Djoko Minta Jasa Marga Ambil Alih JORR2 7 Januari 2011marulihalohoTinggalkan komentar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto minta PT Jasa Marga Tbk (JSMR) segera mengambil alih pembangunan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta tahap 2 (Jakarta Outer Ring Road, JORR 2) yang sampai saat ini belum tampak kegiatan pembangunan. “Saya melihat sebaiknya diserahkan saja kepada PT Jasa Marga apabila pembangunan masih belum juga berjalan sampai saat ini,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Jakarta, Jumat (29/1/2010). Pemerintah sebelumnya merencanakan agar JORR2 dibuat holding saja untuk memudahkan pembangunan, kebetulah dari empat ruas JORR2 PT Jasa Marga merupakan pemegang saham mayoritas. Menteri PU mengatakan, pemerintah akan menggunakan payung hukum revisi Perpes No.67 tahun 2005 tentang kerja sama pemerintah dan badan usaha dalam pembangunan infrastruktur. “Di dalamnya diatur mengenai perubahan kepemilikan saham untuk memudahkan dalam melaksanakan investasi, salah satunya perubahan JORR2,” kata Menteri. Menurutnya, seandainya Jasa Marga dapat menjadi pemegang saham mayoritas di ruas-ruas JORR2 maka pembangunan dapat berjalan lebih cepat. JORR2 meliputi ruas Cengakreng – Kunciran 16 kilometer, Kunciran – Serpong 12 kilometer, Serpong – Cinere 11 kilometer dan Cimanggis – Cibitung 26 kilometer, sehinggga total panjang seluruhnya 62 kilometer. Dari empat ruas JORR2 yang sedang dibangun (pembebasan tanah) baru dua ruas Cengkareng – Kunciran dan Kunciran – Serpong yang semuanya dibangun Jasa Marga. Pemerintah melalui Kepala Badan Pengatur Jalan Tol sempat akan melelang kembali dua ruas tol yang ternyata sampai saat ini belum bersedia menandatangani perjanjian konsesi. Kalau empat ruas JORR2 diambil Jasa Marga maka untuk konstruksi dibutuhkan Rp 9,6 triliun, sedangkan untuk tanah Rp 3,6 triliun. Menteri Pekerjaan Umum juga siap memberikan dukungan kepada PT Jasa Marga untuk dapat segera merealisasikan pembangunan JORR W2 (Kebon Jeruk – Penjaringan) bagian dari JORR1. Terkait hal itu juga telah dibuat revisi Perpres No. 65 tahun 2006 tentang pengadaan tanah bagi fasilitas umum, dengan harapan kendala tanah di W2 dapat segera diselesaikan. Menteri juga mengatakan, Perpres itu seluruhnya sudah final tinggal menunggu tandatangan Presiden agar dapat segera diberlakukan. Editor: Laksono Hari WDibaca: 923 12/September/2011 | 16:11 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan jalan tol ruas Kunciran-Serpong diharapkan dapat dimulai pada Juli 2012. Dengan demikian, jalan tol tersebut dapat dioperasikan mulai 2014. Hal itu akan terlaksana jika proses pengadaan tanah tidak menemui kendala. PT Marga Trans Nusantara (MTN) selaku pengembang jalan tol tersebut baru saja mendapatkan pinjaman sebanyak Rp 96 miliar Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Pinjaman ini digunakan untuk pengadaan lahan dalam rangka pembangunan jalan tol ruas Kunciran-Serpong. Penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala PIP Soritaon Siregar dengan Presiden Direktur PT MTN Slamet Sudradjat berlangsung pada Jumat (9/9/2011) lalu. "Pinjaman ini dilaksanakan berdasarkan tindak lanjut nota kesepahaman antara PIP dan Badan Penyelenggara Jalan Tol (BPJT), karena mereka telah meminta kepada PIP untuk memprioritaskan beberapa ruas jalan tol yang perlu segera dibiayai," ujar Kepala PIP Soritaon Siregar sebagaimana dikutip Antara. Dalam perjanjian PIP dengan PT MTN, persyaratan pinjaman tidak berbeda dengan pinjaman sebelumnya yaitu ketentuan tingkat suku bunga adalah LPS plus minus satu persen. "Pencairan pinjaman dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari BPJT yang didasarkan pada permohonan tertulis yang diusulkan tim pengadaan tanah," ujar Soritaon. Ia mengatakan pinjaman yang dimaksud dapat dialihkan ke BPJT apabila dana bergulir pengadaan jalan tanah tol dari APBN Perubahan 2011 telah dicairkan. Selain itu, menurut rencana PIP juga akan memberikan pinjaman untuk jalan tol ruas Kunciran-Cengkareng, dengan pemegang konsesi PT Marga Kunciran Cengkarang, yang