eksistensinya berada di dua titik ekstrem yang saling bertolak belakang. Ada yang berasal dari titik ekstrem dalam makna kemajon alias kebablasan, ada yang berasal dari titik ekstrem sebaliknya, yaitu terbelakang (primitif). Dua-duanya sangat berbahaya bagi aqidah Islam. Dari Jombang ada dua guru bangsa yang dielu-elukan sekelompok orang dan sejumlah besar media massa. Bahkan kedua guru bangsa ini punya reputasi internasional. Kelas mereka bukan lagi tokoh nasional, namun sudah menjadi tokoh internasional. Namun, dari Jombang pula kita temukan dua dukun cilik, Ponari dan Dewi Setiawati. Pada tulisan sebelumnya telah diungkap beberapa sosok dari Jombang (lihat tulisan berjudul The Men From Jombang), antara lain Verry Idam Henyansah alias Ryan, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Nurcholish Madjid alias Cak Nur, dan Wahid Hasjim. Batu dan Kemusyrikan

Yang primitif, misalnya bisa dilihat dari kasus Ponari dan Dewi, dukun cilik yang dianggap sakti karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berkat batu petir yang dimilikinya. Itu sisa-sisa keyakinan primitif yang bersumber pada ajaran dinamisme, yang dalam Islam disebut syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena menganggap batu itu sebagai batu sakti yang memiliki kekuatan untuk penyembuhan. Kecuali kalau khasiat untuk obat itu ada landasan dalilnya yang shahih, misalnya air zamzam, madu, dan habbatus sauda’ (jinten hitam). Ternyata barang-barang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memang bisa dibuktikan secara ilmiyah lantaran memiliki kandungan yang berunsur obat. Demikian pula barangbarang yang bisa dibuktikan secara ilmiyah memang bisa untuk obat, dengan hukum sebab akibat, maka boleh-boleh saja untuk berobat. Namun ketika batu dipercaya sebagai barang ajaib dan menyembuhkan aneka penyakit, tanpa bukti-bukti ilmiyah dan juga tanpa dalil syar’i, maka ini termasuk yang digolongkan mempercayai kekuatan sakti pada selain Allah. Dalam keyakinan Islam digolongkan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala. Itu dosa terbesar. Oleh karena itu ketika Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya: “Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah AdDaaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93). Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits: ْ َ ْ ِ ‫ّ َ َ ْ ِ َ َّ َ ِب َ ُ َ ْ ٍ َ َ َ ْ َ ِ ِ ْ َ ٍ َ ُ ْ ُ َ َ ِي‬ ‫عن أبي واقد الليثي قال خرجنا مع رسول ال صلى ال عليه وسلم ق َل حنين فمررنا بسدرة فقلت يا نب ّ ا ّ اجعل‬ ‫ل‬ ُ َّ ّ ِ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ّ ِ ْ ّ ٍ ِ َ ِ َ ْ َ ِ ُ ّ ‫لنا هذه ذات أنواط كما للكفار ذات أنواط وكان الكفار ينوطون بسلحهم بسدرة ويعكفون حولها فقال النبي صلى ا‬ ‫َ َ َ ِ ِ َ َ َ ْ َ ٍ َ َ ِ ْ ُ ّ ِ َ ُ َ ْ َ ٍ َ َ َ ْ ُ ّ ُ َ ُ ُ َ ِ ِ َ ِ ِ ْ ِ ِ ْ َ ٍ َ َ ْ ُ ُ َ َ ْ َ َ َ َ َ ّ ِ ّ َّ ل‬ ‫َليه وسلم ال أكبر هذا كما قالت بنو إسرائيل لموسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة إنكم تركبون سنن الذي َ من قبلكم‬ ْ ُ ِ ْ َ ْ ِ ‫ع َ ْ ِ َ َّ َ ّ َ ْ َ ُ َ َ َ َ َ َ ْ َ ُ ِ ْ َ ِ َ ِ ُ َ ْ َ ْ َ َ ِ َ ً َ َ َ ُ ْ ِ َ ً ِ ّ ُ ْ َ ْ َ ُ َ ُ َ َ ّ ِ ن‬ ُ Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut: Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). Ponari Dukun Tiban Sekitar Desember 2008, Ponari yang berusia sembilan tahun ini tengah bermain di bawah guyuran air hujan, sementara itu petir menyambar-nyambar di atasnya. Ketika itu, hujan deras memang sedang mengguyur Dusun Kedungari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tiba-tiba tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti terkena sambaran petir. Sesaat setelah petir menyambar di atas kepalanya, Ponari mendapati sebuah batu sebesar telur ayam berada tepat di atas rambut kepalanya. Batu ini, oleh Ponari dibawa pulang.

Ponari Dukun Tiban Peristiwa batu gepeng sebesar telur ayam yang ditemukan Ponari itu, sampai ke telinga kakeknya. Atas saran sang kakek, batu berwarna kuning itu dibuang. Namun, meski sudah tiga kali dibuang, batu itu selalu kembali. Peristiwa ganjil itu, karena memang dasar akidahnya (keyakinan Islamnya) tidak kuat, membawa keluarga Ponari sampai

pada penafsiran, bahwa batu itu bertuah. Ponari kemudian menyimpan batu itu. Sambil bergurau Ponari mengatakan, bahwa batu ini bisa menyembuhkan orang yang sakit Gurauan Ponari itu kemudian disambut oleh kedua orangtuanya, dengan meminta Ponari menyembuhkan salah satu kerabatnya yang saat itu sedang sakit demam tinggi. Ponari pun mencelupkan batu petirnya itu ke dalam segelas air kemudian diberikan kepada si sakit. Tanpa dinyana, pasien pertamanya itu sembuh. Mendengar keajaiban ini, tetangga sekitar yang sedang sakit mencoba untuk disembuhkan. Dan ternyata semuanya sembuh juga.

Ponari Dukun Cilik Keampuhan batu ‘bertuah’ itu pun menyebar bagai kabar burung ke seantero dusun, bahkan melintasi batas dusun. Maka, sejak pertengahan Januari 2009, rumah Ponari didatangi sejumlah orang yang ingin berobat. Saking banyaknya yang antri, menyebabkan Rumiadi (58 tahun) asal Kediri dan Nurul Miftadin (42 tahun) asal Jombang meninggal dunia selain akibat kelelahan, terutama karena penyakit yang dideritanya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Februari 2009. Setelah kejadian itu, mulai 2 Februari 2009, polisi melarang warga berobat. Di depan jalan masuk menuju rumah Ponari, polisi memasang plang dan meminta warga yang ingin berobat untuk kembali pulang. Namun, ribuan warga tak bisa ditundukkan dengan sekedar plang dan anjuran belaka, karena mereka begitu yakin batu bertuah milik Ponari bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Mereka datang ke tempat itu, setelah mendengar kabar, ada beberapa orang yang lumpuh bisa sembuh, hanya dengan meminum air putih yang sudah dicelupkan batu petir milik Ponari. Apalagi, Ponari tidak memberlakukan tarif resmi kepada pasiennya. Namun demikian, ada ketentuan bagi pasien yang ingin memberikan uang, tidak boleh lebih dari Rp15 ribu. Akhirnya, puluhan ribu orang secara bergelombang berjejal di rumah Ponari. Mereka tidak saja berasal dari Jombang, tetapi ada yang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa

Tengah dan sebagainya. Mereka berharap, batu petir di tangan Ponari bisa menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Cerita Mistis Berita tentang ‘kesaktian’ Ponari juga dihiasi dengan berbagai cerita mistis. Antara lain sebagaimana diceritakan oleh Nurhayati asal Nganjuk, Jawa Timur. Ia mendatangi Ponari untuk meminta obat guna kesembuhan adiknya yang lumpuh. Nurhayati ketika itu mencoba mengambil gambar beberapa gelas yang berisi air, foto dan KTP pasien, melalui telepon selularnya yang mempunyai fasilitas kamera. Namun, ia tidak berhasil menangkap objek apapun. Cerita mistis lainnya datang dari ibunda Ponari bernama Mukaromah, berusia 28 tahun. Menurut Mukaromah, ketika seorang fotografer mengabadikan Ponari beserta dirinya dan Ibu Lurah setempat, sosok Ponari tak terlihat di hasil jepretan fotografer tersebut, yang ada hanya gambar Ibu Lurah dan Mukaromah. Pasca tewasnya dua ‘pasien’ Ponari, pihak kepolisian melakukan penutupan (sementara), dan mengupayakan untuk memindahkan tempat praktik Ponari ke Balai Desa, atau rumah salah satu warga yang memiliki pekarangan yang luas. Namun Ponari menolak, dengan alasan wangsitnya diterima di rumah, jadi tidak bisa jauh-jauh dari rumah. Kalau dipindah ke luar Dusun pengobatannya tidak berkhasiat. Begitu alasan Ponari sebagaimana disampaikan Mukaromah. Bukan cuma itu, Ponari bahkan berani menawarkan ‘kesaktiannya’ untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Dan, menurut Kamsin (bapak kandung Ponari), pihak PT Minarak Lapindo tertarik dengan tawaran Ponari itu. Menurut Kamsin pula, sudah dua kali utusan Lapindo menemui Ponari, bahkan salah satu dari mereka meminta air dari Ponari untuk membuktikan kemampuan Ponari. Hanya saja, menurut Kamsin, pihak Lapindo masih mempertimbangkan, mengingat banyaknya pasien yang berharap kesembuhan dari Ponari. Apalagi menurut Ponari, dia tak bisa lagi menyembuhkan orang yang sakit jika sudah menutup lumpur Lapindo dengan batu saktinya itu. Oleh karena itu, menurut Kamsin, utusan Lapindo meminta agar Ponari menyelesaikan dulu pengobatan terhadap pasiennya. Nila Retno Nur Cahyani, Kepala Desa Balongsari Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang, membenarkan hal ini. Menurut Retno, utusan dari PT Minarak Lapindo telah bertemu dengannya dan berniat untuk membawa Ponari ke lokasi semburan lumpur di Sidoarjo. Salah satunya, bernama Hartono. Menurut Nila Retno Nur Cahyani, ketika itu Hartono mengatakan, bahwa Tatty Aburizal Bakrie akan datang menemui Ponari secara langsung. (okezone.com edisi Senin, 2 Februari 2009 – 18:00 wib). Kalau informasi dari Hartono itu benar, betapa menyedihkannya. Karena, ternyata, kejahiliyahan itu terbentang luas, dari keluarga paling miskin sampai kepada keluarga paling kaya di Indonesia. Harta memang tidak ada hubungannya dengan kualitas keimanan dan akidah seseorang.

Sejak tanggal 1 dan 2 Februari 2009, praktek Ponari ditutup sementara oleh aparat keamanan, namun sejak 3 Februari 2009, praktek Ponari kembali dibuka, setelah mendapatkan izin dari Kapolres Jombang AKBP Khosim. Hal ini langsung disambut anstusias oleh masyarakat, terbukti, dalam tempo singkat sudah ada 4.000 pasien yang siap antre. Untuk kali ini, diterapkan sistem kupon, yang dibatasi hingga 5.000 pasien saja. Selebihnya, akan diberi kesempatan pada hari berikut. Selain itu, praktik dukun cilik Ponari ini, dijaga oleh sekitar 70 personel Polisi, dan sejumlah aparat TNI. Baru dua hari praktik, sejak 5 hingga 8 Februari praktik Ponari ditutup kembali, karena perbaikan jalan. Sejak 9 Februari 2009, kembali dibuka. Sejak pukul 07:30 WIB, warga sudah memadati lokasi praktek Ponari. Semakin siang, jumlah calon pasien semakin banyak hingga mencapai ribuan orang. Akibatnya, antrean menuju tempat Ponari berjajar hingga dua kilometer. Bahkan, massa tak peduli dengan rintik hujan yang mengguyur, mereka tetap sabar menanti pengobatan Ponari dengan harapan penyakit yang dideritanya sembuh. Ketika rintik hujan reda dan menyisakan jalan becek, sengatan matahari pun kembali terik. Becek dan terik, membuat antrean sepanjang 2 kilomeer menjadi tak terkontrol. Mereka saling berdesakan sehingga mengakibatkan beberapa orang pingsan. Massa mulai beringas. Sekitar pukul 12:45 wib, polisi menghentikan proses pengobatan yang dilakukan Ponari, untuk mencegah timbulnya korban jiwa sebagaimana terjadi hari Minggu lalu. Meski sudah ditutup, massa tetap berdesakan dan tidak kunjung bubar meski telah diminta untuk meninggalkan lokasi. Akibatnya, kembali jatuh korban jiwa dua siswa SD akibat ramainya antrean. Saat itu, (9 Feb 2009), menurut perkiraan AKP Sutikno (Kapolsek Megaluh), jumlah pasien yang mendatangi rumah Ponari mencapai 50 ribu orang, dan personel polisi yang diterjunkan ke lokasi berjumlah 500 orang. Meski sudah ditutup, namun pada tanggal 10 Feb 2009, sejumlah puluhan ribu orang tetap bertahan menanti sang dukun cilik, meski keberadaan Ponari tidak dapat diketahui. Menurut sebuah sumber, Ponari diamankan di Mapolres Jombang. Sumber lain mengatakan, Ponari dirawat di rumah sakit. Sekitar pukul 10.00 WIB Ponari dirawat intensif di RS Bhayangkara Jombang. Menurut dokter Gunawan yang memeriksa, Ponari sakit panas sehingga harus diberikan obat. Suhu badannya panas karena kelelahan setelah kemarin (9 Feb 2009) mengobati puluhan ribu orang. Setelah dirawat selama satu setengah jam, Ponari diperbolehkan pulang. Muspida Kabupaten Jombang dan Polres Jombang pada tanggal 10 Feb 2009 telah membahas fenomena praktik pengobatan alternatif Ponari. Kesimpulannya, praktik Ponari ditutup karena membuat polisi dan aparat desa kewalahan. Keputusan itu diambil setelah Ponari beserta orangtua, guru, dan aparat Desa Balongsari mengadakan rapat dengan Kapolres Jombang AKBP M Khosim dan Bupati Jombang Suyanto, di Pendopo Kecamatan Megaluh, Selasa sore tanggal 10 Feb 2009. Bahkan, pihak keluarga berencana membuang batu petir milik Ponari, agar tidak ada lagi pasien yang nekat minta diobati. Kedua orangtua Ponari juga telah memutuskan agar anak semata wayangnya itu kembali

ke bangku sekolah. Selama tiga minggu lebih, Ponari tak bersekolah karena sibuk mengobati beragam penyakit dari puluhan ribu pasienya. Meski dinyatakan sudah ditutup, namun ribuan orang masih berjejal ke rumah Ponari (11 Feb 2009), padahal keberadaan Ponari dan keluargnya tidak diketahui. Salah satu di antaranya adalah Kemat alias Imam Khambali salah satu korban salah tangkap pembunuhan Asrori yang sebenarnya dilakukan oleh Verry Idham Henyansyah alias Ryan. Polisi pun kewalahan menghadapi ribuan orang yang tetap ngotot ingin berobat. Akhirnya praktik dibuka kembali (11 Feb 2009). Menurut Kapolres Jombang AKBP Khosim mengatakan, polisi terpaksa membuka kembali praktik pengobatan Ponari bagi mereka yang telah memiliki kupon, karena amukan warga yang nekat merangsek mendekati rumah Ponari sehingga dorong-dorongan antara massa dan polsi pun terjadi. “Toleransinya ini hari terakhir. Yang tidak memiliki kupon tidak dilayani, dan besok akan ditutup total,” tegas AKBP Khomsin. Keinginan orangtua Ponari membuang batu petir dan mengembalikan Ponari sebagaimana semula ternyata ditentang keluarga dekat Ponari sendiri. Ayah Ponari sempat dianiaya (14 Feb 2009), ketika berupaya untuk mengambil anaknya dari rumah Mbok Dauk (bibi Ponari), rumah yang sering dipakai Ponari buka praktik. Kamsin dipukul Mbok Dauk dan beberapa anggota keluarganya hingga harus menjalani perawatan selama satu hari di rumah sakit Nur Wahid, Jombang. Saat ini Kamsin sudah dipulangkan dari rumah sakit. Dari kasus penganiayaan ini polisi menetapkan ND sebagai tersangka. Motif dari penganiayaan, dilatarbelakangi kecemburuan sosial. ND yang sejak awal rumahnya dipakai Ponari melayani puluhan ribu pasien, diduga iri lantaran belum mendapatkan hasil dari jerih payah bocah yang mendadak jadi dokter supranatural itu. Kekerasan (dan ancaman kekerasan) juga terjadi pada sejumlah wartawan. Antara lain sebagaimana terjadi pada diri Amir, salah satu wartawan televisi nasional. Amir mendapat ancaman melalui telepon dari seorang pria yang mengatasnamakan Karang Taruna Dusun Kedungsari. Pria tersebut meminta Amir untuk berhenti meliput Ponari. Sebab, liputan itu bisa menyebabkan praktik Ponari dihentikan petugas. Keputusan polisi menutup praktik Ponari membuat sebagian warga yang ikut menanggok keuntungan dari praktik pengobatan Ponari merasa kecewa, mereka pun menuding wartawan sebagai penyebab penutupan praktik pengobatan itu. Ancaman yang sama juga terjadi pada diri Doni, salah satu wartawan media cetak lokal. Saat meliput di Dusun Kedungsari, Doni sempat didatangi dua orang pemuda yang memaksanya untuk tidak meliput. Meski aparat sudah berupaya menutup praktik Ponari sejak 12 Feb 2009, namun hingga 16 Feb 2009, rumah Ponari masih dipadati ratusan calon pasien yang tetap berharap Ponari mau membuka praktik darurat. Kak Seto Mendukung Kemusyrikan

Karena ada unsur eksploitasi, maka Seto Mulyadi pun turun ke Jombang menemui keluarga Ponari (16 Feb 2009). Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA), kedatangan Kak Seto hanya memberikan pengertian kepada Ponari dan keluarganya tentang hak-hak Ponari sebagai anak, yang harus dilindungi. Kak Seto juga berusaha menawarkan solusi yang tidak merugikan masyarakat yang memerlukan pengobatan, namun tidak merampas hak-hak Ponari sebagai anak. Ketika itu, Kak Seto mengusulkan agar dibuatkan semacam instalasi untuk mengalirkan air sakti ala Ponari ke beberapa tempat tertentu di area lokasi pengobatan. Instalasi itu terdiri dari beberapa drum atau tangki air ditempatkan pada lokasi agak tinggi, dihubungkan dengan pipa-pipa paralon, kemudian di tempat-tempat tertentu dipasang keran untuk mengucurkan air di tangki lewat pipa. Setiap hari drum besar atau tangki diisi air, kemudian Ponari mencelupkan batu ajaib ke dalam air di tangki dengan disaksikan para pengunjung. Selanjutnya air yang sudah dicelup batu ajaib akan mengalir ke pipa-pipa, yang dipasangi kran di tempat-tempat tertentu, untuk mengucurkan air. Dengan cara ini, setiap pasien yang membutuhkan air untuk berobat, tinggal buka kran dan diisikan ke gelas pasien. Menurut Kak Seto, usulannya itu sudah disetujui oleh Ponari maupun keluarganya. Secara tehnis, dan sesuai dengan kapasitas Kak Seto sebagai Ketua KPA, usulan itu sangat masuk akal. Namun, sayangnya sama sekali tidak mempertimbangkan unsur agama. Menurut perpespektif agama, femonema Ponari adalah kemusyrikan. Oleh karena itu, yang harus dihilangkan adalah kemusyrikannya, bukan masalah tehnis dan hak asasi anak atau ada tidaknya unsur eksploitasi. Seusai menemui Ponari, Kak Seto menemui Bupati Jombang Suyanto, dan menyampaikan usulannya itu. Bupati Suyanto berjanji akan membantu dengan membangun instalasi air sakti tersebut. Sebetulnya, Suyanto sebelumnya pernah mengusulkan hal serupa, tapi ditolak panitia karena pengunjung hanya minta diobati secara langsung, yakni tangan Ponari yang memegang batu ajaib mencelupkan ke air di wadah para pasien. Nampaknya usulan Kak Seto akan mendapat kendala tehnis. Dengan usulan itu, maka peluang mencetak uang sebanyak-banyaknya justru terancam. Apalagi, menurut perkiraan harian Surya, uang yang terkumpul dari kotak amal hingga 16 Feb 2009 mencapai sekitar Rp 500 juta. Usulan Kak Seto itu, sebenarnya merupakan langkah mundur dari apa-apa yang sudah dilakukan aparat kepolisian. Sejak 12 Feb 2009, polisi secara tegas menutup permanen praktik Ponari, karena menyadari hal itu merupakan syirik dan takhayul. Bahkan, polisi merusak paksa sumur milik Ponari, karena meski lokasi praktik pengobatan supranatural itu telah ditutup total, namun warga tetap berebut meminta “berkah” dari Ponari. Antara lain dengan berebut air sumur milik Ponari yang diyakini bisa menjadi obat macam-macam penyakit. Akibat banyaknya warga yang berebut air sumur ini, polisi terpaksa merusak bagian pompa manual yang terpasang di atas sumur. Bahkan Kapolres Jombang sudah enggan membicarakan fenomena Ponari. Tiba-tiba, Kak Seto datang, membawa usulan agar dibuatkan instalasi air sakti.

Saingan Ponari Belum usai fenomena Ponari dengan batu petirnya, masih di Jombang, tersiar kabar ada dukun cilik lain yang juga memiliki kemampuan sama, bernama Dewi Setiawati, berusia 14 tahun, warga Dusun Pakel, Desa Brodot, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang juga. Jarak rumah Ponari dengan Dewi Setiawati hanya berkisar lima kilometer saja. Menurut kabar burung, batu milik Dewi merupakan saudara dari batu milik Ponari. Jika batu milik Ponari dihuni makhluk gaib bernama Rono, maka milik Dewi dihuni makhluk gaib perempuan bernama Rani. (Ini jelas keyakinan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala, dosa paling besar, sebagaimana yang dipercayai orangorang jahiliyah dalam menyembah berhala, yang diyakini ada rohnya di berhala itu yang memberi manfaat dan madhorot).

Bila Ponari mengobati pasiennya dengan cara menyelupkan batu ke air untuk diminum, maka cara yang ditempuh Dewi sama sekali tidak menggunakan air. Slamet (ayah Dewi) membacakan doa, sementara itu Dewi duduk disebelah Slamet, sedangkan batu diletakkan di sebelah Dewi. Slamet selama ini memang telah dikenal sebagai dukun (kecil-kecilan). Jadi, tidak heran bila sejumlah orang kerap mendatanginya. Apalgi setelah Dewi menemukan batu ajaib. Menurut Simpen (45 tahun) adik Slamet, batu milik Dewi ditemukan pada hari Kamis tanggal 12 Feb 2009 lalu, bersamaan dengan hujan dan petir. Dewi menemukan batu itu di halaman rumahnya. Batu Rani milik Dewi lebih kecil dari kepalan tangan anak-anak, berbeda dengan milik Ponari yang berukuran sekepalan anak-anak. Dengan batu itulah Dewi menyembuhkan beberapa tetangga dan keluarga. Meski banyak orang berdatangan ke rumah Dewi dan meminta pengobatan, tapi karena suhu badan Dewi meninggi, ia enggan mengobati. Dewi Setiawati merupakan anak pasangan Slamet dan Djumailah. Meski sudah berumur 14 tahun, ia masih duduk kelas VI SDN Brodot I. Dia sering tidak naik kelas. Agar tidak mengulangi kasus Ponari yang dikunjungi pasien dalam jumlah besar, Slamet diajak bermusyarah oleh pihak polsek dan pemerintah desa, mengenai fenomena pengobatan ala Dewi ini. Musyawarah itu pada dasarnya mengatur pelaksanaan pengobatan agar tidak semrawut. Juga disinggung rencana memindahkan lokasi

pengobatan, karena rumah Slamet berada di gang sempit, sehingga rawan terjadi korban jika pasien banyak dan berdesakan. Jadi, yang diatur masalah tehnis. Bukan memberantas kemusyrikan. Itulah fenomena penyebaran bahkan pelestarian kemusyrikan yang merupakan tantangan terberat bagi Ummat Islam, namun kadang yang mendukung keyakinan syetan itu juga orang-orang yang mengaku beragama Islam. Kasiatun Ibunya Ryan Tokoh news maker from Jombang berikut ini adalah ibu kandung dari Ryan si jagal lagi homo asal Jombang. Sosok ini menjadi kian terkenal setelah Very Idham Henyansah alias Ryan menerbitkan sebuah buku kisah pribadinya berjudul The Untold Story of Ryan. Melalui buku itu, terkumpul mozaik yang menyimpulkan bahwa Kasiatuni telah menjadi penyebab Ryan menjadi seorang gay hingga akhirnya menjadi pembunuh.

Kasiatun Melalui buku tersebut, Ryan menuturkan bahwa ia sering memergoki sang ibu berselingkuh dengan banyak pria. Perselingkuhan ibunya itu, pertama kali disaksikan Ryan ketika ia masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Suatu hari, Ryan dilarang berangkat ke sekolah oleh sang ibu karena akan diajak ke tempat hajatan di luar desa. Di arena hajatan dengan hiburan pentas dangdut tersebut, Ryan menonton ibunya bercengkerama dengan para lelaki dewasa. Ketika Ryan mengantuk, salah satu pria mengajak Ryan dan ibunya ke kamar. Ryan pun segera tidur. Ketika terjaga, Ryan menyaksikan ibunya sedang berzina dengan laki-laki tersebut. Ryan tidak bisa menerima kejadian tersebut. Sejak kejadian itu, Ryan menjadi anak yang pendiam, terutama setelah ibunya mengeluarkan ancaman agar Ryan tidak melaporkan pandangan matanya kepada sang ayah. Setahun kemudian, ketika Ryan duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, kakak tirinya bernama Neny Kustiani yang masih berusia 14 tahun, dinikahkan dengan seorang lakilaki yang selama ini menjadi gigolo bagi ibunya Ryan. Pernikahan itu sebenarnya hanya sandiwara, untuk memudahkan sang ibu memanfaatkan lelaki peliharaannya itu. Tanpa sengaja, Ryan ketika itu sempat mendengar percakapan rahasia antara sang gigolo dengan sang ibu. Intinya, sang ibu mewanti-wanti agar sang gigolo sama sekali tidak menyentuh istri pura-puranya itu yakni Nenny.

Pada suatu ketika, Ryan pernah memergoki sang ibu sedang mandi bareng dengan sang gigolo. Suatu hari, Ryan pulang sekolah dan kegerahan sehingga ingin segera mandi. Alangkah kagetnya Ryan ketika membuka pintu kamar mandi ia melihat sang ibu dan sang gigolo sedang mandi bareng. Bukannya malu, sang ibu malah mengajak Ryan ikut mandi bareng. Bukan hanya sang ibu yang berzina dengan gigolo di rumahnya sendiri, tetapi juga sang ayah. Suatu hari, ketika pulang sekolah, Ryan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Namun, ketika ia membuka pintu salah satu kamar, Ryan menyaksikan sang ayah sedang berzina dengan kakak kandung ibunya (bude atau mbokde).. Sejak kecil Ryan didandani seperti anak perempuan karena sang ibu ingin punya anak perempuan. Inilah salah satu faktor yang mengarahkan Ryan menjadi bencong. Apalagi, selama ini Ryan kerap menyaksikan bahwa ibunya berselingkuh dengan banyak pria, sehingga menyebabkan ia membenci kaum perempuan. Sejak SMP Ryan sudah menunjukkan ke arah gay: ia sulit mencintai teman wanita.

Kasiatun dan Ahmad Sodikun Orang bijak pernah berkata, untuk melihat keberhasilan seseorang, jangan lihat berapa banyak harta yang bisa dkumpulkan, berapa tinggi pangkat yang bisa dicapai, tetapi lihatlah anaknya. Dari orangtua seperti Kasiatun-Ahmad, maka memang sudah sewajarnyalah bila lahir seorang anak seperti Ryan. Begitu juga dalam hal menilai keberhasilan seorang guru bangsa (di awal tulisan ini disebut dari Jombang), lihatlah muridnya. Kalau gurunya dikabarkan suka berzina, apalagi muridnya. Abidah El-Khalieqy Satu lagi news maker from Jombang, dia adalah Abidah El-Khalieqy, penulis novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban, yang kemudian difilmkan dan menuai kontroversi. Cewek kelahiran Jombang tanggal 1 Maret 1965 ini, adalah mantan santriwati yang banyak menulis karya satra berupa cerpen, novel, dan puisi dengan mengangkat isu-isu perempuan. (maaf di sini disebut cewek, sesuai dengan cara berfikir, kiprah dan karyanya).

Abidah El-Khalieqy Tahun 2003, Abidah meraih Juara ke-2 pada sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Novelnya berjudul Geni Jora, mengungkap kehidupan di seputar pesantren putri. Menurut Abidah, seharusnya pesantren dapat menjadi agent of change (pelaku perubahan) bagi nasib perempuan yang hingga kini masih termarjinalisasi di segala sektor kehidupan. Tanggal 22 Maret 2007, Abidah menjadi salah satu pembicara pada Seminar Sastra bertema “Perempuan dan Agama dalam Sastra” di Hotel Le Meridien. Ketika itu ia membawakan makalah yang menyoroti peranan tradisi, budaya, dan agama (Islam) dalam mengekalkan budaya patriarki di masyarakat. Dengan lantang Abidah mengatakan, “Fiqihlah yang paling berpengaruh atas ter-subordinasinya perempuan. Karena itu harus dilakukan rekonstruksi fiqih dan re-interpretasi ayat-ayat (kitab suci)…” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html) Pernyataan Abidah di atas –merekonstruksi fikih dan menafsirkan kembali ayat-ayat AlQur’an– memang khas penganut sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias kemusyrikan baru berupa merelatifkan kebenaran setiap agama, hingga Islam disamakan dengan agama-agama lain, dan liberalisme) yang juga sering dijajakan oleh para aktivis kesetaraan gender seperti Musdah Mulia. Nama Abidah mencuat setelah novelnya berjudul Perempuan Berkalung Sorban difilmkan dan menuai kontroversi. Padahal, sebelumnya, meski ia sudah berkoar-koar menjajakan feminisme (gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria) dan sebagainya, namanya tak kunjung muncul di pentas nasional.

Novel Perempuan Berkalung Sorban Melalui novel Perempuan Berkalung Sorban, Abidah El Khalieqy menggambarkan proses-proses marginalisasi perempuan. Melalui Anissa, putri seorang kiai di sebuah desa, yang menjadi tokoh sentral novel tersebut, Abidah menggambarkan bagaimana subordinasi perempuan itu berlaku sejak fase kanak-kanak hingga dewasa. Ketidakadialan gender atau “pengebirian” terhadap hak-hak kaum perempuan terjadi sejak masa kanakkanak. Proses itu terjadi dalam pola pendidikan dalam keluarga, sekolah dan juga masyarakat. Melalui novel PBS ini Abidah memotret realitas sosial dalam masyarakat, melalui sosok Anissa. Anissa kecil yang ingin belajar dan mengetahui banyak, terpaksa harus menghadapi beberapa benturan dan hambatan, di mana kaum perempuan belum mendapatkan hak-hak kesejajaran dengan kaum laki-laki. Pada sebuah wawancara, terutama ketika ditanya tentang persoalan perempuan yang paling mendesak di negeri ini, Abidah menjawab: “Jika kita mau sekilas saja menengok realitas kehidupan di negeri tercinta ini, kita pasti ternganga menyaksikan kebrutalan dan premanisme laki laki atas perempuan. Tengok saja tayangan teve. Seorang suami yang dibakar cemburu telah memotong payudara istrinya lalu mengunyahnya bak sepotong burger. Di channel lain, seorang suami menyiram wajah istrinya dengan airraksa. Masih banyak channel lagi yang mengekspos poligami para suami, nikah legal nikah illegal. Pada saatnya, ketika kita sedikit mampu lebih serius meneropong kenyataan, saat itu tak sempat lagi kita ternganga. Hanya bersyukur karena tak jadi stroke. Lalu kita tahu, setidaknya ada 15 ribu perempuan per tahunnya yang mengalami kekerasan, baik fisik atau psikis. Angka ini terus naik seiring semakin terbukanya para korban untuk berani bersuara dan melapor. Jadi sejatinya, ada proses pembungkaman yang sistemik telah dilakukan oleh patriarki, oleh budaya dan pemahaman agama. Ini yang mendesak untuk dibongkar dan ditata ulang.” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html)

Demikian sengitnya ungkapan-ungkapan Abidah itu. Dia hanyalah menjadikan tingkah laku orang yang dia kecam sebagai alat untuk memukul, bahwa pemahaman agama (Islam) –mengenai nasib perempuan di hadapan kaum lelaki selama ini– tidak benar, dan harus diubah. Coba ditanyakan pada Abidah: Banyaknya laki-laki dan perempuan yang berzina, apakah dapat dipukulkan bahwa pemahaman agama para ulama atau kyai telah salah? Bahkan, banyaknya anak-anak kyai, misalnya, yang sekarang mencari dana ke orang-orang kafir, hingga menjadi antek kafirin dalam melontarkan pendapat-pendapat yang merusak Islam; apakah bisa langsung dipukulkan, bahwa itu kesalahan ulama dan kyai dalam memahami agama? Orang yang berpikiran waras tentu akan menolak celoteh Abidah. Karena dari masa ke masa, banyaknya orang-orang musyrik (dosa terbesar) hingga banyak kaum dihancurkan langsung oleh Allah Ta’ala seperti kaumnya Nabi Nuh ‘alaihis salam, kaum Nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain-lain itu sama sekali bukan karena salahnya para nabi Allah dalam memahami agama. Sedangkan para ulama adalah pewaris para nabi. Jadi, tuduhantuduhan Abidah itu sebenarnya sangat berat dan besar. Menurut Abidah, dibandingkan dengan novel Geni Jora, novel Perempuan Berkalung Sorban (yang ditulis tahun 2001) justru lebih keras kritiknya terhadap Kitab Kuning dan para kyai. Di mata Abidah, para kyai adalah ‘para penguasa’ yang menciptakan pola pikir dan budaya. Menurut Abidah pula, di tangan Hanung, novel PBS tidak hanya menjadi media ‘kampanye’ untuk memberdayakan kaum perempuan, tetapi Hanung mampu memberikan cerita berkualitas dengan berbagai bumbunya. Begitu puji Abidah. Bumbu yang dimaksud, antara lain berupa adanya adegan membakar buku-buku yang akan dibaca santri, karena buku-buku itu tidak sesuai dengan ajaran pesantren. Padahal, pada novelnya, hal itu tidak ada. “Dalam tradisi salafi (pembakaran buku) itu tidak ada, tetapi mungkin untuk efek dramatisasi, okelah,” begitu sikap Abidah terhadap kreativitas dan improvisasi Hanung. Padahal, adegan seserius itu seharusnya dia sesali, selain mengada-ada juga telah memfitnah kyai dan pesantren. Dari fakta ini saja, kita sudah bisa mendapat bukti, bahwa Hanung memang ada niat memfitnah pesantren melalui adegan bakar buku tadi, dan Abidah mendukungnya. Yang penting ngetop. Sebenarnya ngawur ketemu ngawur itu saja sudah memalukan. Lha ini ngawur ketemu ngawur, masih pula menohok ulama atau kyai atau lembaga pesantren atau bahkan pemahaman Islam, bahkan masih pula berbau dana dari orang kafir. Betapa komplitnya ramuan tidak mutu ini: Adonan serba ngawur, tidak benar, berbau fitnah, berbau dana dari orang kafir, untuk menuduh dan merugikan Islam serta Ummat Islam. Ketika sudah seperti itu, apakah salah bila Ulama dan Ummat Islam marah? (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/news-maker-from-jombang/

Share:
• • • • •

1 Comment

The Men From Jombang
21 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 21,2011 Uncategorized

THE MEN FROM JOMBANG Jombang adalah salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang menjadi lumbung padi bagi Provinsi Jatim. Hampir lima puluh persen lahan di Jombang dimanfaatkan sebagai areal persawahan, untuk ditanami padi, jagung, kedelai dan buah-buahan.

Kabupaten Jombang Tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil beras, Kabupaten Jombang juga terkenal sebagai sentra buah-buahan, seperti Durian Bido, jeruk nipis dan sebagainya. Tapi yang lebih penting dari itu, dari Jombang ini sering lahir sosok yang namanya selalu membuat berita (news maker), baik di tingkat nasional maupun internasional.

Logo Kabupaten Jombang Verry Idam Henyansah alias Ryan Salah satu di antaranya, dan hingga kini masih menjadi sorotan pers adalah Verry Idam Henyansah alias Ryan. Pria kemayu yang lahir di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, pada 01 Februari 1978 ini, mendadak sontak terkenal karena menjadi pelaku utama pembunuhan berantai yang memakan korban belasan orang.

Verry Idam Henyansah alias Ryan Awal mulanya, warga Jakarta menemukan mayat terpotong-potong dalam koper (12 Juli 2008) di jalan Kebagusan, Jakarta, yang ternyata setelah diidentifikasi pihak kepolisian merupakan jasad Heri Santoso, teman kencan Ryan (sesama pengidap penyakit homoseks). Heri dibunuh Ryan karena dibakar oleh api cemburu. Sebabnya, Heri menyatakan ingin berkencan dengan Noval Andreas, juga lelaki pengidap penyakit homoseks, yang selama ini menjadi pasangan cinta Ryan. Dari kasus Heri Santoso ini, polisi terus megembangkan penyidikan, hingga akhir Juli 2008, terungkap 11 kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. Yaitu: 01. Fauzi Suyanto (29), warga Nganjuk. 02. Agustinus Setyawan alias Wawan (28), warga Jombang yang dibunuh pada Agustus 2007. 03. Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dibunuh pada Agustus 2007 04. Muhammad Ahsony alias Sony (30), warga Desa Slawe, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, karyawan PT Tjiwi Kimia, Sidoarjo, yang dibunuh pada Nopember 2007 05. Zainal Abidin alias Zeki (21) yang dibunuh pada Januari 2008. 06. Graddy yang berdarah Manado (marga Tumbuan), dibunuh sekitar Januari 2008. 07. Nanik Hidayati (28) warga Desa Kepuhkembeng, Peterongan, yang dibunuh pada April 2008 08. Silvia (3), putri Nanik Hidayati, juga dibunuh pada April 2008 09. Aril Somba Sitanggang (Malang, Jatim) dibunuh April 2008. 10. Vincentius Yudi Priono (Wonogiri, Jateng), dibunuh April 2008.

11. Heri Santoso, dibunuh dan dimutilasi hingga tujuh potongan di sebuah apartemen yang terletak di Jl Margonda Depok, pada 11 Juli 2008, kemudian dibuang di Jl Kebagusan, Jakarta dan terungkap pada 12 Juli 2008. Diduga, masih banyak lagi korban Ryan yang belum terungkap, hal ini bila didasarkan pada adanya laporan orang hilang yang diterima kepolisian, yang jumlahnya mencapai dua puluh lebih, dan terkait dengan Ryan (sebelum hilang, terakhir terlihat bersama Ryan). Ryan yang merupakan anak dari pasangan Siyatun-Ahmad Sadikun ini, ketika bersekolah di SDN 02 Jatiwates (1984-1990), Jombang, dikenal sebagai murid yang pintar dan kerap mendapat rangking di kelas, juga sangat menghormati guru dan berperilaku sopan. Begitu juga ketika Ryan melanjutkan sekolah ke SMPN Tembelang (1990-1993), ia dikenal sebagai siswa yang cerdas, cekatan dan pandai bergaul. Meski bukan pengurus OSIS, Ryan banyak terlibat dalam kegiatan OSIS terutama di bidang kesenian. Ryan menjadi siswa yang paling sibuk setiap ada kegiatan kesenian seperti menari atau teater, sebagai panitia atau dia sendiri yang manggung. Ryan juga kerap membantu kawankawan perempuannya berdandan di kamar rias. Setelah lulus dari SMPN Tembelang, Ryan melanjutkan ke SMAN 01 Jombang, hanya sebulan, sebelum akhirnya pindah ke SMAN 01 Kabuh, namun hanya bertahan enam bulan, kemudian pindah lagi ke SMAN 03 Jombang. Sejak SMA Ryan kerap bergaul dengan kaum homoseksual, dan mulai bergaya hidup mewah. Untuk menutupi perilaku seks menyimpangnya, Ryan belajar ngaji di sebuah pondok pesantren selama beberapa bulan, dan sempat mendapat tugas mengajar ngaji pada anak-anak di sekitar. Namun, seusai ia bergiat di ponpes, Ryan kembali bergaul dengan kalangan homoseksual dengan gaya hidup mewah. Belajar mengaji dan mengajar ngaji hanya kedok untuk menutupi perilaku menyimpangnya belaka. Sebagaimana layaknya beberapa tokoh nasional asal Jombang (seperti Cak Nun, Gus Dur, dan Cak Nur), Ryan juga tergolong cerdas. Kecerdasannya itu terbukti mampu mengelabui aparat kepolisian. Misalnya, ketika Ryan diperiksa Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, dalam kasus pembunuhan yang terjadi September 2007. Korbannya, Asrori, warga Desa Kalang Semanding, Kecamatan Perak, Jombang, Jatim. Saat itu Asrori ditemukan tewas di kebun tebu. Dalam kasus tersebut, polisi menangkap tiga orang tersangka, yang salah seorang di antaranya adalah Ryan. Bahkan, Ryan sempat diperiksa namun dilepas kembali karena tidak ditemukan bukti keterlibatannya. Contoh lainnya, ketika penyidik Polda Metro Jaya merespon kasus hilangnya Aril Somba Sitanggang (34) yang dilaporkan keluarganya pada Mei 2008, dan dalam salah satu upayanya pihak kepolisian memeriksa Ryan yang diduga terkait dengan hilangnya Aril, namun akhirnya ia dilepaskan karena tidak cukup bukti. Terbukti kemudian, ternyata Aril menjadi salah satu korban pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan.

Dari sini terbukti, Ryan tidak hanya pintar di sekolah, tetapi juga pintar melakukan pembunuhan berantai, dan pintar membuat alibi, sehingga ia dengan penampilan kemayunya bisa mengecoh aparat penyidik. Hasil pemeriksaan psikiater Kepolisian Daerah Jawa Timur menyimpulkan, Ryan tidak mengalami gangguan kejiwaan yang berat (psikotis/psikosa). Menurut psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio di Surabaya, Kamis (31 Juli 2008), sense of reality (daya realitas) Ryan sangat normal. Artinya, pembunuhan berantai dan mutilasi dilakukan Ryan secara sadar bahkan ia tahu akibatnya. Ryan juga tahu mana yang benar dan mana yang salah. Berdasarkan pemeriksaan psikiatri pada 29 Juli 2008 lalu, disimpukan bahwa Ryan memiliki ciri-ciri kepribadian yang impulsif, sangat sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, sering dimanifestasikan dengan tindakan melempar, memukul, marahmarah, dan tindak kekerasan lainnya. Ryan juga mempunyai keinginan agar terlihat tidak normal supaya bisa bebas dari jerat hukum. Hasil pemeriksaan psikiatri juga menyimpulkan, bahwa Ryan mengalami gangguan orientasi seksual berupa homoseksualitas. Dalam hubungan homoseksualitas itu, Ryan lebih menyukai peran sebagai perempuan. Hukuman berat bagi pelaku homo ataupun lesbi Haram dan dosa serta adzab atas pelaku homoseks telah dijelaskan di antaranya dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 54 – 58.: ‫ولوطا إذ قال لقومه أتأتون الفاحشة وأنتم تبصرون ) 45( أئنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بلْ أنتم قوم‬ ٌ ْ َ ْ ُْ َ َ ِ َ ّ ِ ْ ُ ْ ِ ً َ ْ َ َ َ ّ َ ْ ََُْ ْ ُ َِّ َ ْ ُ ِ ْ ُ ْ ً ْ ََ َ َ ِ َ ْ َ ْ ً ْ َ َ ِ ِ ْ َ ِ َ َ ْ ِ ً ْ ُ َ ُ َ ْ َ ْ ََ ‫تجهلون )55( فما كان جواب قومه إل أن قالوا أخرجوا ءال لوط من قريتكم إنهم أناس يتطهرون )65( فأنجيناه‬ َ ْ ُ ّ َ ََ ٌ َُ ْ ُ ِّ ْ ُ َِْ َ ْ ِ ٍ ْ ُ َ َ ْ ُ ِ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ّ ِ ِ ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ْ َُ ْ َ 58-54 : ‫وأهله إل امرأته قدرناها من الغابرين )75( وأمطرنا عليهم مطرا فساء مطر المنذرين )85( النمل‬ َ ْ ِ َ ْ ُ ْ ٌ ُ َ َ َ َ ً َ َ ْ ِ ْ َ َ َ ْ َ ْ ََ َ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ّ َ ُ َ ََ ْ ّ ِ ُ َ ْ ََ 54. Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia Berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah[1101] itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” 55. “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. 56. Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih[1102]“. 57. Maka kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). 58. Dan kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (An Naml: 54-58).

[1101] perbuatan keji: menurut Jumhur Mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homosek dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homosek antara wanita dengan wanita). [1102] perkataan kaum Luth kepada sesamanya. Ini merupakan ejekan terhadap Luth dan orang-orang beriman kepadanya, Karena Luth dan orang-orang yang bersamanya tidak mau mengerjakan perbuatan mereka. Homoseks adalah laki-laki mendatangi (melakukan perbuatan seks dengan laki-laki). Sedang lesbi adalah seorang wanita mendatangi wanita lainnya (melakukan perbuatan seks). ( 1138 ) – ‫ههه ههه هههه ههه هههه ههههه هه ههههه ههه هههه‬ ‫ه‬ ‫هههه هههه ههه : } هه ههههههه هههه ههه ههه ههه ههههههه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫هههههه هههههههه هه , ههه ههههههه ههه ههه ههههه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ههههههه ههههههه ههههههه { هههه هههه هههههههه هههههه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫. هههههه , ههه هه ههه ههههههه‬ ‫ه ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ .–25 : ‫ههههه : 4 )ههه هههههه( هههههه‬ Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw bersabda: ‫ه‬ Siapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homoseks) dan yang dibuati (pasangan berbuat homoseks itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu._ (HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orangorang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya). Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Masalah Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Kesatu, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i. Masalah Kedua tentang mendatangi/menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’I berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina.. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).

Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelakupelakunya perlu dijatuhi hukuman. Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun Pada masanya (sekitar pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1998-an), Emha Ainun Najib, kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 ini, begitu populernya. Ia pintar membuat puisi, menulis kolom, bahkan nembang/menyanyi. Bakat berkeseniannya menurun kepada anak lelakinya Sabrang Mowo Damar Panuluh atau biasa disapa Noe, vokalis kelompok musik Letto.

Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto Meski lahir di Jombang, namun Emha lebih dikenal sebagai Budayawan Yogya. Sejak lulus SD di Jombang (1965), Emha melanjutkan pendidikan di Yogyakarta (SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah, bahkan UGM –Universitas Gajah Mada).

Emha Ainun Nadjib Kiprah berkeseniannya tidak lepas dari sikap kritis terhadap pemerintah (kala itu Soeharto), yang diekspresikannya melalui berbagai media kesenian seperti Teater. Antara lain, Emha pernah mementaskan karya teaternya bertajuk Geger Wong Ngoyak Macan (1989), tentang pemerintahan Soeharto yang dikiaskannya dengan Raja. Bahkan ketika Emha nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur ia pernah melakukan demonstrasi melawan pemerintah (Soeharto) (?), sehingga ia harus menerima resiko dipecat. Karena dipecat, maka Emha pun pindah ke SMA Muhammadiyah I Yogyakarta sampai tamat. Namun demikian, di penghujung kekuasaan Soeharto, Emha sempat tampil bareng di atas panggung bersama sang ‘Raja’ untuk takbir bersama pada malam Idul Fitri kala itu. Lingkup pergaulan Emha memang sangat luas, tidak saja bisa bergaul dengan ‘Raja’ tetapi juga dengan kalangan penganut aliran dan paham sesat seperti Syi’ah. Di tahun 1997 Emha berpartisipasi aktif pada acara yang diadakan kalangan syi’ah, yaitu acara Doa Kumail. Di situ, Emha memberikan ceramah, sambil merintih-rintih, dan benar-benar menangis, di hadapan sekitar 200 hadirin, yang memadati gedung pertemuan Darul Aitam, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Acara pembacaan Doa Kumail adalah bagian dari peringatan peristiwa Karbala, untuk memperingati wafatnya Husein ra, yang wafat dalam perjalanan menuju Kufah (Irak). Kalangan syi’ah menganggap wafatnya Husein ra sebagai syahid. Namun anehnya hanya Husein ra yang dianggap syahid, padahal yang wafat bukan hanya Husein ra. (lihat tulisan berjudul Mas, Sampeyan Syi’ah? nahimunkar.com, May 28, 2008 9:19 pm).

Kiai Kanjeng di Munkiniemi Church, Helsinki, Finlandia Meski sejak lahir beragama Islam, bahkan selalu lekat dengan julukan cendekiawan Muslim, namun Emha ada kalanya suka menggunakan istilah-istilah yang tidak lazim bagi kalangan Islam, yaitu ‘pelayanan’ yang biasa digunakan kalangan Nasrani. Bahkan bersama kelompok musiknya yang bernama Kiai Kanjeng, Emha dan kawan-kawan menampilkan gaya Gospel (ajaran Injil atau berita gembira dari Yesus) sambil bershalawat. Oleh karena itu, Emha tidak terlalu gandrung menggunakan istilah berdakwah, tetapi melayani. ‘Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal.’

Masjid Cut Mutiah Emha dan kelompok musik Kiai Kanjeng pernah melakukan pelayanan di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. Pada saat itu Emha dan Kiai Kanjeng-nya memadukan (medley) antara lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat: ‘Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.’

Ketika itu, Emha dan Kiai Kanjeng mendapat tepukan yang sangat meriah. Sebelum membuat bingung sebagian jamaah, maka Emha pun berujar, ‘Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat.’ Tapi, apa ada aturan yang membenarkan nyanyi-nyanyi di Mesjid setelah shalat tarawih, dengan diiringi berbagai alat musik? Hukum Nyanyian dan Mendengarkannya Hukum nyanyian dan mendengarkannya adalah haram serta munkar. Dan merupakan penyebab penyakit hati dan kerasnya hati. Sebagian besar ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka menyebutkan dalil-dalil pengharamannya sebagai berikut: 1. Firman Allah SWT di dalam Surat Luqman: ‫ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل ال بغير علم َيتخذها هزوا أولئك لهم عذاب مهين)6(وإذا‬ َ َِ ٌ ِ ُ ٌ َ َ ْ ُ َ َ ِ َ ُ ً ُ ُ َ َ ِ ّ َ ‫َ ِ َ ّ ِ َ ْ َ ْ َ ِ َ ْ َ ْ َ ِ ِ ِ ُ ِ ّ َ ْ َ ِ ِ ّ ِ َ ْ ِ ِ ْ ٍ و‬ ِ 7)‫)تتلى عليه ءاياتنا ولى مستكبرا كأن لم يسمعها كأن في أذنيه وقرا فبشره بعذاب أليم‬ ٍ ِ َ ٍ َ َ ِ ُ ْ ّ َ َ ً ْ َ ِ ْ َ ُ ُ ِ ّ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ً ِ ْ َ ْ ُ َّ َ ُ َ َ ِ ْ َ َ َ ْ ُ “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalanAllah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di telinganya; maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.” (QS Luqman: 6-7). Al-Wahidi dan para mufassir lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian; menurut perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah. Dan diriwayatkan dari Ibnud Mas’ud bahwasanya ia berkata: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwasanya nyanyian itulah yang dimaksud dengan lahwal hadiits.” 2. Sabda Rasulullah saw: ‫.)ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف )رواه البخاري‬ َ ِ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ِ ْ َ ِّ َ ْ َ ٌ َ ْ َ ِ ّ ُ ْ ِ ّ َ ُ َ َ Layakununna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hirro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa. “Sesungguhnya pasti akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). 3. Dari Abi Hurairah ra, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‫وروى ابن أبي الدنيا في كتاب الملهي عن أبي هريرة مرفوعا ” يمسخ قوم من هذه المة في آخر الزمان قردة‬ َ َ ِ َ ّ ِ ِ ّ ُْ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ َ ْ ُ ً ُ ْ َ َ ْ َ ُ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ َ ِ ِ َ ْ ّ ِ َ ْ ِ َ َ َ ‫وخنازير , فقالوا يا رسول ال أليس يشهدون أن ل إله إل ال وأن محمدا رسول ال صلى ال عليه وسلم ؟ قال بلى‬ ََ َ َ َ َّ َ ِ ْ َ َ ّ َّ ّ ُ َ ً ّ َ ُ ّ ََ ّ ّ ِ َ ِ َ ْ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ َ ّ ُ َ َ ُ ََ ِ ََ َ ‫ويصومون ويصلون ويحجون , قالوا فما بالهم ؟ قال اتخذوا المعازف والدفوف والقينات فباتوا على شربهم‬ ْ ْ ُ ََ ُ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ ّ َ ِ َ َ ْ ُ َ ّ ِ َ َ ْ َ َ َ ُ َ َ ّ ُ َ َ َ َّ ُ َ َ ُ ُ َ َ ‫ولهوهم فأصبحوا وقد مسخوا قردة وخنازير‬ ِ َ َ َ َ َ ِ ُ ِ ُ ْ َ َ ُ َ ْ ََ ْ ْ ََ Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dalam kitab Al-Malahi, dari Abu Hurairah secara marfu’ (dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam): “Akan ada segolongan dari ummat ini yang menyerupai kera dan babi di akhir zaman.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bukankah mereka bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya? Rasulullah saw bersabda: “Ya, bahkan mereka berpuasa dan mengerjakan shalat serta berhaji.” Kemudian ditanyakan, “Maka apakah gerangan penyebabnya?” Beliau bersabda: “Mereka itu mengambil ma’azif (musikmusik/ bunyi-bunyi merdu –alat-alat musik), dan genderang serta biduanita; maka mereka terus tenggelam semalam suntuk dengan minuman dan permainannya sehingga di pagi hari mereka menyerupai kera dan babi.” (Ighotsah al-Lihfaan, jilid 1 halaman 262, dikutip dalam buku Sifat Sholat Nabi saw dan Dzikir-Dzikir Pilihan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, cetakan II, 1996, halaman 53-55). Demikianlah haramnya musik, tetapi anehnya dalam kasus Emha ini, dia memainkan nyanyian itu di masjid dan di Bulan Ramadhan lagi, serta dioplos dengan nuansa nyanyian gerejani, lalu dikilahi bahwa dia tidak bernyanyi tetapi bershalawat. Dari sisi lain, nampaknya Emha menganut pluralisme agama. Pada sebuah kesempatan, Emha dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Bagi Emha, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama, karena Islam berbeda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. ‘Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua’. Rupanya Emha tidak bisa membedakan antara pluralitas dengan pluralisme, sebuah paham sesat yang menganggap semua agama adalah sama. Atau ia sedang bertaqiyah? Abdurrahman Wahid alias Gus Dur Sebutan ‘Gus’ adalah sapaan khas untuk anak Kiai. Karena Abdurrahman kecil adalah anak dari Kiai Wahid Hasyim, maka ia pun dipanggil Gus. Namun, kenyataanya hingga sudah beranak-cucu, Abdurrahman tetap saja dipanggil Gus (Dur). Apakah ini merupakan suatu penghormatan, atau justru sindiran, bahwa Abdurrahman tetap diposisikan sebagai anaknya Kiai yang tidak pernah beranjak dewasa, wallohu a’lam.

Abdurrahman Addakhil bin Wahid Hasyim bin Hasyim Asy’ari lahir di Denanyar (Jombang) tanggal 4 Agustus 1940. Saat tulisan ini digarap, Durahman berusia 68 tahun. Ayahnya, Wahid Hasyim, dan ibunya Solechah. Dari hasil pernikahannya dengan Sinta Nuriyah (dulu konon nama istri Durahman ini adalah Siti Nuriyah), dihasilkan empat anak perempuan yaitu Alisa Qotrunada, Zannuba Arifah (lebih populer dengan sebutan Yenni Wahid), Anisa Hayatunufus, dan Inayah Wulandari. Sang putri bungsu Durahman ini, saat sang bapak masih menjadi Presiden, ia sempat merayakan ulang tahun di hotel berbintang (Hotel Borobudur), dan setiap hari berganti-ganti warna rambut (lihat Kompas edisi Minggu, 14 Januari 2001).

Selama menjadi Presiden RI, Durahman terbukti mempraktekkan perbuatan yang tergolong kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Menurut UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyeleggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; terutama dalam Pasal 1 ayat (4) tertulis: ‘Solusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat atau negara.” Sedangkan yang dimaksud dengan Penyelenggaraan Negara (sebagaimana diatur dalam Pasal 2), adalah Pejabat Negara pada lembaga Tertinggi Negara; Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara; Menteri; Gubernur; Hakim; Pejabat lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Pejabat lain yang memiliki

fungsi strategis dalam kaitannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Durahman selama menjadi Presiden terbukti mempraktekan KKN berupa Buloggate dan Bolkiahgate. Buloggate menyangkut uang ratusan miliar rupiah milik Bulog dan Yanatera Bulog. Sedangkan Bolkiahgate menyangkut uang senilai US$ 2 juta dolar (sekitar 17 miliyar rupiah), yang merupakan dana hibah Sultan Hasanal Bolkiah (Sultan Brunai Darussalam) kepada rakyat Aceh. Namun dana hibah itu tidak dimasukkan ke dalam kas negara (seperti diatur oleh Undang-undang No. 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak). Bahkan mayarakat Aceh tidak menerima hibah dimaksud. Sebagai Presiden, Durahman mengangkat Hasyim Wahid (adik bungsunya) menjadi Staff Ahli BPPN yang menjalankan fungsi sebagai ‘debt colector’. Ketika menjadi Presiden RI inilah berbagai skandal seks (?) Durahman yang selama ini tertutup rapat justru terungkap. Skandal seks (?) Durahman ternyata tidak saja terjadi dengan Aryanti, tetapi juga dengan beberapa wanita lainnya, seperti Siti Farikah yang juga terlibat Buloggate. Ketika kursi kekuasaannya digoyang-goyang oleh berbagai kasus yang dibuatnya sendiri, Durahman bukannya bertobat kepada Allah SWT, justru melakukan ruwatan untuk dirinya sendiri. Ruwatan adalah perbuatan menyekutukan Allah. Bukan hanya itu, Durahman juga pontang-panting menugaskan sejumlah orang kepercayaannya mencari sebilah keris, yang dipercaya dapat mempertahankan kekuasaan Durahman dari goyangan rakyat Indonesia. Meski akhirnya terguling dari kursi kekuasaan, namun Durahman tetap saja mampu membuat berita. Antara lain, Durahman menuding bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci paling porno. (Lihat tulisan berjudul Gerombolan Porno dalam AKKBB, nahimunkar.com, June 24, 2008 1:41 am). Nurcholish Madjid alias Cak Nur Satu lagi tokoh kelahiran Jombang yang pandai membuat berita, yaitu Nurcholish Madjid atau biasa disapa Cak Nur (lahir 17 Maret 1939, meninggal 29 Agustus 2005). Sampai akhir hayatnya, Cak Nur masih tercatat sebagai Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun jarang ngantor. Meski begitu, dalam urusan gaji, terus mengalir ke kantongnya. Cak Nur makan gaji buta?

Nurcholish Madjid Cak Nur jarang ngantor di LIPI, karena kesibukannya luar biasa banyak. Antara lain, sejak 1985 menjadi Dosen pada Fakultas Pasca Sarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selama dua periode (1987-1992 dan 1992-1997) Cak Nur menjadi anggota MPR RI. Selama delapan tahun (1990-1998) menjadi angggota Dewan Pers Nasional. Tahun 1993 (selama beberapa tahun) menjadi anggota Komnas HAM. Sejak 1998 Cak Nur menjadi Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta. Ketika ICMI lahir, Cak Nur menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI (1990-1995). Belum lagi ditambah dengan seabreg kegiatannya yang bersifat internasional. Kemampuan psikologis Cak Nur juga luar biasa, sehingga ia bisa meyakinkan Habibie (presiden kala itu) sedemikian rupa, sehingga Habibie menjatuhkan pilihan kepada Cak Nur untuk menerima penghargaan Bintang Maha Putera (1998), yang membuatnya layak dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata Jakarta. Habibie memang seorang teknokrat handal, namun ia amat awam di bidang politik praktis, apalagi di bidang pergerakan Islam. Sehingga sosok Cak Nur begitu luar biasa baginya. Selain Cak Nur yang dianugerahi Bintang Maha Putera adalah Imaduddin Abdurrahim alias Bang Imad, yang juga teman dekat Habibie. Bang Imad meninggal dunia pada hari Sabtu, tanggal 02 Agustus 2008, dan telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Tokoh lainnya, yang pernah mendapat anugerah Bintang Maha Putera adalah Amien Rais, mantan Ketua PP Muhammadiyah, mantan Ketua MPR RI yang mendukung aliran sesat Ahmadiyah. Kelak, Amien Rais juga berhak dimakamkan di TMP Kalibata. Cak Nur menjadi salah satu tokoh news maker, karena pernyataan-pernyataannya yang nyeleneh. Di tahun 1985 (tepatnya tanggal 1 April), Harian Pelita menyeleggarakan sebuah Seminar, yang salah satu narasumbernya adalah Cak Nur. Di dalam makalahnya, Cak Nur menerjemahkan kalimah thoyyibah Laa Ilaaha illal laah menjadi Tiada tuhan

(t kecil) selain Tuhan (T besar). Terjemahan ngawur itu diprotes salah seorang peserta, bahkan dikategorikan sebagai terjemahan yang haram. Dua hari kemudian, wartawan Harian Pelita, Hartono Ahmad Jaiz, menurunkan tulisan yang mempersoalkan terjemahan ngawur Cak Nur itu. Namun, sekitar lima belas tahun sebelumnya, dua tahun setelah Cak Nur meraih gelar sarjana dari IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, tepatnya tanggal 3 Januari 1970, ia sudah berani menggebrak melalui pidatonya bertajuk Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat. Intinya, Cak Nur melontarkan gagasan sekularisasi, yang kemudian dibantah oleh Prof Dr HM Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama. Selain menawarkan gagasan sekularisasi, Cak Nur juga mengecam dengan keras konsep negara Islam. Menurut Cak Nur, ‘Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep ‘Negara Islam’ adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi.” Lontaran gagasannya itu dilanjutkannya pada tanggal 30 Oktober 1972, saat ia memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan judul Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia. Cak Nur juga pernah mengatakan, ‘Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni._ Pernyataan itu dilontarkan Cak Nur dengan mengutip pendapat Ibnu Arabi yang pernah dimuat sebuah majalah yang terbit di Damaskus (Syria). Peristiwa itu terjadi pada forum pengajian Paramadina, 23 Januari 1987. Padahal, menurut firman Allah melalui surat Al-Baqarah ayat 34, iblis itu makhluk yang takabur dan kafir: 34)‫)وإذ قلنا للملئكة اسجدوا لدم فسجدوا إل إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين‬ َ ِ ِ َ ْ َ ِ َ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َ َ ِ ْ ِ ّ ِ ُ َ َ َ َ َ ِ ُ ُ ْ ِ َ ِ َ َ ْ ِ َ ْ ُ ْ َِ ‘Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.’ Ibnu Arabi sendiri telah dianggap kafir dan murtad oleh sejumlah ulama, akibat tulisantulisannya yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Inti ajaran Ibnu Arabi didasarkan pada teori wihdatul wujud (menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan (kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai sinkretisme dari teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Yang jelas, Ibnu Arabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Masehi atau Nasrani. Di tahun 1971, Cak Nur pernah melontarkan jargon Islam, Yes! Partai Islam, No! dalam rangka menggembosi partai Islam. Namun di tahun 2003, jargon Cak Nur berubah menjadi Islam, Yes! Partai Islam, Yes! dalam rangka menggalang dukungan dari partai

Islam (antara lain PKS), soalnya Cak Nur kala itu bersyahwat mau mencalonkan diri jadi Presiden RI periode 2004-2009. Sikap tidak konsisten Cak Nur juga terlihat ketika ia yang selama ini menjajakan pluralisme agama, justru gundah gulana ketika putrinya Nadia hendak menikah dengan lelaki Yahudi. Agustus 2001, Cak Nur mengirimkan e-mail kepada Nadia, isinya: ‘Kalau sampai terjadi perkawinan antara Nadia dengan David, itu termasuk dosa terbesar setelah syirik.” Kalau gagasan pluralisme agama yang dijajakan Cak Nur dan kawan-kawannya itu merupakan konsep yang baik dan benar, seharusnya Cak Nur tidak perlu gundah-gulana sampai mengatakan perkawinan antara Nadia yang Muslimah dengan David yang Yahudi merupakan dosa besar setelah syirik. Sebaliknya, kalau gagasan itu memang tidak baik dan tidak benar, mbok ya jangan dijajakan kepada orang lain. Ini namanya kurang ajar. Kenapa pemikirannya sangat rancu seperti itu? Perlu ditelusuri, Nurcholish Madjid kuliah di Chicago Amerika, bertemu dengan guru besar Prof Fazlurrahman, seorang yang pendapatnya tentang Islam telah dipersoalkan oleh para Ulama di Pakistan hingga dia pergi ke Amerika sampai meninggalnya. Sebelum itu, Nurcholish Madjid di saat masih jadi santri di tingkat menengah (lanjutan pertama dan lanjutan atas) digencar dengan bahasa Arab dan Inggeris. Begitu kelas lima, sebagaimana pengakuan sebagian pengelola pesantren, langsung diberi pelajaran Kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, yakni fiqih perbandingan antar pendapat para ulama. Perlu diketahui, perbandingan pendapat antara para ulama fiqih itu perbedaannya memang tampak sekali, bahkan dapat saling bertentangan, atau jauh berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki landasan atau rujukan dalil. Namun perlu diketahui, perbedaan pendapat di situ hanyalah masalah ijtihadiyah, dalam masalah yang memerlukan ijtihad Ulama, masalah cabang (bukan pokok) dan dalilnya samar, tidak jelas, dan kemungkinan bukan hanya satu makna. Maka perbedaan antara pendapat para ulama di situ sifatnya biasa saja, dan ditolerir. Berbeda dengan masalah yang pokok, yang dalilnya sudah jelas, dan tidak memungkinkan makna lain, maka tidak mentolerir perbedaan. Siapa yang berbeda dengan dalil yang sudah pasti lagi jelas, maka berarti menyimpang alias sesat. Jadi ada perbedaan yang ditolerir, dan ada yang tidak. Ketika yang dipelajari itu langsung mengenai aneka perbedaan yang sifatnya ditolerir, sedang para santri belum tahu betul bahwa sebenarnya di dalam Islam itu ada yang masalah ijtihadi yang boleh berbeda, tetapi selain itu ada yang sifatnya qoth’i (pasti) dan tidak boleh berbeda; kemudian santri disuguhi pelajaran yang isinya perbedaan-perbedaan ijtihadi dalam kitab Bidayatul Mujtahid, maka terbentuklah cara berfikir santri bahwa di dalam Islam itu semua perbedaan adalah boleh-boleh saja.bahkan kadang dikilahi dengan apa yang disebut hadits, padahal tak ada asal usulnya menurut ahli hadits, yaitu ikhtilaafu ummatii rohmah (Perbedaan ummatku adalah rohmat). Akibatnya sangat fatal, dan contoh kongkretnya

adalah Nurcholish Madjid itu. Dan tidak sedikit yang kini sampai tidak membedakan antara yang mukmin dengan yang kafir, semua dianggap akan masuk surga. Ini adalah pendapat kufur. Kenapa sampai separah itu? Ini di antaranya karena kurikulum di IAIN atau perguruan tinggi Islam di Indonesia, mata kuliahnya yang membentuk cara berfikir dan berpandangan dalam Islam itu bermetode model Barat, yaitu memahami Islam tetapi metodenya sosiologi agama dan antropologi agama. Yaitu agama itu hanya dianggap sebagai fenomena social, gejala yang terjadi di masyarakat. Maka kalau sudah menampilkan gejala-gejala social yang ada ya sudah. Tidak ada perujukan kepada dalil dan cara pemahaman dalil yang benar yaitu mengikuti pemahaman salaful ummah (generasi sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam). Akibatnya, semua aliran yang sesat pun dianggap sah-sah saja, dan tidak perlu dinilai sesatnya. Ini jelas manhaj (system pemahaman) yang tidak Islami, bahkan melindungi kesesatan serta kekafiran, dan menimbulkan pendapat yang kufur, bahkan lebih dari itu adalah menumbuhkan generasi yang pemahamannya kafir. Maka wajib ditinjau kembali kurikulum yang telah merusak cara pemahaman Islam itu, dan telah membuahkan doktor-doktor yang merusak Islam itu. Wahid Hasjim Tokoh asal Jombang yang lahir pada tanggal 1 Juni 1914 ini, merupakan ayah kandung dari Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur, mantan Presiden RI ke-4). Wahid Hasjim meninggal dunia di Cimahi pada tanggal 19 April 1953. Meski antara Durahman dengan Wahid Hasjim mempunyai pertalian darah yang kuat, namun dalam hal menyikapi syari’at Islam keduanya berada pada posisi yang berseberangan.

Wahid Hasyim Beberapa bulan sebelum meninggal, tepatnya tanggal 4 Februari 1953, Wahid Hasjim dalam kapasitasnya sebagai Ketua PBNU melayangkan surat protes kepada Presiden

Soekarno. Pasalnya, Soekarno dalam salah satu pidatonya di Amuntai (Kalimantan Selatan) mengatakan: ‘Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik.’ Wahid Hasjim sebagaimana tercermin dalam surat protesnya itu, dengan tegas mengatakan: ‘Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam, adalah pernyataan mungkar yang tidak dapat dibenarkan syariat Islam dan wajib bagi tiap-tiap Muslim menyatakan ingkar atau tidak setujunya.’ Keberpihakan Wahid Hasjim yang tegas kepada konsepsi negara Islam justru dipungkiri oleh anaknya sendiri, Abdurrahman Ad-Dakhil, yang biasa disebut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ketika memberikan kata pengantar pada buku Ribka Tjiptaning berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI, Durahman antara lain mengatakan bahwa ayahnya ‘Menentang negara agama, karena hal itu akan membedakannya dari kedudukan warga negara non-Muslim.’ Padahal, menurut BJ Boland dalam bukunya berjudul Pergumulan Islam di Indonesia, Wahid Hasjim merupakan sosok yang paling radikal: ‘Ternyata bahwa Wahid Hasjim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam.’

Bahkan menurut Boland, Wahid Hasjim menyarankan agar diadakan ketentuan, bahwa hanya orang Islam yang boleh dipilih sebagai presiden atau wakil presiden Republik Indonesia. Wahid Hasjim ketika itu juga menyarankan agar pasal mengenai agama harus berbunyi: ‘Agama negara adalah Islam, dengan jaminan kemerdekaan bagi penganut agama lainnya untuk menganut agama mereka.’ Ketika itu, gagasan Wahid Hasjim didukung oleh Sukiman yang kelak memimpin Masyumi, sedangkan Djajadiningrat dan Wongsonegoro (tokoh kebatinan) menyatakan keberatan dengan gagasan Wahid Hasjim. Gagasan itu juga ditolak oleh Agus Salim,

dengan alasan: ‘Jika presiden harus seorang Islam, lalu bagaimana dengan wakil presiden, para duta, dan sebagainya, lalu bagaimana duduknya janji kita untuk melindungi agama-agama lain?_ (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Gus Dur Menjual Bapaknya, Darul Falah, Jakarta, Januari 2003). Jadi, sudah sejak awal konsepsi negara Islam untuk Indonesia dicurigai oleh para tokoh (founding fathers) yang beragama Islam, seperti Soekarno. Anehnya, Durahman justru ikut-ikutan latah menentang gagasan bapaknya, bahkan memfitnah seolah-olah bapaknya itu menentang negara agama seraya mensejajarkan sang bapak dengan tokoh PKI segala. Benar-benar durhaka! Kenapa terjadi demikian? Bila ditilik dari siapa-siapa yang mendidik Gus Dur dan dia akui sangat terkesan, di antaranya adalah guru bahasa Inggerisnya waktu masih pelajar, yaitu Ibu Rubiyah seorang Gerwani (wanita PKI –Partai Komunis Indonesia) yang tentu saja anti Islam, benci kepada Islam. Pengaruh buruk dari orang apalagi yang mendidik dan mengesankan ternyata dibawa-bawa sampai tua dan bahkan membentuk pandangan hidup. Ketika pengaruh itu dari orang anti Islam, maka buahnya pun dapat dirasakan sampai sekarang. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/the-men-from-jombang/ Share:
• • • • •

131 Comments

Gegeran Skandal Sex Anggota Parlemen
19 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 19,2011 Uncategorized

GEGERAN SKANDAL SEX ANGGOTA PARLEMEN Sumpah, saya telah dia zinai sampai hamil… Sumpah, saya tidak menzinainya karena saya saat itu sedang rapat di kantor…

ِ َ َ َ ْ ِ ِ ُ ْ َ ِ َّ َ ْ َ َ ٍ َ ْ َ ِ َ ّ َ َ ّ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ ّ ‫. قال رسول ال صلى ال عليه وسلم: إذا ظهر الزنا والربا في قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب ا‬ ‫ل‬ ُ َّ ّ ُ ُ َ َ َ ِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diridiri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi). ***

Yahya Zaini dan Maria Eva

Max Moein

Al Amin Nur Nasution PADA TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA, sudah pernah terungkap skandal seks anggota parlemen seperti Yahya Zaini, Max Moein dan Al Amin Nasution. Rupanya, kasus-kasus tersebut sama sekali tidak menjadi pelajaran bagi anggota parlemen lainnya. Faktanya, skandal seks di seputar anggota parleman masih saja terjadi. Yang paling

anyar, sebagaimana diduga terjadi pada anggota parlemen dari Partai Demokrat bernama Muhammad Nazaruddin yang ramai diberitakan telah memerkosa Dita yang bekerja sebagai sales promotion girl (SPG). Muhammad Nazaruddin adalah anggota Komisi III DPR RI.

Nazaruddin Tindak perkosaan yang dituduhkan konon terjadi bulan Mei 2010, saat berlangsung Kongres Partai Demokrat (21-23 Mei 2010) yang diselenggarakan di Hotel Aston, Pasteur, Bandung, Jawa Barat. Namun, Dita baru melaporkan kasusnya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polsek Sukasari, Bandung, pada awal Agustus 2010. Kasus asusila ini mulai diberitakan pers setelah KOMPPI (Koalisi Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia) pada 18 Agustus 2010 melapor ke BK DPR RI (Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia). Nazaruddin sendiri sempat membantah. Menurut dia, pemberitaan yang dilakukan sebuah tabloid tentang skandal seks dirinya adalah tidak benar. Begitu juga dengan tuduhan memborong habis tabloid tersebut dari pasaran. Namun, sebagaimana kasus-kasus serupa sebelumnya, biasanya masyarakat lebih percaya kepada informasi awal, sedangkan bantahannya hanya dianggap angin lalu. Karena, secara aturan, setiap pemberitaan sudah melalui sebuah proses jurnalistik yang profesional, alias confirmed. Tidak sama dengan ngegosip atau ghibah. Oleh karena itu, turut membeberkan kasus-kasus amoral seperti ini tidak sama dengan membuka aib seseorang, tetapi seharusnya dibaca sebagai bagian dari melawan kemunkaran secara kongkrit, melalui cara-cara yang mampu dilakoninya.

Ahmad Tohari dan Nita Safitri Ternyata, tak hanya Nazaruddin. Ada dugaan terhadap Ahmad Tohari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang, yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD). Dugaan skandal seks Ahmad Tohari (44 tahun) dengan Nita (28 tahun), menurut sang istri sudah berlangsung sejak tahun 2003. Namun baru terkuak sekitar Februari 2010 lalu. Ironisnya, skandal seks itu dikuak oleh anak kandung Ahmad Tohari sendiri yang masih berusia belasan tahun. Nita yang diduga menjadi pasangan zina Ahmad Tohari adalah mantan PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang juga menjadi pengasuh kedua anak-anak Tohari. Karir Nita kemudian meningkat menjadi karyawan toko bangunan milik Tohari yang terletak di Jalan Merdeka, Mojowarno, Jombang. Hal itu memungkinkan karena Nita adalah lulusan sebuah SMK di Pare, Kabupaten Kediri Jawa Timur. Nama lengkap pasangan yang diduga dizinai Ahmad Tohari ini adalah Nita Safitri, warga Desa Warujayeng, Tanjung Anom, Nganjuk, Jawa Timur. Skandal seks sang anggota parlemen ini terungkap, ketika pada Februari 2010 lalu, Ahmad Tohari mengajak kedua anaknya menemani sang ayah yang sedang melakoni acara kunjungan kerja dewan ke Pulau Batam, Kepulauan Riau. Mereka menginap di sebuah hotel. Tanpa dinyana, ketika Tohari sedang mandi, kedua anaknya membukabuka telepon genggam milik ayahnya. Kedua kakak beradik ini sontak kaget, saat menemukan foto wanita tanpa busana yang tersimpan di ponsel ayah mereka. Lebih mengejutkan lagi, karena sosok tanpa busana itu mereka kenal, yaitu Nita, yang pernah menjadi pengasuh keduanya semasa mereka masih kecil. Karena takut, saat itu keduanya memutuskan untuk tutup mulut, bersikap pura-pura tidak tahu. Akhirnya, enam bulan kemudian, ketika kedua kakak-beradik ini menyaksikan pertengkaran hebat di antara kedua orangtua mereka, rahasia yang telah mereka pendam selama enam bulan itu pun membuncah keluar. Keduanya melaporkan temuan mereka tentang keberadaan foto tanpa busana di ponsel sang ayah. Laporan itu membuat Endang Ekowati, istri Ahmad Tohari, kian marah. Ia pun bertekad menggugat cerai sang suami dan membeberkan skandal seks Tohari ke BK (Badan Kehormatan) DPRD Jombang.

Sanksi lain, DPC Partai Demokrat Jombang pada Agustus 2010 lalu mencopot Ahmad Tohari dari kursi Ketua Fraksi PD dan Ketua Komisi D DPRD Jombang. Ahmad Tohari sendiri telah berupaya membantah. Bahkan pada 25 Oktober 2010 lalu, di hadapan wartawan ia menunjukkan surat keterangan dari sebuah Rumah Sakit di Surabaya yang menyatakan selaput dara (hymen) Nita masih utuh. Namun, surat keterangan seperti itu menurut BK DPRD Jombang tidak diperlukan. Karena, perzinaan tidak selalu sama dengan robeknya selaput dara. Nita sendiri juga sudah membantah. Menurut dia, hubungannya dengan Ahmad Tohari hanya sebatas buruh dengan majikan. Namun Nita mengakui bahwa sosok wanita tanpa busana dalam folder foto di ponsel Ahmad Tohari adalah dirinya. Menurutnya, foto-foto tersebut dijepret di sebuah hotel di Malang, Jawa Timur.

Juni Mintarsih dan Surianto Di Langkat, skandal seks anggota parlemen juga terjadi. Sekitar kuartal ketiga tahun 2008 pers pernah memberitakan dugaan perzinaan yang dilakoni Juni Mintarsih AMK angota DPRD Langkat, Sumatera Utara dari Partai PDK (Partai Demokrasi Kebangsaan), dengan Surianto anggota DPRD Langkat dari Partai Golkar. Juni Mintarsih adalah wanita bersuami. Suaminya, Syahrial (43 tahun) adalah pengusaha yang menetap di Aceh. Sebagai suami ia mendukung sang istri yang bernafsu menjadi anggota DPRD Langkat. Dan berhasil. Sejak sang istri berkecimpung di dunia poilitk, perilakunya berubah, suka berselingkuh. Juni Mintarsih tega mengkhianati suaminya yang telah membesarkan dirinya sehingga mendapat posisi mulia di masyarakat sebagai anggota DPRD Langkat. Kini, Juni Mintarsih dipecat dari partainya, begitu juga dengan Surianto.

Suara Rakyat Jember Sekitar Juni 2010, pada tabloid Suara Rakyat Jember dimuat berita berjudul Anggota DPRD Jatim Zinahi Janda. Isinya, tentang dugaan skandal seks antara Ahmad Nawardi (anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa) dengan seorang mahasiswi yang juga janda asal Jember berinisial MCD. Ahmad Nawardi dituding telah meniduri MCD hingga hamil.

Ahmad Nawardi Dalam pengakuannya, MCD mengatakan bahwa ia berkenalan dengan Ahmad Nawardi via facebook, kemudian berlanjut dan bertemu di sebuah hotel. Di tempat itu, di sebuah hotel di Jalan Gubernur Suryo, Genteng, Surabaya, MCD diajak bermaksiat. Meski sekali, namun MCD mengalami kehamilan. Ahmad Nawardi tentu saja menolak bertanggung jawab. Sikap AN membuat MCD depresi. Apalagi setelah MCD gagal berkomunikasi dengan AN, karena ponsel AN sering tidak aktif. Depresi dan panik yang dialami MCD akhirnya menyebabkan kandungannya gugur. Dalam keadaan seperti itulah ia mencurahkan perasaanya di facebook, sehingga skandal seks sang anggota DPRD Jawa Timur ini terkuak.

Pihak PKB sendiri tidak tinggal diam. Selama Juni-Juli 2010, tim investigasi yang mereka bentuk telah melakukan pemanggilan dan klarifikasi kepada yang bersangkutan. Namun saat itu belum ditemukan bukti yang kuat. Ahmad Nuwardi yang mantan kontributor majalah Tempo ini juga membantah. “Itu fitnah menjelang Idul Fitri.” Uniknya, keduanya sebelum memberikan keterangan, bersumpah dengan Al-Qur’an. MCD bersumpah dengan Al-Qur’an bahwa ia berzina dengan AN dan hamil, kemudian keguguran. Sedangkan AN juga bersumpah dengan Al-Qur’an bahwa ia tidak melakukan perzinaan dengan MCD, karena pada saat itu ia sedang rapat di kantornya. Siapa yang benar? Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Setidaknya, yang membuat kita prihatin, bahwa Al-Qur’an sudah menjadi alat bagi sebagian orang untuk menutupi kebohongannya. Astaghfirullah… Bobroknya dan bejatnya moral sehingga perzinaan terjadi di mana-mana, khususnya dalam kasus ini melanda wakil-wakil rakyat itu mesti ditangani secara serius dan sampai tuntas. Kalau dibiarkan, dan juga aneka sarana yang menjurus kepada perzinaan termasuk aneka tayangan dan tulisan porno dibiarkan merajalela, maka hendaknya kita takut ancaman Allah Ta’ala: 25/‫]واتقوا فتنة ل تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن ال شديد العقاب ]النفال‬ ِ َ ِ ْ ُ ِ َ ّ ّ َ ُ َ ْ َ ً ّ َ ْ ُ ْ ِ ُ ََ َ ِ ّ ّ َ ِ ُ َ ً َ ْ ِ ُ ّ َ َ Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfal/ 8: 25). Moral bejat dan merajalelanya maksiat adalah tingkah manusia yang mengundang murka Allah Ta’ala, sehingga kalau dibiarkan, maka yang lain akan terkena adzabnya pula di dunia ini. Apalagi: dalam kasus ini terbukti, sudah jelas ada bukti kemaksiatan yakni hamil tanpa ada suami, lalu si wanita yang hamil berani bersumpah bahwa dia dizinai oleh si Anu, sedang si Anu yang anggota dewan yang (mungkin tidak) terhormat sebagai tertuduh itupun berani bersumpah bahwa drinya tidak menzinai wanita itu. Bagaimanapun, ini di antara keduanya itu ada yang dusta. Bagi yang dusta, berarti telah bermaksiat ganda yakni zina, masih pula ditambahi dengan dusta. Dua dosa besar dilakukan secara nekat terang-terangan! Na’udzubillahi min dzalik! (tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/gegeran-skandal-sex-anggota-parlemen/ Share:
• •

• • •

80 Comments

Anas Urbaningrum dan Ziarah Kubur Politis
16 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 16,2011 Uncategorized

ANAS URBANINGRUM DAN ZIARAH KUBUR POLITIS ZIARAH KUBUR selain ada yang syar’iyah dan syirkiyah, ternyata ada juga yang politis-bid’ah sebagaimana dilakoni Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat) baru-baru ini.

Anas Urbaningrum Ziarah ke Makam GUS DUR Ziarah kubur yang sesuai syari’at Islam ada beberapa persyaratan. Pertama, kuburan yang diziarahi adalah kuburan manusia. Kedua, tujuan menziarahi kuburan untuk mengingat akherat dan menjauhkan diri dari kecintaan kepada dunia, sekaligus untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kelak kita pun akan menjadi penghuni kubur. Ketiga, ketika memasuki areal pemakaman, mengucapkan salam kepada ahli kubur. Keempat, setelah berada di areal pemakaman, memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memberi maghfirah kepada ahli kubur yang muslim. Kelima, untuk mengambil pelajaran (i’tibar).

Mengambil pelajaran (i’tibar) saat menziarahi kuburan orang Islam, maksudnya untuk mengingatkan diri kita sendiri, bahwa seseorang yang dimakamkan itu, semasa hidupnya boleh jadi adalah orang yang saleh, orang yang kuat, orang yang kaya, orang yang banyak pengikut. Namun, itu semua tidak dapat melebihi kekuatan dan kekuasaan Allah. Mereka semua akan mati, dikubur dan tidak berdaya apa-apa, kecuali amal saleh yang pernah dibuatnya selama hidup. (Untuk lebih jelasnya masalah ziarah kubur dan rangkaiannya, dapat dibaca buku Kuburan-kuburan Keramat di Nusantara oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011).

Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede Kenyataannya, dalam i’tibar ini seringkali dimaknai dan dipraktekkan secara keliru. Sosok yang sudah dikubur justru dianggap punya kelebihan, punya kekuatan, dan bahkan dijadikan tempat meminta pertolongan. Tidak hanya itu, perilaku menyimpang itu masih pula ditingkahi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an seperti Al-Fatihah, Yaasiin, dan sebagainya. Juga, menaburi bunga-bunga, air mawar, dan bahkan sesaji. Dalam perspektif politisi, menjadikan kuburan sebagai tempat ‘meminta’ dan ‘memohon pertolongan’ diwujudkan dengan ziarah ke makam-makam tokoh yang semasa hidupnya punya banyak pengikut fanatis, siapa tahu pengikutnya yang fanatis tadi bisa memberi suara tambahan kepada partai yang dipimpinnya, pada musim pemilihan umum kelak. Tanpa harus berfikir keras, kita sudah bisa memaknai motif yang melatari sepak terjang Anas Urbaningrum melakoni ziarah kubur ke makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada hari Rabu tanggal 08 Juni 2011 lalu. Yaitu, melalui ziarah kubur, Anas seperti sedang meminta dan memohon pertolongan.

Meminta dan Memohon Pertolongan Hanya Kepada Allah SWT Dalam perpektif kebebasan, boleh jadi sepak terjang Anas itu dikatakan sah-sah saja. Dengan alasan, hal itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi. Bagi mereka yang berpaham bebas, boleh jadi tindakan Anas bisa dimengerti, dengan alasan Anas adalah Ketua Umum Partai Demokrat yang punya kewajiban meraih suara sebanyak-banyaknya pada musim pemilihan umum kelak. Namun, dari perspektif lain, sepak terjang Anas Urbaningrum sangat memprihatinkan. Karena, ia adalah lapis kedua komunitas politisi Indonesia. Anas Urbaningrum adalah generasi lebih muda yang berhasil memimpin partai politik, ketika sejumlah parpol justru masih digenggam generasi tua (Golkar, PDIP dan sebagainya). Tentu masyarakat mengharapkan, Anas bisa tampil otentik. Kenyataannya, Anas justru hanya mencontoh dan mengikuti sepak terjang politisi seniornya. Antara lain, menjadikan agama atau sesuatu yang berbau agama sebagai kosmetik politik untuk mempercantik penampilannya. Khususnya menjelang musim pemilihan umum kelak.

Yang lebih memprihatinkan, Anas Urbaningrum adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 1997-1999. Tujuan terbentuknya HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala.”

Melalui sosok Anas Urbaningrum, dan sosok-sosok lainnya ‘lulusan’ HMI, masyarakat sudah bisa menilai, sejauhmana tujuan HMI bisa diwujudkan? Sebelumnya, media massa juga pernah memberitakan sepak terjang Anas Urbaningrum sebagai politisi yang melakukan kunjungan silaturrahim ke Ma’had Al-Zaytun (Kamis 17 Maret 2011). Ketika itu, Anas ditemani Edhie Baskoro Yudhoyono sambil membawa “uang silaturrahim” sebesar US$ 10 ribu. (http://www.nahimunkar.com/inaa-lillaahi%E2%80%A6menteri-agama-jadi-jubirpresiden-aliran-sesat-nii-kw9/#more-5124) Silaturrahim adalah ajaran Islam. Ketika silaturrahim dimanfaatkan politisi, maka silaturrahim yang semula bernilai mulia, menjadi sekedar kuda tunggangan, menjadi semacam kosmetik untuk mempercantik diri. Dan hal ini juga dipraktekkan Anas meniruniru politisi seniornya.

Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas Kalau masyarakat mengharapkan lahir sosok politisi muda yang otentik, dan harapan itu tertuju kepada Anas, memang wajar. Karena, masyarakat tidak bisa mengarahkan harapan seperti itu kepada Ibas alias Edhie Baskoro Yudhoyono, yang bisa menjadi elite politik nasional karena adanya sistem ‘monarki’ di kesultanan NKRI ini. Ibas bukan satusatunya. Sebelumnya ada Megawati, ada Tutut, dan sebagainya. Sebelum manakhodai Partai Demokrat, Anas Urbaningrum pernah menjadi anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) periode 2000-2007, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin, M.A. Pada awal 2005, KPU digoyang dengan tuduhan korupsi yang diduga melibatkan Nazaruddin Sjamsuddin dan Chusnul Mar’iyah. Konon, Anas Urbaningrum lolos berkat kelincahannya berlindung di balik ketiak partai penguasa. Kini, ketika skandal korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang yang menyangkut Nazaruddin (Bendahara Umum Partai Demokrat), nama Anas Urbaningrum juga disebut-sebut. Akankah kali ini Anas kembali lolos dari lubang jarum?

Yang jelas, harapan masyarakat akan lahirnya sosok politisi muda yang otentik sama sekali tidak bisa digantungkan kepada Anas. Ternyata, Anas sama saja dengan seniornya: menjadikan bau agama dan simbol agama sebagai kosmetik politik, dan tidak lekang dari kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan yang sedang digenggamnya. Begitu juga dengan politisi muda seperti Andi Mallarangeng bersaudara. Mereka diduga terlibat penyalahgunaan wewenang yang melibatkan Nazaruddin.

Mallarangeng & Mallarangeng Anas mengenal Nazaruddin pada 2004, saat ia menjadi anggota KPU, dan Nazaruddin mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari PPP, namun gagal. Hubungan mereka terus berlanjut, bahkan di tahun 2007, Anas duduk sebagai komisaris di PT Panahatan dan PT Anugerah Nusantara, milik Nazaruddin.

Nazaruddin PT Panahatan yang didirikan tanggal 9 September 1997, bergerak di bidang perkebunan, kontraktor, pertambangan, hingga real estate. Berdasarkan SK Nomor AHU22783.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008, susunan pemegang saham PT Panahatan adalah: Anas Urbaningrum (35.000 lembar saham, sebagai komisaris), Muhammad Nazaruddin (35.000 lembar saham, sebagai komisaris utama), dan M. Nasir (30.000 lembar saham, sebagai direktur). Setiap lembar saham bernilai Rp 1 juta. Meski saham Anas bernilai Rp 35 milyar, namun menurut pengakuan Anas, ia tidak pernah menyetorkan dana sebanyak itu, bahkan sama sekali tidak keluar tenaga dan biaya dalam proses pendirian atau opersional perusahaan. Anas langsung ditunjuk sebagai komisaris. Namun tak lama. Pada tahun 2009, Anas mengaku mundur dari jabatannya di dua perusahaan milik Nazaruddin tersebut.

Namun demikian, kedekatan Anas-Nazar tak lekang. Terbukti, Nazaruddin menjadi sosok penting sebagai tim sukses kubu Anas, sehingga pada Kongres Partai Demokrat yang berlangsung pada Mei 2010 di Bandung, Anas terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, mengalahkan Andi Mallarangeng. Pada Juli 2010, Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menunjuk Nazaruddin sebagai Bendahara Umum. Sebagai Bendahara Umum, Nazaruddin benar-benar bisa diandalkan dalam hal membiayai kegiatan sang Ketua Umum. Setiap kegiatan yang dilakukan Anas, Nazar selalu memberikan dukungan dana. Termasuk biaya penyewaan pesawat yang menelan biaya miliaran rupiah per tahunnya. Konon, Nazaruddin menganggarkan Rp 10 milyar per tahun untuk mendukung kegiatan Anas (Ketua Umum PD) dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas (Sekjen PD). Dari mana sumber dana Nazaruddin? Dari proyek-proyek pemerintah. Partai demokrat sebagai partai penguasa, tentu punya peluang yang lebih besar dibanding parpol lain di dalam mendapatkan proyek-proyek pemerintah. Konon, dalam setahun, Nazaruddin bisa menghimpun proyek-proyek pemerintah senilai Rp 42 triliun. Jika sepuluh persennya disalurkan untuk membiayai partai, maka setidaknya tersedia dana sekitar Rp 4 triliun lebih setiap tahunnya. Bagaimana cara menghimpun? Sebagai Ketua Umum partai penguasa, Anas selalu mengajak Nazaruddin setiap bertemu dengan menteri atau pejabat pemerintahan. Setelah dikenalkan, Nazar kemudian menindaklanjuti. Hasilnya, dengan mudah Nazaruddin mendapatkan proyek-proyek di pemerintahan. Begitulah modus operandi yang biasa dilakukan petinggi parpol. Inilah bentuk kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang terus berlangsung hingga kini. Ketika jadi mahasiswa dulu, Anas dan Andi Mallarengeng, boleh jadi ikut menyuarakan dihapuskannya KKN. Namun ketika mereka sudah berada di ranah politik, mereka tidak berdaya. Bahkan larut.

Trio Mallarangeng Fenomena Anas Urbaningrum, boleh jadi bagai puncak gunung es: masih banyak kasus serupa yang lebih dahsyat namun tidak terungkap media massa. Yang pasti, sistem yang korup, sampai kapan pun akan menumbuh-suburkan korupsi dalam berbagai bentuk. Tidak hanya sistemnya yang perlu diperbaiki, tetapi juga manusianya.

Bila sosok manusianya masih doyan kemusyrikan, bid’ah dan sebagainya, boleh jadi ia tidak bisa membebaskan diri dari kecenderungan untuk korupsi dan menyalahgunakan wewenang. Kalau aturan Allah saja bisa dilanggar atau diabaikan, apalagi aturan manusia? (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/anas-urbaningrum-dan-ziarah-kubur-politis/ Share:
• • • • •

2 Comments

Bukti Kebodohan Hanung Bramantyo
15 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 15,2011 Uncategorized

BUKTI KEBODOHAN HANUNG BRAMANTYO

UMAR ABDUH SALAH SATU UPAYA Hanung Bramantyo menjajakan paham sesat pluralisme agama melalui film “?” (tanda tanya) adalah menampilkan tokoh Rika yang karena kecewa dengan suaminya yang menempuh poligami, kemudian memilih murtad (pindah agama) dari Islam ke Kristen. Dalam film itu digambarkan suami Rika adalah suami yang taat beragama. Meski Rika murtad, namun ia membiarkan putranya untuk mengaji, shalat dan berpuasa.

Gambaran seperti itu ternyata mendapat kritikan dari seorang wanita bernama Sirikit Syah (sirikitsyah@yahoo.com). Sirikit pada dasarnya tidak berminat menonton film tersebut, apalagi mengomentarinya. Namun karena di mailbox-nya terkirim e-mail dari Ade Armando yang mebincangkan film “?” (tanda tanya) Hanung Bramantyo, maka Sirikit pun tergerak. “…karena diposting oleh Bang Ade, terpaksa saya baca ceritanya. Lalu kutemukan sebuah keanehan…”

Ade Armando Keanehan pertama, menurut Sirikit, perempuan Islam tidak akan terkejut ketika tahu suaminya berpoligami, karena sudah tahu ada ayat yang mengizinkan, terlepas dia setuju atau tidak. Kedua, belum pernah terdengar oleh Sirikit ada perempuan Islam memilih murtad gara-gara suaminya berpoligami. Jadi, menurut Sirikit, film “?” (tandatanya) Hanung tidak valid memotret fakta.

Sirikit Syah Boleh jadi, Hanung mendasarkan tokoh Rika dari kisah nyata, dari sosok yang dia kenal atau pernah ditemui. Boleh jadi, memang benar ada wanita yang seperti itu, karena kecewa dimadu, maka menjadi murtad. Boleh jadi, melalui tokoh Rika Hanung sedang mencari sensasi, sehingga filmnya menjadi bahan pembicaraan, kontroversial dan ditonton banyak orang. Sekaligus, jadi pahlawan bagi para penganut pluralisme agama dan pembenci poligami. Selain itu, boleh jadi Hanung sedang melakukan ‘balas dendam’ karena pada film sebelumnya (Ayat-ayat Cinta), tanpa disadari ia sudah menggambarkan proses terjadinya poligami dengan manusawi dan menyentuh, sehingga membuat kesal para pembenci poligami. Pada film Ayat-ayat Cinta juga ada proses perpindahan agama, dari Kristen ke Islam sebagaimana diperankan oleh Carissa Putri yang aslinya memang beragama Islam.

Carissa Putri Bila pada film Ayat-ayat Cinta, seorang wanita Kristen yang diperankan Carissa Putri pindah agama menjadi Islam karena terkesan dengan akhlakul karimah sosok Fahri, maka di film “?” (tandatanya), sosok Rika pindah agama dari Islam menjadi Kristen karena suaminya poligami, yang dikonotasikan sebagai perbuatan tak baik versi penulis skenario yang kebetulan wanita non-Muslim. Dari sini kita sudah bisa menebak isi kepala Hanung: ia cenderung bermain-main dengan tema serius. Mungkin bagi Hanung, murtad hanyalah sebuah proses psikologis yang dialami seseorang yang lepas dari perspektif akidah. Tidak bisa disalahkan bila ada yang berkesimpulan bahwa sesungguhnya Hanung Bramantyo lebih condong

menjajakan paham sesat pluralisme agama melalui media film, ketimbang membuat film tentang agama Islam sebagaimana pesan ibunya.

Di akhir komentarnya, Sirikit seperti menasehati: “Kalau Hanung ingin diingat sebagai pelawan kebodohan, jangan-jangan karena cacat skenario ini dia malah tampak bodoh.” Beberapa kasus Sejauh ini memang belum pernah ditemukan tentang seorang wanita yang pindah agama (murtad) akibat suaminya kawin lagi. Berdasarkan catatan media massa, kasus suami kawin lagi biasanya dibarengi dengan sikap balasan berupa gantung diri (bunuh diri), berperilaku aneh, berperilaku menyimpang, menghabisi suami, membunuh bayinya sendiri, menggugat cerai, dilaporkan ke polisi, dan sebagainya. Semua tindakan itu jelasjelas dilarang agama, dan tidak dibenarkan secara hukum positif yang berlaku. Dari Tangerang, terbetik kabar tentang seorang wanita berusia 30 tahun bernama Nurlely yang ditemukan tewas gantung diri karena suaminya kawin lagi. Saat itu Nurlely sedang mengandung enam bulan. Jasad Nurlely pertama kali ditemukan suaminya pada pukul 09:00 wib, tergantung di dapur rumah kontrakan mereka di RT 06 RW 05, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Hari itu juga, Senin 25 April 2011, jasad Nurlely dibawa ke RSUD Tangerang untuk dilakukann otopsi. Zuldes (40 tahun), suami Nurlely, berprofesi sebagai supir angkot, setelah kawin lagi kerap pulang pagi. Namun, tetangga tidak pernah melihat Nurlely dan Zuldes bertengkar, sejak menempati rumah kontrakannya, tujuh bulan belakangan. (http://www.detiknews.com/read/2011/04/25/144520/1624748/10/suami-kawin-lagiwanita-hamil-6-bulan-gantung-diri) Beberapa tahun sebelumnya, modus gantung diri juga dilakoni oleh Surtini (saat itu 35 tahun), warga Kampung Cibahu, Desa Beberan Kecamatan Walantaka, Serang, Banten. Wanita beranak tiga ini nekat gantung diri pada tanggal 01 Juli 2007 sekitar pukul 05:00 wib karena suaminya kawin lagi.

Jasad Surtini perama kali ditemukan Sri Sulastri, anak sulungnya yang saat itu berusia 14 tahun. Sri Sulastri sontak menjerit melihat jasad ibunya tergantung di pintu kusen kamarnya. Surtini gantung diri menggunakan sehelai kain yang biasa digunakan untuk menggendong anak bungsunya. (http://www.radarbanten.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=13251) Di Jember, pada hari selasa tanggal 15 Februari 2011, warga kawasan pantai Pancer Puger menggerebek sebuah rumah di Sultan Agung 47, karena diduga terjadi pesta sex. Pelaku utamanya janda beranak tiga bernama Devita (32 tahun). Saat digerebek, Devita dalam pengaruh pil koplo dan sedang berpesta sex dengan lima lelaki (Robi, Lukman, Fendi, Fendik, dan Arif). Ia mengakui sudah beberapa kali menggelar pesta sex. Perbuatan ini dilakukan Devita sejak ia kecewa karena suaminya kawin lagi di Malaysia. (http://www.wartajember.com/peristiwa/667-suami-kawin-lagi-devita-nekad-pestasex.html) Bila Devita melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan perzinahan berupa pesta sex, di Jakarta, Yeti nekat memanjat salah satu atap koridor busway di Jalan S. Parman, Grogol, Jakarta Barat, karena suaminya kawin lagi. Perilaku aneh itu dilakukan Yeti pada hari Kamis tanggal 22 Februari 2010, siang hari. Di atas atap koridor busway Yeti sesekali menari-nari. Setelah berulangkali dibujuk, Yeti akhirnya mau turun dan mengakhiri aksinya. (http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/04/22/103934) Masih di Jakarta, kali ini terjadi pada Muryani yang bertempat tinggal di Gang Makmur RT09/02, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Karena kecewa dengan suaminya yang melanggar janji untuk tidak berjudi dan kawin lagi, akhirnya Muryani pada tanggal 11 Oktober 2010 lalu menghabisi suaminya, Karyadi (saat itu 53 tahun), dengan cara dimutilasi. Usai memutilasi jasad Karyadi, Muryani membuang potongan tubuh suaminya itu ke Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pada tanggal 13 Oktober 2010, potongan kepala Karyadi ditemukan di pintu air Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur. (http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/10/176553/7/5/Pelaku-Mutilasi-SakitHati-karena-Suami-Kawin-Lagi) Di Pekanbaru, seorang wanita berinisial NW (saat itu 38 tahun) melaporkan suaminya ke Mapoltabes Pekanbaru, Rabu 21 Juli 2010, karena setelah menikah lagi sang suami tidak menafkahi lahir-batin NW dan ketiga anaknya. Menurut Kabid Humas Polda Riau saat itu AKBP Drs Zulkifli MH, hal itu merupakan suatu pelanggaran hukum dari seorang suami yang tidak bertangung jawab. Apalagi, ketika menikah lagi, Desember 2009, sang suami mengatakan kepada istri barunya bahwa ia telah bercerai dengan NW. (http://pekanbarumx.net/content/view/2676/53/) Beberapa tahun lalu di Banyumas, Jawa Tengah, Sartiyem yang menaruh dendam kepada suaminya yang kawin lagi, justru membunuh bayi yang baru dilahirkannya. Peristiwa ini terjadi pertengahan Februari 2006. Sartiyem adalah warga Gunung Sindang, Desa Karang Kemiri, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. Ia tidak lagi diperhatikan suaminya yang kawin lagi, termasuk saat Sartiyem sedang mengandung 9 bulan. Ketika

bayi lahir, Sartiyem langsung mencekik dan membuang bayinya itu ke kali. Pada 15 Februari 2006, warga sekitar menemukan jasad bayi Sartiyem di kali. (http://www.indosiar.com/patroli/48297/suami-menikah-lagi-istri-nekad-membunuhbayinya) Suami yang kawin lagi tidak hanya mengundang reaksi sang istri, tetapi juga salah satu anak mereka. Hal ini sebagaimaan terjadi di Tangerang Selatan baru-baru ini. Mahyudin (52 tahun) dibakar hidup-hidup oleh anak kandungnya sendiri Sadikin (22 tahun). Peristiwa tragis ini terjadi pada hari Senin tanggal 25 April 2011 sekitar pukul 21:00 wib. Sadikin merasa kesal karena sang ayah sejak kawin lagi tidak bertangung jawab terhadap keluarga istri tuanya. (http://www.detiknews.com/read/2011/04/26/175519/1626166/10/mahyudin-dibakaranak-karena-kawin-lagi) Kejadian-kejadian di atas tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam dan ketentuan hukum positif yang berlaku. Sejauh ini memang belum ditemukan pemberitaan tentang wanita yang memilih murtad ‘hanya’ karena suaminya kawin lagi. Boleh jadi Hanung berpendirian memilih pindah agama (murtad) masih lebih baik daripada membunuh atau bunuh diri, sebagaimana dituangkan dalam film “?” (tandatanya). Boleh jadi, pesan seperti itulah yang disampaikan Hanung kepada khalayak penonton film garapannya. Kedewasaan Hanung memang belum menonjol pada film-film garapannya. Barangkali akan lebih tepat bila Hanung menggarap tema kanak-kanak yang kaya imajinasi dan andai-andai, sehingga tidak terkesan seperti orang yang sedang belagak bodoh. Share:
• • • • •

0 Comments

Antara Hanung Bramantyo dan Muhammad Syarif: DUA PERUSAK BEDA GAYA
15 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 15,2011 Uncategorized

ANTARA HANUNG BRAMANTYO DAN MUHAMMAD SYARIF: DUA PERUSAK BEDA GAYA

KEDUA SOSOK INI berada di dalam dua dunia yang berbeda. Bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Hanung Bramantyo (35 tahun) adalah sutradara populer yang sejumlah karya sinematografinya akhir-akhir ini mengundang kontroversi, seperti film Perempuan Berkalung Sorban dan film “?” (tandatanya). Sedangkan Muhammad Syarif (32 tahun), sama sekali tidak terkenal, namun di akhir hayatnya menorehkan ‘karya’ yang juga kontroversial, berupa bom bunuh diri di mesjid Mapolresta Cirebon, Jawa Barat (Jum’at, 15 April 2011). Akibat tingkah bom di masjid itu, stigmatisasi atau cap buruk Islam teroris pun ada yang buru-buru melontarkannya lewat media, dan itu sangat menyinggung perasaan Ummat Islam. (lihat nahimunkar.con, Stigma Islam Teroris dalam Kasus Bom Cirebon, Telah menyinggung perasaan Umat Islam Indonesia, April 19, 2011 9:50 pm , http://www.nahimunkar.com/stigma-islam-teroris-dalam-kasus-bom-cirebon/#more4751) Kesamaannya, kedua orang muda ini lahir di tengah-tengah keluarga Islam yang baik dan taat. Hanung lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Oktober 1975. Ayahnya aktivis Muhammadiyah. Sejak Taman Kanak-kanak hingga SMA, Hanung bersekolah di lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. Bahkan sempat nyantri di salah satu pondok pesantren NU yang dimpimpin Kyai Siraj, di Klaten, Jawa Tengah. Orangtua Muhammad Syarif, adalah seorang pemuka agama lokal yang sangat dikenal berbagai kalangan dan etnis yang ada di kawasan Cirebon dan sekitarnya. Pendidikan formal Syarif dari SD hingga SMA ditempuh di Cirebon. Selain itu, Syarif juga pernah nyantri di beberapa pondok pesantren, meski tidak lama. Menurut Abdul Ghafur (66 tahun), orangtua Syarif, anaknya itu pernah nyantri di sebuah ponpes di Cirebon, Kediri (Jawa Timur), dan Solo (Jawa Tengah). Hanung Bramantyo

-+Sejak kelas 4 sekolah dasar, Hanung sudah gandrung dengan seni teater. Dunia teater yang dimasukinya pertama kali adalah Teater Al-Kautsar yang berbasis di mesjid. Minat berteater Hanung terus berlanjut, hingga ia menduduki bangku SMP dan SMA. Ketika di SMA, minat berteaternya tidak mendapat dukungan kondusif dari pihak sekolah. Bahkan seni teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i oleh pihak sekolah. Puncaknya Hanung

patah arang. Karena minat berteaternya tidak terakomodasi, maka sejak saat itu ia menjadi sekuler, nakal, menolak Islam, tidak suka dengan Muhammadiyah. “…Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’…” Kata Hanung. Kondisi itu terus berlanjut hingga Hanung menduduki bangku pendidikan di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Minat berteaternya bagai fondasi yang kuat untuk menjadi sineas. Tentu bukan IKJ yang mengarahkan Hanung menjadi sineas yang cenderung mempromosikan syirik modern (pluralisme), sebagai mana dituduhkan oleh KH A. Cholil Ridwan (Ketua MUI Bidang Budaya). Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri.

Tentu bukan IKJ yang mengajarkan Hanung untuk mempropagandakan paham liberalisme, budaya jahiliyah, bahkan nilai-nilai Kristiani melalui film Perempuan Berkalung Sorban, sebagaimana dituduhkan sineas Chaerul Umam, senior Hanung sendiri. Tentu bukan Kyai Siraj yang mengajarkan Hanung untuk mendiskreditkan pesantren melalui film garapannya, sebagaimana dituduhkan KH. Prof Dr Ali Mustafa Yakub (Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI). Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri.

Tentu bukan ayahanda Hanung yang memilihkan sosok murtad seperti Lukman Sardi memerankan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri ormas Muhammadiyah), dalam film berjudul Sang Pencerah. Tentu bukan ibunda Hanung –mualaf keturunan Cina– yang memilihkan cuplikan kisah dari Injil tentang pelacur Magdalena yang dilempari batu, untuk diadopsi ke dalam salah satu adegan dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri. Meski Hanung dari keluarga Islam, bahkan bersekolah di lembaga pendidikan yang dikelola ormas Islam, tidak serta-merta menjadikannya sebagai sosok yang punya ghirah terhadap Islam. Bisa saja kebalikannya yang terjadi, disadari atau tidak. Boleh jadi Hanung merasa sedang menggarap tema kerukunan, namun yang ia hasilkan justru

merusak kerukunan, sekaligus memberi stereotype yang buruk tentang Islam, sebagaimana dituduhkan Adian Husaini. Itu semua adalah pilihan Hanung. Ia mau menjadi kafir, murtad, menjajakan marxisme, komunisme, liberalisme, dan sebagainya, belum tentu ada kaitan dengan orangtua yang mengasuhnya dan lembaga pendidikan yang pernah dimasukinya. Hanung yang percaya kepada kekuatan akal, bisa memilih mana yang dia suka dan tidak suka. Namun yang jelas, dalam menggarap sebuah karya sinematografi, Hanung tidak sendiri. Ada sejumlah orang yang terlibat. Produser penyandang dana, penulis skenario, dan sejumlah pihak lainnya. Semuanya bermuara kepada keuntungan, baik materi maupun non materi. Keuntungan non materi bisa berupa propaganda ideologis. Muhammad Syarif Sementara itu, Muhammad Syarif selain menempuh pendidikan formal dan keagamaan, juga membekali dirinya dengan kursus keterampilan komputer. Yang jelas, bukan keterampilan merakit bom low explossive. Menurut dugaan pengamat terorisme Mardigu WP, Muhammad Syarif membuat bom itu sendiri. Tehnik pembuatan bom seperti itu, mudah diperoleh di internet, demikian juga bahan-bahannya mudah diperoleh. Yang jelas, menurut Mardigu, pembuat bom bukan orang stres, karena memerlukan ketelatenan.

