P. 1
ASMA BRONKHIAL

ASMA BRONKHIAL

|Views: 107|Likes:
Dipublikasikan oleh HeWry_TElmy_5199
Pernapasan
Pernapasan

More info:

Published by: HeWry_TElmy_5199 on Sep 14, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/14/2013

pdf

text

original

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKHIAL

Disusun Oleh : Mahasiswa NIM 09.001 – 09.021

Akademi Keperawatan ” Yakpermas ” Banyumas Jl. Raya Jompo Kulon, Sokaraja Banyumas 53181 Telp/Fax. ( 0281 ) 6596816

I. Pengertian

Latar Belakang

A.

a. Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronchial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme ( kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). ( Polaski : 1996 ) b. Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronchial yang dikarakteristikan dengan bronkospasme yang reversible. ( Joyce M. Black : 1996 ) c. Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversible dimana trachea dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. ( Smelzer Suzanne : 2001 ) d. Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif. (Reeves, 2001 : 48) e. Asma Bronkhial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trachea dan bronchus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan. ( The American Thoracic Society ).

B.

Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi

timbulnya serangan asma bronkhial yaitu : Faktor predisposisi

Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui

bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. Faktor presipitasi

Alergen

Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Inhalan, 2. Ingestan, 3. Kontaktan, yang yang yang masuk masuk melalui masuk melalui saluran melalui kontak dengan pernapasan mulut kulit

Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi Contoh : makanan dan obat-obatan Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan

Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.

Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau.

Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa

memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.

Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini

berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas

jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

C.

Manifestasi klinis
Manifestasi klinis pada pasien asma adalah batuk, dyspnea, dan wheezing. Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisah, duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bahu pernafasan bekerja dengan keras. Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu : a. Tingkat I Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru. • Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkhial di laboratorium. b. Tingkat II • Tanpa keluhan dan kelainan fisik tapi fungsi paru-paru menunjukan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan. c. Tingkat III Tanpa keluhan. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukan adanya obstruksi jalan nafas. Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah disereng kembali. d. Tingkat IV Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapattanda-tanda obstruksi jalan nafas. e. Tingkat V • • Status asmatik yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih dan tachicardi.

D.

Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar untuk berbafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas

bronkhiolus terhadap benda-benda asing diudara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : Seseorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronchus kecil. Bila seseorang menghirup allergen maka antibody Ig E orang tersebut akan meningkat, allergen bereaksi dengan antibody yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat ( yang merupakan leukotrient ), factor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua factor-faktor tersebut akan menghasilkan udema local pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran nafas menjadi meningkat. Pada asma, diameter bronkhiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. Karena bronkhiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsionaldan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. E.

Pathway
Faktor Instrinsik Infeksi kuman Infeksi saluran pernafasan Faktor ekstrinsik Alergen + faktor genetic

Pengaktifan respon imun (sel mast)

Pengaktifan mediator kimiawi Histamin, serotinin, kinin

Bronchospasme

edema mukosa

sekresi

inflamasi

Penyempitan jalan nafas Pola nafas tidak efektif Serangan paroksimal Dispnea, wheezing Batuk, sputum

Inefektif bersihan jalan nafas

Anoreksia

ancaman Kehidupan

Defisit volume cair Gangguan nutrisi, kurang dari kebutuhan susah tidur

Kecemasan

Penempatan pola istirahat tidur

F.

Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :

a.

Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.

b.

Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu: 1. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan. Menghindari faktor pencetus. Fisiotherapy. Beri O2 bila perlu. 2. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan : a. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : - Orsiprenalin (Alupent) - Fenoterol (berotec) - Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup,suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent,Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. b. Santin (teofilin) Nama obat :

- Aminofilin (Amicam supp) - Aminofilin (Euphilin Retard) - Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara emakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). c.Kromalin Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. d.Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. G. a. b. c.

Komplikasi
. Status asmatikus Bronkhitis kronik, bronkhiolus Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender d. Pneumo thoraks : Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan

untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi e. Kematian

II. Asuhan A. Pengkajian

Keperawatan

Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu:
• • •

Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Kaji riwayat pekerjaan pasien.

a.

Aktivitas :
• •

Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Tidur dalam posisi duduk tinggi. b. Pernapasan :

• • •

Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan hidung.

1. Adanya bunyi napas mengi. 2. Adanya batuk berulang. c. Sirkulasi :
• • •

Adanya peningkatan tekanan darah. Adanya peningkatan frekuensi jantung. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.

Kemerahan atau berkeringat. d. Integritas ego :

• • • •

Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah

e.

Asupan nutrisi :
• •

Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. Penurunan berat badan karena anoreksia.

f.

Hubungan sosial :
• • •

Keterbatasan mobilitas fisik. Susah bicara Adanya ketergantungan pada orang lain.

g.

Seksualitas :

Penurunan libido

B. Diagnosa Keperawatan
a. b. c. d. e. g. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan Kurang pengetahuan b.d. proses penyakit dan pengobatan dan udema mukosa.

menurunnya intake oral f.Perubahan proses keluarga b.d. kondisi kronik

C. Intervensi
a. Tujuan : akan menunjukkan perbaikan pertukaran gas ditandai dengan : tidak ada wheezing dan retraksi batuk menurun warna kulit kemerahan tidak menunjukkan gangguan ketidakseimbangan asam basa yang ditandai dengan  2. Intervensi: saturasi oksigen ± 95 % Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d.

bronkospasme dan udema mukosa

Kaji RR, auskultasi bunyi napas  R/:sebagai sumber data adanya pewrubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan .Beri posisi high fowler atau semi-fowler R/;mengembangkan ekspansi paru Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif  R/: membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenas .Lakukan suction jika perlu  R/: membantu mengeluarkan secret yang tidak dapat dikeluarkan oleh anak sendiri Lakukanfisioterapi R/:membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru Berikan oksigen sesuai program R/:memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi Monitor peningkatn pengeluaran sputum R/:ebagai indikasi adanya kegagalan pada paru Berikan bronchodilator sesuai indikasi R/:otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi b. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan

1. Tujuan : Anak menunjukkan penurunan kelelahan ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan peningkatan kemampuan dalam beraktifitas 2. Intervensi : • Kaji tanda – tanda hipoksia / hypercapnea ; kelelahan, agitasi, peningkatan HR, peningkatan RR R/: deteksi dini untuk mencegah hipoksia dapat mencegah keletihan lebih lanjut • Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup  R/: Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan Minta orang tua untuk selalu menemani anak R/: Menurunkan ketakutan dan kecemasan Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam  R/: istirahat cukup dan tidur cukup menurunkan kelelahan dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi • Ajarkan teknik manajemen stress  R/ : Bronkospasme mungkin disebabkan oleh emosional dan stress Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI 1. Tujuan : Anak akan menunjukkan penurunan distress GI ditandai dengan: Penurunan nausea dan vomiting, adanya perbaikan nutrisi / intake 2. Intervensi: • Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari  R/: makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan. Makanan yang disukai mendporong anak untuk makan dan meningkatkan intake Berikan makanan halus, rendah lemak, gunakan warna  R/: Makanan berbumbu dan tinggi lemak dapat meningkatkan distress pada GI sehingga sulit dicerna Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi dengan makanan yang disukainya

c.

R/:Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive

d. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapasan dan menurunnya intake oral 1. Tujuan :Anak dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat ditandai dengan turgor kulit elastis, membrane mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine : 1-2 ml/kg BB/jam 2. Intervensi: Kaji turgor kulit, monitor urine, output tiap 4 jam R/: untuk mengetahui tingkat hidrasi dan kebutuhan cairannya Pertahankan terapi parenteral sesuai indikasi dan monitor kelebihan cairan  R/: kelebihan cairan dapat menyebabkan udema pulmonar • Setelah fase akut, anjurkan anak dan orangtua untuk minum 3-8

gelas / hari, tergantung usia dan berat badan anak  R/: anak membutuhkan cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi dan keseimbangan asam basa untuk mencegah syok e. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan 1. 2. Tujuan : Kecemasan menurun, ditandai dengan anak tenang dan dapat perasaannya Intervensi: Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing  R/: pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan Berikan terapi bermain sesuai indikasi  R/: terapi bermain dapat menurunkan efek hospitalisasi dan kecemasan Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak  R/: menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya mengekspresikan

III.

Daftar Pustaka

Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC. Corwin, J. Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”, Jakarta : EGC.Suriadi, SKp., Rita, SKp. Asuhan Keperawatan pada Anak

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->