Anda di halaman 1dari 86
Kursus pengelolaan kualitas udara Catatan Instruktur & OHP Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur & OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara Catatan Instruktur & OHP Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara
Kursus pengelolaan kualitas udara Catatan Instruktur & OHP Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara
Kursus pengelolaan kualitas udara Catatan Instruktur & OHP Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

Sesi 2:

Pengelolaan kualitas udara

KURSUS PENGELOLAAN KUALITAS UDARA

SESI 2: PENGELOLAAN KUALITAS UDARA

CATATAN INSTRUKTUR DAN OHP

Semua bahan ini dapat diperbanyak untuk keperluan pelatihan di Indonesia. Hak Cipta Proyek PCI, Jakarta, Mei 1999.

Kesemua bahan pelatihan ini dirancang dan diproduksi oleh Proyek Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran (PCI) BAPEDAL dan Jawa Timur; suatu proyek AusAID. Informasi yang termuat dalam bahan pelatihan ini diperoleh dan ditulis Tim Proyek PCI—terutama Penasihat Kualitas Udara A. H. Van der Wiele, dan produksi oleh Karl Fjellstrom—dari sumber-sumber yang dipercayai. Sumber-sumber ini meliputi sejumlah makala h pengajar Institut Teknologi Bandung, laporan dan artikel BAPEDAL, lembaga akademis dan konsultan independen. Namun demikian, baik Proyek PCI maupun BAPEDAL tidak menjamin keakuratan atau kelengkapan sesuatu informasi yang terdapat di sini, dan baik Proyek PCI maupun BAPEDAL tidak bertanggung jawab atas sesuatu kekeliruan, kelalaian atau kerugian yang timbul dari penggunaan informasi ini. Seluruh bahan ini diterbitkan dengan pengertian bahwa Proyek PCI menyediakan informasi untuk digunakan dalam pelatihan, namun tidak berusaha memberikan jasa enjiniring, jasa hukum, jasa akunting atau jasa profesional lainnya. Jika jasa tersebut dibutuhkan, bantuan profesional yang sesuai harus dicari.

Proyek Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran

(PCI) BAPEDAL dan Jawa Timur

http://www.bapedal.go.id/~pci

Suatu proyek yang dikelola atas nama Pemerintah Indonesia dan Badan Pembantuan Internasional Australia (AusAID) oleh usaha patungan CSS:

Egis Consulting—Sinclair Knight Merz—Sagric.

KURSUS PENGELOLAAN KUALITAS UDARA SESI 2: PENGELOLAAN KUALITAS UDARA CATATAN INSTRUKTUR DAN OHP Semua bahan ini
KURSUS PENGELOLAAN KUALITAS UDARA SESI 2: PENGELOLAAN KUALITAS UDARA CATATAN INSTRUKTUR DAN OHP Semua bahan ini
KURSUS PENGELOLAAN KUALITAS UDARA SESI 2: PENGELOLAAN KUALITAS UDARA CATATAN INSTRUKTUR DAN OHP Semua bahan ini

PELAKSANAAN

KURSUS

Penyelenggara/organiser 1. Copy the 1. “Participants Notes” Salinkan “Catatan Peserta” dari setiap sesi 2. Distribute material
Penyelenggara/organiser
1. Copy the
1.
“Participants Notes”
Salinkan
“Catatan Peserta”
dari setiap sesi
2.
Distribute material
to presenters
2. Bagikan setiap
buku sesi kepada
calon instruktur
Sebelum
kursus
3. Bantu para
instruktur dengan
pembuatan OHP
3. Assist presenters
in making OHPs
4.
Participants’ Notes
to participants
4.
Bagikan
Pada
Catatan Peserta
permulaan
kepada para
peserta
kursus
  • 1. Penyelenggara kursus bagikan buku-buku sesi kepada para calon instruktur, paling sedikit 2 minggu sebelum kursus dimulai.

  • 2. “Catatan Peserta”—yang disediakan untuk setiap sesi—

disalinkan untuk dibagikan kepada para peserta:

Dibagikan sebagai satu paket kepada para peserta pada permulaan kursus; atau

dibagikan kepada para peserta pada permulaan setiap

sesi oleh instruktur masing-masing.

  • 3. Penyelenggara kursus atau instruktur masing-masing menyiapkan transparansi OHP dari setiap buku sesi.

Bahan pelatihan ini juga tersedia di homepage Bapedal di http://

www.bapedal.go.id/~pci, dan juga dalam bentuk CD, dalam Portable Document Format (.pdf ). Untuk membuka suatu file .pdf ini diperlukan Adobe Acrobat Reader, yang bisa di-download tanpa biaya dari http://www.adobe.com/reader.

DAFTAR

SESI

  • 1. Program Langit Biru dan peraturan perundang-undangan

  • 2. Pengelolaan kualitas udara

  • 3. Karakteristik-karakteristik atmosfer

  • 4. Dampak iklim dan topografi terhadap pencemaran udara

  • 5. Pencemaran udara dari kendaraan bermotor

  • 6. Pengendalian limbah gas dan partikulat dari sumber bergerak

  • 7. Pemantauan kualitas udara

  • 8. Bau dan pengelolaannya

  • 9. Karakteristik pencemaran partikulat dan gas

    • 10. Pengendalian pencemaran partikulat dan gas

    • 11. Pencemaran udara dari mesin bakar

    • 12. Pencemaran udara dari sumber stasioner besar

    • 13. Tata ruang dan pengelolaan kualitas udara

CATATAN

INSTRUKTUR

Pencemaran udara tidak mengenal batasan-batasan politik atau geografis. Di semua negara, baik yang sedang berkembang maupun yang maju, emisi-emisi kimia dan fisika tetap sama saja. Dalam banyak hal, teknologi pengendaliannya dapat dipindahkan secara langsung, namun, dalam segala situasi, kemampuan menerapkan teknologi ini harus dinilai sepenuhnya, dalam kaitannya dengan keadaan sosial, budaya dan ekonomi daerah setempat.

Banyak polutan udara yang berasal dari sumber-sumber titik yang dapat dikenali secara langsung dan patuh dengan langkah- langkah pengendalian ‘ujung pipa’. Yang lainnya tidak begitu mudah ditentukan dan dihasilkan secara luas dalam lingkungan. Mengenai seluruh polutan, langkah-langkah pencegahan sering- kali dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih rendah dari- pada langkah-langkah pengendalian ‘ujung pipa’.

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur

RENCANA

SESI

         

SUMBER

SESI

TOPIK

WAKTU

SUB-TOPIK

KATA/BAHAN PENGAJARAN PENTING

PENYAMPAIAN

2

Pengelolaan

2 jam

Pendahuluan

Dampak di Indonesia

OHP

kualitas udara

Dampak global

papan tulis

Definisi Siklus pengelolaan kualitas udara

handouts

Aspek spasial dan temporal pen- cemaran udara

Skala spasial dan temporal Kronologi peristiwa pencemaran udara

Tinjauan umum

 

terhadap sistem

pencemaran udara

Sumber

Sumber-sumber alam

pencemaran udara

Pembersihan atmosfir Penggolongan sumber pencemaran udara

Jenis utama

Polutan gas

pencemaran udara

Polutan padat

Masalah pencemaran regional dan global

Dampak regional Dampak daerah perkotaan terhadap iklim Dampak global

Baku mutu kualitas udara

 

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur

2 MATA AJARAN
2
MATA
AJARAN

Pengelolaan kualitas udara

DALAM SESI INI

OHP 2–1
OHP 2–1

Pendahuluan Dampak di Indonesia; Dampak global; Definisi; dan Siklus pengelolaan kualitas udara

Aspek spasial dan temporal pencemaran udara Skala

spasial dan temporal; dan Kronologi peristiwa pencemaran udara

Tinjauan umum terhadap sistem pencemaran udara

Sumber pencemaran udara Sumber alam; Pembersihan atmosfer; dan Penggolangan umber-sumber pencemaran udara

Jenis utama pencemaran udara Polutan gas; Polutan padat

(partikulat)

Masalah pencemaran regional dan global Dampak

regional; Efek daerah perkotaan terhadap iklim; Dampak global

Baku mutu kualitas udara.

2—4

Kursus pengelolaan kualitas udara

PENDAHULUAN

Setiap tahun negara-negara industri maju menghasilkan ber- milyar-milyar ton polutan. Dalam abad ke-20 dunia telah menyaksikan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Masyarakat dunia sedang bergerak menuju ke arah ekonomi tunggal, awal dari sebuah era globalisasi baru. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi seringkali diikuti dengan masalah-masalah lingkungan. Pen- cemaran dan kemerosotan lingkungan berubah dalam hal skala dan intensitasnya, ini bukan lagi sekedar fenomena setempat melainkan menjadi sebuah isu dengan dampak-dampak global.

Dampak di Indonesia

Kata-kata kunci:

dampak-dampak global; pencemaran udara; Program Langit Biru.

Pencemaran udara sedang menjadi masalah besar di kota-

kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang, di mana kendaraan bermotor, kegiatan-kegiatan perumahan penduduk dan industri merupakan penyumbang besar.

Program Langit Biru yang diluncurkan baru-baru ini adalah sebuah program untuk mengendalikan pencemaran udara di wilayah perkotaan dan diarahkan pada pemantauan kualitas lingkungan di wilayah perkotaan.

Dampak global

Pencemaran udara tidak mengenal batas-batas politik ataupun geografis. Misalnya, perjalanan jauh partikel-partikel yang berasal dari kebakaran hutan di Indonesia telah membawa dampak terhadap kualitas udara di negara-negara tetangga dekat dan bahkan menjangkau tempat yang lebih jauh lagi. Kegiatan manusia menimbulkan dampak sama dengan yang disebabkan oleh proses alami, dan bahkan mereka sekarang mampu mempengaruhi sistem penopang kehidupan global. Pencemaran yang disebabkan oleh sulfur dan nitrogen oksida, misalnya, bukan lagi sekedar masalah perkotaan saja. Hujan asam yang diciptakan oleh pencemaran semacam itu ber- pengaruh pada wilayah yang jauh lebih luas.

Yang paling serius dari kesemuanya ini adalah akumulasi gas- gas rumahkaca, yang diramalkan akan menyebabkan perubahan iklim global. Lapisan ozon yang berkurang pada stratosfir juga mengancam kehidupan di atas bumi. Sebagai akibatnya, beberapa negara setuju untuk menghentikan produksi dan

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—5

konsumsi khlorofluorokarbon (CFC), sekelompok bahan kimia yang merupakan penyebab utama menipisnya lapisan ozon.

Kegiatan perkotaan, seperti sektor-sektor perumahan pen- duduk, pengangkutan, perdagangan, industri, pengelolaan limbah padat dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait memiliki potensi untuk mengubah kualitas udara perkotaan. Per- kembangan sektor-sektor perkotaan ini sangat dinamis, diikuti

perkembangan sosio-ekonomis wilayah perkotaan. Dapat

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—5 konsumsi khlorofluorokarbon (CFC), sekelompok bahan kimia yang merupakan penyebab utama

Sentra-sentra industri besar memancarkan emisi yang menjangkau ke luar batas wilayah negara.

diasumsikan bahwa meningkatnya perkembangan kota, yang berkenaan dengan wilayah tataruang dan kegiatan ekonomi, akan menyebabkan suatu peningkatan dalam hal muatan pencemaran udara yang dilepaskan ke dalam atmosfer kota. Dampak semacam itu akan dialami di pusat-pusat kegiatan yang ada.

Pencemaran yang dipancarkan dari sumber-sumber yang ada didistribusikan ke dalam atmosfer, melalui proses penyebaran dan dilusi yang kompleks. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam Sesi 3 dan 4. Selain itu, sebagian dikarenakan gerakan dan dinamika atmosfer, pencemaran masuk ke dalam atmosfer dan yang telah mengalami proses-proses ini, akan ditransfer

dari titik asalnya ke wilayah lain menurut arah angin, yaitu searah dengan kecepatan angin yang mendominasi.

Kasus-kasus pencemaran udara dalam beragam sumber industri akan disajikan dalam sesi-sesi selanjutnya.

Definisi

Pencemaran udara diartikan sebagai hadirnya kontaminasi atmosfer oleh gas, cairan atau limbah padat serta produk samping dalam konsentrasi dan durasi yang sedemikian rupa sehingga menciptakan gangguan, kerugian atau memiliki potensi merugikan terhadap kesehatan/ kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan atau benda dan atau men- ciptakan ketidak-nyamanan.

Pencemaran udara dapat membahayakan kesehatan manusia serta kesehatan dan kelestarian tanaman dan hewan, atau dapat menyerang bahan-bahan, menurunkan penglihatan, atau menghasilkan kebauan yang tidak menyenangkan.

Studi mengenai pencemaran udara merupakan bidang multi- disipliner yang mencoba untuk menemukan penyebab dan dampak pencemaran udara.

2—6

Kursus pengelolaan kualitas udara

Siklus pengelolaan kualitas udara

Pengendalian pencemaran udara merupakan bagian dari proses pengelolaan kualitas udara yang lebih besar. Ada 5 komponen dalam siklus pengelolaan kualitas udara:

  • 1. Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien;

  • 2. penilaian mengenai apa arti dari ukuran-ukuran kualitas udara dan apa dampaknya terhadap lingkungan;

  • 3. menetapkan sasaran dalam proses pengelolaan, dengan sasaran-sasaran ini maka pengelolaan kualitas udara menjadi baku mutu kualitas udara ambien;

OHP 2–2
OHP 2–2

Gambar 2.1

Kelima komponen siklus pengelolaan kualitas udara.

  • 4. menyusun rencana pengelolaan kualitas udara guna men- capai sasaran yang telah ditetapkan; dan

  • 5. melaksanakan pengendalian pencemaran udara dan kegiatan lainnya guna mengikuti rencana pengelolaan kualitas udara.

Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien pada angka (1) di atas diulangi guna meninjau kembali keberhasilan

program tersebut, dilanjutkan secara terus-menerus atau dalam siklus yang teratur.

Kelima komponen dalam siklus pengelolaan kualitas udara ditunjukkan dalam Gambar 2.1.

1 Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien 5 Melaksanakan 2 pengendalian pencemaran udara dan kegiatan-kegiatan lainnya
1
Pengukuran dan
pemantauan kualitas
udara ambien
5
Melaksanakan
2
pengendalian pencemaran
udara dan kegiatan-kegiatan
lainnya untuk melaksanakan
rencana pengelolaan
kualitas udara
Pengkajian
mengenai apa maksud
pengukuran kualitas udara dan
dampaknya terhadap
lingkungan
4
Penyusunan
Penetapan
rencana pengelolaan
kualitas udara untuk
mencapai sasaran yang
telah ditetapkan
3
sasaran proses
pengelolaan, dimana sasaran
mengenai pengelolaan kualitas
udara menjadi standar ambien
kualitas udara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—7

Indonesia secara aktif mengikuti program pengukuran kualitas udara, termasuk pemantauan sumber tidak bergerak, dan beberapa pemantauan ambien kontinyu waktu riil terbatas. Program tersebut tidak mencapai potensi penuh, terutama di Jawa Timur dan pusat-pusat propinsi lainnya, karena ke- kurangan peralatan pemantauan dan dukungan laboratorium, serta kekurangan staf berpengalaman yang sesuai untuk menangani dan menafsirkan data. Berbagai program pelatihan dan bantuan internasional telah tersedia guna memperbaiki masalah ini.

Proses penetapan sasaran untuk tingkat kualitas udara yang dapat diterima oleh masyarakat dan cocok untuk perlindungan kesehatan, kesejahteraan dan ketahanan biasanya menghasilkan baku mutu kualitas udara ambien. Sebuah daftar baku mutu kualitas udara ambien Indonesia disajikan dalam di halaman 34.

Dengan beberapa modifikasi kecil, siklus pengelolaan kualitas udara juga dapat diterapkan untuk memantau sumber-sumber pencemaran yang bergerak.

Pengkajian masalah pencemaran udara Pengkajian masalah pencemaran udara tidak mungkin lagi dilakukan hanya dalam suatu skala
Pengkajian masalah pencemaran udara
Pengkajian masalah pencemaran udara tidak mungkin lagi dilakukan
hanya dalam suatu skala yang kecil atau lokal saja, misalnya dalam suatu
daerah perkotaan tertentu saja.
Kenyataan dan pembuktian ilmiah telah mengungkapkan, bahwa
pengaruh pergerakan dan dinamika atmosferik adalah sedemikian
besarnya, hingga masalah pencemaran udara yang sebelumnya dianggap
hanya suatu masalah lokal, ternyata menyebar dan berkembang dalam
suatu skala yang jauh lebih luas. Pengungkapan lainnya mencakup pula
klimatologi pencemar udara, yang kurang lebih akan analogis dengan
parameter meteorologis yang umum.

2—8

Kursus pengelolaan kualitas udara

ASPEK SPASIAL DAN TEMP- ORAL PENCEMARAN UDARA

Skala spasial dan temporal

OHP 2–3
OHP 2–3

Masa tercampurnya atmosfer yang buruk dapat menyebabkan konsentrasi tinggi bahan-bahan berbahaya di wilayah pen- cemaran tinggi dan, di bawah kondisi yang berat, dapat meng- akibatkan luka dan bahkan kematian.

Efek eksposur jangka panjang terhadap konsentrasi rendah tidak dijelaskan dengan baik; namun, yang paling banyak

menanggung risiko adalah anak-anak, orang tua, perokok, pekerja yang sifat tugasnya mengekspos pada bahan-bahan beracun, dan orang yang berpenyakit jantung atau paru-paru. Efek buruk lain dari pencemaran udara berpotensi untuk melukai hewan ternak dan hasil panen.

Dinamika atmosfer merupakan faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam masalah pencemaran udara. Dalam hal ini, meskipun atmosfer selalu dianggap sebagai suatu ruang yang tak terbatas, dalam tinjauan parsial untuk meng- analisis fenomena-fenomena yang khusus, ketakterbatasan atmosfer biasanya dihilangkan.

Pasquill (1983) membuat klasifikasi pencemaran udara berdasar- kan pada skala ruang dan waktu atmosfer dalam beberapa skala.

Skala mikro/lokal

Skala mikro dengan jangkauan dalam orde sampai dengan satuan kilometer, dan skala waktu dalam orde detik sampai beberapa menit. Skala ini sering pula disebut sebagai skala lokal. Dalam skala ini, beberapa faktor meteorologi lokal sangat besar pengaruhnya, seperti adanya angin darat dan angin laut di daerah pantai; sirkulasi udara perkotaan dan pedesaan, panas perkotaan, dsb. Proses transport skala lokal, umumnya menyebabkan suatu akumulasi pencemar relatif di daerah diatas sumber pencemarannya, akibat adanya lapisan inversi atmosfer yang membatasi ruang penyebaran pencemar. Contoh yang bagus dalam hal ini adalah Asbut London dan Asbut Los Angeles.

Skala medium/regional

Skala medium, dengan jangkauan orde kilometer, dan skala waktu orde menit hingga jam ini juga dikenal sebagai skala regional. Gerakan atmosfer disebabkan oleh angin geostatis (di atas lapisan batas atmosfer). Pelepasan polutan di lapisan yang

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—9

lebih tinggi akan memudahkan penyebaran polutan secara horisontal dan vertikal dalam liputan yang lebih luas.

Skala makro

Skala makro, dengan jangkauan di atas ribuan kilometer, dan skala waktu lebih dari satu hari. Karena jaraknya yang jauh, disebut juga sebagai skala kontinental/benua. Polutan yang secara relatif stabil akan dapat bertahan tetap berada dalam bentuk asalnya dan menjangkau jarak lebih jauh. Hujan asam yang terjadi di Kanada, telah terbukti disebabkan oleh emisi

SO 2 yang sangat tinggi intensitasnya di daerah Amerika Serikat Utara (Illinois, Ohio, Wisconsin). Karenanya pula fenomena ini dikenal juga sebagai suatu fenomena transport pencemar jarak jauh, hingga ribuan kilometer.

Skala global

Skala global, dapat juga digolongkan dalam skala makro, tetapi dengan skala waktu yang jauh lebih lama, dan jangkauan vertikal lebih dari 10 km. Pergerakan atmosferik akan berlaku dalam suatu skala global.

Pergerakan dan dinamika serta kimia atmosferik, merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan nasib pencemar udara setelah diemisikan dari sumbernya. Timbullah disini suatu kaitan yang erat antara sumber dengan daerah penerima, yang dalam hal-hal tertentu dapat berupa kaitan antara daerah perkotaan dan pedesaan disekitarnya, atau suatu negara dengan negara lainnya.

Bukti-bukti kronologis yang berikut telah menyumbang pada perkembangan disiplin yang terkait. Skala ruang dan waktu dari fenomena pencemaran udara menjadi semakin luas. Tingkat jangkauan skala dari skala mikro, melibatkan daerah setempat, hingga skala global.

Kronologi peristiwa pencemaran udara

Kota-kota di Indonesia tidak sendirian dalam masalah kualitas udara. Tentu saja sudah diketahui bahwa masalah pencemaran udara pernah terjadi di kota-kota besar dari negara-negara berkembang seperti Bangkok, Manila atau Mexico City.

Tidak pula masalah-masalah kualitas udara ini hanya terjadi

  • di negera-negara berkembang saja. Sebagian anak-anak kota

  • di bagian dalam kota Los Angeles yang berasal dari kelompok

sosio-ekonomi rendah, bila ditanyai mengenai warna langit,

2—10

Kursus pengelolaan kualitas udara

mereka menjawab kuning. Itu karena hadirnya asbut fotokimia yang utamanya berasal dari pancaran kendaraan bermotor.

Uraian kronologis dari fenomena pencemaran udara yang ada telah menunjukkan adanya suatu kaitan yang erat dengan kegiatan manusia (antropogenik). Kronologi semacam itu dijelaskan di bawah:

Pada tahun 1273 Edward I memberlakukan langkah hukum pertama guna mengurangi pencemaran atmosfer dengan cara melarang pembakaran batubara di dalam kota London. Selama masa pemerintahan Edward I, pelanggaran penggunaan batubara di London yang ia temukan dalam melakukan kunjungan-kunjungan akan mengantarkan pelanggarnya kepada hukuman mati!

Asbut London teramati setelah Revolusi Industri pada abad ke-18, setelah diperkenalkan penggunaan bahan bakar (batubara) fosil, penggerak tenaga mesin uap secara sangat ekstensif. Fenomena ini mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19.

Asbut fotokimia Los Angeles yang semula dikira sama dengan asbut kota London, ternyata adalah suatu pen- cemaran udara yang berbeda bentuk dan skalanya, yang merupakan manifestasi proses dinamika dan kinetika atmosferik yang lebih kompleks, akibat dari polutan- polutan udara yang dilepaskan oleh gas-gas knalpot kendaraan bermotor. Pencemaran udara jenis ini muncul pada tahun 1942, bersamaan dengan meluasnya penggunaan kendaraan bermotor serta meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Pengendalian fenomena yang sebenarnya berlangsung, baru dapat diungkapkan pada tahun 1950-an.

Hujan asam yang terjadi secara luas di daratan Amerika Utara dan Eropa Barat adalah fenomena pencemaran udara yang berskala ruang dan waktu lebih besar dari yang terda- hulu. Cakupannya adalah benua, dan masih mungkin akan menjadi antarbenua. Penyebab utamanya ialah gas buang proses pembakaran bahan fosil di daerah perkotaan, baik yang bersumber dari PLTU maupun kendaraan bermotor.

Suatu inversi terhadap Donora, Pennsylvania, pada tahun 1948 menyebabkan penyakit pernafasan terhadap lebih 6.000 orang dan merenggut 20 nyawa manusia. Pencemaran berat di London merenggut nyawa 3.500 hingga 4.000 orang pada tahun 1952 dan 700 orang lainnya di tahun 1962.

Pengungkapan dan penelitian dalam tahap modern ini, baru dilakukan pada tahun 1970-an, yaitu oleh OECD

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—11

(1977) dan Pemerintah Amerika Serikat dan Kanada (1978). Kedua badan international ini mengungkapkan bahwa fenomena hujan asam adalah suatu fenomena transpor pencemar udara jarak jauh (benua).

http://www.corpwatch.org/bhopal/
http://www.corpwatch.org/bhopal/

Pabrik kimia Union Carbide di Bhopal, India.

Masalah pencemaran udara di Indonesia mulai mendapat- kan perhatian yang lebih luas pada tahun 1970.

Pelepasan metil isosianat ke dalam udara selama terjadi inversi suhu menyebabkan bencana di Bhopal, India, dalam bulan Desember 1984, dengan akibat kematian sekurang-kurangnya 4.000 jiwa dan lebih 500.000 korban menderita sakit.

Akumulasi gas-gas rumah kaca juga disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dengan skala ruang dan

waktu yang lebih besar (skala global) dibandingkan dengan tiga fenomena sebelumnya. Fenomena ini berkaitan erat dengan pembentukan kehidupan biologis di dunia, ber- milyar-milyar tahun yang lalu. Sumbangan kegiatan antro- pogenik terhadap fenomena ini mulai terungkap pada tahun 1980, berkenaan dengan perkembangan kimia atmosfer. Jenis pencemaran udara ini menyebabkan dampak alam global, sebagaimana biasanya dinyatakan sebagai pemanasan global.

Penipisan lapisan ozon merupakan fenomena yang juga dengan skala waktu yang lebih panjang. Penyebab utamanya adalah unsur yang stabilitasnya sangat tinggi, yaitu unsur- unsur bahan pendingin, yang kita kenal sebagai CFC. Fenomena ini, baik dalam skala maupun pengaruhnya, mempunyai hubungan yang erat dengan fenomena rumah kaca, meskipun pengaruh biologis yang diramalkan akan lebih hebat. Masalah penipisan lapisan ozon ini baru dapat diungkap secara lebih mendalam pada tahun-tahun 1980- an dengan semakin aktifnya penelitian atmosferik dan gejala-gejala bumi, terutama di daerah Antartika (Farman et al, 1985) dan penerapan teknologi satelit.

2—12

Kursus pengelolaan kualitas udara

TINJAUAN UMUM TERHADAP SISTEM PENCEMARAN UDARA

OHP 2–4
OHP 2–4

Kata-kata kunci:

sumber-sumber;

jenis-jenis;

antropogenik;

pencemar primer;

pencemar sekunder.

Di semua negara, baik yang sedang berkembang maupun yang maju, emisi-emisi kimia dan fisika tetap sama saja. Dalam banyak hal, teknologi pengendaliannya dapat di- pindahkan secara langsung, namun, dalam segala keadaan, kemampuan menerapkan teknologi ini harus dinilai sepenuhnya.

Dengan telah diungkapkannya dasar-dasar dalam ‘kimia atmosfir’, khususnya oleh para peneliti pencemaran udara, adalah penting bagi kita untuk mengenal aspek umum pokok bahasan ini dalam suatu kerangka konseptual sebuah ‘sistem

pencemaran udara’.

Seperti dapat dilihat dalam Gambar 2.2, sumber-sumber

pencemaran dapat digolongkan sumber area, titik, dan garis.

Sistem pencemaran udara berawal dari jenis-jenis emisi alami dan anthropogenik. Emisi ini didefinisikan sebagai ‘pencemar primer’, karena pencemar-pencemar golongan ini diemisikan langsung ke udara dari sumbernya, misalnya SO 2 , NO x CO, Pb, zat-zat organik dan partikulat. Pada atmosfer pencemar- pencemar ini akan mengalami penyebaran dan pengankutan, yang pada dasarnya ditentukan oleh faktor-faktor meteorologi.

Sumber area, garis dan titik Sumber tetap pada pembakaran bahan bakar Emisi dan Sumber Pembuangan kebocoran
Sumber area, garis dan titik
Sumber tetap pada
pembakaran bahan
bakar
Emisi dan
Sumber
Pembuangan
kebocoran
Lain-lain
transportasi
limbah
padat
proses industri
• Kendaraan
bermotor
• Jalan raya pada
penggunaan bahan
bakar
• Pesawat udara
• Kereta api
• Kapal laut
• Penanganan
minyak
• Kehilangan akibat
evaporasi
• Pemakaian bahan
bakar
Industri-industri
• proses kimia
On site
• Insinerator
-
Rumah tangga
• makanan dan
kota
-
Industri
pertanian
• Pembakaran
-
Komersial
• metalurgi
terbuka
-
Kelembagaan
• PLTU
• PLTD
• produk mineral
• penyulingan
minyak
• Kebakaran
hutan
• kebakaran
bangunan
• pembakaran
sisa batu bara
• pembakaran
dari lahan
pertanian, dll.

Gambar 2.2

Pengelompokan sumber pencemar udara.

Bersamaan dengan itu, terjadi pula proses-proses transformasi fisika-kimia yang mengubahnya (pencemar primer) menjadi unsur gas atau partikulat bentuk lain yang dikenal sebagai ‘pencemar sekunder’. Pencemar-pencemar ini dapat tersisih- kan dari atmosfer kembali kepermukaan bumi melalui proses

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—13

deposisi basah atau kering, yang dapat memberikan dampaknya terhadap penerima, seperti manusia, hewan, ekosistem akuatik, tumbuh-tumbuhan dan material.

Dengan pengetahuan dasar yang mendalam mengenai emisi, topografi, meteorologi dan kimia, suatu model matematik dapatlah dikembangkan untuk meramalkan konsentrasi pencemar-pencemar tersebut, baik yang primer maupun yang sekunder, sebagai fungsi dari waktu untuk berbagai tempat dan lokasi yang berbeda dalam daerah aliran udaranya. Model komputer yang telah dikembangkan hingga saat ini meliputi model yang meramalkan konsentrasi pencemar udara:

OHP 2–5
OHP 2–5

Dari sumber-sumber tunggal—model kepulan/plume model;

dalam suatu zona aliran udara;

dari perpaduan berbagai sumber diam dan bergerak— model aliran udara; atau

dalam suatu daerah geografis yang lebih luas dihilir sebuah kumpulan sumber, misalnya perkotaan—model transport jarak jauh.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—13 deposisi basah atau kering, yang dapat memberikan dampaknya terhadap penerima,

Gambar 2.3

Konsentrasi Ozon, NOx dan NMHC di dalam bagian utara-selatan plume asap kawasan Perth, Australia Barat, yang memperlihatkan: (a) hasil dari penggunaan model Carnegie-Mellon CIT; (b) hasil pengukuran di lokasi- lokasi yang sama; dan (c) rute pesawat yang digunakan untuk pengukuran.

Sebuah keluaran tipikal dari suatu model prediktif yang men- unjukkan sumber besar NOx titik tunggal di bawah stabilitas angin/kondisi cuaca tertentu, disajikan dalam Gambar 2.3.

Model yang telah dibenarkan melalui pengamatan lapangan akan berfungsi sebagai instrumen-instrumen yang berguna bagi perumusan strategi pengendalian yang tepat dan sesuai.

2—14

Kursus pengelolaan kualitas udara

Gambaran sistem pencemaran udara ini, merupakan suatu penjabaran langkah-langkah penting yang harus dilaksanakan, dalam usaha mengendalikan pencemaran udara, serta me- lindungi para penerima dari dampak negatif yang akan timbul. Namun perlu diingat disini, bahwa usaha pengendalian akan terutama diarahkan terhadap sumber pencemarannya, yang menjadi unsur penyebab dalam sistem tersebut.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—15

SUMBER PENCEMARAN UDARA

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—15 SUMBER PENCEMARAN UDARA Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh

Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh sumber-sumber alam, hanya radon gas radioaktif yang dikenali sebagai ancaman kesehatan yang besar.

Sejumlah polutan udara lazimnya ditemukan di kota-kota dan berfungsi sebagai polutan standar yang digunakan secara global untuk menjelaskan kualitas udara ambien. Ini di- jelaskan secara singkat di bagian-bagian berikut.

Emisi industri tipikal (sumber titik). Pengendalian dapat dilakukan baik terhadap peralatan, atau dengan cara membersihkan emisi udara dari bangunan.

Secara konstan, polutan-polutan juga di- hilangkan dari atmosfer melalui berbagai mekanisme. Dua

metode primer yang terlibat dalam pembersihan atmosfer ialah:

  • 1. Pengendapan polutan, dan

    • 2. Konversi polutan ke dalam bentuk lain

sumber garis
sumber garis

Arus lalulintas yang bergerak dapat dianggap sebagai sumber emisi garis.

(karena oksidasi, absorpsi dsb.)

Di dalam atmosfer, hujan, salju, dan embun cenderung untuk menghanyutkan asap, debu, serbuk sari, dan produk-produk limbah gas. Partikel-partikel yang berdiameter kurang dari 2 µ tidak dihanyutkan oleh hujan dan cenderung tetap melayang-layang. Secara perlahan partikel-partikel ini mengendap ke bawah dan dihilangkan melalui benturan dengan pohon, batu dan rintangan-rintangan lain yang ada di permukaan bumi. Partikel-

partikel tersebut dapat berkelana bermil-mil

jauhnya tanpa mengindahkan batas negara.

Sumber-sumber pencemaran udara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—15 SUMBER PENCEMARAN UDARA Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh

Sumber-sumber area dapat termasuk pembakaran limbah padat kota.

Seperti telah dibahas sebelumnya, sumber-

sumber pencemaran udara dapat digolongkan baik sebagai sumber alam maupun sumber antropogenik (buatan manusia). Berdasarkan pada distribusi ruang, sumber-sumber pen- cemaran udara yang berasal dari alam atau buatan manusia dapat digolongkan menjadi:

Sumber titik (point source)

sumber garis (line source)

sumber area (area source).

2—16

Kursus pengelolaan kualitas udara

Di beberapa wilayah, sumber-sumber area alam merupakan penyebab pencemaran yang besar. Ini termasuk emisi gunung berapi, seperti SO x , H 2 S dan beberapa partikel sulfur, lazim ditemukan di wilayah pegunungan Indonesia, dan secara signifikan ikut menyebabkan konsentrasi ambien di daerah sekelilingnya seperti yang terjadi di Bandung. Rawa-rawa dan hutan bakau di wilayah pantai juga mengakibatkan konsentrasi metan naik dibanding dengan wilayah pegunungan.

Erosi dan abrasi tanah terutama di daerah kering akan me- mancarkan partikulat ke atmosfer terutama di daerah tropis yang lembab. Partikulat dari tanah tertiup angin lazimnya ditemukan di atmosfer Indonesia. Sumber-sumber alam pen- cemaran udara biasanya merupakan alam statis dan memancar- kan polutan dalam jumlah konstan.

OHP 2–6
OHP 2–6

Sumber antropogenik adalah sumber yang mendominasi pencemaran udara di daerah perkotaan dan industri.

Walau tergantung situasi, sumber-sumber emisi dapat di- golongkan menjadi:

Sumber diam (industri); dan

sumber bergerak (mobil dan truk).

Kendaraan bermotor diam merupakan sumber pencemaran, sementara mobil yang sama yang sedang bergerak akan ber- tindak seakan-akan merupakan sumber linear.

Pada umumnya, emisi-emisi polutan udara disebabkan oleh:

Proses pembakaran bahan bakar seperti unit pembangkit tenaga dan kendaraan bermotor; dan

sebab-sebab non-pembakaran sebagaimana dapat dianggap berasal dari industri kimia.

Didasarkan pada penggolongan di atas, sumber-sumber pencemaran udara dapat dijelaskan sebagai berikut:

OHP 2–7
OHP 2–7

Pembakaran bahan bakar sumber diam

Termasuk di antaranya adalah pemanfaatan minyak, gas, batubara atau kokas dalam kegiatan-kegiatan berikut ini:

Industri; pembangkit tenaga listrik; kegiatan pemukiman penduduk; dan kegiatan komersial—restoran, hotel, dsb.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—17

Pembakaran bahan bakar sumber bergerak

Sumber pencemaran berikut ini menggunakan bahan bakar

minyak:

Kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor);

kereta api;

pesawat udara; dan

kapal laut.

OHP 2–8
OHP 2–8

Pembakaran limbah padat

Kegiatan ini mempunyai berbagai bentuk, seperti:

Insinerasi kotapraja;

insinerasi di lokasi; dan

pembakaran terbuka.

Sumber-sumber non pembakaran

Sumber-sumber khusus ini diciptakan oleh pengolahan dan penyimpanan bahan baku untuk proses industri seperti:

Pengolahan bahan kimia;

pengolahan produk makanan dan pertanian;

pengolahan logam dan benda-benda lainnya yang berasal dari logam;

pengolahan mineral;

pengolahan minyak;

produksi bubur kertas dan kertas; dan

penyimpanan bahan pelarut.

2—18

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP 2–9
OHP 2–9

JENIS UTAMA PENCEMARAN UDARA

Untuk tujuan pengendalian, polutan dapat dibagi menjadi dua tipe dasar, partikulat dan gas. Sumber utama polutan yang relevan dengan standar-standar internasional disajikan

dalam Tabel 2.1 yang dibahas lebih lanjut dalam teks berikutnya.

2—18 Kursus pengelolaan kualitas udara OHP 2–9 JENIS UTAMA PENCEMARAN UDARA Untuk tujuan pengendalian, polutan dapat

Polutan

Sumber utama

Komentar/WHO petunjuk

Karbon monoksida (CO)

Knalpot kendaraan bermotor; proses industri

Petunjuk kesehatan; 10 mg/m³ (10 ppm) lewat 8 jam; 30 mg/m³ lewat 1 jam (25 ppm)

Sulfur dioksida (SO 2 )

Fasilitas pembangkit panas dan tenaga listrik yang mempergunakan minyak atau batubara mengandung sulfur (belerang); pabrik asam belerang

Petunjuk kesehatan: 350 µg/m3 (0.122 ppm) lewat 1 jam; 500 µg/m3 lewat 10 men (0.175 ppm)

PM10 bahan partikulat (TSP)

Knalpot kendaraan bermotor; proses industri; insinerasi sampah; pembangkit panas dan tenaga listrik; reaksi gas-gas pencemaran di dalam atmosfir

Petunjuk kesehatan: 70 µg/m3 lewat 24 jam; terdiri karbon, nitrat, sulfat, dan banyak logam termasuk timah hitam, tembaga, besi dan seng

Timah hitam (Pb)

Knalpot kendaraan bermotor; unit peleburan timbah hitam; pabrik baterai

Petunjuk kesehatan: 0.5-1 µg/m3 lewat satu tahun

Nitrogen oksida (NO, NO 2 )

Knalpot kendaraan bermotor; pembangkit panas dan tenaga listrik; asam nitrik; eksplosif; pabrik pupuk

Petunjuk kesehatan: 150 µg/m3 (0.08 ppm) lewat 24 jam; 400 µg/m3 lewat 1 jam (0.21 ppm) utk NO2; tanggapi dengan hidrokarbon dan sinar matahari untuk membentuk oksidan fotokimia

Oksidan fotokimia (terutama ozon, juga peroksiasetil nitrat dan aldehida)

Terbentuk di dalam atmosfir oleh reaksi nitrogen oksida, hidrokarbon, dan sinar matahari

Petunjuk kesehatan: 150-200 µg/m3 (0.076-0.1 ppm) lewat 1 jam; 100-120 µg/m3 lewat 3 jam (0.05-0.06 ppm)

Non-metan hidrokarbon (termasuk etan, etilin, propan, butan, pentan, asetilen)

Emisi kendaraan bermotor; penguapan larutan; proses industri; pembuangan limbah padat; pembakaran bahan bakar

Tanggapi dengan nitrogen oksida dan sinar matahari untuk membentuk oksidan fotokimia

Karbon dioksida (CO 2 )

Segala sumber-sumber pembakaran

Mungkin merusak kesehatan pada konsentrasi lebih besar dari 5,000 ppm lewat 2-8 jam; level atmosfir telah naik dari kira-kira 280 ppm seabad yang lalu hingga lewat 350 ppm sekarang; tren ini bisa menyumbang pada efek rumah kaca

Tabel 2.1

Sumber polutan udara dan baku mutu internasional.

Polutan gas

Karbon dioksida

OHP 2–10
OHP 2–10

Gas ini adalah hasil dari proses oksidasi lengkap, seperti pem- bakaran bahan bakar. Gas ini dikeluarkan oleh hewan selama bernafas, selama pembusukan aerobik dari semua bahan organik karbon dan dari oksidasi mineral. Misalnya, batu kapur yang dipanaskan pada suhu tinggi memancarkan karbon dioksida yang menyisakan kapur mentah.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—19

Konsentrasi karbon dioksida dalam atmosfer diperkirakan telah meningkat dari 275 ppm sekitar tahun 1850 menjadi 345 ppm di tahun 1985 dan memberikan sumbangan ter- hadap pemanasan global sebagai konsekuensi

360 350 340 330 1980 1985 1990 1995 Tahun CO2 (ppm)
360
350
340
330
1980
1985
1990
1995
Tahun
CO2 (ppm)

dari “efek rumahkaca”. Tren peningkatan

dalam CO 2 atmosfer ditunjukkan dalam Gambar 2.4.

Secara global, Indonesia menduduki peringkat

kesembilan di antara 50 negara yang meng- hasilkan gas-gas rumah kaca tertinggi pada

tahun 1987. Namun, bila diperhitungkan

dengan jumlah penduduknya, Indonesia tidak termasuk di antara 50 negara peringkat

puncak, di mana emisi per kapita tahunan

dari gas-gas rumah kaca adalah 1,5 ton.

Pembersihan CO 2 : CO 2 dihilangkan dari

atmosfer melalui:

Gambar 2.4

Konsentrasi CO 2 dalam atmosfer, sebagaimana diukur di stasiun pemantauan Tanjung Grim, Australia.

Konsumsi dalam fotosintesis

reaksi lambat dengan batu silikat batu kapur dan dolomit.

Sulfur dioksida

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—19 Konsentrasi karbon dioksida dalam atmosfer diperkirakan telah meningkat dari 275

Emisi cerobong dari industri berat telah menyumbang secara signifikan kepada hujan SO 2 dan asam atmosfer.

Jumlah emisi dunia sekitar 100 juta ton/tahun. Sulfur dioksida adalah hasil pokok dari pembakaran sulfur (belerang) dalam bahan bakar dan secara langsung hampir proporsional dengan jumlah yang ada dalam bahan bakar. Beberapa bagian dari sulfur dioksida ini, diperkirakan 20% mengandung bahan bakar sulfur rendah tetapi tidak lebih dari 5% dengan bahan

bakar sulfur tinggi, dikonversi bentuknya menjadi sulfur trioksida, yang pada gilirannya digabungkan dengan uap air dalam gas cerobong asap, membentuk asam belerang.

Pembersihan SO 2 : SO 2 dihilangkan dari atmosfer dalam waktu sekitar 43 hari. Kedua teori penghilangan tersebut dirangkum sebagai berikut:

1. SO 2 + O 2 SO 3 + H 2 O H 2 SO 4 + NH 3 , Lime amonia sulfat, kalsium sulfat

2. SO 2 + NH 3 , langsung kalsit kapur Oksidasi sulfit sulfat (presipitat)

Nitrogen oksida

Nitrogen oksida dibentuk dalam konsentrasi 200–600 ppm dalam cerobong asap dari hampir semua proses pembakaran. Ini merupakan susunan yang sama dengan sulfur oksida dalam

2—20

Kursus pengelolaan kualitas udara

2—20 Kursus pengelolaan kualitas udara Combined cycle gas turbine plant. Oksida nitrogen merupakan satu- satunya emisi

Combined cycle gas turbine plant.

Oksida nitrogen merupakan satu- satunya emisi udara utama.

bahan bakar sulfur yang lebih rendah. Mereka melakukan pelanggaran yang lebih sedikit walaupun mungkin tidak kurang berbahayanya daripada sulfur dioksida, karena oksida dari nitrogen merupakan penyumbang utama asbut fotokimia. Oksida dari nitrogen adalah polutan gas utama dari gas yang dibakar unit pembangkit tenaga.

Pembersihan NO x : Asam nitrik bila terbentuk bereaksi dengan

amonia atau kapur à amonia nitrat atau kalsium nitrat.

Hidrokarbon

Metan. Metan dianggap sebagai gas yang secara relatif tidak berbahaya, sering ditemukan di pertambangan dan dipancar- kan dari penguraian anaerobik bahan organik, seperti pupuk. Dalam konsentrasi tinggi ia akan berlaku sebagai suatu as- phyant, sedangkan jika bercampur dengan udara menjadi

1700 Metan (CH4) (ppm) 1600 1500 1980 1985 1990 1995 Tahun
1700
Metan
(CH4)
(ppm)
1600
1500
1980
1985
1990
1995
Tahun

eksplosif. Metan dianggap menjadi penyum- bang besar terhadap pemanasan global dan

meningkat dari 0,7 ppm sekitar tahun 1850

menjadi 1,7 ppm pada tahun 1985 (lihat

Gambar 2.5).

Hidrokarbon non metan. Sisa hidrokarbon

yang volatil dikelompokkan bersama dan disebut “hidrokarbon non-metan” dan penting dalam pencemaran udara karena tidak seperti

halnya metan, yang secara relatif stabil, dapat diserang oleh oksidan dalam atmosfer dan

akan ikut serta dalam reaksi-reaksi fotokimia.

Pembersihan hidrokarbon: Hidrokarbon di-

Gambar 2.5

Konsentrasi metan sebagaimana diukur di stasiun pemantauan udara Tanjung Grim (Australia).

hilangkan melalui serangkaian reaksi fotokimia.

Karbon monoksida. Biasanya karbon monoksida (CO) merupakan hasil pembakaran tak sempurna dari bahan bakar karbon, atau lebih tepatnya, karbon dalam bahan bakar. CO adalah suatu gas tak berbau, tidak berwarna dan akan terbakar dalam udara untuk melepaskan CO 2 . CO merupakan bahaya terhadap karyawan yang besar karena gas tersebut memiliki afinitas (tertarik pada) bagi hemoglobin sebesar 300 kali dari oksigen, dan sebagai konsekuensi dari eksposur terhadap CO mengakibatkan pergantian oksigen cepat dan ketidakmampuan paru-paru untuk melaksanakan absorpsi oksigen ke dalam darah.

Pembersihan CO: CO dihilangkan dari atmosfer melalui:

Reaksi dengan hidroksil radikal.

Dioksidasi dalam lapisan atmosfer oleh oksigen atom guna menghasilkan CO2.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—21

Tidak ada bukti tentang akumulasi, dan CO akan lenyap dalam waktu kira-kira 3 tahun.

Khlorofluorokarbon (cfc)

CFC adalah gas yang sangat stabil yang digunakan secara luas di seluruh dunia sebagai refrigeran (pendingin) dan hingga akhir-akhir ini, sebagai pressure pack propellant, tiupan busa (foam blowing), cuci kering (drycleaning) dan di industri elektronik. Suatu kelompok bahan kimia sejenis yang disebut “halon” digunakan dalam alat pemadam kebakaran. Tidak ada reaktan yang dikenal untuk CFC dalam troposfir, oleh karena itu CFC tinggal di dalam troposfir selama 50–100 tahun, lambat-laun naik ke stratosfir dimana, dengan fotolisis, mereka gagal melepaskan atom khlorin yang sangat reaktif. CFC dianggap bertanggungjawab atas penipisan ozon di dalam stratosfir.

CCF-12 (CCl2F2) (ppm) 500 400 300 1980 1985 1990 1995 Tahun
CCF-12
(CCl2F2)
(ppm)
500
400
300
1980
1985
1990
1995
Tahun

Gambar 2.6

CFC merupakan penyumbang besar terhadap pemanasan global dan konsentrasi CFC

dalam troposfir telah meningkat dari yang hampir nol menjadi hampir satu bagian per

milyar selama 50 tahun terakhir ini (Gambar

2.6). Sifat dan tingkat keprihatinan yang dialamatkan pada CFC membutuhkan di-

laksanakannya perjanjian lingkungan inter-

nasional, dan hingga Maret 1985 49 negara

telah menyatakan persetujuannya dalam

sebuah sidang PBB dalam rangka melindungi lapisan ozon. “Protokol Montreal” ini, yang

Tren berkurangnya CFC-12 di atmosfer sejak diterapkannya Protokol Montreal, sebagaimana diukur di Tanjung Grim (Australia).

dirunding ulang pada tahun 1990, menuntut dihentikannya penggunaan khlorokarbon dan fluorokarbon tertentu pada akhir abad ini dan memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dalam melaksanakan transisi ini. Melalui tindakan seperti pemulihan dan pendauran ulang CFC spesifik, hasilnya sudah sangat cepat, dengan tingkat target CFC yang secara dramatis berkurang sejak dilaksanakannya sidang ini.

Polutan padat (partikulat)

Debu

Sumber utama debu di atmosfer adalah tanah, semburan air

laut, kebakaran semak-belukar, pembakaran rumahtangga, kendaraan bermotor, proses industri dan debu organik dari bahan tanaman.

2—22

Kursus pengelolaan kualitas udara

Debu dianggap sebagai partikel bahan padat yang terbagi secara halus dengan ukuran berkisar dari 0,1 hingga 100 mikron (µ) dan yang menjadi keprihatinan utama adalah debu yang dihasilkan oleh pengolahan atau penanganan bahan padat dalam industri. Partikel-partikel debu yang kurang dari 10 µ sangat memprihatinkan karena memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menembus ke dalam paru-paru (1 µ = 0,001 milimeter).

Gambar 2.7 menyajikan sebuah diagram mengenai sistem pernafasan manusia. Rambut-rambut di dalam hidung meny- aring ke luar debu berukuran >10 µ, dan bulu getar (cilia) serta lendir yang menutupi saluran pernafasan dapat meng- hilangkan partikel-partikel berukuran < 2 µ. Partikel lebih kecil yang memperlihatkan gerak Brownian, tidak dapat membentur sisi dinding dan dapat memasuki gelembung paru-paru.

OHP 2–11
OHP 2–11

Gambar 2.7

Sistem pernafasan manusia.

Pharink Nasal cavity Nasopharyngeal region Trachea Bronchioles Tracheobronchial region Bronchi Terminal bronchioles ending in alveoli Paru-paru
Pharink
Nasal cavity
Nasopharyngeal
region
Trachea
Bronchioles
Tracheobronchial
region
Bronchi
Terminal
bronchioles
ending in alveoli
Paru-paru
(Pulmonary region)

Misalnya, tumbuhnya kesadaran mengenai arti pentingnya partikel yang dibawa udara bagi kesehatan telah menyaksikan sebuah gerakan umum menjauhi TSP (total suspended part- iculate) ke PM 10 (partikel sub 10 µ). Namun, sejumlah studi epidemiologis penting baru-baru ini telah menunjukkan hubungan konsisten yang secara statistik signifikan antara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—23

tingkat mortalitas dan aerosol pada tingkat-tingkat yang bersifat tipikal dari kota-kota besar, tampaknya tidak memiliki ambang lebih rendah. Partikel-partikel sub 2,5 µ (PM 2,5 ), misalnya, tidak disaring dalam sistem pernafasan sebelah atas dan telah diperagakan menyangkut pada jaringan gelembung paru-paru, menurunkan pertukaran gas. Materi PM 2,5 hanya dapat dihilangkan dengan cara melarutkannya ke dalam aliran darah.

Industri dan kualitas udara ambien Pada umumnya, sumber-sumber pencemaran alam hanya menyumbang pada kualitas udara latar
Industri dan kualitas udara ambien
Pada umumnya, sumber-sumber pencemaran alam hanya menyumbang
pada kualitas udara latar belakang, sementara kualitas udara ambien
lebih dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Di wilayah industri, termasuk
daerah pertambangan, kita dapat mengharapkan sifat dan komposisi
sejenis dari polutan yang dipancarkan. Emisi semacam ini akan
mempengaruhi kualitas udara ambien oleh kehadiran substansi kecil
dari parameter khusus, bergantung pada partikel-partikel yang datang
dari industri semen, amonia dari industri pupuk, berbagai jenis
debu/partikel logam yang datang dari industri pertambangan dan
peleburan logam. Sifat dan pengendalian pencemaran udara dari sumber-
sumber ini dijelaskan lebih lanjut dalam Sesi-sesi 11 dan 12.

2—24

Kursus pengelolaan kualitas udara

MASALAH PENCEMARAN REGIONAL DAN GLOBAL

Kerusakan yang disebabkan oleh pencemaran udara dapat

2—24 Kursus pengelolaan kualitas udara MASALAH PENCEMARAN REGIONAL DAN GLOBAL Kerusakan yang disebabkan oleh pencemaran udara

Pembangunan dapat menyediakan pelayanan-pelayanan yang mendukung kesehatan masyarakat.

Catatan:

Istilah "konservatif" dan

"non-konservatif" dalam konteks pencemaran udara mengacu pada sifat emisi. Emisi konservatif pencemaran udara berasal dari pembakaran bahan bakar dan proses kimia yang terkait. Emisi non konservatif umumnya berasal dari pengolahan mineral.

dikaji dalam hal efeknya terhadap kesehatan serta memburuk-

nya bahan-bahan yang tidak bereaksi kimiawi, tumbuh- tumbuhan, hewan lainnya dan degradasi mutu atmosfer itu sendiri.

Bagaimanapun harus diketahui bahwa dampak dari proyek pembangunan, walaupun dapat mengakibatkan naiknya tingkat pencemaran, tidak semuanya buruk karena pembangunan juga menghasilkan peningkatan kesehatan pada manusia dari

kemungkinan turunnya mortalitas dan morbiditas melalui, misalnya, fasilitas pengobatan yang lebih baik, suplai air atau program untuk mengurangi pencemaran kendaraan.

Perkembangan sadar lingkungan juga menghasilkan manfaat langsung pada masyarakat setempat melalui terbukanya lapangan pekerjaan dan naiknya kenaikan status gizi masyarakat, untuk mengimbangi dampak paralel yang diakibatkan seperti misalnya

dampak pencemaran.

Untuk pencemaran udara, suatu hubungan timbal-balik lazim digunakan untuk menghubungkan perubahan-perubahan dalam tingkat pencemaran ambien dengan hasil kesehatan.

Sifat emisi pencemaran udara konservatif di wilayah perkotaan ditentukan oleh jumlah sektor yang mengkonsumsi bahan bakar. Sektor-sektor ini dapat digolongkan ke dalam transportasi, industri, rumahtangga dan sektor-sektor lain yang tidak ber- kaitan dengan konsumsi bahan bakar.

Pecemaran udara di lima kota besar Inventarisasi limbah emisi polutan di lima kota besar, Jakarta, Surabaya,
Pecemaran udara di lima kota besar
Inventarisasi limbah emisi polutan di lima kota besar, Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan Medan
telah dilakukan. Studi tersebut menunjukkan bahwa sektor terbesar yang mengemisikan unsur-unsur
pencemar udara adalah sektor transportasi. Besarnya kontribusi emisi sektor ini tidak saja ditentukan oleh
volume lalu-lintas di pusat kota dan perdagangan. Sering terjadinya kemacetan lalu-lintas di pusat kota dan
perdagangan, menyebabkan turunnya efisiensi penggunaan bahan bakar. Hal ini disertai dengan tingkat emisi
yang lebih besar, terutama CO, hidrokarbon dan debu.

Sektor industri mendominasi emisi gas sulfur dioksida, serta memberi kontribusi yang berarti dalam emisi debu dan oksida- oksida nitrogen. Besarnya kontribusi emisi terhadap unsur- unsur tersebut terutama disebabkan pemakaian bahan bakar berat, dari jenis residu, solar dan diesel. Sedangkan presentase

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—25

gas alam yang dipakai lebih kecil dibandingkan dengan ketiga jenis bahan bakar tersebut. Padahal gas alam pada dasarnya akan memberikan kualitas gas buang yang lebih baik, disamping efisiensi energi yang lebih tinggi. Industri berat golongan

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—25 gas alam yang dipakai lebih kecil dibandingkan dengan ketiga jenis

Pemandangan umum, industri semen.

barang galian bukan logam dan industri dasar logam cenderung menggunakan bahan bakar berat berupa residu dan solar dalam jumlah besar, seperti terdapat di DKI Jakarta, Surabaya di lain pihak, ditandai oleh jumlah industri kimia dan barang- barang kimia yang besar. Industri ini menggunakan bahan bakar residu dan solar dalam jumlah jauh lebih besar dibanding- kan bahan bakar lainnya. Daerah industri Bandung yang didominasi oleh industri tekstil lebih banyak menggunakan solar dan diesel.

Industri-industri yang mengkonsumsi bahan baku jenis tertentu memancarkan jenis polutan non konservatif. Industri semen menghasilkan pencemaran debu dalam intensitas yang lebih tinggi karena sifat bahan bakunya. Industri pembuatan rayon memancarkan gas H 2 S, yang dilepaskan dari prosesnya yang mengkonsumsi H 2 SO 4 di antara masukan bahan bakunya.

Peranan sektor ini akan meningkat di tahun-tahun mendatang seiring dengan perkembangan industri yang selalu meningkat.

Sektor pemukiman yang mengeluarkan emisi dari rumah- tangga juga berperan penting dalam emisi pencemar udara. Sektor ini mengkontribusikan emisi dari pembakaran bahan bakar minyak tanah, berupa partikulat dan SO 2 . Sedangkan pengelolaan sampah perkotaan secara keseluruhan masih memberikan kontribusi yang kecil. Namun emisi hidrokarbon dan debu dari sektor ini sudah cukup berarti, terutama di kota Bandung.

Dampak regional

OHP 2–12
OHP 2–12

Partikulat

Partikulat terdiri dari beberapa polutan. Sebuah partikel debu dapat mengandung garam seperti sulfat, sulfur oksida, timah hitam, asbestos, oksida besi, silika, jelaga dan unsur-unsur kimia lainnya. Debu terutama dipancarkan dari kegiatan industri dan transportasi. Pencemaran udara oleh debu dapat secara langsung merusak kulit dan organ pernafasan.

Manado yang tergolong kota dengan tingkat aktivitas sedang mempunyai rata-rata konsentrasi debu bulanan berkisar 50– 130 µg/m³ antara tahun 1982 dan 1986. Sementara Kupang yang aktivitasnya tergolong rendah memiliki konsentrasi debu rata-rata tahunan 49,0 µg/m³.

2—26

Kursus pengelolaan kualitas udara

Sedangkan di Jakarta, 80% dari wilayah-wilayah yang dipantau memiliki konsentrasi debu rata-rata tahunan melebihi ambang batasnya, bila digunakan baku mutu WHO, yaitu 90 µg/m³. Menurut WHO-UNEP global environmental monitoring, dengan kondisi seperti ini, Jakarta termasuk di antara 20% kota-kota yang paling tercemar debu. Konsentrasi debu ter- tinggi terjadi pada tahun 1983 di wilayah muara mencapai 606,4 µg/m³, dan 654,8 µg/m³ terpantau di daerah Glodok. Secara keseluruhan, konsentrasi debu di Jakarta pada tahun 1983 memperlihatkan kecenderungan menurun, meskipun menaik lagi sampai tahun 1991.

Timah hitam

Timah hitam telah lama digunakan sebagai zat tambahan untuk meningkatkan dasar oktan bensin. Kualitas oktan dalam bensin sebenarnya bisa dinaikkan dengan cara intensif refineri, tetapi biayanya sangat mahal. Senyawa ini emisinya semakin meningkat, seiring dengan pesatnya perkembangan sektor transportasi di Indonesia. Pada tahun 1971, sekitar 981,9 ton Pb diemisikan akibat penggunaan bensin. Pada tahun 1980, jumlah emisinya meningkat menjadi 2.900 ton. Dan meningkat lagi pada tahun 1988 menjadi sebesar 3.900 ton.

Di Jakarta, pencemaran logam berat timah hitam makin serius dan di beberapa tempat sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan. Pada tahun 1988, emisi timah hitam di Jakarta mencapai 1,6 ton/hari. Sedangkan konsentrasi Pb di udara Jakarta mencapai 2 µg/m³ (baku mutu 0,60 µg/m³). Jumlah ini diperkirakan terus meningkat sejalan dengan pertambahan kendaraan bermotor yang berkisar antara 4–10%/tahun. Pencemaran oleh Pb menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama mengingat Pb bersifat persisten dan beracun. Kadar Pb yang tinggi dapat menyebabkan sakit persendian, sakit perut dan depresi sistem saraf.

Asbut fotokimia

Asbut fotokimia dianggap sebagai salah satu masalah pencemaran yang paling besar yang dihadapi banyak kota besar di seluruh dunia. Ozon di dalam atmosfer lebih rendah merupakan unsur pokok yang ditemukan dalam asbut fotokimia yang merusak kesehatan dan lingkungan alam kita. Adalah sulit untuk mendeteksinya karena tidak berwarna. Namun, ozon yang ditemukan di dalam lapisan atmosfer berfungsi melindungi kita dari radiasi berbahaya.

Kendaraan tidak memancarkan ozon. Sebaliknya, ozon ter- bentuk ketika polutan tertentu di udara bereaksi dengan sinar

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—27

matahari yang terang. Bahan baku yang dibutuhkan untuk asbut fotokimia adalah oksida dari nitrogen, oksigen, senyawa organik volatil, dan sinar matahari dalam jumlah besar.

Ozon dalam jumlah kecil terbentuk dan dipecah secara alami. Namun, emisi buatan manusia yaitu nitrogen oksida (NOx) dan senyawa organik volatil (VOC) mengganggu siklus ini dan menyebabkan akumulasi ozon (O 3 ).

Sebagian besar senyawa organik volatil di Indonesia yang ditemukan di udara diyakini berasal dari kendaraan bermotor. Sumber-sumber lainnya adalah tungku berbahan bakar padat, kebakaran terbuka, pembakaran hutan secara terkendali atau tak terkendali, industri dan tumbuh-tumbuhan alam.

Di dalam sinar matahari, reaksi-reaksi terjadi menghasilkan ozon, yang merupakan gas korosif tinggi yang dapat menye- babkan gangguan mata dan hidung pada konsentrasi yang sangat rendah dan masalah-masalah pernafasan serta kardio- vaskuler serius pada konsentrasi yang lebih tinggi. Selain itu, dapat pula mengakibatkan kerusakan pada gedung-gedung dan bangunan lain.

Kebakaran hutan dan haze pada tahun 1997 Pertanian dengan cara membabat serta membakar hutan telah dipraktekkan
Kebakaran hutan dan haze pada tahun 1997
Pertanian dengan cara membabat serta membakar hutan telah dipraktekkan selama berabad-abad di segenap
penjuru hutan tropis. Petani-petani kecil biasanya mengendalikan lingkup wilayah pembakaran mereka
dengan hati-hati. Namun demikian, ledakan permintaan dunia terhadap produk-produk tropis yang sedemikian
luasnya seperti minyak sawit telah mengakibatkan terjadinya pembakaran dalam skala yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Menanggapi perkembangan ini, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan berbagai
konsesi pembukaan hutan yang lebih banyak dalam tahun 1997 daripada sebelumnya.
Kebakaran hutan yang paling tak terkendali terjadi di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatra. Dipadukan
dengan kemarau ‘El Nino’ yang berkepanjangan (yang paling parah dalam 50 tahun terakhir), lebih dari
13.000 km² hutan curah hujan terbakar pada tahun 1997.
Sekitar 20 juta orang dirawat karena asma, bronkhitis, emfisema, mata, kulit dan penyakit-penyakit
kardiovaskuler. Diperkirakan sebanyak 48 juta orang Indonesia terserang API (indeks pencemaran udara),
ada tercatat lebih dari 800 di beberapa kota.

Kabut

Noda coklat yang kadang-kadang terlihat menggantung di atas kota-kota Indonesia, terutama pada hari-hari yang tidak berangin, disebut kabut.

Kabut dibentuk oleh partikel-partikel debu yang terbawa angin, garam laut, uap air, asap, emisi kendaraan, dan emisi dari industri.

2—28

Kursus pengelolaan kualitas udara

2—28 Kursus pengelolaan kualitas udara Kabut menurunkan penglihatan dan fallout mempengaruhi lingkungan alam dan fisik. Kabut

Kabut menurunkan penglihatan dan fallout mempengaruhi lingkungan alam dan fisik. Kabut dapat terdiri dari partikel-partikel berdiameter kurang dari 1/1000 mm (1 µ). Karena ukurannya yang kecil, maka disebab-

kan masalah pernafasan bagi sejumlah orang.

Kabut di Surabaya. Emisi-emisi kendaraan terlibat dalam formasi episode kabut seperti dialami di kota-kota besar di Indonesia.

Dampak daerah perkotaan terhadap iklim

Kegiatan perkotaan dapat menciptakan sendiri perubahan- perubahan terhadap faktor-faktor meteorologis setempat. Pola iklim dan hasil penyaluran polutan udara di daerah perkotaan akan terpengaruh.

Desain kota itu sendiri dapat sangat mempengaruhi tingkat- tingkat pencemaran udara. Sejumlah pola alternatif per- tumbuhan perkotaan telah dikaji dan dipikirkan berdasarkan pada dampak-dampaknya terhadap pencemaran udara. Beberapa contoh rencana perkotaan yang dipikirkan disajikan dalam Gambar 2.8.

Gambar 2.8

Pilihan dalam desain-desain kota alternatif.

Kota tepi Kota ultra Kota tersebar Kota padat Kota koridor Kota pinggiran Luar Tengah Dalam Pusat
Kota tepi
Kota ultra
Kota tersebar
Kota padat
Kota koridor
Kota pinggiran
Luar
Tengah
Dalam
Pusat

Sebuah fenomena meteorologis lokal dan regional yang disebut ‘sirkulasi udara urban-rural’ tercipta oleh faktor-faktor meteor- ologis berikut ini:

Suhu

Perubahan keseimbangan panas merupakan produk dari perubahan meteorologis yang disebabkan oleh kegiatan per-

kotaan. Perubahan panas dapat disebabkan oleh:

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—29

Perubahan sifat panas: Banyaknya dinding bangunan tegak lurus di daerah perkotaan akan merubah keseimbangan thermik secara berarti: pada siang hari, gelombang sinar matahari yang tiba akan mengalami pemantulan berulang kali oleh permukaan tanah dan dinding-dinding tinggi, hingga gelombang sinar yang dapat terlepas langsung ke atmosfer sangat berkurang, bila dibandingkan dengan daerah pedesaan yang relatif lebih terbuka. Panas yang datang dan menyentuh dinding juga akan tertahan dan tersimpan dalam waktu yang relatif lama. Pada malam hari, pelepasan panas yang tertahan siang hari akan meningkatkan temperatur minimum. Hal ini terutama berlangsung selama musim panas atau di perkotaan daerah tropis.

Perubahan penyinaran: Polutan (aerosol, debu, oksidan) udara perkotaan dapat menurunkan sinar matahari yang masuk hingga 20–30%. Ini akan menyebabkan peningkatan suhu minimum, walaupun suhu maksimum akan berkurang selama musim dingin.

Pulau panas perkotaan

Akumulasi panas di daerah perkotaan sepanjang siang hari akan diikuti oleh keseimbangan radiasi panas di malam hari, sementara daerah pedesaan menahan lebih sedikit panas. Konsekuensinya sebuah pulau panas akan terbentuk di dalam kota-kota tersebut, isotermnya terletak di pusat kota.

Intensitas pulau panas semacam itu bergantung pada:

Kecepatan angin kritis di atas pulau panas

awan dan curah hujan

lapisan campuran

kecepatan angin.

Kecepatan angin cenderung menurun ketika melintasi wilayah perkotaan karena friksi-friksi yang dialami oleh aliran angin, kecuali bagi akselerasi setempat karena efek venturi, jet di antara gedung-gedung tinggi.

Penurunan kecepatan angin di kota-kota metropolitan seperti Paris, New York dll. telah mencapai 40–50% di bawah 20 m, dan 15–20% antara 20–50 m.

Arah angin setempat akan berubah secara besar, antara 15– 40°, yang dapat dilihat pada jarak antara 30–50 km pada arah angin bawah kota.

2—30

Kursus pengelolaan kualitas udara

Dampak global

Cerobong asap tinggi yang digunakan oleh industri dan fasilitas prasarana tidak menghilangkan polutan tetapi hanya men- dorongnya lebih tinggi ke atmosfer, dengan demikian meng- urangi konsentrasinya di lokasi tersebut. Polutan-polutan ini kemudian dapat diangkut melintasi jarak yang jauh dan mengakibatkan efek buruk di wilayah yang jauh letaknya dari lokasi emisi asal.

Unsur prekursor hujan asam

Hujan asam merupakan masalah yang berkaitan dengan pencemaran udara, akibat adanya efek lintas batas. Dampak hujan asam dimungkinkan oleh adanya pelepasan unsur-unsur prekursor pembentuk hujan asam, yakni oksida-oksida sulfur dan nitrogen. Unsur-unsur tersebut sebagian besar diemisikan oleh kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan penggunaan energi. Emisi-emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida dari Inggris menyebabkan hujan asam di Norwegia dan Swedia.

Pulau Jawa memiliki tingkat emisi prekursor hujan asam tertinggi di Indonesia, terutama disebabkan sebagian besar kegiatan perekonomian terpusat di pulau ini. Pada tahun 1989, tingkat emisi prekursor SO x di Indonesia mencapai 157.000 ton per tahun, sedangkan NO x mencapai 175.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 19% emisi pre- kursor SO x dan 15% emisi prekursor NO x terdapat di Jakarta.

Selama kurun waktu 1983–1991 kadar ambien rata-rata tahunan kedua gas tersebut di stasiun BMG Jakarta cenderung menurun, yakni dari 0,006 ppm menjadi 0,002 ppm untuk SO 2 dan dari 0,075 ppm menjadi 0,004 ppm untuk NO x . Namun pencatatan data pada waktu-waktu tertentu di daerah industri Jakarta menunjukkan kadar yang sangat tinggi, di- bandingkan dengan baku mutu ambien.

Sedangkan di Surabaya, kadar SO x hanya 8µg/m³ dan NO x 85µg/m³. Di Bandung kadar NO x 75µg/m³ dan SO x 6.5µg/m³.

Secara keseluruhan, tingkat keasaman hujan di stasiun-stasiun pengamat, yaitu di Medan, Palembang, Jakarta, Cisarua, Bandung dan Manado, masih berada dalam batas-batas keasaman hujan alami. Nilai keasaman (pH) rata-rata berkisar antara 5,42 dan 5,64. Batas yang diterima untuk tingkat keasaman air hujan yang tidak terkontaminasi adalah 5,6.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—31

Gas rumahkaca

Di Indonesia, emisi gas rumahkaca memperlihatkan peningkatan yang cukup pesat dari 1980–1988. Selama periode tersebut, emisi gas CO meningkat dari 10,9 menjadi 23,4 juta ton.

CO 2 melipat 2,5 kali dari 56,1 menjadi 153,5 juta ton. N 2 O meningkat dari 0,018 menjadi 0,116 juta ton. Sedangkan

Konsumsi CFC di Indonesia Sumber data yang mengungkapkan secara pasti emisi gas khlorofluorokarbon (CFC) belum ada.
Konsumsi CFC di Indonesia
Sumber data yang mengungkapkan secara pasti emisi
gas khlorofluorokarbon (CFC) belum ada. Sebenarnya
potensi relatif gas ini paling tinggi di antara gas-gas
rumahkaca lainnya. Bila diasumsikan impor CFC
dikonsumsi semuanya, maka antara tahun 1984 dan
1990, konsumsi CFC di Indonesia telah meningkat
hampir dua kali lipat, yakni dari 2.430 mencapai
4.745 kg/tahun. Konsumsi CFC ini masih di bawah
nilai maksimal yang diperbolehkan, yakni 0,3 kg per
kapita per tahun.

CH 4 dari 29,2 menjadi 35,7 juta ton. Bila

gas-gas tersebut diperhitungkan berdasarkan

potensi relatifnya terhadap CO 2 maka emisi total gas rumahkaca tersebut pada tahun 1980 mencapai 707,3 juta ton ekuivalen CO 2 , meningkat menjadi 863,5 juta ton pada tahun 1985 dan 961 juta ton pada tahun 1988.

Pemantauan kadar ambien gas rumahkaca umumnya terbatas. Untuk karbon monoksida, kadarnya di Jakarta mencapai 28.000 µg/m³ (baku mutu 22.600 µg/m³). Sedangkan di Surabaya dan di Bandung, kadar CO hanya

17.000 µg/m³.

Perubahan iklim

Sekitar tahun 1960-an, para ilmuwan mulai mengkhawatirkan bahwa kegiatan manusia secara perlahan-lahan akan mem- pengaruhi iklim global. Ini disebabkan oleh meningkatnya efek rumahkaca sebagai akibat dari akumulasi karbon dioksida dan gas-gas lainnya.

Efek rumah kaca ini menyebabkan suatu peningkatan suhu permukaan bumi, yang dikenal sebagai pemanasan global. Walaupun ada pro dan kontra mengenai isu pemanasan global ini, namun bila hal ini benar, dampak potensialnya terhadap peradaban manusia adalah sangat besar.

Secara sederhana, efek rumahkaca dapat dijelaskan sebagai berikut. Sinar matahari memanaskan laut dan daratan. Per- mukaan bumi yang memanas, kemudian meradiasikan panas dalam bentuk sinar inframerah ke ruang angkasa. Sebagian sinar inframerah tersebut diserap oleh gas-gas rumahkaca yang terdapat di atmosfer, seperti uap air dan CO 2 . Dengan demikian panas terperangkap, tidak dapat lepas ke ruang angkasa, se- hingga suhu permukaan bumi naik dan sesuai bagi rumahkaca ini tidak ada, suhu permukaan bumi akan menjadi 33°C lebih rendah dibandingkan sekarang, sehingga berada di bawah titik beku air. Jadi dalam kondisi normal, efek rumahkaca ini se- benarnya diperlukan, agar bumi menjadi nyaman untuk dihuni.

2—32

Kursus pengelolaan kualitas udara

Kadar alami karbon dioksida di atmosfer ini, dikendalikan oleh interaksi yang berlangsung antara atmosfer, lautan dan biosfer, yang dikenal sebagai daur geokimia karbon. Kegiatan manusia yang melepaskan karbon yang berlebihan, telah mengganggu daur karbon ini. Akibatnya kadar karbon dioksida

  • di atmosfer bertambah tinggi, yang selanjutnya meningkatkan

efek rumahkaca tersebut.

Analisis catatan perubahan suhu dalam 100 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu global adalah 0,3–0,6 o C.

  • Di Indonesia sendiri, kota pantai yang rendah seperti Jakarta,

Pontianak, Banjarmasin serta lahan pasang surut di Sumatera dan Kalimantan dapat terancam, bila tinggi permukaan laut terus bertambah.

Naiknya permukaan laut juga membawa implikasi lain seperti erosi wilayah pesisir, kerusakan lingkungan pesisir (hutan bakau dan terumbu karang), naiknya salinitas di estuaria dan wilayah pesisir lainnya, perubahan lokasi sedimentasi, ber- kurangnya intensitas cahaya di dasar laut serta meningkatnya tinggi gelombang. Di samping itu, gangguan keseimbangan biologis di laut akibat perubahan iklim global dapat meningkat- kan jumlah ganggang di lautan. Beberapa jenis ganggang ini diketahui mengeluarkan racun yang membahayakan kehidupan

  • di laut, selain meracuni manusia yang memakan ikan dan

hasil laut lainnya.

Jelaslah bahwa perubahan iklim ini dapat berdampak negatif bukan saja terhadap ekosistem, melainkan juga langsung mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Lapisan ozon: filter alam yang menipis

  • Di dekat permukaan bumi, pada lapisan atmosfer yang disebut

troposfer, ozon (O 3 ) sebenarnya adalah zat pencemar yang

kehadirannya kian mencemaskan. Senyawa ozon adalah molekul oksigen dengan tambahan sebuah atom oksigen. Ozon troposfer adalah oksidan kuat dan beracun, yang ter- bentuk secara tak langsung dari pembakaran bahan bakar fosil, serta berpotensi menjadi smog fotokimia.

Tetapi jauh di stratosfer, lapisan atmosfer pada ketinggian 15– 50 km di atas permukaan bumi, gas ozon berwarna biru dan berbau tajam ini menjadi penting artinya bagi kehidupan. Lapisan senyawa beracun ini menjadi pemberi kehidupan yang unik sifatnya bagi planet bumi. Ia berfungsi sebagai filter alam yang menyerap radiasi ultraviolet sinar matahari yang berbahaya bagi makluk hidup.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—33

Ozon stratosfer sebenarnya berada dalam keseimbangan yang dinamis. Melalui reaksi fotokimia, ozon terbentuk secara alami dari molekul oksigen. Sedangkan radiasi ultraviolet dapat memecahnya kembali menjadi oksigen. Tetapi ke- seimbangan yang dinamis ini dapat terganggu oleh kehadiran berbagai senyawa kimia di stratosfer. Oksida-oksida hidrogen, nitrogen dan khlor dapat mempercepat pengrusakan ozon.

Kepedulian terhadap penipisan ozon stratosfer akibat kegiatan manusia sebenarnya telah muncul di akhir tahun 60-an yang berkaitan dengan beroperasinya pesawat terbang supersonik. Suhu tinggi mesin pesawat mengubah nitrogen dan oksigen di atmosfer menjadi nitrogen oksida (NO x ) yang terdeposit di stratosfer pada ketinggian 17–20 km. NO x kemudian ber- tindak sebagai katalis yang merusak ozon stratosfer.

Tak lama kemudian, pada tahun 1974, diketemukan bahwa khlorofluorokarbon (CFC) dapat bertahan cukup lama di troposfer. Tanpa berubah bentuk, CFC perlahan-lahan ter- difusi ke stratosfer, di mana radiasi ultraviolet yang kuat merusaknya. Khlor yang terlepas mengikat sebuah atom dari molekul ozon, membentuk radikal bebas IO, yang bereaksi lebih lanjut menghasilkan atom khlor. Reaksi berantai ini dapat merusak sampai 100.000 molekul ozon per atom khlor. Beberapa halon, senyawa sekerabat CFC yang antara lain dipakai untuk pemadam air, ternyata merusak ozon sepuluh kali lebih efektif dibanding CFC.

Senyawa kimia lain yang juga berperan dalam menipiskan lapisan ozon adalah karbon terakhlorida, methyl khloroform dan nitrogen oksida.

2—34

Kursus pengelolaan kualitas udara

BAKU MUTU KUALITAS UDARA

Di Indonesia dan juga di berbagai negara industri, peraturan dan teknologi semakin menyatu. Susunan dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup menunjukkan adanya era baru dalam lingkup nasional dan tanggung jawab dalam pem- bangunan, penyebarluasan dan penerapan teknologi yang ada maupun teknologi baru dalam pengendalian dan pengelolaan lingkungan. Beberapa kerangka peraturan menekan pada pengendalian kualitas lingkungan seperti halnya peraturan mengenai baku mutu kualitas udara ambien, baku mutu kualitas air, dll. Peraturan lain yang ada ditekankan pada pengendalian emisi dan efluen baik cair maupun gas.

Baku mutu kualitas udara disajikan dalam Tabel 2.2.

OHP 2–13
OHP 2–13

Tabel 2.2

Baku mutu kualitas udara.

   

Waktu

 

Baku mutu

 

Compound name

pengukuran

 

Nasional

Jawa Timur

   

1

jam

900

µg/m³ (0,34 ppm)

 

Sulfur dioksid

24

jam

300

µg/m³ (0,11 ppm)

220

µg/m³

1

tahun

60 µg/m³ (0,02 ppm)

 
   

1

jam

30.000 µg/m³ (26 ppm)

 

Karbon monoksid

8

jam

10.000 µg/m³ (9 ppm)

2260 µg/m³

1

tahun

   

1

jam

400

µg/m³ (0,21 ppm)

 

Nitrogen dioksid

24

jam

150

µg/m³ (0,08 ppm)

92,5 µg/m³

1

tahun

100

µg/m³ (0,05 ppm)

   

1

jam

   

Oksidan sebagai O 3

24

jam

160

µg/m³ (0,08 ppm)

200

µg/m³

1

tahun

   

Partikulat

 

24

jam

 

230 µg/m³

260

µg/m³

tersuspensi (TSP)

1

tahun

90 µg/m³

Partikulat

 

24

jam

   

tersuspensi (SPM)

1

tahun

Timah hitam

 

24

jam

 

2,0 µg/m³

260

µg/m³

1

tahun

 

Hidrokarbon

 

3

jam

160

µg/m³ (0,24 ppm)

160

µg/m³

Bagaimanapun juga, baku mutu kualitas udara ini masih perlu dikembangkan dan diperbaiki. Pelaksanaan baku mutu ini menghadapi berbagai masalah berkaitan dengan biaya teknologi pengendalian. Baku mutu kualitas udara Indonesia terdiri dari sembilan parameter, SO 2 , CO, NO x , O 3 (oksidan), TSP (partikulat), Pb, H 2 S, NH 3 , dan hidrokarbon.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—35

Sebagai perbandingan dan evaluasi terhadap baku mutu kualitas udara Indonesia digunakan NAQC (national air quality criteria) dan NQS (national quality standards) dari Amerika Serikat. Hanya 6 pencemar utama yang terdapat dalam NAQC dan NQS, sedangkan baku mutu kualitas udara Indonesia menambahkan tiga parameter lagi, yaitu Pb, H 2 S dan NH 3 . Pertimbangan penambahan ketiga parameter ini adalah karena Indonesia merupakan daerah tropik dengan kelembaban tinggi, sehingga H 2 S dan NH 3 merupakan parameter yang penting, sedangkan Pb merupakan indikator pencemaran udara oleh kendaraan bermotor (transportasi), terutama di kota besar. Pada dasarnya, baku mutu yang berlaku di Indonesia mengadopsi baku mutu yang dikeluarkan oleh WHO, kecuali waktu rata-rata yang digunakan dalam me- nentukan konsentrasi pencemar yang hanya digunakan bagi pemaparan pencemar dalam durasi yang singkat. Kriteria yang ada dalam NAQC meliputi pula waktu pemaparan yang lebih baik, seperti durasi pemaparan yang lama didasarkan atas rata- rata tahunan dan durasi pemaparan yang singkat didasarkan atas rata-rata harian atau rata-rata per jam.

Perlu diperhatikan bahwa, efek terhadap kesehatan (sebagai efek primer) akan sangat berlainan dan sangat bergantung pada waktu pemaparan seperti halnya interaksi yang terjadi antara beberapa pencemar. Kriteria sekunder didasarkan atas efek yang mengikuti pola yang serupa meliputi efek terhadap lingkungan non manusia dan kerusakan material.

CATATAN

PESERTA

Pencemaran udara tidak mengenal batasan-batasan politik atau geografis. Di semua negara, baik yang sedang berkembang maupun yang maju, emisi-emisi kimia dan fisika tetap sama saja. Dalam banyak hal, teknologi pengendaliannya dapat dipindahkan secara langsung, namun, dalam segala situasi, kemampuan menerapkan teknologi ini harus dinilai sepenuhnya, dalam kaitannya dengan keadaan sosial, budaya dan ekonomi daerah setempat.

Banyak polutan udara yang berasal dari sumber-sumber titik yang dapat dikenali secara langsung dan patuh dengan langkah- langkah pengendalian ‘ujung pipa’. Yang lainnya tidak begitu mudah ditentukan dan dihasilkan secara luas dalam lingkungan. Mengenai seluruh polutan, langkah-langkah pencegahan sering- kali dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih rendah dari- pada langkah-langkah pengendalian ‘ujung pipa’.

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Peserta

2 MATA AJARAN
2
MATA
AJARAN

Pengelolaan kualitas udara

DALAM SESI INI

Pendahuluan Dampak di Indonesia; Dampak global; Definisi; dan Siklus pengelolaan kualitas udara

Aspek spasial dan temporal pencemaran udara Skala

spasial dan temporal; dan Kronologi peristiwa pencemaran udara

Tinjauan umum terhadap sistem pencemaran udara

Sumber pencemaran udara Sumber alam; Pembersihan atmosfer; dan Penggolangan umber-sumber pencemaran udara

Jenis utama pencemaran udara Polutan gas; Polutan padat

(partikulat)

Masalah pencemaran regional dan global Dampak

regional; Efek daerah perkotaan terhadap iklim; Dampak global

Baku mutu kualitas udara.

2—4

Kursus pengelolaan kualitas udara

PENDAHULUAN

Setiap tahun negara-negara industri maju menghasilkan ber- milyar-milyar ton polutan. Dalam abad ke-20 dunia telah menyaksikan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Masyarakat dunia sedang bergerak menuju ke arah ekonomi tunggal, awal dari sebuah era globalisasi baru. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi seringkali diikuti dengan masalah-masalah lingkungan. Pen- cemaran dan kemerosotan lingkungan berubah dalam hal skala dan intensitasnya, ini bukan lagi sekedar fenomena setempat melainkan menjadi sebuah isu dengan .

—————————————

Dampak di Indonesia

—————————————————— sedang menjadi

masalah besar di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang, di mana kendaraan ber- motor, kegiatan-kegiatan perumahan penduduk dan industri merupakan penyumbang besar.

—————————————————— yang diluncurkan

baru-baru ini adalah sebuah program untuk mengendalikan pencemaran udara di wilayah perkotaan dan diarahkan pada pemantauan kualitas lingkungan di wilayah perkotaan.

Dampak global

Pencemaran udara tidak mengenal batas-batas politik ataupun geografis. Misalnya, perjalanan jauh partikel-partikel yang berasal dari kebakaran hutan di Indonesia telah membawa dampak terhadap kualitas udara di negara-negara tetangga dekat dan bahkan menjangkau tempat yang lebih jauh lagi. Kegiatan manusia menimbulkan dampak sama dengan yang disebabkan oleh proses alami, dan bahkan mereka sekarang mampu mempengaruhi sistem penopang kehidupan global. Pencemaran yang disebabkan oleh sulfur dan nitrogen oksida, misalnya, bukan lagi sekedar masalah perkotaan saja. Hujan asam yang diciptakan oleh pencemaran semacam itu ber- pengaruh pada wilayah yang jauh lebih luas.

Yang paling serius dari kesemuanya ini adalah akumulasi gas- gas rumahkaca, yang diramalkan akan menyebabkan perubahan iklim global. Lapisan ozon yang berkurang pada stratosfir juga mengancam kehidupan di atas bumi. Sebagai akibatnya, beberapa negara setuju untuk menghentikan produksi dan

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—5

konsumsi khlorofluorokarbon (CFC), sekelompok bahan kimia yang merupakan penyebab utama menipisnya lapisan ozon.

Kegiatan perkotaan, seperti sektor-sektor perumahan pen- duduk, pengangkutan, perdagangan, industri, pengelolaan limbah padat dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait memiliki potensi untuk mengubah kualitas udara perkotaan. Per- kembangan sektor-sektor perkotaan ini sangat dinamis, diikuti

perkembangan sosio-ekonomis wilayah perkotaan. Dapat

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—5 konsumsi khlorofluorokarbon (CFC), sekelompok bahan kimia yang merupakan penyebab utama

Sentra-sentra industri besar memancarkan emisi yang menjangkau ke luar batas wilayah negara.

diasumsikan bahwa meningkatnya perkembangan kota, yang berkenaan dengan wilayah tataruang dan kegiatan ekonomi, akan menyebabkan suatu peningkatan dalam hal muatan pencemaran udara yang dilepaskan ke dalam atmosfer kota. Dampak semacam itu akan dialami di pusat-pusat kegiatan yang ada.

Pencemaran yang dipancarkan dari sumber-sumber yang ada didistribusikan ke dalam atmosfer, melalui proses penyebaran dan dilusi yang kompleks. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam Sesi 3 dan 4. Selain itu, sebagian dikarenakan gerakan dan dinamika atmosfer, pencemaran masuk ke dalam atmosfer dan yang telah mengalami proses-proses ini, akan ditransfer

dari titik asalnya ke wilayah lain menurut arah angin, yaitu searah dengan kecepatan angin yang mendominasi.

Kasus-kasus pencemaran udara dalam beragam sumber industri akan disajikan dalam sesi-sesi selanjutnya.

Definisi

Pencemaran udara diartikan sebagai hadirnya kontaminasi atmosfer oleh gas, cairan atau limbah padat serta produk samping dalam konsentrasi dan durasi yang sedemikian rupa sehingga menciptakan gangguan, kerugian atau memiliki potensi merugikan terhadap kesehatan/ kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan atau benda dan atau men- ciptakan ketidak-nyamanan.

Pencemaran udara dapat membahayakan kesehatan manusia serta kesehatan dan kelestarian tanaman dan hewan, atau dapat menyerang bahan-bahan, menurunkan penglihatan, atau menghasilkan kebauan yang tidak menyenangkan.

Studi mengenai pencemaran udara merupakan bidang multi- disipliner yang mencoba untuk menemukan penyebab dan dampak pencemaran udara.

2—6

Kursus pengelolaan kualitas udara

Siklus pengelolaan kualitas udara

Pengendalian pencemaran udara merupakan bagian dari proses pengelolaan kualitas udara yang lebih besar. Ada 5 komponen dalam siklus pengelolaan kualitas udara:

  • 1. Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien;

  • 2. penilaian mengenai apa arti dari ukuran-ukuran kualitas udara dan apa dampaknya terhadap lingkungan;

  • 3. menetapkan sasaran dalam proses pengelolaan, dengan sasaran-sasaran ini maka pengelolaan kualitas udara menjadi baku mutu kualitas udara ambien;

  • 4. menyusun rencana pengelolaan kualitas udara guna men- capai sasaran yang telah ditetapkan; dan

  • 5. melaksanakan pengendalian pencemaran udara dan kegiatan lainnya guna mengikuti rencana pengelolaan kualitas udara.

Gambar 2.1

Kelima komponen siklus pengelolaan kualitas udara.

Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien pada angka (1) di atas diulangi guna meninjau kembali keberhasilan program tersebut, dilanjutkan secara terus-menerus atau dalam siklus yang teratur.

Kelima komponen dalam siklus pengelolaan kualitas udara ditunjukkan dalam Gambar 2.1.

1 Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien 5 Melaksanakan 2 pengendalian pencemaran udara dan kegiatan-kegiatan lainnya
1
Pengukuran dan
pemantauan kualitas
udara ambien
5
Melaksanakan
2
pengendalian pencemaran
udara dan kegiatan-kegiatan
lainnya untuk melaksanakan
rencana pengelolaan
kualitas udara
Pengkajian
mengenai apa maksud
pengukuran kualitas udara dan
dampaknya terhadap
lingkungan
4
Penyusunan
Penetapan
rencana pengelolaan
kualitas udara untuk
mencapai sasaran yang
telah ditetapkan
3
sasaran proses
pengelolaan, dimana sasaran
mengenai pengelolaan kualitas
udara menjadi standar ambien
kualitas udara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—7

Indonesia secara aktif mengikuti program pengukuran kualitas udara, termasuk pemantauan sumber tidak bergerak, dan beberapa pemantauan ambien kontinyu waktu riil terbatas. Program tersebut tidak mencapai potensi penuh, terutama di Jawa Timur dan pusat-pusat propinsi lainnya, karena ke- kurangan peralatan pemantauan dan dukungan laboratorium, serta kekurangan staf berpengalaman yang sesuai untuk menangani dan menafsirkan data. Berbagai program pelatihan dan bantuan internasional telah tersedia guna memperbaiki masalah ini.

Proses penetapan sasaran untuk tingkat kualitas udara yang dapat diterima oleh masyarakat dan cocok untuk perlindungan kesehatan, kesejahteraan dan ketahanan biasanya menghasilkan baku mutu kualitas udara ambien. Sebuah daftar baku mutu kualitas udara ambien Indonesia disajikan dalam di halaman 34.

Dengan beberapa modifikasi kecil, siklus pengelolaan kualitas udara juga dapat diterapkan untuk memantau sumber-sumber pencemaran yang bergerak.

Pengkajian masalah pencemaran udara Pengkajian masalah pencemaran udara tidak mungkin lagi dilakukan hanya dalam suatu skala
Pengkajian masalah pencemaran udara
Pengkajian masalah pencemaran udara tidak mungkin lagi dilakukan
hanya dalam suatu skala yang kecil atau lokal saja, misalnya dalam suatu
daerah perkotaan tertentu saja.
Kenyataan dan pembuktian ilmiah telah mengungkapkan, bahwa
pengaruh pergerakan dan dinamika atmosferik adalah sedemikian
besarnya, hingga masalah pencemaran udara yang sebelumnya dianggap
hanya suatu masalah lokal, ternyata menyebar dan berkembang dalam
suatu skala yang jauh lebih luas. Pengungkapan lainnya mencakup pula
klimatologi pencemar udara, yang kurang lebih akan analogis dengan
parameter meteorologis yang umum.

2—8

Kursus pengelolaan kualitas udara

ASPEK SPASIAL DAN TEMP- ORAL PENCEMARAN UDARA

Skala spasial dan temporal

Masa tercampurnya atmosfer yang buruk dapat menyebabkan konsentrasi tinggi bahan-bahan berbahaya di wilayah pen- cemaran tinggi dan, di bawah kondisi yang berat, dapat meng- akibatkan luka dan bahkan kematian.

Efek eksposur jangka panjang terhadap konsentrasi rendah tidak dijelaskan dengan baik; namun, yang paling banyak menanggung risiko adalah anak-anak, orang tua, perokok, pekerja yang sifat tugasnya mengekspos pada bahan-bahan beracun, dan orang yang berpenyakit jantung atau paru-paru. Efek buruk lain dari pencemaran udara berpotensi untuk melukai hewan ternak dan hasil panen.

Dinamika atmosfer merupakan faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam masalah pencemaran udara. Dalam hal ini, meskipun atmosfer selalu dianggap sebagai suatu ruang yang tak terbatas, dalam tinjauan parsial untuk meng- analisis fenomena-fenomena yang khusus, ketakterbatasan atmosfer biasanya dihilangkan.

Pasquill (1983) membuat klasifikasi pencemaran udara berdasar- kan pada skala ruang dan waktu atmosfer dalam beberapa skala.

Skala mikro/lokal

Skala mikro dengan jangkauan dalam orde sampai dengan satuan kilometer, dan skala waktu dalam orde detik sampai beberapa menit. Skala ini sering pula disebut sebagai skala lokal. Dalam skala ini, beberapa faktor meteorologi lokal sangat besar pengaruhnya, seperti adanya angin darat dan angin laut di daerah pantai; sirkulasi udara perkotaan dan pedesaan, panas perkotaan, dsb. Proses transport skala lokal, umumnya menyebabkan suatu akumulasi pencemar relatif di daerah diatas sumber pencemarannya, akibat adanya lapisan inversi atmosfer yang membatasi ruang penyebaran pencemar. Contoh yang bagus dalam hal ini adalah Asbut London dan Asbut Los Angeles.

Skala medium/regional

Skala medium, dengan jangkauan orde kilometer, dan skala waktu orde menit hingga jam ini juga dikenal sebagai skala regional. Gerakan atmosfer disebabkan oleh angin geostatis (di atas lapisan batas atmosfer). Pelepasan polutan di lapisan yang

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—9

lebih tinggi akan memudahkan penyebaran polutan secara horisontal dan vertikal dalam liputan yang lebih luas.

Skala makro

Skala makro, dengan jangkauan di atas ribuan kilometer, dan skala waktu lebih dari satu hari. Karena jaraknya yang jauh, disebut juga sebagai skala kontinental/benua. Polutan yang secara relatif stabil akan dapat bertahan tetap berada dalam bentuk asalnya dan menjangkau jarak lebih jauh. Hujan asam yang terjadi di Kanada, telah terbukti disebabkan oleh emisi

SO 2 yang sangat tinggi intensitasnya di daerah Amerika Serikat Utara (Illinois, Ohio, Wisconsin). Karenanya pula fenomena ini dikenal juga sebagai suatu fenomena transport pencemar jarak jauh, hingga ribuan kilometer.

Skala global

Skala global, dapat juga digolongkan dalam skala makro, tetapi dengan skala waktu yang jauh lebih lama, dan jangkauan vertikal lebih dari 10 km. Pergerakan atmosferik akan berlaku dalam suatu skala global.

Pergerakan dan dinamika serta kimia atmosferik, merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan nasib pencemar udara setelah diemisikan dari sumbernya. Timbullah disini suatu kaitan yang erat antara sumber dengan daerah penerima, yang dalam hal-hal tertentu dapat berupa kaitan antara daerah perkotaan dan pedesaan disekitarnya, atau suatu negara dengan negara lainnya.

Bukti-bukti kronologis yang berikut telah menyumbang pada perkembangan disiplin yang terkait. Skala ruang dan waktu dari fenomena pencemaran udara menjadi semakin luas. Tingkat jangkauan skala dari skala mikro, melibatkan daerah setempat, hingga skala global.

Kronologi peristiwa pencemaran udara

Kota-kota di Indonesia tidak sendirian dalam masalah kualitas udara. Tentu saja sudah diketahui bahwa masalah pencemaran udara pernah terjadi di kota-kota besar dari negara-negara berkembang seperti Bangkok, Manila atau Mexico City.

Tidak pula masalah-masalah kualitas udara ini hanya terjadi

  • di negera-negara berkembang saja. Sebagian anak-anak kota

  • di bagian dalam kota Los Angeles yang berasal dari kelompok

sosio-ekonomi rendah, bila ditanyai mengenai warna langit,

2—10

Kursus pengelolaan kualitas udara

mereka menjawab kuning. Itu karena hadirnya asbut fotokimia yang utamanya berasal dari pancaran kendaraan bermotor.

Uraian kronologis dari fenomena pencemaran udara yang ada telah menunjukkan adanya suatu kaitan yang erat dengan kegiatan manusia (antropogenik). Kronologi semacam itu dijelaskan di bawah:

Pada tahun 1273 Edward I memberlakukan langkah hukum pertama guna mengurangi pencemaran atmosfer dengan cara melarang pembakaran batubara di dalam kota London. Selama masa pemerintahan Edward I, pelanggaran penggunaan batubara di London yang ia temukan dalam melakukan kunjungan-kunjungan akan mengantarkan pelanggarnya kepada hukuman mati!

Asbut London teramati setelah Revolusi Industri pada abad ke-18, setelah diperkenalkan penggunaan bahan bakar (batubara) fosil, penggerak tenaga mesin uap secara sangat ekstensif. Fenomena ini mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19.

Asbut fotokimia Los Angeles yang semula dikira sama dengan asbut kota London, ternyata adalah suatu pen- cemaran udara yang berbeda bentuk dan skalanya, yang merupakan manifestasi proses dinamika dan kinetika atmosferik yang lebih kompleks, akibat dari polutan- polutan udara yang dilepaskan oleh gas-gas knalpot kendaraan bermotor. Pencemaran udara jenis ini muncul pada tahun 1942, bersamaan dengan meluasnya penggunaan kendaraan bermotor serta meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Pengendalian fenomena yang sebenarnya berlangsung, baru dapat diungkapkan pada tahun 1950-an.

Hujan asam yang terjadi secara luas di daratan Amerika Utara dan Eropa Barat adalah fenomena pencemaran udara yang berskala ruang dan waktu lebih besar dari yang terda- hulu. Cakupannya adalah benua, dan masih mungkin akan menjadi antarbenua. Penyebab utamanya ialah gas buang proses pembakaran bahan fosil di daerah perkotaan, baik yang bersumber dari PLTU maupun kendaraan bermotor.

Suatu inversi terhadap Donora, Pennsylvania, pada tahun 1948 menyebabkan penyakit pernafasan terhadap lebih 6.000 orang dan merenggut 20 nyawa manusia. Pencemaran berat di London merenggut nyawa 3.500 hingga 4.000 orang pada tahun 1952 dan 700 orang lainnya di tahun 1962.

Pengungkapan dan penelitian dalam tahap modern ini, baru dilakukan pada tahun 1970-an, yaitu oleh OECD

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—11

(1977) dan Pemerintah Amerika Serikat dan Kanada (1978). Kedua badan international ini mengungkapkan bahwa fenomena hujan asam adalah suatu fenomena transpor pencemar udara jarak jauh (benua).

http://www.corpwatch.org/bhopal/
http://www.corpwatch.org/bhopal/

Pabrik kimia Union Carbide di Bhopal, India.

Masalah pencemaran udara di Indonesia mulai mendapat- kan perhatian yang lebih luas pada tahun 1970.

Pelepasan metil isosianat ke dalam udara selama terjadi inversi suhu menyebabkan bencana di Bhopal, India, dalam bulan Desember 1984, dengan akibat kematian sekurang-kurangnya 4.000 jiwa dan lebih 500.000 korban menderita sakit.

Akumulasi gas-gas rumah kaca juga disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dengan skala ruang dan

waktu yang lebih besar (skala global) dibandingkan dengan tiga fenomena sebelumnya. Fenomena ini berkaitan erat dengan pembentukan kehidupan biologis di dunia, ber- milyar-milyar tahun yang lalu. Sumbangan kegiatan antro- pogenik terhadap fenomena ini mulai terungkap pada tahun 1980, berkenaan dengan perkembangan kimia atmosfer. Jenis pencemaran udara ini menyebabkan dampak alam global, sebagaimana biasanya dinyatakan sebagai pemanasan global.

Penipisan lapisan ozon merupakan fenomena yang juga dengan skala waktu yang lebih panjang. Penyebab utamanya adalah unsur yang stabilitasnya sangat tinggi, yaitu unsur- unsur bahan pendingin, yang kita kenal sebagai CFC. Fenomena ini, baik dalam skala maupun pengaruhnya, mempunyai hubungan yang erat dengan fenomena rumah kaca, meskipun pengaruh biologis yang diramalkan akan lebih hebat. Masalah penipisan lapisan ozon ini baru dapat diungkap secara lebih mendalam pada tahun-tahun 1980- an dengan semakin aktifnya penelitian atmosferik dan gejala-gejala bumi, terutama di daerah Antartika (Farman et al, 1985) dan penerapan teknologi satelit.

2—12

Kursus pengelolaan kualitas udara

TINJAUAN UMUM TERHADAP SISTEM PENCEMARAN UDARA

Di semua negara, baik yang sedang berkembang maupun yang maju, emisi-emisi kimia dan fisika tetap sama saja. Dalam banyak hal, teknologi pengendaliannya dapat dipindahkan secara langsung, namun, dalam segala keadaan, kemampuan menerapkan teknologi ini harus dinilai sepenuhnya.

Dengan telah diungkapkannya dasar-dasar dalam ‘kimia atmosfir’, khususnya oleh para peneliti pencemaran udara, adalah penting bagi kita untuk mengenal aspek umum pokok bahasan ini dalam suatu kerangka konseptual sebuah ‘sistem

pencemaran udara’.

Seperti dapat dilihat dalam Gambar 2.2, pencemaran dapat digolongkan sumber area, titik, dan garis. Sistem pencemaran udara berawal dari

—————————

——————————

emisi alami dan sebagai ‘

. Emisi ini didefinisikan ’, karena pencemar-pencemar

——————————

———————————

golongan ini diemisikan langsung ke udara dari sumbernya, misalnya SO 2 , NO x CO, Pb, zat-zat organik dan partikulat. Pada atmosfer pencemar-pencemar ini akan mengalami pe- nyebaran dan pengankutan, yang pada dasarnya ditentukan oleh faktor-faktor meteorologi.

Sumber area, garis dan titik Sumber tetap pada pembakaran bahan bakar Emisi dan Sumber Pembuangan kebocoran
Sumber area, garis dan titik
Sumber tetap pada
pembakaran bahan
bakar
Emisi dan
Sumber
Pembuangan
kebocoran
Lain-lain
transportasi
limbah
padat
proses industri
• Kendaraan
bermotor
• Jalan raya pada
penggunaan bahan
bakar
• Pesawat udara
• Kereta api
• Kapal laut
• Penanganan
minyak
• Kehilangan akibat
evaporasi
• Pemakaian
bahan
On site
bakar
Industri-industri
• proses kimia
• Insinerator
-
Rumah tangga
• makanan dan
kota
-
Industri
pertanian
• Pembakaran
-
Komersial
• metalurgi
terbuka
-
Kelembagaan
• PLTU
• PLTD
• produk mineral
• penyulingan
minyak
• Kebakaran
hutan
• kebakaran
bangunan
• pembakaran
sisa batu bara
• pembakaran
dari lahan
pertanian, dll.

Gambar 2.2

Pengelompokan sumber pencemar udara.

Bersamaan dengan itu, terjadi pula proses-proses transformasi fisika-kimia yang mengubahnya (pencemar primer) menjadi unsur gas atau partikulat bentuk lain yang dikenal sebagai ‘

’. Pencemar-pencemar ini dapat ter- sisihkan dari atmosfer kembali kepermukaan bumi melalui proses

————————————

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—13

deposisi basah atau kering, yang dapat memberikan dampaknya terhadap penerima, seperti manusia, hewan, ekosistem akuatik, tumbuh-tumbuhan dan material.

Dengan pengetahuan dasar yang mendalam mengenai emisi, topografi, meteorologi dan kimia, suatu model matematik dapatlah dikembangkan untuk meramalkan konsentrasi pencemar-pencemar tersebut, baik yang primer maupun yang sekunder, sebagai fungsi dari waktu untuk berbagai tempat dan lokasi yang berbeda dalam daerah aliran udaranya. Model komputer yang telah dikembangkan hingga saat ini meliputi model yang meramalkan konsentrasi pencemar udara:

Dari sumber-sumber tunggal—model kepulan/plume model;

dalam suatu zona aliran udara;

dari perpaduan berbagai sumber diam dan bergerak— model aliran udara; atau

dalam suatu daerah geografis yang lebih luas dihilir sebuah kumpulan sumber, misalnya perkotaan—model transport jarak jauh.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—13 deposisi basah atau kering, yang dapat memberikan dampaknya terhadap penerima,

Gambar 2.3

Konsentrasi Ozon, NOx dan NMHC di dalam bagian utara-selatan plume asap kawasan Perth, Australia Barat, yang memperlihatkan: (a) hasil dari penggunaan model Carnegie-Mellon CIT; (b) hasil pengukuran di lokasi- lokasi yang sama; dan (c) rute pesawat yang digunakan untuk pengukuran.

Sebuah keluaran tipikal dari suatu model prediktif yang men- unjukkan sumber besar NOx titik tunggal di bawah stabilitas angin/kondisi cuaca tertentu, disajikan dalam Gambar 2.3.

Model yang telah dibenarkan melalui pengamatan lapangan akan berfungsi sebagai instrumen-instrumen yang berguna bagi perumusan strategi pengendalian yang tepat dan sesuai.

2—14

Kursus pengelolaan kualitas udara

Gambaran sistem pencemaran udara ini, merupakan suatu penjabaran langkah-langkah penting yang harus dilaksanakan, dalam usaha mengendalikan pencemaran udara, serta me- lindungi para penerima dari dampak negatif yang akan timbul. Namun perlu diingat disini, bahwa usaha pengendalian akan terutama diarahkan terhadap sumber pencemarannya, yang menjadi unsur penyebab dalam sistem tersebut.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—15

SUMBER PENCEMARAN UDARA

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—15 SUMBER PENCEMARAN UDARA Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh

Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh sumber-sumber alam, hanya radon gas radioaktif yang dikenali sebagai ancaman kesehatan yang besar.

Sejumlah polutan udara lazimnya ditemukan di kota-kota dan berfungsi sebagai polutan standar yang digunakan secara global untuk menjelaskan kualitas udara ambien. Ini di- jelaskan secara singkat di bagian-bagian berikut.

Emisi industri tipikal (sumber titik). Pengendalian dapat dilakukan baik terhadap peralatan, atau dengan cara membersihkan emisi udara dari bangunan.

Secara konstan, polutan-polutan juga di- hilangkan dari atmosfer melalui berbagai mekanisme. Dua

metode primer yang terlibat dalam pembersihan atmosfer ialah:

  • 1. Pengendapan polutan, dan

    • 2. Konversi polutan ke dalam bentuk lain

sumber garis
sumber garis

Arus lalulintas yang bergerak dapat dianggap sebagai sumber emisi garis.

(karena oksidasi, absorpsi dsb.)

Di dalam atmosfer, hujan, salju, dan embun cenderung untuk menghanyutkan asap, debu, serbuk sari, dan produk-produk limbah gas. Partikel-partikel yang berdiameter kurang dari 2 µ tidak dihanyutkan oleh hujan dan cenderung tetap melayang-layang. Secara perlahan partikel-partikel ini mengendap ke bawah dan dihilangkan melalui benturan dengan pohon, batu dan rintangan-rintangan lain yang ada di permukaan bumi. Partikel-

partikel tersebut dapat berkelana bermil-mil

jauhnya tanpa mengindahkan batas negara.

Sumber-sumber pencemaran udara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—15 SUMBER PENCEMARAN UDARA Di antara pencemar udara yang dipancarkan oleh

Sumber-sumber area dapat termasuk pembakaran limbah padat kota.

Seperti telah dibahas sebelumnya, sumber-

sumber pencemaran udara dapat digolongkan baik sebagai sumber alam maupun sumber antropogenik (buatan manusia). Berdasarkan pada distribusi ruang, sumber-sumber pen- cemaran udara yang berasal dari alam atau buatan manusia dapat digolongkan menjadi:

Sumber titik (point source)

sumber garis (line source)

sumber area (area source).

2—16

Kursus pengelolaan kualitas udara

Di beberapa wilayah, sumber-sumber area alam merupakan penyebab pencemaran yang besar. Ini termasuk emisi gunung berapi, seperti SO x , H 2 S dan beberapa partikel sulfur, lazim ditemukan di wilayah pegunungan Indonesia, dan secara signifikan ikut menyebabkan konsentrasi ambien di daerah sekelilingnya seperti yang terjadi di Bandung. Rawa-rawa dan hutan bakau di wilayah pantai juga mengakibatkan konsentrasi metan naik dibanding dengan wilayah pegunungan.

Erosi dan abrasi tanah terutama di daerah kering akan me- mancarkan partikulat ke atmosfer terutama di daerah tropis yang lembab. Partikulat dari tanah tertiup angin lazimnya ditemukan di atmosfer Indonesia. Sumber-sumber alam pen- cemaran udara biasanya merupakan alam statis dan memancar- kan polutan dalam jumlah konstan.

Sumber antropogenik adalah sumber yang mendominasi pencemaran udara di daerah perkotaan dan industri.

Walau tergantung situasi, sumber-sumber emisi dapat di- golongkan menjadi:

Sumber diam (industri); dan

sumber bergerak (mobil dan truk).

Kendaraan bermotor diam merupakan sumber pencemaran, sementara mobil yang sama yang sedang bergerak akan ber- tindak seakan-akan merupakan sumber linear.

Pada umumnya, emisi-emisi polutan udara disebabkan oleh:

Proses pembakaran bahan bakar seperti unit pembangkit tenaga dan kendaraan bermotor; dan

sebab-sebab non-pembakaran sebagaimana dapat dianggap berasal dari industri kimia.

Didasarkan pada penggolongan di atas, sumber-sumber pencemaran udara dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pembakaran bahan bakar sumber diam

Termasuk di antaranya adalah pemanfaatan minyak, gas, batubara atau kokas dalam kegiatan-kegiatan berikut ini:

Industri; pembangkit tenaga listrik; kegiatan pemukiman penduduk; dan kegiatan komersial—restoran, hotel, dsb.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—17

Pembakaran bahan bakar sumber bergerak

Sumber pencemaran berikut ini menggunakan bahan bakar

minyak:

Kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor);

kereta api;

pesawat udara; dan

kapal laut.

Pembakaran limbah padat

Kegiatan ini mempunyai berbagai bentuk, seperti:

Insinerasi kotapraja;

insinerasi di lokasi; dan

pembakaran terbuka.

Sumber-sumber non pembakaran

Sumber-sumber khusus ini diciptakan oleh pengolahan dan

penyimpanan bahan baku untuk proses industri seperti:

Pengolahan bahan kimia;

pengolahan produk makanan dan pertanian;

pengolahan logam dan benda-benda lainnya yang berasal dari logam;

pengolahan mineral;

pengolahan minyak;

produksi bubur kertas dan kertas; dan

penyimpanan bahan pelarut.

2—18

Kursus pengelolaan kualitas udara

JENIS UTAMA PENCEMARAN UDARA

Untuk tujuan pengendalian, polutan dapat dibagi menjadi dua tipe dasar, partikulat dan gas. Sumber utama polutan yang relevan dengan standar-standar internasional disajikan dalam Tabel 2.1 yang dibahas lebih lanjut dalam teks berikutnya.

Polutan

Sumber utama

Komentar/WHO petunjuk

Karbon monoksida (CO)

Knalpot kendaraan bermotor; proses industri

Petunjuk kesehatan; 10 mg/m³ (10 ppm) lewat 8 jam; 30 mg/m³ lewat 1 jam (25 ppm)

Sulfur dioksida (SO 2 )

Fasilitas pembangkit panas dan tenaga listrik yang mempergunakan minyak atau batubara mengandung sulfur (belerang); pabrik asam belerang

Petunjuk kesehatan: 350 µg/m3 (0.122 ppm) lewat 1 jam; 500 µg/m3 lewat 10 men (0.175 ppm)

PM10 bahan partikulat (TSP)

Knalpot kendaraan bermotor; proses industri; insinerasi sampah; pembangkit panas dan tenaga listrik; reaksi gas-gas pencemaran di dalam atmosfir

Petunjuk kesehatan: 70 µg/m3 lewat 24 jam; terdiri karbon, nitrat, sulfat, dan banyak logam termasuk timah hitam, tembaga, besi dan seng

Timah hitam (Pb)

Knalpot kendaraan bermotor; unit peleburan timbah hitam; pabrik baterai

Petunjuk kesehatan: 0.5-1 µg/m3 lewat satu tahun

Nitrogen oksida (NO, NO 2 )

Knalpot kendaraan bermotor; pembangkit panas dan tenaga listrik; asam nitrik; eksplosif; pabrik pupuk

Petunjuk kesehatan: 150 µg/m3 (0.08 ppm) lewat 24 jam; 400 µg/m3 lewat 1 jam (0.21 ppm) utk NO2; tanggapi dengan hidrokarbon dan sinar matahari untuk membentuk oksidan fotokimia

Oksidan fotokimia (terutama ozon, juga peroksiasetil nitrat dan aldehida)

Terbentuk di dalam atmosfir oleh reaksi nitrogen oksida, hidrokarbon, dan sinar matahari

Petunjuk kesehatan: 150-200 µg/m3 (0.076-0.1 ppm) lewat 1 jam; 100-120 µg/m3 lewat 3 jam (0.05-0.06 ppm)

Non-metan hidrokarbon (termasuk etan, etilin, propan, butan, pentan, asetilen)

Emisi kendaraan bermotor; penguapan larutan; proses industri; pembuangan limbah padat; pembakaran bahan bakar

Tanggapi dengan nitrogen oksida dan sinar matahari untuk membentuk oksidan fotokimia

Karbon dioksida (CO 2 )

Segala sumber-sumber pembakaran

Mungkin merusak kesehatan pada konsentrasi lebih besar dari 5,000 ppm lewat 2-8 jam; level atmosfir telah naik dari kira-kira 280 ppm seabad yang lalu hingga lewat 350 ppm sekarang; tren ini bisa menyumbang pada efek rumah kaca

Tabel 2.1

Sumber polutan udara dan baku mutu internasional.

Polutan gas

Karbon dioksida

Gas ini adalah hasil dari proses oksidasi lengkap, seperti pem- bakaran bahan bakar. Gas ini dikeluarkan oleh hewan selama bernafas, selama pembusukan aerobik dari semua bahan organik karbon dan dari oksidasi mineral. Misalnya, batu kapur yang dipanaskan pada suhu tinggi memancarkan karbon dioksida yang menyisakan kapur mentah.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—19

Konsentrasi karbon dioksida dalam atmosfer diperkirakan telah meningkat dari 275 ppm sekitar tahun 1850 menjadi 345 ppm di tahun 1985 dan memberikan sumbangan ter- hadap pemanasan global sebagai konsekuensi

360 350 340 330 1980 1985 1990 1995 Tahun CO2 (ppm)
360
350
340
330
1980
1985
1990
1995
Tahun
CO2 (ppm)

dari “efek rumahkaca”. Tren peningkatan

dalam CO 2 atmosfer ditunjukkan dalam Gambar 2.4.

Secara global, Indonesia menduduki peringkat

kesembilan di antara 50 negara yang meng- hasilkan gas-gas rumah kaca tertinggi pada

tahun 1987. Namun, bila diperhitungkan

dengan jumlah penduduknya, Indonesia tidak termasuk di antara 50 negara peringkat

puncak, di mana emisi per kapita tahunan

dari gas-gas rumah kaca adalah 1,5 ton.

Pembersihan CO 2 : CO 2 dihilangkan dari

atmosfer melalui:

Gambar 2.4

Konsentrasi CO 2 dalam atmosfer, sebagaimana diukur di stasiun pemantauan Tanjung Grim, Australia.

Konsumsi dalam fotosintesis

reaksi lambat dengan batu silikat batu kapur dan dolomit.

Sulfur dioksida

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—19 Konsentrasi karbon dioksida dalam atmosfer diperkirakan telah meningkat dari 275

Emisi cerobong dari industri berat telah menyumbang secara signifikan kepada hujan SO 2 dan asam atmosfer.

Jumlah emisi dunia sekitar 100 juta ton/tahun. Sulfur dioksida adalah hasil pokok dari pembakaran sulfur (belerang) dalam bahan bakar dan secara langsung hampir proporsional dengan jumlah yang ada dalam bahan bakar. Beberapa bagian dari sulfur dioksida ini, diperkirakan 20% mengandung bahan bakar sulfur rendah tetapi tidak lebih dari 5% dengan bahan

bakar sulfur tinggi, dikonversi bentuknya menjadi sulfur trioksida, yang pada gilirannya digabungkan dengan uap air dalam gas cerobong asap, membentuk asam belerang.

Pembersihan SO 2 : SO 2 dihilangkan dari atmosfer dalam waktu sekitar 43 hari. Kedua teori penghilangan tersebut dirangkum sebagai berikut:

1. SO 2 + O 2 SO 3 + H 2 O H 2 SO 4 + NH 3 , Lime amonia sulfat, kalsium sulfat

2. SO 2 + NH 3 , langsung kalsit kapur Oksidasi sulfit sulfat (presipitat)

Nitrogen oksida

Nitrogen oksida dibentuk dalam konsentrasi 200–600 ppm dalam cerobong asap dari hampir semua proses pembakaran. Ini merupakan susunan yang sama dengan sulfur oksida dalam

2—20

Kursus pengelolaan kualitas udara

2—20 Kursus pengelolaan kualitas udara Combined cycle gas turbine plant. Oksida nitrogen merupakan satu- satunya emisi

Combined cycle gas turbine plant.

Oksida nitrogen merupakan satu- satunya emisi udara utama.

bahan bakar sulfur yang lebih rendah. Mereka melakukan pelanggaran yang lebih sedikit walaupun mungkin tidak kurang berbahayanya daripada sulfur dioksida, karena oksida dari nitrogen merupakan penyumbang utama asbut fotokimia. Oksida dari nitrogen adalah polutan gas utama dari gas yang dibakar unit pembangkit tenaga.

Pembersihan NO x : Asam nitrik bila terbentuk bereaksi dengan

amonia atau kapur à amonia nitrat atau kalsium nitrat.

Hidrokarbon

Metan. Metan dianggap sebagai gas yang secara relatif tidak berbahaya, sering ditemukan di pertambangan dan dipancar- kan dari penguraian anaerobik bahan organik, seperti pupuk. Dalam konsentrasi tinggi ia akan berlaku sebagai suatu as- phyant, sedangkan jika bercampur dengan udara menjadi

1700 Metan (CH4) (ppm) 1600 1500 1980 1985 1990 1995 Tahun
1700
Metan
(CH4)
(ppm)
1600
1500
1980
1985
1990
1995
Tahun

eksplosif. Metan dianggap menjadi penyum- bang besar terhadap pemanasan global dan

meningkat dari 0,7 ppm sekitar tahun 1850

menjadi 1,7 ppm pada tahun 1985 (lihat

Gambar 2.5).

Hidrokarbon non metan. Sisa hidrokarbon

yang volatil dikelompokkan bersama dan disebut “hidrokarbon non-metan” dan penting dalam pencemaran udara karena tidak seperti

halnya metan, yang secara relatif stabil, dapat diserang oleh oksidan dalam atmosfer dan

akan ikut serta dalam reaksi-reaksi fotokimia.

Pembersihan hidrokarbon: Hidrokarbon di-

Gambar 2.5

Konsentrasi metan sebagaimana diukur di stasiun pemantauan udara Tanjung Grim (Australia).

hilangkan melalui serangkaian reaksi fotokimia.

Karbon monoksida. Biasanya karbon monoksida (CO) merupakan hasil pembakaran tak sempurna dari bahan bakar karbon, atau lebih tepatnya, karbon dalam bahan bakar. CO adalah suatu gas tak berbau, tidak berwarna dan akan terbakar dalam udara untuk melepaskan CO 2 . CO merupakan bahaya terhadap karyawan yang besar karena gas tersebut memiliki afinitas (tertarik pada) bagi hemoglobin sebesar 300 kali dari oksigen, dan sebagai konsekuensi dari eksposur terhadap CO mengakibatkan pergantian oksigen cepat dan ketidakmampuan paru-paru untuk melaksanakan absorpsi oksigen ke dalam darah.

Pembersihan CO: CO dihilangkan dari atmosfer melalui:

Reaksi dengan hidroksil radikal.

Dioksidasi dalam lapisan atmosfer oleh oksigen atom guna menghasilkan CO2.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—21

Tidak ada bukti tentang akumulasi, dan CO akan lenyap dalam waktu kira-kira 3 tahun.

Khlorofluorokarbon (cfc)

CFC adalah gas yang sangat stabil yang digunakan secara luas di seluruh dunia sebagai refrigeran (pendingin) dan hingga akhir-akhir ini, sebagai pressure pack propellant, tiupan busa (foam blowing), cuci kering (drycleaning) dan di industri elektronik. Suatu kelompok bahan kimia sejenis yang disebut “halon” digunakan dalam alat pemadam kebakaran. Tidak ada reaktan yang dikenal untuk CFC dalam troposfir, oleh karena itu CFC tinggal di dalam troposfir selama 50–100 tahun, lambat-laun naik ke stratosfir dimana, dengan fotolisis, mereka gagal melepaskan atom khlorin yang sangat reaktif. CFC dianggap bertanggungjawab atas penipisan ozon di dalam stratosfir.

CCF-12 (CCl2F2) (ppm) 500 400 300 1980 1985 1990 1995 Tahun
CCF-12
(CCl2F2)
(ppm)
500
400
300
1980
1985
1990
1995
Tahun

Gambar 2.6

CFC merupakan penyumbang besar terhadap pemanasan global dan konsentrasi CFC

dalam troposfir telah meningkat dari yang hampir nol menjadi hampir satu bagian per

milyar selama 50 tahun terakhir ini (Gambar

2.6). Sifat dan tingkat keprihatinan yang dialamatkan pada CFC membutuhkan di-

laksanakannya perjanjian lingkungan inter-

nasional, dan hingga Maret 1985 49 negara

telah menyatakan persetujuannya dalam

sebuah sidang PBB dalam rangka melindungi lapisan ozon. “Protokol Montreal” ini, yang

Tren berkurangnya CFC-12 di atmosfer sejak diterapkannya Protokol Montreal, sebagaimana diukur di Tanjung Grim (Australia).

dirunding ulang pada tahun 1990, menuntut dihentikannya penggunaan khlorokarbon dan fluorokarbon tertentu pada akhir abad ini dan memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dalam melaksanakan transisi ini. Melalui tindakan seperti pemulihan dan pendauran ulang CFC spesifik, hasilnya sudah sangat cepat, dengan tingkat target CFC yang secara dramatis berkurang sejak dilaksanakannya sidang ini.

Polutan padat (partikulat)

Debu

Sumber utama debu di atmosfer adalah tanah, semburan air

laut, kebakaran semak-belukar, pembakaran rumahtangga, kendaraan bermotor, proses industri dan debu organik dari bahan tanaman.

2—22

Kursus pengelolaan kualitas udara

Debu dianggap sebagai partikel bahan padat yang terbagi secara halus dengan ukuran berkisar dari 0,1 hingga 100 mikron (µ) dan yang menjadi keprihatinan utama adalah debu yang dihasilkan oleh pengolahan atau penanganan bahan padat dalam industri. Partikel-partikel debu yang kurang dari 10 µ sangat memprihatinkan karena memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menembus ke dalam paru-paru (1 µ = 0,001 milimeter).

Gambar 2.7 menyajikan sebuah diagram mengenai sistem pernafasan manusia. Rambut-rambut di dalam hidung meny- aring ke luar debu berukuran >10 µ, dan bulu getar (cilia) serta lendir yang menutupi saluran pernafasan dapat meng- hilangkan partikel-partikel berukuran < 2 µ. Partikel lebih kecil yang memperlihatkan gerak Brownian, tidak dapat membentur sisi dinding dan dapat memasuki gelembung paru-paru.

Gambar 2.7

Sistem pernafasan manusia.

Pharink Nasal cavity Nasopharyngeal region Trachea Bronchioles Tracheobronchial region Bronchi Terminal bronchioles ending in alveoli Paru-paru
Pharink
Nasal cavity
Nasopharyngeal
region
Trachea
Bronchioles
Tracheobronchial
region
Bronchi
Terminal
bronchioles
ending in alveoli
Paru-paru
(Pulmonary region)

Misalnya, tumbuhnya kesadaran mengenai arti pentingnya partikel yang dibawa udara bagi kesehatan telah menyaksikan sebuah gerakan umum menjauhi TSP (total suspended part- iculate) ke PM 10 (partikel sub 10 µ). Namun, sejumlah studi epidemiologis penting baru-baru ini telah menunjukkan hubungan konsisten yang secara statistik signifikan antara

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—23

tingkat mortalitas dan aerosol pada tingkat-tingkat yang bersifat tipikal dari kota-kota besar, tampaknya tidak memiliki ambang lebih rendah. Partikel-partikel sub 2,5 µ (PM 2,5 ), misalnya, tidak disaring dalam sistem pernafasan sebelah atas dan telah diperagakan menyangkut pada jaringan gelembung paru-paru, menurunkan pertukaran gas. Materi PM 2,5 hanya dapat dihilangkan dengan cara melarutkannya ke dalam aliran darah.

Industri dan kualitas udara ambien Pada umumnya, sumber-sumber pencemaran alam hanya menyumbang pada kualitas udara latar
Industri dan kualitas udara ambien
Pada umumnya, sumber-sumber pencemaran alam hanya menyumbang
pada kualitas udara latar belakang, sementara kualitas udara ambien
lebih dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Di wilayah industri, termasuk
daerah pertambangan, kita dapat mengharapkan sifat dan komposisi
sejenis dari polutan yang dipancarkan. Emisi semacam ini akan
mempengaruhi kualitas udara ambien oleh kehadiran substansi kecil
dari parameter khusus, bergantung pada partikel-partikel yang datang
dari industri semen, amonia dari industri pupuk, berbagai jenis
debu/partikel logam yang datang dari industri pertambangan dan
peleburan logam. Sifat dan pengendalian pencemaran udara dari sumber-
sumber ini dijelaskan lebih lanjut dalam Sesi-sesi 11 dan 12.

2—24

Kursus pengelolaan kualitas udara

MASALAH PENCEMARAN REGIONAL DAN GLOBAL

Kerusakan yang disebabkan oleh pencemaran udara dapat

2—24 Kursus pengelolaan kualitas udara MASALAH PENCEMARAN REGIONAL DAN GLOBAL Kerusakan yang disebabkan oleh pencemaran udara

Pembangunan dapat menyediakan pelayanan-pelayanan yang mendukung kesehatan masyarakat.

Catatan:

Istilah "konservatif" dan

"non-konservatif" dalam konteks pencemaran udara mengacu pada sifat emisi. Emisi konservatif pencemaran udara berasal dari pembakaran bahan bakar dan proses kimia yang terkait. Emisi non konservatif umumnya berasal dari pengolahan mineral.

dikaji dalam hal efeknya terhadap kesehatan serta memburuk-

nya bahan-bahan yang tidak bereaksi kimiawi, tumbuh- tumbuhan, hewan lainnya dan degradasi mutu atmosfer itu sendiri.

Bagaimanapun harus diketahui bahwa dampak dari proyek pembangunan, walaupun dapat mengakibatkan naiknya tingkat pencemaran, tidak semuanya buruk karena pembangunan juga menghasilkan peningkatan kesehatan pada manusia dari

kemungkinan turunnya mortalitas dan morbiditas melalui, misalnya, fasilitas pengobatan yang lebih baik, suplai air atau program untuk mengurangi pencemaran kendaraan.

Perkembangan sadar lingkungan juga menghasilkan manfaat langsung pada masyarakat setempat melalui terbukanya lapangan pekerjaan dan naiknya kenaikan status gizi masyarakat, untuk mengimbangi dampak paralel yang diakibatkan seperti misalnya

dampak pencemaran.

Untuk pencemaran udara, suatu hubungan timbal-balik lazim digunakan untuk menghubungkan perubahan-perubahan dalam tingkat pencemaran ambien dengan hasil kesehatan.

Sifat emisi pencemaran udara konservatif di wilayah perkotaan ditentukan oleh jumlah sektor yang mengkonsumsi bahan bakar. Sektor-sektor ini dapat digolongkan ke dalam transportasi, industri, rumahtangga dan sektor-sektor lain yang tidak ber- kaitan dengan konsumsi bahan bakar.

Pecemaran udara di lima kota besar Inventarisasi limbah emisi polutan di lima kota besar, Jakarta, Surabaya,
Pecemaran udara di lima kota besar
Inventarisasi limbah emisi polutan di lima kota besar, Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan Medan
telah dilakukan. Studi tersebut menunjukkan bahwa sektor terbesar yang mengemisikan unsur-unsur
pencemar udara adalah sektor transportasi. Besarnya kontribusi emisi sektor ini tidak saja ditentukan oleh
volume lalu-lintas di pusat kota dan perdagangan. Sering terjadinya kemacetan lalu-lintas di pusat kota dan
perdagangan, menyebabkan turunnya efisiensi penggunaan bahan bakar. Hal ini disertai dengan tingkat emisi
yang lebih besar, terutama CO, hidrokarbon dan debu.

Sektor industri mendominasi emisi gas sulfur dioksida, serta memberi kontribusi yang berarti dalam emisi debu dan oksida- oksida nitrogen. Besarnya kontribusi emisi terhadap unsur- unsur tersebut terutama disebabkan pemakaian bahan bakar berat, dari jenis residu, solar dan diesel. Sedangkan presentase

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—25

gas alam yang dipakai lebih kecil dibandingkan dengan ketiga jenis bahan bakar tersebut. Padahal gas alam pada dasarnya akan memberikan kualitas gas buang yang lebih baik, disamping efisiensi energi yang lebih tinggi. Industri berat golongan

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara 2—25 gas alam yang dipakai lebih kecil dibandingkan dengan ketiga jenis

Pemandangan umum, industri semen.

barang galian bukan logam dan industri dasar logam cenderung menggunakan bahan bakar berat berupa residu dan solar dalam jumlah besar, seperti terdapat di DKI Jakarta, Surabaya di lain pihak, ditandai oleh jumlah industri kimia dan barang- barang kimia yang besar. Industri ini menggunakan bahan bakar residu dan solar dalam jumlah jauh lebih besar dibanding- kan bahan bakar lainnya. Daerah industri Bandung yang didominasi oleh industri tekstil lebih banyak menggunakan solar dan diesel.

Industri-industri yang mengkonsumsi bahan baku jenis tertentu memancarkan jenis polutan non konservatif. Industri semen menghasilkan pencemaran debu dalam intensitas yang lebih tinggi karena sifat bahan bakunya. Industri pembuatan rayon memancarkan gas H 2 S, yang dilepaskan dari prosesnya yang mengkonsumsi H 2 SO 4 di antara masukan bahan bakunya.

Peranan sektor ini akan meningkat di tahun-tahun mendatang seiring dengan perkembangan industri yang selalu meningkat.

Sektor pemukiman yang mengeluarkan emisi dari rumah- tangga juga berperan penting dalam emisi pencemar udara. Sektor ini mengkontribusikan emisi dari pembakaran bahan bakar minyak tanah, berupa partikulat dan SO 2 . Sedangkan pengelolaan sampah perkotaan secara keseluruhan masih memberikan kontribusi yang kecil. Namun emisi hidrokarbon dan debu dari sektor ini sudah cukup berarti, terutama di kota Bandung.

Dampak regional

Partikulat

Partikulat terdiri dari beberapa polutan. Sebuah partikel debu dapat mengandung garam seperti sulfat, sulfur oksida, timah hitam, asbestos, oksida besi, silika, jelaga dan unsur-unsur kimia lainnya. Debu terutama dipancarkan dari kegiatan industri dan transportasi. Pencemaran udara oleh debu dapat secara langsung merusak kulit dan organ pernafasan.

Manado yang tergolong kota dengan tingkat aktivitas sedang mempunyai rata-rata konsentrasi debu bulanan berkisar 50– 130 µg/m³ antara tahun 1982 dan 1986. Sementara Kupang yang aktivitasnya tergolong rendah memiliki konsentrasi debu rata-rata tahunan 49,0 µg/m³.

2—26

Kursus pengelolaan kualitas udara

Sedangkan di Jakarta, 80% dari wilayah-wilayah yang dipantau memiliki konsentrasi debu rata-rata tahunan melebihi ambang batasnya, bila digunakan baku mutu WHO, yaitu 90 µg/m³. Menurut WHO-UNEP global environmental monitoring, dengan kondisi seperti ini, Jakarta termasuk di antara 20% kota-kota yang paling tercemar debu. Konsentrasi debu ter- tinggi terjadi pada tahun 1983 di wilayah muara mencapai 606,4 µg/m³, dan 654,8 µg/m³ terpantau di daerah Glodok. Secara keseluruhan, konsentrasi debu di Jakarta pada tahun 1983 memperlihatkan kecenderungan menurun, meskipun menaik lagi sampai tahun 1991.

Timah hitam

Timah hitam telah lama digunakan sebagai zat tambahan untuk meningkatkan dasar oktan bensin. Kualitas oktan dalam bensin sebenarnya bisa dinaikkan dengan cara intensif refineri, tetapi biayanya sangat mahal. Senyawa ini emisinya semakin meningkat, seiring dengan pesatnya perkembangan sektor transportasi di Indonesia. Pada tahun 1971, sekitar 981,9 ton Pb diemisikan akibat penggunaan bensin. Pada tahun 1980, jumlah emisinya meningkat menjadi 2.900 ton. Dan meningkat lagi pada tahun 1988 menjadi sebesar 3.900 ton.

Di Jakarta, pencemaran logam berat timah hitam makin serius dan di beberapa tempat sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan. Pada tahun 1988, emisi timah hitam di Jakarta mencapai 1,6 ton/hari. Sedangkan konsentrasi Pb di udara Jakarta mencapai 2 µg/m³ (baku mutu 0,60 µg/m³). Jumlah ini diperkirakan terus meningkat sejalan dengan pertambahan kendaraan bermotor yang berkisar antara 4–10%/tahun. Pencemaran oleh Pb menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama mengingat Pb bersifat persisten dan beracun. Kadar Pb yang tinggi dapat menyebabkan sakit persendian, sakit perut dan depresi sistem saraf.

Asbut fotokimia

Asbut fotokimia dianggap sebagai salah satu masalah pencemaran yang paling besar yang dihadapi banyak kota besar di seluruh dunia. Ozon di dalam atmosfer lebih rendah merupakan unsur pokok yang ditemukan dalam asbut fotokimia yang merusak kesehatan dan lingkungan alam kita. Adalah sulit untuk mendeteksinya karena tidak berwarna. Namun, ozon yang ditemukan di dalam lapisan atmosfer berfungsi melindungi kita dari radiasi berbahaya.

Kendaraan tidak memancarkan ozon. Sebaliknya, ozon ter- bentuk ketika polutan tertentu di udara bereaksi dengan sinar

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—27

matahari yang terang. Bahan baku yang dibutuhkan untuk asbut fotokimia adalah oksida dari nitrogen, oksigen, senyawa organik volatil, dan sinar matahari dalam jumlah besar.

Ozon dalam jumlah kecil terbentuk dan dipecah secara alami. Namun, emisi buatan manusia yaitu nitrogen oksida (NOx) dan senyawa organik volatil (VOC) mengganggu siklus ini dan menyebabkan akumulasi ozon (O 3 ).

Sebagian besar senyawa organik volatil di Indonesia yang ditemukan di udara diyakini berasal dari kendaraan bermotor. Sumber-sumber lainnya adalah tungku berbahan bakar padat, kebakaran terbuka, pembakaran hutan secara terkendali atau tak terkendali, industri dan tumbuh-tumbuhan alam.

Di dalam sinar matahari, reaksi-reaksi terjadi menghasilkan ozon, yang merupakan gas korosif tinggi yang dapat menye- babkan gangguan mata dan hidung pada konsentrasi yang sangat rendah dan masalah-masalah pernafasan serta kardio- vaskuler serius pada konsentrasi yang lebih tinggi. Selain itu, dapat pula mengakibatkan kerusakan pada gedung-gedung dan bangunan lain.

Kebakaran hutan dan haze pada tahun 1997 Pertanian dengan cara membabat serta membakar hutan telah dipraktekkan
Kebakaran hutan dan haze pada tahun 1997
Pertanian dengan cara membabat serta membakar hutan telah dipraktekkan selama berabad-abad di segenap
penjuru hutan tropis. Petani-petani kecil biasanya mengendalikan lingkup wilayah pembakaran mereka
dengan hati-hati. Namun demikian, ledakan permintaan dunia terhadap produk-produk tropis yang sedemikian
luasnya seperti minyak sawit telah mengakibatkan terjadinya pembakaran dalam skala yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Menanggapi perkembangan ini, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan berbagai
konsesi pembukaan hutan yang lebih banyak dalam tahun 1997 daripada sebelumnya.
Kebakaran hutan yang paling tak terkendali terjadi di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatra. Dipadukan
dengan kemarau ‘El Nino’ yang berkepanjangan (yang paling parah dalam 50 tahun terakhir), lebih dari
13.000 km² hutan curah hujan terbakar pada tahun 1997.
Sekitar 20 juta orang dirawat karena asma, bronkhitis, emfisema, mata, kulit dan penyakit-penyakit
kardiovaskuler. Diperkirakan sebanyak 48 juta orang Indonesia terserang API (indeks pencemaran udara),
ada tercatat lebih dari 800 di beberapa kota.

Kabut

Noda coklat yang kadang-kadang terlihat menggantung di atas kota-kota Indonesia, terutama pada hari-hari yang tidak berangin, disebut kabut.

Kabut dibentuk oleh partikel-partikel debu yang terbawa angin, garam laut, uap air, asap, emisi kendaraan, dan emisi dari industri.

2—28

Kursus pengelolaan kualitas udara

2—28 Kursus pengelolaan kualitas udara Kabut menurunkan penglihatan dan fallout mempengaruhi lingkungan alam dan fisik. Kabut

Kabut menurunkan penglihatan dan fallout mempengaruhi lingkungan alam dan fisik. Kabut dapat terdiri dari partikel-partikel berdiameter kurang dari 1/1000 mm (1 µ). Karena ukurannya yang kecil, maka disebab-

kan masalah pernafasan bagi sejumlah orang.

Kabut di Surabaya. Emisi-emisi kendaraan terlibat dalam formasi episode kabut seperti dialami di kota-kota besar di Indonesia.

Dampak daerah perkotaan terhadap iklim

Kegiatan perkotaan dapat menciptakan sendiri perubahan- perubahan terhadap faktor-faktor meteorologis setempat. Pola iklim dan hasil penyaluran polutan udara di daerah perkotaan akan terpengaruh.

Desain kota itu sendiri dapat sangat mempengaruhi tingkat- tingkat pencemaran udara. Sejumlah pola alternatif per- tumbuhan perkotaan telah dikaji dan dipikirkan berdasarkan pada dampak-dampaknya terhadap pencemaran udara. Beberapa contoh rencana perkotaan yang dipikirkan disajikan dalam Gambar 2.8.

Gambar 2.8

Pilihan dalam desain-desain kota alternatif.

Kota tepi Kota ultra Kota tersebar Kota padat Kota koridor Kota pinggiran Luar Tengah Dalam Pusat
Kota tepi
Kota ultra
Kota tersebar
Kota padat
Kota koridor
Kota pinggiran
Luar
Tengah
Dalam
Pusat

Sebuah fenomena meteorologis lokal dan regional yang disebut ‘sirkulasi udara urban-rural’ tercipta oleh faktor-faktor meteor- ologis berikut ini:

Suhu

Perubahan keseimbangan panas merupakan produk dari perubahan meteorologis yang disebabkan oleh kegiatan per-

kotaan. Perubahan panas dapat disebabkan oleh:

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—29

Perubahan sifat panas: Banyaknya dinding bangunan tegak lurus di daerah perkotaan akan merubah keseimbangan thermik secara berarti: pada siang hari, gelombang sinar matahari yang tiba akan mengalami pemantulan berulang kali oleh permukaan tanah dan dinding-dinding tinggi, hingga gelombang sinar yang dapat terlepas langsung ke atmosfer sangat berkurang, bila dibandingkan dengan daerah pedesaan yang relatif lebih terbuka. Panas yang datang dan menyentuh dinding juga akan tertahan dan tersimpan dalam waktu yang relatif lama. Pada malam hari, pelepasan panas yang tertahan siang hari akan meningkatkan temperatur minimum. Hal ini terutama berlangsung selama musim panas atau di perkotaan daerah tropis.

Perubahan penyinaran: Polutan (aerosol, debu, oksidan) udara perkotaan dapat menurunkan sinar matahari yang masuk hingga 20–30%. Ini akan menyebabkan peningkatan suhu minimum, walaupun suhu maksimum akan berkurang selama musim dingin.

Pulau panas perkotaan

Akumulasi panas di daerah perkotaan sepanjang siang hari akan diikuti oleh keseimbangan radiasi panas di malam hari, sementara daerah pedesaan menahan lebih sedikit panas. Konsekuensinya sebuah pulau panas akan terbentuk di dalam kota-kota tersebut, isotermnya terletak di pusat kota.

Intensitas pulau panas semacam itu bergantung pada:

Kecepatan angin kritis di atas pulau panas

awan dan curah hujan

lapisan campuran

kecepatan angin.

Kecepatan angin cenderung menurun ketika melintasi wilayah perkotaan karena friksi-friksi yang dialami oleh aliran angin, kecuali bagi akselerasi setempat karena efek venturi, jet di antara gedung-gedung tinggi.

Penurunan kecepatan angin di kota-kota metropolitan seperti Paris, New York dll. telah mencapai 40–50% di bawah 20 m, dan 15–20% antara 20–50 m.

Arah angin setempat akan berubah secara besar, antara 15– 40°, yang dapat dilihat pada jarak antara 30–50 km pada arah angin bawah kota.

2—30

Kursus pengelolaan kualitas udara

Dampak global

Cerobong asap tinggi yang digunakan oleh industri dan fasilitas prasarana tidak menghilangkan polutan tetapi hanya men- dorongnya lebih tinggi ke atmosfer, dengan demikian meng- urangi konsentrasinya di lokasi tersebut. Polutan-polutan ini kemudian dapat diangkut melintasi jarak yang jauh dan mengakibatkan efek buruk di wilayah yang jauh letaknya dari lokasi emisi asal.

Unsur prekursor hujan asam

Hujan asam merupakan masalah yang berkaitan dengan pencemaran udara, akibat adanya efek lintas batas. Dampak hujan asam dimungkinkan oleh adanya pelepasan unsur-unsur prekursor pembentuk hujan asam, yakni oksida-oksida sulfur dan nitrogen. Unsur-unsur tersebut sebagian besar diemisikan oleh kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan penggunaan energi. Emisi-emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida dari Inggris menyebabkan hujan asam di Norwegia dan Swedia.

Pulau Jawa memiliki tingkat emisi prekursor hujan asam tertinggi di Indonesia, terutama disebabkan sebagian besar kegiatan perekonomian terpusat di pulau ini. Pada tahun 1989, tingkat emisi prekursor SO x di Indonesia mencapai 157.000 ton per tahun, sedangkan NO x mencapai 175.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 19% emisi pre- kursor SO x dan 15% emisi prekursor NO x terdapat di Jakarta.

Selama kurun waktu 1983–1991 kadar ambien rata-rata tahunan kedua gas tersebut di stasiun BMG Jakarta cenderung menurun, yakni dari 0,006 ppm menjadi 0,002 ppm untuk SO 2 dan dari 0,075 ppm menjadi 0,004 ppm untuk NO x . Namun pencatatan data pada waktu-waktu tertentu di daerah industri Jakarta menunjukkan kadar yang sangat tinggi, di- bandingkan dengan baku mutu ambien.

Sedangkan di Surabaya, kadar SO x hanya 8µg/m³ dan NO x 85µg/m³. Di Bandung kadar NO x 75µg/m³ dan SO x 6.5µg/m³.

Secara keseluruhan, tingkat keasaman hujan di stasiun-stasiun pengamat, yaitu di Medan, Palembang, Jakarta, Cisarua, Bandung dan Manado, masih berada dalam batas-batas keasaman hujan alami. Nilai keasaman (pH) rata-rata berkisar antara 5,42 dan 5,64. Batas yang diterima untuk tingkat keasaman air hujan yang tidak terkontaminasi adalah 5,6.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—31

Gas rumahkaca

Di Indonesia, emisi gas rumahkaca memperlihatkan peningkatan yang cukup pesat dari 1980–1988. Selama periode tersebut, emisi gas CO meningkat dari 10,9 menjadi 23,4 juta ton.

CO 2 melipat 2,5 kali dari 56,1 menjadi 153,5 juta ton. N 2 O meningkat dari 0,018 menjadi 0,116 juta ton. Sedangkan

Konsumsi CFC di Indonesia Sumber data yang mengungkapkan secara pasti emisi gas khlorofluorokarbon (CFC) belum ada.
Konsumsi CFC di Indonesia
Sumber data yang mengungkapkan secara pasti emisi
gas khlorofluorokarbon (CFC) belum ada. Sebenarnya
potensi relatif gas ini paling tinggi di antara gas-gas
rumahkaca lainnya. Bila diasumsikan impor CFC
dikonsumsi semuanya, maka antara tahun 1984 dan
1990, konsumsi CFC di Indonesia telah meningkat
hampir dua kali lipat, yakni dari 2.430 mencapai
4.745 kg/tahun. Konsumsi CFC ini masih di bawah
nilai maksimal yang diperbolehkan, yakni 0,3 kg per
kapita per tahun.

CH 4 dari 29,2 menjadi 35,7 juta ton. Bila

gas-gas tersebut diperhitungkan berdasarkan

potensi relatifnya terhadap CO 2 maka emisi total gas rumahkaca tersebut pada tahun 1980 mencapai 707,3 juta ton ekuivalen CO 2 , meningkat menjadi 863,5 juta ton pada tahun 1985 dan 961 juta ton pada tahun 1988.

Pemantauan kadar ambien gas rumahkaca umumnya terbatas. Untuk karbon monoksida, kadarnya di Jakarta mencapai 28.000 µg/m³ (baku mutu 22.600 µg/m³). Sedangkan di Surabaya dan di Bandung, kadar CO hanya

17.000 µg/m³.

Perubahan iklim

Sekitar tahun 1960-an, para ilmuwan mulai mengkhawatirkan bahwa kegiatan manusia secara perlahan-lahan akan mem- pengaruhi iklim global. Ini disebabkan oleh meningkatnya efek rumahkaca sebagai akibat dari akumulasi karbon dioksida dan gas-gas lainnya.

Efek rumah kaca ini menyebabkan suatu peningkatan suhu permukaan bumi, yang dikenal sebagai pemanasan global. Walaupun ada pro dan kontra mengenai isu pemanasan global ini, namun bila hal ini benar, dampak potensialnya terhadap peradaban manusia adalah sangat besar.

Secara sederhana, efek rumahkaca dapat dijelaskan sebagai berikut. Sinar matahari memanaskan laut dan daratan. Per- mukaan bumi yang memanas, kemudian meradiasikan panas dalam bentuk sinar inframerah ke ruang angkasa. Sebagian sinar inframerah tersebut diserap oleh gas-gas rumahkaca yang terdapat di atmosfer, seperti uap air dan CO 2 . Dengan demikian panas terperangkap, tidak dapat lepas ke ruang angkasa, se- hingga suhu permukaan bumi naik dan sesuai bagi rumahkaca ini tidak ada, suhu permukaan bumi akan menjadi 33°C lebih rendah dibandingkan sekarang, sehingga berada di bawah titik beku air. Jadi dalam kondisi normal, efek rumahkaca ini se- benarnya diperlukan, agar bumi menjadi nyaman untuk dihuni.

2—32

Kursus pengelolaan kualitas udara

Kadar alami karbon dioksida di atmosfer ini, dikendalikan oleh interaksi yang berlangsung antara atmosfer, lautan dan biosfer, yang dikenal sebagai daur geokimia karbon. Kegiatan manusia yang melepaskan karbon yang berlebihan, telah mengganggu daur karbon ini. Akibatnya kadar karbon dioksida

  • di atmosfer bertambah tinggi, yang selanjutnya meningkatkan

efek rumahkaca tersebut.

Analisis catatan perubahan suhu dalam 100 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu global adalah 0,3–0,6 o C.

  • Di Indonesia sendiri, kota pantai yang rendah seperti Jakarta,

Pontianak, Banjarmasin serta lahan pasang surut di Sumatera dan Kalimantan dapat terancam, bila tinggi permukaan laut terus bertambah.

Naiknya permukaan laut juga membawa implikasi lain seperti erosi wilayah pesisir, kerusakan lingkungan pesisir (hutan bakau dan terumbu karang), naiknya salinitas di estuaria dan wilayah pesisir lainnya, perubahan lokasi sedimentasi, ber- kurangnya intensitas cahaya di dasar laut serta meningkatnya tinggi gelombang. Di samping itu, gangguan keseimbangan biologis di laut akibat perubahan iklim global dapat meningkat- kan jumlah ganggang di lautan. Beberapa jenis ganggang ini diketahui mengeluarkan racun yang membahayakan kehidupan

  • di laut, selain meracuni manusia yang memakan ikan dan

hasil laut lainnya.

Jelaslah bahwa perubahan iklim ini dapat berdampak negatif bukan saja terhadap ekosistem, melainkan juga langsung mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Lapisan ozon: filter alam yang menipis

  • Di dekat permukaan bumi, pada lapisan atmosfer yang disebut

troposfer, ozon (O 3 ) sebenarnya adalah zat pencemar yang

kehadirannya kian mencemaskan. Senyawa ozon adalah molekul oksigen dengan tambahan sebuah atom oksigen. Ozon troposfer adalah oksidan kuat dan beracun, yang ter- bentuk secara tak langsung dari pembakaran bahan bakar fosil, serta berpotensi menjadi smog fotokimia.

Tetapi jauh di stratosfer, lapisan atmosfer pada ketinggian 15– 50 km di atas permukaan bumi, gas ozon berwarna biru dan berbau tajam ini menjadi penting artinya bagi kehidupan. Lapisan senyawa beracun ini menjadi pemberi kehidupan yang unik sifatnya bagi planet bumi. Ia berfungsi sebagai filter alam yang menyerap radiasi ultraviolet sinar matahari yang berbahaya bagi makluk hidup.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—33

Ozon stratosfer sebenarnya berada dalam keseimbangan yang dinamis. Melalui reaksi fotokimia, ozon terbentuk secara alami dari molekul oksigen. Sedangkan radiasi ultraviolet dapat memecahnya kembali menjadi oksigen. Tetapi ke- seimbangan yang dinamis ini dapat terganggu oleh kehadiran berbagai senyawa kimia di stratosfer. Oksida-oksida hidrogen, nitrogen dan khlor dapat mempercepat pengrusakan ozon.

Kepedulian terhadap penipisan ozon stratosfer akibat kegiatan manusia sebenarnya telah muncul di akhir tahun 60-an yang berkaitan dengan beroperasinya pesawat terbang supersonik. Suhu tinggi mesin pesawat mengubah nitrogen dan oksigen di atmosfer menjadi nitrogen oksida (NO x ) yang terdeposit di stratosfer pada ketinggian 17–20 km. NO x kemudian ber- tindak sebagai katalis yang merusak ozon stratosfer.

Tak lama kemudian, pada tahun 1974, diketemukan bahwa khlorofluorokarbon (CFC) dapat bertahan cukup lama di troposfer. Tanpa berubah bentuk, CFC perlahan-lahan ter- difusi ke stratosfer, di mana radiasi ultraviolet yang kuat merusaknya. Khlor yang terlepas mengikat sebuah atom dari molekul ozon, membentuk radikal bebas IO, yang bereaksi lebih lanjut menghasilkan atom khlor. Reaksi berantai ini dapat merusak sampai 100.000 molekul ozon per atom khlor. Beberapa halon, senyawa sekerabat CFC yang antara lain dipakai untuk pemadam air, ternyata merusak ozon sepuluh kali lebih efektif dibanding CFC.

Senyawa kimia lain yang juga berperan dalam menipiskan lapisan ozon adalah karbon terakhlorida, methyl khloroform dan nitrogen oksida.

2—34

Kursus pengelolaan kualitas udara

BAKU MUTU KUALITAS UDARA

Di Indonesia dan juga di berbagai negara industri, peraturan dan teknologi semakin menyatu. Susunan dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup menunjukkan adanya era baru dalam lingkup nasional dan tanggung jawab dalam pem- bangunan, penyebarluasan dan penerapan teknologi yang ada maupun teknologi baru dalam pengendalian dan pengelolaan lingkungan. Beberapa kerangka peraturan menekan pada pengendalian kualitas lingkungan seperti halnya peraturan mengenai baku mutu kualitas udara ambien, baku mutu kualitas air, dll. Peraturan lain yang ada ditekankan pada pengendalian emisi dan efluen baik cair maupun gas.

Baku mutu kualitas udara disajikan dalam Tabel 2.2.

Tabel 2.2

Baku mutu kualitas udara.

   

Waktu

 

Baku mutu

 

Compound name

pengukuran

 

Nasional

Jawa Timur

   

1

jam

900

µg/m³ (0,34 ppm)

 

Sulfur dioksid

24

jam

300

µg/m³ (0,11 ppm)

220

µg/m³

1

tahun

60 µg/m³ (0,02 ppm)

 
   

1

jam

30.000 µg/m³ (26 ppm)

 

Karbon monoksid

8

jam

10.000 µg/m³ (9 ppm)

2260 µg/m³

1

tahun

   

1

jam

400

µg/m³ (0,21 ppm)

 

Nitrogen dioksid

24

jam

150

µg/m³ (0,08 ppm)

92,5 µg/m³

1

tahun

100

µg/m³ (0,05 ppm)

   

1

jam

   

Oksidan sebagai O 3

24

jam

160

µg/m³ (0,08 ppm)

200

µg/m³

1

tahun

   

Partikulat

 

24

jam

 

230 µg/m³

260

µg/m³

tersuspensi (TSP)

1

tahun

90 µg/m³

Partikulat

 

24

jam

   

tersuspensi (SPM)

1

tahun

Timah hitam

 

24

jam

 

2,0 µg/m³

260

µg/m³

1

tahun

 

Hidrokarbon

 

3

jam

160

µg/m³ (0,24 ppm)

160

µg/m³

Bagaimanapun juga, baku mutu kualitas udara ini masih perlu dikembangkan dan diperbaiki. Pelaksanaan baku mutu ini menghadapi berbagai masalah berkaitan dengan biaya teknologi pengendalian. Baku mutu kualitas udara Indonesia terdiri dari sembilan parameter, SO 2 , CO, NO x , O 3 (oksidan), TSP (partikulat), Pb, H 2 S, NH 3 , dan hidrokarbon.

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

2—35

Sebagai perbandingan dan evaluasi terhadap baku mutu kualitas udara Indonesia digunakan NAQC (national air quality criteria) dan NQS (national quality standards) dari Amerika Serikat. Hanya 6 pencemar utama yang terdapat dalam NAQC dan NQS, sedangkan baku mutu kualitas udara Indonesia menambahkan tiga parameter lagi, yaitu Pb, H 2 S dan NH 3 . Pertimbangan penambahan ketiga parameter ini adalah karena Indonesia merupakan daerah tropik dengan kelembaban tinggi, sehingga H 2 S dan NH 3 merupakan parameter yang penting, sedangkan Pb merupakan indikator pencemaran udara oleh kendaraan bermotor (transportasi), terutama di kota besar. Pada dasarnya, baku mutu yang berlaku di Indonesia mengadopsi baku mutu yang dikeluarkan oleh WHO, kecuali waktu rata-rata yang digunakan dalam me- nentukan konsentrasi pencemar yang hanya digunakan bagi pemaparan pencemar dalam durasi yang singkat. Kriteria yang ada dalam NAQC meliputi pula waktu pemaparan yang lebih baik, seperti durasi pemaparan yang lama didasarkan atas rata- rata tahunan dan durasi pemaparan yang singkat didasarkan atas rata-rata harian atau rata-rata per jam.

Perlu diperhatikan bahwa, efek terhadap kesehatan (sebagai efek primer) akan sangat berlainan dan sangat bergantung pada waktu pemaparan seperti halnya interaksi yang terjadi antara beberapa pencemar. Kriteria sekunder didasarkan atas efek yang mengikuti pola yang serupa meliputi efek terhadap lingkungan non manusia dan kerusakan material.

Kata-kata kunci: Dampak-dampak global, pencemaran udara, Program Langit Biru; Sumber-sumber, jenis-jenis, antropogenik, pencemar primer, pencemar sekunder.

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP

2 MATA AJARAN Pengelolaan kualitas udara DALAM SESI INI Pendahuluan Aspek spasial dan temporal Tinjauan umum
2
MATA
AJARAN
Pengelolaan kualitas
udara
DALAM SESI INI
Pendahuluan
Aspek spasial dan temporal
Tinjauan umum terhadap sistem pen-
cemaran udara
Sumber pencemaran udara
Jenis utama pencemaran udara
Masalah pencemaran regional dan global
Baku mutu kualitas udara
OHP 2–1

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

Definisi Siklus pengelolaan kualitas udara 1 Pengukuran dan pemantauan kualitas udara ambien 5 Melaksanakan 2 pengendalian
Definisi
Siklus pengelolaan kualitas udara
1
Pengukuran dan
pemantauan kualitas
udara ambien
5
Melaksanakan
2
pengendalian pencemaran
udara dan kegiatan-kegiatan
lainnya untuk melaksanakan
rencana pengelolaan
kualitas udara
Pengkajian
mengenai apa maksud
pengukuran kualitas udara dan
dampaknya terhadap
lingkungan
4
Penyusunan
Penetapan
rencana pengelolaan
kualitas udara untuk
mencapai sasaran yang
telah ditetapkan
3
sasaran proses
pengelolaan, dimana sasaran
mengenai pengelolaan kualitas
udara menjadi standar ambien
kualitas udara
Gambar 2.1
Kelima komponen siklus
pengelolaan kualitas udara.
OHP 2–2

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

OHP

ASPEK SPASIAL DAN TEMPORAL PENCEMARAN UDARA Skala spasial dan temporal SKALA MIKRO/LOKAL SKALA MEDIUM/REGIONAL SKALA MAKRO
ASPEK SPASIAL DAN TEMPORAL
PENCEMARAN UDARA
Skala spasial dan temporal
SKALA MIKRO/LOKAL
SKALA MEDIUM/REGIONAL
SKALA MAKRO
SKALA GLOBAL
Kronologi peristiwa pencemaran udara
1273 Edward I memberlakukan langkah hukum
Asbut London teramati setelah Revolusi Industri
pada abad ke-18
Asbut fotokimia Los Angeles 1950-an.
Hujan asam yang terjadi secara luas di daratan
Amerika Utara dan Eropa Barat
Inversi di Donora, Pennsylvania, pada tahun 1948
Pengungkapan dan penelitian dalam tahap modern
Pencemaran udara di Indonesia mulai mendapatkan
perhatian yang lebih luas (1970).
Bencana di Bhopal, India 1984.
Akumulasi gas-gas rumah kaca
Penipisan lapisan ozon
OHP 2–3

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

TINJAUAN UMUM TERHADAP SISTEM PENCEMARAN UDARA Sumber area, garis dan titik Sumber Sumber tetap pada pembakaran
TINJAUAN UMUM TERHADAP SISTEM
PENCEMARAN UDARA
Sumber area, garis dan titik
Sumber
Sumber tetap pada
pembakaran bahan
bakar
Emisi dan
Pembuangan
kebocoran
Lain-lain
transportasi
limbah
padat
proses industri
• Kendaraan
bermotor
• Jalan raya pada
penggunaan bahan
bakar
• Pesawat udara
• Kereta api
• Kapal laut
• Penanganan
minyak
• Kehilangan akibat
evaporasi
• Pemakaian
bahan
On site
bakar
Industri-industri
• proses kimia
• Insinerator
-
Rumah tangga
• makanan dan
kota
-
Industri
pertanian
• Pembakaran
-
Komersial
• metalurgi
terbuka
-
Kelembagaan
• PLTU
• PLTD
• produk mineral
• penyulingan
minyak
• Kebakaran
hutan
• kebakaran
bangunan
• pembakaran
sisa batu bara
• pembakaran
dari lahan
pertanian, dll.
Gambar 2.2
Pengelompokan sumber pencemar
udara.
OHP 2–4

Sesi 2: Pengelolaan kualitas udara

OHP

Keluaran model Gambar 2.3 Konsentrasi Ozon, NOx dan NMHC di dalam bagian utara-selatan plume asap kawasan
Keluaran model
Gambar 2.3
Konsentrasi Ozon, NOx dan NMHC
di dalam bagian utara-selatan
plume asap kawasan Perth,
Australia Barat, yang
memperlihatkan: (a) hasil dari
penggunaan model Carnegie-Mellon
CIT; (b) hasil pengukuran di lokasi-
lokasi yang sama; dan (c) rute
pesawat yang digunakan untuk
pengukuran.