Anda di halaman 1dari 12

TEKNOLOGI KOGENERASI PLTGU MUSI II SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI BARU UNTUK INDUSTRI DI KOTA PALEMBANG Oleh : Normaliaty Fithri

Dosen Fakultas Teknik Universitas Bina Darma Email : noorty09@yahoo.com

Abstract :World`s electrical energy needs increasing, the availability of energy-depleting, the world`s population continues to increase, also increasing the severity of damage to the natural environment cause by pollution from the unwise use of technology is difficult to avoid. To overcome these problems need new breakthroughs in engineering and utilization of energy resources in an efficient, effective and appropriate. For that based on the development of new technologies in engineering and energy utilization, including utilization of heat from the exhaust gas from the generator is I alternative technology that can provide value efficiency in energy usage of oil where the application of this technology can also suppress the emission of combustion gases that can cause pollution and temperature of exhaust gas release into the atmosphere. At this time, natural gas from Pertamina`s gas burned in turbine to generate electricity through a generator, while heat from the combustion is discharge through the exhaust only. Thats used for cogeneration technology that aims to harness the wasted heat into the fuel.

Abstrak : Kebutuhan energi listrik dunia semakin meningkat, ketersediaan energi semakin menipis, populasi penduduk dunia terus bertambah, juga semakin parahnya kerusakan lingkungan alam akibat polusi dari penggunaan teknologi yang kurang bijaksana sulit untuk dihindari. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu terobosan baru dalam rekayasa dan pemanfaatan sumber energi secara efisien, efektif dan tepat guna. Untuk itu berdasarkan perkembangan teknologi baru dalam rekayasa dan pemanfaatan energi, yang meliputi pemanfaatan panas dari gas buang yang berasal dari generator merupakan alternatif teknologi yang dapat memberikan nilai efisiensi dalam pemakaian energi minyak dimana penerapan teknologi ini juga dapat menekan emisi pembakaran gas yang dapat menyebabkan polusi dan temperatur gas buang yang dilepas ke atmosfir. Pada Saat ini, natural gas dari Pertamina dibakar pada gas turbine untuk menghasilkan listrik melalui generator, sedangkan panas dari hasil pembakaran tersebut hanya dibuang melaui exhaust. Untuk ituah digunakan teknologi kogenerasi yang bertujuan untuk memanfaatkan panas yang terbuang tersebut menjadi bahan bakar. Keywords : Panas, Kogenerasi, Generator

1.

PENDAHULUAN Kebutuhan tenaga listrik di Indonesia

energi alternatif diluar BBM diantaranya : PLT Gas, PLTU batubara, PLTU Biomassa, PLT Angin dan PLT Surya. Teknologi mempunyai peran yang lebih besar dalam menjamin pasokan energi yang cocok untuk menghasilkan baik listrik maupun panas untuk rumah tangga, industri serta tujuan-tujuan lainnya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan secara simultan menghemat penggunaan sumberdaya energi adalah dengan memanfaatkan energi yang

waktu demi waktu meningkat, sedangkan potensi sumberdaya energi semakin menipis sehingga menjadi tenaga program faktor listrik. dalam penghematan yang Untuk sangat mengatasi program energi penting krisis

diperhatikan

penyediaan

penyediaan energi dan menghindari dampak kerusakan lingkungan hidup akibat global warming, terdapat beberapa teknologi pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan

terkandung dalam gas buang (exhaust gas) dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Pemanfaatan energi gas buang tersebut dilakukan dengan mengkombinasikan sistem (combined cycle) PLTG dengan sistem PLTU sehingga menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Gas-Uap (PLTGU) (Amiral dan Panca, 2007). Pembangkit-pembangkit listrik di Indonesia pada saat ini masih banyak yang menggunakan BBM/HSD (High Speed Diesel) sebagai bahan bakar utama dalam pengoperasian pembangkit listrik tersebut. Disamping biaya produksi listrik pembangkit berbahan bakar minyak relatif mahal dibandingkan dengan jenis bahan bakar lain, ketersediaannya juga semakin terbatas. Salah satu langkah penting dalam

1. 2. 3.

Teknologinya bersih Penggunaan bahan bakar yang efisien Mampu mengurangi emisi terhadap lingkungan. Kogenerasi menawarkan metode efisien

untuk mengurangi jumlah panas terbuang selama proses pembangkitan tenaga listrik dengan jalan memproduksi energi listrik dan energi termal yang berguna secara simultan dari suatu sumber energi biasa.

Penggunaan Energi Lama Gambar 1. Diagram blok Penggunaan Energi Lama


Listrik Output

mengupayakan penghematan energi dalam sektor industri pembangkitan listrik yaitu dengan melakukan kogenerasi energi pada bahan bakar. Kogenerasi adalah suatu proses pembangkitan dan pemanfaatan energi dalam bentuk yang berbeda secara serempak dari energi bahan bakar untuk menghasilkan tingkat efisiensi maksimum, ekonomis dan ramah lingkungan. (I Made A, Donny N, M. Luniara S, 2008) Aplikasi kogenerasi yang lazim digunakan adalah pembangkitan energi listrik dan pembangkitan energi termal. Energi listrik akan dipakai untuk catu daya bagi peralatan kelistrikan. Energi termalnya akan digunakan untuk membangkitkan uap. Keunggulan Teknologi Kogenerasi adalah (Deni Almanda, , 1999) :

Gas Turbine

Panas

Exhaust (dibuang)

Natural Gas

Pada Penggunaan energi lama natural


gas dari Pertamina dibakar pada gas turbine untuk menghasilkan listrik melalui generator. Panas dari hasil pembakaran tersebut hanya dibuang melalui exhaust. Dari proses energi lama didapatkan output panas yang merugikan, yaitu dapat mengakibatkan : Global warming Kerusakan lingkungan hidup Pencemaran udara Energi Baru (Teknologi

Penggunaan Kogenerasi)

L is t r ik

Lokasi penelitian dan pengumpulan data


O u tp ut

akan dilakukan di PLTGU Musi II yang


G a s T u rb in e P anas U ap S t e a m T u r b in L is t r ik

berlokasi di Kecamatan Kertapati, Palembang. 2.2. Metode Penelitian Dalam melakukan Penelitian ini, untuk

N a tu ra l G a s

A ir

Gambar 2. Diagram blok Penggunaan Energi Baru (Teknologi Kogenerasi) Pada Penggunaan energi baru yang menggunakan teknologi kogenerasi, natural gas dari Pertamina dibakar pada gas turbine untuk menghasilkan listrik melalui generator. Panas dari hasil pembakaran tersebut kemudian ditambahkan air, diolah menjadi

mendapatkan data-data dan informasi, maka dapat digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut : a. Riset Lapangan (Field Research) Merupakan pengumpulan data yang dibutuhkan pihak-pihak dengan intern cara mendapatkan yang keterangan langsung dari perusahaan dan perusahaan mempunyai wewenang memberikan informasi dan data yang diperlukan dalam penulisan ini. b. Riset pustaka (Library Research) Yaitu pengumpulan data dengan jalan mempelajari buku-buku literature serta sumber yang berhubungan dengan objek permasalahan. 3. DATA DAN PEMBAHASAN Natural gas dari Pertamina dibakar pada gas turbine untuk menghasilkan listrik melalui generator, sedangkan panas dari hasil pembakaran tersebut dibuang melalui exhaust. Panas dari gas buang hasil pembakaran gas turbine (exhaust) dimanfaatkan sebagai bahan bakar HRSG/boiler, didalam HRSG air masuk kedalam waterplant bergabung ke system sirkulasi economizer. Disini suhu yang diolah sebesar 272 0C disirkulasikan lagi ke bagian evaporator untuk mendapat panas dari 2720C menjadi 4580C.

uap yang kemudian dimanfaatkan menjadi bahan bakar steam turbin yang menghasilkan output listrik melalui generator. Teknologi kogenerasi didalam prosesnya membutuhkan beberapa peralatan yang disebut dengan kogenerator Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui nilai kelebihan daya listrik sebagai alternatif energi baru yang dapat digunakan untuk industri di kota Palembang dan untuk mengetahui proses kogenerasi dari pembangkit listrik bahan bakar gas menjadi alternatif energi baru. Batasan masalah pada penulisan ini adalah membahas sistem kerja peralatan

kogenerator dalam
2. 2.1.

proses kogenerasi di

PLTG Musi II Palembang secara umum.


METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian

Kemudian suhu 4580C dimasukkan ke superheater untuk dipisahkan antara suhu


0

demin yang berguna untuk pemrosesan uap kembali.

panas tinggi (468 C) dengan suhu rendah 4400C. Setelah panas energi yang dihasilkan mencapai 4500C dengan tekanan 3,82 Mpa, barulah dipisahkan untuk mendapatkan uap kering, lalu suhu pada superheater diatur dengan D temperor supaya mendapatkan uap kering. Gambar 5. Condensing Steam Turbin Sebagian uap dapat dimanfaatkan lagi yaitu dengan didinginkan dengan cara kembali dijadikan air pada Condenser melalui proses yang ada pada Cooling tower. Gambar 3. HRSG / Boiler Setelah uap kering didapat (menghasilkan steam) barulah dapat masuk ke steam turbin generator yang berguna untuk memutar turbin pada generator untuk mendapatkan daya listrik melalui generator yang kemudian sisa dari uap yang dipergunakan untuk memutar turbin generator masuk ke condenser. Gambar 6. Cooling Tower Hasil dari pendinginan tersebut dimasukkan kembali kedalam Dearator. Dearator disisni berfungsi untuk pembuangan mineral yang terdapat didalam air/oxygen removal. Dari Dearator tersebut kemudian diolah dan digunakan kembali untuk make up water HRSG. Gambar 4. Steam Turbin Generator Dari condenser dipisahkan antara air dan uap yang kemudian air dari sisa condenser masuk ke cooling tower untuk dijadikan air

rendah

memasuki dari

vessel bagian

dengan bawah

cara vessel.

disemprotkan

Feedwater juga disemprotkan ke vessel dan dipanaskan oleh uap yang disemprotkan ke atas oleh steam sparger.

Gambar 7. Dearator

Dearator Deaerator adalah suatu komponen dalam Sistem Tenaga Uap yang berfungsi untuk menghilangkan oksigen atau gas-gas terlarut lainnya pada feed water sebelum masuk kedalam Boiler. Berfungsi juga sebagai tempat penyimpanan air yang menyuplai air ke dalam boiler. Oksigen dan gas-gas terlarut lain dalam feedwater perlu dihilangkan karena dapat menyebabkan korosi pada pipa logam dan peralatan logam lainnya dengan membentuk senyawa oksida (karat). Air apabila bereaksi dengan karbon dioksida terlarut juga akan membentuk senyawa asam karbonat yang dapat menyebabkan korosi lebih lanjut. Fungsi deaerator disini adalah untuk mengurangi kadar oksigen. The spray-type Tipe ini hanya terdiri dari silinder vessel horizontal (atau vertikal) yang berfungsi sebagai deaerator dan sebagai tangki penyimpanan air. Seperti ditunjukan pada gambar diatas bahwa deaerator jenis spray ini memiliki bagian pemanasan awal (E) dan bagian deaerasi (F). Kedua bagian ini dipisahkan oleh penyekat (C). Uap bertekanan Tujuan dari spray nozzle (A) dan bagian preheater adalah untuk memanaskan feedwater sampai suhu saturasi untuk memudahkan pengurangan oksigen dan gas-gas terlarut lainnya pada bagian deaerasi. Feedwater dipanaskan kemudian mengalir ke bagian deaerasi (F) dimana proses deaerasi dilakukan oleh uap yang naik melalui sistem spray. Gas terlarut dipisahkan dari air melalui lubang diatas vessel. Sama seperti jenis tray diatas, lubang untuk mengeluarkan gas berupa suatu katup yang hanya bisa dilewati oleh uap. Kemudian feedwater yang telah dideaerasi dipompa dari bawah vessel ke boiler. Deaerator yang digunakan pada Gambar 8. The Spray-Type

sebagian besar Pembangkit Listrik Tenaga Uap menggunakan uap bertekanan rendah yang diperoleh dari titik ekstraksi pada sistem turbin gas. Walaupun demikian PLTU yang memiliki fasilitas memadai seperti kilang minyak bumi,

bisa menggunakan uap bertekanan rendah yang tersedia. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007). Heat recovery Steam Generator (HRSG) /Boiler Heat Recovery Steam Generator (HRSG) merupakan peralatan yang berfungsi untuk mengubah air menjadi uap pada temperatur dan tekanan tertentu. Peralatan ini terdapat pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) yang menggunakan siklus kombinasi (Combined Cycle). Pada HRSGU terdapat daerah yang superheater-1 merupakan and daerah superheater-2,

pengaturan bagian atas. Ketika unit ini mengalami proses combined cycle, aliran gas mengalir kedalam boiler sampai 3 cerobong aliran, pintu pengaturan, dan aliran transisi, kemudian secara horizontal melewati dua tingkatan superheater, evaporator, economizer, dan akhirnya gas sampai pada cerobong keluar dan chimney utama. Arah saluran dan jumlah aliran ditentukan oleh pintu masuk/gerbang yang terhubung pada 3 saluran/cerobong. Proses dapat dikontrol dengan remote kontrol di dalam kontrol room utama atau dapat dikontrol secara manual. Arah aliran air : air boiler dimulai dari kepala (header) beban pada tekanan menengah economizer dan mengalir masuk ke tekanan menengah drum setelah air dipanaskan dalam tube-screen pada economizer, dan kemudian aliran dari downtake pada bagian bawah drum boiler menuju tekanan menengah evaporator. Akhirnya aliran air masuk ke drum untuk dipisahkan menjadi air dan uap. Setelah proses pemisahan,aliran air jenuh menuju downtake kembali,uap jenuh menuju ke tekanan menengah superheater dari atas drum, dan kemudian uap keluar sampai keluaran header. Setelah menerima panas dari tube-screen superheater. Terdapat penyemprotan desuperheater yang disusun diantara dua tingkatan superheater, yang dapat dipastikan secara sempurna temperatur keluar dari pemanasan uap/ superheating steam. Air boiler lain akan masuk ke drum sampai economizer. Boiler ini diadopsi standar dari unit struktur modular, penyususnan vertikal alternatif skrup pipa sirip/ screw fin pipe dan

pemanas uap lanjut. Daerah superheater ini terdiri dari susunan pipa-pipa yang bekerja pada temperatur dan tekanan tinggi dengan kondisi operasi yang korosif secara terus menerus. Kondisi ini bisa mempengaruhi dan mengubah sifat-sifat material pipa. Boiler penghasil panas ini akan bersirkulasi secara alami dan disusun secara horizontal, Boiler ini mempunyai karakteristik sebagai berikut : dapat mengubah beban dari turbin gas secara cepat, mudah untuk operasi dan perawatan, dan memiliki kemampuan yang stabil. Secara umum, hal ini akan sesuai dengan gas alami atau turbin diesel minyak, dan merupakan alat kebutuhan yang sangat cepat untuk di stop dan juga di start. Proses aliran gas adalah : buangan gas dari turbin gas dan masuk ke dalam 3 cerobong aliran gas sampai saluran gas bagian dalam. Ketika unit ini mengalami proses sirkulasi searah/tunggal, aliran gas pembuangan dari saluran sampai ke gerbang

bagian atas dan bawah kepala (headers), keduanya secara bersamaan dari tube-screen ,semua permukaan pemanasan tube-screen memiliki ukuran yang sama. Jenis karakteristik dari struktur : memiliki kemampuan tinggi, permukaan, beradaptasi dalam mudah pada temperatur panas dan mudah pengaturan inspeksi

yang menjorong keatas, ketebalan dari tutup kepala adalah 42 mm, dan jenis bahannya 20 g. ada sebuah lubang besar tutup kepala untuk mempermudah pengecekan. Rancangan boiler biasanya dibuat diluar dan struktur baja akan di design untuk menahan getaran bumi sampai grad 7. Disana terdapat 8 pilar pada tiap penyanggga baja boiler , penyangga boiler seharusnya diambil dari kepingan baja.. Panjang dari garis tengah boiler 4000mm. Jarak maximum antara depan dan belakang boiler adalah 11450 mm.Boiler akan menggunakan struktur dinding ruang bakar. Penutup yang baik akan diambil dimana kedua sisi dari dinding ruang pembakaran terhubung ke atap dan pada setiap hubungan sambungan pada boiler yang tepat. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007). Tiga equipment boiler : 1. Superheater 2. Evaporator 3. Economizer

untuk

perawatan, saluran gas pada tekanan rendah dan jenis strukrur ini juga bisa mengurangi air yang penuh. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007).

Struktur Boiler Boiler ini terdiri drum dan dua pemisah uap-air, dua unit superheater, dua unit evaporator, empat unit economizer, struktur baja dll. Tipe dasar dari panas permukaan pada boiler ini adalah tipe melintang yang menjelajah lurus dan saluran aliran gas akan mengalir secara horizontal. Aliran gas akan mengalirkan sampai superheater, evaporator, economizer dan kemudian menuju ke saluran buang dari boiler. Seluruh pemanas permukaan akan dletakkan secara tergantung agar mereka dapat memperluas aliran secara bebas. Boiler mempunyai sebuah drum. Dengan diameter dalamnya 1400mm dan ketebalan dindingnya 42 mm, dan bahan-bahannya 20 g. Didalamnya pemisah plat termasuk yang empat komponen 290 mm, dan pipa pemanas pemisah uap tinggi dilanjutkan pada pipa

Gambar 9. HRSG Steam superheater. Steam/uap superheater adalah konveksi panas permukaan yang pertama dimana pipa gas bertemu setelah dikeluarkan dari gas turbine. Uap superheater boiler ini akan

dibengkokkkan blowdown,

pengukur chemical/kimia, plat orifice, pipa water feeding, dan tengki aliran penuh. Dua ujung drum boiler mempunyai sebuah penutup

bergerak secara vertikal. Boiler dibuat dari susunan pipa baja dan tersusun dari 33 jalur pipa disepanjang jalur gas. Beban berat pipa superheater disangga oleh tiang penyangga boiler.Untuk memastikan bahwa setiap susunan bagian pipa berada dalam plane, clamp pipa harus diposisikan diantara pipa yang bersebelahan. Dan untuk memastikan posisi relatif pada setiap susunan pipa, plat comb/sisir dibuat dari besi dengan daya tahan panas yang akan menggantung pada pipa siku superheater paling bawah.

dan air ) melalui pipa uptake ( expansion pipa 1807 mm ). Setelah keluar dari superheater, aliran gas menuju ke evaporator. Evaporator dibuat dari pipa lilitan sirip(yang digunakan khusus untuk boiler) dan disusun sesuai pilihan. Dengan jarak lintang 140mm dan bujur 150mm. Penyebaran gas evaporator bersifat horizontal. Kualitas terbaik pertukaran panas pada pipa sirip harus sesuai untuk perbedaan temperatur rendah, massa aliran dan hambatan rendah ( low resistance) dari mode pentransfer panas. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007

Economizer Jalur pipa lilitan sirip yang berfungsi sebagai penyerap energi panas/preheating. Pada economizer aliran air mengalir hanya satu kali. Gambar 10. Steam superheater Pengaturan temperatur uap pada Terdapat empat unit pipa baja economizer, pada ujung boiler dan pipa tersebut disusun pada jalur pipa lilitan sirip secara horizontal. Untuk mempermudah pengecekan, ukuran bagian depan dan bagian belakang mutlak sama. Tiga struktur economizer : 1. header 2. fin plate (peningkat media panas) 3. pipa Meningkatkan media pemanasan pemanasan uap harus diambil dari metode spray desuperheating/ penyebaran pemanasan. Air yang digunakan pada spray desuperheating berasal dari air pipa utama(feed water main pipe), Temperatur uap pada superheater akan dikontrol oleh katup regulator (governor valve) pada pipa utama. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007). Evaporator Pada evaporator terjadi pertukaran panas dan pada evaporator akan terjadi pula siklus yang berulang ulang, dimana air dari drum akan turun melalui pipa downtake dan akan kembali naik ke drum ( untuk pemisahan steam

combustion engine (mesin pembakaran luar). Gambar 11. Economizer Pipe Pipa tersebut dihubungkan pada middle Pemanasan fluida kerja (uap) dilakukan di luar sistem. Prinsip kerja dari suatu instalasi Turbin uap secara umum adalah dimulai dari cabinet. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007). pemanasan air pada ketel uap. Uap air hasil pemanasan yang bertemperatur dan bertekanan tinggi Condenser Condensor adalah salah satu jenis mesin penukar kalor (heat exchanger) yang berfungsi untuk mengkondensasikan fluida kerja. Pada sistem tenaga uap, fungsi utama kondensor adalah untuk mengembalikan exhaust steam dari turbin ke fase cairnya agar dapat dipompakan kembali ke boiler dan digunakan kembali. Selain itu, kondensor juga berfungsi untuk menciptakan back pressure yang rendah (vacuum) pada exhaust turbin. (Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007). selanjutnya digunakan untuk menggerakkan poros turbin. Uap yang keluar dari turbin selanjutnya dapat dipanaskan kembali atau langsung disalurkan ke kondensor untuk didinginkan. Pada kondensor uap berubah kembali menjadi air dengan tekanan dan temperatur yang telah menurun. Selanjutnya air tersebut dialirkan kembali ke ketal uap dengan bantuan pompa. (Rider, 2009)

Steam Turbin Generator Generator mengubah energi mekanis yang dihasilkan pada poros turbin uap menjadi energi listrik tiga fasa. Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin langsung atau dengan bantuan elemen lain, dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan tergantung dari jenis Distribution merupakan menghimpun sistem Control kontrol System yang data (DCS) mampu dari mekanisme yang digerakkan. Turbin uap dapat digunakan pada berbagai bidang industri, seperti untuk pembangkit listrik. Turbin uap merupakan salah satu jenis mesin yang menggunakan metode external Distribution Control System (DCS) Gambar 12. Skema Sederhana turbin uap

(mengakuisisi)

lapangan dan memutuskan serta melakukan pengontrolan berdasar data tersebut. Data-data

yang telah diakuisisi (diperoleh) dari lapangan bisa disimpan untuk rekaman atau keperluankeperluan masa datang, atau digunakan dalam proses-proses saat itu juga, atau bisa juga, digabung dengan data-data dari bagian lain proses dan untuk kontrol lajutan dari proses yang bersangkutan. Bagian-bagian dari DCS : Operator Console Alat Digunakan umpan ini mirip tentang monitor apa komputer. informasi sedang

ini mampu menyimpan data-data operasional pabrik. I/O Bagian ini digunakan untuk

menangani masukan dan luaran dari DCS. Masukan dan luaran tersebut bisa analog, bisa juga digital. Masukan/luaran digital seperti sinyal-sinyal ON/OFF atau Start/Stop. Kebanyakan dari pengukuran proses dan luaran terkontrol merupakan jenis analog. (Materi Training PLTGU Musi II

untuk

memberikan

Palembang, 2007). Semua elemen-elemen yang telah dijelaskan tersebut terhubungkan dalam satu jaringan (saat ini sudah menggunakan teknologi Ethernet atau bahkan wireless, WiFi atau WiMax).

balik

yang

dikerjakan atau dilakukan dalam pabrik, selain itu juga bisa menampilkan perintah yang diberikan pada sistem kontrol. Melalui konsol ini juga, operator memberikan perintah pada instrumen-instrumen di lapangan. Control Modules Ini seperti otaknya DCS. Disinilah fungsi-fungsi kontrol dijalankan, seperti kontrol PID, kontrol pembandingan, kontrol rasio, operasi-operasi aritmatika sederhana maupun kompensasi dinamik. Saat ini sudah ada peralatan modul kontrol yang lebih canggih dengan kemampuan yang lebih luas. History Module

Gambar 13. Distribution Control System (DCS) Perbandingan Daya Listrik Pada saat isu lingkungan merebak, di mana masyarakat menuntut pembangkit listrik mengurangi emisi pada gas perusak lingkungan sehingga mengurangi polusi, maka penggunaan Kogenerasi merupakan salah satu solusi dalam upaya mengatasi pemanasan global.

Alat ini mirip dengan harddisk pada komputer. Alat ini digunakan untuk menyimpan konfigurasi DC dan juga konfigurasi semua titik di pabrik. Alat ini juga bisa digunakan untuk menyimpan berkas-berkas grafik yang ditampilkan di konsol dan banyak sistem saat

Setelah dilakukan pemanfaatan panas buang dengan menggunakan Teknologi Kogenerasi di PLTGU Musi II, didapat

Dengan merupakan

demikian pilihan

teknologi yang

kogenerasi tepat untuk

memanfaatkan energi pada boiler, gas turbin dan diesel secara optimum. Teknologi ini bisa memanfattkan dua jenis energi : pertama memanfaatkan uap yang dihasilkan boiler, ke dua memanfaatkan panas gas buang suatu pembangkit listrik untuk memproduksi uap (Deni Almanda, 2003).

kelebihan daya listrik sebesar : Tabel 1. Perbandingan Daya Listrik Keterangan a. Daya listrik sebelum menggunakan Teknologi Kogenerasi b. Daya listrik sesudah menggunakan Teknologi Kogenerasi Kelebihan daya listrik
Sumber : PLTGU Musi II

Watt 14,3 MW 19,5 MW 5,2 MW

Bila PLTG itu menggunakan bahan bakar bermutu tinggi seperti bahan bakar sulfur rendah, maka gas buang yang dihasilkannya bersih sehingga bisa digunakan langsung untuk panas proses. Bila pada pengolahan gas buang ditambah bahan bakar, maka akan diproleh uap dengan suhu dan tekanan yang lebih tinggi. Sementara bila kapasitas terpasang PLTG turun maka efisiensinya juga turun dengan demikian volume gas buang meningkatkan hal ini berarti banyak gas buang yang tidak terpakai. Untuk itu kogenerator pada PLTG lebih cocok dioperasikan produksi uap pada dan beban produksi dasar. listrik Bila bisa kapasitasnya tetap maka keseimbangan antara dipertahankan.

Berdasarkan perbandingan di atas, didapat keuntungan pada kelebihan daya sebesar 5,2 MW sebagai alternatif energi baru yang dapat dijual untuk industri di kota Palembang. Aplikasi kogenerasi yang lazim digunakan adalah pembangkitan energi listrik dan pembangkitan energi termal. Energi listrik akan dipakai untuk catu daya bagi peralatan kelistrikan. Energi termalnya akan digunakan untuk membangkitkan uap. Keunggulan kogenerasi adalah : bisa mengurangi bisa ketergantungan catu daya, energi, mengurangi biaya untuk pemakaian energi, menghemat konsumsi keandalannya baik, kebisingan rendah dan pemeliharannya yang mudah. Kogenerasi juga merupakan teknologi konversi energi yang memproduksi listrik dan termal secara simultan. Konversi energi itu dilakukan pembangkit dengan listrik cara memodifikasi dengan konvensional

4.

SIMPULAN Sesuai dengan tujuan penelitian, maka

simpulan dari hasil penelitian ini adalah :

1.

Setelah panas buang

dilakukan dengan

pemanfaatan menggunakan

Teknologi Kogenerasi di PLTGU Musi II, didapat keuntungan pada kelebihan

menambahkan suatu peralatan penukar panas.

daya

sebesar

5,2

MW

sebagai

alternatif energi baru yang dapat dijual untuk industri di kota Palembang. 2. Pada Penggunaan energi baru yang menggunakan teknologi kogenerasi, natural gas dari Pertamina dibakar pada gas turbine untuk menghasilkan listrik melalui generator. Panas dari hasil pembakaran ditambahkan bahan bakar tersebut kemudian air, diolah menjadi uap steam output turbin listrik yang melalui

Rider System, Turbin Uap, Filed Under engineering, Posted at Tuesday, October 13, 2009. _______ Materi Training PLTGU Musi II Palembang, 2007, PLTGU Musi II Palembang.

yang kemudian dimanfaatkan menjadi menghasilkan generator.

DAFTAR PUSTAKA Amiral Aziz dan Panca Porakusuma, 2007, Pengaruh Diversivikasi Bahan Bakar Terhadap Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Gas Dan Uap ( Pltgu ), Jurnal Urania Vol. 13 No. 4, Oktober 2007: 147 - 190 Deni Almanda, 1999, Cogeneration Pembangkit Listrik Yang Ideal, Majalah Elektro Indonesia.

Deni Almanda, , 2003, COGENERATOR : Alat Untuk Mengoptimalkan Bahanbakar Pembangkit Konvensional, Majalah Elektro Indonesia. I Made A, Donny N, M. Luniara S, 2008, Pemanfaatan Panas Buang Genser Berbahan Bakar Gas Pada Industri Apartemen Sebagai Implementasi Peningkatan Efisiensi Pemakaian Energi, Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II, Universitas Lampung.