direncanakan akan menerima pinjaman sebesar Rp 90 miliar. "Pemberian pinjaman jalan tol ruas Kunciran-Cengkareng ini masih menunggu persetujuan pemegang saham," ujar Soritaon. Sebelumnya, PIP telah mengucurkan dana sebesar Rp 95 miliar kepada PT Citra Waspphutowa sebagai dana talangan untuk pembebasan lahan proyek jalan tol ruas Depok-Antasari Tahap I. "Untuk tahun ini, PIP sendiri menyiapkan dana Rp 300 miliar sebagai dana talangan untuk ketiga proyek jalan tol tersebut," ujar Soritaon. Presiden Direktur PT MTN Slamet Sudradjat berharap proyek jalan tol sepanjang 11,2 kilometer itu dapat memasuki masa konstruksi pada Juli 2012. Dengan demikian, ia menambahkan pada awal 2014, ruas jalan tol ini diharapkan dapat segera beroperasi. "Iya harapan kami, Juli 2012 kalau tanahnya bebas seluruhnya, kami segera konstruksi. Kira-kira dalam waktu 15-18 bulan selesai. Kami jadwalkan awal 2014 sudah bisa operasional," ujar Slamet. Slamet menambahkan dengan adanya dana talangan ini, maka pelaksanaan proyek ini diharapkan tidak akan lagi terkendala permasalahan pengadaan lahan. "Soal pembebasan tanah karena ini merupakan tanggung jawab pemerintah, maka sejak awal kita minta dana tanah ini bisa kita dapat dari dana talangan BLU. Itu yang ditunggu selama tiga tahun. Dengan adanya dana talangan dari PIP, kita bisa segera meneruskan proses pengadaan lahan dengan musyawarah yakni menetapkan harga ganti rugi," ujarnya 15.2 .08 Proyek Tol Serpong-Cinere Hindari Bangunan Permanen Ruas jalan tol Serpong-Cinere diupayakan menghindari bangunan permanen di kawasan perumahan dan lokasi publik lainnya. Upaya ini merupakan langkah prioritas untuk menghindari banyaknya rumah yang bakal tergusur proyek jalan tol sepanjang 10,1 kilometer ini. Kepala Bidang Tata Ruang, Dinas Tata Ruang Kabupaten Tangerang, Taufik Emil, Rabu (13/2), mengungkapkan, proyek jalan tol yang tendernya dimenangi Waskita Karya dan Thiess (Australia) ini rencananya akan melintasi sejumlah kawasan perumahan di Pondok Cabe, Pamulang, Ciputat, dan Serpong. Namun, Taufik menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tangerang sudah mengusulkan agar ruas jalan tol ini menghindari bangunan permanen, rumah, maupun toko yang permanen. "Kami merekomendasikan agar ruas tol memilih ruang terbuka, seperti halaman parkir, pekarangan, dan taman. Hal ini penting agar risiko konflik dengan pemilik rumah berkurang," kata Taufik. Taufik membenarkan Kampus Universitas Pamulang juga akan tergusur proyek tol Serpong-Cinere, tetapi ruas tol akan dibelokkan agar bangunan kampus tersebut tidak tergusur. "Ruas tol ini sudah sesuai dengan RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) Kabupaten Tangerang dan rencana Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2. Penetapan lokasi sudah dilakukan. Saat ini analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal sedang didesain oleh Dinas Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Direktorat Jenderal Bina Marga. Studi kelayakannya masih disusun pemerintah pusat," katanya. Sejumlah warga Ciputat dan Pamulang mengaku resah dengan rencana proyek jalan tol Serpong- Cinere tersebut. Warga berharap ada penjelasan resmi dari pemerintah, rute mana saja yang akan dilalui. "Kami minta pemerintah menjelaskan soal ini. Jika memang rumah kami bakal tergusur, kan bisa siapsiap dari sekarang," kata warga Bukit Nusa Indah, Ciputat, Kabupaten Tangerang. Berdasarkan peta yang diperoleh Kompas, proyek jalan tol Serpong-Cinere akan melintasi kawasan BSD Serpong, Pamulang, Ciputat, hingga Pondok Cabe dan menembus ke lapangan golf. Apabila proyek tol ini selesai, kemacetan lalu lintas di Pondok Cabe, Ciputat, dan Pamulang akan dapat diatasi. Tol Serpong-Cinere adalah bagian JORR 2 yang menyambung ke tol Cinere-Jagorawi/ Cimanggis, Cimanggis-Cibitung, Cibitung-Cilincing, hingga Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tol Serpong-Cinere juga menembus ke tol Serpong-Bandara sehingga arus lalu lintas tidak terfokus di tol dalam kota Jakarta. (KSP) (Kompas, 15/02/08)
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful