PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Identitas Mahasiswa

: Nama NIM Periode Topik : Patricia Aulia : 406100125 : 30 Mei - 6 Agustus 2011 : Hiperbilirubinemia pada Neonatus

Pembimbing : dr. Sri Sulastri, Sp.A

I. Identitas Pasien : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. II. Identitas Orang Tua : Nama ayah Umur Pekerjaan Pendidikan Alamat Agama Bangsa/suku III. Anamnesa : Tanggal datang & waktu ke RS : 03/06/2011 ( Pukul 11.00, IGD ) Tanggal & waktu periksa Diambil dari : 07/06/2011. ( Pukul 17.00 ) : Alloanamnesa dengan ayah kandung, ibu kandung pasien dan perawat di perinatologi. : Bapak P. : 41 tahun. : Karyawan : Tamat SMA. : idem. : Islam. : Jawa . Nama Ibu Umur Pekerjaan Pendidikan Alamat Agama Bangsa/suku : Jawa. : Ibu H. : 38 tahun. : Ibu Rumah Tangga. : Tamat SMP. : idem. : Islam. Nama Tanggal lahir Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pendidikan Tanggal masuk Tanggal keluar : By. Ny. Hasanah : 03 Juni 2011 : 4 hari. : Laki - laki. : Jln. Ancol Selatan RT 02/02 : Islam. :: 03 Juni 2011. : 08 Juni 2011.

PATRICIA AULIA (406100125)

1

PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Keluhan utama Keluhan tambahan Riwayat Perjalanan Penyakit : By. Ny Hasanah, laki-laki, lahir tanggal tanggal 03/06/2011, jam 14:30, dengan berat badan lahir 2200 gram, panjang badan 46 cm, linkar kepala 34 cm, lahir normal, diinduksi oleh bidan di RS Sulianti Saroso. Bayi lahir tidak langung menangis, hanya merintih, kemudian disentil pada telapak kaki hingga akhirnya bayi menangis. Bayi terlihat kebiruan pada bibir, tetapi seluruh tubuh berwarna kemerahan, tubuh diselimuti banyak lapisan seperti lemak, kaki dan tangan terasa dingin, tidak ada kejang, tidak ada sesak napas, tidak ada kuning, anak bergerak aktif, laju napas agak cepat. Menurut pengakuan ibu dari perawat setempat, teraba benjolan pada kepala bayi bagian belakang. Nilai APGAR pada menit pertama 8, menit ke-5 9, dan menit ke-10 tidak diketahui. Bayi kemudian langsung masuk ke dalam inkubator dan masuk ke ruang perina untuk tindak lanjut. Di ruang perinatologi, bayi langsung diberikan infus, salep mata dan bayi dipuasakan pada hari pertama. Saat berumur 2 hari, bayi mulai terlihat agak sesak dan terlihat kemerahan pada muka bayi dan bengkak pada mata kiri. Saat berumur 3 hari, bayi mulai terlihat kekuningan pada wajah, badan, kaki dan tangan dan kemudian diberikan blue light therapy. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat keluarga : Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah pasien berumur 41 tahun, bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan swasta. Ibu pasien berumur 38 tahun, ibu rumah tangga. Menurut pengakuan ibu, riwayat kehamilan 8 bulan 11 hari. • • • • Riwayat trauma dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu atau jamu-jamuan selama kehamilan disangkal Riwayat ibu keluar darah dari jalan lahir selama kehamilan disangkal Riwayat ibu menderita keputihan selama dan sebelum kehamilan disangkal Riwayat ibu melahirkan bayi prematur, bayi kuning sebelumnya disangkal. : Lahir tidak langsung menangis, bibir biru, tangan dan kaki dingin : ketuban bercampur dengan mekonium berwarna hijau.

PATRICIA AULIA (406100125)

2

PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO • • • • Riwayat ibu menderita kencing manis, darah tinggi, asma, penyakit jantung sebelum hamil disangkal. Riwayat keluarga menderita kencing manis, darah tinggi, asma dan penyakit jantung disangkal. Riwayat ibu menderita demam tinggi selama kehamilan disangkal. Riwayat ibu dan anggota keluarga lain menderita batuk lama lebih dari 3 minggu, mendapat pengobatan flek oaru selama kehamilan disangkal. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran : Ibu kehamilan ke-5, pernah keguguran dua kali. Masa kehamilan 35 minggu dengan presentasi belakang kepala. Anak pertama laki-laki, lahir normal dengan vaccum dengan berat badan lahir 2950 gram. Anak kedua perempuan, lahir normal dengan berat badan lahir 2750 gram. Anak ketiga abortus, kehamilan 1 bulan pada tahun 2007, dikuret di klinik bidan. Anak ke 4 abortus, kehamilan 2 bulan pada tahun 2008, dikuret di klinik bidan. Riwayat kehamilan 8 bulan 11 hari (menurut pengakuan ibu), tidak pernah keluar darah selama kehamilan, tidak ada keputihan, tidak pernah ada riwayat trauma dan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu atau jamu-jamuan selama kehamilan. Kenaikan berat badan 14 kg dari berat 50 kg sebelum kehamilan sampai dengan 64 kg. Riwayat melahirkan bayi prematur, bayi kuning sebelumnya disangkal. Ibu rajin kontrol ke Puskesmas selama kehamilan (2x sebulan) dan pernah mendapat suntikan tetanus toksoid 1x pada bulan ke 6. Ibu tidak pernah sakit parah selama kehamilan (hanya mules dan mual muntah saja). Pada tanggal 01/06/2011, jam 03:30, ibu keluar cairan berwarna bening, encer, tidak lengket, tidak ada darah dan tidak berbau dengan jumlah yang cukup banyak tanpa disertai dengan sakit perut, dan demam. Pagi harinya ibu memeriksakan diri ke bidan, kemudian bidan merujuk ke RSPI SS dengan anjuran untuk dilakukan USG. Selama perjalanan dari bidan ke RSPI cairan bening tetap keluar dalam jumlah yang cukup banyak seperti mengompol tanpa sakit perut dan siang harinya jam 11:45 langsung dibawa ke IGD RSPI Sulianti Saroso, sejak saat itu ibu dirawat di RS Sulianti Saroso ruang Anggrek. Pada saat itu, dokter sp.OG yang bekerja di rumah sakit setempat menyarankan untuk dilakukan operasi sesar atas indikasi ketuban pecah dini dan oligohidroamnion namun ayah pasien menolak, menginginkan persalinan normal.

PATRICIA AULIA (406100125)

3

Sumber air bersih dari sumur pompa. Pada bulan ke-6. Kesan: Sosial ekonomi kurang. Terdapat jamban keluarga.000. menanggung 1 istri dan 3 orang anak. cukup padat.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Menurut pengakuan ibu. Riwayat Keluarga Berencana: Ibu belum menjadi peserta program KB dan sampai saat ini belum memakai metode kontrasepsi apapun. dokter mengatakan bahwa apabila ibu tetap tidak mules dalam 3 hari. Data Perumahan: Kepemilikan rumah: Rumah orang tua Keadaan rumah: Dinding rumah tembok. Kamar mandi di dalam rumah. Keadaan lingkungan: Jarak antara rumah berdekatan. Riwayat Pemeliharaan Prenatal: Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Tidak pernah sakit selama kehamilan. 1. Riwayat Pertumbuhan: Pertumbuhan anak belum dapat dinilai dan dievaluasi Riwayat Perkembangan: Pertumbuhan gigi pertama Psikomotor PATRICIA AULIA (406100125) ::4 . Pada tanggal 03/06/2011 ibu diberikan obat dan dirasakan perut mulai mules sampai akhirnya bayi dilahirkan. Riwayat minum obat tanpa resep dokter ataupun jamu-jamuan disangkal. Riwayat Sosial Ekonomi: Ayah penderita bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta dengan penghasilan ± Rp. Limbang buangan ke saluran atau selokan yang ada.000/bulan. maka akan tetap direncanakan persalinan secara sesar. ibu mendapat suntikan Tetanus Toksoid. Riwayat pendarahan saat hamil disangkal. Ketuban ibu sedikit dan berwarna kehijauan. Riwayat trauma saat hamil disangkal.

WSD – . BAB (Output) : Tanggal 03 Juni 2011:Input: Oral Parenteral Total Total Tanggal 04 Juni 2011: Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB WSD Total Tanggal 05 Juni 2011:Input: Oral Parenteral Total PATRICIA AULIA (406100125) : dipuasakan : 36 cc : 36 cc : 10 cc : 30 cc : 144 cc : 174 cc : 70 cc : 20 cc : 48 cc : 146 cc :110 cc : 144 cc : 254 cc 5 Output: BAK .PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Berbicara Membaca dan menulis Gangguan perkembangan mental / emosi : Perkembangan pubertas Riwayat Imunisasi : BCG DPT Hepatitis B Polio Campak ::::::::::::- Kesan: anak belum pernah diimunisasi Riwayat Makan dan Minum anak (Input) dan BAK.BAB 10cc.

isi cukup kuat. : (+). : (-). Pemeriksaan Fisik : A. abdominotorakal. : (-). • • • C.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Output: BAK BAB WSD Total Tanggal 06 Juni 2011:Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB Total Tanggal 07 Juni 2011 Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB WSD Total IV. teratur. Status Present : Keadaan Umum Kesadaran Dispneu Pucat Sianosis Ikterik Tanda-tanda Vital : Frekuensi nadi Suhu Pernafasan : 37ºC. : 40 x / menit. : Compos Mentis GCS 15 (E4M6V5) : (+). • • • • • • B. : 70 cc :: 48 cc : 118 cc :185 cc : 192 cc : 377 cc : 50 cc : 35 cc : 85 cc : 210 cc : 192 cc : 402 cc : 130 cc : 100 cc : 56 cc : 285 Data antropometri : 6 PATRICIA AULIA (406100125) . :130 x / menit. : tampak sakit sedang.

diameter 3 mm. serumen -/-.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO • • • • D. : gizi cukup. ronchi -/-. kedua liang telinga lapang. membran timpani utuh. Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCLS. refleks • Telinga : cahaya +/+. batas tidak tegas. Sonor pada ke-2 lapang paru. teraba caput sucedaneum di regio occipital. : 34 cm • Kepala Bentuk normal. Bentuk normal. ukuran normal. sutura tepat. Bibir kebiruan (-). tidak ada sekret. PATRICIA AULIA (406100125) 7 . Depan dan belakang sama kuat. rambut hitam halus terdistribusi merata. : 47 cm. sekret -/Bentuk normal. terdapat retraksi otot-otot interkostalis. nyeri tekan tragus -/-. sklera ikterik +/+. konsistensi lunak. tidak mudah dicabut. simetris dalam diam dan pergerakan nafas. konjungtiva tidak anemis. supra-infra klavikula • Tenggorok • Dada • Paru-paru  Inspeksi : : : : dan servikal tidak teraba membesar. kelenjar tiroid tidak teraba membesar. fontanella lunak datar. Suara napas bronkovesikuler +/+. septum deviasi -/-. kelenjar getah benting submandibula. Faring tidak hiperemis. palatoschisis (-) Trakea di tengah. Berat badan Panjang badan Status gizi Lingkar kepala Status Regional : : Bentuk normal. : 2800 gram. • Hidung • Mulut • Leher : : : nyeri tekan aurikel -/-. subcostal. Stem fremitus kanan dan kiri. pernafasan cuping hidung +/+. bibir kering (+). Pupil bulat isokor. batas paru hepar di ICS VI MCLD. kulit • Mata : kepala tidak ada kelainan. wheezing -/-. lidah kotor (-). slem-/-  Palpasi  Perkusi : :  Auskultasi : • Jantung :  Inspeksi  Palpasi : : Tidak tampak pulsasi ictus cordis. hiperemis -/-. Hematoma palpebra-/-. tonsil T1-T1 tenang tidak hiperemis. tidak berfluktuasi. sekret -/-. substernal.

akral hangat. tali pusat segar.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO  Perkusi : Redup. deformitas (-).9 juta/jam 95-115 Fl 31-37 Pg 29-37 % 0–1 1–3 3–5 54 – 62 25 – 33 3–7 PATRICIA AULIA (406100125) 8 .000/mm3 45-61% 4-5. perfusi baik. Supel.000-35. gallop (-). : -/-. kifosis (-).000/mm3 230. Gibbus (-) skoliosis (-). murmur (-).000/mm3 50 vol % 4. • • • • Status neurologis : Rangsangan meningeal Refleks Fisiologis Refleks Patologis Parese : -/-.92 juta/jam 103 33 32 Nilai Normal 15-20 g/dL 9. : +/+ normal. nyeri tekan epigastrium (-). hepar dan lien tidak teraba membesar. sianosis (-). lordosis (-). batas jantung kiri ICS IV MCLS. Turgor baik. V. Datar. Rugae skrotum baik. : (-). batas jantung kanan midsternum ICS IV. Superior et inferior dekstra et sinistra udem (-). ikterik (+). Bising usus (+) normal.000/mm3 250. Timpani.  Auskultasi : Abdomen :  Inspeksi :  Palpasi :  Perkusi :  Auskultasi : • Ekstremitas : • Genitalia : • Kulit : • Tulang belakang: E.000 – 450. batas jantung atas ICS III MCLS. BJ I-II murni. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan Laboratorium Hematologi 03/06/2011 Umur: 0 hr Pemeriksaan Hb Leukosit Trombosit Hematokrit Eritrosit MCV MCH MCHC Eosinofil Basofil Batang Segmen Limfosit Monosit Hasil 12 g/dL 12.

Saat berumur 2 hari.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Pemeriksaan Laboratorium Serologi 04/06/2011 Umur: 1 hr Pemeriksaan CRP Hasil Negatif Nilai normal Negatif Pemeriksaan Laboratorium Serologi 05/06/2011 Umur: 3 hr Pemeriksaan Bilirubin Total Bilirubin Direct Bilirubin Indirect Hasil 20. anak bergerak aktif. hanya merintih.2 (<2 minggu) - Pemeriksaan Laboratorium Serologi 06/06/2011 Umur: 4 hr Pemeriksaan Golongan darah/Rhesus Hasil B/+ Nilai Normal - VI.27 mg/dL 0. lingkar kepala 34 cm.59 mg/dL Nilai Normal <11. Saat berumur 3 hari.69 mg/dL 19. ketuban berwarna bening. bayi mulai terlihat kekuningan pada wajah. kaki dan tangan dan kemudian diberikan blue light therapy. Bayi lahir tidak langsung menangis. badan. Ibu dengan ketuban pecah dini tanggal 01/06/2011. diinduksi.7 (<2 minggu) <1. tidak kuning. Bayi terlihat kebiruan pada bibir tetapi seluruh tubuh berwarna kemerahan dan kaki dan tangan dingin. tetapi tidak ada darah dan tidak sakit. bayi mulai terlihat agak sesak dan terlihat kemerahan pada muka bayi dan bengkak pada mata kiri. tetapi akhirnya menangis setelah disentil pada telapak kaki. Resume : Telah diperiksa seorang bayi laki-laki berumur 4 hari lahir pada tanggal 03/06/2011 dengan berat badan lahir 2200 gram dan panjang badan 47 cm. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Kehamilan dan Kelahiran : PATRICIA AULIA (406100125) 9 . lahir normal. berlendir. tidak ada sesak napas.

diinduksi dengan ketuban yang jumlahnya sedikit dan ketuban bercampur mekonium berwarna hijau. Ibu tidak pernah sakit parah selama kehamilan. : 37ºC (aksila). dirasakan seperti mengompol. : 2800 gram. Status gizi : : cukup. pukul 14:30 secara normal. tidak berfluktuasi. batas tidak tegas. tidak mudah dicabut.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Sejak tanggal 01/06/2011 jam 03:30 pagi. konsistensi lunak. Pemeriksaan Fisik : • • • • • • • • • Keadaan Umum Kesadaran Frekuensi Nadi Suhu Pernapasan Berat badan : Tampak Sakit Sedang. Panjang Badan Lingkar kepala: 34 cm. Bayi mulai diberikan ASI pada hari keempat setelah lahir. hanya mules dan mual muntah saja. bayi mulai diberikan minum dengan D5% saat berumur 1 hari. ada lendir tetapi tidak ada darah. : 130 kali / menit. abdominotorakal. rambut hitam halus terdistribusi merata. ibu keluar cairan dari kemaluannya dalam jumlah yang banyak dan berwarna bening. : 47 cm. Ibu melahirkan pada tanggal 03/06/2011. teraba caput sucadeneum di regio occipital. Bentuk normal. tidak dapat ditahan. Riwayat Tumbuh Kembang : Belum dapat dievaluasi Riwayat Imunisasi : Belum mendapatkan imunisasi Riwayat Makanan : Pada hari pertama pasien dipuasakan. : 40 kali / menit. ukuran normal. : Compos Mentis. hanya mendapatkan cairan parenteral D 10% 60 cc/kgBB/hari. kulit kepala tidak ada kelainan. • Kepala PATRICIA AULIA (406100125) 10 . dan tidak sakit.

Tidak tampak pulsasi ictus cordis. batas jantung atas ICS III MCLS. simetris dalam diam dan pergerakan nafas Terdapat retraksi otot-otot interkostalis. hiperemis -/-. pernafasan cuping hidung+/+ Perioral sianosis (-). substernal. Stem fremitus kanan dan kiri. Gibbus (-) skoliosis (-). supra-infra klavikula • Tenggorok • Dada • Paru-paru  Inspeksi : : : : dan servikal tidak teraba membesar. • Hidung • Mulut • Leher : : : nyeri tekan aurikel -/-. refleks • Telinga : cahaya +/+. murmur (-). nyeri tekan epigastrium (-). ronchi -/-. Datar. diameter 3 mm. deformitas (-). Redup. ikterik (+). kifosis (-). lidah kotor (-). BJ I-II murni. Supel. kelenjar tiroid tidak teraba membesar. konjungtiva tidak anemis. Trakea di tengah. hepar dan lien tidak teraba membesar. Superior et inferior dekstra et sinistra udem (-). wheezing -/-. Vesikuler. sekret -/-. membran timpani utuh. kedua liang telinga lapang. batas jantung kiri ICS IV MCLS. kelenjar getah benting submandibula. Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCLS. T1-T1 tenang tidak hiperemis. Bising usus (+) normal. sklera ikterik +/+. gallop (-). subcostal. lordosis (-). Timpani. Turgor baik. Bentuk normal. Depan dan belakang sama kuat. Sonor pada ke-2 lapang paru. septum deviasi -/-. tidak ada sekret. Bentuk normal. serumen -/-. bibir kering (+). nyeri tekan tragus -/-. akral hangat. batas jantung kanan midsternum ICS IV. Bentuk normal. Pupil bulat isokor.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO • Mata : Hematoma palpebra -/-.  Palpasi  Perkusi  Auskultasi • Jantung :  Inspeksi  Palpasi  Perkusi : : : : : :  Auskultasi : Abdomen :  Inspeksi :  Palpasi :  Perkusi :  Auskultasi : • Ekstremitas : • Genitalia : • Kulit : • Tulang belakang: PATRICIA AULIA (406100125) 11 . perfusi baik. sianosis (-). Tidak ada kelainan. batas paru hepar di ICS VI MCLD. Faring tidak hiperemis.

Golongan darah dan Rhesus ibu Analisa gas darah Rontgen thorax X. Kultur darah.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO VII. Diagnosa Kerja : Respiratory Distress Syndrome High risk infection et causa ketuban pecah dini Hiperbilirubinemia nonfisiologis NKB-SMK-BBLR VIII. Pemeriksaan bilirubin total. Diferential Diagnosa : Transient Takipneu of the Newborn Sindroma aspirasi mekonium Sepsis Hiperbilirubinemia fisiologis IX. Rencana Diagnostik : Pemeriksaan darah rutin ulang.5 mg) Blue light therapy Rencana Therapi (07/06/2011): IVFD D10% 1/5NS 8cc/jam Thrombophob gel Blue light therapy PATRICIA AULIA (406100125) 12 . direct dan indirect ulang. IT ratio. Rencana Therapi (03/06/2011): Head box O2 4L IVFD D10% 60cc/kgBB/24jam (132cc/24jam) Cefotaxim 2x125mg Gentamisin 5mg/kgBB : 2 (5.

rh -/-. tali pusat terawat. slem -/Abdomen : supel. menangis kuat.2 kg : konjungtiva anemis -/-. bibir kebiruan. sesak -. Kesadaran Nadi RR Suhu BB Mata Mulut : CM Tanda-tanda vital : : 116 kali/menit. hepar tidak teraba membesar. wheezing -/-. subcostal.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO XI. Ekstremitas : akral dingin. timpani. perioral sianosis (+). : 60 kali/menit. lidah kotor (-). gerak aktif +. sklera ikterik -/-. Riwayat Perkembangan Pasien : Tanggal 03/06/2011 HS HR S 0 1 Tanggal 03 Juni 2011: Input: Oral Parenteral Total Total : dipuasakan : 36 cc : 36 cc : 10 cc Output: BAK . XII. perfusi baik. Ad sanationam : ad bonam. : bibir kering (+).9°C : 2. PATRICIA AULIA (406100125) 13 . SD bronkovesikuler+/+. nyeri tekan -. gerak aktif +. Saturasi O2: 100% Hidung : napas cuping hidung -/Paru : tidak terdapat retraksi otot-otot interkostalis. Prognosa : Ad vitam : ad bonam. Ad fungsional : ad bonam. datar. tidak ada sesak napas. bising usus +. refleks cahaya +/+. caput succadeneum +. Keadaan umum : tampak sakit sedang. O kaki dan tangan dingin. WSD – Bayi lahir jam 16:30 dengan APGAR SCORE 8/9. substernal. tidak ada kuning.BAB 10 cc. : 35.

7 g/dl. Eritrosit : 4.000 g/ul Hematokrit : 50% Trombosit : 230.000/ul. Hb : 16.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Kulit: Ikterik -. Sianosis Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan darah lengkap tanggal 03/06/2011.5mg Bayi dipuasakan Rencana Cek CRP. Leukosit : 12.92 juta g/ul. Gambaran darah : MCV : 103 Fi. IT Ratio. MCHC : 32g/dl A Asfiksia Neonatorum ringan Caput succedaneum NKB-SMK-BBLR Hipotermia P Head Box O2 4L/menit IVFD D10% 60 cc/kgBB/24 jam (132cc/24 jam) Cefotaxim 2x125 mg Gentamicin 5mg/kgBB :2 = 5. dan kultur darah Tanggal 04/06/2011 HS HR S 1 2 : Tanggal 04 Juni 2011: Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB PATRICIA AULIA (406100125) : 30 cc : 144 cc : 174 cc : 70 cc : 20 cc 14 . MCH : 33 Pg.

