Anda di halaman 1dari 15

PERILAKU TABUNGAN MASYARAKAT ANTAR DAERAH DI INDONESIA Indra Darmawan, S.E., M.Si.

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ABSTRACT This research is aimed to analyze the effects of gross domestic regional product, real interest rate, young and old dependency ratio, and inflation on private saving among the region in Indonesia. Beside that, this research is aimed to see is there any difference in private saving behaviour between region in Indonesia. This study is using panel data analyze which combining cross section and time series data set. The estimation results showed that gross domestic regional product might be line with our expectation and significant. The real interest rate has positive effects on private saving. Young dependency ratio showed negative sign, it means young dependency ratio has negative effects on private saving. But, old dependency ratio has positive effect on private saving. Inflation have positive effect too on private saving. Classifying twenty-six regions into four areas MT, M, B, and KBwe characterized the pattern of regional economic growth, then we can analyze about differences private saving behaviour between region. From estimation result we can conclude that there was been difference private saving behaviour between regions in Indonesia. Keywords : private saving, interest rate, dependency ratio, gross domestic regional product, inflation 1. Pendahuluan1.1. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah tipikal yang dihadapi negara sedang berkembang adalah kurangnya modal untuk investasi. Sumber pembiayaan pembangunan dapat berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di tengah serangkaian pemikiran dan perdebatan tentang penolakan terhadap ketergantungan terhadap hutang luar negeri, maka sumber pembiayaan domestik menjadi isu yang menarik. Jika dibandingkan dengan sumber eksternal dalam pembiayaan pembangunan, menggantungkan harapan pada sumber-sumber domestik memang relatif lebih aman terhadap fluktuasi perekonomian global. Dalam beberapa dekade terakhir, terdapat beberapa perkembangan menarik sekitar sumbersumber pembiayaan pembangunan antara lain minyak bumi tidak dapat lagi dijadikan andalan ekspor. Dalam jangka panjang penerimaan dari migas tidak dapat diharapkan karena cadangan minyak yang semakin menipis. Selain itu ada sejumlah masukan pemikiran mengenai implikasi negatif dari hutang luar negeri yang serius. Salah satu alternatif penggalian dana adalah sumber penerimaan domestik bagi pembiayaan pembangunan. Sumber pembiayaan dalam negeri dapat berasal dari tabungan masyarakat, tabungan pemerintah, penerimaan pajak, dan investasi swasta. Tabungan masyarakat yang termobilisasi melalui perbankan dan lembaga keuangan bukan bank digunakan untuk membiayai investasi oleh pihak swasta. Dalam perkembangannya, tingkat tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia terdapat semacam kecenderungan bahwa pendapatan yang meningkat akan menyebabkan tabungan masyarakat juga meningkat. Untuk daerah-daerah yang berpendapatan tinggi maka tingkat tabungan pun juga relatif lebih besar dibandingkan daerah lain yang berpendapatan lebih rendah. Jika dilihat dari pola penyebaran tabungan masyarakat antar propinsi, maka ada kecenderungan tabungan masyarakat terkonsentrasi di pulau Jawa khususnya DKI Jakarta. Pada tahun 2000, daerah-daerah penghasil migas di Indonesia berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 237.218 miliar. Nilai tabungan ini merupakan 32,93 % dari total tabungan yang dikumpulkan secara nasional. Sementara itu, daerah-daerah bukan penghasil migas berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 483.160 miliar atau sebesar

67,070 % dari total tabungan nasional. Total tabungan secara nasional sendiri mencapai angka Rp 720.378 miliar. Jika dilihat dari sisi pengelompokan berdasarkan klassen typologi maka akan terlihat perbedaan pengumpulan tabungan yang lebih mencolok lagi. Daerah yang mengumpulkan tabungan terbesar adalah daerah maju dengan pertumbuhan pesat yang bukan merupakan penghasil migas. Yang termasuk dalam kategori ini adalah propinsi DKI Jakarta, Bali, dan Kalimantan Tengah. Daerah ini berhasil mengumpulkan tabungan selama tahun 2000 mencapai Rp 442.714 miliar atau setara dengan 61,456 persen total tabungan nasional. Sementara itu posisi kedua terbesar dalam hal pengumpulan tabungan adalah daerah kurang berkembang yang merupakan penghasil migas yaitu propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku. Daerah ini berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 166.598 miliar atau sebesar 23,126 % dari total tabungan nasional. Sedangkan daerah yang mengumpulkan tabungan terendah adalah daerah maju dan tumbuh pesat yang merupakan penghasil migas yaitu propinsi DI Aceh dan Irian Jaya. Kedua propinsi ini pada tahun 2000 berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 6.508 miliar atau sebesar 0,903 % dari total tabungan nasional. Faktor tingkat suku bunga baik dalam bentuk rupiah maupun dolar Amerika tampaknya juga mempunyai pengaruh terhadap mobilisasi dana masyarakat melalui tabungan domestik. Sejak deregulasi perbankan 1983 dimana perbankan diberi kebebasan untuk menentukan tingkat bunga menyebabkan tingkat bunga deposito dan tabungan cenderung lebih tinggi. Dengan kondisi seperti ini para pelaku ekonomi akan mempertimbangkan penempatan portfolio-nya pada komponen-komponen tabungan dan deposito. Akhirnya semua ini akan menyebabkan peningkatan pada tabungan masyarakat. Dampak dari pertumbuhan penduduk terhadap pembangunan ekonomi pada umumnya, dan terhadap tabungan pada khususnya juga mulai mendapat perhatian para ahli

ekonomi. Salah satu aspek penting dari diskusi ini adalah dampak dari beban tanggungan (dependency ratio) terhadap tabungan secara agregat. Bertambahnya beban tanggungan dalam suatu masyarakat akan berdampak pada penurunan terhadap tingkat tabungan. Sebaliknya jika beban tanggungan menjadi semakin rendah, maka akan terdapat penambahan dana yang bisa dialokasikan untuk menambah tabungan. Propinsi dengan beban tanggungan tertinggi adalah propinsi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 76,93. Sedangkan DKI Jakarta mempunyai angka beban tanggungan terendah yaitu 45,19. Pada daerah-daerah yang mempunyai angka beban tanggungan relatif tinggi, tingkat tabungan yang dikumpulkan pun menjadi relatif lebih rendah dibandingkan dengan propinsi dengan beban tanggungan rendah. Determinan penting lain dari tabungan adalah faktor ketidakpastian yang sering diproksi dengan laju inflasi. Di negara sedang berkembang, inflasi dapat menekan tingkat tabungan karena adanya dorongan untuk melakukan pengeluaran untuk barang-barang tahan lama sehingga akan menurunkan tingkat tabungan. Inflasi akan mendorong orang untuk mengganti aset nominal menjadi aset riil.

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini antara lain: berapa besar pengaruh Pendapatan Domestik Regional Bruto, tingkat suku bunga, laju inflasi, dan angka beban tanggungan penduduk usia muda dan tua (old-age and youngage dependency ratio) terhadap tingkat tabungan masyarakat tiap-tiap daerah di Indonesia. Kemudian juga dikaji mengenai apakah ada perbedaan perilaku tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia.

1.3.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengaruh Pendapatan Domestik Regional Bruto, tingkat suku bunga, angka beban tanggungan penduduk usia muda dan tua (old-age and young-age dependency ratio) dan laju inflasi terhadap tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia. Tujuan kedua dari penelitian ini adalah mengestimasi perbedaan perilaku tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia.

1.4. Landasan Teori Berdasarkan hipotesis Keynes bahwa tingkat pendapatan nasional berpengaruh positif terhadap tabungan nasional (Mikesell dan Zinser, 1973). Penelitian ini menemukan bahwa pendapatan nasional perkapita mempunyai efek positif terhadap tingkat tabungan nasional. Sementara itu studi cross-sectional komprehensif pertama kali dilakukan oleh Simon Kuznet mengenai hubungan antara tabungan dan pendapatan per kapita pada tahun 1960. Rossi (1988) melakukan studi empiris mengenai dampak pendapatan terhadap tabungan dengan menggunakan data time series untuk 49 negara dengan periode waktu 19731983. Studi ini menemukan hasil bahwa adanya dampak positif dari tingkat pendapatan sekarang (current income level) terhadap tingkat tabungan. Menurut hipotesis pendapatan permanen (The Permanent-Income Hypothesis), masyarakat akan membelanjakan sebagian besar dari pendapatan permanen untuk konsumsi dan pendapatan transitori akan dialokasikan untuk tabungan. Menurut Keynes pengaruh tingkat bunga terhadap tabungan nasional sangat kompleks serta banyak kemungkinan yang akan terjadi. Di samping itu juga membutuhkan lag yang cukup lama (Mikesell dan Zinser, 1973; Molho, 1986). Arrieta (1988) dalam studinya menyimpulkan bahwa tingkat bunga berpengaruh positif terhadap tabungan nasional. Muradoglu dan Taskin (1996) dalam penelitiannya menemukan bahwa efek tingkat bunga dapat dijelaskan dari keputusan konsumsi intertemporer. Peningkatan tingkat pengembalian tabungan akan meningkatkan tabungan tetapi efek pendapatan riil dari lebih tingginya tingkat pengembalian mengakibatkan tabungan menurun. Leff (1969) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa beban tanggungan secara signifikan mempengaruhi tabungan agregat. Tingginya angka beban tanggungan merupakan salah satu faktor yang diperhitungkan dalam melihat disparitas antara negara maju dan berkembang. Dalam penelitian ini Leff menggunakan data dari 74 negara dengan metode analisis data cross-section. Hasil penelitian Leff tersebut kemudian dikritisi oleh Nassau Adam dan Kanhaya Gupta (1971) seperti dikutip oleh Ram (1982). Dalam penelitiannya Ram (1982) menemukan hasil yang berbeda dengan Leff. Ram (1982) menemukan bahwa beban tanggungan secara statistik tidak signifikan mempengaruhi tabungan. Sumber perbedaan hasil

ini berasal dari perbedaan dalam hal cakupan sampel, periode penelitian, dan spesifikasi yang digunakan. Loayza, Schmidt-Hebbel, dan Serven (2000) juga melakukan penelitian tentang perilaku tabungan yang dihubungkan dengan demografi. Dalam penelitiannya variabel demografi diwakili dengan angka beban tanggungan usia muda dan tua (young-age and old-age dependency ratio). Kesimpulan dari studi ini sejalan dengan apa yang diprediksi oleh the lifecycle theory. Penelitian ini membuktikan bahwa setiap kenaikan sebesar 3,5 persen dalam angka beban tanggungan penduduk usia muda maka akan menurunkan tabungan masyarakat sebesar 1 persen. Ada semacam perbedaan pendapat mengenai efek inflasi terhadap tabungan di negara sedang berkembang. Juster dan Wachtel (1972) sebagaimana dikutip oleh Lahiri (1989) menemukan bahwa inflasi akan mengurangi kepastian konsumen dan akhirnya akan meningkatkan tabungan. Sementara itu Deaton (1977) menyatakan bahwa karena adanya efek harga maka konsumen dalam membeli sesuatu tidak dapat membedakan antara inflasi ekspektasian dari peningkatan harga relatif, dan akhirnya konsumen terpaksa untuk menambah tabungan (involuntary saving). Namun Branson dan Klevorick (1969) menemukan fakta adanya dampak negatif dari inflasi terhadap tabungan di Amerika Serikat. Serupa dengan itu, Howard (1978) menemukan bahwa meskipun inflasi membawa peningkatan tabungan di Kanada, Inggris, dan Amerika; namun inflasi ekspektasian (expected inflation) menurunkan tabungan di Jepang. Skinner (1988) dan Zeldes (1989) dalam Loayza, Schmidt-Hebbel, dan Serven (2000) menyatakan bahwa ketidakpastian yang lebih besar di masa datang akan meningkatkan tabungan. Ini terjadi karena prinsip menghindari risiko yang dianut oleh masyarakat. Dalam berbagai studi empiris tentang tabungan dan pertumbuhan, proxy yang paling banyak digunakan untuk variabel ketidakpastian adalah inflasi. Gupta (1987) menemukan bahwa di negara Asia, baik komponen inflasi ekspektasian (expected inflation) maupun inflasi kejutan (unexpected inflation) memiliki efek positif terhadap tabungan. Sedangkan Lahiri dalam Muradoglu dan Taskin (1996) memperoleh hasil ragu-ragu (inconclusive). Sementara itu menurut Kauffmann dalam Muradoglu dan Taskin (1996) yang membandingkan antara aktivitas tabungan antara Amerika Serikat dan Jerman, menemukan bahwa aktivitas tabungan yang lebih rendah di Amerika Serikat karena inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat daripada di Jerman. Bovenberg dan Evans (1990) menganalisis tabungan pribadi di Amerika Serikat dan memperoleh hasil bahwa selama masa penurunan inflasi sepanjang tahun 1980-an, terjadi penurunan tabungan pribadi. 1.5. Hipotesis Berdasar pada permasalahan, tujuan penelitian serta melihat hasil-hasil penelitian sebelumnya maka disusun hipotesis sebagai berikut: 1.a. Pendapatan Domestik Regional Bruto, dan tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap tingkat tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia. b. Angka beban tanggungan penduduk usia muda dan tua (young-age and old-age dependency ratio) dan laju inflasi berpengaruh negatif terhadap tingkat tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia.

2. Ada perbedaan perilaku dalam hal tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia 2. Metode Penelitian

Berdasarkan landasan teori, tinjauan hasil penelitian dan hipotesis yang diajukan maka dapat dibentuk model dasar yaitu: SAV = f (PDRB, R, DR1, DR2, INF) Dimana: SAV = tabungan masyarakat PDRB = Produk Domestik Regional Bruto R = tingkat suku bunga DR1 = angka beban tanggungan penduduk usia muda DR2 = angka beban tanggungan penduduk usia tua INF = laju inflasi propinsi Untuk menguji hipotesis pertama dan kedua akan digunakan analisis regresi dengan panel data cross-section dan time series secara nasional. Sedangkan hipotesis ketiga dianalisis dengan mengklasifikasikan terlebih dahulu daerah-daerah (propinsi) tersebut ke dalam empat kategori sebagai berikut (Safrizal, 1996): (i) jika ri > rn dan Yi > Yn = daerah maju dan tumbuh cepat (MT); (ii) jika ri > rn dan Yi < Yn = daerah berkembang cepat (B); (iii) jika ri < rn dan Yi > Yn = daerah maju tapi tertekan (M); (iv) jika ri < rn dan Yi < Yn = daerah kurang berkembang (KB). Dimana: ri = laju pertumbuhan PDRB daerah ke-i (propinsi ke-i) rn = laju pertumbuhan PDRB rata-rata nasional (seluruh propinsi) Yi = pendapatan perkapita daerah ke-i (propinsi ke-i) Yn = pendapatan perkapita rata-rata nasional (seluruh propinsi) Penelitian ini menggunakan data panel periode tahun 1990-2000. Data dikumpulkan dari publikasi Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Tabungan Masyarakat; merupakan jumlah dana simpanan rupiah dan valuta asing pada bank umum menurut propinsi dalam miliar rupiah. 2. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB); merupakan keseluruhan nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan selama setahun pada setiap propinsi.

3.

Tingkat Suku Bunga; diproksi dengan suku bunga deposito 12 bulan pada bankbank umum. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah suku bunga riil yaitu suku bunga nominal dikurangi dengan laju inflasi. 4. Angka Beban Tanggungan (dependency ratio); merupakan rasio jumlah penduduk usia tidak produktif terhadap jumlah penduduk usia produktif. Penduduk tidak produktif adalah penduduk di bawah usia 15 tahun dan di atas 65 tahun. Dependency ratio dibagi menjadi dua jenis yaitu beban tanggungan

Wilayah Penghasil Migas

Tabel 1. Pembagian Klassen Typologi Daerah Daerah MT Daerah M Daerah B Daerah KB Aceh Riau Sumut Jabar Irian Sumsel Jambi Jateng Kaltim Kalsel Jatim Maluku

Bukan Penghasil Migas

DKI Bali Kalteng

Tidak ada propinsi yang masuk ke dalam kategori ini

Sumbar NTT Lampung Kalbar DIY SUlut NTB Sulteng

Bengkulu Sulsel Sultra

Nasional

Aceh Kalteng DKI Irian Bali

Riau Sumsel Kaltim

Sumut NTT Sumbar Kalbar Jambi

Bengkulu Sulsel Jabar Sultra Jateng

Nasional Aceh Jateng Sumut Jatim Riau Kalsel Jambi Kaltim Sumsel Maluku Jabar Irian Sumbar NTT Bengkulu Kalbar Lampung Kalteng DKI Sulut DIY Sulteng Bali Sulsel NTB Sultra Aceh Bali Sumut NTB Sumbar

Kalsel Lampung Sulut DIY Sulteng NTB

Maluku Jatim

NTT Riau Kalbar Jambi Kalteng Sumsel Kalsel Bengkulu Kaltim Lampung Sulut DKI Sulteng Jabar Sulsel Jateng Sultra DIY Maluku Jatim Irian

penduduk usia muda (young dependency ratio) dan beban tanggungan penduduk usia tua (old dependency ratio). 5. Tingkat Inflasi tahunan untuk masingmasing propinsi. Satuan variabel diukur dengan pendekatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan dinyatakan dalam persen. Dalam penelitian ini teknik yang akan dipakai adalah teknik penaksiran Generalized Least Squares (GLS) yang biasa digunakan dalam menganalisis panel data time series dan cross section. Dengan menggunakan analisis panel data maka akan dapat membedakan antar unit individu dan antar waktu yang harus diperhitungkan. Dalam penelitian ini digunakan panel data dengan pendekatan fixed effect yang menetapkan bahwa i adalah sebagai kelompok yang spesifik atau berbeda dalam constant term dalam model regresinya.

3.

Analisis Hasil Estimasi3.1. Uji Spesifikasi Model

Sebelum model diestimasi maka dilakukan terlebih dahulu uji spesifikasi model terhadap model Fixed Effects yang hendak dipakai. Rasio F yang digunakan untuk menguji adalah: (Green, 2000:562)

(n 1, nT n K) =

(R2 R2 ) / (n 1) u p

(1 R2 )/(nT n K) u dimana u mengindikasikan unrestricted model dan p mengindikasikan pooled atau restricted model dengan satu constant term. Dalam hal ini mungkin lebih tepat jika mengestimasi model dengan satu constant term dan memasukkan variabel dummy sebanyak n-1. Berdasarkan pengujian yang dilakukan maka diperoleh bahwa semua persamaan dapat diestimasi menggunakan fixed effects model karena semua nilai dalam uji-F melebihi nilai kritis dalam tabel sesuai dengan derajat kebebasan masing-masing persamaan. Hal ini berarti terdapat perbedaan antar unit yang dapat dilihat melalui perbedaan dalam constant term. Dalam fixed effects model diasumsikan bahwa tidak terdapat time-specific effect dan hanya memfokuskan pada individual-specific effect. Hasil estimasi secara nasional (penggabungan 26 propinsi yang ada) menunjukkan hasil bahwa tingkat pendapatan berdampak positif signifikan terhadap tingkat tabungan masyarakat sebesar 0,635898. Sedangkan variabel tingkat suku bunga riil berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat tabungan sebesar 0,002559. Sementara itu variabel beban tanggungan usia muda dan tua menunjukkan dampak yang berbeda. Pada beban tanggungan usia muda berdampak negatif signifikan terhadap tingkat tabungan masyarakat sebesar 1,37E-06, sedangkan beban tanggungan usia tua justru berdampak positif terhadap tabungan yaitu sebesar 0,091061. Unsur ketidakpastian yang diproksi dengan laju inflasi justru berdampak positif terhadap tingkat tabungan yaitu sebesar 0,002991. Dampak ini memang relatif kecil bahkan secara statistik kurang begitu meyakinkan dan hanya signifikan secara marginal.

3.2. Hasil Estimasi Persamaan Regresi Berdasarkan hasil estimasi yang diolah dengan menggunakan paket Program Eviews 3.0 diperoleh hasil seperti pada tabel berikut: Wilayah Variabel Daerah Daerah M Daerah B Daerah Nasional MT KB Keterangan: - **** sig. pada = 0,01; *** sig. pada = 0,05; ** sig. pada = 0,10; dan * sig. secara marginal (koefisien estimasi > standar error) - angka dalam kurung adalah nilai t-hitung

4. Pembahasan

Pendapatan masyarakat yang dicerminkan oleh Produk Domestik Regional Bruto tetap merupakan determinan pokok dari tabungan masyarakat. Dari seluruh persamaan estimasi, variabel pendapatan memiliki dampak positif signifikan terhadap tingkat tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan terdahulu seperti studi yang dilakukan Mikesel dan Zinser (1973) dimana ditemukan bahwa pendapatan nasional mempunyai efek positif terhadap tingkat tabungan nasional. Hasil ini juga menguatkan temuan dari Rossi (1988) yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dari tingkat pendapatan sekarang (current income) terhadap tingkat tabungan. Dalam teori hipotesis pendapatan permanen (the permanent-income hypothesis), masyarakat akan membelanjakan sebagian besar dari pendapatan permanen untuk konsumsi dan pendapatan transitori akan dialokasikan untuk tabungan. Determinan tabungan yang lain yaitu tingkat suku bunga menunjukkan hasil yang berbeda antar daerah di Indonesia. Tingkat suku bunga berpengaruh positif secara nasional baik untuk daerah penghasil migas maupun bukan penghasil migas, walaupun dengan tingkat signifikansi yang berbeda. Tetapi pengaruh dari tingkat suku bunga ini tergolong rendah. Rendahnya pengaruh tingkat bunga terhadap tabungan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adanya kendala likuiditas dan sektor perbankan yang kurang efisien. Keterbatasan likuiditas ini terjadi karena sebagian besar pendapatan yang dimiliki masyarakat habis dipakai untuk konsumsi. Akibatnya meskipun terjadi perubahan tingkat bunga, tidak akan berarti apa-apa terhadap porsi yang dialokasikan untuk tabungan. Peranan demografi dalam pembentukan tabungan yang diproksi dengan angka beban tanggungan baik usia muda maupun tua menunjukkan hasil yang sedikit berbeda dengan penemuan-penemuan terdahulu. Beban tanggungan usia muda ditemukan berdampak negatif signifikan di berbagai daerah di Indonesia. Beban tanggungan usia muda tidak berpengaruh terhadap tabungan ditemukan hanya di daerah penghasil migas secara nasional dan daerah KB penghasil migas. Sementara itu, beban tanggungan usia tua justru berdampak positif terhadap tabungan di beberapa daerah seperti daerah penghasil migas (daerah M, daerah B), daerah penghasil migas secara nasional. Hasil serupa juga ditemukan di daerah yang digolongkan secara nasional yaitu daerah M, daerah B, dan daerah KB. Untuk daerah MT bukan penghasil migas, beban tanggungan usia tua menunjukkan tanda negatif signifikansi. Hasil ini agak berbeda dengan apa yang telah ditemukan oleh Leff (1969) yang menemukan bahwa beban tanggungan usia muda dan tua keduanya berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat tabungan nasional. Kelley (1989) juga menyimpulkan bahwa beban tanggungan memiliki pengaruh signifikan terhadap tabungan walaupun pengaruhnya adalah kecil. Lahiri (1989) juga membuktikan bahwa beban tanggungan merupakan determinan yang signifikan dari tabungan masyarakat. dalam penelitiannya, setiap 1 persen peningkatan beban tanggungan akan menurunkan rata-rata kecenderungan menabung sekitar 1,6 persen di negara India, Republik Korea, Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka. Hasil ini kemudian diperkuat oleh Muhleisin (1996) yang membuktikan bahwa beban tanggungan merupakan determinan yang paling signifikan dalam tabungan masyarakat dengan arah hubungan antar variabel adalah negatif. Faktor lain yang merupakan determinan dari tabungan adalah unsur ketidakpastian. Dalam penelitian ini ketidakpastian oleh penulis diproksi dengan laju inflasi. Di beberapa daerah di Indonesia, laju inflasi ternyata malah berdampak positif terhadap tingkat tabungan masyarakat. Di daerah KB penghasil migas, laju inflasi berdampak positif terhadap tingkat tabungan. Sementara itu di daerah bukan penghasil migas (daerah MT, daerah B, dan daerah KB), dampak laju inflasi ditemukan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan. Sedangkan secara nasional penghasil migas, laju inflasi berdampak positif signifikan

terhadap tabungan masyarakat, demikian juga yang terjadi di daerah bukan penghasil migas secara nasional. Hasil ini mendukung argumen konsumsi intertemporal yang menyatakan bahwa inflasi akan menurunkan nilai riil kesejahteraan keuangan (financial wealth) dan akan menyebabkan rumahtangga mencoba untuk mempertahankan posisi pendapatankesejahteraan dengan cara meningkatkan tabungannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gupta (1987) yang menemukan bahwa inflasi ekspektasian (expected inflation) dan inflasi kejutan (unexpected inflation) keduanya berpengaruh positif terhadap tabungan. Hasil yang tidak jauh berbeda juga diperoleh Koskela dan Viren (1985) yang menemukan bahwa tabungan di negara industri maju meningkat pada saat tingkat inflasi ekspektasian dan kejutan juga meningkat. 4. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Selama periode penelitian ditemukan bahwa tingkat pendapatan masyarakat berdampak positif terhadap tingkat tabungan di seluruh wilayah di Indonesia. Tingkat suku bunga deposito riil tahunan ditemukan mempunyai dampak positif terhadap tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia. Faktor demografi yang diwakili oleh beban tanggungan memberikan pengaruh negatif terhadap tabungan hanya pada beban tanggungan usia muda. Faktor ketidakpastian yang diproksi dengan laju inflasi ternyata mempunyai dampak positif di beberapa daerah. Terjadinya variasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia tersebut di atas merupakan bukti bahwa terdapat perbedaan perilaku tabungan masyarakat antar daerah. Sementara saran-saran yang diajukan antara lain: 1. Dalam pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan tabungan di Indonesia, dan khususnya tabungan di daerah, seyogianya disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik di tiap-tiap daerah di Indonesia karena adanya perbedaan cara pandang masyarakat

2.

3.

4.

5.

terhadap variabel-variabel ekonomi dan juga perbedaan dalam hal sosial ekonomi masyarakatnya. 2. Untuk lebih mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai tabungan masyarakat, penelitian selanjutnya seyogianya juga membandingkan perilaku tabungan untuk wilayah yang lebih bervariasi, misalnya pembagian daerah dibagi berdasarkan pulau-pulau besar, daerah Jawa dan Luar Jawa, daerah perkotaan dan perdesaan, bahkan sampai pada tingkatan kabupaten/kotamadya. Juga dapat dilakukan penambahan determinan tabungan yang lain serta metodologi penelitian yang berbeda sehingga dapat terlihat perilaku tabungan yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA Arrieta, G.M.G., 1988, Interest Rates, Saving, and Growth in LDCs: An Assessment of Recent Empirical Research, World Development, Vol. 16:589-605. Bovenverg, A.L. dan Owen Evans. 1990. National and Personal Saving in United States: Measurement and Analysis of Recent Trends. IMF Staff Paper. September, Vol. 37 No. 3. Branson, W.H. & Alvin Klevorick. 1980. Money Illusion and the Aggregate Consumption Function. American Economic Review. Vol. 59 (Desember): 832-850 Deaton, Angus. Involuntary Saving Through Unanticipated Inflation. American Economic Review. Vo. 67 (Desember) : 899-910 Green, William H., 2000. Econometrics Analysis. Fourth Edition, New Jersey-USA. Gujarati, Damodar, 1995, Basic Econometric, Third Edition, McGraw-Hill, inc, New York. Gupta, K.L. 1987. Aggregate Saving, Financial Intermediation, and Interest Rate. Review of Economics and Statistics. Mei, Vol. 69 No. 2 Hsiao, Cheng, 1995. Analysis of Panel Data. Cambridge University Press.

Howard, David H. 1978. Personal Saving Behavior and the Rate of Inflation Review of Economic and Statistics. Vol. 60 (November): 547-554 Kelley, Allen C. 1988. Population Pressures, Saving, and Investment in the Third World: Some Puzzles Economic Development and Cultural Change. No. 36 April: 449-464 Lahiri, Ashok, 1989. Dynamics of Asian Saving: The Role of Growth and Age Structure. IMF Staff Papers 36:228-61. Leff, Nathaniel H. 1969. Dependency Rates and Saving Rates. American Economic Review. No. 58: 886-896 Loayza, Noman, Klaus Schmidt-Hebbel, dan Luis Serven, 2000. What Drives Private Saving Across the World? Review of Economics and Statistics 82(2): 165-81 __________ , Rashmi Shankar, 2000. Private Saving in India. World Bank Economic Review. Vol. 14 No. 3: 571-94 Mansour, Faried Wijaya dan Suyanto. 1998. Perilaku Tabungan: Kasus Perbandingan Negara-negara ASEAN dan Negara Industri Maju 1989-1996. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 13, No.2 Hal.61-70. Mikesell, R.F. & J.E. Zinser, 1973. The Nature of Saving Function In Developing Countries: A Survey of The Theoretical and Emperical Literature. Journal of Economic Literature. Vol. XI No. 1 Maret. Muhleisen, Michael, 1996. IndiaPolicies to Increase Domestic Saving. International Monetary Fund, Washington, D.C. Processed. Muradoglu, G. dan F. Taskin. 1996. Differences in Household Saving Behaviour: Evidence from Industrial and Developing Countries. The Developing Economics. Juni, Vol. XXXIV, No. 2, hal. 138-153. Ram, Rati. 1982. Dependency Rates and Aggregate Savings: A New International Cross-Section Study American Economic Review. No. 72:537-544 Rossi, Nicola. 1988. Government Spending, the Real Interest Rate, and the Behavior of Liquidity-Constrained Consumers in

Developing Countries. IMF Staff Papers. Vol. 35 March: 104-140. Safrizal, 1996. Dasar-dasar Ekonomi Regional, Prisma. Shumaker, Linda D. & Robert L. Clark. 1992. Population Dependency Rates and Saving Rates: Stability of Estimates Economic Development and Cultural Change. Vol. 40 No. 2 Januari: 319-332 ~ by indradarmawanusd on December 2, 2006.