Menurut keterangan Abdul Ghafur, ayahanda Muhammad Syarif, anaknya itu punya persentuhan dengan gerakan-gerakan yang disebut Islam garis keras. Muhammad Syarif ikut menjadi bagian dari massa yang memerangi aliran dan paham sesat serta pemurtadan. Ketika berada di rumah, ia bersikap keras terhadap orangtuanya. Bahkan ayahandanya sendiri pernah disebut kafir. Ini menunjukkan bahwa sikap radikal dan ekstrem seperti itu bukan berasal dari didikan orangtuanya yang tenang dan konvensional. Apalagi, selama 13 tahun Muhammad Syarif terpisah dari keluarganya.

Abdul Ghafur (ayahanda M. Syarif) Boleh jadi, Muhamamd Syarif memang punya kecenderungan ekstrem dan radikal, kemudian menjadi aktual ketika mendapat stimulasi dari lingkungan pergaulannya. Menurut Abdul Ghafur, sejak 2009 Muhammad Syarif terlihat ikut pengajian Ba’asyir, dan sejak itu pula sikap Syarif berubah. Abu Bakar Ba’asyir adalah pimpinan JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid). Sementara itu, JAT sendiri menyangkal punya anggota bernama Muhammad Syarif. Bahkan JAT menyatakan bahwa “…serangan bom ke dalam masjid dan jama’ah yang sedang atau hendak shalat adalah perbuatan haram…” Selain bersentuhan dengan komunitas Ba’syir, Muhammad Syarif juga bersentuhan dengan komunitas GAPAS (Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat) Cirebon, yang diketuai oleh Andi Mulya. Namun menurut Andi Mulya, Muhammad Syarif bukan anggota GAPAS atau FUI (Forum Umat Islam), meski kerap terlibat di dalam aksi yang digelar keduanya. Andi Mulya pertama kali mengenal Muhammad Syarif sekitar tiga tahun lalu. Namun sekitar satu setengah tahun belakangan ini, Syarif tidak terlihat mengikuti pengajian di Masjid At-Taqwa. Menurut Andi Mulya, Muhammad Syarif adalah sosok yang tempramental dan keras. Andi Mulya yang sempat menjadi kepala keamanan Masjid At-Taqwa, Cirebon, pernah mendapat laporan dari jama’ah berkenaan sikap keras Syarif. Antara lain, Syarif membangunkan jama’ah yang tidur di Masjid At-Taqwa dengan cara menendang orang bersangkutan. Ia memang tidak senang bila masjid dijadikan tempat tidur. Muhammad Syarif ternyata juga masuk ke dalam DPO (daftar pencarian orang) polresta Cirebon, karena terlibat perusakan Alfamart saat melakukan razia minuman keras. Saat itu, menurut Andi Mulya, Syarif mengatasnamakan Gabungan Remaja Masjid Kota Cirebon. Sama sekali tidak terkait dengan GAPAS. Saat itu selain Syarif yang juga terlibat perusakan Alfamart Cirebon adalah Agung. Menurut keterangan aparat, Agung adalah anak dari Tatang, koordinator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) Wilayah III, yang membawahi kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Begitu juga ketika GAPAS melakukan aksi pembubaran Ahmadiyah di Kuningan, Muhammad Syarif sudah lebih dulu berada di lokasi, padahal ia tidak diajak serta.

Begitu juga ketika GAPAS terlibat dalam aksi demo persidangan terdakwa aliran sesat, Muhammad Syarif nimbrung ke dalam barisan aksi tanpa undangan. Tidak sekedar nimbrung, bahkan Syarif melakukan aksi vandalistis (perusakan) yang membuat peserta lainnya kesal. Dua pekan sebelum Syarif melakukan aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, ia terlibat pembunuhan terhadap Kopka Sutejo, anggota Kodim Sumber, Cirebon. Pembunuhan itu berlangsung sekitar 2 April 2011, di Desa Cempaka, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Selain menewaskan Kopka Sutejo, Syarif juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap warga sipil bernama Ali. Namun Ali selamat dengan luka di bagian leher. Saat itu Syarif sedang berada di sebuah warung milik Ali. Pembicaraan Syarif dan rekannya soal bom terdengar oleh Ali. Maka, Ali pun melaporkan hal itu kepada Kopka Sutejo (anggota Kodim 0620 Sumber). Kopka Sutejo menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Syarif. Karena tersudut, Syarif dan rekannya mengambil tindakan nekat, menghabisi nyawa Kopka Sutejo. Aksi bom bunuh diri Muhammad Syarif di Masjid Mapolresta Cirebon yang disebut haram dan bukan jihad itu, ternyata memang diniatkan sebagai jihad oleh Syarif sendiri, sebagaimana bisa ditangkap melalui surat pernyataan yang ditulisnya sendiri. Surat pernyataan itu ditemukan aparat saat menggeledah kediaman mertua Syarif di Majalengka. Surat pernyataan itu terselip dalam sebuah buku berjudul “Jihad di Asia Tengah, (Perang Akhir Zaman)” karangan Syekh Abu Mus’ab As Suri. Isinya: Bahwa saya: Muhammad Syarif Insya Allah / atas izin Allah, sangat, sangat !!!!!! “Meninggal Syahid” Bukan karena ingin disebut Mujahid tetapi kemuliaan Syahid telah melekat berat di hati. Dengan janji dari yang menciptakan saya dan yang akan mensucikan saya Yaitu janji Allah…….Allah…….Allah. Pesan saya: “Sungguh kehidupan dunia hanya menipu. Wass Apa yang membuat Muhammad Syarif begitu yakin dengan aksi bom bunuh dirinya sebagai sebuah langkah jihad? Padahal, ormas-ormas yang namanya terkait dengan aksi Syarif justru menyatakan tindakan itu haram, bukan jihad, bahkan pengecut. Hanya Syarif dan rekan-rekannya yang tahu. *** Yang jelas, dalam pandangan Abdul Ghafur, ayahanda Muhammad Syarif, tindakan sang anak sangat memalukan keluarga, sangat membebani keluarga. Begitu juga kiranya yang dirasakan umat Islam pada umumnya. Tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh ‘karya’ kontroversial Muhammad Syarif sangat bisa dirasakan dengan jelas dan tegas. Namun, yang masih abstrak adalah siapa yang telah ‘mendidik’ Syarif sehingga ia menjadi sedemikian radikal, dan siapa pula yang membiayai Syarif? Itu semua tidak jelas.

Berbeda dengan Muhammad Syarif, karya kontroversial Hanung Bramantyo tidak begitu bisa dirasakan dengan jelas dan tegas sebagai sebuah kerusakan. Karena kerusakan yang diproduksi Hanung begitu indah dan syahdu. Bahkan melenakan. Namun, siapa yang membiayai Hanung memproduksi kerusakan tadi, terlihat begitu jelas dan tegas.

Kerusakan yang dikemas begitu indah, syahdu dan melenakan, biasanya lebih dahsyat hasil akhirnya. Hanya Allah yang berwenang memberi hidayah atau melaknat mereka yang terlibat di dalam upaya merusak akidah umat, merusak agama Allah. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/antara-hanung-bramantyo-dan-muhammad-syarif/#more4771 Share:
• • • • •

0 Comments

Bukti Hanung Berjiwa Labil dan Sebarkan Virus Menggoyang Iman
15 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 15,2011 Uncategorized

BUKTI HANUNG BERJIWA LABIL DAN SEBARKAN VIRUS MENGGOYANG IMAN Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*

Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede Hanung Bramantyo: “…Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya…” (Hanung Bramantyo ketika diwawancarai radio JIL KBR68H, Rabu tanggal 27 Oktober 2010. ***

Hanung Bramantyo Berkalung Sorban DALAM PERSPEKTIF KEIMANAN, boleh jadi ada yang punya kesan bahwa Hanung Bramantyo tergolong sosok labil yang beruntung. Kesan seperti itu bisa mencuat setelah membaca transkrip wawancara antara Hanung dengan radio milik komunitas liberal yaitu KBR68H. Wawancara secara live antara Hanung dengan KBR68H berlangsung pada hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010, dan turut disiarkan oleh 40 jaringan radio liberal yang ada di kawasan Nusantara ini. Transkrip wawancara tersebut kemudian dipublikasikan melalui situs JIL, beberapa hari setelah wawancara live berlangsung. Hanung yang berasal dari keluarga Islam dan bersekolah mulai TK hingga SMA di lembaga pendidikan milik ormas Islam, bahkan sempat nyantri di salah satu ponpes yang dikelola ormas Islam, ternyata tidak luput dari pasang surut iman yang membawanya kepada dunia sekuler. Selama bertahun-tahun ia tidak shalat dan tak shaum di bulan Ramadhan, termasuk saat menggarap film Ayat-ayat Cinta: “…Pada saat proses

pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya…”

Jadi, ketika Hanung menggarap film Ayat-ayat Cinta yang katanya bernuansa Islami itu, ia sama sekali tidak punya motif agamis, tapi murni demi duit, popularitas dan seni. Satu-satunya motif non pamrih dan non materi yang mendorong Hanung menggarap film itu adalah pesan ibunya, mualaf cina yang pernah berpesan: “…kamu kalau sudah bisa membuat film, tolong buat film untuk agama kamu…” Dalam keadaan tidak shalat dan tidak shaum Ramadhan itulah, proses pembuatan film Ayat-ayat Cinta banyak mengalami kendala. Bahkan ketika film itu rampung dan siap diputar di berbagai bioskop, Hanung masih was-was. Kalau saja boleh berandai-andai film Ayat-ayat Cinta gagal secara komersial, dan produsernya menanggung rugi, serta kredibilitas Hanung sebagai sutradara muda runtuh, boleh jadi Hanung akan semakin jauh dari agamanya, yang sudah ia tinggalkan sejak SMA, apalagi sejak ia menuntut ilmu di IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Tidak syak (diragukan) lagi, Allah Maha Mengetahui segala hal. Astaghfirullah, ternyata film Ayat-ayat Cinta laris manis. Bahkan berhasil mencatatkan jumlah penonton terbanyak, sebelum akhirnya dikalahkan oleh film Laskar Pelangi. Maka Hanung pun menuai rupiah yang tak terduga. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta menjadi titik balik Hanung di dalam mengakui Allah. Hanung pun umrah. “…Ketika masuk ke gerbang Masjidil Haram melihat Ka’bah, oh ya Allah, merinding sekali. Saat melihat Ka’bah,

lutut saya tidak bisa digerakkan. Saya langsung jatuh, bruk. Di situ itu saya baru bilang, Allahu Akbar…” Boleh jadi bagi Hanung, film Ayat-ayat Cinta banyak memberi kejutan. Tidak hanya berupa materi dan popularitas, tetapi juga protes. Terutama dari kalangan aktivis perempuan yang anti poligami. Menurut mereka, film Ayat-ayat Cinta diangap berpihak kepada konsep poligami melalui adegan-adegan yang manusawi dan alasan-alasan yang tidak bisa ditolak. Sejumlah wanita yang semula menyikapi poligami begitu sinis dan emosional, setelah menyaksikan film Ayat-ayat Cinta sikap mereka jadi lebih proporsional dan manusiawi.

Sidang Perceraian Hanung dengan Mantan Istri Pertama Kejutan lain yang dituai Hanung dari kesuksesan film Ayat-ayat Cinta adalah kehidupan cintanya mulai berbunga kembali. Hanung adalah duda satu anak yang sempat menyianyiakan istri dan anaknya saat ia masih berada di dunia ala jahiliyah, kemudian mendapat tambatan hati seorang perawan berjilbab gaul yang suka menghisap rokok, dan salah satu pendukung film Ayat-ayat Cinta juga. Kini mereka sudah menikah dan punya seorang anak.

Hanung Bramantyo, Zaskia dan anak mereka Rupanya, Hanung adalah sosok yang terkesan konsisten membela kekafiran berfikir ala aktivis kesetaraan gender dan aktivis liberal. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta yang dianggap mengkampanyekan poligami, langsung dia balas sendiri dengan membuat film

Perempuan Berkalung Sorban. Menurut Hanung, “…Film ini adalah hutang saya pada kaum perempuan yang sebelumnya kecewa dengan film AAC yang dianggap sangat berpihak pada poligami.” (http://www.nahimunkar.com/nomena-sinetron-dan-filmindonesia-bertendensi-merusak-citra-islam/#more-242) Menurut Tabloid Suara Islam, film Perempuan Berkalung Sorban selain mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya, juga terkesan mendukung Komunisme. Misalnya, sebagaimana terlihat adanya pencitraan bahwa sejumlah santri menjadikan buku-buku sastrawan kiri sebagai bacaan wajib. Padahal itu tidak ada dalam novelnya (yang diangkat jadi film itu). Bagi Taufiq Ismail, sastrawan senior, melalui film Perempuan Berkalung Sorban ini, Hanung terkesan “…ingin menunjukkan dirinya kreatif, superliberal, berfikiran luas, tapi dengan mendedahkan kekurangan-kekurangan dan cacat-cela ummat, yang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mengarang-ngarang hal yang tidak ada…”

Taufiq Ismail Boleh jadi Hanung tidak peduli dengan kegusaran Taufiq Ismail. Bahkan tidak peduli dengan kegusaran kita. Terbukti, pada film Sang Pencerah (tentang KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah), Hanung menjadikan Lukman Sardi sebagai pemeran utama. Lukman Sardi sang murtadin (murtad dari Islam dan menjadi Kristen) ini merupakan salah satu putra dari pebiola Idris Sardi. (wawancara suaraislam.com dikutip nahimunkar.com, Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan…….September 26, 2010 10:59 pm, http://www.nahimunkar.com/hanung-kauketerlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan %E2%80%A6%E2%80%A6/#more-3394)

Lukman Sardi Sikap konsisten Hanung membela kekafiran berfikir ala aktivis kesetaraan gender dan aktivis liberal, nampaknya sudah terbentuk sejak ia remaja. Sejak remaja ia konsisten ingin menjadi ledhek. Khususnya dunia teater. Minat besar Hanung ternyata tidak mendapat dukungan kondusif dari lingkungan sekolahnya, sehingga ia putus asa, kemudian menolak Islam, sekaligus tidak suka dengan Muhammadiyah. Bahkan “murtad”. Sebuah gambaran jiwa yang labil. Meski labil, Hanung masih beruntung, karena pengakuannya terhadap Allah masih bersemi manakala film garapanya Ayat-ayat Cinta laris manis di pasaran. Barangkali begitulah cara Yang Maha Kuasa memasukkan hidayah kepada hamba-Nya yang materialistis. Harus dengan duit dan popularitas. Meski kasih sayang Allah sudah terbukti tercurah kepada Hanung, ia tetap saja betah dengan kekafiran berfikirnya. Sebagaimana terlihat melalui film terbarunya yang diberi judul “?” (tanda tanya). Menurut KH A. Cholil Ridwan (Ketua MUI Bidang Budaya), film garapan Hanung tersebut menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebihlebihan dalam menggambarkan konflik antar agama. Sedangkan menurut Adian Husaini, film “?” sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas. Adian yang sudah menyaksikan langsung film tersebut, berkesimpulan, Hanung ingin menggambarkan kerukunan, tapi justru memberi stereotype yang buruk tentang Islam. Selain itu, menurut Adian, Hanung terkesan meremehkan proses murtad. “Dalam pandangan Islam, orang murtad itu serius, tidak bisa main-main. Tapi dalam film ini, pilihan murtad seolah bukan hal yang serius, yang biasa saja jika orang yang keluar dari agama Islam.” Begitulah bila sosok yang masih labil diserahi menggarap film bertema serius, maka yang akan dihasilkan adalah kesan mempermainkan agama. Apalagi bila sosok labil itu punya bakat sombong, maka ia akan semakin terjerumus ke dalam kekafiran berfikir, bahkan mengajak orang lain untuk juga terjerumus ke dalam kekafiran berfikir yang sama. Sebab, orang yang sombong cenderung menolak masukan dari orang lain, sehingga ia tidak menyadari kesombongannya, serta tidak menyadari kekafiran berfikirnya. (haji/tede/nahimunkar.com)

Sumber: http://www.nahimunkar.com/bukti-hanung-berjiwa-labil-dan-sebarkan-virusmenggoyang-iman/#more-4668 *** Naskah lengkap wawancara Hanung Bramantyo dengan KBR68H yang dipublikasikan situs JIL (Jaringan Islam Liberal) pada 01 November 2010. Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”

Film-film yang dibuat oleh Hanung Bramantyo belakangan ini selalu berhubungan dengan persoalan agama. Tercatat misalnya film Perempuan Berkalung Sorban, AyatAyat Cinta dan Sang Pencerah. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya film-film “religius” itu, Vivi Zabkie dan Saidiman Ahmad mewawancarai sang sutradara. Wawancara ini disiarkan langsung, Rabu, 27 Oktober 2010, dari KBR68H bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan disiarkan 40 radio di seluruh Indonesia. Ketika Anda membuat film ber-genre keagamaan, ini kebetulan saja, ada misi khusus, atau ini bagian dari pencarian? Sebenarnya kalau komentar salah seorang teman, saya dituduh memiliki misi menyusupi ajaran Islam secara radikal. Keren sekali itu tuduhannya. Ya seperti itu. Mencoba untuk menyusupi ajaran-ajaran Islam secara radikal, secara tidak syar’i. Tuduhannya seperti itu. Dan itu terjadi setelah saya membuat film Perempuan Berkalung Sorban. Terus embel-embelnya banyak sekali karena film itu berangkat dari novel yang dibiayai oleh Ford Foundation. Kemudian seolah-olah Amerika berada di belakang saya. Gagah sekali ya… Sebenarnya, berbicara soal film agama itu karena saya berasal dari komunitas Islam. Bapak saya di Jogja dulu ketua Majlis Ekonomi Muhammadiyah. Dari kecil saya di Kauman sekolah di TK Aisyiah Bustanul Athfal. Itu TK-nya Muhammadiyah juga. SD, SMP, SMA di Muhammadiyah juga. Dulu saya sempat nyantri di Klaten di tempatnya Kiai Siraj, pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Jadi memang saya dekat dengan komunitas Islam. Keluarga saya adalah keluarga Islam yang taat. Ibu saya Cina muallaf, gitu. Ayah dan kakek saya itu dikenal sangat dekat sekali dengan ulama. Jadi komunitas Islam itu bagian dari tempat bermain saya. Setiap kali Ramadhan, saya tidak pernah absen menjadi panitia Ramadhan di masjid di kampung saya.

Remaja masjid juga ya…. Remaja masjid juga. Nah, tiba-tiba saya menjadi sekuler, sempat menjadi sekuler, pada saat saya duduk di bangku SMA Muhammadiyah. Dari SD kelas empat saya sudah bergelut dengan dunia teater. Saya dikenalkan pada dunia teater itu justru di kelompok masjid. Jadi teater masjid gitu. Namanya dulu teater al-Kautsar. Saya masuk di situ dan berkecimpung dengan dunia pentas. Dulu di Jogja pentasnya di Samisono. Samisono itu seperti Graha Bhakti Budaya kalau di Jakarta. Kalau sudah pentas di situ, sudah seniman gitu lho. Nah, pada saat itu saya merasa bahwa dunia panggung adalah kehidupan yang nyaman. Angkatan saya banyak memang, tapi yang masih bertahan di dunia panggung cuma saya. Akhirnya berlanjut sampai SMA. Di SMP saya didukung oleh guru Bahasa Indonesia saya. Ibu Harianti, namanya. Hobi saya berteater itu mendapatkan dukungan setiap kali ada acara sekolah, baik acara peringatan Isra’ Mikraj atau Maulid Nabi Muhammad di SMP Muhammadiyah. Anda selalu tampil, gitu? SMP Muhammadiyah III selalu membuat acara panggung. Dan kepala sekolahnya memang agak seniman. Maksudnya, dia sangat terbuka. Jadi Anda tumbuh di tempat yang memang pas? Ya. SMA itu justru kebalikannya. Di SMA Muhammadiyah I Jogjakarta waktu itu. Pada saat saya masuk, teater sudah dibubarkan oleh kepala sekolah karena dianggap tidak ada kegiatannya. Akhirnya saya putus asa. Saya langsung bilang sama bapak saya. Sementara teman saya yang satu angkatan di SMP tidak satu SMA. Dia di SMA I Teladan yang ada teaternya dan sedang giat. Langsung ngiri dong? Ya, langsung ngiri saya. Terus saya bilang sama ayah, saya tidak suka saya sekolah di SMA Muhammadiyah. Saya mau keluar cari sekolah yang ada teaternya. Saya dimarahi sama ayah. Bukan karena saya ingin keluar dari sekolah itu hanya karena melihat teaternya. Bukan. Saya keluar karena putus asa. Terus ayah saya bilang, kalau memang tidak ada teater di situ, ya kamu yang bikin. Jadi jangan ngikut. Biarkan saja teman kamu bubar, biarkan teman kamu itu ikut teater-teater di SMA mereka masing-masing, tidak masalah. Kalau memang tidak ada, kamu bikin. Itu namanya pemimpin. Ayah saya bilang seperti itu. Ini menarik sekali. Soal Anda hidup berkesenian dan Anda ternyata dari Muhammadiyah dan bersekolah di Muhammadiyah. Pernah ada pertentangan? Nah, ini kelanjutannya. Pada saat saya membuat teater di situ, pertentangan pertama datang dari kepala sekolah. Ia tidak suka dengan kesenian teater itu karena image teater adalah seniman jalanan, seniman yang tidak syar’i. Akhirnya ada lokakarya teater SLTA

se-Daerah Istimewa Jogjakarta. Undangannya saya lihat itu. Terus saya minta persetujuan dari sekolah untuk ikut dan disetujui. Diam-diam kita keluar ikut lokakarya itu. Ternyata tidak sampai itu saja. Setelah lokakarya, harus ada festival. Jadi pulang harus bikin teater dan difestivalkan. Itu problem lagi buat saya. Sudah diam-diam; bagaimana ini harus tampil. Yang tampil khan tidak cuma tiga orang. Kalau lokakarya tiga orang tidak apa-apa. Tapi kalau tampil minimal lima orang. Bagaimana cari dua orang lagi? Akhirnya saya bergerilya di situ. Waktu itu kita tidak boleh berteater karena teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i. Misalnya seperti ini: waktu itu ada adegan begini. Saya mementaskan sebuah naskah tentang tempat di bawah jembatan Kali Code. Jembatan Kali Code itu ada komunitas pelacur, preman, gitu kan. Saya menampilkan itu. Di situ harus pelacurnya pakai jilbab. Saya bilang, apa tidak lucu?! Kalau di Iran atau Mesir, barangkali ada yang begitu itu ya… Ya. Ini kan pelacur. Di Jogja pula. Ya. Di Jogja masak pelacur pakai jilbab. Apa tidak mencoreng nama Islam? Saya bilang begitu. Pokoknya semua yang tampil di atas panggung harus islami. Udah, bagaimana caranya pokoknya harus islami. Akhirnya saya ganti, bukan pelacur, tetapi perempuan tomboy. Perempuan tomboy boleh dong pakai jilbab. Oke, pada saat adegan si preman ketemu ibunya, kebetulan ceritanya si ibu itu mencari-cari anaknya yang sudah lari sejak umur limabelas tahun. Ternyata gedenya jadi preman. Ketemu di situ, cium tangan dong, memeluklah. Tidak boleh lagi?… Ya, tidak boleh lagi karena itu bukan muhrim. Saya berdebat segala macam panjang sekali. Bagaimana sih ibunya. Itu kan jadi klimaks dalam sebuah tontonan. Kalau tidak memeluk, ya paling tidak cium tanganlah. Kalau tidak ada adegan begitu, tidak klimaks. Akhirnya saya ngomong dengan mazhab seni, dia ngomongnya dengan mazhab syafi’i. Dia keluarkan ayat ini dan itu bahwa perzinaan itu tidak hanya zina tubuh, tapi juga zina mata, zina. Begitu… Ini debat dengan kepala sekolah tadi? Ya, dengan kepala sekolah di situ. Intinya saya give up. Akhirnya ya sudahlah. Kalau memang tidak ada teater, ya sudah. Yang penting saya sudah merasa pernah berbuat sesuatu. Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi “murtad”. Perjalanan hidup Anda saja menarik untuk dijadikan film, seru banget gitu.

Seru sekali. Kita ingin tahu penjelasan Anda menjadi “jauh dari agama” ketika itu. Intinya setiap orang punya sesuatu yang dipakai untuk eksistensinya. Eksistensi itu kebutuhan mendasar manusia. Ketika dia bisa eksis. Dengan energi, pikiran dan obsesi dia merasa hidup. Dia merasa ada. Saya merasa bahwa keinginan saya untuk eksis itu diharamkan. Itu kan sudah mengebiri saya, membuat diri saya menjadi seorang yang salah lahir. Akhirnya saya menyalahkan takdir, menyalahkan hidup saya. Kenapa saya harus menyukai teater kalau ternyata teater atau seni itu diharamkan oleh agama saya? Dulu sempat, saking sengitnya berdebat, saya marah sekali. Karena saya nakal dan ngaco, sempat kepala sekolah saya itu bilang bahwa darah kamu itu halal untuk saya tumpahkan. Kepala sekolahnya ngomong seperti itu? Ya. Kepala sekolahnya ngomong seperti itu. Berarti kan… Anda takut ketika dibilang halal darahnya seperti itu? Ya iyalah. Takutlah. Apalagi saya siswa SMA dan dia adalah kepala sekolah dan ulama. Dia dikenal sebagai ulama pada waktu itu. Dia sering mengisi pengajian sebagai seorang ustaz yang disegani. Ibu saya dan masyarakat pengajian di kampung saya juga tahu bahwa kepala sekolah itu seorang ulama terpandang. Ketika dia bilang darah saya halal untuk ditumpahkan, berarti saya dosa dong. Nah, akhirnya saya bertanya, apakah Islam sekejam ini? Saya kemudian nyantri di pesantren Kiai Siraj, NU. Kok milih pesantren NU? Kan latar belakang pendidikan Anda Muhammadiyah? Kebetulan Kiai Siraj itu kakek saya. Kakek tapi tidak sedarah. Orang Jawa itu kan kalau dekat sedikit dianggap sebagai simbah, pakde, meskipun tidak sedarah. Nah, saya nyantri ke sana. Saya senang karena ada kesenian di sana. Keseniannya itu bersalawatan, bertabuh-tabuhan dan ada nyanyian di sana. Jadi agama itu menjadi menarik, menjadi punya warna di situ. Karena itu saya betah di situ. Tapi memang pada awalnya saya merasa sedang mencoba membunuh hasrat saya. Jadi membunuh keinginan saya bahwa saya santri. Saya ingin memperdalam Islam dan tidak mau memperdalam kesenian. Saya ingin mengetahui Islam lebih jauh. Dan justru ternyata di sana Anda menemukan kesenian. Ya. Saya menemukan kesenian di situ. Dari situ saya mencoba mendalami kesenian lebih jauh, gitu. Apakah Anda punya rencana bikin film soal Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan judul, misalnya, Sang Pengayom?

Soal Sang Pengayom Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, memang ada rencana. Sebenarnya Sang Pencerah itu ada sequel-nya. Jadi ada lanjutannya? Ya, ada lanjutannya. Karena sebenarnya Muhammadiyah tidak hanya Kiai Ahmad Dahlan, tidak hanya berhenti pada saat Muhammadiyah berdiri. Tapi ada hal yang lebih esensial yang harus beliau lakukan setelah Muhammadiyah itu berdiri. Justru pada saat Muhammadiyah berdiri, itu titik awal sebenarnya. Titik awal Kiai Ahmad Dahlan memulai perjuangannya. Dari situ saya kasih judul Sang Penanda. Jangan-jangan sudah mulai digarap? Kita sedang riset sekarang. Apakah bisa tayang tahun 2011 atau tahun 2012, tergantung dari riset saya sekarang ini. Nah, di dalam Sang Penanda itu, Kiai Ahmad Dahlan akan berhubungan dengan banyak orang, dengan banyak tokoh. Karena tahun 1912 atau 1900an adalah awal masa pergerakan, lahirnya pergerakan. Karena banyak sekali priayi dan intelektual muda yang lahir dari priayi-priayi karena disekolahkan oleh Belanda. Belanda kan membuka politik etis, kemudian pribumi bisa sekolah. Akhirnya bisa pintar, bisa kritis. Maka, muncullah tokoh-tokoh pergerakan seperti Haji Samanhudi, HOS Cokroaminoto, Semaun dan lain-lain. Nah, Kiai Ahmad Dahlan itu ada di tengah pergerakan yang sedang hangat ketika itu. Di Solo ada Sarikat Dagang Islam. Ada Tirto Adisuryo di Bogor. Karena Muhammadiyah sejalan dengan semua gerakan itu maka seperti ada perahu dan ada angin segar untuk berlabuh ke arah modernisasi. Pada saat berlabuh ke arah modernisasi itulah terjadi gesekan dengan kaum tradisional. Itu titik ketegangannya Ya, gesekan dengan kaum tradisional. Itulah yang akhirnya muncul pada kongres umat Islam di Cirebon tahun 1923. Di situlah pertemuannya Kiai Ahmad Dahlan dengan Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Apakah perjalanan hidup Anda mempengaruhi pandangan-pandangan Anda ketika membuat film dan berkarya di masa berikutnya? Ya, kebetulan dulu saya tidak tuntas nyantrinya karena bentuk pesantren Mbah Siraj itu tidak seperti pesantren Gontor atau Tebuireng. Berapa lama Anda nyantri di situ? Kira-kira tiga bulan sampai lima bulan. Tapi setelah itu, setiap Jumat, Sabtu dan Minggu saya tidur di sana, mengaji segala macam. Akhirnya saya keluar dan melanjutkan aktivitas kesenian saya di Jakarta dengan masuk di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sebelum itu saya sudah berkecimpung dengan dunia teater, sanggar dan lain-lain.

Di IKJ saya banyak sekali bertemu dengan orang dari berbagai agama. Dari Kristen, Islam, Budha, Hindu, semua ada di IKJ. Mereka memiliki pandangan yang bebas. Saya masuk dalam sebuah pusaran kreativitas yang bebas di situ. Tapi kemudian saya rindu pada satu hal, bahwa nilai-nilai keislaman itu sebenarnya sangat menarik, sangat adem dan mengayomi. Tapi saya tidak mencoba untuk menelusuri itu lebih dalam. Saya tinggalkan dan saya hanyut dalam berkesenian. Saya membuat film Brownis dan Catatan Akhir Sekolah. Begitu saja saya menikmati hidup. Akhirnya sampai pada titik kesempatan Ayat-Ayat Cinta. Sepanjang dari film Brownis sampai film Ayat-Ayat Cinta itu saya tidak bersinggungan dengan agama Islam sama sekali. Itulah masa-masa sekuler, kalau bisa disebut? Ya, itulah masa-masa sekuler itu di situ. Pada saat saya melihat novel Ayat-ayat Cinta itu saya kemudian teringat ibu saya. Pada saat saya hijrah pertama ke Jakarta, pesan ibu saya, kamu kalau sudah bisa membuat film, tolong buat film untuk agama kamu. Itu ibu saya yang Cina, yang muallaf. Itu amanat dari ibu saya, bukan dari bapak saya. Bapak saya dari lahir sudah Islam. Tapi ibu saya muallaf. Jadi kata-kata itu justru muncul dari ibu saya. Saya pikir kata-kata ibu saya itu hanya sambil lalu saja. Ya, namanya juga ibu, menasihati itu biasa. Tapi saat saya melihat novel Ayat-Ayat Cinta itu, lantas terdengar suara ibu saya itu. Akhirnya, ya sudah lah. Oke, ini amanat dari ibu, begitu pikiran saya ketika itu. Novel itu saya baca. Terus terang, jujur saja, novel itu jelek sekali. Kenapa jelek sekali, karena … Penulisnya marah nanti Saya sudah bilang seperti itu pada penulisnya. Kenapa jelek sekali, karena tokoh Fachry dalam novel tersebut sangat too good to be true. Sangat ideal Ya, sangat si boy sekali. Dulu kan ada Catatan si Boy. Udah ganteng, kaya, dicintai, baik, alim lagi. Ini juga seperti itu. Si Fachry itu. Hanya kelemahannya Fachry itu miskin. Nah, akhirnya saya menemukan satu hal di situ, bahwa cerita tentang Islam itu penuh dengan cinta; Islam itu mengedepankan sabar dan ikhlas dan tidak melakukan penyerangan, tidak melakukan anarkhi, kekerasan. Itulah yang saya ambil dan saya serap. Akhirnya saya adaptasi menjadi sebuah skenario. Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua. Akhirnya pada saat saya membuat itu, idealnya saya syuting di Kairo. Pada saat saya datang ke Kairo, melihat pemandangan di sana. Wah, di kepala saya sudah yakin bisa syuting di sini. Harus syuting di sini. Sudah potret segala macam. Saya menemui produsernya dan saya katakan bahwa anda akan dapatkan film yang sangat bagus. Percaya pada saya, filmnya akan sangat bagus. Nah, ketika saya bilang itu, artinya saya

sudah melupakan Tuhan. Saya sudah melupakan segala macam. Pada saat disetujui, saya langsung merasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi ternyata saya tidak bisa syuting di Mesir, dilarang, saya tidak mendapatkan ijin. Karena tidak mendapatkan ijin syuting di Mesir, berarti saya kehilangan lokasi, saya kehilangan momen, dan saya kehilangan aktor. Aktor seperti Aisyah dan Naura seharusnya orang Mesir asli. Tapi saya kehilangan itu semua. Saya sudah kehilangan semuanya. Bagaimana ini, masih dilanjutkan atau tidak? Dilanjut, saya bilang begitu. Bagaimana caranya harus dilanjut? Saya semakin merasa tertantang. Akhirnya dilanjutkan. Intinya kita harus bisa menciptakan. Tidak bisa syuting di Mesir, tidak apaapa, kita cari lokasi di Indonesia… Akhirnya ketemu di Semarang. Wah, saya puas sekali. Tuh, kan saya bisa melakukan sesuatu karena saya menggunakan otak saya. Oke, satu hal seperti itu. Kemudian syuting semua sudah selesai. Tinggal satu hal: kalau tidak ada padang pasir, tidak ada Piramid, tidak ada unta, Mesir, bagaimana? Sementara novelnya sangat rinci menggambarkan tentang Mesir. Ekspektasi saya sangat tinggi karena saya sudah melihat resensi dan tanggapan soal film itu di internet. Mereka berharap bahwa film itu harus sesuai dengan novelnya. Itu semakin membuat saya takut. Akhirnya kita harus cari cara, pokoknya kita harus syuting di sana. Udah deh, lima orang saja yang berangkat ke Mesir: sutradara, kameramen dua orang, sound dan produser. Lima orang saja, masak tidak bisa mengambil gambar sembunyi-sembunyi di Mesir. Akhirnya saya ngurus visa di sana dan ternyata tidak boleh, tidak dapat visa. Sekalipun alasannya untuk berkunjung? Ya. Saya sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tetap tidak boleh. Ya sudah bagaimana caranya bisa berangkat saja. Kemudian kita pakai maskapai SQ, tapi ketika di Bandara Soekarno-Hatta, SQ menolak dan tidak mau memberangkatkan kami ke Mesir. Mereka tidak mau berspekulasi menerbangkan orang yang tidak punya visa. Akhirnya sudah lepas semua. Kalau tidak dapat Piramid, onta dan padang pasirnya sajalah. Saya punya foto Piramid nanti di-scan kemudian dikasih burung yang bergerak. Selesai, gampang. Saya minta onta dan padang pasir saja. Saya cari di Google padang pasir yang terdekat dengan Indonesia dan ketemu di India. Sebenarnya ada yang lebih dekat, tapi tidak ada koneksi ke sana. India, kebetulan produsernya orang India. Kita jalan ke sana. Sembilan belas orang berangkat ke sana. Empat pemain, sisanya adalah kru dan sutradara. Lokasinya ada di daerah Jodpur. Dari Bombai sampai Jodpur itu seharusnya kita naik pesawat. Ternyata kita tidak dapat pesawat. Tetapi saya tetap ngotot meski tidak dapat pesawat. Sebelum itu, kontrak semua kru sudah habis. Karena syuting mundur, mundur, kontrak kru hanya enam bulan sehingga kru tidak bisa membantu saya. Kemudian saya melobi. Saya lakukan lobi, tolong dong ini, demi apalah, akhirnya mereka mau. Mereka mau kerja untuk saya tanpa ada tambahan pembayaran. Sampai di Bombai, seharusnya kita naik pesawat. Karena hanya

ada satu flight dan hanya ada dua kursi buat saya dan produser, saya tidak mau. Akhirnya kita naik bus AC seperti bus AC jurusan Semarang-Jakarta, bukan bus eksekutif. Perjalanan itu melintasi negara, bukan melintasi kota lagi. Yang kita lintasi adalah Gujarat. Setiap kali saya mendapatkan hambatan, saya selalu bertanya pada diri sendiri, apalagi ini Tuhan yang akan Elu kasih ke gue?! Di situ mulai muncul nama Tuhan? Ya, itu terus, mulai dari Mesir. Apalagi ini? Oke, gua jabanin. Lu mau apa gua jabanin, gitu kan. Nah, sampai di situ, oke kita jalan. Saya tanya pada unit lokal di situ, ini berapa jam dari Bombai ke Jodpur? 12 jam. Oh bisa. Saya biasa naik bus 24 jam pergi-pulang Jakarta-Jogja, Jogja-Malang. Semua siap. Sampai perbatasan Gujarat, ternyata tidak ada paper yang lengkap sehingga kita ditahan di situ. Ini belum syuting lho. Di Gujarat saya berhenti, dan kita ada lima belas orang, tidak ada suaka apapun. Kalau kita hilang, ya hilang saja itu. Tidak ada yang nyari juga. Dan, itu ada Riyanti Cartwaight, Carissa Putri dan Ferdy Nuril. Kita ditodong di situ dengan senjata. Sebegitu besar tantangannya Ya. Kita ditodong di situ. Karena bus itu tidak membawa surat-surat lengkap untuk melintasi Gujarat. Lalu dialog dengan Tuhan itu muncul lagi kapan? Itu muncul lagi, ya di situ muncul. Ya Tuhan, aduh sebentar (nangis sejenak). Ini terakhir. Kalau sampai saya hilang di sini, kalau kita semua hilang di sini, ya kita akan hilang begitu saja. Pada saat itu saya sudah pasrah. Gua siap deh, Lu mau ambil juga gua udah siap. Saya bilang begitu. Saya bersama beberapa kru lantas diskusi. Ya sudah. Bagaimana kalau kita balik saja? Sudah tanggung ini. Jalan terus, hadapi semuanya. Ternyata Alhamdulillah kita berhenti di tempat itu hanya lima jam. Kita bisa jalan melintasi. Pada saat jalan itu kita bersorak luar biasa. Senangnya luar biasa. Kita jalan sampai sana, sampai syuting. Sampai lokasi kita sujud syukur Karena kita bisa syuting segala macam. Esok syuting semangat, nih. Tapi tetap ada pertanyaan, apalagi nih? Tapi Anda juga sujud syukur? Ya, tetap. Sudah ada perubahan. Sujud syukur, gitu. Meskipun mungkin belum puasa Ya, belum puasa. Akhirnya esoknya syuting, tapi kamera tidak bisa dipakai. Masih ada terus ada hambatan sampai film sudah selesai syuting. Selesai syuting dan semua sudah senang, semua pulang ke Indonesia. Tapi saya masih tinggal di India karena harus ngedit di India. Hasil syuting yang di Semarang itu sudah diedit lebih dulu, tinggal sisanya yang ada di India. Tempat editingnya itu tidak representatif karena cari yang murah. Kita

ngedit tidak di Bombai, tapi di Cenai. Kalau kita keluar, di Cenai itu kiri-kanan ada gelandangan di mana-mana. Setelah selesai diedit, masuk ke lab. Biasanya, kalau sudah masuk di lab, tinggal ditransfer ke 35mm. Selesai, bisa dibawa pulang. Ternyata, setelah dimasukkan ke situ, dibilang bahwa data-data yang ada tidak connect sehingga harus diedit ulang. Jadi kita melakukan editing ulang di situ seperti kita melakukan editing pada jaman dulu. Dipotong pakai gunting, disesuaikan dengan yang ada di video. Short awalnya di mana, aktingnya di mana. Kalau aktingnya garuk-garuk, endingnya garuk-garuk, ya sudah di situ dipaskan. Itu terus berlanjut sampai selesai dan kita balik ke Indonesia. Pada saat balik ke Indonesia, kita lihat hasilnya gambarnya scratch. Scratch itu seperti film lama itu. Seperti film G30S PKI itu. Itu film lama kan? Aduh, ini tidak bisa tayang. Di situ, apalagi sih Tuhan, ya Allah apalagi sih? Akhirnya ada yang bilang ini bisa diatasi kalau kita melakukan produksi di Thailand. Berarti harus diperbanyaknya di Thailand. Ya, harus diperbanyak. Film itu di-copy lagi di Thailand. Kita bawa copy-nya ke Thailand. Pada saat sudah selesai semuanya di Thailand, kita bawa ke Indonesia dan tercegat di imigrasi. Tidak boleh masuk ke Indonesia karena itu dianggap barang impor. Anda mempertanyakan lagi ketuhanan, dan ketika pada puncaknya, Anda merasa? … Akhirnya saya merasa begini: Ya Tuhan, oke deh. Oke saya bilang begitu. Kalau film ini sukses, itu bukan karena gue, tapi karena Kamu. Mengapa? Karena semua yang ada di otak saya tidak ada di film ini: tidak ada Mesir, tidak ada aktor Mesir, tidak ada Piramid. Film ini sudah jauh dari novelnya. Artinya, penonton akan mengamuk, akan marah dan pasti tidak ada yang nonton. Dan, karir saya habis. Itu yang ada di otak saya. Tapi, kalau film ini sukses, semua karena Kamu. Di situ, boleh disebut, barangkali kesombongan Anda pada Tuhan runtuh? Sudah runtuh karena Kamu, ya Allah. Saya menyebut nama Allah itu tidak bisa. Saya menyebut nama Tuhan. Tuhan, udah, ini karena kuasa-Mu, Tuhan, ya sudah. Habis dari Thailand bisa masuk, bisa preview dan bisa premier. Biasanya kalau ada adegan premier saya ikut nonton. Ini tidak, saya di luar, takut. Tadinya saya tidak mau dateng ke premier. Tapi waktu itu dipaksa oleh produser. Kamu harus tetap ikut, kemudian satu per satu penonton yang keluar matanya sembab. Dia memeluk saya, terus mengucapkan selamat dan segala macam. Tapi dalam hati saya berkata bahwa mereka undangan, tidak bayar. Jadi mereka akan bilang film itu bagus. Oke, saya tunggu film ini di gedung 21, saya tunggu. Hari pertama 50 ribu penonton di seluruh Indonesia. Padahal, film-film sebelumnya biasanya hanya 10 ribu sampai 15 ribu. Ini hari pertama 50 ribu. Hari kedua 60 ribu, hari ketiga 80 ribu, hari keempat 100 ribu sampai tiga minggu 100 ribu. Kita seperti dapat bonus jekpot itu loh, cring criing criing. Saya dikasih tahu, hari ini 100 ribu. Dalam hitungan 1 minggu saya dapat 600 ribu penonton, dalam hitungan 2 minggu saya dapat 2 juta penonton, 3 minggu 3 juta penonton.

Pada saat itu Anda masih berdialog dengan Tuhan? Pada saat itu, ya sudah, ini semua adalah karya-Mu bukan karyaku.Setelah itu saya baru merasa harus melihat kiblat. Saya harus melihat Mekah. Waktu itu saya datang dan langsung bilang kepada ibu bahwa saya mau umroh. Itu film berarti semacam titik balik buat Anda? Sebelum masuk Mekah, baru sampai Jeddah, dada saya sudah bergetar tanpa sadar. Saya sudah mengucapkan labbaik allahumma labbaik itu di perjalanan dari Jeddah. Kebetulan saya tidak ikut paket-paket umroh yang disediakan. Saya bareng adik saya yang kebetulan sudah ada di sana. Saya sudah pakai pakaian ihram di Jeddah langsung ke Mekah. Biasanya, kalau turun dari Jeddah kan langsung ke Madinah, dari Madinah baru ke Makkah. Ini tidak, dari Jeddah saya langsung ke Mekah. Jadi miqot saya harus di atas pesawat, kemudian turun sudah berpakaian ihram. Dari Jeddah menuju ke Ka’bah itu saya sudah bergetar. Ketika masuk ke gerbang Masjidil Haram melihat Ka’bah, oh ya Allah, merinding sekali. Saat melihat Ka’bah, lutut saya tidak bisa digerakkan. Saya langsung jatuh, bruk. Di situ itu saya baru bilang, Allahu Akbar. Itu di situ saya bilang. Bagaimana Anda berdialog dengan Tuhan padahal sebelumnya Anda melawan terus-menerus? Ya itulah kenyataannya. Tapi setelah itu tidak kemudian langsung jadi alim, gitu. Tidak. Saya berada di puncak karir. Pada waktu belum ada yang bisa menandingi Ayat-Ayat Cinta dalam perolehan jumlah penonton. Mendadak nama saya dikenal. Semua orang mengenal saya, media asing dan kemudian media lokal. Di situ, saat karir naik, saya justru merasa berada pada karir paling rendah dalam religiusitas. Akhirnya saya sering merasa rendah dalam hidup. Saya merasa apa yang saya lakukan selama ini menjadi sekuler, menyakiti ibu saya, menyakiti mantan istri saya pada waktu itu, menyakiti anak saya karena perceraian. Itu semua, hari demi hari, mendapatkan balasannya. Dan teman-teman, para kru yang selama ini menganggap saya sebagai orang yang sangat powerfull, yang punya keinginan itu sangat absolute dan kuat, ternyata jatuh menangis seperti bayi. Seperti anak kecil yang merengek. Jadi saya berada pada titik yang saya tidak tahu dan tidak bisa lepas dari itu semua. Sampai akhirnya, tanpa sadar, saya mengangkat telepon. Dan nomor yang saya pencet adalah nomor mantan istri saya. Saya minta maaf padanya. Saya minta maaf pada anak saya, saya minta maaf pada ibu saya. Pengalaman itu berlanjut terus… Semacam pencarian? Pencucian, ibaratnya begitu. Saya seperti diperes. Ya Allah, luar biasa itu. Tapi kalau kita lihat film-film Anda yang “Islami” itu, sebenarnya Islam yang Anda tampilkan bukan Islam konvensional, tapi Islam yang juga menggugat. Dalam

Ayat-Ayat Cinta ada dialog soal kekerasan di dalam bus, tokohnya menolak kekerasan. Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya. Substansi? Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu. Sebenarnya Tuhan itu ingin apa? Tuhan ingin berbuat apa? Pada waktu pembuatan film Ayat-Ayat Cinta saya selalu minta, gue mau ini, gue ingin itu. Tapi, apakah ini yang terbaik buat saya? Ternyata tidak. Jadi Tuhan memberikan sesuatu yang tidak saya minta, tapi itu yang terbaik buat saya. Dan buat saya, itu bukan sesuatu yang konvensional. Tema apa dalam film yang selanjutanya akan Anda garap? Film berikutnya tentang Islam. Film itu berisi tentang bagaimana di dalam sebuah masyarakat saya melihat ada orang non muslim. Seperti saya punya teman orang Hindu, tapi dia sangat peduli. Dia melakukan puasa. Setiap Ramadhan dia melakukan puasa karena semua karyawannya puasa. Kenapa dia puasa, karena dia yakin bahwa puasa itu sehat. Makanya dia ikut. Kemudian ada orang terdekat saya yang pindah agama dan dia merasa menjadi sangat terbuka ketika memeluk agamanya yang baru. Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala. Pengalaman itu mempengaruhi pergulatan diri saya dan bagaimana saya, sebagai muslim, menyikapi semua itu. Intinya buat saya, Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang merahmati siapa pun. Tidak ada di situ kata-kata merahmati hanya untuk orang Islam, tidak ada. Tapi merahmati siapa pun dan apa pun. *** Demikianlah wawancara di media JIL. Komentar kami: Mari kita bandingkan, betapa cocoknya antara pengakuan Hanung sendiri dengan komentar seorang Ketua MUI Ahmad Khalil Ridwan. Pengakuan Hanung: Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya. Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium.

Film berikutnya tentang Islam. Film itu berisi tentang bagaimana di dalam sebuah masyarakat saya melihat ada orang non muslim. Seperti saya punya teman orang Hindu, tapi dia sangat peduli. Dia melakukan puasa. Setiap Ramadhan dia melakukan puasa karena semua karyawannya puasa. Kenapa dia puasa, karena dia yakin bahwa puasa itu sehat. Makanya dia ikut. Kemudian ada orang terdekat saya yang pindah agama dan dia merasa menjadi sangat terbuka ketika memeluk agamanya yang baru. Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala. Komentar ketua MUI Ahmad Khalil Ridwan: “Setelah saya menyaksikan film TANDA TANYA, karya Hanung, produksi Mahaka Picture (Kelompok Republika), saya menyatakan; “Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama,” demikian disampaikan KH A.Cholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya kepada redaksi hidayatullah.com, Kamis (07/3) malam. (nahimunkar.com, MUI: Film Karya Hanung Mendukung Orang Murtad April 6, 2011 10:24 pm , http://www.nahimunkar.com/mui-film-karya-hanungmendukung-orang-murtad/#more-4623) Apa yang dikatakan Hanung “orang terdekat saya yang pindah agama” tentunya makna yang paling dapat dimengerti adalah orang Islam yang jadi murtad, keluar dari Islam. Itu yang malah Hanung puji dengan ungkapan Hanung: “Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala.” Betapa tingginya pujian Hanung terhadap teman terdekatnya yang murtad itu. Apakah itu bukan menyebar virus yang menggoyang iman? *Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede adalah penulis buku Lingkar Pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam, Pustaka Nahi Munkar, 2011.

Sumber: http://www.nahimunkar.com/bukti-hanung-berjiwa-labil-dan-sebarkan-virusmenggoyang-iman/#more-4668 Share:
• • • • •

1 Comment

Ramadhan, THR dan Halal bi Halal
12 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 12,2011 Uncategorized

RAMADHAN, THR dan HALAL bi HALAL Oleh John Helmy Mempi

John Helmy Mempi Pengantar: John Helmy Mempi adalah Putra Dayak beragama Islam, ada hubungan kekerabatan dengan Letjen TNI Purn Z.A. Maulani (mantan Kepala BAKIN, kini almarhum), ayahandanya merupakan salah seorang penggagas, perintis dan penggali sumber dana bagi wujudnya Pesantren Hidayatullah yang oleh George Bush (presiden Amerika Serikat kala itu) disebut sebagai pesantren teroris. Orangtua John adalah satu dari sekian banyak sahabat dari almarhum Abdullah Sahid pendiri dan pengelola Pesantren Hidayatullah. Bahkan orangtua John turut menjadi saksi saat Abdulah Sahid menikah. Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina minqablikum la’allakum tattaquun. “Hai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu dari kamu supaya kamu bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183) UCAPAN SELAMAT DATANG datang kepada bulan suci Ramadhan sudah pasti meluncur dari hati orang-orang yang beriman, karena bulan Ramadhan merupakan tamu agung yang membawa keberkahan, ampunan, saat-saat dimana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan para iblis dirantai. Menurut As-Sayid Sabiq dalam bukunya berjudul Fiqh us-Sunnah, Siyam (puasa) adalah menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kegiatan seksual, serta hal-hal lain sejenis itu dari sejak fajar sampai maghrib dengan niat mencari ridha Allah. Namun demikian, berpuasa bukanlah asceticism yang beranggapan bahwa keduniaan dan kehidupan itu hina dan menyesatkan. Puasa tidak menolak naluri makan dan berhubungan seks secara berkelanjutan dan untuk seterusnya, melainkan hanya selama bulan Ramadhan, karena merupakan latihan untuk menguasai diri (hawa nafsu). Sebab, hawa nafsu merupakan penggerak utama manusia dalam mengejar (memenuhi)

kebutuhan terhadap sandang, pangan, papan, dan juga seks. Hal ini berlangsung sepanjang waktu, sehingga kewajiban melatih diri melalui mekanisme puasa adalah selalu relevan. Dengan menjalankan puasa, diharapkan pelakunya dapat turut merasakan kelaparan dan penderitaan orang-orang fakir-miskin sehingga timbul perasaan simpati dan keinginan untuk menolong mereka. Menurut Fazlur Rahman dalam bukunya berjudul Muhammad, Encyclopaedia of Seerah (second edition), puasa memberikan pengaruh positif terhadap pengembangan kepribadian dan kemanusiaan. Pertama, puasa mendisiplinkan diri manusia dan memungkinkan manusia menguasai dan mengendalikan dorongan terkuat dalam diri manusia berupa hawa nafsu. Kedua, puasa mengorientasikan manusia untuk memberi perhatian dan berperilaku yang positif bagi kepentingan ummat dan kemanusiaan. Sayangnya dalam praktek sehari-hari, manifestasi turut merasakan kesulitan fakir-miskin yang diajarkan puasa, tak tercermin sebagaimana seharusnya. Hal in bisa dilihat dari bagaimana sebagian muslim menyikapi saat berbuka puasa. Banyak di antara kita yang berbuka puasa dengan hidangan yang jauh lebih mewah dari hari sebelumnya. Digelarnya acara buka puasa bersama oleh berbagai kalangan, telah menjadi salah satu ajang memperturutkan hawa nafsu. Makanan berlimpah, bermewah-mewah, bahkan melalaikan shalat. Padahal, Rasulullah ketika berbuka puasa hanya mencicipi tiga butir kurma, kemudian langsung menegakkan shalat maghrib berjamaah. Beliau mengendalikan hawa nafsu tidak hanya pada siang hari, namun pada malam hari pun tetap menjaga hawa nafsu dengan tidak berlebih-lebihan saat berbuka, makan malam dan makan sahur. Rasulullah mencontohkan, semakin mendekati akhir Ramadhan, maka amal ibadah kian ditingkatkan. Sayangnya contoh ini sering kali diabaikan. Semakin hari, semakin lepas kendali, bahkan semakin mendekati akhir Ramadhan, sebagian masyarakat jor-joran mendapatkan apa yang dinamakan THR (Tunjangan Hari Raya). Tidak peduli halalharam, upaya mendapatkan THR dilakukan dengan menempuh segala cara, agar bisa bermewah-mewah saat ber-Idul Fitri kelak. Ini jelas salah kaprah yang fatal. Seharusnya memasuki Idul Fitri, setelah sebulan penuh berlatih hidup sederhana dan melawan hawa nafsu, perilaku yang muncul seharusnya bukanlah bermewah-mewah dalam pakaian dan makanan, termasuk bagi-bagi parsel dan sejenisnya. Biasanya, mereka yang getol memburu THR dengan menghalalkan segala cara demi bermewah-mewah pada saat Lebaran, adalah mereka yang sebenarnya tidak menjalankan ibadah puasa dengan baik, bahkan seringkali mereka itu adalah orang-orang yang sama sekali tidak berpuasa. Mereka ingin terlihat ‘menang’ pada saat Idul Fitri menjelang, padahal sesungguhnya mereka hanyalah pecundang.

THR bukanlah ajaran Islam. Tradisi ini mulai dikenalkan oleh nasionalis-sekuler Soekarno, presiden pertama RI. Di masa Soekarno, bahkan pernah dicanangkan pemberian THR sebesar 10 kali gaji bulanan, meski inflasi juga turut melonjak tinggi. Ironisnya, tradisi yang tidak Islami ini justru diterima dengan suka-cita oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Hingga kini, walau cuma sebatas memberikan tunjangan sebesar satu kali gaji. Apalah arti tunjangan Lebaran sebesar satu kali gaji bulanan bila harga-harga sudah membumbung tinggi jauh sebelumnya? Tradisi THR bolehlah dihapuskan, namun pemerintah harus bisa menjamin bahwa selama bulan Puasa dan Lebaran harga-harga bisa jauh lebih murah. Ini jauh lebih demokratis, karena sebagian besar rakyat Indonesia tidak memperoleh gaji bulanan, maka otomatis mereka tidak menerima THR pada setiap Lebaran. Menghapuskan tradisi THR sambil menerbitkan kebijakan harga yang jauh lebih murah selama Ramadhan dan Idul Fitri, manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang, terutama rakyat kecil yang disamping miskin juga tidak menerima THR. Selain THR, ada satu tradisi pasca Ramadhan yang dinamakan Halal bi Halal. Dari sudut pandang bahasa, kata Halal bi Halal yang terkesan berbau Arab ternyata tidak dimengerti oleh mereka yang menguasai bahasa Arab, termasuk oleh orang Arab sendiri. Menurut catatan, tradisi Halal bi Halal bermula dari gagasan sejumlah politisi NU di tahun 1970-an, yang dalam rangka menyikapi adanya ketidak-rukunan nasional, maka ditemukanlah ‘solusi’ berupa Halal bi Halal dengan memanfaatkan suasana pasca Lebaran sebagai momentumnya. Yaitu, mempertemukan sejumlah orang (tokoh politik nasional) dalam satu event. Supaya kelihatan Islami, digunakanlah istilah yang berbau Arab, halal bi halal, padahal orang Arab sendiri tidak paham. Lebih lucu lagi, ketika tradisi itu kemudian diikuti oleh berbagai kalangan non politik, sebagaimana bisa dilihat dari maraknya berbagai acara Halal bi Halal pasca Lebaran yang diselenggarakan oleh berbagai keluarga besar, baik yang bersifat primordial maupun tidak, termasuk keluarga besar yang tergolong intelek (akademisi, perguruan tinggi), bahkan TNI-Polri, juga birokrasi mulai dari yang terendah sampai tertinggi. Tentu akan berpahala besar bagi SBY bila ia mampu mengembalikan makna Ramadhan dan Idul Fitri ke tempat asalnya. Menghapuskan THR sambil menerbitkan kebijakan harga yang jauh lebih murah, menghapuskan tradisi Halal bi Halal dan “open House” selama satu hari pada tanggal 1 Syawal adalah contoh kongkrit di dalam memberi contoh tentang kesederhanaan. Melalui kewenangan politiknya, SBY bisa memberikan pelajaran berharga kepada rakyat Indonesia di dalam memaknai Ramadahan dan Idul Fitri, sehingga rakyat Indonesia tidak lagi menjalankan tradisi hura-hura bersalut aneka kesia-siaan yang jauh dari rahmat dan barakah Allah.

Share:
• • • • •

3 Comments

Apa Itu Syi’ah?
8 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 8,2011 Uncategorized

APA ITU SYI’AH? Prof. Dr. H.M. Rasyidi Pengantar: Tulisan berjudul APA ITU SYI’AH? ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku saku pada tahun 1984 oleh Penerbit Media Da’wah, Jakarta. Salah satu alasannya, untuk memberi pengertian tentang apa itu Syi’ah. Pada masa-masa itu, sebagian umat Islam, terutama dari kalangan generasi muda, begitu terpesona dengan kegigihan dan keuletan pelaku-pelaku revolusi di Iran, sehingga akhirnya dapat menggulingkan rezim Syah Mohammad Reza Pahlevi, yang bertahun-tahun lamanya menjalankan pemerintahan monarki yang zalim di negeri tersebut. Mereka menyangka, keberhasilan revolusi Iran itu identik dengan paham Syi’ah yang sesungguhnya berbeda dengan Ahlus sunnah. Berangkat dari keadaan seperti itu, Prof Dr HM Rasyidi tergerak untuk memberikan pengertian tentang aliran sesat Syi’ah, menjelaskan perbedaannya dengan faham Ahlus Sunnah dan lain-lainnya. Tulisan ini kami publikasikan kembali selain untuk menghormati beliau yang gigih melawan kesesatan, juga untuk menunjukkan keada generasi muda Islam, bahwa perlawanan terhadap paham sesat Syi’ah sudah berlangsung sejak lama.

A. Persoalan Siapa Pengganti Nabi Muhammad saw Sebagai Kepala Negara Terlebih dahulu, baiklah kita sama-sama sadar, bahwa agama Islam banyak disalahfahamkan orang, khususnya di Barat. Sampai saat ini orang selalu mengutip kata Rudolf Otto tentang penjelasannya bahwa agama itu adalah sesuatu yang menakutkan dan mengherankan (tremendum et fascenans). Gambaran tersebut lebih cocok untuk melukiskan agama-agama primitif yang dianut oleh suku-suku terbelakang. Banyak lagi yang menganggap bahwa agama itu sejajar dengan moral, seperti ujar Henri bergson dalam salah satu karangannya: leodeux sources de la morale et de la religion (dua sumber dari agama dan moralitas). Islam tidak dapat disamakan dengan agama primitif, atau sekadar ajaran moral. Ia lebih luas daripada moral. Ia meliputi soal keimanan kepada alam gaib, moral itu sendiri, bermacam-macam ibadat, pemerintahan demokrasi dengan cara musyawarah, hbuungan internasional, ekonomi dan hukum. Hal-hal seperti tersebut itu mungkin masih menjadi bahan cemoohan bagi seseorang yang 100% berfikir secara kebarat-baratan, baik dalam masalah hukum, moral, ekonomi, atau soal-soal metafisika. Dalam sejarah, Nabi Muhammad saw mendirikan negara Islam di Madinah, dengan warganegara Muhajirin, yang mengikuti beliau dari Makkah; dan kelompok Anshar (pembantu, penolong) yang terdiri atas suku-suku penduduk madinah, yakni Aus Khazraj. Nabi Muhammad saw juga mengirim surat-surat antara lain kepada kepalakepala negara dua negara raksasa pada waktu itu, yaitu Kerajaan Persia dan Kerajaan Romawi. Ketika Rasulullah saw meninggal dunia pada 8 Juni 632 M timbullah persoalan pengganti beliau. Jabatan beliau saw ada dua. Pertama sebagai Nabi, perantara yang membawa petunjuk Allah untuk seluruh ummat manusia. Dan kedua, sebagai kepala negara. Jabatan beliau saw sebagai Nabi tidak perlu diganti, karena beliau saw adalah

Nabi yang terakhir. Tetapi sebagai kepala negara, selekasnya harus ditunjuk penggantinya. Soal ini adalah soal pokok yang sangat sulit, apalagi Negara Madinah baru berumur 10 tahun. Suku-suku dari Madinah menunjukkan tanda-tanda ingin mengangkat seorang pengganti dari mereka. Dalam suasana yang kalut, Umar ibn Khattab mengulurkan tangannya kepada abu Bakar agar ia berdiri. Dan setelah Abu Bakar berdiri Umar mengatakan bahwa ia dengan rela hati akan patuh kepada Abu Bakar sebagai pengganti nabi atau khalifah. Dengan ucapan Umar itu semua yang hadir serentak menyampaikan persetujuan mereka. Setelah itu Abu Bakar sebagai Khalifah, bersama-sama Umar dan sahabatsahabat Nabi lainnya, pergi ke rumah Nabi Muhammad saw untuk mengurus pemakaman jenazah beliau saw. B. Mengapa Abu Bakar Yang Terpilih? Timbul pertanyaan orang: Mengapa Abu Bakar yang terpilih? Sesungguhnya banyak tanda yang menunjukkan penghargaan Nabi saw kepada Abu Bakar. Ketika Rasulullah saw sakit, Abu Bakar-lah yang diminta untuk menjadi imam, memimpin ummat Islam melaksanakan shalat berjama’ah. Abu Bakar-lah satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah saw dalam perjalanannya berhijrah ke Madinah; dan beliaulah yang menemani Rasulullah saw ketika bersembunyi di dalam gua Tsaur. Bagaimanapun latar belakang pemilihan itu, para sahabat rasulullah telah setuju, dan abu Bakar kemudian pergi ke masjid mengucapkan pidato singkat yang maksudnya: “Wahai kaum muslimin. Aku telah kalian angkat menjadi penguasa atas kalian, padahal aku merasa bahwa aku bukan yang terbaik di antara kalian. Karenanya, jika aku bertindak benar, bantulah aku. Dan jika aku bertindak salah, perbaikilah tindakanku.” Terdengar dari hadirin ada yang menyambut dengan kata-kata: “Demi Allah. Jika kami melihat suatu kesalahan dari fihakmu, akan kami perbaiki engkau dengan pedang kami.” C. Kecenderungan Kepada Ali Ibn Abi Thalib Tetapi di samping fakta bahwa Abu Bakar telah dipilih sebagai khalifah, terdapat desasdesus bahwa sesungguhnya Ali-lah yang berhak menjadi khalifah. Kecenderungan kepada Ali mungkin didasarkan atas penilaian orang terhadap sifat-sifat Ali, khususnya keberaniannya dalam peperangan, atau keakrabannya kepada Rasulullah sebagai anak pamannya, dan kemudian sebagai menantunya yang dikaruniai Allah dua orang cucu lelaki: Hasan dan Husein. Kecenderungan itu kemudian bertambah, ketika Usman ibn Affan menjadi khalifah ketiga dan kurang berhasil mengemudikan negara secara efisien, dan berakibat dengan terbunuhnya Usman. Simpati terhadap Ali juga berambah ketika Ali diangkat sebagai khalifah keempat dan menghadapi negara yang berada dalam keadaan krisis serta wibawa yang telah lama diremehkan oleh Muawiyah ibn Abi Sofyan yang menjadi gubernur Syria.

Kemudian ada pula orang-orang yang mulai bersimpati kepada keluarga Ali, lama setelah Ali ra wafat, karena mereka dianiaya oleh Kerajaan Amawiyah atau Abbasiyah. Orang-orang Islam yang tidak berkebangsaan Arab bersimpati kepada keluarga Ali, karena selama Kerajaan Amawiyah mereka merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Dan yang terpenting, sekelompok besar orang-orang persia, setelah mereka kehilangan kerajaannya yang megah dan merupakan satu dari dua raksasa pada abad ke-7 Masehi, menunjukkan simpati mereka kepada keluarga Ali. Adapun sebabnya ialah karena bangsa Persia dewasa itu biasa menghormati, menjunjung tinggi bahkan mendewa-dewakan rajaraja mereka. Maka setelah mereka masuk Islam, mereka memandang Nabi seperti mereka memandang Kisra (Raja persia), dan memandang keluarga Nabi sebagaimana mereka memandang Dinasti Persia, dan mereka menganggap bahwa jika Nabi wafat, maka ia harus diganti oleh keluarganya. Ada lagi riwayat yang disebutkan oleh Dr Husein Haikal, pengarang Sejarah Abu Bakar dan Umar, bahwa putri Persia yang terakhir telah dinikahi oleh Husein ibn Ali. Atas dasar ini maka simpati bangsa persia terhadap keluarga Ali mengandung arti memuliakan orang-orang Persia, anak-cucu Husein, yang berdarah keluarga Nabi dan berdarah keluarga Raja Persia. D. Perpecahan Antara Kaum Syi’ah dan Sebabnya Kaum syi’ah tidak merupakan kesatuan. Adapun sebabnya adalah: Pertama, karena mereka berbeda dalam ajaran-ajaran mereka; ada yang mendewadewakan para imam mereka (yang nanti akan kita jelaskan artinya) dan mengkafirkan fihak lain; tetapi ada pula yang moderat dan hanya menganggap keliru terhadap orangorang yang mempunyai faham lain. Kedua, karena keturunan Ali dan para putranya banyak, maka sering terjadi perbedaan dalam menentukan mana yang menjadi imam dan mana yang tidak. Agar menjadi jelas bagi para pembaca, di bawah ini saya kutipkan gambar genealogi Ali ra:

Karena kebanyakan kelompok-kelompok Syi’ah sudah tidak ada lagi, atau tidak penting lagi, maka kita hanya akan membicarakan dua kelompok besar yang masih ada, yaitu Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah. E. Syi’ah Imamiyah dan Zaidiyah Dinamakan Syi’ah Imamiyah karena yang menjadi dasar aqidah mereka adalah soal Imam (dalam arti khalifah). Mereka mengatakan bahwa Ali berhak menjadi khalifah, bukan hanya karena kecakapannya atau sifat-sifat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad saw, akan tetapi karena sudah disebutkan namanya oleh Rasulullah. Imam pertama adalah Ali. Kemudian Hasan, anak pertama. Lalu Husein, anak kedua. Mengetahui namanama mereka termasuk Rukun Iman. Dan oleh sebab Ali telah ditunjuk dengan menyebutkan namanya oleh Nabi saw, maka Abu Bakar dan Umar adalah orang yang merampas hak khalifah dan telah bertindak zalim. Adapun kelompok Zaidiyah di Yaman adalah lebih moderat. Bagi mereka, Rasulullah tidak menunjuk Ali dengan menyebut namanya, akan tetapi hanya dengan deskripsi. Oleh sebab itu mereka tidak menghukum Abu Bakar dan Umar. Bagi Zaidiyah, khalifah Abu Bakar dan Umar itu sah, walaupun Ali lebih utama. Kelompok Imamiyah yang terpenting, adalah Itsna ‘Asyriyah (twelvers, duabelas), karena bagi mereka Imam itu jumlahnya duabelas orang seperti termaktub dalam genealogi. Yang pertama Ali, kemudian Hasan, lalu Husein, sampai imam no. 12, yaitu Al-Mahdi yang menghilang pada tahun 260 H, dan akan muncul kembali pada akhir zaman untuk menyiarkan keadilan dan memusnahkan kezaliman. Keluarga seorang alim, Saifuddin Ishaq, dari tahun 907-1148 H termasuk Itsna ‘Asyriyah. Maka ketika Isma’il Shafawi jadi penguasa di Iran, ia menjadikan aliran Itsna ‘Asyriyah sebagai agama resmi negara, dan menghapuskan aliran Ahlus Sunnah. Ia

meninggal pada tanggal 24 Mei 1524. Dinasti Shafawi dihapuskan oleh Nadirsyah pada tanggal 26 Februari 1737, tetapi agama Syi’ah Itsna ‘Asyriyah tetap menjadi agama negara. Di antara kelompok Imamiyah ada yang mengatakan bahwa imamah berpindah dari Ja’far ash-Shadiq (imam ke-6) kepada Ismail, anaknya, dan tidak kepada Musa alKazhim. Karena itu mereka dinamai Syi’ah Isma’iliyah. Setelah Ismail tampil bergantiganti para imam yang bersembunyi. Bagi mereka, imam boleh bersembunyi jika ia merasa tidak kuat untuk melawan musuh. Mereka mengemudikan propagandispropagandis mereka dari tempat persembunyian mereka. Ketika mereka kuat, imam mereka, yaitu Ubaidullah al-Mahdi, menampakkan diri dan mendirikan Kerajaan Fathimiyah (pada tahun 969 M di Mesir, Tunis dan Maroko). Karenanya, kelompok Isma’iliyah atau Sab’iyah (seveners) dinamakan juga Bathiniyah, karena banyak imam mereka yang bersembunyi. Kelompok Imamiyah Isma’iliyah ini sampai sekarang terdapat banyak di India; pemimpinnya adalah Prince Karim Khan, cucu Aga Khan; ia sekarang menetap di Jenewa. F. Apakah Aqidah Imamiyah Karena soal ini sangat penting, maka kami akan mengutip uraian aqidah Imamiyah ini dari buku mereka sendiri, yaitu Al-Kafi, karangan al-Kulini. Al-Kulini sangat penting di kalangan Syi’ah, seperti al-Bukhari di kalangan Ahlus Sunnah. Bukunya terdiri atas 3 jilid, yang pertama tentang aqidah, sedang jilid kedua dan ketiga tentang furu’. Ia meninggal di Bagdad pada tahun 328 H. Dalam Al-Kafi tersebut bahwa Imam Ali Ridha (Imam ke-8) ditanya:

Hasan ibn al-Abbas al-Ma’rufi menulis kepada ar-Ridha: “Semoga aku jadi penebusmu. Tolong beritahu saya pada beda antara Rasul, Imam dan Nabi.” Ia menulis atau menjawab: “Beda antara Rasul, Imam dan Nabi ialah, Rasul itu yang didatangi oleh Jibril, melihatnya, mendengar kata-katanya dan menerima wahyu, atau mungkin melihat suatu impian dalam tidurnya seperti yang dilihat oleh Nabi Ibrahim. Adapun Nabi, mungkin ia mendengar perkataan, atau melihat orang tetapi tidak mendengar. Adapun Imam adalah orang yang mendengar kata-kata akan tetapi tidak melihat orang yang berkata.” [01]

Dari Abu Hamzah, Abu Ja’far berkata kepadaku: “Yang menyembah Allah adalah orang yang kenal kepada Allah. Adapun orang yang tidak kenal kepada Allah, ia akan menyembahnya secara tersesat.” Aku berkata: “Semoga aku jadi tebusanmu. Kalau begitu apakah arti mengenal Allah?” Ia berkata: “Mengenal Allah berarti percaya kepada Allah, percaya kepada Rasul-Nya, bersandar kepada Ali dan mengikutinya, dan mengikuti imam-imam lainnya, serta mencuci tangan kepada Allah dari hubungan dengan musuh-musuh mereka. Begitulah orang kenal kepada Allah.” [02]

“Barangsiapa tak kenal Allah, walaupun kenal kepada Imam (keluarga nabi), maka hanya kenal dan menyembah kepada Allah.” [03]

Abu Ja’far berkata: “Jika seorang Islam tidak mempunyai imam, ia itu sesat, dan jika ia mati, ia mati sebagai orang kafir dan munafik.” [04]

Allah berfirman (yang artinya): “Dan Kami jadikan baginya (Muhammad) cahaya, dan dengan cahaya itu ia berjalan di antara manusia.” (Al-An’am:122). Yang dimaksud dengan cahaya ialah Imam yang diikuti.

Allah berfirman (yang artinya): “Barangsiapa membawa hasanah, ia akan diberi yang lebih baik, dan pada hari itu ia aman dari ketakutan. Dan barangsiapa membawa sayyi-ah, maka wajah-wajah mereka akan diperosokkan ke neraka.” Hasanah adalah pengetahuan tentang wilayat (kewalian) dan cinta kita kepada keluarga nabi. Dan sayyi-ah adalah ingkar kepada wilayat dan tidak cinta kepada keluarga nabi. [05]

Ridha berkata, “Manusia itu hamba-hamba kami dalam ketaatan, dan maula (bekas budak yang telah bebas-merdeka) bagi kita dalam agama. Maka hal ini harap disampaikan kepada yang belum mendengarnya.” [06]

Abu Ja’far berkata, “Kami ini almari pengetahuan Allah, penerjemah wahyu Allah, bukti yang nyata bagi manusia, antara langit dan bumi.” [07]

“Imam-imam itu adalah cahaya Allah yang tersebut dalam Qur’an (yang artinya): ‘Maka percayalah kepada Allah dan Rasul-Nya serta cahaya yang Kami turunkan.’ Dan cahaya Imam dalam hati orang mu’min lebih terang daripada matahari pada siang hari. Dan Allah menutup cahaya Imam-imam tersebut kepada siapa yang Ia kehendaki, maka gelaplah hati mereka.” [08]

“Para Imam adalah paku-paku bumi agar jangan menggoyangkan penduduknya. Mereka adalah bukti nyata bagi makhluk yang berada di atas bumi atau di bawahnya.” [09]

Ridha berkata, “Imamah berada pada tingkatan para nabi, warisan para yang mendapat wasiat. Imamah adalah pengganti Allah, pengganti nabi, kedudukan Amirul Mu’minin dan warisan Hasan dan Husein. Imamah adalah kendali agama, sistem ummat Islam, keberesan dunia, dan kebesaran mu’min.” [10]

“Imam itu menghalalkan yang dianggap halal oleh Allah, dan mengharamkan yang dianggap haram oleh Allah. Ia menegakkan hukum-hukum Allah, mempertahankan agama Allah, mengajak kepada jalan Allah dengan kebijaksanaan nasihat yang baik dan argumentasi yang kuat. Imam adalah satu-satunya di dunia, tak ada yang mendekatinya, tak ada yang dapat menggantinya. Ia diistimewakan oleh Allah dengan pemberian khusus, tanpa minta dan tanpa usaha. Manusia sering salah pilih bahkan berbohong jika mereka itu meninggalkan keluarga Imam dengan insaf. Jika Allah memilih seseorang untuk mengurus ummat, Ia melapangkan hatinya, mengisinya dengan kebijaksanaan dan ilmu. Ia tidak akan salah. Ia ma’shum, benar, tak dapat salah. Firman Allah (yang artinya): Itulah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah jualah yang memiliki anugerah yang besar.”

Abu Abdillah berkata, “Amal-amal manusia akan diperlihatkan kepada Nabi dan imam. Allah telah berfirman (yang artinya): ‘Allah akan melihat amal-amal kalian. Begitu juga Rasul-Nya dan para Imam.’ Abu Abdillah berkata: “Al-Mu’min adalah para Imam Syi’ah.” Abu Abdillah juga berkata: “Kami adalah pohon kenabian, rumah rahmat, kunci kebijaksanaan, tempat risalah, tujuan malaikat, tempat rahasia Allah. Kami adalah titipan Tuhan di antara hamba-hamba-Nya. Kami adalah janji Tuhan. Barangsiapa patuh kepada janji kami, ia telah patuh kepada janji Allah. Dan siapa yang menyalahinya, ia telah menyalahi janji Allah.”

“Para Imam itu memiliki semua kitab yang diturunkan Allah. Mereka memahaminya semuanya, walapun bahasanya bahasa asing.” [11]

“Kemudian Allah memberikan kepada Imam kitab yang mengandung keterangan tentang segala sesuatu.” [12]

“Sesungguhnya yang mengumpulkan Qur’an semuanya adalah para Imam, dan mereka mengetahui semua Qur’an. Berdustalah orang yang mengatakan bahwa ia telah mengumpulkan semua isi Qur’an, karena tak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya seperti waktu diturunkan kecuali Ali ibn Abi Thalib dan para Imam sesudahnya.” [13]

“Para Imam itu memiliki Mush-haf Fathimah. Besarnya tiga kali lipat Qur’an biasa dan tidak mengandung satu huruf pun dari Qur’an yang ada.” [14]

Abu Ja’far berkata, “Allah mempunyai dua macam ilmu: satu macam khusus untuk diketahui sendiri, dan satu macam lagi untuk diajarkan kepada malaikat dan Rasul-Nya. Apa yang Allah ajarkan kepada malaikat dan rasul-rasul-Nya, kami (para imam) mengetahuinya.” [15]

“Para Imam itu jika ingin mengetahui sesuatu, Allah menunjukkan kepada mereka. Mereka tahu kapan mereka akan mati, dan mereka menetapkan saat kematian mereka sendiri.” [16]

“Mereka mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; tak ada sesuatu hal apapun yang tidak mereka ketahui.” [17]

“Allah Ta’ala tidak mengajarkan sesuatu hal kepada Nabi Muhammad, kecuali itu Ia memerintahnya agar pengetahuan itu diajarkan kepada Ali, karena Ali adalah partnernya dalam ilmu.” [18]

“Para Imam itu seperti Rasulullah, tetapi mereka bukan Nabi. Dalam batas perkawinan mereka berbeda dari Nabi, tapi dalam hal-hal lainnya mereka adalah seperti Rasulullah.” [19]

“Rasulullah mempunyai ruh yang lebih besar daripada Jibril dan Mikail. Ruh besar tersebut juga dimiliki oleh para Imam.” [20]

“Setiap Imam meninggalkan kepada Imam yang berikutnya: kitab, ilmu dan senjata.” [21]

“Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan Imam-imam dengan terperinci. Firman-Nya (yang artinya): “Tunduklah kalian kepada Allah, kepada Rasul dan Ulil Amri kalian”, ayat ini diturunkan dalam kasus Ali, Hasan dan Husein.” [22]

“Imam-imam itu mempunyai waktu bersembunyi (ghaibah). Oleh sebab itu janganlah kalian ingkari. Imam yang ke-12 mempunyai waktu ghaibah juga. Ia adalah al-Mahdi yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagai ganti kezaliman.” [23]

Abu Abdillah berkata: Allah berfirman (yang artinya): ‘aku akan menyiksa rakyat Islam yang mengikuti Imam (penguasa) yang zalim, walaupun rakyat itu rakyat yang bertaqwa. Dan Aku akan mengampuni rakyat Islam yang mengikuti Imam yang adil yang dari Tuhan, walaupun rakyat itu sendiri zalim dan berbuat jahat.” [24]

Abu Abdillah berkata, “Jika Allah ingin menciptakan Imam, putra dari seorang Imam, Allah mengirim Malaikat yang mengambil minuman dari bawah arasy. Minuman tersebut kemudian diberikan kepada Imam (embriyo) dan meminumnya, dan kemudian berada dalam rahim selama 40 hari tanpa bicara. Ketika dilahirkan ibunya, Allah mengutus malaikat yang mengambil minuman di bawah arasy tadi dan menulis di lengan kanan Imam (bayi) itu ayat (yang artinya); ‘Dan selesailah kalimat Tuhanmu dengan benar dan adil. Tak ada orang yang dapat mengubah kalimat-kalimat Tuhan’ – AlAn’am:115. Setelah itu selesai, Allah menciptakan di setiap kota suatu menara untuk dipakai melihat amal-amal manusia.”

“Malaikat-malaikat itu memasuki rumah para Imam dan menginjak permadanipermadani mereka serta melaporkan kejadian-kejadian.” [25]

“Tak ada yang benar kecuali yang keluar dari tempat Imam. Dan segala sesuatu yang tidak dari Imam adalah batal.” [26]

“Seluruh permukaan bumi ini adalah untuk Imam. Allah berfirman (yang artinya): ‘Bumi adalah bagi muttaqin.’ – QS 7:128. Ahlul Bait (keluarga nabi) adalah mereka yang mewarisi bumi dan mereka itu adalah al-muttaqun.” [27] G. Bagian Rasulullah dan Kerabatnya dalam Harta Rampasan (Ghanimah) Dalam pembagian harta pampasan (ghanimah) kita dapati ayat Qur’an sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa harta pampasan yang kalian dapatkan dibagi menjadi: seperlima untuk Allah (dan sisanya, yakni yang 4/5 bagian adalah untuk para tentara). Yang seperlima bagian untuk Allah itu dibagi lagi kepada enam bagian: sebagian untuk Allah, sebagian untuk Rasulullah, sebagian untuk kerabat Rasulullah, sebagian untuk anak yatim, sebagian untuk orang-orang miskin dan sebagian untuk Ibnus Sabil.” Maka tiga bagian tersebut, yakni bagian untuk Allah, untuk Rasul-Nya dan kerabat Rasulullah, diambil oleh Imam. Dengan begitu seluruh 1/5 itu adalah untuk Ahlul Bait. Sedangkan yang separuhnya, untuk Imam. Dan sisanya untuk golongan-golongan yang tersebut di atas. Adapun anfal, yaitu benda-benda yang dapat dipergunakan bukan dengan pertempuran, seperti hutan-hutan, logam, lautan dan sahara, semua itu adalah untuk Imam. Jika dikerjakan oleh orang-orang yang dipercayai oleh Imam, maka mereka memperoleh 5/4 bagian. Sedangkan yang 1/5 bagian untuk Imam. Menurut Abu Hanifah (Imam Hanafi): yang seperlima untuk Allah dan Rasul-Nya adalah untuk anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil yang dalam perjalanan. Adapun bagian Rasual dan kerabatnya telah hapus setelah wafatnya Rasulullah. H. Evaluasi

Dari gambaran tentang aqidah Syi’ah mengenai Imam seperti tersebut dalam kitab alKafi karya al-Kulini tersebut, terasa ada perbedaan yang sangat besar dengan konsep Imam menurut Ahlus Sunnah. Menurut aqidah Syi’ah, Imam itu berasal-usul lebih tinggi daripada asal manusia. Ia tidak bertanggung jawab tentang apa yang ia lakukan, karena segala yang ia lakukan itu baik, dan apa yang ia larang itu jahat. Shalat, shaum, zakat dan haji tak akan berfaedah kecuali jika didasari dengan iman kepada Imam, sebagaimana amal orang kafir tidak akan berfaedah karena ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Pandangan bahwa Imam itu ma’shum berarti bahwa kita, manusia, tidak dibolehkan berfikir tentang masyarakat dan negara. Pandangan bahwa manusia harus cinta kepada keluarga nabi, menghormati mereka setinggi-tingginya, tidak sesuai dengan hukum alam. Di dunia ini, Allah tidak menciptakan suatu keluarga yang semua anggotanya merupakan orang-orang yang dari segala segi dan dari segala generasi sempurna seluruhnya. Setiap keluarga tentu ada yang pandai dan ada pula yang kurang pandai, ada yang berbudi sangat luhur dan ada pula yang setengah-setengah, malahan ada keluarga yang baik tetapi mempunyai keturunan yang moralnya rendah. Dalam Qur’an disebutkan:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita dua orang anak Adam, ketika mereka berqurban. Yang satu diterima Allah, yang lain tidak diterima. Maka berkatalah ia: Aku akan membunuhmu. Ia menjawab: Allah hanya akan menerima qurban orang yang bertaqwa.” (Al-Maidah:27).

“Dan Nabi Ibrahim tidak memintakan ampun untuk bapaknya kecuali karena ia sudah berjanji kepadanya. Ketika telah nyata kepadanya bahwa bapaknya itu memusuhi Allah, ia membersihkan diri daripadanya.” (At-Taubah: 114).

“Allah memberi contoh kepada orang-orang kafir dalam pribadi isteri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Keduanya hidup di bawah naungan dua orang hamba-Ku, kemudian berkhianat kepada mereka. Maka kedua suami mereka tak mampu melindungi mereka dari siksa Tuhan. Dan dikatakan kepada mereka: Masuklah ke neraka bersama orangorang lain.” (At-Tahrim:10)

“Hai Nuh! Sungguh ia bukan ahlimu, karena ia beruat tidak baik.” (Hud:46). Dan diriwayatkan dalam Hadits bahwa Rasulullah saw berkata kepada Fathimah, putrinya: Beramallah, karena aku tak akan dapat membelamu sedikitpun terhadap Allah. Ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa kerabat atau keturunan tak ada hubungannya dalam mengevaluasi manusia. Kebaikan budi pekerti, taqwa dan pengetahuan tak dapat diwariskan seperti harta benda. Ada hukum alam myang khusus tentang mewarisi budi pekerti, kecakapan dan pengetahuan. Ketinggian ajaran Islam mengatakan kepada kita bahwa manusia itu dihargai menurut pekerjaannya (ahlaq), bukan menurut keturunannya atau kekayaannya. Firman Allah:

“Barangsiapa beruat baik sebiji sawi, ia akan melihatnya. Dan barangsiapa beruat jahat seberat biji sawi, ia akan melihatnya.” (Al-Zilzilah: 7-8). Maka dalam sejarah banyak orang yang tidak berasal Arab, lebih dekat kedudukannya kepada Nabi Muhammad saw daripada orang-orang Arab dari keturunan suku Quraisy. Lagi pula jika kita selidiki arti kata “ahlul bait”, yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an bukan anak cucu keturunan Nabi Muhammad. Ayat tersebut berbunyi:

Artinya: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu tidak sama dengan seorang pun dari perempuanperempuan, jika kamu berbakti. Dari itu janganlah kamu berlaku lemah dengan perkataan, karena akan menaruh harapan orang yang di hatinya ada penyakit, tetapi ucapkanlah perkataan yang sopan. Dan hendaklah kamu berdiri di rumah kamu dan janganlah kamu berhias seperti tingkah jahiliyah dahulu, dan dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kekotoran dari kamu, ahli rumah Nabi, dan membersihkan kamu sungguh-sungguh. Dan ingatlah apa yang dibaca di rumah-rumah kamu dari ayat-ayat Allah dan kebijaksanaan. Dan sesungguhnya Allah adalah halus dan mengetahui.” (Al-Ahzab:32-34). Dari ayat tersebut, jelas bahwa yang dimaksudkan dengan ahlul bait bukan keturunn Nabi Muhammad, akan tetapi para isteri beliau, yang disebut dengan kata-kata yaa nisaannabiy. Oleh sebab itu, aqidah bahwa Imam itu ma’shum, dan percaya kepada Imam akan menghapuskan segala dosa, adalah aqidah yang sangat bertentangan dengan Islam. Jika sekiranya Ali itu ma’shum, mengetahui yang ghaib, tentu sejarah akan lain keadaannya. Qur’an sendiri mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berkata:

“Seandainya aku mengetahui barang ghaib, niscaya aku akan memperbnayak hal-hal yang baik.” (Al-a’raf:188). Tetapi marilah kita bicarakan fikiran-fikiran pokok yang lain dalam kelompok Syi’ah. Setelah kita membicarakan soal Imam dengan mengutip kata-kata al-Kulini, tokoh

terbesar di kalangan Syi’ah yang kedudukannya sederajat dengan Bukhari di kalangan Ahlus Sunnah; kita akan membicarakan sifat-sifatnya. 1. ‘Ishmah. Ini adalah kata nama. Kata sifatnya: ma’shum. Arti kata tersebut: terpelihara, terjaga dari peruatan dosa, besar atau kecil, dari ma’shiyat, dari salah atau lupa. Ide tentang ‘ishmah ini jelas bertentangan dengan Islam. Di dalam Al-Qur’an kita dapati ayat-ayat yang melukiskan kesalahan-kesalahan kecil dari para Nabi. Nabi Musa pernah memukul seorang Kopti sampai mati. Allah berfirman:

“Maka disepaklah ia oleh Musa dan matilah ia. Musa berkata: Ini adalah pekerjaan setan, dan setan itu musuh yang nyata-nyata menyesatkan. Ya Tuhanku, aku telah menganiaya diriku, maka ampunilah aku.” (Al-Qashash:15). Nabi Sulaiman pernah lupa shalat karena asyik melihat kuda-kudanya yang indah. Firman Allah:

“Ketika dipertunjukkan kepadanya pada waktu petang kuda-kuda yang cepat larinya, maka ia berkata: Sesungguhnya aku suka kepada kebaikan, sehingga aku lupa kepada Tuhan; sampai kuda-kuda itu jauh tak tampak.” (Shad:32) Nabi Muhammad saw sendiri pernah mendapat teguran Allah:

Ia bermasam muka dan berpaling, lantaran datang kepadanya orang buta itu. Siapa tahu, mungkin ia akan insaf, atau ingat. Dan ingat itu akan berfaedah baginya.” (‘Abasa: 1-4).

2. Anggapan bahwa Imam itu adalah perantara dan pemberi rekomendasi antara manusia dan Tuhan. Percaya akan adanya Imam sudah cukup untuk menghapuskan dosa dan mengangkat martabat. Ada seorang bertanya kepada abu Abdillah (salah seorang Imam): “Mengapa Ali itu yang membagi sorga dan neraka?” Jawabannya: “Karena cinta Ali itu iman, dan benci kepada Ali itu kufur. Sorga diciptakan bagi orang yang beriman dan neraka bagi orang kafir. Maka tak dapat masuk ke sorga kecuali pecinta Ali, dan tak ada yang masuk ke neraka kecuali yang membenci Ali.” Ini juga merupakan hal yang sangat ajaib. Untuk masuk sorga, Islam menuntut seseorang agar beruat baik. Cinta kepada Ali dan kerabat Rasulullah saw tidak menjaduikan seseorang masuk sorga. 3. Anggapan tentang Imam Mahdi. Yakni, pada akhir zaman nanti, Imam yang terakhir, yang ke-12, akan muncul kembali sebagai Imam Mahdi, dan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagai ganti kezaliman. Muncul kembali ini dinamakan dalam bahasa Arab sebagai ar-Raj’ah. Jadi, ide Mahdi dan ide Raj’ah ini merupakan dua hal yang sangat berkaitan. 4. Taqiyah. Taqiyah berarti menjaga diri atau mencari selamat. Tersebut dalam AlQur’an firman-Nya:

“Jangan sekali-kali ada orang mu’min yang menjadikan orang yang kafir pelindungnya, yang bukan orang Mu’min. Tuhan tidak mengizinkan hal tersebut kecuali jika kamu memang melakukan taqiyah (pura-pura untuk menjaga keselamatan diri).” (Ali Imran:28). Al-Kulini meriwayatkan suatu hadits yang artinya: “Sembilan persepuluh agama terdapat dalam taqiyah. Orang yang tidak melakukan taqiyah adalah tidak beragama. Taqiyah perlu dilakukan dalam segala hal kecuali minum-minuman keras dan mengusap sepatu dalam wudlu.” Al-Kulini menafsirkan surah Al-Qashash ayat 54:

Mereka diberi pahala dua kali karena kesabaran mereka (melakukan taqiyah).”

Mereka menafsirkan beberapa tindakan Imam-imam mereka sebagai taqiyah. Ali setuju dengan khilafah Abu Bakar, Umar dan Usman karena taqiyah. Hasan berdamai dengan Muawiyah karena taqiyah. Taqiyah juga ditafsirkan sebagai memberi arti rahasia kepada kata-kata. Mereka menafsirkan surah Al-Maidah (5) ayat 67 sebagai berikut:

“Hai Rasul! Sampaikan apa yang telah disampaikan kepadamu dari Tuhanmu (yaitu Ali harus dijadikan khalifah).” Mereka juga mengatakan bahwa Ja’far Shadiq pernah berkata: “Tiga macam manusia tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan dan akan mendapat neraka yang menyakitkan. Yaitu orang yang mengakui Imam secara tak berhak; yang menolak Imam yang diangkat oleh Tuhan; dan orang yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu beragama Islam.” I. Fiqih Syi’ah Dalam teori dasar Fiqih Syi’ah sama dengan dasar Fiqih Ahlus Sunnah. Yakni, bersandar kepada Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi. Akan tetapi dalam prakteknya, seringkali berlainan karena beberapa sebab: 1. Yang dikatakan ushul dan furu’ oleh Ahlus Sunnah berbeda dengan ushul dan furu’ menurut faham Syi’ah. Itu terjadi karena aqidah dan ajaran-ajaran Syi’ah berlainan dengan aqidah ajaran Ahlus Sunnah seperti yang telah kami jelaskan di atas. 2. Karena Ahli Fiqih Syi’ah tidak boleh meriwayatkan hadits, bahkan berpendapat, kecuali hanya dari Iman Syi’ah atau Alim syi’ah, atau rawi Syi’ah. Maka, mereka mendasarkan hukum-hukum syara’ atas dasar tafsir Al-Qur’an menurut Syi’ah, dan hadits-hadits menurut riwayat Syi’ah. Hal ini tentu saja mengakibatkan kesempitan legislasi dan keharusan menyalahi hukum-hukum Ahlus Sunnah. 3. Ahli Fiqih Syi’ah tidak menerima Ijma’ umum sebagai dasar legislasi, karena hal tersebut berarti menerima pendapat orang-orang yang bukan Syi’ah. Ahli Fiqih Syi’ah juga menentang qiyas, karena qiyas adalah pendapat. Padahal agama itu bukan pendapat dan harus diambil dari Allah, Rasul dan Imam-imam yang ma’shum. Dan karena mereka menganggap bahwa para Imam mereka itu ma’shum maka kata-kata para Imam tersebut dianggap sebagai nash-nash yang tak mungkin dibantah. J. Contoh Fiqih Syi’ah Nikah Mut’ah, yaitu perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, dengan maskawin tertentu dan waktu tertentu. Caranya adalah, seorang pria berkata kepada seorang wanita: “Aku mengawinimu dengan maskawin Rp 50.000 untuk satu pekan.” Dan si wanita menerima.

Nikah Mut’ah ini tidak mengakibatkan warisan. Suami tidak mewarisi istri, dan istri tidak mewarisi suami. Saksi juga tidak diperlukan. Perkawinan Mut’ah tak perlu pakai saksi dan tidak perlu diumumkan. Begitu juga tidak perlu kepada talak, karena jika waktunya sudah habis, dengan sendirinya hubungan perkawinan mut’ah itu jadi putus. Adapun iddahnya, adalah dua haid bagi wanita yang haid, dan 45 hari bagi wanita yang tidak haid lagi. Jumlah istri, menurut Syi’ah, juga tanpa batas. Itulah gambaran yang jelas tentang Nikah Mut’ah. Sebetulnya saya ingin memberi penjelasan tentang cara berfikirnya Ahli Fiqih Syi’ah tentang hal Nikah Mut’ah ini secara agak luas, akan tetapi saya ingat bahwa maksud buku kecil ini hanya untuk memperkenalkan Syi’ah dan menjelaskan perbedaan antara mereka dengan kita, Ahlus Sunnah. Menurut Ahlus Sunnah, Muslim, Ahmad ibn Hanbal dan Abu Dawud, Nabi Muhammad saw pada waktu perang mengambil alih kota Makkah, mengizinkan nikah Mut’ah. Tetapi setelah beliau melarangnya. Khalifah Umar melarang keras nikah Mut’ah, dan menghukum orang kawin Mut’ah sebagai orang melakukan zina. Yang menarik perhatian adalah bahwa al-Kulini, yang digambarkan sebagai bukharinya kaum Syi’ah, mengatakan bahwa Imam Baqir (Imam mereka yang ke-6) menjawab pertanyaan seseorang tentang nikah Mut’ah dengan ujarnya: “Nikah Mut’ah itu dihalalkan Allah dalam Qur’an dan Sunnah. Tersebut dalam Qur’an:

Karena apa yang kalian ni’mati dari wanita-wanita itu maka berilah mereka itu upahnya. (An-Nisa’ ayat 24). Maka nikah Mut’ah itu hukumnya halal sampai hari kiamat. ‘Orang itu bertanya: hai Imam! Apakah Tuhanku mengatakan begitu padahal Khalifah Umar telah melarangnya.’ Ia menjawab: ‘Walaupun!’ Orang itu berkata lagi: Aku mohon perlindungan Allah bagimu, janganlah menghalalkan sesuatu yang sudah diharamkan oleh Umar. Imam Baqir kemudian berkata: ‘Engkau mengikuti kata sahabatmu (Umar ibn Khatab), dan aku mengikuti sabda Rasulullah. Marilah kita bermula’anah (masing-masing melaknat lainnya) bahwa yang benar adalah sabda Nabi dan yang salah adalah kata sahabatmu.’ Pada waktu pembicaraan itu berlangsung datanglah Abdullah al-Laitsi dan berkata kepada Imam Baqir: Apakah tuanku Imam berkenan jika keluarga-keluarga wanita tuanku, putri-putri dan saudari-saudari atau saudari sepupu tuanku melakukan Mut’ah? Waktu itu Imam Baqir tidak menjawab.” K. Kesimpulan Kita bangsa Indonesia diberi anugerah besar dan petunjuk yang benar berupa agama Islam oleh Allah Pencipta langit. Kita bersyukur bahwa Islam yang kita peluk adalah Islam ahlus Sunnah, yang berdasarkan Qur’an yang ada dan satu-satunya yang ada,

serta hadits-hadits yang telah diselidiki, disaring dan diperinci oleh para Ahli Hadits dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Turmudzi sampai Ibnu Majah. Sejarah Islam yang kita ketahui dan kita yakini adalah sejarah yang ditulis oleh para ahli berdasarkan kepada riwayat-riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lainnya, dengan metoda yang ilmiah dan kritis. Bahwa ada di antara para sahabat yang simpati kepada Ali dan keturunanya adalah sangat wajar, apalagi ketika terdapat kelompok yang terang-terangan mennetang ajaran Islam seperti Muawiyah dan keturunannya. Kita semua selalu merasa simpati kepada kelompok yang tertindas. Akan tetapi simpati semacam itu ada batasnya. Kita tidak dapat memutarbalikkan cara berfikir kita yang sehat. Bahwa hak menjadi khalifah atau penguasa terbatas kepada anak cucu Nabi sampai 12 orang, bahwa semua mereka itu ma’shum, bahwa mereka mengetahui yang ghaib, semuanya itu adalah aqidah yang tidak benar. Bahwa Nabi Muhammad telah berwasiat agar nanti jabatannya sebagai kepala negara hendaknya diteruskan oleh Ali adalah asumsi sepihak. Jika asumsi itu benar, niscaya para sahabat mengetahuinya. Kemudian, di antara ummat Islam terdapat kelompok yang sangat kecil yang merasa diri mereka lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya, bahwa ummat Islam harus menghormati mereka, adalah tidak benar. Kita, ummat Islam, saling menghormati antara yang satu terhadap yang lain. Tetapi dasarnya adalah nilai-nilai yang tinggi, yaitu budi pekerti; dan sama sekali bukan keturunan. Soal keturunan ini harus dikesampingkan. Saya sering berjumpa dengan orang-orang yang terkenal sebagai keturunan keluarga Nabi (Ahlul Bait) seperti almarhum Sayyid Rasyid Ridla, murid Syeikh Muhammad Abduh; Amien al-Husaini, Mufti Palestina, keturunan Husein ra; tetapi mereka tak pernah menonjol-nonjolkan soal keturunan mereka. Bahkan belum lama ini saya bertemu di suatu negara Arab, seorang pemimpin Iran yang bersorban hitam. Dengan bergurau beliau berkata: “Saya dianggap orang sebagai keturunan Nabi. Saya sendiri tidak tahu. Saya tidak pernah memikirkan hal semacam itu.” Dengan sikap seperti itu ummat Islam akan menghargai orang-orang semacam beliau tadi. Mungkin dengan penghargaan yang lebih. Bahan Bacaan 1. Ashlus Syi’ah wa Ushuluha, Kasyiful Githa. 2. Dhuhal Islam, Dr. Ahmad Amin 3. Al Islam ‘ala Dhau-it Tasyayyu’ , Syeikh Husein al Khurasani 4. Al Kafi, al-Kulini 5. Encyclopaedia of Islam, Cetakan & Luzac 1927 6. Fathul Qadir, al-Syaukani

[01] Al-Kulini, al-Kafi, cetakan Persia, tahun 1281 H., hal. 82. [02] Ibid., hal. 84. [03] Ibid., hal. 85 [04] Ibid., hal. 86 [05] Ibid., hal. 87 [06] Ibid., hal. 88 [07] Ibid., hal. 91 [08] Ibid., hal. 92 [09] Ibid., hal. 93 [11] Ibid., hal. 107 [12] Ibid., hal. 107 [13] Ibid., hal. 110 [14] ibid., hal. 115 [15] Ibid., hal. 123 [16] Ibid., hal 125 [17] Ibid., hal. 126 [18] Ibid., hal. 207 [19] Ibid., hal. 130 [20] Ibid., hal. 132 [21] Ibid., hal. 133 [22] Ibid., hal. 139 [23] Ibid., hal. 149 [24] Ibid., hal. 190 [25] Ibid., hal. 199 [26] Ibid., hal. 212 [27] Ibid., hal. 289 Share:
• • • • •

Comments Off

Syariat-Fobia dan Virus HIV-AIDS
8 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 8,2011 Uncategorized

SYARIAT-FOBIA DAN VIRUS HIV-AIDS Oleh Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri Mantan Napol Kasus Peledakan BCA

Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri (almarhum) Pengantar: Tulisan berjudul Syariat-Fobia dan Virus HIV-AIDS ini merupakan salah satu tulisan sahabat saya yang pernah sama-sama berada dalam satu LP di Cipinang. Ir. H. Muhamad Alkatiri meninggal dunia pada 22 Desember 2008 sekitar pukul 07:00 wib di RS Islam Jakarta. Artikel ini merupakan versi asli, dan sebelumnya pada majalah Sabili No. 26 Th. XIII 13 Juli 2006 / 17 Jumadil Akhir 1427, yang beredar 30 Juni 2006, sebagian dari materi tersebut telah dipublikasikan dengan judul Syariat Fobia, pada halaman 50-51. Tulisan ini ditampilkan kembali karena kami anggap masih relevan.

ilustrasi “Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalangi orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, kamu menghendaki penyimpangan, padahal kamu menyaksikan?’ Allah tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran : 99). Firman Allah di atas menampakkan kebenarannya pada sikap politik PDS. Mereka dengan telanjang menunjukkan ketidak-senangannya dengan syariat Islam, meski itu ditujukan untuk kalangan Islam sendiri.

Constant M. Ponggawa Ketua Fraksi PDS Constant Ponggawa, bahkan menunjukkan kegelisahannya atas maraknya berbagai Perda yang beraroma Syariat, dengan mendatangi Wakil Ketua

DPR, dan meminta pimpinan DPR menyurati Prsiden SBY untuk mencabut Perda-perda tersebut. Selama ini yang gencar mempermasalahkan syariat Islam memang bukan dari kalangan non-Islam saja, tetapi juga dari kalangan sepilis (sekularis, pluralis dan liberalis) yang kesesatan berfikirnya selalu diakomodir Harian KOMPAS, sudah lebih sering menyerimpung ummat Islam berkenaan dengan penerapan syari’at Islam. Berbeda dengan sepilis, gerakan kaum neo komunis lebih sering terlihat di berbagai IAIN (UIN) melalui berbagai sikap dan pernyataannya yang sesat.

ilustrasi Alasan yang mereka ajukan adalah, bahwa perda beraroma syariat Islam melanggar komitmen. Nampaknya, kalangan non-Islam sebagaimana direpresentasikan Constant Ponggawa, tidak malu menunjukkan ketidak-tahuannya tentang komitmen berbangsa dan bernegara. Sejak awal, para founding fathers menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang berdiri di atas kebhinekaan yang ada. Kebhinekaan beragama, budaya dan sebagainya. Maka, komitmen berbangsa dan bernegara yang dimaksudkan sama sekali tidak bisa mengabaikan aspek pluralitas yang ada. Perda bernuansa syariat Islam di daerahdaerah yang memang mayoritas penduduknya Islam, adalah logis dan tidak melanggar komitmen, karena NKRI didirikan untuk mengakomodir nilai-nilai yang hidup di dalam masayarakatnya. Perda syariat juga tidak bertentangan dengan Pancasila dan bhinneka tunggal ika, bukankah Pancasila dan UUD 1945 menjamin setiap warga negara Indonesia untuk menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya? Bukankah kebhinekaan berarti setiap agama yang diakui berhak hidup dan diakomodir di dalam aneka peraturan yang ada.

Erros Djarot Salah satu tokoh sepilis (sekularis) Erros Djarot, pada harian KOMPAS 12 Juni 2006, mengatakan, “Yang paling menyedihkan adalah dibiarkan dan dipeliharanya nafsu politik kelompok yang secara sistemik membangun kinerja politik yang bertujuan menciptakan Negara dalam Negara. Pancasila yang tak terpisahkan dari UUD 1945 sebagai batang tubuh yang menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara, seperti tak digubris. Dalam kenyataan telah bermunculan ‘negaranegara’ kecil di berbagai daerah (kabupaten/kota) yang memberlakukan ‘hukum lain’ di luar hukum positif yang berlaku. Nah, apakah Indonesia yang amburadul seperti ini yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945 kepada pengelola bangsa ini?” Pendapat dungu dan keji Erros yang menyimpulkan bahwa perda bernuansa syariat adalah bagian dari nafsu politik membangun negara di dalam negara (maksudnya tentu negara Islam). Dan perda syariat adalah gambaran Indonesia yang amburadul. Perda syariat juga dinilai Erros sebagai ‘hukum lain’ di luar hukum positif. Jelas, Erros ahistoris dan tidak memahami makna yang terkandung di dalam pengertian dan cakupan hukum positif. Menyerap hukum Islam ke dalam hukum positif adalah merupakan salah satu kaidah terbentuknya hukum positif. Tentu aneh dan janggal bila hukum positif di tengah masyarakat yang mayoritas Islam bersumber dari hukum-hukum yang diterbitkan oleh kolonialis dan imperialis. Apalagi, hukum Islam sudah diberlakukan bagi masyarakat Islam di kawasan Nusantara ini jauh sebelum kemerdekaan NKRI.

ilustrasi Hal ini dibenarkan oleh pakar hukum bangsa Belanda, LWC Van Den Berg (1845-1927) yang meyakini bahwa orang Islam di Indonesia benar-benar menerima dan menerapkan hukum Islam di dalam masyarakatnya secara menyeluruh, dan dibolehkan pemerintah kolonial Belanda. Barulah setelah kolonialis Belanda untuk kepentingan politik meyakini perlunya melemahkan kekuatan revolusioner Islam, maka sejak akhir abad 19 mulai terjadi de-Islamisasi dengan menghidupkan hukum adat. Ini berkat arahan dan nasehat Snouck Hurgronje (1857-1936). Jadi, orang Islam dipaksa untuk meninggalkan syariat Islam, dan menerapkan hukum adat (dan budaya) di dalam kehidupannya sehari-hari. Padahal, kebanyakan ketentuan adat (dan budaya) yang ada saat itu, bertentangan dengan hukum dan ajaran Islam. Nampaknya Erros Djarot merupakan tokoh sekularis jelmaan Snouck Hurgronje yang tidak lapang dada bila ummat Islam hidup dan diatur oleh hukum Islam, padahal secara administratif-formal, Erros Djarot beragama Islam. Namun, ia lebih terlihat sebagai virus HIV-AIDS yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh ummat Islam. Sekularis selain Erros adalah Siswono Yudhohusodho. Melalui tulisannya di KOMPAS 29 Maret 2006 berjudul Negara dan Keberagaman Budaya, ia menolak RUU APP dengan alasan yang tidak cerdas. RUU APP adalah salah satu produk hukum yang dianggap sangat beraroma syariat Islam. Jadi, para sekularis macam Siswono ini, meski tidak punya argumen kuat, tetap saja menolak RUU APP karena semata-mata karena adanya aroma syariat Islam. Ia tetap menunjukkan sikap syariat-fobia meski harus terlihat dungu.

Siswono Yudohusodho Siswono menuliskan, “…Sebagai konsekuensi negara kesatuan (unitarian) yang menempatkan seluruh wilayah negara sebagai kesatuan tunggal ruang hidup bangsa, sebuah RUU juga harus didrop bila ada satu saja daerah yang menyatakan menolaknya karena tidak cocok dengan adat istiadat dan budaya setempat. RUU APP sudah ditolak di Bali dan Papua.” Ini jelas mengabaikan konsep demokrasi, yang mendasarkan pada suara terbanyak. Di dalam demokrasi-sekuler memang berpeluang terjadinya tirani mayoritas. Namun betapa dungunya bila yang terjadi justru tirani minoritas atas mayoritas, sebagaimana dikehendaki oleh Siswono. Sekedar melengkapi informasi, Siswono muda adalah tokoh yang anti Orde Baru, ia lebih pro Orde Lama yang komunis. Ketika para pemuda dan mahasiswa sibuk menumbangkan Orde Lama dan mendirikan Orde Baru, Siswono dan Sarwono Kusumaatmadja tidak ambil bagian. Namun ketika Orde Baru sudah berjalan baik, ia ikut ambil bagian dengan menduduki jabatan sebagai Menteri di salah satu kabinet pembangunan, bahkan sempat nongkrong dua periode di departemen yang berbeda. Begitu juga dengan Sarwono yang pada gilirannya ikut membesarkan Golkar (partai Orde Baru, dan menduduki Sekjen, sebuah posisi yang sangat strategis).

ilustrasi Siswono dan sejenisnya, selalu mengeksploitasi budaya berkoteka di kalangan masyarakat Papua, untuk menolak RUU PP yang dinilainya beraroma syariat Islam. Cobalah tanyakan kepada Gubernur Papua dan aparat di bawahnya yang asli Papua, apakah mereka mau berkoteka atau berpakaian seperti yang sekarang mereka kenakan? Pasti mereka menolak Koteka. Artinya, ketentuan (syariat) berkoteka merupakan variabel yang relatif bagi orang Papua sendiri. Lalu, bagaimana mungkin koteka dijadikan tolok ukur untuk menentukan RUU di tingkat nasional? Akhir-akhir ini kita melihat fakta yang memilukan. Komunitas beragama (non Islam) bersatu-padu dengan kalangan sepilis dan neo komunis mengganyang ummat Islam dan syariat Islam. Komunitas beragama (non Islam) yang seharusnya sibuk memperjuangkan hak-haknya di dalam menjalankan perintah dan ketentuan (syariat) agamanya, justru terlihat sibuk menjegal ummat Islam yang mau menerapkan ajaran (syariat) Islamnya secara konsisten.

Mereka ibarat penderita HIV-AIDS, yang sudah pasti tidak dapat sembuh, namun tidak berjiwa besar, misalnya dengan menasihati orang lain yang belum terkena virus HIVAIDS agar mau menjauhi perilaku seks bebas, karena seks bebas merupakan faktor utama berkembangnya virus itu di dalam tubuh seseorang. Mereka malah mengajak orang lain untuk ikut menjalankan seks bebas supaya bisa mendapatkan banyak kawan senasib. Atau seperti iblis, yang sudah pasti masuk neraka, oleh karenanya sebelum hari kiamat tiba, mereka berusaha mengajak manusia untuk berada dalam kesesatan, sehingga bisa bersama-sama selalu di dalam neraka. “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, sungguh mereka telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” (An-Nisaa’ : 167) Share:
• • • • •

150 Comments

Syi’ah Menurut Kacamata Sejumlah Tokoh
6 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 6,2011 Uncategorized

SYI’AH MENURUT KACAMATA SEJUMLAH TOKOH KEBERADAAN PAHAM SESAT SYI’AH di Indonesia semakin disadari eksistensinya ketika di Iran terjadi revolusi yang berlangsung sejak awal 1978 dan berakhir di penghujung 1979, saat Khomeini disepakati menjadi pemimpin tertinggi negara pada bulan Desember.

Ilustrasi Keberhasilan revolusi Iran meruntuhkan kekuasaan rezim korup Shah Mohammad Reza Pahlevi yang bercorak monarki menjadi republik, membuat sebagian pemuda kita yang sudah jenuh dengan rezim Soeharto menjadi melirik paham Syi’ah. Sebagian dari mereka tidak sekedar melirik tetapi justru kepincut. Bahkan, ada yang menjadi misionaris syi’ah. Salah satu diantaranya adalah Jalaluddin Rakhmat.

Shah Iran Menurut pengamat politik, sesungguhnya bukan paham Syi’ah yang membuat revolusi Iran berhasil menumbangkan rezim monarkis yang korup, tetapi sekutu Iran yakni Amerika sudah mulai jenuh dengan kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang terlalu lama (dari 16 September 1941 hingga 11 Februari 1979). Kala itu, Amerika dan negara-negara Barat pada umumnya mulai menginginkan diterapkannya demokrasi di Iran. Apalagi, kekuatan militer yang selama ini menjaga kekuasaan rezim Shah Iran, menunjukkan sikap berbeda: dari semula mendukung kemudian bersikap ‘netral’ yang berarti melepaskan dukungan. Ditambah lagi dengan inflasi yang tinggi, demonstrasi yang massif dan terus menerus, membuat rezim Shah Iran yang sekuler pun runtuh. Namun demikian, sebagian generasi muda Islam tetap kepincut dengan Syi’ah yang merupakan induk kesesatan ini. Untuk itulah para tokoh Islam kala itu, berusaha membendung masuknya paham Syi’ah ke kalangan muda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerbitkan buku saku sebagaimana dilakukan Prof. Dr. H.M. Rasyidi (1984). Sebelumnya, 1983, Departemen Agama saat jabatan menterinya dipegang oleh Munawir Sjadzali, mengeluarkan surat edaran bertajuk Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah. Setidaknya, menurut edaran tersebut, perbedaan antara Syi’ah dengan Islam (ahlussunnah wal jama’ah) dapat dilihat pada tujuh hal pokok. Pertama, mengenai kedudukan Ali bin Abi Thalib ra. Menurut pandangan Islam, Ali bin Abi Thalib ra merupakan salah satu dari Khulafa Rasyidin, sebagai Khalifah ke-4. Namun menurut pemahaman Syi’ah, Ali ra adalah Imam yang maksum (terjaga dari

salah dan dosa.), serta memiliki sifat-sifat Ketuhanan, dan mempunyai kedudukan di atas manusia. Pemahaman tersebut jelas-jelas bukan merupakan ajaran Islam. Kedua, mengenai kedudukan Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Usman bin Affan ra. Menurut pandangan Islam mereka adalah Khulafa Rasyidin (sebagai khalifah pertama, kedua dan ketiga). Namun menurut pemahaman Syi’ah, kekhalifahan mereka (terutama Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra) tidak sah, karena dianggap menyerobot hak Ali bin Abi Thalib ra. Selain mengingkari, kalangan Syi’ah juga mengutuk Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. Mengingkari dan mengutuk Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra menurut ajarah Syi’ah merupakan ajaran prinsip yang harus dilakukan. Sementara itu, menurut ajaran Islam, perbuatan tersebut tidak patut dan dilarang. Ketiga, mengenai kedudukan Kekhalifahan (Khilafah). Menurut pandangan Islam, Khalifah adalah pemimpin umat yang harus memenuhi syarat-syarat kepemimpinannya; siapapun dapat menduduki jabatan ini asal memenuhi syarat dan ditempuh dengan cara yang sah; selain itu, menurut pandangan Islam perihal Khalifah adalah masalah keduniaan dan kemashlahatan (bukan bagian dari Rukun Iman). Namun menurut pemahaman Syi’ah, Khalifah atau Imam itu harus dari keturunan Ali bin Abi Thalib ra dan bersifat maksum; Imam mempunyai sifat-sifat Ketuhanan; kedudukan Imam lebih tinggi dari manusia biasa, sebagai perantara antara Tuhan dan manusia; perihal Imam termasuk masalah keagamaan dan menyangkut keimanan (Rukun Iman versi Syi’ah); kedudukan Imam sebagai penjaga dan pelaksana syari’at; selain itu menurut pemahaman Syi’ah, apapun yang dikatakan atau diperbuat Imam dianggap benar, dan yang dilarang oleh Imam dianggap salah. Keempat, mengenai Ijma’ Ulama. Menurut pandagan Islam, Ijma’ Ulama sebagai sumber hukum ketiga setelah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun menurut pemahaman Syi’ah, Ijma’ Ulama tidak diakui sebagai salah satu sumber hukum, karena hal itu bermakna memasukkan unsur pemikiran manusia ke dalam agama, dan itu tidak boleh. Menurut pemahaman Syi’ah, Ijma hanya dapat diterima apabila direstui oleh Imam, karena Imam adalah penjaga dan pelaksana Syari’at. Kelima, mengenai Hadits. Menurut pandangan Islam, Hadits didukkan sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an; sebuah Hadits dapat diterima bila diriwayatkan oleh orang yang terjamin integritasnya, apapun golongannya. Sedangkan menurut pemahaman Syi’ah, sebuah Hadits dapat diterima bila hadits itu diriwayatkan oleh ulama Syi’ah. Ini berarti kalangan Syi’ah memperlakukan Hadits secara diskriminatif. Keenam, mengenai Ijtihad. Menurut pandangan Islam, Ijtihad diakui keberadaannya karena dianjurkan oleh Al-Qur’an dan Hadits.; selain itu, menurut pandangan Islam, Ijtihad adalah sarana pengembangan hukum dalam bidang-bidang keduniaan. Namun menurut pemahaman Syi’ah, Ijtihad tidak diperkenankan karena segala sesuatu harus bersumber dan tergantung Imam. Ini berarti, dalam pandangan Syi’ah, kekuasaan Imam menurut bersifat religius otoriter.

Ketujuh, mengenai Nikah Mut’ah. Menurut pandangan Islam, Nikah Mut’ah merupakan sesuatu yang dilarang (tidak boleh), dan dipandang sebagai menyerupai perzinahan, merendahkan derajat wanita, dan berdampak menelantarkan anak/keturunan. Namun menurut pandangan Syi’ah, Nikah Mut’ah itu selain halal juga dipraktekkan sebagai salah satu identitas dari golongan Syi’ah Imamiah. Demikianlah tujuh pokok perbedaan antara Islam dan Syi’ah. Berkenaan dengan terpilihnya Abu Bakar ra sebagai Khalifah pertama, dapat dilihat melalui penuturan gamblang Prof. Dr. H.M. Rasyidi melalui bukunya berjudul Apa Itu Syi’ah? yang terbit tahun 1984. Ketika Rasulullah wafat pada 8 Juni 632 M, saat itu Negara Madinah baru berusia 10 tahun. Ada dua jabatan yang melekat pada Muhammad SAW, yaitu sebagai Rasulullah dan sebagai kepala negara. Sebagai Nabi dan Rasul, tentu tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah wafatnya Muhammad. Namun sebagai kepala negara, harus ada pengganti.

Prof. Dr. H.M. Rasyidi Menurut penuturan Prof. Dr. H.M. Rasyidi: “Dalam suasana yang kalut, Umar ibn Khattab mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar agar ia berdiri. Dan setelah Abu Bakar berdiri Umar mengatakan bahwa ia dengan rela hati akan patuh kepada Abu Bakar sebagai pengganti nabi atau khalifah. Dengan ucapan Umar itu semua yang hadir serentak menyampaikan persetujuan mereka. Setelah itu Abu Bakar sebagai Khalifah, bersama-sama Umar dan sahabat-sahabat Nabi lainnya, pergi ke rumah Nabi Muhammad saw untuk mengurus pemakaman jenazah beliau saw.” Peristiwa tersebut bagi kalangan Syi’ah, merupakan penyerobotan Umar dan Abu Bakar terhadap hak Ali yang sesungguhnya menurut angapan mereka paling berhak atas jabatan khalifah. Menurut Prof. Dr. H.M. Rasyidi, kecenderungan sekelompok orang terhadap Ali antara lain didasarkan pada sifat berani Ali yang ditunjukkannya di medan peperangan, keakraban Ali dengan Muhammad SAW, status Ali yang bersaudara sepupu dengan Rasululah. Terlebih lagi, Ali kemudian menjadi menantu Muhammad Rasulullah. Ali menikah dengan Fathimah dan dikaruniai Allah dua orang cucu lelaki: Hasan dan Husein. Husein kemudian menikah dengan putri Persia (Iran) yang terakhir. Bangsa Persia, sebelum masuk Islam mempunyai kecenderungan menghormati, menjunjung tinggi

bahkan mendewa-dewakan raja-raja mereka. Bahkan setelah masuk Islam pun kecenderungan itu masih berlanjut, mereka memandang Nabi seperti mereka memandang Kisra (Raja persia), dan memandang keluarga Nabi sebagaimana mereka memandang Dinasti Persia, dan mereka menganggap bahwa jika Nabi wafat, maka penggantinya haruslah dari pihak keluarga nabi. Latar belakang budaya Persia (Iran) seperti itulah yang menyebakan paham sesat Syi’ah berkembang di Iran, bahkan berhasil menumpas Islam (Sunni) sejak agama Syi’ah Imamiyah (khususnya Itsna ‘Asyriyah) menjadi agama resmi negara. Menurut Rasyidi: “…ketika Isma’il Shafawi jadi penguasa di Iran, ia menjadikan aliran Itsna ‘Asyriyah sebagai agama resmi negara, dan menghapuskan aliran Ahlus Sunnah. Ia meninggal pada tanggal 24 Mei 1524. Dinasti Shafawi dihapuskan oleh Nadirsyah pada tanggal 26 Februari 1737, tetapi agama Syi’ah Itsna ‘Asyriyah tetap menjadi agama negara.”

Drs. KH Moch. Dawam Anwar Menurut mendiang Drs. KH Moch. Dawam Anwar dalam sebuah makalahnya berjudul Inilah Haqiqat Syi’ah, meski paham Syi’ah itu tediri dari berbagai sekte, namun bila saat ini kita menyebut Syi’ah, maka yang dimaksud adalah Syi’ah Imamiyah, khususnya Itsna ‘Asyariyah, yaitu golongan Syi’ah yang percaya kepada Dua belas Imam. Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah telah mencakup sebagian besar pendapat-pendapat dan aqidah yang dianut oleh sekte-sekte Syi’ah lain yang berbeda-beda.

Menurut (mendiang) KH Irfan Zidny, MA yang pernah tinggal di negara-negara berpenduduk mayoritas Syi’ah, dan pernah belajar kepada ulama-ulama Syi’ah, selama delapan belas tahun, “Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah lebih tepat disebut Aliran Politik daripada Aliran ‘Aqidah (Tauhid dan Syariah). Ini dapat dilihat dari definisi para Ulama Syi’ah sendiri tentang faham ini. Sebutan Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah memperkuat makna Syi’ah sebagai faham politik seperti masalah siapa yang berhak menjadi kepala negara sesudah Nabi saw wafat, bagaimana bentuk negara Islam, apa UUD Islam, dan sebagainya. Pengaruh Imamah (‘Ali dan anak keturunannya) lebih menonjol dalam kegiatan dan moralitas Syi’ah, sehingga mewarnai semua ajarannya seperti Aqidah, Syariah dan Tasawuf. Imamah menjadi sumber penafsiran Al-Qur’an, pembuatan dan penjelasan hadits dan sumber kekuasaan setelah Allah SWT dan Rasulullah saw.”

Menurut Drs. HM Nabhan Husein, seraya mengutip kitab Sa’ad bin Abdullah AlAsy’ari Al-Qummi, dikatakan bahwa “… Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah itu timbul belakangan dan tidak pernah ada dan diketahui di masa Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin. Ia merupakan kombinasi berbagai faham Syi’ah yang ada sebelumnya…” Hal ini dapat diartikan Syi’ah yang kita kenal sekarang belum tentu atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan dinamika politik pasaca wafatnya Rasulullah saw, yang sempat melahirkan pengikut (syi’ah) Ali dan pengikut (syi’ah) Mu’awiyah. Kedua syi’ah pada masa itu adalah Islam ahlussunah wal jama’ah, tidak mempunyai konsep dan paham sesat sebagaimana dipraktekkan oleh syi’ah yang berkembang di Iran.

Dr H. Hidayat Nur Wahid Boleh jadi, syi’ah dihidupkan oleh kepentingan Barat, sebagaimana bisa dilihat antara lain pada masa Isma’il Shafawi, menurut DR. M. Hidayat Nur Wahid, telah terjalin hubungan kerja sama politik keamanan dan ekonomi dengan Barat (Eropa) untuk menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Turki Utsmani yang berpaham Sunni. Selain itu, menurut Hidayat, pada masa Isma’il Shafawi juga sudah ada pakta militer dengan Portugal yang intinya berisi kesepakatan bahwa Isma’il Shafawi tidak akan menuntut Portugal untuk mengembalikan pulau Hurmuz dan pelabuhan Kamberun, sementara itu Portugal sepakat untuk membantu Isma’il Shafawi melawan Turki Utsmani. Di Indonesia, menurut KH Thohir Abdullah Al-Kaff, perkembangan Syi’ah dibungkus dengan istilah madzhab Ahlul Bait, perkembangannya pasca revolusi Iran 1979, terolong pesat. Gerakan mereka dikemas dalam institusi berbentuk pesantren dan yayasan. Upaya yang dilakukan selain menerbitkan berbagai buku tentang Syi’ah memanfaatkan media massa, menyelenggarakan ceramah-ceramah agama, juga melalui jalur pendidikan dan pengkaderan di pesantren-pesantren, maupun di majelis-majelis ta’lim.

Jalaluddin Rakhmat Sosok yang terlihat gigih mensosialisasikan Syi’ah selain Jalaluddin Rakhmat (ketua IJABI, Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) juga Said Agil Siradj yang kini Ketua Umum PBNU, dengan bukti begitu gigihnya dalam acara kesyiahan misalnya peringatan Asyuro dengan aneka namanya. Entah haul Husein cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau semacamnya. Secara kultural, paham sesat Syi’ah memang dipraktekkan kalangan NU, seperti ziarah kubur dengan praktek-praktek yang tidak syar’i. Secara kultural, sebagian tradisi dan ritual ala syi’ah memang sudah dipraktekkan, namun lebih sering karena ketidaktahuan semata, bukan karena mereka benar-benar mengerti akan hal itu. Untuk itulah tugas para juru dakwah memberikan pencerahan kepada ummat Islam yang awam, terutama mereka yang tidak bisa membedakan antara Islam dan bid’ah padahal di dalam bid’ah itu tidak jarang mengandung paham sesat syi’ah. Ini merupakan pekerjaan yang tidak main-main dan tingkat kesulitannya cukup tinggi, karena para praktisi bid’ah itu sebagian bergerombol di dalam sebuah ormas yang konon jumlah jama’ahnya terbanyak dibanding ormas-ormas lain. Apalagi salah satu mantan pucuk pimpinannya pernah menjadi pemimpin nasional yang ternyata banyak menghidupkan kesesatan bahkan kemusyrikan, misalnya ruwatan dan sebagainya. Musibah bagi Ummat Islam. Namun bagi dedengkot aliran sesat syi’ah di Indonesia, tahun 2000-an itu seakan jadi periode emas, hingga kewetu (terlontar ucapan) dari mulutnya: Mumpung presidennya Gus … (haji/tede–nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/syi%E2%80%99ah-menurut-kacamata-sejumlahtokoh/#more-5469 Share:
• • • •

0 Comments

Habaib Misionaris Syi’ah
5 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 5,2011 Uncategorized

Habaib Misionaris Syi’ah PAHAM SESAT SYI’AH selain diajarkan secara ‘terbuka’ melalui berbagai lembaga termasuk yayasan (seperti Yayasan Muthahhari, Bandung; Yayasan Al-Muntazar Jakarta; Yayasan al-Jawad, Bandung; Yayasan Mulla Shadra, Bogor; Yayasan pesantren YAPI, Bangil; Yayasan Al-Muhibbin, Probolinggo; Yayasan Pesantren AlHadi, Pekalongan) dan sebagainya, ternyata gerakan sosialisasinya ditunjang oleh para tokoh-tokoh seperti Jalaluddin Rachmat, Quraish Shihab, Said Agil Sirodj. Bahkan sebagian para Habaib (yang selama ini dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallhu ‘alaihi wasallam dari jalur Fathimah-‘Ali) turut mensosialisaikan paham sesat ini.

Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Syi'ah Indonesia Para habaib bagi sebagian masyarakat awam mempunyai tempat khusus karena dipercaya merupakan ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad versi syi’ah), sehingga penjelasannya begitu mudah diterima sebagai kebenaran agama meski mengandung

kesesatan ajaran syi’ah, seperti membolehkan nikah mut’ah, mencaci maki Khulafa-ur Rasyidin (kecuali ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu) dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Yang berhasil dipengaruhi sang habaib bukan saja orang awam yang berpendidikan rendah, tetapi juga kalangan sosial ekonomi menengah dan berpendidikan tinggi. Sebut saja misalnya Sigit Ghozali (nama disamarkan), pengelola situs Islam yang cukup banyak dikunjungi para netter baik di Indonesia maupun mancanegara. Pria berusia menjelang paruh baya ini, adalah lulusan MBA di London, yang mendapat pencerahan soal Islam dari seorang habaib. Meski sejak lahir sudah Islam, namun kesadaran berIslamnya baru tumbuh setelah ia berinteraksi dengan para habaib.

Ilustrasi Meski tidak mau disebut berpaham syi’ah, warga asli Tegalan (Jakarta Pusat) ini sangat fasih mengutarakan doktrin-doktrin syi’ah yang sesat kepada siapa saja yang dianggapnya bisa dijadikan objek dakwahnya. Antara lain, konsep ahlul bait (keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah-‘Ali). Juga, bahwa ‘Aisyah telah pernah diceraikan Nabi Muhammad saw, bahwa banyak beredar hadits-hadits ‘tidak jelas’ yang diproduksi kelompok Mu’awiyah. Meski tidak mau disebut berpaham syi’ah, yang bersangkutan setiap Muharram tak pernah absen merayakan ‘peristiwa Karbala’. Meski sudah pernah dijelaskan berulang kali, bahwa peristiwa Karbala dihidup-hidupkan justru oleh para pengecut yang ketika cucu Nabi Muhammad saw sedang dibantai, mereka jutsru berdiam diri, namun merekalah yang paling bersemangat merayakan Hari ‘Asyura pada setiap bulan Muharram. Bahkan pada salah satu bulan Muharram, di situs Islam yang dikelolanya, nama sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra ditulis dengan menambahkan SAW di belakang nama beliau. Yaitu, Imam ‘Ali SAW. Sebuah pengangung-agungan yang berlebihan dan menyesatkan, khas syi’ah. Doktrin lain, misalnya untuk mempelajari Islam yang afdhol adalah melalui para ‘keturunan’ nabi yaitu para habaib yang bertebaran di mana-mana, dan akan lebih baik kalau mereka itu dikunjungi dan disantuni karena banyak para ‘keturunan’ nabi yang

miskin-miskin. Masih banyak doktrin (paham) syi’ah yang telah diinternalisasi secara baik oleh yang bersangkutan, itu semua merupakan hasil interaksinya dengan para habaib. Tidak semua habaib mengajarkan ‘muridnya’ untuk membenci Khulafaur Rasyidin, dan tetap mengakui dan memuliakannya. Namun karena mereka masih berpegang pada konsep ahlul bait (keturunan nabi versi syi’ah), maka ada kemungkinan mereka ini adalah para habaib berpaham pro syi’ah. Mereka mudah menjadi rekanan Syi’ah. Contoh lain, adalah tentang seorang sarjana informatika lulusan lokal. Pria berusia 40 tahun ini, sejak beberapa tahun lalu mengelola berbagai mailing list (milis). Beberapa milis yang dikelolanya antara lain menggunakan nama-nama beken, seperti Media Dakwah (tidak ada hubungannya dengan Serial Media Dakwah yang diterbitkan Dewan Dakwah), Sabili (tidak ada hubungannya dengan majalah Sabili yang dilahirkan oleh komunitas Tarbiyah-Partai Keadilan), juga Istiqlal (tidak ada hubungannya dengan Masjid Istiqlal).

Ilustrasi Sebut saja namanya Anus Nazami (nama disamarkan), pengetahuan tentang syi’ah ia peroleh ketika masih kelas tiga SD (begitu menurut pengakuannya). Baginya, syi’ah sama saja dengan Sunni (orang Ahlus Sunnah), ada yang sesat dan ada pula yang tidak. Sunni yang sesat, misalnya Ahmadiyah, Yusman Roy (shalat berbahasa Indonesia), atau Salamullah (Lia Aminuddin/ Eden). Jadi, kalau di kalangan Sunni ada yang sesat, maka di kalangan syi’ah juga ada yang sesat. Begitu pendapatnya. Namun ia tidak menjelaskan syi’ah mana yang sesat dan tidak sesat. Sedang memasukkan Ahmadiyah, Yusman Roy, dan Lia Eden ke Sunni (Ahlus Sunnah) itu jelas-jelas kecerobohan yang sangat jauh. Ia juga berpendapat buat apa mempersoalkan syi’ah yang bertuhan sama yaitu Allah, kitab suci sama yaitu Al-Qur’an, dan mempunyai nabi yang sama yaitu Muhammad SAW. Pendapat seperti ini seolah-olah benar tetapi sesungguhnya keliru. Syi’ah mempunyai kitab suci tersendiri. Meski masih mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi, namun mereka menjadikan ‘Ali sebagai Imam umat manusia, dan kelak umat manusia yang tidak ber-Imam kepada ‘Ali maka ia telah kufur.

‫ددد ددد دددددددد دددددد ددد دد دددددد دددد دد دددد‬ ‫دد ددددد ددد. –دددد دد دددددد دددددد – ( دددددد/ د 1 / ددد‬ 302 ). Artinya: “Amat berat bagi orang musyrik (menerima agama) yang kamu serukan kepada mereka terhadap kepemimpinan ‘Ali, wahai Muhammad, (tegaskan) dari kepemimpinan ‘Ali!” (Al-Kaafi I : 302). Ayat di atas merupakan salah satu contoh dari kitab suci kalangan syi’ah yang merupakan penyelewengan terhadap Al-Qur’an khususnya Asy-Syura ayat 13, yang bentuk aslinya sebagai berikut: ‫ددد ددد دددددددد دد دددددد دددد دددد ددددد دددد دد‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫دددد ددددد دددد دد دددد‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ Artinya: Amat berat bagi orang musyrik (menerima Agama) yang kamu serukan kepada mereka tersebut, Allah memilih kepada agama tersebut terhadap orang yang dikehendaki dan menunjuki kepada agama tersebut terhadap orang-orang yang kembali (taubat).” (QS As-Syura: 13). Yang bertuhankan Allah tidak saja manusia tetapi juga Jin, Syaithon dan Iblis. Karena iblis bertuhan Allah, apakah ini berati kita tidak perlu memerangi iblis? Padahal, setiap hari iblis yang bertuhan Allah ini memerangi umat manusia dan tak putus asa mengajak kepada jalan yang dimurkai Allah. Contoh lain terjadi di sebuah masjid di bilangan Jakarta Selatan. Masjid yang secara kultural condong ke NU ini, pada salah satu Khotbah Jum’at menunjuk pengganti khatib yang semestinya, namun tiba-tiba berhalangan. Sang Khotib pengganti ini adalah pria muda berusia hampir 30 tahun, lulusan pesantren Al-Awwabin Depok. Sang Khotib pengganti ini sebut saja bernama Jalal (nama disamarkan), yang sehari-hari bertugas sebagai Muadzin di masjid Darul Falah itu. Saat itu merupakan kali pertama ia menjadi Khatib. Bagi yang tidak paham, penampilan Jalal tak ada cacat, sama persis dengan para Khatib Jum’at yang biasa berkhotbah. Namun, materi yang ia bawakan membuat sebagian jama’ah terkejut. Antara lain, Jalal berkhotbah: yang namanya ahlul bait itu ada lima, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah binti Muhammad Rasulullah, kemudian Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib, dan yang kelima adalah Sitti Khadidjah isteri pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian Jalal sang Khotib pemula yang tidak sadar ia sedang membawakan doktrin syi’ah ini juga mengatakan: Rasulullah adalah gudang ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintu gerbangnya. Maka, bila kita menuntut ilmu tanpa mendatangi pintu gerbangnya (maksudnya mendatangi keturunan

‘Ali-Fathimah yang biasa disebut ahlul bait oleh kalangan syi’ah), maka menuntut ilmu seperti itu ibarat seperti orang yang mencuri. Kalau ditelusuri, khathib itu berlandaskan hadits dha’if (lemah), bahkan maudhu’ (palsu). ‫دد ددد ددددد ددد: ددد دددد دددد ددد دددد دددد دددد:ددد‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د د د د د‬ ‫ددددد ددددد دددد ددددد ددد دددد ددددد دددددد دد‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫.دددد‬ ‫د‬ Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya, maka siapa yang menginginkan ilmu maka hendaklah mendatanginya dari pintunya.” (HR At-Thabrani). Hadits riwayat At-Thabrani itu ada Abdul Salam bin Shalih Al-Harawi, dia dhaif menurut Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 9/ hal 8. Hadits ini maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at 1/350. Menurut Al-Albani, hadits itu maudhu’ (palsu), lihat Dho’iful Jami’ nomor 1322. Dengan modal hadits palsu seperti itu, sang khathib pemula ini telah memvonis: “bila kita menuntut ilmu tanpa mendatangi pintu gerbangnya (maksudnya mendatangi keturunan ‘Ali-Fathimah yang biasa disebut ahlul bait oleh kalangan syi’ah), maka menuntut ilmu seperti itu ibarat seperti orang yang mencuri.” Ponpes Al-Awwabin tempat Jalal khathib pemula ini pernah menimba ilmu selama ini bukanlah ponpes yang berindikasi syi’ah, begitu juga dengan pengurus masjid Darul Falah, sama sekali bukan berpaham syi’ah. Namun, Masjid Darul Falah tempat Jalal beraktivitas adalah salah satu mesjid yang sering disinggahi para habaib, apalagi saat ‘panen raya’ peringatan maulid nabi. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/habaib-misionaris-syi%E2%80%99ah/#more-16 Share:
• • • • •

0 Comments

Mas, Sampeyan Syi’ah?
5 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 5,2011 Uncategorized

Mas, Sampeyan Syi’ah? KALAU anda bertemu Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib –itu lho budayawan asal Jombang Jawa Timur yang lama bermukim di Yogyakarta yang terampil menulis kolom, bisa nembang/nyanyi, dan menulis puisi– tanyakan kepadanya: “Mas, sampeyan Syi’ah?”

Kalau jawaban Cak Nun tidak tegas, atau justru mengingkari, ingatkan kepadanya bahwa dulu, di tahun 1997 majalah PANJI MASYARAKAT edisi 01-07 Juli 1997 (halaman 91) pernah menurunkan laporan tentang keterlibatan Cak Nun pada acara yang diadakan kalangan Syi’ah. Yaitu, acara Doa Kumail. Cak Nun ketika itu memberikan ceramah, sambil merintih-rintih, dan benar-benar menangis, di hadapan sekitar 200 hadirin, yang memadati gedung pertemuan Darul Aitam, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Acara pembacaan Doa Kumail adalah bagian dari peringatan peristiwa Karbala, untuk memperingati wafatnya Husein radhiyallahu ‘anhu, yang wafat dalam perjalanan menuju Kufah (Irak). Kalangan Syi’ah menganggap wafatnya Husein radhiyallahu ‘anhu sebagai syahid. Namun anehnya hanya Husein radhiyallahu ‘anhu yang dianggap syahid, padahal yang wafat bukan hanya Husein radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu, yang ikut wafat bersama Husein radhiyallahu ‘anhu dalam peristiwa Karbala adalah Abu Bakar, Utsman, dan Abbas (putra dari ‘Ali bin Abi Thalib juga). Ada juga putera dari Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar. Bahkan putera dari Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib sendiri ada yang turut wafat di Karbala, bernama Ali Akbar bin Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib. (Lihat Tarikh Khalifah bin Al-Khayyath, 234, Maqatil Ath-Thalibiyyin, 80, Tarikh Al-Mas’udi, II/71). Pertanyaannya, mengapa peringatan Asyura oleh kalangan Syi’ah hanya untuk memperingati kematian Husein radhiyallahu ‘anhu saja? Dan mengapa yang dianggap syahid hanya Husein radhiyallahu ‘anhu saja? Ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh orang-orang di Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar, “mereka menangisi kami, padahal bukankah mereka sendiri yang telah membunuh kami.” (Tarikh Al-Ya’qubi, II/245, Al-Ihtijaj, II/291, oleh Ath Thabarsi). Begitu tingginya apresiasi kalangan sesat Syi’ah terhadap Husein radhiyallahu ‘anhu, sampai-sampai ada kisah versi Syi’ah yang menggambarkan bahwa Nabi Muhammad memilih mengorbankan putra kandung beliau, Ibrahim bin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk diambil Allah subhanahu wa ta’ala ketimbang Husein radhiyallahu ‘anhu (cucunya). Dongeng lengkapnya sebagai berikut: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan lebih memilih al-Husain daripada Ibrahim putranya sendiri. Abu al-Abbas meriwayatkan bahwa suatu hari aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Rasulullah sedang memangku Ibrahim, putranya, di paha kiri dan al-Husain Ibn Ali di paha kanan. Ia mencium keduanya bergantian. Kemudian malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Tuhan semesta alam. Nabi bercerita kepadaku, “Jibril datang kepadaku dan berkata: “Hai Muhammad! Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan berfirman, “Aku tidak akan mengumpulkan mereka berdua [yakni Ibrahim dan Al-Husain] bersama-sama. Maka pilihlah salah seorang diantara mereka berdua”. Nabi menatap Ibrahim, kemudian menangis. la berkata: Jika Ibrahim yang meninggal tidak ada yang menangisinya kecuali aku. Tapi ibu Husain adalah fatimah. ayahnya Ali, putra pamanku, darah dagingku. Jika ia meninggal, ibunya akan menangisinya. Demikian pula putra pamanku dan aku sendiri. Aku lebih memilih biarlah aku yang sedih, jangan mereka berdua. Wahai Jibril, biarlah Ibrahim saja yang meninggalkanku. Aku relakan Ibrahim demi al-Husain”. Tiga hari kemudian Allah memanggil Ibrahim. Maka setiap kali al-Husain datang menghadap Nabi, Nabi selalu mencium dan memeluknya seraya berkata: “Wahai orang yang aku relakan Ibrahim pergi deminya.” (sumber: www.fatimah.org)

Bagi orang waras, dongeng di atas terasa sangat bodoh, sangat merendahkan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Seolah-olah Allah tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas hamba-Nya, sehingga untuk mencabut nyawa Ibrahim, Dia harus berkonsultasi dulu dengan bapaknya Ibrahim (yakni Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Dalam sudut pandang lain, dongeng di atas seolah-olah menggambarkan bahwa Allah begitu takut kepada Husein radhiyallahu ‘anhu sehingga Dia tidak berani begitu saja mencabut nyawanya, bahkan saking takutnya maka harus ditukar dengan nyawa Ibrahim putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau terhadap Husein radhiyallahu ‘anhu yang masih anak-anak saja Allah –digambarkan oleh kalangan Syi’ah– sudah sedemikian takutnya, bagaimana pula ketika Husein sudah dewasa, gagah perkasa, dan pandai menggunakan senjata? Dongengan sesat versi Syi’ah itu juga terang-terangan menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seolah-olah beliau digambarkan sebagai bapak yang tidak bertanggung jawab, lebih mencintai cucunya ketimbang anak kandungnya sendiri. Syi’ah memang paham iblis yang menghina Allah dan Rasul-Nya, namun dengan sikap munafik seolah-olah paling mencintai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. Membuat-buat dusta atas nama Allah subhanahu wa ta’ala telah dikenal sebagai kelakuan Yahudi yang telah Allah kecam keras dalam Al-Qur’an. Sementara itu Syi’ah memang induk aliran sesat yang ditumbuhkan oleh Abdullah bin Saba’ yang dikenal sebagai orang Yahudi yang membuat kekacauan di sana-sini. Kecaman Allah swt terhadap Yahudi ini berlaku pula untuk Syi’ah yang berdusta atas nama Allah subhanahu wa ta’ala. ‫ددد دددد دددددد ددددد ددددددد ددددددد ددددددد دد‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د د‬ ‫دددددد ددد دد دد دددددد ددددددد دد دد ددد دددد ددد دد‬ ‫د‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ 78 )‫)دد ددد دددد ددددددد ددد دددد ددددد ددد دددددد‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د د‬ Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS Ali ‘Imran: 78). Menangis untuk Allah subhanahu wa ta’ala tentu lebih baik ketimbang menangis dalam acara yang diada-adakan oleh Syi’ah yang sudah jelas kelakuan buruknya menirukan Yahudi yang dikecam oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena dikhabarkan, Emha Ainun Nadjib menangis-nangis dalam acara Syi’ah itulah maka dalam hal ini kemudian timbul pertanyaan: “Mas, Sampeyan Syi’ah?” (haji/tede/nahimunkar.com)

Sumber: http://www.nahimunkar.com/mas-sampeyan-syi%E2%80%99ah/#more-72 Share:
• • • • •

0 Comments

Ente Syi’ah?
4 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 4,2011 Uncategorized

Ente Syi’ah? JIKA anda bertanya kepada seseorang yang jelas-jelas berpaham Syi’ah dengan pertanyaan: “ente Syi’ah?” jawabannya pasti bermacam-macam, namun nadanya sama yaitu menyangkal dirinya Syi’ah. Meski menyangkal, namun mereka terus membela ‘kebenaran’ Syi’ah, mengeluarkan argumen yang memihak dan menguntungkan Syi’ah. Salah satu contohnya adalah: “Syi’ah khan Islam juga, Tuhannya sama, kitab sucinya sama, dan mereka pergi berhaji ke Mekkah.” Jawaban khas seperti ini seringkali meluncur dari mereka yang menyatakan dirinya bukan Syi’ah dan memang tidak mau dibilang Syi’ah, hanya saja membela-bela Syi’ah, namun tidak tahu banyak soal Syi’ah. Misalnya, mereka tidak tahu bahwa kalangan Syi’ah punya (mempercayai) kitab suci yang berbeda dengan Al-Qur’an, namun dalam rangka taqiyah hal itu tidak dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak dunia. Kalangan Syi’ah percaya bahwa Al-Qur’an yang ada merupakan kitab suci umat Islam, tidak asli lagi, sudah mengalami perubahan, sudah mengalami proses ditambah dan dikurangi oleh para sahabat Nabi; sedangkan Al-Qur’an yang asli dan lengkap berada di tangan ‘Ali yang kemudian diwariskan kepada putera-puteranya, sekarang ada di tangan Imam Mahdi Al-Muntazhar (lihat Ushul Madzahibi Al-Syi’ah, 1/202.). Bukan hanya kitab suci khas Syi’ah yang mereka sembunyikan, tetapi kitab-kitab Syi’ah yang memuat haqiqat aqidah dan syari’at Syi’ah juga mereka sembunyikan, tidak dipublikasikan secara luas kecuali kepada kalangan tertentu, sebab bila kitab-kitab seperti itu sampai terbaca umat Islam maka akan menjadi senjata makan tuan. Namun,

sepandai-pandai ulama Syi’ah laknatullah menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga oleh umat Islam berkat kuasa Allah semata. Contoh lainnya, bisa kita temukan pada posting berikut ini, dari seseorang yang menolak dirinya dikatakan Syi’ah, namun tiada henti membela Syi’ah. Materi posting ini diambil seutuhnya dari milis Sabili beberapa tahun lalu (Tuesday, April 22, 2003 7:21 PM), yang dikrimkan oleh Zulfan K (zulfan@telkom.net). FYI, Zulfan K adalah nama alias dari salah satu (mantan) moderator milis tersebut, yang kemudian lebih konsentrasi menjadi webmaster swaramuslim.

Ilustrasi Ia berpendapat, Sunni dan Syi’ah hanyalah sekte atau aliran, yang sangat berbeda dengan ahlul bait. Juga dikatakan, Syi’ah dulu sangat berbeda dengan Syi’ah sekarang. Syi’ah di zaman ‘Ali ra – Hasan ra – Husein ra adalah berarti pengikut setia ahlul bait. Jadi, ia menyangkal dirinya menganut aliran Syi’ah tetapi ahlul bait. Baginya Syi’ah dan sunni sama-sama aliran dan sekte yang berbeda dengan ahlul bait. Padahal, ahlul bait (yang dia maksud) itu hanyalah nama lain dari Syi’ah yang sesat dan menyesatkan. Materi posting selengkapnya kami tampilkan sebagai berikut: From: “zulfank” To: Sent: Tuesday, April 22, 2003 7:21 PM Subject: [Sabili] Al Imam Asy Syafi’i : Saya ini adalah penganut Syi’ah Assalamu’alaikum wr wb. Saya masih belum mendapat pencerahan dari sdr. M Tofikur Rahman tentang pernyataan beliau “Bid’ah besar akan dimulai disana”. Dan sdr. Leo Imanov cukup jeli menyambung kebenciannya terhadap Ahlul Bait seperti gayung bersambut membuat Thread Panjang dimilis sabili lengkap dengan link link soal syiah sebagai “PENYAMBUNG LIDAH MUAWIYAH LAKNATULLAH” Pertanyaan saya : “Apa dasarnya antum antum Membenci Ahlul Bait”? Dapatkah anda membuktikan kepada dunia Islam bahwa Ahlul Bait mengajarkan hal hal Bid’ah?

SYIAH dan/atau SUNNI adalah aliran yang sangat berbeda dengan Ahlul Bait. SYIAH dulu sangat berbeda dengan SYIAH sekarang. SYIAH dijaman Imam Ali – Imam hasan – Imam Husein adalah berarti pengikut setia Ahlul Bait, namun antum antum harus INGAT bahwa setelah berkuasanya MUAWIYAH LAKNATULLAH setelah membunuh Imam Ali… keadaan dibalik… seakan akan Islam memusuhi Ahlul Bait.. dan bahkan membantai Imam Husein di Karbala? Kenapa? karena Cinta pada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Cinta pada dunia / Hubbud dunya? Walhasil… Ahlul Bait dan SYIAH menjadi seperti PKI jaman Soeharto… diburu – dicekal dibunuh sampai habis. Dan akhirnya sudah barang tentu akan banyak terdapat rekayasa rekayasa pembenaran yg berlangsung selama bertahun tahun…. hingga ratusan tahun hingga sekarang ini…. Astaghfirullahal adziim. Tidak heran akan banyak hadist hadist Batil sekarang ini untuk Pemebenaran sejarah kelam tsb yg telah membawa konflik berdarah dunia Islam sampai akhirnya datanglah ke Khalifahan Al Imam Asy Syafi’i yang menyatukan umat Islam saat itu kedalam Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Alhamdulillah.. saya mencari cari file lama dan menemukan statement “Al Imam Asy Syafi’i sbb : “In kaana rofdlonhubbu ila Muhammadin – Fal yasyahadisy syaqolanu inni rofdiyyi” (Artinya : Jika saya akan dituduh orang Syi’ah karena saya mencintai keluarga Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin bahwa saya ini adalah penganut Syi’ah (Al Imam Asy Syafi’i) Setelah lama sekali dicekal oleh Saddam Husein, kedatangan umat Islam ke karbala saat ini adalah untuk memperingati 40 hari wafatnya Imam Husein Radhiyallahu ‘Anhu yang kebetulan juga disana terdapat makam Imam Ali Radhiyallahu ‘Anhu – Imam Husein Radhiyallahu ‘Anhu Kalau seandainya yg dimaksud oleh sdr. M Tofikur Rahman dan Leo Imanov hal tersebut adalah “Bid’ah besar akan dimulai disana” maka saya akan kutip pernyataan Al Imam Asy Syafi’i bahwa “Jika saya akan dituduh orang Syi’ah karena saya mencintai keluarga Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin bahwa saya ini adalah penganut Syi’ah” Syiah dan Sunni adalah Sekte / Aliran.. sebaiknya kita STOP membicarakan segala perbedaan-2 dan keburukan keburukan yang tidak jelas kebenarannya. Namun sebaliknya Imam Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan Imam Husein Radhiyallahu ‘Anhu adalah benar benar Keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang harus kita akui keberadaan & perannya nya dimasa lampau dalam menegakkan Islam. Kenapa kita harus enggan dan malu? takut dituduh syiah? atau kita sudah kepalang tanggung beraliran Sunni? Yang wajib kita teladani adalah bukan Sunni dan/atau Syiahnya akan tetapi suri tauladan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam & Ahlul Baitnya dalam beramar ma’ruf wa nahi munkar dalam menegakkan ajaran Islam yang sekarang ini sudah diwadahkan oleh Imam Syafe’i dalam ASWJ.

Mohon maaf.. bagi antum antum yang fanatik dengan Sunni jangan so offence dengan saya. Saya sekedar mengingatkan untuk berhati hati dalam mendebat SYIAH. Tahukah anda 9 wali di Indonesia? Mereka semuanya adalah cicit cicitnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Believe it or not! kalau kita kita enggan untuk mengakuinya, layakkah kita meminta Syafaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Alhamdulillah ala niqmatil Islam – wa kafa biha bin’niqmati washolatu wassalamu’ala syafi’il ummah, Syayyidina Muhammaddin wa’ala alihi wasohbihi fi qulli : Innalloha wamala’ikatahu yussoluna alannabi – Ya ayyuhalladzi na’amanu sollu alaihi wassalimu taslima (QS Al-Ahzaab 33:56). Semoga ana mendapat pencerahan lebih lanjut. Biasanya sosok ini hanya mem-forward materi tentang Syi’ah dari situs www.fatimah.org. Hanya sesekali ia tampil dengan pemikiran otentiknya yang amat sangat terpengaruh oleh Syi’ah. Sosok Zulfan K adalah salah satu contoh dari generasi muda Islam yang kurang bekal, namun mendapat indoktrinasi yang bagus oleh para misionaris Syi’ah sehingga menjadi begitu militan. Tanpa ilmu, ia menjadi pembela Syi’ah yang emosional dan konsisten dengan kesesatannya. Masalah syair Imam Syafi’I tentang Rafidhah Berikut ini penjelasan cukup baik dari seorang syaikh dalam menolak klaim orang Syi’ah bahwa Imam Syafi’I pro Syi’ah: Batilnya Syi’ah Rafidhah menjadikan bait syair Imam Syafi’I rahmatullahi alaih sebagai saksi. Al-Hamdulillah. Shalawat dan salam atas Rasulillah, dan atas keluarganya, sahabatnya, dan yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari qiyamat. Setelah yang demikian… Di sela-sela perjalananku dalam lapangan agama aku perhatikan banyak dari orang Syi’ah Rafidhah menjadikan bait syair Imam As-Syafi’I rahmatullahi ‘alaihi sebagai saksi, yang syairnya itu berbunyi: ‫دد ددد دددد دد دد دددد … دددددد ددددددد ددد ددددد‬ ‫د‬ Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad… maka hendaklah jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah orang Syi’ah Rafidhoh. Di antara mereka (orang Syi’ah) menjadikannya saksi dan berhujjah (berdalih) dengan syair itu.

Sebagian mereka meletakkan syair itu pada tanda tangannya. Dan yang lainnya berkata, cukup bagiku perkataan As-Syafi’i. Dan seterusnya… Di antara mereka menyangka bahwa Imam As-Syafi’I mendukung mereka dan menisbahkan dirinya dengan mereka dan kepada aqidah mereka yang rusak lagi menyeleweng. Ini adalah sebenar-benarnya dusta dan bohong, tetapi hal ini bukanlah barang baru dalam Syi’ah Rafidhah, bahkan berasal dari tulang sulbi aqidah mereka. Dan ini adalah dakwah yang batil, bahkan bait syair Imam Syafi’I itu adalah hujjah (argumen) yang menimpa mereka (Syi’ah Rafidhah), bukan mendukung mereka. Untuk anda, keterangan berikut ini: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: 81 )‫)دد دد ددد دددددد ددد دددد ددد دددددددد‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (QS Az-Zukhruf: 81). Tidaklah Allah memiliki anak, Maha Suci Allah. Lafal itu hanyalah sebagai penolakan jauh-jauh terhadap ucapan orang-orang musyrikin dan persangkaan mereka. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan 43 )‫)دددددد دددددد ددد دددددد دددد ددددد‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫د د‬ ‫د‬ Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (QS Al-Israa’: 43). Allah Ta’ala telah mengabarkan dalam ayat itu dengan ‫( دد‬jika benar), dan demikian pula As-Syafi’I berkata : ( ‫) دد ددد دددد دد دد دددد‬ Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad… itu adalah merupakan penolakan jauh-jauh darinya untuk menjadikan cinta keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagai Syi’ah Rafidhah. Demikian pula pada hari ini kami katakan penolakan terhadap orang-orang sekuler dan para pengekornya: Jika benar bahwa berpegang teguh dengan Islam dan berjalan di atas manhaj (pola pemahaman)nya dan petunjuknya itu adalah primitif dan konserpatif, maka saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang primitive dan konserpatif. Maka yang ini persis yang ini. Adapun pendapat Imam Syafi’I yang sebenarnya mengenai Syi’ah Rafidhah: Maka sesungguhnya dia (Imam Syafi’I) belum pernah melihat seorang pun yang kesaksiannya lebih dusta dibanding orang Syi’ah Rafidhah. (Adz-Dzahabi, Siyaru a’laamin Nubalaa’

‫‪juz 10 halaman 89). (Syaikh Ali bin Nayif Ash-Shahud, Syubahtur rafidhah haulas‬‬ ‫]1[ .)55 ‪shahabah radhiyallahu ‘anhum waradduha, juz 2 halaman‬‬ ‫‪Dari keterangan itu, nyata benar ngawurnya netter yang kini konsentrasinya ke‬‬ ‫.‪swaramuslim.net itu‬‬ ‫‪Kenyataannya, banyak sosok seperti ini yang tanpa bekal ilmu dan pengetahuan yang‬‬ ‫‪cukup menjadi pendukung Syi’ah tanpa dibayar. Masih mending Jalaluddin Rakhmat‬‬ ‫‪atau Quraish Shihab, mereka menjadi pendukung Syi’ah atau ahlul bait tapi‬‬ ‫‪kemungkinan mendapat bayaran yang pantas, sehingga unsur duniawinya masih bisa‬‬ ‫‪diperoleh. Bandingkan dengan generasi muda pembela Syi’ah secara sukarela dan‬‬ ‫‪emosional macam Zulfan K, sudah tidak dibayar masih ketahuan ngawurnya yang‬‬ ‫.‪sangat memalukan pula. Kasihan sekali‬‬ ‫ددددد ددددددد ددد ددددددد ددد دددد دددد ددددد – )د 2 ]1[‬ ‫)/ د 55‬ ‫ددددد ددددددد ددددددد دددد ددد ددددددد دددد دددد‬ ‫دددد‬ ‫ددددد ددد ددددددد ددددددد ددد دددد دددد دددد ددد‬ ‫ددددد ددد ددددد دددددد ددد ددد ددددد‬ ‫… ددد ددد‬ ‫دد دددد ددددد دد ددددددد ددددددد ددددد دددددد دد‬ ‫ددددددد دددددددد دددد ددد دددددد ددددددد دددد دددد‬ ‫: دددد دددد دددد ددد‬ ‫دد ددد دددد دد دد دددد … دددددد ددددددد ددد ددددد‬ ‫د‬ ‫دددد دد دددددد ددددد دد‬ ‫. ددددد دد دددد دد دددددد‬ ‫. دددد دددد دددددد ددد ددددددد ….ددد‬ ‫دددد دددد ددد دددددد ددددددد دددددد دددددد ددددد‬ ‫. دددد ددددددد ددددددد دددددددد‬ ‫دددد دد ددد ددددد ددددددددد دددد ددد ددد ددددد ددد‬ ‫. ددددددد د دد دد ددد ددددددد‬ ‫دددد دددددد ددددد دد د دد ددد ددددد دد ددد د ددددد‬ ‫: دددددد‬ ‫دددد دددد دد ددد دد دددد دددددد ددد ) 18 ( )) دد دد ددد‬ ‫دددددد ددد دددد ددد دددددددد (( دددد دددددد ددد‬ ‫دددددد د ددددد ددد دددددددد دددد دددددددد دددددددد‬ ‫ددددد دددد ددد دددددد دددد ددددد د دد ددد دددد دد ددد‬ ‫دد ددددد دد ) دد ( دددد ددد ددددددد دددد دددد ) دد ددد‬ ‫دددد دد دد دددد ( دددددددد ددد دد دددد دد دد دددد ددد‬ ‫. دددد دددد دددد دددد‬ ‫ددددد دددد ددددد ددد ددد دددددددددد دددددددد : دد‬ ‫ددد دددددد دددددددد دددددد ددد دددددد ددددد ددددد‬ ‫. ) دددددد ددددددد ددددد دددددد دددددددد . ) دددد دد ددد‬ ‫ددد ددددد ددد دددددد ددددددد دددد دددد دد ددددددد :‬ ‫) دددد دد ددد دددد دددد دددددد دد ددددددد ( ددد دددد د‬

89 ‫) ددددددد ) د 01 د‬ ‫: دددد دد ددد دد ددددد دددد‬ ‫ددددد ددددد د ددد : ددد … دد ددددد دددد ددد ددددددد‬ ‫ددددد دد دددددد دددددددد دد دددددد ددد دددددد ددد دد‬ ‫. دددددددد ددد دد دددد . دددد دددد دددد د! ددددد ددد‬ ‫:دددد ددد ددددددد ددد ددددد‬ ‫دد ددد دددد دد ددد دددد * * * ددددددد ددددددد ددد ددددد‬ ( ‫دددددد : ددددد ددددددد ددد ددددددد ددد دددد دددد‬ ‫ددددد‬ ‫دددد ددددد ددددد‬ ‫دددددد دد دددددد دددددد‬ ‫)ددددد ددد دد دددد دددددد‬ Sumber: http://www.nahimunkar.com/ente-syi%E2%80%99ah/#more-71 Share:
• • • • •

139 Comments

Syi’ah dan Artalyta Suryani
4 Jun 2011 Posted by umarabduh in Jun 4,2011 Uncategorized

Syi’ah dan Artalyta Suryani SYI’AH sudah jelas merupakan induk kesesatan. Derivat dari paham, ajaran dan doktrin sesat Syi’ah bisa ditemui pada berbagai aliran dan paham sesat yang beredar di dunia termasuk Indonesia. Dalam bahasa sederhana, JIL (Jaringan Islam Liberal) itu derivat Syi’ah, begitu juga dengan Ahmadiyah, LDII, dan sebagainya merupakan derivat Syi’ah. Perlu kajian khusus yang mengupas Syi’ah sebagai induk kesesatan dan seluruh derivatnya. Paling kurang, seluruh aliran sesat pasti menentang Sunnah, sedangkan menentang Sunnah itu adalah pokok dari Syi’ah.

Jenderal Sutanto Saat Menjadi Kapolri Menghadiri Pesta Pernikahan Salah Satu Anak Artalyta Suryani Apa hubungan antara Syi’ah dengan Artalyta Suryani? Yang jelas, Artalyta Suryani (perempuan) yang nonpri dan non Muslim ini tidak berpaham Syi’ah. Namanya menjadi terkenal karena ia menjadi tokoh utama dalam skandal penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan (41 tahun), sebesar 660.000 dollar AS atau setara dengan Rp 6,1 miliar.

Jaksa Urip Tri Gunawan Peristiwa tertangkapnya Urip oleh KPK terjadi sekitar tiga hari setelah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman mengumumkan penghentian pemeriksaan perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pemegang saham Bank Central Asia Anthony Salim dan Bank Dagang Nasional Indonesia Sjamsul Nursalim.

Sjamsul Nursalim, Salah Satu Konglomerat Hitam Sejak Juli 2007, sebelum dinon-aktifkan, Urip menjabat sebagai ketua tim pemeriksa untuk kasus BLBI II yang menangani kasus pelanggaran penggunaan dana BLBI yang dikucurkan kepada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), milik konglomerat Sjamsul Nursalim. Dan Artalyta alias Aying adalah orang kepercayaan Sjamsul Nursalim. Jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan di salah satu rumah milik Sjamsul Nursalim di kawasan elit Simprug, Jakarta Selatan, pada Ahad petang (02 Maret 2008). Sjamsul Nursalim sendiri tidak mukim di situ, karena ia bersembunyi (bermukim) di Singapura, untuk menghindari jeratan hukum. Sjamsul adalah pemegang saham utama BDNI, yang mempunyai total utang BLBI sebesar Rp28,1 triliun. Artalyta sebagai orang kepercayaan Sjamsul selain pandai –dan berhasil– melakukan lobby kepada petinggi negara, juga lincah mendekati elite partai. Menurut catatan detikcom (04 Mar 2008), Artalyta pernah masuk ke dalam jajaran pengurus DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa, partainya wong NU –Nahdlatul Ulama) sebagai Bendahara menggantikan Erman Soeparno, yang kala itu diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans).

Erman Suparno Selama ini, Artalyta memang menjalankan fungsi dan peranan sebagai public relation untuk kelompok Sjamsul Nursalim, salah satu konglomerat hitam yang sudah mendapat SP3 dari pemerintah, ia juga menjalankan fungsi dan peranan melakukan lobby kepada tokoh pemegang kekuasaan, sejak sebelum SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) jadi presiden, seperti Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Presiden Megawati. Pada 15 April 2007 lalu, Presiden SBY menghadiri resepsi perkawinan putra dari Artalyta yaitu Rommy Dharma Satriawan, yang berlangsung di Hall A23 Pekan Raya Jakarta. Selain SBY, hadir juga Agung Laksono, dan beberapa petinggi nasional, juga petinggi Partai Demokrat. Kehadiran Presiden Republik Indonesia pada sebuah resepsi perkawinan seperti itu tentu menunjukkan betapa si pemilik hajat adalah sosok penting dan bermakna bagi SBY sang presiden. Meski kehadiran SBY hanya sebentar, namun sempat berfoto dengan kedua mempelai dan keluarganya, tetap menunjukkan bahwa ada hubungan spesial di antara mereka. Dan yang lebih penting, peristiwa tersebut apakah memungkinkan bahwa SBY dan konglomerat (hitam) ada kaitan. Dari sisi lain, kenyataan sekarang, mengapa upaya pemberantasan korupsi, termasuk BLBI, berjalan seperti tebang pilih, mengutamakan yang kecil-kecil, padahal kasus korupsi yang jauh lebih besar jumlah rupiahnya (triliunan) jauh lebih bermakna untuk membangkitkan ekonomi nasional.

Nampaknya kita tidak bisa berharap SBY mau dengan serius menyelesaikan kasus BLBI. Buktinya, SBY tidak hadir di gedung DPR-MPR saat interpelasi BLBI, namun ia menghadiri acara Cap Go Meh yang diselenggarakan Metro TV Februari lalu. Bila pejabat sekelas jaksa Urip Tri Gunawan saja diamplopi 660 ribu dolar AS (atau setara dengan Rp 6,1 miliar), maka bagaimana lagi seandainya yang pangkatnya lebih tinggi. Kasus penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan ini kemungkinan ibarat puncak gunung es, hanya sebagian kecil yang tampak di mata, namun sesungguhnya jauh lebih dahsyat di bawah permukaan.

Boleh jadi, keluarga Sjamsul Nursalim pun akan berkilah bahwa kasus penyuapan itu tanpa sepengetahuan mereka sehingga mereka tidak bertanggung jawab atas itu semua, dan seluruh beban dipikulkan pada pundak Artalyta. Seharusnya, tertangkapnya Artalyta bisa dijadikan pintu tol menuju penangkapan Sjamsul Nursalim, dan dijadikan momentum mengungkap kembali kasus BLBI, serta memenjarakan pejabat dan konglomerat hitam yang terlibat kasus ini, termasuk mengusut seluruh mantan presiden sebelum SBY. Menurut Kompas edisi 04 Maret 2008, Artalyta Suryani adalah Wakil Komisaris Utama di PT Indonesia Prima Property Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perumahan hotel dan apartemen, pusat pertokoan dan perkantoran. Sedangkan jabatan Komisaris Utamanya dipegang oleh mantan Kapolri Jenderal (Purnawirawan) Dibyo Widodo. Perusahaan ini berkantor di Wisma Diners Club Lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 34, Jakarta. Yang menarik, webmaster situs Islam swaramuslim.net atau swaramuslim.com berkantor di sini. Ia masih kerabat dekat Sjamsul, dan bekerja di PT Indonesia Prima Property Tbk sebagai salah satu anak buahnya Artalyta. Dari tempat inilah swaramuslim dioperasikan, sejak beberapa tahun lalu. Dan yang telah sama-sama kita ketahui, sang webmaster adalah salah satu penganut (pendukung) paham Syi’ah, sebagaimana bisa dilihat dari beberapa gelintir materi yang pernah dipublikasikan situs tersebut.

Ilustrasi Secara langsung dan tegas memang tidak ada kaitan apa-apa antara Artalyta dengan paham sesat Syi’ah. Namun dari data-data di atas, setidaknya kita jadi menduga-duga, apakah ada kaitan invisible? Selama ini swaramuslim diposisikan sebagai salah satu situs Islam garis keras, radikal, fundamentalis, yang sekali-kali menjajakan Syi’ah. Sebagian besar isinya merupakan copy paste dari situs lain seperti hidayatullah.com. Materi tentang (dukungan atau bahkan penyebaran) Syi’ah biasanya dibuat sendiri oleh sang webmaster, atau kontribusi dari luar yang juga pendukung Syi’ah.

Masih ingat kasus pelarangan jilbab di superstore SOGO? Harian Republika 24 Januari 2002 memberitakan tentang muslimah bernama Misye yang bekerja di SOGO (Jakarta Pusat), namun karena ia tetap berjilbab, maka pihak manajemen SOGO pun memberikan alternatif: terus bekerja atau mengundurkan diri. Misye akhirnya memilih mundur dari SOGO demi mempertahankan berjilbab. SOGO kala itu adalah salah satu superstore paling terkemuka, yang sebagian sahamnya dimiliki Sjamsul Nursalim. Salah seorang manajemen yang bersikap diskriminatif terhadap muslimah berjilbab seperti Misye tadi, ternyata masih kerabat dekat Sjamsul Nursalim yang tak lain juga kerabat amat dekat dari webmaster swaramuslim tadi. Sikap manajemen SOGO kala itu terkesan seperti menantang perang, karena larangan itu terjadi di era reformasi. Apalagi bila dibandingkan dengan negara super sekuler seperti Amerika Serikat, di sana karyawati yang bekerja di lingkungan pemerintahan federal AS saja dibolehkan mengenakan jilbab, menjalankan shalat lima waktu, membaca al-Qur’an dan sebagainya (Republika, 10 Agustus 1997). Ketentuan itu bahkan dibuat secara detil (tertulis) dan dikeluarkan secara resmi oleh Bill Clinton (Presiden AS kala itu). Begitulah kenyataannya, ternyata keluarga Sjamsul lebih anti Islam dibanding pemerintah sekuler super teroris Amerika Serikat. (haji/tede/nahimunkar.com) Sumber: http://www.nahimunkar.com/syi%E2%80%99ah-dan-artalyta-suryani/#more-39 Share:
• • • • •

0 Comments

Beben dan Kaki Gajah, Ahmad Dhani dan Mobil Mewah
30 May 2011 Posted by umarabduh in May 30,2011 Uncategorized

Beben dan Kaki Gajah, Ahmad Dhani dan Mobil Mewah

Umar Abduh JIKA materi yang menjadi ukuran, maka betapa beruntungnya ketiga anak Ahmad Dhani (Al, El dan Dul) ini. Karena, secara khusus, sang bapak (Ahmad Dhani) membeli sebuah mobil mewah berharga miliaran rupiah, demi mereka. Kepada cumicumi.com Ahmad Dhani berujar: “Mobil ini buat anak-anak, karena saya jarang pakai, yang pakai selalu anak-anak. Karena dari dulu si Al selalu minta dibeliin mobil baru…” (cumicumi.com edisi Sun, Nov 8, 2009 18:04)

Ahmad Dhani Al adalah anak sulung Ahmad Dhani, buah pernikahannya dengan Maia Estianty. Pasangan ini sudah resmi bercerai sejak 23 September 2008. Nama lengkap remaja belasan tahun ini adalah Ahmad Al Gazali. Dalam usia sangat belia, Al sudah bisa mengendarai mobil mewah yang dibelikan bapaknya. Mobil mewah Chrysler berwarna hitam ini, konon di Indonesia belum ada yang punya, kecuali Ahmad Dhani satusatunya.

Chrysler (ilustrasi) Mobil mewah asal Amerika Serikat bernomor polisi B 1 RCM ini, menurut Dhani merupakan hasil kerja keras dirinya selama 10 tahun yang kemudian ia tabung. Mobil tersebut ia beli semata-mata untuk menyenangkan hati ketiga jagoan ciliknya. Dhani membeli mobil itu agar dapat dipakai untuk mengantar Al, El dan Dul kemana pun mereka pergi, termasuk ke sekolah. Sekali lagi, bila materi yang dijadikan ukuran, maka betapa beruntungnya Dhani, Al, El, dan Dul. Apalagi bila dibandingkan dengan Beben, lelaki berusia 34 tahun penduduk Kampung Babakan Leuwi Dulang, Desa Sukamanah, RT 02 RW 02, Majalaya, Kabupaten Bandung. Karena, Beben sama sekali tidak pernah mampu menabung uang untuk dibelikan mobil mewah, ia malah ‘menabung’ penyakit.

Filariasis alias Kaki Gajah (ilustrasi) Sejak Beben berusia 15 tahun, ia terkena penyakit kaki gajah. Selama sembilan belas tahun ia tidak mampu berobat. Padahal, biaya berobat untuk penyakitnya itu boleh jadi tidak sampai menghabiskan satu per seratus harga mobil mewah Ahmad Dhani. Saat ini,

Beben tidak hanya mengidap penyakit kaki gajah, ia juga mengalami infeksi di bagian leher yang mengakibatkan pembusukan hingga mengeluarkan bau tak sedap. Sebagaimana dikabarkan Metro TV News edisi 16 November 2009, beberapa tahun lalu pihak keluarga sempat membawa Beben ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk diobati. Namun, keinginan tersebut harus kandas, karena pihak rumah sakit meminta biaya operasi sebesar Rp 10 juta. Dana sebesar itu tentu tidak mampu dikumpulkan Beben (dan keluarganya). Sehari-hari, Beben bekerja sebagai pengumpul barangbarang rongsokan di sekitar rumahnya. Selama belasan tahun Beben mengurung diri di rumah, karena malu dengan kondisinya. Warga sekitar baru mengetahui kondisi Beben saat berlangsung pembagian obat antikaki gajah di desa tersebut pada hari Selasa, 10 November 2009. Pembagian obat gratis itu merupakan rangkaian program Departemen Kesehatan untuk mencegah meluasnya penyebaran filariasis atau kaki gajah di Indonesia. Dalam hal ini, Kabupaten Bandung menjadi daerah pertama yang melaksanakan pengobatan gratis kaki gajah ini di tahun 2009. Menurut perkiraan Depkes, sekitar satu pertiga warga Indoensia menderita filariasis alias kaki gajah. Enam puluh persen di antaranya, perempuan. Di tahun ini, Depkes mencanangkan program Pengobatan Massal Filariasis Nasional Untuk 32 Juta Penduduk Indonesia Tahun 2009. Hingga saat ini, tiga belas kabupaten/kota sudah dinyatakan berstatus endemi. Di Jawa Barat, ada beberapa daerah di Jabar yang dinyatakan endemis yakni Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Bandung. Selain Beben, ada Kimo di Bangka Barat (kini provinsi Babel) yang menderita kaki gajah sejak 2002. Dalam rangka menyembuhkan penyakitnya, Kimo harus menjual sebidang kebun karet miliknya, untuk biaya berobat secara tradisional. Tapi tak kunjung sembuh, meski ia sudah berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Namun demikian, Kimo lebih beruntung dari Beben. Karena, pada tahun 2005, Tim Pelaksana Eliminasi (TPE) Puskesmas Kelapa dalam rangka program Pemberantasan dan Pengobatan Massal Filariasis Kabupaten Bangka Barat 2005, membagikan obat kaki gajah secara gratis. Sejak itulah, selama beberapa tahun, Kimo dengan dorongan ingin sembuh, rutin mengkonsumsi obat filariasis. Perlahan-lahan kaki kiri Kimo yang terkena filariasis mulai mengempis, dan akhirnya dinyatakan sembuh total dari penyakit kaki gajah pada tahun 2007 lalu. Kini kaki kirinya kembali normal seperti sedia kala. Selain di Kabupaten Bandung dan Babel, di Jawa Timur juga banyak ditemukan penderita filariasis. Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes) RI, di 30 kota/kabupaten, ditemukan 300 kasus filariasis dengan tingkat keparahan berbeda, di Jawa Timur. (Antara, Jumat, 13 November 2009 19:39 WIB).

Menurut Helena (Staf Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Depkes RI), jumlah temuan terbanyak ada di Kabupaten Lamongan dengan jumlah kasus filariasis pada 40 orang lebih, disusul Kabupaten Malang dengan jumlah 30 kasus, dan Kabupaten Trenggalek sebanyak 20 kasus lebih. Lebih jauh Helena mengatakan, filariasis atau kaki gajah ini merupakan penyakit yang bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan, dan beberapa organ vital tubuh bagian luar. Gejalanya biasanya ditandai dengan naiknya suhu tubuh secara drastis sebagaimana penyakit demam. Gejala itu kemudian berlanjut pada gejala panas pada bagian kelenjar di lipatan paha. Menurut Helena pula, masuknya virus filariasis ke dalam tubuh manusia, tersebar melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva stadium III. Pada saat nyamuk menggigit manusia itulah larva di-transfer melalui probosis (belalai nyamuk yang digunakan untuk menghisap darah) masuk ke kulit manusia tepatnya di sekitar lubang bekas gigitan. Di Tangerang Selatan (Provinsi Banten), menurut Dadang S. Epit (Kepala Dinkes Tangsel), tujuh kecamatan di kawasan ini, yakni Serpong, Serpong Utara, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, Pondok Aren, dan Setu, merupakan daerah rawan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan gigitan nyamuk. Bahkan Tangsel dikategorikan sebagai zona merah, karena kawasan ini sebagian besar merupakan daerah rawa-rawa, yang cocok bagi berkembangnya nyamuk penyebab penyakit kaki gajah. Meski demikian, warga Tangsel yang dinyatakan positif kaki gajah hanya sekitar 18 hingga 20 orang. Di Pekalongan, menurut dokter Dwi Herry Wibawa Mkes (Kepala Dinas Kesehatan setempat), lima Kelurahan di kota ini dinyatakan endemis kaki gajah. Yaitu, Pabean, Pasir sari, Tegalredjo, Bumiredjo serta Bandengan. Di kelima wilayah tersebut selama lima tahun berturut-turut ditemukan warga yang terserang penyakit kaki gajah. Oleh karena itu, di wilayah tersebut telah dilakukan pengobatan massal bagi seluruh warga, yaitu yang berusia kurang dari dua tahun dan lebih dari 55 tahun, dengan pemberian obat setahun satu kali dengan jenis obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC), Albendazole, paracet, dan Vitamin B6. (www.wawasandigital.com edisi Wednesday, 12 August 2009). Menurut pemberitaan Liputan6.com edisi 15 November 2009, penyakit kaki gajah juga melanda Kota Ambon, Maluku. Setidaknya, ditemukan sekitar 150 kasus, yang tersebar di sebagian besar wilayah Taisapu, Kayu Putih, dan Waehaong. Dinas Kesehatan setempat juga telah menyatakan penyakit yang disebabkan cacing filaria dan ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk ini sudah endemis. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan setempat menggelar pengobatan secara gratis di seluruh pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas yang ada di sana. Di kawasan Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Selatan, Labuhanbatu, dan Nias dikategorikan sebagai daerah rawan penyakit kaki gajah. Menurut Suhardiono SKM

Mkes (Kasi Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang) Dinkes setempat, kerawanan ini terjadi karena masyarakat belum melakukan pola hidup sehat dan kurang menjaga kebersihan. Menurut Suhardiono pula, di Kabupaten Labuhanbatu yang memiliki 22 kecamatan 242 desa di Desember 2007-Februari 2008 terdapat penyakit kaki gajah sebanyak 876.763 jiwa. Sedangkan di Nias pada bulan November 2007, di tiga kecamatan ditemukan penderita kaki gajah sebanyak 46.250 jiwa. (harian global.com edisi Thursday, 05 November 2009 09:08). Dari sekian banyak upaya pengobatan gratis penyakit kaki gajah melalui pemberian obat secara cuma-cuma, hanya di wilayah Bandung yang membawa kabar kematian. Sebagaimana diwartakan tempointeraktif edisi Sabtu, 14 November 2009 | 07:19 WIB, setelah pengobatan massal anti kaki gajah pada 10 November lalu, sejumlah 8 warga meninggal dunia. Delapan orang yang meninggal sesaat dan setelah masa pengobatan massal itu, adalah Danu (52 tahun) warga Desa Majakerta Kecamatan Majalaya, Toto (69 tahun) dan Nandang (47 tahun) warga Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran. Sedangkan Nonoh (40 tahun) penduduk Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi. Lainnya, Ahmad Juana (47 tahun) warga Kecamatan Bojongsoang, dan Lilis (52 tahun) warga Kecamatan Banjaran. Selain itu juga ada Omay Komarudin (64 tahun) warga Kampung Bojongsentul Kecamatan Banjaran, serta Apeng (40 tahun) warga Kampung Babakan Cebek Kecamatan Soreang. Menurut dr. Suhardiman (Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung), dua diantara delapan yang meninggal, terjadi sebelum meminum obat anti kaki gajah, antara lain karena terjatuh dari pohon. Sedangkan enam orang lainnya dilaporkan sempat meminum obat itu. Dari hasil rontgen dan sampel darah pasien ketika sempat dirawat di RS Majalaya dan Soreang sebelum meninggal, mereka ternyata diketahui mengidap penyakit kronis seperti jantung dan darah tinggi. Begitulah nasib orang yang “lapar”. Saking laparnya, jangankan nabung uang untuk beli mobil mewah, untuk beli obat saja tidak mampu. Untuk bisa sembuh hanya berharap dari pemberian obat gratis. Ketika obat gratis diperoleh, yang datang bukan kesembuhan, tetapi maut yang mencabut nyawa. Berbeda dengan orang yang “kekenyangan” macam Ahmad Dhani. Saking kenyangnya, ia bisa menabung uang untuk beli mobil mewah. Dan hebatnya lagi, mobil mewah itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membahagiakan anak-anaknya yang masih berusia belasan tahun. Fenomena seperti di atas, konon bukan hal yang aneh dan asing bagi masyarakat Indonesia yang berpancasila ini. Ada yang tidur dalam keadaan perutnya

kekenyangan, namun tak jauh darinya ada yang tak bisa tidur karena kelaparan. Ada yang mati karena kelaparan, namun tak jarang ada yang mati karena kekenyangan. Jakarta, November 2009 Share:
• • • • •

2 Comments

Jangan Lupakan Poso
30 May 2011 Posted by umarabduh in May 30,2011 Uncategorized

Jangan Lupakan Poso Oleh H. Rachmat Basuki Soeropranoto

Pengantar: Tulisan berjudul JANGAN LUPAKAN POSO ini pernah dipublikasikan pada sebuah situs yang kini sudah tidak eksis. Penulisnya, saya kenal ketika bersama-sama menginap di LP Cipinang untuk kasus yang berbeda. Tulisan ini dipublikasikan kembali agar rakyat Indonesia tidak mudah melupakan kekerasan yang menimpa umat Islam. Termasuk kasus pembantaian di Pesantren Walisongo pada akhir Mei 2000, sebelas tahun lalu. *** SINTUWU MAROSO adalah semboyan tanah Poso yang bermakna persatuan yang kokoh. Tapi makna itu beberapa tahun belakangan ini tak wujud. Di Poso terjadi konflik berkepanjangan selama beberapa tahun. Sejak Desember 1998 hingga kuartal pertama tahun 2007, persoalan Poso pasang surut menghiasi media massa.

Setelah tiga tahun konflik berlangsung, barulah pada Desember 2001, ditandatangani sebuah kesepakatan damai yang dinamai Deklarasi Malino. Jusuf Kalla yang saat itu menjabat sebagai Menkokesra bertindak sebagai mediator di antara dua kelompok yang diangap mewakili kelompok bertikai. Dinamakan Deklarasi Malino, karena kesepakatan yang dirancang dilaksanakan di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan. Isi Deklarasi Malino tertuang di dalam 10 butir kesepakatan, intinya menghentikan konflik dan menegakkan hukum. Tanpa pandang bulu, kedua kelompok diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Sama sekali tidak ada upaya mendudukkan persoalan secara proporsional, mencari akar masalah, dan menyelesaikan konflik. Pemerintahan Megawati yang kala itu diwakili Menko Kesra Jusuf Kalla, sama sekali tidak berminat mencari tahu siapa pemicu konflik, dan pihak mana yang menderita korban jiwa paling banyak. Pokoknya, dalam rangka mencapai damai di Poso, kedua kelompok harus mau menerima rumusan pemerintah. Bahwa keduanya bersalah dan harus mau berhenti bertikai. Pemerintah sama sekali tidak menyadari, bahwa tokoh-tokoh Islam yang hadir dan tak hadir pada forum itu sama sekali tidak puas dengan rumusan tidak adil itu. Karena, umat Islam bukanlah pemicu konflik Poso, namun korban jiwa terbanyak justru dari kalangan Islam. Cobalah lihat kasus Poso III yang terjadi pada bulan MEI 2000, sekitar 1000 jiwa melayang, sebagian besar umat Islam. Beberapa ratus di antaranya adalah komunitas Pesantren Walisongo yang dibantai Tibo dkk. Faktanya, beberapa bulan sejak Deklarasi Malino dikumandangkan, persisnya sejak April 2002, hampir setiap bulan terjadi konflik dan kerusuhan di Poso. Bahkan adakalanya dalam satu bulan terjadi beberapa kali konflik dan kerusuhan. Artinya, Deklarasi Malino tidak ada manfaatnya. Apalagi pemerintah juga sama sekali tidak menyadari, bahwa harga diri umat Islam seperti diinjak-injak setiap ada upaya penyelesaian konflik horizontal. Padahal, umat Islam tidak pernah mencari gara-gara. Umat Islam berkuah darah melawan penjajah, ketika merdeka, justru dijadikan kambing hitam atas setiap konflik horizontal yang terjadi. Maka, sudah menjadi hukum alam bila dari ketidak adilan itu lahir sejumlah orang yang bergabung dalam sebuah komunitas ‘radikal’ atau ‘fundamentalis’ atau ‘teroris’ yang melakukan upaya ‘balas dendam’ sekaligus untuk menunjukkan bahwa umat Islam punya harga diri. Kalau pemerintah mau dengan serius menyelesaikan konflik horizontal seperti di Poso, pertama-tama yang harus ditegakkan adalah keadilan. Tentu tidak adil bila pemicu konflik diperlakukan sama bahkan lebih lunak dari umat Islam yang justru menderita korban jiwa paling banyak. Dalam banyak hal ditemukan ketidak adilan yang dilakukan aparat. Misalnya, dalam rangka memulihkan keamanan di Poso, digelar sejumlah operasi. Bila operasi pemulihan keamanan itu targetnya adalah pelaku teror dan pembantaian dari pihak

Kristen, aparat menggunakan sandi Operasi Cinta Damai. Satgas yang diterjunkan juga bernama Satgas Cinta Damai. Sedangkan bila hal yang sama ditujukan kepada komunitas Islam, digunakan sebutan Operasi RAID yang bermakna SERBU atau BASMI. Apalagi, selama ini masyarakat awam lebih mengenal Raid sebagai salah satu merek pembasmi nyamuk. Jangan heran bila timbul persepsi, umat Islam disamakan dengan nyamuk sehingga perlu dibasmi. Apalagi pada kenyataannya, bila ditanya mengapa ‘teroris’ Kristen yang diduga kuat terlibat namun tidak juga menjalani proses hukum, maka aparat berdalih “penanganan hukum harus didukung oleh saksi dan alat bukti”. Tapi bila menyangkut ‘teroris’ Islam, langsung dibasmi, sebagaimana terjadi pada kasus penangkapan DPO pada 11 Januari 2007. Berkenaan dengan keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama, aparat dan pemerintah juga jelas terlihat diskriminatif. Adnan Arsal dituding terlibat menyembunyikan DPO, sehingga ia pontang-panting mencari dukungan umat Islam yang lebih luas lagi. Tapi, aparat tidak pernah mempermasalahkan keterlibatan tokoh gereja, padahal, antara lain melalui pengakuan Tibo sudah bisa dijadikan landasan hukum menyeret mereka. Lebih mengecewakan, justru Brigjen Oegroseno yang saat itu menjabat Kapolda Sulawesi Tengah, dicopot dari jabatannya saat ia serius menelusuri keterlibatan tokoh-tokoh gereja seperti disebutkan Tibo. Sebagaimana diberitakan TEMPO Interaktif edisi Kamis, 31 Agustus 2006, Oegroseno pernah mengatakan, konflik di Poso masih menjadi misteri. Ia meminta agar misteri dibalik konflik Poso dibuka. “Kalau dianggap sudah selesai tidak bisa, karena suatu saat akan meledak lagi.” Demikian pernyataan Oegroseno usai menyerahkan jabatan Kepala Polda Sulawesi Tengah kepada Badrudin Haiti di Mabes Polri. Oegroseno juga menilai, eksekusi terhadap Fabianus Tibo dan dua kawannya, tidak akan menyelesaikan konflik yang terjadi di Poso. Menurutnya, “pendekatan hukum itu pendekatan yang terakhir.” Oegroseno juga pernah mengatakan, “Sejarah jangan diputarbalikkan, mereka harus ceritakan apa adanya.” Sebagian dari misteri Poso itu nampaknya berada di tangan para tokoh gereja yang kini ‘tiarap’ dan bebas dari jeratan hukum, juga berada di tangan para tokoh nasrani lainnya, termasuk Melly istri kedua konglomerat Eka Tjipta Wijaya. Bila aparat begitu bersemangat dan serius mengaitkan kasus Poso dengan JI (Jamaah Islamiyah), namun aparat sama sekali tidak menyentuh Legiun Christum, salah satu milisi Kristen yang ikut memerangi umat Islam di Poso. Pada saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden (26 Oktober 1999 – 24 Juli 2001) puncak kebiadaban terhadap umat Islam mencapai tingkatan tertinggi. Kasus Poso yang bermula Desember 1998, mencapai puncaknya Mei 2000. Kasus Ambon (Maluku) yang bermula Januari 1999 mencapai puncaknya pada kasus Halmahera sekitar Desember 1999. Menurut sejumlah media massa yang mengutip berbagai sumber, termasuk menurut laporan yang diterima Republika, sedikitnya 3.000 orang Islam tewas dalam pertikaian SARA yang terjadi sejak 26 Desember 1999 di Maluku Utara. Namun,

menurut Gus Dur korbannya cuma lima. Begitu juga dengan kasus Sampit (pembantaian dan pengusiran suku Madura), terjadi pada pertengahan Februari 2001. Nampaknya kaum nasrani kian berani membantai umat Islam karena sosok yang menjadi presiden RI saat itu adalah sahabat mereka. Lha, bagaimana nasib umat Islam bila yang menjadi presidennya adalah orang nasrani beneran. Entah ada kaitan atau tidak, yang jelas, menurut Koran Tempo edisi 29 Januari 2006, pada tahun 2002 Abdurahman Wahid mantan presiden RI ke-4 diangkat sebagai anggota kehormatan Legiun Christum. Aparat dan pemerintah selain menuding JI juga mencurigai para alumni Afghan. Faktanya, memang ada banyak alumni Afghan asal Indonesia yang memiliki keterampilan menggunakan berbagai jenis senjata dan merakit bom. Keterampilan itu mereka peroleh dari CIA. Namun, meski mereka memiliki keterampilan merakit bom, keterampilan itu tidak bisa begitu saja dipraktekkan karena bahan baku membuat bom tidak sembarangan bisa diperoleh. Kalau toh bisa diperoleh, harganya tidak murah. Pada umumnya para alumni Afghan bukan tergolong orang yang punya uang berlebih. Para alumni Afghan adalah anak bangsa yang mempunyai jiwa pengorbanan tinggi terhahadap saudaranya, apalagi saudara sesama muslim meski berada jauh di Afghan. Mereka membebaskan saudara muslimnya dari cengkeraman pemerintahan komunis, dan berhasil. Bila untuk muslim Afghan yang nun jauh di sana, mereka mau berkorban nyawa, apalagi untuk muslim Indonesia. Yang juga perlu diketahui, tidak semua alumni Afghan tergabung ke dalam JI. Dan perlu juga diketahui, tidak seluruh faksi JI yang ada terlibat di dalam aksi radikal seperti Bom Malam Natal (24 Des 2000), Bom Bali I (12 Okt 2002), Bom JW Marriott (05 Agustus 2003), Bom Kuningan (09 Sep 2004), dan Bom Bali II (01 Okt 2005), dan sebagainya. Untuk mengenang tragedi pembantaian umat Islam di Poso, yang mencapai puncaknya Mei 2000, kronologi berikut ini yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga saja dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Termasuk, generasi muda Islam yang bermaksud menjadikannya sebagai salah satu data (primer maupun sekunder) bagi kegiatan penelitian yang ditekuninya. 25 Desember 1998 (Kasus Poso I) Jum’at 25 Desember 1998, bertepatan dengan Ramadhan 1419 H, sekelompok pemuda kristen mengkonsumsi miras dan membuat keributan saat Sholat tarawih digelar. Pengurus masjid mencoba mengingatkan. Usaha itu berhasil, para pemuda kristen pergi meninggalkan area masjid. Lewat tengah malam kelompok pemuda kristen itu kembali. Salah seorang pengurus masjid (Ridwan) yang sebelumnya memperingatkan mereka untuk tidak mabuk-mabukan, dikejar oleh Roy Runtu yang dalam keadaan mabuk. Ketika itu, Ridwan tengah membangunkan warga Muslim di Kelurahan Sayo untuk makan sahur. Menghindari kejaran Roy, Ridwan melarikan diri ke sebuah masjid (dekat

pesantren), namun di tempat itu pula ia dibacok. Ridwan sempat berteriak minta tolong dan lari dengan meningalkan percikan darah di plafon masjid.

Ridwan Setelah kejadian itu, masyarakat muslim Poso yang mendengar berita ini segera berkumpul. Konsentrasi massa pada akhirnya bergerak menghancurkan setiap kedai/toko yang menjual miras. Masyarakat muslim meminta pemuda yang melakukan penganiayaan agar menyerahkan diri. Dan menuntut aparat untuk segera menangkap pelakunya. Bukannya minta maaf dan menyerahkan diri, salah seorang dari mereka justru mencari bantuan ke Tentena. Herman Parimo, tokoh kristen Tentena membawa massa bergerak ke Poso, membakar Pasar sentral Poso dan mengadakan pawai keliling Poso, menunjukkan kemenangannya. Kabar Poso sudah diduduki massa Tentena terdengar di Parigi dan Ampana (basis massa muslim). Dengan koordinasi ustadznya masing-masing bergeraklah massa kedua kota itu ke Poso. Poso kembali dalam kendali umat Islam. Dua pasukan, muslim dan kristen masih menggunakan alat tempur sederhana, parang dan batu, meski beberapa sniper terbukti telah melukai beberapa orang muslim.

Herman Parimo Sebanyak 100 orang luka-luka, puluhan rumah dan kendaraan bermotor rusak berat.

Mesjid Darussalam tempat terjadinya pembacokan terhadap Ridwan

Gubernur H.B Paliudju mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen dirumah dinasnya

Kelompok Islam menunggu di luar

Kelompok Islam menginginkan Roy Runtu dan Herman Parimo diadili 16-19 April 2000 (Kasus Poso II) Minggu 16 April 2000, di Terminal Poso dua pemuda pemabuk asal Desa Lambodia dan Lawanga (desa Islam dan Kristen) terlibat pertikaian. Warga kedua desa saling serang, aksi bentrok massa meluas ke daerah sekitar Poso, juga menyulut bentrokan antara Kelompok Merah dengan Kelompok Putih. Dari peristiwa ini sedikitnya tiga orang tewas, empat orang luka-luka, 267 rumah terbakar, enam mobil terbakar, lima motor hangus, tiga gereja hancur, lima rumah asrama polisi hancur, ruang Bhayangkari Polda terbakar. 16 Mei 2000 Selasa 16 Mei 2000, Dedy seorang pemuda dari desa Kayamanya (suku Gorontalo) tengah mengendarai motor Crystal pada malam hari, tiba-tiba dihadang sekelompok pemuda Kristen yang mabuk di Desa Lambogia. Dedy sempat melarikan diri dengan motornya, namun terjatuh sehingga tubuhnya mengalami luka-luka. Setelah diperban, kemudian Dedy melaporkan pada teman-temanya di desa Kayamanya, bahwa ia dibacok oleh pemuda kristen Lambogia. 17 Mei 2000 Rabu 17 Mei 2000, warga muslim Kayamanya (sekitar 20 orang beserta aparat) mendatangi Kelurahan Lambogia untuk mencari oknum pelakunya namun disambut dengan serbuan panah/peluncur dari warga Lambogia. Dan pada malamnya, warga Kayamanya membakar Desa Lambogia sekiitar 400 rumah serta sebuah gereja Beniel. 19 Mei 2000 Jum’at 19 Mei 2000, ditemukan mayat Muslim korban pembantaian di Jalan Maramis kelurahan Lambogia, dengan luka bacokan dan leher tertusuk panah. Kemudian warga muslim terpancing emosi dan bergerak kembali membakar gereja Advent dan sebuah gereja besar dekat terminal, gedung serba guna, SD, SMP dan SMA Kristen. Warga kristen mengungsi ke kelurahan Pamona Utara (Tentena) dan Tagolu yang merupakan basis Kristen.

Setelah kejadian tersebut, umat Islam di Kelurahan Kowua bersiaga penuh mengantisipasi serangan balasan. Seorang muallaf bernama Nicodemus yang kebetulan bekerja di Tentena ditugaskan untuk memantau perkembangan warga Kristen di Tentena. Setelah 2 minggu kemudian, Nico kembali ke Poso karena merasa dirinya sedang diintai. Namun dari situ muncul kesepakatan untuk menginformasikan melalui kata Sandi Pak Nasir (Nashara) datang berobat lanjut ke Poso berarti akan ada penyerangan kaum Nasrani. 22 Mei 2000 Senin 22 Mei 2000, Pak Maro (muallaf) dari kelurahan Lawanga, yang disusupkan di Kelurahan Kelei, datang ke kediaman Ust. Abdul Gani, membawa pesan akan ada penyerbuan pada shubuh hari. Pak Maro menyamar dengan memakai kalung salib dan mentato tubuhnya. Di Kelei yang merupakan basis kristen pernah diadakan latihan militer. Jam 5.30 sore ada interlokal dari Nicodemus di Tentena ke rumah pak Abdul Gani memberitakan, bahwa “Pak Nasir (Nashara) akan berkunjung obat ke Poso malam ini atau besok.” Jam 7 malam, seorang pemuda bernama Heri Alfianto yang juga ketua Remaja Masjid Kowua memberikan informasi bahwa di rumahnya yang kebetulan terdapat TUT (Telepon Umum Tunggu), ada seorang Kristen yang diduga ingin menggunakan jasa telepon bercerita kepadanya bahwa pada jam 2 malam akan ada penyerangan dari masyarakat Flores (Kristen). Sekedar gambaran, Heri Alfianto dilihat dari raut wajahnya mirip orang Kristen karena ibunya berasal dari Manado yang muallaf, sehingga orang kristen mengira Heri juga orang Kristen. Penyerangan dilakukan per kelompok kecil dengan sasaran KBL (Kayamanya, Bonesompe, Lawanga) dan menculik tokoh-tokoh Islam Poso, antara lain Haji Nani, Ust. Adnan Arsal, dll. Pada malam itu juga dikumpulkan para tokoh yang tergabung dalam “Forum Perjuangan Umat Islam” yang terbentuk sejak kerusuhan Poso jilid I di rumah Ust. Adnan Arsal dan langsung mengkoordinasikan pembagian tugas penjagaan di pos-pos yang telah ditentukan. Pertemuan itu selesai jam 21.30. Pada malam itu sudah tersebar isu penyerangan terutama di Kecamatan Poso Pesisir, sehingga setiap warga, baik Islam dan Kristen, berjaga-jaga mengamankan diri. Pada jam 24.00 rombongan Muspida beserta Ketua DPRD Tk.II Akram Kamarudin, menenangkan warga, memberitahukan kepada warga Poso bahwa berdasarkan informasi Kapolsek Pamona Utara, Ramil Pamona Utara dan Camat Pamona Utara isu penyerangan itu tidak benar dan menyesatkan. Akhirnya warga yang tadinya berjaga di pos-pos bubar dan kembali ke rumah, kecuali warga di Kelurahan Kowua. Bahkan pemuda Kowua membantah berita dari Muspida tersebut karena yakin dengan info dari Nico di Tentena. Setelah itu muncul tanda bahaya berupa kentungan pada tiang listrik dari desa seberang sungai, tepatnya di PDAM, Kelurahan Gebang Rejo. Kemudian dikonfirmasikan melalui telepon ke Ust. Adnan Arsal yang tinggal di Gebang Rejo, namun dijawab bahwa sampai saat ini belum ada tanda pengerahan massa yang melewati Desa Gebang Rejo. Tak

berapa lama, Pak Adnan Arsal memberitakan memang ada penyerangan dilakukan hanya oleh kelompok kecil berpakaian ninja. 23 Mei 2000 (Kasus Poso III) Selasa 23 Mei 2000 sekitar pukul 02.00 wita terjadi kerusuhan yang dipicu oleh 13 “pasukan ninja” bersenjatakan kelewang, senjata pelontar dan tombak. Salah satu dari tiga ninja yang berhasil ditangkap adalah perempuan berumur sekitar 25 tahun. Salah seorang lainnya mengaku warga trans Beteleme asal Nusa Tenggara. Pasukan ninja ini beraksi dengan mengintai warga yang melintas di poros jalan Kelurahan Kayamanya. Siapa pun yang melintas di poros jalan itu mereka bacok. Kelompok ninja tersebut membawa sandera (Pak Alwi, pegawai BNI), dibawa ke Desa Kayamanya dengan tujuan mencari Haji Nani Lamusu. Dari pihak Polres, yakni Bapak Serma Kamaruddin Ali (47) yang ingin menyelamatkan sandera dan mencoba bernegosiasi, berkata: “Saya ini polisi”, sembari mencabut pistol. Namun Pak Kamarudin keburu tewas di tempat dibacok kelompok ninja itu. Sedangkan pak Alwi (sandera) selamat dan melarikan diri. Mereka berhasil membakar rumah Haji Nani Lamusu, dan terus maju ke desa Moengko Baru, di situ didapati seorang mantan lurah, Pak Abdul Syukur (40) yang ingin memukul tiang listrik tanda bahaya dibacok hingga tewas. Selain itu yang kena bacok dan langsung tewas Baba (62) warga kelurahan Moengko Baru. Sebagian dari “pasukan ninja” saat dikejar oleh masyarakat langsung bersembunyi di kompleks Gereja Katolik di Kelurahan Kayamanya. Pada hari yang sama, beredar isu yang isinya semua rumah-rumah ibadah (Gereja) di sekitar Kota Poso akan dibakar dan sejumlah tokoh-tokoh kristen akan diculik. Berdasarkan isu itu, sejumlah umat kristen mengungsi ke asrama-asrama Kodim dan Polres Poso. 24 Mei 2000 Rabu dinihari 24 Mei 2000, terjadi penyerangan mendadak dari sekelompok orang berpakaian ala ninja ke beberapa pos pengamanan di beberapa kantong muslim. Berikutnya, warga Kelurahan Kayamanya (Islam) hendak melakukan penyerangan ke warga Kelurahan Lombogia dan kantong-kantong permukiman Kristen lainnya. Polisi menghalangi niat itu. Tapi kerusuhan tak bisa dibendung. Akibatnya, tiga orang tewas; salah satunya polisi (Serda Pol Rudy yang tertembak senjata rakitan) dan 15 orang lukaluka. 26 Mei 2000 Jumat 26 Mei 2000, Pasukan Merah yang berjumlah ribuan mengepung dan berusaha menguasai kota Poso. Tetapi di perbatasan kota mereka ditahan oleh Komando Jihad yang berjumlah sekitar 900 orang. Akibat kebiadaban Pasukan Merah, sekitar 1500 muslim tewas dan hilang. Jumat 26 Mei 2000, puluhan warga muslim Kecamatan Lage berencana mengungsi ke Poso Kota dengan menumpang delapan buah mobil. Ketika rombongan tiba di Togolu, mobil-mobil mereka dicegat oleh Kapolsek dan Camat Lage. Kapolsek dan Camat

menyuruh pengungsi kembali ke kampung dengan alasan Laskar Kristen sudah dipergikan. Akhirnya, rombongan mengungsi ke pingir kuala (Ahad, 28 Mei 2000), selanjutnya rombongan langsung lari ke Kayoe wilayah Lembomawo untuk menginap semalam. Di tempat ini, Laskar Kristen menemukan mereka dan langsung menggeledah. Wens Tanagiri menggiring rombongan dari Kayoe ke pinggir kuala kemudian ke Kayoe lagi, kemudian digiring lagi ke dalam hutan besar Tambora. Di sini, rombongan sempat tidur dua hari dua malam. Paginya, Pak Hamidun, Jumirin, Slamet, Pardono dan Suman bermaksud turun ke Kuala untuk mengambil air, mendadak mereka disergap oleh Laskar Kristen yang berjumlah sekitar 70 orang. Anggota rombongan lain sempat lari dan bersembunyi. Namun esoknya, Laskar Kristen berjumlah 75 orang sekitar jam 11 siang datang lagi, melakukan penyergapan. Pengungsi perempuan ditelanjangi, sedangkan pengungsi laki-laki diikat tangannya menjadi satu renteng, ditendang, disiksa, dan dibawa pergi entah ke mana. Hingga kini tak pernah kembali. 27 Mei 2000 Sabtu 27 Mei 2000 sekitar pukul 07.00 pagi, sekitar 300 orang Pasukan Merah yang bergerak di sebelah Timur memasuki desa Tokorondo dari Desa Masani. Begitu masuk desa, mereka dihadang oleh sekitar 400 orang pasukan putih. Tetapi begitu melihat persenjataan yang dibawa oleh pasukan merah, komandan pasukan putih memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Pasukan Merah bertindak ugal-ugalan. Mereka memberondongkan peluru secara membabi buta. TNI baru datang sekitar tanggal 6 Juni 2000. TNI terlambat datang karena mereka (Pasukan Merah) memutus jalan darat menuju Poso. Jadi disamping bergerak menghabisi dan membakar rumahrumah kaum muslimin, mereka juga menebangi pohon-pohon dan membiarkannya melintang di jalanan. Sabtu 27 Mei 2000 malam hari, Saleh (40) dikejutkan oleh orang-orang yang menyelinap ke dalam areal Ponpes Wali Songo, sehingga membuat warga Pondok terbangun dan berjaga-jaga sampai pukul 03.00 WITA. 28 Mei 2000 Minggu 28 Mei 2000 pagi hari, terjadi bentrokan antara massa Islam dan Kristen di Tokorando, sekitar 70 warga Kristen bersenjata api melawan 400 warga muslim bersenjata parang dan golok. Warga muslim terpukul mundur. Minggu 28 Mei 2000, sekitar pukul 09.00 WITA tiba-tiba datang segerombolan orang yang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan senjata parang, golok, dan senjata khas organik. Beberapa di antaranya masuk ke masjid dan membunuh 3 orang santri yang berada di dalamnya. Asrama putra dan putri berhasil dikuasai perusuh, seluruh penghuninya disuruh keluar dan disandera mereka, kemudian diikat tangannya kemudian dibawa ke hutan didaerah Sintulemba. Jumlah santri putra 38 orang dan perempuan 28 orang beserta pimpinan dan gurunya. Di hutan santri putri disuruh pulang menuju tempat pengungsian. Santri, guru, pimpinan Ponpes berjalan masuk hutan dengan berkelompok (1 kelompok 5 orang) sampai daerah Lembanawa. Di Lembanawa para perusuh bertemu komandannya dan para santri dibawa ke Ronononcu

dan ditempatkan di Baruga (balai desa). Di Baruga inilah (saksi hidup) menuturkan ia dan teman seluruh anggota badannya diiris-iris dengan parang, golok, pahanya diinjakinjak, dipukul dengan laras senjata bahkan muka santri-santri tidak berbentuk lagi (karena dihantam dengan benda-benda tumpul). Luka irisan tsb. lalu disiram pasir dan kemudian disiram air panas. “Saya (Ih) mengetahui bahkan mengenali wajah perusuh tersebut yang ternyata anggota TNI.” Menurut saksi hidup (Ih), jumlah perusuh kurang lebih 50 orang dan bercadar ala ninja. Lalu santri tersebut dinaikkan ke dalam truk dan di bawa ke daerah Togolu, pinggir Koala (sungai) Poso. Disinilah pembataian terjadi, santri yang turun dari truk langsung disambut dengan tebasan golok/parang sampai kepalanya lepas dari badannya. Melihat hal ini, Ih langsung terjun ke sungai. Seketika itu ikatan tangannya terlepas. Empat orang santri yang berhasil lolos dari pembantaian tersebut, Ilham dengan luka bacokan, tusukan golok, berenang menyelusuri sungai Poso kurang lebih 5 km dan berhasil diselamatkan oleh pengungsi (Islam) dan dirawat di pengungsian (Kompi). Beberapa hari kemudian ditemukan 60 mayat mengambang di Sangai Poso, dan 146 mayat lainnya ditemukan penduduk di tiga titik bentrokan, yakni Kelurahan Sayo, Kelurahan Mo’engko dan Desa Malei di pinggiran selatan kota Poso. Diperkirakan mayat-mayat yang ditemukan hanyut di Sungai Poso berasal dari Pesantren Walisongo, sebab lokasi pasantren tersebut berada di bagian hulu Sungai Poso. Seorang aparat keamanan setempat mengatakan lima dari puluhan mayat penuh bacokan sekujur tubuhnya dan terikat menjadi satu yang ditemukan mengapung di Sungai Poso. Minggu 28 Mei 2000, Pendeta Donald ditahan petugas pos jaga desa Palawa kec. Parigi, dari saku pendeta ini ditemukan pula peta lokasi peyerangan. Juga, selebaran berisi daftar 63 nama oknum dari pihak Kristen yang terlibat sekaligus jadi penghubung dalam kerusuhan Poso. Dari ke 63 nama itu, di antaranya terdapat nama Mely, istri kedua konglomerat Taipan terkenal Eka Cipta Wijaya (bos Sinar Mas group) yang tercantum pada urutan ke-20 sebagai oknum yang turut melibatkan diri ke dalam konflik Poso. Minggu 28 Mei 2000, kerusuhan Poso berupa kontak fisik antara Kelompok Merah dan Kelompok Putih semakin meluas, selain terjadi di Kelurahan Sayo (di dalam Kota Poso) juga merambat ke wilayah Kecamatan Lage dan Poso Pesisir. Bentrok fisik terbesar terjadi di Kelurahan Sayo dan di Kasiguncu, ibu kota Kecamatan Poso Pesisir, melibatkan ribuan massa dari kedua kelompok yang bertikai. Ketegangan kian meningkat karena ribuan massa Kelompok Merah dari Kecamatan Pamona Utara, Mori Atas, Lembo, dan Lore Utara terus berdatangan dan membantu rekan mereka di lokasilokasi kerusuhan. Massa kelompok merah memblokade semua ruas jalan masuk ke Kota Poso. Tokoh masyarakat dan pemuka agama di Palu mendesak Kapolri Letjen Rusdihardjo segera memberlakukan Siaga I di Kota Poso dan sekitarnya. 29 Mei 2000 Senin 29 Mei 2000, perang antar pasukan putih dan merah di Kabupaten Poso masih berlangsung. Setelah menguasai Kota Poso, pasukan merah menuju Desa Masani dan

Takurondo (sekitar 25 km arah utara Kota Poso). Abdul Jihad (26) ditembak dari jarak lima meter, kepalanya hancur dan langsung tewas seketika, sebagaimana dilaporkan saksi mata Sudirman (23). Kelompok merah menggunakan senjata api yang dipasok dari Manado dengan Helikopter yang diturunkan di Tentena. Sementara, kelompok putih hanya menggunakan pelontar, senjata rakitan, parang dan tombak. Aparat perintis dari Polda Sulteng, lari kocar-kacir ketika pasukan merah mengarahkan senjatanya pada mereka. Saat itu, aparat yang diperbantukan untuk mengamankan Poso, terdiri dari 3 SSK Polda Sulteng, 1 SST masing-masing dari Polres Banggai dan Polres Tolitoli, 2 SST dari Korem 132/Tadulako. Di samping 3 SSK yang sudah ada di Poso. Senin 29 Mei 2000 (kesaksian Abdurrahman, 32): Saya disandera di Tangkura, sekitar 18 KM dari Sangginora, Poso Pesisir. Saya ditodong dengan Tombak. Sebagai tawanan, kami diberi makan seperti makanan anjing, disedu dengan tempurung. Jam 12, saya bergabung dengan tawanan lain di SDN 2 Tangkura. Di tempat itu ratusan jumlahnya. Tengah malam, satu mobil kijang pasukan Kristen datang. Mereka mengambil dua tawanan, Muis dan Arifin. Sekitar 15 menit berlalu, terdengar bunyi suara tembakan: “…door!” Masing-masing pasukan Kristen diberi kesempatan mengambil sandera yang dia ingini. Lantas saya mencoba memberikan saran kepada pasukan Kristen supaya saya saja yang disandera dan yang lainnya dibebaskan, tapi tidak digubris. Esoknya giliran saya yang diciduk. Saat itu saya sedang tertidur. Saya disergap dan diikat. Kedua kaki, kedua tangan, dan mata saya diikat dengan kain hitam. Dipaksa naik mobil open cup merah sambil dipukul dengan senjata. Saat itu saya bilang sama mereka, kalau niat bunuh saya, bunuh saja. Nggak usah dibawa ke mana-mana. Sayapun dibawa. Sampai di pemberhentian jembatan Sangginora, saya dipindahkan ke mobil dump truck. Betapa kagetnya saya, di dalam truk itu sudah tergeletak tujuh tubuh manusia. Dalam perjalanan, tiga mayat dinaikkan pula ke truk itu. Tak lama kemudian truk berhenti. Ternyata sampai dipinggir jurang. Saya bersama tubuh-tubuh manusia tadi dicurahkan ke jurang. Mereka pikir, dengan membuang kami ke jurang seperti itu kami sudah mati. Ternyata, saya bersama dua lainnya masih bernyawa. Samar-samar saya mendengar suara salah seorang pasukan Kristen berkata dalam bahasa Poso yang artinya, “Biar mati sendiri di jurang.” Salah seorang dari kami, mencoba merangkak ke atas jurang. Sayang, dia terlihat oleh pasukan Kristen yang kebetulan masih berada di bibir jurang. Akhirnya dia tewas ditembak. Tinggallah kami berdua. Kami saling membuka ikatan. Kami bersembunyi di hutan satu minggu lamanya. Suatu hari kami diselamatkan seseorang. Kami menumpang mobil bermuatan kopra dan coklat menuju Tolai, hingga selamat sampai di Parigi. 30 Mei 2000 Selasa pagi 30 Mei 2000, Kadispen Polda Sulawesi Tengah Kapten Pol Rudi Suprapto di Palu mengatakan kerusuhan terjadi di Kelurahan Moengko, Gebang Rejo, Lawengko, dan Sayo. Sejak pagi, perusuh mencoba menekan dengan masuk ke kota, tetapi sampai pukul 11.00 WIT petugas kemanan berhasil mendorong mereka ke luar kota. Para perusuh menggunakan senjata tajam dan senjata rakitan. Sedikitnya dua orang meninggal, sepuluh orang luka berat, dan seorang luka ringan. Kadispen Polda menyatakan tiga orang yang diduga otak pelaku kerusuhan sudah ditahan. Perusuh itu transmigran asal Flores yang lahir di Palu.

31 Mei 2000 Rabu 31 Mei 2000, sebuah mobil Ambulance dicegat massa Muslim di Desa Palawa Parigi yang disinyalir membawa senjata untuk massa Kristen di Kota Poso. 02 Juni 2000 Jum’at pagi 02 Juni 2000 sekitar pukul 06.30 WIT di Kelurahan Kayamanya tiba-tiba warga pengungsi muslim yang berjumlah 50 orang dan sedang mengungsi di Masjid Nurusy Sya’adah Kayamanya, diserbu oleh sekitar 700 anggota Pasukan Merah yang datang dengan menumpang beberapa truk dan mobil bak di bawah pimpinan Panglima Advent L. Lateka serta Panglima Wanita Paulin Dai. Pasukan Merah yang datang dengan kesombongan sambil membawa bendera merah-putih dan berkoar-koar menyebut-nyebut nama Yesus si Juru Selamat, ternyata pulang dengan tunggang langgang setelah Panglimawati Paulin Dai terkena dum-dum di dada kirinya. Nyali Pasukan Merah pun kontan ciut. Mereka lari. Sayangnya Lateka yang sudah tua tidak cepat mengikuti langkag kaki pasukan merah yang masih muda. Lateka tertinggal, dan akhirnya tewas, padahal sebelumnya ia begitu perkasa dan kebal senjata. Menurut Agus Dwikarna Ketua Kompak (Komite Penanggulangan Masalah Krisis) di Poso Sulteng, jumlah korban terbesar terjadi di Desa Sintu Temba, Kabupaten Poso, sekitar 150 KK tewas dibunuh atau sekitar 350 jiwa. Salah seorang saksi hidup yang selamat adalah Udin (18). Diceritakan Udin, penyerang datang dalam jumlah besar pada malam hari dan langsung membantai penduduk yang masih hidup. Sebagian penduduk, lanjut Udin disandera dan dinaikan truk. Udin sendiri lolos setelah melompat dari truk yang melaju. Selain di desa Sintu Temba, pembantaian juga terjadi di Tegalrejo terhadap sekitar 64 KK. 03 Juni 2000 Sabtu 03 Juni 2000, ribuan pengungsi Muslim ditampung di tempat darurat, antara lain Mess Pemda Tk. II Poso, di Kota Parigi, di Kota Ampana dan di perguruan Al-Khairat Palu serta pondok pesantren dan Masjid yang ada di Kota Palu dan Parigi. Massa Kristen telah menguasai kota Poso dan Poso Pesisir dan terus melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penduduk. 04 Juni 2000 Minggu 04 Juni 2000, Hendra sultan Haji Panyae dibunuh (dipotong) di Kelurahan Moengko Baru di Hotel Kartika. Korban tidur berempat dengan temannya. 05 Juni 2000 Senin 05 Juni 2000, diperkirakan sudah 5000 orang pengungsi meninggalkan Poso menuju Parigi yang berjarak sekitar 250 km dari Poso. Jalur transportasi Poso terputus, satu-satunya jalur yang bisa dilewati transportasi adalah laut. Namun aparat tidak berani menjamin keselamatan tim kemanusiaan termasuk tim medis dan wartawan. Ketika sampai di Parigi, kondisi pengungsi sangat memprihatinkan. Anak balita mereka terserang wabah diare karena sanitasi yang tidak mendukung. Setiap hari rata-rata ada 5 balita yang harus menjalani pengobatan.

Senin 05 Juni 2000, aparat terlibat baku tembak dengan massa perusuh yang mencoba masuk kota lewat Jembatan II. Mereka ditaksir tak kurang dari 60 orang. Karena gagal setelah dipukul mundur aparat mereka kemudian mengalihkan serangan ke Desa Lembomawo. Desa Lembomawo setelah masuk dalam kepungan kelompok merah, dikabarkan banyak penduduknya yang hilang. Juga dilaporkan bahwa Tsanawiyah Alkhairaat Sintuwu Lembo di KM 9 Poso dibakar dan Ustadz Siradjuddin, pimpinan Tsanawiyah itu dibantai oleh massa perusuh tadi. 06 Juni 2000 Selasa 06 Juni 2000 beredar “Buku Putih” Crisis Centre Majelis Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang ditandatangani oleh Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si dan Pdt M Papasi, MTH. Dokumen setebal 24 halaman ini disebarkan kepada berbagai kalangan seperti Presiden dan Wapres RI, pejabat tinggi/tertinggi negara, Komnas HAM, Panglima TNI, Kapolri, serta sejumlah kedutaan negara asing di Jakarta. Isinya sebagian besar menyudutkan umat Islam.

Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si Bentrokan kembali terjadi di Pinggiran Poso (Desa Maleilegi dan Desa Dojo) yang mengakibatkan Desa Maleilegi hangus terbakar, 66 orang tewas, 92 orang luka-luka (warga memperkirakan ada 150 kepala keluarga). Selasa sore 6 Juni 2000, satu anggota TNI Kopda Pornis PD tewas ditembak Pasukan Merah. 07 Juni 2000 Rabu pagi 7 Juni 2000, di Desa Malei terjadi lagi pertempuran antara Pasukan Merah dengan aparat. Satu anggota Brimob Polda Sulteng Pratu Ratu Arfan tertembak dengan luka cukup parah. Komandan Korem 132/Tadulako Kolonel Hamdan Z. Maulani, mengatakan Kelompok Merah kian aktif menyerang aparat. Kelompok Merah berani melakukan penyerangan kepada aparat dan tampak arogan. Pernyatan ini disampaikan

Hamdan di hadapan sejumlah tokoh agama dan masyarakat Sulteng, pada pertemuan dengan Gubernur Sulteng HB Paliudju di Wisma Haji Palu. Tokoh Islam diwakili oleh Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat M. Lationo dan Prof. Tjatjo Taha. Sedangkan tokoh Kristen diwakili oleh Drs. Datlin Tamalagi dan Drs. FE. Bungkudapu. 11 Juni 2000 Minggu 11 Juni 2000 Karl Heins Reiche (35) warga negara Jerman yang diduga memprovokasi massa di sejumlah daerah sebelum kerusuhan Poso meletus, ditangkap petugas di salah satu hotel di Tana Toraja. Karl yang saat digerebek kepergok memiliki sejumlah peralatan elektronik canggih itu, tidak bisa memperlihatkan dokumen resmi (visa, paspor dan surat imigrasi lainnya), ia malah mengelabui petugas dengan berpurapura mau mengambil dokumen imigrasi padahal melarikan diri. Petugas melakukan pengejaran ke Makale Kabupaten Tator, Karl berhasil dibekuk di perbatasan Luwu dengan Tator (12/6). Menurut Kapolwil Pare Pare Kolonel Pol Mardjito, saat diperiksa Karl mengaku sempat mondar-modir di Palopo dan Tator beberapa waktu lalu untuk memprovokasi massa. Karl juga mengaku menjadi provokator di Poso dan Tentena, basis utama kelompok Merah, sebelum kerusuhan Poso meletus. Selain Karl, aparat juga berhasil mengamankan satu dari 2 penduduk lokal yang selama ini bersama Karl memprovokasi massa. Keduanya kini meringkuk di tahanan Polwil Parepare untuk menjalani pemeriksaan intensif. Namun, sehari kemudian keberadaan Karl sulit diketahui, Polwil Parepare terkesan menutup-nutupi keberadaan Karl. 15 Juni 2000 Kamis 15 Juni 2000, sehubungan dengan beredar “Buku Putih” Crisis Centre Majelis Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah), sejumlah 36 Ormas dan OKP Islam mengeluarkan pernyataan bersama untuk meluruskan pernyataan-pernyataan yang termuat di dalam “Buku Putih” tersebut, karena dianggap memutarbalikkan fakta sebenarnya. Pernyatan bersama ini baru dipublikasikan media massa beberapa hari kemudian, yaitu 20 Juni 2000. Kamis 15 Juni 2000 personil TNI yang tergabung dalam Operasi Cinta Damai di bawah BKO Polda Sulteng di sebuah gereja di Kelurahan Kasiguncu, menemukan 2 pistol rakitan dan 145 peluncur granat, beserta kelewang dan sejumlah tombak. 06 Juli 2000 Kamis 06 Juli 2000, Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro kepada wartawan di Makodam Wirabuana mengungkapkan, dari 29 aparat TNI Kodim Poso yang diperiksa dalam kasus kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah, 7 di antaranya terlibat langsung saat terjadi kerusuhan, antara lain berupa memberikan bahan pangan dan peluru ke kelompok perusuh yang mengakibatkan korban tewas semakin banyak. Menurut Komandan Pomdam Wirabuana Kol. Sudirman Panigoro, ketujuh anggota TNI tersebut terdiri dari 5 bintara dan 2 perwira. Pada kesempatan itu Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro juga mengatakan, sampai 6 Juli 2000 data yang diterima sudah 211 korban tewas yang telah ditemukan melalui beberapa kuburan massal. Banyaknya korban yang tewas itu, menandakan benar-benar telah terjadi pembatantan. “Bayangkan, sepanjang 45 KM di Poso semua rumah dan gedung hancur terbakar,” ungkap Pangdam.

13 Juli 2000 Kamis 13 Juli 2000, terjadi pembakaran dan penjarahan secara sporadis di Kecamatan Poso Kota, Kecamatan Lage, dan Poso Pesisir, serta sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Morowali seperti Bungku, terutama pada sejumlah rumah atau bangunan yang ditinggal pemiliknya. Penjarahan juga terjadi di sejumlah kebun yang ditinggalkan pemiliknya, seperti kebun cokelat dan kelapa yang tidak dijaga.

25 Juli 2000 Selasa 25 Juli 2000 sekitar pukul 06.00 Wita, panglima perang kerusuhan Poso Fabianus Tibo ditangkap dalam sebuah operasi intelijen Satgas Cinta Damai yang dipimpin Komandan Batalyon II Kapten (Inf) Agus Firman Yusmono. Tibo diringkus di tempat persembunyiannya di rumah salah seorang warga di Desa Jamur Jaya Kecamatan Lembo (Beteleme), Kabupaten Morowali (Sulteng). Tibo dibawa ke Palu dengan dikawal langsung Komandan Satgas Cinta Damai Kolonel (Inf) Moch Slamet untuk diserahkan ke Polda Sulteng. 31 Juli 2000 Senin 31 Juli 2000, Dominggus Soares warga asal Timor Timur yang merupakan salah seorang dari 10 pimpinan pasukan Kelelawar Hitam (pasukan khusus kelompok merah) ditangkap pasukan Brimob yang dipimpin Kapolres Poso Superintendent Djasman Baso Opu dalam operasi khusus di Desa Beteleme, Kabupaten Morowali (400 km tenggara Palu). Sebelumnya aparat sudah menangkap Guntur (35), Fabianus Tibo (56), Very (34). Pimpinan utama pasukan kelelawar hitam adalah Ir. AL Lateka yang mati terbunuh pada peristiwa 02 Juni 2000. 24 Desember 2000 Minggu 24 Desember 2000, sejak pukul 02.00 dinihari terjadi kontak senjata antara sekelompok penyerang (berjumlah sekitar 20 orang) dengan aparat keamanan, di desa Seppe Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulteng. Kontak senjata yang berlangsung sampai pukul 08.00 itu, menewaskan Juli Tarumba (47) dan Hasan Basira (50) dan 2 orang lainnya mengalami luka berat.

05 Januari 2001 Jum’at 5 Januari 2001 terjadi serentetan penembakan oleh orang tak dikenal, terhadap kerumunan warga Muslim di Pandiri, kampung di sebelah timur Danau Poso.

03 April 2001 (Kasus Poso IV) Selasa 3 April 2001 pukul 04.00 Subuh Pasukan Merah menyerang dengan kekuatan ratusan orang, masuk melalui kelurahan Sayo, 1 warga Muslim (Rina, 30) tewas dan 1 aparat Brimob Brigadir Dua Polisi Muslimin tewas. Pukul tujuh pagi mereka dipukul mundur oleh aparat dan para Mujahid. 05 April 2001 Kamis 05 April 2001, Tibo (56), Dominggus (45) dan Marinus Riwu (35) menerima vonis mati yang dijatuhkan hakim Soedarmo SH, Ferdinandus dan Ahmad Fauzi. Tibo dkk dituduh melanggar Pasal 340, 187, 351 juncto Pasal 55 dan 64 KUHP. Pada persidangan Tibo menyampaikan surat yang ditulis tangan kepada Majelis Hakim, berisikan tentang sejumlah 16 nama yang selama ini menjadi penyuplai logistik bagi pasukannya selama kerusuhan Poso berlangsung. Menurut Tibo, Yahya Pattiro SH yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah dan Drs Edi

Bungkundapu yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulteng, menjadi aktor intelektual dalam rusuh Poso Mei hingga Juni 2000. Selain itu, Tibo juga menyebutkan Tungkanan, Limpadeli, Erik Rombot, Angki Tungkanan sebagai aktor yang berperan dalam kerusuhan Poso. 14 April 2001 Sabtu 14 April 2001, terjadi pembakaran sejumlah rumah ibadah di desa Ronoruncu, tempat ibadah yang dibakar tersebut sudah tidak lagi dihuni. 16 Mei 2001 Rabu 16 Mei 2001, kantor Camat Poso Pesisir dibakar kelompok tak dikenal dan menghanguskan seluruh bangunan serta isi kantor itu. 21 Mei 2001 Senin 21 Mei 2001, terjadi aksi penyerangan sekelompok massa Desa Kasiguncu Kecamatan Poso Pesisir yang mengakibatkan dua orang warga setempat tewas terkena senjata tajam dan lima orang lainnya menghilang. 10 Juni 2001 Minggu 10 Juni 2001, mobil box yang memuat alat-alat elektronik dan sejumlah uang hasil tagihan milik Toko Jaya Teknik Makassar yang diperkirakan ratusan juta rupiah dibakar massa tak dikenal. Akibatnya, Hendra (kernek) dan Ahmad (sales) tewas terpanggang. 20 Juni 2001 Rabu 20 Juni 2001, H. Anto (39) dan Sudirman (35), dua warga Desa Tokorondo, Poso Pesisir, ditembak kelompok berpakaian ninja di Desa Pinedapa, Poso Pesisir. 27 Juni 2001 Rabu 27 Juni 2001, sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan luka berat serta ringan, akibat kontak senjata yang terjadi di sekitar Desa Masani, Desa Tokorondo, Desa Sa’atu dan Desa Pinedapa, Kecamatan Poso Pesisir. 2 Juli 2001 Senin 2 Juli 2001, terjadi bentrokan massa di Malei Lage, Kecamatan Lage, Poso. Akibatnya, 85 rumah dibakar dan satu warga tewas, serta satu rumah ibadah (gereja) terbakar. 03 Juli 2001 Selasa Subuh 03 Juli 2001, pasukan merah membantai sekitar 14 korban terdiri dari kaum wanita dan anak-anak dengan sadis di Dusun Buyungkatedo. 18 Juli 2001 Rabu 18 Juli 2001, sedikitnya dua orang tewas dan delapan luka-luka akibat kontak senjata antara kelompok putih dan kelompok merah di sekitar Desa Pendolo dan

Uwelene, Kecamatan Pamona Selatan, daerah perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. 24 Juli 2001 Selasa 24 Juli 2001, ratusan warga muslim Poso berunjuk rasa di Markas Polda Sulteng. Unjuk rasa berakhir kacau, setelah bom meledak di samping ruangan Kaditserse Polda. 3 September 2001 Senin 3 September 2002, Rektor Universitas Sintuwu Maroso Poso, Drs Kogego ditembak oleh penembak misterius di Jembatan Poso. Korban mengalami pendarahan serius. 17 September 2001 Senin 17 September 2001, dua warga Desa Betania, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tertembak oleh kawanan penembak misterius: Matius Bejalemba (35), warga Desa Betania mengalami luka tembak di bagian kepala, pinggang sebelah kiri dan lengan sebelah kiri serta Kainuddin Lubangkila (45) yang hanya mengalami luka di bagian perut. 14 Oktober 2001 Minggu 14 Oktober 2001, bus angkutan milik PO Antariksa jurusan Palu-Tentena diberondong tembakan oleh sekelompok orang di ruas jalan di Kecamatan Sausu, Kabupaten Donggala, 150 kilometer arah timur Palu. Akibatnya, seorang perempuan berusia 24 tahun tewas dan sedikitnya enam orang lainnya mengalami luka tembak. 18 Oktober 2001 Kamis 18 Oktober 2001, bus angkutan umum milik Perusahaan Otobus (PO) Primadona, dibakar sekolompok massa tak dikenal di sekitar Kelurahan Kayamanya, Kota Poso. Rompa (34), warga Bungku Barat tewas akibat dianiaya dan tertusuk senjata tajam di bagian perutnya. 23 Oktober 2001 Selasa 23 Oktober 2001, ratusan warga muslim dari Desa Mapane, Kec. Poso Pesisir, membakar puluhan pos polisi. Aksi pembakaran itu dilatar-belakangi adanya penangkapan terhadap 42 warga Poso untuk menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. 31 Oktober 2001 Rabu 31 Oktober 2001, puluhan rumah dan satu gereja di bakar kelompok tak dikenal di Desa Pinedapa dan Kasiguncu, sekitar 20 kilometer arah Barat Kota Poso. 01 November 2001 Kamis 01 November 2001, warga Desa Malitu, Poso Pesisir, tiba-tiba diserang kelompok tak dikenal. Akibatnya, 129 rumah warga habis dibakar dan Nasa (45) terkena tembakan di bagian paha kiri. Selain ratusan rumah terbakar, fasilitas umum juga ikut

dibakar, seperti kantor kepala desa, kantor koperasi, gedung taman kanak-kanak, rumah ibadah (gereja), kantor PKK, rumah dinas guru dan kepala sekolah. 08 November 2001 Kamis 08 November 2001, warga Sayo membakar truk bermuatan ikan cekalang basah. Belakangan diketahui mobil itu memang tujuan Tentena, dikawal seorang anggota Brimob. Di dalam mobil truk ditemukan bensin satu jirigen dan beberapa botol aqua berisi bensin. 09 November 2001 Jum’at 09 November 2001, kontak senjata terjadi di sekitar Jembatan Dua, perbatasan Kelurahan Lembomawo dan Sayo, Kecamatan Poso Kota. Akibatnya, seorang warga tewas dan dua lainnya luka-luka. Bersamaan dengan itu, di Kelurahan Sayo juga terjadi pembakaran enam rumah dan barak. 10 November 2001 Sabtu 10 November 2001, terjadi baku tembak antara massa bertikai di dalam kota dan massa dari luar kota Poso. Bentrokan itu menewaskan Yazet (40), dari pihak penyerang dan beberapa orang lainnya terluka. 26 November 2001 Senin 26 November 2001, sekitar pukul 01.00 wita Gereja Bethany Poso, di Jalan Pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, hancur akibat ledakan bom. Sebelum dibom, gereja terlebih dahulu dibakar dengan menggunakan bahan bakar bensin. Tidak ada korban jiwa, karena seluruh warga gereja sebelumnya sudah mengungsi ke Tentena, sekitar 100 kilometer dari Poso. 27 November 2001 Selasa 27 November 2001, terjadi kontak senjata antara dua kelompok bertikai di Desa Betalemba, Kecamatan Poso pesisir, Kabupaten Poso. Walau tidak ada korban jiwa, kontak senjata itu menjadikan Poso kembali tegang. 03 Desember 2001 Senin 03 Desember 2001, ratusan warga Kota Poso mendatangi Markas Kodim 1307, untuk meminta kejelasan keterlibatan anggota TNI dalam penculikan warga Toyado sehari sebelumnya. Menurut warga, anggota TNI menculik delapan warga yang sedang sahur di barak Toyado dan selanjutnya diserahkan ke kelompok merah. Sempat terjadi keributan dengan pihak kepolisian yang menjaga unjuk rasa itu, hingga kemudian terjadi penembakan yang menewaskan Sarifuddin (30), warga Kayamanya dan empat orang lainnya luka. 19 Desember 2001 Rabu 19 Desember 2001, delapan warga Buyung Katedo, Desa Sepe, Kecamatan Lage Poso, diserang orang tak dikenal. Untungnya, kedelapan petani yang sedang memetik buah coklat di kebunnya, itu berhasil menyelamatkan diri.

20 Desember 2001 Kamis 20 Desember 2001, Deklarasi Malino ditandatangani. Kelompok Islam dan Kristen yang bertikai di Poso, Sulawesi Tengah, sepakat untuk berdamai dan menghentikan konflik. Kesepakatan itu diperoleh setelah seluruh pimpinan lapangan dan perwakilan kedua kelompok menandatangani perjanjian damai di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan. Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam Dekralasi Malino. Deklarasi dibacakan Menko Kesra Jusuf Kalla selaku mediator. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menandatangi kesepakatan yang terdiri dari sepuluh butir: 01. Menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan. 02. Menaati semua bentuk dan upaya penegakan hukum dan mendukung pemberian sanksi hukum bagi siapa saja yang melanggar. 03. Meminta aparat negara bertindak tegas dan adil untuk menjaga keamanan. 04. Untuk menjaga terciptanya suasana damai menolak memberlakukan keadaan darurat sipil serta campur tangan pihak asing. 05. Menghilangkan seluruh fitnah dan ketidakjujuran terhadap semua pihak dan menegakkan sikap saling menghormati dan memaafkan satu sama lain demi terciptanya kerukunan hidup bersama. 06. Tanah Poso adalah bagian integral dari Indonesia. Karena itu, setiap warga negara memiliki hak untuk hidup, datang dan tinggal secara damai dan menghormati adat istiadat setempat. 07. Semua hak-hak dan kepemilikan harus dikembalikan ke pemiliknya yang sah sebagaimana adanya sebelum konflik dan perselisihan berlangsung. 08. Mengembalikan seluruh pengungsi ke tempat asal masing-masing. 09. Bersama pemerintah melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi secara menyeluruh. 10. Menjalankan syariat agama masing-masing dengan cara dan prinsip saling menghormati dan menaati segala aturan yang telah disetujui baik dalam bentuk UU maupun dalam peraturan pemerintah dan ketentuan lainnya. 04 April 2002 Kamis 04 April 2002, dua bom rakitan meledak di daerah Desa Ratulene, Kecamatan Poso Pesisir, tepatnya di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum. 28 Mei 2002 Minggu 28 Mei 2002, bom rakitan meledak di tiga lokasi berbeda: di pantai penghibur di Jalan Ahmad Yani, dekat Hotel Wisata, di pasar sentral Poso yang mengakibatkan empat los terbakar dan di pertigaan bekas terminal Poso bom. 05 Juni 2002 Rabu 05 Juni 2002, bom yang diletakan di dalam bus PO Antariksa jurusan PaluTentena meledak di sekitar Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir (sekitar 10 kilometer arah Barat jantung Kota Poso). Akibatnya, empat penumpang tewas dan 16 penumpang lainya mengalami luka. Korban tewas adalah Dedy Makawimbang (30) dan Edy Ulin (25) yang tewas di tempat kejadian, sementara Gande Alimbuto (76) dan anaknya, Lastri Oktaffin Alimbuto (19) tewas di RSU Poso.

01 Juli 2002 Senin 01 Juli 2002, bom berkekuatan low explosive meledak di Desa Tagolu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Tidak ada korban akibat ledakan bom itu. 12 Juli 2002 Jum’at 12 Juli 2002, bom berdaya ledak cukup kuat menghantam bus Omega jurusan Palu-Tentena, di Desa Ronoruncu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso dan menewaskan seorang remaja putri, Elfa Suwita Dolia (17), warga Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Selatan. 19 Juli 2002 Jum’at 19 Juli 2002, Nyoman Mandiri (26) dan Made Jabir (26), dua warga Kilo Trans, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tewas ditembak penembak misterius saat melintas di jalan raya di Desa Masani. 04 Agustus 2002 Minggu 04 Agustus 2002, kelompok tak dikenal menyerang Desa Matako, Kecamatan Tojo, Kabupaten Poso. Serangan mendadak itu menghanguskan 13 rumah penduduk, membakar dua rumah ibadah (gereja) dan melukai enam warga setempat. 08 Agustus 2002 Kamis 08 Agustus 2002, warga negara Italia, Lorenzo Taddei (34), tewas ditembak orang tak dikenal dalam perjalanan dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan menuju Sulawesi Tengah, di sekitar Desa Mayoa, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso. Penembakan itu juga melukai Heronimus Banculu, 36 tahun yang tertembak di bagian paha kiri, Timotoius Kemba, 52 tahun yang tertembak di bagian lengan kanan, Karingan, 21 tahun, yang tertembak di bagian paha kanan dan Berting, 45 tahun, yang tertembak di bagian kepala bagian kiri. 12 Agustus 2002 Senin 12 Agustus 2002, gerombolan bersenjata menyerang Desa Sepe Silanca dan Batu Gencu di Kecamatan Lage. Akibatnya, Sulaweno, Kania, Omritakada, Salangi dan satu orang lainnya yang belum teridentifikasi tewas dengan sekujur tubuh terbakar. Damai Pangkunah dan Simon Tangea mengalami luka berat tertembak di bagian dada dan paha. Selain itu, ratusan rumah hangus terbakar dan rata dengan tanah. 16 Agustus 2002 Jum’at 16 Agustus 2002, kerusuhan Poso merambah ke Kabupaten Morowali. Terjadi aksi penyerangan oleh kelompok tak dikenal di Desa Mayumba, Kecamatan Mori atas Kabupaten Morowali -138 kilometer dari Poso. Aksi itu menyebabkan 43 rumah warga terbakar dan delapan kios jualan warga ikut musnah. Selain itu, L Petra (67) mengalami luka tembak di bagian paha dan seorang balita, Erik meninggal di pelukan ibunya. 26 Agustus 2002 Senin 26 Agustus 2002, terjadi hampir bersamaan, dua bom meledak di dua tempat dan mengakibatkan seorang polisi, Bripda Pitriadi (21) dan satu warga sipil, nyonya Zainun

(22) mengalami luka serius. Bom pertama meledak di Jalan Morotai, Kelurahan Gebang Rejo dan bom kedua meledak di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kasintuwu. 04 Desember 2002 Rabu 04 Desember 2002, Agustinus Baco (57) warga Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir, meninggal di tempat akibat diterjal peluru. 05 Desember 2002 Kamis 05 Desember 2002, Toni Sango (23) pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Poso, dan Oeter (23) tewas akibat ditembak orang tak dikenal. 26 Desember 2002 Kamis 26 Desember 2002, Kepala Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, M Jabir (52), ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di Jalan Trans Sulawesi menghubungkan Gorontalo-Sulteng-Sulsel akibat tembakan. 02 Juni 2003 Senin 02 Juni 2003, Yefta Barumuju (37) penduduk dusun Kapompa, Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota tewas di tempat setelah ditembak orang tak dikenal. Ia diterjal peluru dibagian dada dan paha kanan. Kawan korban, Darma Kusuma (35) selamat walau rusuk dan lutut kanannya juga terkena timah panas. 07 Agustus 2003 Kamis 07 Agustus 2003, bom rakitan meledak di rumah Aisyah Ali, warga Jalan Pulau Sabang Kelurahan Raya Manya, Kota Poso. Akibatnya, menewaskan Bahtiar alias Manto (20) yang bekerja sebagai nelayan. 11 September 2003 Kamis 11 September 2003, bom berkekuatan cukup besar meledak di tengah kerumunan massa persis di depan kantor Lurah Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir. Lima warga luka-luka. 10 Oktober 2003 Jumat 10 Oktober 2003, bias rusuh Poso terjadi di Desa Beteleme, ibu kota Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali (sekitar 300 kilometer dari Kota Poso). Puluhan orang tak dikenal menyerang desa itu dengan memakai penutup muka ala cadar. Akibatnya, tiga warga sipil: Derina Mbai (48 tahun), Hengky Malito (36 tahun) dan Oster Tarioko (47 tahun) tewas, sementara satu warga lainnya dilarikan ke rumah sakit setempat karena terkena tembakan di bagian kaki. Selain itu, 27 unit rumah terbakar, tiga mobil terbaka dan tujuh sepeda motor terbakar, serta satu unit sepeda motor hilang. 11 Oktober 2003 Sabtu 11 Oktober 2003, sekelompok orang tak dikenal menyerang empat desa: Pantangolemba, Saatu, Pinedapa di Kecamatan Poso Pesisir dan Madale di Kecamatan Poso Kota. Akibatnya, satu warga Desa Pinedapa, Ayub (26) tewas seketika, sementara

tujuh korban lainnya belum teridentifikasi. Penyerangan itu juga melukai 14 warga di empat desa itu. 14 Oktober 2003 Selasa 14 Oktober 2003, situasi Poso kembali tegang menyusul sebuah bom rakitan meledak Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, sekitar 12 kilometer dari Kota Poso. 17 Oktober 2003 Jum’at 17 Oktober 2003, kelompok penyerang Poso kembali beraksi. Kawasan Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota diserang. Akibatnya, satu buah bangunan bengkel kerajinan souvenir kayu ebony ludes terbakar, dapur rumah milik Naufal dibakar, dan kaca depan rumah Anshori yang juga kantor Yayasan Amanah berhamburan di lantai. Tapi, kejadian itu tidak memakan korban jiwa. 11 November 2003 Selasa, 11 November 2003, bom rakitan jenis low explosive meledak di Kota Tentena, ibukota Kecamatan Pamona Utara, wilayah basis pengungsi Kriten Poso. Bom itu meledak di kantor agen Pengangkutan Oto (PO) Bus Omega yang melayani penumpang jurusan Palu-Tentena. 15 November 2003 Sabtu 15 November 2003, polisi menyerbu sebuah rumah yang diperkirakan tempat para tersangka pelaku penyerangan tanggal 11 Oktober 2003. Dari penyerbuan ini menewaskan Hamid. 16 November 2003 Minggu 16 November 2003, ribuan massa mengepung Markas Kepolisian Resor Poso lantaran tidak menerima kematian Hamid (18), warga Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir yang mati ditembak. Selain itu, polisi juga menangkap dua warga Tabalu dan Ratolene lainnya, yaitu Zukri yang kemudian dilepas dan Irwan Bin Rais yang masih ditahan. 17 November 2003 Senin 17 November 2003, tiga orang merusak bus dengan menggunakan linggis dan senjata api rakitan di Desa Kuku, Kecamatan Tamona Utara, Poso. 19 November 2003 Rabu 19 November 2003, belasan orang bersenjata menyerang pos penjagaan aparat di Dusun Taripa, Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir. 26 November 2003 Rabu 26 November 2003, bom rakitan yang berkekuatan rendah meledak di Jalan Pulau Irian, Tanah Runtuh, Poso. 29 November 2003 Sabtu, 29 November 2003, empat nyawa melayang dalam dua kejadian serangan

kelompok tidak dikenal berbeda, di Poso. I Made Simson dan I Ketut Sarmon tertembak di Desa Kilo Trans Poso Pesisir, sementara Ruslan Terampi dan Ritin Bodel tewas di Desa Rompi, Ulu Bongka Pesisir Utara. 23 Desember 2003 Selasa 23 Desember 2003, bom berdaya ledak rendah meledak di depan kantor Lurah Lembomawo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso. 26 Desember 2003 Jum’at 26 Desember 2003, terjadi ledakan yang diperkirakan berada di perbatasan Kelurahan Gebang Rejo dan Lembomawo, Kecamatan Poso Kota. 04 Januari 2004 Minggu 04 Jnauari 2004, Kepolisian Resor Poso menemukan tiga bom aktif di Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir. 18 Januari 2004 Minggu 18 Januari 2004, satu bom aktif ditemukan di perbatasan Kelurahan Moengko Lama dan Kayamanya, pinggiran kota Poso. 24 Januari 2004 Sabtu 24 Januari 2004, aparat Kepolisian Resor Poso, Bharada Azis mengalami luka tembak di bagian betis kaki kirinya setelah diberondong tiga orang bercadar di Desa Masani, Kecamatan Poso pesisir. 27 Maret 2004 Selasa 27 Maret 2004, Christian Tanalida (37) tewas terkena aksi penembakan misterius di Kelurahan Kawua, Kota Poso. 30 Maret 2004 Selasa 30 Maret 2004, terjadi aksi penembakan misterius yang menewaskan Dekan Fakultas Hukum Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar) Poso, Rosio Pilongo SH.MH, di Kampus Universitas Sintuwu Maroso Poso. 13 April 2004 Selasa 13 April 2004, sehari menjelang hari Idul Fitri, terjadi ledakan bom yang mengguncang kawasan Pasar Sentral Poso, menewaskan enam warga, meledak di dalam angkutan kota jurusan Poso-Tentena sekitar pukul 09.20 Wita. 17 April 2004 Sabtu 17 April 2004, polisi menemukan 21 bom rakitan di Poso, tersebar di tiga kecamatan, dua diantaranya di kecamatan Poso kota dan Poso pesisir. Bom ditemukan di ditimbun perkebunan coklat yang sekitar rumah penduduk 18 Juli 2004 Minggu 18 Juli 2004, Pendeta Susianti Tinulele ditembak pria tidak dikenal ketika

sedang memimpin ibadah di Gereja Efatha di Jalan Banteng, Palu Selatan. Pada kejadian itu, empat jemaat terkena luka akibat berondongan peluru, yakni Farid Melindo (15), Christianto (18), Listiani (15) dan Desri (17). Mereka terluka peluru di bagian lutut, pinggul, dan paha. 13 November 2004 Sabtu 13 November 2004, terjadi ledakan bom yang menewaskan enam orang dan mencederai tiga lainnya. 03 Januari 2005 Senin 03 Jnauari 2005, terjadi ledakan bom di dekat Asrama Brimob dan hanya menimbulkan kerusakan bangunan. 28 April 2005 Kamis 28 April 2005, terjadi ledakan dua bom di Kantor Pusat Rekonsiliasi Konflik dan Perdamaian Poso sekitar pukul 20.00 Wita. Bom kedua meledak di Kantor Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil pukul 22.00 Wita. Tidak ada korban jiwa. 28 Mei 2005 Sabtu pagi 28 Mei 2005, terjadi ledakan bom pada pukul 08.15 Wita di Pasar Tentena dan pukul 08.30 Wita di samping Kantor BRI Unit Tentena, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 70 orang lainnya. Bom rakitan berdaya ledak tinggi itu berisikan potongan paku, menggunakan timer sebagai pemicu, dan batu baterai 1,5 volt yang berfungsi sebagai arus listrik. 29 Oktober 2005 Sabtu 29 Oktober 2005, tiga siswi SMUK GKST Poso ditemukan tewas dengan tubuh dan kepala pisah. 8 November 2005 Dua siswi SMK ditembak orang tak dikenal di depan rumahnya. 30 Desember 2005 Bom meledak di Pasar Maesa, Palu Selatan. Korban tewas 7 orang dan 50 orang lukaluka. 08 Mei 2006 Senin 08 Mei 2006, selepas shubuh empat orang anggota Densus 88 diserang warga Poso, dua sepeda motor mereka dibakar. Keempat orang itu berhasil meloloskan diri dari amuk warga. Saat itu, anggota Densus 88 hendak menangkap seorang warga Kelurahan Lawanga, Kecamatan Poso Kota, Poso, bernama Taufik Bulaga (24 tahun). Penyerangan itu sebagai bentuk ketidaksukaan warga terhadap Densus 88 yang suka seenaknya menangkap orang.

03 Agustus 2006 Kamis 03 Agustus 2006, sekitar pukul 20.45 Wita terjadi ledakan cukup keras di sekitar Kompleks Gedung Olah Raga Poso, Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kasintuwu, Poso. 31 Agustus 2006 Kamis 31 Agustus 2006, Brigadir Jenderal Polisi Oegroseno menyerahkan jabatan Kepala Polda Sulawesi Tengah kepada Komisaris Besar Badrudin Haiti di Mabes Polri. Kepala Polri Jenderal Sutanto selanjutnya menempatkan Oegroseno sebagai Kepala Pusat Informasi dan Pengolahan Data Divisi Telematika Mabes Polri. 22 September 2006 Jum’at 22 September 2006, Tibo dkk dieksekusi mati.

29 September 2006 Jumat siang 29 September 2006, terjadi empat ledakan bom yang disusul pecahnya kerusuhan massa di Taripa, Kecamatan Pamona Timur. Sekitar 500 orang mengamuk dan merusak fasilitas polisi, membakar pos polisi, membakar truk dan mobil patroli aparat keamanan, membakar beberapa sepeda motor, dan melempari helikopter milik kepolisian. Kemarahan massa dipicu kekecewaan karena Kepala Polda Sulawesi Tengah menolak berdialog dengan mereka perihal eksekusi Tibo Cs. 30 September 2006 Sabtu 30 September 2006 sekitar pukul 22:00 WITA, bom meledak di dekat Gereja Maranatha, Kelurahan Kawua. Satu jam kemudian bom meledak di dekat Kantor Camat Poso Kota Selatan di Jalan Tabatoki. Juga terjadi pelemparan granat oleh dua orang tak dikenal terhadap kerumunan orang di Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota. 01 Oktober 2006 Minggu malam 01 Oktober 2006, kelompok berpenutup kepala ala ninja beraksi, menghadang mobil sewaan di rute Parigi-Makassar yang berhenti karena terhalang bangkai sepeda motor. Ninja membacok punggung dan menghantam kepala Jelin, 20 tahun, dengan benda keras dalam insiden di Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso, itu. Penghadangan juga dialami Ebiet, pekerja perusahaan pemasok tabung gas elpiji. Ebiet sempat diculik selama dua hari di Pamona Selatan, sekitar 60 kilometer dari Poso.

16 Oktober 2006 Senin 16 Oktober 2006, Pendeta Irianto Kongkoli Sekretaris Umum (Sekum) Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) ditembak mati oleh orang tak dikenal di kawasan Jalan Monginsidi, Kelurahan Lolo Selatan, sekitar pukul 08;15 Wita. Ketika itu, korban yang ditemani istri (Iptu Rita Kupa) dan anaknya Gemala Gita Evaria (4) hendak berbelanja bahan bangunan (tegel) di Toko Sinar Sakti. Korban langsung di larikan ke rumah sakit (RS) Bala Keselamatan sekitar 500 meter dari tempat kejadian perkara (TKP), namun jiwanya tidak berhasil diselamatkan. Sementara Ny Rita dan anaknya Gea berhasil lolos dari musibah berdarah itu. Pendeta Irianto Kongkoli direncanakan menggantikan Pendeta Rinaldy Damanik yang mengundurkan sebagai Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) setelah terpidana mati kasus Poso Tibo cs dieksekusi mati.

18 Oktober 2006 Rabu 18 Oktober 2006, jenazah Pendeta Irianto Kongkoli sekitar pukul 10.00 Wita disemayamkan di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GSKT) Anugerah Masomba yang terletak dibilangan Jln Tanjung Manimbaya. Acara pelepasan dan pemakaman dipimpin langsung oleh Pendeta Isak Pole Msi (Ketua I Majelis Sinode GKST). 21 Oktober 2006 Sabtu 21 Oktober 2006, kerja keras tim penyidik Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) dibantu Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri berhasil membawa 11 orang untuk diperiksa sehubungan dengan kasus penembakan Pendeta Irianto Kongkoli. 22-23 Oktober 2006 Minggu 22 Oktober 2006 dan Senin 23 Oktober 2006, terjadi bentrokan antara anggota Brigade Mobil (Brimob) dengan warga Kelurahan Gebangrejo, Kota Poso. Bentrokan pada malam Idul Fitri itu terjadi karena polisi tidak sensitif terhadap umat Islam. Akibatnya, seorang warga tewas, tiga lainnya luka-luka (termasuk seorang anak berusia empat tahun), sebuah mobil polisi dan beberapa sepeda motor terbakar. 27 Oktober 2006 Jum’at 27 Oktober 2006, SBY bertolak ke China melalui bandara Halim Perdana Kusumah.

08 November 2006 Senin 08 November 2006, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mulai mengadili Hasanuddin (34), salah seorang terdakwa pembunuh tiga siswi SMA di Poso yang terjadi 29 Oktober 2005. Tim jaksa yang diketuai Payaman mendakwa Hasanuddin sebagai perencana pembunuhan Alfita Poliwo, Theresia Morangki, dan Yarni Sambue. 14 November 2006 Selasa 14 November 2006, Andi Lalu alias Andi Bocor menyerahkan diri. Setelah diperiksa tiga hari, Andi dilepas. 28 November 2006 Selasa 28 November 2006, Iskandar alias Ateng Marjo dan Nasir, dua di antara 29 orang pada daftar pencarian orang Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, menyerahkan diri ke Kepolisian Resor Poso. 11 Januari 2007 Pada Kamis 11 Januari 2007, sekitar pukul Pukul 06.00 WITA, Densus 88 dan dua SSK Brimob Sulteng menggeledah rumah Basri (DPO) di Jl Pulau Jawa II Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Karena tak menemukan orang yang dicari, aparat melanjutkan pencarian ke rumah Yadit (DPO) yang terletak sekitar 50 meter meter dari rumah Basri. Di rumah Yadit, aparat menemukan Dedi Parshan (DPO) yang sedang tertidur. Pukul 6.30 WITA, Dedi yang berusaha melarikan diri tewas dengan rentetan tembakan di bagian lengan kanan dan kiri dan terlihat luka tusukan di dada. Sekitar 300 m dari rumah Yadit, tepatnya di pesantren Al Amanah, Tanah Runtuh, ratusan polisi mengepung dan menembak mati ustadz Riansyah di bagian kepala. Sementara ustadz Ibnu yang juga pengajar pesantren Al Amanah, luka tertembak di bagian perut dan punggung. Penyergapan melibatkan dua tim CRT (Cepat Reaksi Tanggap) Polres Poso, diperkuat dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) anggota Brimob Polda Sulteng. Hasilnya, lima dari 29 warga yang ditetapkan dalam DPO itu ditangkap. Mereka adalah Dedi Parshan (28), Anang Muhtadin alias Papa Enal (40), Upik alias Pagar (22), Paiman alias Sarjono (33), dan Abdul Muis (25). Anang, Upik dan Muis mengalami luka tembak di beberapa bagian tubuh mereka. Kematian Ustadz Riansyah membuat warga marah. Bripda Dedy Hendra anggota Polmas (Polisi Masyarakat) di Kelurahan Tegal Rejo yang mengendarai sepeda motor seorang diri, melntas di TPU Lawanga saat prosesi pemakanan terhadap Ustadz Riansyah berlangsung. Puluhan pelayat yang masih tersulut emosi akibat kematian Ustadz Riansyah segera melakukan pencegatan. Dedi dihakimi hingga tewas di tempat. Jenazah Bripda Dedy Hendra setelah disemayamkan di Mapolres Poso, diterbangkan ke Bandung (Jawa Barat) pada Jumat pagi (12 Jan 2007) menggunakan pesawat khusus milik Polri.

Sebelumnya, November 2006 lalu, sudah ada tiga dari 29 DPO yang menyerahkan diri. Pada Selasa 14 Nov 2006, Andi Lalu alias Andi Bocor menyerahkan diri. Setelah diperiksa tiga hari, Andi dilepas. Dua pekan kemudian, Selasa 28 Nov 2006 Iskandar alias Ateng Marjo dan Nasir menyerahkan diri ke Kepolisian Resor Poso. Dengan demikian, sejak November 2006 hingga 11 Januari 2007, sudah ada 8 dari 29 DPO yang berhasil diamankan aparat. 14-15 Januari 2007 Minggu malam (14 Jan 2007) hingga Senin dini hari (15 Jan 2007), terjadi ketegangan antara anggota polisi dengan sekelompok warga. Maka, pengamanan diperketat dengan menyebar pasukan dalam jumlah yang lebih banyak di titik-titik strategis. Belasan anggota polisi bersenjata lengkap disiagakan di ruas-ruas jalan utama dalam kota Poso, padahal pada hari biasanya jumlah anggota polisi yang disiagakan kurang dari lima orang. Selain itu, puluhan kendaraan taktis berisi pasukan bersenjata juga mengintensif patroli dalam kota Poso. Beberapa kendaraan taktis diparkir di ruas-ruas jalan yang dinilai rawan seperti di Jalan Pulau Bali, Pulau Serang, Pulau Irian dan Pulau Sumatera. 15 Januari 2007 Senin sore (15 Jan 2007), aparat keamanan di kota Poso kembali bersitegang dengan sekelompok warga di Jalan Pulau Irian Kelurahan Gebang Rejo. Warga Jalan Pulau Irian mulai terkonsentrasi sejak pukl 15:00 Wita, saat polisi meningkatkan pengamanan dengan mengerahkan beberapa kendaraan taktis ke kawasan tersebut. Sekitar pukul 18:15 Wita, mulai terdengar rentetan letusan senjata api disertai bunyi tiang listrik dipukul-pukul membuat sebahagian warga berlarian menuju arah Jalan Pulau Irian. Suara letusan senjata api dan dentuman tiang listrik terdengar hingga pukul 19:00 Wita, bahkan sesekali terdengar suara ledakan keras yang diduga kuat bersumber dari bom rakitan di sekitar Kelurahan Gebang Rejo dan Kelurahan Kayamanya. Aliran listrik di Jalan Pulau Sumatera sempat padam, sementara warga di Jalan Pulau Irian, Jalan Pulau Jawa dan Jalan Pulau Madura sengaja memadamkan aliran listrik. Sekelompok warga di ketiga jalan yang berada dalam wilayah Kelurahan Gebang Rejo ini juga membuat blokade di ruas jalan dengan menaruh benda-benda keras seperti batu, kayu dan drum. Hingga pukul 22.00 wita suara tembakan belum mereda. Tidak ada korban jiwa. 16 Januari 2007 Hingga Selasa siang (16 Jan 2007), situasi tegang dan mencekam masih terus dirasakan. Penyerangan atas Polres Poso oleh sekelompok waga berlangsung semalam suntuk, menggunakan berbagai jenis senjata api, termasuk bom. Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Drs Badrodin Haiti, mengeluarkan maklumat tertanggal 16 Januari 2007, berisi perintah antara lain melakukan tindakan tegas hingga tembak di tempat kepada siapa pun yang memiliki, menyimpan, atau membawa senpi dan bahan peledak tanpa otoritas yang sah. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP M Kilat, masyarakat yang memiliki, menguasai atau menyimpan senpi, amunisi, serta

bahan peledak dengan tanpa hak juga diminta untuk segera menyerahkan kepada aparat berwajib secara sukarela. Dasar dikeluarkannya maklumat tersebut sudah jelas antara lain UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI, UU No 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, UU No 12 Tahun 1952 tentang senjata api dan bahan peledak, Peraturan Polda Sulteng Tahun 2006 tentang batas akhir penyerahan senpi, amunisi dan bahan peledak secara sukarela di wilayah Sulteng. Maklumat tersebut mendapat kecaman dari Ketua BMMP (Barisan Muda Muslim Poso) Drs Zulkifli Kay, yang menilai maklumat itu terlalu berlebihan. Kay juga mengatakan, maklumat tembak di tempat memberi kesan telah terjadi konflik terbuka dengan eskalasi yang luas, sehingga membuat situasi keamanan di Poso tidak terkendali. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Sisno Adiwinoto, sehubungan dengan maklumat tersebut menyatakan, di dalam prosedur Polri tidak dikenal istilah tembak di tempat. Setiap anggota polisi, telah dibekali pengetahuan kapan saatnya dapat menggunakan senjata apinya. Tanpa perintah tembak di tempat, setiap anggota polisi harus tahu kapan tepatnya harus menarik pelatuk senjata apinya. Dengan keluarnya perintah itu, kalau terjadi sesuatu yang berakibat hukum dan harus berhadapan dengan divisi propam, merupakan risiko Kapolda Sulteng. 18 Januari 2007 Kamis pagi tanggal 18 Januari 2007, sebuah bom hampa berdaya ledak rendah meledak di Jalan Pulau Sumbawa Kelurahan Gebang Rejo kota Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Bom meledak sekitar pukul 09:20 Wita di dalam saluran air, tepatnya di belakang Kantor PT Bank Sulteng Cabang Poso atau sekitar 100 meter dari Mapolres Poso dan Pasar Sentral Poso yang terletak di Jalan Pulau Sumatera. Kapolres Poso AKBP Drs Rudi Sufahriadi mengatakan, bom jenis low explosive itu terbuat dari (casing) botol air mineral dengan bahan sulfur dan florat. Pelakunya diduga dari kelompok yang selama ini menjadi buron polisi dengan ciri-ciri rambut gondrong dan berpostur tinggi besar. Tidak ada korban jiwa, hanya sempat membuat kaget sebagian pedagang dan pengunjung di Pasar Sentral Poso. Aktivitas masyarakat secara umum berlangsung normal. Kamis malam tanggal 18 Januari 2007, terjadi ledakan bom di dua tempat. Ledakan pertama terjadi di Jalan Pulau Aru, Kelurahan Gebangrejo sekitar pukul 18:00 Wita, tepatnya di belakang Gereja Eklesia Poso. Ledakan tersebut sempat membuat warga di sekitar gereja panik meski tidak ada korban jiwa. Ledakan kedua terjadi di Jalan Pulau Sumatera sekitar pukul 22:30 Wita yang berlokasi di depan Pasar Sentral Poso. Lokasi ledakan tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari Mapolres Poso. Ledakan kedua membuat aktivitas jual beli di pasar terganggu. Para penjual dan pembeli memutuskan pulang lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kedua ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa hanya sempat membuat panik beberapa warga di sekitar lokasi. 20 Januari 2007 Sabtu, 20 Januari 2007 sekitar pukul 13:30 Wita, ditemukan sebuah bom rakitan ukuran

panjang sekitar 15 centimeter dengan diameter berkisar lima centimeter, di pinggiran jalan bagian depan Gereja Advent di Kelurahan Kasintuwu, Poso Kota, Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurut Kapolres Poso AKBP Drs Rudi Sufahriadi, bom aktif yang belum meledak dan berada dalam kantong plastik berwarna hitam itu berhasil diamankan petugas Jihandak, dan segera dibawa dengan mobil khusus ke Markas Brimob Polda Sulteng di Kelurahan Moengko untuk diledakkan. 22 Januari 2007 Senin 22 Januari 2007, situasi kota Poso memanas sejak sekitar pukul 08:30 Wita, terdengar suara rentetan tembakan di Jalan Pulau Irian Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Hasilnya, dua warga Poso bernama Paijo (40) dan Kusno (35) mengalami luka tembak karena peluru nyasar akibat peristiwa baku tembak antara pihak kepolisian dan para Daftar Pencarian Orang (DPO) Poso di Jalan Irian, Poso Kota. Paijo yang berprofesi sebagai tukang ojek menderita luka tembak di lengan kiri bagian atas sedangkan Kusno (penjual bakso) mederita luka tembak di kepala bagian atas, keduanya sempat mengalami perawatan di RSUD Poso. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng AKBP M Kilat SH MH, anggota kepolisian Ipda Maslikan menderita luka tembak di bagian paha, dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah. Bentrokan antara aparat dengan warga yang terjadi 22 Januari 207 sekitar pukul 07.30 WITA hingga 16.00 WITA, berlangsung di beberapa lokasi, yaitu Jalan Pulau Nias, Jalan Pulau Sabang, Jalan Pulau Mentawai di Kelurahan Kayamanya. Di Kelurahan Gebang Rejo tersebar di Jalan Pulau Kalimantan, Pulau Irian, Pulau Seribu, Pulau Seram, dan Pulau Jawa. Serta di perbukitan hutan jati yang berada di perbatasan Kelurahan Gebangrejo dan Desa Lembomawo. Dari bentrokan ini jatuh korban tewas antara lain Ustadz Mahmud, Ustadz Yakub, Ustadz Idrus, dan seorang warga yang akrab disapa Om Gam. Insiden bakutembak di Jalan Pulau Kalimantan Kelurahan Gebang Rejo mengakibatkan empat anggota Brimob terkena peluru senjata api, seorang di antaranya bernama Bripda Rony Iskandar tewas dengan luka tembak di bagian kepala. Pangkat Ronny dinaikkan menjadi Briptu anumerta. Sedangkan sedangkan korban luka selain Ipda Muslihan, juga Bripda I Wayan Panda (anggota Brimob), Bripda Wahid, Brigadir Dudung Adi (anggota Brimob), Brigadir Kosmas (anggota CRT Mabes Polri). Rony adalah anggota Brimob yang di-BKO di Densus 88 Anti Teror Polda Sulteng. Sedangkan Muslihan adalah anggota Densus 88, dan Bripda Wahid adalah anggota Brimob Sulteng. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Muhammad Kilat, Selasa 23 Jan 2007, korban tewas dari kelompok bersenjata berjumlah 13 orang. Identitas 13 korban tewas itu adalah Tengku Irsan alias Icang, Ridwan alias Duan, Firmansyah alias Firman (Siswa MTs Negeri Poso) luka tembak di bagian perut, Nurgam alias Om Gam (luka tembak di bagian kepala), Idrus Asapa, Toto, Yusuf, Muh Sapri alias Andreas, Aprianto alias Mumin, Hiban, Huma, Sudarsono, dan Ridwan Wahab alias Gunawan, Ustadz Mahmud (luka tembak di kepala).

Dari 13 anggota kelompok bersenjata yang tewas hanya satu orang yang masuk dalam DPO, yaitu Icang. Tengku Firsan alias Icang, diduga aparat sebagai perakit hampir semua bom yang diledakkan di Poso dan Palu. Icang juga diduga aparat terlibat peledakan bom di Pasar Sentral Poso, peledakan bom di Pasar Maesa, Palu, dan penembakan lima anggota Brimob di Ambon pada tahun 2005. 23 Januari 2007 Selasa 23 Januari 2007, menurut Kadiv Humas Polri Irjen Sisno Adiwinoto, tiga orang yang masuk dalam DPO menyerahkan diri. Mereka adalah Iswadi alias Is, Yasin alias Utomo, dan Faizul alias Takub. Sementara itu, sebanyak dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) anggota Brimob Kelapa Dua Jakarta dikerahkan ke Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), untuk memperkuat pengamanan di wilayah yang sepekan terakhir kembali memanas. Pasukan elit Polri ini dipimpin Kompol Gatot selaku Kepala Detasemen serta AKP Muhammad Tedjo dan Iptu Iwan masing-masing sebagai Komandan Kompi. Sebelumnya sudah ada sembilan SSK pasukan Brimob kiriman yang di BKO (Bawah Kendali Operasi)-kan di Mapolres Poso. Dengan demikian total seluruh pasukan Brimob BKO di daerah konflik itu sebanyak 11 SSK atau sekitar 1.100 personil. Sedangkan jumlah personil Polisi dan TNI organik maupun nonorganik di Poso, termasuk di Kabupaten Tojo Unauna dan Morowali (daerah pemekaran Poso) berkisar 5.000 orang. Share:
• • • • •

0 Comments

FPI: Sebuah Keniscayaan
29 May 2011 Posted by umarabduh in May 29,2011 Uncategorized

FPI: Sebuah Keniscayaan Oleh Ir. Muhammad Umar Alkatiri Pengantar: Tulisan berjudul FPI: Sebuah Keniscayaan ini pernah dipublikasikan dalam dua bagian pada sebuah situs yang kini sudah tidak eksis. Kebetulan, penulisnya (almarhum) Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri adalah salah satu kawan baik saya (Umar Abduh), yang pernah sama-sama menginap di LP Cipinang untuk kasus yang berbeda.

Pasca kasus Cikeuting (Februari 2011), FPI sempat dicurigai sebagai ormas radikal yang melahirkan kekerasan terhadap Ahmadiyah. Bahkan diopinikan sebagai ormas yang layak dibubarkan. Tulisan ini kami munculkan kembali untuk menyegarkan ingatan kita terhadap adanya kecaman yang ditujukan kepada FPI. ***

Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri KEBERADAAN FPI dan tindakan anarkis yang melekat padanya adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang sulit ditolak, karena ia lahir dari sebuah sistem yang memang tidak adil. FPI lahir karena aparat resmi yang seharusnya menjalankan nahimunkar, tidak bekerja sebagaimana mestinya. Malahan, mereka menjadi bagian dari kemungkaran itu sendiri. Seperti, menjadi backing tempat pelacuran, tempat perjudian, dan aneka kemaksiatan lainnya. Ini alasan pertama. Alasan kedua, kualitas kemaksiatan-kemungkaran semakin meningkat, bahkan lebih leluasa dibanding negara paling liberal sekalipun. Indonesia, belasan tahun yang lalu cuma jadi daerah lintasan narkoba, kini bahkan sudah menjadi pabrik terbesar ekstasi dan aneka obat-obatan psikotropika lainnya, tidak hanya untuk kawasan Asia Tenggara.

Di negara liberal, tempat berlangsungnya kegiatan maksiat dibatasi hanya pada lokasilokasi tertentu, dan usia pengunjung diawasi ketat. Di Indonesia, di setiap kecamatan (bahkan kelurahan) bisa ditemui tempat maksiat, yang bisa dikunjungi anak-anak usia sekolah setingkat SMP. Begitu juga dengan peredaran VCD porno dan berbagai material pornografi lainnya, dapat diperoleh dengan mudah di setiap pasar atau pertokoan, yang bisa dengan mudah diakses anak-anak di bawah umur, apalagi dengan harga terjangkau (hanya beberapa ribu rupiah saja). Alasan ketiga, media massa selalu menampilkan sosok FPI yang sedang beraksi dengan kekerasan. Mereka sama sekali tidak pernah menyoroti peristiwa sebelumnya. Yaitu, ketika FPI menulis surat kepada Kapolda atau DPRD dan lain-lain agar suatu tempat maksiat segera ditutup, tidak diberitakan. Begitu juga ketika FPI bernegosiasi dengan pemilik tempat hiburan. Bahkan ketika laskar FPI diserang lebih dulu, media massa tak berminat meliputnya. Barulah ketika FPI membalas, liputan media massa begitu luas, kemudian diikuti oleh berbagai komentar dan caci maki. Ini jelas tidak adil. Kondisi seperti inilah yang melahirkan ormas seperti FPI. Setuju atau tidak, mau atau tidak mau, FPI akan lahir juga. Artinya, FPI dilahirkan oleh sistem sosial yang diskriminatif. Kalau toh FPI berhasil dibubarkan, maka akan lahir berbagai ‘FPI’ lainnya. FPI dan berbagai ‘FPI’ lainnya akan hilang, bila sistem yang tidak adil juga hilang, aparat resmi yang bertugas menjalankan nahimunkar, berfungsi sebagaimana mestinya. FPI telah menjadi ‘kebutuhan’ bagi sebagian masyarakat (Islam). Tanyakan hal ini kepada masyarakat jalan Ketapang, Jakarta Pusat. Penduduk jalan Ketapang yang mayoritas Betawi dan Muslim ini, sering jengkel atas arogansi preman Ambon Kristen (beberapa di antaranya Batak Kristen) yang menjadi centeng berbagai tempat hiburan (maksiat) di sekitarnya. Pasca ‘perang terbuka’ antara puluhan laskar FPI dengan sekitar hampir tiga ratus preman kafir itu, yang terjadi di penghujung tahun 1998, kini warga di jalan Ketapang merasa lebih tenang dan bermartabat. Puluhan laskar FPI yang jumlahnya tidak seimbang dengan ratusan preman kafir kala itu, berhasil menewaskan sekitar 15 orang preman penjaga tempat maksiat. Dari peristiwa Ketapang ini telah menjadi pemicu terjadinya tragedi pembantaian terhadap umat Islam di Ambon sejak Januari 1999. Preman Ambon Kristen yang terdesak di

Ketapang lari pulang kampung dan mengobarkan perang ‘saudara’ di sana. Bersamaan dengan itu, sejak Desember 1998, terjadi kasus Poso, yang intinya pembantaian terhadap umat Islam juga. Pada kasus Poso dan Ambon, yang memulai tragedi adalah umat Kristen, namun jusru umat Islam-lah yang dituding membantai umat Kristen. Media massa nasional dan internasional memposisikan umat Islam yang mayoritas membantai umat Kristen yang minoritas. Padahal, yang terjadi kebalikannya, yaitu anarki minoritas terhadap mayoritas. Dari kondisi seperti ini, yang dibutuhkan umat Islam bukan cuma FPI tetapi juga Laskar Jihad, Laskar MMI dan JI (Jamaah Islamiyah). Sebab, pemerintah dan aparat penegak hukum kurang memihak kepada umat Islam. Umat Islam disuruh berdamai, padahal biang terjadinya konflik horizontal ini adalah umat Kristen. Bahkan korban terbanyak dari kasus Ambon dan Poso adalah umat Islam. Bagaimana mungkin pihak yang terzalimi diminta menahan diri?