timpani. datar.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO WSD Total O : 48 cc : 146 cc Gerak aktif +.. rh -/-. tali pusat terawat. substernal. CRP: GDS: 89 mg/dL Asfiksia Neonatorum Ringan Caput succadeneum NKB-SMK-BBLR Head Box O2 4L/menit IVFD D10% 60 cc/kgBB/24 jam (132cc/24 jam) Cefotaxim 2x125 mg Gentamicin 5mg/kgBB :2 = 5. bising usus +.5mg Minum bertahap dengan dextrose 2. SD bronkovesikuler+/+. gerak aktif +.5 kg : konjuntiva anemis -/-. gerak aktif +. sklera ikterik -/-. : bibir kering (+). sesak -. Ekstremitas : akral hangat. tidak ada kuning. menangis kuat. slem -/Abdomen : supel. : 50 kali/menit. Sianosis Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan 04/06/2011.5 cc diteruskan dengan 5 cc. Saturasi O2: 96% Hidung : napas cuping hidung -/-. wheezing -/-. bibir sianosis . : 37ºC. nyeri tekan -. A P PATRICIA AULIA (406100125) 15 . caput succadeneum +. Kesadaran Nadi RR Suhu BB Mata Mulut Paru : Inspeksi : tidak terdapat retraksi otot-otot interkostalis. subcostal. perfusi baik. menangis kuat. Kulit: Ikterik -. sesak -. refleks cahaya +/+. : 2. : CM Tanda-tanda vital : : 130 kali/menit. hepar tidak teraba membesar. Keadaan umum : tampak sakit sedang. perioral sianosis (-). lidah kotor (-).

menangis kuat. hepar tidak teraba membesar. : 2. Paru : Terdapat retraksi otot-otot interkostalis. rh -/-. lidah kotor (-). gerak aktif +. slem -/Abdomen : supel. : 36. Kesadaran Nadi RR Suhu BB Mata : CM Tanda-tanda vital : : 115 kali/menit. Saturasi O2: 96% hematom palpebra -/+ Hidung : napas cuping hidung +/+ Mulut : bibir kering (+). : 40 kali/menit.4 kg : konjuntiva anemis -/-. Sianosis -. datar. Keadaan umum : tampak sakit sedang. nyeri tekan -. bibir sianosis . sklera ikterik -/-. Asfiksia Neonatorum Ringan Caput Succedaneum PATRICIA AULIA (406100125) 16 . bising usus +.5ºC. sesak +.. sesak +. tidak ada kuning. ruam kemerahan pada muka +. subcostal.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Tanggal : 05/06/20011 HS HR S 2 3 Tanggal 05 Juni 2011: Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB WSD Total :110 cc : 144 cc : 254 cc : 70 cc :: 48 cc : 118 cc O Gerak aktif +. perfusi baik A Kulit: Ikterik -. SD bronkovesikuler+/+. perioral sianosis (-). timpani. gerak aktif +. tali pusat terawat. refleks cahaya +/+. Ekstremitas : akral hangat. wheezing -/-. mata kiri bengkak. mucul ruam kemerahan pada muka. caput succadeneum +. substernal. menangis kuat.

subcostal. menangis kuat. Saturasi O2: 98% hematoma palpebra -/+ (<) Hidung : napas cuping hidung +/+. wheezing -/-. substernal.. Mulut : bibir kering (+). kuning +.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Hematom Palpebra Oculo Sinistra NKB-SMK-BBLR P Suspek alergi tipe IV Head Box O2 4L/menit IVFD D10% 60 cc/kgBB/24 jam (132cc/24 jam) Pulv CTM 0.25 mg 3x1 Tanggal 06/06/2011 HS HR S 3 4 Tanggal 06 Juni 2011: Input: Oral Parenteral Total Output: BAK BAB Total :185 cc : 192 cc : 377 cc : 50 cc : 35 cc : 85 cc Gerak aktif +. sesak +. sesak +. slem -/Abdomen : supel. lidah kotor (-). bibir sianosis . nyeri tekan -. gerak aktif +.4 kg : konjuntiva anemis -/-. mata O kiri bengkak. datar. : 2. timpani. caput succadeneum + <.5ºC. refleks isap + Kesadaran Nadi RR Suhu BB Mata : agak lemah Tanda-tanda vital : : 130 kali/menit. bising usus +. SD bronkovesikuler+/+. sklera ikterik +/+. perioral sianosis (-). mucul ruam kemerahan pada muka (<) Keadaan umum : tampak sakit sedang. Paru : Terdapat retraksi otot-otot interkostalis. rh -/-. menangis kuat.25 mg + Dexa 0. refleks cahaya +/+. hepar tidak PATRICIA AULIA (406100125) 17 . : 37. : 40 kali/menit.

: 37ºC. gerak aktif +. perfusi baik A Kulit: Ikterik +. golongan darah dan Rhesus 18:00 : Bayi mulai mendapat Blue Light terapi Tanggal 07/06/2011 HS HR S 4 5 Tanggal 07 Juni 2011 Input: Oral Total Output: BAK BAB WSD Total : 210 cc Parenteral : 192 cc : 402 cc : 130 cc : 100 cc : 56 cc : 285 Gerak aktif +. : 40 kali/menit.. bilirubin indirect. sesak +. bilirubin direct. menangis kuat. tali pusat terawat. : 2. sesak +. Sianosis – Hiperbilirubinemia Caput Succedaneum Hematom palpebra Oculo Sinistra P NKB-SMK-BBLR IVFD D10% 1/5 NS 180 cc/24 jam ( 8cc / jam) Trombophob gel Apabila masih ikterik dalam 2 x 24 jam cek Bilirubin total. bibir sianosis . mucul ruam kemerahan pada muka (<) Keadaan umum : tampak sakit sedang. kuning +. menangis kuat. mata O kiri bengkak. refleks isap + Kesadaran Nadi RR Suhu BB : agak lemah Tanda-tanda vital : : 132 kali/menit.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO teraba membesar. gerak aktif +. caput succadeneum +.8 kg 18 Saturasi O2: 97% PATRICIA AULIA (406100125) . Ekstremitas : akral hangat.

bising usus +.69 mg/dL A Hiperbilirubinemia Caput Succedaneum Hematom palpebra Oculo Sinistra P NKB-SMK-BBLR IVFD D10% 1/5 NS 150 cc/24 jam Trombophob gel Blue Light terapi rubah posisi Cek bilirubin total setelah 24 jam Tanggal 08/06/2011 HS HR S O 5 6 Gerak aktif +. refleks isap + Kesadaran : agak lemah Tanda-tanda vital : PATRICIA AULIA (406100125) 19 . rh -/-. gerak aktif +. substernal. mata kiri bengkak. caput succadeneum + <<. sesak +. hematoma palpebra -/+ (<) Hidung : napas cuping hidung +/+. SD bronkovesikuler+/+. mucul ruam kemerahan pada muka (<) Keadaan umum : tampak sakit sedang. perfusi baik Kulit: Ikterik +. Sianosis – Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan 06/06/2011.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Mata : konjuntiva anemis -/-. Paru : Terdapat retraksi otot-otot interkostalis. subcostal. Mulut : bibir kering (+). perioral sianosis (-). gerak aktif +. timpani. Ekstremitas : akral hangat. sklera ikterik +/+. bibir sianosis .59 mg/dL Bilirubin direct: 0. menangis kuat. hepar tidak teraba membesar. sesak + <.. kuning +. lidah kotor (-). refleks cahaya +/+. datar. nyeri tekan -. Golongan darah/Rhesus bayi: B/+ Bilirubin total: 20. slem -/Abdomen : supel. tali pusat terawat. wheezing -/-.27 mg/dL Bilirubin indirect: 19. menangis kuat.

Paru : Terdapat retraksi otot-otot interkostalis. datar. tali pusat terawat.2ºC. substernal (<<). Ekstremitas : akral hangat. Saturasi O2: 97% hematoma palpebra -/+ (<) Hidung : napas cuping hidung (–). gerak aktif +. rh -/-. : 37. subcostal. : 40 kali/menit. Mulut : bibir kering (-). hepar tidak teraba membesar. bising usus +. lidah kotor (-). SD bronkovesikuler+/+. refleks cahaya +/+. wheezing -/-.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Nadi RR Suhu BB Mata : 130 kali/menit. slem -/Abdomen : supel. timpani. : 2.7 kg : konjuntiva anemis -/-. nyeri tekan -. perioral sianosis (-). sklera ikterik +/+. perfusi baik A Kulit: Ikterik +. Sianosis – Respiratory Distress Syndrome High Risk Infection Hiperbilirubinemia P NKB-SMK-BBLR Pasien pulang atas permintaan sendiri PATRICIA AULIA (406100125) 20 .

Definisi dari gangguan napas adalah suatu keadaan dimana ditemukan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai dengan: Takipneu (>60-80x/menit). Insiden penyakit ini sangat berhubungan serat dengan umur kehamilan. retraksi interkostal. diferensiasi pneumosit alveolar tipe II sekitar 20 minggu Sakuler (24-38 minggu): Terjadi perkembangan dan ekspansi rongga dada. Apabila takipneu. 1 PATOFISIOLOGI Perkembangan paru normal:1 • • • • Pseudoglandular (5-17 minggu): Terjadi perkembangan percabangan bronkiolus dan tubulus asiner Kanalikuler (16-26 minggu): Terjadi proliferasi kapiler dan penipisan mesenkim. Muncul pada cairan amnion antara 28-32 minggu.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO PEMBAHASAN MATERI RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME PENDAHULUAN Respiratory Distress Syndrome atau Sindroma Gagal Napas pada bayi baru lahir disebut juga dengan Hyaline Membrane Disease. Surfaktan mengurangi tegangan permukaan PATRICIA AULIA (406100125) 21 . maka ini merupakan indikasi adanya gangguan napas yang harus segera ditindak lanjuti. sianosis sentral. dan apnu. Surfaktan muncul pada paru-paru janin mulai usia kehamilan 20 minggu tapi belum mencapai permukaan paru. hampir terjadi pada sebagian besar bayi kurang bulan sebagai akibat kurangnya surfaktan paru. awal pembentukan septum alveolar Alveolar (36 minggu-lebih dari 2 tahun setelah lahir): Penipisan septum alveolar dan pembentukan kapiler paru. pernapasan cuping hidung. retraksi dan grunting menetap pada beberapa jam setelah lahir. merintih atau grunting. subcostal dan epigastrial. Level yang matur baru muncul setelah 35 minggu kehamilan.

menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya daya komplians paru. Pneumotoraks akibat tindakan resusitasi. Komponen utama surfaktan adalah Dipalmitylphosphatidylcholine (lecithin) – 80 %. memfasilitasi ekspansi paru dan mencegah kolapsnya alveoli selama ekspirasi. berapapun usia gestasinya dapat mengakibatkan terlambatnya absorbsi cairan paru. air ketuban yang berbau busuk dapat terjadi pneumonia bakterialis atau sepsis • • • PATRICIA AULIA (406100125) 22 . Protein merupakan 10 % dari surfaktan. aspirasi mekonium. tegangan permukaan meningkat. • • • • • Kelahiran secara sesar: bayi yang lahir dengan operasi sesar. dan ikut serta dalam proses perombakan surfaktan. phosphatidylglycerol – 7 %. fungsinya adalah memfasilitasi pembentukan film fosfolipid pada perbatasan udara-cairan di alveolus. B. ketuban pecah dini. bertambah pula produksi fosfolipid dan penyimpanannya pada sel alveolar tipe II. apoprotein (surfactant protein A. C.1 Pada defisiensi surfaktan. Selain itu dapat pula mencegah edema paru serta berperan pada sistem pertahanan terhadap infeksi. (TTN) Asfiksia perinatal Bayi yang lahir dengan ibu yang menderita Diabetes Melitus: terjadi RDS akibat kelambatan pematangan paru Bayi yang lahir dengan ibu yang menderita demam. menyebabkan keadaan hipoksemia. phosphatidylethanolamine – 3 %. FAKTOR RESIKO2 • Bayi kurang bulan: Paru bayi secara biokimiawi masih imatur dengan kekurangan surfaktan yang melapisi rongga alveoli Bayi laki-laki Pernah melahirkan bayi yang menderita RDS sebelumnya Multipara dengan riwayat bayi prematur Depresi neonatal (kegawatan neonatal): Kehilangan darah selama periode perinatal. Dengan bertambahnya usia kehamilan. Hipoksia jaringan dan acidosis metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan kegagalan pernafasan yang progresif. Reduksi pada ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi sirkulasi paru menjadi buruk. yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar sehingga terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan acidosis respiratorik.. hipertensi pulmonal dengan pirau kanan ke kiri yang membawa darah keluar dari paru. D) dan cholesterol.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO pada rongga alveoli.

PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO • Bayi dengan kulit berwarna seperti mekonium mungkin mengalami aspirasi mekonium Infeksi perinatal Bayi dengan Paten Duktus Arteriosus • • Tidak perlu membedakan antara pneumonia. napas cuping hidung dan grunting) kadang juga dijumpai pada bayi baru lahir normal tetapi tidak berlangsung lama. Mungkin mencerminkan abnormalitas jantung. selalu memerlukan perhatian dan tindakan segera. MANIFESTASI KLINIS • • • • • Takipneu: frekuensi pernapasan 60-80 kali/menit Retraksi: Cekungan atau tarikan antar iga (interkostal). Foto rontgen paru-paru sering menunjukkan gambaran ground glass appearance. Sianosis sentral tidak pernah normal. dan atau di bawah sternum (substernal) dan subcostal. empat gejala distes respirasi (takipnea. DIAGNOSIS • Manifestasi klinis: Penampilan.) • • Apnu atau henti napas (harus selalu dinilai dan dilakukan tindakan segera) Dalam jam jam pertama sesudah lahir. hematologik atau pernapasan. sering menunjukkan jumlah oksigen yang menurun dan karbon dioksida meningkat. karbon dan asam dalam darah arteri). dan usaha bernapas (yang menunjukkan kebutuhan oksigen). Gejala ini disebabkan karena perubahan fisiologik akibat reabsorbsi cairan dalam paru bayi dan masa transisi dari sirkulasi fetal ke sirkulasi neonatal. warna. • • PATRICIA AULIA (406100125) 23 . atau aspirasi mekonium karena semuanya dapat menyebabkan gangguan napas dan mendapat terapi yang sama. Analisa gas darah (menilai kadar oksigen. retraksi. RDS/HMD. Pernapasan cuping hidung: kembang kempis lubang hidung selama inspirasi Merintih atau grunting: terdengar merintih atau seperti menangis saat inspirasi Sianosis: Sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan biru lebam atau warna membran mukosa.

Obstruksi saluran napas atas: atresia koana. hipotermia. Patent Ductus Arteriosus. atau kehilangan darah kronik yang dapat menyebabkan gagal jantung kongestif dan polisitemia) 6. KOMPLIKASI Bayi dengan Respiratory Distress Syndrom mempunyai resiko dan komplikasi terjadinya:1 • • • Hipoksia: bila berlangsung lama dapat menyebabkan gangguan pada organ vital seperti otak. Sindroma aspirasi mekonium e. dapat mengakibatkan shock hipovolemik. pendarahan paru. Metabolik: keadaan yang dapat menyebabkan asidosis. laryngomalachia. Transient Takipneu of the Newborn c. Sindroma Pierre Robin b. paru. palsi nervus phrenicus 2. Kelainan SSP PENATALAKSANAAN2  Memasang endotracheal tube ke tenggorokan bayi  Ventilator mekanik dapat mengurangi kerusakan paru yang masih imatur PATRICIA AULIA (406100125) 24 . atelektasis. gangguan keseimbangan elektrolit. Asidosis metabolik Problem hematologik: anemia. Sepsis 3. Persistent Pulmonary Hipertension in Newborn f. hipoglikemia 5. gondok. efusi pleura. hipertermi. gagal jantung kongestif. 4. polisitemia DIAGNOSIS BANDING 1. Kelainan sistem respirasi: a.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO • EKG kadang-kadang digunakan untuk menyingkirkan penyakit jantung yang dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan RDS. jantung. dan ginjal. Pneumonia d. Sistem hematopoietik: anemia (termasuk anemia akibat kehilangan darah secara akut. Sistem kardiovaskular: penyakit jantung bawaan. web laryngeal. Pneumotoraks. higroma. tracheomalachia.

yang paling efektif jika dimulai dalam enam jam pertama kelahiran.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO  Tambahan oksigen  Continuous positive airway pressure (CPAP) yaitu mesin pernapasan mekanik yang mendorong aliran udara atau oksigen ke saluran napas untuk membantu menjaga saluran napas agar tetap terbuka  Penggantian surfaktan dengan surfaktan buatan .  Obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit pada bayi selama pengobatan PENCEGAHAN Beberapa tahun terakhir ini. Selain itu. Steroid dapat diberikan kepada ibu yang mempunyai resiko tinggi melahirkan bayi RDS pada masa kehamilan 24 sampai dengan 34 minggu.1 PATRICIA AULIA (406100125) 25 . Pemberian surfaktan telah terbukti mengurangi derajat keparahan RDS. RDS membaik dengan penggunaan steroid antenatal untuk meningkatkan kematangan paru. surfaktan juga dapat diberikan sebagai profilaksis (pencegahan) untuk beberapa bayi yang berisiko sangat tinggi untuk RDS. Obat ini tersedia dalam bentuk bubuk yang dicampur dengan air steril dan kemudian diberikan melalui tabung ET .

total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 bilirubin > 5 mg/dL/24 jam.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO PEMBAHASAN MATERI HIPERBILIRUBINEMIA PADA NEONATUS DEFINISI Kuning bisa timbul pada minggu pertama bayi baru lahir 60% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi kurang bulan. FISIOLOGI BILIRUBIN Pembentukan bilirubin4 PATRICIA AULIA (406100125) 26 . Ikterus pada umumnya terjadi fisiologis kecuali pada kondisi:3 • Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan. hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana bilirubin di dalam darah> 13mg/dL. Bilirubin yang tak terkonjugasi bisa memberikan efek toksik pada saraf sedangkan yang terkonjugasi merupakan indikasi adanya kelainan yang serius. penurunan berat badan yang cepat. ikterus pada neonatus akan nampak apabila konsentrasi bilirubin serum> 5mg/dL. tanda-tanda penyakit yang mendasari setiap bayi (muntah. takipnea atau suhu yang tidak stabil). malas • Ikterus • Terdapat • Adanya menetek. • Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah14 hari pada bayi kurang bulan. • Bilirubin mg/dL. faktor risiko. apnea. • Peningkatan • Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL. Bisa akibat bilirubin yang tak terkonjugasi maupun yang terkonjugasi.Secara klinis. lethargis. menetap pada usia >2 minggu.

Obat-obatan yang dapat PATRICIA AULIA (406100125) 27 . Pada bayi baru lahir. sitokrom. Satu gram hemoglobin akan menghasilkan 34 mg bilirubin dan sisanya (25%) disebut early labelled bilirubin yang berasal dari pelepasan hemoglobin karena eritropoiesis yang tidak efektif di dalam sumsum tulang. sedangkan orang dewasa sekitar 3-4 mg/kgBB. jaringan yang mengandung protein heme (mioglobin.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Bilirubin adalah pigmen kristal berwarna jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi-reduksi. selanjutnya dilepaskan ke sirkuasi yang akan berikatan dengan albumin. turn over sitokrom yang meningkat dan juga reabsorbsi bilirubin dari usus yang meningkat (sirkulasi enterohepatik). Bayi baru lahir mempunyai kapasitas ikatan plasma yang rendah terhadap bilirubin karena konsentrasi albumin yang rendah dan kapasitas ikatan molar yang kurang.hari. Langkah oksidasi yang pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase yaitu enzim yang sebagian besar terdapat pada sel hati. Pada reaksi tersebut juga terbentuk besi yang digunakan kembali untuk pembentukan hemoglobin dan karbon monoksida (CO) yang dieksresikan ke dalam paru. Peningkatan produksi bilirubin pada bayi baru lahir disebabkan masa hidup eritrosit bayi lebih pendek (70-90 hari) dibanding dengan orang dewasa (120 hari). Transportasi bilirubin4 Pembentukan bilirubin yang terjadi di sistem retikuloendotelial. Jika tubuh akan mengekskresikannya diperlukan mekanisme transport dan eliminasi bilirubin. Selain itu. Obat-obatan tersebut akan menempati tempat utama perlekatan albumin untuk bilirubin sehingga bersifat kompetitor serta dapat pula melepaskan ikatan bilirubin dengan albumin. Berbeda dengan biliverdin. dan organ lain. Bilirubin yang terikat pada albumin ini merupakan zat non polar dan tidak larut dalam air dan kemudian akan ditransportasi ke sel hepar. peroksidase) dan heme bebas. sekitar 75% produksi biilirubin berasal dari katabolisme heme dari eritrosit sirkulasi. Bayi baru lahir akan memproduksi bilirubin 8-10 mg/kgBB/hari. albumin juga mempunyai afinitas yang tinggi terhadap obatobatan yang bersifat asam seperti penisilin dan sulfonamid. Biliverdin bersifat larut dalam air dan secara cepat akan diubah menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase. bilirubin bersifat lipofilik dan dengan hidrogen serta pada pH normal bersifat tidak larut. katalase. peningkatan degradasi heme. Bilirubin yang terikat dengan albumin tidak dapat memasuki sistem saraf pusat dan bersifat non toksik.

hipoksia. hipotermia. mungkin juga dengan protein ikatan sitosolik lainnya. Berkurangnya kapasitas pengambilan hepatik bilirubin tak terkonjugasi akan berpengaruh terhadap pembentukan ikterus fisiologis. asidosis. Konjugasi bilirubin Bilirubin tak terkonjugasi dikonversikan ke bentuk bilirubin konjugasi yang larut dalam air di retikulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine diphosphate glucuronyl transferase. resirkulasi enterohepatik. Sedangkan satu molekul bilirubin tak terkonjugasi akan kembali ke retikulum endoplasmik untuk rekonjugasi berikutnya. Hal tersebut tentunya akan mengakibatkan peningkatan jumlah bilirubin bebas dan beresiko pula untuk keadaan nerotoksisitas oleh bilirubin. Pada Bayi Kurang Bulan ikatan bilirubin akan lebih lemah yang umumnya merupakan komplikasi dari hipoalbumin. ditransfer melalui sel membran yang berikatan dengan ligandin (protein Y). dari sintesis de novo. Penelitian menunjukkan hal ini terjadi karena adanya defisiensi ligandin. Kemudian bilirubin. hipoglikemi. dan septikemia. Bilirubin ini kemudian dieksresikan ke dalam kanalikulus empedu. perpindahan bilirubin antar jaringan. pengambilan bilirubin oleh sel hati dan konjugasi bilirubin akan menentukan konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi dalam serum. Penelitian in vitro tentang enzim UDGPT-T pada bayi baru lahir didapatkan defisiensi aktifitas enzim.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO melepaskan ikatan bilirubin-albumin dengan cara menurunkan afinitas albumin adalah digoksin. gentamisin dan furosemid. Pada keadaan peningkatan beban bilirubin yang dihantarkan ke hati akan terjadi retensi bilirubin tak terkonjugasi seperti halnya pada keadaan hemolisis kronik yang berat pigmen yang tertahan adalah bilirubin monoglukuronida. albumin terikat ke reseptor permukaan sel. Katalisa oleh enzim ini akan merubah formasi menjadi bilirubin monoglukuronida yang selanjutnya akan dikonjugasi menjadi bilirubin diglukuronida. tetapi hal itu tidak begitu penting dibandingkan dengan defisiensi konjugasi bilirubin dalam menghambat transfer bilirubin dari darah ke empedu slama 3-4 hari pertama kehidupan. Keseimbangan antara jumlah bilirubin yang masuk ke sirkulasi. baik pada keadaan normal ataupun tidak normal. Walaupun demikian defisiensi ambilan ini dapat menyebabkan hiperbilirubinemia terkonjugasi ringan pada minggu kedua kehidupan saat konjugasi bilirubin hepatik mencapai kecepatan normal yang sama dengan orang dewasa. tetapi setelah 24 jam kehidupan. aktifitas enzim ini meningkat melebihi PATRICIA AULIA (406100125) 28 . Asupan bilirubin atau bilirubin intake4 Pada saat kompleks bilirubin-albumin mencapai membran plasma hepatosit.

Terdapat perbedaan antara bayi baru lahir dan orang dewasa yaitu pada mukosa usus halus dan feses bayi baru lahir mengandung enzim B-glukuronidase yang dapat menghidrolisa monoglukuronida dan diglukuronida kembali menjadi bilirubin yang tak terkonjugasi yang selanjutnya dapat diabsorbsi kembali. konjugasi monoglukuronida merupakan konjugat pigmen empedu lebih dominan.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO bilirubin yang masuk ke hati sehingga konsentrasi bilirubin serum akan menurun. Hidrolisis bilirubin glukuronida yang berlebih dan konsentrasi bilirubin yang tinggi ditemukan di dalam mekonium. bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung dapat diresorbsi. Pemberian substansi oral yang tidak larut seperti agar atau arang aktif yang dapat mengikat bilirubin akan meningkatkan kadar bilirubin dalam tinja dan mengurangi kadar bilirubin serum. Proses ekskresinya sendiri merupakan proses yang memerlukan energi. kemudian memasuki saluran cerna dan diekskresikan melalui feses. Kapasitas total konjugasi akan sama dengan orang dewasa pada hari ke 4 kehidupan. Pada bayi yang baru lahir. Setelah berada adalam usus halus. ETIOLOGI Hiperbilirubinemia Nonfisiologis PATRICIA AULIA (406100125) 29 . Peningkatan hirolisis bilirubin konjugasi pada bayi baru lahir diperkuat oleh aktivitas B-glukuronidase mukosa yang tinggi dan ekskresi monoglukuronida terkonjugasi. Bayi baru lahir mempunyai konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi yang relatif tinggi di dalam usus yang berasal dari produksi bilirubin yang meningkat. Resorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati untuk dikonjugasi kembali disebut siklus enterohepatik. Pada peroide bayi baru lahir. kecuali jika dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta guluronidase yang terdapat dalam usus. Ekskresi bilirubin4 Setelah mengalami proses konjugasi. lumen usus halusnya steril sehingga bilirubin konjugasi tidak dapat diubahmenjadi sterkobilin (suatu produk yang tidak dapat diabsorbsi). Selain itu pada bayi baru lahir. bilirubin akan diekskresikan ke dalam kandung empedu. hal ini menggambarkan peran kontribusi sirkulasi enterohepatik pada keadaan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi pada bayi baru lahir. kekurangan relatif flora bakteri untuk mengurangi bilirubin menjadi urobilinogen lebih lanjut akan meningkatkan pool bilirubin usus dibandingkan dengan anak yang lebih tua atau orang dewasa.

Illeus. autosom dominan PATRICIA AULIA (406100125) 30 . trombosit. Penyebab nonhemolitik: Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi. stomasitosis) dan defek enzim sel darah merah (defisiensi glukosa-6-fosfat. Berbagai etiologi (penyebab) sebagai berikut:5 A. o 2. sensitisasi golongan darah lainnya. perdarahan SSP. 1. piknositosis. Asidosis o Stress dingin o Hipoglikemia o Obat-obatan: Salisilat. Sulfasurazole C. Polisitemia. autosom resesif. defisiensi piruvat kinase. tes Coomb dan hapusan darah tepi. B. 3. Peningkatan kecepatan hemolisis: Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi dan hitung retikulosit. hitung retikulosit. Imaturitas hepar 2. Defisiensi glukoronil transferase tipe II. Gangguan transportasi: o Hipoproteinemia o Asfiksia. o o o Hematoma ekstravaskuler: sefalhematom. pencarian sebab ikterus harus dilakukan. inkompatibilitas ABO. o Coombs positif: Inkompatibilitas Rh.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Jika kriteria diagnosis ikterus fisiologis tidak terpenuhi. hitung retikulosit normal. hitung retikulosit normal. Sirkulasi enterohepatik berlebihan: Obstuksi saluran pencernaan. memar. eliptositosis. defisiensi heksokinase). Produksi Bilirubin yang Berlebih 1. Penurunan Kecepatan Konjugasi: Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi. Criggler-Najjar: Defisiensi glukoronil transferase tipe I. Coombs negatif: Defek membran sel darah merah (sferositosis. Tes laboratorium yang tepat pada saat ini termasuk darah lengkap.

dll. Hepatitis: virus. apnea. Kuning setelah minggu pertama : kuning akibat ASI. 1. dll. dll) Khusus : Dengan cara menekan kulit ringan dengan memakai jari tangan dan dilakukan pada pencahayaan yang memadai. riwayat keluarga anemi dan pembesaran hati dan limpa. riwayat infeksi maternal. riwayat trauma persalinan. perdarahan tersembunyi. Coombs negatif. Abnormalitas Ekskresi atau Reabsorbsi: Peningkatan bilirun terkonjugasi dan tak terkonjugasi. Defisiensi protei Y/Ligandin 5. PATRICIA AULIA (406100125) 31 . infeksi virus cytomegali. hitung retikulosit normal. Sepsis. Gangguan fungsi hepar oleh karena asidosis. syphilis. toksis 2. Pemeriksaan fisik : Umum : keadaan umum (gangguan nafas. 6. asfiksia. hipotiroidisme. instabilitas suhu. Atresia bilier. a. penyakit penyimpanan glikogen. infeksi D. Metabolik: Galaktosemia. Kuning yang terjadi setelah hari ke 3 dalam minggu pertama: infeksi (sepsis). fibrosis kistik. Kuning yang terjadi dalam 24 jam pertama dapat disebabkan oleh : sepsis. syphilis. Kuning yang terjadi setelah satu minggu dalam bulan pertama: hepatitis. riwayat penggunaan obat selama ibu hamil. 4. 3. rubella. Biasanya muncul pada hari 2-3 dan menghilang pada hari ke 5-7. Kista koledokus. toxoplasma. hyperbilirubin yang berat . hepatitis. bakteri. Crigler Najjar syndrome. hipoksia. infeksi. erythroblastosis fetalis. DIAGNOSIS Kuning yang fisiologsi (Normal): terjadi akibat peningkatan produksi bilirubin akibat pemecahan sel darah merah janin dan keterbatasan hati janin untuk mengolahnya. 5. Kuning yang timbul pada hari ke 2 dan 3 : normal (fisiologis). Anamnesis : riwayat ikterus pada anak sebelumnya.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO 4. sumbatan saluran empedu . cytomegali. rubella. toxoplasma. Obstruksi ampula vater. parasit. atau toxoplasma. b.

PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Derajat Daerah ikterus ikterus I II III IV Kepala dan leher Sampai badan atas (di atas umbilikus) Sampai lutut) Sampai lengan. kadar enzim G6PD (pada riwayat keluarga dengan defisiensi enzim G6PD). Pemeriksaan laboratorium: kadar bilirubin.0 mg/dl V Sampai telapak tangan dan kaki Berdasarkan Kramer dibagi :6 c. golongan darah (ABO dan Rhesus) ibu dan anak.4 mg/dl 16. letargi dan dapat berakibat pada gangguan pendengaran. darah rutin. malas minum.0 mg% 9. PATRICIA AULIA (406100125) 32 . Pemeriksaan radiologis : USG abdomen (pada ikterus berkepanjangan) KOMPLIKASI Ensefalopati hiperbilirubinemia (bisa terjadi kejang.0 mg% bawah11.4 mg/dl kadar 12. d. tungkai bawah lutut badan bawah (di umbilikus) hingga tungkai atas (di atas Perkiraan bilirubin 5. Coomb tes. hapusan darah. palsi serebralis).

Fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total 18 mg/dl (310 mol/L). Bila kadar bilirubin serum total > 25 mg/dl (> 430 mmol/L) pada 49-72 jam pasca kelahiran. Pada usia 49-72 jam pasca kelahiran. (> 260 mmol/L) pada 25-48 jam pasca kelahiran. masih dianjurkan untuk pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis. PATRICIA AULIA (406100125) 33 . fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 12 mg/dl (170 mmol/L). Pada usia > 72 jam pasca kelahiran. Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 25 mg/dl (430 mmol/L).PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO PENATALAKSAAN7 1. 4. Bila kadar bilirubin serum total 20 mg/dl (> 340 mmol/L) dilakukan fototerapi dan mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total 15 mg/dl (260 mmol/L). dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. Ikterus yang timbul sebelum 24 jam pasca kelahiran adalah patologis. Bila kadar bilirubin serum total sudah mencapai > 20 mg/dl (> 340 mmol/L) dilakukan fototerapi sambil mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 15 mg/dl (260 mmol/L). Bila kadar bilirubin serum total > 25 mg/dl (> 430 mmol/L) pada usia > 72 jam pasca kelahiran. mengindikasikan perlunya pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis. Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 20 mg/dl (340 mmol/L). mengindikasikan perlunya pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis. dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. Pada usia 25-48 jam pasca kelahiran. Tindakan fototerapi dan mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total > 18 mg/dl (> 310 mmol/L) fototerapi dilakukan sambil mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total > 17 mg/dl (290 mmol/L). 2. Bila kadar bilirubin serum total > 15 mg/dl . Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 20 mg/dl (340 mmol/L).

DIAGNOSIS & INDIKASI RAWAT PATRICIA AULIA (406100125) 34 . MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis Takipneu Retraksi Sianosis sentral Pernapasan cuping hidung Grunting Apneu Pada pasien kasus Ya Ya Ya - Manifestasi klinis Pada pasien kasus Kuning dalam 24 jam pertama Peningkatan birubin > 5 mg/dL /24 jam Tidak diketahui Bilirubin total/indirek untuk bayi kurang Ya bulan > 10 mg/Dl Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL Ikterus menetap pada usia >2 minggu Tidak diketahui Pada pasien ini ditemukan beberapa manifestasi klinis yang mendukung ke arah Respiratory Distress Syndrome dan Hiperbilirubinemia non fisiologis B.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO PEMBAHASAN KASUS A.

kaki dan tangan dingin dan dapat dilihat suhu yang menunjukkan hipotermia (35. Faktor resiko yang ditemukan pada kasus ini yang menyokong terjadinya infeksi/sepsis adalah ketuban pecah dini lebih dari 24 jam yang dapat meningkatkan kejadian sepsis sebanyak 1%. Hal ini juga dapat terjadi pada bayi normal secara fisiologis oleh karena perubahan sirkulasi fetal ke sirkulasi neonatal tetapi tidak menetap leih dari beberapa jam setelah lahir sedangkan pada kasus ini retraksi menetap dari awal bayi lahir sampai dengan hari terakhir dirawat. Ketuban ibu yang bercampur dengan mekonium bayi berwarna kehijauan menandakan adanya gawat janin atau yang biasa dikenal sebagai fetal distress. Hiperbilirubinemia pada pasien ini termasuk hiperbilirubinemia nonfisiologis oleh karena peningkatan kadar bilirubin yang tinggi diatas batas ikterus fisiologis yaitu Bilirubin total/indirek untuk bayi kurang bulan > 10 mg/dL.9) beberapa saat setelah kelahiran bayi. prematuritas dan berat badan lahir rendah. Pemeriksaan C-reaktif protein yang menunjukkan adanya infeksi bakteri terutama Gram + juga ditemukan -. kebiruan pada bibir yang menunjukan adanya sianosis sentral. walaupun pada pemeriksaan lab pada hari berikutnya menunjukkan hasil lekosit dan trombosit yang normal. Riwayat ibu ketuban pecah dini sejak tanggal 01/06/2011 pukul 03:30. trauma saat persalinan (caput succadaneum). subkostal dan substernal. ketuban berwarna hijau dan ibu multipara. pasien ini mempunyai faktor resiko terjadinya Respiratory Distress Sindrom oleh karena usia kehamilan yang kurang (35 minggu) menyebabkan kekurangan surfaktan. ibu ketuban pecah dini. dan bayi baru dilahirkan kurang lebih 2 hari setelahnya (tanggal 03/06/2011) patut dicurigai adanya infeksi pada bayi (high risk infection) oleh karena plasenta merupakan perlindungan bayi sudah pecah sebelum waktunya. Bila dilihat dari PATRICIA AULIA (406100125) 35 . Faktor resiko lainnya terjadinya Respiratory Distress S ibu multipara. pernapasan cuping hidung. walaupun tidak ditemukan laju pernapasam yang cepat dan grunting.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO Pasien dirawat atas indikasi berat badan lahir rendah (2200 gram) terlihat. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya. dan ketuban yang bercampur mekonium berwarna hijau dapat menyebabkan aspirasi mekonium pada bayi. bayi laki-laki. Pasien ini didiagnosa Respiratory Distress Syndrome oleh karena adanya sianosis sentral yaitu kebiruan pada bibir dan ditemukan adanya retraksi pada interkostal.

batas tidak tegas. trauma lahir ditemukan dalam bentuk caput succedaneum yaitu ude pada kulit kepala. PENATALAKSANAAN IVFD D10% 1/5NS 8cc/jam Thrombophob gel Blue light therapy Pada pasien penanganan penatalaksanaan sudah baik.59 mg/dL. Pada kasus ini. leher. menyebrangi sutura dan dapat menghilang dalam beberapa hari. Penyebab hemolitik yang mungkin dapat menyebabkan hiperbilirubinemia pada kaus ini adalah inkompatibilitas Rhesus. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan pemeriksaan lab yang menunjukkan kadar bilirubin total 20. terjadinya hiperbilirubinemia dapat disebabkan karena beberapa faktor yaitu hemolitik dan non hemolitik.27 mg/dL dan kadar bilirubin indirect 19. jumlah lekosit dan CRP tidak menyokong ke arah infeksi. badan. PATRICIA AULIA (406100125) 36 . Selain itu. kaki dan tangan terasa dingin adalah salah satu tanda infeksi pada bayi.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO klasifikasi kramer. suhu bayi juga rendah. DIAGNOSIS BANDING Transient Takipneu of the Newborn Sindroma aspirasi mekonium Sepsis Hiperbilirubinemia fisiologis D. C. Menurut perkiraan. Infeksi mungkin dapat terjadi oleh karena ketuban pecah dini lebih dari 24 jam dan bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram yang merupakan kriteria mayor sepsis. tungkai. ikterus derajat V mempunyai kadar bilirubin 16 mg/dL atau lebih. telapak tangan dan telapak kaki. Selain itu. tidak berfluktuasi. Inkompatibiltas rhesus tidak dapat disingkirkan oleh karena rhesus ibu tidak diketahui. maka pasien ini tergolong ikterus derajat V oleh karena kuning terlihat pada kepala. Pada kasus ini. lengan. berkonsistensi lunak. faktor lain adalah penyebab non hemolitik seperti trauma lahir dan adanya infeksi atau sepsis. walaupun secara laboratorium.

2008.h. Hal 120132. Edisi 1. Abdulrahman. http://www. Paula. http://www.smallcrab. Edisi 1.com/anak-anak/535-mengenal-ikterus-neonatorum.com/ 7. http://www. Jakarta. Jakarta: IDAI. 2010.nih. Hal 45-67 6.cc/2010/11/ikterus-dan-hiperbilirubinemia. Jakarta: IDAI.gov/medlineplus/ency/article/001563.co. Buku Saku Asuhan Neonatus dan Bayi. 2008. Sukadi. 2. Buku Ajar Neonatologi. Buku Ajar Neonatologi.nlm. Kelly. Sholeh.com/medicineandhealth/pathology/8753/hyalinemembranedi sease 3.147-69 5.PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA RSPI SULIANTI SAROSO DAFTAR PUSTAKA 1.shvoong.gocb. http://id. Kasim. Cetakan 1.html PATRICIA AULIA (406100125) 37 .htm 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful