Anda di halaman 1dari 18

GAYA PARENTING ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN SIMPTOM-SIMPTOM NEUROSIS (Studi Kasus pada Orangtua Siswa-Siswi MAN

Mojokerto)
* Tristiadi Ardi Ardani dan Eka Sri Wahyuni

Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Abstract


Family is considered as first education institution and become main shelter for children. Parenting style is one of the main method of education for parent in educating their children. Bad parenting style and dry family members interaction will endangers the future of the children, where children during their growing age tend to e affected by neurosis symptoms. Problems of this research is to know type of parenting style with neurosis affected children and how far the parenting style play its role in the emerging of neurosis symptoms among the children. Applies qualitative approaches through case study format. To search the data the researcher use direct observation, interviews, documentation and NSQ Test for informen (students). The parents of the five selected students then deciced as research object through purposive sampling technique, while in selecting the informen the reseacher use snowball sampling technique. The data analysis technique in this research is data reduction, data presentation and verification. To checking the authenticity use triangulation The careless parenting style and synical parenting style can create neurosis symptoms on the children Keywords: Parenting Style, Neurosis Symptoms

A. Pendahuluan Keluarga yang menurut para sosiolog adalah sebuah ikatan sosial yang terdiri dari suami, istri, anak-anak mereka, juga termasuk kakek dan nenek serta cucu-cucu dan beberapa kerabat asalkan mereka tinggal di rumah yang sama,i merupakan kelompok sosial yang utama tempat anak belajar menjadi manusia sosial. Karena itu, walaupun sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan, namun keluargalah yang paling utama, karena keluarga memberi pengaruh pertama kali kepada anak sehingga

keluarga dikatakan sekolah pertama baginya dan guru yang pertama adalah orangtua, ayah dan ibunya. Pendidikan keluarga tidak bisa lepas dari gaya parenting yang diterapkan orangtua kepada anak-anaknya dan perkembangan kepribadian sangat dipengaruhi oleh gaya parenting tersebut. Oleh karena itu, gaya parenting dan hubungan keluarga yang buruk mempunyai bahaya psikologis pada remaja dikemudian hari, karena remaja pada dasarnya membutuhkan rasa aman. Jika hubungan keluarga ditandai dengan pertentangan dan perasaan-perasaan tidak aman, maka remaja kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan pola perilaku yang matang. Ini mengakibatkan hubungan sosial mereka kurang baik, sehingga remaja cenderung merasa rendah diri atau pesimis dan tidak mampu menyesuaikan diri. Tanda bahaya ketidakmampuan menyesuaikan diri pada remaja, ditunjukkan dalam perilaku, seperti 1) tidak bertanggung jawab. 2) agresif dan yakin kepada diri sendiri. 3) perasaan tidak aman dan sangat patuh terhadap standar kelompok. 4) adanya perasaan menyerah. 5) terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 6) mundur ketingkat perilaku sebelumnya supaya disenangi dan diperhatikan. 7) menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, proyeksi, berkhayal dan sebagainya.ii Hal inilah yang pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit mental dan sosial, karena menurut Hawari terdapat dua faktor yang menuju proses terjadinya penyalahgunaan/ketergantungan terhadap NAZA, yaitu faktor predisposisi dan faktor kontribusi. Faktor predisposisi meliputi gangguan kepribadian, kecemasan dan depresi; sedangkan faktor kontribusi meliputi kondisi keluarga, keutuhan keluarga, kesibukan orangtua dan hubungan interpersonal. Perlu diketahui, bahwa penyalahgunaan NAZA dari tahun ke tahun semakin bertambah. Angka resmi menyebutkan bahwa jumlah penyalahgunaan sebesar 0,065 % dari jumlah penduduk 200 juta jiwa atau sama dengan 130.000 orang INPRES 6/71, 1995).iii (BAKOLAK

Fakta lain sebagaimana yang disebutkan oleh Hawari (1996) menyatakan, bahwa sejumlah taksiran kasar jumlah penderita beberapa jenis gangguan jiwa (termasuk neurosis) yang ada dalam satu tahun di Indonesia dengan jumlah penduduk 130 juta jiwa menyebutkan bahwa: Psikosa Fungsional Syndroma otak organik akut Sindroma otak organik menahun Retardasi mental Neurosa Psikosomatik Gangguan kepribadian Ketergantungan obat 520.000 (4%) 65.000 (0, 5 %) 130.000 (1%) 2.600.000 (2 %) 6.500. 000 (5 %) 6500.000 (5 %) 1.300.000 (1 %) 1000 17.616.000 (13, 5 %)iv Angka-angka ini bisa dipastikan pada era 2000-an jumlah itu meningkat, karena banyak faktor yang mempengaruhi munculnya neurosa, dan salah satunya yang berhubungan sangat erat dengan keseharian kita adalah gaya parenting orangtua. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Maramis (1999) yang menyebutkan bahwa sumbersumber penyebab gangguan jiwa di atas (termasuk neurosa) salah satunya adalah interaksi ibu dan anak, peranan ayah, kesenjangan antara saudara kandung, inteligensi, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, pola adaptasi, kestabilan keluarga, pola mengasuh anak hingga ke ekonomi dan lain-lain.v Faktor penyebab anak mengalami neurosa bisa dilihat dari faktor psikologis dan kultural. Faktor psikologis berupa ketakutan yang terus menerus dan sering tidak rasional (kecemasan) yang berlebihan walaupun tidak ada rangsangan yang spesifik dapat menimbulkan gejala kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, ketergantungan yang berlebihan, menangis, ngompol, muntah-muntah dan tingkah laku yang agresif. Sama halnya dengan seorang anak yang mengalami tekanan disebabkan pengaruh sosial serta kultural yang sangat kuat, sehingga menyebabkan mental breakdown

seperti didikan secara ketat dan didesak untuk mencapai tujuan di luar batas kemampuan anak. Pendidikan yang ketat menyebabkan anak mengarahkan emosinya ke dalam dan terhambat. Anak yang mengalami serangan kecemasan, biasanya mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengalami suatu perasaan takut yang hebat sebelum mulainya serangan tersebut.vi Kecemasan-kecemasan yang timbul melalui diri anak dikarenakan tidak adanya komunikasi yang intens akan menimbulkan konsekuensi yang mengkhawatirkan seperti represi, regresi, fantasi, rasionalisasi dan lain-lain. Inilah yang disebut neurosa, yaitu "sekelompok reaksi psikis yang dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang secara tak sadar diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism)",vii atau suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional; karena tidak dapat diselesaikannya suatu konflik tak sadar".viii Dewasa ini sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menyikapi siswa-siswi yang bermasalah ditinjau dari sisi psikologis dan dalam hubungannya dengan gaya parenting. Namun, secara khusus penelitian mengenai gaya parenting orangtua yang memiliki anak dengan simptom-simptom neurosis belum pernah dilakukan. Hal itulah yang menarik perhatian penulis untuk meneliti Gaya Parenting Orangtua yang Memiliki Anak dengan Simptom-Simptom Neurosis, yang difokuskan pada empat masalah, yaitu: 1) bagaimanakah ciri anak yang memiliki simptom neurosis. 2) bagaimana jenis gaya parenting orangtua yang memiliki anak dengan simptomsimptom neurosis. 3) sejauhmana gaya parenting orangtua berperan terhadap timbulnya simptom-simptom neurosis. 4) apakah latar belakang gaya parenting orangtua dapat mempengaruhi penerapan gaya parentingnya terhadap anak. B. Kerangka Teoritik 1. Gaya Parenting a) Pengertian Gaya Parenting Menurut Meriam-Webster yang dinyatakannya dalam Webster Online

Dictionary, parenting berasal dari bahasa inggris, yaitu merupakan noun (kata

benda) yang memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) Berarti orangtua mengasuh anak. 2) Suatu proses atau tindakan orangtua. 3) Memberikan perhatian yang dilakukan oleh orangtua melalui suatu cara atau gaya pengasuhan.ix Sedangkan menurut The American Hertage Dictionary of The English Language, Fourth Edition by Houghton Mifflin Company, parenting merupakan noun yang memiliki arti: The rearing of a child or children, especially the care, love and guidance given by a parent.x Selanjutnya, Wikipedia, The Free Encyclopedia, menyebutkan bahwa parenting merupakan suatu proses mengasuh dan mendidik anak yang dilakukan dari semenjak anak lahir sampai menginjak usia dewasa.xi Dengan demikian, menurut hemat penulis, gaya parenting bisa diartikan sebagai model atau cara memperlakukan anak dalam lingkungan keluarga sehari-hari berupa perlakuan fisik maupun psikis yang didasarkan pada cara-cara tertentu ketika hal itu benar-benar dibutuhkan dan dipengaruhi budaya atau latar belakang orangtua. b) Macam-Macam Gaya Parenting Sebelumnya perlu disebutkan di sini, bahwa macam-macam gaya parenting yang penulis pakai di sini mengau pada pendapat Gottman & DeClaire yang menyebutkan ada empat macam gaya parenting yang diberlakukan oleh orangtua kepada anakanaknya, yaitu berupa Orangtua Asuh, Orangtua Pencela, Orangtua Leissez Faire, dan Orangtua Guru Emosi.xii Secara sistematis, uraian tipe-tipe gaya parenting beserta karakristiknya tersebut adalah sebagai berikut: a. Orangtua Acuh 1) Memperlakukan perasaan anak sebagai sesuatu yang tidak penting atau sepele 2) Tidak terlibat dengan atau mengabaikan perasaan anak 3) Menginginkan emosi-emosi anak menghilang dengan cepat 4) Menggunakan pengalih perhatian secara khusus untuk memadamkan emosi anak 5) Menertawakan atau meremehkan emosi-emosi anak 6) Percaya bahwa perasaan-perasaan anak tidak rasional, dan karena itulah perasaan itu tidak diperhitungkan

7) Memperlihatkan sedikit ketertarikan terhadap upaya anak untuk berkomunikasi 8) Hal ini mungkin disebabkan tidak memiliki kesadaran emosi terhadap diri sendiri dan orang lain 9) Merasa tidak senang, takut, bingung, bosan, tersakiti saat dihadapkan dengan emosi-emosi anak 10) Ketakutan menjadi tidak terkontrol secara emosional 11) Lebih fokus pada bagaimana mengatasi emosi dan bukannya pada maksud emosi itu sendiri. 12) Percaya pada emosi-emosi negatif berbahaya dan meracuni. 13) Percaya bahwa fokus pada emosi-emosi negatif hanya akan membuat "segalanya lebih buruk". 14) Merasa tidak pasti apa yang harus dilakukan pada emosi- emosi anak. 15) Melihat emosi anak sebagai sebuah tuntutan untuk memperbaiki sesuatu. 16) Percaya bahwa emosi negatif berarti anak tidak menyesuaikan diri dengan baik. 17) Percaya bahwa emosi negatif anak terefleksikan dengan buruk pada orangtua mereka. 18) Meminimalkan perasaan-perasaan anak, menghindari kejadian-kejadian yang mengarah pada emosi. 19) Tidak memecahkan masalah dengan anak; percaya bahwa dengan berlalunya waktu akan memecahkan sebagian besar masalah. Dampak gaya parenting ini pada anak adalah: mereka belajar bahwa perasaanperasaan mereka salah, tidak pantas, tidak benar. Mereka juga belajar bahwa secara inheren memang ada yang salah dalam diri mereka karena cara mereka merasakan. Mereka kesulitan mengatur emosi mereka sendiri. b. Orangtua Pencela/ Otoriter 1) negatif. 2) Mengakimi dan mengkritik emosi anak. Menampakkan banyak ciri orangtua acuh, namun lebih

3) 4) 5) 6) waktu. 7) dikendalikan. 8) 9) memanipulasi. 10) 11) 12) 13)

Terlalu berlebihan dalam membuat batasan-batasan atas Menekankan kesesuaian terhadap ukuran-ukuran atau

anak-anak mereka. perilaku yang baik. Menegur, mendisiplinkan, atau menghukum pengungkapan Percaya bahwa pengungkapan emosi harus dibatasi dengan Mempercayai bahwa emosi-emosi negatif harus emosional anak, baik anak berperilaku baik atau tidak.

Mempercayai bahwa emosi-emosi yang negatif merupakan Menganggap anak memakai emosi yang buruk untuk Menganggap emosi membuat seseorang menjadi lemah; Menganggap emosi-emosi negatif tidak produktif serta Melihat emosi negatif (khususnya kesedihan) sebagai Memperhatikan kepatuhan anak pada otoritas.

karakter bawaan yang buruk.

untuk itu anak-anak harus kuat secara emosional agar bisa sukses. menyia-nyiakan waktu. komoditas yang tidak boleh dihambur-hamburkan. Dampak gaya parenting ini sama dengan gaya parenting orangtua acuh: mereka belajar bahwa perasaan-perasaan mereka salah, tidak pantas, tidak benar. Mereka juga belajar bahwa secara inheren memang ada yang salah dalam diri mereka karena cara mereka merasakan. Mereka kesulitan mengatur emosi mereka sendiri c. Orangtua Laissez-Faire/ Permisive 1) Menerima secara bebas semua pengungkapan emosional anak perasaanperasaan negatif. 2) Menawarkan kesenangan-kesenangan pada anak yang mengalami

3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Hanya sedikit menawarkan arahan perilaku. Tidak mengajari anak tentang emosi. Permisif, tidak membuat batasan-batasan. Tidak membantu anak untuk memecahkan masalah. Tidak mengajarkan metode-metode penyelesaian masalah-masalah kepada anak. Menganggap bahwa emosi-emosi negatif harus disingkirkan. Menganggap mengatur emosi-emosi negatif adalah masalah hidrolik, lepaskan emosi dan tugaspun selesai. Dampak gaya parenting ini terhadap anak-anak: mereka tidak belajar mengatur

emosi-emosi mereka dan kesulitan berkonsentrasi, membangun persaudaraan dan bergaul dengan sesama anak-anak lain. d. Orangtua Guru Emosi/ Demokratis 1) akrab. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) anak. 10) 11) Menggunakan momen-momen emosioanal sebagai masa untuk mendengarkan anak. Berempati dengan kata-kata yang menenangkan dan berkasih sayang. Dapat toleran dengan menyediakan waktu bersama anak yang sedih dan marah atau takut, sabar menghadapi emosi. Menyadari dan menghargai emosi-emosinya sendiri. Melihat dunia emosi negatif sebagai arena penting untuk parenting. Sensitif terhadap keadaan-keadaan emosi anak, bahkan sekalipun mereka berperangai halus. Menghormati emosi-emosi anak. Tidak menganggap lucu atau meremehkan emosi negatif anak. Tidak memaksa apa yang harus dilakukan anak. Tidak merasa bahwa dia harus memecahkan semua permasalahan Menghargai emosi-emosi negatif anak sebagai kesempatan untuk

12) 13) 14) 15)

Membantu anak untuk mengenali emosi yang dirasakannya. Menawarkan bimbingan untuk mengatur emosi. Membuat batasan-batasan dan mengajarkan pengungkapanpengungkapan emosi yang bisa diterima. Mengajarkan kemampuan-kemampuan pemecahan masalah.

Dampak gaya parenting ini bagi anak adalah, anak belajar mempercayai perasaanperasaan yang dirasakan, belajar mengatur emosi sendiri dan belajar menyelesaikan masalah, anak memiliki sifat menghargai-diri yang tinggi, belajar dengan baik, bergaul bersama anak-anak lain dengan baik. c) Gaya Parenting dalam Perspektif Islam Gaya parenting merupakan suatu proses mengasuh anak. Dalam Islam, gaya parenting lebih dikenal dengan istilah pendidikan yang secara leksikal memiliki makna mendidik dan mengasuh anak,xiii karena orangtua adalah pendidik bagi anakanaknya dan berkewajiban menjalankan tugas-tugas dan peranannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, dalam Islam orangtua sebagai pendidik anak-anaknya bukanlah Orangtua Asuh, Orangtua Pencela, Orangtua Leissez Faire. Orangtua dalam Islam juga tidak hanya diharapkan menjadi orangtua guru emosi, tetapi lebih dari itu ia adalah seorang guru spiritual, dan guru intelektual. Ini dicontohkan Luqman ketika memberi pelajaran kepada anak-anaknya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-

Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman ayat 13-19)xiv Selain itu, bentuk pengasuhan dalam islam pada dasarnya merupakan parenting yang demokratis. Ini contohkan Ibrahim dalam surat As-Shaffat ayat 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".xv 2. Neurosa a) Devinisi Neurosa Neurosa adalah "sekelompok reaksi psikis yang dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang secara tidak sadar diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism)".xvi Adapun menurut Maramis (1994) neurosa adalah suatu kesalahan diri secara emosional karena tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar.xvii Lebih dari itu, neurosa merupakan sebuah bentuk gangguan/ kekacauan/ penyakit fungsional pada sistem saraf, mencakup pula gangguan disintegrasi pada sebagian kepribadian, khususnya terdapat tidak/ kurang adanya kontak antara pribadi dengan

sekitar, walaupun masih memiliki sedikit wawasan/ insight serta sedikit-sedikit relasi/ komunikasi dengan dunia luar. Neurosis dianggap sebagai suatu penyakit mental yang belum begitu mengkhawatirkan, karena ia baru masih dalam kategori gangguangangguan baik yang diakibatkan oleh susunan syaraf maupun kelainan psikis dan aspek-aspek mental lainnya.xviii Gangguan-gangguan tersebut bisa berubah mengkhawatirkan apabila penderitanya tidak menganggap serius dan berusaha mencari terapinya. Masih dalam Mujib (2006) menyatakan, bahwa neurosis memiliki ciri-ciri yang ditandai dengan 1) wawasan yang tidak lengkap mengenai sifat-sifat dari kesukarannya; 2) konflik; 3) reaksi kecemasan; 4) kesusahan parsial atau sebagian dari kepribadiannya; 5) seringkali disertai fobia, gangguan pencernaan dan tingkah laku obsesif-kompulsif.xix Pada neurosa tidak terdapat disorganisasi kepribadian yang serius dalam kaitannya dengan realitas eksternal. Struktur energi inti yang utuh, struktur karakter yang utuh; seperti peristiwa-peritiwa traumatis yang mampu menjelaskan terjadinya beberapa perubahan bentuk psikologis.xx Dari beberapa penjelasan yang telah dikemukakan di atas, secara umum neurosa dapat dipahami sebagai suatu kelompok reaksi psikis dicirikan dengan unsur kecemasan yang sacara tidak sadar diekspresikan dengan mekanisme pertahanan diri, serta tidak/ kurang adanya kontak antara pribadi dengan sekitar namun masih ada sedikit-sedikit relasi/ komunikasi dengan dunia luar serta masih ada sedikit wawasan. b) Faktor-Faktor Penyebab Neurosa Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan ini terutama pada bidang emosi. Kadangkala sifat yang merupakan gejala neurosa diperoleh pada waktu individu masih kanak-kanak yang mempuyai banyak konflik. Untuk mengerti suatu neurosa harus dicari hubungan antara masa sekarang dengan situasi pada masa kanak-kanak yang masih belum dapat diatasi secara emosianal oleh individu tersebut. Kebanyakan penyebab neurosa terdapat dalam perasaan yang direpres, didesak lalu diubah atau dialihkan menjadi dorongan rasa kebencian, permusuhan,

persetujuan dan kebutuhan akan rasa keamanan. Atau bisa disimpulkan, sebab-sebab neurosa antara lain. a. Faktor Internal Yaitu faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri, yaitu faktor Psikologis, yang meliputi ketakutan yang terus menerus dan sering tidak rasional, ketidak imbangan pribadi, kurang adanya usaha dan kemauan, lemahnya pertahanan diri (memakai defence mechanism yang negatif), adanya konflik-konflik internal yang serius khususnya yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak.xxi b. Faktor eksternal Yaitu faktor yang berasal dari luar individu, yaitu faktor Kultural , yaitu yang disebabkan adanya tekanan-tekanan sosial dan tekanan-tekanan kultural yang sangat kuat, sehingga menyebabkan mental breakdown,xxii seperti didikan secara ketat dan didesak untuk mencapai tujuan di luar batas kemampuan anak. Pendidikan yang ketat menyebabkan anak mengarahkan emosinya ke dalam dan terhambat. Anak yang mengalami serangan kecemasan, biasanya mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengalami suatu perasaan takut yang hebat sebelum mulainya serangan tersebut. C. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memakai bentuk studi kasus (case studi) dengan jenis multi kasus. Sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu informan dan subyek penelitian. Untuk menggali data, digunakan: 1) pengamatan terlibat (Participant Observation); 2) wawancara mendalam (Indepth Interview); dan 3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan terdiri dari tiga alur, yaitu: 1) reduksi data; 2) penyajian data; 3) penarikan kesimpulan/ verifikasi. Sedangkan teknik pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi. Penelitian ini dilakukan di MAN Mojokerto jl. RA. Basuni No. 306 Sooko Mojokerto. Tahap pertama yang dilakukan adalah menentukan subyek penelitian melalui beberapa langkah, yaitu: Menentukan kelas-kelas melalui purposive

samplingmenentukan

siswa

yang

mempunyai

kecenderungan

neurotis

menggunakan tes NSQorangtua sebagai subyek penelitian. Kelas yang terpilih adalah kelas II IPA 3 dan II IPS I yang selanjutnya diberikan tes NSQ untuk mengetahui tingkat kecenderungan neurosis yang dimiliki siswa. Setelah melalui proses penskoringan, hasil test menunjukkan bahwa terdapat sembilan siswa yang memiliki kecenderungan neurosis. Dari sembilan siswa tersebut diambil empat siswa yang memiliki total skor yang paling tinggi di antara kesembilan siswa yang berarti memiliki kecenderungan neurosis yang semakin tinggi, dan satu siswa yang tidak memiliki kecenderungan neurosis sebagai pembanding. Kelima siswa tersebut yang dijadikan informan adalah: Kelas Total Skor Kecenderungan Neurosis 1 MFZ II IPA 3 8 2 MFR II IPA 3 8 3 ETDJ II IPS 1 8 4 LF II IPS 1 7 5 DA II IPS 1 4 Selanjutnya, peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada orangtua siswa-

No

Nama

siswa di atas sebagai subyek penelitian yang dilengkapi dengan penunjukan atas beberapa orang sebagai informan untuk kelengkapan akurasi informasi dan untuk mengadakan crosscheck terhadap hasil informasi yang diberikan. D. Hasil Penelitian Secara umum, keempat keluarga informan dalam menerapkan gaya parenting memiliki ciri-ciri yang sama. Mereka pada umumnya menerapkan gaya parenting dengan model yang mengutamakan kedisiplinan berlebihan dan memberikan hukuman, memiliki sedikit ketertarikan untuk berkomunikasi, menganggap perasaan anak sebagai sesuatu yang tidak penting, serta tidak membantu anak untuk mengatasi permasalahannya. Hasil penelitian menunjukkan, bentuk gaya parenting demikian memberikan pengaruh negatif kepada anak dan mampu memberikan pola kepribadian neurotis, karena dengan gaya parenting tersebut orangtua tidak menerapkan pola komunikasi yang efektif, dan tidak mampu mengolah emosional, sehingga anak

memiliki kecenderungan sifat sensitif, tidak suka praktis, kurang artistik, kurang bertanggungjawab, butuh perlindungan/simpati orang lain, mudah cemas, merasa terancam, tegang, frustasi, menunjukkan adanya hambatan dalam interaksi dengan orang lain, mengalami kegelisahan, pesimis, sulit menyatakan perasaan, mudah terpengaruh, merasa bersalah, depresif, sangat serius, membatasi diri, tertutup, rigid dan kaku. Kesemua kecenderungan tersebut adalah simptom-simptom neurosis. Berbeda dengan keluarga lain yang mengutamakan komunikasi sebagai sarana pokok untuk menghadapi pengungkapan-pengungkapan emosi anak, menghargai emosi anak sebagai kesempatan untuk akrab, menyediakan waktu bagi keluarga serta berempati dengan kata-kata yang menenangkan. Gaya parenting orangtua demikian mampu menghasilkan generasi-generasi optimis, selalu riang dan emosi matang. Berbagai gaya parenting yang diterapkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sangat erat kaitannya dengan latar belakang bagaimana mereka dibesarkan orangtua mereka. Hal ini karena anak akan merekam dalam memorinya setiap apa yang ia lihat dan ia dengarkan. Untuk di kemudian hari, terjadi proses imitasi dan identifikasi. Untuk itu ketika orangtua yang dibesarkan dalam lingkungan bermasalah juga akan mengalami kesulitan dalam menghadapi emosi anak-anaknya. E. Kesimpulan 3. Secara umum ciri-ciri anak yang memiliki simptomsimptom neurosis ditandai dengan kecenderungan sifat sensitif, tidak suka praktis, kurang artistik, kurang bertanggungjawab, butuh perlindungan/simpati orang lain, mudah cemas, merasa terancam, tegang, frustasi, menunjukkan adanya hambatan dalam interaksi dengan orang lain, mengalami kegelisahan, pesimis, sulit menyatakan perasaan, mudah terpengaruh, merasa bersalah, depresif, sangat serius, membatasi diri, tertutup, rigid dan kaku. 4. orangtua pencela. Gaya parenting yang dapat memberikan pengaruh kepribadian neurotis adalah gaya parenting orangtua acuh dan gaya parenting

5.

Orangtua

mampu

memberikan

pola

kepribadian

neurotis ketika dalam sebuah keluarga tidak menerapkan pola komunikasi yang efektif, dan tidak mampu mengolah emosional. 6. anaknya. Oleh karena itu, mengasuh anak dalam keluarga harus diiringi kekuatan akhlak yang baik. Sebab berlomba-lomba untuk memberi tauladan adalah pendidikan yang tidak ternilai. Setelah itu, orangtua diharapkan serius dalam mengevaluasi perilaku anak-anaknya dengan mencari akar permasalahan bersama-sama dengan saling komunikasi secara intens, tidak terjebak oleh kegiatan yang menyita waktu sehingga mengurangi waktu bersama anak-anaknya. Akhirnya harus disadari bahwa orangtua bertanggung jawab tidak hanya saat ini tetapi bagi generasi yang akan datang. Setidaknya konsep pendidikan atau pengasuhan harus mampu mencapai dua hal: pertama, harus mendorong manusia unuk mengenal Allah sehingga mampu beribadah kepada-Nya, dengan penuh keyakinan akan kekuasaan-Nya, melakukan ritual yang diwajibkan dan mematuhi syariat serta ketentuan-ketentuan-Nya. Kedua, harus mampu mendorong manusia untuk memahami sunnatullah di alam raya ini, menyelidiki bumi dan isinya serta memanfaatkan segala sesuatu yang telah diciptakan untuk melindungi iman dan menguatkan agamanya. Orangtua yang dibesarkan dalam lingkungan bermasalah juga akan mengalami kesulitan dalam menghadapi emosi anak-

Catatan Akhir

Baqir Syarif al-Qarashi, Seni Mendidik Islami; kiat-kiat menciptakan generasi Unggul (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hlm. 46. Hurlock. B. Elizabeth. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 239. Dadang Hawari, Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lainnya) (Jakarta: UI press, 2003), hlm. 97.
iv v iii ii

Hawari, Terapi, hlm. 132-133 Hawari, Terapi, hlm. 64-66. Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual (Bandung: Mandar Maju, 1989), hlm. 97. Maramis, Catatan,hlm. 250.

W.F. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Surabaya: Airlangga Universiti Press, 1994), hlm. 132-133.

vi

vii

viii ix x

http:/m-w.com/cgi-bin/dictionary

xi

(http:www.bartleby.com/61/98/P0069800.html), (http://en.wikipedia.org/wiki/parenting)

John Gottman & Juan DeClaire, Mengasuh Anak dengan Hati; Terjemah oleh Humaidi (Yogyakarta: Prisma Media, 2004), hlm.. Gaya parenting merupakan suatu proses mengasuh anak. Dalam Islam gaya parenting lebih dikenal dengan istilah pendidikan (baca.Qarashi, Seni Mendidik, hlm. 27) yang secara leksikal memiliki makna mendidik dan mengasuh anak. Sedangkan Istilah Pendidikan dalam khasanah pemikiran pendidikan yang dikembangkan berdasarkan al-Qur'an dan alHadist, berasal dari tiga istilah yang masing-masing memiliki pengertian berbeda, ketiga istilah tersebut yaitu talim, tadib, dan tarbiyyah. Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna, 2003), hlm. 2. Istilah talim untuk pendidikan, secara epistemologis berasal dari masdar kata allama-yalamu, yang diambil dari Qs. al-Baqarah ayat 31, yaitu: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar! (QS. Al-Baqarah ayat 31) (Departemen Agama Republik Indonesia, 1994:14). Kata tarbiyyah, dipergunakan untuk istilah pendidikan sesuai dengan firman-Nya dalam Qs. Al-Isra' [17]:24, yaitu sebagai berikut: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "wahai Tuhanku, sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka mendidikku sewaktu aku kecil" (QS. Al-Isra' ayat 24) (Departemen Agama Republik Indonesia, 1994:428). Sedangkan kata tadib dipergunakan sebagai istilah pendidikan sesuai dengan sabda Rasullullah saw. "....Allah mendidikku, maka ia memberikan kepadaku sebaik-baiknya pendidikan (al-Hadist). Walaupun ketiga istilah tersebut berasal dari sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Quran dan al-Hadist dan samasama digunakan untuk istilah pendidikan, namun, penggunaan istilah pendidikan, lebih banyak memakai kata tarbiyyah. Kata tarbiyyah digunakan untuk istilah pendidikan, karena istilah tersebut memiliki kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu kata rabb. Menurut Ibnu Qoiyim, kata tarbiyyah dapat dipecah menjadi kata rabban yang berasal dari kata kerja (fi'il) rabba-yarubbu-rabban; yang mempunyai arti seorang pendidik (perawat), yaitu orang yang merawat ilmunya sendiri agar menjadi sempurna, sebagaimana orang yang mempunyai harta merawat hartanya agar bertambah dan merawat manusia dengan ilmu tersebut sebagaimana seorang bapak merawat anak-anaknya (Hasan Bin Ali Al-Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim; Terjemah oleh Muzaidi Hasbullah [Jakarta: Pustaka al-Kausar, 2001] Hlm. 76). Berdasarkan hal itulah pendidikan merujuk pada pengasuhan serta pengurusan anak sampai ia mencapai masa muda mencakup pengurusan persepsi mental dan intelektual.
xiv xv xiii

xii

Departemena Agama. 1978. Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta: Bumi Aksara. Kartini, Psikologi, hlm.97 Maramis, Catatan, hlm. 250. Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 356-357.

Departemena Agama. 1978. Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta: Bumi Aksara.

xvi

xvii

xviii xix

Abdul Mujib, Kepribadian, hlm.357.

Erich Fromm, The Art of Listening; Kritik atas Psikoanalisis Sigmund Freud. Terjemah oleh Apri Danarto (Yogyakarta: Jendela, 2002), hlm. 46.
xxi

xx

Kartini, Psikologi, hlm. 98. Kartini, Psikologi, hlm.98.

xxii

DAFTAR PUSTAKA
Hasan Bin Ali Al-Hijazy, 2001. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim; Terjemah oleh Muzaidi Hasbullah .Jakarta: Pustaka al-Kausar. . Abdul Mujib, 2006.Kepribadian dalam Psikologi Islam Jakarta: Raja Grafindo Persada. Baqir Syarif al-Qarashi,2003. Seni Mendidik Islami; kiat-kiat menciptakan generasi Unggul .Jakarta: Pustaka Zahra Dadang Hawari, 2003.Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lainnya) Jakarta: UI press Departemena Agama. 1978. Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta: Bumi Aksara Erich Fromm, The Art of Listening; 2002. Kritik atas Psikoanalisis Sigmund Freud. Terjemah oleh Apri Danarto .Yogyakarta: Jendela Hasan Bin Ali Al-Hijazy, 2001. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim; Terjemah oleh Muzaidi Hasbullah .Jakarta: Pustaka al-Kausar Hasan Langgulung, 2003. Asas-Asas Pendidikan Islam .Jakarta: Pustaka al-Husna Hurlock. B. Elizabeth. 2003. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan .Jakarta: Erlangga John Gottman & Juan DeClaire, .Yogyakarta: Prisma Media 2004.Mengasuh Anak dengan Hati; Terjemah oleh Humaidi

Kartini Kartono, 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual Bandung: Mandar Maju W.F. Maramis, 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa .Surabaya: Airlangga Universiti Press, http:/m-w.com/cgi-bin/dictionary http:www.bartleby.com/61/98/P0069800.html http://en.wikipedia.org/wiki/parenting