Belum sembuh luka-luka umat Islam akibat pembantaian umat Kristen pada Kasus Poso (sejak Desember 1998) dan Ambon (sejak januari 1999), ternyata luka itu tergores lagi melalui sikap umat Kristen dan umat non Muslim lainnya yang tanpa dasar yang jelas menolak RUU APP bersama-sama dengan para fundamentalis sekuler dan kaum sepilis. Begitu juga dengan sikap umat Kristen yang menolak Perda syariah. Ini jelas bagian dari provokasi umat Kristen tehadap umat Islam. Namun yang disalahkan justru umat Islam. Boleh jadi, kasus Bom Malam Natal 2000, adalah puncak kemarahan umat Islam yang diwakili fundamentalis JI (Jama’ah Islamiyah), sebagai reaksi atas terjadinya kasus Poso dan Ambon, yang intinya merupakan praktek muslim cleansing terencana di dua daerah tersebut. Namun umat Kristen tidak juga mawas diri, mereka terus dengan sikap pongahnya menantang umat Islam. Terbukti, kini mereka ikut-ikutan menentang pembubaran Ahmadiyah. Padahal, kasus Ahmadiyah adalah murni kasus pelanggaran akidah umat Islam, tidak ada hubungannya dengan akidah umat Kristen dan umat non Muslim lainnya.

Kalau Indonesia mau damai, pertama, jangan hanya mencari kambing hitam, menyalahkan FPI, MMI, HTI, JI, dan sebagainya yang dituding sebagai Islam garis keras, Islam fundamentalis. Tapi pemerintah harus bisa menampung aspirasi umat Islam. Memang umat Islam yang mayoritas (silent majority) tidak banyak bersuara sebagaimana minoritas nyaring yang didukung berbagai media massa. Namun boleh jadi, mereka merasa terbela dengan adanya kalangan Islam fundamentalis. Buktinya, polling pembubaran FPI yang dilakukan beberapa pihak antara lain SCTV, menunjukkan hasil yang tak terduga: suara mereka yang menolak FPI dibubarkan lebih besar dari yang setuju. Yang kedua, umat non Muslim jangan memulai tragedi berdarah seperti di Poso dan Ambon. Namun kalau sudah berani memulai pertikian, maka harus konsekuen menerima segala resiko yang timbul. Jangan pula menantang-nantang umat Islam dengan kedok kebangsaan, kebebasan beragama dan berkeyakinan, seta kebhinekaan dan pluralisme. Umat Islam sangat tahu, bahwa itu semua hanya kedok untuk menutupi hajat memerangi Islam. Naluri memerangi Islam yang ada di dalam diri umat non Islam harus dibuang jauh-jauh. Sebab umat Islam tidak akan pernah takut dengan tantangan umat non Islam. Masalahnya, umat Islam seringkali berada dalam situasi dilematis. Didiamkan saja, tambah ngelunjak. Kalau disikapi dengan santun, mereka tidak juga mau berhenti menantang-nantang, bahkan terus memprovokasi. Sehingga ketika ilalang kering sudah terbakar, maka yang terjadi adalah anarki. Kalau sudah begini, maka media massa nasional dan internasional pun menjadikannya bahan publikasi memojokkan Islam. Ketiga, media massa juga jangan menjadi sumber provokasi. Selain harus bersikap profesional dan memenuhi etika jurnalistik, media massa juga jangan sok tahu dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama. Kasus pemuatan foto Munarman mencekik anggotanya sendiri, yang oleh Koran Tempo ditulis mencekik anggota AKKBB, menunjukkan bahwa profesionalitas Koran Tempo masih rendah. Bambang Harimurty dan Goenawan Mohamad terbukti tidak profesional, bahkan terkesan emosional. Provokasi media massa seperti Koran Tempo, Majalah Tempo, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Indo Pos, Rakyat Merdeka, Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Seputar Indonesia, yang gemar memuat pemikiran-pemikiran kalangan liberal, sebaiknya dihindari sama sekali. Sejak tahun 1970-an Majalah Tempo, Kompas dan Sinar Harapan sudah menjajakan pemikiran-pemikiran liberal, tentu dengan harapan akan tumbuh budaya pemikiran Islam yang pluralis, sehingga kondusif membangun kedamaian. Kenyataannnya, meski sudah bermilyar kata ditulis Cak Nur dan Gus Dur, konflik horizontal tetap saja terjadi. Karena, akar masalahnya bukan di situ. Penyebab konflik horizontal bukan karena adanya pemikiran ke-Islam-an yang tekstual, puritan atau fundamentalistis, tetapi karena adanya ketidak adilan yang sudah berlangsung sejak awal kemerdekaan. Jadi media massa jangan sok tahu dengan diagnosanya yang keliru.

Keempat, pemerintah juga harus tegas dan adil, bila kekerasan fisik sebagaimana dilakukan FPI dan Laskar Islam bisa menyebabkan komandannya masuk penjara, maka kekerasan berkedok intelektual juga harus diproses secara hukum. Gus Dur amat sangat sering melakukan kekerasan seperti ini. Begitu juga dengan Syafii Maarif di harian Republika. Kalau Habib Rizieq dan Munarman diproses secara hukum, maka mereka yang namanya tercantum di dalam petisi AKKBB sebagaimana dimuat berbagai media massa, harus juga diproses secara hukum. Kalau pemerintah tetap saja membiarkan AKKBB bebas dari proses hukum, padahal mereka menjadi penyebab konflik horizontal, ini sama saja dengan menyuburkan potensi radikalisme, anarkisme, fundamentalisme di kalangan masyarakat yang sudah geram. FPI tidak akan punah selama kondisi yang memungkinkannya eksis tetap terjaga. Pemerintah bisa membubarkan FPI, namun ‘FPI’ lainnya akan lahir menggantikan. Pemerintah bisa saja mengeliminasi Habib Rizieq atau Baasyir, namun dalam waktu amat singkat akan lahir Rizieq dan Baasyir yang baru. Yang harus dilakukan pemerintah adalah bersikap tegas. Bubarkan Ahmadiyah, bubarkan JIL, dan aneka kesesatan lainnya. Juga, suruh umat non Islam tutup mulut dan jangan ikut campur persoalan umat Islam. Selama ini mereka terbukti selalu mencari gara-gara, menantang perang dan memprovokasi. Mereka tidak toleran. Dari insiden Monas, pemerintah seharusnya menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran berharga. Jangan sampai terulang lagi. Kalau yang marah hanya FPI, masih mending, paling yang mereka bawa cuma pentungan. Coba, kalau yang marah dari kalangan JI (Jamaah Islamiyah), berapa banyak lagi kasus peledakan akan terjadi? ***

FPI adalah organisasi tanpa badan hukum yang lahir spontan. Mereka yang ikut mendeklarasikan FPI hampir seratus persen adalah orang-orang yang tidak punya pengalaman berorganisasi. Bahkan ketika dideklarasikan, para pencetusnya tidak pernah berfikir akan punya cabang di berbagai daerah. Kenyataannya, cabang-cabang FPI tumbuh di berbagai daerah.

Ini artinya FPI memang dibutuhkan. Kebutuhan itu dilahirkan oleh sikap pemerintah dan aparat hukum yang berat sebelah, juga akibat sikap kalangan Kristen yang arogan dan mau menang sendiri. Kebutuhan itu juga dilahirkan oleh media massa yang hampir seluruhnya dimiliki fundamentalis sekuler yang anti agama, namun sok tahu dengan agama, dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran ‘progresif’ yang sesungguhnya menawarkan kesesatan bukan kedamaian. Salah seorang deklarator FPI Habib Rizieq pernah mengatakan, “Kalau semua petani menanam padi dan tak ada yang memberantas hama, maka bersiaplah menerima panen yang gagal. Kalau semua petani memberantas hama dan tak ada yang menanam padi maka bersiaplah tidak makan. Kedua pekerjaan itu harus dilakukan secara harmonis. Demikian juga amar ma’ruf dan nahi munkar, keduanya harus ada yang melakukan. Karena itu harus ada rakyat yang bekerja untuk membangun negeri dan harus ada polisi yang menjaga keamanan rakyat. Dan sebagai negara dengan mayoritas Islam maka di Indonesia harus ada pula umat Islam yang menjaga keamanan agama Islam. Untuk itulah FPI didirikan. Semoga ini menjadi pembagian tugas harmonis yang saling menguatkan.” Pernyataan Rizieq bukan tanpa alasan. Aparat penegak hukum tak berbuat semestinya ketika ada yang melecehkan Islam. Misalnya, kasus pelecehan yang dilakukan Gus Dur, yang pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci paling porno. Ketika itu, sekitar pertengahan Juni 2006, gabungan ulama Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta bersama dengan beberapa pimpinan ormas Islam, mendatangi Mabes Polri di Jakarta, mengadukan Gus Dur kepada Kepolisian terkait dengan penodaan terhadap Al-Quran. Namun, Gus Dur tidak pernah dimasukkan ke dalam sel karena pelecehannya itu, meski sejumlah ulama sudah melaporkannya. Masih banyak ucapan dan perbuatan orang-orang sealiran Gus Dur yang gemar memprovokasi dan melecehkan agama Islam. Tapi, nyaris tak terjerat hukum. Syafii Maarif di Republika berkali-kali menulis dengan nada menyindir dan melecehkan, bahkan Maarif pernah menggunakan istilah preman berjubah untuk menyerang lawan ideologisnya. Maarif juga pernah menelikung pemikiran buya HAMKA ketika ia membahas soal tafsir buya HAMKA terhadap surat Al-Baqarah ayat 62 dan surat AlMaidah ayat 69 (harian Republika, rubrik Resonansi, Selasa, 21 Nopember 2006). Ini sangat aneh. Maarif yang mantan Ketua PP Muhamadiyah lebih condong membela kekafiran berfikir, dan hal itu difasilitasi oleh harian Republika yang katanya koran umat Islam. Bila Maarif dilaporkan ke polisi, ia tidak bisa dijerat hukum. Lalu ke mana kegeraman umat Islam itu dapat disalurkan? Barangkali, FPI telah menjadi pilihan sebagai salah satu salurannya. Kalau Republika saja berani memfasilitasi tulisan-tulisan yang seperti itu, apalagi harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Majalah Tempo, Seputar Indonesia, Rakyat Merdeka, Indopos, Jawa Pos, dan sejumlah koran lainnya yang masih satu group dengan Kompas dan Jawa Pos.

Koran dan majalah itu, sangat gigih menentang aspirasi umat Islam. Ketika RUU APP diperjuangkan, mereka memposisikan diri secara tegas, yaitu menentang. Begitu juga ketika Perda Syari’ah digulirkan, mereka juga ikut-ikutan menentang. Demikian halnya ketika aspirasi umat Islam meminta Ahmadiyah dibubarkan mereka juga menentang. Apa yang menjadi pendirian media massa itu jelas sebuah provokasi. Apalagi ditambah dengan provokasi sejumlah orang yang berpaham sepilis, seperti Syafii Anwar (ICIP), Ahmad Suaedy (The Wahid Institute), Guntur Romly (JIL) yang pernah mewawancarai Gus Dur, dan menghasilkan pelecehan berupa pernyataan “Al-Qur’an merupakan kitab suci paling porno” yang disampaikan Gus Dur, sebagaimana pernah dipublikasikan pada situs JIL. Ketiga nama di atas, tercantum di dalam petisi AKKBB yang dimuat berbagai media. Dan… Subhanallah, Allahu Akbar…, ketiganya ternyata menjadi korban kekerasan yang dilakukan massa Laskar Islam. Padahal, saya yakin massa Laskar Islam (yang di dalamnya terdapat laskar FPI) sama sekali tidak tahu siapa yang mereka pukuli itu.

Mereka tidak kenal wajah Syafii Anwar yang membela Ahmadiyah melalui berbagai wawancara dan tulisannya. Mereka tidak kenal wajah Ahmad Suaedy dari The Wahid Institute yang tulisannya amat sangat membela Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya. Mereka juga tidak kenal Guntur Romli aktivis JIL yang produktif menelurkan tulisantulisan penyesatan. Dari ketiga nama tadi, Guntur Romli yang paling parah, sehingga hampir seluruh wajahnya berbalut perban. Untung saja, Gus Dur dan Dawam Raharjo tidak hadir di Monas 01 Juni 2008 lalu. Kalau saja mereka hadir, entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin lebih parah dari Guntur Romli. Logikanya, Guntur Romli saja yang tidak dikenal massa sudah sedemikian bonyok, apalagi Gus Dur dan Dawam Raharjo? Salah satu tulisan Ahmad Suaedy di situs The Wahid Institute berjudul Kasus Ahmadiyah dan Problematika Kebangsaan di Indonesia, ia membahas (membela) Ahmadiyah dengan alasan yang tidak ada kaitannya dengan akidah. Seolah-olah para penolak Ahmadiyah itu adalah orang-orang yang menganut Wahhabi dan takut tersaingi oleh Ahmadiyah. Dua alinea tulisan Suaedy sebagai berikut:

Pasang naiknya penyerangan dan kekerasan terhadap Ahmadiyah dan juga aliran-aliran Islam tertentu, tampaknya tidak terpisah dari perkembangan internasional, yaitu kian eratnya hubungan kelompok-kelompok Islam tertentu dengan negara-negara yang dominan di dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Sebagaimana diketahui umum, OKI didominasi negara-negara kaya minyak di Timur Tengah yang memiliki kepentingan menyebarkan Islam sesuai dengan cara pandang mereka, yang pada umumnya Wahabi, ke seluruh dunia. Mereka juga berambisi untuk menjadi representasi dunia Islam dibanding wilayah lain dan kelompok Islam lain manapun. Ahmadiyah adalah salah satu aliran Islam yang memiliki kepemimpinan (Amir) dunia yang berkedudukan di London. Struktur organisasi internasional yang kuat dan kepercayaan belahan dunia kepada Ahmadiyah yang cukup meyakinkan, menjadikan negara-negara dominan di dalam OKI kuatir. Mereka berupaya keras menindas aliran Islam yang menjadi pesaing mereka, terutama secara internasional.

Bukan cuma Ahmad Suaedy yang membela Ahmadiyah dengan landasan yang tidak jelas. Ada juga tulisan Imam Ghazali Said dengan judul Membela Ahmadiyah yang Dizalimi: “GAI dan JAI, setelah saya melakukan studi terhadap kitab Tadzkirah, testimoni, interogasi, dan dialog dengan para tokoh dan kaum awam pengikut JAI, ternyata mereka tidak keluar dari kriteria muslim dan mukmin di atas. Karena itu, saya konsisten mengikuti nurani dan kajian ilmiah untuk “Membela JAI” tanpa mempertimbangkan akan dibenci kelompok muslim yang menyesatkan Ahmadiyah atau tidak.” (Jawa Pos, Senin, 28 Apr 2008)

Namun sampai kini, publik tidak pernah membaca kajian ilmiah karya Imam Ghazali Said yang dijadikan landasan membela Ahmadiyah. Apakah kajian ilmiahnya itu reliable, valid atau tidak, kita tidak tahu. Kita juga tidak tahu, apakah dia mempunyai kompetensi dan kualifikasi untuk melakukan kajian ilmiah terhadap Ahmadiyah? Kalau kajian ilmiahnya memang benar ada, silakan disajikan ke publik, kemudian dibandingkan dengan hasil pemantauan Bakor Pakem yang dikeluarkan 16 April 2008 lalu. Bandingkan juga dengan hasil temuan fakta-fakta kebohongan Ahmadiyah yang ada di LPPI. Berani? Harian Kompas dan sebagainya, memang sudah bisa dipastikan akan selalu memposisikan diri menentang aspirasi umat Islam, dan cenderung membela kekafiran sebagaimana dijajakan kaum sepilis. Jangankan Kompas, harian Seputar Indonesia yang baru memasuki tahun ketiga saja, sudah berani memprovokasi dengan menampilkan tulisan penganut sepilis di hariannya itu. Antara lain, Ayu Utami yang mengisi kolom tetap bertajuk Kodok Ngorek, di halaman 13 Seputar Indonesia Minggu.

Sebagai contoh, kita ambil tiga tulisan Ayu Utami di harian Seputar Indonesia Minggu, beberapa saat sebelum ia cuti melahirkan. Yaitu, edisi 20 April 2008, edisi 27 April 2008 dan edisi 4 Mei 2008. Pada edisi 20 April 2008, Ayu Utami memberi judul tulisannya dengan hal-hal yang berbau agama, yaitu “Sekte Poligami”. Padahal, yang dilaporkannya adalah sebuah sekte yang menganut paham seks bebas, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan poligami yang dikenal umat Islam. Yaitu, Commune Friedrichshof yang didirikan oleh Otto Muhl di tahun 1972 (di Austria), dan sekte Yearning for Zion yang saat ini sedang populer di Texas. Mengapa Ayu Utami yang nggak ngerti agama, dan mungkin anti agama ini, menggunakan istilah-istilah yang berbau agama (poligami) untuk sebuah tulisan yang isinya tidak ada kaitan dengan agama? Mengkaitkan istilah poligami dengan seks bebas ala binatang seperti dilakoni kedua sekte tadi, jelas sebuah pelecehan terhadap agama dan umat Islam.

Lebih jauh, di akhir tulisannya yang melecehkan istilah poligami itu, Ayu Utami tampak membela Ahmadiyah. Perlu diketahui, nama Ayu Utami ini termasuk berbanjar di iklan petisi AKKBB yang dipublikasikan media massa. Dari semangatnya memilih istilah poligami untuk ditubrukkan dengan sekte seks bebas ala binatang, maka kita bisa menarik kesimpulan, Ayu Utama anti poligami, membenci poligami, dan sebagainya.

Semangat anti poligaminya itu juga terasa ketika ia menulis di harian yang sama, edisi 27 April 2008, dengan judul Ibu Kita. Isinya, menggambarkan sikap teguh ibunda Chairil Anwar (sastrawan Angkatan 45) yang rela memilih kehidupan yang tak pasti karena sang suami menikah lagi.

Semakin terasa lagi, ketika Ayu Utami menorehkan penanya untuk menyusun tulisan berjudul Adopsi, di harian yang sama, edisi 4 Mei 2008. Isinya sebenarnya cukup mulia, ia menawarkan alternatif, bagi mereka yang gemar punya anak banyak, mengapa tidak ditempuh dengan jalan adopsi. Tapi, Ayu Utami tidak sekedar menawarkan gagasannya yang mulia itu, ia juga mengambil contoh sambil menyindir (bahkan terkesan melecehkan): … Ada pula –nah, yang ini bukan teman– yang dengan sengaja beristri banyak dan beranak sangat banyak. Seperti Tuan F dari suatu “organisasi”, yang tujuannya mau mengalahkan iblis dunia, Amerika Serikat. Tuan F ini, agaknya setiap kali bersetubuh membayangkan akan menaklukkan AS. Ada nalar juga kepada Tuan F ini (bukan dengan

bintang tiga F***, melainkan empat). Soalnya, dari urutan populasi terbanyak dunia, Indonesia nomor 4, sementara AS nomor 3. Siapa yang dimaksud Ayu Utami dengan Tuan F tadi? Tak lain adalah Fauzan AlAnshari, sedangkan “organisasi” yang dimaksudnya adalah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Fauzan Al-Anshari, pria kelahiran Yogyakarta, 2 September 1966 ini memang beristri empat. Sedangkan jumlah anaknya mencapai 20 orang lebih. Ia tinggal di Jatinegara Timur III No. 26 Jakarta Timur 13350 (Tel./Fax : 021-8517718, HP 0811 100 138). Apa kepentingan Ayu Utami dengan nada miring menjadikan Fauzan sebagai ilustrasi (negatif) tulisannya yang membela ledakan penduduk? Kalau Ayu Utami benar-benar mengerti kebebasan berekspresi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, mengapa pula ia harus ‘risih’ dan ‘repot’ dengan pendirian orang lain yang beristri banyak dan beranak banyak? Apalagi, Ayu Utami sampai menuliskan sederet kalimat yang tergolong sarkas: “…Tuan F ini, agaknya setiap kali bersetubuh membayangkan akan menaklukkan AS.” Ternyata, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang diterapkan Ayu Utami adalah termasuk bebas mengejek orang lain yang tidak sepaham dengannya. Dari sini saja, kita sudah bisa simpulkan, bahwa mereka yang mengusung tema kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama dan berkeyakinan itu, ternyata adalah orang-orang yang tidak bisa menerima pendirian orang lain yang berbeda dengan mereka. Mereka ingin setiap orang sama satu selera dengan mereka. Bila tidak sama, maka orang itu akan diolok-olok dengan berbagai istilah. Siapa yang sebenarnya tidak toleran dan kekanak-kanakan? Kalau ejekan, olok-olok, dan provokasi itu dibalas dengan pukulan dan pentungan ala FPI apakah ini adil? Jelas adil, karena kekerasan dibalas dengan kekerasan juga. Maksudnya, kekerasan (intelektual) dibalas dengan kekerasan (fisik). Cobalah sekali-kali anda buat tulisan yang mengolok-olok, mengejek dan memprovokasi Mike Tyson dengan pena anda. Kemudian ketika Tyson marah, berikan jawaban, “Mike, you punya hak jawab. Bikinlah tulisan yang membantah hal itu.” Apakah Tyson akan menulis sanggahan? Belum tentu. Yang pasti dia akan menghampiri anda dan menyarangkan pukulannya ke wajah anda hingga bonyok. Soalnya, Mike Tyson khan nggak bisa nulis. Tentu sangat tidak fair orang yang tidak bisa nulis –cuma bisa nonjok– disuruh nulis. Ya khan? Kalau saja Mike Tyson itu adalah warga negara Indonesia, boleh jadi dia akan bergabung ke dalam laskar FPI atau Laskar Islam pimpinan Munarman. Kalau itu terjadi, kita harus menerima hal itu sebagai sebuah keniscayaan. Share:

• • • • •

4 Comments

Latar Belakang Gerakan Komando Jihad
28 May 2011 Posted by umarabduh in May 28,2011 Uncategorized

Latar Belakang Gerakan Komando Jihad Oleh Umar Abduh Pengantar: Tulisan berjudul Latar Belakang Gerakan Komando Jihad ini, berasal dari makalah yang disampaikan Umar Abduh pada forum “Diskusi Ahli: Penelitian Komando Jihad” yang diselenggarakan oleh Tim Riset Pusham UII (Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta) dan Elsham (Jakarta), yang berlangsung pada tanggal 14 Februari 2006 di Hotel Jogja Plaza, Jogjakarta. Makalah tersebut dilengkapi dengan lampiran yang jumlah keseluruhannya mencapai 30 halaman lebih. Namun untuk keperluan publikasi di blog ini, lampiran tersebut tidak disertakan.

Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting yang terlibat di dalam gerakan

Komando Jihad ini, adalah petinggi NII (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta.

Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam. Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32 petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma’il Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974. Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah[01] kepada pihak Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar bersama, yang isinya: “Demi Allah, akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI. Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna dengan dijiwai Pantja Sila.”[02] Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur. Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis keberadaannya. Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang meski sudah menerima amnesti namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya. Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu, dengan menciptakan “keseimbangan”, dengan cara melakukan penggalangan kepada para mantan “mujahid” NII yang pernah diberi amnesti dan telah bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu. Melalui jalur dan kebijakan

Intelejen, pihak militer memberikan santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan kesejahteraan) kepada seluruh mantan “mujahid” petinggi NII yang menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII. Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad Nama Danu Mohammad Hasan[03] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi ‘orang’ BAKIN, pada sekitar tahun 19661967. Pendekatan intelejen itu sendiri secara resmi dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama Aloysius Sugiyanto.[04] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan. Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah, kembali ke NKRI Desember tahun 1962. Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu. [05] Mereka yang dianggap sebagai “petinggi NII” oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya menyatakan diri sebagai NII Fillah –antara lain adalah Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman– membawahi puluhan ulama NII. Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelejen Ali Murtopo – ORDE BARU Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik, kecuali oleh beberapa pribadi yang konon menolak uluran pemerintah tersebut, yaitu Djadja Sudjadi[06] dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi. Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal cukup oleh Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah. Kebijakan OPSUS dan Intelejen selanjutnya menggelar konspirasi dengan meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya ‘opera’ konspirasi dan rekayasa operasi intelejen dengan sandi Komando Jihad di Jawa Timur. Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil sebagai

ujung tombak intelejen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri yang diberi sandi Opstib dan Opsus. Yang tidak boleh dilupakan, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan al-Ubaidah Imam kelompok Islam Jama’ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya melanjutkan kiprahnya menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang. Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Pitut Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK) dan H. Isma’il Pranoto (Hispran). Keberadaan dan latar belakang Pitut Suharto yang memiliki kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H. Rasyidi[07] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan membelah mereka menjadi 2 faksi. Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII. Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi menjabat sebagai Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara politik termasuk aksi gerakannya. Ketika terjadi program-program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah –seperti Libya dan Saudi Arabia yang ujungujungnya terkait dengan konflik Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh– Pitut Suharto-lah yang ditunjuk Ali Murtopo untuk mengantisipasi (memantau, mengurus dan menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader aktifis Indonesia ke Libya tersebut terbukti hanya sebatas melakukan pelatihan militer semata. Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut (pihak intelejen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait dengan bahaya laten kekuatan ekstrem kanan di Indonesia.

Kebijakan Abuse of Power Intelejen Ali Murtopo Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo. Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto[08] kegiatan musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan kondisi (hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudajadi, Kadar Shalihat dan Abdullah Munir dkk untuk memilih kepemimpinan. Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan Kecamatan) namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan Syura. Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil, Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto. Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah sponsor Pitut dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa. Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur organisasi NII secara riil. Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan rekrutmen melalui pembai’atan secepatnya untuk mengisi posisi pada struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[09] yang akan mendarat di pantai selatan Pulau Jawa. Sasaran rekrutmen (pembai’atan) dilakukan hanya sebatas mengisi posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun organisasi. Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak

lanjut apapun, baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian, aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung dan menyiksa mereka tanpa ampun. Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma’il Pranoto mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai ke pengadilan. H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah “disimpan” dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga paling ringan 6 tahun penjara. H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963 atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD Witarmin[10]. Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa maker dari kalangan Islam. Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma’il Pranoto merupakan tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Sementara penyebutan yang berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya – ASTUNTERMIL di KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman (KTW). Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari 1977 – saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma’il Pranoto dan orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad– Pitut justru menyelamatkan diri ke Jerman Barat, dan baru kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian. Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS, seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba’asyir dan kawan-kawan berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979. Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan berhasil menjaring ribuan orang. Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII –yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan)– seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja’i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200

orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981. Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu. Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII, Komando Jihad dan Teror warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan penangkapan-penangkapan secara continue dan konsisten. Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5 tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang. Kesimpulan Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir berkat dibidani dan buah karya operasi intelejen OPSUS tersebut, dengan demikian hal tersebut sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fie sabilillah). Hakekat substansi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh serta memperturutkan syahwat duniawi (materi dan kedudukan politis) kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelejen jahiliyah yang terkenal kebusukannya dan terkenal pula kerakusannya terhadap dunia (syahwat duniawi). Dengan demikian timbangan yang adil dan benar terhadap kasus Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun Fundamentalisme Jihad para mantan tokoh sayap militer DI tersebut merupakan wujud perjuangan atau pengorbanan yang bathil. Hakekat orientasi dan substansi motivasi para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh dan memperturutkan syahwat duniawi sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, hal itu menjadikan posisi mereka sebagai korban sekaligus menjadi bukti kebodohan mereka sendiri dalam bergama dan berpolitik akibat kebohongan, kebodohan dan kebathilan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik dan beragama. Seluruh bentuk kerugian atau efek samping apa saja yang muncul dan terkait akibat kebodohan dan pembodohan yang dilakukan atau menimpa masyarakat Neo NII dan Komando Jihad, terjadi akibat mengikuti efek domino dari provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer DI, yang secara sadar dan sepakat untuk dijebak dan

diprovokasi oleh kebijakan intelejen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya segala kerugian tersebut merupakan tanggungjawab mereka bersama (para korban Neo NII dan para subyek Neo NII maupun para aparat OPSUS) sekalipun bentuk dan wujud tanggungjawab masing-masing mereka berbeda-beda. Mengingat motivasi dan orientasi tanggungjawab ketiga pihak tersebut juga berbeda-beda, dalam pengertian: - Eksistensi pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan memposisikan dirinya sebagai para pihak yang secara sadar telah terdorong dan termotivasi untuk berjihad secara ikhlas dan ihsan di jalan Islam namun terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Mereka harus bertanggungjawab atas dirinya sendiri untuk menyadari, menghentikan kesalahannya sendiri, selanjutnya bertanggung jawab untuk menentang kegiatan bodoh dan kekeliruan fundamental yang dilakukan pihak ke II – Neo NII. Selanjutnya posisi keberadaan mereka telah patut untuk disebut sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, system dan kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru. Namun secara Aqidah, ideology, syari’ah dan etika Islam mereka tidak diperkenankan melakukan penuntutan dalam bentuk apapun, baik terhadap pihak ke II maupun pihak ke I. - Pihak ke II adalah para pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang jahat, culas, bengis dan kejam. Selain itu secara hukum, perundangan dan ideologi antara pihak ke II dan pihak ke I adalah berhadap-hadapan, bahkan cenderung membenci, memusuhi dan menentang secara lahir bathin terhadap keberadaan perjuangan politik dan agama Islam. Dengan demikian bentuk dan wujud tanggungjawab yang harus dipikul dan dilakukan oleh pihak ke II menurut hukum, undang-undang dan etika Islam adalah melakukan tobat dan memohon maaf kepada Allah, juga kepada pihak ke III dan ummat Islam. Selanjutnya mereka wajib menghentikan dan meninggalkan peran buruknya sebagai mitra persekongkolan dalam tindak kejahatan politik dan kebijakan intelejen Orde Baru, sekalipun untuk itu mereka tidak mendapatkan bayaran sebagaimana halnya dahulu saat pertama kali menerima kesepakatan kerja dengan iblis dan atau setan intelejen tersebut. - Pihak ke I terdiri dari para pihak yang berada dalam posisi sebagai aparat territorial, sejak dari tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai aparat Laksusda (DenSatgas Intel atau Intel Balak = Intelejen Badan Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad, Teror Warman, Teror Imran[13] dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi intelejen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat scenario dan sutradara dari operasi intelejen yang dirancang oleh sayap intelejen yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib. Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan) terhadap perjalanan system politik, ekonomi dan pemerintahan yang berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan menerima order, baik dari penguasa domestik maupun asing,

mengingat hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen selalu mengglobal, sesuai peta dan kubu ideology yang eksis di dunia atau berlaku universal. Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam menyusun grand scenario hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan aturan mainnya dengan lemhannas dan departemendepartemen maupun kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar, sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen. Selanjutnya pihak ke I adalah para pihak yang menjadi inisiator membangkitkan neo NII, memberikan stigma kepada ummat Islam, menciptakan beban psikologis kepada ummat Islam Indonesia yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan. Secara aqidah, syari’ah dan etik Islam, peran dan keberadaan Pihak ke I telah sesuai dengan standar dari sifat dan wujud system kekuasaan dictatorial, dzhalim dan kuffar. Karenanya segala bentuk kejahatan, tindak kekerasan dan pelanggaran terhadap HAM yang dilakukan Pihak ke I terhadap pihak II dan pihak ke III hanya dipandang salah dan dapat dituntut atau dikenakan sanksi hukum berdasarkan hukum dan undang-undang internasional yang berwujud Declarations Of Human Right. Atas kesalahan dan keterlibatan Militer dan intelejen secara serius dan mendetil dalam dunia politik praktis, maka Pihak ke I harus bertobat kepada Allah Tuhan semua manusia, seraya memohon maaf kepada ummat Islam yang telah diperdaya dan didzhaliminya, bahkan Pihak ke I harus memohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena telah memasyarakatkan budaya konflik horizontal yang keberlangsungannya terus terjadi hingga sekarang. Catatan Akhir: [01] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah. [02] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari SMK 1953). [03] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat sidang pengadilan Militer – MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakannya dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang

sedang bersembunyi di Jakarta.” Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN), ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS). [04] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakannya dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta.” (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel: Inside Indonesia’s Inteligence Services). [05] Seperti pengakuan Ules Suja’i: “Soal pak Adah yang santer diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil.” [06] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu. [07] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma’had Al-Zaytun yang dikenal sebagai “mabes” NII yang kental dengan nuansa misteri intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto. [08] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya. [09] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di Bakauheni, Lampung. [10] Witarmin, menurut penuturan H Isma’il Pranoto di masa pergolakan DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto. [11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, yang pada awal 1980-an membentuk komunitas Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin versi Indonesia), yang merupakan cikal-bakal PK (Partai Keadilan). Kini PK menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

[12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia) dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin, Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono SE, Amir, Ali Syahbana, Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, Anshory dan Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan. [13] Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran: Munculnya kasus Jama’ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada keterkaitan dan tidak ada hubungan –baik secara ideologi, fiqh maupun sikap dan warna politik– dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror Warman. Memang sempat terjadi “interaksi” antara anggota Jama’ah Imran dengan beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut. Bentuk “interaksi” yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah “interaksi” yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam. Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, “dalam satu wilayah tidak boleh ada 2 Jama’ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan, kecuali salah satunya harus dibunuh.” Hal ini perlu penulis sampaikan, untuk menepis salah kaprah –selaligus untuk mempertegas– bahwa tidak ada kaitan apapun antara Jama’ah Imran dengan Gerakan Neo NII pasca SMK. Share:
• • • • •

0 Comments

Panji Gumilang dan Pepi Fernando Alumni IAIN (UIN) Yang Terkenal
25 May 2011 Posted by umarabduh in May 25,2011 Uncategorized

Panji Gumilang dan Pepi Fernando Alumni IAIN (UIN) Yang Terkenal Oleh Umar Abduh Dari sekian banyak alumni UIN (dulu IAIN) yang terkenal, dua diantaranya adalah Panji Gumilang dan Pepi Fernando. Kehadiran keduanya di lembaga pendidikan Islam –saat masih bernama IAIN– berjarak sekitar tiga dasawarsa. Panji Gumilang setelah menyelesaikan pendidikannya di Gontor pada 1966, kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta. Sedangkan Pepi Fernando, masuk IAIN pada tahun 1997.

Ketika Panji Gumilang masuk IAIN, Jenderal Soeharto baru saja berada di awal-awal kekuasaannya. Sedangkan ketika Pepi Fernando masuk IAIN, kekuasaan Jenderal Soeharto sedang berada di akhir perjalanannya. Panji Gumilang menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab (lulus 1970-an). Sedangkan Pepi Fernando di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (lulus Januari 2002). Selain sama-sama pernah masuk IAIN, keduanya juga tercatat sebagai aktivis NII (Negara Islam Indonesia). Pepi masuk NII pada tahun 1998, namun pada tahun yang sama ia juga keluar. Sedangkan Panji Gumilang, di-bai’at menjadi anggota NII KW9 sebagai Mas’ul Imarah (Pendidikan) pada tahun 1978, dua dasawarsa sebelum Pepi Fernando. Sejak manjadi aktivis NII KW9, nama Panji Gumilang yang semula Abdul Salam bin Rasyidi menjadi Prawoto, kemudian terkenal dengan sebutan Abu Toto. Barulah pada 1997, ia memodifikasi namanya menjadi Abdul Salam Panji Gumilang (AS Panji Gumilang), seraya memulai rencana pendirian Al-Zaytun. Berbeda dengan Pepi Fernando yang hanya sejenak di NII, Panji Gumilang justru kian larut. Meski pernah melarikan diri ke Sabah (Malaysia), namun pada 1987 Panji Gumilang kembali ke Indonesia, dan aktif di NII KW9 pimpinan Abdul Karim Hasan, yang berpaham sesat bernama Lembaga Kerasulan. Meski pernah menempuh ilmu agama di Gontor dan IAIN, ternyata ilmu agama yang dimiliki Panji Gumilang tidak efektif menyaring ajaran dan paham sesat ala Lembaga Kerasulan. Bahkan justru Panji Gumilang menjadi penerus ajaran sesat Abdul Karim Hasan meski “sang guru” sudah keluar dari NII KW9.

Ajaran dan paham sesat Lembaga Kerasulan mulai dikembangkan pada tahun 1985 oleh Abdul Karim Hasan, HM Rais Ahmad dan Nurdin Yahya alias Tsabit, yang saat itu merupakan elite NII KW9. Lembaga Kerasulan sendiri merupakan kelanjutan paham sesat Umat Pembaru yang diajarkan Isa Bugis. Ummat Pembaru atau Lembaga Pembaru telah dinyatakan terlarang oleh Kejagung RI.

Di almamaternya, Pepi Fernando tidak begitu menonjol. Berbeda dengan Pepi, Panji Gumilang justru sempat dipercaya menjadi Ketua IKALUIN dua periode berturut-turut, yaitu periode 2002-2006 (ketika jabatan Rektor dipegang oleh Azyumardi Azra) dan periode 2006-2010 (ketika jabatan Rektor dipegang oleh Komaruddin Hidayat). Azyumardi dan Komaruddin adalah dua tokoh liberal yang melanjutkan konsep Harun Nasution membelokkan kurikulum IAIN-UIN menjadi seperti sekarang ini. Panji Gumilang adalah orang ketiga yang menjabat Ketua IKALUIN sejak perkumpulan alumni itu didirikan pada tahun 1974. Sosok pertama yang menjadi Ketua (sekaligus pendiri) IKALUIN adalah Prof Dr HAR Partosentono, yang menjabat hingga tahun 1996. Kemudian dilanjutkan oleh Prof Ridho Masduki (1996-2002). Tentang Isa Bugis Tokoh bernama Isa Bugis bukanlah sosok rekaan atau fiktif. Ia kelahiran Pidi, Aceh, tahun 1926, sekitar dua dasawarsa sebelum Panji Gumilang lahir. Isa Bugis menganggap pemikiran Islam yang eksis saat itu tergolong kuno dan tidak rasional. Oleh karenanya, ia menempatkan rasio di atas Al-Qur’an dan Al-Hadits. Pemahaman tentang Islam yang bertentangan dengan rasio (terutama rasio Isa Bugis), akan ditentangnya. Selain menempatkan pemahamannya di atas pemahaman para ahli tafsir, Isa Bugis juga menganggap Islam yang diajarkan Muhammad SAW adalah wujud imperialisme Arab, dan Ahlussunah adalah pendukung Arabisme. Jadi, Islam itu ya Arab. Begitu kira-kira persepsi Isa Bugis tentang Islam. Persepsi seperti itu ternyata juga hidup di kalangan sebagian kecil mahasiswa IAIN-UIN masa kini. Juga, di kalangan sebagian kecil tenaga pengajarnya.

Di tahun 1969, sejumlah ulama pernah memanggil Isa Bugis untuk dimintai pertanggung jawaban. Waktu itu, tanggal 24 Maret 2969, bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Isa Bugis berhadapan dengan sejumlah ulama seperti Buya HAMKA dan Prof Rasyidi dan sejumlah tokoh dari Departemen Agama Pusat. Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa Isa Bugis tidak mempunyai bekal ilmu agama yang cukup, dan tidak mempunyai metode atau cara berfikir yang benar. Selain itu, kemampuan berbahasa Arab Isa Bugis dinilai sangat kurang, dan ajaran yang disebarluaskannya sangat menyesatkan. Para ulama saat itu juga menilai sosok Isa Bugis sebagai sosok yang berjiwa avonturir dan ambisius. Namun Isa Bugis tidak peduli dengan penilaian ulama terhadap dirinya. Ia maju terus dengan kesesatan berfikirnya. Salah satu pendapat Isa Bugis tentang lembaga pendidikan Islam adalah “kurikulum Universitas Ibnu Chaldun dan IAIN adalah kurikulum dukun, jin…” Entah ada hubungannya atau tidak dengan Prof Harun Nasution, yang jelas sejak 1975 Harun Nasution berupaya merubah kurikulum IAIN secara mendasar, yang kemudian dilanjutkan oleh juniornya seperti Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat. Hasilnya? Bisa dilihat pada sosok Pepi Fernando, atau pada sosok mahasiswa-mahasiswi IAINUIN yang kekiri-kirian, sekuler, dan liberal. Berkenaan dengan hak milik, pendapat Isa Bugis dinilai agak kekiri-kirian, misalnya: “… bahwa manusia tidak mempunyai hak milik perseorangan, semua harta kekayaan manusia adalah amanat Tuhan yang merupakan hak milik bersama yang bersifat komunal…” Bila kepemilikan pribadi tidak ada diganti dengan kepemilikan komunal, maka syari’at zakat maal menjadi tidak perlu. Padahal, zakat merupakan salah satu Rukun Islam (Sayahadat, Shalat, Shaum, Zakat, Haji). Pada tahun 1972, Departemen Agama RI menerbitkan hasil penelitian tentang Agama dan Aliran Kebatinan, yang antara lain mengatakan bahwa gerakan yang dipimpin oleh Isa Bugis (Ummat Pembaru) berhubungan dengan gerakan komunis Internasional dalam usaha mengembalikan sisa-sisa G30S/PKI di Indonesia. (R. E. Djumali K, Beberapa hal tentang Agama dan Aliran Kebathinan, Departemen Agama RI, 1972). Pemahaman tentang adanya periode Makkah-Madinah yang selama ini dikenal sebagai konsep pemahaan batil ala NII KW9 dan Lembaga Kerasulan, ternyata berasal dari paham sesat Isa Bugis: “Saat sekarang masih periode Makkah belum periode Madinah. Oleh sebab itu shalat, puasa, zakat belum diwajibkan dan minuman keras belum diharamkan.” Pemahaman sesat ala Isa bugis ini ternyata menarik minat sejumlah orang, termasuk tenaga pengajar di perguruan tinggi negeri. Bahkan, Panji Gumilang yang lulusan IAIN pun ketika pemahaman sesat ini diajarkan oleh Abdul Karim Hasan dengan nama

Lembaga Kerasulan, seperti tidak punya daya menyaring kesesatan yang terkandung di dalamnya. Ia bahkan mengadopsinya untuk NII KW9. Paham sesat Lembaga Kerasulan sebagai kelanjutan Lembaga Pembaru menyakini bahwa Rasul itu diutus sampai hari kiamat. Oleh karena itu, Rasul sebagai person atau individu harus ditunjang oleh lembaga yang mengatur segala urusan serta persoalan terkait. Ibarat Menteri yang punya Kementrian, maka meski jabatan Menteri silih berganti person, namun lembaga kementriannya harus tetap eksis. Pepi Fernando Bila Panji Gumilang yang lulusan IAIN itu tidak mampu menyaring aliran dan paham sesat Lembaga Kerasulan, bahkan justru turut mengembangkannya, demikian halnya Pepi Fernando (lahir di Sukabumi pada 10 Desember 1977). Ketika ia masih jadi mahasiswa lembaga pendidikan bernuansa Islam, namun perilaku dan penampilannya amat sekuler, suka main gaple (kartu domino) dan kartu remi. Pepi lebih sering berpenampilan santai dengan balutan kaos oblong, bukan baju koko atau sejenisnya. Pepi Fernando pernah bekerja untuk tayangan infotainment Otista. Menurut mantan produser Otista, Pepi selain suka mengkonsumsi miras usai jam kerja, juga suka menonton film porno saat berada di kantor. Pada tahun 2009, Pepi mulai berubah. Hal ini diakui oleh pengelola rumah kos tempat Pepi tinggal mulai tahun 2000 hingga akhir tahun 2004. Padahal, ketika Pepi di tahun 2008 berkunjung ke tempat kos, Tafsir, penghelola kos, tidak melihat adanya perubahan berarti. Pertemuan di tahun 2009, Pepi bahkan sempat mengajak Tafsir berdebat soal Pancasila dan UUD 1945 yang dikatakannya tidak sesuai dengan syari’at Islam. Di tahun 2010, Pepi kembali berkunjung ke kediaman Tafsir. Kali ini penampilanya sudah berubah, dari sebelumnya yang suka berkaus oblong menjadi berjubah dan berjenggot panjang. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan penampilan berjubah dan berjenggot panjang. Semua orang bebas memilih cara menutup aurat yang sesuai dengan ajaran agamanya. Semua orang bebas memanjangkan jenggot, atau kumis atau rambutnya. Apalagi bila memanjangkan jenggot dalam rangka ibadah, mencontoh Rasullah panutannya. Tapi bila berjubah dan berjenggot panjang dibarengi dengan sikap radikal yang justru bertentangan dengan agama Islam, dan merugikan umat Islam, itulah yang disayangkan dan bahkan perlu ditentang. Nilai-nilai apa sebenarnya yang ditanamkan oleh IAIN (UIN) kepada Panji Gumilang dan Pepi Fernando, sehingga mereka tidak berdaya menyaring paham sesat? Pepi yang semula sekuler, padahal ia bersekolah di lembaga pendidikan yang bernuansa keagamaan, kemudian menjadi radikal, dan tidak main-main dengan aksi radikalnya: Pepi membiayai proyek bom buku, yang salah satu diantaranya meledak di utan kayu

(KBR 68 H). Pepi juga merakit sendiri bahan peledak untuk bom buku tersebut. Pepi belajar secara otodidak merakit bom. Begitu juga dengan rencana peledakan pipa gas di kawasan Serpong yang berdekatan dengan Gereja Christ Chatedral, inisiatif, biaya dan perekrutan dilakukan oleh Pepi. Bahkan, Pepi bolak-balik empat kali ke lokasi, masuk ke gorong-gorong dan meletakkan bom di sana. Ia betul-betul serius. Akhirnya, Pepi dan kawan-kawan berhasil ditangkap aparat keamanan pada 21 April 2011 dengan dugaan menjadi otak bom buku Utan Kayu (15 Maret 2011) dan otak rencana peledakan pipa gas di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, berdekatan dengan Gereja Christ Chatedral, yang sedianya diledakkan pada 22 April 2011. Pihak UIN mengatakan, bahwa UIN merupakan perguruan tinggi Islam yang inklusif dan modernis, serta tidak pernah mengajarkan fundamentalisme atau radikalisme. Namun setidaknya, dari UIN tidak saja lahir sosok seperti Panji Gumilang (Presiden NII KW9), Pepi Fernando (otak bom buku dan bom serpong), juga sejumlah sosok yang cenderung sekuler, liberal bahkan cenderung berpaham kiri. Semuanya radikal. Jadi, kalau pemerintah mau melakukan de-radikalisasi dan perubahan kurikulum, sebaiknya mulailah dari UIN. Share:
• • • • •

2 Comments

Fatwa MUI Palsu yang Menyatakan Faham Syi’ah Tak Sesat
23 May 2011 Posted by umarabduh in May 23,2011 Uncategorized

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/05/23/14863/inilah-fatwa-mui-palsuyang-menyatakan-faham-syiah-tak-sesat/ Senin, 23 May 2011 Inilah Fatwa MUI Palsu yang Menyatakan Faham Syi’ah Tak Sesat

BEKASI (voa-islam.com) – Di lokasi pengajian, preman bayaran menyebarkan brosur Fatwa MUI yang menyatakan Syi’ah sebagai mazhab Islam yang tidak sesat. Padahal fatwa MUI yang asli dan sah menyatakan ada lima kesesatan utama Syi’ah dalam hal akidah. Empat orang preman bayaran tertangkap basah menyebarkan fatwa MUI palsu kepada jamaah tabligh akbar “Membongkar Kekufuran Syi’ah” di Masjid Jami’ Amar Ma’ruf Bulak Kapal, Bekasi Timur, Ahad (22/5/2011). Selebaran bertajuk “Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam.” Brosur yang dicetak di atas kertas HVS putih dengan tinta hitam ini dibagikan kepada jamaah bersamaan dengan dipasangnya spanduk sponsor Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah (MUHSIN) di seberang masjid. Dalam uraiannya, selebaran yang mengatasnamakan MUI Pusat ini menyebutkan bahwa MUI Pusat memfatwakan Sunni dan Syi’ah itu bersaudara sesama Muslim. Selebaran ini juga menyebut orang yang membeda-bedakan Sunni dan Syi’ah sebagai perbuatan yang menentang Allah SWT. “Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka berhadapan dengan Allah SWT yang menghendaki umat ini bersatu,” tulis selebaran itu.

Inilah kutipan lengkap fatwa palsu yang mengatasnamakan MUI Pusat itu: Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka berhadapan dengan Allah SWT yang menghendaki umat ini bersatu. Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Syi’ah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan dari islam, ketua majelis ulama indonesia menyatakan Syi’ah sebagai mazhab yang sah san benar dalam islam. Selengkapnya baca di http://www.tin####.com/3kzb2 Mohon informasi ini disebarluaskan agar umat islam tidak termakan oleh isu-isu yang dirancang Zionis, Amerika Serikat dan para propaganda yang menghendaki perpecahan umat islam. Semoga informasi ini bermanfaat. Prof KH Umar Shihab MA Ketua MUI Fatwa dalam selebaran yang mengatasnamakan MUI Pusat ini sangat aneh dan kurang layak disebut sebagai fatwa. Biasanya, setiap fatwa MUI diawali dengan basmalah dan disertai logo MUI, lalu diakhiri dengan tanda tangan dan stempel resmi MUI. Selain itu, tidak mencantumkannnya tanggal dan alamat menambah daftar kepalsuan fatwa yang menjustifikasi keabsahan Syiah itu.

Di samping itu, secara defacto maupun dejure, fatwa pendukung Syi’ah yang dinisbatkan kepada MUI itu bertentangan dengan Fatwa MUI yang resmi dikeluarkan pada tahun 1984. Inilah fatwa asli dan resmi MUI Pusat yang menyatakan kesesatan Syi’ah: FATWA MUI TENTANG SYI’AH Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya : 1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits. 2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan). 3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”. 4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat. 5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib). Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah. Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H) KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML Ketua H. Musytari Yusuf, LA Sekretaris Sejak dirilis tahun 1984 hingga saat ini, Fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah itu belum pernah diamandemen apalagi dicabut. Tiba-tiba tahun bulan Mei 2011 muncul selebaran fatwa palsu yang substansinya menghapus fatwa resmi. Mungkinkah fatwa palsu menghapus (menasakh) fatwa yang asli dan legal? Hanya orang kurang waras yang menyatakan mungkin! [taz] http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/05/23/14862/syiah-sewa-premansebar-brosur-fatwa-mui-palsu-di-pengajian-islam/ Senin, 23 May 2011 Syi’ah Sewa Preman Sebar Brosur ‘Fatwa MUI Palsu’ di Pengajian Islam BEKASI (voa-islam.com) – Berbagai cara dilakukan para pengikut Syi’ah untuk menghalangi syiar islam. Setelah gagal meneror panitia tabligh akbar, Syi’ah menyewa preman untuk menyusupkan brosur Fatwa MUI palsu ke peserta pengajian. Empat orang preman tertangkap basah menyebarkan fatwa MUI palsu kepada jamaah tabligh akbar “Membongkar Kekufuran Syi’ah” di Masjid Jami’ Amar Ma’ruf Bulak Kapal, Bekasi Timur, Ahad (22/5/2011). Ketika diinterogasi panitia dan satpam masjid, keempat preman itu mengaku sebagai tukang ojek yang diperintah Kapolsek Bekasi Timur. Tapi panitia meragukan pengakuan keempat preman itu, karena acara yang digelar itu resmi dengan pemberitahuan kepada Polsek Bekasi Timur, bahkan untuk menjaga keamanan, acara itu juga dijaga oleh beberapa polisi. Panitia mencurigai para preman tersebut diperalat oleh kalangan Syi’ah untuk memprovokasi pengajian. “Tidak mungkin brosur provokasi ini disebarkan oleh Kapolsek. Kayaknya ini dari orang Syi’ah yang menyuruh mereka dengan bayaran,” jelas Ruhiyat, ketua panitia tabligh akbar kepada voa-islam.com usai shalat zuhur di Masjid Amar Ma’ruf. Usai diinterogasi, keempat preman itu dinasihati dan dilepas, namun ratusan brosur disita panitia pengajian. Selain itu, sebuah spanduk Syi’ah yang dipasang para preman di seberang jalan juga diamankan panitia. “Satu rim brosur dan spanduk Syi’ah sudah kita sita dan kita amankan, lalu para premannya kita lepas,” tambahnya. Teror terhadap acara yang digelar oleh Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami (HASMI) DPD Bekasi itu, terang Ruhiyat, sangat gencar dilakukan melalui telepon maupun pesan singkat kepada panitia. Salah satu peneror yang mengaku dari Mabes Polri, meminta agar pembicara tabligh akbar diganti dari Ustadz Syi’ah.

“Saya sering ditelpon dari orang yang katanya dari Mabes Polri, meminta agar jangan radikal. Selama dua hari ini ada lima kali dia menelepon saya terus,” ujarnya. “Dia minta agar pembicaranya diganti oleh Ustadz (Syi’ah) yang direkomendasikan Mabes Polri. Saya nggak yakin itu telepon dari Mabes Polri.” Sementara teror via SMS dilakukan secara kasar dengan mengutuk Masjid Amar Ma’ruf sebagai masjid Dhiror dan mengecam pembicaranya sebagai ustadz pembangkang. Meski diintimidasi dengan berbagai cara, Ruhiyat mengaku tidak kaget karena kasus serupa, sebelumnya dialami HASMI Jakarta. Dalam pengamatan voa-islam.com, brosur yang disebarkan preman itu bertajuk “Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam.” Dalam uraiannya, selebaran tak beralamat dan tak bertanggal itu menyebutkan, MUI Pusat berfatwa bahwa Sunni dan Syi’ah itu bersaudara sesama Muslim. Selebaran ini juga menyebut orang yang membeda-bedakan Sunni dan Syi’ah sebagai perbuatan yang menentang Allah SWT. “Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka berhadapan dengan Allah SWT yang menghendaki umat ini bersatu,” tulis selebaran itu. Menurut Ustadz Ibrahim Bafadhal Lc, pembicara tabligh akbar tersebut, selebaran gelap yang disebarkan preman bayaran itu bukan resmi MUI, karena MUI pusat dalam fatwa resminya pada tanggal 7 Maret 1984 justru menyatakan Syi’ah sesat. Dalam fatwa yang ditandatangani oleh Prof. K.H. Ibrahim Hosen LML dan H Musytari Yusuf LA itu, disebutkan dengan jelas bahwa faham Syi’ah sangat berbeda dengan faham Islam (Sunni/Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Menyikapi faham sesat Syi’ah itu, MUI mengimbau agar umat Islam meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah. “Selebaran itu bukan dari MUI. Redaksinya juga bukan Fatwa resmi MUI, tapi kutipan pendapat pribadi Prof Umar Shihab, salah seorang Ketua MUI,” bantah Ketua Lajnah Ilmiah DPP HASMI itu. [taz] Share:
• • • • •

1 Comment

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->