Anda di halaman 1dari 10

SEJARAH, FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu, 10 April 2010 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa sebagai alat komunikasi sudah barang tentu mempunyai peranan yang sangat aktif dalam menunjang berbagai aktifitas hidup manusia. Terlebih lagi bahasa sebagai alat komunikasi. Siapapun dia dan apapun predikat yang dijabat oleh setiap insan pastilah tidak bisa terlepas dari bahasa, baik bahasa daerah, pun di dalamnya adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita. Bermula dari itulah kami mencoba membahas singkat bahasa Indonesia dari segi sejarah, fungsi, dan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Selain itu pula, penulisan makalah kali ini dilatarbelakangi oleh adanya minoritas atau bahkan mayoritas bangsa Indonesia yang masih belum memahami sejarah, fungsi, dan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Sehingga tidak sedikit dari mereka (bangsa Indonesia) yang menjadikannya sebagai bahasa kedua setelah bahasa daerah. B. Rumusan Masalah Guna menghindari meluasnya pembahasan makalah, maka kami membatasi bahasan-bahasan tersebut menjadi sebagai berikut: 1. Bagaimana devinisi bahasa Indonesia? 2. Bagaimana sejarah bahasa Indonesia? 3. Bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa indonesia? C. Tujuan Penulisan Diharapkan dengan makalah ini kita bisa memahami makna bahasa Indonesia dengan baik dan mau menjadikan serta menggunakannya sebagai bahasa kesatu dari bahasa-bahasa yang lain (bahasa daerah dan lain-lain ).

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36 bahasa Negara ialah bahasa Indonesia. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Madura, bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama.

Bahasa Indonesia merupakan sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia sebagai bangsa Indonesia yang, tentunya akan lebih berkesan positif jika kita menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nomor satu. B. Sejarah Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak dari zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara sejak abad ke VII. Bukti yang menyatakan itu ialah ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur tahun 686 M (Bangka Barat). Prasati itu bertuliskan huruf Pra-Nagari berbahasa Melayu Kuno. Bahasa Melayu Kuno itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah juga ditemukan Prasasti tahun 832 M dan di Bogor tahun 942 M yang menggunakan bahasa Melayu Kuno. Melayu kuno Penyebutan pertama istilah Bahasa Melayu sudah dilakukan pada masa sekitar 683686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Kerajaan Sriwijaya. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuno di Jawa Tengah. Yang kesemuanya bertuliskan PraNagari dan bahasanya bahasa Melayu Kuno memberi petunjuk bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya. Berikut ini kutipan sebagian bunyi batu bertulis Kedukan Bukit. Swastie syrie syaka warsaatieta 605 ekadasyii syuklapaksa wulan waisyaakha dapunta hyang naayik di saamwan mangalap siddhayaatra di saptamie syuklapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga taamwan... (Terjemahan dalam bahasa Melayu sekarang (bahasa Indonesia): Selamat! Pada tahun Saka 605 hari kesebelas pada masa terang bulan Waisyaakha, tuan kita yang mulia naik di perahu menjemput Siddhayaatra. Pada hari ketujuh, pada masa terang bulan Jyestha, tuan kita yang mulia berlepas dari Minanga Taamwan...) Melayu Klasik Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuno. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303. Seiring dengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi Masuk Melayu berarti masuk agama Islam. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu semakin jelas dari peninggalan kerajaan Islam baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minyeh Tujo, Aceh tahun 1830 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17) seperti syair Hamzah Fansuri, hikayat raja-raja Pasai, sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Bahasa Melayu menyebar kepelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa dan antarkerajaan. Karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.

Bahasa Melayu dipakai diwilayah Nusantara, dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab dan bahasa Eropa. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya. Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar. Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia Berikut adalah contoh bahasa melayu klasik Pada tahun 1779 sebagai contoh dari bahasa melayu klasik di dalam prasasti tahun 1286 terdapat kata-kata inan tatkala paduka bharala, serta di dalam prasasti tahun 1380 terdapat kata-kata yang berbunyi hijrat nabi mungstapa yang prasida / raja iman warda rahmat-allah / gutra barubasa mpu hak kadah pase ma /. Dan selanjutnya dari prasasti tahun 1602 ditemukan kata-kata yang segera kita kenali artinya aku raja yang kuasa yang dibawah angin yang memegang takhta ... Bahasa Indonesia Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia". Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip

dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap lahir atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Dimana, Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya dan ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 36. Penamaan Suatu Benda Pada hakekatnya, setiap benda mempunyai nama sejak pertama kali ia ada. Baik benda itu ada pada jaman sekaranag ataupun berada pada jaman jauh sebelum sekarang seperti pada jaman prayunani. Adapun keberanekaragaman nama terhadap suatu benda hal itu disebabkan oleh adanya beberapa factor seperti kultur. Atau boleh dibilang bahwa keanekaragaman nama terhadap suatu benda ialah karena penerjemahan benda itu sendiri dari dari suatu daerah ke daerah yang lain. Misalnya benda yang biasa diduduki. Dalam Negara Indonesia benda itu disebut dengan kursi sedfangkan di Negara-negara lain yang bahasanya tidak menggunakan bahasa Indonesia maka tidak disebut dengan kursi tetapi disebut dengan chair. Seperti yang disebutkan di atas bahwa hal itu disebabkan oleh banyak factor dimana factor itu bisa karena budaya maupun dialek bahasa itu sendiri. C. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia 1. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Setelah Sumpah Pemuda semangat dan jiwa bahasa Melayu sudah bersifat nasional atau jiwa Indonesia. Pada saat itulah, bahasa Melayu yang berjiwa semangat baru diganti dengan nama bahasa Indonesia. Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 antara lain menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: a) Lambang kebanggaan nasional Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia memancarkan nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga dengannya; kita harus menjunjungnya; dan kita harus mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia, kita harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bngga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya. b) Lambang identitas nasional Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan lambang bangsa Indonesia. Ini beratri, dengan bahasa Indonesia akan dapat diketahui siapa kita, yaitu sifat, perangai, dan watak kita sebagai bangsa Indonesia. Karena fungsinya yang demikian itu, maka kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di dalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya. c) Alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya fungsi yang ketiga memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu

dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, sebab mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi dijajah oleh masyarakat suku lain. Apalagi dengan adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masingmasing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia. d) Alat perhubungan antarbudaya antardaerah. Bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja apabila kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berasal dari suku lain yang berlatar belakang bahasa berbeda. Kita tidak dapat bertukar pikiran dan saling memberi informasi dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. 2. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi Secara resmi adanya bahasa Indonesia dimulai sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Ini tidak berarti sebelumnya tidak ada. Ia merupakan sambungan yang tidak langsung dari bahasa Melayu. Sebab pada waktu itu bahasa Melayu masih juga digunakan dalam lapangan atau ranah pemakaian yang berbeda. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua oleh pemerintah jajahan Hindia Belanda, sedangkan bahasa Indonesia digunakan di luar situasi pemerintahan tersebut oleh pemerintah yang mendambakan persatuan Indonesia dan yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Demikianlah, pada saat itu terjadi dualisme pemakaian bahasa yang sama tubuhnya, tetapi berbeda jiwanya: jiwa kolonial dan jiwa nasional. Hal-hal yang merupakan penentu keberhasilan pemilihan suatu bahasa sebagai bahasa negara apabila (1) Bahasa tersebut dikenal dan dikuasai oleh sebagian besar penduduk negara itu (2) Secara geografis, bahasa tersebut lebih menyeluruh penyebarannya (3) Bahasa tersebut diterima oleh seluruh penduduk negara itu. Dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai (1) Bahasa resmi kenegaraan, (2) Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, (3) Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan (4) Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36 bahasa Negara ialah bahasa Indonesia 2. Sejarah bahasa Indonesia telah tumbuh dan berkembang sejak sekitar abad ke VII dari bahasa Melayu yang sejak zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara. Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya dan ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 36. 3. Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia a. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Adapun beberapa fungsinya adalah: 1) Lambang kebanggaan nasional 2) Lambang identitas nasional 3) Alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya 4) Alat perhubungan antarbudaya antardaerah. b.Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi Adapun bahasa Indonesia befungsi sebagai: 1) Bahasa resmi kenegaraan 2) Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan 3) Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah 4) Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

SEJARAH, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA I. Sejarah Bahasa Indonesia Perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari bahasa asalnya atau akar bahasa Indonesia, yakni bahasa Melayu. Oleh karena itu, ketika kita membicarakan bahasa Indonesia, hal yang berkaitan dengan bahasa Melayu menjadi penting untuk dibicarakan. Pada tahun 1924 Dr. G.F. Pijper, pakar bahasa dari Belanda, menyatakan bahwa bahasa Melayu tampaknya ditakdirkan akan menjadi bahasa kebudayaan Indonesia (Usman, 1970:89). Baik dilihat dari sejarahnya, susunannya, maupun dari segi bentuk kalimatnya, bahasa Melayu sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahasa kebudayaan di seluruh kepulauan Nusantara. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejak kapan bahasa Melayu mulai digunakan sebagai alat komunikasi? Menurut Usman (1975:5), bahasa Melayu digunakan sebagai alat komunikasi sejak nenek moyang kita pada abad ke-9 S.M. menginjakkan kaki di salah satu pulau-pulau besar yang lebih dekat ke pantai Asia, yaitu Sumatra atau Kalimantan. Berbeda dengan pendapat Usman, Halimsebagaimana dikutip oleh Arifin (1995:3)menyatakan bahwa bahasa Melayu, dalam bentuk bahasa Melayu kuna, baru digunakan sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya sekitar abad ke-7 M. Bukti yang dikemukakan oleh Halim adalah ditemukannya berbagai batu tertulis (prasasti), misalnya Prasasti Kedukan Bukit di Palembang (tahun 683), Prasasti Talang Tuo di Palembang (tahun 684), Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat (tahun 686), dan Prasasti Karang Brahi di antara Jambi dan Sungai Musi (tahun 688). Berbagai prasasti tersebut bertulis Pra-Nagari dengan menggunakan bahasa Melayu kuna. Selain ditemukan di Pulau Sumatra, beberapa prasasti lain yang menggunakan bahasa Melayu kuna juga ditemukan di Pulau Jawa, misalnya Prasasti Gandasuli (tahun 832) di Jawa Tengah dan Prasasti Bogor (tahun 942) di Bogor, Jawa Barat. Penemuan berbagai prasasti di Pulau Jawa itu membuktikan pula bahwa bahasa Melayu (kuna) tidak saja digunakan sebagai alat komunikasi di Pulau Sumatra, tetapi juga di Pulau Jawa. Adanya berbagai petunjuk tersebut dapat dinyatakan diperkirakan pula bahwa pada zaman Sriwijaya bahasa Melayu telah digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai berikut. 1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yakni sebagai bahasa pada kitab-kitab yang berisi aturan bermasyarakat dan dipakai dalam karya sastra. 2. Bahasa Melayu digunakan sebagai alat komunikasi atau bahasa perhubungan luas (lingua franca), baik antarsuku di kepulauan Nusantara maupun dengan bangsa asing. 3. Bahasa Melayu menjadi bahasa perniagaan, terutama di sepanjang pantai. 4. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi kerajaan Sriwijaya. Berkaitan dengan butir 2, bahasa Melayu dapat menjadi bahasa perhubungan luas (lingua franca) karena, menurut Usman (1970:23), lebih sederhana dan lebih demokratis jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Nusantara. Di samping itu, letak geografis Melayu (kepulauan-kepulauan yang penduduknya menggunakan bahasa Melayu) sangat strategis sebagai pusat lalu lintas perdagangan dan kebudayaan. Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan peristiwa yang sangat penting, antara lain, dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa Melayu dalam kehidupan bangsa Indonesia. Putusan atau ikrar yang dibacakan pada peristiwa tersebutyang sejak tahun 1878 selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda dan sekaligus dijadikan sebagai Hari Pemudaantara lain adalah sebagai berikut. Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jika dicermati, putusan Kongres Pemuda tersebut berisi tiga butir kebulatan tekad yang saling berkaitan. Butir pertama adalah pengakuan terhadap tanah air yang satu dengan ribuan pulau yang dihubungkan oleh laut sebagai satu kesatuan. Butir kedua adalah pengakuan bahwa manusia Indonesia dengan berbagai suku yang menempati tanah air Indonesia merupakan satu kesatuan yang disebut dengan bangsa Indonesia. Butir ketiga adalah pernyataan kebulatan tekad dari bangsa yang satu yang menempati tanah air yang satu, Indonesia, untuk menjunjung bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Makna yang dikandung dalam pernyataan tersebut adalah bukan pengakuan berbahasa satu sehingga keberadaan bahasa daerah lain masih diakui yang kedudukannya berada di bawah bahasa Indonesia. Dengan adanya ikrar tersebut, resmilah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang kedudukannya sebagai bahasa nasional. Pada tanggal 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia secara konstitusionalseperti yang tercantum dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 dikukuhkan sebagai bahasa negara. Pertanyaan yang menarik, mengapa bahasa Melayu pada tahun 1928 tersebut dijadikan sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional? Mengapa bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya paling banyak? Mengapa bukan pula bahasa Sunda yang secara geografis lebih dekat pusat pemerintahan? Bahasa Melayu dipilih oleh para pemuda pada Kongres Pemuda untuk dijadikan sebagai bahasa persatuanbahasa Indonesiakarena dianggap telah memenuhi beberapa kriteria yang bersifat objektif, yang antara lain meliputi jumlah penutur, luas persebaran, dan peranannya di bidang ilmu, seni sastra, dan pengungkap budaya. Ketiga kriteria tersebut tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan atau saling mendukung. Pertama, jika hanya diukur dari jumlah penutur asli, penutur bahasa Melayu tidak sebanyak penutur bahasa Jawa. Namun, jika jumlah penutur asli bahasa Melayu ditambah dengan penutur dwibahasawan yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua, jumlah penutur bahasa Melayu menduduki peringkat pertama. Kedua, dalam hal luas persebaran, bahasa Melayu menduduki urutan terdepan, yang secara implisit tampak dari penuturnya yang bukan hanya penutur asli (sebagai bahasa kedua). Sebagai masyarakat maritim dan pedagang, bangsa Melayu banyak melakukan perniagaan dan pelayaran ke berbagai pulau di Nusantara. Konsekuensi logisnya, bahasa mereka pun (bahasa Melayu) dipelajari pula oleh suku bangsa lain. Dengan demikian, karena bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan luas (lingua franca) yang digunakan dalam perniagaan, bahasa Melayu tersebar hampir di seluruh kepulauan Nusantara, terutama di daerah-daerah pantai. Ketiga, masih berkaitan dengan alasan atau kriteria pertama dan kedua, bahasa Melayu juga memiliki peranan yang besar sebagai sarana pengungkap ilmu, budaya, dan sastra. Di samping berniaga, bangsa Melayu juga menyebarkan agama yang dianutnya (Islam). Persebaran agama itu diikuti pula oleh persebaran kepustakaan atau ilmu tentang Islam ke dalam kepustakaan budaya yang dikunjunginya. Misalnya, kepustakaan Islam kejawen sangat dipengaruhi oleh kepustakaan Melayu pada masa Sultan Iskandar Muda dari Pasai. Di samping ketiga kriteria di atas, terdapat sebuah alasan politis dan sebuah alasan praktis bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa nasional. Alasan politisnya adalah bahasa Melayu bersifat demokratis, tidak mengenal tingkatan berbahasa (tingkat tutur), seperti yang terdapat dalam bahasa Jawa. Dengan sifatnya yang demokratis tersebut sangat cocok digunakan sebagai bahasa perjuangan. Karena itu pula, para tokoh pergerakan dari Jawaterutama yang tergabung dalam Syarikat Islam yang pernah menganjurkan penghapusan ragam krama dalam bahasa Jawasangat mendukung dikukuhkannya bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Adapun alasan praktisnya adalah karena bahasa Melayu lebih mudah dipelajari, sistem tata bahasanya lebih sederhana, dan

tidak mengenal ragam halus (krama) dan kasar (ngoko) sehingga mempunyai kesanggupan pula sebagai bahasa iptek. Dengan adanya beberapa alasan tersebut, bahasa Melayu memiliki potensi yang kuat untuk mengikat atau mempersatukan antarsuku yang berada di Nusantara yang memiliki beratus-ratus bahasa daerah. Dalam kenyataannya, berbagai suku di Indonesia tersebut menerima secara suka rela bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa bahasa persatuan dan bahasa nasional demi kepentingan pergerakan nasional. 2. Kedudukan Bahasa Indonesia Pada butir ketiga ikrar Sumpah Pemuda dinyatakan bahwa Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kata menjunjung mempunyai arti membawa di atas kepala. Hal itu menunjukkan, seperti telah disinggung di depan, bahwa bahasa Indonesia mempunyai kedudukan di atas bahasa-bahasa daerah. Dengan demikian, Sumpah Pemuda telah menempatkan bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional yang menjadi lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia. Pada tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara legal konstitusional dikukuhkan sebagai bahasa negara, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36, yang berbunyi Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia. Dasar hukum itu memberikan landasan yang kuat dan resmi bagi pemakaian bahasa Indonesia, bukan saja sebagai bahasa nasional, melainkan juga sebagai bahasa resmi kenegaraan. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai fungsi yang sangat mendasar dalam konteks berbangsa dan bernegara. Berikut dipaparkan berbagai fungsi yang disandang oleh bahasa Indonesia sesuai dengan kedudukannya. 3. Fungsi Bahasa Indonesia Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut. 1. Sebagai lambang kebanggaan nasional. Artinya, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari kebangsaan kita. Dengan bahasa itu bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikan sebagai pegangan hidup. Atas dasar itu pula bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan untuk memupuk rasa kebanggaan bagi pemakainya. 2. Sebagai lambang jati diri (identitas) nasional. Artinya, bahasa Indonesia dijunjung sejajar dengan bendera dan lambang negara Indonesia. Di dalam melaksanakan fungsi itu, bahasa Indonesia harus mempunyai identitas sendiri sehingga bahasa itu serasi dengan lambang kebangsaan yang lain. Hal itu dapat dicapai apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkan bahasa Indonesia. 3. Sebagai alat pemersatu bangsa. Artinya, dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia yang berbeda latar belakang sosial budaya, suku, agama, dan bahasanya, dapat dipersatukan ke dalam satu kebangsaan Indonesia tanpa harus meninggalkan identitas kesukuan, seperti nilai-nilai sosial budaya lokal dan bahasa daerah masing-masing suku bangsa. 4. Sebagai alat perhubungan antarwarga, antarbudaya, dan antardaerah. Artinya, bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang tepat untuk menghubungkan suku-suku yang berbeda bahasa daerahnya. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut. 1. Sebagai bahasa resmi kenegaraan atau pemerintahan. Oleh karena itu, dalam situasi formal kenegaraan (upacara kenegaraan, kunjungan kenegaraan, atau sidang kenegaraan), mutlak digunakan bahasa Indonesia.

2. Sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian, bahasa Indonesia secara resmi digunakan dari SD hingga perguruan tinggi. Bagi lembaga pendidikan khusus bahasa asing diperkenankan menggunakan pengantar berbahasa asing tersebut. Demikian pula bagi SD kelas 1 sampai dengan kelas tiga di wilayah yang masih kuat pemakai bahasa daerahnya diperkenankan pula untuk menggunakan pengantar berbahasa daerah. 3. Sebagai bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan. 4. Sebagai bahasa resmi di dalam pembangunan kebudayaan serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sesuai dengan itu, bahasa Indonesia merupakan satu-satunya alat yang memungkinkan dilakukannya pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional sehingga dapat memiliki ciri-ciri atau identitas sendiri.